PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

Melalui studi AMDAL. Jenis . meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup. AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas. Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. kompleks. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. 6 . Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No. c.17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup. setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

hutan lindung serta hutan produksi. diperlukan izin dari Menteri Kehutanan. serta ada persyaratan menyusun AMDAL. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali.17/KPTS/M/2003. Kebijakan Sektor yang Terkait a. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. Untuk hal ini. menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No. minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut. Keputusan Menteri Kehutanan No. 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. tetapi menyangkut 7 . Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No.55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan. namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus. Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. hutan pelestarian alam dan hutan buru). Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum. c. seperrti pembangunan jalan.419/KPTS/II/1994 tersebut di atas). Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. wajib dilaporkan terlebih dahulu.  Perencanaan ruang wilayah kota. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung. diatur dalam Keputusan Presiden No. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan. 5 Tahun 1993. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No. penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. dan dapat diperpanjang kembali. maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No. khususnya kegiatan pengadaan tanah. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 . 5 tahun 1992. Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No. Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala. b. tanpa kompensasi. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL.

bangunan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. 9 . jenis hak atas tanah. diberikan untuk hak atas tanah. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. Dalam situasi dan kondisi tertentu. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. pemukiman kembali. dan nama pemilik tanah. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah. Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. d. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. bila perlu. 1 tahun 1994. tanah pengganti. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang. 55 tahun 1993.  Keterangan tentang letak. diatur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan.

2) Keamanan konstruksi jalan rel. Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api.1. serta keamanan perlintasan. 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil. 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. Dalam Keputusan Presiden No. 4. terpencar. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. antara lain penyediaan sarana dan prasarana. jalur kereta api khusus terusan.3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a. termasuk prasarana jalan. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives). Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. saluran air. dan perlengkapan 10 . jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat. prosedur (procedures). e.

4) Cultural Property (Kekayaan Budaya). bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia.04.50. tercantum dalam OP/BP 4.01. tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam BP 17. tercantum dalam OP 4.12. yang didasarkan atas tipe.  Rencana Pengelolaan Lingkungan. Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan. dan skala kegiatan.37. 3) Pest Management (Pengelolaan Hama). 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali). Berbagai kebijakan operasional (OP). prosedur Bank (BP). 9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional). 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). tercantum dalam OP/BP 4. 2) Natural Habitats (Habitat Alam).11. tercantum dalam OP/BP 4. 11 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools). 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan).36. tercantum dalam OP/BP 4. yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini.50. 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan).  Resiko Lingkungan.  Audit Lingkungan. hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan. tercantum dalam OD 20. Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas. dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut. Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi). 7) Forestry (Kehutanan). tercantum dalam BP 4. adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment). lokasi.60. tercantum dalam OP/BP 7. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan).09.

Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul. yaitu:  Kategori A. guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. benda yang mempunyai nilai arkeologi. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan. palaentologi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No. B dan C. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna. bersejarah. tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. benda yang dikeramatkan. tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan. isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. atau mempunyai nila / keunikan alam. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). 12 . memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. dan sebagainya. Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. mempunyai nilai agama yang kuat. benda cagar budaya.  Kategori B.  Kategori C. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. tapi tidak besar dan tidak penting.

bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa.  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia. antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota. yaitu:  Full LARAP.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study). persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). Karena rencana rute jalan bersifat memanjang. sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan. Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru.  Simplified LARAP. harus dilaksanakan Tracer Study. dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam. dalam bentuk NOL (no objection letter). meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi. 4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada).  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia. 13 . pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk. Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP. Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun.  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis.

dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan).  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas. dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah.org.  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. dan budaya secara adat.  Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah. dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya. Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial). etnik minoritas asli atau kelompok suku. Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat.  Adanya lembaga sosial. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 . misalnya: di lokasi kegiatan. perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS). Dalam penyusunan dokumen tersebut. ekonomi. b.  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts. 1998.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli. Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www.worldbank. maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat. perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen. 1993 . 1993.  Berbahasa pribumi. antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan.

 Penyusunan EIA. lokasi. yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE). sebelum diserahkan kepada Bank. agar dan mempergunakan termasuk LSM. berdasarkan atas jenis kegiatan. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul. c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). skala dan besaran kegiatan. 120 hari sebelum waktu persiapan proyek. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok. sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting). 15 . ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat. serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. sensitivitas lingkungan. hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan.  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. Bank. IEE. atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final. b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE). sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA. untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA.  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting).  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas.

kekasaran permukaan jalan. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. 16 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank. dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan. supervisi / pengawasan. Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program). EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan. antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. volume lalu lintas. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia. dan LSM. c.  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB. 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial. biaya perjalanan. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut. JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai. b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 . melakukan monitoring dan tindak lanjut. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening). co-finansial. pemerintah dan organisasi finansial. baik dari stake holder.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup.  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan. melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC. dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah. dan bila dianggap kurang meyakinkan.  Dalam membuat keputusan pendanaan. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup. serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. serta untuk administrasi perbankan. JBIC dapat melakukan environmental review. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. (4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu. dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B. tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A. dan sulit dianalisi. sesuai dengan prosedur berikut.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C. (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A. agar screening dapat dilakukan lebih awal. baik yang sifatnya negatif maupun positif. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul. 18 .  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B.  Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. serta upaya penanganannya. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific. dampak yang timbul complicated. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

tanpa melakukan pra-studi kelayakan. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada. (6) konstruksi. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap. (5) pra-konstruksi. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. (3) studi kelayakan. secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4. (7) pasca konstruksi.1. yaitu: (1) perencanaan umum. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan). Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan. (4) perencanaan teknis. a. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan.2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. (2) pra-studi kelayakan. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. 19 . penentuan skala prioritas. perkiraan biaya.49/PRT/1990. Bila diperlukan. Namun. Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. dan (8) evaluasi pasca proyek.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. mungkin saja karena alasan tertentu. 4. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan. serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya.

pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL. 20 . melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. b. termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut. studi UKL dan UPL. selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi. Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut. Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. atau cukup dengan penerapan SOP. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya.

Kep.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak. pematangan lahan untuk konstruksi 21 .Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. pemberian kompensasi.

tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis. ekonomi dan finansial. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. yang didukung oleh data hasil survai lapangan. konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). konstruksi dan pasca konstruksi. Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. dalam satu paket pekerjaan. d. 22 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan. Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat. prakonstruksi. jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. ekonomi. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi. Untuk keperluan tersebut. Karena itu. Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan. Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis.

dan sebagainya. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. e. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut. Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. g. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. f. kebisingan. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor. pencemaran udara.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu.

Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. antara lain meliputi pengaturan lalu lintas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. h. Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan. dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan. 24 . seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. yaitu: a. 4. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya.

bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5. semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. Konsultasi untuk persiapan AMDAL. unsur Universitas / perguruan Tinggi. 5. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5. bangunan. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :. Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu). Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan.2. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal. 5. c.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. sehingga harga tanah meningkat. Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak. bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan.2.1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya. namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. baik dampak negatif maupun positif. tanaman dan aset tidak bergerak lainnya. d. Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). 25 .b).1. kelompok profesi.

2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah.1. gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam. truk. 5. Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek. AMP. khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna. 5.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. road roller. Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer.4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif. Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha. Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat. stone crusher. dan diperlukan pemindahan penduduk.1. excavator. sehingga terjadi erosi atau longsor.1. dsb. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif. Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 .

disajikan pada Tabel 5.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a.1. maupun tata ruang kawasan. dan kecelakaan lalu lintas. propinsi. 5. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum. atau kabupaten / kota. Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas. b. kebisingan. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu. dan alternatif pengelolaan lingkungannya. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. 27 . Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali.2. Di samping itu.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.

c. Pengadaan Tanah a. Tahap Perencanaan 1.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b.  areal berpanorama indah.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A. Tabel 5. Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1. Kerusakan prasarana jalan 28 .1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b.  areal komersial. Konsultasi masyarakat 2. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a. Tahap Prakonstruksi 1.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Keresahan masyarakat 2.. Sosialisasi b. Kecemburuan sosial a.  areal dengan kemiringan lereng terjal. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C.1.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Mobilisasi tenaga kerja a. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1. sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk. Mobilisasi peralatan berat a.  lahan pertanian produktif. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. b. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. Survey / pengukuran 2. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat).

Gangguan lalu lintas d. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Pembuatan sistem drainase c. Pembuatan jalan masuk a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Gangguan pada flora dan fauna b. 3.1 Pengaturan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembersihan dan penyiapan lahan a.1 Pengaturan lalu lintas b. a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Gangguan lalu lintas 6. Gangguan lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas a. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. Di lokasi proyek 1. Gangguan pada utilitas umum 2. Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Pencemaran udara a. Pencemaran air d. Penyiraman secara berkala b.1 Pengaturan lalu lintas c. Pencemaran air permukaan. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . b. Gangguan lalu lintas a. Pencemaran udara c. Pencemaran udara (debu) b. Penghijauan b.2 Pengendalian aliran air tanah e. Penggunaan bor c. Perubahan bentang alam /lansekap. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Pembuatan sistem drainase 5.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penyiraman secara berkala c. Penyiraman secara berkala b. Pemindahan atau perbaikan utilitas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c. Pemancangan tiang pancang a. dan pengaturan jadwal kerja b.1 Perkuatan tebing d. Pencemaran udara (debu). Penataan lansekap a. Gangguan stabilitas lereng e. Kebisingan b.

d. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Penghijauan b. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b. Gangguan terhadap biota air.1 Pengaturan lalu lintas. Gangguan pada flora a. Pengoperasian jalan a. Perawatan kendaraan c. c. c. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1. Gangguan pada aliran air permukaan c. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e. c. Pencemaran air sungai. pembuatan noise barrier c. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c. b.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Pengaturan lalu lintas. Gangguan lalu lintas. d. d. Pengoperasian base camp (barak pekerja. Pemasangan rambu lalu lintas a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. Penghijauan dan pertamanan a. Kerusakan badan jalan. Bak truk ditutup terpal b. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. c. Penyiraman berkala. b. b. d. b. Kebisingan c. c.3 Tebing dibuat berteras d. d. b. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a.1 Perkuatan tebing d.2 Pengendalian air larian c. Pengambilan material di quarry sungai 3. Penyiraman secara berkala b.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . Perubahan fungsi lahan e.2 Penggalian secara bertahap a.2 pemasangan rambu lalu lintas c. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. gas polutan) b. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d. Longsor tebing sungai a. Kebisingan. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). 1. Tahap Pasca Konstruksi 1. Pencemaran udara (debu). kantor. e. c. Kebisingan. c. Pencemaran udara (debu. Kecelakaan lalu lintas a. stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. Sda. Pencemaran udara b. d. a. d. Pengaturan lalu lintas D. Pembuatan sistem drainase c. Pencemaran air permukaan. Pengendalian bahan buangan d. Pengendalian bahan buangan c. Pencemaran udara (debu).

Kawasan rawan letusan gunung berapi. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Kawasan Sekitar Mata Air C. dan Daerah Pengungsian Satwa).32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Hutan Lindung.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi).2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5. 2. 4. Hutan Wisata. 2. Taman Nasional. 31 . B. khususnya pada jalan tol d. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2. Pembuatan jembatan penyeberangan e. perairan darat. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. Kawasan Rawan Bencana Alam. Kawasan Resapan Air. 3. Gangguan lalu lintas d. D.1 Pengaturan lalu lintas a. 6. Suaka Marga Satwa. Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. 2. 4. Pengemdalian penggunan lahan a. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. 2. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Gangguan terhadap satwa dilindungi f. Taman Wisata Alam 7. gugusan karang atau terumbu karang. 1. Pemeliharaan jalan a. Sempadan Sungai. Kawasan rawan gempa bumi. Kawasan perlindungan setempat: 1. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). wilayah pesisir. 3. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Sempadan Pantai. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan rawan longsor. 3. 5. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair.5 Pembuatan rest area. muara sungai. 3. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut.1 Daftar Kawasan Lindung A. Taman Hutan Raya. Sumber: Keppres No.

Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan.27 Tahun 1999 tentang AMDAL.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. tapi bersifat regional. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan . wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). 32 . Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL.2. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. No. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. N am u n . luas lahan yang perlu dibebaskan. c. dan antar kota / p ed esaan ). serta foto udara atau citra satelit. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. yang didasarkan atas panjang ruas jalan. ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. kota sedang. penggunaan lahan. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

• kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya. Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis. • estetika lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 33 . • prasarana dan utilitas.2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a. • biologi (flora dan fauna). ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup. meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia.2. Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. termasuk kawasan adat.

17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b.000 – 1. atau . Panjang > 5 km 2. Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a. Semua besaran d.Panjang b. Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b.Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: . Pembangunan jalan layang atau subway c. Panjang < 2 km c. - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.Panjang.000 – 20.000 – 500.000 – 200. Semua besaran b.000 jiwa 34 .000 jiwa : jumlah penduduk 200.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1. atau . Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d.000.000 jiwa : jumlah penduduk 500.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5. Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : . Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a.000 jiwa : jumlah penduduk 20. Jembatan a.000. Pembangunan jalan tol b.17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.Panjang. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3.Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : .000 jiwa : jumlah penduduk 3. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a.

kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih.c. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. Untuk pelaksanaan studi AMDAL. AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis. dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. ekonomis mapun lingkungan. b. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. Pada waktu penyusunan KA-ANDAL. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). RKL dan RPL. sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. untuk memperoleh saran.1. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 . Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. Cara pelaksanaan konsultasi.2. terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek.

Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. c. e. Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. ANDAL. Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. d. RKL. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota). maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL. instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi). Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. RKL dan RPL Proyek Jalan. tersebut. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup).

37 . RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. pendapat. b. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa.27/1999. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. f. lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi.3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a.27/1999). Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. saran. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. kesimpulan komisi penilai.2. klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan . semua dokumen AMDAL. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. 5. Dalam hal ini.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). PP N0. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut.

dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. 5. Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5.  Konsultasi masyarakat. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. c. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. b. Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan.2.Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study. kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut.  Survey sosial-ekonomi.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah.2.1. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a. 38 . Langkah .

program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. dan status pemilikannya. g. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. jarak ke sekolah anak-anak. jenis dan umurnya). harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. mata pencaharian. tingkat pendapatan. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. dan sebagainya. instansi pelaksananya. kelas tanah. jenis penggunaan saat ini. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. h. status pemilikan tanah. Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. jarak ke tempat kerja. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan. f. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. 39 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas.

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi. 5. Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi. tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik.3.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5. Karena itu. yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. 40 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan. pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan.1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup.1 (lihat Tabel 5. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.1). Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi.

3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.3. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif.3. 5. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi. 41 . peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya. dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL. Dalam hal ini. wajib UKL dan UPL. secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Sehubungaan dengan hal itu. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini. dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL.

b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. 42 .1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum.4. termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini. baik di tingkat pusat maupun darearah.2.4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. kemacetan lalu lintas. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara. dan kecelakaan lalu lintas. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan. Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. Di samping itu. sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4. kebisingan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 5. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait.

dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Lokasi quarry.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. dampak yang mungkin terjadi.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan. khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. akibat kegiatan konstruksi. alternatif pengelolaan lingkungan. terutama akibat penggunaan alat-alat berat. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum. dan Jalur transportasi bahan bangunan. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.4.3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan. Pada tahap pasca konsruksi. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi. Secara garis besar. Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak. 5. Pada tahap pra-konstruksi. Pada Tabel 5.4. Evaluasi mencakup: 43 . kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp.

Keluhan masyarakat c. 2.  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a. Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. Tahap Konstruksi 1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan. Tahap Perencanaan 1. Persepsi masyarakat b. Penetapan rute jalan 1. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya. Sosialisasi b. Tenaga kerja lokal terserap 44 . Kecemburuan sosial a.2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. Keresahan masyarakat 2. Persepsi masyarakat 2. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Survey / pengukuran 2. Keresahan masyarakat b. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. Pengadaan Tanah a. Tabel 5. Gangguan terhadap pendapatan a.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c. Tahap Pra-konstruksi 1.

Kualitas udara (kandungan debu) c. Kualitas udara b. c. b. Erosi / longsor e.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. d. b.1 Perbaikan jalan yang rusak a. c. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap. Penataan lansekap c.1 Perkuatan tebing d. Kondisi lansekap 45 .2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. 2. Gangguan pd flora dan fauna. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Kualitas air d. Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. Penyiraman jalan secara berkala b. Pencemaran udara a. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. Pembuatan sistem drainase d. Penyiraman secara berkala c. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Penghijauan b. Liputan vegetasi b. Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Kerusakan prasarana jalan a. Pembuatan jalan masuk a. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap. Kondisi jalan 3. b.2 Pengendalian aliran air tanah e. a. Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Mobilisasi peralatan berat a. Di lokasi proyek 1.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. 2. Kualitas air a. Kondisi utilitas a. e. c. Pencemaran air d.

Kualitas udara b. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4. Pemancangan tiang pancang a. Penyiraman secara berkala b. Kondisi lalu lintas b. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a. Penggunaan lahan 46 . Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9. b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Perubahan fungsi lahan d.2 Pengendalian air larian c. Kebisingan a.1 Pengaturan lalu lintas a. Kualitas udara b. Gangguan lalu lintas a. Kondisi lalu lintas 5. Pembuatan sistem drainase c. Aliran air permukaan c. Kondisi lalu lintas a. Penyiraman secara berkala a. Liputan vegetasi b. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8. Gangguan lalu lintas b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Kebisingan b. Getaran a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.1 Pengaturan lalu lintas a. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a. Pencemaran udara b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan pd aliran air permukaan c. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Pembuatan sistem drainase a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a. Penghijauan dan pertamanan a. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. a.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c.1 Pengaturan lalu lintas b. b.3 Tebing dibuat berteras d.1 Pengaturan lalu lintas a. Erosi / longsor d. Kondisi lalu lintas a. Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6. Gangguan lalu lintas a.

Pemilihan lokasi e. d. e. Gangguan pada flora 10. Pencemaran udara (debu. Kecemburuan sosial Pencemaran udara.2 Penggalian secara bertahap a. kantor. Penghijauan a. Pencemaran air permukaan. Pengoperasian jalan a. Kebisingan a. Tingkat kebisingan d. Liputan vegetasi a. d. Kualitas udara c. Kecelakaan lalu lintas a. Pengoperasian base camp (barak pekerja. stone crusher dan AMP) a. Bak truk ditutup terpal d.1 Perkuatan tebing d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. Kualitas udara b. d. Pengendalian bahan buangan Sda b. d. Longsor tebing sungai e. c. Stabilitas tebing sungai 11. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Tingkat kebisingan c. Tahap Pasca Konstruksi 1. gas polutan) b. c. Pengambilan material di quarry sungai a. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Perawatan kendaraan c. Kualitas air c. c. e. Sda. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. Kerusakan badan jalan. Tingkat kebisingan noise barrier 47 . b. Kondisi lalu lintas c. Di lokasi Base camp dan AMP 1. Kualitas air e. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a. Pencemaran udara (debu). b. Pencemaran air sungai. Pengaturan lalu lintas. a. Kebisingan. Kondisi lalu lintas D. Kualitas udara (sebaran debu) b. Penyiraman berkala. Kondisi jalan b. Pemasangan rambu lalu lintas d. Keluhan masyarakat b. Sda d. pembuatan a. c) Kebisingan. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. c. b. Gangguan terhadap biota air.

Tingkat kebisingan d. d. Keluhan masyarakat e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. f. Pembuatan jembatan penyeberangan f. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e.5 Pembuatan rest area. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Keluhan masyarakat f. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c. Pembuatan jembatan penyeberangan e. Kondisi lalu lintas b. d. c. Pencemaran udara (debu. pembuatan c. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e.3 Penertiban pedagang kaki lima d. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c.1 Pengaturan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b. Pemeliharaan jalan a. Gangguan lalu lintas d. khususnya pada jalan tol d. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a. khususnya pada jalan tol e. Penghijauan di median dan pinggir jalan c.3 Penertiban pedagang kaki lima c.1 Pengaturan lalu lintas.5 Pembuatan rest area. Lintasan satwa dilindungi 48 .2 pemasangan rambu lalu lintas c. Lintasan satwa dilindungi a.2 pemasangan rambu lalu lintas d. noise barrier Sda.1 Pengaturan lalu lintas. c. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b. Kualitas udara c.

kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri. pemerintahan. pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan. dan lain lain. Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang. Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan. d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan. c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.4.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah. termasuk masyarakat miskin. b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang.  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan. kesehatan. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan. g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan.  Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah. antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk. pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. 49 . yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB. khususnya masyarakat pedesaan. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. BAPPEDA. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. b). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. e). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Penduduk terkena dampak. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. PEMRAKARSA. c). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. f). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. c). d). MASYARAKAT. 2. d). b). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. para kepala Dinas di propinsi. e).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). g).

Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Selanjutnya. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 6. 3. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. 5. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. BAPPEDA. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. misalnya sentra sentra produksi. 4. PEMRAKARSA.. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. 2. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. 3. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. kapasitas produksi. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. MASYARAKAT. .

4. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. 4. 5. 7. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. 3.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan.. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. Masukan tersebut. memberi masyarakat terasing. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. BAPPEDA. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. masukan tentang koordinasi penanganan 2. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. UPL. Dinas Sosial dll. PEMRAKARSA. Selanjutnya. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. UKL. ekonomi. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. menetapkan koridor jalan terpilih 6. 8. budaya masyarakat terasing. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya.

Atas dasar permintaan pemrakarsa. 5. Selanjutnya. PEMRAKARSA. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . BAPPEDA. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. 2. 8. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 7. PEMRAKARSA. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. 6.. menetapkan rute jalan terpilih.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. 5. masukan tentang koordinasi penanganan 4. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. memberi masyarakat terasing. 3. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut.

Selama proses wawancana. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 4. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. 6.. 9. Menetapkan desain jalan. PEMRAKARSA. 11. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. sistem kepemimpinan. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. PEMRAKARSA. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. 6. memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 8. 10.. memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. 7. MASYARAKAT. 5. BAPPEDA. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. BAPPEDA. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing. PEMRAKARSA. melakukan MASYARAKARAT.

serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. 7. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. 3. 5. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. pemrakarsa masyarakat terasing. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 6. 6. Selanjutnya. MASYARAKAT. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. 4. melaksanakan program penanganan dilapangan. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. 2. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. 7. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. PEMRAKARSA. BAPEDALDA. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. Selanjutnya. 3. 4. PEMRAKARSA. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. 7. 5. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . BAPEDALDA. BAPPEDA. BAPPEDA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. melaksanakan program konservasi budaya. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL.

meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 2. PEMRAKARSA. BAPEDALDA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 8. BAPPEDA. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. 3. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. PEMRAKARSA. penataan ruang. 5. MASYARAKAT. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. 11. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 9. 4. Selanjutnya. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. PEMRAKARSA. 7. melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 8. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPEDALDA. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. 10. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 7 6.

b. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9. Untuk itu. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 9. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a.

. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy.… ..(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5).. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). kapasitas jalan yang dibutuhkan.. 3).Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … . kapasitas produksi.. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . peran dan fungsi kota dll. Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). (6) .… … ... terasing… . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. ..

.. (8) . … … ... 5)... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... (6) 3)... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing......(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih . Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)...Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy. terasing.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial........ ekonomi. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor .. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .. ekonomik.. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … ..... ..... 4). budaya ..

4).....5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis... Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2)...... .. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... terasing.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.. terasing. terasing … ....Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...

7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). kepemimpinan. Renc.. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing . (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … . pembagian tugas..(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks... (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy.... 3)...Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. Termasuk rencana kerja... T indak … .. sistem dan nilai hak adat . Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy.. (11) . Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2). terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).… … … . Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6).terasing tsb.

... Termasuk LSM.. 3).. 4)....(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)... lembaga adat . Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)............Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.......… .(7) . 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing .. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.... rehabilitasi konservasi situs dll.... 5)..... dll..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .. perbaikan permukiman tradisional........(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .

5). 4).(12) . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. terasing … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. (6) 3). (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … ..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. 6).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .

.. terasing termasuk rehabilitasi … … .. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy.(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor... sosialekonomi... 5).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 4). budaya dan kelembagaan. 2). 6). terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … .. terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy.. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME).(8) ..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

terasing … . terasing yang lebih baik . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .… . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg... Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) ... penanganan masy. tata ruang nilai kearifan lokal. terasing … … .

.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. PEMRAKARSA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. Badan Pertanahan Nasional (BPN). d). b). Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. MASYARAKAT. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). BAPPEDA. c). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. f). g). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . e). 2. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. para kepala Dinas di propinsi. d). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. e). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. c). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. b). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. Penduduk terkena dampak.

memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. misalnya sentra sentra produksi. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. . Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan.. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 3. Pemrakarsa. Selanjutnya. kapasitas produksi. 5. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. 2. 3. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . 6. BAPPEDA. STAKEHOLDER LAINNYA. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. PEMRAKARSA. 4. kapasitas jalan yang dibutuhkan. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating.

Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. peta banjir.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. UPL. BAPPEDA. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. Masukan tersebut. 4. 4. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. menetapkan koridor jalan terpilih 2. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah.. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. MASYARAKAT. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA. 3. UKL. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. STAKEHOLDER LAINNYA. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. PEMRAKARSA. peta quarry dll. PEMRAKARSA. 5. Selanjutnya.. 8. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. 7. Selanjutnya. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. PEMRAKARSA. 6. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan.

9. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. 6. 10. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. BAPPEDA. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. 5. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. 11. Atas dasar permintaan pemrakarsa. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. 8. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 5. PEMRAKARSA. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.. BAPPEDA. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. MASYARAKAT. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. 7.

membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. PEMRAKARSA. Selama proses wawancana.. 7. 13. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. BAPPEDA. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. mensosialisasikan konsep larap. 5. 8. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Panitia pengadaan tanah. PEMRAKARSA. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. 6. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. 9. 11. 4. 12. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. MASYARAKAT. MASYARAKAT. BAPPEDA. 6. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. PEMRAKARSA. 10. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis.

terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. MASYARAKAT. 5. 8. BAPEDALDA. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. 12. 2. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 9. 4. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. STAKEHOLDER LAINNYA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. BAPPEDA. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. 14. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. 10. kartu penduduk dll. 11. 6. BAPPEDA. BAPEDALDA. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. 7. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . BAPPEDA. 13.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. Selanjutnya. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. 7. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. PEMRAKARSA. 3.

melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. 9.. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. BAPPEDA. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 4. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. PEMRAKARSA. melakukan monitoring & evaluasi. BAPEDALDA. 11. mislanya karena kehilangan pelanggan. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 6. MASYARAKAT. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. 3. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 10. evaluasi pelaksanaan 2. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. Selanjutnya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. PEMRAKARSA. BAPPEDA. 8. 8. 5. PEMRAKARSA. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. DINAS SOSIAL. BAPEDALDA. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. 12. 7. MASYARAKAT. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip.

mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. 8. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. 3. Selanjutnya. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 2. 5. 4. PEMRAKARSA. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 6. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. BAPPEDA. BPN. 7. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Untuk itu. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. 9.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c.. PEMRAKARSA. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. BAPEDALDA. penataan ruang. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan.

Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). kapasitas produksi. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . jenis penggunaan dan kepemilikan).: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . 4).… .. mis. kapasitas jalan yang dibutuhkan. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. peran dan fungsi kota dll.

Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ........ status kepemilikan dan kesediaan melepas.. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. ekonomik.(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.(8) ... 4).. sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .. 5)....... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis...(6) .... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)...... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .....

. ekonomis dan lingkungan.5). kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. dll. Hasil Pra Kelayakan 2). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.Rute. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. (12) . (7) Memperkirakan dampak sosial … ..4).… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. Terhadap pengadaan tanah … ..... 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.(11) Menetapkan Rute Terpilih ..(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)..… … … .kem bali. masa tinggal dll..kem bali … … . dll. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Termasuk rencana kerja.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). luasan. … .. 3). 6). Lokasi di Peta. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . prakiraan nilai kekayaan. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. rehabilitasi pem uk. pelepasan hak. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya... (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.

( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … ...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5)..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .... 13)..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). (2) Berpartisipasi dalam musy.P … … .T .. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .. (4) KETERANGAN 1). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ...… . perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . khususnya panitia pengadaan tanah … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.

(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … ... (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .. (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 4).(12) . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 5). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 6).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.

(2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . 7). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg... Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. (8) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 4). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 5). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . … 7) 3). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . 6). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … ... tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . 2).

tata ruang. adat istiadat.. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.… . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … ... LA R A P … … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. nilai kearifan lokal. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . pelatihan untuk alih profesi … .

.

(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Termasuk pola pelestarianaya 7). (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .... (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah..... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder..... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)............  Kehutanan tentang status hutan.. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL..... khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan. 6)... Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah.....(8) .. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3). 4).. Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan..Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … . Memberi masukan persyaratan Lingkungan . Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5). tempat keramat...

...(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat. Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … .2).. (10) 9). (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .6).. (8) 8)...... Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … . 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait... Menetapkan koridor jalan terpilih… … … .. (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … . Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL .5). (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan..(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix....4).Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. tapi cukup macadam ..10). (7) 3)..

(4) Memberi masukan tentang areal sensitif.… … … (12) .(11) 7).. nilai lahan dll..4). Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).. 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih ...(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … . R K L. 10.. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L. 9). Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … . (6) 3)....Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. 8). 5).. R P L ..

. (apabila ada) mis : ANDAL.. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) .lingk.… … … .(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13)..5). … … . … … . Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3).9)..... (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … ... 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. mis : RKL... Dengan instansi terkait 14)...(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8)... dan wakil masyarakat terkena dampak 12). RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk... Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.....10).(12) Menetapkan Desain Jalan .4). apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll. Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2).. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan ..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.... (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak.. (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). dok.

(8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … .. aparat desa atau kelurahan... (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … . (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … .. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . bantuan pindahan. 5). LSM dan penduduk terkena dampak 3).(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain.. PDAM. (10) . Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2). Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Listrik.... mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … ... (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP ....4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll.(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … . telpon.7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi...

. Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ...(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … ....... (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6). peralatan dan bahan bangunan 2).. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja...... .. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)........ Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … .… .. Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ..Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).....(11) ..(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy........ 8)..(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ............(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ..

.... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME .... data sekunder (laporan harian kontraktor). dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...... 5).… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ....... 8).Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … . Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ..... dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ............... PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis. (9) ............ (8) 4).. metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai......(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ......

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … ..(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) .(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija..(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan..... … . (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.

sesuai Keppres 32/1990.terasing. (9) . situs sejarah. serta lokasi masy. dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. Termasuk tata ruang. program mis: kebutuhan lahan. hak adat/ulayat. jaringan … ..(1) Menyusun konsep renc. pertanian.(3) Konsultasi konsep renc. kawasan lindung..l. Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. dll.(2) Melakukan penyaringan awal lingk. kawasan budaya. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… .. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive. diknas. terasing… . 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait.. (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .terasing).17/KPTS/ /M/2003 4). termasuk kondisi sosekbud masy. kehutanan.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . terasing. Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5).terasing) beserta peraturannya. (5) Memberi masukan ttg.. lokasi masy.. industri. lokasi areal sensitive… . dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. penerapan tata ruang. .(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). dll.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No. tata guna lahan. 3). (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan. (termasuk masy. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks.. terhadap renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan.. koordinasi program pemb. Areal sensitive mencakup daerah lindung. mis: sektor2 perhubungan. dll. Memberi masukan ttg.… . fungsi lahan dan peraturannya. Mengacu pada ketentuan2 yang ada a. terasing 2). dll. program lainnya yang terkait. keberadaan masy. persyaratan lingkungan daya dukung lingk.

(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … .. dll. ... (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan.... dll. (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai . 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. (10) Memperbaiki dok.Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive. lokasi masy.(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan. (1) Membuat alternatif koridor jalan … . macadam..08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. (12) . ..terasing (bila ada). jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No. … .(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … ... dll. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL).. serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada).. keterpaduan pengadaan lahan. (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas. (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … .. pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing).... hutan..

situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.. (7) Memperbaiki konsep dok.. kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada). (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. pelepasan hak.(6) Menyusun konsep dok. kesesuaian tata guna lahan.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah.. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai . A M D A L. penyusunan dok. kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll.… (8) Menetapkan dokumen.. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy... AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai.… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb. (terasing) dan pendekatan penanganan.(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan.… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … . … . mobilitas masy. taksiran harga. dll. sistem nilai budaya masy. … .terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan.. . oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ...... A M D A L. terasing..Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. (11) ..

data aset. dan aset lainnya. rehabilitasi ekonomi. (11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan..(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis. terasing . terasing dan cara pelepasan hak. mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah. kepemilikan lahan. sistem kekerabatan masy. koordinasi penanganan masyarakat terasing .. dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan.(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah.. untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … . termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya. koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat. penanganan masyarakat terasing. serta keterpaduan program implementasi LARAP. dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. ekonomik. lingk.. dll. (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP .. mis: lansekap. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya.. median. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya... misal : tentang harga lahan. cara pelepasan hak bila lahan milik instansi.(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud.(13) . (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..

(6) Melakukan monitoring ..Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy... penanganan masy. besaran konpensasi.(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy.. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi.. instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll.. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat. (5) Melaksanakan LARAP . terasing dan pemukiman kembali .(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat. cara pengosongan lahan.. (10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … ....(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan.. alih kepemilikan... (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal.. dan terhadap utilitas yang terkena dampak .. penanganan masy.. seperti tercantum dalam kesepakatan . ( 11) . … . dll. rehabiltasi ekonomi masyarakat. kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait.. terasing. terasing … .. ... (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait.... dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan.. rehabilitasi ekonomi.. (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi. kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. melepaskan hak. penanganan masy. (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi.

Melakukan konsultasi renc. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6) Melakukan monitoring . termasuk keberadaan para pekerja .(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . tentang tujuan dan cara pemberdayaan .(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … .. PDAM. kegiatan konstruksi .(6) Melakukan monitoring . (20) . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan.(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.. terkena dampak .(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok.(terasing) … … ..(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… .(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . dll.. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan......(6) Menyusun laporan pelaks. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. dengan PLN.(17) M elakukan m onito ring… . pemberian fasilitas. ekonomi m asy....

... (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. (8) Memberi masukan..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .......(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks...: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima). Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. (9) Menyusun laporan monitoring. ( 14) .(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.. (12) Melakukan tindak lanjut. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. dll.. termasuk aspek warisan budaya . LARAP dan rehabilitasi … ... penanganan masy. adanya penyerobotan lahan damija. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL . bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan..l. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. badan jalan untuk berdagang.Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi.... (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. pengembangan lahan sesuai tata ruang.

.(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek ... lingkungan dan sosekbud.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan.. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. geologi /geographic.Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing. ( 9) . (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan . pelatihan alih profesi.. (7) Menyusun laporan PBME .. ekonomik/finansial. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … .. yaitu mencakup faktor teknis. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya .. penggunaan lahan.. nilai lahan. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. (3) Memberi masukan aspek lingkungan ..... dll … .. biologi (flora dan fauna).

(5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . (6) ... Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.... Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. khususnya areal sensitive … .. .. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). 4).. . BPN dan dari sumber lainnya 2). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.… .

Dikbud..... terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . 9)..08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.… . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .. (10) 7). . (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2). 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.... (12) .. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL ..Ka Bapedal No.. Sosial) . 8)..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .

(9) . RKL dan RPL 3).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … .(7) 1). 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL........(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. 2).Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … ...

teknis.. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan. RKL dan RPL pada perenc....... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.....… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.... (8) . RKL dan RPL … .: median. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . lansekap … … … . (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .: penanganan utilitas yang terkena...(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL...Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain...

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan. khususnya bila sudah diperdakan. Secara garis besar. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. i . c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. SESIM.

dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. Jakarta. November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . yang terdiri dari empat buku. dapat dilihat pada lampiran.

1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.4.4.4.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.2.2.1.3.6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.1.4.4.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.1 Maksud dan Tujuan 4.3.2.1.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.1.2.8 Pembiayaan 4.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.2.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.2.2.4 Penyaringan Lingkungan 4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.2 Pengadaan Tanah 4.4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.7 Jadwal Pelaksanaan 4.4.4.2.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.3.1 Pra Studi Kelayakan 4.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.4.5 Konsultasi Masyarakat 4.

3 7.1 7.5 Dokumen UKL dan UPL 5.1 Kerangka Acuan ANDAL 5. RKL dan RPL 5.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv .4.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6.4.4.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.4 Dokumen AMDAL 5.4.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.5 Biaya Penyusunan LARAP 6.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.5 7.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5. RKL dan RPL 5.6 7.4 7.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.1 Jenis Dokumen 5.2 Dokumen ANDAL.2 7.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.

...6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … ...1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … .3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … ...2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … ..... Gambar 4...... G am b ar 4.... Gambar 4...7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar .....2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL . 11 12 v ...… … … .... Tabel 4.....1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . G am b ar 4.... G am b ar 4.… … … … … .....4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4....5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … . 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4.

RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL.

Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Undang – Undang No. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. 2. Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. 1 . Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. propinsi. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. maupun kabupaten / kota.

9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 3.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Presiden No.3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No.2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 2 . 3. 3. 3. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 3.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. 3. 3.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat. 3.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3 .5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. 3.7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah. 3.

atau kabupaten / kota.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.1. Aspek . d) Kawasan rawan bencana alam. bila diperlukan. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin. Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah.1.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik. b) Kawasan perlindungan setempat. yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum. 4. merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan. propinsi. 4 .2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan. antara lain:  areal permukiman padat penduduk. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya. Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan. Pada tahap ini.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan. serta hasil survai lapangan secara global.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan. maupun tata ruang kawasan.

 areal berpanorama indah. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A. b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup. Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif. 5 . (lihat Gambar 4.  lahan pertanian produktif.1). yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. serta foto udara atau citra satelit. e) langkah-langkah proses pemilihan rute.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan. Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan. f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan. penggunaan lahan. d) metode pengumpulan data.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal.

Kawasan Resapan Air.1 Daftar Kawasan Lindung A. wilayah pesisir. Kawasan rawan gempa bumi. muara sungai. Sempadan Pantai.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Kawasan perlindungan setempat: 1. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. perairan darat. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Taman Wisata Alam 7. 3. Suaka Marga Satwa. 6. gugusan karang atau terumbu karang. 2. 6 . Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Kawasan Rawan Bencana Alam. 5. 2. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). 4. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). 3. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. tapi bersifat regional. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. 3. 4. Kawasan Hutan Lindung. Kawasan Sekitar Mata Air C. Hutan Wisata. 3. 1. dan Daerah Pengungsian Satwa). D. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Kawasan rawan longsor. Kawasan rawan letusan gunung berapi. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Sumber: Keppres No. Taman Hutan Raya. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Sempadan Sungai. 2. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. B. 2. Taman Nasional.

dsb.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1b Foto Udara 7 . Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4.1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4.1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan.

c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. Karena itu. dan koordinasi.1.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait. masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin. kelompok profesi. Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). b) Luas wilayah persebaran dampak. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. komunikasi.4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan. transparansi dalam pengambilan keputusan. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak.1. 4.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait).3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. 8 . penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.

Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait. e) Sifat kumulatif dampak. di pedesaan. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan. (2) Pembangunan jalan layang dan subway. Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. di kota sedang. a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. (5) Pembangunan jembatan. b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. (4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 .

1.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4. atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4. tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4. maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru. Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun. atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4. tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. 10 .1.1.1).

Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. getaran. > 30 km Bangkitan lalu lintas. emisi yang tinggi.17 Tahun 2001. getaran.atau luas pengadaan tanah c. tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1.000 – 500. gangguan visual dan dampak sosial. b.000 – 1. emisi yang tinggi.1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. Di kota besar / metropolitan : . > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas. getaran.000 – 200.000 jiwa : jumlah penduduk 200. emisi yang tinggi. Pedesaan : . dampak kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4. dampak kebisingan.Panjang . gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas. Di kota sedang : . a. dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. gangguan visual dan dampak sosial. gangguan visual dan dampak sosial.000. Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.000 jiwa : jumlah penduduk 20.000. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.Panjang . emisi yang tinggi. getaran.000 jiwa 11 . Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. getaran.atau luas pengadaan tanah b.

Pembangunan jalan layang dan sub way b. kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4.2. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No. Tabel 4.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b. > 20 m > 60 m 12 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a. Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c. 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2. Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a.

tercantum pada Lampiran C 13 .2. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan.3. Lihat Gambar 4. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas. Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. Secara garis besar. 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL.: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL. ada tiga kemungkinan sbb. proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4.

17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 .2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No.

3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama. yang mencakup seluruh wilayah studi.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4. kualitas udara dan kebisingan. • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi. 16 .  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum. Akan tetapi. Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan. • Dampak pada kualitas air. Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja. peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia. sedimentasi).  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. longsor. tapi langsung ke studi kelayakan. Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan. Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. • Gangguan terhadap kawasan lindung. • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi.2.

Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. 4. ekonomi dan juga lingkungan. Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif. hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah. termasuk kawasan adat.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan. Di samping itu. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan. Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis.2. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya. terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk. 17 .2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek. alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4.2. dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat. • Gangguan terhadap estetika lingkungan. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan.

diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. jenis tanah. • batas sosial. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4.4 sub d) dan Butir 4. RKL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL. dan • batas administratif. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. 18 . • batas ekologi. dan RPL.2. Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. RKL dan RPL).4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL.2. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL.4. kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan. jumlah sampel yang harus dianalisis.2. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi. penggunaan lahan. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder.1. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat. 4. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi. (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan. Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL. ANDAL.6). geologi. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek.

sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. borrow area. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya. Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. surat. sekolah. lokasi quarry. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. base camp dan spoil bank.ANDAL. dan permukiman padat. (2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. 19 . media cetak. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . dan/atau media elektronik. pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. dan mereka memberikan saran. (b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut.

20 .2. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab. (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No.ANDAL tercantum pada Lampiran E. Secara garis besar. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dilengkapi peta dengan memadai.4. (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya. (d) Hasil pekerjaan. d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran. Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas. untuk dinilai oleh komisi tersebut. (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan). sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4.

2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.1 Metode Pengumpulan Data 3.4 Biaya Studi 4.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.1 Latar Belakang 1.4 Batas Wilayah Studi 2.2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1. Kotak 4.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.2 Peraturan Perundang-undangan 1.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.3 Isu-isu Pokok 2.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .1 Pemrakarsa 4.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.2 Tim Pelaksana Studi 4.

RKL.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran. 22 . diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.08 Tahun 2000. Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA. RPL Penilaian ANDAL. RKL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran.

Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder. Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa. Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Ringkasan Eksekutif. Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL. tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam. 4. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F. 4.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).3.2. agar dapat dilaksanakan secara efisien. 23 . Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL.2. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan. karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4.6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan. maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. Secara garis besar.

Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G. meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat. berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. 24 . terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi. Kotak 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan.

4.5. Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah. Bab II Bab III. Kotak 4. b) mitigasi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4. Bab VII. Bab IX. Bab IV. Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. Bab VI.4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I. sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain. Bab VIII. c) meningkatkan dampak positif. 25 . d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan. Bab V. Dalam pengertian tersebut. Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL).

Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan. Kotak 4. yang ditandatangani di atas materai.6. b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL.. Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL. Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi.6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 .

RKL. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. tapi cukup dengan UKL dan UPL. Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4. Instansi yang bertanggungjawab. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan. seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa.2. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. Untuk keperluan penilaian tersebut. Laporan ANDAL. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H. tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL. menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai.2. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL.5 4. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 .8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. Apabila instansi yang bertanggungjawab. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia.

3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah. spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek.3. Pada dasarnya. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak. Karena itu. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah. UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan. 4. tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan. Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. pokok-pokok arahan.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL.6. 28 . Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan. Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan.

RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL. diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 . Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL.RKL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran. RKL dan RPL Penilaian ANDAL.5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .

d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya.3. Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan. Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu). antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL. 31 . Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Estetika lingkungan (lansekap). Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis. dilengkapi dengan contoh. atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis. Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan. Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat. Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi.2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor). Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.

Gambar 4.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 . dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K.7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.

4. 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.4.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor.4. mata 33 . 4. 4. seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya.3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi. Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi. baik dalam dokumen tender maupun kontrak.1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya.3. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.  Konsultasi masyarakat. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.

penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. 4.4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. 4. baik pemilik/penyewa tanah. Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. maupun penghuni tanpa izin (squatters). jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali. status pemilikan tanah. jenis dan umurnya). Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah.4. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. dan perempuan kepala keluarga 34 .4. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. penggarap tanah. penyewa bangunan. instansi pelaksananya. Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada).6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut. 4. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap. tingkat pendapatan. jenis penggunaan saat ini. orang lanjut usia. jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. dan status pemilikannya. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek. kelas tanah. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. jarak ke tempat kerja. seperti penduduk sangat miskin.

8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 . sumber dananya. dan jadwal penyediaannya.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat.4. 5. 4. 5 5. 4. Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable). berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan. termasuk panitia pengadaan tanah setempat.4.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota. Pemrakarsa harus membuat.4. menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait.7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini. Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L. 4.

Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. d. Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL. seminar. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan. lokakarya. b. Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat. Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL. 5. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL. Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 . diskusi terfokus. c.2. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4.4 Sub b). Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL.

Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki. RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL.4. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan. 5.2 Dokumen ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL.4 Dokumen AMDAL 5.4. dari komisi penilai. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan.1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut. 5. b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. dari maka komisi pemrakarsa penilai. sebagai lampiran KA – ANDAL. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. 37 . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL. Untuk keperluan itu. RKL. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

Terhadap permohonan tersebut. maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. RKL. dari instansi yang bertanggungjawab. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). RKL dan RPL Dokumen ANDAL. Untuk keperluan itu. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab . instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai.4. 5. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL.

4. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. PP N0.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya.27/1999. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut. c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut. 5. Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. pendapat. atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa. 5. Dalam hal ini. 39 . semua dokumen AMDAL. saran. 5. kesimpulan komisi penilai. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum.5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa.27/1999). dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum.

Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola. Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum. a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL. Sekalipun demikian. biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen . 40 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait. pengadaan (reproduksi) data sekunder. perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek. Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum. 6. kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah). pengadaan (reproduksi) data sekunder. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL. b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun. sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. 6. perjalanan dinas.komponen biaya personil (gaji upah). dan perjalanan dinas. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan.

Jenis transportasi (pesawat terbang. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. foto udara. dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. Harga satuan tiap jenis transportasi. 41 . operator computer. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran). dsb). Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. data statistik. sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. dan Harga satuan tiap jenis data. citra satelit. Lamanya perjalanan ke tiap lokasi. dan laporan hasil survai / penelitian. kareta api. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. mobil). Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan.

staf administrasi. terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6. fasilitas kantor. dan Biaya penugasan luar kota (out-of. dan presentasi. sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 .25 pm. 42 . perjalanan dinas. bahan (material) dan peralatan. Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport. Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah). Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. analisis laboratorium. Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 . dsb). Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan.duty station). operator computer. Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji. dan tenaga penunjang (surveyor. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli. Dalam prakteknya. juru gambar. pembuatan laporan.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut.8 pm. bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL.

alat gambar dan sebagainya). yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. Sewa kendaraan kerja. 6. disket. Peralatan survai. Office supply (kertas. mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. fax). biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. Namun. di samping itu. 43 . Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis. dan analisis kualitas udara. dan  penjilidan. yang di perkirakan berkisar antara 2 . Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). mesin tik. Biaya Komunikasi (telepon. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap. dan Komisi Penilai AMDAL. 27/1999.4 person-month. f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor.4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis.

e) Biaya penyusunan laporan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. Petunjuk Operasional (PO). 6.5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan. Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan). dsb). telpon.6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP). d) Biaya konsultasi masyarakat. dan Lembaran Kerja (LK). Daftar Isian Proyek (DIP). 44 . Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil. Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut. dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum. c) Biaya bahan dan peralatan survey.

O l eh karen a i tu . 7.1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an . Namun. (iv) MASYARAKAT. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. perencanaan teknis. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan. (iii) BAPPEDA. d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. dan (v) INSTANSI LAINNYA. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA. 7. (ii) BAPEDALDA. propinsi dan kabupaten / kota). dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 . diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum. Karena itu. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. konstruksi.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. dan pemerintah kabupaten / kota. pemerintah provinsi. d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat. Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP).PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 .2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten. pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit . dan pemerintah kabupaten / kota. dan pemerintah kabupaten / kota. Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan.ANDAL). Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota. 7. pemerintah provinsi. pemerintah provinsi. Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat.

b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL. Bappeda pemerintah kabupaten. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan. RKL. Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi. 7. Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. c) Menilai hasil studi ANDAL. Bappeda pemerintah kota. 7. kabupaten dan kota melalui peta padu serasi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. kabupaten dan kota. Masyarakat terasing. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL). b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal. Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma. Tokoh-tokoh masyarakat. 47 . dan RPL.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). standar.4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi.

7. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Departemen atau Dinas Kehutanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. yaitu: 48 . ANDAL. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. kompensasi untuk tanah dan bangunan. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. 7. d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir.

RKL dan RPL. dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. Penjabaran Hasil Studi ANDAL. 49 . berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Penyusunan KA – ANDAL. Pelaksanaan Studi AMDAL. berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi. 7. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi.

meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah. Untuk keperluan itu. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. koordinasi 50 . Karena itu. yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah. Perencanaan Pengadaan Tanah. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. melalui mekanisme kajian lingkungan. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing. 8. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Identifikasi Kebutuhan Tanah. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. dan AMDAL atau UKL dan UPL. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis. Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata.

Di samping itu. 51 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek.

5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .. (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . BPN dan dari sumber lainnya 2).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … ... khususnya areal sensitive … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan..(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi... Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). . . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . 4). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.… ... Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. (10) 7). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ... (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .… .. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan..08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ....(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.Ka Bapedal No.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . 8)... Sosial) . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.. Dikbud.(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .... ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). 9).. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy...

(3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … ... 2). (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .. RKL dan RPL 3)... Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .(7) 1)... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL..

: median... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . lansekap … … … .. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.. RKL dan RPL … .. RKL dan RPL pada perenc...... (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.teknis. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL...... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain..… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.: penanganan utilitas yang terkena..

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

Termasuk pola pelestarianaya 7). tempat keramat.. Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan.. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah....  Kehutanan tentang status hutan...(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder..... areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3)... 4)...... Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah.. Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5). 6).. Memberi masukan persyaratan Lingkungan .... 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL......(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … ..... khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … . Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)..

.. tapi cukup macadam . Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix..5)... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait.. (8) 8)... (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … . (7) 3)..4)..2). Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan...6)... Menetapkan koridor jalan terpilih… … … ... (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … .(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat.10)...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (10) 9).. Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .

8). nilai lahan dll. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif..… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . 10. 5). (6) 3)....… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 ..(11) 7).. 9). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih . R P L . Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2)...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).4)... Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … ...(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … .. R K L.

.. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan...(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring .(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.... … … . mis : RKL.(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… .... Dengan instansi terkait 14).. 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait..lingk.… … … . Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13).. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3). … … .. dan wakil masyarakat terkena dampak 12).(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan ...9). (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .... (apabila ada) mis : ANDAL. (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak. Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2). RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.(12) Menetapkan Desain Jalan .5). (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … . dok.10). dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8)...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .... 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan ...4).

. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … . bantuan pindahan.... (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … .7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan. LSM dan penduduk terkena dampak 3)... (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . PDAM.4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2). aparat desa atau kelurahan. (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 . telpon...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 5).. (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … .(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … .. Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.. Listrik.... (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi.. (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … .(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6).(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… ..

9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).. Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi .. Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ...........(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ......(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 .. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja........RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...........(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6).. peralatan dan bahan bangunan 2)..… . Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ...... .....(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)... 8)..

. PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis.. 8)... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME .... data sekunder (laporan harian kontraktor)...(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)......… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ... (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 . dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara..... 5)................(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan .... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2).......... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … . dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ..... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai....... (8) 4)...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … ..

..(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … .. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 .(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya. … .(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang ..... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan..

Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan..(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … ..… . dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). mis. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peran dan fungsi kota dll. kapasitas produksi. 4). 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 . jenis penggunaan dan kepemilikan).

. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ........ 5).....(6) .....(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … . 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). status kepemilikan dan kesediaan melepas.(7) Menetapkan koridor jalan terpilih..... 4).... ekonomik......... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing..... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ..

(7) Memperkirakan dampak sosial … . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial . dll. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga ..5)..(11) Menetapkan Rute Terpilih .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.. ekonomis dan lingkungan. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.. Terhadap pengadaan tanah … . 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.4).(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. Hasil Pra Kelayakan 2). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.Rute. (6) 1). (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .

(4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1). Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). pelepasan hak. dll. … . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).… … … . prakiraan nilai kekayaan.kem bali.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . masa tinggal dll. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . rehabilitasi pem uk. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. 3). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.kem bali … … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah.. 6).... (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. … . Lokasi di Peta. luasan. Termasuk rencana kerja.. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .

( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5)..P … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … ..T . khususnya panitia pengadaan tanah … … ... perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1).(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). 13).(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ... & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.… . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 . (2) Berpartisipasi dalam musy.. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … ..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … ..

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 6).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … ..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 4). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). 5).. (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 ..

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… .(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … ... 2)..( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 5). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 7). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 6). tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 4). … 7) 3).

Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 .(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. LA R A P … … .. nilai kearifan lokal. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. tata ruang. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . pelatihan untuk alih profesi … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . adat istiadat.… .

termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). 2. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. g). f). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. Penduduk terkena dampak. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. d). MASYARAKAT. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. para kepala Dinas di propinsi. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. c). d). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). c). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. PEMRAKARSA. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Badan Pertanahan Nasional (BPN).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . e). BAPPEDA. b). PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . b). e). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal.

kapasitas jalan yang dibutuhkan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. 4. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . misalnya sentra sentra produksi. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. 6. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. . Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. PEMRAKARSA. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. 3. BAPPEDA. 3. kapasitas produksi. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. 5.. 2. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. STAKEHOLDER LAINNYA. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. Selanjutnya. Pemrakarsa.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan.

. UKL. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. STAKEHOLDER LAINNYA. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Masukan tersebut. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. 4. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. 5. peta banjir. menetapkan koridor jalan terpilih 2. 3. 6. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. BAPPEDA. MASYARAKAT. peta quarry dll. PEMRAKARSA. UPL. 4. 2. 8. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. Selanjutnya. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. Selanjutnya. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih.. PEMRAKARSA. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. 7.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1.

PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. 9.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 5. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. 11. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). 6. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. 7. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.. 8. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. 10. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. 5. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. BAPPEDA. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. Atas dasar permintaan pemrakarsa.

BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. PEMRAKARSA. 9. Selama proses wawancana. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA. mensosialisasikan konsep larap.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. 5. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. MASYARAKAT. 6. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. 8. 11. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. MASYARAKAT. BAPPEDA. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. Panitia pengadaan tanah. 10. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. PEMRAKARSA. 7. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. 12. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. 6. 4. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. 13. BAPPEDA. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku.. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. PEMRAKARSA. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni.

10. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. 7. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. BAPPEDA. 6. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. 8. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. 5.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. kartu penduduk dll. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. 11. 13. BAPPEDA. 7.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. STAKEHOLDER LAINNYA. BAPEDALDA. Selanjutnya. BAPPEDA. 9. 14. MASYARAKAT. 2. 12. 4. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 3.

8. BAPPEDA. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. Selanjutnya. 11. DINAS SOSIAL. 8. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . 3. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. evaluasi pelaksanaan 2. melakukan monitoring & evaluasi. BAPPEDA. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. 9. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . PEMRAKARSA. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 12. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. BAPEDALDA. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. mislanya karena kehilangan pelanggan. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. 7. 6. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. PEMRAKARSA. BAPEDALDA. MASYARAKAT. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. 5.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. PEMRAKARSA. 10. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 4.

Selanjutnya. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. BAPEDALDA. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 7. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. BPN.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. BAPPEDA. 3. PEMRAKARSA. 4. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. penataan ruang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. 8. Untuk itu. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. 5. MASYARAKAT. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b.. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. PEMRAKARSA. 2. 9. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. PEMRAKARSA. 6.

e). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. BAPPEDA. b). proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). b). Penduduk terkena dampak. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. d). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. e). f). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. g). MASYARAKAT. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. c). Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . kabuipaten dan kota BAPEDALDA. PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. d).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. para kepala Dinas di propinsi. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. 2. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. c). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. PEMRAKARSA.

Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. . 3.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. BAPPEDA. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa.. kapasitas produksi. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. 3. PEMRAKARSA. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . 5. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 6. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. 4. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 2. Selanjutnya. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. misalnya sentra sentra produksi. MASYARAKAT. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . ekonomik/finansial. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. nilai lahan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan.... (7) Menyusun laporan PBME .. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring.(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek ... Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya .. yaitu mencakup faktor teknis. ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . biologi (flora dan fauna).. geologi /geographic. lingkungan dan sosekbud. dll … .... pelatihan alih profesi. penggunaan lahan.. kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan . apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. (3) Memberi masukan aspek lingkungan ..

Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. atau c) kombinasi dari keduanya. Biasanya. ahli geoteknik. Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan.1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. 1. 1. b) alinyemen yang sama sekali baru. Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik. prastudi kelayakan dan studi kelayakan. ahli ekonomi. Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial. yang membantu perencana jalan. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. dsb. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. sosial-ekonomi dan lingkungan. perencana lalulintas.2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis. kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu. Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 . perencana lingkungan. lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas. meliputi perencana kota. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. khususnya areal sensitif. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 . karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2). 2. perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan.

Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal. air. kota besar. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. w arisan budaya. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. kom ersial. ditetapkan empat tipe kota. vegetasi dan perairan. Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. listrik. dan lokasi kegiatan kelembagaan. visual. Bagi keperluan perencanaan jalan. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. dan kota kecil. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. tem pat tinggal. pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks. Namun. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. kota sedang. yaitu topografi. lokasi kegiatan industri.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. prasarana. karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. 2. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. Selain prasarana ciptaan manusia ini. lokasi kegiatan komersial. institusi. industri. akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. telekomunikasi. budaya. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam.

Lain dari pada itu. Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan. seperti keselamatan. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan. Namun demikian. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati. Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . termasuk kualitas visual dan kualitas akustik.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. kelapa dan kelapa sawit. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial. Dengan demikian. tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota. 2. yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. serta perkebunan pohon buah-buahan. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan. Namun demikian. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. karet. ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan.

Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan.sawah tadah hujan. . Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas. • nilai visual.sawah beririgasi. . Namun. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar. dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih. bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti. meliputi: • Lahan pertanian: . misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas.tanaman lain. Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai. 3. Seperti telah dikemukakan di atas. Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah. • kam pung. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan. meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor. . • rum ah -rumah terpencil. Pengembangan jalan dapat membelah properti.sungai. .lahan basah / rawa. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 .perkebunan. akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan. 3. dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari. Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru.1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. • Lingkungan alam : . merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil. • desa. jalan kereta api. meningkatkan aspek-aspek keselamatan. Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. bakau. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik. Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute.

lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi.2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 . Secara umum. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. kelapa dan kelapa sawit. dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial. Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan. Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. 3. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan. Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. serta lahan perkebunan karet. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang. dan kampung atau desa.

) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4. 4. meliputi kondisi topografi.1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute. Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. enjiniring. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin. sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi.

pada umumnya yang berskala 1 : 10.000. Namun.1.1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional). tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check). informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris. Peta-peta skala 1:25. dsb.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. Peta-peta topografi skala 1 : 25. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan. 4. yang diproses dari foto udara. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS. tutupan lahan. Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci. bukit. Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan. sungai. liputan vegetasi dan pola hidrologi. serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. atau lebih detail dengan skala 1 : 5.1. seperti kondisi geologi.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah. dsb. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual). jaringan listrik.000 mahal harganya.000.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan.000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan. Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25. elevasi. termasuk vegetasi dan hidrologu.  Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. meliputi:  Peta Topografi. Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami.000 ( Foto udara berskala 1 : 5. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah. selain menyajikan pula detail topografi.000 untuk seluruh Indonesia. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia. Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 . Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m. data lingkungan dan data sosial/budaya. rel kereta api. roman-roman alami seperti gunung. Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan.

1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan. tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif. Namun. Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek. dalam beberapa hal. Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 .

dalam hal ini Dinas PU provinsi. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan. kabupaten/kota.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B. panjang jalan dan tahun anggaran. 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. mencakup rencana lokasi proyek. Badan Pertanahan Nasional (BPN). 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan. kabupaten/kota. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. Melakukan penyaringan lingkungan. B. 4) Masyarakat.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. 2) Bapedalda. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. 3) Bappeda.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. dll. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan.2. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . penduduk terkena dampak. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. B. kabupaten/kota. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan.

 Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan.000). b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa. dan stakeholder lainnya (misal BPN. lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya. B. area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi.2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda).2. termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya. Bappeda.  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah). terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif).  Masukan dari stakeholder lainnya.  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada). masyarakat (misal tokoh masyarakat). yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 . kawasan dan makam yang dikeramatkan. Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan.  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik. biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Bapedalda. situs-situs purbakala.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan.

maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. kab/kota) serta penerapan peta padu serasi.3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan. B.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi). Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda.1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas.2.  Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan. dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP).2. Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik. UKL/UPL atau SOP).3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan. Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 . B. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan. khususnya areal sensitif. B. khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov. Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan. Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL.3. Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL.  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada). Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan.

a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan. B.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1.1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B.3. 4.  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL. lebar damija yang ada.3. status lahan dan tata guna lahan). UKL/UPL B. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan.3.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini.  Panjang ruas jalan. 3. lebar jalan. Desain wilayah (kota/perdesaan). yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 . Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan). AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL). Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman.3. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute). antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan. 2.2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan. terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan.

antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT . ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Lurah/Kepala Desa. b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran.3. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat..Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran. termasuk tokoh LKMD. Camat. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor.3.  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek.2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN). B. pendapat. misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan.

Lurah/Kepala Desa.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 . misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.3. stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). B. Camat. Bappeda.3.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana. Lurah. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. termasuk tokoh LKMD. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan. Lurah. termasuk klas jalan.

. B..4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 . Camat.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah).  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya.3. Lurah/Kepala Desa.3.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih.3. B. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.3. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan. dan (status lahan konservasi). masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan. . Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain.5. kondisi prasarana dan sarana. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. terutama dalam rencana pengadaan tanah. misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. termasuk tokoh LKMD. B. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh.

Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih. misal di Kantor Bappeda. Menetapkan rute terpilih B.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. kondisi prasarana dan sarana. status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah).4.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih. B. antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.4.4. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan. Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL). terutama dalam rencana pengadaan tanah. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 . b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B. status lahan dan tata guna lahan). misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih.

a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda. B. RKL/RPL.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL. antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL. Menetapkan desain teknis jalan. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL. Dokumen ANDAL. RPL dalam perencanaan teknis jalan. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan. Disamping pertimbangan aspek lingkungan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak. Membuat konsep LARAP. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis. dokumen ANDAL.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.5.5. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. misal di Kantor Bapedalda. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan. B. akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 . Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi. Diskusi penjabaran RKL. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B.4. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih.4. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan.5.4. B. RKL/RPL dari rute terpilih.

c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL. dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat).2 Diskusi Penjabaran RKL. Masyarakat (Kepala desa/lurah. meminimalisasi. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan. LKMD. wakil masyarakat yang terkena dampak). memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP. dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL. B. Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak.3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.5. baik berupa upaya pencegahan. misal di Kantor pemrakarsa proyek.5.  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut. B. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak. misal di Kantor Bappeda. RPL dalam perencanaan teknis jalan. a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis .

lebar jalan.5. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan. terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan.  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. lebar damija yang ada. antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan). dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan. misal di Kantor Bappeda. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang. wakil masyarakat yang terkena dampak). antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 . Bappeda. dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. B. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan. LKMD.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan.

Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 . persepsi. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut. yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan. biologi dan sosial) yang terjadi.  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan. dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia. jumlah pemilik. B.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP.5.  Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya. B.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan. aset di atasnya.5.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP.

pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat. Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut. Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 . pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali.4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2.2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan). C. jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb. C. d) e) C. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung).3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1. Karena itu.

Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a.000.000 – 1.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi.000 jiwa 500.000 jiwa 20. emisi yang tinggi. dampak kebisingan.000 – 100. Bangkitan lalu lintas.Panjang . getaran. getaran. emisi yang tinggi. Di kota besar / metropolitan : .000 jiwa 100. getaran. 1. Bangkitan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas. Pedesaan : .000.Panjang . Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2. gangguan visual dan dampak sosial.17 Tahun 2001.000 – 500. gangguan visual dan dampak sosial. getaran. dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial.atau luas pengadaan tanah b. gangguan visual dan dampak sosial. getaran. b. tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1.atau luas pengadaan tanah c. dampak kebisingan. dampak kebisingan. a.000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 . emisi yang tinggi. dampak kebisingan. > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. emisi yang tinggi.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. Di kota sedang : . Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas.

Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E.  luas areal pengadaan tanah (ha). 2. Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL.5. Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C. Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL. dan skala / besaran kegiatannya.2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek. Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a. yaitu:  panjang ruas jalan (km).5 ha 3 km .10 km 2 ha .5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C.1. Di kota besar / metropolitan: b. 3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL .5 km 2 ha . Jenis Proyek Besaran 1.10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Pembangunan Jembatan a.5.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif. Penyusunan laporan hasil penyaringan. Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km . b.1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C.

c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). peninjauan lapangan tidak diperlukan. pasir. 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder.1. • Lebar badan jalan. berbatasan langsung. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.3.  Peninjauan lapangan. tercantum pada Kotak 1.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu.  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada). e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan.5. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung.3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C. Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu). b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No.  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan). Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya.  Jenis lapis perkerasan. C. dan Pasal 37 Keputusan Presiden No.  Alat-alat berat yang diperlukan. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan.5. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap.  Lebar perkerasan.1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam. dll). atau berdekatan dengan kawasan lindung. berbatasan langsung dengan. atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota.

2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat. Taman Hutan Raya. muara sungai. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. daerah deengan budaya masyarakat istimewa. 15.5. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Kawasan Hutan Lindung. perairan darat. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 . 10. 7. • telepon. Sempadan Sungai. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. 13. Bila perlu. wilayah pesisir. Kawasan Rawan Bencana Alam. Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. peninjauan lapangan akan sangat berguna. • saluran air. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. 9. gugusan karang atau terumbu karang. • jalan kereta api.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. 14. • pipa air. peta geologi. 11. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). 4. 3. 5. 2.3. Taman Nasional. Sempadan Pantai. Kawasan Bergambut. 6. dan Daerah Pengungsian Satwa). dan foto udara (bila tersedia). 12. Kawasan Resapan Air. Hutan Wisata. Kotak 1 C. c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi. Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. 8. dan • pipa gas. Suaka Marga Satwa. seperti: • jaringan jalan. Daerah komersial. peta penggunaan lahan. peta tanah. • kabel listrik.

PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 .1. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar. misalnya kegiatan land clearing.5. mulai dari tahap pra-konstruksi. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya.5. seperti kegiatan pengangkutan material.3) . (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik.3. menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu. kebisingan.5. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C. diurut mulai dari tahap pra-konstruksi. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara.5. pencemaran air). dan • tempat ibadat.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap. merubah komposisi vegetasi. yang mungkin terkena dampak. konstruksi. • rumah sakit.2 yang merupakan sumber dampak. Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah. konstruksi dan pasca konstruksi. C. dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C. d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah.4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis. C. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1.5. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. dan pasca konstruksi. pengoperasian base camp dan stone crusher.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

komponen biaya terbesar adalah biaya personil. Jika memenuhi kriteria tersebut. c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli. Sebaliknya. • peralatan dan material. Makin jauh jaraknya. maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. • analisis laboratorium (bila perlu).4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut. Bila tidak. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1.5. • survai lapangan. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3. Bila tidak. Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat. makin mahal biayanya. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL. tapi wajib menggunakan SOP. jika tidak memenuhi kriteria tersebut. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . C.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1.5. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL. maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL. Kalau tidak. Pada umumnya. b) Secara garis besar. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2.

Secara umum.1.8 pm.5. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya. termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut. Penyusunan Laporan f) C.10 % dari biaya persiapan proyek. Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut. dengan biaya berkisar antara 5 . pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan. Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL. b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan).7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini.35 % dari total biaya proyek. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL). sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 .06 0. wajib UKL dan UPL. atau antara 0. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 . c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C.30 person-month (pm). yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL.

L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. Intensitas dampak I1 I2 5. Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3. W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar. atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2. atau kumulatif dampak. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 . Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. tidak berbaliknya dampak. Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak.

Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 . 7.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6.

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A.. DAMIJA Ekisting 1) b. Tanah tidak stabil 2. % .. Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Kabupaten c... Propinsi 5. c. km . Pekerasan rencana 4..m . c. Berlereng curam (> 40 %) b. d.. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B. b. Pemukiman padat b.. Jenis Program 8.m . … … … … … … … . d. … … … … … … … … … … … … … … … … … ... Perkerasan Ekisting 1) d.. Damija rencana c. … … … … … … … … .. Daerah komersial c. … … … … … … … … . % . km b. … … … … … … … … … … … … … … … … … . km ..m . … … … … … … km a. … … … … … … … … … … … … … … … … … . H a a... … … … … … … … … … … … … … … … … . Panjang Ruas Jalan 3.. Status Kota 6. RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1. kendaraan /hari b.. b. LHR a. Eksisting 1) b. Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a. Luas areal pengadaan 9.. % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 . Nama kota b. Lokasi a. Penggunaan lahan a. Lebar Jalan a. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . Rencana 10. c. b. km (… (… (… (… … … … … … … … … . Fisiografi a. Areal pertanian produktif d.. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. % . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Nama Rencana Kegiatan Proyek 2..m a. Fungsi Jalan 7.. km a. km .

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E. Kawasan lindung a.. Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C. D. PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a.. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … . KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1. … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. c. Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. Wajib AMDAL 2. Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . . … … … … … .. . Wajib UKL dan UPL 3. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b. 3. … … … … … … … … … … … . ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . b. 2.. Jenis/nama kawasan lindung b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..

Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa.2. 5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus. kapasitas produksi. meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum.1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini.1. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan. 2) Bapedalda. penduduk terkena dampak. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada). Badan Pertanahan Nasional (BPN). kabupaten/kota. 4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. peran dan fungsi kota. antara lain : sentra-sentra produksi.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D. dll. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 . 1) lahan di D.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya. 4) Masyarakat. kabupaten/kota.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. kabupaten/kota. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya. D.2. 3) Bappeda.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan.

D. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov.  Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. orde penataan ruang. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan. kab/kota).  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan.2.2. misal: skala 1 : 250.000).Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi.2.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.1.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan. D. dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan.1.1.000). potensi kapasitas produksi. D.2. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 . Kehutanan.

i. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya. 2) Aspek pola kepemimpinan.2. Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan. misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing. Kehutanan. berbatasan langsung dengan. rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 . 3. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. D. khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. 4. ii. 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya.2. 3) Aspek orientasi budaya. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing. 2. D. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan). Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan. bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung.2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. kab/kota). atau berdekatan dengan kawasan lindung. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. antara lain sebagai berikut : 1.2.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam.000).

3.000). 1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan.3. Bappeda dan masyarakat). status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai . dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. misal skala 1 : 100. D. Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan. Bappeda. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan.1. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda.1 Status lahan dan tataguna lahan.3. 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan. D. Masyarakat dan Stakeholder lainnya. dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan.1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.000 D. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. 2) D.2 Konsultasi dengan Bapedalda.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting. Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan. Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada). PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 .3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan.1.3. Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D.

c.2.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi. Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif. 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi. Aspek pertanahan masyarakat terasing. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor.3. d. 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. serta pola penggunaan lahan.1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 . b. terutama kebutuhan pengadaan tanah. tentang (khusus pada masyarakat terasing): a. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah. Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing. Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c. e. Meminta masukan dai Bappeda tentang : a. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada). Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif. 1) D. Aspek kepemimpinan.3. Aspek kependudukan. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. Aspek budaya.3.2.

Mencatat informasi mengenai tiap rute. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. 3. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). antara lain meliputi dua hal tersebut di atas. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL. terutama dalam rencana pengadaan tanah. b. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan. kab/kota). b. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. c. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan. 4. Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. 2. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. dan (status lahan konservasi).1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. 2) D.4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . dll). Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih.4.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute). yakni : a.

dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. Menuangkan dalam bentuk matriks. d. 2.4. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. 7. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas.2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. D. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. NJOP dan harga nyata tanah 1. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. c. g. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 . f. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. h. e. b. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6. paling tidak mencakup 4 hal. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1.

bersejarah dan tradisional. Aset lainnya yang akan dibebaskan. kantor. tanah ulayat dan sebagainya). f. l. Luas tanah yang akan dibebaskan. status bangunan dan tipe bangunan. macamnya (rumah tempat tingggal. Persepsi masyarakat terhadap proyek. tempat ibadah. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. tanaman (umur setahun. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. gudang. semi permanen. dan sebagainya ). misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. NJOP tanah dan harga nyata tanah. bengkel dan lain sebagainya). tahunan. Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. i. huruf (ii). 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. k. 2. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. darurat). g. meliputi : Tata guna tanah . h. 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. Luas bangunan yang akan dibebaskan. tempat usaha. Stakeholder lainnya. an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. Usulan tentang ganti kerugian. 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan. kab/kota). kolam /tambak ikan dan sebagainya. 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda.3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil.4. (ii) tanah pengganti. e. Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. c. Harga nyata tanah dan NJOP-nya. Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. (iii)pemukiman kembali. d. sebagai berikut: 1. Bappeda. status kepemilikan tanah. j. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. dan huruf (iv). penyewa. 3. Fluktuasi pendapatan akibat musim. Status kepemilikan tanah. 5) Penduduk (pemilik. sedang dan besar). 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen.

Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D.4.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1.5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. kab/kota). Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan. Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5. disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan.4. ekonomis dan lingkungan.4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih. 2. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan. Uraian rencana pembangunan jalan.5. Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. D. 3. Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan. melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih). Melakukan konsultasi masyarakat. yakni : a. disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. dll). Melakukan survai sosial ekonomi. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 . D. Sosialisasi konsep LARAP D. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. b.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak. 4.

Jenis utilitas umum h. Luas areal hutan f. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah. untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. antara lain sebagai berikut : a. bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. 1) D. paling tidak mencakup 4 hal. untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. Luas areal ladang c. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. Luas areal permukiman b. 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya. Luas areal persawahan d. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya. Luas areal semak belukar g. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 .2 Survai Sosial Ekonomi 1).5. Luas areal perkebunan e. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali.

Bappeda. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut. Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . D. tanah ulayat dan sebagainya). 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru. sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. 7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. NJOP tanah dan harga nyata tanah.5. 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk. status kepemilikan tanah. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. 5) Usulan tentang ganti kerugian. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. status bangunan dan tipe bangunan.3 Konsultasi dengan Bapedalda. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan. 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat.

Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1.  Sumber pendanaan.5.  Status penyelesaian. 2. jumlah tiang listrik dsb). sarana dan prasarana. Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja). Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait.  Perkiraan biaya. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut.  Biaya pelatihan alih profesi. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi.  Instansi penanggung jawab.  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru. Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan. 1/1994. luasan.  Tindak lanjut. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 .4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK. 4. luas.  Jadwal penyelesaian.  Alokasi anggaran.  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No. termasuk status sertifikat. 3.  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3). prakiran nilai kekayaan. pasal 45. D. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain. masa tinggal dll. lokasi di peta. jumlah bangunan.  Rencana penyelesaian.  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan. evaluasi dan rehabilitasi. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial).

Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4)..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … ..… … .. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. kapasitas produksi.. peran dan fungsi kota dll. (6) . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). 3). ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat .… . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. terasing… . (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… ..(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang..

(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. . (8) ......Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy...... ekonomik........ Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis........ 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). 5)... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .. sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . budaya . (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing . (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … .. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3)... (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. 4).(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing..(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .. … … .. terasing... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). ekonomi..

... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis..(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy...4). Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2). terasing.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .....… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis........ terasing. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy...... . terasing … .Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..

. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)..... Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. T indak … . (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … ... (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.. (11) ... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...terasing tsb.. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Renc.(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks... Termasuk rencana kerja... pembagian tugas 3)..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy... sistem dan nilai hak adat . Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)... kepemimpinan.. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy...… … … ...

.. 4)........ Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)...... perbaikan permukiman tradisional...... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ...... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. rehabilitasi konservasi situs dll. 5)...... Termasuk LSM..... lembaga adat . dll..(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .… ... 3).....(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ....(7) ..(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). … … ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..

.. 5)... (6) 3).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .(12) .. 6).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (11) 8).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 4).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg. terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya..

. 4). Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .(8) . Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME)...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 5). penanganan masy . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . sosialekonomi....(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. budaya dan kelembagaan. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 6).. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . 2)...terasing termasuk rehabilitasi … … .

(5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.. penanganan masy. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy.. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. tata ruang nilai kearifan lokal. terasing … … .. terasing yang lebih baik .… . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy..

.

Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . mis. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . peran dan fungsi kota dll. kapasitas produksi. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.… .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). jenis penggunaan dan kepemilikan).: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. 4). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. kapasitas jalan yang dibutuhkan..

(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .. ekonomik.(6) ... status kepemilikan dan kesediaan melepas....... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)....... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing..(8) .........Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ........ 4). Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan . (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)....... 5).

.. ekonomis dan lingkungan..4).Rute. (12) . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). Hasil Pra Kelayakan 2)..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .(11) Menetapkan Rute Terpilih . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . Terhadap pengadaan tanah … . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt..5).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. dll.. (7) Memperkirakan dampak sosial … ..(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak..(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.

(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Termasuk rencana kerja. luasan. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. … . prakiraan nilai kekayaan. dll.… … … . masa tinggal dll.. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . rehabilitasi pem uk. Lokasi di Peta. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya.kem bali.kem bali … … . 3). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . 6). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). pelepasan hak. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)....

8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .… .P … … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5)...(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … ... Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … ... (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).T . & menyepakati dlm mufakat khususnya P .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ... (4) KETERANGAN 1).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat...(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (2) Berpartisipasi dalam musy. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. khususnya panitia pengadaan tanah … … . 13).

misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(12) .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan... Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … ..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. 4). 6).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 5).

sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 6). (8) . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . 4).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi... Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . … 7) 3). 7). 2). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

(8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .. pelatihan untuk alih profesi … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . nilai kearifan lokal. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . adat istiadat. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .… . tata ruang.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.. LA R A P … … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … ..

.

khususnya areal sensitive … .. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ... (6) . 4).… . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .. ... 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . BPN dan dari sumber lainnya 2).Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).

. (12) .… .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .Ka Bapedal No.(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … ... 8).. Dikbud. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).. Sosial) ... 9).Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan... (10) 7).08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. ... (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .

... (9) . 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). 2). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . RKL dan RPL 3)..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ....

..… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain......: median... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.: penanganan utilitas yang terkena... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . (8) . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.... lansekap … … … . RKL dan RPL … ..Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. RKL dan RPL pada perenc.teknis.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .....(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL...

.

40/KPTS/1997). Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat.1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. 9 Tahun 2000.langkah pelaksanaan Secara garis besar. Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0. antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 . 69/PRT/1995). proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E. Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL.2 Langkah . Keputusan Kepala BAPEDAL No.3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL.ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E. 147/KPTS/1995). E. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL.

Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan). • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. E. E.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. dan/atau media elektronik.4. Media pengumuman • E. media cetak. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa.4.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. E.4. dan mereka memberikan saran.4 E.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. Hasil pekerjaan. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi. surat. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. dilengkapi peta dengan skala yang memadai.4.

5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. seminar. Dalam proses ini. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. jelas dan mudah dimengerti. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). lokakarya. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan.4. E. kebutuhan. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. E. f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi. masyarakat menyampaikan aspirasi. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. dan cara penanganannya.6 E. dan Mengumumkan waktu. dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio.6. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. kapasitas dan lokasi kegiatan). pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1). E. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2.1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 . h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran.

b) evaluasi dampak besar dan penting. antara lain metode matrik dan bagan alir. c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan. batas sosial dan batas adminsitratif. c) pemusatan dampak besar dan penting. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek.6.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial. identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . Langkah pertama. jumlah sampel yang perlu diukur. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode. tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak. batas ekologis.

RKL. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran. diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RKL. RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 . RPL Penilaian ANDAL.08 Tahun 2000.

Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka. Langkah kedua. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan. jumlah tenaga kerja. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar. sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). Makin besar volume kegiatan proyek. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. c) peninjauan lapangan. Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi. konstruksi dan pasca kontruksi). dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. cenderung makin besar pula dampaknya. laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. bahan bangunan yang akan digunakan. Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. perairan umum. kondisi biologi. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. (lihat Tabel 1 dan 2). lokasi quarry. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. jenis limbah dsb. evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . baik dampak primer. Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain.

C. PemancanganTiang Jembatan 9. Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. 3. Sosialisasi 4. 1. 8. B. 2. 1. 5. 1. 3. Pengoperasian jalan 2. Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. Survai & Pengukuran 2. 7. 7.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 6. 2. 4. Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. 6. 2. 5. 3. Pengelolaan Quarry 8. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 . 4. Pembayaran ganti rugi 1. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6. 4.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 8. 2. 5. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. Sosialisasi 4. Survai & Pengukuran 2. 7. B. C. 4. 4. 2. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 . 6. 5. 1. 4. 3. 1. 7. 6. 1. 2. 5. Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. 3. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8. Pengoperasian jembatan 2. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 3. 2. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

 Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor).  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.6. Di dalam batas ekologis ini. batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan. E. Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman.3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran. kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material. proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar. Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA. tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. Sebagai contoh. industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman. kontruksi maupun operasi. waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 .

diperlukan tenaga ahli hidrologi.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. Bab 3 : Metode Studi. dengan memperhatikan keterbatasan dana. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi. perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting. Bab 4 : Pelaksanaan Studi.7 E. Karena batas proyek jalan cukup sempit. Bab 5 : Daftar Pustaka. Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan. diperlukan tenaga ahli kehutanan. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan.2 di bawah ini.7.7. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat. E. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas.6.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. Bila perlu. • Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. Bab 6 : Lampiran. Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. E.

(3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.3 Isu-isu Pokok 2.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan). (4) Status proyek saat ini.7. dan Tujuan dan Kegunaan Studi.2 Peraturan Perundang-undangan 1.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.2 Rincian Materi dokumen E.1 Latar Belakang 1. (5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL. antara lain meliputi: (1).2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.2.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub .1 Pemrakarsa 4.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.7.4 Biaya Studi 4.4 Batas Wilayah Studi 2. (2) Maksud.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2. tujuan dan manfaat proyek. Peraturan Perundang-undangan.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 .2 Tim Pelaksana Studi 4.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. Lokasi rencana kegiatan proyek.1 Metode Pengumpulan Data 3.bab yaitu Latar Belakang.

28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.2. Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 .3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 .7.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan. E. perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No.2. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok.7. antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. Keputusan Menteri Kehutanan No. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut.

40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 9) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. 11) Keppres No. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 6) Undang-undang No. 10) Peraturan Pemerintah No. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 2) Undang-undang No. 18) Keputusan Menteri Negara KLH No. 5) Undang-undang No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. • R ona lingkungan hidup aw al. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 7) Undang-undang No.2. • B atas w ilayah studi. Kep. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 4) Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. • Isu -isu pokok. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 19) Keputusan Kepala Bapedal No. E.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 3) Undang-undang No. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. 8) Peraturan Pemerintah No. 55/1993. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.7. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 .

tol). Lebar jalan (Damija. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting.2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan. 1. Status jalan (jalan nasional. perkerasan). kabupaten / kotamadya. d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif.3. Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan). G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan. c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 . Jenis program (pembangunan / peningkatan). V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan. Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel.1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya. c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1.3. propinsi. S tatus proyek saat ini. Jenis perkerasan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan. P anjang ruas jalan. Jadual pekerjaan konstruksi. Lokasi proyek.3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1. teknis dan ekonomis.

b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya. • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek.pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. • peralatan yang digunakan. yang harus ditelaah oleh konsultan. • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu. • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. • P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah. (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan). Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar. pasir. dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya.Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini. Tahap Pra .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan. (2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan. konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 . koral.

dan sedimentasi pada badan air setempat.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan.ekonomi . (2).kimia. penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat. Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam. jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut. d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut. Untuk proyek jalan tertentu. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan. (3). seperti contoh berikut : (1). (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija. • K om ponen kingkungan biologi. dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik . longsor. mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah.kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 . Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut. sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri .budaya. yang bersifat “site specific”. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi. Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting. • K om ponen lingkungan sosial .

Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan. gambar atau deskriptif. e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan. b) Metode prakiraan dampak besar dan penting. Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data. grafik. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada.5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL.2. KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa. agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 . Untuk pengumpulan data primer. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). c) Metode evaluasi dampak besar dan penting. E. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. Sebagai contoh untuk pengukuran.7. Untuk pengumpulan data sekunder. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya.

• Lansekap. b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. Kep-056/1994. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan. • S osial-ekonomi.7. • S osial-budaya. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut. bagan alir. Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No. • K esehatan M asyarakat.2. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun. sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. E. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar. b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya. overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. • G eoteknik. • Teknik Lingkungan. • B iologi.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 . perjalanan dinas. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. E. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. peralatan dan material. c. APBD atau Bantuan Luar Negeri. • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab.2. Disamping itu. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut. termasuk tahun anggarannya. Laporan Pra-Studi Kelayakan. Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5. • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa. Peta Penggunaan lahan. Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. • P engolahan D ata.7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. analisis lanoratorium. Laporan Perencanaan Umum. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut.7. • P enyusunan Laporan. Laporan . secara singkat dan jelas. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart. • A nalisa Laboratorium .kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. b. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah). seperti : a.laporan lain yang relevan. c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. dsb. d. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi. • P engum pulan D ata. d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN.

.5. Peta lokasi proyek secara makro.2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya.7. .5. setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis.Laporan ANDAL.8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan. d. Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai.2. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir). Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. .Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL. 5. Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan. Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e. yang terdiri dari : . penyusun / penerbit. E.Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). c. Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .Ringkasan Eksekutif. ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 . terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry.3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa. Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan. b. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait.5. jadual studi ANDAL. dan tahun pembuatan / penerbitannya. . 5.5 Pelaporan 5.1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis.

Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … . Untuk keperluan penilaian tersebut di atas.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan. terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa. E. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari). E.8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL.5. revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir. sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai.4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi.

1.2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 . karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak. sosial dan kesehatan masyarakat. biologi. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP).3. (a).3 Penyusunan Konsep ANDAL F.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak. serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi. Bab 3 : Metode Studi.2. Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. F. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan. Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat. Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL.1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia. (b). F. pengamatan dan wawancara. RKL dan RPL Bidang Jalan F. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan.2. RKL/RPL F.

1. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. F. Bab 8 : Daftar Pustaka. terutama yang langsung terkena dampak. dan wilayah studi. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan.3. 1. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL).3. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F. 2. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. Bab 5 : Rona Lingkungan Awal.3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak. Bab 9 : Lampiran. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak.

Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai. Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3. dan hasil pengamatan lapangan. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data. maupun hingga kegiatan berakhir. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. 2. meminimisasi. serta metoda perumusan RKL dan RPL. 4. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi. 3. 2.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 .3. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. 1. dan rancang bangun teknis. bagan alir. metoda analisis atau alat yang digunakan. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen). b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No.1 b) di atas. Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas. metoda prakiraan dampak besar dan penting. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai.4. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data.3.1 b) di atas.3. F.

3. yaitu lokasi dan luas areal proyek.5. ekonomi dan institusi.5. 2. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. 1. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 . F.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah.5. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek. 2.3. kabupaten/kota dan provinsi. dan komponen kegiatan proyek. kecamatan.5 Rencana Kegiatan F.3.1. Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F. Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan. Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih.1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. F. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa.3.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan.

Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F.5. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2.4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar.3. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 .2. Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup. konstruksi. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b. dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi. dan pasca konstruksi.

Keresahan masyarakat.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp. Settlement. sosial. Pola penggunaan lahan. Keberatan pemilik lahan. Estetika lingkungan F. Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng. Pendapatan penduduk. volume galian dan timbunan dll). F. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat. Kualitas air permukaan.3. F.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar.3.6. Perekonomian lokal. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk. Erosi tanah.1 Komponen Geofisik. yaitu komponen geofisik-kimia.6. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. rute angkutan material. Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek. Aliran air permukaan. jenis peralatan yang digunakan. biologi. Tata guna lahan. Sedimentasi.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. F.6. Prevalensi penyakit.  Biota air. RKL DAN RPL BIDANG JALAN . Aliran air tanah. kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana.3.3.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk.

Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. antara lain meliputi :  Kondisi jalan.3. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. d. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan. yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a. 2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.8. Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 . konstruksi.7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi.3. F. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik. c.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar. b.3. 3) Mekanisme aliran dampak.6. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. F.  Kondisi lalu lintas. e.3.  Kondisi utilitas. dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. F.

f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam. d) Diagram. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL. kualifikasi. F. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup. b) Surat-surat tanda pengenal.4 Penyusunan Konsep RKL F. F. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting. Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai.3. e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL.10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun.9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul. grafik.1. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 . F. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen.8.3. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak.3. peta. F. keputusan.4.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola.

c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F.  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan. mengurangi.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 . singkat dan jelas. ekonomi dan institusi. F. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.4. akan ditempuh cara. b) Pernyataan kebijakan lingkungan. Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. (a).3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. Bab 4 : Daftar Pustaka. kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada. Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut. Bab 5 : Lampiran. misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi.4. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan.

g) Pembiayaan. misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan. jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. Dinas Kehutanan. jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi. berkepentingan. uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan. d) Pengelolaan lingkungan. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa. e) Lokasi pengelolaan lingkungan.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek. Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. f) Periode pengelolaan lingkungan. Dinas Pengairan.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. b) Tolok ukur. c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. PLN (Persero). uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting.  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b).4. (c). uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting.  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan. sosial ekonomi ataupun institusi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.

Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan. singkat. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . sumber dampak.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau. b) Uraian secara sistematis. Bab 4 : Lampiran. pihak-pihak yang berkepentingan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. b) Sumber dampak.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.5. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. maupun bagi masyarakat.5 Penyusunan Konsep RPL F.4. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak. rencana pengelolaan. tolok ukur. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F. adalah penurunan sumur penduduk. lokasi.5.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak. Contoh indikator muka air tanah. Bab 3 : Daftar Pustaka. Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. F.5. dll.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL.4. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. F. tujuan pengelolaan lingkungan.1. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi. F.

F. c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai. d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting. tujuan pemantauan lingkungan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 .5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. pengawas. e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan.6. sumber dampak.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai. dan institusi pemantauan lingkungan. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud. lokasi. F. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak. (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL). rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data. h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan.6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F. b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. metoda analisis).5. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan.4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. F. Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana. berkepentingan. atau formulir isisan yang digunakan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. kimia.5.

pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 .Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.6.4.6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan.6.1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F.6.6.6.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut. F. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.6.2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F. F. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai.6.3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. F.

2. dan penilaian tingkat kepentingan parameter. 3.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a). Identifikasi dan penetapan parameter sosial. termasuk akses koridor. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 . identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak.2. identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak. (b). 299/11/1996. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial. 5. G. Ahli Transportasi.1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli. yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya. Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya.2. 4. penetapan batas wilayah studi.2. Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial. dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi. Ahli Sosial Ekonomi.1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan. Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak. G. G.

 Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen.  Melakukan pengamatan terhadap lokasi. batas ekologis.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas. (c). lokasi basecamp. Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. setiap segmen dan sub segmen. dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis.  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 . dan borrow area (yang dikelola proyek). G. Dalam proyek jalan. batas administratif. batas sosial. waktu dan tenaga yang tersedia).  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan.2. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. rute pengangkutan material.  Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah.  Pada tahap awal. dilakukan pembagian segmen. batas kawasan industri. berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana.  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen.3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak. wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen. maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman). konstruksi dan operasi. kawasan pelabuhan/bandar udara.  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau. lokasi quarry.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya. Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b. Tahap pra konstruksi. peralatan dan meterial yang digunakan (d). Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e). mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b).  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c). Metode kerja. Tahap pasca konstruksi. antara lain sebagai berikut: (a). Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya. Tahap konstruksi b.2. Kegiatan proyek. Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a). meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 .1. meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b).Tahapan Pelaksanaan Proyek. Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek. Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial.

dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara.2. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 . perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua. Pelaksanaan penilaian/pembobotan. Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan.2.5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter.1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a). Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner.4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G. Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga. yakni: (a). (b). bukan pada dampak turunan. Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. dapat dilakukan dengan cara pembobotan. yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama. (c). Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak. selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban. dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi. Skala bobot kepentingan dimaksud.2. Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga. Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Pembobotan oleh Ahli (b). tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. Melalui prinsip penghitungan yang sama. G. Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan.

G.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi. dan keragaman tata guna lahan. Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut.3.3. perlu dilakukan penelusuran tapak. Karenanya. Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus.3. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai. Apabila dipilih cara ini.3. karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas. batas wilayah administratif. G. Pemilihan sampel representatif. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 . salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol. jumlah sampel ditentukan. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan. G. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan.1 Kerangka Proses G. (b). Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek. Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan.3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G.4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a). maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel. dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. Untuk itu. Dengan cara tersebut. tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. teknik penelusuran sampel. analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut. tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa.

(f). semi-permanen. seperti kondisi permukiman permanen.d. Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan. Muatannya berupa data hasil wawancara. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya. Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. (g). 50 meter. dan responden dihadapkan pada pilihan opini. Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek. Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini. atau pun jenis pekerjaan. Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c). Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen. Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban. metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. (e). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden. dan non permanen. Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang.

Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri. (b). karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian. Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G. tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden).5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA).4. berupa identitas responden. untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan. Pada prinsipnya.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. G. persepsi tingkat kepentingan parameter. Kuesioner tersebut memuat data pokok. Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor. responden diminta untuk menilai kondisi eksisting. Selanjutnya. Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara.1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 .3. kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS). atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri. Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek.4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan. dan persepsi terhadap kondisi eksisting. Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas. serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam. (c). akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial.

Untuk kepentingan analisis ini. Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). (c). Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif. dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi.4. Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. 3. peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur. mobilisasi dan pembebasan lahan.2 Komponen Analisis (a). Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek). Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. 2. dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. baik berupa baku mutu. antara lain : 1. (b). Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter. BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan. Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 .

yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan. RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak. G. Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e). Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi. Jadi. dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia. DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS). dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi). konstruksi. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL).5. RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana. Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden. nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak. intensitas dampak sulit diukur secara langsung. Pada komponen sosial. yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak. Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw. Pada proses analisis.2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 .Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur.5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw).5. Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. RDDL = SDD/DDLSaw G. Pada komponen lain.1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. Karena itu. (d). dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan. terdapat 2 (dua) terminologi kunci. Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum.

Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama. apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri. mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). baik pada saat pra-konstruksi. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . G. Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. (c). Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini. Kep-056/1994. Secara konsep. maka suatu dampak tergolong kategori penting. masa konstruksi. Demikian pula dengan populasi. Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan.  Dampak dikatakan besar. apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan. Selanjutnya. maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori. apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang.5. digunakan Keputusan Ketua Bappedal No.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan. yakni :  Dampak dikatakan kecil. maupun pasca konstruksi. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak.

sistem atau pun penggabungan dari keduanya. Mitigasi dilaksanakan secara teknologi. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 .Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. Untuk memilih prioritas mitigasi. Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki. Dengan demikian. dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. (d). mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama.

CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat. Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum . terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat. terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru.

 Keluhan thd.  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi .Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd. kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.

tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan .TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon. sekolah. rumah sakit. tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman.

.

dsb.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal.2. peta topografi. rangkuman hasil konsultasi mayarakat. H.1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H. dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek.2.2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H.2 Penilaian Isi Dokumen H. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang. peta batas wilayah studi.2. c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan. beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya. dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 . peta lokasi proyek.2. regional maupun nasional. peta geologi. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti.1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi. H. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). peta tata guna lahan.

4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan.  Data sekunder: jenis dan sumber data. Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor). batas ekologis.  Tahap konstruksi.2. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting.2.  Tahap pasca konstruksi.3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi. misalnya pengadaan tanah.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat. biologi dan sosial-ekonomi dan budaya. matrik. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya. Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek. 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak. batas sosial maupun batas administrasi.2. Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting.2.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur. analog. misalnya galian dan timbunan tanah. b) c) d) H. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir. meliputi:  Tahap pra konstruksi.2. Penggunaan model matematis.2. dll.

1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. atau bantuan luar negeri). d) e) H. Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL. c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan.  Berpengalaman memimpin tim studi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah. H. Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi. hasil konsultasi dengan instansi terkait.6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. RPL.2. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi. Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL. swasta.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok. daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya). PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 .2. b) metode-metode yang digunakan. H. dsb). hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi. RKL dan RPL. keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah.2. APBD.2. yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab.  Sumber dana (APBN.  Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi.3.5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan. Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL.

 baku mutu lingkungan. dan pasca konstruksi).3.2 Penilaian Isi Dokumen H. konstruksi.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL. wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai.3.  dll.1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 . analog.3.2. antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan. jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan. atau profesioanal judgement. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi.  data sekunder: jenis dan sumber data.3. dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. H.2.2.  pertanahan. b) H. harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis.3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi.

3. atau adanya kawasan yang dilindungi. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek. d) Data teknis jalan yang akan dibangun. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah.4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen. kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi. Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi. alinyemen jalan. biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan.  Jumlah. c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta. konstruksi dan pasca konstruksi). PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . lokasi quarry.  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan. e) H. serta lokasi pengambilan. seperti peta tata ruang. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area). peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja. H. Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan. wilayah studi. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya.3.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik.2.2. rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan.

2.2.8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan. (2). (5) Dampak penting pada butir (1). selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek. Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. (3) dan (4) yang telah diuraikan. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial.2. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . H. yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala.  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement.  Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif. (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri.3.6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi. c) d) H. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.3. dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi. Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku.3. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting. seperti pergeseran tata nilai. agar dikaji secara deskriptif analitis. yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris.

4. Saran. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 . yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi. Daftar biodata tim penyusun AMDAL. Pendekatan institusi. pendapat dan tanggapan masyarakat. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif.  Betujuan untuk menanggulangi.2.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting. Cara-cara dan hasil perhitungan.3. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek. Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL. Pendekatan estetika.  Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih. Pendekatan sosial-ekonomi.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif. H. H.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H. H. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi. Metode-metode yang dugunakan. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif. hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek.4.

tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. metode dan teknik pengelolaan lingkungan. H.4. periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. pembiayaan dan sumber biaya. H.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 . misalnya konsultasi masyarakat. H. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data.4.5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.5. tolok ukur / parameter dampak. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H. lokasi pengelolaan lingkungan.4. kriteria desain.4. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan. H. sumber dampak. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP).4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting.3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design). dan  pelaporan. keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL.

2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 . Sumber dampak. dan  Pelaporan.3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ).  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera.5.5. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL. Lokasi pemantauan lingkungan. H. H. misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan. Tolok ukur / parameter dampak. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain. kamera video.5. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan. f) g) h) H.  Pengawasan pelaksanaan RPL.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL.5. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL. H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan. Metode dan teknik pemantauan lingkungan.  wawancara.  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan.  inspeksi mendadak. dsb).

Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir. Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 .

Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.2. I.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek.1. Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul.1.1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.1. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani. Untuk proyek peningkatan jalan. mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada.1. panjang ruas jalan. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini.2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I. I. tujuan pembangunan / peningkatan jalan.2. Untuk proyek pembangunan jalan baru. lebar rencana damija.1 I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 . sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. sesuai dengan laporan hasil penyaringan.

2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan. LHR rata-rata (rencana).2.1. gambar profil melintang dan memanjang. Konstruksi jembatan. meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman. meliputi:           panjang jalan. pot / bak tanaman. dsb.2 I.2. Panjang dan lebar jembatan. lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan. halte bus. Kecepatan rata-rata (rencana). fasilitas penerangan jalan.1. I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I.1.1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I. I.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran.2. jembatan penyeberangan trotoar.1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan.

2. I. misalnya tahap studi kelayakan.1. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer.4. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan. pekerjaan jembatan. excavator.2.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Apabila diperlukan pengadaan tanah. status pemilikannya. truk. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan. perkerasan dll. Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain. pekerjaan tanah (galian / timbunan). jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan). Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 . barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik. yang perlu direlokasi (bila ada). I. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja. antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak.2.2. serta jenis penggunaannya saat ini. I. I. gorong-gorong. 2.4 I.4.2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi. saluran irigasi.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah.2. dll yang dibutuhkan. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I.

2.4. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman. Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. dsb. Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping). serta galian dan timbunan tanah. batu. Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. aspal. Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya. Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya. dsb. drainase. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. dan cara pengelolaan limbah.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. khusus untuk penggantian jembatan) I. abutement. Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas. piers. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course). Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong. Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 .2. Jika ada.5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada). serta partikulat debu. pegunungan. hidrocarbon (CH). Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. apakah daerahnya merupakan dataran rendah.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat. Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang. b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan. perbukitan.1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO). atau daerah pantai. Jadual pelaksanaan konstruksi I. I. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut. Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. bergelombang. karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek. Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan. pemeliharaan rambu lalu lintas.3 I. Nitrogen oksida (NO).Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun.3. Sebagai contoh. agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini.2. dataran tinggi. b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat. sebelum penyerahan pekerjaan. I.

3. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . danau. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor). Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata. sekolah. dsb. Areal binaan seperti pemukiman. Bentang alam yang bersifat khas.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya.3.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan. perkantoran. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap. Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan. Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit. taman. saluran irigasi. I. f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai. tempat ibadat serta pemukiman padat. d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan. Komponen biologi I.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya. dsb. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 . agar dijelaskan kondisi jalan saat studi.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu. terutama penduduk yang akan terkena dampak. dsb.  Sekolah. dan sebutkan faktor penyebabnya.5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan. serta waktu tempuh pengguna jalan.3.3. I.. pipa gas. I. telepon. Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek. volume lalu lintas kendaraan bermotor. pasar. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase. pertokoan. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan. d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA.  Jaringan listrik. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan. sarana ibadah. rambu-rambu lalu lintas. gorong-gorong. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan.

5. Gangguan kesehatan masyarakat. Perubahan tata guna lahan. Tahap pasca konstruksi I. Kerusakan jalan akibat transportasi material.4 I.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas.4.1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek. Gangguan kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. Kecelakaan lalu lintas. Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat. Gangguan aliran permukaan. Keresahan masyarakat dan konflik sosial.5 I. Kecelakaan lalu lintas.4.4. kehilangan tempat usaha. I. I. Penurunan populasi vegetasi.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor).  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek. Penurunan estetika lingkungan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 .

I.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab. faktor lingkungan yang akan dipantau. serta petunjuk lainnya. berikan penjelasan secara jelas dan tepat.6.000 m3.5. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 . Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya. Bila perlu.6 I.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan. misalnya pada km berapa.5. Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa.5.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif. I. misalnya selama satu bulan. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya. lokasi pemantauan. dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi. nama desa dan kecamatan. I. dan periode pemantauan.5. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan. tolok ukur dampak.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati.5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan. misalnya galian tanah 300. misalnya kerusakan badan jalan.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi. keresahan masyarakat atau pencemaran udara. I. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan.

Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. nama desa. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat.6. kecamatan. misalnya pada km berapa. konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi. mulai tahap pra-konstruksi.: a) b) c) d) Sunber dampak.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan . Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb. demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau. I.6. I. Indikator dampak. Jenis dampak.6.2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak. I.6.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek. Upaya pemantauan Sumber dampak I.3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau.. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data.

I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 . I.9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9. misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait. Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu.1 dan Tabel 9.7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan. Di samping itu. I. disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan.8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai).2).

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.

Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain. RKL dan RPL. Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 . b) Peninjauan lapangan. J.2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL. ANDAL. periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J. Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia.

lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. Rencana Kegiatan • Bab II. Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. Lampiran.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan. Bab II. Daftar Pustaka. Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak. Bab III. Bab I. terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan. • Bab III. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. Bila perlu. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Pendahuluan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan.

Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. Sumber dampak yang perlu ditangani. dan Layak ekonomi. contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. Tolok ukur dampak. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. bertujuan untuk menanggulangi. Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. meminimisasi.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia. pengawas. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait. atau mengendalikan dampak negatif. bersifat meningkatkan dampak positif. pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. meliputi pelaksana. c) Pendekatan institusi. misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. Pengelolaan lingkungan hidup. Periode pengelolaan lingkungan hidup. d) Pendekatan estetika. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak. a) Pendekatan teknologi. b) Pendekatan sosial ekonomi. Institusi pengelolaan lingkungan hidup. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. dan penerima laporan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 .

untuk mencegah kecelakaan lalu lintas.4. agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor. dan upah). Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1). • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki. Bapedalda. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan). Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga. • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor.1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. (panjang 15 m). peralatan.4 K. Di depan sekolah pada Km 3 + 210. rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu. DLLAJ J. Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air. untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi).

 Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3). tepi timbunan badan jalan yang tinggi. Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 . atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2). • Penataan lansekap di lokasi tertentu. di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. untuk mengatasi gangguan visual (estetika). lokasi jembatan atau gorong-gorong. dsb. tikungan tajam.

Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas.5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. K.4. J. Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia.000). sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan. polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN .Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong). Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500.2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air. biologi dan sosial.

kecelakaan lalu lintas). debu.6 J. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi. borrow area dan disposal area. Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora). sesuai dengan persyaratan yang diperlukan.6. J.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas. dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas). . Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak. Pengamanan / reklamasi bekas quarry. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 . setelah pekerjaan konstruksi selesai. J. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah.  Apa yang harus dilaksanakan. baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3). Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas). Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek).1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak. Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. kemacetan lalu lintas. sesuai dengan fungsinya.6. hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk. cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. kerusakan badan jalan.2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. Pengoperasian base camp (penanganan limbah).

kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material.  Siapa yang bertanggungjawab. Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting. • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 .  Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya. akibat pekerjaan galian tanah. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek. kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material.3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. jaringan telepon/ listrik. J. erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah. Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan. effluen limbah cair dari base camp.6. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan. dll.

mata uang. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. 5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. 2) Selama pekerjaan mobilisasi. serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan. termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. Kontraktor harus berusaha memilih rute. 4) Semua benda peninggalan purbakala. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi. dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. sampah dan segala macam pekerjaan sementara.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan. kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. Pada saat penyelesaian pekerjaan. benda berharga atau kuno. dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan. sisa bahan.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan. jembatan. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. ekologis dan visual. Lansekap jalan yang baik. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. subway dan simpang susun. Lansekap pedesaan. Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan. Lansekap perkotaaan. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia. Lansekap jalan. dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon. overpass. dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan. Gambar 1. secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. semak. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. serta sepanjang koridor jalan. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan. lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik. stimulasi dan penyegaran. yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K.1).1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung. trotoar. Di daerah perkotaan. perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan. Lansekap pantai.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . underpass.

berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami. perkotaan dan perdesaan di Indonesia. pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . Di daerah alami.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut.2 Gambaran umum lansekap jalan K. kondisi tanah. fauna.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota. Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora. berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun. seperti hutan. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a. demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat. Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan. hidrologi.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya. K. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia. termasuk modifikasi lingkungan alami. c. b. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya. gedung. dan topografi.2.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas. Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap.

dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual. Untuk mencapai hasil terbaik. air (PAM). serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. termasuk listrik (PLN).Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. Jalan kota menyediakan jalur utilitas. telepon. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi. K. Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita.2.  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap.        PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 . khususnya jika lalu lintas bergerak lambat. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim. pengendara motor dan / atau pejalan kaki. penumpang kendaraan umum. saat kita berkeliling kota.  Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan. dan gas. warung atau kaki lima. serta meningkatkan peluang untuk pemandangan. seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan. Dalam proses perencanaan jalan kota.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan. nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan.  Dalam beberapa keadaan. umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran. Lanseap jalan kota penting dari segi visual. perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain.2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil. macet atau berhenti. Jalan kota penting bagi kita.

Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut.2.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik. warung. sosial. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 . c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik. kolektor dan lokal. lingkungan.  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional. Pergerakan pejalan kaki. lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan. keindahan.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. kabupaten / kota. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki. d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial. provinsi. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial .3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan. dan arteri. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan.  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi.2. K.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 . Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3. Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4.

Pemecah Angin  Tanaman pohon. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 . perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6.  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7. Pembatas Pandang  Tanaman pohon.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8.5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 . Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.

Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L. Penyusunan dokumen RK-PTPKP. Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan.1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah.2.000 atau 1 : 5. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED). LK. dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500.2. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan. L. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis.000). Peta persil tanah skala 1 : 1.2 L.1. Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1.000 dan data status kepemilikannya.1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan. Disamping itu. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1.000 atau 1 : 2. data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer.1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial. yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN .000. khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara). Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat.000 atau 1 : 5. Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama.

bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis. dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya. kategori. kategori. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 . meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada. pemilik. status hak dan jenis penggunaannya. e) L. atau Proyek Pembebasan Tanah. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek. Jumlah dan dimensi/ukuran. a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas.2. Koordinasi/Konsultasi L. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah. nama pemilik. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah.2. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek. Jumlah dan dimensi/ukuran. maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi.1. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek. pemilik.

Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. meliputi :  Jumlah PTP. Kantor K elurahan. Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek.  Struktur penduduk. Kebijakan pengadaan tanah. status penguasaan dan pola penggunaan tanah. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek. pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan. pendapatan dan pekerjaan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 . Kantor Kecamatan. perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. L. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya. pendidikan. pemukiman kembali dan pembinaan. Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. termasuk ganti rugi. perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. Dinas Perumahan. Kepemilikan.2.3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan. dll. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah. Instansi terkait lainnya.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. Sarana dan prasarana umum yang tersedia. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). kesiapan program. dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. prosedur pengadaan tanah. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. Pemda dan instansi terkait tersebut. Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah.

keluarga. Jaringan sosial dan organisasi sosial. perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. survai sosial ekonomi.3 L. Pelaksanaan Pengumpulan Data L. Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya. orang yang berhak). kerugian yang layak diganti rugi. luas tanah. dan survai lokasi pemukiman kembali. L. Menetapkan tanggal pendataan PTP. Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia. pola penguasaan dan penggunaan lahan.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP. Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan.3.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek. L. Komposisi demografi dan sosial budaya. Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. Organisasi dan kebutuhan masyarakat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. Kepemilikan.3.3. pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . meliputi :           Karakteristik lokasi. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset. Sistem dan perilaku sosial budaya. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP. Reaksi terhadap pemukim baru. Jaringan sosial dan organisasi sosial. Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia. Persepsi PTP terhadap proyek.2.

000). dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. b) c) L. RW/RT setempat.3.3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. pengamatan (penaksiran). LSM) yang dilatih terlebih dahulu.3. dan (ii) survai sosial ekonomi. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner. Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan). serta kepemilikan dan status penguasaan lahan. ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota). dan survai inventarisasi. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata.  Sebelum pengukuran situasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan. dilakukan pendataan persil tanah.1. serta tokoh masyarakat. kondisi topografi. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung. dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan.2.2. dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota).  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0). Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama.2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi. Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan.2. Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan).  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah. a. L. pengukuran. yakni : survai lahan. RW/RT. serta dari wakilwakil PTP. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan. tokoh partai politik. a. Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. penyelidikan riwayat. penyuluh KB. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 . penguasaan dan penggunaan tanah. petugas sensus dari kantor BPS. Kelurahan.

 H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal). Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat. Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 .4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan. (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. serta pendidikan.3. Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan.  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula. fasilitas pendidikan. kesehatan. jaringan air bersih.  jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu.  prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah. staf Dinas Sosial kab/kota. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran. dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. penyuluh KB. d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek. b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan. LSM) yang dilatih terlebih dahulu.  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan).  jumlah anak sekolah yang harus pindah. a. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat. prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum. L.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga. peribadatan. Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga). pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian.

perencanaan pemukiman kembali. bangunan MCK. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan. pasar. Tingkat dan besaran ganti kerugian. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 .6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian. telepon. termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. pelayanan kesehatan. dan jumlah PTP. Pilihan bentuk ganti kerugian. fasilitas peribadatan. dll). n) Terganggunya kegiatan pendidikan. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. jenis dampak/kerugian. telepon. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul. olah raga. simbol atau tempat keramat lainnya. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana. terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian. gas. Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. bangsal. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja. air bersih PDAM.6. air bersih. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal.

Tanah wakaf.6. antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. saling membantu pada saat kesulitan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 . yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK).1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah. Tanaman. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0. sebagai berikut :  Tanah perumahan. Tanah Negara. o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. L. nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial). (misalnya. Kriteria tanah. Bangunan.  Keterikatan sosial dengan lokasi asal.6.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. antara lain meliputi :         b) Tanah hak. pengontrak/sewa (tanah dan bangunan).3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali). dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan. baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat.  Aset sosial-budaya lainnya. Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.  Lahan usaha pertanian. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). Tanah yang dikuasai tanpa alas hak.3. gotong royong.6. antara lain: anak (murid) sekolah. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi. Tanah ulayat.2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No.

 Aspirasi warga.  SK Bupati/Walikota. Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya.  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan.  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik.  Sudah berakhir dinilai 60 %.  Harga sejenis. dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak). Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah.  Harga pasar. kondisi kebun dan produktivitas tanaman. dengan ketentuan sebagai berikut : (a).  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan. maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan. Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 . dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum.  Belum bersetifikat dinilai 90 %. atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.  Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan. Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %. (c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %.  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah. adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi. Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %.  Sudah berakhir dinilai 60 %.

Selanjutnya. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB).  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. 10 . tanpa memperhitungkan depresiasi. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. 48 tahun 1994. (e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara. c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %.  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. b. maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga. dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut. Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %.

Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud. kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut. a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan. Selanjutnya.3.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 .  Bantuan biaya pindah yang layak.6. dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian.  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan. penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak. manfaat/kepentingan. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN).  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan. dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut. berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan. dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi.  Aspirasi warga L. dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI.

 Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan.5 Km.  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini. selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha.  Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali.  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan). dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan.  Bantuan pindah. diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan. diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. Dampak ini akan timbul. dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan.  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 .  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK. yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya). Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan.

Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. c) Tanaman.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. dan sebagainya. e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat.4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. Tanah pengganti. Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Bangunan pengganti. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah.1 Berdasarkan Keppres RI No. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah. L. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. dan apabila diperlukan. b) Bangunan. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya. Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya. harus disiapkan paket program persiapan sosiaK. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan.7. Menentukan kategori pemukiman kembali. Pemilihan/penentuan lokasi.6. Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan). Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut. Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali.

Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0. dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun.12. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 . hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya. kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah). 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4. serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas.7. Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No.25 Ha.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4. maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha.12. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB).2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK).

penggembala. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. misalnya yang paling miskin. struktur masyarakat. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. masyarakat terpencil. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. tempat. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. langkah pemulihan pendapatan. tempat. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. PTP adalah penduduk asli atau rentan. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. Penggantian kalau bisa. pemulihan pendapatan. struktur masyarakat. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 . masyarakat terpencil. Penggantian kalau bisa. langkah pemulihan taraf hiduK. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. dan penggembala. misalnya yang paling miskin. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. langkah pemulihan taraf hiduK. PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. Ganti rugi dengan nilai penggantian. Ganti rugi dengan nilai penggantian.

penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi. didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek. kepadatan penduduk rendah. a). mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. Khusus untuk daerah perkotaan. dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan . Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa.7. budaya dan ekonomi.3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. Relokasi Mandiri. Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. sosial.7. L. Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya. (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun). b).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Relokasi Setempat. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya. relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan).3. harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 . meskipun jumlah PTP relatif banyak. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri. Namun demikian. c).1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi). jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. (ii) Relokasi setempat. lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi. B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik.

3. baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. antara lain : (i) Perumahan. dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan. Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan. kepadatan penduduk rendah. fasilitas KPR-BTN). Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. Jika PTP yang terpindahkan sedikit. perumahan dibangun di lokasi baru. b). (iii) Kaveling siap bangun (KSB). sambungan listrik. (ii) Rumah susun. Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka. Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”.2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya.7. Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada. Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK). Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru. fasilitas KPR) L. fasilitas umum). saluran drainase. sambungan listrik. perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . 20 tahun). Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan.4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. L. air bersih. dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru. fasilitas kredit kepemilikan rumah). c). Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan. fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya. jalan. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK. Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih. meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan.7. jalan. a). serta harganya terjangkau (misalnya.

serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK). fasilitas pendidikan.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat. seperti :  Penyediaan air bersih. (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan. (b) Ketersediaan lahan. komposisi penduduk). (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian. seperti fasilitas pendidikan. (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan. sosial. Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai. olah raga.  Sambungan listrik (dan komunikasi). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 . (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja.5 Perancangan Permukiman. tempat ibadah. dan pusat perekonomian).  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat. pasar. Perancangan struktur permukiman. sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi. Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan. prasarana sosial.. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk. luas dan bentuk lahan. dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali.  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya. tempat usaha.  Fasilitas umum.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat. peribadatan. daya tampung lokasi/ kawasan. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama. dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi. L.7.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP. penggunaan sumber daya milik umum. (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini. budaya dan ekonomi).

orang-orang cacat. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. preferensi. keterampilan. mata pencaharian. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. besarnya keluarga. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi. preferensi. keterampilan. bantuan pindahan. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi. serta analisis kelayakan dan finansiaK. pilihan).  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti. pendidikan. pendapatan. Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. bantuan pendidikan anak sekolah. bangunan. umur. mata pencaharian. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan. kelompok usia lanjut. dan PTP yang tergolong kelompok rentan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah. tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya.  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin. pendidikan. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan.8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak. pendapatan. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP. b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. kelompok paling miskin).  Bantuan pembangunan rumah. L. Kemudahan transportasi angkutan umum. besarnya keluarga. umur. tunjangan biaya hidup. khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek. pengusaha. pilihan).  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha. yakni PTP yang terpindahkan. khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . kaum perempuan.

L.  Paket rehabilitasi lingkungan.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya. serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan. instansi pelaksana. regional atau nasionaK. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan. bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri. Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan. frekuensi. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. penyiapan lahan pengganti. pekerjaan. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis. Strategi pembinaan jangka panjang .Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali. termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab. serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai.9. Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 . mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan.1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan.9 L.

Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. jenis aset terkena proyek. antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini. e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung. Rapat pertemuan dengan masyarakat. khususnya pada lokasi bersangkutan. b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 . dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan. sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol. File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. serta bentuk dan nilai ganti kerugian. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive).

Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi. tahunan dan laporan akhir kegiatan. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. koordinasi dengan instansi terkait. Kemudian. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. Persyaratan personil pelaksana. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 . pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). bulanan. Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. verifikasi. Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. khususnya dalam rangka sinkronisasi program. termasuk pengumpulan dan analisis data. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi. untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Namun demikian. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. triwulan. mingguan/dwi mingguan. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. pemukiman kembali dan pembinaan. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. pengendalian. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. penyusunan laporan.

dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan. Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa. serta rencana untuk triwulan berikutnya. antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran. Tingkat kepuasan PTP. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. wawancara bebas dengan renponden kunci. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan. L. Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP. rapat/pertemuan dengan PTP). Pemulihan taraf hidup. Efektivitas perencanaan. dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan..Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan.9. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan. Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan. realisasi penyerapan dan alokasi anggaran.

biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). kerangka pengambilan sampel. Partisipasi stakeholder primer. maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. pengendalian mutu. pemukiman kembali dan pembinaan. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini). Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. Kerangka waktu. pemukiman kembali dan pembinaan. Persyaratan pelaporan. Sumber daya yang dibutuhkan. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. universitas. Metodologi secara rinci. Menilai efisiensi. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). updating. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). komparasi dan analisis. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. pemukiman kembali dan pembinaan. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah. Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. konsultan. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan. khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. sosial ekonomi/koperasi. atau LSM. pemukiman kembali. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah. dengan mengacu pada RKPTPKP. dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. efektivitas. pertanahan. Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang.

5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan).10. Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 . Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi. Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah.10. pengadaan tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi. dan monitoring dan evaluasi.10.10. Set-up kelembagaan. Penyiapan program dan anggaran. L. Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi. organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan.9. L. pembinaan.10. L. pemukiman kembali.3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah.10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan. L. Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi.

Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah.11. Secara garis besar.11. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat). d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi.11. L. kesehatan. monitoring dan evaluasi. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. biaya pemukiman kembali.memulai usaha baru). usaha kecil/rumah tangga). L.4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti. Bantuan pengembangan (seperti. biaya pembinaan dan rehabilitasi.11. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah. Inventarisasi dan sensus PTP. pendidikan). fasilitas kredit murah. biaya pengadaan tanah. 11. L.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. L.5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan. dan biaya administrasi. L. koperasi. termasuk biaya untuk ganti rugi. Paket peningkatan kualitas lingkungan. beserta aset lain yang ada di atasnya).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa. pemukiman kembali. L. serta biaya administrasi. Sertifikasi tanah.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah. pelatihan.2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah. c) Bantuan biaya pindah. serta sarana dan prasarana). pembangunan perumahan. pembinaan.

Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L.12.12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7). 26/1985 Bab I Pasal 1. Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan. c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6). Berdasarkan PP No. e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8). Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait). b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5). Mekanisme koordinasi. f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9). Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L.1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan. mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4). Kerangka kebijakan.

Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27). Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota). dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. sub tim perencanaan/penyiapan program. Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim). cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. sub tim sosialisasi dan pembinaan. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. telah diatur dalam Keppres RI No. sub tim implementasi dan pengendalian). khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 . Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No. Jasa Marga Persero). Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP. Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. 55/1993 (Bab III. 1/1994 (Bagian Keempat.

Persyaratan personil pelaksana. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu.12. Tokoh Masyarakat. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait. Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP. atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. Panitia Pengadaan Tanah. Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah. misalnya. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus.12.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 . pembinaan kelompok rentan.pemantauan internal. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. dan kelompok perwakilan PTP. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah. BPD (Badan Perwakilan Desa). pemukiman kembali. Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. jumlah dan lingkup pekerjaan. Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Kerangka koordinasi eksternal. antara lain jumlah PTP. jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal. c) L. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan.4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. baik secara vertikal maupun horisontaK. b) c) L. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.

antara lain: a) b) c) studi banding. h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. teknik lingkungan. m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 . L. Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali. sosiologi.12.5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali. L. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi. bantuan teknis. ekonomi. hukum.12. c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. dan kesejahteraan sosiaK. i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. pelatihan dan lokakarya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur).

n) o) L. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek. serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali. serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP. termasuk pembiayaan. Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah. Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup. L. khususnya yang terpindahkan. serta rencana pendanaannya.7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 . Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali).13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik. serta pemantauan eksternal dan evaluasi. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB. pemukiman kembali dan pembinaan. pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP. pemukiman kembali dan pembinaan. termasuk definisi proyek. Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat.

… . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . khususnya areal sensitive … ....Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .. (6) . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. . 4).. BPN dan dari sumber lainnya 2). Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ... .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.

(2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep.. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .... Sosial) . 9).Ka Bapedal No. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. 8). (12) .. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .. (10) 7).08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan...Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . Dikbud..… .. .. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai....

Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. 2)...... (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . (9) .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. RKL dan RPL 3).(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ...

(7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan. (8) .. RKL dan RPL … .......: penanganan utilitas yang terkena..... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis...Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL...… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.: median. RKL dan RPL pada perenc. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ..teknis.. lansekap … … … ... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ..

.

(2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . mis. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas produksi. jenis penggunaan dan kepemilikan). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang..… . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat ..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. 4).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). peran dan fungsi kota dll.

..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ............ sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ..(6) .. 4).... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis. status kepemilikan dan kesediaan melepas....... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..........(8) . (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3). ekonomik.. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing. 5).(7) Menetapkan koridor jalan terpilih....Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ..

(6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.4).. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). (12) .. Hasil Pra Kelayakan 2). 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .5).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .Rute. dll... 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. ekonomis dan lingkungan.(11) Menetapkan Rute Terpilih . Terhadap pengadaan tanah … .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.. (7) Memperkirakan dampak sosial … .

Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). Termasuk rencana kerja. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. 3). (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) .(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . 6).kem bali … … .. pelepasan hak.. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . dll. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. Lokasi di Peta. rehabilitasi pem uk. masa tinggal dll. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.… … … . prakiraan nilai kekayaan.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. luasan. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .kem bali.. … . (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .

..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (4) KETERANGAN 1). (2) Berpartisipasi dalam musy. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). 13)...(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . khususnya panitia pengadaan tanah … … .T ....P … … .… .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .

(12) . 6).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .. 4).. 5).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .

2).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. (8) . 6). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 7). 4).. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. … 7) 3).. 5). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.

adat istiadat.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. LA R A P … … .… .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … ... (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . nilai kearifan lokal. pelatihan untuk alih profesi … . tata ruang. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .

.

… … . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.… . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.. kapasitas produksi. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).. terasing… ... peran dan fungsi kota dll. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5).(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . 3).. (6) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan .. . (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas jalan yang dibutuhkan.

(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... 4).... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. ekonomik. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3).. budaya .(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing. … … .... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … ..... ekonomi.. 5).......... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... . sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . terasing... (8) ... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .... (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7)......Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.

. terasing … .. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi........ .. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy....4). ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis..(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.. terasing.5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy..... terasing..

terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .… … … . pembagian tugas 3).. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . sistem dan nilai hak adat . Termasuk rencana kerja..(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy..terasing tsb.... T indak … .... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)........ Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). (11) .......Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. Renc... (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2).. kepemimpinan..

.Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing....... 5).. Termasuk LSM. … … ...… .. dll.. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).........(7) ...... 3)... 4).. 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .. lembaga adat ..(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).. perbaikan permukiman tradisional.... rehabilitasi konservasi situs dll........(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .....

terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .(12) ...(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 4). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (11) 8). (6) 3). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . 6)..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 5). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … ..

budaya dan kelembagaan.. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring..(8) . Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing ... Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 6).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … ... 2).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 4).. penanganan masy ....(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 5). Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME). sosialekonomi. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.terasing termasuk rehabilitasi … … ..

penanganan masy.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … .. terasing yang lebih baik . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. terasing … … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.… ... (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . tata ruang nilai kearifan lokal..

.

Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. Undang-undang No. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. termasuk manusia dan perilakunya. Peraturan Pemerintah No. tertulis dan tidak tertulis. Khusus yang menyangkut kebijakan publik. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya. yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. Undang-undang No. Peraturan Pemerintah No. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Undang-undang No. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. keadaan dan makhluk hidup. 55/1993. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya. Undang-undang No. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM.

188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup. 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 .Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. Kep. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 5) Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. 4) Undang-undang No. 18) Keputusan Menteri LH No. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 55/1993. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No. 105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL.

dan jalan lokal. Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997.2. Perangkat yang bersifat preventif.2. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. P. pertambangan. yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa.1 Undang . jalan kolektor. berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. permukiman penataan ruang dan sebagainya. baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. P. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila. dan energi. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup. Perangkat yang bersifat proaktif. yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup.2. daerah milik jalan. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. wajib memiliki AMDAL.2. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN .3 Undang-undang No. yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif. kehutanan. memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan. mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.2 Undang-undang No. P.

terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. tata ruang. 2.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. dan kawasan tertentu. rencana tata ruang. kawasan perkotaan. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda).4 Undang-undang No.3.     P. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal). 4. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. kawasan. propinsi dan kab/kota.1 Peraturan Pemerintah PP No. Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 . Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor). 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. mengetahui rencana tata ruang.2. kawasan lindung. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga. penataan ruang. kawasan budidaya. apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM. kawasan perdesaan. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3. Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain. 3 P. Rencana tata ruang. Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. wilayah.

wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. Bagian-bagian jalan. 4. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. yaitu membahas tentang peranan jalan.4.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. P. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 .3 Keputusan Kepala Bapedal No. P.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri.4. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. Dokumen jalan. 3. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. 5. Pembinaan jalan. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL.2 PP No. dan pengadaan jalan. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. yaitu membahas tentang damaja. seperti hak memperoleh informasi. pemeliharaan. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1.2 Keputusan Kepala Bapedal No. persyaratan jalan menurut peranan. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija. Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. tujuan dan fungsi KA ANDAL. Jaringan jalan. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan. mendokumentasikan saran. damija dan dawasja. penentuan sasaran. meliputi jalan tol dan jalan layang. perencanaan. 2. wewenang penyusunan rencana. 4 P. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. P. Keppres No. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. menyampaikan hasil rangkuman saran.4.3. yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. P. memberikan saran dan pendapat. 2.

Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. 5 P. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek.5. Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan.5. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . 2. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup.1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil. RKL dan RPL P. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah. Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL. ANDAL. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait. P. keciptakaryaan. jalan. Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Desember 2003 i . Jakarta. Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. kegiatan pengadaan tanah. sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah. dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya. Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. pelaksanaan konstruksi fisik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan.

. Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ... 4. 4.....PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ............................. 4.....… … … ....... D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...… … … … … … … … … … … … … … … … .............. … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup ......2 Kegiatan Pengadaan Tanah . 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ........ K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......................1 Penyiapan Dokumen Tender ........................ D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ... Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ...... 4............... 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .... Lampiran ii . Dokumentasi dan pelaporan ......3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...... P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .....4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan ..............

6.2.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii . 4. Lampiran 6. Lampiran 6. Lampiran 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1.3 10. Lampiran 6.2.1. 8. Lampiran 4. 3. 12.1.1. Lampiran 4.1. Lampiran 1.2.2.5 Lampiran 6. Lampiran 2. Lampiran 6.4 11. 7. 5. 2. Lampiran 6.1.2 9.1.3. Lampiran 4.

yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. maka Ditjen Prasarana Wilayah. mencakup hal-hal 1 . kriteria. dan prosedur. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. kota atau kabupaten. pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. efisien. standar. akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten. pertumbuhan. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. baik Undang-undang. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif.

Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. tertib dan teratur. Kimpraswil. benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive. yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan.Pekerjaan Umum atau Dep.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah. 2 . kesiapan pembiayaan yang memadai. perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people). kegiatan pengadaan tanah. and Updating of the Moduls). pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training. serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup.

2) Kegiatan pengadaan tanah. pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. 4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. maupun di tingkat kota/kabupaten. serta dampakdampak yang ditimbulkan. 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. 3 . baik di tingkat pusat. Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul. Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal. dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. propinsi. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan.

4 . 2. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut. 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden No. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No. Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. Peraturan Pemerintah No. mulai dari penyiapan dokumen tender. pelaksanaan konstruksi fisik. dapat dilihat pada Lampiran 1. Undang-undang No. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi. Peraturan Pemerintah No. Keputusan Presiden No. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.1. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Undang-undang No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. kegiatan pengadaan tanah. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.

12) Keputusan Menteri Kimpraswil No. Istilah dan Definisi 3. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 5 . 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. dapat dilihat pada Lampiran 2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.1. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL.1. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 14) Keputusan Kepala Bapedal No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 13) Keputusan Kepala Bapedal No. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.2. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

9.11.7. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. 6 . 3. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 3.3.10. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.5. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. 3.6. 3. ekonomi. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.8. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah. maupun politik nasional. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. ilmu pengetahuan dan kebudayaan. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. 3. 3. bangunan dan tanaman miliknya. 3.4. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.

dibangun. 3. 3. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan.11. 3. Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun.15.14.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.17. yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. 3. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 . Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi. yang dirancang.12. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku.16.13. Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi. 3. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan.12. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor.13. 3. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan. 3. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi.

Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi. Informasi Kualifikasi.1. Surat Penunjukan. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. : Bentuk Jaminan. Maksud dan Tujuan. 8 . 4. a.1. yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.1. : Gambar-Gambar. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. : Bentuk Penawaran. : Data Kontrak. harus dicantumkan dalam dokumen tender. maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis. : Daftar Kuantitas. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan. Sistematika Dokumen Tender. Perjanjian Kontrak. : Spesifikasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang.2.

2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya. termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.1. 9 . Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang. maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi. baik vertikal maupun horizontal. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b.3. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL.

4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana. dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas. dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian.4. 3) Dokumen tender standar. perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. baik untuk LCB maupun ICB. perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada). Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. 2) Pada Bab V: Spesifikasi. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan. Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender.1. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini. termasuk biaya yang diperlukan. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak.

antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi.1. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya.1. 4. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut. yang 11 . sebagaimana tercantum dalam dokumen tender. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan. Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4. 2) Pasal 4 Keppres No.1. bangunan dan tanaman. maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4.2. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup.1. dan nama pemilik tanah. b) Keterangan tentang letak.1. dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek. dapat dilihat pada Lampiran 4. jenis hak atas tanah.3.5 Workplan Kontraktor.

yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. diberikan untuk: a) Hak atas tanah. 55 tahun 1993. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. 5) Pasal 13 Keppres No. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan. 1 tahun 1994. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. b) Tanah pengganti. c) Tanaman. 4) Pasal 12 Keppres No. 55 tahun 1993. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. c) Pemukiman kembali. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. b) Bangunan. yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. 12 . 55 tahun 1993. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 1 tahun 1994. b) Perencanaan ruang wilayah kota. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut. 2. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak. 1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. 4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. 32 tahun 1979. luas dan taksiran biaya. dengan kriteria sebagai berikut. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah.2. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. Setelah hal tersebut disetujui. dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. sebagaimana dimaksud dalam UU No. 13 55 tahun 1993. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota. Lampiran 4. 1.2 Proses Pengadaan Tanah a. Sesuai dengan Keppres No. sebagaimana dimaksud dalam Keppres No. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. Dengan peraturan yang sama. 4. 51 tahun 1960. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. rencana penggunaan tanah. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. dilampiri dengan peta lokasi. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam .

PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . tipe bangunan. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah. bangunan dan tanaman. inventarisasi dan pengukuran tanah. bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. Tim 14 . Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. inventarisasi dan pengukuran tersebut. b an g u n an d an tan am an . Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. sehingga perlu dibangun permukiman baru. maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP. kemudian disampaikan ke PTP. kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. 3) Hasil pendaftaran. dilakukan pendaftaran. ganti dan rugi tanaman.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP).

tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama.2 4. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha. dapat dikelompokkan atas: a.2. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 .3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah. c. dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah. Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Dalam proses pengadaan tanah. di lokasi yang ditentukan Panitia. Pengadaan tanah pengganti. Uang Tunai. b. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. b. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP. Tanah Pengganti. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah. dapat dilihat pada Lampiran 4.2. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK). maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP. dengan cara jual beli. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan. Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c. merupakan sesuatu hal yang sangat penting.

sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. e. Bentuk lain yang disepakati.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain. Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan.3. Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan. baik untuk tanah. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat. bangunan atau tanaman. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah.2. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d. Bentuk Kombinasi. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak. 4. seperti Sistem Konsolidasi Tanah.2. 16 . diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama. Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian.

2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru. c) Penyuluhan. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. 17 . 3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai. 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum.

1. seperti di dataran rendah. Dokumen Terkait. berbukit. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah.2. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. pegunungan. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. seperti pembangunan. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.4. 3) Keputusan kerugian.3. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan. Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan. daerah rawa. perkotaan atau pedesaan. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. 08 Tahun 2000. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. 2) Lokasi dan kondisi areal proyek. 18 .

9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja. struktur tanah dan geologi. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek. 4. Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. base camp dan lokasi quarry. seperti kependudukan. 7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. volume dan besaran komponen pekerjaan utama. topografi. pasir dan material/komponen jembatan. tukang.2. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. seperti tanah. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. termasuk sumbernya. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung. termasuk periode pemeliharaan. 5) Dimensi. kegiatan ekonomi masyarakat. namun bila tidak dapat dihindari.3. batu. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. 19 . baik tenaga ahli. Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. kondisi sosial budaya. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. dan pekerja kasar yang diperlukan. 3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan). b. terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. seperti iklim. hidrologi dan penggunaan tanah.

shovel.1. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik. seperti AMP. traktor. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. Lokasi Proyek. b. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. baik dengan cara membeli atau menyewa. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir. 20 . yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. dozer. b. 2) Mobilisasi Peralatan Berat. dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat. 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek. maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada.

Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. g) Latasbusir kelas A dan kelas B. timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. c) Agregat penutup Burtu dan Burda. di lokasi proyek. untuk ditangani 21 . 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. b) Lapis pondasi semen tanah. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. coffer dam. Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut.WC). perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang. e) Laston lapis aus (HRS . kelas B dan kelas C. lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base). Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. 2) Pekerjaan Tanah. struktur pondasi. sistem drainase. baik berupa galian tanah biasa. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu. galian batu. d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B. f) Lataston lapis aus (AC – WC). lapis pondasi (HRS base).

Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. penerangan jalan dan marka jalan. serta pembuatan gorong-gorong. trotoir. rambu-rambu lalu lintas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. guard rail. 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. dan pembuatan kepala tiang pondasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. sehingga lokasi proyek menjadi bersih. Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . 5) Pemancangan Tiang Pancang. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. relokasi arus lalu lintas. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton. serta relokasi arus lalu lintas.

2. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah. 9) Penghijauan dan Pertamanan. tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. 23 . tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah. b. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek. keselamatan pemakai jalan. bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan. harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai. dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area. selain gembalan rumput di media jalan. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area.

3. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. a. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan. maka lokasi base camp (kantor proyek. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang. bengkel. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati.3. stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher. hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 . dapat terletak pada satu lokasi. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya. atau pada dua lokasi yang terpisah. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi. untuk diambil langkah tindak lanjut. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs. Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat.3. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. 4. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. gudang.

dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal. 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat. b. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat.2. Persiapan Pekerjaan Konstruksi. sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat. Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6. 25 . 3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek. baik langsung maupun tidak langsung. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja.

Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. b) Pencemaran kualitas air. c. Penyiraman secara berkala. seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari. dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. 2) Mobilisasi Peralatan. saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu.1. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan. (2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Lokasi Proyek. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.

a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat. sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna. b) Pencemaran kualitas air. 27 . (3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali. sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya. dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. 2) Pekerjaan Tanah. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman.

Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. sistem drainase yang baik. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. saat kondisi berdebu. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. memasang gembalan rumput dan sebagainya. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. karena penggalian tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. 28 . Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk.

dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat. dapat dikelola melalui : 29 . Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. 7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting. (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.

termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. serta dapat memperindah estetika lingkungan. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat. dan mempunyai ciri khas daerah. Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. serta menghindari erosi lahan. 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area.2. pada areal yang tidak subur. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan. dan tidak mengganggu pemakai jalan. 9) Penghijauan dan Pertamanan. sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. 30 . (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal. c. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami.

Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur). Pemasangan drainase lereng yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. c) Terganggunya stabilitas lereng galian. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum. dapat dikelola melalui: . 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. Perkuatan stabilitasnya. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan. f) Terganggunya kondisi flora.

bengkel. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas.3. gudang.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. (2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum. c. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher. (4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 . Pengoperasian base camp (kantor proyek. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas.

Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. 4. d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp. 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan.3. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan.1.4. (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. dan untuk menanggulanginya. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan.4. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya.4. 4. kendaraan keluar masuk . dan meningkatnya air larian. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya. Dokumen Terkait. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. 4.

seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota. karena meningkatnya arus lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. Jasa Marga (khusus jalan tol). 34 .4. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat. dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Pemberi Tugas. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. PT. atau operator jalan tol lainnya. f) Pembuatan rest area. 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. 4. yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun. khususnya pada jalan tol.2. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik. c) Pengaturan arus lalu lintas.

dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan. Dokumen Terkait. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas.4. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol). b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan. antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an . Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan.4. dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat. dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat.4. Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan. b) M el aku kan “l aw tersebut. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan. 4. 2) Pengaturan arus lalu lintas. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan.3. 4.

Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. Pembiayaan 5. sosialisasi dan kegiatan musyawarah. baik untuk biaya personel. Biaya Perjalanan. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Penyiapan Dokumen Tender. pengadaan data maupun biaya perjalanan. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali. musyawarah dengan masyarakat. biaya perjalanan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 36 . 5. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. biaya rapat untuk melakukan musyawarah.1. b. Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan.2. Biaya Personel. Kegiatan Pengadaan Tanah. 3) Jenis transportasi yang dipakai. tidak memerlukan biaya khusus. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. 3) Harga satuan yang berlaku. dan sosialisasi kegiatan. 2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan. biaya penyuluhan a. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah.

5.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. c. d. khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. biaya perjalanan. 2) Jumlah peserta kegiatan. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. 2) Jumlah peserta rapat. lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi. serta biaya administrasi lainnya. bangunan dan tanaman. e. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat. biaya menangani dampak yang timbul.3. mencakup biaya pelaksanaan kegiatan. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi. Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak. Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. 37 .

3) Harga satuan upah (billing rate). Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. Perkiraan besarnya biaya perjalanan. 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. 4) Harga satuan. Biaya Penanganan Dampak. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. Biaya Personel. baik jenis transportasi maupun perdiem allowance. antara lain: 38 . c. Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. d. jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai. 3) Jenis transportasi yang dipakai.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. b. Biaya Perjalanan. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup.

Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan. Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.4. biaya untuk menangani dampak. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. honorarium pakar yang diundang. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait. 2) Lokasi kegiatan. 3) Harga satuan analisis sampel.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. 5. serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 3) Pengukuran dan analisis biota air. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. dan mempergunakan anggaran rutin. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. f. biaya konsultasi dan koordinasi. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. dan sebagainya. e. penjilidan. 39 . yang meliputi biaya personel. biaya perjalanan. mencakup biaya rapat konsultasi.

harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya. DIP dan sebagainya. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. 6. baik tingkat pusat. Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. Koordinasi Pelaksanaan 6. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. Pengajuan Usulan Biaya.5.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 40 . seperti melalui proses penyusunan DUP. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.1. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota. Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. antara lain: a. baik vertikal maupun horizontal. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.

baik pada kegiatan pengadaan tanah. propinsi atau kota/kabupaten. 41 . Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. Bappeda. provinsi atau kota/kabupaten. 2) Melakukan penyuluhan. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. b. 3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten. 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. pelaksanaan konstruksi fisik. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. antara lain BP2D. baik di tingkat pemerintah pusat.

pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. kabupaten/kota. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah. propinsi. c. 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah. 7) Melakukan dihasilkan. 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi. 6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas. antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. kabupaten/kota. d. standar. 4) Menjabarkan norma. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. Masyarakat Masyarakat. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. pemanfaatan kabupaten/kota. Bapedalda. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi.

Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. antara lain: 1) Memberi masukan. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Instansi Terkait. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi. dalam kaitannya dengan . kabupaten/kota. 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup. kabupaten/kota. serta masyarakat pemerhati lingkungan. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. lembaga swadaya masyarakat. tokoh dan pemuka masyarakat. Instansi terkait lainnya. e. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. 3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul. kabupaten/kota. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok. dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir.2. 6. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing. dimana: 1) Lampiran 6. masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat. program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. f.1. dan 6.1 2) Lampiran6.2. 6. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan.3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. hidup bidang jalan. Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. yang mencakup kompensasi tanah. bangunan dan tanaman. 44 . : Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan. sesuai wewenang dan fungsinya. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik. Pelaksanaan Koordinasi. a.3.2 3) Lampiran 6. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing. seperti tercantum dalam Lampiran 6. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat.

dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi. Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. 4) Masyarakat. agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. 3) Bappeda. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 . Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 5) Instansi Terkait. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. 2) Bapedalda. b. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi.

c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan . dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. 3) Bappeda. 4) Masyarakat. d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda. dan upacara adat yang harus dihormati. Bapedalda. 2) Bapedalda. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. Masyarakat dan Instansi terkait lainnya. a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi. yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. 46 terasing. a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait. apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut.

Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. 47 . 5) Instansi Terkait.1. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat. 7. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak. Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi.2. 7. Dokumentasi dan Pelaporan 7. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur. sesuai dengan hasil musyawarah. Penyiapan Dokumen Tender. sehingga mudah ditelusuri. apabila ada permasalahan di kemudian hari. Kegiatan Pengadaan Tanah. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.

dan atau pengendalian pencemaran udara. dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai. dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup.3. sehingga mudah ditelusuri kembali. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan. 48 . dilengkapi dengan upaya pendekatan. tertib dan teratur. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. bila terjadi permasalahan di kemudian hari. dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas. 2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat.

mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. kegiatan pengadaan tanah. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. 4. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul. khususnya dalam penyiapan dokumen tender. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi. kuratif dan kompensatif. yang memberikan petunjuk. berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. 49 . arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. 3. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. 2. Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan.

Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan. 50 . serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. tertib dan teratur.

pematangan lahan untuk konstruksi 1 .Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah. Kep. pemberian kompensasi.

dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 . masyarakat serta pelaku pembangunan lain. B Peraturan Pemerintah No. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. Pasal 9. Pasal 13. Pasal 28. 23 tahun 1997. 1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No. 2. yang menjadi bagian dari ijin. Pasal 38. ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. ayat (2) hidup. 2. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup. 27 tahun 1999. ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya. Daerah. Uraian 1. ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. akibat pelaksanaan pekerjaan. akibat pelaksanaan pekerjaan. Bab VII Gambar – Gambar 3 . Umum 1. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 19. Untuk masing-masing komponen pekerjaan. 19. Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4. Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. 1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No.1 Keselamatan dan penanganan dampak. akibat pelaksanaan pekerjaan. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada). Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul. Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak.

Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan. Jika hak pakai sampai 10 tahun. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah. bangunan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. 1 tahun 1994 4 . tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa. 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No. dan prasarana umum. Jika haknya telah kadaluarsa.

4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan. PMD. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. Camat / Lurah. PMD. Pimpro dan Pimbagpro. LKMD. Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. Lurah. Camat. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. Lurah. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey. 5 . 1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. LKMD.

Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. Semua modal/asset yang terkena dampak. Camat / Lurah. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. Camat. BPN Propinsi. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya. LKMD. Camat. Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. Panitia Pembebasan Tanah. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. Pimpro/ Pimbagpro. 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. Pimpro/ Pimbagpro. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. LKMD. Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. 6 . Camat / Lurah. NGO. 8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak. Semua modal/asset yang tekena dampak.

Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank. Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. Lurah/ Kepala Desa. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali. telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik. maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. 12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati. Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. 10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya. Masyarakat penerima ganti kerugian. Pimbagpro. misalnya kavling. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur. Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. - 11. Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. rumah di lokasi permukiman kembali. 7 . Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali.

olahraga. bangsal. kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya. telepon. telepon. Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. dll). kesenian. Kehilangan lahan pekarangan perumahan. fasilitas peribadatan. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal. Kehilangan akses ke tempat kerja.     kawasan/tempat pemakaman umum. lokasi cagar budaya. dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. Terganggunya/hilangnya tempat suci. Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. pelayanan kesehatan. simbol atau tempat keramat lainnya. Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon. air PDAM. Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. Terganggunya kegiatan pendidikan. Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. 5 Aset sosial . 8 . bangunan MCK. air bersih. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. 2001 Terganggunya interaksi sosial.budaya    Sumber : SESIM. pasar. Pemindahan ditempati. gas). Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak.

(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . 5).BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing..... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).… ..... rehabilitasi konservasi situs dll.... (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .......... perbaikan permukiman tradisional... lembaga adat .. 4)...... Termasuk LSM..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...... dll.. 3).. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.........(7) ...

Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 6). (6) 3).(12) . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … ...(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … . terasing … … . 4).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy.. 5). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.

.

Melakukan konsultasi renc. termasuk keberadaan para pekerja .(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi .(6) Menyusun laporan pelaks. dengan PLN.. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi...... dll. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok..(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . kegiatan konstruksi . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . PDAM.(17) M elakukan m onito ring… ... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan.. (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada).(16) Melakukan monitoring .. (20) .(bila ada) … … .(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training. pemberian fasilitas.(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada).(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining.. tentang tujuan dan cara pemberdayaan . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . ekonomi masy. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan.(6) Melakukan monitoring . desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .

termasuk aspek warisan budaya .. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud..BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. pengembangan lahan sesuai tata ruang. LARAP dan rehabilitasi … ..l..... Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. (terasing) khususnya yang terkena dampak.. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan.(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan.. (9) Menyusun laporan monitoring. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. (8) Memberi masukan..... (12) Melakukan tindak lanjut. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. ( 14) .. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. adanya penyerobotan lahan damija.. dll. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. badan jalan untuk berdagang. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy... 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. penanganan masy.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima)....

.

(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . & kesepakatan dalam mufakat khususnya .. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . (2) Berpartisipasi dalam proses musy.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat..… .. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . 13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … ...(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) . Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6).7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … .. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .. (4) KETERANGAN 1).....

.

Dusun. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai. RW/RK. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 .  Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek.  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat.6 1. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek. adat. II. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek. DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat. seperti RT.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. Desa / Kelurahan. REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No. IV. III.

PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis. kapan. PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 . besaran. durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1.

DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan. II. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. REFERENSI  Undang Undang No.  Direksi Proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I. IV. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan. III. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 .  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat.

 Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.  Rencana pengalihan rute selama proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 .  Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2. PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 .1 dan 2.2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA.

6. 25. 21. 19. 18. 2. 28. Dialihkan kek anan 12. 16. 7. 23. 26. 27. 22. Akhir Daerah Pekerjaan 10. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. 15. 20. 14. 5. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 4. 17. 8.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. 13. 3.

2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.

III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek. Pengoperasian Peralatan c. sebelum digunakan untuk konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Penumpukan Barang/Material II. Pekerjaan Galian b. lokasi penyimpanan atau penumpukan material. dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek.  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin. Pengangkutan Material d.  Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 . lampu) pengoperasian peralatan konstruksi. DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek.

PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. VI.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 . REFERENSI  Undang Undang No.  Kontraktor.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara. seperti terlihat pada Gambar 3. IV. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.  Direksi Proyek. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.3.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

44. Dialihkan kek anan 35. 36. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . 39. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30. Akhir Daerah Pekerjaan 56. 51. 41. 42. 50. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55. 31. 32. 43. 45. 54. 34. 37. 33.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. 48. 49. 46. 53. 52. 38. 100m di depan ada pengalihan jalan 57. 40. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.

 Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I. III. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi. sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi.  Kontraktor. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat. rumah sakit. dan pemancangan pondasi. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 .  Direksi Proyek. pengoperasian AMP. IV.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 . jumlah. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis. sebelum dan sesudah konstruksi.  Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I.  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air.  Kontraktor.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.  Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi. IV. III. TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP. pekerjaan tanah. pengangkutan material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 . PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material. II. DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak. pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan.

 Rencana pengangkutan material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan).  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan). III.  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 . REFERENSI Peraturan Pemerintah No. VI. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V. untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi. I.1.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. seperti terlihat pada Gambar 6. IV. limbah domestik. II.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

atau dinding penahan tanah.  Kontraktor.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 . ceceran sisa bongkaran pada badan air. serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir. lereng.  Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan. untuk menambah daya dukung konstruksi. III. IV. II. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PROSEDUR PERMUKAAN I. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan.

jenis.  Rencana (waktu. dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase.  Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

II. seperti terlihat pada Gambar 8.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui.  Kontraktor.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP.1 IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 .  Dinas Pekerjaan Umum setempat. III.26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur. REFERENSI  Undang Undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I.  Direksi Proyek. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 . beban) material dan peralatan konstruksi. volume. waktu.  Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

 Pengelola kawasan spesifik setempat.  Perwakilan PT. Pangkalan Udara. telekomunikasi. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 . Depo Bahan Bakar. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I.  Perwakilan PLN setempat. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek.  Perwakilan PGN setempat. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9. gas. Industri. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian. Stasiun Kereta Api. akibat pekerjaan galian. dsb). REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. Telkom setempat. pada lokasi kerja proyek. II. III.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak. IV. listrik. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek.  Perwakilan PDAM setempat. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 .  Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting. VI. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM).  Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya. serta pekerjaan timbunan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10. dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I. IV. untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 . DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi.  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu. II. 2001.  Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. III.

 Rencana (lokasi.  Dinas Geologi setempat.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan. jumlah) peledakan. metode.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 .  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan). PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat.  Direksi Proyek. jenis.  Kontraktor. VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek. V. VI.  Kontraktor.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11. IV. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah. III. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

III.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. Seni. benda yang diduga benda cagar budaya.  Pemerintah daerah setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 . yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah. II.  Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. dan Budaya setempat. dan situs. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan. Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi. ilmu pengetahuan.  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat.  Kontraktor. yang terletak di lokasi sekitar proyek. IV. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata. REFERENSI  Undang-undang No.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. dan kebudayaan.  Direksi Proyek.

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 .  Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut. Seni. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan Budaya setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

IV. V. VI. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek.  Direksi Proyek. REFERENSI  Keputusan Presiden No. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. II. PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya.  Kontraktor. III.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. November 2003 i . yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana. b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. yang terdiri dari empat buku. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Jakarta. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). Ditjen Prasarana Wilayah. produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). Departemen Kimpraswil. Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah.

c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya. ii . khususnya bila sudah diperdakan. c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. Secara garis besar. Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan.

D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … 4. 6. 4.6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … .5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 4. 4..PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4..2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … .3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan .3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii .1 In stan si p el aksan a p em an tau an … … … … … … … … … … … … … … … 6. 4.… … … … … … … … … … … … … … … … . 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . A cu an N orm ati f … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4.9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan .2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6. 4. Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek ... … … … 5. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5..

5 Biaya evaluasi lingkun g an p ad a tah ap eval u asi p asca royek… … 7.… … … … 7. 7. 7.... 25 25 25 25 25 25 26 iv ..… … … .2 Biaya pemantauan pada tahap pra-kon stri ksi … … … … … … … … … 7.… … … … .3 B i aya p em an tau an p ad a tah ap kon stru ksi .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7.… … … … … … … … … … . .6 Komponen-kom p on en b i aya p em an tau an … … … … … … … … … … ..1 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p eren can aan . 8 P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .4 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p asca kon stru ksi … .… … … … … .

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi : Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang Jalan : Baku Mutu Udara Ambien Nasional : Baku Tingkat Kebisingan : Baku Tingkat Getaran : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor : Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL : Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL v .

Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. antara lain: a) Undang – Undang No. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. dan peraturan-peraturan lain yang terkait. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi masyarakat di sekitarnya. Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: a) b) c) d) e) f) g) Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatif penanganannya. khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan hidup. b) Peraturan Pemerintah No. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 2 Acuan normatif Pedoman ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN LIDUP BIDANG JALAN 1 Ruang lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. Lingkup pemantauan tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek. 1 . Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan.

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Peraturan Pemerintah No. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. antara lain