PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. c.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas. sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif. Jenis . Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup. setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien. Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Melalui studi AMDAL.17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar. berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup. menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. 6 . kompleks.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No.

menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan. tetapi menyangkut 7 . Keputusan Menteri Kehutanan No. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali. 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No. Untuk hal ini. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).17/KPTS/M/2003.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. hutan lindung serta hutan produksi. diperlukan izin dari Menteri Kehutanan. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No. serta ada persyaratan menyusun AMDAL. Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No. Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. hutan pelestarian alam dan hutan buru). minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus. Kebijakan Sektor yang Terkait a. disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL.

Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi.419/KPTS/II/1994 tersebut di atas). seperrti pembangunan jalan. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan. Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan. penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No. c. b. tanpa kompensasi. 5 Tahun 1993. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 . 5 tahun 1992. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No.  Perencanaan ruang wilayah kota. khususnya kegiatan pengadaan tanah. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. diatur dalam Keputusan Presiden No. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL. wajib dilaporkan terlebih dahulu. dan dapat diperpanjang kembali.

diberikan untuk hak atas tanah. 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. pemukiman kembali. jenis hak atas tanah. 1 tahun 1994. Dalam situasi dan kondisi tertentu. 9 . bangunan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah. Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. bila perlu.  Keterangan tentang letak. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. diatur dalam Undang-Undang No.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya. 55 tahun 1993. serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. d. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. dan nama pemilik tanah. tanah pengganti. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas.

terpencar. jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. serta keamanan perlintasan. saluran air. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. jalur kereta api khusus terusan. 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan. serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives). prosedur (procedures). antara lain penyediaan sarana dan prasarana. e. 4.1. Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. dan perlengkapan 10 . 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. 2) Keamanan konstruksi jalan rel. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api.3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a. termasuk prasarana jalan. Dalam Keputusan Presiden No. 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil.

lokasi.  Audit Lingkungan. tercantum dalam OP/BP 7. tercantum dalam OP/BP 4. 9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional). 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali). tercantum dalam OD 20. dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut. Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan.09. bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia. tercantum dalam OP/BP 4. adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment). 7) Forestry (Kehutanan). Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi). dan skala kegiatan.  Rencana Pengelolaan Lingkungan.36. tercantum dalam BP 17. 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). Berbagai kebijakan operasional (OP). tercantum dalam OP/BP 4. yang didasarkan atas tipe.  Resiko Lingkungan. 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan). hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan.60. prosedur Bank (BP). 3) Pest Management (Pengelolaan Hama). 2) Natural Habitats (Habitat Alam). Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas.50.12. tercantum dalam OP/BP 4.04. tercantum dalam OP 4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools).11.50. yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan). 4) Cultural Property (Kekayaan Budaya). 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan). 11 . tercantum dalam OP/BP 4.37. tercantum dalam BP 4.01. tercantum dalam OP/BP 4.

27 tahun 1999 tentang AMDAL. dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. mempunyai nilai agama yang kuat. atau mempunyai nila / keunikan alam. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan. benda yang dikeramatkan.  Kategori B. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam. Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. benda yang mempunyai nilai arkeologi. B dan C. yaitu:  Kategori A. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). tapi tidak besar dan tidak penting. dan sebagainya. 12 . tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. bersejarah. benda cagar budaya. palaentologi. untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.  Kategori C.

harus dilaksanakan Tracer Study. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa. baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study).  Simplified LARAP. meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas.  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis.  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia. Karena rencana rute jalan bersifat memanjang. Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP. dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam.  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia. 4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk. untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru. yaitu:  Full LARAP. sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun. dalam bentuk NOL (no objection letter). 13 . Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study. persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan).

 Berbahasa pribumi. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen. b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli. 1993 . dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya. 1998. ekonomi. Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www. maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat.  Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah. Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat. dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan).  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. dan budaya secara adat.  Adanya lembaga sosial. Dalam penyusunan dokumen tersebut. etnik minoritas asli atau kelompok suku. 1993. antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan.  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on.org. Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial). misalnya: di lokasi kegiatan. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts. perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut.  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas. dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 . perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS).worldbank.

sebelum diserahkan kepada Bank.  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. sensitivitas lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok. agar dan mempergunakan termasuk LSM.  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas. 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE). IEE. b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting). lokasi. c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE). ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat. untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA. 15 . berdasarkan atas jenis kegiatan. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul. sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). Bank. tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting). skala dan besaran kegiatan. serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). 120 hari sebelum waktu persiapan proyek.  Penyusunan EIA.  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final. hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan.

Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial. 16 . c. 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. supervisi / pengawasan. dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan. dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. volume lalu lintas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program).  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. kekasaran permukaan jalan. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. biaya perjalanan. maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. dan LSM. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia. EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan.

melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan.  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan. melakukan monitoring dan tindak lanjut. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan. co-finansial. pemerintah dan organisasi finansial.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan. serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. baik dari stake holder.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup. dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut. dan bila dianggap kurang meyakinkan. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku. b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 .  Dalam membuat keputusan pendanaan. dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah. JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening). JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai.

 Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. sesuai dengan prosedur berikut. serta untuk administrasi perbankan. 18 . baik yang sifatnya negatif maupun positif. dampak yang timbul complicated. JBIC dapat melakukan environmental review. dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi. agar screening dapat dilakukan lebih awal. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. serta upaya penanganannya.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific. dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan. dan sulit dianalisi. (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup. (4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul. tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan.

JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. (2) pra-studi kelayakan. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan.49/PRT/1990. perkiraan biaya. a. (6) konstruksi. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada. Bila diperlukan.2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku. Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. mungkin saja karena alasan tertentu. penentuan skala prioritas. yaitu: (1) perencanaan umum. (5) pra-konstruksi. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. (4) perencanaan teknis. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. (3) studi kelayakan. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan. tanpa melakukan pra-studi kelayakan. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap. dan (8) evaluasi pasca proyek. (7) pasca konstruksi.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan). secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya. Namun. 19 .1. 4.

Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL. atau cukup dengan penerapan SOP. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. b. pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul. perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi. melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. 20 . Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut. studi UKL dan UPL. Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut. yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya.

Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah. pemberian kompensasi.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. pematangan lahan untuk konstruksi 21 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Kep.

ekonomi. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. prakonstruksi. Karena itu. konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan. tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan. Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat. Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. 22 . Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi. konstruksi dan pasca konstruksi. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. dalam satu paket pekerjaan. ekonomi dan finansial. d. Untuk keperluan tersebut. yang didukung oleh data hasil survai lapangan. Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi.

Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut. untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan. Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. e. pencemaran udara. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. kebisingan. g. dan sebagainya. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. f. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu. pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL.

24 . dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya. yaitu: a. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. 4. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. h. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya. serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. antara lain meliputi pengaturan lalu lintas.

5. unsur Universitas / perguruan Tinggi.1.2. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :. kelompok profesi. namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). baik dampak negatif maupun positif. bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya. 25 . 5. tanaman dan aset tidak bergerak lainnya. Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan. Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. c.2. Konsultasi untuk persiapan AMDAL. bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5. sehingga harga tanah meningkat. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. bangunan. Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak. d. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah.1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5.b).

AMP. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif. gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air. Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat. Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha.2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar. road roller. 5.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. dan diperlukan pemindahan penduduk. excavator.1. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam. Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. sehingga terjadi erosi atau longsor. Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 .4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi. khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek. stone crusher.1. 5. truk. dsb.1.

mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu. propinsi. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 27 . Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. maupun tata ruang kawasan. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas. dan alternatif pengelolaan lingkungannya. Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin. dan kecelakaan lalu lintas. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan. Di samping itu.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a. kebisingan. disajikan pada Tabel 5. atau kabupaten / kota. b. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek.2. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. 5. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum.1.

Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1. Mobilisasi tenaga kerja a. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Tahap Prakonstruksi 1. Tabel 5. Keresahan masyarakat 2. Survey / pengukuran 2. Tahap Perencanaan 1.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a.1. Mobilisasi peralatan berat a. Kecemburuan sosial a. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Pengadaan Tanah a.  lahan pertanian produktif.1 Perbaikan jalan yang rusak a. b.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Kerusakan prasarana jalan 28 .  areal komersial. Konsultasi masyarakat 2.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. Sosialisasi b.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). c.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil..2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b.  areal berpanorama indah. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c.  areal dengan kemiringan lereng terjal.

Gangguan pada utilitas umum 2. dan pengaturan jadwal kerja b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Penghijauan b. Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c.1 Perkuatan tebing d. Di lokasi proyek 1. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7.1 Pengaturan lalu lintas b.1 Pengaturan lalu lintas a. Pemancangan tiang pancang a. Penyiraman secara berkala b. Pencemaran air permukaan. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c. Pembuatan sistem drainase c. Pencemaran air d.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas c. Pencemaran udara a. Penyiraman secara berkala b. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Penggunaan bor c. a. Gangguan lalu lintas 6. b. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Pencemaran udara (debu) b. Kebisingan b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.2 Pengendalian aliran air tanah e. Pembuatan sistem drainase 5. Pembuatan jalan masuk a. Gangguan lalu lintas a. 3. Gangguan stabilitas lereng e. Gangguan lalu lintas d. Pencemaran udara (debu). Pencemaran udara c. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d.1 Pengaturan lalu lintas a. Penyiraman secara berkala c. Perubahan bentang alam /lansekap. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Penataan lansekap a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Pemindahan atau perbaikan utilitas a. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . Gangguan lalu lintas a. Gangguan pada flora dan fauna b.

Pencemaran udara (debu. Penghijauan b. Pencemaran air permukaan. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. Kerusakan badan jalan. kantor. b. c.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . b. Penghijauan dan pertamanan a. Perawatan kendaraan c. Gangguan lalu lintas. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. d. Pengoperasian base camp (barak pekerja. b. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Pengambilan material di quarry sungai 3. Longsor tebing sungai a.3 Tebing dibuat berteras d. Pencemaran udara (debu). Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Pencemaran air sungai. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c.2 Pengendalian air larian c. a. Penyiraman berkala. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. Pengaturan lalu lintas. c.2 Penggalian secara bertahap a.2 pemasangan rambu lalu lintas c. Pembuatan sistem drainase c. Kebisingan. gas polutan) b. 1. Pengendalian bahan buangan d. Kecelakaan lalu lintas a. d. c. stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. Bak truk ditutup terpal b. c. Gangguan pada flora a. d. d. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a. Pencemaran udara b. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Pencemaran udara (debu).1 Perkuatan tebing d. Kebisingan c. Pemasangan rambu lalu lintas a. Penyiraman secara berkala b. pembuatan noise barrier c. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b. c. Pengaturan lalu lintas D. d. c. Gangguan terhadap biota air. b. Pengoperasian jalan a. Tahap Pasca Konstruksi 1. Kebisingan. Pengendalian bahan buangan c. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1. Perubahan fungsi lahan e. d. e. d. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8.1 Pengaturan lalu lintas. Gangguan pada aliran air permukaan c. Sda. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a. c. b.

Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2. dan Daerah Pengungsian Satwa). Taman Nasional. 3. 6. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 3. 5. Kawasan rawan gempa bumi. Pengemdalian penggunan lahan a. Taman Wisata Alam 7.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5.5 Pembuatan rest area. Pemeliharaan jalan a.1 Pengaturan lalu lintas a. gugusan karang atau terumbu karang. muara sungai. 4.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Kawasan Rawan Bencana Alam. Sempadan Pantai.1 Daftar Kawasan Lindung A. Kawasan Hutan Lindung. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Sempadan Sungai. D. 3. Taman Hutan Raya. 1. Kawasan perlindungan setempat: 1. Kawasan rawan longsor. 2. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. Hutan Wisata. 2. B. 2. Pembuatan jembatan penyeberangan e. khususnya pada jalan tol d. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Kawasan Sekitar Mata Air C. perairan darat. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Kawasan rawan letusan gunung berapi. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Suaka Marga Satwa. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. 4. 31 . Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. wilayah pesisir. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Gangguan terhadap satwa dilindungi f. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. 3. Kawasan Resapan Air. 2. Gangguan lalu lintas d. Sumber: Keppres No. daerah dengan budaya masyarakat istimewa.

Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. c. luas lahan yang perlu dibebaskan.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup. No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. yang didasarkan atas panjang ruas jalan. 32 . yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). dan antar kota / p ed esaan ). kota sedang. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. penggunaan lahan. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). N am u n . tapi bersifat regional. serta foto udara atau citra satelit. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut.2. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut.

• prasarana dan utilitas. • estetika lingkungan. • biologi (flora dan fauna). Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis. meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia. Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. termasuk kawasan adat. • kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 33 .2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a.2. ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup.

Panjang.000 jiwa : jumlah penduduk 20.Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : . Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a. Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b. Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b. atau .000 jiwa : jumlah penduduk 500. Pembangunan jalan layang atau subway c.000. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3.000 – 500. Jembatan a. atau .2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1. Semua besaran d. Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : .17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.000.000 jiwa 34 .000 jiwa : jumlah penduduk 200.000 jiwa : jumlah penduduk 3. Panjang > 5 km 2.Panjang b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5. Pembangunan jalan tol b.17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1. Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d.000 – 200. Panjang < 2 km c.Panjang. Semua besaran b.Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: .000 – 20.000 – 1. - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). ekonomis mapun lingkungan. untuk memperoleh saran. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.1.2. Cara pelaksanaan konsultasi. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. RKL dan RPL. AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis. dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5. Untuk pelaksanaan studi AMDAL.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. Pada waktu penyusunan KA-ANDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL.c. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 .

Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. d. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup). Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama). dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi). masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. ANDAL. e. Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. tersebut. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Proyek Jalan. instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL. c. Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. RKL. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota). Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

5. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a. PP N0.2. semua dokumen AMDAL. saran.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor.27/1999. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL. f. lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi. kesimpulan komisi penilai. Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. pendapat. 37 . dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). b.27/1999). Dalam hal ini. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan . RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No.

Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.1.Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius. c. 38 .2. Langkah . kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan. b.2. 5. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5.  Konsultasi masyarakat. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya.  Survey sosial-ekonomi.

g. status pemilikan tanah. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. 39 . tingkat pendapatan. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. jenis dan umurnya). Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. mata pencaharian. Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. dan sebagainya. jarak ke tempat kerja. kelas tanah. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. instansi pelaksananya. f. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. jenis penggunaan saat ini. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. dan status pemilikannya. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. h. jarak ke sekolah anak-anak.

harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi.1 (lihat Tabel 5. Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. 40 . 5. pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL.3. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. Karena itu. harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik. dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan.1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi. konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5.1).

Dalam hal ini. 5. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah.3. dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini.3. Sehubungaan dengan hal itu. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak. peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan. Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya.3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. 41 . wajib UKL dan UPL. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL. Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu.

Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara. kemacetan lalu lintas. 42 . Di samping itu.2. dan kecelakaan lalu lintas.1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum. kebisingan. 5. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.3.4. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini.4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait. b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas. Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. baik di tingkat pusat maupun darearah. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan.

dampak yang mungkin terjadi. Pada tahap pasca konsruksi. terutama akibat penggunaan alat-alat berat. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan. dan Jalur transportasi bahan bangunan.4. dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk. Pada tahap pra-konstruksi. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi. Lokasi quarry. alternatif pengelolaan lingkungan.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum. Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek. kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. Secara garis besar.4.3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan. akibat kegiatan konstruksi. Evaluasi mencakup: 43 . Pada Tabel 5. 5.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan.

2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Sosialisasi b. Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. Gangguan terhadap pendapatan a.  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. Keresahan masyarakat b.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Persepsi masyarakat 2.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan. Kecemburuan sosial a. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c. Persepsi masyarakat b. Pengadaan Tanah a. Tenaga kerja lokal terserap 44 . Keresahan masyarakat 2. 2. Keluhan masyarakat c. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru. Tahap Perencanaan 1. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Tahap Konstruksi 1. Survey / pengukuran 2. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. Tahap Pra-konstruksi 1. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya. Penetapan rute jalan 1. Tabel 5.

1 Perkuatan tebing d. Pembuatan sistem drainase d. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu). Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Di lokasi proyek 1. Kualitas udara (kandungan debu) c. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Kualitas udara b. b.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. Kondisi utilitas a. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Kualitas air a. e.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Pencemaran air d. Kualitas air d. Kondisi lansekap 45 . Penghijauan b. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Kondisi jalan 3. a. Pembuatan jalan masuk a. Penataan lansekap c. Erosi / longsor e. Liputan vegetasi b. Gangguan pd flora dan fauna. Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. Penyiraman jalan secara berkala b. 2. c. c. Pencemaran udara a. Penyiraman secara berkala c. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap. d. 2.2 Pengendalian aliran air tanah e. Mobilisasi peralatan berat a. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. c. b.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Kerusakan prasarana jalan a. b. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d.

Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a. Gangguan lalu lintas a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Kebisingan a. Gangguan pd aliran air permukaan c. Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6. Penyiraman secara berkala a. Pembuatan sistem drainase c. Kondisi lalu lintas b. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4. a. Kualitas udara b.1 Pengaturan lalu lintas b. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Kualitas udara b. b. Pemancangan tiang pancang a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Perubahan fungsi lahan d.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a. Pembuatan sistem drainase a. b.1 Pengaturan lalu lintas a. Getaran a.1 Pengaturan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a. Kondisi lalu lintas a. Liputan vegetasi b.2 Pengendalian air larian c. Gangguan lalu lintas a.3 Tebing dibuat berteras d. Pencemaran udara b. Penyiraman secara berkala b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Gangguan lalu lintas b. Aliran air permukaan c. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8. Erosi / longsor d.1 Pengaturan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Kondisi lalu lintas a. Kondisi lalu lintas 5. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9. Penghijauan dan pertamanan a. Kebisingan b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Penggunaan lahan 46 .

Pemasangan rambu lalu lintas d. Di lokasi Base camp dan AMP 1. d. c. d. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Longsor tebing sungai e. Kerusakan badan jalan. gas polutan) b. Kondisi lalu lintas D. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. c. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a. Pengoperasian jalan a. Kondisi lalu lintas c. Kualitas air c. a. kantor. c. Sda. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Kebisingan a. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. c. Tingkat kebisingan c. Penyiraman berkala. Perawatan kendaraan c. Pencemaran udara (debu. Kualitas udara (sebaran debu) b. Kualitas udara c. Pengaturan lalu lintas. Sda d. Kualitas udara b. Liputan vegetasi a. b.2 Penggalian secara bertahap a. Pengambilan material di quarry sungai a. Tingkat kebisingan noise barrier 47 . Keluhan masyarakat b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. d. Kualitas air e. e. Pencemaran air sungai. Kebisingan.1 Perkuatan tebing d. stone crusher dan AMP) a. b. Penghijauan a. Kecelakaan lalu lintas a. Pencemaran air permukaan. Stabilitas tebing sungai 11. Tahap Pasca Konstruksi 1. c) Kebisingan. Pencemaran udara (debu). Pengoperasian base camp (barak pekerja. pembuatan a. e. Gangguan pada flora 10. Kondisi jalan b. Pemilihan lokasi e. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Tingkat kebisingan d. b. Gangguan terhadap biota air. d. Pengendalian bahan buangan Sda b. Bak truk ditutup terpal d.

2 pemasangan rambu lalu lintas c. d. Tingkat kebisingan d. Pembuatan jembatan penyeberangan f. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a.1 Pengaturan lalu lintas. noise barrier Sda. khususnya pada jalan tol e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. c.5 Pembuatan rest area. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e.1 Pengaturan lalu lintas. Keluhan masyarakat f.3 Penertiban pedagang kaki lima c. pembuatan c. Lintasan satwa dilindungi 48 .5 Pembuatan rest area. Lintasan satwa dilindungi a. Kondisi lalu lintas b. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b. Gangguan lalu lintas d. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d.2 pemasangan rambu lalu lintas d. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2. Pencemaran udara (debu. Pemeliharaan jalan a.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e. khususnya pada jalan tol d. Keluhan masyarakat e.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Penghijauan di median dan pinggir jalan c.3 Penertiban pedagang kaki lima d. Pembuatan jembatan penyeberangan e. c.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b.1 Pengaturan lalu lintas a. d. f. Kualitas udara c. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d.

termasuk masyarakat miskin. kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri. yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier).4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah. antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut. c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan. e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang. g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan. seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB. pemerintahan. 49 . d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan. kesehatan. khususnya masyarakat pedesaan. b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang.  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan.4. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat. dan lain lain.  Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk. Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. BAPPEDA. MASYARAKAT. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). e). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). d). Penduduk terkena dampak. b). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. b). Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. g). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. f). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. PEMRAKARSA. PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. e). d). c).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. 2. c). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . para kepala Dinas di propinsi.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. Selanjutnya. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. 5. kapasitas produksi. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. . DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. 3. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 3. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. 6. 4. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. PEMRAKARSA.. 2. MASYARAKAT. BAPPEDA. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. misalnya sentra sentra produksi. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan.

Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan.. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. 7. 4. PEMRAKARSA. 5. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. MASYARAKAT. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. ekonomi. budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. memberi masyarakat terasing. 4. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. masukan tentang koordinasi penanganan 2. UKL. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya. 3. menetapkan koridor jalan terpilih 6. 8. Masukan tersebut. PEMRAKARSA. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. BAPPEDA. Dinas Sosial dll. UPL. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1.

PEMRAKARSA. memberi masyarakat terasing. memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. MASYARAKAT. Selanjutnya. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. 6. PEMRAKARSA. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. menetapkan rute jalan terpilih.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. masukan tentang koordinasi penanganan 4. mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. BAPPEDA. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. 7. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). 8. 5. PEMRAKARSA. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 3.. 2. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. 5. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Atas dasar permintaan pemrakarsa. PEMRAKARSA.

7. Menetapkan desain jalan. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. 10. MASYARAKAT. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA. sistem kepemimpinan. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing. memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. 6.. 8. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. 9. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 11. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati. PEMRAKARSA. BAPPEDA. Selama proses wawancana. PEMRAKARSA. 6. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. melakukan MASYARAKARAT. 4. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. 5.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . PEMRAKARSA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

7. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. 5. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL. pemrakarsa masyarakat terasing. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. 3. 5. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. 4.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. BAPEDALDA. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. 4. PEMRAKARSA. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. 6. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. Selanjutnya. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. BAPEDALDA. 2. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk.. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. melaksanakan program konservasi budaya. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. 7. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. PEMRAKARSA. 6. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. melaksanakan program penanganan dilapangan. BAPPEDA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . Selanjutnya. serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. 3. 7. PEMRAKARSA. BAPPEDA. MASYARAKAT. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya.

mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. 10. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Selanjutnya. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. BAPEDALDA. 9. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. 11.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. BAPEDALDA. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. PEMRAKARSA. penataan ruang. 7 6. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. 5. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. MASYARAKAT. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 4. 8. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 3. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. 8. BAPPEDA. 2. 7. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah .

b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Untuk itu.

(6) . . Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5).. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . kapasitas produksi.. kapasitas jalan yang dibutuhkan.. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2)... 3).(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.… ... Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. terasing… . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . peran dan fungsi kota dll.… … .

... terasing..... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial.. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. (6) 3).. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ...... ekonomi.(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . ..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … ...... 4).. ekonomik.. … … . (8) . sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ... budaya .........Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. 5)..

. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy. terasing. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)...Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. ... ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis........ (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. terasing … ...4).(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.... terasing..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi....

sistem dan nilai hak adat . T indak … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … ... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy..(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks... Termasuk rencana kerja.. (11) .… … … .. pembagian tugas. Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2). terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing .... kepemimpinan..terasing tsb. Renc. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . 3). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy.

3). Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..... lembaga adat ...Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan. 5)........... Termasuk LSM.... dll....(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .(7) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ... (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ...... 4). rehabilitasi konservasi situs dll.....… . Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)..... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . perbaikan permukiman tradisional...........

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.(12) ...(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 6). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .. 5). Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 4). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. terasing … … . (6) 3).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy.

2).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.... terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … .(8) . Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. budaya dan kelembagaan. 6).. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy. 5). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy.. 4)... sosialekonomi. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. terasing termasuk rehabilitasi … … .(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor... terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing .

terasing yang lebih baik .. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. terasing … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … ... Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.… .. penanganan masy. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . terasing … . tata ruang nilai kearifan lokal. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

.

b). Badan Pertanahan Nasional (BPN). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. c). para kepala Dinas di propinsi. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. g). PEMRAKARSA. Penduduk terkena dampak. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). f). Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . kabuipaten dan kota BAPEDALDA. d). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. e). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. e). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. b). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. BAPPEDA. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. 2. d). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. MASYARAKAT. c). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan .

2.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. misalnya sentra sentra produksi. kapasitas produksi. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas jalan yang dibutuhkan. STAKEHOLDER LAINNYA. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. 4. BAPPEDA. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. 3. Pemrakarsa. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. Selanjutnya. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. 6. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. . 3. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan.. 5. PEMRAKARSA.

pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. 6. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. Selanjutnya. menetapkan koridor jalan terpilih 2. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. Selanjutnya. STAKEHOLDER LAINNYA. peta banjir. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih.. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. 7. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. 2. PEMRAKARSA. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. PEMRAKARSA. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. UPL. 4. BAPPEDA. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . peta quarry dll. PEMRAKARSA. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. Masukan tersebut. 8. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. UKL. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. MASYARAKAT. 3. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. 4. PEMRAKARSA.. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. 5.

Bersamaan dengan kegiatan tersebut.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. 5. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. PEMRAKARSA. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. 8. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 11. BAPPEDA. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. 10. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . 6. BAPPEDA. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. MASYARAKAT. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. 5. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. 9. Atas dasar permintaan pemrakarsa. 7..

mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. 6. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. 4. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. PEMRAKARSA. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. Selama proses wawancana. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. 7. 11.. 5. 6. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. mensosialisasikan konsep larap. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. 9. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. MASYARAKAT. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. PEMRAKARSA. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. MASYARAKAT. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. Panitia pengadaan tanah. BAPPEDA. BAPPEDA. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. 10. PEMRAKARSA. 12. 8. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. 13.

4. 6. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 7. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. 5. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. 9. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. BAPEDALDA. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. BAPPEDA. Selanjutnya. BAPPEDA. 10. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. 13. BAPEDALDA. STAKEHOLDER LAINNYA. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. 7. 3. MASYARAKAT. 8. kartu penduduk dll. BAPPEDA. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. 11. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. 2. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 14. 12. PEMRAKARSA.

DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. BAPPEDA. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 5. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. PEMRAKARSA. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. mislanya karena kehilangan pelanggan. Selanjutnya. BAPEDALDA. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. evaluasi pelaksanaan 2. 11. BAPEDALDA. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). 9. 3. BAPPEDA.. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 7. PEMRAKARSA. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. 6. 4. melakukan monitoring & evaluasi. MASYARAKAT. 12. MASYARAKAT. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . 8. DINAS SOSIAL. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 8. 10. PEMRAKARSA. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati.

pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. PEMRAKARSA. BAPPEDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 3. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. Untuk itu. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. penataan ruang. 9. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. 4.. Selanjutnya. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. 6. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BPN. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 7. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. 5. PEMRAKARSA. 2. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . 8. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP.

4). mis. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas produksi.. peran dan fungsi kota dll.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . jenis penggunaan dan kepemilikan)..… . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . kapasitas jalan yang dibutuhkan.

... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.(6) . 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)..(8) ... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing......... 4)..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .. ekonomik..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ..... 5). status kepemilikan dan kesediaan melepas... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)....(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.... sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ......... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis..

Hasil Pra Kelayakan 2). kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. (7) Memperkirakan dampak sosial … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .4).. ekonomis dan lingkungan. (12) .5)..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . dll..(11) Menetapkan Rute Terpilih .. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.Rute... Terhadap pengadaan tanah … ..

(9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . pelepasan hak. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).kem bali … … .. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. … .. luasan. … . 3).… … … . prakiraan nilai kekayaan. dll... (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . 6). Termasuk rencana kerja. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Lokasi di Peta. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). rehabilitasi pem uk.kem bali. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . masa tinggal dll. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah..

7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).T .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). khususnya panitia pengadaan tanah … … . 13). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ...(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ...… ..P … … ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ... (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (4) KETERANGAN 1). (2) Berpartisipasi dalam musy. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . & menyepakati dlm mufakat khususnya P .

misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .. 6). 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.(12) .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (5) Membantu sesuai keterkaitannya..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .. 4). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 5).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .

Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.. 2). 6). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . 7)..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . 5). 4).. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . (8) . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. … 7) 3).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

(2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . LA R A P … … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . adat istiadat. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. tata ruang. pelatihan untuk alih profesi … . nilai kearifan lokal. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … ...Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.… . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .

.

..(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)......... Termasuk pola pelestarianaya 7).... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .. 6)..(8) ...  Kehutanan tentang status hutan..... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2). Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5). (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah.. tempat keramat...... areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder. Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan. khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan.... 4).. Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL..Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … ... Memberi masukan persyaratan Lingkungan ..

..2).. (8) 8). (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.6).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix.(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … .. 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait. (7) 3).Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).......10)..... Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .4).. tapi cukup macadam . Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL ... (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … . Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … ..5). (10) 9)...

R K L. 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L. 8)... (6) 3)...(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … ...… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . R P L . 5). nilai lahan dll... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. 9).(11) 7).. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2). Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … ..4).… … … (12) .Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 10.. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif..

... (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).lingk.. (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … . (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak.(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll..4).. dok.(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… ... 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13). RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.. dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. (apabila ada) mis : ANDAL..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan....5). … … ... Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.. … … . (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) . mis : RKL.(12) Menetapkan Desain Jalan .10). Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2)..9). RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan .. dan wakil masyarakat terkena dampak 12)... Dengan instansi terkait 14)... apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan ..… … … . Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3).(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring ...

(2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … ..(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain.. (10) . mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … . (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … . Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6)..7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.. aparat desa atau kelurahan... (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi... LSM dan penduduk terkena dampak 3). (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … .. 5).Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll.. Listrik. telpon. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2).. bantuan pindahan... bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … ... PDAM..(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .

.. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja....... Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … .(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … ............ 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)............ Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy...… ..(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … .. Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … .(11) .... (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6). .... 8). Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .........Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peralatan dan bahan bangunan 2)...(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ..

.... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ......… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah . (8) 4)... (9) ... PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis...(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan .Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … ......(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... data sekunder (laporan harian kontraktor)....... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai.. Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2).............. 5). dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ........ 8).. Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ...... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara......

(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . … .(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) ..Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .. berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang .. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .....(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.

Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). dll... kehutanan. termasuk kondisi sosekbud masy. kawasan budaya. keberadaan masy. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive. Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda.… . sesuai Keppres 32/1990. kawasan lindung.terasing) beserta peraturannya. situs sejarah. diknas. fungsi lahan dan peraturannya. terasing… .(2) Melakukan penyaringan awal lingk.17/KPTS/ /M/2003 4).. koordinasi program pemb. program lainnya yang terkait.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . Mengacu pada ketentuan2 yang ada a. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy. lokasi areal sensitive… . pertanian.(1) Menyusun konsep renc. tata guna lahan. dll. industri. penerapan tata ruang. lokasi masy. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait.. Termasuk tata ruang. hak adat/ulayat. (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan . terasing. (9) . Areal sensitive mencakup daerah lindung. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. terhadap renc. (termasuk masy..(3) Konsultasi konsep renc.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.terasing). dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan. ...l. (5) Memberi masukan ttg. Memberi masukan ttg. dll.terasing. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. program mis: kebutuhan lahan. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. mis: sektor2 perhubungan.. terasing 2).(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 3). jaringan … . jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… . dll.

pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing). (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program. (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai .terasing (bila ada). (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk..... ..(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada). (11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . . (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan.. (12) . macadam.. … ... dll. (1) Membuat alternatif koridor jalan … .. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL). daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . keterpaduan pengadaan lahan.. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. lokasi masy. penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive. serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … .. jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No. dll..(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan. dll.. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan. (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … . (10) Memperbaiki dok.Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … .... hutan.

sistem nilai budaya masy. kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll..Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy... . oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial .… (8) Menetapkan dokumen. terasing (bila ada).. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai . dll.… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan.… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … . (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. pelepasan hak. (11) . kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan.(6) Menyusun konsep dok. taksiran harga.... kesesuaian tata guna lahan.... A M D A L. (7) Memperbaiki konsep dok... mobilitas masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah.. terasing. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. … . penyusunan dok. (terasing) dan pendekatan penanganan. A M D A L. … .

(11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP..Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya.(13) .. misal : tentang harga lahan.. ekonomik. rehabilitasi ekonomi.. dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan. untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud. (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … . data aset.. termasuk konpensasi dan pemukiman kembali .. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy.(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah. terasing dan cara pelepasan hak. serta keterpaduan program implementasi LARAP... median. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penanganan masyarakat terasing. sistem kekerabatan masy. lingk. cara pelepasan hak bila lahan milik instansi..(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis. (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP . koordinasi penanganan masyarakat terasing . terasing . dan aset lainnya. dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy. mis: lansekap. mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah. koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat. dll. kepemilikan lahan. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya..

. terasing … . (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait... rehabiltasi ekonomi masyarakat. (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi. (5) Melaksanakan LARAP ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi. terasing....(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat.. rehabilitasi ekonomi.. dll. melepaskan hak. (6) Melakukan monitoring . kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait... instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll.. alih kepemilikan.... penanganan masy. kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP... .(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan. … . dan terhadap utilitas yang terkena dampak . ( 11) . penanganan masy... terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat.Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy.... (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi. seperti tercantum dalam kesepakatan . penanganan masy.. besaran konpensasi.. (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal. terasing dan pemukiman kembali . (10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … .. cara pengosongan lahan.

. kegiatan konstruksi .. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan.. pemberian fasilitas.(17) M elakukan m onito ring… . termasuk keberadaan para pekerja .. (20) ..Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan.(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… . dengan PLN. terkena dampak . dll.. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining. tentang tujuan dan cara pemberdayaan .(1 6) Melakukan monitoring ...(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . Melakukan konsultasi renc. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok.(6) Menyusun laporan pelaks..(6) Melakukan monitoring .(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … .(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.(terasing) … … .. ekonomi m asy.. PDAM.. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.

termasuk aspek warisan budaya .: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi... Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL ... terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. ( 14) .. (8) Memberi masukan.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.... Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi. (terasing) khususnya yang terkena dampak.l..Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi... LARAP dan rehabilitasi … ... (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. (9) Menyusun laporan monitoring. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.. badan jalan untuk berdagang... penanganan masy. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan.. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy.. adanya penyerobotan lahan damija. dll...(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks.(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan.. pengembangan lahan sesuai tata ruang.. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. (12) Melakukan tindak lanjut. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ..

. nilai lahan. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik... yaitu mencakup faktor teknis. biologi (flora dan fauna).. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. ( 9) .Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing.. penggunaan lahan. dll … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan... (7) Menyusun laporan PBME . ekonomik/finansial. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya ...(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . lingkungan dan sosekbud. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . pelatihan alih profesi. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan .. (3) Memberi masukan aspek lingkungan .. kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang.. geologi /geographic...

Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 4). (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan ..Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. khususnya areal sensitive … . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ....(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. .… . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . .. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. BPN dan dari sumber lainnya 2)...(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). (6) .

.. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. Dikbud.08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ... (10) 7). (12) . (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2).. Sosial) . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .... 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ....… .. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . 9). 8).. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan...(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep..Ka Bapedal No. .

. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … ... (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen ..(7) 1).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ... Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. RKL dan RPL 3).... 2).. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (9) . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .

lansekap … … … .… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. RKL dan RPL pada perenc. RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .. RKL dan RPL … .... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.....(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.....: penanganan utilitas yang terkena.teknis.. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL..... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .. (8) ..: median...

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan. khususnya bila sudah diperdakan. Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. Secara garis besar. c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. i . SESIM.

November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dapat dilihat pada lampiran. dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Jakarta.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. yang terdiri dari empat buku.

7 Jadwal Pelaksanaan 4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.2.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.4.5 Konsultasi Masyarakat 4.1 Maksud dan Tujuan 4.2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.4.3.4.4 Penyaringan Lingkungan 4.2.2.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.1.2.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.1.2.2.4.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .2 Pengadaan Tanah 4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.3.2.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.4.8 Pembiayaan 4.4.6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.1.2.3.4.1 Pra Studi Kelayakan 4.4.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.1.4.

5 Dokumen UKL dan UPL 5.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5.4.3 7. RKL dan RPL 5.1 7.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.4.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.5 Biaya Penyusunan LARAP 6.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv .1 Jenis Dokumen 5.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.4 Dokumen AMDAL 5.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.2 Dokumen ANDAL.5 7. RKL dan RPL 5.1 Kerangka Acuan ANDAL 5.4.4 7.2 7.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.4.6 7.

. Gambar 4... Gambar 4.… … … .1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 11 12 v ...6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … ...4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4... G am b ar 4.5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … ... Tabel 4...… … … … … .7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar ....2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … . 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4.......2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL . G am b ar 4. G am b ar 4.1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … ....3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4....................

RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL.

maupun kabupaten / kota. Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. 2. Undang – Undang No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. propinsi. Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. 1 . sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Keputusan Presiden No.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. 3. 3.3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan.2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P. 3. 3. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No. Keputusan Kepala Bapedal No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 3. 2 . 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

3. 3 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. 3.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3. 3. 3. dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah.10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat.

4. atau kabupaten / kota.1. Aspek . merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan. maupun tata ruang kawasan. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4. yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum. antara lain:  areal permukiman padat penduduk.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan. b) Kawasan perlindungan setempat.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya. Pada tahap ini. khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan. d) Kawasan rawan bencana alam. propinsi. serta hasil survai lapangan secara global.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup. 4 .1. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin. Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya. bila diperlukan.

d) metode pengumpulan data.1).  lahan pertanian produktif. f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan. 5 . yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif. (lihat Gambar 4. c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal. penggunaan lahan. Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan. serta foto udara atau citra satelit.  areal berpanorama indah. b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup. yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup. e) langkah-langkah proses pemilihan rute.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi.

4. Kawasan Resapan Air. Suaka Marga Satwa. perairan darat. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. tapi bersifat regional. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. Kawasan rawan longsor. 2. Kawasan perlindungan setempat: 1. muara sungai. gugusan karang atau terumbu karang. Hutan Wisata. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Taman Wisata Alam 7. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. wilayah pesisir. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. 3. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). B. 2. Kawasan rawan letusan gunung berapi. 6. 3. Taman Hutan Raya. 1. 4. 3. Sempadan Pantai. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan rawan gempa bumi. Sumber: Keppres No. Kawasan Rawan Bencana Alam.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. 5. Sempadan Sungai. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. dan Daerah Pengungsian Satwa).32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Taman Nasional.1 Daftar Kawasan Lindung A. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. Kawasan Hutan Lindung. Kawasan Sekitar Mata Air C. 2. 3. 6 . Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. D. 2.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4.1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan.1b Foto Udara 7 . Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4. dsb.

23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak. kelompok profesi. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.1. masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. transparansi dalam pengambilan keputusan. komunikasi. 4. b) Luas wilayah persebaran dampak. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Karena itu. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.1. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait.4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. dan koordinasi. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 8 . dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk.

di pedesaan. Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. (4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA. e) Sifat kumulatif dampak. di kota sedang. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya. b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. (5) Pembangunan jembatan. Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 . Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. (2) Pembangunan jalan layang dan subway. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan.

tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4.1. tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup.1). maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru. 10 . atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4. atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4. Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun.1.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4.1.

b.000 – 200. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas.000 jiwa : jumlah penduduk 20. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas. getaran.17 Tahun 2001. dampak kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. gangguan visual dan dampak sosial.atau luas pengadaan tanah b.000 jiwa : jumlah penduduk 200. Di kota besar / metropolitan : .000 jiwa 11 . dampak kebisingan. Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. emisi yang tinggi. getaran.atau luas pengadaan tanah c. getaran. emisi yang tinggi. dampak kebisingan. Pedesaan : . gangguan visual dan dampak sosial.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. getaran.Panjang . a. tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1. emisi yang tinggi.000. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000. dampak kebisingan.000 – 500. Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. emisi yang tinggi. dampak kebisingan. > 30 km Bangkitan lalu lintas.1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No. gangguan visual dan dampak sosial.000 – 1.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. Bangkitan lalu lintas. Di kota sedang : .Panjang . getaran.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. Pembangunan jalan layang dan sub way b.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b.2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No. Tabel 4. 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3.2. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c. Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2. kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a. Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a. > 20 m > 60 m 12 .

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. Secara garis besar.: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL. tercantum pada Lampiran C 13 .3.2. 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL. ada tiga kemungkinan sbb. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL. Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan. Lihat Gambar 4. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas. proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4.

2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. 17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .

Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan.  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi. Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum. • Dampak pada kualitas air. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan. pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama. sedimentasi).2. • Gangguan terhadap kawasan lindung. yang mencakup seluruh wilayah studi. • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah. tapi langsung ke studi kelayakan. longsor. kualitas udara dan kebisingan.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. Akan tetapi. Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja. peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. 16 . tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan.

alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak. Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah. • Gangguan terhadap estetika lingkungan.2. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan. ekonomi dan juga lingkungan. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. termasuk kawasan adat. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat. 4. Di samping itu.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan.2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek. Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif.2. Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis. hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan. terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya. 17 .

jumlah sampel yang harus dianalisis. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan. • batas ekologi. jenis tanah. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL. RKL. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. penggunaan lahan. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL. dan • batas administratif.2. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL. dan RPL. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4.4 sub d) dan Butir 4. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan. 18 . RKL dan RPL).4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji. • batas sosial.6). 4.2.1. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL.4. geologi. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi. ANDAL. Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi. (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek. kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan.2.

dan mereka memberikan saran. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. lokasi quarry. (b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. (2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. base camp dan spoil bank. kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya. borrow area. media cetak. sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. surat. sekolah. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 19 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional). atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. dan/atau media elektronik. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati.ANDAL. pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. dan permukiman padat. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.

8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . (d) Hasil pekerjaan. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas. skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan).ANDAL tercantum pada Lampiran E. tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. Secara garis besar. (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4. (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran. c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab.2. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA . (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya.4. dilengkapi peta dengan memadai. Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4. 20 . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). untuk dinilai oleh komisi tersebut.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa. Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.

1 Metode Pengumpulan Data 3.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.1 Pemrakarsa 4.2 Peraturan Perundang-undangan 1.3 Isu-isu Pokok 2.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.4 Batas Wilayah Studi 2.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.4 Biaya Studi 4.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.1 Latar Belakang 1.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2. Kotak 4.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.2 Tim Pelaksana Studi 4.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. 22 .4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran.08 Tahun 2000. RKL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran. RPL Penilaian ANDAL.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. RKL. Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA.

Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. agar dapat dilaksanakan secara efisien.6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut. 4. 4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).3. Secara garis besar. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas. maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder.2. isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4. Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL.2. Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL. karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan. 23 . Ringkasan Eksekutif.

Kotak 4. Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat. terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan. berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab. 24 .

Kotak 4. Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). c) meningkatkan dampak positif.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4. d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. Bab IV.4. Bab II Bab III. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain.4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan. 25 . Bab VII. Dalam pengertian tersebut.5. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah. Bab VI. Bab VIII. sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. b) mitigasi. Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Bab V. Bab IX.

Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F. b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting).6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan.6. yang ditandatangani di atas materai. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.. Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Kotak 4. Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4.

menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan. tapi cukup dengan UKL dan UPL. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. Apabila instansi yang bertanggungjawab.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.2. Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. Untuk keperluan penilaian tersebut. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H.5 4. Instansi yang bertanggungjawab. seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas.2. RKL. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 . maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. Laporan ANDAL. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL.

tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Karena itu. 4. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. pokok-pokok arahan. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan. Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. Pada dasarnya.6. yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah.3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan. Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan. 28 . prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan. UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL. Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap.3. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan.

Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran.5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran. RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.RKL. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. 27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 . diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No. Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Penilaian ANDAL.

6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. dilengkapi dengan contoh. b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis. antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL.3. Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi. Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi. Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor). d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan. Estetika lingkungan (lansekap). Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J. Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan.2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat. 31 .

7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Gambar 4. Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K. dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang.

4. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga.4.  Konsultasi masyarakat. 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. 4. baik dalam dokumen tender maupun kontrak. Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL. 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.4. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya.3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.3.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4. mata 33 .1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.

penyewa bangunan. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. seperti penduduk sangat miskin. dan status pemilikannya. penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan. instansi pelaksananya. tingkat pendapatan. Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. Konsultasi masyarakat tersebut di atas.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap.4. atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek. jarak ke tempat kerja. jenis dan umurnya).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut.4. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru.4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. baik pemilik/penyewa tanah. 4. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. 4. penggarap tanah. orang lanjut usia. 4. status pemilikan tanah. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. dan perempuan kepala keluarga 34 . jenis penggunaan saat ini.4. maupun penghuni tanpa izin (squatters). kelas tanah.6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada).

7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci. 4. menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L. 5. Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable). Pemrakarsa harus membuat.4. Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai. berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan. 4. sumber dananya. 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya.4.8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan. dan jadwal penyediaannya.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat.4. termasuk panitia pengadaan tanah setempat. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 . 5 5.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota.

Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL. d.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL. 5. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan. Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL. Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu. lokakarya. diskusi terfokus. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. c. Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL.2. Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab. Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. b. seminar. yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL.4 Sub b).3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 .

4. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL. 5. dari komisi penilai. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai. RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL.1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. 37 .4 Dokumen AMDAL 5. RKL. Untuk keperluan itu.2 Dokumen ANDAL. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut. sebagai lampiran KA – ANDAL. b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. dari maka komisi pemrakarsa penilai. Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki.4. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL. 5. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan.

maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek. instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL. RKL. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki. dari instansi yang bertanggungjawab. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut. RKL dan RPL Dokumen ANDAL. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab . 5. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL. Terhadap permohonan tersebut. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Untuk keperluan itu.4. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1).

dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut. pendapat.4. saran.27/1999. 5. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut.27/1999). dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. PP N0. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). semua dokumen AMDAL. kesimpulan komisi penilai.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. 39 . c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup.5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. 5. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. Dalam hal ini. 5. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum.

6. dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah). Sekalipun demikian. perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek. 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait.komponen biaya personil (gaji upah). sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola. Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum. dan perjalanan dinas. perjalanan dinas. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL. Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan. pengadaan (reproduksi) data sekunder.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen . pengadaan (reproduksi) data sekunder. 6. kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun. biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. 40 .

dsb). citra satelit. dan laporan hasil survai / penelitian. dan Harga satuan tiap jenis data. Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. Jenis transportasi (pesawat terbang. Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan. data statistik. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran). Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. Harga satuan tiap jenis transportasi. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. operator computer. Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. 41 . foto udara.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. mobil). kareta api. Lamanya perjalanan ke tiap lokasi.

juru gambar. dsb). bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan. bahan (material) dan peralatan.25 pm. Dalam prakteknya. terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL. Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah). sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 . dan tenaga penunjang (surveyor. operator computer.8 pm. fasilitas kantor. perjalanan dinas.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan. dan Biaya penugasan luar kota (out-of. staf administrasi. Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. dan presentasi. 42 . Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 . analisis laboratorium. Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji.duty station). pembuatan laporan. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli.

disket. dan analisis kualitas udara. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. Office supply (kertas. fax). Namun. Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. yang di perkirakan berkisar antara 2 .4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap. Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis. dan  penjilidan. alat gambar dan sebagainya). Peralatan survai. 27/1999. f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor.4 person-month.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. di samping itu. tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa. Sewa kendaraan kerja. mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail. mesin tik. Biaya Komunikasi (telepon. dan Komisi Penilai AMDAL. 43 . 6.

Petunjuk Operasional (PO). dsb). e) Biaya penyusunan laporan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya.5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan. Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil. Daftar Isian Proyek (DIP). Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan). Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut. dan Lembaran Kerja (LK). b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. c) Biaya bahan dan peralatan survey.6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP). d) Biaya konsultasi masyarakat. 6. a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum. telpon. dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. 44 .

d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA. konstruksi. O l eh karen a i tu . dan (v) INSTANSI LAINNYA.1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an . maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. 7. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 . maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. (iii) BAPPEDA. Namun. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. (ii) BAPEDALDA. (iv) MASYARAKAT. e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. Karena itu. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. 7. untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan. dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat. diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal. perencanaan teknis. propinsi dan kabupaten / kota).

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten.2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa.ANDAL). dan pemerintah kabupaten / kota. Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit . pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP). Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). pemerintah provinsi. Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. dan pemerintah kabupaten / kota. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat. pemerintah provinsi. c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota.PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . pemerintah provinsi. 7. dan pemerintah kabupaten / kota. Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 . Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan.

Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. dan RPL. Masyarakat terasing. 7. standar. c) Menilai hasil studi ANDAL. 47 . antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma. b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. 7. kabupaten dan kota melalui peta padu serasi. Bappeda pemerintah kabupaten. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. Tokoh-tokoh masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). Bappeda pemerintah kota. b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL).4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan. Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). RKL. Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi. kabupaten dan kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi.

dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. kompensasi untuk tanah dan bangunan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen atau Dinas Kehutanan. d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. 7.6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”. yaitu: 48 . 7. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan. ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL. Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota.

dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota. berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. RKL dan RPL. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. 7. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. Pelaksanaan Studi AMDAL. Penyusunan KA – ANDAL. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. 49 . Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas. Penjabaran Hasil Studi ANDAL. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi. berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O.

Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata. meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis. koordinasi 50 . yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. 8. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. melalui mekanisme kajian lingkungan. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini. Identifikasi Kebutuhan Tanah. Perencanaan Pengadaan Tanah. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Karena itu. dan AMDAL atau UKL dan UPL. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Untuk keperluan itu.

51 . dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. Di samping itu.

. 4). (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ....... 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.. khususnya areal sensitive … . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).… .. . BPN dan dari sumber lainnya 2).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .

(7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . 8).. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL ..... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. .... Dikbud....… .. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).Ka Bapedal No. (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . (10) 7). Sosial) .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … ... terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. 9).. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .

.. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya...(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .. 2). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen... 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . RKL dan RPL 3)..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .(7) 1)...

RKL dan RPL … .... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis..... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.: median....: penanganan utilitas yang terkena.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.. lansekap … … … ... sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain..... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. RKL dan RPL pada perenc. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.teknis. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah. Termasuk pola pelestarianaya 7). Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … ...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … ......  Kehutanan tentang status hutan........ khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan.. Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5).. Memberi masukan persyaratan Lingkungan ..(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 ........ Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2). Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder... 6).(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...... 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL..... tempat keramat.. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3). 4).

.. 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait. (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … . Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … ..5). Menetapkan koridor jalan terpilih… … … . (8) 8).. tapi cukup macadam ... Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 ..4)..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..2)........ (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … ... (7) 3). Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … .6)..(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat.10).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix.. (10) 9). (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.

nilai lahan dll.. R P L . 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).. 10. 8). 5)...… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). R K L... (4) Memberi masukan tentang areal sensitif...4).… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 ... Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … . 9).(11) 7). (6) 3). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan... 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L.

.. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk....(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .10).. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait..(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll..(12) Menetapkan Desain Jalan .. Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2)..4). apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan . dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).. dok..(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. Dengan instansi terkait 14). Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13). (apabila ada) mis : ANDAL...9)... 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak. (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … . … … . Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan...(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… ..5).. dan wakil masyarakat terkena dampak 12). … … .. mis : RKL....lingk.… … … .

. PDAM. bantuan pindahan. telpon.7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. aparat desa atau kelurahan... (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … .. (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … .. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi.(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … ..... (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 . Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2)... LSM dan penduduk terkena dampak 3). (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP .. 5).. Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6)..4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll. mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … ..(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. Listrik.(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… . Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.

.................. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ....... peralatan dan bahan bangunan 2).. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6). Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ...(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi .(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 .. Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .… ......(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)..(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ... 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)..... 8)....... .. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy..(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .

........… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ....(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan .... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … .....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … .. metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai.. (8) 4). data sekunder (laporan harian kontraktor)...............(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis............. (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 ... dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan .. 8). 5)...... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2).... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME .

..(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan .. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija..(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang . penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … . … ....(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan..

(2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat ..: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. kapasitas produksi.. mis. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). peran dan fungsi kota dll.… . jenis penggunaan dan kepemilikan). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. 4). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas jalan yang dibutuhkan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.

...... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).. 4). 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)... 5)..... status kepemilikan dan kesediaan melepas............. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ..(6) ....... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … . sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing. ekonomik...... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.

5).. dll..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.(11) Menetapkan Rute Terpilih .. Hasil Pra Kelayakan 2)..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.. Terhadap pengadaan tanah … .... (6) 1). ekonomis dan lingkungan.4). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. (7) Memperkirakan dampak sosial … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .Rute. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. masa tinggal dll. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . rehabilitasi pem uk. 6). dll. … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … .. … . prakiraan nilai kekayaan..kem bali. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. luasan...… … … . pelepasan hak. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … .kem bali … … . Lokasi di Peta. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.. 3). Termasuk rencana kerja.

(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … ..… . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).... & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..P … … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).T .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .. 13). khususnya panitia pengadaan tanah … … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … . perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1)...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat... (2) Berpartisipasi dalam musy.

(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 5)... 6). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 4). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3)..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .

(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… .(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. … 7) 3). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 4). Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . 5). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.. 2). 6). 7).

(3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .… . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 .. nilai kearifan lokal.. LA R A P … … ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. pelatihan untuk alih profesi … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . tata ruang. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . adat istiadat.(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .

e). b). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. para kepala Dinas di propinsi. c). termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Penduduk terkena dampak. d). f). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. g). PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. b). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. e). BAPPEDA. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. 2. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. MASYARAKAT. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. d). Badan Pertanahan Nasional (BPN). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. PEMRAKARSA. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. c). Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan .

peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. 6. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. PEMRAKARSA. . misalnya sentra sentra produksi. 5. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. 2. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. STAKEHOLDER LAINNYA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Selanjutnya. BAPPEDA. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. 3. 4. 3. kapasitas produksi. Pemrakarsa..

dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. 2. UPL. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. 7. MASYARAKAT. peta quarry dll. PEMRAKARSA. Selanjutnya. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. PEMRAKARSA. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada.. 5. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah.. 3. BAPPEDA. 8. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. PEMRAKARSA. UKL. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. STAKEHOLDER LAINNYA. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Selanjutnya. 4. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. menetapkan koridor jalan terpilih 2. Masukan tersebut. 4. peta banjir. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. PEMRAKARSA. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 6.

Bersamaan dengan kegiatan tersebut. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). Atas dasar permintaan pemrakarsa. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 7. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. 10. BAPPEDA. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. 9. 5. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. 8. 6.. MASYARAKAT. 11. PEMRAKARSA. BAPPEDA. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. 5. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota.

memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. 9.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. 13. PEMRAKARSA. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. PEMRAKARSA. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. 10. PEMRAKARSA. 4. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. BAPPEDA. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA).. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. 7. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. 11. BAPPEDA. 6. 5. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. MASYARAKAT. Selama proses wawancana. Panitia pengadaan tanah. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. 6. 12. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 8. mensosialisasikan konsep larap. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis.

BAPEDALDA. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. 2. 8. 13. 7. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. 10. 6. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 5. BAPPEDA. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. PEMRAKARSA. BAPPEDA. kartu penduduk dll.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 11. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. 7. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. MASYARAKAT.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. 14. 3. 4. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 12. BAPPEDA. 9. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. Selanjutnya. BAPEDALDA. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. STAKEHOLDER LAINNYA. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek.

membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . PEMRAKARSA. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 11. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. BAPPEDA. Selanjutnya. melakukan monitoring & evaluasi. 8.. 7. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 5. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. MASYARAKAT. 6. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. 8. 12. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. BAPPEDA. DINAS SOSIAL. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. 4. BAPEDALDA. 9. 3. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. evaluasi pelaksanaan 2. BAPEDALDA. 10. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. mislanya karena kehilangan pelanggan. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut.

7. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. 5. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. BAPPEDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. MASYARAKAT. 3. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. Selanjutnya. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. penataan ruang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . BPN. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Untuk itu. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. PEMRAKARSA. 9. 4. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 2.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. BAPEDALDA. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. 8. 6.. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. PEMRAKARSA. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. PEMRAKARSA.

g). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. MASYARAKAT. Penduduk terkena dampak. para kepala Dinas di propinsi. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. f). b). c). d). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Badan Pertanahan Nasional (BPN). d). e). e). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. 2. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. PEMRAKARSA. c). b). BAPPEDA.

MASYARAKAT. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. 2. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. 5. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. misalnya sentra sentra produksi. Selanjutnya. PEMRAKARSA. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 3. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan.. . Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . kapasitas produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 3. 4.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. BAPPEDA. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. 6. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik.... kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang.. lingkungan dan sosekbud. biologi (flora dan fauna).(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek .. yaitu mencakup faktor teknis. ekonomik/finansial. geologi /geographic.... Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . nilai lahan. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing... penggunaan lahan. dll … . ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. pelatihan alih profesi.. (3) Memberi masukan aspek lingkungan .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang... (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . (7) Menyusun laporan PBME .

Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial. ahli ekonomi. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. Biasanya. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. sosial-ekonomi dan lingkungan. lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas.2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. perencana lalulintas. Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik. meliputi perencana kota. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 .1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait. Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya. prastudi kelayakan dan studi kelayakan. perencana lingkungan. 1. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat. atau c) kombinasi dari keduanya.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial. Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan. kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu. 1. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. yang membantu perencana jalan. dsb. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. b) alinyemen yang sama sekali baru. ahli geoteknik.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute.

karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan. perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 . Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. khususnya areal sensitif. Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2). 2.

lokasi kegiatan komersial. dan lokasi kegiatan kelembagaan. Namun. visual. telekomunikasi. karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai. kota sedang. lokasi kegiatan industri. ditetapkan empat tipe kota. dan kota kecil. institusi. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. yaitu topografi. pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. w arisan budaya. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. tem pat tinggal. Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. Bagi keperluan perencanaan jalan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. kom ersial. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam. prasarana. budaya. industri. 2. air. listrik. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal. kota besar. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. Selain prasarana ciptaan manusia ini. vegetasi dan perairan.

selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif. Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan. 2. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. Namun demikian.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan. kelapa dan kelapa sawit. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. termasuk kualitas visual dan kualitas akustik. Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota. tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan. Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan. karet. yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . Lain dari pada itu. seperti keselamatan. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. Namun demikian. serta perkebunan pohon buah-buahan. Dengan demikian. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai.

3. Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru. • rum ah -rumah terpencil.sawah beririgasi. Seperti telah dikemukakan di atas.tanaman lain. 3. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 .1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. meliputi: • Lahan pertanian: .lahan basah / rawa. dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari. jalan kereta api. . • desa. Pengembangan jalan dapat membelah properti. Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai. Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik. • Lingkungan alam : . Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah. meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor. . meningkatkan aspek-aspek keselamatan. akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan.sungai. . bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti. Namun. dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih. Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute. merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait. Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas.sawah tadah hujan. Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. bakau. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil. .perkebunan. Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. • nilai visual. • kam pung. misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas.

Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. kelapa dan kelapa sawit. Secara umum. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 . Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan. Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). serta lahan perkebunan karet.2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan. Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. dan kampung atau desa. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan. 3. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang.

Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute.) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . meliputi kondisi topografi. enjiniring. sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin. 4.1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif.

dsb. Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 . rel kereta api. dsb. Peta-peta skala 1:25.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan. Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci. Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan.  Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah. Namun. meliputi:  Peta Topografi. bukit. atau lebih detail dengan skala 1 : 5. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI. jaringan listrik.000. sungai. serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. pada umumnya yang berskala 1 : 10.1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional).Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual). Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50. liputan vegetasi dan pola hidrologi. roman-roman alami seperti gunung. Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan.000 untuk seluruh Indonesia. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25. tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check).000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan.000 ( Foto udara berskala 1 : 5.1. yang diproses dari foto udara. 4. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia.000 mahal harganya.1. informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. selain menyajikan pula detail topografi.000. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m. tutupan lahan. elevasi. data lingkungan dan data sosial/budaya.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah. Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami. termasuk vegetasi dan hidrologu. Peta-peta topografi skala 1 : 25. seperti kondisi geologi.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 . Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek. dalam beberapa hal. Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan. Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. Namun.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan. tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain.

dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. panjang jalan dan tahun anggaran. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B.2. kabupaten/kota. 2) Bapedalda. Melakukan penyaringan lingkungan. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . 3) Bappeda.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada. dll. B. 4) Masyarakat. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus. kabupaten/kota. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan. 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan. mencakup rencana lokasi proyek.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). penduduk terkena dampak. B. 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan. kabupaten/kota. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan. dalam hal ini Dinas PU provinsi.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan.

area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik. Bappeda. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. kawasan dan makam yang dikeramatkan.  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan.  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250. termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya.  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah). masyarakat (misal tokoh masyarakat).000). terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif).2. situs-situs purbakala. yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 .2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda). dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada). biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. B.  Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan. lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan. Bapedalda.  Masukan dari stakeholder lainnya. dan stakeholder lainnya (misal BPN.

kab/kota) serta penerapan peta padu serasi.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi).Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan. khususnya areal sensitif. UKL/UPL atau SOP). khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain. Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan. Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan.3. Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 . dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP). Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL. Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik.1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas. maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. B.3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas.  Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan. B.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda. Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan.2.3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov.  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada). Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL. B.2.

status lahan dan tata guna lahan).  Panjang ruas jalan. AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL). Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman.3. antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan.  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL.2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan.3.3. 4. lebar damija yang ada.1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat. Desain wilayah (kota/perdesaan). B. Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan). lebar jalan.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan. UKL/UPL B. yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 .3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1.3. 3. 2. Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute). yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).

Lurah/Kepala Desa. misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN). termasuk tokoh LKMD..2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.3. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor. Camat.3. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat. antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT . B. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan. b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. pendapat.

Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat. Lurah.3.3. stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Bappeda. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 .. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Camat.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana. termasuk klas jalan. Lurah/Kepala Desa. termasuk tokoh LKMD. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. B. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan. Lurah. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.

Camat. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya.3. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan.3. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih. Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing. . kondisi prasarana dan sarana.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B.  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan. Lurah/Kepala Desa. B. terutama dalam rencana pengadaan tanah.5. B.3. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. . terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. termasuk tokoh LKMD. masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan. dan (status lahan konservasi).4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 . antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah. B.. misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.3.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah).

2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih.4.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung). status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. Menetapkan rute terpilih B.4.4. misal di Kantor Bappeda. Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL). b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 . status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. terutama dalam rencana pengadaan tanah. status lahan dan tata guna lahan).3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B. Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih. kondisi prasarana dan sarana. B.

B.5. misal di Kantor Bapedalda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B. dokumen ANDAL. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan. B. antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL. Menetapkan desain teknis jalan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis.5. Dokumen ANDAL. Membuat konsep LARAP. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan. Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan. akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 . selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. RKL/RPL dari rute terpilih. RPL dalam perencanaan teknis jalan. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain.4. a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda. RKL/RPL. Disamping pertimbangan aspek lingkungan. Diskusi penjabaran RKL. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. B.5. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih.4.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL.4. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.

Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan.5. LKMD.3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. B. misal di Kantor Bappeda. dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat). c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP. dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan. a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis . B. RPL dalam perencanaan teknis jalan. meminimalisasi. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak. RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi. Masyarakat (Kepala desa/lurah. Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL. wakil masyarakat yang terkena dampak).  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup.5. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . baik berupa upaya pencegahan. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak. misal di Kantor pemrakarsa proyek. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL.2 Diskusi Penjabaran RKL.

Bappeda.5. dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang. wakil masyarakat yang terkena dampak). c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. B. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP.  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. lebar damija yang ada. antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan).  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan. LKMD. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan. misal di Kantor Bappeda. lebar jalan. terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 .

aset di atasnya. B. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia.5.5.  Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak.  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan. dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. biologi dan sosial) yang terjadi. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 . B. yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan. persepsi. jumlah pemilik.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP.

C. Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung). PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 . Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut. pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C. Karena itu.3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1. d) e) C. pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali.2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan).4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2. C. jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb.

Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. emisi yang tinggi. Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas. dampak kebisingan.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas.000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 . getaran.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No.000 jiwa 500.Panjang . tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1. getaran.atau luas pengadaan tanah c. Di kota sedang : . getaran. dampak kebisingan. dampak kebisingan. a. gangguan visual dan dampak sosial.000. emisi yang tinggi. > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000 jiwa 100. Pedesaan : .000 jiwa 20. Bangkitan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas.atau luas pengadaan tanah b. dampak kebisingan. emisi yang tinggi.17 Tahun 2001. b. 1.Panjang . Bangkitan lalu lintas. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. getaran.000 – 100. Di kota besar / metropolitan : . gangguan visual dan dampak sosial.000 – 1.000. gangguan visual dan dampak sosial.000 – 500. getaran. gangguan visual dan dampak sosial.

Pembangunan Jembatan a.1. yaitu:  panjang ruas jalan (km). Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C. Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a.5. Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E. b. Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi. dan skala / besaran kegiatannya.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No.10 km 2 ha .5 ha 3 km . Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL. 3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL .10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL.2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek. Jenis Proyek Besaran 1. 2. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif. Penyusunan laporan hasil penyaringan.5 km 2 ha . Di kota besar / metropolitan: b. Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km .5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C.  luas areal pengadaan tanah (ha).5.1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C.

atau berdekatan dengan kawasan lindung.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.  Jenis lapis perkerasan.1.3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C.  Alat-alat berat yang diperlukan.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota.  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.5. dll). antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal).  Peninjauan lapangan.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu.1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam.3. Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui. tercantum pada Kotak 1. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu). atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota. peninjauan lapangan tidak diperlukan. Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder. Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya. berbatasan langsung. berbatasan langsung dengan. c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. pasir. C.  Lebar perkerasan.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada). dan Pasal 37 Keputusan Presiden No.  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan). e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. • Lebar badan jalan.5. b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No. 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL .  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan.

Daerah komersial. • pipa air. • saluran air. peta geologi. Taman Hutan Raya. 13. 11. c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi. 5. Kotak 1 C. muara sungai. 10. 12. Sempadan Pantai. seperti: • jaringan jalan.2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat. gugusan karang atau terumbu karang. 4.3. 7. 6. peninjauan lapangan akan sangat berguna. peta penggunaan lahan. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). perairan darat. wilayah pesisir. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). • jalan kereta api. 15. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. 8.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). peta tanah.5. Bila perlu. dan foto udara (bila tersedia). Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. dan • pipa gas. dan Daerah Pengungsian Satwa). 2. Hutan Wisata. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 . Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. Kawasan Bergambut. 14. • telepon. Suaka Marga Satwa. 3. Kawasan Rawan Bencana Alam. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. 9. Taman Nasional. Kawasan Hutan Lindung. daerah deengan budaya masyarakat istimewa. Sempadan Sungai. • kabel listrik. Kawasan Resapan Air.

konstruksi. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1. seperti kegiatan pengangkutan material. yang mungkin terkena dampak.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap. C. perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah. dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C. mulai dari tahap pra-konstruksi.5. kebisingan.5. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 . pencemaran air). konstruksi dan pasca konstruksi. Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah.3. d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C.1. misalnya kegiatan land clearing. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi.5. (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak.5. menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu. merubah komposisi vegetasi. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara. diurut mulai dari tahap pra-konstruksi.5. dan • tempat ibadat. dan pasca konstruksi. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya.3) . C.2 yang merupakan sumber dampak. pengoperasian base camp dan stone crusher. • rumah sakit. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C.4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut.5. Bila tidak. Sebaliknya. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2. Jika memenuhi kriteria tersebut. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL. • survai lapangan. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1. • analisis laboratorium (bila perlu). Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . makin mahal biayanya. Makin jauh jaraknya. Kalau tidak. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. komponen biaya terbesar adalah biaya personil.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1. maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua. d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C. jika tidak memenuhi kriteria tersebut.4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. tapi wajib menggunakan SOP. b) Secara garis besar. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. Pada umumnya. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut. C. Bila tidak.5. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL. • peralatan dan material. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3. c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung.

atau antara 0. b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan).1. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 .5. yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat. Secara umum. sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 . wajib UKL dan UPL. Penyusunan Laporan f) C. dengan biaya berkisar antara 5 .10 % dari biaya persiapan proyek.8 pm. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL).06 0. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya. c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL. termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut.30 person-month (pm). Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut. pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan.7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 .35 % dari total biaya proyek. Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL.

Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3. atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. Intensitas dampak I1 I2 5. Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. tidak berbaliknya dampak. L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2. atau kumulatif dampak.

7. Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6.

Lokasi a. Jenis Program 8.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Kabupaten c. Propinsi 5. RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1. d..... kendaraan /hari b. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . … … … … … … … … . Fungsi Jalan 7. … … … … … … … … . c. … … … … … … … … … … … … … … … … … . b. Areal pertanian produktif d. Damija rencana c. km b. … … … … … … … . … … … … … … … . Luas areal pengadaan 9.. … … … … … … … … … … … … … … … … . Perkerasan Ekisting 1) d. … … … … … … … … … … … … … … … … … . km .. b.m . LHR a. Pemukiman padat b. % . c. d.. Eksisting 1) b. Panjang Ruas Jalan 3. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B. km a.. Nama Rencana Kegiatan Proyek 2. km ... … … … … … … … … … … … … … … … … … . DAMIJA Ekisting 1) b..Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A. … … … … … … km a... Daerah komersial c. H a a. Pekerasan rencana 4. Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a. km . % .m . Fisiografi a. b. Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .m a.m . Penggunaan lahan a. Rencana 10.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Status Kota 6.. Berlereng curam (> 40 %) b... Tanah tidak stabil 2.. Nama kota b. % . km (… (… (… (… … … … … … … … … . % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 .. Lebar Jalan a. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. c.

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 3. D. . . b. … … … … … . KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p. Wajib AMDAL 2.. Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b. 2. Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c. Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a. c. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a. Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. Kawasan lindung a.. … … … … … … … … … … … . b. . Wajib UKL dan UPL 3. . Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. . ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. Jenis/nama kawasan lindung b.

2. D.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. 2) Bapedalda. 1) lahan di D.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya. 3) Bappeda. 4) Masyarakat. kabupaten/kota. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 . tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. kabupaten/kota. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. peran dan fungsi kota. 5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus.1. Badan Pertanahan Nasional (BPN). 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa. meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum. penduduk terkena dampak. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada). antara lain : sentra-sentra produksi. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. dll. 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan.1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. kabupaten/kota.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan.2. kapasitas produksi.

Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. D.000). dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai.1. orde penataan ruang. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.2. D.  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. misal: skala 1 : 250. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. Kehutanan.000). kab/kota). PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 .1.2.1.2.2.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan. hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. D. potensi kapasitas produksi. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.  Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2. serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan.

Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan. antara lain sebagai berikut : 1. misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing. 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. i. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. ii. khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan). atau berdekatan dengan kawasan lindung. 3) Aspek orientasi budaya.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 3. antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100. Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya. berbatasan langsung dengan. 4.2. rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 . Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam. 2. 2) Aspek pola kepemimpinan. Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan.2. Kehutanan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. D.000).2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. kab/kota). Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan. D.2.

PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 . Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.2 Konsultasi dengan Bapedalda. Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan. 2) D.3. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda.000).3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan. dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan.1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. D.3.3.000 D.3. Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan. 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan. status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. 1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.1 Status lahan dan tataguna lahan. Bappeda. dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. Masyarakat dan Stakeholder lainnya. misal skala 1 : 100.1. serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada). Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai . Bappeda dan masyarakat).1. D.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting.

b.2. e.1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi. terutama kebutuhan pengadaan tanah. serta pola penggunaan lahan. sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif. Aspek kepemimpinan. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). tentang (khusus pada masyarakat terasing): a.3. Meminta masukan dai Bappeda tentang : a.2. Aspek budaya.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor. 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif. 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi. Aspek pertanahan masyarakat terasing.3. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk. Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing.3. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada). Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c. c. d. Aspek kependudukan. 1) D. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 .

terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. dll). jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. 3.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. terutama dalam rencana pengadaan tanah. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. Mencatat informasi mengenai tiap rute.4. 2. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute). c. 4. yakni : a. antara lain meliputi dua hal tersebut di atas. kab/kota). Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah).Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan.1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih. Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. b. 2) D. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN .4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih. 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. b. dan (status lahan konservasi).

d. g. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. h. c. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC. 7. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. paling tidak mencakup 4 hal. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 .2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas. NJOP dan harga nyata tanah 1. f. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. b.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. 2. Menuangkan dalam bentuk matriks. D. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder. e. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur.4.

Status kepemilikan tanah. k. penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan. NJOP tanah dan harga nyata tanah. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. tanah ulayat dan sebagainya). dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. bengkel dan lain sebagainya). 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . huruf (ii). Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis. sedang dan besar). Fluktuasi pendapatan akibat musim. Luas bangunan yang akan dibebaskan.4. 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. l.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. tahunan. c. j. 5) Penduduk (pemilik. Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. Luas tanah yang akan dibebaskan. 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil. macamnya (rumah tempat tingggal. 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). Persepsi masyarakat terhadap proyek. misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. sebagai berikut: 1. 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. tanaman (umur setahun. e. (ii) tanah pengganti. dan huruf (iv). (iii)pemukiman kembali. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. kab/kota). semi permanen. 3. Stakeholder lainnya. meliputi : Tata guna tanah . 2. tempat usaha. f. gudang. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. status kepemilikan tanah. Bappeda. an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. Usulan tentang ganti kerugian. 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. tempat ibadah. Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. i. g. dan sebagainya ). darurat). Aset lainnya yang akan dibebaskan. kolam /tambak ikan dan sebagainya. h. Harga nyata tanah dan NJOP-nya. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen. kantor.3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. bersejarah dan tradisional. penyewa. 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. d. status bangunan dan tipe bangunan. 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan.

D. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan. dll). disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. ekonomis dan lingkungan. atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda.4. kab/kota). Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian.5.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak.4. D. Melakukan konsultasi masyarakat. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 .4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan. disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan. Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1. Sosialisasi konsep LARAP D. 3. Melakukan survai sosial ekonomi.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. 2. melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih). setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. Uraian rencana pembangunan jalan. Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan. 4.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. yakni : a. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat. b.5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan.

Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya. Luas areal permukiman b. Luas areal semak belukar g. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. Luas areal hutan f. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 . untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks. antara lain sebagai berikut : a. 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi. Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya. Luas areal perkebunan e. 1) D.5.2 Survai Sosial Ekonomi 1). Luas areal persawahan d. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. Jenis utilitas umum h. bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali. untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. paling tidak mencakup 4 hal. Luas areal ladang c. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis.

NJOP tanah dan harga nyata tanah. 5) Usulan tentang ganti kerugian. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur.5. 7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. status kepemilikan tanah. yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk. status bangunan dan tipe bangunan. D. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan. tanah ulayat dan sebagainya). 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim. 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial.3 Konsultasi dengan Bapedalda. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. Bappeda. sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC.

Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan. luas. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial). 2. 4.  Alokasi anggaran. 1/1994. jumlah tiang listrik dsb).  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru.  Jadwal penyelesaian. D.  Instansi penanggung jawab.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1.  Tindak lanjut.4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK.  Rencana penyelesaian. Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait. evaluasi dan rehabilitasi. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain.  Perkiraan biaya.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan.  Biaya pelatihan alih profesi. pasal 45. termasuk status sertifikat. masa tinggal dll. sarana dan prasarana.  Status penyelesaian. 3. lokasi di peta.5. prakiran nilai kekayaan. jumlah bangunan.  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan.  Sumber pendanaan. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 . Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja).  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3).  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No. luasan.

. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan ..… … . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). terasing… . 3). Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5)... (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… ... serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas jalan yang dibutuhkan.. peran dan fungsi kota dll..… .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6) . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . kapasitas produksi.

. (8) .... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3). … … . 5)........... budaya .. terasing. ekonomik. ....... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis.. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .. ekonomi. 4)... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … .. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan......Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.......(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing..

. terasing … .. terasing......(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy..(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute....... (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .. . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.4). terasing. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2). ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy.5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis...Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)....

terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … . Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. pembagian tugas 3).. Renc..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy... kepemimpinan...… … … ... Termasuk rencana kerja.. sistem dan nilai hak adat .......terasing tsb. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. T indak … .... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6).. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)....(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (11) . terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).....

(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). Termasuk LSM..... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ... 4). 3)...... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).......(7) .......(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .. dll. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan. rehabilitasi konservasi situs dll.. … … . lembaga adat .. 5)...... perbaikan permukiman tradisional...… .......Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing......

Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 4). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . 6).(12) .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya...(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan... (11) 8).. (6) 3). 5).. 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .

Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME)..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … ... budaya dan kelembagaan.... penanganan masy . 4)..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . 2).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 5)..terasing termasuk rehabilitasi … … . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.. 6)... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing . sosialekonomi.. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring.(8) .. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).

(4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan... (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . terasing yang lebih baik .… . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .. penanganan masy.. terasing … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … … . 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. tata ruang nilai kearifan lokal.

.

peran dan fungsi kota dll. jenis penggunaan dan kepemilikan). kapasitas produksi. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). mis. 4). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas.… .. kapasitas jalan yang dibutuhkan. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat .. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.

... 4)..(8) ........(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ........ 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis..... status kepemilikan dan kesediaan melepas. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ..... 5).. ekonomik... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .....(6) ..

..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . (7) Memperkirakan dampak sosial … .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.4). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). (12) . 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. dll. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. Hasil Pra Kelayakan 2).(11) Menetapkan Rute Terpilih .Rute. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . ekonomis dan lingkungan... Terhadap pengadaan tanah … .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … ..5).

rehabilitasi pem uk. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. Lokasi di Peta. Termasuk rencana kerja. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. 3). (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.… … … .. dll. pelepasan hak.kem bali. luasan. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).. masa tinggal dll. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 6). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). prakiraan nilai kekayaan..(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … ..kem bali … … .

khususnya panitia pengadaan tanah … … .. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .... (4) KETERANGAN 1). (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . 13).T .P … … ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. (2) Berpartisipasi dalam musy. & menyepakati dlm mufakat khususnya P .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … ..… . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk..(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5)...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.

Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … ... misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3)...(12) . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 6).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 5).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. 4).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .

(5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 6). 2). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . … 7) 3). 4).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 5).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . 7). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis... (8) .. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.

(3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . LA R A P … … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . pelatihan untuk alih profesi … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) ..… . nilai kearifan lokal. adat istiadat.. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . tata ruang.

.

.. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ... (6) . 4). .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . BPN dan dari sumber lainnya 2). Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan..… . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. khususnya areal sensitive … .. . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .

Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep... (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.Ka Bapedal No... 8). . (10) 7).Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .… . (12) .. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . Sosial) . 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.... Dikbud... 9)..

RKL dan RPL 3).. 2).. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6)..(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . (9) . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya... (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … .(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .

teknis. RKL dan RPL … . (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ......: median..... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis...... (8) .… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL...... lansekap … … … .... RKL dan RPL pada perenc.: penanganan utilitas yang terkena.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.

.

maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 . antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. Keputusan Kepala BAPEDAL No.langkah pelaksanaan Secara garis besar.1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. 40/KPTS/1997).2 Langkah . Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0. 69/PRT/1995). Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA . 147/KPTS/1995). Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. E. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL.ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E.3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat. pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E. 9 Tahun 2000.

dan mereka memberikan saran. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek.4. dilengkapi peta dengan skala yang memadai. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. E.4. Media pengumuman • E. Hasil pekerjaan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. surat. E.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota.4. Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan).4 E. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi.4. E. media cetak.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. dan/atau media elektronik. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek.

yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 . jelas dan mudah dimengerti. f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi.5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. masyarakat menyampaikan aspirasi. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. E. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio. kebutuhan. kapasitas dan lokasi kegiatan).1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2.4. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. E. seminar. lokakarya. Dalam proses ini. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. dan Mengumumkan waktu. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1).6. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman).6 E. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. dan cara penanganannya. E.

jumlah sampel yang perlu diukur. c) pemusatan dampak besar dan penting. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek.6. batas ekologis. antara lain metode matrik dan bagan alir. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . Langkah pertama. identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek. b) evaluasi dampak besar dan penting.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial. tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E. c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. batas sosial dan batas adminsitratif.

RPL Penilaian ANDAL. diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. RKL. RKL. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran. Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 . pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL.08 Tahun 2000.

bahan bangunan yang akan digunakan. lokasi quarry. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. kondisi biologi.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. Makin besar volume kegiatan proyek. Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka. Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting. dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu. perairan umum. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. baik dampak primer. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan. konstruksi dan pasca kontruksi). misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. c) peninjauan lapangan. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar. Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. (lihat Tabel 1 dan 2). cenderung makin besar pula dampaknya. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . Langkah kedua. jumlah tenaga kerja. jenis limbah dsb.

Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6. 3. 6. 5. 3. 6. 2. 5. Pengoperasian jalan 2. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 . 4. Sosialisasi 4. 3. 4. 1. 4. 2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 2. B. 2. 1. 7. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. Pembayaran ganti rugi 1. 7. Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. Pengelolaan Quarry 8. C. 8.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. PemancanganTiang Jembatan 9. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. Survai & Pengukuran 2. Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. 1.

5. Survai & Pengukuran 2. 2. 7. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. 6. Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8. 6. 5. 1. 5. 3. B. 3. 4.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 4. 2. 1.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 1. 7. C. 2. 2. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 . 8. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. Sosialisasi 4. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 4. Pengoperasian jembatan 2. 3.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi. waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat).  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman.6. Di dalam batas ekologis ini. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung. industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 . E.  Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor). Sebagai contoh. proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi. Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA.3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. kontruksi maupun operasi. batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan.

Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan. E. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia. Bab 5 : Daftar Pustaka. Bab 6 : Lampiran. Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . Bila perlu.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan. diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat.7. Bab 4 : Pelaksanaan Studi. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi.7 E. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia. Karena batas proyek jalan cukup sempit. diperlukan tenaga ahli hidrologi.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. • Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung.2 di bawah ini.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya.6. E. Bab 3 : Metode Studi.7. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D. diperlukan tenaga ahli kehutanan. dengan memperhatikan keterbatasan dana. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat.

(4) Status proyek saat ini.bab yaitu Latar Belakang.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E.4 Biaya Studi 4. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan).2 Peraturan Perundang-undangan 1.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1. (3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.7. tujuan dan manfaat proyek.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 . dan Tujuan dan Kegunaan Studi. antara lain meliputi: (1).3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4. Lokasi rencana kegiatan proyek.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub . (2) Maksud.1 Metode Pengumpulan Data 3.2.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.3 Isu-isu Pokok 2.2 Tim Pelaksana Studi 4.7.4 Batas Wilayah Studi 2.1 Latar Belakang 1. (5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL.1 Pemrakarsa 4. Peraturan Perundang-undangan.2 Rincian Materi dokumen E.

E. antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan.7.2. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 . 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL.3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL.7.2. Keputusan Menteri Kehutanan No. Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 .

14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 10) Peraturan Pemerintah No. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 18) Keputusan Menteri Negara KLH No. 2) Undang-undang No. 9) Peraturan Pemerintah No. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. E. 5) Undang-undang No. 6) Undang-undang No. Kep. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 8) Peraturan Pemerintah No.2. 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No. 3) Undang-undang No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 55/1993. 11) Keppres No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 4) Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. • B atas w ilayah studi. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. • Isu -isu pokok. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 .7. 19) Keputusan Kepala Bapedal No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. • R ona lingkungan hidup aw al. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 7) Undang-undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif. teknis dan ekonomis. Lokasi proyek. Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel. P anjang ruas jalan. c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku.1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya. perkerasan).2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. Jenis perkerasan. propinsi. S tatus proyek saat ini. b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan. c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 .3. G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1. Status jalan (jalan nasional. Jadual pekerjaan konstruksi. kabupaten / kotamadya.3. 1.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan. Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan). Jenis program (pembangunan / peningkatan). F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). tol). Lebar jalan (Damija.3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1. V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan.

• P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah. pasir. • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya. konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1). Tahap Pra . (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan).Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak. • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu. Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar. yang harus ditelaah oleh konsultan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 .pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. (2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan. • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai. • peralatan yang digunakan.Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah. koral. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 . sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. yang bersifat “site specific”. Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting. dan sedimentasi pada badan air setempat. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan. Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut. Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam. • K om ponen kingkungan biologi.kimia. • K om ponen lingkungan sosial . penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat. (2). longsor. mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri . (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija.ekonomi .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan. d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut.budaya. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi.kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik . Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. (3). Untuk proyek jalan tertentu. seperti contoh berikut : (1).

b) Metode prakiraan dampak besar dan penting. c) Metode evaluasi dampak besar dan penting. Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan.7. Untuk pengumpulan data primer. waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa. agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut. Sebagai contoh untuk pengukuran.2. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai. Untuk pengumpulan data sekunder. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. E. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 .5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. gambar atau deskriptif.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data. grafik. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya. agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan. Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada.

dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan.2. • B iologi. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik. Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun. b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. Kep-056/1994. • K esehatan M asyarakat. • Teknik Lingkungan. • S osial-ekonomi. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. • S osial-budaya.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota. bagan alir. overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek. b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. • G eoteknik. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . • Lansekap.7. E. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut.

Laporan Perencanaan Umum. Disamping itu. • A nalisa Laboratorium . Peta Penggunaan lahan. d. Laporan . secara singkat dan jelas. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart. analisis lanoratorium. • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa. c.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah).2. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi.laporan lain yang relevan. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. • P engum pulan D ata. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 .7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. • P enyusunan Laporan. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. dsb. APBD atau Bantuan Luar Negeri. Laporan Pra-Studi Kelayakan. termasuk tahun anggarannya. b. Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5.7.kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. • P engolahan D ata. seperti : a. d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN. E. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut. peralatan dan material. Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab. c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan . perjalanan dinas.

5. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 . yang terdiri dari : . Peta lokasi proyek secara makro. Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. jadual studi ANDAL. setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL. . E.3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa.8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry. . . Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan. 5. Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .Laporan ANDAL. Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan. Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai.1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan.Ringkasan Eksekutif.2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya. penyusun / penerbit. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir).5 Pelaporan 5. b.2.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).7. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang. ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya.5. c. d. . terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa. dan tahun pembuatan / penerbitannya. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait.5. Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. 5.Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis. Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e.

Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … . terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai.8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. E. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan. E.4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi.5. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud. Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir.

F. (a). Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute. (b).2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai. serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi.3. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. pengamatan dan wawancara.3 Penyusunan Konsep ANDAL F. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 .1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia.1. RKL/RPL F.2. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F. Bab 3 : Metode Studi. Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. F. RKL dan RPL Bidang Jalan F. Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL.2. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. sosial dan kesehatan masyarakat. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak. biologi. Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP). Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat.

RKL DAN RPL BIDANG JALAN .2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah.3. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak. dan wilayah studi. Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F. F. terutama yang langsung terkena dampak.3. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Bab 9 : Lampiran. 2. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bab 5 : Rona Lingkungan Awal. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting. 1. Bab 8 : Daftar Pustaka.3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting. 1. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL).Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan.

Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3. serta metoda perumusan RKL dan RPL. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data.4. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data.1 b) di atas. 2. maupun hingga kegiatan berakhir. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi. metoda analisis atau alat yang digunakan. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen). Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. 3. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL.3. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai.3.3. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. 4. meminimisasi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 . F. metoda prakiraan dampak besar dan penting. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting. 1. dan hasil pengamatan lapangan. dan rancang bangun teknis.1 b) di atas. Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No. 2. b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. bagan alir. Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3.

1.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut. ekonomi dan institusi. Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama. F.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah.3.3.1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya.5. F. yaitu lokasi dan luas areal proyek. kabupaten/kota dan provinsi. 2.3.3.5 Rencana Kegiatan F. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 . Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek. dan komponen kegiatan proyek.5. 2.5.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan.1. kecamatan.

4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 . Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F.3.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2. konstruksi. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b. dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi.2. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.5. dan pasca konstruksi. Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup.

Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya.6. F. Kualitas air permukaan.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Keberatan pemilik lahan. volume galian dan timbunan dll). Pola penggunaan lahan.3.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek. Aliran air tanah.3.  Biota air. Prevalensi penyakit.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk. rute angkutan material.6. F. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Erosi tanah.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. sosial. jenis peralatan yang digunakan. biologi. Tata guna lahan.1 Komponen Geofisik.3. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng. Estetika lingkungan F. Settlement. F. Aliran air permukaan. Pendapatan penduduk. kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana. RKL DAN RPL BIDANG JALAN . Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. Keresahan masyarakat. yaitu komponen geofisik-kimia. Sedimentasi. Perekonomian lokal.6.3. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat.

2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting. e. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial.  Kondisi utilitas.3. dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. F. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial.3.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan.  Kondisi lalu lintas. antara lain meliputi :  Kondisi jalan. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik.8. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan.6.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. 3) Mekanisme aliran dampak. F.3. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak.1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar. d. b. yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a. c. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 . PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL).7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri.3. konstruksi. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting. Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya.

e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 . kualifikasi. F. Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan.4 Penyusunan Konsep RKL F. keputusan. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL.4. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting.9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus. F.3.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak. d) Diagram. F.10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai.3.8.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola. peta. grafik. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. b) Surat-surat tanda pengenal. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul.3. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup. f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam.1. F.

Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Bab 5 : Lampiran. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada.4. kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. (a). Bab 4 : Daftar Pustaka.4. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F. F. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. b) Pernyataan kebijakan lingkungan.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau. misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 . mengurangi. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan.3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah. Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. singkat dan jelas.  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol. akan ditempuh cara.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan. ekonomi dan institusi. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki. seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia.

berkepentingan. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. g) Pembiayaan. cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.4. uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan.  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b).  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan. b) Tolok ukur.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. f) Periode pengelolaan lingkungan. (c). dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Dinas Kehutanan. Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. PLN (Persero). uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi. c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta. misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan. Dinas Pengairan. e) Lokasi pengelolaan lingkungan. F.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek. sosial ekonomi ataupun institusi. d) Pengelolaan lingkungan.

4. pihak-pihak yang berkepentingan.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL. dll. Contoh indikator muka air tanah.5. F. lokasi. tolok ukur. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi. F. Bab 4 : Lampiran. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F. adalah penurunan sumur penduduk. sumber dampak.1.4. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup. Bab 3 : Daftar Pustaka.5. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.5. Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. rencana pengelolaan. singkat.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan. Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.5 Penyusunan Konsep RPL F.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. b) Uraian secara sistematis. b) Sumber dampak. maupun bagi masyarakat.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak. tujuan pengelolaan lingkungan.

c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau.5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau. Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana. metoda analisis). RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 . atau formulir isisan yang digunakan. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. berkepentingan. h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. sumber dampak. lokasi. dan institusi pemantauan lingkungan. e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan.4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu.5. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. F. b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. F. pengawas. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud. (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL). d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting. rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai.6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F.5. tujuan pemantauan lingkungan. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya.6. kimia. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai. Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. F.

1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya.6.6.6.2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F.6. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai. F.3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. F. F. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 .6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan.6.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F.6.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut.6.4.

Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak. G. 4. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 . dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi. 299/11/1996.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a).2. dan penilaian tingkat kepentingan parameter. Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal. identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak.2. 5. 3. penetapan batas wilayah studi. G. Ahli Sosial Ekonomi. G. Identifikasi dan penetapan parameter sosial.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak.1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. 2. yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya. Ahli Transportasi. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli. Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No. (b). termasuk akses koridor. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial.1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan.2.

batas sosial.  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. dan borrow area (yang dikelola proyek).  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan. Dalam proyek jalan. batas kawasan industri.  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. kawasan pelabuhan/bandar udara.  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis. wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 . berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana. lokasi quarry. dilakukan pembagian segmen. Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi.  Melakukan pengamatan terhadap lokasi. batas ekologis.2. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. konstruksi dan operasi. lokasi basecamp. dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis. batas administratif. setiap segmen dan sub segmen.  Pada tahap awal. batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen.  Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah. waktu dan tenaga yang tersedia).3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak.  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. (c). rute pengangkutan material. G. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen.  Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek.

antara lain sebagai berikut: (a).  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya. Tahap pra konstruksi. Metode kerja. Tahap konstruksi b.2.Tahapan Pelaksanaan Proyek. Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a). Tahap pasca konstruksi. meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 . mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c). Kegiatan proyek. Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya.1. Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e). meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b). Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b. Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial. mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b). peralatan dan meterial yang digunakan (d).

5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter. Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan. (b). yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama. G. perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua. Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak. Pembobotan oleh Ahli (b).1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a). Skala bobot kepentingan dimaksud. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan. Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya. dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara.2. Pelaksanaan penilaian/pembobotan. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga. Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung. (c). yakni: (a). dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi. Melalui prinsip penghitungan yang sama. Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. dapat dilakukan dengan cara pembobotan. bukan pada dampak turunan. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 . Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G.4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G. tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner. Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi.2.2. selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban.

teknik penelusuran sampel. perlu dilakukan penelusuran tapak. G. G. (b).4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a). dan keragaman tata guna lahan. Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik. maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek. Apabila dipilih cara ini.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi. Karenanya.3. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. Pemilihan sampel representatif. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga.3. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik. apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G.1 Kerangka Proses G. batas wilayah administratif. salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol. jumlah sampel ditentukan.3. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan. G. tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden. dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan. tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa.3. Untuk itu.3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 . Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel. Dengan cara tersebut. Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus. karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas. analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan.

Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. semi-permanen.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c). (f). Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. atau pun jenis pekerjaan. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . seperti kondisi permukiman permanen. Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. (g).d. 50 meter. Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). dan non permanen. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini. Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner. Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden. Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan. Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek. sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban. Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen. (e). Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini. Muatannya berupa data hasil wawancara. Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. dan responden dihadapkan pada pilihan opini. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G.3. (b). tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden).4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan. Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor. kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS).1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 . Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G. untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan. berupa identitas responden. serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. Pada prinsipnya. responden diminta untuk menilai kondisi eksisting. Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara. Kuesioner tersebut memuat data pokok. karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian. persepsi tingkat kepentingan parameter. akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri. atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri. seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA). Selanjutnya. Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam. dan persepsi terhadap kondisi eksisting.5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas. G. (c). Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial. Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek.4.

BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan. baik berupa baku mutu. Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif. Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek). Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali. Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). antara lain : 1. Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur. 2. 3.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). Untuk kepentingan analisis ini. antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. mobilisasi dan pembebasan lahan. Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. (b). baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum). Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. (c). Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku.4. Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 . Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter.2 Komponen Analisis (a).

dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat. Karena itu. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL). yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan.5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw).1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. terdapat 2 (dua) terminologi kunci.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. RDDL = SDD/DDLSaw G. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan. dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi). DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS).2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden. intensitas dampak sulit diukur secara langsung. Pada komponen sosial. RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak. Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak. G. Jadi.5.5. Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur. nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden. dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia. (d). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 . yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak. konstruksi. Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e). RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana. Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. Pada komponen lain. Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi. Pada proses analisis. Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw.

apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . maka suatu dampak tergolong kategori penting. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. maupun pasca konstruksi. mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). digunakan Keputusan Ketua Bappedal No. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang.5. apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri. yakni :  Dampak dikatakan kecil. Kep-056/1994. Secara konsep. (c). Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama. Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). masa konstruksi. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak. apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi. Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan.  Dampak dikatakan besar. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan. Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan. Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini. maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak. G.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan. Selanjutnya. maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori. baik pada saat pra-konstruksi. Demikian pula dengan populasi.

(d). Untuk memilih prioritas mitigasi. dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 . sistem atau pun penggabungan dari keduanya.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. Dengan demikian. Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama. Mitigasi dilaksanakan secara teknologi.

CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat. terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat. Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum . terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat.

TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi . kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .  Keluhan thd.Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd.Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).

tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon. rumah sakit. sekolah. tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan .

.

c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). peta topografi. dsb. H.2 Penilaian Isi Dokumen H. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti.1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H. rangkuman hasil konsultasi mayarakat.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 .2. dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). peta tata guna lahan. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan.2. peta geologi. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL. dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek.1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL. antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan. regional maupun nasional. peta batas wilayah studi.2.2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya. H.2. peta lokasi proyek.

misalnya pengadaan tanah. dll. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan. Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting.2. biologi dan sosial-ekonomi dan budaya.3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi.  Data sekunder: jenis dan sumber data.2. yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak.  Tahap pasca konstruksi. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H. matrik. 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur. Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek. batas sosial maupun batas administrasi. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat.2. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir. b) c) d) H.  Tahap konstruksi. analog. misalnya galian dan timbunan tanah. batas ekologis. Penggunaan model matematis.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji. meliputi:  Tahap pra konstruksi.2.2.2. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting.4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan. Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor).Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya.

keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 . c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan. atau bantuan luar negeri). daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya). Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL. Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL.  Sumber dana (APBN.2.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H.2. APBD. dsb). hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah. swasta.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok. hasil konsultasi dengan instansi terkait. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi. b) metode-metode yang digunakan.6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan.1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. RPL.2.  Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi.3. d) e) H.2. H. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL.  Berpengalaman memimpin tim studi. H. RKL dan RPL. Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL. yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab.5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan. Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi.

 dll.  pertanahan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan.3.  data sekunder: jenis dan sumber data.2. dan pasca konstruksi). jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya.2.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting. dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan.3.3. b) H. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 . harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis. wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek.3. konstruksi. analog.  baku mutu lingkungan. atau profesioanal judgement. H.2. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL.3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi.1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.2 Penilaian Isi Dokumen H.

peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis.3. alinyemen jalan.3. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan.2.4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen. wilayah studi. e) H. Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek.  Jumlah. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah. H. kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta.2. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area). seperti peta tata ruang. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja. rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. atau adanya kawasan yang dilindungi. b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan. Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia. serta lokasi pengambilan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. konstruksi dan pasca konstruksi).  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah. lokasi quarry. d) Data teknis jalan yang akan dibangun.

3. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek.3.2. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial. Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir.6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi. seperti pergeseran tata nilai. (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri. Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN .3.2. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku. (5) Dampak penting pada butir (1). (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala.  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement. (2). agar dikaji secara deskriptif analitis. yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris. (3) dan (4) yang telah diuraikan. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan.2. dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting.  Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog. H. c) d) H.

H. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi. Pendekatan sosial-ekonomi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Saran. hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek. Daftar biodata tim penyusun AMDAL.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan. Cara-cara dan hasil perhitungan.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL. Metode-metode yang dugunakan. H.3.  Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif.  Betujuan untuk menanggulangi. H. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan. pendapat dan tanggapan masyarakat. yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi.2. Pendekatan institusi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 .4.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H. Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif. Pendekatan estetika.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL.4. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif.

3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design). sumber dampak.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H. rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP). H. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data. pembiayaan dan sumber biaya.4.4.4. dan  pelaporan. H.4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting. H.4. misalnya konsultasi masyarakat. periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan. metode dan teknik pengelolaan lingkungan. H.5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 .Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL. kriteria desain. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan.5. tolok ukur / parameter dampak. lokasi pengelolaan lingkungan. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak.

 pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium.5. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan.2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan. f) g) h) H.5. kamera video. dan  Pelaporan. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL. misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL.5.  inspeksi mendadak.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ). Sumber dampak. Lokasi pemantauan lingkungan. Metode dan teknik pemantauan lingkungan.  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera. H. H. Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. dsb).  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain.  wawancara. H.5.3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 .  Pengawasan pelaksanaan RPL. Tolok ukur / parameter dampak.

6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 . Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.

Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada. panjang ruas jalan. tujuan pembangunan / peningkatan jalan. I.2.2. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 . Untuk proyek pembangunan jalan baru.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. lebar rencana damija. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani.1. I. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi.1. sesuai dengan laporan hasil penyaringan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. Untuk proyek peningkatan jalan.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan. sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin. Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.1 I.1.1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah.2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada.1. mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan.

dsb. jembatan penyeberangan trotoar.1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I.2. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran.2.2 I. LHR rata-rata (rencana).Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I.2. halte bus. fasilitas penerangan jalan. meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait. gambar profil melintang dan memanjang. meliputi:           panjang jalan.1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan. lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan.2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan. I. Panjang dan lebar jembatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 . Kecepatan rata-rata (rencana). pot / bak tanaman. Konstruksi jembatan.1. I.1.1.

perkerasan dll. barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek.2. Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi. I. I. serta jenis penggunaannya saat ini. saluran irigasi. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 . antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon.4. misalnya tahap studi kelayakan. pekerjaan tanah (galian / timbunan). excavator.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.2. status pemilikannya.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I.2.4 I.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah.2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi.4. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan. Apabila diperlukan pengadaan tanah. 2.2. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan. pekerjaan jembatan. I.2. truk. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja. dll yang dibutuhkan. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya. I. Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain.1. gorong-gorong. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer. jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan). yang perlu direlokasi (bila ada).

Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai. Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong.2.4. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman. aspal. agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya. e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. abutement. Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. serta galian dan timbunan tanah. dsb. lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. khusus untuk penggantian jembatan) I. piers. Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek. dan cara pengelolaan limbah. dsb. drainase. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. batu. Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course). Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping).

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun.1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO). b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat. pemeliharaan rambu lalu lintas. bergelombang.3. Jadual pelaksanaan konstruksi I.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. sebelum penyerahan pekerjaan. Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut. Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan. apakah daerahnya merupakan dataran rendah. agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini. hidrocarbon (CH). serta partikulat debu. Nitrogen oksida (NO).2. I. Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. Jika ada. Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat. dataran tinggi. karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek. I. Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang.2. perbukitan.5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 . pegunungan. atau daerah pantai. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Sebagai contoh.3 I. b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada).

f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai. tempat ibadat serta pemukiman padat. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya. Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit. saluran irigasi. Bentang alam yang bersifat khas. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor). Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir.3. taman. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan. perkantoran. dsb. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. I.3. Komponen biologi I. e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. sekolah. Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala. d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. Areal binaan seperti pemukiman. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan. danau.

serta waktu tempuh pengguna jalan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 . dan sebutkan faktor penyebabnya. d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA. dsb. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya.. pertokoan.3. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan. dsb. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan.3. sarana ibadah. telepon.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas.  Jaringan listrik. gorong-gorong. pipa gas.5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan.  Sekolah. rambu-rambu lalu lintas. pasar. volume lalu lintas kendaraan bermotor. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan. terutama penduduk yang akan terkena dampak. I. agar dijelaskan kondisi jalan saat studi. I.

I.4. Penurunan estetika lingkungan. Kerusakan jalan akibat transportasi material. Gangguan kesehatan masyarakat. Tahap pasca konstruksi I. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat.4 I. Keresahan masyarakat dan konflik sosial.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 . I. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. Gangguan kesehatan masyarakat. Penurunan populasi vegetasi. Gangguan aliran permukaan.5.1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul. Perubahan tata guna lahan.  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek. Kecelakaan lalu lintas.4.5 I.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor). Kecelakaan lalu lintas.4. Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat. kehilangan tempat usaha.

1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya.5. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan. faktor lingkungan yang akan dipantau. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. berikan penjelasan secara jelas dan tepat. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab.6 I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. I. dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi.5. tolok ukur dampak. I. Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati. I.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya. misalnya galian tanah 300. misalnya selama satu bulan. Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya.000 m3. meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif. dan periode pemantauan.5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan. nama desa dan kecamatan. keresahan masyarakat atau pencemaran udara. misalnya kerusakan badan jalan. Bila perlu. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 . serta petunjuk lainnya. I.5.5. lokasi pemantauan.6. misalnya pada km berapa.

: a) b) c) d) Sunber dampak. Indikator dampak.6.6. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data. konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau.6.3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau. mulai tahap pra-konstruksi. Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan. kecamatan. I.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan ..Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu. I. nama desa. I.6. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat.2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak. misalnya pada km berapa. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 . Upaya pemantauan Sumber dampak I.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb. Jenis dampak. Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan.

7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan. I.9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9.2).1 dan Tabel 9.8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai). misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait. I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 . I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup. disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan. Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu. Di samping itu.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .

Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. ANDAL. c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia. apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 . periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang. J. Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2. Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia. RKL dan RPL. b) Peninjauan lapangan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J.2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL.

Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak. Daftar Pustaka. Bila perlu. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I. atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL. Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . Lampiran. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. Pendahuluan. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. Bab I. Bab II. • Bab III.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan. terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL. Rencana Kegiatan • Bab II. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Bab III.

contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor. Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. Sumber dampak yang perlu ditangani. Tolok ukur dampak. dan penerima laporan. atau mengendalikan dampak negatif. meminimisasi. bersifat meningkatkan dampak positif. a) Pendekatan teknologi. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 . misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat. b) Pendekatan sosial ekonomi. misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. Periode pengelolaan lingkungan hidup. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. Institusi pengelolaan lingkungan hidup. Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. Pengelolaan lingkungan hidup. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak. Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. pengawas. c) Pendekatan institusi. dan Layak ekonomi. meliputi pelaksana. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. bertujuan untuk menanggulangi. d) Pendekatan estetika. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia.

rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu. Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi. Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan). Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air.1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga.4 K. Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki. Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1).4. Di depan sekolah pada Km 3 + 210. • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor. untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi). untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. dan upah). Bapedalda. agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . (panjang 15 m). DLLAJ J. peralatan.

tepi timbunan badan jalan yang tinggi. untuk mengatasi gangguan visual (estetika).  Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3). dsb. Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 . lokasi jembatan atau gorong-gorong. atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2). tikungan tajam. • Penataan lansekap di lokasi tertentu.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam.

antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air.4. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. K.5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN . biologi dan sosial.2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15.000).Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong). Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia. sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan. Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas. J. Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500. polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 . dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas). Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk.6 J. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. Pengamanan / reklamasi bekas quarry. hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. kemacetan lalu lintas. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. debu. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi. Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi. setelah pekerjaan konstruksi selesai. J. Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas). kecelakaan lalu lintas). Pengoperasian base camp (penanganan limbah). baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3). dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah.  Apa yang harus dilaksanakan. cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak. kerusakan badan jalan.6. sesuai dengan fungsinya. Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak.6. borrow area dan disposal area.1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek).2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. . J. Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora).

 Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya. kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material. kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan..6. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting.3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. dll. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase. J.  Siapa yang bertanggungjawab. erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah. jaringan telepon/ listrik. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek. effluen limbah cair dari base camp. Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan. akibat pekerjaan galian tanah. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik. • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 .

5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan. kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah. 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. 4) Semua benda peninggalan purbakala. serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan. kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan. Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. sisa bahan. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Kontraktor harus berusaha memilih rute. mata uang. benda berharga atau kuno. atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan. 2) Selama pekerjaan mobilisasi. sampah dan segala macam pekerjaan sementara. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. Pada saat penyelesaian pekerjaan. dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik.1). Lansekap jalan yang baik. stimulasi dan penyegaran. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia. Gambar 1. serta sepanjang koridor jalan. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K. Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan. yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari. secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. trotoar. overpass. dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon. subway dan simpang susun. jembatan. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan. perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan. Lansekap pantai. dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan. underpass. ekologis dan visual. Lansekap jalan. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. Di daerah perkotaan. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. semak. Lansekap pedesaan. Lansekap perkotaaan.

Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap. dan topografi. termasuk modifikasi lingkungan alami.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya. Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora. kondisi tanah. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia. gedung.2. perkotaan dan perdesaan di Indonesia. b. K. Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya. Di daerah alami. hidrologi. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . seperti hutan.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas. c. berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat. fauna.2 Gambaran umum lansekap jalan K. berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami. pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual. Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan.

serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim. K.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain. air (PAM). serta meningkatkan peluang untuk pemandangan. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi. Dalam proses perencanaan jalan kota. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. pengendara motor dan / atau pejalan kaki. Lanseap jalan kota penting dari segi visual. saat kita berkeliling kota. Jalan kota menyediakan jalur utilitas.2.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi.        PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 . perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan. penumpang kendaraan umum. warung atau kaki lima. termasuk listrik (PLN).2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota. Jalan kota penting bagi kita. khususnya jika lalu lintas bergerak lambat. Untuk mencapai hasil terbaik.  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap. dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual.  Dalam beberapa keadaan.  Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam. seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan. macet atau berhenti.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan. nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan. telepon. Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita. dan gas. umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi.

provinsi.  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 . d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial. lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan. Pergerakan pejalan kaki. sosial. warung. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan.3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut.2. dan arteri. kabupaten / kota. K.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan. kolektor dan lokal. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan. c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial . lingkungan. keindahan. Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan.2.  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4. perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 . Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3.

Pembatas Pandang  Tanaman pohon. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6. Pemecah Angin  Tanaman pohon. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 .  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8.5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 . Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.

000 atau 1 : 5.2. Penyusunan dokumen RK-PTPKP. L. Peta persil tanah skala 1 : 1.1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah.000 dan data status kepemilikannya. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED).000). LK. Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan. data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer.1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis.1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama.000 atau 1 : 5. Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L. dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara).1. Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan. Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1.2.000 atau 1 : 2. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1. yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali. Disamping itu.000.2 L.

Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek.2. Koordinasi/Konsultasi L. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja. maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. pemilik. atau Proyek Pembebasan Tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali. Jumlah dan dimensi/ukuran. bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah. Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi. status hak dan jenis penggunaannya. meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek.2. Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada. pemilik.1. dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya. nama pemilik. kategori. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan. kategori.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 . Jumlah dan dimensi/ukuran. e) L. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara.

3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. kesiapan program.2. Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. dll. Dinas Perumahan. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. meliputi :  Jumlah PTP. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. status penguasaan dan pola penggunaan tanah. kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. prosedur pengadaan tanah. Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan. L. perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya. pendapatan dan pekerjaan. pemukiman kembali dan pembinaan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 .Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). Kantor Kecamatan. Pemda dan instansi terkait tersebut. Kebijakan pengadaan tanah. pendidikan. meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek. Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah. Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek.  Struktur penduduk. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP). perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. termasuk ganti rugi. Instansi terkait lainnya. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. Kantor K elurahan. Sarana dan prasarana umum yang tersedia. Kepemilikan. pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah.

Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. meliputi :           Karakteristik lokasi. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya. Menetapkan tanggal pendataan PTP.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP. pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. Persepsi PTP terhadap proyek. Jaringan sosial dan organisasi sosial. survai sosial ekonomi.2.3. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek. L. kerugian yang layak diganti rugi. Sistem dan perilaku sosial budaya. Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan. Pelaksanaan Pengumpulan Data L.3. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner. Organisasi dan kebutuhan masyarakat. keluarga. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali. Reaksi terhadap pemukim baru. L. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa. Komposisi demografi dan sosial budaya. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya.3.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. pola penguasaan dan penggunaan lahan.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. Kepemilikan. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP. luas tanah.3 L. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset. orang yang berhak). Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. Jaringan sosial dan organisasi sosial. Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia. Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. dan survai lokasi pemukiman kembali.

 Sebelum pengukuran situasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung. dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan. Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata. serta dari wakilwakil PTP. dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota). ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota). penyuluh KB. L. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 . dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner. Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. Kelurahan. dilakukan pendataan persil tanah.3.000). Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. pengukuran. petugas sensus dari kantor BPS. dan (ii) survai sosial ekonomi.  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0). a.1. pengamatan (penaksiran). a. penguasaan dan penggunaan tanah. kondisi topografi. Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). yakni : survai lahan. tokoh partai politik. RW/RT setempat. RW/RT. penyelidikan riwayat.2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi. Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan).2. Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan.3. dan survai inventarisasi.  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah.2. b) c) L.2.3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. serta kepemilikan dan status penguasaan lahan. serta tokoh masyarakat. survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan).

 jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga).  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan). dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa.  H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal). b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi. prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran. dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. peribadatan. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian. fasilitas pendidikan. penyuluh KB. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat.  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula. L.  prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah. serta pendidikan.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga. staf Dinas Sosial kab/kota.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga. a.  jumlah anak sekolah yang harus pindah. (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci. kesehatan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan. Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat. Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan. d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek. Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik.4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 . pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan.3. jaringan air bersih.

termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum. pelayanan kesehatan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi.6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. bangsal. air bersih. perencanaan pemukiman kembali.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. telepon. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. air bersih PDAM. Pilihan bentuk ganti kerugian. olah raga. dll). fasilitas peribadatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 .6. dan jumlah PTP. telepon. pasar. jenis dampak/kerugian. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. simbol atau tempat keramat lainnya. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja. n) Terganggunya kegiatan pendidikan. terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek. L. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. Tingkat dan besaran ganti kerugian. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian. bangunan MCK. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal. kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana. gas.

o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 . Tanaman. Tanah ulayat. yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah. Tanah Negara. Kriteria tanah. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi.  Aset sosial-budaya lainnya. saling membantu pada saat kesulitan. dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan. maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi. baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. sebagai berikut :  Tanah perumahan. Bangunan. Tanah wakaf.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK). 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. antara lain: anak (murid) sekolah. L. antara lain meliputi :         b) Tanah hak.3. Tanah yang dikuasai tanpa alas hak. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0.6. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali). nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial).6. (misalnya.  Keterikatan sosial dengan lokasi asal. pengontrak/sewa (tanah dan bangunan).1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah.6.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L.  Lahan usaha pertanian. gotong royong. antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L.

(c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %.  Belum bersetifikat dinilai 90 %.  Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %.  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan.  SK Bupati/Walikota.  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik. Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %.  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi. atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. dengan ketentuan sebagai berikut : (a).  Harga sejenis.  Sudah berakhir dinilai 60 %. Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan. Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %.  Harga pasar. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 . dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah. kondisi kebun dan produktivitas tanaman. Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya.  Aspirasi warga. Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan.  Sudah berakhir dinilai 60 %. maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan.  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %. dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak).

(e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara. Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga. namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut. b. Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %.  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB). tanpa memperhitungkan depresiasi. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Selanjutnya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a.  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %. b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. 10 . 48 tahun 1994. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya.

penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak. manfaat/kepentingan. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan. a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.  Aspirasi warga L. kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut. dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut. berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan.3. Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud. Selanjutnya. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan). dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI.6.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 . dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian. dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat.  Bantuan biaya pindah yang layak.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya.

diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0. Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan. diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK. Dampak ini akan timbul.  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 . dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan.  Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan.  Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan). diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya).  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK.  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km.5 Km. dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan. khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan.  Bantuan pindah.

Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi.6. dan sebagainya.4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. harus disiapkan paket program persiapan sosiaK.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L. mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah. c) Tanaman. L. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan.7. Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Pemilihan/penentuan lokasi.1 Berdasarkan Keppres RI No. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan). Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan. Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L. Tanah pengganti. Bangunan pengganti. dan apabila diperlukan. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya. Menentukan kategori pemukiman kembali. b) Bangunan. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat.

Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah). kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun.7. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya. Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0.2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4. Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No.12. hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”. Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas. sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas. maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB).12. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK).25 Ha. serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 .

PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. dan penggembala. tempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. Penggantian kalau bisa. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. pemulihan pendapatan. struktur masyarakat. penggembala. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. langkah pemulihan taraf hiduK. Ganti rugi dengan nilai penggantian. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. Ganti rugi dengan nilai penggantian. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. misalnya yang paling miskin. masyarakat terpencil. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. langkah pemulihan taraf hiduK. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. tempat. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan. PTP adalah penduduk asli atau rentan. langkah pemulihan pendapatan. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. misalnya yang paling miskin. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 . pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. masyarakat terpencil. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. struktur masyarakat. Penggantian kalau bisa.

7. b). L. PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. Relokasi Mandiri. (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun). budaya dan ekonomi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L.3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek.1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi). khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit. didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali. jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik. lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. c). melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. Relokasi Setempat. penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi.3. relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan). antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri. meskipun jumlah PTP relatif banyak. a). Namun demikian. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi. Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. Khusus untuk daerah perkotaan. sosial. mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan .7. harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 . (ii) Relokasi setempat. Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa. pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya. kepadatan penduduk rendah.

Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan. baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. (ii) Rumah susun. saluran drainase. serta harganya terjangkau (misalnya. Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. sambungan listrik. Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya. meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi. a). Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru. 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . fasilitas umum). Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka. jalan. fasilitas KPR) L. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada. b). antara lain : (i) Perumahan.7. Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih. fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya.2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya.3. L. fasilitas kredit kepemilikan rumah). fasilitas KPR-BTN). kepadatan penduduk rendah. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. jalan. sambungan listrik. dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan.4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK). perumahan dibangun di lokasi baru. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK. (iii) Kaveling siap bangun (KSB). Jika PTP yang terpindahkan sedikit. c). Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru. perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). 20 tahun). Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan. air bersih.7. Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan. Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”.

L.7. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini. komposisi penduduk). seperti fasilitas pendidikan..Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi. tempat usaha. Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. daya tampung lokasi/ kawasan. peribadatan. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai. Perancangan struktur permukiman. fasilitas pendidikan. (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian. serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK). atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya.  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat. harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP. sosial. dan pusat perekonomian). Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat. budaya dan ekonomi). pasar. (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan. sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi.5 Perancangan Permukiman. olah raga. prasarana sosial. penggunaan sumber daya milik umum. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama. luas dan bentuk lahan.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan. dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan.  Sambungan listrik (dan komunikasi). (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja. (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik. dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali. tempat ibadah.  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan.  Fasilitas umum.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 . (b) Ketersediaan lahan. seperti :  Penyediaan air bersih.

kelompok usia lanjut. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin.8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. pendidikan.  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti. khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. preferensi. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek. preferensi. Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. bangunan. pilihan). Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. keterampilan. mata pencaharian. pendapatan. besarnya keluarga. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). umur. bantuan pindahan. keterampilan. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan.  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. umur. Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. pendapatan. besarnya keluarga. kaum perempuan. yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP. pengusaha. pilihan).  Bantuan pembangunan rumah. yakni PTP yang terpindahkan.  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha. b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan. pendidikan. serta analisis kelayakan dan finansiaK. kelompok paling miskin). dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi. mata pencaharian. dan PTP yang tergolong kelompok rentan. orang-orang cacat. tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya. bantuan pendidikan anak sekolah. tunjangan biaya hidup. Kemudahan transportasi angkutan umum. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak.

Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 . serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud.1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali. regional atau nasionaK. mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. Strategi pembinaan jangka panjang . L. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan. frekuensi. serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai. pekerjaan.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab. pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan.9. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis.9 L.  Paket rehabilitasi lingkungan. bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri. termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan. penyiapan lahan pengganti. instansi pelaksana. Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan.

d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung. dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat. jenis aset terkena proyek. File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. khususnya pada lokasi bersangkutan. Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol. e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta bentuk dan nilai ganti kerugian. Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 . Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan. Rapat pertemuan dengan masyarakat. Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive).

triwulan. Kemudian. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 . b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). penyusunan laporan. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. bulanan. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi. Namun demikian. termasuk pengumpulan dan analisis data. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. Persyaratan personil pelaksana. mingguan/dwi mingguan. tahunan dan laporan akhir kegiatan. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. verifikasi. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. koordinasi dengan instansi terkait. untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi. pengendalian. Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. pemukiman kembali dan pembinaan. Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. khususnya dalam rangka sinkronisasi program.

Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). realisasi penyerapan dan alokasi anggaran. serta rencana untuk triwulan berikutnya. Tingkat kepuasan PTP. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan. Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana. Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan. rapat/pertemuan dengan PTP). Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa.. antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian. wawancara bebas dengan renponden kunci. L. Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan. Pemulihan taraf hidup. serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya.9. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. Efektivitas perencanaan.

Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini). Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. sosial ekonomi/koperasi. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. Metodologi secara rinci. atau LSM. pertanahan. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). pemukiman kembali. khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. Menilai efisiensi. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. Sumber daya yang dibutuhkan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . pengendalian mutu. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. efektivitas. biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). pemukiman kembali dan pembinaan. dengan mengacu pada RKPTPKP. komparasi dan analisis. Kerangka waktu. pemukiman kembali dan pembinaan. updating. Partisipasi stakeholder primer. kerangka pengambilan sampel. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan. Persyaratan pelaporan. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang. universitas. konsultan. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah.

3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.10.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L. Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah. L. Penyiapan program dan anggaran. organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 . dan monitoring dan evaluasi.10. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP).10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan.10. pengadaan tanah. Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi.9.5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan). L. pembinaan. Set-up kelembagaan. L. L. pemukiman kembali.10. Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi. Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi.10.

termasuk biaya untuk ganti rugi. Paket peningkatan kualitas lingkungan.11. biaya pembinaan dan rehabilitasi. pemukiman kembali. serta sarana dan prasarana). pendidikan). monitoring dan evaluasi. pembangunan perumahan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai.2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. L.11. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN .4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah.11. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa. L. jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. Secara garis besar.5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan. pelatihan. Inventarisasi dan sensus PTP. L. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat). serta biaya administrasi. biaya pengadaan tanah.memulai usaha baru). d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan. dan biaya administrasi. L. Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah. c) Bantuan biaya pindah. fasilitas kredit murah. L. biaya pemukiman kembali.11. L. pembinaan. kesehatan. Sertifikasi tanah. usaha kecil/rumah tangga). koperasi.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah. Bantuan pengembangan (seperti. beserta aset lain yang ada di atasnya). 11. e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah.

Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait). Berdasarkan PP No. Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan.1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan. c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6). Mekanisme koordinasi. Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L. e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8). d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . 26/1985 Bab I Pasal 1.12. b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5).12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4). Kerangka kebijakan. f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9).

Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. sub tim perencanaan/penyiapan program. sub tim implementasi dan pengendalian). Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota). Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim). telah diatur dalam Keppres RI No. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. sub tim sosialisasi dan pembinaan. Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. 1/1994 (Bagian Keempat. Jasa Marga Persero). dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 . Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No. 55/1993 (Bab III. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP.

b) c) L. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. Tokoh Masyarakat. pembinaan kelompok rentan. perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. jumlah dan lingkup pekerjaan. BPD (Badan Perwakilan Desa). Persyaratan personil pelaksana. Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering. jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan.12. Panitia Pengadaan Tanah. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan. Kerangka koordinasi eksternal. yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah.pemantauan internal. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi.12.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. antara lain jumlah PTP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal. seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 . baik secara vertikal maupun horisontaK.4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. dan kelompok perwakilan PTP. khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP. Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP. pemukiman kembali. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. c) L. misalnya.

5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali. c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 . L. i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek. L. teknik lingkungan. sosiologi. l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana.12. ekonomi. Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. hukum. antara lain: a) b) c) studi banding. bantuan teknis.12. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi.6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur). serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali. pelatihan dan lokakarya. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dan kesejahteraan sosiaK. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.

7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”.12. L. pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP. Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah.13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik. serta pemantauan eksternal dan evaluasi. serta rencana pendanaannya. Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. n) o) L. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek. Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal. khususnya yang terpindahkan. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB. Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. termasuk pembiayaan. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 . serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP. termasuk definisi proyek.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali.

. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). BPN dan dari sumber lainnya 2)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. khususnya areal sensitive … . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .....Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. (6) . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .. 4).… .

.. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy... (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ... (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . . 8). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).… . Sosial) .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai... Dikbud. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. (10) 7)..Ka Bapedal No. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . (12) ... 9). (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep..

Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.... (9) . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).. 2).. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . RKL dan RPL 3).Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … ...(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .

..: median. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.... RKL dan RPL … ..teknis... lansekap … … … ... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.. (8) .. RKL dan RPL pada perenc.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ....… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain..: penanganan utilitas yang terkena. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis...Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL...

.

(5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. mis.. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. 4). jenis penggunaan dan kepemilikan).. kapasitas jalan yang dibutuhkan. peran dan fungsi kota dll. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait .… . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). kapasitas produksi.

(5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3). Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis...........(6) .. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).............. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … . status kepemilikan dan kesediaan melepas....(7) Menetapkan koridor jalan terpilih. 4). ekonomik..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ..... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ...(8) . 5)... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan..

6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.Rute.5). ekonomis dan lingkungan.. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat..(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . (12) ..4). kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Terhadap pengadaan tanah … . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). Hasil Pra Kelayakan 2). (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.(11) Menetapkan Rute Terpilih .. dll. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . (7) Memperkirakan dampak sosial … ...… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi..

(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.. Termasuk rencana kerja. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . … . (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … ..(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … ..kem bali. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). … . luasan. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan..kem bali … … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. 6). rehabilitasi pem uk. Lokasi di Peta. masa tinggal dll. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk..… … … . dll. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . pelepasan hak.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). prakiraan nilai kekayaan. 3). (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).

… . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.P … … .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). 13). 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)... khususnya panitia pengadaan tanah … … .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi... ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .T .. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ....(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … ... Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . & menyepakati dlm mufakat khususnya P . (4) KETERANGAN 1).. (2) Berpartisipasi dalam musy.

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) ..(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (5) Membantu sesuai keterkaitannya. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .. 5).. 6)..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 4).

Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . (8) . (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . 2).. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. 6). 7). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 5)... … 7) 3).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 4). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … .

(2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. LA R A P … … . nilai kearifan lokal. adat istiadat. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg... (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . pelatihan untuk alih profesi … .. tata ruang.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .… . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .

.

.. kapasitas produksi.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. kapasitas jalan yang dibutuhkan... (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat .. (6) . (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy... . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . 3).… … . peran dan fungsi kota dll. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).… . Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). terasing… .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … ..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.

5). (8) ....... . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial...... (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan..(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor .. 4)..... ekonomik... Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy. budaya . (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ........ Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .. terasing.......... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3). … … .. ekonomi.. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .

terasing......(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2)..4).… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... . terasing … .5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..... ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy...... terasing. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...

. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. Termasuk rencana kerja.(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks... kepemimpinan.. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. pembagian tugas 3)... (11) .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)..… … … ...........terasing tsb. T indak … . (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). sistem dan nilai hak adat .... Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Renc....

............. rehabilitasi konservasi situs dll..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing... lembaga adat ...... 3).(7) .(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan . Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)................ Mencakup kompensasi lahan dan bangunan..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ...... Termasuk LSM.… . 5). perbaikan permukiman tradisional... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing .. dll. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing . 4).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). … … ....

(11) 8).. 6).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .. 5). 4). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.. terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. (6) 3).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi ..

.. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 2). Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.. sosialekonomi. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME).terasing termasuk rehabilitasi … … .. budaya dan kelembagaan. 6)...(8) . penanganan masy ..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 5). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)... 4)...(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … .

terasing … … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .. penanganan masy. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. tata ruang nilai kearifan lokal. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.. (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. terasing yang lebih baik . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … .… .

.

Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No. keadaan dan makhluk hidup. Undang-undang No.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya. Peraturan Pemerintah No. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. Undang-undang No. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Pemerintah No. 55/1993. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. tertulis dan tidak tertulis. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . Khusus yang menyangkut kebijakan publik. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. Undang-undang No. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. termasuk manusia dan perilakunya.

17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup. 4) Undang-undang No. 18) Keputusan Menteri LH No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 5) Peraturan Pemerintah No. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 . 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Kep. 55/1993.

berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan. yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila. kehutanan. baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.2 Undang-undang No. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10. yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan energi. yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP. Perangkat yang bersifat preventif. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982. dan jalan lokal. daerah milik jalan. P. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah. mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No.2. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan. wajib memiliki AMDAL. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. jalan kolektor. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Perangkat yang bersifat proaktif. memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan.2. pertambangan.2.2.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup. permukiman penataan ruang dan sebagainya.1 Undang . Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati. P. P.3 Undang-undang No. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997.

mengetahui rencana tata ruang. Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. 3 P.3. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor). 4. Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal). Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional. kawasan perdesaan. Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain. propinsi dan kab/kota. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 .1 Peraturan Pemerintah PP No.4 Undang-undang No. tata ruang. rencana tata ruang.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. penataan ruang. terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM. Rencana tata ruang. kawasan lindung.2. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. 2. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. kawasan. dan kawasan tertentu. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda).     P. kawasan budidaya. wilayah. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. kawasan perkotaan. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3.

Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1.4. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL. dan pengadaan jalan. P. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. menyampaikan hasil rangkuman saran. wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. tujuan dan fungsi KA ANDAL. yaitu membahas tentang peranan jalan. meliputi jalan tol dan jalan layang. memberikan saran dan pendapat. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. persyaratan jalan menurut peranan. P. Bagian-bagian jalan. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 . wewenang penyusunan rencana. mendokumentasikan saran. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. yaitu membahas tentang damaja. P.2 Keputusan Kepala Bapedal No. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. 3. 4. 4 P. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya.3. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. Jaringan jalan. yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. pemeliharaan. P. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. Dokumen jalan. seperti hak memperoleh informasi.3 Keputusan Kepala Bapedal No.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. 5. Pembinaan jalan. perencanaan. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija.4.2 PP No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri. Keppres No. 2. penentuan sasaran. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No.4. 2. damija dan dawasja. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha.

5. ANDAL. Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL. keciptakaryaan. RKL dan RPL P. 5 P.5.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No. RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. jalan. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 2. Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan. P. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

pelaksanaan konstruksi fisik. Desember 2003 i . sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah. Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kegiatan pengadaan tanah. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. Jakarta. yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan.

Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ............… … … ...... K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ............. … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup ..... 4..2 Kegiatan Pengadaan Tanah ......... 4............ P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ........ D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......... 4.... D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .............PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................… … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … ............1 Penyiapan Dokumen Tender ............. Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...... 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................... 4...... Lampiran ii ........4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan . Dokumentasi dan pelaporan ... 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .....

6.2.3 10. Lampiran 6.5 Lampiran 6. 7.1.2. 12. Lampiran 6.4 11. 2. Lampiran 2.1.1.2 9. Lampiran 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1. 5. Lampiran 6. Lampiran 6. Lampiran 4. 8. Lampiran 4.1.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii . Lampiran 4.1. 3. Lampiran 1. 4.2. Lampiran 6.1.3.2.

Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. dan prosedur. mencakup hal-hal 1 . efisien. kota atau kabupaten. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. standar. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. maka Ditjen Prasarana Wilayah. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. kriteria. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. pertumbuhan. Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif. telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. baik Undang-undang. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.

serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. tertib dan teratur.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup. 2 . yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training. Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. Kimpraswil. benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive. serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah. and Updating of the Moduls). kesiapan pembiayaan yang memadai. perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people). kegiatan pengadaan tanah.Pekerjaan Umum atau Dep. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan.

Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. 2) Kegiatan pengadaan tanah. maupun di tingkat kota/kabupaten. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. serta dampakdampak yang ditimbulkan. 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. 4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan. baik di tingkat pusat. propinsi. pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. 3 . Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1.

1. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi. 2. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Undang-undang No. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. 4 . antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No. pelaksanaan konstruksi fisik. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Undang-undang No. Keputusan Presiden No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan. 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). mulai dari penyiapan dokumen tender. Peraturan Pemerintah No. Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. dapat dilihat pada Lampiran 1. Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. Keputusan Presiden No. kegiatan pengadaan tanah.

termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.1.1. Istilah dan Definisi 3. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 13) Keputusan Kepala Bapedal No. Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3. 5 . 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14) Keputusan Kepala Bapedal No. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. dapat dilihat pada Lampiran 2. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3.2. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12) Keputusan Menteri Kimpraswil No. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. 3.11. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun.9.4. 6 . 3. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun politik nasional. ekonomi.6.7. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.5. 3. 3. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.3. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. 3. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. 3. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah. ilmu pengetahuan dan kebudayaan. 3. 3. bangunan dan tanaman miliknya.10.8.

Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan. yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. 3.17. 3.12. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan. 3. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan.13. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 .15. Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya.11. 3. dibangun.12. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor.16. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3. Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi. yang dirancang. 3. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi. 3.14.13. 3.

1. : Gambar-Gambar. 4. a. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.1.2. Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. : Data Kontrak. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. Surat Penunjukan. Perjanjian Kontrak. Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi. maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan. Maksud dan Tujuan. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Informasi Kualifikasi. : Spesifikasi. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. : Daftar Kuantitas. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.1. harus dicantumkan dalam dokumen tender. 8 . Sistematika Dokumen Tender. : Bentuk Penawaran. : Bentuk Jaminan.

maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. baik vertikal maupun horizontal. Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. 9 .3. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi. 4.1. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL. 2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya.

dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. 4. Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender. perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. 2) Pada Bab V: Spesifikasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana. 3) Dokumen tender standar. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. baik untuk LCB maupun ICB. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul.1. antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada). perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini. 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas. dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini. serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan.4. termasuk biaya yang diperlukan.

dan nama pemilik tanah. b) Keterangan tentang letak. maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4.3. bangunan dan tanaman. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut. serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan. 2) Pasal 4 Keppres No.1. Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan. yang 11 . dapat dilihat pada Lampiran 4. maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek.1. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. sebagaimana tercantum dalam dokumen tender. 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup. dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.2.1. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi.1.1.5 Workplan Kontraktor.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4. Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. jenis hak atas tanah.

b) Perencanaan ruang wilayah kota. yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. 5) Pasal 13 Keppres No. 55 tahun 1993. c) Tanaman. b) Bangunan. yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. 1 tahun 1994. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan. 55 tahun 1993. 1 tahun 1994. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. diberikan untuk: a) Hak atas tanah. b) Tanah pengganti. c) Pemukiman kembali. 4) Pasal 12 Keppres No. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. 12 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. 55 tahun 1993. 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan.

13 55 tahun 1993. dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. Setelah hal tersebut disetujui. rencana penggunaan tanah. 1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut. 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam .2 Proses Pengadaan Tanah a. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. Lampiran 4. 1. 51 tahun 1960. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. dengan kriteria sebagai berikut. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. 2. 4. Sesuai dengan Keppres No. luas dan taksiran biaya. Dengan peraturan yang sama. 32 tahun 1979. sebagaimana dimaksud dalam UU No. 4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya.2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. dilampiri dengan peta lokasi. sebagaimana dimaksud dalam Keppres No.

dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. sehingga perlu dibangun permukiman baru. kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP. Tim 14 . Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. bangunan dan tanaman. PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. dilakukan pendaftaran. 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. b an g u n an d an tan am an . bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. ganti dan rugi tanaman. inventarisasi dan pengukuran tanah. 3) Hasil pendaftaran.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP). b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah. inventarisasi dan pengukuran tersebut. tipe bangunan. maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. kemudian disampaikan ke PTP.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru. dapat dilihat pada Lampiran 4. Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama.2. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama. Tanah Pengganti. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha. b. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah.2 4. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP. dapat dikelompokkan atas: a.3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah.2. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK). maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP. Uang Tunai. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan. Pengadaan tanah pengganti. dengan cara jual beli. c. b. di lokasi yang ditentukan Panitia. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan. Dalam proses pengadaan tanah. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 . Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c. merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat. dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah.

Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan. e. seperti Sistem Konsolidasi Tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas. 4. Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul.2. Bentuk lain yang disepakati. Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu.2.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d. bangunan atau tanaman. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat. baik untuk tanah.3. Bentuk Kombinasi. sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 16 .

3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. 17 . b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat. c) Penyuluhan. karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja. 2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah.

antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.2. Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik. daerah rawa. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan.1.4. seperti di dataran rendah. berbukit. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah. Dokumen Terkait. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. 3) Keputusan kerugian. perkotaan atau pedesaan. 18 . Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a. 08 Tahun 2000. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan.3. pegunungan. seperti pembangunan. 2) Lokasi dan kondisi areal proyek. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.

volume dan besaran komponen pekerjaan utama. b. 9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja. seperti tanah. 7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. namun bila tidak dapat dihindari. dan pekerja kasar yang diperlukan. Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek. base camp dan lokasi quarry. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek.3. Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung. struktur tanah dan geologi. baik tenaga ahli. kegiatan ekonomi masyarakat. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. seperti iklim.2. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. kondisi sosial budaya. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai. tukang. termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. topografi. termasuk periode pemeliharaan. pasir dan material/komponen jembatan. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. batu. termasuk sumbernya. 19 . lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan). terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. 4. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. hidrologi dan penggunaan tanah. 3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. 5) Dimensi. seperti kependudukan.

perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses.1. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan. seperti AMP. traktor. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan. baik dengan cara membeli atau menyewa. 2) Mobilisasi Peralatan Berat. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. Pelaksanaan Konstruksi Fisik. shovel. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. Lokasi Proyek. b.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut. 20 . b. dozer.

struktur pondasi. d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B. f) Lataston lapis aus (AC – WC). 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base). b) Lapis pondasi semen tanah. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. sistem drainase. galian batu.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. untuk ditangani 21 . Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu. di lokasi proyek. baik berupa galian tanah biasa. perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang. Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. c) Agregat penutup Burtu dan Burda. g) Latasbusir kelas A dan kelas B. coffer dam. Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut. lapis pondasi (HRS base). kelas B dan kelas C.WC). timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. 2) Pekerjaan Tanah. e) Laston lapis aus (HRS .

trotoir. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. dan pembuatan kepala tiang pondasi. guard rail. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. serta relokasi arus lalu lintas. Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. serta pembuatan gorong-gorong. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. rambu-rambu lalu lintas. penerangan jalan dan marka jalan. sehingga lokasi proyek menjadi bersih. 5) Pemancangan Tiang Pancang. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. relokasi arus lalu lintas. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu.

serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai. dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah. tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area. harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. keselamatan pemakai jalan. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah. 9) Penghijauan dan Pertamanan. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. b.2. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan. 23 . selain gembalan rumput di media jalan.

maka lokasi base camp (kantor proyek. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher. untuk diambil langkah tindak lanjut. a. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. dapat terletak pada satu lokasi. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati. bengkel. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi.3.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. gudang. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 . hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher.3. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya. 4. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. atau pada dua lokasi yang terpisah. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan.

sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut. b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan.2. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat. 3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. 25 . b. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent. baik langsung maupun tidak langsung. dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. Persiapan Pekerjaan Konstruksi. Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6. dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat.

bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. 2) Mobilisasi Peralatan. Penyiraman secara berkala. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan.1. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari. c. b) Pencemaran kualitas air. Lokasi Proyek. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum. saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak.

(2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya. b) Pencemaran kualitas air. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. 27 . sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna. (3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman. 2) Pekerjaan Tanah. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan.

Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. memasang gembalan rumput dan sebagainya. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. sistem drainase yang baik. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. saat kondisi berdebu. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. 28 . a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. karena penggalian tanah. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas.

Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. 7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. dapat dikelola melalui : 29 . (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas.

Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. serta menghindari erosi lahan. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material. (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat. 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area.2. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. 9) Penghijauan dan Pertamanan. serta dapat memperindah estetika lingkungan. dan tidak mengganggu pemakai jalan. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. dan mempunyai ciri khas daerah. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. 30 . Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan. termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. c. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. pada areal yang tidak subur. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami.

bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. dapat dikelola melalui: . Pemasangan drainase lereng yang baik. e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air. Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Perkuatan stabilitasnya. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum. dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. f) Terganggunya kondisi flora. c) Terganggunya stabilitas lereng galian.

(4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 . b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. gudang. b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat. bengkel. (2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher. Pengoperasian base camp (kantor proyek. a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. c.3.

d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp.4. 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. dan meningkatnya air larian.4.3. (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik. 4. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya. dan untuk menanggulanginya. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya.1. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik. Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. Dokumen Terkait.4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan. kendaraan keluar masuk . 4. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan. 4. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup.

Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas. atau operator jalan tol lainnya. seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota. f) Pembuatan rest area. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat. Jasa Marga (khusus jalan tol). dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. c) Pengaturan arus lalu lintas. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan.4. PT. 4. dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk. Pemberi Tugas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik.2. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. 34 . karena meningkatnya arus lalu lintas. khususnya pada jalan tol. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat. yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun.

Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan. dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol).4. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik.4. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas. 4. Dokumen Terkait. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan. antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan. 2) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan. b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota.3. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan. 4. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan. b) M el aku kan “l aw tersebut. dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat.4. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an .

1. Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. tidak memerlukan biaya khusus. Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. Pembiayaan 5. 3) Harga satuan yang berlaku. Kegiatan Pengadaan Tanah. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait. dan sosialisasi kegiatan. pengadaan data maupun biaya perjalanan. 5. Penyiapan Dokumen Tender. 3) Jenis transportasi yang dipakai. 36 . karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan.2. biaya perjalanan. Biaya Personel. biaya rapat untuk melakukan musyawarah. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali. 2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan. baik untuk biaya personel. b. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. sosialisasi dan kegiatan musyawarah. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. biaya penyuluhan a. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. musyawarah dengan masyarakat. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. Biaya Perjalanan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.

e. biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan. 37 . biaya menangani dampak yang timbul. serta biaya administrasi lainnya. khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. c. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah. biaya perjalanan. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi. Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi. bangunan dan tanaman. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. d. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat.3. 5. 2) Jumlah peserta kegiatan. mencakup biaya pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak. 2) Jumlah peserta rapat.

Biaya Perjalanan. baik jenis transportasi maupun perdiem allowance. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan. b. Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. Perkiraan besarnya biaya perjalanan. Biaya Penanganan Dampak. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. d. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. 3) Jenis transportasi yang dipakai. didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. 4) Harga satuan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. 3) Harga satuan upah (billing rate). Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. c. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. antara lain: 38 . Biaya Personel. 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat.

Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. f. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. biaya konsultasi dan koordinasi.4. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. yang meliputi biaya personel. dan sebagainya. 3) Harga satuan analisis sampel. Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan. Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. e. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. mencakup biaya rapat konsultasi. biaya perjalanan. dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait. 2) Lokasi kegiatan. penjilidan. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. 3) Pengukuran dan analisis biota air. 5. 39 . biaya pengukuran dan analisis laboratorium. honorarium pakar yang diundang. biaya untuk menangani dampak. dan mempergunakan anggaran rutin.

karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya. Pengajuan Usulan Biaya. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan.5. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota. DIP dan sebagainya. seperti melalui proses penyusunan DUP. antara lain: a. baik vertikal maupun horizontal. Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. 6.1. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. Koordinasi Pelaksanaan 6.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 40 . Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. baik tingkat pusat.

baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. antara lain BP2D. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. pelaksanaan konstruksi fisik. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak. 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. provinsi atau kota/kabupaten. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. 41 . baik pada kegiatan pengadaan tanah. 2) Melakukan penyuluhan. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Bappeda. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. baik di tingkat pemerintah pusat. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. 3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten. b. maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. propinsi atau kota/kabupaten.

7) Melakukan dihasilkan. pemanfaatan kabupaten/kota. d. 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. propinsi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi. 2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah. 4) Menjabarkan norma. Bapedalda. baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi. Masyarakat Masyarakat. kabupaten/kota. antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah. Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. kabupaten/kota. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. standar. c. 6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas.

Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. 3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. e. lembaga swadaya masyarakat. kabupaten/kota. antara lain: 1) Memberi masukan. dalam kaitannya dengan . Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. Instansi terkait lainnya. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi. tokoh dan pemuka masyarakat. kabupaten/kota. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan. 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi. Instansi Terkait. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. serta masyarakat pemerhati lingkungan. kabupaten/kota.

masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa. f. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik. dan 6.3.2. Pelaksanaan Koordinasi. 6. a. program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. yang mencakup kompensasi tanah. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). seperti tercantum dalam Lampiran 6. hidup bidang jalan. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan. 44 .3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. dimana: 1) Lampiran 6. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat. 6.1.2. sesuai wewenang dan fungsinya. bangunan dan tanaman. dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir. a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya.1 2) Lampiran6.2 3) Lampiran 6. : Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan.

agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. b. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya. 4) Masyarakat. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. 3) Bappeda. 2) Bapedalda. Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat. Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. 5) Instansi Terkait. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa.

apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. Bapedalda. 2) Bapedalda. Masyarakat dan Instansi terkait lainnya. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda. 4) Masyarakat. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi. 46 terasing. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan . Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut. d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. dan upacara adat yang harus dihormati. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. 3) Bappeda. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat.

dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. Dokumentasi dan Pelaporan 7.2. sesuai dengan hasil musyawarah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 7. Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. Penyiapan Dokumen Tender. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat. 7. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur. sehingga mudah ditelusuri. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak. apabila ada permasalahan di kemudian hari. 5) Instansi Terkait. Kegiatan Pengadaan Tanah. Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. 47 .1.

bila terjadi permasalahan di kemudian hari. dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut. dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat. sehingga mudah ditelusuri kembali. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai. dan atau pengendalian pencemaran udara. dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup. 48 . dilengkapi dengan upaya pendekatan. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. tertib dan teratur. 2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas.

Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 2. yang memberikan petunjuk. kuratif dan kompensatif. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. 4. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. 3. kegiatan pengadaan tanah. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi. 49 . Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. khususnya dalam penyiapan dokumen tender. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi.

50 . tertib dan teratur.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan. serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik.

pemberian kompensasi. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. Kep. pematangan lahan untuk konstruksi 1 .

Pasal 13. 2. ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya. B Peraturan Pemerintah No. masyarakat serta pelaku pembangunan lain. dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 . ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. Pasal 9. 1. Uraian 1. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. Daerah. 27 tahun 1999. ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup. 23 tahun 1997. Pasal 28. 2. Pasal 38. ayat (2) hidup. yang menjadi bagian dari ijin. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No.

Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. Untuk masing-masing komponen pekerjaan. dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No. 1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A. Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4. kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. akibat pelaksanaan pekerjaan. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. 19. akibat pelaksanaan pekerjaan. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi. akibat pelaksanaan pekerjaan. Bab VII Gambar – Gambar 3 . Umum 1. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 19. Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak.1 Keselamatan dan penanganan dampak. Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul.

bangunan. tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa. dan prasarana umum. Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah. 1 tahun 1994 4 . 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No. tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. Jika hak pakai sampai 10 tahun. Jika haknya telah kadaluarsa.

1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. 5 . Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. Lurah. PMD. Camat. Camat / Lurah. PMD. Pimpro dan Pimbagpro. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa. LKMD. 4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan. LKMD. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. Lurah. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey.

8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak. Semua modal/asset yang terkena dampak. Camat / Lurah. Camat. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. Camat / Lurah. Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya. Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. LKMD. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. Pimpro/ Pimbagpro. Semua modal/asset yang tekena dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. Camat. NGO. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali. LKMD. BPN Propinsi. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. 6 . Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. Pimpro/ Pimbagpro. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. Panitia Pembebasan Tanah. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak.

telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik. maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. 12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali. Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. Masyarakat penerima ganti kerugian. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati. 10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya. Lurah/ Kepala Desa. Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank. Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur. misalnya kavling. 7 . Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. Pimbagpro. Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman. - 11. rumah di lokasi permukiman kembali. Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali.

bangunan MCK. Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. 5 Aset sosial . fasilitas peribadatan. Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon. telepon. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya. Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. kesenian. pasar. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil. lokasi cagar budaya. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. air bersih. Terganggunya kegiatan pendidikan. Kehilangan lahan pekarangan perumahan. Terganggunya/hilangnya tempat suci. 8 . pelayanan kesehatan. dll). Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. Pemindahan ditempati. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. bangsal. air PDAM. simbol atau tempat keramat lainnya. Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak. 2001 Terganggunya interaksi sosial.     kawasan/tempat pemakaman umum. telepon. Kehilangan akses ke tempat kerja. gas).budaya    Sumber : SESIM. olahraga.

... 3).... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..(7) .. rehabilitasi konservasi situs dll..............BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. Termasuk LSM........ Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).......… .. dll.. 5)....(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)........ 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . 4). Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.. perbaikan permukiman tradisional..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … . (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ..(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan . lembaga adat .

(6) 3). Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 4). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 6).BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … ..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … ... 5).. terasing … … .(12) .

.

(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … ....(6) Melakukan monitoring . dengan PLN. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . dll..(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … .(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada). pemberian fasilitas. tentang tujuan dan cara pemberdayaan ..BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya ... ekonomi masy. (20) . Melakukan konsultasi renc. (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada). termasuk keberadaan para pekerja .(bila ada) … … ..(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan..(16) Melakukan monitoring .(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. PDAM.(6) Menyusun laporan pelaks. kegiatan konstruksi ....(17) M elakukan m onito ring… ..

(9) Menyusun laporan monitoring.. ( 14) .. dll.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ...... badan jalan untuk berdagang. penanganan masy. termasuk aspek warisan budaya . pengembangan lahan sesuai tata ruang.(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan... (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy.. LARAP dan rehabilitasi … .. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l. adanya penyerobotan lahan damija.. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. (12) Melakukan tindak lanjut...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (terasing) khususnya yang terkena dampak....: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. (8) Memberi masukan.. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 ..BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi....

.

(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat....… .. Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.. khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). 13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … . & kesepakatan dalam mufakat khususnya ...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . (4) KETERANGAN 1).. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .. (2) Berpartisipasi dalam proses musy.

.

DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat. Desa / Kelurahan. IV. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai. seperti RT. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek.  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat. RW/RK. REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No.6 1. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 . II.  Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek. Dusun. III. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. adat. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek. PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI.

besaran. kapan. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis. PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1.

 Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja.  Direksi Proyek. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2. DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan. IV. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. REFERENSI  Undang Undang No. II. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. III.26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.

 Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.  Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 .  Rencana pengalihan rute selama proyek.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.

1 dan 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 . PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2.2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2.

6. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 15. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. 28. 26. 7. 5. 18. 13. 8. 21. 2. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 22. 4. Akhir Daerah Pekerjaan 10. 20.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. 23. Dialihkan kek anan 12. 14. 25. 17. 19. 3. 27. 16.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek.  Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi. lampu) pengoperasian peralatan konstruksi. Pengangkutan Material d. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi.  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin. dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a. Penumpukan Barang/Material II. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 . DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi. sebelum digunakan untuk konstruksi. Pengoperasian Peralatan c. lokasi penyimpanan atau penumpukan material. Pekerjaan Galian b.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek. III.

 Direksi Proyek.  Kontraktor.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. VI. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.3. IV. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. REFERENSI  Undang Undang No. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. seperti terlihat pada Gambar 3.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. 50. 41. 40. 39. 48. 36. 38. 53. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . 43. 34. 31. 49. Dialihkan kek anan 35. 100m di depan ada pengalihan jalan 57. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30. 44. 42. 37. Akhir Daerah Pekerjaan 56. 32. 33. 51. 52. 46. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 54. 45.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .

IV.  Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I.  Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 . dan pemancangan pondasi. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi.  Direksi Proyek. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan. III. rumah sakit. II. pengoperasian AMP. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek.

sebelum dan sesudah konstruksi.  Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. jumlah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. III. DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi.  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 . IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi. pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain. pengangkutan material. TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP. II.  Kontraktor. pekerjaan tanah.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 .  Rencana pengangkutan material.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

limbah domestik. REFERENSI Peraturan Pemerintah No. VI. untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting. II. IV.  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V.1. seperti terlihat pada Gambar 6. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah.  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan). I. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. III.  Kontraktor. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan).LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

 Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi. lereng. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 . atau dinding penahan tanah. III. II.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi. PROSEDUR PERMUKAAN I. untuk menambah daya dukung konstruksi. ceceran sisa bongkaran pada badan air.  Kontraktor. DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi. IV.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi. jenis.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 .  Rencana (waktu. dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 . 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.  Dinas Pekerjaan Umum setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. REFERENSI  Undang Undang No. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No.  Kontraktor. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.1 IV. III. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP.  Direksi Proyek. seperti terlihat pada Gambar 8. II.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. volume. waktu. beban) material dan peralatan konstruksi.  Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

IV. telekomunikasi. Industri. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. listrik. pada lokasi kerja proyek. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 . III.  Perwakilan PT. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek.  Perwakilan PDAM setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak.  Perwakilan PLN setempat. Depo Bahan Bakar. dsb). PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. II. Pangkalan Udara.  Perwakilan PGN setempat. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. Stasiun Kereta Api.  Pengelola kawasan spesifik setempat. gas. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek. Telkom setempat. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. akibat pekerjaan galian.

 Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan.  Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting. VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

II. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 .  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu.  Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10. 2001.  Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial. IV. DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi. untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut. REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM). serta pekerjaan timbunan. dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan.

 Kontraktor.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 . jenis.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V.  Dinas Geologi setempat. VI. jumlah) peledakan.  Direksi Proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan).  Rencana (lokasi. metode. PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 . RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. II. V. VI. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman. IV. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek.  Kontraktor.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah. III. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

IV. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 . Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. yang terletak di lokasi sekitar proyek.  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat. Seni.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12. III. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya. dan kebudayaan. ilmu pengetahuan. REFERENSI  Undang-undang No. PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata. dan situs.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Kontraktor. dan Budaya setempat. yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I.  Direksi Proyek. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. II.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. benda yang diduga benda cagar budaya.  Pemerintah daerah setempat.  Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya.

dan Budaya setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. Seni. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 .  Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat. REFERENSI  Keputusan Presiden No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 .  Direksi Proyek. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. VI.  Kontraktor. IV.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13. II. V. III. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

Ditjen Prasarana Wilayah.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Departemen Kimpraswil. c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana. Jakarta. Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang terdiri dari empat buku. produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). November 2003 i . Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. ii . isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. khususnya bila sudah diperdakan. dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. Secara garis besar. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut.

... 4.1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4..9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan .8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … … … … … … … ..2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4.6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .1 In stan si p el aksan a p em an tau an … … … … … … … … … … … … … … … 6.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek . 6. 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … 5.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 4. 4.… … … … … … … … … … 4. P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . A cu an N orm ati f … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii . D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4. 4.. 5.… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … .3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan .2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6..2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … . D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .

8 P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..5 Biaya evaluasi lingkun g an p ad a tah ap eval u asi p asca royek… … 7.2 Biaya pemantauan pada tahap pra-kon stri ksi … … … … … … … … … 7. 7..… … … .3 B i aya p em an tau an p ad a tah ap kon stru ksi .… … … … 7.1 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p eren can aan .… … … … … .4 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p asca kon stru ksi … .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7.. 7.… … … … . .… … … … … … … … … … . 25 25 25 25 25 25 26 iv .6 Komponen-kom p on en b i aya p em an tau an … … … … … … … … … … ...

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi : Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang Jalan : Baku Mutu Udara Ambien Nasional : Baku Tingkat Kebisingan : Baku Tingkat Getaran : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor : Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL : Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL v .

sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi masyarakat di sekitarnya. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. b) Peraturan Pemerintah No. 1 . khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan hidup. Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: a) b) c) d) e) f) g) Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatif penanganannya. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. 2 Acuan normatif Pedoman ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Lingkup pemantauan tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN LIDUP BIDANG JALAN