Anda di halaman 1dari 39

LABORATORIUM TEKNOLOGI INDUSTRI

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2013
LABORATORIUM TEKNOLOGI INDUSTRI
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2013
LABORATORIUM TEKNOLOGI INDUSTRI
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2013
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
MODUL 1
IKLIM (LINGKUNGAN FISIK)
1.1 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini, antara lain:
1. Untuk mengetahui lingkungan fisik yang mempengaruhi aktifitas kerja,
2. Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan hasil kerja,
3. Untuk mengetahui waktu kerja yang dihasilkan pada setiap suhu yang berbeda, dan
4. Untuk mengetahui suhu yang paling optimal yang dapat memberikan waktu tercepat.
1.2 Input dan Output
Input:
a) Deskripsi subyek
b) Data jumlah output
Output:
Analisa perbandingan produktivitas dengan perlakuan lingkungan kerja fisik
yang berbeda
1.3 Landasan teori
A. Deskripsi
Menurut Sedarmayanti (1996), lingkungan kerja fisik adalah semua yang terdapat di sekitar
tempat kerja yang dapat mempengaruhi pekerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan kerja terbagi atas dua macam yaitu lingkungan yang langsung berhubungan
dengan karyawan dan lingkungan perantara yang dapat mempengaruhi kondisi manusia
seperti temperatur, kebisingan, getaran, pencahayaan, dan lain- lain.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Fisik
Faktor-faktor lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi kerja diantaranya adalah sebagai
berikut:
A. Suhu
Suhu adalah satu variabel dimana terdapat perbedaan individual yang besar. Suhu yang
nyaman bagi seseorang mungkin merupakan neraka bagi orang lain. Dengan demikian
untuk memaksimalkan produktivitas, adalah penting bahwa karyawan bekerja di suatu
lingkungan di mana suhu diatur sedemikian rupa sehingga berada di antara rentang kerja
yang dapat diterima setiap individu. Menurut Sutalaksana (1979), untuk berbagai tingkat
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
temperatur akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut:
a) 49 celcius temperatur dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh diatas kemampuan
fisik dan mental.
b) 30 celcius aktivitas mental dan daya tangkap mulai menurun dan cenderung
untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan dan timbul kelelahan fisik.
c) 24 celcius kondisi kerja optimum.
d) 10 celcius kelakuan fisik yang ekstrim mulai muncul.
B. Kebisingan
Bukti dari telaah-telaah tentang suara menunjukkan bahwa suara-suara yang konstan
atau dapat diramalkan pada umumnya tidak menyebabkan penurunan kinerja
sebaliknya efek dari suara-suara yang tidak dapat diramalkan memberikan pengaruh
negatif dan mengganggu konsentrasi karyawan.
C. Pencahayaan
Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat objek
secara jelas, cepat dan tanpa menimbulkan kesalahan. Kurangnya pencahayaan
akan mengakibatkan mata operator/ pekerja menjadi cepat lelah karena mata akan
berusaha untuk melihat jelas dengan membuka lebar-lebar. Kelelahan mata akan
mengakibatkan kelelahan mental dan kerusakan mata.
Kemampuan mata untuk melihat objek secara jelas dipengaruhi oleh ukuran objek,
derajat kekontrasan antara objek dengan sekelilingnya, luminansi (brightness), serta
lamanya waktu untuk melihat objek tersebut. Untuk menghindari silau (glare)
karena peletakan sumber cahaya yang kurang tepat, sebaiknya sumber cahaya
diletakkan sedemikian rupa sehingga cahaya mengenai objek yang akan dilihat
terlebih dahulu yang kemudian dipantulkan oleh objek tersebut ke mata kita.
D. Kelembaban
Kelembaban adalah banyaknya kadar air yang terkandung di dalam udara (dinyatakan
dalam %). Kelembaban sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara.
Suatu keadaan dimana udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan mengakibatkan
penguapan panas dari tubuh secara besar-besaran (karena sistem penguapan).
E. Siklus Udara (Ventilation)
Udara disekitar kita mengandung sekitar 21% Oksigen, 0,03% Karbondioksida, dan 0,9%
campuran gas-gas lain. Kotornya udara disekitar kita dapat mempengaruhi kesehatan
tubuh dan mempercepat proses kelelahan. Sirkulasi udara akan menggantikan udara kotor
dengan udara yang bersih. Agar sirkulasi terjaga dengan baik, dapat ditempuh dengan
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
member ventilasi yang cukup (lewat jendela), dapat juga dengan meletakkan tanaman
untuk menyediakan kebutuhan akan oksigen yang cukup.
F. Bau-bauan
Adanya bau-bauan yang dipertimbangkan sebagai polusi akan dapat mengganggu
konsentrasi pekerja. Temperatur dan kelembaban adalah dua faktor lingkungan yang
dapat mempengaruhi kepekaan penciuman. Pemakaian air conditioning yang tepat adalah
salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan bau-bauan yang mengganggu
sekitar tempat kerja.
G. Warna
Warna yang dimaksud disini adalah warna tembok ruangan dan interior yang ada
disekitar tempat kerja. Warna ini selain berpengaruh terhadap kemampuan mata untuk
melihat objek, juga memberikan pengaruh yang lain seperti :
a. Warna merah bersifat merangsang,
b. Warna kuning memberikan kesan luas, terang dan leluasa,
c. Warna hijau atau biru memberikan sejuk, aman dan menyegarkan,
d. Warna gelap memberikan kesan sempit, dan
e. Warna terang memberikan kesan leluasa.
H. Getaran Mekanis
Getaran mekanis adalah getarangetaran yang dihasilkan oleh peralatan mekanis yang
sebagian dari getaran tersebut sampai ke tubuh. Getaran mekanis ini dapat
menimbulkan suatu akibat yang tidak diinginkan oleh tubuh. Besarnya getaran ini
ditentukan oleh intensitas, frekuensi getaran dan lamanya getaran berlangsung.
Anggota tubuh manusia juga memiliki frekuensi alami yang terjadi apabila
frekuensi ini beresonansi dengan frekuensi getaran maka akan menimbulkan gangguan.
Gangguan-gangguan tersebut yang dapat mempengaruhi konsentrasi kerja, mempercepat
kelelahan, atau gangguan pada anggota tubuh.
C. Analisis Varians (Analysis of Variance, ANOVA)
Analisis varians (analysis of variance, ANOVA) adalah suatu metode analisis statistika yang
termasuk ke dalam cabang statistika inferensi. Dalam literatur Indonesia metode ini dikenal
dengan berbagai nama lain, seperti analisis ragam, sidik ragam, dan analisis variansi. Ia
merupakan pengembangan dari masalah Behrens-Fisher, sehingga uji-F juga dipakai dalam
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
pengambilan keputusan. Analisis varians pertama kali diperkenalkan oleh Sir Ronald Fisher,
bapak statistika modern.
Waktu Rata-rata
Untuk menghitung waktu rata-rata didapat dengan Persamaan 2.8 sebagai berikut:
Waktu rata-rata =
Waktu total
Jumlah data
a) ANOVA Satu Arah
ANOVA satu arah terdiri dari satu peubah bebas atau faktor dengan taraf lebih dari dua. Pada
ANOVA satu arah, sampel dibagi menjadi beberapa kategori dan ulangan. Adapun tabel
ANOVA satu arah dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah ini:
Table 2.2 ANOVA satu arah
Sumber
Keragaman
Jumlah Kuadrat
(JK)
Derajat Bebas
(db)
Kuadrat
Tengah
f
hitung
f tabel
Rata-rata
Kolom
JKK =
N
T
n
T
i
i
2
2

\
|

db numerator
V
1
= k 1
S
1
2
=
i
V
JKK
=
2
2
2
1
S
S
,
db numer, db
denum = f
tabel
Galat
JKS =
JKT JKK
db denumerator
V
2
= N k
S
2
2
=
2
V
JKS
Total
JKT =
, ,
N
T
X
2
ij
2

N - 1
Sumber: Thomas. 2008.
dengan: k = banyaknya kolom
N = banyaknya pengamatan keseluruhan data
n
i
= banyaknya ulangan di kolom ke-i
X
ij
= data pada kolom ke-i ulangan ke-j
T
*I
= total (jumlah) ulangan pada kolom ke-i
T
**
= total (jumlah) seluruh pengamatan
kolom = kategori
Baris = ulangan
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
b) ANOVA Dua Arah
Pada rancangan percobaaan menggunakan ANOVA dua arah, setiap kategori mempunyai
banyak blok yang sama, sehingga jika banyak kolom = k dan banyak baris/blok = r, maka
banyak data = N = r x k. Adapun tabel ANOVA dua arah dapat dilihat pada tabel 2.3 di
bawah ini:
Tabel 2.3 ANOVA dua arah
Sumber
Keragaman
(SK)
Jumlah
Kuadrat
(JK)
Derajat
Bebas (db)
Kuadrat
Tengah
(KT)
F Hitung F Tabel
Rata-rata
Baris
JKB
db numer1 =
r-1
s
2
B = KTB =
JKB/r1
f hitung
=KTBKTG
=
db numer1=
db denum =
f tabel =
Rata-rata
Kolom
JKK
db numer2 =
k-1
S
2
K = KTK =
JKK/k1
f hitung
=KTKKTG
=
db numer2=
db denum =
f tabel =
Galat JKG
db
denum =
(r-1)(k-1)
S
2
G = KTG = JKG/(r-1)(k-1)
Total JKT r.k -1
Sumber: Thomas. 2008.
dengan: k = banyaknya kolom
r = banyaknya baris/balok
X
ij
= data pada baris ke-i, kolom ke-j
T
i*
= total (jumlah) ulangan pada kolom ke-i
T
*j
= total (jumlah) ulangan pada kolom ke-j
T
**
= total (jumlah) seluruh pengamatan
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
MODUL 2
ANALISA SAMPLING KERJA
(WORK SAMPLING)
2.1 Tujuan Praktikum
1 Memperkenalkan kepada praktikan tentang metode sampling kerja sebagai
alat yang efektif menentukan kelonggaran (allowance time) diperlukan dalam
penetapan waktu baku.
2. Melatih praktikan di dalam memberikan pengalaman praktis untuk
melaksanakan kegiatan pengukuran kerja dengan pemahaman dan
penguasaan materi mengenai sampling kerja.
3. Memotivasi praktikan agar mau untuk selanjutnya melaksakan kegiatan-
kegiatan pengukuran dan penelitian kerja khususnya dalam upaya
meningkatkan efektifitas, efisiensi dan produktifitas kerja.
2.2 Alat Yang Digunakan
1. Papan pengamatan
2. Lembar pengamatan
3. Pensil / pena
4. Tabel bilangan acak
2.3 Prosedur Pelaksanaan Praktikum
1. Bagi tugas di antara anggota kelompok sesuai dengan waktu luang yang
dimiliki masing-masing, setiap anggota kelompok harus pernah sebagai
pengamat/pengukur kegiatan kerja.
2. Tetapkan tujuan yang ingin diteliti performance kerjanya. Obyek dapat berupa
aktifitas manusia, mesin/peralatan, telepon umum, alat transportasi, kasir dan
lain-lain.
3. Tentukan waktu-waktu pengamatan/kunjumgan dengan menggunakan tabel
acak.
4. Tentukan jumlah pengamatan awal (pre work sampling) yang ingin
dilaksanakan. Kegiatan penelitian awal dilakukan antara 5 s/d 7 hari kerja
dengan jumlah pengamatan yang sebanyak-banyaknya. Jangan lupa tentukan
tingkat kepercayaan dan tingkat ketelitian.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
5. Catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan dengan memisahkan antara
kegiatan produktif dan kegiatan non prodiktif.
6. Konsultasikan penelitian anda kepada asisten.
7. lakukan Pengolahan data Dan Analisis Data Anda
2.4 Landasan Teori
Sampling kerja atau sering disebut sebagai work sampling, Ratio Delay Study
atau Random Observation Method adalah salah satu teknik untuk
mengadakan sejumlah besar pengamatan terhadap aktivitas kerja dari mesin, proses
atau pekerja/operator. Metode sampling kerja dikembangkan berdasarkan hukum
probabilitas atau sampling. Oleh karena itu pengamatan terhadap suatu obyek yang
ingin diteliti tidak perlu dilaksanakan secara menyeluruh (populasi) melainkan
cukup dilaksanakan secara mengambil sampel pengamatan yang diambil secara
acak (random) (Sritomo,1989).
Suatu sampel yang diambil secara random dari suatu grup populasi
yang besar akan cenderung memiliki pola distribusi yang sama seperti yang dimiliki
oleh populasi trsebut. Apabila sampel yang dimiliki tersebut diambil cukup besar,
maka karakteristik yang dimiliki oleh sampel tersebut tidak akan jauh berbeda
dibanding dengan karakteristik dari populasinya (Sritomo, 1989).
A. MELAKUKAN SAMPLING
Adapun proses pengambilan sampling sebagai berikut:
1. Melakukan sampling pendahuluan
Melakukan sejumlah kunjungan yang ditentukan oleh pengukur (biasanya
tidak kurang dari 30 kali). Buatlah tabel perbedaan antara pekerjaan yang
produktif dan non produktif (Sutalaksana, 1979).
Tabel 1 Tabel pengamatan kunjungan
Kelompok :
Objek Pengamatan :
Nama Pekerja :
Jam Pengamatan :
Hari/Tanggal :
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
Tabel 3.1 Data pengamatan pada hari pertama
No Bilangan Random Jam Kunjungan Tally Produktif Tally Idle O/I
1 0 14.00 \ 0
2 2 14.06 \ 26
3 4 14.12 \ 15
4 6 14.18 \ 16
5 8 14.24 \ 27
Tabel 2 Ringkasan tabel pengamatan sampling kerja.
Kegiatan Frekuensi teramati pada hari ke-
m
Jumla
h
1 2 3 4
..
m
Productiv
e
Non
productive
(idle)
JUMLAH
%
Productive
2. Menguji keseragaman data.
Untuk menghitung keseragaman data kita tentukan batas-batas kontrolnya
yaitu:
BA/BKB = P
( )
N
P 1 P
3
Dimana p = persentase produktif dihari ke I dan n adalah jumlah dari pengamatan.
n = jumlah pengamatan dilakukan pada hari ke I
catatan;
Jika harga pi berada pada batas-batas kontrol, maka berarti semua harga tersebut
dapat digunakan untuk menghitung banyaknya pengamatan yang diperlukan.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
Sebaliknya jika ada harga pi yang berada diluar batas kontrol, maka pengamatan
yang membentuk pi yang bersangkutan harus dibuang karena berasal dari sistem
sebab yang berbeda.
B. MENENTUKAN WAKTU KUNJUNGAN
Untuk menentukan, biasanya satu hari kerja dibagi kedalam satuan-satuan waktu
yang besarnya ditentukan oleh pengukur. Biasanya panjang satu satuan waktu tidak
terlampau panjang (lama). Berdasarkan satu-satuan waktu inilah saat-saat
kunjungan ditentukan. Waktu kunjungan tidak boleh melebihi 2/3 dari total jam kerja.
Misalkan satu-satuan waktu panjangnya 10 menit. Misalnya 1 hari terdapat 8 jam
kerja, sehingga ada 6 observasi dalam 1 jam. Setelah itu, didapat 48 kali observasi
untuk 1 hari (6*8 jam=48 observasi). Untuk menentukan jumlah observasi, dihitung
dengan (2/3*48=32) sehingga didapat 32 kali observasi dalam 1 hari. Waktu
kunjungan tidak boleh pada saat-saat tertentu yang kita ketahui dalam keadaan
tidak bekerja misalnya jam-jam istirahat atau hari libur, dimana tidak ada
kegiatan secara resmi (Sutalaksana, 1979).
Bilangan acak bisa didapat dengan menggunakan excel atau dengan menggunakan
table bilangan acak. Untuk menentukan waktu observasi, dapat dihitung dengan cara
seperti contoh di bawah ini:
Waktu observasi 1 = (08.00 + (02x10) = 08.20
Waktu observasi 2 = (08.00 + (03x10) = 08.30
Waktu observasi 3 = (08.00 + (06x10) = 09.00 (dilanjutkan sampe 32 observasi)
3.2.2 Test Kecukupan Data
Dibawah ini adalah tes kecukupan data pada praktikum Work Sampling:
N' =
( )
p s
p 1 k
2
2
Apabila data yang diambil didapat N < N maka kita cukup menambah data yang
sudah ada sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan saja, tanpa perlu mengulang penelitian
dari awal. Secara umum keuntungan dan kelemahan apakah yang dapat diambil dari
pelaksaan aktivitas penelitian dengan sampling kerja dibanding dengan stopwatch.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
3.2.3 Persentase Produktif
Dibawah ini adalah persentase produktif pada praktikum Work Sampling:
Performance Level = 100%
n
produktif
3.2.4 Ratio Delay
Dibawah ini adalah Ratio Delay pada praktikum Work Sampling:
Ratio Delay =
%Produktif
%Idle
3.2.5 Waktu Baku
Dibawah ini adalah Ratio Delay pada praktikum Work Sampling:
a. Prosentase Produktif (PP)
b. Jumlah Menit Produksi (JMP)
JMP = PP x
Pengamatan menit
c. Waktu yang diperlukan/unit (T)
T =
Pengamatan Selama Output Jumlah
JMP
d. Waktu Normal
Wn = T x Faktor Penyesuaian
e. Waktu Baku
Wb = Wn + (kelonggaran x Wn)
Allowance:
Sikap kerja, Gerakan, Kelelahan mata, Temperatur tempat kerja, Tenaga yang
dikeluarkan, Kebutuhan pribadi, Keadaan lingkungan dan Keterlambatan
3.2.6 Insentif
Dibawah ini adalah hitung insentif pada praktikum Work Sampling:
Bonus = 100%
Wb
Wn + Wb
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
MODUL 3
PETA KERJA
3.1 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari dilakukan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Praktikan dapat mengindentifikasi elemen-elemen gerakan suatu pekerjaan,
2. Praktikan mampu menganalisis gerakan-gerakan efektif dan yang tidak efektif,
3. Praktikan dapat melakukan perbaikan-perbaikan dari elemen-elemen gerakan yang tidak
perlu atau pengaturan tata letak fasilitasatau stasiun kerja, dan
4. Praktikan mampu menghitung waktu baku dengan mempelajari elemen-elemen gerakan
yang ada.
3.2 Alat yang digunakan
Alat yang digunakan selama praktikum peta kerja adalah:
1. Meja Kerja
2. Lembar Pengamatan
3. Objek Penelitian
4. Peralatan Kerja
3.3 Prosedur praktikum
Dalam proses praktikum langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
1. Identifikasi pekerjaan (merakit Benda)
2. Penelitian Pendahuluan (lingkungan, metode, dan peralatan kerja yang dipakai
serta operator)
3. Memilih operator dan pelatihan pendahuluan (waktu normal)
4. Pengumpulan data elemen gerakan
Pelaksanaan pengumpulan data elemen gerakan, prosedurnya adalah:
a. Masing-masing kelompok menentukan operator, notulen dan pengamat.
b. Melakukan penelitian pendahuluan (setelah prosesnya dijelaskan oleh asisten)
c. Melakukan latihan perakitan (INGAT WAKTU yang dibutuhkan untuk
merakit SEWAJARNYA)
d. Melakukan perakitan sesungguhnya (notulen mencatat waktu)
e. Perakitan dilakukan sebanyak 2 siklus dengan perhitungan stpowatch
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
f. Catat hasil analisis mengenai jumlah elemen gerakan dan jenis elemen gerakan
pada lembar pengamatan
g. Lakukan perubahan lay out usuan dengan mengidentifikasi elemen gerakan
pada lembar pengamatan, catat usulan lay out dan hasil analisis.
h. Perhitungan data analisis
i. Kesimpulan dan saran
3.4 Landasan Teori
Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan (Left and Right Hand Chart) atau Peta
Operator (Operator Process Chart)
peta tangan kiri dan tangan kanan (left and right hand chart) dalam hal ini lebih dikenal
sebagai peta operator (operator proses chart) adalah peta kerja setempat yang bermanfaat
untuk menganalisa gerakan tangan manusia didalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
bersifat manual. Peta ini akan menggambarkan semua gerakan ataupun delay yang terjadi
yang dilakukan oleh tangan kanan maupun tangan kiri secara mendetail sesuai dengan
elemen-elemen Therblig yang membentuk gerakan tersebut. Dengan menganalisa detail
gerakan yang terjadi maka langkah-langkah perbaikan bisa diusulkan. Pembuatan peta
operator ini baru terasa bermanfaat apabila gerakan yang dianalisa tersebut terjadi
berulang-ulang (repetitive) dan dilakukan secara manual (seperti halnya dalam proses
perakitan). Dari analisa yang dibuat maka pola gerakan tangan yang dianggap tidak
efisien dan bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (motion economy) bisa
diusulkan untuk diperbaiki. Demikian pula akan diharapkan terjadi keseimbangan
gerakan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri, sehingga siklus kerja akan
berlangsung dengan lancar dalam rytme gerakan yang lebih baik yang akhirnya mampu
memberikan delays maupun operator fatigue yang minimum.
Gerakan-gerakan kerja manusia dilaksanakan dengan mengikuti 17 elemen dasar Therblig
atau kombinasi dari elemen-elemen Therblig tersebut, akan tetapi didalam peta operator
akan lebih efektif kalau hanya 8 elemen gerakan Therblig berikut ini yang digunakan,
yaitu:
a. Reach (RE) b. Grasp (G) c. Move (M) d. Position (P)
e. Use (U) f. Release (RL) g. Delay (D) h. Hold (H)
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
Gerakan-gerakan Fundamental untuk Pelaksanaan Kerja Manual (THERBLIGS)
untuk mempermudah penganalisaan terhadap gerakan-gerakan yang akan dipelajari perlu
dikenal terlebih dahulu gerakan-gerakan dasar yang membentuk kerja tersebut. Therbligs
ini oleh Gilberth dinyatakan dalam simbol-simbol dan warna tertentu seperti yang terlihat
pada Tabel 2.1:
Tabel 2.1 Macam-Macam Gerakan Therbligs
NO. Nama Therbligs Lambang
Huruf
Kode warna
1 Mencari (search) SH Black
2 Memilih (select) ST Gray, light
3 Memegang (grasp) G Lake red
4 Menjangkau (reach) RE Olive green
5 Membawa (move) M Green
6 Memegang untuk memakai (hold) H Gold ochre
7 Melepas (release load) RL Carmine red
8 Pengarahan (position) P Blue
9 Pengarahan sementara (preposition) PP Sky blue
10 Memeriksa (Inspection) I Burn ochre
11 Merakit (assemble) A Violet,
heavy
12 Lepas rakit (disassembly) DA Violet
13 Memakai (use) U Purple
14 Keterlambatan tak terhindarkan (unavoidable delay) UD Yellow
ochre
15 Keterlambatan yang dapat dihindarkan (avoidable
delay)
AD Lemon
yellow
16 Merencanakan (plain) Pn Brown
17 Istirahat untuk menghilangkan lelah (rest to
overcome fatique)
R Orange
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
MODUL 4
SPEED RATING
4.1 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum penetapan performance rating dengan metode speed rating ini adalah:
1. Memulai kemampuan time study analys (rater) didalam menetapkan performance rating
operator yang diamati,
2. Mengetahui performance rating sebenarnya dari tiap-tiap operator yang diamati dan
kemudian membandingkan dengan estimasi performance rating yang dibuat, dan
3. Melihat penyimpangan antara estimasi yang telah ditetapkan dengan performance rating
sebenarnya.
Dalam percobaan ini digunakan asumsi-asumsi dasar sebagai berikut:
1. Operator atau praktikan yang berperan sebagai operator dalam percobaan
dianggap cukup berpengalaman dan menguasai cara kerja yang ditetapkan.
2. Time Study Analys atau praktikan yang berperan sebagai rater dalam
percobaan dianggap telah memaharni situasi dan cara kerja, yang ada,
terrnasuk disini pemahaman akan tempo normal dari kegiatan yang dinilai.
3. Kondisi kerja dalam percobaan dianggap normal dan sesuai dengan
kondisi kerja yang ideal.
4.2 ALAT ALAT YANG D1GUNAKAN
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain:
1. Stopowatch, yang dipergunakan untuk mengukur waktu siklus kerja untuk
setiap kecepatan kerja yang ditujukan oleh operator yang diamati.
2. Pin board yang berupa papan berlubang dan terdiri dari atas 48 lubang,
tempat untuk memasukkan pasak. Sebagai kelengkapan dari pin board
adalah pasak yang jumlahnya sama dengan jumlah lubang yang ada di papan
kerja (pinboard).
3. Kartu Bridge, kartu yang bisa dipakai untuk bridge dan berjumlah 52 lembar
kartu.
4. Meja Kerja, sebagai tempat untuk melaksanakan aktivitas kerja.
5. Lembar pengamatan untuk menempatkan data pengukuran yang diperoleh.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
4.3 Prosedur Praktikum
Dalam melaksanakan praktikum untuk materi Speed Rating mi, harus
didasarkan prosedur seperti dibawah ini:
1. Satu kelompok terdiri dari 3 orang, praktikan tersebut menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Satu orang menjadi operator
b. Satu orang menjadi pengukur waktu & mencatat hasil perhitunganldata
c. Seorang lagi sebagai estimator
2. Terlebih dahulu buat daftar performans rating berdasarkan waktu normal
yang diketahui untuk dipakai sebagai patokan rater dalam mengestimasikan
performans rating untuk operator yang diamaii. Sebagai contoh bila diketahui
bahwa tolok ukur untuk membagi kartu bridge adalah 24 detik menjadi 4
tumpukan dengan kecepatan normal dan pin board waktu normalnya adalah 30
detik. Maka untuk bebagai macam waktu penyelesaiannya dengan kecepatan
yang berbeda-beda akan dapat dibuat daftar dengan rumus:
PR = 1 +
WN-t
t
x 100%
Contoh: kartu Bridge Wn = 25; t = 26 maka PR= 96%
Contoh untuk PR Pin Board:
Waktu estimasi (det) PR(%) Waktu Aktual (det) PR(%)
23 123 28 107
24 120 33 90
25 117 35 93
Dengan prosedur yang sama, daftar performans rating untuk kegiatan
pembagian kartu bridge dapat dihitung oleh praktikan.
3. Pilih operator yang diamati, rate, dan timer pada setiap percobaan
yang akan dilaksanakan. Disini diperlukan peranan saling bergilir dari
setiap praktikan, sehingga masing-masing akan memiliki kesempatan
untuk berperan sebagai operator, rater, timer. Sebelum percobaan
dilakukan, terlebih dahulu diperlukan latihan karena kunci utama terletak
pada praktikan yang berperan sebagai operator. Disini operator hams ruampu
bekerja dalam berbagai variasi dan tempo kerja, mulai dari kecepatan yang
sangat larnbat hingga sangat cepat.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
4. Percobaan Kartu bridge.
Percobaan dengan menggunakan kartu bridge dilakukan dengan cara
mernbagikan seperangkat kartu bridge dalam 4 tumpukan. Kartu dibagi
secara teratur dengan berbagai tingkat kecepatan yang bervariasi pada
setiap percobaan (siklus). Kartu bridge menghadap ke bawah dan setiap
tumpukan terpisah jelas dengan yang lainnya. Satu hal yang harm;
diperhaiikan adalah keccpatan membagi dalam satu siklus percobaan
adalah konstan. Variasi kecepatan pembagian kartu diupayakan agar
performans kerja bisa dirating antara 7Yio sid 150%. Waktu dihitung
mulai operator siaprnembagikan kartu yang pertama sampai kartu terakhir.
Waktu Normal dengan tempo atau perforrnans kerja normal dalam kegiatan ini
adalah 24 detik.
5. Percobaan Pin board.
Percobaan pinboard diiaksanakan dengan prosedur yang sarna dengan kartu
bridge. Perbedaannya hanya terletak pada media untuk mensimulasikan
pekerjaan yang ingin diukur. Dalam percobaan ini pasak dimasukkan dalarn
lubang-lubang dengan kedua tangan dan metode pemasangan sebagai berikut:
PIN BOARD
1 7 13 19
M
E
T
O
D
E



P
E
R
T
A
M
A
1 7 13 19
O O O O O O O O
2 8 14 20 2 8 14 20
O O O O O O O O
3 9 15 21 3 9 15 21
O O O O O O O O
4 10 16 22 4 10 16 22
O O O O O O O O
5 11 17 23 5 11 17 23
O O O O O O O O
6 12 18 24 6 12 18 24
O O O O O O O O
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
19 18 7 6
M
E
T
O
D
E



K
E
D
U
A
19 18 7 6
O O O O O O O O
20 17 8 5 20 17 8 5
O O O O O O O O
21 16 9 4 21 16 9 4
O O O O O O O O
22 15 10 3 22 15 10 3
O O O O O O O O
23 14 11 2 23 14 11 2
O O O O O O O O
24 13 12 1 24 13 12 1
O O O O O O O O
4 3 2 1
M
E
T
O
D
E



K
E
T
I
G
A
1 2 3 4
O O O O O O O O
5 6 7 8 8 7 6 5
O O O O O O O O
12 11 10 9 9 10 11 12
O O O O O O O O
13 14 15 16 16 15 14 13
O O O O O O O O
20 19 18 17 17 18 19 20
O O O O O O O O
21 22 23 24 24 23 22 21
O O O O O O O O
Seperti halnya percobaan pada kartu bridge., disini operator
diharapkan untuk melaku an, pernasangar. dengan berbagai macam variasi
kecepatan untuk setiap percobaan, tetapi dengan kecepatan konstan dalam
siklus operasinya. Waktu kerja diukur mulai operator menyentuh
pasak-pasak dalam box sampai dengan semua pasak selesai terpasang
didalam lubang pin board tersebut. Waktu Normal untuk percobaan ini
adalah 70 detik.
6. Setiap perator melaksanakan pengulangan sekurang-kurangnya 5 kali
siklus dengan berbagai variasi kecepatan untuk setiap percobaan, Pada
setiap siklus operasi timer mengukur dan menncatat wakru yang dicapai
operator dalam lembar pengamatan yang telah dipersiapkan. Sedangkan
rater mcngestimasikan rating dari performans yang ditujukan olen
operator tanpa diperbolehkan mengetahui waktu kerja yang diukur
timer. Estimasi performans rating inipun segera dicatat sesuai dengan
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
urutan siklus operasi yang dilakukan oleh operator. Dengan demikian untuk
setiap operator akan diperoleh data waktu yang dicapai (yang
dalam hal ini diperoleh dari pengamtan dan pengukuran si pencatat
waktu) dan estimasi performans rating (yang dibuat rater).
7. Pada akhir percobaan lernbar pengamatan dari timer dikumpulkan dan
kemudian data waktu kerja yang diperoleb segera dikonversikan menjadi data
performans rating yang sebenamya (actual rating performance). Demikian
pula dengan data estimasi performam rating yang dibuat rater juga
dikumpulkan untuk kemudian dibandingkan dengan data pcrforrnans rating
yang sebenarnya.
8. Bandingkan hasil estimasi performans rating yang dibuat dengan
performans rating yang se enarnya untuk setiap percobaan dan setiap
operator/rater. Hal ini bisa dilakuka dengan jalan rnemplotkan data
dalam grafik sumbu X- Y.
EPR%
APR%
Dengan memplotkan dati ini dapat di ketahui penyimpangan yang dibuat oleh rater di dalam
mengestimasi performans rating yang di tunjukkan oleh operator. Semakin dekat dengan
garis ideal estimasi waktu yang diharapkan sama dengan waktu yang sesungguhnya jika
estimasinya tidak melebihi 5% dari penyimpangan kondisi sebenarnya.
Operator 1 (145,4 , 11,6)
145,4%
Operator 2 (128,8 , 89,2)
128,8%
5%
5% 89,2% 111,6%
0
Ideal
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
a. Landasan Teori
Pengertian Speed Rating
Speed rating adalah suatu metode penetapan rating performance kerja operator yang
didasarkan pada faktor kecepatan atau tempo kerja operator yang umumnya dinyatakan
dalam prosentase (%) atau angka desimal, dimana performance kerja normal sama dengan
100% atau 1,00. Speed rating merupakan metode pengukuran kerja dengan mencari dan
menetapkan waktu baku (standard time) yang dibutuhkan dalam menyelesaikan
pekerjaannya. Untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari hasil pengamatan, maka
dilakukan dengan mengadakan penyesuaian yaitu dengan cara mengalikan waktu pengamatan
rata-rata (bisa waktu siklus ataupun waktu untuk tiap-tiap elemen) dengan faktor penyesuaian
(P). Adapun faktor-faktor penyesuaian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Apabila operator dinyatakan terlalu cepat yaitu bekerja diatas batas kewajaran (normal) maka
rating factor ini akan lebih besar dari pada suatu (p > 1 atau p > 100%).
2. Apabila operator bekerja terlalu lambat yaitu berkerja dengan kecepatan dibawah kewajaran
(normal) maka rating factor akan lebih kecil dari pada satu (p < 1 atau p < 100%).
3. Apabila operator bekerja secara normal atau wajar maka rating faktor ini diambil sama dengan
satu (p = 1 atau p = 100%). Untuk kondisi kerja dimana operasi secara penuh dilaksanakan oleh
mesin (operating atau machine time) maka waktu yang diukur dianggap merupakan waktu yang
normal.
Waktu normal = waktu pengamatan
performance rating%
100%
W
standar
= Wn + (Wn l)
Rating factor = 100 % 1+
Waktu normal - Waktu aktual
Waktu normal
Insentif =
Wb - Wn
Wb
100%
EPR =
(
(


+
e
t
e
t
n
w
1 100%
APR =
(
(


+
a t
a
t
n
w
1
100%
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
BP =
APR
EPR
1 100%
dengan: BP = Besar Penyimpangan
EPR = Estimation Performance Rating
APR = Actual Performance Rating
Wn = waktu normal
l = kelonggaran (allowance)
W
n
=Waktu Normal
t
e
=Waktu Estimasi
Tabel allowance adalah tabel yang berisi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi karyawan saat
bekerja. Adapun besar kelonggaran (allowance) dapat dilihat pada Tabel 2.1 sebagai berikut:
Tabel 2.1 Besar kelonggaran berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh
FAKTOR CONTOH PEKERJAAN KELONGGARAN (%)
A. TENAGA YANG
DIKELUARKAN
1. Dapat diabaikan
2. Sangat ringan
3. Ringan
4. Sedang
5. Berat
6. Sangat berat
7. Luar biasa berat
Bekerja dimeja, duduk
Bekerja dimeja, berdiri
Menyekop, ringan
Mencangkul
Mengayun palu yang berat
Memanggul beban
Memanggul karung berat
EKIVALEN BEBAN
PRIA WANITA
Tanpa beban 0.0-6.0 0.0-6.0
0.00-2.25 kg 6.0-7.5 6.0-7.5
2.25-9.00 7.5-12.0 7.5-16.0
9.00-18.00 12.0-19.0 16.0-30.0
19.00-27.00 19.0-30.0
27.00-50.00 30.0-50.0
Diatas 50 kg
B. SIKAP KERJA
1. Duduk
2. Berdiri diatas dua
kaki
3. Berdiri diatas satu
kaki
4. Berbaring
5. Membungkuk
Bekerja duduk, ringan
Badan tegak, ditumpu dua kaki
Satu kaki mengerjakan alat
kontrol
Pada bagian sisi, belakang atau
depan badan
Badan dibungkukkan
bertumpu pada dua kaki
0.0 1.0
1.0 2.5
2.5 4.0
2.5 4.0
4.0 10.0
C. GERAKAN
KERJA
1. Normal
2. Agak terbatas
3. Sulit
4. Pada anggota badan
terbatas
5. Seluruh anggota
badan terbatas
Ayunan bebas dari bahu
Ayunan terbatas dari palu
Membawa beban berat dengan
satu tangan
Bekerja dengan tangan diatas
kepala
Bekerja dilorong
pertambangan yang sempit
0
0 5
0 5
5 10
10 15
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
D. KELELAHAN
MATA *)
1. Pandangan yang
terputus-putus
2. Pandangan yang
hamper terus-
menerus
3. Pandangan terus
menerus dengan
fokus berubah-ubah
4. Pandangan terus
menerus dengan
fokus tetap
Membawa alat ukur
Pekerjaan-pekerjaan yang teliti
Memeriksa cacat-cacat pada
kain
Pemeriksaan yang sangat teliti
PENCAHAYAAN
BAIK BURUK
0.0 - 6.0 0.0-6.0
6.0 - 7.5 6.0-7.5
7.5 - 12.0 7.5-16.0
19.0-30.0 16.0-30.0
E. KEADAAN
TEMPERATUR
TEMPAT KERJA
**)
1. Beku
2. Rendah
3. Sedang
4. Normal
5. Tinggi
6. Sangat tinggi
TEMPERATUR (
O
C )
dibawah 0
0 13
13 22
22 28
28 38
diatas 38
KELEMBABAN, NORMAL,
BERLEBIHAN
Diatas 10 diatas 12
10 5 12 5
5 0 8 0
0 5 0 8
5 40 8 100
Diatas 40 diatas 100
F. KEADAAN
ATMOSFER ***)
1. Baik
2. Cukup
3. Kurang baik
4. Buruk
Ruang yang berventilasi baik,
udara segar
Ventilasi kurang baik, ada bau-
bauan
Adanya debu beracun atau
tidak beracun tapi banyak
Adanya bau-bauan berbahaya
harus menggunakan alat
pernafasan
0
0 5
5 10
10 20
G. KEADAAN LINGKUNGAN YANG BAIK
1. Bersih, sehat, cerah dengan kebisingan rendah
2. Siklus kerja berulang-ulang antara 5 10 detik
3. Siklus kerja berulang-ulang antara 0 5 detik
4. Sangat bising
5. Jika faktor yang berpengaruh dapat menurunkan
kualitas
6. Terasa adanya getaran lantai
7. Keadaan yang luar biasa (bunyi, kebersihan, dll.
0
0 1
1 3
0 5
0 5
5 10
5 10
Sumber: Sulaksana, I.Z., dkk. 1999. Hal. 170
dengan : *) = Kontras antara warna hendaknya diperhatikan
**) = Tergantung juga pada keadaan ventilasi
***) = Dipengaruhi juga oleh ketinggian tempat kerja dari permukaan laut dan
keadaan iklim
Catatan = kelonggaran untuk kebutuhan pribadi bagi: Pria = 0-2,5%
Wanita = 2-5%
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
MODUL 5
PENGUKURAN KERJA SECARA TIDAK LANGSUNG
Deskripsi
Pengukuran waktu kerja secara umum terbagi menjadi dua cara yaitu pengukuran waktu kerja
secara langsung dan pengukuran waktu kerja secara tidak langsung. Dalam praktikum kali ini
dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran kerja tidak langsung. Pengukuran waktu
kerja tidak langsung dalam praktikum ini menggunakan MTM (Methods Time Measurement)
dan menggunakan Work Factor System atau sistem faktor kerja dalam aplikasi pengukuran
dengan menganalisis elemen-elemen kerja tersebut.
5.1 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk dapat mengidentifikasi elemen-elemen gerakan dalam suatu pekerjaan,
2. Untuk menganalisis gerakan kerja dengan menggunakan sistem faktor kerja dan MTM
(Methods Time Measurement),
3. Untuk memahami perbedaan antara sistem faktor kerja dan MTM (Methods Time
Measurement), dan
4. Untuk menetapkan waktu standar dari masing-masing gerakan berdasarkan macam
gerakan dan kondisi kerja masing-masing.
5.2 Alat yang Diperlukan
1. Objek Pengamatan
2. Lembar Pengamatan
3. Tabel Bilangan Acak/Random
5.3 Prosedur Praktikum
1. Mempersiapkan praktikan untuk mengarnati setiap kegiatan kerja
Asembly Line Balancing dan Methods Time Measurement.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
2. Setiap kelompok melakukan pencatatan setiap gerakan-gerakan yang
dilakukan oleh setiap operator dalam kedua kegiatan tersebut dan
dicatat oleh anggota kelompoknya.
3. Lakukan pengolahan data dan analisis setiap gerakan yang dilakukan pada
kegiatan Asembly Line Balancing dan Methods Time Measurement
4. Melakukan uji keseragarnan data, menghitung waktu normal,
menghitung waktu standar. serta bonus/insentif
5. Menganalisis perbedaan antara pengukuran kerja tidak langsung
dan seeara langsung dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam
metode MTM.
6. Menganalisis setiap gerakan produktif dan tidak produktif di masing-masing
kegiatan
5.4 Landasan Teori
Methods Time Measurement (MTM) ini merupakan metode pengukuran kerja dengan cara
menganalisis gerakan kerja berdasarkan beberapa elemen. Unit waktu yang digunakan dalam
tabel-tabel ini adalah TMU (Time Measurement Unit).
Disini 1 TMU = 0.00001 jam,
= 0.0006 menit
= 0.036 detik.
Eleruen gerakan dalam MTM terbagi atas elernen gerakan dasar, yaitu :
1. Reach (R): menjangkau adalah gerakan dasar yang digunakan untuk
memindahkan tangan/jari ketempat tujuan.
2. Move (M): merupakan gerakan dasar yang digunakan apabila maksud
utama adalah untuk rnembawa (transport) obyek pada suatu tujuan.
3. Grasp (G): elernen dasar yang digerakkan dengan maksud utama
untuk menguasai objek baik dengan jari maupun tangan untuk
memungkinkan melakukan gerakan dasar berikutnya.
4. Position (P): digunakan untuk rnenyesuaikan, memposisikan, dan
memasang obyek yang satu dengan yang lainnya.
5. Release (RL): gerakan dasar melepas penguasaan. suatu obyek
dengan jari atau tangan
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
6. Disassemble/Disengage ( D): gerakan dasar untuk rnelepas/memisahkan
suatu obyek dengan obyek yang lainnya.
7. Turn (T) : Gerakan yang dilakukan untuk memutar tangan baik
dalam keadaan Kosong atau berbeban.
8. Apply pressure (AP) : nilai waktu gerakan dasar menekan untuk
memberikan siklus waktu penuh dari kornponen-komponen yang
berkaitan dengan gerakan- gerakan yang lain,
9. EYe Travel (ET): umumnya gerakan mata - tidak mernpengaruhi
waktu gerakan kecuali bila gerakan diarahkan oleh mata.
10. Bodyleg and foot motion (BMF): gerakan-gerakan yang
dilakukan oleh badan,kaki, telapak kaki serta bagian-bagian lain
seperti lutut, pinggang, dll
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
MODUL 6
KECEPATAN REAKSI
A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk mengetahui pengaruh warna terhadap kecepatan reaksi atau waktu
respon
2. Untuk menghitung kecepatan reaksi yang dihasilkan untuk masing-masing
warna
3. Untuk mengetahui banyaknya kesalahan yang terjadi pada penanggapan
terhadap masing masing warna
4. Menentukan warna yang paling optimal yang dapat memberikan waktu
kecepatan reaksi atau waktu respon tercepat.
B. LANDASAN TEORI
Pencahayaan adalah rangsangan untuk visi. Berdasarkan hal itu
kekurangan pencahayaan atau pencahayaan yang terlalu kuat, secara partikel,
pencahaayaan yang terlalu menyilaukan menyebabkan penglihatan menjadi
kurang jelas yang dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, pusing dan penambahan
resiko kecelakaan. Banyak waktu dan uang yang terbuang dengan sia
sia diakibatkan oleh kurang jelasnya penglihtan saat melakukan pekerjaan
(Nakagawara, 1990). Cahaya merupakan sumber yang memancarkan energi.
Sebagaian dari energi diubah menjadi cahaya tampak.(e-USU Repository).
Tingkat penerangan yang baik merupakan salah satu faktor untuk memberikan
kondisi penglihatan yang baik. Dengan tingkat penerangan yang baik akan
memberikan kemudahan bagi seorang operator dalam melihat dan memahami
display, simbol-simbol dan benda kerja secara baik pula. Indra yang yang berhubungan
dengan pencahayaan adalah mata. Karakteristik dan batasan daya lihat menusia penting
untuk dipahami oleh seorang desainer display. Pencahayaan dapat diukur dengan
luxmeter yaitu alat ukur intensitas cahaya yang dapat membantu menyesuaikan
pencahayaan ruangan sesuai dengan fungsi sebuah ruangan.
Ciri ciri penerangan yang baik
Penerangan akan mempengaruhi seorang pekerja untuk dapat melihat dengan
baik. Untuk dapat melihat dengan baik maka dibutuhkan suatu penerangan yang baik
pula. Ciri-ciri penerangan yang baik tersebut adalah :
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
1. Sinar / cahaya yang cukup
Sinar cahaya yang cukup akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan
melihat secara tepat. Selain cahaya yang cukup variable untuk dapat melihat
secara tepat adalah ukuran objek yang dilihat, jarak mata ke objek, kecepatan
objek dan waktu lamanya penerangan. Untuk dapat melihat barang-barang ( obyek
) yang kecil diperlukan tambahan penerangan yang cukup dan waktu yang agak lama.
Peranan waktu yang dibutuhkan dalam melihat ini akan bertambah penting bila obyek
yang dilihat dalam keadaan bergerak.
2. Sinar / cahaya yang tidak berkilau atau menyilaukan
Sumber-sumber glare:
a. Lampu yang dipasang terlalu rendah tanpa pelindung.
b. Jendela atau ventilasi cahaya yang langsung berhadapan dengan mata. c. Cahaya
dengan terang yang berlebihan.
d. Pantulan dari permukaan terang.
Cahaya yang menyilaukan terjadi bila ada cahaya yang berlebihan diterima oleh
mata. Ada tiga kategori cahaya yang menyilaukan (glare) (Tayyari and Smith,
1997):
1. Discomfort glare yaitu cahaya yang tidak menyenangkan tetapi tidak begitu
mengganggu kegiatan visual.
Efeknya : Sakit kepala dan dapat meningkatkan kelelahan.
2. Disability glare yaitu cahaya yang sangat mengganggu karena mata langsung
menerima silau cahaya yang dipancarkan. Contoh: menatap matahari.
Efeknya : Merusak mata mungkin dapat mengakibatkan kebutaan.
3. Photostress glare dari sebuah sumber cahaya kuat yang disebabkan dari
sebuah keterlambatan (delay) dalam pemulihan kembali dari sistem penglihatan
setelah bagian mucular region pada mata secara konstan menerima
ransangan dari sumber cahaya. Delay yang terjadi secara normal berlangsung
selama 30 detik atau kurang (Nakagawara, 1990)
Dilihat dari objeknya glare digolongkan kedalam dua macam direct dan
indirect glare zone (IES Committe on industrial lighting, 1991). Obyek yang
dilihat harus terbebas dari cahaya yang menyilaukan. Cahaya yang menyilaukan
dapat langsung datang dari sumber cahaya (direct-glare zone) ataupun dari
pemantulan / pengembalian cahaya (indirect-glare zone). Benda yang mengkilap,
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
licin, halus dan berkilau akan mengganggu pekerja saar melihat objek yang
dilihat. Keadaan ini dapat ditanggulangi dengan menempatkan kembali suatu
pekerjaan dan sumber-sumber penerangan, untuk mengurangi cahaya pantulan
yang menuju pada objek yang sedang dikerjakan. Standart Australia AS 1680
memberikan tingkat-tingkat maximum luminansi untuk berbagai sudut yang
berbeda dari garis vertikal yang rapat dibawah the luminaire. Biasanya tingkat
luminance dibatasi dalam daerah 45 - 90. Permukaan kerja yang mengkilap dan
lantai yang mengkilap juga perlu menghindari adanya glare (silau). Untuk
menghindari glare dapat dipasang penyerap cahaya atau warna yang dapat
menyerap cahaya, memasang pelindung pada sumber cahaya dan menghindari atau
menjauhkan sumber cahaya yang berlebihan.
3. Kontras yang tepat
Kontars dari sebuah pekerjaan berkenaan dengan perbedaan secara relatif
antara target dengan benda yang berada dekat disekeliling target yang akan dikerjakan.
Perbedaan pada kontaras secara umum berhubungan dengan perbedaaan dalam
bpantulan (reflection), warna (color) atau pola (patterns) antara target dan latar di
sekitar target (Tayyari and Smith, 1997)
Peningkatan kontras mungkin salah satu cara yang lebih efektif dalam upaya
meningkatkan kemampuan daya lihat. Latar belakang daerah kerja dibuat sesederhana
mungkin. Background yang kacau, yang mempunyai banyak perpindahan seharusnya
dihindari dengan menggunakan sekat-sekat.
4. Kualitas Pencahayaan (Brightness) yang tepat
Menunjukkan jangkauan dari luminansi dalam daerah penglihatan. Kualitas
pencahyaanan dari suatu tugas (task) tergantung dari jumlah cahaya yang diterima oleh
objek dan yang dipantulkan. Peningktan jumlah cahaya yang jatuh pada objek
secara langsung dapat meningkatkan kualitas pencahayaan dari objek tersebut (Tayyari
and Smith, 1997). Brightness yang tepat akan memberikan efek produktivitas yang
tinggi pada pekerja. Terangnya cahaya yang diperlukan oleh suatu obyek tergantung
pada banyaknya cahaya yang dipantulkan dari obyek tersebut kemata kita. Penglihatan
kesuatu bagian sering tergantung dari perbedaan cahaya diantara bagian tersebut
dengan latar belakangnya. Perbedaan terangnya cahaya dapat dinyatakan sebagai ratio
atau perbandingan terangnya cahaya, makin besar perbedaan ratio makin cepat tugas
dilaksanakan. Untuk efisien dan mudahnya melihat maka penerangan hendaknya
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
licin, halus dan berkilau akan mengganggu pekerja saar melihat objek yang
dilihat. Keadaan ini dapat ditanggulangi dengan menempatkan kembali suatu
pekerjaan dan sumber-sumber penerangan, untuk mengurangi cahaya pantulan
yang menuju pada objek yang sedang dikerjakan. Standart Australia AS 1680
memberikan tingkat-tingkat maximum luminansi untuk berbagai sudut yang
berbeda dari garis vertikal yang rapat dibawah the luminaire. Biasanya tingkat
luminance dibatasi dalam daerah 45 - 90. Permukaan kerja yang mengkilap dan
lantai yang mengkilap juga perlu menghindari adanya glare (silau). Untuk
menghindari glare dapat dipasang penyerap cahaya atau warna yang dapat
menyerap cahaya, memasang pelindung pada sumber cahaya dan menghindari atau
menjauhkan sumber cahaya yang berlebihan.
3. Kontras yang tepat
Kontars dari sebuah pekerjaan berkenaan dengan perbedaan secara relatif
antara target dengan benda yang berada dekat disekeliling target yang akan dikerjakan.
Perbedaan pada kontaras secara umum berhubungan dengan perbedaaan dalam
bpantulan (reflection), warna (color) atau pola (patterns) antara target dan latar di
sekitar target (Tayyari and Smith, 1997)
Peningkatan kontras mungkin salah satu cara yang lebih efektif dalam upaya
meningkatkan kemampuan daya lihat. Latar belakang daerah kerja dibuat sesederhana
mungkin. Background yang kacau, yang mempunyai banyak perpindahan seharusnya
dihindari dengan menggunakan sekat-sekat.
4. Kualitas Pencahayaan (Brightness) yang tepat
Menunjukkan jangkauan dari luminansi dalam daerah penglihatan. Kualitas
pencahyaanan dari suatu tugas (task) tergantung dari jumlah cahaya yang diterima oleh
objek dan yang dipantulkan. Peningktan jumlah cahaya yang jatuh pada objek
secara langsung dapat meningkatkan kualitas pencahayaan dari objek tersebut (Tayyari
and Smith, 1997). Brightness yang tepat akan memberikan efek produktivitas yang
tinggi pada pekerja. Terangnya cahaya yang diperlukan oleh suatu obyek tergantung
pada banyaknya cahaya yang dipantulkan dari obyek tersebut kemata kita. Penglihatan
kesuatu bagian sering tergantung dari perbedaan cahaya diantara bagian tersebut
dengan latar belakangnya. Perbedaan terangnya cahaya dapat dinyatakan sebagai ratio
atau perbandingan terangnya cahaya, makin besar perbedaan ratio makin cepat tugas
dilaksanakan. Untuk efisien dan mudahnya melihat maka penerangan hendaknya
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
licin, halus dan berkilau akan mengganggu pekerja saar melihat objek yang
dilihat. Keadaan ini dapat ditanggulangi dengan menempatkan kembali suatu
pekerjaan dan sumber-sumber penerangan, untuk mengurangi cahaya pantulan
yang menuju pada objek yang sedang dikerjakan. Standart Australia AS 1680
memberikan tingkat-tingkat maximum luminansi untuk berbagai sudut yang
berbeda dari garis vertikal yang rapat dibawah the luminaire. Biasanya tingkat
luminance dibatasi dalam daerah 45 - 90. Permukaan kerja yang mengkilap dan
lantai yang mengkilap juga perlu menghindari adanya glare (silau). Untuk
menghindari glare dapat dipasang penyerap cahaya atau warna yang dapat
menyerap cahaya, memasang pelindung pada sumber cahaya dan menghindari atau
menjauhkan sumber cahaya yang berlebihan.
3. Kontras yang tepat
Kontars dari sebuah pekerjaan berkenaan dengan perbedaan secara relatif
antara target dengan benda yang berada dekat disekeliling target yang akan dikerjakan.
Perbedaan pada kontaras secara umum berhubungan dengan perbedaaan dalam
bpantulan (reflection), warna (color) atau pola (patterns) antara target dan latar di
sekitar target (Tayyari and Smith, 1997)
Peningkatan kontras mungkin salah satu cara yang lebih efektif dalam upaya
meningkatkan kemampuan daya lihat. Latar belakang daerah kerja dibuat sesederhana
mungkin. Background yang kacau, yang mempunyai banyak perpindahan seharusnya
dihindari dengan menggunakan sekat-sekat.
4. Kualitas Pencahayaan (Brightness) yang tepat
Menunjukkan jangkauan dari luminansi dalam daerah penglihatan. Kualitas
pencahyaanan dari suatu tugas (task) tergantung dari jumlah cahaya yang diterima oleh
objek dan yang dipantulkan. Peningktan jumlah cahaya yang jatuh pada objek
secara langsung dapat meningkatkan kualitas pencahayaan dari objek tersebut (Tayyari
and Smith, 1997). Brightness yang tepat akan memberikan efek produktivitas yang
tinggi pada pekerja. Terangnya cahaya yang diperlukan oleh suatu obyek tergantung
pada banyaknya cahaya yang dipantulkan dari obyek tersebut kemata kita. Penglihatan
kesuatu bagian sering tergantung dari perbedaan cahaya diantara bagian tersebut
dengan latar belakangnya. Perbedaan terangnya cahaya dapat dinyatakan sebagai ratio
atau perbandingan terangnya cahaya, makin besar perbedaan ratio makin cepat tugas
dilaksanakan. Untuk efisien dan mudahnya melihat maka penerangan hendaknya
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
mempunyai cahaya terang yang relatif uniform.
Bayang-bayang yang tajam adalah akibat dari sumber cahaya buatan yang kecil
atau cahaya matahari. Secara umum shadow digunakan untuk inspeksi menunjukkan
cacat pada permukaan suatu barang. Dengan distribusi cahaya yang baik maka akan
dapat mengurangi kelelahan pada mata kita karena harus selalu fokus kepada objek
yang dilihat. Banyaknya cahaya yang dipancarkan dan diperlukan tergantung dengan
jenis pekerjaanyang dilakukan. Pada umumnya distribusi penerangan yang merata akan
dibutuhkan didalam industri, karena ini akan memungkinkan fleksibilitas dalam lay-
out dan akan membantu adanya perataan/ uniformitas dari terangnya cahaya.
Penerangan yang buruk, adanya bagian-bagian yang gelap dan bagian-bagian yang
terang, adalah kurang baik.
5. Pemilihan Warna yang tepat
Pengaruh adanya warna akan dapat dirasakan dalam kemudahan melihat. Warna
dapat meminimalisir kelelahan pada mata. Warna juga membawa efek psikologis suatu
ruangan, contoh ruangan dengan warna cerah akan menimbulkan kesan yang lebih luas
dibandingkan dengan warna-warna gelap.
Pengaruh adanya warna akan jelas, dalam keselamatan da kemudahan dalam
melihat. Jika diadakan pengkoordnasian penerangan dengan baik, pemilihan warna
yang baik maka akan menimbulkan keadaan penglihatan yang cukup baik, yaitu akan
mengurangi sinar silau, mengawasi kontras yang tajam dan meminimalisir kelelahan
mata.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
TATA TERTIB PRAKTIKllM ANALISIS PERANCANGAN KERJA
l . Praktikan tidak diperkenankan mengenakan sandal, kaos dan baju tanpa
kerah, celana robek, rok mini, topi, celana pendek, berdandan/berpenampilan
tidak layak, makan, rninurn, dan atau merokok di dalarn ruangan laboratorium.
2. Praktikan harus datang pada. waktu yang telah ditentukan. Apabila
praktikan terlambat lebih dari 15 menit tidak diperbolehkan mengikuti
praktikum dan dianggap inhal,
3. Praktikan dapat mengikuti acara praktikurn apabila laporan sementara
acara praktikum sebelumnya telah disetujui oleh asisten praktikurn dan
dibuktikan dengan paraf dari asisten praktikum pada kartu praktikumnya.
4. Sebelum acara praktikum dimulai diadakan pretest atau ujian pendahuluan
mengenai materi praktikurn yang akan dilaksanakan.
5. Praktikan dianggap inhal apabila:
a. Terlarnbat lebih dari 15 menit dari jadwal acara praktikurn yang telah
ditentukan
b. Tidak hadir pada acara praktikum yang diselenggarakan. Apabila hanya
salah satu yang hadir, maka inhal berlaku untuk satu kelompok, sedangkan
praktikan ya.ng hadir tidak dikenai biaya inhal.
c. Tidak membuat laporan sernentara praktikum sebelumnya yang telah
disetujui oleh asisten praktikum (dengan bukti kartu asistensi)
6. Bagi praktikan yang inhal harus mendaftarkan diri untuk penggantian acara praktikum
kepada koordinator praktikum Analisis Perancangan Kerja.
7. Bagi praktikan yang inhal diwajibkan untuk membayar denda berupa buku
untuk perkelornpok sebagai penggantian acara praktikurn yang tidak dihadiri
praktikan sesuai jadwal yang telah ditentukan,
8. Jika dari satu kelompok ada salah satu praktikan yang melakukan inhal
maka inhal berlaku bagi kelompok yang bersangkutan dan tidak diperbolehkan
mengikuti acara praktikum selanjutnya sebelum mengganti acara praktikum
yang tidak dihadiri.
9. Waktu penggantian acara praktikum dibicarakan antara kelompok yang
melakukan inhal dan asisten penanggung jawab acara praktikum yang
bersangkutan.
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
10. Praktikan dianggap gugur (tidak lulus) jika:
a. Telah inhal lebih dari 2 kali
b. Tidak menyelesaikan laporan akhir praktikurn
c. Tidak mengikuti responsi
d. Apabila terdapat tindak kecurangan yang dilakukan oleh salah satu atau
kedua praktikan selama masa praktikum (pemalsuan identitas,
menggantikan praktikan dengan praktikan lain, dll.)
e. Bagi praktikan yang gugur harus mengikuti seluruh rangkaian acara
praktikum pada praktikum APK berikutnya.
Koordinator Praktikum Analisis Perancangan Kerja
Deasy Kartika Rahayu K,. ST. MT
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
Panduan Laporan Resmi praktikum APK
1. Kertas Kuarto (A4)
2. Huruf times new roman 12 space 1.5 penomoran halaman bagian kanan bawah kertas
jarak 2 cm kanan bawah.
3. Penulisan Laporan . Resrni mengacu pada BUKU PANDUAN,
Tugas skripsi/Tugas Akhir.Serninar dan Praktek Kerja Lapangan yang
dimiliki Fakultas Teknik UNMUL.
4. Urutan materi :
a) Speed rating
b) Analisis sampling kerja
c) Analisis Peta kerja
d) Pengukuran kerja secara iidak langsung
e) Lingkungan Fisik
f) Kecepatan Reaksi
5. Format laporan:
a) Cover
b) Lembar pengesahan asisten pembimbing dan Penanggung jawab Lab.
APK
c) Kata pengantar
d) Daftar isi
e) Daftar Gambar ( Kalau ada)
f) Daftar Tabel ( Kalau ada)
g) Laporan berdasarkan urutan mated yang masing-rnasing terdiri atas:
- BAB I Pendahuluan
1.1 Latar belakang rnateri
1.2 Tujuan rnateri
- BAB II Landasan Teori
- BAB Ill Pembahasan
3.1 Pengumpulan data
3.2 Pengoianan data
3.3 Analisis Data
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
- BAB IV Kesimpulan dan Saran
4.1 Kcsimpulan
4.2 Saran
h) Penutup
i) Lampiran (sesuai urutan materi)
6. Laporan dikulpul dan telah di setujui oleh asisten pembimbing praktikum
masing masing paling lambat 2 minggu setelah berakhirnya praktikum
7. Pengumpulan Laporan Resmi yang tidak sesuai tanggal yang telah ditentukan
akan dikenakan denda berupa buku yang judulnya ditentukan.
8. Laporan resmi yang dikumpulkan dijilid soft cover warna kuning
(sesuai warna kartu asistensi),
Samarinda, Maret 2013
LAB. APK
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
LEMBAR PENGAMATAN
LINGKUNGAN FISIK (IKLIM)
Kelompok :
Hari/Tanggal :
Perc. Opr. Waktu tiap Produk (detik)
Waktu
Rata-rata
Jumlah
Produk/
15 Menit
P
A
N
A
S
1
2
N
O
R
M
A
L
1
2
D
I
N
G
I
N
1
2
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
LEMBAR PENGAMATAN
PERFORMANS RATING DENGAN METODE SPEED RATING
Opr. Met. Estimasi (%) Aktual (detik)
Rata-rata
Estim. Aktual
1
1
2
3
2
1
2
3
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
LEMBAR PENGAMATAN PETA KERJA
Peta Tangan Kanan dan Kiri
Pekerjaan :
Departemen : -
No. Peta : -
Dipetakan oleh :
Tanggal dipetakan :
dengan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Tangan Kiri
Jarak
(cm)
Kode Waktu (detik) Kode
Jarak
(cm)
Tangan Kanan
OPERATOR
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
LEMBAR PENGAMATAN WORK SAMPLING
Kelompok :
Objek Pengamatan :
Nama Pekerja :
Jam Pengamatan :
Hari/Tanggal :
Bilangan Random :
Data pengambilan work sampling hari pertama dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Tabel pengambilan data work sampling hari pertama
No. Bilangan Random Jam Kunjungan Tally Produktif Tally Idle OIU Ket. Pekerja
SAMARINDA, ..........................................
Operator/Petugas
...........................................
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
TABEL PENGAMATAN WAKTU GERAKAN KERJA MENGGUNAKAN METHODS TIME
MEASUREMENT (MTM) DAN WORK FACTOR SYSTEM
No Deskripsi Elemen Kerja
Analisa
Gerakan
Waktu
(Detik)
LAB. APK&E 2012/2013
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
LEMBAR PENGAMATAN
PENGARUH WARNA PADA KECEPATAN REAKSI (WAKTU RESPON)
No
Waktu Respo yang dihasilkan (detik) rata rata waktu respon
Warna
Merah Kuning Hijau Merah Kuning Hijau
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
No
Tingkat kesalahan
Warna
Merah Kuning Hijau
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10