Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012-2013

MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Agustus 2012

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah Tahun 2012-2013: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

© Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Republik Indonesia

Foto cover Desain cover

: Pras Widjojo : Ivan W. Sjafary

Diterbitkan oleh: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

KATA SAMBUTAN

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan terbitnya Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk tahun 2012-2013. Buku pegangan ini mengambil tema mengenai: Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat, sebagai rujukan dalam merencanakan berbagai strategi, program, dan kegiatan pembangunan di seluruh Wilayah Nusantara. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Di tengah kondisi persaingan ekonomi global yang masih tidak menentu, penguatan ekonomi domestik menjadi syarat mutlak agar Indonesia dapat tetap menjaga pertumbuhan yang berkualitas. Sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pertumbuhan merupakan aspek prioritas yang perlu kita lakukan bersama-sama. Keberhasilan pembangunan nasional merupakan agregasi dari keberhasilan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi nasional adalah hasil akumulasi dari penguatan ekonomi di daerah. Dengan demikian, komunikasi, koordinasi dan sinergi kebijakan antara pusat dan daerah harus terus dipertahankan untuk menjaga momentum pembangunan. Konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah akan tercapai jika dijembatani oleh sinergi pusat-daerah oleh berbagai pemangku kepentingan. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di Daerah memiliki tugas dan fungsi yang penting untuk mengkoordinasikan kebijakan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya dan menjaga konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah. Saya berharap, buku ini dapat menjadi pegangan bagi segenap aparatur pemerintah dalam proses perencanaan dan penyusunan strategi pembangunan di daerah. Melalui pemahaman

konsep dan faktor-faktor penentu penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, segenap jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemangku kepentingan lainnya dapat bersama-sama menyamakan langkah untuk menyusun strategi yang terintegrasi dalam mendorong dan menjaga ekonomi domestik yang lebih berdaya tahan tinggi. Dengan terbitnya Buku Pegangan Tahun 2012-2013 ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang telah bekerja dengan itikad dan dedikasi yang baik dalam menyusunnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan dan bimbingan Nya dalam setiap upaya untuk menguatkan perekonomian nasional, agar pembangunan ekonomi Indonesia dapat lebih cepat dan lebih luas demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Terima Kasih.

Jakarta, 6 Agustus 2012 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana

2

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

RINGKASAN EKSEKUTIF

Penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan dan strategi pembangunan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat, serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi domestik. Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik, karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian, sementara pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,5 persen pada tahun 2012 dan 3,9 persen pada tahun 2013 (IMF, World Economic Outlook, Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan, keberlanjutan krisis keuangan Eropa, serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1,4 persen pada tahun 2012 dan 1,9 persen pada tahun 2013. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa, seperti: Italia, Spanyol dan Yunani, diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. Sementara itu, negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global, yang diperkirakan tumbuh mencapai 7,1 persen pada tahun 2012. China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8,0 persen dan 6,1 persen pada tahun 2012. ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun 2012.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

i

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa, memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat, mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan, pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Dengan berbagai tantangan yang ada, sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sebesar 6,5 persen. Sementara itu, pada tahun 2013, diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 7,0 persen. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10,9 persen pada tahun 2012 dan 12,1 persen pada tahun 2013. Pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis, Sejahtera dan Berkeadilan”. Adapun tema dari RKP, ditunjukkan pada Gambar berikut. Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP
2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

ii

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Kebijakan pemerintah dalam rangka perkuatan ekonomi domestik yang pada RKP 2013 difokuskan pada empat aspek, yang merupakan komponen penting untuk mendukung penguatan ekonomi domestik, seperti yang tercantum dalam gambar berikut. Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik

Peningkatan Daya Saing

Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK

Peningkatan Daya Tahan Ekonomi

Pemantapan Stabilitas Politik

Peningkatan daya saing untuk mendukung penguatan ekonomi domestik akan dititikberatkan kepada isu strategis: Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha, Percepatan Pembangunan Infrastruktur, Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda. Adapun Peningkatan Daya Tahan Ekonomi akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Ketahanan Pangan Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta Ton dan Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat akan dititikberatkan pada isu strategis: Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Percepatan Pengurangan Kemiskinan – Sinergi Klaster 1-4. Sedangkan, Pemantapan Stabilitas Sosial Politik akan dititikberatkan pada isu strategis: Persiapan Pemilu 2014, Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi dan Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. Masing-masing faktor pendukung penguatan ekonomi tersebut memiliki kerangka dan jalur keterkaitan yang berbeda-beda untuk menghasilkan ekonomi domestik yang lebih berdaya saing dan lebih berdaya tahan. Untuk itu, kerangka keterkaitan isu strategis dengan penguatan ekonomi domestik telah dijabarkan secara rinci di dalam Bab IV dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam memahami arti pentingnya isu strategis terhadap pembangunan daerah dan pembangunan nasional. Dengan memahami kerangka keterkaitan ini, diharapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki pemahaman yang sama, sehingga dapat secara bersama-sama mensinergikan pembangunan di pusat dan di daerah

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

iii

Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. 2. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. penganggaran. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. agar proses dan upaya penguatan perekonomian domestik serta peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di pusat dan di daerah dapat lebih sinergi sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan dapat dilakukan melalui: 1. dan 6. dimana infrastruktur menjadi bagian penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi.dalam rangka memperkuat ekonomi domestik di tengah-tengah kondisi global yang masih belum menentu. Namun demikian. Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. 3. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat. antar waktu. RKP dan RKPD). 4. berkeadilan dan berkelanjutan. dalam upaya meningkatkan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi. Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. iv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . serta 5. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah. Kemudian. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. Isu strategis lainnya yang menjadi fokus perhatian setiap Pemerintah Daerah adalah pembangunan infrastruktur. pelaksanaan dan pengawasan. 3. sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah dan antar daerah. di dalam Bab V telah dijabarkan secara rinci strategi yang perlu dilakukan dalam setiap isu strategis serta peran Pemerintah Daerah yang perlu dilaksanakan. Sebagai contoh. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Sementara itu. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat. antar ruang. 4. 5. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. RPJM dan RPJMD. Menjamin terciptanya integrasi. 2. efektif.

layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan perekonomian domestik juga diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. secara makro pemerintah pusat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat v . pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. pengamanan pasca panen. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggungjawab termasuk pembiayaan. kepulauan. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara bersama-sama memiliki peran untuk peningkatan perluasan areal tanam. Di sisi peningkatan daya tahan ekonomi. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. Sementara. terpencil dan perbatasan. pengolahan pangan dan pemasaran. kemudian peran Pemerintah Daerah dan Petani sangat diperlukan dalam menerapkan System of Rice Intensification. menjalankan Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi secara intensifikasi. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu memiliki strategi bersama. Sebagai contoh. Pengembangan SDM menjadi salah satu isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. Bahkan. dengan memainkan peran masing-masing dalam menjalankan strategi tersebut. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. penguatan penyuluhan dan lain-lain. Untuk itu. Selanjutnya. masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi.pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik. distribusi. Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup pembagian peran dan kewenangan. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridorkoridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. yang bermukim di daerah tertinggal. Secara makro. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. Untuk itu. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut. pemerintah pusat.

buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: (i) melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. (2) terciptanya integrasi. antar ruang. Untuk itu. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. perbaikan kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi merupakan hal penting yang juga perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. vi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . baik pusat maupun daerah. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penganggaran. yang salah satunya adalah melalui penerapan eprocurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. pelaksanaan dan pengawasan. menjaga iklim investasi. dan (iii) memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. efektif. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. Sementara itu. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah. antar waktu. langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. berkeadilan dan berkelanjutan. Dalam rangka pemantapan stabilitas politik. (ii) menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi.dan pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok.

Foto: Humas Foto: Bappenas Humas Bappenas .

Foto: Humas Bappenas .

...............1 Pertumbuhan Ekonomi 3......... 8 2......3 Tingkat Pengangguran Terbuka 3...........................1............. i DAFTAR ISI ..........4 Isu Strategis 2013 8 9 9 11 BAB III KONDISI TERKINI DAERAH ....1 Target Pertumbuhan Ekonomi 2......................1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah 3..........................................3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi 3......1.......................2 Tingkat Kemiskinan 3.................................................3.....................................3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3.2 Perkembangan Ekonomi Regional 1.. viii BAB I PENDAHULUAN................1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global 1........1 Latar Belakang 1......2 Kondisi Ekonomi Daerah 3............3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global 1... 22 3...............1 Kondisi Ekonomi Nasional 3.....2...........2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah 22 22 23 26 27 27 28 30 32 32 33 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat ix ............2.........................1..........1......2 Maksud dan Tujuan 4 5 2 2 3 BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 .....1....1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat 3.......2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi 3....2 Tujuh Arahan Presiden 2......................DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN RINGKASAN EKSEKUTIF ...............3 Tema dan Prioritas RKP 2013 2...... 2 1.........1........................................2.3...

11.3.2 Investasi (PMTB) Per Provinsi 3.5.8.11.7.1 Tenaga Kerja Per Provinsi 3.5.5.5.10.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 3.11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3.1 Postur Pendapatan Daerah 3.1 Pendidikan 3.2 Postur Belanja Daerah 34 34 35 37 37 40 41 45 46 47 50 50 55 61 61 63 65 67 68 69 71 72 74 82 82 84 87 87 90 x Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 Infrastruktur Jalan 3.2 Kesehatan 3.8.9.9.8.7.4 Infrastruktur Listrik 3.5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional 3.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.9.4 Implementasi SAKIP 3.4.2 Infrastruktur Udara 3.3 Opini LKPD 3.9.3 Infrastruktur Laut 3.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012 3.1 Kualitas SDM Aparatur 3.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik 3.3 Produktivitas Tenaga Kerja 3.10.4.5.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.5 Perkembangan Politik 3.2 LPSE dan E-Procurement 3.9.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi 3.5 Infrastruktur Telekomunikasi 3.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras 3.

1 Peningkatan Ketahanan Pangan 4.....3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 4.........4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4...2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 120 121 127 132 134 137 137 142 143 143 145 96 97 97 99 101 105 105 109 110 110 111 113 113 114 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xi ..1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 5.....1 Peningkatan Ketahanan Pangan 5......1...... 96 4..5...2 Aspek Peningkatan Daya Saing 4...1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 4.....2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi 5..........1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia 4.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan 4...3.BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ...2...1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik 4.4..1 Peningkatan Daya Saing 5....2..3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4.2...3..............2.......2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi 4.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda 5...1 Persiapan Pemilu 2014 4.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT.1....3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5..1..3.....3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi 5.5.5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4...2.........4.....................1.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha 5.... 120 5..2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5...2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 5......2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur 4..3........

.........5...............3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 5....6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik 147 147 148 154 154 155 156 158 BAB VI PENUTUP ...5......................................2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi 5...1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada 5................1 Regulasi 5.....5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5......... 1 78 xii Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .....5..2 Konektivitas 5............5..4........................................................................... 176 DAFTAR PUSTAKA ………….............4 Pemantapan Stabilitas Politik 5...4................

DAFTAR TABEL Tabel 2.19 Tabel 3.7 Tabel 3.6 Tabel 3.9 Tabel 3.2 Tabel 3.5 Tabel 3.16 Tabel 3.14 Tabel 3.5 Tabel 3.17 Tabel 3.4 Tabel 3.1 Tabel 3.1 Tabel 2.2 Tabel 2.18 Tabel 3.23 Tabel 5.3 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 8 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing 13 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 14 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 17 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012 23 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan 24 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012) 25 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan 26 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 29 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 37 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 38 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 39 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 40 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 41 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 47 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 53 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 63 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 63 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 69 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 70 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 73 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 74 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011) 82 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) 84 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) 85 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik 93 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor 132 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 138 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi 140 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xiii .13 Tabel 3.21 Tabel 3.20 Tabel 3.15 Tabel 3.1 Tabel 5.22 Tabel 3.4 Tabel 2.11 Tabel 3.12 Tabel 3.3 Tabel 2.3 Tabel 3.10 Tabel 3.8 Tabel 3.2 Tabel 5.

23 Gambar 3.13 Gambar 3.1 Gambar 3.17 Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.18 Gambar 3.2011 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 .5 Gambar 3.12 Gambar 3.7 Gambar 3.11 Gambar 3.2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 .16 Gambar 3.8 Gambar 3.3 Gambar 3.2 Gambar 2.19 Gambar 3.6 Gambar 3.15 Gambar 3.9 Gambar 3.10 Gambar 3.4 Gambar 3.22 Gambar 3.24 Gambar 3.3 Gambar 3.20 Gambar 3.2009 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 10 11 12 24 26 27 28 30 31 32 33 34 35 35 36 37 38 39 41 42 44 45 46 46 48 48 49 50 xiv Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 Gambar 2.25 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 .14 Gambar 3.21 Gambar 3.2 Gambar 3.

35 Gambar 3.53 Gambar 3.000 Penduduk Tahun 2010 61 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 62 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 62 UMP Wilayah Sumatera 64 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara 64 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi 64 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua 64 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 65 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 66 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 67 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 67 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 68 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 71 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 72 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 74 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 75 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 76 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xv .37 Gambar 3.28 Gambar 3.52 Gambar 3.54 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 51 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 52 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 52 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 54 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 55 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 56 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 57 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 58 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 58 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 59 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 60 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 61 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100.29 Gambar 3.31 Gambar 3.46 Gambar 3.38 Gambar 3.Gambar 3.43 Gambar 3.42 Gambar 3.47 Gambar 3.32 Gambar 3.34 Gambar 3.49 Gambar 3.51 Gambar 3.36 Gambar 3.39 Gambar 3.48 Gambar 3.41 Gambar 3.27 Gambar 3.33 Gambar 3.40 Gambar 3.26 Gambar 3.44 Gambar 3.45 Gambar 3.30 Gambar 3.50 Gambar 3.

DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR.67 Gambar 3.59 Gambar 3.61 Gambar 3.56 Gambar 3.58 Gambar 3.6 Gambar 4.9 Gambar 4.62 Gambar 3.68 Gambar 3.60 Gambar 3.5 Gambar 4.4 Gambar 4.66 Gambar 3.64 Gambar 3.57 Gambar 3.Gambar 3. DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sistem Ketahanan Pangan Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan 77 78 79 80 81 83 83 85 88 88 89 89 90 90 91 91 92 92 96 98 99 102 104 106 108 109 111 112 xvi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .3 Gambar 4.63 Gambar 3.8 Gambar 4.65 Gambar 3.70 Gambar 3.10 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.1 Gambar 4.71 Gambar 3.69 Gambar 3.7 Gambar 4.55 Gambar 3.72 Gambar 4.2 Gambar 4.

4 Skema Pencapaian Stabilitas Politik Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR.12 Gambar 5. DPD dan DPRD Tahun 2014 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah 114 115 122 128 148 158 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat xvii .Gambar 4.11 Gambar 4.2 Gambar 5.1 Gambar 5.3 Gambar 5.

.

BAB I PENDAHULUAN .

dampak krisis Eropa maupun AS terhadap ekonomi Indonesia ini secara keseluruhan relatif terkendali hingga saat ini.9 persen pada tahun 2013 (IMF. Bahkan ekonomi di beberapa negara Eropa.5 persen pada tahun 2012 dan 3.0 persen dan 6.1 Perkembangan Kondisi Ekonomi Global Kondisi ekonomi global di tahun 2012 diperkirakan masih belum membaik. Akibatnya. Malaysia.1 persen pada tahun 2012. Sementara itu.1. Sementara itu. karena sebagian negara berkembang merupakan pemasok utama pasar Eropa dan Amerika Serikat. Utang negara Spanyol mencapai €709 miliar atau sekitar 2 kali jumlah utang gabungan tiga negara yang mendapat dana talangan sebelumnya (Yunani. Irlandia dan Portugal). China dan India sebagai negara emerging diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 8. negara berkembang Asia akan menjadi penopang pertumbuhan dunia ditengah krisis global. keberlanjutan krisis keuangan Eropa. Filipina) diproyeksi mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5.9 persen pada tahun 2013. Juli 2012) disebabkan oleh proses pemulihan AS yang rentan. Negara maju diperkirakan hanya tumbuh sebesar 1.1 persen pada tahun 2012. aktivitas ekonomi negara-negara berkembang dan emerging market cenderung menurun. Sisi permintaan yang menurun di Kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah menyebabkan volume perdagangan dunia cenderung tumbuh melambat. diproyeksi tumbuh negatif pada tahun 2012. Spanyol yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar keempat di Eropa diprediksi akan menjadi anggota keempat Uni Eropa yang membutuhkan dana talangan. 2 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .BAB I PENDAHULUAN 1. yang diperkirakan tumbuh mencapai 7. Namun demikian. pemulihan ekonomi AS masih rentan terhadap guncangan. serta kemampuan ekonomi Asia yang menurun.4 persen pada tahun 2012.1 Latar Belakang 1. Singapura. ASEAN-5 (Indonesia. Krisis yang dialami negaranegara Eropa terkait utang dan defisit fiskal masih belum teratasi dengan baik sehingga kondisi ekonomi global akan masih diliputi oleh ketidakpastian. sehingga dana talangan untuk menyelamatkan perekonomian Spanyol akan menjadi beban yang berat bagi zona Eropa. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3. Thailand. karena masih rentannya proses pemulihan negara-negara Eropa yang terlilit krisis utang dan terjadinya perlambatan ekonomi negara-negara maju dan emerging market.4 persen pada tahun 2012 dan 1. Hal ini kemudian berdampak terhadap menurunnya harga komoditas global non-energi terutama komoditas yang digunakan sebagai bahan baku untuk industri. World Economic Outlook. seperti: Italia. Spanyol dan Yunani.

2 Perkembangan Ekonomi Regional Pergeseran geopolitik dan geoekonomi dunia yang ditandai dengan menguatnya peran Asia sebagai pusat kekuatan ekonomi global telah terjadi dalam satu dekade terakhir. jasa. jasa. para kepala negara ASEAN telah mencanangkan ASEAN VISION 2020. seperti Jepang dan Korea Selatan. China dan India menyusul sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi regional dengan statusnya sebagai negara emerging dengan populasi terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Myanmar dan Vietnam) dan 2010 (Singapura dan Brunei Darussalam). Disamping itu. dunia usaha.1. pembentukan AEC akan memberikan peluang bagi Indonesia dengan terbukanya pasar baru bagi barang. Sementara itu. Sasaran akhir ASEAN VISION 2020 adalah kerjasama dalam bidang politik dan keamanan. (ii) Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community). serta meningkatkan daya saing nasional. Kemudian pada Pertemuan 13th ASEAN Summit di Singapura bulan November 2007 ditandatangani ASEAN Charter dan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC Blueprint) yang merupakan momentum perkuatan komitmen bersama dari negara-negara ASEAN yang mengikat secara hukum bagi terwujudnya AEC. investasi. jasa. Selanjutnya. makmur. Pembentukan AEC 2015 menjadikan ASEAN sebagai kawasan dengan arus barang. serta memiliki daya saing yang ditandai dengan kemampuan menjalankan perdagangan barang.1. Filipina. maupun masyarakat baik di tingkat Pusat maupun Daerah. serta sosial budaya yang tertuang dalam perwujudan Masyarakat ASEAN tahun 2020 dengan berlandaskan pada tiga pilar yaitu: (i) Masyarakat Keamanan ASEAN ( ASEAN Security Community). pekerja terampil dan arus modal yang lebih bebas. mempunyai daya saing tinggi. bulan Januari 2007 dideklarasikan Percepatan untuk Membangun Masyarakat Bersama ASEAN (ASEAN Community) dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 (Indonesia. Laos. Beberapa negara di Asia. dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata. Dalam menghadapi AEC 2015. Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya yang memiliki total jumlah penduduk sekitar 598 juta jiwa dan nilai PDB mencapai US$ 1. pekerja terampil dan arus modal di kawasan ASEAN. Pada Pertemuan 12th ASEAN Summit di Cebu. investasi.85 triliun atau sekitar tiga persen dari PDB dunia menjadi kawasan strategis dalam tatanan ekonomi global. Dalam perkembangannya. Malaysia. Dalam rangka mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang stabil. pelaksanaan AEC berjalan relatif lebih cepat dibandingkan dengan kerjasama di bidang politik-keamanan dan sosial budaya. bangsa Indonesia harus bekerja keras untuk memperkuat ketahanan nasional sebagai prasyarat untuk dapat bersaing dengan bangsa lain. ekonomi. dan (iii) Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community). Langkah ini hanya dapat dilakukan dengan memperbaiki kinerja Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 3 . investasi dan modal yang bebas. telah lebih dulu maju dengan mengandalkan perkembangan sektor industrinya. Thailand dan Filipina). serta terintegrasi dalam ekonomi global. Pembentukan AEC 2015 menimbulkan tantangan bagi Indonesia berupa keharusan untuk meningkatkan pemahaman publik dalam negeri mengenai ASEAN baik bagi kalangan Pemerintah. 2020 (Kamboja.

menyejahterakan rakyat serta stabil secara keseluruhan akan bergantung kepada daerah. Persaingan yang semakin ketat ini tidak hanya dirasakan di tingkat nasional. Perekonomian domestik yang kuat. serta semakin mudahnya arus masuk dan keluar investasi dari suatu negara. perekonomian domestik harus tetap terjaga dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik. pelaksanaan pembangunan di pusat dan di daerah perlu dilaksanakan melalui empat jalur strategi. Globalisasi telah mendorong semangat persaingan antar negara. rendahnya hambatan perdagangan barang dan jasa. tingkat persaingan di antara negara-negara berkembang semakin tinggi. yaitu pertumbuhan (pro-growth).ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2010-2014) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. terutama karena era otonomi daerah. baik di pasar global maupun di pasar domestik. pelaku ekonomi yang berdaya saing tinggi. Kondisi ini tentunya akan menjadi suatu keharusan bagi Indonesia dan masing-masing daerah untuk terus bekerja keras dan bersaing dengan negara lain. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meningkatkan pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. memperbaiki kinerja ekonomi nasional yang didukung struktur ekonomi yang kuat. Dengan demikian. Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Hal ini menyebabkan produk barang dan jasa domestik akan mengalami tingkat persaingan yang cenderung semakin tinggi. kesempatan kerja (pro-job). Langkah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan daya saing bangsa. berdaya saing. Era globalisasi dan kesepakatan perdagangan bebas telah menyebabkan tipisnya batas antar negara.1. sehingga setiap negara dituntut untuk meningkatkan daya saingnya dengan cara lebih produktif dan efisien. Momentum pertumbuhan ekonomi perlu tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. diharapkan Indonesia akan dapat menarik manfaat dari integrasi ekonomi kawasan yang berdaya saing tinggi dan terintegrasi dalam ekonomi global. berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar di seluruh Wilayah Nusantara dan meratanya pembangunan wilayah tertinggal dan wilayah perbatasan. 1. sehingga pada gilirannya akan memberikan manfaat ekonomi secara luas bagi seluruh rakyat Indonesia. tingginya daya saing daerah di Indonesia secara keseluruhan akan 4 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . tetapi juga akan sangat terasa di tingkat daerah. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pun perlu dilakukan tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan.3 Perkembangan Ekonomi Nasional dan Pentingnya Peningkatan Ekonomi Domestik Untuk Meredam Dampak Krisis Global Saat ini. berdaya tahan. Dengan kata lain.

Menjelaskan langkah-langkah perencanaan dan strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka mendukung penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat di daerah. peran daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya akan sangat bergantung kepada kemampuan daerah untuk melakukan identifikasi faktor penentu daya saing dan strategi untuk meningkatkan daya saing. Sementara itu untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. Pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong implementasi dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).2 Maksud dan Tujuan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya peran perencanaan daerah untuk mendukung penguatan perekonomian domestik. peningkatan kesejahteraan rakyat serta pemantapan stabilitas sosial politik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. bersama-sama dengan Pemerintah Pusat. 1. 2. Secara rinci. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. Peningkatan perekonomian domestik. penguatan sinergi dan koordinasi antara Pemerintah. tujuan penyusunan Buku Pegangan (Handbook) Perencanaan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2012 – 2013 adalah sebagai berikut: 1. Membangun kesepahaman tentang pentingnya dukungan daerah dalam mendorong dan meningkatkan penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota menjadi sangat penting untuk mendorong peningkatan daya saing dan penguatan ekonomi domestik. 2008). Keberhasilan pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut sangat ditentukan oleh peran aktif Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5 . melainkan juga menjadi tanggung jawab daerah. baik oleh daerah dan nasional akan menjadi modal utama untuk menjaga momentum pembangunan dan melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi untuk menuju ke arah transformasi ekonomi menjadi negara maju dan berdaya saing.menjadi ujung tombak daya saing nasional. yang akan menjadi faktor terpenting untuk Indonesia dalam bersaing di tingkat global (PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD. Peningkatan daya tahan ekonomi. serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah tahun 2012 – 2013 dalam menentukan strategi-strategi yang dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat.

.

BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 .

9 persen pada tahun 2012 dan 11.3 11.7.8 6.9 .1 Target Pertumbuhan Ekonomi Dengan berbagai tantangan yang ada. diharapkan perekonomian dapat lebih baik lagi dengan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 6.5 6.0 7. Tabel 2.3 6.2 6.0 6.9 11. ditingkatkan untuk mendorong peran masyarakat dalam pembangunan ekonomi.1 11.4-6. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Koordinasi antara kebijakan fiskal.8 .0 8.5 .2 6.1 . moneter dan sektor riil. Sementara itu.8 .7.6.6 .1 Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012 – 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik.2 7. daya beli masyarakat perlu dijaga untuk dapat tetap menjaga peran konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.5 .13.0 .1 9. Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013 ) 2012 6.5 2.6. pada tahun 2013. serta memberi dorongan fiskal dalam batas kemampuan keuangan negara dengan mempertajam belanja negara.7.8 .7.5 persen.1 2.9.7 .9 .3 persen pada tahun 2013.5.5 .3 12.4 3. Persewaan. pengangguran terbuka akan menurun menjadi 5.9 3. Investasi dan konsumsi masyarakat pada tahun 2012 dan 2013 diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.5 – 10.2 4.9 6.8 . Sementara itu.6.2 persen.1 6.9 9.8 10.2 6.6. dengan target pertumbuhan untuk investasi adalah sebesar 10.12.9 6.6 10.1 persen dari angkatan kerja dan jumlah penduduk miskin menjadi 9.9 .BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2013 2.5 Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 didorong dengan upaya meningkatkan investasi.12.4.5.7 .5 2013 6.10.9 8.12. 8 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 .12.5 6.5 .8 .9 11.2 6.5 4.4 4.5 . Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas ekonomi yang terjaga tersebut.7 .6.5 persen pada tahun 2013.8 . menjaga ekspor nonmigas.5 5.1 13. sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 adalah sekitar 6.3.5-11.7.

Menerbitkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan investasi. Menjaga tingkat daya beli masyarakat dengan menjaga laju inflasi pada tingkat yang rendah. 4. Adapun arahan tersebut adalah: 1. Sejahtera dan Berkeadilan”. 3. Mengoptimalkan program perlindungan sosial antara lain Jamkesmas.3 Tema dan Prioritas RKP 2013 Dengan berbagai kondisi perkembangan ekonomi terkini tersebut. Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”. Penguatan perdagangan dalam negeri untuk menjaga kestabilan harga. bahkan mempercepat dan memperluas pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif serta berkeadilan. Peningkatan daya saing ekspor. kelancaran barang serta menciptakan iklim usaha yang sehat. 2. Mengendalikan impor produk-produk yang berpotensi menurunkan daya saing produk domestik di pasar dalam negeri. Presiden memberikan 7 (tujuh) arahan pokok dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6. 6. menjaga momentum pertumbuhan yang telah dicapai. terutama produk ekspor non migas melalui diversifikasi tujuan ekspor dengan meningkatkan keberagaman dan kualitas produk. termasuk didalamnya menyelesaikan perubahan Peraturan Presiden (Perpres) No 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa Pemerintah. Program Keluarga Harapan. BOS dan Raskin.5 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut pada gilirannya harus dapat menciptakan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 9 .2. PNPM. ditengah berbagai tantangan yang ada. ditunjukkan pada Gambar 2.1. 7. Indonesia harus siap menghadapi situasi yang dinamis dan penuh tantangan tersebut. pemerintah melalui mekanisme perencanaannya telah menyusun langkah-langkah pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Mendorong percepatan belanja pemerintah sehingga dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi. 5. 2.2 Tujuh Arahan Presiden Dalam mencapai sasaran pembangunan nasional yang tinggi. Untuk itu pada Sidang Kabinet Paripurna 24 April 2012. pemerintah perlu melakukan upaya-upaya khusus. baik yang sedang berjalan yaitu RKP 2012 maupun perencanaan tahun depan dalam RKP 2013. tema pembangunan nasional adalah: “Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas. Adapun tema dari RKP. Hal ini demi mencapai sasaran pembangunan 5 (lima) tahun dalam RPJMN 2010-2014 yaitu “Mewujudkan Indonesia yang Demokratis. Pada tahun 2012.

Selanjutnya. perlu didorong dengan kemampuan pemerataan pembangunan yang lebih luas. Inklusif dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat • MEMPERKUAT PEREKONOMIAN DOMESTIK BAGI PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT Sumber: RKP 2013.2. 11 Proritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya ditunjukkan pada Gambar 2. potensi perekonomian domestik yang besar akan ditumbuhkembangkan guna menghadapi berbagai tantangan eksternal perlambatan perekonomian dunia. penguatan kelembagaan. pembangunan nasional dalam RKP 2012 dan RKP 2013 dituangkan ke dalam 11 Prioritas Nasional dan 3 Prioritas Lainnya. pertanian dan pariwisata. peningkatan kualitas sumber daya manusia. Daya tahan perekonomian terus diperkuat. serta penyelesaian berbagai hambatan perekenomian terutama melalui reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi.lapangan kerja yang lebih banyak dan pada gilirannya mempercepat pengurangan kemiskinan. Gambar 2. tema pembangunan yang dituangkan dalam RKP adalah: “Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat”. termasuk di dalamnya prakarsa-prakarsa baru yang terintegrasi dengan RPJMN dan RKP untuk menanggapi situasi kekinian dan menjaga momentum positif yang telah dicapai sebagai hasil pembangunan selama ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. Semua ini perlu didorong dengan pembangunan infrastruktur.1 Tema Pembangunan Yang Tertuang Dalam RKP 2010 2011 2012 2013 • Pemulihan Perekonomian Nasional Dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat • Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkeadilan Didukung Oleh Pemantapan Tatakelola Dan Sinergi Pusat Dan Daerah • Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas. Bappenas Pada tahun 2013. 10 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014. dengan peningkatan daya saing nasional terutama di sektor-sektor produksi. Dalam kaitan dengan itu. yaitu industri. Prakarsa-prakarsa baru tersebut menunjukkan bahwa Indonesia selalu siap dalam mengantisipasi dan merespon berbagai perkembangan yang terjadi serta melakukan perubahan untuk mencapai kemajuan dan hasil pembangunan yang lebih baik.

Pembangunan infrastruktur dibangun untuk memperkuat national connectivity dan ketahanan energi. Untuk itu hambatan perekonomian. Potensi perekonomian domestik yang besar akan lebih didorong untuk berkembang. Kreativitas dan Inovasi Teknologi Bidang Politik.2 Prioritas Pembangunan Nasional RPJMN 2010-2014 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan Kesehatan Penanggulangan Kemiskinan Ketahanan Pangan Infrastruktur Iklim Investasi dan Iklim Usaha Energi Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana Daerah Tertinggal. Kebijakan pemerintah dalam perkuatan ekonomi domestik telah dituangkan pada RKP 2013. Hukum dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat Sumber: RKP 2013. Terdepan. serta peningkatan kesehatan dan pendidikan sangat penting untuk mendorong produktivitas ekonomi. terutama inefisiensi/hambatan-hambatan birokrasi.4 Isu Strategis 2013 Dalam tahun 2013.3. Isu strategis tersebut adalah peningkatan daya saing nasional. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 11 . Terluar. peningkatan daya tahan ekonomi. yang akan didukung oleh pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat dan pemantapan stabilitas sosial politik. baik investasi yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. dimana terdapat empat isu strategis yang menjadi fokus pemerintah. perekonomian domestik akan lebih ditingkatkan guna menghadapi perekonomian dunia yang masih beresiko dan persaingan yang semakin ketat.Gambar 2. & Pasca-konflik Kebudayaan. Pembangunan infrastruktur. Isu strategis yang menjadi fokus pemerintah pada tahun 2013 ditunjukkan pada Gambar 2. Investasi akan terus didorong. korupsi dan pelayanan perijinan akan ditangani secara serius agar tercipta iklim investasi dan usaha yang lebih baik. melalui pembiayaan pemerintah. penguatan kelembagaan. dunia usaha dan kerjasama pemerintah dan swasta. Bappenas 2.

Selain itu. pertanian dan pariwisata. Peningkatan daya saing nasional tidak dapat lepas dari kemampuan daerah untuk meningkatkan daya saingnya. dengan indikator pencapaiannya adalah target pertumbuhan investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) sebesar 10. •Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi Klaster 1-4. Dalam rangka peningkatan daya saing. Namun demikian. (2) waktu perijinan mendirikan bangunan yang turun menjadi 137 hari. Oleh sebab itu. •Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi. iklim investasi akan terus diperbaiki. Sementara itu. •Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda.9 persen pada tahun 2012 dan 12. 10 juta ton. untuk peningkatan daya saing nasional akan dilakukan juga peningkatan iklim usaha. Sumber: RKP 2013 (diolah) Peningkatan Daya Saing Peningkatan daya saing nasional perlu ditingkatkan pada sektor-sektor produksi.1 persen pada tahun 2013. jika daya saing daerah lebih baik. Target perbaikan iklim usaha pada tahun 2013 adalah: (1) waktu memulai usaha turun menjadi 20 hari. khususnya koridorkoridor ekonomi dalam kerangka Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). •Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi. utamanya industri.Gambar 2. Korupsi. dengan upaya yang difokuskan pada: (1) penyederhanaan prosedur investasi dan prosedur berusaha. (3) 12 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . •Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force. daya saing nasional dapat meningkat. •Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan •Percepatan Pembangunan Infrastruktur. (2) peningkatan efisiensi logistik nasional.3 Isu Strategis Pembangunan Nasional Dalam RKP 2013 Peningkatan Daya Saing Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Peningkatan Dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Pemantapan Stabilitas Sospol •Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha. langkah-langkah pemerintah untuk mencapai hal tersebut dituangkan pada Prioritas Nasional 7. •Persiapan Pemilu 2014. •Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras •Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia. dimana sasarannya adalah membaiknya indikator-indikator kemudahan berusaha yang ada pada Ease of Doing Business. serta (4) waktu pendaftaran properti menjadi 20 hari. (3) waktu perolehan akses listrik menjadi 90 hari. Pembangunan industri didorong untuk meningkatkan nilai tambah berbagai komoditi unggulan di berbagai Wilayah Indonesia. peningkatan daya saing nasional perlu dilakukan melalui peningkatan daya saing daerah secara merata dan terintegrasi.

Ibukota Babupaten/Kota yang dilayani Jaringan Broadband (%) 3. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Luar Negeri (%/tahun) g.4 502. Melalui penguataan konektivitas antar wilayah dan di dalam wilayah itu sendiri diharapkan akan menurunkan biaya transportasi barang dan jasa khususnya ke daerah-daerah yang berada jauh dari lokus produksi barang yang nantinya akan menguntungkan para pelaku usaha (produsen).50 11. Tingkat Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business) :  Waktu untuk memulai usaha (hari)  Perijinan mendirikan bangunan (hari)  Perolehan akses listrik (hari)  Pendaftaran properti (hari) 2.2 6.5 persen pada tahun 2013 dan pangsa angkutan laut ekspor impor yang mencapai 12 persen.1 6.500 32.1 20 137 90 20 92.00 83 6.750 52.8 45 158 108 22 88. Peningkatan Investasi (%) 1 b. Bappenas 2011 2012 2013 8.099 34.50 12.6 395. Pangsa Angkutan KA Barang (%) d. Peningkatan Pembangunan Industri di Berbagai Koridor Ekonomi a.530 6.50 76 11. dan (4) harmonisasi kebijakan Percepatan pembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung penguatan konektivitas di dalam wilayah maupun antar wilayah.5 2 8 10.pengembangan kawasan ekonomi ketenagakerjaan.50 12 3 10 11. Tabel 2. Sasaran yang akan dicapai dalam percepatan pembangunan infrastruktur adalah kondisi mantap jalan nasional yang mencapai 92.4-6.434 58. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 13 .2 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Saing ISU STRATEGIS 1.7 7. Selama ini telah diketahui bahwa arus barang di Indonesia harus mengeluarkan biaya transportasi yang relatif tinggi sehingga tidak mampu bersaing dengan komoditas impor.9 36 145 108 22 90.080 1 Data pencapaian target kemudahan berusaha tahun ke-n akan diperoleh di awal tahun ke-n+1. Penciptaan Kesempatan Kerja khususnya Tenaga Kerja Muda — Tingkat Pengangguran Terbuka (%)  Peningkatan Keahlian untuk Bekerja (orang)  Peningkatan Kualitas Pemagangan Berdasarkan Kebutuhan Industri (orang)  Peningkatan Akses Berusaha dan Berwirausaha bagi Tenaga Kerja Muda (orang) Sumber: RKP 2013. Pertumbuhan Penumpang Angkutan Udara Dalam Negeri (%/tahun) f. Percepatan Pembangunan Infrastruktur: Domestic Connectivity a. Peningkatan Industri Pengolahan Nonmigas (%) 4.880 34.78 12.50 11 1 6 9. masyarakat (konsumen) dan pemerintah.150 40.6 449.8 6. Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha a.6 6. Kondisi Mantap Jalan Nasional (%) b.50 13.30 66 10. Peningkatan Industri Pengolahan (%) b.2 6.0-6. khusus (KEK).367 6. Pangsa Angkutan Laut Ekspor Impor (%) c. Pangsa Angkutan KA Penumpang terhadap Total Angkutan Umum (%) e.

95 96. (3) stabilisasi harga bahan pangan dalam negeri.000 77. Rasio Desa Berlistrik (%) c. mengurangi subsidi energi. Bappenas 1.653 5 16.70 43.39 juta ton pada tahun 2014. Dalam hal ini.555 4 16.3 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan Daya Tahan Ekonomi ISU STRATEGIS Peningkatan Ketahanan Pangan: Menuju Pencapaian Surplus Beras 10 juta ton a.60 97. pemerintah akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur energi dalam bentuk gas serta jaringan distribusinya.2 persen.0-6.80 48. Rasio Elektrifikasi (%) b. Tabel 2.60 96.5 100 72. meningkatkan aksesibilitas terhadap infrastruktur energi dan meningkatkan pasokan energi domestik juga menjadi fokus pemerintah.000 14 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . tersedianya energi juga merupakan salah satu faktor pendukung daya tahan ekonomi nasional. Sambungan Gas ke Rumah Tangga Sumber: RKP 2013. Ketersediaan listrik di seluruh wilayah Indonesia merupakan suatu keharusan. Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Kebutuhan penyediaan pangan terus meningkat baik jumlah maupun kualitasnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun dan peningkatan pendapatan masyarakat.5 62.4 persen pada tahun 2013. PenurunanKonsumsi Beras (%/tahun) c. (2) pengembangan diversifikasi pangan. Produksi Padi (juta ton GKG) b.1 1. peningkatan daya saing ditargetkan pula dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 6.353 5 17.6 persen. termasuk upaya menuju surplus beras 10 juta ton per tahun mulai tahun 2014 serta pencapaian produksi perikanan 22. dan (4) peningkatan kesejahteraan petani. untuk itu pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi (RE) sebesar 77. Ketahanan pangan yang kuat akan menjadi salah satu pendorong dalam menciptakan perekonomian yang berdaya tahan. Peningkatan Rasio Elektrifikasi dan Konversi Energi  Peningkatan Rasio Elektrifikasi a. oleh karena itu produksi dalam negeri harus ditingkatkan.5 100 72.7 1.939 73. Selain itu. beberapa langkah yang akan dilakukan pemerintah yang dimasukkan dalam isu strategis ketahanan pangan adalah: (1) peningkatan produksi pangan. Pencetakan Sawah Baru (ribu ha) 2.Peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi pada tahun 2013 akan dilakukan dengan sasaran peningkatan industri pengolahan sebesar 6. Pembangunan Jaringan Distribusi Gas untuk Rumah Tangga (kota) b.7 persen dan peningkatan industri pengolahan non migas sebesar 7. 2011 2012 2013 65. Konversi energi dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Selain itu.1 67. Penyediaan pangan pokok seperti beras tidak bisa mengandalkan dari luar negeri.02 37. Dalam kaitan itu.8 1. Kapasitas Pembangkit (MW)  Pelaksanaan Konversi Gas a.

(6) peningkatan akses pelayanan KB berkualitas yang merata. serta daya saing produk dalam negeri. terampil. APM SD/SDLB/MI/Paket A (%) d. peningkatan kualitas SDM yang sehat juga perlu diraih dengan peningkatan akses dan layanan kesehatan yang berkualitas. khasiat/manfaat dan mutu obat. APK SD/SDLB/MI/Paket A (%) f. (3) peningkatan profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (tahun) b. Antara lain dengan: (1) peningkatan akses pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak. jaminan keamanan. (2) peningkatan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta penyehatan lingkungan.40 95. merata. yaitu berpendidikan dan sehat.80 76. Sementara itu. berdaya saing dan selaras dengan kebutuhan pembangunan. APK SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) g.7 75. (4) peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan. APM SMP/SMPLB/MTs/Paket B (%) e. produktif. (5) peningkatan ketersediaan.8 95. pemerataan. APK PT usia 19-23 Tahun (%) i.4 98.Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Perekonomian domestik yang kuat tentunya ditujukan untuk peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. APS Penduduk Usia 7-12 Tahun (%) j. menengah. APS Penduduk Usia 13-15 Tahun (%) 2011 2012 2013 7.24 99.8 82. relevan dan efisien menjadi kebutuhan mendasar dalam menciptakan SDM yang cerdas. berbudi pekerti luhur. alat kesehatan dan makanan. Tabel 2.7 117. terjangkau.9 79. ISU STRATEGIS Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan a.0 28.2 103.3 74.7 93. tinggi yang berkualitas.85 4. Isu strategis pendidikan diarahkan untuk pemenuhan layanan pendidikan dasar. Layanan pendidikan yang berkualitas. pro-poor. keterjangkauan. Peningkatan dan perluasan kesejahteraan masyarakat perlu didukung dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.1 90.0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 15 .0 27.6 106.17 95.4 Sasaran Pokok Isu Strategis Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 1. mandiri.00 118. Dalam hal ini perlu didorong dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. APK SMA/SMK/MA/Paket C (%) h. serta memiliki karakter bangsa yang kuat.1 98.6 8.3 7. Saat ini pemerintah sedang menyusun dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) 2011-2025. khususnya bagi masyarakat miskin dan marjinal sehingga dapat terlibat langsung dan menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi. projob dan pro-environment.75 5.6 101. MP3KI merupakan kebijakan afirmatif dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi yang pro-growth.0 95. MP3KI diarahkan untuk mendorong perwujudan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan. terjangkau dan terlindungi bagi penduduk Indonesia.5 76.25 4. Angka Buta Aksara Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas (%) c.4 118.0 26.

320 9. PLKB/PKB dan IMP yang Mendapatkan Dukungan Operasional dan Mekanisme Operasional Lapangan  Jumlah Peserta KB yang Berasal dari Anggota Kelompok BKB yang Mendapatkan Penggerakan Rintisan BKB dan Penguatan Kelembagaan BKB ( New Inisiative) .97 4. Peningkatan Ketersediaan. Khasiat/Manfaat dan Mutu Obat. Keterjangkauan.Kelompok Rintisan .11 745.500 0. Jaminan Keamanan.376 80 3. Peningkatan Jaminan Pembiayaan Kesehatan  Jumlah TT Kelas III RS yang Digunakan untuk Pelayanan Kesehatan (new initiave)  Jumlah Puskesmas yang Memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Penduduk Miskin e.000 62.236 89 88 80 9. Peningkatan Akses Pelayanan KB Berkualitas yang Merata  Jumlah Peserta KB baru dari Keluarga Miskin (KPS dan KS-I) yang Mendapatkan Jaminan Ketersediaan Kontrasepsi (juta akseptor)  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapatkan Dukungan Sarana dan Prasarana Pelayanan KB  Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta yang Mendapat Dukungan Penggerakan Pelayanan KB  Persentase Komplikasi Berat dan Kegagalan KB yang Dilayani  Jumlah PPLKB.2 1. Pemerataan.608 88 85 75 9.3 84.700 23.491 - - - - 702 444 4 16 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .323 86.5 80 11.700 23. Peningkatan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular serta Penyehatan Lingkungan  Persentase Kasus Baru TB Paru (BTA positif) yang Disembuhkan  Angka Penemuan Kasus Malaria per 1.820 85 5.500 0.11 501.25 90 16.000 Penduduk  Persentase Provinsi yang memiliki Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR)  Jumlah Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) c.500 0.Kelompok Paripurna  Jumlah provinsi sebagai model manajemen pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (program KB Kencana) ( New Inisiative) 2011 2012 2013 86.75 63. Peningkatan Profesionalisme dan PendayagunaanTenaga Kesehatan yang Merata  Persentase Pemenuhan Kebutuhan SDM Aparatur (PNS dan PTT)  Jumlah Tenaga Kesehatan yang Didayagunakan dan Diberi Insentif di DTPK dan di DBK d.29 90 3.700 23.11 - 4.2 1. Alat Kesehatan dan Makanan.323 87 4.ISU STRATEGIS Kesehatan a. Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang Berkualitas bagi Ibu dan Anak  Persentase Ibu Bersalin yang Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (cakupan PN)  Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap  Persentase Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S)  Jumlah Puskesmas yang Mendapatkan Bantuan Operasional Kesehatan b.600 9. serta Daya Saing Produk Dalam Negeri  Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin f.593 4.6 6.125 9.236 9.7 71.000 87 1.4 8.89 95 3.235 87 1.

6 303.5 2.0 5. Percepatan Pengurangan Kemiskinan: Sinergi klaster 1-4 a. Reformasi birokrasi di daerah harus sejalan dengan pemantapan penataan otonomi daerah agar kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah makin meningkat.0 186.5 3 15.9 5.020 10.230 10. kondisi sosial dan politik menuju pemilu 2014 juga perlu terus dijaga. Bappenas 2011 12. adil.698.116 17. Jumlah UMKM  Klaster IV . Jumlah Provinsi ii.100 10.Perluasan Kredit Usaha Rakyat i.950.PNPM Perkotaan (Desa/Kelurahan)  Klaster III . Indeks Persepsi Korupsi b. Tabel 2.2 80 40 20 4. PPLS 2008 Jul-Des. reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan perlu terus ditingkatkan baik di pusat dan daerah.948 2012 10.5 5.5-10. demokratis dan aman. 2.5 9.5 239.5 1. Penurunan Angka Kemiskinan (%)  Klaster I . Dalam rangka hal tersebut.4 2 17.Jamkesmas (juta RTS) .0 100 60 40 Jan-Jun. PPLS 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 17 .068.Raskin (juta RTS) .33 14.520 298. Sementara itu.5 Sasaran Pokok Isu Strategis Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik 1.PNPM Perdesaan (Kecamatan) . khususnya dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan.520 60 33 27.25 Pemantapan Stabilitas Sosial dan Politik Perekonomian domestik yang kuat perlu didukung oleh kemantapan stabilitas sosial dan politik.5 8.948 2013 9. Opini WTP atas Laporan Keuangan (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 2 3 2011 2012 2013 75 1) 3.5 9. PT Umum dan Islam (ribu mahasiswa)  Klaster II .922 33 33 27.0 63 18 8. Tantangan penyelenggaraan pemilu sangat besar dan masyarakat menaruh harapan luar biasa pada penyelenggaraan pemilu agar dapat berlangsung secara jujur.5 1.Pembangunan Perumahan Swadaya/Rumah Sangat Murah (ribu unit) Sumber: RKP 2013.24 7.PKH (juta RTSM) . SD/MI s/d SMA/MA/SMK (ribu siswa) ii.5-11.5 3.516 17.61 4.Beasiswa Miskin i. ISU STRATEGIS Persiapan Pemilu 2014 — Tingkat Partisipasi Politik Tahun 2014 (%) Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi a.ISU STRATEGIS 2.

00 85 21 82. Matra Darat b. Percepatan Pembangunan Minimum Essential Force Peningkatan Alutsista (%) a. Bappenas c.0 100 100 100 40 90 70 50 17 15 22 30 19 24 37 21 31 18 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .25 6. e.93 63.07 6.5 7.ISU STRATEGIS Integritas Pelayanan Publik (Pusat) Integritas Pelayanan Publik (Daerah) Jumlah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Daerah (%) Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota g. Matra Laut c.5 90 80 100 15 85 65 30 2013 7. Instansi Pemerintah yang Akuntabel (%)  Kementerian/Lembaga  Provinsi  Kabupaten/Kota 3.78 2012 7. d.33 12. Matra Udara Sumber: RKP 2013. f. 2011 7.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB III KONDISI TERKINI DAERAH .

konsumsi masyarakat tetap tumbuh sebesar 4.7 persen. Di sisi produksi. Sektor tersier yang meliputi listrik. Pada tahun 2012 ini. Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Pengeluaran pemerintah juga meningkat sebesar 3.8 persen. Sementara itu. dimana pertumbuhannya masing-masing sebesar 13. hotel dan restoran. Hotel dan Restoran. 6.0 persen. Kemudian pada Triwulan I tahun 2012. sektor pertanian tumbuh 3. ekspor dan impor tumbuh melambat karena dampak dari krisis global. sama dengan tahun sebelumnya.BAB III KONDISI TERKINI DAERAH 3.2 persen. atau lebih tinggi dari tahun 2010 yang tumbuh 6.9 persen.3 persen.8 persen. kinerja ekonomi Indonesia sangat baik dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6. pengangkutan dan telekomunikasi. 6. investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun 2011 meningkat dengan pertumbuhan sebesar 8.8 persen dan PMTB sebesar 10. Sementara itu ekspor dan impor diperkirakan hanya tumbuh sebesar 9. sasaran pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 6.1.8 persen. konsumsi pemerintah sebesar 6. Stabilitas ekonomi Indonesia pada tahun 2011 masih terjaga di tengah berbagai krisis eksternal. 9. Di sisi produksi. Tingkat pengangguran terbuka serta penduduk miskin juga menurun hingga mencapai masing-masing sebesar 6. Di lain pihak. konstruksi. serta 6.1 Pertumbuhan Ekonomi Pada tahun 2011. inflasi bisa ditekan hingga 3. gas dan air bersih.5 persen.2 persen.6 persen dan 13. serta jasa-jasa tumbuh masing-masing sebesar 4. Di sisi pengeluaran.1 persen.0 persen dan sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh 6.8 persen.7 persen. Konsumsi masyarakat dan investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di sisi pengeluaran. turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 7. perdagangan.2 persen. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 terutama ditopang oleh ketahanan domestik berupa investasi yang meningkat dan daya beli masyarakat yang terjaga serta ekspor barang dan jasa yang tetap tumbuh.9 persen 22 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sementara itu.6 persen dan 12. keuangan.1 Kondisi Ekonomi Nasional 3.2 persen.5 persen. Tingkat pertumbuhan ini diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 4.3 persen. 10.9 persen. dimana kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 5. real estat dan jasa perusahaan. sektor yang memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah Sektor Perdagangan. perekonomian Indonesia tetap tumbuh baik dengan laju sebesar 6.5 persen.7 persen.7 persen.

dan 11,4 persen dikarenakan kondisi ekonomi dunia yang masih belum pulih. Tabel 3.1 Gambaran Ekonomi Makro Tahun 2010 – 2012
PERTUMBUHAN EKONOMI ( persen) Sisi Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Sisi Produksi Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, Jasa Usaha Jasa-jasa LAJU INFLASI ( persen) PENGANGGURAN TERBUKA ( persen) PENDUDUK MISKIN ( persen) Sumber: Bappenas (RKP 2013) 2010 6,2 4,7 0,3 8,5 15,3 17,3 3,0 3,6 4,7 5,3 7,0 8,7 13,4 5,7 6,0 7,0 7,1 13,3 2011 6,5 4,7 3,2 8,8 13,6 13,3 3,0 1,4 6,2 4,8 6,7 9,2 10,7 6,8 6,7 3,8 6,6 12,5 2012 (Sasaran) 6,5 4,9 6,8 10,9 9,9 11,4 3,5 2,0 6,1 6,2 7,0 8,9 11,2 6,3 6,2 6,8 6,4-6,6 10,5-11,5

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan dikontribusikan oleh antara lain pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan masingmasing sebesar 3,5 persen, 2,0 persen dan 6,1 persen. Sementara itu sektor listrik, gas dan air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan telekomunikasi; keuangan, real estat dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 6,2 persen; 7,0 persen; 8,9 persen; 11,2 persen; 6,3 persen dan 6,2 persen.

3.1.2 Tingkat Kemiskinan
Secara nasional, jumlah penduduk miskin selama periode 2006-2012 mengalami penurunan yang signifikan, dari 39,3 juta jiwa pada 2006 menjadi 29,13 juta jiwa pada 2012 sehingga selama periode tersebut jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 10,17 juta jiwa atau secara rata-rata sebesar 1,45 juta jiwa per tahun (Gambar 3.1). Tren yang serupa juga terjadi dalam perkembangan persentase penduduk miskin dalam periode yang sama, dimana terjadi penurunan yang tajam dari sekitar 17,75 persen pada 2006 menjadi sekitar 11,96 persen pada 2012. Dengan demikian, selama periode 2006-2012 terjadi penurunan persentase penduduk miskin sekitar 32,6 persen atau secara rata-rata sekitar 4,65 persen per tahun.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

23

Gambar 3.1 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Tahun 2006 - 2012
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 17,75 16,58 39,3 37,17

34,96

32,53

31,02

30,02

29,13

15,42

14,15

13,33

12,49

11,96

Dengan menggunakan data kemiskinan yang mutakhir (Susenas, Maret 2012), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret tahun 2012 sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Apabila dibandingkan dengan perhitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan Susenas Maret 2011 yang berjumlah 30,02 juta (12,49 persen) maka terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,13 juta orang selama periode Maret 2011 – Maret 2012. Selama periode tersebut, jumlah penduduk miskin menurut kawasan baik perkotaan maupun perdesaan masing-masing turun menjadi 3,61 persen dan 2,6 persen. Jumlah penduduk miskin di perkotaan berkurang sebesar 0,40 juta orang, sementara di perdesaan berkurang sebesar 0,49 juta orang (Tabel 3.2). Selama periode tersebut, persentase penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Tabel 3.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Kawasan
Kawasan Perkotaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Perkotaan+Perdesaan Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (Juta) 11,05 10,95 10,65 18,97 18,94 18,48 30,02 29,89 29,13 Persentase Penduduk Miskin (%) 9,23 9,09 8,78 15,72 15,59 15,12 12,49 12,36 11,96

24

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) inflasi umum yang relatif rendah, (2) penurunan harga eceran beberapa komoditas bahan pokok, (3) perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan dengan naiknya nilai tukar petani, (4) terjaganya kinerja pertumbuhan ekonomi nasional sampai dengan triwulan III dan (5) penurunan tingkat pengangguran terbuka. Berdasarkan wilayah, persentase penduduk miskin terbesar di Wilayah Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77 persen, sementara persentase penduduk miskin terkecil di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 6,69 persen. Namun demikian, apabila dilihat dari jumlah penduduk maka sebagian besar penduduk miskin terkonsentrasi di Wilayah Jawa, yaitu sebesar 16,11 juta orang, sementara jumlah penduduk miskin terkecil berada di Wilayah Kalimantan, yaitu sebesar 0,95 juta orang (Tabel 3.3). Tabel 3.3 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Wilayah (Maret 2012)
Pulau Sumatera Jawa Bali dan Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Indonesia Sumber: BPS Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Kota Desa Kota+Desa 2.075,54 4.225,33 6.300,87 7.209,94 8.897,26 16.107,20 640,23 1.393,71 2.033,94 266,15 688,42 954,57 341,04 1.756,20 2.097,24 114,33 1.524,27 1.638,60 10.647,23 18.485,19 29.132,42 Persentase Penduduk Miskin (%) Kota Desa Kota+Desa 10,15 13,30 12,07 8,84 15,46 11,57 12,13 17,03 15,11 4,41 8,37 6,69 5,70 14,86 11,78 5,88 32,64 24,77 8,78 15,12 11,96

Pada periode Maret 2011–Maret 2012 secara umum terjadi perbaikan kondisi penduduk miskin yang ditunjukkan adanya penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Nilai P1 turun dari 2,08 pada Maret 2011 menjadi 1,88 pada Maret 2012, sementara nilai P2 turun dari 0,55 menjadi 0,47 pada periode yang sama (Tabel 3.4). Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati garis kemiskinan serta berkurangnya ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Berdasarkan kawasan, nilai P1 dan P2 di perdesaan masih tetap lebih tinggi daripada di perkotaan. Pada Maret 2012, nilai P1 untuk perkotaan hanya 1,40 sementara di perdesaan mencapai 2,36. Selanjutnya, nilai P2 untuk perkotaan hanya 0,36 sementara di perdesaan mencapai 0,59. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di perdesaan lebih buruk daripada di perkotaan.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

25

Tabel 3.4 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Kawasan
Indeks Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2011 September 2011 Maret 2012 Sumber: BPS Kota Desa Kota+Desa

1,52 1,48 1,40 0,39 0,39 0,36

2,63 2,61 2,36 0,70 0,68 0,59

2,08 2,05 1,88 0,55 0,53 0,47

3.1.3 Tingkat Pengangguran Terbuka
Secara nasional, tingkat pengangguran terbuka (TPT) cenderung terus menurun selama lima tahun terakhir. Pada bulan Februari 2012 TPT nasional telah mencapai 6,32 persen, menurun cukup tinggi dari TPT pada tahun 2008 yang masih sebesar 8,46 persen. Antara 2011 – 2012, jumlah angkatan kerja bertambah 1,01 juta orang menjadi sebesar 120,41 juta. Dalam kurun waktu tersebut jumlah kesempatan kerja baru yang tercipta sebesar 1,52 juta orang, sehingga dengan demikian jumlah penganggur menurun sekitar 500 ribu orang. Gambar 3.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Tahun 2008 – 2012
140 120 100 Juta Orang 80 60 40 20 0 2008 2009 2010 2011 2012 14% 12% 10% 8% 8,14% 7,41%

8,46%

6,80%

6% 6,32% 4% 2% 0%

Angkatan Kerja
Sumber: Sakernas, BPS

Bekerja

Penganggur Terbuka

TPT

26

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

2010 (Rp Trilyun) Sumber: BPS Rata-rata Laju Pertumbuhan Ekonomi 2005-2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 27 . Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.2.3. penyuplai bahan baku. berupa limpahan ( spillover) informasi dan pengetahuan. Bagi pekerja kondisi ini juga memberikan manfaat bagi peningkatan spesialisasi. Kondisi ini akan meningkatkan daya saing perusahaanperusahaan di daerah tersebut karena mampu berproduksi secara lebih efisien. Kedua. Di perekonomian yang besar. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua - (4) PDRB ADHB Th. daerah-daerah dengan populasi besar juga memfasilitasi berfungsinya pasar tenaga kerja secara lebih efisien. maupun industri pengguna produknya untuk diolah lebih lanjut. para pelaku usaha akan lebih mudah menemukan pembeli.1 Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Daerah Ukuran pasar domestik di dalam perekonomian daerah tergambar dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan jumlah penduduk. Ketiga. Kondisi ini berpotensi meningkatkan produktivitas dalam perekonomian. Gambar 3.2 Kondisi Ekonomi Daerah 3. Keuntungan aglomerasi yang terakhir adalah adanya eksternalitas positif dari terkonsentrasinya industri dan investasi di suatu lokasi. Bangka Belitung Kep. Pasar yang besar memiliki daya tarik yang lebih tinggi bagi investor karena menawarkan beberapa keuntungan ( agglomeration economies). baik keterkaitan ke belakang maupun keterkaitan ke depan. semakin besar ukuran pasar semakin besar pula kemungkinan terjadinya linkages atau keterkaitan. pasar yang besar memfasilitasi para pelaku usaha untuk berproduksi pada skala ekonomi yang optimal.3 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 900 Rp Triliun 12 Persen 600 8 4 300 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Pertama. Dalam hal ini pengusaha akan lebih mudah menemukan tenaga kerja dengan spesialisasi yang sesuai dengan kebutuhan di daerah padat penduduk dibandingkan dengan di daerah berpenduduk sedikit.

sedangkan Papua memiliki persentase penduduk miskin terbesar (Gambar 3. Jawa Timur memiliki jumlah penduduk miskin terbesar. yaitu Sumatera Utara (1. terutama di Jawa Barat (4.0 0. Jawa Tengah (5.0 5. Bahkan dalam lima tahun terakhir kinerja pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Sulawesi termasuk yang paling tinggi di antara provinsi-provinsi lainnya.4 juta jiwa).7 persen terhadap perekonomian nasional (total PDRB 33 provinsi). Sumatera Selatan (1. 14. masing-masing berperan sebesar 16. Bangka Belitung Kep.4 persen.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.0 2.4 Jumlah Penduduk Miskin dan Persentase Penduduk Miskin Per Provinsi Tahun 2011 6. DKI Jakarta. Gambar 3. PDRB provinsi-provinsi di Jawa mendominasi PDRB provinsi-provinsi lainnya dalam hal peran PDRB terhadap perekonomian nasional. Secara nasional. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 35 30 25 20 15 10 5 0 Jumlah Penduduk Miskin (Juta Jiwa) Sumber: BPS Persentase Penduduk Miskin (%) 28 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Wilayah lain yang memiliki kinerja pertumbuhan baik adalah Sulawesi. 3.2 persen.2.Pola di atas juga nampak dalam kinerja perekonomian daerah (provinsi) di Indonesia.7 juta jiwa). Bila kecenderungan ini terus berlanjut maka peran Wilayah Sulawesi yang saat ini relatif kecil akan semakin meningkat dan semakin penting sebagai pendorong pertumbuhan Wilayah Kawasan Timur Indonesia. Gorontalo dan Maluku merupakan tiga provinsi dengan PDRB terkecil secara nasional dengan peran masing-masing kurang dari 0.0 4.01 juta jiwa). Provinsi-provinsi di Jawa juga masih merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.4 juta jiwa).0 3.2 Tingkat Kemiskinan Per Provinsi Secara geografis.0 1. Jawa Timur dan Jawa Barat adalah tiga provinsi dengan PDRB terbesar.1 juta jiwa) dan Jawa Timur (5. Sementara itu Maluku Utara. konsentrasi penduduk miskin pada tahun 2011 masih berada di Wilayah Jawa.2 juta jiwa) dan Nusa Tenggara Timur (1.4). Diluar ketiga provinsi tersebut masih terdapat provinsi-provinsi lain dengan jumlah penduduk miskin lebih dari 1 juta orang.07 juta jiwa). Lampung (1.8 persen dan 14.

63 3.57 49. yaitu sekitar 1.19 13.07 6.64 9.03 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 29 .80 9. Lampung Utara Kab.71 11. Bolaang Mongondow Selatan Kab.58 47.51 7.80 3. Kepulauan Mentawai Kab.36 22.84 1.57 15.53 14. Hulu Sungai Utara Kab. Flores Timur Kab. Belitung Timur Kab.14 24.19 5. Kepulauan Meranti Kab.23 33.20 4.84 24.28 24.76 15.77 42.20 8.67 4. Tojo Una Una Kab. Pangkajene Kepulauan Kab. Deli Serdang Kota Sawahlunto Kota Pekan Baru Kab.34 4. Sanggau Kota Palangka Raya Kab. Pandeglang Kab.48 4. Mamuju Utara Kota Kendari Kota Ambon Kota Ternate Kab. Landak Kab.12 9. Kepulauan Anambas Kota Sungai Penuh Kab. Teluk Bintuni Tertinggi % 26.21 12.49 9.14 41. Boalemo Kab. Dari pemetaan tersebut tercatat bahwa kabupaten Deyai di provinsi Papua memiliki persentase penduduk miskin tertinggi secara nasional. Deiyai Kab. Malinau Kab.98 5.02 7.5 Kabupaten/Kota Dengan Persentase Penduduk Miskin Tertinggi dan Terendah Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.67 5. Purbalingga Kab.06 39.83 12. yaitu sekitar 49. 2012.11 2. Bengkulu Selatan Kab.41 20.06 10.64 28.07 20.06 10.15 32.43 7.Dalam publikasi yang berjudul Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.24 20.58 persen.34 2. Tabel 3.02 5.11 43.40 2. Barito Timur Kab. Maluku Barat Daya Kab. Tanjung Jabung Timur Kab. Bangka Barat Bengkulu Tengah Kab.25 6. Polewali Mamasa Kab. Kepulauan Seribu Kota Tasikmalaya Kab.31 18. Banjar Kota Balikpapan Kota Manado Kota Gorontalo Kota Palu Kota Makassar Kab. Sampang Kab.62 Kabupaten/Kota Kota Banda Aceh Kab.61 5. Bener Meriah Kota Gunungsitoli Kab.75 5. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Sumber : BPS Kabupaten/Kota Kab.16 14. Halmahera Tengah Kab. Merauke Kota Sorong Terendah % 9.67 persen.58 23. Kulon Progo Kab. Kolaka Utara Kab.54 14. Badan Pusat Statistik (BPS) telah memetakan kabupaten/kota di masingmasing provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin tertinggi dan terendah pada 2010. Tulangbawang Barat Kota Jakarta Timur Kota Depok Kota Tangerang Selatan Kota Semarang Kota Yogyakarta Kota Batu Kota Denpasar Kota Bima Kab.26 21.86 6.47 8. Lombok Utara Kab.31 3.81 5. Musi Banyuasin Kab. Jembrana Kab.84 19. sedangkan kota Tangerang Selatan memiliki persentase penduduk miskin terendah.51 5. Lingga Kab.07 19. Sabu Raijua Kab.87 19. OKU Timur Kab.

27 4. Distribusi jumlah penganggur menurut masing-masing provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.37 8. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai persentase penduduk miskin kabupaten/kota baik nilai tertinggi maupun terendah. BPS TPT 2011 Konsentrasi penganggur di Indonesia berada di Wilayah Indonesia Barat. Riau Banten Jambi Bali 3.72 3.33 11. 3.59 4.35 3.67 3.50 Kalimantan Timur Gorontalo INDONESIA NAD Maluku Papua Riau DKI Jakarta Bengkulu Lampung Kep.25 3.3 Tingkat Pengangguran Per Provinsi Distribusi Regional Berdasarkan Sakernas Agustus 2011.0 persen dari total penganggur Indonesia.63 5.08 juta orang atau sekitar 64.57 5.19 7.27 6.24 3.61 9.41 4.25 5. Mayoritas penganggur yang berada di Pulau Jawa dan Bali berjumlah 5.Dari data tersebut terlihat pula bahwa terdapat 5 (lima) provinsi yang memiliki kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin tertinggi diatas 40 persen.21 6.86 2.05 13.62 5.25 4. Gambar 3. Sementara itu penganggur di Pulau Sumatera 30 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Jawa Barat Kep.99 4.55 4.34 4.95 7.72 10.04 7.70 2.47 5.37 juta orang.14 7.37 8.16 5.85 5.25 5.39 5. jumlah tenaga kerja yang berstatus penganggur di Indonesia adalah sebanyak 7. yang merupakan 6. yaitu Riau.43 7.5.65 6.62 6.61 5.21 9.28 8.83 13.62 5.2.06 3.69 6.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Per Provinsi (%) Tahun 2010 . tingkat kemiskinan di Wilayah Indonesia Timur sangat serius sehingga memerlukan perhatian yang khusus baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.68 . Papua dan Papua Barat.97 10.14 6.56 persen dari keseluruhan angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.69 7.10 10.07 6.84 10. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung DI Yogyakarta Maluku Utara Papua Barat Jawa Timur Kalimantan Barat Sumatera Utara Sumatera Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat TPT 2010 Sumber: Sakernas.18 3.2011 2.34 3.61 4.29 5.18 8.03 6.07 7.7 juta orang.14 4.17 9. Nusa Tenggara Timur.56 7.72 9. Selanjutnya.90 6. nilai terendah persentase penduduk miskin kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat sekitar 14 persen.68 8.61 4.66 4.

318 59.551 555.461 13. yang memiliki tingkat penganggurannya lebih tinggi di daerah perdesaan.617 19.115 109.502 10.235 11.064 13.96 persen.156 118.429 33.844 65.9 juta orang). Provinsi dengan jumlah penganggur terbesar adalah Jawa Barat (1.785 48.168 80.54 40.000.22 persen sementara di daerah perdesaan adalah 4.461 31.109 1.767 13.6 Jumlah Penganggur Berdasarkan Perkotaan dan Perdesaan (Ribu Orang) Sulawesi Barat Bengkulu Gorontalo Maluku Utara Kalimantan Tengah Kep.000 Sumber: Sakernas.000 1. Riau DI Yogyakarta Sumatera Barat Riau Sulawesi Selatan Lampung Sumatera Selatan Kalimantan Timur Sumatera Utara Jawa Timur Banten Jawa Tengah DKI Jakarta Jawa Barat 11. Tiga provinsi ini memberikan kontribusi hampir sekitar 50 persen penganggur yang ada di Indonesia.740 134.225 7.410 50.825 26. Kecuali provinsi Jambi dan NAD.855 14.094 15. Tingkat pengangguran di daerah perkotaan secara nasional adalah 8.473 77. BPS 500.258 58.398 13.133 417.811 104.000 0.000 1.159 122.0 persen total penganggur Indonesia atau 6.315 15.762 111.544 57.211 36.975 14.357 37.083 11.112 4.884 53.berjumlah sekitar 1.488 8.509 187.192 40.297 46. atau sekitar 18.499 17.452 504.037 493.174 25. Dua bagian kawasan barat Indonesia ini telah menampung sekitar 85.602 24.500.194 18.620 56.000 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 31 .953 267.594 46.000 500.44 juta orang.564 Perdesaan 8.147 135.122 7.5 persen dari total penganggur Indonesia. diikuti oleh Jawa Tengah (1.658 47. Distribusi Pengangguran Kota-Desa Berdasarkan distribusi pengangguran kota-desa di setiap provinsi. Gambar 3. Bangka Belitung Jambi Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Papua NAD Kalimanta Barat Bali Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Kep.52 juta.609 99.734 1282.992 404.000. konsentrasi pengangguran di daerah perkotaan secara umum terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah perdesaan.599 61.075 101.408 Perkotaan 619.6 ribu orang).320 28.739 37.0 juta orang) dan juga Jawa Timur (821.651 11.

Maluku. seperti Papua. Sumatera Barat.3.Untuk daerah-daerah tertentu. namun dengan kisaran yang cukup lebar. merupakan provinsi dengan tingkat pengangguran antara kota dan desa yang perbedaannya sangat besar.2 persen. Jawa Timur. Kalimantan Timur.0 persen adalah DI Yogyakarta. sebagian besar di Wilayah luar Jawa.sisi kiri Sumber : BPS diolah 32 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Juta Rp Persen . Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara. Sulawesi Barat. Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat memiliki tingkat pengangguran yang hampir sama antara di kota dan desa. Jambi. Lampung. tingkat penganggurannya diatas 10. Sulawesi Utara. Sementara daerah yang tingkat penganggurannya dibawah 5.3 Kondisi Daya Beli Masyarakat 3. Lampung. Hal ini menandakan meningkatnya daya beli masyarakat secara riil di wilayah-wilayah tersebut. DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kalimantan Tengah.82 persen. seperti provinsi Papua Barat.7 Pertumbuhan Konsumsi dan Konsumsi per Kapita Menurut Provinsi Tahun 2009 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 - Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita (ADHB) Tahun 2009 (Juta Rp) Rata-rata pertumbuhan konsumsi 2006-2009 (%) . Kalimantan Barat. Banten. Gambar 3. Bangka Belitung. Kep. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi di provinsi Kepulauan Riau dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 14. Sebanyak dua belas provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi cukup tinggi di atas 7 persen. Sumatera utara. 3. Provinsi Banten. Gambaran daerah lainnya. Bali dan Bengkulu.1 Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat Konsumsi masyarakat mengalami pertumbuhan positif di semua provinsi selama periode 2006-2009.0 persen. sedangkan pertumbuhan konsumsi terendah terjadi di NAD sebesar 0.

3.8 Rata-rata Peran Konsumsi Rumah Tangga Dalam Sumber Pertumbuhan PDRB Tahun 2006 .4 persen di Nusa Tenggara Timur.8 persen di Kalimantan Timur hingga yang terbesar 86. Pangsa konsumsi rumah tangga dalam PDRB bervariasi antar provinsi.Sementara itu enam provinsi mengalami pertumbuhan konsumsi relatif rendah. 3. Hal serupa juga terjadi di Provinsi Maluku Utara. Maluku dan Sulawesi Barat.2009 120 100 Persen 80 60 40 20 0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Hal ini ditunjukkan oleh relatif tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada provinsiprovinsi dengan tingkat konsumsi per kapita relatif rendah. Pangsa konsumsi yang rendah di Kalimantan Timur disebabkan oleh tingginya pangsa ekspor sumber daya alam dalam PDRB. khususnya di Wilayah Indonesia Timur. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rata-Rata Peran Konsumsi dalam Sumber Pertumbuhan PDRB (persen) Sumber: BPS diolah Selama periode 2006-2009 peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah sangat bervariasi antar provinsi. Sementara itu tingginya pangsa konsumsi rumah tangga dalam perekonomian Nusa Tenggara Timur menggambarkan relatif belum berkembangnya kegiatan investasi dan kegiatan produktif yang menghasilkan komoditi ekspor daerah. Bangka Belitung Kep.2 Peran Konsumsi Masyarakat Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Peran konsumsi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari pangsanya dalam PDRB dan laju pertumbuhannya. Namun demikian di sebagian besar provinsi. dari yang terkecil 15. Namun demikian di daerah-daerah tersebut investasi dan perdagangan perlu tumbuh lebih tinggi agar pertumbuhan konsumsi ini berkelanjutan. Bila kinerja pertumbuhan ini dikaitkan dengan tingkat konsumsi per kapita maka terlihat kecenderungan pemerataan daya beli masyarakat. Kondisi serupa ditemui di Provinsi NAD dan Riau. konsumsi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 33 . Gambar 3. kurang dari 4 persen per tahun dan lima belas provinsi sisanya mengalami pertumbuhan konsumsi relatif moderat antara 4 sampai 7 persen.

6 0.9 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Tahun 2011 20.7 5.8 2.0 2. Sementara Jawa Barat dan Banten merupakan daerah yang sebagian besar ekspornya dimuat di pelabuhan provinsi lain.8 1.0 8. peran konsumsi rumah tangga dalam sumber pertumbuhan daerah melebihi 100 persen. ekspor nasional mencapai 203. Asal Pelabuhan Muat Prov. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. Bahkan di tiga provinsi.0 4.2 5. Gambar 3.4 6.0 16.5 1.6 1. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Pelabuhan Muat Prov.2 10.0.0 . Riau dan beberapa provinsi lainnya melakukan sebagian besar ekspornya di pelabuhan muat provinsi asal.6 Sumber: BPS 34 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.8 1.1 0. Pada 24 provinsi. Hal ini menandakan pentingnya peran konsumsi masyarakat dalam menyangga kinerja perekonomian domestik.4 persen dan 10.1 Kontribusi Ekspor Daerah Terhadap Nasional Pada tahun 2011.5 .4 8.8 persen.3 0.5 persen.5 18. 13.3 1. Lain Ekspor Berdasarkan Provinsi Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .1 0. Oleh karena itu.rumah tangga berperan besar dalam mendorong perekonomian daerah. Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau. lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi daerah bersumber dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga. investasi dan pertumbuhan sektor riil perlu terus digalakkan di daerah.0 0.0 12. Jawa Barat dan Riau dengan kontribusi masing-masing sebesar 18.4 0. Provinsi yang memberikan kontribusi terbesar dalam ekspor adalah Kalimantan Timur.3 2. yakni Maluku Utara. 3.0.5 0.7 13. Sementara itu di provinsi NAD dan Papua yang mengalami pertumbuhan ratarata negatif pada periode tersebut.7 4. Adapun ekspor Kalimantan Timur.8 0.4 persen.4.5 miliar USD.2 1.5 5.6 0. Ketiga provinsi tersebut menyumbang ekspor nasional mencapai 42.0 0. pertumbuhan konsumsi berperan sangat besar dalam mencegah perekonomian berkontraksi lebih parah.4 Kondisi Perdagangan dan Investasi 3.0 1. Implikasi kebijakan yang bisa dipetik adalah pentingnya mempertahankan dan meningkatkan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.

2 Investasi (PMTB) Per Provinsi Daerah-daerah dengan populasi besar dan kepadatan tinggi serta memiliki kinerja pertumbuhan tinggi mampu menarik investasi relatif besar dibandingkan daerah lain. 2009 Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) Gambar 3.4. Bangka Belitung Kep.10 PMTB dan Jumlah Penduduk Tahun 2005 – 2009 300 50 240 180 120 60 40 30 20 10 - Triliun Rp Sumber: BPS 300 Triliun Rp 240 180 120 60 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Gambar 3.11 PMTB dan Kepadatan Penduduk Tahun 2005 – 2009 10 8 6 4 2 Log Kepadatan Penduduk Pembentukan Modal Tetap Bruto Th. Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan tiga provinsi penyerap investasi terbesar dengan pangsa sebesar 26. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.1 persen dan 11. Hal ini tampak dari distribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurut provinsi.3. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. di mana secara rata-rata antara tahun 2005-2009 DKI Jakarta. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pembentukan Modal Tetap Bruto Th. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. 2009 (Trilyun Rp) Sumber: BPS Log Kepadatan Penduduk (Jiwa/km persegi) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 35 Juta Jiwa . 12. Bangka Belitung Kep.9 persen.4 persen.

12 Share Industri Pengolahan Dalam PDRB 50 40 30 20 10 Banten Jambi NAD Bali Sulawesi Barat Maluku Utara DKI Jakarta Gorontalo Riau Sumatera Utara Kep. 36 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Sulawesi Tenggara Papua Barat Jawa Timur Jawa Barat Papua . serta Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan di Kawasan Timur Indonesia. Riau. Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau. Gambar 3. Bogor. Tangerang. Beberapa daerah seperti Kalimantan Timur dan Papua Barat juga memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi. Di samping itu. perkembangan kawasan perkotaan Jakarta yang semakin padat membuat kawasan industri menyebar di kota-kota di sekitar Jakarta dan membentuk kawasan metropolitan Jabodetabek (Jakarta. khususnya keuangan dan perdagangan. namun hal ini lebih karena struktur perekonomian Jakarta lebih didominasi sektorsektor jasa. Yogyakarta Kalimantan Barat Share Industri Pengolahan dalam PDRB (%) Sumber: BPS Beberapa daerah di luar Jawa yang memiliki pangsa industri pengolahan cukup tinggi adalah Sumatera Utara. Bekasi). Secara umum provinsi-provinsi di Wilayah Jawa memiliki pangsa industri pengolahan relatif tinggi yang menggambarkan perannya sebagai pusat industri nasional. namun hal itu karena besarnya kegiatan industri pengolahan migas. Sumatera Utara dan Sumatera Selatan di Kawasan Barat Indonesia. Kinerja perekonomian daerah juga tampak dari pangsa industri pengolahan dalam PDRB yang menggambarkan tingkat industrialisasi daerah.Provinsi-provinsi lainnya yang memiliki peranan investasi relatif besar adalah Riau. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan industri pengolahan di daerah-daerah tersebut cukup besar. Depok. Pangsa industri pengolahan di DKI Jakarta terlihat cukup rendah. Riau Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Sulawesi Utara Jawa Tengah Lampung Sulawesi Tengah Bengkulu Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Maluku Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Kep. Bangka Belitung Kalimantan Timur Sumatera Barat DI.

8% Sumber: Direktorat Bina Program.538. Sulawesi.215.80 1. Dari total panjang jalan yang ada.62 198.85 0.80 0.68 225. Kementerian PU.8 persen dalam kondisi tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat).736.45 33.833. Sementara.1 Infrastruktur Jalan Panjang Jalan di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 458. jalan provinsi sepanjang 49. Kalimantan dan Maluku menghadapi keterbatasan prasarana dan sarana transportasi terutama jalan.3% 49.742.3% 59.06 Kalimantan Timur Papua Sumber: Direktorat Bina Program.45 38.52 0. Kementerian PU.06 29.9% 53.3.60 1.6 Kondisi Mantap Jalan Tahun 2010 Jalan Jalan Tol Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten/Kota TOTAL Panjang Total (km) 761.1% 46.85 458.45 km.5 Kondisi Infrastruktur Daerah 3. Maluku.85 km.280.13 Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2011 1. 2010 Wilayah Papua. 2011 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 37 .21 100.0% 87.699. Bangka Belitung Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tenggara Sumatera Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Riau Bali Jambi Jawa Timur Kepulauan Riau Sumatera Barat Maluku Utara Jawa Barat Kalimantan Barat Sumatera Utara Sulawesi Utara Sualwesi Tengah Jawa Tengah Sulawesi Selatan 1.07 km yang terdiri dari jalan tol 761.84 km.93 km dan jalan kabupaten/kota sepanjang 370.5.7% 50.569.0% 12.2% Kondisi Tidak Mantap 4.7% 40.280. rasio kapasitas jalan (rasio panjang jalan dan jumlah unit kendaraan roda 4) di Wilayah Jawa-Bali relatif rendah sehingga perlu pengembangan transportasi masal untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.00 0.854. Rasio kerapatan jalan (rasio panjang jalan dan luas wilayah daratan) di Wilayah Papua.60 0.361. Tabel 3.128.93 370.215.40 0.84 49.828. Gambar 3.31 171.42 0.40 1.828.20 NAD Maluku Gorontalo Lampung DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. Nusa Tenggara. Maluku dan Kalimantan relatif rendah sehingga perlu percepatan pembangunan jalan.20 1.07 Kondisi Mantap 761. 50.17 233. jalan nasional sepanjang 38.569.78 19.

90 936.538. 2011 Berdasarkan kondisi kualitas jalan nasional.9 6.83 175.8 5.736.00 40.6 5.8 Jalan Tidak Mantap Tahun 2005 Km 724. baik karena pembangunan baru.038.429.7 Kondisi Jalan Nasional Pada Tahun 2005 dan 2011 Pulau Panjang Jalan (km) 2005 10.3 5.2 2.8 1.6 10. Kementerian PU.389.130. Tabel 3.659.00 160.578.17 386.00 100.6 7.85 341.255.795.5 33. juga adanya perubahan status jalan provinsi menjadi jalan nasional.00 120.8 5.1 6.00 20.86 118.370. jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk pelaksanan pemeliharaan dan pembangunannya.299.52 609.9 6.00 Maluku Sumatera Barat Riau 175.6 3.63 km.5 1.7 38. Bangka Belitung Kalimantan Timur Gorontalo 0.4 13.439.876.54 114.26 2.10 % 11.146.0 2.568.38 NAD Papua DI Yogyakarta Jawa Timur Kepulauan Riau Kep.2 2011 11.45 Lampung Bengkulu Nusa Tenggara Barat' Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Bali Banten Jambi Sumatera Utara Sulawesi Utara Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Sumber: Direktorat Bina Program.89 657. 2011 Kondisi sebaliknya terjadi pada kualitas jalan daerah (provinsi dan kabupaten/kota).75 68 260.074.844. walaupun selama periode 20052011 kondisi jalan tidak mantap (rusak ringan dan rusak berat) cenderung meningkat. dimana seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah.6 11.0 17.3 Sumatera Jawa+Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Nasional Sumber: Direktorat Bina Program.002.64 18.3 12.363.60 12. Namun secara umum kondisi kemantapan jalan nasional sangat memadai.9 Jalan Tidak Mantap Tahun 2011 Km 1.0 32.00 80.3 6.81 1.799.28 4.14 Rasio Kapasitas Jalan (km/unit) Tahun 2011 180.8 6. sebagian besar kondisi mantap jalan telah mengalami peningkatan dengan rata-rata di atas 86 persen. Berdasarkan data kondisi 38 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Nusa Tenggara Timur Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Maluku Utara Jawa Barat .51 267. Kementerian PU.00 140.5 1. Kondisi tersebut akibat adanya penambahan panjang jalan nasional sepanjang 5.8 1.9 6.00 60.2 6.07 % 6.Gambar 3.

04 1.85 Jalan Tidak Mantap 2010 65. 2010 Gambar 3.611.0% 70.1 43.6 52.51 1.81 6.4 50.163.622.976.046.462.7 47. Maluku dan Sulawesi dengan kondisi jalan tidak mantap rata-rata di atas 55 persen.999.93 Jalan Tidak Mantap 2010 7.0% Sumatera Jawa Bali-Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Jalan Nasional Kondisi Mantap Sumber: Kementerian PU Jalan Daerah Kondisi Mantap Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 39 .3 18.461. Tabel 3.1 persen dan jalan kabupaten/kota dengan total panjang jalan mencapai 370.0 370.kualitas jalan.602.17 4.15 Perbandingan Kondisi Jalan Nasional dan Daerah (%) 100. jalan provinsi dengan total panjang jalan mencapai 49.21 1.02 30.853.3 40.215.929.80 3.215.280.85 km memiliki rata-rata kondisi jalan tidak mantap 46.5 8.6 34.5 46.93 km memiliki ratarata kondisi jalan tidak mantap 40.507.7 36.123.0% 0.361.0 83.4 57.997.30 3.31 % 44.742.674.521.189.569.13 6.5 51.1 40.77 2.86 11.0% 60. Kemen PU. tertinggi terdapat di Wilayah Papua.70 49.246. Berdasarkan perbandingan jalan tidak mantap antar wilayah.76 18.0% 40.65 1.615.8 12.1 Panjang Jalan Kabupaten/Kota 134.0% 80.39 19.274.097.0% 10.2 71.586.766. jalan tidak mantap baik jalan provinsi maupun jalan kabupaten/kota.0% 30.78 171.0% 20.3 persen.148.68 % 48.0% 50.4 47.79 12.888.31 28.21 2.320.3 Sumber: Direktorat Bina Program.345. Kondisi akan sangat menghambat mobilitas barang dan penumpang dan berdampak terhadap kinerja perekonomian daerah.07 9.0% 90.7 26.4 63.0 45.280.65 4.8 Kondisi Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kota Tahun 2010 Pulau Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Maluku Papua TOTAL Panjang Jalan Provinsi 16.

memiliki kondisi mantap mencapai 87. Sementara perbandingan kondisi jalan nasional dan daerah ditunjukkan pada Gambar 3. Tabel 3.4 persen dari total panjang jalan yang ada).5.78 km (91.9 Jumlah Bandara Per Provinsi Tahun 2010 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. dimana jumlah bandara terbesar terdapat di Provinsi Papua yang mencapai 202 bandara termasuk bandara perintis dan Papua Barat sebanyak 36 bandara.7 persen.Panjang jalan nasional yang hanya 8. Moda transportasi udara merupakan alat transportasi utama untuk daerah dengan kondisi alam pegunungan dan kepulauan seperti Kalimantan Barat. Kalimantan Timur.9 menerangkan jumlah bandara di Indonesia berdasarkan per provinsi. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Jumlah Bandara 14 10 5 7 3 5 2 5 2 7 1 13 5 2 7 3 2 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timus Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total Jumlah Bandara 5 15 52 14 46 5 8 8 5 1 1 12 11 36 202 514 Sumber: Ditjen Perhubungan Udara.496. Papua dan Papua Barat. 3. Bangka Belitung Kep.4 persen dari total panjang jalan yang ada. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi jalan daerah (jalan provnsi dan jalan kabupaten/kota). Kemenhub.4 persen. dengan panjang total mencapai 419. Tabel 3. kondisi kemantapan jalan hanya mencapai 54.2 Infrastruktur Udara Jumlah bandar udara di Indonesia adalah sebanyak 514 bandara. Kondisi tersebut mengakibatkan kurang efektif dan efisiennya distribusi barang dan orang serta sistem logistik di daerah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di deerah.15. 2010 40 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

Bangka Belitung Int'l Hub Port Int' Port 1 1 1 National Port 10 13 44 3 4 1 6 Regional Port 4 10 4 5 4 2 8 Local Port 3 30 20 3 6 1 0 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 41 . Jumlah penumpang yang besar di Bandara Ngurah Rai. Bandara SoekarnoHatta di Provinsi Banten menempati posisi teratas sebesar 41 persen dengan jumlah penumpang sebesar 43. kemudian diikuti oleh Jawa timur 7 persen dan Sumatera Utara 6 persen. Jumlah penumpang domestik dan internasional pada tahun 2010 di Indonesia sebesar 108 juta penumpang.3 Infrastruktur Laut Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. Tabel 3.3 juta penumpang. Gambar 3. pelabuhan nasional sebagai feeder (pengumpan) antar provinsi berjumlah 245.Jumlah penumpang angkutan udara terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penerbangan yang menerapkan Low Cost Carrier (LCC). Hal ini disebabkan bahwa Bandara Soekarno-Hatta terletak dekat dengan ibukota negara dan juga merupakan hub Internasional maupun domestik. Kemenhub.16 Jumlah Penumpang Pesawat Udara Per Provinsi Tahun 2010 Sumatra Utara Sumatra Selatan 6% 2% Bandara Lainnya 26% Sulawesi Selatan 2% Bali 11% Banten 41% Jawa Timur 7% DI Yogyakarta 3% Jawa Tengah 2% Sumber: Ditjen Perhubungan Udara.10 Jumlah Pelabuhan di Indonesia Berdasarkan Jenisnya Tahun 2004 Provinsi NAD Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Kep. Banten dan Jawa Barat. Penumpang tersebut berasal dari Jakarta. 2010 Posisi kedua ditempati oleh Bandara Ngurah Rai di provinsi Bali sebesar 11 persen.9 juta penumpang.5. 17 tahun 2004. yaitu sebesar 11. total jumlah pelabuhan yang diusahakan berjumlah 725 pelabuhan. Pelabuhan Internasional berjumlah 18. pelabuhan regional sebagai penghubung antar kabupaten berjumlah 139 pelabuhan dan pelabuhan lokal setempat berjumlah 321 pelabuhan. disebabkan oleh pesatnya kemajuan industri pariwisata di Bali dengan banyaknya wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara. 3. Terdapat 2 pelabuhan hub (pengumpul) Internasional yaitu Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak.

Provinsi Sumatera Selatan Lampung Jawa Barat Banten DKI Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara Maluku Papua Int'l Hub Port 1 1 - Int' Port 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 National Port 1 2 1 2 5 1 11 3 6 9 8 6 5 14 9 3 12 15 6 3 15 27 Regional Port 2 11 7 2 1 6 7 3 5 12 1 5 2 3 1 1 6 6 3 10 7 1 Local Port 0 5 1 2 0 3 7 4 5 21 1 1 0 1 18 9 9 21 25 9 26 90 Sumber : Keputusan Menteri no. Gambar 3. 17 tahun 2004 Terdapat 3 indikator kinerja pelabuhan Indonesia berdaraskan Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR). pelabuhan Internasional dan pelabuhan nasional. Tingkat penggunaan gudang (SOR) dan Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) untuk pelabuhan Internasional hub. III dan IV 42 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .17 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Dermaga Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi BOR 2010 Standar BOR % Utilisasi BOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. II.

UM. Artinya. Namun pada tahun 2011 utilisasi BOR di keempat pelabuhan ini menurun. Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan atau Kesiapan operasi peralatan 2010 – 2011 Tingkat Penggunaan Lapangan Penumpukan (YOR) merupakan perbandingan antara jumlah penggunaan ruang penumpukan dengan ruang penumupukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton hari. Artinya. dimana artinya terjadi tingkat keterlambatan kegiatan bongkar muat di pelabuhan tersebut dan perlu penambahan fasilitas pelabuhan. artinya sudah ada perbaikan dan penambahan fasilitas baru untuk memperlancar bongkar muat di pelabuhan tersebut. 70 sampai dengan 77 % = cukup baik dan >78% = kurang baik. Panjang. SOR = Berdasarkan Kep. Tingkat Penggunaan Dermaga (BOR) merupakan perbandingan antara waktu penggunaan dermaga dengan waktu yang tersedia (dermaga siap operasi) dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam persentase. Dalam Keputusan tersebut standarisasi SOR = 65%. UM. Dalam Keputusan tersebut standarisasi YOR = 50%.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. yaitu sebesar 12%. Pada tahun 2011 Pelabuhan Teluk Bayur dan Pelabuhan Dumai mengalami kenaikan utilisasi BOR cukup tinggi. 65 sampai dengan 72 % = cukup baik dan >72% = kurang baik. Kupang dan Samarinda telah melewati batas standar BOR yaitu 70% (Gambar 3. BOR = Shed Occupancy Ratio (SOR) atau tingkat penggunaan gudang 2010 – 2011 Tingkat penggunaan gudang (Shed Occupancy Ratio/ SOR) merupakan perbandingan antara jumlah pengguna ruang penumpukan dengan ruang penumpukan yang tersedia yang dihitung dalam satuan ton hari/ satuan hari. Berdasarkan Kep.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. Artinya. < 50 = baik.Persentase tingkat utilisasi penggunaan dermaga pada tahun 2010 di pelabuhan Belawan. Dirjen Perhubungan Laut No. < 70 = baik. Dirjen Perhubungan Laut No. Dirjen Perhubungan Lautb No.2011 Berdasarkan Kep.1 Perhitungan Indikator Kinerja Pelabuhan Berth Occupancy Ratio (BOR) atau atau tingkat penggunaan dermaga 2010 . Boks 3. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 43 .17). UM. < 65 = baik. 50 sampai dengan 55 % = cukup baik dan >55% = kurang baik.002/38/18/DJPL-II tanggal 5 Desember 2011. Dalam Keputusan tersebut standarisasi BOR = 70%.

Terdapat beberapa pelabuhan yang perlu penambahan fasilitas dan perluasan lapangan penumpukan diantaranya pelabuhan Pontianak. Gambar 3. Jayapura. yaitu sekitar 60%. Artinya pelabuhan tersebut mengalami kenaikan jumlah arus kontainer/kendaraan yang tinggi pada tahun tersebut. Balikpapan. Makassar. Samarinda dan Dumai. Tanjung Intan. Pelabuhan lainnya yang mengalami kenaikan tingkat utilisasi pada tahun 2011 adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Tahun 2011 Pelabuhan Palembang. Ambon. Palembang. 44 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pontianak. II.18 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Gudang Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Utilisasi SOR 2010 Standar SOR % Utiliasi SOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Kupang.19 menunjukkan persentase tingkat utilisasi penggunaan lapangan penumpukan di pelabuhan tahun 2010 dan 2011 yang didominasi oleh kontainer dan kendaraan.Berikutnya untuk persentase tingkat utilisiasi penggunaan gudang pelabuhan tahun 2010 dan 2011 di indonesia. Ambon. III dan IV Kemudian Gambar 3. dwelling time (masa proses/ waktu tunggu) di pelabuhan dan kapasitas efektif di pelabuhan. Artinya utilisasi penggunaan gudang pelabuhan masih memadai. Pontianak dan Banjarmasin mengalami kenaikan tingkat utilisasi lapangan penumpukan cukup tinggi.18). Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kenaikan tersebut yaitu karena peningkatan jumlah tonase kargo curah. kondisinya masih dalam taraf baik (Gambar 3. Jayapura dan Samarinda. Benoa. Pada tahun 2011 Pelabuhan Belawan mengalami kenaikan utilisasi penggunaan gudang yang tinggi. Benoa.

Peningkatan elektrifikasi merupakan salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. II. dengan pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi yang dilakukan oleh Pemerintah. yang masing-masing sebesar 39. Sementara itu.Gambar 3. Rasio elektrifikasi sangat berhubungan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.05 persen penduduk Indonesia belum memperoleh sambungan listrik.3 persen. Sesuai data BPS hingga tahun 2011.4 Infrastruktur Listrik Salah satu indikator daya saing di sektor ketenagalistrikan adalah rasio elektrifikasi.19 Persentase Tingkat Utiliasi Penggunaan Lapangan Penumpukan Pelabuhan Tahun 2010 dan 2011 140 120 100 80 60 40 20 0 Utilisasi YOR 2010 Standar YOR % Utiliasi YOR 2011 Sumber Data: PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Rasio elektrifikasi menunjukkan tingkat perbandingan jumlah penduduk yang memperoleh sambungan listrik terhadap total penduduk di wilayah itu.5.9 persen dan 29. artinya 27. Beberapa penyebabnya adalah kondisi daerah yang terisolasi serta kurangnya fasilitas transmisi dan distribusi yang membuat transfer kelebihan daya menjadi sangat mahal. badan usaha milik negara serta swasta.95 persen. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 45 . rasio elektrifikasi Indonesia adalah sebesar 72. provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya. III dan IV 3.

Di negara berkembang. 2011 (diolah) 46 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 NAD Sumatera Utara Riau Kep. seluler dan internet yang masing-masing hanya memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.20 Rasio Elektrifikasi Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Dalam % 39.81 persen dan 1. Berbagai literatur internasional menunjukkan korelasi positif antara jaringan broadband dan pertumbuhan ekonomi.21 Persentase Kota/Kabupaten yang Dijangkau Layanan Broadband Tahun 2011 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 98% 98% Sumber: PT Telkom dan Kominfo.73 persen. Gambar 3.5 Infrastruktur Telekomunikasi Salah satu indikator daya saing di sektor komunikasi dan informatika adalah ketersediaan jaringan broadband. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan 10 persen tingkat penetrasi fixed line.38 persen.92 29.5. Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Kep.12 persen. 0. Bangka Belitung Banten Jawa Barat DKI Jakarta Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Gorontalo Sulawesi Utara Maluku Utara Maluku Papua Papua Barat 70% 70% 60% 60% 66% 66% 65% 23% 0% 0% Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi 2010 2011 Bali Nusra Maluku 0% 0% Papua . kenaikan 10 persen tingkat penetrasi broadband akan memicu pertumbuhan ekonomi sebesar 1.25 Sumber: Capaian KESDM Tahun 2011 3.Gambar 3.

5 2.4 1.545. Keterangan:*) Angka Sementara Tabel 3.3 7.3 66.11 Pertumbuhan Produksi Padi Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.9 36. Tabel 3. Nusa Tenggara dan Papua Total Sumber : BPS (diolah) .545.8 4.7 37.2 Sumber : BPS (diolah ) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 47 .469.959.464.5 2010 8.605.4 2.11.6 2.2 3.2 20.8 36.6 Kondisi Produksi dan Konsumsi Beras Dalam rangka memperkuat perekonomian domestik dan peningkatan produksi pangan terutama padi.3 4.Dengan memperhatikan masih sangat terbatasnya jaringan broadband nasional.0 37.823. Pembangunan di Wilayah Timur Indonesia akan dimulai pada tahun 2012.801.200. pembangunan jaringan broadband sudah menjangkau 311 kabupaten/kota atau sekitar 63 persen dari total 497 kabupaten/kota dengan sebagian besar lokasi terdapat di bagian barat Indonesia.3 19. serta seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat.696.262.4 2011* 15.9 Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .091.7 64.398.262.8 1.204.4 20.9 3.7 4. Pembangunan jaringan broadband dilakukan baik berbentuk jaringan backbone untuk menghubungkan antar pulau (antar koridor). Hingga tahun 2014 diperkirakan 88 persen kabupaten/kota di Indonesia sudah dijangkau oleh jaringan broadband. Kondisi produksi padi menurut kawasan pada tahun 2009-2011 ditunjukkan dalam Tabel 3. maupun jaringan homepass hingga ke rumah tangga.5 65. 1 2 3 4 5 Kawasan 2009 14.1 35.749.2 2. Adapun jangkauan jaringan broadband pada tahun 2011 mencapai 328 kabupaten/kota atau 66 persen dari total kabupaten/kota.2 6.573.469. 1 2 3 4 5 Kawasan Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku .758.932. serta menjadi salah satu prioritas Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.1 6.425.6 4.577.392.740.277. diperlukan jumlah penyediaan pangan (terutama padi) yang mencukupi di setiap tahunnya.938. Nusa Tenggara dan Papua Total 2009 8. percepatan pembangunan jaringan broadband menjadi salah satu agenda utama sektor komunikasi dan informatika.806. jaringan ekstension hingga ke ibukota kabupaten/kota (dalam koridor).664.8 2011 8.5 2.824. 3.959. Hingga tahun 2010.243.6 2.2 2010 15.103.12 Pertumbuhan Produksi Beras Menurut Kawasan (Ribu Ton) Tahun 2009-2011 No.368.2 35.994.663.487.2 1.

00% -1.22 Kontribusi Kawasan Per Pulau Terhadap Total Produksi Beras Tahun 2011 5% Sumatera Jawa & Bali Kalimantan 4 7% 11% 24% 54% Sulawesi Maluku.740. atau turun sebesar 5.00% 2010 Pertumbuhan 2011* Konversi padi ke beras adalah dengan mengalikan produksi padi dengan 0.469. kemudian disusul dengan Wilayah Sumatera sebesar 24 persen dan Wilayah Sulawesi sebesar 11 persen (Gambar 3. atau mencapai 54 persen.23 Produksi Padi di Indonesia Tahun 2009 – 2011 67000 66500 66000 65500 65000 64500 64000 63500 63000 2009 Produksi Sumber : BPS diolah .80% 65.00% 4.00% 6.00% 1. Gambar 3. *) Keterangan: Angka Sementara 4 8.4 6.00% -1.9 3.00% -2. Nusa Tenggara dan Papua Sumber: BPS (diolah) Sebagian besar produksi beras berasal dari Wilayah Jawa dan Bali.00% 64. penurunan produksi beras ini berasal dari penurunan produksi beras di Kawasan Jawa dan Bali dari 20.8 juta ton pada Tahun 2011.00% 3. Gambar 3. Dimana.20% 2.389.10% 0.1 persen.3 persen.562 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 48 .Pada Tabel 3.9 juta ton pada Tahun 2010 menjadi 19.12 terlihat bahwa total produksi beras pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 409.00% 66.22).6 ribu ton atau turun sekitar 1.9 7.00% 5.

69 kg/kapita/tahun.22 kg/kapita/tahun dan pada tahun 2010 sebesar 100.24).85 kg/kapita/tahun. total produksi beras maupun padi harus selalu dijaga dan meningkat setiap tahunnya guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan mendukung pencapaian Surplus Beras 10 juta ton di mulai pada tahun 2014. total kebutuhan beras nasional pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebesar 33.24 Konsumsi Beras Langsung di Rumah Tangga (Kg/Kapita/Tahun) Pada Tahun 2008-2010 106 105 104 103 Kg/Kapita/Th 102 101 100 99 98 97 96 95 Beras 2008 104.76 kg/kapita/tahun. Gambar 3.76 2011 102. Perkembangan pertumbuhan produksi padi tahun 2009-2011 ditunjukkan pada Gambar 3. konsumsi beras langsung di rumah tangga pada tahun 2008 sebesar 104.06 juta ton pada tahun 2010 dan 33.57 Sumber: Susenas BPS 5 Dihitung dengan asumsi jumlah penduduk pada tahun 2010 dan 2011 masing-masing sebanyak 237.Untuk memperkuat perekonomian nasional daerah serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dan daerah.23.326 jiwa dan 241. banjir serta serangan hama penyakit. Pada tahun 2011 produksi padi mengalami penurunan sebesar 1.641. tahun 2009 102.15 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 dan 137.2 persen.05 juta ton pada tahun 20115. Penurunan produksi padi tersebut lebih disebabkan karena penurunan luas panen dan produktivitas akibat terjadinya kekeringan.594.8 persen dan 3.3 persen atau produksi mencapai 68.182.06 kg/kapita/tahun pada tahun 2011.90 juta ton (ARAM I.1 persen.82 2012 98.22 2010 100. Adapun kebutuhan beras total per kapita (yaitu: konsumsi beras langsung di rumah tangga ditambah dengan konsumsi beras diluar rumah tangga) adalah sebesar 139. Penurunan produksi padi tersebut terjadi terutama di Wilayah Jawa. 2012 ). Dengan demikian. Pada tahun 2011 turun menjadi 100. Berdasarkan data Susenas (Gambar 3. Pada tahun 2012 produksi padi diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 4.85 2009 102.182 jiwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 49 . Pertumbuhan produksi padi pada tahun 2009 dan 2010 mengalami peningkatan masingmasing sebesar 6.

(2) jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk.000 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.06 kg.000 4. Gambar 3.25 Produksi dan Kebutuhan Beras (Ribu Ton) Tahun 2011 7. Sumatera Selatan. yang menuntut kemampuan daya saing tinggi.000 1. terdapat 15 provinsi yang jumlah produksi berasnya lebih kecil dari jumlah kebutuhannya. Ketersediaan SDM bermutu sangat menentukan kemampuan suatu daerah dalam memasuki era ekonomi pasar bebas. maupun global. Perhitungan kebutuhan beras menggunakan asumsi konsumsi per kapita rata-rata sebesar 137.000 5. yang ditandai oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta memiliki keterampilan teknikal memadai.25 menunjukkan produksi dan kebutuhan beras di masing-masing provinsi pada tahun 2011. 50 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . beberapa indikator penting perlu dilihat yaitu: (1) rata-rata lama sekolah.000 2. Jawa Tengah. peran pendidikan sangat penting dan strategis dalam upaya melahirkan SDM berkualitas. Kemudian.7. nasional. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Produksi Sumber: BPS (diolah) konsumsi 3. Provinsi yang memiliki surplus beras cukup besar adalah Sulawesi Selatan.000 6.7 Kondisi Sumber Daya Manusia 3. (3) tingkat keberaksaraan dan (4) jumlah dan kualifikasi guru. Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.000 3. Terkait dengan kualitas pendidikan. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Untuk itu.1 Pendidikan Kualitas SDM merupakan faktor kunci dalam mencapai keberhasilan pembangunan daerah dan keunggulan daya saing lokal. Pendidikan terutama pada jenjang menengah dan tinggi mutlak diperlukan untuk mendukung pengembangan SDM dan tenaga kerja yang berdaya saing tangguh dalam menghadapi kompetisi yang ketat baik di tingkat lokal.Gambar 3.

81 8. yang antara lain ditandai dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas dari 7.00 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 51 .85 8.82 6.09 tahun pada tahun 2003 menjadi 7.00 12.11 8.00 Sumber: Susenas.26 Rata-Rata Lama Sekolah (Usia Penduduk >15 Tahun) Tahun 2010 DKI Jakarta Kepulauan Riau Papua Barat DI Yogyakarta Maluku Sulawesi Utara Sumatera Utara Kalimantan Timur Aceh Riau Sumatera Barat Maluku Utara Banten Bengkulu Bali Sulawesi Tenggara Jawa Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Tengah INDONESIA Sulawesi Selatan Jambi Sumatera Selatan Lampung Kalimantan Selatan Bangka Belitung Gorontalo Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat Papua 10.92 7. BPS.02 8. Pembangunan bidang pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Indonesia.45 7.89 8. rata-rata lama sekolah penduduk di 19 provinsi sudah berada di atas rata-rata nasional atau lebih dari 7.02 8.41 tahun atau setingkat dengan jenjang SMA/sederajat kelas 1.83 8.62 Tahun 6.25 8.00 10.27 0. Data yang sama juga menunjukkan bahwa penduduk di Provinsi DKI Jakarta telah mencapai rata-rata lama sekolah paling tinggi yakni 10.26).48 8.00 4.92 tahun pada tahun 2010.32 8. 2010 2.07 9.84 7.00 7.75 7. Rata-rata lama sekolah menunjukkan rata-rata jumlah tahun efektif bersekolah yang dicapai penduduk berusia 15 tahun ke atas.59 9.11 6. rata-rata lama sekolah penduduk di Provinsi Papua masih berada di tingkat terendah yaitu 6.41 9.24 7.Rata-rata Lama Sekolah Indikator pertama kualitas pendidikan adalah rata-rata lama sekolah (average years of schooling). Data persebaran angka rata-rata lama sekolah menurut provinsi menunjukkan bahwa capaian rata-rata lama sekolah penduduk di Indonesia masih cukup bervariasi.00 8.00 6.82 7.84 7. Sebaliknya.24 7.38 7.21 8. Hal ini menandakan rata-rata tingkat pendidikan penduduk adalah pada jenjang SMP/sederajat kelas 2. Pada tahun 2010.65 7.92 tahun.36 8.27 tahun (Gambar 3. Gambar 3.96 7.99 6.16 9.58 8.

Riau DI Yogyakarta Papua Barat Kalimantan Timur Bali Sulawesi Utara Maluku Sumatera Utara Aceh Banten Sumatera Barat Riau Bengkulu Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Utara INDONESIA Jawa Barat Jambi Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Kep.28 Persentase Jenjang Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Oleh Penduduk Berusia 10 Tahun Ke Atas Tahun 2010 DKI Jakarta Kep.27 Tingkat Pendidikan dan Tingkat Partisipasi Sekolah Tahun 2010 PT 6% Tidak/Belum Sekolah 6% Belum Tamat SD 19% SMP/Sederajat 18% SD/Sederajat 31% SMA/Sederajat 20% Sumber: Susenas 2010 Gambar 3.PT/ sederajat 52 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Bangka Belitung Kalimantan Tengah Gorontalo Jawa Timur Papua Lampung Jawa Tengah Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tidak/ Belum sekolah Sumber: Susenas 2010 Belum Tamat SD SD-SMP/ sederajat SM .Gambar 3.

84 100.49 2.49 1.55 8.51 0.48 4.96 8.68 12.12 5. DKI dan DIY sudah memiliki persentase penduduk 10 tahun ke atas dengan pendidikan terakhir sekolah menengah (SM) ke atas yang cukup baik dan sudah di atas rata-rata nasional per jenjang pendidikan (Gambar 3.25 0. Data Susenas 2010 menunjukkan variasi alasan mengapa mereka tidak/belum pernah bersekolah atau tidak bersekolah lagi yaitu: (1) tak ada biaya.52 17.08 0.25 0.58 0.61 1.72 18.13 Alasan Tidak/Belum Bersekolah Tahun 2010 Alasan Tidak/Belum Pernah Bersekolah atau Tidak Bersekolah Lagi Tidak ada biaya Bekerja/mencari nafkah Menikah/mengurus RT Merasa pendidikan cukup Malu karena ekonomi Sekolah jauh Cacat Menunggu Pengumuman Tidak Diterima Lainnya Jumlah Sumber : Susenas BPS.94 0.44 1.53 1.23 0. Angka melek aksara merupakan hasil proporsi antara jumlah penduduk usia tertentu yang bisa membaca dan menulis huruf latin dan lainnya dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sama.55 4.67 0.63 5.01 2.66 13.99 4.08 1.51 21.59 20. 2010 Perkotaan L 52.32 5.38 10.92 5.0 Perdesaan P 56. Kepulauan Riau.43 6.08 100.00 100.46 11.56 3.49 1. (6) cacat dan lain-lain. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 53 . (4) malu.09 0.44 13. Hampir semua provinsi telah mendekati sasaran 100 persen.69 2.97 2. (3) sekolah jauh.0 Total P 56.59 15.45 4. kecuali Provinsi Papua.59 3. (2) menikah/mengurus rumah tangga (RT).55 3. Tabel 3.37 1.89 9.0 Kemampuan Keberaksaraan Penduduk Indikator ketiga kualitas pendidikan adalah kemampuan keberaksaraan yang ditandai oleh kemampuan membaca dan menulis.27 0.73 2. Data persebaran pada tingkat wilayah menunjukkan bahwa disparitas angka melek aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas antar provinsi hampir tidak ditemukan.0 L+P 54.90 100.42 14.79 1. pendidikan tertingggi yang ditamatkan penduduk di sebagian besar provinsi relatif masih rendah yakni setingkat SD/SMP.20 4.94 0.26 0.0 L+P 54.18 1.30 6.18 3.09 2.54 100.19 100.47 18.Bila diuraikan menurut provinsi.0 L 53.0 L+P 55.44 3.0 P 6.82 9. Kalimantan Timur.06 2.73 1.30 5.39 4.05 7.19 2. beberapa provinsi seperti Sumatera Utara.08 1.02 1.60 0. Sementara alasan sekolah jauh berkaitan dengan ketersediaan jumlah sekolah yang minim atau kondisi geografis suatu daerah yang menyebabkan akses menjadi sulit.57 6.52 6.51 2. Peningkatan partisipasi pada jenjang pendidikan dasar telah mendorong peningkatan kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis.57 0.72 100. Alasan ketiadaan biaya berkaitan erat dengan faktor kemiskinan (kesulitan ekonomi).30 4.34 3. Namun.10 3.71 2.99 0.0 L 53. (5) tidak diterima.28).86 0.76 0.12 100.71 100.64 13.21 2.

Secara nasional. data yang ada menunjukkan bahwa persentase guru menurut kualifikasi akademik bervariasi antar daerah (Gambar 3. Pada tahun 2011.29 Angka Melek Aksara Penduduk (Berusia > 15 Tahun) Tahun 2010 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sulawesi Utara DKI Jakarta Riau Kalimantan Tengah Maluku Sumatera Selatan Sumatera Utara Kep.3 persen pada tahun 2010 menjadi 58 persen pada tahun 2011. Pada tahun 2012. Bangka Belitung Bengkulu Papua Barat Lampung INDONESIA Sulawesi Tenggara DI Yogyakarta Kalimantan Barat Jawa Tengah Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Bali Jawa Timur Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Barat Papua Barat Sumber: Susenas 2010 92. Riau Sumatera Barat Kalimantan Timur NAD Banten Jawa Barat Maluku Utara Sulawesi Tengah Gorontalo Kalimantan Selatan Jambi Kep.30). temasuk sekolah keagamaan. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru dari jenjang pra-sekolah sampai dengan sekolah menengah. minimal harus berpendidikan Diploma 4 atau Sarjana. Dengan tetap berupaya melaksanakan program peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru. UndangUndang No. upaya percepatan peningkatan profesionalisme guru akan tetap dilanjutkan dengan melakukan sertifikasi bagi 300 ribu guru dan meningkatkan kualifikasi pendidikan minimal S1/D4 bagi 134 ribu guru. juga dilakukan peningkatan kualifikasi bagi 124 ribu guru yang belum berpendidikan S1/D4.Gambar 3. jumlah guru yang telah berkualifikasi minimal S1/D4 meningkat dari 50.91 Jumlah dan Kualifikasi Guru Indikator keempat kualitas pendidikan adalah guru berkualifikasi dan tersertifikasi. 54 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

17 68.75 57.000 kelahiran hidup (2007).78 66.1 tahun (2011).56 51.000 kelahiran hidup (2007).92 61.63 72.20 66.13 62.63 69.15 40.14 20 40 60 80 100 Sumber: Kemendikbud.32 49.27 61.39 60. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 55 .2 Kesehatan Status kesehatan dan gizi masyarakat terus menunjukkan kemajuan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup (UHH) menjadi 71.Riau Riau Sumatera Barat Bengkulu Sumatera Utara Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Jawa Tengah Jawa Barat Banten Bali DI Yogyakarta Jawa Timur DKI Jakarta 0 77.71 70.03 46.53 57.62 69.01 57. menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi sebesar 34 per 1.65 69.05 67.05 74.40 % 59.15 65.Gambar 3.30 Persentase Guru Belum Berkualifikasi S1/D4 Tahun 2011 Maluku Kalimantan Barat NTT Bangka Belitung Kalimantan Tengah Lampung Maluku Utara Papua Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Papua Jambi Gorontalo Sulawesi Utara Sumatera Selatan Aceh NTB Kep.61 62.61 74.24 69.79 53.93 68.62 53. menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi sebesar 228 per 100.14 53.7.12 66.32 65. 2009 3.71 Rata-Rata Nasional 57.

Upaya ini menjadi sangat penting mengingat jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah akan menjadi beban pembangunan.31).34 persen (2009) menjadi 82.5 juta jiwa. sebaliknya penduduk besar dengan kualitas baik akan menjadi modal pembangunan. secara umum cakupan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian timur lebih rendah jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia bagian barat.2 80 60 40 20 Maluku Utara Maluku Sulawesi Tengah Papua Barat Kalimantan Tengah Papua Sulawesi Tenggara Gorontalo Jambi Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Banten Kalimantan Barat Sulawesi Selatan Jawa Barat Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Bengkulu Indonesia Sulawesi Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Riau Sumatera Utara NAD Jawa Tengah Jawa Timur Kep. Kepulauan Riau dan DKI Jakarta. Selain pembangunan kesehatan.6 persen (2010).6 juta jiwa pada tahun 2010 (SP 2010). Capaian tertinggi sebesar 98.49 persen dan secara absolut jumlah penduduk meningkat sebanyak 32. yaitu dari 205.45 persen menjadi 1. Gambar 3.31 Persentase Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih Menurut Provinsi Tahun 2010 100 82.9 persen (2010) dan menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) menjadi sebesar 35.menurunnya prevalensi kekurangan gizi menjadi sebesar 17. 2010 Sementara itu.6 persen di Provinsi Maluku Utara (Gambar 3. disparitas cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih cukup lebar. 56 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Berdasarkan data Riskesdas (2010).8 juta jiwa pada tahun 2000 (SP 2000) menjadi 237. sementara capaian terendah sebesar 26. Namun demikian. laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia meningkat dari 1. upaya pengendalian kuantitas penduduk yang dilaksanakan melalui Program Keluarga Berencana (KB) berkontribusi signifikan di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.6 persen di Provinsi DI Yogyakarta diikuti Provinsi Bali. Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 menunjukkan bahwa dalam periode 10 tahun (2000–2010). Yogyakarta Sumber: Riskesdas. Bangka Belitung DKI Jakarta Kepulauan Riau Bali DI.2 persen (2010). upaya yang terbukti efektif untuk menurunkan AKI yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih terus meningkat dari 77.

75 73.83 46.84 62. Cakupan pelayanan antenatal tertinggi terdapat di Sulawesi Utara.23 57.68 67.91 65.8 persen dan yang mendapat imunisasi campak mencapai 74. 2010 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Pelayanan antenatal (antenatal care) juga penting untuk memastikan kesehatan ibu selama kehamilan dan menjamin ibu melakukan persalinan ditolong tenaga kesehatan.54 84.66 66.32 Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) Tahun 2010 Papua Papua Barat Kalimantan Timur DKI Jakarta Sulawesi Tengah Kep. 2010).6 71.22 63. Secara nasional.7 82.4 persen Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 57 .07 50.58 65.9 persen.1 45.96 42. Bangka Belitung Maluku Utara Kalimantan Tengah Banten Kalimantan Barat Kepulauan Riau Bengkulu Sulawesi Barat Maluku Riau Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Lampung Gorontalo Sulawesi Tenggara INDONESIA Sulawesi Selatan Sumatera Barat Jambi Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat DI Yogyakarta NAD Jawa Barat Bali Nusa Tenggara Timur Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Utara 31 33.93 77.5 55. Kunjungan ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada trimester pertama kehamilan (K1) mencapai 72.44 71. Selanjutnya.89 0 Sumber: Riskesdas.9 50.0 persen.86 74.87 persen (Riskesdas.73 43. upaya untuk mencapai target penurunan kematian bayi menjadi 24 per 1. Sedangkan cakupan pelayanan antenatal yang terendah terdapat di Provinsi Papua yang hanya mencakup sebesar 31.23 77.29 63. yang mencapai 84.Gambar 3.87 68 68.3 persen.4 74. cakupan imunisasi lengkap pada anak usia 12-23 bulan terus meningkat mencapai 53.43 75.18 74.23 35.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 juga terus dilakukan melalui perbaikan status kesehatan anak.13 52. lebih tinggi dari kunjungan keempat yaitu sebesar 67.01 52.53 52.

2010 Gambar 3.9 persen.4 persen (Riskesdas. Bangka Belitung Jambi Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Utara Jawa Timur Bali Jawa Tengah Kepulauan Riau DI Yogyakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Maluku Utara Papua Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Gorontalo Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Banten Jawa Barat Riau Sulawesi Selatan Sumatera Selatan INDONESIA Lampung NAD Nusa Tenggara Barat Kalimantan Timur Bengkulu Sumatera Barat Sumatera Utara Kep. kunjungan ke pelayanan kesehatan pada saat bayi berumur 6-48 jam (kunjungan neonatal pertama/KN1) mencapai 71. 2010). yang terdiri dari gizi kurang sebesar 13.0 persen dan gizi buruk sebesar 4. 2010 Sumber: Riskesdas.9 persen (2010). Bangka Belitung Kalimantan Selatan Jawa Timur Jambi Kepulauan Riau Sulawesi Utara Jawa Tengah DKI Jakarta Bali DI Yogyakarta .33 Persentase Bayi Usia 0-11 Bulan Yang Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap Tahun 2010 (Riskesdas.4 53.8 Papua Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah NAD Riau Sulawesi Tenggara Papua Barat Sumatera Selatan Maluku Utara Bengkulu Maluku Sumatera Barat Banten Sulawesi Selatan Kalimantan Barat Jawa Barat Kalimantan Selatan DKI Jakarta Indonesia Gorontalo Kalimantan Tengah Kep. Sementara itu. 2010).34 Persentase Bayi Yang Melakukan Kunjungan Neonatus 6-48 Jam (KN1) Tahun 2010 71. Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 18.100 120 100 20 20 40 60 80 40 60 80 0 0 Sumber: Riskesdas.4 persen (2007) menjadi 17. Kemajuan juga terjadi pada upaya penurunan 58 Gambar 3.

2 31.9 35. Dari sisi lain.2 32. 2011).9 39.6 42.2 36.3 40.kekurangan gizi kronis yang diukur dengan prevalensi anak balita yang pendek ( stunting). prevalensi HIV pada populasi dewasa terus dikendalikan untuk berada di bawah 0. Gambar 3. 2011). Sementara itu.8 38. maka karena jumlah penduduknya yang sangat kecil.4 DI.3 persen (Kemkes.5 37. lebih tinggi dibanding dengan Jawa Timur dengan 4.3 29. penyediaan akses air minum dan sanitasi layak masih rendah yaitu sebesar 44.6 32. terkait aspek penyehatan lingkungan.8 persen (2007) menjadi 35.51.6 33. Papua menduduki urutan pertama.5 33. 2010 Pendek Pendek+ Sangat pendek Laporan kasus AIDS dapat disampaikan bahwa secara kumulatif sampai dengan Desember 2011 jumlah kasus AIDS sebanyak 29.8 33.598 kasus. menurun dari 36.2 49. Sementara itu Kepulauan Riau dengan hanya 404 kasus komulatif menduduki urutan ke lima. Bangka Belitung Kalimantan Timur Bali Maluku Utara Jambi Bengkulu Riau Sumatera Barat Banten Jawa Barat Jawa Tengah Kalimantan Selatan Indonesia Jawa Timur Sulawesi Tengah Lampung Maluku Sulawesi Tenggara NAD Sulawesi Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Gorontalo Sumatera Selatan Sulawesi Barat Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Papua Barat Nusa Tenggara Timur 10 0 Sangat pendek Sumber: Riskesdas.22 persen (Kemkes. angka kumulatif kasus per 100.000 penduduk menunjukkan keadaan yang berbeda karena sebaran jumlah penduduk per provinsi yang sangat beragam.96 (2010) menjadi 1.35 Prevalensi Pendek (TB/U) Pada Anak 0-59 Bulan Tahun 2010 60 50 40 30 20 22.1 29.6 26.3 35. 2010).19 persen dan 55.000 penduduk sedangkan persentase kasus baru TB Paru (BTA positif) yang ditemukan dan yang disembuhkan masingmasing mencapai 75.879 kasus dengan AIDS case rate tertinggi adalah Papua sedangkan AIDS case rate secara nasional adalah 12.53 persen (Susenas.9 36.9 27. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 59 . Selanjutnya.7 40.3 29.8 28. prevalensi TB mencapai 289 per 100. Dengan dipengaruhi oleh jumlah penduduk. sedangkan DKI Jakarta dengan angka kumulatif yang jauh lebih besar hanya pada urutan ketiga.2 58. Angka penemuan kasus malaria yang diukur dengan annual parasite index (API) dapat diturunkan dari 1. Sampai dengan tahun 2011.5 persen.5 26.3 37.9 38.6 persen (2010). yaitu mencapai sebesar 0. Yogyakarta DKI Jakarta Kepulauan Riau Sulawesi Utara Papua Kep.6 39.75 per 1.26 persen dan 86.3 48.6 35.000 penduduk (2011).4 30.0 29.4 41.

000 penduduk saja.000 penduduk. Dari jumlah tersebut. yaitu dari 4. Rasio tempat tidur Rumah Sakit (per 100 ribu penduduk) yang terbesar adalah di Provinsi DKI Jakarta.645.592 orang penderita dan hanya Provinsi DKI Jakarta yang tidak ditemukan kejadiannya.88 TT per 100. Banten dan Nusa Tenggara Barat. Pada ketiga provinsi ini saja proporsinya sudah mencakup hampir 63 persen dari seluruh kejadian pada tahun 2011. Bangka Belitung Maluku Utara Nusa Tenggara Barat Kepulauan Riau Sulawesi Barat Gorontalo NAD Sumatera Selatan Riau Sumatera Barat Jawa Barat Jawa Tengah Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Bali DKI Jakarta Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 8613 8613 7914 6663 6661 6356 6355 6175 5028 3744 3523 3140 3136 2667 2450 2352 2331 2247 2045 1973 1430 957 743 517 196 88 45 14 7 0 . Papua dan Papua Barat. namun terkonsentrasi pada 3 provinsi endemik. Papua dan Papua Barat dengan masing-masing 69.287 kejadian. Angka kejadian malaria berkisar dari yang terendah (di luar DKI) yaitu Bali dengan hanya 7 kejadian dan tertinggi adalah 3 provinsi. sedangkan yang terendah adalah di Provinsi Sulawesi Barat. yaitu 256.577 dan 25.68 per 1. 2010).920 tergolong puskesmas perawatan dan 6. 60 Nusa Tenggara Timur Papua Papua Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Maluku Kalimantan Tengah Sumatera Utara Bengkulu Sulawesi Utara Jambi Kalimantan Timur Lampung Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Kep. dalam angka mutlak cukup besar.79 per 100. Namun demikian. jumlah rumah sakit pemerintah meningkat menjadi 794. 66. Gambar 3. Terjadi penurunan yang signifikan dari tahun 1990 sampai 2011. sedangkan rumah sakit swasta meningkat menjadi 838 rumah sakit dengan rasio tempat tidur (TT) rumah sakit terhadap penduduk sebesar 68. Jumlah puskesmas pada tahun 2010 mencapai 9.Upaya pengurangan angka kejadian malaria sudah menunjukan keadaan yang positif. sebanyak 1.36 Keragaman Angka Kejadian Malaria Tahun 2010 80000 70000 60000 50000 25287 69465 66577 40000 30000 20000 10000 0 Sumber: Kemenkes.000 penduduk (Profil Kesehatan. Keragaman angka kejadian malaria sangat besar.005 puskesmas dengan rasio sebesar 3. 2011 Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sebagai salah satu komponen untuk perbaikan upaya kesehatan juga terus ditingkatkan. yaitu Nusa Tenggara Timur.085 termasuk puskesmas non-perawatan.000 penduduk beresiko menjadi tinggal 1. Sementara itu.75 per 1. Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta. yaitu Nusa Tenggara Timur.

92 62.Gambar 3.015 8.551 6. Pertumbuhan pekerja formal dan informal tahun 2006-2011 dan jumlah pekerja formal dan informal dari waktu ke waktu dapat digambarkan pada Gambar 3.000 5.39. 2010 Rasio Sumber: Profil Kesehatan.000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Jumlah Puskesmas 2.000 63.000 2.518 5. 2010 3.000 60.000 6.27 65.234 9.005 8. Pekerja di sektor formal mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan keterampilan di tempat kerja mereka (keterampilan yang memungkinkan mereka mendapatkan pekerjaan di sektor formal) dan akses untuk memperoleh pelatihan sehingga mereka mempunyai posisi yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.683 2.000 9. Sedangkan komposisi pekerja formal dan informal untuk seluruh Provinsi digambarkan pada Gambar 3.000 1.592 5.669 8. sebagian besar pekerja (tetapi tidak semua pekerja) di sektor informal merupakan kegiatan-kegiatan yang rendah tingkat produktivitasnya dengan pendapatan pekerja informal yang umumnya rendah dan kurang menentu.000 8.000 132.085 7.680 166.8.704 2.000 2.438 2.000 Penduduk Tahun 2010 180.077 40.000 7.497 2.25 60.231 136.766 138. Sebaliknya.40.8 Kondisi Ketenagakerjaan 3.033 6.44 70.000 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah TT Sumber: Profil Kesehatan.000 160.451 142.000 20.000 4.548 8.000 140. yang mencerminkan ‘surplus’ tenaga kerja.38 Perkembangan Rasio Tempat Tidur RS per 100. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 61 .37 Perkembangan Jumlah Puskesmas Perawatan dan Non-Perawatan Tahun 2010 10.49 62.000 6.97 80 70 60 50 5.1 Tenaga Kerja Per Provinsi Pasar kerja Indonesia dapat digambarkan sebagai suatu perekonomian dualistis yang ditandai oleh sektor modern atau formal yang relatif kecil dan sektor tradisional atau informal yang sangat besar.707 80.920 149.000 163. Sektor formal rata -rata memberikan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik kepada pekerja dibandingkan dengan sektor informal yang dipadati oleh pekerja.538 40 30 20 10 0 3.110 120.74 69.737 Gambar 3.288 100.

15 0.00% 80. Babel 2011 Lampung 2008 Lampung 2011 Bengkulu 2008 Bengkulu 2011 Sumatera Selatan 2008 Sumatera Selatan 2011 Jambi 2008 Jambi 2011 DKI Jakarta 2008 DKI Jakarta 2011 Jawa Barat 2008 Jawa Barat 2011 Jawa Tengah 2008 Jawa Tengah 2011 DI Yogyakarta 2008 DI Yogyakarta 2011 Jawa Timur 2008 Jawa Timur 2011 Banten 2008 Banten 2011 Bali 2008 Bali 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Nasional 2008 Nasional 2011 NTB 2008 NTB 2011 NTT 2008 NTT 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Barat 2011 Kalimantan Tengah 2008 Kalimantan Tengah 2011 Kalimantan Selatan 2008 Kalimantan Selatan 2011 Kalimantan Timur 2008 Kalimantan Timur 2011 Sulawesi Utara 2008 Sulawesi Utara 2011 Sulawesi Tengah 2008 Sulawesi Tengah 2011 Sulawesi Selatan 2008 Sulawesi Selatan 2011 Sulawesi Tenggara 2008 Sulawesi Tenggara 2011 Sulawesi Barat 2008 Sulawesi Barat 2011 Gorontalo 2008 Gorontalo 2011 Maluku 2008 Maluku 2011 Maluku Utara 2008 Maluku Utara 2011 Papua 2008 Papua 2011 Papua Barat 2008 Papua Barat 2011 0% 20% 40% 60% 80% 100% Formal Sumber: Sakernas.40 Komposisi Pekerja Formal dan Informal di Setiap Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Nasional 2008 Nasional 2011 NAD 2008 NAD 2011 Sumatera Utara 2008 Sumatera Utara 2011 Sumatera Barat 2008 Sumatera Barat 2011 Riau 2008 Riau 2011 Kep.1 Sumber: Sakernas Gambar 3. Babel 2008 Kep.Gambar 3. BPS (diolah) Informal Formal Informal 62 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase Pekerja Informal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Informal 2011 Persentase Pekerja Formal Pertumbuhan Jumlah Pekerja Formal 0.05 -0.39 Persentase Serta Pertumbuhan Pekerja Sektor Formal dan Informal Tahun 2005 – 2011 100% pertumbuhan 100.05 0 -0. Riau 2011 Kep.00% 60.00% 40.00% 20.1 0.2 0. Riau 2008 Kep.00% 0.

8.81 49. Tabel 3.8 2.84 13.47 11.03 5.57 2. Produktivitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah.04 38.53 Jawa Barat 10.15 8.34 11.36 10.65 0. Sedangkan yang masih kosong.11 9.15 Persentase Perubahan UMP Dibandingkan Dengan Laju Inflasi di Provinsi Unggulan Industri Tahun 2000 – 2012 Tahun Jawa Timur 22. fleksibilitas penentuan upah dan beberapa indikator pasar kerja lainnya.00 22.94 8.31 15.37 19.59 11.00 15.27 DIY Sumatera Utara 20. 1 2 3 4 5 Indikator Indeks Daya Saing Biaya redundansi Kekakuan lapangan kerja (PHK.6 4.23 6.53 11.97 14.38 18.95 33.6 7.94 31.06 2.2 Upah Minimum Regional Per Provinsi Salah satu ukuran tingkat daya saing Negara adalah efisiensi pasar tenaga kerja.67 9. lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas.3.40 5.38 11.97 3.11 6.48 Sumber: BPS (diolah) Keterangan: Angka yang berwarna merah menunjukkan angka persentase perubahan UMP yang lebih rendah dari laju inflasi tahun sebelumnya.5 11.00 10.26 6.39 19.71 6.00 0.84 6.00 9.5 10.51 9.68 14.2 10.5 6.71 15.0 10.55 10. pasar kerja Indonesia belum cukup efisien.14 Peringkat Indonesia Dalam Pilar Daya Saing Efisiensi Pasar Tenaga Kerja (Dari 142 Negara) Tahun 2008 – 2011 No.39 9.52 46.09 20.1 6.47 8.93 10.64 12.48 14.01 Banten Jawa Tengah 20.73 22. Menurut Indeks Daya Saing dalam Global Competitiveness Report.52 14.39 9.5 8.35 12.09 Laju inflasi tahun sebelumnya 2.86 36. Sebaiknya.1 14.00 26.07 -0.04 10. outsourcing) Praktek penerimaan dan pemutusan kerja Fleksibilitas penentuan upah Kerjasama hubungan karyawan pengusaha 2008 117 87 19 79 19 2009 119 82 34 92 42 2010 127 100 38 98 47 2011 131 104 51 113 68 Sumber: IMD World Competitiveness Yearbook Tabel 3.36 11.00 10.78 6. kekakuan pasar kerja.15 6.89 Sulawesi Selatan 35.24 7.14 9.37 8.18 10.81 6.00 27.00 11.00 26.9 9.68 4.1 4.00 25.90 DKI Jakarta 23.60 6. karena masih ditandai oleh berbagai hal.79 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 10. komponen penentuan Upah Minimum Regional (UMR) Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 63 .59 15.85 15.11 35. kontrak Kerja.01 9.10 0.62 22.06 6.5 15.92 32.56 11. Pergerakan upah di Indonesia.20 49.59 13.40 17.96 3.00 10.42 13.89 1.0 4.6 6. diantaranya adalah tingginya biaya redundansi. belum menetapkan UMP.14 50.33 6.60 13.43 28.

Perbedaan rata-rata upah yang cukup besar juga dialami oleh 64 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Gambar 3.0 1. Berikut digambarkan persentase perubahan UMP dibandingkan dengan laju inflasi di provinsi unggulan industri. Riau Kep.0 2.0 Juta Rupiah Tiap-tiap daerah memiliki tingkat upah yang tidak sama. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Gambar 3. Perbedaan tingkat upah yang cukup besar antara Banten dan Jawa Tengah dalam jangka menengah dan panjang akan merugikan posisi Banten.5 2.5 2012 1.0 1.5 2012 1.0 2012 1.44 UMP Wilayah Gorontalo-Maluku-Papua Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 0.43 UMP Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gambar 3.5 2011 1. seperti Banten dan Jawa Tengah. tetapi perlu diimbangi dengan aspek produktivitas dan pencapaian target pekerjaan. Terdapat indikasi adanya relokasi industri ke Provinsi Jawa Tengah. dimana upah di Provinsi Banten lebih tinggi.42 UMP Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 0.0 Juta Rupiah Juta Rupiah Gambar 3.5 Juta Rupiah 0.5 2010 Sumber: BPS 0.0 2010 Sumber: BPS 2011 0. terutama industri yang tergolong padat tenaga kerja.0 2010 Sumber: BPS 2011 0.tidak hanya melihat pada sisi kenaikan inflasi saja.41 UMP Wilayah Sumatera NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.0 2011 2012 1.0 2010 Sumber: BPS 0.

31 2007 -2. Peningkatan ini didorong oleh adanya perpindahan lapangan kerja dari aktivitas bernilai tambah rendah ke aktivitas bernilai tambah lebih tinggi.44 2010 3.8. Menjadi tantangan ke depan adalah mengupayakan agar upah minimum meningkat sebesar peningkatan inflasi dan mendorong upah individu melalui hasil negosiasi antara serikat pekerja dan pengusaha.45 Pertumbuhan Produktivitas Untuk Tiga Sektor Tahun 2006 – 2011 8 Persen (%) 6 4 2 0 -2 -4 PERTANIAN INDUSTRI JASA DAN LAINNYA 2006 5.35 -2.20 0. 3. Terkecuali sektor pertanian di tahun 2007 dan sektor jasa di tahun 2008. tahun 2010.24 1.3 Produktivitas Tenaga Kerja Kemampuan tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam pasar kerja salah satunya ditunjukkan oleh meningkatnya produktivitas tenaga kerja. diikuti pula dengan produktivitas per pekerja tahun 2005 dan 2010 untuk seluruh Provinsi di Indonesia ditunjukkan sebagai berikut.64 6. Gambar 3.70 Sumber: BPS (diolah) Perekonomian nasional akan berkembang lebih tinggi untuk memastikan bahwa penduduk yang lebih berpendidikan dan berketerampilan memiliki akses ke pekerjaan yang baik dan lebih produktif.07 0. 2011 dan 2012. sebagaimana digambarkan sebelumnya.78 4. Sektor jasa telah memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan produktivitas. Berikut gambaran upah minimum provinsi yang dikelompokkan ke dalam 4 bagian.79 0.05 1. Gambaran pertumbuhan produktivitas secara nasional menurut 3 sektor utama.15 2009 5.37 3.09 0. pertumbuhan produktivitas tenaga kerja untuk seluruh sektor perekonomian menunjukkan peningkatan.47 0.29 1.usaha mikro dan kecil dengan usaha menengah dan besar. Pada saat yang bersamaan terdapat keperluan untuk memastikan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 65 .60 2011 4.54 2008 6. Secara berarti dalam lima tahun terakhir ini.

00 50. Sementara itu. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA PDRB/TK 2005 PDRB/TK 2010 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .00 40.pekerja selain mempunyai pendidikan yang lebih tinggi juga memperoleh pelatihan yang lebih baik. Provinsi DKI Jakarta.46 Produktivitas per Tenaga Kerja Tahun 2005 dan 2010 (Menurut Harga Konstan 2000) 100. dengan persentase lulusan SMP dan SMU yang relatif besar. Sebaliknya.00 - Sumber: BPS (diolah) Proporsi tertinggi untuk pekerja dengan pendidikan SD/SMP terdapat di Provinsi NTT. Gambar 3.00 30. sekitar 3 persen di antaranya merupakan profesional dengan tingkat pendidikan sarjana.00 20. Oleh sebab itu. peran pemerintah menjadi sangat penting untuk memacu produktivitas pekerja baik secara langsung yaitu menciptakan lingkungan kebijakan yang kondusif serta tidak langsung yaitu meningkatkan kualitas dan keterampilan angkatan kerja. sedangkan sekitar 5 persen di antaranya semi-skilled worker berpendidikan diploma dan kejuruan. Kalimantan Barat dan Jateng.00 10.00 80. DI Yogyakarta dan Kepulauan Riau memiliki proporsi pekerja berpendidikan Universitas yang paling tinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya. di seluruh provinsi di Indonesia mayoritas tenaga kerjanya merupakan semiskilled.00 60. Secara nasional.00 90. Bangka Belitung Kep.00 70. 66 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

47 Persentase Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. Riau Kep. BPS (diolah) 3. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 67 . peranan birokrasi menjadi lebih signifikan untuk memberikan respon berupa formulasi dan implementasi kebijakan secara tepat. mendukung terwujudnya daya saing perekonomian nasional di tengah persaingan global. mendorong terwujudnya iklim investasi yang kondusif. menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. bersih. Riau Kep. akuntabel dan melayani kepentingan publik. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0% 20% 40% 60% 80% 100% Gambar 3. BPS Sumber: Sakernas.Gambar 3. Di era kompetisi global. efisien. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 10 20 30 40 50 60 ≤ SMP SMU SMK Diploma Universitas Profesional Semi Skill % Sumber: Sakernas.9 Perkembangan Reformasi Birokrasi dan Politik Birokrasi memiliki peranan yang sangat strategis untuk mendukung manajemen pemerintahan yang efektif.48 Persentase Pekerja Profesional/Semi Skill Terhadap Jumlah Pekerja Tahun 2011 Papua Papua Barat Maluku Utara Maluku Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.

kompetensi dan profesionalisme. promosi dan mutasi dan evaluasi kinerjanya masih harus dibenahi. (2) Penerapan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) atau e-procurement. Dalam rangka itu. Di sisi lain jumlah tenaga analis jabatan di K/L/pemda masih sangat terbatas.570. (3) Pencapaian opini BPK atas audit LKPD.Uraian berikut ini menggambarkan peta kondisi birokrasi di daerah ditinjau dari beberapa indikator. penempatan.818 orang. Berdasarkan data per 1 Januari 2012. yang digambarkan melalui Indeks Demokrasi Indonesia serta angka pemilih dan angka partisipasi pemilih.9. khususnya dilihat dari aspek tingkat pendidikan.49 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Pendidikan (per Januari 2012) 100% 80% 60% 40% 20% 0% NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Sampai saat ini. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat SD-SMA Sumber: BKN.1 Kualitas SDM Aparatur Salah satu bagian penting dalam pelaksanaan reformasi birokrasi adalah pengembangan manajemen SDM Aparatur untuk mewujudkan aparatur negara yang profesional. sebagai salah satu indikator pelayanan dan transparansi dalam pengelolaan keuangan dilihat dari proses pengadaan barang dan jasa. penataan PNS mulai dari sistem rekruitmen. (4) Implementasi SAKIP. diharapkan dapat mencerminkan kualifikasi. Bangka Belitung Kep. 3.49. yang mencerminkan kualitas pengelolaan keuangan daerah secara tertib dan upaya menuju terwujudnya birokrasi yang bersih. sebagai gambaran perkembangan akuntabilitas kinerja birokrasi dan (5) Perkembangan politik Indonesia. jumlah PNS berdasarkan daerah adalah sebanyak 4. masih sulit untuk menentukan jumlah kebutuhan pegawai secara tepat pada suatu instansi. Adapun komposisi PNS per provinsi berdasarkan tingkat pendidikan sebagaimana digambarkan dalam Gambar 3. sehingga peta jabatan dan profil kebutuhan pegawai belum tersedia secara rinci dan valid. yakni: (1) Kualitas SDM Aparatur. Januari 2012 D1-D3 S1/D4-S3 68 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Gambar 3. berdasarkan kebutuhan organisasi dan kompetensi yang ada.

D.3 sudah 60. I.16 Peta Sebaran Daerah Dengan LPSE Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Daerah Prov.7 sudah 57.1 sudah 91. Provinsi Kalimantan Timur. DKI Jakarta Prov.9. Kalbar Prov. Sedangkan provinsi yang memiliki PNS dengan pendidikan setara S1 ke atas dengan persentase di atas 40 persen.1 sudah 97. Data Per April 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 69 . salah satunya dilakukan melalui penerapan pelaksanaan lelang secara elektronik ( e-procurement) berbasis web/internet dengan memanfaatkan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang dikembangkan LKPP dan diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang ada di instansi pemerintah. Banten Prov. Provinsi Maluku.7 sudah 60. Jawa Tengah Prov.0 sudah 41.6 sudah 41. Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.0 sudah 85. Provinsi Sulawesi Utara. Provinsi DI Yogyakarta.6 sudah 100.9 sudah 100. Yogyakarta Prov.0 sudah 100.Melihat dari komposisi data tersebut terlihat bahwa PNS yang berpendidikan SLTA kebawah masih menempati persentase yang tertinggi yaitu 37. Maluku 20 Prov. NAD Prov. antara lain Provinsi Gorontalo. Papua 24 Prov. Provinsi Sulawesi Tengah.0 No Daerah Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 60. Bangka Belitung Prov. Dilihat komposisi PNS yang berpendidikan SLTA ke bawah berdasarkan provinsi. NTT 23 Prov. Sumsel 33 Prov.0 sudah 86. Lampung 19 Prov. Gorontalo Prov. Jawa Timur Prov. Provinsi DKI Jakarta. dapat diinformasikan bahwa terdapat beberapa provinsi yang memiliki PNS berpendidikan SLTA ke bawah diatas 40 persen. Kaltim Prov.0 sudah 0. Reformasi dalam bidang pengadaan barang dan jasa. Provinsi Jawa Timur.0 sudah 90.7 sudah 63.1 sudah 92. Sumbar 32 Prov.0 sudah 50. termasuk dalam bidang pengadaan barang dan jasa.7 sudah 35.7 sudah 100. sedangkan PNS dengan tingkat pendidikan Diploma (1-3) sebesar 26. Papua Barat 25 Prov. Sultra 30 Prov.4 sudah 66. Provinsi Sulawesi Selatan. Sulteng 29 Prov. Maluku Utara 21 Prov. Jambi Prov.7 sudah 92.68 persen dari jumlah PNS.1 sudah 78. yakni Provinsi Papua Barat.3 97 62.5 belum 9. Sulbar 27 Prov.0 sudah 80.0 sudah 33.1 sudah 95.09 persen. Bengkulu Prov.8 18 Prov. Riau 26 Prov.9 sudah 73.0 sudah 0. Bali Prov.23 persen dan PNS dengan pendidikan setara Sarjana ke atas sebesar 36. Kalsel Prov.2 LPSE dan E-Procurement Upaya reformasi birokrasi dilakukan di berbagai bidang. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bahwa Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Instansi Lainnya wajib melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik untuk sebagian/seluruh paket-paket pekerjaan. NTB 22 Prov.0 sudah 14. Hal ini selaras dengan mandat Perpres No. Tabel 3. Sulsel 28 Prov. Kalteng Prov. Sulut 31 Prov. Sumut Total (Rata-rata) Sumber: LKPP. paling lambat pada tahun 2012.3 sudah 3. 3. Provinsi Papua. Kepulauan Riau Status LPSE Provinsi Kab/Kota(%) sudah 43.0 sudah 100. Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat. Jawa Barat Prov.

0 25. Jambi Prov. Sultra 30 Prov. 31 provinsi (94 persen) telah mengimplementasikan e-procurement dalam proses lelang (operasional lelang).2 50. Kalbar Prov. Hingga April 2012. 32 provinsi (97 persen) telah memiliki LPSE.9 63.0 36. Sulbar 27 Prov.0 21. I. Sementara itu. Kaltim Prov.4 44. Jawa Tengah Prov.78 persen) telah memiliki LPSE.3 82.4 57. Papua 24 Prov. baru 2 provinsi yaitu Provinsi Kep. DKI Jakarta Prov.0 16. dari 33 provinsi. Yogyakarta Prov. Banten Prov. sebanyak 312 kabupaten/kota (62. Lampung 19 Prov.3 60.3 50. Papua Barat 25 Prov. terdapat 2 provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Maluku yang seluruh kabupaten/kotanya belum memiliki LPSE dan belum mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).7 18 Prov. Bali Prov. Dari 33 provinsi yang ada.0 100.0 58.4 100. Sumsel 33 Prov. Riau 26 Prov. Data Per April 2012 70 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Hingga saat ini. NAD Prov. hanya 223 kabupaten/kota (44. NTB 22 Prov. Gorontalo Prov. NTT 23 Prov.0 75. Namun.0 53. Maluku Utara 21 Prov. Kalsel Prov. Bengkulu Prov. Jawa Timur Prov. hampir seluruh provinsi di Indonesia telah memiliki LPSE. terdapat 2 provinsi yang belum mengimplementasikan. Sumbar 32 Prov.5 0.5 3. Sulteng 29 Prov. sebagian besar telah memiliki LPSE.17 Peta Sebaran Daerah Yang Sudah Menerapkan E-Proc Tahun 2012 No Daerah Status E-PROC Provinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Prov. Dari total 497 kabupaten/kota. D. Sumut Total (Rata-rata) No Daerah Status E-PROC Provinsi sudah sudah belum sudah sudah sudah belum sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah 94% Kab/Kota(%) 42. perkembangan pembentukan LPSE tersebut belum sejalan dengan pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).0 33.87 persen) yang telah mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). yaitu Provinsi Papua Barat.0 9. untuk kabupaten/kota.9% Sumber: LKPP.0 84.3 5.6 21.9 0. Dari 497 kabupaten/kota yang ada di Indonesia.4 0. Sulut 31 Prov.1 85. Tabel 3.0 40.0 0. yaitu provinsi Papua Barat dan Maluku Utara. Jawa Barat Prov.5 92. Hanya 1 provinsi yang belum memiliki LPSE.7 45. Bangka Belitung Prov. Sedangkan untuk pengimplementasian e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang).4 95. Kalteng Prov. Kepulauan Riau sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah Kab/Kota(%) 17.9 44. Bangka Belitung dan DI Yogyakarta yang seluruh kabupaten/kotanya telah memiliki LPSE dan mengimplementasikan e-Procurement dalam proses lelang (operasional lelang). Sulsel 28 Prov.Perkembangan pembentukan LPSE di daerah memperlihatkan hasil yang cukup baik. Sementara itu. Maluku 20 Prov.

terdapat 18 persen yang mendapatkan opini WTP atau sebanyak 6 provinsi. BPK memberikan opini WTP atas 34 LKPD (7 persen).3 Opini LKPD Terkait dengan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2010. Sedangkan yang mendapatkan opini WDP sebanyak 252 pemda atau 65 persen. b. baik untuk level provinsi maupun kabupaten/kota. opini WDP atas 341 LKPD (66 persen). Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). Di level provinsi. c. TW atas 26 LKPD (5 persen) dan TMP atas 115 LKPD (22 persen).50 Peta Kepatuhan Penyampaian LKPD Tahun 2010 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Sumber: BPK. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). Selanjutnya terdapat 22 provinsi atau 67 persen yang mendapatkan opini WDP dan yang mendapatkan opini TMP sebanyak 15 persen. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Jumlah Kab/Kota Jumlah LKPD 71 . yakni Provinsi Riau. dari 33 pemprov yang menyerahkan LKPD. Provinsi Kepulauan Riau.3. Provinsi DI Yogyakarta. Untuk pemerintah kota. d. Selebihnya. perkembangannya lebih baik dibandingkan dengan pemerintah kabupaten. Provinsi Jawa Timur. Maret 2012 6 Terdapat empat kategori hasil penilaian BPK. Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. yakni terdapat 12 kota atau sebesar 13 persen yang berhasil mendapatkan opini WTP. Dari total 516 LKPD. terdapat 67 kota atau 72 persen yang mendapatkan opini WDP. Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan.9. IHPS II 2011. yaitu a. Gambar 3. terdapat 16 kabupaten atau baru sebesar 4 persen yang mendapatkan opini WTP. hasil pemeriksaan BPK selama tahun 2011 atas 516 LKPD dari keseluruhan 524 pemerintah daerah di Indonesia memperlihatkan bahwa mayoritas pemerintah daerah di Indonesia masih mendapatkan opini 6 WDP . Bangka Belitung Kep. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). Untuk kabupaten.

Implementasi ini. Bangka Belitung 7 1 1 DKI Jakarta Jawa Barat 2 Jawa Tengah 4 1 DI Yogyakarta 6 26 2 4 3 Banten 1 2 7 Bali 33 1 3 8 Nusa Tenggara Barat 14 2 13 4 4 7 Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan 1 7 6 7 2 1 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah 19 2 18 10 2 Sulawesi Selatan 7 5 1 Sulawesi Tenggara 6 1 Gorontalo 6 Sulawesi Barat 10 9 1 Maluku Utara Maluku 5 Papua 1 7 3 Papua Barat 32 5 1 8 Nusa Tenggara Timur 13 3 5 Kalimantan Timur Jambi Sumatera Selatan Kep. Hanya saja. khususnya birokrasi yang berorientasi pada hasil (outcome oriented). Implementasi SAKIP dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitas akuntabilitas kinerja seluruh instansi pemerintah dan melihat komitmen penerapan manajemen pemerintahan berbasis kinerja. Maret 2012 WDP TMP 3. yakni Kabupaten Deiyai. 33 pemerintah daerah telah menyampaikan laporan keuangannya.51 Pencapaian Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemda Tahun 2012 35 30 25 20 15 10 5 0 11 5 NAD 1 Sumatera Utara Sumatera Barat 1 1 1 2 17 2 18 1 11 12 1 15 1 8 3 Bengkulu 3 7 5 Lampung 8 Kep. 72 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 Kalimantan Barat TW . Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Puncak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh daerah telah memiliki kepatuhan yang tinggi untuk menyusun dan menyampaikan laporan keuangan setiap tahunnya. Gambar 3.9.4 Implementasi SAKIP Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk memperkuat dan meningkatkan akuntabilitas kinerja. sekaligus untuk mengawal peningkatan kualitas reformasi birokrasi. untuk level kabupaten/kota terdapat 4 (empat) kabupaten yang dikarenakan statusnya sebagai daerah otonom baru sehingga belum berkewajiban menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Kabupaten Intan Jaya. Adapun rekapitulasi capaian opini atas LKPD secara rinci diilustrasikan sebagaimana gambar di bawah ini. Riau Riau Jawa Timur WTP Sumber: BPK.Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II tahun 2011 yang diterbitkan BPK pada bulan maret 2012. Untuk level provinsi. IHPS II 2011. mayoritas pemerintah daerah telah menyerahkan laporan keuangan pemerintah daerah. Keempat daerah tersebut berada di Provinsi Papua.

(2) memberikan rekomendasi untuk peningkatan dan penguatan akuntabilitas instansi pemerintah dan (3) menyusun peringkat hasil evaluasi guna kepentingan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur Negara. Predikat AA A B Nilai Absolut >85-100 >75-85 >65-75 Interpretasi Memuaskan Sangat Baik Baik dan perlu sedikit perbaikan Cukup baik (memadai). taat kebijakan. 2. 3. memiliki sistem Akuntabilitas kinerjanya sudah baik. 2012 Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tahun 2011. manajemen kinerja yang andal. perlu banyak sekali perbaikan dan perubahan yang sangat mendasar. berkinerja tinggi dan sangat akuntabel Akuntabel. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban.Setiap tahun. melalui koordinasi Kementerian PAN dan RB. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 73 . Adapun rincian skor LAKIP untuk masingmasing provinsi sebagaimana Tabel 3. pada seluruh instansi pemerintah pusat (Kementerian/Lembaga) dan pemerintah daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja dan perlu sedikit perbaikan. sebanyak 32 dari 33 provinsi telah menyampaikan laporan. CC >50-65 5. Karakteristik Instansi Memimpin perubahan. sebagian perubahan yang sangat mendasar.18 Pengkategorian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah No 1. memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar. berbudaya kinerja. Akuntabilitas kinerjanya cukup baik. Penilaian diprioritaskan bagi daerahdaerah yang pada tahun sebelumnya belum dinilai. Dari jumlah itu hanya 30 provinsi yang dievaluasi dikarenakan 2 provinsi lain terlambat dalam menyampaikan laporan. D 0-30 Sumber: Kementerian PAN & RB. perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar Agak kurang. Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan. C >30-50 6.18. 4. perlu banyak perbaikan. perlu beberapa perbaikan tidak mendasar. sebanyak 422 dari 497 kabupaten/kota telah menyampaikan laporan dan dari jumlah itu hanya 180 kabupaten/kota yang dinilai. Sistem dan tatanan tidak dapat diandalkan untuk manajemen kinerja. perlu banyak perbaikan. Tabel 3. dilakukan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. berkinerja baik. Evaluasi ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kelemahan dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja di lingkungan instansi pemerintah (SAKIP). atas penyelenggaraan manajemen kinerja pada birokrasi pemerintah. Adapun kategorisasi penilaian sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 3. termasuk perubahan yang mendasar Kurang.19. Sedangkan untuk level kabupaten/kota.

60 47.00 30.00 70.19 Pencapaian Skor LAKIP di Level Provinsi Tahun 2011 No Provinsi Predikat No Provinsi Maluku NTB NTT Riau Sulteng Sulut Sulbar Sulsel Sumut NAD Predikat CC CC CC CC CC CC CC CC CC C No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Provinsi Banten Bengkulu Gorontalo Jambi Kalteng Kep.00 80.11 86.00 50. Babel Lampung Papua Sulbar Sulsel Predikat C C C C C C C C C C 1 Jateng B 11 2 Kaltim B 12 3 Bali CC 13 4 DIY CC 14 5 DKI Jakarta CC 15 6 Jabar CC 16 7 Jatim CC 17 8 Kalbar CC 18 9 Kalsel CC 19 10 Kep.7 pada tahun 2010.30 atau kategori sedang (Indeks 60<80).00 90. Riau CC 20 Sumber: Kementerian PAN & RB. Bappenas. hakhak politik dan lembaga demokrasi.9. Namun terjadi penurunan menjadi 63.00 IDI Kebebasan Sipil 2009 Sumber: IDI 2010.52 Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2009 dan 2010 100. UNDP.87 62.Tabel 3. Terdapat 3 aspek yang diukur.00 40.30 63. Gambar 3.00 20.00 10.97 pada tahun 2009 74 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 Perkembangan Politik Indeks Demokrasi Indonesia Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi di setiap provinsi di Indonesia.17 54. IDI 2012. 2012 3. yaitu aspek kebebasan sipil. BPS 2010 Hak Politik Lembaga Demokrasi Pada tahun 2009 tingkat kinerja demokrasi rata-rata provinsi di Indonesia mencapai 67.72 63.53 0.97 82.00 67. Penurunan ini disebabkan turunnya Indeks Kebebasan Sipil dari 86.00 60.

sebanyak 6 provinsi memiliki indeks dengan kategori rendah (indeks < 60) dan sebanyak 27 provinsi termasuk ke dalam kategori sedang (60< indeks <80).97 67.72 tahun 2009 menjadi 63.04 71.45 65.menjadi 82.04 65.12 60.60 72.17 65.41 63.42 74.78 67.32 71.45 63.88 73.11 (kategori sedang) pada tahun 2010.53 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Provinsi Tahun 2010 NASIONAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.63 56. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 63. Tidak ada satu pun provinsi di Indonesia memiliki indeks dengan kategori tinggi (indeks > 80).75 60.05 69.60 atau kategori rendah (Indeks <60) pada tahun 2009 menjadi 47.92 67.94 73.36 63.53 atau kategori tinggi (Indeks >80) pada tahun 2010.89 77.51 59.94 62.44 58.65 70.80 65. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI. Berbeda dengan kedua Indeks Kebebasan Sipil dan Hak-hak Politik.33 55.79 64.13 72. Gambar 3.57 69.10 70.87 di tahun 2010.67 54.44 59. Indeks Lembaga Demokrasi mengalami kenaikan dari 62. Bangka Belitung Kep.94 66. dan menurunnya Indeks Hak-hak Politik dari 54.26 IDI Kebebasan Sipil Hak Politik Lembaga Demokrasi Sumber : BPS 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 75 . Berdasarkan IDI tahun 2010. Turunnya angka Indeks rata-rata seluruh provinsi Indonesa pada tahun 2010 dikontribusi oleh menaiknya jumlah aksi atau tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap masyarakat dan antar kelompok masyarakat.

06 56.00 40. Niilai indeks Kebebasan Sipil tertinggi adalah di Wilayah Maluku-Papua dan terendah di Wilayah Jawa. Gambar 3. Kesenjangan ini harus direspon dan diatasi agar tidak menimbulkan ketidakpuasan masyarakat lebih lanjut dan dapat memicu timbulnya aksi kekerasan. 24 provinsi (73 persen) memiliki indeks dengan kategori sedang dan 6 provinsi (9 persen) termasuk dalam kategori rendah.02 65.00 70.41 67. Dengan tingginya Indeks Kebebasan Sipil dan rendahnya Indeks Hak-hak Politik dan Lembaga Demokrasi menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan masyarakat dan pelayanan yang dapat diberikan oleh penyelenggara pemerintahan daerah.11 47. Pada indeks Lembaga Demokratis.53 84.73 85.74.00 50.00 90.59 51.30 89.85 54.17). seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional.Pada aspek lembaga demokrasi.29 67.53 atau kategori tinggi.00 30. Dari seluruh wilayah kepulauan.62 67.36 47.09 84. 7 provinsi termasuk kategori sedang dan 1 provinsi yang mendapatkan indeks rendah.00 60.80 71.36). Untuk kebebasan sipil ini.74 Indeks Demokrasi Indonesia 2010 berdasarkan Kepulauan menunjukkan seluruh kelompok wilayah mencapai indeks (IDI) rata-rata di atas indeks Nasional (63.95 94. Pada aspek hak-hak politik. hanya 4 provinsi memiliki indeks sedang dan sisanya 29 provinsi termasuk kedalam kategori rendah. yang dapat mencapai rata-rata 82.05 50. hanya Wilayah Maluku-Papua yang nilai indeksnya di bawah rata-rata nasional.00 20.10). sebanyak 25 provinsi berada pada peringkat tinggi.73 66.54 70.66 38.53).10 70.87 82.17 63.00 0.05 68.54 Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Kepulauan Tahun 2010 100. Berbeda dengan kedua aspek lainnya. yakni 38. aspek kebebasan sipil telah berkembang pesat di seluruh provinsi di Indonesia.73 64.71 66.00 NASIONAL Sumatera IDI Sumber : BPS 2012 Jawa Kebebasan Sipil Bali-NTB-NTT Hak Politik Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Lembaga Demokrasi 63. Demikian pula halnya dengan indeks Kebebasan Sipil. sebanyak 3 provinsi (9 persen) memiliki indeks kategori tinggi. Seluruh Wilayah Kepulauan menunjukkan angka indeks di atas rata-rata nasional (82.00 10. angka indeks Kalimantan adalah yang tertinggi (71. Sementara itu.00 80. 76 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . bila melihat indeks Hak-hak Politik.84 85.10 65. sementara angka indeks terendah ada di Wilayah Maluku-Papua (64.

0 0.4 1.8 1.7 3.2 0. persentasi jumlah pemilih terbesar berada di Jawa yang mencapai 59.3 1. jumlah pemilih dalam berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) SK 164 berjumlah 171.9 persen jumlah kabupaten/kota.0 1. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0 0.9 5.4 0. KPU).4 3.442 orang (Pemilu 2009 dalam Angka.0 1.6 15.8 persen.434 orang (Pemilu 2009 dalam Angka.2 0.4 0.9 0.6 1. KPU).2 1.Angka Pemilih Dan Partisipasi Pemilih Salah satu indikator yang diukur dalam demokrasi adalah tingkat partisipasi politik dalam pemilu dan pemilukada. 2010 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 77 . DPD dan DPRD tahun 2009. DPD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.9 1.411. Gambar 3.4 0.1 0.5 3.6 0.3 16.8 10 20 30 40 50 60 70 80 Kab/kota Pemilih pemilu legislatif (%) Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: KPU. Keseluruhan provinsi yang berada di Jawa memiliki kurang lebih total 24.7 2.8 5.265.8 1.8 17. Pada Pemilu Anggota DPR. Pada Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2009.3 1.6 3. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep.0 1.0 1.I. Pemilu dalam Angka.55 Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Pemilih Pada Pemilu Anggota DPR.4 1. Sedangkan jumlah pemilih tetap dalam Pemilu Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 berjumlah 176.

1% 77.9% 88. Tingkat partisipasi politik pada pemilu legislatif tahun 2009 rata-rata seluruh Indonesia mencapai 70. Dibandingkan pelaksanaan tahun 2004 dan 2009.4 persen.6% 91.55. Provinsi Papua mencapai tingkat partisipasi pemilih tertinggi yaitu 85 persen dan Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai 61 persen. Agar tidak terjadi penurunan lebih lanjut pada Pemilu 2014 mendatang.7 persen.2 persen pada Pemilu Presiden/Wapres dan 39.9% 93. juga lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 84. Gambar 3.2% 91.Pada Pemilu legislatif.1 persen.3% 84. tingkat partisipasi politik pada pemilu 2009 cenderung mengalami penurunan.6 persen.9 persen.1 persen jumlah kabupaten/kota di Indonesia memiliki persentasi jumlah pemilih sebanyak 40. Sedangkan untuk Pemilu Presiden 2009 tingkat partisipasinya mencapai 72. yaitu 60. Persentasi jumlah kabupaten/kota dan jumlah pemilih pada masing-masing provinsi pada Pemilu Anggota Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden disajikan dalam Gambar 3. 2011 Tingkat Partisipasi Pemilu Presiden Tingkat partisipasi pemilih tertinggi dalam Pemilu anggota DPR. Sedangkan pada Pemilu Presiden/Wapres. lebih rendah dari pemilu tahun 2004 yang mencapai 77. DPD dan DPRD diperoleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terendah diperoleh provinsi DKI Jakarta.3 persen pada Pemilu Legislatif. Dua puluh tujuh (27) provinsi lain dengan 75. persentasi jumlah pemilih di Jawa tidak jauh berbeda.0% 90.56 Tingkat Partisipasi Politik dalam Pemilu Tahun 1971 – 2009 94.3% 90.4% 71.6% 1971 1977 1982 1987 1992 1997 1999 2004 2009 Tingkat Partisipasi Pemilu Legislatif Sumber: IDEA dan KPU. upaya keras harus dilakukan melalui pendidikan politik dengan metode yang tepat sasaran.0% 72. 78 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

Gambar 3.57 Tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009
Papua Barat

Papua Maluku Utara Maluku Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Banten Jawa Timur D.I. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat DKI Jakarta Kep. Bangka Belitung Lampung Bengkulu Sumatera Selatan Jambi Kepulauan Riau Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD

81 90 80 81 83 75 78 73 78 79 67

71 69 73 81
75 77 72 68 73 71 73 51 70 74 75 77 75 60 68 70 66 75 0 20 40 60 80 100 Pemilih pemilu legislatif (%)

Pemilih pemilu presiden (%) Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Berdasarkan wilayah, tingkat partisipasi Pilpres 2009 di Maluku dan Papua adalah sebesar 80 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi di Sumatera 70,0 persen, Jawa 72,0 persen, Bali, NTB dan NTT 76,0 persen, Kalimantan 70,0 persen dan Sulawesi 75,0 persen. Tingkat partisipasi ini dihitung dari pemilih di DPT yang menggunakan hak pilih. Sedangkan, persentasi jumlah pemilih di DPT yang tidak menggunakan hak pilihnya di Sumatera adalah tertinggi sebesar 30,0 persen dan di Maluku dan Papua mencapai 20,0 persen lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

79

Gambar 3.58 Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pilpres di Berbagai Wilayah Tahun 2009
30.000.000 25.000.000 20.000.000 15.000.000

Sumatera

80.000.000 70.000.000 60.000.000 50.000.000 40.000.000 30.000.000 20.000.000 10.000.000 0

Jawa

70,0%

72,0% 28,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

10.000.000
5.000.000 0

30,0%

Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

Jumlah DPT: 35.826.186 orang

Jumlah DPT: 103.821.470 orang

7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000

8.000.000

Bali - NTT - NTB

7.000.000 6.000.000 5.000.000

Kalimantan

76,0%

4.000.000

3.000.000
2.000.000

70,0% 30,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

24,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

1.000.000

0

0

Jumlah DPT: 8.750.838 orang

Jumlah DPT: 9.894.265 orang

10.000.000 9.000.000 8.000.000 7.000.000 6.000.000 5.000.000 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 0

Sulawesi

4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000

Maluku - Papua

75,0%

2.000.000 1.500.000

80,0%

25,0%
Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Menggunakan Hak Pilih Tidak Menggunakan Hak Pilih

1.000.000 500.000 0 Pemilih di DPT yang Pemilih di DPT yang Tidak Menggunakan Hak Pilih Menggunakan Hak Pilih

20,0%

Jumlah DPT: 12.405.626 orang Sumber: Pemilu 2009 dalam Angka, KPU

Jumlah DPT: 4.565.389 orang

80

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

Pada Pemilukada yang dilaksanakan di seluruh Provinsi di Indonesia, rata-rata tingkat partisipasi politiknya mencapai 75,6 persen. Dari seluruh provinsi tersebut, sebanyak 16 provinsi memiliki tingkat partisipasi politik di atas rata-rata 75,6 persen dan 17 provinsi di bawah rata-rata. Gambar 3.59 Tingkat Partisipasi Politik pada Pemilukada Tahun 2010-2011
RATA - RATA PARTISIPASI PEMILIH Papua Barat Papua Maluku Utara Maluku Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Bali Sulawesi Barat Gorontalo Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah
76,0 81,7 82,0 70,2 71,4 71,5 74,8 67,3 76,7 77,0 82,4 83,6 75,6 84,7 84,0 83,0 83,3 83,1 79,9

Sulawesi Utara
Kalimantan Timur Kaliamantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Banten Jawa Timur DI. Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Barat Kepualauan Riau Kep. Bangka Belitung Bengkulu Lampung Sumatera Selatan Jambi Riau Sumatera Barat Sumatera Utara NAD 0,00 20,00 40,00 60,00
68,3 71,6 69,5 72,3 71,7 75,7 75,1 56,5 68,7 69,8

70,7
73,9

81,9

79,7

80,00

100,00

Sumber : Ditjen Otonomi Daerah-Kemdagri, 2011

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat

81

3.10 Pelaksanaan Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 3.10.1 Pelaksanaan MP3EI Tahun 2011 dan 2012
MP3EI berisi arahan pengembangan kegiatan ekonomi utama yang sudah lebih spesifik untuk mendorong percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Untuk mengimplementasikannya, Pemerintah juga sudah membentuk Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). Sejak MP3EI diluncurkan sampai dengan akhir Desember 2011, telah dilaksanakan groundbreaking proyek yang mendukung pelaksanaan MP3EI sebanyak 94 proyek dengan total nilai investasi Rp. 499,5 Triliun. Selengkapnya rekapitulasi kegiatan MP3EI yang telah groundbreaking hingga Desember 2011 terdapat dalam Tabel 3.20. Tabel 3.20 Rekapitulasi Kegiatan MP3EI Yang Telah Groundbreaking (Sampai Akhir Desember 2011)
Koridor Ekonomi Jumlah Proyek Infrastruktur Sektor Riil Nilai Investasi Infrastruktur (Rp. Miliar) 35.429 64.674 1.586 3.000 36.065 1.011 141.765 Sektor Riil (Rp. Miliar) 62.505 71.397 14.644 142.267 829 66.120 357.762 Total Proyek Investasi (Rp. Miliar) 97.934 136.071 16.230 145.267 36.894 67.131 499.527

Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali-NT Papua-Kep.Maluku Total

17 8 3 1 6 3 38

2 8 12 26 1 7 56

19 16 15 27 7 10 94

Sumber: Sekretariat KP3EI

Proyek MP3EI tersebut tersebar di 6 (enam) koridor ekonomi yang terdiri dari investasi untuk proyek sektor riil senilai Rp.357,8 triliun (56 proyek) dan pembangunan infrastruktur Rp.141,7 triliun (38 proyek). Proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah dengan nilai investasi sebesar Rp.71,6 triliun (24 proyek), BUMN sebesar Rp.131 triliun (24 proyek), swasta sebesar Rp.168,6 triliun (38 proyek) dan melalui Kerjasama Pemerintah Swasta/KPS sebesar Rp.128,3 triliun (8 proyek). Pada tahun 2012, MP3EI melalui KP3EI juga telah merencanakan untuk melakukan groundbreaking terhadap 84 proyek yang terdiri dari investasi sektor riil dan pembangunan infrastruktur dengan nilai total Rp.536,3 triliun. Adapun proyek-proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah sebesar Rp.66,2 triliun (15 proyek), BUMN sebesar Rp.90,3 triliun (20 proyek), swasta sebesar Rp.301,6 triliun (38 proyek) dan campuran sebesar Rp.78,2 triliun (11 proyek).

82

Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013

60 dan Gambar 3.60 Jumlah dan Nilai Program Bidang SDM di setiap Koridor Ekonomi Tahun 2012 100 90 700 600 47 579 Nilai Program SDM (IDR Miliar) 80 6 8 6 11 23 76 Jumlah Program SDM 70 60 50 40 30 20 10 0 16 15 500 400 91 116 272 22 31 218 170 191 300 200 100 0 22 45 Community College Politeknik Universitas Community College Politeknik Universitas Sumber: Sekretariat KP3EI Gambar 3.61. Gambar 3.580 miliar. Selengkapnya jumlah dan nilai program bidang SDM IPTEK di setiap koridor ekonomi terdapat dalam Gambar 3.8 triliun.61 Jumlah dan Nilai Program Bidang IPTEK di setiap Koridor Ekonomi 180 5000 Nilai Program IPTEK (IDR Miliar) 160 4500 4000 3500 Jumlah Program IPTEK 140 120 100 80 60 40 20 0 22 11 15 12 54 134 572 3832 320 315 295 1832 65 35 3000 2500 2000 1500 1000 1449 1330 20 498 34 500 0 1053 Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Litbang Centre of Exellence Fasilitas Riset Sumber: Sekretariat KP3EI Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 83 . direncanakan untuk melaksanakan 134 program dengan nilai total investasi Rp. pada tahun 2012 telah direncanakan program penguatan SDM sebanyak 76 program dengan nilai total investasi Rp. Sedangkan untuk program pengembangan IPTEK.Dalam rangka penguatan SDM dan IPTEK.3.

Upaya-upaya debottlenecking di atas tentunya tidak akan berhasil tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. Untuk itu. Peningkatan keselamatan transportasi. Peningkatan konektivitas (domestic connectivity) untuk menunjang pertumbuhan dan pemerataan.10. antara lain melalui debottlenecking regulasi (deregulasi) terhadap peraturan yang dinilai menjadi penghambat bagi pelaksanaan investasi.Selain pembangunan infrastruktur dan penguatan SDM dan IPTEK.21 Status Penyempurnaan Regulasi (per April 2012) No. c. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 84 . b. Penyediaan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) untuk peningkatan ketahanan dan ketersediaan air. Pemerintah akan terus melakukan upaya pembangunan infrastruktur dalam rangka penguatan konektivitas nasional.21). Adapun Isu strategis terkait infrastruktur pada tahun 2013 dalam mendukung pelaksanaan MP3EI adalah sebagai berikut: a. Pemerintah juga akan terus melakukan sejumlah perbaikan iklim investasi.2 Rencana MP3EI Tahun 2013 Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi nasional (intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi Internasional Indonesia dengan pasar dunia. Tabel 3. Pemerintah telah selesai melakukan revisi terhadap 31 regulasi dan sedang menyelesaikan 16 regulasi lainnya (lihat Tabel 3. d. Hal ini juga terkait untuk memastikan penetapan peraturanperaturan daerah yang dapat mendukung terciptanya iklim investasi dan kepastian berusaha. Percepatan pembangunan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS). Sampai April 2012. e. 1 2 Jenis Regulasi Undang-Undang (UU) Telah Diperbaiki 1 6 14 1 1 8 31 Jenis Regulasi Rancangan UndangUndang (RUU) Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) Rancangan Keputusan Presiden (RKeppres) Rancangan Instruksi Presiden (RInpres) Rancangan Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sedang Diperbaiki 2 4 2 0 0 0 8 Akan Diperbaiki 2 3 1 0 0 2 8 Peraturan Pemerintah (PP) 3 Peraturan Presiden (Perpres) 4 Keputusan Presiden (Keppres) 5 Instruksi Presiden (Inpres) 6 Peraturan Menteri/Kepala TOTAL Sumber: Sekretariat KP3EI 3. Pengembangan transportasi di Kota Metropolitan.

76 Kementerian PU 18. Tabel 3.443.00 Kementerian Perdagangan 51.76 7.215.14 543.079.819.00* 1.29 198.428.00 52.503.428.373.040.41 5.04 179.819.794.9 triliun rupiah dari kebutuhan anggaran yang sudah diidentifikasi sampai tahun 2013 sebesar 52.50 4.77 454.20 Kebutuhan Tambahan 3.18 15.310.76 Sumber : Sekretariat Timja Konektivitas.383. Untuk lebih jelasnya.54 Sumber: Sekretariat Timja Konektivitas.44 11. 2012 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 85 .90 5.252.443.90 6.700.47 4.62 Rekapitulasi Alokasi Indikatif Kegiatan Konektivitas Tahun 2013 Menurut Kementerian/Lembaga (Miliar Rupiah) Kementerian ESDM 6.00 5.99 14. Pemerintah akan terus mengupayakan peningkatan rencana alokasi pembiayaan pembangunan infrastruktur.00 1.49 18.615.90 Kementerian Kominfo 5.00 51.06 660.390.Dengan mempertimbangkan beberapa isu strategis dimaksud.310. Meskipun demikian. kebutuhan anggaran untuk pembangunan infrastruktur masih terdapat kekurangan sekitar 12.89 2.76 3.680.01 1. Pemerintah sudah melakukan peningkatan alokasi indikatif pembangunan infrastruktur sekitar 17.5 triliun rupiah.71 Alokasi (Pagu Indikatif) 18.00 5.00* 12.00 39.29 205.29 179.953.1 triliun rupiah dari TA 2012.54 6.035.930. 2012 Keterangan (*) : Kebutuhan tambahan akan dipenuhi dari ICT Fund.157.02 1.623.11 1.035.00 Kementerian Perhubungan 14.22 Alokasi dan Kebutuhan Tambahan Konektivitas Tahun 2013 (Miliar Rupiah) Kebutuhan Kementerian PU Ditjen Bina Marga Ditjen SDA Ditjen Cipta Karya Kementerian Perhubungan Ditjen Perkeretaapian Ditjen Perhubungan Darat Ditjen Perhubungan Laut Ditjen Perhubungan Udara Kementerian ESDM Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian Kominfo Ditjen Penyelenggaraan Pos Dan Informatika Kementerian Perdagangan TOTAL 21.54 13.98 1.27 5.623.01 11. rekapitulasi alokasi indikatif kegiatan konektivitas tahun 2013 menurut kementerian/lembaga (dalam miliar rupiah) dapat dilihat pada Tabel 3.22 dan Gambar 3.00 18. Pada rencana pembangunan infrastruktur tahun 2013. Gambar 3.091.579.589.53 442.974.62.130.90 4.11 4.040.819.00 51.52 10.

b. yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera a. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Memberikan alternatif moda transportasi darat dengan pembangunan jalan kereta api di NAD dan Sumatera Utara. antara lain pengembangan pelabuhan di Pulau Madura. b. Koridor Ekonomi Sulawesi a. Memperkuat dan meningkatkan kualitas jalan lintas utara Jawa dengan bagian selatan Jawa. Koridor Ekonomi Bali-NT a. Memperkuat transportasi udara terutama provinsi Jambi. Memperkuat transportasi moda laut melalui peningkatan kapasitas penyeberangan Bakauheni sisi Barat. Dalam meningkatkan ekspor migas dan pertanian. Koridor Ekonomi Kalimantan a. Pemerintah melalui Tim Kerja Konektivitas telah menetapkan kebijakan untuk pengalokasian MP3EI dalam RKP 2013. c. Pembangunan jalan dalam memperkuat sistem distribusi komoditas dari Makasar ke wilayah lainnya dan jalan pertambangan nikel di Wilayah Kendari. Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 86 . Meningkatkan hubungan dari Wilayah Sulawesi ke wilayah lainnya.Untuk penguatan konektivitas di setiap koridor ekonomi. Infrastruktur jalan dalam mendukung pengembangan pariwisata dan pusat peternakan di Sumbawa menjadi salah satu prioritas di Wilayah Nusa Tenggara. Penanganan moda transportasi kereta api wilayah utara Jawa antara lain dengan pembangunan jalur ganda lintas utara Jawa dan jalur ganda di Wilayah Jabodetabek. antara lain peningkatan kapasitas Pelabuhan Maloy dan Pengembangan Pelabuhan Pontianak. Pengembangan beberapa pelabuhan. Pelabuhan Pamanukan dan Perluasan pelabuhan Tanjung Mas. antara lain Bitung sebagai Hub Internasional dan pelabuhan regional lainnya. akan didukung dengan pengembangan beberapa pelabuhan laut. Penanganan jalan dan jembatan di Kalimatan Barat. b. Penanganan jalan wilayah dalam mendukung pengembangan kawasan ekonomi antara lain ke Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke. b. Dumai dan Kawasan Industri Muara Enim. penguatan kapasitas pelabuhan menjadi prioritas. Sumatera Utara dan Palembang. c. Koridor Ekonomi Jawa a. d.

Defisit anggaran cenderung menurun dan pada tahun 2011 secara keseluruhan besarnya 1. b. Sementara itu belanja daerah mengalami peningkatan rata-rata sebesar 11.4 persen per tahun.1 Postur Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meningkat dengan laju rata-rata sebesar 11.8 persen per tahun. atau meningkat sebesar 17 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 426. terlihat bahwa porsi dana perimbangan (DAU.11 Postur Pendapatan dan Belanja Daerah 3.86 triliun. antara lain Kawasan Perikanan Morotai. walaupun secara agregat porsi Pendapatan Asli Daerah terus meningkat. Koridor Ekonomi Papua . DAK dana Bagi Hasil) masih lebih besar dibandingkan sumber pendapatan yang lain. Penguatan konektivitas dan sistem logistik di Nusa Tenggara Timur dilakukan dengan mengembangkan kapasitas pelabuhan peti kemas Tenau serta pelabuhan rakyat Nomainsain. c.Kepulauan Maluku a.6 persen (DJPK Kemenkeu. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 87 . Pada tahun 2011 nilai total belanja daerah mencapai Rp 495. Rehabilitasi Bandar Udara Morotai. Memperkuat pengembangan Wilayah Bali sebagai pusat pariwisata Internasional.23 triliun. Pada tahun 2011 nilai total pendapatan daerah mencapai Rp 459.b.1 persen.86 triliun. 3. Berdasarkan komposisi pendapatan daerah secara agregat (provinsi dan kabupaten/kota) selama periode 2007-2011. d. Peningkatan kapasitas pelabuhan yang dapat mengurangi beban jalan dan meningkatkan efisiensi distribusi komoditas di Wilayah Papua akan menjadi lebih efektif (short-sea shipping).34 triliun. c. Meningkatkan konektivitas:  Antara Manokwari dan Sorong sehingga dapat meningkatkan distribusi barang dari pusat pertumbuhan tersebut ke wilayah pedalaman. Hal ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan pemerintah daerah terhadap sumber pendanaan dari pusat. jauh menurun dari kondisi tahun 2010 sebesar 3. 2011).  Menuju Wilayah MIFEE maupun ke wilayah pegunungan di bagian tengah Wilayah Papua.11. Memperkuat kapasitas pelabuhan di Maluku Utara dan Kepulauan Maluku sebagai tulang punggung konektivitas di kepulauan tersebut. atau meningkat sebesar 18 persen dari tahun 2010 yang nilainya sebesar Rp 386. Penanganan jalan difokuskan dalam rangka mendukung pengembangan wilayah ekonomi.

3 59.8 74.5 6.2 9. Jawa-Bali memiliki rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap total pendapatan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain. 2011 88 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .6 75.7 92.2 80.2 76.0 65.6 86.4 32.7 5.8 78. Gambar 3.6 83. hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah).4 Sumatera Jawa Bali Kalimantan Sulawesi NT Maluku Papua Sumber: DJPK Kemenkeu. khususnya Indonesia Bagian Timur.6 2008 17.0 6.9 14. Hal ini sekaligus juga menggambarkan relatif berkembangnya perekonomian daerah di Jawa dan Bali.8 2010 18.7 71.8 76.64 Rasio Pendapatan Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Persen PAD/Tot 14.2 Sumber: DJPK Kemenkeu.63 Komposisi Pendapatan Daerah Tahun 2007 – 2011 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 PAD Daper Lain2 Persen 2007 16.3 Daper/Tot 75. Semakin besar rasio PAD terhadap total pendapatan daerah menunjukkan tingkat kemandirian daerah yang semakin tinggi. 2011 Secara kewilayahan.9 Trans/Tot 84. Sebaliknya Wilayah Indonesia Bagian Timur memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pusat. retribusi daerah.9 80.8 2011 19.2 2009 17. Tingginya rasio PAD/total pendapatan di Wilayah Jawa menggambarkan kapasitas daerah yang lebih baik dalam menggali sumber pendapatan di tingkat lokal (pajak daerah.7 12.4 7.6 4.Gambar 3.

Hal ini berkaitan dengan berkembangnya industri pariwisata di Bali yang memberikan sumber pendapatan asli daerah yang cukup besar.0 16.0 2.2 4.2 7.7 32.8 5.1 20. 2011 Bila dianalisis lebih rinci berdasarkan APBD kabupaten/kota di setiap provinsi.0 45.1 2.5 54.7 35.5 26. Riau Kep.5 8.4 49.9 34.3 61. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 89 .5 3.0 40.0 25.7 28.1 50.4 11.4 7.0 60.4 6. Jawa Timur memiliki kemandirian fiskal tertinggi.0 40.8 41.9 35.4 6.2 76. Sebaliknya Provinsi Papua Barat dan Papua memiliki ketergantungan fiskal yang sangat tinggi.65 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.0 56.5 44.0 2011 2008 Sumber: DJPK Kemenkeu.0 100.7 14. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 71. Riau Kep.5 27.9 7.9 6. diikuti provinsi-provinsi lain di Wilayah Jawa-Bali.0 30.2 3.3 36.1 5.8 4.2 28.Gambar 3.8 19.8 42.0 5.5 7.66 Rasio PAD Terhadap Total Pendapatan Provinsi Tahun 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.0 39.8 13. sedangkan kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat memiliki kemandirian fiskal terendah.3 4.9 12. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 8.9 62.8 71.9 71.0 2011 10.2 75.8 3.6 5.0 2008 Gambar 3.1 4.0 20.1 58.9 5.4 9.0 80.0 15.6 2.0 15. Sementara itu untuk APBD provinsi.8 5. maka kabupaten/kota di Bali memiliki kemandirian fiskal tertinggi.3 11.2 20.7 4.6 6.9 14.9 5.

Peningkatan belanja pegawai ini berjalan seiring dengan meningkatnya jumlah pegawai di daerah.1 18.0 25.0 10. Hal ini ditunjukkan dengan makin meningkatnya porsi belanja pegawai di satu sisi dan semakin mengecilnya porsi belanja modal.7 2011 46. Hal ini patut mendapat perhatian mengingat belanja modal merupakan kunci daya ungkit APBD dalam menggerakkan perekonomian daerah melalui pembangunan infrastruktur publik.0 35.0 5.0 22.6 37. khususnya di kabupaten.5 11.67 Komposisi Belanja Daerah Tahun 2007 – 2011 50.68 Rasio Belanja Daerah Menurut Wilayah Tahun 2011 60 50 Persen 40 30 20 10 0 Sumatera Jawa Bali Kalimantan BP/Tot 45.3 22. Gambar 3.0 45.0 15.3.5 52. Selama periode 2007-2011 komposisi belanja daerah justru semakin jauh dari ideal.5 50.3 32.5 BBJ/Tot 21.2 22.2 18.4 21.11.3 2010 46. 2011 Gambar 3.3 21.3 11.0 20.0 18.3 26.2 Postur Belanja Daerah Secara umum porsi belanja daerah terbesar dialokasikan untuk belanja pegawai.8 Pegawai Barang/Jasa Modal Lain-lain Sumber: DJPK Kemenkeu.1 19.0 30.9 9.1 22. Jika pada tahun 2007 rasio antara belanja pegawai dan belanja modal hanya 4:3 maka pada tahun 2011 belanja pegawai mencapai lebih dari dua kali lipat belanja modal. diikuti belanja modal dan belanja barang dan jasa.9 30.0 11.2 2008 42.0 21. 2011 90 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .5 26.7 11.5 19.6 Sumber: DJPK Kemenkeu.0 0.0 40.1 BM/Tot 24.5 2009 43.0 Persen 2007 39.8 27.9 18.2 Sulawesi NT Maluku Papua 38.

0 60. Riau Kep. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 91 . Sementara itu Wilayah Kalimantan memiliki rasio belanja modal tertinggi di antara wilayah-wilayah lainnya. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 20.0 40.0 80.0 2008 30. Hal ini berkaitan dengan rasio pegawai terhadap penduduk.0 2011 20. sebaliknya Wilayah Kalimantan memiliki porsi belanja pegawai terendah. terlihat bahwa peningkatan rasio belanja pegawai kabupaten/kota di hampir semua provinsi antara tahun 2008 dan 2011.0 50. Sulawesi memiliki rasio belanja pegawai tertinggi.0 Gambar 3. di mana di Sulawesi mencapai 1. Gambar 3.26 persen. 2011 Berdasarkan analisis menurut provinsi.Secara kewilayahan.0 Sumber: DJPK Kemenkeu. Bangka Belitung Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta Di Yogyakarta Bengkulu Banten Bali NAD 10.0 2011 2008 40. Riau Kep. Hanya di Provinsi Kepulauan Riau dan Jawa Barat yang kabupaten/kotanya relatif tidak mengalami perubahan.70 Rasio Belanja Pegawai Provinsi Terhadap Total Belanja Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Hal ini didukung oleh besarnya pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan.38 persen sedangkan di Kalimantan hanya 1. khususnya Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.69 Rasio Belanja Pegawai Kabupaten/Kota Terhadap Total Belanja Menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2011 Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Lampung Kep.

Pada tahun 2011 Kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio belanja modal tertinggi. 2011 Sementara itu. Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki rasio terendah kurang dari 10 persen. Di tingkat provinsi. Gambar 3. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. Bangka Belitung Bali Gambar 3. Penurunan rasio ini terjadi baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Hal ini perlu mendapat perhatian bila mengingat sebagain besar jaringan jalan yang mengalami kerusakan merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. sedangkan rasio terendah dimiliki Provinsi Papua Barat. Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Jambi Gorontalo DKI Jakarta DI Yogyakarta Bengkulu Banten Kep. sedangkan Jawa Tengah. rasio belanja pegawai tertinggi dimiliki Provinsi Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur.72 Komposisi Belanja Provinsi Menurut Fungsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep. pada tahun 2011 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki rasio belanja modal tertinggi.Pada tahun 2011 kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai tertinggi. Di tingkat provinsi. 92 Buku Pegangan Perencanaan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . sedangkan kabupaten/kota di Papua Barat memiliki rasio terendah.71 Komposisi Belanja Kabupaten/Kota Menurut Fungsi dan Provinsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Riau Papua Barat Papua Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat NAD Maluku Utara Maluku Lampung Kep. Bangka Belitung Bali Pendidikan Kesehatan Ketertiban dan Ketentraman Lingkungan Hidup Pariwisata dan Budaya Pelayanan Umum Perlindungan Sosial Ekonomi Perumahan dan Fasilitas Umum - 20 40 60 80 100 - 20 40 60 80 100 % Sumber: DJPK Kemenkeu. rasio belanja modal terhadap total belanja daerah cenderung menurun di hampir semua provinsi bila dibandingkan antara APBD tahun 2008 dan 2011. sedangkan kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta memiliki rasio terendah.

yakni memiliki kondisi rasio PAD dan rasio belanja modal diatas rata-rata dan rasio belanja pegawai di bawah rata-rata seluruh provinsi. hampir semua provinsi memberi alokasi terbesar untuk fungsi pelayanan umum.Jika belanja daerah dianalisis berdasarkan fungsi. khususnya pada komponen rasio belanja modal yang sudah memiliki persentase relatif tinggi. Alokasi belanja untuk mendukung fungsi ekonomi hanya berkisar antara 5-16 persen di kabupaten/kota dengan alokasi tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah dan berkisar antara 7-22 persen di provinsi dengan Provinsi Gorontalo memberikan alokasi paling tinggi. Kabupaten Sumbawa Barat dan Halmahera Timur menunjukkan rasio yang lebih baik. Berdasarkan analisis pendapatan dan keuangan daerah di atas. Tabel 3. sedangkan kabupaten/kota di Papua hanya mengalokasikan sebesar 17 persen untuk fungsi pendidikan. Berikutnya adalah Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki rasio belanja modal di atas rata-rata. dapat diidentifikasi daerahdaerah yang memiliki postur APBD relatif baik. Di tingkat provinsi. rasio belanja pegawai di bawah rata-rata. Namun demikian kabupaten/kota di Papua mengalokasikan 43 persen belanjanya untuk mendukung fungsi pelayanan umum. dengan porsi terbesar dialokasikan Provinsi Papua Barat yang mencapai 73 persen.23 Daerah Dengan Postur APBD Yang Baik Daerah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Sumatera Selatan RATA-RATA PROVINSI (33 PROVINSI) Kabupaten Sumbawa Barat Kabupaten Halmahera Timur RATA-RATA KABUPATEN/KOTA Sumber: DJPK (diolah) Rasio PAD Terhadap Pendapatan 71 46 50 19 11 9 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja 17 19 25 33 25 51 Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja 28 29 21 40 45 23 Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 93 . namun memiliki rasio PAD terhadap pendapatan sedikit di bawah rata-rata. Daerah-daerah yang memiliki postur APBD yang baik ditandai oleh ketiga rasio tersebut yang lebih baik dari rata-rata seluruh daerah. maka secara umum alokasi belanja pemerintah kabupaten/kota yang terbesar adalah untuk fungsi pendidikan. (2) rasio belanja pegawai terhadap total belanja dan (3) rasio belanja modal terhadap total belanja. Kabupaten/kota di Jawa Tengah mengalokasikan 51 persen belanjanya untuk fungsi pendidikan yang merupakan alokasi tertinggi. kemudian diikuti alokasi fungsi pelayanan umum. Sementara untuk perbandingan antar kabupaten/kota se-Indonesia. Kriteria yang dipakai untuk menilai postur APBD adalah: (1) rasio PAD terhadap total pendapatan daerah. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan kinerja pengelolaan terbaik antar provinsi. dengan menggunakan kriteria yang sama terdapat 22 kabupaten/kota yang memiliki profil lebih baik dari rata-rata.

.

BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya tahan ekonomi tetap dijaga agar peningkatan kesejahteraan rakyat terutama pengentasan kemiskinan dan penurunan pengangguran dapat dipercepat. ketegangan politik di beberapa kawasan dunia seperti di Timur Tengah. Gambar 4.1).1 Faktor Pendukung Penguatan Ekonomi Domestik Peningkatan Daya Saing Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK Peningkatan Daya Tahan Ekonomi Pemantapan Stabilitas Politik Perekonomian domestik harus ditingkatkan dengan fundamental ekonomi yang tetap kokoh dan daya saing yang lebih baik (Gambar 4. Keseluruhan ini menuntut perekonomian domestik harus semakin diperkuat. Persaingan antar negara untuk memenangkan pasar perdagangan dan investasi semakin ketat. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat terus dilaksanakan tanpa melalaikan persoalan lingkungan. Pelaksanaan pembangunan tetap dilaksanakan melalui empat jalur strategi. serta kecenderungan meningkatnya harga komoditas dan minyak dunia dapat mempengaruhi stabilitas keuangan global dan pemulihan ekonomi dunia yang pada gilirannya akan berpengaruh pada perekonomian nasional.BAB IV KERANGKA PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 4. Afrika Utara dan Semenanjung Korea.1 Pengantar Penguatan Ekonomi Domestik Krisis utang di sejumlah negara-negara Eropa. perubahan iklim dan bencana alam. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan proteksi pada banyak negara serta langkah tidak sehat untuk mempertahankan pasar domestik dan ekspornya. yaitu 96 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

4. Dengan demikian. Dengan demikian.2 Aspek Peningkatan Daya Saing Daya saing dapat dinilai dengan berbagai macam pendekatan dan indikator yang pada prinsipnya menunjukkan kemampuan yang lebih unggul secara kuantitas ataupun kualitas pada skala nasional antar daerah ataupun pada skala internasional antar negara. Situasi global yang tidak pasti juga tercermin dari berbagai ketegangan politik dan potensi konflik di berbagai kawasan dunia yang dapat berpengaruh pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Stabilitas sosial politik dan keamanan terus dijaga agar momentum pembangunan terus berkelanjutan. 4. yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu kemampuan pertahanan perlu ditingkatkan guna menjaga kepentingan nasional dan keamanan regional. sampai dengan implementasi berupa kelembagaan dan tata kelola dan berupa pembangunan infrastruktur. Semakin kompetitif daya saing sebuah sistem perekonomian. maka pembangunan akan tumbuh lebih cepat.al (2002) mendefinisikan daya saing daerah sebagai kemampuan daerah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. peningkatan daya tahan ekonomi. kesempatan kerja (pro-job). Meningkatnya investasi dan berkembangnya usaha akan sangat penting untuk mendorong aktivitas perekonomian.2. uraian di bawah ini merupakan gambaran penguatan ekonomi domestik yang ditunjang oleh kebijakan komprehensif yang bertujuan untuk mencapai peningkatan daya saing. serta pemantapan stabilitas politik. pengembangan investasi dan usaha ini akan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat. peningkatan iklim investasi dan iklim usaha menjadi sangat penting bagi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 97 . Muara dari implementasi kebijakan-kebijakan tersebut adalah tercapainya produktivitas suatu negara/daerah sehingga akan meningkatkan kesejahteraan rakyat pada skala perekonomian nasional/daerah. Secara lebih rinci. karena dapat menggerakkan usaha lain yang terkait dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment). Pada akhirnya.pertumbuhan (pro-growth). Sementara itu. et. peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. daya saing merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang dimulai dari penyusunan kebijakan.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha sangat penting untuk dapat mendorong arus investasi masuk (baik investasi domestik maupun investasi asing) dan mendorong berkembangnya usaha di Indonesia. Abdullah. sehingga mampu untuk bersaing di tingkat domestik dan internasional.

penyelenggaraan PTSP yang baik akan memberikan kepastian berusaha.perekonomian daerah karena dapat memberikan efek ganda ( multiplier effect) terhadap perekonomian yang cukup besar. Gambar 4. Sementara itu. karena tidak akan menimbulkan salah persepsi dan dapat mengurangi biaya ekonomi tinggi. yang 98 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .2 Kerangka Peningkatan Iklim Investasi dan Usaha dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Pemerintah Mendorong penguatan ekonomi domestik (melalui pertumbuhan dan dan peningkatan kesejahteraan rakyat) Mendorong peningkatan kesempatan kerja dan daya beli masyarakat Meningkatkan investasi dan usaha Iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif Kemudahan dan transparansi proses perijinan di PTSP provinsi dan kab/kota Kepastian lahan dan peruntukannya Investor/Pengusaha Peningkatan iklim investasi dan iklim usaha di daerah sebaiknya difokuskan pada: (i) penyederhanaan dan harmonisasi berbagai regulasi yang bertujuan untuk memberikan transparansi. serta (iii) kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan. kepastian dan kemudahan untuk melakukan investasi dan berusaha. Regulasi yang jelas dan prosedur yang lebih sederhana akan memudahkan investor dan pengusaha dalam melaksanakan regulasi tersebut. Hal ini tentunya akan berdampak pada meningkatnya kenyamanan berusaha dan berinvestasi. memudahkan investor dan pengusaha dalam memproses perijinan. serta meningkatkan efisiensi proses pengurusan perijinan karena perijinan dapat diproses dengan lebih cepat dengan biaya yang lebih transparan. (ii) penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk mempercepat dan mempermudah proses perijinan dan non perijinan untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha di daerah.

2. 4. secara luas dan merata. Jaringan transportasi dan telekomunikasi dari Sabang sampai Merauke serta Sangir Talaud ke Rote merupakan salah satu perekat utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.3 Kerangka Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Peningkatan Ekonomi Domestik Sistem Transportasi Nasional Sistem Logistik Sistem Informasi dan Komunikasi Pengembangan Wilayah Peningkatan Konektivitas antar wilayah Penguatan ekonomi domestik Selain itu. Ketersediaan sarana perumahan dan permukiman. Gambar 4. serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. infrastruktur mempunyai peran yang tak kalah pentingnya untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang. Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan telekomunikasi terkait dengan upaya modernisasi bangsa dan penyediaannya merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi.pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sejak lama infrastruktur diyakini merupakan pemicu pembangunan suatu Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 99 . antara lain air minum dan sanitasi.

ketersediaan infrastruktur transportasi yang memadai akan menciptakan konektivitas antar daerah bahkan antar pulau. melalui proses peningkatan nilai tambah bahan mentah menjadi produk olahan setengah jadi atau jadi. Selain itu. efisien dan terpadu. Selain itu. termasuk daerah terpencil dengan daerah terdekat bahkan dengan pusat pertumbuhan ekonomi. Sementara itu. ketersediaan infrastruktur pengairan merupakan prasyarat kesuksesan pembangunan pertanian dan sektor-sektor lainnya. Pengembangan Wilayah dan Sistem Informasi dan Komunikasi dengan visi Terintegrasi secara Lokal. serta memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi. Percepatan pembangunan infrastruktur memiliki empat elemen kebijakan yang terintegrasi yaitu Sistem Logistik Nasional. Ketersediaan Listrik Energi listrik merupakan unsur penting bagi pembangunan dalam segala bidang. Dapat dikatakan disparitas kesejahteraan antar kawasan juga dapat diidentifikasi dari kesenjangan infrastruktur yang terjadi diantaranya. percepatan pembangunan infrastruktur memegang peran penting dalam meningkatkan daya saing perekonomian domestik terutama dengan perekonomian dunia (global). Infrastruktur Transportasi Infrastruktur transportasi darat.kawasan. ketersediaan infrastruktur akan memudahkan aksesibilitas masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Dalam konteks ini. Pengalaman menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi berperan besar untuk membuka isolasi wilayah. kesehatan dan lapangan pekerjaan. kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing. Oleh sebab itu. Aktivitas ekonomi membutuhkan listrik sebagai sumber energi gerak dan cahaya. sehingga dapat menumbuhkan perdagangan antar wilayah dan antar negara. Pada akhirnya tersedianya infrastruktur akan banyak membawa dampak posistif bagi produktivitas industri. perluasan usaha dan perluasan pasar. Faktor keempat elemen tersebut merupakan rangkaian sistem kebijakan yang harus saling terintegrasi agar dapat meningkatkan daya saing perekonomian domestik. Ketersediaan listrik yang memadai di suatu daerah akan menjadi insentif untuk membangun industri. ke depan pendekatan pembangunan infrastruktur berbasis wilayah semakin penting untuk diperhatikan. laut dan udara menjadi sangat penting untuk disediakan mengingat kondisi geografis Indonesia berupa kepulauan dengan disparitas ekonomi daerah Indonesia yang sangat beragam. Terhubung Secara Global (locally integrated. Listrik dalam industri dibutuhkan untuk memproduksi barang. serta dapat menjadi penghubung yang efisien antara sumber bahan baku (resource). nasional dan dunia (global) secara efektif. Tersedianya infrastruktur transportasi akan memperlancar arus barang. pusat produksi dan pasar. globally connected ). Sistem Transportasi Nasional. Konektivitas nasional menghubungkan pusat perekonomian lokal. manusia dan jasa. 100 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

Ketersediaan serat optik dan broadband akan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang karena akan mempermudah penyampaian informasi dan proses data. jumlah kelas menengah yang besar dan semakin meningkat. memang harus diakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang kita capai selama ini belum mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Indonesia menghadapi banyak tantangan ke depan yang semakin berat. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). mengharuskan Indonesia mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk mempercepat terwujudnya suatu negara maju dengan hasil pembangunan dan kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. Sementara itu. Perspektif ini didukung oleh banyak lembaga internasional yang mengatakan bahwa Indonesia memang layak dan berkemampuan untuk menjadi big player dalam perekonomian global.3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Indonesia adalah negara yang dikarunia dengan hampir semua prasyarat untuk mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan besar perekonomian dunia. serta akses yang strategis ke jaringan mobilitas global.Listrik juga berperan dalam meningkatkan pendidikan. ilmu pengetahuan dan kesehatan. Berbagai informasi akan mudah dan cepat diperoleh dan disebarkan dengan bantuan media pendidikan yang tersedia secara elektronik. Namun demikian. fokus dan sistematis dalam perencanaan pembangunan nasional ke depan. 4.2. Keberadaan Indonesia di pusat baru gravitasi ekonomi global. Sebagai negara yang berada di tengahtengah persaingan global yang semakin ketat. MP3EI dirumuskan dengan perubahan pola pikir ( mindset) dalam pemahaman bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat Dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 101 . Ketersediaan telepon tetap memudahkan komunikasi antar daerah dan wilayah. Indonesia mempunyai aset dan akses yang mendukung terwujudnya negara ini sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam tata pergaulan antar negara. sehingga komunikasi data dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Daya saing dalam bidang telekomunikasi ditentukan oleh tersedianya jaringan telepon tetap (fixed-line). Dengan kekayaan sumber daya alam. yaitu kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. yang telah diluncurkan oleh Presiden hampir satu tahun yang lalu (27 Mei 2012) diperlukan untuk menjawab tantangan tersebut. keberadaan teknologi serat optik semakin mampu memperluas lebar jalur (bandwidth). Ketersediaan Sarana Telekomunikasi Telekomunikasi akan memudahkan arus informasi dengan lebih luas dan cepat. Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang lebih cerdas. jaringan serat optik dan broadband.

kakao. tekstil. peralatan transportasi. food estate. perkayuan. BUMD dan Dunia Usaha dalam semangat Indonesia Incorporated.4 Kerangka Pengembangan Koridor Ekonomi Sumber: MP3EI 2011 – 2015 102 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pemerintah Pusat dan Daerah akan melakukan deregulasi ( debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi. makanan-minuman. sinkronisasi dan sinergi kebijakan antar Kementerian/Lembaga dan antara Kementerian/Lembaga dengan pemerintah daerah. tembaga. pemerintah akan melakukan penguatan koordinasi. dalam rangka penguatan kebijakan. Dalam pelaksanaan MP3EI. Dari sisi regulasi. dunia usaha akan menjadi aktor utama dalam kegiatan investasi. peternakan. pariwisata. melalui: pertama. perikanan. Fasilitasi dan katalisasi akan diberikan oleh Pemerintah melalui penyediaan infrastruktur maupun pemberian insentif fiskal dan non fiskal. pihak swasta akan diberikan peran penting dalam pengembangan MP3EI. fasilitator dan katalisator. minyak dan gas. bauksit. karet. telematika. Gambar 4.Daerah. Tujuan dari pelaksanaan MP3EI adalah untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 (delapan) program utama yang meliputi sektor industri manufaktur. alutsista. perkapalan. kelapa sawit. nikel. serta pengembangan Metropolitan Jabodetabek dan pembangunan Kawasan Selat Sunda. pariwisata. kelautan. telekomunikasi. pertambangan. batubara. MP3EI dilakukan dengan pendekatan terobosan (breakthrough) bukan Business As Usual. Fokus dari 8 (delapan) program utama tersebut meliputi 22 (dua puluh dua) kegiatan utama yaitu industri besi-baja. energi dan pengembangan kawasan strategis nasional. produksi dan distribusi. BUMN. Kedua. pertanian. sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator.

Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan ekonomi yang beragam dan inklusif dan dihubungkan dengan wilayah-wilayah lain di luar koridor ekonomi. Koridor Ekonomi Indonesia akan dilaksanakan melalui strategi utama pelaksanaan MP3EI. kemudahan peraturan. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut akan menciptakan Koridor Ekonomi Indonesia sebagaimana dapat dijelaskan dalam kerangka pengembangan Koridor Ekonomi pada Gambar 4. Tujuan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tersebut adalah untuk memaksimalkan keuntungan aglomerasi. Mengembangkan 6 (enam) koridor ekonomi indonesia. Koridor ekonomi akan didukung dengan pemberian insentif fiskal dan non-fiskal. Koridor ekonomi diarahkan pada sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara nasional.4. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan penguatan konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi serta infrastruktur pendukungnya. Koridor Sulawesi. baik yang telah ada maupun yang baru. yaitu: Koridor Sumatera. logistik serta komunikasi dan informasi untuk membuka akses daerah. Koridor Bali – Nusa Tenggara dan Koridor Papua – Kepulauan Maluku. 3. Pembangunan 6 (enam) koridor ekonomi Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 103 . Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari pendekatan sektoral dan regional. 2. 5. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan konektivitas yang terintegrasi antara sistem transportasi. Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia diharapkan akan dapat mendukung peningkatan daya saing dalam rangka penguatan ekonomi domestik karena pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia memberikan penekanan baru bagi pembangunan ekonomi wilayah. antara lain: 1. Koridor Kalimantan. Setiap wilayah mengembangkan produk yang menjadi keunggulannya. regional maupun global. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu: 1. Koridor Jawa. perijinan dan pelayanan publik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk meningkatkan iklim usaha dan iklim investasi. menggali potensi dan keunggulan daerah serta memperbaiki ketimpangan spasial pembangunan ekonomi Indonesia. Koridor ekonomi diarahkan pada pembangunan yang menekankan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah pengelolaan sumber daya alam melalui perluasan dan penciptaan rantai kegiatan dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan. Secara keseluruhan. Pembangunan koridor ekonomi dilakukan sebagai pengembangan wilayah untuk menciptakan dan memberdayakan basis ekonomi terpadu dan kompetitif serta berkelanjutan. 4. agar semua wilayah di Indonesia dapat berkembang sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah.Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia diselenggarakan berdasarkan pendekatan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

kejuruan dan pelatihan terutama untuk yang terkait dengan pengembangan program utama.5 Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia Sumber: MP3EI 2011 . internationally connected ). Gambar 4.  Penguatan konektivitas antar koridor (pulau) untuk memperlancar pengumpulan dan pendistribusian (collection and distribution) bahan baku. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara internasional (locally integrated.5. 104 .2015 2. Penguatan konektivitas nasional ditujukan untuk memperlancar distribusi barang dan jasa dan mengurangi biaya transaksi (transaction cost) logistik. bahan setengah jadi dan produk akhir dari dan keluar koridor (pulau). Mempercepat peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di setiap koridor dengan mengembangkan klaster industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berbasis sumber daya unggulan di setiap koridor ekonomi. sebagaimana tertuang dalam Gambar 4. Hal ini akan dilakukan melalui:  Penguatan konektivitas intra dan antar pusat-pusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 3. Elemen utama untuk percepatan kemampuan SDM dan IPTEK meliputi:  Meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan tinggi. dan  Penguatan konektivitas internasional sebagai pintu keluar dan masuk perdagangan dan pariwisata antar negara.

keragaman.3. (2) aspek aksesibilitas pangan. swasta dan akademisi.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Salah satu langkah dalam peningkatan daya tahan ekonomi untuk memperkuat ekonomi domestik adalah melalui peningkatan ketahanan pangan terutama yang berbasis sumber daya lokal. Sementara itu. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. (3) aspek konsumsi pangan yang memenuhi kaidah mutu. serta pihak swasta dan masyarakat. pemerintah daerah. Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. Ketahanan Pangan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional karena dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan juga mempengaruhi pembangunan sektor lain.   Meningkatkan kompetensi teknologi dan ketrampilan/ keahlian tenaga kerja. Jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar juga menjadi tantangan berat untuk terus meningkatkan ketahanan pangan. APBD.3 Aspek Peningkatan Daya Tahan Ekonomi (Food Security dan Energy Security) 4. Selain itu. Keempat aspek tersebut akan membangun sistem ketahanan pangan seperti yang digambarkan pada Gambar 4. BUMN. kandungan gizi. BUMN. BUMD. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam menjaga insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. 4. nilai ekonomi dari usaha tani yang cukup besar. dan Mengembangkan institusi sistem inovasi nasional yang berkelanjutan. contohnya nilai hasil produksi padi setiap tahunnya kurang lebih sebesar 300 triliun rupiah dan jumlah rumah tangga petani padi yang terlibat sekitar 15 juta rumah tangga. keamanan dan kehalalan.7. distribusi dan stabilisasi harga pangan yang terjangkau. Meningkatkan kegiatan dan membangun pusat-pusat pengembangan R&D di pusat-pusat pertumbuhan (KEK dan Klaster Industri) di setiap koridor ekonomi melalui kolaborasi antar Pemerintah. BUMD dan swasta diharapkan dapat menjadi pilar dan kontributor utama investasi dalam pelaksanaan MP3EI. distribusi. memberikan kontribusi cukup besar dalam perekonomian nasional. MP3EI merupakan produk dari hasil kerjasama dan kemitraan antara pemerintah pusat. Peningkatan ketahanan pangan harus terus didorong untuk mampu menggerakkan perekonomian daerah. pendanaan kegiatan MP3EI dilakukan melalui keterpaduan pendanaan dari APBN. serta (4) aspek penanggulangan masalah pangan. BUMD. Pelaksanaan MP3EI ini semaksimal mungkin memberikan peran yang besar kepada pelaku usaha domestik terutama untuk dapat meningkatkan nilai tambah pemanfaatan sumberdaya dalam negeri. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 105 . Pada dasarnya ketahanan pangan mencakup 4 aspek utama yang terdiri atas: (1) aspek ketersediaan pangan. pengolahan pangan dan pemasaran. BUMN. serta penyediaan sarana tekonologi dari penyuluhan.

obat-obatan. (6) Memperluas areal lahan 106 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . IPTEK dan penyuluhan. Ketersediaan pangan tersebut terdiri atas produksi dalam negeri. alat dan mesin) dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai serta tersedia setiap saat dibutuhkan serta kebijakan subsidi input yang lebih efisien. Impor) Distribusi Dan Stabilisasi Harga Konsumsi Pangan Dan Gizi Penanggulangan Masalah Pangan Kurang Pangan Lonjakan Harga Pendapatan Rendah/Miskin Bencana Insentif Produksi : Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Beras Subsidi Input: Pupuk dan Benih Subsidi Suku Bunga KKP Cadangan Beras Pemerintah RASKIN Aspek ketersediaan pangan berfungsi untuk menjamin ketersediaan pangan guna memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas. Untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan.Gambar 4. pupuk. Cadangan. maka produksi dalam negeri harus menjadi sumber utama untuk ketersediaan pangan tersebut. (2) Meningkatkan dukungan penelitian. Peningkatan produksi pangan dalam negeri dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan ketersediaan input produksi (benih/bibit. kualitas. pakan. (5) Mencegah atau mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian dan melakukan konservasi sumber daya lahan dan air. (4) Mendorong investasi di sektor pertanian yang berbasis produk lokal. keragaman dan keamanannya. lahan. irigasi. cadangan dan impor.6 Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan Pangan Ketersediaan Pangan (Produksi Dalam Negeri. (3) Meningkatkan efektifitas pengendalian organisme pengganggu tanaman dan penyakit hewan serta pengembangan sistem perkarantinaan.

(2) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah. bencana dan lonjakan harga. Aspek konsumsi pangan dan gizi berfungsi untuk mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu. stabilitas harga dan pasokan merupakan indikator penting untuk menunjukkan kinerja aspek akesibilitas pangan. (2) Mengembangkan kebijakan perdagangan dan ekspor-impor yang mendukung ketahanan pangan. terutama ibu hamil dan anak balita. memperhatikan daya beli masyarakat. pengolah. pedagang hingga konsumen sehingga berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. lahan basah dan lahan terlantar. Pemenuhan aspek konsumsi dapat dilakukan melalui: (1) Mengembangkan penganekaragaman (diversifikasi) pengolahan dan konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 107 . keamanan dan kehalalan. (3) Meningkatkan sarana dan prasarana guna efisiensi dalam perdagangan dan mengurangi kerusakan bahan pangan. keragaman. menghindari terjadinya gejolak harga pangan. Aspek penanggulangan masalah pangan berfungsi menjaga goncangan pangan akibat ketidakmampuan memenuhi pangan karena kondisi ekonomi. Aspek akesibilitas pangan berfungsi untuk menjamin seluruh level masyarakat dapat menjangkau sumber pangan yang mencukupi baik kuantitas maupun kualitasnya. yang disalurkan dalam bentuk bantuan beras miskin bagi keluarga miskin dan penyaluran cadangan beras pemerintah terutama dalam mengantisipasi terjadinya bencana melalui bantuan pangan. sosial dan budaya setempat. dan (5) Mengembangkan usaha pengolahan dan pemasaran produk pangan di perdesaan yang berbasis bahan pangan lokal. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani. produsen. Indikator aspek konsumsi. kandungan gizi. (8) Mengembangkan infrastruktur pertanian. serta pola hidup sehat. Distribusi. (3) Meningkatkan kemampuan masyarakat dan Pemda dalam mengembangkan cadangan pangan. Stabilisasi harga pangan diselenggarakan dengan tujuan untuk menyejahterakan petani dan nelayan.pertanian serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. Pola konsumsi dalam rumah tangga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kondisi ekonomi. dan (4) Meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang pangan yang bergizi dan seimbang. (4) Mengembangkan kebijakan dan peraturan daerah guna memperlancar dan mengefisienkan distribusi pangan antar daerah. dan. mencapai swasembada pangan. dapat tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. Distribusi pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan ketersediaan pangan keseluruh wilayah secara berkelanjutan. (7) Melakukan penataan dan harmonisasi peraturan perundangan lahan untuk menjamin kepastian hukum lahan pertanian. (9) Mengembangkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di sektor pertanian. menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik. Peningkatan efisiensi aksesibilitas pangan dapat dilakukan melalui: (1) Meningkatkan jumlah cadangan pangan pemerintah untuk stabilisasi harga.

Tantangan utama yang dihadapi dalam peningkatan produksi ini adalah alih fungsi lahan dan perluasan areal pertanian yang semakin sulit. dukungan sarana dan prasarana perikanan masih kurang dan menghadapi terjadinya keragaman dan perubahan iklim.7). Gambar 4.7 Skema Pencapaian Surplus Beras 10 Juta Ton Input/ Dukungan Kegiatan/ Output Indikator/ Outcome Sasaran Antara Sasaran Utama Pupuk. (3) Menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat terhadap pangan tidak terganggu.Ketahanan pangan. Benih. serta (4) terjadinya perubahan iklim yang dapat menyebabkan gangguan dalam produksi. pada awal tahun 2011 presiden memberikan direktif untuk pencapaian surplus beras 10 juta ton setiap tahun mulai tahun 2014. Khusus untuk pengamanan produksi beras. distribusi dan aksesibilitas masyarakat terhadap pangan serta terjadinya kerawanan pangan di daerah. perluasan areal tanam. Pengendalian HPT Alat dan Mesin Pasca Panen Susut Revitalisasi Penggilingan Rendemen Surplus Beras 10 Juta Ton Per Tahun Mulai Tahun 2014 Konsumsi Diversifikasi (P2KP). Penyuluhan. ke depan masih akan dihadapkan kepada berbagai tantangan yang terkait dengan: (1) Menjaga peningkatan produksi pangan terutama beras seiring dengan peningkatan penduduk dan pendapatan masyarakat. (2) Diversifikasi konsumsi pangan berbasis bahan pangan lokal relatif lambat. penurunan susut dan peningkatan rendemen (Gambar 4. SRI. Olahan Pangan Lokal Konsumsi Beras Per Kapita Keterangan: SL-PTT : Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu SRI : System of Rice Intensification GP3K : Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi P2KP : Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan 108 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . terutama beras. Optimasi Lahan Luas Tanam Produksi Manajemen. Dalam upaya peningkatan produksi dilakukan terutama melalui peningkatan produktivitas. banyaknya infrastruktur irigasi yang rusak. GP3K Produktivitas Cetak Sawah. Strategi dalam pencapaian surplus beras 10 juta ton tersebut terutama meliputi pencapaian produksi padi dan percepatan diversifikasi konsumsi untuk menurunkan konsumsi beras dan peningkatan kualitas gizi masyarakat. Alsintan. Air Irigasi SLPTT.

komersial dan industri guna meningkatkan pendapatan masyarakat.2 Peningkatan Rasio Elektrifikasi Dan Konversi Energi Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang mendasar untuk berbagai aktifitas masyarakat. perikanan sebagai salah satu sumber protein hewani juga memiliki peranan yang penting dalam ketahanan pangan dan merupakan sumber ekonomi bagi nelayan dan pembudidaya ikan. Listrik dapat menciptakan peningkatan produktivitas baik di sektor rumah tangga. Rumah tangga perikanan tangkap dan budidaya yang diperkirakan mencapai 2. kualitas yang baik dan harga yang wajar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. 4. agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang cukup dan merata dengan mutu pelayanan yang baik. pemanfaatan dan pengelolaannya perlu ditingkatkan.8 Kerangka Pembangunan Ketenagalistrikan Terhadap Peningkatan Perekonomian Domestik Pembangunan Ketenagalistrikan Peningkatan Produktivitas  Rumah tangga  Komersial  Industri  Peningkatan Pendapatan  Konsumsi Listrik Pertumbuhan Ekonomi Domestik Pembangunan ketenagalistrikan dilaksanakan secara berkesinambungan dimulai dari pembangunan pembangkit listrik. Dari kerangka di atas dijelaskan bahwa Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 109 . pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. Untuk penyelenggaraan penyediaan tenaga listrik. Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah berlandaskan prinsip otonomi daerah. gardu dan transmisi serta penyalurannya sampai rumah tangga.6 juta pada tahun 2010 mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan ekonomi nasional dan daerah. usaha penyediaan tenaga listrik. Nelayan dan pembudidaya ikan merupakan mata pencaharian utama bagi masyakat pesisir. Gambar 4. pengaturan. Dengan adanya listrik maka dapat mendorong investasi khususnya untuk sektorsektor unggulan daerah sehingga dapat meningkatkan daya saing daerah tersebut. oleh karena itu tenaga listrik sangat penting dan strategis bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya serta untuk mendorong peningkatan dan penguatan kegiatan ekonomi domestik pada khususnya. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup.3. Oleh sebab itu.Sementara itu.

Potensi energi baru terbarukan (EBT) sangat sesuai dikembangkan di Indonesia dengan kondisi geografis yang berupa pulau-pulau dengan kondisi beban (demand) yang tersebar. profesional berpengetahuan dan tenaga ahli dengan kemahiran khusus sehingga menjadi lebih produktif. surya. serta menanamkan etos kerja tinggi.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan ekonomi. pengetahuan dan keterampilan tinggi. Tenaga kerja terdidik akan berpengaruh lebih signifikan lagi bilamana disertai penguasaan teknologi. 4. Pelaksanaan kebijakan konversi energi dari BBM ke gas di sektor tranportasi dilakukan secara bertahap dalam jangka panjang dengan angkutan umum menjadi salah satu sasaran utama program konversi untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi. sehingga pembangunan dengan skala/kapasitas kecil-menengah akan sesuai dengan kemampuan pembiayaan dalam negeri. biomassa.4 Aspek Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 4. Oleh karena itu. 110 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .pembangunan ketenagalistrikan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. untuk mencapai apa yang disebut keunggulan kompetitif (competitive advantage). dalam mendorong penghematan anggaran dan pembangunan energi yang berkelanjutan maka peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat besar dalam peningkatan penyediaan listrik dan pelaksanaan konversi energi. Penguasaan teknologi sangat penting karena bisa mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi. Kondisi tersebut menuntut pengembangan dan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang potensinya relatif cukup besar seperti tenaga hidro. Penguasaan teknologi dimungkinkan bilamana persyaratan modal manusia (SDM) yang andal dipenuhi. Nilai ekonomi pendidikan terletak pada sumbangannya dalam memasok tenaga kerja terampil. Pendidikan juga dapat mengembangkan visi dan wawasan tentang kehidupan yang maju. bayu/angin dan samudera. yang kemudian berdampak pada pengurangan kemiskinan dan pengangguran serta menaikkan pendapatan per kapita masyarakat. adaptif dan inovatif. Tenaga kerja terdidik dengan kualitas tinggi merupakan faktor determinan bagi peningkatan kapasitas produksi.4. Semua itu akan melahirkan energi yang dapat mendorong dan menggerakkan kerja-kerja produktif untuk mencapai kemajuan. yang memberi stimulasi pada pertumbuhan ekonomi. Penegasan bahwa pendidikan dapat memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi berdasarkan asumsi pendidikan akan menciptakan tenaga kerja produktif dengan kompetensi. keahlian. Lemahnya ketersediaan pasokan listrik berdampak pada rendahnya pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Upaya percepatan pengurangan kemiskinan yang dilakukan melalui strategi dan kebijakan makro dan strategi dan kebijakan klaster diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat miskin. Gambar 4. pengendalian terhadap inflasi terutama inflasi dari aspek makanan (flood inflation) diharapkan dapat mengamankan tingkat konsumsi masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan semakin meningkat. Secara ekonomis. Dalam konteks penguatan ekonomi domestik diharapkan agregasi dari kedua upaya dan langkah secara makro tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan produktivitas dan kapasitas masyarakat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 111 .Kaitan antara peningkatan SDM yang berkualitas dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan dapat digambarkan dalam diagram berikut. peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan penguatan ekonomi domestik di daerah (Gambar 4. Secara makro. tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan diharapkan dapat memberikan landasan bagi penciptaan lapangan kerja baru dan perluasan kesempatan kerja di masyarakat.4.10).9 Kerangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Yang Berkualitas Peningkatan & Penguatan Daya Saing Nasional/ Daerah Tenaga Kerja Terampil Profesional dengan Penguasaan IPTEK Peningkatan Produktivitas Nasional/ Daerah Pertumbuhan Ekonomi yang Berdampak Pada Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Tenaga Ahli dengan Kemahiran Khusus Keunggulan Kompetitif Adaptif Inovatif Etos Kerja Tinggi 4.

10 Kerangka Penguatan Ekonomi Domestik Melalui Upaya Percepatan Pengurangan Kemiskinan STRATEGI DAN KEBIJAKAN KLASTER STRATEGI DAN KEBIJAKAN MAKRO KLASTER 1 MENJAGA TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI MENGENDALIKAN TINGKAT INFLASI KLASTER 2 KLASTER 3 KLASTER 4 PENYEDIAAN LAPANGAN KERJA MENJAGA TINGKAT KONSUMSI MASYARAKAT PENGURANGAN BEBAN PENGELUARAN PENINGKATAN PENDAPATAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT PENGUATAN EKONOMI DOMESTIK DI DAERAH Secara teknis. Kegiatan-kegiatan pada Klaster 1 (Bantuan dan Perlindungan Sosial) dan Klaster 4 (Program Pro-Rakyat) diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin sehingga pada gilirannya kapasitas mereka akan terus meningkat secara sosial dan ekonomi. Gambar 4. kegiatan-kegiatan pada Klaster 2 (Pemberdayaan Masyarakat) dan 112 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 4 (empat) klaster program penanggulangan kemiskinan yang merupakan bagian dari kebijakan afirmatif diharapkan dapat meningkatkan baik kapasitas maupun produktivitas masyarakat miskin. Sementara.miskin di daerah sehingga pada akhirnya dapat memberikan kontribusi terhadap upaya penguatan ekonomi di daerah.

Bawaslu dan Panwaslu dalam melaksanakan tugastugas mereka menyelenggarakan pemilu maupun pemilukada. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 113 . maka pada semua tingkat. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berkepentingan pada penyelenggaraan pemilu yang kredibel. 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. pemerintah perlu memberikan dukungan optimal pada lembaga independen KPU. 4.1 Persiapan Pemilu 2014 Stabilitas politik dalam sebuah negara/sistem demokrasi ditentukan oleh sejumlah faktor penting. Melalui proses persiapan penyelenggaraan pemilu yang matang dan akuntabel yang didukung oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Sehingga pada gilirannya makin jelas kaitan antara demokrasi dengan kesejahteraan masyarakat. maka pada tahun 2014 mendatang Pemilu 2014 dapat dilaksanakan secara demokratis. bahwa stabilitas politik adalah prasyarat mutlak bagi penguatan. Dengan kata lain. Pemilu memang bukan segala-galanya dalam menentukan keberhasilan konsolidasi demokrasi. Kerangka pendanaan pemilu yang begitu masif perlu memberikan dampak nyata. tapi merupakan syarat mutlak. untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Bagan di bawah menunjukkan posisi penting pemilu dalam keseluruhan dinamika politik di Indonesia. perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Persiapan Pemilu 2014 membutuhkan suatu kerangka pendanaan yang sangat besar dan kompleks dalam setiap pentahapannya. yang memiliki kaitan erat dengan program pembangunan pada umumnya dan arah kebijakan lainnya. yakni sebagai bagian dari penataan proses politik.5 Aspek Pemantapan Stabilitas Politik 4. Oleh karena itulah. baik pada stabilitas politik maupun ekonomi.Klaster 3 (Pemberdayaan Usaha Mikro) diharapkan dapat memberikan landasan bagi pengembangan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat miskin yang berorientasi kepada peningkatan pendapatan (income generation) dalam jangka pendek dan peningkatan produktivitas dalam jangka panjang. yang seluruhnya merupakan dana dari APBN. yakni pemilu yang adil. jujur dan tunduk pada prinsip-prinsip umum sebuah pemilu demokratis sehingga memberikan kontribusi nyata pada stabilitas politik. Pembangunan politik mensyaratkan kesuksesan penyelenggaraan pemilu dalam menghasilkan pemimpin politik yang mampu mendorong kebijakan yang efektif dan bermanfaat untuk rakyat. Hal ini dengan mengingat. sebagai diamanatkan dalam UU No. jujur dan adil dan dengan tingkat partisipasi politik yang dapat mencapai rata-rata 75 persen.5. sehingga memberikan kepercayaan yang lebih besar bahwa proses politik kita terus bergerak maju menuju demokrasi yang terkonsolidasi.

Stabilitas politik berpengaruh besar dalam penciptaan iklim investasi yang kondusif di suatu wilayah. Selain itu. Stabilitas politik ini berkaitan erat dengan kinerja pemerintahan dalam memfasilitasi dan menciptakan aturan main dalam kerangka governance. baik kepada masyarakat maupun investor. Kinerja pemerintahan ditentukan oleh kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan. akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan transparasi mekanisme pengadaan barang/jasa (procurement) juga menjadi pertimbangan penting bagi investor yang sangat menekankan 114 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi iklim investasi dan perkembangan ekonomi adalah situasi politik.11 Skema Pencapaian Stabilitas Politik S T A B I L I T A S P O L I T I K Penyempurnaan Struktur Politik 1 Kelembagaan Demokrasi Konstitusi/ Peraturan Perundangan Hubungan antar lembaga Kebijakan Demokrasi Kapasitas Lembaga Negara/ Pemerintah KPU dan Bawaslu Desentralisasi dan otonomi daerah Rekonsiliasi Nasional Ruang Publik Penataan Peran Negara dan Masyarakat 2 Kemandirian Masyarakat Kapaitas OMS Kapasitas Parpol Pranata Kemasyarakatan Kapasitas dan Peran Adat Penataan Proses Politik 3 Representasi Kekuasaan Seleksi Kepemimpinan Nasional Seleksi Pejabat Publik/Politik PEMILU dan PEMILUKADA Pengembangan Budaya Politik 4 Penanaman Nilai Demokrasi Nilai Pancasila Nilai Demokrasi Advokasi/Pendidikan Politik Pembangunan Infokom 5 6 Akses Terhadap Informasi 4.5.Gambar 4.

upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas juga dilakukan melalui pengembangan pengadaan barang dan jasa secara elektronik (e-procurement). upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas dan integritas SDM pelayanan harus terus dilakukan. Hal ini terutama ditujukan bagi SDM pelayanan yang menjadi pintu gerbang masuknya investasi di suatu wilayah. Dengan e-procurement maka penyelenggaraan proses pengadaan barang/jasa pemerintah Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 115 . Selanjutnya. Gambar 4. hal ini harus diperkuat dengan komitmen untuk memberantas praktek-praktek Korupsi. baik kepada masyarakat maupun investor. yang antara lain dapat ditempuh melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan upaya pengelolaan dan pelaporan keuangan negara/daerah secara akuntabel menuju tercapainya opini WTP atas audit BPK. Untuk itu. Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam pembangunan di suatu wilayah. Kapasitas SDM aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat akan sangat menentukan kualitas penyelenggaraaan pelayanan publik. Kompetensi PNS perlu terus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan yang prima. Secara lebih sederhana sebagaimana digambarkan dalam kerangka pikir di bawah ini.pentingnya aspek kepastian hukum.12 Kerangka Peningkatan Kinerja Birokrasi Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Rakyat KESEJAHTERAAN RAKYAT KUALITAS SDM APARATUR PERTUMBUHAN DAN PERKUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK PENERAPAN E-PROCUREMENT (LPSE) DAYA SAING DAERAH MENINGKAT UPAYA PENCAPAIAN WTP ATAS AUDIT LKPD DAMPAK: PELAYANAN PUBLIK BERKUALITAS PENERAPAN SAKIP SASARAN: TERWUJUDNYA TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Di samping itu.

sehingga seluruh tahapan dalam proses kerja birokrasi. Sejalan itu pula. upaya-upaya yang mengarah pada pencegahan dan pemberantasan KKN harus terus menerus dilakukan demi menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan kepastian hukum. Untuk mengukur akuntabilitas tersebut. mulai dari perencanaan. terbuka. Selain itu. Hal ini tentunya dapat secara langsung mendukung upaya peningkatan daya saing nasional dan daerah. penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan upaya untuk mewujudkan birokrasi yang profesional. 116 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . birokrasi yang tidak efisien dan situasi politik yang tidak stabil. diantaranya adalah kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan serta kepatuhan terhadap peraturan perundanganundangan. telah mengeluarkan opini mengenai kewajaran informasi dalam laporan keuangan. efektif. Masalah lain yang menjadi penghambat investasi adalah infrastruktur yang tidak memadai. Oleh karena itu.dapat lebih transparan. kewajiban pemerintah daerah untuk menindaklanjuti temuan BPK dapat dijadikan tolok ukur dari komitmen pemerintah daerah akan nilai-nilai transparansi dan kepatuhan atas peraturan perundangan. bersaing. hasil survey Transparency International Indonesia (TII) tahun 2010 atas beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa korupsi menjadi masalah utama bagi para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha. Aspek lain yang juga menjadi tolok ukur kapabilitas pemerintah dalam menjalankan pembangunan di daerah adalah akuntabilitas dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah. BPK sebagai lembaga yang berwenang untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. penganggaran. Terkait dengan pemberantasan korupsi. Implementasi SAKIP sebagai upaya pula untuk mewujudkan manajemen birokrasi berbasis kinerja. Mekanisme tersebut akan menjadi daya tarik bagi investor yang seringkali mengeluhkan proses pengadaan barang/jasa yang berbelit-belit sehingga dapat menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). hingga pelaporan dapat berjalan dengan terarah sesuai rencana dan menghasilkan kinerja yang optimal. akuntabel dan memiliki kinerja yang optimal. Beberapa aspek yang ditekankan dalam penilaian opini BPK. pengendalian kinerja. adil dan tidak diskriminatif. implementasi.

Foto: Humas Bappenas .

.

BAB V LANGKAHLANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT .

Memperkuat koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. serta melakukan sinergi peraturan dan kebijakan antara pusat dan daerah. antar ruang. 2.1 Peningkatan Daya Saing Dalam upaya mencapai keunggulan daya saing nasional diperlukan langkah-langkah konkrit untuk melakukan harmonisasi kebijakan dan peraturan di tingkat pusat dan daerah. 4. efektif. Selanjutnya juga telah diterbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. penganggaran. Presiden telah menetapkan 9 (sembilan) direktif pada Raker III di Bogor tahun 2010 yang mengamanatkan bahwa peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat perlu ditingkatkan demi tercapainya sinergi pusat dan daerah serta efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan program dan kegiatan Kementerian/Lembaga di daerah. pembinaan. pelaksanaan dan pengawasan. berkeadilan dan berkelanjutan. 5. Menjamin terciptanya integrasi. SE-696/MK 2010.PPN/11/2010. Untuk itu diperlukan upaya di setiap kementerian/lembaga dan daerah untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. 120 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Dalam hal ini peran Gubernur dalam menjalankan fungsi koordinasi. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 0442/M. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. serta Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Sinergi kebijakan pembangunan antara pusat dan daerah serta antar daerah. monitoring dan evaluasi serta fasilitasi pembangunan Kabupaten/Kota di wilayah provinsinya akan diperkuat termasuk koordinasi perencanaan pembangunan. 120/4693/SJ tentang Peningkatan Efektivitas Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Kementerian/Lembaga di Daerah serta Peningkatan Peran Aktif Gubernur Selaku Wakil Pemerintah Pusat.BAB V LANGKAH-LANGKAH PENGUATAN PEREKONOMIAN DOMESTIK SERTA PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 5. khususnya dalam kerangka perencanaan kebijakan diperlukan untuk: 1. pengawasan. 3. Selanjutnya telah dipersiapkan revisi PP Nomor 19/2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. antar waktu.

setiap provinsi dan kabupaten kota agar dapat segera membangun dan menyelenggarakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang menyediakan informasi dan pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan untuk kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. RPJMN dan RPJMD. dalam rangka meningkatkan kemudahan investasi dan berusaha. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 121 . Provinsi. 5. baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. dan Kabupaten/Kota adalah: 1. 5. baik di tingkat pusat maupun daerah. Sinergi dalam penetapan target pembangunan. Sinergi dalam kebijakan perijinan investasi di daerah.1 Peningkatan Iklim Investasi dan Iklim Usaha Dalam rangka meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di seluruh Wilayah Indonesia. 4. Adapun peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam penyelenggaraan PTSP dapat terlihat dalam Gambar 5. dan Sinergi dalam kebijakan pengendalian tingkat inflasi.1. perlu ditingkatkan kemudahan pelayanan perijinan dan non perijinan yang transparan baik prosedur maupun biayanya. Mendorong terbangunnya PTSP di seluruh Indonesia dan memfungsikan peran PTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan dan non perijinan.Sedangkan upaya bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang dapat dilakukan antara lain: 1. RKP dan RKPD). Peran pemerintah pusat. Standarisasi indikator pembangunan yang digunakan oleh kementerian/lembaga dan satuan perangkat kerja daerah.1. Sinergi berbagai dokumen perencanaan pembangunan (RPJPN dan RPJPD. 2. Untuk itu. 3. PTSP diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah pelayanan perijinan. 2. mengantisipasi terjadinya keterlambatan proses perijinan yang berlarut-larut dan mengurangi adanya pungutan pada perijinan sektor tertentu. 6. sehingga memudahkan berbagai stake holder untuk melaksanakannya. provinsi dan kabupaten/kota Peran konkrit yang perlu dikoordinasikan antara Pemerintah Pusat. memudahkan dalam memonitor kinerja pemrosesan perijinan terutama yang bersifat lintas sektor. Melakukan harmonisasi peraturan perundangan dan turunannya. Pengembangan database dan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan akurat.

2. pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian KumHAM agar dapat menyederhanakan proses Prolegnas. 3. Pemerintah pusat berperan untuk mendorong daerah untuk mengimplementasikan Permendagri 24 tahun 2006 tentang PTSP. Selain itu juga diperlukan dukungan dari DPR agar menyederhanakan proses revisi terhadap perundangan yang telah masuk dalam daftar Prolegnas. Untuk itu.Gambar 5. Peraturan perundangan yang tumpang tindih agar segera diajukan dalam Prolegnas untuk dibahas dan dilakukan revisi. Kementerian Dalam Negeri dan BKPM berperan untuk meningkatkan kualitas SDM PTSP di seluruh Indonesia melalui pemberian pelatihan-pelatihan.1 Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) KEMENDAGRI: Pembinaan Implementasi OTDA dan Monitoring KEMENKUM HAM: Penyusunan Peraturan dan Monitoring Peraturan KEMEN PAN DAN RB: Pembinaan Aparatur dan Penyusunan Struktur Organisasi Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Regulasi dan perijinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Provinsi:  Penyelenggaraan PTSP di 33 Provinsi  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di Provinsi PTSP di kabupaten/kota  Penyelenggaraan PTSP kabupaten/kota  Pelimpahan wewenang penerbitan perijiinan dan nonperijinan kepada PTSP  Penghapusan perda bermasalah di kabupaten/kota Peran pemerintah pusat Peran penting Pemerintah Pusat untuk meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha adalah: 1. 122 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .

peran Pemerintah Daerah menjadi sama pentingnya dengan Pemerintah Pusat dalam peningkatan investasi. 3. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN dan RB) berperan untuk menerbitkan pedoman organisasi kantor PTSP di seluruh Indonesia. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 2. Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat mengamati dan belajar dari Pemerintah Daerah lain dalam meningkatkan daya tarik investasi daerah.4. Penguatan kelembagaan pelayanan penanaman modal antara lain melalui peningkatkan status kelembagaan PTSP sebagai contoh penguatan bentuk kelembagaan dari kantor menjadi badan dengan syarat disesuaikan dengan kapasitas dan beban kerja serta tugas dan fungsi yang diembannya. Kegiatan ini harus dilakukan sesegera mungkin. tergantung prioritas dalam pembenahan perijinan. Penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP. Beberapa hal penting terkait penelaahan dan perubahan kebijakan dan aturan terkait PTSP di daerah antara lain adalah:  Revisi Perda-perda terkait dengan retribusi perijinan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip PTSP seperti prinsip penyederhanaan. Peran Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Dengan otonomi daerah yang semakin menguat. persyaratan dan waktu pelayanan. Beberapa hal yang perlu dikembangkan pemerintah daerah (provinsi. atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha terutama yang berskala menengah dan kecil. Daerah perlu membuat kebijakan yang mampu mencegah investor berpindah ke daerah lain.  Penyederhanaan jumlah perijinan dengan menyatukan. kabupaten/kota) dalam rangka meningkatkan investasi di daerah antara lain adalah : 1. hal ini sangat penting karena kontribusi dunia usaha dalam menggerakan perekonomian di daerah memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam mencapai kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. (2) pengelolaan belanja daerah dalam kerangka investasi dan layanan publik untuk menyediakan pelayanan terpadu. 123 . Pemerintah Daerah diharapkan dapat berkreasi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di daerah masing-masing melalui berbagai kebijakan.  Telaah kebijakan dan peraturan lain dapat dilakukan secara berjenjang (satu persatu) maupun paralel (sekaligus). Investor akan memilih lokasi yang menawarkan peluang keuntungan lebih besar dengan risiko lebih kecil. Meningkatkan komitmen pemerintah dalam mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian. Beberapa instrumen kebijakan untuk meningkatkan investasi adalah (1) peraturan perundangan dalam kerangka regulasi. karena daerah lain tersebut memiliki daya tarik investasi yang lebih tinggi.

5. Mengintegrasikan kebijakan maupun program pengembangan PTSP ke dalam Dokumen RPJMD dan RPJPD. melalui peningkatan koordinasi dengan Muspida termasuk unsur penegak hukum di daerah dalam menyelesaikan berbagai konflik/sengketa di daerah. 9. 124 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . melalui berbagai kebijakan pemerintah daerah yang kondusif antara lain melalui deregulasi dan debirokrasi yang dituangkan dalam berbagai peraturan pemerintah daerah (perda/perkada dll). terutama terkait dengan pemenuhan persyaratan ijin. RW. 6. maupun cetak) serta mengikuti berbagai kegiatan promosi melalui pameran dan lainlain. Meningkatkan akses lahan usaha di daerah. koordinasi lintas sektor dan penataan kelembagaan serta peningkatkan sumber daya aparatur yang mengelola bidang pertanahan.   4. Memberikan input pada Kementerian teknis di tingkat pusat untuk membenahi kebijakan perijinan. Penerbitan kebijakan atau peraturan untuk mencegah adanya pungutanpungutan di tingkat pemerintahan yang lebih rendah (kecamatan. Meningkatkan keamanan usaha. melakukan promosi investasi baik di tingkat nasional. desa/kelurahan. maka pemda berkewajiban meningkatkan persentase belanja modal dalam APBD khususnya untuk infrastruktur di daerah dan melalukan kerjasama antar daerah (KAD) serta meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta (KPS) dalam membangun infrastruktur yang memerlukan dana lebih besar lagi. RT). Penuangan kebijakan PTSP ke dalam dokumen pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan jangka panjang daerah (RPJPD). Hal tersebut dapat dilakukan dengan penataan regulasi. Pemerintah daerah juga berkewajiban meningkatkan akses ketersedian lahan usaha di daerah sesuai pembagian kewenangan dalam peraturan perundang-undangan dan tidak menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah. Pembebasan biaya retribusi bagi kategori usaha tertentu misalnya pengusaha mikro-kecil. regional maupun internasional dengan berbagai media (elektronik website. sesuai dengan kewenangan yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. sehingga dunia usaha dapat tumbuh dan berkembang dalam meningkatkan perekonomian di daerah. dengan maksud dan tujan: (1) Untuk menjamin bahwa setiap tahunnya PTSP mendapatkan anggaran dari APBD dan (2) Untuk menjamin ketersediaan pendanaan yang diperlukan bagi pengembangan pengelolaan PTSP secara berkelanjutan. Meningkatkan promosi investasi daerah. Meningkatkan infrastruktur daerah. Mendorong peran dunia usaha dalam perekonomian daerah. 7. Selain menjadi kewajiban pemerintah pusat dalam meningkatkan infrastruktur. 8.

Menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) di seluruh PTSP di Indonesia. mudah dipahami dan diakses. (3) Mekanisme kerja yang jelas. Melaksanakan harmonisasi regulasi antar daerah dan antara pusat dan daerah yang mendukung investasi. melalui: 1. 4. pemerintah daerah perlu mengevaluasi dan menghapus perda yang cenderung membebani pengusaha dan kurang jelas tujuan serta peruntukannya. Sejak tahun 2002 hingga 2010. mendelegasikan wewenang perijinan ke PTSP dan membangun dan mengimplementasi PPTSP sebagai pusat pelayanan berbagai perijinan. transparan. dukungan dan peran dari pemerintah daerah dalam meningkatkan pelayanan perijinan dan non perijinan. Hal ini dimaksudkan agar para investor hanya perlu datang ke satu lokasi. yang mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Mendorong agar seluruh proses perijinan dan non perijinan dapat dilakukan di PTSP. dan (4) Disediakan layanan pengaduan. 5.Selain itu. tidak perlu mendatangi tempat yang terpisah. Untuk mendukung hal ini perlu didorong langkahlangkah: (1) Peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penyusunan regulasi.285 peraturan daerah yang dibatalkan karena dianggap bermasalah (Ditjen Keuanganan Daerah. prasarana dan media informasi yang memadai. Kemendagri). baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. 3. perlu adanya bantuan. melalui peningkatan : (1) SDM yang profesional dan memiliki kompetensi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 125 . Dalam merespon pentingnya PTSP sebagaimana Permendagri 24 tahun 2006. 24 tahun 2006 untuk mempercepat dan memudahkan proses perijinan dan non perijinan. serta (3) Mekanisme pembatalan peraturan-peraturan daerah yang bermasalah. (2) Sarana. termasuk PTSP-PM (Penanaman Modal) yang sering berlokasi di tempat yang berbeda agar dapat ditempatkan di PTSP sebagai unit perangkat daerah. Pemda agar tidak menyusun perda yang hanya bertujuan untuk meningkatkan PAD. pemerintah daerah perlu segera menerbitkan Perda pembangunan PTSP. Mengoptimalkan penyelenggaraan dan fungsi PTSP. Strategi Peningkatan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan Dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi dan iklim usaha di tingkat daerah. Mendorong Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Penyelenggaraan PTSP perlu ditetapkan oleh kepala daerah sebagai unit perangkat daerah. total terdapat 2. 2. (2) Pemantauan dan evaluasi atas peraturan-peraturan daerah yang menghambat investasi dan perdagangan antar daerah (dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan).

5. Pendanaan. dan Perencanaan dan koordinasi antar instansi yang perlu ditingkatkan. 4. Memberikan Bantuan subsidi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). proses pembebasan lahan cenderung lama dan berlarut-larut. Kelembagaan. sementara ini bidang pertanahan masih merupakan urusan pusat dan dalam hal ini dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). 3. penetapan BPHTB merupakan kewenangan pemerintah daerah. Walaupun sebenarnya bidang pertanahan sudah merupakan bagian dari urusan daerah. perlu strategi pembenahan yang dapat mempercepat proses pengadaaan tanah. antara lain: 1. Untuk itu dalam rangka Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 126 . 2. dukungan dan peran dari pemerintah daerah adalah bidang pertanahan. dukungan dan peran dari pemerintah daerah terkait bidang pertanahan yang diharapkan antara lain adalah: 1. Besaran dan bentuk ganti kerugian. Selama ini. Dalam pelaksanaannya terkait dengan upaya percepatan peningkatan daya saing daerah. yang perolehannya dapat dilakukan melalui proses pengadaan tanah. Selama ini ganti kerugian mengacu pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang seringkali tidak mencerminkan nilai tanah yang sebenarnya dan bentuk ganti kerugian yang lebih mengutamakan dalam bentuk uang. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Untuk itu. Permasalahan pendanaan untuk ganti kerugian terhadap tanah yang dijadikan sebagai lokasi pembangunan infrastruktur kadang tidak tersedia secara optimal karena anggaran yang ada terbatas atau karena harga tanah yang tiba-tiba melonjak tinggi akibat adanya spekulasi terhadap harga tanah. Strategi Peningkatan Kegiatan Pertanahan di Daerah Salah satu bidang yang memerlukan bantuan. Sejak berlakunya UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Saat ini. Namun demikian diharapkan permasalahan proses pengadaan tanah dapat teratasi dengan terbitnya UU No. bantuan pemerintah daerah untuk kegiatan bidang pertanahan sangat diperlukan. proses perencanaan dan koordinasi antar instansi dan Pemda yang terlibat dalam pengadaan tanah untuk pembangunan masih belum baik. Pengadaan tanah selama ini dilaksanakan oleh suatu Panitia yang bersifat ad-hoc dan belum ada lembaga yang bertanggungjawab atas pengadaan tanah untuk kepentingan umum secara khusus. namun mengingat keterbatasan kemampuan daerah terutama terkait sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Bentuk bantuan. Waktu yang diperlukan untuk pembebasan lahan perlu dipercepat.Strategi Pengadaan Tanah untuk Pelaksanaan Pembangunan Pelaksanaan pembangunan termasuk pembangunan infrastruktur dalam kenyataannya memerlukan tanah.

Untuk itu pemerintah daerah dapat melakukan bantuan identifikasi bidang-bidang tanah yang sudah sesuai dengan kriteria perundang-undangan sehingga proses sertifikasi dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif. Melakukan identifikasi lokasi-lokasi potensial yang menjadi obyek sertifikasi tanah. Pada akhirnya dapat berakibat rendahnya daya saing suatu daerah.mendukung peningkatan kegiatan ekonomi daerah. 5. Ketersediaan peta pertanahan yang akurat dapat membantu mempercepat kegiatan sertifikasi tanah. konflik dan perkara pertanahan. Namun demikian.1. Jaminan kepastian hukum hak atas tanah merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan daya saing daerah. sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah luas yang terdiri dari 33 provinsi dan 491 kabupaten/kota dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah harus didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang berkualitas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah percepatan kegiatan pendaftaran tanah (sertifikasi). 3. 2. menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup. upaya ini sering terbentur dengan tidak siapnya bidang tanah yang akan disertifikasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Memberikan dukungan dalam pengukuran dan pemetaan wilayah . Koordinasi dan sinergi yang dilaksanakan dalam keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) mencakup Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 127 . sehingga menimbulkan potensi sengketa. Adanya keterbatasan dana yang dimiliki menjadikan peran bersama antara pemerintah pusat.2 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari pembangunan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik karena dapat menekan ekonomi biaya tinggi. permasalahan yang dihadapi adalah masih banyaknya bidang-bidang tanah yang belum terdaftar (tersertifikat). pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi besaran BPHTB bagi pelaku usaha dan masyarakat yang ingin berusaha di daerahnya atau bahkan membebaskan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pemberian subsidi. Indonesia. Dalam pembuatan peta pertanahan pemerintah daerah diharapkan membantu BPN di daerah melalui identifikasi awal lokasi yang akan dipetakan serta bantuan identifikasi lokasi pada pelaksanaan survei termasuk transportasi terutama pada wilayah-wilayah terisolasi yang sulit terjangkau. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya minat investasi di wilayah tersebut. Selain itu. terjangkau dan ramah lingkungan untuk merekatkan seluruh wilayah dalam satu kesatuan NKRI yang maju dan sejahtera. Dalam bidang pertanahan. pembangunan infrastruktur juga diperlukan untuk mewujudkan pemerataan. pemerintah daerah dan swasta perlu disinergikan dengan baik.

pembagian peran dan kewenangan. memberikan dana penjaminan (guarantee fund).2 Mekanisme Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Melalui Skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Multilateral. menetapkan standar pelayanan dan sertifikasi. Baik pemerintah pusat maupun daerah mempunyai tanggung jawab untuk menyelenggarakan pelayanan infrastruktur yang bersifat public goods sesuai prinsip Public Service Obligation atau Universal Service Obligation (PSO dan USO). menyusun strategi dan kebijakan sektor. Gambar 5. menjamin keselamatan masyarakat pengguna.13 Tahun 2010 yang merupakan penyempurnaan atas 128 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pemerintah memberikan dukungan kerjasama dengan swasta (KPS) di bidang infrastruktur dengan diterbitkannya Perpres No. Pemerintah harus menyiapkan regulasi yang kondusif bagi partisipasi swasta. mengawasi aturan main (rule of the game) untuk melindungi kepentingan swasta dan sekaligus kepentingan masyarakat/konsumen. Bilateral. membangun dan mengelola infrastruktur sebagai penggerak pembangunan. pengembangan kerangka kerja bersama dan pembagian tugas dan tanggung jawab termasuk pembiayaan. serta memberikan lisensi operator yang diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip yang optimal dan transparan bagi kepentingan publik dan investor. Development Bank APBN Rupiah Dukungan dan Jaminan Pemerintah Penyiapan Proyek Pihak Swasta Proyek BUMN/D Proyek KPS PPP Book Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Peran pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah yaitu agar dapat berperan sebagai fasilitator dalam merencanakan.

 Mengembangkan transportasi umum massal perkotaan berbasis rel di wilayah metropolitan dan berbasis bis di wilayah perkotaan.  Meningkatkan strategi pelayanan angkutan antar moda dan intermoda.  Meningkatkan kemampuan dan kecepatan tindak awal pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan dan bencana. Mendukung peningkatan daya saing sektor riil.  Pembenahan manajemen transportasi umum perkotaan. 3. penataan jaringan dan ijin trayek. termasuk mempertahankan dan meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan dalam kondisi yang terbatas.  Meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan transportasi.  Meningkatkan kondisi pelayanan prasarana jalan sesuai dengan SPM.  Pengembangan sarana dan prasarana transportasi perdesaan.  Memenuhi perkembangan teknologi dan ketentuan internasional.  Penerapan mekanisme unbundling guna mempercepat pembangunan sarana dan prasarana transportasi. Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). 25/2007 tentang Penanaman Modal. yang dilakukan dengan upaya-upaya :  Memberikan pelayanan transportasi minimal yang memadai dan merata.  Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan.Keputusan Presiden No. yang dilakukan dengan upaya-upaya:  Pengembangan outlet-outlet pelabuhan dan sarana pendukungnya. Pembiayaan oleh swasta terus didorong pemerintah melalui Undang-Undang No. 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Dalam 2. deregulasi pungutan dan retribusi di jalan.  Meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan transportasi mendukung pariwisata. sentra-sentra produksi pertanian dan industri.  Meningkatkan profesionalisme SDM transportasi.  Pemberian subsidi transportasi dan PSO angkutan.  Meningkatkan pelayanan pada koridor jenuh dan kesinambungan dengan transportasi sungai dan danau serta antarpulau (point to point).  Pengembangan sistem informasi muatan barang (cargo information system) serta pengembangan armada pelayaran nasional. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 129 .  Penegakan hukum. Strategi Peningkatan Infrastruktur Transportasi 1.  Mengurangi backlog pemeliharaan prasarana dan sarana transportasi.  Pengembangan sarana dan prasarana penghubung antar pulau.

maupun angkutan udara. Peningkatan kapasitas pelayanan infrastruktur (asset creation) melalui pembangunan baru maupun peningkatan dan perluasan cakupan infrastruktur yang ada. yang dapat dilakukan melalui integrasi dengan pergudangan dan kawasan industri di dalam hinterland-nya. baik dari aspek regulasi.  Penyusunan SPM dan pelaksanaan desentraliasasi sektor transportasi. angkutan laut. Debottlenecking juga perlu dititikberatkan pada titik-titik perpindahan antar moda transportasi serta akses keluar masuk pelabuhan laut maupun bandara yang ada. Peningkatan kapasitas serta cakupan wilayah pelayanan infrastruktur di daerah diperlukan dalam rangka meningkatkan dan memperluas pelayanan infrastruktur Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2. kota dan kabupaten yang ada. 3. Optimalisasi kinerja pelayanan infrastruktur yang ada (value creation) melalui upaya debottlenecking permasalahan pelayanan infrastruktur yang telah terbangun. 4. 130 . maka secara garis besar kebijakan dan strategi pengembangan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan infrastruktur di daerah perlu diarahkan kepada: 1. Optimalisasi kinerja pelabuhan maupun bandara .rangka keterjangkauan seluruh masyarakat untuk memanfaatkan jasa transportasi perlu dikaji ulang untuk optimalisasi kebijakan subsidi dan PSO. Pengoptimalan kinerja infrastruktur yang telah ada perlu diutamakan dalam rangka efisiensi dalam investasi untuk pembangunan infrastruktur karena dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan infrastruktur di daerah melalui investasi yang relatif rendah. restrukturisasi dan pemantapan desentralisasi sektor transportasi. Melanjutkan reformasi. dan  Peningkatan kelembagaan. terutama untuk angkutan kereta api. antara lain:  Pengembangan jaringan pelayanan transportasi secara antar moda dan intermodal. Alokasi dana untuk pemeliharaan prasarana jalan di daerah juga perlu ditingkatkan untuk mengatasi jalan dengan kondisi tidak mantap yang rata-rata mencapai hampir separuh dari total panjang jalan provinsi. SDM dan teknologi untuk peningkatan daya saing produk lokal/dalam negeri di sektor transportasi.  Peningkatan iklim kompetisi secara sehat agar dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan alternatif bagi pengguna jasa dengan tetap mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan umum yang terjangkau oleh masyarakat. kelembagaan maupun pengelolaan. Pembenahan sistem pengelolaan dan pengoperasian serta peremajaan angkutan umum kota dapat meningkatkan kapasitas angkut serta mobilitas orang serta mencegah maupun mengatasi permasalahan kemacetan lalu-lintas yang dapat menurunkan daya saing ekonomi kota. Dengan memperhatikan peta daya saing infrastruktur daerah yang ada.

Dalam rangka mendukung kelancaran arus barang.bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat maupun dukungan akses kepada pusat-pusat perekonomian daerah. misalnya untuk mendukung akses hasil produk pertanian daerah ke pasar. 6. 7. Pengembangan perkeretaapian untuk penumpang terutama di kota-kota besar. untuk mendukung peningkatan kapasitas maupun pembangunan jalan. Kerjasama dan sinergi antara Pusat dan Daerah juga diperlukan dalam peningkatan kapasitas infrastruktur seperti pelabuhan laut. Peningkatan dan perluasan layanan broadband di kabupaten/kota sebagai tulang punggung arus informasi yang berkontribusi signifikan kepada pertumbuhan dan daya saing ekonomi daerah. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 131 . termasuk dalam hal penyediaan lahan. penyediaan infrastruktur dasar seperti air minum dan sanitasi dan penyediaan infrastruktur energi dan telekomunikasi. Sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah maupun antara daerah dengan pusat akan memberikan dampak serta skala yang lebih besar dan menguntungkan bagi daerah dalam rangka peningkatan daya saing ekonomi daerah. Dukungan daerah diperlukan. 8. 4. pelayanan transportasi keperintisan. sesuai dengan adanya kewenangan Pemerintah Daerah untuk mengembangkan perkeretaapian di provinsi. Peningkatan partisipasi Daerah dalam pemenuhan kebutuhan energi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan meningkatkan daya saing energi daerah. pelaksanaan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK) 2011-2035. beberapa ruas jalan provinsi. bandara maupun prasarana jalan nasional yang ada di daerah. kabupaten maupun kota yang menjadi bagian dari rute utama arus barang perlu ditingkatkan dalam bentuk pelebaran serta peningkatan kelasnya agar mampu memikul beban lalu-lintas yang ada serta konsisten dengan kelas jalan nasional pada rute utama arus barang tersebut. pengembangan angkutan umum masal berbasis jalan (Bus Rapid Transit/BRT). Sinergi dan dukungan Daerah yang sangat 5. pengelolaan jaringan irigasi. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian. termasuk kepada masyarakat di wilayah perdesaan maupun terpencil. Pembangunan jalan baru yang menjadi kewenangan daerah perlu ditingkatkan. kabupaten maupun kota sesuai dengan Undang-Undang No. pelabuhan dan bandara baru. Pengembangan perkeretaapian di perkotaan tersebut harus terintegrasi secara multimoda dan antar moda dengan pengembangan sistem angkutan umum dan transportasi keseluruhan di daerah. Peningkatan sinergi pengembangan infrastruktur antar daerah dan antara daerah dengan pusat. Peningkatan dan perluasasan infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan layanan air minum dan sanitasi.

3 Peningkatan Pembangunan Industri di 6 Koridor Ekonomi Pengembangan MP3EI berfokus pada 8 program utama. Kebutuhan pendanaan untuk penyediaan infrastruktur yang begitu besar serta keterbatasan kemampuan investasi pemerintah serta dalam rangka memanfaatkan efisiensi yang ditawarkan swasta.penting dalam pengembangan infrastruktur yang dilaksanakan Pusat di daerah adalah dalam hal penyediaan lahan. Tabel 5. yaitu: pertanian. 5. maka perlu dirintis maupun ditingkatkan pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui investasi swasta melalui pola Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). dukungan Daerah diperlukan baik dari aspek regulasi yang dibutuhkan maupun penyediaan lahan. Maluku √ √ √ 132 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . industri. Adapun pemetaan kegiatan-kegiatan ekonomi utama di masing-masing koridor dapat dilihat pada Tabel 5. energi. pariwisata. telematika dan pengembangan kawasan strategis. Kegiatan utama di setiap koridor ditetapkan berdasarkan unggulan di masing-masing Koridor.1 Pemetaan Untuk Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Utama Dari Masing-Masing Koridor Kegiatan Ekonomi Utama Besi Baja Makanan Minuman Tekstil Peralatan Transportasi Perkapalan Nikel Tembaga Bauksit Kelapa Sawit Karet Pertanian Pangan Pariwisata Telematika Sumatera √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jawa Kalimantan √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. kelautan. Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama yang disesuaikan dengan potensi dan nilai strategisnya masing-masing di koridor yang bersangkutan. Dalam rangka mendorong pelaksanaan proyek KPS yang telah ada di dalam PPP Book. pertambangan. dalam pelaksanaan MP3EI di setiap koridor ekonomi memerlukan upaya-upaya perbaikan iklim usaha dan iklim investasi sehingga pengembangan kegiatan ekonomi utama di setiap koridor ekonomi dapat berjalan secara optimal sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah. Untuk itu.1.1. Pemerintah Daerah perlu melakukan kajian serta memberikan fasilitas dalam bentuk penyiapan proyek KPS baik melalui anggaran daerah maupun bekerjasama dengan Kementerian/Lembaga. 9. Peningkatan investasi swasta dalam pengembangan infrastruktur daerah melalui skema Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS).

Peran Pemerintah Daerah khususnya dalam perbaikan iklim investasi dan iklim usaha. Pembatalan Perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). Dukungan pertanahan untuk mendukung iklim investasi. Perbaikan kepastian hukum yang dilakukan melalui reformasi regulasi secara bertahap di daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk lebih meningkatkan kejelasan dan konsistensi dalam implementasinya. 2. Perbaikan logistik nasional dan daerah dilakukan melalui pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi serta didukung oleh infrastruktur yang memadai melalui skema pendanaan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). maka dibutuhkan kerjasama dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam menciptakan iklim usaha dan iklim investasi yang baik di daerah sesuai dengan sektor unggulan di masing-masing daerah. Penyederhanaan prosedur dilakukan melalui Penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di 50 kabupaten/ kota dengan arah kebijakan yaitu penerapan SPIPISE di PTSP sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas PTSP. 4. Dalam mendukung pengembangan KEK yang direncanakan di 5 lokasi sampai tahun 2012. 6. 7. 3. 5. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 133 . Maluku √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Peran Pemerintah Pusat dan Daerah Untuk pelaksanaan program utama dan kegiatan utama dimaksud. diantaranya: 1.Kegiatan Ekonomi Utama Batu Bara Migas Jabodetabek Area KSN Selat Sunda Alutsista Peternakan Perkayuan Kakao Perikanan Sumber: MP3EI 2011 – 2015 Sumatera √ Jawa Kalimantan √ √ Sulawesi Bali – Nusa Tenggara Papua – Kep. Pelaksanaan sinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha di daerah.

(3) Meningkatkan efektivitas pelaksanaan program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan serta mendorong jaringan lembaga keuangan mikro termasuk ekonomi lokal. (2) Menyempurnakan mekanisme seleksi pemagangan di perusahaan. termasuk peraturan daerah.4 Penciptaan Kesempatan Kerja Khususnya Tenaga Kerja Muda Langkah-langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak untuk dilaksanakan adalah: (1) Membangun infrastruktur pengembangan kompetensi kerja. 3. Penyiapan sarana/prasarana. Pemetaan ini diperlukan untuk meningkatkan sinergi antar K/L dan antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan 2. swasta.5. baik milik pemerintah. Harmonisasi regulasi dilakukan pada tingkat undang-undang. pembiayaan dan pengelolaan lembaga pelatihan yang memenuhi aspek standar mutu kelembagaan menjadi prioritas. program pelatihan perlu dikembangkan secara fleksibel dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha/industri.1. di antaranya dengan menerapkan sistem manajemen mutu ( total quality management) atau standar manajemen lain yang kredibel dan akuntabel. kualitas. seperti misalnya standar manajemen ISO. Pemerintah pusat dan daerah dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi. Provinsi dan Kabupaten/Kota Langkah-langkah konkrit untuk peningkatan kesempatan kerja khususnya bagi tenaga kerja muda adalah: 1. dan (4) Meningkatkan akses kepada informasi peluang kerja. Program pelatihan dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. instruktur. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Pemerintah Pusat dengan pemerintah daerah perlu memetakan program/kegiatan pemagangan yang dilaksanakan oleh berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di tingkat nasional dan daerah. Infrastruktur pelatihan di lembaga pelatihan diperkuat dengan mengacu pada standar program dan SKKNI. Pemerintah Pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah perlu melakukan harmonisasi regulasi yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan. efektivitas dan efisiensi pelatihan. Menerapkan konsep pelatihan berbasis kompetensi. yang antara lain menargetkan kaum muda. 4. maupun perusahaan yang menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi. Peningkatan kinerja lembaga pelatihan ditujukan pada peningkatan relevansi. Peran Pemerintah Pusat. sebagai tahap awal dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten agar dapat bersaing dalam pasar global. peraturan pemerintah atau peraturan perundang-undangan lain yang lebih rendah. 134 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . serta standarisasi dan sertifikasi kompetensi. Meningkatkan manajemen lembaga pelatihan agar kredibilitas dan akuntabilitasnya terukur.

Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 135 . Melaksanakan fungsi pengembangan program insentif pembinaan pelatihan di tingkat kabupaten/kota. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Kerjasama antara Pemerintah dengan perusahaan penerima pemagangan juga harus diperkuat agar pemagangan yang difasilitasi oleh pemerintah benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat bermanfaat bagi perusahaan. 6. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. 2. Meningkatkan sinergi pelaksanaan berbagai program/kegiatan yang mendukung pengembangan usaha dan kewirausahaan oleh kementerian/lembaga. Selanjutnya. pemerintah daerah dan swasta di tingkat nasional dan daerah. peserta pelatihan kewirausahaan ini harus diseleksi dengan kriteria tertentu untuk memastikan keberlanjutannya. 3. informasi penyelenggaraan pelatihan dan informasi konseling. serta program insentif bagi lembaga pelatihan. Peran Pemerintah Provinsi 1. termasuk kredit usaha dan pengembangan jaringan pasar. ketersediaan suplai tenaga kerja dengan kompetensi tertentu.5. program dan memastikan ketepatan sasaran. yang berisi antara lain informasi lowongan pekerjaan. 4. Sasaran berbagai program/kegiatan tersebut harus selaras. Melaksanakan monitoring. kualifikasi maupun jumlahnya. Rencana pelatihan kerja provinsi ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. jenis. saling mengisi dan bidang usaha yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah. baik bidang. Mengembangkan sistem informasi pasar kerja. wirausaha muda yang telah mendapatkan pelatihan difasilitasi untuk memulai usahanya (inkubator bisnis). terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota. terutama daerah perdesaan dalam format standar yang dapat diakses oleh pencari kerja dan calon pemberi kerja. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. Jangkauan layanan informasi pasar kerja diperluas ke daerah-daerah. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat provinsi yang bersangkutan. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. Selain itu. yang menghubungkan informasi lowongan kerja di kabupaten/kota. Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat provinsi. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat provinsi. Merencanakan dan melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan.

evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program peningkatan kinerja lembaga pelatihan di tingkat kabupaten/kota. 2. 6. Selain itu juga melaksanakan fungsi pengembangan program insentif bagi lembaga pelatihan. Fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pembinaan lembaga pelatihan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. bimbingan dan konsultasi penerapan pedoman. Memutakhirkan data informasi pasar kerja di tingkat kabupaten/kota. di antaranya melalui penyelenggaraan pelatihan. kualifikasi maupun jumlahnya. 136 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . jenis. 5. Menyusun perencanaan pelatihan kerja pada tingkat kabupaten/kota. baik bidang. 3. serta rencana pemenuhannya melalui optimalisasi seluruh sumber daya pelatihan pada tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. Mengkoordinasikan pelaksanaan program/kegiatan pengembangan kewirausahaan dan pemagangan di tingkat kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan dan mengintegrasikan kelompok/individu sasaran pemanfaat program sesuai dengan kebutuhan lokal. Melakukan verifikasi kelompok sasaran pemanfaat program kewirausahaan dan pemagangan. 7. 4. Meningkatkan kualitas dan kemutakhiran data informasi pasar kerja di tingkat provinsi. Melaksanakan monitoring. Rencana pelatihan kerja kabupaten/kota ini menjadi dasar untuk penyusunan program dan kegiatan pembinaan lembaga pelatihan. terutama kepada pembina pelatihan di tingkat kabupaten/kota.5. Melaksanakan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan. Perencanaan pelatihan ini meliputi rencana kebutuhan pelatihan. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di kabupaten/kota kepada pemerintah provinsi dengan tembusan kepada Pemerintah Pusat. termasuk pendirian lembaga pelatihan baru. 6. Peran Pemerintah Kabupaten/Kota 1. Fungsi ini di samping untuk keperluan pengendalian juga untuk keperluan perbaikan dan pengembangan program fasilitasi peningkatan kinerja lembaga pelatihan tahun berikutnya. Melaksanakan pelaporan kondisi pelatihan dan lembaga pelatihan di provinsi yang bersangkutan kepada Pemerintah Pusat.

(i) pengaturan penyaluran cadangan pemerintah. mutu dan gizi pangan. dan (n) Penyediaan statistik Pertanian untuk Sensus Pertanian 2013. (l) pengadaan kapal perikanan. 2. (d) Pengelolaan dan konservasi sebanyak. (k) Pengembangan SLPTT jagung. Menjaga aksesibilitas pangan yang dilakukan melalui upaya antara lain : (a) pengembangan sistem distribusi pangan yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien. penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik. (d) memberikan prioritas untuk kelancaran bongkar muat produk pangan. (f) Pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan dan benih ikan.2. (j) pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah. (k) pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan. dan (l) penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif. (c) penjaminan keamanan distribusi pangan.1 Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam Bab 4. Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan Dalam upaya mencapai 4 aspek utama ketahanan pangan. (e) menyediakan sarana dan prasarana distribusi pangan. antara lain saluran tambak di kawasan payau. (h) Penguatan dukungan lembaga penyuluhan bagi balai penyuluhan pertanian. tenaga penyuluh pertanian dan perikanan dan kelembagaan petani. (j) Penelitian dan pengembangan benih unggul padi tanaman pangan lainnya. Menjaga peningkatan produksi pangan yang dilakukan melalui: (a) Perluasan areal dan pengelolaan lahan pertanian. (h) menetapkan jenis pangan yang berdampak pada inflasi. rawa dan jaringan pengairan lainnya.5. (e) Pengembangan SLPTT padi. beberapa strategi dan upaya yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut : 1. (g) koordinasi kebijakan dalam perdagangan dan stabilisasi harga pangan. serta bangunan penampung air lainnya. pengolahan pangan dan pemasaran. (m) pengembangan kawasan perikanan budidaya yang memiliki sarana dan prasarana memadai.2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi 5. (i) Penyaluran bantuan sarana penanganan pasca panen. (f) pengembangan lembaga distribusi pangan masyarakat. (c) Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. tawar dan laut. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam pemberian insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 137 . (b) pengelolaan sistem distribusi pangan yang dapat mempertahankan keamanan.3 telah dijelaskan bahwa ketahanan pangan memiliki 4 aspek utama sebagai upaya membangun sistem ketahanan pangan. distribusi. (b) Pengelolaan air irigasi untuk pertanian. Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi. (g) Penyaluran pupuk bersubsidi.

06 33.9 5. revitalisasi mesin penggilangan padi untuk meningkatkan rendemen padi.5 juta ton pada tahun 2013 dan 10 juta ton pada tahun 2014.2 38. kurangnya pendapatan masyarakat.15 137.2 237. serta Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) guna mengurangi konsumsi beras per kapita sehingga sasaran utama surplus beras 10 juta ton dapat terpenuhi.8 2013 72. 2012 Catatan : 1) Tahun 2010 merupakan Angka Tetap BPS 2) Tahun 2011 menggunakan Angka Sementara BPS Penurunan konsumsi perkapita 1.2 3.6 6. 138 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .98 130.01 132.3.05 33.22% 1 Meningkatnya produksi padi sebesar 6. Dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton mulai tahun 2014.0 252.3 40.1 6. kurangnya ketersediaan pangan.2 37.7 (1.06 135. target sasaran produksi padi pada tahun 2012. System of Rice Intensification (SRI).2 Capaian dan Target Produksi Padi Tahun 2010 -2014 Tahun Sasaran Produksi (juta ton) GKG Peningkatan Beras (%) Jumlah Penduduk (juta jiwa) Total Kebutuhan Perkapita/ Tahun 139. Menjaga pemenuhan konsumsi dan kualitas pangan masyarakat yang dilakukan melalui: (a) Pengembangan diversifikasi konsumsi pangan dan peningkatan keamanan pangan.03 33. 4.1 244.5 3.5 10.5%/tahun mulai 2010 Konversi Gabah Kering Giling (GKG) ke beras tersedia untuk konsumsi : 56.0 241.8 3. Selain itu pula diperlukan dukungan lain seperti pencetakkan sawah baru dan optimasi lahan untuk memperluas areal tanam. Melalui kegiatan-kegiatan pendukung seperti Sekolah Lapang – Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). 2013 dan 2014 adalah sebagaimana terlihat dalam Tabel 5. serta gangguan akan pangan di daerah-daerah terkena bencana dilakukan melalui pemberian raskin kepada masyarakat berpendapatan rendah dan menyediakan cadangan beras pemerintah. Tabel 5. penyediaan alat mesin (alsin) pasca panen guna mengurangi nilai susut pada saat pasca panen.07 33.02 Surplus Beras Murni (juta ton) 4.0 2010 66.4 2014 76.3 43.1 Sumber : Kementerian Pertanian. Menanggulangi permasalahan pangan yang disebabkan karena kenaikan harga pangan.1) 37.3 persen pada tahun 2013 diharapkan mampu untuk mendukung tercapainya surplus sebesar 7.2. dan (c) pengembangan alternatif pangan non beras.99 Kebutuhan Beras (juta ton) 33. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas produksi padi.6 2 2011 65.1 7.5 248.2 2012 67. (b) pengembangan pangan olahan yang berbasis sumber daya lokal.

(2) penetapan tata ruang wilayah dan zonasi kawasan perairan serta kawasan konservasi laut. Target produksi padi tahun 2012 dan 2013 untuk masing-masing Provinsi dalam rangka menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. Potensi optimasi pemanfaatan lahan sawah masih cukup tinggi mulai dari Indek Pertanaman (IP) di bawah 1 (kurang dari 1 kali tanam dalam 1 tahun) dan di bawah 2 (dua kali tanam padi dalam 1 tahun). 3. (3) peningkatan kapasitas SDM daerah melalui pelatihan. langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi perikanan adalah: (1) pengembangan kawasan perikanan. perbaikan jaringan irigasi. termasuk melakukan koordinasi lintas SKPD dalam aspek perencanaan termasuk penyiapan masterplan. Pencetakan sawah baru tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi produksi padi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton GKG. meliputi antara lain: 1. penggunaan alsintan prapanen dan lain-lain. prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 adalah sejumlah 87 ribu ton GKG padi. Selain meningkatkan produksi pertanian perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi perikanan. Prakiraan kontribusi produksi pada tahun 2013 sebesar 289 ribu ton padi GKG. yang dilaksanakan Kementerian terkait bersama-sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara ekstensifikasi/ food estate Upaya perluasan areal lahan sawah baru direncanakan oleh BUMN dan pemerintah daerah sesuai dengan amanat Inpres 5 tahun 2011. antara lain kawasan minapolitan. IP dapat ditingkatkan dengan input kegiatan optimasi lahan seperti penyediaan paket sarana produksi lengkap. Dengan perhitungan sasaran kegiatan optimal lahan seluas 80 ribu ha. Pencetakan Lahan Sawah Baru Pencetakan sawah baru dapat dilakukan juga melalui pemanfaatan lahan terlantar untuk peningkatan produksi pangan sesuai peraturan perundang –undangan. pembinaan dan penyuluhan perikanan. pompanisasi. Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Daerah. Pencetakan sawah baru dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian. Dengan perhitungan pencetakan sawah pada tahun 2013 seluas 100 ribu ha. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 139 . 2. pelaksanaan dan penganggaran.3. Optimasi Lahan dan Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) Kegiatan Optimasi lahan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah.Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong peningkatan perluasan areal tanam.

002. Komponen PTT antara lain: (1) penggunaan benih varietas unggul.417.33 377. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 2.Tabel 5.65 529.654.23 10.15 90.3 Sasaran Produksi Padi Tahun 2012-2013 Menurut Provinsi No.223.34 134.943.74 30.67 587. SRI dapat menghemat benih (5-8 kg/ha) karena tanam 1 batang dengan umur bibit muda (kurang dari 15 hari).59 2011.48 3.034.138.94 15.953.96 No.69 2.26 667.33 1.488.27 1.41 9. Untuk meningkatkan produktivitas tersebut dilakukan melalui penerapan paket teknologi budidaya spesifik lokasi yang lebih dikenal dengan Pengelolaan sumberdaya dan tanaman secara terpadu (PTT).75 2.234. 140 . Teknologi SRI salah satunya adalah dalam rangka menerapkan hal tersebut.66 610.37 2.16 3.34 4.25 924.00 615.74 3.58 3.707 16. produktivitas padi masih dapat ditingkatkan hingga 6 ton GKG per Ha.92 571.82 12.69 552.27 507.593. meliputi antara lain: 1.69 2.88 67.132. Penerapan SRI (System of Rice Intensification) Air merupakan kunci utama dalam budidaya tanaman termasuk padi.829.85 95.74 Sumber : BPS (diolah ) Peran Pemerintah Daerah dan Petani Beberapa paket teknologi dalam rangka peningkatan produktivitas yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama dengan petani.911.51 9.000 ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 1.506.95 648.66 32.824. (2) penerapan teknik budidaya jajar Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 2.83 3.76 630.24 63.69 653.1 juta ton padi.43 12.65 869.37 4. maka sangat diperlukan teknologi budidaya padi hemat air.071.689.11 2.14 3.78 1.22 400.721.498.945.23 67.57 300.01 11.102. SL-PTT Padi Menurut data BPS.063.12 72. Kegiatan SRI dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Sasaran luas SRI pada tahun 2013 mencapai 200.95 2.67 498.78 885.65 10.265.12 282.351.63 10.60 1.52 1.35 606.12 1.37 670.137. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Sasaran (Ribu Ton) 2012 2013 1. maka masih terbuka peluang meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. Dengan kondisi ketersediaan air yang mulai terbatas baik kuantitas maupun kualitas.85 538.34 708.752.295.25 1.38 126.77 528.

Paddy mower. 6. Berdasarkan hasil survei BPS 2009 diketahui bahwa konversi GKG ke beras rata-rata adalah 62. Penelitian dan Pengembangan Kegiatan dan Penelitian dan pengembangan benih unggul sangat penting dilakukan guna mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi sehingga dapat menghasilkan produksi yang maksimal. dan (4) tambahan satu unit alat pengukur kadar air (moisture tester). Reaper. (4) Penerapan kalender tanam. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pengadaan sarana penanganan pasca panen meliputi Vertical dryer. (5) Pengendalian OPT. (3) Penambahan waterpolish. dan (3) Memperkuat fungsi BUMN dalam pengadaan dan pengelolaan cadangan gabah/beras pemerintah dengan target GP3K untuk tahun 2013 adalah 570 ribu ha. Perbaikan penggilingan yang dilakukan meliputi: (1) Mengganti alat dalam dua polisher. Pedal thresher. power thresher. Kegiatan penelitian dan pengembangan dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Sabit bergerigi. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) secara Intensifikasi Berawal dari Inpres 5 tahun 2011. Pengamanan Pasca Panen Melalui penerapan penanganan pasca panen yang tepat kehilangan hasil pasca panen dapat dikurangi. Penguatan Penyuluhan Upaya pencapaian target surplus beras 10 juta ton sangat memerlukan peran serta aktif penyuluh disetiap daerah. Stripper. Kegiatan GP3K dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian BUMN.74 persen. tanam satu batang.7 juta ton padi. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 141 . (2) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi dan distribusi gabah/beras. maka tugas Kementerian BUMN adalah (1) Mengoptimalkan fungsi BUMN dalam penyediaan lahan pada kawasan hutan dengan pola tumpang sari produksi untuk tanaman padi. Hasil kajian dan praktek perbaikan penggilingan padi yang dilakukan oleh Perpadi. dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 3 juta ton padi. (2) Penambahan dua ayakan kawat. dan (6) Panen tepat waktu.75 juta ha dengan prakiraan sumbangan produksi mencapai 21. (3) Penggunaan pupuk berimbang. 5. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi padi tahun 2013 direncanakan SLPTT seluas 3. Kegiatan SL-PTT dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah.legowo. mampu meningkatkan rendemen GKG menjadi > 65 persen. 3. terpal. Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Sehingga sangat diperlukan usaha penguatan 4.

30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan maka Pemerintah Daerah (Pemda) ikut serta bertanggung jawab dalam pengelolaan energi. Namun Pemerintah Pusat harus tetap berupaya menjaga keadilan dan pemerataan pembangunan dengan melaksanakan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang listrik perdesaan/lisdes. Hal ini selanjutnya akan tertuang dalam kerangka kebijakan yang dimulai dengan penyusunan rencana umum energi daerah (RUED). 30 tahun 2007 tentang Energi dan UU No. lebih baik diarahkan melalui kerjasama dengan pihak koperasi. karena 142 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . seperti untuk pengembangan biogas. dengan mengupayakan pengembangan energi mikrohidro dan tenaga surya. Skema KPS pembangkit listrik skala kecil-menengah akan lebih diarahkan untuk pengembangan pembangkit dengan energi terbarukan seperti tenaga sampah (waste to energy).2. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan. Adapun untuk skala kecil. Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik yang pelaksanaannya dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. khususnya untuk daerah dengan kemampuan pendanaan yang rendah serta memiliki kondisi rasio elektrifikasi yang rendah.penyuluh didaerah yang dikoordinasikan dan direncanakan oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah. Proyek pembangkit listrik yang menjadi prioritas dan potensial untuk didorong melalui skema pendanaan KPS adalah pembangkit batubara. Untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam penyediaan tenaga listrik. DAK lisdes dimulai pada tahun anggaran 2011. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah. Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan ijin usaha penyediaan tenaga listrik. pengaturan. hidro dan mulut tambang yang dikembangkan pada skala besar. terutama untuk daerah perkotaan. Undang-Undang tersebut memberi kesempatan kepada badan usaha swasta. pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. koperasi dan swadaya masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik. 5. Selain itu. pemda juga harus ikut serta dalam upaya mengalokasikan dana guna pembangunan infrastruktur energi di daerahnya.2 Peningkatan Rasio Elektifikasi dan Konversi Energi Sesuai dengan UU No. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan potensi pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur energi adalah melalui pengembangan kerjasama pemerintah dan swasta/KPS ( public private partnership/PPP).

dan (4) pembinaan dan pengembangan kelembagaan bisnis khususnya koperasi. terpencil dan perbatasan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib membangun infrastruktur pendidikan untuk mendukung peningkatan layanan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat di wilayah tersebut.3. Hal ini sangat diperlukan agar infrastruktur energi yang dikembangkan tidak hanya menaikkan sisi konsumsi semata.hal ini terkait dengan kesesuaian aspek kapasitas. yang bermukim di daerah tertinggal. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 143 . pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memastikan bahwa layanan pendidikan tersedia secara memadai dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Peran Pemerintah Daerah Dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur energi sebagai sarana pendorong pembangunan sosial ekonomi di daerah.1 Peningkatan Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam rangka menjadikan SDM sebagai isu sentral pembangunan daerah untuk mendukung upaya meningkatkan dan memperluas kesejahteraan rakyat. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bersinergi dalam memberikan layanan pendidikan agar kinerja pendidikan di setiap daerah makin meningkat. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Langkah-langkah kongkret untuk meningkatkan kinerja pendidikan dapat ditempuh sebagai berikut: 1. 5. maka masih diperlukan peranan Pemerintah Daerah dalam beberapa hal. Satuan pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi harus dapat mengakomodasi setiap anak usia sekolah yang memerlukan layanan pendidikan. namun dapat memiliki nilai tambah sosial dan ekonomi. (2) prioritasi alokasi pendanaan pembangunan di daerah termasuk efisiensi. Untuk itu. finansial dan sosial ekonomi. 2. (3) pengembangan potensi sosial dan ekonomi sebagai fokus pengembangan industrialisasi di daerah. pemerintah pusat. kemampuan pengelolaan. Bahkan layanan pendidikan harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. seperti: (1) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan.3 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 5. kepulauan. Menyediakan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.

4. agar pelayanan pendidikan dapat berjalan efektif. Untuk itu. 6. yang didukung oleh sistem informasi. yang disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab setiap tingkatan pemerintahan. 8. 10. yang berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh daerah di Indonesia. Menyusun mekanisme yang tepat terkait penggunaan anggaran pendidikan dari pusat dan daerah agar tidak terjadi misalokasi dan inefisiensi. kualitas dan validitas data. serta memperkuat sistem evaluasi.3. tugas dan tanggung jawab antara pemerintah pusat. Mendorong partisipasi masyarakat. 7. perlu meningkatkan efektivitas pemanfaatan anggaran pemerintah pusat yang dialokasikan melalui dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan. Untuk itu. provinsi dan kabupaten/kota dalam penyediaan layanan pendidikan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan desentralisasi pendidikan. para pemangku kepentingan dan dunia usaha dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan melalui pengembangan program kemitraan yang saling menguntungkan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. Memperjelas wewenang. Peran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota Agar pelayanan pendidikan lebih optimal dan pelaksanaan desentralisasi pendidikan lebih efektif. akreditasi dan sertifikasi satuan pendidikan untuk menjaga dan mengendalikan mutu pendidikan. Menata dan memantapkan sistem pembelajaran yang efektif di setiap satuan pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SPM). pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu meningkatkan kerjasama yang harmonis dengan memperhatikan peran. Mengupayakan pembangunan kapasitas kelembagaan di pemerintahan lokal dan melakukan supervisi untuk meningkatkan tata kelola satuan pendidikan di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. tugas dan tanggung jawab masing-masing. Untuk itu. serta kondisi empiris di lapangan (evidence-based decision making). 5. Meningkatkan koordinasi di antara lembaga pemerintahan pada semua tingkatan untuk memperlancar proses pembuatan kebijakan pendidikan. Menyediakan subsidi dan berbagai skema blockgrant untuk meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Menghitung proporsi anggaran yang harus disediakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdasarkan kapasitas fiskal. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu fokus dalam hal-hal sebagai berikut: 144 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 9. pemerintah daerah perlu menghitung kemampuan keuangannya untuk membiayai pendidikan. Dengan langkah-langkah kongkret yang dapat dilaksanakan secara nyata diharapkan layanan pendidikan yang bermutu makin meningkat.

Kandepag) dan satuan pendidikan agar dapat menjalankan tugas dan fungsi pelayanan pendidikan dengan baik. (3) memfasilitasi dan memberi kemudahan perpindahan guru antar kabupaten/kota dan antar satuan pendidikan dalam konteks penerapan best practices dan knowledge sharing dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Sementara. peran pemerintah pusat lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan melalui pelaksanaan rencana investasi dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Mendorong peningkatan peran masyarakat dalam rangka pemberian beasiswa bagi siswa miskin dan meningkatkan kapasitas pengelolaan pemberian beasiswa dalam hal pendataan. 5.1. 4.2 Percepatan Pengurangan Kemiskinan Untuk meningkatkan efektivitas upaya percepatan pengurangan kemiskinan dalam kerangka penguatan ekonomi domestik diperlukan sinergi antara pusat dan daerah. yang diiringi dengan pengurangan disparitas partisipasi pendidikan. 6. menghitung pula proyeksi kebutuhan anggaran per jenjang pendidikan yang disertai dengan perhitungan proyeksi perkembangan jumlah siswa dari tahun ke tahun berdasarkan perkembangan jumlah penduduk di setiap daerah. 2. perbatasan dan kepulauan. 3. Memastikan dan memperkuat institusi-institusi penyelenggara pendidikan (Dinas Pendidikan. Memperbaiki kesenjangan capaian pendidikan dan disparitas partisipasi pendidikan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya potensial yang tersedia. sehingga masing-masing daerah tetap dapat meningkatkan kemajuan pendidikannya. termasuk memenuhi kebutuhan guru di daerah tertinggal. Secara makro. 5. Selain itu.3. pemerintah daerah diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan seluruh kegiatan investasi di koridor-koridor ekonomi yang berada di daerahnya masing-masing. Menghitung kebutuhan nyata anggaran pendidikan dengan menyusun satuan biaya pendidikan per siswa pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan SPM. Memperbaiki ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah melalui (1) penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan bermutu sesuai dengan standar pelayanan minimal. (2) memperbaiki manajemen guru dengan menata persebaran pendidik yang lebih merata di seluruh daerah. terpencil. Menyediakan data dan informasi yang akurat untuk dijadikan dasar dan pertimbangan dalam perumusan dan pembuatan kebijakan pembangunan pendidikan nasional untuk dilaksanakan di daerah. Dengan sinergi yang tepat dan koordinasi yang intensif diharapkan pelaksanaan rencana investasi MP3EI akan mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas kesempatan kerja secara nasional. sasaran dan mekanisme penyaluran. secara makro pemerintah pusat dan Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 145 . Selanjutnya.

Oleh karena itu diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan mengamankan ketersediaan stok bahan pangan pokok serta pengamanan distribusi bahan pangan pokok. 2. program dan kegiatan yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan di daerah. Peran Pemerintah Pusat Dalam konteks kebijakan afirmatif. pemantauan dan evaluasi kemiskinan (Pro-poor Planning.melalui TKPKD Provinsi dan TKPKD Kabupaten/Kota . dan Meningkatkan koordinasi kelembagaan lintas SKPD serta peningkatan intensitas peran dan fungsi TKPKD dalam mengkoordinasikan.harus lebih intensif dalam melakukan: 1. Harga bahan pangan pokok yang stabil merupakan kunci dalam pengendalian tingkat inflasi. pemerintah pusat berperan dalam: 1. termasuk perencanaan program dan penganggarannya. Mengintegrasikan perencanaan seluruh program penanggulangan kemiskinan ke dalam mekanisme dan proses perencanaan reguler melalui Musrenbang. mensikronisasikan dan mengintegrasikan seluruh lembaga. Meningkatkan sinkronisasi perencanaan. serta Memberikan pengembangan kapasitas (capacity building) dan penguatan kelembagaan (institutional strengthening) bagi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD). Budgeting. 3. 2.pemerintah daerah berperan dalam menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak jatuh melalui upaya mempertahankan kestabilan harga bahan pangan pokok. Peran Pemerintah Daerah Pemerintah daerah . Monitoring and evaluation system atau P3BM) yang telah diterapkan di 66 kabupaten/kota dan program pengembangan sistem perencanaan partisipatif (P2SPP) atau yang dikenal dengan PNPM Mandiri Integrasi yang telah diterapkan di 75 kabupaten/kota. Dalam konteks peningkatan kualitas implementasi program dan kegiatan di daerah. 146 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . pemerintah pusat telah memberikan perangkat (tools) yang terkait dengan sistem perencanaan. Merumuskan strategi dan kebijakan 4 (empat) klaster Program Penanggulangan Kemiskinan. 3. penganggaran dan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah. penganggaran.

Hal ini dengan mengingat amanat Pasal 126 UU No 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang mewajibkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan dan fasilitas kepada Penyelenggara Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 147 .1 Persiapan Pemilu 2014 dan Pilkada Langkah utama yang diperlukan dan sangat mendesak dilakukan adalah memberikan memberikan fasilitasi dan dukungan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Pemilu dalam melaksanakan amanat perundang-undangan untuk menyelenggarakan Pemilu 2014. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib memberikan bantuan dan fasilitas berupa:  Penugasan personel pada sekretariat Panwaslu kabupaten/kota.5. Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Adapun dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 1.  Kelancaran transportasi pengiriman logistik. 2.  Pelaksanaan sosialisasi.  Kegiatan lainnya yang pelaksanaannya dilakukan setelah ada permintaan dari Penyelenggara Pemilu. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Dalam keadaan tertentu Pemerintah dapat membantu pendanaan untuk kelancaran penyelenggaraan pemilihan gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.4. Pemerintah dan Pemerintah Daerah masing-masing perlu melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Kepolisian Daerah (Polda) untuk menyiapkan pengamanan yang optimal untuk keberlangsungan pelaksanaan setiap proses tahapan pemilu. Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Panwaslu kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS)  Penyediaan sarana ruangan sekretariat Panwaslu kabupaten/kota.  Monitoring kelancaran penyelenggaraan Pemilu.4 Pemantapan Stabilitas Politik 5. 3.

3 Tahapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR. 02/SPB/M. 63/2011 tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri. 43/1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian yang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. Penyusunan RUU ini untuk menggantikan UU No. 141/PMK. DPD dan DPRD Tahun 2014 Sumber: KPU.01/2011 tentang Penundaan Sementara Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. Di samping itu.2 Perbaikan Kinerja Birokrasi dan Pemberantasan Korupsi Strategi Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Optimalisasi kinerja birokrasi sangat tergantung pada kapasitas. (2) PP 44/2011 tentang Pemberhentian PNS. kompetensi. Dalam masa penundaan tersebut. dan (3) Permenpan & RB No. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan No.PAN-RB/8/2011. yang ditetapkan melalui Peraturan Bersama antara Menteri PAN & RB. Dalam rangka memperbaiki manajemen kepegawaian negara. dalam hal ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). saat ini sedang dilakukan pembahasan antara pemerintah dengan DPR dalam rangka penyusunan RUU Aparatur Sipil Negara (ASN). No. pemerintah telah mengeluarkan kebijakan moratorium penerimaan PNS. 2012 5. integritas dan kinerja dari SDM Aparatur. 800-632 Tahun 2011.Gambar 5. instansi pusat dan daerah diharapkan dapat melakukan penghitungan kebutuhan jumlah PNS yang tepat berdasarkan analisis jabatan dan beban kerja 148 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Sedangkan beberapa kebijakan yang telah berhasil diterbitkan pada tahun 2011. No.4. antara lain: (1) PP 46/2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS.

3. 2. telah diterbitkan PermenPAN & RB Nomor 26 tahun 2011 tentang Pedoman Perhitungan Jumlah kebutuhan PNS untuk Daerah. pada tahun 2012 ini akan diselenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi 4. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 149 . K/L/I dapat membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. ULP/Pejabat Pengadaan pada Kementerian/Lembaga/PerguruanTinggi/BUMN yang tidak membentuk LPSE. Sebagai dasarnya. model/sistem seleksi penerimaan dan penempatan pegawai. diharapkan SDM Aparatur dapat menjadi pendorong perubahan dan peningkatan kinerja di lingkungan pemerintah daerah. Sebagai tindak lanjutnya. 5. khususnya diklat teknis terampil. turut memberikan kontribusi bagi peningkatan daya saing birokrasi daerah. 3.125 tenaga Analisis Jabatan (Anjab) di K/L/Pemda yang nantinya diharapkan dapat disusun peta jabatan dan profil kebutuhan PNS pada seluruh instansi pusat dan daerah.untuk melakukan penataan organisasi (rightsijing) dan penataan PNS dalam kerangka pelaksanaan reformasi birokrasi. Gubernur/Bupati/Walikota berkewajiban membentuk LPSE untuk memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. 2. sistem promosi/demosi dan mutasi. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan diklat pegawai. baik pusat maupun daerah. Strategi Perluasan Penerapan E-Procurement Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperluas penerapan e-procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di seluruh instansi pemerintah. sehingga secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan peta SDM Aparatur dan berbagai kebijakan yang telah diterbitkan tersebut. maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Memperkuat manajemen pengembangan kapasitas dan profesi pegawai dengan membangun sistem pengembangan karir dan kapasitas pegawai yang profesional. Melalui strategi tersebut. 4. Melakukan realokasi penempatan pegawai sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. dapat melaksanakan Pengadaan secara elektronik dengan menjadi pengguna dari LPSE terdekat. Memperkuat manajemen SDM pegawai dengan membangun sistem pola karir. maka strategi yang dapat ditempuh dalam rangka peningkatan kualitas SDM Aparatur oleh pemerintah daerah adalah antara lain: 1. Melakukan penataan kepegawaian daerah dengan menghitung kebutuhan pegawai sesuai dengan kebutuhan riil (right sijing).

dilakukan melalui penetapan aksi sebagaimana tercantum dalam Inpres No. pemerintah juga telah menetapkan beberapa kebijakan terkait. Menyusun Rencana Aksi Menuju opini WTP dengan membangun infrastruktur pengelolaan keuangan daerah yang kuat. upaya lain yang dilakukan dalam rangka perluasan penerapan eprocurement. diharapkan dapat mendorong pencapaian kinerja pemerintah darah yang lebih baik. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. kepala SKPD) untuk mencapai kualitas terbaik laporan keuangan pemerintah daerah (opini WTP) berikut aksi dan instruksi yang jelas atas komitmen yang telah ditetapkan. sekurang-kurangnya 75 persen dari seluruh belanja K/L dan 40 persen belanja Pemda (Prov/Kab/Kota) yang dipergunakan untuk pengadaan barang/jasa wajib menggunakan SPSE melalui LPSE sendiri atau LPSE terdekat. 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012. Kegiatan bimtek/diklat bertujuan untuk memberikan pemahanan praktis kepada para pengelola keuangan agar mampu 2. dengan LKPP sebagai instansi penanggung jawab. Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. antara lain meningkatnya jumlah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjadi 60 persen pada akhir tahun 2014. Dengan dicapainya opini WTP. antara lain Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara dan Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah.  peningkatan kompetensi dan kapasitas SDM pengelola keuangan daerah melalui penerimaan pegawai baru dan peningkatan kualitas pelaksanaan bimtek/diklat bagi para pengelola keuangan negara. DPRD.Selain langkah di atas. Berdasarkan peta pencapaian opini BPK atas Laporan Keuangan Pemda sampai tahun 2010. Dalam Inpres tersebut telah dirumuskan program aksi berupa Pelaksanaan Transparansi Proses Pengadaan Badan Publik. maka strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan opini dan kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) antara lain adalah: 1. Strategi Peningkatan Opini/Kualitas Laporan Keuangan Daerah Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. antara lain (minimal) terdiri dari:  perbaikan sistem. 150 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah dalam APBN/APBD tahun 2012. Pemerintah telah menetapkan beberapa sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah daerah. Meningkatkan komitmen dan pemahaman dari pimpinan pemerintah daerah (kepala daerah. kolusi dan nepotisme (KKN). prosedur dan pelaporan pengelolaan keuangan dan barang milik daerah (sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah).

 PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. antara lain:  PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Melaksanakan/memperhatikan peraturan/pedoman terkait peningkatan kualitas laporan keuangan. laporan realisasi anggaran.  Surat Keputusan Kepala BPKP Nomor Kep-420/K/2007 tentang Pedoman Review Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Pendampingan penataan aset. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 151 .  Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.  PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. b. SIMDA gaji. penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK.  Inpres Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Akuntabilitas Keuangan Negara. Penyediaan sistem pengelolaan keuangan berbasis komputer (SIMDA keuangan. laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. 4. dalam menyusun neraca daerah. c. SIMDA BMD/aset. d. Memanfaatkan kegiatan-kegiatan KL yang bertujuan memfasilitasi/membantu pengelolaan keuangan daerah:  Asistensi yang diberikan BPKP pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. Pendampingan penyusunan sistem akuntansi dan SOP Pengelolaan Keuangan.  Inpres Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi dan Pembinaan Aset Daerah.    3. e.  Permenkeu Nomor 242 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Insentif Daerah Tahun Anggaran 2012 (persyaratan opini WTP dan WDP untuk mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) TA 2012).  PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. Pendampingan penyusunan laporan keuangan. penguatan manajemen aset. penguatan/pengefektifan fungsi APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) dalam mengintensifkan langkah-langkah pencegahan terhadap korupsi pada pelaksanaan/realisasi APBD. Bimtek Pengelolaan Keuangan. dll. penguatan SPIP sesuai PP 60 tahun 2008.

Peningkatan kapasitas aparat pengawasan intern pemerintah daerah. Asistensi yang diberikan Kemendagri pada pemerintah daerah untuk meningkatkan opini laporan keuangan daerah sebagai berikut: a. Permendagri ini akan disosialisasikan secara bertahap. b. dan c. Membina Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan APBD. sehingga terwujud manajemen berbasis kinerja pada lingkungan birokrasi pemerintah. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Kebijakan Bantuan Sosial. d. g. c. Pengembangan dan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP). Pengembangan dan penyelenggaraan sistem akuntansi pemerintah daerah. baik pusat maupun daerah. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. seiring perkembangan dan penerapan sistem perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja pada seluruh instansi pemerintah. Setelah ditetapkan. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Perda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menuju opini WTP. Namun demikian. Implementasi SAKIP pada awalnya berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Ruang lingkup pendampingan dalam Mou antara lain: a. f. BPKP bersama beberapa pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang belum berhasil memperoleh opini WTP atas LKPD. melalui serangkaian program dan kegiatan yang dilaksanakan dengan dukungan anggaran negara. antara lain: 152 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . e. Strategi Penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Akuntabilitas kinerja merupakan wujud pertanggungjawaban instansi pemerintah. b. Kementerian Dalam Negeri saat ini sedang menyusun Permendagri tentang Pedoman Penerapan Standar Akuntansi berbasis Akrual. Membina Pemerintah Daerah dalam Pelaksanaan dan Penatausahaan Pengelolaan Keuangan Daerah. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah. maka implementasi SAKIP harus juga merujuk pada peraturan perundang-undangan yang ada. Membina Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Barang Milik Daerah. pusat dan daerah. dalam mencapai misi dan tujuan organisasi. Hal inilah yang mendasari diterapkannya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).

Permenpan dan RB Nomor 35 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011. selain pencapaian indikator tersebut. melalui koordinasi Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi dilakukan evaluasi dan penilaian. 2. 2. dibandingkan dengan dokumen perencanaannya. serta dilengkapi dengan analisis hasil pengukuran. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Menyusun laporan akuntabilitas kinerja secara sistematis. maka instansi pemerintah harus menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) setiap tahunnya. strategi yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan akuntabilitas kinerjanya. dan 2. Rencana Strategis pada setiap SKPD. 3. 4. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 4.PAN/2004 tentang Pedoman Umum Evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. dapat dituangkan dalam Laporan atau lampiran laporan. Indikator Kinerja Kegiatan dan dilakukan pengukuran hasil kinerjanya. harus dimanfaatkan dengan baik sehingga terwujud konsistensi antara rencana yang telah ditetapkan dengan implementasinya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Indikator-indikator kinerja yang menjadi target setiap tahunnya.1. komprehensif dan secara tepat mampu menyajikan kinerja yang dihasilkan dengan indikator yang terukur. Memiliki dokumen perencanaan yang baik. valid dan sedapat mungkin dalam bentuk kuantitatif. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 153 . antara lain Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). khususnya bagi setiap pimpinan unit kerja. harus dapat diukur secara tepat. yang dilaksanakan berdasarkan. dalam bentuk Indikator Kinerja Utama (IKU). LAKIP tersebut. Dokumen perencanaan tersebut. Setiap kinerja yang dihasilkan oleh instansi. Surat Keputusan Menpan Nomor: KEP-135/M. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran Daerah. Apabila terdapat data dan informasi tambahan. Oleh karena itu. Oleh karena itu. penting bagi setiap daerah memiliki perencanaan kinerja tahunan secara terukur dan menerapkan kontrak kinerja di setiap unit kerja instansi pemerintah. sehingga mendapatkan predikat yang lebih baik dari hasil penilaian LAKIP-nya. setiap instansi pemerintah harus merumuskan dengan baik dan telah memiliki indikator yang tepat. Sebagai wujud implementasi SAKIP tersebut. 3. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. yakni: 1. harus diungkapkan pencapaiannya dengan data dan informasi yang jelas. antara lain: 1. Oleh karena itu. sebagai penjelasan atas kelengkapan kinerja yang telah dicapainya.

Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah. struktur tarif dan waktu standar untuk ijin-ijin tertentu yang mungkin sejalan dan tidak sejalan dengan keputusan menteri yang berlaku untuk ijin yang sama. perlu upaya bersama untuk mengatasi permasalahan yang membutuhkan perbaikan regulasi dan perijinan. 5.5. dibutuhkan koordinasi yang lebih baik antara dinasi- 154 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . penetapan atau perbaikan regulasi dan perijinan. BPKP Perwakilan di setiap provinsi.1 Regulasi Untuk mendukung realisasi percepatan dan perluasan kegiatan ekonomi utama. yakni Kementerian PAN dan RB. Mempercepat penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang. Kabupaten dan Kota. maupun antara sektor/lembaga. Tujuan umum yang ingin dicapai dalam perbaikan regulasi dan perijinan adalah sebagai berikut: 1.Dalam menempuh strategi peningkatan akuntabilitas kinerjanya seperti di atas. Merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung strategi MP3EI (seperti Bea Keluar beberapa komoditi). Untuk itu. 2. diantaranya: 1. Provinsi.5 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 5. LAN dan instansi lainnya yang kegiatankegiatannya memiliki keterkaitan substansi dengan peningkatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. 3. Untuk itu. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan mereka sendiri. Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan strategi MP3EI. baik di tingkat nasional maupun daerah. Pembagian tanggung jawab terkait dengan regulasi/perijinan bersifat lintas kewenangan: Pemerintah Pusat. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan dari sisi administrasi. 4. diperlukan dukungan non-infrastruktur berupa pelaksanaan. 5. Peran Pemerintah Daerah Upaya-upaya debottlenecking tersebut tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah terutama untuk melakukan upaya debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi di daerah masing-masing. pemerintah daerah hendaknya dapat berkonsultasi dengan beberapa instansi. selain percepatan pembangunan dukungan infrastruktur.

kecuali pada kawasan yang masih konflik dengan kawasan kehutanan. (2) menurunkan biaya logistik. Hal ini dikarenakan kurangnya “pemahaman filosofi dan prinsip pungutan” sehingga diperlukan kejelasan subjek dan objeknya.  Mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. (3) mengurangi ekonomi biaya tinggi.2 Konektivitas Percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur dalam kerangka penguatan konektivitas nasional telah ditetapkan menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan MP3EI. serta koneksi antara tujuan dan isi peraturan daerah (Perda). 2. Masih banyaknya Provinsi dan Kabupaten/Kota yang belum merevisi RTRW sesuai dengan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.5. Tujuan utama penguatan konektivitas nasional tersebut adalah (1) meningkatkan kelancaran arus barang. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 155 . Terkait debottlenecking regulasi yang menghambat proses investasi di daerah. dan (5) mewujudkan akses yang merata di seluruh wilayah. 3. kejelasan hak dan kewajiban wajib pungut/pemerintah daerah. maupun antara sektor/lembaga.  Merevisi atau menerbitkan peraturan daerah yang sangat dibutuhkan untuk mendukung percepatan pelaksanaan MP3EI. Namun agar pelaksanaan pembangunan tidak terhambat. Untuk itu. 4. maka perlu upaya untuk:  Menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik di tingkat pusat dan daerah.  Memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan ekonomi utama yang sesuai dengan MP3EI. (4) mewujudkan sinergi antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat menghambat proses pemberian ijin usaha bagi investor karena salah satu kriteria pemberian ijin usaha adalah kesesuaian dengan tata ruang. Panduan perijinan usaha yang jelas dan lengkap akan meniadakan inkonsistensi antara peraturan-peraturan di tingkat pusat dan daerah dan mengurangi inefisiensi dan peluang untuk melakukan tindak korupsi. maka daerah dapat tetap menggunakan RTRW yang berlaku. 5. perlu adanya percepatan penyelesaian penyusunan RTRW. Semua hal ini harus berpedoman pada UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. jasa dan informasi. Banyaknya pungutan/retribusi yang diterapkan di daerah.dinas perijinan di daerah dan departemen teknis.

mesin 156 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . jaringan irigasi primer dengan irigasi sekunder dan tersier). Membangun komitmen untuk mensukseskan penyediaan infrastruktur dalam mendukung MP3EI. diantaranya: 1.3 Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK menjadi salah satu dari 3 (tiga) strategi utama pelaksanaan MP3EI. Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan. Akan tetapi. pengembangan Bandara A. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang telah disahkan oleh DPR. Para Gubernur perlu mengidentifikasi pembangunan infrastruktur nasional yang "strategis dan penting“ untuk mempercepat pembangunan daerah yang bersangkutan (contoh Gubernur Jawa Tengah mengusulkan pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas. sehingga pemanfaatan infrastruktur nasional perlu disertai dan disinergikan dengan pembangunan infrastruktur provinsi dan lokal. BUMN dan swasta. penyelesaian pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo (Ungaran-Bawean dan Bawean-Solo).Peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam rangka mensukseskan MP3EI selain berperan dalam mensinergikan kebjiakan di daerah dengan kebijakan Pemerintah Pusat. namun Pemerintah daerah juga harus terlibat aktif sehingga anggaran belanja modal daerah dapat dipakai untuk mendukung platform besar ini. 5. 2. Dengan demikian multiplier-effects untuk mendorong pembangunan daerah akan lebih besar (contoh sinergi antara pembangunan jalan nasional dengan jalan provinsi dan kabupaten/kota. Mendorong percepatan proses pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur di wilayahnya dengan berpedoman kepada UU No. dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang akan digunakan sebagai landasan penyusunan RAPBN. Komitmen untuk mensukseskan MP3EI bukan hanya antara Pemerintah Pusat. Pendanaan pembangunan infrastruktur melalui APBN sangat terbatas. Yani. Peran Pemerintah Daerah Untuk mempercepat pencapaian tujuan konektivitas nasional. Gubernur NTB mengusulkan pembangunan Waduk Pandan Duri dan Jalan Trans Nusa Tenggara). Pemerintah Daerah juga sangat sentral untuk: 1. dalam jangka pendek Pemerintah telah memprioritaskan percepatan dan perluasan pembangunan infrastruktur disetiap koridor ekonomi. pembangunan Waduk Jati Barang.5. untuk mengoptimalkan pelaksanaan MP3EI perlu upaya sinergitas nasional dan daerah dalam pembangunan infrastruktur. 2.

Selain pengembangan pendidikan tinggi. Peran Pemerintah Daerah Untuk itu. Oleh karena itu pengembangan community college dilakukan dengan secara bersama-sama antara pemerintah. Program pendidikan vokasi didorong untuk menghasilkan lulusan yang terampil. Model pengembangan kawasan industri inovasi produk-produk hilir yang terintegrasi. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Agroindustri. kakao dan perikanan. Dalam konteks ini. Pembentukan klaster inovasi daerah untuk pemerataan pertumbuhan. pengembangan pelatihan kerja dan pengembangan lembaga sertifikasi. pelaku usaha. Pengembangan community college. Oleh karena itu. untuk pengembangan kelapa sawit. Mutu community college dibina oleh politeknik yang dikembangkan di ibukota provinsi. Oleh karena itu. b. di Gresik Utara Provinsi Jawa Timur. pemerintah daerah yang sudah memiliki inisiatif untuk menumbuhkembangkan potensi inovasi pada beberapa produk dan program unggulan wilayah. pengembangan sumber daya manusia juga dilakukan dengan pengembangan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 2. Politeknik tersebut dikembangkan sesuai dengan potensi dan keunggulan setiap koridor ekonomi. tujuan utama di dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mendukung hal tersebut diatas haruslah bisa menciptakan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan sains dan teknologi.pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi. diharapkan akan menghasilkan lulusan yang langsung dapat diserap oleh kegiatan ekonomi di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di setiap koridor ekonomi. pengembangan program pendidikan vokasi harus disesuaikan dengan potensi di masing-masing koridor ekonomi. Model Pengembangan Kawasan Inovasi Energi yang berbasis non-renewable dan renewable energy di Provinsi Kalimantan Timur. dalam pengembangan SDM dan IPTEK juga membutuhkan peran dari setiap Pemerintah Daerah. c. diploma 2 dan diploma 3. Mendukung pengembangan program pendidikan vokasi. diantaranya dalam: 1. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 157 . antara lain: a. Di setiap kabupaten/kota minimal harus dikembangkan pendidikan tinggi setingkat akademi (community college) atau politeknik dengan bidang-bidang yang sesuai dengan potensi di kabupaten tersebut. MP3EI mendorong dan memberdayakan upaya masyarakat. peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. dunia usaha dan universitas sebagai pengelola community college. yang menyelenggarakan program diploma 1.

Menteri PPN/Kepala Bappenas dalam Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Daerah melalui Reformasi Birokrasi. Pendekatan politik akan menghasilkan rencana pembangunan sebagai hasil penjabaran visi misi presiden atau kepala daerah yang dijabarkan dalam RPJMN atau RPJMD. Output. SE. Pendekatan partisipatif terjadi dimana jika perencanaan dan penganggaran melibatkan semua stakeholder. Outcome Daya Saing Daerah Memperhatikan Kemajuan Teknologi dan Perubahan Kelembagaan Berkelanjutan Bersaing secara nasional maupun internasional Sumber: Prof. MA. (iv) pendekatan top down. salah satunya adalah melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Jakarta. Gambar 5. Sedangkan pendekatan top down dan bottom up dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Mekanisme perencanaan dan penganggaran pada umumnya menggunakan lima pendekatan dasar. yaitu: (i) pendekatan teknokratik. Strategi perencanaan dan penganggaran untuk menguatkan perekonomian domestik dapat dicapai dengan adanya sinergi antar pusat-daerah yang baik. Dr.6 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah Untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik Proses perencanaan dan penganggaran yang baik akan sangat berperan penting dalam meningkatkan peran pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik. (ii) pendekatan politik. (iii) pendekatan partisipatif.5.4 Faktor Pendukung Daya Saing Daerah Sinergi Input. Armida Salsiah Alisjahbana. Kelima pendekatan tersebut sangat penting digunakan dalam proses perencanaan dan penganggaran pemerintah khususnya digunakan untuk menyusun dan memformulasikan suatu kebijakan. serta (v) pendekatan bottom up. Sementara yang melalui proses teknokratik menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional yang menjadi tugasnya. Sinergi dalam kerangka kebijakan pembangunan Pusat-Daerah dan antar daerah diperlukan untuk menjamin: (1) 158 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . 26 Juni 2012.

Memonitor pelaksanaan rencana pembangunan dan realisasi anggaran . Daya saing daerah adalah kemampuan untuk mensinergikan antara input. sasaran. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 159 . menjaga iklim investasi. dan (ii) sinkronisasi renstra SKPD dengan renstra K/L sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. kegiatan dan alokasi anggaran daerah sesuai dengan tujuan dan sasaran RPJMN 2010 – 2014 dan RKP. meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah dan kemitraan pemerintah-swasta. berkeadilan dan berkelanjutan. Melakukan sinkronisasi RPJMD dan RKPD dengan prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2010 – 2014 dan RKP.koordinasi antar pelaku pembangunan di pusat dan daerah. terutama yang terkait dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. serta meningkatkan akses terhadap sarana dan prasarana fisik pendukung ekonomi daerah. (3) keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. antar ruang. Hal ini dapat dilakukan melalui: (i) sinkronisasi tujuan. dan (5) tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Langkah-langkah yang diperlukan pemerintah daerah melalui sinergi pusat-daerah adalah: 1. output dan outcome yang ada di daerahnya secara berkelanjutan. pelaksanaan dan pengawasan. 3. 2. program. penganggaran. (4) optimalnya partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. (2) terciptanya integrasi. efektif. antar waktu. terutama untuk meningkatkan daya saing daerah. Menitikberatkan penganggaran pada peningkatan belanja modal. dengan tetap memperhatikan perubahan teknologi dan institusi yang ada di daerah tersebut agar dapat bersaing dengan baik di tingkat nasional maupun internasional sehingga mampu meningkatkan standar kehidupan masyarakat.

kota dengan kemudahan perijinan menjadi salah satu pertimbangan bagi para pengusaha untuk membangun atau mengembangkan usahanya. Thailand dan Malaysia. Jambi dan Palembang dalam memberikan kemudahan mendirikan bangunan lebih cepat dan lebih murah dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia. Namun ternyata potret berbeda diperoleh saat survei dilakukan di 20 kota di Indonesia dari 400 kota di dunia yang terpilih dalam survei Sub National Doing Business (SNDB). Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Memulai Usaha 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Surakarta Jambi Manado Indonesia (rata-rata) Modal disetor minimum (% per kapita) Jumlah prosedur Waktu (hari) Biaya (% per kapita) Balikpapan. Secara nasional. daya saing berusaha di Indonesia dibandingkan negara lain masih belum baik. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa posisi Indonesia yang pada tahun 2011 berada pada peringkat ke 126 menurun menjadi ke 129 pada tahun 2012. Berdasarkan survei SNDB. 160 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 APEC (rata-rata) Yogyakarta Palangkaraya Medan . Posisi Thailand dan Malaysia terus menerus membaik. Dari hasil survei kemudahan berusaha tingkat global. Untuk Indonesia diwakili oleh Jakarta.Boks 5. Balikpapan (Kalimantan Timur) merupakan kota termudah dalam mengurus ijin mendirikan bangunan. Yogyakarta adalah kota termudah dan tercepat dalam mendirikan usaha. Survei tersebut dilakukan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di kota-kota bisnis dunia. jauh di bawah negara anggota ASEAN seperti Singapura. Bahkan untuk beberapa indikator kota-kota tersebut dapat lebih cepat dengan prosedur yang lebih pendek dibandingkan rata-rata 20 kota di Indonesia yang disurvei dan APEC. bahkan pada tahun 2012 telah berada pada peringkat tidak lebih dari 20.1 Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Peringkat daya saing Indonesia dalam Ease of Doing Business (EODB) tahunan yang dilaksanakan oleh IFC Bank Dunia. Sementara Singapura tetap menduduki posisi pertama selama 4 tahun berturut-turut. sementara Bandung (Jawa Barat) dan DKI Jakarta adalah yang termudah dalam mendaftarkan properti. bahkan dari rata-rata anggota APEC.

1 (Lanjutan) Kinerja Daerah Dalam Kemudahan Berusaha Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendirikan Bangunan 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Balikpapan Jambi Palembang Indonesia (rata-rata) Denpasar Manado Jakarta APEC (ratarata) Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per kapita) Dalam memberikan kemudahan mendaftarkan properti. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Mendaftarkan Properti 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Bandung Palembang Indonesia (rata-rata) Jakarta Pekanbaru Batam Waktu (hari) Jumlah prosedur Biaya (% per properti) Sumber: Doing Business di Indonesia 2012. IFC Bank Dunia Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat Asia timur dan Pasifik (ratarata) Semarang 161 . Jakarta. Palembang lebih cepat dari rata-rata 20 kota yang disurvei di Indonesia dan terhadap rata-rata negara Asia timur dan Pasifik. Bandung.Boks 5.

merupakan hasil kerja yang didesain (by design) dan dilakukan terus menerus sehingga memperoleh kepercayaan masyarakatnya. Daerah-daerah tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip Good Public Governance.Boks 5. Untuk meraih status sebagai PTSP yang mampu menyediakan layanan prima. pengajuan ijin usaha dan pelaporan. maka kantor pelayanan perijinan Kota Parepare dan Kabupaten Sragen merupakan sebagian contoh pelaksanaan pemberian pelayanan perijinan prima yang berhasil disediakan pemerintah kepada masyarakat. petugas dengan seragam pegawai swasta yang siap melayani dengan senang hati maka secara perlahan PTSP mendapat kepercayaan dari masyarakat. 162 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . di kedua kota/kabupaten tersebut dapat memberikan pelayanan beberapa perijinan dan non perijinan dalam waktu dan dengan biaya yang terukur jelas (lama dan besarannya). Bahkan selanjutnya kantor-kantor tersebut mendapat brand image baru yang positif. transparansi dan keramahan dalam pengurusan berbagai surat. namun dengan berdirinya PTSP yang memberlakukan kemudahan. Dengan kemajuan kualitas pelayanan dari kedua daerah tersebut telah menumbuhkan optimisme baru terhadap kinerja birokrasi dan menyemangati adanya harapan bagi bangsa ini untuk tampil lebih baik dan berdaya saing nantinya. dalam lingkup daerah yang bersangkutan. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat karena pada awalnya. Dengan dicapainya ISO 9001:2000 atas kualitas manajemennya.2 Kisah Sukses Pelaksanaan PTSP di Parepare dan Sragen Fenomena membaiknya pelayanan publik dalam beberapa tahun terakhir ini bisa dijumpai di beberapa daerah yang telah membangun pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) atau yang dikenal dengan One Stop Services (OSS) antara lain di Kota Parepare dan Kabupaten Sragen. masyarakat termasuk investor enggan berhubungan langsung dengan aparat. dengan didukung kondisi kantor yang nyaman. Dengan tidak mengesampingkan prestasi dari daerah-daerah lain yang juga tengah berbenah menuju birokrasi yang friendly.

maka pada besaran biaya dan angka dicantumkan pada bagian bawah surat keterangan yang dikeluarkan sesuai dengan perda dan juga jumlah yang dibayarkan di bank. Proses yang memakan waktu sampai tujuh hari biasanya hanya izin-izin yang membutuhkan verifikasi. keberhasilan pelaksanaan KPPT Parepare telah menjadikan sumber informasi tidak kurang dari 115 daerah/lembaga pada seminar dan sosialisasi pelayanan PTSP. Implementasi KPPT Parepare telah membantu berperan meningkatkan iklim investasi dan iklim usaha di Kota Parepare yang tercermin dari meningkatnya jumlah perijinan yang diproses dan berimplikasi pada peningkatan PAD yang mencapai 442.2 (lanjutan) Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Parepare. telah menjadikan percontohan setidaknya bagi 359 kabupaten/kota/lembaga yang datang berkunjung. industri dan lainnya yang memerlukan pengecekan ke lapangan untuk melihat lokasi. Sulawesi Selatan Kantor pelayanan perizinan Parepare berdiri sejak bulan Juni 2011. Untuk menjaga transparansi.Boks 5. TDI. investment award/PTSP kota terbaik dari BKPM tahun 2011. NPWP. biasanya kurang dari satu hari atau setengah hari. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 163 . Untuk NPWP. antara lain: SIUP. seperti izin tempat usaha. sementara izin pemasangan reklame sekitar tiga hari. Proses pembayaran dilakukan di Bank Sulawesi Selatan. keterangan dari tetangga dan hal lain yang diperlukan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku. Di kantor tersebut dengan jelas dipasang slogan “kawasan bebas korupsi” dan “apabila bisa dipercepat kenapa diperlambat?”. untuk pengurusan KTP. piala otonomi award tahun 2009 sampai dengan 2011. Piagam dari Mendagri sebagai narasumebr Permendagri No 24 tahun 2006 tentang PTSP tahun 2006. sehingga tidak ada uang beredar di PTSP tersebut. 2009. rata-rata hanya 15 menit. 2007 dan renewal and upgrade ke ISO 9001:2008 pada tahun 2011. Beberapa contoh perijinan yang dapat diproses dengan cepat antara lain. Beberapa perijinan bahkan dibebaskan dari biaya. Akta catatan sipil. ijin peruntukan penggunaan tanah. antara lain adalah: Piala Citra Pelayanan Prima dari Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) tahun 2002. Prestasi yang diperoleh KPPT Parepare selain sertifikat ISO. penghargaan dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah dan penghargaan dari The Asia Foundation. izin gudang. Banyaknya prestasi yang diperoleh KPPT Parepare. Slogan tersebut ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas pelayanan perijinan. Piagam Mendagri atas prestasi kontinuitas konsekuensi dan komitmen pelaksanaan PTSP tahun 2009. Waktu yang diperlukan untuk mengurus izin atau mendapatkan surat keterangan berkisar dari 15 menit hingga tujuh hari. Selain itu. izin trayek angkutan kota dan izin usaha angkutan hanya dua hari. 2006. ijin usaha kepariwisataan. perijinan dan non perijinan di bidang penanaman modal. Kualitas kinerja manajemen KPPT Parepare telah mencapai sertifikat ISO 9001 versi 2000 pada tahun 2004. TDP. Piagam sebagai PTSP kota terbaik dari Mendagri tahun 2007.9 persen selama periode tahun 2003 sampai dengan 2011.

2 902. Ranking I daerah Pro Investasi di Jateng tahun 2005. BPT Sragen 164 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .200.304 3 2005 48.203.633 5 2007 57. Latar belakang berdirinya BPT Sragen adalah adanya keinginan masyarakat akan kemudahan dan penyederhanaan pelayanan pemerintah untuk mendorong laju perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.380 6 2008 56.350. Untuk meningkatkan kelancaran pelayanan. Jawa Tengah Badan Palayanan Terpadu (BPT) Sragen beroperasi secara resmi pada bulan Oktober 2002 dengan slogan: “Satu hati untuk melayani. Selain itu.2 (lanjutan) Badan Pelayanan Terpadu Sragen.00 950.8 2. Citra Pelayanan Prima dari Presiden. Proses pelayanan untuk beberapa perijinan di BPT Sragen dapat dilakukan secara paralel antara perijinan satu dengan yang lainnya dengan maksimal waktu 12 hari.582 2 2004 38. Untuk pengurusan SIUP. BPT Sragen menerima pendelegasian kewenangan langsung dari Bupati sehingga memiliki kewenangan menerima.2 Realisasi Investasi (Rp Juta) 526.958 Sumber: Perijinan usaha.000. Untuk menjaga kualitas pelayanan. investment award/PTSP kabupaten terbaik dari BKPM tahun 2010.00 703.00 1.200. BPT Sragen membuat survei kepuasan pelanggan setiap enam bulan sekali.329 7 2009 53.180. Bahkan. dengan membuat buku panduan tentang OSS yang diedarkan di seluruh kabupaten/kota di Tanah Air. Keberadaan BPT Sragen selama ini memberikan dampak positif bagi perkembangan dan pembangunan Kabupaten Sragen antara lain meningkatnya jumlah pemohon.000.3 1.000. BPT Sragen menerapkan sistem online yang terhubung dengan kantor-kantor kecamatan di bawahnya dan pemohon dapat melakukan pengecekan sampai dimana berkas sudah diproses ( tracking document) melalui internet.6 1.843. Penghargaan yang diterima KPT Sragen selain sertifikat ISO 9001-2000 dari Sucofindo International Certification Service antara lain adalah: penghargaan Satya Abdi Praja dari Gubernur Jateng. sementara untuk pajak reklame hanya memerlukan 1 hari.110 8 2010 91.300. Mudah cepat.000.628.272 4 2006 45.00 1.00 926.000. Semua informasi lamanya proses perijinan dan formulir dapat dengan mudah diakses dari website pemerintah kabupaten. TDP dan TDI paling lama memakan waktu 3 hari. penerimaan retribusi dan realisasi investasi sebagai berikut: No Tahun Jumlah Pemohon Penerimaan Retribusi (Rp Juta) 935.417.073.9 1.718.Boks 5.000. transparan dan pasti”.000.4 1.00 1. Penerimaan retribusi disetorkan langsung ke kas daerah sesuai rekening dinas masing-masing.72 1 2003 39. memproses dan menandatangani dokumen perizinan. BPT Sragen juga terpilih sebagai best practice modul oleh JICA Jepang dan dibuat film yang kemudian diedarkan ke berbagai kabupaten/kota di Tanah Air. BPT Sragen direkomendasikan ADB dan IFC sebagai model KPT di Indonesia.00 1.0 1.

Herman Haeruman (IPB). terukur dan dapat dilaksanakan.PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. komprehensif. Agung Pambudhi (KPPOD). Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P. Prof. Herman Haeruman (IPB). serta sekaligus menciptakan insentif bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang lebih baik dan bermutu. 53/ M. Dr. Prof.Boks 5. Bambang Bintoro Soedjito (ITB). 53/M. konsisten.PPN/HK/04/2012 tentang Pembentukan Tim Penyelenggara Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012. Sumber: Direktorat Perkotaan dan Perdesaan. Dr. Wicaksono Sarosa (Partnership/Kemitraan) dan P. Dr. Bambang Bintoro Soedjito (ITB). tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. Dr. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 165 . tahap penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri dari 5 orang pakar/ahli perencanaan pembangunan dan akademisi yaitu Prof. Kodrat Wibowo (Unpad). Pemberian penghargaan ini dilakukan melalui penilaian terhadap dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi tahun 2012. Kodrat Wibowo (Unpad). Agung Pambudhi (KPPOD).3 Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Anugerah Pangripta Nusantara diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS bertujuan untuk mendorong setiap daerah untuk menyiapkan dokumen rencana pembangunan secara lebih baik. Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. Bappenas Berdasarkan SK Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep.

isu strategis dengan prioritas dan prioritas dengan anggaran. yaitu: 1. Proses Perencanaan di Jawa Barat Tema Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 mengusung tema pembangunan “Mengintegrasikan Peran Investasi Dunia Usaha dalam Menghela Pembangunan Sektoral dan Kewilayahan Bersifat Monumental untuk Mempercepat Terwujudnya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri. juga diberikan penghargaan dalam bentuk piagam kepada 3 provinsi nominasi terbaik. yaitu: Provinsi NAD. arah kebijakan dan prioritas pengembangan wilayah dan strategi dan arah kebijakan pro-growth. 3. analisa. 2. pemenang ketiga. Paparan RKPD Prov. Konsistensi dokumen RKPD 2012 terutama konsistensi hasil evaluasi dengan isu strategis. Dinamis dan Sejahtera”. pro-poor. proenvironment. Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta. kerangka kebijakan keuangan daerah. Provinsi Sumatera Selatan. Pemberian trophy penghargaan Anugerah Perencanaan Terbaik Pangripta Nusantara Tahun 2012 oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas kepada para Kepala Bappeda yang mewakili 3 provinsi pemenang dilakukan pada saat acara penutupan Pra-Musrenbangnas tanggal 25 Mei. Provinsi Jawa Barat. Disamping itu. pro-job. Jawa Barat Tahun 2012 oleh Kepala Bappeda 166 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Ketiga provinsi pemenang yaitu: 1. kepemimpinan dan kesiapan pelaksanaan. Keterkaitan dokumen RKPD 2012 dengan dokumen RPJMD Provinsi dan RKP 2012. pemenang pertama. Keterukuran tujuan dan sasaran RKPD 2012 yang dilengkapi dengan indikator kinerja dan prakiraan maju anggaran tahun berikutnya. Provinsi DI Yogyakarta.Boks 5. serta Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 yang dilihat dari tingkat intensitas konsultasi dengan para pemangku kepentingan. serta percepatan pencapaian tujuan MDGs. Kedalaman dan kelengkapan dokumen RKPD 2012 dalam menyajikan kerangka ekonomi daerah. 4. 3. pemenang kedua. 2.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Penilaian didasarkan pada 5 (lima) kriteria. 5.

Angka Kematian Bayi. 10. (2) 6 Indikator Pembangunan.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Prioritas Pembangunan Jawa Barat Penyusunan RKPD 2012 Provinsi Jawa Barat memperhatikan 4 Sasaran Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu melalui.Boks 5. pemerintah daerah dan DPRD merupakan 4 pilar utama pembangunan Jawa Barat. Angka Pendapatan per Kapita. 4. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan ( Pro Growth. Kemiskinan. Angka Harapan Hidup. Provinsi Jawa Barat menetapkan 10 (sepuluh) Prioritas Pembangunan (Common Goals) yaitu: 1. (3) Millenium Development Goals (MDG’s). yaitu: Pertumbuhan Ekonomi. 8. Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Proses penyusunan dokumen RKPD 2012 memadukan alur teknokratis. dan (4) Inpres No. 9. dunia usaha. (1) RPJMN (2010-2014). Pro Job. 7. 2. topdown dan juga unsur politis. Kemandirian energi dan kecukupan air baku. Kemandirian pangan. partisipatif/ bottom-up. Berdasarkan sasaran tersebut. Sumber: Proses Penyusunan RKPD Tahun 2012 Provinsi Jawa Barat Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 167 . Peningkatan kualitas kesehatan. Masyarakat. Pengembangan infrastruktur wilayah. Tahap Proses Penyusunan RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 6. Pro Poor dan Pro Environment). Peningkatan kualitas pendidikan. 5. Pengembangan budaya lokal dan destinasi wisata. Penanganan bendana dan pengendalian lingkungan hidup. Pengangguran. akademisi. Peningkatan kinerja aparatur. 3. Pembangunan perdesaan. Peningkatan daya beli masyarakat.

yang terdiri dari Bogor. Achievable. Resources availability. masyarakat Jawa Barat didorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Dalam konteks perencanaan spasial. Dengan menggunakan basis data tersebut. Measurable. Sementara itu.Boks 5. Purwakarta. 168 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Pemerintah provinsi Jawa Barat menerapkan satu basis data untuk kepentingan penyusunan perencanaan dan kegiatan pembangunan. Timely). pemerintah memfasilitasi agar masyarakat dapat beraktivitas dan meningkatkan kesejahteraannya. Provinsi Jawa Barat membagi wilayahnya menjadi 4 (empat) wilayah pengembangan berdasarkan karakteristik lokasi dan kegiatan tematik. Cirebon dan Priangan.3 (lanjutan) Belajar dari Jawa Barat: Pemenang Pangripta Nusantara 2012 Berpijak pada prinsip pembangunan daerah untuk rakyat (Regional Development for People). program dan kegiatan dalam RKPD dirancang melalui pendekatan SMART (Specific.

untuk desa Kayen. Melalui berbagai tahapan mulai persiapan sampai pelaksanaan dengan melibatkan semua pihak terkait serta pendampingan teknologi dari Badan Litbang Pertanian. Kecamatan Kota Pacitan. Sebagai gambaran. program ini menunjukkan kemampuannya dalam menaikkan pola pangan harapan terutama untuk kemandiran desa dan rumah tangga. Selain itu. pemanfaatan lahan perkarangan untuk pengembangan pangan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga. konservasi sumberdaya genetik terutama untuk pangan lokal.Boks 5. Relatif cepatnya proses adopsi model KRPL di Kabupaten Pacitan antara lain didukung oleh adanya komitmen Pemerintah Daerah untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui pengembangan diversifikasi pangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan menerapkan model KRPL. saat ini di sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Pacitan telah mengadopsi model RPL. rumah tangga yang telah mengadopsi model RPL sebanyak 620 KK dari 821 KK yang ada (sekitar 77%). Jawa Timur Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan dikeluarkannya Instruksi Bupati Pacitan kepada masyarakat di wilayah Pacitan untuk mengembangkan dan menerapkan model RPL serta Instruksi Kodam Brawijaya Jawa Timur yang ditindaklanjuti oleh Kodim Pacitan kepada anggota untuk mengembangkan RPL di lokasi kantor Kodim maupun Koramil.4 Kisah Sukses Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) di Pacitan. serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jawa Timur di awali pada Februari 2011 dengan melibatkan 35 KK. di lingkungan Kantor Kodim (Komando Distrik Militer) dan di semua Kantor Koramil (Komando Rayon Militer) di wilayah Kabupaten Pacitan telah pula mengembangkan model RPL. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 169 . Terkait dengan hal ini. Program MKRPL di salah satu dusun di Desa Kayen. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (Model KRPL)” yang merupakan himpunan dari Rumah Pang an Lestari (RPL) yaitu rumah tangga dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. 700. pelestarian tanaman pangan untuk masa depan melalui kebun bibit desa. diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.000 per bulan. Salah satu dampak positif yang dirasakan dari penerapan program KRPL di Pacitan ini adalah berkurangnya pengeluaran rumah tangga petani berkisar Rp. 170.000 hingga Rp.

keberhasilan BKAD Tegalalang terutama pada upaya untuk mengajak masyarakat untuk menjadi subjek pembangunan di desanya. BKAD Tegallalang merupakan kepengurusan yang ideal karena berasal dari berbagai unsur. Dalam pengelolaan dana bergulir Simpan Pinjam Perempuan (SPP). BKAD Tegalalang menciptakan kerjasama yang baik dengan desa dinas maupun Desa Adat atau Desa Pekraman. Secara kelembagaan. Kabupaten Gianyar maka wajar apabila pada tahun 2012 BAKD Tegallalang dipilih dan ditetapkan sebagai BKAD terbaik nasional secara kelembagaan. yaitu melalui rapat koordinasi (rakor) di tingkat kecamatan dengan segenap kelembagaan di kecamatan. Kabupaten Gianyar. 170 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 .Boks 5. Setelah adanya Program Paras-paros dari Kabupaten Gianyar dan PNPM Mandiri Integrasi. fasilitasi dalam tahap perencanaan dilakukan BKAD melalui proses penggalian gagasan di dusun atau banjar. Bank dan beberapa pengusaha kecil di bidang kerajinan tangan dan perdangan. Koperasi.5 Keberhasilan BKAD Tegalalang Dalam Memfasilitasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perdesaan Keberhasilan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan seperti PNPM Mandiri Perdesaan sangat tergantung kepada intensifnya fasilitasi yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) kepada masyarakat miskin di lapangan. BKAD Tegallalang melakukan kerjasama dengan berbagai pelaku ekonomi di wilayah kecamatan. BKAD melaksanakan tugasnya mulai dari proses sosialisasi program. Hal inilah yang tercermin dari keberhasilan peran pengurus Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Tegalalang. S Suasana Rakor BKAD Fasilitasi BAKD Dalam Pengelolaan Dana Bergulir Pada tahap perencanaan. seperti Lembaga Perkreditan Desa. Namun demikian. Pada tahap pelaksanaan. baik pimpinan adat atau Bendesa. praktisi pendidikan dan unsurunsur yang ada di dalam masyarakat tradisional Bali. yang kemudian dilanjutkan dengan fasilitasi proses pelaksanaan musyawarah desa sosialisasi bersama-sama dengan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya. Selanjutnya. BKAD Tegallalang juga telah melakukan fasilitasi dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat miskin seperti pembuatan rumah layak huni bagi masyarakat miskin dan program bedah rumah yang didanai dari surplus hasil pengelolaan SPP. usulan kegiatan dalam PNPM Mandiri justru berasal dari Subak maupun Desa Pekraman. Oleh karenanya. Bali. praktisi ekonomi. dengan melihat hasil nyata yang telah ditunjukkan dari intensitas dan keseriusan BKAD Tegallalang dalam memfasilitasi upaya penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Tegallalang.

provinsi dan kota pada tahun 2008. E-Procurement mulai diujicobakan di beberapa instansi pemerintah pusat. Efektifitas perwujudan gagasan. jauh dari kebutuhan minimal suatu sistem elektronik. Meskipun LPSE Provinsi Riau dibentuk tahun 2010 setelah Pemerintah Kota Pekanbaru terlebih dahulu menerapkan e-Procurement di tahun 2009. mental dan kesiapan terhadap penerapan suatu teknologi dari seluruh pihak yang terkait. pembentukan unit LPSE tidak menunggu tersedianya peralatan dan infrastruktur TIK. Dalam hal ini. namun perkembangannya mampu mengikuti perkembangan penerapan e-Procurement di provinsi lain yang terlebih dahulu membentuk LPSE dan menerapkan e-Procurement seperti Jawa Barat. variasi kesiapan infrastruktur TIK maupun kesiapan SDM dalam adopsi dan adaptasi terhadap teknologi. Proses pembentukan unit LPSE Provinsi Riau terbilang cukup singkat. Tahun 2012 ini Provinsi Riau berada pada urutan ke-7 di antara provinsi-provinsi yang memiliki kemajuan pesat dalam penerapan e-Procurement dengan nilai pengadaan secara elektronik mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Pada tahap awal. Gagasan ini memerlukan perubahan perilaku. untuk dapat menyelenggarakan layanan pengadaan secara elektronik di Provinsi Riau. LPSE Provinsi Riau mulai memberikan pelayanan dengan hanya bermodalkan 1 buah komputer rakitan. DI. Jawa Timur. Kepulauan Riau. Memperkuat Perekonomian Domestik Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat 171 . Sumatera Barat. LPSE Provinsi Riau belum memiliki fasilitas dan peralatan teknologi informasi yang lengkap.6 Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Implementasi e-Procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) menjadi upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah disamping juga menjadi sebuah strategi untuk menata pasar pengadaan. hanya diperlukan waktu 1 bulan sejak pelatihan pengelola LPSE sampai dengan terbitnyaPeraturan Gubernur tentang Tim Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Riau yang dirintis oleh Biro Administrasi Pembangunan. dalam hal ini menghadapi tantangan berkaitan dengan luas wilayah. Dari ujicoba tersebut diperoleh pelajaran berkaitan dengan strategi implementasinya. kecepatan mengambil momentum dan peran serta pihak-pihak yang memiliki visi yang sama.Boks 5. Yogyakarta dan beberapa Provinsi lainnya. konsistensi aktor utama perubahan. Kalimantan Tengah. Penataan pasar pengadaan akan membentuk skala pasar yang lebih besar dan memungkinkan para pelaku pasar dapat mengakses seluruh volum pengadaan barang/jasa pemerintah. memerlukan komitmen kepala daerah dan inisiator perubahan. Gorontalo. jumlah pelaku usaha. Keberhasilan Pemerintah Provinsi Riau (maupun pemerintah daerah yang lain) menerapkan pengadaan secara elektronik dan mendorong seluruh pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Riau.

dalam kurun waktu 17 bulan (Mei 2012) seluruh LPSE Pemerintah Kabupaten/Kota terbentuk dan sudah beroperasi. agar melaksanakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah secara elektronik pada tahun 2012.235 penyedia sudah dilatih oleh LPSE Provinsi Riau. sudah dilatih 246 penyedia. Gubernur Provinsi Riau menerbitkan Instruksi Gubernur. secara mandiri LPSE Provinsi Riau mengambil peran mendorong dan melatih Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau untuk mampu membentuk LPSE dan mengelola sistem elektronik. Sejak terbentuk. Hasilnya. 500/Adm-Pemb/16. 427 paket dengan nilai Rp. Sementara itu. Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota yang belum memiliki LPSE dapat memanfaatkan LPSE Provinsi Riau. Gubernur Riau juga menerbitkan Surat Edaran No. Juni 2012.6 (lanjutan) Kesuksesan Pemerintah Provinsi Riau Menerapkan E-Procurement Setelah tersedianya peralatan training. 172 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Menindaklanjuti terbitnya Peraturan Presiden No. tanggal 14 Desember 2010 kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Riau. 1. LPSE Provinsi Riau segera memberikan pelatihan kepada penyedia yang terdaftar di LPSE Provinsi Riau secara gratis. Hasilnya.08 Triliun dilelangkan secara elektronik pada tahun 2011. Posisi saat ini. 54 Tahun 2010 yang mewajibkan penerapan pengadaan secara elektronik mulai tahun 2012.14 persen. Dalam kurun waktu November Desember 2010 (hanya dalam dua bulan). 3.Boks 5.29. efisiensi yang dihasilkan adalah sebesar 12. Untuk mendorong penerapan e-Procurement oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Foto: Pras Widjojo .

Foto: Pras Widjojo .

BAB VI PENUTUP .

Stabilitas ekonomi yang terjaga dan pertumbuhan yang berkelanjutan diikuti oleh perluasan kesempatan kerja dan penurunan kemiskinan. Upaya dan strategi ini tidak hanya menyangkut peningkatan produktivitas sumber daya manusia. peningkatan nilai tambah dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya. penciptaan iklim investasi dan iklim usaha yang lebih kondusif. Dengan demikian. buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi daerah dalam menentukan strateginya dalam rangka memperkuat perekonomian domestik bagi peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat. Kinerja pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika ekonomi global yang menempatkan Asia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi utama. 176 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . penciptaan iklim ketenagakerjaan yang lebih efisien. sementara itu ekonomi domestik perlu diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat tetap terjaga. belum memadainya infrastruktur.BAB VI PENUTUP Kinerja pembangunan ekonomi nasional selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang terus meningkat. Namun. kebijakan dan strategi yang lebih terarah di daerah akan menjadi modal dasar dalam memperkuat perekonomian domestik dan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan ke seluruh daerah. serta masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahnya. Dilain pihak. tetapi juga ditentukan oleh pembangunan infrastruktur. tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi adalah tingkat persaingan di pasar global yang semakin tinggi. Beberapa daerah mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan bagi percepatan kemajuan dan pembangunan ekonomi daerah. Oleh sebab itu. beberapa daerah lain masih harus menghadapi tantangan terbatasnya lapangan kerja.

Foto: Pras Widjojo .

World Bank.DAFTAR PUSTAKA Abdulah. BPFE. --------. Geneva. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. The Global Competitiveness Report 2011-2012. RaJawali Pers. Klaus dan Xavier Sla-i-Martin (2011). Jakarta. Pembangunan Nasional.al (2002). World Bank.(2012). Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.(2011). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2013. IFC. Doing Business in a More Transparent World: Comparing Regulation for Domestic Firms in 183 Economies.(2012). ----------. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2011. World Economic Forum. Schwab. Schwab.(2011). Yogyakarta. Jakarta ----------. Kementerian Perencanaan ---------.. PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD (2008). The Indonesia Competitiveness Report 2011: Sustaining the Growth Momentum.(2012).(2011). --------. Jakarta. World Economic Forum. Piter. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Klaus dan Greenhill (2011). Jakarta. KPPOD dan The Asia Foundationa. Jakarta. et. 178 Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012 – 2013 . Geneva. IFC. ---------. Profil dan Pemetaan Daya Saing Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Doing Business di Indonesia 2012: Memperbandingkan Kebijakan Usaha di 20 Kota dan 183 Perekonomian. Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful