PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. kompleks. menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif. c. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas. AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien. Jenis . Melalui studi AMDAL.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. 6 . sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup.

Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No. namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan. tetapi menyangkut 7 . 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. serta ada persyaratan menyusun AMDAL. Untuk hal ini. hutan lindung serta hutan produksi. Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. diperlukan izin dari Menteri Kehutanan. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No. Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi. Keputusan Menteri Kehutanan No. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). hutan pelestarian alam dan hutan buru). Kebijakan Sektor yang Terkait a. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali. minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut. yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.17/KPTS/M/2003.55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan.

419/KPTS/II/1994 tersebut di atas).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum. khususnya kegiatan pengadaan tanah. Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. tanpa kompensasi. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan. Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL. Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. diatur dalam Keputusan Presiden No. Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. seperrti pembangunan jalan. 5 tahun 1992. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya. wajib dilaporkan terlebih dahulu. b. maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No. 5 Tahun 1993. c. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan. penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. dan dapat diperpanjang kembali. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 .  Perencanaan ruang wilayah kota.

dan nama pemilik tanah. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah. diberikan untuk hak atas tanah. tanah pengganti. 55 tahun 1993.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut. bangunan. jenis hak atas tanah. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. pemukiman kembali. Dalam situasi dan kondisi tertentu. 9 . serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya. diatur dalam Undang-Undang No.  Keterangan tentang letak. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. bila perlu. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. 1 tahun 1994. d. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No.

Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. serta keamanan perlintasan. saluran air. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api. serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan. 4. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives). jalur kereta api khusus terusan.1. 2) Keamanan konstruksi jalan rel. Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. Dalam Keputusan Presiden No. 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api. termasuk prasarana jalan. terpencar. dan perlengkapan 10 . 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil. jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat. antara lain penyediaan sarana dan prasarana. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. prosedur (procedures). 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan. e.3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a.

04. tercantum dalam OP/BP 4. 7) Forestry (Kehutanan).01. hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan. yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini. tercantum dalam OP/BP 4. 9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional).  Resiko Lingkungan.50. 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan). Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas. 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan). 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali).60. 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). dan skala kegiatan. 11 .11.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools). tercantum dalam OP/BP 4. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan). tercantum dalam BP 4. tercantum dalam OP/BP 4.50. tercantum dalam BP 17. lokasi. tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam OP/BP 4.37. adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment). 4) Cultural Property (Kekayaan Budaya). bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia.36.  Rencana Pengelolaan Lingkungan. yang didasarkan atas tipe. tercantum dalam OP/BP 7. dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut. Berbagai kebijakan operasional (OP). 3) Pest Management (Pengelolaan Hama). 2) Natural Habitats (Habitat Alam). Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi).12.  Audit Lingkungan. Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan. prosedur Bank (BP). tercantum dalam OP 4. tercantum dalam OD 20.09.

untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul.  Kategori B. yaitu:  Kategori A. benda cagar budaya. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan.  Kategori C. B dan C. isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan. bersejarah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan. atau mempunyai nila / keunikan alam. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. benda yang dikeramatkan. memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. dan sebagainya. mempunyai nilai agama yang kuat. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. tapi tidak besar dan tidak penting. tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). benda yang mempunyai nilai arkeologi. guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. palaentologi. dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. 12 . Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No.

Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP.  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis. dalam bentuk NOL (no objection letter). Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study. dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam. persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). harus dilaksanakan Tracer Study. pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk.  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. Karena rencana rute jalan bersifat memanjang.  Simplified LARAP. yaitu:  Full LARAP. Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun. meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas.  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia. baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study). untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru. 4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada). sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. 13 .

misalnya: di lokasi kegiatan.org.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli. perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut. 1993 .  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas. Dalam penyusunan dokumen tersebut. antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan. Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www. dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah. ekonomi. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts.  Adanya lembaga sosial.  Berbahasa pribumi.  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS). Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat. b.  Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen. 1993. etnik minoritas asli atau kelompok suku. dan budaya secara adat. Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial).worldbank. dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya. 1998.  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on. dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan). maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 .

sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA. sebelum diserahkan kepada Bank. sensitivitas lingkungan. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok. Bank. IEE.  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE). termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE). tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting). hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan. lokasi. sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). 15 . sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam. yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat.  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting). b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.  Penyusunan EIA. 120 hari sebelum waktu persiapan proyek. c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. skala dan besaran kegiatan. atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final.  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. agar dan mempergunakan termasuk LSM. berdasarkan atas jenis kegiatan.

antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. supervisi / pengawasan. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan. volume lalu lintas. maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. biaya perjalanan. dan LSM. seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB. 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia. c. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program). dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. 16 . dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan.  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. kekasaran permukaan jalan. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank.

b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 . melakukan monitoring dan tindak lanjut. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening). JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup. baik dari stake holder. JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai. dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah. pemerintah dan organisasi finansial. melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan. dan bila dianggap kurang meyakinkan. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup. dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut.  Dalam membuat keputusan pendanaan.  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. co-finansial. serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan. agar screening dapat dilakukan lebih awal. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. JBIC dapat melakukan environmental review. serta upaya penanganannya. serta untuk administrasi perbankan. dan sulit dianalisi. dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B.  Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan. dampak yang timbul complicated. 18 .  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A. baik yang sifatnya negatif maupun positif. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan. sesuai dengan prosedur berikut. (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. (4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu.

2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 19 . dan (8) evaluasi pasca proyek. 4. mungkin saja karena alasan tertentu. secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap. Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) pra-studi kelayakan. serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas. (7) pasca konstruksi.49/PRT/1990. (4) perencanaan teknis. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku. a. (6) konstruksi. (3) studi kelayakan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. penentuan skala prioritas. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan.1. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan).69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. yaitu: (1) perencanaan umum. JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan. Bila diperlukan. Namun. tanpa melakukan pra-studi kelayakan. (5) pra-konstruksi. perkiraan biaya.

Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL. perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya. 20 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. atau cukup dengan penerapan SOP. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut. melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. studi UKL dan UPL. pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul. b. Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi.

Kep.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. pemberian kompensasi.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. pematangan lahan untuk konstruksi 21 .

Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan. d. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan. tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi. ekonomi dan finansial. konstruksi dan pasca konstruksi. Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. Karena itu. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). 22 . Untuk keperluan tersebut. yang didukung oleh data hasil survai lapangan. jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. ekonomi. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. dalam satu paket pekerjaan. Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi. prakonstruksi. Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat.

pencemaran udara. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. e. pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. g. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. kebisingan. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor. dan sebagainya. Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. f.

serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya. h. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan. antara lain meliputi pengaturan lalu lintas. yaitu: a. 4. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. 24 .

sehingga harga tanah meningkat. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan.1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5. Konsultasi untuk persiapan AMDAL. unsur Universitas / perguruan Tinggi.2. d.1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya. baik dampak negatif maupun positif. Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5.2. c. Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak.1.b). semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu). bangunan. tanaman dan aset tidak bergerak lainnya. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan. kelompok profesi. 5. 5. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. 25 . para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.

1. excavator. khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif. Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 . Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha. 5.1. gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar. AMP. Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. sehingga terjadi erosi atau longsor.2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah.1. stone crusher. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam.4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi. Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. road roller.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer. truk. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif. dan diperlukan pemindahan penduduk. dsb. 5. Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara. dan alternatif pengelolaan lingkungannya. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas.2. mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu. kebisingan. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. maupun tata ruang kawasan. Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a.1. dan kecelakaan lalu lintas. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. atau kabupaten / kota. disajikan pada Tabel 5. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. 27 . Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. propinsi. b. Di samping itu. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek. 5.

Mobilisasi peralatan berat a. sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a. b.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b. Tahap Perencanaan 1. Pengadaan Tanah a.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. Kerusakan prasarana jalan 28 .  areal berpanorama indah.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat).  areal komersial.1. Mobilisasi tenaga kerja a.. c. Konsultasi masyarakat 2. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Tabel 5. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Keresahan masyarakat 2. Tahap Prakonstruksi 1.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. Sosialisasi b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C.  lahan pertanian produktif. Survey / pengukuran 2.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1.  areal dengan kemiringan lereng terjal. Kecemburuan sosial a.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A.

Gangguan pada utilitas umum 2. Pencemaran udara c. Pembuatan jalan masuk a. Penyiraman secara berkala c. Penyiraman secara berkala b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Pembuatan sistem drainase c. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4. Pencemaran air permukaan.1 Pengaturan lalu lintas b. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Penghijauan b. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Gangguan lalu lintas a. Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Di lokasi proyek 1. Gangguan stabilitas lereng e. Pencemaran udara a. Gangguan lalu lintas a. Gangguan pada flora dan fauna b. Penataan lansekap a.1 Perkuatan tebing d. Perubahan bentang alam /lansekap.1 Pengaturan lalu lintas a. 3. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c. Pencemaran udara (debu) b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembuatan sistem drainase 5. Pemancangan tiang pancang a. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Penyiraman secara berkala b.1 Pengaturan lalu lintas a. dan pengaturan jadwal kerja b. Penggunaan bor c. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. a.2 Pengendalian aliran air tanah e.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan lalu lintas 6. b. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Pencemaran air d. Pemindahan atau perbaikan utilitas a. Pencemaran udara (debu). Kebisingan b. Gangguan lalu lintas d.1 Pengaturan lalu lintas c. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar.

Pengoperasian jalan a. Pengaturan lalu lintas. kantor. e. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1.2 Pengendalian air larian c. Pencemaran air sungai.1 Perkuatan tebing d. Pencemaran udara (debu). a. c. Pemasangan rambu lalu lintas a. d. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Pengaturan lalu lintas D.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Kerusakan badan jalan. Perawatan kendaraan c. Penghijauan dan pertamanan a. Pembuatan sistem drainase c. Penyiraman berkala. Pengambilan material di quarry sungai 3. Pengendalian bahan buangan c. b. c. Gangguan pada flora a. Penghijauan b. Pencemaran air permukaan. Pencemaran udara b. d. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e. Kebisingan. Longsor tebing sungai a. Kebisingan c. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b.1 Pengaturan lalu lintas. Bak truk ditutup terpal b. Sda. c. Pengendalian bahan buangan d. pembuatan noise barrier c. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c. 1.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d.2 pemasangan rambu lalu lintas c. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2. b. b.2 Penggalian secara bertahap a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8.3 Tebing dibuat berteras d. Kecelakaan lalu lintas a. c. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Gangguan lalu lintas. Tahap Pasca Konstruksi 1. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a. c. d. c. Kebisingan. d. gas polutan) b. d. Pengoperasian base camp (barak pekerja. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a. c. b. Gangguan terhadap biota air. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. d. Pencemaran udara (debu). Pencemaran udara (debu. Gangguan pada aliran air permukaan c. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. Perubahan fungsi lahan e. b. Penyiraman secara berkala b. d.

5. Sempadan Sungai. perairan darat. 2.1 Pengaturan lalu lintas a. Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Kawasan Sekitar Mata Air C.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5. Kawasan rawan letusan gunung berapi. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. 4. 31 . 2.1 Daftar Kawasan Lindung A. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Gangguan lalu lintas d. Hutan Wisata. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. khususnya pada jalan tol d. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Resapan Air. Sumber: Keppres No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Kawasan rawan longsor. Suaka Marga Satwa. Kawasan Hutan Lindung. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Kawasan perlindungan setempat: 1. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Taman Hutan Raya. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. dan Daerah Pengungsian Satwa). Pembuatan jembatan penyeberangan e. Pengemdalian penggunan lahan a. 1. D. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Kawasan Rawan Bencana Alam. B. 4. 3. gugusan karang atau terumbu karang. Taman Wisata Alam 7. Kawasan rawan gempa bumi. 2. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1.5 Pembuatan rest area. Pemeliharaan jalan a. 6. 3. 3. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Sempadan Pantai. muara sungai. wilayah pesisir. Gangguan terhadap satwa dilindungi f. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Taman Nasional. 3. 2. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2.

c. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No. serta foto udara atau citra satelit. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. penggunaan lahan.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. kota sedang. yang didasarkan atas panjang ruas jalan. dan antar kota / p ed esaan ). 32 . tapi bersifat regional.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. N am u n . dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. No. ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. luas lahan yang perlu dibebaskan. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.2.

ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup. Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis.2.2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a. • biologi (flora dan fauna).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia. • prasarana dan utilitas. • kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya. • estetika lingkungan. 33 . termasuk kawasan adat.

Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b.000.000 – 20.17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1. atau .Panjang b.000 jiwa : jumlah penduduk 20. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3.Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : .Panjang. Pembangunan jalan tol b.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1. - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.000 – 200.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5. Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : .000 – 1. Panjang > 5 km 2. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a. Jembatan a.Panjang.000 jiwa 34 . Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a. Pembangunan jalan layang atau subway c. Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a.000.000 jiwa : jumlah penduduk 3.Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: .000 jiwa : jumlah penduduk 500. Semua besaran b. Semua besaran d.000 – 500. atau . Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d.000 jiwa : jumlah penduduk 200. Panjang < 2 km c.

sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5. Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. Untuk pelaksanaan studi AMDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. RKL dan RPL. b. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis.2.1. Cara pelaksanaan konsultasi. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). untuk memperoleh saran. Pada waktu penyusunan KA-ANDAL.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. ekonomis mapun lingkungan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 . Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.c.

Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota). ANDAL. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL. d. RKL dan RPL Proyek Jalan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. c. RKL. Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama). Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup). RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi). e. instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. tersebut.

27/1999). lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi. saran. Dalam hal ini. semua dokumen AMDAL.3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a. 5.27/1999. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. 37 . PP N0.2. Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. b. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. kesimpulan komisi penilai. f.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. pendapat. klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan .

 Survey sosial-ekonomi.2. Langkah .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut. c. 38 . dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya.1.2. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah. Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5. b.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak. Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan.Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.  Konsultasi masyarakat. 5. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius.

Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. jenis penggunaan saat ini.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. status pemilikan tanah. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. jarak ke sekolah anak-anak. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. f. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. instansi pelaksananya. jenis dan umurnya). 39 . yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. g. jarak ke tempat kerja. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. tingkat pendapatan. dan sebagainya. h. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. dan status pemilikannya. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. kelas tanah. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan. mata pencaharian.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan. Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Karena itu.1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup. 40 . konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5.1 (lihat Tabel 5.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi. yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik. 5.3.1). dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi. harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan.

secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi. dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan. Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya. Dalam hal ini. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL.3. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. wajib UKL dan UPL. 41 . dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak.3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya. Sehubungaan dengan hal itu. 5.

sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait.4. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan.3. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan. 5. Di samping itu. kemacetan lalu lintas.4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. baik di tingkat pusat maupun darearah. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. dan kecelakaan lalu lintas.1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara. b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas. kebisingan.2. 42 . Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.

terutama akibat penggunaan alat-alat berat. Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. akibat kegiatan konstruksi. Pada tahap pasca konsruksi.4. alternatif pengelolaan lingkungan. dan Jalur transportasi bahan bangunan. Secara garis besar. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi. Evaluasi mencakup: 43 .4. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. Pada Tabel 5. 5. dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui. dampak yang mungkin terjadi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum.3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak. Pada tahap pra-konstruksi.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan. Lokasi quarry.

Keluhan masyarakat c. Persepsi masyarakat 2. Penetapan rute jalan 1. Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a. Tahap Konstruksi 1. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya. Tabel 5. Persepsi masyarakat b. Pengadaan Tanah a.2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru. Kecemburuan sosial a. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A. Tahap Pra-konstruksi 1. Keresahan masyarakat b. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. 2. Tahap Perencanaan 1. Gangguan terhadap pendapatan a. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. Tenaga kerja lokal terserap 44 . Sosialisasi b. Survey / pengukuran 2.  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. Keresahan masyarakat 2.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a.

Erosi / longsor e. Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Kualitas udara (kandungan debu) c. c. 2. Liputan vegetasi b. Penyiraman secara berkala c. Kondisi lansekap 45 . Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. 2. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap. Gangguan pd flora dan fauna.2 Pengendalian aliran air tanah e. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Mobilisasi peralatan berat a. Pencemaran air d. b. Penataan lansekap c.1 Perkuatan tebing d. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu). b. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Kualitas air a. Penyiraman jalan secara berkala b. Kualitas udara b. e. Kondisi jalan 3. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. Kerusakan prasarana jalan a. Pencemaran udara a.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d. c. Pembuatan sistem drainase d. c. d. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. b. Kualitas air d.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Penghijauan b.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Kondisi utilitas a. Pembuatan jalan masuk a. a. Di lokasi proyek 1. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap.

Getaran a. Gangguan lalu lintas a. Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6.1 Pengaturan lalu lintas b. Kebisingan b. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Gangguan lalu lintas a. Kualitas udara b.2 Pengendalian air larian c. Penghijauan dan pertamanan a. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a. Perubahan fungsi lahan d. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4.1 Pengaturan lalu lintas a. Penggunaan lahan 46 .1 Pengaturan lalu lintas a. b. Kualitas udara b. Penyiraman secara berkala b.3 Tebing dibuat berteras d. Kondisi lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Kondisi lalu lintas a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a. Kondisi lalu lintas b. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a. Penyiraman secara berkala a. Erosi / longsor d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor).2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. a. Liputan vegetasi b. Kebisingan a. Gangguan pd aliran air permukaan c. Aliran air permukaan c. Pembuatan sistem drainase a. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Pembuatan sistem drainase c.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Pencemaran udara b. Pemancangan tiang pancang a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas a. Gangguan lalu lintas b. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Kondisi lalu lintas 5.

stone crusher dan AMP) a. Pengambilan material di quarry sungai a. Kualitas air e. Stabilitas tebing sungai 11. d. Kualitas udara b. Gangguan pada flora 10. Kualitas air c.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. Tingkat kebisingan d. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Perawatan kendaraan c. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. Sda. d. Pengoperasian base camp (barak pekerja. pembuatan a. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. c. c. Tingkat kebisingan c. a. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a. Kebisingan. gas polutan) b. c. Penyiraman berkala. d. Pengendalian bahan buangan Sda b. Tahap Pasca Konstruksi 1. Kondisi lalu lintas c. d. c) Kebisingan. e. Liputan vegetasi a. Longsor tebing sungai e. e. Kerusakan badan jalan. Gangguan terhadap biota air. b. kantor. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. Pemasangan rambu lalu lintas d. Bak truk ditutup terpal d. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Pencemaran air sungai. Kualitas udara (sebaran debu) b. Pencemaran udara (debu. Sda d. Pengaturan lalu lintas. b. Kondisi jalan b. Kondisi lalu lintas D. Pemilihan lokasi e. Pengoperasian jalan a. Kecelakaan lalu lintas a. c. Pencemaran udara (debu). Pencemaran air permukaan.1 Perkuatan tebing d. Di lokasi Base camp dan AMP 1.2 Penggalian secara bertahap a. Keluhan masyarakat b. Kebisingan a. Tingkat kebisingan noise barrier 47 . Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Kualitas udara c. b. Penghijauan a.

c. f. d.2 pemasangan rambu lalu lintas c. Keluhan masyarakat e.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a.1 Pengaturan lalu lintas a. Lintasan satwa dilindungi a. Kualitas udara c. Pembuatan jembatan penyeberangan f. Tingkat kebisingan d.2 pemasangan rambu lalu lintas d. Pembuatan jembatan penyeberangan e. noise barrier Sda. d.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b. Pemeliharaan jalan a. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2. Lintasan satwa dilindungi 48 . Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. khususnya pada jalan tol d. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c. Keluhan masyarakat f.5 Pembuatan rest area.1 Pengaturan lalu lintas.5 Pembuatan rest area.1 Pengaturan lalu lintas. Gangguan lalu lintas d. Pencemaran udara (debu. c.3 Penertiban pedagang kaki lima d. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e.3 Penertiban pedagang kaki lima c.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d. Penghijauan di median dan pinggir jalan c. khususnya pada jalan tol e. Kondisi lalu lintas b. pembuatan c. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d.

g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan. c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier). kesehatan. seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. 49 .  Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah. antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk.4. yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan. d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan. pemerintahan.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah. dan lain lain. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan. termasuk masyarakat miskin. b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang. Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat. e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang.  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan. khususnya masyarakat pedesaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri. pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. b). para kepala Dinas di propinsi. Penduduk terkena dampak. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. BAPPEDA. d). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. f). g). MASYARAKAT. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. c). e). Badan Pertanahan Nasional (BPN). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. b).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. e). PEMRAKARSA. d). proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). 2. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. c). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat.

menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 2. . Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. BAPPEDA. 3. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . misalnya sentra sentra produksi. 3. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. 5. 4. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. Selanjutnya. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan.. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. 6. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. PEMRAKARSA. kapasitas produksi. MASYARAKAT.

5. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . menetapkan koridor jalan terpilih 6. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. 3. PEMRAKARSA. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. 7. UPL. PEMRAKARSA. memberi masyarakat terasing. 8. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan.. 4. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. Masukan tersebut. BAPPEDA. PEMRAKARSA. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. 4. budaya masyarakat terasing. ekonomi. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. UKL. MASYARAKAT. Dinas Sosial dll. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. masukan tentang koordinasi penanganan 2. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1.

PEMRAKARSA. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. 8. 5. 3. 6. MASYARAKAT. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. 5. pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. 7. memberi masyarakat terasing. PEMRAKARSA. Selanjutnya. PEMRAKARSA. masukan tentang koordinasi penanganan 4. Atas dasar permintaan pemrakarsa. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. BAPPEDA. PEMRAKARSA.. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . menetapkan rute jalan terpilih. 2.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . 10. 4. Selama proses wawancana. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. melakukan MASYARAKARAT. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. sistem kepemimpinan. 11. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. PEMRAKARSA. BAPPEDA. memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Menetapkan desain jalan. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing. 7. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. 6. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. MASYARAKAT. 9. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. PEMRAKARSA. 6. BAPPEDA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 8. PEMRAKARSA. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati. 5.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing.

7. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. 6. 4. Selanjutnya. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. melaksanakan program konservasi budaya. pemrakarsa masyarakat terasing. PEMRAKARSA. 7. serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. melaksanakan program penanganan dilapangan. 3. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. 5. BAPPEDA. 6. Selanjutnya. 5. 2.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. MASYARAKAT. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. 7. PEMRAKARSA. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. BAPEDALDA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. BAPEDALDA. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. 4. PEMRAKARSA.. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. 3.

Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. BAPEDALDA. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. MASYARAKAT. 7 6. 7. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 9. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. 11. BAPPEDA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. PEMRAKARSA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. 8. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. 3. Selanjutnya. 8. PEMRAKARSA. 10. BAPEDALDA. 5. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. MASYARAKAT. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 2. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. penataan ruang. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. 4.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . 9. Untuk itu. EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9. b. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

. peran dan fungsi kota dll..(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). 3). (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… ..… … .. (6) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. kapasitas produksi. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … .… .. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. .. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . terasing… . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. kapasitas jalan yang dibutuhkan.. Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).

Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. (6) 3). 5)... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. … … .(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . ekonomik.... (8) .. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. terasing....... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy.Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan...... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ... ... 4)..... ekonomi...... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … ..(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ... 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ... budaya ....

. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .... ......(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy...Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..4). terasing... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute..5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis..... terasing … . terasing... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.

… … … ... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)... sistem dan nilai hak adat . Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). 3). pembagian tugas.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … . 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Termasuk rencana kerja.. Renc... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).terasing tsb. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. T indak … .. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing ... kepemimpinan.. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy..(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.. Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2). (11) .

.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing .. Termasuk LSM. 4).... lembaga adat .... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)......(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ......(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .....Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing..... dll.... 5)..... (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ... perbaikan permukiman tradisional...... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).(7) . rehabilitasi konservasi situs dll......… ... 3). Mencakup kompensasi lahan dan bangunan..

Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . terasing … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . (6) 3)..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 4).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing. 5).(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(12) ... 6).

. 6)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 4).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … .. 2).. terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy.... sosialekonomi.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing . Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME). Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.(8) ... 5). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi...(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor. terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3).. budaya dan kelembagaan. terasing termasuk rehabilitasi … … .

(2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . penanganan masy. terasing yang lebih baik ..Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.… . tata ruang nilai kearifan lokal. (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing … . Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy.. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … .. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) ..

.

Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. e). BAPPEDA. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. PEMRAKARSA. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. b). g). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. b). para kepala Dinas di propinsi. c). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Penduduk terkena dampak. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. f). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. e). PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. 2. d). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. MASYARAKAT. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. d). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. c). Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. PEMRAKARSA. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan.. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. BAPPEDA. 4. misalnya sentra sentra produksi. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. 2. 3. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 3. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Selanjutnya. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. . Pemrakarsa. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. kapasitas produksi. 6. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. 5. STAKEHOLDER LAINNYA. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan.

Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. UKL.. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. peta banjir. BAPPEDA. 8. Masukan tersebut. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. UPL. 5. PEMRAKARSA. menetapkan koridor jalan terpilih 2. PEMRAKARSA. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. Selanjutnya. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. peta quarry dll. 3. 7. STAKEHOLDER LAINNYA. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. MASYARAKAT..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. 6. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. Selanjutnya. PEMRAKARSA. 4. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. PEMRAKARSA. 2. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 4.

Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. BAPPEDA. 8. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 11. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. MASYARAKAT. 5. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL.. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 6. Atas dasar permintaan pemrakarsa. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). BAPPEDA. 10. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. 9. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). 5. PEMRAKARSA. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. 7.

mengadakan persiapan pelaksanaan 3. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. MASYARAKAT. mensosialisasikan konsep larap. 9. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. 10. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. BAPPEDA. 6. MASYARAKAT. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. 5.. 11. PEMRAKARSA. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. Panitia pengadaan tanah. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. 13. PEMRAKARSA. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. 12. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. 7. BAPPEDA. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Selama proses wawancana. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. 6. 4. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. 8.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi.

Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. 10. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. 7. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. BAPEDALDA. 13. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. 5. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. STAKEHOLDER LAINNYA. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. BAPPEDA. 2. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. 9. BAPPEDA. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. BAPEDALDA. 8. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. 14. BAPPEDA. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. 12. 4. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. MASYARAKAT. 6. 3. 11. kartu penduduk dll. 7. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. Selanjutnya. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling.

mislanya karena kehilangan pelanggan. 9. 6. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. evaluasi pelaksanaan 2. Selanjutnya. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. 12. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi.. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 10. BAPEDALDA. 3. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 7. PEMRAKARSA. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. 5. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. BAPPEDA. 8. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. melakukan monitoring & evaluasi. 8. BAPPEDA. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 4.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). DINAS SOSIAL. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . BAPEDALDA. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 11. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 .

meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BPN. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 7. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 6. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. 8. 4. BAPEDALDA. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. 3. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . PEMRAKARSA. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah.. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. 5. Selanjutnya. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 9. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. Untuk itu. BAPPEDA. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. penataan ruang. PEMRAKARSA. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. 2.

… . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). jenis penggunaan dan kepemilikan). mis. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. kapasitas produksi.. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . peran dan fungsi kota dll. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 4).

(3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ...... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.(7) Menetapkan koridor jalan terpilih..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)...... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). 4).......... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.... sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)...(6) .. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .......(8) ... ekonomik... status kepemilikan dan kesediaan melepas. 5)..

… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi..(11) Menetapkan Rute Terpilih ... (12) .5). Terhadap pengadaan tanah … . dll... (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. ekonomis dan lingkungan.. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.4)..(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … ..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.Rute. Hasil Pra Kelayakan 2). (7) Memperkirakan dampak sosial … . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .

Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … ..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya.. 3). (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . prakiraan nilai kekayaan. pelepasan hak. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. rehabilitasi pem uk.… … … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). dll. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.kem bali. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. Termasuk rencana kerja. … . 6). masa tinggal dll.kem bali … … .. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. luasan. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .. Lokasi di Peta. … ..

.. khususnya panitia pengadaan tanah … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). (4) KETERANGAN 1)..(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . 13)..T .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).… ... (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … ... perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . & menyepakati dlm mufakat khususnya P ..P … … .. (2) Berpartisipasi dalam musy.

.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.(12) . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 5). 6).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 4)..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).

6). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (8) . (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … ..( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. … 7) 3). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … ... 7). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 4). tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . 5)..Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 2).

.. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .… . pelatihan untuk alih profesi … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . adat istiadat.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. tata ruang. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . LA R A P … … .. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. nilai kearifan lokal. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .

.

Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah.....  Kehutanan tentang status hutan..(8) . Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5). Memberi masukan persyaratan Lingkungan .... tempat keramat.(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 4).... (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah.. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3)..... khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan...... Termasuk pola pelestarianaya 7)....... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder. (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … . 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2).. 6).....

. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan..5)..(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat. tapi cukup macadam .. Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL ..Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...2).10). (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … .6). Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … ..... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait.. (8) 8). Menetapkan koridor jalan terpilih… … … ..... (10) 9).4)... (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .. (7) 3).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix.. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..… … … (12) . 9). 10. 8).4).... R P L . 5).(11) 7). (6) 3). 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih . R K L. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif.. nilai lahan dll.… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … ....... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan... 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L. Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .

11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait... dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8)...10). Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2). … … . (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … ...Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13).4).....5). mis : RKL. 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) . RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.... Dengan instansi terkait 14)... RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan ..(12) Menetapkan Desain Jalan ... (apabila ada) mis : ANDAL... dok. apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .… … … .(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring ..(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.. dan wakil masyarakat terkena dampak 12)... Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.lingk.(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3). … … .(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… .9). (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .. (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak.

Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … . PDAM.4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll.. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi. aparat desa atau kelurahan. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2). 5)... mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … .. (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP .... (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … ..Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). telpon.. LSM dan penduduk terkena dampak 3).(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … .. Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait. (10) . bantuan pindahan. (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … .. Listrik....7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan.(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … ..(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain.

.. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)...(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).. ........(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi .. Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ....... Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy. peralatan dan bahan bangunan 2).....(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … ..... Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja...(11) ....Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).....… . 8)...... Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ..... Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ..(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ... (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6)....

.......... Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara. 8). Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2).Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … .... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ..........(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ........ PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis...........(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ....... (9) ........ data sekunder (laporan harian kontraktor)... (8) 4).. dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan . metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai.... 5).

(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … .(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.....Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang . (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) .(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija....(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb. … .

terasing. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.terasing). dll. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… .(1) Menyusun konsep renc. (9) .(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). terhadap renc. (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan . kawasan lindung. program lainnya yang terkait.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. . kehutanan. situs sejarah. kawasan budaya. 3). persyaratan lingkungan daya dukung lingk. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. dll.terasing) beserta peraturannya. industri. tata guna lahan. fungsi lahan dan peraturannya.(3) Konsultasi konsep renc. Termasuk tata ruang. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy. lokasi masy. pertanian.. Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). dll. dll. sesuai Keppres 32/1990. jaringan … .l... hak adat/ulayat. terasing 2). lokasi areal sensitive… . penerapan tata ruang.terasing. (termasuk masy.(2) Melakukan penyaringan awal lingk. termasuk kondisi sosekbud masy. (5) Memberi masukan ttg. koordinasi program pemb. serta lokasi masy. diknas. Areal sensitive mencakup daerah lindung. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive.. mis: sektor2 perhubungan. program mis: kebutuhan lahan... keberadaan masy. dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb..… . Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.17/KPTS/ /M/2003 4). Memberi masukan ttg. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No. terasing… ..

hutan.. dll. daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . macadam. koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada)... keterpaduan pengadaan lahan.. (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk... (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … . pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing)..terasing (bila ada). (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas. (11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program.(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … .. (12) . (1) Membuat alternatif koridor jalan … .. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive. lokasi masy. (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … .Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan.(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan.. jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No. dll. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai .. ....08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. dll.. … . (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL). ... (10) Memperbaiki dok.

.. pelepasan hak. situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy. penyusunan dok... (terasing) dan pendekatan penanganan.… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … . A M D A L. … .. (7) Memperbaiki konsep dok.. kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll..… (8) Menetapkan dokumen. kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. mobilitas masy. kesesuaian tata guna lahan...terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan.… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb.. terasing (bila ada). dll. sistem nilai budaya masy.. … .(6) Menyusun konsep dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial .(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan.Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. . taksiran harga. A M D A L.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah. (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. terasing.. (11) . AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai..

dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy.. terasing .. koordinasi penanganan masyarakat terasing . terasing dan cara pelepasan hak. lingk. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. kepemilikan lahan. mis: lansekap.. dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(13) . misal : tentang harga lahan... data aset. dan aset lainnya. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. penanganan masyarakat terasing.. median.. koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat. (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP . sistem kekerabatan masy. (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … . dll. termasuk konpensasi dan pemukiman kembali . dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan.(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud. mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah. ekonomik.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis.. rehabilitasi ekonomi. cara pelepasan hak bila lahan milik instansi. serta keterpaduan program implementasi LARAP. untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … ...(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah.Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya. (11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP.

dan terhadap utilitas yang terkena dampak . terasing dan pemukiman kembali ..Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. seperti tercantum dalam kesepakatan ... penanganan masy.(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy.. (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi. (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi.... terasing... dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan. terasing … .. (6) Melakukan monitoring . instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll.. alih kepemilikan. (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal. … .. rehabiltasi ekonomi masyarakat. kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait.. cara pengosongan lahan.(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat.. rehabilitasi ekonomi. melepaskan hak. kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. dll... terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi.. (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait.... (10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … ...(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan. ... (5) Melaksanakan LARAP . penanganan masy. ( 11) . terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat. besaran konpensasi.. penanganan masy.

terkena dampak .(terasing) … … . dll.. pemberian fasilitas.....(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.. Melakukan konsultasi renc. (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . ekonomi m asy. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … . (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya ..(6) Menyusun laporan pelaks.(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . PDAM.(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.. kegiatan konstruksi . kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi..(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. termasuk keberadaan para pekerja ..Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy.(17) M elakukan m onito ring… .(6) Melakukan monitoring . (20) . (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .(1 6) Melakukan monitoring . dengan PLN.. tentang tujuan dan cara pemberdayaan .(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan..

(12) Melakukan tindak lanjut.(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks. pengembangan lahan sesuai tata ruang...... Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. LARAP dan rehabilitasi … . terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. penanganan masy. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi.. (terasing) khususnya yang terkena dampak..... (8) Memberi masukan.Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy.... 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. (9) Menyusun laporan monitoring.. ( 14) .. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . badan jalan untuk berdagang.(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).l.. termasuk aspek warisan budaya .. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .... adanya penyerobotan lahan damija.. dll. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ..

ekonomik/finansial..(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik.. (7) Menyusun laporan PBME . lingkungan dan sosekbud. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang.. geologi /geographic. (3) Memberi masukan aspek lingkungan .. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. penggunaan lahan.. pelatihan alih profesi. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya .. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan ... biologi (flora dan fauna). yaitu mencakup faktor teknis.. dll … .... nilai lahan. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. ( 9) ..Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing..

.. (6) . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . 4). . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. BPN dan dari sumber lainnya 2).. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan ... (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. khususnya areal sensitive … . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ...… . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.

Dikbud. 8)...... . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No...08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. (12) ..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … ..… . (10) 7)..... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . Sosial) . (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2).. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ... 9).Ka Bapedal No.(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.

(7) 1).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .... (9) ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen...(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . 2). RKL dan RPL 3).. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6)..

(7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.teknis. lansekap … … … .: penanganan utilitas yang terkena. RKL dan RPL … .(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL...: median. (8) .... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.. RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain............ RKL dan RPL pada perenc..

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. Secara garis besar. Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan. i . c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin. SESIM. khususnya bila sudah diperdakan. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan.

Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu. dapat dilihat pada lampiran. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Jakarta. yang terdiri dari empat buku.

1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.2.4.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.4.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.3.2.2 Pengadaan Tanah 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.7 Jadwal Pelaksanaan 4.2.1.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.3.4.2.2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.4.3.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.4.1.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.1.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.4.2.4.1.2.2.4 Penyaringan Lingkungan 4.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.2.1 Maksud dan Tujuan 4.8 Pembiayaan 4.1 Pra Studi Kelayakan 4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.5 Konsultasi Masyarakat 4.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.4.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.

4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.4 7.1 Kerangka Acuan ANDAL 5. RKL dan RPL 5.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.5 7.5 Biaya Penyusunan LARAP 6.4 Dokumen AMDAL 5.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.1 Jenis Dokumen 5. RKL dan RPL 5.2 7.1 7.4.3 7.2 Dokumen ANDAL.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.4.5 Dokumen UKL dan UPL 5.4.6 7.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv .4.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5.

. G am b ar 4.... G am b ar 4.2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … ...... 11 12 v . Gambar 4.1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … .........… … … ..6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … ... G am b ar 4..........7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar ....PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4... Gambar 4.3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … .5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … .....… … … … … .4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4.....1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4.. Tabel 4..2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL .

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .

2.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. propinsi. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. maupun kabupaten / kota. Undang – Undang No. Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. 1 . sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti.

3. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. 3. Keputusan Menteri Kimpraswil No. Keputusan Presiden No. 3. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. 2 . 3.2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Kepala Bapedal No. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3.

7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 3. 3.5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. 3.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat. 3. 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. 3 .10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. 4 . serta hasil survai lapangan secara global. b) Kawasan perlindungan setempat. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. antara lain:  areal permukiman padat penduduk. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya. Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik. d) Kawasan rawan bencana alam.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Pada tahap ini. khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan. Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. bila diperlukan. maupun tata ruang kawasan. merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan. 4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan. c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4. atau kabupaten / kota. propinsi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan. Aspek .1. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan.1.

serta foto udara atau citra satelit. (lihat Gambar 4. yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan.  lahan pertanian produktif.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal. 5 . Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup. d) metode pengumpulan data.  areal berpanorama indah.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A. c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan. penggunaan lahan. e) langkah-langkah proses pemilihan rute. yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup.1).

mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. B.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Hutan Wisata. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. 3. 5. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. 2. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). 3. Kawasan rawan gempa bumi. Sempadan Pantai. Kawasan perlindungan setempat: 1. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Taman Hutan Raya. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Taman Wisata Alam 7. dan Daerah Pengungsian Satwa). Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. 3. Suaka Marga Satwa. perairan darat. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. wilayah pesisir. Kawasan Resapan Air. 4. muara sungai. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Kawasan rawan letusan gunung berapi. 4. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. 6. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Kawasan Hutan Lindung. D. 2. 6 . Kawasan Sekitar Mata Air C. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. 3. tapi bersifat regional. Taman Nasional. Sempadan Sungai. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. 2. gugusan karang atau terumbu karang. Sumber: Keppres No. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1.1 Daftar Kawasan Lindung A. Kawasan Rawan Bencana Alam. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Kawasan rawan longsor. 1. 2.

1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4. dsb.1b Foto Udara 7 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan. Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4.

Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. dan koordinasi. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal. 4. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait.4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. transparansi dalam pengambilan keputusan.1. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. b) Luas wilayah persebaran dampak.1. Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk. penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak. komunikasi. harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). Karena itu.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. kelompok profesi. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin. 8 . semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

di pedesaan. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait. (4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA. (5) Pembangunan jembatan.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan. a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. (2) Pembangunan jalan layang dan subway. e) Sifat kumulatif dampak. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. di kota sedang. Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 . b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

1. 10 . atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4. atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4. tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4.1). tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru. Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun.1.1.

000. dampak kebisingan.1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No. Pedesaan : .000 – 200. getaran.atau luas pengadaan tanah b. emisi yang tinggi.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial.000 jiwa : jumlah penduduk 20.000 jiwa 11 .17 Tahun 2001. emisi yang tinggi.atau luas pengadaan tanah c. getaran. dampak kebisingan. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas. getaran. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas.000. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2. dampak kebisingan.000 – 1.000 – 500. Di kota sedang : . dampak kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. Bangkitan lalu lintas. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. b. a. emisi yang tinggi. getaran. > 30 km Bangkitan lalu lintas.Panjang . gangguan visual dan dampak sosial.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. getaran.Panjang . tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1. Di kota besar / metropolitan : .000 jiwa : jumlah penduduk 200. Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dampak kebisingan.

> 20 m > 60 m 12 . Tabel 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4. Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a.2. Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2.2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No. 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b. Pembangunan jalan layang dan sub way b. Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).

Secara garis besar. tercantum pada Lampiran C 13 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL. proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas.2.3. ada tiga kemungkinan sbb.: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan. Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. Lihat Gambar 4. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 . 17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No.2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .

Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi. Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. Akan tetapi. sedimentasi). kualitas udara dan kebisingan. • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum. tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan. Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah. yang mencakup seluruh wilayah studi.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. • Dampak pada kualitas air. • Gangguan terhadap kawasan lindung. Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan. 16 . tapi langsung ke studi kelayakan. peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. longsor.  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia.  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan. Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama.2.

2. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan.2. Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan. Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis. terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk. hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. ekonomi dan juga lingkungan. alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak. Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. Di samping itu. 4. • Gangguan terhadap estetika lingkungan. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan.2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek. Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif. 17 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan. Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat. termasuk kawasan adat.

ANDAL. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. 18 . jenis tanah.6). Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. • batas sosial. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder. dan RPL. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi. jumlah sampel yang harus dianalisis. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL. kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan.4.2.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji. RKL. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat. RKL dan RPL).1. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai. (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek. • batas ekologi. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL. dan • batas administratif. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek.4 sub d) dan Butir 4. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan.2. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode. 4.2. Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. geologi. penggunaan lahan. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan.

(2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. media cetak. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. dan mereka memberikan saran. 19 . base camp dan spoil bank. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.ANDAL. atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. surat. sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. lokasi quarry. dan permukiman padat. pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. (b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional). b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. sekolah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. borrow area. dan/atau media elektronik.

8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.ANDAL tercantum pada Lampiran E. skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan). Secara garis besar. (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4. (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran. untuk dinilai oleh komisi tersebut. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dilengkapi peta dengan memadai. Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . (d) Hasil pekerjaan.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa. tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat.2. 20 . c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab. Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman).

5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.1 Pemrakarsa 4.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .1 Latar Belakang 1.2 Tim Pelaksana Studi 4.2 Peraturan Perundang-undangan 1.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.3 Isu-isu Pokok 2.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.4 Biaya Studi 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. Kotak 4.2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.1 Metode Pengumpulan Data 3.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.4 Batas Wilayah Studi 2.

RKL.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL.08 Tahun 2000.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. RKL. Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran. 22 . RPL Penilaian ANDAL.

Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. Ringkasan Eksekutif. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan. 23 . maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Secara garis besar. Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa. Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. agar dapat dilaksanakan secara efisien.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL. Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder. 4. 4.3. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas. Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F. isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4.2. tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam.2.

Kotak 4.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi. terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan. Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G. 24 . meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat.

25 . Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. Kotak 4. c) meningkatkan dampak positif. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan.5. Bab V.4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I. Bab IX. Bab VIII. Bab II Bab III. Bab IV.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4. d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. Dalam pengertian tersebut.4. Bab VI. Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). b) mitigasi. Bab VII. sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan. Kotak 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL. Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi. b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting). Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 . Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F.6. yang ditandatangani di atas materai.

RKL. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 . seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa.2. Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. tapi cukup dengan UKL dan UPL. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai. Untuk keperluan penilaian tersebut. tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Apabila instansi yang bertanggungjawab. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL. Laporan ANDAL. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan.2. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. Instansi yang bertanggungjawab.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.5 4.

3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan.6. 28 . UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL. Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. Karena itu. pokok-pokok arahan. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL.3. AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah. Pada dasarnya. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan. tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan. 4. Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan.

RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. RKL dan RPL Penilaian ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran.5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran. diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran.RKL. 27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 .

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .

Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi.2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. dilengkapi dengan contoh. b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya. Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL. 31 . d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis.3. yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat. Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu). atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis. Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. Estetika lingkungan (lansekap). Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J.

Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Gambar 4. dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang.7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.

Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. baik dalam dokumen tender maupun kontrak. 4.3.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi.4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. 4.1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah.3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul.  Konsultasi masyarakat. mata 33 . Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.4.4. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.

4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan.4. status pemilikan tanah. 4. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya.6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. instansi pelaksananya. tingkat pendapatan. atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap.4. 4. Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. dan perempuan kepala keluarga 34 . jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. jenis dan umurnya). jenis penggunaan saat ini. orang lanjut usia. seperti penduduk sangat miskin. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. 4. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. kelas tanah. penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali. jarak ke tempat kerja. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. maupun penghuni tanpa izin (squatters). Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada). penggarap tanah. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. baik pemilik/penyewa tanah. dan status pemilikannya. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru.4. penyewa bangunan.

Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable). 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. Pemrakarsa harus membuat.4.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat. termasuk panitia pengadaan tanah setempat. berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan. 4.8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan. 5 5. dan jadwal penyediaannya. 4. menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait. 5.7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci.4.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 . Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.4. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota. sumber dananya.

Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab. Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu. yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya. Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL. Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4. lokakarya. b. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. d.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik.4 Sub b). 5.2. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL. Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. c. diskusi terfokus. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan. seminar. Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat.

b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai. Untuk keperluan itu. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL.4. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki. sebagai lampiran KA – ANDAL. dari komisi penilai.4 Dokumen AMDAL 5.2 Dokumen ANDAL. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut. 37 . pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL. RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan. 5. dari maka komisi pemrakarsa penilai.4. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. 5. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan. RKL.1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran.

instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL. Terhadap permohonan tersebut. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL. Untuk keperluan itu. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. RKL dan RPL Dokumen ANDAL. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL. 5. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki. maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. dari instansi yang bertanggungjawab. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab .4. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai. RKL.

5. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 5.27/1999. 39 . Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut. kesimpulan komisi penilai.27/1999).4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. Dalam hal ini. c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut. saran. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa. 5. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. pendapat.5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. semua dokumen AMDAL.4. PP N0.

dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL. 40 . perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek. pengadaan (reproduksi) data sekunder. Sekalipun demikian.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan. 6. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. pengadaan (reproduksi) data sekunder. Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum. perjalanan dinas. biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah). Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum. a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek. 6. sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus. kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut. dan perjalanan dinas. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL.komponen biaya personil (gaji upah).1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen . b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun.

operator computer. dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran). sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. citra satelit. dan laporan hasil survai / penelitian.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta. Jenis transportasi (pesawat terbang. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. mobil). Harga satuan tiap jenis transportasi. Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. data statistik. 41 . dan Harga satuan tiap jenis data. foto udara. kareta api. dsb). Lamanya perjalanan ke tiap lokasi. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah.

pembuatan laporan. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut. staf administrasi. Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. dan Biaya penugasan luar kota (out-of. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli. dsb).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6. juru gambar.25 pm. bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan. Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji. 42 . terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. operator computer. bahan (material) dan peralatan. sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 . dan presentasi. dan tenaga penunjang (surveyor.duty station). Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 . Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport. Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. fasilitas kantor. analisis laboratorium. Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah). perjalanan dinas. Dalam prakteknya.8 pm.

disket. yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. dan  penjilidan. mesin tik. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. yang di perkirakan berkisar antara 2 . Biaya Komunikasi (telepon. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap. Peralatan survai. Namun. 43 . 27/1999.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis. dan Komisi Penilai AMDAL. fax).4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis. di samping itu. mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail. f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor. tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). 6. biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa.4 person-month. Sewa kendaraan kerja. dan analisis kualitas udara. alat gambar dan sebagainya). Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. Office supply (kertas.

Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil.6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP). Petunjuk Operasional (PO). Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. 6. Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut. telpon. a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum. c) Biaya bahan dan peralatan survey. dan Lembaran Kerja (LK).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. dsb). dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. e) Biaya penyusunan laporan. Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan).5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan. b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. d) Biaya konsultasi masyarakat. 44 . Daftar Isian Proyek (DIP).

untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal. perencanaan teknis. dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat. Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. O l eh karen a i tu . e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. dan (v) INSTANSI LAINNYA. Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum. propinsi dan kabupaten / kota). (ii) BAPEDALDA. 7.1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an . konstruksi. 7. Karena itu. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. (iii) BAPPEDA. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 . (iv) MASYARAKAT. maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. Namun. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan.

7. d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota. dan pemerintah kabupaten / kota. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP).ANDAL).2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. dan pemerintah kabupaten / kota. c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat.PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). pemerintah provinsi. Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 . pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). pemerintah provinsi. Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan. pemerintah provinsi. dan pemerintah kabupaten / kota. Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit . Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten.

d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL). Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Bappeda pemerintah kota. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. 7. b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL. b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal. Masyarakat terasing.4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma. Bappeda pemerintah kabupaten. Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan. c) Menilai hasil studi ANDAL. kabupaten dan kota. Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi. kabupaten dan kota melalui peta padu serasi. standar. dan RPL. Tokoh-tokoh masyarakat. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. 7. 47 . RKL. Lembaga swadaya masyarakat (LSM).

dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan. kompensasi untuk tanah dan bangunan. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. ANDAL.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”. 7. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. yaitu: 48 . Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek.6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. Departemen Kelautan dan Perikanan. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Departemen atau Dinas Kehutanan. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota. 7. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah.

dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O. Pelaksanaan Studi AMDAL. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Penyusunan KA – ANDAL. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi. Penjabaran Hasil Studi ANDAL. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. 49 . 7. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan. RKL dan RPL. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat. berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi.

untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. melalui mekanisme kajian lingkungan. Perencanaan Pengadaan Tanah. Karena itu. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis. Untuk keperluan itu. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci. 8. yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini. Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. dan AMDAL atau UKL dan UPL. Identifikasi Kebutuhan Tanah. Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. koordinasi 50 .

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu. 51 .

(4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . BPN dan dari sumber lainnya 2)..… . (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . khususnya areal sensitive … . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. . 4).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan..

(7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. (10) 7).. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … ..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. 9).. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy.. (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).… .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .Ka Bapedal No. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No...08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.. Sosial) ... 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ...(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ... Dikbud. 8). (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep...

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … ... Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.......(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. RKL dan RPL 3). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). 2).(7) 1). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.

..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.teknis.... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. RKL dan RPL pada perenc.... RKL dan RPL … .. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.: median.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis... lansekap … … … . (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ...: penanganan utilitas yang terkena....... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ... (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5). Memberi masukan persyaratan Lingkungan ...... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan... Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … . Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder. khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan. tempat keramat. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .... Termasuk pola pelestarianaya 7)...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … ......... 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL.......(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).  Kehutanan tentang status hutan... 4)...... 6)..

.... (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … ... tapi cukup macadam .. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.2). Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait.10)..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … ...5). (10) 9).. (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … .4)..... (8) 8). (7) 3).6).. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … ... Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … .

. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2)... R P L . R K L...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..4). nilai lahan dll..... 9). (6) 3).… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … .. 8). 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .. Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan.(11) 7). 10. 5).… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif..

… … . Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2)......… … … . (apabila ada) mis : ANDAL.....5)...(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… .. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . mis : RKL.(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk. (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .4). RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan ...(12) Menetapkan Desain Jalan . dok.. apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan . (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.. 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3)..10). (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … ..9)..(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). … … . Dengan instansi terkait 14)..lingk.. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13).. dan wakil masyarakat terkena dampak 12).. dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8)..

PDAM. (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … .. bantuan pindahan.... (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . Listrik.(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… . 5). mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … .7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan... (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 ... Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2). (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … . bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . aparat desa atau kelurahan..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait. Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). LSM dan penduduk terkena dampak 3)...(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … .... (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi...4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll.(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . telpon.

.....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)........ peralatan dan bahan bangunan 2).(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ........ ..... 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11)..... Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6)....… .....(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … . Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ......(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … . 8). Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … .. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.... Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja...(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 .....

...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … ...... 5)............. Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … . metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai. PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis....(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ........... 8)....(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... (8) 4).. Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2)..… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah .. (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 ....... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara. dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan .... data sekunder (laporan harian kontraktor)... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ........

(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 . (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ...(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . … ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang ...(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ...

peran dan fungsi kota dll. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . kapasitas jalan yang dibutuhkan.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. kapasitas produksi. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . jenis penggunaan dan kepemilikan). 4). mis.… .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).

.. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing......(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ..... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..... ekonomik........(6) .. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. 5).. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … . sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ..... status kepemilikan dan kesediaan melepas..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7). 4)......

(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial .. ekonomis dan lingkungan.(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. (7) Memperkirakan dampak sosial … . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ... dll.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .5). (6) 1).. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).... Terhadap pengadaan tanah … .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.4). (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.(11) Menetapkan Rute Terpilih . Hasil Pra Kelayakan 2).Rute. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .

prakiraan nilai kekayaan. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah.. masa tinggal dll. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. luasan.kem bali.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . pelepasan hak.… … … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1).. … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. Termasuk rencana kerja. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. rehabilitasi pem uk. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. 3). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. dll. Lokasi di Peta. 6)..kem bali … … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . … .. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .

. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .P … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . (2) Berpartisipasi dalam musy. 13).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . khususnya panitia pengadaan tanah … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.... Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … .. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)..T . & menyepakati dlm mufakat khususnya P .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .… .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … ... Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6)..... (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .

. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). 4). 6).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 5).

(5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 5).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. 4).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 2). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . 7). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . … 7) 3).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 6). (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… ... Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.

.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. tata ruang. pelatihan untuk alih profesi … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . adat istiadat. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 . nilai kearifan lokal.(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.… .. LA R A P … … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .

d). e). PEMRAKARSA. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. para kepala Dinas di propinsi. c). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . d). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. b). c). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. e). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. 2. f). g). PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). MASYARAKAT. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. b). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. Badan Pertanahan Nasional (BPN). BAPPEDA. Penduduk terkena dampak. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a).

5. 3.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. 4. 2. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. 6. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Pemrakarsa. PEMRAKARSA. STAKEHOLDER LAINNYA. kapasitas produksi. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. 3. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. BAPPEDA.. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. misalnya sentra sentra produksi. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . kapasitas jalan yang dibutuhkan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. . Selanjutnya. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan.

5. UKL. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 3. PEMRAKARSA. peta quarry dll. 2. Selanjutnya. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 8. PEMRAKARSA. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. UPL. Selanjutnya. Masukan tersebut.. peta banjir. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. 6. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. PEMRAKARSA. BAPPEDA. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. MASYARAKAT. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. 7. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. 4.. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. menetapkan koridor jalan terpilih 2. 4. STAKEHOLDER LAINNYA. PEMRAKARSA. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan.

BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. 5. 10. 8. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3.. BAPPEDA. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. BAPPEDA. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. 11. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. 5. 9. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. MASYARAKAT. Atas dasar permintaan pemrakarsa. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. 7. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 6. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll.

4. 12. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1.. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. 7. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. 9. BAPPEDA. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. Panitia pengadaan tanah. 13. MASYARAKAT. mensosialisasikan konsep larap. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). (iv) tertanganinya masyarakat terasing. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. 6. BAPPEDA. 5. 8. 6. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. PEMRAKARSA. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. PEMRAKARSA. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. 10. Selama proses wawancana. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. MASYARAKAT. PEMRAKARSA. 11.

10. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. 7. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. 12. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. 8. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. BAPPEDA. STAKEHOLDER LAINNYA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. BAPEDALDA. BAPEDALDA.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. 6. 11. 7. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. BAPPEDA. BAPPEDA. 9. 5. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . 13. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. 3. 2. 14. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. 4. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. kartu penduduk dll. Selanjutnya.

memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. DINAS SOSIAL. BAPEDALDA. 4. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. mislanya karena kehilangan pelanggan. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. BAPPEDA. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). 10. 7. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. MASYARAKAT. 11. MASYARAKAT. evaluasi pelaksanaan 2. 6. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. 5. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. 8. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. 3. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . 9. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun.. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. BAPEDALDA. BAPPEDA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. 8. PEMRAKARSA. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. melakukan monitoring & evaluasi. Selanjutnya. 12.

memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. 7. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 8. PEMRAKARSA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Untuk itu. MASYARAKAT. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. PEMRAKARSA.. 4. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. BPN. 2. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. BAPEDALDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. PEMRAKARSA. 9. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. 5. 3. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Selanjutnya. BAPPEDA. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . penataan ruang. 6.

PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. b). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. BAPPEDA. b). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. 2. c). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . g). e).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. d). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. para kepala Dinas di propinsi. c). e). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Penduduk terkena dampak. f). proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). PEMRAKARSA. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. Badan Pertanahan Nasional (BPN). d). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. MASYARAKAT. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek.

Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. kapasitas jalan yang dibutuhkan. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. 5. MASYARAKAT. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. kapasitas produksi. 4. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. 6. 2. Selanjutnya. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. misalnya sentra sentra produksi. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 3. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . BAPPEDA. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan.. 3. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. . termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. biologi (flora dan fauna). (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . geologi /geographic..(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . nilai lahan.... yaitu mencakup faktor teknis. (7) Menyusun laporan PBME .. lingkungan dan sosekbud. kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang.. penggunaan lahan.. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. ekonomik/finansial.. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing.. dll … . pelatihan alih profesi.. ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 .. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan . (3) Memberi masukan aspek lingkungan ...

Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan. perencana lingkungan. yang membantu perencana jalan. lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak. 1. meliputi perencana kota. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat. prastudi kelayakan dan studi kelayakan. sosial-ekonomi dan lingkungan. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas. Biasanya.1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. dsb.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial. atau c) kombinasi dari keduanya. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. ahli ekonomi. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya. ahli geoteknik. Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik. 1. b) alinyemen yang sama sekali baru.2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis. Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. perencana lalulintas. Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial.

perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan. Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya. Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. khususnya areal sensitif. ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan. 2. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2).

budaya. kota besar. ditetapkan empat tipe kota. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah. air. Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. listrik. lokasi kegiatan komersial. Bagi keperluan perencanaan jalan. w arisan budaya. 2. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . visual. Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. Selain prasarana ciptaan manusia ini. Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. dan lokasi kegiatan kelembagaan. Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal. lokasi kegiatan industri. vegetasi dan perairan. karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota. tem pat tinggal. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. Namun. akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. kota sedang. institusi. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. dan kota kecil. industri. prasarana. kom ersial. telekomunikasi.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. yaitu topografi.

Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota. Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. kelapa dan kelapa sawit. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. Dengan demikian. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. Lain dari pada itu. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan. ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai. termasuk kualitas visual dan kualitas akustik. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. 2. Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif. Namun demikian. selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial. Namun demikian. yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. seperti keselamatan. serta perkebunan pohon buah-buahan. tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. karet. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan.

Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah. Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil.sawah beririgasi. • desa. Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. Pengembangan jalan dapat membelah properti. Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru. akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan. • rum ah -rumah terpencil. meningkatkan aspek-aspek keselamatan. misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas.1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 . jalan kereta api. Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai. . bakau. meliputi: • Lahan pertanian: .sungai. . Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute. 3. • nilai visual. Seperti telah dikemukakan di atas. Namun. merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik. . Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan. 3. meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar. • Lingkungan alam : . dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari. . bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti.perkebunan.lahan basah / rawa.sawah tadah hujan. Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan.tanaman lain. • kam pung.

kelapa dan kelapa sawit. Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan. dan kampung atau desa. Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). serta lahan perkebunan karet. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 . Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan.2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang. Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. 3. Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Secara umum.

) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi.1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif. opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4. meliputi kondisi topografi. Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. 4.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin. enjiniring.

 Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah.1.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah.000 untuk seluruh Indonesia.000 mahal harganya.000.000 ( Foto udara berskala 1 : 5. data lingkungan dan data sosial/budaya. Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci. Peta-peta topografi skala 1 : 25. roman-roman alami seperti gunung.000. dsb. Namun. elevasi. Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami. Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50. tutupan lahan. sungai. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia. Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan. selain menyajikan pula detail topografi. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25. meliputi:  Peta Topografi. liputan vegetasi dan pola hidrologi. Peta-peta skala 1:25. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual). Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 .1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional). Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS. rel kereta api.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan. seperti kondisi geologi.1. dsb. informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. yang diproses dari foto udara. bukit. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI. jaringan listrik.000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan. Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m. pada umumnya yang berskala 1 : 10. tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check). termasuk vegetasi dan hidrologu. 4. serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. atau lebih detail dengan skala 1 : 5.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 . tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif. Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek. Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan. dalam beberapa hal. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain. Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan. Namun.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan.

3) Bappeda. penduduk terkena dampak. dalam hal ini Dinas PU provinsi.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. 2) Bapedalda.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. B. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. B. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. Melakukan penyaringan lingkungan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. kabupaten/kota. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus. mencakup rencana lokasi proyek.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. panjang jalan dan tahun anggaran.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B. kabupaten/kota.2. 4) Masyarakat. 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. kabupaten/kota. dll. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan. 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan.

Bappeda. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250. biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. kawasan dan makam yang dikeramatkan.000). area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi.  Masukan dari stakeholder lainnya. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa. situs-situs purbakala.  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah). B. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan.2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda). terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif).  Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan. yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 . termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya. masyarakat (misal tokoh masyarakat). lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya.  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan. Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Bapedalda.2. dan stakeholder lainnya (misal BPN. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik.

2. khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain. Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan.3. B.  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada).1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas. dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP). Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik.3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan. kab/kota) serta penerapan peta padu serasi. khususnya areal sensitif. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan. Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov. Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B.3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas. Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi). Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 .2. B. B. UKL/UPL atau SOP). maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan.  Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan.

3. status lahan dan tata guna lahan).  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan. 2.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL. Desain wilayah (kota/perdesaan). terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan. lebar jalan. AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL). Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute). 3. 4.3.3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1.3. B.2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan. Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman. UKL/UPL B.  Panjang ruas jalan. antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan. lebar damija yang ada. Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan). yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 . yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini.1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat.3.

B. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT .  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor. Camat. termasuk tokoh LKMD. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN)..3. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan.2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.3. b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. Lurah/Kepala Desa. pendapat.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan.

c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 . termasuk klas jalan. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. B. termasuk tokoh LKMD.3.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. Camat. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan.. stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). Lurah. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Lurah.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana. Lurah/Kepala Desa. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. Bappeda. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan.3. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute.

dan (status lahan konservasi).5.3.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak..4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 .  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan. misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. B. termasuk tokoh LKMD. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah.3. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih. Camat.3.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B. B. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan.3.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah). kondisi prasarana dan sarana. Lurah/Kepala Desa. terutama dalam rencana pengadaan tanah. . terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. . B. masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan.

terutama dalam rencana pengadaan tanah.3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih. Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih. misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.4.4. status lahan dan tata guna lahan).4. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih. misal di Kantor Bappeda. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. kondisi prasarana dan sarana.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung). status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai. antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan. Menetapkan rute terpilih B. Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL). B. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 .Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih.2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan).

B. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL. misal di Kantor Bapedalda. RPL dalam perencanaan teknis jalan. Diskusi penjabaran RKL. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis. B. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. dokumen ANDAL.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan. B.5. akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 .4.5. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih.4. Membuat konsep LARAP. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL. antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL. Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan. a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B. RKL/RPL dari rute terpilih. RKL/RPL. Disamping pertimbangan aspek lingkungan.4. Dokumen ANDAL. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan. Menetapkan desain teknis jalan. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai.5.

dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan. memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi.5. LKMD. misal di Kantor pemrakarsa proyek. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat). RPL dalam perencanaan teknis jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. wakil masyarakat yang terkena dampak). a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis . Masyarakat (Kepala desa/lurah. RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak.2 Diskusi Penjabaran RKL.  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut. c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL. B. meminimalisasi. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak.5. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP. Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan.3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. baik berupa upaya pencegahan. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . B. misal di Kantor Bappeda.

dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 .  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah. B. lebar jalan. Bappeda. misal di Kantor Bappeda. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan).5. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. LKMD. dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan. lebar damija yang ada. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan. dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan.  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. wakil masyarakat yang terkena dampak).Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang.

Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi.  Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan. jumlah pemilik. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP. aset di atasnya. biologi dan sosial) yang terjadi. B. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota.  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan. persepsi.5.5. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut. B. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 . yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan.

jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL.4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung).3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1. C.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil. Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut. Karena itu. Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 . C. pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali. pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat. d) e) C.2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan).

Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas.000. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. Di kota besar / metropolitan : .000 – 500. 1.000 jiwa 100. Bangkitan lalu lintas. b.000 – 1.Panjang . > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. emisi yang tinggi.Panjang . Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan. dampak kebisingan. tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1. dampak kebisingan. dampak kebisingan.000 jiwa 500.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. emisi yang tinggi. getaran. emisi yang tinggi. getaran.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. gangguan visual dan dampak sosial.atau luas pengadaan tanah b. a.000 – 100. getaran.000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 . Pedesaan : .000 jiwa 20.atau luas pengadaan tanah c. gangguan visual dan dampak sosial. getaran. Di kota sedang : .17 Tahun 2001. getaran.

5.1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No.2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek. dan skala / besaran kegiatannya. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif. Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi. yaitu:  panjang ruas jalan (km). Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km . 3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . Penyusunan laporan hasil penyaringan. Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E.5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C. Di kota besar / metropolitan: b.5 ha 3 km . Pembangunan Jembatan a.1. 2. Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C.5.10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL. Jenis Proyek Besaran 1.  luas areal pengadaan tanah (ha). Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL.10 km 2 ha . b. Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a.5 km 2 ha .

atau berdekatan dengan kawasan lindung.  Lebar perkerasan. berbatasan langsung.5.  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan.1.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu. • Lebar badan jalan.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung. Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder. antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal).  Alat-alat berat yang diperlukan. Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui. dll). e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap.5. peninjauan lapangan tidak diperlukan. tercantum pada Kotak 1. c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C.  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan).  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota.1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam.3. berbatasan langsung dengan. Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.  Jenis lapis perkerasan. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu). pasir. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota. 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No.3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C. atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota. dan Pasal 37 Keputusan Presiden No.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada). C.  Peninjauan lapangan.

peta tanah. daerah deengan budaya masyarakat istimewa. 10. Daerah komersial. 15. peta penggunaan lahan. dan • pipa gas. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. peta geologi. Kawasan Rawan Bencana Alam. 3. dan foto udara (bila tersedia). Taman Nasional. 7. Taman Hutan Raya. dan Daerah Pengungsian Satwa). gugusan karang atau terumbu karang. • saluran air. Kawasan Bergambut. muara sungai. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). 12. wilayah pesisir. Hutan Wisata. Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 . Kawasan Sekitar Danau / Waduk. • kabel listrik. Kawasan Hutan Lindung. Bila perlu. Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. peninjauan lapangan akan sangat berguna.5. 5.3.2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). • pipa air. 6. c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi. • telepon. 2. • jalan kereta api.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. 13. Kawasan Resapan Air. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. perairan darat. 8. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). seperti: • jaringan jalan. 14. 11. Suaka Marga Satwa. 4. Sempadan Sungai. 9. Kotak 1 C. Sempadan Pantai.

konstruksi. seperti kegiatan pengangkutan material. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap. C. mulai dari tahap pra-konstruksi. Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 .5. kebisingan. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1. yang mungkin terkena dampak.1.5.3. dan • tempat ibadat. • rumah sakit.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara. dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C. misalnya kegiatan land clearing. menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk .3) .5.2 yang merupakan sumber dampak. (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik. merubah komposisi vegetasi. dan pasca konstruksi.5.5. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar. perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah. C. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya. pengoperasian base camp dan stone crusher. pencemaran air). diurut mulai dari tahap pra-konstruksi. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak. d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C.4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis. konstruksi dan pasca konstruksi. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL. Bila tidak. Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut. Jika memenuhi kriteria tersebut. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. makin mahal biayanya. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. komponen biaya terbesar adalah biaya personil. jika tidak memenuhi kriteria tersebut. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut. Pada umumnya. • peralatan dan material. Makin jauh jaraknya. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). Bila tidak. • analisis laboratorium (bila perlu). C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua. d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C. b) Secara garis besar.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli. Sebaliknya. tapi wajib menggunakan SOP.4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3.5. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL. • survai lapangan.5. c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Kalau tidak.

PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 . Penyusunan Laporan f) C.30 person-month (pm). atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL).Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 . pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan. Secara umum. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL. c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C. Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut.1. Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL. dengan biaya berkisar antara 5 .35 % dari total biaya proyek. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya. b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan). atau antara 0. wajib UKL dan UPL.10 % dari biaya persiapan proyek.8 pm.5. yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat.06 0.7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini. sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 . termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut.

atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. atau kumulatif dampak. Intensitas dampak I1 I2 5. tidak berbaliknya dampak. Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan. Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 . Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6. Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 . 7.

… … … … … … … . Daerah komersial c.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. km . c.. … … … … … … … … … … … … … … … … … ... Nama kota b. c. Areal pertanian produktif d. % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 . Eksisting 1) b... … … … … … … km a. LHR a.. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. DAMIJA Ekisting 1) b. Penggunaan lahan a. Luas areal pengadaan 9.. … … … … … … … … . … … … … … … … … . km . Jenis Program 8. … … … … … … … … … … … … … … … … … . % .. % . km .. Kabupaten c.. Propinsi 5.. Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a.. Rencana 10.m .m .m . Perkerasan Ekisting 1) d. kendaraan /hari b. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . d. Damija rencana c. Fisiografi a. Lebar Jalan a.m a. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B. b. km b. Lokasi a. Status Kota 6. … … … … … … … … … … … … … … … … … . Pekerasan rencana 4. c. Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . km a. … … … … … … … . Pemukiman padat b.. % ... Panjang Ruas Jalan 3. H a a. … … … … … … … … … … … … … … … … .. Tanah tidak stabil 2. b.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . d. Nama Rencana Kegiatan Proyek 2.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A. km (… (… (… (… … … … … … … … … . Berlereng curam (> 40 %) b.. RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1. b. Fungsi Jalan 7.

. .. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b. … … … … … . .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1. … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Jenis/nama kawasan lindung b. Wajib AMDAL 2. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E.. Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a. Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … . Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C. b. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . c. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c. Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p. Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a. Kawasan lindung a. 2. . . … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . D. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Wajib UKL dan UPL 3.... 3. ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1.

4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan. dll. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 . meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). misalnya Departemen/Dinas Kehutanan.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis.2. antara lain : sentra-sentra produksi. kapasitas produksi. 4) Masyarakat. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa. D. kabupaten/kota. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). 2) Bapedalda.1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini. 5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. peran dan fungsi kota. 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada). penduduk terkena dampak. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan. dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. 1) lahan di D. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. kabupaten/kota.2.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. kabupaten/kota. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya.1. 3) Bappeda.

 Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.000). dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai.2. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan. serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. kab/kota).1.  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. D. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan.1.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. orde penataan ruang.1.2. Kehutanan. D. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 .2.2. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. misal: skala 1 : 250. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan.000). potensi kapasitas produksi.2. D. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan.

Kehutanan. misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya.000). 2) Aspek pola kepemimpinan. D.2.2. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing. D.2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan. 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan. i. 3) Aspek orientasi budaya. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam. 2.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan. 4. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. kab/kota). berbatasan langsung dengan.2. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan. ii.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan). rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 . bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung. Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya. khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. 3. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya. atau berdekatan dengan kawasan lindung. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. antara lain sebagai berikut : 1.

3. serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada).000). Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan. 1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. 2) D.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.2 Konsultasi dengan Bapedalda.1. D. Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan.000 D. Masyarakat dan Stakeholder lainnya. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan. 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai . Bappeda. D.1.3. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda.1 Status lahan dan tataguna lahan.3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan.3. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 . Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan.3. Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. misal skala 1 : 100. dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. Bappeda dan masyarakat).

2. c.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D.2. 1) D. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk. Aspek kepemimpinan. serta pola penggunaan lahan. Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c. terutama kebutuhan pengadaan tanah.3. d.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 .1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi. Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif. Aspek budaya. Aspek kependudukan. 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D. Meminta masukan dai Bappeda tentang : a. sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif.3. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada). b. Aspek pertanahan masyarakat terasing.3. e. 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing. tentang (khusus pada masyarakat terasing): a. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah.

1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL. b.4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih. 2) D. dan (status lahan konservasi).4. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D. yakni : a. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute). 3. Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. antara lain meliputi dua hal tersebut di atas. b.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. terutama dalam rencana pengadaan tanah. Mencatat informasi mengenai tiap rute. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50. dll). 2. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih. jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. 4. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . kab/kota).000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. c.

4. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC. Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. d. 2. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder. paling tidak mencakup 4 hal. b.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1. c. e. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6.2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 . 7. D. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas. h. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. NJOP dan harga nyata tanah 1. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. f. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. g. Menuangkan dalam bentuk matriks.

penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan.4. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. (ii) tanah pengganti. status kepemilikan tanah. Bappeda. bersejarah dan tradisional. kolam /tambak ikan dan sebagainya.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. NJOP tanah dan harga nyata tanah. dan huruf (iv). Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. bengkel dan lain sebagainya). 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan. 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil. tanah ulayat dan sebagainya). 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. d. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen. g. e. k. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. sedang dan besar). Fluktuasi pendapatan akibat musim. Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. l. status bangunan dan tipe bangunan. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. dan sebagainya ). 3. 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. tanaman (umur setahun. gudang. tahunan. Luas bangunan yang akan dibebaskan. 5) Penduduk (pemilik. 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda. Stakeholder lainnya. semi permanen. macamnya (rumah tempat tingggal. Usulan tentang ganti kerugian. penyewa. Luas tanah yang akan dibebaskan. h. kantor. Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. huruf (ii). 2. Status kepemilikan tanah. tempat ibadah. meliputi : Tata guna tanah . Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis. i. 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. tempat usaha. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. Persepsi masyarakat terhadap proyek.3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. sebagai berikut: 1. f. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. darurat). Harga nyata tanah dan NJOP-nya. (iii)pemukiman kembali. Aset lainnya yang akan dibebaskan. kab/kota). c. an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. j.

5. disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan. D. 2. disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. ekonomis dan lingkungan.5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan. Uraian rencana pembangunan jalan.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat. Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1. D. Sosialisasi konsep LARAP D.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. 4. Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih).4. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 . Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda. yakni : a. setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan. kab/kota).4. 3. Melakukan konsultasi masyarakat. b. Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5.4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. dll). jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan. Melakukan survai sosial ekonomi.

paling tidak mencakup 4 hal. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan.5. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. Luas areal hutan f.2 Survai Sosial Ekonomi 1). PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 . yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi. Luas areal semak belukar g. untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. Luas areal ladang c.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. 1) D. antara lain sebagai berikut : a. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. Luas areal perkebunan e. Luas areal permukiman b. Luas areal persawahan d. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya. bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali. Jenis utilitas umum h. untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks.

yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang. D. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . NJOP tanah dan harga nyata tanah. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. tanah ulayat dan sebagainya). 5) Usulan tentang ganti kerugian. sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan. Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk.5. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek. 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. 7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut. status kepemilikan tanah. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru. Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali. Bappeda. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial. status bangunan dan tipe bangunan.3 Konsultasi dengan Bapedalda. Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer.

2.  Status penyelesaian. 4.  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3).  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No. 3.  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru.  Perkiraan biaya. Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja). PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 . jumlah bangunan.  Instansi penanggung jawab. D. Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan. lokasi di peta. Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait.5. jumlah tiang listrik dsb).  Biaya pelatihan alih profesi. luas. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain. prakiran nilai kekayaan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1.  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan. luasan. evaluasi dan rehabilitasi. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial). sarana dan prasarana.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan.  Sumber pendanaan. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut.4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK.  Alokasi anggaran.  Rencana penyelesaian.  Jadwal penyelesaian. masa tinggal dll.  Tindak lanjut. termasuk status sertifikat. 1/1994. pasal 45. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi.

peran dan fungsi kota dll.. serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . terasing… . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.. (6) . Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). .… … . 3). kapasitas produksi..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … .. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. kapasitas jalan yang dibutuhkan..(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy.… . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).

. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). terasing.Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.... ekonomik.. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. ekonomi... Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3). terasing pada Rencana Jaringan Jalan … . budaya . … … . 5).....(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . 4). ... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy...... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial...(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. (8) . 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).............

..(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy... terasing … ..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... terasing.....4).5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) . . ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute...... Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).... terasing... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy.

..... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). Termasuk rencana kerja.terasing tsb... kepemimpinan.. pembagian tugas 3). Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.. sistem dan nilai hak adat .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy..(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks...... Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy.. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. (11) . (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … ....... terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing . 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … ....… … … ... T indak … .. Renc.

Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. dll. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … . 3).(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ......(7) ........ 5).... lembaga adat ......(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan . Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). 4).... perbaikan permukiman tradisional... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . … … . rehabilitasi konservasi situs dll.… ....... Termasuk LSM..........

.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. 5).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … ... 4). (6) 3).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. 6).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg. (11) 8)..(12) . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya..

. Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing . 2). 5). Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME)...(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.(8) . Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis... penanganan masy . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3)... 6).. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. sosialekonomi... 4).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . budaya dan kelembagaan...terasing termasuk rehabilitasi … … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).

tata ruang nilai kearifan lokal. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . terasing … … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.. penanganan masy. (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … ..… . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . terasing yang lebih baik . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) ...

.

2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peran dan fungsi kota dll. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).… . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .. mis. kapasitas jalan yang dibutuhkan. kapasitas produksi.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait .. 4). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . jenis penggunaan dan kepemilikan). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

.Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ....... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)... 5)... 4).. status kepemilikan dan kesediaan melepas..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ..(6) .......... ekonomik..(8) . (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)......... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)...

dll.4).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. (7) Memperkirakan dampak sosial … .5).… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi...(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .. Hasil Pra Kelayakan 2). (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . ekonomis dan lingkungan.Rute.(11) Menetapkan Rute Terpilih . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)....Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial ... (12) . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. Terhadap pengadaan tanah … . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.

… . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . rehabilitasi pem uk. luasan. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. pelepasan hak. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). 3).. masa tinggal dll. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.. 6). (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk.… … … .(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . prakiraan nilai kekayaan..kem bali. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.kem bali … … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah.. Lokasi di Peta. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Termasuk rencana kerja.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). … . dll..

8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)..… ..(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. (2) Berpartisipasi dalam musy.P … … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . (4) KETERANGAN 1). khususnya panitia pengadaan tanah … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .. 13). Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. & menyepakati dlm mufakat khususnya P ... perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6)... (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .T ...

2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (5) Membantu sesuai keterkaitannya. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(12) .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 6).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … ...(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 4)..

(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . 5). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. 7). 4). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .. (8) . 2).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . 6).. sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . … 7) 3).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .… . adat istiadat. nilai kearifan lokal. LA R A P … … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . pelatihan untuk alih profesi … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .. tata ruang. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .

.

.Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . BPN dan dari sumber lainnya 2). .. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan ... Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.… ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. khususnya areal sensitive … ... 4). Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). . (6) .

8). (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .... Dikbud. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy..… ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai...(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .Ka Bapedal No. Sosial) .. (12) . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). (10) 7). ...Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. 9)..08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.... 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ...

(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. (9) . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). 2)...(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ... 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. RKL dan RPL 3).

(8) ..teknis. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.: penanganan utilitas yang terkena. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. RKL dan RPL pada perenc..… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain... lansekap … … … ...... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain...Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL... RKL dan RPL … ...(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL...: median....

.

Keputusan Kepala BAPEDAL No. E.ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 9 Tahun 2000.1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL. 69/PRT/1995). antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 40/KPTS/1997). maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 .3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL.2 Langkah .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E. Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0.langkah pelaksanaan Secara garis besar. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat. proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA . Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. 147/KPTS/1995).

dilengkapi peta dengan skala yang memadai.4.4 E. dan/atau media elektronik. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi.4.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota. Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. surat. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. E. Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan). • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. E.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Media pengumuman • E.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan.4. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab. E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi.4. Hasil pekerjaan. dan mereka memberikan saran. media cetak. pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.

dan Mengumumkan waktu.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran.6 E. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi.4. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1). komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. dan cara penanganannya. yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 .5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. E. jelas dan mudah dimengerti. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah).6. masyarakat menyampaikan aspirasi. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL.1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio. E. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. kapasitas dan lokasi kegiatan). kebutuhan. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan. E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). seminar. lokakarya. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2. Dalam proses ini.

Langkah pertama. jumlah sampel yang perlu diukur. b) evaluasi dampak besar dan penting. identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode. c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . antara lain metode matrik dan bagan alir.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. batas sosial dan batas adminsitratif. c) pemusatan dampak besar dan penting.6. batas ekologis. tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E.

RPL Penilaian ANDAL. RKL. RKL.08 Tahun 2000. Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 . RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL.

laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. baik dampak primer. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik. Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. cenderung makin besar pula dampaknya. misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi. kondisi biologi. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan. dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. jumlah tenaga kerja. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. bahan bangunan yang akan digunakan. Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu. Langkah kedua. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. Makin besar volume kegiatan proyek. Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. (lihat Tabel 1 dan 2). jenis limbah dsb. konstruksi dan pasca kontruksi). evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. perairan umum. c) peninjauan lapangan. lokasi quarry.

Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. 1. Pengoperasian jalan 2. 6. 5.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 2. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. Sosialisasi 4. 5. Survai & Pengukuran 2. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6. 6. PemancanganTiang Jembatan 9. 2. Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 .Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 7. 1. 8. Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. Pengelolaan Quarry 8. 2. Pembayaran ganti rugi 1. C. 3. 1. B. 2. 3. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 3. 4. 4. 7. 4.

6.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 3. Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. 8. 5. 2. 1. 1. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. B. 2. 4. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9. 2. 7. 5. 1. Survai & Pengukuran 2. Pengoperasian jembatan 2. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 7. C. 3. 2. 4. 6. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 . Pembuangan sisa bahan bangunan 10. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 4. 5. 3. Sosialisasi 4.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman. waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat). Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA. tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi.  Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor).3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran.  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. Di dalam batas ekologis ini. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman. E. kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material. proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar. industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. Sebagai contoh. kontruksi maupun operasi. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi.6. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . Bab 5 : Daftar Pustaka. Bila perlu. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya.7 E.2 di bawah ini.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan.7. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas. dengan memperhatikan keterbatasan dana. Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan.7. E. perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan. Karena batas proyek jalan cukup sempit. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan. diperlukan tenaga ahli hidrologi. Bab 3 : Metode Studi. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D. diperlukan tenaga ahli kehutanan. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. Bab 6 : Lampiran. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. E.6. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan. • Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung. diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi. Bab 4 : Pelaksanaan Studi.

(5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL.2 Rincian Materi dokumen E.3 Isu-isu Pokok 2.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 .7.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. (3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.4 Biaya Studi 4.2 Tim Pelaksana Studi 4.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.1 Metode Pengumpulan Data 3.1 Latar Belakang 1.2. (2) Maksud.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub .bab yaitu Latar Belakang.7. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan).5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.2 Peraturan Perundang-undangan 1. dan Tujuan dan Kegunaan Studi.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4. tujuan dan manfaat proyek.4 Batas Wilayah Studi 2.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4. (4) Status proyek saat ini.1 Pemrakarsa 4. Lokasi rencana kegiatan proyek. antara lain meliputi: (1).2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2. Peraturan Perundang-undangan.

rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 .7.2. Keputusan Menteri Kehutanan No. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut. perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E.7.3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL. E. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 . antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya.2.

• R ona lingkungan hidup aw al. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. 18) Keputusan Menteri Negara KLH No.2. E. 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2) Undang-undang No. 5) Undang-undang No. 10) Peraturan Pemerintah No. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 55/1993. 6) Undang-undang No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 7) Undang-undang No. 8) Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. • Isu -isu pokok. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. • B atas w ilayah studi. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 3) Undang-undang No. 9) Peraturan Pemerintah No. 19) Keputusan Kepala Bapedal No.7. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 . 11) Keppres No. 4) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kep.

Jenis perkerasan. tol). Status jalan (jalan nasional. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1. b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan. P anjang ruas jalan. Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan).3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1.1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya.3. perkerasan). Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel. Jenis program (pembangunan / peningkatan). d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif. propinsi.3. c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku. c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 . Lokasi proyek. G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan.2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). S tatus proyek saat ini. teknis dan ekonomis. Jadual pekerjaan konstruksi. kabupaten / kotamadya. Lebar jalan (Damija. 1. V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan.

Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 .pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. yang harus ditelaah oleh konsultan. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek. konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1). • peralatan yang digunakan. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya. Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar. • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini. koral. (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan). Tahap Pra . b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai. (2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan. dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya. pasir. • P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah.

budaya. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 . Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting. Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam. Untuk proyek jalan tertentu. (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri . d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut. penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat.kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. • K om ponen kingkungan biologi. jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. yang bersifat “site specific”. dan sedimentasi pada badan air setempat. dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik .ekonomi . longsor. mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi. seperti contoh berikut : (1). (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan. (2). Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan. • K om ponen lingkungan sosial . Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut.kimia. sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. (3).

Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Untuk pengumpulan data sekunder. agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut. E. b) Metode prakiraan dampak besar dan penting.2. c) Metode evaluasi dampak besar dan penting. gambar atau deskriptif. Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Untuk pengumpulan data primer.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan.5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). Sebagai contoh untuk pengukuran. grafik. e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 . waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai. agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data.7.

• Lansekap. sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. • B iologi. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya. • G eoteknik. dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar. • Teknik Lingkungan. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun. b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan.7.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. • S osial-budaya. • K esehatan M asyarakat.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No. Kep-056/1994. E. overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek.2. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan. Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik. bagan alir. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota. • S osial-ekonomi.

analisis lanoratorium. c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan . termasuk tahun anggarannya. perjalanan dinas. secara singkat dan jelas.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. peralatan dan material.2. d.kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. APBD atau Bantuan Luar Negeri.7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart. b. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut. c. E. d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN. Laporan Pra-Studi Kelayakan. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah). Peta Penggunaan lahan. • A nalisa Laboratorium . Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab. • P engum pulan D ata. Disamping itu. • P enyusunan Laporan. Laporan . Laporan Perencanaan Umum. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi.7. • P engolahan D ata. • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa. dsb.laporan lain yang relevan. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 . seperti : a. Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5.

Laporan ANDAL. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir). Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. Peta lokasi proyek secara makro. Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 .Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis. Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan.8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a.5.2.3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa. d. Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan. Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan. terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa. Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai. 5. dan tahun pembuatan / penerbitannya.5. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang. ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya.Ringkasan Eksekutif. b. E. .5 Pelaporan 5. 5.2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya. jadual studi ANDAL. . Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e.7.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis. c.5. penyusun / penerbit. . .Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL. Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait. yang terdiri dari : .

E. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. E. Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … . PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari). terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa.5.4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL.8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan.

RKL dan RPL Bidang Jalan F. Bab 3 : Metode Studi.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. (b). RKL/RPL F. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. pengamatan dan wawancara. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak.1. F. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP). sosial dan kesehatan masyarakat. Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL. biologi.3 Penyusunan Konsep ANDAL F.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. (a). RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 .2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai. serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi.1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia. Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak. F. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute.2. Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan.3.2.

1. terutama yang langsung terkena dampak. 2. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN . Bab 5 : Rona Lingkungan Awal. Bab 8 : Daftar Pustaka. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. dan wilayah studi.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. 1. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah.3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Peraturan perundang-undangan yang berlaku.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting. Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL). Bab 9 : Lampiran.3. Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak.3. F. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F.

2. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting. Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. dan rancang bangun teknis. maupun hingga kegiatan berakhir. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi. dan hasil pengamatan lapangan. bagan alir. metoda analisis atau alat yang digunakan. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks. 1. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup.1 b) di atas.3. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 . 2. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3.4. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL. meminimisasi.3.1 b) di atas. 3. Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data. serta metoda perumusan RKL dan RPL. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. 4. Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No. F. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai. b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen).3. metoda prakiraan dampak besar dan penting.

3. ekonomi dan institusi. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa. Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F.5.5.5. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 .1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya.5 Rencana Kegiatan F. F. 2. 1.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut.3. Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. yaitu lokasi dan luas areal proyek. 2. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. F.3. kabupaten/kota dan provinsi. kecamatan.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah.3. dan komponen kegiatan proyek. Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan.1. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan.

Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F.4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung.3. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a. dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi. konstruksi. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b.2. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan pasca konstruksi. Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2.5. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 .

Settlement. Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. F. Kualitas air permukaan. yaitu komponen geofisik-kimia. Tata guna lahan. Pendapatan penduduk.6. biologi. volume galian dan timbunan dll).3. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .3. Aliran air permukaan. Aliran air tanah. Pola penggunaan lahan. Erosi tanah. Keberatan pemilik lahan. F. Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya. F.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.  Biota air. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. sosial. Keresahan masyarakat. jenis peralatan yang digunakan. rute angkutan material. kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng. Estetika lingkungan F. Perekonomian lokal. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp. Sedimentasi.3. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk.6.1 Komponen Geofisik.3.6.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar. Prevalensi penyakit.

yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan. antara lain meliputi :  Kondisi jalan. F. b.3. 3) Mekanisme aliran dampak.  Kondisi lalu lintas. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting.8.7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi. dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya.  Kondisi utilitas.3. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL). RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 . F. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. d.3. konstruksi. c.3. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. e. F. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. 2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting.1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar.6.

10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak. F.8. F.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola.4. d) Diagram.1. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. grafik. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL. Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan. keputusan. F. peta. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus.4 Penyusunan Konsep RKL F. f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 .9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku.3.3. e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL. kualifikasi. b) Surat-surat tanda pengenal. F. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai.3.

3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. mengurangi.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah.4. ekonomi dan institusi. b) Pernyataan kebijakan lingkungan. F.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 . Bab 5 : Lampiran.  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol. akan ditempuh cara.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada.4. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. (a). Bab 4 : Daftar Pustaka. Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas. singkat dan jelas. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan. Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah. Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam.

d) Pengelolaan lingkungan. jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi. g) Pembiayaan.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak.  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak. misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup.  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. Dinas Pengairan. cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.4. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa. e) Lokasi pengelolaan lingkungan. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b). b) Tolok ukur. sosial ekonomi ataupun institusi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . berkepentingan. uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan. PLN (Persero). jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. (c). f) Periode pengelolaan lingkungan. uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. F. uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting. c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. Dinas Kehutanan.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang.

2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak. F. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. F. dll.5 Penyusunan Konsep RPL F. b) Uraian secara sistematis. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup. maupun bagi masyarakat. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa. rencana pengelolaan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak. Bab 3 : Daftar Pustaka.5. Bab 4 : Lampiran. lokasi.4.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau. sumber dampak. adalah penurunan sumur penduduk.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau.4. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan. tujuan pengelolaan lingkungan. Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.1. Contoh indikator muka air tanah. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi. pihak-pihak yang berkepentingan. Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan. F.5. singkat.5. b) Sumber dampak. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. tolok ukur.

6. lokasi. tujuan pemantauan lingkungan. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 . Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting. berkepentingan. F. metoda analisis).4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL.5. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak. c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya.6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F. b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL). h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. sumber dampak. pengawas. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. kimia.5. Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana. atau formulir isisan yang digunakan.5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau. dan institusi pemantauan lingkungan. e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data. F.

6.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F.3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. F.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai.1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan.4.2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F.6.6.6. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya. F.6.6. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 . F. F.6.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.

2. Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. G. Identifikasi dan penetapan parameter sosial.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a). yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya.1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. G. identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial.1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan. penetapan batas wilayah studi. 4. 299/11/1996. Ahli Transportasi. Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak. dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 . dan penilaian tingkat kepentingan parameter.2.2. 2. Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. G. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No. Ahli Sosial Ekonomi. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial. termasuk akses koridor. 3. 5. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya. (b). identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak.

dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis.  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 . batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA.  Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. setiap segmen dan sub segmen.  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. batas ekologis. berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana. dan borrow area (yang dikelola proyek). batas administratif. lokasi quarry. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. waktu dan tenaga yang tersedia).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas.  Melakukan pengamatan terhadap lokasi. dilakukan pembagian segmen.  Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. batas kawasan industri.  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis. Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Dalam proyek jalan. (c).3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak. wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen. rute pengangkutan material. batas sosial. kawasan pelabuhan/bandar udara. maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman).2. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen. Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi.  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau. lokasi basecamp. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. G.  Pada tahap awal. konstruksi dan operasi. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar.

meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b).1. Tahap konstruksi b. Tahap pasca konstruksi. meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 . mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b). Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e). Tahap pra konstruksi. Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a). Metode kerja. Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial.2.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya. antara lain sebagai berikut: (a). Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya. Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b. Kegiatan proyek. mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c). peralatan dan meterial yang digunakan (d).  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek.Tahapan Pelaksanaan Proyek.

2. dapat dilakukan dengan cara pembobotan. Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya.5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan. Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi. yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi.4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G.2. Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 . Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan. bukan pada dampak turunan. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga.1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a). Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. G. Melalui prinsip penghitungan yang sama. yakni: (a). Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak.2. perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua. tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. Skala bobot kepentingan dimaksud. Pembobotan oleh Ahli (b). Pelaksanaan penilaian/pembobotan. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner. (c). Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga. dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara. selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban. (b).

PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 .3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai. G. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan. jumlah sampel ditentukan. (b). apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut. Karenanya.3. analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan.3. Apabila dipilih cara ini. perlu dilakukan penelusuran tapak. dan keragaman tata guna lahan.3. Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian. tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden. maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel. salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol. G. Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut.1 Kerangka Proses G. Dengan cara tersebut. teknik penelusuran sampel. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga. batas wilayah administratif. Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel.3.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi. Untuk itu. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Pemilihan sampel representatif. G. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan.4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a).

Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini. Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban. Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). atau pun jenis pekerjaan.d. Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang. (f). Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. (g). semi-permanen. Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek. 50 meter. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner. Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). dan non permanen. dan responden dihadapkan pada pilihan opini. seperti kondisi permukiman permanen. (e). Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c). Muatannya berupa data hasil wawancara. Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen. Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden.

1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 . Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara. dan persepsi terhadap kondisi eksisting. Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G.4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan.3. Kuesioner tersebut memuat data pokok. serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. (c). Pada prinsipnya. Selanjutnya. serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden). Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek. Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian. Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri.5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS). persepsi tingkat kepentingan parameter. Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor. G. responden diminta untuk menilai kondisi eksisting. akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA). untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan.4. Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial. (b). berupa identitas responden. Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas. atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri.

(c). dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. baik berupa baku mutu.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). antara lain : 1. 3.2 Komponen Analisis (a). (b). dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi. Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan.4. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 . Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku. Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur. antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum). mobilisasi dan pembebasan lahan. Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Untuk kepentingan analisis ini. Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. 2. Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali. peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif. Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek). Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter.

Jadi. (d). Pada komponen lain. Pada komponen sosial. Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak.5. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 . Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden. Pada proses analisis. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur. yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak.2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw. Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi. RDDL = SDD/DDLSaw G. konstruksi. yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan. intensitas dampak sulit diukur secara langsung.1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS). Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum. Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak. G. Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden. dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi).5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw). Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan.5. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL). Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. terdapat 2 (dua) terminologi kunci. RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana. dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat. nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia. Karena itu.

Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. (c). Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama. maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak. Secara konsep. digunakan Keputusan Ketua Bappedal No. Selanjutnya.  Dampak dikatakan besar. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak. maupun pasca konstruksi. maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan.5.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan. artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). maka suatu dampak tergolong kategori penting. baik pada saat pra-konstruksi. apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi. Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini. Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang. G. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan. Demikian pula dengan populasi. Kep-056/1994. yakni :  Dampak dikatakan kecil. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya. masa konstruksi.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. Mitigasi dilaksanakan secara teknologi. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 . Dengan demikian. mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama. (d). sistem atau pun penggabungan dari keduanya. Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki. Untuk memilih prioritas mitigasi.

terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat. Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum .CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat. terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru.

Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd.  Keluhan thd.Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi . kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .

tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan . sekolah.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon. rumah sakit. tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman.

.

peta geologi. rangkuman hasil konsultasi mayarakat. peta topografi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H.1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL.1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti.2 Penilaian Isi Dokumen H. beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL.2. H. dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek. dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).2. peta tata guna lahan. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 . c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). peta batas wilayah studi. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).2. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan.2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal. regional maupun nasional. dsb.2. H. peta lokasi proyek. antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan.

Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting.4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan. Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek. batas ekologis. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat. matrik.  Tahap konstruksi. yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya.2.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. meliputi:  Tahap pra konstruksi.  Tahap pasca konstruksi. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan.2.  Data sekunder: jenis dan sumber data. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur. misalnya galian dan timbunan tanah. biologi dan sosial-ekonomi dan budaya.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji.2. misalnya pengadaan tanah.2. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor). 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . analog.2. dll. b) c) d) H. Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia.3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi. batas sosial maupun batas administrasi.2. Penggunaan model matematis.

1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. RKL dan RPL.6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan.  Berpengalaman memimpin tim studi.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah. H.2.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H. d) e) H. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL.2. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 . daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya).5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan. dsb). b) metode-metode yang digunakan. keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah. Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok. Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL. RPL. atau bantuan luar negeri).  Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi. swasta.  Sumber dana (APBN. Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL.2. APBD.2. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi.3. c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan. H. hasil konsultasi dengan instansi terkait. yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab. hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial. Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi.

dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi.3.3.  dll. konstruksi.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting.3.2 Penilaian Isi Dokumen H. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 .  baku mutu lingkungan.2. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL.  pertanahan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. H. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek.1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.2.2. antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan. harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis. atau profesioanal judgement. dan pasca konstruksi). b) H. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan. wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai. jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya. analog.  data sekunder: jenis dan sumber data.3. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi.3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi.

seperti peta tata ruang.3. d) Data teknis jalan yang akan dibangun. H. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek. konstruksi dan pasca konstruksi). Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan. rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek.4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen. lokasi quarry. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya. e) H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area). biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. alinyemen jalan.  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan. c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi. serta lokasi pengambilan. atau adanya kawasan yang dilindungi.3. wilayah studi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi.  Jumlah.2. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah. peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis. b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan.2.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah.

3. (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial.  Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala. H. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan.2. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. agar dikaji secara deskriptif analitis.2. (3) dan (4) yang telah diuraikan. c) d) H.3. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial. (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri. (5) Dampak penting pada butir (1).  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif.3. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku. seperti pergeseran tata nilai. (2). selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek. dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi.7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas.6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting.2. yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris.

pendapat dan tanggapan masyarakat. Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak. Pendekatan estetika. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 . H.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL. yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi.2. Cara-cara dan hasil perhitungan.4. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi. Daftar biodata tim penyusun AMDAL. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif. Pendekatan institusi. Pendekatan sosial-ekonomi. Metode-metode yang dugunakan.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek. H. Saran. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya.3.  Betujuan untuk menanggulangi. H.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting.  Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif. hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek.4.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif.

metode dan teknik pengelolaan lingkungan.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan. lokasi pengelolaan lingkungan.4.4. rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP).4. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak.4. tolok ukur / parameter dampak.5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. pembiayaan dan sumber biaya. periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan. kriteria desain.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H.4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design). H. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL. keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL. H.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 . tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. dan  pelaporan. H. misalnya konsultasi masyarakat.5. sumber dampak. H.

 pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium.5. kamera video. H. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain. dan  Pelaporan.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ). H.  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL.5. Lokasi pemantauan lingkungan. H.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL.  inspeksi mendadak. Metode dan teknik pemantauan lingkungan. Sumber dampak.  Pengawasan pelaksanaan RPL.  wawancara.5.  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera.3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau. Tolok ukur / parameter dampak. misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan.5. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 .Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan. Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan.2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat. dsb). f) g) h) H. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL.

PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 . Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi.6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.

sesuai dengan laporan hasil penyaringan.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada. Untuk proyek pembangunan jalan baru. sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin. Untuk proyek peningkatan jalan.2. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.1. I.1.1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah. panjang ruas jalan. mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan.1. Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi.2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I. I. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi.1. Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. lebar rencana damija.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan.1 I. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 .2.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. tujuan pembangunan / peningkatan jalan.

2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan. Panjang dan lebar jembatan.1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I.2.1. pot / bak tanaman.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait.1.2 I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I.2. Kecepatan rata-rata (rencana). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 . fasilitas penerangan jalan. dsb.1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran. halte bus. Konstruksi jembatan. gambar profil melintang dan memanjang. meliputi:           panjang jalan. I. jembatan penyeberangan trotoar. LHR rata-rata (rencana). I. meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman. lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan.1.2.

barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya.2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah. I. I. I. pekerjaan tanah (galian / timbunan). truk.4 I. 2.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek.2.2. excavator. saluran irigasi.2. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja. perkerasan dll. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer.1. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan. dll yang dibutuhkan. pekerjaan jembatan. jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan). I. yang perlu direlokasi (bila ada). Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi.2. status pemilikannya. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 . serta jenis penggunaannya saat ini. gorong-gorong. Apabila diperlukan pengadaan tanah.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. misalnya tahap studi kelayakan. Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain.2.4.4. antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak.

Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course).2. lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. khusus untuk penggantian jembatan) I. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. dsb. dsb. drainase. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek. e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. abutement. Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya. batu. serta galian dan timbunan tanah. Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai.4.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas. Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping). Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong. aspal. piers. dan cara pengelolaan limbah. Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan.

Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek. pegunungan.5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. Jadual pelaksanaan konstruksi I. perbukitan. Sebagai contoh.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun. apakah daerahnya merupakan dataran rendah. b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat. Nitrogen oksida (NO).3. I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 . bergelombang. Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang. Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut.1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO). Jika ada. I. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada). serta partikulat debu. dataran tinggi. Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat. hidrocarbon (CH). agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini.3 I.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan.2. pemeliharaan rambu lalu lintas. b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan. atau daerah pantai. sebelum penyerahan pekerjaan.2.

I. dsb. Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata. f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan. Bentang alam yang bersifat khas.3. Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala. Komponen biologi I. Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir. Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan. d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor). danau. perkantoran.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan. saluran irigasi.3. tempat ibadat serta pemukiman padat. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . taman. sekolah. Areal binaan seperti pemukiman.

Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas..5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan. volume lalu lintas kendaraan bermotor. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan.  Sekolah. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. serta waktu tempuh pengguna jalan. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. rambu-rambu lalu lintas. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek. pertokoan. persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan. pasar. telepon.3.3. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase. pipa gas. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan. dsb. gorong-gorong. I. dsb. sarana ibadah.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 . I. agar dijelaskan kondisi jalan saat studi. terutama penduduk yang akan terkena dampak. d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan. dan sebutkan faktor penyebabnya.  Jaringan listrik.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu.

Perubahan tata guna lahan. Kerusakan jalan akibat transportasi material.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. I. kehilangan tempat usaha. I. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek. Kecelakaan lalu lintas. Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat.5 I.1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul. Gangguan kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan.4. Gangguan kesehatan masyarakat.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas. Tahap pasca konstruksi I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I.  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek.4.5. Keresahan masyarakat dan konflik sosial.4. Gangguan aliran permukaan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 . Penurunan populasi vegetasi. Kecelakaan lalu lintas. Penurunan estetika lingkungan.4 I. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor).

meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya. Bila perlu.6. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. misalnya selama satu bulan. faktor lingkungan yang akan dipantau. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 .5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan. berikan penjelasan secara jelas dan tepat.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi.5. misalnya galian tanah 300. I. I.6 I. dan periode pemantauan.5.5. dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi. misalnya pada km berapa. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab. tolok ukur dampak.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya. misalnya kerusakan badan jalan.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. lokasi pemantauan.5. Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa. I. nama desa dan kecamatan.000 m3.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati. serta petunjuk lainnya. keresahan masyarakat atau pencemaran udara. Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya. I.

Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu. I. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 ..6. kecamatan. mulai tahap pra-konstruksi. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan. konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi. Jenis dampak.2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak. Indikator dampak.6. Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek.6. I. nama desa.: a) b) c) d) Sunber dampak. I. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat.6.3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau. Upaya pemantauan Sumber dampak I. misalnya pada km berapa.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan . demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb.

Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu. misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait.9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9. disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan.8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai).1 dan Tabel 9.7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 . Di samping itu.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup. I. I.2). I.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .

2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL. RKL dan RPL. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2. c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain. b) Peninjauan lapangan. periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 . Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J. apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. J. ANDAL.

Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. Lampiran. Pendahuluan. Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. Rencana Kegiatan • Bab II. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Daftar Pustaka. Bab III. atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan. Bila perlu. • Bab III. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . Bab I. Bab II. terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL.

Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat. meliputi pelaksana. contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. Periode pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. Institusi pengelolaan lingkungan hidup. pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). Tolok ukur dampak. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. b) Pendekatan sosial ekonomi.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 . misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait. bersifat meningkatkan dampak positif. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia. meminimisasi. pengawas. dan Layak ekonomi. c) Pendekatan institusi. Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. atau mengendalikan dampak negatif. dan penerima laporan. Sumber dampak yang perlu ditangani. yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak. a) Pendekatan teknologi. bertujuan untuk menanggulangi. Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat. Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. d) Pendekatan estetika.

4 K. rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu. yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1). Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Di depan sekolah pada Km 3 + 210. • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki. • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor.4. Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor. (panjang 15 m). Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . peralatan. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan).1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi. Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga. DLLAJ J. Bapedalda. agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). dan upah). untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi).

dsb. tikungan tajam.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. lokasi jembatan atau gorong-gorong. • Penataan lansekap di lokasi tertentu. tepi timbunan badan jalan yang tinggi. di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam. atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2). Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 .  Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3). untuk mengatasi gangguan visual (estetika).

J. K. sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN .Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong). biologi dan sosial. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air.2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15. Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia.4. Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500.000). Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas.5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah.

cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. borrow area dan disposal area. Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas).6. Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek). Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas). Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi. hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. J. Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak.  Apa yang harus dilaksanakan. debu. Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan.1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. setelah pekerjaan konstruksi selesai.6 J. kecelakaan lalu lintas). Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora). kemacetan lalu lintas.6. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. Pengoperasian base camp (penanganan limbah). sesuai dengan fungsinya. kerusakan badan jalan. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. Pengamanan / reklamasi bekas quarry. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 . Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak. Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk. dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi. baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3). .2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. J.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan. kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material.  Siapa yang bertanggungjawab.. effluen limbah cair dari base camp. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).6.  Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya. erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah. Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan. akibat pekerjaan galian tanah. • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 . J.3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. jaringan telepon/ listrik. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik. Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase. kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material. dll. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek.

Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. 2) Selama pekerjaan mobilisasi. kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. 5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Pada saat penyelesaian pekerjaan. atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan. sampah dan segala macam pekerjaan sementara. dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya. sisa bahan. mata uang. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. benda berharga atau kuno. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. Kontraktor harus berusaha memilih rute. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi. 4) Semua benda peninggalan purbakala. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan. dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan. Lansekap pantai. Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan. Lansekap jalan yang baik.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. semak. dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. jembatan. stimulasi dan penyegaran. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik. underpass. Lansekap pedesaan. Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan. secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. subway dan simpang susun.1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K. trotoar. Lansekap perkotaaan. serta sepanjang koridor jalan. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. overpass. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. ekologis dan visual. Lansekap jalan.1). yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari. Di daerah perkotaan. Gambar 1. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan.

K. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami. seperti hutan. perkotaan dan perdesaan di Indonesia. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a. Di daerah alami. Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan. gedung. Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam. Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap. demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat. termasuk modifikasi lingkungan alami. berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota. c. fauna. kondisi tanah. b. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut. pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual.2 Gambaran umum lansekap jalan K.2. Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia. dan topografi.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya. hidrologi.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas.

air (PAM). perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap. telepon. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil. termasuk listrik (PLN). pengendara motor dan / atau pejalan kaki. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim. penumpang kendaraan umum.        PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 .  Dalam beberapa keadaan. Jalan kota penting bagi kita. serta meningkatkan peluang untuk pemandangan. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi. dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual. K. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi.2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota. Dalam proses perencanaan jalan kota. serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. Jalan kota menyediakan jalur utilitas. saat kita berkeliling kota.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain. umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran.  Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi. Untuk mencapai hasil terbaik.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan. macet atau berhenti.  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap. seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan. warung atau kaki lima.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. Lanseap jalan kota penting dari segi visual.2. dan gas. nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan. khususnya jika lalu lintas bergerak lambat. Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita.

K.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi. provinsi. kabupaten / kota.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut. lingkungan. Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan. d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 .2. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial .  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan.3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K.  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki. lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan. sosial. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan.2.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan. keindahan.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik. warung. dan arteri. kolektor dan lokal. c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik. Pergerakan pejalan kaki.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon. perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 . Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3.

perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6.  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 . Pembatas Pandang  Tanaman pohon. Pemecah Angin  Tanaman pohon.

5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 .Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8. Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.

1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama. Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat.2 L.000 atau 1 : 5. LK. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED).000 dan data status kepemilikannya.1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah. Peta persil tanah skala 1 : 1. Penyusunan dokumen RK-PTPKP. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan.000 atau 1 : 2. Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis. dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500.1.000). khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara).2. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan.000 atau 1 : 5.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L. L. yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali.1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan. Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan.2. Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan.000. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1. Disamping itu. data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer.

Jumlah dan dimensi/ukuran.1. bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan. dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya. e) L. pemilik. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja. Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. nama pemilik. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah. Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek. a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas. meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 . maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. Koordinasi/Konsultasi L.2. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada.2. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek. kategori. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali. atau Proyek Pembebasan Tanah. Jumlah dan dimensi/ukuran. status hak dan jenis penggunaannya. kategori. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. pemilik.

dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP). perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. dll. prosedur pengadaan tanah. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan. pendidikan. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). Sarana dan prasarana umum yang tersedia. status penguasaan dan pola penggunaan tanah. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Pemda dan instansi terkait tersebut. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Kepemilikan. Kantor K elurahan. Dinas Perumahan.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. Kebijakan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. Kantor Kecamatan. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan.3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah. perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya.2.  Struktur penduduk. meliputi :  Jumlah PTP. meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya. termasuk ganti rugi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 . Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek. Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah. L. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah. Instansi terkait lainnya. kesiapan program. pendapatan dan pekerjaan.

survai sosial ekonomi. Jaringan sosial dan organisasi sosial. Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia. perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP. Pelaksanaan Pengumpulan Data L. Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan. Reaksi terhadap pemukim baru. pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. Sistem dan perilaku sosial budaya. pola penguasaan dan penggunaan lahan.3. dan survai lokasi pemukiman kembali. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. Organisasi dan kebutuhan masyarakat.3. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali. Jaringan sosial dan organisasi sosial. L. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek.2.3. L. orang yang berhak). Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa. Menetapkan tanggal pendataan PTP.3 L. Persepsi PTP terhadap proyek. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP. luas tanah. meliputi :           Karakteristik lokasi.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. Komposisi demografi dan sosial budaya. keluarga.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. Kepemilikan. kerugian yang layak diganti rugi. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya.

kondisi topografi. Kelurahan. a. dan survai inventarisasi. Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota). dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota). Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. serta dari wakilwakil PTP. petugas sensus dari kantor BPS.000). LSM) yang dilatih terlebih dahulu. serta kepemilikan dan status penguasaan lahan. serta tokoh masyarakat. Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. tokoh partai politik.  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0).2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi.  Sebelum pengukuran situasi. dan (ii) survai sosial ekonomi. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner. RW/RT.1. survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan).2. pengukuran. dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan. dilakukan pendataan persil tanah. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata.3.2. Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan). RW/RT setempat. yakni : survai lahan. a. L.3. Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama. penyuluh KB. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan. penyelidikan riwayat.2. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1. penguasaan dan penggunaan tanah.3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 . Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa.  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah. pengamatan (penaksiran). b) c) L.

prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 . serta pendidikan. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran. d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek. dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa.  jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu. peribadatan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan.  jumlah anak sekolah yang harus pindah. L.  prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah. Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik. Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat. a. fasilitas pendidikan. penyuluh KB.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian.  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula.4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. kesehatan. pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan. (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci. jaringan air bersih. Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga). Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan. staf Dinas Sosial kab/kota. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat.  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan). b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi.3.  H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal).

perencanaan pemukiman kembali. air bersih. pasar. olah raga. n) Terganggunya kegiatan pendidikan. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. dll). Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian. telepon. bangunan MCK. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. air bersih PDAM. terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 . Pilihan bentuk ganti kerugian. dan jumlah PTP. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal. termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana. bangsal. pelayanan kesehatan. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja. L. kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek.6.6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian. gas. simbol atau tempat keramat lainnya. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. Tingkat dan besaran ganti kerugian. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. jenis dampak/kerugian. fasilitas peribadatan. telepon. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan.

Tanah yang dikuasai tanpa alas hak. Bangunan.3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L.6. Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.6. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi. saling membantu pada saat kesulitan. antara lain: anak (murid) sekolah.  Lahan usaha pertanian. gotong royong. Kriteria tanah. dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan.  Aset sosial-budaya lainnya. Tanah Negara. o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). (misalnya. Tanah wakaf. pengontrak/sewa (tanah dan bangunan).3. Tanaman. yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah. baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat.6.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali). o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0. antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. L. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 .1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK). Tanah ulayat.  Keterikatan sosial dengan lokasi asal. sebagai berikut :  Tanah perumahan.2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No. nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial). antara lain meliputi :         b) Tanah hak. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi.

atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan.  Belum bersetifikat dinilai 90 %. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 . Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %.  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan.  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. (c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %. Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan. kondisi kebun dan produktivitas tanaman.  Aspirasi warga. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik.  Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum.  SK Bupati/Walikota. dengan ketentuan sebagai berikut : (a).  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan.  Harga pasar.  Sudah berakhir dinilai 60 %.  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli. Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya. Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %. adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi.  Harga sejenis. dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak).  Sudah berakhir dinilai 60 %.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah. Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %.

atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK. Selanjutnya. Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya. 48 tahun 1994. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). (e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara. b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya. b. c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB).  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. tanpa memperhitungkan depresiasi. dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya.  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %. 10 .

dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan. berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN).6. dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi. a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. manfaat/kepentingan. dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut.  Bantuan biaya pindah yang layak.3.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 .  Aspirasi warga L. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan. Selanjutnya. pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan). kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut. dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI.  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya. Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud. penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak.

diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya). khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan. selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan. Dampak ini akan timbul.  Bantuan pindah. diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 .5 Km. dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan. Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan.  Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun.  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km.  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini. diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan).  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK.  Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK.

Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. dan apabila diperlukan. Bangunan pengganti. Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan).4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. b) Bangunan. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi. dan sebagainya. Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali. c) Tanaman. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya. L. kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Tanah pengganti. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan. Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya.7. harus disiapkan paket program persiapan sosiaK.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan. Pemilihan/penentuan lokasi. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah. Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Menentukan kategori pemukiman kembali.6. Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut. mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah.1 Berdasarkan Keppres RI No.

Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya.12.25 Ha. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB). sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas. hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”. Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah). Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No. maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4.2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali. Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2.7. serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas.12. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha. Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 .

misalnya yang paling miskin. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 . rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. langkah pemulihan taraf hiduK. pemulihan pendapatan. tempat. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. masyarakat terpencil.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. struktur masyarakat. Ganti rugi dengan nilai penggantian. Penggantian kalau bisa. langkah pemulihan taraf hiduK. Ganti rugi dengan nilai penggantian. PTP adalah penduduk asli atau rentan. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK. masyarakat terpencil. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. penggembala. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. tempat. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. misalnya yang paling miskin. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. struktur masyarakat. dan penggembala. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. langkah pemulihan pendapatan. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. Penggantian kalau bisa. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan.

Relokasi Setempat. b). lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. c). Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan). dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan . mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa. pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya. Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. Relokasi Mandiri. khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya.7.3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. Khusus untuk daerah perkotaan. budaya dan ekonomi.3. Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. sosial. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik. antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri. (ii) Relokasi setempat. harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 .1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi). didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Namun demikian. L. B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi. meskipun jumlah PTP relatif banyak.7. (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun). a). Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi. jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek. kepadatan penduduk rendah.

Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”. air bersih. Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK). Jika PTP yang terpindahkan sedikit. perumahan dibangun di lokasi baru. fasilitas kredit kepemilikan rumah). saluran drainase. fasilitas KPR-BTN). serta harganya terjangkau (misalnya. fasilitas umum). meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi. Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan. 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. sambungan listrik. jalan. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru. dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan.7.3. kepadatan penduduk rendah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan. Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka. 20 tahun).4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. a). antara lain : (i) Perumahan. dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru. (iii) Kaveling siap bangun (KSB).7. b). Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. (ii) Rumah susun. perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru. jalan. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan. fasilitas KPR) L. sambungan listrik. c).2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya. Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan. fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya. Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK. L.

penggunaan sumber daya milik umum. serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK).  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk. (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan. atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya. daya tampung lokasi/ kawasan. harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 . (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian.. peribadatan. sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi.7. seperti :  Penyediaan air bersih. sosial. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama. prasarana sosial.5 Perancangan Permukiman. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai. tempat usaha.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan. pasar. seperti fasilitas pendidikan. (b) Ketersediaan lahan. Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan.  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan. Perancangan struktur permukiman. (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja.  Fasilitas umum. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat.  Sambungan listrik (dan komunikasi). dan pusat perekonomian). tempat ibadah. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat. komposisi penduduk). dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan. Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. L. budaya dan ekonomi). fasilitas pendidikan. luas dan bentuk lahan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi. olah raga. (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik.

keterampilan. orang-orang cacat. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. mata pencaharian. yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP. b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. kaum perempuan. bantuan pendidikan anak sekolah. umur. khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. pengusaha. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek. mata pencaharian. pilihan). khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin.  Bantuan pembangunan rumah. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. pendapatan. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan. Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. Kemudahan transportasi angkutan umum. L. yakni PTP yang terpindahkan. bangunan. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi.  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti. besarnya keluarga. Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. preferensi. besarnya keluarga. preferensi. serta analisis kelayakan dan finansiaK. kelompok paling miskin). pendidikan. tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . tunjangan biaya hidup.  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha.8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. kelompok usia lanjut. pendidikan.  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. pendapatan. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). umur. bantuan pindahan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah. dan PTP yang tergolong kelompok rentan. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan. pilihan). keterampilan. dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi.

Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan.9. L. penyiapan lahan pengganti.1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri.9 L. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya. pekerjaan. frekuensi.  Paket rehabilitasi lingkungan. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan. Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 . dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali. Strategi pembinaan jangka panjang . serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai. instansi pelaksana. pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan. termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis. mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. regional atau nasionaK. serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya.

khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 . dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). jenis aset terkena proyek. c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP. Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive). b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. serta bentuk dan nilai ganti kerugian. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat. atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. khususnya pada lokasi bersangkutan. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol. d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung. sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini. Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi. Rapat pertemuan dengan masyarakat.

pemukiman kembali dan pembinaan. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. tahunan dan laporan akhir kegiatan. mingguan/dwi mingguan. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). Namun demikian. Persyaratan personil pelaksana. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi. penyusunan laporan. pengendalian. bulanan. verifikasi. termasuk pengumpulan dan analisis data. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. koordinasi dengan instansi terkait. Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan. untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. khususnya dalam rangka sinkronisasi program. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. triwulan. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan. pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. Kemudian. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 .

Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. wawancara bebas dengan renponden kunci. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. serta rencana untuk triwulan berikutnya. realisasi penyerapan dan alokasi anggaran. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan. dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. L. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa. Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP. Tingkat kepuasan PTP. Pemulihan taraf hidup. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Efektivitas perencanaan.. Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP. Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan. e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran.9. rapat/pertemuan dengan PTP).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian.

dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK. maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. Persyaratan pelaporan. Partisipasi stakeholder primer. komparasi dan analisis. Metodologi secara rinci. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . atau LSM. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. pertanahan. Sumber daya yang dibutuhkan. pengendalian mutu. Kerangka waktu. dengan mengacu pada RKPTPKP. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. pemukiman kembali dan pembinaan. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah. kerangka pengambilan sampel. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). universitas. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah. efektivitas. biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. updating. Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. sosial ekonomi/koperasi. Menilai efisiensi. dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang. pemukiman kembali. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. konsultan. pemukiman kembali dan pembinaan. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan.

dan monitoring dan evaluasi. Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi. L. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K.10.10.9.5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan). Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi. Penyiapan program dan anggaran. pemukiman kembali.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah. L.3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan.10.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP). organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan. Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 .10. pembinaan. pengadaan tanah. Set-up kelembagaan.10. L. Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L. Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi.

Bantuan pengembangan (seperti. L.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. pelatihan.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah. biaya pengadaan tanah. Inventarisasi dan sensus PTP. L. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . c) Bantuan biaya pindah. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat). Paket peningkatan kualitas lingkungan. beserta aset lain yang ada di atasnya).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai. usaha kecil/rumah tangga).11. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa. L. koperasi.2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. L.5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan.11.11. Sertifikasi tanah. serta sarana dan prasarana).11.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan. Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah. fasilitas kredit murah. L. termasuk biaya untuk ganti rugi. serta biaya administrasi. dan biaya administrasi. pemukiman kembali. d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi. Secara garis besar. L. pembinaan. biaya pemukiman kembali. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah. biaya pembinaan dan rehabilitasi. e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah.4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti. 11.memulai usaha baru). kesehatan. pendidikan). jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. monitoring dan evaluasi. pembangunan perumahan.

Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L. 26/1985 Bab I Pasal 1. Berdasarkan PP No. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . Mekanisme koordinasi. Kerangka kebijakan. Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait). mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4). c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6).1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan.12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan. d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7). Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan.12. f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9). b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5). e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8).

telah diatur dalam Keppres RI No. Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP. cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. sub tim sosialisasi dan pembinaan. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. sub tim implementasi dan pengendalian). Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota). Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal. 1/1994 (Bagian Keempat. Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27). dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. Jasa Marga Persero). Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No. Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim). Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. 55/1993 (Bab III. dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. sub tim perencanaan/penyiapan program.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 .

Kerangka koordinasi eksternal. atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. dan kelompok perwakilan PTP. perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan. pembinaan kelompok rentan. Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas. Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan. seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 . Persyaratan personil pelaksana. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. antara lain jumlah PTP. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP. Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. BPD (Badan Perwakilan Desa). khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP.4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal. misalnya. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. c) L. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. jumlah dan lingkup pekerjaan. Tokoh Masyarakat. Panitia Pengadaan Tanah. yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). pemukiman kembali. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.pemantauan internal.12. b) c) L. baik secara vertikal maupun horisontaK.

hukum.5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). bantuan teknis. m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 . c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali. teknik lingkungan. e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis. i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek. dan kesejahteraan sosiaK. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi. L. sosiologi. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali. l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana. L. ekonomi. antara lain: a) b) c) studi banding.6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur). pelatihan dan lokakarya.

L. Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat. Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah. serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta rencana pendanaannya. serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP. termasuk definisi proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 . serta pemantauan eksternal dan evaluasi. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”. khususnya yang terpindahkan. Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). termasuk pembiayaan.13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik. pemukiman kembali dan pembinaan. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. n) o) L.12. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek.7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali. pemukiman kembali dan pembinaan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal.

. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. BPN dan dari sumber lainnya 2).… .. . khususnya areal sensitive … . . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . (6) ..(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan...(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. 4).

...Ka Bapedal No. (12) . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … ... 9)..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai... Sosial) . ... terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. 8). 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. Dikbud.. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan... (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.… .. (10) 7)..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .

. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya... Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.. RKL dan RPL 3). 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (9) . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .. 2)..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..

. lansekap … … … . sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.. RKL dan RPL … .. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .... RKL dan RPL pada perenc........… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis..teknis. (8) .: median. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.: penanganan utilitas yang terkena... RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL...Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .....

.

penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). 4).. kapasitas produksi.… . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . kapasitas jalan yang dibutuhkan. mis.. jenis penggunaan dan kepemilikan). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. peran dan fungsi kota dll.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

ekonomik..(8) .......Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . 4). sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)...... 5)...... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ... status kepemilikan dan kesediaan melepas. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)........(6) .(7) Menetapkan koridor jalan terpilih. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)...... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan...

ekonomis dan lingkungan. Terhadap pengadaan tanah … .(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .. (12) .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. (7) Memperkirakan dampak sosial … . Hasil Pra Kelayakan 2).(11) Menetapkan Rute Terpilih .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … ... 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga ..4). termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.5).Rute. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)...Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... dll.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.

. … .(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . luasan. Lokasi di Peta. masa tinggal dll.… … … . Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . 3). (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. rehabilitasi pem uk. prakiraan nilai kekayaan. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya.kem bali.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). dll. … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.. Termasuk rencana kerja. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah..kem bali … … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). 6). pelepasan hak.

(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .… .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .T . khususnya panitia pengadaan tanah … … .. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . (4) KETERANGAN 1). perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5)...(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (2) Berpartisipasi dalam musy. & menyepakati dlm mufakat khususnya P .. 13).P … … ...

(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 6). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .(12) ..(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … ..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .. 4). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 5)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.

sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. … 7) 3)...Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .. 7). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (8) .. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 2). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . 6). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 4). 5).

(7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. adat istiadat. pelatihan untuk alih profesi … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . nilai kearifan lokal. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . tata ruang. LA R A P … … .… .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan..

.

penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). (6) . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5)..… .… … ... (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.. kapasitas jalan yang dibutuhkan.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . peran dan fungsi kota dll... (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). kapasitas produksi. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. 3). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. terasing… .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .

. terasing. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ..... 5)... ekonomik.. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3)......... 4)..(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing... budaya ... Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis.. ekonomi... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial....... … … ... (8) .. sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ...(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih . 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy... (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). .

.. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)...5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ... .... terasing.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy.. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).4)..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. terasing..... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy..(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute... terasing … . ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.....… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..… … … .....terasing tsb..... (11) . sistem dan nilai hak adat ........ Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2).. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing ...... Renc... (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. T indak … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . Termasuk rencana kerja. pembagian tugas 3). (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).. kepemimpinan... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6).(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.

.. lembaga adat ...(7) .… ..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .. … … .... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). 5).....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing....... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. 3)...... rehabilitasi konservasi situs dll.... 4)... perbaikan permukiman tradisional.. Termasuk LSM.. dll......... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.....(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ....(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (11) 8).. 5).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 4). 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . (6) 3).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi ... terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya..(12) . 6).

.. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .(8) . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 5). Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME)...terasing termasuk rehabilitasi … … . sosialekonomi. budaya dan kelembagaan. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring...(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor... Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). penanganan masy .. 2). 4).. 6).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing ..

. tata ruang nilai kearifan lokal. penanganan masy. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . terasing … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. terasing … … .. terasing yang lebih baik .… . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .

.

Peraturan Pemerintah No. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. Khusus yang menyangkut kebijakan publik. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Undang-undang No. Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. Undang-undang No. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. keadaan dan makhluk hidup. termasuk manusia dan perilakunya. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. Undang-undang No. yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. tertulis dan tidak tertulis. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. 55/1993. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya.

28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. Kep. 18) Keputusan Menteri LH No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No. 105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 5) Peraturan Pemerintah No. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 . 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. 55/1993. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 4) Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup.

berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan.3 Undang-undang No. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No. P. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan. yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif. yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. jalan kolektor. daerah milik jalan. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila.2.1 Undang . yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP. pertambangan. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup. kehutanan.2. evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan. wajib memiliki AMDAL. Perangkat yang bersifat proaktif. P. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. permukiman penataan ruang dan sebagainya.2 Undang-undang No. Perangkat yang bersifat preventif.2. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati. dan energi. dan jalan lokal. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. P.2.

3. apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM.     P. kawasan.4 Undang-undang No. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain. Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. Rencana tata ruang. terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. kawasan perkotaan. kawasan budidaya. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga. propinsi dan kab/kota. rencana tata ruang. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor). Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal). penataan ruang. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang.2. Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. 3 P. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 . yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional. kawasan lindung. mengetahui rencana tata ruang. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda). tata ruang. dan kawasan tertentu. kawasan perdesaan. Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. wilayah. 2.1 Peraturan Pemerintah PP No. 4. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3.

Bagian-bagian jalan. yaitu membahas tentang peranan jalan. persyaratan jalan menurut peranan. pemeliharaan. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha. P. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri. penentuan sasaran. mendokumentasikan saran. seperti hak memperoleh informasi. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No. tujuan dan fungsi KA ANDAL. 2. perencanaan. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. 4. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya. memberikan saran dan pendapat.4. P. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL. meliputi jalan tol dan jalan layang.2 PP No. menyampaikan hasil rangkuman saran. Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. P. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 . yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. 2. Pembinaan jalan. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. dan pengadaan jalan. yaitu membahas tentang damaja. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan.4. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija. wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan. 4 P. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. Jaringan jalan. wewenang penyusunan rencana.3 Keputusan Kepala Bapedal No. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. P. Keppres No. 5. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL. damija dan dawasja. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung.3.2 Keputusan Kepala Bapedal No.4. 3. Dokumen jalan.

1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No. Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup. Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan. RKL dan RPL P. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil. Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL.5. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL. ANDAL. RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. 5 P. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL. jalan. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. P. Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . keciptakaryaan. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.5. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek. 2.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya. Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kegiatan pengadaan tanah. pelaksanaan konstruksi fisik. Desember 2003 i . sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Jakarta.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan.

.. P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..... K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .......... D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...... Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ........................ 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...... 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 4...... 4....... 4................… … … ..........… … … … … … … … … … … … … … … … ..... Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan ..................1 Penyiapan Dokumen Tender ........ Lampiran ii .......... 4.... Dokumentasi dan pelaporan ..3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..........2 Kegiatan Pengadaan Tanah .......... D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ....... … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ....

1.2.1.3.1. Lampiran 2.2. Lampiran 6.4 11.3 10. 5. 2. Lampiran 4. 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran 1.2. Lampiran 6.5 Lampiran 6. 7.1.2 9. 3. Lampiran 6. 12. Lampiran 4. 8. 6. Lampiran 4.1. Lampiran 4.2.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii . Lampiran 6. Lampiran 6.1.

Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. baik Undang-undang. yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. standar. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. maka Ditjen Prasarana Wilayah. kriteria. telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. efisien. akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten. pertumbuhan. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kota atau kabupaten. dan prosedur. telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif. pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. mencakup hal-hal 1 .

and Updating of the Moduls). perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people). serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. tertib dan teratur. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training. kesiapan pembiayaan yang memadai. Kimpraswil. benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup. kegiatan pengadaan tanah. disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah. yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan. 2 . serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas.Pekerjaan Umum atau Dep.

4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan. 3 . dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. serta dampakdampak yang ditimbulkan. Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal. maupun di tingkat kota/kabupaten. baik di tingkat pusat. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. propinsi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. 2) Kegiatan pengadaan tanah.

antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. mulai dari penyiapan dokumen tender. Peraturan Pemerintah No. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. dapat dilihat pada Lampiran 1. 2. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut.1. Undang-undang No. pelaksanaan konstruksi fisik. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. Peraturan Pemerintah No. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Keputusan Presiden No. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan. kegiatan pengadaan tanah. Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 4 . 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi.

dapat dilihat pada Lampiran 2. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. Istilah dan Definisi 3. 14) Keputusan Kepala Bapedal No. Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. 12) Keputusan Menteri Kimpraswil No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 5 . 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.1.2. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 13) Keputusan Kepala Bapedal No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

3. 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.9. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.7. 3. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 6 .6.11. 3. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial. 3. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan. bangunan dan tanaman miliknya. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 3. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah.5. 3.10.3. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah. 3.4. maupun politik nasional. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.8. ekonomi.

Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi.11.13.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi. dibangun. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan. 3. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 . 3.15. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor. 3. 3. 3.12. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi.13.12. 3. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor. 3.14.16. Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3. yang dirancang. Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan.17.

: Data Kontrak. maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan.1. : Spesifikasi. 4. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. 8 . : Gambar-Gambar. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi. Sistematika Dokumen Tender. : Bentuk Penawaran. harus dicantumkan dalam dokumen tender.2. Perjanjian Kontrak. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. Surat Penunjukan. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis. Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan. : Bentuk Jaminan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Maksud dan Tujuan. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang.1. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4. a. : Daftar Kuantitas. Informasi Kualifikasi.1.

Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL. 2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya. maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL. 4.3. 9 . Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan.1. baik vertikal maupun horizontal. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan. harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini. dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan. perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada). dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian. Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender. termasuk biaya yang diperlukan. yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. 2) Pada Bab V: Spesifikasi.1. Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. 4. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana. 3) Dokumen tender standar. baik untuk LCB maupun ICB. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini. 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas. antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak.4.

dapat dilihat pada Lampiran 4. antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek. dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.1.1. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup.3. jenis hak atas tanah. sebagaimana tercantum dalam dokumen tender. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan.5 Workplan Kontraktor. 4. Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan. yang 11 . 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. b) Keterangan tentang letak. 2) Pasal 4 Keppres No.2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.1. Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4. dan nama pemilik tanah. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut.1.1. bangunan dan tanaman.

1 tahun 1994. 1 tahun 1994. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No. 4) Pasal 12 Keppres No. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. b) Tanah pengganti. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. c) Tanaman. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah. 55 tahun 1993. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. b) Perencanaan ruang wilayah kota. diberikan untuk: a) Hak atas tanah. c) Pemukiman kembali. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan. b) Bangunan. 5) Pasal 13 Keppres No. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan. 12 . 55 tahun 1993.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. 55 tahun 1993.

sebagaimana dimaksud dalam Keppres No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. luas dan taksiran biaya. 51 tahun 1960.2 Proses Pengadaan Tanah a. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak. dengan kriteria sebagai berikut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam . 4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. 32 tahun 1979. 1. Dengan peraturan yang sama. 1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. 13 55 tahun 1993. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. rencana penggunaan tanah. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. Setelah hal tersebut disetujui.2. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. dilampiri dengan peta lokasi. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. sebagaimana dimaksud dalam UU No. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. 4. Lampiran 4. 2. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah. harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut. Sesuai dengan Keppres No. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota.

Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP. bangunan dan tanaman.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP). maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. b an g u n an d an tan am an . PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. sehingga perlu dibangun permukiman baru. 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. dilakukan pendaftaran. bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. inventarisasi dan pengukuran tanah. ganti dan rugi tanaman. b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah. 3) Hasil pendaftaran. tipe bangunan. 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. inventarisasi dan pengukuran tersebut. kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. Tim 14 . kemudian disampaikan ke PTP.

c.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru.2. Pengadaan tanah pengganti. Tanah Pengganti. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 . dengan cara jual beli. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK). merupakan sesuatu hal yang sangat penting. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. dapat dikelompokkan atas: a. maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah. Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c. b. dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah. b. Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat.2 4. tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. dapat dilihat pada Lampiran 4. Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama. Uang Tunai. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Dalam proses pengadaan tanah. di lokasi yang ditentukan Panitia. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan.2.3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah.

2. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah. e. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul.3. Bentuk lain yang disepakati. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu. bangunan atau tanaman. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d. sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan. Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru.2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain. diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama. Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4. baik untuk tanah. 4. 16 . seperti Sistem Konsolidasi Tanah. Bentuk Kombinasi.

dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. 3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. 2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. 17 . 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat. c) Penyuluhan. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP. b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai.

daerah rawa. 18 . dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a. Dokumen Terkait. pegunungan. seperti pembangunan. antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis.4. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. 3) Keputusan kerugian. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik. berbukit. 08 Tahun 2000. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No.2. Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.3. 2) Lokasi dan kondisi areal proyek. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan.1. seperti di dataran rendah.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. perkotaan atau pedesaan.

7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. 5) Dimensi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek. topografi. seperti kependudukan. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. dan pekerja kasar yang diperlukan. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek. hidrologi dan penggunaan tanah. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai. termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. namun bila tidak dapat dihindari. 19 . b. 9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja. pasir dan material/komponen jembatan. batu. 4. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan. lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan). Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. termasuk sumbernya. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. termasuk periode pemeliharaan.2. base camp dan lokasi quarry. tukang.3. Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. 3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. baik tenaga ahli. seperti tanah. volume dan besaran komponen pekerjaan utama. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. seperti iklim. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. kegiatan ekonomi masyarakat. kondisi sosial budaya. struktur tanah dan geologi.

Lokasi Proyek. yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada. shovel. baik dengan cara membeli atau menyewa. dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik. dozer. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan. perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. b. sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. traktor.1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut. 20 . maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. b. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. 2) Mobilisasi Peralatan Berat. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir. seperti AMP. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses.

struktur pondasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu. untuk ditangani 21 . Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. g) Latasbusir kelas A dan kelas B. sistem drainase. e) Laston lapis aus (HRS . timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. c) Agregat penutup Burtu dan Burda. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang. d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B. f) Lataston lapis aus (AC – WC). Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. baik berupa galian tanah biasa. Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut. galian batu.WC). 2) Pekerjaan Tanah. lapis pondasi (HRS base). kelas B dan kelas C. coffer dam. lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base). di lokasi proyek. b) Lapis pondasi semen tanah. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan.

rambu-rambu lalu lintas. serta pembuatan gorong-gorong. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. 5) Pemancangan Tiang Pancang. serta relokasi arus lalu lintas. relokasi arus lalu lintas. guard rail.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. dan pembuatan kepala tiang pondasi. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang. trotoir. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. penerangan jalan dan marka jalan. sehingga lokasi proyek menjadi bersih. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton.

Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah. selain gembalan rumput di media jalan. bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. 9) Penghijauan dan Pertamanan. harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 23 .2. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. b. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk. keselamatan pemakai jalan. tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area. tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai.

hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. bengkel. atau pada dua lokasi yang terpisah. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 .3. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati.3. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs. Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan. untuk diambil langkah tindak lanjut. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. 4. a. dapat terletak pada satu lokasi. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi.3. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. gudang. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. maka lokasi base camp (kantor proyek. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP.

dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan. Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6. sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat. dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat. Persiapan Pekerjaan Konstruksi. b. 3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek.2. baik langsung maupun tidak langsung. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut. 25 . 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah.

saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. (2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan. dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. b) Pencemaran kualitas air. Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air.1. 2) Mobilisasi Peralatan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. Penyiraman secara berkala. c. Lokasi Proyek. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan.

(3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali. 2) Pekerjaan Tanah. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. 27 . dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya. yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman. b) Pencemaran kualitas air. sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu.

Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. 28 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. karena penggalian tanah. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. memasang gembalan rumput dan sebagainya. sistem drainase yang baik. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. saat kondisi berdebu. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk.

Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola melalui : 29 . dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. 7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting.

pada areal yang tidak subur. Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan.2. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. dan mempunyai ciri khas daerah. dan tidak mengganggu pemakai jalan. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. 30 . dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat. c. 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. 9) Penghijauan dan Pertamanan. serta menghindari erosi lahan. serta dapat memperindah estetika lingkungan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik.

Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. Perkuatan stabilitasnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. Pemasangan drainase lereng yang baik. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. dapat dikelola melalui: . c) Terganggunya stabilitas lereng galian. (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur). f) Terganggunya kondisi flora. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air.

Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. Pengoperasian base camp (kantor proyek.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. c. b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat. (4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. bengkel. b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas.3. gudang. (2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 .

4. (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya.4. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan. d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan. 4. dan meningkatnya air larian. 4. kendaraan keluar masuk . Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. dan untuk menanggulanginya. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya. 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. Dokumen Terkait.1. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup.4. 4.3.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik. karena meningkatnya arus lalu lintas. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. c) Pengaturan arus lalu lintas. Pemberi Tugas. f) Pembuatan rest area. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. atau operator jalan tol lainnya. seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota. 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas. yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun. khususnya pada jalan tol. Jasa Marga (khusus jalan tol).2. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat.4. 4. PT. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. 34 .

b) M el aku kan “l aw tersebut.4. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol). antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan. b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota. Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun. 4. dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan. 4. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an .4. Dokumen Terkait. dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat.3.4. dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan. 2) Pengaturan arus lalu lintas. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik.

5. pengadaan data maupun biaya perjalanan. sosialisasi dan kegiatan musyawarah. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan.2. 2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan. Biaya Perjalanan. Pembiayaan 5. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. biaya rapat untuk melakukan musyawarah. Biaya Personel. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.1. biaya perjalanan. biaya penyuluhan a. 36 . Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. baik untuk biaya personel. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali. b. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. 3) Harga satuan yang berlaku. 3) Jenis transportasi yang dipakai. tidak memerlukan biaya khusus. Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. Penyiapan Dokumen Tender. Kegiatan Pengadaan Tanah. musyawarah dengan masyarakat. karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan. dan sosialisasi kegiatan.

2) Jumlah peserta kegiatan. biaya menangani dampak yang timbul. 37 . mencakup biaya pelaksanaan kegiatan. 2) Jumlah peserta rapat. biaya perjalanan.3. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah. c. serta biaya administrasi lainnya. bangunan dan tanaman. biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. 5. e. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi. Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. d. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak. pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi.

Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. b. didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. 3) Harga satuan upah (billing rate). Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. antara lain: 38 . baik jenis transportasi maupun perdiem allowance. Biaya Personel. Biaya Penanganan Dampak. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai. Biaya Perjalanan. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. d. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. 3) Jenis transportasi yang dipakai. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. 4) Harga satuan. c. 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Perkiraan besarnya biaya perjalanan. Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya.

Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan. f. dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. e. dan mempergunakan anggaran rutin. honorarium pakar yang diundang.4. Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. dan sebagainya. biaya untuk menangani dampak. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. 2) Lokasi kegiatan. 3) Pengukuran dan analisis biota air. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 3) Harga satuan analisis sampel. mencakup biaya rapat konsultasi. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. biaya konsultasi dan koordinasi. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 5. yang meliputi biaya personel. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. penjilidan. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. 39 . biaya perjalanan.

baik tingkat pusat. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. Pengajuan Usulan Biaya.1. Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan. Koordinasi Pelaksanaan 6. 6. seperti melalui proses penyusunan DUP. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola. Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan.5. DIP dan sebagainya. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 40 . Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. antara lain: a.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. baik vertikal maupun horizontal.

baik pada kegiatan pengadaan tanah. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. propinsi atau kota/kabupaten. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. antara lain BP2D. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. provinsi atau kota/kabupaten. 2) Melakukan penyuluhan. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak. b.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. 41 . 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan. pelaksanaan konstruksi fisik. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. baik di tingkat pemerintah pusat. Bappeda. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. 3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten.

6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas. Masyarakat Masyarakat. 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi. kabupaten/kota. pemanfaatan kabupaten/kota. standar. propinsi. 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah. antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. d. 2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. 7) Melakukan dihasilkan. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Bapedalda. baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. kabupaten/kota. pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . 4) Menjabarkan norma. c.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi.

kabupaten/kota. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi. Instansi terkait lainnya. serta masyarakat pemerhati lingkungan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup. Instansi Terkait. Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. e. lembaga swadaya masyarakat. dalam kaitannya dengan . kabupaten/kota. tokoh dan pemuka masyarakat. antara lain: 1) Memberi masukan. Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kabupaten/kota. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan. 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi.

2. : Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan. a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing. Pelaksanaan Koordinasi.2. sesuai wewenang dan fungsinya. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat. yang mencakup kompensasi tanah. 6. program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat. dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan. bangunan dan tanaman.1. 44 . Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dan 6. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya. seperti tercantum dalam Lampiran 6. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). dimana: 1) Lampiran 6. f.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok. hidup bidang jalan.2 3) Lampiran 6.3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing.1 2) Lampiran6. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. a.3. 6. masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa.

Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. b. agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. 2) Bapedalda. 3) Bappeda. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat. 4) Masyarakat. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. 5) Instansi Terkait. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 .

d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat. 46 terasing. 2) Bapedalda. a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Masyarakat dan Instansi terkait lainnya. Bapedalda. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan . a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. dan upacara adat yang harus dihormati. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. 4) Masyarakat. Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut. c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda. 3) Bappeda. apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan.

sehingga mudah ditelusuri.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat. apabila ada permasalahan di kemudian hari. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. sesuai dengan hasil musyawarah.1. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan.2. 7. Penyiapan Dokumen Tender. 47 . Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. 7. dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. Dokumentasi dan Pelaporan 7. Kegiatan Pengadaan Tanah. 5) Instansi Terkait. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur. Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.

dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. dan atau pengendalian pencemaran udara. dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut. dilengkapi dengan upaya pendekatan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat. tertib dan teratur. 2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup. bila terjadi permasalahan di kemudian hari. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. sehingga mudah ditelusuri kembali. 48 . dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan.3.

maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. 2. kegiatan pengadaan tanah. berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak. mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi. yang memberikan petunjuk. 49 . 3. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. kuratif dan kompensatif.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan. Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi. khususnya dalam penyiapan dokumen tender. 4.

50 . sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. tertib dan teratur. Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan. serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.

alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak. pemberian kompensasi. Kep.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. pematangan lahan untuk konstruksi 1 . monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref.

Pasal 28. ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. Uraian 1. dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 . B Peraturan Pemerintah No. yang menjadi bagian dari ijin. ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. 2. 27 tahun 1999. 2. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 9. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Daerah. masyarakat serta pelaku pembangunan lain. Pasal 13. ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No. Pasal 38. 23 tahun 1997. 1. ayat (2) hidup. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup.

Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. akibat pelaksanaan pekerjaan. 1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A. Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4. 19.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No. akibat pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul. kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. Umum 1. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. akibat pelaksanaan pekerjaan.1 Keselamatan dan penanganan dampak. Untuk masing-masing komponen pekerjaan. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi. dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada). Bab VII Gambar – Gambar 3 . Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. 19.

1 tahun 1994 4 . 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah. Jika haknya telah kadaluarsa.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. Jika hak pakai sampai 10 tahun. 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No. tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. bangunan. tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan. dan prasarana umum.

5 . PMD. Camat / Lurah. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka. PMD. Lurah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Lurah. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. LKMD. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. LKMD. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey. 1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. 4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. Camat. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. Pimpro dan Pimbagpro. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa.

Camat. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Pimpro/ Pimbagpro. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. Camat / Lurah. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. LKMD. Camat / Lurah. Semua modal/asset yang terkena dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. Semua modal/asset yang tekena dampak. Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. 6 . Camat. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. BPN Propinsi. 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak. NGO. LKMD. Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. Panitia Pembebasan Tanah. 8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak. Pimpro/ Pimbagpro.

Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali. telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik. misalnya kavling. - 11. Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. 7 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali. Masyarakat penerima ganti kerugian. Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. Lurah/ Kepala Desa. 12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi. Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati. Pimbagpro. Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. 10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya. rumah di lokasi permukiman kembali. Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur.

Kehilangan lahan pekarangan perumahan. olahraga. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal. Terganggunya/hilangnya tempat suci.budaya    Sumber : SESIM. dll). dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon. lokasi cagar budaya. 2001 Terganggunya interaksi sosial. gas). 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. air PDAM. Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. Terganggunya kegiatan pendidikan. air bersih. telepon. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak. Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya.     kawasan/tempat pemakaman umum. pelayanan kesehatan. 8 . Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. 5 Aset sosial . Pemindahan ditempati. pasar. telepon. fasilitas peribadatan. bangunan MCK. bangsal. Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. kesenian. Kehilangan akses ke tempat kerja. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. simbol atau tempat keramat lainnya.

perbaikan permukiman tradisional. lembaga adat .............(7) .... 3). rehabilitasi konservasi situs dll. (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .... 4).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ........BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .... dll... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ......... 5)... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).… ... Termasuk LSM...

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing. terasing … … . 5).... Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. (6) 3). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 4).(12) .BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 6). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .

.

kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … . Melakukan konsultasi renc..(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada)..(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan... (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada). (20) .(16) Melakukan monitoring .. (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. dengan PLN. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan. PDAM. kegiatan konstruksi .(6) Menyusun laporan pelaks.BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi .(bila ada) … … . pemberian fasilitas.. termasuk keberadaan para pekerja . dll.... tentang tujuan dan cara pemberdayaan .(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … .(6) Melakukan monitoring ..(17) M elakukan m onito ring… ...(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.. ekonomi masy. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok.

(8) Memberi masukan. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan... (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi... termasuk aspek warisan budaya ... adanya penyerobotan lahan damija. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (12) Melakukan tindak lanjut. (9) Menyusun laporan monitoring. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … . badan jalan untuk berdagang.(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.. LARAP dan rehabilitasi … .BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi.. penanganan masy.. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud. (terasing) khususnya yang terkena dampak.....l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).... pengembangan lahan sesuai tata ruang..... (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. dll. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks. ( 14) ...

.

. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).… .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … . Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6).. (4) KETERANGAN 1). (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . (2) Berpartisipasi dalam proses musy. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ... 13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) .. & kesepakatan dalam mufakat khususnya .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat..BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ..... (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .

.

 Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. IV.  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat. Dusun. adat. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek. RW/RK. REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 . PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai. seperti RT. III. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek.6 1. DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat. Desa / Kelurahan. II. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat.

PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek.

durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1. PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 . besaran.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. kapan. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis.

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 . DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan.26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I.  Kontraktor. REFERENSI  Undang Undang No. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi. III.  Direksi Proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. IV. II. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.

 Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.  Rencana pengalihan rute selama proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 .  Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2.1 dan 2. PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 .2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA.

23. 20. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 25. 3. 17. 26. 14.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. 16. 19. 18. Akhir Daerah Pekerjaan 10. 27. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 2. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. 22. 4. 8. 13. 21. 5. Dialihkan kek anan 12. 7. 28. 6. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. 15.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .

lampu) pengoperasian peralatan konstruksi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek. DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi. Pengoperasian Peralatan c. III. Penumpukan Barang/Material II. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 .  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek. sebelum digunakan untuk konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. lokasi penyimpanan atau penumpukan material. dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a. Pekerjaan Galian b.  Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi. Pengangkutan Material d.

agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum. REFERENSI  Undang Undang No. IV.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 .3. VI. seperti terlihat pada Gambar 3. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat.  Kontraktor. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material.  Direksi Proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

45. 50. 52. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 46. 39. 37. 49. 54. Dialihkan kek anan 35. 40.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. 100m di depan ada pengalihan jalan 57. Akhir Daerah Pekerjaan 56. 41. 34. 48. 42. 38. 44. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30. 53. 36. 32. 43. 51. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . 31. 33. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi.  Direksi Proyek.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. rumah sakit. sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 .  Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I. dan pemancangan pondasi. II. III. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek. IV. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat.  Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi. pengoperasian AMP. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis. dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi. sebelum dan sesudah konstruksi. jumlah.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 .  Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

 Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. pengangkutan material.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.  Kontraktor. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 . III. TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP. II. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain. IV. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi.  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air. DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi. pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan. pekerjaan tanah.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan.  Rencana pengangkutan material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi.  Kontraktor. VI. III. seperti terlihat pada Gambar 6. untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase. I. limbah domestik. REFERENSI Peraturan Pemerintah No.1.  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 . 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan). II.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. IV.  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan). DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

lereng. untuk menambah daya dukung konstruksi. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. IV.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. atau dinding penahan tanah. III. DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi. PROSEDUR PERMUKAAN I.  Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan. II.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. ceceran sisa bongkaran pada badan air. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi.  Kontraktor. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 . serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir.

 Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi. jenis.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama.  Rencana (waktu. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

III. REFERENSI  Undang Undang No. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP.26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.  Dinas Pekerjaan Umum setempat. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.  Kontraktor. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur. seperti terlihat pada Gambar 8.  Direksi Proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan.1 IV.

DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. volume. waktu. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 .  Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut. beban) material dan peralatan konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

gas.  Perwakilan PLN setempat. IV.  Pengelola kawasan spesifik setempat. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian. Pangkalan Udara. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I. III. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Perwakilan PGN setempat. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 . pada lokasi kerja proyek. akibat pekerjaan galian.  Perwakilan PDAM setempat. II.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9. listrik. dsb).  Perwakilan PT. telekomunikasi. Depo Bahan Bakar. Stasiun Kereta Api. Telkom setempat. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah. Industri.

VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 .  Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

IV. 2001. II. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan.  Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10.  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu. serta pekerjaan timbunan. untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut.  Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I. REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM). DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 . dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan.

 Kontraktor.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan.  Dinas Geologi setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 . jumlah) peledakan. VI.  Rencana (lokasi. PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. jenis.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan).  Direksi Proyek. metode.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 .  Kontraktor.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11. V. IV. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. III. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman. agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah. VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

 Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. dan Budaya setempat. Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. yang terletak di lokasi sekitar proyek. III. IV.  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat. REFERENSI  Undang-undang No. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. dan situs. dan kebudayaan. yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya. PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata. ilmu pengetahuan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12.  Pemerintah daerah setempat.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. II.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 .  Direksi Proyek. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi.  Kontraktor. Seni. benda yang diduga benda cagar budaya.

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. Seni. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata.  Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut. dan Budaya setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

V. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13. VI. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.  Kontraktor. REFERENSI  Keputusan Presiden No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I. IV.  Direksi Proyek. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain. II. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 . RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah. Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang terdiri dari empat buku. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). Ditjen Prasarana Wilayah. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. November 2003 i . produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). Jakarta. Departemen Kimpraswil. c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana.

Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. ii . sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya. dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. Secara garis besar. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. khususnya bila sudah diperdakan. c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat.

. P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 4. A cu an N orm ati f … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … … … … … … … .2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6.. 5.… … … … … … … … … … 4.3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan .9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan .2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … .. … … … 5.. 4..5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 4. 4. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … ..6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 6.1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii .7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek .4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4. 4.1 In stan si p el aksan a p em an tau an … … … … … … … … … … … … … … … 6. 4.… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4.1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … .

… … … … .6 Komponen-kom p on en b i aya p em an tau an … … … … … … … … … … . 7.… … … … 7.… … … ..4 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p asca kon stru ksi … .… … … … … .1 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p eren can aan .5 Biaya evaluasi lingkun g an p ad a tah ap eval u asi p asca royek… … 7.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7..3 B i aya p em an tau an p ad a tah ap kon stru ksi .. 8 P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..2 Biaya pemantauan pada tahap pra-kon stri ksi … … … … … … … … … 7. 25 25 25 25 25 25 26 iv ..… … … … … … … … … … . . 7.

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi : Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang Jalan : Baku Mutu Udara Ambien Nasional : Baku Tingkat Kebisingan : Baku Tingkat Getaran : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor : Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL : Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL v .

Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi masyarakat di sekitarnya. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Lingkup pemantauan tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek. Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek. antara lain: a) Undang – Undang No. Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: a) b) c) d) e) f) g) Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatif penanganannya. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. 2 Acuan normatif Pedoman ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan hidup. dan peraturan-peraturan lain yang terkait. b) Peraturan Pemerintah No. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. 1 . 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak langsung.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN LIDUP BIDANG JALAN 1 Ruang lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang pelaksanaan