PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No. setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup. meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup. sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Jenis . berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 6 . AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. Melalui studi AMDAL.17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. kompleks. c. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.27 Tahun 1999 tentang AMDAL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar.

Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan.17/KPTS/M/2003. 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam. diperlukan izin dari Menteri Kehutanan. yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Untuk hal ini. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali. Kebijakan Sektor yang Terkait a. Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan. Keputusan Menteri Kehutanan No. menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No. tetapi menyangkut 7 . disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No. hutan pelestarian alam dan hutan buru). Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. hutan lindung serta hutan produksi.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut. serta ada persyaratan menyusun AMDAL.

10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No. tanpa kompensasi. maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi. b. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 . Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan. diatur dalam Keputusan Presiden No.419/KPTS/II/1994 tersebut di atas). 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 5 tahun 1992. khususnya kegiatan pengadaan tanah. wajib dilaporkan terlebih dahulu. seperrti pembangunan jalan. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya. Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala. c. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan.  Perencanaan ruang wilayah kota. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung. dan dapat diperpanjang kembali.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No. 5 Tahun 1993. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL.

9 . serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. tanah pengganti. d. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah. 55 tahun 1993. diberikan untuk hak atas tanah. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Dalam situasi dan kondisi tertentu. 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah. jenis hak atas tanah. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas. diatur dalam Undang-Undang No. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut. bangunan. 1 tahun 1994.  Keterangan tentang letak.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya. dan nama pemilik tanah. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. bila perlu.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. pemukiman kembali.

jalur kereta api khusus terusan. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api. jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat.1. termasuk prasarana jalan. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. 2) Keamanan konstruksi jalan rel. 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives).3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a. e. 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil. antara lain penyediaan sarana dan prasarana. saluran air. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api. terpencar. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. 4. serta keamanan perlintasan. 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan. Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. prosedur (procedures). Dalam Keputusan Presiden No. Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. dan perlengkapan 10 . serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan.

tercantum dalam OP/BP 4. yang didasarkan atas tipe. prosedur Bank (BP).11. 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan). 11 .01. lokasi. Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi). Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan.09. tercantum dalam OP/BP 4. bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia. tercantum dalam OP/BP 4. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan).36.04. adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment). tercantum dalam OP/BP 4. 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali).60. hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan. tercantum dalam OP 4. tercantum dalam BP 4. dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut.  Audit Lingkungan.  Rencana Pengelolaan Lingkungan.12. tercantum dalam BP 17. tercantum dalam OP/BP 4. 2) Natural Habitats (Habitat Alam).50. Berbagai kebijakan operasional (OP). tercantum dalam OP/BP 4. 7) Forestry (Kehutanan). tercantum dalam OD 20. dan skala kegiatan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools). yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini. 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan). tercantum dalam OP/BP 7. Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas. 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). 9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional). 3) Pest Management (Pengelolaan Hama). 4) Cultural Property (Kekayaan Budaya).  Resiko Lingkungan.37.50.

tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. benda yang mempunyai nilai arkeologi. mempunyai nilai agama yang kuat. benda yang dikeramatkan. untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.  Kategori B. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna.  Kategori C. atau mempunyai nila / keunikan alam. tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. 12 . guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. tapi tidak besar dan tidak penting. Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. benda cagar budaya. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting. B dan C. Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. palaentologi. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No. yaitu:  Kategori A. bersejarah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. dan sebagainya. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam.

Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP.  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis. persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota. Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study. harus dilaksanakan Tracer Study. dalam bentuk NOL (no objection letter).  Simplified LARAP. 4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada). meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas. Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun. sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan. pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk.  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam. baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study). yaitu:  Full LARAP. Karena rencana rute jalan bersifat memanjang. Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru. 13 .  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia.

b. maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat. dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah. dan budaya secara adat. Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www.  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts. 1993 . antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan.  Berbahasa pribumi. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen.  Adanya lembaga sosial. dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan).  Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah. 1998.worldbank. ekonomi. perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS). perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut.  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli. etnik minoritas asli atau kelompok suku.  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on. misalnya: di lokasi kegiatan.org. 1993. Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat. Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial). dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya. Dalam penyusunan dokumen tersebut. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 .

atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final. hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan. sensitivitas lingkungan. berdasarkan atas jenis kegiatan. skala dan besaran kegiatan. 15 . serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). Bank. sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA. ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat.  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas. untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA.  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul. tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting). sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE).  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. lokasi. termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE). yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. IEE.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok. 120 hari sebelum waktu persiapan proyek. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam. sebelum diserahkan kepada Bank.  Penyusunan EIA. agar dan mempergunakan termasuk LSM. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting). c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB. maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan. Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia. biaya perjalanan. 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. kekasaran permukaan jalan. antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. c.  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 16 . volume lalu lintas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank. dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan. dan LSM. supervisi / pengawasan. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program). Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial.

melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening). dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah.  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan. dan bila dianggap kurang meyakinkan. JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup. b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 . serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku. dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut. melakukan monitoring dan tindak lanjut.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC. pemerintah dan organisasi finansial.  Dalam membuat keputusan pendanaan. co-finansial. baik dari stake holder.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup.

tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A. dan sulit dianalisi. baik yang sifatnya negatif maupun positif. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. serta untuk administrasi perbankan.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan. dampak yang timbul complicated.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul.  Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan. serta upaya penanganannya. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B. JBIC dapat melakukan environmental review. dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan. agar screening dapat dilakukan lebih awal. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. sesuai dengan prosedur berikut. 18 . (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A. (4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu.

serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada. JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. (2) pra-studi kelayakan. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan. 19 . perkiraan biaya. secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. Bila diperlukan. yaitu: (1) perencanaan umum. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. (3) studi kelayakan. (5) pra-konstruksi.2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.1. Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus.49/PRT/1990.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. penentuan skala prioritas. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas. mungkin saja karena alasan tertentu. Namun. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan). Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku. a. (4) perencanaan teknis. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. tanpa melakukan pra-studi kelayakan. (7) pasca konstruksi. (6) konstruksi. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. dan (8) evaluasi pasca proyek.

yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi. studi UKL dan UPL. Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL. melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. 20 . perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. atau cukup dengan penerapan SOP. Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. b. termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut.

pemberian kompensasi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. Kep. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah. pematangan lahan untuk konstruksi 21 . monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak.

d. prakonstruksi. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis. ekonomi dan finansial. Untuk keperluan tersebut. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan. Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat. dalam satu paket pekerjaan. tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan. 22 . ekonomi. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. yang didukung oleh data hasil survai lapangan. Karena itu. Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan. Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. konstruksi dan pasca konstruksi.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

e. Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. f. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan. pencemaran udara. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor. gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. kebisingan. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. dan sebagainya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. g. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu.

Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan. seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. antara lain meliputi pengaturan lalu lintas. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan. dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. yaitu: a. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya. h. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. 4. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya. 24 .

5. tanaman dan aset tidak bergerak lainnya. bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan.2. Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). bangunan. semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. sehingga harga tanah meningkat. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya.1. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :. Konsultasi untuk persiapan AMDAL. 5.2. bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5.1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5. Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah. baik dampak negatif maupun positif. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. kelompok profesi. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak. Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu). 25 . d. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan.b). unsur Universitas / perguruan Tinggi. c. namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat.

Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam. road roller.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer. excavator. dsb. 5.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif. Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif.1. Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. truk.2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah.1.1. Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha. sehingga terjadi erosi atau longsor. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar. khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 . stone crusher. AMP.4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi. dan diperlukan pemindahan penduduk. 5. gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna.

Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali. 5. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan. 27 . mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu. b. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara.2. Di samping itu. dan kecelakaan lalu lintas. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum. maupun tata ruang kawasan. dan alternatif pengelolaan lingkungannya. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional.1. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas. disajikan pada Tabel 5. propinsi. kebisingan. Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. atau kabupaten / kota.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a.

Pengadaan Tanah a. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Keresahan masyarakat 2. Konsultasi masyarakat 2.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). Tabel 5. Sosialisasi b. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a..  areal komersial. b. Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. c. Mobilisasi tenaga kerja a. Tahap Perencanaan 1. sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk. Kerusakan prasarana jalan 28 .  lahan pertanian produktif. Mobilisasi peralatan berat a.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil.  areal berpanorama indah.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Tahap Prakonstruksi 1.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b.  areal dengan kemiringan lereng terjal. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Survey / pengukuran 2. Kecemburuan sosial a.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5.1.

2 Pemasangan rambu lalu lintas a. 3. Gangguan lalu lintas a. Pencemaran udara c. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. Penyiraman secara berkala b. Perubahan bentang alam /lansekap. Pencemaran udara a. Gangguan lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas a. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Penyiraman secara berkala b. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . Pembersihan dan penyiapan lahan a. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. dan pengaturan jadwal kerja b. a.1 Perkuatan tebing d. Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Pembuatan jalan masuk a. Gangguan lalu lintas d. Penggunaan bor c.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Penataan lansekap a. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. Penghijauan b. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4. Pencemaran air permukaan. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c. Penyiraman secara berkala c.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembuatan sistem drainase 5. Pencemaran udara (debu). Pemindahan atau perbaikan utilitas a.2 Pengendalian aliran air tanah e. Pencemaran udara (debu) b. Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c. Gangguan lalu lintas 6. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Gangguan pada utilitas umum 2. Pemancangan tiang pancang a. b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Pembuatan sistem drainase c.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Di lokasi proyek 1.1 Pengaturan lalu lintas c. Gangguan pada flora dan fauna b.1 Pengaturan lalu lintas b. Kebisingan b. Pencemaran air d.1 Pengaturan lalu lintas a. Gangguan stabilitas lereng e.

c. d. c. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Pengoperasian base camp (barak pekerja. Pengoperasian jalan a. Penyiraman berkala. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a. c. 1. stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. Pengaturan lalu lintas D. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2.1 Pengaturan lalu lintas. b.1 Perkuatan tebing d. Pencemaran udara (debu). Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. d. a. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c. Kecelakaan lalu lintas a.3 Tebing dibuat berteras d.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . b. c. Pemasangan rambu lalu lintas a. d. b. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e.2 Pengendalian air larian c. Penyiraman secara berkala b. Kebisingan. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a. Gangguan pada flora a. c. Penghijauan dan pertamanan a. e. Pengambilan material di quarry sungai 3. c. b.2 pemasangan rambu lalu lintas c.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. Gangguan terhadap biota air. d. Pencemaran udara b. Penghijauan b.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. Pencemaran udara (debu). Kecemburuan sosial Pencemaran udara. c. Kebisingan. d. Perubahan fungsi lahan e. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b.2 Penggalian secara bertahap a. Pencemaran air sungai. pembuatan noise barrier c. d. b. Sda. kantor. Perawatan kendaraan c. Pengendalian bahan buangan c. Longsor tebing sungai a. Gangguan pada aliran air permukaan c. Gangguan lalu lintas. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Bak truk ditutup terpal b. Pencemaran air permukaan. gas polutan) b. Pembuatan sistem drainase c. Kebisingan c. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d. Pencemaran udara (debu. Pengendalian bahan buangan d. d. Kerusakan badan jalan. Pengaturan lalu lintas. Tahap Pasca Konstruksi 1. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor).

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. 31 . Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Sempadan Sungai. Kawasan rawan letusan gunung berapi. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. daerah dengan budaya masyarakat istimewa.1 Daftar Kawasan Lindung A. 2. Taman Wisata Alam 7. Pemeliharaan jalan a. Kawasan Resapan Air. Taman Hutan Raya. 3. 2. wilayah pesisir.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. 4. 5. 6. dan Daerah Pengungsian Satwa).5 Pembuatan rest area. 1. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Suaka Marga Satwa. perairan darat. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair.1 Pengaturan lalu lintas a. 2. Kawasan perlindungan setempat: 1. Pengemdalian penggunan lahan a. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Taman Nasional. 4. Pembuatan jembatan penyeberangan e. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2. Gangguan terhadap satwa dilindungi f. Hutan Wisata. 3. 2. khususnya pada jalan tol d. Kawasan Hutan Lindung. Gangguan lalu lintas d. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. muara sungai. Sumber: Keppres No. 3. Sempadan Pantai.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi).2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5. 3. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Kawasan rawan longsor. gugusan karang atau terumbu karang. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Kawasan Sekitar Mata Air C. Kawasan rawan gempa bumi. Kawasan Rawan Bencana Alam. B. D.

luas lahan yang perlu dibebaskan.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. No. serta foto udara atau citra satelit.2. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. yang didasarkan atas panjang ruas jalan. Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup. c. N am u n . Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. 32 . walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No. tapi bersifat regional. penggunaan lahan. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. dan antar kota / p ed esaan ). Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan . dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan. kota sedang.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut.2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a.2. ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup. Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis. • prasarana dan utilitas. • biologi (flora dan fauna). 33 . meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia. termasuk kawasan adat. • estetika lingkungan. • kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya.

Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a.000 jiwa : jumlah penduduk 200. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3. Panjang < 2 km c.17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : .Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: . Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a. Panjang > 5 km 2. Semua besaran d.17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1. Semua besaran b. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b.000 jiwa : jumlah penduduk 500. - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5.Panjang.Panjang. Pembangunan jalan layang atau subway c. atau . Jembatan a. Pembangunan jalan tol b.000 – 500.Panjang b.000 – 200. atau .000 – 1. Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a.000.000 – 20.000.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1.000 jiwa : jumlah penduduk 3.000 jiwa 34 . Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d.000 jiwa : jumlah penduduk 20.

Pada waktu penyusunan KA-ANDAL. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.1. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek. sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5.c. b. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. untuk memperoleh saran.2. terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. Untuk pelaksanaan studi AMDAL. ekonomis mapun lingkungan.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). Cara pelaksanaan konsultasi. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis. RKL dan RPL. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 .

RKL. tersebut. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota). maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. e. Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. d. c. Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL. Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama). diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. RKL dan RPL Proyek Jalan. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi). ANDAL. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup). masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

37 . RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. 5. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. f.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1).3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a. PP N0.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. pendapat. Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL. klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan . Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. b.27/1999). Dalam hal ini. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. saran. kesimpulan komisi penilai. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). semua dokumen AMDAL. Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi.27/1999.2. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor.

 Inventarisasi tanah dan aset di atasnya.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a.Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study.2. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. 38 . Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah.1. c. Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.  Konsultasi masyarakat. kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya.  Survey sosial-ekonomi. b. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.2. Langkah . khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut. 5.

mata pencaharian. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. jenis dan umurnya). Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. instansi pelaksananya. dan sebagainya. jarak ke sekolah anak-anak. status pemilikan tanah. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. f. 39 . mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. dan status pemilikannya. tingkat pendapatan. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. jarak ke tempat kerja. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. h.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. kelas tanah. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan. g. jenis penggunaan saat ini. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga.

1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup. yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. 5. harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5.1). Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi. Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi.1 (lihat Tabel 5. Karena itu. dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi. tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik. 40 . pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5.3. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. wajib UKL dan UPL. peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Dalam hal ini. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis. Sehubungaan dengan hal itu.3.3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya. secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL. dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak. 41 . Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL. Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi.3. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini. dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. 5. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL.

Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. baik di tingkat pusat maupun darearah.3. kebisingan.4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. kemacetan lalu lintas.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4. 5. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara.2. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. 42 . Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini. b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Di samping itu. dan kecelakaan lalu lintas. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan.1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum. sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait.4. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan.

Pada tahap pra-konstruksi.4. akibat kegiatan konstruksi. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi.4. dampak yang mungkin terjadi. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak. Evaluasi mencakup: 43 . dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. Pada tahap pasca konsruksi. alternatif pengelolaan lingkungan. 5. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan. terutama akibat penggunaan alat-alat berat. dan Jalur transportasi bahan bangunan. Secara garis besar. khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pada Tabel 5. Lokasi quarry. kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp.

Tahap Perencanaan 1. Tabel 5. Sosialisasi b. Tahap Konstruksi 1.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a.2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c. Kecemburuan sosial a. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya. Tenaga kerja lokal terserap 44 . Persepsi masyarakat 2.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan. Tahap Pra-konstruksi 1. Penetapan rute jalan 1. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. Keresahan masyarakat b. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1. 2. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru. Survey / pengukuran 2. Keresahan masyarakat 2.  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. Keluhan masyarakat c. Persepsi masyarakat b. Pengadaan Tanah a. Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A. Gangguan terhadap pendapatan a.

Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Penyiraman jalan secara berkala b. Pembuatan jalan masuk a. Kondisi utilitas a. Kualitas udara (kandungan debu) c. Pencemaran udara a. Penghijauan b. Liputan vegetasi b. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. Erosi / longsor e.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a. Kondisi jalan 3. Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. Pembuatan sistem drainase d. e. c.2 Pengendalian aliran air tanah e. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap. Pencemaran air d. 2. b. Penataan lansekap c. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu). d. Kualitas air a. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. c. Kualitas air d.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a.1 Perkuatan tebing d. Penyiraman secara berkala c. Kondisi lansekap 45 . Di lokasi proyek 1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Mobilisasi peralatan berat a. Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. b. a. 2. Gangguan pd flora dan fauna. Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap. Kualitas udara b. b.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. c. Kerusakan prasarana jalan a.

Gangguan pd aliran air permukaan c. Pemancangan tiang pancang a.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Liputan vegetasi b.1 Pengaturan lalu lintas a. b. Kebisingan b. Kondisi lalu lintas a. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a. Gangguan lalu lintas b. Kebisingan a. Aliran air permukaan c. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4. Kualitas udara b.1 Pengaturan lalu lintas a. Penghijauan dan pertamanan a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. a. Pembuatan sistem drainase a.2 Pengendalian air larian c. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Kondisi lalu lintas a. Kondisi lalu lintas b.1 Pengaturan lalu lintas a. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Penyiraman secara berkala a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas b. Kondisi lalu lintas 5. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8. Pencemaran udara b. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. b. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Getaran a. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a. Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Erosi / longsor d. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Penggunaan lahan 46 . Perubahan fungsi lahan d. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Gangguan lalu lintas a. Kualitas udara b.3 Tebing dibuat berteras d. Penyiraman secara berkala b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan lalu lintas a. Pembuatan sistem drainase c.

Tingkat kebisingan noise barrier 47 . Kebisingan. Di lokasi Base camp dan AMP 1. Perawatan kendaraan c. Longsor tebing sungai e. Kualitas udara (sebaran debu) b. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Gangguan terhadap biota air. e. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. Tahap Pasca Konstruksi 1.2 Penggalian secara bertahap a. c. Pencemaran air sungai.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. Kualitas air c. Pemasangan rambu lalu lintas d. a. Tingkat kebisingan c. Kondisi jalan b. Kerusakan badan jalan. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a. Pengendalian bahan buangan Sda b. Penghijauan a. Kondisi lalu lintas c. Kebisingan a. Pengoperasian jalan a. Pencemaran air permukaan. stone crusher dan AMP) a. c. Pengambilan material di quarry sungai a. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. Liputan vegetasi a. Penyiraman berkala.1 Perkuatan tebing d. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Bak truk ditutup terpal d. Pemilihan lokasi e. Sda d. e. Pencemaran udara (debu). Kualitas udara b. Kecelakaan lalu lintas a. Kondisi lalu lintas D. Stabilitas tebing sungai 11. Sda. Tingkat kebisingan d. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. c. Pengoperasian base camp (barak pekerja. b. gas polutan) b. d. c. b. pembuatan a. d. c) Kebisingan. d. Pencemaran udara (debu. Gangguan pada flora 10. Kualitas air e. b. Kualitas udara c. Keluhan masyarakat b. Pengaturan lalu lintas. d. kantor.

pembuatan c. Kondisi lalu lintas b. f. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b. Keluhan masyarakat f. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Pembuatan jembatan penyeberangan e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d. c.2 pemasangan rambu lalu lintas c. c. khususnya pada jalan tol e. noise barrier Sda. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e. Gangguan lalu lintas d. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a.1 Pengaturan lalu lintas. Kualitas udara c. d. Tingkat kebisingan d. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. khususnya pada jalan tol d.1 Pengaturan lalu lintas a.5 Pembuatan rest area.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b. Penghijauan di median dan pinggir jalan c. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Keluhan masyarakat e. d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Pemeliharaan jalan a.1 Pengaturan lalu lintas. Lintasan satwa dilindungi 48 . Pencemaran udara (debu.5 Pembuatan rest area. Pembuatan jembatan penyeberangan f.3 Penertiban pedagang kaki lima d.2 pemasangan rambu lalu lintas d. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c.3 Penertiban pedagang kaki lima c. Lintasan satwa dilindungi a.

b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang. khususnya masyarakat pedesaan. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan.  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.4. yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat. antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk. pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. 49 .  Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah. kesehatan. terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier). termasuk masyarakat miskin. Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan. pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan. c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut. e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang. Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan. kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri. g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan. pemerintahan. dan lain lain.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah. seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

BAPPEDA. g). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. e). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. b). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. para kepala Dinas di propinsi. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. d). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. c). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Penduduk terkena dampak. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). c). Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). MASYARAKAT. b). Badan Pertanahan Nasional (BPN). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. e). 2. f). d).

Selanjutnya. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. PEMRAKARSA. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 4. misalnya sentra sentra produksi. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. kapasitas produksi. BAPPEDA. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. 2. 3. 3. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. MASYARAKAT. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. 6. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. 5. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. ..

UKL. Selanjutnya. UPL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Masukan tersebut. 4. 5. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. masukan tentang koordinasi penanganan 2. PEMRAKARSA. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. 4. memberi masyarakat terasing. PEMRAKARSA. Dinas Sosial dll. 7. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. BAPPEDA. 8. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. ekonomi. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. budaya masyarakat terasing. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. menetapkan koridor jalan terpilih 6. 3. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. 7. 5.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. Atas dasar permintaan pemrakarsa. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 .. 6. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. 2. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan 4. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 8. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. PEMRAKARSA. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. BAPPEDA. 3. PEMRAKARSA. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. 5. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. menetapkan rute jalan terpilih. Selanjutnya. PEMRAKARSA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING.

melakukan MASYARAKARAT. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. 10. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing... PEMRAKARSA. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. BAPPEDA. 11. 6. Menetapkan desain jalan. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing. 9. 4. PEMRAKARSA. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. 6. memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. 7. sistem kepemimpinan. Selama proses wawancana. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. MASYARAKAT. 8. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. 5. BAPPEDA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. PEMRAKARSA.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. PEMRAKARSA. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. BAPPEDA. 2. melaksanakan program penanganan dilapangan. Selanjutnya. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. 7. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPEDALDA. 4. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL. 5. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. 4. pemrakarsa masyarakat terasing. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. melaksanakan program konservasi budaya. 6. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 6. MASYARAKAT. 3. 7. BAPPEDA. PEMRAKARSA. Selanjutnya. 5. 3.. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. 7. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk.

melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. MASYARAKAT. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. 7 6. 10. Selanjutnya. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 2. MASYARAKAT. 9. PEMRAKARSA. 11. penataan ruang. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. PEMRAKARSA. 7. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. 5. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 3. PEMRAKARSA. BAPEDALDA. BAPPEDA. 4.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. 8. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. 8. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . 9. b. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9. Untuk itu.

. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).… ... (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.… … .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … . 3).. peran dan fungsi kota dll. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy... (6) . kapasitas produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. terasing… .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

....Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .. sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy.... ekonomi. 5).... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … ... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial.(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ..(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. ... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.... … … .. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .... Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis... (8) . 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7)....... budaya . ekonomik.. (6) 3)... 4)... terasing. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..

.4).... Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2)... terasing. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi... ... (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). terasing...(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. terasing … . ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis..(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute...5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis...… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.....

Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2)... Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. kepemimpinan. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing . (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy.... sistem dan nilai hak adat . 3). (11) . Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. Termasuk rencana kerja...… … … ...terasing tsb. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). pembagian tugas.. T indak … . terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … .. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. Renc. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .

Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).... 3)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .. (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .....(7) ..… .............. 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing .... Termasuk LSM............Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.. 4). Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). 5).. lembaga adat ... dll. perbaikan permukiman tradisional... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ... rehabilitasi konservasi situs dll...

5).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 6). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing... Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. 4)..(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(12) . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . terasing … … ..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (6) 3).

... 6). 4). terasing termasuk rehabilitasi … … . Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy.... 2).. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). sosialekonomi. budaya dan kelembagaan. terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 5)..(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor... Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy.. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..(8) ..

terasing … . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … .. (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing yang lebih baik .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. tata ruang nilai kearifan lokal. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy.. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . penanganan masy. terasing … … . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.… ...

.

dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. b). para kepala Dinas di propinsi. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. c). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. b). PEMRAKARSA. d). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Penduduk terkena dampak. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. d). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Badan Pertanahan Nasional (BPN). 2. f). c). BAPPEDA. e). MASYARAKAT. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. e). PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. g).

kapasitas jalan yang dibutuhkan. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. misalnya sentra sentra produksi. PEMRAKARSA. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. 3. 5. 4. STAKEHOLDER LAINNYA. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. 3. kapasitas produksi. . memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Pemrakarsa.. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Selanjutnya. BAPPEDA. 2. 6. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan.

menetapkan koridor jalan terpilih 2. 6. Selanjutnya. BAPPEDA. Masukan tersebut. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. Selanjutnya. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. STAKEHOLDER LAINNYA. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. 3. UPL. 2. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. 7.. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. UKL. PEMRAKARSA.. peta banjir. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. PEMRAKARSA. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. 5. 4. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. PEMRAKARSA. peta quarry dll. 8. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. PEMRAKARSA. 4.

BAPPEDA. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait.. 9. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 11. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). BAPPEDA. 5. 10. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. 8. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. PEMRAKARSA. 5. 6. Atas dasar permintaan pemrakarsa. MASYARAKAT. 7. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi.

Selama proses wawancana. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. 7. 4. BAPPEDA. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. 9. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. 13. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. 10. MASYARAKAT. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). PEMRAKARSA. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. Panitia pengadaan tanah. 11. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek.. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. 6. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. MASYARAKAT. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. PEMRAKARSA. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. 8. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. 5. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. mensosialisasikan konsep larap. PEMRAKARSA. 12. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. BAPPEDA. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. 6. PEMRAKARSA.

Selanjutnya. 11. BAPPEDA. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. BAPPEDA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. 13. 10. 7. PEMRAKARSA. 9. BAPEDALDA. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 7. 6. 14. STAKEHOLDER LAINNYA. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . 2. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. 8. 5. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. BAPPEDA. BAPEDALDA. MASYARAKAT. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 4. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. kartu penduduk dll. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. 3. 12.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan.

evaluasi pelaksanaan 2. BAPPEDA. PEMRAKARSA. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). BAPEDALDA. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. 10. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. MASYARAKAT. BAPPEDA. 8. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. 6. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. 11. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. PEMRAKARSA. BAPEDALDA. 8. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut.. Selanjutnya. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 5. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. 7. melakukan monitoring & evaluasi. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . DINAS SOSIAL. 9. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . MASYARAKAT. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. mislanya karena kehilangan pelanggan. 3. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. 4. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. 12.

Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. penataan ruang. 6. 8. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Selanjutnya. Untuk itu. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 9. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. BPN. BAPEDALDA.. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. BAPPEDA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . MASYARAKAT. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. 2. PEMRAKARSA. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. PEMRAKARSA. 7. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. 5. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 4. 3. PEMRAKARSA.

2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. mis. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). peran dan fungsi kota dll. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . jenis penggunaan dan kepemilikan).Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat ..(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. 4).… . kapasitas jalan yang dibutuhkan.. kapasitas produksi.

. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .......Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing......... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.....(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis..(6) .... 5).. ekonomik.. 4)... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)....... sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)..(8) . status kepemilikan dan kesediaan melepas..

. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . Terhadap pengadaan tanah … .. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. Hasil Pra Kelayakan 2).Rute. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. dll. (7) Memperkirakan dampak sosial … .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .4).. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). (12) .5)...(11) Menetapkan Rute Terpilih ..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial ..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). ekonomis dan lingkungan.

… . pelepasan hak. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .. dll. Lokasi di Peta. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. 6).kem bali … … ..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). luasan. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).kem bali. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. prakiraan nilai kekayaan.. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . Termasuk rencana kerja.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … .… … … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . 3). (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. masa tinggal dll.. … . rehabilitasi pem uk. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.

.(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . khususnya panitia pengadaan tanah … … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6)...(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . 13).. (2) Berpartisipasi dalam musy. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .... (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ..(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .… . (4) KETERANGAN 1)...T .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.P … … .

. (5) Membantu sesuai keterkaitannya. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 5).(12) .. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 4)...(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 6).

sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .. 2).. 5).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (8) . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 4). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . … 7) 3).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . 6). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 7)..

(8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .… .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … ... adat istiadat. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. tata ruang. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. nilai kearifan lokal. LA R A P … … . pelatihan untuk alih profesi … ..

.

Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah. Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2).. Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder.... Memberi masukan persyaratan Lingkungan .. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL. 4).. Termasuk pola pelestarianaya 7). (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … . (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah. tempat keramat.... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan..........(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)........... Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5).. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3). khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan.(8) .... 6)......  Kehutanan tentang status hutan..

Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … ..6).... tapi cukup macadam .4).2)...Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.5)......10). (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … . (7) 3).. (8) 8).. (10) 9).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix...... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait. Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL .. (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .

6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L.… … … (12) ..... nilai lahan dll.. 10. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2)... 9).Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)....(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … . R P L . R K L. 8). Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … ...4). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan.… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … .. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. 5).(11) 7). (6) 3). 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .

(4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… . dan wakil masyarakat terkena dampak 12).....4).(12) Menetapkan Desain Jalan .. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3).. apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan . RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13)....... (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) . … … . 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. … … ... dok.9). (apabila ada) mis : ANDAL. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan . dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … ..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2)..lingk..(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… .. (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak. Dengan instansi terkait 14)..10).… … … . 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait......5).. mis : RKL. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan..

telpon.(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … .. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . bantuan pindahan. PDAM.(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … . (10) .7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.. 5).. mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … .... Listrik.. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2)... LSM dan penduduk terkena dampak 3).4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll.Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . aparat desa atau kelurahan..(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… ... Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi... (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … ...

Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … . Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ............(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … ............. 8)...(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)......(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … . .. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.......... peralatan dan bahan bangunan 2). Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ..(11) ....(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ....… .. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6). Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja..

. (9) .. 8). 5)...Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … . Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2)... data sekunder (laporan harian kontraktor).............… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah .. dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ....... PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)........ dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai..... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ..... (8) 4)...(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan .............

.(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ..(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan .. berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang .(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … ....(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya..(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) .Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … . penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.. … .

(termasuk masy..(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). diknas. lokasi masy.(1) Menyusun konsep renc. dll.. kawasan budaya. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. keberadaan masy.terasing. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy. lokasi areal sensitive… . Memberi masukan ttg..terasing) beserta peraturannya. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan. hak adat/ulayat. pertanian. program lainnya yang terkait. program mis: kebutuhan lahan. dll. koordinasi program pemb. tata guna lahan. Areal sensitive mencakup daerah lindung. kawasan lindung.… . jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… .Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . persyaratan lingkungan daya dukung lingk.(2) Melakukan penyaringan awal lingk. fungsi lahan dan peraturannya. Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). dll. situs sejarah. terasing. 3)..terasing).(3) Konsultasi konsep renc. . kehutanan. terasing 2). mis: sektor2 perhubungan. penerapan tata ruang. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan. (9) . serta lokasi masy.17/KPTS/ /M/2003 4). sesuai Keppres 32/1990. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive. termasuk kondisi sosekbud masy.l. (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan . dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb.. jaringan … . terasing… . Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. Termasuk tata ruang. (5) Memberi masukan ttg.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.. terhadap renc. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks... industri. dll. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait. Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.

(6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan..(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … ...Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive. (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … .08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. dll. serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada)....terasing (bila ada). lokasi masy.. … . dll. daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL). . (10) Memperbaiki dok.. .. hutan.. (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … .. (12) . (1) Membuat alternatif koridor jalan … ...(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan.. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai .. pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing). dll. (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas. (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. keterpaduan pengadaan lahan... jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No. macadam.

yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy. (11) ..… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb. (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok..… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … .. mobilitas masy. sistem nilai budaya masy.. A M D A L.(6) Menyusun konsep dok. terasing (bila ada). AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai . kesesuaian tata guna lahan.. situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. taksiran harga..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah. terasing. … . A M D A L.Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy..(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan. pelepasan hak. (terasing) dan pendekatan penanganan... kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. .. penyusunan dok.… (8) Menetapkan dokumen. … . dll.. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial . kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. (7) Memperbaiki konsep dok...

lingk. kepemilikan lahan.. dan aset lainnya. terasing dan cara pelepasan hak.. penanganan masyarakat terasing. cara pelepasan hak bila lahan milik instansi. ekonomik.. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya. serta keterpaduan program implementasi LARAP.(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah. dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan.. mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah.. median. terasing . (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … . rehabilitasi ekonomi. mis: lansekap. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. sistem kekerabatan masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya. data aset. dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy. (11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP... koordinasi penanganan masyarakat terasing . dll.(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud. (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … .(13) . termasuk konpensasi dan pemukiman kembali . koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy.. misal : tentang harga lahan. (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..

terasing dan pemukiman kembali . rehabiltasi ekonomi masyarakat... terasing … .. kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. rehabilitasi ekonomi. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi. penanganan masy... (10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … .. cara pengosongan lahan. kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait.. ( 11) . (6) Melakukan monitoring . terasing.. penanganan masy. seperti tercantum dalam kesepakatan . .. (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi.. (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait... instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll.....Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan.. dll.(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan.. … .(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat.. alih kepemilikan.(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. melepaskan hak.. (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi.. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat. (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal. (5) Melaksanakan LARAP ..... dan terhadap utilitas yang terkena dampak . penanganan masy. besaran konpensasi.

desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok.(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.(terasing) … … . dll. tentang tujuan dan cara pemberdayaan . terkena dampak ..(6) Menyusun laporan pelaks. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … .. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan..(6) Melakukan monitoring .(17) M elakukan m onito ring… . termasuk keberadaan para pekerja . (20) ...(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining.(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … .. kegiatan konstruksi . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .(1 6) Melakukan monitoring . dengan PLN.(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … .. ekonomi m asy.. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. Melakukan konsultasi renc... PDAM. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. pemberian fasilitas..(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… .Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy..(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .

Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. badan jalan untuk berdagang.. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy.. (8) Memberi masukan. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring..... pengembangan lahan sesuai tata ruang.. ( 14) ... mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan.. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi.. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .l. LARAP dan rehabilitasi … . (9) Menyusun laporan monitoring.. (12) Melakukan tindak lanjut... termasuk aspek warisan budaya .. (terasing) khususnya yang terkena dampak. adanya penyerobotan lahan damija..(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.. penanganan masy...Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.. dll.

(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. ekonomik/finansial.Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing. (3) Memberi masukan aspek lingkungan ... dll … .. penggunaan lahan.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. lingkungan dan sosekbud.. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. geologi /geographic.. biologi (flora dan fauna). yaitu mencakup faktor teknis.... pelatihan alih profesi.... (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . (7) Menyusun laporan PBME . Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . nilai lahan... kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. ( 9) .. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan .

Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. (6) . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 4).... Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . khususnya areal sensitive … .. ..Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.… . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .... BPN dan dari sumber lainnya 2).

...(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . 9).Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL ... (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . 8).. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.… ..08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. Dikbud. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2)....(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (10) 7).. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep.Ka Bapedal No... (12) .. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.. . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. Sosial) .. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.

(4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ..(7) 1). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … ..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … .(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … ..... (9) . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).. 2).. RKL dan RPL 3). Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen..

(8) ....Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan. RKL dan RPL pada perenc... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . lansekap … … … ..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain..... RKL dan RPL … ....teknis.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ..: median... RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.: penanganan utilitas yang terkena.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis..

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin. khususnya bila sudah diperdakan. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan. c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. SESIM. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. i . yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Secara garis besar.

Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu. dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif. Jakarta. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang terdiri dari empat buku. November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . dapat dilihat pada lampiran.

1.4.1 Maksud dan Tujuan 4.2.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.4.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.1.1.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.7 Jadwal Pelaksanaan 4.2.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.3.4.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.1.4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.4.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.2.3.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.5 Konsultasi Masyarakat 4.2.1 Pra Studi Kelayakan 4.4.2.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.2.2.4.4.6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.8 Pembiayaan 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.2 Pengadaan Tanah 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .4 Penyaringan Lingkungan 4.2.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.3.

RKL dan RPL 5.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.4.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6.1 Jenis Dokumen 5.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.4 7.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.4.1 Kerangka Acuan ANDAL 5.5 Biaya Penyusunan LARAP 6.2 Dokumen ANDAL.4.3 7.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5. RKL dan RPL 5.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5.2 7.4 Dokumen AMDAL 5.5 Dokumen UKL dan UPL 5.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.1 7.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.6 7.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.5 7.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv .

1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..... Gambar 4.6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … .....PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4...4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4.2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … .… … … ..5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … . Gambar 4. 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4.. G am b ar 4.....… … … … … . Tabel 4..2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL ..1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … . 11 12 v ................ G am b ar 4....3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … ....7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar .... G am b ar 4...

RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL.

sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. 2. Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. 1 . maupun kabupaten / kota. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Undang – Undang No. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti. propinsi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan.

2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 3. 3. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No.3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. 3. Keputusan Presiden No. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No. 3. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 3. Keputusan Kepala Bapedal No.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 2 .

3. 3.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan.10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 3 . dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 3.5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 3.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. 3. 3.

Pada tahap ini.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup. atau kabupaten / kota. c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin.1. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya. d) Kawasan rawan bencana alam. Aspek . Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4. 4 . Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. serta hasil survai lapangan secara global. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. bila diperlukan.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan. merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. b) Kawasan perlindungan setempat. 4. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan. khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan.1. maupun tata ruang kawasan. yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum. antara lain:  areal permukiman padat penduduk. propinsi.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.

yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif. serta foto udara atau citra satelit. Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. 5 . yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup. d) metode pengumpulan data.1). b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup.  areal berpanorama indah. f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan. penggunaan lahan. Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan. (lihat Gambar 4. c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal. e) langkah-langkah proses pemilihan rute.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat).  lahan pertanian produktif.

3. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Sumber: Keppres No. 4. 3. Kawasan rawan letusan gunung berapi. Taman Nasional. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). D. 6 . 3. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. 2. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. 2. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Sempadan Pantai. 1. Kawasan Sekitar Mata Air C. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. 6. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. muara sungai. wilayah pesisir.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Taman Wisata Alam 7. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Kawasan perlindungan setempat: 1. Kawasan Hutan Lindung. Kawasan Rawan Bencana Alam.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan rawan longsor. Taman Hutan Raya. Kawasan rawan gempa bumi. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Sempadan Sungai. tapi bersifat regional. 3. 2. B. Suaka Marga Satwa.1 Daftar Kawasan Lindung A. gugusan karang atau terumbu karang. 2. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Kawasan Resapan Air. 4. Hutan Wisata. dan Daerah Pengungsian Satwa). perairan darat. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). 5.

1b Foto Udara 7 .1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4. dsb.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan. Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4.

Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat. Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk. masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin. Karena itu. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). kelompok profesi. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. 4. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. dan koordinasi. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak. harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana.1. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.1. b) Luas wilayah persebaran dampak. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait).3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. transparansi dalam pengambilan keputusan. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). 8 .4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait. komunikasi.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL. a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 . (2) Pembangunan jalan layang dan subway. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. (4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. di kota sedang. (5) Pembangunan jembatan. di pedesaan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan. e) Sifat kumulatif dampak. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait.

atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4. tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4. tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup.1). atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4.1.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4.1. maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru. Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun.1. 10 .

gangguan visual dan dampak sosial.000 – 500. a. getaran. gangguan visual dan dampak sosial. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. dampak kebisingan. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. b. dampak kebisingan. emisi yang tinggi.17 Tahun 2001.000 – 200. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. getaran. Pedesaan : . > 30 km Bangkitan lalu lintas.atau luas pengadaan tanah b. gangguan visual dan dampak sosial. Di kota besar / metropolitan : .Panjang .000.000 – 1. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas.000.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.atau luas pengadaan tanah c. getaran. emisi yang tinggi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4. Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. getaran.000 jiwa : jumlah penduduk 200. Di kota sedang : .1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No. getaran. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000 jiwa 11 . dampak kebisingan. emisi yang tinggi.Panjang . Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.000 jiwa : jumlah penduduk 20. gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan. tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2.2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c. Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a. Tabel 4. Pembangunan jalan layang dan sub way b.2. kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4. > 20 m > 60 m 12 . 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b. Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a.

: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL. Secara garis besar. ada tiga kemungkinan sbb. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas.2.3. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL. proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. Lihat Gambar 4. tercantum pada Lampiran C 13 . Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL.

17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .

2.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. • Gangguan terhadap kawasan lindung. kualitas udara dan kebisingan. tapi langsung ke studi kelayakan. sedimentasi). • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi. tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan. • Dampak pada kualitas air. Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan. yang mencakup seluruh wilayah studi. 16 . Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja. Akan tetapi.  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia. • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah. peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. longsor. Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum.  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi. pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama. Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan.

kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya.2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek.2. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4. 17 .2. hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan. dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. 4. termasuk kawasan adat. Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan. Di samping itu. ekonomi dan juga lingkungan. terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis. • Gangguan terhadap estetika lingkungan. alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak. Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan. Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif.

Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat. • batas sosial.2.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan. RKL.4 sub d) dan Butir 4.4. kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan.2. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL. penggunaan lahan. dan • batas administratif. geologi. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi. jenis tanah.6).2. 4. dan RPL. RKL dan RPL). jumlah sampel yang harus dianalisis. (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai. • batas ekologi. Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL. ANDAL.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode. 18 .1. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi.

(b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. surat. sekolah. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. lokasi quarry. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. media cetak. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional).ANDAL. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. dan permukiman padat. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. borrow area. (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. base camp dan spoil bank. dan/atau media elektronik. b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . dan mereka memberikan saran. 19 . (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. (2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya.

(d) Hasil pekerjaan. dilengkapi peta dengan memadai. 20 . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran. c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab. sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas.2. d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa.4. Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Secara garis besar. Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.ANDAL tercantum pada Lampiran E. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. untuk dinilai oleh komisi tersebut. Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA . (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan). skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL.

5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .4 Biaya Studi 4.1 Metode Pengumpulan Data 3.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.1 Latar Belakang 1.2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.1 Pemrakarsa 4.2 Peraturan Perundang-undangan 1.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.2 Tim Pelaksana Studi 4.3 Isu-isu Pokok 2.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.4 Batas Wilayah Studi 2. Kotak 4.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.

RKL. diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No.08 Tahun 2000. RPL Penilaian ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA. 22 . RKL. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL.4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran.

Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa.6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F. tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam. Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas.3.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL. 23 .2.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Secara garis besar. agar dapat dilaksanakan secara efisien. Ringkasan Eksekutif. 4. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).2. Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan. Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4. karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. 4.

Kotak 4.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi. terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan. 24 . Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G. meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan.

Dalam pengertian tersebut. b) mitigasi. Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4.4.4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I.5. RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain. Bab VI. Bab II Bab III. c) meningkatkan dampak positif. Bab V. Bab VIII. d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. Bab IV. 25 . Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). Bab VII. Kotak 4. sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Bab IX.

Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F..6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 .6. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. yang ditandatangani di atas materai. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi. Kotak 4. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan. Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting).

5 4. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL. Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai. seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia.2. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H.2. Untuk keperluan penilaian tersebut. tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 . Apabila instansi yang bertanggungjawab. Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. tapi cukup dengan UKL dan UPL. Instansi yang bertanggungjawab. RKL. maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. Laporan ANDAL. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL.

yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. pokok-pokok arahan. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan.6.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan.3. 28 . spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap. AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail. Karena itu. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan. Pada dasarnya. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL. 4. tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL.3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak. Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah.

diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran. Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL. RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran.RKL. 27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 . RKL dan RPL Penilaian ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya. Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan. atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. 31 . Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu). c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor). Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat.3. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL. Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. Estetika lingkungan (lansekap). dilengkapi dengan contoh. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis. antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan. d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J.

7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 . Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Gambar 4. dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang.

3.4. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul. 4.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya.1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. 4. 4.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. baik dalam dokumen tender maupun kontrak. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL.4. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4. mata 33 . dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.4.  Konsultasi masyarakat.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.

4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap. atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek. 4. baik pemilik/penyewa tanah. orang lanjut usia.6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. tingkat pendapatan. dan status pemilikannya. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut.4. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan. penggarap tanah. dan perempuan kepala keluarga 34 .4. jenis dan umurnya). Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada). Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. kelas tanah. jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. jarak ke tempat kerja.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. jenis penggunaan saat ini. status pemilikan tanah. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. maupun penghuni tanpa izin (squatters). instansi pelaksananya. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. 4. 4. Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. penyewa bangunan. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. seperti penduduk sangat miskin.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali.4.

7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L. 4. termasuk panitia pengadaan tanah setempat.4. berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan. Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable).4. 4.4. 5 5. sumber dananya. 5. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini. dan jadwal penyediaannya. 4.8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat. menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. Pemrakarsa harus membuat. Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota.

seminar.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL. Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 . yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya.4 Sub b). Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL.2. Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL. lokakarya. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL. diskusi terfokus. Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL. Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. d. Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab. b. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan. 5. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4. Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat. c.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL. sebagai lampiran KA – ANDAL.2 Dokumen ANDAL. 5. Untuk keperluan itu. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL. 5. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL. 37 . Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan. b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai.4. RKL. dari maka komisi pemrakarsa penilai. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan. dari komisi penilai.4 Dokumen AMDAL 5.4.1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL.

maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek. dari instansi yang bertanggungjawab. instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL. RKL dan RPL Dokumen ANDAL. 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup. RKL. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab . Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan. Untuk keperluan itu. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1).4. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL. Terhadap permohonan tersebut. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL.

5. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut. pendapat. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. 39 . kesimpulan komisi penilai. c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa. 5. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. PP N0.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No.27/1999.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan. 5. saran. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. Dalam hal ini. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut. semua dokumen AMDAL.4.27/1999).

a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. pengadaan (reproduksi) data sekunder. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. 6. dan perjalanan dinas.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait. Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum. b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun. pengadaan (reproduksi) data sekunder. Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum. sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus. Sekalipun demikian. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL. perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek. dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL. perjalanan dinas.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah). kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen .komponen biaya personil (gaji upah). biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek. 6. 40 .

Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. 41 . Harga satuan tiap jenis transportasi. foto udara. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. kareta api. dan Harga satuan tiap jenis data. Lamanya perjalanan ke tiap lokasi. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran). dan laporan hasil survai / penelitian. mobil). dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. operator computer. citra satelit. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan. Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. dsb). c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. data statistik.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. Jenis transportasi (pesawat terbang. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta.

Dalam prakteknya. bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan. staf administrasi. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL. terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. juru gambar. Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah). Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. 42 . Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut. bahan (material) dan peralatan. operator computer. analisis laboratorium. fasilitas kantor. sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 . dan Biaya penugasan luar kota (out-of. perjalanan dinas.duty station). Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan. dan presentasi. dan tenaga penunjang (surveyor. Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport. Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 .8 pm. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli.25 pm. Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. pembuatan laporan. dsb).

Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. alat gambar dan sebagainya). yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. fax).4 person-month.4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis. mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail. dan  penjilidan. 43 . 27/1999. disket.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). 6. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap. Office supply (kertas. Biaya Komunikasi (telepon. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis. tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). mesin tik. Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. yang di perkirakan berkisar antara 2 . biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa. Namun. Sewa kendaraan kerja. di samping itu. dan Komisi Penilai AMDAL. dan analisis kualitas udara. f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor. Peralatan survai.

Daftar Isian Proyek (DIP). dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut. dsb). d) Biaya konsultasi masyarakat. Petunjuk Operasional (PO). a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum. Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan).6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP). 44 .5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil. c) Biaya bahan dan peralatan survey. telpon. dan Lembaran Kerja (LK). b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. 6. e) Biaya penyusunan laporan.

O l eh karen a i tu . diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal. maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. konstruksi. Karena itu.1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an . (iii) BAPPEDA. e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. 7. 7. Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum. untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA. perencanaan teknis. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 . dan (v) INSTANSI LAINNYA. (iv) MASYARAKAT. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan. maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. propinsi dan kabupaten / kota).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. Namun. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. (ii) BAPEDALDA. dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat.

Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat. dan pemerintah kabupaten / kota. dan pemerintah kabupaten / kota. dan pemerintah kabupaten / kota. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit . pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. 7. Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat.ANDAL).PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. pemerintah provinsi. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten. Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan. Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . pemerintah provinsi. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 . Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP). Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). pemerintah provinsi.

Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. Bappeda pemerintah kota. 7. c) Menilai hasil studi ANDAL.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Bappeda pemerintah kabupaten.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. 47 . b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL. kabupaten dan kota. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan. Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi. kabupaten dan kota melalui peta padu serasi. RKL. Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. dan RPL. d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL). Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi. Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 7. standar. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma.4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal. Tokoh-tokoh masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). Masyarakat terasing.

RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. ANDAL. d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. yaitu: 48 . khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”.6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. kompensasi untuk tanah dan bangunan. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. 7. Departemen atau Dinas Kehutanan. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. 7. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota. Pelaksanaan Studi AMDAL. RKL dan RPL. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi. berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi. dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Penyusunan KA – ANDAL. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan. 49 . berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. 7. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. Penjabaran Hasil Studi ANDAL. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O.

Untuk keperluan itu. yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. melalui mekanisme kajian lingkungan. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis. meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah. Karena itu. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Identifikasi Kebutuhan Tanah. Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata. dan AMDAL atau UKL dan UPL. untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. Perencanaan Pengadaan Tanah. 8. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah. koordinasi 50 . Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting. 51 . Di samping itu. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek.

Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .. khususnya areal sensitive … . (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .. 4).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ... (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan ... BPN dan dari sumber lainnya 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.… ...

9). (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ...(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy... (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.Ka Bapedal No..... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . (10) 7).. Dikbud. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep...… . ... 8).. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. Sosial) ...

. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .(7) 1)..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ... 2).. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.. (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). RKL dan RPL 3). 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ..

.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL... RKL dan RPL pada perenc. (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis...teknis....: penanganan utilitas yang terkena.... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis...: median. lansekap … … … . RKL dan RPL … ....(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL...

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … .. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 ............. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL.. 4)... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah. Memberi masukan persyaratan Lingkungan ..(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan.......  Kehutanan tentang status hutan.. (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .... Termasuk pola pelestarianaya 7)... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)...... khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan. tempat keramat. Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah... Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5). 6)...

2)... (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … . (10) 9). (8) 8)... (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix.. 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait.(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat..... Menetapkan koridor jalan terpilih… … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).5).... Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … ...6). Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .. tapi cukup macadam .4). (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … . (7) 3).10).. Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … .....

..... 9).. 5). 8). R P L .4).… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … .… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L...(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … .. (6) 3). nilai lahan dll.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan.. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).(11) 7).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … ... R K L. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. 10. 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .

RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan . Dengan instansi terkait 14).lingk.9)...(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring .. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13).. … … . (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak. (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .... dan wakil masyarakat terkena dampak 12).(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll... 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .. dok.. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 ..… … … .. (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … .(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).. mis : RKL...4).(12) Menetapkan Desain Jalan .. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.10).. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait...... … … ..5).. (apabila ada) mis : ANDAL. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.. Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3).(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

... (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … .7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait... (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2)..4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll. (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . Listrik.. 5)..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… . telpon.(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. aparat desa atau kelurahan.. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi....(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … . bantuan pindahan. Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … . (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … ... LSM dan penduduk terkena dampak 3). mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … . PDAM.

...... Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ...(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . ...(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ..(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ....... Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 8)......... peralatan dan bahan bangunan 2)... Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ............. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)..… .........(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6).

PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis. 5)...(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... 8)... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2)..(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan .......... (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 ..... data sekunder (laporan harian kontraktor)... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ... (8) 4)....... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara....… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah .......... dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ..... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … .............

… .(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ....(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 .(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.... (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .

mis.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . kapasitas jalan yang dibutuhkan.. peran dan fungsi kota dll.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. 4). Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya.. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . kapasitas produksi.… . jenis penggunaan dan kepemilikan).

ekonomik..(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). 4). (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ....... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan....(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.... status kepemilikan dan kesediaan melepas.. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ..... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan . 5)..(6) .......

4).. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial . Terhadap pengadaan tanah … ..(11) Menetapkan Rute Terpilih .. dll. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. (6) 1). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).5).… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . (7) Memperkirakan dampak sosial … .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. ekonomis dan lingkungan. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .. (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis..Rute. Hasil Pra Kelayakan 2).

Lokasi di Peta. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. Termasuk rencana kerja. … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah.. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya..kem bali.. prakiraan nilai kekayaan. luasan. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). … .kem bali … … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.. masa tinggal dll. rehabilitasi pem uk. dll. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . pelepasan hak. 6). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1). 3).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk.… … … .

Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).P … … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. (2) Berpartisipasi dalam musy..(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .T . (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . & menyepakati dlm mufakat khususnya P .… . 13).7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1)... Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5)..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk... khususnya panitia pengadaan tanah … … ..

(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 4). (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 5). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. 6).(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … ... Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … ..

Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 4). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . 2). (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . 7). 6). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. … 7) 3).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 5).

adat istiadat. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. nilai kearifan lokal.… . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . LA R A P … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. pelatihan untuk alih profesi … ...(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . tata ruang.

para kepala Dinas di propinsi. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). c). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. e). proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). b). d). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. 2. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. d). Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . e). b). BAPPEDA. PEMRAKARSA. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. c). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. Penduduk terkena dampak. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. g). Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. f). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. MASYARAKAT.

mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. 5. 4. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. 6. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. misalnya sentra sentra produksi. STAKEHOLDER LAINNYA. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. 2. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA.. Pemrakarsa. 3. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Selanjutnya. 3. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. . kapasitas produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. BAPPEDA. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH.

lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. 8. PEMRAKARSA. 7. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Masukan tersebut. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. UKL. BAPPEDA. 4. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. 3. 2. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. 5. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA.. peta banjir. Selanjutnya.. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. UPL. Selanjutnya. STAKEHOLDER LAINNYA. peta quarry dll. 4. menetapkan koridor jalan terpilih 2. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. 6. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih.

11. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. Atas dasar permintaan pemrakarsa. 5.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. MASYARAKAT. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. BAPPEDA. 7. 5. 6. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. 8. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. 9. 10. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan..

. BAPPEDA. 4. 7. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. PEMRAKARSA. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. 8. mensosialisasikan konsep larap. 6. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. 12. BAPPEDA. Panitia pengadaan tanah. 5. PEMRAKARSA. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. PEMRAKARSA. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 9. 11. MASYARAKAT.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. Selama proses wawancana. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. 6. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 13. 10.

MASYARAKAT. 12. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. 6. 5. kartu penduduk dll. 2. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 10.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. BAPPEDA. BAPEDALDA. 7. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 8. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. Selanjutnya. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. BAPPEDA. 3. BAPEDALDA. 11. PEMRAKARSA. 14. 7. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. BAPPEDA. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. STAKEHOLDER LAINNYA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . 13. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 9. 4. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

. MASYARAKAT. 7. 9.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. 5. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. BAPPEDA. BAPPEDA. PEMRAKARSA. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. Selanjutnya. 10. 8. 12. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. DINAS SOSIAL. BAPEDALDA. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. 6. 11. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 3. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. 8. evaluasi pelaksanaan 2. mislanya karena kehilangan pelanggan. 4. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). BAPEDALDA. melakukan monitoring & evaluasi.

Untuk itu. MASYARAKAT.. 5. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. 8. BAPEDALDA. 7. 9. penataan ruang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 4. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. PEMRAKARSA. Selanjutnya. PEMRAKARSA. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. PEMRAKARSA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 6. 2. BPN. BAPPEDA. 3. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya.

c). MASYARAKAT. c). d). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. b).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Badan Pertanahan Nasional (BPN). g). b). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. e). 2. PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. PEMRAKARSA. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. d). Penduduk terkena dampak. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). para kepala Dinas di propinsi. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. BAPPEDA. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. e). Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. f). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota.

Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. misalnya sentra sentra produksi. . Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . 3. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. 2. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. MASYARAKAT. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. kapasitas produksi. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. 4. BAPPEDA. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. Selanjutnya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. PEMRAKARSA. 6. 5. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1.. 3. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

.. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik.. nilai lahan. dll … .. (7) Menyusun laporan PBME .. (3) Memberi masukan aspek lingkungan .. pelatihan alih profesi. lingkungan dan sosekbud.. biologi (flora dan fauna). ekonomik/finansial. geologi /geographic... kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan ... yaitu mencakup faktor teknis. ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . penggunaan lahan..(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing.. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya .. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring.

b) alinyemen yang sama sekali baru. Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute. kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu. Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 .2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat.1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. ahli ekonomi. 1. sosial-ekonomi dan lingkungan. Biasanya. atau c) kombinasi dari keduanya. yang membantu perencana jalan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial. 1. ahli geoteknik. Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya. dsb. perencana lalulintas. meliputi perencana kota. perencana lingkungan. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. prastudi kelayakan dan studi kelayakan.

di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2). khususnya areal sensitif. Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 . Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan. Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan. 2. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan.

pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. telekomunikasi. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks. institusi. visual. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. Selain prasarana ciptaan manusia ini. industri. tem pat tinggal. akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai. dan kota kecil. kota besar. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal. kota sedang. Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. budaya. vegetasi dan perairan. dan lokasi kegiatan kelembagaan. lokasi kegiatan komersial. lokasi kegiatan industri. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. 2. karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. air.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. listrik. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. w arisan budaya. Namun. yaitu topografi.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam. prasarana. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. kom ersial. Bagi keperluan perencanaan jalan. ditetapkan empat tipe kota. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah.

Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan. ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan. yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota. Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. serta perkebunan pohon buah-buahan. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. kelapa dan kelapa sawit. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. Namun demikian. termasuk kualitas visual dan kualitas akustik. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati. 2. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. seperti keselamatan. Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan. Namun demikian. karet. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. Lain dari pada itu. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. Dengan demikian.

meningkatkan aspek-aspek keselamatan. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 .tanaman lain. Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute. meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor. jalan kereta api. Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan. • Lingkungan alam : . Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan. Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru. .sawah tadah hujan. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik. Pengembangan jalan dapat membelah properti.1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait. Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil. Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. 3. • kam pung. Namun.lahan basah / rawa. Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai. .sungai. • rum ah -rumah terpencil. bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti. Seperti telah dikemukakan di atas. • desa.perkebunan. dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari. . meliputi: • Lahan pertanian: . 3. Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah.sawah beririgasi. akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan. . bakau. dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih. • nilai visual.

kelapa dan kelapa sawit. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). dan kampung atau desa. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan.2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan. 3. Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi. Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan. serta lahan perkebunan karet. Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. Secara umum. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute. meliputi kondisi topografi. 4.1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif. enjiniring.) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin. opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4. sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi.

liputan vegetasi dan pola hidrologi. termasuk vegetasi dan hidrologu.000 ( Foto udara berskala 1 : 5. jaringan listrik. Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 .1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional). rel kereta api. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual). sungai. roman-roman alami seperti gunung.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS. Peta-peta skala 1:25.  Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah. Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan.000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan. seperti kondisi geologi. data lingkungan dan data sosial/budaya. Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50.000 mahal harganya. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI.000. informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan.1. meliputi:  Peta Topografi.000 untuk seluruh Indonesia. bukit.1. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah. tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check). serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. selain menyajikan pula detail topografi. Namun. Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m. yang diproses dari foto udara. Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. pada umumnya yang berskala 1 : 10.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia.000. dsb. 4. atau lebih detail dengan skala 1 : 5. Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami. Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. elevasi. Peta-peta topografi skala 1 : 25. dsb. tutupan lahan.

1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 . Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain. Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan. dalam beberapa hal.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan. Namun. tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif.

kabupaten/kota. Melakukan penyaringan lingkungan. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. penduduk terkena dampak. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. 4) Masyarakat. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . kabupaten/kota. mencakup rencana lokasi proyek. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. panjang jalan dan tahun anggaran. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan. kabupaten/kota. 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B. B.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan. B. 3) Bappeda. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan.2. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. 2) Bapedalda. dalam hal ini Dinas PU provinsi. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus. Badan Pertanahan Nasional (BPN). 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. dll.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Bappeda. B. lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya.  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan. yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 . dan stakeholder lainnya (misal BPN. masyarakat (misal tokoh masyarakat).  Masukan dari stakeholder lainnya.2. area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi. termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan.2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda). antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa.  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah).  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250.000). terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif). dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada). Bapedalda. kawasan dan makam yang dikeramatkan. situs-situs purbakala.  Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan. Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.

B. Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B. Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan.3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan. khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain. Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL. Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL. maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. kab/kota) serta penerapan peta padu serasi.1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov.  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada). UKL/UPL atau SOP). B.3.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi). dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP).  Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan. B.2.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 . khususnya areal sensitif. Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan. Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan.2. Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik.3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas.

2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan. status lahan dan tata guna lahan).  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL. 3.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. Desain wilayah (kota/perdesaan).3.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).3. lebar damija yang ada. lebar jalan. terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan. Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan). AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL). Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman. Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute). antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan.  Panjang ruas jalan.3. B.1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat. 4. yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 .3.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan.3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1. UKL/UPL B. 2.

B.2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat. Lurah/Kepala Desa. misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. pendapat. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor.3. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN). termasuk tokoh LKMD. Camat. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran..3. antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT .

LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. termasuk tokoh LKMD.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. Lurah. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.. Lurah.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. Bappeda.3.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Lurah/Kepala Desa. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan. Camat.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. termasuk klas jalan. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 . b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat. B.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.3.

. terutama dalam rencana pengadaan tanah. masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah). dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing.3. termasuk tokoh LKMD.4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 . B. kondisi prasarana dan sarana. misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. Camat. . selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B.  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. dan (status lahan konservasi). . Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. B. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan. Lurah/Kepala Desa.3. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. B.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya.3.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh.5.3. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.

2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih. antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan. status lahan dan tata guna lahan).4. Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B. Menetapkan rute terpilih B. status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah).3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL). c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih. terutama dalam rencana pengadaan tanah. Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih. B.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung). PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 .  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. misal di Kantor Bappeda. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih.4. misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.4. kondisi prasarana dan sarana. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan.

Diskusi penjabaran RKL.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 . Disamping pertimbangan aspek lingkungan. misal di Kantor Bapedalda. RKL/RPL. a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda. B. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL. antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan.4.5. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan.4. Dokumen ANDAL.5. Menetapkan desain teknis jalan.4. Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi.5. B.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. RKL/RPL dari rute terpilih. dokumen ANDAL. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak. Membuat konsep LARAP. B. RPL dalam perencanaan teknis jalan. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih.

dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan. misal di Kantor pemrakarsa proyek. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak.  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut. memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi. c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL. RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan. B. a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis . Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan. B.3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. meminimalisasi. RPL dalam perencanaan teknis jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . LKMD. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL.5. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP. baik berupa upaya pencegahan.5. Masyarakat (Kepala desa/lurah. Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. wakil masyarakat yang terkena dampak). dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat). misal di Kantor Bappeda.2 Diskusi Penjabaran RKL.

antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan).5. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan. Bappeda.  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. misal di Kantor Bappeda. terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 . dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan. lebar damija yang ada.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP. B. dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah. lebar jalan. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. LKMD. wakil masyarakat yang terkena dampak).

aset di atasnya. B.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan. jumlah pemilik.5.  Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia. persepsi. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut. yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP. dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi. B. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota.5.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP. biologi dan sosial) yang terjadi. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 .  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan.

d) e) C. pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali.3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1. C. jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung). Karena itu. pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C. Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut.4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2.2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan). PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 . Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. C.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil.

dampak kebisingan. dampak kebisingan. dampak kebisingan. getaran. gangguan visual dan dampak sosial.000. getaran. Pedesaan : . emisi yang tinggi.17 Tahun 2001. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas.000 – 500. a.000 – 100. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1. 1. dampak kebisingan. Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas.Panjang .000 jiwa 100.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.atau luas pengadaan tanah c. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi.000. getaran.Panjang .000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 . Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. Di kota sedang : .Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. Di kota besar / metropolitan : . emisi yang tinggi. getaran.000 jiwa 20. Bangkitan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas.000 – 1. gangguan visual dan dampak sosial. b. gangguan visual dan dampak sosial. getaran.000 jiwa 500.atau luas pengadaan tanah b.

Pembangunan Jembatan a.1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C. 3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . Penyusunan laporan hasil penyaringan. Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a. 2. dan skala / besaran kegiatannya.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C.5 ha 3 km .2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek.5 km 2 ha . Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL. yaitu:  panjang ruas jalan (km).5.  luas areal pengadaan tanah (ha).1.5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C.10 km 2 ha .10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif. Jenis Proyek Besaran 1. Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km . Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E. b. Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL. Di kota besar / metropolitan: b.5.

dan Pasal 37 Keputusan Presiden No. antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). dll). 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. C.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan.5.  Lebar perkerasan. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu). peninjauan lapangan tidak diperlukan. tercantum pada Kotak 1. Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota. berbatasan langsung.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada).5. berbatasan langsung dengan.  Jenis lapis perkerasan. • Lebar badan jalan.3.  Peninjauan lapangan. Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder. Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui.1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam. pasir. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No.  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota. atau berdekatan dengan kawasan lindung. atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota.  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan).  Alat-alat berat yang diperlukan.3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C.1.  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap.

Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Bergambut. • jalan kereta api. 12. 8. Taman Nasional. Daerah komersial.3. Kawasan Rawan Bencana Alam. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). 4. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi. dan Daerah Pengungsian Satwa). PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 . Hutan Wisata. seperti: • jaringan jalan. 2. 13. perairan darat. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). daerah deengan budaya masyarakat istimewa. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). • saluran air. Sempadan Pantai. 15.5. • kabel listrik. Taman Hutan Raya. peta geologi. • telepon. Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. 6. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. peta penggunaan lahan. Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Kawasan Resapan Air. Kawasan Hutan Lindung. peninjauan lapangan akan sangat berguna.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. 14. wilayah pesisir. 11. Suaka Marga Satwa. gugusan karang atau terumbu karang. dan • pipa gas. Kotak 1 C. 9. muara sungai. 5. 3. 10. peta tanah. dan foto udara (bila tersedia).2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. • pipa air. 7. Sempadan Sungai. Bila perlu.

Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. pengoperasian base camp dan stone crusher.5.1. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 .5. konstruksi. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C. menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk . dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C. konstruksi dan pasca konstruksi.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap. d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1. seperti kegiatan pengangkutan material. dan pasca konstruksi. kebisingan.5.3) . C. perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah. yang mungkin terkena dampak. pencemaran air). C.5.3. • rumah sakit.4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu. diurut mulai dari tahap pra-konstruksi. dan • tempat ibadat. merubah komposisi vegetasi.5. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C. (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik. mulai dari tahap pra-konstruksi. misalnya kegiatan land clearing. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar.2 yang merupakan sumber dampak. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

• analisis laboratorium (bila perlu). c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. tapi wajib menggunakan SOP. Pada umumnya.5. Kalau tidak. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2. Bila tidak. Jika memenuhi kriteria tersebut. b) Secara garis besar. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . Sebaliknya. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. C. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut. Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. • survai lapangan. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1. maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua. komponen biaya terbesar adalah biaya personil. jika tidak memenuhi kriteria tersebut. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). • peralatan dan material. Bila tidak. makin mahal biayanya. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1. Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL. Makin jauh jaraknya.4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli.5. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3.

dengan biaya berkisar antara 5 .8 pm. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL). Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL.10 % dari biaya persiapan proyek. pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL. b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan). PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 . Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut. sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 . atau antara 0.35 % dari total biaya proyek.1. Penyusunan Laporan f) C.5.7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 .30 person-month (pm).06 0. c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C. Secara umum. termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut. wajib UKL dan UPL. yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat.

Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3. tidak berbaliknya dampak. Intensitas dampak I1 I2 5. Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan. W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. atau kumulatif dampak. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2.

7.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6. Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 .

… … … … … … … … … … … … … … … … … ..m . … … … … … … … … … … … … … … … … … . Perkerasan Ekisting 1) d. Damija rencana c.. … … … … … … km a. Lebar Jalan a. Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a. % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 .. Status Kota 6.. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … .. % .. DAMIJA Ekisting 1) b. Jenis Program 8. Fungsi Jalan 7..m .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A. Rencana 10. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . Eksisting 1) b... … … … … … … … . d. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Daerah komersial c. b. Berlereng curam (> 40 %) b. Propinsi 5. km . … … … … … … … … . Penggunaan lahan a. % . kendaraan /hari b. km b.m . Luas areal pengadaan 9.. … … … … … … … … . c. RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1. Nama kota b. LHR a. … … … … … … … . c. Kabupaten c.. Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . d... c. H a a. Tanah tidak stabil 2.. Pekerasan rencana 4. km a.. % . Areal pertanian produktif d. km .. km (… (… (… (… … … … … … … … … . Lokasi a. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. Panjang Ruas Jalan 3. Pemukiman padat b.. Nama Rencana Kegiatan Proyek 2.m a. … … … … … … … … … … … … … … … … . Fisiografi a. km .. b..

. … … … … … . D. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c.. 2. … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1. PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p.. b. 3. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . c. Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Kawasan lindung a. Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. Wajib AMDAL 2. b. . Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a. … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E. Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . Jenis/nama kawasan lindung b. KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1.. . Wajib UKL dan UPL 3.

penduduk terkena dampak. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 . 4) Masyarakat.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya. 3) Bappeda. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. kapasitas jalan yang dibutuhkan. meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum.2. D. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi.1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini. dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. kabupaten/kota. 4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan.1. 2) Bapedalda. dll.2.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D. 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan. kabupaten/kota. 1) lahan di D. Badan Pertanahan Nasional (BPN). kapasitas produksi. antara lain : sentra-sentra produksi. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada). 5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus. peran dan fungsi kota. kabupaten/kota. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi. D. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 . D.2.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan. serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan.2.1.1.2.000). Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. misal: skala 1 : 250. Kehutanan.  Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.000).  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. potensi kapasitas produksi. orde penataan ruang.1. dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai. D.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.2.2. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov. kab/kota). hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan.

antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing.2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 . berbatasan langsung dengan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan). bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya. kab/kota). 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing. khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. atau berdekatan dengan kawasan lindung. Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya. Kehutanan. 2) Aspek pola kepemimpinan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. 3.2.2.2. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. ii. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya. D. Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan. 3) Aspek orientasi budaya. 2. i.000). Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan. 4. antara lain sebagai berikut : 1. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam. D. Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung.

1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan.3.3.1 Status lahan dan tataguna lahan.3. misal skala 1 : 100. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda. D. status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan.000). Bappeda. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai . serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada). dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. 2) D. 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan.2 Konsultasi dengan Bapedalda.000 D. Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan.1. Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D. dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.1.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan. Masyarakat dan Stakeholder lainnya. D. Bappeda dan masyarakat).3.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 .1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.

Aspek pertanahan masyarakat terasing. 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Aspek budaya.1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi. b. Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c. Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor. terutama kebutuhan pengadaan tanah. sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah.3.2.3.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi. 1) D. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b. tentang (khusus pada masyarakat terasing): a. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada). serta pola penggunaan lahan. e. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 . Meminta masukan dai Bappeda tentang : a. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif.3. Aspek kependudukan. d. 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D. c. Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. Aspek kepemimpinan. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk.2.

dan (status lahan konservasi). Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. 3. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN .Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. 2) D. 2. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. kab/kota). terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. c.4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih. dll). 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan. terutama dalam rencana pengadaan tanah.4. b. Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. yakni : a. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50.1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. 4. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan. Mencatat informasi mengenai tiap rute. antara lain meliputi dua hal tersebut di atas. b. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute).000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih.

g. e. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. paling tidak mencakup 4 hal. Menuangkan dalam bentuk matriks. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1. d. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. c. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 .2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. 2. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC.4. 7. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. b. NJOP dan harga nyata tanah 1. D. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas. Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. f. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. h. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a.

h. j. 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan. Fluktuasi pendapatan akibat musim. d. macamnya (rumah tempat tingggal. 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . i. sebagai berikut: 1.4. g. 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. tanaman (umur setahun. an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan. huruf (ii). Persepsi masyarakat terhadap proyek. semi permanen. tempat usaha. 5) Penduduk (pemilik. Luas tanah yang akan dibebaskan. meliputi : Tata guna tanah . c. Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen. Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. gudang. Luas bangunan yang akan dibebaskan. kantor. status bangunan dan tipe bangunan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. Bappeda. sedang dan besar). 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. tanah ulayat dan sebagainya). dan sebagainya ). 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda. kab/kota). Usulan tentang ganti kerugian. Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis. f. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. Harga nyata tanah dan NJOP-nya. bengkel dan lain sebagainya). Status kepemilikan tanah. (ii) tanah pengganti. Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. tempat ibadah. dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). (iii)pemukiman kembali. kolam /tambak ikan dan sebagainya. Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. tahunan. dan huruf (iv). k. penyewa. 2. l.3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. 3. e. bersejarah dan tradisional. Stakeholder lainnya. darurat). NJOP tanah dan harga nyata tanah. Aset lainnya yang akan dibebaskan. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil. status kepemilikan tanah.

4. Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). ekonomis dan lingkungan.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1. melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih).4. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan. Uraian rencana pembangunan jalan.4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih. Melakukan konsultasi masyarakat. atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda. b. Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan. disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan. yakni : a. Sosialisasi konsep LARAP D. Melakukan survai sosial ekonomi.5.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. dll). disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 .5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. 3. kab/kota). setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. 2. 4. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan. Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5. Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. D. D.

Luas areal perkebunan e. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 . Luas areal ladang c. Jenis utilitas umum h. untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas.2 Survai Sosial Ekonomi 1). 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi. 1) D. bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali. Luas areal permukiman b. Luas areal semak belukar g. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. antara lain sebagai berikut : a. Luas areal hutan f. Luas areal persawahan d. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.5. paling tidak mencakup 4 hal. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks.

7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur.3 Konsultasi dengan Bapedalda. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC.5. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut. 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. status bangunan dan tipe bangunan. Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. 5) Usulan tentang ganti kerugian. 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . NJOP tanah dan harga nyata tanah. status kepemilikan tanah. Bappeda. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer. D. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan. tanah ulayat dan sebagainya). Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali.

D. Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait. 1/1994.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1. prakiran nilai kekayaan. Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan. 2.4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK.  Sumber pendanaan.  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. jumlah tiang listrik dsb).  Biaya pelatihan alih profesi. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain.  Jadwal penyelesaian.  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No. masa tinggal dll.5. jumlah bangunan. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 .  Alokasi anggaran.  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3). 3. 4. Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja).  Perkiraan biaya.  Instansi penanggung jawab. luasan. termasuk status sertifikat.  Rencana penyelesaian. sarana dan prasarana.  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial).  Status penyelesaian.  Tindak lanjut. luas. pasal 45. evaluasi dan rehabilitasi. lokasi di peta.

(3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . (6) ..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … .. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang..… .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .. Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).… … . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . peran dan fungsi kota dll.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). kapasitas produksi. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. 3).. kapasitas jalan yang dibutuhkan. terasing… .

sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3)..... ..... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … ... ekonomi.. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis..... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. 5)... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). ekonomik....(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing..(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). budaya . (8) . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy...... terasing..... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing . 4).. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. … … ..

..5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis. ... (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.. terasing … .... terasing. terasing...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.4)........(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute..(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).

(11) . pembagian tugas 3). terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6).. kepemimpinan..... Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2).... sistem dan nilai hak adat ... Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)...terasing tsb..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.... (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.. Renc.. terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Termasuk rencana kerja.. T indak … .(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.… … … .... (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .... Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … ...

..… .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.... 5). 4)....(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ..(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ...... … … .... dll. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). Termasuk LSM....... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan. rehabilitasi konservasi situs dll.....(7) . perbaikan permukiman tradisional. 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . lembaga adat ....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)............. 3)....

(11) 8).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . 5). 4).(12) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . (6) 3).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … ..... 6). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.

Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3)..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . sosialekonomi. 6)... penanganan masy . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)... Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 2).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 4)..... Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME)... 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). budaya dan kelembagaan..terasing termasuk rehabilitasi … … . Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.(8) .

Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks... (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing … … . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . terasing yang lebih baik . terasing … . penanganan masy. (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . tata ruang nilai kearifan lokal. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.… .

.

mis.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat .. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .. jenis penggunaan dan kepemilikan).: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . 4). peran dan fungsi kota dll.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.… . (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .

4)....Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing......(6) .. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). status kepemilikan dan kesediaan melepas..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … . (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ......... ekonomik.... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan..(8) .... 5).. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).....

(6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.Rute. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. ekonomis dan lingkungan. Hasil Pra Kelayakan 2).. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.. Terhadap pengadaan tanah … .Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (12) .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … ...(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.(11) Menetapkan Rute Terpilih . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.5)..4). kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ... 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .. (7) Memperkirakan dampak sosial … . dll.

. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … .. 3).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Termasuk rencana kerja. pelepasan hak.kem bali. luasan. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya.. prakiraan nilai kekayaan. Lokasi di Peta. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. dll. 6).. masa tinggal dll. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .… … … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .kem bali … … . rehabilitasi pem uk..

(2) Berpartisipasi dalam musy...(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . 13).Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . khususnya panitia pengadaan tanah … … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk... & menyepakati dlm mufakat khususnya P .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ..P … … .. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .... Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … ...T .… .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . (4) KETERANGAN 1). Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6)..

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 4)..(12) .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. 5)..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. 6). (5) Membantu sesuai keterkaitannya. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .

Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . 6). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 7).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . (8) . 2). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 5). tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . … 7) 3)... sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 4).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … ..

. nilai kearifan lokal. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. pelatihan untuk alih profesi … .… . tata ruang.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . adat istiadat. LA R A P … … .

.

. (6) ... Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ... Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. khususnya areal sensitive … ..Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .. BPN dan dari sumber lainnya 2). Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). 4).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .… ..

(12) . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (10) 7)... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … ....(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. Dikbud... 9). 8). (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).… . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy...Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.Ka Bapedal No. ..... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.. Sosial) .

. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. 2)..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .... (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .. (9) .(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). RKL dan RPL 3). 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen ..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … .

. (8) ..... lansekap … … … .(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. RKL dan RPL … .... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain..: penanganan utilitas yang terkena. RKL dan RPL pada perenc.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL......Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL...… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain..teknis... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.: median. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.

.

langkah pelaksanaan Secara garis besar. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat. 147/KPTS/1995). E. antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No.3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL. Keputusan Kepala BAPEDAL No. Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0.2 Langkah . 9 Tahun 2000. 40/KPTS/1997).ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E. pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL.1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 . 69/PRT/1995).

Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan. Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan).4. dan mereka memberikan saran. media cetak. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi. dan/atau media elektronik. Media pengumuman • E.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi.4.4 E. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. dilengkapi peta dengan skala yang memadai.4. • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.4.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa. E. surat. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . E. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. Hasil pekerjaan. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota. pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. E. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.

Dalam proses ini.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. dan cara penanganannya. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. jelas dan mudah dimengerti. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1). g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2. yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 . f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. seminar. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. E. lokakarya.4. kapasitas dan lokasi kegiatan).5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). E. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. dan Mengumumkan waktu. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. E. h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. kebutuhan. dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio.6.6 E. masyarakat menyampaikan aspirasi.1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan.

b) evaluasi dampak besar dan penting. jumlah sampel yang perlu diukur. c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode.6. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . batas ekologis. c) pemusatan dampak besar dan penting. Langkah pertama. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E. antara lain metode matrik dan bagan alir. identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. batas sosial dan batas adminsitratif.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak.

pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. RPL Penilaian ANDAL. RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. RKL. RKL.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 .08 Tahun 2000.

Makin besar volume kegiatan proyek. dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. kondisi biologi. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar. Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi. jenis limbah dsb. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan. dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. lokasi quarry. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. baik dampak primer. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . bahan bangunan yang akan digunakan. (lihat Tabel 1 dan 2). Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. perairan umum. jumlah tenaga kerja. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka. Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting. konstruksi dan pasca kontruksi). c) peninjauan lapangan. cenderung makin besar pula dampaknya. Langkah kedua. laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya.

Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. 3. 6. Pengelolaan Quarry 8. 5. PemancanganTiang Jembatan 9. Pengoperasian jalan 2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. Pembayaran ganti rugi 1. 1. 8. 3. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. Survai & Pengukuran 2. 6. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 . 1. Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. Sosialisasi 4. 7.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 2. C. 5. Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. 4. 4. 2. B. 4. 2. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 3. 1. 7. 2. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6.

7. 1. C. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. 2. Survai & Pengukuran 2. Pengoperasian jembatan 2. 1. 4. 3. Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 4. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. Sosialisasi 4. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9. 5. 2. 6.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 3. 3. B. 5. 6. 7. 2. 1. 5. 4. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8. 2. 8.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

Di dalam batas ekologis ini. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran. kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung. Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman.  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman.  Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor). E. Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 . industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. Sebagai contoh. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi. waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat).3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. kontruksi maupun operasi. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi. tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material. batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan.6.

Bila perlu. Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia. diperlukan tenaga ahli kehutanan. Bab 4 : Pelaksanaan Studi.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan. Karena batas proyek jalan cukup sempit.7. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi. dengan memperhatikan keterbatasan dana.7. E. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan. Bab 6 : Lampiran. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat. perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting. E.2 di bawah ini. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data. diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat.6.7 E. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D. Bab 5 : Daftar Pustaka. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya. • Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia. diperlukan tenaga ahli hidrologi. Bab 3 : Metode Studi.

Lokasi rencana kegiatan proyek.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1. (2) Maksud. antara lain meliputi: (1). tujuan dan manfaat proyek.1 Pemrakarsa 4. (3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa.2 Peraturan Perundang-undangan 1.7. (5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL. (4) Status proyek saat ini.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.4 Biaya Studi 4.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub .2 Rincian Materi dokumen E.7.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.2.bab yaitu Latar Belakang.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.2 Tim Pelaksana Studi 4.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 .3 Isu-isu Pokok 2. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E.1 Latar Belakang 1.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3. Peraturan Perundang-undangan. dan Tujuan dan Kegunaan Studi.4 Batas Wilayah Studi 2.1 Metode Pengumpulan Data 3.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.

7. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.2. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan.7. Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 .3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL. E. Keputusan Menteri Kehutanan No. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E.2.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 . 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No.

7. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 9) Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. 6) Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. • R ona lingkungan hidup aw al. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. • B atas w ilayah studi. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 19) Keputusan Kepala Bapedal No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 8) Peraturan Pemerintah No. 18) Keputusan Menteri Negara KLH No. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 . 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No. 11) Keppres No. Kep.2. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 55/1993.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. 5) Undang-undang No. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 7) Undang-undang No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. E. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 2) Undang-undang No. • Isu -isu pokok. 4) Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 10) Peraturan Pemerintah No. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 3) Undang-undang No.

Jenis perkerasan. Jadual pekerjaan konstruksi. d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1. propinsi. Jenis program (pembangunan / peningkatan). S tatus proyek saat ini. tol).2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel. Lebar jalan (Damija.1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya.3. perkerasan). b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan. V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan. kabupaten / kotamadya. c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. P anjang ruas jalan. Status jalan (jalan nasional.3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan.3. 1. c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 . Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan). teknis dan ekonomis. Lokasi proyek. G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan. F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal).

(2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini. Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan. • P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah. • peralatan yang digunakan. yang harus ditelaah oleh konsultan. (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan). dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya.pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 . konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1). • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai. Tahap Pra . • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu.Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah. pasir. koral.

Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. longsor. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut. seperti contoh berikut : (1). dan sedimentasi pada badan air setempat. (3). (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri . • K om ponen lingkungan sosial . Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. • K om ponen kingkungan biologi.ekonomi . dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik . Untuk proyek jalan tertentu. Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan. Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam.kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 . (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija. Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi. yang bersifat “site specific”. d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut. jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat.budaya. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan.kimia. mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. (2).

Untuk pengumpulan data sekunder. agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan. Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. gambar atau deskriptif. c) Metode evaluasi dampak besar dan penting. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Untuk pengumpulan data primer. KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 . Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada. grafik. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya. b) Metode prakiraan dampak besar dan penting.7. Sebagai contoh untuk pengukuran. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data. Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. E. waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa.5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL.2. e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan.

• S osial-budaya. b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. • Teknik Lingkungan. overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota. bagan alir. Kep-056/1994. E. dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun. • G eoteknik. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun. sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. • K esehatan M asyarakat. b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut. • B iologi. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya.7. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. • Lansekap. • S osial-ekonomi.2.

analisis lanoratorium. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah). • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab. seperti : a. c. E. Laporan . c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan . peralatan dan material. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart. Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5. Disamping itu. • P engum pulan D ata.2. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. Laporan Pra-Studi Kelayakan.kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. perjalanan dinas. Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. dsb. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi. • P engolahan D ata. termasuk tahun anggarannya. Laporan Perencanaan Umum. APBD atau Bantuan Luar Negeri. d. Peta Penggunaan lahan. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut.7. • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa.laporan lain yang relevan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. • A nalisa Laboratorium . • P enyusunan Laporan. d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN. secara singkat dan jelas.7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. b.

. . Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan. setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir).5. Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai. b. c. Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa. 5.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis.5. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 . Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. E.8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a. jadual studi ANDAL.2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya. Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan.1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan. Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa.7. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang.Laporan ANDAL. yang terdiri dari : . Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .5.5 Pelaporan 5. . .2. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan. Peta lokasi proyek secara makro. dan tahun pembuatan / penerbitannya. ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya. d. 5. penyusun / penerbit.Ringkasan Eksekutif.Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. E.8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari).5. revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir.4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi. Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … . sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. E. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai. Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud.

RKL/RPL F.1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia. biologi. Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL.2. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL.3. F.2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai. RKL dan RPL Bidang Jalan F.2. sosial dan kesehatan masyarakat. karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak. pengamatan dan wawancara. serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi. Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan.1.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan. Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat. (a).3 Penyusunan Konsep ANDAL F. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 . Bab 3 : Metode Studi. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. F. (b). Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP).

Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. Bab 8 : Daftar Pustaka. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak.3. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 1. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan. Bab 5 : Rona Lingkungan Awal. Bab 9 : Lampiran. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan.3. F.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting. dan wilayah studi. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah. Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL). Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek. 2. terutama yang langsung terkena dampak.

09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL. F.1 b) di atas. dan hasil pengamatan lapangan. serta metoda perumusan RKL dan RPL. 2. 1.3. Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai.3. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen).Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3. 3. b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup. dan rancang bangun teknis. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 . metoda analisis atau alat yang digunakan. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL. Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. metoda prakiraan dampak besar dan penting. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data. 2. meminimisasi. bagan alir.4.1 b) di atas. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi. 4. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai. maupun hingga kegiatan berakhir. Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif.3.

3.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut.5. F.1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. 2. kecamatan. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek. 2. yaitu lokasi dan luas areal proyek.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah. ekonomi dan institusi.3. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. 1. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih.5 Rencana Kegiatan F. F. Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F.3.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan.5. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa.3. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 .5. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan. Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama.1. kabupaten/kota dan provinsi. dan komponen kegiatan proyek.

dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi. konstruksi. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.2. Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F.3.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a.5. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 . dan pasca konstruksi.4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung. Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar.

volume galian dan timbunan dll). Pendapatan penduduk. Perekonomian lokal. F. biologi. Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya. Aliran air tanah.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. jenis peralatan yang digunakan. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek. Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. Keberatan pemilik lahan.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana. F. rute angkutan material.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp.3.3. Keresahan masyarakat. Erosi tanah.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Aliran air permukaan. Estetika lingkungan F. Tata guna lahan. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.6. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk. yaitu komponen geofisik-kimia.6. Kualitas air permukaan. F.3.1 Komponen Geofisik. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat.3. Settlement. Pola penggunaan lahan.6. Sedimentasi.  Biota air. RKL DAN RPL BIDANG JALAN . sosial. Prevalensi penyakit.

1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar.  Kondisi utilitas. 3) Mekanisme aliran dampak. dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan. yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a. 2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial. b.  Kondisi lalu lintas. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. F.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.8.7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi. F.3. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 . Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. c. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.3.3. e.3. konstruksi.6. antara lain meliputi :  Kondisi jalan. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak. F. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting. d. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL).

keputusan.4.3.3. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul.1. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen.8. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting. F. F. F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup.3.10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam. peta. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 . Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan. e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL. grafik. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai.9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. b) Surat-surat tanda pengenal. d) Diagram. F. kualifikasi.4 Penyusunan Konsep RKL F.

seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas. (a). c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir. Bab 5 : Lampiran.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. mengurangi. misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. ekonomi dan institusi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 . Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau.  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut. b) Pernyataan kebijakan lingkungan.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. akan ditempuh cara. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan. Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan.4. singkat dan jelas. F.3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi.4. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia. Bab 4 : Daftar Pustaka.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah. Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu.

RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan. berkepentingan.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b). PLN (Persero). uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa. jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi. Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta. cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan.4.  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak. sosial ekonomi ataupun institusi. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (c). F. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. e) Lokasi pengelolaan lingkungan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan. f) Periode pengelolaan lingkungan.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak. Dinas Kehutanan. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. Dinas Pengairan. c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. d) Pengelolaan lingkungan. g) Pembiayaan. b) Tolok ukur.

4.5. F. dll. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi. b) Uraian secara sistematis. Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan.1. tolok ukur.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. sumber dampak. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . b) Sumber dampak. Contoh indikator muka air tanah. F. Bab 4 : Lampiran. singkat. rencana pengelolaan.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. maupun bagi masyarakat. Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. adalah penurunan sumur penduduk.5 Penyusunan Konsep RPL F. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan. pihak-pihak yang berkepentingan. Bab 3 : Daftar Pustaka.4. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL. lokasi.5. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak. Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau.5. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa. tujuan pengelolaan lingkungan. F.

b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL). Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana. c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. pengawas.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. lokasi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. sumber dampak.5.6.6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F. tujuan pemantauan lingkungan. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. F. atau formulir isisan yang digunakan. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan.5. Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak. metoda analisis). fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. berkepentingan. e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan. F. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud. kimia. dan institusi pemantauan lingkungan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 . d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai. F.5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau.4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai.

3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas.6.6. F.2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F.6.6.6. F. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya.4.6. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut.1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F.6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. F. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud. F.6. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 . maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai.

yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya. Ahli Sosial Ekonomi. Identifikasi dan penetapan parameter sosial.1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. termasuk akses koridor. Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak. 3. (b). identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. dan penilaian tingkat kepentingan parameter. Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. penetapan batas wilayah studi. 4. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 .1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a).2. G. Ahli Transportasi.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal. Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli. identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak. 5. G.2. dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi.2. 299/11/1996. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya. G. 2. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial.

batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. lokasi basecamp. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen. wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen.2. maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman). (c). lokasi quarry. batas ekologis. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen. Dalam proyek jalan. batas administratif.  Pada tahap awal. dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis.  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. batas sosial.  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan.  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar. waktu dan tenaga yang tersedia). Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah.  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis. setiap segmen dan sub segmen. rute pengangkutan material.  Melakukan pengamatan terhadap lokasi.  Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. konstruksi dan operasi. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. batas kawasan industri. G.  Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. dan borrow area (yang dikelola proyek). Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. dilakukan pembagian segmen.3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 .  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. kawasan pelabuhan/bandar udara.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek.

meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b).  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). Kegiatan proyek. meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 . peralatan dan meterial yang digunakan (d). Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a).1.Tahapan Pelaksanaan Proyek. mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b). Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e). Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek.2. Metode kerja. Tahap pra konstruksi. Tahap pasca konstruksi. Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya. mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c). antara lain sebagai berikut: (a). Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial. Tahap konstruksi b. Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya.

Skala bobot kepentingan dimaksud. (b). Pelaksanaan penilaian/pembobotan. tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi. yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama. bukan pada dampak turunan.2. Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga. dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan.5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter. (c).2. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 . perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua. dapat dilakukan dengan cara pembobotan. Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan. Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga. Pembobotan oleh Ahli (b). Melalui prinsip penghitungan yang sama.1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a).2. Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya. Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi. selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner. Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak.4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G. yakni: (a). Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. G.

3. analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. (b). Dengan cara tersebut.3. maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel.4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a). teknik penelusuran sampel. G. Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel. tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa.3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara. Apabila dipilih cara ini. Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan. perlu dilakukan penelusuran tapak.3. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut. tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden.3. Karenanya. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. jumlah sampel ditentukan. G. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai. dan keragaman tata guna lahan. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian. Pemilihan sampel representatif. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga. dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 . karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas.1 Kerangka Proses G. G. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan. batas wilayah administratif. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik. Untuk itu. salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol.

d. Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. seperti kondisi permukiman permanen. Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini. Muatannya berupa data hasil wawancara. Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek. (e). Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner. Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c). semi-permanen. Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan. (g). Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. (f). sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban. Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden. metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). 50 meter. Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. dan non permanen. Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang. atau pun jenis pekerjaan. dan responden dihadapkan pada pilihan opini. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya.

Kuesioner tersebut memuat data pokok. Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri. Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas. (c). serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek. Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial. berupa identitas responden.1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 . kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS).4. akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan.3. Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G. seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA). Pada prinsipnya. serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. G. Selanjutnya. tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden).4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan. atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri. persepsi tingkat kepentingan parameter.5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor. karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian. dan persepsi terhadap kondisi eksisting. Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara. responden diminta untuk menilai kondisi eksisting. Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. (b).

Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). (b).4. peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali. Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek). Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum). Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. 3. dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi. Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. (c). Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). baik berupa baku mutu. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 . Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku. Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter. Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif. BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan. Untuk kepentingan analisis ini. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. mobilisasi dan pembebasan lahan. antara lain : 1. 2.2 Komponen Analisis (a).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur.

RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak.1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak. Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum. Karena itu. dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat. yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak. yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan. G. intensitas dampak sulit diukur secara langsung. Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana. dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia. Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e).5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw). Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan. konstruksi. Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi. (d). Pada komponen sosial. dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi). Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden.2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 . terdapat 2 (dua) terminologi kunci. Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. Jadi. nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS). Pada proses analisis. Pada komponen lain.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur. RDDL = SDD/DDLSaw G.5.5. Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw.

maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak. (c). Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan.  Dampak dikatakan besar. mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). maupun pasca konstruksi. baik pada saat pra-konstruksi. Kep-056/1994. apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri. Secara konsep. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak. digunakan Keputusan Ketua Bappedal No. Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan. apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya. apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi. Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini. maka suatu dampak tergolong kategori penting.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. Demikian pula dengan populasi. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. masa konstruksi. Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama.5. G.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan. maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori. Selanjutnya. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang. yakni :  Dampak dikatakan kecil.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 . Untuk memilih prioritas mitigasi. dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. (d). Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki. mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama. sistem atau pun penggabungan dari keduanya. Mitigasi dilaksanakan secara teknologi. Dengan demikian.

terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum . terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru. Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A.CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat.

TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi .Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd. kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).  Keluhan thd.

TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon. sekolah. tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan . rumah sakit. tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman.

.

dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek.2 Penilaian Isi Dokumen H. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan. rangkuman hasil konsultasi mayarakat. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang. dsb. H. antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan. regional maupun nasional. peta topografi. peta tata guna lahan. c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal.2. peta geologi. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti.2. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 . peta lokasi proyek.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H.2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H.2. H.2. beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL.1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi. peta batas wilayah studi. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).

Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia.2. Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek. dll.4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat. 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . analog. biologi dan sosial-ekonomi dan budaya. misalnya pengadaan tanah. batas ekologis. misalnya galian dan timbunan tanah. batas sosial maupun batas administrasi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting. Penggunaan model matematis. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan. meliputi:  Tahap pra konstruksi.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor).3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi.2.  Tahap pasca konstruksi. b) c) d) H.2. yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak.2.2.2.  Tahap konstruksi.  Data sekunder: jenis dan sumber data. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H. matrik. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya. Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir.

hasil konsultasi dengan instansi terkait.2. Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL.  Berpengalaman memimpin tim studi.2. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 . daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya).1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. swasta.6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. b) metode-metode yang digunakan.  Sumber dana (APBN.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah.2. H. yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab. H. hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial. Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL.5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan.2. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi. Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok. dsb). Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL. RPL. c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H.3. atau bantuan luar negeri). RKL dan RPL. keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah.  Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi. d) e) H. APBD.

harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis.2.3.1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.2.  pertanahan. konstruksi.3. antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan.3. dan pasca konstruksi).  data sekunder: jenis dan sumber data. dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi. H. wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL.2.2 Penilaian Isi Dokumen H. atau profesioanal judgement. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 .  dll. b) H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.  baku mutu lingkungan. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan.3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi.3. jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya. analog.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting.

2. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan.4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah. serta lokasi pengambilan.  Jumlah. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja. wilayah studi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . d) Data teknis jalan yang akan dibangun. rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. atau adanya kawasan yang dilindungi. H. konstruksi dan pasca konstruksi). e) H. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek. biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya. c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta. seperti peta tata ruang.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik.3. Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia.3. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek. peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis. alinyemen jalan.  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan. kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi. lokasi quarry. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area). b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya.2. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi.

agar dikaji secara deskriptif analitis.2.  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement.2. (5) Dampak penting pada butir (1).3. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN .8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan.6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. (2).3. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting.3. Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas. (3) dan (4) yang telah diuraikan. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial.2. c) d) H. (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku.  Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog.7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek. dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi. (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. H. yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris. yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala. Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. seperti pergeseran tata nilai. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.

hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 . Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. H. H. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif. Saran.4.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif. Pendekatan sosial-ekonomi.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek. Pendekatan estetika. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan.2.4. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H. Cara-cara dan hasil perhitungan.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL. yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi. pendapat dan tanggapan masyarakat.  Betujuan untuk menanggulangi.  Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih.3. Daftar biodata tim penyusun AMDAL. Pendekatan institusi. H. Metode-metode yang dugunakan.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif.

H. misalnya konsultasi masyarakat. periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan.5.5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.4. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak. kriteria desain.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 . rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP). pembiayaan dan sumber biaya.4. H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. H. tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H. H.4. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan. metode dan teknik pengelolaan lingkungan.4. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data.4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting. sumber dampak. dan  pelaporan. lokasi pengelolaan lingkungan. keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL. tolok ukur / parameter dampak.3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design).

5. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 .  wawancara. dsb). H. Sumber dampak. Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. Metode dan teknik pemantauan lingkungan.  inspeksi mendadak. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL.  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas. dan  Pelaporan. Lokasi pemantauan lingkungan.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL.5.5. H. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain. H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan. f) g) h) H. kamera video. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ).  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera. misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan.5. Tolok ukur / parameter dampak.3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau.2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium.  Pengawasan pelaksanaan RPL.

PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 .Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi.6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir.

1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada.2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. tujuan pembangunan / peningkatan jalan. Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada.1. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.2. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek. sesuai dengan laporan hasil penyaringan. panjang ruas jalan. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.1.1. Untuk proyek peningkatan jalan.1. I. Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Untuk proyek pembangunan jalan baru. mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan. sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin.2.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 . lebar rencana damija.1 I.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul. I.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan.

Panjang dan lebar jembatan.2. Kecepatan rata-rata (rencana).1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan. meliputi:           panjang jalan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait. LHR rata-rata (rencana).1.1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I.2. I. Konstruksi jembatan.2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan.2. jembatan penyeberangan trotoar. gambar profil melintang dan memanjang. dsb.1. halte bus.2 I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 . lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan. pot / bak tanaman. fasilitas penerangan jalan. meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman. I.1.

Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja.2.2. truk. status pemilikannya.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya.1. I. pekerjaan tanah (galian / timbunan). jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan).Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain. I.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan. dll yang dibutuhkan. excavator. yang perlu direlokasi (bila ada).2.4.2. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 . misalnya tahap studi kelayakan. perkerasan dll. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya. saluran irigasi. 2. serta jenis penggunaannya saat ini. Apabila diperlukan pengadaan tanah. gorong-gorong.4 I.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah. I. I. pekerjaan jembatan.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek. antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak.4.2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon.2.

abutement.4. dan cara pengelolaan limbah. Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping). Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan. drainase. Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. serta galian dan timbunan tanah. e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. piers. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course). Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. dsb.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya. aspal. khusus untuk penggantian jembatan) I.2. Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. dsb. Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas. Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai. agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek. Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong. batu. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya.

agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini. bergelombang. Sebagai contoh. Jadual pelaksanaan konstruksi I. pemeliharaan rambu lalu lintas. serta partikulat debu. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). atau daerah pantai. Nitrogen oksida (NO). pegunungan. dataran tinggi. b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan. I. b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat.2.2. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 . karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut. sebelum penyerahan pekerjaan.3. Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat. I.3 I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun. apakah daerahnya merupakan dataran rendah. Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada). hidrocarbon (CH). Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan. perbukitan. Jika ada.1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO).5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek.

3. Areal binaan seperti pemukiman. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata. f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai. Bentang alam yang bersifat khas. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap. tempat ibadat serta pemukiman padat. Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit. perkantoran. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan. Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. taman. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor).Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya. Komponen biologi I. sekolah. saluran irigasi. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. danau. e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir.3. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala. I. dsb.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan.

Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas. serta waktu tempuh pengguna jalan. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu.5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase.3. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 . d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA. pertokoan. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan. telepon. gorong-gorong. volume lalu lintas kendaraan bermotor.3.. pasar. dan sebutkan faktor penyebabnya. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan.  Jaringan listrik. pipa gas. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan.  Sekolah. I. dsb. terutama penduduk yang akan terkena dampak. I. rambu-rambu lalu lintas. agar dijelaskan kondisi jalan saat studi. dsb. sarana ibadah.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya.

4. Kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas. Keresahan masyarakat dan konflik sosial.1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul. Tahap pasca konstruksi I.  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek. Perubahan tata guna lahan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 . Gangguan kesehatan masyarakat. I. Kerusakan jalan akibat transportasi material. Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat.5. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan.4. I. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek. Penurunan estetika lingkungan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. Gangguan aliran permukaan.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor).4.4 I. kehilangan tempat usaha. Penurunan populasi vegetasi.5 I.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. Gangguan kesehatan masyarakat.

5.5.000 m3.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. lokasi pemantauan. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan. misalnya galian tanah 300. I. serta petunjuk lainnya. I. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. berikan penjelasan secara jelas dan tepat. dan periode pemantauan. nama desa dan kecamatan.5. misalnya selama satu bulan.5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan. meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 . keresahan masyarakat atau pencemaran udara.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi. misalnya pada km berapa. Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya. faktor lingkungan yang akan dipantau. Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan. misalnya kerusakan badan jalan.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati. tolok ukur dampak. I. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab.6.6 I. I. Bila perlu.5.

: a) b) c) d) Sunber dampak. I.6. I. demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. nama desa. I.2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak. Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan.6. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan.6. Indikator dampak.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau.3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau. konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi.6. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu. kecamatan.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data. Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb.. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat. Jenis dampak. mulai tahap pra-konstruksi. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 . Upaya pemantauan Sumber dampak I.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek. misalnya pada km berapa.

Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu.9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9.7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan. I.1 dan Tabel 9. disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup.2). misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait. Di samping itu.8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai). I. I.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.

c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain. apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. ANDAL. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 . RKL dan RPL. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL. yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL.2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. b) Peninjauan lapangan. Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia. Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2. J.

terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan. Bab I. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak. Lampiran. Rencana Kegiatan • Bab II. Pendahuluan. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan. • Bab III. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek. Bila perlu. Bab II. Daftar Pustaka. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan. atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. Bab III. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I.

Pengelolaan lingkungan hidup. Institusi pengelolaan lingkungan hidup. dan penerima laporan. Periode pengelolaan lingkungan hidup. dan Layak ekonomi. b) Pendekatan sosial ekonomi. misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait. d) Pendekatan estetika. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. c) Pendekatan institusi. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. Sumber dampak yang perlu ditangani. meminimisasi. meliputi pelaksana. bertujuan untuk menanggulangi. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor. bersifat meningkatkan dampak positif. Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 . Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. atau mengendalikan dampak negatif. a) Pendekatan teknologi. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. Tolok ukur dampak. pengawas. pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat. misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat.

DLLAJ J. Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor. untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi). Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. Di depan sekolah pada Km 3 + 210. Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air. rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu. • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor. • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki. Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga. (panjang 15 m).Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1). untuk mencegah kecelakaan lalu lintas.1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. Bapedalda.4 K. Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan).4. dan upah). peralatan.

tepi timbunan badan jalan yang tinggi. tikungan tajam. di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam. • Penataan lansekap di lokasi tertentu. untuk mengatasi gangguan visual (estetika).  Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3). Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 . dsb.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2). lokasi jembatan atau gorong-gorong.

2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15. Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN .Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong).5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah. Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas.000). Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia.4. antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air. sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. K. J. biologi dan sosial.

Pengoperasian base camp (penanganan limbah). baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3).6 J.  Apa yang harus dilaksanakan. Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. kemacetan lalu lintas. debu. J. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora). Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas). PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 . dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk. kecelakaan lalu lintas). Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak. hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.6.6.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. . Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas).2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi. sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. J. setelah pekerjaan konstruksi selesai.1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek). Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. kerusakan badan jalan. Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. borrow area dan disposal area. sesuai dengan fungsinya. Pengamanan / reklamasi bekas quarry. Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak.

Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan.  Siapa yang bertanggungjawab. Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting. kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material. J. akibat pekerjaan galian tanah. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek. erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase. dll. • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 .  Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya. jaringan telepon/ listrik. kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material..6. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik. effluen limbah cair dari base camp.

bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah. kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. 5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi. Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. Kontraktor harus berusaha memilih rute. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan. dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya. sampah dan segala macam pekerjaan sementara. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. sisa bahan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . 2) Selama pekerjaan mobilisasi. Pada saat penyelesaian pekerjaan. benda berharga atau kuno. atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan. 4) Semua benda peninggalan purbakala. kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. mata uang.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

Lansekap pedesaan. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. ekologis dan visual. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia.1). Di daerah perkotaan. subway dan simpang susun. Lansekap jalan.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan. Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan.1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung. jembatan. stimulasi dan penyegaran. underpass. serta sepanjang koridor jalan. overpass. yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan. Lansekap pantai. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik. lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon. secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. Gambar 1. semak. trotoar. Lansekap jalan yang baik. Lansekap perkotaaan. perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan.

Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora. Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam. c. berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun. fauna. seperti hutan. perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap. b. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan. demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat. dan topografi. Di daerah alami.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia.2 Gambaran umum lansekap jalan K. kondisi tanah. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami.2. termasuk modifikasi lingkungan alami. gedung. K. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya. pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota. hidrologi.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya.

       PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 .Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan. pengendara motor dan / atau pejalan kaki. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim. air (PAM). serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. macet atau berhenti.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan. nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan. K. Lanseap jalan kota penting dari segi visual.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain. saat kita berkeliling kota. dan gas.  Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan. termasuk listrik (PLN). penumpang kendaraan umum. umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran. Dalam proses perencanaan jalan kota. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi. telepon. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil. Jalan kota penting bagi kita.  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap. serta meningkatkan peluang untuk pemandangan.  Dalam beberapa keadaan. khususnya jika lalu lintas bergerak lambat. Untuk mencapai hasil terbaik.2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota. Jalan kota menyediakan jalur utilitas. Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita.2. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi. perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi. dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual. warung atau kaki lima.

lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki. Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan. kolektor dan lokal. Pergerakan pejalan kaki. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut.  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan. warung.  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan. keindahan.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 .3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial .Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. sosial. dan arteri.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan. c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik. d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial. provinsi.2. lingkungan.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan. kabupaten / kota.2. K.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3. perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 . Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon.

Pembatas Pandang  Tanaman pohon.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 . perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m.  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7. Pemecah Angin  Tanaman pohon.

Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8.5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 .

data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer. dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500. Disamping itu. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara). Penyusunan dokumen RK-PTPKP. Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan.000 atau 1 : 5. Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan.1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial.000.000 dan data status kepemilikannya.000 atau 1 : 5. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan.2 L. Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat. yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali.2. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis.000). Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama. L. LK. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED).1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan.2. Peta persil tanah skala 1 : 1.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1.000 atau 1 : 2.1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah.1.

Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada.1. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 . Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi. Jumlah dan dimensi/ukuran. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah. Koordinasi/Konsultasi L. Jumlah dan dimensi/ukuran. e) L. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja. kategori. a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara. nama pemilik. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan. maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis. Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. kategori. atau Proyek Pembebasan Tanah. pemilik. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek. meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah. pemilik. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali. dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya.2. status hak dan jenis penggunaannya.2.

termasuk ganti rugi. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek. perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. Dinas Perumahan. Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek. Kepemilikan. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan. Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU.3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya. pendidikan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. status penguasaan dan pola penggunaan tanah. pendapatan dan pekerjaan. Instansi terkait lainnya. Kantor K elurahan. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. meliputi :  Jumlah PTP. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Pemda dan instansi terkait tersebut. kesiapan program. Kebijakan pengadaan tanah. dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. prosedur pengadaan tanah. Kantor Kecamatan. L.  Struktur penduduk. pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan. dll.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 .2. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP). perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya. Sarana dan prasarana umum yang tersedia. pemukiman kembali dan pembinaan.

Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. Kepemilikan. Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia.3. survai sosial ekonomi. Jaringan sosial dan organisasi sosial. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya. L. Pelaksanaan Pengumpulan Data L. keluarga. luas tanah. Reaksi terhadap pemukim baru.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner. Jaringan sosial dan organisasi sosial.3. Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. pola penguasaan dan penggunaan lahan.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali.3. Komposisi demografi dan sosial budaya. Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia. pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN .2. L. orang yang berhak). Menetapkan tanggal pendataan PTP. meliputi :           Karakteristik lokasi. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa. Sistem dan perilaku sosial budaya. perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya. Organisasi dan kebutuhan masyarakat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP. Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan.3 L. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset. Persepsi PTP terhadap proyek. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP. dan survai lokasi pemukiman kembali. kerugian yang layak diganti rugi.

Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama. pengukuran.1. Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. penguasaan dan penggunaan tanah.  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah.2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi. dilakukan pendataan persil tanah. dan survai inventarisasi. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner. a. survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan).2.2.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan.3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung. Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan).  Sebelum pengukuran situasi. petugas sensus dari kantor BPS. RW/RT setempat. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1. penyelidikan riwayat. tokoh partai politik. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan. serta dari wakilwakil PTP. kondisi topografi. L. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. b) c) L.3. Kelurahan.2. penyuluh KB.  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0). dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota). Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. yakni : survai lahan. ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota). Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 . a. dan (ii) survai sosial ekonomi. serta tokoh masyarakat. serta kepemilikan dan status penguasaan lahan. pengamatan (penaksiran).3. RW/RT.000).

dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga). a. prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum. Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran.3. pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan.  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan).  prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah. Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga. serta pendidikan. kesehatan. staf Dinas Sosial kab/kota. penyuluh KB.  jumlah anak sekolah yang harus pindah.  H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal). (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 . Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik. b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan.  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa.4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan. jaringan air bersih. fasilitas pendidikan.  jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu. L. peribadatan. d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek.

Tingkat dan besaran ganti kerugian. fasilitas peribadatan. kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. L. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul. gas. telepon. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum. jenis dampak/kerugian. n) Terganggunya kegiatan pendidikan. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja. air bersih PDAM. pasar. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. air bersih. bangunan MCK. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi. pelayanan kesehatan. telepon. bangsal. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal.6.6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. perencanaan pemukiman kembali. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana. simbol atau tempat keramat lainnya. termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. dll). olah raga. dan jumlah PTP. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 . Pilihan bentuk ganti kerugian. terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian.

baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya.  Aset sosial-budaya lainnya. antara lain: anak (murid) sekolah. Bangunan. pengontrak/sewa (tanah dan bangunan). antara lain meliputi :         b) Tanah hak. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. saling membantu pada saat kesulitan. o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah.6. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali). Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah. o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0.6. L. nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial). Tanah ulayat. sebagai berikut :  Tanah perumahan.2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No. Tanah wakaf. Tanaman. antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 . dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya.  Lahan usaha pertanian.  Keterikatan sosial dengan lokasi asal.3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan. Tanah yang dikuasai tanpa alas hak.3. Kriteria tanah.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK). gotong royong. Tanah Negara. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). (misalnya.6. maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi.

 Sudah berakhir dinilai 60 %.  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli. kondisi kebun dan produktivitas tanaman.  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi.  Harga sejenis. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan.  SK Bupati/Walikota. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik.  Aspirasi warga.  Sudah berakhir dinilai 60 %. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 . adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi.  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan. Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %. Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya.  Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %.  Harga pasar. dengan ketentuan sebagai berikut : (a). Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %.  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik. Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. (c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %. atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah.  Belum bersetifikat dinilai 90 %. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %. dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak). Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %. maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik.

perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN).  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). (e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara. b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a. berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB). tanpa memperhitungkan depresiasi. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga. b.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %. Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya. Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %. 48 tahun 1994. 10 . Selanjutnya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %.  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %.

dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi. berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 . manfaat/kepentingan. dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud. dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut. kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut.  Aspirasi warga L.6.  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya. Selanjutnya.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.3.  Bantuan biaya pindah yang layak. pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan. dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan.

yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha.  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan). selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan.  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini. dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan. diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan.  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya.  Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 . khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini. Dampak ini akan timbul. diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun.  Bantuan pindah.5 Km. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan. Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan.

mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah. Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Pemilihan/penentuan lokasi. c) Tanaman. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah.6. dan sebagainya. Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. Tanah pengganti.4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . dan apabila diperlukan.1 Berdasarkan Keppres RI No. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah. Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Bangunan pengganti. Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. harus disiapkan paket program persiapan sosiaK. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). Menentukan kategori pemukiman kembali. L. Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali. Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan). b) Bangunan.7. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi.

serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas. sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas. Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No.7. hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4. Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2.25 Ha. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14. kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB). dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun.2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali. Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4.12. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 . Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah). atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L.12. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya.

lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. tempat. langkah pemulihan pendapatan. Ganti rugi dengan nilai penggantian. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. langkah pemulihan taraf hiduK. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. dan penggembala. penggembala. Ganti rugi dengan nilai penggantian. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK. Penggantian kalau bisa. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. langkah pemulihan taraf hiduK. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. PTP adalah penduduk asli atau rentan. masyarakat terpencil. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. tempat. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. misalnya yang paling miskin. struktur masyarakat. misalnya yang paling miskin. struktur masyarakat. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. pemulihan pendapatan. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan. Penggantian kalau bisa. masyarakat terpencil. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 .

relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan). pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya.7. penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi.7. L. dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan .3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. a). khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya. b).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L.3. Khusus untuk daerah perkotaan. kepadatan penduduk rendah. antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri.1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi). (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun). harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 . jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. Relokasi Setempat. Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek. c). didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali. lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. sosial. Relokasi Mandiri. Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi. Namun demikian. B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. (ii) Relokasi setempat. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. budaya dan ekonomi. Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. meskipun jumlah PTP relatif banyak.

Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru. Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada. Jika PTP yang terpindahkan sedikit. (ii) Rumah susun. fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya. serta harganya terjangkau (misalnya. dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru. air bersih. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan.7. Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan. Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan. fasilitas kredit kepemilikan rumah). perumahan dibangun di lokasi baru. c).4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. fasilitas umum). Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih.7. kepadatan penduduk rendah. jalan. (iii) Kaveling siap bangun (KSB). fasilitas KPR) L. saluran drainase. 20 tahun). meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi. baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka. jalan. a). antara lain : (i) Perumahan. fasilitas KPR-BTN). Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK). perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK.3. sambungan listrik. L.2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya. sambungan listrik. Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”. dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan. b).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan. 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya.

tempat usaha. komposisi penduduk).  Fasilitas umum. olah raga. dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali. atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya. sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi. Perancangan struktur permukiman.. harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi. dan pusat perekonomian). dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan. (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian. daya tampung lokasi/ kawasan.  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). penggunaan sumber daya milik umum. (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja. serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK). luas dan bentuk lahan. fasilitas pendidikan.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat. (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan.  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai. (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan. (b) Ketersediaan lahan. (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik. seperti :  Penyediaan air bersih. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama. seperti fasilitas pendidikan. L. peribadatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 . prasarana sosial. Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan.5 Perancangan Permukiman. pasar.7. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk.  Sambungan listrik (dan komunikasi). tempat ibadah. sosial.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini. budaya dan ekonomi).

8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. kaum perempuan. L. b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. preferensi. keterampilan. khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. serta analisis kelayakan dan finansiaK. besarnya keluarga. umur. mata pencaharian. yakni PTP yang terpindahkan. preferensi. pendapatan. orang-orang cacat. bantuan pendidikan anak sekolah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah.  Bantuan pembangunan rumah. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya. pilihan). Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. pendidikan. bantuan pindahan. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi. yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP. umur.  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha. kelompok usia lanjut. mata pencaharian. pendidikan.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi. pengusaha. dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah. pendapatan. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. keterampilan. besarnya keluarga. kelompok paling miskin). tunjangan biaya hidup. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Kemudahan transportasi angkutan umum. Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin.  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti.  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. dan PTP yang tergolong kelompok rentan. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. bangunan. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek. pilihan).

frekuensi.9 L. pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis. Strategi pembinaan jangka panjang . Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 . mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. penyiapan lahan pengganti. L. pekerjaan. bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri. serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud. regional atau nasionaK. instansi pelaksana. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan. serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan.9.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab.  Paket rehabilitasi lingkungan.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya. Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan. dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan. termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan.1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya.

e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat. Rapat pertemuan dengan masyarakat. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol. khususnya pada lokasi bersangkutan. serta bentuk dan nilai ganti kerugian. khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 . Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi. antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini. File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). jenis aset terkena proyek. Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung.

tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 . untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. bulanan. pengendalian. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. tahunan dan laporan akhir kegiatan. Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. triwulan. pemukiman kembali dan pembinaan. b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. penyusunan laporan. Persyaratan personil pelaksana. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. koordinasi dengan instansi terkait. termasuk pengumpulan dan analisis data. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. khususnya dalam rangka sinkronisasi program. Kemudian. dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. mingguan/dwi mingguan. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi. Namun demikian. verifikasi.

Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan. Pemulihan taraf hidup. rapat/pertemuan dengan PTP). realisasi penyerapan dan alokasi anggaran. Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. Tingkat kepuasan PTP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana. perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan.9. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. wawancara bebas dengan renponden kunci. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. serta rencana untuk triwulan berikutnya. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran. Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya. dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian. Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa. L. Efektivitas perencanaan.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan..

khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. Menilai efisiensi. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah. efektivitas. universitas. Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. pemukiman kembali dan pembinaan. biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). dengan mengacu pada RKPTPKP. Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. pemukiman kembali. pengendalian mutu. komparasi dan analisis. Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. pemukiman kembali dan pembinaan. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. updating. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . Metodologi secara rinci. kerangka pengambilan sampel.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. atau LSM. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. sosial ekonomi/koperasi. dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). Persyaratan pelaporan. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. pertanahan. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. Sumber daya yang dibutuhkan. konsultan. Kerangka waktu. Partisipasi stakeholder primer. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini).

10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan. L.10.10. Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi. organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan. dan monitoring dan evaluasi.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L. Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah. pemukiman kembali. L.9.10. Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi. pengadaan tanah. Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP).5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan). Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 .3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi. pembinaan. L.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP. L.10.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah.10. Penyiapan program dan anggaran. Set-up kelembagaan.

11. Paket peningkatan kualitas lingkungan. Sertifikasi tanah. monitoring dan evaluasi. pembinaan.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah. e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat).11. pembangunan perumahan. d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi. serta biaya administrasi. L. koperasi. c) Bantuan biaya pindah. L. beserta aset lain yang ada di atasnya). biaya pemukiman kembali. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa.memulai usaha baru). pelatihan.11. L. jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. pendidikan).2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah.4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai. fasilitas kredit murah.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan.11. Bantuan pengembangan (seperti. Secara garis besar. L. L. biaya pengadaan tanah. 11. Inventarisasi dan sensus PTP. kesehatan. pemukiman kembali. serta sarana dan prasarana). usaha kecil/rumah tangga). termasuk biaya untuk ganti rugi. dan biaya administrasi.5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan. biaya pembinaan dan rehabilitasi. Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah.

1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan.12. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . Kerangka kebijakan. Mekanisme koordinasi. Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan. e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8). Berdasarkan PP No. d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L.12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan. 26/1985 Bab I Pasal 1. c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6). Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L. f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9). mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4). b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5). Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait).

Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota). Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. sub tim perencanaan/penyiapan program. Jasa Marga Persero). 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. 1/1994 (Bagian Keempat. sub tim sosialisasi dan pembinaan. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal. khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 .Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP. telah diatur dalam Keppres RI No. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27). Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim). Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No. 55/1993 (Bab III. sub tim implementasi dan pengendalian).

Persyaratan personil pelaksana.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering. pembinaan kelompok rentan. misalnya. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu. Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah. b) c) L. baik secara vertikal maupun horisontaK. Kerangka koordinasi eksternal. jumlah dan lingkup pekerjaan. perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. Panitia Pengadaan Tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). Tokoh Masyarakat.4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. BPD (Badan Perwakilan Desa). yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah. pemukiman kembali. dan kelompok perwakilan PTP. antara lain jumlah PTP. c) L. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP. Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas.12. khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal.12. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait.pemantauan internal. jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan. seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 . atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan.

h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. L. m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 . dan kesejahteraan sosiaK. Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. L. i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali. hukum. l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. pelatihan dan lokakarya. teknik lingkungan.6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur).12. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali. c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. bantuan teknis. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. ekonomi. e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. sosiologi. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. antara lain: a) b) c) studi banding. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi.5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis.

serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP. pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP.7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. serta pemantauan eksternal dan evaluasi. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 . L. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB. serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup. n) o) L. khususnya yang terpindahkan. Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat. termasuk definisi proyek. pemukiman kembali dan pembinaan. serta rencana pendanaannya. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. termasuk pembiayaan.13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”.12. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali.

4). Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). BPN dan dari sumber lainnya 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. (6) ...... . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . khususnya areal sensitive … .… .. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .. . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .

. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . Sosial) .... . 8). (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.Ka Bapedal No. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .… .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan... (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ... (12) . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .... 9).(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … ... (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (10) 7).. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . Dikbud..

.. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. 2).Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .. RKL dan RPL 3).. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen ..(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen... (9) .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).

..: penanganan utilitas yang terkena.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. RKL dan RPL pada perenc. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.teknis...... lansekap … … … .. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis...… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.... RKL dan RPL … .... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. (8) .: median...... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.

.

. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. mis. peran dan fungsi kota dll. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas.. 4).… . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. jenis penggunaan dan kepemilikan). 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. kapasitas produksi. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya.

(4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)............ 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)....Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ....(8) ... 5).. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ...(7) Menetapkan koridor jalan terpilih... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ... 4).... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan..(6) ... status kepemilikan dan kesediaan melepas.... ekonomik.

.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . (7) Memperkirakan dampak sosial … . (12) . Terhadap pengadaan tanah … . ekonomis dan lingkungan. Hasil Pra Kelayakan 2).. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ....Rute. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)... dll.(11) Menetapkan Rute Terpilih . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.4). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.5).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .

… . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. rehabilitasi pem uk. … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).… … … .(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … .. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. pelepasan hak. luasan. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.kem bali. 6). Termasuk rencana kerja. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. 3).. Lokasi di Peta.. prakiraan nilai kekayaan. masa tinggal dll. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. dll.. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) .kem bali … … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk.

.P … … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). khususnya panitia pengadaan tanah … … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).. (2) Berpartisipasi dalam musy..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.T . 13)...(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … ...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .… . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .. (4) KETERANGAN 1). & menyepakati dlm mufakat khususnya P .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ..

6).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.. (5) Membantu sesuai keterkaitannya. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. 5)..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 4).(12) .

. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. 5).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)..( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 6). 2). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 4). 7). … 7) 3).. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . (8) . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .

. adat istiadat.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . tata ruang. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . nilai kearifan lokal. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . pelatihan untuk alih profesi … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. LA R A P … … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .… .. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .

.

serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .. (6) .… . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy.. peran dan fungsi kota dll. kapasitas jalan yang dibutuhkan.… … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.... (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan ..(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. terasing… .. kapasitas produksi. .. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). 3).Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

.. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3). sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . ekonomik. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ..(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial... ....... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... (8) .....(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. 4)...Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). budaya . terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ...... Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis.. ekonomi... 5)..... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. … … .... terasing..

.. ... ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis...… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi... terasing … .. terasing.....(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy..(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute... terasing.4). Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ..5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).

sistem dan nilai hak adat ..(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.terasing tsb... kepemimpinan.. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). Renc.… … … .... terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing ....... (11) .. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2)...... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy...Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy.... pembagian tugas 3).. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Termasuk rencana kerja. T indak … .

. rehabilitasi konservasi situs dll. Termasuk LSM........… ...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan . 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ...(7) .......(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing...... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan. 3).. dll. 4)..... perbaikan permukiman tradisional.. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)........(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .. lembaga adat .. … … .. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..... 5).....

4).. 5).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy.. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (11) 8).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.(12) ....Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 6). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . (6) 3). terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.

... 5).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).(8) .(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor. budaya dan kelembagaan..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing . Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME).terasing termasuk rehabilitasi … … . sosialekonomi. 6). 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis... Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3)... penanganan masy ... 4).

terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.… . penanganan masy.. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . terasing … . terasing … … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. tata ruang nilai kearifan lokal. terasing yang lebih baik . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

.

11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Undang-undang No. keadaan dan makhluk hidup. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Khusus yang menyangkut kebijakan publik. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya. Undang-undang No. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No. Undang-undang No. 55/1993. Undang-undang No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. tertulis dan tidak tertulis. termasuk manusia dan perilakunya.

02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No. 105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL. 5) Peraturan Pemerintah No. 55/1993. 4) Undang-undang No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 . 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. Kep. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 18) Keputusan Menteri LH No.

mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No.1 Undang . dan jalan lokal. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup.2. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. P. yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP. Perangkat yang bersifat proaktif. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. permukiman penataan ruang dan sebagainya. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif.2. Perangkat yang bersifat preventif. P. memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup. dan energi.2. berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila.2.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. wajib memiliki AMDAL. P. kehutanan. baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati.2 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa. daerah milik jalan. pertambangan. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan.3 Undang-undang No. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10. jalan kolektor.

terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. propinsi dan kab/kota.1 Peraturan Pemerintah PP No. Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. kawasan perkotaan. Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda). Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal).2. tata ruang.3. kawasan perdesaan. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. penataan ruang.4 Undang-undang No. 4. kawasan lindung. yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. mengetahui rencana tata ruang. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3. Rencana tata ruang. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga. 3 P. kawasan budidaya.     P. kawasan. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. rencana tata ruang. wilayah. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. dan kawasan tertentu. Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor). 2. Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 .

yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. seperti hak memperoleh informasi. Pembinaan jalan. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 .4. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL. memberikan saran dan pendapat. yaitu membahas tentang peranan jalan. 3. 2.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri. dan pengadaan jalan. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Keppres No.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya. damija dan dawasja. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Dokumen jalan. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. 4 P. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. penentuan sasaran. perencanaan. 5. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. wewenang penyusunan rencana. P. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. menyampaikan hasil rangkuman saran. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija.4. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan. P. Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha. tujuan dan fungsi KA ANDAL. 4. meliputi jalan tol dan jalan layang. wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. 2.2 PP No. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. P.3.3 Keputusan Kepala Bapedal No. mendokumentasikan saran. yaitu membahas tentang damaja. P. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung.4. Jaringan jalan.2 Keputusan Kepala Bapedal No. persyaratan jalan menurut peranan. Bagian-bagian jalan. pemeliharaan.

RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil. ANDAL. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL. 2. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil. Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait. RKL dan RPL P. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL.5.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. jalan. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999. P.5. Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan. 5 P. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. keciptakaryaan. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup.1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. pelaksanaan konstruksi fisik. kegiatan pengadaan tanah. Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Jakarta. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya. Desember 2003 i . dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

.......... Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ......................... … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup .. Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ... 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..........… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ....PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ............... D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..............… … … … … … … … … … … … … … … … ......... 4.3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......................2 Kegiatan Pengadaan Tanah ... P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .....… … … .... K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Lampiran ii ...... D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ........... 4......... 4...4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan ..1 Penyiapan Dokumen Tender ......... Dokumentasi dan pelaporan ............ 4......... 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .

2.1. Lampiran 6.3 10. Lampiran 1. Lampiran 6. Lampiran 4. Lampiran 4.1.2 9. 2. 12. Lampiran 6. Lampiran 6.1.1. Lampiran 2. 3.2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1. 7. Lampiran 4. 4. Lampiran 6. 6.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii .4 11.2. 8.1.5 Lampiran 6.2.1. 5.3. Lampiran 4.

telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. pertumbuhan. akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. maka Ditjen Prasarana Wilayah. dan prosedur. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. baik Undang-undang. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana. kriteria. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. standar. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. efisien. kota atau kabupaten. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. mencakup hal-hal 1 .

kegiatan pengadaan tanah. Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. kesiapan pembiayaan yang memadai. Kimpraswil. benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah. perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people). serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup. serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. 2 . tertib dan teratur. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas.Pekerjaan Umum atau Dep. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training. serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan. and Updating of the Moduls).

propinsi. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. baik di tingkat pusat. Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. maupun di tingkat kota/kabupaten. 3 . pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. serta dampakdampak yang ditimbulkan. 4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul. 2) Kegiatan pengadaan tanah. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal.

Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. Undang-undang No. Peraturan Pemerintah No. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. mulai dari penyiapan dokumen tender. dapat dilihat pada Lampiran 1. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No. Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). Undang-undang No. 2. 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. pelaksanaan konstruksi fisik. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. Undang-undang No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. kegiatan pengadaan tanah.1. Keputusan Presiden No. 4 .

Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.1. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 14) Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 12) Keputusan Menteri Kimpraswil No. 5 . 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2. 3. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dapat dilihat pada Lampiran 2.1. Istilah dan Definisi 3. 13) Keputusan Kepala Bapedal No.

ekonomi. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. 3.10. 6 .9. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. maupun politik nasional. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.7. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial.6. 3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.11. bangunan dan tanaman miliknya.8.4.3. 3.5. 3. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar.

Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan.14.12. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan.16. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor. Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi.15. 3. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi.11.13. yang dirancang. 3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.12.17.13. yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku. 3. 3. 3. Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor. 3. 3. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 . dibangun.

yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. harus dicantumkan dalam dokumen tender.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Surat Penunjukan. : Spesifikasi.1. Maksud dan Tujuan. Perjanjian Kontrak. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4. 4. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang. : Bentuk Penawaran. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. : Gambar-Gambar. a.2. Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi. Sistematika Dokumen Tender. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. : Daftar Kuantitas. 8 .1. maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan. : Bentuk Jaminan. : Data Kontrak. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Informasi Kualifikasi.1. Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan. Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. baik vertikal maupun horizontal. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang.3.1. 2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya. Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. 4. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. 9 .

Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana. ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. baik untuk LCB maupun ICB. serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan. 4. termasuk biaya yang diperlukan. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini. perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada). 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas.1. dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak. Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. 3) Dokumen tender standar. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. 2) Pada Bab V: Spesifikasi.4. perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL.

dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. dapat dilihat pada Lampiran 4.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4.1. Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut.1. antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No.1. maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup. jenis hak atas tanah.5 Workplan Kontraktor. 4. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum.1. yang 11 . Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi.1.3. maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4. dan nama pemilik tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan. 2) Pasal 4 Keppres No. b) Keterangan tentang letak. bangunan dan tanaman. sebagaimana tercantum dalam dokumen tender.2.

diberikan untuk: a) Hak atas tanah. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. 55 tahun 1993. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. 1 tahun 1994. 12 . 55 tahun 1993. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah. yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. c) Tanaman. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. b) Tanah pengganti. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. 5) Pasal 13 Keppres No. b) Perencanaan ruang wilayah kota. 1 tahun 1994. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 4) Pasal 12 Keppres No. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan. c) Pemukiman kembali. b) Bangunan. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. 55 tahun 1993.

dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam . 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah. Setelah hal tersebut disetujui. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. 13 55 tahun 1993. Sesuai dengan Keppres No. Dengan peraturan yang sama. 51 tahun 1960. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. 1. 1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. Lampiran 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. 32 tahun 1979. dilampiri dengan peta lokasi.2. luas dan taksiran biaya. harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut.2 Proses Pengadaan Tanah a. 4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak. rencana penggunaan tanah. dengan kriteria sebagai berikut. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota. 4. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. 2. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. sebagaimana dimaksud dalam UU No. sebagaimana dimaksud dalam Keppres No.

ganti dan rugi tanaman. 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. Tim 14 . b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP). sehingga perlu dibangun permukiman baru. Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. tipe bangunan. bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. bangunan dan tanaman. 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. b an g u n an d an tan am an . kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. dilakukan pendaftaran. dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . inventarisasi dan pengukuran tersebut. inventarisasi dan pengukuran tanah. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP. maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. 3) Hasil pendaftaran. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. kemudian disampaikan ke PTP.

dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah.2 4. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 . Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat. dapat dilihat pada Lampiran 4. di lokasi yang ditentukan Panitia. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. dapat dikelompokkan atas: a. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan. maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP. b. tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama. Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah. b. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP.3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah. dengan cara jual beli.2. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK).2. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. c. Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama. Dalam proses pengadaan tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru. Uang Tunai. Tanah Pengganti. Pengadaan tanah pengganti. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan. merupakan sesuatu hal yang sangat penting.

Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4.2. Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan.2.3. bangunan atau tanaman. diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama. 16 . e. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas. seperti Sistem Konsolidasi Tanah. Bentuk lain yang disepakati. Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru. sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. baik untuk tanah. 4. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. Bentuk Kombinasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d.

karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru. b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP. 17 . yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. c) Penyuluhan. 2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. 3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan.

Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah.2.1. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan. 2) Lokasi dan kondisi areal proyek. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. perkotaan atau pedesaan. Dokumen Terkait. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik. 3) Keputusan kerugian. dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. berbukit. antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4. 18 . 08 Tahun 2000.3. pegunungan. Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. seperti di dataran rendah. daerah rawa. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.4. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. seperti pembangunan.

3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. base camp dan lokasi quarry. namun bila tidak dapat dihindari. 9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan.3. batu. 7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. 19 . volume dan besaran komponen pekerjaan utama. b. seperti tanah. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek. lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek. termasuk sumbernya. baik tenaga ahli.2. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai. dan pekerja kasar yang diperlukan. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. pasir dan material/komponen jembatan. tukang. terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. termasuk periode pemeliharaan. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung. 5) Dimensi. seperti kependudukan. 4. kondisi sosial budaya. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. seperti iklim. Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. hidrologi dan penggunaan tanah. topografi. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. struktur tanah dan geologi. kegiatan ekonomi masyarakat.

b. sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. dozer. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada.1. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. 20 . 2) Mobilisasi Peralatan Berat. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. Lokasi Proyek. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. b. dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. seperti AMP. maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses. baik dengan cara membeli atau menyewa. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan. 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. traktor. maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik. perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. shovel.

WC). struktur pondasi. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. kelas B dan kelas C. Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. baik berupa galian tanah biasa. lapis pondasi (HRS base). Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. coffer dam.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B. e) Laston lapis aus (HRS . sistem drainase. untuk ditangani 21 . di lokasi proyek. perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang. c) Agregat penutup Burtu dan Burda. galian batu. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu. b) Lapis pondasi semen tanah. timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. g) Latasbusir kelas A dan kelas B. f) Lataston lapis aus (AC – WC). lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base). Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut. 2) Pekerjaan Tanah.

sehingga lokasi proyek menjadi bersih. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. guard rail. hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. rambu-rambu lalu lintas. 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang. 5) Pemancangan Tiang Pancang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. dan pembuatan kepala tiang pondasi. serta relokasi arus lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. serta pembuatan gorong-gorong. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. relokasi arus lalu lintas. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . penerangan jalan dan marka jalan. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton. trotoir. Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut.

bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area. tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. 23 . 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya. selain gembalan rumput di media jalan. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut. b. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek. keselamatan pemakai jalan. serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah.2. 9) Penghijauan dan Pertamanan.

Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi.3. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati. a. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. atau pada dua lokasi yang terpisah. untuk diambil langkah tindak lanjut. bengkel.3. 4. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 . stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. maka lokasi base camp (kantor proyek. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP.3. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. gudang. dapat terletak pada satu lokasi. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs.

3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek. sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat. 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat.2. 25 . dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. Persiapan Pekerjaan Konstruksi. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. b.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. baik langsung maupun tidak langsung. b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut.

a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. Penyiraman secara berkala. (2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan. a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. Lokasi Proyek. saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu. c. seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. b) Pencemaran kualitas air. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. 2) Mobilisasi Peralatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air.1. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.

a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan. b) Pencemaran kualitas air. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik. sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya. dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat. (3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. 27 . 2) Pekerjaan Tanah. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman. sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami.

Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk. saat kondisi berdebu. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. sistem drainase yang baik. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. 28 . a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. karena penggalian tanah. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. memasang gembalan rumput dan sebagainya.

Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. 7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. dapat dikelola melalui : 29 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang. Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan.

1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan. pada areal yang tidak subur. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. 30 . sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. c. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dan mempunyai ciri khas daerah. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. serta menghindari erosi lahan.2. serta dapat memperindah estetika lingkungan. dan tidak mengganggu pemakai jalan. 9) Penghijauan dan Pertamanan. termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan.

bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. Pemasangan drainase lereng yang baik. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. f) Terganggunya kondisi flora. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. dapat dikelola melalui: . 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. c) Terganggunya stabilitas lereng galian. e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air. dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur). Perkuatan stabilitasnya. Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.

Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher.3. (4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. bengkel.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 . Pengoperasian base camp (kantor proyek. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher. a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. c. gudang. (2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman. b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat.

3. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. 4. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan.4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. 4. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan. dan untuk menanggulanginya. dan meningkatnya air larian.1. d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp. Dokumen Terkait. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya.4. 4. 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik. Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik.4. kendaraan keluar masuk .

atau operator jalan tol lainnya. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. karena meningkatnya arus lalu lintas. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan. PT. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat. 4. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik. seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat. Pemberi Tugas. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. c) Pengaturan arus lalu lintas.4. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun. dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas. 34 . yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk. Jasa Marga (khusus jalan tol). Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan.2. f) Pembuatan rest area. khususnya pada jalan tol.

dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an . 4. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan.4.3. antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. 4. b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol). 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan. dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik. b) M el aku kan “l aw tersebut. 2) Pengaturan arus lalu lintas. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. Dokumen Terkait.4.4. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan. dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat.

Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. biaya penyuluhan a.1. musyawarah dengan masyarakat. karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan. Kegiatan Pengadaan Tanah. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. biaya rapat untuk melakukan musyawarah. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. b. baik untuk biaya personel.2. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali. Biaya Personel. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah. Biaya Perjalanan. dan sosialisasi kegiatan. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. 3) Jenis transportasi yang dipakai. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. pengadaan data maupun biaya perjalanan. 2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan. Penyiapan Dokumen Tender. 3) Harga satuan yang berlaku.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Pembiayaan 5. tidak memerlukan biaya khusus. 36 . 5. biaya perjalanan. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. sosialisasi dan kegiatan musyawarah.

khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak. pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi. e. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah. biaya menangani dampak yang timbul. 2) Jumlah peserta rapat. lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. 37 . 5. d. biaya perjalanan. c. biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat. serta biaya administrasi lainnya. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel. bangunan dan tanaman. biaya pengukuran dan analisis laboratorium.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. 2) Jumlah peserta kegiatan. mencakup biaya pelaksanaan kegiatan.3.

antara lain: 38 . baik jenis transportasi maupun perdiem allowance. Biaya Penanganan Dampak. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak. c. 4) Harga satuan. Biaya Personel. 3) Harga satuan upah (billing rate). d. 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. 3) Jenis transportasi yang dipakai. b. didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya. Perkiraan besarnya biaya perjalanan. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. Biaya Perjalanan.

Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. 3) Harga satuan analisis sampel. 5.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. penjilidan. honorarium pakar yang diundang. 39 . f. 3) Pengukuran dan analisis biota air. 2) Lokasi kegiatan. yang meliputi biaya personel. biaya perjalanan. dan mempergunakan anggaran rutin. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. biaya untuk menangani dampak. biaya konsultasi dan koordinasi. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. e. mencakup biaya rapat konsultasi. dan sebagainya. serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.4. Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan. dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait.

Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. Pengajuan Usulan Biaya. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan. baik vertikal maupun horizontal. antara lain: a. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Koordinasi Pelaksanaan 6. perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola. 6. seperti melalui proses penyusunan DUP. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.1. DIP dan sebagainya. baik tingkat pusat. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 40 . harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota.5. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.

baik pada kegiatan pengadaan tanah. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan. 41 . 3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. antara lain BP2D. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. baik di tingkat pemerintah pusat. 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. pelaksanaan konstruksi fisik. 2) Melakukan penyuluhan. Bappeda. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. provinsi atau kota/kabupaten. propinsi atau kota/kabupaten. b.

6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas. 2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). propinsi. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi. Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah. standar. 7) Melakukan dihasilkan. baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Bapedalda. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. kabupaten/kota. Masyarakat Masyarakat. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. c.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi. kabupaten/kota. d. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . pemanfaatan kabupaten/kota. 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 4) Menjabarkan norma.

Instansi Terkait. tokoh dan pemuka masyarakat. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. lembaga swadaya masyarakat. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan. 3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi. antara lain: 1) Memberi masukan. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup. dalam kaitannya dengan . serta masyarakat pemerhati lingkungan. e. kabupaten/kota. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kabupaten/kota. Instansi terkait lainnya. Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kabupaten/kota. Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan.

: Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan. 6. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya. program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. a.2.3. yang mencakup kompensasi tanah. 44 . hidup bidang jalan. f. dan 6.1 2) Lampiran6. Pelaksanaan Koordinasi. seperti tercantum dalam Lampiran 6. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan.2 3) Lampiran 6. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat. bangunan dan tanaman. dimana: 1) Lampiran 6. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat.1. 6. a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok.2.3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. sesuai wewenang dan fungsinya.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. 5) Instansi Terkait. sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. 4) Masyarakat. 3) Bappeda. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 . Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi. dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat. b. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa. Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. 2) Bapedalda.

Bapedalda. Masyarakat dan Instansi terkait lainnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda. dan upacara adat yang harus dihormati. a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. 46 terasing. 2) Bapedalda. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. 3) Bappeda. apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. 4) Masyarakat. d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat. c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan .

1. dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi. Dokumentasi dan Pelaporan 7. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat. apabila ada permasalahan di kemudian hari. Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. sehingga mudah ditelusuri. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 5) Instansi Terkait. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat.2. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. sesuai dengan hasil musyawarah. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak. 7. Penyiapan Dokumen Tender. 7. Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. Kegiatan Pengadaan Tanah. Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. 47 .

2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas. dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat. bila terjadi permasalahan di kemudian hari. tertib dan teratur. dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut. 48 . Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan. dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. dilengkapi dengan upaya pendekatan. dan atau pengendalian pencemaran udara. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. sehingga mudah ditelusuri kembali. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai.

2. yang memberikan petunjuk. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi. arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kegiatan pengadaan tanah. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. kuratif dan kompensatif. 49 . khususnya dalam penyiapan dokumen tender. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. 4. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan. berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak. 3.

tertib dan teratur. serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. 50 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik. Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan.

pematangan lahan untuk konstruksi 1 . monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. pemberian kompensasi. Kep. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah.

masyarakat serta pelaku pembangunan lain. Pasal 38. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 1. 23 tahun 1997. Uraian 1. Pasal 9. Daerah. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. yang menjadi bagian dari ijin. dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No. ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya. Pasal 13. ayat (2) hidup. B Peraturan Pemerintah No. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup. ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pasal 28. 27 tahun 1999. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. 2.

Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. akibat pelaksanaan pekerjaan. Umum 1. 1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A. Bab VII Gambar – Gambar 3 . dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada). 19. akibat pelaksanaan pekerjaan. akibat pelaksanaan pekerjaan. Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi. Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4. Untuk masing-masing komponen pekerjaan. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul. kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. 19.1 Keselamatan dan penanganan dampak. Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak.

tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. dan prasarana umum. tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. Jika haknya telah kadaluarsa. 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa. 1 tahun 1994 4 . 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan. Jika hak pakai sampai 10 tahun. bangunan. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah.

PMD. Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. 5 . LKMD. Lurah. 4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. Camat / Lurah. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka. 1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. Camat. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. PMD. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat. Lurah. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. Pimpro dan Pimbagpro. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. LKMD. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa.

Camat. Semua modal/asset yang terkena dampak. 8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak. Camat / Lurah. 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak. Camat. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali. Pimpro/ Pimbagpro.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. LKMD. NGO. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. LKMD. BPN Propinsi. Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. Semua modal/asset yang tekena dampak. Pimpro/ Pimbagpro. Camat / Lurah. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. 6 . Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. Panitia Pembebasan Tanah.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali. 12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi. rumah di lokasi permukiman kembali. 10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya. Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik. Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. 7 . maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. Pimbagpro. Masyarakat penerima ganti kerugian. misalnya kavling. - 11. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali. Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur. Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman. Lurah/ Kepala Desa. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati.

Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. bangsal. Kehilangan akses ke tempat kerja. 2001 Terganggunya interaksi sosial. Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil. lokasi cagar budaya. Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. telepon.     kawasan/tempat pemakaman umum. bangunan MCK. dll). air bersih. Terganggunya kegiatan pendidikan. Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. kesenian. pasar. Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. Kehilangan lahan pekarangan perumahan. 8 . Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. olahraga. air PDAM. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal. pelayanan kesehatan. telepon. 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. gas). Terganggunya/hilangnya tempat suci. 5 Aset sosial . simbol atau tempat keramat lainnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. fasilitas peribadatan.budaya    Sumber : SESIM. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak. Pemindahan ditempati.

(7) ........... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan. Termasuk LSM.... rehabilitasi konservasi situs dll.... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ............(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...… ... perbaikan permukiman tradisional. lembaga adat ... 3)...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ... 5).(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ..... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). dll.. 4)..BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.. (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ..... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)..

4).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.(12) .. Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. terasing … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (6) 3). 6). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 5).. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … .

.

(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. termasuk keberadaan para pekerja . desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.(6) Melakukan monitoring ..BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi . pemberian fasilitas...(17) M elakukan m onito ring… .. (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring .. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan. kegiatan konstruksi . Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok....(6) Menyusun laporan pelaks. Melakukan konsultasi renc.(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … .. ekonomi masy.(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … . (20) . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. dengan PLN. PDAM.(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.(bila ada) … … .(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada).(16) Melakukan monitoring . tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. dll.. (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada)..

.. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan...... LARAP dan rehabilitasi … .. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. (8) Memberi masukan.. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud....(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi..(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. adanya penyerobotan lahan damija...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring. ( 14) . (12) Melakukan tindak lanjut...l. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi.. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. penanganan masy..(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks. dll. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ... (terasing) khususnya yang terkena dampak. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL . badan jalan untuk berdagang. pengembangan lahan sesuai tata ruang.BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi.. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. (9) Menyusun laporan monitoring.. termasuk aspek warisan budaya .: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan.

.

. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6).(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . (2) Berpartisipasi dalam proses musy.. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … . 13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … ..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) ....7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)....BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . & kesepakatan dalam mufakat khususnya .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .… . (4) KETERANGAN 1). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .

.

Dusun. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai.  Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat. II. Desa / Kelurahan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. IV. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 . TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek. RW/RK. seperti RT. DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat.6 1.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No. III. adat. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek.  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek.

besaran.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis. kapan. PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 . durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1.

26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No.  Direksi Proyek. III.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. REFERENSI  Undang Undang No. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi. IV.  Kontraktor. II. DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 .  Rencana pengalihan rute selama proyek.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.

2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA.1 dan 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2. PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2.

14. 7. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. Akhir Daerah Pekerjaan 10. 6. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 26. 22. 13. 18. 28. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 25. 15. 20. 5. 23. 27. 8.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. Dialihkan kek anan 12. 19. 17. 4. 2. 3. 16. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. 21.

2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.

Penumpukan Barang/Material II. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I. Pengoperasian Peralatan c. DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi. Pekerjaan Galian b.  Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi.  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin. III. lokasi penyimpanan atau penumpukan material.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 . TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi. dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a. sebelum digunakan untuk konstruksi.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek. lampu) pengoperasian peralatan konstruksi. Pengangkutan Material d.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek.

 Kontraktor. REFERENSI  Undang Undang No. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.3. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 . VI. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. seperti terlihat pada Gambar 3.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan. IV.  Direksi Proyek. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 37. 40. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30. 44. 51. 36. 34. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55. 38. 45.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . Akhir Daerah Pekerjaan 56. 31. Dialihkan kek anan 35. 41. 54. 52. 42. 49. 100m di depan ada pengalihan jalan 57. 46. 53. 48. 32. 50. 39. 33. 43.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .

TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi. sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek. pengoperasian AMP. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek.  Kontraktor. dan pemancangan pondasi. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi. IV.  Direksi Proyek. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan.  Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi. rumah sakit. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 . II. III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.

 Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi. dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi. sebelum dan sesudah konstruksi. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. jumlah.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP.  Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. pengangkutan material. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 .  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi.  Kontraktor. pekerjaan tanah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I. II. IV. pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan. III. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Rencana pengangkutan material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting.  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan). I. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. II. IV. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan). DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah. limbah domestik.  Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase.  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. VI. REFERENSI Peraturan Pemerintah No.1. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi. III. seperti terlihat pada Gambar 6.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. lereng. PROSEDUR PERMUKAAN I.  Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi. ceceran sisa bongkaran pada badan air. untuk menambah daya dukung konstruksi. serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir. DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 . III. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi. II. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Kontraktor. atau dinding penahan tanah. IV. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.

 Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi. jenis.  Rencana (waktu. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 .  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I.  Direksi Proyek. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. II.  Kontraktor.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP.1 IV. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material. REFERENSI  Undang Undang No.  Dinas Pekerjaan Umum setempat. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 . agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. seperti terlihat pada Gambar 8.

volume. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut. waktu. beban) material dan peralatan konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 .  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

II. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah. III. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air. listrik.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak. Telkom setempat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 . RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian. Pangkalan Udara.  Perwakilan PLN setempat. telekomunikasi.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek.  Perwakilan PGN setempat. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. Depo Bahan Bakar. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Perwakilan PT.  Perwakilan PDAM setempat. gas. dsb). Stasiun Kereta Api. akibat pekerjaan galian. IV. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. Industri. pada lokasi kerja proyek.  Pengelola kawasan spesifik setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan. VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting.  Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

 Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial. DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah. 2001. untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut.  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu.  Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya. REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM). IV. dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 . serta pekerjaan timbunan. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. III. II.

 Rencana (lokasi. jumlah) peledakan. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan).  Direksi Proyek. metode.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. VI.  Kontraktor.  Dinas Geologi setempat.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 . PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat. jenis.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 . PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11. IV.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. VI. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman.  Kontraktor. V. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah. agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

 Kontraktor. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. dan kebudayaan.  Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. IV.  Direksi Proyek. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12. yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah. PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata. ilmu pengetahuan. yang terletak di lokasi sekitar proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 .  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat. Seni. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I. REFERENSI  Undang-undang No.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya.  Pemerintah daerah setempat. II. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. dan Budaya setempat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi. III. benda yang diduga benda cagar budaya.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. dan situs.

 Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut. Seni. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 . dan Budaya setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

 Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. IV. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek. REFERENSI  Keputusan Presiden No. PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat. V.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13. III. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya. VI. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 .  Kontraktor. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I.  Direksi Proyek.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. Ditjen Prasarana Wilayah. Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah. produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. November 2003 i . yang terdiri dari empat buku. Departemen Kimpraswil. Jakarta. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. ii . Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. Secara garis besar. b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. khususnya bila sudah diperdakan. Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan.

… … … … … … … … … … … … … … … … . A cu an N orm ati f … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 6.2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4..4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4. 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … .6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … . 4.2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 4.… … … … … … … … … … 4.9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan ...1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. … … … 5. 4.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek . D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4.. P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5.… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .1 In stan si p el aksan a p em an tau an … … … … … … … … … … … … … … … 6. 4. 4. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan .3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii .1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … .

7.3 B i aya p em an tau an p ad a tah ap kon stru ksi . 25 25 25 25 25 25 26 iv .4 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p asca kon stru ksi … .6 Komponen-kom p on en b i aya p em an tau an … … … … … … … … … … . .2 Biaya pemantauan pada tahap pra-kon stri ksi … … … … … … … … … 7.… … … .. 8 P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … .5 Biaya evaluasi lingkun g an p ad a tah ap eval u asi p asca royek… … 7.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. 7.… … … … 7.… … … … … ..… … … … ....1 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p eren can aan .

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi : Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang Jalan : Baku Mutu Udara Ambien Nasional : Baku Tingkat Kebisingan : Baku Tingkat Getaran : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor : Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL : Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL v .

Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak langsung. b) Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lingkup pemantauan tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek. antara lain: a) Undang – Undang No.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN LIDUP BIDANG JALAN 1 Ruang lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. 1 . khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan hidup. Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi masyarakat di sekitarnya. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. Pemantauan pengelolaan