Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012-2013

MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Agustus 2012

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2012-2013: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

© Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Republik Indonesia

Foto cover Desain cover

: Pras Widjojo : Ivan W. Sjafary

Diterbitkan oleh: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

KATA SAMBUTAN

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan terbitnya Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk tahun 2012-2013. Buku pegangan ini mengambil tema mengenai: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat, sebagai rujukan dalam merencanakan berbagai strategi, program, dan kegiatan pembangunan di seluruh Wilayah Nusantara. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Di tengah kondisi persaingan ekonomi global yang masih tidak menentu, penguatan ekonomi domestik menjadi syarat mutlak agar Indonesia dapat tetap menjaga pertumbuhan yang berkualitas. Sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pertumbuhan merupakan aspek prioritas yang perlu kita lakukan bersama-sama. Keberhasilan pembangunan nasional merupakan agregasi dari keberhasilan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi nasional adalah hasil akumulasi dari penguatan ekonomi di daerah. Dengan demikian, komunikasi, koordinasi dan sinergi kebijakan antara pusat dan daerah harus terus dipertahankan untuk menjaga momentum pembangunan. Konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah akan tercapai jika dijembatani oleh sinergi pusat-daerah oleh berbagai pemangku kepentingan. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di Daerah memiliki tugas dan fungsi yang penting untuk mengkoordinasikan kebijakan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya dan menjaga konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah. Saya berharap, buku ini dapat menjadi pegangan bagi segenap aparatur pemerintah dalam proses perencanaan dan penyusunan strategi pembangunan di daerah. Melalui pemahaman

konsep dan faktor-faktor penentu penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, segenap jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama menyamakan langkah untuk menyusun strategi yang terintegrasi dalam mendorong dan menjaga ekonomi domestik yang lebih berdaya tahan tinggi. Dengan terbitnya Buku Pegangan Tahun 2012-2013 ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang telah bekerja dengan itikad dan dedikasi yang baik dalam menyusunnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan dan bimbingan Nya dalam setiap upaya untuk menguatkan perekonomian nasional, agar pembangunan ekonomi Indonesia dapat lebih cepat dan lebih luas demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Terima Kasih.

Jakarta, 6 Agustus 2012 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana

2

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

RINGKASAN EKSEKUTIF

Penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan dan strategi pembangunan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi domestik. Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik, karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian, sementara pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,5 persen pada tahun 2012 dan 3,9 persen pada tahun 2013 (IMF, World Economic Outlook, Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan, keberlanjutan krisis keuangan Eropa, serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1,4 persen pada tahun 2012 dan 1,9 persen pada tahun 2013. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa, seperti: Italia, Spanyol dan Yunani, diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. Sementara itu, negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global, yang diperkirakan tumbuh mencapai 7,1 persen pada tahun 2012. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8,0 persen dan 6,1 persen pada tahun 2012. ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun 2012.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

i

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa, memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat, mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Dengan berbagai tantangan yang ada, sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sebesar 6,5 persen. Sementara itu, pada tahun 2013, diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 7,0 persen. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10,9 persen pada tahun 2012 dan 12,1 persen pada tahun 2013. Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis, Sejahtera dan Berkeadilan”. Adapun tema dari RKP, ditunjukkan pada Gambar berikut. Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP
2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

ii

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Kebijakan pemerintah dalam rangka perkuatan ekonomi domestik yang pada RKP 2013 difokuskan pada empat aspek, yang merupakan komponen penting untuk mendukung penguatan ekonomi domestik, seperti yang tercantum dalam gambar berikut. Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik

Peningkatan Daya Saing

Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK

Peningkatan Daya Tahan Ekonomi

Pemantapan Stabilitas Politik

Peningkatan daya saing untuk mendukung penguatan ekonomi domestik akan dititikberatkan kepada isu strategis: Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha, Percepatan Pembangunan Infrastruktur, Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. Adapun Peningkatan Daya Tahan Ekonomi akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Ketahanan Pangan Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta Ton dan Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Percepatan Pengurangan Kemiskinan – Sinergi Klaster 1-4. Sedangkan, Pemantapan Stabilitas Sosial Politik akan dititikberatkan pada isu strategis: Persiapan Pemilu 2014, Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi dan Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. Masing-masing faktor pendukung penguatan ekonomi tersebut memiliki kerangka dan jalur keterkaitan yang berbeda-beda untuk menghasilkan ekonomi domestik yang lebih berdaya saing dan lebih berdaya tahan. Untuk itu, kerangka keterkaitan isu strategis dengan penguatan ekonomi domestik telah dijabarkan secara rinci di dalam Bab IV dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam memahami arti pentingnya isu strategis terhadap pembangunan daerah dan pembangunan nasional. Dengan memahami kerangka keterkaitan ini, diharapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki pemahaman yang sama, sehingga dapat secara bersama-sama mensinergikan pembangunan di pusat dan di daerah

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

iii

RPJM dan RPJMD. Menjamin terciptanya integrasi. dalam upaya meningkatkan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. pelaksanaan dan pengawasan. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. RKP dan RKPD). khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan dapat dilakukan melalui: 1. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. penganggaran. Sementara itu. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Namun demikian. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah. Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. 3. 4. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. serta 5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Isu strategis lainnya yang menjadi fokus perhatian setiap Pemerintah Daerah adalah pembangunan infrastruktur. 2. agar proses dan upaya penguatan perekonomian domestik serta peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di pusat dan di daerah dapat lebih sinergi sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. 3. dan 6. dimana infrastruktur menjadi bagian penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. Sebagai contoh. di dalam Bab V telah dijabarkan secara rinci strategi yang perlu dilakukan dalam setiap isu strategis serta peran Pemerintah Daerah yang perlu dilaksanakan. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dan antar daerah. iv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Kemudian. antar waktu. Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah.dalam rangka memperkuat ekonomi domestik di tengah-tengah kondisi global yang masih belum menentu. 4. antar ruang. adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. efektif. berkeadilan dan berkelanjutan. 5. 2.

Selanjutnya. terpencil dan perbatasan. Untuk itu. Di sisi peningkatan daya tahan ekonomi. kepulauan. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. menjalankan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi secara intensifikasi. dengan memainkan peran masing-masing dalam menjalankan strategi tersebut. Secara makro. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggungjawab termasuk pembiayaan. distribusi. kemudian peran Pemerintah Daerah dan Petani sangat diperlukan dalam menerapkan System of Rice Intensification. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan perekonomian domestik juga diperlukan sinergi antara pusat dan daerah.pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut. layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. pengolahan pangan dan pemasaran. secara makro pemerintah pusat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat v . Untuk itu. yang bermukim di daerah tertinggal. Pengembangan SDM menjadi salah satu isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. pemerintah pusat. Sebagai contoh. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridorkoridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Bahkan. pengamanan pasca panen. penguatan penyuluhan dan lain-lain. masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara bersama-sama memiliki peran untuk peningkatan perluasan areal tanam. Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup pembagian peran dan kewenangan. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu memiliki strategi bersama. Sementara.

Untuk itu. Dalam rangka pemantapan stabilitas politik. langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah.dan pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. baik pusat maupun daerah. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah. yang salah satunya adalah melalui penerapan eprocurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: (i) melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. perbaikan kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi merupakan hal penting yang juga perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. pelaksanaan dan pengawasan. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. (2) terciptanya integrasi. antar waktu. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. Sementara itu. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (ii) menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. antar ruang. vi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . efektif. dan (iii) memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran. menjaga iklim investasi. penganggaran. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. berkeadilan dan berkelanjutan.

Foto: Humas Foto: Bappenas Humas Bappenas .

Foto: Humas Bappenas .

............................................3 Tingkat Pengangguran Terbuka 3........................ viii BAB I PENDAHULUAN..1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global 1....2 Perkembangan Ekonomi Regional 1................................... 22 3.....1 Target Pertumbuhan Ekonomi 2.3................1...2 Kondisi Ekonomi Daerah 3.........................3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global 1..............2 Maksud dan Tujuan 4 5 2 2 3 BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 ...2 Tingkat Kemiskinan 3.... 8 2................3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi 3........................ i DAFTAR ISI .....1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat 3..........2.....1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah 3.....3 Tema dan Prioritas RKP 2013 2...................4 Isu Strategis 2013 8 9 9 11 BAB III KONDISI TERKINI DAERAH .....2....1.2 Tujuh Arahan Presiden 2.....................1.............................1 Pertumbuhan Ekonomi 3................................. 2 1....1......2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi 3.......3.................1 Latar Belakang 1..2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah 22 22 23 26 27 27 28 30 32 32 33 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat ix ............1.........3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3..............................DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN RINGKASAN EKSEKUTIF .................2............1 Kondisi Ekonomi Nasional 3.........1.............................

9.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.1 Tenaga Kerja Per Provinsi 3.9.10.3.4 Infrastruktur Listrik 3.1 Kualitas SDM Aparatur 3.7.2 Kesehatan 3.4 Implementasi SAKIP 3.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras 3.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3.2 Investasi (PMTB) Per Provinsi 3.8.2 Postur Belanja Daerah 34 34 35 37 37 40 41 45 46 47 50 50 55 61 61 63 65 67 68 69 71 72 74 82 82 84 87 87 90 x Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .2 LPSE dan E-Procurement 3.11.8.5.9.8.7.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012 3.5.1 Infrastruktur Jalan 3.11.3 Infrastruktur Laut 3.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.5.3 Opini LKPD 3.5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik 3.10.4.9.5.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional 3.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3.9.5.5 Perkembangan Politik 3.2 Infrastruktur Udara 3.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 3.1 Pendidikan 3.4.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi 3.11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3.1 Postur Pendapatan Daerah 3.5 Infrastruktur Telekomunikasi 3.3 Produktivitas Tenaga Kerja 3.

1.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 5.2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi 5..1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik 4.1 Peningkatan Ketahanan Pangan 4.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda 5..3.......2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5...2 Aspek Peningkatan Daya Saing 4.......2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 4.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT....2...........................5.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 4.....1.....1 Peningkatan Daya Saing 5.....4.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 5............5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4..1 Persiapan Pemilu 2014 4. 96 4.2.......1....3.....2...2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 4... 120 5.2........2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 120 121 127 132 134 137 137 142 143 143 145 96 97 97 99 101 105 105 109 110 110 111 113 113 114 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xi ....BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ....2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi 4.....1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 4.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 4......4.3....3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4....1 Peningkatan Ketahanan Pangan 5........2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 5...........5.2.1...4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4.3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 5.....3...

....................2 Konektivitas 5...... 1 78 xii Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 ......5....................................6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik 147 147 148 154 154 155 156 158 BAB VI PENUTUP ...............5.............................1 Regulasi 5........................4 Pemantapan Stabilitas Politik 5.5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5..............................4.....5.......2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi 5..3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 5......... 176 DAFTAR PUSTAKA …………............4.........5............1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada 5.......

7 Tabel 3.14 Tabel 3.8 Tabel 3.15 Tabel 3.9 Tabel 3.1 Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel 2.18 Tabel 3.2 Tabel 2.1 Tabel 2.4 Tabel 2.3 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 8 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing 13 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 14 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 17 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012 23 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan 24 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012) 25 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan 26 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 29 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 37 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 38 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 39 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 40 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 41 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 53 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 63 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 63 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 69 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 70 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 73 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 74 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011) 82 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) 84 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) 85 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik 93 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor 132 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 138 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi 140 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xiii .19 Tabel 3.17 Tabel 3.10 Tabel 3.5 Tabel 3.3 Tabel 3.5 Tabel 3.3 Tabel 2.12 Tabel 3.1 Tabel 3.16 Tabel 3.23 Tabel 5.2 Tabel 3.11 Tabel 3.6 Tabel 3.22 Tabel 3.2 Tabel 5.20 Tabel 3.4 Tabel 3.21 Tabel 3.13 Tabel 3.

21 Gambar 3.2 Gambar 2.6 Gambar 3.1 Gambar 2.7 Gambar 3.23 Gambar 3.2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 .15 Gambar 3.2009 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 10 11 12 24 26 27 28 30 31 32 33 34 35 35 36 37 38 39 41 42 44 45 46 46 48 48 49 50 xiv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .18 Gambar 3.4 Gambar 3.1 Gambar 3.3 Gambar 3.14 Gambar 3.9 Gambar 3.8 Gambar 3.12 Gambar 3.13 Gambar 3.3 Gambar 3.5 Gambar 3.19 Gambar 3.25 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 .2011 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 .11 Gambar 3.20 Gambar 3.22 Gambar 3.2 Gambar 3.17 Gambar 3.16 Gambar 3.10 Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.24 Gambar 3.

51 Gambar 3.40 Gambar 3.47 Gambar 3.Gambar 3.42 Gambar 3.54 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 51 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 52 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 52 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 54 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 55 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 56 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 57 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 58 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 58 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 59 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 60 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 61 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.32 Gambar 3.50 Gambar 3.43 Gambar 3.27 Gambar 3.41 Gambar 3.35 Gambar 3.39 Gambar 3.26 Gambar 3.45 Gambar 3.000 Penduduk Tahun 2010 61 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 62 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 62 UMP Wilayah Sumatera 64 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara 64 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi 64 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua 64 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 65 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 66 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 67 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 67 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 68 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 71 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 72 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 74 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 75 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 76 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xv .34 Gambar 3.37 Gambar 3.31 Gambar 3.44 Gambar 3.53 Gambar 3.30 Gambar 3.38 Gambar 3.36 Gambar 3.46 Gambar 3.29 Gambar 3.49 Gambar 3.52 Gambar 3.33 Gambar 3.28 Gambar 3.48 Gambar 3.

70 Gambar 3.66 Gambar 3.57 Gambar 3.64 Gambar 3.69 Gambar 3.60 Gambar 3.9 Gambar 4.2 Gambar 4.63 Gambar 3.4 Gambar 4. DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sistem Ketahanan Pangan Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan 77 78 79 80 81 83 83 85 88 88 89 89 90 90 91 91 92 92 96 98 99 102 104 106 108 109 111 112 xvi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .61 Gambar 3. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR.62 Gambar 3.72 Gambar 4.8 Gambar 4.3 Gambar 4.59 Gambar 3.1 Gambar 4.7 Gambar 4.65 Gambar 3.67 Gambar 3.68 Gambar 3.55 Gambar 3.10 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.58 Gambar 3.6 Gambar 4.56 Gambar 3.71 Gambar 3.5 Gambar 4.Gambar 3.

3 Gambar 5.Gambar 4.4 Skema Pencapaian Stabilitas Politik Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR.2 Gambar 5. DPD dan DPRD Tahun 2014 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah 114 115 122 128 148 158 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xvii .1 Gambar 5.11 Gambar 4.12 Gambar 5.

.

BAB I PENDAHULUAN .

Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8.BAB I PENDAHULUAN 1. pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. Utang negara Spanyol mencapai €709 miliar atau sekitar 2 kali jumlah utang gabungan tiga negara yang mendapat dana talangan sebelumnya (Yunani.1 persen pada tahun 2012. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa.4 persen pada tahun 2012 dan 1. seperti: Italia. Sisi permintaan yang menurun di Kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah menyebabkan volume perdagangan dunia cenderung tumbuh melambat. Spanyol yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar keempat di Eropa diprediksi akan menjadi anggota keempat Uni Eropa yang membutuhkan dana talangan. aktivitas ekonomi negara-negara berkembang dan emerging market cenderung menurun. yang diperkirakan tumbuh mencapai 7.1 Latar Belakang 1.1 persen pada tahun 2012.9 persen pada tahun 2013. karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market. Irlandia dan Portugal). Akibatnya. Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5. negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global. Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan.0 persen dan 6.4 persen pada tahun 2012. Spanyol dan Yunani.1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik. Thailand. Namun demikian. sehingga dana talangan untuk menyelamatkan perekonomian Spanyol akan menjadi beban yang berat bagi zona Eropa. dampak krisis Eropa maupun AS terhadap ekonomi Indonesia ini secara keseluruhan relatif terkendali hingga saat ini.5 persen pada tahun 2012 dan 3. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3. serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun. Sementara itu.1. World Economic Outlook. diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. 2 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sementara itu. karena sebagian negara berkembang merupakan pemasok utama pasar Eropa dan Amerika Serikat. Malaysia. Singapura. Hal ini kemudian berdampak terhadap menurunnya harga komoditas global non-energi terutama komoditas yang digunakan sebagai bahan baku untuk industri.9 persen pada tahun 2013 (IMF. keberlanjutan krisis keuangan Eropa. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian. ASEAN-5 (Indonesia.

dunia usaha. bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk memperkuat ketahanan nasional sebagai prasyarat untuk dapat bersaing dengan bangsa lain. Beberapa negara di Asia. dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata. investasi dan modal yang bebas. Pembentukan AEC 2015 menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang. makmur. Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya yang memiliki total jumlah penduduk sekitar 598 juta jiwa dan nilai PDB mencapai US$ 1. Pembentukan AEC 2015 menimbulkan tantangan bagi Indonesia berupa keharusan untuk meningkatkan pemahaman publik dalam negeri mengenai ASEAN baik bagi kalangan Pemerintah. investasi. Dalam rangka mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang stabil.1. serta terintegrasi dalam ekonomi global. seperti Jepang dan Korea Selatan. investasi. pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. mempunyai daya saing tinggi. Pada Pertemuan 12th ASEAN Summit di Cebu.1. Sasaran akhir ASEAN VISION 2020 adalah kerjasama dalam bidang politik dan keamanan. pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas. ekonomi. bulan Januari 2007 dideklarasikan Percepatan untuk Membangun Masyarakat Bersama ASEAN (ASEAN Community) dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 (Indonesia. pembentukan AEC akan memberikan peluang bagi Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang. Sementara itu. serta memiliki daya saing yang ditandai dengan kemampuan menjalankan perdagangan barang. para kepala negara ASEAN telah mencanangkan ASEAN VISION 2020. Selanjutnya. Kemudian pada Pertemuan 13th ASEAN Summit di Singapura bulan November 2007 ditandatangani ASEAN Charter dan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC Blueprint) yang merupakan momentum perkuatan komitmen bersama dari negara-negara ASEAN yang mengikat secara hukum bagi terwujudnya AEC. maupun masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah. Laos. telah lebih dulu maju dengan mengandalkan perkembangan sektor industrinya. Dalam perkembangannya. (ii) Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community). dan (iii) Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community). Dalam menghadapi AEC 2015. serta sosial budaya yang tertuang dalam perwujudan Masyarakat ASEAN tahun 2020 dengan berlandaskan pada tiga pilar yaitu: (i) Masyarakat Keamanan ASEAN ( ASEAN Security Community).85 triliun atau sekitar tiga persen dari PDB dunia menjadi kawasan strategis dalam tatanan ekonomi global. China dan India menyusul sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi regional dengan statusnya sebagai negara emerging dengan populasi terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Disamping itu. Langkah ini hanya dapat dilakukan dengan memperbaiki kinerja Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 3 . Thailand dan Filipina). serta meningkatkan daya saing nasional.2 Perkembangan Ekonomi Regional Pergeseran geopolitik dan geoekonomi dunia yang ditandai dengan menguatnya peran Asia sebagai pusat kekuatan ekonomi global telah terjadi dalam satu dekade terakhir. 2020 (Kamboja. Myanmar dan Vietnam) dan 2010 (Singapura dan Brunei Darussalam). Malaysia. jasa. Filipina. jasa. pelaksanaan AEC berjalan relatif lebih cepat dibandingkan dengan kerjasama di bidang politik-keamanan dan sosial budaya. jasa.

3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global Saat ini. tingginya daya saing daerah di Indonesia secara keseluruhan akan 4 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meratanya pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. pelaku ekonomi yang berdaya saing tinggi. Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. Hal ini menyebabkan produk barang dan jasa domestik akan mengalami tingkat persaingan yang cenderung semakin tinggi. pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi. sehingga pada gilirannya akan memberikan manfaat ekonomi secara luas bagi seluruh rakyat Indonesia. mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Dengan kata lain. yaitu pertumbuhan (pro-growth). diharapkan Indonesia akan dapat menarik manfaat dari integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan terintegrasi dalam ekonomi global. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Persaingan yang semakin ketat ini tidak hanya dirasakan di tingkat nasional. serta semakin mudahnya arus masuk dan keluar investasi dari suatu negara.1. Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. berdaya saing. sehingga setiap negara dituntut untuk meningkatkan daya saingnya dengan cara lebih produktif dan efisien. kesempatan kerja (pro-job). Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. tetapi juga akan sangat terasa di tingkat daerah. tingkat persaingan di antara negara-negara berkembang semakin tinggi. berdaya tahan. terutama karena era otonomi daerah. 1. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan.ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. menyejahterakan rakyat serta stabil secara keseluruhan akan bergantung kepada daerah. rendahnya hambatan perdagangan barang dan jasa. Dengan demikian. Globalisasi telah mendorong semangat persaingan antar negara. baik di pasar global maupun di pasar domestik. Era globalisasi dan kesepakatan perdagangan bebas telah menyebabkan tipisnya batas antar negara. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa. Perekonomian domestik yang kuat.

Keberhasilan pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut sangat ditentukan oleh peran aktif Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong implementasi dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota menjadi sangat penting untuk mendorong peningkatan daya saing dan penguatan ekonomi domestik. 2008). Peningkatan daya tahan ekonomi. Membangun kesepahaman tentang pentingnya dukungan daerah dalam mendorong dan meningkatkan penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. 1. peningkatan kesejahteraan rakyat serta pemantapan stabilitas sosial politik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Menjelaskan langkah-langkah perencanaan dan strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di daerah. bersama-sama dengan Pemerintah Pusat. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5 . 2. Oleh sebab itu. serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.menjadi ujung tombak daya saing nasional.2 Maksud dan Tujuan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik. Secara rinci. Peningkatan perekonomian domestik. melainkan juga menjadi tanggung jawab daerah. penguatan sinergi dan koordinasi antara Pemerintah. baik oleh daerah dan nasional akan menjadi modal utama untuk menjaga momentum pembangunan dan melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi untuk menuju ke arah transformasi ekonomi menjadi negara maju dan berdaya saing. Sementara itu untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. yang akan menjadi faktor terpenting untuk Indonesia dalam bersaing di tingkat global (PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD. peran daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya akan sangat bergantung kepada kemampuan daerah untuk melakukan identifikasi faktor penentu daya saing dan strategi untuk meningkatkan daya saing. tujuan penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2012 – 2013 adalah sebagai berikut: 1. Oleh sebab itu.

.

BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 .

7.9.5 .9 8. diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6.7 .13. menjaga ekspor nonmigas. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut.8 .2 6.7 .2 persen.1 11. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.0 .2 4. dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10.9 6.9 11.8 .1 2.1 9. serta memberi dorongan fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara dengan mempertajam belanja negara. 8 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 2013 6. Tabel 2.5 persen.6 .5 – 10.8 .3 11.8 10. Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013 ) 2012 6.8 .12. Persewaan.5 5.1 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.1 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin menjadi 9.7.6.9 6. sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sekitar 6.3.2 6.1 13.6.1 6.5 . Koordinasi antara kebijakan fiskal.12.9 3. Sementara itu.7.5 .5 .9 .5 persen pada tahun 2013.3 12.9 persen pada tahun 2012 dan 11.0 7. ditingkatkan untuk mendorong peran masyarakat dalam pembangunan ekonomi.1 .1 Target Pertumbuhan Ekonomi Dengan berbagai tantangan yang ada.3 persen pada tahun 2013. moneter dan sektor riil.8 .6.7.2 6. Sementara itu.5 6. pengangguran terbuka akan menurun menjadi 5.4 4.2 6.6.5 6.5 Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 didorong dengan upaya meningkatkan investasi.9 11.0 6. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. daya beli masyarakat perlu dijaga untuk dapat tetap menjaga peran konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi.5.4-6. pada tahun 2013.4.3 6.9 .BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 2.9 9.1 .8 .2 7.12.10.4 3.12.8 6.7 . Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.7.5 .5 2.5.9 .0 8.6.5 4.6 10.5-11.

Pertumbuhan ekonomi tersebut pada gilirannya harus dapat menciptakan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 9 . pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP). 2. PNPM. kelancaran barang serta menciptakan iklim usaha yang sehat. Program Keluarga Harapan. Presiden memberikan 7 (tujuh) arahan pokok dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6. 6. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis. Adapun arahan tersebut adalah: 1. Untuk itu pada Sidang Kabinet Paripurna 24 April 2012. BOS dan Raskin. 2. 5.2 Tujuh Arahan Presiden Dalam mencapai sasaran pembangunan nasional yang tinggi. Peningkatan daya saing ekspor. 7. Menerbitkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan investasi. termasuk didalamnya menyelesaikan perubahan Peraturan Presiden (Perpres) No 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa Pemerintah.2. Sejahtera dan Berkeadilan”. tema pembangunan nasional adalah: “Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas. ditunjukkan pada Gambar 2. 3.3 Tema dan Prioritas RKP 2013 Dengan berbagai kondisi perkembangan ekonomi terkini tersebut. 4.1. ditengah berbagai tantangan yang ada. Penguatan perdagangan dalam negeri untuk menjaga kestabilan harga. bahkan mempercepat dan memperluas pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif serta berkeadilan. Mengoptimalkan program perlindungan sosial antara lain Jamkesmas. terutama produk ekspor non migas melalui diversifikasi tujuan ekspor dengan meningkatkan keberagaman dan kualitas produk. Mengendalikan impor produk-produk yang berpotensi menurunkan daya saing produk domestik di pasar dalam negeri. Menjaga tingkat daya beli masyarakat dengan menjaga laju inflasi pada tingkat yang rendah. Indonesia harus siap menghadapi situasi yang dinamis dan penuh tantangan tersebut. pemerintah perlu melakukan upaya-upaya khusus.5 persen. baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. Adapun tema dari RKP. menjaga momentum pertumbuhan yang telah dicapai. Mendorong percepatan belanja pemerintah sehingga dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2012. Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”.

penguatan kelembagaan. 10 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT Sumber: RKP 2013. potensi perekonomian domestik yang besar akan ditumbuhkembangkan guna menghadapi berbagai tantangan eksternal perlambatan perekonomian dunia. serta penyelesaian berbagai hambatan perekenomian terutama melalui reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi. yaitu industri. pembangunan nasional dalam RKP 2012 dan RKP 2013 dituangkan ke dalam 11 Prioritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya. Semua ini perlu didorong dengan pembangunan infrastruktur. Prakarsa-prakarsa baru tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu siap dalam mengantisipasi dan merespon berbagai perkembangan yang terjadi serta melakukan perubahan untuk mencapai kemajuan dan hasil pembangunan yang lebih baik.2. dengan peningkatan daya saing nasional terutama di sektor-sektor produksi. tema pembangunan yang dituangkan dalam RKP adalah: “Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat”. Daya tahan perekonomian terus diperkuat. Bappenas Pada tahun 2013.lapangan kerja yang lebih banyak dan pada gilirannya mempercepat pengurangan kemiskinan. peningkatan kualitas sumber daya manusia. termasuk di dalamnya prakarsa-prakarsa baru yang terintegrasi dengan RPJMN dan RKP untuk menanggapi situasi kekinian dan menjaga momentum positif yang telah dicapai sebagai hasil pembangunan selama ini. Gambar 2. pertanian dan pariwisata. Sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014.1 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP 2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas. Dalam kaitan dengan itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. 11 Proritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya ditunjukkan pada Gambar 2. Selanjutnya. perlu didorong dengan kemampuan pemerataan pembangunan yang lebih luas.

peningkatan daya tahan ekonomi.3. Investasi akan terus didorong. penguatan kelembagaan. korupsi dan pelayanan perijinan akan ditangani secara serius agar tercipta iklim investasi dan usaha yang lebih baik. Kreativitas dan Inovasi Teknologi Bidang Politik. Isu strategis yang menjadi fokus pemerintah pada tahun 2013 ditunjukkan pada Gambar 2. Terdepan. Hukum dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat Sumber: RKP 2013. yang akan didukung oleh pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi. baik investasi yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. & Pasca-konflik Kebudayaan. dunia usaha dan kerjasama pemerintah dan swasta.4 Isu Strategis 2013 Dalam tahun 2013. Untuk itu hambatan perekonomian. Isu strategis tersebut adalah peningkatan daya saing nasional. perekonomian domestik akan lebih ditingkatkan guna menghadapi perekonomian dunia yang masih beresiko dan persaingan yang semakin ketat. Pembangunan infrastruktur dibangun untuk memperkuat national connectivity dan ketahanan energi. terutama inefisiensi/hambatan-hambatan birokrasi. dimana terdapat empat isu strategis yang menjadi fokus pemerintah. Bappenas 2. serta peningkatan kesehatan dan pendidikan sangat penting untuk mendorong produktivitas ekonomi. Terluar. melalui pembiayaan pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam perkuatan ekonomi domestik telah dituangkan pada RKP 2013. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat dan pemantapan stabilitas sosial politik.Gambar 2. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 11 . Potensi perekonomian domestik yang besar akan lebih didorong untuk berkembang. Pembangunan infrastruktur.2 Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan Kesehatan Penanggulangan Kemiskinan Ketahanan Pangan Infrastruktur Iklim Investasi dan Iklim Usaha Energi Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana Daerah Tertinggal.

Sumber: RKP 2013 (diolah) Peningkatan Daya Saing Peningkatan daya saing nasional perlu ditingkatkan pada sektor-sektor produksi.1 persen pada tahun 2013. Korupsi.Gambar 2. jika daya saing daerah lebih baik. untuk peningkatan daya saing nasional akan dilakukan juga peningkatan iklim usaha. pertanian dan pariwisata. •Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. dengan upaya yang difokuskan pada: (1) penyederhanaan prosedur investasi dan prosedur berusaha. Target perbaikan iklim usaha pada tahun 2013 adalah: (1) waktu memulai usaha turun menjadi 20 hari. 10 juta ton.9 persen pada tahun 2012 dan 12. iklim investasi akan terus diperbaiki. (2) peningkatan efisiensi logistik nasional. serta (4) waktu pendaftaran properti menjadi 20 hari. Pembangunan industri didorong untuk meningkatkan nilai tambah berbagai komoditi unggulan di berbagai Wilayah Indonesia. •Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi. (3) waktu perolehan akses listrik menjadi 90 hari. Peningkatan daya saing nasional tidak dapat lepas dari kemampuan daerah untuk meningkatkan daya saingnya. •Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. daya saing nasional dapat meningkat. Sementara itu. peningkatan daya saing nasional perlu dilakukan melalui peningkatan daya saing daerah secara merata dan terintegrasi. khususnya koridorkoridor ekonomi dalam kerangka Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dalam rangka peningkatan daya saing. dengan indikator pencapaiannya adalah target pertumbuhan investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) sebesar 10. langkah-langkah pemerintah untuk mencapai hal tersebut dituangkan pada Prioritas Nasional 7. •Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi Klaster 1-4. Oleh sebab itu. •Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. utamanya industri. Namun demikian. (2) waktu perijinan mendirikan bangunan yang turun menjadi 137 hari. (3) 12 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .3 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Peningkatan Daya Saing Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Peningkatan Dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Pemantapan Stabilitas Sospol •Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha. •Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan •Percepatan Pembangunan Infrastruktur. dimana sasarannya adalah membaiknya indikator-indikator kemudahan berusaha yang ada pada Ease of Doing Business. •Persiapan Pemilu 2014. Selain itu. •Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras •Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia.

5 2 8 10.530 6. Tingkat Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business) :  Waktu untuk memulai usaha (hari)  Perijinan mendirikan bangunan (hari)  Perolehan akses listrik (hari)  Pendaftaran properti (hari) 2. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Dalam Negeri (%/tahun) f.0-6.1 20 137 90 20 92.8 6.6 6. Pangsa Angkutan KA Barang (%) d. masyarakat (konsumen) dan pemerintah.50 11.00 83 6. Peningkatan Industri Pengolahan (%) b. Melalui penguataan konektivitas antar wilayah dan di dalam wilayah itu sendiri diharapkan akan menurunkan biaya transportasi barang dan jasa khususnya ke daerah-daerah yang berada jauh dari lokus produksi barang yang nantinya akan menguntungkan para pelaku usaha (produsen).080 1 Data pencapaian target kemudahan berusaha tahun ke-n akan diperoleh di awal tahun ke-n+1.8 45 158 108 22 88. Ibukota Babupaten/Kota yang dilayani Jaringan Broadband (%) 3.6 395. Bappenas 2011 2012 2013 8.50 12.9 36 145 108 22 90.2 6.2 6. Kondisi Mantap Jalan Nasional (%) b.pengembangan kawasan ekonomi ketenagakerjaan. Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi a. Selama ini telah diketahui bahwa arus barang di Indonesia harus mengeluarkan biaya transportasi yang relatif tinggi sehingga tidak mampu bersaing dengan komoditas impor.2 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing ISU STRATEGIS 1.434 58.50 76 11. Tabel 2. Pangsa Angkutan KA Penumpang terhadap Total Angkutan Umum (%) e.150 40.6 449.367 6. Sasaran yang akan dicapai dalam percepatan pembangunan infrastruktur adalah kondisi mantap jalan nasional yang mencapai 92.50 12 3 10 11.5 persen pada tahun 2013 dan pangsa angkutan laut ekspor impor yang mencapai 12 persen. Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha a. dan (4) harmonisasi kebijakan Percepatan pembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung penguatan konektivitas di dalam wilayah maupun antar wilayah.500 32.50 13.750 52.099 34.78 12.7 7.1 6. Peningkatan Investasi (%) 1 b. khusus (KEK). Pangsa Angkutan Laut Ekspor Impor (%) c. Percepatan Pembangunan Infrastruktur: Domestic Connectivity a. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Luar Negeri (%/tahun) g.50 11 1 6 9.30 66 10. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 13 .880 34. Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda — Tingkat Pengangguran Terbuka (%)  Peningkatan Keahlian untuk Bekerja (orang)  Peningkatan Kualitas Pemagangan Berdasarkan Kebutuhan Industri (orang)  Peningkatan Akses Berusaha dan Berwirausaha bagi Tenaga Kerja Muda (orang) Sumber: RKP 2013.4 502.4-6. Peningkatan Industri Pengolahan Nonmigas (%) 4.

Selain itu.95 96. Ketahanan pangan yang kuat akan menjadi salah satu pendorong dalam menciptakan perekonomian yang berdaya tahan.1 1.000 14 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Rasio Elektrifikasi (%) b.80 48.60 96.2 persen.Peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi pada tahun 2013 akan dilakukan dengan sasaran peningkatan industri pengolahan sebesar 6. Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi  Peningkatan Rasio Elektrifikasi a. Selain itu.7 persen dan peningkatan industri pengolahan non migas sebesar 7. tersedianya energi juga merupakan salah satu faktor pendukung daya tahan ekonomi nasional.000 77. meningkatkan aksesibilitas terhadap infrastruktur energi dan meningkatkan pasokan energi domestik juga menjadi fokus pemerintah. Penyediaan pangan pokok seperti beras tidak bisa mengandalkan dari luar negeri.6 persen. beberapa langkah yang akan dilakukan pemerintah yang dimasukkan dalam isu strategis ketahanan pangan adalah: (1) peningkatan produksi pangan. Tabel 2.1 67. (3) stabilisasi harga bahan pangan dalam negeri.39 juta ton pada tahun 2014.5 62. Pencetakan Sawah Baru (ribu ha) 2. Rasio Desa Berlistrik (%) c. 2011 2012 2013 65.555 4 16. Konversi energi dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. peningkatan daya saing ditargetkan pula dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 6.7 1. termasuk upaya menuju surplus beras 10 juta ton per tahun mulai tahun 2014 serta pencapaian produksi perikanan 22. Kapasitas Pembangkit (MW)  Pelaksanaan Konversi Gas a. Dalam hal ini. mengurangi subsidi energi.02 37.0-6.353 5 17.70 43. PenurunanKonsumsi Beras (%/tahun) c. Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Kebutuhan penyediaan pangan terus meningkat baik jumlah maupun kualitasnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun dan peningkatan pendapatan masyarakat. Bappenas 1. dan (4) peningkatan kesejahteraan petani.653 5 16. oleh karena itu produksi dalam negeri harus ditingkatkan. pemerintah akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur energi dalam bentuk gas serta jaringan distribusinya.60 97.939 73.4 persen pada tahun 2013. Pembangunan Jaringan Distribusi Gas untuk Rumah Tangga (kota) b. Produksi Padi (juta ton GKG) b. Sambungan Gas ke Rumah Tangga Sumber: RKP 2013. Dalam kaitan itu.8 1. untuk itu pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi (RE) sebesar 77. Ketersediaan listrik di seluruh wilayah Indonesia merupakan suatu keharusan.5 100 72.5 100 72. (2) pengembangan diversifikasi pangan.3 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi ISU STRATEGIS Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta ton a.

1 90. APK SD/SDLB/MI/Paket A (%) f. yaitu berpendidikan dan sehat. MP3KI diarahkan untuk mendorong perwujudan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan. berbudi pekerti luhur. APK PT usia 19-23 Tahun (%) i.0 26. terjangkau dan terlindungi bagi penduduk Indonesia. relevan dan efisien menjadi kebutuhan mendasar dalam menciptakan SDM yang cerdas.75 5. ISU STRATEGIS Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan a. keterjangkauan. (2) peningkatan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta penyehatan lingkungan. alat kesehatan dan makanan. APS Penduduk Usia 13-15 Tahun (%) 2011 2012 2013 7.8 95. peningkatan kualitas SDM yang sehat juga perlu diraih dengan peningkatan akses dan layanan kesehatan yang berkualitas. merata. APS Penduduk Usia 7-12 Tahun (%) j.4 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 1.3 74. APM SD/SDLB/MI/Paket A (%) d.6 106. jaminan keamanan. (4) peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan. mandiri. Dalam hal ini perlu didorong dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.6 101. menengah.5 76.4 98.24 99.40 95.7 93. terampil.Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Perekonomian domestik yang kuat tentunya ditujukan untuk peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.4 118. Isu strategis pendidikan diarahkan untuk pemenuhan layanan pendidikan dasar. Antara lain dengan: (1) peningkatan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak.7 75. serta memiliki karakter bangsa yang kuat. Layanan pendidikan yang berkualitas. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (tahun) b. produktif.0 95. APM SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) e. tinggi yang berkualitas. APK SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) g.80 76.85 4. Angka Buta Aksara Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (%) c. Sementara itu. Saat ini pemerintah sedang menyusun dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) 2011-2025. Peningkatan dan perluasan kesejahteraan masyarakat perlu didukung dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.0 27.25 4.0 28.3 7. (3) peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata. pro-poor.1 98.9 79. MP3KI merupakan kebijakan afirmatif dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi yang pro-growth.7 117. khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal sehingga dapat terlibat langsung dan menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tabel 2.8 82.0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 . projob dan pro-environment. berdaya saing dan selaras dengan kebutuhan pembangunan. (5) peningkatan ketersediaan. serta daya saing produk dalam negeri.00 118. khasiat/manfaat dan mutu obat. terjangkau.2 103. (6) peningkatan akses pelayanan KB berkualitas yang merata. pemerataan.17 95.6 8. APK SMA/SMK/MA/Paket C (%) h.

Kelompok Rintisan .3 84.11 501.000 62.500 0.491 - - - - 702 444 4 16 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .89 95 3.000 87 1.600 9.29 90 3.820 85 5.593 4. Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang Berkualitas bagi Ibu dan Anak  Persentase Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (cakupan PN)  Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap  Persentase Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S)  Jumlah Puskesmas yang Mendapatkan Bantuan Operasional Kesehatan b.5 80 11. Peningkatan Jaminan Pembiayaan Kesehatan  Jumlah TT Kelas III RS yang Digunakan untuk Pelayanan Kesehatan (new initiave)  Jumlah Puskesmas yang Memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Penduduk Miskin e.75 63.2 1.700 23. Peningkatan Profesionalisme dan PendayagunaanTenaga Kesehatan yang Merata  Persentase Pemenuhan Kebutuhan SDM Aparatur (PNS dan PTT)  Jumlah Tenaga Kesehatan yang Didayagunakan dan Diberi Insentif di DTPK dan di DBK d.323 86.2 1.323 87 4.608 88 85 75 9. Alat Kesehatan dan Makanan.4 8.500 0.236 89 88 80 9.Kelompok Paripurna  Jumlah provinsi sebagai model manajemen pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (program KB Kencana) ( New Inisiative) 2011 2012 2013 86.500 0.700 23.11 745. Khasiat/Manfaat dan Mutu Obat. serta Daya Saing Produk Dalam Negeri  Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin f.700 23.376 80 3.000 Penduduk  Persentase Provinsi yang memiliki Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR)  Jumlah Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) c.236 9.320 9. Jaminan Keamanan.125 9.7 71. Keterjangkauan. Peningkatan Ketersediaan.ISU STRATEGIS Kesehatan a.25 90 16. PLKB/PKB dan IMP yang Mendapatkan Dukungan Operasional dan Mekanisme Operasional Lapangan  Jumlah Peserta KB yang Berasal dari Anggota Kelompok BKB yang Mendapatkan Penggerakan Rintisan BKB dan Penguatan Kelembagaan BKB ( New Inisiative) .6 6.11 - 4.97 4. Pemerataan.235 87 1. Peningkatan Akses Pelayanan KB Berkualitas yang Merata  Jumlah Peserta KB baru dari Keluarga Miskin (KPS dan KS-I) yang Mendapatkan Jaminan Ketersediaan Kontrasepsi (juta akseptor)  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapatkan Dukungan Sarana dan Prasarana Pelayanan KB  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapat Dukungan Penggerakan Pelayanan KB  Persentase Komplikasi Berat dan Kegagalan KB yang Dilayani  Jumlah PPLKB. Peningkatan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular serta Penyehatan Lingkungan  Persentase Kasus Baru TB Paru (BTA positif) yang Disembuhkan  Angka Penemuan Kasus Malaria per 1.

Tabel 2. Jumlah Provinsi ii.Beasiswa Miskin i.950.5 9. Opini WTP atas Laporan Keuangan (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 2 3 2011 2012 2013 75 1) 3.5-11.5 3 15. Bappenas 2011 12.520 298. Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi klaster 1-4 a.020 10.5 1.Perluasan Kredit Usaha Rakyat i.520 60 33 27. Penurunan Angka Kemiskinan (%)  Klaster I . adil. Tantangan penyelenggaraan pemilu sangat besar dan masyarakat menaruh harapan luar biasa pada penyelenggaraan pemilu agar dapat berlangsung secara jujur. PPLS 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 17 . PT Umum dan Islam (ribu mahasiswa)  Klaster II .5 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 1.Jamkesmas (juta RTS) .698.9 5.Pembangunan Perumahan Swadaya/Rumah Sangat Murah (ribu unit) Sumber: RKP 2013.24 7. demokratis dan aman.5-10. reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan perlu terus ditingkatkan baik di pusat dan daerah. Sementara itu.5 239.116 17.948 2013 9.516 17.PNPM Perkotaan (Desa/Kelurahan)  Klaster III . Indeks Persepsi Korupsi b.0 63 18 8.5 9.PNPM Perdesaan (Kecamatan) .33 14.ISU STRATEGIS 2.5 2.0 5.230 10.6 303.61 4. ISU STRATEGIS Persiapan Pemilu 2014 — Tingkat Partisipasi Politik Tahun 2014 (%) Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi a. khususnya dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan.922 33 33 27.2 80 40 20 4.948 2012 10.5 3.5 5.0 100 60 40 Jan-Jun.100 10.0 186.068. Reformasi birokrasi di daerah harus sejalan dengan pemantapan penataan otonomi daerah agar kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah makin meningkat.Raskin (juta RTS) . SD/MI s/d SMA/MA/SMK (ribu siswa) ii.PKH (juta RTSM) . 2. kondisi sosial dan politik menuju pemilu 2014 juga perlu terus dijaga.4 2 17. PPLS 2008 Jul-Des.5 1.25 Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik Perekonomian domestik yang kuat perlu didukung oleh kemantapan stabilitas sosial dan politik. Jumlah UMKM  Klaster IV .5 8. Dalam rangka hal tersebut.

Bappenas c.0 100 100 100 40 90 70 50 17 15 22 30 19 24 37 21 31 18 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .93 63.5 90 80 100 15 85 65 30 2013 7.25 6. d. f.ISU STRATEGIS Integritas Pelayanan Publik (Pusat) Integritas Pelayanan Publik (Daerah) Jumlah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Daerah (%) Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota g.07 6.33 12. Matra Darat b. Instansi Pemerintah yang Akuntabel (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 3. Matra Udara Sumber: RKP 2013. 2011 7. Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force Peningkatan Alutsista (%) a. e.5 7.00 85 21 82.78 2012 7. Matra Laut c.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB III KONDISI TERKINI DAERAH .

konstruksi.8 persen.2 persen. Sementara itu.9 persen.5 persen.BAB III KONDISI TERKINI DAERAH 3.2 persen.6 persen dan 12.2 persen. Pengeluaran pemerintah juga meningkat sebesar 3. atau lebih tinggi dari tahun 2010 yang tumbuh 6.9 persen. investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun 2011 meningkat dengan pertumbuhan sebesar 8. Sementara itu.8 persen. gas dan air bersih. 6. Di sisi pengeluaran. Kemudian pada Triwulan I tahun 2012.0 persen dan sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh 6. serta 6.1 persen.2 persen.0 persen. Tingkat pengangguran terbuka serta penduduk miskin juga menurun hingga mencapai masing-masing sebesar 6. Hotel dan Restoran.1. turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 7. sektor pertanian tumbuh 3.1 Kondisi Ekonomi Nasional 3. dimana pertumbuhannya masing-masing sebesar 13. inflasi bisa ditekan hingga 3.3 persen.8 persen dan PMTB sebesar 10. keuangan. serta jasa-jasa tumbuh masing-masing sebesar 4.6 persen dan 13. kinerja ekonomi Indonesia sangat baik dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6.8 persen.9 persen 22 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . konsumsi pemerintah sebesar 6. 10. sama dengan tahun sebelumnya. sasaran pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6.8 persen. hotel dan restoran.5 persen.5 persen. Di sisi produksi. 9. Di lain pihak. Sektor tersier yang meliputi listrik. Sementara itu ekspor dan impor diperkirakan hanya tumbuh sebesar 9.7 persen.1 Pertumbuhan Ekonomi Pada tahun 2011. perekonomian Indonesia tetap tumbuh baik dengan laju sebesar 6. Di sisi produksi. Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi. real estat dan jasa perusahaan. pengangkutan dan telekomunikasi. perdagangan. Pada tahun 2012 ini. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 terutama ditopang oleh ketahanan domestik berupa investasi yang meningkat dan daya beli masyarakat yang terjaga serta ekspor barang dan jasa yang tetap tumbuh. sektor yang memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah Sektor Perdagangan.7 persen. 6.7 persen. konsumsi masyarakat tetap tumbuh sebesar 4. Tingkat pertumbuhan ini diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 4.3 persen.7 persen. Konsumsi masyarakat dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di sisi pengeluaran. dimana kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 5. ekspor dan impor tumbuh melambat karena dampak dari krisis global. Stabilitas ekonomi Indonesia pada tahun 2011 masih terjaga di tengah berbagai krisis eksternal.

dan 11,4 persen dikarenakan kondisi ekonomi dunia yang masih belum pulih. Tabel 3.1 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012
PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013) 2010 6,2 4,7 0,3 8,5 15,3 17,3 3,0 3,6 4,7 5,3 7,0 8,7 13,4 5,7 6,0 7,0 7,1 13,3 2011 6,5 4,7 3,2 8,8 13,6 13,3 3,0 1,4 6,2 4,8 6,7 9,2 10,7 6,8 6,7 3,8 6,6 12,5 2012 (Sasaran) 6,5 4,9 6,8 10,9 9,9 11,4 3,5 2,0 6,1 6,2 7,0 8,9 11,2 6,3 6,2 6,8 6,4-6,6 10,5-11,5

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan masingmasing sebesar 3,5 persen, 2,0 persen dan 6,1 persen. Sementara itu sektor listrik, gas dan air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan telekomunikasi; keuangan, real estat dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 6,2 persen; 7,0 persen; 8,9 persen; 11,2 persen; 6,3 persen dan 6,2 persen.

3.1.2 Tingkat Kemiskinan
Secara nasional, jumlah penduduk miskin selama periode 2006-2012 mengalami penurunan yang signifikan, dari 39,3 juta jiwa pada 2006 menjadi 29,13 juta jiwa pada 2012 sehingga selama periode tersebut jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 10,17 juta jiwa atau secara rata-rata sebesar 1,45 juta jiwa per tahun (Gambar 3.1). Tren yang serupa juga terjadi dalam perkembangan persentase penduduk miskin dalam periode yang sama, dimana terjadi penurunan yang tajam dari sekitar 17,75 persen pada 2006 menjadi sekitar 11,96 persen pada 2012. Dengan demikian, selama periode 2006-2012 terjadi penurunan persentase penduduk miskin sekitar 32,6 persen atau secara rata-rata sekitar 4,65 persen per tahun.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

23

Gambar 3.1 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 - 2012
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 17,75 16,58 39,3 37,17

34,96

32,53

31,02

30,02

29,13

15,42

14,15

13,33

12,49

11,96

Dengan menggunakan data kemiskinan yang mutakhir (Susenas, Maret 2012), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret tahun 2012 sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Apabila dibandingkan dengan perhitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan Susenas Maret 2011 yang berjumlah 30,02 juta (12,49 persen) maka terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,13 juta orang selama periode Maret 2011 – Maret 2012. Selama periode tersebut, jumlah penduduk miskin menurut kawasan baik perkotaan maupun perdesaan masing-masing turun menjadi 3,61 persen dan 2,6 persen. Jumlah penduduk miskin di perkotaan berkurang sebesar 0,40 juta orang, sementara di perdesaan berkurang sebesar 0,49 juta orang (Tabel 3.2). Selama periode tersebut, persentase penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Tabel 3.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan
Kawasan Perkotaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perkotaan+Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (Juta) 11,05 10,95 10,65 18,97 18,94 18,48 30,02 29,89 29,13 Persentase Penduduk Miskin (%) 9,23 9,09 8,78 15,72 15,59 15,12 12,49 12,36 11,96

24

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) inflasi umum yang relatif rendah, (2) penurunan harga eceran beberapa komoditas bahan pokok, (3) perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan dengan naiknya nilai tukar petani, (4) terjaganya kinerja pertumbuhan ekonomi nasional sampai dengan triwulan III dan (5) penurunan tingkat pengangguran terbuka. Berdasarkan wilayah, persentase penduduk miskin terbesar di Wilayah Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77 persen, sementara persentase penduduk miskin terkecil di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 6,69 persen. Namun demikian, apabila dilihat dari jumlah penduduk maka sebagian besar penduduk miskin terkonsentrasi di Wilayah Jawa, yaitu sebesar 16,11 juta orang, sementara jumlah penduduk miskin terkecil berada di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 0,95 juta orang (Tabel 3.3). Tabel 3.3 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012)
Pulau Sumatera Jawa Bali dan Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Indonesia Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Kota Desa Kota+Desa 2.075,54 4.225,33 6.300,87 7.209,94 8.897,26 16.107,20 640,23 1.393,71 2.033,94 266,15 688,42 954,57 341,04 1.756,20 2.097,24 114,33 1.524,27 1.638,60 10.647,23 18.485,19 29.132,42 Persentase Penduduk Miskin (%) Kota Desa Kota+Desa 10,15 13,30 12,07 8,84 15,46 11,57 12,13 17,03 15,11 4,41 8,37 6,69 5,70 14,86 11,78 5,88 32,64 24,77 8,78 15,12 11,96

Pada periode Maret 2011–Maret 2012 secara umum terjadi perbaikan kondisi penduduk miskin yang ditunjukkan adanya penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Nilai P1 turun dari 2,08 pada Maret 2011 menjadi 1,88 pada Maret 2012, sementara nilai P2 turun dari 0,55 menjadi 0,47 pada periode yang sama (Tabel 3.4). Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati garis kemiskinan serta berkurangnya ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Berdasarkan kawasan, nilai P1 dan P2 di perdesaan masih tetap lebih tinggi daripada di perkotaan. Pada Maret 2012, nilai P1 untuk perkotaan hanya 1,40 sementara di perdesaan mencapai 2,36. Selanjutnya, nilai P2 untuk perkotaan hanya 0,36 sementara di perdesaan mencapai 0,59. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di perdesaan lebih buruk daripada di perkotaan.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

25

Tabel 3.4 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan
Indeks Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Kota Desa Kota+Desa

1,52 1,48 1,40 0,39 0,39 0,36

2,63 2,61 2,36 0,70 0,68 0,59

2,08 2,05 1,88 0,55 0,53 0,47

3.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka
Secara nasional, tingkat pengangguran terbuka (TPT) cenderung terus menurun selama lima tahun terakhir. Pada bulan Februari 2012 TPT nasional telah mencapai 6,32 persen, menurun cukup tinggi dari TPT pada tahun 2008 yang masih sebesar 8,46 persen. Antara 2011 – 2012, jumlah angkatan kerja bertambah 1,01 juta orang menjadi sebesar 120,41 juta. Dalam kurun waktu tersebut jumlah kesempatan kerja baru yang tercipta sebesar 1,52 juta orang, sehingga dengan demikian jumlah penganggur menurun sekitar 500 ribu orang. Gambar 3.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012
140 120 100 Juta Orang 80 60 40 20 0 2008 2009 2010 2011 2012 14% 12% 10% 8% 8,14% 7,41%

8,46%

6,80%

6% 6,32% 4% 2% 0%

Angkatan Kerja
Sumber: Sakernas, BPS

Bekerja

Penganggur Terbuka

TPT

26

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Bagi pekerja kondisi ini juga memberikan manfaat bagi peningkatan spesialisasi.3 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 900 Rp Triliun 12 Persen 600 8 4 300 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Ketiga. Pasar yang besar memiliki daya tarik yang lebih tinggi bagi investor karena menawarkan beberapa keuntungan ( agglomeration economies). Dalam hal ini pengusaha akan lebih mudah menemukan tenaga kerja dengan spesialisasi yang sesuai dengan kebutuhan di daerah padat penduduk dibandingkan dengan di daerah berpenduduk sedikit. daerah-daerah dengan populasi besar juga memfasilitasi berfungsinya pasar tenaga kerja secara lebih efisien.2 Kondisi Ekonomi Daerah 3. Gambar 3.2. Keuntungan aglomerasi yang terakhir adalah adanya eksternalitas positif dari terkonsentrasinya industri dan investasi di suatu lokasi. Di perekonomian yang besar. penyuplai bahan baku. baik keterkaitan ke belakang maupun keterkaitan ke depan. pasar yang besar memfasilitasi para pelaku usaha untuk berproduksi pada skala ekonomi yang optimal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan produktivitas dalam perekonomian.3. maupun industri pengguna produknya untuk diolah lebih lanjut. Kedua. 2010 (Rp Trilyun) Sumber: BPS Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi 2005-2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 27 . Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. berupa limpahan ( spillover) informasi dan pengetahuan. semakin besar ukuran pasar semakin besar pula kemungkinan terjadinya linkages atau keterkaitan. para pelaku usaha akan lebih mudah menemukan pembeli. Kondisi ini akan meningkatkan daya saing perusahaanperusahaan di daerah tersebut karena mampu berproduksi secara lebih efisien. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua - (4) PDRB ADHB Th. Bangka Belitung Kep. Pertama.1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah Ukuran pasar domestik di dalam perekonomian daerah tergambar dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan jumlah penduduk.

Bahkan dalam lima tahun terakhir kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Sulawesi termasuk yang paling tinggi di antara provinsi-provinsi lainnya. Lampung (1. Gorontalo dan Maluku merupakan tiga provinsi dengan PDRB terkecil secara nasional dengan peran masing-masing kurang dari 0. sedangkan Papua memiliki persentase penduduk miskin terbesar (Gambar 3. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 35 30 25 20 15 10 5 0 Jumlah Penduduk Miskin (Juta Jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 28 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 14. Bangka Belitung Kep.2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi Secara geografis.7 juta jiwa).Pola di atas juga nampak dalam kinerja perekonomian daerah (provinsi) di Indonesia.1 juta jiwa) dan Jawa Timur (5.07 juta jiwa). Provinsi-provinsi di Jawa juga masih merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.0 5.0 1.2.0 3.8 persen dan 14. terutama di Jawa Barat (4.0 2. Jawa Tengah (5.4). Jawa Timur memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. Jawa Timur dan Jawa Barat adalah tiga provinsi dengan PDRB terbesar.4 juta jiwa).2 persen.0 4.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. konsentrasi penduduk miskin pada tahun 2011 masih berada di Wilayah Jawa.4 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 6.7 persen terhadap perekonomian nasional (total PDRB 33 provinsi). yaitu Sumatera Utara (1. Gambar 3. Bila kecenderungan ini terus berlanjut maka peran Wilayah Sulawesi yang saat ini relatif kecil akan semakin meningkat dan semakin penting sebagai pendorong pertumbuhan Wilayah Kawasan Timur Indonesia.4 juta jiwa). masing-masing berperan sebesar 16. Wilayah lain yang memiliki kinerja pertumbuhan baik adalah Sulawesi. Sementara itu Maluku Utara.01 juta jiwa).0 0. 3. Sumatera Selatan (1. PDRB provinsi-provinsi di Jawa mendominasi PDRB provinsi-provinsi lainnya dalam hal peran PDRB terhadap perekonomian nasional.4 persen. DKI Jakarta.2 juta jiwa) dan Nusa Tenggara Timur (1. Secara nasional. Diluar ketiga provinsi tersebut masih terdapat provinsi-provinsi lain dengan jumlah penduduk miskin lebih dari 1 juta orang.

Tanjung Jabung Timur Kab. Kolaka Utara Kab.77 42. Lombok Utara Kab. sedangkan kota Tangerang Selatan memiliki persentase penduduk miskin terendah. Malinau Kab.71 11.34 2. Bener Meriah Kota Gunungsitoli Kab.02 7.51 5.58 persen.06 39.83 12.43 7. yaitu sekitar 49.07 19.84 24.41 20. Hulu Sungai Utara Kab.19 5. 2012.24 20.98 5. Banjar Kota Balikpapan Kota Manado Kota Gorontalo Kota Palu Kota Makassar Kab. Bangka Barat Bengkulu Tengah Kab. Polewali Mamasa Kab. Deiyai Kab.40 2. Purbalingga Kab.06 10.07 6. Flores Timur Kab. Tojo Una Una Kab. Landak Kab.15 32.64 9.84 19.12 9.03 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 29 .25 6. Maluku Barat Daya Kab. Tulangbawang Barat Kota Jakarta Timur Kota Depok Kota Tangerang Selatan Kota Semarang Kota Yogyakarta Kota Batu Kota Denpasar Kota Bima Kab.64 28. Sabu Raijua Kab.58 23.5 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.57 15. Halmahera Tengah Kab.63 3.49 9.53 14.21 12. Mamuju Utara Kota Kendari Kota Ambon Kota Ternate Kab.31 18.67 5. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Jembrana Kab. Badan Pusat Statistik (BPS) telah memetakan kabupaten/kota di masingmasing provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin tertinggi dan terendah pada 2010.20 8. Kepulauan Seribu Kota Tasikmalaya Kab.34 4.31 3. Tabel 3. Deli Serdang Kota Sawahlunto Kota Pekan Baru Kab. Merauke Kota Sorong Terendah % 9.57 49. Teluk Bintuni Tertinggi % 26. Pangkajene Kepulauan Kab.11 43.48 4.14 24.16 14.58 47.19 13. Kepulauan Mentawai Kab.80 9. yaitu sekitar 1.36 22. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Sumber : BPS Kabupaten/Kota Kab.87 19.Dalam publikasi yang berjudul Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.80 3. Belitung Timur Kab. Kepulauan Meranti Kab.84 1. Barito Timur Kab. Sampang Kab.02 5. Kulon Progo Kab. Lingga Kab. Pandeglang Kab.61 5.86 6.14 41.11 2.67 4. Kepulauan Anambas Kota Sungai Penuh Kab.20 4.67 persen. Musi Banyuasin Kab.28 24. Boalemo Kab.62 Kabupaten/Kota Kota Banda Aceh Kab.75 5. Sanggau Kota Palangka Raya Kab. OKU Timur Kab.81 5.51 7.76 15.23 33. Dari pemetaan tersebut tercatat bahwa kabupaten Deyai di provinsi Papua memiliki persentase penduduk miskin tertinggi secara nasional. Bengkulu Selatan Kab.06 10. Lampung Utara Kab.26 21.07 20.47 8.54 14.

56 persen dari keseluruhan angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.37 8.33 11.21 6.05 13.25 4.27 4.25 5.69 7. Selanjutnya. 3.29 5.61 9.61 4. Papua dan Papua Barat.50 Kalimantan Timur Gorontalo INDONESIA NAD Maluku Papua Riau DKI Jakarta Bengkulu Lampung Kep.37 juta orang.14 6.39 5.97 10. Riau Banten Jambi Bali 3.37 8. yang merupakan 6.85 5.83 13.68 8.19 7.34 4. Mayoritas penganggur yang berada di Pulau Jawa dan Bali berjumlah 5.61 5.70 2. Gambar 3.3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi Distribusi Regional Berdasarkan Sakernas Agustus 2011. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai persentase penduduk miskin kabupaten/kota baik nilai tertinggi maupun terendah.14 4.0 persen dari total penganggur Indonesia.24 3.2.56 7. Sementara itu penganggur di Pulau Sumatera 30 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Jawa Barat Kep.7 juta orang.43 7.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 . BPS TPT 2011 Konsentrasi penganggur di Indonesia berada di Wilayah Indonesia Barat.86 2.69 6.28 8.41 4.72 10.21 9.07 7.25 5.68 .5. Distribusi jumlah penganggur menurut masing-masing provinsi dapat dilihat pada Gambar 3. nilai terendah persentase penduduk miskin kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat sekitar 14 persen.62 5. jumlah tenaga kerja yang berstatus penganggur di Indonesia adalah sebanyak 7.67 3. yaitu Riau.99 4.90 6.84 10.03 6.08 juta orang atau sekitar 64.65 6.66 4.07 6.35 3.55 4.04 7.10 10.34 3. Nusa Tenggara Barat.59 4.16 5.27 6.62 5.47 5.18 8.57 5.95 7.72 3. Nusa Tenggara Timur.Dari data tersebut terlihat pula bahwa terdapat 5 (lima) provinsi yang memiliki kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin tertinggi diatas 40 persen. Bangka Belitung DI Yogyakarta Maluku Utara Papua Barat Jawa Timur Kalimantan Barat Sumatera Utara Sumatera Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat TPT 2010 Sumber: Sakernas.61 4.72 9.2011 2.63 5.25 3.06 3.14 7.62 6.18 3.17 9. tingkat kemiskinan di Wilayah Indonesia Timur sangat serius sehingga memerlukan perhatian yang khusus baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

461 31.594 46.658 47.785 48.620 56. atau sekitar 18. BPS 500. Provinsi dengan jumlah penganggur terbesar adalah Jawa Barat (1.5 persen dari total penganggur Indonesia.502 10.811 104.235 11.564 Perdesaan 8.22 persen sementara di daerah perdesaan adalah 4.6 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Sulawesi Barat Bengkulu Gorontalo Maluku Utara Kalimantan Tengah Kep.488 8.429 33.884 53.500.357 37. Kecuali provinsi Jambi dan NAD.000 1.602 24.953 267.318 59. Distribusi Pengangguran Kota-Desa Berdasarkan distribusi pengangguran kota-desa di setiap provinsi.315 15.54 40.000 0.740 134.147 135.094 15.000 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 31 . konsentrasi pengangguran di daerah perkotaan secara umum terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah perdesaan.410 50.000 1.499 17.109 1.0 juta orang) dan juga Jawa Timur (821.6 ribu orang).000 Sumber: Sakernas.194 18.9 juta orang).855 14.734 1282.berjumlah sekitar 1.975 14.0 persen total penganggur Indonesia atau 6.000 500.992 404. Tingkat pengangguran di daerah perkotaan secara nasional adalah 8.075 101. Gambar 3. Dua bagian kawasan barat Indonesia ini telah menampung sekitar 85. Tiga provinsi ini memberikan kontribusi hampir sekitar 50 persen penganggur yang ada di Indonesia.544 57.408 Perkotaan 619.258 58.225 7.52 juta.617 19.651 11.452 504.551 555.297 46. Riau DI Yogyakarta Sumatera Barat Riau Sulawesi Selatan Lampung Sumatera Selatan Kalimantan Timur Sumatera Utara Jawa Timur Banten Jawa Tengah DKI Jakarta Jawa Barat 11.844 65.159 122.825 26.739 37.44 juta orang.599 61.473 77.174 25.083 11.509 187.156 118.609 99.211 36.000.192 40. Bangka Belitung Jambi Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Papua NAD Kalimanta Barat Bali Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Kep. yang memiliki tingkat penganggurannya lebih tinggi di daerah perdesaan.112 4.000.398 13.168 80.461 13.122 7.064 13.037 493.762 111.320 28.767 13.96 persen. diikuti oleh Jawa Tengah (1.133 417.115 109.

1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat Konsumsi masyarakat mengalami pertumbuhan positif di semua provinsi selama periode 2006-2009. Kalimantan Barat.82 persen.Untuk daerah-daerah tertentu. Sebanyak dua belas provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi cukup tinggi di atas 7 persen.0 persen. Bangka Belitung. Maluku. seperti Papua. Sementara daerah yang tingkat penganggurannya dibawah 5. Sulawesi Utara. 3. Sumatera Barat. Banten. DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kalimantan Timur. Hal ini menandakan meningkatnya daya beli masyarakat secara riil di wilayah-wilayah tersebut. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi di provinsi Kepulauan Riau dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 14. Bali dan Bengkulu.sisi kiri Sumber : BPS diolah 32 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Juta Rp Persen . Sulawesi Barat. Gambaran daerah lainnya. Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara. Jambi. merupakan provinsi dengan tingkat pengangguran antara kota dan desa yang perbedaannya sangat besar. sebagian besar di Wilayah luar Jawa.3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3. tingkat penganggurannya diatas 10. Lampung. Jawa Timur. Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat memiliki tingkat pengangguran yang hampir sama antara di kota dan desa. Provinsi Banten. Sumatera utara. Gambar 3. sedangkan pertumbuhan konsumsi terendah terjadi di NAD sebesar 0.2 persen. Kep. namun dengan kisaran yang cukup lebar.7 Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 - Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita (ADHB) Tahun 2009 (Juta Rp) Rata-rata pertumbuhan konsumsi 2006-2009 (%) . seperti provinsi Papua Barat.0 persen adalah DI Yogyakarta. Kalimantan Tengah. Lampung.3.

2009 120 100 Persen 80 60 40 20 0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Hal ini ditunjukkan oleh relatif tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada provinsiprovinsi dengan tingkat konsumsi per kapita relatif rendah. Kondisi serupa ditemui di Provinsi NAD dan Riau. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rata-Rata Peran Konsumsi dalam Sumber Pertumbuhan PDRB (persen) Sumber: BPS diolah Selama periode 2006-2009 peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah sangat bervariasi antar provinsi. kurang dari 4 persen per tahun dan lima belas provinsi sisanya mengalami pertumbuhan konsumsi relatif moderat antara 4 sampai 7 persen. Gambar 3. Maluku dan Sulawesi Barat. Pangsa konsumsi rumah tangga dalam PDRB bervariasi antar provinsi. Namun demikian di daerah-daerah tersebut investasi dan perdagangan perlu tumbuh lebih tinggi agar pertumbuhan konsumsi ini berkelanjutan.8 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 .3. 3. Bila kinerja pertumbuhan ini dikaitkan dengan tingkat konsumsi per kapita maka terlihat kecenderungan pemerataan daya beli masyarakat. khususnya di Wilayah Indonesia Timur. Hal serupa juga terjadi di Provinsi Maluku Utara. Pangsa konsumsi yang rendah di Kalimantan Timur disebabkan oleh tingginya pangsa ekspor sumber daya alam dalam PDRB. dari yang terkecil 15. konsumsi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 33 .4 persen di Nusa Tenggara Timur. Namun demikian di sebagian besar provinsi.2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Peran konsumsi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari pangsanya dalam PDRB dan laju pertumbuhannya.Sementara itu enam provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi relatif rendah. Bangka Belitung Kep.8 persen di Kalimantan Timur hingga yang terbesar 86. Sementara itu tingginya pangsa konsumsi rumah tangga dalam perekonomian Nusa Tenggara Timur menggambarkan relatif belum berkembangnya kegiatan investasi dan kegiatan produktif yang menghasilkan komoditi ekspor daerah.

9 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 20.7 5. Bahkan di tiga provinsi.0. Jawa Barat dan Riau dengan kontribusi masing-masing sebesar 18.4 6.3 0. Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar dalam ekspor adalah Kalimantan Timur. 3. Adapun ekspor Kalimantan Timur.8 1. Sementara itu di provinsi NAD dan Papua yang mengalami pertumbuhan ratarata negatif pada periode tersebut.8 persen.6 1.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3.4.0 0.5 1. ekspor nasional mencapai 203.0 .5 18.0 4.0 8. Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau. Sementara Jawa Barat dan Banten merupakan daerah yang sebagian besar ekspornya dimuat di pelabuhan provinsi lain. pertumbuhan konsumsi berperan sangat besar dalam mencegah perekonomian berkontraksi lebih parah.7 4.7 13. Oleh karena itu.4 0.rumah tangga berperan besar dalam mendorong perekonomian daerah.6 0.8 1.0 12.0 1. yakni Maluku Utara. lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi daerah bersumber dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Asal Pelabuhan Muat Prov.5 0. Gambar 3. Ketiga provinsi tersebut menyumbang ekspor nasional mencapai 42.6 Sumber: BPS 34 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.2 5. Implikasi kebijakan yang bisa dipetik adalah pentingnya mempertahankan dan meningkatkan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Pada tahun 2011. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Pelabuhan Muat Prov.8 2.5 5. Lain Ekspor Berdasarkan Provinsi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pada 24 provinsi.4 persen.8 0.3 1. peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah melebihi 100 persen.0 16.5 persen.1 0.3 2.4 persen dan 10. investasi dan pertumbuhan sektor riil perlu terus digalakkan di daerah.1 0.5 miliar USD.5 .2 10. Hal ini menandakan pentingnya peran konsumsi masyarakat dalam menyangga kinerja perekonomian domestik. Riau dan beberapa provinsi lainnya melakukan sebagian besar ekspornya di pelabuhan muat provinsi asal.2 1.0 2.0. 13.0 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.6 0.4 8.

2 Investasi (PMTB) Per Provinsi Daerah-daerah dengan populasi besar dan kepadatan tinggi serta memiliki kinerja pertumbuhan tinggi mampu menarik investasi relatif besar dibandingkan daerah lain. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Hal ini tampak dari distribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurut provinsi.3.1 persen dan 11.4 persen.11 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 10 8 6 4 2 Log Kepadatan Penduduk Pembentukan Modal Tetap Bruto Th.4. 2009 (Trilyun Rp) Sumber: BPS Log Kepadatan Penduduk (Jiwa/km persegi) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 35 Juta Jiwa . Bangka Belitung Kep. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pembentukan Modal Tetap Bruto Th. Gambar 3. 2009 Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) Gambar 3. Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan tiga provinsi penyerap investasi terbesar dengan pangsa sebesar 26. 12.10 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 300 50 240 180 120 60 40 30 20 10 - Triliun Rp Sumber: BPS 300 Triliun Rp 240 180 120 60 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. Bangka Belitung Kep. di mana secara rata-rata antara tahun 2005-2009 DKI Jakarta. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.9 persen.

Kinerja perekonomian daerah juga tampak dari pangsa industri pengolahan dalam PDRB yang menggambarkan tingkat industrialisasi daerah. perkembangan kawasan perkotaan Jakarta yang semakin padat membuat kawasan industri menyebar di kota-kota di sekitar Jakarta dan membentuk kawasan metropolitan Jabodetabek (Jakarta. Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau. Bekasi). Riau. Depok. Pangsa industri pengolahan di DKI Jakarta terlihat cukup rendah. Secara umum provinsi-provinsi di Wilayah Jawa memiliki pangsa industri pengolahan relatif tinggi yang menggambarkan perannya sebagai pusat industri nasional. Sumatera Utara dan Sumatera Selatan di Kawasan Barat Indonesia. Di samping itu. Beberapa daerah seperti Kalimantan Timur dan Papua Barat juga memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi. khususnya keuangan dan perdagangan. Tangerang.Provinsi-provinsi lainnya yang memiliki peranan investasi relatif besar adalah Riau. Yogyakarta Kalimantan Barat Share Industri Pengolahan dalam PDRB (%) Sumber: BPS Beberapa daerah di luar Jawa yang memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi adalah Sumatera Utara. 36 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Tenggara Papua Barat Jawa Timur Jawa Barat Papua . namun hal ini lebih karena struktur perekonomian Jakarta lebih didominasi sektorsektor jasa. serta Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan di Kawasan Timur Indonesia. Bogor. namun hal itu karena besarnya kegiatan industri pengolahan migas.12 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB 50 40 30 20 10 Banten Jambi NAD Bali Sulawesi Barat Maluku Utara DKI Jakarta Gorontalo Riau Sumatera Utara Kep. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan industri pengolahan di daerah-daerah tersebut cukup besar. Gambar 3. Riau Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Lampung Sulawesi Tengah Bengkulu Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Maluku Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Kep. Bangka Belitung Kalimantan Timur Sumatera Barat DI.

17 233. jalan nasional sepanjang 38.833. Dari total panjang jalan yang ada.569.736.361.40 1. 2010 Wilayah Papua. Kementerian PU. Rasio kerapatan jalan (rasio panjang jalan dan luas wilayah daratan) di Wilayah Papua.215. Sementara.828.0% 12. Tabel 3.93 km dan jalan kabupaten/kota sepanjang 370.3.31 171. 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 37 . Maluku.68 225.280. Gambar 3. Nusa Tenggara.80 1. jalan provinsi sepanjang 49.8% Sumber: Direktorat Bina Program.0% 87.85 km.280.20 1.93 370.699.3% 59.1 Infrastruktur Jalan Panjang Jalan di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 458.45 38.60 1. Maluku dan Kalimantan relatif rendah sehingga perlu percepatan pembangunan jalan.07 km yang terdiri dari jalan tol 761.7% 40.52 0. 50.00 0.06 Kalimantan Timur Papua Sumber: Direktorat Bina Program.13 Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 1.60 0. Sulawesi.80 0.20 NAD Maluku Gorontalo Lampung DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep.742.128. rasio kapasitas jalan (rasio panjang jalan dan jumlah unit kendaraan roda 4) di Wilayah Jawa-Bali relatif rendah sehingga perlu pengembangan transportasi masal untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.854.45 km.40 0.569.78 19.07 Kondisi Mantap 761.84 km.06 29.5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.84 49.62 198.8 persen dalam kondisi tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat).7% 50.3% 49.45 33.9% 53. Kementerian PU.21 100.538.42 0.5.6 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 Jalan Jalan Tol Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten/Kota TOTAL Panjang Total (km) 761. Bangka Belitung Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Sumatera Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Riau Bali Jambi Jawa Timur Kepulauan Riau Sumatera Barat Maluku Utara Jawa Barat Kalimantan Barat Sumatera Utara Sulawesi Utara Sualwesi Tengah Jawa Tengah Sulawesi Selatan 1.215.85 458.85 0.1% 46.2% Kondisi Tidak Mantap 4. Kalimantan dan Maluku menghadapi keterbatasan prasarana dan sarana transportasi terutama jalan.828.

439.60 12.074.89 657. jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk pelaksanan pemeliharaan dan pembangunannya.90 936.6 5.5 33.876.6 10.3 Sumatera Jawa+Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Nasional Sumber: Direktorat Bina Program.64 18.07 % 6.844.86 118.795.00 80. Berdasarkan data kondisi 38 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Nusa Tenggara Timur Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Maluku Utara Jawa Barat .81 1.0 17. baik karena pembangunan baru.002.389.45 Lampung Bengkulu Nusa Tenggara Barat' Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Bali Banten Jambi Sumatera Utara Sulawesi Utara Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Sumber: Direktorat Bina Program.3 6. 2011 Kondisi sebaliknya terjadi pada kualitas jalan daerah (provinsi dan kabupaten/kota).38 NAD Papua DI Yogyakarta Jawa Timur Kepulauan Riau Kep.8 5. Kementerian PU.2 6.659.4 13.85 341.255.799.5 1.7 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 Pulau Panjang Jalan (km) 2005 10.51 267.14 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 180. 2011 Berdasarkan kondisi kualitas jalan nasional.00 160.6 7.9 Jalan Tidak Mantap Tahun 2011 Km 1. sebagian besar kondisi mantap jalan telah mengalami peningkatan dengan rata-rata di atas 86 persen.75 68 260.8 Jalan Tidak Mantap Tahun 2005 Km 724.1 6.568.3 5.5 1. walaupun selama periode 20052011 kondisi jalan tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat) cenderung meningkat.0 32.038.Gambar 3.130.00 140.54 114.7 38.00 40. Namun secara umum kondisi kemantapan jalan nasional sangat memadai.6 3.10 % 11.9 6. juga adanya perubahan status jalan provinsi menjadi jalan nasional. Bangka Belitung Kalimantan Timur Gorontalo 0.28 4. Tabel 3.83 175.0 2.17 386.00 Maluku Sumatera Barat Riau 175.2 2011 11.578.9 6.9 6.146.6 11.299.8 6.00 120.363.00 60.3 12.370.538.736. Kondisi tersebut akibat adanya penambahan panjang jalan nasional sepanjang 5.00 20. dimana seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah.00 100.26 2.429.8 1.8 5.63 km. Kementerian PU.8 1.52 609.2 2.

2 71.320.0% 0.507.17 4.07 9.1 40.0% 70.674.215.361.189.4 57.7 47.0% 30.4 63.097.02 30.80 3.93 km memiliki ratarata kondisi jalan tidak mantap 40.0% 50.3 persen.78 171.766.kualitas jalan.7 26.5 46.0% 20.51 1. Berdasarkan perbandingan jalan tidak mantap antar wilayah.13 6.1 43.04 1.999.345.3 40.76 18.046.0% 60.15 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) 100.39 19.0% 10.31 28.81 6.462.0% 90.70 49.0 83.622.148.0 370.7 36.461.93 Jalan Tidak Mantap 2010 7.1 Panjang Jalan Kabupaten/Kota 134. jalan tidak mantap baik jalan provinsi maupun jalan kabupaten/kota. Tabel 3.85 Jalan Tidak Mantap 2010 65.586.569.0 45.280. Kondisi akan sangat menghambat mobilitas barang dan penumpang dan berdampak terhadap kinerja perekonomian daerah. tertinggi terdapat di Wilayah Papua.0% 40.5 8.21 1.602.853.6 34.30 3.615.611.65 1.77 2.163.929.3 18.742.5 51. Maluku dan Sulawesi dengan kondisi jalan tidak mantap rata-rata di atas 55 persen.79 12.65 4.215.8 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 Pulau Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Maluku Papua TOTAL Panjang Jalan Provinsi 16.0% Sumatera Jawa Bali-Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Jalan Nasional Kondisi Mantap Sumber: Kementerian PU Jalan Daerah Kondisi Mantap Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 39 .246.274.521.86 11.1 persen dan jalan kabupaten/kota dengan total panjang jalan mencapai 370.21 2.3 Sumber: Direktorat Bina Program.85 km memiliki rata-rata kondisi jalan tidak mantap 46.280.888.4 47.123.31 % 44. 2010 Gambar 3. jalan provinsi dengan total panjang jalan mencapai 49.68 % 48.976.4 50.0% 80.997.8 12. Kemen PU.6 52.

kondisi kemantapan jalan hanya mencapai 54. 3.15. dimana jumlah bandara terbesar terdapat di Provinsi Papua yang mencapai 202 bandara termasuk bandara perintis dan Papua Barat sebanyak 36 bandara. Kalimantan Timur. Tabel 3. Kondisi tersebut mengakibatkan kurang efektif dan efisiennya distribusi barang dan orang serta sistem logistik di daerah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di deerah.4 persen dari total panjang jalan yang ada.4 persen.9 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. memiliki kondisi mantap mencapai 87. dengan panjang total mencapai 419.496. Moda transportasi udara merupakan alat transportasi utama untuk daerah dengan kondisi alam pegunungan dan kepulauan seperti Kalimantan Barat. Bangka Belitung Kep.7 persen. Kemenhub. 2010 40 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Jumlah Bandara 14 10 5 7 3 5 2 5 2 7 1 13 5 2 7 3 2 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timus Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total Jumlah Bandara 5 15 52 14 46 5 8 8 5 1 1 12 11 36 202 514 Sumber: Ditjen Perhubungan Udara.Panjang jalan nasional yang hanya 8.5.78 km (91.2 Infrastruktur Udara Jumlah bandar udara di Indonesia adalah sebanyak 514 bandara.4 persen dari total panjang jalan yang ada). Papua dan Papua Barat.9 menerangkan jumlah bandara di Indonesia berdasarkan per provinsi. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi jalan daerah (jalan provnsi dan jalan kabupaten/kota). Tabel 3. Sementara perbandingan kondisi jalan nasional dan daerah ditunjukkan pada Gambar 3.

2010 Posisi kedua ditempati oleh Bandara Ngurah Rai di provinsi Bali sebesar 11 persen. Bandara SoekarnoHatta di Provinsi Banten menempati posisi teratas sebesar 41 persen dengan jumlah penumpang sebesar 43. kemudian diikuti oleh Jawa timur 7 persen dan Sumatera Utara 6 persen. Jumlah penumpang domestik dan internasional pada tahun 2010 di Indonesia sebesar 108 juta penumpang. total jumlah pelabuhan yang diusahakan berjumlah 725 pelabuhan.16 Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Sumatra Utara Sumatra Selatan 6% 2% Bandara Lainnya 26% Sulawesi Selatan 2% Bali 11% Banten 41% Jawa Timur 7% DI Yogyakarta 3% Jawa Tengah 2% Sumber: Ditjen Perhubungan Udara. pelabuhan regional sebagai penghubung antar kabupaten berjumlah 139 pelabuhan dan pelabuhan lokal setempat berjumlah 321 pelabuhan. Kemenhub.Jumlah penumpang angkutan udara terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penerbangan yang menerapkan Low Cost Carrier (LCC). 17 tahun 2004. Terdapat 2 pelabuhan hub (pengumpul) Internasional yaitu Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak. Gambar 3. Pelabuhan Internasional berjumlah 18. Bangka Belitung Int'l Hub Port Int' Port 1 1 1 National Port 10 13 44 3 4 1 6 Regional Port 4 10 4 5 4 2 8 Local Port 3 30 20 3 6 1 0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 41 .5.3 juta penumpang.3 Infrastruktur Laut Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. Banten dan Jawa Barat. 3. Jumlah penumpang yang besar di Bandara Ngurah Rai. Penumpang tersebut berasal dari Jakarta.10 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 Provinsi NAD Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Kep. pelabuhan nasional sebagai feeder (pengumpan) antar provinsi berjumlah 245. yaitu sebesar 11. disebabkan oleh pesatnya kemajuan industri pariwisata di Bali dengan banyaknya wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara.9 juta penumpang. Hal ini disebabkan bahwa Bandara Soekarno-Hatta terletak dekat dengan ibukota negara dan juga merupakan hub Internasional maupun domestik. Tabel 3.

17 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi BOR 2010 Standar BOR % Utilisasi BOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. 17 tahun 2004 Terdapat 3 indikator kinerja pelabuhan Indonesia berdaraskan Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR). III dan IV 42 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . II. Tingkat penggunaan gudang (SOR) dan Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) untuk pelabuhan Internasional hub. Gambar 3. pelabuhan Internasional dan pelabuhan nasional.Provinsi Sumatera Selatan Lampung Jawa Barat Banten DKI Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara Maluku Papua Int'l Hub Port 1 1 - Int' Port 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 National Port 1 2 1 2 5 1 11 3 6 9 8 6 5 14 9 3 12 15 6 3 15 27 Regional Port 2 11 7 2 1 6 7 3 5 12 1 5 2 3 1 1 6 6 3 10 7 1 Local Port 0 5 1 2 0 3 7 4 5 21 1 1 0 1 18 9 9 21 25 9 26 90 Sumber : Keputusan Menteri no.

dimana artinya terjadi tingkat keterlambatan kegiatan bongkar muat di pelabuhan tersebut dan perlu penambahan fasilitas pelabuhan. UM.Persentase tingkat utilisasi penggunaan dermaga pada tahun 2010 di pelabuhan Belawan. Namun pada tahun 2011 utilisasi BOR di keempat pelabuhan ini menurun. yaitu sebesar 12%.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. SOR = Berdasarkan Kep. UM. Dalam Keputusan tersebut standarisasi BOR = 70%. 70 sampai dengan 77 % = cukup baik dan >78% = kurang baik. Pada tahun 2011 Pelabuhan Teluk Bayur dan Pelabuhan Dumai mengalami kenaikan utilisasi BOR cukup tinggi. Boks 3.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. Dirjen Perhubungan Laut No. Panjang. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 43 . Artinya. Artinya. UM. Kupang dan Samarinda telah melewati batas standar BOR yaitu 70% (Gambar 3.2011 Berdasarkan Kep.1 Perhitungan Indikator Kinerja Pelabuhan Berth Occupancy Ratio (BOR) atau atau tingkat penggunaan dermaga 2010 . Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan atau Kesiapan operasi peralatan 2010 – 2011 Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) merupakan perbandingan antara jumlah penggunaan ruang penumpukan dengan ruang penumupukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton hari. < 70 = baik. < 50 = baik. Dirjen Perhubungan Laut No. Artinya.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. Dalam Keputusan tersebut standarisasi YOR = 50%. BOR = Shed Occupancy Ratio (SOR) atau tingkat penggunaan gudang 2010 – 2011 Tingkat penggunaan gudang (Shed Occupancy Ratio/ SOR) merupakan perbandingan antara jumlah pengguna ruang penumpukan dengan ruang penumpukan yang tersedia yang dihitung dalam satuan ton hari/ satuan hari. Dalam Keputusan tersebut standarisasi SOR = 65%. artinya sudah ada perbaikan dan penambahan fasilitas baru untuk memperlancar bongkar muat di pelabuhan tersebut. 50 sampai dengan 55 % = cukup baik dan >55% = kurang baik. Berdasarkan Kep.17). Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR) merupakan perbandingan antara waktu penggunaan dermaga dengan waktu yang tersedia (dermaga siap operasi) dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam persentase. 65 sampai dengan 72 % = cukup baik dan >72% = kurang baik. Dirjen Perhubungan Lautb No. < 65 = baik.

Kupang. Makassar. Tahun 2011 Pelabuhan Palembang. Ambon. yaitu sekitar 60%.19 menunjukkan persentase tingkat utilisasi penggunaan lapangan penumpukan di pelabuhan tahun 2010 dan 2011 yang didominasi oleh kontainer dan kendaraan. Benoa.Berikutnya untuk persentase tingkat utilisiasi penggunaan gudang pelabuhan tahun 2010 dan 2011 di indonesia. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kenaikan tersebut yaitu karena peningkatan jumlah tonase kargo curah. II. dwelling time (masa proses/ waktu tunggu) di pelabuhan dan kapasitas efektif di pelabuhan. Jayapura dan Samarinda. Pontianak dan Banjarmasin mengalami kenaikan tingkat utilisasi lapangan penumpukan cukup tinggi. 44 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Jayapura. kondisinya masih dalam taraf baik (Gambar 3. Terdapat beberapa pelabuhan yang perlu penambahan fasilitas dan perluasan lapangan penumpukan diantaranya pelabuhan Pontianak. Pada tahun 2011 Pelabuhan Belawan mengalami kenaikan utilisasi penggunaan gudang yang tinggi. Pelabuhan lainnya yang mengalami kenaikan tingkat utilisasi pada tahun 2011 adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Artinya pelabuhan tersebut mengalami kenaikan jumlah arus kontainer/kendaraan yang tinggi pada tahun tersebut. Benoa. Tanjung Intan. Pontianak. Ambon.18 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi SOR 2010 Standar SOR % Utiliasi SOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Balikpapan.18). Gambar 3. Samarinda dan Dumai. Palembang. Artinya utilisasi penggunaan gudang pelabuhan masih memadai. III dan IV Kemudian Gambar 3.

Rasio elektrifikasi sangat berhubungan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Sementara itu.19 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 140 120 100 80 60 40 20 0 Utilisasi YOR 2010 Standar YOR % Utiliasi YOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I.95 persen. Peningkatan elektrifikasi merupakan salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.Gambar 3. badan usaha milik negara serta swasta.4 Infrastruktur Listrik Salah satu indikator daya saing di sektor ketenagalistrikan adalah rasio elektrifikasi. Rasio elektrifikasi menunjukkan tingkat perbandingan jumlah penduduk yang memperoleh sambungan listrik terhadap total penduduk di wilayah itu. dengan pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi yang dilakukan oleh Pemerintah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 45 . provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya. III dan IV 3.9 persen dan 29.05 persen penduduk Indonesia belum memperoleh sambungan listrik. Sesuai data BPS hingga tahun 2011. yang masing-masing sebesar 39. rasio elektrifikasi Indonesia adalah sebesar 72.5. artinya 27. II. Beberapa penyebabnya adalah kondisi daerah yang terisolasi serta kurangnya fasilitas transmisi dan distribusi yang membuat transfer kelebihan daya menjadi sangat mahal.3 persen.

Gambar 3.12 persen.38 persen.20 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Dalam % 39. seluler dan internet yang masing-masing hanya memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0. kenaikan 10 persen tingkat penetrasi broadband akan memicu pertumbuhan ekonomi sebesar 1. Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Kep. 2011 (diolah) 46 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 NAD Sumatera Utara Riau Kep. Bangka Belitung Banten Jawa Barat DKI Jakarta Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Utara Maluku Utara Maluku Papua Papua Barat 70% 70% 60% 60% 66% 66% 65% 23% 0% 0% Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi 2010 2011 Bali Nusra Maluku 0% 0% Papua .25 Sumber: Capaian KESDM Tahun 2011 3.92 29.5.73 persen.Gambar 3. Di negara berkembang.81 persen dan 1.5 Infrastruktur Telekomunikasi Salah satu indikator daya saing di sektor komunikasi dan informatika adalah ketersediaan jaringan broadband. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan 10 persen tingkat penetrasi fixed line. Berbagai literatur internasional menunjukkan korelasi positif antara jaringan broadband dan pertumbuhan ekonomi.21 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 98% 98% Sumber: PT Telkom dan Kominfo. 0.

4 2011* 15.3 66.577.425. jaringan ekstension hingga ke ibukota kabupaten/kota (dalam koridor).664. pembangunan jaringan broadband sudah menjangkau 311 kabupaten/kota atau sekitar 63 persen dari total 497 kabupaten/kota dengan sebagian besar lokasi terdapat di bagian barat Indonesia.469. Kondisi produksi padi menurut kawasan pada tahun 2009-2011 ditunjukkan dalam Tabel 3.464.5 2.2 35.5 2010 8.806.2 Sumber : BPS (diolah ) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 47 . serta seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat.801.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras Dalam rangka memperkuat perekonomian domestik dan peningkatan produksi pangan terutama padi.2 20.5 65. serta menjadi salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.091. diperlukan jumlah penyediaan pangan (terutama padi) yang mencukupi di setiap tahunnya.0 37.103. Pembangunan di Wilayah Timur Indonesia akan dimulai pada tahun 2012.3 7.7 4.2 6.2 3.545.4 20.8 1.7 37.938.8 36.1 35.3 19.663.277.932.6 2.9 36. Keterangan:*) Angka Sementara Tabel 3.605.368. 3.204.9 3. Tabel 3.6 4.392.5 2.243.4 2. Pembangunan jaringan broadband dilakukan baik berbentuk jaringan backbone untuk menghubungkan antar pulau (antar koridor).758. 1 2 3 4 5 Kawasan 2009 14.7 64.824.959.823.2 2010 15.2 1. Hingga tahun 2014 diperkirakan 88 persen kabupaten/kota di Indonesia sudah dijangkau oleh jaringan broadband.740.4 1.11 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.994.200.9 Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .8 2011 8.573.749.8 4.959. 1 2 3 4 5 Kawasan Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .262.487.6 2.11. Nusa Tenggara dan Papua Total Sumber : BPS (diolah) .545.696.262.12 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No. maupun jaringan homepass hingga ke rumah tangga.3 4.398. Adapun jangkauan jaringan broadband pada tahun 2011 mencapai 328 kabupaten/kota atau 66 persen dari total kabupaten/kota.469. Nusa Tenggara dan Papua Total 2009 8. Hingga tahun 2010.Dengan memperhatikan masih sangat terbatasnya jaringan broadband nasional. percepatan pembangunan jaringan broadband menjadi salah satu agenda utama sektor komunikasi dan informatika.1 6.2 2.

22 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 5% Sumatera Jawa & Bali Kalimantan 4 7% 11% 24% 54% Sulawesi Maluku.80% 65.20% 2.12 terlihat bahwa total produksi beras pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 409. Gambar 3.740.00% 1.00% 66.00% -2. Nusa Tenggara dan Papua Sumber: BPS (diolah) Sebagian besar produksi beras berasal dari Wilayah Jawa dan Bali.23 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 67000 66500 66000 65500 65000 64500 64000 63500 63000 2009 Produksi Sumber : BPS diolah . kemudian disusul dengan Wilayah Sumatera sebesar 24 persen dan Wilayah Sulawesi sebesar 11 persen (Gambar 3.8 juta ton pada Tahun 2011.9 7.469.00% 2010 Pertumbuhan 2011* Konversi padi ke beras adalah dengan mengalikan produksi padi dengan 0.22).00% -1.10% 0.9 juta ton pada Tahun 2010 menjadi 19. atau turun sebesar 5.562 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 48 .1 persen.00% 3.Pada Tabel 3.00% 4.389.00% 5. atau mencapai 54 persen. Dimana.9 3.4 6.00% -1. Gambar 3.00% 6.00% 64.6 ribu ton atau turun sekitar 1.3 persen. *) Keterangan: Angka Sementara 4 8. penurunan produksi beras ini berasal dari penurunan produksi beras di Kawasan Jawa dan Bali dari 20.

182 jiwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 49 . konsumsi beras langsung di rumah tangga pada tahun 2008 sebesar 104. Gambar 3. Penurunan produksi padi tersebut terjadi terutama di Wilayah Jawa.24 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 106 105 104 103 Kg/Kapita/Th 102 101 100 99 98 97 96 95 Beras 2008 104.06 juta ton pada tahun 2010 dan 33. Penurunan produksi padi tersebut lebih disebabkan karena penurunan luas panen dan produktivitas akibat terjadinya kekeringan.69 kg/kapita/tahun. total kebutuhan beras nasional pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 33. total produksi beras maupun padi harus selalu dijaga dan meningkat setiap tahunnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan mendukung pencapaian Surplus Beras 10 juta ton di mulai pada tahun 2014.85 kg/kapita/tahun.594. Pada tahun 2011 turun menjadi 100.76 kg/kapita/tahun.24).90 juta ton (ARAM I. Berdasarkan data Susenas (Gambar 3. Perkembangan pertumbuhan produksi padi tahun 2009-2011 ditunjukkan pada Gambar 3.3 persen atau produksi mencapai 68.22 2010 100.23.57 Sumber: Susenas BPS 5 Dihitung dengan asumsi jumlah penduduk pada tahun 2010 dan 2011 masing-masing sebanyak 237.85 2009 102.2 persen.05 juta ton pada tahun 20115.06 kg/kapita/tahun pada tahun 2011.326 jiwa dan 241.Untuk memperkuat perekonomian nasional daerah serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dan daerah. Pertumbuhan produksi padi pada tahun 2009 dan 2010 mengalami peningkatan masingmasing sebesar 6.22 kg/kapita/tahun dan pada tahun 2010 sebesar 100.1 persen. 2012 ).641.8 persen dan 3.182.82 2012 98. tahun 2009 102. Adapun kebutuhan beras total per kapita (yaitu: konsumsi beras langsung di rumah tangga ditambah dengan konsumsi beras diluar rumah tangga) adalah sebesar 139.15 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 dan 137. Pada tahun 2012 produksi padi diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 4. banjir serta serangan hama penyakit. Pada tahun 2011 produksi padi mengalami penurunan sebesar 1. Dengan demikian.76 2011 102.

7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3. Kemudian.000 3. Ketersediaan SDM bermutu sangat menentukan kemampuan suatu daerah dalam memasuki era ekonomi pasar bebas. Pendidikan terutama pada jenjang menengah dan tinggi mutlak diperlukan untuk mendukung pengembangan SDM dan tenaga kerja yang berdaya saing tangguh dalam menghadapi kompetisi yang ketat baik di tingkat lokal.7. Gambar 3. peran pendidikan sangat penting dan strategis dalam upaya melahirkan SDM berkualitas.1 Pendidikan Kualitas SDM merupakan faktor kunci dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah dan keunggulan daya saing lokal. Perhitungan kebutuhan beras menggunakan asumsi konsumsi per kapita rata-rata sebesar 137.25 menunjukkan produksi dan kebutuhan beras di masing-masing provinsi pada tahun 2011. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.25 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 7. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. Sumatera Selatan.06 kg. terdapat 15 provinsi yang jumlah produksi berasnya lebih kecil dari jumlah kebutuhannya. (3) tingkat keberaksaraan dan (4) jumlah dan kualifikasi guru. beberapa indikator penting perlu dilihat yaitu: (1) rata-rata lama sekolah. yang ditandai oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta memiliki keterampilan teknikal memadai. maupun global. (2) jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk. Untuk itu.000 5. 50 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . yang menuntut kemampuan daya saing tinggi. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Produksi Sumber: BPS (diolah) konsumsi 3.000 1.000 4.000 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.Gambar 3.000 2. Provinsi yang memiliki surplus beras cukup besar adalah Sulawesi Selatan.000 6. Jawa Tengah. nasional. Terkait dengan kualitas pendidikan.

82 7.26).58 8.09 tahun pada tahun 2003 menjadi 7.26 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 DKI Jakarta Kepulauan Riau Papua Barat DI Yogyakarta Maluku Sulawesi Utara Sumatera Utara Kalimantan Timur Aceh Riau Sumatera Barat Maluku Utara Banten Bengkulu Bali Sulawesi Tenggara Jawa Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Tengah INDONESIA Sulawesi Selatan Jambi Sumatera Selatan Lampung Kalimantan Selatan Bangka Belitung Gorontalo Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Papua 10.32 8.24 7.96 7.00 7.99 6.00 6.11 8.02 8. Data persebaran angka rata-rata lama sekolah menurut provinsi menunjukkan bahwa capaian rata-rata lama sekolah penduduk di Indonesia masih cukup bervariasi.89 8.00 Sumber: Susenas. Pada tahun 2010.21 8. Pembangunan bidang pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia.38 7.92 tahun pada tahun 2010.11 6.65 7.62 Tahun 6.92 tahun. Data yang sama juga menunjukkan bahwa penduduk di Provinsi DKI Jakarta telah mencapai rata-rata lama sekolah paling tinggi yakni 10.81 8. Hal ini menandakan rata-rata tingkat pendidikan penduduk adalah pada jenjang SMP/sederajat kelas 2.48 8.75 7. Sebaliknya.85 8. Rata-rata lama sekolah menunjukkan rata-rata jumlah tahun efektif bersekolah yang dicapai penduduk berusia 15 tahun ke atas.27 tahun (Gambar 3. 2010 2.84 7.00 4.27 0. yang antara lain ditandai dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas dari 7. BPS. rata-rata lama sekolah penduduk di 19 provinsi sudah berada di atas rata-rata nasional atau lebih dari 7.25 8. Gambar 3.00 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 51 .00 8.Rata-rata Lama Sekolah Indikator pertama kualitas pendidikan adalah rata-rata lama sekolah (average years of schooling).82 6.59 9.36 8.02 8.00 10.84 7.07 9.16 9.45 7.83 8.41 9.00 12.24 7.41 tahun atau setingkat dengan jenjang SMA/sederajat kelas 1. rata-rata lama sekolah penduduk di Provinsi Papua masih berada di tingkat terendah yaitu 6.92 7.

PT/ sederajat 52 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .27 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 PT 6% Tidak/Belum Sekolah 6% Belum Tamat SD 19% SMP/Sederajat 18% SD/Sederajat 31% SMA/Sederajat 20% Sumber: Susenas 2010 Gambar 3. Riau DI Yogyakarta Papua Barat Kalimantan Timur Bali Sulawesi Utara Maluku Sumatera Utara Aceh Banten Sumatera Barat Riau Bengkulu Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara INDONESIA Jawa Barat Jambi Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Kep. Bangka Belitung Kalimantan Tengah Gorontalo Jawa Timur Papua Lampung Jawa Tengah Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tidak/ Belum sekolah Sumber: Susenas 2010 Belum Tamat SD SD-SMP/ sederajat SM .28 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 DKI Jakarta Kep.Gambar 3.

59 20.01 2.79 1.0 L+P 55.28). (4) malu.26 0.08 1.08 0.57 6.0 Perdesaan P 56.23 0.20 4.66 13.51 21. Sementara alasan sekolah jauh berkaitan dengan ketersediaan jumlah sekolah yang minim atau kondisi geografis suatu daerah yang menyebabkan akses menjadi sulit.49 1.0 L+P 54. beberapa provinsi seperti Sumatera Utara.94 0. Data persebaran pada tingkat wilayah menunjukkan bahwa disparitas angka melek aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas antar provinsi hampir tidak ditemukan.13 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 Alasan Tidak/Belum Pernah Bersekolah atau Tidak Bersekolah Lagi Tidak ada biaya Bekerja/mencari nafkah Menikah/mengurus RT Merasa pendidikan cukup Malu karena ekonomi Sekolah jauh Cacat Menunggu Pengumuman Tidak Diterima Lainnya Jumlah Sumber : Susenas BPS.73 1.56 3.00 100. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 53 .30 5.08 100.39 4.69 2.51 0.25 0.21 2.49 2.71 100.84 100.61 1.02 1. DKI dan DIY sudah memiliki persentase penduduk 10 tahun ke atas dengan pendidikan terakhir sekolah menengah (SM) ke atas yang cukup baik dan sudah di atas rata-rata nasional per jenjang pendidikan (Gambar 3.44 1.68 12.0 P 6.71 2.30 4.47 18. (2) menikah/mengurus rumah tangga (RT).45 4.48 4. Data Susenas 2010 menunjukkan variasi alasan mengapa mereka tidak/belum pernah bersekolah atau tidak bersekolah lagi yaitu: (1) tak ada biaya. Kalimantan Timur.0 L 53.09 2.52 17.09 0.54 100.99 4.90 100. (3) sekolah jauh.97 2.08 1.57 0.52 6.0 L+P 54.73 2.63 5.06 2.0 Total P 56.44 13. pendidikan tertingggi yang ditamatkan penduduk di sebagian besar provinsi relatif masih rendah yakni setingkat SD/SMP.12 5.19 100. 2010 Perkotaan L 52. (6) cacat dan lain-lain.67 0.32 5.05 7.60 0.42 14.86 0.18 3.92 5.34 3.37 1.72 100.12 100.64 13.Bila diuraikan menurut provinsi. Namun. Tabel 3.94 0.72 18. (5) tidak diterima.59 15.51 2.27 0.30 6. Angka melek aksara merupakan hasil proporsi antara jumlah penduduk usia tertentu yang bisa membaca dan menulis huruf latin dan lainnya dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sama.0 L 53.38 10.55 3.49 1.99 0.44 3.19 2.10 3.18 1.59 3.43 6.58 0. Hampir semua provinsi telah mendekati sasaran 100 persen.55 4.82 9.25 0.0 Kemampuan Keberaksaraan Penduduk Indikator ketiga kualitas pendidikan adalah kemampuan keberaksaraan yang ditandai oleh kemampuan membaca dan menulis.55 8. Kepulauan Riau. kecuali Provinsi Papua. Peningkatan partisipasi pada jenjang pendidikan dasar telah mendorong peningkatan kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis.76 0.53 1.46 11. Alasan ketiadaan biaya berkaitan erat dengan faktor kemiskinan (kesulitan ekonomi).96 8.89 9.

30). minimal harus berpendidikan Diploma 4 atau Sarjana. UndangUndang No. data yang ada menunjukkan bahwa persentase guru menurut kualifikasi akademik bervariasi antar daerah (Gambar 3. Pada tahun 2011. juga dilakukan peningkatan kualifikasi bagi 124 ribu guru yang belum berpendidikan S1/D4. Secara nasional. Riau Sumatera Barat Kalimantan Timur NAD Banten Jawa Barat Maluku Utara Sulawesi Tengah Gorontalo Kalimantan Selatan Jambi Kep.3 persen pada tahun 2010 menjadi 58 persen pada tahun 2011. Bangka Belitung Bengkulu Papua Barat Lampung INDONESIA Sulawesi Tenggara DI Yogyakarta Kalimantan Barat Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Bali Jawa Timur Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Barat Papua Barat Sumber: Susenas 2010 92. temasuk sekolah keagamaan.91 Jumlah dan Kualifikasi Guru Indikator keempat kualitas pendidikan adalah guru berkualifikasi dan tersertifikasi. Dengan tetap berupaya melaksanakan program peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru. upaya percepatan peningkatan profesionalisme guru akan tetap dilanjutkan dengan melakukan sertifikasi bagi 300 ribu guru dan meningkatkan kualifikasi pendidikan minimal S1/D4 bagi 134 ribu guru. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru dari jenjang pra-sekolah sampai dengan sekolah menengah. Pada tahun 2012.Gambar 3.29 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sulawesi Utara DKI Jakarta Riau Kalimantan Tengah Maluku Sumatera Selatan Sumatera Utara Kep. 54 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . jumlah guru yang telah berkualifikasi minimal S1/D4 meningkat dari 50.

40 % 59.14 53.03 46.20 66.12 66.62 69.000 kelahiran hidup (2007).56 51.2 Kesehatan Status kesehatan dan gizi masyarakat terus menunjukkan kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup (UHH) menjadi 71.24 69.Gambar 3.71 70.62 53.01 57.53 57.27 61.63 69.13 62. menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi sebesar 34 per 1.15 65.93 68.61 62.7.75 57.Riau Riau Sumatera Barat Bengkulu Sumatera Utara Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Jawa Tengah Jawa Barat Banten Bali DI Yogyakarta Jawa Timur DKI Jakarta 0 77.05 74.39 60. menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi sebesar 228 per 100.14 20 40 60 80 100 Sumber: Kemendikbud.61 74.78 66.79 53.17 68.92 61.32 65.32 49.65 69.15 40.1 tahun (2011).63 72.30 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 Maluku Kalimantan Barat NTT Bangka Belitung Kalimantan Tengah Lampung Maluku Utara Papua Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Papua Jambi Gorontalo Sulawesi Utara Sumatera Selatan Aceh NTB Kep.71 Rata-Rata Nasional 57.000 kelahiran hidup (2007). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 55 . 2009 3.05 67.

Capaian tertinggi sebesar 98. secara umum cakupan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian timur lebih rendah jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia bagian barat. Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.2 80 60 40 20 Maluku Utara Maluku Sulawesi Tengah Papua Barat Kalimantan Tengah Papua Sulawesi Tenggara Gorontalo Jambi Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Banten Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Jawa Barat Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Bengkulu Indonesia Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Riau Sumatera Utara NAD Jawa Tengah Jawa Timur Kep. sementara capaian terendah sebesar 26. Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 menunjukkan bahwa dalam periode 10 tahun (2000–2010). upaya yang terbukti efektif untuk menurunkan AKI yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih terus meningkat dari 77.6 persen di Provinsi Maluku Utara (Gambar 3.6 juta jiwa pada tahun 2010 (SP 2010). Berdasarkan data Riskesdas (2010).9 persen (2010) dan menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) menjadi sebesar 35.31 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 100 82. sebaliknya penduduk besar dengan kualitas baik akan menjadi modal pembangunan. Selain pembangunan kesehatan.49 persen dan secara absolut jumlah penduduk meningkat sebanyak 32.6 persen di Provinsi DI Yogyakarta diikuti Provinsi Bali.31). yaitu dari 205.45 persen menjadi 1. Upaya ini menjadi sangat penting mengingat jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah akan menjadi beban pembangunan. laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia meningkat dari 1. Namun demikian. Gambar 3. upaya pengendalian kuantitas penduduk yang dilaksanakan melalui Program Keluarga Berencana (KB) berkontribusi signifikan di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.2 persen (2010).5 juta jiwa. 56 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .34 persen (2009) menjadi 82.6 persen (2010).menurunnya prevalensi kekurangan gizi menjadi sebesar 17. Bangka Belitung DKI Jakarta Kepulauan Riau Bali DI.8 juta jiwa pada tahun 2000 (SP 2000) menjadi 237. disparitas cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih cukup lebar. 2010 Sementara itu. Yogyakarta Sumber: Riskesdas.

2010).73 43.22 63.23 57.1 45.86 74.4 74.87 68 68. Selanjutnya.Gambar 3.18 74.87 persen (Riskesdas.01 52.43 75.3 persen. Bangka Belitung Maluku Utara Kalimantan Tengah Banten Kalimantan Barat Kepulauan Riau Bengkulu Sulawesi Barat Maluku Riau Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Lampung Gorontalo Sulawesi Tenggara INDONESIA Sulawesi Selatan Sumatera Barat Jambi Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat DI Yogyakarta NAD Jawa Barat Bali Nusa Tenggara Timur Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Utara 31 33.13 52.23 35.93 77.58 65.32 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 Papua Papua Barat Kalimantan Timur DKI Jakarta Sulawesi Tengah Kep.84 62.83 46.29 63.66 66.9 50.96 42. lebih tinggi dari kunjungan keempat yaitu sebesar 67.68 67.4 persen Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 57 .54 84.0 persen.7 82.89 0 Sumber: Riskesdas. Sedangkan cakupan pelayanan antenatal yang terendah terdapat di Provinsi Papua yang hanya mencakup sebesar 31. upaya untuk mencapai target penurunan kematian bayi menjadi 24 per 1.9 persen.75 73.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 juga terus dilakukan melalui perbaikan status kesehatan anak. yang mencapai 84. 2010 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Pelayanan antenatal (antenatal care) juga penting untuk memastikan kesehatan ibu selama kehamilan dan menjamin ibu melakukan persalinan ditolong tenaga kesehatan. Secara nasional. cakupan imunisasi lengkap pada anak usia 12-23 bulan terus meningkat mencapai 53. Kunjungan ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada trimester pertama kehamilan (K1) mencapai 72.91 65.44 71.5 55.07 50.23 77.53 52.8 persen dan yang mendapat imunisasi campak mencapai 74. Cakupan pelayanan antenatal tertinggi terdapat di Sulawesi Utara.6 71.

Kemajuan juga terjadi pada upaya penurunan 58 Gambar 3.8 Papua Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah NAD Riau Sulawesi Tenggara Papua Barat Sumatera Selatan Maluku Utara Bengkulu Maluku Sumatera Barat Banten Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Jawa Barat Kalimantan Selatan DKI Jakarta Indonesia Gorontalo Kalimantan Tengah Kep.33 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 (Riskesdas.4 persen (2007) menjadi 17. 2010). 2010 Gambar 3.4 53.9 persen (2010). Bangka Belitung Jambi Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Utara Jawa Timur Bali Jawa Tengah Kepulauan Riau DI Yogyakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Maluku Utara Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Gorontalo Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Banten Jawa Barat Riau Sulawesi Selatan Sumatera Selatan INDONESIA Lampung NAD Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Bengkulu Sumatera Barat Sumatera Utara Kep.34 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 71. Sementara itu. Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 18. 2010). Bangka Belitung Kalimantan Selatan Jawa Timur Jambi Kepulauan Riau Sulawesi Utara Jawa Tengah DKI Jakarta Bali DI Yogyakarta .100 120 100 20 20 40 60 80 40 60 80 0 0 Sumber: Riskesdas. kunjungan ke pelayanan kesehatan pada saat bayi berumur 6-48 jam (kunjungan neonatal pertama/KN1) mencapai 71.0 persen dan gizi buruk sebesar 4. yang terdiri dari gizi kurang sebesar 13.4 persen (Riskesdas. 2010 Sumber: Riskesdas.9 persen.

6 33.3 29.2 32.8 38.19 persen dan 55.2 58. sedangkan DKI Jakarta dengan angka kumulatif yang jauh lebih besar hanya pada urutan ketiga. prevalensi TB mencapai 289 per 100.5 26.51.879 kasus dengan AIDS case rate tertinggi adalah Papua sedangkan AIDS case rate secara nasional adalah 12.6 32.3 29. 2010).3 35. Angka penemuan kasus malaria yang diukur dengan annual parasite index (API) dapat diturunkan dari 1. menurun dari 36.1 29.9 35.2 36. prevalensi HIV pada populasi dewasa terus dikendalikan untuk berada di bawah 0.3 40.5 persen. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 59 . Sampai dengan tahun 2011. Sementara itu Kepulauan Riau dengan hanya 404 kasus komulatif menduduki urutan ke lima.598 kasus.4 DI.6 persen (2010).000 penduduk sedangkan persentase kasus baru TB Paru (BTA positif) yang ditemukan dan yang disembuhkan masingmasing mencapai 75.2 49. Selanjutnya.5 37.000 penduduk (2011). Sementara itu. 2011).7 40.35 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 60 50 40 30 20 22.53 persen (Susenas. lebih tinggi dibanding dengan Jawa Timur dengan 4.4 41. 2011).5 33. Papua menduduki urutan pertama.3 persen (Kemkes. Yogyakarta DKI Jakarta Kepulauan Riau Sulawesi Utara Papua Kep.6 26.2 31.3 48. Gambar 3.26 persen dan 86.6 35.3 37.75 per 1.000 penduduk menunjukkan keadaan yang berbeda karena sebaran jumlah penduduk per provinsi yang sangat beragam. 2010 Pendek Pendek+ Sangat pendek Laporan kasus AIDS dapat disampaikan bahwa secara kumulatif sampai dengan Desember 2011 jumlah kasus AIDS sebanyak 29. Dari sisi lain. angka kumulatif kasus per 100.6 42.9 36.8 33. Bangka Belitung Kalimantan Timur Bali Maluku Utara Jambi Bengkulu Riau Sumatera Barat Banten Jawa Barat Jawa Tengah Kalimantan Selatan Indonesia Jawa Timur Sulawesi Tengah Lampung Maluku Sulawesi Tenggara NAD Sulawesi Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Gorontalo Sumatera Selatan Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Papua Barat Nusa Tenggara Timur 10 0 Sangat pendek Sumber: Riskesdas. Dengan dipengaruhi oleh jumlah penduduk.96 (2010) menjadi 1. maka karena jumlah penduduknya yang sangat kecil.9 38. yaitu mencapai sebesar 0.4 30. terkait aspek penyehatan lingkungan.22 persen (Kemkes.6 39. penyediaan akses air minum dan sanitasi layak masih rendah yaitu sebesar 44.8 28.9 39.9 27.kekurangan gizi kronis yang diukur dengan prevalensi anak balita yang pendek ( stunting).0 29.8 persen (2007) menjadi 35.

66. sedangkan rumah sakit swasta meningkat menjadi 838 rumah sakit dengan rasio tempat tidur (TT) rumah sakit terhadap penduduk sebesar 68.287 kejadian. dalam angka mutlak cukup besar. 2011 Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sebagai salah satu komponen untuk perbaikan upaya kesehatan juga terus ditingkatkan. Dari jumlah tersebut.79 per 100. sebanyak 1. Pada ketiga provinsi ini saja proporsinya sudah mencakup hampir 63 persen dari seluruh kejadian pada tahun 2011.000 penduduk (Profil Kesehatan. sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Sulawesi Barat. Jumlah puskesmas pada tahun 2010 mencapai 9. Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta.592 orang penderita dan hanya Provinsi DKI Jakarta yang tidak ditemukan kejadiannya. Bangka Belitung Maluku Utara Nusa Tenggara Barat Kepulauan Riau Sulawesi Barat Gorontalo NAD Sumatera Selatan Riau Sumatera Barat Jawa Barat Jawa Tengah Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Bali DKI Jakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 8613 8613 7914 6663 6661 6356 6355 6175 5028 3744 3523 3140 3136 2667 2450 2352 2331 2247 2045 1973 1430 957 743 517 196 88 45 14 7 0 . Gambar 3. yaitu Nusa Tenggara Timur.000 penduduk saja. yaitu dari 4. Keragaman angka kejadian malaria sangat besar. Papua dan Papua Barat dengan masing-masing 69.920 tergolong puskesmas perawatan dan 6.085 termasuk puskesmas non-perawatan. Terjadi penurunan yang signifikan dari tahun 1990 sampai 2011. 60 Nusa Tenggara Timur Papua Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Maluku Kalimantan Tengah Sumatera Utara Bengkulu Sulawesi Utara Jambi Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Kep.000 penduduk. Sementara itu.645.000 penduduk beresiko menjadi tinggal 1. namun terkonsentrasi pada 3 provinsi endemik.68 per 1. 2010). yaitu 256.88 TT per 100.577 dan 25. yaitu Nusa Tenggara Timur. Banten dan Nusa Tenggara Barat. Rasio tempat tidur Rumah Sakit (per 100 ribu penduduk) yang terbesar adalah di Provinsi DKI Jakarta. Namun demikian.75 per 1.005 puskesmas dengan rasio sebesar 3. Angka kejadian malaria berkisar dari yang terendah (di luar DKI) yaitu Bali dengan hanya 7 kejadian dan tertinggi adalah 3 provinsi. Papua dan Papua Barat.Upaya pengurangan angka kejadian malaria sudah menunjukan keadaan yang positif.36 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 80000 70000 60000 50000 25287 69465 66577 40000 30000 20000 10000 0 Sumber: Kemenkes. jumlah rumah sakit pemerintah meningkat menjadi 794.

44 70.231 136. 2010 Rasio Sumber: Profil Kesehatan.97 80 70 60 50 5.Gambar 3.680 166.766 138.000 2.000 63.74 69.92 62.49 62.000 2.000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Jumlah Puskesmas 2.000 8.000 1.005 8.288 100.39.085 7.737 Gambar 3. yang mencerminkan ‘surplus’ tenaga kerja. Sektor formal rata -rata memberikan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik kepada pekerja dibandingkan dengan sektor informal yang dipadati oleh pekerja.25 60.000 Penduduk Tahun 2010 180.683 2.000 5.000 60. 2010 3.000 20. Sedangkan komposisi pekerja formal dan informal untuk seluruh Provinsi digambarkan pada Gambar 3. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 61 .000 6.234 9.000 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah TT Sumber: Profil Kesehatan.000 160.110 120.592 5.920 149.497 2.27 65. sebagian besar pekerja (tetapi tidak semua pekerja) di sektor informal merupakan kegiatan-kegiatan yang rendah tingkat produktivitasnya dengan pendapatan pekerja informal yang umumnya rendah dan kurang menentu.015 8.000 132.37 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 10. Sebaliknya.438 2.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.538 40 30 20 10 0 3.669 8.033 6.548 8.000 4.8.000 9.077 40.707 80. Pekerja di sektor formal mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan keterampilan di tempat kerja mereka (keterampilan yang memungkinkan mereka mendapatkan pekerjaan di sektor formal) dan akses untuk memperoleh pelatihan sehingga mereka mempunyai posisi yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.704 2.000 163.000 140.451 142.40.000 7.518 5.38 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.1 Tenaga Kerja Per Provinsi Pasar kerja Indonesia dapat digambarkan sebagai suatu perekonomian dualistis yang ditandai oleh sektor modern atau formal yang relatif kecil dan sektor tradisional atau informal yang sangat besar.000 6. Pertumbuhan pekerja formal dan informal tahun 2006-2011 dan jumlah pekerja formal dan informal dari waktu ke waktu dapat digambarkan pada Gambar 3.551 6.

15 0.00% 20.00% 40. Riau 2008 Kep.Gambar 3.05 0 -0.39 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 100% pertumbuhan 100.00% 0.05 -0.40 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Nasional 2008 Nasional 2011 NAD 2008 NAD 2011 Sumatera Utara 2008 Sumatera Utara 2011 Sumatera Barat 2008 Sumatera Barat 2011 Riau 2008 Riau 2011 Kep. Riau 2011 Kep.2 0.1 Sumber: Sakernas Gambar 3. Babel 2011 Lampung 2008 Lampung 2011 Bengkulu 2008 Bengkulu 2011 Sumatera Selatan 2008 Sumatera Selatan 2011 Jambi 2008 Jambi 2011 DKI Jakarta 2008 DKI Jakarta 2011 Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2011 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2011 DI Yogyakarta 2008 DI Yogyakarta 2011 Jawa Timur 2008 Jawa Timur 2011 Banten 2008 Banten 2011 Bali 2008 Bali 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Nasional 2008 Nasional 2011 NTB 2008 NTB 2011 NTT 2008 NTT 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Barat 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Tengah 2011 Kalimantan Selatan 2008 Kalimantan Selatan 2011 Kalimantan Timur 2008 Kalimantan Timur 2011 Sulawesi Utara 2008 Sulawesi Utara 2011 Sulawesi Tengah 2008 Sulawesi Tengah 2011 Sulawesi Selatan 2008 Sulawesi Selatan 2011 Sulawesi Tenggara 2008 Sulawesi Tenggara 2011 Sulawesi Barat 2008 Sulawesi Barat 2011 Gorontalo 2008 Gorontalo 2011 Maluku 2008 Maluku 2011 Maluku Utara 2008 Maluku Utara 2011 Papua 2008 Papua 2011 Papua Barat 2008 Papua Barat 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Formal Sumber: Sakernas.00% 60.00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase Pekerja Informal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Informal 2011 Persentase Pekerja Formal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Formal 0.1 0.00% 80. BPS (diolah) Informal Formal Informal 62 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Babel 2008 Kep.

20 49.35 12.01 9. Produktivitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah.81 6.78 6. pasar kerja Indonesia belum cukup efisien.31 15.68 14.0 10.94 31.38 18.55 10. karena masih ditandai oleh berbagai hal.64 12.34 11.33 6.93 10.00 10.11 9.5 15.59 13.85 15.24 7. fleksibilitas penentuan upah dan beberapa indikator pasar kerja lainnya.00 11.00 22.96 3.47 8.60 6.00 0.15 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 Tahun Jawa Timur 22.5 6.89 1.67 9.68 4.6 7.73 22.00 27.0 4.00 15.97 14.00 26.89 Sulawesi Selatan 35.3.37 8.03 5.23 6.14 9.57 2. 1 2 3 4 5 Indikator Indeks Daya Saing Biaya redundansi Kekakuan lapangan kerja (PHK.62 22. Pergerakan upah di Indonesia. lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas.71 15.5 10. diantaranya adalah tingginya biaya redundansi.56 11.11 6.37 19.65 0.06 6.43 28.59 11.84 6.40 5.47 11.36 11.04 10.26 6.39 9.51 9.06 2.48 14.6 4.39 9.53 Jawa Barat 10.09 20. Sedangkan yang masih kosong.36 10.6 6.53 11.95 33. belum menetapkan UMP.5 8. komponen penentuan Upah Minimum Regional (UMR) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 63 .5 11.04 38.2 10.48 Sumber: BPS (diolah) Keterangan: Angka yang berwarna merah menunjukkan angka persentase perubahan UMP yang lebih rendah dari laju inflasi tahun sebelumnya. Sebaiknya.18 10.09 Laju inflasi tahun sebelumnya 2.59 15. outsourcing) Praktek penerimaan dan pemutusan kerja Fleksibilitas penentuan upah Kerjasama hubungan karyawan pengusaha 2008 117 87 19 79 19 2009 119 82 34 92 42 2010 127 100 38 98 47 2011 131 104 51 113 68 Sumber: IMD World Competitiveness Yearbook Tabel 3.1 14.8.97 3.92 32.14 50.60 13.81 49.00 25.00 26.1 4.52 46.71 6.90 DKI Jakarta 23.39 19.52 14.86 36.15 6.07 -0.1 6. Tabel 3.79 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 10.10 0.40 17. Menurut Indeks Daya Saing dalam Global Competitiveness Report.00 10. kekakuan pasar kerja.27 DIY Sumatera Utara 20.94 8.15 8.9 9.00 9.01 Banten Jawa Tengah 20.14 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 No. kontrak Kerja.11 35.38 11.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi Salah satu ukuran tingkat daya saing Negara adalah efisiensi pasar tenaga kerja.00 10.8 2.84 13.42 13.

Riau Kep. terutama industri yang tergolong padat tenaga kerja.0 2010 Sumber: BPS 2011 0.44 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 0.42 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 0. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Gambar 3.0 Juta Rupiah Tiap-tiap daerah memiliki tingkat upah yang tidak sama.0 2010 Sumber: BPS 2011 0.5 2010 Sumber: BPS 0.0 1. dimana upah di Provinsi Banten lebih tinggi. Perbedaan rata-rata upah yang cukup besar juga dialami oleh 64 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Perbedaan tingkat upah yang cukup besar antara Banten dan Jawa Tengah dalam jangka menengah dan panjang akan merugikan posisi Banten.5 2012 1.0 2010 Sumber: BPS 0.41 UMP Wilayah Sumatera NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.tidak hanya melihat pada sisi kenaikan inflasi saja.0 2012 1.5 2012 1. seperti Banten dan Jawa Tengah. Gambar 3.0 Juta Rupiah Juta Rupiah Gambar 3.5 2.5 Juta Rupiah 0. Berikut digambarkan persentase perubahan UMP dibandingkan dengan laju inflasi di provinsi unggulan industri.5 2011 1.0 2011 2012 1.0 2. tetapi perlu diimbangi dengan aspek produktivitas dan pencapaian target pekerjaan. Terdapat indikasi adanya relokasi industri ke Provinsi Jawa Tengah.43 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gambar 3.0 1.

Sektor jasa telah memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan produktivitas.15 2009 5. pertumbuhan produktivitas tenaga kerja untuk seluruh sektor perekonomian menunjukkan peningkatan. Secara berarti dalam lima tahun terakhir ini. Menjadi tantangan ke depan adalah mengupayakan agar upah minimum meningkat sebesar peningkatan inflasi dan mendorong upah individu melalui hasil negosiasi antara serikat pekerja dan pengusaha. Terkecuali sektor pertanian di tahun 2007 dan sektor jasa di tahun 2008. 2011 dan 2012.24 1.47 0.54 2008 6. diikuti pula dengan produktivitas per pekerja tahun 2005 dan 2010 untuk seluruh Provinsi di Indonesia ditunjukkan sebagai berikut.05 1.45 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 8 Persen (%) 6 4 2 0 -2 -4 PERTANIAN INDUSTRI JASA DAN LAINNYA 2006 5.07 0.70 Sumber: BPS (diolah) Perekonomian nasional akan berkembang lebih tinggi untuk memastikan bahwa penduduk yang lebih berpendidikan dan berketerampilan memiliki akses ke pekerjaan yang baik dan lebih produktif. Berikut gambaran upah minimum provinsi yang dikelompokkan ke dalam 4 bagian.78 4. Peningkatan ini didorong oleh adanya perpindahan lapangan kerja dari aktivitas bernilai tambah rendah ke aktivitas bernilai tambah lebih tinggi. 3. Gambar 3.64 6. Pada saat yang bersamaan terdapat keperluan untuk memastikan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 65 .3 Produktivitas Tenaga Kerja Kemampuan tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam pasar kerja salah satunya ditunjukkan oleh meningkatnya produktivitas tenaga kerja.35 -2. sebagaimana digambarkan sebelumnya.37 3.09 0.29 1.60 2011 4.usaha mikro dan kecil dengan usaha menengah dan besar. Gambaran pertumbuhan produktivitas secara nasional menurut 3 sektor utama. tahun 2010.79 0.8.31 2007 -2.44 2010 3.20 0.

sekitar 3 persen di antaranya merupakan profesional dengan tingkat pendidikan sarjana.00 50.00 70. sedangkan sekitar 5 persen di antaranya semi-skilled worker berpendidikan diploma dan kejuruan. peran pemerintah menjadi sangat penting untuk memacu produktivitas pekerja baik secara langsung yaitu menciptakan lingkungan kebijakan yang kondusif serta tidak langsung yaitu meningkatkan kualitas dan keterampilan angkatan kerja. Secara nasional. Sebaliknya.00 20.pekerja selain mempunyai pendidikan yang lebih tinggi juga memperoleh pelatihan yang lebih baik. DI Yogyakarta dan Kepulauan Riau memiliki proporsi pekerja berpendidikan Universitas yang paling tinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya.00 - Sumber: BPS (diolah) Proporsi tertinggi untuk pekerja dengan pendidikan SD/SMP terdapat di Provinsi NTT. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA PDRB/TK 2005 PDRB/TK 2010 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Gambar 3.46 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 100.00 10.00 90. Sementara itu. Bangka Belitung Kep.00 30. Oleh sebab itu. Provinsi DKI Jakarta.00 40. di seluruh provinsi di Indonesia mayoritas tenaga kerjanya merupakan semiskilled. 66 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 80. Kalimantan Barat dan Jateng.00 60. dengan persentase lulusan SMP dan SMU yang relatif besar.

Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0% 20% 40% 60% 80% 100% Gambar 3.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik Birokrasi memiliki peranan yang sangat strategis untuk mendukung manajemen pemerintahan yang efektif. mendukung terwujudnya daya saing perekonomian nasional di tengah persaingan global.Gambar 3. akuntabel dan melayani kepentingan publik. BPS Sumber: Sakernas. peranan birokrasi menjadi lebih signifikan untuk memberikan respon berupa formulasi dan implementasi kebijakan secara tepat. efisien. Di era kompetisi global. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 67 . BPS (diolah) 3. Riau Kep.48 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. mendorong terwujudnya iklim investasi yang kondusif. bersih. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 10 20 30 40 50 60 ≤ SMP SMU SMK Diploma Universitas Profesional Semi Skill % Sumber: Sakernas. menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. Riau Kep.47 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.

Gambar 3. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat SD-SMA Sumber: BKN.Uraian berikut ini menggambarkan peta kondisi birokrasi di daerah ditinjau dari beberapa indikator.9. khususnya dilihat dari aspek tingkat pendidikan. Dalam rangka itu. berdasarkan kebutuhan organisasi dan kompetensi yang ada. yakni: (1) Kualitas SDM Aparatur. 3. Bangka Belitung Kep. yang digambarkan melalui Indeks Demokrasi Indonesia serta angka pemilih dan angka partisipasi pemilih. Januari 2012 D1-D3 S1/D4-S3 68 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . jumlah PNS berdasarkan daerah adalah sebanyak 4.818 orang. (2) Penerapan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) atau e-procurement. penempatan. penataan PNS mulai dari sistem rekruitmen. yang mencerminkan kualitas pengelolaan keuangan daerah secara tertib dan upaya menuju terwujudnya birokrasi yang bersih. Di sisi lain jumlah tenaga analis jabatan di K/L/pemda masih sangat terbatas. Berdasarkan data per 1 Januari 2012. sebagai salah satu indikator pelayanan dan transparansi dalam pengelolaan keuangan dilihat dari proses pengadaan barang dan jasa. sehingga peta jabatan dan profil kebutuhan pegawai belum tersedia secara rinci dan valid. (4) Implementasi SAKIP.49 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 100% 80% 60% 40% 20% 0% NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. diharapkan dapat mencerminkan kualifikasi. (3) Pencapaian opini BPK atas audit LKPD. masih sulit untuk menentukan jumlah kebutuhan pegawai secara tepat pada suatu instansi. kompetensi dan profesionalisme.49.1 Kualitas SDM Aparatur Salah satu bagian penting dalam pelaksanaan reformasi birokrasi adalah pengembangan manajemen SDM Aparatur untuk mewujudkan aparatur negara yang profesional. Adapun komposisi PNS per provinsi berdasarkan tingkat pendidikan sebagaimana digambarkan dalam Gambar 3. Sampai saat ini.570. sebagai gambaran perkembangan akuntabilitas kinerja birokrasi dan (5) Perkembangan politik Indonesia. promosi dan mutasi dan evaluasi kinerjanya masih harus dibenahi.

Riau 26 Prov. Papua 24 Prov.7 sudah 63. Bengkulu Prov. Kalsel Prov. Sedangkan provinsi yang memiliki PNS dengan pendidikan setara S1 ke atas dengan persentase di atas 40 persen. Kalteng Prov.0 sudah 85. antara lain Provinsi Gorontalo. Sultra 30 Prov. Jawa Barat Prov.09 persen. Sumsel 33 Prov.3 97 62. Provinsi Sulawesi Selatan. sedangkan PNS dengan tingkat pendidikan Diploma (1-3) sebesar 26. Sulteng 29 Prov. Provinsi DI Yogyakarta.1 sudah 92. Provinsi Maluku. Bangka Belitung Prov.7 sudah 35. Kepulauan Riau Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 43. Banten Prov. termasuk dalam bidang pengadaan barang dan jasa. Provinsi Jawa Timur.0 sudah 90.0 sudah 100. Data Per April 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 69 .1 sudah 95.1 sudah 97. paling lambat pada tahun 2012.7 sudah 60. Dilihat komposisi PNS yang berpendidikan SLTA ke bawah berdasarkan provinsi.6 sudah 41. Yogyakarta Prov. Maluku 20 Prov. Provinsi Sulawesi Tengah. Jawa Timur Prov. Sulut 31 Prov.0 No Daerah Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 60.23 persen dan PNS dengan pendidikan setara Sarjana ke atas sebesar 36.0 sudah 0.1 sudah 78.0 sudah 50. salah satunya dilakukan melalui penerapan pelaksanaan lelang secara elektronik ( e-procurement) berbasis web/internet dengan memanfaatkan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang dikembangkan LKPP dan diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang ada di instansi pemerintah. Tabel 3.0 sudah 41. Provinsi Papua. D.Melihat dari komposisi data tersebut terlihat bahwa PNS yang berpendidikan SLTA kebawah masih menempati persentase yang tertinggi yaitu 37.0 sudah 86.5 belum 9.2 LPSE dan E-Procurement Upaya reformasi birokrasi dilakukan di berbagai bidang.0 sudah 14. Jambi Prov. NAD Prov. DKI Jakarta Prov. Jawa Tengah Prov. NTB 22 Prov.7 sudah 92.0 sudah 100.9 sudah 73. Gorontalo Prov. I.0 sudah 0.1 sudah 91. Sumbar 32 Prov.0 sudah 80. Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat. Papua Barat 25 Prov. Sulsel 28 Prov.16 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Daerah Prov. yakni Provinsi Papua Barat. NTT 23 Prov.68 persen dari jumlah PNS.7 sudah 57.6 sudah 100. Provinsi DKI Jakarta. Lampung 19 Prov.8 18 Prov.0 sudah 33. Kaltim Prov.3 sudah 3. Provinsi Sulawesi Utara. Provinsi Kalimantan Timur. Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Maluku Utara 21 Prov.4 sudah 66.7 sudah 100.3 sudah 60. dapat diinformasikan bahwa terdapat beberapa provinsi yang memiliki PNS berpendidikan SLTA ke bawah diatas 40 persen.9 sudah 100. Bali Prov. Sumut Total (Rata-rata) Sumber: LKPP. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bahwa Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Instansi Lainnya wajib melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik untuk sebagian/seluruh paket-paket pekerjaan. Sulbar 27 Prov. 3.9. Kalbar Prov. Reformasi dalam bidang pengadaan barang dan jasa. Hal ini selaras dengan mandat Perpres No.

3 60. Maluku 20 Prov.6 21.0 58. DKI Jakarta Prov. Namun. Kepulauan Riau sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah Kab/Kota(%) 17.2 50. Sumbar 32 Prov. yaitu Provinsi Papua Barat. Dari 33 provinsi yang ada.9 63.1 85. terdapat 2 provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Maluku yang seluruh kabupaten/kotanya belum memiliki LPSE dan belum mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Tabel 3. baru 2 provinsi yaitu Provinsi Kep.5 0. sebagian besar telah memiliki LPSE. Jawa Barat Prov. Bengkulu Prov. Sedangkan untuk pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).0 100. Bangka Belitung Prov. Riau 26 Prov.0 33. yaitu provinsi Papua Barat dan Maluku Utara.9 0. sebanyak 312 kabupaten/kota (62.0 0.5 3. Papua Barat 25 Prov. NAD Prov.3 5.9 44.4 0. Hingga saat ini.0 21.3 82. Dari 497 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. 32 provinsi (97 persen) telah memiliki LPSE.4 95. Maluku Utara 21 Prov.4 44.Perkembangan pembentukan LPSE di daerah memperlihatkan hasil yang cukup baik. Hingga April 2012. Lampung 19 Prov. Bangka Belitung dan DI Yogyakarta yang seluruh kabupaten/kotanya telah memiliki LPSE dan mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Kalsel Prov. D.7 45.0 25. Sulteng 29 Prov. NTT 23 Prov. 31 provinsi (94 persen) telah mengimplementasikan e-procurement dalam proses lelang (operasional lelang).4 100.5 92. hampir seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki LPSE. untuk kabupaten/kota. Kalbar Prov. Sumsel 33 Prov. dari 33 provinsi.0 84.87 persen) yang telah mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Sulbar 27 Prov. Jawa Timur Prov. Sultra 30 Prov. Yogyakarta Prov. Sementara itu.0 75. Jambi Prov. Sementara itu.3 50. I. Data Per April 2012 70 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . perkembangan pembentukan LPSE tersebut belum sejalan dengan pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).0 16.78 persen) telah memiliki LPSE. Dari total 497 kabupaten/kota.0 36.7 18 Prov. Kalteng Prov.0 40. Hanya 1 provinsi yang belum memiliki LPSE. Kaltim Prov. Papua 24 Prov. hanya 223 kabupaten/kota (44. Bali Prov. Jawa Tengah Prov.9% Sumber: LKPP.17 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 No Daerah Status E-PROC Provinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Prov. NTB 22 Prov. Sumut Total (Rata-rata) No Daerah Status E-PROC Provinsi sudah sudah belum sudah sudah sudah belum sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah 94% Kab/Kota(%) 42. Sulut 31 Prov. Banten Prov.4 57. Sulsel 28 Prov. Gorontalo Prov.0 9.0 53. terdapat 2 provinsi yang belum mengimplementasikan.

Selebihnya. Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan yang mendapatkan opini WDP sebanyak 252 pemda atau 65 persen. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). terdapat 67 kota atau 72 persen yang mendapatkan opini WDP. Di level provinsi. terdapat 16 kabupaten atau baru sebesar 4 persen yang mendapatkan opini WTP. Dari total 516 LKPD. TW atas 26 LKPD (5 persen) dan TMP atas 115 LKPD (22 persen). yakni terdapat 12 kota atau sebesar 13 persen yang berhasil mendapatkan opini WTP. Provinsi Jawa Timur. Gambar 3. opini WDP atas 341 LKPD (66 persen). BPK memberikan opini WTP atas 34 LKPD (7 persen).9. Bangka Belitung Kep. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Jumlah Kab/Kota Jumlah LKPD 71 .3. c. baik untuk level provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk kabupaten. dari 33 pemprov yang menyerahkan LKPD. yakni Provinsi Riau. Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). hasil pemeriksaan BPK selama tahun 2011 atas 516 LKPD dari keseluruhan 524 pemerintah daerah di Indonesia memperlihatkan bahwa mayoritas pemerintah daerah di Indonesia masih mendapatkan opini 6 WDP . d. b. perkembangannya lebih baik dibandingkan dengan pemerintah kabupaten. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.50 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Sumber: BPK. IHPS II 2011. Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). Maret 2012 6 Terdapat empat kategori hasil penilaian BPK.3 Opini LKPD Terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2010. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). yaitu a. terdapat 18 persen yang mendapatkan opini WTP atau sebanyak 6 provinsi. Untuk pemerintah kota. Provinsi DI Yogyakarta. Provinsi Kepulauan Riau. Selanjutnya terdapat 22 provinsi atau 67 persen yang mendapatkan opini WDP dan yang mendapatkan opini TMP sebanyak 15 persen.

51 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 35 30 25 20 15 10 5 0 11 5 NAD 1 Sumatera Utara Sumatera Barat 1 1 1 2 17 2 18 1 11 12 1 15 1 8 3 Bengkulu 3 7 5 Lampung 8 Kep. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh daerah telah memiliki kepatuhan yang tinggi untuk menyusun dan menyampaikan laporan keuangan setiap tahunnya. Keempat daerah tersebut berada di Provinsi Papua. untuk level kabupaten/kota terdapat 4 (empat) kabupaten yang dikarenakan statusnya sebagai daerah otonom baru sehingga belum berkewajiban menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Kabupaten Intan Jaya.9. 72 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Kalimantan Barat TW . Adapun rekapitulasi capaian opini atas LKPD secara rinci diilustrasikan sebagaimana gambar di bawah ini. IHPS II 2011. Maret 2012 WDP TMP 3. yakni Kabupaten Deiyai. mayoritas pemerintah daerah telah menyerahkan laporan keuangan pemerintah daerah. Riau Riau Jawa Timur WTP Sumber: BPK. Gambar 3.Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II tahun 2011 yang diterbitkan BPK pada bulan maret 2012. Bangka Belitung 7 1 1 DKI Jakarta Jawa Barat 2 Jawa Tengah 4 1 DI Yogyakarta 6 26 2 4 3 Banten 1 2 7 Bali 33 1 3 8 Nusa Tenggara Barat 14 2 13 4 4 7 Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan 1 7 6 7 2 1 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah 19 2 18 10 2 Sulawesi Selatan 7 5 1 Sulawesi Tenggara 6 1 Gorontalo 6 Sulawesi Barat 10 9 1 Maluku Utara Maluku 5 Papua 1 7 3 Papua Barat 32 5 1 8 Nusa Tenggara Timur 13 3 5 Kalimantan Timur Jambi Sumatera Selatan Kep. 33 pemerintah daerah telah menyampaikan laporan keuangannya. Implementasi ini. Untuk level provinsi. khususnya birokrasi yang berorientasi pada hasil (outcome oriented). sekaligus untuk mengawal peningkatan kualitas reformasi birokrasi. Hanya saja. Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Puncak. Implementasi SAKIP dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitas akuntabilitas kinerja seluruh instansi pemerintah dan melihat komitmen penerapan manajemen pemerintahan berbasis kinerja.4 Implementasi SAKIP Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk memperkuat dan meningkatkan akuntabilitas kinerja.

19. Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja dan perlu sedikit perbaikan. Adapun rincian skor LAKIP untuk masingmasing provinsi sebagaimana Tabel 3. berkinerja tinggi dan sangat akuntabel Akuntabel. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban. Sedangkan untuk level kabupaten/kota. D 0-30 Sumber: Kementerian PAN & RB. perlu banyak perbaikan. Sistem dan tatanan tidak dapat diandalkan untuk manajemen kinerja. termasuk perubahan yang mendasar Kurang. perlu banyak sekali perbaikan dan perubahan yang sangat mendasar. sebanyak 32 dari 33 provinsi telah menyampaikan laporan. 3.Setiap tahun. perlu banyak perbaikan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 73 . Dari jumlah itu hanya 30 provinsi yang dievaluasi dikarenakan 2 provinsi lain terlambat dalam menyampaikan laporan. dilakukan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Akuntabilitas kinerjanya cukup baik. Predikat AA A B Nilai Absolut >85-100 >75-85 >65-75 Interpretasi Memuaskan Sangat Baik Baik dan perlu sedikit perbaikan Cukup baik (memadai).18. sebagian perubahan yang sangat mendasar. manajemen kinerja yang andal. Karakteristik Instansi Memimpin perubahan. Penilaian diprioritaskan bagi daerahdaerah yang pada tahun sebelumnya belum dinilai. perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar Agak kurang. CC >50-65 5. memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar. atas penyelenggaraan manajemen kinerja pada birokrasi pemerintah. melalui koordinasi Kementerian PAN dan RB. Adapun kategorisasi penilaian sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 3. 2012 Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tahun 2011. Tabel 3. sebanyak 422 dari 497 kabupaten/kota telah menyampaikan laporan dan dari jumlah itu hanya 180 kabupaten/kota yang dinilai. Evaluasi ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kelemahan dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja di lingkungan instansi pemerintah (SAKIP). berbudaya kinerja. (2) memberikan rekomendasi untuk peningkatan dan penguatan akuntabilitas instansi pemerintah dan (3) menyusun peringkat hasil evaluasi guna kepentingan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur Negara. 2. C >30-50 6. perlu beberapa perbaikan tidak mendasar. taat kebijakan. pada seluruh instansi pemerintah pusat (Kementerian/Lembaga) dan pemerintah daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). berkinerja baik. memiliki sistem Akuntabilitas kinerjanya sudah baik.18 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah No 1. 4.

Bappenas.9.00 90.53 0.72 63. IDI 2012. 2012 3.00 67.5 Perkembangan Politik Indeks Demokrasi Indonesia Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi di setiap provinsi di Indonesia. Babel Lampung Papua Sulbar Sulsel Predikat C C C C C C C C C C 1 Jateng B 11 2 Kaltim B 12 3 Bali CC 13 4 DIY CC 14 5 DKI Jakarta CC 15 6 Jabar CC 16 7 Jatim CC 17 8 Kalbar CC 18 9 Kalsel CC 19 10 Kep. Terdapat 3 aspek yang diukur.7 pada tahun 2010.00 50. Gambar 3.30 atau kategori sedang (Indeks 60<80).17 54.00 IDI Kebebasan Sipil 2009 Sumber: IDI 2010. Penurunan ini disebabkan turunnya Indeks Kebebasan Sipil dari 86.00 70.60 47.00 20.00 80. Riau CC 20 Sumber: Kementerian PAN & RB. BPS 2010 Hak Politik Lembaga Demokrasi Pada tahun 2009 tingkat kinerja demokrasi rata-rata provinsi di Indonesia mencapai 67.97 pada tahun 2009 74 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .52 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 100.00 30.97 82. Namun terjadi penurunan menjadi 63.19 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 No Provinsi Predikat No Provinsi Maluku NTB NTT Riau Sulteng Sulut Sulbar Sulsel Sumut NAD Predikat CC CC CC CC CC CC CC CC CC C No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Provinsi Banten Bengkulu Gorontalo Jambi Kalteng Kep.00 10.11 86.87 62. hakhak politik dan lembaga demokrasi.Tabel 3. yaitu aspek kebebasan sipil.30 63. UNDP.00 40.00 60.

94 62. Bangka Belitung Kep.36 63. Turunnya angka Indeks rata-rata seluruh provinsi Indonesa pada tahun 2010 dikontribusi oleh menaiknya jumlah aksi atau tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap masyarakat dan antar kelompok masyarakat.11 (kategori sedang) pada tahun 2010.57 69.45 65.63 56.87 di tahun 2010.32 71.05 69.60 atau kategori rendah (Indeks <60) pada tahun 2009 menjadi 47.44 58. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.80 65.10 70.menjadi 82.33 55.65 70. Berbeda dengan kedua Indeks Kebebasan Sipil dan Hak-hak Politik.26 IDI Kebebasan Sipil Hak Politik Lembaga Demokrasi Sumber : BPS 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 75 .79 64.42 74.45 63.60 72. Indeks Lembaga Demokrasi mengalami kenaikan dari 62.97 67.41 63.67 54.53 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 NASIONAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.92 67.88 73.44 59.12 60.78 67. Gambar 3. sebanyak 6 provinsi memiliki indeks dengan kategori rendah (indeks < 60) dan sebanyak 27 provinsi termasuk ke dalam kategori sedang (60< indeks <80). Tidak ada satu pun provinsi di Indonesia memiliki indeks dengan kategori tinggi (indeks > 80).53 atau kategori tinggi (Indeks >80) pada tahun 2010.72 tahun 2009 menjadi 63.13 72.17 65. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 63. dan menurunnya Indeks Hak-hak Politik dari 54.94 66.04 71.04 65.75 60.51 59. Berdasarkan IDI tahun 2010.94 73.89 77.

62 67.59 51. seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional.11 47. Seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional (82.84 85. aspek kebebasan sipil telah berkembang pesat di seluruh provinsi di Indonesia.06 56.30 89. Berbeda dengan kedua aspek lainnya.00 40. Untuk kebebasan sipil ini.00 80. Pada indeks Lembaga Demokratis.10). hanya 4 provinsi memiliki indeks sedang dan sisanya 29 provinsi termasuk kedalam kategori rendah.74 Indeks Demokrasi Indonesia 2010 berdasarkan Kepulauan menunjukkan seluruh kelompok wilayah mencapai indeks (IDI) rata-rata di atas indeks Nasional (63.00 10.00 60.02 65.74. bila melihat indeks Hak-hak Politik. yakni 38.17 63.53 atau kategori tinggi. 76 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .00 70.73 85. Demikian pula halnya dengan indeks Kebebasan Sipil.54 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 100. 24 provinsi (73 persen) memiliki indeks dengan kategori sedang dan 6 provinsi (9 persen) termasuk dalam kategori rendah.36).00 20.09 84.05 50. yang dapat mencapai rata-rata 82. angka indeks Kalimantan adalah yang tertinggi (71. Niilai indeks Kebebasan Sipil tertinggi adalah di Wilayah Maluku-Papua dan terendah di Wilayah Jawa.00 30. Pada aspek hak-hak politik. 7 provinsi termasuk kategori sedang dan 1 provinsi yang mendapatkan indeks rendah.87 82.85 54.29 67.73 66.73 64.80 71.Pada aspek lembaga demokrasi. sementara angka indeks terendah ada di Wilayah Maluku-Papua (64.53 84.00 NASIONAL Sumatera IDI Sumber : BPS 2012 Jawa Kebebasan Sipil Bali-NTB-NTT Hak Politik Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Lembaga Demokrasi 63.95 94.41 67. sebanyak 25 provinsi berada pada peringkat tinggi. Gambar 3.36 47.00 0. Kesenjangan ini harus direspon dan diatasi agar tidak menimbulkan ketidakpuasan masyarakat lebih lanjut dan dapat memicu timbulnya aksi kekerasan. Dengan tingginya Indeks Kebebasan Sipil dan rendahnya Indeks Hak-hak Politik dan Lembaga Demokrasi menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan masyarakat dan pelayanan yang dapat diberikan oleh penyelenggara pemerintahan daerah.66 38.53). hanya Wilayah Maluku-Papua yang nilai indeksnya di bawah rata-rata nasional.10 65.00 50. Dari seluruh wilayah kepulauan.00 90.71 66.54 70.10 70.17). sebanyak 3 provinsi (9 persen) memiliki indeks kategori tinggi.05 68. Sementara itu.

6 1.4 0.0 0.8 1.6 15.2 0. Pada Pemilu Anggota DPR. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.8 1.4 0.0 1. jumlah pemilih dalam berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) SK 164 berjumlah 171.4 1.I.0 1. DPD dan DPRD tahun 2009.4 1.4 3.55 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.3 16.4 0.3 1. Pemilu dalam Angka.434 orang (Pemilu 2009 dalam Angka. Keseluruhan provinsi yang berada di Jawa memiliki kurang lebih total 24. Gambar 3.442 orang (Pemilu 2009 dalam Angka.9 1.411.0 1. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 0.9 0.7 2.0 1.5 3. KPU). 2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 77 . Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.8 17.6 0. Sedangkan jumlah pemilih tetap dalam Pemilu Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 berjumlah 176. KPU).9 persen jumlah kabupaten/kota. Pada Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2009.2 0.3 1. persentasi jumlah pemilih terbesar berada di Jawa yang mencapai 59.9 5.Angka Pemilih Dan Partisipasi Pemilih Salah satu indikator yang diukur dalam demokrasi adalah tingkat partisipasi politik dalam pemilu dan pemilukada.2 1.6 3.8 persen.8 10 20 30 40 50 60 70 80 Kab/kota Pemilih pemilu legislatif (%) Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: KPU.265.7 3.1 0.8 5.

Dibandingkan pelaksanaan tahun 2004 dan 2009.0% 90.3% 84. Provinsi Papua mencapai tingkat partisipasi pemilih tertinggi yaitu 85 persen dan Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai 61 persen.2% 91.1 persen jumlah kabupaten/kota di Indonesia memiliki persentasi jumlah pemilih sebanyak 40.2 persen pada Pemilu Presiden/Wapres dan 39.55. tingkat partisipasi politik pada pemilu 2009 cenderung mengalami penurunan.9% 88. juga lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 84.4 persen.1% 77.6% 91.1 persen. Gambar 3. Persentasi jumlah kabupaten/kota dan jumlah pemilih pada masing-masing provinsi pada Pemilu Anggota Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden disajikan dalam Gambar 3.3% 90.4% 71.9% 93. persentasi jumlah pemilih di Jawa tidak jauh berbeda. Sedangkan untuk Pemilu Presiden 2009 tingkat partisipasinya mencapai 72.7 persen. DPD dan DPRD diperoleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terendah diperoleh provinsi DKI Jakarta.56 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 94. 2011 Tingkat Partisipasi Pemilu Presiden Tingkat partisipasi pemilih tertinggi dalam Pemilu anggota DPR. 78 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Dua puluh tujuh (27) provinsi lain dengan 75. yaitu 60.9 persen. Sedangkan pada Pemilu Presiden/Wapres.0% 72. upaya keras harus dilakukan melalui pendidikan politik dengan metode yang tepat sasaran.3 persen pada Pemilu Legislatif. lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 77.6% 1971 1977 1982 1987 1992 1997 1999 2004 2009 Tingkat Partisipasi Pemilu Legislatif Sumber: IDEA dan KPU.6 persen. Agar tidak terjadi penurunan lebih lanjut pada Pemilu 2014 mendatang.Pada Pemilu legislatif. Tingkat partisipasi politik pada pemilu legislatif tahun 2009 rata-rata seluruh Indonesia mencapai 70.

Gambar 3.57 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Papua Barat

Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.I. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD

81 90 80 81 83 75 78 73 78 79 67

71 69 73 81
75 77 72 68 73 71 73 51 70 74 75 77 75 60 68 70 66 75 0 20 40 60 80 100 Pemilih pemilu legislatif (%)

Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Berdasarkan wilayah, tingkat partisipasi Pilpres 2009 di Maluku dan Papua adalah sebesar 80 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi di Sumatera 70,0 persen, Jawa 72,0 persen, Bali, NTB dan NTT 76,0 persen, Kalimantan 70,0 persen dan Sulawesi 75,0 persen. Tingkat partisipasi ini dihitung dari pemilih di DPT yang menggunakan hak pilih. Sedangkan, persentasi jumlah pemilih di DPT yang tidak menggunakan hak pilihnya di Sumatera adalah tertinggi sebesar 30,0 persen dan di Maluku dan Papua mencapai 20,0 persen lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

79

Gambar 3.58 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009
30.000.000 25.000.000 20.000.000 15.000.000

Sumatera

80.000.000 70.000.000 60.000.000 50.000.000 40.000.000 30.000.000 20.000.000 10.000.000 0

Jawa

70,0%

72,0% 28,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

10.000.000
5.000.000 0

30,0%

Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

Jumlah DPT: 35.826.186 orang

Jumlah DPT: 103.821.470 orang

7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000

8.000.000

Bali - NTT - NTB

7.000.000 6.000.000 5.000.000

Kalimantan

76,0%

4.000.000

3.000.000
2.000.000

70,0% 30,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

24,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

1.000.000

0

0

Jumlah DPT: 8.750.838 orang

Jumlah DPT: 9.894.265 orang

10.000.000 9.000.000 8.000.000 7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 0

Sulawesi

4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000

Maluku - Papua

75,0%

2.000.000 1.500.000

80,0%

25,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

1.000.000 500.000 0 Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

20,0%

Jumlah DPT: 12.405.626 orang Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Jumlah DPT: 4.565.389 orang

80

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Pada Pemilukada yang dilaksanakan di seluruh Provinsi di Indonesia, rata-rata tingkat partisipasi politiknya mencapai 75,6 persen. Dari seluruh provinsi tersebut, sebanyak 16 provinsi memiliki tingkat partisipasi politik di atas rata-rata 75,6 persen dan 17 provinsi di bawah rata-rata. Gambar 3.59 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011
RATA - RATA PARTISIPASI PEMILIH Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah
76,0 81,7 82,0 70,2 71,4 71,5 74,8 67,3 76,7 77,0 82,4 83,6 75,6 84,7 84,0 83,0 83,3 83,1 79,9

Sulawesi Utara
Kalimantan Timur Kaliamantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Banten Jawa Timur DI. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat Kepualauan Riau Kep. Bangka Belitung Bengkulu Lampung Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0,00 20,00 40,00 60,00
68,3 71,6 69,5 72,3 71,7 75,7 75,1 56,5 68,7 69,8

70,7
73,9

81,9

79,7

80,00

100,00

Sumber : Ditjen Otonomi Daerah-Kemdagri, 2011

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

81

3.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.10.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012
MP3EI berisi arahan pengembangan kegiatan ekonomi utama yang sudah lebih spesifik untuk mendorong percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Untuk mengimplementasikannya, Pemerintah juga sudah membentuk Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). Sejak MP3EI diluncurkan sampai dengan akhir Desember 2011, telah dilaksanakan groundbreaking proyek yang mendukung pelaksanaan MP3EI sebanyak 94 proyek dengan total nilai investasi Rp. 499,5 Triliun. Selengkapnya rekapitulasi kegiatan MP3EI yang telah groundbreaking hingga Desember 2011 terdapat dalam Tabel 3.20. Tabel 3.20 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011)
Koridor Ekonomi Jumlah Proyek Infrastruktur Sektor Riil Nilai Investasi Infrastruktur (Rp. Miliar) 35.429 64.674 1.586 3.000 36.065 1.011 141.765 Sektor Riil (Rp. Miliar) 62.505 71.397 14.644 142.267 829 66.120 357.762 Total Proyek Investasi (Rp. Miliar) 97.934 136.071 16.230 145.267 36.894 67.131 499.527

Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Papua-Kep.Maluku Total

17 8 3 1 6 3 38

2 8 12 26 1 7 56

19 16 15 27 7 10 94

Sumber: Sekretariat KP3EI

Proyek MP3EI tersebut tersebar di 6 (enam) koridor ekonomi yang terdiri dari investasi untuk proyek sektor riil senilai Rp.357,8 triliun (56 proyek) dan pembangunan infrastruktur Rp.141,7 triliun (38 proyek). Proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah dengan nilai investasi sebesar Rp.71,6 triliun (24 proyek), BUMN sebesar Rp.131 triliun (24 proyek), swasta sebesar Rp.168,6 triliun (38 proyek) dan melalui Kerjasama Pemerintah Swasta/KPS sebesar Rp.128,3 triliun (8 proyek). Pada tahun 2012, MP3EI melalui KP3EI juga telah merencanakan untuk melakukan groundbreaking terhadap 84 proyek yang terdiri dari investasi sektor riil dan pembangunan infrastruktur dengan nilai total Rp.536,3 triliun. Adapun proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah sebesar Rp.66,2 triliun (15 proyek), BUMN sebesar Rp.90,3 triliun (20 proyek), swasta sebesar Rp.301,6 triliun (38 proyek) dan campuran sebesar Rp.78,2 triliun (11 proyek).

82

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

60 dan Gambar 3.61 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi 180 5000 Nilai Program IPTEK (IDR Miliar) 160 4500 4000 3500 Jumlah Program IPTEK 140 120 100 80 60 40 20 0 22 11 15 12 54 134 572 3832 320 315 295 1832 65 35 3000 2500 2000 1500 1000 1449 1330 20 498 34 500 0 1053 Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Sumber: Sekretariat KP3EI Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 83 .3. direncanakan untuk melaksanakan 134 program dengan nilai total investasi Rp.8 triliun.Dalam rangka penguatan SDM dan IPTEK.580 miliar.60 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 100 90 700 600 47 579 Nilai Program SDM (IDR Miliar) 80 6 8 6 11 23 76 Jumlah Program SDM 70 60 50 40 30 20 10 0 16 15 500 400 91 116 272 22 31 218 170 191 300 200 100 0 22 45 Community College Politeknik Universitas Community College Politeknik Universitas Sumber: Sekretariat KP3EI Gambar 3. pada tahun 2012 telah direncanakan program penguatan SDM sebanyak 76 program dengan nilai total investasi Rp. Gambar 3.61. Sedangkan untuk program pengembangan IPTEK. Selengkapnya jumlah dan nilai program bidang SDM IPTEK di setiap koridor ekonomi terdapat dalam Gambar 3.

Hal ini juga terkait untuk memastikan penetapan peraturanperaturan daerah yang dapat mendukung terciptanya iklim investasi dan kepastian berusaha.10. Pemerintah akan terus melakukan upaya pembangunan infrastruktur dalam rangka penguatan konektivitas nasional. Percepatan pembangunan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS). Penyediaan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) untuk peningkatan ketahanan dan ketersediaan air. Tabel 3.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi nasional (intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi Internasional Indonesia dengan pasar dunia.21 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) No. Pemerintah juga akan terus melakukan sejumlah perbaikan iklim investasi. d. e. Pemerintah telah selesai melakukan revisi terhadap 31 regulasi dan sedang menyelesaikan 16 regulasi lainnya (lihat Tabel 3. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 84 . c. 1 2 Jenis Regulasi Undang-Undang (UU) Telah Diperbaiki 1 6 14 1 1 8 31 Jenis Regulasi Rancangan UndangUndang (RUU) Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) Rancangan Keputusan Presiden (RKeppres) Rancangan Instruksi Presiden (RInpres) Rancangan Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sedang Diperbaiki 2 4 2 0 0 0 8 Akan Diperbaiki 2 3 1 0 0 2 8 Peraturan Pemerintah (PP) 3 Peraturan Presiden (Perpres) 4 Keputusan Presiden (Keppres) 5 Instruksi Presiden (Inpres) 6 Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sumber: Sekretariat KP3EI 3. Peningkatan keselamatan transportasi. Sampai April 2012.Selain pembangunan infrastruktur dan penguatan SDM dan IPTEK. antara lain melalui debottlenecking regulasi (deregulasi) terhadap peraturan yang dinilai menjadi penghambat bagi pelaksanaan investasi. Untuk itu.21). b. Upaya-upaya debottlenecking di atas tentunya tidak akan berhasil tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. Adapun Isu strategis terkait infrastruktur pada tahun 2013 dalam mendukung pelaksanaan MP3EI adalah sebagai berikut: a. Peningkatan konektivitas (domestic connectivity) untuk menunjang pertumbuhan dan pemerataan. Pengembangan transportasi di Kota Metropolitan.

71 Alokasi (Pagu Indikatif) 18.02 1.90 Kementerian Kominfo 5. Meskipun demikian.52 10.00 39.41 5.040.700.310.53 442.01 1. Tabel 3.035.5 triliun rupiah.76 Kementerian PU 18.390.22 dan Gambar 3.11 4.680.77 454.29 198.215.06 660. Pemerintah sudah melakukan peningkatan alokasi indikatif pembangunan infrastruktur sekitar 17.091.62.819.00 18.00 Kementerian Perhubungan 14.98 1.29 205.310.428.130.794.00 5.54 6. Pemerintah akan terus mengupayakan peningkatan rencana alokasi pembiayaan pembangunan infrastruktur.930.Dengan mempertimbangkan beberapa isu strategis dimaksud.90 5.079.90 4. 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 85 .00 51.00 Kementerian Perdagangan 51.974.11 1.615.428. Gambar 3.00 1.99 14.47 4.76 Sumber : Sekretariat Timja Konektivitas.44 11.579.54 Sumber: Sekretariat Timja Konektivitas.373.04 179.90 6.035.62 Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Kementerian ESDM 6.50 4.623.89 2.819.76 3.1 triliun rupiah dari TA 2012. rekapitulasi alokasi indikatif kegiatan konektivitas tahun 2013 menurut kementerian/lembaga (dalam miliar rupiah) dapat dilihat pada Tabel 3.040.00* 1.443.9 triliun rupiah dari kebutuhan anggaran yang sudah diidentifikasi sampai tahun 2013 sebesar 52.157. Pada rencana pembangunan infrastruktur tahun 2013.27 5.623.252.383.589.503.00* 12.14 543.00 5.00 51.01 11.953.49 18.00 52. Untuk lebih jelasnya.54 13. 2012 Keterangan (*) : Kebutuhan tambahan akan dipenuhi dari ICT Fund.22 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) Kebutuhan Kementerian PU Ditjen Bina Marga Ditjen SDA Ditjen Cipta Karya Kementerian Perhubungan Ditjen Perkeretaapian Ditjen Perhubungan Darat Ditjen Perhubungan Laut Ditjen Perhubungan Udara Kementerian ESDM Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian Kominfo Ditjen Penyelenggaraan Pos Dan Informatika Kementerian Perdagangan TOTAL 21.18 15.20 Kebutuhan Tambahan 3.819.29 179.443. kebutuhan anggaran untuk pembangunan infrastruktur masih terdapat kekurangan sekitar 12.76 7.

antara lain peningkatan kapasitas Pelabuhan Maloy dan Pengembangan Pelabuhan Pontianak. antara lain pengembangan pelabuhan di Pulau Madura. Pengembangan beberapa pelabuhan. Penanganan jalan dan jembatan di Kalimatan Barat. Koridor Ekonomi Kalimantan a. b. Meningkatkan hubungan dari Wilayah Sulawesi ke wilayah lainnya. Infrastruktur jalan dalam mendukung pengembangan pariwisata dan pusat peternakan di Sumbawa menjadi salah satu prioritas di Wilayah Nusa Tenggara. Memperkuat transportasi udara terutama provinsi Jambi. Pemerintah melalui Tim Kerja Konektivitas telah menetapkan kebijakan untuk pengalokasian MP3EI dalam RKP 2013. c. b. Dumai dan Kawasan Industri Muara Enim. Koridor Ekonomi Bali-NT a. Koridor Ekonomi Jawa a. penguatan kapasitas pelabuhan menjadi prioritas.Untuk penguatan konektivitas di setiap koridor ekonomi. Penanganan moda transportasi kereta api wilayah utara Jawa antara lain dengan pembangunan jalur ganda lintas utara Jawa dan jalur ganda di Wilayah Jabodetabek. Memperkuat transportasi moda laut melalui peningkatan kapasitas penyeberangan Bakauheni sisi Barat. Koridor Ekonomi Sulawesi a. Sumatera Utara dan Palembang. yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera a. Pembangunan jalan dalam memperkuat sistem distribusi komoditas dari Makasar ke wilayah lainnya dan jalan pertambangan nikel di Wilayah Kendari. Penanganan jalan wilayah dalam mendukung pengembangan kawasan ekonomi antara lain ke Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke. Pelabuhan Pamanukan dan Perluasan pelabuhan Tanjung Mas. b. d. Memperkuat dan meningkatkan kualitas jalan lintas utara Jawa dengan bagian selatan Jawa. antara lain Bitung sebagai Hub Internasional dan pelabuhan regional lainnya. akan didukung dengan pengembangan beberapa pelabuhan laut. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 86 . b. c. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Memberikan alternatif moda transportasi darat dengan pembangunan jalan kereta api di NAD dan Sumatera Utara. Dalam meningkatkan ekspor migas dan pertanian.

Koridor Ekonomi Papua .11. antara lain Kawasan Perikanan Morotai.b. Berdasarkan komposisi pendapatan daerah secara agregat (provinsi dan kabupaten/kota) selama periode 2007-2011. c. b. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 87 . Pada tahun 2011 nilai total pendapatan daerah mencapai Rp 459. 3.23 triliun. Defisit anggaran cenderung menurun dan pada tahun 2011 secara keseluruhan besarnya 1. atau meningkat sebesar 18 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 386. Peningkatan kapasitas pelabuhan yang dapat mengurangi beban jalan dan meningkatkan efisiensi distribusi komoditas di Wilayah Papua akan menjadi lebih efektif (short-sea shipping).8 persen per tahun.34 triliun.6 persen (DJPK Kemenkeu. DAK dana Bagi Hasil) masih lebih besar dibandingkan sumber pendapatan yang lain.86 triliun.1 Postur Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meningkat dengan laju rata-rata sebesar 11.1 persen. Pada tahun 2011 nilai total belanja daerah mencapai Rp 495.Kepulauan Maluku a. walaupun secara agregat porsi Pendapatan Asli Daerah terus meningkat.4 persen per tahun.86 triliun. Rehabilitasi Bandar Udara Morotai. 2011).11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3. Memperkuat pengembangan Wilayah Bali sebagai pusat pariwisata Internasional. jauh menurun dari kondisi tahun 2010 sebesar 3. terlihat bahwa porsi dana perimbangan (DAU. Sementara itu belanja daerah mengalami peningkatan rata-rata sebesar 11.  Menuju Wilayah MIFEE maupun ke wilayah pegunungan di bagian tengah Wilayah Papua. d. c. Penguatan konektivitas dan sistem logistik di Nusa Tenggara Timur dilakukan dengan mengembangkan kapasitas pelabuhan peti kemas Tenau serta pelabuhan rakyat Nomainsain. Meningkatkan konektivitas:  Antara Manokwari dan Sorong sehingga dapat meningkatkan distribusi barang dari pusat pertumbuhan tersebut ke wilayah pedalaman. Penanganan jalan difokuskan dalam rangka mendukung pengembangan wilayah ekonomi. Memperkuat kapasitas pelabuhan di Maluku Utara dan Kepulauan Maluku sebagai tulang punggung konektivitas di kepulauan tersebut. atau meningkat sebesar 17 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 426. Hal ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan pemerintah daerah terhadap sumber pendanaan dari pusat.

2 2009 17.2 80.6 86.6 4. Tingginya rasio PAD/total pendapatan di Wilayah Jawa menggambarkan kapasitas daerah yang lebih baik dalam menggali sumber pendapatan di tingkat lokal (pajak daerah.6 83.8 2011 19.2 9. Semakin besar rasio PAD terhadap total pendapatan daerah menunjukkan tingkat kemandirian daerah yang semakin tinggi.9 14.0 65. Sebaliknya Wilayah Indonesia Bagian Timur memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pusat. Jawa-Bali memiliki rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total pendapatan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain.7 71.6 75.6 2008 17.7 92.4 7. retribusi daerah.63 Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 PAD Daper Lain2 Persen 2007 16.4 32.8 74.64 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Persen PAD/Tot 14.2 76. hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah).7 5.7 12.4 Sumatera Jawa Bali Kalimantan Sulawesi NT Maluku Papua Sumber: DJPK Kemenkeu. Gambar 3.Gambar 3. 2011 88 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .8 2010 18.0 6.5 6. khususnya Indonesia Bagian Timur.8 76. 2011 Secara kewilayahan.3 59.9 80. Hal ini sekaligus juga menggambarkan relatif berkembangnya perekonomian daerah di Jawa dan Bali.9 Trans/Tot 84.8 78.2 Sumber: DJPK Kemenkeu.3 Daper/Tot 75.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 89 .5 8.0 2008 Gambar 3.1 2.0 56.7 14.8 3.5 44. Jawa Timur memiliki kemandirian fiskal tertinggi.8 5.2 75.9 14.9 71.4 9.8 41.8 42. diikuti provinsi-provinsi lain di Wilayah Jawa-Bali.9 12.7 35.5 54.9 6.9 5.1 50.0 80.4 6. Sebaliknya Provinsi Papua Barat dan Papua memiliki ketergantungan fiskal yang sangat tinggi.0 60.66 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.0 16.0 25.6 2.2 3.8 13.2 7.2 76. Riau Kep.0 20.0 39.7 32.5 3. sedangkan kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat memiliki kemandirian fiskal terendah.0 2011 2008 Sumber: DJPK Kemenkeu.0 15. Sementara itu untuk APBD provinsi.4 49.4 6.9 7.3 4.0 30.4 11.6 6.65 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.4 7.0 2.8 4.7 28.9 35.8 71.0 2011 10.6 5. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 71.1 4.Gambar 3. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 8.0 45.3 61.5 27.0 5.0 15.2 4. 2011 Bila dianalisis lebih rinci berdasarkan APBD kabupaten/kota di setiap provinsi.8 19.8 5. maka kabupaten/kota di Bali memiliki kemandirian fiskal tertinggi.5 7.7 4.3 36.0 40.1 20.9 34.1 58.9 5.5 26.0 40. Hal ini berkaitan dengan berkembangnya industri pariwisata di Bali yang memberikan sumber pendapatan asli daerah yang cukup besar.0 100.2 20.9 62.2 28.1 5.3 11. Riau Kep.

7 11. Peningkatan belanja pegawai ini berjalan seiring dengan meningkatnya jumlah pegawai di daerah.8 27.0 21.3 11.1 22. khususnya di kabupaten. diikuti belanja modal dan belanja barang dan jasa.0 10.5 BBJ/Tot 21. Hal ini ditunjukkan dengan makin meningkatnya porsi belanja pegawai di satu sisi dan semakin mengecilnya porsi belanja modal.0 40.2 Postur Belanja Daerah Secara umum porsi belanja daerah terbesar dialokasikan untuk belanja pegawai.5 11. Jika pada tahun 2007 rasio antara belanja pegawai dan belanja modal hanya 4:3 maka pada tahun 2011 belanja pegawai mencapai lebih dari dua kali lipat belanja modal.6 Sumber: DJPK Kemenkeu.2 22.0 22.3 26.68 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 60 50 Persen 40 30 20 10 0 Sumatera Jawa Bali Kalimantan BP/Tot 45.3 21.4 21.9 30.1 BM/Tot 24.6 37.0 11.5 2009 43.3 22.0 20. 2011 90 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .8 Pegawai Barang/Jasa Modal Lain-lain Sumber: DJPK Kemenkeu.67 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 50.0 18.0 0.2 18.0 15. Selama periode 2007-2011 komposisi belanja daerah justru semakin jauh dari ideal.3.2 Sulawesi NT Maluku Papua 38.1 18.0 5.0 Persen 2007 39.0 25.0 30.9 9. Hal ini patut mendapat perhatian mengingat belanja modal merupakan kunci daya ungkit APBD dalam menggerakkan perekonomian daerah melalui pembangunan infrastruktur publik.2 2008 42. 2011 Gambar 3.1 19.3 2010 46.7 2011 46.5 26.9 18.5 52.0 45.3 32.5 19. Gambar 3.0 35.11.5 50.

sebaliknya Wilayah Kalimantan memiliki porsi belanja pegawai terendah. Hal ini didukung oleh besarnya pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan. Sulawesi memiliki rasio belanja pegawai tertinggi.0 2011 2008 40. Riau Kep. Sementara itu Wilayah Kalimantan memiliki rasio belanja modal tertinggi di antara wilayah-wilayah lainnya. Hanya di Provinsi Kepulauan Riau dan Jawa Barat yang kabupaten/kotanya relatif tidak mengalami perubahan. khususnya Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.0 2011 20.0 Sumber: DJPK Kemenkeu. terlihat bahwa peningkatan rasio belanja pegawai kabupaten/kota di hampir semua provinsi antara tahun 2008 dan 2011.Secara kewilayahan. 2011 Berdasarkan analisis menurut provinsi.0 Gambar 3. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 20.0 50.0 40. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 91 .0 60. di mana di Sulawesi mencapai 1. Riau Kep.0 2008 30.69 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Gambar 3. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 10. Hal ini berkaitan dengan rasio pegawai terhadap penduduk.26 persen.0 80.70 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.38 persen sedangkan di Kalimantan hanya 1.

Bangka Belitung Bali Gambar 3. rasio belanja modal terhadap total belanja daerah cenderung menurun di hampir semua provinsi bila dibandingkan antara APBD tahun 2008 dan 2011. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. Gambar 3. Di tingkat provinsi. 2011 Sementara itu. sedangkan Jawa Tengah. Pada tahun 2011 Kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio belanja modal tertinggi.Pada tahun 2011 kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai tertinggi. 92 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . sedangkan rasio terendah dimiliki Provinsi Papua Barat. Penurunan rasio ini terjadi baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. sedangkan kabupaten/kota di Papua Barat memiliki rasio terendah.71 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep.72 Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki rasio terendah kurang dari 10 persen. Bangka Belitung Bali Pendidikan Kesehatan Ketertiban dan Ketentraman Lingkungan Hidup Pariwisata dan Budaya Pelayanan Umum Perlindungan Sosial Ekonomi Perumahan dan Fasilitas Umum - 20 40 60 80 100 - 20 40 60 80 100 % Sumber: DJPK Kemenkeu. Di tingkat provinsi. Hal ini perlu mendapat perhatian bila mengingat sebagain besar jaringan jalan yang mengalami kerusakan merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. rasio belanja pegawai tertinggi dimiliki Provinsi Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur. sedangkan kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta memiliki rasio terendah. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. pada tahun 2011 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki rasio belanja modal tertinggi.

dapat diidentifikasi daerahdaerah yang memiliki postur APBD relatif baik. Berikutnya adalah Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki rasio belanja modal di atas rata-rata. namun memiliki rasio PAD terhadap pendapatan sedikit di bawah rata-rata. Sementara untuk perbandingan antar kabupaten/kota se-Indonesia. dengan porsi terbesar dialokasikan Provinsi Papua Barat yang mencapai 73 persen. Alokasi belanja untuk mendukung fungsi ekonomi hanya berkisar antara 5-16 persen di kabupaten/kota dengan alokasi tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah dan berkisar antara 7-22 persen di provinsi dengan Provinsi Gorontalo memberikan alokasi paling tinggi. Kabupaten/kota di Jawa Tengah mengalokasikan 51 persen belanjanya untuk fungsi pendidikan yang merupakan alokasi tertinggi. rasio belanja pegawai di bawah rata-rata.23 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik Daerah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Selatan RATA-RATA PROVINSI (33 PROVINSI) Kabupaten Sumbawa Barat Kabupaten Halmahera Timur RATA-RATA KABUPATEN/KOTA Sumber: DJPK (diolah) Rasio PAD Terhadap Pendapatan 71 46 50 19 11 9 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja 17 19 25 33 25 51 Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja 28 29 21 40 45 23 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 93 . Berdasarkan analisis pendapatan dan keuangan daerah di atas. Namun demikian kabupaten/kota di Papua mengalokasikan 43 persen belanjanya untuk mendukung fungsi pelayanan umum. Kriteria yang dipakai untuk menilai postur APBD adalah: (1) rasio PAD terhadap total pendapatan daerah. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan kinerja pengelolaan terbaik antar provinsi. Daerah-daerah yang memiliki postur APBD yang baik ditandai oleh ketiga rasio tersebut yang lebih baik dari rata-rata seluruh daerah. maka secara umum alokasi belanja pemerintah kabupaten/kota yang terbesar adalah untuk fungsi pendidikan. sedangkan kabupaten/kota di Papua hanya mengalokasikan sebesar 17 persen untuk fungsi pendidikan. khususnya pada komponen rasio belanja modal yang sudah memiliki persentase relatif tinggi.Jika belanja daerah dianalisis berdasarkan fungsi. yakni memiliki kondisi rasio PAD dan rasio belanja modal diatas rata-rata dan rasio belanja pegawai di bawah rata-rata seluruh provinsi. kemudian diikuti alokasi fungsi pelayanan umum. Di tingkat provinsi. Tabel 3. Kabupaten Sumbawa Barat dan Halmahera Timur menunjukkan rasio yang lebih baik. (2) rasio belanja pegawai terhadap total belanja dan (3) rasio belanja modal terhadap total belanja. hampir semua provinsi memberi alokasi terbesar untuk fungsi pelayanan umum. dengan menggunakan kriteria yang sama terdapat 22 kabupaten/kota yang memiliki profil lebih baik dari rata-rata.

.

BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat terus dilaksanakan tanpa melalaikan persoalan lingkungan. Pelaksanaan pembangunan tetap dilaksanakan melalui empat jalur strategi. Gambar 4. Persaingan antar negara untuk memenangkan pasar perdagangan dan investasi semakin ketat.1 Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Peningkatan Daya Saing Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Pemantapan Stabilitas Politik Perekonomian domestik harus ditingkatkan dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik (Gambar 4. Momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya tahan ekonomi tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. yaitu 96 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Keseluruhan ini menuntut perekonomian domestik harus semakin diperkuat. serta kecenderungan meningkatnya harga komoditas dan minyak dunia dapat mempengaruhi stabilitas keuangan global dan pemulihan ekonomi dunia yang pada gilirannya akan berpengaruh pada perekonomian nasional. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan proteksi pada banyak negara serta langkah tidak sehat untuk mempertahankan pasar domestik dan ekspornya. Afrika Utara dan Semenanjung Korea. ketegangan politik di beberapa kawasan dunia seperti di Timur Tengah.1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik Krisis utang di sejumlah negara-negara Eropa.1). perubahan iklim dan bencana alam.BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 4.

Abdullah. 4. Secara lebih rinci. et. Dengan demikian. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.2. daya saing merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang dimulai dari penyusunan kebijakan. sampai dengan implementasi berupa kelembagaan dan tata kelola dan berupa pembangunan infrastruktur. Pada akhirnya. peningkatan daya tahan ekonomi.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha sangat penting untuk dapat mendorong arus investasi masuk (baik investasi domestik maupun investasi asing) dan mendorong berkembangnya usaha di Indonesia. peningkatan iklim investasi dan iklim usaha menjadi sangat penting bagi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 97 . yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. 4. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment).2 Aspek Peningkatan Daya Saing Daya saing dapat dinilai dengan berbagai macam pendekatan dan indikator yang pada prinsipnya menunjukkan kemampuan yang lebih unggul secara kuantitas ataupun kualitas pada skala nasional antar daerah ataupun pada skala internasional antar negara.al (2002) mendefinisikan daya saing daerah sebagai kemampuan daerah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. maka pembangunan akan tumbuh lebih cepat. Dengan demikian.pertumbuhan (pro-growth). Semakin kompetitif daya saing sebuah sistem perekonomian. Sementara itu. serta pemantapan stabilitas politik. kesempatan kerja (pro-job). Stabilitas sosial politik dan keamanan terus dijaga agar momentum pembangunan terus berkelanjutan. Meningkatnya investasi dan berkembangnya usaha akan sangat penting untuk mendorong aktivitas perekonomian. Situasi global yang tidak pasti juga tercermin dari berbagai ketegangan politik dan potensi konflik di berbagai kawasan dunia yang dapat berpengaruh pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu kemampuan pertahanan perlu ditingkatkan guna menjaga kepentingan nasional dan keamanan regional. karena dapat menggerakkan usaha lain yang terkait dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. uraian di bawah ini merupakan gambaran penguatan ekonomi domestik yang ditunjang oleh kebijakan komprehensif yang bertujuan untuk mencapai peningkatan daya saing. pengembangan investasi dan usaha ini akan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat. Muara dari implementasi kebijakan-kebijakan tersebut adalah tercapainya produktivitas suatu negara/daerah sehingga akan meningkatkan kesejahteraan rakyat pada skala perekonomian nasional/daerah. sehingga mampu untuk bersaing di tingkat domestik dan internasional.

Sementara itu. Regulasi yang jelas dan prosedur yang lebih sederhana akan memudahkan investor dan pengusaha dalam melaksanakan regulasi tersebut. (ii) penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk mempercepat dan mempermudah proses perijinan dan non perijinan untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha di daerah. serta meningkatkan efisiensi proses pengurusan perijinan karena perijinan dapat diproses dengan lebih cepat dengan biaya yang lebih transparan. Hal ini tentunya akan berdampak pada meningkatnya kenyamanan berusaha dan berinvestasi.perekonomian daerah karena dapat memberikan efek ganda ( multiplier effect) terhadap perekonomian yang cukup besar. Gambar 4. yang 98 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . serta (iii) kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan. memudahkan investor dan pengusaha dalam memproses perijinan.2 Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Pemerintah Mendorong penguatan ekonomi domestik (melalui pertumbuhan dan dan peningkatan kesejahteraan rakyat) Mendorong peningkatan kesempatan kerja dan daya beli masyarakat Meningkatkan investasi dan usaha Iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif Kemudahan dan transparansi proses perijinan di PTSP provinsi dan kab/kota Kepastian lahan dan peruntukannya Investor/Pengusaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha di daerah sebaiknya difokuskan pada: (i) penyederhanaan dan harmonisasi berbagai regulasi yang bertujuan untuk memberikan transparansi. penyelenggaraan PTSP yang baik akan memberikan kepastian berusaha. karena tidak akan menimbulkan salah persepsi dan dapat mengurangi biaya ekonomi tinggi. kepastian dan kemudahan untuk melakukan investasi dan berusaha.

2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.2. secara luas dan merata. infrastruktur mempunyai peran yang tak kalah pentingnya untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Gambar 4.3 Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Sistem Transportasi Nasional Sistem Logistik Sistem Informasi dan Komunikasi Pengembangan Wilayah Peningkatan Konektivitas antar wilayah Penguatan ekonomi domestik Selain itu. 4. antara lain air minum dan sanitasi. Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan telekomunikasi terkait dengan upaya modernisasi bangsa dan penyediaannya merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang.pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ketersediaan sarana perumahan dan permukiman. Sejak lama infrastruktur diyakini merupakan pemicu pembangunan suatu Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 99 . Jaringan transportasi dan telekomunikasi dari Sabang sampai Merauke serta Sangir Talaud ke Rote merupakan salah satu perekat utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu. laut dan udara menjadi sangat penting untuk disediakan mengingat kondisi geografis Indonesia berupa kepulauan dengan disparitas ekonomi daerah Indonesia yang sangat beragam. globally connected ). Infrastruktur Transportasi Infrastruktur transportasi darat.kawasan. pusat produksi dan pasar. Aktivitas ekonomi membutuhkan listrik sebagai sumber energi gerak dan cahaya. perluasan usaha dan perluasan pasar. Sistem Transportasi Nasional. Dapat dikatakan disparitas kesejahteraan antar kawasan juga dapat diidentifikasi dari kesenjangan infrastruktur yang terjadi diantaranya. efisien dan terpadu. manusia dan jasa. Pengembangan Wilayah dan Sistem Informasi dan Komunikasi dengan visi Terintegrasi secara Lokal. nasional dan dunia (global) secara efektif. Pada akhirnya tersedianya infrastruktur akan banyak membawa dampak posistif bagi produktivitas industri. ketersediaan infrastruktur pengairan merupakan prasyarat kesuksesan pembangunan pertanian dan sektor-sektor lainnya. sehingga dapat menumbuhkan perdagangan antar wilayah dan antar negara. Sementara itu. percepatan pembangunan infrastruktur memegang peran penting dalam meningkatkan daya saing perekonomian domestik terutama dengan perekonomian dunia (global). serta dapat menjadi penghubung yang efisien antara sumber bahan baku (resource). ketersediaan infrastruktur transportasi yang memadai akan menciptakan konektivitas antar daerah bahkan antar pulau. serta memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi. Faktor keempat elemen tersebut merupakan rangkaian sistem kebijakan yang harus saling terintegrasi agar dapat meningkatkan daya saing perekonomian domestik. Dalam konteks ini. ke depan pendekatan pembangunan infrastruktur berbasis wilayah semakin penting untuk diperhatikan. Ketersediaan Listrik Energi listrik merupakan unsur penting bagi pembangunan dalam segala bidang. Listrik dalam industri dibutuhkan untuk memproduksi barang. 100 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . kesehatan dan lapangan pekerjaan. Selain itu. Percepatan pembangunan infrastruktur memiliki empat elemen kebijakan yang terintegrasi yaitu Sistem Logistik Nasional. ketersediaan infrastruktur akan memudahkan aksesibilitas masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Terhubung Secara Global (locally integrated. Oleh sebab itu. termasuk daerah terpencil dengan daerah terdekat bahkan dengan pusat pertumbuhan ekonomi. Konektivitas nasional menghubungkan pusat perekonomian lokal. Tersedianya infrastruktur transportasi akan memperlancar arus barang. Pengalaman menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi berperan besar untuk membuka isolasi wilayah. kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing. Ketersediaan listrik yang memadai di suatu daerah akan menjadi insentif untuk membangun industri. melalui proses peningkatan nilai tambah bahan mentah menjadi produk olahan setengah jadi atau jadi.

Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang lebih cerdas. keberadaan teknologi serat optik semakin mampu memperluas lebar jalur (bandwidth).Listrik juga berperan dalam meningkatkan pendidikan. MP3EI dirumuskan dengan perubahan pola pikir ( mindset) dalam pemahaman bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat Dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 101 . jumlah kelas menengah yang besar dan semakin meningkat.2. 4. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Indonesia mempunyai aset dan akses yang mendukung terwujudnya negara ini sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam tata pergaulan antar negara. Dengan kekayaan sumber daya alam. sehingga komunikasi data dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Sementara itu. Indonesia menghadapi banyak tantangan ke depan yang semakin berat. memang harus diakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang kita capai selama ini belum mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi. yaitu kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Ketersediaan telepon tetap memudahkan komunikasi antar daerah dan wilayah. Keberadaan Indonesia di pusat baru gravitasi ekonomi global. yang telah diluncurkan oleh Presiden hampir satu tahun yang lalu (27 Mei 2012) diperlukan untuk menjawab tantangan tersebut. Ketersediaan Sarana Telekomunikasi Telekomunikasi akan memudahkan arus informasi dengan lebih luas dan cepat. ilmu pengetahuan dan kesehatan. Namun demikian.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Indonesia adalah negara yang dikarunia dengan hampir semua prasyarat untuk mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan besar perekonomian dunia. Perspektif ini didukung oleh banyak lembaga internasional yang mengatakan bahwa Indonesia memang layak dan berkemampuan untuk menjadi big player dalam perekonomian global. Daya saing dalam bidang telekomunikasi ditentukan oleh tersedianya jaringan telepon tetap (fixed-line). Berbagai informasi akan mudah dan cepat diperoleh dan disebarkan dengan bantuan media pendidikan yang tersedia secara elektronik. Sebagai negara yang berada di tengahtengah persaingan global yang semakin ketat. fokus dan sistematis dalam perencanaan pembangunan nasional ke depan. serta akses yang strategis ke jaringan mobilitas global. mengharuskan Indonesia mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk mempercepat terwujudnya suatu negara maju dengan hasil pembangunan dan kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. jaringan serat optik dan broadband. Ketersediaan serat optik dan broadband akan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang karena akan mempermudah penyampaian informasi dan proses data.

Dari sisi regulasi. melalui: pertama. tembaga. peralatan transportasi. pertambangan. dunia usaha akan menjadi aktor utama dalam kegiatan investasi. sinkronisasi dan sinergi kebijakan antar Kementerian/Lembaga dan antara Kementerian/Lembaga dengan pemerintah daerah. pariwisata. bauksit. pemerintah akan melakukan penguatan koordinasi. Pemerintah Pusat dan Daerah akan melakukan deregulasi ( debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi.Daerah. Gambar 4. pariwisata. karet. dalam rangka penguatan kebijakan. kelautan. Kedua. pihak swasta akan diberikan peran penting dalam pengembangan MP3EI.4 Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Sumber: MP3EI 2011 – 2015 102 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . makanan-minuman. Tujuan dari pelaksanaan MP3EI adalah untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 (delapan) program utama yang meliputi sektor industri manufaktur. tekstil. Fasilitasi dan katalisasi akan diberikan oleh Pemerintah melalui penyediaan infrastruktur maupun pemberian insentif fiskal dan non fiskal. BUMN. kelapa sawit. batubara. energi dan pengembangan kawasan strategis nasional. perkapalan. telematika. serta pengembangan Metropolitan Jabodetabek dan pembangunan Kawasan Selat Sunda. telekomunikasi. BUMD dan Dunia Usaha dalam semangat Indonesia Incorporated. alutsista. perikanan. Fokus dari 8 (delapan) program utama tersebut meliputi 22 (dua puluh dua) kegiatan utama yaitu industri besi-baja. fasilitator dan katalisator. kakao. minyak dan gas. food estate. sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator. produksi dan distribusi. pertanian. peternakan. Dalam pelaksanaan MP3EI. MP3EI dilakukan dengan pendekatan terobosan (breakthrough) bukan Business As Usual. perkayuan. nikel.

4. Secara keseluruhan. kemudahan peraturan. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut akan menciptakan Koridor Ekonomi Indonesia sebagaimana dapat dijelaskan dalam kerangka pengembangan Koridor Ekonomi pada Gambar 4. logistik serta komunikasi dan informasi untuk membuka akses daerah. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan yang menekankan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah pengelolaan sumber daya alam melalui perluasan dan penciptaan rantai kegiatan dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan.Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia diselenggarakan berdasarkan pendekatan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. 5. Koridor Bali – Nusa Tenggara dan Koridor Papua – Kepulauan Maluku. Pembangunan 6 (enam) koridor ekonomi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 103 . Koridor ekonomi diarahkan pada sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara nasional. 2. Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia diharapkan akan dapat mendukung peningkatan daya saing dalam rangka penguatan ekonomi domestik karena pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia memberikan penekanan baru bagi pembangunan ekonomi wilayah. agar semua wilayah di Indonesia dapat berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah. Tujuan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut adalah untuk memaksimalkan keuntungan aglomerasi. Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari pendekatan sektoral dan regional. menggali potensi dan keunggulan daerah serta memperbaiki ketimpangan spasial pembangunan ekonomi Indonesia. Koridor Ekonomi Indonesia akan dilaksanakan melalui strategi utama pelaksanaan MP3EI. perijinan dan pelayanan publik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk meningkatkan iklim usaha dan iklim investasi. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu: 1. Koridor Kalimantan. Koridor ekonomi akan didukung dengan pemberian insentif fiskal dan non-fiskal. regional maupun global. antara lain: 1. Koridor Sulawesi. Koridor Jawa. Setiap wilayah mengembangkan produk yang menjadi keunggulannya. 3. Pembangunan koridor ekonomi dilakukan sebagai pengembangan wilayah untuk menciptakan dan memberdayakan basis ekonomi terpadu dan kompetitif serta berkelanjutan. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan konektivitas yang terintegrasi antara sistem transportasi. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan penguatan konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi serta infrastruktur pendukungnya. yaitu: Koridor Sumatera. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan ekonomi yang beragam dan inklusif dan dihubungkan dengan wilayah-wilayah lain di luar koridor ekonomi.4. baik yang telah ada maupun yang baru. Mengembangkan 6 (enam) koridor ekonomi indonesia.

2015 2.5.dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berbasis sumber daya unggulan di setiap koridor ekonomi. Elemen utama untuk percepatan kemampuan SDM dan IPTEK meliputi:  Meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan tinggi. sebagaimana tertuang dalam Gambar 4. Penguatan konektivitas nasional ditujukan untuk memperlancar distribusi barang dan jasa dan mengurangi biaya transaksi (transaction cost) logistik. Gambar 4.  Penguatan konektivitas antar koridor (pulau) untuk memperlancar pengumpulan dan pendistribusian (collection and distribution) bahan baku. kejuruan dan pelatihan terutama untuk yang terkait dengan pengembangan program utama. bahan setengah jadi dan produk akhir dari dan keluar koridor (pulau). 104 . Mempercepat peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi. dan  Penguatan konektivitas internasional sebagai pintu keluar dan masuk perdagangan dan pariwisata antar negara.5 Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sumber: MP3EI 2011 . Hal ini akan dilakukan melalui:  Penguatan konektivitas intra dan antar pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. internationally connected ). Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 3. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara internasional (locally integrated.

7. Pada dasarnya ketahanan pangan mencakup 4 aspek utama yang terdiri atas: (1) aspek ketersediaan pangan. BUMD dan swasta diharapkan dapat menjadi pilar dan kontributor utama investasi dalam pelaksanaan MP3EI. pendanaan kegiatan MP3EI dilakukan melalui keterpaduan pendanaan dari APBN. Ketahanan Pangan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional karena dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan juga mempengaruhi pembangunan sektor lain. Meningkatkan kegiatan dan membangun pusat-pusat pengembangan R&D di pusat-pusat pertumbuhan (KEK dan Klaster Industri) di setiap koridor ekonomi melalui kolaborasi antar Pemerintah.3. Selain itu. Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi. APBD. BUMN. distribusi. keragaman. pemerintah daerah. Peningkatan ketahanan pangan harus terus didorong untuk mampu menggerakkan perekonomian daerah.3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4. dan Mengembangkan institusi sistem inovasi nasional yang berkelanjutan. Sementara itu. serta (4) aspek penanggulangan masalah pangan. swasta dan akademisi. (2) aspek aksesibilitas pangan. kandungan gizi. BUMN. (3) aspek konsumsi pangan yang memenuhi kaidah mutu.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Salah satu langkah dalam peningkatan daya tahan ekonomi untuk memperkuat ekonomi domestik adalah melalui peningkatan ketahanan pangan terutama yang berbasis sumber daya lokal. keamanan dan kehalalan. BUMN. distribusi dan stabilisasi harga pangan yang terjangkau. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 105 . nilai ekonomi dari usaha tani yang cukup besar. Jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar juga menjadi tantangan berat untuk terus meningkatkan ketahanan pangan. memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian nasional. 4. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. BUMD. pengolahan pangan dan pemasaran. Pelaksanaan MP3EI ini semaksimal mungkin memberikan peran yang besar kepada pelaku usaha domestik terutama untuk dapat meningkatkan nilai tambah pemanfaatan sumberdaya dalam negeri.   Meningkatkan kompetensi teknologi dan ketrampilan/ keahlian tenaga kerja. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam menjaga insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. contohnya nilai hasil produksi padi setiap tahunnya kurang lebih sebesar 300 triliun rupiah dan jumlah rumah tangga petani padi yang terlibat sekitar 15 juta rumah tangga. Keempat aspek tersebut akan membangun sistem ketahanan pangan seperti yang digambarkan pada Gambar 4. serta penyediaan sarana tekonologi dari penyuluhan. serta pihak swasta dan masyarakat. MP3EI merupakan produk dari hasil kerjasama dan kemitraan antara pemerintah pusat. BUMD.

(6) Memperluas areal lahan 106 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Cadangan. kualitas. (4) Mendorong investasi di sektor pertanian yang berbasis produk lokal. pakan. keragaman dan keamanannya. Peningkatan produksi pangan dalam negeri dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan ketersediaan input produksi (benih/bibit. cadangan dan impor. (3) Meningkatkan efektifitas pengendalian organisme pengganggu tanaman dan penyakit hewan serta pengembangan sistem perkarantinaan. obat-obatan. alat dan mesin) dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai serta tersedia setiap saat dibutuhkan serta kebijakan subsidi input yang lebih efisien. Ketersediaan pangan tersebut terdiri atas produksi dalam negeri. Untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan.Gambar 4.6 Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan Pangan Ketersediaan Pangan (Produksi Dalam Negeri. pupuk. (5) Mencegah atau mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan melakukan konservasi sumber daya lahan dan air. maka produksi dalam negeri harus menjadi sumber utama untuk ketersediaan pangan tersebut. irigasi. lahan. Impor) Distribusi Dan Stabilisasi Harga Konsumsi Pangan Dan Gizi Penanggulangan Masalah Pangan Kurang Pangan Lonjakan Harga Pendapatan Rendah/Miskin Bencana Insentif Produksi : Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Beras Subsidi Input: Pupuk dan Benih Subsidi Suku Bunga KKP Cadangan Beras Pemerintah RASKIN Aspek ketersediaan pangan berfungsi untuk menjamin ketersediaan pangan guna memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas. (2) Meningkatkan dukungan penelitian. IPTEK dan penyuluhan.

sosial dan budaya setempat. Distribusi. memperhatikan daya beli masyarakat. serta pola hidup sehat. pengolah. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani. produsen.pertanian serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. Pola konsumsi dalam rumah tangga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kondisi ekonomi. (9) Mengembangkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di sektor pertanian. pedagang hingga konsumen sehingga berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. dan (5) Mengembangkan usaha pengolahan dan pemasaran produk pangan di perdesaan yang berbasis bahan pangan lokal. dan (4) Meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang pangan yang bergizi dan seimbang. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 107 . menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik. Aspek konsumsi pangan dan gizi berfungsi untuk mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu. (8) Mengembangkan infrastruktur pertanian. keragaman. menghindari terjadinya gejolak harga pangan. Aspek akesibilitas pangan berfungsi untuk menjamin seluruh level masyarakat dapat menjangkau sumber pangan yang mencukupi baik kuantitas maupun kualitasnya. keamanan dan kehalalan. (2) Mengembangkan kebijakan perdagangan dan ekspor-impor yang mendukung ketahanan pangan. mencapai swasembada pangan. Stabilisasi harga pangan diselenggarakan dengan tujuan untuk menyejahterakan petani dan nelayan. Indikator aspek konsumsi. (3) Meningkatkan sarana dan prasarana guna efisiensi dalam perdagangan dan mengurangi kerusakan bahan pangan. Aspek penanggulangan masalah pangan berfungsi menjaga goncangan pangan akibat ketidakmampuan memenuhi pangan karena kondisi ekonomi. lahan basah dan lahan terlantar. Distribusi pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan ketersediaan pangan keseluruh wilayah secara berkelanjutan. (7) Melakukan penataan dan harmonisasi peraturan perundangan lahan untuk menjamin kepastian hukum lahan pertanian. bencana dan lonjakan harga. Pemenuhan aspek konsumsi dapat dilakukan melalui: (1) Mengembangkan penganekaragaman (diversifikasi) pengolahan dan konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. (2) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah. (4) Mengembangkan kebijakan dan peraturan daerah guna memperlancar dan mengefisienkan distribusi pangan antar daerah. (3) Meningkatkan kemampuan masyarakat dan Pemda dalam mengembangkan cadangan pangan. dan. Peningkatan efisiensi aksesibilitas pangan dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah untuk stabilisasi harga. kandungan gizi. stabilitas harga dan pasokan merupakan indikator penting untuk menunjukkan kinerja aspek akesibilitas pangan. yang disalurkan dalam bentuk bantuan beras miskin bagi keluarga miskin dan penyaluran cadangan beras pemerintah terutama dalam mengantisipasi terjadinya bencana melalui bantuan pangan. dapat tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. terutama ibu hamil dan anak balita.

(2) Diversifikasi konsumsi pangan berbasis bahan pangan lokal relatif lambat. banyaknya infrastruktur irigasi yang rusak. dukungan sarana dan prasarana perikanan masih kurang dan menghadapi terjadinya keragaman dan perubahan iklim. Strategi dalam pencapaian surplus beras 10 juta ton tersebut terutama meliputi pencapaian produksi padi dan percepatan diversifikasi konsumsi untuk menurunkan konsumsi beras dan peningkatan kualitas gizi masyarakat. Olahan Pangan Lokal Konsumsi Beras Per Kapita Keterangan: SL-PTT : Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu SRI : System of Rice Intensification GP3K : Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi P2KP : Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan 108 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . distribusi dan aksesibilitas masyarakat terhadap pangan serta terjadinya kerawanan pangan di daerah. perluasan areal tanam. Optimasi Lahan Luas Tanam Produksi Manajemen. ke depan masih akan dihadapkan kepada berbagai tantangan yang terkait dengan: (1) Menjaga peningkatan produksi pangan terutama beras seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat. Benih.7). serta (4) terjadinya perubahan iklim yang dapat menyebabkan gangguan dalam produksi.Ketahanan pangan. Air Irigasi SLPTT. Pengendalian HPT Alat dan Mesin Pasca Panen Susut Revitalisasi Penggilingan Rendemen Surplus Beras 10 Juta Ton Per Tahun Mulai Tahun 2014 Konsumsi Diversifikasi (P2KP). terutama beras. Tantangan utama yang dihadapi dalam peningkatan produksi ini adalah alih fungsi lahan dan perluasan areal pertanian yang semakin sulit. pada awal tahun 2011 presiden memberikan direktif untuk pencapaian surplus beras 10 juta ton setiap tahun mulai tahun 2014. Penyuluhan.7 Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Input/ Dukungan Kegiatan/ Output Indikator/ Outcome Sasaran Antara Sasaran Utama Pupuk. (3) Menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat terhadap pangan tidak terganggu. penurunan susut dan peningkatan rendemen (Gambar 4. Khusus untuk pengamanan produksi beras. Alsintan. GP3K Produktivitas Cetak Sawah. Dalam upaya peningkatan produksi dilakukan terutama melalui peningkatan produktivitas. Gambar 4. SRI.

Sementara itu. perikanan sebagai salah satu sumber protein hewani juga memiliki peranan yang penting dalam ketahanan pangan dan merupakan sumber ekonomi bagi nelayan dan pembudidaya ikan. usaha penyediaan tenaga listrik. Oleh sebab itu. Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup. gardu dan transmisi serta penyalurannya sampai rumah tangga. pemanfaatan dan pengelolaannya perlu ditingkatkan. Dengan adanya listrik maka dapat mendorong investasi khususnya untuk sektorsektor unggulan daerah sehingga dapat meningkatkan daya saing daerah tersebut. Nelayan dan pembudidaya ikan merupakan mata pencaharian utama bagi masyakat pesisir. Dari kerangka di atas dijelaskan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 109 . komersial dan industri guna meningkatkan pendapatan masyarakat. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik.6 juta pada tahun 2010 mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan ekonomi nasional dan daerah. Listrik dapat menciptakan peningkatan produktivitas baik di sektor rumah tangga. Gambar 4. oleh karena itu tenaga listrik sangat penting dan strategis bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya serta untuk mendorong peningkatan dan penguatan kegiatan ekonomi domestik pada khususnya. pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. pengaturan. agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang cukup dan merata dengan mutu pelayanan yang baik.2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang mendasar untuk berbagai aktifitas masyarakat.3. Untuk penyelenggaraan penyediaan tenaga listrik. Rumah tangga perikanan tangkap dan budidaya yang diperkirakan mencapai 2. 4. kualitas yang baik dan harga yang wajar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah berlandaskan prinsip otonomi daerah.8 Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Pembangunan Ketenagalistrikan Peningkatan Produktivitas  Rumah tangga  Komersial  Industri  Peningkatan Pendapatan  Konsumsi Listrik Pertumbuhan Ekonomi Domestik Pembangunan ketenagalistrikan dilaksanakan secara berkesinambungan dimulai dari pembangunan pembangkit listrik.

profesional berpengetahuan dan tenaga ahli dengan kemahiran khusus sehingga menjadi lebih produktif. Nilai ekonomi pendidikan terletak pada sumbangannya dalam memasok tenaga kerja terampil.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan ekonomi. Pelaksanaan kebijakan konversi energi dari BBM ke gas di sektor tranportasi dilakukan secara bertahap dalam jangka panjang dengan angkutan umum menjadi salah satu sasaran utama program konversi untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi. Penguasaan teknologi sangat penting karena bisa mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi. 4. adaptif dan inovatif. Penguasaan teknologi dimungkinkan bilamana persyaratan modal manusia (SDM) yang andal dipenuhi. Semua itu akan melahirkan energi yang dapat mendorong dan menggerakkan kerja-kerja produktif untuk mencapai kemajuan. Lemahnya ketersediaan pasokan listrik berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi. sehingga pembangunan dengan skala/kapasitas kecil-menengah akan sesuai dengan kemampuan pembiayaan dalam negeri. Tenaga kerja terdidik akan berpengaruh lebih signifikan lagi bilamana disertai penguasaan teknologi. biomassa. serta menanamkan etos kerja tinggi. bayu/angin dan samudera. Potensi energi baru terbarukan (EBT) sangat sesuai dikembangkan di Indonesia dengan kondisi geografis yang berupa pulau-pulau dengan kondisi beban (demand) yang tersebar. surya. Penegasan bahwa pendidikan dapat memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi berdasarkan asumsi pendidikan akan menciptakan tenaga kerja produktif dengan kompetensi.pembangunan ketenagalistrikan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. yang memberi stimulasi pada pertumbuhan ekonomi. 110 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Kondisi tersebut menuntut pengembangan dan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang potensinya relatif cukup besar seperti tenaga hidro.4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4. dalam mendorong penghematan anggaran dan pembangunan energi yang berkelanjutan maka peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat besar dalam peningkatan penyediaan listrik dan pelaksanaan konversi energi.4. Pendidikan juga dapat mengembangkan visi dan wawasan tentang kehidupan yang maju. pengetahuan dan keterampilan tinggi. untuk mencapai apa yang disebut keunggulan kompetitif (competitive advantage). Oleh karena itu. yang kemudian berdampak pada pengurangan kemiskinan dan pengangguran serta menaikkan pendapatan per kapita masyarakat. Tenaga kerja terdidik dengan kualitas tinggi merupakan faktor determinan bagi peningkatan kapasitas produksi. keahlian.

4. peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan penguatan ekonomi domestik di daerah (Gambar 4. pengendalian terhadap inflasi terutama inflasi dari aspek makanan (flood inflation) diharapkan dapat mengamankan tingkat konsumsi masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan semakin meningkat. tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan diharapkan dapat memberikan landasan bagi penciptaan lapangan kerja baru dan perluasan kesempatan kerja di masyarakat.10). Dalam konteks penguatan ekonomi domestik diharapkan agregasi dari kedua upaya dan langkah secara makro tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan produktivitas dan kapasitas masyarakat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 111 .9 Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Peningkatan & Penguatan Daya Saing Nasional/ Daerah Tenaga Kerja Terampil Profesional dengan Penguasaan IPTEK Peningkatan Produktivitas Nasional/ Daerah Pertumbuhan Ekonomi yang Berdampak Pada Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Tenaga Ahli dengan Kemahiran Khusus Keunggulan Kompetitif Adaptif Inovatif Etos Kerja Tinggi 4.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Upaya percepatan pengurangan kemiskinan yang dilakukan melalui strategi dan kebijakan makro dan strategi dan kebijakan klaster diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat miskin. Secara ekonomis.Kaitan antara peningkatan SDM yang berkualitas dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan dapat digambarkan dalam diagram berikut. Selanjutnya. Gambar 4. Secara makro.

4 (empat) klaster program penanggulangan kemiskinan yang merupakan bagian dari kebijakan afirmatif diharapkan dapat meningkatkan baik kapasitas maupun produktivitas masyarakat miskin.miskin di daerah sehingga pada akhirnya dapat memberikan kontribusi terhadap upaya penguatan ekonomi di daerah. Kegiatan-kegiatan pada Klaster 1 (Bantuan dan Perlindungan Sosial) dan Klaster 4 (Program Pro-Rakyat) diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan terus meningkat secara sosial dan ekonomi. Sementara. Gambar 4. kegiatan-kegiatan pada Klaster 2 (Pemberdayaan Masyarakat) dan 112 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .10 Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan STRATEGI DAN KEBIJAKAN KLASTER STRATEGI DAN KEBIJAKAN MAKRO KLASTER 1 MENJAGA TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI MENGENDALIKAN TINGKAT INFLASI KLASTER 2 KLASTER 3 KLASTER 4 PENYEDIAAN LAPANGAN KERJA MENJAGA TINGKAT KONSUMSI MASYARAKAT PENGURANGAN BEBAN PENGELUARAN PENINGKATAN PENDAPATAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK DI DAERAH Secara teknis.

untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain. Kerangka pendanaan pemilu yang begitu masif perlu memberikan dampak nyata. sehingga memberikan kepercayaan yang lebih besar bahwa proses politik kita terus bergerak maju menuju demokrasi yang terkonsolidasi. jujur dan tunduk pada prinsip-prinsip umum sebuah pemilu demokratis sehingga memberikan kontribusi nyata pada stabilitas politik. pemerintah perlu memberikan dukungan optimal pada lembaga independen KPU. Bagan di bawah menunjukkan posisi penting pemilu dalam keseluruhan dinamika politik di Indonesia. Bawaslu dan Panwaslu dalam melaksanakan tugastugas mereka menyelenggarakan pemilu maupun pemilukada. tapi merupakan syarat mutlak. yang seluruhnya merupakan dana dari APBN. Oleh karena itulah.5. Pembangunan politik mensyaratkan kesuksesan penyelenggaraan pemilu dalam menghasilkan pemimpin politik yang mampu mendorong kebijakan yang efektif dan bermanfaat untuk rakyat. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berkepentingan pada penyelenggaraan pemilu yang kredibel. yang memiliki kaitan erat dengan program pembangunan pada umumnya dan arah kebijakan lainnya. Hal ini dengan mengingat. yakni sebagai bagian dari penataan proses politik.1 Persiapan Pemilu 2014 Stabilitas politik dalam sebuah negara/sistem demokrasi ditentukan oleh sejumlah faktor penting. Pemilu memang bukan segala-galanya dalam menentukan keberhasilan konsolidasi demokrasi. bahwa stabilitas politik adalah prasyarat mutlak bagi penguatan. maka pada semua tingkat. baik pada stabilitas politik maupun ekonomi. 4. sebagai diamanatkan dalam UU No.5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4. jujur dan adil dan dengan tingkat partisipasi politik yang dapat mencapai rata-rata 75 persen. maka pada tahun 2014 mendatang Pemilu 2014 dapat dilaksanakan secara demokratis. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 113 . 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu.Klaster 3 (Pemberdayaan Usaha Mikro) diharapkan dapat memberikan landasan bagi pengembangan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat miskin yang berorientasi kepada peningkatan pendapatan (income generation) dalam jangka pendek dan peningkatan produktivitas dalam jangka panjang. Melalui proses persiapan penyelenggaraan pemilu yang matang dan akuntabel yang didukung oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Sehingga pada gilirannya makin jelas kaitan antara demokrasi dengan kesejahteraan masyarakat. perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Persiapan Pemilu 2014 membutuhkan suatu kerangka pendanaan yang sangat besar dan kompleks dalam setiap pentahapannya. yakni pemilu yang adil.

akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan transparasi mekanisme pengadaan barang/jasa (procurement) juga menjadi pertimbangan penting bagi investor yang sangat menekankan 114 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5.Gambar 4. Selain itu. Kinerja pemerintahan ditentukan oleh kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan.11 Skema Pencapaian Stabilitas Politik S T A B I L I T A S P O L I T I K Penyempurnaan Struktur Politik 1 Kelembagaan Demokrasi Konstitusi/ Peraturan Perundangan Hubungan antar lembaga Kebijakan Demokrasi Kapasitas Lembaga Negara/ Pemerintah KPU dan Bawaslu Desentralisasi dan otonomi daerah Rekonsiliasi Nasional Ruang Publik Penataan Peran Negara dan Masyarakat 2 Kemandirian Masyarakat Kapaitas OMS Kapasitas Parpol Pranata Kemasyarakatan Kapasitas dan Peran Adat Penataan Proses Politik 3 Representasi Kekuasaan Seleksi Kepemimpinan Nasional Seleksi Pejabat Publik/Politik PEMILU dan PEMILUKADA Pengembangan Budaya Politik 4 Penanaman Nilai Demokrasi Nilai Pancasila Nilai Demokrasi Advokasi/Pendidikan Politik Pembangunan Infokom 5 6 Akses Terhadap Informasi 4. Stabilitas politik ini berkaitan erat dengan kinerja pemerintahan dalam memfasilitasi dan menciptakan aturan main dalam kerangka governance.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi iklim investasi dan perkembangan ekonomi adalah situasi politik. baik kepada masyarakat maupun investor. Stabilitas politik berpengaruh besar dalam penciptaan iklim investasi yang kondusif di suatu wilayah.

Kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat akan sangat menentukan kualitas penyelenggaraaan pelayanan publik. Hal ini terutama ditujukan bagi SDM pelayanan yang menjadi pintu gerbang masuknya investasi di suatu wilayah.12 Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat KESEJAHTERAAN RAKYAT KUALITAS SDM APARATUR PERTUMBUHAN DAN PERKUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK PENERAPAN E-PROCUREMENT (LPSE) DAYA SAING DAERAH MENINGKAT UPAYA PENCAPAIAN WTP ATAS AUDIT LKPD DAMPAK: PELAYANAN PUBLIK BERKUALITAS PENERAPAN SAKIP SASARAN: TERWUJUDNYA TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Di samping itu. yang antara lain dapat ditempuh melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan upaya pengelolaan dan pelaporan keuangan negara/daerah secara akuntabel menuju tercapainya opini WTP atas audit BPK. Gambar 4. baik kepada masyarakat maupun investor. Secara lebih sederhana sebagaimana digambarkan dalam kerangka pikir di bawah ini. upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas dan integritas SDM pelayanan harus terus dilakukan. Selanjutnya.pentingnya aspek kepastian hukum. Dengan e-procurement maka penyelenggaraan proses pengadaan barang/jasa pemerintah Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 115 . hal ini harus diperkuat dengan komitmen untuk memberantas praktek-praktek Korupsi. Untuk itu. Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam pembangunan di suatu wilayah. upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas juga dilakukan melalui pengembangan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement). Kompetensi PNS perlu terus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan yang prima.

penganggaran. bersaing. akuntabel dan memiliki kinerja yang optimal. diantaranya adalah kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan serta kepatuhan terhadap peraturan perundanganundangan. Masalah lain yang menjadi penghambat investasi adalah infrastruktur yang tidak memadai. Untuk mengukur akuntabilitas tersebut.dapat lebih transparan. pengendalian kinerja. Mekanisme tersebut akan menjadi daya tarik bagi investor yang seringkali mengeluhkan proses pengadaan barang/jasa yang berbelit-belit sehingga dapat menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Terkait dengan pemberantasan korupsi. birokrasi yang tidak efisien dan situasi politik yang tidak stabil. terbuka. mulai dari perencanaan. Beberapa aspek yang ditekankan dalam penilaian opini BPK. Oleh karena itu. penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk mewujudkan birokrasi yang profesional. hingga pelaporan dapat berjalan dengan terarah sesuai rencana dan menghasilkan kinerja yang optimal. Selain itu. efektif. sehingga seluruh tahapan dalam proses kerja birokrasi. telah mengeluarkan opini mengenai kewajaran informasi dalam laporan keuangan. BPK sebagai lembaga yang berwenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. kewajiban pemerintah daerah untuk menindaklanjuti temuan BPK dapat dijadikan tolok ukur dari komitmen pemerintah daerah akan nilai-nilai transparansi dan kepatuhan atas peraturan perundangan. Hal ini tentunya dapat secara langsung mendukung upaya peningkatan daya saing nasional dan daerah. Sejalan itu pula. upaya-upaya yang mengarah pada pencegahan dan pemberantasan KKN harus terus menerus dilakukan demi menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan kepastian hukum. hasil survey Transparency International Indonesia (TII) tahun 2010 atas beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa korupsi menjadi masalah utama bagi para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha. Aspek lain yang juga menjadi tolok ukur kapabilitas pemerintah dalam menjalankan pembangunan di daerah adalah akuntabilitas dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah. 116 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . adil dan tidak diskriminatif. implementasi. Implementasi SAKIP sebagai upaya pula untuk mewujudkan manajemen birokrasi berbasis kinerja.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB V LANGKAHLANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. pengawasan. antar waktu. berkeadilan dan berkelanjutan. monitoring dan evaluasi serta fasilitasi pembangunan Kabupaten/Kota di wilayah provinsinya akan diperkuat termasuk koordinasi perencanaan pembangunan. Dalam hal ini peran Gubernur dalam menjalankan fungsi koordinasi. antar ruang. 120/4693/SJ tentang Peningkatan Efektivitas Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Kementerian/Lembaga di Daerah serta Peningkatan Peran Aktif Gubernur Selaku Wakil Pemerintah Pusat. 5. pelaksanaan dan pengawasan. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. 120 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. 3.BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 5. efektif. penganggaran. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan diperlukan untuk: 1. Selanjutnya telah dipersiapkan revisi PP Nomor 19/2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 0442/M.1 Peningkatan Daya Saing Dalam upaya mencapai keunggulan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. SE-696/MK 2010. pembinaan. 2. serta Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien.PPN/11/2010. Menjamin terciptanya integrasi. Sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah serta antar daerah. Selanjutnya juga telah diterbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. 4. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Presiden telah menetapkan 9 (sembilan) direktif pada Raker III di Bogor tahun 2010 yang mengamanatkan bahwa peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat perlu ditingkatkan demi tercapainya sinergi pusat dan daerah serta efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan program dan kegiatan Kementerian/Lembaga di daerah.

2. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 121 . 4. 5. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. provinsi dan kabupaten/kota Peran konkrit yang perlu dikoordinasikan antara Pemerintah Pusat. baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. 2. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah. 5. Untuk itu. 3. Adapun peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam penyelenggaraan PTSP dapat terlihat dalam Gambar 5. Melakukan harmonisasi peraturan perundangan dan turunannya. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. Peran pemerintah pusat. dan Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. memudahkan dalam memonitor kinerja pemrosesan perijinan terutama yang bersifat lintas sektor.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Dalam rangka meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di seluruh Wilayah Indonesia. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. mengantisipasi terjadinya keterlambatan proses perijinan yang berlarut-larut dan mengurangi adanya pungutan pada perijinan sektor tertentu. dan Kabupaten/Kota adalah: 1. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah. dalam rangka meningkatkan kemudahan investasi dan berusaha.Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. 6.1. RPJMN dan RPJMD. perlu ditingkatkan kemudahan pelayanan perijinan dan non perijinan yang transparan baik prosedur maupun biayanya. RKP dan RKPD). sehingga memudahkan berbagai stake holder untuk melaksanakannya. baik di tingkat pusat maupun daerah.1. Mendorong terbangunnya PTSP di seluruh Indonesia dan memfungsikan peran PTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan. setiap provinsi dan kabupaten kota agar dapat segera membangun dan menyelenggarakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang menyediakan informasi dan pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan untuk kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. PTSP diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah pelayanan perijinan. Provinsi.

Kementerian Dalam Negeri dan BKPM berperan untuk meningkatkan kualitas SDM PTSP di seluruh Indonesia melalui pemberian pelatihan-pelatihan.Gambar 5. 122 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Selain itu juga diperlukan dukungan dari DPR agar menyederhanakan proses revisi terhadap perundangan yang telah masuk dalam daftar Prolegnas. 2. Pemerintah pusat berperan untuk mendorong daerah untuk mengimplementasikan Permendagri 24 tahun 2006 tentang PTSP. pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian KumHAM agar dapat menyederhanakan proses Prolegnas. 3. Untuk itu. Peraturan perundangan yang tumpang tindih agar segera diajukan dalam Prolegnas untuk dibahas dan dilakukan revisi.1 Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) KEMENDAGRI: Pembinaan Implementasi OTDA dan Monitoring KEMENKUM HAM: Penyusunan Peraturan dan Monitoring Peraturan KEMEN PAN DAN RB: Pembinaan Aparatur dan Penyusunan Struktur Organisasi Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Provinsi:  Penyelenggaraan PTSP di 33 Provinsi  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di Provinsi PTSP di kabupaten/kota  Penyelenggaraan PTSP kabupaten/kota  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di kabupaten/kota Peran pemerintah pusat Peran penting Pemerintah Pusat untuk meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha adalah: 1.

tergantung prioritas dalam pembenahan perijinan. Penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP. persyaratan dan waktu pelayanan. Penguatan kelembagaan pelayanan penanaman modal antara lain melalui peningkatkan status kelembagaan PTSP sebagai contoh penguatan bentuk kelembagaan dari kantor menjadi badan dengan syarat disesuaikan dengan kapasitas dan beban kerja serta tugas dan fungsi yang diembannya. Beberapa instrumen kebijakan untuk meningkatkan investasi adalah (1) peraturan perundangan dalam kerangka regulasi.  Telaah kebijakan dan peraturan lain dapat dilakukan secara berjenjang (satu persatu) maupun paralel (sekaligus). Daerah perlu membuat kebijakan yang mampu mencegah investor berpindah ke daerah lain. Kegiatan ini harus dilakukan sesegera mungkin. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2. atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha terutama yang berskala menengah dan kecil. 123 . (2) pengelolaan belanja daerah dalam kerangka investasi dan layanan publik untuk menyediakan pelayanan terpadu. Beberapa hal penting terkait penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP di daerah antara lain adalah:  Revisi Perda-perda terkait dengan retribusi perijinan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip PTSP seperti prinsip penyederhanaan. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN dan RB) berperan untuk menerbitkan pedoman organisasi kantor PTSP di seluruh Indonesia. Investor akan memilih lokasi yang menawarkan peluang keuntungan lebih besar dengan risiko lebih kecil. 3. Peran Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Dengan otonomi daerah yang semakin menguat. Beberapa hal yang perlu dikembangkan pemerintah daerah (provinsi.4. karena daerah lain tersebut memiliki daya tarik investasi yang lebih tinggi. kabupaten/kota) dalam rangka meningkatkan investasi di daerah antara lain adalah : 1. hal ini sangat penting karena kontribusi dunia usaha dalam menggerakan perekonomian di daerah memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam mencapai kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Pemerintah Daerah diharapkan dapat berkreasi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di daerah masing-masing melalui berbagai kebijakan. Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat mengamati dan belajar dari Pemerintah Daerah lain dalam meningkatkan daya tarik investasi daerah.  Penyederhanaan jumlah perijinan dengan menyatukan. Meningkatkan komitmen pemerintah dalam mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian. peran Pemerintah Daerah menjadi sama pentingnya dengan Pemerintah Pusat dalam peningkatan investasi.

6. koordinasi lintas sektor dan penataan kelembagaan serta peningkatkan sumber daya aparatur yang mengelola bidang pertanahan. melakukan promosi investasi baik di tingkat nasional. RW.   4. 7. dengan maksud dan tujan: (1) Untuk menjamin bahwa setiap tahunnya PTSP mendapatkan anggaran dari APBD dan (2) Untuk menjamin ketersediaan pendanaan yang diperlukan bagi pengembangan pengelolaan PTSP secara berkelanjutan. regional maupun internasional dengan berbagai media (elektronik website. Mengintegrasikan kebijakan maupun program pengembangan PTSP ke dalam Dokumen RPJMD dan RPJPD. Meningkatkan infrastruktur daerah. RT). Meningkatkan promosi investasi daerah. 9. melalui berbagai kebijakan pemerintah daerah yang kondusif antara lain melalui deregulasi dan debirokrasi yang dituangkan dalam berbagai peraturan pemerintah daerah (perda/perkada dll). sesuai dengan kewenangan yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Selain menjadi kewajiban pemerintah pusat dalam meningkatkan infrastruktur. terutama terkait dengan pemenuhan persyaratan ijin. Pembebasan biaya retribusi bagi kategori usaha tertentu misalnya pengusaha mikro-kecil. Mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian daerah. Meningkatkan keamanan usaha. maka pemda berkewajiban meningkatkan persentase belanja modal dalam APBD khususnya untuk infrastruktur di daerah dan melalukan kerjasama antar daerah (KAD) serta meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta (KPS) dalam membangun infrastruktur yang memerlukan dana lebih besar lagi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penataan regulasi. Penerbitan kebijakan atau peraturan untuk mencegah adanya pungutanpungutan di tingkat pemerintahan yang lebih rendah (kecamatan. Memberikan input pada Kementerian teknis di tingkat pusat untuk membenahi kebijakan perijinan. sehingga dunia usaha dapat tumbuh dan berkembang dalam meningkatkan perekonomian di daerah. 5. maupun cetak) serta mengikuti berbagai kegiatan promosi melalui pameran dan lainlain. 124 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pemerintah daerah juga berkewajiban meningkatkan akses ketersedian lahan usaha di daerah sesuai pembagian kewenangan dalam peraturan perundang-undangan dan tidak menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah. Penuangan kebijakan PTSP ke dalam dokumen pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan jangka panjang daerah (RPJPD). melalui peningkatan koordinasi dengan Muspida termasuk unsur penegak hukum di daerah dalam menyelesaikan berbagai konflik/sengketa di daerah. Meningkatkan akses lahan usaha di daerah. desa/kelurahan. 8.

Hal ini dimaksudkan agar para investor hanya perlu datang ke satu lokasi. mudah dipahami dan diakses. Kemendagri). total terdapat 2. tidak perlu mendatangi tempat yang terpisah. mendelegasikan wewenang perijinan ke PTSP dan membangun dan mengimplementasi PPTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan. dan (4) Disediakan layanan pengaduan. serta (3) Mekanisme pembatalan peraturan-peraturan daerah yang bermasalah. termasuk PTSP-PM (Penanaman Modal) yang sering berlokasi di tempat yang berbeda agar dapat ditempatkan di PTSP sebagai unit perangkat daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 125 .Selain itu. 2. (2) Pemantauan dan evaluasi atas peraturan-peraturan daerah yang menghambat investasi dan perdagangan antar daerah (dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan). perlu adanya bantuan. prasarana dan media informasi yang memadai. (2) Sarana. 3. 4. Untuk mendukung hal ini perlu didorong langkahlangkah: (1) Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penyusunan regulasi. Penyelenggaraan PTSP perlu ditetapkan oleh kepala daerah sebagai unit perangkat daerah. Melaksanakan harmonisasi regulasi antar daerah dan antara pusat dan daerah yang mendukung investasi. 24 tahun 2006 untuk mempercepat dan memudahkan proses perijinan dan non perijinan. Menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) di seluruh PTSP di Indonesia. yang mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Strategi Peningkatan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan Dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi dan iklim usaha di tingkat daerah. Dalam merespon pentingnya PTSP sebagaimana Permendagri 24 tahun 2006. melalui peningkatan : (1) SDM yang profesional dan memiliki kompetensi. Mengoptimalkan penyelenggaraan dan fungsi PTSP. 5. pemerintah daerah perlu segera menerbitkan Perda pembangunan PTSP. baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. dukungan dan peran dari pemerintah daerah dalam meningkatkan pelayanan perijinan dan non perijinan. Pemda agar tidak menyusun perda yang hanya bertujuan untuk meningkatkan PAD. transparan. Mendorong agar seluruh proses perijinan dan non perijinan dapat dilakukan di PTSP.285 peraturan daerah yang dibatalkan karena dianggap bermasalah (Ditjen Keuanganan Daerah. (3) Mekanisme kerja yang jelas. pemerintah daerah perlu mengevaluasi dan menghapus perda yang cenderung membebani pengusaha dan kurang jelas tujuan serta peruntukannya. melalui: 1. Mendorong Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Sejak tahun 2002 hingga 2010.

Selama ini. Dalam pelaksanaannya terkait dengan upaya percepatan peningkatan daya saing daerah. 3. yang perolehannya dapat dilakukan melalui proses pengadaan tanah. Bentuk bantuan. perlu strategi pembenahan yang dapat mempercepat proses pengadaaan tanah. Untuk itu. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Memberikan Bantuan subsidi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Namun demikian diharapkan permasalahan proses pengadaan tanah dapat teratasi dengan terbitnya UU No. Pengadaan tanah selama ini dilaksanakan oleh suatu Panitia yang bersifat ad-hoc dan belum ada lembaga yang bertanggungjawab atas pengadaan tanah untuk kepentingan umum secara khusus. antara lain: 1. bantuan pemerintah daerah untuk kegiatan bidang pertanahan sangat diperlukan. Untuk itu dalam rangka Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 126 . sementara ini bidang pertanahan masih merupakan urusan pusat dan dalam hal ini dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). 4. Strategi Peningkatan Kegiatan Pertanahan di Daerah Salah satu bidang yang memerlukan bantuan. Kelembagaan. namun mengingat keterbatasan kemampuan daerah terutama terkait sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Pendanaan. 2.Strategi Pengadaan Tanah untuk Pelaksanaan Pembangunan Pelaksanaan pembangunan termasuk pembangunan infrastruktur dalam kenyataannya memerlukan tanah. Sejak berlakunya UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Walaupun sebenarnya bidang pertanahan sudah merupakan bagian dari urusan daerah. penetapan BPHTB merupakan kewenangan pemerintah daerah. 5. Selama ini ganti kerugian mengacu pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang seringkali tidak mencerminkan nilai tanah yang sebenarnya dan bentuk ganti kerugian yang lebih mengutamakan dalam bentuk uang. proses perencanaan dan koordinasi antar instansi dan Pemda yang terlibat dalam pengadaan tanah untuk pembangunan masih belum baik. Permasalahan pendanaan untuk ganti kerugian terhadap tanah yang dijadikan sebagai lokasi pembangunan infrastruktur kadang tidak tersedia secara optimal karena anggaran yang ada terbatas atau karena harga tanah yang tiba-tiba melonjak tinggi akibat adanya spekulasi terhadap harga tanah. Waktu yang diperlukan untuk pembebasan lahan perlu dipercepat. Saat ini. dukungan dan peran dari pemerintah daerah adalah bidang pertanahan. proses pembebasan lahan cenderung lama dan berlarut-larut. Besaran dan bentuk ganti kerugian. dukungan dan peran dari pemerintah daerah terkait bidang pertanahan yang diharapkan antara lain adalah: 1. dan Perencanaan dan koordinasi antar instansi yang perlu ditingkatkan.

2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari pembangunan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. terjangkau dan ramah lingkungan untuk merekatkan seluruh wilayah dalam satu kesatuan NKRI yang maju dan sejahtera. Dalam bidang pertanahan. Untuk itu pemerintah daerah dapat melakukan bantuan identifikasi bidang-bidang tanah yang sudah sesuai dengan kriteria perundang-undangan sehingga proses sertifikasi dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif. Jaminan kepastian hukum hak atas tanah merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan daya saing daerah.mendukung peningkatan kegiatan ekonomi daerah. 2. Indonesia. Selain itu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah percepatan kegiatan pendaftaran tanah (sertifikasi). menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah luas yang terdiri dari 33 provinsi dan 491 kabupaten/kota dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah harus didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang berkualitas. permasalahan yang dihadapi adalah masih banyaknya bidang-bidang tanah yang belum terdaftar (tersertifikat). 5. upaya ini sering terbentur dengan tidak siapnya bidang tanah yang akan disertifikasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik.1. Ketersediaan peta pertanahan yang akurat dapat membantu mempercepat kegiatan sertifikasi tanah. pembangunan infrastruktur juga diperlukan untuk mewujudkan pemerataan. pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi besaran BPHTB bagi pelaku usaha dan masyarakat yang ingin berusaha di daerahnya atau bahkan membebaskan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pemberian subsidi. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya minat investasi di wilayah tersebut. Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 127 . Pada akhirnya dapat berakibat rendahnya daya saing suatu daerah. Melakukan identifikasi lokasi-lokasi potensial yang menjadi obyek sertifikasi tanah. 3. Dalam pembuatan peta pertanahan pemerintah daerah diharapkan membantu BPN di daerah melalui identifikasi awal lokasi yang akan dipetakan serta bantuan identifikasi lokasi pada pelaksanaan survei termasuk transportasi terutama pada wilayah-wilayah terisolasi yang sulit terjangkau. konflik dan perkara pertanahan. sehingga menimbulkan potensi sengketa. Memberikan dukungan dalam pengukuran dan pemetaan wilayah . Adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. Namun demikian.

menjamin keselamatan masyarakat pengguna. menetapkan standar pelayanan dan sertifikasi. menyusun strategi dan kebijakan sektor.2 Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Multilateral. membangun dan mengelola infrastruktur sebagai penggerak pembangunan. Pemerintah harus menyiapkan regulasi yang kondusif bagi partisipasi swasta. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggung jawab termasuk pembiayaan.13 Tahun 2010 yang merupakan penyempurnaan atas 128 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Bilateral.pembagian peran dan kewenangan. mengawasi aturan main (rule of the game) untuk melindungi kepentingan swasta dan sekaligus kepentingan masyarakat/konsumen. Gambar 5. serta memberikan lisensi operator yang diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip yang optimal dan transparan bagi kepentingan publik dan investor. memberikan dana penjaminan (guarantee fund). Development Bank APBN Rupiah Dukungan dan Jaminan Pemerintah Penyiapan Proyek Pihak Swasta Proyek BUMN/D Proyek KPS PPP Book Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Peran pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah yaitu agar dapat berperan sebagai fasilitator dalam merencanakan. Pemerintah memberikan dukungan kerjasama dengan swasta (KPS) di bidang infrastruktur dengan diterbitkannya Perpres No. Baik pemerintah pusat maupun daerah mempunyai tanggung jawab untuk menyelenggarakan pelayanan infrastruktur yang bersifat public goods sesuai prinsip Public Service Obligation atau Universal Service Obligation (PSO dan USO).

Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan dalam kondisi yang terbatas.  Pengembangan sistem informasi muatan barang (cargo information system) serta pengembangan armada pelayaran nasional. termasuk mempertahankan dan meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi.  Meningkatkan pelayanan pada koridor jenuh dan kesinambungan dengan transportasi sungai dan danau serta antarpulau (point to point).  Meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan transportasi mendukung pariwisata.  Meningkatkan kondisi pelayanan prasarana jalan sesuai dengan SPM. deregulasi pungutan dan retribusi di jalan.  Memenuhi perkembangan teknologi dan ketentuan internasional. penataan jaringan dan ijin trayek. yang dilakukan dengan upaya-upaya :  Memberikan pelayanan transportasi minimal yang memadai dan merata.  Meningkatkan kemampuan dan kecepatan tindak awal pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan dan bencana.  Penegakan hukum.  Meningkatkan strategi pelayanan angkutan antar moda dan intermoda. Dalam 2.  Pemberian subsidi transportasi dan PSO angkutan. Mendukung peningkatan daya saing sektor riil. Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM).  Mengurangi backlog pemeliharaan prasarana dan sarana transportasi. Strategi Peningkatan Infrastruktur Transportasi 1.  Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan. sentra-sentra produksi pertanian dan industri.  Pembenahan manajemen transportasi umum perkotaan.Keputusan Presiden No. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.  Pengembangan sarana dan prasarana penghubung antar pulau.  Meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan transportasi.  Mengembangkan transportasi umum massal perkotaan berbasis rel di wilayah metropolitan dan berbasis bis di wilayah perkotaan. yang dilakukan dengan upaya-upaya:  Pengembangan outlet-outlet pelabuhan dan sarana pendukungnya. 25/2007 tentang Penanaman Modal. Pembiayaan oleh swasta terus didorong pemerintah melalui Undang-Undang No.  Penerapan mekanisme unbundling guna mempercepat pembangunan sarana dan prasarana transportasi.  Pengembangan sarana dan prasarana transportasi perdesaan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 129 .  Meningkatkan profesionalisme SDM transportasi. 3.

Optimalisasi kinerja pelayanan infrastruktur yang ada (value creation) melalui upaya debottlenecking permasalahan pelayanan infrastruktur yang telah terbangun. restrukturisasi dan pemantapan desentralisasi sektor transportasi.  Peningkatan iklim kompetisi secara sehat agar dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan alternatif bagi pengguna jasa dengan tetap mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan umum yang terjangkau oleh masyarakat. Debottlenecking juga perlu dititikberatkan pada titik-titik perpindahan antar moda transportasi serta akses keluar masuk pelabuhan laut maupun bandara yang ada. angkutan laut. Peningkatan kapasitas serta cakupan wilayah pelayanan infrastruktur di daerah diperlukan dalam rangka meningkatkan dan memperluas pelayanan infrastruktur Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2. baik dari aspek regulasi. Pembenahan sistem pengelolaan dan pengoperasian serta peremajaan angkutan umum kota dapat meningkatkan kapasitas angkut serta mobilitas orang serta mencegah maupun mengatasi permasalahan kemacetan lalu-lintas yang dapat menurunkan daya saing ekonomi kota.  Penyusunan SPM dan pelaksanaan desentraliasasi sektor transportasi. kelembagaan maupun pengelolaan. 130 . 3. maka secara garis besar kebijakan dan strategi pengembangan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur di daerah perlu diarahkan kepada: 1. 4. Peningkatan kapasitas pelayanan infrastruktur (asset creation) melalui pembangunan baru maupun peningkatan dan perluasan cakupan infrastruktur yang ada. Optimalisasi kinerja pelabuhan maupun bandara . Pengoptimalan kinerja infrastruktur yang telah ada perlu diutamakan dalam rangka efisiensi dalam investasi untuk pembangunan infrastruktur karena dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan infrastruktur di daerah melalui investasi yang relatif rendah. dan  Peningkatan kelembagaan.rangka keterjangkauan seluruh masyarakat untuk memanfaatkan jasa transportasi perlu dikaji ulang untuk optimalisasi kebijakan subsidi dan PSO. terutama untuk angkutan kereta api. maupun angkutan udara. antara lain:  Pengembangan jaringan pelayanan transportasi secara antar moda dan intermodal. SDM dan teknologi untuk peningkatan daya saing produk lokal/dalam negeri di sektor transportasi. Melanjutkan reformasi. Dengan memperhatikan peta daya saing infrastruktur daerah yang ada. Alokasi dana untuk pemeliharaan prasarana jalan di daerah juga perlu ditingkatkan untuk mengatasi jalan dengan kondisi tidak mantap yang rata-rata mencapai hampir separuh dari total panjang jalan provinsi. kota dan kabupaten yang ada. yang dapat dilakukan melalui integrasi dengan pergudangan dan kawasan industri di dalam hinterland-nya.

Pengembangan perkeretaapian untuk penumpang terutama di kota-kota besar. Sinergi dan dukungan Daerah yang sangat 5. 7. pengembangan angkutan umum masal berbasis jalan (Bus Rapid Transit/BRT). pelaksanaan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK) 2011-2035. kabupaten maupun kota yang menjadi bagian dari rute utama arus barang perlu ditingkatkan dalam bentuk pelebaran serta peningkatan kelasnya agar mampu memikul beban lalu-lintas yang ada serta konsisten dengan kelas jalan nasional pada rute utama arus barang tersebut. beberapa ruas jalan provinsi. Sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah maupun antara daerah dengan pusat akan memberikan dampak serta skala yang lebih besar dan menguntungkan bagi daerah dalam rangka peningkatan daya saing ekonomi daerah. sesuai dengan adanya kewenangan Pemerintah Daerah untuk mengembangkan perkeretaapian di provinsi. Dukungan daerah diperlukan. kabupaten maupun kota sesuai dengan Undang-Undang No. 8. 4. Peningkatan dan perluasan layanan broadband di kabupaten/kota sebagai tulang punggung arus informasi yang berkontribusi signifikan kepada pertumbuhan dan daya saing ekonomi daerah. Peningkatan sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah dan antara daerah dengan pusat. pelabuhan dan bandara baru. Pengembangan perkeretaapian di perkotaan tersebut harus terintegrasi secara multimoda dan antar moda dengan pengembangan sistem angkutan umum dan transportasi keseluruhan di daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 131 . Kerjasama dan sinergi antara Pusat dan Daerah juga diperlukan dalam peningkatan kapasitas infrastruktur seperti pelabuhan laut. pengelolaan jaringan irigasi. Pembangunan jalan baru yang menjadi kewenangan daerah perlu ditingkatkan. Peningkatan partisipasi Daerah dalam pemenuhan kebutuhan energi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan meningkatkan daya saing energi daerah. Dalam rangka mendukung kelancaran arus barang. penyediaan infrastruktur dasar seperti air minum dan sanitasi dan penyediaan infrastruktur energi dan telekomunikasi. termasuk dalam hal penyediaan lahan.bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat maupun dukungan akses kepada pusat-pusat perekonomian daerah. pelayanan transportasi keperintisan. untuk mendukung peningkatan kapasitas maupun pembangunan jalan. termasuk kepada masyarakat di wilayah perdesaan maupun terpencil. Peningkatan dan perluasasan infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan layanan air minum dan sanitasi. 6. bandara maupun prasarana jalan nasional yang ada di daerah. misalnya untuk mendukung akses hasil produk pertanian daerah ke pasar. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian.

Untuk itu. yaitu: pertanian. pertambangan. Pemerintah Daerah perlu melakukan kajian serta memberikan fasilitas dalam bentuk penyiapan proyek KPS baik melalui anggaran daerah maupun bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga. Kegiatan utama di setiap koridor ditetapkan berdasarkan unggulan di masing-masing Koridor.penting dalam pengembangan infrastruktur yang dilaksanakan Pusat di daerah adalah dalam hal penyediaan lahan. Tabel 5. dukungan Daerah diperlukan baik dari aspek regulasi yang dibutuhkan maupun penyediaan lahan. Dalam rangka mendorong pelaksanaan proyek KPS yang telah ada di dalam PPP Book. telematika dan pengembangan kawasan strategis. Kebutuhan pendanaan untuk penyediaan infrastruktur yang begitu besar serta keterbatasan kemampuan investasi pemerintah serta dalam rangka memanfaatkan efisiensi yang ditawarkan swasta. Maluku √ √ √ 132 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor Kegiatan Ekonomi Utama Besi Baja Makanan Minuman Tekstil Peralatan Transportasi Perkapalan Nikel Tembaga Bauksit Kelapa Sawit Karet Pertanian Pangan Pariwisata Telematika Sumatera √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jawa Kalimantan √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep.1. maka perlu dirintis maupun ditingkatkan pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui investasi swasta melalui pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). kelautan. pariwisata.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Pengembangan MP3EI berfokus pada 8 program utama. Peningkatan investasi swasta dalam pengembangan infrastruktur daerah melalui skema Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS). energi. 5. 9. Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama yang disesuaikan dengan potensi dan nilai strategisnya masing-masing di koridor yang bersangkutan. industri. Adapun pemetaan kegiatan-kegiatan ekonomi utama di masing-masing koridor dapat dilihat pada Tabel 5.1. dalam pelaksanaan MP3EI di setiap koridor ekonomi memerlukan upaya-upaya perbaikan iklim usaha dan iklim investasi sehingga pengembangan kegiatan ekonomi utama di setiap koridor ekonomi dapat berjalan secara optimal sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah.

3. 7. Penyederhanaan prosedur dilakukan melalui Penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di 50 kabupaten/ kota dengan arah kebijakan yaitu penerapan SPIPISE di PTSP sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas PTSP. 6. Perbaikan kepastian hukum yang dilakukan melalui reformasi regulasi secara bertahap di daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk lebih meningkatkan kejelasan dan konsistensi dalam implementasinya. Maluku √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk pelaksanaan program utama dan kegiatan utama dimaksud. Pembatalan Perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). maka dibutuhkan kerjasama dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menciptakan iklim usaha dan iklim investasi yang baik di daerah sesuai dengan sektor unggulan di masing-masing daerah.Kegiatan Ekonomi Utama Batu Bara Migas Jabodetabek Area KSN Selat Sunda Alutsista Peternakan Perkayuan Kakao Perikanan Sumber: MP3EI 2011 – 2015 Sumatera √ Jawa Kalimantan √ √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. 4. Perbaikan logistik nasional dan daerah dilakukan melalui pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi serta didukung oleh infrastruktur yang memadai melalui skema pendanaan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Pelaksanaan sinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha di daerah. 2. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 133 . Dalam mendukung pengembangan KEK yang direncanakan di 5 lokasi sampai tahun 2012. diantaranya: 1. Dukungan pertanahan untuk mendukung iklim investasi. 5. Peran Pemerintah Daerah khususnya dalam perbaikan iklim investasi dan iklim usaha.

serta standarisasi dan sertifikasi kompetensi. Harmonisasi regulasi dilakukan pada tingkat undang-undang. kualitas. Meningkatkan manajemen lembaga pelatihan agar kredibilitas dan akuntabilitasnya terukur. baik milik pemerintah. Penyiapan sarana/prasarana. 4. swasta. Peningkatan kinerja lembaga pelatihan ditujukan pada peningkatan relevansi. termasuk peraturan daerah. Program pelatihan dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. efektivitas dan efisiensi pelatihan. pembiayaan dan pengelolaan lembaga pelatihan yang memenuhi aspek standar mutu kelembagaan menjadi prioritas. Pemerintah Pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah perlu melakukan harmonisasi regulasi yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan. maupun perusahaan yang menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi. di antaranya dengan menerapkan sistem manajemen mutu ( total quality management) atau standar manajemen lain yang kredibel dan akuntabel. program pelatihan perlu dikembangkan secara fleksibel dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha/industri. seperti misalnya standar manajemen ISO. dan (4) Meningkatkan akses kepada informasi peluang kerja. sebagai tahap awal dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten agar dapat bersaing dalam pasar global. Peran Pemerintah Pusat.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda Langkah-langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak untuk dilaksanakan adalah: (1) Membangun infrastruktur pengembangan kompetensi kerja. Pemerintah Pusat dengan pemerintah daerah perlu memetakan program/kegiatan pemagangan yang dilaksanakan oleh berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di tingkat nasional dan daerah. Pemerintah pusat dan daerah dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi. instruktur.1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Langkah-langkah konkrit untuk peningkatan kesempatan kerja khususnya bagi tenaga kerja muda adalah: 1. (2) Menyempurnakan mekanisme seleksi pemagangan di perusahaan. 134 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . yang antara lain menargetkan kaum muda. Menerapkan konsep pelatihan berbasis kompetensi.5. 3. Pemetaan ini diperlukan untuk meningkatkan sinergi antar K/L dan antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan 2. Infrastruktur pelatihan di lembaga pelatihan diperkuat dengan mengacu pada standar program dan SKKNI. peraturan pemerintah atau peraturan perundang-undangan lain yang lebih rendah. (3) Meningkatkan efektivitas pelaksanaan program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan serta mendorong jaringan lembaga keuangan mikro termasuk ekonomi lokal. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut.

Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat provinsi. informasi penyelenggaraan pelatihan dan informasi konseling. saling mengisi dan bidang usaha yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah. peserta pelatihan kewirausahaan ini harus diseleksi dengan kriteria tertentu untuk memastikan keberlanjutannya. yang menghubungkan informasi lowongan kerja di kabupaten/kota. terutama daerah perdesaan dalam format standar yang dapat diakses oleh pencari kerja dan calon pemberi kerja. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. kualifikasi maupun jumlahnya. Jangkauan layanan informasi pasar kerja diperluas ke daerah-daerah. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. 3. Meningkatkan sinergi pelaksanaan berbagai program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan oleh kementerian/lembaga. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. Selain itu. 4. Selanjutnya. Melaksanakan fungsi pengembangan program insentif pembinaan pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Merencanakan dan melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. Peran Pemerintah Provinsi 1. ketersediaan suplai tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat provinsi. baik bidang.5. yang berisi antara lain informasi lowongan pekerjaan. 2. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Melaksanakan monitoring. 6. Kerjasama antara Pemerintah dengan perusahaan penerima pemagangan juga harus diperkuat agar pemagangan yang difasilitasi oleh pemerintah benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat bermanfaat bagi perusahaan. program dan memastikan ketepatan sasaran. Sasaran berbagai program/kegiatan tersebut harus selaras. termasuk kredit usaha dan pengembangan jaringan pasar. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 135 . jenis. Mengembangkan sistem informasi pasar kerja. serta program insentif bagi lembaga pelatihan. Rencana pelatihan kerja provinsi ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat provinsi yang bersangkutan. wirausaha muda yang telah mendapatkan pelatihan difasilitasi untuk memulai usahanya (inkubator bisnis). pemerintah daerah dan swasta di tingkat nasional dan daerah.

serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. 6. 4. jenis. Peran Pemerintah Kabupaten/Kota 1. Meningkatkan kualitas dan kemutakhiran data informasi pasar kerja di tingkat provinsi. kualifikasi maupun jumlahnya. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di provinsi yang bersangkutan kepada Pemerintah Pusat. Mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan pengembangan kewirausahaan dan pemagangan di tingkat kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan dan mengintegrasikan kelompok/individu sasaran pemanfaat program sesuai dengan kebutuhan lokal. 7. baik bidang. Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat kabupaten/kota. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Selain itu juga melaksanakan fungsi pengembangan program insentif bagi lembaga pelatihan. 2.5. Melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat kabupaten/kota. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. 6. Melaksanakan monitoring. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi dengan tembusan kepada Pemerintah Pusat. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. 3. Rencana pelatihan kerja kabupaten/kota ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Memutakhirkan data informasi pasar kerja di tingkat kabupaten/kota. 136 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. 5. Melakukan verifikasi kelompok sasaran pemanfaat program kewirausahaan dan pemagangan. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan.

antara lain saluran tambak di kawasan payau. (d) Pengelolaan dan konservasi sebanyak. (i) Penyaluran bantuan sarana penanganan pasca panen. distribusi. (b) Pengelolaan air irigasi untuk pertanian. beberapa strategi dan upaya yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut : 1. tenaga penyuluh pertanian dan perikanan dan kelembagaan petani. (e) Pengembangan SLPTT padi. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. (b) pengelolaan sistem distribusi pangan yang dapat mempertahankan keamanan. (j) Penelitian dan pengembangan benih unggul padi tanaman pangan lainnya. (g) Penyaluran pupuk bersubsidi. Menjaga aksesibilitas pangan yang dilakukan melalui upaya antara lain : (a) pengembangan sistem distribusi pangan yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien. (k) Pengembangan SLPTT jagung.3 telah dijelaskan bahwa ketahanan pangan memiliki 4 aspek utama sebagai upaya membangun sistem ketahanan pangan. serta bangunan penampung air lainnya. Menjaga peningkatan produksi pangan yang dilakukan melalui: (a) Perluasan areal dan pengelolaan lahan pertanian.2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5. (f) Pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan dan benih ikan.5. dan (l) penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif.2. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. tawar dan laut. (h) Penguatan dukungan lembaga penyuluhan bagi balai penyuluhan pertanian. (h) menetapkan jenis pangan yang berdampak pada inflasi. mutu dan gizi pangan. (d) memberikan prioritas untuk kelancaran bongkar muat produk pangan. (f) pengembangan lembaga distribusi pangan masyarakat. (k) pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan. dan (n) Penyediaan statistik Pertanian untuk Sensus Pertanian 2013. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. pengolahan pangan dan pemasaran. (g) koordinasi kebijakan dalam perdagangan dan stabilisasi harga pangan.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam Bab 4. 2. (j) pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah. rawa dan jaringan pengairan lainnya. (l) pengadaan kapal perikanan. (e) menyediakan sarana dan prasarana distribusi pangan. (c) penjaminan keamanan distribusi pangan. (i) pengaturan penyaluran cadangan pemerintah. (c) Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 137 . Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam upaya mencapai 4 aspek utama ketahanan pangan. (m) pengembangan kawasan perikanan budidaya yang memiliki sarana dan prasarana memadai.

4 2014 76.9 5.05 33. dan (c) pengembangan alternatif pangan non beras. Selain itu pula diperlukan dukungan lain seperti pencetakkan sawah baru dan optimasi lahan untuk memperluas areal tanam. penyediaan alat mesin (alsin) pasca panen guna mengurangi nilai susut pada saat pasca panen.1 6.3 40.1) 37.99 Kebutuhan Beras (juta ton) 33.06 135.2 37.1 244.98 130.15 137.1 Sumber : Kementerian Pertanian.5%/tahun mulai 2010 Konversi Gabah Kering Giling (GKG) ke beras tersedia untuk konsumsi : 56.03 33. Tabel 5. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas produksi padi. 4.07 33.5 248. Menjaga pemenuhan konsumsi dan kualitas pangan masyarakat yang dilakukan melalui: (a) Pengembangan diversifikasi konsumsi pangan dan peningkatan keamanan pangan. kurangnya ketersediaan pangan.0 241. Melalui kegiatan-kegiatan pendukung seperti Sekolah Lapang – Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).3 43. Dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton mulai tahun 2014.22% 1 Meningkatnya produksi padi sebesar 6. 2012 Catatan : 1) Tahun 2010 merupakan Angka Tetap BPS 2) Tahun 2011 menggunakan Angka Sementara BPS Penurunan konsumsi perkapita 1. serta Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) guna mengurangi konsumsi beras per kapita sehingga sasaran utama surplus beras 10 juta ton dapat terpenuhi.8 2013 72.2 3.2 2012 67. serta gangguan akan pangan di daerah-daerah terkena bencana dilakukan melalui pemberian raskin kepada masyarakat berpendapatan rendah dan menyediakan cadangan beras pemerintah.06 33.0 252.2 237.8 3.3 persen pada tahun 2013 diharapkan mampu untuk mendukung tercapainya surplus sebesar 7.01 132.1 7. kurangnya pendapatan masyarakat.6 6.02 Surplus Beras Murni (juta ton) 4. revitalisasi mesin penggilangan padi untuk meningkatkan rendemen padi.0 2010 66. 138 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 10.3. System of Rice Intensification (SRI). 2013 dan 2014 adalah sebagaimana terlihat dalam Tabel 5. Menanggulangi permasalahan pangan yang disebabkan karena kenaikan harga pangan. (b) pengembangan pangan olahan yang berbasis sumber daya lokal.5 juta ton pada tahun 2013 dan 10 juta ton pada tahun 2014.2 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 Tahun Sasaran Produksi (juta ton) GKG Peningkatan Beras (%) Jumlah Penduduk (juta jiwa) Total Kebutuhan Perkapita/ Tahun 139.2 38.6 2 2011 65.7 (1.2.5 3. target sasaran produksi padi pada tahun 2012.

IP dapat ditingkatkan dengan input kegiatan optimasi lahan seperti penyediaan paket sarana produksi lengkap. Selain meningkatkan produksi pertanian perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi perikanan. 2. termasuk melakukan koordinasi lintas SKPD dalam aspek perencanaan termasuk penyiapan masterplan. Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Daerah. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara ekstensifikasi/ food estate Upaya perluasan areal lahan sawah baru direncanakan oleh BUMN dan pemerintah daerah sesuai dengan amanat Inpres 5 tahun 2011. Pencetakan sawah baru dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian. Pencetakan sawah baru tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi produksi padi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton GKG. Target produksi padi tahun 2012 dan 2013 untuk masing-masing Provinsi dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. perbaikan jaringan irigasi. langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi perikanan adalah: (1) pengembangan kawasan perikanan. pelaksanaan dan penganggaran. Dengan perhitungan sasaran kegiatan optimal lahan seluas 80 ribu ha. pompanisasi. Optimasi Lahan dan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) Kegiatan Optimasi lahan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. (3) peningkatan kapasitas SDM daerah melalui pelatihan.Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong peningkatan perluasan areal tanam. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 139 . Prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton padi GKG. yang dilaksanakan Kementerian terkait bersama-sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. antara lain kawasan minapolitan. meliputi antara lain: 1. Potensi optimasi pemanfaatan lahan sawah masih cukup tinggi mulai dari Indek Pertanaman (IP) di bawah 1 (kurang dari 1 kali tanam dalam 1 tahun) dan di bawah 2 (dua kali tanam padi dalam 1 tahun). 3. (2) penetapan tata ruang wilayah dan zonasi kawasan perairan serta kawasan konservasi laut.3. Dengan perhitungan pencetakan sawah pada tahun 2013 seluas 100 ribu ha. pembinaan dan penyuluhan perikanan. prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 adalah sejumlah 87 ribu ton GKG padi. Pencetakan Lahan Sawah Baru Pencetakan sawah baru dapat dilakukan juga melalui pemanfaatan lahan terlantar untuk peningkatan produksi pangan sesuai peraturan perundang –undangan. penggunaan alsintan prapanen dan lain-lain.

223.234.67 498.52 1.74 Sumber : BPS (diolah ) Peran Pemerintah Daerah dan Petani Beberapa paket teknologi dalam rangka peningkatan produktivitas yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama dengan petani.83 3.295.69 2.953.34 708.37 2.01 11.37 4.65 869.22 400.74 3.33 1. Penerapan SRI (System of Rice Intensification) Air merupakan kunci utama dalam budidaya tanaman termasuk padi. Teknologi SRI salah satunya adalah dalam rangka menerapkan hal tersebut.65 10.35 606.3 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi No.82 12. meliputi antara lain: 1.34 4.41 9.96 No.92 571.14 3.689.945.95 2.23 10.11 2.593. maka masih terbuka peluang meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas.69 552.829. 140 .69 2.95 648.102.59 2011.498. Sasaran luas SRI pada tahun 2013 mencapai 200.138.23 67.78 885.25 1.67 587.265.57 300.94 15.721.33 377.488.34 134.911. Kegiatan SRI dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah.58 3.15 90.12 1.002.506. Untuk meningkatkan produktivitas tersebut dilakukan melalui penerapan paket teknologi budidaya spesifik lokasi yang lebih dikenal dengan Pengelolaan sumberdaya dan tanaman secara terpadu (PTT).48 3.85 95.88 67.27 1.034.351.752.66 32.137.66 610.65 529.27 507.43 12.85 538. Komponen PTT antara lain: (1) penggunaan benih varietas unggul.00 615.26 667.63 10. maka sangat diperlukan teknologi budidaya padi hemat air.16 3.38 126. SL-PTT Padi Menurut data BPS.063.37 670.51 9.12 282.75 2.417.707 16.76 630.000 ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 1.1 juta ton padi. Dengan kondisi ketersediaan air yang mulai terbatas baik kuantitas maupun kualitas. produktivitas padi masih dapat ditingkatkan hingga 6 ton GKG per Ha.60 1.12 72.77 528.78 1.132. SRI dapat menghemat benih (5-8 kg/ha) karena tanam 1 batang dengan umur bibit muda (kurang dari 15 hari).74 30.824.Tabel 5.654. (2) penerapan teknik budidaya jajar Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2.24 63. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 1.943.071.69 653.25 924.

5. (3) Penambahan waterpolish. Penguatan Penyuluhan Upaya pencapaian target surplus beras 10 juta ton sangat memerlukan peran serta aktif penyuluh disetiap daerah. Penelitian dan Pengembangan Kegiatan dan Penelitian dan pengembangan benih unggul sangat penting dilakukan guna mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi sehingga dapat menghasilkan produksi yang maksimal. power thresher. Berdasarkan hasil survei BPS 2009 diketahui bahwa konversi GKG ke beras rata-rata adalah 62. Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 3 juta ton padi. 3. Sehingga sangat diperlukan usaha penguatan 4. Pedal thresher. (3) Penggunaan pupuk berimbang.7 juta ton padi. (4) Penerapan kalender tanam. Kegiatan GP3K dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian BUMN. tanam satu batang. Reaper. maka tugas Kementerian BUMN adalah (1) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan lahan pada kawasan hutan dengan pola tumpang sari produksi untuk tanaman padi. mampu meningkatkan rendemen GKG menjadi > 65 persen. Stripper.legowo. Kegiatan penelitian dan pengembangan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah.74 persen. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara Intensifikasi Berawal dari Inpres 5 tahun 2011. dan (6) Panen tepat waktu. terpal. (2) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi dan distribusi gabah/beras. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi padi tahun 2013 direncanakan SLPTT seluas 3. Kegiatan SL-PTT dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Paddy mower. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pengadaan sarana penanganan pasca panen meliputi Vertical dryer. (5) Pengendalian OPT. dan (3) Memperkuat fungsi BUMN dalam pengadaan dan pengelolaan cadangan gabah/beras pemerintah dengan target GP3K untuk tahun 2013 adalah 570 ribu ha. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 141 . (2) Penambahan dua ayakan kawat. 6. dan (4) tambahan satu unit alat pengukur kadar air (moisture tester).75 juta ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 21. Perbaikan penggilingan yang dilakukan meliputi: (1) Mengganti alat dalam dua polisher. Hasil kajian dan praktek perbaikan penggilingan padi yang dilakukan oleh Perpadi. Sabit bergerigi. Pengamanan Pasca Panen Melalui penerapan penanganan pasca panen yang tepat kehilangan hasil pasca panen dapat dikurangi.

Skema KPS pembangkit listrik skala kecil-menengah akan lebih diarahkan untuk pengembangan pembangkit dengan energi terbarukan seperti tenaga sampah (waste to energy).penyuluh didaerah yang dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. terutama untuk daerah perkotaan. Untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam penyediaan tenaga listrik. DAK lisdes dimulai pada tahun anggaran 2011. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah. dengan mengupayakan pengembangan energi mikrohidro dan tenaga surya. lebih baik diarahkan melalui kerjasama dengan pihak koperasi. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan maka Pemerintah Daerah (Pemda) ikut serta bertanggung jawab dalam pengelolaan energi.2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi Sesuai dengan UU No. pengaturan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan potensi pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur energi adalah melalui pengembangan kerjasama pemerintah dan swasta/KPS ( public private partnership/PPP). Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik yang pelaksanaannya dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan ijin usaha penyediaan tenaga listrik. khususnya untuk daerah dengan kemampuan pendanaan yang rendah serta memiliki kondisi rasio elektrifikasi yang rendah. seperti untuk pengembangan biogas. Namun Pemerintah Pusat harus tetap berupaya menjaga keadilan dan pemerataan pembangunan dengan melaksanakan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang listrik perdesaan/lisdes. Hal ini selanjutnya akan tertuang dalam kerangka kebijakan yang dimulai dengan penyusunan rencana umum energi daerah (RUED). 5. karena 142 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . koperasi dan swadaya masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik. Selain itu. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. hidro dan mulut tambang yang dikembangkan pada skala besar. Adapun untuk skala kecil. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. pemda juga harus ikut serta dalam upaya mengalokasikan dana guna pembangunan infrastruktur energi di daerahnya. 30 tahun 2007 tentang Energi dan UU No. Proyek pembangkit listrik yang menjadi prioritas dan potensial untuk didorong melalui skema pendanaan KPS adalah pembangkit batubara.2. Undang-Undang tersebut memberi kesempatan kepada badan usaha swasta.

pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Hal ini sangat diperlukan agar infrastruktur energi yang dikembangkan tidak hanya menaikkan sisi konsumsi semata. yang bermukim di daerah tertinggal. terpencil dan perbatasan. Menyediakan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. dan (4) pembinaan dan pengembangan kelembagaan bisnis khususnya koperasi. seperti: (1) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut. kemampuan pengelolaan. pemerintah pusat. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Langkah-langkah kongkret untuk meningkatkan kinerja pendidikan dapat ditempuh sebagai berikut: 1. Menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Untuk itu. Bahkan layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. namun dapat memiliki nilai tambah sosial dan ekonomi.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam rangka menjadikan SDM sebagai isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat.3. kepulauan. 5. maka masih diperlukan peranan Pemerintah Daerah dalam beberapa hal. Peran Pemerintah Daerah Dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur energi sebagai sarana pendorong pembangunan sosial ekonomi di daerah. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 143 . finansial dan sosial ekonomi. 2. (2) prioritasi alokasi pendanaan pembangunan di daerah termasuk efisiensi. (3) pengembangan potensi sosial dan ekonomi sebagai fokus pengembangan industrialisasi di daerah.3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5.hal ini terkait dengan kesesuaian aspek kapasitas. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat.

agar pelayanan pendidikan dapat berjalan efektif. 5. 4. Mengupayakan pembangunan kapasitas kelembagaan di pemerintahan lokal dan melakukan supervisi untuk meningkatkan tata kelola satuan pendidikan di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. 9. serta memperkuat sistem evaluasi. yang didukung oleh sistem informasi. 10. Untuk itu. yang berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh daerah di Indonesia. kualitas dan validitas data. 7. 6. Mendorong partisipasi masyarakat. para pemangku kepentingan dan dunia usaha dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan melalui pengembangan program kemitraan yang saling menguntungkan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Menyusun mekanisme yang tepat terkait penggunaan anggaran pendidikan dari pusat dan daerah agar tidak terjadi misalokasi dan inefisiensi. Memperjelas wewenang. Untuk itu. Meningkatkan koordinasi di antara lembaga pemerintahan pada semua tingkatan untuk memperlancar proses pembuatan kebijakan pendidikan. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu meningkatkan kerjasama yang harmonis dengan memperhatikan peran. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu fokus dalam hal-hal sebagai berikut: 144 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . serta kondisi empiris di lapangan (evidence-based decision making). Menyediakan subsidi dan berbagai skema blockgrant untuk meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. akreditasi dan sertifikasi satuan pendidikan untuk menjaga dan mengendalikan mutu pendidikan. Dengan langkah-langkah kongkret yang dapat dilaksanakan secara nyata diharapkan layanan pendidikan yang bermutu makin meningkat. Peran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota Agar pelayanan pendidikan lebih optimal dan pelaksanaan desentralisasi pendidikan lebih efektif. Menata dan memantapkan sistem pembelajaran yang efektif di setiap satuan pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SPM). perlu meningkatkan efektivitas pemanfaatan anggaran pemerintah pusat yang dialokasikan melalui dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan. Untuk itu. tugas dan tanggung jawab masing-masing.3. yang disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab setiap tingkatan pemerintahan. 8. pemerintah daerah perlu menghitung kemampuan keuangannya untuk membiayai pendidikan. Menghitung proporsi anggaran yang harus disediakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdasarkan kapasitas fiskal. tugas dan tanggung jawab antara pemerintah pusat. provinsi dan kabupaten/kota dalam penyediaan layanan pendidikan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan desentralisasi pendidikan.

3. (3) memfasilitasi dan memberi kemudahan perpindahan guru antar kabupaten/kota dan antar satuan pendidikan dalam konteks penerapan best practices dan knowledge sharing dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. sasaran dan mekanisme penyaluran. Secara makro. menghitung pula proyeksi kebutuhan anggaran per jenjang pendidikan yang disertai dengan perhitungan proyeksi perkembangan jumlah siswa dari tahun ke tahun berdasarkan perkembangan jumlah penduduk di setiap daerah. Memperbaiki kesenjangan capaian pendidikan dan disparitas partisipasi pendidikan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya potensial yang tersedia. 5.1. Mendorong peningkatan peran masyarakat dalam rangka pemberian beasiswa bagi siswa miskin dan meningkatkan kapasitas pengelolaan pemberian beasiswa dalam hal pendataan. sehingga masing-masing daerah tetap dapat meningkatkan kemajuan pendidikannya. 3. (2) memperbaiki manajemen guru dengan menata persebaran pendidik yang lebih merata di seluruh daerah. Kandepag) dan satuan pendidikan agar dapat menjalankan tugas dan fungsi pelayanan pendidikan dengan baik. Menyediakan data dan informasi yang akurat untuk dijadikan dasar dan pertimbangan dalam perumusan dan pembuatan kebijakan pembangunan pendidikan nasional untuk dilaksanakan di daerah. secara makro pemerintah pusat dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 145 .2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan ekonomi domestik diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. terpencil. termasuk memenuhi kebutuhan guru di daerah tertinggal. yang diiringi dengan pengurangan disparitas partisipasi pendidikan. 6. Menghitung kebutuhan nyata anggaran pendidikan dengan menyusun satuan biaya pendidikan per siswa pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan SPM. Memperbaiki ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah melalui (1) penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan bermutu sesuai dengan standar pelayanan minimal. perbatasan dan kepulauan. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridor-koridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Selain itu. 5. 4. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. 2. Memastikan dan memperkuat institusi-institusi penyelenggara pendidikan (Dinas Pendidikan. Sementara. Selanjutnya.

Peran Pemerintah Daerah Pemerintah daerah . Mengintegrasikan perencanaan seluruh program penanggulangan kemiskinan ke dalam mekanisme dan proses perencanaan reguler melalui Musrenbang. 2. Peran Pemerintah Pusat Dalam konteks kebijakan afirmatif. Dalam konteks peningkatan kualitas implementasi program dan kegiatan di daerah. 146 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi.melalui TKPKD Provinsi dan TKPKD Kabupaten/Kota . pemerintah pusat telah memberikan perangkat (tools) yang terkait dengan sistem perencanaan. program dan kegiatan yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan di daerah. Monitoring and evaluation system atau P3BM) yang telah diterapkan di 66 kabupaten/kota dan program pengembangan sistem perencanaan partisipatif (P2SPP) atau yang dikenal dengan PNPM Mandiri Integrasi yang telah diterapkan di 75 kabupaten/kota. Merumuskan strategi dan kebijakan 4 (empat) klaster Program Penanggulangan Kemiskinan. termasuk perencanaan program dan penganggarannya. pemerintah pusat berperan dalam: 1. dan Meningkatkan koordinasi kelembagaan lintas SKPD serta peningkatan intensitas peran dan fungsi TKPKD dalam mengkoordinasikan. 3. Meningkatkan sinkronisasi perencanaan.harus lebih intensif dalam melakukan: 1. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok. Budgeting. 3. penganggaran. serta Memberikan pengembangan kapasitas (capacity building) dan penguatan kelembagaan (institutional strengthening) bagi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD). mensikronisasikan dan mengintegrasikan seluruh lembaga. penganggaran dan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah.pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. pemantauan dan evaluasi kemiskinan (Pro-poor Planning. 2.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 147 .4 Pemantapan Stabilitas Politik 5.  Monitoring kelancaran penyelenggaraan Pemilu.  Pelaksanaan sosialisasi. 3. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.  Kelancaran transportasi pengiriman logistik. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Dalam keadaan tertentu Pemerintah dapat membantu pendanaan untuk kelancaran penyelenggaraan pemilihan gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.  Kegiatan lainnya yang pelaksanaannya dilakukan setelah ada permintaan dari Penyelenggara Pemilu.1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada Langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib memberikan bantuan dan fasilitas berupa:  Penugasan personel pada sekretariat Panwaslu kabupaten/kota. 2.4. Pemerintah dan Pemerintah Daerah masing-masing perlu melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Kepolisian Daerah (Polda) untuk menyiapkan pengamanan yang optimal untuk keberlangsungan pelaksanaan setiap proses tahapan pemilu. Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Adapun dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 1. Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS)  Penyediaan sarana ruangan sekretariat Panwaslu kabupaten/kota.5.

02/SPB/M. kompetensi.PAN-RB/8/2011. yang ditetapkan melalui Peraturan Bersama antara Menteri PAN & RB.01/2011 tentang Penundaan Sementara Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. (2) PP 44/2011 tentang Pemberhentian PNS.4. No. Sedangkan beberapa kebijakan yang telah berhasil diterbitkan pada tahun 2011. No. integritas dan kinerja dari SDM Aparatur.Gambar 5. dalam hal ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam rangka memperbaiki manajemen kepegawaian negara. instansi pusat dan daerah diharapkan dapat melakukan penghitungan kebutuhan jumlah PNS yang tepat berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja 148 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . DPD dan DPRD Tahun 2014 Sumber: KPU.3 Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR. Dalam masa penundaan tersebut. 63/2011 tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan No. 800-632 Tahun 2011. saat ini sedang dilakukan pembahasan antara pemerintah dengan DPR dalam rangka penyusunan RUU Aparatur Sipil Negara (ASN). 43/1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian yang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. antara lain: (1) PP 46/2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS. dan (3) Permenpan & RB No. Di samping itu. 141/PMK. 2012 5. Penyusunan RUU ini untuk menggantikan UU No.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Strategi Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Optimalisasi kinerja birokrasi sangat tergantung pada kapasitas. pemerintah telah mengeluarkan kebijakan moratorium penerimaan PNS.

telah diterbitkan PermenPAN & RB Nomor 26 tahun 2011 tentang Pedoman Perhitungan Jumlah kebutuhan PNS untuk Daerah. diharapkan SDM Aparatur dapat menjadi pendorong perubahan dan peningkatan kinerja di lingkungan pemerintah daerah. K/L/I dapat membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan diklat pegawai. Melalui strategi tersebut. sistem promosi/demosi dan mutasi. 2. Gubernur/Bupati/Walikota berkewajiban membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. baik pusat maupun daerah. Sebagai tindak lanjutnya. Berdasarkan peta SDM Aparatur dan berbagai kebijakan yang telah diterbitkan tersebut. Strategi Perluasan Penerapan E-Procurement Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperluas penerapan e-procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. 5. 2. Memperkuat manajemen pengembangan kapasitas dan profesi pegawai dengan membangun sistem pengembangan karir dan kapasitas pegawai yang profesional. Memperkuat manajemen SDM pegawai dengan membangun sistem pola karir. Sebagai dasarnya. maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan penataan kepegawaian daerah dengan menghitung kebutuhan pegawai sesuai dengan kebutuhan riil (right sijing). dapat melaksanakan Pengadaan secara elektronik dengan menjadi pengguna dari LPSE terdekat. sehingga secara langsung maupun tidak langsung. 3. 3. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 149 . Melakukan realokasi penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. maka strategi yang dapat ditempuh dalam rangka peningkatan kualitas SDM Aparatur oleh pemerintah daerah adalah antara lain: 1. 4. turut memberikan kontribusi bagi peningkatan daya saing birokrasi daerah.125 tenaga Analisis Jabatan (Anjab) di K/L/Pemda yang nantinya diharapkan dapat disusun peta jabatan dan profil kebutuhan PNS pada seluruh instansi pusat dan daerah. ULP/Pejabat Pengadaan pada Kementerian/Lembaga/PerguruanTinggi/BUMN yang tidak membentuk LPSE. model/sistem seleksi penerimaan dan penempatan pegawai.untuk melakukan penataan organisasi (rightsijing) dan penataan PNS dalam kerangka pelaksanaan reformasi birokrasi. khususnya diklat teknis terampil. pada tahun 2012 ini akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi 4.

dengan LKPP sebagai instansi penanggung jawab. Dalam Inpres tersebut telah dirumuskan program aksi berupa Pelaksanaan Transparansi Proses Pengadaan Badan Publik. Dengan dicapainya opini WTP. 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012. diharapkan dapat mendorong pencapaian kinerja pemerintah darah yang lebih baik. Strategi Peningkatan Opini/Kualitas Laporan Keuangan Daerah Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. 150 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .Selain langkah di atas. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. maka strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan opini dan kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) antara lain adalah: 1. Pemerintah telah menetapkan beberapa sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah daerah. Kegiatan bimtek/diklat bertujuan untuk memberikan pemahanan praktis kepada para pengelola keuangan agar mampu 2. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah dalam APBN/APBD tahun 2012. dilakukan melalui penetapan aksi sebagaimana tercantum dalam Inpres No. Meningkatkan komitmen dan pemahaman dari pimpinan pemerintah daerah (kepala daerah. DPRD. antara lain (minimal) terdiri dari:  perbaikan sistem. sekurang-kurangnya 75 persen dari seluruh belanja K/L dan 40 persen belanja Pemda (Prov/Kab/Kota) yang dipergunakan untuk pengadaan barang/jasa wajib menggunakan SPSE melalui LPSE sendiri atau LPSE terdekat. antara lain Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara dan Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah. upaya lain yang dilakukan dalam rangka perluasan penerapan eprocurement. prosedur dan pelaporan pengelolaan keuangan dan barang milik daerah (sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah). kolusi dan nepotisme (KKN). antara lain meningkatnya jumlah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjadi 60 persen pada akhir tahun 2014. Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. kepala SKPD) untuk mencapai kualitas terbaik laporan keuangan pemerintah daerah (opini WTP) berikut aksi dan instruksi yang jelas atas komitmen yang telah ditetapkan. pemerintah juga telah menetapkan beberapa kebijakan terkait. Berdasarkan peta pencapaian opini BPK atas Laporan Keuangan Pemda sampai tahun 2010. Menyusun Rencana Aksi Menuju opini WTP dengan membangun infrastruktur pengelolaan keuangan daerah yang kuat.  peningkatan kompetensi dan kapasitas SDM pengelola keuangan daerah melalui penerimaan pegawai baru dan peningkatan kualitas pelaksanaan bimtek/diklat bagi para pengelola keuangan negara.

dalam menyusun neraca daerah. Melaksanakan/memperhatikan peraturan/pedoman terkait peningkatan kualitas laporan keuangan. antara lain:  PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.  Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah. laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. dll.  PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. d. e. penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK. Pendampingan penyusunan laporan keuangan.    3.  PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. penguatan SPIP sesuai PP 60 tahun 2008. SIMDA gaji. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 151 . penguatan manajemen aset.  Permenkeu Nomor 242 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Insentif Daerah Tahun Anggaran 2012 (persyaratan opini WTP dan WDP untuk mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) TA 2012). b. Bimtek Pengelolaan Keuangan. Penyediaan sistem pengelolaan keuangan berbasis komputer (SIMDA keuangan. Memanfaatkan kegiatan-kegiatan KL yang bertujuan memfasilitasi/membantu pengelolaan keuangan daerah:  Asistensi yang diberikan BPKP pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a.  Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara. SIMDA BMD/aset.  Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.  PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.  Surat Keputusan Kepala BPKP Nomor Kep-420/K/2007 tentang Pedoman Review Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Pendampingan penyusunan sistem akuntansi dan SOP Pengelolaan Keuangan. penguatan/pengefektifan fungsi APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) dalam mengintensifkan langkah-langkah pencegahan terhadap korupsi pada pelaksanaan/realisasi APBD. c. 4. Pendampingan penataan aset. laporan realisasi anggaran.

seiring perkembangan dan penerapan sistem perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja pada seluruh instansi pemerintah. d. baik pusat maupun daerah. Membina Pemerintah Daerah dalam Pelaksanaan dan Penatausahaan Pengelolaan Keuangan Daerah. Asistensi yang diberikan Kemendagri pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. e. Strategi Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Akuntabilitas kinerja merupakan wujud pertanggungjawaban instansi pemerintah. Peningkatan kapasitas aparat pengawasan intern pemerintah daerah. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Barang Milik Daerah. dan c. BPKP bersama beberapa pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang belum berhasil memperoleh opini WTP atas LKPD. b. Namun demikian. Setelah ditetapkan. dalam mencapai misi dan tujuan organisasi. Kementerian Dalam Negeri saat ini sedang menyusun Permendagri tentang Pedoman Penerapan Standar Akuntansi berbasis Akrual. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Bantuan Sosial. maka implementasi SAKIP harus juga merujuk pada peraturan perundang-undangan yang ada. pusat dan daerah. g. antara lain: 152 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . f. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. c. sehingga terwujud manajemen berbasis kinerja pada lingkungan birokrasi pemerintah. Permendagri ini akan disosialisasikan secara bertahap. b. Membina Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan APBD. Implementasi SAKIP pada awalnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah. Ruang lingkup pendampingan dalam Mou antara lain: a. telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menuju opini WTP. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem akuntansi pemerintah daerah. Hal inilah yang mendasari diterapkannya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). melalui serangkaian program dan kegiatan yang dilaksanakan dengan dukungan anggaran negara. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP).

sehingga mendapatkan predikat yang lebih baik dari hasil penilaian LAKIP-nya. 3. khususnya bagi setiap pimpinan unit kerja. setiap instansi pemerintah harus merumuskan dengan baik dan telah memiliki indikator yang tepat. dapat dituangkan dalam Laporan atau lampiran laporan. strategi yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan akuntabilitas kinerjanya. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 153 . 4. melalui koordinasi Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi dilakukan evaluasi dan penilaian. harus diungkapkan pencapaiannya dengan data dan informasi yang jelas.1. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. dalam bentuk Indikator Kinerja Utama (IKU). selain pencapaian indikator tersebut.PAN/2004 tentang Pedoman Umum Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 4. komprehensif dan secara tepat mampu menyajikan kinerja yang dihasilkan dengan indikator yang terukur. serta dilengkapi dengan analisis hasil pengukuran. harus dapat diukur secara tepat. Oleh karena itu. Permenpan dan RB Nomor 35 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011. dibandingkan dengan dokumen perencanaannya. 2. PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Menyusun laporan akuntabilitas kinerja secara sistematis. Indikator-indikator kinerja yang menjadi target setiap tahunnya. dan 2. Sebagai wujud implementasi SAKIP tersebut. Apabila terdapat data dan informasi tambahan. yang dilaksanakan berdasarkan. 2. Oleh karena itu. LAKIP tersebut. sebagai penjelasan atas kelengkapan kinerja yang telah dicapainya. Dokumen perencanaan tersebut. Oleh karena itu. Indikator Kinerja Kegiatan dan dilakukan pengukuran hasil kinerjanya. Rencana Strategis pada setiap SKPD. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran Daerah. penting bagi setiap daerah memiliki perencanaan kinerja tahunan secara terukur dan menerapkan kontrak kinerja di setiap unit kerja instansi pemerintah. 3. Memiliki dokumen perencanaan yang baik. Surat Keputusan Menpan Nomor: KEP-135/M. Setiap kinerja yang dihasilkan oleh instansi. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). antara lain: 1. maka instansi pemerintah harus menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) setiap tahunnya. harus dimanfaatkan dengan baik sehingga terwujud konsistensi antara rencana yang telah ditetapkan dengan implementasinya. antara lain Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). yakni: 1. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. valid dan sedapat mungkin dalam bentuk kuantitatif.

3. diperlukan dukungan non-infrastruktur berupa pelaksanaan. Merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung strategi MP3EI (seperti Bea Keluar beberapa komoditi). perlu upaya bersama untuk mengatasi permasalahan yang membutuhkan perbaikan regulasi dan perijinan. Pembagian tanggung jawab terkait dengan regulasi/perijinan bersifat lintas kewenangan: Pemerintah Pusat. Kabupaten dan Kota.5. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan dari sisi administrasi. diantaranya: 1. Untuk itu. Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah. Provinsi. dibutuhkan koordinasi yang lebih baik antara dinasi- 154 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 4. 2. struktur tarif dan waktu standar untuk ijin-ijin tertentu yang mungkin sejalan dan tidak sejalan dengan keputusan menteri yang berlaku untuk ijin yang sama.1 Regulasi Untuk mendukung realisasi percepatan dan perluasan kegiatan ekonomi utama. baik di tingkat nasional maupun daerah. Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan strategi MP3EI. LAN dan instansi lainnya yang kegiatankegiatannya memiliki keterkaitan substansi dengan peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. yakni Kementerian PAN dan RB. Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan.5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5.Dalam menempuh strategi peningkatan akuntabilitas kinerjanya seperti di atas. 5. pemerintah daerah hendaknya dapat berkonsultasi dengan beberapa instansi. Untuk itu. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan mereka sendiri. selain percepatan pembangunan dukungan infrastruktur. Mempercepat penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang. BPKP Perwakilan di setiap provinsi. maupun antara sektor/lembaga. 5. penetapan atau perbaikan regulasi dan perijinan. Peran Pemerintah Daerah Upaya-upaya debottlenecking tersebut tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. Tujuan umum yang ingin dicapai dalam perbaikan regulasi dan perijinan adalah sebagai berikut: 1.

Hal ini dapat menghambat proses pemberian ijin usaha bagi investor karena salah satu kriteria pemberian ijin usaha adalah kesesuaian dengan tata ruang. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 155 . Semua hal ini harus berpedoman pada UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Untuk itu. Namun agar pelaksanaan pembangunan tidak terhambat. maka perlu upaya untuk:  Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah.  Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan MP3EI. (2) menurunkan biaya logistik. Masih banyaknya Provinsi dan Kabupaten/Kota yang belum merevisi RTRW sesuai dengan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 2. (3) mengurangi ekonomi biaya tinggi. maupun antara sektor/lembaga. maka daerah dapat tetap menggunakan RTRW yang berlaku.  Merevisi atau menerbitkan peraturan daerah yang sangat dibutuhkan untuk mendukung percepatan pelaksanaan MP3EI.dinas perijinan di daerah dan departemen teknis. Hal ini dikarenakan kurangnya “pemahaman filosofi dan prinsip pungutan” sehingga diperlukan kejelasan subjek dan objeknya. Terkait debottlenecking regulasi yang menghambat proses investasi di daerah. jasa dan informasi. kecuali pada kawasan yang masih konflik dengan kawasan kehutanan. dan (5) mewujudkan akses yang merata di seluruh wilayah. Panduan perijinan usaha yang jelas dan lengkap akan meniadakan inkonsistensi antara peraturan-peraturan di tingkat pusat dan daerah dan mengurangi inefisiensi dan peluang untuk melakukan tindak korupsi. perlu adanya percepatan penyelesaian penyusunan RTRW. 4.2 Konektivitas Percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur dalam kerangka penguatan konektivitas nasional telah ditetapkan menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan MP3EI. 3. 5. serta koneksi antara tujuan dan isi peraturan daerah (Perda). Tujuan utama penguatan konektivitas nasional tersebut adalah (1) meningkatkan kelancaran arus barang.5. Banyaknya pungutan/retribusi yang diterapkan di daerah. kejelasan hak dan kewajiban wajib pungut/pemerintah daerah.  Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. (4) mewujudkan sinergi antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

pengembangan Bandara A. Pendanaan pembangunan infrastruktur melalui APBN sangat terbatas.5. 2. Yani. Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan. Dengan demikian multiplier-effects untuk mendorong pembangunan daerah akan lebih besar (contoh sinergi antara pembangunan jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. 5. jaringan irigasi primer dengan irigasi sekunder dan tersier). Komitmen untuk mensukseskan MP3EI bukan hanya antara Pemerintah Pusat. sehingga pemanfaatan infrastruktur nasional perlu disertai dan disinergikan dengan pembangunan infrastruktur provinsi dan lokal. untuk mengoptimalkan pelaksanaan MP3EI perlu upaya sinergitas nasional dan daerah dalam pembangunan infrastruktur.3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK menjadi salah satu dari 3 (tiga) strategi utama pelaksanaan MP3EI. penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo (Ungaran-Bawean dan Bawean-Solo). diantaranya: 1. pembangunan Waduk Jati Barang. Membangun komitmen untuk mensukseskan penyediaan infrastruktur dalam mendukung MP3EI. Para Gubernur perlu mengidentifikasi pembangunan infrastruktur nasional yang "strategis dan penting“ untuk mempercepat pembangunan daerah yang bersangkutan (contoh Gubernur Jawa Tengah mengusulkan pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas. Akan tetapi.Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam rangka mensukseskan MP3EI selain berperan dalam mensinergikan kebjiakan di daerah dengan kebijakan Pemerintah Pusat. namun Pemerintah daerah juga harus terlibat aktif sehingga anggaran belanja modal daerah dapat dipakai untuk mendukung platform besar ini. mesin 156 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Peran Pemerintah Daerah Untuk mempercepat pencapaian tujuan konektivitas nasional. Mendorong percepatan proses pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur di wilayahnya dengan berpedoman kepada UU No. Gubernur NTB mengusulkan pembangunan Waduk Pandan Duri dan Jalan Trans Nusa Tenggara). dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang akan digunakan sebagai landasan penyusunan RAPBN. 2. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang telah disahkan oleh DPR. Pemerintah Daerah juga sangat sentral untuk: 1. dalam jangka pendek Pemerintah telah memprioritaskan percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur disetiap koridor ekonomi. BUMN dan swasta.

MP3EI mendorong dan memberdayakan upaya masyarakat. di Gresik Utara Provinsi Jawa Timur. kakao dan perikanan. Mendukung pengembangan program pendidikan vokasi. b. 2. antara lain: a. Dalam konteks ini. dunia usaha dan universitas sebagai pengelola community college. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Energi yang berbasis non-renewable dan renewable energy di Provinsi Kalimantan Timur. diharapkan akan menghasilkan lulusan yang langsung dapat diserap oleh kegiatan ekonomi di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di setiap koridor ekonomi. Oleh karena itu. diantaranya dalam: 1. Politeknik tersebut dikembangkan sesuai dengan potensi dan keunggulan setiap koridor ekonomi. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Agroindustri. Mutu community college dibina oleh politeknik yang dikembangkan di ibukota provinsi. untuk pengembangan kelapa sawit. Di setiap kabupaten/kota minimal harus dikembangkan pendidikan tinggi setingkat akademi (community college) atau politeknik dengan bidang-bidang yang sesuai dengan potensi di kabupaten tersebut. pengembangan pelatihan kerja dan pengembangan lembaga sertifikasi. tujuan utama di dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mendukung hal tersebut diatas haruslah bisa menciptakan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan sains dan teknologi.pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi. peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. c. diploma 2 dan diploma 3. pemerintah daerah yang sudah memiliki inisiatif untuk menumbuhkembangkan potensi inovasi pada beberapa produk dan program unggulan wilayah. Pengembangan community college. pengembangan sumber daya manusia juga dilakukan dengan pengembangan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pembentukan klaster inovasi daerah untuk pemerataan pertumbuhan. pelaku usaha. dalam pengembangan SDM dan IPTEK juga membutuhkan peran dari setiap Pemerintah Daerah. Peran Pemerintah Daerah Untuk itu. yang menyelenggarakan program diploma 1. Selain pengembangan pendidikan tinggi. Model pengembangan kawasan industri inovasi produk-produk hilir yang terintegrasi. Program pendidikan vokasi didorong untuk menghasilkan lulusan yang terampil. Oleh karena itu. pengembangan program pendidikan vokasi harus disesuaikan dengan potensi di masing-masing koridor ekonomi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 157 . Oleh karena itu pengembangan community college dilakukan dengan secara bersama-sama antara pemerintah.

Dr. Pendekatan partisipatif terjadi dimana jika perencanaan dan penganggaran melibatkan semua stakeholder. Mekanisme perencanaan dan penganggaran pada umumnya menggunakan lima pendekatan dasar. (ii) pendekatan politik. Pendekatan politik akan menghasilkan rencana pembangunan sebagai hasil penjabaran visi misi presiden atau kepala daerah yang dijabarkan dalam RPJMN atau RPJMD. Sementara yang melalui proses teknokratik menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional yang menjadi tugasnya. Kelima pendekatan tersebut sangat penting digunakan dalam proses perencanaan dan penganggaran pemerintah khususnya digunakan untuk menyusun dan memformulasikan suatu kebijakan.4 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah Sinergi Input. Gambar 5. 26 Juni 2012. Sedangkan pendekatan top down dan bottom up dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. Output. Menteri PPN/Kepala Bappenas dalam Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Daerah melalui Reformasi Birokrasi. Outcome Daya Saing Daerah Memperhatikan Kemajuan Teknologi dan Perubahan Kelembagaan Berkelanjutan Bersaing secara nasional maupun internasional Sumber: Prof. serta (v) pendekatan bottom up. (iii) pendekatan partisipatif. Jakarta. yaitu: (i) pendekatan teknokratik. Armida Salsiah Alisjahbana.6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik Proses perencanaan dan penganggaran yang baik akan sangat berperan penting dalam meningkatkan peran pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) 158 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . MA.5. salah satunya adalah melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). (iv) pendekatan top down. SE.

Melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. kegiatan dan alokasi anggaran daerah sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. antar ruang. 2. dengan tetap memperhatikan perubahan teknologi dan institusi yang ada di daerah tersebut agar dapat bersaing dengan baik di tingkat nasional maupun internasional sehingga mampu meningkatkan standar kehidupan masyarakat. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. berkeadilan dan berkelanjutan. efektif. menjaga iklim investasi. (2) terciptanya integrasi. antar waktu. Memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran . Hal ini dapat dilakukan melalui: (i) sinkronisasi tujuan. Menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. Daya saing daerah adalah kemampuan untuk mensinergikan antara input. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. pelaksanaan dan pengawasan. sasaran. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 159 . program. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. 3. output dan outcome yang ada di daerahnya secara berkelanjutan. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: 1. dan (ii) sinkronisasi renstra SKPD dengan renstra K/L sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. penganggaran. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah.koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah.

Namun ternyata potret berbeda diperoleh saat survei dilakukan di 20 kota di Indonesia dari 400 kota di dunia yang terpilih dalam survei Sub National Doing Business (SNDB). Dari hasil survei kemudahan berusaha tingkat global. Berdasarkan survei SNDB. daya saing berusaha di Indonesia dibandingkan negara lain masih belum baik. Posisi Thailand dan Malaysia terus menerus membaik. Bahkan untuk beberapa indikator kota-kota tersebut dapat lebih cepat dengan prosedur yang lebih pendek dibandingkan rata-rata 20 kota di Indonesia yang disurvei dan APEC. bahkan dari rata-rata anggota APEC. sementara Bandung (Jawa Barat) dan DKI Jakarta adalah yang termudah dalam mendaftarkan properti. Balikpapan (Kalimantan Timur) merupakan kota termudah dalam mengurus ijin mendirikan bangunan. Sementara Singapura tetap menduduki posisi pertama selama 4 tahun berturut-turut. bahkan pada tahun 2012 telah berada pada peringkat tidak lebih dari 20.1 Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Peringkat daya saing Indonesia dalam Ease of Doing Business (EODB) tahunan yang dilaksanakan oleh IFC Bank Dunia. kota dengan kemudahan perijinan menjadi salah satu pertimbangan bagi para pengusaha untuk membangun atau mengembangkan usahanya. Jambi dan Palembang dalam memberikan kemudahan mendirikan bangunan lebih cepat dan lebih murah dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia. Survei tersebut dilakukan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di kota-kota bisnis dunia. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Memulai Usaha 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Surakarta Jambi Manado Indonesia (rata-rata) Modal disetor minimum (% per kapita) Jumlah prosedur Waktu (hari) Biaya (% per kapita) Balikpapan. 160 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 APEC (rata-rata) Yogyakarta Palangkaraya Medan . Secara nasional. Thailand dan Malaysia. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa posisi Indonesia yang pada tahun 2011 berada pada peringkat ke 126 menurun menjadi ke 129 pada tahun 2012.Boks 5. jauh di bawah negara anggota ASEAN seperti Singapura. Yogyakarta adalah kota termudah dan tercepat dalam mendirikan usaha. Untuk Indonesia diwakili oleh Jakarta.

Bandung. IFC Bank Dunia Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Asia timur dan Pasifik (ratarata) Semarang 161 .1 (Lanjutan) Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendirikan Bangunan 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Balikpapan Jambi Palembang Indonesia (rata-rata) Denpasar Manado Jakarta APEC (ratarata) Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per kapita) Dalam memberikan kemudahan mendaftarkan properti. Palembang lebih cepat dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia dan terhadap rata-rata negara Asia timur dan Pasifik.Boks 5. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendaftarkan Properti 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Bandung Palembang Indonesia (rata-rata) Jakarta Pekanbaru Batam Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per properti) Sumber: Doing Business di Indonesia 2012. Jakarta.

dengan didukung kondisi kantor yang nyaman. Daerah-daerah tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip Good Public Governance. Dengan tidak mengesampingkan prestasi dari daerah-daerah lain yang juga tengah berbenah menuju birokrasi yang friendly. 162 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pengajuan ijin usaha dan pelaporan. namun dengan berdirinya PTSP yang memberlakukan kemudahan.Boks 5. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat karena pada awalnya. Bahkan selanjutnya kantor-kantor tersebut mendapat brand image baru yang positif. masyarakat termasuk investor enggan berhubungan langsung dengan aparat. maka kantor pelayanan perijinan Kota Parepare dan Kabupaten Sragen merupakan sebagian contoh pelaksanaan pemberian pelayanan perijinan prima yang berhasil disediakan pemerintah kepada masyarakat. merupakan hasil kerja yang didesain (by design) dan dilakukan terus menerus sehingga memperoleh kepercayaan masyarakatnya. di kedua kota/kabupaten tersebut dapat memberikan pelayanan beberapa perijinan dan non perijinan dalam waktu dan dengan biaya yang terukur jelas (lama dan besarannya). dalam lingkup daerah yang bersangkutan. petugas dengan seragam pegawai swasta yang siap melayani dengan senang hati maka secara perlahan PTSP mendapat kepercayaan dari masyarakat. Dengan kemajuan kualitas pelayanan dari kedua daerah tersebut telah menumbuhkan optimisme baru terhadap kinerja birokrasi dan menyemangati adanya harapan bagi bangsa ini untuk tampil lebih baik dan berdaya saing nantinya. transparansi dan keramahan dalam pengurusan berbagai surat.2 Kisah Sukses Pelaksanaan PTSP di Parepare dan Sragen Fenomena membaiknya pelayanan publik dalam beberapa tahun terakhir ini bisa dijumpai di beberapa daerah yang telah membangun pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) atau yang dikenal dengan One Stop Services (OSS) antara lain di Kota Parepare dan Kabupaten Sragen. Dengan dicapainya ISO 9001:2000 atas kualitas manajemennya. Untuk meraih status sebagai PTSP yang mampu menyediakan layanan prima.

Slogan tersebut ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas pelayanan perijinan. NPWP. Beberapa contoh perijinan yang dapat diproses dengan cepat antara lain. perijinan dan non perijinan di bidang penanaman modal. TDP. izin trayek angkutan kota dan izin usaha angkutan hanya dua hari. Piagam sebagai PTSP kota terbaik dari Mendagri tahun 2007. Untuk menjaga transparansi. investment award/PTSP kota terbaik dari BKPM tahun 2011. Di kantor tersebut dengan jelas dipasang slogan “kawasan bebas korupsi” dan “apabila bisa dipercepat kenapa diperlambat?”. TDI. keberhasilan pelaksanaan KPPT Parepare telah menjadikan sumber informasi tidak kurang dari 115 daerah/lembaga pada seminar dan sosialisasi pelayanan PTSP. Selain itu. telah menjadikan percontohan setidaknya bagi 359 kabupaten/kota/lembaga yang datang berkunjung. rata-rata hanya 15 menit. Piagam Mendagri atas prestasi kontinuitas konsekuensi dan komitmen pelaksanaan PTSP tahun 2009. antara lain: SIUP. Proses pembayaran dilakukan di Bank Sulawesi Selatan. seperti izin tempat usaha. 2006. Kualitas kinerja manajemen KPPT Parepare telah mencapai sertifikat ISO 9001 versi 2000 pada tahun 2004. maka pada besaran biaya dan angka dicantumkan pada bagian bawah surat keterangan yang dikeluarkan sesuai dengan perda dan juga jumlah yang dibayarkan di bank. piala otonomi award tahun 2009 sampai dengan 2011. Sulawesi Selatan Kantor pelayanan perizinan Parepare berdiri sejak bulan Juni 2011. sementara izin pemasangan reklame sekitar tiga hari. penghargaan dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah dan penghargaan dari The Asia Foundation.9 persen selama periode tahun 2003 sampai dengan 2011. Untuk NPWP. Akta catatan sipil. 2007 dan renewal and upgrade ke ISO 9001:2008 pada tahun 2011. Prestasi yang diperoleh KPPT Parepare selain sertifikat ISO. antara lain adalah: Piala Citra Pelayanan Prima dari Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) tahun 2002. untuk pengurusan KTP. Beberapa perijinan bahkan dibebaskan dari biaya.2 (lanjutan) Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Parepare. sehingga tidak ada uang beredar di PTSP tersebut. ijin usaha kepariwisataan. keterangan dari tetangga dan hal lain yang diperlukan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku. Waktu yang diperlukan untuk mengurus izin atau mendapatkan surat keterangan berkisar dari 15 menit hingga tujuh hari. Proses yang memakan waktu sampai tujuh hari biasanya hanya izin-izin yang membutuhkan verifikasi. Piagam dari Mendagri sebagai narasumebr Permendagri No 24 tahun 2006 tentang PTSP tahun 2006. izin gudang. Banyaknya prestasi yang diperoleh KPPT Parepare. ijin peruntukan penggunaan tanah. 2009. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 163 . Implementasi KPPT Parepare telah membantu berperan meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di Kota Parepare yang tercermin dari meningkatnya jumlah perijinan yang diproses dan berimplikasi pada peningkatan PAD yang mencapai 442.Boks 5. biasanya kurang dari satu hari atau setengah hari. industri dan lainnya yang memerlukan pengecekan ke lapangan untuk melihat lokasi.

Untuk meningkatkan kelancaran pelayanan.843. TDP dan TDI paling lama memakan waktu 3 hari.000.300. Latar belakang berdirinya BPT Sragen adalah adanya keinginan masyarakat akan kemudahan dan penyederhanaan pelayanan pemerintah untuk mendorong laju perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Penerimaan retribusi disetorkan langsung ke kas daerah sesuai rekening dinas masing-masing.00 950. Untuk menjaga kualitas pelayanan.3 1.582 2 2004 38.72 1 2003 39.000.0 1.958 Sumber: Perijinan usaha.00 1.2 902. memproses dan menandatangani dokumen perizinan. BPT Sragen juga terpilih sebagai best practice modul oleh JICA Jepang dan dibuat film yang kemudian diedarkan ke berbagai kabupaten/kota di Tanah Air. Bahkan.00 703. Ranking I daerah Pro Investasi di Jateng tahun 2005.Boks 5.329 7 2009 53. Semua informasi lamanya proses perijinan dan formulir dapat dengan mudah diakses dari website pemerintah kabupaten. Jawa Tengah Badan Palayanan Terpadu (BPT) Sragen beroperasi secara resmi pada bulan Oktober 2002 dengan slogan: “Satu hati untuk melayani. Selain itu. Proses pelayanan untuk beberapa perijinan di BPT Sragen dapat dilakukan secara paralel antara perijinan satu dengan yang lainnya dengan maksimal waktu 12 hari. penerimaan retribusi dan realisasi investasi sebagai berikut: No Tahun Jumlah Pemohon Penerimaan Retribusi (Rp Juta) 935.6 1.2 Realisasi Investasi (Rp Juta) 526. sementara untuk pajak reklame hanya memerlukan 1 hari.272 4 2006 45.304 3 2005 48. Untuk pengurusan SIUP.00 926.00 1.073.718.00 1.4 1. investment award/PTSP kabupaten terbaik dari BKPM tahun 2010. dengan membuat buku panduan tentang OSS yang diedarkan di seluruh kabupaten/kota di Tanah Air.200.000.000.8 2.380 6 2008 56.000.110 8 2010 91.203. BPT Sragen membuat survei kepuasan pelanggan setiap enam bulan sekali.180. Keberadaan BPT Sragen selama ini memberikan dampak positif bagi perkembangan dan pembangunan Kabupaten Sragen antara lain meningkatnya jumlah pemohon.2 (lanjutan) Badan Pelayanan Terpadu Sragen.9 1.417. Mudah cepat. transparan dan pasti”.00 1.628.000. BPT Sragen direkomendasikan ADB dan IFC sebagai model KPT di Indonesia.000. BPT Sragen menerima pendelegasian kewenangan langsung dari Bupati sehingga memiliki kewenangan menerima. BPT Sragen menerapkan sistem online yang terhubung dengan kantor-kantor kecamatan di bawahnya dan pemohon dapat melakukan pengecekan sampai dimana berkas sudah diproses ( tracking document) melalui internet. BPT Sragen 164 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Penghargaan yang diterima KPT Sragen selain sertifikat ISO 9001-2000 dari Sucofindo International Certification Service antara lain adalah: penghargaan Satya Abdi Praja dari Gubernur Jateng.350. Citra Pelayanan Prima dari Presiden.200.633 5 2007 57.

Dr. Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P. Sumber: Direktorat Perkotaan dan Perdesaan. Pemberian penghargaan ini dilakukan melalui penilaian terhadap dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi tahun 2012.Boks 5. Herman Haeruman (IPB). Bambang Bintoro Soedjito (ITB). Prof. 53/M. Agung Pambudhi (KPPOD). Herman Haeruman (IPB). terukur dan dapat dilaksanakan. konsisten. Kodrat Wibowo (Unpad). Dr. Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P. Dr.3 Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Anugerah Pangripta Nusantara diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS bertujuan untuk mendorong setiap daerah untuk menyiapkan dokumen rencana pembangunan secara lebih baik. Prof. komprehensif. Bambang Bintoro Soedjito (ITB). tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. serta sekaligus menciptakan insentif bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang lebih baik dan bermutu. Bappenas Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. 53/ M. Dr. tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof.PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012.PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. Agung Pambudhi (KPPOD). Kodrat Wibowo (Unpad). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 165 .

juga diberikan penghargaan dalam bentuk piagam kepada 3 provinsi nominasi terbaik. 4. Dinamis dan Sejahtera”. proenvironment. kerangka kebijakan keuangan daerah. 3.Boks 5. Kedalaman dan kelengkapan dokumen RKPD 2012 dalam menyajikan kerangka ekonomi daerah. pro-job. yaitu: Provinsi NAD. Keterkaitan dokumen RKPD 2012 dengan dokumen RPJMD Provinsi dan RKP 2012. Pemberian trophy penghargaan Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012 oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas kepada para Kepala Bappeda yang mewakili 3 provinsi pemenang dilakukan pada saat acara penutupan Pra-Musrenbangnas tanggal 25 Mei. pemenang pertama. Jawa Barat Tahun 2012 oleh Kepala Bappeda 166 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 2. Provinsi Jawa Barat. Proses Perencanaan di Jawa Barat Tema Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 mengusung tema pembangunan “Mengintegrasikan Peran Investasi Dunia Usaha dalam Menghela Pembangunan Sektoral dan Kewilayahan Bersifat Monumental untuk Mempercepat Terwujudnya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri. 5. isu strategis dengan prioritas dan prioritas dengan anggaran. kepemimpinan dan kesiapan pelaksanaan. yaitu: 1. 3. arah kebijakan dan prioritas pengembangan wilayah dan strategi dan arah kebijakan pro-growth.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Penilaian didasarkan pada 5 (lima) kriteria. serta percepatan pencapaian tujuan MDGs. analisa. pemenang kedua. serta Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 yang dilihat dari tingkat intensitas konsultasi dengan para pemangku kepentingan. Konsistensi dokumen RKPD 2012 terutama konsistensi hasil evaluasi dengan isu strategis. Paparan RKPD Prov. 2. pemenang ketiga. Keterukuran tujuan dan sasaran RKPD 2012 yang dilengkapi dengan indikator kinerja dan prakiraan maju anggaran tahun berikutnya. pro-poor. Ketiga provinsi pemenang yaitu: 1. Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta. Disamping itu. Provinsi DI Yogyakarta.

(2) 6 Indikator Pembangunan. Pengembangan infrastruktur wilayah.Boks 5. Peningkatan kualitas kesehatan. 9. pemerintah daerah dan DPRD merupakan 4 pilar utama pembangunan Jawa Barat. Pengangguran. Angka Kematian Bayi. Tahap Proses Penyusunan RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 6.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Prioritas Pembangunan Jawa Barat Penyusunan RKPD 2012 Provinsi Jawa Barat memperhatikan 4 Sasaran Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu melalui. Angka Harapan Hidup. Kemiskinan. dunia usaha. akademisi. Pro Job. Angka Pendapatan per Kapita. (1) RPJMN (2010-2014). 7. Peningkatan daya beli masyarakat. Masyarakat. Provinsi Jawa Barat menetapkan 10 (sepuluh) Prioritas Pembangunan (Common Goals) yaitu: 1. Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 memadukan alur teknokratis. Berdasarkan sasaran tersebut. (3) Millenium Development Goals (MDG’s). 10. partisipatif/ bottom-up. Kemandirian energi dan kecukupan air baku. Kemandirian pangan. Peningkatan kualitas pendidikan. 3. Peningkatan kinerja aparatur. dan (4) Inpres No. Pengembangan budaya lokal dan destinasi wisata. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan ( Pro Growth. 5. 2. Pembangunan perdesaan. Pro Poor dan Pro Environment). 4. 8. yaitu: Pertumbuhan Ekonomi. Penanganan bendana dan pengendalian lingkungan hidup. Sumber: Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Provinsi Jawa Barat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 167 . topdown dan juga unsur politis.

Cirebon dan Priangan. yang terdiri dari Bogor. pemerintah memfasilitasi agar masyarakat dapat beraktivitas dan meningkatkan kesejahteraannya. Sementara itu. Timely). masyarakat Jawa Barat didorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Dalam konteks perencanaan spasial. Pemerintah provinsi Jawa Barat menerapkan satu basis data untuk kepentingan penyusunan perencanaan dan kegiatan pembangunan. 168 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Resources availability.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Berpijak pada prinsip pembangunan daerah untuk rakyat (Regional Development for People). Dengan menggunakan basis data tersebut. Purwakarta. Measurable.Boks 5. Provinsi Jawa Barat membagi wilayahnya menjadi 4 (empat) wilayah pengembangan berdasarkan karakteristik lokasi dan kegiatan tematik. Achievable. program dan kegiatan dalam RKPD dirancang melalui pendekatan SMART (Specific.

000 hingga Rp. 700. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan dikeluarkannya Instruksi Bupati Pacitan kepada masyarakat di wilayah Pacitan untuk mengembangkan dan menerapkan model RPL serta Instruksi Kodam Brawijaya Jawa Timur yang ditindaklanjuti oleh Kodim Pacitan kepada anggota untuk mengembangkan RPL di lokasi kantor Kodim maupun Koramil. diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. saat ini di sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Pacitan telah mengadopsi model RPL.Boks 5. rumah tangga yang telah mengadopsi model RPL sebanyak 620 KK dari 821 KK yang ada (sekitar 77%). program ini menunjukkan kemampuannya dalam menaikkan pola pangan harapan terutama untuk kemandiran desa dan rumah tangga. 170. Program MKRPL di salah satu dusun di Desa Kayen. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (Model KRPL)” yang merupakan himpunan dari Rumah Pang an Lestari (RPL) yaitu rumah tangga dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Salah satu dampak positif yang dirasakan dari penerapan program KRPL di Pacitan ini adalah berkurangnya pengeluaran rumah tangga petani berkisar Rp. pelestarian tanaman pangan untuk masa depan melalui kebun bibit desa. di lingkungan Kantor Kodim (Komando Distrik Militer) dan di semua Kantor Koramil (Komando Rayon Militer) di wilayah Kabupaten Pacitan telah pula mengembangkan model RPL. Terkait dengan hal ini. Selain itu. Jawa Timur Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Sebagai gambaran.4 Kisah Sukses Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) di Pacitan.000 per bulan. pemanfaatan lahan perkarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga. untuk desa Kayen. Relatif cepatnya proses adopsi model KRPL di Kabupaten Pacitan antara lain didukung oleh adanya komitmen Pemerintah Daerah untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui pengembangan diversifikasi pangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan menerapkan model KRPL. Jawa Timur di awali pada Februari 2011 dengan melibatkan 35 KK. Kecamatan Kota Pacitan. Melalui berbagai tahapan mulai persiapan sampai pelaksanaan dengan melibatkan semua pihak terkait serta pendampingan teknologi dari Badan Litbang Pertanian. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 169 . konservasi sumberdaya genetik terutama untuk pangan lokal.

BKAD Tegallalang merupakan kepengurusan yang ideal karena berasal dari berbagai unsur. Kabupaten Gianyar maka wajar apabila pada tahun 2012 BAKD Tegallalang dipilih dan ditetapkan sebagai BKAD terbaik nasional secara kelembagaan. Koperasi. Oleh karenanya. keberhasilan BKAD Tegalalang terutama pada upaya untuk mengajak masyarakat untuk menjadi subjek pembangunan di desanya. baik pimpinan adat atau Bendesa. Selanjutnya. Hal inilah yang tercermin dari keberhasilan peran pengurus Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Tegalalang. Bali. BKAD Tegallalang juga telah melakukan fasilitasi dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat miskin seperti pembuatan rumah layak huni bagi masyarakat miskin dan program bedah rumah yang didanai dari surplus hasil pengelolaan SPP. yaitu melalui rapat koordinasi (rakor) di tingkat kecamatan dengan segenap kelembagaan di kecamatan. Kabupaten Gianyar. S Suasana Rakor BKAD Fasilitasi BAKD Dalam Pengelolaan Dana Bergulir Pada tahap perencanaan. BKAD melaksanakan tugasnya mulai dari proses sosialisasi program. Bank dan beberapa pengusaha kecil di bidang kerajinan tangan dan perdangan. dengan melihat hasil nyata yang telah ditunjukkan dari intensitas dan keseriusan BKAD Tegallalang dalam memfasilitasi upaya penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Tegallalang. seperti Lembaga Perkreditan Desa. praktisi ekonomi. Namun demikian.Boks 5. praktisi pendidikan dan unsurunsur yang ada di dalam masyarakat tradisional Bali. Setelah adanya Program Paras-paros dari Kabupaten Gianyar dan PNPM Mandiri Integrasi. yang kemudian dilanjutkan dengan fasilitasi proses pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi bersama-sama dengan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya. usulan kegiatan dalam PNPM Mandiri justru berasal dari Subak maupun Desa Pekraman. Secara kelembagaan. Pada tahap pelaksanaan. BKAD Tegallalang melakukan kerjasama dengan berbagai pelaku ekonomi di wilayah kecamatan. 170 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . fasilitasi dalam tahap perencanaan dilakukan BKAD melalui proses penggalian gagasan di dusun atau banjar. BKAD Tegalalang menciptakan kerjasama yang baik dengan desa dinas maupun Desa Adat atau Desa Pekraman. Dalam pengelolaan dana bergulir Simpan Pinjam Perempuan (SPP).5 Keberhasilan BKAD Tegalalang Dalam Memfasilitasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perdesaan Keberhasilan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan sangat tergantung kepada intensifnya fasilitasi yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) kepada masyarakat miskin di lapangan.

Dalam hal ini. hanya diperlukan waktu 1 bulan sejak pelatihan pengelola LPSE sampai dengan terbitnyaPeraturan Gubernur tentang Tim Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Riau yang dirintis oleh Biro Administrasi Pembangunan. Dari ujicoba tersebut diperoleh pelajaran berkaitan dengan strategi implementasinya. E-Procurement mulai diujicobakan di beberapa instansi pemerintah pusat. LPSE Provinsi Riau mulai memberikan pelayanan dengan hanya bermodalkan 1 buah komputer rakitan. Kepulauan Riau. kecepatan mengambil momentum dan peran serta pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. mental dan kesiapan terhadap penerapan suatu teknologi dari seluruh pihak yang terkait. untuk dapat menyelenggarakan layanan pengadaan secara elektronik di Provinsi Riau. Efektifitas perwujudan gagasan. Keberhasilan Pemerintah Provinsi Riau (maupun pemerintah daerah yang lain) menerapkan pengadaan secara elektronik dan mendorong seluruh pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Riau. konsistensi aktor utama perubahan. Sumatera Barat. variasi kesiapan infrastruktur TIK maupun kesiapan SDM dalam adopsi dan adaptasi terhadap teknologi. pembentukan unit LPSE tidak menunggu tersedianya peralatan dan infrastruktur TIK. Gagasan ini memerlukan perubahan perilaku. Kalimantan Tengah. DI. jauh dari kebutuhan minimal suatu sistem elektronik. Meskipun LPSE Provinsi Riau dibentuk tahun 2010 setelah Pemerintah Kota Pekanbaru terlebih dahulu menerapkan e-Procurement di tahun 2009. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 171 . LPSE Provinsi Riau belum memiliki fasilitas dan peralatan teknologi informasi yang lengkap. Proses pembentukan unit LPSE Provinsi Riau terbilang cukup singkat. Pada tahap awal. dalam hal ini menghadapi tantangan berkaitan dengan luas wilayah. namun perkembangannya mampu mengikuti perkembangan penerapan e-Procurement di provinsi lain yang terlebih dahulu membentuk LPSE dan menerapkan e-Procurement seperti Jawa Barat. Tahun 2012 ini Provinsi Riau berada pada urutan ke-7 di antara provinsi-provinsi yang memiliki kemajuan pesat dalam penerapan e-Procurement dengan nilai pengadaan secara elektronik mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Jawa Timur. provinsi dan kota pada tahun 2008. jumlah pelaku usaha.6 Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Implementasi e-Procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) menjadi upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah disamping juga menjadi sebuah strategi untuk menata pasar pengadaan. Gorontalo. memerlukan komitmen kepala daerah dan inisiator perubahan.Boks 5. Penataan pasar pengadaan akan membentuk skala pasar yang lebih besar dan memungkinkan para pelaku pasar dapat mengakses seluruh volum pengadaan barang/jasa pemerintah. Yogyakarta dan beberapa Provinsi lainnya.

efisiensi yang dihasilkan adalah sebesar 12.6 (lanjutan) Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Setelah tersedianya peralatan training. Hasilnya.235 penyedia sudah dilatih oleh LPSE Provinsi Riau. Menindaklanjuti terbitnya Peraturan Presiden No. 172 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .08 Triliun dilelangkan secara elektronik pada tahun 2011. tanggal 14 Desember 2010 kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau. Sejak terbentuk. 54 Tahun 2010 yang mewajibkan penerapan pengadaan secara elektronik mulai tahun 2012. Gubernur Provinsi Riau menerbitkan Instruksi Gubernur. agar melaksanakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah secara elektronik pada tahun 2012. 427 paket dengan nilai Rp. Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota yang belum memiliki LPSE dapat memanfaatkan LPSE Provinsi Riau. Dalam kurun waktu November Desember 2010 (hanya dalam dua bulan). 500/Adm-Pemb/16. Sementara itu. Posisi saat ini. Untuk mendorong penerapan e-Procurement oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah.Boks 5. dalam kurun waktu 17 bulan (Mei 2012) seluruh LPSE Pemerintah Kabupaten/Kota terbentuk dan sudah beroperasi. 3. secara mandiri LPSE Provinsi Riau mengambil peran mendorong dan melatih Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau untuk mampu membentuk LPSE dan mengelola sistem elektronik. Juni 2012.29. 1. Hasilnya. Gubernur Riau juga menerbitkan Surat Edaran No. LPSE Provinsi Riau segera memberikan pelatihan kepada penyedia yang terdaftar di LPSE Provinsi Riau secara gratis. sudah dilatih 246 penyedia.14 persen.

Foto: Pras Widjojo .

Foto: Pras Widjojo .

BAB VI PENUTUP .

penciptaan iklim ketenagakerjaan yang lebih efisien. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu. Stabilitas ekonomi yang terjaga dan pertumbuhan yang berkelanjutan diikuti oleh perluasan kesempatan kerja dan penurunan kemiskinan. Dengan demikian. Kinerja pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika ekonomi global yang menempatkan Asia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama. peningkatan nilai tambah dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya. serta masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahnya. sementara itu ekonomi domestik perlu diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat tetap terjaga. kebijakan dan strategi yang lebih terarah di daerah akan menjadi modal dasar dalam memperkuat perekonomian domestik dan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan ke seluruh daerah. 176 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Upaya dan strategi ini tidak hanya menyangkut peningkatan produktivitas sumber daya manusia. beberapa daerah lain masih harus menghadapi tantangan terbatasnya lapangan kerja. Dilain pihak. Beberapa daerah mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan bagi percepatan kemajuan dan pembangunan ekonomi daerah. belum memadainya infrastruktur. tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi adalah tingkat persaingan di pasar global yang semakin tinggi.BAB VI PENUTUP Kinerja pembangunan ekonomi nasional selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang terus meningkat. Namun. tetapi juga ditentukan oleh pembangunan infrastruktur. penciptaan iklim investasi dan iklim usaha yang lebih kondusif.

Foto: Pras Widjojo .

---------. Jakarta. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2011. RaJawali Pers. The Indonesia Competitiveness Report 2011: Sustaining the Growth Momentum. Geneva. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Schwab. Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia. KPPOD dan The Asia Foundationa. IFC. Doing Business di Indonesia 2012: Memperbandingkan Kebijakan Usaha di 20 Kota dan 183 Perekonomian. Schwab. Piter. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia. --------. Jakarta ----------.(2012). Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Abdulah. Geneva. Pembangunan Nasional. Jakarta. Jakarta. Klaus dan Greenhill (2011). Doing Business in a More Transparent World: Comparing Regulation for Domestic Firms in 183 Economies. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Kementerian Perencanaan ---------. Profil dan Pemetaan Daya Saing Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. --------.(2012). World Economic Forum.(2011). Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013. World Economic Forum. et. PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD (2008). World Bank.(2012). Klaus dan Xavier Sla-i-Martin (2011). 178 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .(2011).al (2002). Yogyakarta. ----------.(2011). IFC.. The Global Competitiveness Report 2011-2012. World Bank. BPFE.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.