Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012-2013

MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Agustus 2012

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2012-2013: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

© Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Republik Indonesia

Foto cover Desain cover

: Pras Widjojo : Ivan W. Sjafary

Diterbitkan oleh: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

KATA SAMBUTAN

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan terbitnya Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk tahun 2012-2013. Buku pegangan ini mengambil tema mengenai: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat, sebagai rujukan dalam merencanakan berbagai strategi, program, dan kegiatan pembangunan di seluruh Wilayah Nusantara. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Di tengah kondisi persaingan ekonomi global yang masih tidak menentu, penguatan ekonomi domestik menjadi syarat mutlak agar Indonesia dapat tetap menjaga pertumbuhan yang berkualitas. Sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pertumbuhan merupakan aspek prioritas yang perlu kita lakukan bersama-sama. Keberhasilan pembangunan nasional merupakan agregasi dari keberhasilan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi nasional adalah hasil akumulasi dari penguatan ekonomi di daerah. Dengan demikian, komunikasi, koordinasi dan sinergi kebijakan antara pusat dan daerah harus terus dipertahankan untuk menjaga momentum pembangunan. Konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah akan tercapai jika dijembatani oleh sinergi pusat-daerah oleh berbagai pemangku kepentingan. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di Daerah memiliki tugas dan fungsi yang penting untuk mengkoordinasikan kebijakan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya dan menjaga konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah. Saya berharap, buku ini dapat menjadi pegangan bagi segenap aparatur pemerintah dalam proses perencanaan dan penyusunan strategi pembangunan di daerah. Melalui pemahaman

konsep dan faktor-faktor penentu penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, segenap jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama menyamakan langkah untuk menyusun strategi yang terintegrasi dalam mendorong dan menjaga ekonomi domestik yang lebih berdaya tahan tinggi. Dengan terbitnya Buku Pegangan Tahun 2012-2013 ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang telah bekerja dengan itikad dan dedikasi yang baik dalam menyusunnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan dan bimbingan Nya dalam setiap upaya untuk menguatkan perekonomian nasional, agar pembangunan ekonomi Indonesia dapat lebih cepat dan lebih luas demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Terima Kasih.

Jakarta, 6 Agustus 2012 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana

2

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

RINGKASAN EKSEKUTIF

Penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan dan strategi pembangunan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi domestik. Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik, karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian, sementara pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,5 persen pada tahun 2012 dan 3,9 persen pada tahun 2013 (IMF, World Economic Outlook, Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan, keberlanjutan krisis keuangan Eropa, serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1,4 persen pada tahun 2012 dan 1,9 persen pada tahun 2013. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa, seperti: Italia, Spanyol dan Yunani, diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. Sementara itu, negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global, yang diperkirakan tumbuh mencapai 7,1 persen pada tahun 2012. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8,0 persen dan 6,1 persen pada tahun 2012. ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun 2012.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

i

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa, memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat, mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Dengan berbagai tantangan yang ada, sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sebesar 6,5 persen. Sementara itu, pada tahun 2013, diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 7,0 persen. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10,9 persen pada tahun 2012 dan 12,1 persen pada tahun 2013. Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis, Sejahtera dan Berkeadilan”. Adapun tema dari RKP, ditunjukkan pada Gambar berikut. Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP
2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

ii

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Kebijakan pemerintah dalam rangka perkuatan ekonomi domestik yang pada RKP 2013 difokuskan pada empat aspek, yang merupakan komponen penting untuk mendukung penguatan ekonomi domestik, seperti yang tercantum dalam gambar berikut. Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik

Peningkatan Daya Saing

Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK

Peningkatan Daya Tahan Ekonomi

Pemantapan Stabilitas Politik

Peningkatan daya saing untuk mendukung penguatan ekonomi domestik akan dititikberatkan kepada isu strategis: Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha, Percepatan Pembangunan Infrastruktur, Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. Adapun Peningkatan Daya Tahan Ekonomi akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Ketahanan Pangan Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta Ton dan Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Percepatan Pengurangan Kemiskinan – Sinergi Klaster 1-4. Sedangkan, Pemantapan Stabilitas Sosial Politik akan dititikberatkan pada isu strategis: Persiapan Pemilu 2014, Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi dan Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. Masing-masing faktor pendukung penguatan ekonomi tersebut memiliki kerangka dan jalur keterkaitan yang berbeda-beda untuk menghasilkan ekonomi domestik yang lebih berdaya saing dan lebih berdaya tahan. Untuk itu, kerangka keterkaitan isu strategis dengan penguatan ekonomi domestik telah dijabarkan secara rinci di dalam Bab IV dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam memahami arti pentingnya isu strategis terhadap pembangunan daerah dan pembangunan nasional. Dengan memahami kerangka keterkaitan ini, diharapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki pemahaman yang sama, sehingga dapat secara bersama-sama mensinergikan pembangunan di pusat dan di daerah

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

iii

Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. dan 6. 5. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. Kemudian. efektif. Menjamin terciptanya integrasi. Sebagai contoh. antar ruang. sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dan antar daerah. 3. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. serta 5.dalam rangka memperkuat ekonomi domestik di tengah-tengah kondisi global yang masih belum menentu. Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah. Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. penganggaran. dimana infrastruktur menjadi bagian penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. RKP dan RKPD). sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. Isu strategis lainnya yang menjadi fokus perhatian setiap Pemerintah Daerah adalah pembangunan infrastruktur. pelaksanaan dan pengawasan. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. agar proses dan upaya penguatan perekonomian domestik serta peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di pusat dan di daerah dapat lebih sinergi sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. 4. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. antar waktu. di dalam Bab V telah dijabarkan secara rinci strategi yang perlu dilakukan dalam setiap isu strategis serta peran Pemerintah Daerah yang perlu dilaksanakan. 4. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. dalam upaya meningkatkan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan dapat dilakukan melalui: 1. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. 2. 3. Namun demikian. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. RPJM dan RPJMD. adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. berkeadilan dan berkelanjutan. Sementara itu. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. 2. iv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

Untuk itu. Bahkan. masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi.pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik. layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sebagai contoh. kepulauan. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. menjalankan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi secara intensifikasi. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. secara makro pemerintah pusat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat v . dengan memainkan peran masing-masing dalam menjalankan strategi tersebut. kemudian peran Pemerintah Daerah dan Petani sangat diperlukan dalam menerapkan System of Rice Intensification. distribusi. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu memiliki strategi bersama. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara bersama-sama memiliki peran untuk peningkatan perluasan areal tanam. Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup pembagian peran dan kewenangan. terpencil dan perbatasan. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. Pengembangan SDM menjadi salah satu isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. Untuk itu. dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut. pengamanan pasca panen. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Secara makro. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridorkoridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Di sisi peningkatan daya tahan ekonomi. pemerintah pusat. Sementara. penguatan penyuluhan dan lain-lain. Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan perekonomian domestik juga diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. pengolahan pangan dan pemasaran. Selanjutnya. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggungjawab termasuk pembiayaan. yang bermukim di daerah tertinggal. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik.

sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. vi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . berkeadilan dan berkelanjutan. perbaikan kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi merupakan hal penting yang juga perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) terciptanya integrasi. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. menjaga iklim investasi. baik pusat maupun daerah. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi. penganggaran. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. dan (iii) memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran. antar ruang. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. Untuk itu. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: (i) melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP.dan pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. (ii) menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. efektif. yang salah satunya adalah melalui penerapan eprocurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. Sementara itu. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Dalam rangka pemantapan stabilitas politik. antar waktu. pelaksanaan dan pengawasan.

Foto: Humas Foto: Bappenas Humas Bappenas .

Foto: Humas Bappenas .

..............1... 2 1. i DAFTAR ISI ........ 8 2.......................2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah 22 22 23 26 27 27 28 30 32 32 33 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat ix ......4 Isu Strategis 2013 8 9 9 11 BAB III KONDISI TERKINI DAERAH ........................1 Target Pertumbuhan Ekonomi 2........................3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3.........................................................2 Maksud dan Tujuan 4 5 2 2 3 BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 .DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN RINGKASAN EKSEKUTIF ....1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah 3.............3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi 3..3 Tema dan Prioritas RKP 2013 2...2...............................2 Tujuh Arahan Presiden 2....2 Tingkat Kemiskinan 3............2........................................1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global 1....2 Kondisi Ekonomi Daerah 3.................3....3 Tingkat Pengangguran Terbuka 3.............................1 Kondisi Ekonomi Nasional 3...............................................................1...................1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat 3.....................1 Pertumbuhan Ekonomi 3..2........... 22 3... viii BAB I PENDAHULUAN..............1 Latar Belakang 1..1............2 Perkembangan Ekonomi Regional 1...1.3..................1..........1....3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global 1..2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi 3..

5.7.1 Postur Pendapatan Daerah 3.8.5.2 Kesehatan 3.4 Infrastruktur Listrik 3.11.9.3.1 Tenaga Kerja Per Provinsi 3.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi 3.5 Infrastruktur Telekomunikasi 3.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.8.5.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik 3.5.11.9.10.2 Investasi (PMTB) Per Provinsi 3.3 Opini LKPD 3.7.1 Infrastruktur Jalan 3.9.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 3.5 Perkembangan Politik 3.5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.8.4 Implementasi SAKIP 3.9.4.4.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional 3.2 Infrastruktur Udara 3.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3.2 Postur Belanja Daerah 34 34 35 37 37 40 41 45 46 47 50 50 55 61 61 63 65 67 68 69 71 72 74 82 82 84 87 87 90 x Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012 3.10.1 Pendidikan 3.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3.3 Produktivitas Tenaga Kerja 3.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras 3.1 Kualitas SDM Aparatur 3.11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3.3 Infrastruktur Laut 3.2 LPSE dan E-Procurement 3.5.9.

..BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .......4....4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda 5...1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik 4......3.....1 Peningkatan Ketahanan Pangan 4.......... 96 4.2....3...1 Peningkatan Daya Saing 5......3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 4.1...3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4.4. 120 5..2......1.....5...2..1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 5.......2....5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4..1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 5..2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 5..3....1..2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi 4.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 4....2 Aspek Peningkatan Daya Saing 4.....3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 5..4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4....2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 4.....2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT.1 Persiapan Pemilu 2014 4.....1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 4...1..3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5......2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 120 121 127 132 134 137 137 142 143 143 145 96 97 97 99 101 105 105 109 110 110 111 113 113 114 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xi .2....................1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 4..........1 Peningkatan Ketahanan Pangan 5.........2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5..3.2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi 5..5...

..........2 Konektivitas 5.................................................. 1 78 xii Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 ..........6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik 147 147 148 154 154 155 156 158 BAB VI PENUTUP ...........................4.......... 176 DAFTAR PUSTAKA …………......3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 5........1 Regulasi 5......5.....................5............1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada 5..........4..........4 Pemantapan Stabilitas Politik 5.....................5...2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi 5................5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5...5.......

8 Tabel 3.3 Tabel 2.18 Tabel 3.12 Tabel 3.15 Tabel 3.20 Tabel 3.1 Tabel 2.4 Tabel 3.17 Tabel 3.2 Tabel 5.2 Tabel 2.7 Tabel 3.3 Tabel 3.3 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 8 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing 13 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 14 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 17 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012 23 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan 24 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012) 25 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan 26 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 29 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 37 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 38 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 39 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 40 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 41 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 53 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 63 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 63 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 69 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 70 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 73 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 74 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011) 82 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) 84 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) 85 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik 93 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor 132 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 138 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi 140 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xiii .2 Tabel 3.5 Tabel 3.10 Tabel 3.22 Tabel 3.9 Tabel 3.4 Tabel 2.5 Tabel 3.21 Tabel 3.16 Tabel 3.13 Tabel 3.DAFTAR TABEL Tabel 2.6 Tabel 3.1 Tabel 5.19 Tabel 3.14 Tabel 3.23 Tabel 5.1 Tabel 3.11 Tabel 3.

20 Gambar 3.3 Gambar 3.1 Gambar 3.13 Gambar 3.18 Gambar 3.1 Gambar 2.11 Gambar 3.3 Gambar 3.2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 .2009 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 10 11 12 24 26 27 28 30 31 32 33 34 35 35 36 37 38 39 41 42 44 45 46 46 48 48 49 50 xiv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .14 Gambar 3.2 Gambar 3.8 Gambar 3.22 Gambar 3.7 Gambar 3.17 Gambar 3.12 Gambar 3.9 Gambar 3.21 Gambar 3.2011 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 .4 Gambar 3.5 Gambar 3.25 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 .16 Gambar 3.19 Gambar 3.15 Gambar 3.23 Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.6 Gambar 3.24 Gambar 3.2 Gambar 2.10 Gambar 3.

36 Gambar 3.45 Gambar 3.50 Gambar 3.47 Gambar 3.42 Gambar 3.39 Gambar 3.53 Gambar 3.52 Gambar 3.Gambar 3.54 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 51 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 52 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 52 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 54 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 55 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 56 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 57 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 58 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 58 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 59 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 60 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 61 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.49 Gambar 3.32 Gambar 3.51 Gambar 3.37 Gambar 3.29 Gambar 3.48 Gambar 3.28 Gambar 3.41 Gambar 3.31 Gambar 3.33 Gambar 3.43 Gambar 3.38 Gambar 3.000 Penduduk Tahun 2010 61 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 62 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 62 UMP Wilayah Sumatera 64 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara 64 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi 64 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua 64 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 65 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 66 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 67 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 67 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 68 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 71 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 72 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 74 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 75 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 76 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xv .46 Gambar 3.30 Gambar 3.35 Gambar 3.40 Gambar 3.34 Gambar 3.26 Gambar 3.27 Gambar 3.44 Gambar 3.

66 Gambar 3.55 Gambar 3. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR.1 Gambar 4.9 Gambar 4.57 Gambar 3.67 Gambar 3.6 Gambar 4.58 Gambar 3.2 Gambar 4.5 Gambar 4.7 Gambar 4.60 Gambar 3.62 Gambar 3.Gambar 3.65 Gambar 3.59 Gambar 3.69 Gambar 3.72 Gambar 4.64 Gambar 3.4 Gambar 4.63 Gambar 3.71 Gambar 3.10 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.56 Gambar 3.61 Gambar 3.3 Gambar 4. DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sistem Ketahanan Pangan Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan 77 78 79 80 81 83 83 85 88 88 89 89 90 90 91 91 92 92 96 98 99 102 104 106 108 109 111 112 xvi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .70 Gambar 3.8 Gambar 4.68 Gambar 3.

11 Gambar 4.Gambar 4. DPD dan DPRD Tahun 2014 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah 114 115 122 128 148 158 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xvii .2 Gambar 5.3 Gambar 5.12 Gambar 5.1 Gambar 5.4 Skema Pencapaian Stabilitas Politik Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR.

.

BAB I PENDAHULUAN .

0 persen dan 6. diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. keberlanjutan krisis keuangan Eropa. sehingga dana talangan untuk menyelamatkan perekonomian Spanyol akan menjadi beban yang berat bagi zona Eropa. dampak krisis Eropa maupun AS terhadap ekonomi Indonesia ini secara keseluruhan relatif terkendali hingga saat ini. Sisi permintaan yang menurun di Kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah menyebabkan volume perdagangan dunia cenderung tumbuh melambat. negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian. Thailand.9 persen pada tahun 2013.1 persen pada tahun 2012. Hal ini kemudian berdampak terhadap menurunnya harga komoditas global non-energi terutama komoditas yang digunakan sebagai bahan baku untuk industri. Akibatnya.1 persen pada tahun 2012. Sementara itu. Utang negara Spanyol mencapai €709 miliar atau sekitar 2 kali jumlah utang gabungan tiga negara yang mendapat dana talangan sebelumnya (Yunani. Spanyol dan Yunani. Singapura. Sementara itu.9 persen pada tahun 2013 (IMF. Malaysia. serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun. Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5. Spanyol yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar keempat di Eropa diprediksi akan menjadi anggota keempat Uni Eropa yang membutuhkan dana talangan. World Economic Outlook.5 persen pada tahun 2012 dan 3.1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik.1. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8.4 persen pada tahun 2012 dan 1. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3. yang diperkirakan tumbuh mencapai 7. 2 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .4 persen pada tahun 2012. seperti: Italia. Irlandia dan Portugal).BAB I PENDAHULUAN 1. ASEAN-5 (Indonesia. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1. pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. Namun demikian. Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan. karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market.1 Latar Belakang 1. karena sebagian negara berkembang merupakan pemasok utama pasar Eropa dan Amerika Serikat. aktivitas ekonomi negara-negara berkembang dan emerging market cenderung menurun.

Filipina. para kepala negara ASEAN telah mencanangkan ASEAN VISION 2020. jasa. investasi. serta meningkatkan daya saing nasional. Sasaran akhir ASEAN VISION 2020 adalah kerjasama dalam bidang politik dan keamanan. Selanjutnya. jasa. Malaysia. investasi. pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk memperkuat ketahanan nasional sebagai prasyarat untuk dapat bersaing dengan bangsa lain. Thailand dan Filipina). Kemudian pada Pertemuan 13th ASEAN Summit di Singapura bulan November 2007 ditandatangani ASEAN Charter dan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC Blueprint) yang merupakan momentum perkuatan komitmen bersama dari negara-negara ASEAN yang mengikat secara hukum bagi terwujudnya AEC. Langkah ini hanya dapat dilakukan dengan memperbaiki kinerja Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 3 . jasa.1. Beberapa negara di Asia.85 triliun atau sekitar tiga persen dari PDB dunia menjadi kawasan strategis dalam tatanan ekonomi global. Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya yang memiliki total jumlah penduduk sekitar 598 juta jiwa dan nilai PDB mencapai US$ 1. telah lebih dulu maju dengan mengandalkan perkembangan sektor industrinya. pelaksanaan AEC berjalan relatif lebih cepat dibandingkan dengan kerjasama di bidang politik-keamanan dan sosial budaya. Dalam rangka mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang stabil.2 Perkembangan Ekonomi Regional Pergeseran geopolitik dan geoekonomi dunia yang ditandai dengan menguatnya peran Asia sebagai pusat kekuatan ekonomi global telah terjadi dalam satu dekade terakhir. Myanmar dan Vietnam) dan 2010 (Singapura dan Brunei Darussalam). mempunyai daya saing tinggi. Sementara itu. Dalam perkembangannya. (ii) Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community). Pembentukan AEC 2015 menimbulkan tantangan bagi Indonesia berupa keharusan untuk meningkatkan pemahaman publik dalam negeri mengenai ASEAN baik bagi kalangan Pemerintah. Dalam menghadapi AEC 2015. Laos. bulan Januari 2007 dideklarasikan Percepatan untuk Membangun Masyarakat Bersama ASEAN (ASEAN Community) dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 (Indonesia. pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas. maupun masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah. Disamping itu. investasi dan modal yang bebas. seperti Jepang dan Korea Selatan. serta memiliki daya saing yang ditandai dengan kemampuan menjalankan perdagangan barang. 2020 (Kamboja. Pada Pertemuan 12th ASEAN Summit di Cebu. serta sosial budaya yang tertuang dalam perwujudan Masyarakat ASEAN tahun 2020 dengan berlandaskan pada tiga pilar yaitu: (i) Masyarakat Keamanan ASEAN ( ASEAN Security Community). dan (iii) Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community). China dan India menyusul sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi regional dengan statusnya sebagai negara emerging dengan populasi terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata. pembentukan AEC akan memberikan peluang bagi Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang. dunia usaha.1. makmur. serta terintegrasi dalam ekonomi global. Pembentukan AEC 2015 menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang. ekonomi.

1. rendahnya hambatan perdagangan barang dan jasa. menyejahterakan rakyat serta stabil secara keseluruhan akan bergantung kepada daerah. berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meratanya pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Dengan demikian. pelaku ekonomi yang berdaya saing tinggi.3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global Saat ini. Era globalisasi dan kesepakatan perdagangan bebas telah menyebabkan tipisnya batas antar negara. Dengan kata lain. tingkat persaingan di antara negara-negara berkembang semakin tinggi. Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. tetapi juga akan sangat terasa di tingkat daerah. pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi. berdaya tahan. yaitu pertumbuhan (pro-growth). perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. sehingga pada gilirannya akan memberikan manfaat ekonomi secara luas bagi seluruh rakyat Indonesia. kesempatan kerja (pro-job). Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan.ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa. tingginya daya saing daerah di Indonesia secara keseluruhan akan 4 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. serta semakin mudahnya arus masuk dan keluar investasi dari suatu negara. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Hal ini menyebabkan produk barang dan jasa domestik akan mengalami tingkat persaingan yang cenderung semakin tinggi. 1. Globalisasi telah mendorong semangat persaingan antar negara. berdaya saing. baik di pasar global maupun di pasar domestik. Persaingan yang semakin ketat ini tidak hanya dirasakan di tingkat nasional. diharapkan Indonesia akan dapat menarik manfaat dari integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan terintegrasi dalam ekonomi global. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). sehingga setiap negara dituntut untuk meningkatkan daya saingnya dengan cara lebih produktif dan efisien. Perekonomian domestik yang kuat. terutama karena era otonomi daerah.

1.2 Maksud dan Tujuan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik. Menjelaskan langkah-langkah perencanaan dan strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di daerah. bersama-sama dengan Pemerintah Pusat. Sementara itu untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. 2008). tujuan penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2012 – 2013 adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan daya tahan ekonomi. serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. peran daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya akan sangat bergantung kepada kemampuan daerah untuk melakukan identifikasi faktor penentu daya saing dan strategi untuk meningkatkan daya saing. Membangun kesepahaman tentang pentingnya dukungan daerah dalam mendorong dan meningkatkan penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5 . melainkan juga menjadi tanggung jawab daerah. Peningkatan perekonomian domestik. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. penguatan sinergi dan koordinasi antara Pemerintah. Secara rinci. Pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong implementasi dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).menjadi ujung tombak daya saing nasional. yang akan menjadi faktor terpenting untuk Indonesia dalam bersaing di tingkat global (PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota menjadi sangat penting untuk mendorong peningkatan daya saing dan penguatan ekonomi domestik. Keberhasilan pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut sangat ditentukan oleh peran aktif Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 2. baik oleh daerah dan nasional akan menjadi modal utama untuk menjaga momentum pembangunan dan melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi untuk menuju ke arah transformasi ekonomi menjadi negara maju dan berdaya saing. peningkatan kesejahteraan rakyat serta pemantapan stabilitas sosial politik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.

.

BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 .

Sementara itu.0 6.5-11.9 persen pada tahun 2012 dan 11.1 .0 . pada tahun 2013. Persewaan.6.1 13.5 .2 6. menjaga ekspor nonmigas.1 6.4 3.5 persen pada tahun 2013.4-6.5. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut. Koordinasi antara kebijakan fiskal.2 7.5 .2 4.5 persen.5 2013 6.5 6.3 persen pada tahun 2013.3 11.9 8.5 4.6.5 .9 11.2 6.BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 2. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.7 . daya beli masyarakat perlu dijaga untuk dapat tetap menjaga peran konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi. pengangguran terbuka akan menurun menjadi 5.2 persen.7.9 6.6. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Tabel 2.5.5 Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 didorong dengan upaya meningkatkan investasi.1 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin menjadi 9.1 11.7.8 10.6.3 12.9 9.5 . sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sekitar 6.3.5 6.12. 8 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .8 .6 .5 2. dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10.1 2.13.6.12.7.1 Target Pertumbuhan Ekonomi Dengan berbagai tantangan yang ada.5 – 10.12.1 9.0 7.7 .8 . ditingkatkan untuk mendorong peran masyarakat dalam pembangunan ekonomi.9 3.2 6.5 . diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6.9 6. Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013 ) 2012 6.7.8 .0 8.12. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.9 11.5 5.8 6.9 . Sementara itu.9.9 . serta memberi dorongan fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara dengan mempertajam belanja negara.4.1 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.3 6.6 10.9 .7. moneter dan sektor riil.1 .10.7 .2 6.4 4.8 .8 .8 .

5 persen. Sejahtera dan Berkeadilan”. Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”. 2. Program Keluarga Harapan. 5. termasuk didalamnya menyelesaikan perubahan Peraturan Presiden (Perpres) No 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa Pemerintah. Pada tahun 2012. 7.3 Tema dan Prioritas RKP 2013 Dengan berbagai kondisi perkembangan ekonomi terkini tersebut. 6. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis. tema pembangunan nasional adalah: “Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas.2.1. Menjaga tingkat daya beli masyarakat dengan menjaga laju inflasi pada tingkat yang rendah. ditunjukkan pada Gambar 2. BOS dan Raskin. kelancaran barang serta menciptakan iklim usaha yang sehat. Mengendalikan impor produk-produk yang berpotensi menurunkan daya saing produk domestik di pasar dalam negeri. menjaga momentum pertumbuhan yang telah dicapai. Mengoptimalkan program perlindungan sosial antara lain Jamkesmas. 4. pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Menerbitkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan investasi. bahkan mempercepat dan memperluas pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif serta berkeadilan. 2. Pertumbuhan ekonomi tersebut pada gilirannya harus dapat menciptakan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 9 . Peningkatan daya saing ekspor. 3. Mendorong percepatan belanja pemerintah sehingga dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi. terutama produk ekspor non migas melalui diversifikasi tujuan ekspor dengan meningkatkan keberagaman dan kualitas produk.2 Tujuh Arahan Presiden Dalam mencapai sasaran pembangunan nasional yang tinggi. Penguatan perdagangan dalam negeri untuk menjaga kestabilan harga. Presiden memberikan 7 (tujuh) arahan pokok dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6. Adapun tema dari RKP. Indonesia harus siap menghadapi situasi yang dinamis dan penuh tantangan tersebut. baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. Adapun arahan tersebut adalah: 1. pemerintah perlu melakukan upaya-upaya khusus. Untuk itu pada Sidang Kabinet Paripurna 24 April 2012. ditengah berbagai tantangan yang ada. PNPM.

Selanjutnya. pembangunan nasional dalam RKP 2012 dan RKP 2013 dituangkan ke dalam 11 Prioritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya. Dalam kaitan dengan itu. Semua ini perlu didorong dengan pembangunan infrastruktur. Gambar 2. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi.2. termasuk di dalamnya prakarsa-prakarsa baru yang terintegrasi dengan RPJMN dan RKP untuk menanggapi situasi kekinian dan menjaga momentum positif yang telah dicapai sebagai hasil pembangunan selama ini. 11 Proritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya ditunjukkan pada Gambar 2.lapangan kerja yang lebih banyak dan pada gilirannya mempercepat pengurangan kemiskinan.1 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP 2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas. Daya tahan perekonomian terus diperkuat. pertanian dan pariwisata. perlu didorong dengan kemampuan pemerataan pembangunan yang lebih luas. dengan peningkatan daya saing nasional terutama di sektor-sektor produksi. tema pembangunan yang dituangkan dalam RKP adalah: “Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat”. serta penyelesaian berbagai hambatan perekenomian terutama melalui reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi. 10 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . potensi perekonomian domestik yang besar akan ditumbuhkembangkan guna menghadapi berbagai tantangan eksternal perlambatan perekonomian dunia. penguatan kelembagaan. Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT Sumber: RKP 2013. Sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014. Bappenas Pada tahun 2013. Prakarsa-prakarsa baru tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu siap dalam mengantisipasi dan merespon berbagai perkembangan yang terjadi serta melakukan perubahan untuk mencapai kemajuan dan hasil pembangunan yang lebih baik. peningkatan kualitas sumber daya manusia. yaitu industri.

Isu strategis yang menjadi fokus pemerintah pada tahun 2013 ditunjukkan pada Gambar 2.4 Isu Strategis 2013 Dalam tahun 2013. baik investasi yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. & Pasca-konflik Kebudayaan. penguatan kelembagaan. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat dan pemantapan stabilitas sosial politik. Isu strategis tersebut adalah peningkatan daya saing nasional. serta peningkatan kesehatan dan pendidikan sangat penting untuk mendorong produktivitas ekonomi. Bappenas 2. dimana terdapat empat isu strategis yang menjadi fokus pemerintah. melalui pembiayaan pemerintah. Untuk itu hambatan perekonomian. dunia usaha dan kerjasama pemerintah dan swasta.3. korupsi dan pelayanan perijinan akan ditangani secara serius agar tercipta iklim investasi dan usaha yang lebih baik. Terluar. Pembangunan infrastruktur dibangun untuk memperkuat national connectivity dan ketahanan energi. Terdepan.Gambar 2. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 11 . yang akan didukung oleh pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi. Hukum dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat Sumber: RKP 2013. Potensi perekonomian domestik yang besar akan lebih didorong untuk berkembang.2 Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan Kesehatan Penanggulangan Kemiskinan Ketahanan Pangan Infrastruktur Iklim Investasi dan Iklim Usaha Energi Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana Daerah Tertinggal. terutama inefisiensi/hambatan-hambatan birokrasi. Investasi akan terus didorong. Kreativitas dan Inovasi Teknologi Bidang Politik. perekonomian domestik akan lebih ditingkatkan guna menghadapi perekonomian dunia yang masih beresiko dan persaingan yang semakin ketat. Kebijakan pemerintah dalam perkuatan ekonomi domestik telah dituangkan pada RKP 2013. Pembangunan infrastruktur. peningkatan daya tahan ekonomi.

•Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. (3) 12 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . langkah-langkah pemerintah untuk mencapai hal tersebut dituangkan pada Prioritas Nasional 7. Peningkatan daya saing nasional tidak dapat lepas dari kemampuan daerah untuk meningkatkan daya saingnya. •Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi Klaster 1-4.1 persen pada tahun 2013. Sementara itu. dengan indikator pencapaiannya adalah target pertumbuhan investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) sebesar 10. dengan upaya yang difokuskan pada: (1) penyederhanaan prosedur investasi dan prosedur berusaha. (2) waktu perijinan mendirikan bangunan yang turun menjadi 137 hari. Selain itu. utamanya industri. •Persiapan Pemilu 2014. untuk peningkatan daya saing nasional akan dilakukan juga peningkatan iklim usaha. Pembangunan industri didorong untuk meningkatkan nilai tambah berbagai komoditi unggulan di berbagai Wilayah Indonesia.3 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Peningkatan Daya Saing Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Peningkatan Dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Pemantapan Stabilitas Sospol •Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha. •Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras •Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia. daya saing nasional dapat meningkat. Oleh sebab itu. Namun demikian. khususnya koridorkoridor ekonomi dalam kerangka Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sumber: RKP 2013 (diolah) Peningkatan Daya Saing Peningkatan daya saing nasional perlu ditingkatkan pada sektor-sektor produksi. dimana sasarannya adalah membaiknya indikator-indikator kemudahan berusaha yang ada pada Ease of Doing Business.9 persen pada tahun 2012 dan 12. •Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan •Percepatan Pembangunan Infrastruktur. 10 juta ton. serta (4) waktu pendaftaran properti menjadi 20 hari.Gambar 2. (2) peningkatan efisiensi logistik nasional. •Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. iklim investasi akan terus diperbaiki. Target perbaikan iklim usaha pada tahun 2013 adalah: (1) waktu memulai usaha turun menjadi 20 hari. Dalam rangka peningkatan daya saing. peningkatan daya saing nasional perlu dilakukan melalui peningkatan daya saing daerah secara merata dan terintegrasi. jika daya saing daerah lebih baik. •Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. pertanian dan pariwisata. •Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi. (3) waktu perolehan akses listrik menjadi 90 hari. Korupsi.

2 6.50 11. Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha a.5 2 8 10. Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda — Tingkat Pengangguran Terbuka (%)  Peningkatan Keahlian untuk Bekerja (orang)  Peningkatan Kualitas Pemagangan Berdasarkan Kebutuhan Industri (orang)  Peningkatan Akses Berusaha dan Berwirausaha bagi Tenaga Kerja Muda (orang) Sumber: RKP 2013.434 58. Tabel 2.00 83 6. khusus (KEK).50 76 11.080 1 Data pencapaian target kemudahan berusaha tahun ke-n akan diperoleh di awal tahun ke-n+1.6 395. Pangsa Angkutan KA Barang (%) d.4-6.78 12. Melalui penguataan konektivitas antar wilayah dan di dalam wilayah itu sendiri diharapkan akan menurunkan biaya transportasi barang dan jasa khususnya ke daerah-daerah yang berada jauh dari lokus produksi barang yang nantinya akan menguntungkan para pelaku usaha (produsen).6 6.099 34.0-6.1 6. Pangsa Angkutan KA Penumpang terhadap Total Angkutan Umum (%) e.1 20 137 90 20 92.6 449. Pangsa Angkutan Laut Ekspor Impor (%) c. Percepatan Pembangunan Infrastruktur: Domestic Connectivity a. Ibukota Babupaten/Kota yang dilayani Jaringan Broadband (%) 3.500 32. Selama ini telah diketahui bahwa arus barang di Indonesia harus mengeluarkan biaya transportasi yang relatif tinggi sehingga tidak mampu bersaing dengan komoditas impor.pengembangan kawasan ekonomi ketenagakerjaan.50 11 1 6 9. dan (4) harmonisasi kebijakan Percepatan pembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung penguatan konektivitas di dalam wilayah maupun antar wilayah.4 502. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 13 . Bappenas 2011 2012 2013 8.8 45 158 108 22 88.8 6. Sasaran yang akan dicapai dalam percepatan pembangunan infrastruktur adalah kondisi mantap jalan nasional yang mencapai 92. Peningkatan Investasi (%) 1 b. Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi a. Tingkat Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business) :  Waktu untuk memulai usaha (hari)  Perijinan mendirikan bangunan (hari)  Perolehan akses listrik (hari)  Pendaftaran properti (hari) 2.50 12 3 10 11.30 66 10.50 13.7 7. masyarakat (konsumen) dan pemerintah. Peningkatan Industri Pengolahan (%) b. Kondisi Mantap Jalan Nasional (%) b.880 34. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Dalam Negeri (%/tahun) f.5 persen pada tahun 2013 dan pangsa angkutan laut ekspor impor yang mencapai 12 persen.9 36 145 108 22 90. Peningkatan Industri Pengolahan Nonmigas (%) 4.367 6.150 40. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Luar Negeri (%/tahun) g.530 6.50 12.2 6.750 52.2 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing ISU STRATEGIS 1.

Kapasitas Pembangkit (MW)  Pelaksanaan Konversi Gas a. Konversi energi dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM.02 37. pemerintah akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur energi dalam bentuk gas serta jaringan distribusinya.5 100 72.5 100 72. peningkatan daya saing ditargetkan pula dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 6.0-6. Pencetakan Sawah Baru (ribu ha) 2.7 persen dan peningkatan industri pengolahan non migas sebesar 7. Selain itu. Dalam kaitan itu. Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Kebutuhan penyediaan pangan terus meningkat baik jumlah maupun kualitasnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun dan peningkatan pendapatan masyarakat.Peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi pada tahun 2013 akan dilakukan dengan sasaran peningkatan industri pengolahan sebesar 6. oleh karena itu produksi dalam negeri harus ditingkatkan.5 62. (3) stabilisasi harga bahan pangan dalam negeri. dan (4) peningkatan kesejahteraan petani.60 97.95 96.653 5 16. Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi  Peningkatan Rasio Elektrifikasi a.4 persen pada tahun 2013. Rasio Elektrifikasi (%) b.80 48.1 67.60 96. mengurangi subsidi energi.555 4 16.1 1. Ketersediaan listrik di seluruh wilayah Indonesia merupakan suatu keharusan. Dalam hal ini.000 77. (2) pengembangan diversifikasi pangan. Bappenas 1. tersedianya energi juga merupakan salah satu faktor pendukung daya tahan ekonomi nasional. Penyediaan pangan pokok seperti beras tidak bisa mengandalkan dari luar negeri.3 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi ISU STRATEGIS Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta ton a.39 juta ton pada tahun 2014.7 1. Pembangunan Jaringan Distribusi Gas untuk Rumah Tangga (kota) b. meningkatkan aksesibilitas terhadap infrastruktur energi dan meningkatkan pasokan energi domestik juga menjadi fokus pemerintah. Sambungan Gas ke Rumah Tangga Sumber: RKP 2013. untuk itu pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi (RE) sebesar 77.6 persen.000 14 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . PenurunanKonsumsi Beras (%/tahun) c.8 1.353 5 17.939 73.2 persen. termasuk upaya menuju surplus beras 10 juta ton per tahun mulai tahun 2014 serta pencapaian produksi perikanan 22. Tabel 2. Produksi Padi (juta ton GKG) b. beberapa langkah yang akan dilakukan pemerintah yang dimasukkan dalam isu strategis ketahanan pangan adalah: (1) peningkatan produksi pangan. Ketahanan pangan yang kuat akan menjadi salah satu pendorong dalam menciptakan perekonomian yang berdaya tahan.70 43. 2011 2012 2013 65. Selain itu. Rasio Desa Berlistrik (%) c.

ISU STRATEGIS Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan a. (3) peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata. APK PT usia 19-23 Tahun (%) i. terjangkau.8 82.Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Perekonomian domestik yang kuat tentunya ditujukan untuk peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.0 27. Peningkatan dan perluasan kesejahteraan masyarakat perlu didukung dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.8 95. APS Penduduk Usia 7-12 Tahun (%) j.4 98. Angka Buta Aksara Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (%) c. tinggi yang berkualitas. serta memiliki karakter bangsa yang kuat. APM SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) e. serta daya saing produk dalam negeri.7 117. peningkatan kualitas SDM yang sehat juga perlu diraih dengan peningkatan akses dan layanan kesehatan yang berkualitas.0 95.4 118.7 75. APK SMA/SMK/MA/Paket C (%) h.1 90.2 103.0 26. menengah.6 8. Saat ini pemerintah sedang menyusun dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) 2011-2025. relevan dan efisien menjadi kebutuhan mendasar dalam menciptakan SDM yang cerdas. merata. keterjangkauan.17 95.24 99. MP3KI merupakan kebijakan afirmatif dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi yang pro-growth.0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 .25 4.80 76. terjangkau dan terlindungi bagi penduduk Indonesia. yaitu berpendidikan dan sehat. APM SD/SDLB/MI/Paket A (%) d. Dalam hal ini perlu didorong dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.9 79. produktif.3 74. berdaya saing dan selaras dengan kebutuhan pembangunan. (4) peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan. Tabel 2.0 28. alat kesehatan dan makanan. khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal sehingga dapat terlibat langsung dan menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi. khasiat/manfaat dan mutu obat. Isu strategis pendidikan diarahkan untuk pemenuhan layanan pendidikan dasar.6 106. (2) peningkatan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta penyehatan lingkungan. Sementara itu. terampil. MP3KI diarahkan untuk mendorong perwujudan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan. APS Penduduk Usia 13-15 Tahun (%) 2011 2012 2013 7. (5) peningkatan ketersediaan. Antara lain dengan: (1) peningkatan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak. mandiri. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (tahun) b.5 76. (6) peningkatan akses pelayanan KB berkualitas yang merata.75 5. APK SD/SDLB/MI/Paket A (%) f. Layanan pendidikan yang berkualitas. jaminan keamanan.1 98.4 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 1. pemerataan. pro-poor.85 4.7 93. APK SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) g. berbudi pekerti luhur.3 7.00 118.6 101.40 95. projob dan pro-environment.

593 4. Peningkatan Profesionalisme dan PendayagunaanTenaga Kesehatan yang Merata  Persentase Pemenuhan Kebutuhan SDM Aparatur (PNS dan PTT)  Jumlah Tenaga Kesehatan yang Didayagunakan dan Diberi Insentif di DTPK dan di DBK d.608 88 85 75 9.700 23.323 86.236 9.25 90 16.000 87 1.820 85 5. PLKB/PKB dan IMP yang Mendapatkan Dukungan Operasional dan Mekanisme Operasional Lapangan  Jumlah Peserta KB yang Berasal dari Anggota Kelompok BKB yang Mendapatkan Penggerakan Rintisan BKB dan Penguatan Kelembagaan BKB ( New Inisiative) .3 84.6 6.236 89 88 80 9.600 9.500 0.125 9.29 90 3.000 Penduduk  Persentase Provinsi yang memiliki Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR)  Jumlah Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) c. Peningkatan Jaminan Pembiayaan Kesehatan  Jumlah TT Kelas III RS yang Digunakan untuk Pelayanan Kesehatan (new initiave)  Jumlah Puskesmas yang Memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Penduduk Miskin e.11 - 4.323 87 4.700 23. serta Daya Saing Produk Dalam Negeri  Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin f.2 1. Peningkatan Ketersediaan.700 23.ISU STRATEGIS Kesehatan a. Jaminan Keamanan.500 0.491 - - - - 702 444 4 16 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .4 8.320 9. Alat Kesehatan dan Makanan.000 62.75 63.Kelompok Paripurna  Jumlah provinsi sebagai model manajemen pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (program KB Kencana) ( New Inisiative) 2011 2012 2013 86.2 1.97 4. Keterjangkauan.500 0. Peningkatan Akses Pelayanan KB Berkualitas yang Merata  Jumlah Peserta KB baru dari Keluarga Miskin (KPS dan KS-I) yang Mendapatkan Jaminan Ketersediaan Kontrasepsi (juta akseptor)  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapatkan Dukungan Sarana dan Prasarana Pelayanan KB  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapat Dukungan Penggerakan Pelayanan KB  Persentase Komplikasi Berat dan Kegagalan KB yang Dilayani  Jumlah PPLKB.11 745.11 501.5 80 11.376 80 3. Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang Berkualitas bagi Ibu dan Anak  Persentase Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (cakupan PN)  Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap  Persentase Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S)  Jumlah Puskesmas yang Mendapatkan Bantuan Operasional Kesehatan b. Khasiat/Manfaat dan Mutu Obat.235 87 1.89 95 3.7 71. Peningkatan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular serta Penyehatan Lingkungan  Persentase Kasus Baru TB Paru (BTA positif) yang Disembuhkan  Angka Penemuan Kasus Malaria per 1.Kelompok Rintisan . Pemerataan.

0 5.516 17. Jumlah UMKM  Klaster IV .116 17.5 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 1.6 303. Opini WTP atas Laporan Keuangan (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 2 3 2011 2012 2013 75 1) 3.PKH (juta RTSM) . adil. Tabel 2. PPLS 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 17 . SD/MI s/d SMA/MA/SMK (ribu siswa) ii. Indeks Persepsi Korupsi b. khususnya dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan.5 8.0 63 18 8.5 3.9 5.PNPM Perdesaan (Kecamatan) .922 33 33 27.ISU STRATEGIS 2.2 80 40 20 4.520 298.Perluasan Kredit Usaha Rakyat i.4 2 17.948 2013 9.24 7. reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan perlu terus ditingkatkan baik di pusat dan daerah.520 60 33 27. Dalam rangka hal tersebut.Jamkesmas (juta RTS) .Pembangunan Perumahan Swadaya/Rumah Sangat Murah (ribu unit) Sumber: RKP 2013.5 2.5 3 15.698. Bappenas 2011 12. Tantangan penyelenggaraan pemilu sangat besar dan masyarakat menaruh harapan luar biasa pada penyelenggaraan pemilu agar dapat berlangsung secara jujur. ISU STRATEGIS Persiapan Pemilu 2014 — Tingkat Partisipasi Politik Tahun 2014 (%) Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi a. Reformasi birokrasi di daerah harus sejalan dengan pemantapan penataan otonomi daerah agar kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah makin meningkat.Beasiswa Miskin i.5 1.950. Penurunan Angka Kemiskinan (%)  Klaster I .0 186.5-10.948 2012 10. demokratis dan aman.5 5.5 239.5 1. Jumlah Provinsi ii. kondisi sosial dan politik menuju pemilu 2014 juga perlu terus dijaga. Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi klaster 1-4 a.0 100 60 40 Jan-Jun.100 10.61 4. PPLS 2008 Jul-Des.Raskin (juta RTS) .5 9.068.5-11.020 10. 2.5 9. PT Umum dan Islam (ribu mahasiswa)  Klaster II .230 10.33 14.25 Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik Perekonomian domestik yang kuat perlu didukung oleh kemantapan stabilitas sosial dan politik.PNPM Perkotaan (Desa/Kelurahan)  Klaster III . Sementara itu.

Bappenas c.00 85 21 82.78 2012 7.5 90 80 100 15 85 65 30 2013 7.0 100 100 100 40 90 70 50 17 15 22 30 19 24 37 21 31 18 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .07 6. Instansi Pemerintah yang Akuntabel (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 3.25 6. Matra Laut c. d.5 7. 2011 7. f.ISU STRATEGIS Integritas Pelayanan Publik (Pusat) Integritas Pelayanan Publik (Daerah) Jumlah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Daerah (%) Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota g. e.93 63. Matra Darat b. Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force Peningkatan Alutsista (%) a. Matra Udara Sumber: RKP 2013.33 12.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB III KONDISI TERKINI DAERAH .

1 Pertumbuhan Ekonomi Pada tahun 2011. turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 7. keuangan.6 persen dan 13. konstruksi. real estat dan jasa perusahaan. Di sisi pengeluaran. 6. ekspor dan impor tumbuh melambat karena dampak dari krisis global.8 persen.7 persen. dimana pertumbuhannya masing-masing sebesar 13. Stabilitas ekonomi Indonesia pada tahun 2011 masih terjaga di tengah berbagai krisis eksternal. serta jasa-jasa tumbuh masing-masing sebesar 4.1 persen. kinerja ekonomi Indonesia sangat baik dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6. sektor pertanian tumbuh 3. perekonomian Indonesia tetap tumbuh baik dengan laju sebesar 6. Konsumsi masyarakat dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di sisi pengeluaran. Tingkat pertumbuhan ini diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 4.2 persen.2 persen.9 persen.1. 10. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 terutama ditopang oleh ketahanan domestik berupa investasi yang meningkat dan daya beli masyarakat yang terjaga serta ekspor barang dan jasa yang tetap tumbuh. hotel dan restoran.5 persen.3 persen.0 persen dan sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh 6. Sementara itu. 9.8 persen. sama dengan tahun sebelumnya.BAB III KONDISI TERKINI DAERAH 3.9 persen.2 persen.7 persen. atau lebih tinggi dari tahun 2010 yang tumbuh 6.8 persen dan PMTB sebesar 10.3 persen. 6. pengangkutan dan telekomunikasi. sasaran pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6. Sementara itu ekspor dan impor diperkirakan hanya tumbuh sebesar 9.5 persen. Di sisi produksi. Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi. konsumsi masyarakat tetap tumbuh sebesar 4. gas dan air bersih.2 persen. Kemudian pada Triwulan I tahun 2012. Hotel dan Restoran. Sementara itu. Di sisi produksi. konsumsi pemerintah sebesar 6.9 persen 22 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Tingkat pengangguran terbuka serta penduduk miskin juga menurun hingga mencapai masing-masing sebesar 6.7 persen. investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun 2011 meningkat dengan pertumbuhan sebesar 8.5 persen. dimana kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 5.1 Kondisi Ekonomi Nasional 3. Pengeluaran pemerintah juga meningkat sebesar 3. serta 6. Pada tahun 2012 ini. sektor yang memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah Sektor Perdagangan.7 persen.0 persen. inflasi bisa ditekan hingga 3. perdagangan.8 persen. Di lain pihak. Sektor tersier yang meliputi listrik.6 persen dan 12.8 persen.

dan 11,4 persen dikarenakan kondisi ekonomi dunia yang masih belum pulih. Tabel 3.1 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012
PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013) 2010 6,2 4,7 0,3 8,5 15,3 17,3 3,0 3,6 4,7 5,3 7,0 8,7 13,4 5,7 6,0 7,0 7,1 13,3 2011 6,5 4,7 3,2 8,8 13,6 13,3 3,0 1,4 6,2 4,8 6,7 9,2 10,7 6,8 6,7 3,8 6,6 12,5 2012 (Sasaran) 6,5 4,9 6,8 10,9 9,9 11,4 3,5 2,0 6,1 6,2 7,0 8,9 11,2 6,3 6,2 6,8 6,4-6,6 10,5-11,5

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan masingmasing sebesar 3,5 persen, 2,0 persen dan 6,1 persen. Sementara itu sektor listrik, gas dan air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan telekomunikasi; keuangan, real estat dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 6,2 persen; 7,0 persen; 8,9 persen; 11,2 persen; 6,3 persen dan 6,2 persen.

3.1.2 Tingkat Kemiskinan
Secara nasional, jumlah penduduk miskin selama periode 2006-2012 mengalami penurunan yang signifikan, dari 39,3 juta jiwa pada 2006 menjadi 29,13 juta jiwa pada 2012 sehingga selama periode tersebut jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 10,17 juta jiwa atau secara rata-rata sebesar 1,45 juta jiwa per tahun (Gambar 3.1). Tren yang serupa juga terjadi dalam perkembangan persentase penduduk miskin dalam periode yang sama, dimana terjadi penurunan yang tajam dari sekitar 17,75 persen pada 2006 menjadi sekitar 11,96 persen pada 2012. Dengan demikian, selama periode 2006-2012 terjadi penurunan persentase penduduk miskin sekitar 32,6 persen atau secara rata-rata sekitar 4,65 persen per tahun.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

23

Gambar 3.1 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 - 2012
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 17,75 16,58 39,3 37,17

34,96

32,53

31,02

30,02

29,13

15,42

14,15

13,33

12,49

11,96

Dengan menggunakan data kemiskinan yang mutakhir (Susenas, Maret 2012), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret tahun 2012 sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Apabila dibandingkan dengan perhitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan Susenas Maret 2011 yang berjumlah 30,02 juta (12,49 persen) maka terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,13 juta orang selama periode Maret 2011 – Maret 2012. Selama periode tersebut, jumlah penduduk miskin menurut kawasan baik perkotaan maupun perdesaan masing-masing turun menjadi 3,61 persen dan 2,6 persen. Jumlah penduduk miskin di perkotaan berkurang sebesar 0,40 juta orang, sementara di perdesaan berkurang sebesar 0,49 juta orang (Tabel 3.2). Selama periode tersebut, persentase penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Tabel 3.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan
Kawasan Perkotaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perkotaan+Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (Juta) 11,05 10,95 10,65 18,97 18,94 18,48 30,02 29,89 29,13 Persentase Penduduk Miskin (%) 9,23 9,09 8,78 15,72 15,59 15,12 12,49 12,36 11,96

24

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) inflasi umum yang relatif rendah, (2) penurunan harga eceran beberapa komoditas bahan pokok, (3) perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan dengan naiknya nilai tukar petani, (4) terjaganya kinerja pertumbuhan ekonomi nasional sampai dengan triwulan III dan (5) penurunan tingkat pengangguran terbuka. Berdasarkan wilayah, persentase penduduk miskin terbesar di Wilayah Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77 persen, sementara persentase penduduk miskin terkecil di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 6,69 persen. Namun demikian, apabila dilihat dari jumlah penduduk maka sebagian besar penduduk miskin terkonsentrasi di Wilayah Jawa, yaitu sebesar 16,11 juta orang, sementara jumlah penduduk miskin terkecil berada di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 0,95 juta orang (Tabel 3.3). Tabel 3.3 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012)
Pulau Sumatera Jawa Bali dan Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Indonesia Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Kota Desa Kota+Desa 2.075,54 4.225,33 6.300,87 7.209,94 8.897,26 16.107,20 640,23 1.393,71 2.033,94 266,15 688,42 954,57 341,04 1.756,20 2.097,24 114,33 1.524,27 1.638,60 10.647,23 18.485,19 29.132,42 Persentase Penduduk Miskin (%) Kota Desa Kota+Desa 10,15 13,30 12,07 8,84 15,46 11,57 12,13 17,03 15,11 4,41 8,37 6,69 5,70 14,86 11,78 5,88 32,64 24,77 8,78 15,12 11,96

Pada periode Maret 2011–Maret 2012 secara umum terjadi perbaikan kondisi penduduk miskin yang ditunjukkan adanya penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Nilai P1 turun dari 2,08 pada Maret 2011 menjadi 1,88 pada Maret 2012, sementara nilai P2 turun dari 0,55 menjadi 0,47 pada periode yang sama (Tabel 3.4). Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati garis kemiskinan serta berkurangnya ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Berdasarkan kawasan, nilai P1 dan P2 di perdesaan masih tetap lebih tinggi daripada di perkotaan. Pada Maret 2012, nilai P1 untuk perkotaan hanya 1,40 sementara di perdesaan mencapai 2,36. Selanjutnya, nilai P2 untuk perkotaan hanya 0,36 sementara di perdesaan mencapai 0,59. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di perdesaan lebih buruk daripada di perkotaan.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

25

Tabel 3.4 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan
Indeks Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Kota Desa Kota+Desa

1,52 1,48 1,40 0,39 0,39 0,36

2,63 2,61 2,36 0,70 0,68 0,59

2,08 2,05 1,88 0,55 0,53 0,47

3.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka
Secara nasional, tingkat pengangguran terbuka (TPT) cenderung terus menurun selama lima tahun terakhir. Pada bulan Februari 2012 TPT nasional telah mencapai 6,32 persen, menurun cukup tinggi dari TPT pada tahun 2008 yang masih sebesar 8,46 persen. Antara 2011 – 2012, jumlah angkatan kerja bertambah 1,01 juta orang menjadi sebesar 120,41 juta. Dalam kurun waktu tersebut jumlah kesempatan kerja baru yang tercipta sebesar 1,52 juta orang, sehingga dengan demikian jumlah penganggur menurun sekitar 500 ribu orang. Gambar 3.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012
140 120 100 Juta Orang 80 60 40 20 0 2008 2009 2010 2011 2012 14% 12% 10% 8% 8,14% 7,41%

8,46%

6,80%

6% 6,32% 4% 2% 0%

Angkatan Kerja
Sumber: Sakernas, BPS

Bekerja

Penganggur Terbuka

TPT

26

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Kedua. maupun industri pengguna produknya untuk diolah lebih lanjut. Dalam hal ini pengusaha akan lebih mudah menemukan tenaga kerja dengan spesialisasi yang sesuai dengan kebutuhan di daerah padat penduduk dibandingkan dengan di daerah berpenduduk sedikit. pasar yang besar memfasilitasi para pelaku usaha untuk berproduksi pada skala ekonomi yang optimal. 2010 (Rp Trilyun) Sumber: BPS Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi 2005-2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 27 . Kondisi ini akan meningkatkan daya saing perusahaanperusahaan di daerah tersebut karena mampu berproduksi secara lebih efisien. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. penyuplai bahan baku. Keuntungan aglomerasi yang terakhir adalah adanya eksternalitas positif dari terkonsentrasinya industri dan investasi di suatu lokasi. Ketiga. Kondisi ini berpotensi meningkatkan produktivitas dalam perekonomian. Pasar yang besar memiliki daya tarik yang lebih tinggi bagi investor karena menawarkan beberapa keuntungan ( agglomeration economies). Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua - (4) PDRB ADHB Th. Bagi pekerja kondisi ini juga memberikan manfaat bagi peningkatan spesialisasi. para pelaku usaha akan lebih mudah menemukan pembeli.2 Kondisi Ekonomi Daerah 3. daerah-daerah dengan populasi besar juga memfasilitasi berfungsinya pasar tenaga kerja secara lebih efisien. baik keterkaitan ke belakang maupun keterkaitan ke depan. Gambar 3. Bangka Belitung Kep.3 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 900 Rp Triliun 12 Persen 600 8 4 300 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.3. semakin besar ukuran pasar semakin besar pula kemungkinan terjadinya linkages atau keterkaitan. Di perekonomian yang besar.2.1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah Ukuran pasar domestik di dalam perekonomian daerah tergambar dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan jumlah penduduk. berupa limpahan ( spillover) informasi dan pengetahuan. Pertama.

Bahkan dalam lima tahun terakhir kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Sulawesi termasuk yang paling tinggi di antara provinsi-provinsi lainnya.0 1.4 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 6.2 persen.4).07 juta jiwa). Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 35 30 25 20 15 10 5 0 Jumlah Penduduk Miskin (Juta Jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 28 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 3. Secara nasional.0 2.1 juta jiwa) dan Jawa Timur (5. Bila kecenderungan ini terus berlanjut maka peran Wilayah Sulawesi yang saat ini relatif kecil akan semakin meningkat dan semakin penting sebagai pendorong pertumbuhan Wilayah Kawasan Timur Indonesia. Sumatera Selatan (1. PDRB provinsi-provinsi di Jawa mendominasi PDRB provinsi-provinsi lainnya dalam hal peran PDRB terhadap perekonomian nasional.2 juta jiwa) dan Nusa Tenggara Timur (1. DKI Jakarta. Wilayah lain yang memiliki kinerja pertumbuhan baik adalah Sulawesi. Diluar ketiga provinsi tersebut masih terdapat provinsi-provinsi lain dengan jumlah penduduk miskin lebih dari 1 juta orang.4 juta jiwa). terutama di Jawa Barat (4.4 juta jiwa).7 juta jiwa). sedangkan Papua memiliki persentase penduduk miskin terbesar (Gambar 3. Provinsi-provinsi di Jawa juga masih merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. yaitu Sumatera Utara (1.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi Secara geografis. Sementara itu Maluku Utara. Gambar 3.0 3.0 5. 14. Gorontalo dan Maluku merupakan tiga provinsi dengan PDRB terkecil secara nasional dengan peran masing-masing kurang dari 0. Jawa Tengah (5. Jawa Timur dan Jawa Barat adalah tiga provinsi dengan PDRB terbesar.0 0.Pola di atas juga nampak dalam kinerja perekonomian daerah (provinsi) di Indonesia. masing-masing berperan sebesar 16.8 persen dan 14.01 juta jiwa).7 persen terhadap perekonomian nasional (total PDRB 33 provinsi). konsentrasi penduduk miskin pada tahun 2011 masih berada di Wilayah Jawa. Jawa Timur memiliki jumlah penduduk miskin terbesar.4 persen. Lampung (1.2.0 4. Bangka Belitung Kep.

58 persen.07 19. Sanggau Kota Palangka Raya Kab. Bangka Barat Bengkulu Tengah Kab. Pangkajene Kepulauan Kab.31 18.86 6.62 Kabupaten/Kota Kota Banda Aceh Kab.81 5.12 9. Bolaang Mongondow Selatan Kab.25 6.26 21.02 5.83 12.75 5. Kepulauan Mentawai Kab.21 12.Dalam publikasi yang berjudul Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.07 6. Barito Timur Kab. Pandeglang Kab.61 5.19 5.63 3. Belitung Timur Kab.40 2.16 14. yaitu sekitar 1.41 20. Flores Timur Kab. Polewali Mamasa Kab.07 20.43 7.54 14.57 15. Maluku Barat Daya Kab.47 8.36 22. Boalemo Kab. Purbalingga Kab.5 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. Lingga Kab.06 10.24 20. Landak Kab.77 42.31 3.84 1.80 9. Dari pemetaan tersebut tercatat bahwa kabupaten Deyai di provinsi Papua memiliki persentase penduduk miskin tertinggi secara nasional. Lombok Utara Kab. Mamuju Utara Kota Kendari Kota Ambon Kota Ternate Kab.64 9.11 2. Sampang Kab.64 28. Badan Pusat Statistik (BPS) telah memetakan kabupaten/kota di masingmasing provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin tertinggi dan terendah pada 2010.02 7. Kolaka Utara Kab.15 32. Musi Banyuasin Kab.80 3. Sabu Raijua Kab.51 5. sedangkan kota Tangerang Selatan memiliki persentase penduduk miskin terendah. OKU Timur Kab.20 4.34 2.49 9. Tulangbawang Barat Kota Jakarta Timur Kota Depok Kota Tangerang Selatan Kota Semarang Kota Yogyakarta Kota Batu Kota Denpasar Kota Bima Kab. Merauke Kota Sorong Terendah % 9. Lampung Utara Kab. Banjar Kota Balikpapan Kota Manado Kota Gorontalo Kota Palu Kota Makassar Kab.84 19.14 24.34 4. Teluk Bintuni Tertinggi % 26. Halmahera Tengah Kab. Jembrana Kab.03 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 29 .53 14.28 24.67 persen.48 4. Deiyai Kab.58 47. Deli Serdang Kota Sawahlunto Kota Pekan Baru Kab.51 7.58 23.67 5.98 5. Kepulauan Seribu Kota Tasikmalaya Kab. Kepulauan Meranti Kab. yaitu sekitar 49.06 39. Tanjung Jabung Timur Kab. Tabel 3.57 49.23 33.76 15.06 10. Kepulauan Anambas Kota Sungai Penuh Kab.19 13. Bener Meriah Kota Gunungsitoli Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Sumber : BPS Kabupaten/Kota Kab. Malinau Kab. Bengkulu Selatan Kab.11 43.67 4. Tojo Una Una Kab. Kulon Progo Kab.87 19. 2012.20 8.71 11.14 41.84 24.

Nusa Tenggara Barat. Riau Banten Jambi Bali 3. nilai terendah persentase penduduk miskin kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat sekitar 14 persen.06 3.67 3.07 6.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 .85 5.18 8.10 10.62 5.03 6.97 10.70 2. Mayoritas penganggur yang berada di Pulau Jawa dan Bali berjumlah 5. jumlah tenaga kerja yang berstatus penganggur di Indonesia adalah sebanyak 7.69 7.37 juta orang.61 4.99 4.19 7. Sementara itu penganggur di Pulau Sumatera 30 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Jawa Barat Kep.95 7.25 5.43 7. tingkat kemiskinan di Wilayah Indonesia Timur sangat serius sehingga memerlukan perhatian yang khusus baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.57 5.24 3.27 6.83 13.25 5.18 3.05 13.21 9.25 4.14 4.56 7.0 persen dari total penganggur Indonesia.59 4. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai persentase penduduk miskin kabupaten/kota baik nilai tertinggi maupun terendah.37 8.35 3.63 5.41 4.69 6.66 4.61 9. yang merupakan 6.14 6. yaitu Riau.34 3.86 2.68 .84 10.72 3.90 6.62 5. 3.72 10.14 7.Dari data tersebut terlihat pula bahwa terdapat 5 (lima) provinsi yang memiliki kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin tertinggi diatas 40 persen.2.39 5.21 6.34 4. BPS TPT 2011 Konsentrasi penganggur di Indonesia berada di Wilayah Indonesia Barat. Bangka Belitung DI Yogyakarta Maluku Utara Papua Barat Jawa Timur Kalimantan Barat Sumatera Utara Sumatera Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat TPT 2010 Sumber: Sakernas.37 8. Selanjutnya.62 6.28 8.56 persen dari keseluruhan angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.33 11. Nusa Tenggara Timur.47 5.61 5. Gambar 3.08 juta orang atau sekitar 64.72 9.04 7. Papua dan Papua Barat.55 4.50 Kalimantan Timur Gorontalo INDONESIA NAD Maluku Papua Riau DKI Jakarta Bengkulu Lampung Kep.7 juta orang.07 7. Distribusi jumlah penganggur menurut masing-masing provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.29 5.68 8.5.61 4.3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi Distribusi Regional Berdasarkan Sakernas Agustus 2011.16 5.27 4.2011 2.17 9.65 6.25 3.

410 50.825 26.544 57.133 417.408 Perkotaan 619. Tiga provinsi ini memberikan kontribusi hampir sekitar 50 persen penganggur yang ada di Indonesia.602 24. BPS 500.159 122.122 7.52 juta.599 61.000 Sumber: Sakernas.551 555.855 14.739 37.500.740 134.037 493.094 15.811 104.297 46.109 1.96 persen.320 28.211 36.112 4.975 14.762 111.235 11.22 persen sementara di daerah perdesaan adalah 4.147 135.473 77. Gambar 3.083 11. Riau DI Yogyakarta Sumatera Barat Riau Sulawesi Selatan Lampung Sumatera Selatan Kalimantan Timur Sumatera Utara Jawa Timur Banten Jawa Tengah DKI Jakarta Jawa Barat 11.488 8.000 500.115 109.5 persen dari total penganggur Indonesia. konsentrasi pengangguran di daerah perkotaan secara umum terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah perdesaan.884 53.258 58.502 10.651 11.318 59.0 persen total penganggur Indonesia atau 6.192 40. Dua bagian kawasan barat Indonesia ini telah menampung sekitar 85.156 118.429 33.398 13.315 15. atau sekitar 18.berjumlah sekitar 1. yang memiliki tingkat penganggurannya lebih tinggi di daerah perdesaan.785 48.953 267.000 1. diikuti oleh Jawa Tengah (1.174 25.461 13.000.54 40.992 404.609 99.000.620 56.6 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Sulawesi Barat Bengkulu Gorontalo Maluku Utara Kalimantan Tengah Kep.075 101.564 Perdesaan 8.658 47. Kecuali provinsi Jambi dan NAD.000 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 31 .452 504.000 0.767 13.509 187.0 juta orang) dan juga Jawa Timur (821.000 1.594 46.734 1282.357 37.617 19.499 17.064 13.168 80. Tingkat pengangguran di daerah perkotaan secara nasional adalah 8.194 18.9 juta orang).844 65. Provinsi dengan jumlah penganggur terbesar adalah Jawa Barat (1.6 ribu orang).225 7.44 juta orang.461 31. Distribusi Pengangguran Kota-Desa Berdasarkan distribusi pengangguran kota-desa di setiap provinsi. Bangka Belitung Jambi Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Papua NAD Kalimanta Barat Bali Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Kep.

Provinsi Banten. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi di provinsi Kepulauan Riau dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 14.Untuk daerah-daerah tertentu. Banten. 3. Sumatera utara. Sebanyak dua belas provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi cukup tinggi di atas 7 persen.82 persen. Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara.2 persen. Kalimantan Barat. Gambaran daerah lainnya. Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat memiliki tingkat pengangguran yang hampir sama antara di kota dan desa. Lampung.3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3. Jawa Timur. namun dengan kisaran yang cukup lebar.sisi kiri Sumber : BPS diolah 32 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Juta Rp Persen . Kalimantan Timur. merupakan provinsi dengan tingkat pengangguran antara kota dan desa yang perbedaannya sangat besar. Sumatera Barat. Sulawesi Utara. Hal ini menandakan meningkatnya daya beli masyarakat secara riil di wilayah-wilayah tersebut. Sementara daerah yang tingkat penganggurannya dibawah 5. Bangka Belitung.3.0 persen adalah DI Yogyakarta. Kalimantan Tengah. Bali dan Bengkulu. sedangkan pertumbuhan konsumsi terendah terjadi di NAD sebesar 0. Jambi. DKI Jakarta dan Jawa Barat.7 Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 - Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita (ADHB) Tahun 2009 (Juta Rp) Rata-rata pertumbuhan konsumsi 2006-2009 (%) . tingkat penganggurannya diatas 10. seperti provinsi Papua Barat. Sulawesi Barat. Gambar 3. Maluku. Kep. sebagian besar di Wilayah luar Jawa. Lampung.0 persen. seperti Papua.1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat Konsumsi masyarakat mengalami pertumbuhan positif di semua provinsi selama periode 2006-2009.

3.4 persen di Nusa Tenggara Timur. Namun demikian di sebagian besar provinsi. kurang dari 4 persen per tahun dan lima belas provinsi sisanya mengalami pertumbuhan konsumsi relatif moderat antara 4 sampai 7 persen.8 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 . Namun demikian di daerah-daerah tersebut investasi dan perdagangan perlu tumbuh lebih tinggi agar pertumbuhan konsumsi ini berkelanjutan. Maluku dan Sulawesi Barat.3. Hal ini ditunjukkan oleh relatif tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada provinsiprovinsi dengan tingkat konsumsi per kapita relatif rendah.2009 120 100 Persen 80 60 40 20 0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. konsumsi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 33 .8 persen di Kalimantan Timur hingga yang terbesar 86. Kondisi serupa ditemui di Provinsi NAD dan Riau. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rata-Rata Peran Konsumsi dalam Sumber Pertumbuhan PDRB (persen) Sumber: BPS diolah Selama periode 2006-2009 peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah sangat bervariasi antar provinsi. khususnya di Wilayah Indonesia Timur. dari yang terkecil 15. Gambar 3. Pangsa konsumsi yang rendah di Kalimantan Timur disebabkan oleh tingginya pangsa ekspor sumber daya alam dalam PDRB. Bangka Belitung Kep. Sementara itu tingginya pangsa konsumsi rumah tangga dalam perekonomian Nusa Tenggara Timur menggambarkan relatif belum berkembangnya kegiatan investasi dan kegiatan produktif yang menghasilkan komoditi ekspor daerah. Hal serupa juga terjadi di Provinsi Maluku Utara. Bila kinerja pertumbuhan ini dikaitkan dengan tingkat konsumsi per kapita maka terlihat kecenderungan pemerataan daya beli masyarakat.2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Peran konsumsi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari pangsanya dalam PDRB dan laju pertumbuhannya.Sementara itu enam provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi relatif rendah. Pangsa konsumsi rumah tangga dalam PDRB bervariasi antar provinsi.

7 13.4 0.0 0.4 persen dan 10.9 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 20.3 1.4 6.5 1.5 0. Riau dan beberapa provinsi lainnya melakukan sebagian besar ekspornya di pelabuhan muat provinsi asal. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Pelabuhan Muat Prov.1 0. Gambar 3.0. Bahkan di tiga provinsi.0 12.1 0.rumah tangga berperan besar dalam mendorong perekonomian daerah.5 . lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi daerah bersumber dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga.7 5.4. Ketiga provinsi tersebut menyumbang ekspor nasional mencapai 42.6 1. 3. Sementara itu di provinsi NAD dan Papua yang mengalami pertumbuhan ratarata negatif pada periode tersebut.0 8.4 persen.6 0.7 4.5 miliar USD.0 16. Pada 24 provinsi.2 1.2 5.8 1. Implikasi kebijakan yang bisa dipetik adalah pentingnya mempertahankan dan meningkatkan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.0 1.5 persen.8 0.8 persen.8 2.4 8. Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau.3 2.8 1. investasi dan pertumbuhan sektor riil perlu terus digalakkan di daerah.2 10. ekspor nasional mencapai 203.3 0. Jawa Barat dan Riau dengan kontribusi masing-masing sebesar 18.0 . Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar dalam ekspor adalah Kalimantan Timur.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3. peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah melebihi 100 persen.6 0. yakni Maluku Utara.0. Adapun ekspor Kalimantan Timur. Asal Pelabuhan Muat Prov. 13.0 2.0 4. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Pada tahun 2011.0 0. pertumbuhan konsumsi berperan sangat besar dalam mencegah perekonomian berkontraksi lebih parah.5 18.6 Sumber: BPS 34 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Lain Ekspor Berdasarkan Provinsi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 5. Oleh karena itu. Sementara Jawa Barat dan Banten merupakan daerah yang sebagian besar ekspornya dimuat di pelabuhan provinsi lain. Hal ini menandakan pentingnya peran konsumsi masyarakat dalam menyangga kinerja perekonomian domestik.

4 persen. 2009 Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) Gambar 3. Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan tiga provinsi penyerap investasi terbesar dengan pangsa sebesar 26. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. Bangka Belitung Kep. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. 2009 (Trilyun Rp) Sumber: BPS Log Kepadatan Penduduk (Jiwa/km persegi) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 35 Juta Jiwa .1 persen dan 11. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pembentukan Modal Tetap Bruto Th. 12. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.4. di mana secara rata-rata antara tahun 2005-2009 DKI Jakarta. Hal ini tampak dari distribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurut provinsi.3. Bangka Belitung Kep.9 persen.11 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 10 8 6 4 2 Log Kepadatan Penduduk Pembentukan Modal Tetap Bruto Th.2 Investasi (PMTB) Per Provinsi Daerah-daerah dengan populasi besar dan kepadatan tinggi serta memiliki kinerja pertumbuhan tinggi mampu menarik investasi relatif besar dibandingkan daerah lain.10 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 300 50 240 180 120 60 40 30 20 10 - Triliun Rp Sumber: BPS 300 Triliun Rp 240 180 120 60 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Gambar 3.

Secara umum provinsi-provinsi di Wilayah Jawa memiliki pangsa industri pengolahan relatif tinggi yang menggambarkan perannya sebagai pusat industri nasional. 36 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Tenggara Papua Barat Jawa Timur Jawa Barat Papua . Gambar 3. namun hal ini lebih karena struktur perekonomian Jakarta lebih didominasi sektorsektor jasa. Tangerang. Depok. Bogor. Beberapa daerah seperti Kalimantan Timur dan Papua Barat juga memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi. Bekasi). Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau. Di samping itu. namun hal itu karena besarnya kegiatan industri pengolahan migas. Pangsa industri pengolahan di DKI Jakarta terlihat cukup rendah. Yogyakarta Kalimantan Barat Share Industri Pengolahan dalam PDRB (%) Sumber: BPS Beberapa daerah di luar Jawa yang memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi adalah Sumatera Utara.Provinsi-provinsi lainnya yang memiliki peranan investasi relatif besar adalah Riau. perkembangan kawasan perkotaan Jakarta yang semakin padat membuat kawasan industri menyebar di kota-kota di sekitar Jakarta dan membentuk kawasan metropolitan Jabodetabek (Jakarta. Sumatera Utara dan Sumatera Selatan di Kawasan Barat Indonesia. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan industri pengolahan di daerah-daerah tersebut cukup besar. Riau Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Lampung Sulawesi Tengah Bengkulu Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Maluku Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Kep. Bangka Belitung Kalimantan Timur Sumatera Barat DI.12 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB 50 40 30 20 10 Banten Jambi NAD Bali Sulawesi Barat Maluku Utara DKI Jakarta Gorontalo Riau Sumatera Utara Kep. khususnya keuangan dan perdagangan. Kinerja perekonomian daerah juga tampak dari pangsa industri pengolahan dalam PDRB yang menggambarkan tingkat industrialisasi daerah. Riau. serta Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan di Kawasan Timur Indonesia.

833.85 0.17 233.5.60 1.2% Kondisi Tidak Mantap 4.45 33.13 Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 1.52 0.07 km yang terdiri dari jalan tol 761.854.8 persen dalam kondisi tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat).68 225.215. Sulawesi.06 Kalimantan Timur Papua Sumber: Direktorat Bina Program.20 NAD Maluku Gorontalo Lampung DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. Gambar 3. 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 37 .280.85 458.9% 53. Maluku dan Kalimantan relatif rendah sehingga perlu percepatan pembangunan jalan.84 km.3. Kementerian PU.1 Infrastruktur Jalan Panjang Jalan di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 458. jalan nasional sepanjang 38.7% 50. jalan provinsi sepanjang 49.7% 40. Maluku.78 19.699.80 0.45 38. Kalimantan dan Maluku menghadapi keterbatasan prasarana dan sarana transportasi terutama jalan.40 1.0% 87.569. Nusa Tenggara.742.40 0. Rasio kerapatan jalan (rasio panjang jalan dan luas wilayah daratan) di Wilayah Papua.569.828.6 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 Jalan Jalan Tol Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten/Kota TOTAL Panjang Total (km) 761. rasio kapasitas jalan (rasio panjang jalan dan jumlah unit kendaraan roda 4) di Wilayah Jawa-Bali relatif rendah sehingga perlu pengembangan transportasi masal untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Kementerian PU. Sementara.538. 2010 Wilayah Papua.42 0.828.85 km.0% 12.20 1.21 100.1% 46. Dari total panjang jalan yang ada.3% 49.736.07 Kondisi Mantap 761.93 370.31 171. 50.60 0. Bangka Belitung Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Sumatera Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Riau Bali Jambi Jawa Timur Kepulauan Riau Sumatera Barat Maluku Utara Jawa Barat Kalimantan Barat Sumatera Utara Sulawesi Utara Sualwesi Tengah Jawa Tengah Sulawesi Selatan 1.361.45 km.280.84 49.8% Sumber: Direktorat Bina Program.215.62 198.93 km dan jalan kabupaten/kota sepanjang 370. Tabel 3.80 1.06 29.3% 59.00 0.5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.128.

10 % 11.370. sebagian besar kondisi mantap jalan telah mengalami peningkatan dengan rata-rata di atas 86 persen.568.130.14 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 180.3 5.00 100.659.6 10.54 114.00 80.6 7.86 118.578. juga adanya perubahan status jalan provinsi menjadi jalan nasional.3 6.6 3.146.17 386.8 6.3 Sumatera Jawa+Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Nasional Sumber: Direktorat Bina Program.0 32.89 657.439.7 38.51 267.5 1.736.0 17. Kementerian PU.8 1.00 160.389.2 6.2 2011 11.7 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 Pulau Panjang Jalan (km) 2005 10. Tabel 3. jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk pelaksanan pemeliharaan dan pembangunannya. 2011 Kondisi sebaliknya terjadi pada kualitas jalan daerah (provinsi dan kabupaten/kota).Gambar 3.429.8 Jalan Tidak Mantap Tahun 2005 Km 724. walaupun selama periode 20052011 kondisi jalan tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat) cenderung meningkat. dimana seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah.6 11.8 1.363.5 33.9 6. Kondisi tersebut akibat adanya penambahan panjang jalan nasional sepanjang 5.8 5.64 18.00 140.9 Jalan Tidak Mantap Tahun 2011 Km 1.299.2 2.26 2.799.00 Maluku Sumatera Barat Riau 175.5 1.3 12.074.8 5.75 68 260. 2011 Berdasarkan kondisi kualitas jalan nasional. Kementerian PU.00 60.63 km.00 40.81 1.844.4 13.28 4.002.255.45 Lampung Bengkulu Nusa Tenggara Barat' Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Bali Banten Jambi Sumatera Utara Sulawesi Utara Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Sumber: Direktorat Bina Program.38 NAD Papua DI Yogyakarta Jawa Timur Kepulauan Riau Kep. Bangka Belitung Kalimantan Timur Gorontalo 0.60 12.9 6.52 609.90 936.85 341.6 5. baik karena pembangunan baru. Berdasarkan data kondisi 38 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Nusa Tenggara Timur Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Maluku Utara Jawa Barat .9 6.00 120.876.0 2.00 20.795. Namun secara umum kondisi kemantapan jalan nasional sangat memadai.07 % 6.038.1 6.538.83 175.

215.976.65 1.0% 70. Kondisi akan sangat menghambat mobilitas barang dan penumpang dan berdampak terhadap kinerja perekonomian daerah.8 12.0 45.21 1.kualitas jalan.30 3.461. tertinggi terdapat di Wilayah Papua.345.097. Kemen PU.65 4.02 30.7 36.3 persen.31 28.76 18.13 6.615.4 47.81 6.5 51.93 km memiliki ratarata kondisi jalan tidak mantap 40.853.1 40.521.999.569.280.85 Jalan Tidak Mantap 2010 65.77 2.85 km memiliki rata-rata kondisi jalan tidak mantap 46.163.39 19.123.274.5 46.0% 60.21 2.2 71.7 47. jalan provinsi dengan total panjang jalan mencapai 49.622.462.929.15 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) 100.148.7 26.611.742.3 40.80 3.68 % 48.3 Sumber: Direktorat Bina Program. jalan tidak mantap baik jalan provinsi maupun jalan kabupaten/kota.79 12.5 8.4 50.888.6 52.6 34.07 9.674.0% 80.766.8 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 Pulau Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Maluku Papua TOTAL Panjang Jalan Provinsi 16. Tabel 3.997.215. Berdasarkan perbandingan jalan tidak mantap antar wilayah. Maluku dan Sulawesi dengan kondisi jalan tidak mantap rata-rata di atas 55 persen.0 83.0% 20.31 % 44.4 57.0 370.4 63.586.0% 40.189.361.17 4.70 49.0% 10.51 1.0% 30.86 11.0% Sumatera Jawa Bali-Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Jalan Nasional Kondisi Mantap Sumber: Kementerian PU Jalan Daerah Kondisi Mantap Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 39 .0% 0.602.0% 50.3 18.280.046.1 persen dan jalan kabupaten/kota dengan total panjang jalan mencapai 370. 2010 Gambar 3.78 171.93 Jalan Tidak Mantap 2010 7.1 43.1 Panjang Jalan Kabupaten/Kota 134.320.507.0% 90.246.04 1.

Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi jalan daerah (jalan provnsi dan jalan kabupaten/kota).78 km (91. Tabel 3. dengan panjang total mencapai 419. 3.496. Kondisi tersebut mengakibatkan kurang efektif dan efisiennya distribusi barang dan orang serta sistem logistik di daerah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di deerah. Moda transportasi udara merupakan alat transportasi utama untuk daerah dengan kondisi alam pegunungan dan kepulauan seperti Kalimantan Barat.9 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Papua dan Papua Barat. Kemenhub. 2010 40 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . dimana jumlah bandara terbesar terdapat di Provinsi Papua yang mencapai 202 bandara termasuk bandara perintis dan Papua Barat sebanyak 36 bandara.Panjang jalan nasional yang hanya 8. kondisi kemantapan jalan hanya mencapai 54.9 menerangkan jumlah bandara di Indonesia berdasarkan per provinsi.5. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Jumlah Bandara 14 10 5 7 3 5 2 5 2 7 1 13 5 2 7 3 2 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timus Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total Jumlah Bandara 5 15 52 14 46 5 8 8 5 1 1 12 11 36 202 514 Sumber: Ditjen Perhubungan Udara.7 persen.4 persen. Sementara perbandingan kondisi jalan nasional dan daerah ditunjukkan pada Gambar 3. Tabel 3. memiliki kondisi mantap mencapai 87. Bangka Belitung Kep.2 Infrastruktur Udara Jumlah bandar udara di Indonesia adalah sebanyak 514 bandara.4 persen dari total panjang jalan yang ada.15. Kalimantan Timur.4 persen dari total panjang jalan yang ada).

Bangka Belitung Int'l Hub Port Int' Port 1 1 1 National Port 10 13 44 3 4 1 6 Regional Port 4 10 4 5 4 2 8 Local Port 3 30 20 3 6 1 0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 41 . Pelabuhan Internasional berjumlah 18. yaitu sebesar 11. Hal ini disebabkan bahwa Bandara Soekarno-Hatta terletak dekat dengan ibukota negara dan juga merupakan hub Internasional maupun domestik.10 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 Provinsi NAD Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Kep.3 Infrastruktur Laut Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 2010 Posisi kedua ditempati oleh Bandara Ngurah Rai di provinsi Bali sebesar 11 persen. Bandara SoekarnoHatta di Provinsi Banten menempati posisi teratas sebesar 41 persen dengan jumlah penumpang sebesar 43. Kemenhub. Jumlah penumpang yang besar di Bandara Ngurah Rai. 3. Jumlah penumpang domestik dan internasional pada tahun 2010 di Indonesia sebesar 108 juta penumpang.9 juta penumpang. kemudian diikuti oleh Jawa timur 7 persen dan Sumatera Utara 6 persen. total jumlah pelabuhan yang diusahakan berjumlah 725 pelabuhan. Terdapat 2 pelabuhan hub (pengumpul) Internasional yaitu Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak. 17 tahun 2004. pelabuhan nasional sebagai feeder (pengumpan) antar provinsi berjumlah 245. pelabuhan regional sebagai penghubung antar kabupaten berjumlah 139 pelabuhan dan pelabuhan lokal setempat berjumlah 321 pelabuhan.5. disebabkan oleh pesatnya kemajuan industri pariwisata di Bali dengan banyaknya wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara.Jumlah penumpang angkutan udara terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penerbangan yang menerapkan Low Cost Carrier (LCC).3 juta penumpang. Gambar 3. Penumpang tersebut berasal dari Jakarta. Banten dan Jawa Barat.16 Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Sumatra Utara Sumatra Selatan 6% 2% Bandara Lainnya 26% Sulawesi Selatan 2% Bali 11% Banten 41% Jawa Timur 7% DI Yogyakarta 3% Jawa Tengah 2% Sumber: Ditjen Perhubungan Udara. Tabel 3.

pelabuhan Internasional dan pelabuhan nasional.Provinsi Sumatera Selatan Lampung Jawa Barat Banten DKI Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara Maluku Papua Int'l Hub Port 1 1 - Int' Port 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 National Port 1 2 1 2 5 1 11 3 6 9 8 6 5 14 9 3 12 15 6 3 15 27 Regional Port 2 11 7 2 1 6 7 3 5 12 1 5 2 3 1 1 6 6 3 10 7 1 Local Port 0 5 1 2 0 3 7 4 5 21 1 1 0 1 18 9 9 21 25 9 26 90 Sumber : Keputusan Menteri no.17 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi BOR 2010 Standar BOR % Utilisasi BOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Gambar 3. III dan IV 42 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 17 tahun 2004 Terdapat 3 indikator kinerja pelabuhan Indonesia berdaraskan Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR). II. Tingkat penggunaan gudang (SOR) dan Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) untuk pelabuhan Internasional hub.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 43 .Persentase tingkat utilisasi penggunaan dermaga pada tahun 2010 di pelabuhan Belawan.17). 65 sampai dengan 72 % = cukup baik dan >72% = kurang baik. Namun pada tahun 2011 utilisasi BOR di keempat pelabuhan ini menurun. dimana artinya terjadi tingkat keterlambatan kegiatan bongkar muat di pelabuhan tersebut dan perlu penambahan fasilitas pelabuhan. Boks 3.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. Dirjen Perhubungan Laut No. UM.2011 Berdasarkan Kep. < 70 = baik. Dalam Keputusan tersebut standarisasi SOR = 65%. Artinya. Dirjen Perhubungan Laut No. Dirjen Perhubungan Lautb No. Dalam Keputusan tersebut standarisasi BOR = 70%. Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR) merupakan perbandingan antara waktu penggunaan dermaga dengan waktu yang tersedia (dermaga siap operasi) dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam persentase. Berdasarkan Kep.1 Perhitungan Indikator Kinerja Pelabuhan Berth Occupancy Ratio (BOR) atau atau tingkat penggunaan dermaga 2010 . 50 sampai dengan 55 % = cukup baik dan >55% = kurang baik. Artinya. Pada tahun 2011 Pelabuhan Teluk Bayur dan Pelabuhan Dumai mengalami kenaikan utilisasi BOR cukup tinggi. < 65 = baik. Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan atau Kesiapan operasi peralatan 2010 – 2011 Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) merupakan perbandingan antara jumlah penggunaan ruang penumpukan dengan ruang penumupukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton hari. Kupang dan Samarinda telah melewati batas standar BOR yaitu 70% (Gambar 3. BOR = Shed Occupancy Ratio (SOR) atau tingkat penggunaan gudang 2010 – 2011 Tingkat penggunaan gudang (Shed Occupancy Ratio/ SOR) merupakan perbandingan antara jumlah pengguna ruang penumpukan dengan ruang penumpukan yang tersedia yang dihitung dalam satuan ton hari/ satuan hari. Artinya. Panjang.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. < 50 = baik. UM. SOR = Berdasarkan Kep. Dalam Keputusan tersebut standarisasi YOR = 50%. UM.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. 70 sampai dengan 77 % = cukup baik dan >78% = kurang baik. artinya sudah ada perbaikan dan penambahan fasilitas baru untuk memperlancar bongkar muat di pelabuhan tersebut. yaitu sebesar 12%.

19 menunjukkan persentase tingkat utilisasi penggunaan lapangan penumpukan di pelabuhan tahun 2010 dan 2011 yang didominasi oleh kontainer dan kendaraan. Tahun 2011 Pelabuhan Palembang. Pelabuhan lainnya yang mengalami kenaikan tingkat utilisasi pada tahun 2011 adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Palembang. Artinya pelabuhan tersebut mengalami kenaikan jumlah arus kontainer/kendaraan yang tinggi pada tahun tersebut. Jayapura. Pontianak dan Banjarmasin mengalami kenaikan tingkat utilisasi lapangan penumpukan cukup tinggi. Ambon. II. Artinya utilisasi penggunaan gudang pelabuhan masih memadai. Benoa. III dan IV Kemudian Gambar 3. Samarinda dan Dumai. Pada tahun 2011 Pelabuhan Belawan mengalami kenaikan utilisasi penggunaan gudang yang tinggi. Makassar. Kupang. Pontianak. Balikpapan. Ambon. Jayapura dan Samarinda. Benoa.Berikutnya untuk persentase tingkat utilisiasi penggunaan gudang pelabuhan tahun 2010 dan 2011 di indonesia. Tanjung Intan. dwelling time (masa proses/ waktu tunggu) di pelabuhan dan kapasitas efektif di pelabuhan. kondisinya masih dalam taraf baik (Gambar 3. Terdapat beberapa pelabuhan yang perlu penambahan fasilitas dan perluasan lapangan penumpukan diantaranya pelabuhan Pontianak. 44 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . yaitu sekitar 60%.18). Gambar 3.18 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi SOR 2010 Standar SOR % Utiliasi SOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kenaikan tersebut yaitu karena peningkatan jumlah tonase kargo curah.

05 persen penduduk Indonesia belum memperoleh sambungan listrik.4 Infrastruktur Listrik Salah satu indikator daya saing di sektor ketenagalistrikan adalah rasio elektrifikasi. provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya. dengan pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi yang dilakukan oleh Pemerintah. Sesuai data BPS hingga tahun 2011. III dan IV 3.Gambar 3.19 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 140 120 100 80 60 40 20 0 Utilisasi YOR 2010 Standar YOR % Utiliasi YOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Rasio elektrifikasi menunjukkan tingkat perbandingan jumlah penduduk yang memperoleh sambungan listrik terhadap total penduduk di wilayah itu. Rasio elektrifikasi sangat berhubungan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. II. Peningkatan elektrifikasi merupakan salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. rasio elektrifikasi Indonesia adalah sebesar 72. Beberapa penyebabnya adalah kondisi daerah yang terisolasi serta kurangnya fasilitas transmisi dan distribusi yang membuat transfer kelebihan daya menjadi sangat mahal. artinya 27. badan usaha milik negara serta swasta. Sementara itu.5.95 persen.9 persen dan 29. yang masing-masing sebesar 39. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 45 .3 persen.

12 persen.38 persen. Di negara berkembang. seluler dan internet yang masing-masing hanya memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.20 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Dalam % 39. kenaikan 10 persen tingkat penetrasi broadband akan memicu pertumbuhan ekonomi sebesar 1.5 Infrastruktur Telekomunikasi Salah satu indikator daya saing di sektor komunikasi dan informatika adalah ketersediaan jaringan broadband.Gambar 3.25 Sumber: Capaian KESDM Tahun 2011 3. Gambar 3. Berbagai literatur internasional menunjukkan korelasi positif antara jaringan broadband dan pertumbuhan ekonomi.21 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 98% 98% Sumber: PT Telkom dan Kominfo. Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Kep. Bangka Belitung Banten Jawa Barat DKI Jakarta Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Utara Maluku Utara Maluku Papua Papua Barat 70% 70% 60% 60% 66% 66% 65% 23% 0% 0% Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi 2010 2011 Bali Nusra Maluku 0% 0% Papua . 2011 (diolah) 46 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 NAD Sumatera Utara Riau Kep.81 persen dan 1. 0.5.92 29.73 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan 10 persen tingkat penetrasi fixed line.

398.2 20.2 3.392.5 2.12 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.545.425.2 2010 15. Tabel 3.5 2010 8.2 6. jaringan ekstension hingga ke ibukota kabupaten/kota (dalam koridor).5 65.938.9 Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .469.7 64.758.749.994.6 4. Keterangan:*) Angka Sementara Tabel 3.262. Nusa Tenggara dan Papua Total Sumber : BPS (diolah) .Dengan memperhatikan masih sangat terbatasnya jaringan broadband nasional.8 2011 8.3 7.2 1.262. 1 2 3 4 5 Kawasan 2009 14.9 36.577.5 2.243.2 Sumber : BPS (diolah ) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 47 . Hingga tahun 2010.1 35. serta seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat.0 37.959. Hingga tahun 2014 diperkirakan 88 persen kabupaten/kota di Indonesia sudah dijangkau oleh jaringan broadband.806.9 3.487.6 2.1 6.2 2. Nusa Tenggara dan Papua Total 2009 8.4 1.823.368.932.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras Dalam rangka memperkuat perekonomian domestik dan peningkatan produksi pangan terutama padi. 1 2 3 4 5 Kawasan Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .740. Kondisi produksi padi menurut kawasan pada tahun 2009-2011 ditunjukkan dalam Tabel 3.696.4 2011* 15.959.573. percepatan pembangunan jaringan broadband menjadi salah satu agenda utama sektor komunikasi dan informatika. Adapun jangkauan jaringan broadband pada tahun 2011 mencapai 328 kabupaten/kota atau 66 persen dari total kabupaten/kota.204.664.464. maupun jaringan homepass hingga ke rumah tangga.7 4.4 2. pembangunan jaringan broadband sudah menjangkau 311 kabupaten/kota atau sekitar 63 persen dari total 497 kabupaten/kota dengan sebagian besar lokasi terdapat di bagian barat Indonesia.545.663. serta menjadi salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.7 37.11.277. Pembangunan di Wilayah Timur Indonesia akan dimulai pada tahun 2012.8 1.11 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.605. Pembangunan jaringan broadband dilakukan baik berbentuk jaringan backbone untuk menghubungkan antar pulau (antar koridor).8 36.8 4.469. 3.6 2.3 19.3 66. diperlukan jumlah penyediaan pangan (terutama padi) yang mencukupi di setiap tahunnya.103.2 35.200.824.091.3 4.801.4 20.

8 juta ton pada Tahun 2011.740.00% 1. penurunan produksi beras ini berasal dari penurunan produksi beras di Kawasan Jawa dan Bali dari 20.Pada Tabel 3.22).3 persen.23 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 67000 66500 66000 65500 65000 64500 64000 63500 63000 2009 Produksi Sumber : BPS diolah .00% -1.4 6. atau turun sebesar 5. Dimana.20% 2. Nusa Tenggara dan Papua Sumber: BPS (diolah) Sebagian besar produksi beras berasal dari Wilayah Jawa dan Bali. *) Keterangan: Angka Sementara 4 8. Gambar 3.00% 5. Gambar 3.389.22 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 5% Sumatera Jawa & Bali Kalimantan 4 7% 11% 24% 54% Sulawesi Maluku.6 ribu ton atau turun sekitar 1.1 persen.562 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 48 . kemudian disusul dengan Wilayah Sumatera sebesar 24 persen dan Wilayah Sulawesi sebesar 11 persen (Gambar 3.00% 66.469.00% -2.00% 3.00% 6.9 7.00% -1.00% 4.80% 65.9 juta ton pada Tahun 2010 menjadi 19.12 terlihat bahwa total produksi beras pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 409.10% 0.00% 2010 Pertumbuhan 2011* Konversi padi ke beras adalah dengan mengalikan produksi padi dengan 0.00% 64.9 3. atau mencapai 54 persen.

Dengan demikian.641.326 jiwa dan 241.182 jiwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 49 .06 juta ton pada tahun 2010 dan 33.05 juta ton pada tahun 20115.22 2010 100. tahun 2009 102.85 2009 102. Pada tahun 2012 produksi padi diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 4. total kebutuhan beras nasional pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 33.2 persen.24 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 106 105 104 103 Kg/Kapita/Th 102 101 100 99 98 97 96 95 Beras 2008 104.69 kg/kapita/tahun.22 kg/kapita/tahun dan pada tahun 2010 sebesar 100. Pada tahun 2011 turun menjadi 100. Penurunan produksi padi tersebut lebih disebabkan karena penurunan luas panen dan produktivitas akibat terjadinya kekeringan. Penurunan produksi padi tersebut terjadi terutama di Wilayah Jawa. 2012 ). Pada tahun 2011 produksi padi mengalami penurunan sebesar 1.76 2011 102. Adapun kebutuhan beras total per kapita (yaitu: konsumsi beras langsung di rumah tangga ditambah dengan konsumsi beras diluar rumah tangga) adalah sebesar 139.594.57 Sumber: Susenas BPS 5 Dihitung dengan asumsi jumlah penduduk pada tahun 2010 dan 2011 masing-masing sebanyak 237.85 kg/kapita/tahun. banjir serta serangan hama penyakit.82 2012 98.182.1 persen.8 persen dan 3.24). Berdasarkan data Susenas (Gambar 3. konsumsi beras langsung di rumah tangga pada tahun 2008 sebesar 104.76 kg/kapita/tahun.15 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 dan 137.90 juta ton (ARAM I.Untuk memperkuat perekonomian nasional daerah serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dan daerah. Perkembangan pertumbuhan produksi padi tahun 2009-2011 ditunjukkan pada Gambar 3.06 kg/kapita/tahun pada tahun 2011. Gambar 3. Pertumbuhan produksi padi pada tahun 2009 dan 2010 mengalami peningkatan masingmasing sebesar 6. total produksi beras maupun padi harus selalu dijaga dan meningkat setiap tahunnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan mendukung pencapaian Surplus Beras 10 juta ton di mulai pada tahun 2014.23.3 persen atau produksi mencapai 68.

1 Pendidikan Kualitas SDM merupakan faktor kunci dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah dan keunggulan daya saing lokal. yang ditandai oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta memiliki keterampilan teknikal memadai. nasional. (3) tingkat keberaksaraan dan (4) jumlah dan kualifikasi guru.000 6. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Produksi Sumber: BPS (diolah) konsumsi 3. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.7. (2) jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk. Provinsi yang memiliki surplus beras cukup besar adalah Sulawesi Selatan.000 3.Gambar 3. yang menuntut kemampuan daya saing tinggi. Terkait dengan kualitas pendidikan. Kemudian. terdapat 15 provinsi yang jumlah produksi berasnya lebih kecil dari jumlah kebutuhannya. maupun global.000 5.25 menunjukkan produksi dan kebutuhan beras di masing-masing provinsi pada tahun 2011. beberapa indikator penting perlu dilihat yaitu: (1) rata-rata lama sekolah. Ketersediaan SDM bermutu sangat menentukan kemampuan suatu daerah dalam memasuki era ekonomi pasar bebas.06 kg. Perhitungan kebutuhan beras menggunakan asumsi konsumsi per kapita rata-rata sebesar 137. 50 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .000 4. Pendidikan terutama pada jenjang menengah dan tinggi mutlak diperlukan untuk mendukung pengembangan SDM dan tenaga kerja yang berdaya saing tangguh dalam menghadapi kompetisi yang ketat baik di tingkat lokal.000 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. peran pendidikan sangat penting dan strategis dalam upaya melahirkan SDM berkualitas. Gambar 3.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3. Jawa Tengah.000 2. Untuk itu. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.25 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 7. Sumatera Selatan.000 1.

81 8.00 Sumber: Susenas.92 tahun pada tahun 2010. Data persebaran angka rata-rata lama sekolah menurut provinsi menunjukkan bahwa capaian rata-rata lama sekolah penduduk di Indonesia masih cukup bervariasi.27 tahun (Gambar 3.82 7.38 7.58 8.00 4. Hal ini menandakan rata-rata tingkat pendidikan penduduk adalah pada jenjang SMP/sederajat kelas 2.09 tahun pada tahun 2003 menjadi 7. 2010 2.16 9.92 7.41 tahun atau setingkat dengan jenjang SMA/sederajat kelas 1. rata-rata lama sekolah penduduk di 19 provinsi sudah berada di atas rata-rata nasional atau lebih dari 7.84 7.24 7.59 9.45 7.00 12.24 7. Sebaliknya.32 8.21 8.00 6.07 9.27 0.75 7.65 7.11 6.41 9.62 Tahun 6.92 tahun.85 8. Pembangunan bidang pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia.Rata-rata Lama Sekolah Indikator pertama kualitas pendidikan adalah rata-rata lama sekolah (average years of schooling).00 8. yang antara lain ditandai dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas dari 7.00 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 51 .25 8. rata-rata lama sekolah penduduk di Provinsi Papua masih berada di tingkat terendah yaitu 6.48 8.02 8.00 10. Gambar 3.82 6.00 7.84 7.02 8. Rata-rata lama sekolah menunjukkan rata-rata jumlah tahun efektif bersekolah yang dicapai penduduk berusia 15 tahun ke atas.96 7.26 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 DKI Jakarta Kepulauan Riau Papua Barat DI Yogyakarta Maluku Sulawesi Utara Sumatera Utara Kalimantan Timur Aceh Riau Sumatera Barat Maluku Utara Banten Bengkulu Bali Sulawesi Tenggara Jawa Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Tengah INDONESIA Sulawesi Selatan Jambi Sumatera Selatan Lampung Kalimantan Selatan Bangka Belitung Gorontalo Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Papua 10.36 8.11 8. Data yang sama juga menunjukkan bahwa penduduk di Provinsi DKI Jakarta telah mencapai rata-rata lama sekolah paling tinggi yakni 10. BPS.26).99 6.89 8. Pada tahun 2010.83 8.

Gambar 3. Bangka Belitung Kalimantan Tengah Gorontalo Jawa Timur Papua Lampung Jawa Tengah Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tidak/ Belum sekolah Sumber: Susenas 2010 Belum Tamat SD SD-SMP/ sederajat SM .27 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 PT 6% Tidak/Belum Sekolah 6% Belum Tamat SD 19% SMP/Sederajat 18% SD/Sederajat 31% SMA/Sederajat 20% Sumber: Susenas 2010 Gambar 3.28 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 DKI Jakarta Kep.PT/ sederajat 52 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Riau DI Yogyakarta Papua Barat Kalimantan Timur Bali Sulawesi Utara Maluku Sumatera Utara Aceh Banten Sumatera Barat Riau Bengkulu Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara INDONESIA Jawa Barat Jambi Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Kep.

84 100.82 9.55 4.66 13.79 1.28).59 15. (6) cacat dan lain-lain.53 1.46 11.92 5. Data persebaran pada tingkat wilayah menunjukkan bahwa disparitas angka melek aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas antar provinsi hampir tidak ditemukan.12 100.94 0.49 1.99 4.08 1.57 0.48 4.73 1.37 1.49 1.23 0.25 0.19 2.94 0. Data Susenas 2010 menunjukkan variasi alasan mengapa mereka tidak/belum pernah bersekolah atau tidak bersekolah lagi yaitu: (1) tak ada biaya.0 L+P 54.0 L 53.09 0.55 8.44 1.09 2.76 0.39 4.0 Total P 56.08 1.63 5. (2) menikah/mengurus rumah tangga (RT).45 4.44 13.18 3.72 18.27 0.97 2.30 5. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 53 . 2010 Perkotaan L 52.38 10.30 6. Hampir semua provinsi telah mendekati sasaran 100 persen.68 12.51 0. Angka melek aksara merupakan hasil proporsi antara jumlah penduduk usia tertentu yang bisa membaca dan menulis huruf latin dan lainnya dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sama.12 5. Tabel 3.73 2.89 9.08 100.0 L 53.71 100.64 13.49 2.44 3.71 2. beberapa provinsi seperti Sumatera Utara. Peningkatan partisipasi pada jenjang pendidikan dasar telah mendorong peningkatan kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis.20 4.08 0.25 0. kecuali Provinsi Papua.59 20.86 0. pendidikan tertingggi yang ditamatkan penduduk di sebagian besar provinsi relatif masih rendah yakni setingkat SD/SMP. Sementara alasan sekolah jauh berkaitan dengan ketersediaan jumlah sekolah yang minim atau kondisi geografis suatu daerah yang menyebabkan akses menjadi sulit.05 7.99 0.30 4. Alasan ketiadaan biaya berkaitan erat dengan faktor kemiskinan (kesulitan ekonomi).43 6.56 3.96 8.58 0.18 1.01 2.Bila diuraikan menurut provinsi.72 100.0 L+P 55.32 5. Namun.0 L+P 54.51 21.47 18.59 3.67 0.52 17.10 3.90 100.60 0.26 0.54 100.0 Perdesaan P 56.21 2. Kepulauan Riau.57 6. DKI dan DIY sudah memiliki persentase penduduk 10 tahun ke atas dengan pendidikan terakhir sekolah menengah (SM) ke atas yang cukup baik dan sudah di atas rata-rata nasional per jenjang pendidikan (Gambar 3. (3) sekolah jauh. (5) tidak diterima.00 100. (4) malu.69 2.02 1.52 6.06 2. Kalimantan Timur.13 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 Alasan Tidak/Belum Pernah Bersekolah atau Tidak Bersekolah Lagi Tidak ada biaya Bekerja/mencari nafkah Menikah/mengurus RT Merasa pendidikan cukup Malu karena ekonomi Sekolah jauh Cacat Menunggu Pengumuman Tidak Diterima Lainnya Jumlah Sumber : Susenas BPS.61 1.19 100.42 14.51 2.0 Kemampuan Keberaksaraan Penduduk Indikator ketiga kualitas pendidikan adalah kemampuan keberaksaraan yang ditandai oleh kemampuan membaca dan menulis.0 P 6.55 3.34 3.

Secara nasional.Gambar 3. data yang ada menunjukkan bahwa persentase guru menurut kualifikasi akademik bervariasi antar daerah (Gambar 3. Pada tahun 2011. upaya percepatan peningkatan profesionalisme guru akan tetap dilanjutkan dengan melakukan sertifikasi bagi 300 ribu guru dan meningkatkan kualifikasi pendidikan minimal S1/D4 bagi 134 ribu guru. jumlah guru yang telah berkualifikasi minimal S1/D4 meningkat dari 50. juga dilakukan peningkatan kualifikasi bagi 124 ribu guru yang belum berpendidikan S1/D4.91 Jumlah dan Kualifikasi Guru Indikator keempat kualitas pendidikan adalah guru berkualifikasi dan tersertifikasi. Riau Sumatera Barat Kalimantan Timur NAD Banten Jawa Barat Maluku Utara Sulawesi Tengah Gorontalo Kalimantan Selatan Jambi Kep. Dengan tetap berupaya melaksanakan program peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru.30).3 persen pada tahun 2010 menjadi 58 persen pada tahun 2011. UndangUndang No. minimal harus berpendidikan Diploma 4 atau Sarjana. temasuk sekolah keagamaan. 54 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .29 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sulawesi Utara DKI Jakarta Riau Kalimantan Tengah Maluku Sumatera Selatan Sumatera Utara Kep. Bangka Belitung Bengkulu Papua Barat Lampung INDONESIA Sulawesi Tenggara DI Yogyakarta Kalimantan Barat Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Bali Jawa Timur Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Barat Papua Barat Sumber: Susenas 2010 92. Pada tahun 2012. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru dari jenjang pra-sekolah sampai dengan sekolah menengah.

78 66.17 68.62 53.13 62. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 55 .14 53.32 65.71 70.14 20 40 60 80 100 Sumber: Kemendikbud.000 kelahiran hidup (2007).75 57.7.03 46.40 % 59.05 67.27 61.53 57.2 Kesehatan Status kesehatan dan gizi masyarakat terus menunjukkan kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup (UHH) menjadi 71.63 72. menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi sebesar 228 per 100.79 53.12 66.24 69.15 65.61 74.Riau Riau Sumatera Barat Bengkulu Sumatera Utara Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Jawa Tengah Jawa Barat Banten Bali DI Yogyakarta Jawa Timur DKI Jakarta 0 77.93 68.000 kelahiran hidup (2007).61 62.71 Rata-Rata Nasional 57.Gambar 3.1 tahun (2011).39 60.63 69.15 40.30 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 Maluku Kalimantan Barat NTT Bangka Belitung Kalimantan Tengah Lampung Maluku Utara Papua Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Papua Jambi Gorontalo Sulawesi Utara Sumatera Selatan Aceh NTB Kep.56 51.32 49. 2009 3.05 74.62 69.65 69.20 66.92 61. menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi sebesar 34 per 1.01 57.

Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 menunjukkan bahwa dalam periode 10 tahun (2000–2010).2 80 60 40 20 Maluku Utara Maluku Sulawesi Tengah Papua Barat Kalimantan Tengah Papua Sulawesi Tenggara Gorontalo Jambi Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Banten Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Jawa Barat Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Bengkulu Indonesia Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Riau Sumatera Utara NAD Jawa Tengah Jawa Timur Kep. Upaya ini menjadi sangat penting mengingat jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah akan menjadi beban pembangunan. Yogyakarta Sumber: Riskesdas.45 persen menjadi 1. Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.6 juta jiwa pada tahun 2010 (SP 2010).49 persen dan secara absolut jumlah penduduk meningkat sebanyak 32.6 persen di Provinsi Maluku Utara (Gambar 3. Berdasarkan data Riskesdas (2010).8 juta jiwa pada tahun 2000 (SP 2000) menjadi 237.31 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 100 82. upaya yang terbukti efektif untuk menurunkan AKI yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih terus meningkat dari 77.6 persen di Provinsi DI Yogyakarta diikuti Provinsi Bali. Selain pembangunan kesehatan.34 persen (2009) menjadi 82. secara umum cakupan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian timur lebih rendah jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia bagian barat.2 persen (2010). 56 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . sebaliknya penduduk besar dengan kualitas baik akan menjadi modal pembangunan. upaya pengendalian kuantitas penduduk yang dilaksanakan melalui Program Keluarga Berencana (KB) berkontribusi signifikan di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.31).5 juta jiwa. Gambar 3.9 persen (2010) dan menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) menjadi sebesar 35. 2010 Sementara itu. Bangka Belitung DKI Jakarta Kepulauan Riau Bali DI.6 persen (2010). laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia meningkat dari 1. Namun demikian. sementara capaian terendah sebesar 26. yaitu dari 205.menurunnya prevalensi kekurangan gizi menjadi sebesar 17. disparitas cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih cukup lebar. Capaian tertinggi sebesar 98.

89 0 Sumber: Riskesdas. lebih tinggi dari kunjungan keempat yaitu sebesar 67.87 persen (Riskesdas.6 71.7 82. 2010 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Pelayanan antenatal (antenatal care) juga penting untuk memastikan kesehatan ibu selama kehamilan dan menjamin ibu melakukan persalinan ditolong tenaga kesehatan.44 71.29 63.66 66.13 52.53 52.43 75.1 45.23 57.96 42.86 74.22 63.23 35.3 persen.84 62.8 persen dan yang mendapat imunisasi campak mencapai 74.58 65. cakupan imunisasi lengkap pada anak usia 12-23 bulan terus meningkat mencapai 53.18 74.9 50. Kunjungan ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada trimester pertama kehamilan (K1) mencapai 72.32 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 Papua Papua Barat Kalimantan Timur DKI Jakarta Sulawesi Tengah Kep. Bangka Belitung Maluku Utara Kalimantan Tengah Banten Kalimantan Barat Kepulauan Riau Bengkulu Sulawesi Barat Maluku Riau Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Lampung Gorontalo Sulawesi Tenggara INDONESIA Sulawesi Selatan Sumatera Barat Jambi Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat DI Yogyakarta NAD Jawa Barat Bali Nusa Tenggara Timur Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Utara 31 33. upaya untuk mencapai target penurunan kematian bayi menjadi 24 per 1.87 68 68. yang mencapai 84.93 77.83 46.23 77.5 55.07 50.54 84.4 74.9 persen. Sedangkan cakupan pelayanan antenatal yang terendah terdapat di Provinsi Papua yang hanya mencakup sebesar 31.91 65. 2010).Gambar 3.75 73.68 67. Selanjutnya. Cakupan pelayanan antenatal tertinggi terdapat di Sulawesi Utara.4 persen Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 57 . Secara nasional.0 persen.73 43.01 52.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 juga terus dilakukan melalui perbaikan status kesehatan anak.

kunjungan ke pelayanan kesehatan pada saat bayi berumur 6-48 jam (kunjungan neonatal pertama/KN1) mencapai 71. 2010 Gambar 3.9 persen.33 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 (Riskesdas. yang terdiri dari gizi kurang sebesar 13.34 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 71. 2010).4 persen (2007) menjadi 17.8 Papua Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah NAD Riau Sulawesi Tenggara Papua Barat Sumatera Selatan Maluku Utara Bengkulu Maluku Sumatera Barat Banten Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Jawa Barat Kalimantan Selatan DKI Jakarta Indonesia Gorontalo Kalimantan Tengah Kep.4 persen (Riskesdas.100 120 100 20 20 40 60 80 40 60 80 0 0 Sumber: Riskesdas. Kemajuan juga terjadi pada upaya penurunan 58 Gambar 3. Bangka Belitung Kalimantan Selatan Jawa Timur Jambi Kepulauan Riau Sulawesi Utara Jawa Tengah DKI Jakarta Bali DI Yogyakarta .0 persen dan gizi buruk sebesar 4. 2010 Sumber: Riskesdas. 2010).4 53. Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 18.9 persen (2010). Bangka Belitung Jambi Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Utara Jawa Timur Bali Jawa Tengah Kepulauan Riau DI Yogyakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Maluku Utara Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Gorontalo Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Banten Jawa Barat Riau Sulawesi Selatan Sumatera Selatan INDONESIA Lampung NAD Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Bengkulu Sumatera Barat Sumatera Utara Kep. Sementara itu.

000 penduduk sedangkan persentase kasus baru TB Paru (BTA positif) yang ditemukan dan yang disembuhkan masingmasing mencapai 75. 2011).22 persen (Kemkes.000 penduduk (2011).kekurangan gizi kronis yang diukur dengan prevalensi anak balita yang pendek ( stunting).2 49.9 36.6 42. Sementara itu Kepulauan Riau dengan hanya 404 kasus komulatif menduduki urutan ke lima. Sampai dengan tahun 2011.3 persen (Kemkes.35 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 60 50 40 30 20 22.4 41.53 persen (Susenas.9 35.6 26.5 37. sedangkan DKI Jakarta dengan angka kumulatif yang jauh lebih besar hanya pada urutan ketiga. prevalensi HIV pada populasi dewasa terus dikendalikan untuk berada di bawah 0. Gambar 3.19 persen dan 55. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 59 . Sementara itu. menurun dari 36.5 persen.2 58. prevalensi TB mencapai 289 per 100. angka kumulatif kasus per 100. 2010 Pendek Pendek+ Sangat pendek Laporan kasus AIDS dapat disampaikan bahwa secara kumulatif sampai dengan Desember 2011 jumlah kasus AIDS sebanyak 29.6 33.9 38. Papua menduduki urutan pertama. penyediaan akses air minum dan sanitasi layak masih rendah yaitu sebesar 44. Dengan dipengaruhi oleh jumlah penduduk.4 30.6 35.1 29. Bangka Belitung Kalimantan Timur Bali Maluku Utara Jambi Bengkulu Riau Sumatera Barat Banten Jawa Barat Jawa Tengah Kalimantan Selatan Indonesia Jawa Timur Sulawesi Tengah Lampung Maluku Sulawesi Tenggara NAD Sulawesi Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Gorontalo Sumatera Selatan Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Papua Barat Nusa Tenggara Timur 10 0 Sangat pendek Sumber: Riskesdas. Angka penemuan kasus malaria yang diukur dengan annual parasite index (API) dapat diturunkan dari 1.8 33.7 40.8 persen (2007) menjadi 35.5 26.3 35.2 32.000 penduduk menunjukkan keadaan yang berbeda karena sebaran jumlah penduduk per provinsi yang sangat beragam.75 per 1. yaitu mencapai sebesar 0.879 kasus dengan AIDS case rate tertinggi adalah Papua sedangkan AIDS case rate secara nasional adalah 12.3 29.6 39.6 persen (2010).3 37. maka karena jumlah penduduknya yang sangat kecil.26 persen dan 86. Yogyakarta DKI Jakarta Kepulauan Riau Sulawesi Utara Papua Kep.3 48.8 28.0 29.6 32.3 29.9 27.598 kasus. Selanjutnya.96 (2010) menjadi 1.5 33. terkait aspek penyehatan lingkungan.8 38. Dari sisi lain.51.3 40. lebih tinggi dibanding dengan Jawa Timur dengan 4. 2011).4 DI.2 36.9 39.2 31. 2010).

592 orang penderita dan hanya Provinsi DKI Jakarta yang tidak ditemukan kejadiannya.000 penduduk saja. Pada ketiga provinsi ini saja proporsinya sudah mencakup hampir 63 persen dari seluruh kejadian pada tahun 2011.68 per 1. sebanyak 1. Bangka Belitung Maluku Utara Nusa Tenggara Barat Kepulauan Riau Sulawesi Barat Gorontalo NAD Sumatera Selatan Riau Sumatera Barat Jawa Barat Jawa Tengah Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Bali DKI Jakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 8613 8613 7914 6663 6661 6356 6355 6175 5028 3744 3523 3140 3136 2667 2450 2352 2331 2247 2045 1973 1430 957 743 517 196 88 45 14 7 0 . yaitu Nusa Tenggara Timur. Sementara itu. jumlah rumah sakit pemerintah meningkat menjadi 794. Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta.287 kejadian.75 per 1. dalam angka mutlak cukup besar. Terjadi penurunan yang signifikan dari tahun 1990 sampai 2011.645. Banten dan Nusa Tenggara Barat.Upaya pengurangan angka kejadian malaria sudah menunjukan keadaan yang positif. Dari jumlah tersebut. sedangkan rumah sakit swasta meningkat menjadi 838 rumah sakit dengan rasio tempat tidur (TT) rumah sakit terhadap penduduk sebesar 68. Gambar 3.000 penduduk (Profil Kesehatan. Keragaman angka kejadian malaria sangat besar. yaitu dari 4. yaitu 256.005 puskesmas dengan rasio sebesar 3. yaitu Nusa Tenggara Timur.920 tergolong puskesmas perawatan dan 6.88 TT per 100.36 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 80000 70000 60000 50000 25287 69465 66577 40000 30000 20000 10000 0 Sumber: Kemenkes.000 penduduk beresiko menjadi tinggal 1. Angka kejadian malaria berkisar dari yang terendah (di luar DKI) yaitu Bali dengan hanya 7 kejadian dan tertinggi adalah 3 provinsi.577 dan 25. 2010). Rasio tempat tidur Rumah Sakit (per 100 ribu penduduk) yang terbesar adalah di Provinsi DKI Jakarta. 2011 Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sebagai salah satu komponen untuk perbaikan upaya kesehatan juga terus ditingkatkan. sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Sulawesi Barat.000 penduduk. Jumlah puskesmas pada tahun 2010 mencapai 9. Papua dan Papua Barat. 60 Nusa Tenggara Timur Papua Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Maluku Kalimantan Tengah Sumatera Utara Bengkulu Sulawesi Utara Jambi Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Kep. Namun demikian. namun terkonsentrasi pada 3 provinsi endemik. 66. Papua dan Papua Barat dengan masing-masing 69.79 per 100.085 termasuk puskesmas non-perawatan.

766 138. Pekerja di sektor formal mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan keterampilan di tempat kerja mereka (keterampilan yang memungkinkan mereka mendapatkan pekerjaan di sektor formal) dan akses untuk memperoleh pelatihan sehingga mereka mempunyai posisi yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.538 40 30 20 10 0 3.49 62.704 2.000 6.737 Gambar 3.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.110 120.74 69.25 60.000 63.40. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 61 .077 40.000 1.920 149.000 5.518 5.000 4.97 80 70 60 50 5. yang mencerminkan ‘surplus’ tenaga kerja.Gambar 3.000 7.92 62.44 70. Sedangkan komposisi pekerja formal dan informal untuk seluruh Provinsi digambarkan pada Gambar 3.000 2.015 8.231 136.497 2.288 100.1 Tenaga Kerja Per Provinsi Pasar kerja Indonesia dapat digambarkan sebagai suatu perekonomian dualistis yang ditandai oleh sektor modern atau formal yang relatif kecil dan sektor tradisional atau informal yang sangat besar. Sektor formal rata -rata memberikan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik kepada pekerja dibandingkan dengan sektor informal yang dipadati oleh pekerja.27 65.683 2.451 142.000 60.551 6.000 132.005 8.000 6.680 166.000 9. sebagian besar pekerja (tetapi tidak semua pekerja) di sektor informal merupakan kegiatan-kegiatan yang rendah tingkat produktivitasnya dengan pendapatan pekerja informal yang umumnya rendah dan kurang menentu.000 2.8.000 140.707 80.000 Penduduk Tahun 2010 180.39. 2010 Rasio Sumber: Profil Kesehatan. 2010 3.085 7.438 2. Sebaliknya.000 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah TT Sumber: Profil Kesehatan.669 8.033 6.000 8.548 8.234 9. Pertumbuhan pekerja formal dan informal tahun 2006-2011 dan jumlah pekerja formal dan informal dari waktu ke waktu dapat digambarkan pada Gambar 3.592 5.000 20.000 163.38 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Jumlah Puskesmas 2.000 160.37 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 10.

00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase Pekerja Informal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Informal 2011 Persentase Pekerja Formal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Formal 0.39 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 100% pertumbuhan 100.00% 80.05 -0.00% 40.Gambar 3. Babel 2008 Kep. Babel 2011 Lampung 2008 Lampung 2011 Bengkulu 2008 Bengkulu 2011 Sumatera Selatan 2008 Sumatera Selatan 2011 Jambi 2008 Jambi 2011 DKI Jakarta 2008 DKI Jakarta 2011 Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2011 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2011 DI Yogyakarta 2008 DI Yogyakarta 2011 Jawa Timur 2008 Jawa Timur 2011 Banten 2008 Banten 2011 Bali 2008 Bali 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Nasional 2008 Nasional 2011 NTB 2008 NTB 2011 NTT 2008 NTT 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Barat 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Tengah 2011 Kalimantan Selatan 2008 Kalimantan Selatan 2011 Kalimantan Timur 2008 Kalimantan Timur 2011 Sulawesi Utara 2008 Sulawesi Utara 2011 Sulawesi Tengah 2008 Sulawesi Tengah 2011 Sulawesi Selatan 2008 Sulawesi Selatan 2011 Sulawesi Tenggara 2008 Sulawesi Tenggara 2011 Sulawesi Barat 2008 Sulawesi Barat 2011 Gorontalo 2008 Gorontalo 2011 Maluku 2008 Maluku 2011 Maluku Utara 2008 Maluku Utara 2011 Papua 2008 Papua 2011 Papua Barat 2008 Papua Barat 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Formal Sumber: Sakernas.40 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Nasional 2008 Nasional 2011 NAD 2008 NAD 2011 Sumatera Utara 2008 Sumatera Utara 2011 Sumatera Barat 2008 Sumatera Barat 2011 Riau 2008 Riau 2011 Kep.2 0.00% 60. Riau 2011 Kep.00% 20. BPS (diolah) Informal Formal Informal 62 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 0. Riau 2008 Kep.1 Sumber: Sakernas Gambar 3.05 0 -0.00% 0.15 0.

00 26.86 36.39 9.53 Jawa Barat 10.15 8.73 22.89 1.34 11.52 46.6 4.04 10. Pergerakan upah di Indonesia. komponen penentuan Upah Minimum Regional (UMR) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 63 .0 4.00 10.97 14. Sedangkan yang masih kosong. kekakuan pasar kerja.8.5 10. belum menetapkan UMP.0 10.15 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 Tahun Jawa Timur 22.62 22.11 6.64 12.10 0.37 19.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi Salah satu ukuran tingkat daya saing Negara adalah efisiensi pasar tenaga kerja.47 8.47 11.5 8.14 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 No.81 6.53 11.95 33.04 38.43 28.9 9.60 6.71 15.01 9.38 18.00 27.42 13.6 6.06 6.60 13.20 49.11 35.39 19.24 7.00 25.55 10.00 9.5 6.92 32.15 6.79 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 10.65 0.03 5.94 31.18 10.5 11.37 8.5 15.36 10.6 7.8 2.01 Banten Jawa Tengah 20. Produktivitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah.00 11.78 6. Menurut Indeks Daya Saing dalam Global Competitiveness Report.81 49.48 Sumber: BPS (diolah) Keterangan: Angka yang berwarna merah menunjukkan angka persentase perubahan UMP yang lebih rendah dari laju inflasi tahun sebelumnya. fleksibilitas penentuan upah dan beberapa indikator pasar kerja lainnya.39 9.1 6.90 DKI Jakarta 23.11 9.97 3.26 6.00 26.00 15. outsourcing) Praktek penerimaan dan pemutusan kerja Fleksibilitas penentuan upah Kerjasama hubungan karyawan pengusaha 2008 117 87 19 79 19 2009 119 82 34 92 42 2010 127 100 38 98 47 2011 131 104 51 113 68 Sumber: IMD World Competitiveness Yearbook Tabel 3.93 10.89 Sulawesi Selatan 35.59 15.40 5.07 -0.27 DIY Sumatera Utara 20.48 14. Tabel 3.06 2.84 6. karena masih ditandai oleh berbagai hal.59 11.00 22. kontrak Kerja. lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas.85 15.94 8.33 6.00 10.71 6.40 17.2 10. 1 2 3 4 5 Indikator Indeks Daya Saing Biaya redundansi Kekakuan lapangan kerja (PHK.3.52 14.00 0. diantaranya adalah tingginya biaya redundansi.23 6.00 10. Sebaiknya.14 50.35 12.68 14.51 9.96 3.09 Laju inflasi tahun sebelumnya 2.84 13.59 13.67 9.36 11.56 11.1 14.57 2. pasar kerja Indonesia belum cukup efisien.68 4.1 4.09 20.14 9.38 11.31 15.

5 2012 1.5 2012 1.5 2011 1. seperti Banten dan Jawa Tengah.44 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 0.41 UMP Wilayah Sumatera NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.0 Juta Rupiah Juta Rupiah Gambar 3.0 2.0 1.5 2.0 2012 1.42 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 0.0 2010 Sumber: BPS 2011 0. Perbedaan tingkat upah yang cukup besar antara Banten dan Jawa Tengah dalam jangka menengah dan panjang akan merugikan posisi Banten.0 2010 Sumber: BPS 0. Terdapat indikasi adanya relokasi industri ke Provinsi Jawa Tengah. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Gambar 3. Berikut digambarkan persentase perubahan UMP dibandingkan dengan laju inflasi di provinsi unggulan industri.5 Juta Rupiah 0.0 Juta Rupiah Tiap-tiap daerah memiliki tingkat upah yang tidak sama. Riau Kep. dimana upah di Provinsi Banten lebih tinggi. Gambar 3. Perbedaan rata-rata upah yang cukup besar juga dialami oleh 64 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 2010 Sumber: BPS 0. terutama industri yang tergolong padat tenaga kerja.43 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gambar 3.0 2011 2012 1.tidak hanya melihat pada sisi kenaikan inflasi saja.0 1.0 2010 Sumber: BPS 2011 0. tetapi perlu diimbangi dengan aspek produktivitas dan pencapaian target pekerjaan.

44 2010 3. Terkecuali sektor pertanian di tahun 2007 dan sektor jasa di tahun 2008. Pada saat yang bersamaan terdapat keperluan untuk memastikan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 65 .usaha mikro dan kecil dengan usaha menengah dan besar.70 Sumber: BPS (diolah) Perekonomian nasional akan berkembang lebih tinggi untuk memastikan bahwa penduduk yang lebih berpendidikan dan berketerampilan memiliki akses ke pekerjaan yang baik dan lebih produktif. tahun 2010.54 2008 6. Sektor jasa telah memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan produktivitas.47 0. Berikut gambaran upah minimum provinsi yang dikelompokkan ke dalam 4 bagian.24 1.07 0.20 0. sebagaimana digambarkan sebelumnya.37 3.29 1.09 0.8.31 2007 -2.60 2011 4. Peningkatan ini didorong oleh adanya perpindahan lapangan kerja dari aktivitas bernilai tambah rendah ke aktivitas bernilai tambah lebih tinggi.45 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 8 Persen (%) 6 4 2 0 -2 -4 PERTANIAN INDUSTRI JASA DAN LAINNYA 2006 5. Menjadi tantangan ke depan adalah mengupayakan agar upah minimum meningkat sebesar peningkatan inflasi dan mendorong upah individu melalui hasil negosiasi antara serikat pekerja dan pengusaha.78 4. 3.3 Produktivitas Tenaga Kerja Kemampuan tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam pasar kerja salah satunya ditunjukkan oleh meningkatnya produktivitas tenaga kerja. Gambaran pertumbuhan produktivitas secara nasional menurut 3 sektor utama. pertumbuhan produktivitas tenaga kerja untuk seluruh sektor perekonomian menunjukkan peningkatan.35 -2.79 0.64 6. Gambar 3. diikuti pula dengan produktivitas per pekerja tahun 2005 dan 2010 untuk seluruh Provinsi di Indonesia ditunjukkan sebagai berikut. 2011 dan 2012.05 1.15 2009 5. Secara berarti dalam lima tahun terakhir ini.

sekitar 3 persen di antaranya merupakan profesional dengan tingkat pendidikan sarjana. di seluruh provinsi di Indonesia mayoritas tenaga kerjanya merupakan semiskilled. Gambar 3. DI Yogyakarta dan Kepulauan Riau memiliki proporsi pekerja berpendidikan Universitas yang paling tinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya. Kalimantan Barat dan Jateng.00 60.00 90. sedangkan sekitar 5 persen di antaranya semi-skilled worker berpendidikan diploma dan kejuruan.00 80. Bangka Belitung Kep.00 30. 66 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 - Sumber: BPS (diolah) Proporsi tertinggi untuk pekerja dengan pendidikan SD/SMP terdapat di Provinsi NTT.46 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 100.00 20. dengan persentase lulusan SMP dan SMU yang relatif besar.00 10. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA PDRB/TK 2005 PDRB/TK 2010 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .00 50. Secara nasional.00 70. Sementara itu.00 40. Provinsi DKI Jakarta. peran pemerintah menjadi sangat penting untuk memacu produktivitas pekerja baik secara langsung yaitu menciptakan lingkungan kebijakan yang kondusif serta tidak langsung yaitu meningkatkan kualitas dan keterampilan angkatan kerja. Oleh sebab itu. Sebaliknya.pekerja selain mempunyai pendidikan yang lebih tinggi juga memperoleh pelatihan yang lebih baik.

Riau Kep. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0% 20% 40% 60% 80% 100% Gambar 3. Riau Kep. BPS Sumber: Sakernas.47 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. mendorong terwujudnya iklim investasi yang kondusif. Di era kompetisi global.Gambar 3. BPS (diolah) 3.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik Birokrasi memiliki peranan yang sangat strategis untuk mendukung manajemen pemerintahan yang efektif. akuntabel dan melayani kepentingan publik.48 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. mendukung terwujudnya daya saing perekonomian nasional di tengah persaingan global. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 10 20 30 40 50 60 ≤ SMP SMU SMK Diploma Universitas Profesional Semi Skill % Sumber: Sakernas. menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. bersih. peranan birokrasi menjadi lebih signifikan untuk memberikan respon berupa formulasi dan implementasi kebijakan secara tepat. efisien. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 67 .

Berdasarkan data per 1 Januari 2012. Januari 2012 D1-D3 S1/D4-S3 68 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . penempatan. 3.49.818 orang. sebagai gambaran perkembangan akuntabilitas kinerja birokrasi dan (5) Perkembangan politik Indonesia.570. (2) Penerapan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) atau e-procurement.9. Adapun komposisi PNS per provinsi berdasarkan tingkat pendidikan sebagaimana digambarkan dalam Gambar 3. berdasarkan kebutuhan organisasi dan kompetensi yang ada. (3) Pencapaian opini BPK atas audit LKPD. Gambar 3. sehingga peta jabatan dan profil kebutuhan pegawai belum tersedia secara rinci dan valid. masih sulit untuk menentukan jumlah kebutuhan pegawai secara tepat pada suatu instansi. yang mencerminkan kualitas pengelolaan keuangan daerah secara tertib dan upaya menuju terwujudnya birokrasi yang bersih. promosi dan mutasi dan evaluasi kinerjanya masih harus dibenahi. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat SD-SMA Sumber: BKN. penataan PNS mulai dari sistem rekruitmen. kompetensi dan profesionalisme. diharapkan dapat mencerminkan kualifikasi.1 Kualitas SDM Aparatur Salah satu bagian penting dalam pelaksanaan reformasi birokrasi adalah pengembangan manajemen SDM Aparatur untuk mewujudkan aparatur negara yang profesional.Uraian berikut ini menggambarkan peta kondisi birokrasi di daerah ditinjau dari beberapa indikator. khususnya dilihat dari aspek tingkat pendidikan. (4) Implementasi SAKIP. Bangka Belitung Kep. yakni: (1) Kualitas SDM Aparatur. jumlah PNS berdasarkan daerah adalah sebanyak 4. Sampai saat ini.49 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 100% 80% 60% 40% 20% 0% NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. yang digambarkan melalui Indeks Demokrasi Indonesia serta angka pemilih dan angka partisipasi pemilih. Dalam rangka itu. sebagai salah satu indikator pelayanan dan transparansi dalam pengelolaan keuangan dilihat dari proses pengadaan barang dan jasa. Di sisi lain jumlah tenaga analis jabatan di K/L/pemda masih sangat terbatas.

Papua Barat 25 Prov.0 sudah 41.68 persen dari jumlah PNS. Yogyakarta Prov.23 persen dan PNS dengan pendidikan setara Sarjana ke atas sebesar 36.4 sudah 66. Jawa Timur Prov. Bali Prov. paling lambat pada tahun 2012.3 97 62.Melihat dari komposisi data tersebut terlihat bahwa PNS yang berpendidikan SLTA kebawah masih menempati persentase yang tertinggi yaitu 37. Provinsi DI Yogyakarta.1 sudah 95.0 sudah 100. NAD Prov. sedangkan PNS dengan tingkat pendidikan Diploma (1-3) sebesar 26.7 sudah 92.9. I. salah satunya dilakukan melalui penerapan pelaksanaan lelang secara elektronik ( e-procurement) berbasis web/internet dengan memanfaatkan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang dikembangkan LKPP dan diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang ada di instansi pemerintah. Reformasi dalam bidang pengadaan barang dan jasa. Maluku Utara 21 Prov. Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat.0 sudah 0.1 sudah 78.3 sudah 60. Provinsi Sulawesi Utara. 3. Provinsi Papua. termasuk dalam bidang pengadaan barang dan jasa.16 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Daerah Prov. Papua 24 Prov. dapat diinformasikan bahwa terdapat beberapa provinsi yang memiliki PNS berpendidikan SLTA ke bawah diatas 40 persen. Sumut Total (Rata-rata) Sumber: LKPP.7 sudah 35. Sulsel 28 Prov. Provinsi Jawa Timur.2 LPSE dan E-Procurement Upaya reformasi birokrasi dilakukan di berbagai bidang.0 No Daerah Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 60. Provinsi DKI Jakarta. Provinsi Sulawesi Tengah.1 sudah 92. Kepulauan Riau Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 43. Dilihat komposisi PNS yang berpendidikan SLTA ke bawah berdasarkan provinsi.0 sudah 0.5 belum 9.0 sudah 14. Provinsi Kalimantan Timur. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bahwa Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Instansi Lainnya wajib melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik untuk sebagian/seluruh paket-paket pekerjaan.0 sudah 90.1 sudah 97.0 sudah 80. Sulbar 27 Prov. Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.0 sudah 33. Tabel 3. Kalteng Prov.0 sudah 85.6 sudah 41.7 sudah 63.8 18 Prov. Sulteng 29 Prov.1 sudah 91. Sumbar 32 Prov.0 sudah 86. DKI Jakarta Prov. Data Per April 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 69 . Jambi Prov. Banten Prov. yakni Provinsi Papua Barat.7 sudah 100. Lampung 19 Prov.0 sudah 100. Jawa Barat Prov. Maluku 20 Prov. Bangka Belitung Prov. D. NTB 22 Prov. Riau 26 Prov. Bengkulu Prov.3 sudah 3. Hal ini selaras dengan mandat Perpres No. Sumsel 33 Prov.6 sudah 100. Provinsi Sulawesi Selatan. Gorontalo Prov.7 sudah 60. Kaltim Prov. Jawa Tengah Prov.09 persen.0 sudah 50. Sulut 31 Prov. Kalbar Prov. Kalsel Prov. Sedangkan provinsi yang memiliki PNS dengan pendidikan setara S1 ke atas dengan persentase di atas 40 persen. antara lain Provinsi Gorontalo. Provinsi Maluku. NTT 23 Prov. Sultra 30 Prov.9 sudah 100.7 sudah 57.9 sudah 73.

Kalsel Prov. Dari 33 provinsi yang ada. Jawa Timur Prov. 32 provinsi (97 persen) telah memiliki LPSE. yaitu Provinsi Papua Barat. Bali Prov. Bangka Belitung Prov.4 0. Sulbar 27 Prov.9 44. Banten Prov. Jawa Tengah Prov. Sementara itu.4 95.0 53.87 persen) yang telah mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Papua 24 Prov.7 45.4 44. I. Sultra 30 Prov. Kepulauan Riau sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah Kab/Kota(%) 17. terdapat 2 provinsi yang belum mengimplementasikan.1 85.0 21.5 3. 31 provinsi (94 persen) telah mengimplementasikan e-procurement dalam proses lelang (operasional lelang).0 36. sebagian besar telah memiliki LPSE.3 50.3 60. Kaltim Prov. Data Per April 2012 70 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .17 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 No Daerah Status E-PROC Provinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Prov.0 0. Sumsel 33 Prov. Kalbar Prov. Hingga saat ini.2 50. Dari 497 kabupaten/kota yang ada di Indonesia.0 84.9 0.0 9. Riau 26 Prov. Kalteng Prov. Papua Barat 25 Prov.0 58. Sumut Total (Rata-rata) No Daerah Status E-PROC Provinsi sudah sudah belum sudah sudah sudah belum sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah 94% Kab/Kota(%) 42. Namun.0 40.9% Sumber: LKPP. Sulut 31 Prov.7 18 Prov. hanya 223 kabupaten/kota (44. Jambi Prov. Maluku 20 Prov. untuk kabupaten/kota. dari 33 provinsi.4 100. D.3 5.78 persen) telah memiliki LPSE. Jawa Barat Prov. Bangka Belitung dan DI Yogyakarta yang seluruh kabupaten/kotanya telah memiliki LPSE dan mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).4 57. Maluku Utara 21 Prov.6 21. Sementara itu. NAD Prov. perkembangan pembentukan LPSE tersebut belum sejalan dengan pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). hampir seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki LPSE.5 0.0 75. Bengkulu Prov. Dari total 497 kabupaten/kota. Hingga April 2012.Perkembangan pembentukan LPSE di daerah memperlihatkan hasil yang cukup baik.0 33. NTB 22 Prov.0 100. yaitu provinsi Papua Barat dan Maluku Utara.5 92. Sulteng 29 Prov.3 82. Tabel 3. DKI Jakarta Prov.9 63. Sedangkan untuk pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).0 25. Hanya 1 provinsi yang belum memiliki LPSE. Gorontalo Prov. baru 2 provinsi yaitu Provinsi Kep. Yogyakarta Prov. terdapat 2 provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Maluku yang seluruh kabupaten/kotanya belum memiliki LPSE dan belum mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). sebanyak 312 kabupaten/kota (62. Sumbar 32 Prov. Sulsel 28 Prov.0 16. NTT 23 Prov. Lampung 19 Prov.

Provinsi DI Yogyakarta. Sedangkan yang mendapatkan opini WDP sebanyak 252 pemda atau 65 persen. Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). Selanjutnya terdapat 22 provinsi atau 67 persen yang mendapatkan opini WDP dan yang mendapatkan opini TMP sebanyak 15 persen. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion).3. opini WDP atas 341 LKPD (66 persen). yakni Provinsi Riau. perkembangannya lebih baik dibandingkan dengan pemerintah kabupaten. Dari total 516 LKPD.50 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Sumber: BPK. Gambar 3. yaitu a. dari 33 pemprov yang menyerahkan LKPD. b. Provinsi Kepulauan Riau. Untuk pemerintah kota.3 Opini LKPD Terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2010. terdapat 67 kota atau 72 persen yang mendapatkan opini WDP. Untuk kabupaten. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Jumlah Kab/Kota Jumlah LKPD 71 . Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). d. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Provinsi Jawa Timur. Maret 2012 6 Terdapat empat kategori hasil penilaian BPK. BPK memberikan opini WTP atas 34 LKPD (7 persen). Selebihnya. c. Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan. Di level provinsi. baik untuk level provinsi maupun kabupaten/kota. TW atas 26 LKPD (5 persen) dan TMP atas 115 LKPD (22 persen). IHPS II 2011.9. hasil pemeriksaan BPK selama tahun 2011 atas 516 LKPD dari keseluruhan 524 pemerintah daerah di Indonesia memperlihatkan bahwa mayoritas pemerintah daerah di Indonesia masih mendapatkan opini 6 WDP . Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). terdapat 18 persen yang mendapatkan opini WTP atau sebanyak 6 provinsi. yakni terdapat 12 kota atau sebesar 13 persen yang berhasil mendapatkan opini WTP. Bangka Belitung Kep. terdapat 16 kabupaten atau baru sebesar 4 persen yang mendapatkan opini WTP.

IHPS II 2011. 72 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Kalimantan Barat TW . sekaligus untuk mengawal peningkatan kualitas reformasi birokrasi.51 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 35 30 25 20 15 10 5 0 11 5 NAD 1 Sumatera Utara Sumatera Barat 1 1 1 2 17 2 18 1 11 12 1 15 1 8 3 Bengkulu 3 7 5 Lampung 8 Kep. Kabupaten Intan Jaya. Maret 2012 WDP TMP 3. Bangka Belitung 7 1 1 DKI Jakarta Jawa Barat 2 Jawa Tengah 4 1 DI Yogyakarta 6 26 2 4 3 Banten 1 2 7 Bali 33 1 3 8 Nusa Tenggara Barat 14 2 13 4 4 7 Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan 1 7 6 7 2 1 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah 19 2 18 10 2 Sulawesi Selatan 7 5 1 Sulawesi Tenggara 6 1 Gorontalo 6 Sulawesi Barat 10 9 1 Maluku Utara Maluku 5 Papua 1 7 3 Papua Barat 32 5 1 8 Nusa Tenggara Timur 13 3 5 Kalimantan Timur Jambi Sumatera Selatan Kep. 33 pemerintah daerah telah menyampaikan laporan keuangannya. Implementasi ini. Untuk level provinsi. Gambar 3.9. Adapun rekapitulasi capaian opini atas LKPD secara rinci diilustrasikan sebagaimana gambar di bawah ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh daerah telah memiliki kepatuhan yang tinggi untuk menyusun dan menyampaikan laporan keuangan setiap tahunnya. mayoritas pemerintah daerah telah menyerahkan laporan keuangan pemerintah daerah. Keempat daerah tersebut berada di Provinsi Papua. Riau Riau Jawa Timur WTP Sumber: BPK. khususnya birokrasi yang berorientasi pada hasil (outcome oriented). Hanya saja. yakni Kabupaten Deiyai.4 Implementasi SAKIP Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk memperkuat dan meningkatkan akuntabilitas kinerja.Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II tahun 2011 yang diterbitkan BPK pada bulan maret 2012. Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Puncak. Implementasi SAKIP dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitas akuntabilitas kinerja seluruh instansi pemerintah dan melihat komitmen penerapan manajemen pemerintahan berbasis kinerja. untuk level kabupaten/kota terdapat 4 (empat) kabupaten yang dikarenakan statusnya sebagai daerah otonom baru sehingga belum berkewajiban menyusun dan menyampaikan laporan keuangan.

Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan. C >30-50 6. perlu banyak sekali perbaikan dan perubahan yang sangat mendasar. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 73 . sebanyak 422 dari 497 kabupaten/kota telah menyampaikan laporan dan dari jumlah itu hanya 180 kabupaten/kota yang dinilai. perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar Agak kurang. melalui koordinasi Kementerian PAN dan RB. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban. sebagian perubahan yang sangat mendasar. Adapun rincian skor LAKIP untuk masingmasing provinsi sebagaimana Tabel 3. atas penyelenggaraan manajemen kinerja pada birokrasi pemerintah. perlu beberapa perbaikan tidak mendasar. berbudaya kinerja. perlu banyak perbaikan. Sistem dan tatanan tidak dapat diandalkan untuk manajemen kinerja. pada seluruh instansi pemerintah pusat (Kementerian/Lembaga) dan pemerintah daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). Dari jumlah itu hanya 30 provinsi yang dievaluasi dikarenakan 2 provinsi lain terlambat dalam menyampaikan laporan. perlu banyak perbaikan. CC >50-65 5. 4.19. memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar. manajemen kinerja yang andal. D 0-30 Sumber: Kementerian PAN & RB. sebanyak 32 dari 33 provinsi telah menyampaikan laporan. berkinerja tinggi dan sangat akuntabel Akuntabel. berkinerja baik. 2. dilakukan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Penilaian diprioritaskan bagi daerahdaerah yang pada tahun sebelumnya belum dinilai. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja dan perlu sedikit perbaikan. 2012 Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tahun 2011. 3. Adapun kategorisasi penilaian sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 3. Tabel 3. Akuntabilitas kinerjanya cukup baik. (2) memberikan rekomendasi untuk peningkatan dan penguatan akuntabilitas instansi pemerintah dan (3) menyusun peringkat hasil evaluasi guna kepentingan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur Negara. Evaluasi ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kelemahan dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja di lingkungan instansi pemerintah (SAKIP). Predikat AA A B Nilai Absolut >85-100 >75-85 >65-75 Interpretasi Memuaskan Sangat Baik Baik dan perlu sedikit perbaikan Cukup baik (memadai).18 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah No 1.18. memiliki sistem Akuntabilitas kinerjanya sudah baik.Setiap tahun. termasuk perubahan yang mendasar Kurang. taat kebijakan. Sedangkan untuk level kabupaten/kota. Karakteristik Instansi Memimpin perubahan.

BPS 2010 Hak Politik Lembaga Demokrasi Pada tahun 2009 tingkat kinerja demokrasi rata-rata provinsi di Indonesia mencapai 67.17 54. Gambar 3. Bappenas.00 70.00 20. yaitu aspek kebebasan sipil.00 60.52 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 100. IDI 2012.9.00 67.60 47.00 80.97 pada tahun 2009 74 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . hakhak politik dan lembaga demokrasi. 2012 3.7 pada tahun 2010. Penurunan ini disebabkan turunnya Indeks Kebebasan Sipil dari 86.00 IDI Kebebasan Sipil 2009 Sumber: IDI 2010. Babel Lampung Papua Sulbar Sulsel Predikat C C C C C C C C C C 1 Jateng B 11 2 Kaltim B 12 3 Bali CC 13 4 DIY CC 14 5 DKI Jakarta CC 15 6 Jabar CC 16 7 Jatim CC 17 8 Kalbar CC 18 9 Kalsel CC 19 10 Kep.53 0.00 90. UNDP.00 10.11 86.97 82.87 62.00 40. Namun terjadi penurunan menjadi 63.00 30.00 50. Terdapat 3 aspek yang diukur.19 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 No Provinsi Predikat No Provinsi Maluku NTB NTT Riau Sulteng Sulut Sulbar Sulsel Sumut NAD Predikat CC CC CC CC CC CC CC CC CC C No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Provinsi Banten Bengkulu Gorontalo Jambi Kalteng Kep.72 63.30 63.5 Perkembangan Politik Indeks Demokrasi Indonesia Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi di setiap provinsi di Indonesia.Tabel 3. Riau CC 20 Sumber: Kementerian PAN & RB.30 atau kategori sedang (Indeks 60<80).

13 72. Bangka Belitung Kep.72 tahun 2009 menjadi 63. Berdasarkan IDI tahun 2010.44 59.45 65.53 atau kategori tinggi (Indeks >80) pada tahun 2010.80 65.88 73.32 71.94 62.menjadi 82.44 58.65 70.11 (kategori sedang) pada tahun 2010.60 72.63 56. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 63.17 65. sebanyak 6 provinsi memiliki indeks dengan kategori rendah (indeks < 60) dan sebanyak 27 provinsi termasuk ke dalam kategori sedang (60< indeks <80).79 64.97 67.10 70. dan menurunnya Indeks Hak-hak Politik dari 54.33 55.45 63. Berbeda dengan kedua Indeks Kebebasan Sipil dan Hak-hak Politik.51 59. Gambar 3.26 IDI Kebebasan Sipil Hak Politik Lembaga Demokrasi Sumber : BPS 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 75 . Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.94 66.57 69.41 63.04 65.04 71.78 67.94 73.89 77. Tidak ada satu pun provinsi di Indonesia memiliki indeks dengan kategori tinggi (indeks > 80).42 74.36 63.53 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 NASIONAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.67 54.60 atau kategori rendah (Indeks <60) pada tahun 2009 menjadi 47.75 60.87 di tahun 2010.92 67. Turunnya angka Indeks rata-rata seluruh provinsi Indonesa pada tahun 2010 dikontribusi oleh menaiknya jumlah aksi atau tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap masyarakat dan antar kelompok masyarakat. Indeks Lembaga Demokrasi mengalami kenaikan dari 62.05 69.12 60.

00 40.73 85. hanya Wilayah Maluku-Papua yang nilai indeksnya di bawah rata-rata nasional.00 60.36).87 82.73 64.00 90. Pada aspek hak-hak politik.54 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 100.66 38. Niilai indeks Kebebasan Sipil tertinggi adalah di Wilayah Maluku-Papua dan terendah di Wilayah Jawa. sebanyak 25 provinsi berada pada peringkat tinggi.05 50.80 71.00 80. aspek kebebasan sipil telah berkembang pesat di seluruh provinsi di Indonesia. Pada indeks Lembaga Demokratis.10).00 20.54 70. angka indeks Kalimantan adalah yang tertinggi (71.02 65. seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional. Berbeda dengan kedua aspek lainnya. 76 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Dengan tingginya Indeks Kebebasan Sipil dan rendahnya Indeks Hak-hak Politik dan Lembaga Demokrasi menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan masyarakat dan pelayanan yang dapat diberikan oleh penyelenggara pemerintahan daerah.74.10 70.36 47. sebanyak 3 provinsi (9 persen) memiliki indeks kategori tinggi. Demikian pula halnya dengan indeks Kebebasan Sipil.17 63.Pada aspek lembaga demokrasi. bila melihat indeks Hak-hak Politik.00 0.73 66.06 56.10 65.11 47. 7 provinsi termasuk kategori sedang dan 1 provinsi yang mendapatkan indeks rendah.62 67.53).59 51. Seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional (82.71 66.74 Indeks Demokrasi Indonesia 2010 berdasarkan Kepulauan menunjukkan seluruh kelompok wilayah mencapai indeks (IDI) rata-rata di atas indeks Nasional (63.00 30.05 68. sementara angka indeks terendah ada di Wilayah Maluku-Papua (64. 24 provinsi (73 persen) memiliki indeks dengan kategori sedang dan 6 provinsi (9 persen) termasuk dalam kategori rendah. Sementara itu.00 NASIONAL Sumatera IDI Sumber : BPS 2012 Jawa Kebebasan Sipil Bali-NTB-NTT Hak Politik Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Lembaga Demokrasi 63.00 70.00 50.84 85. yang dapat mencapai rata-rata 82.95 94.53 atau kategori tinggi.17).85 54.09 84.00 10.30 89. Dari seluruh wilayah kepulauan.41 67. yakni 38. hanya 4 provinsi memiliki indeks sedang dan sisanya 29 provinsi termasuk kedalam kategori rendah. Kesenjangan ini harus direspon dan diatasi agar tidak menimbulkan ketidakpuasan masyarakat lebih lanjut dan dapat memicu timbulnya aksi kekerasan.53 84. Gambar 3.29 67. Untuk kebebasan sipil ini.

DPD dan DPRD tahun 2009.265. persentasi jumlah pemilih terbesar berada di Jawa yang mencapai 59.8 10 20 30 40 50 60 70 80 Kab/kota Pemilih pemilu legislatif (%) Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: KPU.6 3. jumlah pemilih dalam berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) SK 164 berjumlah 171. Gambar 3.55 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR. Sedangkan jumlah pemilih tetap dalam Pemilu Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 berjumlah 176.0 1.2 0.6 15.4 0.4 3.4 1.3 1.8 persen.4 0.9 1.434 orang (Pemilu 2009 dalam Angka.0 0. 2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 77 .1 0. Pemilu dalam Angka.442 orang (Pemilu 2009 dalam Angka. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 0.2 1. KPU).2 0.6 1.9 0.Angka Pemilih Dan Partisipasi Pemilih Salah satu indikator yang diukur dalam demokrasi adalah tingkat partisipasi politik dalam pemilu dan pemilukada.0 1.6 0.3 16.0 1.I.411.8 1.4 0.4 1.5 3.7 3.3 1. KPU). Pada Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2009.9 persen jumlah kabupaten/kota. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.0 1.9 5.8 17. Pada Pemilu Anggota DPR. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.7 2. Keseluruhan provinsi yang berada di Jawa memiliki kurang lebih total 24.8 1.8 5.

4 persen.9 persen.1 persen.9% 93.6% 91.Pada Pemilu legislatif. tingkat partisipasi politik pada pemilu 2009 cenderung mengalami penurunan.4% 71. Sedangkan untuk Pemilu Presiden 2009 tingkat partisipasinya mencapai 72.0% 72. Provinsi Papua mencapai tingkat partisipasi pemilih tertinggi yaitu 85 persen dan Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai 61 persen.1% 77. juga lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 84. Dibandingkan pelaksanaan tahun 2004 dan 2009. persentasi jumlah pemilih di Jawa tidak jauh berbeda.1 persen jumlah kabupaten/kota di Indonesia memiliki persentasi jumlah pemilih sebanyak 40. Agar tidak terjadi penurunan lebih lanjut pada Pemilu 2014 mendatang.2% 91.3 persen pada Pemilu Legislatif.3% 90. yaitu 60. 78 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 2011 Tingkat Partisipasi Pemilu Presiden Tingkat partisipasi pemilih tertinggi dalam Pemilu anggota DPR.0% 90.55. Dua puluh tujuh (27) provinsi lain dengan 75.56 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 94.9% 88.3% 84. Persentasi jumlah kabupaten/kota dan jumlah pemilih pada masing-masing provinsi pada Pemilu Anggota Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden disajikan dalam Gambar 3.2 persen pada Pemilu Presiden/Wapres dan 39. upaya keras harus dilakukan melalui pendidikan politik dengan metode yang tepat sasaran. lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 77. Tingkat partisipasi politik pada pemilu legislatif tahun 2009 rata-rata seluruh Indonesia mencapai 70. Sedangkan pada Pemilu Presiden/Wapres.6% 1971 1977 1982 1987 1992 1997 1999 2004 2009 Tingkat Partisipasi Pemilu Legislatif Sumber: IDEA dan KPU.7 persen. Gambar 3.6 persen. DPD dan DPRD diperoleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terendah diperoleh provinsi DKI Jakarta.

Gambar 3.57 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Papua Barat

Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.I. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD

81 90 80 81 83 75 78 73 78 79 67

71 69 73 81
75 77 72 68 73 71 73 51 70 74 75 77 75 60 68 70 66 75 0 20 40 60 80 100 Pemilih pemilu legislatif (%)

Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Berdasarkan wilayah, tingkat partisipasi Pilpres 2009 di Maluku dan Papua adalah sebesar 80 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi di Sumatera 70,0 persen, Jawa 72,0 persen, Bali, NTB dan NTT 76,0 persen, Kalimantan 70,0 persen dan Sulawesi 75,0 persen. Tingkat partisipasi ini dihitung dari pemilih di DPT yang menggunakan hak pilih. Sedangkan, persentasi jumlah pemilih di DPT yang tidak menggunakan hak pilihnya di Sumatera adalah tertinggi sebesar 30,0 persen dan di Maluku dan Papua mencapai 20,0 persen lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

79

Gambar 3.58 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009
30.000.000 25.000.000 20.000.000 15.000.000

Sumatera

80.000.000 70.000.000 60.000.000 50.000.000 40.000.000 30.000.000 20.000.000 10.000.000 0

Jawa

70,0%

72,0% 28,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

10.000.000
5.000.000 0

30,0%

Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

Jumlah DPT: 35.826.186 orang

Jumlah DPT: 103.821.470 orang

7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000

8.000.000

Bali - NTT - NTB

7.000.000 6.000.000 5.000.000

Kalimantan

76,0%

4.000.000

3.000.000
2.000.000

70,0% 30,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

24,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

1.000.000

0

0

Jumlah DPT: 8.750.838 orang

Jumlah DPT: 9.894.265 orang

10.000.000 9.000.000 8.000.000 7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 0

Sulawesi

4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000

Maluku - Papua

75,0%

2.000.000 1.500.000

80,0%

25,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

1.000.000 500.000 0 Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

20,0%

Jumlah DPT: 12.405.626 orang Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Jumlah DPT: 4.565.389 orang

80

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Pada Pemilukada yang dilaksanakan di seluruh Provinsi di Indonesia, rata-rata tingkat partisipasi politiknya mencapai 75,6 persen. Dari seluruh provinsi tersebut, sebanyak 16 provinsi memiliki tingkat partisipasi politik di atas rata-rata 75,6 persen dan 17 provinsi di bawah rata-rata. Gambar 3.59 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011
RATA - RATA PARTISIPASI PEMILIH Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah
76,0 81,7 82,0 70,2 71,4 71,5 74,8 67,3 76,7 77,0 82,4 83,6 75,6 84,7 84,0 83,0 83,3 83,1 79,9

Sulawesi Utara
Kalimantan Timur Kaliamantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Banten Jawa Timur DI. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat Kepualauan Riau Kep. Bangka Belitung Bengkulu Lampung Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0,00 20,00 40,00 60,00
68,3 71,6 69,5 72,3 71,7 75,7 75,1 56,5 68,7 69,8

70,7
73,9

81,9

79,7

80,00

100,00

Sumber : Ditjen Otonomi Daerah-Kemdagri, 2011

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

81

3.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.10.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012
MP3EI berisi arahan pengembangan kegiatan ekonomi utama yang sudah lebih spesifik untuk mendorong percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Untuk mengimplementasikannya, Pemerintah juga sudah membentuk Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). Sejak MP3EI diluncurkan sampai dengan akhir Desember 2011, telah dilaksanakan groundbreaking proyek yang mendukung pelaksanaan MP3EI sebanyak 94 proyek dengan total nilai investasi Rp. 499,5 Triliun. Selengkapnya rekapitulasi kegiatan MP3EI yang telah groundbreaking hingga Desember 2011 terdapat dalam Tabel 3.20. Tabel 3.20 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011)
Koridor Ekonomi Jumlah Proyek Infrastruktur Sektor Riil Nilai Investasi Infrastruktur (Rp. Miliar) 35.429 64.674 1.586 3.000 36.065 1.011 141.765 Sektor Riil (Rp. Miliar) 62.505 71.397 14.644 142.267 829 66.120 357.762 Total Proyek Investasi (Rp. Miliar) 97.934 136.071 16.230 145.267 36.894 67.131 499.527

Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Papua-Kep.Maluku Total

17 8 3 1 6 3 38

2 8 12 26 1 7 56

19 16 15 27 7 10 94

Sumber: Sekretariat KP3EI

Proyek MP3EI tersebut tersebar di 6 (enam) koridor ekonomi yang terdiri dari investasi untuk proyek sektor riil senilai Rp.357,8 triliun (56 proyek) dan pembangunan infrastruktur Rp.141,7 triliun (38 proyek). Proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah dengan nilai investasi sebesar Rp.71,6 triliun (24 proyek), BUMN sebesar Rp.131 triliun (24 proyek), swasta sebesar Rp.168,6 triliun (38 proyek) dan melalui Kerjasama Pemerintah Swasta/KPS sebesar Rp.128,3 triliun (8 proyek). Pada tahun 2012, MP3EI melalui KP3EI juga telah merencanakan untuk melakukan groundbreaking terhadap 84 proyek yang terdiri dari investasi sektor riil dan pembangunan infrastruktur dengan nilai total Rp.536,3 triliun. Adapun proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah sebesar Rp.66,2 triliun (15 proyek), BUMN sebesar Rp.90,3 triliun (20 proyek), swasta sebesar Rp.301,6 triliun (38 proyek) dan campuran sebesar Rp.78,2 triliun (11 proyek).

82

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

61. Gambar 3.60 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 100 90 700 600 47 579 Nilai Program SDM (IDR Miliar) 80 6 8 6 11 23 76 Jumlah Program SDM 70 60 50 40 30 20 10 0 16 15 500 400 91 116 272 22 31 218 170 191 300 200 100 0 22 45 Community College Politeknik Universitas Community College Politeknik Universitas Sumber: Sekretariat KP3EI Gambar 3.60 dan Gambar 3.580 miliar.3.61 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi 180 5000 Nilai Program IPTEK (IDR Miliar) 160 4500 4000 3500 Jumlah Program IPTEK 140 120 100 80 60 40 20 0 22 11 15 12 54 134 572 3832 320 315 295 1832 65 35 3000 2500 2000 1500 1000 1449 1330 20 498 34 500 0 1053 Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Sumber: Sekretariat KP3EI Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 83 .8 triliun. Sedangkan untuk program pengembangan IPTEK. pada tahun 2012 telah direncanakan program penguatan SDM sebanyak 76 program dengan nilai total investasi Rp. direncanakan untuk melaksanakan 134 program dengan nilai total investasi Rp. Selengkapnya jumlah dan nilai program bidang SDM IPTEK di setiap koridor ekonomi terdapat dalam Gambar 3.Dalam rangka penguatan SDM dan IPTEK.

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 84 . c. Percepatan pembangunan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS). Pemerintah juga akan terus melakukan sejumlah perbaikan iklim investasi. Untuk itu. Tabel 3. Hal ini juga terkait untuk memastikan penetapan peraturanperaturan daerah yang dapat mendukung terciptanya iklim investasi dan kepastian berusaha. Sampai April 2012.Selain pembangunan infrastruktur dan penguatan SDM dan IPTEK.21). Peningkatan konektivitas (domestic connectivity) untuk menunjang pertumbuhan dan pemerataan. Adapun Isu strategis terkait infrastruktur pada tahun 2013 dalam mendukung pelaksanaan MP3EI adalah sebagai berikut: a. Peningkatan keselamatan transportasi.21 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) No. e. Penyediaan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) untuk peningkatan ketahanan dan ketersediaan air. d. 1 2 Jenis Regulasi Undang-Undang (UU) Telah Diperbaiki 1 6 14 1 1 8 31 Jenis Regulasi Rancangan UndangUndang (RUU) Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) Rancangan Keputusan Presiden (RKeppres) Rancangan Instruksi Presiden (RInpres) Rancangan Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sedang Diperbaiki 2 4 2 0 0 0 8 Akan Diperbaiki 2 3 1 0 0 2 8 Peraturan Pemerintah (PP) 3 Peraturan Presiden (Perpres) 4 Keputusan Presiden (Keppres) 5 Instruksi Presiden (Inpres) 6 Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sumber: Sekretariat KP3EI 3. Upaya-upaya debottlenecking di atas tentunya tidak akan berhasil tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. Pemerintah telah selesai melakukan revisi terhadap 31 regulasi dan sedang menyelesaikan 16 regulasi lainnya (lihat Tabel 3. b. Pemerintah akan terus melakukan upaya pembangunan infrastruktur dalam rangka penguatan konektivitas nasional. antara lain melalui debottlenecking regulasi (deregulasi) terhadap peraturan yang dinilai menjadi penghambat bagi pelaksanaan investasi.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi nasional (intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi Internasional Indonesia dengan pasar dunia. Pengembangan transportasi di Kota Metropolitan.10.

54 Sumber: Sekretariat Timja Konektivitas.76 Sumber : Sekretariat Timja Konektivitas.680.819.41 5.22 dan Gambar 3.974.04 179. Pemerintah akan terus mengupayakan peningkatan rencana alokasi pembiayaan pembangunan infrastruktur. Untuk lebih jelasnya.953.157.50 4.76 7.040.310.579.079.503.76 3.373.62 Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Kementerian ESDM 6. Tabel 3.01 1.00* 12.390.00 Kementerian Perdagangan 51.252.9 triliun rupiah dari kebutuhan anggaran yang sudah diidentifikasi sampai tahun 2013 sebesar 52.00 18.623.71 Alokasi (Pagu Indikatif) 18. Pemerintah sudah melakukan peningkatan alokasi indikatif pembangunan infrastruktur sekitar 17.29 198.383.53 442.035.90 6. Meskipun demikian.11 4.90 5.02 1.623.035.47 4.00 1.01 11.98 1.99 14. 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 85 .49 18.29 205.00 39.89 2.54 6.428.443.20 Kebutuhan Tambahan 3.52 10.27 5.930.00* 1. rekapitulasi alokasi indikatif kegiatan konektivitas tahun 2013 menurut kementerian/lembaga (dalam miliar rupiah) dapat dilihat pada Tabel 3.90 4.819.794.310.00 52.00 5.615.00 51. Gambar 3.44 11.62. kebutuhan anggaran untuk pembangunan infrastruktur masih terdapat kekurangan sekitar 12.14 543.18 15.22 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) Kebutuhan Kementerian PU Ditjen Bina Marga Ditjen SDA Ditjen Cipta Karya Kementerian Perhubungan Ditjen Perkeretaapian Ditjen Perhubungan Darat Ditjen Perhubungan Laut Ditjen Perhubungan Udara Kementerian ESDM Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian Kominfo Ditjen Penyelenggaraan Pos Dan Informatika Kementerian Perdagangan TOTAL 21.700.443.11 1.00 Kementerian Perhubungan 14. Pada rencana pembangunan infrastruktur tahun 2013.06 660.819.040.130.77 454.Dengan mempertimbangkan beberapa isu strategis dimaksud.215.589.29 179.76 Kementerian PU 18.00 51.00 5.90 Kementerian Kominfo 5.1 triliun rupiah dari TA 2012.54 13.091.5 triliun rupiah.428. 2012 Keterangan (*) : Kebutuhan tambahan akan dipenuhi dari ICT Fund.

d. Pelabuhan Pamanukan dan Perluasan pelabuhan Tanjung Mas. b. Penanganan jalan dan jembatan di Kalimatan Barat. Pembangunan jalan dalam memperkuat sistem distribusi komoditas dari Makasar ke wilayah lainnya dan jalan pertambangan nikel di Wilayah Kendari. Infrastruktur jalan dalam mendukung pengembangan pariwisata dan pusat peternakan di Sumbawa menjadi salah satu prioritas di Wilayah Nusa Tenggara. b. Koridor Ekonomi Kalimantan a. Koridor Ekonomi Jawa a. Meningkatkan hubungan dari Wilayah Sulawesi ke wilayah lainnya. Memperkuat transportasi moda laut melalui peningkatan kapasitas penyeberangan Bakauheni sisi Barat. Pemerintah melalui Tim Kerja Konektivitas telah menetapkan kebijakan untuk pengalokasian MP3EI dalam RKP 2013. c. Dumai dan Kawasan Industri Muara Enim. Pengembangan beberapa pelabuhan. b. Sumatera Utara dan Palembang. akan didukung dengan pengembangan beberapa pelabuhan laut. antara lain peningkatan kapasitas Pelabuhan Maloy dan Pengembangan Pelabuhan Pontianak. Koridor Ekonomi Sulawesi a. penguatan kapasitas pelabuhan menjadi prioritas. Dalam meningkatkan ekspor migas dan pertanian. Penanganan jalan wilayah dalam mendukung pengembangan kawasan ekonomi antara lain ke Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke. antara lain Bitung sebagai Hub Internasional dan pelabuhan regional lainnya. c. b. Memperkuat dan meningkatkan kualitas jalan lintas utara Jawa dengan bagian selatan Jawa. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 86 . Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.Untuk penguatan konektivitas di setiap koridor ekonomi. Memberikan alternatif moda transportasi darat dengan pembangunan jalan kereta api di NAD dan Sumatera Utara. antara lain pengembangan pelabuhan di Pulau Madura. yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera a. Penanganan moda transportasi kereta api wilayah utara Jawa antara lain dengan pembangunan jalur ganda lintas utara Jawa dan jalur ganda di Wilayah Jabodetabek. Koridor Ekonomi Bali-NT a. Memperkuat transportasi udara terutama provinsi Jambi.

Pada tahun 2011 nilai total belanja daerah mencapai Rp 495.6 persen (DJPK Kemenkeu.34 triliun. walaupun secara agregat porsi Pendapatan Asli Daerah terus meningkat. DAK dana Bagi Hasil) masih lebih besar dibandingkan sumber pendapatan yang lain.1 persen. Koridor Ekonomi Papua .8 persen per tahun.1 Postur Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meningkat dengan laju rata-rata sebesar 11. Sementara itu belanja daerah mengalami peningkatan rata-rata sebesar 11. Penguatan konektivitas dan sistem logistik di Nusa Tenggara Timur dilakukan dengan mengembangkan kapasitas pelabuhan peti kemas Tenau serta pelabuhan rakyat Nomainsain.86 triliun. d. Berdasarkan komposisi pendapatan daerah secara agregat (provinsi dan kabupaten/kota) selama periode 2007-2011.  Menuju Wilayah MIFEE maupun ke wilayah pegunungan di bagian tengah Wilayah Papua. Meningkatkan konektivitas:  Antara Manokwari dan Sorong sehingga dapat meningkatkan distribusi barang dari pusat pertumbuhan tersebut ke wilayah pedalaman. antara lain Kawasan Perikanan Morotai. b. Penanganan jalan difokuskan dalam rangka mendukung pengembangan wilayah ekonomi.4 persen per tahun. Defisit anggaran cenderung menurun dan pada tahun 2011 secara keseluruhan besarnya 1. Memperkuat pengembangan Wilayah Bali sebagai pusat pariwisata Internasional. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 87 .11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3. Pada tahun 2011 nilai total pendapatan daerah mencapai Rp 459. terlihat bahwa porsi dana perimbangan (DAU. 2011). Peningkatan kapasitas pelabuhan yang dapat mengurangi beban jalan dan meningkatkan efisiensi distribusi komoditas di Wilayah Papua akan menjadi lebih efektif (short-sea shipping).86 triliun. Rehabilitasi Bandar Udara Morotai.b.11.23 triliun. Hal ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan pemerintah daerah terhadap sumber pendanaan dari pusat. jauh menurun dari kondisi tahun 2010 sebesar 3. atau meningkat sebesar 17 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 426.Kepulauan Maluku a. c. atau meningkat sebesar 18 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 386. 3. c. Memperkuat kapasitas pelabuhan di Maluku Utara dan Kepulauan Maluku sebagai tulang punggung konektivitas di kepulauan tersebut.

6 4.3 Daper/Tot 75. khususnya Indonesia Bagian Timur.9 80.2 2009 17.8 2011 19.8 2010 18.2 Sumber: DJPK Kemenkeu.6 83.2 80.4 7.64 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Persen PAD/Tot 14.7 12.8 76. Semakin besar rasio PAD terhadap total pendapatan daerah menunjukkan tingkat kemandirian daerah yang semakin tinggi. 2011 Secara kewilayahan.2 9. Hal ini sekaligus juga menggambarkan relatif berkembangnya perekonomian daerah di Jawa dan Bali. retribusi daerah. Jawa-Bali memiliki rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total pendapatan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain. Gambar 3.5 6. 2011 88 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Tingginya rasio PAD/total pendapatan di Wilayah Jawa menggambarkan kapasitas daerah yang lebih baik dalam menggali sumber pendapatan di tingkat lokal (pajak daerah.63 Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 PAD Daper Lain2 Persen 2007 16.7 5.4 32.2 76. Sebaliknya Wilayah Indonesia Bagian Timur memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pusat.8 78.9 Trans/Tot 84.6 2008 17. hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah).0 6.3 59.8 74.6 86.9 14.Gambar 3.0 65.6 75.4 Sumatera Jawa Bali Kalimantan Sulawesi NT Maluku Papua Sumber: DJPK Kemenkeu.7 71.7 92.

9 71. Riau Kep.5 44.1 5.2 75.1 2.9 35.3 36. Sebaliknya Provinsi Papua Barat dan Papua memiliki ketergantungan fiskal yang sangat tinggi.0 16.0 40.4 6.Gambar 3.1 4.7 28. sedangkan kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat memiliki kemandirian fiskal terendah.1 50. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 71.5 8.7 35. diikuti provinsi-provinsi lain di Wilayah Jawa-Bali. Jawa Timur memiliki kemandirian fiskal tertinggi.0 30.5 27.7 14.4 9.2 28.0 60.0 15.2 20.8 13.8 5.0 25.5 7.0 39. Hal ini berkaitan dengan berkembangnya industri pariwisata di Bali yang memberikan sumber pendapatan asli daerah yang cukup besar.9 5.9 6.6 5.9 5.1 20.7 32.9 62.0 2011 2008 Sumber: DJPK Kemenkeu.9 12.0 45. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 8.9 34.4 7.2 7.7 4.8 71.2 4.0 80.0 15.0 100.5 3.6 2.8 42. 2011 Bila dianalisis lebih rinci berdasarkan APBD kabupaten/kota di setiap provinsi.2 3.0 56. Riau Kep.8 4.3 11.66 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.4 6.0 2008 Gambar 3.1 58.3 61.8 3. Sementara itu untuk APBD provinsi.4 49.8 19.0 40.3 4.8 5. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 89 .8 41.0 2011 10.9 7.65 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep. maka kabupaten/kota di Bali memiliki kemandirian fiskal tertinggi.0 2.4 11.0 5.6 6.5 26.9 14.0 20.5 54.2 76.

1 BM/Tot 24.2 18.0 5.0 40.68 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 60 50 Persen 40 30 20 10 0 Sumatera Jawa Bali Kalimantan BP/Tot 45.1 19.0 35.6 37.0 15. khususnya di kabupaten. 2011 Gambar 3.3 22.9 30.0 Persen 2007 39. Peningkatan belanja pegawai ini berjalan seiring dengan meningkatnya jumlah pegawai di daerah.1 18. Jika pada tahun 2007 rasio antara belanja pegawai dan belanja modal hanya 4:3 maka pada tahun 2011 belanja pegawai mencapai lebih dari dua kali lipat belanja modal.9 18.2 22.0 18.5 11.1 22.6 Sumber: DJPK Kemenkeu.4 21.2 Sulawesi NT Maluku Papua 38.5 19. 2011 90 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .3 26.0 0.0 20. Selama periode 2007-2011 komposisi belanja daerah justru semakin jauh dari ideal.3 32.7 11. diikuti belanja modal dan belanja barang dan jasa.5 50.0 45.3 2010 46.2 2008 42.3 11.67 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 50.3 21.11. Hal ini patut mendapat perhatian mengingat belanja modal merupakan kunci daya ungkit APBD dalam menggerakkan perekonomian daerah melalui pembangunan infrastruktur publik.2 Postur Belanja Daerah Secara umum porsi belanja daerah terbesar dialokasikan untuk belanja pegawai.0 11.5 52.0 25.5 26.7 2011 46.8 Pegawai Barang/Jasa Modal Lain-lain Sumber: DJPK Kemenkeu.0 22.5 2009 43.0 30.0 21.5 BBJ/Tot 21.8 27. Gambar 3.9 9.3.0 10. Hal ini ditunjukkan dengan makin meningkatnya porsi belanja pegawai di satu sisi dan semakin mengecilnya porsi belanja modal.

khususnya Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.0 2008 30. sebaliknya Wilayah Kalimantan memiliki porsi belanja pegawai terendah.Secara kewilayahan.26 persen. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 20.70 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep. terlihat bahwa peningkatan rasio belanja pegawai kabupaten/kota di hampir semua provinsi antara tahun 2008 dan 2011.0 60. Gambar 3. Hal ini didukung oleh besarnya pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan. Riau Kep.0 40. Hanya di Provinsi Kepulauan Riau dan Jawa Barat yang kabupaten/kotanya relatif tidak mengalami perubahan.0 Sumber: DJPK Kemenkeu.0 80.0 2011 2008 40.0 50.38 persen sedangkan di Kalimantan hanya 1. 2011 Berdasarkan analisis menurut provinsi.0 2011 20. Sementara itu Wilayah Kalimantan memiliki rasio belanja modal tertinggi di antara wilayah-wilayah lainnya. Sulawesi memiliki rasio belanja pegawai tertinggi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 91 . Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 10. di mana di Sulawesi mencapai 1. Riau Kep. Hal ini berkaitan dengan rasio pegawai terhadap penduduk.0 Gambar 3.69 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.

72 Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Bangka Belitung Bali Pendidikan Kesehatan Ketertiban dan Ketentraman Lingkungan Hidup Pariwisata dan Budaya Pelayanan Umum Perlindungan Sosial Ekonomi Perumahan dan Fasilitas Umum - 20 40 60 80 100 - 20 40 60 80 100 % Sumber: DJPK Kemenkeu. 2011 Sementara itu. Pada tahun 2011 Kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio belanja modal tertinggi.71 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep.Pada tahun 2011 kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai tertinggi. sedangkan kabupaten/kota di Papua Barat memiliki rasio terendah. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. sedangkan rasio terendah dimiliki Provinsi Papua Barat. rasio belanja pegawai tertinggi dimiliki Provinsi Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur. Hal ini perlu mendapat perhatian bila mengingat sebagain besar jaringan jalan yang mengalami kerusakan merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. 92 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . sedangkan kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta memiliki rasio terendah. Bangka Belitung Bali Gambar 3. rasio belanja modal terhadap total belanja daerah cenderung menurun di hampir semua provinsi bila dibandingkan antara APBD tahun 2008 dan 2011. Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki rasio terendah kurang dari 10 persen. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. sedangkan Jawa Tengah. Gambar 3. Penurunan rasio ini terjadi baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Di tingkat provinsi. Di tingkat provinsi. pada tahun 2011 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki rasio belanja modal tertinggi.

khususnya pada komponen rasio belanja modal yang sudah memiliki persentase relatif tinggi. Tabel 3.Jika belanja daerah dianalisis berdasarkan fungsi. dengan porsi terbesar dialokasikan Provinsi Papua Barat yang mencapai 73 persen. rasio belanja pegawai di bawah rata-rata. Berikutnya adalah Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki rasio belanja modal di atas rata-rata. Kabupaten/kota di Jawa Tengah mengalokasikan 51 persen belanjanya untuk fungsi pendidikan yang merupakan alokasi tertinggi. kemudian diikuti alokasi fungsi pelayanan umum. hampir semua provinsi memberi alokasi terbesar untuk fungsi pelayanan umum. Di tingkat provinsi. namun memiliki rasio PAD terhadap pendapatan sedikit di bawah rata-rata. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan kinerja pengelolaan terbaik antar provinsi. Kriteria yang dipakai untuk menilai postur APBD adalah: (1) rasio PAD terhadap total pendapatan daerah. Daerah-daerah yang memiliki postur APBD yang baik ditandai oleh ketiga rasio tersebut yang lebih baik dari rata-rata seluruh daerah. Namun demikian kabupaten/kota di Papua mengalokasikan 43 persen belanjanya untuk mendukung fungsi pelayanan umum. sedangkan kabupaten/kota di Papua hanya mengalokasikan sebesar 17 persen untuk fungsi pendidikan. Alokasi belanja untuk mendukung fungsi ekonomi hanya berkisar antara 5-16 persen di kabupaten/kota dengan alokasi tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah dan berkisar antara 7-22 persen di provinsi dengan Provinsi Gorontalo memberikan alokasi paling tinggi. maka secara umum alokasi belanja pemerintah kabupaten/kota yang terbesar adalah untuk fungsi pendidikan. Kabupaten Sumbawa Barat dan Halmahera Timur menunjukkan rasio yang lebih baik. dapat diidentifikasi daerahdaerah yang memiliki postur APBD relatif baik. Sementara untuk perbandingan antar kabupaten/kota se-Indonesia. yakni memiliki kondisi rasio PAD dan rasio belanja modal diatas rata-rata dan rasio belanja pegawai di bawah rata-rata seluruh provinsi. dengan menggunakan kriteria yang sama terdapat 22 kabupaten/kota yang memiliki profil lebih baik dari rata-rata. (2) rasio belanja pegawai terhadap total belanja dan (3) rasio belanja modal terhadap total belanja. Berdasarkan analisis pendapatan dan keuangan daerah di atas.23 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik Daerah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Selatan RATA-RATA PROVINSI (33 PROVINSI) Kabupaten Sumbawa Barat Kabupaten Halmahera Timur RATA-RATA KABUPATEN/KOTA Sumber: DJPK (diolah) Rasio PAD Terhadap Pendapatan 71 46 50 19 11 9 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja 17 19 25 33 25 51 Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja 28 29 21 40 45 23 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 93 .

.

BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Situasi tersebut berpotensi meningkatkan proteksi pada banyak negara serta langkah tidak sehat untuk mempertahankan pasar domestik dan ekspornya.BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 4. Pelaksanaan pembangunan tetap dilaksanakan melalui empat jalur strategi.1). Momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya tahan ekonomi tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. serta kecenderungan meningkatnya harga komoditas dan minyak dunia dapat mempengaruhi stabilitas keuangan global dan pemulihan ekonomi dunia yang pada gilirannya akan berpengaruh pada perekonomian nasional. perubahan iklim dan bencana alam.1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik Krisis utang di sejumlah negara-negara Eropa. Gambar 4. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat terus dilaksanakan tanpa melalaikan persoalan lingkungan. Afrika Utara dan Semenanjung Korea.1 Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Peningkatan Daya Saing Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Pemantapan Stabilitas Politik Perekonomian domestik harus ditingkatkan dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik (Gambar 4. Persaingan antar negara untuk memenangkan pasar perdagangan dan investasi semakin ketat. ketegangan politik di beberapa kawasan dunia seperti di Timur Tengah. yaitu 96 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Keseluruhan ini menuntut perekonomian domestik harus semakin diperkuat.

daya saing merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang dimulai dari penyusunan kebijakan.pertumbuhan (pro-growth).2 Aspek Peningkatan Daya Saing Daya saing dapat dinilai dengan berbagai macam pendekatan dan indikator yang pada prinsipnya menunjukkan kemampuan yang lebih unggul secara kuantitas ataupun kualitas pada skala nasional antar daerah ataupun pada skala internasional antar negara. Secara lebih rinci.2. Stabilitas sosial politik dan keamanan terus dijaga agar momentum pembangunan terus berkelanjutan. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). sampai dengan implementasi berupa kelembagaan dan tata kelola dan berupa pembangunan infrastruktur. Meningkatnya investasi dan berkembangnya usaha akan sangat penting untuk mendorong aktivitas perekonomian. Sementara itu. Pada akhirnya. Situasi global yang tidak pasti juga tercermin dari berbagai ketegangan politik dan potensi konflik di berbagai kawasan dunia yang dapat berpengaruh pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha sangat penting untuk dapat mendorong arus investasi masuk (baik investasi domestik maupun investasi asing) dan mendorong berkembangnya usaha di Indonesia. karena dapat menggerakkan usaha lain yang terkait dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. kesempatan kerja (pro-job). 4. Untuk itu kemampuan pertahanan perlu ditingkatkan guna menjaga kepentingan nasional dan keamanan regional. Semakin kompetitif daya saing sebuah sistem perekonomian. peningkatan iklim investasi dan iklim usaha menjadi sangat penting bagi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 97 . 4. pengembangan investasi dan usaha ini akan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat. Muara dari implementasi kebijakan-kebijakan tersebut adalah tercapainya produktivitas suatu negara/daerah sehingga akan meningkatkan kesejahteraan rakyat pada skala perekonomian nasional/daerah. peningkatan daya tahan ekonomi. Abdullah. Dengan demikian. sehingga mampu untuk bersaing di tingkat domestik dan internasional. yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. uraian di bawah ini merupakan gambaran penguatan ekonomi domestik yang ditunjang oleh kebijakan komprehensif yang bertujuan untuk mencapai peningkatan daya saing. maka pembangunan akan tumbuh lebih cepat. serta pemantapan stabilitas politik. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. et.al (2002) mendefinisikan daya saing daerah sebagai kemampuan daerah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. Dengan demikian.

(ii) penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk mempercepat dan mempermudah proses perijinan dan non perijinan untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha di daerah. Hal ini tentunya akan berdampak pada meningkatnya kenyamanan berusaha dan berinvestasi. serta meningkatkan efisiensi proses pengurusan perijinan karena perijinan dapat diproses dengan lebih cepat dengan biaya yang lebih transparan. Regulasi yang jelas dan prosedur yang lebih sederhana akan memudahkan investor dan pengusaha dalam melaksanakan regulasi tersebut. Sementara itu.2 Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Pemerintah Mendorong penguatan ekonomi domestik (melalui pertumbuhan dan dan peningkatan kesejahteraan rakyat) Mendorong peningkatan kesempatan kerja dan daya beli masyarakat Meningkatkan investasi dan usaha Iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif Kemudahan dan transparansi proses perijinan di PTSP provinsi dan kab/kota Kepastian lahan dan peruntukannya Investor/Pengusaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha di daerah sebaiknya difokuskan pada: (i) penyederhanaan dan harmonisasi berbagai regulasi yang bertujuan untuk memberikan transparansi. penyelenggaraan PTSP yang baik akan memberikan kepastian berusaha. Gambar 4.perekonomian daerah karena dapat memberikan efek ganda ( multiplier effect) terhadap perekonomian yang cukup besar. yang 98 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . kepastian dan kemudahan untuk melakukan investasi dan berusaha. serta (iii) kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan. memudahkan investor dan pengusaha dalam memproses perijinan. karena tidak akan menimbulkan salah persepsi dan dapat mengurangi biaya ekonomi tinggi.

Gambar 4.pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.3 Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Sistem Transportasi Nasional Sistem Logistik Sistem Informasi dan Komunikasi Pengembangan Wilayah Peningkatan Konektivitas antar wilayah Penguatan ekonomi domestik Selain itu. Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan telekomunikasi terkait dengan upaya modernisasi bangsa dan penyediaannya merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. 4. antara lain air minum dan sanitasi. Jaringan transportasi dan telekomunikasi dari Sabang sampai Merauke serta Sangir Talaud ke Rote merupakan salah satu perekat utama Negara Kesatuan Republik Indonesia. secara luas dan merata. serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.2. infrastruktur mempunyai peran yang tak kalah pentingnya untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Sejak lama infrastruktur diyakini merupakan pemicu pembangunan suatu Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 99 . Ketersediaan sarana perumahan dan permukiman. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang.

Konektivitas nasional menghubungkan pusat perekonomian lokal. manusia dan jasa. Dalam konteks ini. Pengalaman menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi berperan besar untuk membuka isolasi wilayah. nasional dan dunia (global) secara efektif. Dapat dikatakan disparitas kesejahteraan antar kawasan juga dapat diidentifikasi dari kesenjangan infrastruktur yang terjadi diantaranya. Selain itu. ketersediaan infrastruktur pengairan merupakan prasyarat kesuksesan pembangunan pertanian dan sektor-sektor lainnya. ketersediaan infrastruktur transportasi yang memadai akan menciptakan konektivitas antar daerah bahkan antar pulau. melalui proses peningkatan nilai tambah bahan mentah menjadi produk olahan setengah jadi atau jadi. Sementara itu. sehingga dapat menumbuhkan perdagangan antar wilayah dan antar negara. Terhubung Secara Global (locally integrated. serta dapat menjadi penghubung yang efisien antara sumber bahan baku (resource). pusat produksi dan pasar. 100 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Infrastruktur Transportasi Infrastruktur transportasi darat. Tersedianya infrastruktur transportasi akan memperlancar arus barang. Ketersediaan listrik yang memadai di suatu daerah akan menjadi insentif untuk membangun industri. globally connected ). ketersediaan infrastruktur akan memudahkan aksesibilitas masyarakat untuk memperoleh pendidikan. termasuk daerah terpencil dengan daerah terdekat bahkan dengan pusat pertumbuhan ekonomi. ke depan pendekatan pembangunan infrastruktur berbasis wilayah semakin penting untuk diperhatikan. serta memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi. Faktor keempat elemen tersebut merupakan rangkaian sistem kebijakan yang harus saling terintegrasi agar dapat meningkatkan daya saing perekonomian domestik. kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing. kesehatan dan lapangan pekerjaan. Selain itu. laut dan udara menjadi sangat penting untuk disediakan mengingat kondisi geografis Indonesia berupa kepulauan dengan disparitas ekonomi daerah Indonesia yang sangat beragam. efisien dan terpadu. Aktivitas ekonomi membutuhkan listrik sebagai sumber energi gerak dan cahaya. Pada akhirnya tersedianya infrastruktur akan banyak membawa dampak posistif bagi produktivitas industri. Ketersediaan Listrik Energi listrik merupakan unsur penting bagi pembangunan dalam segala bidang. percepatan pembangunan infrastruktur memegang peran penting dalam meningkatkan daya saing perekonomian domestik terutama dengan perekonomian dunia (global). Pengembangan Wilayah dan Sistem Informasi dan Komunikasi dengan visi Terintegrasi secara Lokal. Percepatan pembangunan infrastruktur memiliki empat elemen kebijakan yang terintegrasi yaitu Sistem Logistik Nasional. Listrik dalam industri dibutuhkan untuk memproduksi barang. perluasan usaha dan perluasan pasar. Oleh sebab itu. Sistem Transportasi Nasional.kawasan.

jumlah kelas menengah yang besar dan semakin meningkat. Daya saing dalam bidang telekomunikasi ditentukan oleh tersedianya jaringan telepon tetap (fixed-line). Ketersediaan telepon tetap memudahkan komunikasi antar daerah dan wilayah. Keberadaan Indonesia di pusat baru gravitasi ekonomi global. Indonesia mempunyai aset dan akses yang mendukung terwujudnya negara ini sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam tata pergaulan antar negara. Berbagai informasi akan mudah dan cepat diperoleh dan disebarkan dengan bantuan media pendidikan yang tersedia secara elektronik. serta akses yang strategis ke jaringan mobilitas global.2. MP3EI dirumuskan dengan perubahan pola pikir ( mindset) dalam pemahaman bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat Dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 101 . 4. mengharuskan Indonesia mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk mempercepat terwujudnya suatu negara maju dengan hasil pembangunan dan kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. Indonesia menghadapi banyak tantangan ke depan yang semakin berat. Sebagai negara yang berada di tengahtengah persaingan global yang semakin ketat. jaringan serat optik dan broadband. yang telah diluncurkan oleh Presiden hampir satu tahun yang lalu (27 Mei 2012) diperlukan untuk menjawab tantangan tersebut. fokus dan sistematis dalam perencanaan pembangunan nasional ke depan. Dengan kekayaan sumber daya alam. sehingga komunikasi data dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Perspektif ini didukung oleh banyak lembaga internasional yang mengatakan bahwa Indonesia memang layak dan berkemampuan untuk menjadi big player dalam perekonomian global.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Indonesia adalah negara yang dikarunia dengan hampir semua prasyarat untuk mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan besar perekonomian dunia. Ketersediaan serat optik dan broadband akan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang karena akan mempermudah penyampaian informasi dan proses data. Sementara itu. ilmu pengetahuan dan kesehatan. Ketersediaan Sarana Telekomunikasi Telekomunikasi akan memudahkan arus informasi dengan lebih luas dan cepat. yaitu kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.Listrik juga berperan dalam meningkatkan pendidikan. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). keberadaan teknologi serat optik semakin mampu memperluas lebar jalur (bandwidth). Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang lebih cerdas. memang harus diakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang kita capai selama ini belum mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Namun demikian.

sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator. Fokus dari 8 (delapan) program utama tersebut meliputi 22 (dua puluh dua) kegiatan utama yaitu industri besi-baja. alutsista. fasilitator dan katalisator. pariwisata. melalui: pertama. MP3EI dilakukan dengan pendekatan terobosan (breakthrough) bukan Business As Usual. BUMD dan Dunia Usaha dalam semangat Indonesia Incorporated. Pemerintah Pusat dan Daerah akan melakukan deregulasi ( debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi. pertanian. telekomunikasi. kelapa sawit. Tujuan dari pelaksanaan MP3EI adalah untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 (delapan) program utama yang meliputi sektor industri manufaktur. peternakan. perkayuan. pariwisata. pemerintah akan melakukan penguatan koordinasi. perkapalan. pertambangan. kakao.Daerah. bauksit. peralatan transportasi. tembaga. batubara. Fasilitasi dan katalisasi akan diberikan oleh Pemerintah melalui penyediaan infrastruktur maupun pemberian insentif fiskal dan non fiskal. perikanan. dunia usaha akan menjadi aktor utama dalam kegiatan investasi. serta pengembangan Metropolitan Jabodetabek dan pembangunan Kawasan Selat Sunda. pihak swasta akan diberikan peran penting dalam pengembangan MP3EI. sinkronisasi dan sinergi kebijakan antar Kementerian/Lembaga dan antara Kementerian/Lembaga dengan pemerintah daerah. Kedua. BUMN. karet. telematika. food estate. makanan-minuman. minyak dan gas. Dari sisi regulasi. Gambar 4. dalam rangka penguatan kebijakan.4 Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Sumber: MP3EI 2011 – 2015 102 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . nikel. Dalam pelaksanaan MP3EI. produksi dan distribusi. kelautan. tekstil. energi dan pengembangan kawasan strategis nasional.

Koridor Jawa. Pembangunan 6 (enam) koridor ekonomi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 103 . agar semua wilayah di Indonesia dapat berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut akan menciptakan Koridor Ekonomi Indonesia sebagaimana dapat dijelaskan dalam kerangka pengembangan Koridor Ekonomi pada Gambar 4. baik yang telah ada maupun yang baru. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu: 1. Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia diharapkan akan dapat mendukung peningkatan daya saing dalam rangka penguatan ekonomi domestik karena pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia memberikan penekanan baru bagi pembangunan ekonomi wilayah. logistik serta komunikasi dan informasi untuk membuka akses daerah. 4. Koridor Kalimantan. Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari pendekatan sektoral dan regional. Mengembangkan 6 (enam) koridor ekonomi indonesia. Koridor Ekonomi Indonesia akan dilaksanakan melalui strategi utama pelaksanaan MP3EI. menggali potensi dan keunggulan daerah serta memperbaiki ketimpangan spasial pembangunan ekonomi Indonesia. Setiap wilayah mengembangkan produk yang menjadi keunggulannya. regional maupun global. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan ekonomi yang beragam dan inklusif dan dihubungkan dengan wilayah-wilayah lain di luar koridor ekonomi. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan penguatan konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi serta infrastruktur pendukungnya. Koridor Sulawesi. Koridor Bali – Nusa Tenggara dan Koridor Papua – Kepulauan Maluku.4.Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia diselenggarakan berdasarkan pendekatan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Pembangunan koridor ekonomi dilakukan sebagai pengembangan wilayah untuk menciptakan dan memberdayakan basis ekonomi terpadu dan kompetitif serta berkelanjutan. Koridor ekonomi akan didukung dengan pemberian insentif fiskal dan non-fiskal. perijinan dan pelayanan publik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk meningkatkan iklim usaha dan iklim investasi. Koridor ekonomi diarahkan pada sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara nasional. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan yang menekankan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah pengelolaan sumber daya alam melalui perluasan dan penciptaan rantai kegiatan dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan. 5. Tujuan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut adalah untuk memaksimalkan keuntungan aglomerasi. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan konektivitas yang terintegrasi antara sistem transportasi. kemudahan peraturan. 2. Secara keseluruhan. yaitu: Koridor Sumatera. antara lain: 1. 3.

Penguatan konektivitas nasional ditujukan untuk memperlancar distribusi barang dan jasa dan mengurangi biaya transaksi (transaction cost) logistik. kejuruan dan pelatihan terutama untuk yang terkait dengan pengembangan program utama. dan  Penguatan konektivitas internasional sebagai pintu keluar dan masuk perdagangan dan pariwisata antar negara.dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berbasis sumber daya unggulan di setiap koridor ekonomi.2015 2. bahan setengah jadi dan produk akhir dari dan keluar koridor (pulau). Mempercepat peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi. Gambar 4. internationally connected ). Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 3. Elemen utama untuk percepatan kemampuan SDM dan IPTEK meliputi:  Meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan tinggi.5. Hal ini akan dilakukan melalui:  Penguatan konektivitas intra dan antar pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. sebagaimana tertuang dalam Gambar 4. 104 .5 Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sumber: MP3EI 2011 .  Penguatan konektivitas antar koridor (pulau) untuk memperlancar pengumpulan dan pendistribusian (collection and distribution) bahan baku. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara internasional (locally integrated.

BUMN. BUMD. (2) aspek aksesibilitas pangan. BUMD dan swasta diharapkan dapat menjadi pilar dan kontributor utama investasi dalam pelaksanaan MP3EI.3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4. BUMN. Meningkatkan kegiatan dan membangun pusat-pusat pengembangan R&D di pusat-pusat pertumbuhan (KEK dan Klaster Industri) di setiap koridor ekonomi melalui kolaborasi antar Pemerintah. Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi. serta penyediaan sarana tekonologi dari penyuluhan. pengolahan pangan dan pemasaran. Pada dasarnya ketahanan pangan mencakup 4 aspek utama yang terdiri atas: (1) aspek ketersediaan pangan. Sementara itu. kandungan gizi. serta pihak swasta dan masyarakat.   Meningkatkan kompetensi teknologi dan ketrampilan/ keahlian tenaga kerja. Jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar juga menjadi tantangan berat untuk terus meningkatkan ketahanan pangan. 4. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. dan Mengembangkan institusi sistem inovasi nasional yang berkelanjutan.7. distribusi. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam menjaga insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian nasional. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 105 . Ketahanan Pangan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional karena dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan juga mempengaruhi pembangunan sektor lain. Selain itu. BUMN. swasta dan akademisi. distribusi dan stabilisasi harga pangan yang terjangkau. Pelaksanaan MP3EI ini semaksimal mungkin memberikan peran yang besar kepada pelaku usaha domestik terutama untuk dapat meningkatkan nilai tambah pemanfaatan sumberdaya dalam negeri. pemerintah daerah. contohnya nilai hasil produksi padi setiap tahunnya kurang lebih sebesar 300 triliun rupiah dan jumlah rumah tangga petani padi yang terlibat sekitar 15 juta rumah tangga. BUMD. serta (4) aspek penanggulangan masalah pangan. Peningkatan ketahanan pangan harus terus didorong untuk mampu menggerakkan perekonomian daerah. nilai ekonomi dari usaha tani yang cukup besar.3. keragaman. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. pendanaan kegiatan MP3EI dilakukan melalui keterpaduan pendanaan dari APBN.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Salah satu langkah dalam peningkatan daya tahan ekonomi untuk memperkuat ekonomi domestik adalah melalui peningkatan ketahanan pangan terutama yang berbasis sumber daya lokal. APBD. MP3EI merupakan produk dari hasil kerjasama dan kemitraan antara pemerintah pusat. Keempat aspek tersebut akan membangun sistem ketahanan pangan seperti yang digambarkan pada Gambar 4. keamanan dan kehalalan. (3) aspek konsumsi pangan yang memenuhi kaidah mutu.

6 Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan Pangan Ketersediaan Pangan (Produksi Dalam Negeri. irigasi.Gambar 4. Impor) Distribusi Dan Stabilisasi Harga Konsumsi Pangan Dan Gizi Penanggulangan Masalah Pangan Kurang Pangan Lonjakan Harga Pendapatan Rendah/Miskin Bencana Insentif Produksi : Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Beras Subsidi Input: Pupuk dan Benih Subsidi Suku Bunga KKP Cadangan Beras Pemerintah RASKIN Aspek ketersediaan pangan berfungsi untuk menjamin ketersediaan pangan guna memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas. (3) Meningkatkan efektifitas pengendalian organisme pengganggu tanaman dan penyakit hewan serta pengembangan sistem perkarantinaan. (5) Mencegah atau mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan melakukan konservasi sumber daya lahan dan air. Untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan. cadangan dan impor. Peningkatan produksi pangan dalam negeri dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan ketersediaan input produksi (benih/bibit. pakan. Ketersediaan pangan tersebut terdiri atas produksi dalam negeri. maka produksi dalam negeri harus menjadi sumber utama untuk ketersediaan pangan tersebut. (4) Mendorong investasi di sektor pertanian yang berbasis produk lokal. keragaman dan keamanannya. alat dan mesin) dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai serta tersedia setiap saat dibutuhkan serta kebijakan subsidi input yang lebih efisien. lahan. IPTEK dan penyuluhan. pupuk. obat-obatan. (2) Meningkatkan dukungan penelitian. kualitas. Cadangan. (6) Memperluas areal lahan 106 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

Peningkatan efisiensi aksesibilitas pangan dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah untuk stabilisasi harga. Indikator aspek konsumsi. Pemenuhan aspek konsumsi dapat dilakukan melalui: (1) Mengembangkan penganekaragaman (diversifikasi) pengolahan dan konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. dan (4) Meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang pangan yang bergizi dan seimbang. stabilitas harga dan pasokan merupakan indikator penting untuk menunjukkan kinerja aspek akesibilitas pangan. Aspek penanggulangan masalah pangan berfungsi menjaga goncangan pangan akibat ketidakmampuan memenuhi pangan karena kondisi ekonomi. kandungan gizi. menghindari terjadinya gejolak harga pangan. serta pola hidup sehat. (9) Mengembangkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di sektor pertanian. bencana dan lonjakan harga. (3) Meningkatkan kemampuan masyarakat dan Pemda dalam mengembangkan cadangan pangan. (7) Melakukan penataan dan harmonisasi peraturan perundangan lahan untuk menjamin kepastian hukum lahan pertanian. (4) Mengembangkan kebijakan dan peraturan daerah guna memperlancar dan mengefisienkan distribusi pangan antar daerah. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani. terutama ibu hamil dan anak balita. Aspek akesibilitas pangan berfungsi untuk menjamin seluruh level masyarakat dapat menjangkau sumber pangan yang mencukupi baik kuantitas maupun kualitasnya. (2) Mengembangkan kebijakan perdagangan dan ekspor-impor yang mendukung ketahanan pangan. dapat tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. pedagang hingga konsumen sehingga berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. dan. mencapai swasembada pangan. menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik. produsen. Distribusi pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan ketersediaan pangan keseluruh wilayah secara berkelanjutan. (3) Meningkatkan sarana dan prasarana guna efisiensi dalam perdagangan dan mengurangi kerusakan bahan pangan. yang disalurkan dalam bentuk bantuan beras miskin bagi keluarga miskin dan penyaluran cadangan beras pemerintah terutama dalam mengantisipasi terjadinya bencana melalui bantuan pangan. lahan basah dan lahan terlantar. Distribusi.pertanian serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. keragaman. (8) Mengembangkan infrastruktur pertanian. Stabilisasi harga pangan diselenggarakan dengan tujuan untuk menyejahterakan petani dan nelayan. (2) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah. sosial dan budaya setempat. dan (5) Mengembangkan usaha pengolahan dan pemasaran produk pangan di perdesaan yang berbasis bahan pangan lokal. keamanan dan kehalalan. Pola konsumsi dalam rumah tangga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kondisi ekonomi. pengolah. memperhatikan daya beli masyarakat. Aspek konsumsi pangan dan gizi berfungsi untuk mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 107 .

GP3K Produktivitas Cetak Sawah. serta (4) terjadinya perubahan iklim yang dapat menyebabkan gangguan dalam produksi. Pengendalian HPT Alat dan Mesin Pasca Panen Susut Revitalisasi Penggilingan Rendemen Surplus Beras 10 Juta Ton Per Tahun Mulai Tahun 2014 Konsumsi Diversifikasi (P2KP). (3) Menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat terhadap pangan tidak terganggu. Gambar 4. dukungan sarana dan prasarana perikanan masih kurang dan menghadapi terjadinya keragaman dan perubahan iklim. Olahan Pangan Lokal Konsumsi Beras Per Kapita Keterangan: SL-PTT : Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu SRI : System of Rice Intensification GP3K : Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi P2KP : Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan 108 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . SRI. penurunan susut dan peningkatan rendemen (Gambar 4. Khusus untuk pengamanan produksi beras. Optimasi Lahan Luas Tanam Produksi Manajemen. Dalam upaya peningkatan produksi dilakukan terutama melalui peningkatan produktivitas. perluasan areal tanam.7 Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Input/ Dukungan Kegiatan/ Output Indikator/ Outcome Sasaran Antara Sasaran Utama Pupuk. terutama beras. Benih. banyaknya infrastruktur irigasi yang rusak.7). pada awal tahun 2011 presiden memberikan direktif untuk pencapaian surplus beras 10 juta ton setiap tahun mulai tahun 2014. ke depan masih akan dihadapkan kepada berbagai tantangan yang terkait dengan: (1) Menjaga peningkatan produksi pangan terutama beras seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat. distribusi dan aksesibilitas masyarakat terhadap pangan serta terjadinya kerawanan pangan di daerah. Alsintan. Strategi dalam pencapaian surplus beras 10 juta ton tersebut terutama meliputi pencapaian produksi padi dan percepatan diversifikasi konsumsi untuk menurunkan konsumsi beras dan peningkatan kualitas gizi masyarakat. Penyuluhan. Tantangan utama yang dihadapi dalam peningkatan produksi ini adalah alih fungsi lahan dan perluasan areal pertanian yang semakin sulit. (2) Diversifikasi konsumsi pangan berbasis bahan pangan lokal relatif lambat.Ketahanan pangan. Air Irigasi SLPTT.

Dengan adanya listrik maka dapat mendorong investasi khususnya untuk sektorsektor unggulan daerah sehingga dapat meningkatkan daya saing daerah tersebut. Gambar 4.2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang mendasar untuk berbagai aktifitas masyarakat.6 juta pada tahun 2010 mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan ekonomi nasional dan daerah.3. usaha penyediaan tenaga listrik. oleh karena itu tenaga listrik sangat penting dan strategis bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya serta untuk mendorong peningkatan dan penguatan kegiatan ekonomi domestik pada khususnya. Nelayan dan pembudidaya ikan merupakan mata pencaharian utama bagi masyakat pesisir. pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. perikanan sebagai salah satu sumber protein hewani juga memiliki peranan yang penting dalam ketahanan pangan dan merupakan sumber ekonomi bagi nelayan dan pembudidaya ikan. komersial dan industri guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup. Untuk penyelenggaraan penyediaan tenaga listrik. Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah berlandaskan prinsip otonomi daerah. Rumah tangga perikanan tangkap dan budidaya yang diperkirakan mencapai 2. gardu dan transmisi serta penyalurannya sampai rumah tangga. Oleh sebab itu. pengaturan.8 Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Pembangunan Ketenagalistrikan Peningkatan Produktivitas  Rumah tangga  Komersial  Industri  Peningkatan Pendapatan  Konsumsi Listrik Pertumbuhan Ekonomi Domestik Pembangunan ketenagalistrikan dilaksanakan secara berkesinambungan dimulai dari pembangunan pembangkit listrik. 4. kualitas yang baik dan harga yang wajar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Listrik dapat menciptakan peningkatan produktivitas baik di sektor rumah tangga. Dari kerangka di atas dijelaskan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 109 . pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang cukup dan merata dengan mutu pelayanan yang baik.Sementara itu. pemanfaatan dan pengelolaannya perlu ditingkatkan.

biomassa. dalam mendorong penghematan anggaran dan pembangunan energi yang berkelanjutan maka peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat besar dalam peningkatan penyediaan listrik dan pelaksanaan konversi energi. Oleh karena itu. Penguasaan teknologi sangat penting karena bisa mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi. adaptif dan inovatif. serta menanamkan etos kerja tinggi. Penegasan bahwa pendidikan dapat memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi berdasarkan asumsi pendidikan akan menciptakan tenaga kerja produktif dengan kompetensi. Nilai ekonomi pendidikan terletak pada sumbangannya dalam memasok tenaga kerja terampil.4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4. yang kemudian berdampak pada pengurangan kemiskinan dan pengangguran serta menaikkan pendapatan per kapita masyarakat. profesional berpengetahuan dan tenaga ahli dengan kemahiran khusus sehingga menjadi lebih produktif. yang memberi stimulasi pada pertumbuhan ekonomi. untuk mencapai apa yang disebut keunggulan kompetitif (competitive advantage). 110 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Tenaga kerja terdidik dengan kualitas tinggi merupakan faktor determinan bagi peningkatan kapasitas produksi. bayu/angin dan samudera. Lemahnya ketersediaan pasokan listrik berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi. sehingga pembangunan dengan skala/kapasitas kecil-menengah akan sesuai dengan kemampuan pembiayaan dalam negeri.pembangunan ketenagalistrikan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Penguasaan teknologi dimungkinkan bilamana persyaratan modal manusia (SDM) yang andal dipenuhi. Tenaga kerja terdidik akan berpengaruh lebih signifikan lagi bilamana disertai penguasaan teknologi. Pendidikan juga dapat mengembangkan visi dan wawasan tentang kehidupan yang maju. Pelaksanaan kebijakan konversi energi dari BBM ke gas di sektor tranportasi dilakukan secara bertahap dalam jangka panjang dengan angkutan umum menjadi salah satu sasaran utama program konversi untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi. Semua itu akan melahirkan energi yang dapat mendorong dan menggerakkan kerja-kerja produktif untuk mencapai kemajuan.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan ekonomi. 4. Potensi energi baru terbarukan (EBT) sangat sesuai dikembangkan di Indonesia dengan kondisi geografis yang berupa pulau-pulau dengan kondisi beban (demand) yang tersebar.4. surya. Kondisi tersebut menuntut pengembangan dan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang potensinya relatif cukup besar seperti tenaga hidro. pengetahuan dan keterampilan tinggi. keahlian.

Dalam konteks penguatan ekonomi domestik diharapkan agregasi dari kedua upaya dan langkah secara makro tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan produktivitas dan kapasitas masyarakat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 111 .2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Upaya percepatan pengurangan kemiskinan yang dilakukan melalui strategi dan kebijakan makro dan strategi dan kebijakan klaster diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat miskin.10). Gambar 4. Secara makro. pengendalian terhadap inflasi terutama inflasi dari aspek makanan (flood inflation) diharapkan dapat mengamankan tingkat konsumsi masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan semakin meningkat. peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan penguatan ekonomi domestik di daerah (Gambar 4. Selanjutnya.Kaitan antara peningkatan SDM yang berkualitas dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan dapat digambarkan dalam diagram berikut.4.9 Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Peningkatan & Penguatan Daya Saing Nasional/ Daerah Tenaga Kerja Terampil Profesional dengan Penguasaan IPTEK Peningkatan Produktivitas Nasional/ Daerah Pertumbuhan Ekonomi yang Berdampak Pada Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Tenaga Ahli dengan Kemahiran Khusus Keunggulan Kompetitif Adaptif Inovatif Etos Kerja Tinggi 4. Secara ekonomis. tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan diharapkan dapat memberikan landasan bagi penciptaan lapangan kerja baru dan perluasan kesempatan kerja di masyarakat.

Kegiatan-kegiatan pada Klaster 1 (Bantuan dan Perlindungan Sosial) dan Klaster 4 (Program Pro-Rakyat) diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan terus meningkat secara sosial dan ekonomi.10 Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan STRATEGI DAN KEBIJAKAN KLASTER STRATEGI DAN KEBIJAKAN MAKRO KLASTER 1 MENJAGA TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI MENGENDALIKAN TINGKAT INFLASI KLASTER 2 KLASTER 3 KLASTER 4 PENYEDIAAN LAPANGAN KERJA MENJAGA TINGKAT KONSUMSI MASYARAKAT PENGURANGAN BEBAN PENGELUARAN PENINGKATAN PENDAPATAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK DI DAERAH Secara teknis.miskin di daerah sehingga pada akhirnya dapat memberikan kontribusi terhadap upaya penguatan ekonomi di daerah. 4 (empat) klaster program penanggulangan kemiskinan yang merupakan bagian dari kebijakan afirmatif diharapkan dapat meningkatkan baik kapasitas maupun produktivitas masyarakat miskin. Gambar 4. kegiatan-kegiatan pada Klaster 2 (Pemberdayaan Masyarakat) dan 112 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sementara.

jujur dan tunduk pada prinsip-prinsip umum sebuah pemilu demokratis sehingga memberikan kontribusi nyata pada stabilitas politik.5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4. bahwa stabilitas politik adalah prasyarat mutlak bagi penguatan. yang seluruhnya merupakan dana dari APBN. perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Hal ini dengan mengingat. Sehingga pada gilirannya makin jelas kaitan antara demokrasi dengan kesejahteraan masyarakat. sehingga memberikan kepercayaan yang lebih besar bahwa proses politik kita terus bergerak maju menuju demokrasi yang terkonsolidasi. yakni sebagai bagian dari penataan proses politik. jujur dan adil dan dengan tingkat partisipasi politik yang dapat mencapai rata-rata 75 persen.Klaster 3 (Pemberdayaan Usaha Mikro) diharapkan dapat memberikan landasan bagi pengembangan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat miskin yang berorientasi kepada peningkatan pendapatan (income generation) dalam jangka pendek dan peningkatan produktivitas dalam jangka panjang. untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itulah. baik pada stabilitas politik maupun ekonomi. Pembangunan politik mensyaratkan kesuksesan penyelenggaraan pemilu dalam menghasilkan pemimpin politik yang mampu mendorong kebijakan yang efektif dan bermanfaat untuk rakyat. Pemilu memang bukan segala-galanya dalam menentukan keberhasilan konsolidasi demokrasi. 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. maka pada tahun 2014 mendatang Pemilu 2014 dapat dilaksanakan secara demokratis. sebagai diamanatkan dalam UU No. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berkepentingan pada penyelenggaraan pemilu yang kredibel. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 113 .5. yang memiliki kaitan erat dengan program pembangunan pada umumnya dan arah kebijakan lainnya. Melalui proses persiapan penyelenggaraan pemilu yang matang dan akuntabel yang didukung oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Dengan kata lain. Bawaslu dan Panwaslu dalam melaksanakan tugastugas mereka menyelenggarakan pemilu maupun pemilukada. maka pada semua tingkat. 4. pemerintah perlu memberikan dukungan optimal pada lembaga independen KPU.1 Persiapan Pemilu 2014 Stabilitas politik dalam sebuah negara/sistem demokrasi ditentukan oleh sejumlah faktor penting. yakni pemilu yang adil. Kerangka pendanaan pemilu yang begitu masif perlu memberikan dampak nyata. tapi merupakan syarat mutlak. Bagan di bawah menunjukkan posisi penting pemilu dalam keseluruhan dinamika politik di Indonesia. Persiapan Pemilu 2014 membutuhkan suatu kerangka pendanaan yang sangat besar dan kompleks dalam setiap pentahapannya.

Stabilitas politik berpengaruh besar dalam penciptaan iklim investasi yang kondusif di suatu wilayah. Selain itu. Stabilitas politik ini berkaitan erat dengan kinerja pemerintahan dalam memfasilitasi dan menciptakan aturan main dalam kerangka governance. Kinerja pemerintahan ditentukan oleh kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi iklim investasi dan perkembangan ekonomi adalah situasi politik.5. akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan transparasi mekanisme pengadaan barang/jasa (procurement) juga menjadi pertimbangan penting bagi investor yang sangat menekankan 114 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . baik kepada masyarakat maupun investor.11 Skema Pencapaian Stabilitas Politik S T A B I L I T A S P O L I T I K Penyempurnaan Struktur Politik 1 Kelembagaan Demokrasi Konstitusi/ Peraturan Perundangan Hubungan antar lembaga Kebijakan Demokrasi Kapasitas Lembaga Negara/ Pemerintah KPU dan Bawaslu Desentralisasi dan otonomi daerah Rekonsiliasi Nasional Ruang Publik Penataan Peran Negara dan Masyarakat 2 Kemandirian Masyarakat Kapaitas OMS Kapasitas Parpol Pranata Kemasyarakatan Kapasitas dan Peran Adat Penataan Proses Politik 3 Representasi Kekuasaan Seleksi Kepemimpinan Nasional Seleksi Pejabat Publik/Politik PEMILU dan PEMILUKADA Pengembangan Budaya Politik 4 Penanaman Nilai Demokrasi Nilai Pancasila Nilai Demokrasi Advokasi/Pendidikan Politik Pembangunan Infokom 5 6 Akses Terhadap Informasi 4.Gambar 4.

Secara lebih sederhana sebagaimana digambarkan dalam kerangka pikir di bawah ini. Selanjutnya.pentingnya aspek kepastian hukum. Kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat akan sangat menentukan kualitas penyelenggaraaan pelayanan publik. Hal ini terutama ditujukan bagi SDM pelayanan yang menjadi pintu gerbang masuknya investasi di suatu wilayah.12 Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat KESEJAHTERAAN RAKYAT KUALITAS SDM APARATUR PERTUMBUHAN DAN PERKUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK PENERAPAN E-PROCUREMENT (LPSE) DAYA SAING DAERAH MENINGKAT UPAYA PENCAPAIAN WTP ATAS AUDIT LKPD DAMPAK: PELAYANAN PUBLIK BERKUALITAS PENERAPAN SAKIP SASARAN: TERWUJUDNYA TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Di samping itu. Kompetensi PNS perlu terus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan yang prima. upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas dan integritas SDM pelayanan harus terus dilakukan. Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam pembangunan di suatu wilayah. Untuk itu. Gambar 4. baik kepada masyarakat maupun investor. Dengan e-procurement maka penyelenggaraan proses pengadaan barang/jasa pemerintah Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 115 . upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas juga dilakukan melalui pengembangan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement). yang antara lain dapat ditempuh melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan upaya pengelolaan dan pelaporan keuangan negara/daerah secara akuntabel menuju tercapainya opini WTP atas audit BPK. hal ini harus diperkuat dengan komitmen untuk memberantas praktek-praktek Korupsi.

Aspek lain yang juga menjadi tolok ukur kapabilitas pemerintah dalam menjalankan pembangunan di daerah adalah akuntabilitas dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah. penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk mewujudkan birokrasi yang profesional. 116 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . efektif. Untuk mengukur akuntabilitas tersebut. Beberapa aspek yang ditekankan dalam penilaian opini BPK. hasil survey Transparency International Indonesia (TII) tahun 2010 atas beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa korupsi menjadi masalah utama bagi para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha. upaya-upaya yang mengarah pada pencegahan dan pemberantasan KKN harus terus menerus dilakukan demi menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan kepastian hukum. birokrasi yang tidak efisien dan situasi politik yang tidak stabil. bersaing. Selain itu. BPK sebagai lembaga yang berwenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. kewajiban pemerintah daerah untuk menindaklanjuti temuan BPK dapat dijadikan tolok ukur dari komitmen pemerintah daerah akan nilai-nilai transparansi dan kepatuhan atas peraturan perundangan. sehingga seluruh tahapan dalam proses kerja birokrasi. mulai dari perencanaan. diantaranya adalah kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan serta kepatuhan terhadap peraturan perundanganundangan. implementasi. terbuka. Hal ini tentunya dapat secara langsung mendukung upaya peningkatan daya saing nasional dan daerah. hingga pelaporan dapat berjalan dengan terarah sesuai rencana dan menghasilkan kinerja yang optimal. Masalah lain yang menjadi penghambat investasi adalah infrastruktur yang tidak memadai. Sejalan itu pula. akuntabel dan memiliki kinerja yang optimal. adil dan tidak diskriminatif. Mekanisme tersebut akan menjadi daya tarik bagi investor yang seringkali mengeluhkan proses pengadaan barang/jasa yang berbelit-belit sehingga dapat menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Implementasi SAKIP sebagai upaya pula untuk mewujudkan manajemen birokrasi berbasis kinerja. Oleh karena itu. penganggaran. telah mengeluarkan opini mengenai kewajaran informasi dalam laporan keuangan. Terkait dengan pemberantasan korupsi. pengendalian kinerja.dapat lebih transparan.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB V LANGKAHLANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Presiden telah menetapkan 9 (sembilan) direktif pada Raker III di Bogor tahun 2010 yang mengamanatkan bahwa peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat perlu ditingkatkan demi tercapainya sinergi pusat dan daerah serta efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan program dan kegiatan Kementerian/Lembaga di daerah. 120/4693/SJ tentang Peningkatan Efektivitas Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Kementerian/Lembaga di Daerah serta Peningkatan Peran Aktif Gubernur Selaku Wakil Pemerintah Pusat. antar ruang. Sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah serta antar daerah. monitoring dan evaluasi serta fasilitasi pembangunan Kabupaten/Kota di wilayah provinsinya akan diperkuat termasuk koordinasi perencanaan pembangunan. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. SE-696/MK 2010. Selanjutnya telah dipersiapkan revisi PP Nomor 19/2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 0442/M. Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan.1 Peningkatan Daya Saing Dalam upaya mencapai keunggulan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. 5. efektif. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. pelaksanaan dan pengawasan. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan diperlukan untuk: 1. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. pengawasan. berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Menjamin terciptanya integrasi. 4.PPN/11/2010. 2. antar waktu. Dalam hal ini peran Gubernur dalam menjalankan fungsi koordinasi. 3. Selanjutnya juga telah diterbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 5. pembinaan. serta Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. penganggaran. 120 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

baik di tingkat pusat maupun daerah. provinsi dan kabupaten/kota Peran konkrit yang perlu dikoordinasikan antara Pemerintah Pusat. 4. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. dalam rangka meningkatkan kemudahan investasi dan berusaha. 5.1. 2. RKP dan RKPD).Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. Melakukan harmonisasi peraturan perundangan dan turunannya. dan Kabupaten/Kota adalah: 1. baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Untuk itu. sehingga memudahkan berbagai stake holder untuk melaksanakannya. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 121 .1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Dalam rangka meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di seluruh Wilayah Indonesia. mengantisipasi terjadinya keterlambatan proses perijinan yang berlarut-larut dan mengurangi adanya pungutan pada perijinan sektor tertentu. RPJMN dan RPJMD. perlu ditingkatkan kemudahan pelayanan perijinan dan non perijinan yang transparan baik prosedur maupun biayanya. dan Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. Mendorong terbangunnya PTSP di seluruh Indonesia dan memfungsikan peran PTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan. 6. Provinsi. 5. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. setiap provinsi dan kabupaten kota agar dapat segera membangun dan menyelenggarakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang menyediakan informasi dan pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan untuk kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. memudahkan dalam memonitor kinerja pemrosesan perijinan terutama yang bersifat lintas sektor.1. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah. Peran pemerintah pusat. 2. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. Adapun peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam penyelenggaraan PTSP dapat terlihat dalam Gambar 5. PTSP diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah pelayanan perijinan. 3. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah.

Gambar 5. 122 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian KumHAM agar dapat menyederhanakan proses Prolegnas. 2. Pemerintah pusat berperan untuk mendorong daerah untuk mengimplementasikan Permendagri 24 tahun 2006 tentang PTSP. Selain itu juga diperlukan dukungan dari DPR agar menyederhanakan proses revisi terhadap perundangan yang telah masuk dalam daftar Prolegnas. Untuk itu.1 Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) KEMENDAGRI: Pembinaan Implementasi OTDA dan Monitoring KEMENKUM HAM: Penyusunan Peraturan dan Monitoring Peraturan KEMEN PAN DAN RB: Pembinaan Aparatur dan Penyusunan Struktur Organisasi Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Provinsi:  Penyelenggaraan PTSP di 33 Provinsi  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di Provinsi PTSP di kabupaten/kota  Penyelenggaraan PTSP kabupaten/kota  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di kabupaten/kota Peran pemerintah pusat Peran penting Pemerintah Pusat untuk meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha adalah: 1. 3. Kementerian Dalam Negeri dan BKPM berperan untuk meningkatkan kualitas SDM PTSP di seluruh Indonesia melalui pemberian pelatihan-pelatihan. Peraturan perundangan yang tumpang tindih agar segera diajukan dalam Prolegnas untuk dibahas dan dilakukan revisi.

123 . Investor akan memilih lokasi yang menawarkan peluang keuntungan lebih besar dengan risiko lebih kecil. peran Pemerintah Daerah menjadi sama pentingnya dengan Pemerintah Pusat dalam peningkatan investasi. 3. (2) pengelolaan belanja daerah dalam kerangka investasi dan layanan publik untuk menyediakan pelayanan terpadu. Peran Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Dengan otonomi daerah yang semakin menguat. Penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP.4. Kegiatan ini harus dilakukan sesegera mungkin. Beberapa instrumen kebijakan untuk meningkatkan investasi adalah (1) peraturan perundangan dalam kerangka regulasi. Pemerintah Daerah diharapkan dapat berkreasi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di daerah masing-masing melalui berbagai kebijakan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2. Penguatan kelembagaan pelayanan penanaman modal antara lain melalui peningkatkan status kelembagaan PTSP sebagai contoh penguatan bentuk kelembagaan dari kantor menjadi badan dengan syarat disesuaikan dengan kapasitas dan beban kerja serta tugas dan fungsi yang diembannya. atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha terutama yang berskala menengah dan kecil. persyaratan dan waktu pelayanan. Beberapa hal penting terkait penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP di daerah antara lain adalah:  Revisi Perda-perda terkait dengan retribusi perijinan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip PTSP seperti prinsip penyederhanaan. karena daerah lain tersebut memiliki daya tarik investasi yang lebih tinggi. Beberapa hal yang perlu dikembangkan pemerintah daerah (provinsi.  Telaah kebijakan dan peraturan lain dapat dilakukan secara berjenjang (satu persatu) maupun paralel (sekaligus). Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN dan RB) berperan untuk menerbitkan pedoman organisasi kantor PTSP di seluruh Indonesia. Meningkatkan komitmen pemerintah dalam mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian. tergantung prioritas dalam pembenahan perijinan. Daerah perlu membuat kebijakan yang mampu mencegah investor berpindah ke daerah lain. hal ini sangat penting karena kontribusi dunia usaha dalam menggerakan perekonomian di daerah memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam mencapai kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat mengamati dan belajar dari Pemerintah Daerah lain dalam meningkatkan daya tarik investasi daerah.  Penyederhanaan jumlah perijinan dengan menyatukan. kabupaten/kota) dalam rangka meningkatkan investasi di daerah antara lain adalah : 1.

dengan maksud dan tujan: (1) Untuk menjamin bahwa setiap tahunnya PTSP mendapatkan anggaran dari APBD dan (2) Untuk menjamin ketersediaan pendanaan yang diperlukan bagi pengembangan pengelolaan PTSP secara berkelanjutan. 6. Penuangan kebijakan PTSP ke dalam dokumen pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan jangka panjang daerah (RPJPD). maupun cetak) serta mengikuti berbagai kegiatan promosi melalui pameran dan lainlain. sesuai dengan kewenangan yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Memberikan input pada Kementerian teknis di tingkat pusat untuk membenahi kebijakan perijinan. Selain menjadi kewajiban pemerintah pusat dalam meningkatkan infrastruktur. 8. RT). 9. melalui berbagai kebijakan pemerintah daerah yang kondusif antara lain melalui deregulasi dan debirokrasi yang dituangkan dalam berbagai peraturan pemerintah daerah (perda/perkada dll). Meningkatkan infrastruktur daerah. maka pemda berkewajiban meningkatkan persentase belanja modal dalam APBD khususnya untuk infrastruktur di daerah dan melalukan kerjasama antar daerah (KAD) serta meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta (KPS) dalam membangun infrastruktur yang memerlukan dana lebih besar lagi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penataan regulasi. Pembebasan biaya retribusi bagi kategori usaha tertentu misalnya pengusaha mikro-kecil. desa/kelurahan. 7. Penerbitan kebijakan atau peraturan untuk mencegah adanya pungutanpungutan di tingkat pemerintahan yang lebih rendah (kecamatan. Meningkatkan promosi investasi daerah. melalui peningkatan koordinasi dengan Muspida termasuk unsur penegak hukum di daerah dalam menyelesaikan berbagai konflik/sengketa di daerah. Pemerintah daerah juga berkewajiban meningkatkan akses ketersedian lahan usaha di daerah sesuai pembagian kewenangan dalam peraturan perundang-undangan dan tidak menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah. Meningkatkan keamanan usaha.   4. sehingga dunia usaha dapat tumbuh dan berkembang dalam meningkatkan perekonomian di daerah. terutama terkait dengan pemenuhan persyaratan ijin. melakukan promosi investasi baik di tingkat nasional. regional maupun internasional dengan berbagai media (elektronik website. 5. Mengintegrasikan kebijakan maupun program pengembangan PTSP ke dalam Dokumen RPJMD dan RPJPD. koordinasi lintas sektor dan penataan kelembagaan serta peningkatkan sumber daya aparatur yang mengelola bidang pertanahan. Mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian daerah. 124 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . RW. Meningkatkan akses lahan usaha di daerah.

(2) Sarana. yang mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. tidak perlu mendatangi tempat yang terpisah. Hal ini dimaksudkan agar para investor hanya perlu datang ke satu lokasi.285 peraturan daerah yang dibatalkan karena dianggap bermasalah (Ditjen Keuanganan Daerah. pemerintah daerah perlu segera menerbitkan Perda pembangunan PTSP. Mendorong Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). 24 tahun 2006 untuk mempercepat dan memudahkan proses perijinan dan non perijinan. Melaksanakan harmonisasi regulasi antar daerah dan antara pusat dan daerah yang mendukung investasi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 125 . Mengoptimalkan penyelenggaraan dan fungsi PTSP. baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. prasarana dan media informasi yang memadai. Penyelenggaraan PTSP perlu ditetapkan oleh kepala daerah sebagai unit perangkat daerah. Kemendagri). 2. Untuk mendukung hal ini perlu didorong langkahlangkah: (1) Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penyusunan regulasi. serta (3) Mekanisme pembatalan peraturan-peraturan daerah yang bermasalah. 4. Sejak tahun 2002 hingga 2010. termasuk PTSP-PM (Penanaman Modal) yang sering berlokasi di tempat yang berbeda agar dapat ditempatkan di PTSP sebagai unit perangkat daerah. Dalam merespon pentingnya PTSP sebagaimana Permendagri 24 tahun 2006. Mendorong agar seluruh proses perijinan dan non perijinan dapat dilakukan di PTSP. mudah dipahami dan diakses. total terdapat 2. (2) Pemantauan dan evaluasi atas peraturan-peraturan daerah yang menghambat investasi dan perdagangan antar daerah (dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan). dan (4) Disediakan layanan pengaduan. Strategi Peningkatan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan Dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi dan iklim usaha di tingkat daerah.Selain itu. perlu adanya bantuan. 5. transparan. mendelegasikan wewenang perijinan ke PTSP dan membangun dan mengimplementasi PPTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan. melalui: 1. melalui peningkatan : (1) SDM yang profesional dan memiliki kompetensi. 3. Pemda agar tidak menyusun perda yang hanya bertujuan untuk meningkatkan PAD. dukungan dan peran dari pemerintah daerah dalam meningkatkan pelayanan perijinan dan non perijinan. Menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) di seluruh PTSP di Indonesia. pemerintah daerah perlu mengevaluasi dan menghapus perda yang cenderung membebani pengusaha dan kurang jelas tujuan serta peruntukannya. (3) Mekanisme kerja yang jelas.

bantuan pemerintah daerah untuk kegiatan bidang pertanahan sangat diperlukan. proses perencanaan dan koordinasi antar instansi dan Pemda yang terlibat dalam pengadaan tanah untuk pembangunan masih belum baik. Permasalahan pendanaan untuk ganti kerugian terhadap tanah yang dijadikan sebagai lokasi pembangunan infrastruktur kadang tidak tersedia secara optimal karena anggaran yang ada terbatas atau karena harga tanah yang tiba-tiba melonjak tinggi akibat adanya spekulasi terhadap harga tanah. Selama ini ganti kerugian mengacu pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang seringkali tidak mencerminkan nilai tanah yang sebenarnya dan bentuk ganti kerugian yang lebih mengutamakan dalam bentuk uang. antara lain: 1. yang perolehannya dapat dilakukan melalui proses pengadaan tanah. Waktu yang diperlukan untuk pembebasan lahan perlu dipercepat. Walaupun sebenarnya bidang pertanahan sudah merupakan bagian dari urusan daerah. Saat ini. Untuk itu. Bentuk bantuan. sementara ini bidang pertanahan masih merupakan urusan pusat dan dalam hal ini dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). 4. proses pembebasan lahan cenderung lama dan berlarut-larut. Strategi Peningkatan Kegiatan Pertanahan di Daerah Salah satu bidang yang memerlukan bantuan. Namun demikian diharapkan permasalahan proses pengadaan tanah dapat teratasi dengan terbitnya UU No. Untuk itu dalam rangka Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 126 . 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. dan Perencanaan dan koordinasi antar instansi yang perlu ditingkatkan. Besaran dan bentuk ganti kerugian. penetapan BPHTB merupakan kewenangan pemerintah daerah.Strategi Pengadaan Tanah untuk Pelaksanaan Pembangunan Pelaksanaan pembangunan termasuk pembangunan infrastruktur dalam kenyataannya memerlukan tanah. 3. 2. 5. Pendanaan. Selama ini. namun mengingat keterbatasan kemampuan daerah terutama terkait sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. dukungan dan peran dari pemerintah daerah adalah bidang pertanahan. Sejak berlakunya UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Kelembagaan. Memberikan Bantuan subsidi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). perlu strategi pembenahan yang dapat mempercepat proses pengadaaan tanah. Dalam pelaksanaannya terkait dengan upaya percepatan peningkatan daya saing daerah. dukungan dan peran dari pemerintah daerah terkait bidang pertanahan yang diharapkan antara lain adalah: 1. Pengadaan tanah selama ini dilaksanakan oleh suatu Panitia yang bersifat ad-hoc dan belum ada lembaga yang bertanggungjawab atas pengadaan tanah untuk kepentingan umum secara khusus.

Selain itu. 2.1. Adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. Namun demikian. Jaminan kepastian hukum hak atas tanah merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan daya saing daerah. pembangunan infrastruktur juga diperlukan untuk mewujudkan pemerataan.mendukung peningkatan kegiatan ekonomi daerah. 3. terjangkau dan ramah lingkungan untuk merekatkan seluruh wilayah dalam satu kesatuan NKRI yang maju dan sejahtera. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya minat investasi di wilayah tersebut. sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah luas yang terdiri dari 33 provinsi dan 491 kabupaten/kota dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah harus didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang berkualitas. Pada akhirnya dapat berakibat rendahnya daya saing suatu daerah. Memberikan dukungan dalam pengukuran dan pemetaan wilayah . Dalam pembuatan peta pertanahan pemerintah daerah diharapkan membantu BPN di daerah melalui identifikasi awal lokasi yang akan dipetakan serta bantuan identifikasi lokasi pada pelaksanaan survei termasuk transportasi terutama pada wilayah-wilayah terisolasi yang sulit terjangkau. pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik. 5. Dalam bidang pertanahan. Untuk itu pemerintah daerah dapat melakukan bantuan identifikasi bidang-bidang tanah yang sudah sesuai dengan kriteria perundang-undangan sehingga proses sertifikasi dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif. Ketersediaan peta pertanahan yang akurat dapat membantu mempercepat kegiatan sertifikasi tanah.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari pembangunan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 127 . Melakukan identifikasi lokasi-lokasi potensial yang menjadi obyek sertifikasi tanah. Indonesia. upaya ini sering terbentur dengan tidak siapnya bidang tanah yang akan disertifikasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. konflik dan perkara pertanahan. sehingga menimbulkan potensi sengketa. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. permasalahan yang dihadapi adalah masih banyaknya bidang-bidang tanah yang belum terdaftar (tersertifikat). Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah percepatan kegiatan pendaftaran tanah (sertifikasi). pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi besaran BPHTB bagi pelaku usaha dan masyarakat yang ingin berusaha di daerahnya atau bahkan membebaskan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pemberian subsidi.

13 Tahun 2010 yang merupakan penyempurnaan atas 128 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggung jawab termasuk pembiayaan. Pemerintah memberikan dukungan kerjasama dengan swasta (KPS) di bidang infrastruktur dengan diterbitkannya Perpres No. memberikan dana penjaminan (guarantee fund). membangun dan mengelola infrastruktur sebagai penggerak pembangunan. menyusun strategi dan kebijakan sektor. Pemerintah harus menyiapkan regulasi yang kondusif bagi partisipasi swasta.2 Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Multilateral. Development Bank APBN Rupiah Dukungan dan Jaminan Pemerintah Penyiapan Proyek Pihak Swasta Proyek BUMN/D Proyek KPS PPP Book Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Peran pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah yaitu agar dapat berperan sebagai fasilitator dalam merencanakan. menjamin keselamatan masyarakat pengguna. mengawasi aturan main (rule of the game) untuk melindungi kepentingan swasta dan sekaligus kepentingan masyarakat/konsumen. Bilateral.pembagian peran dan kewenangan. menetapkan standar pelayanan dan sertifikasi. Gambar 5. serta memberikan lisensi operator yang diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip yang optimal dan transparan bagi kepentingan publik dan investor. Baik pemerintah pusat maupun daerah mempunyai tanggung jawab untuk menyelenggarakan pelayanan infrastruktur yang bersifat public goods sesuai prinsip Public Service Obligation atau Universal Service Obligation (PSO dan USO).

67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.  Mengurangi backlog pemeliharaan prasarana dan sarana transportasi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 129 .  Penegakan hukum. Mendukung peningkatan daya saing sektor riil. 25/2007 tentang Penanaman Modal.  Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan. termasuk mempertahankan dan meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi.  Penerapan mekanisme unbundling guna mempercepat pembangunan sarana dan prasarana transportasi.  Mengembangkan transportasi umum massal perkotaan berbasis rel di wilayah metropolitan dan berbasis bis di wilayah perkotaan.  Memenuhi perkembangan teknologi dan ketentuan internasional. Strategi Peningkatan Infrastruktur Transportasi 1. sentra-sentra produksi pertanian dan industri. yang dilakukan dengan upaya-upaya :  Memberikan pelayanan transportasi minimal yang memadai dan merata.  Pembenahan manajemen transportasi umum perkotaan.Keputusan Presiden No.  Meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan transportasi mendukung pariwisata.  Pengembangan sarana dan prasarana transportasi perdesaan.  Meningkatkan kondisi pelayanan prasarana jalan sesuai dengan SPM.  Meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan transportasi.  Meningkatkan pelayanan pada koridor jenuh dan kesinambungan dengan transportasi sungai dan danau serta antarpulau (point to point).  Meningkatkan kemampuan dan kecepatan tindak awal pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan dan bencana. Dalam 2.  Meningkatkan profesionalisme SDM transportasi. Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). 3. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan dalam kondisi yang terbatas.  Pemberian subsidi transportasi dan PSO angkutan.  Meningkatkan strategi pelayanan angkutan antar moda dan intermoda.  Pengembangan sistem informasi muatan barang (cargo information system) serta pengembangan armada pelayaran nasional. Pembiayaan oleh swasta terus didorong pemerintah melalui Undang-Undang No. yang dilakukan dengan upaya-upaya:  Pengembangan outlet-outlet pelabuhan dan sarana pendukungnya. deregulasi pungutan dan retribusi di jalan. penataan jaringan dan ijin trayek.  Pengembangan sarana dan prasarana penghubung antar pulau.

baik dari aspek regulasi. dan  Peningkatan kelembagaan. Melanjutkan reformasi. Pengoptimalan kinerja infrastruktur yang telah ada perlu diutamakan dalam rangka efisiensi dalam investasi untuk pembangunan infrastruktur karena dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan infrastruktur di daerah melalui investasi yang relatif rendah. Dengan memperhatikan peta daya saing infrastruktur daerah yang ada. yang dapat dilakukan melalui integrasi dengan pergudangan dan kawasan industri di dalam hinterland-nya. angkutan laut. maupun angkutan udara. antara lain:  Pengembangan jaringan pelayanan transportasi secara antar moda dan intermodal. maka secara garis besar kebijakan dan strategi pengembangan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur di daerah perlu diarahkan kepada: 1. 130 . Optimalisasi kinerja pelayanan infrastruktur yang ada (value creation) melalui upaya debottlenecking permasalahan pelayanan infrastruktur yang telah terbangun. 3. Alokasi dana untuk pemeliharaan prasarana jalan di daerah juga perlu ditingkatkan untuk mengatasi jalan dengan kondisi tidak mantap yang rata-rata mencapai hampir separuh dari total panjang jalan provinsi.rangka keterjangkauan seluruh masyarakat untuk memanfaatkan jasa transportasi perlu dikaji ulang untuk optimalisasi kebijakan subsidi dan PSO. kelembagaan maupun pengelolaan. 4. Peningkatan kapasitas pelayanan infrastruktur (asset creation) melalui pembangunan baru maupun peningkatan dan perluasan cakupan infrastruktur yang ada. SDM dan teknologi untuk peningkatan daya saing produk lokal/dalam negeri di sektor transportasi. kota dan kabupaten yang ada. restrukturisasi dan pemantapan desentralisasi sektor transportasi. Debottlenecking juga perlu dititikberatkan pada titik-titik perpindahan antar moda transportasi serta akses keluar masuk pelabuhan laut maupun bandara yang ada.  Peningkatan iklim kompetisi secara sehat agar dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan alternatif bagi pengguna jasa dengan tetap mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan umum yang terjangkau oleh masyarakat.  Penyusunan SPM dan pelaksanaan desentraliasasi sektor transportasi. terutama untuk angkutan kereta api. Peningkatan kapasitas serta cakupan wilayah pelayanan infrastruktur di daerah diperlukan dalam rangka meningkatkan dan memperluas pelayanan infrastruktur Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2. Pembenahan sistem pengelolaan dan pengoperasian serta peremajaan angkutan umum kota dapat meningkatkan kapasitas angkut serta mobilitas orang serta mencegah maupun mengatasi permasalahan kemacetan lalu-lintas yang dapat menurunkan daya saing ekonomi kota. Optimalisasi kinerja pelabuhan maupun bandara .

Peningkatan dan perluasan layanan broadband di kabupaten/kota sebagai tulang punggung arus informasi yang berkontribusi signifikan kepada pertumbuhan dan daya saing ekonomi daerah. 6. Sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah maupun antara daerah dengan pusat akan memberikan dampak serta skala yang lebih besar dan menguntungkan bagi daerah dalam rangka peningkatan daya saing ekonomi daerah. Peningkatan dan perluasasan infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan layanan air minum dan sanitasi. 8. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian. Pembangunan jalan baru yang menjadi kewenangan daerah perlu ditingkatkan. untuk mendukung peningkatan kapasitas maupun pembangunan jalan. sesuai dengan adanya kewenangan Pemerintah Daerah untuk mengembangkan perkeretaapian di provinsi. kabupaten maupun kota sesuai dengan Undang-Undang No. pengelolaan jaringan irigasi. beberapa ruas jalan provinsi. pelayanan transportasi keperintisan. Dukungan daerah diperlukan. pengembangan angkutan umum masal berbasis jalan (Bus Rapid Transit/BRT). Dalam rangka mendukung kelancaran arus barang. kabupaten maupun kota yang menjadi bagian dari rute utama arus barang perlu ditingkatkan dalam bentuk pelebaran serta peningkatan kelasnya agar mampu memikul beban lalu-lintas yang ada serta konsisten dengan kelas jalan nasional pada rute utama arus barang tersebut. 7. Sinergi dan dukungan Daerah yang sangat 5. 4. Pengembangan perkeretaapian untuk penumpang terutama di kota-kota besar. misalnya untuk mendukung akses hasil produk pertanian daerah ke pasar. termasuk kepada masyarakat di wilayah perdesaan maupun terpencil.bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat maupun dukungan akses kepada pusat-pusat perekonomian daerah. pelabuhan dan bandara baru. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 131 . penyediaan infrastruktur dasar seperti air minum dan sanitasi dan penyediaan infrastruktur energi dan telekomunikasi. Peningkatan partisipasi Daerah dalam pemenuhan kebutuhan energi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan meningkatkan daya saing energi daerah. Peningkatan sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah dan antara daerah dengan pusat. Pengembangan perkeretaapian di perkotaan tersebut harus terintegrasi secara multimoda dan antar moda dengan pengembangan sistem angkutan umum dan transportasi keseluruhan di daerah. termasuk dalam hal penyediaan lahan. bandara maupun prasarana jalan nasional yang ada di daerah. Kerjasama dan sinergi antara Pusat dan Daerah juga diperlukan dalam peningkatan kapasitas infrastruktur seperti pelabuhan laut. pelaksanaan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK) 2011-2035.

Maluku √ √ √ 132 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Peningkatan investasi swasta dalam pengembangan infrastruktur daerah melalui skema Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS). yaitu: pertanian. telematika dan pengembangan kawasan strategis. Tabel 5.1 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor Kegiatan Ekonomi Utama Besi Baja Makanan Minuman Tekstil Peralatan Transportasi Perkapalan Nikel Tembaga Bauksit Kelapa Sawit Karet Pertanian Pangan Pariwisata Telematika Sumatera √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jawa Kalimantan √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. 5. Kegiatan utama di setiap koridor ditetapkan berdasarkan unggulan di masing-masing Koridor.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Pengembangan MP3EI berfokus pada 8 program utama. 9. Untuk itu. Adapun pemetaan kegiatan-kegiatan ekonomi utama di masing-masing koridor dapat dilihat pada Tabel 5. Dalam rangka mendorong pelaksanaan proyek KPS yang telah ada di dalam PPP Book. maka perlu dirintis maupun ditingkatkan pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui investasi swasta melalui pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).1. kelautan. dalam pelaksanaan MP3EI di setiap koridor ekonomi memerlukan upaya-upaya perbaikan iklim usaha dan iklim investasi sehingga pengembangan kegiatan ekonomi utama di setiap koridor ekonomi dapat berjalan secara optimal sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah. energi. pariwisata. Pemerintah Daerah perlu melakukan kajian serta memberikan fasilitas dalam bentuk penyiapan proyek KPS baik melalui anggaran daerah maupun bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga. Kebutuhan pendanaan untuk penyediaan infrastruktur yang begitu besar serta keterbatasan kemampuan investasi pemerintah serta dalam rangka memanfaatkan efisiensi yang ditawarkan swasta. dukungan Daerah diperlukan baik dari aspek regulasi yang dibutuhkan maupun penyediaan lahan. industri.penting dalam pengembangan infrastruktur yang dilaksanakan Pusat di daerah adalah dalam hal penyediaan lahan. pertambangan. Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama yang disesuaikan dengan potensi dan nilai strategisnya masing-masing di koridor yang bersangkutan.1.

4. 5.Kegiatan Ekonomi Utama Batu Bara Migas Jabodetabek Area KSN Selat Sunda Alutsista Peternakan Perkayuan Kakao Perikanan Sumber: MP3EI 2011 – 2015 Sumatera √ Jawa Kalimantan √ √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. Peran Pemerintah Daerah khususnya dalam perbaikan iklim investasi dan iklim usaha. 2. Perbaikan logistik nasional dan daerah dilakukan melalui pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi serta didukung oleh infrastruktur yang memadai melalui skema pendanaan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Dalam mendukung pengembangan KEK yang direncanakan di 5 lokasi sampai tahun 2012. Pembatalan Perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). Maluku √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk pelaksanaan program utama dan kegiatan utama dimaksud. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 133 . 3. 6. Dukungan pertanahan untuk mendukung iklim investasi. Penyederhanaan prosedur dilakukan melalui Penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di 50 kabupaten/ kota dengan arah kebijakan yaitu penerapan SPIPISE di PTSP sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas PTSP. Pelaksanaan sinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha di daerah. maka dibutuhkan kerjasama dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menciptakan iklim usaha dan iklim investasi yang baik di daerah sesuai dengan sektor unggulan di masing-masing daerah. Perbaikan kepastian hukum yang dilakukan melalui reformasi regulasi secara bertahap di daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk lebih meningkatkan kejelasan dan konsistensi dalam implementasinya. 7. diantaranya: 1.

Peran Pemerintah Pusat. peraturan pemerintah atau peraturan perundang-undangan lain yang lebih rendah. Peningkatan kinerja lembaga pelatihan ditujukan pada peningkatan relevansi. Harmonisasi regulasi dilakukan pada tingkat undang-undang. instruktur. 134 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . kualitas. 4.5. Menerapkan konsep pelatihan berbasis kompetensi.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda Langkah-langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak untuk dilaksanakan adalah: (1) Membangun infrastruktur pengembangan kompetensi kerja. Program pelatihan dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat dengan pemerintah daerah perlu memetakan program/kegiatan pemagangan yang dilaksanakan oleh berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di tingkat nasional dan daerah. program pelatihan perlu dikembangkan secara fleksibel dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha/industri. Pemetaan ini diperlukan untuk meningkatkan sinergi antar K/L dan antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan 2. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Penyiapan sarana/prasarana. yang antara lain menargetkan kaum muda. (2) Menyempurnakan mekanisme seleksi pemagangan di perusahaan. maupun perusahaan yang menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi. Pemerintah Pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah perlu melakukan harmonisasi regulasi yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan. sebagai tahap awal dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten agar dapat bersaing dalam pasar global. baik milik pemerintah. Infrastruktur pelatihan di lembaga pelatihan diperkuat dengan mengacu pada standar program dan SKKNI. termasuk peraturan daerah. Meningkatkan manajemen lembaga pelatihan agar kredibilitas dan akuntabilitasnya terukur. di antaranya dengan menerapkan sistem manajemen mutu ( total quality management) atau standar manajemen lain yang kredibel dan akuntabel. dan (4) Meningkatkan akses kepada informasi peluang kerja. Pemerintah pusat dan daerah dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi. (3) Meningkatkan efektivitas pelaksanaan program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan serta mendorong jaringan lembaga keuangan mikro termasuk ekonomi lokal. swasta. 3. pembiayaan dan pengelolaan lembaga pelatihan yang memenuhi aspek standar mutu kelembagaan menjadi prioritas. efektivitas dan efisiensi pelatihan.1. serta standarisasi dan sertifikasi kompetensi. Provinsi dan Kabupaten/Kota Langkah-langkah konkrit untuk peningkatan kesempatan kerja khususnya bagi tenaga kerja muda adalah: 1. seperti misalnya standar manajemen ISO.

jenis. informasi penyelenggaraan pelatihan dan informasi konseling. Rencana pelatihan kerja provinsi ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. Melaksanakan monitoring. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat provinsi. termasuk kredit usaha dan pengembangan jaringan pasar. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat provinsi yang bersangkutan. Selanjutnya. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. yang menghubungkan informasi lowongan kerja di kabupaten/kota.5. wirausaha muda yang telah mendapatkan pelatihan difasilitasi untuk memulai usahanya (inkubator bisnis). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 135 . Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat provinsi. Merencanakan dan melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. terutama daerah perdesaan dalam format standar yang dapat diakses oleh pencari kerja dan calon pemberi kerja. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. baik bidang. Mengembangkan sistem informasi pasar kerja. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Selain itu. Peran Pemerintah Provinsi 1. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. 2. Melaksanakan fungsi pengembangan program insentif pembinaan pelatihan di tingkat kabupaten/kota. serta program insentif bagi lembaga pelatihan. Sasaran berbagai program/kegiatan tersebut harus selaras. ketersediaan suplai tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. 3. peserta pelatihan kewirausahaan ini harus diseleksi dengan kriteria tertentu untuk memastikan keberlanjutannya. kualifikasi maupun jumlahnya. 6. 4. Meningkatkan sinergi pelaksanaan berbagai program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan oleh kementerian/lembaga. Jangkauan layanan informasi pasar kerja diperluas ke daerah-daerah. pemerintah daerah dan swasta di tingkat nasional dan daerah. saling mengisi dan bidang usaha yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah. program dan memastikan ketepatan sasaran. Kerjasama antara Pemerintah dengan perusahaan penerima pemagangan juga harus diperkuat agar pemagangan yang difasilitasi oleh pemerintah benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat bermanfaat bagi perusahaan. yang berisi antara lain informasi lowongan pekerjaan.

Mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan pengembangan kewirausahaan dan pemagangan di tingkat kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan dan mengintegrasikan kelompok/individu sasaran pemanfaat program sesuai dengan kebutuhan lokal. 136 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Selain itu juga melaksanakan fungsi pengembangan program insentif bagi lembaga pelatihan.5. Meningkatkan kualitas dan kemutakhiran data informasi pasar kerja di tingkat provinsi. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. 7. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. Melakukan verifikasi kelompok sasaran pemanfaat program kewirausahaan dan pemagangan. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. 6. jenis. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi dengan tembusan kepada Pemerintah Pusat. 3. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat kabupaten/kota. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di provinsi yang bersangkutan kepada Pemerintah Pusat. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. kualifikasi maupun jumlahnya. baik bidang. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat kabupaten/kota. Memutakhirkan data informasi pasar kerja di tingkat kabupaten/kota. Peran Pemerintah Kabupaten/Kota 1. Rencana pelatihan kerja kabupaten/kota ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. 5. 6. Melaksanakan monitoring. 2. 4.

Menjaga aksesibilitas pangan yang dilakukan melalui upaya antara lain : (a) pengembangan sistem distribusi pangan yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. (g) Penyaluran pupuk bersubsidi. (j) pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah. (j) Penelitian dan pengembangan benih unggul padi tanaman pangan lainnya. (i) Penyaluran bantuan sarana penanganan pasca panen. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. distribusi. (h) menetapkan jenis pangan yang berdampak pada inflasi. (f) pengembangan lembaga distribusi pangan masyarakat. (h) Penguatan dukungan lembaga penyuluhan bagi balai penyuluhan pertanian. 2. rawa dan jaringan pengairan lainnya. (c) penjaminan keamanan distribusi pangan.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam Bab 4.3 telah dijelaskan bahwa ketahanan pangan memiliki 4 aspek utama sebagai upaya membangun sistem ketahanan pangan. (d) Pengelolaan dan konservasi sebanyak. (e) Pengembangan SLPTT padi. dan (l) penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif. (l) pengadaan kapal perikanan. (b) Pengelolaan air irigasi untuk pertanian. mutu dan gizi pangan. tawar dan laut. tenaga penyuluh pertanian dan perikanan dan kelembagaan petani. beberapa strategi dan upaya yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut : 1.2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5. (k) pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan. (d) memberikan prioritas untuk kelancaran bongkar muat produk pangan. serta bangunan penampung air lainnya. antara lain saluran tambak di kawasan payau. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. (k) Pengembangan SLPTT jagung. (g) koordinasi kebijakan dalam perdagangan dan stabilisasi harga pangan. (i) pengaturan penyaluran cadangan pemerintah. (b) pengelolaan sistem distribusi pangan yang dapat mempertahankan keamanan.5. Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam upaya mencapai 4 aspek utama ketahanan pangan. Menjaga peningkatan produksi pangan yang dilakukan melalui: (a) Perluasan areal dan pengelolaan lahan pertanian.2. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 137 . (e) menyediakan sarana dan prasarana distribusi pangan. (c) Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. pengolahan pangan dan pemasaran. (m) pengembangan kawasan perikanan budidaya yang memiliki sarana dan prasarana memadai. (f) Pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan dan benih ikan. dan (n) Penyediaan statistik Pertanian untuk Sensus Pertanian 2013.

Melalui kegiatan-kegiatan pendukung seperti Sekolah Lapang – Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).3 40.1 244.02 Surplus Beras Murni (juta ton) 4.0 241.2 38.98 130.1 6. serta gangguan akan pangan di daerah-daerah terkena bencana dilakukan melalui pemberian raskin kepada masyarakat berpendapatan rendah dan menyediakan cadangan beras pemerintah.06 135.4 2014 76.2 237.6 6. dan (c) pengembangan alternatif pangan non beras.5 3. Selain itu pula diperlukan dukungan lain seperti pencetakkan sawah baru dan optimasi lahan untuk memperluas areal tanam.3. Menanggulangi permasalahan pangan yang disebabkan karena kenaikan harga pangan. (b) pengembangan pangan olahan yang berbasis sumber daya lokal.05 33.1) 37.15 137.03 33.5 10.9 5.8 2013 72.8 3.99 Kebutuhan Beras (juta ton) 33. 2013 dan 2014 adalah sebagaimana terlihat dalam Tabel 5. penyediaan alat mesin (alsin) pasca panen guna mengurangi nilai susut pada saat pasca panen. serta Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) guna mengurangi konsumsi beras per kapita sehingga sasaran utama surplus beras 10 juta ton dapat terpenuhi. System of Rice Intensification (SRI). kurangnya ketersediaan pangan.0 2010 66. revitalisasi mesin penggilangan padi untuk meningkatkan rendemen padi. 4. target sasaran produksi padi pada tahun 2012.2 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 Tahun Sasaran Produksi (juta ton) GKG Peningkatan Beras (%) Jumlah Penduduk (juta jiwa) Total Kebutuhan Perkapita/ Tahun 139. 2012 Catatan : 1) Tahun 2010 merupakan Angka Tetap BPS 2) Tahun 2011 menggunakan Angka Sementara BPS Penurunan konsumsi perkapita 1.07 33.22% 1 Meningkatnya produksi padi sebesar 6.1 Sumber : Kementerian Pertanian. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas produksi padi.1 7.01 132.2 2012 67.5%/tahun mulai 2010 Konversi Gabah Kering Giling (GKG) ke beras tersedia untuk konsumsi : 56.3 persen pada tahun 2013 diharapkan mampu untuk mendukung tercapainya surplus sebesar 7.2.2 3.5 248. kurangnya pendapatan masyarakat.06 33.5 juta ton pada tahun 2013 dan 10 juta ton pada tahun 2014.3 43. Menjaga pemenuhan konsumsi dan kualitas pangan masyarakat yang dilakukan melalui: (a) Pengembangan diversifikasi konsumsi pangan dan peningkatan keamanan pangan. Dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton mulai tahun 2014.2 37.0 252.7 (1.6 2 2011 65. Tabel 5. 138 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

perbaikan jaringan irigasi. yang dilaksanakan Kementerian terkait bersama-sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Target produksi padi tahun 2012 dan 2013 untuk masing-masing Provinsi dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. Dengan perhitungan pencetakan sawah pada tahun 2013 seluas 100 ribu ha. Potensi optimasi pemanfaatan lahan sawah masih cukup tinggi mulai dari Indek Pertanaman (IP) di bawah 1 (kurang dari 1 kali tanam dalam 1 tahun) dan di bawah 2 (dua kali tanam padi dalam 1 tahun). pelaksanaan dan penganggaran. pembinaan dan penyuluhan perikanan. pompanisasi. Prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton padi GKG. Optimasi Lahan dan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) Kegiatan Optimasi lahan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah.3. Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Daerah. Pencetakan sawah baru tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi produksi padi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton GKG. (3) peningkatan kapasitas SDM daerah melalui pelatihan. antara lain kawasan minapolitan. 2. Pencetakan Lahan Sawah Baru Pencetakan sawah baru dapat dilakukan juga melalui pemanfaatan lahan terlantar untuk peningkatan produksi pangan sesuai peraturan perundang –undangan. 3. meliputi antara lain: 1. Dengan perhitungan sasaran kegiatan optimal lahan seluas 80 ribu ha.Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong peningkatan perluasan areal tanam. penggunaan alsintan prapanen dan lain-lain. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara ekstensifikasi/ food estate Upaya perluasan areal lahan sawah baru direncanakan oleh BUMN dan pemerintah daerah sesuai dengan amanat Inpres 5 tahun 2011. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 139 . IP dapat ditingkatkan dengan input kegiatan optimasi lahan seperti penyediaan paket sarana produksi lengkap. (2) penetapan tata ruang wilayah dan zonasi kawasan perairan serta kawasan konservasi laut. Pencetakan sawah baru dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian. Selain meningkatkan produksi pertanian perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi perikanan. langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi perikanan adalah: (1) pengembangan kawasan perikanan. termasuk melakukan koordinasi lintas SKPD dalam aspek perencanaan termasuk penyiapan masterplan. prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 adalah sejumlah 87 ribu ton GKG padi.

137. (2) penerapan teknik budidaya jajar Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2.51 9.911.75 2.01 11.654.417.Tabel 5.498.351.66 32.234.37 2.33 1.25 1.33 377.945.94 15.063. produktivitas padi masih dapat ditingkatkan hingga 6 ton GKG per Ha.37 670.37 4.943.593. maka masih terbuka peluang meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas.88 67.071.41 9.95 2. Penerapan SRI (System of Rice Intensification) Air merupakan kunci utama dalam budidaya tanaman termasuk padi.67 587.721.488.74 Sumber : BPS (diolah ) Peran Pemerintah Daerah dan Petani Beberapa paket teknologi dalam rangka peningkatan produktivitas yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama dengan petani.65 10.34 134.707 16.57 300.15 90.26 667.11 2.24 63.35 606.66 610.132.23 10.58 3.78 1.77 528.78 885.69 2.752.48 3.689. Dengan kondisi ketersediaan air yang mulai terbatas baik kuantitas maupun kualitas.138. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 1.74 30.824. 140 .1 juta ton padi.506. SL-PTT Padi Menurut data BPS.27 1.002.96 No.00 615.953.12 282. Sasaran luas SRI pada tahun 2013 mencapai 200.102. Untuk meningkatkan produktivitas tersebut dilakukan melalui penerapan paket teknologi budidaya spesifik lokasi yang lebih dikenal dengan Pengelolaan sumberdaya dan tanaman secara terpadu (PTT).34 4.295. Teknologi SRI salah satunya adalah dalam rangka menerapkan hal tersebut.65 529.3 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi No.67 498.034.38 126.43 12.74 3.82 12.83 3.65 869.69 2.69 653.829.16 3. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 2.265.95 648.223.76 630.92 571.000 ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 1.63 10.12 1.85 95.22 400.14 3.69 552.59 2011. Komponen PTT antara lain: (1) penggunaan benih varietas unggul.34 708. Kegiatan SRI dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. maka sangat diperlukan teknologi budidaya padi hemat air. SRI dapat menghemat benih (5-8 kg/ha) karena tanam 1 batang dengan umur bibit muda (kurang dari 15 hari).85 538. meliputi antara lain: 1.23 67.60 1.25 924.27 507.52 1.12 72.

6.7 juta ton padi. Penelitian dan Pengembangan Kegiatan dan Penelitian dan pengembangan benih unggul sangat penting dilakukan guna mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi sehingga dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Kegiatan SL-PTT dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 3 juta ton padi. Penguatan Penyuluhan Upaya pencapaian target surplus beras 10 juta ton sangat memerlukan peran serta aktif penyuluh disetiap daerah. (2) Penambahan dua ayakan kawat. Berdasarkan hasil survei BPS 2009 diketahui bahwa konversi GKG ke beras rata-rata adalah 62. Kegiatan GP3K dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian BUMN. maka tugas Kementerian BUMN adalah (1) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan lahan pada kawasan hutan dengan pola tumpang sari produksi untuk tanaman padi. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi padi tahun 2013 direncanakan SLPTT seluas 3. Reaper. Sabit bergerigi. Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 141 . (5) Pengendalian OPT. Stripper. (3) Penambahan waterpolish. dan (4) tambahan satu unit alat pengukur kadar air (moisture tester). terpal. tanam satu batang. mampu meningkatkan rendemen GKG menjadi > 65 persen.legowo. Pedal thresher. Kegiatan penelitian dan pengembangan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara Intensifikasi Berawal dari Inpres 5 tahun 2011. dan (6) Panen tepat waktu. 3. Paddy mower.74 persen. Hasil kajian dan praktek perbaikan penggilingan padi yang dilakukan oleh Perpadi. 5. Sehingga sangat diperlukan usaha penguatan 4.75 juta ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 21. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pengadaan sarana penanganan pasca panen meliputi Vertical dryer. Pengamanan Pasca Panen Melalui penerapan penanganan pasca panen yang tepat kehilangan hasil pasca panen dapat dikurangi. (2) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi dan distribusi gabah/beras. (3) Penggunaan pupuk berimbang. dan (3) Memperkuat fungsi BUMN dalam pengadaan dan pengelolaan cadangan gabah/beras pemerintah dengan target GP3K untuk tahun 2013 adalah 570 ribu ha. power thresher. Perbaikan penggilingan yang dilakukan meliputi: (1) Mengganti alat dalam dua polisher. (4) Penerapan kalender tanam.

seperti untuk pengembangan biogas. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. hidro dan mulut tambang yang dikembangkan pada skala besar. karena 142 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pengaturan.penyuluh didaerah yang dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah. Proyek pembangkit listrik yang menjadi prioritas dan potensial untuk didorong melalui skema pendanaan KPS adalah pembangkit batubara. DAK lisdes dimulai pada tahun anggaran 2011. Selain itu. Namun Pemerintah Pusat harus tetap berupaya menjaga keadilan dan pemerataan pembangunan dengan melaksanakan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang listrik perdesaan/lisdes. 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan maka Pemerintah Daerah (Pemda) ikut serta bertanggung jawab dalam pengelolaan energi. koperasi dan swadaya masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik. Undang-Undang tersebut memberi kesempatan kepada badan usaha swasta. Hal ini selanjutnya akan tertuang dalam kerangka kebijakan yang dimulai dengan penyusunan rencana umum energi daerah (RUED). Skema KPS pembangkit listrik skala kecil-menengah akan lebih diarahkan untuk pengembangan pembangkit dengan energi terbarukan seperti tenaga sampah (waste to energy). Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik yang pelaksanaannya dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. pemda juga harus ikut serta dalam upaya mengalokasikan dana guna pembangunan infrastruktur energi di daerahnya. 30 tahun 2007 tentang Energi dan UU No. Adapun untuk skala kecil. 5. dengan mengupayakan pengembangan energi mikrohidro dan tenaga surya. lebih baik diarahkan melalui kerjasama dengan pihak koperasi. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. khususnya untuk daerah dengan kemampuan pendanaan yang rendah serta memiliki kondisi rasio elektrifikasi yang rendah.2. Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan ijin usaha penyediaan tenaga listrik. terutama untuk daerah perkotaan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan potensi pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur energi adalah melalui pengembangan kerjasama pemerintah dan swasta/KPS ( public private partnership/PPP). Untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam penyediaan tenaga listrik.2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi Sesuai dengan UU No.

1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam rangka menjadikan SDM sebagai isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 143 . kemampuan pengelolaan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut.3. kepulauan. terpencil dan perbatasan. (3) pengembangan potensi sosial dan ekonomi sebagai fokus pengembangan industrialisasi di daerah. 2. finansial dan sosial ekonomi.3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Langkah-langkah kongkret untuk meningkatkan kinerja pendidikan dapat ditempuh sebagai berikut: 1. 5. (2) prioritasi alokasi pendanaan pembangunan di daerah termasuk efisiensi. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. yang bermukim di daerah tertinggal. namun dapat memiliki nilai tambah sosial dan ekonomi. Peran Pemerintah Daerah Dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur energi sebagai sarana pendorong pembangunan sosial ekonomi di daerah. dan (4) pembinaan dan pengembangan kelembagaan bisnis khususnya koperasi. Untuk itu. Menyediakan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Bahkan layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.hal ini terkait dengan kesesuaian aspek kapasitas. pemerintah pusat. seperti: (1) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Hal ini sangat diperlukan agar infrastruktur energi yang dikembangkan tidak hanya menaikkan sisi konsumsi semata. maka masih diperlukan peranan Pemerintah Daerah dalam beberapa hal.

tugas dan tanggung jawab antara pemerintah pusat. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu meningkatkan kerjasama yang harmonis dengan memperhatikan peran. 5. Untuk itu. Mengupayakan pembangunan kapasitas kelembagaan di pemerintahan lokal dan melakukan supervisi untuk meningkatkan tata kelola satuan pendidikan di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. tugas dan tanggung jawab masing-masing. 10. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu fokus dalam hal-hal sebagai berikut: 144 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Peran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota Agar pelayanan pendidikan lebih optimal dan pelaksanaan desentralisasi pendidikan lebih efektif. agar pelayanan pendidikan dapat berjalan efektif. yang didukung oleh sistem informasi. perlu meningkatkan efektivitas pemanfaatan anggaran pemerintah pusat yang dialokasikan melalui dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan. Untuk itu. provinsi dan kabupaten/kota dalam penyediaan layanan pendidikan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan desentralisasi pendidikan. Memperjelas wewenang. yang disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab setiap tingkatan pemerintahan. Menyusun mekanisme yang tepat terkait penggunaan anggaran pendidikan dari pusat dan daerah agar tidak terjadi misalokasi dan inefisiensi. para pemangku kepentingan dan dunia usaha dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan melalui pengembangan program kemitraan yang saling menguntungkan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. 8. 6. serta memperkuat sistem evaluasi. 4. Mendorong partisipasi masyarakat. 9. akreditasi dan sertifikasi satuan pendidikan untuk menjaga dan mengendalikan mutu pendidikan. Menghitung proporsi anggaran yang harus disediakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdasarkan kapasitas fiskal.3. Dengan langkah-langkah kongkret yang dapat dilaksanakan secara nyata diharapkan layanan pendidikan yang bermutu makin meningkat. 7. Menyediakan subsidi dan berbagai skema blockgrant untuk meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. pemerintah daerah perlu menghitung kemampuan keuangannya untuk membiayai pendidikan. yang berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh daerah di Indonesia. Menata dan memantapkan sistem pembelajaran yang efektif di setiap satuan pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SPM). Untuk itu. serta kondisi empiris di lapangan (evidence-based decision making). Meningkatkan koordinasi di antara lembaga pemerintahan pada semua tingkatan untuk memperlancar proses pembuatan kebijakan pendidikan. kualitas dan validitas data.

3. 4.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan ekonomi domestik diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. Mendorong peningkatan peran masyarakat dalam rangka pemberian beasiswa bagi siswa miskin dan meningkatkan kapasitas pengelolaan pemberian beasiswa dalam hal pendataan. Menghitung kebutuhan nyata anggaran pendidikan dengan menyusun satuan biaya pendidikan per siswa pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan SPM. sehingga masing-masing daerah tetap dapat meningkatkan kemajuan pendidikannya. 2. Memperbaiki kesenjangan capaian pendidikan dan disparitas partisipasi pendidikan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya potensial yang tersedia. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridor-koridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Sementara. sasaran dan mekanisme penyaluran. Secara makro.3. (2) memperbaiki manajemen guru dengan menata persebaran pendidik yang lebih merata di seluruh daerah. perbatasan dan kepulauan. Selain itu. secara makro pemerintah pusat dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 145 . 6. termasuk memenuhi kebutuhan guru di daerah tertinggal. terpencil. 5. 5. (3) memfasilitasi dan memberi kemudahan perpindahan guru antar kabupaten/kota dan antar satuan pendidikan dalam konteks penerapan best practices dan knowledge sharing dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Menyediakan data dan informasi yang akurat untuk dijadikan dasar dan pertimbangan dalam perumusan dan pembuatan kebijakan pembangunan pendidikan nasional untuk dilaksanakan di daerah. Kandepag) dan satuan pendidikan agar dapat menjalankan tugas dan fungsi pelayanan pendidikan dengan baik. menghitung pula proyeksi kebutuhan anggaran per jenjang pendidikan yang disertai dengan perhitungan proyeksi perkembangan jumlah siswa dari tahun ke tahun berdasarkan perkembangan jumlah penduduk di setiap daerah. Selanjutnya.1. Memperbaiki ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah melalui (1) penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan bermutu sesuai dengan standar pelayanan minimal. Memastikan dan memperkuat institusi-institusi penyelenggara pendidikan (Dinas Pendidikan. yang diiringi dengan pengurangan disparitas partisipasi pendidikan.

Peran Pemerintah Daerah Pemerintah daerah . program dan kegiatan yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan di daerah. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok.pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. 3.melalui TKPKD Provinsi dan TKPKD Kabupaten/Kota . 2. penganggaran dan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah. dan Meningkatkan koordinasi kelembagaan lintas SKPD serta peningkatan intensitas peran dan fungsi TKPKD dalam mengkoordinasikan. Monitoring and evaluation system atau P3BM) yang telah diterapkan di 66 kabupaten/kota dan program pengembangan sistem perencanaan partisipatif (P2SPP) atau yang dikenal dengan PNPM Mandiri Integrasi yang telah diterapkan di 75 kabupaten/kota. 3. pemerintah pusat berperan dalam: 1.harus lebih intensif dalam melakukan: 1. termasuk perencanaan program dan penganggarannya. Mengintegrasikan perencanaan seluruh program penanggulangan kemiskinan ke dalam mekanisme dan proses perencanaan reguler melalui Musrenbang. 146 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 2. pemantauan dan evaluasi kemiskinan (Pro-poor Planning. Merumuskan strategi dan kebijakan 4 (empat) klaster Program Penanggulangan Kemiskinan. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi. penganggaran. mensikronisasikan dan mengintegrasikan seluruh lembaga. serta Memberikan pengembangan kapasitas (capacity building) dan penguatan kelembagaan (institutional strengthening) bagi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD). pemerintah pusat telah memberikan perangkat (tools) yang terkait dengan sistem perencanaan. Meningkatkan sinkronisasi perencanaan. Budgeting. Dalam konteks peningkatan kualitas implementasi program dan kegiatan di daerah. Peran Pemerintah Pusat Dalam konteks kebijakan afirmatif.

3. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada Langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Adapun dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 1.  Pelaksanaan sosialisasi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 147 . Pemerintah dan Pemerintah Daerah masing-masing perlu melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Kepolisian Daerah (Polda) untuk menyiapkan pengamanan yang optimal untuk keberlangsungan pelaksanaan setiap proses tahapan pemilu. Dalam keadaan tertentu Pemerintah dapat membantu pendanaan untuk kelancaran penyelenggaraan pemilihan gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.  Kegiatan lainnya yang pelaksanaannya dilakukan setelah ada permintaan dari Penyelenggara Pemilu.5. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS).  Kelancaran transportasi pengiriman logistik.4. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib memberikan bantuan dan fasilitas berupa:  Penugasan personel pada sekretariat Panwaslu kabupaten/kota.  Monitoring kelancaran penyelenggaraan Pemilu. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS)  Penyediaan sarana ruangan sekretariat Panwaslu kabupaten/kota. 2.4 Pemantapan Stabilitas Politik 5.

800-632 Tahun 2011. Penyusunan RUU ini untuk menggantikan UU No.PAN-RB/8/2011.Gambar 5. (2) PP 44/2011 tentang Pemberhentian PNS. Sedangkan beberapa kebijakan yang telah berhasil diterbitkan pada tahun 2011. 141/PMK. 02/SPB/M. 43/1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian yang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. 63/2011 tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri. pemerintah telah mengeluarkan kebijakan moratorium penerimaan PNS. Di samping itu. DPD dan DPRD Tahun 2014 Sumber: KPU. integritas dan kinerja dari SDM Aparatur. No.01/2011 tentang Penundaan Sementara Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. kompetensi.3 Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR. yang ditetapkan melalui Peraturan Bersama antara Menteri PAN & RB. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan No. 2012 5. saat ini sedang dilakukan pembahasan antara pemerintah dengan DPR dalam rangka penyusunan RUU Aparatur Sipil Negara (ASN). instansi pusat dan daerah diharapkan dapat melakukan penghitungan kebutuhan jumlah PNS yang tepat berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja 148 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . dan (3) Permenpan & RB No. Dalam rangka memperbaiki manajemen kepegawaian negara. No. antara lain: (1) PP 46/2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS. dalam hal ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam masa penundaan tersebut.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Strategi Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Optimalisasi kinerja birokrasi sangat tergantung pada kapasitas.4.

untuk melakukan penataan organisasi (rightsijing) dan penataan PNS dalam kerangka pelaksanaan reformasi birokrasi. khususnya diklat teknis terampil. model/sistem seleksi penerimaan dan penempatan pegawai. Melakukan penataan kepegawaian daerah dengan menghitung kebutuhan pegawai sesuai dengan kebutuhan riil (right sijing). sehingga secara langsung maupun tidak langsung.125 tenaga Analisis Jabatan (Anjab) di K/L/Pemda yang nantinya diharapkan dapat disusun peta jabatan dan profil kebutuhan PNS pada seluruh instansi pusat dan daerah. Berdasarkan peta SDM Aparatur dan berbagai kebijakan yang telah diterbitkan tersebut. Gubernur/Bupati/Walikota berkewajiban membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. 2. Sebagai tindak lanjutnya. pada tahun 2012 ini akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi 4. Melakukan realokasi penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 149 . diharapkan SDM Aparatur dapat menjadi pendorong perubahan dan peningkatan kinerja di lingkungan pemerintah daerah. 3. Sebagai dasarnya. 2. 4. 5. Strategi Perluasan Penerapan E-Procurement Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperluas penerapan e-procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. Melalui strategi tersebut. 3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan diklat pegawai. K/L/I dapat membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. sistem promosi/demosi dan mutasi. maka strategi yang dapat ditempuh dalam rangka peningkatan kualitas SDM Aparatur oleh pemerintah daerah adalah antara lain: 1. maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. ULP/Pejabat Pengadaan pada Kementerian/Lembaga/PerguruanTinggi/BUMN yang tidak membentuk LPSE. dapat melaksanakan Pengadaan secara elektronik dengan menjadi pengguna dari LPSE terdekat. baik pusat maupun daerah. turut memberikan kontribusi bagi peningkatan daya saing birokrasi daerah. Memperkuat manajemen pengembangan kapasitas dan profesi pegawai dengan membangun sistem pengembangan karir dan kapasitas pegawai yang profesional. Memperkuat manajemen SDM pegawai dengan membangun sistem pola karir. telah diterbitkan PermenPAN & RB Nomor 26 tahun 2011 tentang Pedoman Perhitungan Jumlah kebutuhan PNS untuk Daerah.

antara lain (minimal) terdiri dari:  perbaikan sistem. Meningkatkan komitmen dan pemahaman dari pimpinan pemerintah daerah (kepala daerah.Selain langkah di atas. Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. maka strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan opini dan kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) antara lain adalah: 1. upaya lain yang dilakukan dalam rangka perluasan penerapan eprocurement. pemerintah juga telah menetapkan beberapa kebijakan terkait. 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012. sekurang-kurangnya 75 persen dari seluruh belanja K/L dan 40 persen belanja Pemda (Prov/Kab/Kota) yang dipergunakan untuk pengadaan barang/jasa wajib menggunakan SPSE melalui LPSE sendiri atau LPSE terdekat. Berdasarkan peta pencapaian opini BPK atas Laporan Keuangan Pemda sampai tahun 2010. dilakukan melalui penetapan aksi sebagaimana tercantum dalam Inpres No. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. 150 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pemerintah telah menetapkan beberapa sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah daerah. antara lain Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara dan Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah.  peningkatan kompetensi dan kapasitas SDM pengelola keuangan daerah melalui penerimaan pegawai baru dan peningkatan kualitas pelaksanaan bimtek/diklat bagi para pengelola keuangan negara. Strategi Peningkatan Opini/Kualitas Laporan Keuangan Daerah Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. antara lain meningkatnya jumlah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjadi 60 persen pada akhir tahun 2014. dengan LKPP sebagai instansi penanggung jawab. DPRD. Dengan dicapainya opini WTP. diharapkan dapat mendorong pencapaian kinerja pemerintah darah yang lebih baik. kepala SKPD) untuk mencapai kualitas terbaik laporan keuangan pemerintah daerah (opini WTP) berikut aksi dan instruksi yang jelas atas komitmen yang telah ditetapkan. Dalam Inpres tersebut telah dirumuskan program aksi berupa Pelaksanaan Transparansi Proses Pengadaan Badan Publik. prosedur dan pelaporan pengelolaan keuangan dan barang milik daerah (sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah). Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah dalam APBN/APBD tahun 2012. Kegiatan bimtek/diklat bertujuan untuk memberikan pemahanan praktis kepada para pengelola keuangan agar mampu 2. Menyusun Rencana Aksi Menuju opini WTP dengan membangun infrastruktur pengelolaan keuangan daerah yang kuat. kolusi dan nepotisme (KKN).

 Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara. penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK. Melaksanakan/memperhatikan peraturan/pedoman terkait peningkatan kualitas laporan keuangan. SIMDA BMD/aset. penguatan SPIP sesuai PP 60 tahun 2008. Pendampingan penyusunan sistem akuntansi dan SOP Pengelolaan Keuangan.    3. SIMDA gaji. penguatan/pengefektifan fungsi APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) dalam mengintensifkan langkah-langkah pencegahan terhadap korupsi pada pelaksanaan/realisasi APBD. Penyediaan sistem pengelolaan keuangan berbasis komputer (SIMDA keuangan. dalam menyusun neraca daerah.  Surat Keputusan Kepala BPKP Nomor Kep-420/K/2007 tentang Pedoman Review Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.  PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. d. penguatan manajemen aset. dll. Pendampingan penyusunan laporan keuangan. b. Bimtek Pengelolaan Keuangan. e. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 151 . laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Memanfaatkan kegiatan-kegiatan KL yang bertujuan memfasilitasi/membantu pengelolaan keuangan daerah:  Asistensi yang diberikan BPKP pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. Pendampingan penataan aset.  Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.  Permenkeu Nomor 242 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Insentif Daerah Tahun Anggaran 2012 (persyaratan opini WTP dan WDP untuk mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) TA 2012).  PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. c.  Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah. 4. laporan realisasi anggaran.  PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. antara lain:  PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

f. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Bantuan Sosial. baik pusat maupun daerah. d. Setelah ditetapkan. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP). e. c. Ruang lingkup pendampingan dalam Mou antara lain: a. b. Membina Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan APBD. maka implementasi SAKIP harus juga merujuk pada peraturan perundang-undangan yang ada. g. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah. Kementerian Dalam Negeri saat ini sedang menyusun Permendagri tentang Pedoman Penerapan Standar Akuntansi berbasis Akrual. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. BPKP bersama beberapa pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang belum berhasil memperoleh opini WTP atas LKPD. Membina Pemerintah Daerah dalam Pelaksanaan dan Penatausahaan Pengelolaan Keuangan Daerah. seiring perkembangan dan penerapan sistem perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja pada seluruh instansi pemerintah. Hal inilah yang mendasari diterapkannya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Peningkatan kapasitas aparat pengawasan intern pemerintah daerah. telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menuju opini WTP. Strategi Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Akuntabilitas kinerja merupakan wujud pertanggungjawaban instansi pemerintah. Namun demikian. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. melalui serangkaian program dan kegiatan yang dilaksanakan dengan dukungan anggaran negara. Implementasi SAKIP pada awalnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem akuntansi pemerintah daerah. pusat dan daerah. Permendagri ini akan disosialisasikan secara bertahap. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Barang Milik Daerah. antara lain: 152 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Asistensi yang diberikan Kemendagri pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. dalam mencapai misi dan tujuan organisasi. b. sehingga terwujud manajemen berbasis kinerja pada lingkungan birokrasi pemerintah. dan c.

yakni: 1. 4. harus diungkapkan pencapaiannya dengan data dan informasi yang jelas. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). antara lain Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. strategi yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan akuntabilitas kinerjanya. Oleh karena itu. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 153 . yang dilaksanakan berdasarkan. Rencana Strategis pada setiap SKPD. antara lain: 1.1. 4. dapat dituangkan dalam Laporan atau lampiran laporan. maka instansi pemerintah harus menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) setiap tahunnya. dalam bentuk Indikator Kinerja Utama (IKU). serta dilengkapi dengan analisis hasil pengukuran. LAKIP tersebut. sehingga mendapatkan predikat yang lebih baik dari hasil penilaian LAKIP-nya. Memiliki dokumen perencanaan yang baik. dibandingkan dengan dokumen perencanaannya. sebagai penjelasan atas kelengkapan kinerja yang telah dicapainya. setiap instansi pemerintah harus merumuskan dengan baik dan telah memiliki indikator yang tepat. 2. valid dan sedapat mungkin dalam bentuk kuantitatif. Indikator-indikator kinerja yang menjadi target setiap tahunnya. Indikator Kinerja Kegiatan dan dilakukan pengukuran hasil kinerjanya. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dokumen perencanaan tersebut. Surat Keputusan Menpan Nomor: KEP-135/M. 3. komprehensif dan secara tepat mampu menyajikan kinerja yang dihasilkan dengan indikator yang terukur. 2.PAN/2004 tentang Pedoman Umum Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Oleh karena itu. Menyusun laporan akuntabilitas kinerja secara sistematis. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran Daerah. Permenpan dan RB Nomor 35 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011. Setiap kinerja yang dihasilkan oleh instansi. 3. melalui koordinasi Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi dilakukan evaluasi dan penilaian. Sebagai wujud implementasi SAKIP tersebut. Oleh karena itu. harus dapat diukur secara tepat. selain pencapaian indikator tersebut. Apabila terdapat data dan informasi tambahan. dan 2. penting bagi setiap daerah memiliki perencanaan kinerja tahunan secara terukur dan menerapkan kontrak kinerja di setiap unit kerja instansi pemerintah. harus dimanfaatkan dengan baik sehingga terwujud konsistensi antara rencana yang telah ditetapkan dengan implementasinya. khususnya bagi setiap pimpinan unit kerja. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Kabupaten dan Kota. Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah. 5. Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. struktur tarif dan waktu standar untuk ijin-ijin tertentu yang mungkin sejalan dan tidak sejalan dengan keputusan menteri yang berlaku untuk ijin yang sama. Pembagian tanggung jawab terkait dengan regulasi/perijinan bersifat lintas kewenangan: Pemerintah Pusat. dibutuhkan koordinasi yang lebih baik antara dinasi- 154 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 4. Provinsi. LAN dan instansi lainnya yang kegiatankegiatannya memiliki keterkaitan substansi dengan peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. diperlukan dukungan non-infrastruktur berupa pelaksanaan.Dalam menempuh strategi peningkatan akuntabilitas kinerjanya seperti di atas. Mempercepat penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang. Tujuan umum yang ingin dicapai dalam perbaikan regulasi dan perijinan adalah sebagai berikut: 1.1 Regulasi Untuk mendukung realisasi percepatan dan perluasan kegiatan ekonomi utama. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan dari sisi administrasi. yakni Kementerian PAN dan RB. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan mereka sendiri. perlu upaya bersama untuk mengatasi permasalahan yang membutuhkan perbaikan regulasi dan perijinan. selain percepatan pembangunan dukungan infrastruktur. Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan strategi MP3EI.5. Merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung strategi MP3EI (seperti Bea Keluar beberapa komoditi). 5. Untuk itu. Peran Pemerintah Daerah Upaya-upaya debottlenecking tersebut tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. baik di tingkat nasional maupun daerah. 2. diantaranya: 1. maupun antara sektor/lembaga. BPKP Perwakilan di setiap provinsi. pemerintah daerah hendaknya dapat berkonsultasi dengan beberapa instansi. 3. penetapan atau perbaikan regulasi dan perijinan.5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5. Untuk itu.

 Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. maka daerah dapat tetap menggunakan RTRW yang berlaku.  Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan MP3EI. jasa dan informasi. Terkait debottlenecking regulasi yang menghambat proses investasi di daerah. (2) menurunkan biaya logistik. Hal ini dapat menghambat proses pemberian ijin usaha bagi investor karena salah satu kriteria pemberian ijin usaha adalah kesesuaian dengan tata ruang. Untuk itu. kejelasan hak dan kewajiban wajib pungut/pemerintah daerah. maka perlu upaya untuk:  Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah. Hal ini dikarenakan kurangnya “pemahaman filosofi dan prinsip pungutan” sehingga diperlukan kejelasan subjek dan objeknya. 3. Namun agar pelaksanaan pembangunan tidak terhambat.dinas perijinan di daerah dan departemen teknis. 2. (3) mengurangi ekonomi biaya tinggi. Panduan perijinan usaha yang jelas dan lengkap akan meniadakan inkonsistensi antara peraturan-peraturan di tingkat pusat dan daerah dan mengurangi inefisiensi dan peluang untuk melakukan tindak korupsi. maupun antara sektor/lembaga. 4.2 Konektivitas Percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur dalam kerangka penguatan konektivitas nasional telah ditetapkan menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan MP3EI. 5. kecuali pada kawasan yang masih konflik dengan kawasan kehutanan.5. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 155 . serta koneksi antara tujuan dan isi peraturan daerah (Perda).  Merevisi atau menerbitkan peraturan daerah yang sangat dibutuhkan untuk mendukung percepatan pelaksanaan MP3EI. Masih banyaknya Provinsi dan Kabupaten/Kota yang belum merevisi RTRW sesuai dengan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Semua hal ini harus berpedoman pada UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. (4) mewujudkan sinergi antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. dan (5) mewujudkan akses yang merata di seluruh wilayah. Tujuan utama penguatan konektivitas nasional tersebut adalah (1) meningkatkan kelancaran arus barang. perlu adanya percepatan penyelesaian penyusunan RTRW. Banyaknya pungutan/retribusi yang diterapkan di daerah.

2. Dengan demikian multiplier-effects untuk mendorong pembangunan daerah akan lebih besar (contoh sinergi antara pembangunan jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. Yani. 2. mesin 156 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . sehingga pemanfaatan infrastruktur nasional perlu disertai dan disinergikan dengan pembangunan infrastruktur provinsi dan lokal. jaringan irigasi primer dengan irigasi sekunder dan tersier). 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang telah disahkan oleh DPR. Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan.5. Para Gubernur perlu mengidentifikasi pembangunan infrastruktur nasional yang "strategis dan penting“ untuk mempercepat pembangunan daerah yang bersangkutan (contoh Gubernur Jawa Tengah mengusulkan pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas.3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK menjadi salah satu dari 3 (tiga) strategi utama pelaksanaan MP3EI. 5. untuk mengoptimalkan pelaksanaan MP3EI perlu upaya sinergitas nasional dan daerah dalam pembangunan infrastruktur. diantaranya: 1.Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam rangka mensukseskan MP3EI selain berperan dalam mensinergikan kebjiakan di daerah dengan kebijakan Pemerintah Pusat. dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang akan digunakan sebagai landasan penyusunan RAPBN. pembangunan Waduk Jati Barang. Membangun komitmen untuk mensukseskan penyediaan infrastruktur dalam mendukung MP3EI. BUMN dan swasta. Akan tetapi. Pemerintah Daerah juga sangat sentral untuk: 1. namun Pemerintah daerah juga harus terlibat aktif sehingga anggaran belanja modal daerah dapat dipakai untuk mendukung platform besar ini. dalam jangka pendek Pemerintah telah memprioritaskan percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur disetiap koridor ekonomi. pengembangan Bandara A. Peran Pemerintah Daerah Untuk mempercepat pencapaian tujuan konektivitas nasional. Komitmen untuk mensukseskan MP3EI bukan hanya antara Pemerintah Pusat. penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo (Ungaran-Bawean dan Bawean-Solo). Mendorong percepatan proses pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur di wilayahnya dengan berpedoman kepada UU No. Gubernur NTB mengusulkan pembangunan Waduk Pandan Duri dan Jalan Trans Nusa Tenggara). Pendanaan pembangunan infrastruktur melalui APBN sangat terbatas.

Selain pengembangan pendidikan tinggi. dalam pengembangan SDM dan IPTEK juga membutuhkan peran dari setiap Pemerintah Daerah. pengembangan program pendidikan vokasi harus disesuaikan dengan potensi di masing-masing koridor ekonomi. Model pengembangan kawasan industri inovasi produk-produk hilir yang terintegrasi. untuk pengembangan kelapa sawit. b. Pengembangan community college. diharapkan akan menghasilkan lulusan yang langsung dapat diserap oleh kegiatan ekonomi di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di setiap koridor ekonomi. c. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 157 . yang menyelenggarakan program diploma 1. Politeknik tersebut dikembangkan sesuai dengan potensi dan keunggulan setiap koridor ekonomi.pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi. Oleh karena itu. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Energi yang berbasis non-renewable dan renewable energy di Provinsi Kalimantan Timur. Oleh karena itu. Peran Pemerintah Daerah Untuk itu. pemerintah daerah yang sudah memiliki inisiatif untuk menumbuhkembangkan potensi inovasi pada beberapa produk dan program unggulan wilayah. Mutu community college dibina oleh politeknik yang dikembangkan di ibukota provinsi. Mendukung pengembangan program pendidikan vokasi. Program pendidikan vokasi didorong untuk menghasilkan lulusan yang terampil. pelaku usaha. pengembangan pelatihan kerja dan pengembangan lembaga sertifikasi. tujuan utama di dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mendukung hal tersebut diatas haruslah bisa menciptakan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan sains dan teknologi. Pembentukan klaster inovasi daerah untuk pemerataan pertumbuhan. antara lain: a. Oleh karena itu pengembangan community college dilakukan dengan secara bersama-sama antara pemerintah. diploma 2 dan diploma 3. Dalam konteks ini. 2. diantaranya dalam: 1. kakao dan perikanan. Di setiap kabupaten/kota minimal harus dikembangkan pendidikan tinggi setingkat akademi (community college) atau politeknik dengan bidang-bidang yang sesuai dengan potensi di kabupaten tersebut. pengembangan sumber daya manusia juga dilakukan dengan pengembangan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Agroindustri. dunia usaha dan universitas sebagai pengelola community college. di Gresik Utara Provinsi Jawa Timur. MP3EI mendorong dan memberdayakan upaya masyarakat.

serta (v) pendekatan bottom up. (iv) pendekatan top down. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) 158 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sedangkan pendekatan top down dan bottom up dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Sementara yang melalui proses teknokratik menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional yang menjadi tugasnya. Output. Armida Salsiah Alisjahbana. Pendekatan politik akan menghasilkan rencana pembangunan sebagai hasil penjabaran visi misi presiden atau kepala daerah yang dijabarkan dalam RPJMN atau RPJMD. Dr. Kelima pendekatan tersebut sangat penting digunakan dalam proses perencanaan dan penganggaran pemerintah khususnya digunakan untuk menyusun dan memformulasikan suatu kebijakan. Pendekatan partisipatif terjadi dimana jika perencanaan dan penganggaran melibatkan semua stakeholder. MA. Jakarta. 26 Juni 2012. Gambar 5. Mekanisme perencanaan dan penganggaran pada umumnya menggunakan lima pendekatan dasar. (iii) pendekatan partisipatif.6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik Proses perencanaan dan penganggaran yang baik akan sangat berperan penting dalam meningkatkan peran pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik.5. Outcome Daya Saing Daerah Memperhatikan Kemajuan Teknologi dan Perubahan Kelembagaan Berkelanjutan Bersaing secara nasional maupun internasional Sumber: Prof. yaitu: (i) pendekatan teknokratik. (ii) pendekatan politik. SE.4 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah Sinergi Input. salah satunya adalah melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Menteri PPN/Kepala Bappenas dalam Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Daerah melalui Reformasi Birokrasi.

meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: 1. penganggaran. sasaran. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. antar ruang. Melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. dengan tetap memperhatikan perubahan teknologi dan institusi yang ada di daerah tersebut agar dapat bersaing dengan baik di tingkat nasional maupun internasional sehingga mampu meningkatkan standar kehidupan masyarakat. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 159 . Memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran . (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. Daya saing daerah adalah kemampuan untuk mensinergikan antara input. 3. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. 2. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. (2) terciptanya integrasi. dan (ii) sinkronisasi renstra SKPD dengan renstra K/L sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. output dan outcome yang ada di daerahnya secara berkelanjutan. antar waktu. menjaga iklim investasi. Hal ini dapat dilakukan melalui: (i) sinkronisasi tujuan. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal.koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. berkeadilan dan berkelanjutan. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. kegiatan dan alokasi anggaran daerah sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. efektif. pelaksanaan dan pengawasan. program. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah.

Sementara Singapura tetap menduduki posisi pertama selama 4 tahun berturut-turut. bahkan pada tahun 2012 telah berada pada peringkat tidak lebih dari 20. kota dengan kemudahan perijinan menjadi salah satu pertimbangan bagi para pengusaha untuk membangun atau mengembangkan usahanya. jauh di bawah negara anggota ASEAN seperti Singapura. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Memulai Usaha 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Surakarta Jambi Manado Indonesia (rata-rata) Modal disetor minimum (% per kapita) Jumlah prosedur Waktu (hari) Biaya (% per kapita) Balikpapan.1 Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Peringkat daya saing Indonesia dalam Ease of Doing Business (EODB) tahunan yang dilaksanakan oleh IFC Bank Dunia. daya saing berusaha di Indonesia dibandingkan negara lain masih belum baik. Untuk Indonesia diwakili oleh Jakarta. Secara nasional. Survei tersebut dilakukan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di kota-kota bisnis dunia. 160 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 APEC (rata-rata) Yogyakarta Palangkaraya Medan . Yogyakarta adalah kota termudah dan tercepat dalam mendirikan usaha. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa posisi Indonesia yang pada tahun 2011 berada pada peringkat ke 126 menurun menjadi ke 129 pada tahun 2012. sementara Bandung (Jawa Barat) dan DKI Jakarta adalah yang termudah dalam mendaftarkan properti. Posisi Thailand dan Malaysia terus menerus membaik. Bahkan untuk beberapa indikator kota-kota tersebut dapat lebih cepat dengan prosedur yang lebih pendek dibandingkan rata-rata 20 kota di Indonesia yang disurvei dan APEC. Berdasarkan survei SNDB. Thailand dan Malaysia. Dari hasil survei kemudahan berusaha tingkat global. bahkan dari rata-rata anggota APEC. Balikpapan (Kalimantan Timur) merupakan kota termudah dalam mengurus ijin mendirikan bangunan. Namun ternyata potret berbeda diperoleh saat survei dilakukan di 20 kota di Indonesia dari 400 kota di dunia yang terpilih dalam survei Sub National Doing Business (SNDB).Boks 5. Jambi dan Palembang dalam memberikan kemudahan mendirikan bangunan lebih cepat dan lebih murah dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia.

Boks 5. IFC Bank Dunia Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Asia timur dan Pasifik (ratarata) Semarang 161 .1 (Lanjutan) Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendirikan Bangunan 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Balikpapan Jambi Palembang Indonesia (rata-rata) Denpasar Manado Jakarta APEC (ratarata) Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per kapita) Dalam memberikan kemudahan mendaftarkan properti. Bandung. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendaftarkan Properti 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Bandung Palembang Indonesia (rata-rata) Jakarta Pekanbaru Batam Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per properti) Sumber: Doing Business di Indonesia 2012. Palembang lebih cepat dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia dan terhadap rata-rata negara Asia timur dan Pasifik. Jakarta.

dalam lingkup daerah yang bersangkutan. 162 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pengajuan ijin usaha dan pelaporan. Dengan kemajuan kualitas pelayanan dari kedua daerah tersebut telah menumbuhkan optimisme baru terhadap kinerja birokrasi dan menyemangati adanya harapan bagi bangsa ini untuk tampil lebih baik dan berdaya saing nantinya. Daerah-daerah tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip Good Public Governance. namun dengan berdirinya PTSP yang memberlakukan kemudahan.2 Kisah Sukses Pelaksanaan PTSP di Parepare dan Sragen Fenomena membaiknya pelayanan publik dalam beberapa tahun terakhir ini bisa dijumpai di beberapa daerah yang telah membangun pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) atau yang dikenal dengan One Stop Services (OSS) antara lain di Kota Parepare dan Kabupaten Sragen. Bahkan selanjutnya kantor-kantor tersebut mendapat brand image baru yang positif.Boks 5. transparansi dan keramahan dalam pengurusan berbagai surat. Dengan dicapainya ISO 9001:2000 atas kualitas manajemennya. maka kantor pelayanan perijinan Kota Parepare dan Kabupaten Sragen merupakan sebagian contoh pelaksanaan pemberian pelayanan perijinan prima yang berhasil disediakan pemerintah kepada masyarakat. petugas dengan seragam pegawai swasta yang siap melayani dengan senang hati maka secara perlahan PTSP mendapat kepercayaan dari masyarakat. Untuk meraih status sebagai PTSP yang mampu menyediakan layanan prima. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat karena pada awalnya. di kedua kota/kabupaten tersebut dapat memberikan pelayanan beberapa perijinan dan non perijinan dalam waktu dan dengan biaya yang terukur jelas (lama dan besarannya). masyarakat termasuk investor enggan berhubungan langsung dengan aparat. dengan didukung kondisi kantor yang nyaman. merupakan hasil kerja yang didesain (by design) dan dilakukan terus menerus sehingga memperoleh kepercayaan masyarakatnya. Dengan tidak mengesampingkan prestasi dari daerah-daerah lain yang juga tengah berbenah menuju birokrasi yang friendly.

izin gudang. izin trayek angkutan kota dan izin usaha angkutan hanya dua hari. Untuk menjaga transparansi. NPWP. 2007 dan renewal and upgrade ke ISO 9001:2008 pada tahun 2011. antara lain: SIUP. Untuk NPWP. Slogan tersebut ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas pelayanan perijinan. Piagam Mendagri atas prestasi kontinuitas konsekuensi dan komitmen pelaksanaan PTSP tahun 2009. TDP. Selain itu. industri dan lainnya yang memerlukan pengecekan ke lapangan untuk melihat lokasi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 163 .Boks 5. penghargaan dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah dan penghargaan dari The Asia Foundation. Kualitas kinerja manajemen KPPT Parepare telah mencapai sertifikat ISO 9001 versi 2000 pada tahun 2004. 2006. Implementasi KPPT Parepare telah membantu berperan meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di Kota Parepare yang tercermin dari meningkatnya jumlah perijinan yang diproses dan berimplikasi pada peningkatan PAD yang mencapai 442. Piagam sebagai PTSP kota terbaik dari Mendagri tahun 2007. seperti izin tempat usaha. Proses yang memakan waktu sampai tujuh hari biasanya hanya izin-izin yang membutuhkan verifikasi. Beberapa perijinan bahkan dibebaskan dari biaya. ijin peruntukan penggunaan tanah. perijinan dan non perijinan di bidang penanaman modal. piala otonomi award tahun 2009 sampai dengan 2011. sementara izin pemasangan reklame sekitar tiga hari. Waktu yang diperlukan untuk mengurus izin atau mendapatkan surat keterangan berkisar dari 15 menit hingga tujuh hari. rata-rata hanya 15 menit. antara lain adalah: Piala Citra Pelayanan Prima dari Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) tahun 2002. sehingga tidak ada uang beredar di PTSP tersebut. Banyaknya prestasi yang diperoleh KPPT Parepare. untuk pengurusan KTP. Beberapa contoh perijinan yang dapat diproses dengan cepat antara lain. Proses pembayaran dilakukan di Bank Sulawesi Selatan. Di kantor tersebut dengan jelas dipasang slogan “kawasan bebas korupsi” dan “apabila bisa dipercepat kenapa diperlambat?”.9 persen selama periode tahun 2003 sampai dengan 2011. Piagam dari Mendagri sebagai narasumebr Permendagri No 24 tahun 2006 tentang PTSP tahun 2006. Akta catatan sipil. Sulawesi Selatan Kantor pelayanan perizinan Parepare berdiri sejak bulan Juni 2011. Prestasi yang diperoleh KPPT Parepare selain sertifikat ISO. keterangan dari tetangga dan hal lain yang diperlukan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku. investment award/PTSP kota terbaik dari BKPM tahun 2011.2 (lanjutan) Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Parepare. TDI. maka pada besaran biaya dan angka dicantumkan pada bagian bawah surat keterangan yang dikeluarkan sesuai dengan perda dan juga jumlah yang dibayarkan di bank. 2009. telah menjadikan percontohan setidaknya bagi 359 kabupaten/kota/lembaga yang datang berkunjung. biasanya kurang dari satu hari atau setengah hari. ijin usaha kepariwisataan. keberhasilan pelaksanaan KPPT Parepare telah menjadikan sumber informasi tidak kurang dari 115 daerah/lembaga pada seminar dan sosialisasi pelayanan PTSP.

2 902.000. Proses pelayanan untuk beberapa perijinan di BPT Sragen dapat dilakukan secara paralel antara perijinan satu dengan yang lainnya dengan maksimal waktu 12 hari.582 2 2004 38. Bahkan. Selain itu.200.00 1. BPT Sragen menerima pendelegasian kewenangan langsung dari Bupati sehingga memiliki kewenangan menerima. BPT Sragen menerapkan sistem online yang terhubung dengan kantor-kantor kecamatan di bawahnya dan pemohon dapat melakukan pengecekan sampai dimana berkas sudah diproses ( tracking document) melalui internet.304 3 2005 48. investment award/PTSP kabupaten terbaik dari BKPM tahun 2010.0 1.000.110 8 2010 91. BPT Sragen juga terpilih sebagai best practice modul oleh JICA Jepang dan dibuat film yang kemudian diedarkan ke berbagai kabupaten/kota di Tanah Air. TDP dan TDI paling lama memakan waktu 3 hari.00 1. Jawa Tengah Badan Palayanan Terpadu (BPT) Sragen beroperasi secara resmi pada bulan Oktober 2002 dengan slogan: “Satu hati untuk melayani.628.417.000.380 6 2008 56.000.000.350.300.073.Boks 5. transparan dan pasti”.00 703. Latar belakang berdirinya BPT Sragen adalah adanya keinginan masyarakat akan kemudahan dan penyederhanaan pelayanan pemerintah untuk mendorong laju perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.8 2.6 1. Penghargaan yang diterima KPT Sragen selain sertifikat ISO 9001-2000 dari Sucofindo International Certification Service antara lain adalah: penghargaan Satya Abdi Praja dari Gubernur Jateng. penerimaan retribusi dan realisasi investasi sebagai berikut: No Tahun Jumlah Pemohon Penerimaan Retribusi (Rp Juta) 935. Ranking I daerah Pro Investasi di Jateng tahun 2005.9 1.3 1.00 926. Semua informasi lamanya proses perijinan dan formulir dapat dengan mudah diakses dari website pemerintah kabupaten.203. Untuk pengurusan SIUP.718. Mudah cepat. Untuk meningkatkan kelancaran pelayanan.000.2 Realisasi Investasi (Rp Juta) 526. BPT Sragen membuat survei kepuasan pelanggan setiap enam bulan sekali.000. Citra Pelayanan Prima dari Presiden.180.843.2 (lanjutan) Badan Pelayanan Terpadu Sragen.200.00 1. Keberadaan BPT Sragen selama ini memberikan dampak positif bagi perkembangan dan pembangunan Kabupaten Sragen antara lain meningkatnya jumlah pemohon. BPT Sragen 164 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Penerimaan retribusi disetorkan langsung ke kas daerah sesuai rekening dinas masing-masing.633 5 2007 57.329 7 2009 53.4 1. BPT Sragen direkomendasikan ADB dan IFC sebagai model KPT di Indonesia. sementara untuk pajak reklame hanya memerlukan 1 hari.00 950. dengan membuat buku panduan tentang OSS yang diedarkan di seluruh kabupaten/kota di Tanah Air.272 4 2006 45.958 Sumber: Perijinan usaha. memproses dan menandatangani dokumen perizinan. Untuk menjaga kualitas pelayanan.00 1.72 1 2003 39.

53/M. 53/ M. Dr. Agung Pambudhi (KPPOD). konsisten. Bappenas Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. Agung Pambudhi (KPPOD). Prof. tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. Pemberian penghargaan ini dilakukan melalui penilaian terhadap dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi tahun 2012. Bambang Bintoro Soedjito (ITB). Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 165 .PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. terukur dan dapat dilaksanakan. Bambang Bintoro Soedjito (ITB).Boks 5. Prof. Kodrat Wibowo (Unpad). serta sekaligus menciptakan insentif bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang lebih baik dan bermutu.3 Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Anugerah Pangripta Nusantara diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS bertujuan untuk mendorong setiap daerah untuk menyiapkan dokumen rencana pembangunan secara lebih baik. Dr. Dr. komprehensif. Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P. Herman Haeruman (IPB). Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. Sumber: Direktorat Perkotaan dan Perdesaan. Dr.PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. Herman Haeruman (IPB). Kodrat Wibowo (Unpad).

serta percepatan pencapaian tujuan MDGs. Provinsi DI Yogyakarta. kerangka kebijakan keuangan daerah. Pemberian trophy penghargaan Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012 oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas kepada para Kepala Bappeda yang mewakili 3 provinsi pemenang dilakukan pada saat acara penutupan Pra-Musrenbangnas tanggal 25 Mei. proenvironment. Ketiga provinsi pemenang yaitu: 1.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Penilaian didasarkan pada 5 (lima) kriteria. pemenang pertama. yaitu: 1. kepemimpinan dan kesiapan pelaksanaan. analisa. pemenang kedua. Provinsi Sumatera Selatan. serta Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 yang dilihat dari tingkat intensitas konsultasi dengan para pemangku kepentingan. 3. pemenang ketiga. 2. Konsistensi dokumen RKPD 2012 terutama konsistensi hasil evaluasi dengan isu strategis. Keterkaitan dokumen RKPD 2012 dengan dokumen RPJMD Provinsi dan RKP 2012. pro-job. 3. juga diberikan penghargaan dalam bentuk piagam kepada 3 provinsi nominasi terbaik. Disamping itu.Boks 5. yaitu: Provinsi NAD. 4. isu strategis dengan prioritas dan prioritas dengan anggaran. Kedalaman dan kelengkapan dokumen RKPD 2012 dalam menyajikan kerangka ekonomi daerah. arah kebijakan dan prioritas pengembangan wilayah dan strategi dan arah kebijakan pro-growth. 5. 2. Jawa Barat Tahun 2012 oleh Kepala Bappeda 166 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Proses Perencanaan di Jawa Barat Tema Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 mengusung tema pembangunan “Mengintegrasikan Peran Investasi Dunia Usaha dalam Menghela Pembangunan Sektoral dan Kewilayahan Bersifat Monumental untuk Mempercepat Terwujudnya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri. Dinamis dan Sejahtera”. pro-poor. Paparan RKPD Prov. Keterukuran tujuan dan sasaran RKPD 2012 yang dilengkapi dengan indikator kinerja dan prakiraan maju anggaran tahun berikutnya. Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta.

Boks 5. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan ( Pro Growth. Pengangguran. 9. 3. 10. dunia usaha. Pembangunan perdesaan. 8. Provinsi Jawa Barat menetapkan 10 (sepuluh) Prioritas Pembangunan (Common Goals) yaitu: 1. 4. Pro Job. Angka Kematian Bayi. Pengembangan infrastruktur wilayah. (2) 6 Indikator Pembangunan. Kemiskinan. (1) RPJMN (2010-2014). Angka Harapan Hidup. Kemandirian pangan. yaitu: Pertumbuhan Ekonomi. Peningkatan daya beli masyarakat. Penanganan bendana dan pengendalian lingkungan hidup. Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 memadukan alur teknokratis.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Prioritas Pembangunan Jawa Barat Penyusunan RKPD 2012 Provinsi Jawa Barat memperhatikan 4 Sasaran Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu melalui. 7. dan (4) Inpres No. (3) Millenium Development Goals (MDG’s). pemerintah daerah dan DPRD merupakan 4 pilar utama pembangunan Jawa Barat. Kemandirian energi dan kecukupan air baku. Masyarakat. topdown dan juga unsur politis. 2. Angka Pendapatan per Kapita. akademisi. Peningkatan kualitas pendidikan. partisipatif/ bottom-up. Peningkatan kualitas kesehatan. Berdasarkan sasaran tersebut. 5. Pengembangan budaya lokal dan destinasi wisata. Sumber: Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Provinsi Jawa Barat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 167 . Pro Poor dan Pro Environment). Peningkatan kinerja aparatur. Tahap Proses Penyusunan RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 6.

pemerintah memfasilitasi agar masyarakat dapat beraktivitas dan meningkatkan kesejahteraannya. Pemerintah provinsi Jawa Barat menerapkan satu basis data untuk kepentingan penyusunan perencanaan dan kegiatan pembangunan. program dan kegiatan dalam RKPD dirancang melalui pendekatan SMART (Specific. Dengan menggunakan basis data tersebut. 168 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Cirebon dan Priangan. Purwakarta. Timely). Provinsi Jawa Barat membagi wilayahnya menjadi 4 (empat) wilayah pengembangan berdasarkan karakteristik lokasi dan kegiatan tematik. Resources availability. Dalam konteks perencanaan spasial. Achievable. Sementara itu.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Berpijak pada prinsip pembangunan daerah untuk rakyat (Regional Development for People). yang terdiri dari Bogor. masyarakat Jawa Barat didorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan.Boks 5. Measurable.

pelestarian tanaman pangan untuk masa depan melalui kebun bibit desa. 170. di lingkungan Kantor Kodim (Komando Distrik Militer) dan di semua Kantor Koramil (Komando Rayon Militer) di wilayah Kabupaten Pacitan telah pula mengembangkan model RPL. Kecamatan Kota Pacitan. Selain itu. Jawa Timur di awali pada Februari 2011 dengan melibatkan 35 KK. Program MKRPL di salah satu dusun di Desa Kayen. program ini menunjukkan kemampuannya dalam menaikkan pola pangan harapan terutama untuk kemandiran desa dan rumah tangga. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (Model KRPL)” yang merupakan himpunan dari Rumah Pang an Lestari (RPL) yaitu rumah tangga dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Sebagai gambaran. diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. saat ini di sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Pacitan telah mengadopsi model RPL. 700.Boks 5. serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.000 per bulan. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan dikeluarkannya Instruksi Bupati Pacitan kepada masyarakat di wilayah Pacitan untuk mengembangkan dan menerapkan model RPL serta Instruksi Kodam Brawijaya Jawa Timur yang ditindaklanjuti oleh Kodim Pacitan kepada anggota untuk mengembangkan RPL di lokasi kantor Kodim maupun Koramil. Jawa Timur Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga.000 hingga Rp. untuk desa Kayen. konservasi sumberdaya genetik terutama untuk pangan lokal. Relatif cepatnya proses adopsi model KRPL di Kabupaten Pacitan antara lain didukung oleh adanya komitmen Pemerintah Daerah untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui pengembangan diversifikasi pangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan menerapkan model KRPL.4 Kisah Sukses Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) di Pacitan. Terkait dengan hal ini. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 169 . Salah satu dampak positif yang dirasakan dari penerapan program KRPL di Pacitan ini adalah berkurangnya pengeluaran rumah tangga petani berkisar Rp. rumah tangga yang telah mengadopsi model RPL sebanyak 620 KK dari 821 KK yang ada (sekitar 77%). Melalui berbagai tahapan mulai persiapan sampai pelaksanaan dengan melibatkan semua pihak terkait serta pendampingan teknologi dari Badan Litbang Pertanian. pemanfaatan lahan perkarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga.

BKAD Tegallalang melakukan kerjasama dengan berbagai pelaku ekonomi di wilayah kecamatan. fasilitasi dalam tahap perencanaan dilakukan BKAD melalui proses penggalian gagasan di dusun atau banjar. Selanjutnya. yaitu melalui rapat koordinasi (rakor) di tingkat kecamatan dengan segenap kelembagaan di kecamatan. BKAD Tegallalang juga telah melakukan fasilitasi dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat miskin seperti pembuatan rumah layak huni bagi masyarakat miskin dan program bedah rumah yang didanai dari surplus hasil pengelolaan SPP.Boks 5. Hal inilah yang tercermin dari keberhasilan peran pengurus Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Tegalalang. Bank dan beberapa pengusaha kecil di bidang kerajinan tangan dan perdangan. usulan kegiatan dalam PNPM Mandiri justru berasal dari Subak maupun Desa Pekraman. Oleh karenanya. 170 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pada tahap pelaksanaan. dengan melihat hasil nyata yang telah ditunjukkan dari intensitas dan keseriusan BKAD Tegallalang dalam memfasilitasi upaya penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Tegallalang. BKAD melaksanakan tugasnya mulai dari proses sosialisasi program. Dalam pengelolaan dana bergulir Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Koperasi. Setelah adanya Program Paras-paros dari Kabupaten Gianyar dan PNPM Mandiri Integrasi.5 Keberhasilan BKAD Tegalalang Dalam Memfasilitasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perdesaan Keberhasilan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan sangat tergantung kepada intensifnya fasilitasi yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) kepada masyarakat miskin di lapangan. BKAD Tegallalang merupakan kepengurusan yang ideal karena berasal dari berbagai unsur. Bali. yang kemudian dilanjutkan dengan fasilitasi proses pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi bersama-sama dengan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya. Namun demikian. S Suasana Rakor BKAD Fasilitasi BAKD Dalam Pengelolaan Dana Bergulir Pada tahap perencanaan. Kabupaten Gianyar maka wajar apabila pada tahun 2012 BAKD Tegallalang dipilih dan ditetapkan sebagai BKAD terbaik nasional secara kelembagaan. praktisi ekonomi. praktisi pendidikan dan unsurunsur yang ada di dalam masyarakat tradisional Bali. keberhasilan BKAD Tegalalang terutama pada upaya untuk mengajak masyarakat untuk menjadi subjek pembangunan di desanya. baik pimpinan adat atau Bendesa. BKAD Tegalalang menciptakan kerjasama yang baik dengan desa dinas maupun Desa Adat atau Desa Pekraman. Kabupaten Gianyar. seperti Lembaga Perkreditan Desa. Secara kelembagaan.

LPSE Provinsi Riau belum memiliki fasilitas dan peralatan teknologi informasi yang lengkap. LPSE Provinsi Riau mulai memberikan pelayanan dengan hanya bermodalkan 1 buah komputer rakitan.Boks 5. hanya diperlukan waktu 1 bulan sejak pelatihan pengelola LPSE sampai dengan terbitnyaPeraturan Gubernur tentang Tim Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Riau yang dirintis oleh Biro Administrasi Pembangunan. E-Procurement mulai diujicobakan di beberapa instansi pemerintah pusat. jauh dari kebutuhan minimal suatu sistem elektronik. mental dan kesiapan terhadap penerapan suatu teknologi dari seluruh pihak yang terkait. Kepulauan Riau. Pada tahap awal. Tahun 2012 ini Provinsi Riau berada pada urutan ke-7 di antara provinsi-provinsi yang memiliki kemajuan pesat dalam penerapan e-Procurement dengan nilai pengadaan secara elektronik mencapai lebih dari Rp 1 triliun. pembentukan unit LPSE tidak menunggu tersedianya peralatan dan infrastruktur TIK. Kalimantan Tengah.6 Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Implementasi e-Procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) menjadi upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah disamping juga menjadi sebuah strategi untuk menata pasar pengadaan. dalam hal ini menghadapi tantangan berkaitan dengan luas wilayah. jumlah pelaku usaha. kecepatan mengambil momentum dan peran serta pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. provinsi dan kota pada tahun 2008. Meskipun LPSE Provinsi Riau dibentuk tahun 2010 setelah Pemerintah Kota Pekanbaru terlebih dahulu menerapkan e-Procurement di tahun 2009. DI. Dalam hal ini. Gorontalo. Penataan pasar pengadaan akan membentuk skala pasar yang lebih besar dan memungkinkan para pelaku pasar dapat mengakses seluruh volum pengadaan barang/jasa pemerintah. Jawa Timur. Keberhasilan Pemerintah Provinsi Riau (maupun pemerintah daerah yang lain) menerapkan pengadaan secara elektronik dan mendorong seluruh pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Riau. Gagasan ini memerlukan perubahan perilaku. Efektifitas perwujudan gagasan. Proses pembentukan unit LPSE Provinsi Riau terbilang cukup singkat. konsistensi aktor utama perubahan. Sumatera Barat. variasi kesiapan infrastruktur TIK maupun kesiapan SDM dalam adopsi dan adaptasi terhadap teknologi. untuk dapat menyelenggarakan layanan pengadaan secara elektronik di Provinsi Riau. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 171 . namun perkembangannya mampu mengikuti perkembangan penerapan e-Procurement di provinsi lain yang terlebih dahulu membentuk LPSE dan menerapkan e-Procurement seperti Jawa Barat. Yogyakarta dan beberapa Provinsi lainnya. memerlukan komitmen kepala daerah dan inisiator perubahan. Dari ujicoba tersebut diperoleh pelajaran berkaitan dengan strategi implementasinya.

6 (lanjutan) Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Setelah tersedianya peralatan training.08 Triliun dilelangkan secara elektronik pada tahun 2011. 500/Adm-Pemb/16.Boks 5.235 penyedia sudah dilatih oleh LPSE Provinsi Riau. Juni 2012. Hasilnya. Menindaklanjuti terbitnya Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 yang mewajibkan penerapan pengadaan secara elektronik mulai tahun 2012. Sejak terbentuk. Posisi saat ini. dalam kurun waktu 17 bulan (Mei 2012) seluruh LPSE Pemerintah Kabupaten/Kota terbentuk dan sudah beroperasi. 1. Gubernur Riau juga menerbitkan Surat Edaran No. 427 paket dengan nilai Rp. 3. Hasilnya. Sementara itu. Gubernur Provinsi Riau menerbitkan Instruksi Gubernur. Dalam kurun waktu November Desember 2010 (hanya dalam dua bulan).14 persen. 172 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . agar melaksanakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah secara elektronik pada tahun 2012. Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota yang belum memiliki LPSE dapat memanfaatkan LPSE Provinsi Riau. LPSE Provinsi Riau segera memberikan pelatihan kepada penyedia yang terdaftar di LPSE Provinsi Riau secara gratis. secara mandiri LPSE Provinsi Riau mengambil peran mendorong dan melatih Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau untuk mampu membentuk LPSE dan mengelola sistem elektronik. tanggal 14 Desember 2010 kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau. Untuk mendorong penerapan e-Procurement oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah.29. sudah dilatih 246 penyedia. efisiensi yang dihasilkan adalah sebesar 12.

Foto: Pras Widjojo .

Foto: Pras Widjojo .

BAB VI PENUTUP .

Oleh sebab itu. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. belum memadainya infrastruktur. Kinerja pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika ekonomi global yang menempatkan Asia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama.BAB VI PENUTUP Kinerja pembangunan ekonomi nasional selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang terus meningkat. kebijakan dan strategi yang lebih terarah di daerah akan menjadi modal dasar dalam memperkuat perekonomian domestik dan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan ke seluruh daerah. penciptaan iklim investasi dan iklim usaha yang lebih kondusif. Upaya dan strategi ini tidak hanya menyangkut peningkatan produktivitas sumber daya manusia. Stabilitas ekonomi yang terjaga dan pertumbuhan yang berkelanjutan diikuti oleh perluasan kesempatan kerja dan penurunan kemiskinan. tetapi juga ditentukan oleh pembangunan infrastruktur. tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi adalah tingkat persaingan di pasar global yang semakin tinggi. beberapa daerah lain masih harus menghadapi tantangan terbatasnya lapangan kerja. penciptaan iklim ketenagakerjaan yang lebih efisien. Dengan demikian. Namun. Beberapa daerah mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan bagi percepatan kemajuan dan pembangunan ekonomi daerah. serta masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahnya. Dilain pihak. sementara itu ekonomi domestik perlu diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat tetap terjaga. peningkatan nilai tambah dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya. 176 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

Foto: Pras Widjojo .

Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. Jakarta. Klaus dan Greenhill (2011). Tata Kelola Ekonomi Daerah 2011. Schwab. Kementerian Perencanaan ---------.(2011). BPFE. KPPOD dan The Asia Foundationa. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013.(2011). et. Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia. Jakarta. Doing Business di Indonesia 2012: Memperbandingkan Kebijakan Usaha di 20 Kota dan 183 Perekonomian. Doing Business in a More Transparent World: Comparing Regulation for Domestic Firms in 183 Economies.DAFTAR PUSTAKA Abdulah. The Global Competitiveness Report 2011-2012. --------. Jakarta ----------. RaJawali Pers.al (2002).. World Bank. Jakarta. World Bank. Yogyakarta. Schwab.(2012). Piter. Pembangunan Nasional. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.(2011). ---------. Geneva. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. World Economic Forum. IFC.(2012). 178 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Profil dan Pemetaan Daya Saing Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Geneva. World Economic Forum. IFC. ----------. --------. The Indonesia Competitiveness Report 2011: Sustaining the Growth Momentum. Klaus dan Xavier Sla-i-Martin (2011). Jakarta. PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD (2008). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia.(2012).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful