Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012-2013

MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Agustus 2012

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2012-2013: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

© Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Republik Indonesia

Foto cover Desain cover

: Pras Widjojo : Ivan W. Sjafary

Diterbitkan oleh: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

KATA SAMBUTAN

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan terbitnya Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk tahun 2012-2013. Buku pegangan ini mengambil tema mengenai: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat, sebagai rujukan dalam merencanakan berbagai strategi, program, dan kegiatan pembangunan di seluruh Wilayah Nusantara. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Di tengah kondisi persaingan ekonomi global yang masih tidak menentu, penguatan ekonomi domestik menjadi syarat mutlak agar Indonesia dapat tetap menjaga pertumbuhan yang berkualitas. Sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pertumbuhan merupakan aspek prioritas yang perlu kita lakukan bersama-sama. Keberhasilan pembangunan nasional merupakan agregasi dari keberhasilan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi nasional adalah hasil akumulasi dari penguatan ekonomi di daerah. Dengan demikian, komunikasi, koordinasi dan sinergi kebijakan antara pusat dan daerah harus terus dipertahankan untuk menjaga momentum pembangunan. Konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah akan tercapai jika dijembatani oleh sinergi pusat-daerah oleh berbagai pemangku kepentingan. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di Daerah memiliki tugas dan fungsi yang penting untuk mengkoordinasikan kebijakan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya dan menjaga konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah. Saya berharap, buku ini dapat menjadi pegangan bagi segenap aparatur pemerintah dalam proses perencanaan dan penyusunan strategi pembangunan di daerah. Melalui pemahaman

konsep dan faktor-faktor penentu penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, segenap jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama menyamakan langkah untuk menyusun strategi yang terintegrasi dalam mendorong dan menjaga ekonomi domestik yang lebih berdaya tahan tinggi. Dengan terbitnya Buku Pegangan Tahun 2012-2013 ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang telah bekerja dengan itikad dan dedikasi yang baik dalam menyusunnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan dan bimbingan Nya dalam setiap upaya untuk menguatkan perekonomian nasional, agar pembangunan ekonomi Indonesia dapat lebih cepat dan lebih luas demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Terima Kasih.

Jakarta, 6 Agustus 2012 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana

2

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

RINGKASAN EKSEKUTIF

Penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan dan strategi pembangunan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi domestik. Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik, karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian, sementara pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,5 persen pada tahun 2012 dan 3,9 persen pada tahun 2013 (IMF, World Economic Outlook, Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan, keberlanjutan krisis keuangan Eropa, serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1,4 persen pada tahun 2012 dan 1,9 persen pada tahun 2013. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa, seperti: Italia, Spanyol dan Yunani, diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. Sementara itu, negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global, yang diperkirakan tumbuh mencapai 7,1 persen pada tahun 2012. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8,0 persen dan 6,1 persen pada tahun 2012. ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun 2012.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

i

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa, memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat, mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Dengan berbagai tantangan yang ada, sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sebesar 6,5 persen. Sementara itu, pada tahun 2013, diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 7,0 persen. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10,9 persen pada tahun 2012 dan 12,1 persen pada tahun 2013. Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis, Sejahtera dan Berkeadilan”. Adapun tema dari RKP, ditunjukkan pada Gambar berikut. Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP
2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

ii

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Kebijakan pemerintah dalam rangka perkuatan ekonomi domestik yang pada RKP 2013 difokuskan pada empat aspek, yang merupakan komponen penting untuk mendukung penguatan ekonomi domestik, seperti yang tercantum dalam gambar berikut. Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik

Peningkatan Daya Saing

Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK

Peningkatan Daya Tahan Ekonomi

Pemantapan Stabilitas Politik

Peningkatan daya saing untuk mendukung penguatan ekonomi domestik akan dititikberatkan kepada isu strategis: Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha, Percepatan Pembangunan Infrastruktur, Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. Adapun Peningkatan Daya Tahan Ekonomi akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Ketahanan Pangan Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta Ton dan Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Percepatan Pengurangan Kemiskinan – Sinergi Klaster 1-4. Sedangkan, Pemantapan Stabilitas Sosial Politik akan dititikberatkan pada isu strategis: Persiapan Pemilu 2014, Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi dan Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. Masing-masing faktor pendukung penguatan ekonomi tersebut memiliki kerangka dan jalur keterkaitan yang berbeda-beda untuk menghasilkan ekonomi domestik yang lebih berdaya saing dan lebih berdaya tahan. Untuk itu, kerangka keterkaitan isu strategis dengan penguatan ekonomi domestik telah dijabarkan secara rinci di dalam Bab IV dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam memahami arti pentingnya isu strategis terhadap pembangunan daerah dan pembangunan nasional. Dengan memahami kerangka keterkaitan ini, diharapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki pemahaman yang sama, sehingga dapat secara bersama-sama mensinergikan pembangunan di pusat dan di daerah

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

iii

Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah. Isu strategis lainnya yang menjadi fokus perhatian setiap Pemerintah Daerah adalah pembangunan infrastruktur.dalam rangka memperkuat ekonomi domestik di tengah-tengah kondisi global yang masih belum menentu. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan dapat dilakukan melalui: 1. 4. 4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. 2. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. di dalam Bab V telah dijabarkan secara rinci strategi yang perlu dilakukan dalam setiap isu strategis serta peran Pemerintah Daerah yang perlu dilaksanakan. Sementara itu. dimana infrastruktur menjadi bagian penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. agar proses dan upaya penguatan perekonomian domestik serta peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di pusat dan di daerah dapat lebih sinergi sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah. 3. Namun demikian. efektif. 3. penganggaran. serta 5. pelaksanaan dan pengawasan. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. iv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 5. Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. dan 6. Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dan antar daerah. antar waktu. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. RKP dan RKPD). Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Menjamin terciptanya integrasi. Kemudian. adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. berkeadilan dan berkelanjutan. RPJM dan RPJMD. dalam upaya meningkatkan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. antar ruang. Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. 2. Sebagai contoh.

penguatan penyuluhan dan lain-lain. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. menjalankan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi secara intensifikasi. masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. Secara makro. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. Pengembangan SDM menjadi salah satu isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. kemudian peran Pemerintah Daerah dan Petani sangat diperlukan dalam menerapkan System of Rice Intensification. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara bersama-sama memiliki peran untuk peningkatan perluasan areal tanam. pengamanan pasca panen. Sementara.pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik. dengan memainkan peran masing-masing dalam menjalankan strategi tersebut. Sebagai contoh. pemerintah pusat. terpencil dan perbatasan. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu memiliki strategi bersama. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggungjawab termasuk pembiayaan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut. secara makro pemerintah pusat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat v . Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. Bahkan. pengolahan pangan dan pemasaran. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. Selanjutnya. Untuk itu. layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Di sisi peningkatan daya tahan ekonomi. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridorkoridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan perekonomian domestik juga diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. kepulauan. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. distribusi. Untuk itu. yang bermukim di daerah tertinggal. Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup pembagian peran dan kewenangan. dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

terutama untuk meningkatkan daya saing daerah. pelaksanaan dan pengawasan. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: (i) melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. Sementara itu. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi. efektif. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. (ii) menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. antar ruang.dan pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. (2) terciptanya integrasi. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok. menjaga iklim investasi. vi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. dan (iii) memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran. yang salah satunya adalah melalui penerapan eprocurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. perbaikan kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi merupakan hal penting yang juga perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dalam rangka pemantapan stabilitas politik. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. Untuk itu. penganggaran. berkeadilan dan berkelanjutan. antar waktu. baik pusat maupun daerah. langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014.

Foto: Humas Foto: Bappenas Humas Bappenas .

Foto: Humas Bappenas .

......3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3..................1......2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi 3........3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global 1........1.2 Maksud dan Tujuan 4 5 2 2 3 BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 ..1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat 3.................................. 22 3......................................2 Perkembangan Ekonomi Regional 1.......1 Latar Belakang 1...........................1 Target Pertumbuhan Ekonomi 2....1..1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka 3.......1................................. 2 1.................................1 Kondisi Ekonomi Nasional 3..............2...1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global 1...............2..... viii BAB I PENDAHULUAN..............................2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah 22 22 23 26 27 27 28 30 32 32 33 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat ix ...........3...............2..............................1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah 3..............3...2 Tujuh Arahan Presiden 2....DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN RINGKASAN EKSEKUTIF .. 8 2............3 Tema dan Prioritas RKP 2013 2...................2 Kondisi Ekonomi Daerah 3..............2 Tingkat Kemiskinan 3...................................1................3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi 3..... i DAFTAR ISI ....................1 Pertumbuhan Ekonomi 3......4 Isu Strategis 2013 8 9 9 11 BAB III KONDISI TERKINI DAERAH ...

1 Kualitas SDM Aparatur 3.9.10.8.9.11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3.2 Investasi (PMTB) Per Provinsi 3.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3.5.2 Postur Belanja Daerah 34 34 35 37 37 40 41 45 46 47 50 50 55 61 61 63 65 67 68 69 71 72 74 82 82 84 87 87 90 x Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik 3.5 Infrastruktur Telekomunikasi 3.11.3 Infrastruktur Laut 3.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012 3.9.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.1 Infrastruktur Jalan 3.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi 3.5.2 Infrastruktur Udara 3.1 Pendidikan 3.11.7.2 LPSE dan E-Procurement 3.4 Implementasi SAKIP 3.5.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.9.3 Produktivitas Tenaga Kerja 3.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional 3.4 Infrastruktur Listrik 3.7.4.1 Postur Pendapatan Daerah 3.8.2 Kesehatan 3.5.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3.1 Tenaga Kerja Per Provinsi 3.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 3.3.8.4.5.5 Perkembangan Politik 3.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras 3.3 Opini LKPD 3.10.9.

2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5.1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik 4....1..............2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 4.2........ 96 4......2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 5......4..4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4.2 Aspek Peningkatan Daya Saing 4..2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT.........1 Peningkatan Ketahanan Pangan 4........3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 4...2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 120 121 127 132 134 137 137 142 143 143 145 96 97 97 99 101 105 105 109 110 110 111 113 113 114 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xi ..3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5..3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 5.3..1...1 Persiapan Pemilu 2014 4.5.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 4.......BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ..1 Peningkatan Ketahanan Pangan 5.1.3......2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi 4.....2.2...2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi 5........... 120 5.............3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4.2.....2....3......1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 5......1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 5....5.5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4.....4.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda 5.1..1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 4.1 Peningkatan Daya Saing 5.........1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 4.........3..

.....2 Konektivitas 5.......................................6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik 147 147 148 154 154 155 156 158 BAB VI PENUTUP ....2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi 5............4 Pemantapan Stabilitas Politik 5.............5.5.......... 1 78 xii Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .........4..................4....3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 5.5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5......................5..................5.... 176 DAFTAR PUSTAKA …………..................1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada 5................................1 Regulasi 5....................

20 Tabel 3.10 Tabel 3.4 Tabel 2.15 Tabel 3.2 Tabel 2.3 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 8 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing 13 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 14 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 17 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012 23 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan 24 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012) 25 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan 26 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 29 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 37 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 38 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 39 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 40 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 41 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 53 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 63 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 63 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 69 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 70 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 73 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 74 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011) 82 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) 84 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) 85 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik 93 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor 132 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 138 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi 140 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xiii .3 Tabel 3.17 Tabel 3.5 Tabel 3.1 Tabel 2.13 Tabel 3.6 Tabel 3.8 Tabel 3.1 Tabel 3.1 Tabel 5.22 Tabel 3.2 Tabel 3.23 Tabel 5.4 Tabel 3.2 Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel 2.9 Tabel 3.11 Tabel 3.14 Tabel 3.16 Tabel 3.5 Tabel 3.19 Tabel 3.18 Tabel 3.3 Tabel 2.12 Tabel 3.21 Tabel 3.7 Tabel 3.

2 Gambar 3.24 Gambar 3.12 Gambar 3.3 Gambar 3.20 Gambar 3.4 Gambar 3.13 Gambar 3.2 Gambar 2.15 Gambar 3.2011 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 .5 Gambar 3.16 Gambar 3.11 Gambar 3.1 Gambar 3.21 Gambar 3.19 Gambar 3.25 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 .22 Gambar 3.10 Gambar 3.2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 .7 Gambar 3.14 Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.23 Gambar 3.18 Gambar 3.1 Gambar 2.2009 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 10 11 12 24 26 27 28 30 31 32 33 34 35 35 36 37 38 39 41 42 44 45 46 46 48 48 49 50 xiv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .8 Gambar 3.9 Gambar 3.17 Gambar 3.6 Gambar 3.3 Gambar 3.

49 Gambar 3.51 Gambar 3.54 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 51 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 52 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 52 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 54 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 55 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 56 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 57 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 58 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 58 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 59 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 60 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 61 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.47 Gambar 3.33 Gambar 3.40 Gambar 3.30 Gambar 3.39 Gambar 3.32 Gambar 3.34 Gambar 3.44 Gambar 3.50 Gambar 3.48 Gambar 3.46 Gambar 3.29 Gambar 3.41 Gambar 3.42 Gambar 3.000 Penduduk Tahun 2010 61 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 62 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 62 UMP Wilayah Sumatera 64 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara 64 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi 64 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua 64 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 65 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 66 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 67 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 67 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 68 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 71 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 72 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 74 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 75 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 76 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xv .26 Gambar 3.Gambar 3.37 Gambar 3.35 Gambar 3.52 Gambar 3.53 Gambar 3.38 Gambar 3.31 Gambar 3.27 Gambar 3.45 Gambar 3.36 Gambar 3.28 Gambar 3.43 Gambar 3.

71 Gambar 3. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR.70 Gambar 3.5 Gambar 4.3 Gambar 4.66 Gambar 3.60 Gambar 3.9 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.57 Gambar 3. DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sistem Ketahanan Pangan Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan 77 78 79 80 81 83 83 85 88 88 89 89 90 90 91 91 92 92 96 98 99 102 104 106 108 109 111 112 xvi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .Gambar 3.67 Gambar 3.68 Gambar 3.59 Gambar 3.62 Gambar 3.55 Gambar 3.7 Gambar 4.4 Gambar 4.61 Gambar 3.72 Gambar 4.64 Gambar 3.8 Gambar 4.56 Gambar 3.69 Gambar 3.63 Gambar 3.65 Gambar 3.6 Gambar 4.10 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.58 Gambar 3.

12 Gambar 5.2 Gambar 5.3 Gambar 5.4 Skema Pencapaian Stabilitas Politik Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR.11 Gambar 4. DPD dan DPRD Tahun 2014 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah 114 115 122 128 148 158 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xvii .Gambar 4.1 Gambar 5.

.

BAB I PENDAHULUAN .

karena sebagian negara berkembang merupakan pemasok utama pasar Eropa dan Amerika Serikat. Malaysia. keberlanjutan krisis keuangan Eropa. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1. Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan. negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global.1 persen pada tahun 2012.4 persen pada tahun 2012 dan 1. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8. Hal ini kemudian berdampak terhadap menurunnya harga komoditas global non-energi terutama komoditas yang digunakan sebagai bahan baku untuk industri.BAB I PENDAHULUAN 1. aktivitas ekonomi negara-negara berkembang dan emerging market cenderung menurun. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3. karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market.9 persen pada tahun 2013 (IMF. Sementara itu. Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5. Sementara itu. serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun.4 persen pada tahun 2012. Irlandia dan Portugal). pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. World Economic Outlook.0 persen dan 6. seperti: Italia. Utang negara Spanyol mencapai €709 miliar atau sekitar 2 kali jumlah utang gabungan tiga negara yang mendapat dana talangan sebelumnya (Yunani. Spanyol yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar keempat di Eropa diprediksi akan menjadi anggota keempat Uni Eropa yang membutuhkan dana talangan. ASEAN-5 (Indonesia.1 Latar Belakang 1. Namun demikian. Thailand. Spanyol dan Yunani. dampak krisis Eropa maupun AS terhadap ekonomi Indonesia ini secara keseluruhan relatif terkendali hingga saat ini.1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa.1. Sisi permintaan yang menurun di Kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah menyebabkan volume perdagangan dunia cenderung tumbuh melambat. diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. Akibatnya. 2 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Singapura. yang diperkirakan tumbuh mencapai 7.1 persen pada tahun 2012. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian.5 persen pada tahun 2012 dan 3.9 persen pada tahun 2013. sehingga dana talangan untuk menyelamatkan perekonomian Spanyol akan menjadi beban yang berat bagi zona Eropa.

Pembentukan AEC 2015 menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang. bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk memperkuat ketahanan nasional sebagai prasyarat untuk dapat bersaing dengan bangsa lain. Kemudian pada Pertemuan 13th ASEAN Summit di Singapura bulan November 2007 ditandatangani ASEAN Charter dan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC Blueprint) yang merupakan momentum perkuatan komitmen bersama dari negara-negara ASEAN yang mengikat secara hukum bagi terwujudnya AEC. Pada Pertemuan 12th ASEAN Summit di Cebu. para kepala negara ASEAN telah mencanangkan ASEAN VISION 2020. Sasaran akhir ASEAN VISION 2020 adalah kerjasama dalam bidang politik dan keamanan. serta sosial budaya yang tertuang dalam perwujudan Masyarakat ASEAN tahun 2020 dengan berlandaskan pada tiga pilar yaitu: (i) Masyarakat Keamanan ASEAN ( ASEAN Security Community). Sementara itu. pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas. dan (iii) Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community). pelaksanaan AEC berjalan relatif lebih cepat dibandingkan dengan kerjasama di bidang politik-keamanan dan sosial budaya. China dan India menyusul sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi regional dengan statusnya sebagai negara emerging dengan populasi terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. jasa. investasi dan modal yang bebas. Dalam perkembangannya. Langkah ini hanya dapat dilakukan dengan memperbaiki kinerja Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 3 . Thailand dan Filipina). Disamping itu.2 Perkembangan Ekonomi Regional Pergeseran geopolitik dan geoekonomi dunia yang ditandai dengan menguatnya peran Asia sebagai pusat kekuatan ekonomi global telah terjadi dalam satu dekade terakhir. Malaysia. dunia usaha. investasi. serta terintegrasi dalam ekonomi global. Selanjutnya.1. serta memiliki daya saing yang ditandai dengan kemampuan menjalankan perdagangan barang. telah lebih dulu maju dengan mengandalkan perkembangan sektor industrinya. jasa. (ii) Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community). ekonomi. Laos. Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya yang memiliki total jumlah penduduk sekitar 598 juta jiwa dan nilai PDB mencapai US$ 1. bulan Januari 2007 dideklarasikan Percepatan untuk Membangun Masyarakat Bersama ASEAN (ASEAN Community) dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 (Indonesia. Myanmar dan Vietnam) dan 2010 (Singapura dan Brunei Darussalam). makmur.1. pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. Beberapa negara di Asia. Dalam rangka mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang stabil. Filipina. seperti Jepang dan Korea Selatan. maupun masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah. jasa. mempunyai daya saing tinggi. serta meningkatkan daya saing nasional. Pembentukan AEC 2015 menimbulkan tantangan bagi Indonesia berupa keharusan untuk meningkatkan pemahaman publik dalam negeri mengenai ASEAN baik bagi kalangan Pemerintah. dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata.85 triliun atau sekitar tiga persen dari PDB dunia menjadi kawasan strategis dalam tatanan ekonomi global. investasi. pembentukan AEC akan memberikan peluang bagi Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang. 2020 (Kamboja. Dalam menghadapi AEC 2015.

Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik.3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global Saat ini. Era globalisasi dan kesepakatan perdagangan bebas telah menyebabkan tipisnya batas antar negara. berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meratanya pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. baik di pasar global maupun di pasar domestik. yaitu pertumbuhan (pro-growth). pelaku ekonomi yang berdaya saing tinggi. Perekonomian domestik yang kuat. serta semakin mudahnya arus masuk dan keluar investasi dari suatu negara. Globalisasi telah mendorong semangat persaingan antar negara. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa. pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi. kesempatan kerja (pro-job). Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. sehingga setiap negara dituntut untuk meningkatkan daya saingnya dengan cara lebih produktif dan efisien. Dengan kata lain. menyejahterakan rakyat serta stabil secara keseluruhan akan bergantung kepada daerah. Dengan demikian.ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. Persaingan yang semakin ketat ini tidak hanya dirasakan di tingkat nasional. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. berdaya tahan. Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.1. rendahnya hambatan perdagangan barang dan jasa. tingkat persaingan di antara negara-negara berkembang semakin tinggi. diharapkan Indonesia akan dapat menarik manfaat dari integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan terintegrasi dalam ekonomi global. berdaya saing. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. tingginya daya saing daerah di Indonesia secara keseluruhan akan 4 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . sehingga pada gilirannya akan memberikan manfaat ekonomi secara luas bagi seluruh rakyat Indonesia. tetapi juga akan sangat terasa di tingkat daerah. 1. Hal ini menyebabkan produk barang dan jasa domestik akan mengalami tingkat persaingan yang cenderung semakin tinggi. terutama karena era otonomi daerah. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment).

2. Membangun kesepahaman tentang pentingnya dukungan daerah dalam mendorong dan meningkatkan penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu. melainkan juga menjadi tanggung jawab daerah. penguatan sinergi dan koordinasi antara Pemerintah.menjadi ujung tombak daya saing nasional. Pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong implementasi dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).2 Maksud dan Tujuan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik. baik oleh daerah dan nasional akan menjadi modal utama untuk menjaga momentum pembangunan dan melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi untuk menuju ke arah transformasi ekonomi menjadi negara maju dan berdaya saing. Keberhasilan pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut sangat ditentukan oleh peran aktif Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5 . Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota menjadi sangat penting untuk mendorong peningkatan daya saing dan penguatan ekonomi domestik. peran daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya akan sangat bergantung kepada kemampuan daerah untuk melakukan identifikasi faktor penentu daya saing dan strategi untuk meningkatkan daya saing. peningkatan kesejahteraan rakyat serta pemantapan stabilitas sosial politik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Peningkatan perekonomian domestik. bersama-sama dengan Pemerintah Pusat. Sementara itu untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. 2008). Menjelaskan langkah-langkah perencanaan dan strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di daerah. serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. 1. tujuan penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2012 – 2013 adalah sebagai berikut: 1. Oleh sebab itu. Peningkatan daya tahan ekonomi. yang akan menjadi faktor terpenting untuk Indonesia dalam bersaing di tingkat global (PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD. Secara rinci.

.

BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 .

ditingkatkan untuk mendorong peran masyarakat dalam pembangunan ekonomi.6.12.6 10.0 6.7 .0 8.5 .2 6.3 persen pada tahun 2013. moneter dan sektor riil. serta memberi dorongan fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara dengan mempertajam belanja negara.2 6.7 .9 3.5 5.6.7. dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10.12.5 . diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6.9 persen pada tahun 2012 dan 11. Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013 ) 2012 6.2 7.1 .5.5 4.1 13. Koordinasi antara kebijakan fiskal. Sementara itu.9 11.7.5-11.2 persen.9.3 6.12. Tabel 2.5 .5 – 10. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 2.0 .5 persen.1 9.7 . menjaga ekspor nonmigas.6.6 .3 12.3.9 9.1 11.9 6.8 . Persewaan.12.3 11.1 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik. pengangguran terbuka akan menurun menjadi 5.8 .2 6.7.1 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin menjadi 9.5 .8 .6.4 3.5 6. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.7. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.9 11.1 . sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sekitar 6.5 persen pada tahun 2013.4 4.1 6.1 Target Pertumbuhan Ekonomi Dengan berbagai tantangan yang ada.5 2013 6.9 . 8 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .8 .5.1 2.8 10.8 . daya beli masyarakat perlu dijaga untuk dapat tetap menjaga peran konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi.9 6.4.6.13.5 2.2 6. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut.5 .5 Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 didorong dengan upaya meningkatkan investasi.5 6.8 .10.9 8.7. pada tahun 2013.2 4.8 6.0 7.9 . Sementara itu.4-6.9 .

ditengah berbagai tantangan yang ada. Untuk itu pada Sidang Kabinet Paripurna 24 April 2012. Pada tahun 2012. 4. 5. Penguatan perdagangan dalam negeri untuk menjaga kestabilan harga. 7.5 persen. termasuk didalamnya menyelesaikan perubahan Peraturan Presiden (Perpres) No 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa Pemerintah. Program Keluarga Harapan. Presiden memberikan 7 (tujuh) arahan pokok dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6. tema pembangunan nasional adalah: “Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas.3 Tema dan Prioritas RKP 2013 Dengan berbagai kondisi perkembangan ekonomi terkini tersebut. pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP). terutama produk ekspor non migas melalui diversifikasi tujuan ekspor dengan meningkatkan keberagaman dan kualitas produk. Mengoptimalkan program perlindungan sosial antara lain Jamkesmas. pemerintah perlu melakukan upaya-upaya khusus. baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. PNPM. Mengendalikan impor produk-produk yang berpotensi menurunkan daya saing produk domestik di pasar dalam negeri. Indonesia harus siap menghadapi situasi yang dinamis dan penuh tantangan tersebut.1. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis.2 Tujuh Arahan Presiden Dalam mencapai sasaran pembangunan nasional yang tinggi. BOS dan Raskin. 2. kelancaran barang serta menciptakan iklim usaha yang sehat. Peningkatan daya saing ekspor. ditunjukkan pada Gambar 2. Adapun tema dari RKP. Pertumbuhan ekonomi tersebut pada gilirannya harus dapat menciptakan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 9 . Menerbitkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan investasi. Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”. Sejahtera dan Berkeadilan”.2. Mendorong percepatan belanja pemerintah sehingga dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi. 3. 2. Adapun arahan tersebut adalah: 1. Menjaga tingkat daya beli masyarakat dengan menjaga laju inflasi pada tingkat yang rendah. menjaga momentum pertumbuhan yang telah dicapai. 6. bahkan mempercepat dan memperluas pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif serta berkeadilan.

pembangunan nasional dalam RKP 2012 dan RKP 2013 dituangkan ke dalam 11 Prioritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya. 11 Proritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya ditunjukkan pada Gambar 2. Prakarsa-prakarsa baru tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu siap dalam mengantisipasi dan merespon berbagai perkembangan yang terjadi serta melakukan perubahan untuk mencapai kemajuan dan hasil pembangunan yang lebih baik.lapangan kerja yang lebih banyak dan pada gilirannya mempercepat pengurangan kemiskinan. dengan peningkatan daya saing nasional terutama di sektor-sektor produksi. peningkatan kualitas sumber daya manusia. termasuk di dalamnya prakarsa-prakarsa baru yang terintegrasi dengan RPJMN dan RKP untuk menanggapi situasi kekinian dan menjaga momentum positif yang telah dicapai sebagai hasil pembangunan selama ini. Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT Sumber: RKP 2013. tema pembangunan yang dituangkan dalam RKP adalah: “Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat”. Semua ini perlu didorong dengan pembangunan infrastruktur. 10 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Gambar 2. pertanian dan pariwisata.1 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP 2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas. yaitu industri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. Selanjutnya. penguatan kelembagaan. Sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014. Bappenas Pada tahun 2013. Dalam kaitan dengan itu. serta penyelesaian berbagai hambatan perekenomian terutama melalui reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi.2. potensi perekonomian domestik yang besar akan ditumbuhkembangkan guna menghadapi berbagai tantangan eksternal perlambatan perekonomian dunia. perlu didorong dengan kemampuan pemerataan pembangunan yang lebih luas. Daya tahan perekonomian terus diperkuat.

Investasi akan terus didorong. serta peningkatan kesehatan dan pendidikan sangat penting untuk mendorong produktivitas ekonomi. Kreativitas dan Inovasi Teknologi Bidang Politik.3. Isu strategis tersebut adalah peningkatan daya saing nasional. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat dan pemantapan stabilitas sosial politik. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 11 . Pembangunan infrastruktur dibangun untuk memperkuat national connectivity dan ketahanan energi. Potensi perekonomian domestik yang besar akan lebih didorong untuk berkembang. yang akan didukung oleh pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi.Gambar 2. penguatan kelembagaan. dimana terdapat empat isu strategis yang menjadi fokus pemerintah. dunia usaha dan kerjasama pemerintah dan swasta. terutama inefisiensi/hambatan-hambatan birokrasi. baik investasi yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri.2 Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan Kesehatan Penanggulangan Kemiskinan Ketahanan Pangan Infrastruktur Iklim Investasi dan Iklim Usaha Energi Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana Daerah Tertinggal. peningkatan daya tahan ekonomi. Terluar. Kebijakan pemerintah dalam perkuatan ekonomi domestik telah dituangkan pada RKP 2013. Terdepan. Bappenas 2. perekonomian domestik akan lebih ditingkatkan guna menghadapi perekonomian dunia yang masih beresiko dan persaingan yang semakin ketat. Hukum dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat Sumber: RKP 2013. korupsi dan pelayanan perijinan akan ditangani secara serius agar tercipta iklim investasi dan usaha yang lebih baik. & Pasca-konflik Kebudayaan. Untuk itu hambatan perekonomian.4 Isu Strategis 2013 Dalam tahun 2013. melalui pembiayaan pemerintah. Isu strategis yang menjadi fokus pemerintah pada tahun 2013 ditunjukkan pada Gambar 2. Pembangunan infrastruktur.

(3) 12 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . daya saing nasional dapat meningkat. Target perbaikan iklim usaha pada tahun 2013 adalah: (1) waktu memulai usaha turun menjadi 20 hari. •Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi. •Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi Klaster 1-4. Pembangunan industri didorong untuk meningkatkan nilai tambah berbagai komoditi unggulan di berbagai Wilayah Indonesia. Oleh sebab itu. •Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras •Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia. (3) waktu perolehan akses listrik menjadi 90 hari. (2) peningkatan efisiensi logistik nasional. untuk peningkatan daya saing nasional akan dilakukan juga peningkatan iklim usaha. langkah-langkah pemerintah untuk mencapai hal tersebut dituangkan pada Prioritas Nasional 7.Gambar 2. dengan upaya yang difokuskan pada: (1) penyederhanaan prosedur investasi dan prosedur berusaha.9 persen pada tahun 2012 dan 12. pertanian dan pariwisata. •Persiapan Pemilu 2014. •Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan •Percepatan Pembangunan Infrastruktur. serta (4) waktu pendaftaran properti menjadi 20 hari. utamanya industri. jika daya saing daerah lebih baik. Dalam rangka peningkatan daya saing. •Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. khususnya koridorkoridor ekonomi dalam kerangka Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sementara itu. (2) waktu perijinan mendirikan bangunan yang turun menjadi 137 hari. Sumber: RKP 2013 (diolah) Peningkatan Daya Saing Peningkatan daya saing nasional perlu ditingkatkan pada sektor-sektor produksi. Selain itu. dengan indikator pencapaiannya adalah target pertumbuhan investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) sebesar 10. peningkatan daya saing nasional perlu dilakukan melalui peningkatan daya saing daerah secara merata dan terintegrasi. •Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. iklim investasi akan terus diperbaiki. Korupsi. dimana sasarannya adalah membaiknya indikator-indikator kemudahan berusaha yang ada pada Ease of Doing Business. 10 juta ton. Namun demikian. Peningkatan daya saing nasional tidak dapat lepas dari kemampuan daerah untuk meningkatkan daya saingnya.1 persen pada tahun 2013.3 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Peningkatan Daya Saing Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Peningkatan Dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Pemantapan Stabilitas Sospol •Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha. •Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force.

50 13.4-6. khusus (KEK).pengembangan kawasan ekonomi ketenagakerjaan.50 76 11. Peningkatan Investasi (%) 1 b.1 6.50 11. Percepatan Pembangunan Infrastruktur: Domestic Connectivity a.6 395. Tingkat Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business) :  Waktu untuk memulai usaha (hari)  Perijinan mendirikan bangunan (hari)  Perolehan akses listrik (hari)  Pendaftaran properti (hari) 2.30 66 10. Bappenas 2011 2012 2013 8.1 20 137 90 20 92. Peningkatan Industri Pengolahan Nonmigas (%) 4. Sasaran yang akan dicapai dalam percepatan pembangunan infrastruktur adalah kondisi mantap jalan nasional yang mencapai 92.78 12.434 58.367 6. dan (4) harmonisasi kebijakan Percepatan pembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung penguatan konektivitas di dalam wilayah maupun antar wilayah. Peningkatan Industri Pengolahan (%) b. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 13 . Ibukota Babupaten/Kota yang dilayani Jaringan Broadband (%) 3. Pangsa Angkutan Laut Ekspor Impor (%) c.750 52.8 45 158 108 22 88. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Luar Negeri (%/tahun) g.0-6. Selama ini telah diketahui bahwa arus barang di Indonesia harus mengeluarkan biaya transportasi yang relatif tinggi sehingga tidak mampu bersaing dengan komoditas impor.2 6.500 32. Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi a. Kondisi Mantap Jalan Nasional (%) b. Pangsa Angkutan KA Barang (%) d.4 502. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Dalam Negeri (%/tahun) f. Pangsa Angkutan KA Penumpang terhadap Total Angkutan Umum (%) e.150 40.099 34. Melalui penguataan konektivitas antar wilayah dan di dalam wilayah itu sendiri diharapkan akan menurunkan biaya transportasi barang dan jasa khususnya ke daerah-daerah yang berada jauh dari lokus produksi barang yang nantinya akan menguntungkan para pelaku usaha (produsen).080 1 Data pencapaian target kemudahan berusaha tahun ke-n akan diperoleh di awal tahun ke-n+1. masyarakat (konsumen) dan pemerintah.7 7.5 persen pada tahun 2013 dan pangsa angkutan laut ekspor impor yang mencapai 12 persen.50 11 1 6 9.6 449.8 6.50 12 3 10 11.00 83 6.530 6.880 34.6 6.2 6.9 36 145 108 22 90. Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha a. Tabel 2.2 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing ISU STRATEGIS 1.5 2 8 10.50 12. Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda — Tingkat Pengangguran Terbuka (%)  Peningkatan Keahlian untuk Bekerja (orang)  Peningkatan Kualitas Pemagangan Berdasarkan Kebutuhan Industri (orang)  Peningkatan Akses Berusaha dan Berwirausaha bagi Tenaga Kerja Muda (orang) Sumber: RKP 2013.

80 48. termasuk upaya menuju surplus beras 10 juta ton per tahun mulai tahun 2014 serta pencapaian produksi perikanan 22. Konversi energi dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM.000 77. Ketersediaan listrik di seluruh wilayah Indonesia merupakan suatu keharusan.60 96. Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi  Peningkatan Rasio Elektrifikasi a. Sambungan Gas ke Rumah Tangga Sumber: RKP 2013. Dalam hal ini.39 juta ton pada tahun 2014.7 1. Penyediaan pangan pokok seperti beras tidak bisa mengandalkan dari luar negeri. untuk itu pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi (RE) sebesar 77. Bappenas 1. Selain itu. Kapasitas Pembangkit (MW)  Pelaksanaan Konversi Gas a.7 persen dan peningkatan industri pengolahan non migas sebesar 7. Rasio Elektrifikasi (%) b. Ketahanan pangan yang kuat akan menjadi salah satu pendorong dalam menciptakan perekonomian yang berdaya tahan. Pembangunan Jaringan Distribusi Gas untuk Rumah Tangga (kota) b.4 persen pada tahun 2013. tersedianya energi juga merupakan salah satu faktor pendukung daya tahan ekonomi nasional. dan (4) peningkatan kesejahteraan petani.8 1.5 100 72. PenurunanKonsumsi Beras (%/tahun) c. beberapa langkah yang akan dilakukan pemerintah yang dimasukkan dalam isu strategis ketahanan pangan adalah: (1) peningkatan produksi pangan.60 97.1 67. Selain itu. peningkatan daya saing ditargetkan pula dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 6. mengurangi subsidi energi. oleh karena itu produksi dalam negeri harus ditingkatkan.1 1. Pencetakan Sawah Baru (ribu ha) 2.3 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi ISU STRATEGIS Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta ton a. (2) pengembangan diversifikasi pangan.353 5 17.555 4 16. Rasio Desa Berlistrik (%) c. pemerintah akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur energi dalam bentuk gas serta jaringan distribusinya.000 14 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . (3) stabilisasi harga bahan pangan dalam negeri.02 37. Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Kebutuhan penyediaan pangan terus meningkat baik jumlah maupun kualitasnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun dan peningkatan pendapatan masyarakat. 2011 2012 2013 65. Dalam kaitan itu.70 43.653 5 16.2 persen.Peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi pada tahun 2013 akan dilakukan dengan sasaran peningkatan industri pengolahan sebesar 6.939 73.95 96.5 100 72.6 persen.5 62. Produksi Padi (juta ton GKG) b. Tabel 2. meningkatkan aksesibilitas terhadap infrastruktur energi dan meningkatkan pasokan energi domestik juga menjadi fokus pemerintah.0-6.

APM SD/SDLB/MI/Paket A (%) d.3 74. jaminan keamanan. APS Penduduk Usia 7-12 Tahun (%) j. (6) peningkatan akses pelayanan KB berkualitas yang merata.1 90. ISU STRATEGIS Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan a. (5) peningkatan ketersediaan.80 76.8 82.4 98. pro-poor.17 95.9 79. berbudi pekerti luhur. berdaya saing dan selaras dengan kebutuhan pembangunan.Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Perekonomian domestik yang kuat tentunya ditujukan untuk peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.75 5. APK SMA/SMK/MA/Paket C (%) h. tinggi yang berkualitas.85 4. serta memiliki karakter bangsa yang kuat. mandiri. Saat ini pemerintah sedang menyusun dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) 2011-2025. Isu strategis pendidikan diarahkan untuk pemenuhan layanan pendidikan dasar. projob dan pro-environment.40 95. APK PT usia 19-23 Tahun (%) i.0 26.8 95. (2) peningkatan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta penyehatan lingkungan.5 76. terjangkau. terampil. khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal sehingga dapat terlibat langsung dan menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi.4 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 1.00 118.3 7. alat kesehatan dan makanan.0 27. yaitu berpendidikan dan sehat. Peningkatan dan perluasan kesejahteraan masyarakat perlu didukung dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. (3) peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata. terjangkau dan terlindungi bagi penduduk Indonesia. serta daya saing produk dalam negeri. peningkatan kualitas SDM yang sehat juga perlu diraih dengan peningkatan akses dan layanan kesehatan yang berkualitas. Tabel 2. APM SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) e. produktif.2 103. APK SD/SDLB/MI/Paket A (%) f. khasiat/manfaat dan mutu obat. MP3KI diarahkan untuk mendorong perwujudan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan. APK SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) g.0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 . MP3KI merupakan kebijakan afirmatif dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi yang pro-growth.7 75. Sementara itu.0 95.0 28.25 4. Dalam hal ini perlu didorong dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Layanan pendidikan yang berkualitas. (4) peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan. Angka Buta Aksara Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (%) c. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (tahun) b. pemerataan.1 98. APS Penduduk Usia 13-15 Tahun (%) 2011 2012 2013 7.7 117.6 8. keterjangkauan. relevan dan efisien menjadi kebutuhan mendasar dalam menciptakan SDM yang cerdas.24 99. menengah. Antara lain dengan: (1) peningkatan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak.7 93.6 106.4 118. merata.6 101.

75 63.500 0.97 4.000 87 1.700 23.6 6.236 9.Kelompok Paripurna  Jumlah provinsi sebagai model manajemen pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (program KB Kencana) ( New Inisiative) 2011 2012 2013 86.500 0.700 23.593 4.11 - 4.ISU STRATEGIS Kesehatan a. Khasiat/Manfaat dan Mutu Obat.29 90 3.320 9. PLKB/PKB dan IMP yang Mendapatkan Dukungan Operasional dan Mekanisme Operasional Lapangan  Jumlah Peserta KB yang Berasal dari Anggota Kelompok BKB yang Mendapatkan Penggerakan Rintisan BKB dan Penguatan Kelembagaan BKB ( New Inisiative) . Peningkatan Akses Pelayanan KB Berkualitas yang Merata  Jumlah Peserta KB baru dari Keluarga Miskin (KPS dan KS-I) yang Mendapatkan Jaminan Ketersediaan Kontrasepsi (juta akseptor)  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapatkan Dukungan Sarana dan Prasarana Pelayanan KB  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapat Dukungan Penggerakan Pelayanan KB  Persentase Komplikasi Berat dan Kegagalan KB yang Dilayani  Jumlah PPLKB.700 23.235 87 1.3 84.125 9.500 0.2 1. Peningkatan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular serta Penyehatan Lingkungan  Persentase Kasus Baru TB Paru (BTA positif) yang Disembuhkan  Angka Penemuan Kasus Malaria per 1.5 80 11.25 90 16.7 71.2 1. Alat Kesehatan dan Makanan.Kelompok Rintisan .820 85 5.376 80 3. Peningkatan Ketersediaan.11 745. serta Daya Saing Produk Dalam Negeri  Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin f.600 9.000 62. Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang Berkualitas bagi Ibu dan Anak  Persentase Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (cakupan PN)  Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap  Persentase Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S)  Jumlah Puskesmas yang Mendapatkan Bantuan Operasional Kesehatan b.323 86.11 501.000 Penduduk  Persentase Provinsi yang memiliki Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR)  Jumlah Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) c. Keterjangkauan.323 87 4.89 95 3.491 - - - - 702 444 4 16 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .608 88 85 75 9. Peningkatan Profesionalisme dan PendayagunaanTenaga Kesehatan yang Merata  Persentase Pemenuhan Kebutuhan SDM Aparatur (PNS dan PTT)  Jumlah Tenaga Kesehatan yang Didayagunakan dan Diberi Insentif di DTPK dan di DBK d. Jaminan Keamanan.236 89 88 80 9. Peningkatan Jaminan Pembiayaan Kesehatan  Jumlah TT Kelas III RS yang Digunakan untuk Pelayanan Kesehatan (new initiave)  Jumlah Puskesmas yang Memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Penduduk Miskin e.4 8. Pemerataan.

Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi klaster 1-4 a. Tantangan penyelenggaraan pemilu sangat besar dan masyarakat menaruh harapan luar biasa pada penyelenggaraan pemilu agar dapat berlangsung secara jujur. ISU STRATEGIS Persiapan Pemilu 2014 — Tingkat Partisipasi Politik Tahun 2014 (%) Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi a. Tabel 2.5 9.Perluasan Kredit Usaha Rakyat i.5 2.116 17.230 10.5 9.33 14. Sementara itu.9 5. Penurunan Angka Kemiskinan (%)  Klaster I .0 5.5 1.PNPM Perkotaan (Desa/Kelurahan)  Klaster III .698. Opini WTP atas Laporan Keuangan (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 2 3 2011 2012 2013 75 1) 3.24 7.5 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 1.0 186. Reformasi birokrasi di daerah harus sejalan dengan pemantapan penataan otonomi daerah agar kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah makin meningkat.5 8.Jamkesmas (juta RTS) . khususnya dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan.5 3. Jumlah UMKM  Klaster IV . kondisi sosial dan politik menuju pemilu 2014 juga perlu terus dijaga.2 80 40 20 4.4 2 17.950.PKH (juta RTSM) .5 3 15.5-10.61 4.948 2013 9.948 2012 10. PPLS 2008 Jul-Des.068.0 100 60 40 Jan-Jun. demokratis dan aman.5 239. adil.516 17.5 1.25 Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik Perekonomian domestik yang kuat perlu didukung oleh kemantapan stabilitas sosial dan politik. PPLS 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 17 .Beasiswa Miskin i.PNPM Perdesaan (Kecamatan) .5 5. Bappenas 2011 12. 2. PT Umum dan Islam (ribu mahasiswa)  Klaster II .Pembangunan Perumahan Swadaya/Rumah Sangat Murah (ribu unit) Sumber: RKP 2013.020 10.Raskin (juta RTS) .100 10.6 303.520 60 33 27.5-11. Indeks Persepsi Korupsi b. SD/MI s/d SMA/MA/SMK (ribu siswa) ii. reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan perlu terus ditingkatkan baik di pusat dan daerah. Jumlah Provinsi ii.ISU STRATEGIS 2.0 63 18 8.922 33 33 27.520 298. Dalam rangka hal tersebut.

Matra Udara Sumber: RKP 2013.0 100 100 100 40 90 70 50 17 15 22 30 19 24 37 21 31 18 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Matra Darat b. f.33 12. 2011 7.ISU STRATEGIS Integritas Pelayanan Publik (Pusat) Integritas Pelayanan Publik (Daerah) Jumlah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Daerah (%) Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota g.5 7. d. Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force Peningkatan Alutsista (%) a.78 2012 7.93 63.00 85 21 82. e. Matra Laut c. Bappenas c.07 6.25 6. Instansi Pemerintah yang Akuntabel (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 3.5 90 80 100 15 85 65 30 2013 7.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB III KONDISI TERKINI DAERAH .

konsumsi pemerintah sebesar 6. sama dengan tahun sebelumnya.3 persen. 6. perdagangan. Sektor tersier yang meliputi listrik. Sementara itu ekspor dan impor diperkirakan hanya tumbuh sebesar 9.BAB III KONDISI TERKINI DAERAH 3. dimana kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 5. Di sisi produksi. dimana pertumbuhannya masing-masing sebesar 13.8 persen.9 persen.5 persen. Konsumsi masyarakat dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di sisi pengeluaran.2 persen. atau lebih tinggi dari tahun 2010 yang tumbuh 6.5 persen. 10.5 persen. konsumsi masyarakat tetap tumbuh sebesar 4.0 persen. pengangkutan dan telekomunikasi. real estat dan jasa perusahaan. Tingkat pengangguran terbuka serta penduduk miskin juga menurun hingga mencapai masing-masing sebesar 6. turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 7. gas dan air bersih. 6. sektor yang memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah Sektor Perdagangan. perekonomian Indonesia tetap tumbuh baik dengan laju sebesar 6.8 persen.7 persen.8 persen. Kemudian pada Triwulan I tahun 2012.8 persen dan PMTB sebesar 10.7 persen.9 persen. Sementara itu. Sementara itu.2 persen.9 persen 22 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . serta jasa-jasa tumbuh masing-masing sebesar 4. Pengeluaran pemerintah juga meningkat sebesar 3.2 persen. Hotel dan Restoran. ekspor dan impor tumbuh melambat karena dampak dari krisis global. keuangan.6 persen dan 12. sasaran pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6.1 Pertumbuhan Ekonomi Pada tahun 2011.2 persen.1. inflasi bisa ditekan hingga 3. Tingkat pertumbuhan ini diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 4. Pada tahun 2012 ini.1 persen. Stabilitas ekonomi Indonesia pada tahun 2011 masih terjaga di tengah berbagai krisis eksternal.3 persen.7 persen. Di sisi pengeluaran.8 persen.7 persen. kinerja ekonomi Indonesia sangat baik dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6. Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi. investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun 2011 meningkat dengan pertumbuhan sebesar 8. Di lain pihak.1 Kondisi Ekonomi Nasional 3. sektor pertanian tumbuh 3. hotel dan restoran. serta 6.6 persen dan 13.0 persen dan sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh 6. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 terutama ditopang oleh ketahanan domestik berupa investasi yang meningkat dan daya beli masyarakat yang terjaga serta ekspor barang dan jasa yang tetap tumbuh. Di sisi produksi. konstruksi. 9.

dan 11,4 persen dikarenakan kondisi ekonomi dunia yang masih belum pulih. Tabel 3.1 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012
PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013) 2010 6,2 4,7 0,3 8,5 15,3 17,3 3,0 3,6 4,7 5,3 7,0 8,7 13,4 5,7 6,0 7,0 7,1 13,3 2011 6,5 4,7 3,2 8,8 13,6 13,3 3,0 1,4 6,2 4,8 6,7 9,2 10,7 6,8 6,7 3,8 6,6 12,5 2012 (Sasaran) 6,5 4,9 6,8 10,9 9,9 11,4 3,5 2,0 6,1 6,2 7,0 8,9 11,2 6,3 6,2 6,8 6,4-6,6 10,5-11,5

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan masingmasing sebesar 3,5 persen, 2,0 persen dan 6,1 persen. Sementara itu sektor listrik, gas dan air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan telekomunikasi; keuangan, real estat dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 6,2 persen; 7,0 persen; 8,9 persen; 11,2 persen; 6,3 persen dan 6,2 persen.

3.1.2 Tingkat Kemiskinan
Secara nasional, jumlah penduduk miskin selama periode 2006-2012 mengalami penurunan yang signifikan, dari 39,3 juta jiwa pada 2006 menjadi 29,13 juta jiwa pada 2012 sehingga selama periode tersebut jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 10,17 juta jiwa atau secara rata-rata sebesar 1,45 juta jiwa per tahun (Gambar 3.1). Tren yang serupa juga terjadi dalam perkembangan persentase penduduk miskin dalam periode yang sama, dimana terjadi penurunan yang tajam dari sekitar 17,75 persen pada 2006 menjadi sekitar 11,96 persen pada 2012. Dengan demikian, selama periode 2006-2012 terjadi penurunan persentase penduduk miskin sekitar 32,6 persen atau secara rata-rata sekitar 4,65 persen per tahun.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

23

Gambar 3.1 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 - 2012
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 17,75 16,58 39,3 37,17

34,96

32,53

31,02

30,02

29,13

15,42

14,15

13,33

12,49

11,96

Dengan menggunakan data kemiskinan yang mutakhir (Susenas, Maret 2012), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret tahun 2012 sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Apabila dibandingkan dengan perhitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan Susenas Maret 2011 yang berjumlah 30,02 juta (12,49 persen) maka terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,13 juta orang selama periode Maret 2011 – Maret 2012. Selama periode tersebut, jumlah penduduk miskin menurut kawasan baik perkotaan maupun perdesaan masing-masing turun menjadi 3,61 persen dan 2,6 persen. Jumlah penduduk miskin di perkotaan berkurang sebesar 0,40 juta orang, sementara di perdesaan berkurang sebesar 0,49 juta orang (Tabel 3.2). Selama periode tersebut, persentase penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Tabel 3.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan
Kawasan Perkotaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perkotaan+Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (Juta) 11,05 10,95 10,65 18,97 18,94 18,48 30,02 29,89 29,13 Persentase Penduduk Miskin (%) 9,23 9,09 8,78 15,72 15,59 15,12 12,49 12,36 11,96

24

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) inflasi umum yang relatif rendah, (2) penurunan harga eceran beberapa komoditas bahan pokok, (3) perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan dengan naiknya nilai tukar petani, (4) terjaganya kinerja pertumbuhan ekonomi nasional sampai dengan triwulan III dan (5) penurunan tingkat pengangguran terbuka. Berdasarkan wilayah, persentase penduduk miskin terbesar di Wilayah Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77 persen, sementara persentase penduduk miskin terkecil di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 6,69 persen. Namun demikian, apabila dilihat dari jumlah penduduk maka sebagian besar penduduk miskin terkonsentrasi di Wilayah Jawa, yaitu sebesar 16,11 juta orang, sementara jumlah penduduk miskin terkecil berada di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 0,95 juta orang (Tabel 3.3). Tabel 3.3 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012)
Pulau Sumatera Jawa Bali dan Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Indonesia Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Kota Desa Kota+Desa 2.075,54 4.225,33 6.300,87 7.209,94 8.897,26 16.107,20 640,23 1.393,71 2.033,94 266,15 688,42 954,57 341,04 1.756,20 2.097,24 114,33 1.524,27 1.638,60 10.647,23 18.485,19 29.132,42 Persentase Penduduk Miskin (%) Kota Desa Kota+Desa 10,15 13,30 12,07 8,84 15,46 11,57 12,13 17,03 15,11 4,41 8,37 6,69 5,70 14,86 11,78 5,88 32,64 24,77 8,78 15,12 11,96

Pada periode Maret 2011–Maret 2012 secara umum terjadi perbaikan kondisi penduduk miskin yang ditunjukkan adanya penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Nilai P1 turun dari 2,08 pada Maret 2011 menjadi 1,88 pada Maret 2012, sementara nilai P2 turun dari 0,55 menjadi 0,47 pada periode yang sama (Tabel 3.4). Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati garis kemiskinan serta berkurangnya ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Berdasarkan kawasan, nilai P1 dan P2 di perdesaan masih tetap lebih tinggi daripada di perkotaan. Pada Maret 2012, nilai P1 untuk perkotaan hanya 1,40 sementara di perdesaan mencapai 2,36. Selanjutnya, nilai P2 untuk perkotaan hanya 0,36 sementara di perdesaan mencapai 0,59. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di perdesaan lebih buruk daripada di perkotaan.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

25

Tabel 3.4 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan
Indeks Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Kota Desa Kota+Desa

1,52 1,48 1,40 0,39 0,39 0,36

2,63 2,61 2,36 0,70 0,68 0,59

2,08 2,05 1,88 0,55 0,53 0,47

3.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka
Secara nasional, tingkat pengangguran terbuka (TPT) cenderung terus menurun selama lima tahun terakhir. Pada bulan Februari 2012 TPT nasional telah mencapai 6,32 persen, menurun cukup tinggi dari TPT pada tahun 2008 yang masih sebesar 8,46 persen. Antara 2011 – 2012, jumlah angkatan kerja bertambah 1,01 juta orang menjadi sebesar 120,41 juta. Dalam kurun waktu tersebut jumlah kesempatan kerja baru yang tercipta sebesar 1,52 juta orang, sehingga dengan demikian jumlah penganggur menurun sekitar 500 ribu orang. Gambar 3.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012
140 120 100 Juta Orang 80 60 40 20 0 2008 2009 2010 2011 2012 14% 12% 10% 8% 8,14% 7,41%

8,46%

6,80%

6% 6,32% 4% 2% 0%

Angkatan Kerja
Sumber: Sakernas, BPS

Bekerja

Penganggur Terbuka

TPT

26

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

daerah-daerah dengan populasi besar juga memfasilitasi berfungsinya pasar tenaga kerja secara lebih efisien. semakin besar ukuran pasar semakin besar pula kemungkinan terjadinya linkages atau keterkaitan. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.2. pasar yang besar memfasilitasi para pelaku usaha untuk berproduksi pada skala ekonomi yang optimal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan produktivitas dalam perekonomian. Bangka Belitung Kep.3.2 Kondisi Ekonomi Daerah 3. Keuntungan aglomerasi yang terakhir adalah adanya eksternalitas positif dari terkonsentrasinya industri dan investasi di suatu lokasi. baik keterkaitan ke belakang maupun keterkaitan ke depan. Kondisi ini akan meningkatkan daya saing perusahaanperusahaan di daerah tersebut karena mampu berproduksi secara lebih efisien. Ketiga. Gambar 3.3 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 900 Rp Triliun 12 Persen 600 8 4 300 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah Ukuran pasar domestik di dalam perekonomian daerah tergambar dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan jumlah penduduk. Dalam hal ini pengusaha akan lebih mudah menemukan tenaga kerja dengan spesialisasi yang sesuai dengan kebutuhan di daerah padat penduduk dibandingkan dengan di daerah berpenduduk sedikit. Pasar yang besar memiliki daya tarik yang lebih tinggi bagi investor karena menawarkan beberapa keuntungan ( agglomeration economies). Di perekonomian yang besar. maupun industri pengguna produknya untuk diolah lebih lanjut. Kedua. Pertama. berupa limpahan ( spillover) informasi dan pengetahuan. para pelaku usaha akan lebih mudah menemukan pembeli. penyuplai bahan baku. Bagi pekerja kondisi ini juga memberikan manfaat bagi peningkatan spesialisasi. 2010 (Rp Trilyun) Sumber: BPS Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi 2005-2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 27 . Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua - (4) PDRB ADHB Th.

Bila kecenderungan ini terus berlanjut maka peran Wilayah Sulawesi yang saat ini relatif kecil akan semakin meningkat dan semakin penting sebagai pendorong pertumbuhan Wilayah Kawasan Timur Indonesia.4 persen. Sumatera Selatan (1. Secara nasional.0 1. Sementara itu Maluku Utara. 3. Wilayah lain yang memiliki kinerja pertumbuhan baik adalah Sulawesi. PDRB provinsi-provinsi di Jawa mendominasi PDRB provinsi-provinsi lainnya dalam hal peran PDRB terhadap perekonomian nasional. yaitu Sumatera Utara (1.07 juta jiwa).0 0. Lampung (1.2.4 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 6.Pola di atas juga nampak dalam kinerja perekonomian daerah (provinsi) di Indonesia.0 5.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Jawa Timur memiliki jumlah penduduk miskin terbesar.1 juta jiwa) dan Jawa Timur (5. sedangkan Papua memiliki persentase penduduk miskin terbesar (Gambar 3. DKI Jakarta.7 persen terhadap perekonomian nasional (total PDRB 33 provinsi). Gorontalo dan Maluku merupakan tiga provinsi dengan PDRB terkecil secara nasional dengan peran masing-masing kurang dari 0.4). Bangka Belitung Kep. Provinsi-provinsi di Jawa juga masih merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. konsentrasi penduduk miskin pada tahun 2011 masih berada di Wilayah Jawa.7 juta jiwa). masing-masing berperan sebesar 16.2 persen. Bahkan dalam lima tahun terakhir kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Sulawesi termasuk yang paling tinggi di antara provinsi-provinsi lainnya.0 4.01 juta jiwa).8 persen dan 14. Diluar ketiga provinsi tersebut masih terdapat provinsi-provinsi lain dengan jumlah penduduk miskin lebih dari 1 juta orang. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 35 30 25 20 15 10 5 0 Jumlah Penduduk Miskin (Juta Jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 28 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .4 juta jiwa).4 juta jiwa). terutama di Jawa Barat (4.2 juta jiwa) dan Nusa Tenggara Timur (1. Jawa Timur dan Jawa Barat adalah tiga provinsi dengan PDRB terbesar.0 3.2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi Secara geografis. Jawa Tengah (5.0 2. 14. Gambar 3.

Purbalingga Kab. Teluk Bintuni Tertinggi % 26. Flores Timur Kab.49 9.61 5.67 4.58 23.80 9. Lampung Utara Kab. Tojo Una Una Kab.57 15. Maluku Barat Daya Kab.34 4.07 19. Sabu Raijua Kab. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Sumber : BPS Kabupaten/Kota Kab. OKU Timur Kab.03 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 29 .84 24. Halmahera Tengah Kab.54 14. Deli Serdang Kota Sawahlunto Kota Pekan Baru Kab.28 24.21 12.36 22. Merauke Kota Sorong Terendah % 9.81 5. Dari pemetaan tersebut tercatat bahwa kabupaten Deyai di provinsi Papua memiliki persentase penduduk miskin tertinggi secara nasional.83 12.71 11.31 18.20 4.15 32.24 20. Bolaang Mongondow Selatan Kab.84 19. Banjar Kota Balikpapan Kota Manado Kota Gorontalo Kota Palu Kota Makassar Kab.31 3. Polewali Mamasa Kab.58 persen. sedangkan kota Tangerang Selatan memiliki persentase penduduk miskin terendah. Kepulauan Meranti Kab.5 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.11 2.48 4.47 8. Lingga Kab. Bangka Barat Bengkulu Tengah Kab. Mamuju Utara Kota Kendari Kota Ambon Kota Ternate Kab.63 3.40 2. Kepulauan Seribu Kota Tasikmalaya Kab. Jembrana Kab. Deiyai Kab. Lombok Utara Kab.98 5.20 8. Tabel 3. Kolaka Utara Kab.64 9.23 33.06 10.75 5.02 5. Sampang Kab. Kepulauan Mentawai Kab.53 14. Musi Banyuasin Kab. Bengkulu Selatan Kab. Belitung Timur Kab.07 20. Tanjung Jabung Timur Kab. yaitu sekitar 1.07 6.41 20. Hulu Sungai Utara Kab. Landak Kab. Pandeglang Kab.14 24.62 Kabupaten/Kota Kota Banda Aceh Kab.86 6.67 5.02 7. Kulon Progo Kab.34 2.16 14. Bener Meriah Kota Gunungsitoli Kab. Barito Timur Kab. 2012.64 28.58 47.11 43.14 41.19 13. Malinau Kab.06 39. Boalemo Kab.Dalam publikasi yang berjudul Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.77 42. Badan Pusat Statistik (BPS) telah memetakan kabupaten/kota di masingmasing provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin tertinggi dan terendah pada 2010.25 6.06 10.26 21. Kepulauan Anambas Kota Sungai Penuh Kab. Pangkajene Kepulauan Kab. yaitu sekitar 49.12 9.80 3.51 7. Sanggau Kota Palangka Raya Kab.76 15.19 5.57 49.51 5.87 19.84 1.43 7.67 persen. Tulangbawang Barat Kota Jakarta Timur Kota Depok Kota Tangerang Selatan Kota Semarang Kota Yogyakarta Kota Batu Kota Denpasar Kota Bima Kab.

29 5.63 5.37 8.34 4.27 6.2. Nusa Tenggara Timur. Sementara itu penganggur di Pulau Sumatera 30 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Jawa Barat Kep.72 9.25 5.47 5.18 3.37 8.04 7. Papua dan Papua Barat.3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi Distribusi Regional Berdasarkan Sakernas Agustus 2011. Distribusi jumlah penganggur menurut masing-masing provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.62 6.61 5. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai persentase penduduk miskin kabupaten/kota baik nilai tertinggi maupun terendah.69 6.17 9.68 .24 3.68 8.97 10.21 9.85 5.62 5.43 7.25 4.08 juta orang atau sekitar 64. Selanjutnya.28 8.59 4.61 4. Riau Banten Jambi Bali 3.57 5.37 juta orang.7 juta orang.41 4.35 3.69 7.10 10. yang merupakan 6. jumlah tenaga kerja yang berstatus penganggur di Indonesia adalah sebanyak 7.65 6.05 13.86 2.Dari data tersebut terlihat pula bahwa terdapat 5 (lima) provinsi yang memiliki kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin tertinggi diatas 40 persen.56 persen dari keseluruhan angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.99 4.19 7. Nusa Tenggara Barat.66 4.72 10.14 6. Mayoritas penganggur yang berada di Pulau Jawa dan Bali berjumlah 5.55 4. Bangka Belitung DI Yogyakarta Maluku Utara Papua Barat Jawa Timur Kalimantan Barat Sumatera Utara Sumatera Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat TPT 2010 Sumber: Sakernas. yaitu Riau.67 3.25 3.18 8.50 Kalimantan Timur Gorontalo INDONESIA NAD Maluku Papua Riau DKI Jakarta Bengkulu Lampung Kep.90 6. BPS TPT 2011 Konsentrasi penganggur di Indonesia berada di Wilayah Indonesia Barat.14 7.83 13.07 7.16 5.39 5.95 7.61 4.14 4.72 3.21 6.03 6.2011 2. tingkat kemiskinan di Wilayah Indonesia Timur sangat serius sehingga memerlukan perhatian yang khusus baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.27 4. nilai terendah persentase penduduk miskin kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat sekitar 14 persen.5.34 3.61 9.56 7.0 persen dari total penganggur Indonesia.84 10.07 6. 3. Gambar 3.62 5.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 .33 11.06 3.70 2.25 5.

6 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Sulawesi Barat Bengkulu Gorontalo Maluku Utara Kalimantan Tengah Kep. yang memiliki tingkat penganggurannya lebih tinggi di daerah perdesaan.000 0. Kecuali provinsi Jambi dan NAD.064 13.473 77.551 555.594 46.122 7.000 Sumber: Sakernas. atau sekitar 18.5 persen dari total penganggur Indonesia.410 50.739 37.452 504.785 48.133 417.975 14. Gambar 3.44 juta orang.168 80.620 56.094 15. Provinsi dengan jumlah penganggur terbesar adalah Jawa Barat (1.602 24. Distribusi Pengangguran Kota-Desa Berdasarkan distribusi pengangguran kota-desa di setiap provinsi.429 33.767 13.109 1.740 134.992 404.320 28.357 37.825 26.000.berjumlah sekitar 1.811 104.734 1282.211 36.461 31.156 118.488 8.844 65.194 18.617 19.318 59.192 40.112 4.461 13.499 17.609 99.855 14. konsentrasi pengangguran di daerah perkotaan secara umum terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah perdesaan.564 Perdesaan 8.0 persen total penganggur Indonesia atau 6.235 11.258 58.000 1.0 juta orang) dan juga Jawa Timur (821.115 109.159 122.22 persen sementara di daerah perdesaan adalah 4.000.398 13.297 46.037 493. Tingkat pengangguran di daerah perkotaan secara nasional adalah 8.544 57.884 53. Tiga provinsi ini memberikan kontribusi hampir sekitar 50 persen penganggur yang ada di Indonesia.509 187.599 61. Bangka Belitung Jambi Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Papua NAD Kalimanta Barat Bali Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Kep.502 10.651 11.96 persen. Riau DI Yogyakarta Sumatera Barat Riau Sulawesi Selatan Lampung Sumatera Selatan Kalimantan Timur Sumatera Utara Jawa Timur Banten Jawa Tengah DKI Jakarta Jawa Barat 11. BPS 500.147 135.762 111.658 47.408 Perkotaan 619.6 ribu orang).083 11.000 500.315 15.54 40.000 1.9 juta orang).500. diikuti oleh Jawa Tengah (1.075 101.52 juta.953 267.225 7. Dua bagian kawasan barat Indonesia ini telah menampung sekitar 85.000 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 31 .174 25.

Maluku. tingkat penganggurannya diatas 10.0 persen. Kalimantan Tengah. sebagian besar di Wilayah luar Jawa. seperti Papua. Sebanyak dua belas provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi cukup tinggi di atas 7 persen. Jambi.82 persen.3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3. Gambar 3. Sementara daerah yang tingkat penganggurannya dibawah 5. Sulawesi Barat. Bali dan Bengkulu. Jawa Timur. merupakan provinsi dengan tingkat pengangguran antara kota dan desa yang perbedaannya sangat besar. Provinsi Banten. Sumatera utara. Bangka Belitung. Kep.3.2 persen. Hal ini menandakan meningkatnya daya beli masyarakat secara riil di wilayah-wilayah tersebut. Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat memiliki tingkat pengangguran yang hampir sama antara di kota dan desa. namun dengan kisaran yang cukup lebar. Kalimantan Timur.Untuk daerah-daerah tertentu.sisi kiri Sumber : BPS diolah 32 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Juta Rp Persen . seperti provinsi Papua Barat. sedangkan pertumbuhan konsumsi terendah terjadi di NAD sebesar 0. Gambaran daerah lainnya. Lampung.1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat Konsumsi masyarakat mengalami pertumbuhan positif di semua provinsi selama periode 2006-2009. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi di provinsi Kepulauan Riau dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 14. Sumatera Barat. DKI Jakarta dan Jawa Barat. Banten. Kalimantan Barat. Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara. 3.7 Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 - Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita (ADHB) Tahun 2009 (Juta Rp) Rata-rata pertumbuhan konsumsi 2006-2009 (%) . Lampung.0 persen adalah DI Yogyakarta.

Bangka Belitung Kep. konsumsi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 33 . Namun demikian di daerah-daerah tersebut investasi dan perdagangan perlu tumbuh lebih tinggi agar pertumbuhan konsumsi ini berkelanjutan. Hal ini ditunjukkan oleh relatif tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada provinsiprovinsi dengan tingkat konsumsi per kapita relatif rendah. Hal serupa juga terjadi di Provinsi Maluku Utara. Gambar 3. kurang dari 4 persen per tahun dan lima belas provinsi sisanya mengalami pertumbuhan konsumsi relatif moderat antara 4 sampai 7 persen. dari yang terkecil 15. Maluku dan Sulawesi Barat.8 persen di Kalimantan Timur hingga yang terbesar 86. Namun demikian di sebagian besar provinsi. Pangsa konsumsi yang rendah di Kalimantan Timur disebabkan oleh tingginya pangsa ekspor sumber daya alam dalam PDRB.2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Peran konsumsi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari pangsanya dalam PDRB dan laju pertumbuhannya. Bila kinerja pertumbuhan ini dikaitkan dengan tingkat konsumsi per kapita maka terlihat kecenderungan pemerataan daya beli masyarakat. Sementara itu tingginya pangsa konsumsi rumah tangga dalam perekonomian Nusa Tenggara Timur menggambarkan relatif belum berkembangnya kegiatan investasi dan kegiatan produktif yang menghasilkan komoditi ekspor daerah. Pangsa konsumsi rumah tangga dalam PDRB bervariasi antar provinsi. khususnya di Wilayah Indonesia Timur.Sementara itu enam provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi relatif rendah. 3.3.4 persen di Nusa Tenggara Timur.2009 120 100 Persen 80 60 40 20 0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.8 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 . Kondisi serupa ditemui di Provinsi NAD dan Riau. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rata-Rata Peran Konsumsi dalam Sumber Pertumbuhan PDRB (persen) Sumber: BPS diolah Selama periode 2006-2009 peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah sangat bervariasi antar provinsi.

3 0.0 4.5 . peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah melebihi 100 persen. Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar dalam ekspor adalah Kalimantan Timur.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Pada tahun 2011. Gambar 3.5 0. Riau dan beberapa provinsi lainnya melakukan sebagian besar ekspornya di pelabuhan muat provinsi asal.4 8.3 1.8 1.0. Bahkan di tiga provinsi.2 1. investasi dan pertumbuhan sektor riil perlu terus digalakkan di daerah.9 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 20.4 6.5 1.0.1 0.6 0. Hal ini menandakan pentingnya peran konsumsi masyarakat dalam menyangga kinerja perekonomian domestik.8 persen.0 8.2 10.0 0.6 Sumber: BPS 34 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.5 5. Lain Ekspor Berdasarkan Provinsi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .0 0. Implikasi kebijakan yang bisa dipetik adalah pentingnya mempertahankan dan meningkatkan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.0 2. Ketiga provinsi tersebut menyumbang ekspor nasional mencapai 42. 3.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Pelabuhan Muat Prov.4 persen.4 0.8 2.8 0.7 13.5 miliar USD. Jawa Barat dan Riau dengan kontribusi masing-masing sebesar 18. Asal Pelabuhan Muat Prov. Sementara Jawa Barat dan Banten merupakan daerah yang sebagian besar ekspornya dimuat di pelabuhan provinsi lain. 13.5 persen. Oleh karena itu. yakni Maluku Utara. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi daerah bersumber dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Adapun ekspor Kalimantan Timur.3 2. Pada 24 provinsi.0 . pertumbuhan konsumsi berperan sangat besar dalam mencegah perekonomian berkontraksi lebih parah.0 12.8 1.6 0.1 0.2 5.7 4.6 1.7 5.5 18.4 persen dan 10.rumah tangga berperan besar dalam mendorong perekonomian daerah. Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau. Sementara itu di provinsi NAD dan Papua yang mengalami pertumbuhan ratarata negatif pada periode tersebut.0 1.4.0 16. ekspor nasional mencapai 203.

Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.3. Bangka Belitung Kep. Bangka Belitung Kep. Hal ini tampak dari distribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurut provinsi.2 Investasi (PMTB) Per Provinsi Daerah-daerah dengan populasi besar dan kepadatan tinggi serta memiliki kinerja pertumbuhan tinggi mampu menarik investasi relatif besar dibandingkan daerah lain.1 persen dan 11.10 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 300 50 240 180 120 60 40 30 20 10 - Triliun Rp Sumber: BPS 300 Triliun Rp 240 180 120 60 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2009 (Trilyun Rp) Sumber: BPS Log Kepadatan Penduduk (Jiwa/km persegi) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 35 Juta Jiwa . Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan tiga provinsi penyerap investasi terbesar dengan pangsa sebesar 26. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 12. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.9 persen.4.11 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 10 8 6 4 2 Log Kepadatan Penduduk Pembentukan Modal Tetap Bruto Th. Gambar 3.4 persen. di mana secara rata-rata antara tahun 2005-2009 DKI Jakarta. 2009 Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) Gambar 3. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pembentukan Modal Tetap Bruto Th.

Sumatera Utara dan Sumatera Selatan di Kawasan Barat Indonesia.Provinsi-provinsi lainnya yang memiliki peranan investasi relatif besar adalah Riau.12 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB 50 40 30 20 10 Banten Jambi NAD Bali Sulawesi Barat Maluku Utara DKI Jakarta Gorontalo Riau Sumatera Utara Kep. serta Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan di Kawasan Timur Indonesia. 36 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Tenggara Papua Barat Jawa Timur Jawa Barat Papua . Kinerja perekonomian daerah juga tampak dari pangsa industri pengolahan dalam PDRB yang menggambarkan tingkat industrialisasi daerah. Tangerang. khususnya keuangan dan perdagangan. Bangka Belitung Kalimantan Timur Sumatera Barat DI. Secara umum provinsi-provinsi di Wilayah Jawa memiliki pangsa industri pengolahan relatif tinggi yang menggambarkan perannya sebagai pusat industri nasional. Riau. Beberapa daerah seperti Kalimantan Timur dan Papua Barat juga memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi. Pangsa industri pengolahan di DKI Jakarta terlihat cukup rendah. namun hal ini lebih karena struktur perekonomian Jakarta lebih didominasi sektorsektor jasa. Bogor. Yogyakarta Kalimantan Barat Share Industri Pengolahan dalam PDRB (%) Sumber: BPS Beberapa daerah di luar Jawa yang memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi adalah Sumatera Utara. Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau. Gambar 3. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan industri pengolahan di daerah-daerah tersebut cukup besar. Bekasi). Depok. perkembangan kawasan perkotaan Jakarta yang semakin padat membuat kawasan industri menyebar di kota-kota di sekitar Jakarta dan membentuk kawasan metropolitan Jabodetabek (Jakarta. Riau Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Lampung Sulawesi Tengah Bengkulu Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Maluku Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Kep. namun hal itu karena besarnya kegiatan industri pengolahan migas. Di samping itu.

5.569.1% 46.06 29.828.40 1.9% 53.40 0.85 km.215.68 225.215.0% 87. 50.93 km dan jalan kabupaten/kota sepanjang 370.7% 50. rasio kapasitas jalan (rasio panjang jalan dan jumlah unit kendaraan roda 4) di Wilayah Jawa-Bali relatif rendah sehingga perlu pengembangan transportasi masal untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.128.60 0. jalan provinsi sepanjang 49. 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 37 .736.280.07 Kondisi Mantap 761. Bangka Belitung Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Sumatera Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Riau Bali Jambi Jawa Timur Kepulauan Riau Sumatera Barat Maluku Utara Jawa Barat Kalimantan Barat Sumatera Utara Sulawesi Utara Sualwesi Tengah Jawa Tengah Sulawesi Selatan 1.84 km.21 100.2% Kondisi Tidak Mantap 4.62 198.699.361.13 Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 1.742.20 NAD Maluku Gorontalo Lampung DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep.31 171.854.8 persen dalam kondisi tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat).5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.569. Tabel 3.1 Infrastruktur Jalan Panjang Jalan di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 458. 2010 Wilayah Papua.78 19.3% 59.80 0.828.538. Rasio kerapatan jalan (rasio panjang jalan dan luas wilayah daratan) di Wilayah Papua.3.45 38.80 1. Sementara. jalan nasional sepanjang 38.85 458.60 1.45 33.85 0.833.20 1.84 49.42 0. Maluku dan Kalimantan relatif rendah sehingga perlu percepatan pembangunan jalan.00 0.17 233. Dari total panjang jalan yang ada.280. Nusa Tenggara.93 370. Maluku.7% 40.8% Sumber: Direktorat Bina Program.07 km yang terdiri dari jalan tol 761. Gambar 3.52 0.3% 49.45 km.06 Kalimantan Timur Papua Sumber: Direktorat Bina Program.6 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 Jalan Jalan Tol Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten/Kota TOTAL Panjang Total (km) 761.0% 12. Sulawesi. Kalimantan dan Maluku menghadapi keterbatasan prasarana dan sarana transportasi terutama jalan. Kementerian PU. Kementerian PU.

00 Maluku Sumatera Barat Riau 175.578. 2011 Kondisi sebaliknya terjadi pada kualitas jalan daerah (provinsi dan kabupaten/kota).86 118.9 6.00 140.17 386.799.3 5. Tabel 3.00 100.28 4.3 Sumatera Jawa+Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Nasional Sumber: Direktorat Bina Program.0 32.8 5. jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk pelaksanan pemeliharaan dan pembangunannya. Kementerian PU.2 2011 11.6 7.8 1.63 km.146.844.0 2.00 160.07 % 6.363.9 6.54 114.5 33.038.Gambar 3.2 6. Namun secara umum kondisi kemantapan jalan nasional sangat memadai.074.81 1.8 5.60 12.3 6.90 936.4 13.2 2.538.00 20.3 12.38 NAD Papua DI Yogyakarta Jawa Timur Kepulauan Riau Kep.6 11.00 40.64 18.14 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 180. 2011 Berdasarkan kondisi kualitas jalan nasional.439.736. dimana seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah. Kementerian PU. sebagian besar kondisi mantap jalan telah mengalami peningkatan dengan rata-rata di atas 86 persen. Bangka Belitung Kalimantan Timur Gorontalo 0.002.5 1.83 175.00 60. walaupun selama periode 20052011 kondisi jalan tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat) cenderung meningkat.389.52 609.429.8 1.6 3.9 Jalan Tidak Mantap Tahun 2011 Km 1.6 5. juga adanya perubahan status jalan provinsi menjadi jalan nasional.5 1.00 120.130.0 17.85 341.370.26 2.255.75 68 260.795.51 267.659.89 657.7 38.45 Lampung Bengkulu Nusa Tenggara Barat' Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Bali Banten Jambi Sumatera Utara Sulawesi Utara Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Sumber: Direktorat Bina Program.9 6.6 10.10 % 11.876. Kondisi tersebut akibat adanya penambahan panjang jalan nasional sepanjang 5.7 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 Pulau Panjang Jalan (km) 2005 10.1 6.568. baik karena pembangunan baru.299. Berdasarkan data kondisi 38 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Nusa Tenggara Timur Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Maluku Utara Jawa Barat .8 6.00 80.8 Jalan Tidak Mantap Tahun 2005 Km 724.

461.86 11.78 171.65 4.997.361. Kondisi akan sangat menghambat mobilitas barang dan penumpang dan berdampak terhadap kinerja perekonomian daerah. jalan provinsi dengan total panjang jalan mencapai 49.2 71.888. Berdasarkan perbandingan jalan tidak mantap antar wilayah.81 6.85 Jalan Tidak Mantap 2010 65.5 8.853.13 6.123.68 % 48.02 30.097.215.999.93 km memiliki ratarata kondisi jalan tidak mantap 40.0% 30.6 52.189.5 51.569.85 km memiliki rata-rata kondisi jalan tidak mantap 46.70 49.07 9. Maluku dan Sulawesi dengan kondisi jalan tidak mantap rata-rata di atas 55 persen. jalan tidak mantap baik jalan provinsi maupun jalan kabupaten/kota.31 28.1 43.79 12.0% 0.3 18.39 19.15 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) 100.30 3.8 12. tertinggi terdapat di Wilayah Papua.80 3.615.3 Sumber: Direktorat Bina Program.1 Panjang Jalan Kabupaten/Kota 134.0% 50.742.0 45.0 83. 2010 Gambar 3.0% 60.4 47.586.521.320. Kemen PU.622.0% Sumatera Jawa Bali-Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Jalan Nasional Kondisi Mantap Sumber: Kementerian PU Jalan Daerah Kondisi Mantap Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 39 .1 40.0% 40.0% 80.507.93 Jalan Tidak Mantap 2010 7.0 370.5 46.31 % 44.246.6 34.4 50.148.929.046.kualitas jalan.04 1.4 57.0% 10.215.163.280.674.51 1.0% 70.976.766. Tabel 3.0% 90.76 18.611.602.17 4.7 26.8 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 Pulau Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Maluku Papua TOTAL Panjang Jalan Provinsi 16.77 2.7 36.21 1.345.3 40.4 63.7 47.280.1 persen dan jalan kabupaten/kota dengan total panjang jalan mencapai 370.3 persen.21 2.274.0% 20.65 1.462.

Moda transportasi udara merupakan alat transportasi utama untuk daerah dengan kondisi alam pegunungan dan kepulauan seperti Kalimantan Barat. Sementara perbandingan kondisi jalan nasional dan daerah ditunjukkan pada Gambar 3. Kondisi tersebut mengakibatkan kurang efektif dan efisiennya distribusi barang dan orang serta sistem logistik di daerah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di deerah.Panjang jalan nasional yang hanya 8.4 persen dari total panjang jalan yang ada). Bangka Belitung Kep.496.7 persen. 3.9 menerangkan jumlah bandara di Indonesia berdasarkan per provinsi. dimana jumlah bandara terbesar terdapat di Provinsi Papua yang mencapai 202 bandara termasuk bandara perintis dan Papua Barat sebanyak 36 bandara.78 km (91.2 Infrastruktur Udara Jumlah bandar udara di Indonesia adalah sebanyak 514 bandara.4 persen dari total panjang jalan yang ada. memiliki kondisi mantap mencapai 87.9 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. kondisi kemantapan jalan hanya mencapai 54. Tabel 3. 2010 40 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5. dengan panjang total mencapai 419. Papua dan Papua Barat.4 persen. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi jalan daerah (jalan provnsi dan jalan kabupaten/kota). Kalimantan Timur. Kemenhub. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Jumlah Bandara 14 10 5 7 3 5 2 5 2 7 1 13 5 2 7 3 2 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timus Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total Jumlah Bandara 5 15 52 14 46 5 8 8 5 1 1 12 11 36 202 514 Sumber: Ditjen Perhubungan Udara. Tabel 3.15.

3 Infrastruktur Laut Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. Bandara SoekarnoHatta di Provinsi Banten menempati posisi teratas sebesar 41 persen dengan jumlah penumpang sebesar 43. Terdapat 2 pelabuhan hub (pengumpul) Internasional yaitu Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak. Banten dan Jawa Barat. 2010 Posisi kedua ditempati oleh Bandara Ngurah Rai di provinsi Bali sebesar 11 persen. Gambar 3. Pelabuhan Internasional berjumlah 18.5. Jumlah penumpang domestik dan internasional pada tahun 2010 di Indonesia sebesar 108 juta penumpang.Jumlah penumpang angkutan udara terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penerbangan yang menerapkan Low Cost Carrier (LCC). disebabkan oleh pesatnya kemajuan industri pariwisata di Bali dengan banyaknya wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara.9 juta penumpang. kemudian diikuti oleh Jawa timur 7 persen dan Sumatera Utara 6 persen. yaitu sebesar 11.3 juta penumpang. 17 tahun 2004. pelabuhan regional sebagai penghubung antar kabupaten berjumlah 139 pelabuhan dan pelabuhan lokal setempat berjumlah 321 pelabuhan. Jumlah penumpang yang besar di Bandara Ngurah Rai. Bangka Belitung Int'l Hub Port Int' Port 1 1 1 National Port 10 13 44 3 4 1 6 Regional Port 4 10 4 5 4 2 8 Local Port 3 30 20 3 6 1 0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 41 . Hal ini disebabkan bahwa Bandara Soekarno-Hatta terletak dekat dengan ibukota negara dan juga merupakan hub Internasional maupun domestik. total jumlah pelabuhan yang diusahakan berjumlah 725 pelabuhan.10 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 Provinsi NAD Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Kep. pelabuhan nasional sebagai feeder (pengumpan) antar provinsi berjumlah 245. Tabel 3. 3. Kemenhub.16 Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Sumatra Utara Sumatra Selatan 6% 2% Bandara Lainnya 26% Sulawesi Selatan 2% Bali 11% Banten 41% Jawa Timur 7% DI Yogyakarta 3% Jawa Tengah 2% Sumber: Ditjen Perhubungan Udara. Penumpang tersebut berasal dari Jakarta.

III dan IV 42 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 17 tahun 2004 Terdapat 3 indikator kinerja pelabuhan Indonesia berdaraskan Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR).17 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi BOR 2010 Standar BOR % Utilisasi BOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Tingkat penggunaan gudang (SOR) dan Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) untuk pelabuhan Internasional hub. II. Gambar 3. pelabuhan Internasional dan pelabuhan nasional.Provinsi Sumatera Selatan Lampung Jawa Barat Banten DKI Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara Maluku Papua Int'l Hub Port 1 1 - Int' Port 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 National Port 1 2 1 2 5 1 11 3 6 9 8 6 5 14 9 3 12 15 6 3 15 27 Regional Port 2 11 7 2 1 6 7 3 5 12 1 5 2 3 1 1 6 6 3 10 7 1 Local Port 0 5 1 2 0 3 7 4 5 21 1 1 0 1 18 9 9 21 25 9 26 90 Sumber : Keputusan Menteri no.

Persentase tingkat utilisasi penggunaan dermaga pada tahun 2010 di pelabuhan Belawan.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. yaitu sebesar 12%. Artinya. Dirjen Perhubungan Laut No. < 65 = baik. artinya sudah ada perbaikan dan penambahan fasilitas baru untuk memperlancar bongkar muat di pelabuhan tersebut. dimana artinya terjadi tingkat keterlambatan kegiatan bongkar muat di pelabuhan tersebut dan perlu penambahan fasilitas pelabuhan. Pada tahun 2011 Pelabuhan Teluk Bayur dan Pelabuhan Dumai mengalami kenaikan utilisasi BOR cukup tinggi. 50 sampai dengan 55 % = cukup baik dan >55% = kurang baik. Artinya.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011.17).002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. Dirjen Perhubungan Lautb No.2011 Berdasarkan Kep. SOR = Berdasarkan Kep. Panjang. Artinya. UM. < 70 = baik. < 50 = baik. Boks 3. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 43 . Kupang dan Samarinda telah melewati batas standar BOR yaitu 70% (Gambar 3. Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan atau Kesiapan operasi peralatan 2010 – 2011 Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) merupakan perbandingan antara jumlah penggunaan ruang penumpukan dengan ruang penumupukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton hari. 65 sampai dengan 72 % = cukup baik dan >72% = kurang baik. Namun pada tahun 2011 utilisasi BOR di keempat pelabuhan ini menurun. BOR = Shed Occupancy Ratio (SOR) atau tingkat penggunaan gudang 2010 – 2011 Tingkat penggunaan gudang (Shed Occupancy Ratio/ SOR) merupakan perbandingan antara jumlah pengguna ruang penumpukan dengan ruang penumpukan yang tersedia yang dihitung dalam satuan ton hari/ satuan hari. UM. Dalam Keputusan tersebut standarisasi YOR = 50%. UM. Berdasarkan Kep. Dalam Keputusan tersebut standarisasi SOR = 65%. 70 sampai dengan 77 % = cukup baik dan >78% = kurang baik.1 Perhitungan Indikator Kinerja Pelabuhan Berth Occupancy Ratio (BOR) atau atau tingkat penggunaan dermaga 2010 . Dalam Keputusan tersebut standarisasi BOR = 70%. Dirjen Perhubungan Laut No. Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR) merupakan perbandingan antara waktu penggunaan dermaga dengan waktu yang tersedia (dermaga siap operasi) dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam persentase.

Berikutnya untuk persentase tingkat utilisiasi penggunaan gudang pelabuhan tahun 2010 dan 2011 di indonesia. kondisinya masih dalam taraf baik (Gambar 3. yaitu sekitar 60%. Pelabuhan lainnya yang mengalami kenaikan tingkat utilisasi pada tahun 2011 adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Samarinda dan Dumai. Ambon. Jayapura dan Samarinda. 44 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . II. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kenaikan tersebut yaitu karena peningkatan jumlah tonase kargo curah. Pontianak dan Banjarmasin mengalami kenaikan tingkat utilisasi lapangan penumpukan cukup tinggi. Tahun 2011 Pelabuhan Palembang.19 menunjukkan persentase tingkat utilisasi penggunaan lapangan penumpukan di pelabuhan tahun 2010 dan 2011 yang didominasi oleh kontainer dan kendaraan.18). Pontianak. Kupang. Gambar 3. Terdapat beberapa pelabuhan yang perlu penambahan fasilitas dan perluasan lapangan penumpukan diantaranya pelabuhan Pontianak. dwelling time (masa proses/ waktu tunggu) di pelabuhan dan kapasitas efektif di pelabuhan. Palembang. Benoa. Benoa. Ambon. Makassar. Artinya utilisasi penggunaan gudang pelabuhan masih memadai. Balikpapan. Jayapura. III dan IV Kemudian Gambar 3. Artinya pelabuhan tersebut mengalami kenaikan jumlah arus kontainer/kendaraan yang tinggi pada tahun tersebut.18 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi SOR 2010 Standar SOR % Utiliasi SOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Pada tahun 2011 Pelabuhan Belawan mengalami kenaikan utilisasi penggunaan gudang yang tinggi. Tanjung Intan.

rasio elektrifikasi Indonesia adalah sebesar 72.Gambar 3.5. dengan pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi yang dilakukan oleh Pemerintah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 45 . Peningkatan elektrifikasi merupakan salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.3 persen.19 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 140 120 100 80 60 40 20 0 Utilisasi YOR 2010 Standar YOR % Utiliasi YOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I.95 persen. Rasio elektrifikasi menunjukkan tingkat perbandingan jumlah penduduk yang memperoleh sambungan listrik terhadap total penduduk di wilayah itu.9 persen dan 29. badan usaha milik negara serta swasta. artinya 27. yang masing-masing sebesar 39. Sementara itu. Sesuai data BPS hingga tahun 2011. Beberapa penyebabnya adalah kondisi daerah yang terisolasi serta kurangnya fasilitas transmisi dan distribusi yang membuat transfer kelebihan daya menjadi sangat mahal.4 Infrastruktur Listrik Salah satu indikator daya saing di sektor ketenagalistrikan adalah rasio elektrifikasi. provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya. II.05 persen penduduk Indonesia belum memperoleh sambungan listrik. Rasio elektrifikasi sangat berhubungan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. III dan IV 3.

12 persen.73 persen. Berbagai literatur internasional menunjukkan korelasi positif antara jaringan broadband dan pertumbuhan ekonomi.25 Sumber: Capaian KESDM Tahun 2011 3. 0.21 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 98% 98% Sumber: PT Telkom dan Kominfo.81 persen dan 1. Gambar 3.92 29.Gambar 3. Bangka Belitung Banten Jawa Barat DKI Jakarta Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Utara Maluku Utara Maluku Papua Papua Barat 70% 70% 60% 60% 66% 66% 65% 23% 0% 0% Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi 2010 2011 Bali Nusra Maluku 0% 0% Papua .5. Di negara berkembang. seluler dan internet yang masing-masing hanya memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.5 Infrastruktur Telekomunikasi Salah satu indikator daya saing di sektor komunikasi dan informatika adalah ketersediaan jaringan broadband.38 persen. Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Kep. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan 10 persen tingkat penetrasi fixed line. kenaikan 10 persen tingkat penetrasi broadband akan memicu pertumbuhan ekonomi sebesar 1. 2011 (diolah) 46 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 NAD Sumatera Utara Riau Kep.20 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Dalam % 39.

994.801. 1 2 3 4 5 Kawasan Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .469.749.2 6.425. diperlukan jumlah penyediaan pangan (terutama padi) yang mencukupi di setiap tahunnya.2 2010 15.0 37.3 66.2 20. Keterangan:*) Angka Sementara Tabel 3.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras Dalam rangka memperkuat perekonomian domestik dan peningkatan produksi pangan terutama padi.4 2011* 15. Nusa Tenggara dan Papua Total 2009 8.7 4. 3.959.3 7.4 2.277.545.464. pembangunan jaringan broadband sudah menjangkau 311 kabupaten/kota atau sekitar 63 persen dari total 497 kabupaten/kota dengan sebagian besar lokasi terdapat di bagian barat Indonesia.3 4.824.758.4 1.392.398.262.2 3.6 4.12 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.740.6 2.6 2. 1 2 3 4 5 Kawasan 2009 14.1 35. Pembangunan jaringan broadband dilakukan baik berbentuk jaringan backbone untuk menghubungkan antar pulau (antar koridor). Nusa Tenggara dan Papua Total Sumber : BPS (diolah) . Adapun jangkauan jaringan broadband pada tahun 2011 mencapai 328 kabupaten/kota atau 66 persen dari total kabupaten/kota.469. Hingga tahun 2010.8 4.4 20.806. serta seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat.696. Hingga tahun 2014 diperkirakan 88 persen kabupaten/kota di Indonesia sudah dijangkau oleh jaringan broadband.200.11 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.5 65.7 64.823.932.938.262.577. Tabel 3.605.2 1.1 6.5 2010 8.545. percepatan pembangunan jaringan broadband menjadi salah satu agenda utama sektor komunikasi dan informatika.7 37.2 35.3 19. jaringan ekstension hingga ke ibukota kabupaten/kota (dalam koridor).8 36.8 1.663.2 2.Dengan memperhatikan masih sangat terbatasnya jaringan broadband nasional.487.9 36.959.9 Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .204.103.9 3. maupun jaringan homepass hingga ke rumah tangga.091.2 Sumber : BPS (diolah ) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 47 .5 2.368.573.664. serta menjadi salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.5 2. Pembangunan di Wilayah Timur Indonesia akan dimulai pada tahun 2012.243. Kondisi produksi padi menurut kawasan pada tahun 2009-2011 ditunjukkan dalam Tabel 3.11.8 2011 8.

00% 4.9 juta ton pada Tahun 2010 menjadi 19.740.00% 1.22). *) Keterangan: Angka Sementara 4 8.9 7. atau mencapai 54 persen.00% -1. Dimana. Gambar 3.80% 65. Gambar 3.00% 5.00% 2010 Pertumbuhan 2011* Konversi padi ke beras adalah dengan mengalikan produksi padi dengan 0.389.22 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 5% Sumatera Jawa & Bali Kalimantan 4 7% 11% 24% 54% Sulawesi Maluku.562 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 48 .10% 0. penurunan produksi beras ini berasal dari penurunan produksi beras di Kawasan Jawa dan Bali dari 20.1 persen.3 persen.00% -1. kemudian disusul dengan Wilayah Sumatera sebesar 24 persen dan Wilayah Sulawesi sebesar 11 persen (Gambar 3. atau turun sebesar 5.12 terlihat bahwa total produksi beras pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 409.23 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 67000 66500 66000 65500 65000 64500 64000 63500 63000 2009 Produksi Sumber : BPS diolah .00% -2.6 ribu ton atau turun sekitar 1.00% 3.9 3.00% 64.00% 6. Nusa Tenggara dan Papua Sumber: BPS (diolah) Sebagian besar produksi beras berasal dari Wilayah Jawa dan Bali.469.20% 2.8 juta ton pada Tahun 2011.4 6.00% 66.Pada Tabel 3.

22 2010 100.641.05 juta ton pada tahun 20115.57 Sumber: Susenas BPS 5 Dihitung dengan asumsi jumlah penduduk pada tahun 2010 dan 2011 masing-masing sebanyak 237. 2012 ). Penurunan produksi padi tersebut lebih disebabkan karena penurunan luas panen dan produktivitas akibat terjadinya kekeringan.3 persen atau produksi mencapai 68. total produksi beras maupun padi harus selalu dijaga dan meningkat setiap tahunnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan mendukung pencapaian Surplus Beras 10 juta ton di mulai pada tahun 2014. Adapun kebutuhan beras total per kapita (yaitu: konsumsi beras langsung di rumah tangga ditambah dengan konsumsi beras diluar rumah tangga) adalah sebesar 139.15 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 dan 137. total kebutuhan beras nasional pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 33.24 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 106 105 104 103 Kg/Kapita/Th 102 101 100 99 98 97 96 95 Beras 2008 104.69 kg/kapita/tahun.182.06 juta ton pada tahun 2010 dan 33.1 persen.594.22 kg/kapita/tahun dan pada tahun 2010 sebesar 100.24).23. Pertumbuhan produksi padi pada tahun 2009 dan 2010 mengalami peningkatan masingmasing sebesar 6. Berdasarkan data Susenas (Gambar 3.76 kg/kapita/tahun. konsumsi beras langsung di rumah tangga pada tahun 2008 sebesar 104.06 kg/kapita/tahun pada tahun 2011. Perkembangan pertumbuhan produksi padi tahun 2009-2011 ditunjukkan pada Gambar 3.8 persen dan 3.Untuk memperkuat perekonomian nasional daerah serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dan daerah. tahun 2009 102.85 2009 102. Dengan demikian.2 persen. Pada tahun 2012 produksi padi diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 4. Gambar 3.90 juta ton (ARAM I.326 jiwa dan 241.85 kg/kapita/tahun. Penurunan produksi padi tersebut terjadi terutama di Wilayah Jawa.82 2012 98.76 2011 102. Pada tahun 2011 produksi padi mengalami penurunan sebesar 1. banjir serta serangan hama penyakit.182 jiwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 49 . Pada tahun 2011 turun menjadi 100.

000 5.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3. nasional.000 4. Pendidikan terutama pada jenjang menengah dan tinggi mutlak diperlukan untuk mendukung pengembangan SDM dan tenaga kerja yang berdaya saing tangguh dalam menghadapi kompetisi yang ketat baik di tingkat lokal.000 6. Gambar 3. Jawa Tengah. peran pendidikan sangat penting dan strategis dalam upaya melahirkan SDM berkualitas.1 Pendidikan Kualitas SDM merupakan faktor kunci dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah dan keunggulan daya saing lokal. yang ditandai oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta memiliki keterampilan teknikal memadai. terdapat 15 provinsi yang jumlah produksi berasnya lebih kecil dari jumlah kebutuhannya. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.25 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 7. (2) jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk. beberapa indikator penting perlu dilihat yaitu: (1) rata-rata lama sekolah.7.25 menunjukkan produksi dan kebutuhan beras di masing-masing provinsi pada tahun 2011. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. Untuk itu.000 3. Kemudian. Terkait dengan kualitas pendidikan.000 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Provinsi yang memiliki surplus beras cukup besar adalah Sulawesi Selatan. maupun global.06 kg. Ketersediaan SDM bermutu sangat menentukan kemampuan suatu daerah dalam memasuki era ekonomi pasar bebas.000 2. yang menuntut kemampuan daya saing tinggi.Gambar 3. (3) tingkat keberaksaraan dan (4) jumlah dan kualifikasi guru.000 1. Perhitungan kebutuhan beras menggunakan asumsi konsumsi per kapita rata-rata sebesar 137. Sumatera Selatan. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Produksi Sumber: BPS (diolah) konsumsi 3. 50 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

16 9.24 7.89 8.38 7.24 7. Sebaliknya.32 8.02 8.82 6.11 6.00 6.41 tahun atau setingkat dengan jenjang SMA/sederajat kelas 1. rata-rata lama sekolah penduduk di 19 provinsi sudah berada di atas rata-rata nasional atau lebih dari 7. Data persebaran angka rata-rata lama sekolah menurut provinsi menunjukkan bahwa capaian rata-rata lama sekolah penduduk di Indonesia masih cukup bervariasi.59 9. yang antara lain ditandai dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas dari 7.25 8.84 7.26 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 DKI Jakarta Kepulauan Riau Papua Barat DI Yogyakarta Maluku Sulawesi Utara Sumatera Utara Kalimantan Timur Aceh Riau Sumatera Barat Maluku Utara Banten Bengkulu Bali Sulawesi Tenggara Jawa Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Tengah INDONESIA Sulawesi Selatan Jambi Sumatera Selatan Lampung Kalimantan Selatan Bangka Belitung Gorontalo Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Papua 10.92 7.92 tahun.62 Tahun 6.00 Sumber: Susenas.41 9.83 8.00 4.36 8.75 7.85 8.45 7. Pembangunan bidang pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia.27 0.09 tahun pada tahun 2003 menjadi 7.00 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 51 .58 8.07 9.02 8.84 7. Data yang sama juga menunjukkan bahwa penduduk di Provinsi DKI Jakarta telah mencapai rata-rata lama sekolah paling tinggi yakni 10.00 7.Rata-rata Lama Sekolah Indikator pertama kualitas pendidikan adalah rata-rata lama sekolah (average years of schooling).00 10.48 8.92 tahun pada tahun 2010.65 7.00 12.21 8.82 7. rata-rata lama sekolah penduduk di Provinsi Papua masih berada di tingkat terendah yaitu 6.00 8. Pada tahun 2010. Hal ini menandakan rata-rata tingkat pendidikan penduduk adalah pada jenjang SMP/sederajat kelas 2.26).27 tahun (Gambar 3.11 8.96 7. 2010 2. BPS. Gambar 3.81 8. Rata-rata lama sekolah menunjukkan rata-rata jumlah tahun efektif bersekolah yang dicapai penduduk berusia 15 tahun ke atas.99 6.

Bangka Belitung Kalimantan Tengah Gorontalo Jawa Timur Papua Lampung Jawa Tengah Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tidak/ Belum sekolah Sumber: Susenas 2010 Belum Tamat SD SD-SMP/ sederajat SM .28 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 DKI Jakarta Kep.Gambar 3.27 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 PT 6% Tidak/Belum Sekolah 6% Belum Tamat SD 19% SMP/Sederajat 18% SD/Sederajat 31% SMA/Sederajat 20% Sumber: Susenas 2010 Gambar 3.PT/ sederajat 52 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Riau DI Yogyakarta Papua Barat Kalimantan Timur Bali Sulawesi Utara Maluku Sumatera Utara Aceh Banten Sumatera Barat Riau Bengkulu Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara INDONESIA Jawa Barat Jambi Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Kep.

59 3. Kepulauan Riau.51 21.0 Kemampuan Keberaksaraan Penduduk Indikator ketiga kualitas pendidikan adalah kemampuan keberaksaraan yang ditandai oleh kemampuan membaca dan menulis.55 4.67 0.25 0.57 0.82 9. Alasan ketiadaan biaya berkaitan erat dengan faktor kemiskinan (kesulitan ekonomi).37 1.68 12.46 11. Sementara alasan sekolah jauh berkaitan dengan ketersediaan jumlah sekolah yang minim atau kondisi geografis suatu daerah yang menyebabkan akses menjadi sulit.0 L+P 54. Peningkatan partisipasi pada jenjang pendidikan dasar telah mendorong peningkatan kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis.05 7.00 100.30 6.90 100. Tabel 3.47 18.38 10.92 5.86 0.09 2.12 100. Namun.01 2.30 4.84 100.25 0.20 4.08 0.0 L+P 55.54 100.0 L 53. pendidikan tertingggi yang ditamatkan penduduk di sebagian besar provinsi relatif masih rendah yakni setingkat SD/SMP.27 0.19 100.76 0.94 0.56 3. (6) cacat dan lain-lain. beberapa provinsi seperti Sumatera Utara.26 0.99 4. (3) sekolah jauh. Angka melek aksara merupakan hasil proporsi antara jumlah penduduk usia tertentu yang bisa membaca dan menulis huruf latin dan lainnya dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sama. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 53 .21 2.63 5.39 4.08 1. (2) menikah/mengurus rumah tangga (RT).34 3.72 100.Bila diuraikan menurut provinsi. Hampir semua provinsi telah mendekati sasaran 100 persen.52 6.57 6. Data Susenas 2010 menunjukkan variasi alasan mengapa mereka tidak/belum pernah bersekolah atau tidak bersekolah lagi yaitu: (1) tak ada biaya.59 15.99 0.45 4.0 P 6.49 1.73 1.12 5.0 L+P 54.97 2.53 1.09 0.02 1.0 L 53.55 3. 2010 Perkotaan L 52.10 3.71 100.51 0. (4) malu.42 14.66 13.94 0.0 Total P 56.55 8.51 2.44 3.71 2. DKI dan DIY sudah memiliki persentase penduduk 10 tahun ke atas dengan pendidikan terakhir sekolah menengah (SM) ke atas yang cukup baik dan sudah di atas rata-rata nasional per jenjang pendidikan (Gambar 3.89 9.49 2.43 6.13 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 Alasan Tidak/Belum Pernah Bersekolah atau Tidak Bersekolah Lagi Tidak ada biaya Bekerja/mencari nafkah Menikah/mengurus RT Merasa pendidikan cukup Malu karena ekonomi Sekolah jauh Cacat Menunggu Pengumuman Tidak Diterima Lainnya Jumlah Sumber : Susenas BPS.19 2.08 1.18 1.59 20.18 3.72 18. Kalimantan Timur.60 0.52 17.49 1.69 2.32 5. (5) tidak diterima.08 100.23 0.64 13.44 13.79 1.28).44 1.61 1.48 4.30 5.0 Perdesaan P 56.73 2.58 0.06 2.96 8. kecuali Provinsi Papua. Data persebaran pada tingkat wilayah menunjukkan bahwa disparitas angka melek aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas antar provinsi hampir tidak ditemukan.

30). Pada tahun 2011. Riau Sumatera Barat Kalimantan Timur NAD Banten Jawa Barat Maluku Utara Sulawesi Tengah Gorontalo Kalimantan Selatan Jambi Kep. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru dari jenjang pra-sekolah sampai dengan sekolah menengah. Secara nasional.29 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sulawesi Utara DKI Jakarta Riau Kalimantan Tengah Maluku Sumatera Selatan Sumatera Utara Kep.Gambar 3. Dengan tetap berupaya melaksanakan program peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru. minimal harus berpendidikan Diploma 4 atau Sarjana.3 persen pada tahun 2010 menjadi 58 persen pada tahun 2011. Pada tahun 2012. jumlah guru yang telah berkualifikasi minimal S1/D4 meningkat dari 50. juga dilakukan peningkatan kualifikasi bagi 124 ribu guru yang belum berpendidikan S1/D4. UndangUndang No. data yang ada menunjukkan bahwa persentase guru menurut kualifikasi akademik bervariasi antar daerah (Gambar 3. 54 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . upaya percepatan peningkatan profesionalisme guru akan tetap dilanjutkan dengan melakukan sertifikasi bagi 300 ribu guru dan meningkatkan kualifikasi pendidikan minimal S1/D4 bagi 134 ribu guru. Bangka Belitung Bengkulu Papua Barat Lampung INDONESIA Sulawesi Tenggara DI Yogyakarta Kalimantan Barat Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Bali Jawa Timur Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Barat Papua Barat Sumber: Susenas 2010 92. temasuk sekolah keagamaan.91 Jumlah dan Kualifikasi Guru Indikator keempat kualitas pendidikan adalah guru berkualifikasi dan tersertifikasi.

1 tahun (2011).71 Rata-Rata Nasional 57.14 53.12 66. 2009 3. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 55 .27 61.62 69.93 68.53 57.15 40.000 kelahiran hidup (2007).14 20 40 60 80 100 Sumber: Kemendikbud.61 62. menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi sebesar 228 per 100.78 66.65 69.Gambar 3.Riau Riau Sumatera Barat Bengkulu Sumatera Utara Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Jawa Tengah Jawa Barat Banten Bali DI Yogyakarta Jawa Timur DKI Jakarta 0 77.17 68.40 % 59.20 66.92 61.2 Kesehatan Status kesehatan dan gizi masyarakat terus menunjukkan kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup (UHH) menjadi 71.79 53.03 46.71 70.15 65.32 65.63 69.24 69.13 62.61 74.30 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 Maluku Kalimantan Barat NTT Bangka Belitung Kalimantan Tengah Lampung Maluku Utara Papua Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Papua Jambi Gorontalo Sulawesi Utara Sumatera Selatan Aceh NTB Kep.32 49.39 60.62 53.05 67.56 51.7.75 57. menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup (2007).63 72.05 74.01 57.

5 juta jiwa. Namun demikian.34 persen (2009) menjadi 82. Kepulauan Riau dan DKI Jakarta. secara umum cakupan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian timur lebih rendah jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia bagian barat.45 persen menjadi 1. Capaian tertinggi sebesar 98. 2010 Sementara itu.31).6 persen di Provinsi DI Yogyakarta diikuti Provinsi Bali. disparitas cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih cukup lebar. upaya yang terbukti efektif untuk menurunkan AKI yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih terus meningkat dari 77.2 80 60 40 20 Maluku Utara Maluku Sulawesi Tengah Papua Barat Kalimantan Tengah Papua Sulawesi Tenggara Gorontalo Jambi Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Banten Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Jawa Barat Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Bengkulu Indonesia Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Riau Sumatera Utara NAD Jawa Tengah Jawa Timur Kep. sebaliknya penduduk besar dengan kualitas baik akan menjadi modal pembangunan.2 persen (2010).6 persen di Provinsi Maluku Utara (Gambar 3.8 juta jiwa pada tahun 2000 (SP 2000) menjadi 237. Yogyakarta Sumber: Riskesdas. Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 menunjukkan bahwa dalam periode 10 tahun (2000–2010). Selain pembangunan kesehatan.6 juta jiwa pada tahun 2010 (SP 2010).6 persen (2010). laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia meningkat dari 1. Bangka Belitung DKI Jakarta Kepulauan Riau Bali DI. upaya pengendalian kuantitas penduduk yang dilaksanakan melalui Program Keluarga Berencana (KB) berkontribusi signifikan di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Gambar 3.49 persen dan secara absolut jumlah penduduk meningkat sebanyak 32. Upaya ini menjadi sangat penting mengingat jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah akan menjadi beban pembangunan. 56 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .9 persen (2010) dan menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) menjadi sebesar 35. sementara capaian terendah sebesar 26. yaitu dari 205.menurunnya prevalensi kekurangan gizi menjadi sebesar 17.31 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 100 82. Berdasarkan data Riskesdas (2010).

87 68 68.93 77. 2010 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Pelayanan antenatal (antenatal care) juga penting untuk memastikan kesehatan ibu selama kehamilan dan menjamin ibu melakukan persalinan ditolong tenaga kesehatan. 2010).68 67.7 82.23 77. Sedangkan cakupan pelayanan antenatal yang terendah terdapat di Provinsi Papua yang hanya mencakup sebesar 31.8 persen dan yang mendapat imunisasi campak mencapai 74.0 persen.44 71.58 65.5 55.6 71.22 63.23 57.66 66.1 45.32 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 Papua Papua Barat Kalimantan Timur DKI Jakarta Sulawesi Tengah Kep.29 63.07 50. Cakupan pelayanan antenatal tertinggi terdapat di Sulawesi Utara. Secara nasional.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 juga terus dilakukan melalui perbaikan status kesehatan anak.83 46.84 62.75 73.23 35. upaya untuk mencapai target penurunan kematian bayi menjadi 24 per 1. Bangka Belitung Maluku Utara Kalimantan Tengah Banten Kalimantan Barat Kepulauan Riau Bengkulu Sulawesi Barat Maluku Riau Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Lampung Gorontalo Sulawesi Tenggara INDONESIA Sulawesi Selatan Sumatera Barat Jambi Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat DI Yogyakarta NAD Jawa Barat Bali Nusa Tenggara Timur Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Utara 31 33.54 84.86 74.Gambar 3.43 75.9 persen. yang mencapai 84. Kunjungan ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada trimester pertama kehamilan (K1) mencapai 72.13 52. cakupan imunisasi lengkap pada anak usia 12-23 bulan terus meningkat mencapai 53.3 persen.91 65.4 74. lebih tinggi dari kunjungan keempat yaitu sebesar 67.18 74.9 50.87 persen (Riskesdas.89 0 Sumber: Riskesdas.4 persen Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 57 .53 52.96 42. Selanjutnya.73 43.01 52.

0 persen dan gizi buruk sebesar 4.33 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 (Riskesdas. Kemajuan juga terjadi pada upaya penurunan 58 Gambar 3.34 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 71.9 persen (2010). 2010). Bangka Belitung Kalimantan Selatan Jawa Timur Jambi Kepulauan Riau Sulawesi Utara Jawa Tengah DKI Jakarta Bali DI Yogyakarta . 2010 Sumber: Riskesdas.100 120 100 20 20 40 60 80 40 60 80 0 0 Sumber: Riskesdas. 2010).9 persen. Sementara itu. Bangka Belitung Jambi Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Utara Jawa Timur Bali Jawa Tengah Kepulauan Riau DI Yogyakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Maluku Utara Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Gorontalo Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Banten Jawa Barat Riau Sulawesi Selatan Sumatera Selatan INDONESIA Lampung NAD Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Bengkulu Sumatera Barat Sumatera Utara Kep.4 persen (2007) menjadi 17. Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 18. yang terdiri dari gizi kurang sebesar 13.4 53. 2010 Gambar 3.8 Papua Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah NAD Riau Sulawesi Tenggara Papua Barat Sumatera Selatan Maluku Utara Bengkulu Maluku Sumatera Barat Banten Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Jawa Barat Kalimantan Selatan DKI Jakarta Indonesia Gorontalo Kalimantan Tengah Kep. kunjungan ke pelayanan kesehatan pada saat bayi berumur 6-48 jam (kunjungan neonatal pertama/KN1) mencapai 71.4 persen (Riskesdas.

sedangkan DKI Jakarta dengan angka kumulatif yang jauh lebih besar hanya pada urutan ketiga. 2010 Pendek Pendek+ Sangat pendek Laporan kasus AIDS dapat disampaikan bahwa secara kumulatif sampai dengan Desember 2011 jumlah kasus AIDS sebanyak 29. terkait aspek penyehatan lingkungan.3 48. prevalensi HIV pada populasi dewasa terus dikendalikan untuk berada di bawah 0. Selanjutnya. 2010).3 40.598 kasus. Sampai dengan tahun 2011.19 persen dan 55. Gambar 3.5 26.1 29.96 (2010) menjadi 1.26 persen dan 86. penyediaan akses air minum dan sanitasi layak masih rendah yaitu sebesar 44. 2011).000 penduduk sedangkan persentase kasus baru TB Paru (BTA positif) yang ditemukan dan yang disembuhkan masingmasing mencapai 75. yaitu mencapai sebesar 0.6 35. lebih tinggi dibanding dengan Jawa Timur dengan 4.2 31. Sementara itu Kepulauan Riau dengan hanya 404 kasus komulatif menduduki urutan ke lima.5 37.8 persen (2007) menjadi 35. prevalensi TB mencapai 289 per 100.000 penduduk (2011).5 33.8 33.5 persen.2 32.kekurangan gizi kronis yang diukur dengan prevalensi anak balita yang pendek ( stunting). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 59 . 2011).9 27.75 per 1. Sementara itu.4 41.6 39.879 kasus dengan AIDS case rate tertinggi adalah Papua sedangkan AIDS case rate secara nasional adalah 12.3 29.2 49. Dengan dipengaruhi oleh jumlah penduduk.9 38.7 40.2 58.53 persen (Susenas. Dari sisi lain.4 30.9 35.8 28. Angka penemuan kasus malaria yang diukur dengan annual parasite index (API) dapat diturunkan dari 1.9 36.6 32.3 37. menurun dari 36.6 persen (2010).9 39. maka karena jumlah penduduknya yang sangat kecil.35 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 60 50 40 30 20 22.51.6 33.22 persen (Kemkes. angka kumulatif kasus per 100. Yogyakarta DKI Jakarta Kepulauan Riau Sulawesi Utara Papua Kep.0 29.000 penduduk menunjukkan keadaan yang berbeda karena sebaran jumlah penduduk per provinsi yang sangat beragam.6 26.6 42. Papua menduduki urutan pertama.8 38.3 persen (Kemkes.4 DI.2 36. Bangka Belitung Kalimantan Timur Bali Maluku Utara Jambi Bengkulu Riau Sumatera Barat Banten Jawa Barat Jawa Tengah Kalimantan Selatan Indonesia Jawa Timur Sulawesi Tengah Lampung Maluku Sulawesi Tenggara NAD Sulawesi Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Gorontalo Sumatera Selatan Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Papua Barat Nusa Tenggara Timur 10 0 Sangat pendek Sumber: Riskesdas.3 29.3 35.

68 per 1. yaitu Nusa Tenggara Timur. Dari jumlah tersebut. yaitu dari 4.000 penduduk beresiko menjadi tinggal 1. Sementara itu. Namun demikian. Pada ketiga provinsi ini saja proporsinya sudah mencakup hampir 63 persen dari seluruh kejadian pada tahun 2011. 2011 Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sebagai salah satu komponen untuk perbaikan upaya kesehatan juga terus ditingkatkan. Jumlah puskesmas pada tahun 2010 mencapai 9.920 tergolong puskesmas perawatan dan 6. Bangka Belitung Maluku Utara Nusa Tenggara Barat Kepulauan Riau Sulawesi Barat Gorontalo NAD Sumatera Selatan Riau Sumatera Barat Jawa Barat Jawa Tengah Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Bali DKI Jakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 8613 8613 7914 6663 6661 6356 6355 6175 5028 3744 3523 3140 3136 2667 2450 2352 2331 2247 2045 1973 1430 957 743 517 196 88 45 14 7 0 .Upaya pengurangan angka kejadian malaria sudah menunjukan keadaan yang positif. yaitu 256.36 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 80000 70000 60000 50000 25287 69465 66577 40000 30000 20000 10000 0 Sumber: Kemenkes. Angka kejadian malaria berkisar dari yang terendah (di luar DKI) yaitu Bali dengan hanya 7 kejadian dan tertinggi adalah 3 provinsi. Papua dan Papua Barat. Gambar 3.75 per 1.79 per 100. Terjadi penurunan yang signifikan dari tahun 1990 sampai 2011.577 dan 25. 2010). 60 Nusa Tenggara Timur Papua Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Maluku Kalimantan Tengah Sumatera Utara Bengkulu Sulawesi Utara Jambi Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Kep. sedangkan rumah sakit swasta meningkat menjadi 838 rumah sakit dengan rasio tempat tidur (TT) rumah sakit terhadap penduduk sebesar 68.000 penduduk saja. Keragaman angka kejadian malaria sangat besar. sebanyak 1. namun terkonsentrasi pada 3 provinsi endemik. jumlah rumah sakit pemerintah meningkat menjadi 794. sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Sulawesi Barat.287 kejadian.085 termasuk puskesmas non-perawatan.645. dalam angka mutlak cukup besar. Papua dan Papua Barat dengan masing-masing 69. Rasio tempat tidur Rumah Sakit (per 100 ribu penduduk) yang terbesar adalah di Provinsi DKI Jakarta. Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta.005 puskesmas dengan rasio sebesar 3. yaitu Nusa Tenggara Timur.000 penduduk (Profil Kesehatan.000 penduduk.592 orang penderita dan hanya Provinsi DKI Jakarta yang tidak ditemukan kejadiannya.88 TT per 100. 66. Banten dan Nusa Tenggara Barat.

000 60. Sedangkan komposisi pekerja formal dan informal untuk seluruh Provinsi digambarkan pada Gambar 3.000 6.592 5.97 80 70 60 50 5. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 61 .551 6.231 136.683 2.669 8.39.704 2.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.000 Penduduk Tahun 2010 180. yang mencerminkan ‘surplus’ tenaga kerja.518 5.000 1.000 20.38 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.110 120.234 9. Sebaliknya.25 60.497 2.538 40 30 20 10 0 3.438 2.000 160.000 63.000 2.000 9.548 8.000 4.288 100. Pertumbuhan pekerja formal dan informal tahun 2006-2011 dan jumlah pekerja formal dan informal dari waktu ke waktu dapat digambarkan pada Gambar 3. sebagian besar pekerja (tetapi tidak semua pekerja) di sektor informal merupakan kegiatan-kegiatan yang rendah tingkat produktivitasnya dengan pendapatan pekerja informal yang umumnya rendah dan kurang menentu.000 163.680 166. Pekerja di sektor formal mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan keterampilan di tempat kerja mereka (keterampilan yang memungkinkan mereka mendapatkan pekerjaan di sektor formal) dan akses untuk memperoleh pelatihan sehingga mereka mempunyai posisi yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. 2010 Rasio Sumber: Profil Kesehatan.000 8. 2010 3. Sektor formal rata -rata memberikan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik kepada pekerja dibandingkan dengan sektor informal yang dipadati oleh pekerja.005 8.8.085 7.44 70.000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Jumlah Puskesmas 2.000 140.27 65.000 5.74 69.000 2.707 80.000 7.49 62.920 149.451 142.000 6.40.Gambar 3.92 62.737 Gambar 3.000 132.1 Tenaga Kerja Per Provinsi Pasar kerja Indonesia dapat digambarkan sebagai suatu perekonomian dualistis yang ditandai oleh sektor modern atau formal yang relatif kecil dan sektor tradisional atau informal yang sangat besar.077 40.37 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 10.033 6.000 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah TT Sumber: Profil Kesehatan.766 138.015 8.

00% 0. Riau 2008 Kep. Riau 2011 Kep.39 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 100% pertumbuhan 100.00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase Pekerja Informal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Informal 2011 Persentase Pekerja Formal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Formal 0.2 0.00% 20.Gambar 3.00% 80.00% 40.1 Sumber: Sakernas Gambar 3. Babel 2008 Kep. Babel 2011 Lampung 2008 Lampung 2011 Bengkulu 2008 Bengkulu 2011 Sumatera Selatan 2008 Sumatera Selatan 2011 Jambi 2008 Jambi 2011 DKI Jakarta 2008 DKI Jakarta 2011 Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2011 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2011 DI Yogyakarta 2008 DI Yogyakarta 2011 Jawa Timur 2008 Jawa Timur 2011 Banten 2008 Banten 2011 Bali 2008 Bali 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Nasional 2008 Nasional 2011 NTB 2008 NTB 2011 NTT 2008 NTT 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Barat 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Tengah 2011 Kalimantan Selatan 2008 Kalimantan Selatan 2011 Kalimantan Timur 2008 Kalimantan Timur 2011 Sulawesi Utara 2008 Sulawesi Utara 2011 Sulawesi Tengah 2008 Sulawesi Tengah 2011 Sulawesi Selatan 2008 Sulawesi Selatan 2011 Sulawesi Tenggara 2008 Sulawesi Tenggara 2011 Sulawesi Barat 2008 Sulawesi Barat 2011 Gorontalo 2008 Gorontalo 2011 Maluku 2008 Maluku 2011 Maluku Utara 2008 Maluku Utara 2011 Papua 2008 Papua 2011 Papua Barat 2008 Papua Barat 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Formal Sumber: Sakernas.40 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Nasional 2008 Nasional 2011 NAD 2008 NAD 2011 Sumatera Utara 2008 Sumatera Utara 2011 Sumatera Barat 2008 Sumatera Barat 2011 Riau 2008 Riau 2011 Kep. BPS (diolah) Informal Formal Informal 62 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .05 0 -0.00% 60.15 0.1 0.05 -0.

79 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 10.67 9.97 3.07 -0.48 Sumber: BPS (diolah) Keterangan: Angka yang berwarna merah menunjukkan angka persentase perubahan UMP yang lebih rendah dari laju inflasi tahun sebelumnya.01 Banten Jawa Tengah 20.14 9.1 4.3.68 14.11 9.34 11.00 11. Sebaiknya.20 49.33 6.01 9.81 6.90 DKI Jakarta 23. Produktivitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah.60 6.55 10.00 10.65 0.73 22.6 6. komponen penentuan Upah Minimum Regional (UMR) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 63 .6 4.60 13.89 Sulawesi Selatan 35.38 11.39 19.00 10.39 9.52 46.8.00 10.85 15.18 10.84 6.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi Salah satu ukuran tingkat daya saing Negara adalah efisiensi pasar tenaga kerja.6 7.31 15.04 10. lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas. Menurut Indeks Daya Saing dalam Global Competitiveness Report.59 11. Sedangkan yang masih kosong.78 6.57 2.94 8.00 9.37 19. Pergerakan upah di Indonesia.68 4. karena masih ditandai oleh berbagai hal.36 11.59 13. belum menetapkan UMP.95 33.0 10.27 DIY Sumatera Utara 20.00 26. kekakuan pasar kerja.15 6.5 6.96 3.8 2.1 14. diantaranya adalah tingginya biaya redundansi. outsourcing) Praktek penerimaan dan pemutusan kerja Fleksibilitas penentuan upah Kerjasama hubungan karyawan pengusaha 2008 117 87 19 79 19 2009 119 82 34 92 42 2010 127 100 38 98 47 2011 131 104 51 113 68 Sumber: IMD World Competitiveness Yearbook Tabel 3.00 26. pasar kerja Indonesia belum cukup efisien.00 15.1 6.53 Jawa Barat 10.11 35. 1 2 3 4 5 Indikator Indeks Daya Saing Biaya redundansi Kekakuan lapangan kerja (PHK.00 25.11 6.09 20.71 15.24 7.62 22.5 8.06 2.47 11.38 18.0 4.56 11.97 14.52 14.94 31.06 6.36 10.5 15.09 Laju inflasi tahun sebelumnya 2.71 6.64 12.39 9.43 28.53 11.92 32.03 5.51 9.14 50.40 17.35 12.59 15.86 36.15 8.9 9.04 38.14 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 No.5 11.42 13.47 8. Tabel 3.37 8.2 10.15 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 Tahun Jawa Timur 22.93 10.89 1.00 22.00 27.81 49.5 10.10 0.40 5.00 0.48 14. fleksibilitas penentuan upah dan beberapa indikator pasar kerja lainnya.23 6.84 13.26 6. kontrak Kerja.

Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Gambar 3.5 2011 1.0 2010 Sumber: BPS 2011 0.0 2010 Sumber: BPS 0.44 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 0.5 2.43 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gambar 3. Perbedaan rata-rata upah yang cukup besar juga dialami oleh 64 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 Juta Rupiah 0. tetapi perlu diimbangi dengan aspek produktivitas dan pencapaian target pekerjaan. Gambar 3. seperti Banten dan Jawa Tengah.5 2012 1.5 2010 Sumber: BPS 0.0 1.0 2011 2012 1.0 2012 1. Riau Kep.41 UMP Wilayah Sumatera NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. dimana upah di Provinsi Banten lebih tinggi.5 2012 1.0 1. Berikut digambarkan persentase perubahan UMP dibandingkan dengan laju inflasi di provinsi unggulan industri.42 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 0.0 2.0 Juta Rupiah Tiap-tiap daerah memiliki tingkat upah yang tidak sama.0 2010 Sumber: BPS 2011 0. terutama industri yang tergolong padat tenaga kerja.tidak hanya melihat pada sisi kenaikan inflasi saja. Perbedaan tingkat upah yang cukup besar antara Banten dan Jawa Tengah dalam jangka menengah dan panjang akan merugikan posisi Banten. Terdapat indikasi adanya relokasi industri ke Provinsi Jawa Tengah.0 Juta Rupiah Juta Rupiah Gambar 3.

54 2008 6. Peningkatan ini didorong oleh adanya perpindahan lapangan kerja dari aktivitas bernilai tambah rendah ke aktivitas bernilai tambah lebih tinggi. 3. Gambaran pertumbuhan produktivitas secara nasional menurut 3 sektor utama.8.79 0.37 3. diikuti pula dengan produktivitas per pekerja tahun 2005 dan 2010 untuk seluruh Provinsi di Indonesia ditunjukkan sebagai berikut. Terkecuali sektor pertanian di tahun 2007 dan sektor jasa di tahun 2008. Menjadi tantangan ke depan adalah mengupayakan agar upah minimum meningkat sebesar peningkatan inflasi dan mendorong upah individu melalui hasil negosiasi antara serikat pekerja dan pengusaha.24 1. Sektor jasa telah memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan produktivitas.44 2010 3.20 0.45 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 8 Persen (%) 6 4 2 0 -2 -4 PERTANIAN INDUSTRI JASA DAN LAINNYA 2006 5.64 6. Gambar 3. 2011 dan 2012.47 0.60 2011 4.3 Produktivitas Tenaga Kerja Kemampuan tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam pasar kerja salah satunya ditunjukkan oleh meningkatnya produktivitas tenaga kerja. Secara berarti dalam lima tahun terakhir ini.usaha mikro dan kecil dengan usaha menengah dan besar.70 Sumber: BPS (diolah) Perekonomian nasional akan berkembang lebih tinggi untuk memastikan bahwa penduduk yang lebih berpendidikan dan berketerampilan memiliki akses ke pekerjaan yang baik dan lebih produktif. tahun 2010. Berikut gambaran upah minimum provinsi yang dikelompokkan ke dalam 4 bagian.05 1.31 2007 -2.29 1.35 -2.07 0. Pada saat yang bersamaan terdapat keperluan untuk memastikan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 65 .15 2009 5. sebagaimana digambarkan sebelumnya. pertumbuhan produktivitas tenaga kerja untuk seluruh sektor perekonomian menunjukkan peningkatan.09 0.78 4.

Kalimantan Barat dan Jateng. sekitar 3 persen di antaranya merupakan profesional dengan tingkat pendidikan sarjana. Bangka Belitung Kep. Sebaliknya. Secara nasional. di seluruh provinsi di Indonesia mayoritas tenaga kerjanya merupakan semiskilled. DI Yogyakarta dan Kepulauan Riau memiliki proporsi pekerja berpendidikan Universitas yang paling tinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya. Provinsi DKI Jakarta.00 10.pekerja selain mempunyai pendidikan yang lebih tinggi juga memperoleh pelatihan yang lebih baik. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA PDRB/TK 2005 PDRB/TK 2010 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .00 40. sedangkan sekitar 5 persen di antaranya semi-skilled worker berpendidikan diploma dan kejuruan.00 80. Oleh sebab itu. Sementara itu.46 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 100.00 - Sumber: BPS (diolah) Proporsi tertinggi untuk pekerja dengan pendidikan SD/SMP terdapat di Provinsi NTT.00 50.00 70. peran pemerintah menjadi sangat penting untuk memacu produktivitas pekerja baik secara langsung yaitu menciptakan lingkungan kebijakan yang kondusif serta tidak langsung yaitu meningkatkan kualitas dan keterampilan angkatan kerja.00 30.00 20.00 90.00 60. 66 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Gambar 3. dengan persentase lulusan SMP dan SMU yang relatif besar.

menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. mendorong terwujudnya iklim investasi yang kondusif. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0% 20% 40% 60% 80% 100% Gambar 3. Di era kompetisi global. Riau Kep. bersih. mendukung terwujudnya daya saing perekonomian nasional di tengah persaingan global. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 67 .47 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.Gambar 3. peranan birokrasi menjadi lebih signifikan untuk memberikan respon berupa formulasi dan implementasi kebijakan secara tepat. efisien.48 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik Birokrasi memiliki peranan yang sangat strategis untuk mendukung manajemen pemerintahan yang efektif. BPS (diolah) 3. akuntabel dan melayani kepentingan publik. Riau Kep. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 10 20 30 40 50 60 ≤ SMP SMU SMK Diploma Universitas Profesional Semi Skill % Sumber: Sakernas. BPS Sumber: Sakernas.

berdasarkan kebutuhan organisasi dan kompetensi yang ada.570. sehingga peta jabatan dan profil kebutuhan pegawai belum tersedia secara rinci dan valid. jumlah PNS berdasarkan daerah adalah sebanyak 4. Di sisi lain jumlah tenaga analis jabatan di K/L/pemda masih sangat terbatas. penataan PNS mulai dari sistem rekruitmen.9. penempatan. diharapkan dapat mencerminkan kualifikasi. yang digambarkan melalui Indeks Demokrasi Indonesia serta angka pemilih dan angka partisipasi pemilih. Dalam rangka itu. Adapun komposisi PNS per provinsi berdasarkan tingkat pendidikan sebagaimana digambarkan dalam Gambar 3. Gambar 3. sebagai gambaran perkembangan akuntabilitas kinerja birokrasi dan (5) Perkembangan politik Indonesia. 3.1 Kualitas SDM Aparatur Salah satu bagian penting dalam pelaksanaan reformasi birokrasi adalah pengembangan manajemen SDM Aparatur untuk mewujudkan aparatur negara yang profesional. Januari 2012 D1-D3 S1/D4-S3 68 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . khususnya dilihat dari aspek tingkat pendidikan.818 orang. masih sulit untuk menentukan jumlah kebutuhan pegawai secara tepat pada suatu instansi.Uraian berikut ini menggambarkan peta kondisi birokrasi di daerah ditinjau dari beberapa indikator. Berdasarkan data per 1 Januari 2012. promosi dan mutasi dan evaluasi kinerjanya masih harus dibenahi. yang mencerminkan kualitas pengelolaan keuangan daerah secara tertib dan upaya menuju terwujudnya birokrasi yang bersih. sebagai salah satu indikator pelayanan dan transparansi dalam pengelolaan keuangan dilihat dari proses pengadaan barang dan jasa. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat SD-SMA Sumber: BKN. (3) Pencapaian opini BPK atas audit LKPD. kompetensi dan profesionalisme. (2) Penerapan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) atau e-procurement. yakni: (1) Kualitas SDM Aparatur.49. Bangka Belitung Kep. (4) Implementasi SAKIP.49 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 100% 80% 60% 40% 20% 0% NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Sampai saat ini.

9. Kepulauan Riau Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 43. yakni Provinsi Papua Barat.7 sudah 57.7 sudah 60. Provinsi Maluku. Jawa Barat Prov. Maluku 20 Prov. antara lain Provinsi Gorontalo.0 sudah 80.8 18 Prov. Sulteng 29 Prov. Sultra 30 Prov. Sedangkan provinsi yang memiliki PNS dengan pendidikan setara S1 ke atas dengan persentase di atas 40 persen. Kalsel Prov. D. Kalbar Prov. Papua 24 Prov. Reformasi dalam bidang pengadaan barang dan jasa.3 sudah 60.2 LPSE dan E-Procurement Upaya reformasi birokrasi dilakukan di berbagai bidang. Provinsi Sulawesi Utara.09 persen.1 sudah 92. NTT 23 Prov. Gorontalo Prov.1 sudah 78. paling lambat pada tahun 2012.7 sudah 63. Jawa Tengah Prov.68 persen dari jumlah PNS. Yogyakarta Prov.0 sudah 100. Provinsi Kalimantan Timur. Provinsi Sulawesi Tengah. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bahwa Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Instansi Lainnya wajib melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik untuk sebagian/seluruh paket-paket pekerjaan. Maluku Utara 21 Prov.6 sudah 100.0 sudah 0. Dilihat komposisi PNS yang berpendidikan SLTA ke bawah berdasarkan provinsi.3 97 62.0 No Daerah Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 60.7 sudah 35. Provinsi Sulawesi Selatan. dapat diinformasikan bahwa terdapat beberapa provinsi yang memiliki PNS berpendidikan SLTA ke bawah diatas 40 persen.16 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Daerah Prov.1 sudah 95.3 sudah 3. Provinsi DI Yogyakarta. Tabel 3. NAD Prov.23 persen dan PNS dengan pendidikan setara Sarjana ke atas sebesar 36. Lampung 19 Prov.9 sudah 100. Bangka Belitung Prov. Jawa Timur Prov. Provinsi DKI Jakarta. Sulut 31 Prov.0 sudah 85. Sumbar 32 Prov. Bengkulu Prov. 3. Hal ini selaras dengan mandat Perpres No. DKI Jakarta Prov.7 sudah 92.0 sudah 50. Banten Prov. Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat. NTB 22 Prov. Kalteng Prov.0 sudah 33.Melihat dari komposisi data tersebut terlihat bahwa PNS yang berpendidikan SLTA kebawah masih menempati persentase yang tertinggi yaitu 37. Provinsi Papua. Provinsi Jawa Timur.1 sudah 91. Sumut Total (Rata-rata) Sumber: LKPP.0 sudah 100.0 sudah 14. Papua Barat 25 Prov. Data Per April 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 69 .6 sudah 41.0 sudah 0.7 sudah 100. Jambi Prov.4 sudah 66.1 sudah 97. sedangkan PNS dengan tingkat pendidikan Diploma (1-3) sebesar 26. Sulsel 28 Prov.0 sudah 86. Kaltim Prov. termasuk dalam bidang pengadaan barang dan jasa. I. Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.5 belum 9.0 sudah 90. Riau 26 Prov.0 sudah 41. Sulbar 27 Prov. salah satunya dilakukan melalui penerapan pelaksanaan lelang secara elektronik ( e-procurement) berbasis web/internet dengan memanfaatkan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang dikembangkan LKPP dan diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang ada di instansi pemerintah.9 sudah 73. Bali Prov. Sumsel 33 Prov.

Sulbar 27 Prov. Kalteng Prov. sebanyak 312 kabupaten/kota (62. sebagian besar telah memiliki LPSE. Sumut Total (Rata-rata) No Daerah Status E-PROC Provinsi sudah sudah belum sudah sudah sudah belum sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah 94% Kab/Kota(%) 42. Gorontalo Prov.87 persen) yang telah mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). hampir seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki LPSE.0 0.9 0. Dari total 497 kabupaten/kota.4 0. NAD Prov.9% Sumber: LKPP.0 58.7 45. DKI Jakarta Prov. Sedangkan untuk pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).5 92. Data Per April 2012 70 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Dari 497 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. dari 33 provinsi.1 85.4 44. NTB 22 Prov.0 16.3 82. Sulsel 28 Prov. Sementara itu.6 21. Sementara itu. yaitu Provinsi Papua Barat. perkembangan pembentukan LPSE tersebut belum sejalan dengan pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). baru 2 provinsi yaitu Provinsi Kep.3 60. Sultra 30 Prov.0 36. Jawa Timur Prov.0 33. terdapat 2 provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Maluku yang seluruh kabupaten/kotanya belum memiliki LPSE dan belum mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Sumsel 33 Prov. Kaltim Prov.5 0. 31 provinsi (94 persen) telah mengimplementasikan e-procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Sulteng 29 Prov. Jawa Tengah Prov.0 53. Jambi Prov.3 50.4 100.4 57. Papua 24 Prov. Bengkulu Prov.Perkembangan pembentukan LPSE di daerah memperlihatkan hasil yang cukup baik. Jawa Barat Prov. untuk kabupaten/kota. Hingga April 2012. Maluku 20 Prov. Bangka Belitung Prov.7 18 Prov. Bangka Belitung dan DI Yogyakarta yang seluruh kabupaten/kotanya telah memiliki LPSE dan mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Sumbar 32 Prov. terdapat 2 provinsi yang belum mengimplementasikan. Kalsel Prov. Tabel 3. Sulut 31 Prov. Yogyakarta Prov.78 persen) telah memiliki LPSE. Lampung 19 Prov.17 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 No Daerah Status E-PROC Provinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Prov. 32 provinsi (97 persen) telah memiliki LPSE. Kalbar Prov. D. Kepulauan Riau sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah Kab/Kota(%) 17. Papua Barat 25 Prov. yaitu provinsi Papua Barat dan Maluku Utara.0 100. Dari 33 provinsi yang ada.3 5. I. NTT 23 Prov. hanya 223 kabupaten/kota (44.0 40. Maluku Utara 21 Prov. Bali Prov.0 25.0 9.9 63. Hanya 1 provinsi yang belum memiliki LPSE.2 50.5 3.0 75.0 84.0 21.4 95. Hingga saat ini.9 44. Namun. Riau 26 Prov. Banten Prov.

50 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Sumber: BPK. terdapat 18 persen yang mendapatkan opini WTP atau sebanyak 6 provinsi. BPK memberikan opini WTP atas 34 LKPD (7 persen). Di level provinsi. d. Maret 2012 6 Terdapat empat kategori hasil penilaian BPK. opini WDP atas 341 LKPD (66 persen). Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Jumlah Kab/Kota Jumlah LKPD 71 . hasil pemeriksaan BPK selama tahun 2011 atas 516 LKPD dari keseluruhan 524 pemerintah daerah di Indonesia memperlihatkan bahwa mayoritas pemerintah daerah di Indonesia masih mendapatkan opini 6 WDP . Untuk pemerintah kota. TW atas 26 LKPD (5 persen) dan TMP atas 115 LKPD (22 persen). Bangka Belitung Kep. Provinsi Kepulauan Riau. dari 33 pemprov yang menyerahkan LKPD. c. perkembangannya lebih baik dibandingkan dengan pemerintah kabupaten. Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Jawa Timur. Selebihnya. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). yakni Provinsi Riau. b. Sedangkan yang mendapatkan opini WDP sebanyak 252 pemda atau 65 persen. Provinsi DI Yogyakarta. IHPS II 2011.3 Opini LKPD Terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2010. baik untuk level provinsi maupun kabupaten/kota.3. Gambar 3. terdapat 16 kabupaten atau baru sebesar 4 persen yang mendapatkan opini WTP. Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). yakni terdapat 12 kota atau sebesar 13 persen yang berhasil mendapatkan opini WTP. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). terdapat 67 kota atau 72 persen yang mendapatkan opini WDP. Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). yaitu a.9. Selanjutnya terdapat 22 provinsi atau 67 persen yang mendapatkan opini WDP dan yang mendapatkan opini TMP sebanyak 15 persen. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Dari total 516 LKPD. Untuk kabupaten.

4 Implementasi SAKIP Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk memperkuat dan meningkatkan akuntabilitas kinerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh daerah telah memiliki kepatuhan yang tinggi untuk menyusun dan menyampaikan laporan keuangan setiap tahunnya. sekaligus untuk mengawal peningkatan kualitas reformasi birokrasi. IHPS II 2011. Gambar 3. 72 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Kalimantan Barat TW . Implementasi SAKIP dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitas akuntabilitas kinerja seluruh instansi pemerintah dan melihat komitmen penerapan manajemen pemerintahan berbasis kinerja.51 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 35 30 25 20 15 10 5 0 11 5 NAD 1 Sumatera Utara Sumatera Barat 1 1 1 2 17 2 18 1 11 12 1 15 1 8 3 Bengkulu 3 7 5 Lampung 8 Kep.9. Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Puncak. Adapun rekapitulasi capaian opini atas LKPD secara rinci diilustrasikan sebagaimana gambar di bawah ini. untuk level kabupaten/kota terdapat 4 (empat) kabupaten yang dikarenakan statusnya sebagai daerah otonom baru sehingga belum berkewajiban menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Keempat daerah tersebut berada di Provinsi Papua. Untuk level provinsi. 33 pemerintah daerah telah menyampaikan laporan keuangannya. mayoritas pemerintah daerah telah menyerahkan laporan keuangan pemerintah daerah.Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II tahun 2011 yang diterbitkan BPK pada bulan maret 2012. Implementasi ini. Riau Riau Jawa Timur WTP Sumber: BPK. Kabupaten Intan Jaya. yakni Kabupaten Deiyai. Hanya saja. Maret 2012 WDP TMP 3. Bangka Belitung 7 1 1 DKI Jakarta Jawa Barat 2 Jawa Tengah 4 1 DI Yogyakarta 6 26 2 4 3 Banten 1 2 7 Bali 33 1 3 8 Nusa Tenggara Barat 14 2 13 4 4 7 Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan 1 7 6 7 2 1 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah 19 2 18 10 2 Sulawesi Selatan 7 5 1 Sulawesi Tenggara 6 1 Gorontalo 6 Sulawesi Barat 10 9 1 Maluku Utara Maluku 5 Papua 1 7 3 Papua Barat 32 5 1 8 Nusa Tenggara Timur 13 3 5 Kalimantan Timur Jambi Sumatera Selatan Kep. khususnya birokrasi yang berorientasi pada hasil (outcome oriented).

dilakukan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. berkinerja baik. perlu banyak perbaikan. sebanyak 422 dari 497 kabupaten/kota telah menyampaikan laporan dan dari jumlah itu hanya 180 kabupaten/kota yang dinilai. berbudaya kinerja. Karakteristik Instansi Memimpin perubahan. Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan. D 0-30 Sumber: Kementerian PAN & RB. perlu beberapa perbaikan tidak mendasar. Evaluasi ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kelemahan dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja di lingkungan instansi pemerintah (SAKIP). berkinerja tinggi dan sangat akuntabel Akuntabel. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban. taat kebijakan. Sedangkan untuk level kabupaten/kota. 3. perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar Agak kurang. atas penyelenggaraan manajemen kinerja pada birokrasi pemerintah.18 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah No 1. Adapun rincian skor LAKIP untuk masingmasing provinsi sebagaimana Tabel 3. Akuntabilitas kinerjanya cukup baik. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 73 . memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar. C >30-50 6. 2012 Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tahun 2011. CC >50-65 5. 2.19. Penilaian diprioritaskan bagi daerahdaerah yang pada tahun sebelumnya belum dinilai. melalui koordinasi Kementerian PAN dan RB. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja dan perlu sedikit perbaikan. termasuk perubahan yang mendasar Kurang.18. memiliki sistem Akuntabilitas kinerjanya sudah baik. Predikat AA A B Nilai Absolut >85-100 >75-85 >65-75 Interpretasi Memuaskan Sangat Baik Baik dan perlu sedikit perbaikan Cukup baik (memadai). perlu banyak sekali perbaikan dan perubahan yang sangat mendasar.Setiap tahun. Dari jumlah itu hanya 30 provinsi yang dievaluasi dikarenakan 2 provinsi lain terlambat dalam menyampaikan laporan. (2) memberikan rekomendasi untuk peningkatan dan penguatan akuntabilitas instansi pemerintah dan (3) menyusun peringkat hasil evaluasi guna kepentingan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur Negara. Adapun kategorisasi penilaian sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 3. perlu banyak perbaikan. Sistem dan tatanan tidak dapat diandalkan untuk manajemen kinerja. sebanyak 32 dari 33 provinsi telah menyampaikan laporan. manajemen kinerja yang andal. sebagian perubahan yang sangat mendasar. Tabel 3. pada seluruh instansi pemerintah pusat (Kementerian/Lembaga) dan pemerintah daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). 4.

52 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 100. UNDP.11 86. Terdapat 3 aspek yang diukur.19 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 No Provinsi Predikat No Provinsi Maluku NTB NTT Riau Sulteng Sulut Sulbar Sulsel Sumut NAD Predikat CC CC CC CC CC CC CC CC CC C No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Provinsi Banten Bengkulu Gorontalo Jambi Kalteng Kep.00 60. 2012 3. IDI 2012.00 30.97 pada tahun 2009 74 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . BPS 2010 Hak Politik Lembaga Demokrasi Pada tahun 2009 tingkat kinerja demokrasi rata-rata provinsi di Indonesia mencapai 67.00 70.7 pada tahun 2010. Babel Lampung Papua Sulbar Sulsel Predikat C C C C C C C C C C 1 Jateng B 11 2 Kaltim B 12 3 Bali CC 13 4 DIY CC 14 5 DKI Jakarta CC 15 6 Jabar CC 16 7 Jatim CC 17 8 Kalbar CC 18 9 Kalsel CC 19 10 Kep.00 10.30 atau kategori sedang (Indeks 60<80).53 0.Tabel 3.00 50.00 40.97 82.5 Perkembangan Politik Indeks Demokrasi Indonesia Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi di setiap provinsi di Indonesia.30 63.87 62.00 20.9. Penurunan ini disebabkan turunnya Indeks Kebebasan Sipil dari 86.72 63. yaitu aspek kebebasan sipil. hakhak politik dan lembaga demokrasi. Namun terjadi penurunan menjadi 63.17 54. Riau CC 20 Sumber: Kementerian PAN & RB.00 80. Bappenas.00 IDI Kebebasan Sipil 2009 Sumber: IDI 2010. Gambar 3.00 90.00 67.60 47.

97 67. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. Indeks Lembaga Demokrasi mengalami kenaikan dari 62.72 tahun 2009 menjadi 63.67 54.04 71.53 atau kategori tinggi (Indeks >80) pada tahun 2010.89 77.44 58.11 (kategori sedang) pada tahun 2010. Tidak ada satu pun provinsi di Indonesia memiliki indeks dengan kategori tinggi (indeks > 80).10 70. sebanyak 6 provinsi memiliki indeks dengan kategori rendah (indeks < 60) dan sebanyak 27 provinsi termasuk ke dalam kategori sedang (60< indeks <80).45 63.94 66. dan menurunnya Indeks Hak-hak Politik dari 54.17 65.33 55.94 73. Gambar 3.80 65.12 60.42 74.04 65.36 63.78 67.26 IDI Kebebasan Sipil Hak Politik Lembaga Demokrasi Sumber : BPS 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 75 .32 71.45 65.41 63. Berdasarkan IDI tahun 2010.menjadi 82.53 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 NASIONAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.75 60.63 56.05 69.13 72.51 59.44 59.87 di tahun 2010.60 atau kategori rendah (Indeks <60) pada tahun 2009 menjadi 47. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 63.92 67.94 62.65 70.88 73.57 69.60 72. Bangka Belitung Kep. Berbeda dengan kedua Indeks Kebebasan Sipil dan Hak-hak Politik.79 64. Turunnya angka Indeks rata-rata seluruh provinsi Indonesa pada tahun 2010 dikontribusi oleh menaiknya jumlah aksi atau tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap masyarakat dan antar kelompok masyarakat.

sebanyak 3 provinsi (9 persen) memiliki indeks kategori tinggi. angka indeks Kalimantan adalah yang tertinggi (71.54 70.53 atau kategori tinggi. Dari seluruh wilayah kepulauan. 24 provinsi (73 persen) memiliki indeks dengan kategori sedang dan 6 provinsi (9 persen) termasuk dalam kategori rendah. seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional.30 89. hanya 4 provinsi memiliki indeks sedang dan sisanya 29 provinsi termasuk kedalam kategori rendah.87 82.62 67.05 50. Pada aspek hak-hak politik.29 67. sementara angka indeks terendah ada di Wilayah Maluku-Papua (64. 76 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .10 65. bila melihat indeks Hak-hak Politik.00 50.Pada aspek lembaga demokrasi. yakni 38. Demikian pula halnya dengan indeks Kebebasan Sipil. Berbeda dengan kedua aspek lainnya.53 84.85 54. sebanyak 25 provinsi berada pada peringkat tinggi.00 30. Sementara itu. hanya Wilayah Maluku-Papua yang nilai indeksnya di bawah rata-rata nasional.00 0.73 66.41 67. aspek kebebasan sipil telah berkembang pesat di seluruh provinsi di Indonesia. Gambar 3.59 51.11 47.10).84 85.00 60.73 85.05 68. Dengan tingginya Indeks Kebebasan Sipil dan rendahnya Indeks Hak-hak Politik dan Lembaga Demokrasi menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan masyarakat dan pelayanan yang dapat diberikan oleh penyelenggara pemerintahan daerah.80 71. Niilai indeks Kebebasan Sipil tertinggi adalah di Wilayah Maluku-Papua dan terendah di Wilayah Jawa.02 65.53). yang dapat mencapai rata-rata 82.17).17 63.74.00 70. Seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional (82.00 10.06 56.71 66.73 64.00 NASIONAL Sumatera IDI Sumber : BPS 2012 Jawa Kebebasan Sipil Bali-NTB-NTT Hak Politik Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Lembaga Demokrasi 63. Untuk kebebasan sipil ini.00 20. Pada indeks Lembaga Demokratis.09 84. Kesenjangan ini harus direspon dan diatasi agar tidak menimbulkan ketidakpuasan masyarakat lebih lanjut dan dapat memicu timbulnya aksi kekerasan.00 80.54 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 100.36).95 94.00 90.74 Indeks Demokrasi Indonesia 2010 berdasarkan Kepulauan menunjukkan seluruh kelompok wilayah mencapai indeks (IDI) rata-rata di atas indeks Nasional (63. 7 provinsi termasuk kategori sedang dan 1 provinsi yang mendapatkan indeks rendah.00 40.66 38.36 47.10 70.

DPD dan DPRD tahun 2009.8 persen.411.6 15.9 0.1 0.0 1.5 3.8 5. KPU).3 1.8 1. Pada Pemilu Anggota DPR.4 1.8 17. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.9 1.4 1.4 3.0 1.6 3.8 10 20 30 40 50 60 70 80 Kab/kota Pemilih pemilu legislatif (%) Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: KPU.4 0.3 1. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.7 2.9 persen jumlah kabupaten/kota.0 0. persentasi jumlah pemilih terbesar berada di Jawa yang mencapai 59.4 0.0 1. Sedangkan jumlah pemilih tetap dalam Pemilu Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 berjumlah 176. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 0. Keseluruhan provinsi yang berada di Jawa memiliki kurang lebih total 24. 2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 77 .I.3 16. Pada Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2009.55 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.2 0.2 1.2 0.265.442 orang (Pemilu 2009 dalam Angka.434 orang (Pemilu 2009 dalam Angka.Angka Pemilih Dan Partisipasi Pemilih Salah satu indikator yang diukur dalam demokrasi adalah tingkat partisipasi politik dalam pemilu dan pemilukada.7 3.0 1. KPU). jumlah pemilih dalam berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) SK 164 berjumlah 171.9 5.4 0.6 1. Pemilu dalam Angka.6 0.8 1. Gambar 3.

4 persen.9 persen. Dibandingkan pelaksanaan tahun 2004 dan 2009. Sedangkan untuk Pemilu Presiden 2009 tingkat partisipasinya mencapai 72.1 persen jumlah kabupaten/kota di Indonesia memiliki persentasi jumlah pemilih sebanyak 40. juga lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 84.Pada Pemilu legislatif. Agar tidak terjadi penurunan lebih lanjut pada Pemilu 2014 mendatang.56 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 94.3 persen pada Pemilu Legislatif. tingkat partisipasi politik pada pemilu 2009 cenderung mengalami penurunan.3% 90. Tingkat partisipasi politik pada pemilu legislatif tahun 2009 rata-rata seluruh Indonesia mencapai 70.1% 77.0% 72. DPD dan DPRD diperoleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terendah diperoleh provinsi DKI Jakarta. Dua puluh tujuh (27) provinsi lain dengan 75.7 persen. 78 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Provinsi Papua mencapai tingkat partisipasi pemilih tertinggi yaitu 85 persen dan Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai 61 persen.2 persen pada Pemilu Presiden/Wapres dan 39.6% 1971 1977 1982 1987 1992 1997 1999 2004 2009 Tingkat Partisipasi Pemilu Legislatif Sumber: IDEA dan KPU.6 persen. Persentasi jumlah kabupaten/kota dan jumlah pemilih pada masing-masing provinsi pada Pemilu Anggota Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden disajikan dalam Gambar 3. persentasi jumlah pemilih di Jawa tidak jauh berbeda.9% 88.0% 90.1 persen. lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 77.2% 91.6% 91.55. upaya keras harus dilakukan melalui pendidikan politik dengan metode yang tepat sasaran.3% 84. Gambar 3. Sedangkan pada Pemilu Presiden/Wapres.9% 93. 2011 Tingkat Partisipasi Pemilu Presiden Tingkat partisipasi pemilih tertinggi dalam Pemilu anggota DPR. yaitu 60.4% 71.

Gambar 3.57 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Papua Barat

Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.I. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD

81 90 80 81 83 75 78 73 78 79 67

71 69 73 81
75 77 72 68 73 71 73 51 70 74 75 77 75 60 68 70 66 75 0 20 40 60 80 100 Pemilih pemilu legislatif (%)

Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Berdasarkan wilayah, tingkat partisipasi Pilpres 2009 di Maluku dan Papua adalah sebesar 80 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi di Sumatera 70,0 persen, Jawa 72,0 persen, Bali, NTB dan NTT 76,0 persen, Kalimantan 70,0 persen dan Sulawesi 75,0 persen. Tingkat partisipasi ini dihitung dari pemilih di DPT yang menggunakan hak pilih. Sedangkan, persentasi jumlah pemilih di DPT yang tidak menggunakan hak pilihnya di Sumatera adalah tertinggi sebesar 30,0 persen dan di Maluku dan Papua mencapai 20,0 persen lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

79

Gambar 3.58 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009
30.000.000 25.000.000 20.000.000 15.000.000

Sumatera

80.000.000 70.000.000 60.000.000 50.000.000 40.000.000 30.000.000 20.000.000 10.000.000 0

Jawa

70,0%

72,0% 28,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

10.000.000
5.000.000 0

30,0%

Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

Jumlah DPT: 35.826.186 orang

Jumlah DPT: 103.821.470 orang

7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000

8.000.000

Bali - NTT - NTB

7.000.000 6.000.000 5.000.000

Kalimantan

76,0%

4.000.000

3.000.000
2.000.000

70,0% 30,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

24,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

1.000.000

0

0

Jumlah DPT: 8.750.838 orang

Jumlah DPT: 9.894.265 orang

10.000.000 9.000.000 8.000.000 7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 0

Sulawesi

4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000

Maluku - Papua

75,0%

2.000.000 1.500.000

80,0%

25,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

1.000.000 500.000 0 Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

20,0%

Jumlah DPT: 12.405.626 orang Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Jumlah DPT: 4.565.389 orang

80

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Pada Pemilukada yang dilaksanakan di seluruh Provinsi di Indonesia, rata-rata tingkat partisipasi politiknya mencapai 75,6 persen. Dari seluruh provinsi tersebut, sebanyak 16 provinsi memiliki tingkat partisipasi politik di atas rata-rata 75,6 persen dan 17 provinsi di bawah rata-rata. Gambar 3.59 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011
RATA - RATA PARTISIPASI PEMILIH Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah
76,0 81,7 82,0 70,2 71,4 71,5 74,8 67,3 76,7 77,0 82,4 83,6 75,6 84,7 84,0 83,0 83,3 83,1 79,9

Sulawesi Utara
Kalimantan Timur Kaliamantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Banten Jawa Timur DI. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat Kepualauan Riau Kep. Bangka Belitung Bengkulu Lampung Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0,00 20,00 40,00 60,00
68,3 71,6 69,5 72,3 71,7 75,7 75,1 56,5 68,7 69,8

70,7
73,9

81,9

79,7

80,00

100,00

Sumber : Ditjen Otonomi Daerah-Kemdagri, 2011

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

81

3.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.10.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012
MP3EI berisi arahan pengembangan kegiatan ekonomi utama yang sudah lebih spesifik untuk mendorong percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Untuk mengimplementasikannya, Pemerintah juga sudah membentuk Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). Sejak MP3EI diluncurkan sampai dengan akhir Desember 2011, telah dilaksanakan groundbreaking proyek yang mendukung pelaksanaan MP3EI sebanyak 94 proyek dengan total nilai investasi Rp. 499,5 Triliun. Selengkapnya rekapitulasi kegiatan MP3EI yang telah groundbreaking hingga Desember 2011 terdapat dalam Tabel 3.20. Tabel 3.20 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011)
Koridor Ekonomi Jumlah Proyek Infrastruktur Sektor Riil Nilai Investasi Infrastruktur (Rp. Miliar) 35.429 64.674 1.586 3.000 36.065 1.011 141.765 Sektor Riil (Rp. Miliar) 62.505 71.397 14.644 142.267 829 66.120 357.762 Total Proyek Investasi (Rp. Miliar) 97.934 136.071 16.230 145.267 36.894 67.131 499.527

Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Papua-Kep.Maluku Total

17 8 3 1 6 3 38

2 8 12 26 1 7 56

19 16 15 27 7 10 94

Sumber: Sekretariat KP3EI

Proyek MP3EI tersebut tersebar di 6 (enam) koridor ekonomi yang terdiri dari investasi untuk proyek sektor riil senilai Rp.357,8 triliun (56 proyek) dan pembangunan infrastruktur Rp.141,7 triliun (38 proyek). Proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah dengan nilai investasi sebesar Rp.71,6 triliun (24 proyek), BUMN sebesar Rp.131 triliun (24 proyek), swasta sebesar Rp.168,6 triliun (38 proyek) dan melalui Kerjasama Pemerintah Swasta/KPS sebesar Rp.128,3 triliun (8 proyek). Pada tahun 2012, MP3EI melalui KP3EI juga telah merencanakan untuk melakukan groundbreaking terhadap 84 proyek yang terdiri dari investasi sektor riil dan pembangunan infrastruktur dengan nilai total Rp.536,3 triliun. Adapun proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah sebesar Rp.66,2 triliun (15 proyek), BUMN sebesar Rp.90,3 triliun (20 proyek), swasta sebesar Rp.301,6 triliun (38 proyek) dan campuran sebesar Rp.78,2 triliun (11 proyek).

82

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

3. Sedangkan untuk program pengembangan IPTEK.580 miliar. pada tahun 2012 telah direncanakan program penguatan SDM sebanyak 76 program dengan nilai total investasi Rp.60 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 100 90 700 600 47 579 Nilai Program SDM (IDR Miliar) 80 6 8 6 11 23 76 Jumlah Program SDM 70 60 50 40 30 20 10 0 16 15 500 400 91 116 272 22 31 218 170 191 300 200 100 0 22 45 Community College Politeknik Universitas Community College Politeknik Universitas Sumber: Sekretariat KP3EI Gambar 3.60 dan Gambar 3. Gambar 3. Selengkapnya jumlah dan nilai program bidang SDM IPTEK di setiap koridor ekonomi terdapat dalam Gambar 3. direncanakan untuk melaksanakan 134 program dengan nilai total investasi Rp.8 triliun.61.Dalam rangka penguatan SDM dan IPTEK.61 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi 180 5000 Nilai Program IPTEK (IDR Miliar) 160 4500 4000 3500 Jumlah Program IPTEK 140 120 100 80 60 40 20 0 22 11 15 12 54 134 572 3832 320 315 295 1832 65 35 3000 2500 2000 1500 1000 1449 1330 20 498 34 500 0 1053 Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Sumber: Sekretariat KP3EI Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 83 .

Hal ini juga terkait untuk memastikan penetapan peraturanperaturan daerah yang dapat mendukung terciptanya iklim investasi dan kepastian berusaha. Peningkatan konektivitas (domestic connectivity) untuk menunjang pertumbuhan dan pemerataan. Peningkatan keselamatan transportasi. d. c.Selain pembangunan infrastruktur dan penguatan SDM dan IPTEK. Upaya-upaya debottlenecking di atas tentunya tidak akan berhasil tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. b. Percepatan pembangunan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS). Sampai April 2012. Pemerintah akan terus melakukan upaya pembangunan infrastruktur dalam rangka penguatan konektivitas nasional. Adapun Isu strategis terkait infrastruktur pada tahun 2013 dalam mendukung pelaksanaan MP3EI adalah sebagai berikut: a. e.10.21 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) No. antara lain melalui debottlenecking regulasi (deregulasi) terhadap peraturan yang dinilai menjadi penghambat bagi pelaksanaan investasi. Penyediaan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) untuk peningkatan ketahanan dan ketersediaan air. Untuk itu. Pemerintah telah selesai melakukan revisi terhadap 31 regulasi dan sedang menyelesaikan 16 regulasi lainnya (lihat Tabel 3. Pengembangan transportasi di Kota Metropolitan. Pemerintah juga akan terus melakukan sejumlah perbaikan iklim investasi. Tabel 3. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 84 .21).2 Rencana MP3EI Tahun 2013 Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi nasional (intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi Internasional Indonesia dengan pasar dunia. 1 2 Jenis Regulasi Undang-Undang (UU) Telah Diperbaiki 1 6 14 1 1 8 31 Jenis Regulasi Rancangan UndangUndang (RUU) Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) Rancangan Keputusan Presiden (RKeppres) Rancangan Instruksi Presiden (RInpres) Rancangan Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sedang Diperbaiki 2 4 2 0 0 0 8 Akan Diperbaiki 2 3 1 0 0 2 8 Peraturan Pemerintah (PP) 3 Peraturan Presiden (Perpres) 4 Keputusan Presiden (Keppres) 5 Instruksi Presiden (Inpres) 6 Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sumber: Sekretariat KP3EI 3.

00 5.76 7. kebutuhan anggaran untuk pembangunan infrastruktur masih terdapat kekurangan sekitar 12.90 4.310.383.623.98 1.11 4. 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 85 .503.252.76 Kementerian PU 18.040.974.1 triliun rupiah dari TA 2012.29 205.819.22 dan Gambar 3.02 1.00* 12.680.77 454.90 5.47 4.819.00* 1.29 198.22 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) Kebutuhan Kementerian PU Ditjen Bina Marga Ditjen SDA Ditjen Cipta Karya Kementerian Perhubungan Ditjen Perkeretaapian Ditjen Perhubungan Darat Ditjen Perhubungan Laut Ditjen Perhubungan Udara Kementerian ESDM Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian Kominfo Ditjen Penyelenggaraan Pos Dan Informatika Kementerian Perdagangan TOTAL 21.00 18.20 Kebutuhan Tambahan 3.9 triliun rupiah dari kebutuhan anggaran yang sudah diidentifikasi sampai tahun 2013 sebesar 52.62.035.373.035.44 11.53 442.615.443.00 1.89 2.00 51. Pemerintah akan terus mengupayakan peningkatan rencana alokasi pembiayaan pembangunan infrastruktur.14 543.54 13.00 Kementerian Perdagangan 51. Untuk lebih jelasnya.62 Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Kementerian ESDM 6.06 660.428.50 4.00 52.00 Kementerian Perhubungan 14.54 Sumber: Sekretariat Timja Konektivitas.27 5.54 6.157. Pada rencana pembangunan infrastruktur tahun 2013. Gambar 3.079.71 Alokasi (Pagu Indikatif) 18.76 3.700.428.00 5. Pemerintah sudah melakukan peningkatan alokasi indikatif pembangunan infrastruktur sekitar 17.00 39.310.130.49 18.930. 2012 Keterangan (*) : Kebutuhan tambahan akan dipenuhi dari ICT Fund.794.00 51.41 5.579.01 11.18 15.90 Kementerian Kominfo 5.52 10.29 179. Tabel 3.5 triliun rupiah.99 14.819. Meskipun demikian.01 1.76 Sumber : Sekretariat Timja Konektivitas.040.11 1.443.953.04 179.589.623.90 6.390. rekapitulasi alokasi indikatif kegiatan konektivitas tahun 2013 menurut kementerian/lembaga (dalam miliar rupiah) dapat dilihat pada Tabel 3.Dengan mempertimbangkan beberapa isu strategis dimaksud.091.215.

Memperkuat dan meningkatkan kualitas jalan lintas utara Jawa dengan bagian selatan Jawa. b. Sumatera Utara dan Palembang. Memberikan alternatif moda transportasi darat dengan pembangunan jalan kereta api di NAD dan Sumatera Utara. Penanganan moda transportasi kereta api wilayah utara Jawa antara lain dengan pembangunan jalur ganda lintas utara Jawa dan jalur ganda di Wilayah Jabodetabek. Penanganan jalan dan jembatan di Kalimatan Barat. Koridor Ekonomi Kalimantan a. antara lain pengembangan pelabuhan di Pulau Madura. akan didukung dengan pengembangan beberapa pelabuhan laut. Koridor Ekonomi Bali-NT a. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Pemerintah melalui Tim Kerja Konektivitas telah menetapkan kebijakan untuk pengalokasian MP3EI dalam RKP 2013. b. yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera a. Memperkuat transportasi udara terutama provinsi Jambi. Pembangunan jalan dalam memperkuat sistem distribusi komoditas dari Makasar ke wilayah lainnya dan jalan pertambangan nikel di Wilayah Kendari. Penanganan jalan wilayah dalam mendukung pengembangan kawasan ekonomi antara lain ke Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke. Pengembangan beberapa pelabuhan. Infrastruktur jalan dalam mendukung pengembangan pariwisata dan pusat peternakan di Sumbawa menjadi salah satu prioritas di Wilayah Nusa Tenggara. penguatan kapasitas pelabuhan menjadi prioritas. b. antara lain peningkatan kapasitas Pelabuhan Maloy dan Pengembangan Pelabuhan Pontianak. antara lain Bitung sebagai Hub Internasional dan pelabuhan regional lainnya. Dumai dan Kawasan Industri Muara Enim. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 86 . Koridor Ekonomi Sulawesi a. b. c. c. Pelabuhan Pamanukan dan Perluasan pelabuhan Tanjung Mas. Dalam meningkatkan ekspor migas dan pertanian. Memperkuat transportasi moda laut melalui peningkatan kapasitas penyeberangan Bakauheni sisi Barat. d.Untuk penguatan konektivitas di setiap koridor ekonomi. Meningkatkan hubungan dari Wilayah Sulawesi ke wilayah lainnya. Koridor Ekonomi Jawa a.

Peningkatan kapasitas pelabuhan yang dapat mengurangi beban jalan dan meningkatkan efisiensi distribusi komoditas di Wilayah Papua akan menjadi lebih efektif (short-sea shipping). Meningkatkan konektivitas:  Antara Manokwari dan Sorong sehingga dapat meningkatkan distribusi barang dari pusat pertumbuhan tersebut ke wilayah pedalaman.  Menuju Wilayah MIFEE maupun ke wilayah pegunungan di bagian tengah Wilayah Papua. Defisit anggaran cenderung menurun dan pada tahun 2011 secara keseluruhan besarnya 1.6 persen (DJPK Kemenkeu. Memperkuat kapasitas pelabuhan di Maluku Utara dan Kepulauan Maluku sebagai tulang punggung konektivitas di kepulauan tersebut. Hal ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan pemerintah daerah terhadap sumber pendanaan dari pusat.34 triliun. jauh menurun dari kondisi tahun 2010 sebesar 3. Pada tahun 2011 nilai total belanja daerah mencapai Rp 495. atau meningkat sebesar 17 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 426. b.b.Kepulauan Maluku a.11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3.86 triliun. d.86 triliun. atau meningkat sebesar 18 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 386. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 87 .4 persen per tahun.23 triliun. antara lain Kawasan Perikanan Morotai. Koridor Ekonomi Papua .8 persen per tahun. Pada tahun 2011 nilai total pendapatan daerah mencapai Rp 459. c. Berdasarkan komposisi pendapatan daerah secara agregat (provinsi dan kabupaten/kota) selama periode 2007-2011. walaupun secara agregat porsi Pendapatan Asli Daerah terus meningkat. Penanganan jalan difokuskan dalam rangka mendukung pengembangan wilayah ekonomi.11. DAK dana Bagi Hasil) masih lebih besar dibandingkan sumber pendapatan yang lain. Rehabilitasi Bandar Udara Morotai. 3.1 persen. c. Penguatan konektivitas dan sistem logistik di Nusa Tenggara Timur dilakukan dengan mengembangkan kapasitas pelabuhan peti kemas Tenau serta pelabuhan rakyat Nomainsain.1 Postur Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meningkat dengan laju rata-rata sebesar 11. terlihat bahwa porsi dana perimbangan (DAU. 2011). Memperkuat pengembangan Wilayah Bali sebagai pusat pariwisata Internasional. Sementara itu belanja daerah mengalami peningkatan rata-rata sebesar 11.

2011 88 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .0 65.7 12.64 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Persen PAD/Tot 14.7 5.3 59.6 4.5 6. Jawa-Bali memiliki rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total pendapatan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain. khususnya Indonesia Bagian Timur.2 Sumber: DJPK Kemenkeu.8 2010 18.9 14.4 32.6 2008 17.8 74.7 92. Hal ini sekaligus juga menggambarkan relatif berkembangnya perekonomian daerah di Jawa dan Bali. Gambar 3.7 71.6 83.6 75.Gambar 3.9 Trans/Tot 84.8 78.63 Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 PAD Daper Lain2 Persen 2007 16.3 Daper/Tot 75.8 2011 19.2 9.2 76.9 80.6 86. Tingginya rasio PAD/total pendapatan di Wilayah Jawa menggambarkan kapasitas daerah yang lebih baik dalam menggali sumber pendapatan di tingkat lokal (pajak daerah.8 76.2 80. Sebaliknya Wilayah Indonesia Bagian Timur memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pusat.4 7. retribusi daerah. Semakin besar rasio PAD terhadap total pendapatan daerah menunjukkan tingkat kemandirian daerah yang semakin tinggi.4 Sumatera Jawa Bali Kalimantan Sulawesi NT Maluku Papua Sumber: DJPK Kemenkeu. hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah).2 2009 17.0 6. 2011 Secara kewilayahan.

0 40.8 4.7 4.1 50.5 8.Gambar 3.1 2. Hal ini berkaitan dengan berkembangnya industri pariwisata di Bali yang memberikan sumber pendapatan asli daerah yang cukup besar.8 5.2 76.7 32.8 42.0 15.8 41.2 20.2 3.3 11. Riau Kep.3 61.5 3.9 62.0 30.4 11.8 71. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 8.0 25.7 35.9 6.7 14.0 15. Sebaliknya Provinsi Papua Barat dan Papua memiliki ketergantungan fiskal yang sangat tinggi.0 2011 2008 Sumber: DJPK Kemenkeu.2 28.1 4.0 80.0 39.8 3.8 5.6 6.0 20.0 56.2 4.2 7.5 44.1 5.4 6.4 9. Riau Kep. maka kabupaten/kota di Bali memiliki kemandirian fiskal tertinggi.0 100.9 14.4 6.7 28.5 7.0 45.9 34. Sementara itu untuk APBD provinsi.9 35.6 2.0 5.0 2.1 58.0 40.5 26. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 89 .8 19.66 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.6 5.0 2008 Gambar 3.0 2011 10. 2011 Bila dianalisis lebih rinci berdasarkan APBD kabupaten/kota di setiap provinsi.5 27.1 20.4 7.9 5. sedangkan kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat memiliki kemandirian fiskal terendah. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 71.0 16.8 13.9 12.3 4.9 5.3 36.0 60.9 71.65 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.4 49.5 54. diikuti provinsi-provinsi lain di Wilayah Jawa-Bali.2 75.9 7. Jawa Timur memiliki kemandirian fiskal tertinggi.

5 11.3 22.9 30. 2011 Gambar 3.1 22.8 27.2 Sulawesi NT Maluku Papua 38.5 2009 43.67 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 50.11.5 52.6 37. Jika pada tahun 2007 rasio antara belanja pegawai dan belanja modal hanya 4:3 maka pada tahun 2011 belanja pegawai mencapai lebih dari dua kali lipat belanja modal.0 40.0 45.9 18.0 18.2 22.5 26.2 18.0 30. Peningkatan belanja pegawai ini berjalan seiring dengan meningkatnya jumlah pegawai di daerah. diikuti belanja modal dan belanja barang dan jasa. khususnya di kabupaten.4 21.3 21.5 BBJ/Tot 21. Gambar 3.1 BM/Tot 24. 2011 90 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .68 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 60 50 Persen 40 30 20 10 0 Sumatera Jawa Bali Kalimantan BP/Tot 45.3.9 9.7 2011 46.0 11.5 19.3 32. Hal ini patut mendapat perhatian mengingat belanja modal merupakan kunci daya ungkit APBD dalam menggerakkan perekonomian daerah melalui pembangunan infrastruktur publik.0 5.8 Pegawai Barang/Jasa Modal Lain-lain Sumber: DJPK Kemenkeu.6 Sumber: DJPK Kemenkeu.0 10.0 35.1 19.3 26.2 2008 42.0 25.0 21.7 11. Hal ini ditunjukkan dengan makin meningkatnya porsi belanja pegawai di satu sisi dan semakin mengecilnya porsi belanja modal.3 11. Selama periode 2007-2011 komposisi belanja daerah justru semakin jauh dari ideal.0 20.3 2010 46.1 18.5 50.2 Postur Belanja Daerah Secara umum porsi belanja daerah terbesar dialokasikan untuk belanja pegawai.0 Persen 2007 39.0 0.0 15.0 22.

0 Sumber: DJPK Kemenkeu. sebaliknya Wilayah Kalimantan memiliki porsi belanja pegawai terendah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 91 . Hanya di Provinsi Kepulauan Riau dan Jawa Barat yang kabupaten/kotanya relatif tidak mengalami perubahan. Riau Kep. khususnya Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.Secara kewilayahan.69 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Hal ini berkaitan dengan rasio pegawai terhadap penduduk.0 Gambar 3. Riau Kep. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 20. 2011 Berdasarkan analisis menurut provinsi. Sulawesi memiliki rasio belanja pegawai tertinggi. Gambar 3.0 2011 2008 40.0 40.0 2008 30.0 60.0 50. di mana di Sulawesi mencapai 1. Sementara itu Wilayah Kalimantan memiliki rasio belanja modal tertinggi di antara wilayah-wilayah lainnya.26 persen. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 10.70 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.38 persen sedangkan di Kalimantan hanya 1.0 2011 20.0 80. Hal ini didukung oleh besarnya pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan. terlihat bahwa peningkatan rasio belanja pegawai kabupaten/kota di hampir semua provinsi antara tahun 2008 dan 2011.

Di tingkat provinsi. Penurunan rasio ini terjadi baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. rasio belanja pegawai tertinggi dimiliki Provinsi Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur. Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki rasio terendah kurang dari 10 persen. sedangkan rasio terendah dimiliki Provinsi Papua Barat. Di tingkat provinsi. sedangkan kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta memiliki rasio terendah.71 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Pada tahun 2011 Kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio belanja modal tertinggi.Pada tahun 2011 kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai tertinggi. rasio belanja modal terhadap total belanja daerah cenderung menurun di hampir semua provinsi bila dibandingkan antara APBD tahun 2008 dan 2011. sedangkan Jawa Tengah. Bangka Belitung Bali Gambar 3. Gambar 3.72 Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep. pada tahun 2011 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki rasio belanja modal tertinggi. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. Bangka Belitung Bali Pendidikan Kesehatan Ketertiban dan Ketentraman Lingkungan Hidup Pariwisata dan Budaya Pelayanan Umum Perlindungan Sosial Ekonomi Perumahan dan Fasilitas Umum - 20 40 60 80 100 - 20 40 60 80 100 % Sumber: DJPK Kemenkeu. Hal ini perlu mendapat perhatian bila mengingat sebagain besar jaringan jalan yang mengalami kerusakan merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. 2011 Sementara itu. sedangkan kabupaten/kota di Papua Barat memiliki rasio terendah. 92 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

hampir semua provinsi memberi alokasi terbesar untuk fungsi pelayanan umum. Kabupaten/kota di Jawa Tengah mengalokasikan 51 persen belanjanya untuk fungsi pendidikan yang merupakan alokasi tertinggi. yakni memiliki kondisi rasio PAD dan rasio belanja modal diatas rata-rata dan rasio belanja pegawai di bawah rata-rata seluruh provinsi. rasio belanja pegawai di bawah rata-rata. dengan porsi terbesar dialokasikan Provinsi Papua Barat yang mencapai 73 persen. maka secara umum alokasi belanja pemerintah kabupaten/kota yang terbesar adalah untuk fungsi pendidikan. sedangkan kabupaten/kota di Papua hanya mengalokasikan sebesar 17 persen untuk fungsi pendidikan. Namun demikian kabupaten/kota di Papua mengalokasikan 43 persen belanjanya untuk mendukung fungsi pelayanan umum. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan kinerja pengelolaan terbaik antar provinsi.23 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik Daerah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Selatan RATA-RATA PROVINSI (33 PROVINSI) Kabupaten Sumbawa Barat Kabupaten Halmahera Timur RATA-RATA KABUPATEN/KOTA Sumber: DJPK (diolah) Rasio PAD Terhadap Pendapatan 71 46 50 19 11 9 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja 17 19 25 33 25 51 Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja 28 29 21 40 45 23 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 93 . khususnya pada komponen rasio belanja modal yang sudah memiliki persentase relatif tinggi. dengan menggunakan kriteria yang sama terdapat 22 kabupaten/kota yang memiliki profil lebih baik dari rata-rata. Kabupaten Sumbawa Barat dan Halmahera Timur menunjukkan rasio yang lebih baik. dapat diidentifikasi daerahdaerah yang memiliki postur APBD relatif baik. Di tingkat provinsi. Daerah-daerah yang memiliki postur APBD yang baik ditandai oleh ketiga rasio tersebut yang lebih baik dari rata-rata seluruh daerah. Berikutnya adalah Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki rasio belanja modal di atas rata-rata. Alokasi belanja untuk mendukung fungsi ekonomi hanya berkisar antara 5-16 persen di kabupaten/kota dengan alokasi tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah dan berkisar antara 7-22 persen di provinsi dengan Provinsi Gorontalo memberikan alokasi paling tinggi. Sementara untuk perbandingan antar kabupaten/kota se-Indonesia. (2) rasio belanja pegawai terhadap total belanja dan (3) rasio belanja modal terhadap total belanja. kemudian diikuti alokasi fungsi pelayanan umum. namun memiliki rasio PAD terhadap pendapatan sedikit di bawah rata-rata. Berdasarkan analisis pendapatan dan keuangan daerah di atas.Jika belanja daerah dianalisis berdasarkan fungsi. Kriteria yang dipakai untuk menilai postur APBD adalah: (1) rasio PAD terhadap total pendapatan daerah. Tabel 3.

.

BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 4. serta kecenderungan meningkatnya harga komoditas dan minyak dunia dapat mempengaruhi stabilitas keuangan global dan pemulihan ekonomi dunia yang pada gilirannya akan berpengaruh pada perekonomian nasional. Afrika Utara dan Semenanjung Korea.1 Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Peningkatan Daya Saing Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Pemantapan Stabilitas Politik Perekonomian domestik harus ditingkatkan dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik (Gambar 4. yaitu 96 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pelaksanaan pembangunan tetap dilaksanakan melalui empat jalur strategi. Keseluruhan ini menuntut perekonomian domestik harus semakin diperkuat. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan proteksi pada banyak negara serta langkah tidak sehat untuk mempertahankan pasar domestik dan ekspornya. Gambar 4. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat terus dilaksanakan tanpa melalaikan persoalan lingkungan. Persaingan antar negara untuk memenangkan pasar perdagangan dan investasi semakin ketat. Momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya tahan ekonomi tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. perubahan iklim dan bencana alam.1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik Krisis utang di sejumlah negara-negara Eropa.1). ketegangan politik di beberapa kawasan dunia seperti di Timur Tengah.

sampai dengan implementasi berupa kelembagaan dan tata kelola dan berupa pembangunan infrastruktur. Pada akhirnya. sehingga mampu untuk bersaing di tingkat domestik dan internasional. 4.pertumbuhan (pro-growth). pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). serta pemantapan stabilitas politik. Semakin kompetitif daya saing sebuah sistem perekonomian. Meningkatnya investasi dan berkembangnya usaha akan sangat penting untuk mendorong aktivitas perekonomian. et. maka pembangunan akan tumbuh lebih cepat. Abdullah.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha sangat penting untuk dapat mendorong arus investasi masuk (baik investasi domestik maupun investasi asing) dan mendorong berkembangnya usaha di Indonesia. Stabilitas sosial politik dan keamanan terus dijaga agar momentum pembangunan terus berkelanjutan. pengembangan investasi dan usaha ini akan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat.2 Aspek Peningkatan Daya Saing Daya saing dapat dinilai dengan berbagai macam pendekatan dan indikator yang pada prinsipnya menunjukkan kemampuan yang lebih unggul secara kuantitas ataupun kualitas pada skala nasional antar daerah ataupun pada skala internasional antar negara. Sementara itu. 4. yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. peningkatan daya tahan ekonomi. karena dapat menggerakkan usaha lain yang terkait dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Situasi global yang tidak pasti juga tercermin dari berbagai ketegangan politik dan potensi konflik di berbagai kawasan dunia yang dapat berpengaruh pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. uraian di bawah ini merupakan gambaran penguatan ekonomi domestik yang ditunjang oleh kebijakan komprehensif yang bertujuan untuk mencapai peningkatan daya saing. Secara lebih rinci. kesempatan kerja (pro-job). Muara dari implementasi kebijakan-kebijakan tersebut adalah tercapainya produktivitas suatu negara/daerah sehingga akan meningkatkan kesejahteraan rakyat pada skala perekonomian nasional/daerah.al (2002) mendefinisikan daya saing daerah sebagai kemampuan daerah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. Dengan demikian. Dengan demikian.2. peningkatan iklim investasi dan iklim usaha menjadi sangat penting bagi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 97 . Untuk itu kemampuan pertahanan perlu ditingkatkan guna menjaga kepentingan nasional dan keamanan regional. daya saing merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang dimulai dari penyusunan kebijakan. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.

serta meningkatkan efisiensi proses pengurusan perijinan karena perijinan dapat diproses dengan lebih cepat dengan biaya yang lebih transparan. penyelenggaraan PTSP yang baik akan memberikan kepastian berusaha.perekonomian daerah karena dapat memberikan efek ganda ( multiplier effect) terhadap perekonomian yang cukup besar. karena tidak akan menimbulkan salah persepsi dan dapat mengurangi biaya ekonomi tinggi.2 Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Pemerintah Mendorong penguatan ekonomi domestik (melalui pertumbuhan dan dan peningkatan kesejahteraan rakyat) Mendorong peningkatan kesempatan kerja dan daya beli masyarakat Meningkatkan investasi dan usaha Iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif Kemudahan dan transparansi proses perijinan di PTSP provinsi dan kab/kota Kepastian lahan dan peruntukannya Investor/Pengusaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha di daerah sebaiknya difokuskan pada: (i) penyederhanaan dan harmonisasi berbagai regulasi yang bertujuan untuk memberikan transparansi. serta (iii) kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan. yang 98 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . kepastian dan kemudahan untuk melakukan investasi dan berusaha. Regulasi yang jelas dan prosedur yang lebih sederhana akan memudahkan investor dan pengusaha dalam melaksanakan regulasi tersebut. (ii) penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk mempercepat dan mempermudah proses perijinan dan non perijinan untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha di daerah. Gambar 4. Sementara itu. memudahkan investor dan pengusaha dalam memproses perijinan. Hal ini tentunya akan berdampak pada meningkatnya kenyamanan berusaha dan berinvestasi.

4. Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan telekomunikasi terkait dengan upaya modernisasi bangsa dan penyediaannya merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. Gambar 4. Sejak lama infrastruktur diyakini merupakan pemicu pembangunan suatu Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 99 . antara lain air minum dan sanitasi. Ketersediaan sarana perumahan dan permukiman.3 Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Sistem Transportasi Nasional Sistem Logistik Sistem Informasi dan Komunikasi Pengembangan Wilayah Peningkatan Konektivitas antar wilayah Penguatan ekonomi domestik Selain itu. secara luas dan merata. Jaringan transportasi dan telekomunikasi dari Sabang sampai Merauke serta Sangir Talaud ke Rote merupakan salah satu perekat utama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang. serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. infrastruktur mempunyai peran yang tak kalah pentingnya untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.2.

Oleh sebab itu. Ketersediaan listrik yang memadai di suatu daerah akan menjadi insentif untuk membangun industri. serta dapat menjadi penghubung yang efisien antara sumber bahan baku (resource). Pengalaman menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi berperan besar untuk membuka isolasi wilayah. ke depan pendekatan pembangunan infrastruktur berbasis wilayah semakin penting untuk diperhatikan. Konektivitas nasional menghubungkan pusat perekonomian lokal. sehingga dapat menumbuhkan perdagangan antar wilayah dan antar negara. nasional dan dunia (global) secara efektif. Sistem Transportasi Nasional. termasuk daerah terpencil dengan daerah terdekat bahkan dengan pusat pertumbuhan ekonomi. Faktor keempat elemen tersebut merupakan rangkaian sistem kebijakan yang harus saling terintegrasi agar dapat meningkatkan daya saing perekonomian domestik. 100 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pada akhirnya tersedianya infrastruktur akan banyak membawa dampak posistif bagi produktivitas industri. Dapat dikatakan disparitas kesejahteraan antar kawasan juga dapat diidentifikasi dari kesenjangan infrastruktur yang terjadi diantaranya. serta memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi. kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing. efisien dan terpadu. Ketersediaan Listrik Energi listrik merupakan unsur penting bagi pembangunan dalam segala bidang. Selain itu. globally connected ). Sementara itu. Terhubung Secara Global (locally integrated. Dalam konteks ini. Pengembangan Wilayah dan Sistem Informasi dan Komunikasi dengan visi Terintegrasi secara Lokal. melalui proses peningkatan nilai tambah bahan mentah menjadi produk olahan setengah jadi atau jadi. Aktivitas ekonomi membutuhkan listrik sebagai sumber energi gerak dan cahaya. Infrastruktur Transportasi Infrastruktur transportasi darat. kesehatan dan lapangan pekerjaan. Listrik dalam industri dibutuhkan untuk memproduksi barang. ketersediaan infrastruktur pengairan merupakan prasyarat kesuksesan pembangunan pertanian dan sektor-sektor lainnya. perluasan usaha dan perluasan pasar. Tersedianya infrastruktur transportasi akan memperlancar arus barang.kawasan. manusia dan jasa. laut dan udara menjadi sangat penting untuk disediakan mengingat kondisi geografis Indonesia berupa kepulauan dengan disparitas ekonomi daerah Indonesia yang sangat beragam. Percepatan pembangunan infrastruktur memiliki empat elemen kebijakan yang terintegrasi yaitu Sistem Logistik Nasional. ketersediaan infrastruktur transportasi yang memadai akan menciptakan konektivitas antar daerah bahkan antar pulau. ketersediaan infrastruktur akan memudahkan aksesibilitas masyarakat untuk memperoleh pendidikan. pusat produksi dan pasar. Selain itu. percepatan pembangunan infrastruktur memegang peran penting dalam meningkatkan daya saing perekonomian domestik terutama dengan perekonomian dunia (global).

MP3EI dirumuskan dengan perubahan pola pikir ( mindset) dalam pemahaman bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat Dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 101 . mengharuskan Indonesia mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk mempercepat terwujudnya suatu negara maju dengan hasil pembangunan dan kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. jumlah kelas menengah yang besar dan semakin meningkat. Perspektif ini didukung oleh banyak lembaga internasional yang mengatakan bahwa Indonesia memang layak dan berkemampuan untuk menjadi big player dalam perekonomian global. Ketersediaan Sarana Telekomunikasi Telekomunikasi akan memudahkan arus informasi dengan lebih luas dan cepat. serta akses yang strategis ke jaringan mobilitas global. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Indonesia adalah negara yang dikarunia dengan hampir semua prasyarat untuk mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan besar perekonomian dunia. Sementara itu. Indonesia menghadapi banyak tantangan ke depan yang semakin berat. Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang lebih cerdas.Listrik juga berperan dalam meningkatkan pendidikan. ilmu pengetahuan dan kesehatan. yaitu kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. keberadaan teknologi serat optik semakin mampu memperluas lebar jalur (bandwidth). sehingga komunikasi data dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Keberadaan Indonesia di pusat baru gravitasi ekonomi global. Sebagai negara yang berada di tengahtengah persaingan global yang semakin ketat. jaringan serat optik dan broadband. Indonesia mempunyai aset dan akses yang mendukung terwujudnya negara ini sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam tata pergaulan antar negara. Daya saing dalam bidang telekomunikasi ditentukan oleh tersedianya jaringan telepon tetap (fixed-line). Namun demikian. memang harus diakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang kita capai selama ini belum mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi. fokus dan sistematis dalam perencanaan pembangunan nasional ke depan. Dengan kekayaan sumber daya alam. Berbagai informasi akan mudah dan cepat diperoleh dan disebarkan dengan bantuan media pendidikan yang tersedia secara elektronik. Ketersediaan serat optik dan broadband akan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang karena akan mempermudah penyampaian informasi dan proses data. Ketersediaan telepon tetap memudahkan komunikasi antar daerah dan wilayah. 4. yang telah diluncurkan oleh Presiden hampir satu tahun yang lalu (27 Mei 2012) diperlukan untuk menjawab tantangan tersebut.2.

telematika. pemerintah akan melakukan penguatan koordinasi. produksi dan distribusi. melalui: pertama. pariwisata. energi dan pengembangan kawasan strategis nasional. dalam rangka penguatan kebijakan. peralatan transportasi. pihak swasta akan diberikan peran penting dalam pengembangan MP3EI. food estate. Dalam pelaksanaan MP3EI. Kedua. kelapa sawit. peternakan. nikel. kakao. pariwisata. Pemerintah Pusat dan Daerah akan melakukan deregulasi ( debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi. makanan-minuman. dunia usaha akan menjadi aktor utama dalam kegiatan investasi. BUMN. fasilitator dan katalisator. tembaga. Fokus dari 8 (delapan) program utama tersebut meliputi 22 (dua puluh dua) kegiatan utama yaitu industri besi-baja.Daerah. bauksit. tekstil. Gambar 4. perikanan. serta pengembangan Metropolitan Jabodetabek dan pembangunan Kawasan Selat Sunda. alutsista. pertanian. sinkronisasi dan sinergi kebijakan antar Kementerian/Lembaga dan antara Kementerian/Lembaga dengan pemerintah daerah. karet. perkapalan. sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator. MP3EI dilakukan dengan pendekatan terobosan (breakthrough) bukan Business As Usual. BUMD dan Dunia Usaha dalam semangat Indonesia Incorporated. Dari sisi regulasi. batubara. Tujuan dari pelaksanaan MP3EI adalah untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 (delapan) program utama yang meliputi sektor industri manufaktur. kelautan. perkayuan. Fasilitasi dan katalisasi akan diberikan oleh Pemerintah melalui penyediaan infrastruktur maupun pemberian insentif fiskal dan non fiskal. telekomunikasi. pertambangan.4 Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Sumber: MP3EI 2011 – 2015 102 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . minyak dan gas.

Pembangunan koridor ekonomi dilakukan sebagai pengembangan wilayah untuk menciptakan dan memberdayakan basis ekonomi terpadu dan kompetitif serta berkelanjutan. Koridor ekonomi akan didukung dengan pemberian insentif fiskal dan non-fiskal. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan ekonomi yang beragam dan inklusif dan dihubungkan dengan wilayah-wilayah lain di luar koridor ekonomi. kemudahan peraturan. Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia diharapkan akan dapat mendukung peningkatan daya saing dalam rangka penguatan ekonomi domestik karena pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia memberikan penekanan baru bagi pembangunan ekonomi wilayah. yaitu: Koridor Sumatera. Koridor Bali – Nusa Tenggara dan Koridor Papua – Kepulauan Maluku. 2. baik yang telah ada maupun yang baru. 4. Setiap wilayah mengembangkan produk yang menjadi keunggulannya. logistik serta komunikasi dan informasi untuk membuka akses daerah. Pembangunan 6 (enam) koridor ekonomi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 103 .4. Mengembangkan 6 (enam) koridor ekonomi indonesia. Koridor ekonomi diarahkan pada sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara nasional. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan konektivitas yang terintegrasi antara sistem transportasi. Secara keseluruhan. regional maupun global. Koridor Sulawesi. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu: 1. perijinan dan pelayanan publik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk meningkatkan iklim usaha dan iklim investasi. 5. Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari pendekatan sektoral dan regional. antara lain: 1. 3. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan yang menekankan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah pengelolaan sumber daya alam melalui perluasan dan penciptaan rantai kegiatan dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut akan menciptakan Koridor Ekonomi Indonesia sebagaimana dapat dijelaskan dalam kerangka pengembangan Koridor Ekonomi pada Gambar 4. Koridor Jawa. Koridor Ekonomi Indonesia akan dilaksanakan melalui strategi utama pelaksanaan MP3EI. agar semua wilayah di Indonesia dapat berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah. Koridor Kalimantan. Tujuan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut adalah untuk memaksimalkan keuntungan aglomerasi. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan penguatan konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi serta infrastruktur pendukungnya.Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia diselenggarakan berdasarkan pendekatan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. menggali potensi dan keunggulan daerah serta memperbaiki ketimpangan spasial pembangunan ekonomi Indonesia.

sebagaimana tertuang dalam Gambar 4. Mempercepat peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi. dan  Penguatan konektivitas internasional sebagai pintu keluar dan masuk perdagangan dan pariwisata antar negara. Penguatan konektivitas nasional ditujukan untuk memperlancar distribusi barang dan jasa dan mengurangi biaya transaksi (transaction cost) logistik. bahan setengah jadi dan produk akhir dari dan keluar koridor (pulau). internationally connected ). Hal ini akan dilakukan melalui:  Penguatan konektivitas intra dan antar pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berbasis sumber daya unggulan di setiap koridor ekonomi.5 Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sumber: MP3EI 2011 . Gambar 4.2015 2. kejuruan dan pelatihan terutama untuk yang terkait dengan pengembangan program utama. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara internasional (locally integrated. Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 3. 104 .5.  Penguatan konektivitas antar koridor (pulau) untuk memperlancar pengumpulan dan pendistribusian (collection and distribution) bahan baku. Elemen utama untuk percepatan kemampuan SDM dan IPTEK meliputi:  Meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan tinggi.

BUMN.   Meningkatkan kompetensi teknologi dan ketrampilan/ keahlian tenaga kerja. contohnya nilai hasil produksi padi setiap tahunnya kurang lebih sebesar 300 triliun rupiah dan jumlah rumah tangga petani padi yang terlibat sekitar 15 juta rumah tangga. nilai ekonomi dari usaha tani yang cukup besar. 4. serta penyediaan sarana tekonologi dari penyuluhan. Jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar juga menjadi tantangan berat untuk terus meningkatkan ketahanan pangan. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam menjaga insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. Keempat aspek tersebut akan membangun sistem ketahanan pangan seperti yang digambarkan pada Gambar 4. (2) aspek aksesibilitas pangan. Ketahanan Pangan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional karena dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan juga mempengaruhi pembangunan sektor lain. swasta dan akademisi. distribusi dan stabilisasi harga pangan yang terjangkau. APBD. BUMD dan swasta diharapkan dapat menjadi pilar dan kontributor utama investasi dalam pelaksanaan MP3EI. Selain itu. keamanan dan kehalalan. pengolahan pangan dan pemasaran. Pelaksanaan MP3EI ini semaksimal mungkin memberikan peran yang besar kepada pelaku usaha domestik terutama untuk dapat meningkatkan nilai tambah pemanfaatan sumberdaya dalam negeri. Sementara itu. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. BUMD.3. pemerintah daerah. serta pihak swasta dan masyarakat.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Salah satu langkah dalam peningkatan daya tahan ekonomi untuk memperkuat ekonomi domestik adalah melalui peningkatan ketahanan pangan terutama yang berbasis sumber daya lokal. MP3EI merupakan produk dari hasil kerjasama dan kemitraan antara pemerintah pusat. Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi. Pada dasarnya ketahanan pangan mencakup 4 aspek utama yang terdiri atas: (1) aspek ketersediaan pangan. distribusi. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. keragaman. BUMD. BUMN. kandungan gizi. Peningkatan ketahanan pangan harus terus didorong untuk mampu menggerakkan perekonomian daerah. serta (4) aspek penanggulangan masalah pangan. dan Mengembangkan institusi sistem inovasi nasional yang berkelanjutan. BUMN. pendanaan kegiatan MP3EI dilakukan melalui keterpaduan pendanaan dari APBN. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 105 . memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian nasional.3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4. Meningkatkan kegiatan dan membangun pusat-pusat pengembangan R&D di pusat-pusat pertumbuhan (KEK dan Klaster Industri) di setiap koridor ekonomi melalui kolaborasi antar Pemerintah. (3) aspek konsumsi pangan yang memenuhi kaidah mutu.7.

obat-obatan. (5) Mencegah atau mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan melakukan konservasi sumber daya lahan dan air. (3) Meningkatkan efektifitas pengendalian organisme pengganggu tanaman dan penyakit hewan serta pengembangan sistem perkarantinaan. Cadangan. Untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan.Gambar 4. alat dan mesin) dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai serta tersedia setiap saat dibutuhkan serta kebijakan subsidi input yang lebih efisien. kualitas. cadangan dan impor. keragaman dan keamanannya. lahan. IPTEK dan penyuluhan. (4) Mendorong investasi di sektor pertanian yang berbasis produk lokal. Impor) Distribusi Dan Stabilisasi Harga Konsumsi Pangan Dan Gizi Penanggulangan Masalah Pangan Kurang Pangan Lonjakan Harga Pendapatan Rendah/Miskin Bencana Insentif Produksi : Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Beras Subsidi Input: Pupuk dan Benih Subsidi Suku Bunga KKP Cadangan Beras Pemerintah RASKIN Aspek ketersediaan pangan berfungsi untuk menjamin ketersediaan pangan guna memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas. maka produksi dalam negeri harus menjadi sumber utama untuk ketersediaan pangan tersebut. (2) Meningkatkan dukungan penelitian. Peningkatan produksi pangan dalam negeri dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan ketersediaan input produksi (benih/bibit. pupuk. (6) Memperluas areal lahan 106 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pakan.6 Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan Pangan Ketersediaan Pangan (Produksi Dalam Negeri. Ketersediaan pangan tersebut terdiri atas produksi dalam negeri. irigasi.

pertanian serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. mencapai swasembada pangan. (4) Mengembangkan kebijakan dan peraturan daerah guna memperlancar dan mengefisienkan distribusi pangan antar daerah. Aspek penanggulangan masalah pangan berfungsi menjaga goncangan pangan akibat ketidakmampuan memenuhi pangan karena kondisi ekonomi. (2) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah. Peningkatan efisiensi aksesibilitas pangan dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah untuk stabilisasi harga. bencana dan lonjakan harga. (3) Meningkatkan sarana dan prasarana guna efisiensi dalam perdagangan dan mengurangi kerusakan bahan pangan. Aspek akesibilitas pangan berfungsi untuk menjamin seluruh level masyarakat dapat menjangkau sumber pangan yang mencukupi baik kuantitas maupun kualitasnya. terutama ibu hamil dan anak balita. lahan basah dan lahan terlantar. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 107 . pengolah. dan (4) Meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang pangan yang bergizi dan seimbang. Distribusi pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan ketersediaan pangan keseluruh wilayah secara berkelanjutan. (9) Mengembangkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di sektor pertanian. Stabilisasi harga pangan diselenggarakan dengan tujuan untuk menyejahterakan petani dan nelayan. (7) Melakukan penataan dan harmonisasi peraturan perundangan lahan untuk menjamin kepastian hukum lahan pertanian. (8) Mengembangkan infrastruktur pertanian. dan. Pemenuhan aspek konsumsi dapat dilakukan melalui: (1) Mengembangkan penganekaragaman (diversifikasi) pengolahan dan konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. pedagang hingga konsumen sehingga berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. serta pola hidup sehat. Aspek konsumsi pangan dan gizi berfungsi untuk mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu. keragaman. (2) Mengembangkan kebijakan perdagangan dan ekspor-impor yang mendukung ketahanan pangan. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani. kandungan gizi. Pola konsumsi dalam rumah tangga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kondisi ekonomi. (3) Meningkatkan kemampuan masyarakat dan Pemda dalam mengembangkan cadangan pangan. dan (5) Mengembangkan usaha pengolahan dan pemasaran produk pangan di perdesaan yang berbasis bahan pangan lokal. stabilitas harga dan pasokan merupakan indikator penting untuk menunjukkan kinerja aspek akesibilitas pangan. sosial dan budaya setempat. keamanan dan kehalalan. dapat tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. yang disalurkan dalam bentuk bantuan beras miskin bagi keluarga miskin dan penyaluran cadangan beras pemerintah terutama dalam mengantisipasi terjadinya bencana melalui bantuan pangan. memperhatikan daya beli masyarakat. Distribusi. produsen. Indikator aspek konsumsi. menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik. menghindari terjadinya gejolak harga pangan.

GP3K Produktivitas Cetak Sawah. ke depan masih akan dihadapkan kepada berbagai tantangan yang terkait dengan: (1) Menjaga peningkatan produksi pangan terutama beras seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat. Penyuluhan. Dalam upaya peningkatan produksi dilakukan terutama melalui peningkatan produktivitas. banyaknya infrastruktur irigasi yang rusak. serta (4) terjadinya perubahan iklim yang dapat menyebabkan gangguan dalam produksi. penurunan susut dan peningkatan rendemen (Gambar 4.7 Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Input/ Dukungan Kegiatan/ Output Indikator/ Outcome Sasaran Antara Sasaran Utama Pupuk. Optimasi Lahan Luas Tanam Produksi Manajemen. SRI. perluasan areal tanam. (3) Menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat terhadap pangan tidak terganggu. Air Irigasi SLPTT. Tantangan utama yang dihadapi dalam peningkatan produksi ini adalah alih fungsi lahan dan perluasan areal pertanian yang semakin sulit. dukungan sarana dan prasarana perikanan masih kurang dan menghadapi terjadinya keragaman dan perubahan iklim. pada awal tahun 2011 presiden memberikan direktif untuk pencapaian surplus beras 10 juta ton setiap tahun mulai tahun 2014.Ketahanan pangan. terutama beras. Olahan Pangan Lokal Konsumsi Beras Per Kapita Keterangan: SL-PTT : Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu SRI : System of Rice Intensification GP3K : Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi P2KP : Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan 108 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Alsintan. Benih. Gambar 4. Strategi dalam pencapaian surplus beras 10 juta ton tersebut terutama meliputi pencapaian produksi padi dan percepatan diversifikasi konsumsi untuk menurunkan konsumsi beras dan peningkatan kualitas gizi masyarakat. Pengendalian HPT Alat dan Mesin Pasca Panen Susut Revitalisasi Penggilingan Rendemen Surplus Beras 10 Juta Ton Per Tahun Mulai Tahun 2014 Konsumsi Diversifikasi (P2KP). (2) Diversifikasi konsumsi pangan berbasis bahan pangan lokal relatif lambat. Khusus untuk pengamanan produksi beras.7). distribusi dan aksesibilitas masyarakat terhadap pangan serta terjadinya kerawanan pangan di daerah.

perikanan sebagai salah satu sumber protein hewani juga memiliki peranan yang penting dalam ketahanan pangan dan merupakan sumber ekonomi bagi nelayan dan pembudidaya ikan. agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang cukup dan merata dengan mutu pelayanan yang baik. usaha penyediaan tenaga listrik. Dengan adanya listrik maka dapat mendorong investasi khususnya untuk sektorsektor unggulan daerah sehingga dapat meningkatkan daya saing daerah tersebut. pengaturan. Untuk penyelenggaraan penyediaan tenaga listrik. pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. komersial dan industri guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Listrik dapat menciptakan peningkatan produktivitas baik di sektor rumah tangga. Rumah tangga perikanan tangkap dan budidaya yang diperkirakan mencapai 2. Oleh sebab itu.8 Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Pembangunan Ketenagalistrikan Peningkatan Produktivitas  Rumah tangga  Komersial  Industri  Peningkatan Pendapatan  Konsumsi Listrik Pertumbuhan Ekonomi Domestik Pembangunan ketenagalistrikan dilaksanakan secara berkesinambungan dimulai dari pembangunan pembangkit listrik. gardu dan transmisi serta penyalurannya sampai rumah tangga. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. Gambar 4.3. Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah berlandaskan prinsip otonomi daerah. 4.Sementara itu. Nelayan dan pembudidaya ikan merupakan mata pencaharian utama bagi masyakat pesisir. oleh karena itu tenaga listrik sangat penting dan strategis bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya serta untuk mendorong peningkatan dan penguatan kegiatan ekonomi domestik pada khususnya.6 juta pada tahun 2010 mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan ekonomi nasional dan daerah. kualitas yang baik dan harga yang wajar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup. pemanfaatan dan pengelolaannya perlu ditingkatkan.2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang mendasar untuk berbagai aktifitas masyarakat. Dari kerangka di atas dijelaskan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 109 .

adaptif dan inovatif. Penegasan bahwa pendidikan dapat memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi berdasarkan asumsi pendidikan akan menciptakan tenaga kerja produktif dengan kompetensi. Penguasaan teknologi sangat penting karena bisa mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi. serta menanamkan etos kerja tinggi. sehingga pembangunan dengan skala/kapasitas kecil-menengah akan sesuai dengan kemampuan pembiayaan dalam negeri. Tenaga kerja terdidik dengan kualitas tinggi merupakan faktor determinan bagi peningkatan kapasitas produksi.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan ekonomi.pembangunan ketenagalistrikan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.4. Tenaga kerja terdidik akan berpengaruh lebih signifikan lagi bilamana disertai penguasaan teknologi. Potensi energi baru terbarukan (EBT) sangat sesuai dikembangkan di Indonesia dengan kondisi geografis yang berupa pulau-pulau dengan kondisi beban (demand) yang tersebar. yang memberi stimulasi pada pertumbuhan ekonomi. profesional berpengetahuan dan tenaga ahli dengan kemahiran khusus sehingga menjadi lebih produktif. Kondisi tersebut menuntut pengembangan dan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang potensinya relatif cukup besar seperti tenaga hidro. untuk mencapai apa yang disebut keunggulan kompetitif (competitive advantage). Pelaksanaan kebijakan konversi energi dari BBM ke gas di sektor tranportasi dilakukan secara bertahap dalam jangka panjang dengan angkutan umum menjadi salah satu sasaran utama program konversi untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi. Semua itu akan melahirkan energi yang dapat mendorong dan menggerakkan kerja-kerja produktif untuk mencapai kemajuan. Oleh karena itu. 110 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4. dalam mendorong penghematan anggaran dan pembangunan energi yang berkelanjutan maka peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat besar dalam peningkatan penyediaan listrik dan pelaksanaan konversi energi. Nilai ekonomi pendidikan terletak pada sumbangannya dalam memasok tenaga kerja terampil. 4. biomassa. Penguasaan teknologi dimungkinkan bilamana persyaratan modal manusia (SDM) yang andal dipenuhi. pengetahuan dan keterampilan tinggi. Pendidikan juga dapat mengembangkan visi dan wawasan tentang kehidupan yang maju. keahlian. surya. Lemahnya ketersediaan pasokan listrik berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi. bayu/angin dan samudera. yang kemudian berdampak pada pengurangan kemiskinan dan pengangguran serta menaikkan pendapatan per kapita masyarakat.

Secara makro. tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan diharapkan dapat memberikan landasan bagi penciptaan lapangan kerja baru dan perluasan kesempatan kerja di masyarakat.10).9 Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Peningkatan & Penguatan Daya Saing Nasional/ Daerah Tenaga Kerja Terampil Profesional dengan Penguasaan IPTEK Peningkatan Produktivitas Nasional/ Daerah Pertumbuhan Ekonomi yang Berdampak Pada Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Tenaga Ahli dengan Kemahiran Khusus Keunggulan Kompetitif Adaptif Inovatif Etos Kerja Tinggi 4.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Upaya percepatan pengurangan kemiskinan yang dilakukan melalui strategi dan kebijakan makro dan strategi dan kebijakan klaster diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat miskin. Dalam konteks penguatan ekonomi domestik diharapkan agregasi dari kedua upaya dan langkah secara makro tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan produktivitas dan kapasitas masyarakat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 111 . Secara ekonomis. Gambar 4. Selanjutnya. peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan penguatan ekonomi domestik di daerah (Gambar 4.Kaitan antara peningkatan SDM yang berkualitas dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan dapat digambarkan dalam diagram berikut. pengendalian terhadap inflasi terutama inflasi dari aspek makanan (flood inflation) diharapkan dapat mengamankan tingkat konsumsi masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan semakin meningkat.4.

Gambar 4. Kegiatan-kegiatan pada Klaster 1 (Bantuan dan Perlindungan Sosial) dan Klaster 4 (Program Pro-Rakyat) diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan terus meningkat secara sosial dan ekonomi. 4 (empat) klaster program penanggulangan kemiskinan yang merupakan bagian dari kebijakan afirmatif diharapkan dapat meningkatkan baik kapasitas maupun produktivitas masyarakat miskin. kegiatan-kegiatan pada Klaster 2 (Pemberdayaan Masyarakat) dan 112 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sementara.10 Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan STRATEGI DAN KEBIJAKAN KLASTER STRATEGI DAN KEBIJAKAN MAKRO KLASTER 1 MENJAGA TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI MENGENDALIKAN TINGKAT INFLASI KLASTER 2 KLASTER 3 KLASTER 4 PENYEDIAAN LAPANGAN KERJA MENJAGA TINGKAT KONSUMSI MASYARAKAT PENGURANGAN BEBAN PENGELUARAN PENINGKATAN PENDAPATAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK DI DAERAH Secara teknis.miskin di daerah sehingga pada akhirnya dapat memberikan kontribusi terhadap upaya penguatan ekonomi di daerah.

maka pada tahun 2014 mendatang Pemilu 2014 dapat dilaksanakan secara demokratis. Bagan di bawah menunjukkan posisi penting pemilu dalam keseluruhan dinamika politik di Indonesia. yakni pemilu yang adil. baik pada stabilitas politik maupun ekonomi.1 Persiapan Pemilu 2014 Stabilitas politik dalam sebuah negara/sistem demokrasi ditentukan oleh sejumlah faktor penting. Persiapan Pemilu 2014 membutuhkan suatu kerangka pendanaan yang sangat besar dan kompleks dalam setiap pentahapannya. maka pada semua tingkat. perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sehingga pada gilirannya makin jelas kaitan antara demokrasi dengan kesejahteraan masyarakat. 4. sehingga memberikan kepercayaan yang lebih besar bahwa proses politik kita terus bergerak maju menuju demokrasi yang terkonsolidasi. yakni sebagai bagian dari penataan proses politik. Kerangka pendanaan pemilu yang begitu masif perlu memberikan dampak nyata. tapi merupakan syarat mutlak. jujur dan adil dan dengan tingkat partisipasi politik yang dapat mencapai rata-rata 75 persen. bahwa stabilitas politik adalah prasyarat mutlak bagi penguatan. untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 113 . Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berkepentingan pada penyelenggaraan pemilu yang kredibel. pemerintah perlu memberikan dukungan optimal pada lembaga independen KPU. jujur dan tunduk pada prinsip-prinsip umum sebuah pemilu demokratis sehingga memberikan kontribusi nyata pada stabilitas politik. sebagai diamanatkan dalam UU No. Bawaslu dan Panwaslu dalam melaksanakan tugastugas mereka menyelenggarakan pemilu maupun pemilukada. Pemilu memang bukan segala-galanya dalam menentukan keberhasilan konsolidasi demokrasi. 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Oleh karena itulah.5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4. Melalui proses persiapan penyelenggaraan pemilu yang matang dan akuntabel yang didukung oleh pemerintah dan pemerintah daerah.Klaster 3 (Pemberdayaan Usaha Mikro) diharapkan dapat memberikan landasan bagi pengembangan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat miskin yang berorientasi kepada peningkatan pendapatan (income generation) dalam jangka pendek dan peningkatan produktivitas dalam jangka panjang. Pembangunan politik mensyaratkan kesuksesan penyelenggaraan pemilu dalam menghasilkan pemimpin politik yang mampu mendorong kebijakan yang efektif dan bermanfaat untuk rakyat. yang seluruhnya merupakan dana dari APBN. Hal ini dengan mengingat. Dengan kata lain. yang memiliki kaitan erat dengan program pembangunan pada umumnya dan arah kebijakan lainnya.5.

Stabilitas politik berpengaruh besar dalam penciptaan iklim investasi yang kondusif di suatu wilayah. akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan transparasi mekanisme pengadaan barang/jasa (procurement) juga menjadi pertimbangan penting bagi investor yang sangat menekankan 114 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Selain itu. baik kepada masyarakat maupun investor.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi iklim investasi dan perkembangan ekonomi adalah situasi politik.11 Skema Pencapaian Stabilitas Politik S T A B I L I T A S P O L I T I K Penyempurnaan Struktur Politik 1 Kelembagaan Demokrasi Konstitusi/ Peraturan Perundangan Hubungan antar lembaga Kebijakan Demokrasi Kapasitas Lembaga Negara/ Pemerintah KPU dan Bawaslu Desentralisasi dan otonomi daerah Rekonsiliasi Nasional Ruang Publik Penataan Peran Negara dan Masyarakat 2 Kemandirian Masyarakat Kapaitas OMS Kapasitas Parpol Pranata Kemasyarakatan Kapasitas dan Peran Adat Penataan Proses Politik 3 Representasi Kekuasaan Seleksi Kepemimpinan Nasional Seleksi Pejabat Publik/Politik PEMILU dan PEMILUKADA Pengembangan Budaya Politik 4 Penanaman Nilai Demokrasi Nilai Pancasila Nilai Demokrasi Advokasi/Pendidikan Politik Pembangunan Infokom 5 6 Akses Terhadap Informasi 4.5. Stabilitas politik ini berkaitan erat dengan kinerja pemerintahan dalam memfasilitasi dan menciptakan aturan main dalam kerangka governance.Gambar 4. Kinerja pemerintahan ditentukan oleh kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan.

upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas juga dilakukan melalui pengembangan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement).12 Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat KESEJAHTERAAN RAKYAT KUALITAS SDM APARATUR PERTUMBUHAN DAN PERKUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK PENERAPAN E-PROCUREMENT (LPSE) DAYA SAING DAERAH MENINGKAT UPAYA PENCAPAIAN WTP ATAS AUDIT LKPD DAMPAK: PELAYANAN PUBLIK BERKUALITAS PENERAPAN SAKIP SASARAN: TERWUJUDNYA TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Di samping itu. hal ini harus diperkuat dengan komitmen untuk memberantas praktek-praktek Korupsi.pentingnya aspek kepastian hukum. Kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat akan sangat menentukan kualitas penyelenggaraaan pelayanan publik. Selanjutnya. Dengan e-procurement maka penyelenggaraan proses pengadaan barang/jasa pemerintah Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 115 . Secara lebih sederhana sebagaimana digambarkan dalam kerangka pikir di bawah ini. Hal ini terutama ditujukan bagi SDM pelayanan yang menjadi pintu gerbang masuknya investasi di suatu wilayah. baik kepada masyarakat maupun investor. Gambar 4. Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam pembangunan di suatu wilayah. yang antara lain dapat ditempuh melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan upaya pengelolaan dan pelaporan keuangan negara/daerah secara akuntabel menuju tercapainya opini WTP atas audit BPK. Kompetensi PNS perlu terus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan yang prima. Untuk itu. upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas dan integritas SDM pelayanan harus terus dilakukan.

Selain itu. Masalah lain yang menjadi penghambat investasi adalah infrastruktur yang tidak memadai. Terkait dengan pemberantasan korupsi. Aspek lain yang juga menjadi tolok ukur kapabilitas pemerintah dalam menjalankan pembangunan di daerah adalah akuntabilitas dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah. adil dan tidak diskriminatif. Mekanisme tersebut akan menjadi daya tarik bagi investor yang seringkali mengeluhkan proses pengadaan barang/jasa yang berbelit-belit sehingga dapat menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). akuntabel dan memiliki kinerja yang optimal. penganggaran. Implementasi SAKIP sebagai upaya pula untuk mewujudkan manajemen birokrasi berbasis kinerja. birokrasi yang tidak efisien dan situasi politik yang tidak stabil. Hal ini tentunya dapat secara langsung mendukung upaya peningkatan daya saing nasional dan daerah. mulai dari perencanaan. pengendalian kinerja. 116 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sejalan itu pula. implementasi. Oleh karena itu. hasil survey Transparency International Indonesia (TII) tahun 2010 atas beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa korupsi menjadi masalah utama bagi para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha.dapat lebih transparan. BPK sebagai lembaga yang berwenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. upaya-upaya yang mengarah pada pencegahan dan pemberantasan KKN harus terus menerus dilakukan demi menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan kepastian hukum. Untuk mengukur akuntabilitas tersebut. penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk mewujudkan birokrasi yang profesional. terbuka. kewajiban pemerintah daerah untuk menindaklanjuti temuan BPK dapat dijadikan tolok ukur dari komitmen pemerintah daerah akan nilai-nilai transparansi dan kepatuhan atas peraturan perundangan. efektif. bersaing. diantaranya adalah kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan serta kepatuhan terhadap peraturan perundanganundangan. telah mengeluarkan opini mengenai kewajaran informasi dalam laporan keuangan. sehingga seluruh tahapan dalam proses kerja birokrasi. hingga pelaporan dapat berjalan dengan terarah sesuai rencana dan menghasilkan kinerja yang optimal. Beberapa aspek yang ditekankan dalam penilaian opini BPK.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB V LANGKAHLANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan.1 Peningkatan Daya Saing Dalam upaya mencapai keunggulan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. pembinaan. 3. berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah.PPN/11/2010. Selanjutnya juga telah diterbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. efektif. Sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah serta antar daerah. antar ruang. Dalam hal ini peran Gubernur dalam menjalankan fungsi koordinasi. 120/4693/SJ tentang Peningkatan Efektivitas Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Kementerian/Lembaga di Daerah serta Peningkatan Peran Aktif Gubernur Selaku Wakil Pemerintah Pusat. Presiden telah menetapkan 9 (sembilan) direktif pada Raker III di Bogor tahun 2010 yang mengamanatkan bahwa peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat perlu ditingkatkan demi tercapainya sinergi pusat dan daerah serta efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan program dan kegiatan Kementerian/Lembaga di daerah. Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. serta Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Selanjutnya telah dipersiapkan revisi PP Nomor 19/2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. penganggaran. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan diperlukan untuk: 1. 4.BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 5. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 0442/M. 120 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . monitoring dan evaluasi serta fasilitasi pembangunan Kabupaten/Kota di wilayah provinsinya akan diperkuat termasuk koordinasi perencanaan pembangunan. pengawasan. pelaksanaan dan pengawasan. 5. antar waktu. Menjamin terciptanya integrasi. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. SE-696/MK 2010. 2.

5. dan Kabupaten/Kota adalah: 1. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Dalam rangka meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di seluruh Wilayah Indonesia. mengantisipasi terjadinya keterlambatan proses perijinan yang berlarut-larut dan mengurangi adanya pungutan pada perijinan sektor tertentu. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD.1. 6. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah. PTSP diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah pelayanan perijinan. dan Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. Untuk itu. perlu ditingkatkan kemudahan pelayanan perijinan dan non perijinan yang transparan baik prosedur maupun biayanya. provinsi dan kabupaten/kota Peran konkrit yang perlu dikoordinasikan antara Pemerintah Pusat. Mendorong terbangunnya PTSP di seluruh Indonesia dan memfungsikan peran PTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan. 2. memudahkan dalam memonitor kinerja pemrosesan perijinan terutama yang bersifat lintas sektor. RKP dan RKPD). 5.1. setiap provinsi dan kabupaten kota agar dapat segera membangun dan menyelenggarakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang menyediakan informasi dan pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan untuk kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 121 . 3. Provinsi. baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Peran pemerintah pusat. Melakukan harmonisasi peraturan perundangan dan turunannya. dalam rangka meningkatkan kemudahan investasi dan berusaha. sehingga memudahkan berbagai stake holder untuk melaksanakannya. 4. 2.Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. baik di tingkat pusat maupun daerah. RPJMN dan RPJMD. Adapun peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam penyelenggaraan PTSP dapat terlihat dalam Gambar 5.

Kementerian Dalam Negeri dan BKPM berperan untuk meningkatkan kualitas SDM PTSP di seluruh Indonesia melalui pemberian pelatihan-pelatihan. 122 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian KumHAM agar dapat menyederhanakan proses Prolegnas.1 Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) KEMENDAGRI: Pembinaan Implementasi OTDA dan Monitoring KEMENKUM HAM: Penyusunan Peraturan dan Monitoring Peraturan KEMEN PAN DAN RB: Pembinaan Aparatur dan Penyusunan Struktur Organisasi Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Provinsi:  Penyelenggaraan PTSP di 33 Provinsi  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di Provinsi PTSP di kabupaten/kota  Penyelenggaraan PTSP kabupaten/kota  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di kabupaten/kota Peran pemerintah pusat Peran penting Pemerintah Pusat untuk meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha adalah: 1. 3.Gambar 5. Selain itu juga diperlukan dukungan dari DPR agar menyederhanakan proses revisi terhadap perundangan yang telah masuk dalam daftar Prolegnas. Untuk itu. Peraturan perundangan yang tumpang tindih agar segera diajukan dalam Prolegnas untuk dibahas dan dilakukan revisi. 2. Pemerintah pusat berperan untuk mendorong daerah untuk mengimplementasikan Permendagri 24 tahun 2006 tentang PTSP.

persyaratan dan waktu pelayanan. kabupaten/kota) dalam rangka meningkatkan investasi di daerah antara lain adalah : 1. Investor akan memilih lokasi yang menawarkan peluang keuntungan lebih besar dengan risiko lebih kecil. Pemerintah Daerah diharapkan dapat berkreasi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di daerah masing-masing melalui berbagai kebijakan. atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha terutama yang berskala menengah dan kecil. 123 . peran Pemerintah Daerah menjadi sama pentingnya dengan Pemerintah Pusat dalam peningkatan investasi. Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat mengamati dan belajar dari Pemerintah Daerah lain dalam meningkatkan daya tarik investasi daerah. Penguatan kelembagaan pelayanan penanaman modal antara lain melalui peningkatkan status kelembagaan PTSP sebagai contoh penguatan bentuk kelembagaan dari kantor menjadi badan dengan syarat disesuaikan dengan kapasitas dan beban kerja serta tugas dan fungsi yang diembannya.  Telaah kebijakan dan peraturan lain dapat dilakukan secara berjenjang (satu persatu) maupun paralel (sekaligus). Beberapa hal penting terkait penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP di daerah antara lain adalah:  Revisi Perda-perda terkait dengan retribusi perijinan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip PTSP seperti prinsip penyederhanaan. Penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP.  Penyederhanaan jumlah perijinan dengan menyatukan.4. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2. Daerah perlu membuat kebijakan yang mampu mencegah investor berpindah ke daerah lain. tergantung prioritas dalam pembenahan perijinan. Meningkatkan komitmen pemerintah dalam mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian. hal ini sangat penting karena kontribusi dunia usaha dalam menggerakan perekonomian di daerah memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam mencapai kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN dan RB) berperan untuk menerbitkan pedoman organisasi kantor PTSP di seluruh Indonesia. Peran Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Dengan otonomi daerah yang semakin menguat. Beberapa hal yang perlu dikembangkan pemerintah daerah (provinsi. 3. (2) pengelolaan belanja daerah dalam kerangka investasi dan layanan publik untuk menyediakan pelayanan terpadu. karena daerah lain tersebut memiliki daya tarik investasi yang lebih tinggi. Beberapa instrumen kebijakan untuk meningkatkan investasi adalah (1) peraturan perundangan dalam kerangka regulasi. Kegiatan ini harus dilakukan sesegera mungkin.

Penuangan kebijakan PTSP ke dalam dokumen pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan jangka panjang daerah (RPJPD). 9. sesuai dengan kewenangan yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Pemerintah daerah juga berkewajiban meningkatkan akses ketersedian lahan usaha di daerah sesuai pembagian kewenangan dalam peraturan perundang-undangan dan tidak menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah. 124 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Mengintegrasikan kebijakan maupun program pengembangan PTSP ke dalam Dokumen RPJMD dan RPJPD. Penerbitan kebijakan atau peraturan untuk mencegah adanya pungutanpungutan di tingkat pemerintahan yang lebih rendah (kecamatan. 7. 6. Mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian daerah. dengan maksud dan tujan: (1) Untuk menjamin bahwa setiap tahunnya PTSP mendapatkan anggaran dari APBD dan (2) Untuk menjamin ketersediaan pendanaan yang diperlukan bagi pengembangan pengelolaan PTSP secara berkelanjutan. sehingga dunia usaha dapat tumbuh dan berkembang dalam meningkatkan perekonomian di daerah. Meningkatkan promosi investasi daerah. Selain menjadi kewajiban pemerintah pusat dalam meningkatkan infrastruktur. Pembebasan biaya retribusi bagi kategori usaha tertentu misalnya pengusaha mikro-kecil. melalui peningkatan koordinasi dengan Muspida termasuk unsur penegak hukum di daerah dalam menyelesaikan berbagai konflik/sengketa di daerah.   4. maupun cetak) serta mengikuti berbagai kegiatan promosi melalui pameran dan lainlain. Meningkatkan infrastruktur daerah. regional maupun internasional dengan berbagai media (elektronik website. 8. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penataan regulasi. melalui berbagai kebijakan pemerintah daerah yang kondusif antara lain melalui deregulasi dan debirokrasi yang dituangkan dalam berbagai peraturan pemerintah daerah (perda/perkada dll). 5. Memberikan input pada Kementerian teknis di tingkat pusat untuk membenahi kebijakan perijinan. Meningkatkan keamanan usaha. melakukan promosi investasi baik di tingkat nasional. koordinasi lintas sektor dan penataan kelembagaan serta peningkatkan sumber daya aparatur yang mengelola bidang pertanahan. RT). RW. maka pemda berkewajiban meningkatkan persentase belanja modal dalam APBD khususnya untuk infrastruktur di daerah dan melalukan kerjasama antar daerah (KAD) serta meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta (KPS) dalam membangun infrastruktur yang memerlukan dana lebih besar lagi. desa/kelurahan. Meningkatkan akses lahan usaha di daerah. terutama terkait dengan pemenuhan persyaratan ijin.

Mendorong Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Pemda agar tidak menyusun perda yang hanya bertujuan untuk meningkatkan PAD. pemerintah daerah perlu mengevaluasi dan menghapus perda yang cenderung membebani pengusaha dan kurang jelas tujuan serta peruntukannya. Hal ini dimaksudkan agar para investor hanya perlu datang ke satu lokasi. prasarana dan media informasi yang memadai. dukungan dan peran dari pemerintah daerah dalam meningkatkan pelayanan perijinan dan non perijinan. Strategi Peningkatan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan Dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi dan iklim usaha di tingkat daerah. Melaksanakan harmonisasi regulasi antar daerah dan antara pusat dan daerah yang mendukung investasi. Penyelenggaraan PTSP perlu ditetapkan oleh kepala daerah sebagai unit perangkat daerah. yang mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. perlu adanya bantuan. mudah dipahami dan diakses. (2) Sarana. serta (3) Mekanisme pembatalan peraturan-peraturan daerah yang bermasalah. tidak perlu mendatangi tempat yang terpisah. (2) Pemantauan dan evaluasi atas peraturan-peraturan daerah yang menghambat investasi dan perdagangan antar daerah (dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan). pemerintah daerah perlu segera menerbitkan Perda pembangunan PTSP. Untuk mendukung hal ini perlu didorong langkahlangkah: (1) Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penyusunan regulasi. (3) Mekanisme kerja yang jelas. melalui peningkatan : (1) SDM yang profesional dan memiliki kompetensi.285 peraturan daerah yang dibatalkan karena dianggap bermasalah (Ditjen Keuanganan Daerah. melalui: 1. transparan. Menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) di seluruh PTSP di Indonesia. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 125 . Kemendagri).Selain itu. 24 tahun 2006 untuk mempercepat dan memudahkan proses perijinan dan non perijinan. Mendorong agar seluruh proses perijinan dan non perijinan dapat dilakukan di PTSP. Sejak tahun 2002 hingga 2010. total terdapat 2. termasuk PTSP-PM (Penanaman Modal) yang sering berlokasi di tempat yang berbeda agar dapat ditempatkan di PTSP sebagai unit perangkat daerah. 3. Dalam merespon pentingnya PTSP sebagaimana Permendagri 24 tahun 2006. Mengoptimalkan penyelenggaraan dan fungsi PTSP. 2. 4. mendelegasikan wewenang perijinan ke PTSP dan membangun dan mengimplementasi PPTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan. dan (4) Disediakan layanan pengaduan. 5.

proses pembebasan lahan cenderung lama dan berlarut-larut. namun mengingat keterbatasan kemampuan daerah terutama terkait sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Besaran dan bentuk ganti kerugian. Sejak berlakunya UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Selama ini ganti kerugian mengacu pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang seringkali tidak mencerminkan nilai tanah yang sebenarnya dan bentuk ganti kerugian yang lebih mengutamakan dalam bentuk uang.Strategi Pengadaan Tanah untuk Pelaksanaan Pembangunan Pelaksanaan pembangunan termasuk pembangunan infrastruktur dalam kenyataannya memerlukan tanah. dan Perencanaan dan koordinasi antar instansi yang perlu ditingkatkan. sementara ini bidang pertanahan masih merupakan urusan pusat dan dalam hal ini dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). 3. Untuk itu dalam rangka Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 126 . Saat ini. Bentuk bantuan. Pendanaan. Selama ini. dukungan dan peran dari pemerintah daerah terkait bidang pertanahan yang diharapkan antara lain adalah: 1. 5. Dalam pelaksanaannya terkait dengan upaya percepatan peningkatan daya saing daerah. dukungan dan peran dari pemerintah daerah adalah bidang pertanahan. bantuan pemerintah daerah untuk kegiatan bidang pertanahan sangat diperlukan. perlu strategi pembenahan yang dapat mempercepat proses pengadaaan tanah. Namun demikian diharapkan permasalahan proses pengadaan tanah dapat teratasi dengan terbitnya UU No. 2. Waktu yang diperlukan untuk pembebasan lahan perlu dipercepat. Walaupun sebenarnya bidang pertanahan sudah merupakan bagian dari urusan daerah. Strategi Peningkatan Kegiatan Pertanahan di Daerah Salah satu bidang yang memerlukan bantuan. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. proses perencanaan dan koordinasi antar instansi dan Pemda yang terlibat dalam pengadaan tanah untuk pembangunan masih belum baik. antara lain: 1. Permasalahan pendanaan untuk ganti kerugian terhadap tanah yang dijadikan sebagai lokasi pembangunan infrastruktur kadang tidak tersedia secara optimal karena anggaran yang ada terbatas atau karena harga tanah yang tiba-tiba melonjak tinggi akibat adanya spekulasi terhadap harga tanah. Pengadaan tanah selama ini dilaksanakan oleh suatu Panitia yang bersifat ad-hoc dan belum ada lembaga yang bertanggungjawab atas pengadaan tanah untuk kepentingan umum secara khusus. Kelembagaan. Memberikan Bantuan subsidi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). penetapan BPHTB merupakan kewenangan pemerintah daerah. yang perolehannya dapat dilakukan melalui proses pengadaan tanah. Untuk itu. 4.

pembangunan infrastruktur juga diperlukan untuk mewujudkan pemerataan. pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik. sehingga menimbulkan potensi sengketa. terjangkau dan ramah lingkungan untuk merekatkan seluruh wilayah dalam satu kesatuan NKRI yang maju dan sejahtera. upaya ini sering terbentur dengan tidak siapnya bidang tanah yang akan disertifikasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. konflik dan perkara pertanahan.1. Jaminan kepastian hukum hak atas tanah merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan daya saing daerah. Ketersediaan peta pertanahan yang akurat dapat membantu mempercepat kegiatan sertifikasi tanah.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari pembangunan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah luas yang terdiri dari 33 provinsi dan 491 kabupaten/kota dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah harus didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang berkualitas. Memberikan dukungan dalam pengukuran dan pemetaan wilayah . 3.mendukung peningkatan kegiatan ekonomi daerah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya minat investasi di wilayah tersebut. Melakukan identifikasi lokasi-lokasi potensial yang menjadi obyek sertifikasi tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah percepatan kegiatan pendaftaran tanah (sertifikasi). Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 127 . 5. Dalam pembuatan peta pertanahan pemerintah daerah diharapkan membantu BPN di daerah melalui identifikasi awal lokasi yang akan dipetakan serta bantuan identifikasi lokasi pada pelaksanaan survei termasuk transportasi terutama pada wilayah-wilayah terisolasi yang sulit terjangkau. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. Indonesia. Namun demikian. Adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. Untuk itu pemerintah daerah dapat melakukan bantuan identifikasi bidang-bidang tanah yang sudah sesuai dengan kriteria perundang-undangan sehingga proses sertifikasi dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif. permasalahan yang dihadapi adalah masih banyaknya bidang-bidang tanah yang belum terdaftar (tersertifikat). pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi besaran BPHTB bagi pelaku usaha dan masyarakat yang ingin berusaha di daerahnya atau bahkan membebaskan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pemberian subsidi. 2. Pada akhirnya dapat berakibat rendahnya daya saing suatu daerah. Selain itu. Dalam bidang pertanahan.

pembagian peran dan kewenangan.13 Tahun 2010 yang merupakan penyempurnaan atas 128 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . memberikan dana penjaminan (guarantee fund). membangun dan mengelola infrastruktur sebagai penggerak pembangunan. Bilateral. menetapkan standar pelayanan dan sertifikasi. menyusun strategi dan kebijakan sektor. serta memberikan lisensi operator yang diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip yang optimal dan transparan bagi kepentingan publik dan investor. Gambar 5. Baik pemerintah pusat maupun daerah mempunyai tanggung jawab untuk menyelenggarakan pelayanan infrastruktur yang bersifat public goods sesuai prinsip Public Service Obligation atau Universal Service Obligation (PSO dan USO). mengawasi aturan main (rule of the game) untuk melindungi kepentingan swasta dan sekaligus kepentingan masyarakat/konsumen. Pemerintah harus menyiapkan regulasi yang kondusif bagi partisipasi swasta. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggung jawab termasuk pembiayaan. menjamin keselamatan masyarakat pengguna. Pemerintah memberikan dukungan kerjasama dengan swasta (KPS) di bidang infrastruktur dengan diterbitkannya Perpres No.2 Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Multilateral. Development Bank APBN Rupiah Dukungan dan Jaminan Pemerintah Penyiapan Proyek Pihak Swasta Proyek BUMN/D Proyek KPS PPP Book Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Peran pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah yaitu agar dapat berperan sebagai fasilitator dalam merencanakan.

deregulasi pungutan dan retribusi di jalan.  Penerapan mekanisme unbundling guna mempercepat pembangunan sarana dan prasarana transportasi.  Pengembangan sistem informasi muatan barang (cargo information system) serta pengembangan armada pelayaran nasional. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.  Meningkatkan strategi pelayanan angkutan antar moda dan intermoda.  Meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan transportasi mendukung pariwisata.  Mengembangkan transportasi umum massal perkotaan berbasis rel di wilayah metropolitan dan berbasis bis di wilayah perkotaan.  Pemberian subsidi transportasi dan PSO angkutan. Pembiayaan oleh swasta terus didorong pemerintah melalui Undang-Undang No. 3. Strategi Peningkatan Infrastruktur Transportasi 1.Keputusan Presiden No.  Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan.  Mengurangi backlog pemeliharaan prasarana dan sarana transportasi.  Meningkatkan kemampuan dan kecepatan tindak awal pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan dan bencana.  Memenuhi perkembangan teknologi dan ketentuan internasional. Dalam 2.  Meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan transportasi. yang dilakukan dengan upaya-upaya:  Pengembangan outlet-outlet pelabuhan dan sarana pendukungnya.  Pengembangan sarana dan prasarana penghubung antar pulau. termasuk mempertahankan dan meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi. yang dilakukan dengan upaya-upaya :  Memberikan pelayanan transportasi minimal yang memadai dan merata.  Pengembangan sarana dan prasarana transportasi perdesaan.  Pembenahan manajemen transportasi umum perkotaan. Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). penataan jaringan dan ijin trayek. Mendukung peningkatan daya saing sektor riil. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan dalam kondisi yang terbatas. 25/2007 tentang Penanaman Modal.  Meningkatkan kondisi pelayanan prasarana jalan sesuai dengan SPM. sentra-sentra produksi pertanian dan industri.  Meningkatkan pelayanan pada koridor jenuh dan kesinambungan dengan transportasi sungai dan danau serta antarpulau (point to point). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 129 .  Penegakan hukum.  Meningkatkan profesionalisme SDM transportasi.

130 . Pengoptimalan kinerja infrastruktur yang telah ada perlu diutamakan dalam rangka efisiensi dalam investasi untuk pembangunan infrastruktur karena dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan infrastruktur di daerah melalui investasi yang relatif rendah. Dengan memperhatikan peta daya saing infrastruktur daerah yang ada. terutama untuk angkutan kereta api. Optimalisasi kinerja pelabuhan maupun bandara .rangka keterjangkauan seluruh masyarakat untuk memanfaatkan jasa transportasi perlu dikaji ulang untuk optimalisasi kebijakan subsidi dan PSO. yang dapat dilakukan melalui integrasi dengan pergudangan dan kawasan industri di dalam hinterland-nya. Debottlenecking juga perlu dititikberatkan pada titik-titik perpindahan antar moda transportasi serta akses keluar masuk pelabuhan laut maupun bandara yang ada. Optimalisasi kinerja pelayanan infrastruktur yang ada (value creation) melalui upaya debottlenecking permasalahan pelayanan infrastruktur yang telah terbangun. baik dari aspek regulasi. angkutan laut.  Peningkatan iklim kompetisi secara sehat agar dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan alternatif bagi pengguna jasa dengan tetap mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan umum yang terjangkau oleh masyarakat. maupun angkutan udara. SDM dan teknologi untuk peningkatan daya saing produk lokal/dalam negeri di sektor transportasi. Alokasi dana untuk pemeliharaan prasarana jalan di daerah juga perlu ditingkatkan untuk mengatasi jalan dengan kondisi tidak mantap yang rata-rata mencapai hampir separuh dari total panjang jalan provinsi. Peningkatan kapasitas pelayanan infrastruktur (asset creation) melalui pembangunan baru maupun peningkatan dan perluasan cakupan infrastruktur yang ada. dan  Peningkatan kelembagaan. maka secara garis besar kebijakan dan strategi pengembangan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur di daerah perlu diarahkan kepada: 1.  Penyusunan SPM dan pelaksanaan desentraliasasi sektor transportasi. 3. kelembagaan maupun pengelolaan. antara lain:  Pengembangan jaringan pelayanan transportasi secara antar moda dan intermodal. restrukturisasi dan pemantapan desentralisasi sektor transportasi. Melanjutkan reformasi. Pembenahan sistem pengelolaan dan pengoperasian serta peremajaan angkutan umum kota dapat meningkatkan kapasitas angkut serta mobilitas orang serta mencegah maupun mengatasi permasalahan kemacetan lalu-lintas yang dapat menurunkan daya saing ekonomi kota. kota dan kabupaten yang ada. 4. Peningkatan kapasitas serta cakupan wilayah pelayanan infrastruktur di daerah diperlukan dalam rangka meningkatkan dan memperluas pelayanan infrastruktur Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2.

Peningkatan dan perluasan layanan broadband di kabupaten/kota sebagai tulang punggung arus informasi yang berkontribusi signifikan kepada pertumbuhan dan daya saing ekonomi daerah. Peningkatan dan perluasasan infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan layanan air minum dan sanitasi. Pengembangan perkeretaapian untuk penumpang terutama di kota-kota besar. bandara maupun prasarana jalan nasional yang ada di daerah. pelabuhan dan bandara baru. Peningkatan partisipasi Daerah dalam pemenuhan kebutuhan energi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan meningkatkan daya saing energi daerah. Dukungan daerah diperlukan. kabupaten maupun kota sesuai dengan Undang-Undang No. beberapa ruas jalan provinsi. pengembangan angkutan umum masal berbasis jalan (Bus Rapid Transit/BRT). 7. Dalam rangka mendukung kelancaran arus barang.bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat maupun dukungan akses kepada pusat-pusat perekonomian daerah. Kerjasama dan sinergi antara Pusat dan Daerah juga diperlukan dalam peningkatan kapasitas infrastruktur seperti pelabuhan laut. 4. Pembangunan jalan baru yang menjadi kewenangan daerah perlu ditingkatkan. 6. Pengembangan perkeretaapian di perkotaan tersebut harus terintegrasi secara multimoda dan antar moda dengan pengembangan sistem angkutan umum dan transportasi keseluruhan di daerah. pengelolaan jaringan irigasi. 8. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian. pelayanan transportasi keperintisan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 131 . Peningkatan sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah dan antara daerah dengan pusat. termasuk kepada masyarakat di wilayah perdesaan maupun terpencil. kabupaten maupun kota yang menjadi bagian dari rute utama arus barang perlu ditingkatkan dalam bentuk pelebaran serta peningkatan kelasnya agar mampu memikul beban lalu-lintas yang ada serta konsisten dengan kelas jalan nasional pada rute utama arus barang tersebut. misalnya untuk mendukung akses hasil produk pertanian daerah ke pasar. Sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah maupun antara daerah dengan pusat akan memberikan dampak serta skala yang lebih besar dan menguntungkan bagi daerah dalam rangka peningkatan daya saing ekonomi daerah. Sinergi dan dukungan Daerah yang sangat 5. termasuk dalam hal penyediaan lahan. untuk mendukung peningkatan kapasitas maupun pembangunan jalan. pelaksanaan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK) 2011-2035. penyediaan infrastruktur dasar seperti air minum dan sanitasi dan penyediaan infrastruktur energi dan telekomunikasi. sesuai dengan adanya kewenangan Pemerintah Daerah untuk mengembangkan perkeretaapian di provinsi.

9. Kegiatan utama di setiap koridor ditetapkan berdasarkan unggulan di masing-masing Koridor. Kebutuhan pendanaan untuk penyediaan infrastruktur yang begitu besar serta keterbatasan kemampuan investasi pemerintah serta dalam rangka memanfaatkan efisiensi yang ditawarkan swasta. pariwisata.1. telematika dan pengembangan kawasan strategis. dalam pelaksanaan MP3EI di setiap koridor ekonomi memerlukan upaya-upaya perbaikan iklim usaha dan iklim investasi sehingga pengembangan kegiatan ekonomi utama di setiap koridor ekonomi dapat berjalan secara optimal sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah. pertambangan. Dalam rangka mendorong pelaksanaan proyek KPS yang telah ada di dalam PPP Book. kelautan.1 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor Kegiatan Ekonomi Utama Besi Baja Makanan Minuman Tekstil Peralatan Transportasi Perkapalan Nikel Tembaga Bauksit Kelapa Sawit Karet Pertanian Pangan Pariwisata Telematika Sumatera √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jawa Kalimantan √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. Adapun pemetaan kegiatan-kegiatan ekonomi utama di masing-masing koridor dapat dilihat pada Tabel 5. 5. energi.penting dalam pengembangan infrastruktur yang dilaksanakan Pusat di daerah adalah dalam hal penyediaan lahan. dukungan Daerah diperlukan baik dari aspek regulasi yang dibutuhkan maupun penyediaan lahan. Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama yang disesuaikan dengan potensi dan nilai strategisnya masing-masing di koridor yang bersangkutan. Maluku √ √ √ 132 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Tabel 5.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Pengembangan MP3EI berfokus pada 8 program utama.1. Untuk itu. industri. maka perlu dirintis maupun ditingkatkan pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui investasi swasta melalui pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Pemerintah Daerah perlu melakukan kajian serta memberikan fasilitas dalam bentuk penyiapan proyek KPS baik melalui anggaran daerah maupun bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga. yaitu: pertanian. Peningkatan investasi swasta dalam pengembangan infrastruktur daerah melalui skema Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS).

7. Pembatalan Perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 133 . Pelaksanaan sinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha di daerah. diantaranya: 1. 4. Peran Pemerintah Daerah khususnya dalam perbaikan iklim investasi dan iklim usaha.Kegiatan Ekonomi Utama Batu Bara Migas Jabodetabek Area KSN Selat Sunda Alutsista Peternakan Perkayuan Kakao Perikanan Sumber: MP3EI 2011 – 2015 Sumatera √ Jawa Kalimantan √ √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. Dalam mendukung pengembangan KEK yang direncanakan di 5 lokasi sampai tahun 2012. Perbaikan logistik nasional dan daerah dilakukan melalui pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi serta didukung oleh infrastruktur yang memadai melalui skema pendanaan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Penyederhanaan prosedur dilakukan melalui Penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di 50 kabupaten/ kota dengan arah kebijakan yaitu penerapan SPIPISE di PTSP sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas PTSP. Dukungan pertanahan untuk mendukung iklim investasi. maka dibutuhkan kerjasama dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menciptakan iklim usaha dan iklim investasi yang baik di daerah sesuai dengan sektor unggulan di masing-masing daerah. Perbaikan kepastian hukum yang dilakukan melalui reformasi regulasi secara bertahap di daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk lebih meningkatkan kejelasan dan konsistensi dalam implementasinya. 3. 2. 6. 5. Maluku √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk pelaksanaan program utama dan kegiatan utama dimaksud.

swasta. Harmonisasi regulasi dilakukan pada tingkat undang-undang. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Pemerintah Pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah perlu melakukan harmonisasi regulasi yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan. 134 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . peraturan pemerintah atau peraturan perundang-undangan lain yang lebih rendah. yang antara lain menargetkan kaum muda. Provinsi dan Kabupaten/Kota Langkah-langkah konkrit untuk peningkatan kesempatan kerja khususnya bagi tenaga kerja muda adalah: 1. 4. 3. serta standarisasi dan sertifikasi kompetensi. pembiayaan dan pengelolaan lembaga pelatihan yang memenuhi aspek standar mutu kelembagaan menjadi prioritas. Pemerintah pusat dan daerah dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda Langkah-langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak untuk dilaksanakan adalah: (1) Membangun infrastruktur pengembangan kompetensi kerja. (2) Menyempurnakan mekanisme seleksi pemagangan di perusahaan. Program pelatihan dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Penyiapan sarana/prasarana. seperti misalnya standar manajemen ISO. Pemetaan ini diperlukan untuk meningkatkan sinergi antar K/L dan antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan 2. efektivitas dan efisiensi pelatihan. sebagai tahap awal dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten agar dapat bersaing dalam pasar global.1. termasuk peraturan daerah. baik milik pemerintah. Pemerintah Pusat dengan pemerintah daerah perlu memetakan program/kegiatan pemagangan yang dilaksanakan oleh berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di tingkat nasional dan daerah. program pelatihan perlu dikembangkan secara fleksibel dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha/industri. (3) Meningkatkan efektivitas pelaksanaan program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan serta mendorong jaringan lembaga keuangan mikro termasuk ekonomi lokal. instruktur. Peran Pemerintah Pusat. Peningkatan kinerja lembaga pelatihan ditujukan pada peningkatan relevansi. dan (4) Meningkatkan akses kepada informasi peluang kerja.5. kualitas. Infrastruktur pelatihan di lembaga pelatihan diperkuat dengan mengacu pada standar program dan SKKNI. maupun perusahaan yang menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi. Meningkatkan manajemen lembaga pelatihan agar kredibilitas dan akuntabilitasnya terukur. Menerapkan konsep pelatihan berbasis kompetensi. di antaranya dengan menerapkan sistem manajemen mutu ( total quality management) atau standar manajemen lain yang kredibel dan akuntabel.

pemerintah daerah dan swasta di tingkat nasional dan daerah. saling mengisi dan bidang usaha yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah. informasi penyelenggaraan pelatihan dan informasi konseling. Meningkatkan sinergi pelaksanaan berbagai program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan oleh kementerian/lembaga. program dan memastikan ketepatan sasaran. Melaksanakan fungsi pengembangan program insentif pembinaan pelatihan di tingkat kabupaten/kota.5. termasuk kredit usaha dan pengembangan jaringan pasar. Peran Pemerintah Provinsi 1. baik bidang. wirausaha muda yang telah mendapatkan pelatihan difasilitasi untuk memulai usahanya (inkubator bisnis). yang berisi antara lain informasi lowongan pekerjaan. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. serta program insentif bagi lembaga pelatihan. Jangkauan layanan informasi pasar kerja diperluas ke daerah-daerah. Melaksanakan monitoring. 4. peserta pelatihan kewirausahaan ini harus diseleksi dengan kriteria tertentu untuk memastikan keberlanjutannya. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota. 3. Sasaran berbagai program/kegiatan tersebut harus selaras. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat provinsi. yang menghubungkan informasi lowongan kerja di kabupaten/kota. terutama daerah perdesaan dalam format standar yang dapat diakses oleh pencari kerja dan calon pemberi kerja. Kerjasama antara Pemerintah dengan perusahaan penerima pemagangan juga harus diperkuat agar pemagangan yang difasilitasi oleh pemerintah benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat bermanfaat bagi perusahaan. 6. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. kualifikasi maupun jumlahnya. ketersediaan suplai tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. Selain itu. Mengembangkan sistem informasi pasar kerja. jenis. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat provinsi yang bersangkutan. Merencanakan dan melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat provinsi. 2. Rencana pelatihan kerja provinsi ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 135 . Selanjutnya.

6. 5. 2. baik bidang. Mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan pengembangan kewirausahaan dan pemagangan di tingkat kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan dan mengintegrasikan kelompok/individu sasaran pemanfaat program sesuai dengan kebutuhan lokal. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. jenis. 6. 4.5. Selain itu juga melaksanakan fungsi pengembangan program insentif bagi lembaga pelatihan. kualifikasi maupun jumlahnya. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi dengan tembusan kepada Pemerintah Pusat. 3. Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat kabupaten/kota. Melakukan verifikasi kelompok sasaran pemanfaat program kewirausahaan dan pemagangan. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. Peran Pemerintah Kabupaten/Kota 1. Melaksanakan monitoring. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. Rencana pelatihan kerja kabupaten/kota ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. Memutakhirkan data informasi pasar kerja di tingkat kabupaten/kota. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di provinsi yang bersangkutan kepada Pemerintah Pusat. 136 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 7. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. Meningkatkan kualitas dan kemutakhiran data informasi pasar kerja di tingkat provinsi. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota.

(g) koordinasi kebijakan dalam perdagangan dan stabilisasi harga pangan. (d) memberikan prioritas untuk kelancaran bongkar muat produk pangan. tawar dan laut. (m) pengembangan kawasan perikanan budidaya yang memiliki sarana dan prasarana memadai. (i) Penyaluran bantuan sarana penanganan pasca panen. dan (l) penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif. (b) pengelolaan sistem distribusi pangan yang dapat mempertahankan keamanan.3 telah dijelaskan bahwa ketahanan pangan memiliki 4 aspek utama sebagai upaya membangun sistem ketahanan pangan. (k) pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan. rawa dan jaringan pengairan lainnya. (f) Pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan dan benih ikan. pengolahan pangan dan pemasaran. Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam upaya mencapai 4 aspek utama ketahanan pangan. distribusi.5. (c) Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. (j) Penelitian dan pengembangan benih unggul padi tanaman pangan lainnya. antara lain saluran tambak di kawasan payau. (l) pengadaan kapal perikanan. (f) pengembangan lembaga distribusi pangan masyarakat. dan (n) Penyediaan statistik Pertanian untuk Sensus Pertanian 2013. (d) Pengelolaan dan konservasi sebanyak. (g) Penyaluran pupuk bersubsidi. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. (b) Pengelolaan air irigasi untuk pertanian. mutu dan gizi pangan. Menjaga peningkatan produksi pangan yang dilakukan melalui: (a) Perluasan areal dan pengelolaan lahan pertanian.2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5. beberapa strategi dan upaya yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut : 1. (h) Penguatan dukungan lembaga penyuluhan bagi balai penyuluhan pertanian. tenaga penyuluh pertanian dan perikanan dan kelembagaan petani. (i) pengaturan penyaluran cadangan pemerintah. (j) pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah. Menjaga aksesibilitas pangan yang dilakukan melalui upaya antara lain : (a) pengembangan sistem distribusi pangan yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 137 . 2. (h) menetapkan jenis pangan yang berdampak pada inflasi. (k) Pengembangan SLPTT jagung. serta bangunan penampung air lainnya. (c) penjaminan keamanan distribusi pangan. (e) Pengembangan SLPTT padi.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam Bab 4. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi.2. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. (e) menyediakan sarana dan prasarana distribusi pangan.

99 Kebutuhan Beras (juta ton) 33.5 3.7 (1. Dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton mulai tahun 2014.1 6. (b) pengembangan pangan olahan yang berbasis sumber daya lokal.5 248.15 137.06 135.06 33.8 3.3 43.1 244.02 Surplus Beras Murni (juta ton) 4. 2012 Catatan : 1) Tahun 2010 merupakan Angka Tetap BPS 2) Tahun 2011 menggunakan Angka Sementara BPS Penurunan konsumsi perkapita 1. penyediaan alat mesin (alsin) pasca panen guna mengurangi nilai susut pada saat pasca panen. Melalui kegiatan-kegiatan pendukung seperti Sekolah Lapang – Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). revitalisasi mesin penggilangan padi untuk meningkatkan rendemen padi.1 Sumber : Kementerian Pertanian. 2013 dan 2014 adalah sebagaimana terlihat dalam Tabel 5.1) 37.03 33.3 persen pada tahun 2013 diharapkan mampu untuk mendukung tercapainya surplus sebesar 7.5%/tahun mulai 2010 Konversi Gabah Kering Giling (GKG) ke beras tersedia untuk konsumsi : 56.3 40.01 132. 138 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .2 3.2 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 Tahun Sasaran Produksi (juta ton) GKG Peningkatan Beras (%) Jumlah Penduduk (juta jiwa) Total Kebutuhan Perkapita/ Tahun 139.2 2012 67.07 33. System of Rice Intensification (SRI).4 2014 76.98 130. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas produksi padi.2.5 juta ton pada tahun 2013 dan 10 juta ton pada tahun 2014. Menanggulangi permasalahan pangan yang disebabkan karena kenaikan harga pangan.9 5.0 2010 66.1 7.3.0 252. kurangnya ketersediaan pangan. target sasaran produksi padi pada tahun 2012.6 2 2011 65.8 2013 72. Selain itu pula diperlukan dukungan lain seperti pencetakkan sawah baru dan optimasi lahan untuk memperluas areal tanam.6 6. serta gangguan akan pangan di daerah-daerah terkena bencana dilakukan melalui pemberian raskin kepada masyarakat berpendapatan rendah dan menyediakan cadangan beras pemerintah.0 241. Tabel 5. serta Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) guna mengurangi konsumsi beras per kapita sehingga sasaran utama surplus beras 10 juta ton dapat terpenuhi.2 237.22% 1 Meningkatnya produksi padi sebesar 6. dan (c) pengembangan alternatif pangan non beras.05 33. 4.2 37. Menjaga pemenuhan konsumsi dan kualitas pangan masyarakat yang dilakukan melalui: (a) Pengembangan diversifikasi konsumsi pangan dan peningkatan keamanan pangan.2 38.5 10. kurangnya pendapatan masyarakat.

termasuk melakukan koordinasi lintas SKPD dalam aspek perencanaan termasuk penyiapan masterplan. meliputi antara lain: 1. (2) penetapan tata ruang wilayah dan zonasi kawasan perairan serta kawasan konservasi laut. 2. 3. Pencetakan Lahan Sawah Baru Pencetakan sawah baru dapat dilakukan juga melalui pemanfaatan lahan terlantar untuk peningkatan produksi pangan sesuai peraturan perundang –undangan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 139 .Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong peningkatan perluasan areal tanam. prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 adalah sejumlah 87 ribu ton GKG padi. pompanisasi. Pencetakan sawah baru tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi produksi padi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton GKG. pembinaan dan penyuluhan perikanan. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara ekstensifikasi/ food estate Upaya perluasan areal lahan sawah baru direncanakan oleh BUMN dan pemerintah daerah sesuai dengan amanat Inpres 5 tahun 2011. Dengan perhitungan sasaran kegiatan optimal lahan seluas 80 ribu ha. pelaksanaan dan penganggaran. antara lain kawasan minapolitan. Selain meningkatkan produksi pertanian perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi perikanan. langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi perikanan adalah: (1) pengembangan kawasan perikanan. (3) peningkatan kapasitas SDM daerah melalui pelatihan. Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Daerah. perbaikan jaringan irigasi. Potensi optimasi pemanfaatan lahan sawah masih cukup tinggi mulai dari Indek Pertanaman (IP) di bawah 1 (kurang dari 1 kali tanam dalam 1 tahun) dan di bawah 2 (dua kali tanam padi dalam 1 tahun). Dengan perhitungan pencetakan sawah pada tahun 2013 seluas 100 ribu ha.3. yang dilaksanakan Kementerian terkait bersama-sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton padi GKG. Target produksi padi tahun 2012 dan 2013 untuk masing-masing Provinsi dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. Pencetakan sawah baru dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian. IP dapat ditingkatkan dengan input kegiatan optimasi lahan seperti penyediaan paket sarana produksi lengkap. Optimasi Lahan dan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) Kegiatan Optimasi lahan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. penggunaan alsintan prapanen dan lain-lain.

74 30. maka sangat diperlukan teknologi budidaya padi hemat air.69 653.071.33 1.22 400.063.65 10.752.953.95 648.76 630.12 1. produktivitas padi masih dapat ditingkatkan hingga 6 ton GKG per Ha.25 1.132.41 9.38 126.65 529.92 571.23 67.234.82 12. 140 .27 507.67 587.94 15.43 12.593.65 869.67 498.721. maka masih terbuka peluang meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas.34 708.000 ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 1. Dengan kondisi ketersediaan air yang mulai terbatas baik kuantitas maupun kualitas.66 610.295. Kegiatan SRI dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah.34 4. (2) penerapan teknik budidaya jajar Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2.75 2.78 1.16 3.26 667.77 528.1 juta ton padi.002.943.945.58 3.488.829. Sasaran luas SRI pada tahun 2013 mencapai 200. Untuk meningkatkan produktivitas tersebut dilakukan melalui penerapan paket teknologi budidaya spesifik lokasi yang lebih dikenal dengan Pengelolaan sumberdaya dan tanaman secara terpadu (PTT).95 2.51 9.654.63 10.707 16.35 606.138.034.15 90.911.74 3.3 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi No.83 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 1.498.506.48 3. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 2.57 300. SL-PTT Padi Menurut data BPS.351.265.689.25 924.34 134.27 1. Teknologi SRI salah satunya adalah dalam rangka menerapkan hal tersebut.59 2011.00 615.11 2.14 3.137.223.33 377.23 10.37 2.01 11.Tabel 5.37 4.824. Penerapan SRI (System of Rice Intensification) Air merupakan kunci utama dalam budidaya tanaman termasuk padi.60 1.85 538.85 95. meliputi antara lain: 1.37 670.69 552. SRI dapat menghemat benih (5-8 kg/ha) karena tanam 1 batang dengan umur bibit muda (kurang dari 15 hari).102.69 2.52 1.12 282. Komponen PTT antara lain: (1) penggunaan benih varietas unggul.24 63.69 2.417.88 67.66 32.74 Sumber : BPS (diolah ) Peran Pemerintah Daerah dan Petani Beberapa paket teknologi dalam rangka peningkatan produktivitas yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama dengan petani.78 885.12 72.96 No.

5. Penelitian dan Pengembangan Kegiatan dan Penelitian dan pengembangan benih unggul sangat penting dilakukan guna mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi sehingga dapat menghasilkan produksi yang maksimal. (3) Penambahan waterpolish. Reaper.7 juta ton padi. (5) Pengendalian OPT. Pengamanan Pasca Panen Melalui penerapan penanganan pasca panen yang tepat kehilangan hasil pasca panen dapat dikurangi. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pengadaan sarana penanganan pasca panen meliputi Vertical dryer. Hasil kajian dan praktek perbaikan penggilingan padi yang dilakukan oleh Perpadi. mampu meningkatkan rendemen GKG menjadi > 65 persen.75 juta ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 21. Pedal thresher. Perbaikan penggilingan yang dilakukan meliputi: (1) Mengganti alat dalam dua polisher. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 141 . Berdasarkan hasil survei BPS 2009 diketahui bahwa konversi GKG ke beras rata-rata adalah 62. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi padi tahun 2013 direncanakan SLPTT seluas 3. (3) Penggunaan pupuk berimbang. power thresher. dan (3) Memperkuat fungsi BUMN dalam pengadaan dan pengelolaan cadangan gabah/beras pemerintah dengan target GP3K untuk tahun 2013 adalah 570 ribu ha. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara Intensifikasi Berawal dari Inpres 5 tahun 2011. Kegiatan GP3K dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian BUMN. Kegiatan SL-PTT dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. (2) Penambahan dua ayakan kawat. Sabit bergerigi. tanam satu batang. Paddy mower.74 persen. Penguatan Penyuluhan Upaya pencapaian target surplus beras 10 juta ton sangat memerlukan peran serta aktif penyuluh disetiap daerah. dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 3 juta ton padi. 6.legowo. Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Stripper. Kegiatan penelitian dan pengembangan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. maka tugas Kementerian BUMN adalah (1) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan lahan pada kawasan hutan dengan pola tumpang sari produksi untuk tanaman padi. dan (4) tambahan satu unit alat pengukur kadar air (moisture tester). 3. (4) Penerapan kalender tanam. (2) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi dan distribusi gabah/beras. dan (6) Panen tepat waktu. Sehingga sangat diperlukan usaha penguatan 4. terpal.

30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan maka Pemerintah Daerah (Pemda) ikut serta bertanggung jawab dalam pengelolaan energi.2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi Sesuai dengan UU No. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan potensi pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur energi adalah melalui pengembangan kerjasama pemerintah dan swasta/KPS ( public private partnership/PPP). hidro dan mulut tambang yang dikembangkan pada skala besar. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah. Adapun untuk skala kecil.penyuluh didaerah yang dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. pengaturan. Proyek pembangkit listrik yang menjadi prioritas dan potensial untuk didorong melalui skema pendanaan KPS adalah pembangkit batubara. lebih baik diarahkan melalui kerjasama dengan pihak koperasi. Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan ijin usaha penyediaan tenaga listrik. pemda juga harus ikut serta dalam upaya mengalokasikan dana guna pembangunan infrastruktur energi di daerahnya.2. seperti untuk pengembangan biogas. Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik yang pelaksanaannya dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. Skema KPS pembangkit listrik skala kecil-menengah akan lebih diarahkan untuk pengembangan pembangkit dengan energi terbarukan seperti tenaga sampah (waste to energy). Hal ini selanjutnya akan tertuang dalam kerangka kebijakan yang dimulai dengan penyusunan rencana umum energi daerah (RUED). Undang-Undang tersebut memberi kesempatan kepada badan usaha swasta. karena 142 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . dengan mengupayakan pengembangan energi mikrohidro dan tenaga surya. Untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam penyediaan tenaga listrik. 5. terutama untuk daerah perkotaan. koperasi dan swadaya masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik. khususnya untuk daerah dengan kemampuan pendanaan yang rendah serta memiliki kondisi rasio elektrifikasi yang rendah. DAK lisdes dimulai pada tahun anggaran 2011. 30 tahun 2007 tentang Energi dan UU No. Selain itu. Namun Pemerintah Pusat harus tetap berupaya menjaga keadilan dan pemerataan pembangunan dengan melaksanakan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang listrik perdesaan/lisdes.

dan (4) pembinaan dan pengembangan kelembagaan bisnis khususnya koperasi.3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5.3. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. yang bermukim di daerah tertinggal. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Langkah-langkah kongkret untuk meningkatkan kinerja pendidikan dapat ditempuh sebagai berikut: 1. 5.hal ini terkait dengan kesesuaian aspek kapasitas. terpencil dan perbatasan. seperti: (1) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan. maka masih diperlukan peranan Pemerintah Daerah dalam beberapa hal. pemerintah pusat. pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Bahkan layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Peran Pemerintah Daerah Dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur energi sebagai sarana pendorong pembangunan sosial ekonomi di daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 143 . 2. kemampuan pengelolaan. Menyediakan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Untuk itu. (3) pengembangan potensi sosial dan ekonomi sebagai fokus pengembangan industrialisasi di daerah.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam rangka menjadikan SDM sebagai isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. Hal ini sangat diperlukan agar infrastruktur energi yang dikembangkan tidak hanya menaikkan sisi konsumsi semata. namun dapat memiliki nilai tambah sosial dan ekonomi. (2) prioritasi alokasi pendanaan pembangunan di daerah termasuk efisiensi. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut. finansial dan sosial ekonomi. kepulauan.

Untuk itu. serta kondisi empiris di lapangan (evidence-based decision making). Mendorong partisipasi masyarakat. tugas dan tanggung jawab masing-masing. Menyediakan subsidi dan berbagai skema blockgrant untuk meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu meningkatkan kerjasama yang harmonis dengan memperhatikan peran. Meningkatkan koordinasi di antara lembaga pemerintahan pada semua tingkatan untuk memperlancar proses pembuatan kebijakan pendidikan. agar pelayanan pendidikan dapat berjalan efektif. serta memperkuat sistem evaluasi. yang disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab setiap tingkatan pemerintahan. Dengan langkah-langkah kongkret yang dapat dilaksanakan secara nyata diharapkan layanan pendidikan yang bermutu makin meningkat. kualitas dan validitas data. Untuk itu. Menghitung proporsi anggaran yang harus disediakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdasarkan kapasitas fiskal. 9. Untuk itu. pemerintah daerah perlu menghitung kemampuan keuangannya untuk membiayai pendidikan. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu fokus dalam hal-hal sebagai berikut: 144 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . para pemangku kepentingan dan dunia usaha dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan melalui pengembangan program kemitraan yang saling menguntungkan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. yang berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh daerah di Indonesia. 7.3. 4. perlu meningkatkan efektivitas pemanfaatan anggaran pemerintah pusat yang dialokasikan melalui dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan. 10. Mengupayakan pembangunan kapasitas kelembagaan di pemerintahan lokal dan melakukan supervisi untuk meningkatkan tata kelola satuan pendidikan di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. 8. Peran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota Agar pelayanan pendidikan lebih optimal dan pelaksanaan desentralisasi pendidikan lebih efektif. 5. Menata dan memantapkan sistem pembelajaran yang efektif di setiap satuan pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SPM). yang didukung oleh sistem informasi. provinsi dan kabupaten/kota dalam penyediaan layanan pendidikan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan desentralisasi pendidikan. Memperjelas wewenang. tugas dan tanggung jawab antara pemerintah pusat. 6. akreditasi dan sertifikasi satuan pendidikan untuk menjaga dan mengendalikan mutu pendidikan. Menyusun mekanisme yang tepat terkait penggunaan anggaran pendidikan dari pusat dan daerah agar tidak terjadi misalokasi dan inefisiensi.

termasuk memenuhi kebutuhan guru di daerah tertinggal. (3) memfasilitasi dan memberi kemudahan perpindahan guru antar kabupaten/kota dan antar satuan pendidikan dalam konteks penerapan best practices dan knowledge sharing dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. (2) memperbaiki manajemen guru dengan menata persebaran pendidik yang lebih merata di seluruh daerah. sasaran dan mekanisme penyaluran. yang diiringi dengan pengurangan disparitas partisipasi pendidikan.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan ekonomi domestik diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. 6. Selain itu. Kandepag) dan satuan pendidikan agar dapat menjalankan tugas dan fungsi pelayanan pendidikan dengan baik. Memperbaiki kesenjangan capaian pendidikan dan disparitas partisipasi pendidikan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya potensial yang tersedia. 4. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. 3. Memperbaiki ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah melalui (1) penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan bermutu sesuai dengan standar pelayanan minimal. secara makro pemerintah pusat dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 145 . 2. 5. Sementara. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridor-koridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Mendorong peningkatan peran masyarakat dalam rangka pemberian beasiswa bagi siswa miskin dan meningkatkan kapasitas pengelolaan pemberian beasiswa dalam hal pendataan.3. menghitung pula proyeksi kebutuhan anggaran per jenjang pendidikan yang disertai dengan perhitungan proyeksi perkembangan jumlah siswa dari tahun ke tahun berdasarkan perkembangan jumlah penduduk di setiap daerah. perbatasan dan kepulauan. Secara makro. terpencil. Menghitung kebutuhan nyata anggaran pendidikan dengan menyusun satuan biaya pendidikan per siswa pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan SPM. Memastikan dan memperkuat institusi-institusi penyelenggara pendidikan (Dinas Pendidikan. sehingga masing-masing daerah tetap dapat meningkatkan kemajuan pendidikannya. Menyediakan data dan informasi yang akurat untuk dijadikan dasar dan pertimbangan dalam perumusan dan pembuatan kebijakan pembangunan pendidikan nasional untuk dilaksanakan di daerah. Selanjutnya. 5. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional.1.

pemerintah pusat berperan dalam: 1. Merumuskan strategi dan kebijakan 4 (empat) klaster Program Penanggulangan Kemiskinan. serta Memberikan pengembangan kapasitas (capacity building) dan penguatan kelembagaan (institutional strengthening) bagi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD).harus lebih intensif dalam melakukan: 1. 2. Dalam konteks peningkatan kualitas implementasi program dan kegiatan di daerah. Mengintegrasikan perencanaan seluruh program penanggulangan kemiskinan ke dalam mekanisme dan proses perencanaan reguler melalui Musrenbang. penganggaran. Monitoring and evaluation system atau P3BM) yang telah diterapkan di 66 kabupaten/kota dan program pengembangan sistem perencanaan partisipatif (P2SPP) atau yang dikenal dengan PNPM Mandiri Integrasi yang telah diterapkan di 75 kabupaten/kota. 2. program dan kegiatan yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan di daerah. pemerintah pusat telah memberikan perangkat (tools) yang terkait dengan sistem perencanaan. mensikronisasikan dan mengintegrasikan seluruh lembaga. termasuk perencanaan program dan penganggarannya. dan Meningkatkan koordinasi kelembagaan lintas SKPD serta peningkatan intensitas peran dan fungsi TKPKD dalam mengkoordinasikan. 146 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Budgeting. Meningkatkan sinkronisasi perencanaan. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok.pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. pemantauan dan evaluasi kemiskinan (Pro-poor Planning. Peran Pemerintah Daerah Pemerintah daerah . penganggaran dan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah.melalui TKPKD Provinsi dan TKPKD Kabupaten/Kota . 3. Peran Pemerintah Pusat Dalam konteks kebijakan afirmatif. 3.

Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).5. Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS)  Penyediaan sarana ruangan sekretariat Panwaslu kabupaten/kota.1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada Langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. 2. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.  Pelaksanaan sosialisasi.  Monitoring kelancaran penyelenggaraan Pemilu. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib memberikan bantuan dan fasilitas berupa:  Penugasan personel pada sekretariat Panwaslu kabupaten/kota. Dalam keadaan tertentu Pemerintah dapat membantu pendanaan untuk kelancaran penyelenggaraan pemilihan gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.  Kelancaran transportasi pengiriman logistik. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 147 . 3.4. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).  Kegiatan lainnya yang pelaksanaannya dilakukan setelah ada permintaan dari Penyelenggara Pemilu. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Adapun dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah masing-masing perlu melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Kepolisian Daerah (Polda) untuk menyiapkan pengamanan yang optimal untuk keberlangsungan pelaksanaan setiap proses tahapan pemilu.4 Pemantapan Stabilitas Politik 5. Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS).

No. Penyusunan RUU ini untuk menggantikan UU No. DPD dan DPRD Tahun 2014 Sumber: KPU. Dalam masa penundaan tersebut.3 Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR. Dalam rangka memperbaiki manajemen kepegawaian negara. 141/PMK. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan No. 2012 5. integritas dan kinerja dari SDM Aparatur. 800-632 Tahun 2011. 63/2011 tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri. No. (2) PP 44/2011 tentang Pemberhentian PNS.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Strategi Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Optimalisasi kinerja birokrasi sangat tergantung pada kapasitas. antara lain: (1) PP 46/2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS.PAN-RB/8/2011. Sedangkan beberapa kebijakan yang telah berhasil diterbitkan pada tahun 2011. 43/1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian yang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. Di samping itu.Gambar 5. kompetensi.4. pemerintah telah mengeluarkan kebijakan moratorium penerimaan PNS. dan (3) Permenpan & RB No. yang ditetapkan melalui Peraturan Bersama antara Menteri PAN & RB. dalam hal ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). instansi pusat dan daerah diharapkan dapat melakukan penghitungan kebutuhan jumlah PNS yang tepat berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja 148 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . saat ini sedang dilakukan pembahasan antara pemerintah dengan DPR dalam rangka penyusunan RUU Aparatur Sipil Negara (ASN). 02/SPB/M.01/2011 tentang Penundaan Sementara Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil.

Sebagai tindak lanjutnya. maka strategi yang dapat ditempuh dalam rangka peningkatan kualitas SDM Aparatur oleh pemerintah daerah adalah antara lain: 1. Berdasarkan peta SDM Aparatur dan berbagai kebijakan yang telah diterbitkan tersebut. telah diterbitkan PermenPAN & RB Nomor 26 tahun 2011 tentang Pedoman Perhitungan Jumlah kebutuhan PNS untuk Daerah. Melakukan realokasi penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Memperkuat manajemen pengembangan kapasitas dan profesi pegawai dengan membangun sistem pengembangan karir dan kapasitas pegawai yang profesional. Gubernur/Bupati/Walikota berkewajiban membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. turut memberikan kontribusi bagi peningkatan daya saing birokrasi daerah. 5. Melalui strategi tersebut. dapat melaksanakan Pengadaan secara elektronik dengan menjadi pengguna dari LPSE terdekat. 3. sehingga secara langsung maupun tidak langsung. ULP/Pejabat Pengadaan pada Kementerian/Lembaga/PerguruanTinggi/BUMN yang tidak membentuk LPSE. pada tahun 2012 ini akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi 4. 2.untuk melakukan penataan organisasi (rightsijing) dan penataan PNS dalam kerangka pelaksanaan reformasi birokrasi. 2. Memperkuat manajemen SDM pegawai dengan membangun sistem pola karir. model/sistem seleksi penerimaan dan penempatan pegawai. baik pusat maupun daerah. khususnya diklat teknis terampil. Sebagai dasarnya. Melakukan penataan kepegawaian daerah dengan menghitung kebutuhan pegawai sesuai dengan kebutuhan riil (right sijing). sistem promosi/demosi dan mutasi. maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan diklat pegawai. diharapkan SDM Aparatur dapat menjadi pendorong perubahan dan peningkatan kinerja di lingkungan pemerintah daerah. K/L/I dapat membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik.125 tenaga Analisis Jabatan (Anjab) di K/L/Pemda yang nantinya diharapkan dapat disusun peta jabatan dan profil kebutuhan PNS pada seluruh instansi pusat dan daerah. Strategi Perluasan Penerapan E-Procurement Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperluas penerapan e-procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. 4. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 149 . 3.

Pemerintah telah menetapkan beberapa sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah daerah. upaya lain yang dilakukan dalam rangka perluasan penerapan eprocurement. kolusi dan nepotisme (KKN). prosedur dan pelaporan pengelolaan keuangan dan barang milik daerah (sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah). antara lain meningkatnya jumlah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjadi 60 persen pada akhir tahun 2014. pemerintah juga telah menetapkan beberapa kebijakan terkait. dengan LKPP sebagai instansi penanggung jawab. Dalam Inpres tersebut telah dirumuskan program aksi berupa Pelaksanaan Transparansi Proses Pengadaan Badan Publik. Berdasarkan peta pencapaian opini BPK atas Laporan Keuangan Pemda sampai tahun 2010. sekurang-kurangnya 75 persen dari seluruh belanja K/L dan 40 persen belanja Pemda (Prov/Kab/Kota) yang dipergunakan untuk pengadaan barang/jasa wajib menggunakan SPSE melalui LPSE sendiri atau LPSE terdekat. diharapkan dapat mendorong pencapaian kinerja pemerintah darah yang lebih baik.  peningkatan kompetensi dan kapasitas SDM pengelola keuangan daerah melalui penerimaan pegawai baru dan peningkatan kualitas pelaksanaan bimtek/diklat bagi para pengelola keuangan negara. Meningkatkan komitmen dan pemahaman dari pimpinan pemerintah daerah (kepala daerah. Menyusun Rencana Aksi Menuju opini WTP dengan membangun infrastruktur pengelolaan keuangan daerah yang kuat. antara lain Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara dan Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah. Kegiatan bimtek/diklat bertujuan untuk memberikan pemahanan praktis kepada para pengelola keuangan agar mampu 2. Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. antara lain (minimal) terdiri dari:  perbaikan sistem. 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. 150 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . maka strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan opini dan kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) antara lain adalah: 1. DPRD. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah dalam APBN/APBD tahun 2012. kepala SKPD) untuk mencapai kualitas terbaik laporan keuangan pemerintah daerah (opini WTP) berikut aksi dan instruksi yang jelas atas komitmen yang telah ditetapkan. dilakukan melalui penetapan aksi sebagaimana tercantum dalam Inpres No. Dengan dicapainya opini WTP. Strategi Peningkatan Opini/Kualitas Laporan Keuangan Daerah Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.Selain langkah di atas.

laporan realisasi anggaran.  Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah. penguatan SPIP sesuai PP 60 tahun 2008. d. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 151 . Pendampingan penataan aset. dalam menyusun neraca daerah. Pendampingan penyusunan sistem akuntansi dan SOP Pengelolaan Keuangan. SIMDA gaji.  PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.  PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.  Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara.    3.  Permenkeu Nomor 242 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Insentif Daerah Tahun Anggaran 2012 (persyaratan opini WTP dan WDP untuk mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) TA 2012). c.  Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK. dll. 4. e. antara lain:  PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. SIMDA BMD/aset. Pendampingan penyusunan laporan keuangan. Penyediaan sistem pengelolaan keuangan berbasis komputer (SIMDA keuangan.  Surat Keputusan Kepala BPKP Nomor Kep-420/K/2007 tentang Pedoman Review Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Bimtek Pengelolaan Keuangan. penguatan/pengefektifan fungsi APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) dalam mengintensifkan langkah-langkah pencegahan terhadap korupsi pada pelaksanaan/realisasi APBD. penguatan manajemen aset.  PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. Memanfaatkan kegiatan-kegiatan KL yang bertujuan memfasilitasi/membantu pengelolaan keuangan daerah:  Asistensi yang diberikan BPKP pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. b. Melaksanakan/memperhatikan peraturan/pedoman terkait peningkatan kualitas laporan keuangan.

Kementerian Dalam Negeri saat ini sedang menyusun Permendagri tentang Pedoman Penerapan Standar Akuntansi berbasis Akrual. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Bantuan Sosial. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. Implementasi SAKIP pada awalnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Hal inilah yang mendasari diterapkannya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Namun demikian. g. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem akuntansi pemerintah daerah. Membina Pemerintah Daerah dalam Pelaksanaan dan Penatausahaan Pengelolaan Keuangan Daerah. Asistensi yang diberikan Kemendagri pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. f. pusat dan daerah. melalui serangkaian program dan kegiatan yang dilaksanakan dengan dukungan anggaran negara. Strategi Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Akuntabilitas kinerja merupakan wujud pertanggungjawaban instansi pemerintah. antara lain: 152 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah. maka implementasi SAKIP harus juga merujuk pada peraturan perundang-undangan yang ada. Membina Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan APBD. dalam mencapai misi dan tujuan organisasi. sehingga terwujud manajemen berbasis kinerja pada lingkungan birokrasi pemerintah. Ruang lingkup pendampingan dalam Mou antara lain: a. baik pusat maupun daerah. BPKP bersama beberapa pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang belum berhasil memperoleh opini WTP atas LKPD. Permendagri ini akan disosialisasikan secara bertahap. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP). dan c. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. b. telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menuju opini WTP. seiring perkembangan dan penerapan sistem perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja pada seluruh instansi pemerintah. d. Setelah ditetapkan. e. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Barang Milik Daerah. c. Peningkatan kapasitas aparat pengawasan intern pemerintah daerah. b.

khususnya bagi setiap pimpinan unit kerja. Menyusun laporan akuntabilitas kinerja secara sistematis. Setiap kinerja yang dihasilkan oleh instansi. 4. strategi yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan akuntabilitas kinerjanya. sehingga mendapatkan predikat yang lebih baik dari hasil penilaian LAKIP-nya. harus diungkapkan pencapaiannya dengan data dan informasi yang jelas. 4. Apabila terdapat data dan informasi tambahan. Oleh karena itu. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 153 . Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran Daerah. Memiliki dokumen perencanaan yang baik. 2. Surat Keputusan Menpan Nomor: KEP-135/M. antara lain Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). melalui koordinasi Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi dilakukan evaluasi dan penilaian.1. serta dilengkapi dengan analisis hasil pengukuran. dalam bentuk Indikator Kinerja Utama (IKU). Oleh karena itu. Indikator-indikator kinerja yang menjadi target setiap tahunnya. valid dan sedapat mungkin dalam bentuk kuantitatif. harus dimanfaatkan dengan baik sehingga terwujud konsistensi antara rencana yang telah ditetapkan dengan implementasinya. 3. yakni: 1. Oleh karena itu. 3. komprehensif dan secara tepat mampu menyajikan kinerja yang dihasilkan dengan indikator yang terukur. Permenpan dan RB Nomor 35 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011. Dokumen perencanaan tersebut. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Indikator Kinerja Kegiatan dan dilakukan pengukuran hasil kinerjanya. LAKIP tersebut. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). setiap instansi pemerintah harus merumuskan dengan baik dan telah memiliki indikator yang tepat. Sebagai wujud implementasi SAKIP tersebut. Rencana Strategis pada setiap SKPD. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. dibandingkan dengan dokumen perencanaannya.PAN/2004 tentang Pedoman Umum Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. harus dapat diukur secara tepat. maka instansi pemerintah harus menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) setiap tahunnya. selain pencapaian indikator tersebut. antara lain: 1. dan 2. penting bagi setiap daerah memiliki perencanaan kinerja tahunan secara terukur dan menerapkan kontrak kinerja di setiap unit kerja instansi pemerintah. 2. yang dilaksanakan berdasarkan. dapat dituangkan dalam Laporan atau lampiran laporan. sebagai penjelasan atas kelengkapan kinerja yang telah dicapainya.

Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. Mempercepat penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang. Untuk itu. Pembagian tanggung jawab terkait dengan regulasi/perijinan bersifat lintas kewenangan: Pemerintah Pusat. penetapan atau perbaikan regulasi dan perijinan. 5. LAN dan instansi lainnya yang kegiatankegiatannya memiliki keterkaitan substansi dengan peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. 4. perlu upaya bersama untuk mengatasi permasalahan yang membutuhkan perbaikan regulasi dan perijinan. BPKP Perwakilan di setiap provinsi.1 Regulasi Untuk mendukung realisasi percepatan dan perluasan kegiatan ekonomi utama. Tujuan umum yang ingin dicapai dalam perbaikan regulasi dan perijinan adalah sebagai berikut: 1.5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5. maupun antara sektor/lembaga. Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan strategi MP3EI. diantaranya: 1. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan mereka sendiri.Dalam menempuh strategi peningkatan akuntabilitas kinerjanya seperti di atas. Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah. Peran Pemerintah Daerah Upaya-upaya debottlenecking tersebut tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. 5. 3. Provinsi. Merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung strategi MP3EI (seperti Bea Keluar beberapa komoditi). pemerintah daerah hendaknya dapat berkonsultasi dengan beberapa instansi. diperlukan dukungan non-infrastruktur berupa pelaksanaan. struktur tarif dan waktu standar untuk ijin-ijin tertentu yang mungkin sejalan dan tidak sejalan dengan keputusan menteri yang berlaku untuk ijin yang sama. dibutuhkan koordinasi yang lebih baik antara dinasi- 154 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5. 2. selain percepatan pembangunan dukungan infrastruktur. Untuk itu. baik di tingkat nasional maupun daerah. yakni Kementerian PAN dan RB. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan dari sisi administrasi. Kabupaten dan Kota.

Hal ini dapat menghambat proses pemberian ijin usaha bagi investor karena salah satu kriteria pemberian ijin usaha adalah kesesuaian dengan tata ruang. Hal ini dikarenakan kurangnya “pemahaman filosofi dan prinsip pungutan” sehingga diperlukan kejelasan subjek dan objeknya. (2) menurunkan biaya logistik. (4) mewujudkan sinergi antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Untuk itu.  Merevisi atau menerbitkan peraturan daerah yang sangat dibutuhkan untuk mendukung percepatan pelaksanaan MP3EI. kecuali pada kawasan yang masih konflik dengan kawasan kehutanan. maka perlu upaya untuk:  Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah.5. Panduan perijinan usaha yang jelas dan lengkap akan meniadakan inkonsistensi antara peraturan-peraturan di tingkat pusat dan daerah dan mengurangi inefisiensi dan peluang untuk melakukan tindak korupsi.2 Konektivitas Percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur dalam kerangka penguatan konektivitas nasional telah ditetapkan menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan MP3EI. Masih banyaknya Provinsi dan Kabupaten/Kota yang belum merevisi RTRW sesuai dengan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Namun agar pelaksanaan pembangunan tidak terhambat. 3. 5. maka daerah dapat tetap menggunakan RTRW yang berlaku. kejelasan hak dan kewajiban wajib pungut/pemerintah daerah. serta koneksi antara tujuan dan isi peraturan daerah (Perda). perlu adanya percepatan penyelesaian penyusunan RTRW.dinas perijinan di daerah dan departemen teknis.  Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan MP3EI. Semua hal ini harus berpedoman pada UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. (3) mengurangi ekonomi biaya tinggi. Terkait debottlenecking regulasi yang menghambat proses investasi di daerah.  Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. dan (5) mewujudkan akses yang merata di seluruh wilayah. Tujuan utama penguatan konektivitas nasional tersebut adalah (1) meningkatkan kelancaran arus barang. Banyaknya pungutan/retribusi yang diterapkan di daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 155 . maupun antara sektor/lembaga. jasa dan informasi. 2. 4.

Akan tetapi. Dengan demikian multiplier-effects untuk mendorong pembangunan daerah akan lebih besar (contoh sinergi antara pembangunan jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. diantaranya: 1. Pemerintah Daerah juga sangat sentral untuk: 1.5. Komitmen untuk mensukseskan MP3EI bukan hanya antara Pemerintah Pusat. penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo (Ungaran-Bawean dan Bawean-Solo). 5. Gubernur NTB mengusulkan pembangunan Waduk Pandan Duri dan Jalan Trans Nusa Tenggara). 2. Mendorong percepatan proses pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur di wilayahnya dengan berpedoman kepada UU No. namun Pemerintah daerah juga harus terlibat aktif sehingga anggaran belanja modal daerah dapat dipakai untuk mendukung platform besar ini. untuk mengoptimalkan pelaksanaan MP3EI perlu upaya sinergitas nasional dan daerah dalam pembangunan infrastruktur.Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam rangka mensukseskan MP3EI selain berperan dalam mensinergikan kebjiakan di daerah dengan kebijakan Pemerintah Pusat. BUMN dan swasta. pembangunan Waduk Jati Barang. Para Gubernur perlu mengidentifikasi pembangunan infrastruktur nasional yang "strategis dan penting“ untuk mempercepat pembangunan daerah yang bersangkutan (contoh Gubernur Jawa Tengah mengusulkan pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas. Peran Pemerintah Daerah Untuk mempercepat pencapaian tujuan konektivitas nasional.3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK menjadi salah satu dari 3 (tiga) strategi utama pelaksanaan MP3EI. sehingga pemanfaatan infrastruktur nasional perlu disertai dan disinergikan dengan pembangunan infrastruktur provinsi dan lokal. jaringan irigasi primer dengan irigasi sekunder dan tersier). 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang telah disahkan oleh DPR. Membangun komitmen untuk mensukseskan penyediaan infrastruktur dalam mendukung MP3EI. Pendanaan pembangunan infrastruktur melalui APBN sangat terbatas. pengembangan Bandara A. dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang akan digunakan sebagai landasan penyusunan RAPBN. Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan. 2. mesin 156 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Yani. dalam jangka pendek Pemerintah telah memprioritaskan percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur disetiap koridor ekonomi.

Di setiap kabupaten/kota minimal harus dikembangkan pendidikan tinggi setingkat akademi (community college) atau politeknik dengan bidang-bidang yang sesuai dengan potensi di kabupaten tersebut. Pengembangan community college. untuk pengembangan kelapa sawit. pengembangan sumber daya manusia juga dilakukan dengan pengembangan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). di Gresik Utara Provinsi Jawa Timur. Dalam konteks ini. diantaranya dalam: 1. Selain pengembangan pendidikan tinggi. antara lain: a. Oleh karena itu. Pembentukan klaster inovasi daerah untuk pemerataan pertumbuhan. b. pengembangan program pendidikan vokasi harus disesuaikan dengan potensi di masing-masing koridor ekonomi. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Agroindustri. dalam pengembangan SDM dan IPTEK juga membutuhkan peran dari setiap Pemerintah Daerah. Program pendidikan vokasi didorong untuk menghasilkan lulusan yang terampil. peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. kakao dan perikanan. Oleh karena itu. Mendukung pengembangan program pendidikan vokasi. Oleh karena itu pengembangan community college dilakukan dengan secara bersama-sama antara pemerintah. 2. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Energi yang berbasis non-renewable dan renewable energy di Provinsi Kalimantan Timur. c. tujuan utama di dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mendukung hal tersebut diatas haruslah bisa menciptakan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan sains dan teknologi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 157 .pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi. Politeknik tersebut dikembangkan sesuai dengan potensi dan keunggulan setiap koridor ekonomi. pengembangan pelatihan kerja dan pengembangan lembaga sertifikasi. Peran Pemerintah Daerah Untuk itu. Mutu community college dibina oleh politeknik yang dikembangkan di ibukota provinsi. yang menyelenggarakan program diploma 1. pemerintah daerah yang sudah memiliki inisiatif untuk menumbuhkembangkan potensi inovasi pada beberapa produk dan program unggulan wilayah. MP3EI mendorong dan memberdayakan upaya masyarakat. dunia usaha dan universitas sebagai pengelola community college. pelaku usaha. diharapkan akan menghasilkan lulusan yang langsung dapat diserap oleh kegiatan ekonomi di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di setiap koridor ekonomi. Model pengembangan kawasan industri inovasi produk-produk hilir yang terintegrasi. diploma 2 dan diploma 3.

Sementara yang melalui proses teknokratik menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional yang menjadi tugasnya. Jakarta. Kelima pendekatan tersebut sangat penting digunakan dalam proses perencanaan dan penganggaran pemerintah khususnya digunakan untuk menyusun dan memformulasikan suatu kebijakan. MA. Gambar 5. Outcome Daya Saing Daerah Memperhatikan Kemajuan Teknologi dan Perubahan Kelembagaan Berkelanjutan Bersaing secara nasional maupun internasional Sumber: Prof. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. Dr. SE. (iv) pendekatan top down. salah satunya adalah melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Pendekatan politik akan menghasilkan rencana pembangunan sebagai hasil penjabaran visi misi presiden atau kepala daerah yang dijabarkan dalam RPJMN atau RPJMD. Output. yaitu: (i) pendekatan teknokratik. Sedangkan pendekatan top down dan bottom up dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan.6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik Proses perencanaan dan penganggaran yang baik akan sangat berperan penting dalam meningkatkan peran pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik.4 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah Sinergi Input. Mekanisme perencanaan dan penganggaran pada umumnya menggunakan lima pendekatan dasar. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) 158 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Armida Salsiah Alisjahbana. serta (v) pendekatan bottom up. (iii) pendekatan partisipatif.5. (ii) pendekatan politik. Menteri PPN/Kepala Bappenas dalam Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Daerah melalui Reformasi Birokrasi. 26 Juni 2012. Pendekatan partisipatif terjadi dimana jika perencanaan dan penganggaran melibatkan semua stakeholder.

antar ruang. pelaksanaan dan pengawasan. Daya saing daerah adalah kemampuan untuk mensinergikan antara input. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: 1. berkeadilan dan berkelanjutan. Menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. penganggaran. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. 2.koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 159 . program. dan (ii) sinkronisasi renstra SKPD dengan renstra K/L sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. 3. antar waktu. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. kegiatan dan alokasi anggaran daerah sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. output dan outcome yang ada di daerahnya secara berkelanjutan. (2) terciptanya integrasi. efektif. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. dengan tetap memperhatikan perubahan teknologi dan institusi yang ada di daerah tersebut agar dapat bersaing dengan baik di tingkat nasional maupun internasional sehingga mampu meningkatkan standar kehidupan masyarakat. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini dapat dilakukan melalui: (i) sinkronisasi tujuan. sasaran. Melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah. Memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran . menjaga iklim investasi.

Bahkan untuk beberapa indikator kota-kota tersebut dapat lebih cepat dengan prosedur yang lebih pendek dibandingkan rata-rata 20 kota di Indonesia yang disurvei dan APEC.Boks 5. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa posisi Indonesia yang pada tahun 2011 berada pada peringkat ke 126 menurun menjadi ke 129 pada tahun 2012. Yogyakarta adalah kota termudah dan tercepat dalam mendirikan usaha. bahkan dari rata-rata anggota APEC. Berdasarkan survei SNDB. Balikpapan (Kalimantan Timur) merupakan kota termudah dalam mengurus ijin mendirikan bangunan. bahkan pada tahun 2012 telah berada pada peringkat tidak lebih dari 20. Jambi dan Palembang dalam memberikan kemudahan mendirikan bangunan lebih cepat dan lebih murah dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia. Posisi Thailand dan Malaysia terus menerus membaik. Dari hasil survei kemudahan berusaha tingkat global. kota dengan kemudahan perijinan menjadi salah satu pertimbangan bagi para pengusaha untuk membangun atau mengembangkan usahanya. jauh di bawah negara anggota ASEAN seperti Singapura. 160 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 APEC (rata-rata) Yogyakarta Palangkaraya Medan . Thailand dan Malaysia. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Memulai Usaha 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Surakarta Jambi Manado Indonesia (rata-rata) Modal disetor minimum (% per kapita) Jumlah prosedur Waktu (hari) Biaya (% per kapita) Balikpapan. Sementara Singapura tetap menduduki posisi pertama selama 4 tahun berturut-turut. Untuk Indonesia diwakili oleh Jakarta. Secara nasional. Survei tersebut dilakukan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di kota-kota bisnis dunia.1 Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Peringkat daya saing Indonesia dalam Ease of Doing Business (EODB) tahunan yang dilaksanakan oleh IFC Bank Dunia. sementara Bandung (Jawa Barat) dan DKI Jakarta adalah yang termudah dalam mendaftarkan properti. Namun ternyata potret berbeda diperoleh saat survei dilakukan di 20 kota di Indonesia dari 400 kota di dunia yang terpilih dalam survei Sub National Doing Business (SNDB). daya saing berusaha di Indonesia dibandingkan negara lain masih belum baik.

Bandung. Palembang lebih cepat dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia dan terhadap rata-rata negara Asia timur dan Pasifik. IFC Bank Dunia Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Asia timur dan Pasifik (ratarata) Semarang 161 .Boks 5. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendaftarkan Properti 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Bandung Palembang Indonesia (rata-rata) Jakarta Pekanbaru Batam Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per properti) Sumber: Doing Business di Indonesia 2012. Jakarta.1 (Lanjutan) Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendirikan Bangunan 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Balikpapan Jambi Palembang Indonesia (rata-rata) Denpasar Manado Jakarta APEC (ratarata) Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per kapita) Dalam memberikan kemudahan mendaftarkan properti.

Boks 5. dalam lingkup daerah yang bersangkutan.2 Kisah Sukses Pelaksanaan PTSP di Parepare dan Sragen Fenomena membaiknya pelayanan publik dalam beberapa tahun terakhir ini bisa dijumpai di beberapa daerah yang telah membangun pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) atau yang dikenal dengan One Stop Services (OSS) antara lain di Kota Parepare dan Kabupaten Sragen. 162 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pengajuan ijin usaha dan pelaporan. Untuk meraih status sebagai PTSP yang mampu menyediakan layanan prima. Dengan kemajuan kualitas pelayanan dari kedua daerah tersebut telah menumbuhkan optimisme baru terhadap kinerja birokrasi dan menyemangati adanya harapan bagi bangsa ini untuk tampil lebih baik dan berdaya saing nantinya. petugas dengan seragam pegawai swasta yang siap melayani dengan senang hati maka secara perlahan PTSP mendapat kepercayaan dari masyarakat. merupakan hasil kerja yang didesain (by design) dan dilakukan terus menerus sehingga memperoleh kepercayaan masyarakatnya. namun dengan berdirinya PTSP yang memberlakukan kemudahan. Dengan dicapainya ISO 9001:2000 atas kualitas manajemennya. masyarakat termasuk investor enggan berhubungan langsung dengan aparat. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat karena pada awalnya. Daerah-daerah tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip Good Public Governance. dengan didukung kondisi kantor yang nyaman. Dengan tidak mengesampingkan prestasi dari daerah-daerah lain yang juga tengah berbenah menuju birokrasi yang friendly. transparansi dan keramahan dalam pengurusan berbagai surat. Bahkan selanjutnya kantor-kantor tersebut mendapat brand image baru yang positif. di kedua kota/kabupaten tersebut dapat memberikan pelayanan beberapa perijinan dan non perijinan dalam waktu dan dengan biaya yang terukur jelas (lama dan besarannya). maka kantor pelayanan perijinan Kota Parepare dan Kabupaten Sragen merupakan sebagian contoh pelaksanaan pemberian pelayanan perijinan prima yang berhasil disediakan pemerintah kepada masyarakat.

Banyaknya prestasi yang diperoleh KPPT Parepare. Proses yang memakan waktu sampai tujuh hari biasanya hanya izin-izin yang membutuhkan verifikasi. 2006.2 (lanjutan) Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Parepare. Akta catatan sipil. biasanya kurang dari satu hari atau setengah hari. Proses pembayaran dilakukan di Bank Sulawesi Selatan. Untuk menjaga transparansi. telah menjadikan percontohan setidaknya bagi 359 kabupaten/kota/lembaga yang datang berkunjung. Prestasi yang diperoleh KPPT Parepare selain sertifikat ISO. seperti izin tempat usaha. ijin usaha kepariwisataan. penghargaan dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah dan penghargaan dari The Asia Foundation. investment award/PTSP kota terbaik dari BKPM tahun 2011. piala otonomi award tahun 2009 sampai dengan 2011. perijinan dan non perijinan di bidang penanaman modal. Di kantor tersebut dengan jelas dipasang slogan “kawasan bebas korupsi” dan “apabila bisa dipercepat kenapa diperlambat?”. keberhasilan pelaksanaan KPPT Parepare telah menjadikan sumber informasi tidak kurang dari 115 daerah/lembaga pada seminar dan sosialisasi pelayanan PTSP. ijin peruntukan penggunaan tanah. NPWP.9 persen selama periode tahun 2003 sampai dengan 2011. Waktu yang diperlukan untuk mengurus izin atau mendapatkan surat keterangan berkisar dari 15 menit hingga tujuh hari. Selain itu. sehingga tidak ada uang beredar di PTSP tersebut. Piagam Mendagri atas prestasi kontinuitas konsekuensi dan komitmen pelaksanaan PTSP tahun 2009. antara lain: SIUP. TDI. untuk pengurusan KTP. industri dan lainnya yang memerlukan pengecekan ke lapangan untuk melihat lokasi. Kualitas kinerja manajemen KPPT Parepare telah mencapai sertifikat ISO 9001 versi 2000 pada tahun 2004. Slogan tersebut ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas pelayanan perijinan. Untuk NPWP. 2007 dan renewal and upgrade ke ISO 9001:2008 pada tahun 2011. keterangan dari tetangga dan hal lain yang diperlukan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku. izin trayek angkutan kota dan izin usaha angkutan hanya dua hari. maka pada besaran biaya dan angka dicantumkan pada bagian bawah surat keterangan yang dikeluarkan sesuai dengan perda dan juga jumlah yang dibayarkan di bank. Piagam dari Mendagri sebagai narasumebr Permendagri No 24 tahun 2006 tentang PTSP tahun 2006. Beberapa contoh perijinan yang dapat diproses dengan cepat antara lain. Beberapa perijinan bahkan dibebaskan dari biaya. izin gudang.Boks 5. rata-rata hanya 15 menit. 2009. Sulawesi Selatan Kantor pelayanan perizinan Parepare berdiri sejak bulan Juni 2011. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 163 . sementara izin pemasangan reklame sekitar tiga hari. Piagam sebagai PTSP kota terbaik dari Mendagri tahun 2007. antara lain adalah: Piala Citra Pelayanan Prima dari Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) tahun 2002. Implementasi KPPT Parepare telah membantu berperan meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di Kota Parepare yang tercermin dari meningkatnya jumlah perijinan yang diproses dan berimplikasi pada peningkatan PAD yang mencapai 442. TDP.

penerimaan retribusi dan realisasi investasi sebagai berikut: No Tahun Jumlah Pemohon Penerimaan Retribusi (Rp Juta) 935.582 2 2004 38.628.00 1.350.00 926.0 1.380 6 2008 56. Untuk menjaga kualitas pelayanan. sementara untuk pajak reklame hanya memerlukan 1 hari. Untuk meningkatkan kelancaran pelayanan.8 2. investment award/PTSP kabupaten terbaik dari BKPM tahun 2010.000.9 1. Citra Pelayanan Prima dari Presiden.2 902.000.110 8 2010 91.6 1.2 Realisasi Investasi (Rp Juta) 526. Semua informasi lamanya proses perijinan dan formulir dapat dengan mudah diakses dari website pemerintah kabupaten.300.180.00 950.633 5 2007 57. transparan dan pasti”.00 1.718. Bahkan.000. memproses dan menandatangani dokumen perizinan.000. BPT Sragen menerima pendelegasian kewenangan langsung dari Bupati sehingga memiliki kewenangan menerima.304 3 2005 48.00 1. TDP dan TDI paling lama memakan waktu 3 hari. BPT Sragen menerapkan sistem online yang terhubung dengan kantor-kantor kecamatan di bawahnya dan pemohon dapat melakukan pengecekan sampai dimana berkas sudah diproses ( tracking document) melalui internet.073. Penerimaan retribusi disetorkan langsung ke kas daerah sesuai rekening dinas masing-masing. BPT Sragen 164 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Proses pelayanan untuk beberapa perijinan di BPT Sragen dapat dilakukan secara paralel antara perijinan satu dengan yang lainnya dengan maksimal waktu 12 hari.203.000. Penghargaan yang diterima KPT Sragen selain sertifikat ISO 9001-2000 dari Sucofindo International Certification Service antara lain adalah: penghargaan Satya Abdi Praja dari Gubernur Jateng.000.Boks 5.000.00 703.272 4 2006 45.200.417.200. Selain itu.00 1. Mudah cepat. Ranking I daerah Pro Investasi di Jateng tahun 2005.3 1.2 (lanjutan) Badan Pelayanan Terpadu Sragen. BPT Sragen direkomendasikan ADB dan IFC sebagai model KPT di Indonesia. Keberadaan BPT Sragen selama ini memberikan dampak positif bagi perkembangan dan pembangunan Kabupaten Sragen antara lain meningkatnya jumlah pemohon.958 Sumber: Perijinan usaha. BPT Sragen juga terpilih sebagai best practice modul oleh JICA Jepang dan dibuat film yang kemudian diedarkan ke berbagai kabupaten/kota di Tanah Air. Jawa Tengah Badan Palayanan Terpadu (BPT) Sragen beroperasi secara resmi pada bulan Oktober 2002 dengan slogan: “Satu hati untuk melayani.72 1 2003 39. dengan membuat buku panduan tentang OSS yang diedarkan di seluruh kabupaten/kota di Tanah Air.4 1. Latar belakang berdirinya BPT Sragen adalah adanya keinginan masyarakat akan kemudahan dan penyederhanaan pelayanan pemerintah untuk mendorong laju perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.329 7 2009 53.843. BPT Sragen membuat survei kepuasan pelanggan setiap enam bulan sekali. Untuk pengurusan SIUP.

tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. Dr. Bappenas Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P.Boks 5. Prof. komprehensif. Bambang Bintoro Soedjito (ITB). Dr. Herman Haeruman (IPB). Agung Pambudhi (KPPOD). 53/M. 53/ M. konsisten. serta sekaligus menciptakan insentif bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang lebih baik dan bermutu.PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. Bambang Bintoro Soedjito (ITB). Dr. Dr. Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. Herman Haeruman (IPB). terukur dan dapat dilaksanakan. tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. Agung Pambudhi (KPPOD).PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. Sumber: Direktorat Perkotaan dan Perdesaan. Prof. Kodrat Wibowo (Unpad). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 165 . Pemberian penghargaan ini dilakukan melalui penilaian terhadap dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi tahun 2012. Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P.3 Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Anugerah Pangripta Nusantara diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS bertujuan untuk mendorong setiap daerah untuk menyiapkan dokumen rencana pembangunan secara lebih baik. Kodrat Wibowo (Unpad).

Keterukuran tujuan dan sasaran RKPD 2012 yang dilengkapi dengan indikator kinerja dan prakiraan maju anggaran tahun berikutnya. isu strategis dengan prioritas dan prioritas dengan anggaran. Provinsi DI Yogyakarta. kerangka kebijakan keuangan daerah.Boks 5. Konsistensi dokumen RKPD 2012 terutama konsistensi hasil evaluasi dengan isu strategis. pro-poor. pro-job. pemenang ketiga. proenvironment. kepemimpinan dan kesiapan pelaksanaan. Keterkaitan dokumen RKPD 2012 dengan dokumen RPJMD Provinsi dan RKP 2012.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Penilaian didasarkan pada 5 (lima) kriteria. arah kebijakan dan prioritas pengembangan wilayah dan strategi dan arah kebijakan pro-growth. Disamping itu. pemenang pertama. juga diberikan penghargaan dalam bentuk piagam kepada 3 provinsi nominasi terbaik. 3. analisa. pemenang kedua. Jawa Barat Tahun 2012 oleh Kepala Bappeda 166 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Proses Perencanaan di Jawa Barat Tema Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 mengusung tema pembangunan “Mengintegrasikan Peran Investasi Dunia Usaha dalam Menghela Pembangunan Sektoral dan Kewilayahan Bersifat Monumental untuk Mempercepat Terwujudnya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri. 4. Provinsi Sumatera Selatan. Paparan RKPD Prov. Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta. serta percepatan pencapaian tujuan MDGs. serta Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 yang dilihat dari tingkat intensitas konsultasi dengan para pemangku kepentingan. Dinamis dan Sejahtera”. Ketiga provinsi pemenang yaitu: 1. 3. 2. Pemberian trophy penghargaan Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012 oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas kepada para Kepala Bappeda yang mewakili 3 provinsi pemenang dilakukan pada saat acara penutupan Pra-Musrenbangnas tanggal 25 Mei. yaitu: 1. Provinsi Jawa Barat. Kedalaman dan kelengkapan dokumen RKPD 2012 dalam menyajikan kerangka ekonomi daerah. yaitu: Provinsi NAD. 5. 2.

Pro Poor dan Pro Environment). Penanganan bendana dan pengendalian lingkungan hidup. 10. Kemandirian pangan. pemerintah daerah dan DPRD merupakan 4 pilar utama pembangunan Jawa Barat. Tahap Proses Penyusunan RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 6. 7. (1) RPJMN (2010-2014). Provinsi Jawa Barat menetapkan 10 (sepuluh) Prioritas Pembangunan (Common Goals) yaitu: 1. akademisi. Peningkatan kinerja aparatur. Angka Harapan Hidup. 2. Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 memadukan alur teknokratis. 9. Berdasarkan sasaran tersebut. Angka Pendapatan per Kapita.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Prioritas Pembangunan Jawa Barat Penyusunan RKPD 2012 Provinsi Jawa Barat memperhatikan 4 Sasaran Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu melalui. partisipatif/ bottom-up. Peningkatan daya beli masyarakat. Pengembangan infrastruktur wilayah.Boks 5. Pembangunan perdesaan. dunia usaha. topdown dan juga unsur politis. 4. Sumber: Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Provinsi Jawa Barat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 167 . yaitu: Pertumbuhan Ekonomi. Peningkatan kualitas pendidikan. Masyarakat. Pengangguran. Pengembangan budaya lokal dan destinasi wisata. (2) 6 Indikator Pembangunan. 3. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan ( Pro Growth. Peningkatan kualitas kesehatan. Pro Job. 8. Kemiskinan. dan (4) Inpres No. (3) Millenium Development Goals (MDG’s). Kemandirian energi dan kecukupan air baku. Angka Kematian Bayi. 5.

Dalam konteks perencanaan spasial. Pemerintah provinsi Jawa Barat menerapkan satu basis data untuk kepentingan penyusunan perencanaan dan kegiatan pembangunan. Resources availability. Sementara itu. masyarakat Jawa Barat didorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Timely). program dan kegiatan dalam RKPD dirancang melalui pendekatan SMART (Specific. Provinsi Jawa Barat membagi wilayahnya menjadi 4 (empat) wilayah pengembangan berdasarkan karakteristik lokasi dan kegiatan tematik. 168 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Measurable. Dengan menggunakan basis data tersebut. Achievable. pemerintah memfasilitasi agar masyarakat dapat beraktivitas dan meningkatkan kesejahteraannya.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Berpijak pada prinsip pembangunan daerah untuk rakyat (Regional Development for People). Purwakarta. Cirebon dan Priangan.Boks 5. yang terdiri dari Bogor.

Melalui berbagai tahapan mulai persiapan sampai pelaksanaan dengan melibatkan semua pihak terkait serta pendampingan teknologi dari Badan Litbang Pertanian. konservasi sumberdaya genetik terutama untuk pangan lokal. pelestarian tanaman pangan untuk masa depan melalui kebun bibit desa. untuk desa Kayen.000 hingga Rp. pemanfaatan lahan perkarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga. Salah satu dampak positif yang dirasakan dari penerapan program KRPL di Pacitan ini adalah berkurangnya pengeluaran rumah tangga petani berkisar Rp. Relatif cepatnya proses adopsi model KRPL di Kabupaten Pacitan antara lain didukung oleh adanya komitmen Pemerintah Daerah untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui pengembangan diversifikasi pangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan menerapkan model KRPL. program ini menunjukkan kemampuannya dalam menaikkan pola pangan harapan terutama untuk kemandiran desa dan rumah tangga.Boks 5. diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. di lingkungan Kantor Kodim (Komando Distrik Militer) dan di semua Kantor Koramil (Komando Rayon Militer) di wilayah Kabupaten Pacitan telah pula mengembangkan model RPL. 170. Jawa Timur di awali pada Februari 2011 dengan melibatkan 35 KK. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan dikeluarkannya Instruksi Bupati Pacitan kepada masyarakat di wilayah Pacitan untuk mengembangkan dan menerapkan model RPL serta Instruksi Kodam Brawijaya Jawa Timur yang ditindaklanjuti oleh Kodim Pacitan kepada anggota untuk mengembangkan RPL di lokasi kantor Kodim maupun Koramil. 700. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 169 . serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program MKRPL di salah satu dusun di Desa Kayen. rumah tangga yang telah mengadopsi model RPL sebanyak 620 KK dari 821 KK yang ada (sekitar 77%).4 Kisah Sukses Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) di Pacitan. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (Model KRPL)” yang merupakan himpunan dari Rumah Pang an Lestari (RPL) yaitu rumah tangga dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Jawa Timur Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Sebagai gambaran.000 per bulan. saat ini di sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Pacitan telah mengadopsi model RPL. Terkait dengan hal ini. Selain itu. Kecamatan Kota Pacitan.

usulan kegiatan dalam PNPM Mandiri justru berasal dari Subak maupun Desa Pekraman.Boks 5. BKAD Tegallalang melakukan kerjasama dengan berbagai pelaku ekonomi di wilayah kecamatan. BKAD Tegalalang menciptakan kerjasama yang baik dengan desa dinas maupun Desa Adat atau Desa Pekraman. Dalam pengelolaan dana bergulir Simpan Pinjam Perempuan (SPP). baik pimpinan adat atau Bendesa. Bank dan beberapa pengusaha kecil di bidang kerajinan tangan dan perdangan. BKAD Tegallalang merupakan kepengurusan yang ideal karena berasal dari berbagai unsur. BKAD Tegallalang juga telah melakukan fasilitasi dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat miskin seperti pembuatan rumah layak huni bagi masyarakat miskin dan program bedah rumah yang didanai dari surplus hasil pengelolaan SPP. Hal inilah yang tercermin dari keberhasilan peran pengurus Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Tegalalang. seperti Lembaga Perkreditan Desa. keberhasilan BKAD Tegalalang terutama pada upaya untuk mengajak masyarakat untuk menjadi subjek pembangunan di desanya. praktisi pendidikan dan unsurunsur yang ada di dalam masyarakat tradisional Bali. praktisi ekonomi. Bali. Secara kelembagaan. Selanjutnya. fasilitasi dalam tahap perencanaan dilakukan BKAD melalui proses penggalian gagasan di dusun atau banjar. S Suasana Rakor BKAD Fasilitasi BAKD Dalam Pengelolaan Dana Bergulir Pada tahap perencanaan. Oleh karenanya. Pada tahap pelaksanaan. Kabupaten Gianyar maka wajar apabila pada tahun 2012 BAKD Tegallalang dipilih dan ditetapkan sebagai BKAD terbaik nasional secara kelembagaan. BKAD melaksanakan tugasnya mulai dari proses sosialisasi program. Kabupaten Gianyar. 170 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . yang kemudian dilanjutkan dengan fasilitasi proses pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi bersama-sama dengan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya. yaitu melalui rapat koordinasi (rakor) di tingkat kecamatan dengan segenap kelembagaan di kecamatan. dengan melihat hasil nyata yang telah ditunjukkan dari intensitas dan keseriusan BKAD Tegallalang dalam memfasilitasi upaya penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Tegallalang.5 Keberhasilan BKAD Tegalalang Dalam Memfasilitasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perdesaan Keberhasilan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan sangat tergantung kepada intensifnya fasilitasi yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) kepada masyarakat miskin di lapangan. Setelah adanya Program Paras-paros dari Kabupaten Gianyar dan PNPM Mandiri Integrasi. Namun demikian. Koperasi.

Tahun 2012 ini Provinsi Riau berada pada urutan ke-7 di antara provinsi-provinsi yang memiliki kemajuan pesat dalam penerapan e-Procurement dengan nilai pengadaan secara elektronik mencapai lebih dari Rp 1 triliun. memerlukan komitmen kepala daerah dan inisiator perubahan. Meskipun LPSE Provinsi Riau dibentuk tahun 2010 setelah Pemerintah Kota Pekanbaru terlebih dahulu menerapkan e-Procurement di tahun 2009.Boks 5. Gagasan ini memerlukan perubahan perilaku. Dalam hal ini. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 171 . dalam hal ini menghadapi tantangan berkaitan dengan luas wilayah. Keberhasilan Pemerintah Provinsi Riau (maupun pemerintah daerah yang lain) menerapkan pengadaan secara elektronik dan mendorong seluruh pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Riau. hanya diperlukan waktu 1 bulan sejak pelatihan pengelola LPSE sampai dengan terbitnyaPeraturan Gubernur tentang Tim Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Riau yang dirintis oleh Biro Administrasi Pembangunan. jumlah pelaku usaha. pembentukan unit LPSE tidak menunggu tersedianya peralatan dan infrastruktur TIK. Jawa Timur. Sumatera Barat. E-Procurement mulai diujicobakan di beberapa instansi pemerintah pusat. Penataan pasar pengadaan akan membentuk skala pasar yang lebih besar dan memungkinkan para pelaku pasar dapat mengakses seluruh volum pengadaan barang/jasa pemerintah. Gorontalo. jauh dari kebutuhan minimal suatu sistem elektronik. LPSE Provinsi Riau mulai memberikan pelayanan dengan hanya bermodalkan 1 buah komputer rakitan. Kepulauan Riau. Yogyakarta dan beberapa Provinsi lainnya. provinsi dan kota pada tahun 2008. Pada tahap awal. mental dan kesiapan terhadap penerapan suatu teknologi dari seluruh pihak yang terkait. untuk dapat menyelenggarakan layanan pengadaan secara elektronik di Provinsi Riau.6 Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Implementasi e-Procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) menjadi upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah disamping juga menjadi sebuah strategi untuk menata pasar pengadaan. DI. variasi kesiapan infrastruktur TIK maupun kesiapan SDM dalam adopsi dan adaptasi terhadap teknologi. LPSE Provinsi Riau belum memiliki fasilitas dan peralatan teknologi informasi yang lengkap. namun perkembangannya mampu mengikuti perkembangan penerapan e-Procurement di provinsi lain yang terlebih dahulu membentuk LPSE dan menerapkan e-Procurement seperti Jawa Barat. konsistensi aktor utama perubahan. Kalimantan Tengah. Proses pembentukan unit LPSE Provinsi Riau terbilang cukup singkat. Efektifitas perwujudan gagasan. kecepatan mengambil momentum dan peran serta pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. Dari ujicoba tersebut diperoleh pelajaran berkaitan dengan strategi implementasinya.

Sejak terbentuk. Hasilnya. tanggal 14 Desember 2010 kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau. sudah dilatih 246 penyedia.6 (lanjutan) Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Setelah tersedianya peralatan training.14 persen. secara mandiri LPSE Provinsi Riau mengambil peran mendorong dan melatih Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau untuk mampu membentuk LPSE dan mengelola sistem elektronik. Dalam kurun waktu November Desember 2010 (hanya dalam dua bulan). agar melaksanakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah secara elektronik pada tahun 2012.08 Triliun dilelangkan secara elektronik pada tahun 2011. Gubernur Riau juga menerbitkan Surat Edaran No. Juni 2012. Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota yang belum memiliki LPSE dapat memanfaatkan LPSE Provinsi Riau. 3. 500/Adm-Pemb/16.Boks 5. 54 Tahun 2010 yang mewajibkan penerapan pengadaan secara elektronik mulai tahun 2012.29.235 penyedia sudah dilatih oleh LPSE Provinsi Riau. LPSE Provinsi Riau segera memberikan pelatihan kepada penyedia yang terdaftar di LPSE Provinsi Riau secara gratis. Posisi saat ini. efisiensi yang dihasilkan adalah sebesar 12. Hasilnya. 427 paket dengan nilai Rp. 172 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sementara itu. Gubernur Provinsi Riau menerbitkan Instruksi Gubernur. 1. Menindaklanjuti terbitnya Peraturan Presiden No. dalam kurun waktu 17 bulan (Mei 2012) seluruh LPSE Pemerintah Kabupaten/Kota terbentuk dan sudah beroperasi. Untuk mendorong penerapan e-Procurement oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Foto: Pras Widjojo .

Foto: Pras Widjojo .

BAB VI PENUTUP .

BAB VI PENUTUP Kinerja pembangunan ekonomi nasional selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang terus meningkat. serta masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahnya. Stabilitas ekonomi yang terjaga dan pertumbuhan yang berkelanjutan diikuti oleh perluasan kesempatan kerja dan penurunan kemiskinan. beberapa daerah lain masih harus menghadapi tantangan terbatasnya lapangan kerja. Kinerja pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika ekonomi global yang menempatkan Asia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama. Beberapa daerah mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan bagi percepatan kemajuan dan pembangunan ekonomi daerah. Oleh sebab itu. penciptaan iklim investasi dan iklim usaha yang lebih kondusif. 176 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Namun. sementara itu ekonomi domestik perlu diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat tetap terjaga. tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi adalah tingkat persaingan di pasar global yang semakin tinggi. tetapi juga ditentukan oleh pembangunan infrastruktur. belum memadainya infrastruktur. Dengan demikian. Upaya dan strategi ini tidak hanya menyangkut peningkatan produktivitas sumber daya manusia. Dilain pihak. penciptaan iklim ketenagakerjaan yang lebih efisien. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. kebijakan dan strategi yang lebih terarah di daerah akan menjadi modal dasar dalam memperkuat perekonomian domestik dan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan ke seluruh daerah. peningkatan nilai tambah dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya.

Foto: Pras Widjojo .

World Bank. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. The Indonesia Competitiveness Report 2011: Sustaining the Growth Momentum. Klaus dan Xavier Sla-i-Martin (2011). Jakarta. BPFE. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Jakarta.(2011). World Economic Forum. World Economic Forum. Schwab. IFC. Schwab. The Global Competitiveness Report 2011-2012. Geneva. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2011. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. --------. 178 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pembangunan Nasional. Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia. PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD (2008). Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.. Yogyakarta. Doing Business in a More Transparent World: Comparing Regulation for Domestic Firms in 183 Economies. Profil dan Pemetaan Daya Saing Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. IFC. et. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia.(2012). Kementerian Perencanaan ---------. ----------.(2012).(2012). Doing Business di Indonesia 2012: Memperbandingkan Kebijakan Usaha di 20 Kota dan 183 Perekonomian.al (2002). --------. Jakarta ----------. KPPOD dan The Asia Foundationa. Piter. Jakarta.(2011). Jakarta. Geneva. ---------. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013. Klaus dan Greenhill (2011).(2011).DAFTAR PUSTAKA Abdulah. World Bank. RaJawali Pers.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.