Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Pada awalnya tes intelegensi ini telah dipraktekan oleh negara cina sejak sebelum dinasti Han, yang dilakukan oleh jenderal cina, untuk menguji rakyat sipil yang ingin menjadi legislatif berdasarkan pengetahuan menulis klasik, persoalan administratif dan manajerial.Kemudian dilanjutkan sampai pada masa dinasti Han (200 SM- 200 M), namun seleksi ini tidak lagi untuk legislatif saja, tetapi mulai merambah pada bidang militer, perpajakan, pertanian, dan geografi. Sehingga apabila anda sebagai psikolog ingin menguji perbendaharaan kata pada anak-anak, ketelitian seorang akuntan, atau koordinasi tangan dan mata bagi pilot, maka anda tentu akan menguji kinerja (performance) mereka dengan tes psikologi, masing-masing adalah tes rangkaian kata, tes penjumlahan matematika, dan tes motorik. Tes psikologi pada dasamya adalah sampel perilaku yang diambil pada suatu saat tertentu. Tes seringkali dibedakan menjadi tes prestasi dan tes bakat. Tes prestasi digunakan untuk mengukur ketrampilan yang telah dicapai/dipelajari dan menunjukkan apa yang dapat dilakukan sesorang pada saat ini, sedangakn tes bakat adalah untuk memprediksi apa yang dapat dilakukan seseorang apabila dilatih. Perbedaan ini akhimya tidak dianggap sebagai perbedaan, melainkan dianggap sebagai begian dari suatu kesatuan (Atkinson dkk., 1993). Suatu tes psikologi dalam mengukur sampel perilaku harus memiliki sifat standar dan objektif. Standardisasi berhubungan dengan keseragaman tes dalam

hal administrasi dan skoring, sementara objektivitas berhubungan dengan standardisasi, terutama dalam hal administrasi, skoring, dan interpr~asi skor yang hams tidak bergantung kepada penilaian subjektif dari pengujinya (Anastasi, 1988). Intelegensi atau kecerdasan sering diasosiasikan dengan kecerdikan, kemengertian, kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk menguasai sesuatu, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi atau lingkungan tetentu, dan sebagainya.
Secara garis besar dapat disumpulkan bahwa intelegensi adalah kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh arena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu yang akan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu.

BAB II ISI

A. SEJARAH Pada awalnya tes intelegensi ini telah dipraktekan oleh negara cina sejak sebelum dinasti Han, yang dilakukan oleh jenderal cina, untuk menguji rakyat sipil yang ingin menjadi legislatif berdasarkan pengetahuan menulis klasik, persoalan administratif dan manajerial.Kemudian dilanjutkan sampai pada masa dinasti Han (200 SM- 200 M), namun seleksi ini tidak lagi untuk legislatif saja, tetapi mulai merambah pada bidang militer, perpajakan, pertanian, dan geografi. Meskipun diawali dengan sedikit mencontoh pada seleksi militer perancis dan Inggris. Sistem ujian telah disusun dan berisi aktivitas yang berbeda, seperti tinggal dalam sehari semalam dalam kabin untuk menulis artikel atau puisi, hanya 1 sampai dengan 7 yang diijinkan ikut ambil bagian pada ujian tahap kedua yang berakhir dalam tiga hari tiga malam. Menurut Gregory (1992), seleksi ini keras namun dapat memilih orang yang mewakili karakter orang Cina yang kompleks. Tugas-tugas militer yang berat cukup dapat dilakukan dengan baik oleh para pegawai yang diterima dalam seleksi fisik dan psikologi yang intensifTokohtokoh yang berperan antara lain adalah Wundt. Beliau merupakan psikolog pertama yang menggunakan laboratorium dengan penelitiannya mengukur kecepatan berpikir. Wundt mengembangkan sebuah alat untuk menilai perbedaan

dalam kecepatan berpikir. Sedangkan Cattel (1890) menemukan tes mental pertama kali. Yang memfokuskan pada tidak dapatnya membedakan antara energi mental dan energi jasmani. Meskipun pada dasarnya tes mental temuan Cattel ini hamper sama dengan temuan Galton, tokoh yang tak kalah pentingnya adalah Alfred Binet. Selain kontribusi nyata pribadi beliau dengan menciptakan tes intelegensi, beliau juga bekerjasama dengan Simon (1904) untuk membuat instrument pengukuran tes intelegensi dengan skala pengukuran level umum pada soal-soal mengenai kehidupan sehari-hari. Perkembangan selanjutnya dua tokoh ini mengembangkan penggunaan tes intelegensi dengan tiga puluh item berfungsi mengidentifikasikan kemampuan sekolah anak. Tahun 1912, Stress membagi mental age dengan chronological age sehingga muncul konsep IQ. Tokoh selanjutnya yang berperan adalah Spearman dan Persun, dengan menemukan perhitungan korelasi statistic. Perkembangan selanjutnya dibuatlah suatu standar Internasional yang dibuat di Amerika Serikat berjudul Standards of Psyhological and Educational Test yang digunakan sampai sekarang. Kini tes psikologi semakin mudah, raktis dan matematis dengan berbagai variasinya namun tanpa meninggalkan pedoman klasiknya.

Psikodiagnostik adalah sejarah utama dari tes psikologi atau yang juga disebut psikometri.

B. PENGERTIAN Inteligensi adalah aplikasi dari kemampuan kognitif dan pengetahuan untuk belajar menyelesaikan masalah dan mencapai nilai akhir yang akan dihargai oleh individual atau lingkungan budaya. Pengertian intelegensi menurut beberapa ilmuan, sebagai berikut : Darwin (sudut biologi) Inteligensi akan meningkat sejalan peningkatan ukuran dan kompleksitas pusat saraf otak yanglebih tinggi. Jaspers& page. inteligengesi keseluruhan dari kemampuan mental seseorang yang diperoleh sejak lahir termasuk bakat. David wechsler (sudut psikologi) inteligensi adalah kapasitas global untuk bertindak tujuan berpikir rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif. Alfred Binet dan Theodore Simon (1857-1911), intelegensi terdiri dari tiga komponen, yaitu kemampuan untuk mengubah pikiran atau tindakatn, kemampuan untu mengubah arah tindakan bila tidakan itu teah dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri (autocritism). Lewis Madison Therman (1916) mendefiisikan intelegensi sebagai

kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak. H.H. Goddard (1946) mendefinisikan intelegensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan mengantiipasi masalah-masalah yang akan datang. Secara garis besar dapat disumpulkan bahwa intelegensi adalah kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh arena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan

dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu yang akan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Inteligesi dilihat dari perspektif sebagai berikut : 1. Evolutionary perspective, intelegensi adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan adaptasi. 2. Behavior perpective, intelegensi adalah suatu kapasitas untuk mencapai tujuan adaptif dalamprilaku. 3. Cognitive perspective, intelegensi adalah suatu proses nalar yang diterapkan untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan.

C. INTELEGENSI DAN IQ Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah : 1. Faktor bawaan atau keturunan Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka

berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal. 2. Faktor Lingkungan Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, ransangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. Orang seringkali menyamakan arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempuyai arti yang sangat mendasar. Arti intelegensi sudah dijelaskan di atas, sedangkan IQ atau tingkat dari Intelligence Quotient adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Skor IQ mulai diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampun yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi

kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

D. SIFAT TES INTELEGNSI Beberapa sifat intelegensidi atas adalah sifat-sifat yang bersifat teknis dalam hubungannya dengan penyusunan tes intelegensi. Beberapa sifat lain dari tes intelegensi dan hasil pengukurannya antara lain adalah sebagai berikut: 1. Tes individual dan tes klasikal Pada bagian terdahuludikatakanbahwatesBinetdan tesWechsler adalah teskemampuan individual, karena kedua tes tersebut dilaksanakan pada satu individu oleh seorang penguji yang dilatih secara khusus. Sementara itu kitajuga mengenal tes kemampuan klasikal, yang dapat dilakukan terhadap sejumlah orang dengan satu orang penguji, serta biasanya dalam bentuk tertulis. Tes kemampuan yang bersifat klasikal tersebut berfungsijika sejumlah orang harus segera dievaluasi, sementara hanya terdapat sedikit orang penguji. Salah satu bentuk tes klasikal adalah SPM (Standard Proggresive Matrices).
2. Hubungan antara intelegensi dengan kreativitas

Menurut Atkinson dkk. (1993) tes intelegensi umum (seperti Binet dan Wechsler) ternyata berkorelasi cukup tinggi dengan prestasi belajar di sekolah, serta berkorelasi yang lebih rendah dengan prestasi intelektual di kemudian hari (bila dibandingkan prestasi belajar). Akan tetapi tes

intelegensi tidak dapatmengukur aspek penting dari intelegensi yaitu pemikiran kreativitas atau pemikiran orisional. Dalam suatu pemecahan masalah umumnya meliputi dua fase yaitu mencari beberapa alternatif dan kemudian memilih salah satu alternatif tersebut yang tampaknya dianggap paling tepat. Fase yang pertama dapat diasumsikan sebagai pemikiran divergen, dimana pemikiran individu menyebar pada sejumlah alur yang berbeda. Sedangkan yang kedua diasumsikan sebagaipemikiran konvergen,dimanapengetahuandan aturan logika digunakan untuk memperkecil kemungkinan guna memperoleh kemungkinan pemecahan masalah yang tepat. Sebagian besar tes intelegensi menekankan kepada pemikiran konvergen, yang menyajikan masalah yang memiliki jawaban tepat yang dirumuskan dengan baik. Tes-tes intelegensi tradisional tersebut umumnya tidak dapat menggali kemampuan berpikir divergen pada subjek yang dikenai tes. Dua pertanyaan mendasar yang kemudian muncul: apakah kemampuan yang diukur melalui tes kreativitas berbeda dengan tes yang diukur melalui tes intelegensi umum? Apakah skor pada tes intelegensi tersebut dapat memprediksi prestasi kreatif dalam kehidupan sehari-hari? Menurut Atkinson dkk. (1993) kemamapuan yang akan digali melalui tes intelegensi dan tes kreativitas tampaknya akan selalu tumpang tindih. Untuk suatu populasi, tes intelegensi cenderung berkorelasi positif dengan skor pada tes kreativitas; dimana orang yang memiliki IQ di atas rata-rata cenderung mencapai skor di atas rata-ratapada tes kreativitas. Akan tetapi pada tahap

intelegensi tertentu (IQ sekitar 120), terdapat korelasi yang rendah antara skor intelegensi dengan skor kreativitas. 3. Bebas budaya dan penggunaan pada anak khusus

Menurut Atkinson dkk. (1993) penampilan seseorang dalam suatu tes amat tergantung pada kebudayaan mana seseorang itu dibesarkan. Hal ini akan nyata benar terutama pada tes verbal yang membutuhkan pemahaman bahasa tertentu. Suatu tes umumnya memang dirancang untuk mengukur intelegensi pada orang yang berada di dalam kebudayaan dimana tes tersebut dirancang. Suatu tes yang bebas budaya (culture fair) dikembangkan dengan cara

meminimalkan penggunaan bahasa, ketrampilan, dan nilai-nilai yang berbedabeda dari kebudayaan satu dengan yang lain. Suatu contoh dari tes bebas budaya adalah Goodenough-Harris Drawing Test. Dalam tes ini subjek diminta menggambar manusia semampunya (semaksimal yandia dapat). Gambar manusia tersebut diskor dari proporsi, ketepatannya, dan

kelengkapannya yang kesemuanya itu dapat diwakili dari bagian tubuh, detil pakaian, dan sebagainya. Bukannya diskor dari bakat artistiknya (Morris, 1990). Contoh lain dari tesbebas budaya adalah Standard Progressive Matrices, yang berisikan 60 rancangan. Subjek diminta untuk memilih dari 6 sampai 8 pilihan jawaban dari setiap pertanyaan.
Pilih salah satu huruf di bawah ini sebagai penutup yang terbaik untuk melengkapi pola

gambar Cattel (dalam Morris, 1990)mengembangkan Culture Fair Intelligence Test (CFIT), yang berusaha mengkombinasikan beberapa pertanyaan pemahaman verb

engetahuan yang bebas budaya. Dengan membandingkan skor-skor dalam dua macam pertanyaan, maka faktor budaya dapat dikesampingkan.

Gambar 2.1. Salah satu item dalam SPM (Standard Progressive Matrices)

Cattel (dalam Morris, 1990)mengembangkan Culture Fair Intelligence Test (CFIT), yang berusaha mengkombinasikan beberapa pertanyaan pemahaman verb engetahuan yang bebas budaya. Dengan membandingkan skor-skor dalam dua macam pertanyaan, maka faktor budaya dapat dikesampingkan.
Pilihlah salah satu item untuk melengkapi rangkaian empat gambar di sebelah kiri

Gambar 2.2 Salah Satu Item dalam CFIT (Culture Fair Intelligence Test) Anak yang tuli akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari katakata dari pada anak normal. Para imigran atau tenaga kerja asing yang berprofesi sebagai pengacara atau insinyur tentu akan membutuhkan waktu yang lama dalam mempelajari bahasa Indonesia. Bayi di bawah tiga tahun tentu akan mengalami

kesulitan dalam menjawab beberapa pertanyaan verbal. Lalu munculpertanyaan: bagaimanakitamengukurdengan tes intelegensi terhadap orang-orang seperti itu? Cara yangdigunakan adalah denganmeminimalkanpenggunaankata-kata, yaitu dengan perform ace test atau tes kinerja, yang merupakan tes non-verbal. Salah satu contoh tes kinerja yang pertama kali dikembangkan adalahpada tahun

1866adalahSeguin FormBoard, yang merupakan suatupuzzle yang dipakaipada anakanak yangmengalami retardasi mental. Tes kinerja lainnya yangterkenal

adalahPorteus Maze, yangberupajaringan jalan yang rumit dan memiliki tingkat kesulitan yang bertingkat (Morris, 1990). Bagi anak-anak yang masih kecil, salah satu tes yang paling efektif digunakan adalah Bayley Scales of Infant Development. Skala Bayley digunakan untuk mengevaluasi perkembangan kemampuan anak dari umur 2 bulan hingga 1,5 tahun. Skala-skalanya meliputi persepsi, memori, komunikai verbal, dan beberapa skala motorik seperti duduk, berdiri, berjalan, dan ketangkasan. Skala Bayley inijuga dapat digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda awal dari kerusakan sensorisdan neurologis, gangguan emosional, dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan fisik (Morris, 1990)

E. KLASIFIKASI Intelegensi dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat alaminya sebagai berikut : 1. Inteligence bersipat multifaceted Artinya aspek-aspek dari intelegensi dapat diekspresikan dalam segala bidang. Contohnya intelegensi yang bersipat umum seperti keahlian musik, keahlian ini dapat diterima di semua lingkungan.

2. Intellegence bersipat functional Artinya kemampuan intelengesi dapat digunakan untuk memecahkan masalah atau untuk pemenuhan tugas.

F. TES INTELEGENSI Tes inteligensi adalah suatu tes inteligensi yang terdiri atas dua seri tugas dengan kesulitan bertingkat yanmg telah dibakukan pada suatu sampel yang repsentatif. Ada 2 jenis tes intelegensi : 1. Psycometric instruments yaitu tes-tes yang mengkualifikasi atribut-atribut psikologi, seperti kepribadian dan kemampuan intelektual. 2. Intellegence test adalah alat ukur yang didesign untuk mengeumpulkan data tingkat kemampuan kognitif individu untuk menbandingkan orang-orang yang ada dipopulasinya. Pengukuran tes intelegensi pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodore Simon 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet - Simon yang kemudian direvisi pada tahun 1911. Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari Tes Binet Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numeric yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan kronologikal age. Hasil perbaikan ini

disebut Tes Stanford-Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Seorang tokoh psikolog Charles Sperrman mengemukakan bahwa intelegensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factory Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale)untuk dewasa dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak. Macam alat tes psikologi berdasarkan aspek yang diukur : 1. Tes Intelegensi -

WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) Wechsler Preschool and Primary Scale for Intelligence Tes BINET IST (Intelegences Struktural Test) SPM (Standard Progressive Matrices) TIKI (Tes Intelegensi Kolektif Indonesia)

CIFT Coloured Progressive Matrices Advanced Progressive Matrices

2. Tes Kepribadian a. Proyektif Roorscharch inkblots Word association


-

TAT (Thematic Apperception Test)

SSCT (Sack Sentence Completion Test) BAUM HTP DAP Wartegg Tes Grafis Tes Szhondi (sarana proyeksinya foto) Tes Rorschach (salah satu tes bercak tinta)

b. Inventori
-

EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) 16PF SOV MMPI (Minessota Multiphasic Personality Inventory) RMIB Tes Pauli Papikostik CAQ (Clinical Analysis Questionnaire)

3. Tes Bakat DAT GATB FACT

4. Tes Minat : Kuder

G. Tes BINET IST (Intelegences Struktural Test) Menurut Atkinson dkk. (1993) intelegensi oleh beberapa pakar psikologi dipandang sebagai kapasitas umum untuk memahami dan menalar sesuatu yang kemudian diejawantahkan ke dalam berbagai cara. Asumsi Binet adalah meski suatu tes intelegensi terdiri dari berbagai macam butir soal (yang mengukur kemampuan seperti rentang ingatan, berhitung, dan kosakata) seperti dalam tes Binet, akan tetapi anak yang cerdas akan cenderung mendapatkan skor yang lebih tinggi dari pada anak yang bodoh. Tabel 1. Beberapa contoh item dalam Skala intelegensi Stanford-Binet

Usia 2 3

TUGAS Menyebutkan bagian-bagian tubuh: Kepadaanak ditunjukkan sebuah kertas yang besar dan diminta untuk menunjukkan berbagai bagian tubuh. Ketrampilan visual motorik: Kepada anak ditunjukkan sebuah jembatan yang disusun dari tiga balok dandiminta untuk membangun jembatan seperti itu; Dapat meniru sebuah lingkaran Analogi yang berlawanan: Mengisi titik-titik dengan kata yang tepat jika ditanya:" Saudara laki-Iakiseorangpria adalah ; Saudaraperempuanadalah seorang ; Siang hari terang, malam hari......... Penalaran: Menjawab dengan tepat jika ditanya: "Mengapa kita memerlukan rumah?" "Mengapa kita memerlukan buku?" Perbendaharaan kata: mendefinisikan kata seperti: bola, topi, dan tungku. Ketrampilan visual motorik: Dapat meniru gambar sebuah persegi empat. Konsep angka: Dapat memberikan 9 buah balok kepada penguji jika diminta Melakukannya Ingatan tentang cerita:Mendengarkan sebuahceritadan menjawab pertanyaan tentang cerita tersebut Kesimpulan: Penguji melipat sehelai kertas beberapa kali, menggunting sudutnya setiap kali melipat. Subjek ditanya tentang cara menetapkanjumlah lubang yang akan terjadi bila kertas itu dibentangkan Perbedaan: Dapat menjelaskan perbedaan antara "kesengsaraan dan kemiskinan"; "watak ke dan reputasi" Ingatan tentang angka yang dibalik: Dapat mengulang enam angka secara mundur (dalam susuna terbalik) setelah dibaca keras oleh penguji.

5 6 8 14

Dewasa (> 15 tahun)

Dengan demikian, Binet dan Simon lalu berasumsi bahwa tugas yang berbeda-beda tersebut menggali kecakapan atau kemampuan dasar. Dalam intelegensi kecakapan tersebut jika mengalami perubahan dan kekurangan akan mempengaruhi kehidupan praktis. Kecakapan ini berupa daya timbang, akal sehat, cita rasa praktis, inisiatif, dan kecakapan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi. Menimbang dengan baik, memahami dengan baik, menalar dengan baik, kesemua- nya itu merupakan kegiatan intelegensi yang sangat penting.

H. WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children)

David Wechsler (dalam Atkinson dkk., 1993) meski dengan tes intelegensi dengan beragam skala, juga meyakini bahwa intelegensi merupakan himpunan kapasitas untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Tabel 2. Beberapa Contoh Item-item dalam WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children)
TES Skala Verbal Information Comprehension Arithmetic Similarities Digit Span (Deret angka) Vocabulary Skala performance
Digit symbol Picture Block design Picture Object Tugas pengkodean yang diberi batas waktu dimana angka diasosiasikan dengan berbagaimacam bentuktanda; mengukur kemampuan belajar menulis. Bagian yang hilang dari gambar yang completation tidak lengkap hams dicari dan disebutkan; mengukur kemampuan untuk memahami dan menganalisis pola. Susunan yang tergambar hams ditim dengan menggunakan balok; mengukur kemampuan untuk memahami dan menganalisis pola. Serangkaian gambar hams disusun arrangement menjadi cerita yang hidup dengan urutan ke kanan; mengukur pemahaman tentang situasi sosial. Potongan-potongan kayu hams disatukan assembly untuk membentuk suatu bendayangsempurna;mengukurkemampuanyangberkaitandengan hubungan bagian-keselumhan.

URAIAN

Pertanyaan-pertanyaan tentang infonnasi yang umum: misalnya, "Satu kilogram sarna dengan berapa pon?" Mengukur infonnasi praktisdan kemampuan untuk mengevaluasi pengalaman masa lampau; misalnya, Mengapa kita perlu menabung?" Soal-soal verbal yang mengukur penalaran aritmetika Menanyakan kesamaan objek atau konsep tertentu (misalnya: telur & benih); mengukur pemikiran abstrak Serangkaian angka yang disajikan secara auditoris (misalnya 7-5-63-8) diulang dari depan atau dari belakang; mengukur perhatian dan ingatan luar kepala Mengukur pengetahuan kita

I. TES KREATIFITAS
Menurut KogandanPankove (dalam Atkinsondkk., 1993)kita hanya dapat berspekulasi tentang apakah tes kreativitas dapat memprediksi prestasi kreatif yang sebenamya. Beberapa penelitian jangka panjang telah dilakukan, yang hasilnya tidak menggembirakan. Salah satunya menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang rendah antara skor berpikir divergen dengan kecakapan ekstrakurikuler yang membutuhkan bakat dalam hal kepemimpinan, drama, seni, atau ilmu pengetahuan pada siswa-siswa sekolah lanjutan. Beberapa individu yang memiliki skor yang sangat tinggi pada tes intelegensi akan memperoleh skor yang rendah pada tes kreativitas. Sedangkan individu yang memiliki intelegensi sedikit di atas rata-rataakan memperoleh skoryang tinggi pada tes kreativitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada distribusi bagian atas, kreativitas tidak tergantung pada intelegensi. Lalu apakah hasil tes kreativitas dapat diprediksi sebagai alat untuk melihat kreativitas dalam kehidupan sehari-hari? Tabel 2.3 Beberapa Contoh Item-item dalam tes Kreativitas. 1. PENGGUNAAN YANG TIDAK BIASA (Guilford, 1954) Sebutkan sebanyak mungkin penggunaan: a. tusuk gigi b. batu bara c. penjepit kerta AKIBAT (GQilford, 1954) Bayangkan emua hal yang mungkin terjadi bila tiba-tiba hukum nasional dan hukum daerah dihapuskan ASOSIASI JAUH (Mednik, 1962) Carilah kata keempat yang dapat diasosiasikan dengan setiap kata dari ketiga kata.kata di bawah ini: a. tikus biru pondok b. keluar anjing kucing c. roda listrik tinggi d. heran garis ulang tahun

2.

3.

4.

ASOSIASI KATA (Getzels dal1Jackson, 1962) Tuliskan sebanyak mungkin makna setiap kata.di bawah ini: a. itik b. saku c. bubungan d. adil

Agaknya untuk memperoleh prestasi kreatif, dibutuhkan keduanya baik kreativitas untuk berpikir divergen maupun intelegensi untuk berpikir konvergen. Para peneliti yang melakukan penelitian terhadap para ilmuwan dan seniman menyimpulkan bahwa faktor kepribadian seperti kebebasan berpendapat, motif berprestasi, inisiatif, dan adanya toleransi terhadap ambiguitas (kemenduaan), merupakan syarat penting bagi prestasi kreatif, yang kesemuanya itu tidak dapat diukur melalui tes kreativitas (Atkinson dkk., 1993)

J.