P. 1
Pedoman Pengelolaan Lingk Bidang Jalan

Pedoman Pengelolaan Lingk Bidang Jalan

|Views: 213|Likes:
Dipublikasikan oleh greenakses
tentang pedoman pengelolaan lingkungan di bidang jalan
tentang pedoman pengelolaan lingkungan di bidang jalan

More info:

Published by: greenakses on Mar 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup. Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas.17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Melalui studi AMDAL. berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Jenis . menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar. 6 . AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. kompleks. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No. sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien. c. setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut.17/KPTS/M/2003. disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan. Keputusan Menteri Kehutanan No. Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus. Untuk hal ini. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No. hutan pelestarian alam dan hutan buru).55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Kebijakan Sektor yang Terkait a. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No. yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. tetapi menyangkut 7 . Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. hutan lindung serta hutan produksi. Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan. menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. serta ada persyaratan menyusun AMDAL. 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. diperlukan izin dari Menteri Kehutanan. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).

maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. wajib dilaporkan terlebih dahulu. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 . Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. diatur dalam Keputusan Presiden No. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya.419/KPTS/II/1994 tersebut di atas). penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. b. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan. dan dapat diperpanjang kembali. Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum.  Perencanaan ruang wilayah kota. 5 tahun 1992. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung. khususnya kegiatan pengadaan tanah. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan. Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. c. 5 Tahun 1993. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. tanpa kompensasi. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL. seperrti pembangunan jalan. Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No.

Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan.  Keterangan tentang letak. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas. jenis hak atas tanah. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. 55 tahun 1993. pemukiman kembali. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No. bangunan. 1 tahun 1994. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya. d. diberikan untuk hak atas tanah. 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. 9 . diatur dalam Undang-Undang No. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang. dan nama pemilik tanah. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. Dalam situasi dan kondisi tertentu. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. bila perlu. tanah pengganti. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No.

4. jalur kereta api khusus terusan. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api. antara lain penyediaan sarana dan prasarana. serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan. prosedur (procedures). serta keamanan perlintasan. 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil. saluran air. terpencar. Dalam Keputusan Presiden No. 2) Keamanan konstruksi jalan rel.3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. e. 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api.1. dan perlengkapan 10 . 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan. Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. termasuk prasarana jalan. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives). Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api.

9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional). Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas. dan skala kegiatan.50.37. tercantum dalam BP 4.  Rencana Pengelolaan Lingkungan.01. tercantum dalam OP/BP 4. 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan). 3) Pest Management (Pengelolaan Hama). 7) Forestry (Kehutanan). tercantum dalam OP/BP 4.11. dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut.  Audit Lingkungan. adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment). 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). Berbagai kebijakan operasional (OP). tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam OP/BP 4.60. 11 .  Resiko Lingkungan. lokasi. hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan. 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali). 2) Natural Habitats (Habitat Alam). tercantum dalam BP 17.04. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan). bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia. tercantum dalam OP 4. yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools).36. Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi). 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan). Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan. tercantum dalam OP/BP 7. tercantum dalam OP/BP 4.50. 4) Cultural Property (Kekayaan Budaya). tercantum dalam OP/BP 4.09.12. tercantum dalam OD 20. yang didasarkan atas tipe. prosedur Bank (BP).

isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. benda yang dikeramatkan. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna. palaentologi. yaitu:  Kategori A. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No. Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. benda yang mempunyai nilai arkeologi. 12 . bersejarah. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. dan sebagainya. benda cagar budaya. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. mempunyai nilai agama yang kuat. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. B dan C. 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. tapi tidak besar dan tidak penting. tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan. atau mempunyai nila / keunikan alam. untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul. tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan.  Kategori C.  Kategori B. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan.

4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada).  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia. baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study). Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun. harus dilaksanakan Tracer Study. pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi. untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru. dalam bentuk NOL (no objection letter).  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis.  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia. Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. yaitu:  Full LARAP.  Simplified LARAP. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa. antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota. sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP. 13 . meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas. Karena rencana rute jalan bersifat memanjang.

ekonomi. Dalam penyusunan dokumen tersebut. b.org. Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial). misalnya: di lokasi kegiatan. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen.  Berbahasa pribumi. perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli.  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas. etnik minoritas asli atau kelompok suku. perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS). dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah. antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan.worldbank. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 . Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat. 1993 .  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on. dan budaya secara adat. dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya.  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts.  Adanya lembaga sosial. 1998. maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat.  Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah. 1993. dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan).

atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final. termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE). 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE). skala dan besaran kegiatan. lokasi. sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). agar dan mempergunakan termasuk LSM. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok. hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan.  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.  Penyusunan EIA. 120 hari sebelum waktu persiapan proyek. c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. Bank. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul. sensitivitas lingkungan. 15 . yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA. b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting).  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas.  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat. berdasarkan atas jenis kegiatan. untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA. sebelum diserahkan kepada Bank. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam. IEE.

seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. volume lalu lintas. c. kekasaran permukaan jalan. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia.  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. biaya perjalanan. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial. dan LSM. EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan. dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program). dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan. antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. supervisi / pengawasan. 16 . 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB.

 Dalam membuat keputusan pendanaan.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. co-finansial. melakukan monitoring dan tindak lanjut. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening). dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut. baik dari stake holder.  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup. b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 . JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai. dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah. melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan. serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised. dan bila dianggap kurang meyakinkan.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan. pemerintah dan organisasi finansial. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku. JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC.

dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. JBIC dapat melakukan environmental review. (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A. dan sulit dianalisi.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B. sesuai dengan prosedur berikut. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul. (4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. serta untuk administrasi perbankan. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A.  Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan. 18 . dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B. agar screening dapat dilakukan lebih awal. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan. dampak yang timbul complicated. serta upaya penanganannya.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific. baik yang sifatnya negatif maupun positif.

serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 4. perkiraan biaya. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (6) konstruksi. (7) pasca konstruksi. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas. (3) studi kelayakan. penentuan skala prioritas. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. 19 . yaitu: (1) perencanaan umum. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan. mungkin saja karena alasan tertentu. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada.1. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan). Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus.49/PRT/1990. (2) pra-studi kelayakan. tanpa melakukan pra-studi kelayakan.2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan. Bila diperlukan. Namun.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. a. (5) pra-konstruksi. JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. dan (8) evaluasi pasca proyek. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4. (4) perencanaan teknis. Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku.

termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut. Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut. selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi. melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. atau cukup dengan penerapan SOP. perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. studi UKL dan UPL. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. 20 . b. pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul. Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL. yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya.

pematangan lahan untuk konstruksi 21 . monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah. Kep.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. pemberian kompensasi.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan.

prakonstruksi. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. konstruksi dan pasca konstruksi. dalam satu paket pekerjaan. Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan. jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. ekonomi dan finansial. Untuk keperluan tersebut. konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. yang didukung oleh data hasil survai lapangan. Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis. ekonomi. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). Karena itu.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. 22 . Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan. Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. d. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis.

Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. pencemaran udara. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. kebisingan. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. g. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu. Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu. e. dan sebagainya. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. f. pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL.

serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. antara lain meliputi pengaturan lalu lintas. terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. 4. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. h. dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. 24 . yaitu: a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat.

1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya. bangunan.1. Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan.b). c. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :. sehingga harga tanah meningkat. tanaman dan aset tidak bergerak lainnya. unsur Universitas / perguruan Tinggi.1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5. d. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. 25 . Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak. 5.2.2. Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu). para pemuka masyarakat baik formal maupun informal. kelompok profesi. semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5. bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan. 5. baik dampak negatif maupun positif. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah. Konsultasi untuk persiapan AMDAL.

sehingga terjadi erosi atau longsor. Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek.1. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif. excavator.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.1. gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air. stone crusher. dan diperlukan pemindahan penduduk. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam. 5. dsb. Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 . khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer. Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. 5.4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi. AMP. road roller.1. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif.2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah. Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha. truk. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar.

Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. 27 . dan alternatif pengelolaan lingkungannya. kebisingan. maupun tata ruang kawasan. propinsi. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas.2. atau kabupaten / kota.1.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya. Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin. b. 5.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara. Di samping itu. dan kecelakaan lalu lintas. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek. mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. disajikan pada Tabel 5. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan.

 areal komersial. Mobilisasi tenaga kerja a. Keresahan masyarakat 2. Sosialisasi b.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A.  areal berpanorama indah. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c.1 Perbaikan jalan yang rusak a.1. c. b.  lahan pertanian produktif. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Kecemburuan sosial a.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Pengadaan Tanah a. Tabel 5. Mobilisasi peralatan berat a. Kerusakan prasarana jalan 28 . Tahap Prakonstruksi 1. Konsultasi masyarakat 2. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C..2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b.  areal dengan kemiringan lereng terjal.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1. Tahap Perencanaan 1. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Survey / pengukuran 2.

1 Pengaturan lalu lintas c.1 Pengaturan lalu lintas a.1 Perkuatan tebing d. Pencemaran udara (debu) b. Pencemaran air permukaan. Gangguan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Pembuatan jalan masuk a. b. Perubahan bentang alam /lansekap. Penghijauan b. Penyiraman secara berkala b. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Gangguan stabilitas lereng e. Gangguan pada utilitas umum 2. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a.2 Pengendalian aliran air tanah e. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Pencemaran udara a. Penggunaan bor c.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Pencemaran udara (debu). Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c. Penyiraman secara berkala b. Gangguan lalu lintas 6. 3. dan pengaturan jadwal kerja b. Pencemaran udara c. Di lokasi proyek 1. Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Pembuatan sistem drainase 5. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. Penyiraman secara berkala c.1 Pengaturan lalu lintas a. Pemindahan atau perbaikan utilitas a. Gangguan lalu lintas d. Penataan lansekap a. Pencemaran air d. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Gangguan pada flora dan fauna b. Kebisingan b. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4.1 Pengaturan lalu lintas b. Pembuatan sistem drainase c. a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pemancangan tiang pancang a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan lalu lintas a.

pembuatan noise barrier c. b.3 Tebing dibuat berteras d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8.2 Penggalian secara bertahap a.2 Pengendalian air larian c. Penyiraman secara berkala b. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Tahap Pasca Konstruksi 1. d. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b.2 pemasangan rambu lalu lintas c. b. c. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b. Pencemaran air permukaan. Pengoperasian base camp (barak pekerja. Pengambilan material di quarry sungai 3. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. d. Bak truk ditutup terpal b. a. d. Kecelakaan lalu lintas a. Pengoperasian jalan a. Pengendalian bahan buangan c.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . c. Penghijauan dan pertamanan a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Penghijauan b. c. d. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a. Pencemaran udara b. Pencemaran udara (debu). Kebisingan. Pencemaran udara (debu. Pencemaran air sungai. Perawatan kendaraan c. b. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Pemasangan rambu lalu lintas a. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c. Pencemaran udara (debu). Sda. Gangguan pada flora a. c. Penyiraman berkala.1 Perkuatan tebing d. Pengaturan lalu lintas. kantor. stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. Gangguan pada aliran air permukaan c. d. d. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d. b. 1. c. Pengaturan lalu lintas D. c. Kerusakan badan jalan. Pembuatan sistem drainase c. d. c. Pengendalian bahan buangan d. Perubahan fungsi lahan e. b. Gangguan lalu lintas. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1. Longsor tebing sungai a. Kebisingan c. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2. gas polutan) b. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. Gangguan terhadap biota air.1 Pengaturan lalu lintas. e. Kebisingan.

Gangguan terhadap satwa dilindungi f. Sempadan Sungai. 1. Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Kawasan rawan gempa bumi. 4. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Rawan Bencana Alam. Kawasan rawan letusan gunung berapi.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Sempadan Pantai. gugusan karang atau terumbu karang. 3. dan Daerah Pengungsian Satwa).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. 3. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2. Hutan Wisata. 5. Kawasan Resapan Air. Pengemdalian penggunan lahan a. muara sungai. Kawasan Sekitar Mata Air C. 3.1 Pengaturan lalu lintas a. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Taman Nasional. 2. 6. B. Taman Hutan Raya. 31 . Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair.5 Pembuatan rest area. D. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). 3. Gangguan lalu lintas d. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam.1 Daftar Kawasan Lindung A. 2. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Taman Wisata Alam 7. Suaka Marga Satwa. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Kawasan Hutan Lindung. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). 2. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. 4. Pembuatan jembatan penyeberangan e. khususnya pada jalan tol d. Pemeliharaan jalan a. Kawasan rawan longsor. Kawasan perlindungan setempat: 1. wilayah pesisir. perairan darat. 2.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. Sumber: Keppres No. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5.

32 . mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. dan antar kota / p ed esaan ). kota sedang. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. c.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. yang didasarkan atas panjang ruas jalan. luas lahan yang perlu dibebaskan. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup. tapi bersifat regional.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. No. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). penggunaan lahan. serta foto udara atau citra satelit. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. N am u n . walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No. dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan .2.

33 . Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis. termasuk kawasan adat. ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup. meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia. • kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya. • biologi (flora dan fauna).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.2. • prasarana dan utilitas. • estetika lingkungan.2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a.

17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1.000 jiwa : jumlah penduduk 500.000 jiwa : jumlah penduduk 200. Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d. Panjang > 5 km 2. atau . Semua besaran b. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a.Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: . Pembangunan jalan tol b. Panjang < 2 km c.000 – 20.000 jiwa : jumlah penduduk 3. Semua besaran d.000 jiwa : jumlah penduduk 20. Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5. atau . Jembatan a. Pembangunan jalan layang atau subway c.17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No. - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a.000 – 500.Panjang.000 jiwa 34 .000.000.Panjang b. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3. Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a.000 – 1. Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : .Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : .000 – 200. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1.Panjang.

RKL dan RPL. Cara pelaksanaan konsultasi.2.1. b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. untuk memperoleh saran. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek. Pada waktu penyusunan KA-ANDAL. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.c. AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis. Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. ekonomis mapun lingkungan. Untuk pelaksanaan studi AMDAL. dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 . terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan.

tersebut. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota). c. masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. d. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup). e. Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. ANDAL. RKL dan RPL Proyek Jalan. Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL. Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi).

3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a. PP N0. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. f. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan . pendapat. 5.2. Dalam hal ini. kesimpulan komisi penilai. saran.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. 37 . Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya.27/1999). Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). semua dokumen AMDAL. lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi. b. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum.27/1999.

khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak. 38 . kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5. b.  Survey sosial-ekonomi.Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut.2. Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul. c. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.2. Langkah .4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a.1. 5.  Konsultasi masyarakat.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius.

Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. kelas tanah. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. status pemilikan tanah. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. g. h. jenis penggunaan saat ini. mata pencaharian. jenis dan umurnya). jarak ke sekolah anak-anak. dan status pemilikannya. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. f. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. 39 . Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. instansi pelaksananya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. tingkat pendapatan. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. jarak ke tempat kerja. dan sebagainya.

3.1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup. pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). 5. Karena itu.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. 40 . Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik. dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi.1 (lihat Tabel 5. konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5. Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi. harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi.1).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan.

atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL.3. peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL. Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya.3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.3. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. wajib UKL dan UPL. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini. Dalam hal ini. 41 . kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. Sehubungaan dengan hal itu. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 5. dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait. Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis. dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak.

4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. kemacetan lalu lintas. 42 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4. kebisingan.2. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. dan kecelakaan lalu lintas. baik di tingkat pusat maupun darearah.3.1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara. sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan. 5.4. Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. Di samping itu. termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas.

khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek. Lokasi quarry. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak. kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. dampak yang mungkin terjadi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum. Pada Tabel 5. akibat kegiatan konstruksi. Evaluasi mencakup: 43 . terutama akibat penggunaan alat-alat berat. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk. Pada tahap pra-konstruksi.3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan. 5. dan Jalur transportasi bahan bangunan. alternatif pengelolaan lingkungan. dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui. Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan.4. Secara garis besar. Pada tahap pasca konsruksi.4.

Kecemburuan sosial a. Pengadaan Tanah a. Persepsi masyarakat 2. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Keluhan masyarakat c. Keresahan masyarakat b.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1. Persepsi masyarakat b.2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Tenaga kerja lokal terserap 44 . Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a.  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. Tahap Konstruksi 1. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. Sosialisasi b. Tahap Pra-konstruksi 1.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A. 2. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Tahap Perencanaan 1. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Penetapan rute jalan 1. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. Keresahan masyarakat 2. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya. Tabel 5. Gangguan terhadap pendapatan a. Survey / pengukuran 2.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c.

Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. c. Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Pembuatan jalan masuk a. Kualitas udara b.1 Perkuatan tebing d. Kualitas air a. Kondisi utilitas a. Penataan lansekap c. b. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. a. e. c. Penghijauan b. c.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Penyiraman jalan secara berkala b. Gangguan pd flora dan fauna. Erosi / longsor e.1 Perbaikan jalan yang rusak a. b. d.2 Pengendalian aliran air tanah e. b. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. Di lokasi proyek 1. 2. Pencemaran udara a. Penyiraman secara berkala c. Pembuatan sistem drainase d. Pencemaran air d. Kualitas air d. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu). Kualitas udara (kandungan debu) c. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Liputan vegetasi b. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap. Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d. Mobilisasi peralatan berat a. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. 2. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a. Kondisi jalan 3. Kerusakan prasarana jalan a. Kondisi lansekap 45 .

Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6. Kebisingan a. Kondisi lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas a. b. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a. Kondisi lalu lintas a.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Gangguan lalu lintas a. Kondisi lalu lintas 5. Perubahan fungsi lahan d. Gangguan lalu lintas a. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penyiraman secara berkala b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Penghijauan dan pertamanan a.1 Pengaturan lalu lintas a. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a.1 Pengaturan lalu lintas b. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9.1 Pengaturan lalu lintas a. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Kualitas udara b. Pembuatan sistem drainase a. Erosi / longsor d. Aliran air permukaan c. Penggunaan lahan 46 . Kondisi lalu lintas b. b. Pembuatan sistem drainase c.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan lalu lintas b. Kualitas udara b. Kebisingan b.3 Tebing dibuat berteras d. Gangguan pd aliran air permukaan c. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Pemancangan tiang pancang a. a.2 Pengendalian air larian c. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4. Getaran a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Penyiraman secara berkala a. Pencemaran udara b. Liputan vegetasi b.

Penghijauan di median dan pinggir jalan b. b. e. Kualitas udara (sebaran debu) b. Kebisingan. e. Kualitas udara b. Kualitas air c. Pengendalian bahan buangan Sda b. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. Stabilitas tebing sungai 11. Pencemaran air sungai. Liputan vegetasi a. Pemasangan rambu lalu lintas d. Pengaturan lalu lintas. c. stone crusher dan AMP) a. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. Sda. Penghijauan a. Tahap Pasca Konstruksi 1. d. Kondisi lalu lintas c. Penyiraman berkala.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. Pengoperasian jalan a. pembuatan a. c. Pengoperasian base camp (barak pekerja. Tingkat kebisingan c. c. c) Kebisingan.2 Penggalian secara bertahap a. Tingkat kebisingan d. Kondisi lalu lintas D. d. a. Kecelakaan lalu lintas a. Pencemaran udara (debu). Keluhan masyarakat b. kantor. b. Pengambilan material di quarry sungai a. d. Longsor tebing sungai e. Perawatan kendaraan c. Gangguan terhadap biota air. Kerusakan badan jalan. Sda d. Bak truk ditutup terpal d. Pemilihan lokasi e. Kebisingan a. Di lokasi Base camp dan AMP 1. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a. Pencemaran udara (debu. Pencemaran air permukaan. Kualitas udara c. Gangguan pada flora 10. Kondisi jalan b. gas polutan) b. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. d. b. Tingkat kebisingan noise barrier 47 . Kualitas air e. c.1 Perkuatan tebing d.

1 Pengaturan lalu lintas a.5 Pembuatan rest area. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a. pembuatan c. khususnya pada jalan tol e.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d. khususnya pada jalan tol d. Keluhan masyarakat e.2 pemasangan rambu lalu lintas c.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c.1 Pengaturan lalu lintas. c. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Pencemaran udara (debu. noise barrier Sda.1 Pengaturan lalu lintas. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2. Gangguan lalu lintas d. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e. Keluhan masyarakat f.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Tingkat kebisingan d.3 Penertiban pedagang kaki lima c. Kualitas udara c. Lintasan satwa dilindungi a. f.5 Pembuatan rest area.3 Penertiban pedagang kaki lima d. d.2 pemasangan rambu lalu lintas d. Pembuatan jembatan penyeberangan f. Kondisi lalu lintas b. d. Pemeliharaan jalan a. Penghijauan di median dan pinggir jalan c. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b. Pembuatan jembatan penyeberangan e. c. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Lintasan satwa dilindungi 48 .

 Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah. pemerintahan. khususnya masyarakat pedesaan. kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat. terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier). antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah. dan lain lain. e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang. kesehatan. 49 . pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut. d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. termasuk masyarakat miskin.4. Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan. seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB.  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan. g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan. Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan. pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan. b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

d). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. 2. e). e). para kepala Dinas di propinsi. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. c). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. f). c). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. Penduduk terkena dampak. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. PEMRAKARSA. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. d). b). BAPPEDA. g). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. MASYARAKAT. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. b). Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. Selanjutnya. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. PEMRAKARSA. 6. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. 4. . 3. 5. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. misalnya sentra sentra produksi. BAPPEDA. MASYARAKAT. 2. kapasitas produksi. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa.. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. 3. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan.

menetapkan koridor jalan terpilih 6. Masukan tersebut. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. 5. BAPPEDA. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. ekonomi. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Selanjutnya. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. PEMRAKARSA. masukan tentang koordinasi penanganan 2. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan.. 4. MASYARAKAT. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. 4. Dinas Sosial dll. memberi masyarakat terasing. 3. UKL. 8. PEMRAKARSA. UPL. PEMRAKARSA. budaya masyarakat terasing. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. 7. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL.

Selanjutnya. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. masukan tentang koordinasi penanganan 4. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. PEMRAKARSA. menetapkan rute jalan terpilih. BAPPEDA. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. PEMRAKARSA. Atas dasar permintaan pemrakarsa. 7. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. 3. 5. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . 5. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. 8.. PEMRAKARSA. memberi masyarakat terasing. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. 6. pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 2. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional.

5. PEMRAKARSA. memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. 6. PEMRAKARSA. memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. melakukan MASYARAKARAT. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. 7. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. 8. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. PEMRAKARSA. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). BAPPEDA. 11. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. Selama proses wawancana. 6. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. 9. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. BAPPEDA. memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.. 10. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. MASYARAKAT. 4. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . sistem kepemimpinan.. Menetapkan desain jalan.

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL. PEMRAKARSA. 6. 7. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. 3. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. 3. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. 5. 5. BAPEDALDA. BAPEDALDA. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. 2. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. BAPPEDA. Selanjutnya. BAPPEDA. Selanjutnya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. pemrakarsa masyarakat terasing. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. MASYARAKAT. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. 4. 4. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . melaksanakan program penanganan dilapangan. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. 7. melaksanakan program konservasi budaya. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. PEMRAKARSA. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. 7. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. PEMRAKARSA. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. 6. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

MASYARAKAT. 3. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. 9. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. 4. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. penataan ruang. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. BAPEDALDA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. PEMRAKARSA. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. PEMRAKARSA. Selanjutnya. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. 8. 2. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 8. 7. 7 6. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. BAPEDALDA. 5. 11. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. BAPPEDA. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 10.

Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Untuk itu. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . 9. b. EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9.

serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. kapasitas produksi. 3).(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. ..... terasing… . peran dan fungsi kota dll. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5).… … ... kapasitas jalan yang dibutuhkan.. (6) .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … . (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat .… . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... ekonomik.. budaya .. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ...... (8) ...... (6) 3).. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.... ekonomi. 5)..... .. sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy. terasing... … … . (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … ..(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor .... 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).. 4)... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial...(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .

(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. terasing... ...4)....(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy....... terasing … ... (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ...5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis... terasing. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...

.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. Renc.....terasing tsb. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Termasuk rencana kerja. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). (11) . sistem dan nilai hak adat ... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … . pembagian tugas..(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.. T indak … . Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2). terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing .… … … . 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .. kepemimpinan.. 3).. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.

. 5)... (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing . 3). Termasuk LSM...... 4)...… ..... lembaga adat ........ Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). rehabilitasi konservasi situs dll. dll...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .(7) ................ Mencakup kompensasi lahan dan bangunan. perbaikan permukiman tradisional....Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing .

(12) .. terasing … … . 5). 6).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing. 4). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (6) 3).. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg..(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .

... Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing ... 5). Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME). terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 6). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. terasing termasuk rehabilitasi … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). sosialekonomi.. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy.(8) . 4). 2)..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . budaya dan kelembagaan...Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing ..... Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy.(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.

terasing … . penanganan masy.. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . terasing yang lebih baik . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … ...… . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . tata ruang nilai kearifan lokal. terasing … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .

.

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. Penduduk terkena dampak. c). b). PEMRAKARSA. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. b). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. e). MASYARAKAT. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. 2. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. f). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. d). Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. para kepala Dinas di propinsi. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). BAPPEDA. e). d). g). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. c). Badan Pertanahan Nasional (BPN).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a).

Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. STAKEHOLDER LAINNYA. 5. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. . Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. BAPPEDA. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. 6. PEMRAKARSA. misalnya sentra sentra produksi. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 3. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. 4. Selanjutnya. kapasitas produksi. Pemrakarsa. 2.. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 3. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan.

2. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. 7. 3. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. Selanjutnya. PEMRAKARSA. peta banjir. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. PEMRAKARSA. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. PEMRAKARSA. 5. menetapkan koridor jalan terpilih 2. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. UPL. UKL. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. 4. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan.. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. 4. Selanjutnya. peta quarry dll. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. Masukan tersebut. STAKEHOLDER LAINNYA. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. 8. BAPPEDA. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. 6. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. MASYARAKAT.. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan.

BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. 9. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). Bersamaan dengan kegiatan tersebut. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. 10.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. 8. PEMRAKARSA. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. 5.. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . 5. MASYARAKAT. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. 7. Atas dasar permintaan pemrakarsa. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. 11. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. 6. BAPPEDA. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA).

memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 6.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. 5. 11. 4. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. Selama proses wawancana. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 12. 6. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. MASYARAKAT. MASYARAKAT. 13. 7.. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. PEMRAKARSA. 8. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Panitia pengadaan tanah. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. BAPPEDA. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. 9. mensosialisasikan konsep larap. BAPPEDA. 10. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. PEMRAKARSA.

membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. 3. 8. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. 2. 7. BAPPEDA. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 6. PEMRAKARSA. STAKEHOLDER LAINNYA. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 7. 11. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. BAPPEDA. MASYARAKAT. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . 12. 10. 5. kartu penduduk dll. Selanjutnya. BAPEDALDA. BAPPEDA. 9. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. BAPEDALDA. 14. 13. 4.

DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. MASYARAKAT. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 3. 4. 5. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. 8. melakukan monitoring & evaluasi. MASYARAKAT. Selanjutnya.. 12. 10. PEMRAKARSA. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 8. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPPEDA. mislanya karena kehilangan pelanggan. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. 11. BAPPEDA. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . evaluasi pelaksanaan 2. 7. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. 6. PEMRAKARSA. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. DINAS SOSIAL. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. BAPEDALDA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. 9.

memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. 2. MASYARAKAT. Untuk itu. PEMRAKARSA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. PEMRAKARSA. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 4. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. PEMRAKARSA.. 8.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. penataan ruang. 3. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. BAPPEDA. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. 5. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. 7. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. BAPEDALDA. Selanjutnya. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 9. BPN. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 6.

(2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas produksi.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . jenis penggunaan dan kepemilikan). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. peran dan fungsi kota dll. mis. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.… .. 4). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. kapasitas jalan yang dibutuhkan.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat ..

..... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... status kepemilikan dan kesediaan melepas.Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … . (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)...... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).(8) .......(7) Menetapkan koridor jalan terpilih... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … . ekonomik..... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.....(6) ...... sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . 5).... 4)...

. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat...(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.. (7) Memperkirakan dampak sosial … .(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.. Hasil Pra Kelayakan 2).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . Terhadap pengadaan tanah … .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. (12) . ekonomis dan lingkungan.5). dll.(11) Menetapkan Rute Terpilih . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.4). (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.Rute..

. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. Termasuk rencana kerja. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. masa tinggal dll. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . prakiraan nilai kekayaan. pelepasan hak..kem bali … … ...(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).kem bali. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. … .. rehabilitasi pem uk. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. 6). Lokasi di Peta. … . 3).Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . luasan. dll.… … … .

.... (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .T . khususnya panitia pengadaan tanah … … .. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). & menyepakati dlm mufakat khususnya P . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). (4) KETERANGAN 1).P … … .… .. 13).. (2) Berpartisipasi dalam musy.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).... (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) ... Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).

(11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya.... 6). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 4). 5).(12) .

7).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 5). Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . 6). … 7) 3). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 2).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .. (8) . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy...(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 4). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .

LA R A P … … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . adat istiadat. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .… . nilai kearifan lokal. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. pelatihan untuk alih profesi … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .. tata ruang..

.

Termasuk pola pelestarianaya 7)... areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).. Memberi masukan persyaratan Lingkungan . Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah.. Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5)...(8) .. Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2).. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah....... tempat keramat... 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL. 4). Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder.... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan....(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...  Kehutanan tentang status hutan........ khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan.....Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … ... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .. 6).

.6)..10). (7) 3). (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.4).. tapi cukup macadam . (10) 9). Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .. (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … ... Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … .. Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL .Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (8) 8). (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … ...(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix.... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait....(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat.5). Menetapkan koridor jalan terpilih… … … ......2).

.Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. 5). (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. 8). nilai lahan dll.4). 10..… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . (6) 3). R P L . Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .. 9). 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih ...(11) 7)... Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).… … … (12) ... 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L. R K L....(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … ..

. Dengan instansi terkait 14). apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan . (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak. dok.... … … . dan wakil masyarakat terkena dampak 12)..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.... (apabila ada) mis : ANDAL..4).(12) Menetapkan Desain Jalan .(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… . mis : RKL... 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.lingk.. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan. (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … .5).(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).… … … .(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait..9)... Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13). RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk....... Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3)... RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan .(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) .10). … … .. Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2)..

mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … . (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … . 5). (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi.....(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… . telpon.4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll. bantuan pindahan. Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2). Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6)... PDAM.7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.. (10) .....Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. aparat desa atau kelurahan. (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP .. LSM dan penduduk terkena dampak 3)..(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain..(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … . bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . Listrik. (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … ..

.. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6).(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..... Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … .............. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja....(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi . peralatan dan bahan bangunan 2).... Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy..... ........ Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .. Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ....(11) ....(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).....(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … .… .... 8).

...… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ...... (8) 4).. dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara....... PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis............(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ........... (9) .Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … ... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ..... data sekunder (laporan harian kontraktor)...... dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan .... 5).. Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2)... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai.... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... 8)..

(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija...(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.... berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang . penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb. … .(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ...Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ...(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) .

dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan. Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda.. dll. terasing… . (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan . Areal sensitive mencakup daerah lindung.terasing) beserta peraturannya. Memberi masukan ttg. terasing. terasing 2).l. mis: sektor2 perhubungan.17/KPTS/ /M/2003 4).(2) Melakukan penyaringan awal lingk.(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan. keberadaan masy. tata guna lahan.terasing. pertanian. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. industri. situs sejarah. jaringan … . kawasan lindung.. terhadap renc... sesuai Keppres 32/1990. fungsi lahan dan peraturannya. dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.. serta lokasi masy.… . (5) Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. Termasuk tata ruang. termasuk kondisi sosekbud masy. program mis: kebutuhan lahan. 3). koordinasi program pemb.. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive. . lokasi masy.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No. Mengacu pada ketentuan2 yang ada a. program lainnya yang terkait.. hak adat/ulayat. penerapan tata ruang. (termasuk masy.terasing). jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… . kawasan budaya. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait. dll. lokasi areal sensitive… ..(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5).Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . kehutanan. (9) . dll.(3) Konsultasi konsep renc. diknas. dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks.

(12) . dll. lokasi masy.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan.. dll.... .. penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai . (10) Memperbaiki dok. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL). hutan.... (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan.. (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . … .. (11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … .. serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … .terasing (bila ada).. keterpaduan pengadaan lahan. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. macadam. (1) Membuat alternatif koridor jalan … .... (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas. (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … .(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan. (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada).Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … .(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing).. dll. jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.. (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program. daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . .

. A M D A L.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. kesesuaian tata guna lahan. penyusunan dok. (11) .. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai.. kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy...… (8) Menetapkan dokumen. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial .. situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. mobilitas masy. terasing. pelepasan hak. A M D A L. kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. taksiran harga..… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb.. terasing (bila ada). sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan..… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … .. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.(6) Menyusun konsep dok.(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan.Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. . dll...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah. (7) Memperbaiki konsep dok. (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok.. … . AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. … .

termasuk konpensasi dan pemukiman kembali . mis: lansekap. terasing . lingk.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis. untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … ..(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud. terasing dan cara pelepasan hak. dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya. misal : tentang harga lahan. data aset.(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah..(13) . (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP . dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan. ekonomik. dll.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. serta keterpaduan program implementasi LARAP. kepemilikan lahan. cara pelepasan hak bila lahan milik instansi.. median. penanganan masyarakat terasing. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP.. rehabilitasi ekonomi... dan aset lainnya. (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … . koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat.. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy.. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya. sistem kekerabatan masy. koordinasi penanganan masyarakat terasing . mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah.

dan terhadap utilitas yang terkena dampak . rehabilitasi ekonomi... instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. terasing … ... .. penanganan masy.... terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat. terasing dan pemukiman kembali .... alih kepemilikan. besaran konpensasi. (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi. cara pengosongan lahan.. dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan. (10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait. (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi.(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy..Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. ( 11) . rehabiltasi ekonomi masyarakat.. (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait... penanganan masy.. seperti tercantum dalam kesepakatan . (5) Melaksanakan LARAP .... melepaskan hak.(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan. terasing. (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal.. (6) Melakukan monitoring . dll.(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat.. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi. … .. penanganan masy...

. PDAM. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok.(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ... termasuk keberadaan para pekerja ..(17) M elakukan m onito ring… .(1 6) Melakukan monitoring . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan. (20) .(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. Melakukan konsultasi renc.. terkena dampak . kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.(6) Menyusun laporan pelaks. kegiatan konstruksi .. pemberian fasilitas..(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . dll.. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan. ekonomi m asy.(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training..(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining.(6) Melakukan monitoring ..(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . tentang tujuan dan cara pemberdayaan .(terasing) … … . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . dengan PLN. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … . konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.

(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks........(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan.. (terasing) khususnya yang terkena dampak.. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ..: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima)... mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan.. ( 14) .. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring. adanya penyerobotan lahan damija.. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud. (9) Menyusun laporan monitoring. termasuk aspek warisan budaya .l. (8) Memberi masukan. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. LARAP dan rehabilitasi … . Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL . 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. penanganan masy. (12) Melakukan tindak lanjut. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. pengembangan lahan sesuai tata ruang.. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan.......Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi... badan jalan untuk berdagang. dll.

.. ekonomik/finansial. lingkungan dan sosekbud. (7) Menyusun laporan PBME . nilai lahan.. ( 9) . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. dll … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan... kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. geologi /geographic. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring... pelatihan alih profesi. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan ... biologi (flora dan fauna)...Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing. (3) Memberi masukan aspek lingkungan ..(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek .. yaitu mencakup faktor teknis. penggunaan lahan..

..… .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … ....(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. (6) . khususnya areal sensitive … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). BPN dan dari sumber lainnya 2). (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .. . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. 4). Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. .

. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. Sosial) ..08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ....Ka Bapedal No.. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ..... (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . 9). (12) . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . 8).… .. .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .. (10) 7)... (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2). Dikbud..

(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … ... (9) . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen ... 2). Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .(7) 1).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .. RKL dan RPL 3). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .

...... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.... RKL dan RPL pada perenc.teknis.: median. (8) .....Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL...... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .. RKL dan RPL … . lansekap … … … . sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.: penanganan utilitas yang terkena.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

khususnya bila sudah diperdakan. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. SESIM. yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. i . namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. Secara garis besar. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan. Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut.

yang terdiri dari empat buku. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif. November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. Jakarta. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dapat dilihat pada lampiran. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun.

3.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.3.2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.2.4.1.2.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.2.2 Pengadaan Tanah 4.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.2.4.4.4.1.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.7 Jadwal Pelaksanaan 4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.8 Pembiayaan 4.6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.1 Maksud dan Tujuan 4.4 Penyaringan Lingkungan 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.4.5 Konsultasi Masyarakat 4.4.4.4.3.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.2.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.1.2.1 Pra Studi Kelayakan 4.2.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.2.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.1.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.

5 7.2 7.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5.3 7.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5.4.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv .3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.5 Biaya Penyusunan LARAP 6.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.4 7.4 Dokumen AMDAL 5.1 Jenis Dokumen 5.5 Dokumen UKL dan UPL 5.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.4.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.4.2 Dokumen ANDAL.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6.4. RKL dan RPL 5.6 7. RKL dan RPL 5.1 Kerangka Acuan ANDAL 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.1 7.

..4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4..6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … . G am b ar 4.3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … .. G am b ar 4..2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL ..5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … . 11 12 v .....7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar .......2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … ....1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … .. Gambar 4.......… … … … … ....1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ....… … … ..... 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4... Tabel 4.... G am b ar 4. Gambar 4....

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .

Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait. 2. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. 1 . Undang – Undang No. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. propinsi. sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti. maupun kabupaten / kota.

9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 2 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No.3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. Keputusan Menteri Kimpraswil No.2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. 3. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden No. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. 3. 3.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Keputusan Kepala Bapedal No.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 3. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL.

3. maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah. 3.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 3 .5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan.7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 3.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3.

4 . propinsi. b) Kawasan perlindungan setempat. maupun tata ruang kawasan. c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan. Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan. Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan. antara lain:  areal permukiman padat penduduk.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan. Pada tahap ini. 4. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan. serta hasil survai lapangan secara global. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin.1. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya. bila diperlukan. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik.1.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup. yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum. atau kabupaten / kota. d) Kawasan rawan bencana alam.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. Aspek . khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.

b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup. f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan.1). penggunaan lahan.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). serta foto udara atau citra satelit. e) langkah-langkah proses pemilihan rute.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal. c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif. d) metode pengumpulan data.  lahan pertanian produktif. Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. 5 . yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup. (lihat Gambar 4. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A.  areal berpanorama indah. Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan.

Hutan Wisata. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. 3. 3. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. 4. tapi bersifat regional. Kawasan Sekitar Mata Air C. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Taman Hutan Raya. muara sungai. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. dan Daerah Pengungsian Satwa). Kawasan rawan longsor. gugusan karang atau terumbu karang. B. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 1.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. 2. 3. Suaka Marga Satwa.1 Daftar Kawasan Lindung A. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. 5.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan Resapan Air. perairan darat. 2. Kawasan Rawan Bencana Alam. 3. 6. Kawasan Hutan Lindung. Kawasan rawan letusan gunung berapi. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. D. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). 2. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. Kawasan rawan gempa bumi. wilayah pesisir. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Kawasan perlindungan setempat: 1. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Sempadan Sungai. Sumber: Keppres No. Taman Nasional. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Sempadan Pantai. 2. 6 . Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. 4. Taman Wisata Alam 7.

dsb.1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4.1b Foto Udara 7 . Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4.

3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin. dan koordinasi. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Karena itu. b) Luas wilayah persebaran dampak.1.4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait. Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). komunikasi. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. transparansi dalam pengambilan keputusan.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.1. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak. kelompok profesi. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. 8 . harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 4.

(2) Pembangunan jalan layang dan subway. (5) Pembangunan jembatan. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan. Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. e) Sifat kumulatif dampak. a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. di pedesaan. di kota sedang. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait. Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 . Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. (4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL.

atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4. atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4.1.1. maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4. tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup.1).1. tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4. Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun. 10 .

emisi yang tinggi.000 jiwa 11 . gangguan visual dan dampak sosial. tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1. Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. > 30 km Bangkitan lalu lintas.atau luas pengadaan tanah b. getaran. emisi yang tinggi. getaran. dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial.Panjang .atau luas pengadaan tanah c.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. Bangkitan lalu lintas. a.000 jiwa : jumlah penduduk 20.17 Tahun 2001.Panjang .1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000 – 200.000. emisi yang tinggi.000 – 1. dampak kebisingan.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. getaran. Di kota sedang : . dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. gangguan visual dan dampak sosial.000. Pedesaan : . b. gangguan visual dan dampak sosial.000 jiwa : jumlah penduduk 200. getaran. Di kota besar / metropolitan : . getaran. dampak kebisingan. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas. emisi yang tinggi. dampak kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.000 – 500.

Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2. Tabel 4. Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a. Pembangunan jalan layang dan sub way b. 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3. > 20 m > 60 m 12 . kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4. Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL.2.

proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan. ada tiga kemungkinan sbb.3.: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL.2. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas. Secara garis besar. Lihat Gambar 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. tercantum pada Lampiran C 13 . 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL.

2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. 17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No.

3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. 16 .2. Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja. Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi. tapi langsung ke studi kelayakan. • Dampak pada kualitas air. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum. Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama. • Gangguan terhadap kawasan lindung. Akan tetapi. Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan. longsor.  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi. yang mencakup seluruh wilayah studi. tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan. Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia. sedimentasi). Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. kualitas udara dan kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah.

Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan. ekonomi dan juga lingkungan. termasuk kawasan adat. Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4. terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk. Di samping itu.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). • Gangguan terhadap estetika lingkungan. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan.2. 4. dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat.2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek.2. Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif. 17 . Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan. alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak.

jenis tanah.2. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. 4. RKL dan RPL). (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek.2. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder.1.6). geologi.4. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode. 18 .4 sub d) dan Butir 4. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat. • batas ekologi. Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. dan RPL. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. penggunaan lahan. RKL. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL. dan • batas administratif. ANDAL. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji. Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek.2. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi. kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan. • batas sosial. jumlah sampel yang harus dianalisis.

sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. (b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. sekolah. b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. lokasi quarry. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. media cetak. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. base camp dan spoil bank. pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota.ANDAL. atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. borrow area. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional). Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya. dan permukiman padat. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. (2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. surat. (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. 19 . dan/atau media elektronik. dan mereka memberikan saran.

d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya.ANDAL tercantum pada Lampiran E.4. sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4. c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab. (d) Hasil pekerjaan. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. untuk dinilai oleh komisi tersebut. skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. 20 . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). dilengkapi peta dengan memadai. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas. Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran. tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan). Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA . Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat.2. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Secara garis besar.

2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.1 Metode Pengumpulan Data 3.1 Latar Belakang 1.2 Tim Pelaksana Studi 4. Kotak 4.2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.2 Peraturan Perundang-undangan 1.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.1 Pemrakarsa 4.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .3 Isu-isu Pokok 2.4 Batas Wilayah Studi 2.4 Biaya Studi 4.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.

08 Tahun 2000.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran. RKL. Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. RKL. diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. RPL Penilaian ANDAL. 22 .4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran.

Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa. maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. 23 .6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan. Ringkasan Eksekutif. Secara garis besar. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4. 4.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut.3. 4. agar dapat dilaksanakan secara efisien. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas.2. Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).2. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan. Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL. tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam. Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder.

Kotak 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi. berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab. meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat. Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan. 24 .

4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I.4. Bab VII. d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain. Bab II Bab III. 25 . Bab IX. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. Kotak 4.5. Bab IV. Dalam pengertian tersebut. Bab VIII. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan. Bab VI. Bab V. Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. b) mitigasi. Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4. c) meningkatkan dampak positif.

Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F.6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 . Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan. yang ditandatangani di atas materai. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL. Kotak 4.6. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL..

Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai. Untuk keperluan penilaian tersebut. tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. Laporan ANDAL.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. tapi cukup dengan UKL dan UPL.2. Apabila instansi yang bertanggungjawab. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 . maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan. Instansi yang bertanggungjawab.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H.2.5 4. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL. RKL. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa.

Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. 4. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan. pokok-pokok arahan.6. Karena itu. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak. 28 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek. Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail. Pada dasarnya. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan.3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah.3. UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.

27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 . RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL.RKL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran.5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran. RKL dan RPL Penilaian ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran. diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No.

6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis. Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi.2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu). Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan. yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. Estetika lingkungan (lansekap). Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J. Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor). antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL. dilengkapi dengan contoh. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya. Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis.3. atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. 31 . Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 . Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang. Gambar 4.

mata 33 . seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. 4.4.1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah.3. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi. 4.4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya.  Konsultasi masyarakat. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak. 4. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi. baik dalam dokumen tender maupun kontrak.

4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek. status pemilikan tanah. dan status pemilikannya.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali. instansi pelaksananya.4.6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak.4. jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada). harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut. kelas tanah. seperti penduduk sangat miskin. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap. Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah.4. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan. jenis dan umurnya). 4. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. jenis penggunaan saat ini. Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. 4. baik pemilik/penyewa tanah. 4. tingkat pendapatan. orang lanjut usia. jarak ke tempat kerja. dan perempuan kepala keluarga 34 . mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. maupun penghuni tanpa izin (squatters).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. penggarap tanah. penyewa bangunan.

Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable). 4. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L. berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan. sumber dananya.4. 4. Pemrakarsa harus membuat. 4. 5.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. dan jadwal penyediaannya.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 . Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci.8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini. termasuk panitia pengadaan tanah setempat. 5 5. menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait.4.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota.

Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu. Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. 5. c. Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat. Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL.2. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. b. seminar. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL. d. diskusi terfokus. lokakarya. Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab.4 Sub b). Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 . Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL. Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan.

Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki. 5.2 Dokumen ANDAL.4. dari maka komisi pemrakarsa penilai.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL. 37 .1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran. RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL. Untuk keperluan itu. sebagai lampiran KA – ANDAL. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai.4 Dokumen AMDAL 5. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL.4. 5. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. dari komisi penilai. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. RKL. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan. b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL.

5. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut. Terhadap permohonan tersebut. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). RKL dan RPL Dokumen ANDAL. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.4. RKL. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab . instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL. Untuk keperluan itu. dari instansi yang bertanggungjawab.

5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa. atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan.27/1999. PP N0. 5. c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup.27/1999).4. 5. 39 . Dalam hal ini.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. semua dokumen AMDAL. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2).4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. kesimpulan komisi penilai. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. pendapat.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut. 5. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. saran. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum.

40 . Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait. pengadaan (reproduksi) data sekunder. pengadaan (reproduksi) data sekunder. perjalanan dinas. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan. sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus.komponen biaya personil (gaji upah). perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek. biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. 6. 6. dan perjalanan dinas. a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL. dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL. Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen . b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. Sekalipun demikian. 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah).

Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. operator computer. Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. mobil). dan laporan hasil survai / penelitian. Jenis transportasi (pesawat terbang. 41 . dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta. citra satelit. kareta api. sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. Harga satuan tiap jenis transportasi. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan. c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. foto udara. data statistik. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. dsb). dan Harga satuan tiap jenis data. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Lamanya perjalanan ke tiap lokasi.

Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. dsb). Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 .25 pm. bahan (material) dan peralatan. terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. juru gambar. sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 . dan tenaga penunjang (surveyor.8 pm. Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji. fasilitas kantor.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL. analisis laboratorium. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut.duty station). dan Biaya penugasan luar kota (out-of. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli. Dalam prakteknya. 42 . Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah). Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport. Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. pembuatan laporan. perjalanan dinas. operator computer. staf administrasi. bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan. dan presentasi.

alat gambar dan sebagainya). 27/1999. Peralatan survai. disket. fax). Sewa kendaraan kerja. yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. di samping itu. Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis. dan Komisi Penilai AMDAL. yang di perkirakan berkisar antara 2 .4 person-month. Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. dan analisis kualitas udara. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. Biaya Komunikasi (telepon. Namun. Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. 6.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail. mesin tik. 43 . dan  penjilidan.4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis. Office supply (kertas. biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa. f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap.

dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. 6. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. Petunjuk Operasional (PO). c) Biaya bahan dan peralatan survey. dan Lembaran Kerja (LK). b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. Daftar Isian Proyek (DIP).5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan.6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP). e) Biaya penyusunan laporan. Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil. a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan). dsb). d) Biaya konsultasi masyarakat. 44 . telpon. Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut.

Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum. (iv) MASYARAKAT. 7. maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. O l eh karen a i tu .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. perencanaan teknis. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan. d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. (ii) BAPEDALDA. untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. Namun. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 .1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an . Karena itu. dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat. Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dan (v) INSTANSI LAINNYA. konstruksi. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA. propinsi dan kabupaten / kota). 7. maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. (iii) BAPPEDA.

Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit .2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 .ANDAL).PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota. dan pemerintah kabupaten / kota. Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat. d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. pemerintah provinsi. c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. dan pemerintah kabupaten / kota. pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. pemerintah provinsi. dan pemerintah kabupaten / kota. Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP). Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan. Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten. Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . 7. pemerintah provinsi.

Bappeda pemerintah kota.4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. Bappeda pemerintah kabupaten. 7. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). kabupaten dan kota. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma. Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi. Tokoh-tokoh masyarakat.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. 47 . dan RPL. standar. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan. 7. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. Masyarakat terasing. c) Menilai hasil studi ANDAL. RKL. Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL. kabupaten dan kota melalui peta padu serasi. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL). Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal.

7.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. yaitu: 48 . dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. Departemen atau Dinas Kehutanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota. RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. ANDAL. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. 7. khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah.6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. kompensasi untuk tanah dan bangunan.

Penjabaran Hasil Studi ANDAL. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi. Pelaksanaan Studi AMDAL. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat. Penyusunan KA – ANDAL. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. 49 . dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi. berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. RKL dan RPL. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas. 7. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan. berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi.

Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata. untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. 8. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. dan AMDAL atau UKL dan UPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci. yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. koordinasi 50 . melalui mekanisme kajian lingkungan. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini. Untuk keperluan itu. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. Identifikasi Kebutuhan Tanah. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. Perencanaan Pengadaan Tanah. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing. Karena itu.

51 . dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting. Di samping itu.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek.

5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .... . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . BPN dan dari sumber lainnya 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.… .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . khususnya areal sensitive … .. . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . 4)...

. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . Dikbud...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . 8).. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . (10) 7). 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy.... Sosial) .… .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . 9).. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .. .Ka Bapedal No...

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … ..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . 2). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . RKL dan RPL 3). 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .... Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya..(7) 1)..... (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .

lansekap … … … .....: median... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. RKL dan RPL … . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis...(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.teknis.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain..: penanganan utilitas yang terkena.. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan..... RKL dan RPL pada perenc.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ..

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

.. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL.... Memberi masukan persyaratan Lingkungan . Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)........... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan... Termasuk pola pelestarianaya 7).....(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).  Kehutanan tentang status hutan.(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . tempat keramat..... Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5).. 4).... Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).. khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan. 6). Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … ....... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … ..

(7) 3).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix...10). (8) 8).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (10) 9).. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … ... (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .... Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … ..4)..(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat.. Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 ...... Menetapkan koridor jalan terpilih… … … . (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … . tapi cukup macadam .5)... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait..2).6)..

. 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … ..… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … . (6) 3). (4) Memberi masukan tentang areal sensitif.. 8).. 5).... Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. nilai lahan dll.(11) 7). Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... 10.4). R K L. R P L .. 9)..

.. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan .(12) Menetapkan Desain Jalan . Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3)..10). (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak.... (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … .9).. (apabila ada) mis : ANDAL..(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.lingk. Dengan instansi terkait 14).......(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 . dan wakil masyarakat terkena dampak 12).4). Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2). mis : RKL. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13)... … … . … … ..... (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .. dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8). 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. dok.(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk... apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .… … … ..5).(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring .

..4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll.(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… ... (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP .(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. PDAM.. (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 . (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … .. telpon. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2).7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.. mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … ... 5).. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi. bantuan pindahan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … . Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait. (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … . Listrik. (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … . LSM dan penduduk terkena dampak 3).. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … ..... Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). aparat desa atau kelurahan.

Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ...(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)....... 8). 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)............ .. Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ..(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 ..........… . Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peralatan dan bahan bangunan 2)....... Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ............(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ...(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … . (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6). Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja.

...... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ... (8) 4)........ 5).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … .... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … . data sekunder (laporan harian kontraktor)... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai. (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 ......... dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ......(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah .. Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2)............. 8). PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis.....(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ......

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … . … ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … ..(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 ...(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .. penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb..(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ... berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang ..

(5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). mis. 4). peran dan fungsi kota dll. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).… .. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. jenis penggunaan dan kepemilikan).. kapasitas produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 .

.. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis..... 5)....(6) . ekonomik.... 4)..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … . Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan......... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).....(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .......... status kepemilikan dan kesediaan melepas..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.

(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . (7) Memperkirakan dampak sosial … . (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .4).. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.5).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. ekonomis dan lingkungan.(11) Menetapkan Rute Terpilih . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). Terhadap pengadaan tanah … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga ...Rute. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. Hasil Pra Kelayakan 2).. (6) 1)..(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. dll.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi..

… .. 6). Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 ..kem bali. prakiraan nilai kekayaan.… … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . … . pelepasan hak. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1). Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. Termasuk rencana kerja. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.. Lokasi di Peta. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . rehabilitasi pem uk. 3). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2)..kem bali … … . dll. luasan. masa tinggal dll.

. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .T .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. khususnya panitia pengadaan tanah … … ..P … … . 13). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk..... (2) Berpartisipasi dalam musy. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 ... (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1).7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .… . & menyepakati dlm mufakat khususnya P ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ..

5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 6). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.. 4).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … ...

Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . … 7) 3)..(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . 6). 2). 4). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi.. sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 7). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 5).

(2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. LA R A P … … .… . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 . tata ruang. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. adat istiadat. pelatihan untuk alih profesi … .(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . nilai kearifan lokal. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … ..

termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Badan Pertanahan Nasional (BPN). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. e). para kepala Dinas di propinsi. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. BAPPEDA. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. MASYARAKAT. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. c). Penduduk terkena dampak. b). f). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. b). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. d).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. 2. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. e). PEMRAKARSA. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. g). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. d). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . c). kabuipaten dan kota BAPEDALDA.

3. PEMRAKARSA. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. 5. kapasitas jalan yang dibutuhkan. kapasitas produksi. 3. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. Selanjutnya. STAKEHOLDER LAINNYA. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. . Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. 4. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. 2. 6. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Pemrakarsa. BAPPEDA. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 .. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. misalnya sentra sentra produksi. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan.

peta banjir. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. UPL. 3. 5. PEMRAKARSA. STAKEHOLDER LAINNYA. UKL. 6. MASYARAKAT. 7. Selanjutnya. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan.. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. 4. PEMRAKARSA. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. menetapkan koridor jalan terpilih 2. Masukan tersebut. Selanjutnya. 4. BAPPEDA. peta quarry dll. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. 8. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan.. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. 2. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. 10. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. BAPPEDA. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). 6.. 8. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. 5. 7. BAPPEDA. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. 5. MASYARAKAT. Atas dasar permintaan pemrakarsa. 11. 9.

mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. 9. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. 5. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. 13. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. Panitia pengadaan tanah. BAPPEDA. PEMRAKARSA.. MASYARAKAT. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. 6. 10. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. 8. BAPPEDA. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. 12. mensosialisasikan konsep larap. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. 6. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. 11. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 4. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. Selama proses wawancana. 7. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. PEMRAKARSA.

7. 7. 2. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. BAPPEDA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. kartu penduduk dll. BAPEDALDA. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. 14. MASYARAKAT. STAKEHOLDER LAINNYA. BAPPEDA. 8. 4. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. 11. BAPEDALDA.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. 12. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. 5. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. BAPPEDA. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 10. 9. 13. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . Selanjutnya. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. 3. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. 6.

4. DINAS SOSIAL. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. 7. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . 9. 5. evaluasi pelaksanaan 2. MASYARAKAT. 11. BAPEDALDA. BAPPEDA. BAPPEDA. MASYARAKAT. mislanya karena kehilangan pelanggan. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. 8. PEMRAKARSA. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. 12. 8. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya .. Selanjutnya. 3. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. PEMRAKARSA. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 6. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 10. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. melakukan monitoring & evaluasi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan.

mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Selanjutnya. PEMRAKARSA. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. 9. MASYARAKAT. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. 4. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. BPN. 5. 3. Untuk itu. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 7. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. BAPPEDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 8.. PEMRAKARSA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . penataan ruang. BAPEDALDA. 2. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. 6. PEMRAKARSA. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan.

b). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. c). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). 2. para kepala Dinas di propinsi. g). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. BAPPEDA. d). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. b). PEMRAKARSA. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. f). Badan Pertanahan Nasional (BPN). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. e). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. MASYARAKAT. e). Penduduk terkena dampak. d). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. c). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota.

menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. . BAPPEDA. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. MASYARAKAT.. misalnya sentra sentra produksi. 5. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. 4. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 6.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. 3. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. 2. 3. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Selanjutnya. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. kapasitas produksi. PEMRAKARSA. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

.(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . biologi (flora dan fauna).. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan . lingkungan dan sosekbud.. yaitu mencakup faktor teknis. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. penggunaan lahan... geologi /geographic..... (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . dll … . nilai lahan. kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang.. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang... (7) Menyusun laporan PBME .. ekonomik/finansial.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. (3) Memberi masukan aspek lingkungan .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. pelatihan alih profesi.. ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 .

Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak. Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan.2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis. ahli geoteknik. perencana lingkungan. Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial. ahli ekonomi. Biasanya.1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya. Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait. atau c) kombinasi dari keduanya. dsb. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. b) alinyemen yang sama sekali baru. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat. sosial-ekonomi dan lingkungan. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 . meliputi perencana kota. 1. Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. prastudi kelayakan dan studi kelayakan. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). 1. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. perencana lalulintas. yang membantu perencana jalan. kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial.

karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2). di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. 2. ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 . Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya. PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. khususnya areal sensitif.

Namun. w arisan budaya. 2. lokasi kegiatan industri. ditetapkan empat tipe kota. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam. budaya. listrik. Bagi keperluan perencanaan jalan. air. kota besar.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. dan lokasi kegiatan kelembagaan. yaitu topografi. dan kota kecil. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. tem pat tinggal. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota. Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. prasarana. akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. Selain prasarana ciptaan manusia ini. kota sedang. Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks. vegetasi dan perairan. Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. institusi. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. visual. lokasi kegiatan komersial.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. kom ersial. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. telekomunikasi. industri.

yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. termasuk kualitas visual dan kualitas akustik. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. serta perkebunan pohon buah-buahan. seperti keselamatan. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. 2. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif. selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. Dengan demikian. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan. Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan. Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial. tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. Namun demikian. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan. ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota. karet. kelapa dan kelapa sawit. Lain dari pada itu. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai. Namun demikian.

sungai. 3.perkebunan. 3. misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas. • kam pung. akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan. bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti. Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. Seperti telah dikemukakan di atas. . dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih.tanaman lain. Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai.sawah tadah hujan.lahan basah / rawa. . Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan. Pengembangan jalan dapat membelah properti. Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. • desa. • nilai visual. Namun. Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute. . • rum ah -rumah terpencil. Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah. meningkatkan aspek-aspek keselamatan. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 . • Lingkungan alam : . Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas. dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik. meliputi: • Lahan pertanian: .1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan. merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait.sawah beririgasi. Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru. bakau. meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor. jalan kereta api. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil. .

Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. dan kampung atau desa. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan.2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. Secara umum. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial. 3. serta lahan perkebunan karet. Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. kelapa dan kelapa sawit. lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan. Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 . Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan.

enjiniring. sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute. 4.) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN .1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif. Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4. meliputi kondisi topografi.

seperti kondisi geologi. Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m.000. serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan. dsb. roman-roman alami seperti gunung. tutupan lahan.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan. informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. jaringan listrik.1.  Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. Namun. yang diproses dari foto udara.000 untuk seluruh Indonesia. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan. atau lebih detail dengan skala 1 : 5. Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS.000 mahal harganya. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI. Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 . Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah. rel kereta api.000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan. 4.000. tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check). Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia. meliputi:  Peta Topografi. bukit. termasuk vegetasi dan hidrologu. sungai. data lingkungan dan data sosial/budaya. Peta-peta skala 1:25. dsb. elevasi. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris. Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan.1.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual).000 ( Foto udara berskala 1 : 5. liputan vegetasi dan pola hidrologi. pada umumnya yang berskala 1 : 10.1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional). Peta-peta topografi skala 1 : 25. selain menyajikan pula detail topografi.

1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek. Namun. dalam beberapa hal. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain. Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan. tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 . Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan.

mencakup rencana lokasi proyek. dll. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. 4) Masyarakat. dalam hal ini Dinas PU provinsi. Melakukan penyaringan lingkungan. kabupaten/kota. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . penduduk terkena dampak.2. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. 3) Bappeda. 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. B. kabupaten/kota. B. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). panjang jalan dan tahun anggaran. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan. kabupaten/kota. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus. 2) Bapedalda.

biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi.  Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada). Bapedalda. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik. B.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.2. masyarakat (misal tokoh masyarakat). lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya. yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 . Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif).  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan.000).  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah).  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250. Bappeda. kawasan dan makam yang dikeramatkan.  Masukan dari stakeholder lainnya.2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda). situs-situs purbakala. termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya. dan stakeholder lainnya (misal BPN.

 Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan.3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan. B. B. B. maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi).2. Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan. UKL/UPL atau SOP).2.3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan. Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan. khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain. Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan. dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP). Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B.3. kab/kota) serta penerapan peta padu serasi. Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 . Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL.1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas. khususnya areal sensitif. Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda.  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada).

Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute). AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL). yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat. 4. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan. antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan.  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL. terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan. UKL/UPL B. lebar damija yang ada. Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman.3. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan. yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 . 2.3. 3.2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan. Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan). B.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).  Panjang ruas jalan. Desain wilayah (kota/perdesaan).Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini.3. status lahan dan tata guna lahan).  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B.3.3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1. lebar jalan.

Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor. misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. Lurah/Kepala Desa. pendapat. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). B..  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek.3. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT . b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN).3. termasuk tokoh LKMD.2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat. Camat. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan.

Lurah/Kepala Desa. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.3.. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat. Camat. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan.3.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana. termasuk tokoh LKMD.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. Lurah. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Bappeda. B. termasuk klas jalan. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 . antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan. stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan).  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. Lurah.

terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih.3. dan (status lahan konservasi). misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. Lurah/Kepala Desa. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh. B. B. terutama dalam rencana pengadaan tanah. kondisi prasarana dan sarana. . Camat. B.5. Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain.4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 .3. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan..3.3. . status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah).Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. termasuk tokoh LKMD. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B.  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan.

Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL). antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung). status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan. misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. B.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih. Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. status lahan dan tata guna lahan).  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B. terutama dalam rencana pengadaan tanah. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 . misal di Kantor Bappeda. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih.4. status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.4.3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih.4. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih. kondisi prasarana dan sarana. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). Menetapkan rute terpilih B. Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih.

antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak.4. Membuat konsep LARAP. B. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih.5. Disamping pertimbangan aspek lingkungan. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda. B. akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 . RKL/RPL dari rute terpilih. dokumen ANDAL.5. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL.5. RKL/RPL. B. misal di Kantor Bapedalda. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. Menetapkan desain teknis jalan. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan.4. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B. RPL dalam perencanaan teknis jalan. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi. Dokumen ANDAL. Diskusi penjabaran RKL.4.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan.

Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak. LKMD. meminimalisasi. c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL. B.3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. misal di Kantor Bappeda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan.5. wakil masyarakat yang terkena dampak). B. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP. RPL dalam perencanaan teknis jalan. Masyarakat (Kepala desa/lurah. dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat). RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan. a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis .  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . misal di Kantor pemrakarsa proyek.5.2 Diskusi Penjabaran RKL. memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak. baik berupa upaya pencegahan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL. Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda.

c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan.  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. lebar damija yang ada. terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan. antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan). misal di Kantor Bappeda. wakil masyarakat yang terkena dampak).Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang. lebar jalan. LKMD. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP.5. dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan. dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. B. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. Bappeda. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 .  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah. dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan.

jumlah pemilik. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut. B. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 .5. B.  Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya. biologi dan sosial) yang terjadi.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. persepsi. aset di atasnya. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia. dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi.5. yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan.  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak.

C. pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru. jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. C.2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan). Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C.3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1.4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung). Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil. Karena itu. d) e) C. pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat.

Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas.17 Tahun 2001. dampak kebisingan. b. getaran.atau luas pengadaan tanah b. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2. emisi yang tinggi.000 – 500. > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. emisi yang tinggi.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. dampak kebisingan. Di kota sedang : . gangguan visual dan dampak sosial. Bangkitan lalu lintas.000.000 – 100. 1.000 – 1. getaran. gangguan visual dan dampak sosial.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. emisi yang tinggi.Panjang . gangguan visual dan dampak sosial. a. Bangkitan lalu lintas. Pedesaan : . gangguan visual dan dampak sosial.atau luas pengadaan tanah c.000. Di kota besar / metropolitan : .000 jiwa 100. getaran. getaran. emisi yang tinggi. dampak kebisingan. Bangkitan lalu lintas.000 jiwa 500. getaran. tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1.000 jiwa 20.000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 .Panjang . dampak kebisingan. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan.

Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL. Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi.1.5 ha 3 km . Pembangunan Jembatan a. yaitu:  panjang ruas jalan (km). Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km . Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E.5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C.  luas areal pengadaan tanah (ha). Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a. Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL. Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C.5. b.10 km 2 ha . Jenis Proyek Besaran 1.2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek.5. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif. Di kota besar / metropolitan: b.5 km 2 ha .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No.10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. 3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . 2. Penyusunan laporan hasil penyaringan.1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C. dan skala / besaran kegiatannya.

dll). Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu).  Lebar perkerasan.  Peninjauan lapangan.5. atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota. c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. berbatasan langsung. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap.  Alat-alat berat yang diperlukan. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan. pasir.5. C. antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan). berbatasan langsung dengan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota. b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No.1.  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota. peninjauan lapangan tidak diperlukan.  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan. • Lebar badan jalan. Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada).3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C.  Jenis lapis perkerasan. atau berdekatan dengan kawasan lindung.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu. Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya. tercantum pada Kotak 1.3. dan Pasal 37 Keputusan Presiden No. 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL .1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung.

dan Daerah Pengungsian Satwa). 5. dan • pipa gas. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 . 10. 13. peta geologi. Kawasan Sekitar Danau / Waduk.5. 9. 2. 14. Taman Nasional. • kabel listrik. 6. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. 7. Kotak 1 C. peta penggunaan lahan. Bila perlu. c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi. Kawasan Bergambut. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Kawasan Hutan Lindung. seperti: • jaringan jalan. Sempadan Sungai. wilayah pesisir. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. Daerah komersial. Kawasan Resapan Air. Kawasan Rawan Bencana Alam. Hutan Wisata. • saluran air. 11. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). daerah deengan budaya masyarakat istimewa. 15. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. peninjauan lapangan akan sangat berguna. Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair.3. Taman Hutan Raya. muara sungai. 12. 4. peta tanah. • telepon. dan foto udara (bila tersedia). gugusan karang atau terumbu karang. • jalan kereta api. Suaka Marga Satwa. perairan darat. 3. • pipa air. Sempadan Pantai. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. 8.2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat.

menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk . konstruksi dan pasca konstruksi. kebisingan. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1.3. merubah komposisi vegetasi. (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik. Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah.3) .5. dan pasca konstruksi. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara.5.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu. mulai dari tahap pra-konstruksi. perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah.2 yang merupakan sumber dampak. dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C. C.5. seperti kegiatan pengangkutan material. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya. yang mungkin terkena dampak. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C.1. dan • tempat ibadat. misalnya kegiatan land clearing. konstruksi.4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis. pengoperasian base camp dan stone crusher. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi.5. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak. pencemaran air). diurut mulai dari tahap pra-konstruksi. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 .5. C.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap. d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. • rumah sakit.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut.5. b) Secara garis besar. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . komponen biaya terbesar adalah biaya personil. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut. Makin jauh jaraknya. Jika memenuhi kriteria tersebut.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL. maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua.4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. tapi wajib menggunakan SOP. Sebaliknya. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli. Kalau tidak. c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung. • peralatan dan material. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat. Pada umumnya. C. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. • survai lapangan. Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C. • analisis laboratorium (bila perlu). Bila tidak.5. makin mahal biayanya. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). jika tidak memenuhi kriteria tersebut. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL. Bila tidak. maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL.

atau antara 0. dengan biaya berkisar antara 5 . PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 . Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut. c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C.8 pm. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL. Penyusunan Laporan f) C. yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya.35 % dari total biaya proyek.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 .06 0.10 % dari biaya persiapan proyek. termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut.5. pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan. b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan). atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL). Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL.1. wajib UKL dan UPL. Secara umum.30 person-month (pm). sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 .7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini.

Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. tidak berbaliknya dampak. Intensitas dampak I1 I2 5. Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan. Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 . atau kumulatif dampak.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6. Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 . 7.

Perkerasan Ekisting 1) d.. Pemukiman padat b. d. km a. Propinsi 5.. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . Tanah tidak stabil 2. … … … … … … … … … … … … … … … … … . kendaraan /hari b..m .. H a a. Nama Rencana Kegiatan Proyek 2.. Daerah komersial c. % .. km .. … … … … … … … … … … … … … … … … .. % . km (… (… (… (… … … … … … … … … . Lebar Jalan a. DAMIJA Ekisting 1) b. b.. % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 . … … … … … … km a. d. b..m . LHR a.. … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . km .. Rencana 10.. c.m a.. Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Kabupaten c. Penggunaan lahan a. RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1. … … … … … … … … … … … … … … … … … ... Berlereng curam (> 40 %) b. Luas areal pengadaan 9. Damija rencana c. Panjang Ruas Jalan 3. Eksisting 1) b. … … … … … … … .. Status Kota 6. … … … … … … … … . Pekerasan rencana 4. … … … … … … … . Areal pertanian produktif d.. c. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … .m . Lokasi a.. % . Fungsi Jalan 7. Nama kota b. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A. Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a. km . km b. c. Jenis Program 8.. Fisiografi a.

. … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p. Wajib AMDAL 2. Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a. . b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. … … … … … . ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. b. Wajib UKL dan UPL 3. Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Jenis/nama kawasan lindung b.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E. c.. Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Kawasan lindung a. Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C. . KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1. Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . D. 3. 2. . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a. . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b.

1) lahan di D.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa. 5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan. dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. kapasitas produksi. kabupaten/kota. 2) Bapedalda.2. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 .1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini. 4) Masyarakat. peran dan fungsi kota. 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya. kabupaten/kota. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. dll. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada).2. kapasitas jalan yang dibutuhkan. kabupaten/kota. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. penduduk terkena dampak. 4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D. 3) Bappeda. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. D. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat.1. Badan Pertanahan Nasional (BPN). antara lain : sentra-sentra produksi. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya.

Kehutanan.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. potensi kapasitas produksi. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 . Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan.2. hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan.1.1.1. D. orde penataan ruang.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi.2.000).  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. D.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan.2. misal: skala 1 : 250.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.000). dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai. kab/kota).  Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan. D. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov.

4. D. 3.2. misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing. Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan). Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. 3) Aspek orientasi budaya. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. D.2. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam. 2. rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 .2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan.000). Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan. Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan. Kehutanan. bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya.2. berbatasan langsung dengan. khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. antara lain sebagai berikut : 1. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. ii. kab/kota). i. antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100. atau berdekatan dengan kawasan lindung.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 2) Aspek pola kepemimpinan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D.

D. Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan.000). Bappeda dan masyarakat).Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting. status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. misal skala 1 : 100.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.1 Status lahan dan tataguna lahan. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 . Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai . dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. Masyarakat dan Stakeholder lainnya. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan.3. dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.1. Bappeda.1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan. D.2 Konsultasi dengan Bapedalda. 2) D. Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan.000 D.3. 1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan.3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan.1. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda. serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada).3. Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan.3.

Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 . 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif. 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.2.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi. 1) D. Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c. Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing. Aspek pertanahan masyarakat terasing.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada).3. Meminta masukan dai Bappeda tentang : a. c. sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif. tentang (khusus pada masyarakat terasing): a.2. Aspek kepemimpinan. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). Aspek kependudukan. e.3. terutama kebutuhan pengadaan tanah. d. b.3. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk. Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah. serta pola penggunaan lahan. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b.1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi. Aspek budaya.

4. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. 3. b. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih. Mencatat informasi mengenai tiap rute. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL.1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. dll). c. 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D. terutama dalam rencana pengadaan tanah. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. antara lain meliputi dua hal tersebut di atas.4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih. yakni : a. kab/kota). 2) D. b. 2. dan (status lahan konservasi).Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute).000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov.4. Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50.

Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. 7. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas. D. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali.4. h.2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. NJOP dan harga nyata tanah 1. 2. g. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. paling tidak mencakup 4 hal. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 . b. e. f. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. c. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. d. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1. Menuangkan dalam bentuk matriks. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute.

kab/kota). d. Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. Persepsi masyarakat terhadap proyek. macamnya (rumah tempat tingggal.4. 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. tanah ulayat dan sebagainya). (ii) tanah pengganti. NJOP tanah dan harga nyata tanah. Status kepemilikan tanah.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. kolam /tambak ikan dan sebagainya. Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. darurat). Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. tahunan. e. 5) Penduduk (pemilik.3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. k. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. Luas tanah yang akan dibebaskan. 3. Luas bangunan yang akan dibebaskan. Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. huruf (ii). penyewa. h. misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. Fluktuasi pendapatan akibat musim. 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil. j. Aset lainnya yang akan dibebaskan. g. i. 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . Stakeholder lainnya. 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan. dan huruf (iv). sedang dan besar). f. c. kantor. tanaman (umur setahun. bersejarah dan tradisional. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. sebagai berikut: 1. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen. Harga nyata tanah dan NJOP-nya. 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. Bappeda. dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. Usulan tentang ganti kerugian. (iii)pemukiman kembali. 2. gudang. status bangunan dan tipe bangunan. tempat usaha. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). status kepemilikan tanah. 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda. tempat ibadah. Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis. meliputi : Tata guna tanah . bengkel dan lain sebagainya). an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. l. semi permanen. penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan. dan sebagainya ).

5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 . 4. Uraian rencana pembangunan jalan. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan. kab/kota). Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5. Melakukan survai sosial ekonomi.4. Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. dll). Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. 3. melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih).Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D.5. yakni : a. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan. 2.4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih. D. Sosialisasi konsep LARAP D. Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan. D. Melakukan konsultasi masyarakat.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1. b. disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak.4. ekonomis dan lingkungan. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat.

untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks.2 Survai Sosial Ekonomi 1). untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. Luas areal permukiman b. antara lain sebagai berikut : a. bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali. Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi. untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. Luas areal ladang c. Jenis utilitas umum h. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. 1) D. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah.5. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. Luas areal hutan f. Luas areal perkebunan e. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 . paling tidak mencakup 4 hal. Luas areal semak belukar g. Luas areal persawahan d.

sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk.3 Konsultasi dengan Bapedalda. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. D. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut. 5) Usulan tentang ganti kerugian. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer.5. Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. 7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. tanah ulayat dan sebagainya). 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru. NJOP tanah dan harga nyata tanah. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . Bappeda. 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim. 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan. Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. status kepemilikan tanah. status bangunan dan tipe bangunan. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek.

Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1. masa tinggal dll. luas.  Biaya pelatihan alih profesi.  Tindak lanjut.  Jadwal penyelesaian. 4.  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3). 3. 2. lokasi di peta.5. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan. evaluasi dan rehabilitasi. Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja). jumlah tiang listrik dsb). termasuk status sertifikat.  Alokasi anggaran. luasan. D. 1/1994.  Rencana penyelesaian. pasal 45. Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 .  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial). jumlah bangunan. prakiran nilai kekayaan.  Instansi penanggung jawab.  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan.  Perkiraan biaya. sarana dan prasarana.4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain.  Sumber pendanaan.  Status penyelesaian.  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut.

Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.… … ..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . (6) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .… .. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . 3). .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . peran dan fungsi kota dll. kapasitas produksi. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).. terasing… .. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).... kapasitas jalan yang dibutuhkan..

..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial..... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. … … .. .(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan..... sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3).. budaya . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... (8) .. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).. ekonomi. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … .... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ...... 4)..... terasing.(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7)... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .. 5).... ekonomik.

.. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.....5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2)... .. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ..........(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. terasing... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.. terasing.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy.4). terasing … .

.terasing tsb.. T indak … ..... (11) . pembagian tugas 3).… … … .. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy... terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .. kepemimpinan.. Renc. terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy.. Termasuk rencana kerja.......... sistem dan nilai hak adat ... (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2).Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)... Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).

..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … . 5)..… ... lembaga adat .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)....... … … .(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ....... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)......Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan....(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ... 3). dll.. perbaikan permukiman tradisional.... 4).... rehabilitasi konservasi situs dll...... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ... Termasuk LSM. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)......(7) .

(12) . 6). (6) 3)... 4)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg. terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (11) 8)..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy.. 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi .. 5).

. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3)..(8) . 6).. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME).. penanganan masy . 4).. 2)...(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … .(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .terasing termasuk rehabilitasi … … . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.. budaya dan kelembagaan. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. 5).. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.. sosialekonomi..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

(8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) .… .. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.. penanganan masy.. terasing … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . tata ruang nilai kearifan lokal. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. terasing … … .. terasing yang lebih baik .

.

.. peran dan fungsi kota dll. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.… .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. mis. kapasitas jalan yang dibutuhkan. kapasitas produksi. jenis penggunaan dan kepemilikan). (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). 4). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .

.. status kepemilikan dan kesediaan melepas.. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ....(8) ... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3). (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing....(6) .. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). ekonomik.(7) Menetapkan koridor jalan terpilih..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .... 5). Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... 4)........ (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)..........

dll.(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.Rute.. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat..(11) Menetapkan Rute Terpilih . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. (7) Memperkirakan dampak sosial … .5).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . Hasil Pra Kelayakan 2).(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . Terhadap pengadaan tanah … ...4). (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .. (12) .. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . ekonomis dan lingkungan.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.

dll. Termasuk rencana kerja.. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . prakiraan nilai kekayaan. … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..… … … . luasan. Lokasi di Peta. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. 3). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. … ..(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … .. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . masa tinggal dll. rehabilitasi pem uk. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).kem bali. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .kem bali … … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) .. 6). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. pelepasan hak.

.Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) ..… ..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . 13).. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. khususnya panitia pengadaan tanah … … . (2) Berpartisipasi dalam musy.(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.P … … . (4) KETERANGAN 1)..... Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).T . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ... Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).

Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.(12) . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 4). 6).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 5). (5) Membantu sesuai keterkaitannya....

(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (8) ..( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. 6). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . 7)... Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 4). 5). … 7) 3). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 2).

Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . pelatihan untuk alih profesi … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. nilai kearifan lokal. tata ruang.… . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. LA R A P … … . adat istiadat. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … ..Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.

.

. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). BPN dan dari sumber lainnya 2).. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. . .… .... 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ... (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. 4). khususnya areal sensitive … .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . (6) .

(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. 8). (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ... 9). (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy. (12) .. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ..08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .… ..Ka Bapedal No... Sosial) ..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .. .. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. Dikbud.. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … ...... (10) 7). 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ..

(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ....(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . 2).. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . (9) .. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. RKL dan RPL 3). 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.... (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

.. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ...Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. lansekap … … … ..... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .. RKL dan RPL pada perenc...: penanganan utilitas yang terkena.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.....: median. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.teknis..... RKL dan RPL … .... (8) .

.

proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat.3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL. 40/KPTS/1997).langkah pelaksanaan Secara garis besar.1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.2 Langkah . 9 Tahun 2000. 69/PRT/1995). Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL. Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. E. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL.ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E. Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0. 147/KPTS/1995). antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. Keputusan Kepala BAPEDAL No. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 .

dilengkapi peta dengan skala yang memadai. dan mereka memberikan saran. media cetak. Hasil pekerjaan. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.4.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan. Media pengumuman • E. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi. Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. E. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.4. pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab.4 E. dan/atau media elektronik.4. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.4. surat.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan). E.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. E.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa.

dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. kapasitas dan lokasi kegiatan). g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman).4. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. E.5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1).6. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi. lokakarya. masyarakat menyampaikan aspirasi. h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. dan cara penanganannya. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. dan Mengumumkan waktu. Dalam proses ini.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. E. yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 . E. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. kebutuhan.6 E. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2. jelas dan mudah dimengerti.1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. seminar.

identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek. tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak.6. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. c) pemusatan dampak besar dan penting. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E. batas sosial dan batas adminsitratif. batas ekologis. Langkah pertama. c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan. antara lain metode matrik dan bagan alir.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. b) evaluasi dampak besar dan penting. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . jumlah sampel yang perlu diukur.

diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran. RKL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 . RPL Penilaian ANDAL. RKL.08 Tahun 2000.

Makin besar volume kegiatan proyek. (lihat Tabel 1 dan 2). misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. perairan umum. laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. Langkah kedua. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. cenderung makin besar pula dampaknya. lokasi quarry. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. c) peninjauan lapangan. Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. jumlah tenaga kerja. Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. baik dampak primer. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. bahan bangunan yang akan digunakan. Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu. konstruksi dan pasca kontruksi).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar. kondisi biologi. Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. jenis limbah dsb. sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan.

Pembayaran ganti rugi 1. 3. 4. 1. 7. 4.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 3. 8. 2. 7. 2. 6. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6. Sosialisasi 4. Pengoperasian jalan 2. Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 2. 1. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 . C. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 6. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 2. 5. 5. B. 3. Survai & Pengukuran 2. PemancanganTiang Jembatan 9. Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. Pengelolaan Quarry 8. 1. 4.

Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. Pengoperasian jembatan 2. 3.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 5. 2. 5. 5. Sosialisasi 4. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8. 4. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 3. 2. Survai & Pengukuran 2. 1. 1. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. 8. 2. 4. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 . Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. B. 3. 6. 7. C. 1. 6. 7. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 4. 2.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar.  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman. industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.6.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran. Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi. E. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. Sebagai contoh. waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman. Di dalam batas ekologis ini. kontruksi maupun operasi. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material.3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya.  Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 . tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan. kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung.

E.2 di bawah ini. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. Bila perlu.6. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan. diperlukan tenaga ahli kehutanan. Bab 5 : Daftar Pustaka.7 E. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia. Bab 6 : Lampiran. diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan. E. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. Bab 3 : Metode Studi. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia. Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. diperlukan tenaga ahli hidrologi.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. Bab 4 : Pelaksanaan Studi. dengan memperhatikan keterbatasan dana. Karena batas proyek jalan cukup sempit. • Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D.7.7. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya.

bab yaitu Latar Belakang.1 Latar Belakang 1. (4) Status proyek saat ini.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 .1 Pemrakarsa 4.7.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.2 Peraturan Perundang-undangan 1.1 Metode Pengumpulan Data 3. (3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa. tujuan dan manfaat proyek.4 Batas Wilayah Studi 2. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan).4 Biaya Studi 4.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3. (5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL. Peraturan Perundang-undangan.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub . (2) Maksud. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1. antara lain meliputi: (1).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.2 Rincian Materi dokumen E.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.2 Tim Pelaksana Studi 4.3 Isu-isu Pokok 2. dan Tujuan dan Kegunaan Studi. Lokasi rencana kegiatan proyek.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.7.2.

rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan.2. E. Keputusan Menteri Kehutanan No. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan.2.3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.7. Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 . perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 .7. antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya.

147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.2. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2) Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 6) Undang-undang No. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. Kep. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. • Isu -isu pokok. 3) Undang-undang No. 4) Undang-undang No. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 9) Peraturan Pemerintah No. 5) Undang-undang No. 7) Undang-undang No.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 8) Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.7. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 19) Keputusan Kepala Bapedal No. 10) Peraturan Pemerintah No. • R ona lingkungan hidup aw al. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 11) Keppres No. 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No. E. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 . 55/1993. 18) Keputusan Menteri Negara KLH No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. • B atas w ilayah studi. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.

V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan. S tatus proyek saat ini. G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1. Jenis perkerasan. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan. Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel. propinsi. Lokasi proyek.3.3. P anjang ruas jalan. perkerasan). Status jalan (jalan nasional.3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1. Lebar jalan (Damija. teknis dan ekonomis. Jenis program (pembangunan / peningkatan). 1. tol).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan. Jadual pekerjaan konstruksi. Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan).2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif.1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya. kabupaten / kotamadya. c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku. c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 .

yang harus ditelaah oleh konsultan. (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan). • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai.Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah. • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. • peralatan yang digunakan. Tahap Pra . b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini. • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. pasir.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan. • P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah. koral. (2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 . dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek. konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1).pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar.

• K om ponen kingkungan biologi. jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik . Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan. seperti contoh berikut : (1). dan sedimentasi pada badan air setempat. (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi. (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri . penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat. Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting.ekonomi . Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut. sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan. Untuk proyek jalan tertentu.kimia. longsor.kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. • K om ponen lingkungan sosial .budaya. Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut. yang bersifat “site specific”. Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam. d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut. (2). mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. (3).

KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan.7.5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL. Untuk pengumpulan data sekunder. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data. e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. c) Metode evaluasi dampak besar dan penting. waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. grafik. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut. Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada.2. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan. Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 . Untuk pengumpulan data primer. E. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya. b) Metode prakiraan dampak besar dan penting. Sebagai contoh untuk pengukuran. gambar atau deskriptif.

b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. • G eoteknik. • S osial-ekonomi. b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. • Lansekap. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No.2. • K esehatan M asyarakat. bagan alir. overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota. Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun. E. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik. • S osial-budaya. dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar.7. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . • Teknik Lingkungan. • B iologi. Kep-056/1994.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 . Peta Penggunaan lahan. Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5. analisis lanoratorium. d. • P engolahan D ata. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut. Laporan Perencanaan Umum. Laporan Pra-Studi Kelayakan. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut. Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. termasuk tahun anggarannya. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah).laporan lain yang relevan. Laporan .kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. E. • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart. seperti : a. dsb. • P engum pulan D ata. • A nalisa Laboratorium . d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN.7. • P enyusunan Laporan. Disamping itu. APBD atau Bantuan Luar Negeri. c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan . perjalanan dinas.2. peralatan dan material. b. • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa.7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. c. secara singkat dan jelas. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi.

1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan.Ringkasan Eksekutif. b. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir). Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya. 5. setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis.5. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait. dan tahun pembuatan / penerbitannya.5. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry.Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a. .3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa. .7. jadual studi ANDAL. Peta lokasi proyek secara makro.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis. terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa. Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan.Laporan ANDAL. E. Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e. penyusun / penerbit. Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). .Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL.2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan. Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 .5 Pelaporan 5. . 5. c. ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya. d.5. yang terdiri dari : . Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan.

8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … . Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari). revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud.4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi. E. Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan.5. E.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan.

3. F. biologi. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. pengamatan dan wawancara. Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute.2. F.1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia.2. RKL/RPL F.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak.3 Penyusunan Konsep ANDAL F. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL. Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL. (a). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Bab 3 : Metode Studi. RKL dan RPL Bidang Jalan F.1. Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 . (b). karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. sosial dan kesehatan masyarakat. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan. Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP).2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai.

Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL). terutama yang langsung terkena dampak. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. 2. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F. Bab 9 : Lampiran. dan wilayah studi. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan. Bab 5 : Rona Lingkungan Awal. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .3. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 1. Bab 8 : Daftar Pustaka. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. F. Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek. 1. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak.3. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting.3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah.

metoda prakiraan dampak besar dan penting. 2. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. serta metoda perumusan RKL dan RPL. dan hasil pengamatan lapangan. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL. 4. 2. maupun hingga kegiatan berakhir. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.3. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen). Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi.3. Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No. b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. metoda analisis atau alat yang digunakan. meminimisasi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 . dan rancang bangun teknis. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3. 1. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai.4. bagan alir. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup.3. F. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.1 b) di atas. 3. Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data.1 b) di atas.

1. Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.5 Rencana Kegiatan F. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa. F.5.3. 2. F.3. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan. yaitu lokasi dan luas areal proyek. kabupaten/kota dan provinsi. 1.5. dan komponen kegiatan proyek. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan.1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut.5. kecamatan. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek.3. Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 . ekonomi dan institusi. 2.3. Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan.

Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a.5. Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup. konstruksi.3. dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi. dan pasca konstruksi. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 .2.

rute angkutan material. Pola penggunaan lahan.3. jenis peralatan yang digunakan.3. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. sosial. Tata guna lahan. Pendapatan penduduk. Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .1 Komponen Geofisik. Sedimentasi. Keberatan pemilik lahan. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk.6. Estetika lingkungan F. F.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.6. biologi. Erosi tanah.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp. F. Aliran air permukaan. yaitu komponen geofisik-kimia. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk. Aliran air tanah.6.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng.3. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat. Settlement. kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana. Perekonomian lokal.  Biota air. Keresahan masyarakat. F. Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. Kualitas air permukaan.3.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Prevalensi penyakit. volume galian dan timbunan dll).

3) Mekanisme aliran dampak.7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi.8.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 . c. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.3. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial. 2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting. Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak.3.1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar. dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.3. F. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri.  Kondisi lalu lintas. e.6.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan.  Kondisi utilitas.3. konstruksi. d. antara lain meliputi :  Kondisi jalan. F. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. b. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL).

keputusan. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai.9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak. F. Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan.3. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus. kualifikasi. f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam. F. grafik.8. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 .10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL.3.4. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup. F. d) Diagram.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola. b) Surat-surat tanda pengenal.1. F. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.3. peta.4 Penyusunan Konsep RKL F. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul.

kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu. Bab 5 : Lampiran. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia. Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan.  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 . (a). mengurangi. seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas. Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas.3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan. ekonomi dan institusi. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F.4. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. akan ditempuh cara. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah. b) Pernyataan kebijakan lingkungan. Bab 4 : Daftar Pustaka. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki. singkat dan jelas. F.4.

RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . g) Pembiayaan. misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta. sosial ekonomi ataupun institusi. berkepentingan. cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa. d) Pengelolaan lingkungan. Dinas Pengairan. uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. Dinas Kehutanan. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. f) Periode pengelolaan lingkungan. e) Lokasi pengelolaan lingkungan. uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting. jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b). uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan.4. F. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. PLN (Persero).  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak. Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup. (c). b) Tolok ukur. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.4. Bab 3 : Daftar Pustaka. F.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan. lokasi. rencana pengelolaan. maupun bagi masyarakat.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. Bab 4 : Lampiran. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F. b) Sumber dampak. Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. Contoh indikator muka air tanah.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau.5. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau.5. adalah penurunan sumur penduduk. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak. F. tolok ukur. F. sumber dampak. singkat.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau.4.5.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa. pihak-pihak yang berkepentingan. b) Uraian secara sistematis. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup.1. dll.5 Penyusunan Konsep RPL F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. tujuan pengelolaan lingkungan.

6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F.5. rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai.4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. metoda analisis). F. Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL).6. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak. pengawas. F. c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. F. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud. lokasi.5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau. kimia. Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. sumber dampak. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan.5. e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai. berkepentingan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 . atau formulir isisan yang digunakan. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. dan institusi pemantauan lingkungan. tujuan pemantauan lingkungan. d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting.

2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F.6.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 . F.6.1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan.6. F. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya.6. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut.6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan.4.6. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas.6.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.6. F.

Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal. identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. Ahli Sosial Ekonomi. 299/11/1996.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a). dan penilaian tingkat kepentingan parameter. (b).1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan.1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. G.2. 3. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial. Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak. Identifikasi dan penetapan parameter sosial. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli. 4. 2. G. penetapan batas wilayah studi. Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak.2. termasuk akses koridor. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 .2. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya. dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. G. Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial. 5. Ahli Transportasi.

 Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana. batas ekologis.3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak.  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan. batas administratif.  Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Dalam proyek jalan. lokasi basecamp. lokasi quarry. waktu dan tenaga yang tersedia).  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis. Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah. konstruksi dan operasi. G. wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen. batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA. dan borrow area (yang dikelola proyek). setiap segmen dan sub segmen. (c). dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis. kawasan pelabuhan/bandar udara.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek.  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar.2. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. dilakukan pembagian segmen. Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. batas kawasan industri. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 .  Melakukan pengamatan terhadap lokasi. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen. batas sosial. maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman).  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau.  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.  Pada tahap awal. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas. rute pengangkutan material.

Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b. Tahap konstruksi b.2. Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a). meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b). peralatan dan meterial yang digunakan (d). Tahap pra konstruksi. mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c).1. Metode kerja.  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya. Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e). Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial. Tahap pasca konstruksi. Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya. antara lain sebagai berikut: (a). mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b). meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 . Kegiatan proyek.Tahapan Pelaksanaan Proyek.

2. Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga. yakni: (a). perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua.2. dapat dilakukan dengan cara pembobotan. selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban. Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi.5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter.1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a). Melalui prinsip penghitungan yang sama. Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi. Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya. Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan. G. Skala bobot kepentingan dimaksud. dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara. yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama. tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. Pelaksanaan penilaian/pembobotan. Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung. (b). Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan. bukan pada dampak turunan.2. Pembobotan oleh Ahli (b). Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner. (c). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 .4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan. tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik. Apabila dipilih cara ini.1 Kerangka Proses G. teknik penelusuran sampel. karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas. (b). Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut. G.4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a). analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. batas wilayah administratif. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian. apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut. maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan. jumlah sampel ditentukan. G. Untuk itu. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik.3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara.3.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai. dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. Karenanya. Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus. G. Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel.3.3. dan keragaman tata guna lahan. perlu dilakukan penelusuran tapak. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 . salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden. Pemilihan sampel representatif.3. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek. Dengan cara tersebut. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan.

Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. (e). metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). atau pun jenis pekerjaan. Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c). Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya. Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini. semi-permanen. 50 meter. Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang. Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. (f). Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini. dan non permanen. Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan. Muatannya berupa data hasil wawancara. (g). Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner.d. Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. dan responden dihadapkan pada pilihan opini. Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen. Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. seperti kondisi permukiman permanen. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek. sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban.

Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial. Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri. berupa identitas responden. Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. G.3.4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan. Kuesioner tersebut memuat data pokok. untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan. Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G. (c). Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara.1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 . serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam. tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden). dan persepsi terhadap kondisi eksisting. (b). Selanjutnya. serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor. kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek. Pada prinsipnya. seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA). responden diminta untuk menilai kondisi eksisting. atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri. Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. persepsi tingkat kepentingan parameter. karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian.5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas.4.

2. Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek). mobilisasi dan pembebasan lahan. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 . Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. baik berupa baku mutu. peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. antara lain : 1. (c). Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi. Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur. Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). Untuk kepentingan analisis ini. Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali.4.2 Komponen Analisis (a). baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum). 3.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter. (b). BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan.

Karena itu. Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw.5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw). Jadi.5. Pada komponen sosial. Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi.1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum. DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS). G. (d). konstruksi. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur. Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden. terdapat 2 (dua) terminologi kunci.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 . RDDL = SDD/DDLSaw G. Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden.2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat. Pada komponen lain. Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e). Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL). intensitas dampak sulit diukur secara langsung. Pada proses analisis. Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana.5. yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak. RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak. dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi). Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan. yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan. dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia.

apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya. maupun pasca konstruksi. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan. apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri. digunakan Keputusan Ketua Bappedal No. Kep-056/1994. artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). baik pada saat pra-konstruksi. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. yakni :  Dampak dikatakan kecil. Demikian pula dengan populasi. Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan. Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama. (c).  Dampak dikatakan besar. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak. Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . maka suatu dampak tergolong kategori penting. mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). masa konstruksi. maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak. apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. Selanjutnya. Secara konsep. G. Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan. Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan.5.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. Mitigasi dilaksanakan secara teknologi. dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. Dengan demikian. Untuk memilih prioritas mitigasi. Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki. sistem atau pun penggabungan dari keduanya. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 . Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. (d).

Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A. terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat.CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat. terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum .

Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi . kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd.  Keluhan thd.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.

rumah sakit. tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan . tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman. sekolah.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon.

.

2.1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi.2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H. rangkuman hasil konsultasi mayarakat. regional maupun nasional. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti. peta lokasi proyek.2. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 . peta batas wilayah studi. dsb. dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). peta topografi. peta tata guna lahan. H.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya.1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL. H.2. antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).2.2 Penilaian Isi Dokumen H. dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek. peta geologi. c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang.

Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia.  Tahap pasca konstruksi. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan.2. batas ekologis.4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat.2. b) c) d) H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur.2. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya. misalnya galian dan timbunan tanah. dll. biologi dan sosial-ekonomi dan budaya.  Data sekunder: jenis dan sumber data. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor). Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting.2.3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi. batas sosial maupun batas administrasi.  Tahap konstruksi. misalnya pengadaan tanah. meliputi:  Tahap pra konstruksi. analog. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir.2. 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN .2. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H. yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak. Penggunaan model matematis. matrik. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting. Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek.

Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL. yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab. daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya). RPL. swasta. Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL. d) e) H.2.  Sumber dana (APBN.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL.  Berpengalaman memimpin tim studi. hasil konsultasi dengan instansi terkait.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah. b) metode-metode yang digunakan. APBD.2. c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan. RKL dan RPL. hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok.  Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi. dsb). H. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi.5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan. keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah. atau bantuan luar negeri).2.3.1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi. H.6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 .2.

antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan. dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan. dan pasca konstruksi). H. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi.2.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting.3. harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis.1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. atau profesioanal judgement.  baku mutu lingkungan.3. jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 . wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai.2. b) H.3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi.  dll. analog.3.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.2 Penilaian Isi Dokumen H. konstruksi. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL.2.3.  pertanahan.  data sekunder: jenis dan sumber data.

2.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi. rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah. konstruksi dan pasca konstruksi). seperti peta tata ruang. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan. e) H.  Jumlah. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area). Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek. alinyemen jalan.2. peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis. Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek.3. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya. biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. atau adanya kawasan yang dilindungi. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya. H.3. b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah. wilayah studi. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja. c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta. d) Data teknis jalan yang akan dibangun.4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen.  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan. lokasi quarry. serta lokasi pengambilan.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek.

3. seperti pergeseran tata nilai.3. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif.2. selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial. (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri. H.2. (2). Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir. (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial.7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku. c) d) H.8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.3. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting. yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris.6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi. agar dikaji secara deskriptif analitis. dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.2. (3) dan (4) yang telah diuraikan.  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement. Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala. (5) Dampak penting pada butir (1).  Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog.

Daftar biodata tim penyusun AMDAL. H. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL. Pendekatan institusi.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H.  Betujuan untuk menanggulangi. Cara-cara dan hasil perhitungan. Metode-metode yang dugunakan. Pendekatan sosial-ekonomi. pendapat dan tanggapan masyarakat.4.  Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan. Saran. H. hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan.2. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL.3. Pendekatan estetika.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL. H.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 .4. Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak. yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek.

keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL.4. metode dan teknik pengelolaan lingkungan.5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP). tolok ukur / parameter dampak. sumber dampak. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL. H. tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. dan  pelaporan. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan.4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting. misalnya konsultasi masyarakat.5.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. lokasi pengelolaan lingkungan. H.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak.4.3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design).4. pembiayaan dan sumber biaya. kriteria desain.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H.4. H. H. periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 .

 Pengawasan pelaksanaan RPL.5. kamera video. H.5. misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan.5. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 .  inspeksi mendadak. Metode dan teknik pemantauan lingkungan.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium. f) g) h) H.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ).3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. dsb). Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan.  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera. Lokasi pemantauan lingkungan.  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan.5. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL.2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat. H.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL. Tolok ukur / parameter dampak. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL.  wawancara. H. Sumber dampak. dan  Pelaporan.

PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 .6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi.

lebar rencana damija. mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani. Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul. I. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini.2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I. Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.1. Untuk proyek pembangunan jalan baru. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi.1. Untuk proyek peningkatan jalan.2.1.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi. sesuai dengan laporan hasil penyaringan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah.2.1. I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 . tujuan pembangunan / peningkatan jalan. panjang ruas jalan.1 I. sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek.

1. jembatan penyeberangan trotoar.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I.2. I. Kecepatan rata-rata (rencana). meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman. halte bus.1. dsb. lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran.2 I.1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait.1. Panjang dan lebar jembatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 .2.2. I. gambar profil melintang dan memanjang.1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan. pot / bak tanaman. meliputi:           panjang jalan. fasilitas penerangan jalan. LHR rata-rata (rencana). Konstruksi jembatan.2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan.

dll yang dibutuhkan. gorong-gorong. antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak.2. saluran irigasi.2.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah. misalnya tahap studi kelayakan. status pemilikannya. excavator.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon. I. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer. jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan). serta jenis penggunaannya saat ini. Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain.2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi.4. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan. 2.4.2.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek. truk. pekerjaan jembatan.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya.2. Apabila diperlukan pengadaan tanah. barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan.2. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja.1. I. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 . I. Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi. pekerjaan tanah (galian / timbunan). perkerasan dll. I.4 I. yang perlu direlokasi (bila ada).

2. Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai. khusus untuk penggantian jembatan) I. dsb.4.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman. Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya. dsb. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. abutement. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. batu. aspal. Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course). Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan. agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya. Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping). dan cara pengelolaan limbah. drainase. serta galian dan timbunan tanah. Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong. Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. piers.

Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 . Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. Nitrogen oksida (NO).2. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini. sebelum penyerahan pekerjaan.1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO). Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat.5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut. I. karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek. atau daerah pantai. Jadual pelaksanaan konstruksi I. I. perbukitan. b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat. Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan.3.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun. bergelombang. dataran tinggi. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada). b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan. Sebagai contoh. pegunungan.2.3 I. apakah daerahnya merupakan dataran rendah. pemeliharaan rambu lalu lintas. serta partikulat debu. hidrocarbon (CH). Jika ada. Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek.

Areal binaan seperti pemukiman. Komponen biologi I. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya.3. taman. f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata. d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. danau. I.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan. Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir. Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor). Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit. saluran irigasi. sekolah.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan.3. e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. dsb. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala. Bentang alam yang bersifat khas. perkantoran. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . tempat ibadat serta pemukiman padat.

pasar. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan. pipa gas. d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan. volume lalu lintas kendaraan bermotor. Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan. sarana ibadah. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek. gorong-gorong. telepon. serta waktu tempuh pengguna jalan. dsb. pertokoan. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. I. dsb..  Jaringan listrik.3. I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya.  Sekolah. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 . persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan.3. terutama penduduk yang akan terkena dampak.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu. dan sebutkan faktor penyebabnya. agar dijelaskan kondisi jalan saat studi. rambu-rambu lalu lintas. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase.5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan.

Tahap pasca konstruksi I.4 I.4.  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek. Penurunan populasi vegetasi. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek.4. Gangguan kesehatan masyarakat.4. Kecelakaan lalu lintas. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 .1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas. Gangguan aliran permukaan. I. Perubahan tata guna lahan. Kerusakan jalan akibat transportasi material. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor). Keresahan masyarakat dan konflik sosial. kehilangan tempat usaha.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan. I.5 I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. Kecelakaan lalu lintas. Gangguan kesehatan masyarakat.5. Penurunan estetika lingkungan. Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat.

Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati. dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi.5. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan.5. misalnya selama satu bulan. nama desa dan kecamatan.5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan.000 m3. faktor lingkungan yang akan dipantau. serta petunjuk lainnya.5. berikan penjelasan secara jelas dan tepat. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif. tolok ukur dampak. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya. dan periode pemantauan.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. misalnya galian tanah 300. misalnya kerusakan badan jalan. misalnya pada km berapa. I. lokasi pemantauan.6. Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya. keresahan masyarakat atau pencemaran udara.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi. Bila perlu. I. I.6 I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 . I.5. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan.

6. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek.2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak.6. I. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat. kecamatan. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan. misalnya pada km berapa.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau. nama desa. I. I.: a) b) c) d) Sunber dampak.3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau.6.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan .. konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi.6. Upaya pemantauan Sumber dampak I. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 . Jenis dampak. Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan. Indikator dampak. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. mulai tahap pra-konstruksi. Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb. demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau.

8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai). disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan. I. Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu. I. misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait.9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 .7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan.2).Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup. I. Di samping itu.1 dan Tabel 9.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.

PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 . periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang. Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2. apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. ANDAL. Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia. Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. b) Peninjauan lapangan. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J. RKL dan RPL.2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. J. c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain. yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan. Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak. Bila perlu. Rencana Kegiatan • Bab II. Bab I. Bab II. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL. Lampiran. • Bab III. Bab III. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan. terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL. Pendahuluan. lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . Daftar Pustaka.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan.

dan penerima laporan. Periode pengelolaan lingkungan hidup. meliputi pelaksana. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. atau mengendalikan dampak negatif. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. meminimisasi. Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. c) Pendekatan institusi. contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. Sumber dampak yang perlu ditangani. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). Institusi pengelolaan lingkungan hidup. pengawas. yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak. Pengelolaan lingkungan hidup. misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat. b) Pendekatan sosial ekonomi. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. bertujuan untuk menanggulangi. d) Pendekatan estetika. bersifat meningkatkan dampak positif. dan Layak ekonomi. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. a) Pendekatan teknologi. misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia. pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat. Tolok ukur dampak. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 .

yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1). Di depan sekolah pada Km 3 + 210. Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . dan upah).1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki. Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan). rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu. untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. DLLAJ J. Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air. (panjang 15 m). peralatan.4 K.4. Bapedalda. Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi).Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor. agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 . atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2). lokasi jembatan atau gorong-gorong. • Penataan lansekap di lokasi tertentu. di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam. dsb. untuk mengatasi gangguan visual (estetika).  Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3). tikungan tajam. tepi timbunan badan jalan yang tinggi.

5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. J.2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15. Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500.4. sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN . biologi dan sosial. Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas. polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong).000). K. Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia. antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air.

kecelakaan lalu lintas). .2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. J. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. Pengoperasian base camp (penanganan limbah). Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora). baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3). Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek). kerusakan badan jalan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 .1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak. J. dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. sesuai dengan fungsinya. Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak. cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas). hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas). setelah pekerjaan konstruksi selesai. Pengamanan / reklamasi bekas quarry. Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi. borrow area dan disposal area. sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. debu.  Apa yang harus dilaksanakan.6. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah.6 J.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas. Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk. kemacetan lalu lintas.6. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi.

Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting.  Siapa yang bertanggungjawab. akibat pekerjaan galian tanah.  Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya.. kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material. dll. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 . erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah. J. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase. Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan. kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik. jaringan telepon/ listrik.6. effluen limbah cair dari base camp. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek.3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan.

dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya. 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah. termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. Kontraktor harus berusaha memilih rute. kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. benda berharga atau kuno. 5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Pada saat penyelesaian pekerjaan. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. sisa bahan. kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi. Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan. 4) Semua benda peninggalan purbakala. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan. sampah dan segala macam pekerjaan sementara. mata uang.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . 2) Selama pekerjaan mobilisasi. dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon. lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. Lansekap jalan yang baik. Lansekap pantai.1). secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. underpass. semak. serta sepanjang koridor jalan. jembatan.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . Di daerah perkotaan. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan.1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung. trotoar. yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari. Lansekap jalan. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan. dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan. stimulasi dan penyegaran. perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K. Gambar 1. overpass. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia. subway dan simpang susun. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. Lansekap pedesaan. Lansekap perkotaaan. ekologis dan visual. Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan.

demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat. seperti hutan.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya. K.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota. Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut. Di daerah alami. Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap.2 Gambaran umum lansekap jalan K. berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. kondisi tanah. b. berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun.2. Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam. gedung. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a. c. dan topografi. fauna. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual. Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan. hidrologi. perkotaan dan perdesaan di Indonesia. termasuk modifikasi lingkungan alami. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya.

Jalan kota penting bagi kita.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan. pengendara motor dan / atau pejalan kaki.  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap. nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan. serta meningkatkan peluang untuk pemandangan.  Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam. seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan. dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual. Lanseap jalan kota penting dari segi visual. serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. macet atau berhenti. penumpang kendaraan umum. warung atau kaki lima. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil. dan gas. termasuk listrik (PLN). air (PAM).  Dalam beberapa keadaan. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi. Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita. umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan. Jalan kota menyediakan jalur utilitas. saat kita berkeliling kota.2. telepon. Dalam proses perencanaan jalan kota.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim. khususnya jika lalu lintas bergerak lambat.        PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 . Untuk mencapai hasil terbaik.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi. K.2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota.

Pergerakan pejalan kaki. lingkungan.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan. kolektor dan lokal. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 . warung. provinsi. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan. lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan.2.  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki.3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut. d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial .2. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan. keindahan. kabupaten / kota.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi.  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut. K.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan. dan arteri. sosial.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan. c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3. Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon. Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4. perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 .

perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m. Pembatas Pandang  Tanaman pohon. Pemecah Angin  Tanaman pohon.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6.  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 .

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8.5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 . Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.

dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500. LK. khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara).000.1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan.000 atau 1 : 5.2.1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan. Penyusunan dokumen RK-PTPKP. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama.000). Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat.1.000 dan data status kepemilikannya. Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan. Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L.1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah. Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan.2. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED). Disamping itu. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan.000 atau 1 : 2. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1.2 L. Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. L. data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis. Peta persil tanah skala 1 : 1. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali.000 atau 1 : 5.

a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah.1. meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah.2. e) L. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan. Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi. status hak dan jenis penggunaannya. kategori. dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya. maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali. kategori. pemilik. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek. Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada. Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah.2. Jumlah dan dimensi/ukuran. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara. atau Proyek Pembebasan Tanah. pemilik. Jumlah dan dimensi/ukuran. nama pemilik.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 . Koordinasi/Konsultasi L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan.

Dinas Perumahan. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. dll. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP). perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. Instansi terkait lainnya. prosedur pengadaan tanah. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah. meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya. pemukiman kembali dan pembinaan. Pemda dan instansi terkait tersebut. pendidikan. Kantor K elurahan. Kebijakan pengadaan tanah. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). status penguasaan dan pola penggunaan tanah. pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Kantor Kecamatan. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah. Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU.  Struktur penduduk. pendapatan dan pekerjaan. kesiapan program. L. meliputi :  Jumlah PTP. Sarana dan prasarana umum yang tersedia.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan.3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. Kepemilikan.2. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 . termasuk ganti rugi. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya. dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah.

Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia. Persepsi PTP terhadap proyek. orang yang berhak). Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset.3 L.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP. pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . pola penguasaan dan penggunaan lahan. Komposisi demografi dan sosial budaya. L.3. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya. Menetapkan tanggal pendataan PTP.3. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek.3. survai sosial ekonomi. Jaringan sosial dan organisasi sosial. Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia. Reaksi terhadap pemukim baru.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. dan survai lokasi pemukiman kembali. Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. Jaringan sosial dan organisasi sosial.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP.2. keluarga. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya. Organisasi dan kebutuhan masyarakat. Pelaksanaan Pengumpulan Data L. L. Kepemilikan. Sistem dan perilaku sosial budaya. luas tanah. kerugian yang layak diganti rugi. meliputi :           Karakteristik lokasi. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner.

dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. penyuluh KB.1. petugas sensus dari kantor BPS. Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota).3.  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0). survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan). yakni : survai lahan. penguasaan dan penggunaan tanah. serta dari wakilwakil PTP. dan survai inventarisasi.2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung.2. serta tokoh masyarakat. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner. kondisi topografi. Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 .2. Kelurahan. a. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan.000). Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama. b) c) L. L. a. ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota). Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan).2.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan. dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan. serta kepemilikan dan status penguasaan lahan.3. penyelidikan riwayat. Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. dilakukan pendataan persil tanah.3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. tokoh partai politik. pengukuran. Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1.  Sebelum pengukuran situasi. RW/RT setempat. pengamatan (penaksiran).  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata. RW/RT. dan (ii) survai sosial ekonomi.

prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat.  jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu. Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan. kesehatan. (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci.  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan). penyuluh KB. serta pendidikan.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga. d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek. a.  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga. Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 .3. jaringan air bersih. dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian. L. b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi. pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan.  prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah.  H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal). staf Dinas Sosial kab/kota. Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan. peribadatan.4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan.  jumlah anak sekolah yang harus pindah. fasilitas pendidikan.

n) Terganggunya kegiatan pendidikan. perencanaan pemukiman kembali. Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. jenis dampak/kerugian. pasar. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. telepon. bangsal. gas. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek. olah raga. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal. air bersih PDAM.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. bangunan MCK. Tingkat dan besaran ganti kerugian. dan jumlah PTP. air bersih. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. telepon. dll). terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian. Pilihan bentuk ganti kerugian.6. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum. termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 . simbol atau tempat keramat lainnya. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan. L. fasilitas peribadatan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian. pelayanan kesehatan.6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul.

Tanaman. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 . pengontrak/sewa (tanah dan bangunan). Kriteria tanah. Tanah ulayat.2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No. yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah.1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah. baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat. nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial). Tanah wakaf. L.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK).3. antara lain meliputi :         b) Tanah hak. o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).  Aset sosial-budaya lainnya. saling membantu pada saat kesulitan. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. sebagai berikut :  Tanah perumahan. maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi.6. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.6. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi. Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L. Tanah Negara. (misalnya. antara lain: anak (murid) sekolah. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. gotong royong.6. o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0.  Lahan usaha pertanian. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Tanah yang dikuasai tanpa alas hak. Bangunan.  Keterikatan sosial dengan lokasi asal.

 Sudah berakhir dinilai 60 %.  Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %. Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi.  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli. (c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah. Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 . Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya. dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak). jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.  SK Bupati/Walikota. Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %.  Sudah berakhir dinilai 60 %.  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan. dengan ketentuan sebagai berikut : (a). maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik.  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %.  Belum bersetifikat dinilai 90 %. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah.  Aspirasi warga.  Harga sejenis.  Harga pasar.  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi. kondisi kebun dan produktivitas tanaman. Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %.

Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). 48 tahun 1994. berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB). dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). tanpa memperhitungkan depresiasi. b. Selanjutnya. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya. 10 .  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %.  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya. c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. (e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %. Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a. b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut.

dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi. berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan.6.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 . a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan. dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian. dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan. dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut.  Aspirasi warga L. pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan). kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan.3. Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud. penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak. Selanjutnya. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). manfaat/kepentingan.  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya.  Bantuan biaya pindah yang layak.

diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha.  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK.  Bantuan pindah. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0.  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km.5 Km.  Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali. khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 . Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan. dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan. yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya).  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini. diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. Dampak ini akan timbul. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan. selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan.  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK. dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan.  Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini.

Pemilihan/penentuan lokasi. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan.6. c) Tanaman. Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya. Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . harus disiapkan paket program persiapan sosiaK. mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah. b) Bangunan. dan sebagainya. Menentukan kategori pemukiman kembali. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi. Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan). dan apabila diperlukan. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Bangunan pengganti. e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat. kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L.1 Berdasarkan Keppres RI No. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. Tanah pengganti. Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya.7. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. L. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan.4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah.

Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4.7. sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya. dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2.12. Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L. kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK).25 Ha. maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14. Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 . dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB). Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha. Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah).12.2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK).

langkah pemulihan pendapatan. struktur masyarakat. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. PTP adalah penduduk asli atau rentan. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. Ganti rugi dengan nilai penggantian. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. misalnya yang paling miskin. langkah pemulihan taraf hiduK. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. Penggantian kalau bisa. Ganti rugi dengan nilai penggantian. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. tempat. masyarakat terpencil. struktur masyarakat. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. masyarakat terpencil. dan penggembala. pemulihan pendapatan. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. langkah pemulihan taraf hiduK. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan. tempat. Penggantian kalau bisa. misalnya yang paling miskin. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 . pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan. penggembala.

budaya dan ekonomi.3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan). meskipun jumlah PTP relatif banyak. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. Namun demikian. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik. c). melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi. mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. (ii) Relokasi setempat. dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan . (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun).7.3. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali.1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi). khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya. kepadatan penduduk rendah. Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri. Relokasi Mandiri. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek. Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit. harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 . B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa.7. penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi. Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. L. pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya. Khusus untuk daerah perkotaan. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. a).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. Relokasi Setempat. Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. b). PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. sosial.

Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan. a). b). 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada. fasilitas umum). sambungan listrik.7. Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. serta harganya terjangkau (misalnya. 20 tahun). air bersih. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan. sambungan listrik.3.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan. Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya. saluran drainase. jalan. dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan. Jika PTP yang terpindahkan sedikit. (ii) Rumah susun. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. kepadatan penduduk rendah. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru. perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). jalan. baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. L. Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan.7.2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK. (iii) Kaveling siap bangun (KSB). Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK). Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”. Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru. Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih. c). fasilitas KPR-BTN). perumahan dibangun di lokasi baru. meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi. fasilitas KPR) L. fasilitas kredit kepemilikan rumah). fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya.4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. antara lain : (i) Perumahan.

prasarana sosial. L. peribadatan. dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi. seperti fasilitas pendidikan. Perancangan struktur permukiman. tempat ibadah.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat. daya tampung lokasi/ kawasan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini. atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya. (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan. budaya dan ekonomi).. fasilitas pendidikan. Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama.7. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk. pasar. sosial. (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik.  Sambungan listrik (dan komunikasi).  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat.5 Perancangan Permukiman. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 .  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). olah raga. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai. Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi. komposisi penduduk). harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP. dan pusat perekonomian). (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan. seperti :  Penyediaan air bersih. (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian.  Fasilitas umum. serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK). (b) Ketersediaan lahan. luas dan bentuk lahan.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat. penggunaan sumber daya milik umum. tempat usaha. dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan.

dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah. b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. pendapatan. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan.  Bantuan pembangunan rumah. orang-orang cacat. kelompok paling miskin). keterampilan. bantuan pindahan. umur. khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin. pengusaha. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . pendidikan. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin. pilihan). yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP.  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha. L. preferensi. Kemudahan transportasi angkutan umum. khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. tunjangan biaya hidup. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi.  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti. serta analisis kelayakan dan finansiaK. yakni PTP yang terpindahkan. preferensi. mata pencaharian. pendidikan. besarnya keluarga.8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak. Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. dan PTP yang tergolong kelompok rentan. tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya. bantuan pendidikan anak sekolah. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). kaum perempuan. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. keterampilan. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. mata pencaharian. besarnya keluarga. kelompok usia lanjut. umur. pendapatan. bangunan. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek.  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. pilihan). Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah.

1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis. Strategi pembinaan jangka panjang . bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya. pekerjaan. frekuensi.9. Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya. serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali. mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai. instansi pelaksana. dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan. regional atau nasionaK.9 L. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan.  Paket rehabilitasi lingkungan. pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan. Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 . L. penyiapan lahan pengganti.

dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini. d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan. Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat. khususnya pada lokasi bersangkutan. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Rapat pertemuan dengan masyarakat. e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta bentuk dan nilai ganti kerugian. c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP. Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive). jenis aset terkena proyek. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi. khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 .Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol.

dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). triwulan. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 . Kemudian. Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. termasuk pengumpulan dan analisis data.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Persyaratan personil pelaksana. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. tahunan dan laporan akhir kegiatan. penyusunan laporan. b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. koordinasi dengan instansi terkait. mingguan/dwi mingguan. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. Namun demikian. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan. bulanan. Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. pengendalian. pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. verifikasi. pemukiman kembali dan pembinaan. khususnya dalam rangka sinkronisasi program. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan.

perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan.. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Pemulihan taraf hidup. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. serta rencana untuk triwulan berikutnya. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan. L. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan. Efektivitas perencanaan. Tingkat kepuasan PTP.9. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. wawancara bebas dengan renponden kunci. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. realisasi penyerapan dan alokasi anggaran. antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian. dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan. rapat/pertemuan dengan PTP). dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran.

dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah. Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. kerangka pengambilan sampel. sosial ekonomi/koperasi. Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. Metodologi secara rinci. dengan mengacu pada RKPTPKP. pemukiman kembali dan pembinaan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali. Sumber daya yang dibutuhkan. Partisipasi stakeholder primer. konsultan. dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini). universitas. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). pemukiman kembali dan pembinaan. pertanahan. maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. Persyaratan pelaporan. komparasi dan analisis. pengendalian mutu. updating. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. atau LSM. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. Menilai efisiensi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang. khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan. Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. efektivitas. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). Kerangka waktu.

pemukiman kembali. Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi. L. organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan. dan monitoring dan evaluasi. Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi. pengadaan tanah. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP).10. Set-up kelembagaan. pembinaan. Penyiapan program dan anggaran. Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi.10. Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi.9.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L. L.10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan.5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan).3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.10.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi.10. L.10. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 . L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah. Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah.

Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai. dan biaya administrasi. serta biaya administrasi. jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi. 11.11.memulai usaha baru). serta sarana dan prasarana). L. kesehatan. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . monitoring dan evaluasi. termasuk biaya untuk ganti rugi. L. c) Bantuan biaya pindah. pelatihan. koperasi. Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah. Secara garis besar. Inventarisasi dan sensus PTP.11.11.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. usaha kecil/rumah tangga). e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah. biaya pemukiman kembali. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat).5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan. L. fasilitas kredit murah. Paket peningkatan kualitas lingkungan. beserta aset lain yang ada di atasnya).4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti. biaya pembinaan dan rehabilitasi.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah. pembinaan.2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah. L. pendidikan). pemukiman kembali. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa.11.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan. L. L. pembangunan perumahan. Sertifikasi tanah. Bantuan pengembangan (seperti. biaya pengadaan tanah.

Mekanisme koordinasi. Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait). b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5). e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8). f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9).12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan. c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6). Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7). mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4).1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan. Kerangka kebijakan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . 26/1985 Bab I Pasal 1. Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan.12. Berdasarkan PP No.

sub tim sosialisasi dan pembinaan. cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim). Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota). Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 . Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27). Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. Jasa Marga Persero). dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. 1/1994 (Bagian Keempat. sub tim perencanaan/penyiapan program. sub tim implementasi dan pengendalian). 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No. Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. telah diatur dalam Keppres RI No. 55/1993 (Bab III.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP.

12. Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait. seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 . jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. Persyaratan personil pelaksana.4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. dan kelompok perwakilan PTP. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. Panitia Pengadaan Tanah. b) c) L. yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah. c) L. Kerangka koordinasi eksternal. khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. Tokoh Masyarakat.12. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. antara lain jumlah PTP. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus. Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi. Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas. pembinaan kelompok rentan. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. misalnya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). pemukiman kembali. jumlah dan lingkup pekerjaan.pemantauan internal. baik secara vertikal maupun horisontaK. perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan. BPD (Badan Perwakilan Desa). Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah.

Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali. e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana.12. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). antara lain: a) b) c) studi banding. hukum. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi. serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis. L. i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek.5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. ekonomi. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. bantuan teknis. dan kesejahteraan sosiaK. m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 .6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur). pelatihan dan lokakarya. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali. teknik lingkungan. sosiologi. L.

pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP. n) o) L. serta pemantauan eksternal dan evaluasi. Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah. Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali).13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”. serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali.12. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal. pemukiman kembali dan pembinaan. termasuk pembiayaan. Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. termasuk definisi proyek. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek. serta rencana pendanaannya.7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali. khususnya yang terpindahkan. pemukiman kembali dan pembinaan. L. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 . Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup.

. 4).. BPN dan dari sumber lainnya 2). 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.. (6) .. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ... Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. .Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. khususnya areal sensitive … . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. .… .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.

8). 9)....Ka Bapedal No... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan...(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ..… . (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ... Dikbud. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .. . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. (10) 7). Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai....08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . Sosial) . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . (12) ....(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .

Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. RKL dan RPL 3). (9) .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6)..(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ...... (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen ..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . 2).(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

(8) ....: median... lansekap … … … . RKL dan RPL pada perenc. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.teknis.....Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. RKL dan RPL … .(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.: penanganan utilitas yang terkena....... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain...

.

(5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . peran dan fungsi kota dll. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . jenis penggunaan dan kepemilikan).… . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. mis. kapasitas jalan yang dibutuhkan.. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. 4). kapasitas produksi..

... ekonomik... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … . 5)..(6) .. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan . (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing..... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih....... 4).. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)..(8) ....Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)........ status kepemilikan dan kesediaan melepas....

(11) Menetapkan Rute Terpilih .. Hasil Pra Kelayakan 2)..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).5).4). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. (7) Memperkirakan dampak sosial … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi..(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . ekonomis dan lingkungan. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.Rute..(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. Terhadap pengadaan tanah … . (12) . 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . dll.. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)..

tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. … . Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.kem bali.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … ..... Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . rehabilitasi pem uk. Termasuk rencana kerja. 6).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . masa tinggal dll. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).kem bali … … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. prakiraan nilai kekayaan. pelepasan hak. Lokasi di Peta. dll..… … … . 3). pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. luasan. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .

7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). khususnya panitia pengadaan tanah … … .. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)...T .… .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).. 13). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk...Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (2) Berpartisipasi dalam musy..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .P … … . (4) KETERANGAN 1).. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. & menyepakati dlm mufakat khususnya P ..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .

6)..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (5) Membantu sesuai keterkaitannya. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 4). 5).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) ...

2). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … .. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. 6). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 7).. … 7) 3).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . (8) . 4). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .

pelatihan untuk alih profesi … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . adat istiadat..Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .. nilai kearifan lokal.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. tata ruang..… . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . LA R A P … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

.

3). Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . kapasitas produksi. (6) ...Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … ... terasing… . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy... Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peran dan fungsi kota dll. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan .… . kapasitas jalan yang dibutuhkan. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).. .… … . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.

sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ....... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3).. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... 4).. terasing.....(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ....... ekonomi... 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial.....(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing. budaya . … … ..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.... (8) ..... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). 5). (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . ekonomik..... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing . . terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .

. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ....4). ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy...... Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. terasing … .(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).... terasing. terasing. ....... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy...5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis...

(11) ... Termasuk rencana kerja.. kepemimpinan.... Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy.. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)... Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). Renc.. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.terasing tsb.. pembagian tugas 3).... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6).... (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan..... (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy.....… … … ... terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. sistem dan nilai hak adat . T indak … .. terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

.(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … . 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ... Termasuk LSM. … … ... perbaikan permukiman tradisional...... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)....... rehabilitasi konservasi situs dll..(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ...… .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... lembaga adat ....Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing....... 4)..(7) ..... 5).... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). 3).. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan......(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ... dll..

Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . (11) 8). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . 6).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg. 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … ..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (6) 3)... 5). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .... 4). terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(12) .

7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. 2). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). budaya dan kelembagaan.(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor. Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .. penanganan masy .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..... 5)... Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.... Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME). 4). Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring.terasing termasuk rehabilitasi … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . 6)... sosialekonomi.(8) .

(6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.… . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy.. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. penanganan masy.(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. tata ruang nilai kearifan lokal. terasing … … ... terasing … . 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … .. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing yang lebih baik .

.

Undang-undang No. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. termasuk manusia dan perilakunya. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . Undang-undang No. Khusus yang menyangkut kebijakan publik. Peraturan Pemerintah No. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. Peraturan Pemerintah No. Undang-undang No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. tertulis dan tidak tertulis. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. 55/1993. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. Undang-undang No. keadaan dan makhluk hidup.

299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL. 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 . 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 4) Undang-undang No. 188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 55/1993. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. Kep. 18) Keputusan Menteri LH No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 5) Peraturan Pemerintah No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No.

23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. dan jalan lokal.1 Undang . Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati. Perangkat yang bersifat preventif.2. daerah milik jalan. yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP.2 Undang-undang No. yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif.2. yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. permukiman penataan ruang dan sebagainya. jalan kolektor. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa.3 Undang-undang No. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. wajib memiliki AMDAL. Perangkat yang bersifat proaktif. memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan. berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. pertambangan. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. P. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup.2. dan energi.2. P. P. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10. kehutanan.

kawasan lindung. tata ruang. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga.     P.3.2. propinsi dan kab/kota. dan kawasan tertentu. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. kawasan perkotaan. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda). Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. kawasan. wilayah. Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. rencana tata ruang. kawasan perdesaan. Rencana tata ruang. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 .Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor). apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM. 2. 3 P. 4. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal). kawasan budidaya. yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional. terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. penataan ruang.4 Undang-undang No. mengetahui rencana tata ruang.1 Peraturan Pemerintah PP No. Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain.

penentuan sasaran. P. 2. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan.2 Keputusan Kepala Bapedal No.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. damija dan dawasja. yaitu membahas tentang damaja. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. P.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. meliputi jalan tol dan jalan layang. perencanaan. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. pemeliharaan. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. tujuan dan fungsi KA ANDAL. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. 5. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. 4. persyaratan jalan menurut peranan. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 . 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL.4.3. yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. Jaringan jalan. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha. menyampaikan hasil rangkuman saran. 3. Keppres No.3 Keputusan Kepala Bapedal No. P. wewenang penyusunan rencana. Bagian-bagian jalan.4. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. dan pengadaan jalan.4. memberikan saran dan pendapat. Pembinaan jalan. mendokumentasikan saran. seperti hak memperoleh informasi. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No. 2. P. wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL. Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. Dokumen jalan.2 PP No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. yaitu membahas tentang peranan jalan. 4 P.

Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. ANDAL. 2. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999. keciptakaryaan. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait. jalan. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil. 5 P.1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No. RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . P.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil. RKL dan RPL P.5.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL.5. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL. Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya. sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah. kegiatan pengadaan tanah. dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Jakarta.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan. pelaksanaan konstruksi fisik. Desember 2003 i .

...... 4. D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................. 4...... Lampiran ii ...… … … ................ Dokumentasi dan pelaporan .......................... Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan .. 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .... P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ............... 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4.......4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan ... D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .....PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ........ Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......2 Kegiatan Pengadaan Tanah .................. 4....1 Penyiapan Dokumen Tender ..... … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup ..................… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ......… … … … … … … … … … … … … … … … .....

12. Lampiran 6. Lampiran 4.2. Lampiran 6. Lampiran 1. 5. Lampiran 6.1.3.1.2.4 11.1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1. 2.1.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii . Lampiran 6.3 10. Lampiran 2. 7.1. Lampiran 4. 4.2. 6.2. 8. Lampiran 6.2 9. Lampiran 4.5 Lampiran 6. Lampiran 4. 3.1.

pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana. mencakup hal-hal 1 . telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. kota atau kabupaten. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. efisien. telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. standar. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten. kriteria. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. maka Ditjen Prasarana Wilayah. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan prosedur. baik Undang-undang. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. pertumbuhan.

yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan. 2 . benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. kegiatan pengadaan tanah. Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup. tertib dan teratur.Pekerjaan Umum atau Dep. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah. serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. kesiapan pembiayaan yang memadai. serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people). and Updating of the Moduls). Kimpraswil. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training.

pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. baik di tingkat pusat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. 2) Kegiatan pengadaan tanah. Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. maupun di tingkat kota/kabupaten. 3 . serta dampakdampak yang ditimbulkan. 4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. propinsi.

27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang No. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Pemerintah No. pelaksanaan konstruksi fisik. Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Keputusan Presiden No. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. mulai dari penyiapan dokumen tender. dapat dilihat pada Lampiran 1. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No. Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. kegiatan pengadaan tanah. Peraturan Pemerintah No. 2. Undang-undang No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. Keputusan Presiden No. 4 .1. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.

17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.2. 3. 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3. 13) Keputusan Kepala Bapedal No.1. 5 . 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Istilah dan Definisi 3. 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dapat dilihat pada Lampiran 2. 12) Keputusan Menteri Kimpraswil No. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 14) Keputusan Kepala Bapedal No.

ilmu pengetahuan dan kebudayaan. 3. 3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 6 . 3.9. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.4. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.10. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. maupun politik nasional. 3.5. 3. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. ekonomi.8. 3.3. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah. 3.7. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. bangunan dan tanaman miliknya.11. 3. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun.6. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

3. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3.14. 3. 3. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan.16. yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. yang dirancang. Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan. 3. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi.15. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku. 3. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 . Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor. Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun.13.13. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi.12. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan. 3. 3.12. dibangun.11.17.

Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4.1. 4. : Bentuk Penawaran. : Gambar-Gambar. : Bentuk Jaminan. : Data Kontrak.2. Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan. a. 8 . maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan. Informasi Kualifikasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. Maksud dan Tujuan. Sistematika Dokumen Tender. Perjanjian Kontrak. harus dicantumkan dalam dokumen tender.1. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.1. yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. : Daftar Kuantitas. : Spesifikasi. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Surat Penunjukan. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang.

baik vertikal maupun horizontal. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang. maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. 2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya.3. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan.1. 9 . harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. 4. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi.

perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada). Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender. 3) Dokumen tender standar. serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan. 4. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas. 2) Pada Bab V: Spesifikasi. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini. baik untuk LCB maupun ICB. perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. termasuk biaya yang diperlukan. perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini.1. dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak. dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana.4.

maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. yang 11 . serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan. dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.1. 4.1. bangunan dan tanaman.3.2. sebagaimana tercantum dalam dokumen tender. Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan.1.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. dan nama pemilik tanah. maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup. jenis hak atas tanah.1. b) Keterangan tentang letak. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut. Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. 2) Pasal 4 Keppres No.1. dapat dilihat pada Lampiran 4.5 Workplan Kontraktor.

55 tahun 1993. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. c) Tanaman. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No. 5) Pasal 13 Keppres No. 12 . yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. b) Perencanaan ruang wilayah kota. b) Tanah pengganti. c) Pemukiman kembali.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. diberikan untuk: a) Hak atas tanah. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. 55 tahun 1993. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah. 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. 55 tahun 1993. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan. yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. 1 tahun 1994. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. b) Bangunan. 1 tahun 1994. 4) Pasal 12 Keppres No. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan.

4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. Sesuai dengan Keppres No. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. luas dan taksiran biaya. dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. sebagaimana dimaksud dalam UU No. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. dengan kriteria sebagai berikut.2. 1. 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. 1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah. 32 tahun 1979.2 Proses Pengadaan Tanah a. dilampiri dengan peta lokasi. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. 51 tahun 1960. 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. Setelah hal tersebut disetujui. Dengan peraturan yang sama. 13 55 tahun 1993. sebagaimana dimaksud dalam Keppres No. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak. Lampiran 4. rencana penggunaan tanah. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. 2. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam .

maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP. 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. dilakukan pendaftaran. 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. Tim 14 . inventarisasi dan pengukuran tanah. bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. 3) Hasil pendaftaran. Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. ganti dan rugi tanaman. inventarisasi dan pengukuran tersebut. 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. bangunan dan tanaman. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. sehingga perlu dibangun permukiman baru.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP). dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. kemudian disampaikan ke PTP. tipe bangunan. b an g u n an d an tan am an .

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru. merupakan sesuatu hal yang sangat penting. di lokasi yang ditentukan Panitia. c. maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. b. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP.2 4. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK). Uang Tunai.2.3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah. Pengadaan tanah pengganti. dapat dilihat pada Lampiran 4. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha. b. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 . Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c.2. Dalam proses pengadaan tanah. Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat. tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama. Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama. dengan cara jual beli. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah. Tanah Pengganti. dapat dikelompokkan atas: a.

Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru. bangunan atau tanaman. 4. Bentuk lain yang disepakati. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan. sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. baik untuk tanah.2. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d. Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. seperti Sistem Konsolidasi Tanah. Bentuk Kombinasi. diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama.3.2. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul. e. 16 . Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah.

yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah. 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru. c) Penyuluhan. b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. 17 . karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja. 2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. 3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat.

dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik. 2) Lokasi dan kondisi areal proyek. seperti pembangunan. perkotaan atau pedesaan. antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis.4. 3) Keputusan kerugian. berbukit. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a. 18 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. seperti di dataran rendah. 08 Tahun 2000. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan. pegunungan.1.2. Dokumen Terkait. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. daerah rawa.3. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.

b. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. topografi. seperti tanah. termasuk sumbernya. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. baik tenaga ahli. pasir dan material/komponen jembatan. lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan). base camp dan lokasi quarry. 9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja. termasuk periode pemeliharaan.3. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. hidrologi dan penggunaan tanah. 19 . 5) Dimensi. terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. dan pekerja kasar yang diperlukan. seperti iklim. kondisi sosial budaya. struktur tanah dan geologi. seperti kependudukan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek.2. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. kegiatan ekonomi masyarakat. 7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. namun bila tidak dapat dihindari. 3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. 4. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. batu. tukang. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung. volume dan besaran komponen pekerjaan utama. Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan. Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

seperti AMP. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir. b. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. shovel. traktor. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan. dozer. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan. sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. 20 . Pelaksanaan Konstruksi Fisik. 2) Mobilisasi Peralatan Berat. dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. Lokasi Proyek. yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. baik dengan cara membeli atau menyewa.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut.1. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). b. dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat.

c) Agregat penutup Burtu dan Burda. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. lapis pondasi (HRS base). di lokasi proyek. coffer dam. b) Lapis pondasi semen tanah. untuk ditangani 21 . timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. galian batu. struktur pondasi. 2) Pekerjaan Tanah. kelas B dan kelas C. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang. Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. baik berupa galian tanah biasa. sistem drainase. Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut.WC). g) Latasbusir kelas A dan kelas B. f) Lataston lapis aus (AC – WC). Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. e) Laston lapis aus (HRS . d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B. lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base).

6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. relokasi arus lalu lintas. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. sehingga lokasi proyek menjadi bersih. hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. dan pembuatan kepala tiang pondasi. Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut. penerangan jalan dan marka jalan. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton. guard rail. trotoir. serta relokasi arus lalu lintas. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. 5) Pemancangan Tiang Pancang. serta pembuatan gorong-gorong.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. rambu-rambu lalu lintas.

tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. keselamatan pemakai jalan. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area. b. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. 9) Penghijauan dan Pertamanan. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk. dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek. tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya. Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area. harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. selain gembalan rumput di media jalan. 23 . 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan.2. serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai.

Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. bengkel. untuk diambil langkah tindak lanjut. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi. atau pada dua lokasi yang terpisah. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs. 4. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati. gudang. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. maka lokasi base camp (kantor proyek.3. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. a. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher.3. dapat terletak pada satu lokasi. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 .

2. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. Persiapan Pekerjaan Konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. b. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat. sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat. 3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. baik langsung maupun tidak langsung. dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat. dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. 25 . b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal.

(2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan. a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu. b) Pencemaran kualitas air. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan.1. Lokasi Proyek. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu. dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. 2) Mobilisasi Peralatan. seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . Penyiraman secara berkala. bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. c. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air.

yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman. b) Pencemaran kualitas air. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. 2) Pekerjaan Tanah. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. 27 . (3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali. sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat. sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya.

dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. sistem drainase yang baik. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. karena penggalian tanah. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. saat kondisi berdebu. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. memasang gembalan rumput dan sebagainya. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. 28 . Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas.

Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. 7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang. dapat dikelola melalui : 29 . (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat.

c. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal. 30 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan. termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan. serta menghindari erosi lahan. dan tidak mengganggu pemakai jalan. sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. pada areal yang tidak subur.2. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. 9) Penghijauan dan Pertamanan. serta dapat memperindah estetika lingkungan. dan mempunyai ciri khas daerah. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat.

2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. Pemasangan drainase lereng yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air. f) Terganggunya kondisi flora. 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. c) Terganggunya stabilitas lereng galian. Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur). (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. Perkuatan stabilitasnya. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. dapat dikelola melalui: . dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan.

(2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum. gudang. c. a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. Pengoperasian base camp (kantor proyek. bengkel. (4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 . b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman.3. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik.4. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup. 4. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan.3. Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. dan meningkatnya air larian. kendaraan keluar masuk . 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. 4. Dokumen Terkait. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp. (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik. 4.1. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya.4. dan untuk menanggulanginya. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan.4.

dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. karena meningkatnya arus lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. PT. yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan.2. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. Pemberi Tugas. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. khususnya pada jalan tol. seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota. dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun. Jasa Marga (khusus jalan tol). 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas. 4. atau operator jalan tol lainnya. c) Pengaturan arus lalu lintas. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan. 34 .4. f) Pembuatan rest area. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat.

dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan. dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat. 4. b) M el aku kan “l aw tersebut. 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota. 4. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an . Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun. b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol). antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan.4. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan.4. dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan.3.4. Dokumen Terkait. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. 2) Pengaturan arus lalu lintas. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. biaya perjalanan. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah. 3) Harga satuan yang berlaku. pengadaan data maupun biaya perjalanan. Kegiatan Pengadaan Tanah. biaya penyuluhan a. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan.2. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali.1. baik untuk biaya personel. 2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan. Pembiayaan 5. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. b. Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. 5. Penyiapan Dokumen Tender. 3) Jenis transportasi yang dipakai. Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. biaya rapat untuk melakukan musyawarah. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait. dan sosialisasi kegiatan. 36 . sosialisasi dan kegiatan musyawarah. musyawarah dengan masyarakat. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. tidak memerlukan biaya khusus. Biaya Perjalanan. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan. Biaya Personel.

Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. 2) Jumlah peserta rapat. khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi.3. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat. 37 . biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan. pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi. 5. biaya perjalanan. bangunan dan tanaman. serta biaya administrasi lainnya. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. d. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. biaya menangani dampak yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. c. mencakup biaya pelaksanaan kegiatan. e. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak. Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel. 2) Jumlah peserta kegiatan. lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah.

3) Jenis transportasi yang dipakai. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. antara lain: 38 . didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. Biaya Personel. c. 4) Harga satuan. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan. Biaya Penanganan Dampak. Biaya Perjalanan. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. Perkiraan besarnya biaya perjalanan. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. 3) Harga satuan upah (billing rate). d. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. b. Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. baik jenis transportasi maupun perdiem allowance.

4. f. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. penjilidan. biaya perjalanan. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. 3) Pengukuran dan analisis biota air. serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. biaya untuk menangani dampak. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. 3) Harga satuan analisis sampel. yang meliputi biaya personel. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. biaya konsultasi dan koordinasi. 39 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. 2) Lokasi kegiatan. dan mempergunakan anggaran rutin. mencakup biaya rapat konsultasi. honorarium pakar yang diundang. Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan. e. Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. dan sebagainya. 5. dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait.

Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. antara lain: a. baik tingkat pusat. harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.1. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota. Koordinasi Pelaksanaan 6. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. seperti melalui proses penyusunan DUP. Pengajuan Usulan Biaya. karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya. DIP dan sebagainya. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan.5. 6. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. 40 . perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. baik vertikal maupun horizontal.

baik di tingkat pemerintah pusat. maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. propinsi atau kota/kabupaten. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Bappeda. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. baik pada kegiatan pengadaan tanah. b. 3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. provinsi atau kota/kabupaten. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. antara lain BP2D. baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan. 41 . 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. pelaksanaan konstruksi fisik. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak. 2) Melakukan penyuluhan.

2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah. 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. propinsi. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . d. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi. baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. c. pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah. standar.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi. 4) Menjabarkan norma. kabupaten/kota. 6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas. kabupaten/kota. antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. Masyarakat Masyarakat. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. pemanfaatan kabupaten/kota. 7) Melakukan dihasilkan. Bapedalda.

kabupaten/kota. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. Instansi terkait lainnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan. Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. serta masyarakat pemerhati lingkungan. Instansi Terkait. Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. kabupaten/kota. e. tokoh dan pemuka masyarakat. lembaga swadaya masyarakat. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan. kabupaten/kota. 3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul. dalam kaitannya dengan . 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi. Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. antara lain: 1) Memberi masukan. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.

2. a.3.1 2) Lampiran6.2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok. a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing. dan 6. yang mencakup kompensasi tanah.1. 6. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing. masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa. sesuai wewenang dan fungsinya. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya.2 3) Lampiran 6. bangunan dan tanaman. Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik. 6. hidup bidang jalan. program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan.3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. dimana: 1) Lampiran 6. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat. f. seperti tercantum dalam Lampiran 6. 44 . dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. : Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). Pelaksanaan Koordinasi.

terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 . Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. 5) Instansi Terkait. sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. 4) Masyarakat. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. b. Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat. agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 2) Bapedalda. 3) Bappeda. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya. dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi.

Masyarakat dan Instansi terkait lainnya. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan . a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi. 3) Bappeda. yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. 46 terasing. c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. Bapedalda. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. 2) Bapedalda. 4) Masyarakat. Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. dan upacara adat yang harus dihormati. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda.

Dokumentasi dan Pelaporan 7. sehingga mudah ditelusuri. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. 7. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak. 7. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi. Kegiatan Pengadaan Tanah. Penyiapan Dokumen Tender. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat. Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. 47 . Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. apabila ada permasalahan di kemudian hari.1. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. 5) Instansi Terkait. sesuai dengan hasil musyawarah.2. Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana.

dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. sehingga mudah ditelusuri kembali. tertib dan teratur. 2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. bila terjadi permasalahan di kemudian hari. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. dilengkapi dengan upaya pendekatan. dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut.3. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat. dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup. 48 . Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. dan atau pengendalian pencemaran udara. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat.

berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak. Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan. maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. 2. khususnya dalam penyiapan dokumen tender. kegiatan pengadaan tanah. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. 3. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi. 49 . 4. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. kuratif dan kompensatif. arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. yang memberikan petunjuk. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. tertib dan teratur. Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan. serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik. 50 .

monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. Kep. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak. pemberian kompensasi. pematangan lahan untuk konstruksi 1 .

dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 . Pasal 38. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. Pasal 9. yang menjadi bagian dari ijin. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 13. 1. 27 tahun 1999. 23 tahun 1997. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Daerah. 2. masyarakat serta pelaku pembangunan lain. 2. Uraian 1. ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. B Peraturan Pemerintah No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No. ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. Pasal 28. ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya. ayat (2) hidup.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. akibat pelaksanaan pekerjaan. akibat pelaksanaan pekerjaan. Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Umum 1. Untuk masing-masing komponen pekerjaan. Bab VII Gambar – Gambar 3 . 19. Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. 1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A. Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4. dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada). 19. akibat pelaksanaan pekerjaan. kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi.1 Keselamatan dan penanganan dampak.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa. 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No. Jika haknya telah kadaluarsa. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah. dan prasarana umum. bangunan. Jika hak pakai sampai 10 tahun. 1 tahun 1994 4 . Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan.

Lurah. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. Lurah. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Pimpro dan Pimbagpro. PMD. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. 1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. Camat / Lurah. 4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan. Camat. PMD. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. LKMD. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa. LKMD. 5 .

NGO.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali. Semua modal/asset yang terkena dampak. Camat / Lurah. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. Panitia Pembebasan Tanah. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. Camat. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. 8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak. Pimpro/ Pimbagpro. 6 . Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. Pimpro/ Pimbagpro. Semua modal/asset yang tekena dampak. 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak. BPN Propinsi. LKMD. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Camat / Lurah. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. LKMD. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Camat.

Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. - 11. 10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali. 7 . Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. misalnya kavling. Lurah/ Kepala Desa. Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. 12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi. maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali. Masyarakat penerima ganti kerugian. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur. rumah di lokasi permukiman kembali. Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik. Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank. Pimbagpro. Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati.

Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal.     kawasan/tempat pemakaman umum.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. 8 . kesenian. dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. lokasi cagar budaya. Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. Kehilangan akses ke tempat kerja. 5 Aset sosial . olahraga. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak. Terganggunya/hilangnya tempat suci. pelayanan kesehatan. 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. Terganggunya kegiatan pendidikan. Pemindahan ditempati. air PDAM. dll).budaya    Sumber : SESIM. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil. 2001 Terganggunya interaksi sosial. telepon. telepon. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal. Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon. Kehilangan lahan pekarangan perumahan. pasar. fasilitas peribadatan. Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. bangsal. simbol atau tempat keramat lainnya. bangunan MCK. gas). Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. air bersih. Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya.

.....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ...(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ..BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing........... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ... rehabilitasi konservasi situs dll........ Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). dll...... 3). Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.. 4). perbaikan permukiman tradisional.....(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..... Termasuk LSM.… .... 5). lembaga adat ...(7) .. (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .

Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . terasing … … .. 6).. 5). 4).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. (6) 3).. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.(12) .

.

.. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan.(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … .. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. dll......(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .. PDAM.(16) Melakukan monitoring . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . termasuk keberadaan para pekerja . (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan. kegiatan konstruksi . kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. dengan PLN.(6) Melakukan monitoring .. ekonomi masy.. (20) .BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi .(bila ada) … … .(6) Menyusun laporan pelaks.(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training. pemberian fasilitas.. tentang tujuan dan cara pemberdayaan . (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada). Melakukan konsultasi renc.(17) M elakukan m onito ring… .(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada).(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … .. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.

l.. (8) Memberi masukan.(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks... Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL . LARAP dan rehabilitasi … . dll.... pengembangan lahan sesuai tata ruang........ ( 14) ... hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan.. (9) Menyusun laporan monitoring..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring. badan jalan untuk berdagang. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ..: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima)..BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan...(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.. penanganan masy. termasuk aspek warisan budaya . bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . (terasing) khususnya yang terkena dampak..(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. adanya penyerobotan lahan damija. (12) Melakukan tindak lanjut. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan.

.

.. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . (2) Berpartisipasi dalam proses musy..BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .... (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ...… .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). & kesepakatan dalam mufakat khususnya .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . 13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … .. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . (4) KETERANGAN 1). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6).(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat..

.

TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek. Desa / Kelurahan. DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. Dusun. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. adat.  Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 .  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat. REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek. IV. II.6 1. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai. RW/RK. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat. seperti RT.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 .

kapan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1. besaran. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis. PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 .

RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi. II. IV. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja.26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. REFERENSI  Undang Undang No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 .  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja.  Direksi Proyek. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I.

 Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Rencana pengalihan rute selama proyek.  Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2. PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 .1 dan 2.2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA.

14. 21. 17. 26. 18. 6. 22.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. 8. 3. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 4. 13. 5. 7. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. Dialihkan kek anan 12. Akhir Daerah Pekerjaan 10. 25. 23. 2. 15. 28. 27. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 16. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. 20. 19.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .

lampu) pengoperasian peralatan konstruksi. DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek. lokasi penyimpanan atau penumpukan material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 . Penumpukan Barang/Material II. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi. Pengangkutan Material d. Pekerjaan Galian b. dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. III. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek. Pengoperasian Peralatan c. sebelum digunakan untuk konstruksi.  Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek.  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin.

yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. REFERENSI  Undang Undang No.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan. IV. seperti terlihat pada Gambar 3.  Kontraktor. VI. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.  Direksi Proyek. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.3. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

100m di depan ada pengalihan jalan 57. 46. 40. 37. 38. 42. 53. 50. 51. 49. 39. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55. Dialihkan kek anan 35. 43. 34. 52. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. Akhir Daerah Pekerjaan 56. 31. 48. 36. 44. 32. 41. 45. 33. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. 54.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.

III. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi. dan pemancangan pondasi.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. rumah sakit. pengoperasian AMP. II.  Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi. sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I.  Direksi Proyek. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi. IV.  Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 .

dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi. jumlah. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 . sebelum dan sesudah konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan.  Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.  Kontraktor. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak. pekerjaan tanah. III. pengangkutan material. DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi. IV. TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 . RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I.  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Rencana pengangkutan material. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

IV.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. REFERENSI Peraturan Pemerintah No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan). TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase. VI. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. II. III. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. limbah domestik. untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V. DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah.1. I. seperti terlihat pada Gambar 6.  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan).  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 .  Kontraktor.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi. atau dinding penahan tanah.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. IV. ceceran sisa bongkaran pada badan air. serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir. lereng. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Kontraktor. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan. PROSEDUR PERMUKAAN I. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 . untuk menambah daya dukung konstruksi. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi.  Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. III. II.

 Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Rencana (waktu.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase. jenis.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. II. REFERENSI  Undang Undang No.  Dinas Pekerjaan Umum setempat. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui.  Kontraktor.  Direksi Proyek. seperti terlihat pada Gambar 8.1 IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 .26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. III.

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek. volume.  Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut. waktu. beban) material dan peralatan konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

Pangkalan Udara.  Perwakilan PDAM setempat. dsb).  Perwakilan PT. Depo Bahan Bakar. pada lokasi kerja proyek. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air. III. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah. Industri. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan.  Perwakilan PLN setempat. telekomunikasi. listrik.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek. akibat pekerjaan galian. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I. Telkom setempat. IV. gas. II. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak.  Perwakilan PGN setempat. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya.  Pengelola kawasan spesifik setempat. Stasiun Kereta Api. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan. VI.  Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. serta pekerjaan timbunan.  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I. DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah.  Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya. REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM). PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 . 2001. III. dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan.  Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial. II. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. IV.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi.

jumlah) peledakan.  Direksi Proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan).  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. jenis.  Dinas Geologi setempat.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 . metode.  Rencana (lokasi.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan. VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

VI. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek.  Kontraktor. II.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman. agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 . PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. III. IV. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

ilmu pengetahuan. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12.  Pemerintah daerah setempat.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata. dan situs.  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat. Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. IV. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi.  Direksi Proyek. dan kebudayaan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 .5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya.  Kontraktor. yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah.  Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. II. III. REFERENSI  Undang-undang No. dan Budaya setempat. Seni. yang terletak di lokasi sekitar proyek. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. benda yang diduga benda cagar budaya.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata. Seni.  Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan Budaya setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

 Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. II. III. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13. REFERENSI  Keputusan Presiden No.  Kontraktor. IV.  Direksi Proyek. V. VI. PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 . PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana. Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. November 2003 i . produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. Departemen Kimpraswil.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah. Jakarta. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. yang terdiri dari empat buku. produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Ditjen Prasarana Wilayah.

Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. khususnya bila sudah diperdakan. Secara garis besar. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. ii . b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku.

4.... 4.9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan .2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6. D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … 4. Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4...3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan .1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4. P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … . … … … 5. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek .… … … … … … … … … … … … … … … … .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … .3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii .8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … .6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4. 6.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada