PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Jenis . Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No. menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar. Melalui studi AMDAL. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas. AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien. 6 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif. sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. kompleks. meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup.17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. c. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup.

serta ada persyaratan menyusun AMDAL. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL.17/KPTS/M/2003. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. Untuk hal ini. Kebijakan Sektor yang Terkait a. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam. Keputusan Menteri Kehutanan No. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No. tetapi menyangkut 7 . Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan. hutan pelestarian alam dan hutan buru). disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL. yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut. 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. hutan lindung serta hutan produksi. Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No. diperlukan izin dari Menteri Kehutanan.

Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. b. wajib dilaporkan terlebih dahulu. diatur dalam Keputusan Presiden No. 5 tahun 1992. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.  Perencanaan ruang wilayah kota. Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan.419/KPTS/II/1994 tersebut di atas). dan dapat diperpanjang kembali. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. khususnya kegiatan pengadaan tanah. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung. maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum. 5 Tahun 1993.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No. Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. tanpa kompensasi. Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala. seperrti pembangunan jalan. penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. c. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 .

Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. jenis hak atas tanah. pemukiman kembali. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 1993. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas. tanah pengganti.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah.  Keterangan tentang letak. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. 9 . 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. diberikan untuk hak atas tanah. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. diatur dalam Undang-Undang No. d. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut. dan nama pemilik tanah. bila perlu. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. 1 tahun 1994. bangunan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. Dalam situasi dan kondisi tertentu.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. dan perlengkapan 10 . terpencar. 4. 2) Keamanan konstruksi jalan rel. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan. serta keamanan perlintasan. serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan. jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat. saluran air. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api. Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. antara lain penyediaan sarana dan prasarana. prosedur (procedures). 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api. termasuk prasarana jalan. 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil. e.1. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives). jalur kereta api khusus terusan. Dalam Keputusan Presiden No.3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a.

04. tercantum dalam OP 4. tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam OP/BP 4.36. tercantum dalam OP/BP 4. 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali). 9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional).50. Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi). prosedur Bank (BP). Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas. lokasi. tercantum dalam OP/BP 4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools). tercantum dalam OP/BP 4. Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan.  Audit Lingkungan.01.11. tercantum dalam OP/BP 7. yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini.50.  Resiko Lingkungan.  Rencana Pengelolaan Lingkungan. 4) Cultural Property (Kekayaan Budaya). 2) Natural Habitats (Habitat Alam). 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan). 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). yang didasarkan atas tipe. 11 .09. dan skala kegiatan.60. Berbagai kebijakan operasional (OP). tercantum dalam BP 4. adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment).12. tercantum dalam OP/BP 4. bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan). 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan). dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut. hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan. tercantum dalam OD 20. 7) Forestry (Kehutanan). 3) Pest Management (Pengelolaan Hama).37. tercantum dalam BP 17.

dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan. benda yang dikeramatkan. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. mempunyai nilai agama yang kuat. tapi tidak besar dan tidak penting. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. atau mempunyai nila / keunikan alam. bersejarah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna. dan sebagainya. yaitu:  Kategori A. benda yang mempunyai nilai arkeologi. tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan. Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. B dan C. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. palaentologi. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. 12 . tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan. isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting.  Kategori C.  Kategori B. benda cagar budaya.

meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa. sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan. persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. yaitu:  Full LARAP. untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru. Karena rencana rute jalan bersifat memanjang. Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi.  Simplified LARAP.  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia.  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia. Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun.  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis. antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota. dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam. harus dilaksanakan Tracer Study. 4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada). Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study. dalam bentuk NOL (no objection letter). baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. 13 . pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk.

dan budaya secara adat. dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan).  Berbahasa pribumi.  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. misalnya: di lokasi kegiatan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli. maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat. Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www. Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts.  Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah.org.worldbank. perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut.  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on. dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya. Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial). dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah. perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS).  Adanya lembaga sosial. etnik minoritas asli atau kelompok suku. 1993 . 1993. 1998. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen. ekonomi. antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 . Dalam penyusunan dokumen tersebut. b.  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas.

atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final. yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE). hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan. 120 hari sebelum waktu persiapan proyek. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul. sensitivitas lingkungan. serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. agar dan mempergunakan termasuk LSM. sebelum diserahkan kepada Bank. sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok. lokasi. 15 . ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat. sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE).  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas. c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting). untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA. Bank. skala dan besaran kegiatan. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam.  Penyusunan EIA. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting).  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. IEE. berdasarkan atas jenis kegiatan.

kekasaran permukaan jalan. antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program). Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. dan LSM. 16 . biaya perjalanan. dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. c. maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. supervisi / pengawasan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. volume lalu lintas. dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB.  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia. EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup. baik dari stake holder. dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut.  Dalam membuat keputusan pendanaan.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening).  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku. serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised. dan bila dianggap kurang meyakinkan. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup. co-finansial. dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah. JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai. b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 . JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup. pemerintah dan organisasi finansial. melakukan monitoring dan tindak lanjut.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan. melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC.

(4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul. tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi. dampak yang timbul complicated.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A. dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. dan sulit dianalisi. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B. 18 . dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. serta untuk administrasi perbankan. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan. JBIC dapat melakukan environmental review. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A. agar screening dapat dilakukan lebih awal.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C.  Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. baik yang sifatnya negatif maupun positif. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B. (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A. serta upaya penanganannya. sesuai dengan prosedur berikut.

(3) studi kelayakan. 19 . (6) konstruksi. penentuan skala prioritas. (2) pra-studi kelayakan. Namun. dan (8) evaluasi pasca proyek. Bila diperlukan. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. a. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan. (4) perencanaan teknis. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. mungkin saja karena alasan tertentu. (7) pasca konstruksi. Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. (5) pra-konstruksi. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. yaitu: (1) perencanaan umum. perkiraan biaya. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya. 4.49/PRT/1990. tanpa melakukan pra-studi kelayakan. JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap.2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan). secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4.1. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi. pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul. b. atau cukup dengan penerapan SOP. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. studi UKL dan UPL. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. 20 . Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut. yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya. termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut.

1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. pematangan lahan untuk konstruksi 21 . Kep.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. pemberian kompensasi.

Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. konstruksi dan pasca konstruksi. konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. dalam satu paket pekerjaan. Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis. Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. ekonomi. prakonstruksi. ekonomi dan finansial. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi. d. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis. Untuk keperluan tersebut. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan. yang didukung oleh data hasil survai lapangan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. 22 . tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan. Karena itu. Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan.

Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut. Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. f. g.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan. dan sebagainya. kebisingan. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu. gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. pencemaran udara. e. pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya.

antara lain meliputi pengaturan lalu lintas. terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya. seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. 24 . Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. yaitu: a. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut. h.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. 4. dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi.

tanaman dan aset tidak bergerak lainnya.1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya. 5. Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). sehingga harga tanah meningkat. bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). c. 5.b). Konsultasi untuk persiapan AMDAL.1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. d. namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. kelompok profesi.2. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.1. 25 . baik dampak negatif maupun positif. bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan. bangunan. semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. unsur Universitas / perguruan Tinggi. Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah. Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu). Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah.2. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.

Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 . gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air.1. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif. Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat. Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha. stone crusher.4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi. sehingga terjadi erosi atau longsor. road roller. AMP. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna.1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar. dsb. Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek. khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam. 5. truk. excavator.2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah.1. 5. dan diperlukan pemindahan penduduk.

27 . baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan. maupun tata ruang kawasan. Di samping itu. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin.1.2. dan alternatif pengelolaan lingkungannya.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara. disajikan pada Tabel 5. dan kecelakaan lalu lintas. 5. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. atau kabupaten / kota. mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a. b. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek. Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. kebisingan. Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya. propinsi.

Kecemburuan sosial a.. Tahap Perencanaan 1. Tahap Prakonstruksi 1. b. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat).1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Mobilisasi tenaga kerja a. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1.  areal berpanorama indah.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b. Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1.  areal komersial.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Kerusakan prasarana jalan 28 . Konsultasi masyarakat 2.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b. Pengadaan Tanah a. sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk. Mobilisasi peralatan berat a.  areal dengan kemiringan lereng terjal.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Survey / pengukuran 2. Tabel 5. c. Keresahan masyarakat 2.  lahan pertanian produktif. Sosialisasi b.

3. b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4. Pembuatan sistem drainase c. Gangguan pada utilitas umum 2.1 Pengaturan lalu lintas a. Gangguan lalu lintas a. Perubahan bentang alam /lansekap.1 Pengaturan lalu lintas b. Gangguan lalu lintas 6. Pembuatan sistem drainase 5. Gangguan lalu lintas a. Di lokasi proyek 1. Penyiraman secara berkala c. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. Pencemaran udara c. Penghijauan b. Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Pencemaran udara a. Penggunaan bor c.1 Pengaturan lalu lintas c. Pembuatan jalan masuk a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Kebisingan b. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Gangguan stabilitas lereng e.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pencemaran udara (debu) b. a. Penyiraman secara berkala b. Pencemaran air d. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar.1 Pengaturan lalu lintas a. Gangguan pada flora dan fauna b. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Pemancangan tiang pancang a. dan pengaturan jadwal kerja b. Gangguan lalu lintas d. Penyiraman secara berkala b. Pemindahan atau perbaikan utilitas a. Penataan lansekap a. Pencemaran udara (debu). Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pencemaran air permukaan.2 Pengendalian aliran air tanah e.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.1 Perkuatan tebing d. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.

2 Penggalian secara bertahap a. c. Perubahan fungsi lahan e. Tahap Pasca Konstruksi 1. b. b. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. b. d. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a. Pemasangan rambu lalu lintas a.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Pencemaran udara (debu). c. Penghijauan b. c. Kebisingan. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2. b. 1. Pembuatan sistem drainase c. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. d. Pengoperasian base camp (barak pekerja. d. Penghijauan dan pertamanan a. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b. b. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1. Pencemaran udara (debu). Pengambilan material di quarry sungai 3. Bak truk ditutup terpal b. Kerusakan badan jalan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor).2 Pengendalian air larian c. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e. Gangguan terhadap biota air. Perawatan kendaraan c.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . Gangguan pada aliran air permukaan c. d. c. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Pengaturan lalu lintas. Pengendalian bahan buangan d. Kebisingan. d. Pencemaran air sungai. c. gas polutan) b. Pencemaran udara b. Gangguan pada flora a. d. Pengendalian bahan buangan c. Kebisingan c. c. Pengoperasian jalan a. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. Sda. Longsor tebing sungai a. Pencemaran air permukaan. Penyiraman secara berkala b. e. a.3 Tebing dibuat berteras d. pembuatan noise barrier c.1 Perkuatan tebing d. Kecelakaan lalu lintas a. stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. c.1 Pengaturan lalu lintas. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c. Pencemaran udara (debu. Pengaturan lalu lintas D. Penyiraman berkala. d. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d. Gangguan lalu lintas.2 pemasangan rambu lalu lintas c. kantor. Kecemburuan sosial Pencemaran udara.

3. Kawasan rawan letusan gunung berapi. dan Daerah Pengungsian Satwa). Sempadan Sungai. Kawasan Resapan Air. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Suaka Marga Satwa.1 Daftar Kawasan Lindung A. Hutan Wisata. Gangguan lalu lintas d. Kawasan rawan gempa bumi. Pemeliharaan jalan a. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). 2. Kawasan Sekitar Mata Air C. 5. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Gangguan terhadap satwa dilindungi f. Kawasan perlindungan setempat: 1. Taman Hutan Raya. Pengemdalian penggunan lahan a.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan rawan longsor. 4. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. Kawasan Rawan Bencana Alam. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 1. 2. wilayah pesisir. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2.5 Pembuatan rest area.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. 6. 2. Pembuatan jembatan penyeberangan e. Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Sumber: Keppres No. 2.1 Pengaturan lalu lintas a. D. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. muara sungai. 31 . daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Taman Nasional. 3.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. khususnya pada jalan tol d. 4. Sempadan Pantai. 3. gugusan karang atau terumbu karang. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. daerah dengan budaya masyarakat istimewa.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. perairan darat. Kawasan Hutan Lindung. 3. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. B. Taman Wisata Alam 7.

Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. serta foto udara atau citra satelit. ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup.2. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. 32 . Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan . No. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). N am u n . Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. kota sedang. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). tapi bersifat regional. dan antar kota / p ed esaan ). dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. yang didasarkan atas panjang ruas jalan.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. luas lahan yang perlu dibebaskan. walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut. c. penggunaan lahan. Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. • estetika lingkungan. • prasarana dan utilitas. • kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya.2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a. Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis. • biologi (flora dan fauna). meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia. 33 . Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup. termasuk kawasan adat.2.

Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a.000 – 500.17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1.000.000 jiwa : jumlah penduduk 500.Panjang b.17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.000 jiwa : jumlah penduduk 20.000 jiwa : jumlah penduduk 3.Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: .000 – 20. Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a. Semua besaran b. Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d. Pembangunan jalan layang atau subway c. Jembatan a.000 jiwa 34 . Semua besaran d.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1. atau .000 – 1. Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a. Panjang < 2 km c. Pembangunan jalan tol b. Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3.000. atau .Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : . Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5.000 – 200. Panjang > 5 km 2.Panjang.000 jiwa : jumlah penduduk 200.Panjang. - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis. ekonomis mapun lingkungan. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek.2. b.c. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. RKL dan RPL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5.1. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Pada waktu penyusunan KA-ANDAL. Untuk pelaksanaan studi AMDAL. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 . Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. untuk memperoleh saran. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. Cara pelaksanaan konsultasi. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut.

instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. ANDAL. masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. RKL. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama). d. tersebut. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup). c. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi). RKL dan RPL Proyek Jalan. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL. e. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL.

dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan.27/1999).27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). pendapat.27/1999. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL. Dalam hal ini. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. f. kesimpulan komisi penilai. klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan . b.3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi. saran. semua dokumen AMDAL. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. 5. PP N0. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa.2. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. 37 .

1.2. b. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah.2.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Langkah .  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. 5.  Konsultasi masyarakat. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.  Survey sosial-ekonomi.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. c. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul. kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan. 38 .Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study. Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5.

39 . Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. instansi pelaksananya. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. dan status pemilikannya. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan. tingkat pendapatan. jenis dan umurnya). dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. status pemilikan tanah. jarak ke sekolah anak-anak. dan sebagainya. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. h. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. kelas tanah. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. jenis penggunaan saat ini. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. g. jarak ke tempat kerja. mata pencaharian. f. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis.

Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. Karena itu. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan. 5. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi. pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL.3. tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik. 40 .1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup. yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan.1). dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi.1 (lihat Tabel 5. konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5.

dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi. dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL.3. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 41 . serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait. Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya. Dalam hal ini. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL.3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Sehubungaan dengan hal itu. 5. peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. wajib UKL dan UPL.3.

42 . termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas. kemacetan lalu lintas. baik di tingkat pusat maupun darearah. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan. kebisingan. b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait.2. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan.4.3. dan kecelakaan lalu lintas. Di samping itu. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4. 5. Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait.4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5.1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.

pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. dan Jalur transportasi bahan bangunan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum. dampak yang mungkin terjadi. Lokasi quarry. kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi. Secara garis besar.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 5. Pada Tabel 5. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan. Pada tahap pasca konsruksi.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak. akibat kegiatan konstruksi. Evaluasi mencakup: 43 .4.4. terutama akibat penggunaan alat-alat berat. Pada tahap pra-konstruksi. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. alternatif pengelolaan lingkungan.3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan. khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek. Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan.

Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A. Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. Tahap Konstruksi 1. Persepsi masyarakat b. Sosialisasi b. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan. Pengadaan Tanah a. Persepsi masyarakat 2. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. Keresahan masyarakat b. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Gangguan terhadap pendapatan a. Keluhan masyarakat c.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Tenaga kerja lokal terserap 44 .  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c. Tabel 5.2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Kecemburuan sosial a. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. Penetapan rute jalan 1. Survey / pengukuran 2. Tahap Perencanaan 1. Tahap Pra-konstruksi 1. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. 2. Keresahan masyarakat 2.

Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d. a. Kondisi jalan 3.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b.2 Pengendalian aliran air tanah e. Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu). Kondisi utilitas a. Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Pembuatan jalan masuk a. Kualitas air a. Penataan lansekap c. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Pembuatan sistem drainase d. Pencemaran air d. Pencemaran udara a.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a. Erosi / longsor e. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. c. 2. c. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. Kondisi lansekap 45 . Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap. Penghijauan b.1 Perkuatan tebing d. Mobilisasi peralatan berat a. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. 2. d. Kerusakan prasarana jalan a. e. Liputan vegetasi b. b. b. Di lokasi proyek 1. Penyiraman secara berkala c. Kualitas air d. Gangguan pd flora dan fauna. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Penyiraman jalan secara berkala b. c. Kualitas udara b. Kualitas udara (kandungan debu) c. b.1 Perbaikan jalan yang rusak a.

Kebisingan a. b.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Kondisi lalu lintas a. Getaran a. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9.2 Pengendalian air larian c. Gangguan lalu lintas a. Perubahan fungsi lahan d.1 Pengaturan lalu lintas a. Kualitas udara b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Gangguan pd aliran air permukaan c.1 Pengaturan lalu lintas b. Erosi / longsor d. Gangguan lalu lintas b. Penyiraman secara berkala b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Kebisingan b.1 Pengaturan lalu lintas a. Kondisi lalu lintas 5. Pembuatan sistem drainase c. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Pemancangan tiang pancang a. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Pembuatan sistem drainase a. Kondisi lalu lintas b. Gangguan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penyiraman secara berkala a.1 Pengaturan lalu lintas a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Kondisi lalu lintas a. b. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a. Kualitas udara b. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a. Liputan vegetasi b. Penghijauan dan pertamanan a. Penggunaan lahan 46 .2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a. Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar.3 Tebing dibuat berteras d. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Aliran air permukaan c. Pencemaran udara b. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4. a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.

Kondisi lalu lintas D. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. c. Pemilihan lokasi e. b. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Di lokasi Base camp dan AMP 1. c. c. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. a. Keluhan masyarakat b. Tingkat kebisingan c. d. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Pengendalian bahan buangan Sda b. Pengoperasian jalan a. Tingkat kebisingan noise barrier 47 . b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. Kecemburuan sosial Pencemaran udara. Sda d. c. Longsor tebing sungai e.2 Penggalian secara bertahap a. Bak truk ditutup terpal d. Pencemaran air permukaan. Stabilitas tebing sungai 11. Perawatan kendaraan c. Pengoperasian base camp (barak pekerja. b. d. Pencemaran air sungai. Kualitas udara c. Gangguan pada flora 10. Kualitas udara (sebaran debu) b. Penghijauan a. gas polutan) b. Kerusakan badan jalan. Kualitas air e. Pengambilan material di quarry sungai a. Pengaturan lalu lintas. d. d. Kualitas udara b. stone crusher dan AMP) a. Pemasangan rambu lalu lintas d. Kebisingan. e. Penyiraman berkala. Kebisingan a. Pencemaran udara (debu. Liputan vegetasi a. Gangguan terhadap biota air.1 Perkuatan tebing d. Kecelakaan lalu lintas a. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a. Kualitas air c. Sda. Tingkat kebisingan d. Pencemaran udara (debu). Kondisi lalu lintas c. Tahap Pasca Konstruksi 1. kantor. c) Kebisingan. pembuatan a. Kondisi jalan b. e.

4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d.1 Pengaturan lalu lintas.2 pemasangan rambu lalu lintas c. Penghijauan di median dan pinggir jalan c. khususnya pada jalan tol d. Pemeliharaan jalan a. pembuatan c. Tingkat kebisingan d. Keluhan masyarakat e.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b. Pencemaran udara (debu. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. noise barrier Sda. Kualitas udara c.1 Pengaturan lalu lintas. f.1 Pengaturan lalu lintas a.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Pembuatan jembatan penyeberangan e. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e.2 pemasangan rambu lalu lintas d. Kondisi lalu lintas b. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. c.5 Pembuatan rest area. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2. Keluhan masyarakat f. Pembuatan jembatan penyeberangan f. Gangguan lalu lintas d. d.5 Pembuatan rest area. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b.3 Penertiban pedagang kaki lima d. c. Lintasan satwa dilindungi 48 . Lintasan satwa dilindungi a. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c.3 Penertiban pedagang kaki lima c. khususnya pada jalan tol e. d.

Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. kesehatan. kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah. khususnya masyarakat pedesaan. e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut. Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang. yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan. d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah.  Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk. terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier). termasuk masyarakat miskin. pemerintahan. antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan.  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan.4. seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB. g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan. dan lain lain. 49 .

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

f). MASYARAKAT. c). c). b). d). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. g). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. Badan Pertanahan Nasional (BPN). 2. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). para kepala Dinas di propinsi. e).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. PEMRAKARSA. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. d). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. Penduduk terkena dampak. b). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. BAPPEDA. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. e). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal.

kapasitas produksi. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. misalnya sentra sentra produksi. Selanjutnya. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan.. 3. 4. 6. 3. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. BAPPEDA. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. . peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. MASYARAKAT. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. kapasitas jalan yang dibutuhkan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. 5. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. PEMRAKARSA. 2.

Masukan tersebut. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . memberi masyarakat terasing. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. 4. 7. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. UPL. 4. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. budaya masyarakat terasing. menetapkan koridor jalan terpilih 6. 8. MASYARAKAT. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Selanjutnya.. PEMRAKARSA. masukan tentang koordinasi penanganan 2. PEMRAKARSA. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. ekonomi. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. 3. 5. UKL. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Dinas Sosial dll. BAPPEDA. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.

Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional.. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). masukan tentang koordinasi penanganan 4. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. 2. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA. 5. Selanjutnya. PEMRAKARSA. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. memberi masyarakat terasing.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. 3. MASYARAKAT. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 8. 6. 5. 7. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. BAPPEDA. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. Atas dasar permintaan pemrakarsa. menetapkan rute jalan terpilih. memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 .

memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. BAPPEDA. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA).. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Selama proses wawancana. memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing. memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. 6. BAPPEDA. 4.. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. PEMRAKARSA. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. 5. sistem kepemimpinan. melakukan MASYARAKARAT. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . 7. 9. 10. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. 11. Menetapkan desain jalan. PEMRAKARSA. 8. 6. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing. MASYARAKAT. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. PEMRAKARSA.

3. 7. BAPPEDA. 2. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . BAPEDALDA. 3. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. 7. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. Selanjutnya. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. 4. serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. melaksanakan program penanganan dilapangan. 5. MASYARAKAT. BAPEDALDA. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. PEMRAKARSA. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. BAPPEDA. 6. 4. PEMRAKARSA. 5. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. 6. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 7. pemrakarsa masyarakat terasing. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. melaksanakan program konservasi budaya.. Selanjutnya. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. PEMRAKARSA. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL.

MASYARAKAT. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 11. PEMRAKARSA. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. PEMRAKARSA. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. 9. 7. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. 4.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA. BAPEDALDA. Selanjutnya. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. penataan ruang. 8. 7 6. 2. BAPEDALDA. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. 5. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 3. 10. melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. 8. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing.

Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 9. Untuk itu. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9. b. EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

(4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . 3)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peran dan fungsi kota dll. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). terasing… .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy.. serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.… … . .. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan ...… . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). kapasitas jalan yang dibutuhkan. (6) . kapasitas produksi. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi...

. 5). Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. ekonomi... (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … .... sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy.(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. (6) 3). Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing. budaya ... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial..... 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).......... . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. terasing.. … … . ekonomik... 4)....(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . (8) ..... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .........

...… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy...(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.4).(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi...(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy... terasing. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .. ... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)..... terasing.. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2). terasing … ..

.. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan..… … … .. 3). terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … .. kepemimpinan.. Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2).(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing . Renc.terasing tsb. T indak … . pembagian tugas. sistem dan nilai hak adat . 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .. Termasuk rencana kerja. (11) . Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy.

(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .(7) ..… .(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ....... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. rehabilitasi konservasi situs dll... Termasuk LSM.. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ....... 5)... perbaikan permukiman tradisional. 3)........ Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2). 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ........(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...... lembaga adat ... 4).. dll.Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.........

.. 6). terasing … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. (6) 3). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . 4).. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.. 5).(12) .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.

(8) . terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3).....Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME).(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy. terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy.. 5). 2).. 4).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis... sosialekonomi. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 6).. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing . budaya dan kelembagaan... terasing termasuk rehabilitasi … … .

terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) .. terasing … … .… ..(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .. (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing … . Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. terasing yang lebih baik . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . penanganan masy. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … .. tata ruang nilai kearifan lokal.

.

c). dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. b). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. b). e). para kepala Dinas di propinsi. proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). d). 2. g). MASYARAKAT. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. Penduduk terkena dampak.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. d). Badan Pertanahan Nasional (BPN). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. BAPPEDA. f). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. e). PEMRAKARSA. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . c). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut.

kapasitas produksi. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya.. 5. 4. 3. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . STAKEHOLDER LAINNYA. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Selanjutnya. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. 6. misalnya sentra sentra produksi.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. . BAPPEDA. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 3. PEMRAKARSA. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. Pemrakarsa. 2. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa.

8.. 6. menetapkan koridor jalan terpilih 2. PEMRAKARSA. STAKEHOLDER LAINNYA. PEMRAKARSA. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. BAPPEDA. UKL. peta banjir. 4. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. PEMRAKARSA. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. Selanjutnya. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. UPL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Masukan tersebut. 3. 7. Selanjutnya. PEMRAKARSA. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. MASYARAKAT. 4.. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. 2. peta quarry dll. 5. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan.

5. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional.. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. PEMRAKARSA. BAPPEDA. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. 6. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. 7. BAPPEDA. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. 10. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. 9. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. Atas dasar permintaan pemrakarsa. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. 8. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. 11. 5. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. MASYARAKAT.

(iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. 5.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. 6. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. 4. 11. BAPPEDA. Selama proses wawancana. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. mensosialisasikan konsep larap. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. 8. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. 7. PEMRAKARSA. 6. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. MASYARAKAT.. PEMRAKARSA. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). PEMRAKARSA. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Panitia pengadaan tanah. 13. 10. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. 9. 12. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. BAPPEDA. MASYARAKAT. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. PEMRAKARSA.

BAPPEDA. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. PEMRAKARSA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. 11. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. Selanjutnya. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. STAKEHOLDER LAINNYA. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 14. 12. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. BAPEDALDA. BAPEDALDA. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. kartu penduduk dll. BAPPEDA. 13. BAPPEDA. 7. 4. 9. 6. MASYARAKAT. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. 2. 7. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. 10. 3. 5.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. 8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. 4. evaluasi pelaksanaan 2. DINAS SOSIAL. PEMRAKARSA. BAPPEDA. 12. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. MASYARAKAT. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. 8.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. 5. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . BAPPEDA. Selanjutnya. 9. 8. BAPEDALDA. melakukan monitoring & evaluasi. 3. PEMRAKARSA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 7. 10. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). MASYARAKAT.. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. 6. 11. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. PEMRAKARSA. mislanya karena kehilangan pelanggan. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. BAPEDALDA.

memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. Selanjutnya. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. 6. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.. 3. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 8. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. 9. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. Untuk itu. 2. BAPEDALDA. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 7. MASYARAKAT. 5. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. BPN. 4. BAPPEDA. penataan ruang. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. PEMRAKARSA. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. PEMRAKARSA. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a.

(5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. jenis penggunaan dan kepemilikan).. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). peran dan fungsi kota dll. kapasitas produksi.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait ..… . 4). Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . mis.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.

sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .(8) ..(6) .. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ....... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). 5).......... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).... 4).... ekonomik. status kepemilikan dan kesediaan melepas..... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ......... (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan...Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).(7) Menetapkan koridor jalan terpilih..

12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.(11) Menetapkan Rute Terpilih . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. (12) .. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .. Terhadap pengadaan tanah … .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak...5).. dll.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. ekonomis dan lingkungan.. Hasil Pra Kelayakan 2). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)... kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . (7) Memperkirakan dampak sosial … . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.Rute.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .4).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.

… . Lokasi di Peta. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).. … . pelepasan hak.. rehabilitasi pem uk. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. masa tinggal dll.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . luasan. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.kem bali... Termasuk rencana kerja. 6). dll. prakiraan nilai kekayaan.. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. 3).… … … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.kem bali … … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) .

P … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .... (2) Berpartisipasi dalam musy. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. & menyepakati dlm mufakat khususnya P .… ..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . 13)...T . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . (4) KETERANGAN 1)... perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . khususnya panitia pengadaan tanah … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … ...

2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 5). 6)... 4).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(12) ...Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).

Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .. 6). 7). 2).. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. 5). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . … 7) 3). 4). (8) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … ..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. adat istiadat. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .… . tata ruang. LA R A P … … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . pelatihan untuk alih profesi … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. nilai kearifan lokal.. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … ...

.

.(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(8) ..Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … . khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan.  Kehutanan tentang status hutan...... Termasuk pola pelestarianaya 7).. areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … ........... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2). 4). Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder. Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah.... (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah... 6)..... tempat keramat.. Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5).. Memberi masukan persyaratan Lingkungan ....

. Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … ....10).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix... tapi cukup macadam .(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan....2).6).. 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait..5).4).. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … ...... Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL .. (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … ..Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (10) 9). (8) 8).. (7) 3). (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … .

.… … … (12) .4). Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … ...… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . 10. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).. 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih . nilai lahan dll. (6) 3). R P L ...(11) 7).. 5). 8)... R K L.... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L.Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 9)..

dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8)..5).... Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.. … … ..lingk. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3). apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk..... 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.. Dengan instansi terkait 14).. (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … . 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.4).Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan..… … … .(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). … … . (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak.. dan wakil masyarakat terkena dampak 12). dok. mis : RKL.(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… ...... (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) .10).(12) Menetapkan Desain Jalan .... RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan .(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring ..9).... Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2). Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13). (apabila ada) mis : ANDAL.(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.

. bantuan pindahan. Listrik... Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). aparat desa atau kelurahan. (10) . (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … ..4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll... (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … ... bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … ...(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … .Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi.7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan. LSM dan penduduk terkena dampak 3). Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.. mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … .. 5).. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2).(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .. telpon..(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. PDAM.

(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi .... Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ..… ....... Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja. Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ....(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ...... Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy........... (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6).... 8).(11) . ..(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).. peralatan dan bahan bangunan 2). Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ... 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).......(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .....Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).......

dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.....Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … ...... metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai................ (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ..... 5).........(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan .... data sekunder (laporan harian kontraktor)... (9) . 8). Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … .… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ..... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2).. PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis. dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ..... (8) 4)....(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)........

.. berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang . penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb..(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan .(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija. … .(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) ..(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan..Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .....

hak adat/ulayat. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. (termasuk masy.(2) Melakukan penyaringan awal lingk. program lainnya yang terkait. industri.(3) Konsultasi konsep renc. terasing. Mengacu pada ketentuan2 yang ada a. kehutanan. . mis: sektor2 perhubungan. fungsi lahan dan peraturannya.l.. keberadaan masy. Memberi masukan ttg.. sesuai Keppres 32/1990. Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). lokasi areal sensitive… .17/KPTS/ /M/2003 4).terasing. dll. pertanian. kawasan lindung. termasuk kondisi sosekbud masy. 3).. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. lokasi masy. diknas. penerapan tata ruang. dll.. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan... 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait.(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).terasing) beserta peraturannya.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . kawasan budaya. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… . koordinasi program pemb.(1) Menyusun konsep renc.. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive. tata guna lahan. (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .terasing). terhadap renc.. serta lokasi masy. situs sejarah. (9) .: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No. terasing 2). dll. dll. Areal sensitive mencakup daerah lindung. program mis: kebutuhan lahan.… . jaringan … . dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy. (5) Memberi masukan ttg. Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. Termasuk tata ruang.

jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No. macadam.Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive.... ..(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . dll. serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . (12) ... (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk.. keterpaduan pengadaan lahan.. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL). (11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … .. (10) Memperbaiki dok. daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada).08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas.. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai . ... lokasi masy... hutan. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan.. dll. (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..terasing (bila ada). 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program..(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan. dll. … . pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing). (1) Membuat alternatif koridor jalan … .

terasing. … . (7) Memperbaiki konsep dok. A M D A L. .. … . oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial .(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan...… (8) Menetapkan dokumen.… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan.. sistem nilai budaya masy. taksiran harga.. (11) . penyusunan dok.. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai . pelepasan hak. mobilitas masy. terasing (bila ada).. kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll.... situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.. kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah. A M D A L. kesesuaian tata guna lahan.… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … .(6) Menyusun konsep dok. (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok.Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy.. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai.. dll.. (terasing) dan pendekatan penanganan.

terasing dan cara pelepasan hak. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya. serta keterpaduan program implementasi LARAP..(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah.. sistem kekerabatan masy. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. kepemilikan lahan.. dan aset lainnya. lingk.(13) . koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat..... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan. dll. ekonomik.. (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … . mis: lansekap.(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud.. dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis. penanganan masyarakat terasing. misal : tentang harga lahan. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. (11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP.Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya. data aset. median. terasing . koordinasi penanganan masyarakat terasing . cara pelepasan hak bila lahan milik instansi. (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP .. rehabilitasi ekonomi. untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … . mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah. termasuk konpensasi dan pemukiman kembali .

(10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . rehabilitasi ekonomi. rehabiltasi ekonomi masyarakat.. ( 11) . kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait.... alih kepemilikan.. cara pengosongan lahan.. kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP.. besaran konpensasi.. terasing dan pemukiman kembali . dan terhadap utilitas yang terkena dampak . dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan. terasing … . seperti tercantum dalam kesepakatan .. … ... penanganan masy..... terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi..Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. (5) Melaksanakan LARAP . terasing... ...... instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll.(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan. penanganan masy.(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat... (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi. dll. (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait.(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi. penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat. melepaskan hak. (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal. (6) Melakukan monitoring .

(6) Melakukan monitoring ... Melakukan konsultasi renc. pemberian fasilitas. Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok... (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . ekonomi m asy...Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy.(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining. terkena dampak .. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. (20) . dengan PLN.(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … .. (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan.(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… .(terasing) … … ..(17) M elakukan m onito ring… .(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . PDAM.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .(6) Menyusun laporan pelaks. kegiatan konstruksi . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … . kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. tentang tujuan dan cara pemberdayaan .(1 6) Melakukan monitoring . dll. termasuk keberadaan para pekerja ... desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training...

. LARAP dan rehabilitasi … .(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.. termasuk aspek warisan budaya . pengembangan lahan sesuai tata ruang.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).. penanganan masy. (12) Melakukan tindak lanjut.l.... mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan.Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi... apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ..... hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan..... Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan... adanya penyerobotan lahan damija. ( 14) . Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks.. (terasing) khususnya yang terkena dampak.(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. dll. (8) Memberi masukan. (9) Menyusun laporan monitoring... badan jalan untuk berdagang. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy.

biologi (flora dan fauna). LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring.. nilai lahan... ( 9) .Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan .. (3) Memberi masukan aspek lingkungan ..... (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … .. dll … . apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. pelatihan alih profesi.. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya .. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. lingkungan dan sosekbud. (7) Menyusun laporan PBME . geologi /geographic... yaitu mencakup faktor teknis.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan.(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang.. ekonomik/finansial. penggunaan lahan.

BPN dan dari sumber lainnya 2). Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan ... (6) . .Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan..… .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi... 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ... Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). khususnya areal sensitive … .. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. . 4). (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.

. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … ...… . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (12) . . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy...Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ... terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. Sosial) ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … ... (10) 7). Dikbud..Ka Bapedal No.. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . 9). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. 8). 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.. (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2)...(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai...

.(7) 1). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . RKL dan RPL 3).. 2). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … ..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (9) ..(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6)....

. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .. RKL dan RPL pada perenc.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain..teknis.. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL..: median. (8) .(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain... RKL dan RPL … .. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL......: penanganan utilitas yang terkena... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis...... lansekap … … … .

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

SESIM. khususnya bila sudah diperdakan. Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. Secara garis besar. c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. i . isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan.

Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu. yang terdiri dari empat buku. Jakarta. dapat dilihat pada lampiran. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

4.4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.4 Penyaringan Lingkungan 4.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.4.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.8 Pembiayaan 4.2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.1.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .2.1.4.5 Konsultasi Masyarakat 4.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.1 Pra Studi Kelayakan 4.1 Maksud dan Tujuan 4.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.3.3.4.2.1.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.2.2.4.2.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.7 Jadwal Pelaksanaan 4.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.2.2.2.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.3.4.4.2 Pengadaan Tanah 4.4.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.1.

4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.5 Biaya Penyusunan LARAP 6.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.4.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv . RKL dan RPL 5.4 7.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.4.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6. RKL dan RPL 5.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5.4.2 Dokumen ANDAL.4 Dokumen AMDAL 5.5 Dokumen UKL dan UPL 5.1 7.5 7.6 7.1 Kerangka Acuan ANDAL 5.1 Jenis Dokumen 5.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5.3 7.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5.2 7.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.

... 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4....... 11 12 v .... G am b ar 4....6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … . G am b ar 4... Gambar 4..4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4...5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … ..... Gambar 4.......2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL .....3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … ... Tabel 4.7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar ..2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … ..… … … … … .. G am b ar 4..1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...… … … ...1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … .

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .

sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. 1 . Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Undang – Undang No. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. 2. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. maupun kabupaten / kota. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. propinsi. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait.

3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. Keputusan Presiden No. 3. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Kepala Bapedal No.2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No. 3.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P. 3. 2 .

maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 3 . 3.10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 3.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat. 3.7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.

khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4. antara lain:  areal permukiman padat penduduk. bila diperlukan. 4. Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan. 4 .2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup. d) Kawasan rawan bencana alam. yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum. c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin. Aspek . Pada tahap ini.1. serta hasil survai lapangan secara global. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan. Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah.1. propinsi. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. atau kabupaten / kota.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. maupun tata ruang kawasan. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan. merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya. b) Kawasan perlindungan setempat.

penggunaan lahan. e) langkah-langkah proses pemilihan rute.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan. yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif. c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan.1).  areal berpanorama indah. d) metode pengumpulan data.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup. (lihat Gambar 4. Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup. 5 .  lahan pertanian produktif. Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan. serta foto udara atau citra satelit.

4. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. tapi bersifat regional. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. Kawasan Hutan Lindung. gugusan karang atau terumbu karang. Taman Hutan Raya. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Kawasan rawan letusan gunung berapi. 4. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan rawan longsor. perairan darat. Taman Nasional. Hutan Wisata. 6. 3. 6 . B. 2. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Kawasan perlindungan setempat: 1. dan Daerah Pengungsian Satwa). Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. 2.1 Daftar Kawasan Lindung A. 2. D. Sempadan Pantai. 5. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Suaka Marga Satwa. muara sungai. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 2. 3. Kawasan rawan gempa bumi. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. Kawasan Sekitar Mata Air C. Sempadan Sungai. 1. Taman Wisata Alam 7. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. 3. Kawasan Resapan Air. Sumber: Keppres No. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. Kawasan Rawan Bencana Alam. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. wilayah pesisir. 3.

Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4. dsb.1b Foto Udara 7 .1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan.

Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). Karena itu. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin. Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. dan koordinasi. Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). 8 . kelompok profesi. transparansi dalam pengambilan keputusan. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. 4. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). b) Luas wilayah persebaran dampak.4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No.1. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait. Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana.1. komunikasi. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat.

(4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA. e) Sifat kumulatif dampak. di kota sedang. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan. (5) Pembangunan jembatan. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. (2) Pembangunan jalan layang dan subway. b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait. di pedesaan. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya. Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 . a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL.

1. tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup.1). 10 . Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun.1.1. tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4. maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4. atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4. atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4.

gangguan visual dan dampak sosial.atau luas pengadaan tanah c. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. getaran. gangguan visual dan dampak sosial. Pedesaan : .Panjang . tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1. Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. emisi yang tinggi.Panjang .000 – 1. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. b. getaran. Di kota besar / metropolitan : .000 jiwa : jumlah penduduk 20. emisi yang tinggi.000 – 200.atau luas pengadaan tanah b.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. > 30 km Bangkitan lalu lintas. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas.1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No. Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. getaran.000 – 500. getaran. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. a. dampak kebisingan.000 jiwa 11 .000. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000. dampak kebisingan. getaran. Di kota sedang : .17 Tahun 2001.000 jiwa : jumlah penduduk 200. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial.

Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a.2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No. Tabel 4. Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a. 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3. Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. > 20 m > 60 m 12 . kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2.2. Pembangunan jalan layang dan sub way b.

tercantum pada Lampiran C 13 .: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL. proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. Secara garis besar. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL. ada tiga kemungkinan sbb. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas. Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan.2.3. 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL. Lihat Gambar 4.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. 17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No.2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 .

3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. kualitas udara dan kebisingan. pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama.  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. • Dampak pada kualitas air. tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan. tapi langsung ke studi kelayakan. • Gangguan terhadap kawasan lindung. • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi. • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah.2. peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum. yang mencakup seluruh wilayah studi. Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja. longsor.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia.  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. 16 . sedimentasi). Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan. Akan tetapi.

4. 17 . terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk. termasuk kawasan adat. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan. Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan.2.2. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4. Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis. dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat.2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek. • Gangguan terhadap estetika lingkungan. Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah. hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif. ekonomi dan juga lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya. alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Di samping itu.

4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji. geologi. dan • batas administratif. kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan.4 sub d) dan Butir 4. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder. (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek. 4. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai.2. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi. ANDAL. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat. RKL. penggunaan lahan. Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode.2. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL.1. dan RPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. 18 . jumlah sampel yang harus dianalisis. • batas ekologi. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. • batas sosial. Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL.4. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi.6). jenis tanah.2. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL. RKL dan RPL).

dan permukiman padat. 19 . tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. sekolah. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional).ANDAL. kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya. atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. (b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau media elektronik. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. (2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. lokasi quarry. sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. media cetak. (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. borrow area. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. base camp dan spoil bank. dan mereka memberikan saran. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . surat. (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur.

2. Secara garis besar.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa.4. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. (d) Hasil pekerjaan. d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab. skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4.ANDAL tercantum pada Lampiran E. untuk dinilai oleh komisi tersebut. (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas. sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4. 20 . Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA . (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan). Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. dilengkapi peta dengan memadai. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman).

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2. Kotak 4.4 Biaya Studi 4.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Metode Pengumpulan Data 3.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.4 Batas Wilayah Studi 2.1 Pemrakarsa 4.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .3 Isu-isu Pokok 2.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.2 Tim Pelaksana Studi 4.2 Peraturan Perundang-undangan 1.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.

Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA. RPL Penilaian ANDAL. RKL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL.08 Tahun 2000. RKL. diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. 22 .

2. Ringkasan Eksekutif. Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL.3. karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder. Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas. agar dapat dilaksanakan secara efisien. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL. 4. Secara garis besar. Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa. 23 . tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam.6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F. Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut. 4. isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4.2.

berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab. 24 . meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi. Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan. terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. Kotak 4.

Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). Dalam pengertian tersebut. Bab VII.4. 25 . sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan.5. c) meningkatkan dampak positif. Kotak 4. Bab VI. Bab II Bab III.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4. Bab V.4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I. Bab VIII. Bab IX. Bab IV. b) mitigasi.

6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 . yang ditandatangani di atas materai. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL.. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan.6. Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F. Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Kotak 4. b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting).

Laporan ANDAL. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. tapi cukup dengan UKL dan UPL. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL.5 4. RKL. Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa.2. Apabila instansi yang bertanggungjawab. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4.2. menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai. maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. Instansi yang bertanggungjawab. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL. tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 . Untuk keperluan penilaian tersebut.

Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.3. pokok-pokok arahan. AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek.3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail. Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan. Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan. UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan. 28 . 4. spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. Karena itu. Pada dasarnya. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak.6. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup.

diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No.5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran. Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran. 27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 . RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL. RKL dan RPL Penilaian ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran.RKL. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .

31 . b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. Estetika lingkungan (lansekap). Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya. Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu). Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J.3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor). Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan. Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL.2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis. yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan. Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi. dilengkapi dengan contoh. d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis.

Gambar 4. Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 . dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang.7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.

3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi.4. seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.  Konsultasi masyarakat.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. mata 33 . Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. 4.3.4. 4. baik dalam dokumen tender maupun kontrak. 4. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul. Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL.4. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.

orang lanjut usia. jarak ke tempat kerja. Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. tingkat pendapatan.4. seperti penduduk sangat miskin.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. jenis penggunaan saat ini. 4.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali.4. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. kelas tanah. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. 4.4. dan status pemilikannya. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. 4. penggarap tanah. jenis dan umurnya). atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek. instansi pelaksananya. jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. dan perempuan kepala keluarga 34 .6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada). jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap. penyewa bangunan. maupun penghuni tanpa izin (squatters). baik pemilik/penyewa tanah. Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. status pemilikan tanah.4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan.

7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci. Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable). 4.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya.8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan. dan jadwal penyediaannya. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L. Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai. termasuk panitia pengadaan tanah setempat. 5 5.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 . 4. Pemrakarsa harus membuat. sumber dananya. menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait.4. berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan.4.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota. 5. 4. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini.

c. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. 5. b. d. Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat. Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya.4 Sub b). lokakarya. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik. Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL. seminar. Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL.2. Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 . pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4. Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL. Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan. diskusi terfokus.

RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL. 5. b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan. Untuk keperluan itu. Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini.4. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan.4 Dokumen AMDAL 5. 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL.4. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL.2 Dokumen ANDAL. sebagai lampiran KA – ANDAL.1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. dari maka komisi pemrakarsa penilai. 37 . dari komisi penilai. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. RKL. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai.

apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki. Terhadap permohonan tersebut. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab . RKL. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL. keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut. RKL dan RPL Dokumen ANDAL. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup.27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. Untuk keperluan itu. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL. dari instansi yang bertanggungjawab. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. 5.4. maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek.

39 . PP N0.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. 5. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan.5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum. pendapat.4. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan.27/1999.27/1999). saran. Dalam hal ini. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa. kesimpulan komisi penilai. 5. semua dokumen AMDAL. 5.

1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen . 40 . Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola. biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. pengadaan (reproduksi) data sekunder. perjalanan dinas. perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek. Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum. b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL. Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum. kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut. a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. pengadaan (reproduksi) data sekunder.komponen biaya personil (gaji upah). 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek. 6. 6. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan. Sekalipun demikian. dan perjalanan dinas. sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait.

kareta api. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan. foto udara. dan laporan hasil survai / penelitian. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. dan Harga satuan tiap jenis data. sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. operator computer. Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. Harga satuan tiap jenis transportasi. citra satelit.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. data statistik. Lamanya perjalanan ke tiap lokasi. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta. Jenis transportasi (pesawat terbang. mobil). 41 . dsb). Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran).

duty station). Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. perjalanan dinas. dan presentasi. staf administrasi. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan. sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 .8 pm. Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. dan tenaga penunjang (surveyor.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL. Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport. bahan (material) dan peralatan. Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji. bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan. Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 .25 pm. dsb). terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. Dalam prakteknya. analisis laboratorium. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli. operator computer. fasilitas kantor. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6. Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah). dan Biaya penugasan luar kota (out-of. 42 .3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut. juru gambar. pembuatan laporan.

43 .4 person-month. dan Komisi Penilai AMDAL. Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. 27/1999. alat gambar dan sebagainya). yang di perkirakan berkisar antara 2 . mesin tik. mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis. di samping itu. Peralatan survai. Office supply (kertas. yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. fax). 6.4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis. Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. Sewa kendaraan kerja. biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa. tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). Biaya Komunikasi (telepon. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor. disket. Namun. dan analisis kualitas udara. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap. dan  penjilidan.

6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP). c) Biaya bahan dan peralatan survey. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. Petunjuk Operasional (PO). dan Lembaran Kerja (LK). dsb).5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan. telpon. a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum. Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut. e) Biaya penyusunan laporan. dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan). Daftar Isian Proyek (DIP). 44 . Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. d) Biaya konsultasi masyarakat. 6.

(iv) MASYARAKAT. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA. Namun. dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat. Karena itu. dan (v) INSTANSI LAINNYA. maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. konstruksi. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan. e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. O l eh karen a i tu . diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal. propinsi dan kabupaten / kota). (iii) BAPPEDA. maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. perencanaan teknis. Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 . 7. d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. (ii) BAPEDALDA.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. 7.1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an .

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten. Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. 7. dan pemerintah kabupaten / kota. dan pemerintah kabupaten / kota. Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP). pemerintah provinsi. pemerintah provinsi.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut.2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 . pemerintah provinsi. Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat. d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. dan pemerintah kabupaten / kota.ANDAL). Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit . pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota.PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat.

7. Bappeda pemerintah kabupaten. b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL. RKL. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan. Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL). kabupaten dan kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. c) Menilai hasil studi ANDAL. Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi. Tokoh-tokoh masyarakat. Masyarakat terasing. b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. Bappeda pemerintah kota.4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. 47 . standar. 7. Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi. Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kabupaten dan kota melalui peta padu serasi. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. dan RPL.

ANDAL. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. kompensasi untuk tanah dan bangunan. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota. RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Departemen atau Dinas Kehutanan. 7.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir. 7. yaitu: 48 . d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan.

berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas. Penyusunan KA – ANDAL. berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi. dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O. RKL dan RPL. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. 7. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Penjabaran Hasil Studi ANDAL. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. Pelaksanaan Studi AMDAL. 49 . usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas.

yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci. Untuk keperluan itu. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini. 8. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. koordinasi 50 . melalui mekanisme kajian lingkungan. untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. Perencanaan Pengadaan Tanah. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. Identifikasi Kebutuhan Tanah. Karena itu. dan AMDAL atau UKL dan UPL. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah.

51 . Di samping itu. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting.

Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). .. (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . 4).(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi... . BPN dan dari sumber lainnya 2)..... khususnya areal sensitive … . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).… . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.

(2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ...… . (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.. 8).(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . (10) 7). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep... Dikbud.....(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai... Sosial) .Ka Bapedal No. (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).... 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy.. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . 9).. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . .

7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . RKL dan RPL 3).(7) 1).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .... Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.. (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .... 2). 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … ..

....… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.... RKL dan RPL … .. lansekap … … … .teknis..: penanganan utilitas yang terkena.. (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 ..: median... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .... RKL dan RPL pada perenc..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ..... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

.. 6)..(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 ...... Memberi masukan persyaratan Lingkungan . Termasuk pola pelestarianaya 7)... tempat keramat. 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL.  Kehutanan tentang status hutan....... areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3). Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5)... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder.. Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … .. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah...... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan.(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 4). (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … ... khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan....... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)....

. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .2).(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat.4). (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .5). Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (7) 3). (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … .. (8) 8)..... (10) 9)...6).....10).... 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait..(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix.. tapi cukup macadam . Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … . (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … ..

.. 9).. 5). (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan.(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … .. Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .. Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).. R P L . 8).… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 ... 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih . (6) 3). nilai lahan dll.(11) 7).. 10.4). R K L.

9).10).5)..(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.. (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … . (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… ... Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13). Dengan instansi terkait 14).. (apabila ada) mis : ANDAL..(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)........ mis : RKL.. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3)... (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak... dan wakil masyarakat terkena dampak 12).. … … .4).(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .… … … .. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 . 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan .. … … . Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2).(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan. dok.... 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait....(12) Menetapkan Desain Jalan . dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).lingk.

mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … ... (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … .. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2). aparat desa atau kelurahan. PDAM.... bantuan pindahan. Listrik... LSM dan penduduk terkena dampak 3)..7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan. Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain. Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6). 5)... (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi... (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .. (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . telpon.. (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … .(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … . bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … .(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll..

..… .(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7).. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).......RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 ... Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi ... 8)... Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja.. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy..(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ....... (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6).... ...(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ....... Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … .. Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … ...........(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .... peralatan dan bahan bangunan 2)....

… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … . metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai. Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ........... dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan .... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2).... data sekunder (laporan harian kontraktor)........... 5)........ (8) 4)... PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis.... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ........ 8)...(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ....... (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 ....... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.

.(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan ... … ..(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … ..(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija. penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb..(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 ..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .. berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang .(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya .

… . jenis penggunaan dan kepemilikan). mis. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . 4). kapasitas produksi. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). kapasitas jalan yang dibutuhkan.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 .. peran dan fungsi kota dll. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya..

... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .(6) .......(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).. (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)........ 5).. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .. ekonomik. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing... status kepemilikan dan kesediaan melepas.. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ...... 4)......RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … .....(7) Menetapkan koridor jalan terpilih. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis..

... (6) 1). (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . (7) Memperkirakan dampak sosial … .(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. Terhadap pengadaan tanah … . dll. ekonomis dan lingkungan. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. Hasil Pra Kelayakan 2)...(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).Rute.(11) Menetapkan Rute Terpilih . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.5).4)..

(9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . 3).. rehabilitasi pem uk.… … … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya.kem bali … … . Termasuk rencana kerja.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. … . … . prakiraan nilai kekayaan. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. Lokasi di Peta... luasan. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).kem bali. dll. pelepasan hak. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . 6).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. masa tinggal dll. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 .

& menyepakati dlm mufakat khususnya P . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .....(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … .P … … .. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .. khususnya panitia pengadaan tanah … … .… .T . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).. 13)... perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1). Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).. (2) Berpartisipasi dalam musy. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … ..

5). 6).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 4)...(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (5) Membantu sesuai keterkaitannya.

4). tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 5). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . … 7) 3). (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.. 2). 6).. 7). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … ..( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .

. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . pelatihan untuk alih profesi … .(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. adat istiadat. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . nilai kearifan lokal. tata ruang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 . LA R A P … … .… . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … ..

Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . 2. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. c). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. f). Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. d). MASYARAKAT. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). para kepala Dinas di propinsi. b). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. BAPPEDA. b). e). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. c). PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. Penduduk terkena dampak. PEMRAKARSA. termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . g). e). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. d).

. 6. misalnya sentra sentra produksi. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 5. kapasitas jalan yang dibutuhkan. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. BAPPEDA. 4. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. PEMRAKARSA. 3. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. 2. 3. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. kapasitas produksi. Selanjutnya. Pemrakarsa. STAKEHOLDER LAINNYA. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. .

dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. UKL. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. 5. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. 2. BAPPEDA. PEMRAKARSA. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. peta banjir. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. 7.. 6. UPL. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. MASYARAKAT. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. Masukan tersebut. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. 3. 8.. PEMRAKARSA. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . PEMRAKARSA. Selanjutnya. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. 4. STAKEHOLDER LAINNYA. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. peta quarry dll. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. menetapkan koridor jalan terpilih 2. 4. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan.

Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. 10. 11. 5. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. BAPPEDA. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. BAPPEDA. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. 5. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. 7. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. 8. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. Atas dasar permintaan pemrakarsa. 6. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. MASYARAKAT. 9.

6. 5. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota.. PEMRAKARSA. Panitia pengadaan tanah. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 12. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. 6. BAPPEDA. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. MASYARAKAT.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. mensosialisasikan konsep larap. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. 4. PEMRAKARSA. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. 13. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. PEMRAKARSA. Selama proses wawancana. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. PEMRAKARSA. 10. MASYARAKAT. 9. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 8. 7. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. BAPPEDA. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. 11.

menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. 5. 7.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. PEMRAKARSA. 14. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. MASYARAKAT. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. 4. 6. 8. BAPEDALDA. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. kartu penduduk dll. BAPPEDA. 7. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 11. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. BAPPEDA. 13. BAPPEDA. Selanjutnya. 3. BAPEDALDA. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. 10. 2. 9. 12. STAKEHOLDER LAINNYA.

BAPEDALDA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 3. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. 6. 12. PEMRAKARSA. 4. 8. BAPPEDA. BAPPEDA. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 8. mislanya karena kehilangan pelanggan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. evaluasi pelaksanaan 2. BAPEDALDA. MASYARAKAT. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . 7.. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. PEMRAKARSA. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. Selanjutnya. 11. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. DINAS SOSIAL. MASYARAKAT. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 10. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). 5. PEMRAKARSA. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. 9. melakukan monitoring & evaluasi. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip.

5. Untuk itu. PEMRAKARSA. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 4. 6. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. MASYARAKAT. 3.. PEMRAKARSA. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. 9. BAPEDALDA. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. penataan ruang. BAPPEDA. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. 2. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. Selanjutnya. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. BPN. PEMRAKARSA. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. 8. 7.

g). Penduduk terkena dampak. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. d). Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. c). proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. b). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. PEMRAKARSA. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. Badan Pertanahan Nasional (BPN). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. para kepala Dinas di propinsi. b). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. MASYARAKAT. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. 2. d). Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. BAPPEDA. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. e). c). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. e). f).

DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Selanjutnya. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. 2. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA.. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. PEMRAKARSA. 4. MASYARAKAT. 5. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. kapasitas produksi.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. misalnya sentra sentra produksi. 3. kapasitas jalan yang dibutuhkan. . 6. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. BAPPEDA. 3. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

. ekonomik/finansial. geologi /geographic.. (3) Memberi masukan aspek lingkungan . lingkungan dan sosekbud... yaitu mencakup faktor teknis. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. nilai lahan.. pelatihan alih profesi. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. dll … ...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan.(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … .. (7) Menyusun laporan PBME . kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang... (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang... biologi (flora dan fauna).. ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan . penggunaan lahan..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing.

meliputi perencana kota. dsb. yang membantu perencana jalan. Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu. Biasanya. sosial-ekonomi dan lingkungan. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 . Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. b) alinyemen yang sama sekali baru. ahli geoteknik.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak. 1. Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. 1. perencana lingkungan. Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait. prastudi kelayakan dan studi kelayakan. ahli ekonomi. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat. atau c) kombinasi dari keduanya. Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan.1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas.2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis. perencana lalulintas. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute.

Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. 2. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2). PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan. khususnya areal sensitif. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 . Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan. ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan.

institusi. ditetapkan empat tipe kota. tem pat tinggal. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. listrik. Namun. prasarana. 2. Bagi keperluan perencanaan jalan. Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks. industri. Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. dan kota kecil. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. Selain prasarana ciptaan manusia ini. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. w arisan budaya. lokasi kegiatan industri. pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam. kota sedang. air. karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. vegetasi dan perairan. kom ersial.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. lokasi kegiatan komersial. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. yaitu topografi. Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. telekomunikasi. kota besar. budaya. akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai. visual. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . dan lokasi kegiatan kelembagaan.

serta perkebunan pohon buah-buahan. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. Namun demikian. Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. kelapa dan kelapa sawit. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. 2. Lain dari pada itu. seperti keselamatan. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial. Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai. yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. Namun demikian. ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota. termasuk kualitas visual dan kualitas akustik. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. Dengan demikian. karet. Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan.

meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar. Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. • nilai visual. dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih. Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah.tanaman lain. akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik.perkebunan. . Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan. . Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru. jalan kereta api. .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil. Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute. 3. Pengembangan jalan dapat membelah properti.sungai. Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai. dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari. . merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait.lahan basah / rawa. bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti.sawah tadah hujan. Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas. • kam pung. Namun. Seperti telah dikemukakan di atas. • rum ah -rumah terpencil.sawah beririgasi. meningkatkan aspek-aspek keselamatan. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan. meliputi: • Lahan pertanian: .1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. 3. • desa. bakau. misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 . • Lingkungan alam : .

Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 .2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. kelapa dan kelapa sawit. lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. dan kampung atau desa. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan. serta lahan perkebunan karet. 3. Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. Secara umum. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan.

opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4.1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute. Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. 4. sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi.) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . meliputi kondisi topografi. enjiniring. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin.

Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami. tutupan lahan. termasuk vegetasi dan hidrologu. dsb. elevasi. Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah. selain menyajikan pula detail topografi. tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check). Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci.000 untuk seluruh Indonesia. data lingkungan dan data sosial/budaya. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS.000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan. pada umumnya yang berskala 1 : 10. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25. roman-roman alami seperti gunung. serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris. seperti kondisi geologi. informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. bukit. rel kereta api. Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan. 4.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan. atau lebih detail dengan skala 1 : 5. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual). Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia.000.1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional). jaringan listrik. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah.1.000. Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 .1. dsb. meliputi:  Peta Topografi.  Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah. sungai. Peta-peta topografi skala 1 : 25.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. Peta-peta skala 1:25. yang diproses dari foto udara.000 mahal harganya. Namun.000 ( Foto udara berskala 1 : 5. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan. liputan vegetasi dan pola hidrologi. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI.

1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan. Namun. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain. Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek. dalam beberapa hal.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan. Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan. tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 .

2. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . mencakup rencana lokasi proyek. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan. 3) Bappeda. kabupaten/kota. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). 2) Bapedalda. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. kabupaten/kota. dll. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. Melakukan penyaringan lingkungan. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan. kabupaten/kota.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B. B. penduduk terkena dampak. 4) Masyarakat. B. panjang jalan dan tahun anggaran. dalam hal ini Dinas PU provinsi.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Bappeda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan.  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah). B. kawasan dan makam yang dikeramatkan. Bapedalda. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa. yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 . terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif). dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada).  Masukan dari stakeholder lainnya. termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.  Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan. area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi. masyarakat (misal tokoh masyarakat).  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250.  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan. Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. situs-situs purbakala. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan.000). biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik. lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya. dan stakeholder lainnya (misal BPN.2.2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda).

khususnya areal sensitif. dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP). Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan.  Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan. kab/kota) serta penerapan peta padu serasi.1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda. UKL/UPL atau SOP). Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan. Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL. khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan.3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas. B. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan. maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 .  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada). B.3. Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B.2. Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik. Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL.3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi). B. Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan.2.

4. yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 .3. 2. Desain wilayah (kota/perdesaan). UKL/UPL B.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan.  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL.3.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini.1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat.  Panjang ruas jalan. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan. AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL). status lahan dan tata guna lahan).3. Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. B.3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan. terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B. lebar jalan. Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute).3. lebar damija yang ada. antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan. 3. Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan).

Lurah/Kepala Desa. pendapat.  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran. b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). B. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN). dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran.2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor. Camat.3.. termasuk tokoh LKMD. antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT . pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat. misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.3. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan.

. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 .Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. Lurah. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. B.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. termasuk tokoh LKMD.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.3. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. Bappeda.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.3. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan. Camat.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. termasuk klas jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. Lurah/Kepala Desa. Lurah. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.

kondisi prasarana dan sarana. misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. dan (status lahan konservasi). Camat. Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain.3. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. .3. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh. masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan.5. B. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. B. terutama dalam rencana pengadaan tanah. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B. .. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing.  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan.3.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 . misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah). B. termasuk tokoh LKMD. Lurah/Kepala Desa.3.

2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.4. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan. status lahan dan tata guna lahan). PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 . Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL).4.4. misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih. Menetapkan rute terpilih B. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan. Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. misal di Kantor Bappeda. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih. B. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan. kondisi prasarana dan sarana. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). terutama dalam rencana pengadaan tanah. Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai.

akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 . B. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih. RPL dalam perencanaan teknis jalan. dokumen ANDAL.5. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL. B. RKL/RPL dari rute terpilih. B. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai.5. Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B.4.4. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis. Disamping pertimbangan aspek lingkungan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak. misal di Kantor Bapedalda. RKL/RPL. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih. Dokumen ANDAL. a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda. Diskusi penjabaran RKL.4. Membuat konsep LARAP. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan.5. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. Menetapkan desain teknis jalan. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan. antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL.

antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . LKMD. dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan. Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL. Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan. memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi. a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis .5.5. wakil masyarakat yang terkena dampak). Masyarakat (Kepala desa/lurah. dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat).3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. B. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL. misal di Kantor Bappeda. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak. baik berupa upaya pencegahan. B. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP.2 Diskusi Penjabaran RKL. RPL dalam perencanaan teknis jalan.  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut. misal di Kantor pemrakarsa proyek. meminimalisasi. RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda.

antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan). terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan. lebar jalan.  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah. dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. B. dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan.5. lebar damija yang ada. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah. Bappeda. LKMD. dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 . wakil masyarakat yang terkena dampak).  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. misal di Kantor Bappeda.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang.

 Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya.5. persepsi. B.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP. yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan. aset di atasnya.  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak. biologi dan sosial) yang terjadi.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 . dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi. jumlah pemilik. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut.5. B. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota.

2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan). pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat. d) e) C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 . C. pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru. jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali. Karena itu. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung).4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2. Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil. Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL.3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1. C.

000. 1.atau luas pengadaan tanah b.000 – 500. emisi yang tinggi.000 jiwa 100. Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas. dampak kebisingan. Pedesaan : .17 Tahun 2001. Bangkitan lalu lintas. getaran.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. gangguan visual dan dampak sosial. b. a. getaran.Panjang . dampak kebisingan.000 jiwa 500. getaran.atau luas pengadaan tanah c. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi.000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 . gangguan visual dan dampak sosial. gangguan visual dan dampak sosial. Di kota sedang : . gangguan visual dan dampak sosial.000. Di kota besar / metropolitan : .000 – 100.Panjang .000 – 1. dampak kebisingan. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. dampak kebisingan. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000 jiwa 20. > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Bangkitan lalu lintas. tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1. Bangkitan lalu lintas. getaran. emisi yang tinggi. emisi yang tinggi. getaran. emisi yang tinggi.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. dampak kebisingan.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. 3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . Penyusunan laporan hasil penyaringan. Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km .1. Jenis Proyek Besaran 1.2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek. Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi.5.10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. dan skala / besaran kegiatannya. 2.  luas areal pengadaan tanah (ha). Pembangunan Jembatan a. yaitu:  panjang ruas jalan (km).10 km 2 ha .5. Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL.5 ha 3 km .5 km 2 ha .5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C. b. Di kota besar / metropolitan: b. Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E. Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL.1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif. Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a. Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C.

antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal).32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan).  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan.  Alat-alat berat yang diperlukan.  Jenis lapis perkerasan. berbatasan langsung.1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam. Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui. atau berdekatan dengan kawasan lindung. Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder.3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C. 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap.5.1.5. dll). e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. • Lebar badan jalan.3. dan Pasal 37 Keputusan Presiden No. C. c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. berbatasan langsung dengan. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu).24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung. b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan. tercantum pada Kotak 1. Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya. pasir. peninjauan lapangan tidak diperlukan.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada).  Peninjauan lapangan.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu.  Lebar perkerasan.

perairan darat. Hutan Wisata. 13. 5. 11. • pipa air. • jalan kereta api. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). • saluran air. peninjauan lapangan akan sangat berguna. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Bila perlu. wilayah pesisir. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Kawasan Rawan Bencana Alam. Suaka Marga Satwa. Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. gugusan karang atau terumbu karang. Taman Nasional.2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat. 8. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. 10. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Taman Hutan Raya. Sempadan Pantai. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). dan foto udara (bila tersedia). dan • pipa gas. daerah deengan budaya masyarakat istimewa. Sempadan Sungai. • telepon. 15. dan Daerah Pengungsian Satwa). • kabel listrik. Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. 7.3. peta tanah. peta penggunaan lahan. peta geologi. 9. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 . c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi.5. Kawasan Bergambut. muara sungai. 6. 4. Kawasan Resapan Air. 3.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. seperti: • jaringan jalan. 14. 2. Daerah komersial. Kotak 1 C. Kawasan Hutan Lindung. 12.

konstruksi.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar. Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah. dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C.5. kebisingan.3) . pengoperasian base camp dan stone crusher. • rumah sakit. yang mungkin terkena dampak. pencemaran air). d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C.5.5. diurut mulai dari tahap pra-konstruksi. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C. perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya. merubah komposisi vegetasi.1. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C. mulai dari tahap pra-konstruksi. konstruksi dan pasca konstruksi. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak. dan • tempat ibadat.2 yang merupakan sumber dampak. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 . seperti kegiatan pengangkutan material. C.5. (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap.5. misalnya kegiatan land clearing. menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk .3. dan pasca konstruksi. C.4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL.5. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL. C. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat. b) Secara garis besar. Kalau tidak.4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. Bila tidak. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut.5. komponen biaya terbesar adalah biaya personil. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL. tapi wajib menggunakan SOP. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3. c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2. Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut. Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli. Pada umumnya. maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua. • analisis laboratorium (bila perlu). makin mahal biayanya. jika tidak memenuhi kriteria tersebut. Sebaliknya.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . • survai lapangan. Bila tidak. Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1. • peralatan dan material. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. Makin jauh jaraknya. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Jika memenuhi kriteria tersebut.

Secara umum. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 . yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya. Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut.8 pm. b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan). dengan biaya berkisar antara 5 . c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C.5. Penyusunan Laporan f) C. wajib UKL dan UPL. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL.30 person-month (pm). pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL). sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 .35 % dari total biaya proyek. Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL.10 % dari biaya persiapan proyek. termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 . atau antara 0.7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini.06 0.1.

Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. Intensitas dampak I1 I2 5. L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan. Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3. atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. atau kumulatif dampak. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 . W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar. tidak berbaliknya dampak. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak.

Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 . 7.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6.

. c. c.m . Berlereng curam (> 40 %) b. Pekerasan rencana 4.. d. Daerah komersial c.m .. b. km . % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 . H a a. Nama kota b. Rencana 10.. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . km (… (… (… (… … … … … … … … … . km a. Pemukiman padat b. d. DAMIJA Ekisting 1) b. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B. Propinsi 5. Luas areal pengadaan 9.. Nama Rencana Kegiatan Proyek 2. … … … … … … … … … … … … … … … … . % . km b. Panjang Ruas Jalan 3. Tanah tidak stabil 2. Lokasi a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. … … … … … … km a.. Areal pertanian produktif d. … … … … … … … … . RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1... kendaraan /hari b. km . Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a.. LHR a. … … … … … … … … … … … … … … … … … .. km . … … … … … … … . % . … … … … … … … … .m a. … … … … … … … .. Lebar Jalan a... Perkerasan Ekisting 1) d.. … … … … … … … … … … … … … … … … … .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A.. % .. Fisiografi a. c. Penggunaan lahan a..m . b.. Eksisting 1) b. Status Kota 6. b. Kabupaten c. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . Damija rencana c. Fungsi Jalan 7. Jenis Program 8. … … … … … … … … … … … … … … … … … . Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..

KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1.. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b. . Wajib AMDAL 2.. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a. … … … … … . . … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . . Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a. Wajib UKL dan UPL 3. .. 3. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 2. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. D. Kawasan lindung a.. Jenis/nama kawasan lindung b. PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p. … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . b. ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . c. Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c.

5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus. meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum. Badan Pertanahan Nasional (BPN). dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. kabupaten/kota.1. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa. dll. 1) lahan di D.1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini. peran dan fungsi kota.2.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya. kabupaten/kota. 4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan. 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya. 2) Bapedalda.2. dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. D. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. kabupaten/kota. antara lain : sentra-sentra produksi. 3) Bappeda. kapasitas produksi. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D. 4) Masyarakat.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada). dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 . penduduk terkena dampak.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D.

serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. orde penataan ruang.2. D.000). dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai. Kehutanan. potensi kapasitas produksi. hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.2. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov.  Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan. D.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan.1.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. misal: skala 1 : 250.1.1. D.2.000).2. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 .  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. kab/kota).

Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya. 4. Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan. rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 . ii.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. D. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan).2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. berbatasan langsung dengan. 3) Aspek orientasi budaya. 3. D. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. atau berdekatan dengan kawasan lindung. 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. kab/kota).2. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. i. khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan. misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing. bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.000). 2) Aspek pola kepemimpinan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. Kehutanan.2. 2.2. Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya. bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100. antara lain sebagai berikut : 1.

3.000 D. misal skala 1 : 100.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting.3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan. D. Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda. Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D.000). status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan. Bappeda.3. 1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan. Bappeda dan masyarakat).3.1 Status lahan dan tataguna lahan. serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada).3. 2) D. Masyarakat dan Stakeholder lainnya.1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.2 Konsultasi dengan Bapedalda. D. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan. dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan.1.1. dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 . Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai .

b.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi.3.1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.2. d. tentang (khusus pada masyarakat terasing): a. Aspek pertanahan masyarakat terasing. 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D. Aspek kepemimpinan.3. Meminta masukan dai Bappeda tentang : a. Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada). e.3. serta pola penggunaan lahan. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor. Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah.2. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 . Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b. Aspek kependudukan.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi. terutama kebutuhan pengadaan tanah. c. Aspek budaya. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif. 1) D.

2) D. kab/kota).4.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. 3. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan. Mencatat informasi mengenai tiap rute. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. 2. antara lain meliputi dua hal tersebut di atas. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL.4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih. yakni : a. c.1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. terutama dalam rencana pengadaan tanah. b. b. dan (status lahan konservasi). dll). jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute). 4. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih.

h. D. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. paling tidak mencakup 4 hal. NJOP dan harga nyata tanah 1. b. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. c.2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. g. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. d. Menuangkan dalam bentuk matriks. e.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6.4. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 . Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC. 2. 7. f. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur.

kolam /tambak ikan dan sebagainya. (ii) tanah pengganti. 3. Stakeholder lainnya. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen. 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. kantor. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). Usulan tentang ganti kerugian.4. gudang. d. Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. tahunan. sebagai berikut: 1. e. 5) Penduduk (pemilik. tanah ulayat dan sebagainya). penyewa. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. Status kepemilikan tanah. huruf (ii). 2. darurat). j. Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis. an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. status kepemilikan tanah. kab/kota). Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka. Persepsi masyarakat terhadap proyek. k. 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan. Aset lainnya yang akan dibebaskan. h. sedang dan besar).3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. dan huruf (iv). (iii)pemukiman kembali. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. f. 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda. 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. dan sebagainya ). 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. Luas bangunan yang akan dibebaskan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. tempat usaha. semi permanen. 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil. bersejarah dan tradisional. Luas tanah yang akan dibebaskan. NJOP tanah dan harga nyata tanah. meliputi : Tata guna tanah . g. penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan. tanaman (umur setahun. bengkel dan lain sebagainya). Harga nyata tanah dan NJOP-nya. tempat ibadah. Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. Fluktuasi pendapatan akibat musim. status bangunan dan tipe bangunan. Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. c. macamnya (rumah tempat tingggal. Bappeda. i. misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. l.

Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. Melakukan konsultasi masyarakat. Uraian rencana pembangunan jalan. 3. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 . setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. dll).5. kab/kota). D. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak.4.4. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan. Sosialisasi konsep LARAP D. Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih). Melakukan survai sosial ekonomi. 4. atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda.4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih. 2. b. disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. yakni : a.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan. Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan.5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. ekonomis dan lingkungan. D.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan.

PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 . dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. 1) D. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan. Luas areal persawahan d. bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. Luas areal ladang c. antara lain sebagai berikut : a. Luas areal perkebunan e. 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi.2 Survai Sosial Ekonomi 1). Luas areal permukiman b. untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya. untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. Jenis utilitas umum h. Luas areal hutan f.5. Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya. untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks. Luas areal semak belukar g. paling tidak mencakup 4 hal. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali.

5. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan. yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. 7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. D. tanah ulayat dan sebagainya). status kepemilikan tanah. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka.3 Konsultasi dengan Bapedalda. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial. status bangunan dan tipe bangunan. 5) Usulan tentang ganti kerugian. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur. sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. Bappeda. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut. 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. NJOP tanah dan harga nyata tanah. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang. 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer. 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim.

3. evaluasi dan rehabilitasi. sarana dan prasarana. 4. 2. jumlah tiang listrik dsb).  Perkiraan biaya. pasal 45. luasan. Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait.  Tindak lanjut. masa tinggal dll.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan.  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No.  Instansi penanggung jawab. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 .  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3).  Status penyelesaian.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1. D. jumlah bangunan. termasuk status sertifikat.4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK.  Biaya pelatihan alih profesi. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial).  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru. luas. Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan.  Rencana penyelesaian. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain.  Alokasi anggaran. Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja).  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan. lokasi di peta. 1/1994. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi.  Jadwal penyelesaian.5.  Sumber pendanaan. prakiran nilai kekayaan.

terasing… .… … . 3)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (6) . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). peran dan fungsi kota dll.. kapasitas jalan yang dibutuhkan.(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .. kapasitas produksi. serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … ... (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . ..… . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).

........Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy.(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ..... sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor .. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ......... budaya . terasing.. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial....(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing. ekonomik. (8) .. ekonomi. 4)... 5). … … . (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis... ... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … ... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.... 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).

ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.... ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).....4)..(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... terasing … .... Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2). . (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) . terasing...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..... terasing.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy...

. (11) . Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy.....… … … . kepemimpinan. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … ... sistem dan nilai hak adat ... 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … ... Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)..terasing tsb... Termasuk rencana kerja. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)...... terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing . pembagian tugas 3). T indak … .. Renc..(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy..... (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.. terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...

...… ......(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing . 5)....Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing....... … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . lembaga adat ...(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ........ dll.. 3). rehabilitasi konservasi situs dll.. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)......... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan...(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .. Termasuk LSM. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). perbaikan permukiman tradisional.(7) ...... 4)...

Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . 6). 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg. 5)....(12) .. (11) 8).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 4).Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . (6) 3)..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .

. 2).(8) ... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .. budaya dan kelembagaan.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)......(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . sosialekonomi.. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..terasing termasuk rehabilitasi … … . 4). penanganan masy . 6). Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). 5)..(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing .

(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing … … . penanganan masy. terasing … . terasing yang lebih baik . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy..… . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. tata ruang nilai kearifan lokal..Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .

.

… . kapasitas jalan yang dibutuhkan. kapasitas produksi. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. jenis penggunaan dan kepemilikan). peran dan fungsi kota dll.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . mis. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan.. 4). dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … .. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).

..... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .......(8) ..... 5)..........Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ..(6) ..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih... ekonomik... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3). (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.. status kepemilikan dan kesediaan melepas. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … . 4).... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan...

Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).Rute.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak. (12) . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.. dll. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt... Hasil Pra Kelayakan 2). (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .(11) Menetapkan Rute Terpilih .5).(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . ekonomis dan lingkungan.. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. Terhadap pengadaan tanah … ...Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.4).. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. (7) Memperkirakan dampak sosial … .

3). luasan.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). prakiraan nilai kekayaan. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).… … … . masa tinggal dll. 6). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. Termasuk rencana kerja. … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … ..kem bali. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . Lokasi di Peta.. pelepasan hak.. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … .. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.kem bali … … . rehabilitasi pem uk. dll. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya..

& menyepakati dlm mufakat khususnya P ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)... 13).. khususnya panitia pengadaan tanah … … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … ... Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). (2) Berpartisipasi dalam musy.T .… .. (4) KETERANGAN 1).P … … . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .

.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 6).. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 5)..(12) . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 4).. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .

Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 2). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 5). 4). (8) .. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … .. 6). 7). … 7) 3).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.

.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.. nilai kearifan lokal. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … .… . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. pelatihan untuk alih profesi … . LA R A P … … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . tata ruang. adat istiadat. (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan..

.

4)..Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. (6) . ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. ... khususnya areal sensitive … . BPN dan dari sumber lainnya 2).. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).… . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ..

10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . Sosial) .Ka Bapedal No.… . 8). 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ....08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. 9)... (12) .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. Dikbud. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .... terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep. . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2)..... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (10) 7). (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan..

. (9) . 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ...Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen... Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.... (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . RKL dan RPL 3)..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. 2).. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).

(5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL ..: median....(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. RKL dan RPL … .… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ..... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.: penanganan utilitas yang terkena.. lansekap … … … .... (8) ...teknis..... RKL dan RPL pada perenc....Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.

.

Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0. antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 147/KPTS/1995).1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.2 Langkah . pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL. Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 . 40/KPTS/1997). E. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat.ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E. 69/PRT/1995). 9 Tahun 2000.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E.langkah pelaksanaan Secara garis besar. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Keputusan Kepala BAPEDAL No. proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA .3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL.

Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. dan/atau media elektronik. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa. media cetak.4.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi. dan mereka memberikan saran.4. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.4 E. Hasil pekerjaan. • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Media pengumuman • E. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan.4. E. Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan). E. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota. E.4.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi. dilengkapi peta dengan skala yang memadai. surat. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.

f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. E. dan cara penanganannya. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1). kapasitas dan lokasi kegiatan). diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah).1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. E. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio. yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 . lokakarya.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL.5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.6 E. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2.6. E. jelas dan mudah dimengerti. h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. dan Mengumumkan waktu. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. masyarakat menyampaikan aspirasi. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2. kebutuhan. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. seminar.4.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. Dalam proses ini. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul.

c) pemusatan dampak besar dan penting. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial. antara lain metode matrik dan bagan alir. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E. Langkah pertama. batas ekologis. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak. c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan. identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. b) evaluasi dampak besar dan penting. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . batas sosial dan batas adminsitratif.6. jumlah sampel yang perlu diukur.

08 Tahun 2000. RKL. RPL Penilaian ANDAL. RKL.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 . diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran. Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.

konstruksi dan pasca kontruksi). Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. Langkah kedua. Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka. bahan bangunan yang akan digunakan. (lihat Tabel 1 dan 2). Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. perairan umum. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . kondisi biologi. dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan. c) peninjauan lapangan. jumlah tenaga kerja. sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. cenderung makin besar pula dampaknya. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. lokasi quarry. Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. baik dampak primer. jenis limbah dsb. Makin besar volume kegiatan proyek. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu.

PemancanganTiang Jembatan 9. 4. 3. 3. 5. Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. Survai & Pengukuran 2. 6. Pengoperasian jalan 2. 2. 1. 1. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 . 7. Sosialisasi 4. 2. 8. Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. 7.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. Pengelolaan Quarry 8. 2. Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. 4. 2. 3. 1.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. B. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6. 4. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 5. 6. C. Pembayaran ganti rugi 1.

Pembuangan sisa bahan bangunan 10. Pengoperasian jembatan 2. 2. 3.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. 3. 6. 7. 1. 4. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8. B. 8. 5. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. 7. 2. 1. 1. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 . Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 5. Sosialisasi 4. Survai & Pengukuran 2. 4. 2. 5. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9. 4. 2. C. 6. 3.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman. Sebagai contoh. proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar. Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA. kontruksi maupun operasi.6. tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman. batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan. industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. E. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 .  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi.  Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor). Di dalam batas ekologis ini. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material. waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat).

• Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data. diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat.7 E.6. Bab 5 : Daftar Pustaka. E. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. diperlukan tenaga ahli hidrologi.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan.7.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. E. Bila perlu. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas.2 di bawah ini.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. Bab 6 : Lampiran. Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat. Bab 4 : Pelaksanaan Studi. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia. diperlukan tenaga ahli kehutanan.7. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi. Karena batas proyek jalan cukup sempit. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. Bab 3 : Metode Studi. perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia. dengan memperhatikan keterbatasan dana.

5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 . (4) Status proyek saat ini.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4. dan Tujuan dan Kegunaan Studi.4 Batas Wilayah Studi 2. Peraturan Perundang-undangan.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.3 Isu-isu Pokok 2.2.2 Peraturan Perundang-undangan 1. (2) Maksud.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub .1 Pemrakarsa 4. tujuan dan manfaat proyek.1 Metode Pengumpulan Data 3.2 Rincian Materi dokumen E. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan).2 Tim Pelaksana Studi 4.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E.4 Biaya Studi 4.bab yaitu Latar Belakang.1 Latar Belakang 1.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.7. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1. antara lain meliputi: (1).2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.7. (5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL. Lokasi rencana kegiatan proyek. (3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa.

Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 . 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Keputusan Menteri Kehutanan No.2.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 . perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No.7. antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL.7. E.3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL.2. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.

23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 11) Keppres No. 2) Undang-undang No. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 6) Undang-undang No.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. 3) Undang-undang No. E. 5) Undang-undang No. • B atas w ilayah studi. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 8) Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 19) Keputusan Kepala Bapedal No. 7) Undang-undang No. Kep. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 . 18) Keputusan Menteri Negara KLH No. 9) Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 55/1993. 10) Peraturan Pemerintah No. • Isu -isu pokok. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. • R ona lingkungan hidup aw al. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 4) Undang-undang No. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air.2. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting.7.

Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan). teknis dan ekonomis. Jenis program (pembangunan / peningkatan). b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan.3. V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan. P anjang ruas jalan. Lebar jalan (Damija. c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 . tol).3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1. G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan. Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel. perkerasan).1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya.3.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan. propinsi. d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1. Jadual pekerjaan konstruksi. F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting.2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. S tatus proyek saat ini. Jenis perkerasan. kabupaten / kotamadya. 1. Status jalan (jalan nasional. Lokasi proyek.

koral. • peralatan yang digunakan. • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu. (2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan.Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah.pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek. • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. pasir. konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1). dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. • P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah. Tahap Pra . PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 . • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya. b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak. yang harus ditelaah oleh konsultan. (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan).

jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting. (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija. (3). seperti contoh berikut : (1). Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 .kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan. • K om ponen lingkungan sosial . Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. • K om ponen kingkungan biologi. mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut.budaya. (2). yang bersifat “site specific”. sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. longsor. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut.kimia. Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut. penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat. Untuk proyek jalan tertentu. dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik . dan sedimentasi pada badan air setempat. Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri .Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan.ekonomi .

sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa. Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 . Untuk pengumpulan data primer. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya. grafik. Untuk pengumpulan data sekunder. Sebagai contoh untuk pengukuran.2. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan. Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif.7. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). c) Metode evaluasi dampak besar dan penting.5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL. gambar atau deskriptif. b) Metode prakiraan dampak besar dan penting. E. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut.

sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. • Lansekap. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . • Teknik Lingkungan. • B iologi.2. E. b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. • S osial-ekonomi. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan. b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. • K esehatan M asyarakat. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun. Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun.7. dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar. • G eoteknik. • S osial-budaya. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota. bagan alir. Kep-056/1994. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik. overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek.

Laporan Pra-Studi Kelayakan. d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. Disamping itu. secara singkat dan jelas.7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. • P engum pulan D ata. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart.2. dsb. Peta Penggunaan lahan. • P enyusunan Laporan. Laporan Perencanaan Umum. perjalanan dinas. d. seperti : a. c. APBD atau Bantuan Luar Negeri. Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. termasuk tahun anggarannya.kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. • P engolahan D ata.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi. • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab.laporan lain yang relevan. Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5. b. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut. peralatan dan material. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 . • A nalisa Laboratorium . • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah). Laporan .7. E. c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan . analisis lanoratorium. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek.

. d. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir). Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai. ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya. Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan. setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL.Laporan ANDAL.5.3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa. Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e.2. c.Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis. terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa.8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a. E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan.1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan.5.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 . Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya. penyusun / penerbit. Peta lokasi proyek secara makro. Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. . jadual studi ANDAL. Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan.Ringkasan Eksekutif. . Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait. . b. 5.5. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry.5 Pelaporan 5. dan tahun pembuatan / penerbitannya.7. yang terdiri dari : . 5.

terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa. Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari).8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . E. sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud.4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai. revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir. E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya. Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … . Untuk keperluan penilaian tersebut di atas.5.

Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat.2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai.3 Penyusunan Konsep ANDAL F. F. (a). Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan.2. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 . karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan.1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.2. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi.3. RKL dan RPL Bidang Jalan F. F. Bab 3 : Metode Studi. sosial dan kesehatan masyarakat. RKL/RPL F.1. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan. (b). Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. biologi. Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP). pengamatan dan wawancara.

Bab 5 : Rona Lingkungan Awal. 2. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. Bab 8 : Daftar Pustaka. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan. dan wilayah studi.3. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. Bab 9 : Lampiran. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak. terutama yang langsung terkena dampak. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting. F. Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek.3.3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah. RKL DAN RPL BIDANG JALAN . Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL). 1.

Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.1 b) di atas. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting. b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai.1 b) di atas. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks. dan hasil pengamatan lapangan.4. Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas.3. 3. Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3. 2. maupun hingga kegiatan berakhir. F. 2. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 . bagan alir. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai. 1. meminimisasi. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL.3. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. metoda prakiraan dampak besar dan penting. metoda analisis atau alat yang digunakan.3. dan rancang bangun teknis. serta metoda perumusan RKL dan RPL. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen). Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup. 4.

Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama. 2.5. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah. Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 . hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan.3.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut. kecamatan.3. Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. F.3. 2. F. dan komponen kegiatan proyek.5 Rencana Kegiatan F.1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi.1. yaitu lokasi dan luas areal proyek. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan. kabupaten/kota dan provinsi. 1. ekonomi dan institusi.5.3. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih.5.

4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung.2. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 . Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup. dan pasca konstruksi. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar.5. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi. Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a.3. konstruksi. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b.

yaitu komponen geofisik-kimia. kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana. Erosi tanah. F. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Aliran air permukaan.3. Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya.  Biota air. Keberatan pemilik lahan.3. Aliran air tanah. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng.3.6. Settlement.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar. Perekonomian lokal. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek. Sedimentasi. jenis peralatan yang digunakan. Tata guna lahan. Prevalensi penyakit. Pendapatan penduduk. F. volume galian dan timbunan dll). F.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp. Keresahan masyarakat.3. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .1 Komponen Geofisik. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat. biologi. Kualitas air permukaan. sosial. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk.6. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Pola penggunaan lahan. Estetika lingkungan F. rute angkutan material.6.

3. Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan. d. yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a. e. 2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL). dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. konstruksi. F. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. b. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik. c. F. antara lain meliputi :  Kondisi jalan. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan. 3) Mekanisme aliran dampak. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 .  Kondisi lalu lintas. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal.3.3.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial.3. F.6.  Kondisi utilitas.8.1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri.7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi.

f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam. peta. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai. d) Diagram. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun.8. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak. b) Surat-surat tanda pengenal. Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan.3. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus. F. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup. e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL.3. F. kualifikasi. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. keputusan. F. F.3.1.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 . grafik. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola.9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku.4.4 Penyusunan Konsep RKL F.

misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut. b) Pernyataan kebijakan lingkungan.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan.4. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan. kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F.3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 .  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. (a). Bab 5 : Lampiran. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah. F. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. singkat dan jelas.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.4.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau. Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. akan ditempuh cara. mengurangi. misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir. ekonomi dan institusi.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia. Bab 4 : Daftar Pustaka.

jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b). misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan. e) Lokasi pengelolaan lingkungan. c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. g) Pembiayaan.  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . d) Pengelolaan lingkungan. f) Periode pengelolaan lingkungan. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dinas Kehutanan. cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. b) Tolok ukur.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang. (c). Dinas Pengairan. Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup. sosial ekonomi ataupun institusi. jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi. PLN (Persero).4. F. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting. berkepentingan.  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak.

5. adalah penurunan sumur penduduk.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.4. F. sumber dampak.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. lokasi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak. maupun bagi masyarakat. Bab 3 : Daftar Pustaka. rencana pengelolaan. pihak-pihak yang berkepentingan.1. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi. singkat.4.5 Penyusunan Konsep RPL F. Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. b) Uraian secara sistematis. tujuan pengelolaan lingkungan. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. dll. Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan.5. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau. F. Bab 4 : Lampiran. b) Sumber dampak.5. F. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa. Contoh indikator muka air tanah.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak. tolok ukur.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. sumber dampak. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi.5. dan institusi pemantauan lingkungan.5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau. atau formulir isisan yang digunakan. pengawas. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. berkepentingan. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak.5. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud.4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai. tujuan pemantauan lingkungan. Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana. F. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 . e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan. F. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. kimia. d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting. b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. metoda analisis). Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai. (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL). F.6. lokasi.6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan.

6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya.3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas.6.6.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. F. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 .6. F.1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut.4. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai.6. F. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.6.6.2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F. F.6.

Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. 3. Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak. 4. G. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial.1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan. dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi.2.1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. G. identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. 299/11/1996. penetapan batas wilayah studi. 5.2. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 . Ahli Transportasi.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a). 2. Identifikasi dan penetapan parameter sosial. yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya. identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak. Ahli Sosial Ekonomi. Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial. Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No. dan penilaian tingkat kepentingan parameter. termasuk akses koridor.2. (b). G.

2. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 . (c). maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman). rute pengangkutan material. batas kawasan industri. batas administratif. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.  Melakukan pengamatan terhadap lokasi. berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana.  Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. kawasan pelabuhan/bandar udara. batas sosial.  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau. batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA. lokasi basecamp. waktu dan tenaga yang tersedia).  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada.  Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. lokasi quarry.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas.  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis. batas ekologis. Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen. dilakukan pembagian segmen.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek.  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan.3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak. setiap segmen dan sub segmen. Dalam proyek jalan. dan borrow area (yang dikelola proyek). wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen. G. konstruksi dan operasi. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar.  Pada tahap awal.

Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b. Tahap konstruksi b. Tahap pasca konstruksi. antara lain sebagai berikut: (a). meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b). Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek. mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c).  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial. meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 .2. Metode kerja. peralatan dan meterial yang digunakan (d).Tahapan Pelaksanaan Proyek. Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a). mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b). Kegiatan proyek.1. Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya. Tahap pra konstruksi.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya. Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e).

Pembobotan oleh Ahli (b).2. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 . Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung. (b). Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya.2. yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama. Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan. dapat dilakukan dengan cara pembobotan.5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter. Melalui prinsip penghitungan yang sama. bukan pada dampak turunan.2.1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a). tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga. perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua. yakni: (a). (c). Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi. Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner. dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara. Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan.4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G. Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak. Skala bobot kepentingan dimaksud. Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga. G. selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Pelaksanaan penilaian/pembobotan. dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi.

Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus.4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a). Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel.3. dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik. tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa.3. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan. apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut.1 Kerangka Proses G. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan. Untuk itu. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. perlu dilakukan penelusuran tapak. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek. (b).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. G. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik. maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel. karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan. Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut. jumlah sampel ditentukan. G. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga. Karenanya.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi. dan keragaman tata guna lahan. Dengan cara tersebut. salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol. Apabila dipilih cara ini.3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara. batas wilayah administratif. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai.3. analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. teknik penelusuran sampel. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 . tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. Pemilihan sampel representatif.3. G.

Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek.d. Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang. Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. 50 meter. Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c). Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen. atau pun jenis pekerjaan. Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. (e). dan non permanen. Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. seperti kondisi permukiman permanen. metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan. semi-permanen. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. dan responden dihadapkan pada pilihan opini. Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. (f). Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden. Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya. Muatannya berupa data hasil wawancara. (g). sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban. Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini.

berupa identitas responden. tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden). Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas. Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara. serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam. Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek. G.1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 . persepsi tingkat kepentingan parameter. Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G. untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan. (b).5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). dan persepsi terhadap kondisi eksisting.4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan. Pada prinsipnya.3. karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian. Selanjutnya. Kuesioner tersebut memuat data pokok. akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri. kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS). seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA). Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri. serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. responden diminta untuk menilai kondisi eksisting.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial. (c). Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor.4.

PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 . Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif.2 Komponen Analisis (a). antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. (b). Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). 3. Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali. peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. Untuk kepentingan analisis ini. baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum). BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan. Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi. 2. Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. antara lain : 1. Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur.4. (c). Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku. dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. mobilisasi dan pembebasan lahan. Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). baik berupa baku mutu.

konstruksi. Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden. yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak. Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak.5. Pada komponen lain. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL). Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi. Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum. RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak.1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. Jadi.5. DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS). RDDL = SDD/DDLSaw G. dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia. intensitas dampak sulit diukur secara langsung. dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi). Karena itu.2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden.5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw). Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw. Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat. RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana. (d). Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. Pada proses analisis. terdapat 2 (dua) terminologi kunci. Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e). G. Pada komponen sosial. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan. nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 .Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur. yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan.

5. apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya. maka suatu dampak tergolong kategori penting. baik pada saat pra-konstruksi. Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. G. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. masa konstruksi. Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak.  Dampak dikatakan besar. maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak. yakni :  Dampak dikatakan kecil. (c). artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi. Selanjutnya. Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan. Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan. Demikian pula dengan populasi. maupun pasca konstruksi.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan. Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini. Secara konsep. Kep-056/1994. mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang. digunakan Keputusan Ketua Bappedal No. maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori.

(d). Mitigasi dilaksanakan secara teknologi. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. Untuk memilih prioritas mitigasi. mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 . dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. sistem atau pun penggabungan dari keduanya. Dengan demikian.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki.

terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat. terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat. Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum .CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat.

Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd.  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi . kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).  Keluhan thd.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.

sekolah. tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan . rumah sakit. tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon.

.

peta batas wilayah studi. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti.1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi. peta tata guna lahan.2.1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL. c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL).2. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang. H. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 .2. peta lokasi proyek. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek. beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL. peta geologi. dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H. antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan. dsb. rangkuman hasil konsultasi mayarakat.2 Penilaian Isi Dokumen H. peta topografi. regional maupun nasional.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H.2. H.

 Tahap konstruksi. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan.2.  Data sekunder: jenis dan sumber data. b) c) d) H. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya. misalnya galian dan timbunan tanah. meliputi:  Tahap pra konstruksi.  Tahap pasca konstruksi.2. 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek. batas sosial maupun batas administrasi. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Penggunaan model matematis. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor). dll. misalnya pengadaan tanah. matrik. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji.2.2. biologi dan sosial-ekonomi dan budaya.3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting. analog.2. Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H.2. yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak.4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat. batas ekologis. Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia.

 Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi. c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan.2. dsb). RKL dan RPL.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok. H.2.2.  Sumber dana (APBN. Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL. Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi.2. Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL. swasta. hasil konsultasi dengan instansi terkait. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi. Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 .6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. H. atau bantuan luar negeri).1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi. APBD.3.  Berpengalaman memimpin tim studi.5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan. hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial. d) e) H.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H. daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya). yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab. keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah. RPL. b) metode-metode yang digunakan.

3.2.2 Penilaian Isi Dokumen H.3.3.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting.  dll. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi. H. atau profesioanal judgement. b) H. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek. dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi.2. jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 .Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.3.  baku mutu lingkungan. wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai.1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan.  pertanahan. antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL. konstruksi. dan pasca konstruksi).3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi. harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis.  data sekunder: jenis dan sumber data.2. analog.

4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen. seperti peta tata ruang. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi. d) Data teknis jalan yang akan dibangun. Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek.  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan. Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja.2. rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area). e) H. serta lokasi pengambilan. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah. wilayah studi.2. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. atau adanya kawasan yang dilindungi.  Jumlah. b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan. konstruksi dan pasca konstruksi). H.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis.3. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya.3. biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi. lokasi quarry. alinyemen jalan. c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta.

8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan.3. (2). (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri. agar dikaji secara deskriptif analitis.2.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial. (5) Dampak penting pada butir (1).7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris.  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement. yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala. selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek. Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir. c) d) H.2. (3) dan (4) yang telah diuraikan. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN .6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi. (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas.2. H. dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku.  Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting. seperti pergeseran tata nilai. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.3.3.

pendapat dan tanggapan masyarakat.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Saran.4. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif. H.2.  Betujuan untuk menanggulangi. Pendekatan institusi. hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 .  Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih. Daftar biodata tim penyusun AMDAL. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL.4. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi. yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi. H. Metode-metode yang dugunakan. Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak. Pendekatan estetika. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek. H. Cara-cara dan hasil perhitungan.3. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL. Pendekatan sosial-ekonomi.

pembiayaan dan sumber biaya.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 . periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan. rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP). H.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data. H.4.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan. sumber dampak.4. misalnya konsultasi masyarakat.5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. H.3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design).4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting.4.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H.5. tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak. kriteria desain. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL. H.4. dan  pelaporan. tolok ukur / parameter dampak. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. lokasi pengelolaan lingkungan. keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL. metode dan teknik pengelolaan lingkungan.

5.  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL.5. Metode dan teknik pemantauan lingkungan. H.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ).5. H. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan.5. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 .2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat. H. dan  Pelaporan. dsb).  Pengawasan pelaksanaan RPL. Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan.  wawancara. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain.3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau. kamera video.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan. f) g) h) H.  inspeksi mendadak.  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas. Sumber dampak. Lokasi pemantauan lingkungan. Tolok ukur / parameter dampak. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL. misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan.

Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 . Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi.

2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I. Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul.1 I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. Untuk proyek pembangunan jalan baru.1. panjang ruas jalan. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya. sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi.1. Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek. I.2.1. I. Untuk proyek peningkatan jalan. tujuan pembangunan / peningkatan jalan.1.1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah. sesuai dengan laporan hasil penyaringan. lebar rencana damija.2. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 . mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi.

gambar profil melintang dan memanjang. pot / bak tanaman. I. LHR rata-rata (rencana). halte bus.1. dsb.2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan.2.1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait. meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman. Panjang dan lebar jembatan. I. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran. fasilitas penerangan jalan.1. meliputi:           panjang jalan.2. Kecepatan rata-rata (rencana).1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I. Konstruksi jembatan. lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I.2 I. jembatan penyeberangan trotoar. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 .1.2.

status pemilikannya. saluran irigasi.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. excavator.2. perkerasan dll. I. jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan). I. Apabila diperlukan pengadaan tanah.4. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya. misalnya tahap studi kelayakan. pekerjaan jembatan.2. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan. truk. serta jenis penggunaannya saat ini.1. Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi.2. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan.2. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer. antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak. barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya. 2. Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain. dll yang dibutuhkan. pekerjaan tanah (galian / timbunan).4 I. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 .2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik. yang perlu direlokasi (bila ada). I.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek. gorong-gorong.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.2.4. I.

batu. khusus untuk penggantian jembatan) I.2. Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya. dsb. Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. piers. Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong. dan cara pengelolaan limbah. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping). Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya. Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan. agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek. Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course). Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas. e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. serta galian dan timbunan tanah. dsb. Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman. lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. aspal.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . abutement. Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. drainase.4.

hidrocarbon (CH).1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO). I. apakah daerahnya merupakan dataran rendah. bergelombang. pemeliharaan rambu lalu lintas. Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan. Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut. Jadual pelaksanaan konstruksi I.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek. atau daerah pantai. agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 . b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat. perbukitan. Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang.2. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada).3 I. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). I. Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. dataran tinggi.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun.5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. Nitrogen oksida (NO). b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan.3. sebelum penyerahan pekerjaan.2. serta partikulat debu. pegunungan. Sebagai contoh. Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat. Jika ada.

d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. saluran irigasi. perkantoran. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. tempat ibadat serta pemukiman padat. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan. dsb. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. danau. Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya.3. Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor). Bentang alam yang bersifat khas. sekolah.3. f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan. Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. Areal binaan seperti pemukiman.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan. taman. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata. Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap. I. Komponen biologi I.

. persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan. serta waktu tempuh pengguna jalan. I. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan.  Sekolah. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. rambu-rambu lalu lintas. pasar. volume lalu lintas kendaraan bermotor. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek. Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas. dsb.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu. d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA. agar dijelaskan kondisi jalan saat studi. gorong-gorong. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 . I. dsb. telepon. sarana ibadah. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan. terutama penduduk yang akan terkena dampak. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase. pipa gas.5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan. dan sebutkan faktor penyebabnya.  Jaringan listrik.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya.3. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. pertokoan.3. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan.

Gangguan kesehatan masyarakat. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor). Kecelakaan lalu lintas. Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat.4. Gangguan aliran permukaan. Kerusakan jalan akibat transportasi material.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan.5.4 I. I. Penurunan populasi vegetasi.4.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. Keresahan masyarakat dan konflik sosial.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas. kehilangan tempat usaha.4.1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul. Kecelakaan lalu lintas.5 I. Penurunan estetika lingkungan. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan. Gangguan kesehatan masyarakat. Tahap pasca konstruksi I.  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek. Perubahan tata guna lahan. I. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 .

dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi.5.000 m3. misalnya galian tanah 300. serta petunjuk lainnya.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. Bila perlu.6 I. nama desa dan kecamatan. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. misalnya pada km berapa. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab.5. I. Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya. I. Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan. lokasi pemantauan. dan periode pemantauan. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan. I.5.5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan. tolok ukur dampak. misalnya selama satu bulan. misalnya kerusakan badan jalan.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 . meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif.5. berikan penjelasan secara jelas dan tepat. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan. I.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. faktor lingkungan yang akan dipantau. keresahan masyarakat atau pencemaran udara.6.

. Upaya pemantauan Sumber dampak I. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek. I. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu. Indikator dampak.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan .3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau.6. mulai tahap pra-konstruksi. Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb.6. demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau.2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak.: a) b) c) d) Sunber dampak. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. I. nama desa. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 . konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data. I. misalnya pada km berapa.6. Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan.6. kecamatan. Jenis dampak. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan.

8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai). I. I. disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan. Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu.1 dan Tabel 9. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 .2). Di samping itu. misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait.7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup.9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9. I.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.

yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL. apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia. ANDAL.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia. periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang. RKL dan RPL. Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain. c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 .2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. J. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. b) Peninjauan lapangan. Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan. Bab II. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak. Pendahuluan. Bab I. terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL. Daftar Pustaka. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. • Bab III. atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL. Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. Rencana Kegiatan • Bab II. Bila perlu. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. Lampiran. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan. Bab III.

Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 . pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. bersifat meningkatkan dampak positif. meliputi pelaksana. Sumber dampak yang perlu ditangani. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. d) Pendekatan estetika. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. atau mengendalikan dampak negatif. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. b) Pendekatan sosial ekonomi. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). bertujuan untuk menanggulangi. Institusi pengelolaan lingkungan hidup. Tolok ukur dampak. Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. dan Layak ekonomi. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. pengawas. c) Pendekatan institusi. a) Pendekatan teknologi. meminimisasi. yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak. Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. Pengelolaan lingkungan hidup. Periode pengelolaan lingkungan hidup. misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat. dan penerima laporan. contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor.

yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1). peralatan. Di depan sekolah pada Km 3 + 210. untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga.1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan). Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi). rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu. • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor. (panjang 15 m). Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor.4 K. Bapedalda.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air. • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki.4. dan upah). DLLAJ J.

di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam.  Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3).Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. untuk mengatasi gangguan visual (estetika). • Penataan lansekap di lokasi tertentu. tepi timbunan badan jalan yang tinggi. tikungan tajam. lokasi jembatan atau gorong-gorong. Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 . dsb. atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2).

polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah.2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong). sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan. Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN . J.5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas. K.000). antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air. Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. biologi dan sosial.4.

kerusakan badan jalan. Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas). Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas).  Apa yang harus dilaksanakan. J.6.6. Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora).1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. debu. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah.6 J. Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. Pengamanan / reklamasi bekas quarry. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. setelah pekerjaan konstruksi selesai.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas. sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3). Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak. kecelakaan lalu lintas). hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi. kemacetan lalu lintas. sesuai dengan fungsinya. Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek). borrow area dan disposal area. Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk. Pengoperasian base camp (penanganan limbah). . J. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 . cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak. Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan.

 Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya. erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah. • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 . akibat pekerjaan galian tanah.6.  Siapa yang bertanggungjawab. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek. kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material. kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material. jaringan telepon/ listrik. Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan. J. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase.. dll. effluen limbah cair dari base camp.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan. Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting.

serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. 5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). sisa bahan. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah. Pada saat penyelesaian pekerjaan. atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan. benda berharga atau kuno. Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. 4) Semua benda peninggalan purbakala. Kontraktor harus berusaha memilih rute. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. 2) Selama pekerjaan mobilisasi. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. mata uang. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan. termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya. kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. sampah dan segala macam pekerjaan sementara.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung. Lansekap jalan. stimulasi dan penyegaran. Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan. Lansekap pantai.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K. Gambar 1. jembatan. serta sepanjang koridor jalan. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. Lansekap pedesaan. trotoar.1). underpass. yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari. dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. semak. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia. Lansekap perkotaaan.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . subway dan simpang susun. overpass. Di daerah perkotaan. lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. ekologis dan visual. perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik. secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. Lansekap jalan yang baik. dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan.

berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun. Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam. demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami. perkotaan dan perdesaan di Indonesia.2. Di daerah alami. hidrologi. fauna. Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut. berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. kondisi tanah. b. gedung. termasuk modifikasi lingkungan alami.2 Gambaran umum lansekap jalan K. c. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia. dan topografi. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia. Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . K.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota. seperti hutan. Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap. pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual.

 Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi. Jalan kota penting bagi kita. termasuk listrik (PLN). seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan. saat kita berkeliling kota.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil. serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. warung atau kaki lima.2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota. khususnya jika lalu lintas bergerak lambat. pengendara motor dan / atau pejalan kaki. air (PAM). Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi. nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan. telepon. dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual. K. Untuk mencapai hasil terbaik. dan gas. umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran. Jalan kota menyediakan jalur utilitas. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan.        PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 .  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim.  Dalam beberapa keadaan. Lanseap jalan kota penting dari segi visual. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi. macet atau berhenti.2. serta meningkatkan peluang untuk pemandangan. perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap. Dalam proses perencanaan jalan kota. penumpang kendaraan umum.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 .  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi.2.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan. Pergerakan pejalan kaki. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial .2.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan. K. lingkungan.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan. kabupaten / kota. dan arteri.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik.  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut. Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan.3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut. c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. provinsi. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki. d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial. lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan. keindahan. sosial. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan. warung. kolektor dan lokal.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3. Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 . Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon.

perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 . Pembatas Pandang  Tanaman pohon. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m.  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7. Pemecah Angin  Tanaman pohon.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8.5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 . Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.

1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan.000 atau 1 : 5.2.1. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan.000).1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L.2.000. Disamping itu. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1.000 atau 1 : 5. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED). Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan. L.000 dan data status kepemilikannya.000 atau 1 : 2. dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500. Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1. yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali. LK. data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer. Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat.1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis.2 L. Peta persil tanah skala 1 : 1. Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. Penyusunan dokumen RK-PTPKP. khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara).

pemilik. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja. Jumlah dan dimensi/ukuran.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 . dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara.2. Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek. Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek. Jumlah dan dimensi/ukuran. status hak dan jenis penggunaannya.1. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. Koordinasi/Konsultasi L. nama pemilik. atau Proyek Pembebasan Tanah. meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah. kategori. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas. bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan. maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi.2. pemilik. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah. Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi. e) L. kategori.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU. termasuk ganti rugi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan.2.3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP). L. dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. pendapatan dan pekerjaan. status penguasaan dan pola penggunaan tanah. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah. Pemda dan instansi terkait tersebut. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. Kebijakan pengadaan tanah. Kepemilikan. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek. kesiapan program. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. Kantor Kecamatan. perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya.  Struktur penduduk. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek. Kantor K elurahan.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. dll. Sarana dan prasarana umum yang tersedia. prosedur pengadaan tanah. perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan. meliputi :  Jumlah PTP. Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah. Instansi terkait lainnya. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. Dinas Perumahan. pendidikan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 . meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya.

pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . L. pola penguasaan dan penggunaan lahan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. L. Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan. Kepemilikan. perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. Menetapkan tanggal pendataan PTP. Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia. survai sosial ekonomi.3. Reaksi terhadap pemukim baru. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset.3. keluarga. Sistem dan perilaku sosial budaya. Komposisi demografi dan sosial budaya. meliputi :           Karakteristik lokasi. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP. orang yang berhak).2.3 L. kerugian yang layak diganti rugi. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya.3. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. dan survai lokasi pemukiman kembali. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali. Jaringan sosial dan organisasi sosial. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP. Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia. Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. Organisasi dan kebutuhan masyarakat. luas tanah. Pelaksanaan Pengumpulan Data L. Jaringan sosial dan organisasi sosial. Persepsi PTP terhadap proyek.

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 .3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1. tokoh partai politik. ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota). penyuluh KB. dan (ii) survai sosial ekonomi.2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi. L. survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan).1. petugas sensus dari kantor BPS. serta tokoh masyarakat. a. penyelidikan riwayat.  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah. dilakukan pendataan persil tanah.  Sebelum pengukuran situasi. b) c) L.3. penguasaan dan penggunaan tanah.  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0). dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa.2.3. RW/RT setempat. pengamatan (penaksiran). pengukuran. kondisi topografi. RW/RT. serta dari wakilwakil PTP. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. dan survai inventarisasi. serta kepemilikan dan status penguasaan lahan.2. Kelurahan. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner. Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama.2. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung. a. yakni : survai lahan. Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan. Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan).000). Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan. dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota).

Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga).  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula. serta pendidikan. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat.  jumlah anak sekolah yang harus pindah. Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga. jaringan air bersih. peribadatan. d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek.3. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran. fasilitas pendidikan.  H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal). Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 . L.  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan). Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan. (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci. LSM) yang dilatih terlebih dahulu. b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi. dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. penyuluh KB. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian. prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum.4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan. pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan.  prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah. staf Dinas Sosial kab/kota. kesehatan.  jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga. a.

pasar. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Tingkat dan besaran ganti kerugian.6. air bersih. air bersih PDAM. telepon.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 . kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. Pilihan bentuk ganti kerugian. jenis dampak/kerugian. dll). bangunan MCK. Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi. olah raga. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. gas. L. simbol atau tempat keramat lainnya.6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian. terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian. bangsal. perencanaan pemukiman kembali. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. telepon. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. n) Terganggunya kegiatan pendidikan. pelayanan kesehatan. dan jumlah PTP. fasilitas peribadatan.

 Keterikatan sosial dengan lokasi asal. pengontrak/sewa (tanah dan bangunan). Tanah wakaf. o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0. antara lain meliputi :         b) Tanah hak.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK). 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. L.3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L. gotong royong. Tanaman.  Aset sosial-budaya lainnya. Kriteria tanah. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali). (misalnya. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. Bangunan. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).6.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). Tanah yang dikuasai tanpa alas hak.6.1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah. maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi. saling membantu pada saat kesulitan. yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah. antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.  Lahan usaha pertanian. Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan. Tanah Negara.6. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. Tanah ulayat.2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No. antara lain: anak (murid) sekolah.3. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 . baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi. sebagai berikut :  Tanah perumahan. nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial).

 Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %.  SK Bupati/Walikota.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah. kondisi kebun dan produktivitas tanaman. Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. dengan ketentuan sebagai berikut : (a). dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak). maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan.  Harga sejenis.  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik.  Sudah berakhir dinilai 60 %.  Aspirasi warga. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah.  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan. Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %.  Harga pasar.  Sudah berakhir dinilai 60 %. Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum. Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya. Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 .  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli.  Belum bersetifikat dinilai 90 %. (c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %. adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi.

perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %. 48 tahun 1994. dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK. (e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. tanpa memperhitungkan depresiasi. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. 10 . Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %.  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut.  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %. Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga. Selanjutnya. b. c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %. berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB).  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %.

berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan. Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud. manfaat/kepentingan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan. dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI.6. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan.  Aspirasi warga L. penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. Selanjutnya. kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut. dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian. dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan.3.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 . pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan). dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN).  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya. a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.  Bantuan biaya pindah yang layak.

Dampak ini akan timbul. dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan. yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya).  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km. diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan. dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha.  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini. khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini.  Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0. diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali.5 Km. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan.  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK.  Bantuan pindah. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 .  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya.

kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah. Tanah pengganti. mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya. Pemilihan/penentuan lokasi. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah.7. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. Menentukan kategori pemukiman kembali.6. harus disiapkan paket program persiapan sosiaK. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L. Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali. Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya. Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan). dan sebagainya. Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan. Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. b) Bangunan.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat. L. dan apabila diperlukan. Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut.4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. Bangunan pengganti. c) Tanaman.1 Berdasarkan Keppres RI No.

Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah). atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya. serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14. dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2.7. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB). kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas. maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”.12.12. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK).2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4. sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L.25 Ha. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 . dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas. Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0.

sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. langkah pemulihan taraf hiduK. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. struktur masyarakat. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. Penggantian kalau bisa. penggembala. Ganti rugi dengan nilai penggantian. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 . masyarakat terpencil. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. tempat. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. Ganti rugi dengan nilai penggantian. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. langkah pemulihan pendapatan. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. misalnya yang paling miskin. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. tempat. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. Penggantian kalau bisa. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. masyarakat terpencil. PTP adalah penduduk asli atau rentan. pemulihan pendapatan. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. langkah pemulihan taraf hiduK. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. misalnya yang paling miskin. PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan. dan penggembala. struktur masyarakat. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan.

7. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek. B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun). Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 . Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. budaya dan ekonomi. Namun demikian. lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri. b). (ii) Relokasi setempat. Relokasi Mandiri. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik. melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya. a). Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit. relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan). mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. sosial.7. Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi.3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya. dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan . Khusus untuk daerah perkotaan.1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi). Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa. jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. meskipun jumlah PTP relatif banyak. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. Relokasi Setempat. kepadatan penduduk rendah.3. PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi. c).

Jika PTP yang terpindahkan sedikit. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK. Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. air bersih. (ii) Rumah susun. 20 tahun). antara lain : (i) Perumahan. dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan. perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). L. c). Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. fasilitas kredit kepemilikan rumah). meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru. jalan.7. 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . fasilitas umum). dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan. a). Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih. fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya. b). kepadatan penduduk rendah. Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka.3. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru. fasilitas KPR) L. (iii) Kaveling siap bangun (KSB). baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada. saluran drainase.4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. jalan. Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan.7. sambungan listrik. Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya. perumahan dibangun di lokasi baru. sambungan listrik.2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan. serta harganya terjangkau (misalnya. Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”. fasilitas KPR-BTN). Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK). Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan.

prasarana sosial.  Sambungan listrik (dan komunikasi). pasar. luas dan bentuk lahan. seperti fasilitas pendidikan. seperti :  Penyediaan air bersih. komposisi penduduk). (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan.  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali. (b) Ketersediaan lahan. sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi. peribadatan. budaya dan ekonomi). (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik. tempat ibadah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi. penggunaan sumber daya milik umum. atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya. serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK). Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. Perancangan struktur permukiman.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 . harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini. Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan. (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja. fasilitas pendidikan. tempat usaha.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat.7. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian. olah raga. dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan.5 Perancangan Permukiman. sosial.. (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan. daya tampung lokasi/ kawasan.  Fasilitas umum. dan pusat perekonomian).  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama. L. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai.

khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. preferensi. pilihan). bangunan. preferensi.  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha. tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya. dan PTP yang tergolong kelompok rentan. kelompok paling miskin). b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. serta analisis kelayakan dan finansiaK. tunjangan biaya hidup. mata pencaharian. umur. Kemudahan transportasi angkutan umum.  Bantuan pembangunan rumah. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak. pilihan). yakni PTP yang terpindahkan. orang-orang cacat. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan.  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. pendapatan. khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi. Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. L. pengusaha. kaum perempuan. keterampilan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah. Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek. yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP. besarnya keluarga.  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . mata pencaharian. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. pendapatan. besarnya keluarga. pendidikan. pendidikan. bantuan pendidikan anak sekolah. bantuan pindahan.8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). kelompok usia lanjut. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi. umur. keterampilan.

pekerjaan. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya. pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan.9 L. dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan. serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan. serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud. Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan.9.  Paket rehabilitasi lingkungan. Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 . Strategi pembinaan jangka panjang . termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan. mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab. regional atau nasionaK. bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri.1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. penyiapan lahan pengganti. frekuensi. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis. instansi pelaksana. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan.

Rapat pertemuan dengan masyarakat. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung. f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat. Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP. Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 . Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. khususnya pada lokasi bersangkutan. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol. e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. serta bentuk dan nilai ganti kerugian. Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini. b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive). sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan. jenis aset terkena proyek.

penyusunan laporan. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. Namun demikian. koordinasi dengan instansi terkait. khususnya dalam rangka sinkronisasi program. pengendalian. Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan. pemukiman kembali dan pembinaan. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan. bulanan. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi. termasuk pengumpulan dan analisis data. tahunan dan laporan akhir kegiatan. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. Kemudian. verifikasi. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. mingguan/dwi mingguan. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). Persyaratan personil pelaksana. triwulan. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 . Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi.

yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan. Tingkat kepuasan PTP. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. Pemulihan taraf hidup. Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa. wawancara bebas dengan renponden kunci. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan. Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. serta rencana untuk triwulan berikutnya. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian.. Efektivitas perencanaan. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya. rapat/pertemuan dengan PTP). Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP. Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan. e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana. realisasi penyerapan dan alokasi anggaran.9. L. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan.

Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. atau LSM. khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. kerangka pengambilan sampel. Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang. komparasi dan analisis. termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. konsultan. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. Sumber daya yang dibutuhkan. updating.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. Partisipasi stakeholder primer. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. Metodologi secara rinci. pemukiman kembali. pertanahan. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. dengan mengacu pada RKPTPKP. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah. sosial ekonomi/koperasi. universitas. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini). Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. Kerangka waktu. efektivitas. biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). Persyaratan pelaporan. pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. pemukiman kembali dan pembinaan. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). pemukiman kembali dan pembinaan. Menilai efisiensi. dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. pengendalian mutu. pemukiman kembali dan pembinaan. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah.

Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L. L. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 . pengadaan tanah. Set-up kelembagaan. L. Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah.5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan).3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP. pemukiman kembali.10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan.10.10.3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.10.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi. organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan. dan monitoring dan evaluasi. Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi. pembinaan. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP).9. Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi.10. Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi.10.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah. L. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. Penyiapan program dan anggaran.

kesehatan. pembangunan perumahan. L.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah. pendidikan).11. Inventarisasi dan sensus PTP. dan biaya administrasi. L. Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah. serta sarana dan prasarana). c) Bantuan biaya pindah. 11. L.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan. biaya pengadaan tanah. fasilitas kredit murah. Bantuan pengembangan (seperti. L. biaya pemukiman kembali. biaya pembinaan dan rehabilitasi.11. pemukiman kembali. L. serta biaya administrasi. Secara garis besar.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN .2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. Paket peningkatan kualitas lingkungan. L. d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah.memulai usaha baru). Sertifikasi tanah. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat).5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan.11.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai. monitoring dan evaluasi. pembinaan. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa.11. jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. beserta aset lain yang ada di atasnya). usaha kecil/rumah tangga). termasuk biaya untuk ganti rugi. pelatihan.4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti. koperasi.

c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6). Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait). Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan.1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan. Berdasarkan PP No. 26/1985 Bab I Pasal 1.12. mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4). b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5). Kerangka kebijakan. Mekanisme koordinasi. e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9).12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan. d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7).

dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim). sub tim perencanaan/penyiapan program. Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota). Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP. Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. 55/1993 (Bab III. Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 . dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. sub tim sosialisasi dan pembinaan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. sub tim implementasi dan pengendalian). Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27). 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. Jasa Marga Persero). Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal. 1/1994 (Bagian Keempat. Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. telah diatur dalam Keppres RI No. Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No.

12. perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. pembinaan kelompok rentan. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu. Panitia Pengadaan Tanah. yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah. atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan. jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi. seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 . Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas. baik secara vertikal maupun horisontaK. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus. Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. BPD (Badan Perwakilan Desa). Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah.12.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). c) L. pemukiman kembali. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. Tokoh Masyarakat. b) c) L. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. Kerangka koordinasi eksternal. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. misalnya. antara lain jumlah PTP. jumlah dan lingkup pekerjaan.pemantauan internal. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP. dan kelompok perwakilan PTP. Persyaratan personil pelaksana. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP.

i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali. l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi. L.6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis. teknik lingkungan. m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 . pelatihan dan lokakarya. ekonomi. e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. bantuan teknis.12. h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. antara lain: a) b) c) studi banding. c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. dan kesejahteraan sosiaK. Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali.5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. hukum. L. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. sosiologi.12.

serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP.13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik. Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB. serta pemantauan eksternal dan evaluasi. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. L. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 . Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. serta rencana pendanaannya. pemukiman kembali dan pembinaan. termasuk pembiayaan. khususnya yang terpindahkan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali. pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP. pemukiman kembali dan pembinaan. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah. n) o) L. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek. serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. termasuk definisi proyek.12. Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah.7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali).

..(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … ... (6) . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3). 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. . khususnya areal sensitive … .. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan..(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. . BPN dan dari sumber lainnya 2)... Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . 4).… .

. 9).. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2). 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy. . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. (10) 7).… ...(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No.Ka Bapedal No... (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. 8). terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep.... (12) . Dikbud. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … ....08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL .. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . Sosial) .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ..

.. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen...(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen ..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6). RKL dan RPL 3).. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . (9) . 2). Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya..Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .... lansekap … … … .. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL..... RKL dan RPL pada perenc.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.. (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. (8) .......: penanganan utilitas yang terkena.: median..teknis... RKL dan RPL … .....

.

dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. 4).… . (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … .. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . kapasitas jalan yang dibutuhkan. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. mis. peran dan fungsi kota dll. jenis penggunaan dan kepemilikan). kapasitas produksi..(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat .Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3).

.. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .. status kepemilikan dan kesediaan melepas..... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing... 5).. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ...... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.(6) ..........(7) Menetapkan koridor jalan terpilih. ekonomik....Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ... 4)....... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).. (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan......(8) .

Terhadap pengadaan tanah … . (12) .. (7) Memperkirakan dampak sosial … . Hasil Pra Kelayakan 2).5).. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.(11) Menetapkan Rute Terpilih .. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial .. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. ekonomis dan lingkungan... dll.(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi..(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.Rute..4). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

pelepasan hak.… … … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).kem bali. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. Lokasi di Peta. 3). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak...kem bali … … .. Termasuk rencana kerja. masa tinggal dll. … .(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . rehabilitasi pem uk. luasan.. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) .. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). dll. 6). tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. prakiraan nilai kekayaan. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … . Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .

.. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6). & menyepakati dlm mufakat khususnya P ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. 13).(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .P … … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP .....(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. (4) KETERANGAN 1). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.T . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .. (2) Berpartisipasi dalam musy...Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .… . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)..(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . khususnya panitia pengadaan tanah … … .

misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3)....(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya. (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . 6). 5). 4).(12) ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.

. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. 4). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 2).. … 7) 3). (8) .. 6). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 5).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. 7). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi.

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. nilai kearifan lokal.. LA R A P … … . tata ruang. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . pelatihan untuk alih profesi … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik ... adat istiadat. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .… .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … .

.

. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. .(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. (6) . Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .… … . kapasitas jalan yang dibutuhkan... (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2). serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. peran dan fungsi kota dll.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . 3).… . terasing… . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.. kapasitas produksi...

.. 4).... (8) ........ Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3).. 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).. … … .. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial..(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih .(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … ...... ekonomi. terasing. ... budaya . 5). sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. ekonomik............

... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..4).......… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis. terasing. terasing … .. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) .(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.... ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis... Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).. .... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy...(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. terasing.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi..

. kepemimpinan... Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).... T indak … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan...... Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2).Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... Renc. pembagian tugas 3). Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy.(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks.. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing .terasing tsb. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6).. sistem dan nilai hak adat ..... Termasuk rencana kerja..... (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … ...… … … .. (11) .

(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan . perbaikan permukiman tradisional... lembaga adat ...... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)....... 4)...... rehabilitasi konservasi situs dll....... … … .... Termasuk LSM..... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan....… ..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ........ 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ..... 3).(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing . Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). dll.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 5).Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing..(7) .

terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .(12) . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy...(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … . (11) 8). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .. 6).. 4)..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi . (6) 3). 5).

sosialekonomi...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing . 4). penanganan masy ...... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3)..(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … .... 2).terasing termasuk rehabilitasi … … . 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).(8) . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .. 6). 5). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. budaya dan kelembagaan. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME).

adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … .(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . terasing yang lebih baik . tata ruang nilai kearifan lokal.. terasing … . penanganan masy. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy..… .. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . terasing … … .. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.

.

DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . keadaan dan makhluk hidup. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. Undang-undang No. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Peraturan Pemerintah No. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. termasuk manusia dan perilakunya. Khusus yang menyangkut kebijakan publik. Undang-undang No. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. 55/1993. Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. Undang-undang No. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM. Undang-undang No. tertulis dan tidak tertulis. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). Undang-undang No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

55/1993. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 .Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 4) Undang-undang No. Kep. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 18) Keputusan Menteri LH No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 5) Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No. 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. 188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya.

2. jalan kolektor. daerah milik jalan. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997.2. memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . P.2. evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah. Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10.2 Undang-undang No. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup. P. Perangkat yang bersifat proaktif.2. P. pertambangan. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982.3 Undang-undang No. dan energi. Perangkat yang bersifat preventif. kehutanan. berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan. yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif. permukiman penataan ruang dan sebagainya.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan. mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No.1 Undang . dan jalan lokal. wajib memiliki AMDAL. yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP.

wilayah. Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. Rencana tata ruang. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. dan kawasan tertentu.4 Undang-undang No. kawasan budidaya. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 .1 Peraturan Pemerintah PP No. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3. 2. kawasan. yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. kawasan lindung. Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor). Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang.3. penataan ruang.     P. 3 P. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda). propinsi dan kab/kota. 4. apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM. kawasan perdesaan. tata ruang.2. mengetahui rencana tata ruang. kawasan perkotaan. Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal). rencana tata ruang. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga. Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.

Dokumen jalan. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 . P. dan pengadaan jalan. Pembinaan jalan. P.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri. 5.2 Keputusan Kepala Bapedal No. tujuan dan fungsi KA ANDAL. P. yaitu membahas tentang damaja. wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. P. 4 P.3. Jaringan jalan. meliputi jalan tol dan jalan layang.3 Keputusan Kepala Bapedal No. menyampaikan hasil rangkuman saran. Keppres No. yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya. yaitu membahas tentang peranan jalan.4. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan.4. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL. persyaratan jalan menurut peranan.2 PP No. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha. 3. damija dan dawasja. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. mendokumentasikan saran. pemeliharaan. memberikan saran dan pendapat. Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. seperti hak memperoleh informasi. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No. 2. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. Bagian-bagian jalan. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL. perencanaan. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan.4. wewenang penyusunan rencana. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. penentuan sasaran. 4. 2. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1.

Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. ANDAL. RKL dan RPL P.5. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait. Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil. Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL. RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil. 5 P. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil.5. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . 2. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah.1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999. keciptakaryaan. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. jalan. P. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan. Desember 2003 i . Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. kegiatan pengadaan tanah. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. pelaksanaan konstruksi fisik. Jakarta. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah. yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya.

4............. 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................. K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ........ P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .................. Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ... Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ....… … … .2 Kegiatan Pengadaan Tanah .................. 4..3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup ......4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan ... 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .....… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Lampiran ii ................1 Penyiapan Dokumen Tender ...... Dokumentasi dan pelaporan ............................ D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .... D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...... 4.................... 4..… … … … … … … … … … … … … … … … .......

2. 8. Lampiran 6.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran 6.2.2 9. Lampiran 6.1. Lampiran 4.1. 12.1.2. 5. Lampiran 4. 6. 7.1.1. Lampiran 1. Lampiran 6.1.5 Lampiran 6. 3.3.3 10. 4.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii . Lampiran 2.2. Lampiran 4. Lampiran 6.2. Lampiran 4.4 11.

akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. standar. yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. kota atau kabupaten. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana. pertumbuhan. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif. efisien. maka Ditjen Prasarana Wilayah. dan prosedur. pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. mencakup hal-hal 1 . baik Undang-undang. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. kriteria.

yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan.Pekerjaan Umum atau Dep. 2 . disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive. serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup. Kimpraswil. tertib dan teratur. and Updating of the Moduls). kesiapan pembiayaan yang memadai. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. kegiatan pengadaan tanah. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training. perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people). Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan.

Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. serta dampakdampak yang ditimbulkan. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal. 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. baik di tingkat pusat. 4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. 3 . dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. propinsi. maupun di tingkat kota/kabupaten. 2) Kegiatan pengadaan tanah.

pelaksanaan konstruksi fisik. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. mulai dari penyiapan dokumen tender. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 4 . Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. Undang-undang No. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. kegiatan pengadaan tanah. 2. Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi.1. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. Undang-undang No. dapat dilihat pada Lampiran 1. Keputusan Presiden No. Peraturan Pemerintah No. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut. 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. Undang-undang No.

17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.2. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 14) Keputusan Kepala Bapedal No. Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Istilah dan Definisi 3.1. termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dapat dilihat pada Lampiran 2. 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12) Keputusan Menteri Kimpraswil No. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 13) Keputusan Kepala Bapedal No. 3.1. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. 3. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 5 .

ilmu pengetahuan dan kebudayaan. 3. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan.6.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.10. 3.5.4. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.9. 3. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. 3. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. maupun politik nasional. 3. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 6 .11. bangunan dan tanaman miliknya. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.3.7. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.8. 3. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. ekonomi. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah. 3. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun.

yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan. 3. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3.13.16.12.11. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor.17. 3. 3. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi. Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 . 3.15. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan. dibangun.13. 3. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi. 3.14. Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun. 3. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor. yang dirancang.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan.12.

Untuk mengatasi hal tersebut di atas. Perjanjian Kontrak. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. : Bentuk Jaminan. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis.1. a. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang. Informasi Kualifikasi. Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi. harus dicantumkan dalam dokumen tender. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. : Bentuk Penawaran.1. : Data Kontrak. yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. : Spesifikasi.2. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. Sistematika Dokumen Tender. 4. : Gambar-Gambar. Maksud dan Tujuan. maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan. : Daftar Kuantitas. Surat Penunjukan. 8 . Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4.1.

1. 2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya. Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. 9 . Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan.3. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. 4. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan. baik vertikal maupun horizontal.

perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian. 3) Dokumen tender standar. antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini.1. ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. 2) Pada Bab V: Spesifikasi. perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada).4. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana. Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. 4. serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan. termasuk biaya yang diperlukan. perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas. Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender. baik untuk LCB maupun ICB. dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini.

1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. 4. maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek. dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. yang 11 . Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan.1. dan nama pemilik tanah. 2) Pasal 4 Keppres No. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup.1.1. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum.2. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. dapat dilihat pada Lampiran 4. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi. sebagaimana tercantum dalam dokumen tender. antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. b) Keterangan tentang letak.3.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4. jenis hak atas tanah.5 Workplan Kontraktor. bangunan dan tanaman. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut.1. serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan.

1 tahun 1994. 1 tahun 1994. yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. 4) Pasal 12 Keppres No. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan. diberikan untuk: a) Hak atas tanah. b) Perencanaan ruang wilayah kota. 12 . yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. 55 tahun 1993. b) Bangunan. c) Tanaman. 5) Pasal 13 Keppres No. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 55 tahun 1993. b) Tanah pengganti. c) Pemukiman kembali. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. 55 tahun 1993. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah.

1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. sebagaimana dimaksud dalam UU No. rencana penggunaan tanah. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam . 32 tahun 1979. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. 13 55 tahun 1993. Lampiran 4. 1. Setelah hal tersebut disetujui. 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. sebagaimana dimaksud dalam Keppres No. Sesuai dengan Keppres No. dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut.2. dengan kriteria sebagai berikut. luas dan taksiran biaya. 2. dilampiri dengan peta lokasi. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. 4. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak.2 Proses Pengadaan Tanah a. 4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. Dengan peraturan yang sama. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. 51 tahun 1960.

bangunan dan tanaman. inventarisasi dan pengukuran tanah. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP. ganti dan rugi tanaman. dilakukan pendaftaran. maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . 3) Hasil pendaftaran. dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. Tim 14 . PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. b an g u n an d an tan am an . 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. inventarisasi dan pengukuran tersebut. kemudian disampaikan ke PTP. maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. sehingga perlu dibangun permukiman baru.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP). 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah. Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. tipe bangunan.

2 4. dapat dilihat pada Lampiran 4. Pengadaan tanah pengganti. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP. c. b. dapat dikelompokkan atas: a. Dalam proses pengadaan tanah. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah. Tanah Pengganti. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK). Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat. maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP.2. Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c. Uang Tunai.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru. tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 . Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan.2.3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah. di lokasi yang ditentukan Panitia. b. merupakan sesuatu hal yang sangat penting. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. dengan cara jual beli. dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah.

3. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak. Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain.2. sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. bangunan atau tanaman. Bentuk Kombinasi. e.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan. seperti Sistem Konsolidasi Tanah. Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru. Bentuk lain yang disepakati. 16 . 4. baik untuk tanah. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat. Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4.2. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d. diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama.

c) Penyuluhan. dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. 2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. 17 . b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. 3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan. karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja. 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum.

2) Lokasi dan kondisi areal proyek. 18 . Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a.2. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan. 08 Tahun 2000. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. seperti di dataran rendah. pegunungan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. perkotaan atau pedesaan. 3) Keputusan kerugian. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4. dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik. Dokumen Terkait. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik.1. seperti pembangunan.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. daerah rawa. berbukit. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.3. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.4. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.

Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.2. base camp dan lokasi quarry. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek. kondisi sosial budaya. terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. 4. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung. pasir dan material/komponen jembatan. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan. 7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. hidrologi dan penggunaan tanah. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. 5) Dimensi. b. 9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja.3. baik tenaga ahli. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. tukang. seperti tanah. termasuk sumbernya. 3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. dan pekerja kasar yang diperlukan. 19 . kegiatan ekonomi masyarakat. seperti kependudukan. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. termasuk periode pemeliharaan. struktur tanah dan geologi. seperti iklim. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. topografi. batu. volume dan besaran komponen pekerjaan utama. namun bila tidak dapat dihindari.

b. dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek. dozer. 20 . maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. Lokasi Proyek. b. seperti AMP. maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses. traktor.1. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). shovel.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut. yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan. sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. baik dengan cara membeli atau menyewa. 2) Mobilisasi Peralatan Berat. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan.

perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. g) Latasbusir kelas A dan kelas B. e) Laston lapis aus (HRS . b) Lapis pondasi semen tanah. lapis pondasi (HRS base). Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu. c) Agregat penutup Burtu dan Burda. kelas B dan kelas C.WC). Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. 2) Pekerjaan Tanah. baik berupa galian tanah biasa. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. coffer dam. d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B. struktur pondasi. lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base). sistem drainase. untuk ditangani 21 . timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. f) Lataston lapis aus (AC – WC). galian batu. di lokasi proyek.

penerangan jalan dan marka jalan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. relokasi arus lalu lintas. trotoir. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. guard rail. rambu-rambu lalu lintas. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. sehingga lokasi proyek menjadi bersih. dan pembuatan kepala tiang pondasi. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang. serta pembuatan gorong-gorong. 5) Pemancangan Tiang Pancang. 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. serta relokasi arus lalu lintas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan.

bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan. dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut. selain gembalan rumput di media jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek. keselamatan pemakai jalan. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area. harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya. serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai. b. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. 9) Penghijauan dan Pertamanan. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah.2. 23 .

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. maka lokasi base camp (kantor proyek. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. dapat terletak pada satu lokasi. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. bengkel. gudang.3. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi. untuk diambil langkah tindak lanjut. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 .3. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi. atau pada dua lokasi yang terpisah. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher.3. hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. 4. Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. a.

b. baik langsung maupun tidak langsung. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent. Persiapan Pekerjaan Konstruksi. dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal. sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat.2. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat. 3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek. 25 . Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6.

dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum. 2) Mobilisasi Peralatan. c. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu. bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. (2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan.1. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. b) Pencemaran kualitas air. Lokasi Proyek. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . Penyiraman secara berkala. seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari.

(3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali. b) Pencemaran kualitas air.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. 27 . sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya. yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. 2) Pekerjaan Tanah. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan.

b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. saat kondisi berdebu. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk. a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. memasang gembalan rumput dan sebagainya. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. sistem drainase yang baik. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. 28 . Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. karena penggalian tanah. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan.

7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui : 29 . a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat. (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas.

Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal. serta menghindari erosi lahan. sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat. c. Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. serta dapat memperindah estetika lingkungan. 30 . 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. dan tidak mengganggu pemakai jalan. pada areal yang tidak subur. 9) Penghijauan dan Pertamanan.2. dan mempunyai ciri khas daerah.

dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. f) Terganggunya kondisi flora. dapat dikelola melalui: . dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum. Perkuatan stabilitasnya. 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air. Pemasangan drainase lereng yang baik. c) Terganggunya stabilitas lereng galian. Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur). Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan. Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah.

a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 .3. Pengoperasian base camp (kantor proyek. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. gudang. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. (4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. (2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. bengkel. c. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher.

Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. dan untuk menanggulanginya. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup.1.4.4. 4. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan. 4. 4. kendaraan keluar masuk .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. Dokumen Terkait. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan. dan meningkatnya air larian. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik. d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya.3.4. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan.

dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk.4.2. yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. Jasa Marga (khusus jalan tol). atau operator jalan tol lainnya. 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. c) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. f) Pembuatan rest area. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan. karena meningkatnya arus lalu lintas. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat. Pemberi Tugas. 4. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. 34 . khususnya pada jalan tol. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun. PT. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan.

dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat. 4.4. Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun.3. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan.4. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan. 2) Pengaturan arus lalu lintas.4. Dokumen Terkait. b) M el aku kan “l aw tersebut. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an . Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol). 4. dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan. dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat.

baik untuk biaya personel. dan sosialisasi kegiatan. 3) Jenis transportasi yang dipakai. sosialisasi dan kegiatan musyawarah. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. pengadaan data maupun biaya perjalanan. karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan. Pembiayaan 5. Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. biaya rapat untuk melakukan musyawarah. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. b. Penyiapan Dokumen Tender. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah. Biaya Perjalanan. 2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. musyawarah dengan masyarakat.2. 5.1. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali. 3) Harga satuan yang berlaku. biaya penyuluhan a. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. Kegiatan Pengadaan Tanah. tidak memerlukan biaya khusus. biaya perjalanan. Biaya Personel. 36 .

pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi. e. biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan. Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. bangunan dan tanaman.3. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. mencakup biaya pelaksanaan kegiatan. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah. biaya perjalanan. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat. biaya menangani dampak yang timbul. lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. c. 2) Jumlah peserta rapat. 5.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. 37 . 2) Jumlah peserta kegiatan. d. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi. serta biaya administrasi lainnya. khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel.

Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya. Biaya Perjalanan. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan. Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Biaya Penanganan Dampak. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak. 4) Harga satuan. baik jenis transportasi maupun perdiem allowance. antara lain: 38 . b. 3) Harga satuan upah (billing rate). 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. d. Biaya Personel. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. c. jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai. 3) Jenis transportasi yang dipakai.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. Perkiraan besarnya biaya perjalanan.

serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 3) Pengukuran dan analisis biota air. 3) Harga satuan analisis sampel. 39 . 2) Lokasi kegiatan. biaya untuk menangani dampak. honorarium pakar yang diundang. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait. e. yang meliputi biaya personel. 5. penjilidan. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. biaya perjalanan. biaya konsultasi dan koordinasi. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. biaya pengukuran dan analisis laboratorium.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. dan sebagainya. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan.4. mencakup biaya rapat konsultasi. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. f. dan mempergunakan anggaran rutin.

6. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota. harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. seperti melalui proses penyusunan DUP. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. baik tingkat pusat. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola.1. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 40 . antara lain: a. Koordinasi Pelaksanaan 6.5. Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Pengajuan Usulan Biaya. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan. Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. DIP dan sebagainya. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. baik vertikal maupun horizontal. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.

3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten. 41 . maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. b. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. Bappeda. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. provinsi atau kota/kabupaten.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. baik pada kegiatan pengadaan tanah. 2) Melakukan penyuluhan. propinsi atau kota/kabupaten. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. antara lain BP2D. baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. pelaksanaan konstruksi fisik. baik di tingkat pemerintah pusat. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak.

antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. d. c. 7) Melakukan dihasilkan. pemanfaatan kabupaten/kota. 6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi. Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. propinsi. 2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). kabupaten/kota. kabupaten/kota. Bapedalda. pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . 4) Menjabarkan norma. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah. standar. baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Masyarakat Masyarakat. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah.

kabupaten/kota. e. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. lembaga swadaya masyarakat. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. serta masyarakat pemerhati lingkungan. 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi. antara lain: 1) Memberi masukan. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan. dalam kaitannya dengan . Instansi Terkait.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup. Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. tokoh dan pemuka masyarakat. Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. kabupaten/kota. Instansi terkait lainnya. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. kabupaten/kota. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan.

sesuai wewenang dan fungsinya.3. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing. dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir. 6. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan. dan 6.3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. hidup bidang jalan.2 3) Lampiran 6. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. dimana: 1) Lampiran 6. Pelaksanaan Koordinasi. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat.1. masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa. Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. f. yang mencakup kompensasi tanah. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. a. 44 .2. : Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan. seperti tercantum dalam Lampiran 6. 6. a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing. bangunan dan tanaman.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok.1 2) Lampiran6. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya.2.

agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 . sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. 2) Bapedalda. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 4) Masyarakat. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa. 3) Bappeda. dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi. Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat. b. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. 5) Instansi Terkait.

yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan . a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait. Masyarakat dan Instansi terkait lainnya. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. 3) Bappeda. 2) Bapedalda. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. 4) Masyarakat. a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi. Bapedalda.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. 46 terasing. dan upacara adat yang harus dihormati. d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada.

Kegiatan Pengadaan Tanah. Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. 5) Instansi Terkait.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur. Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. 7. Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. sehingga mudah ditelusuri.2. 7. Penyiapan Dokumen Tender. 47 . apabila ada permasalahan di kemudian hari. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat. Dokumentasi dan Pelaporan 7.1. sesuai dengan hasil musyawarah. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak.

tertib dan teratur. 2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup. dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut. dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan. dan atau pengendalian pencemaran udara. dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7.3. dilengkapi dengan upaya pendekatan. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup. 48 . bila terjadi permasalahan di kemudian hari. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. sehingga mudah ditelusuri kembali.

4. 49 . arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. kuratif dan kompensatif. maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. kegiatan pengadaan tanah. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. 3. berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. khususnya dalam penyiapan dokumen tender. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. yang memberikan petunjuk. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan. mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi. 2. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak.

Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan. tertib dan teratur. sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. 50 .

Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. pematangan lahan untuk konstruksi 1 . alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah. pemberian kompensasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak. Kep. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref.

ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. Uraian 1. 2. 23 tahun 1997. dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 . ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pasal 28. 1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No. 27 tahun 1999. yang menjadi bagian dari ijin. ayat (2) hidup. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup. Pasal 9. B Peraturan Pemerintah No. ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. Pasal 13. Daerah. masyarakat serta pelaku pembangunan lain. Pasal 38.

1 Keselamatan dan penanganan dampak. 1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No. kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. Bab VII Gambar – Gambar 3 . 19. Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4. dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada). akibat pelaksanaan pekerjaan. Untuk masing-masing komponen pekerjaan. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. akibat pelaksanaan pekerjaan. Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. akibat pelaksanaan pekerjaan. 19. Umum 1. Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak.

Jika hak pakai sampai 10 tahun. tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah. 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. Jika haknya telah kadaluarsa. tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa. dan prasarana umum. 1 tahun 1994 4 . bangunan. Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. Camat / Lurah. Pimpro dan Pimbagpro. 1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. PMD. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. Lurah. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. 5 . LKMD. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa. 4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan. LKMD. Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. Camat. PMD. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. Lurah.

6 . 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. Semua modal/asset yang terkena dampak. Pimpro/ Pimbagpro. Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. Camat / Lurah. NGO. Camat. LKMD. Pimpro/ Pimbagpro. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. LKMD. Panitia Pembebasan Tanah. Camat. Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. 8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak. Camat / Lurah. Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. BPN Propinsi. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Semua modal/asset yang tekena dampak. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali.

10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya. Lurah/ Kepala Desa. Pimbagpro. Masyarakat penerima ganti kerugian. Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. misalnya kavling. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati. rumah di lokasi permukiman kembali.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali. Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur. Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank. 7 . Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman. Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali. Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. - 11. 12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi. telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik.

5 Aset sosial . Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. lokasi cagar budaya. pelayanan kesehatan. telepon. telepon. pasar. Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon.budaya    Sumber : SESIM. kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya. bangsal. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. simbol atau tempat keramat lainnya. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. 2001 Terganggunya interaksi sosial. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal. Kehilangan lahan pekarangan perumahan. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil. 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. Terganggunya/hilangnya tempat suci. kesenian. 8 .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. air PDAM. dll). bangunan MCK. fasilitas peribadatan. Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. Pemindahan ditempati. air bersih. dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. gas). Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak. Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. Terganggunya kegiatan pendidikan. Kehilangan akses ke tempat kerja.     kawasan/tempat pemakaman umum. Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. olahraga.

dll. rehabilitasi konservasi situs dll... perbaikan permukiman tradisional.BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.....… . Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)... lembaga adat . Termasuk LSM.... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .... 4).. Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(7) . 5). (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ....(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ...................... 3).......

. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . 6).. 4).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.. (6) 3). 5).BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … ..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … . terasing … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing.(12) . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg.

.

(16) Melakukan monitoring .(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.. kegiatan konstruksi ..(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan. Melakukan konsultasi renc.. tentang tujuan dan cara pemberdayaan . Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring . dll.BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi .(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .(17) M elakukan m onito ring… .(bila ada) … … . (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada)... (20) . PDAM. termasuk keberadaan para pekerja .. (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan..(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining..(6) Menyusun laporan pelaks.(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . ekonomi masy.(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada).. dengan PLN.... pemberian fasilitas.(6) Melakukan monitoring .

. adanya penyerobotan lahan damija.. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. termasuk aspek warisan budaya ..(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. ( 14) .. badan jalan untuk berdagang..(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.. penanganan masy. (12) Melakukan tindak lanjut. LARAP dan rehabilitasi … . terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan... Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL ...BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi... pengembangan lahan sesuai tata ruang. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. (9) Menyusun laporan monitoring. (8) Memberi masukan...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring.. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. dll....(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.l.. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ... (terasing) khususnya yang terkena dampak...: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).

.

13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. (4) KETERANGAN 1)..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)..(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) . & kesepakatan dalam mufakat khususnya .. (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) . khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … .… ...(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ..... Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5).. Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6).BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .. (2) Berpartisipasi dalam proses musy. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .

.

Dusun. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek. DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat. Desa / Kelurahan. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. adat. RW/RK. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. seperti RT. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 . REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No.  Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek. IV. III. II.6 1. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai.  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat.

PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut.

PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 . kapan. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. besaran. durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1.

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. IV.  Direksi Proyek. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan.26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 . REFERENSI  Undang Undang No. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Kontraktor. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.

 Rencana pengalihan rute selama proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.  Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.

2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2. PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 .1 dan 2.

26. 18. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 15. 8. 16. 28. 5. 23. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. 2. 22. 27. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. 7. 13. 17. 3. 25. 19. Akhir Daerah Pekerjaan 10. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 21. 20. 6. Dialihkan kek anan 12.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. 4. 14.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .

dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a.  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek. lampu) pengoperasian peralatan konstruksi.  Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek. Pengoperasian Peralatan c.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek. Pengangkutan Material d. DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi. sebelum digunakan untuk konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I. Pekerjaan Galian b. lokasi penyimpanan atau penumpukan material. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 . Penumpukan Barang/Material II.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. III.

IV. REFERENSI  Undang Undang No. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.  Direksi Proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat.3.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. seperti terlihat pada Gambar 3. VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

44. 38. 42. 46. 53. 45. 40. 41. 32. 54. 48. 51. Akhir Daerah Pekerjaan 56. 39. 50. 37.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. 100m di depan ada pengalihan jalan 57. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30. 33. 43. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55. 31. 49. 52. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . Dialihkan kek anan 35. 34. 36. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.

rumah sakit. III. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi.  Direksi Proyek. pengoperasian AMP.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat. dan pemancangan pondasi. sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek. IV. II. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 .

jumlah. sebelum dan sesudah konstruksi.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.  Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

IV. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak.  Kontraktor. TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material. pengangkutan material.  Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. pekerjaan tanah. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain.  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 . DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi. pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan.

 Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.  Rencana pengangkutan material.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

IV.  Kontraktor. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase.  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan).LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. seperti terlihat pada Gambar 6. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah. untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting. VI. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan). 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V. REFERENSI Peraturan Pemerintah No. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. I.  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 . TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi. limbah domestik. II. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. III.1.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

untuk menambah daya dukung konstruksi. serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. lereng. atau dinding penahan tanah.  Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi.  Kontraktor. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. II. PROSEDUR PERMUKAAN I. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. III. ceceran sisa bongkaran pada badan air. IV. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 .

dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 .  Rencana (waktu.  Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi. jenis.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 . seperti terlihat pada Gambar 8.26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material. II.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I.  Direksi Proyek. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No. REFERENSI  Undang Undang No.1 IV.  Dinas Pekerjaan Umum setempat.

volume. waktu. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 . beban) material dan peralatan konstruksi.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

Pangkalan Udara.  Pengelola kawasan spesifik setempat. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah.  Perwakilan PT. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. telekomunikasi. Stasiun Kereta Api. listrik.  Perwakilan PGN setempat. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. akibat pekerjaan galian. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air. Industri. IV. dsb).LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9. pada lokasi kerja proyek. Depo Bahan Bakar. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. Telkom setempat.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak. II. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 .  Perwakilan PLN setempat. gas. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian.  Perwakilan PDAM setempat. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek. III.

 Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting. VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

2001. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM).  Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut. IV. III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 . serta pekerjaan timbunan. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan.  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10.  Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial. dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan. II. DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah.

jumlah) peledakan. VI.  Rencana (lokasi. PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V.  Dinas Geologi setempat.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan.  Direksi Proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan).  Kontraktor.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. metode. jenis.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

 Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 . agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau. IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. II. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry. VI. III. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. V.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

dan situs. IV.  Direksi Proyek.  Kontraktor. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 . PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya. yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah.  Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya. PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata. benda yang diduga benda cagar budaya. Seni.  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat.  Pemerintah daerah setempat. Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. yang terletak di lokasi sekitar proyek. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan. REFERENSI  Undang-undang No. II. dan Budaya setempat. ilmu pengetahuan.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. dan kebudayaan. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. III.

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata.  Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. Seni. dan Budaya setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat. REFERENSI  Keputusan Presiden No. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain. V. II.  Kontraktor.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 .  Direksi Proyek. VI. III.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Ditjen Prasarana Wilayah. Jakarta. c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana. produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). yang terdiri dari empat buku. November 2003 i .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Departemen Kimpraswil. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun.

c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. khususnya bila sudah diperdakan. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya. Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. ii . Secara garis besar.

1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … … … … … … … … … … … … … . 4.2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan .1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . A cu an N orm ati f … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..1 In stan si p el aksan a p em an tau an … … … … … … … … … … … … … … … 6.8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … . 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 6.2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … . 4.4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 5.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 4. 4. Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4.… … … … … … … … … … 4..PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6...3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii .3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan . … … … 5. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 4.. 4..7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek ..

8 P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .3 B i aya p em an tau an p ad a tah ap kon stru ksi .2 Biaya pemantauan pada tahap pra-kon stri ksi … … … … … … … … … 7..… … … … … . 7.… … … … .5 Biaya evaluasi lingkun g an p ad a tah ap eval u asi p asca royek… … 7. 7.… … … … … … … … … … ..PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. ..6 Komponen-kom p on en b i aya p em an tau an … … … … … … … … … … ... 25 25 25 25 25 25 26 iv .4 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p asca kon stru ksi … .… … … .1 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p eren can aan .… … … … 7.

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi : Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang Jalan : Baku Mutu Udara Ambien Nasional : Baku Tingkat Kebisingan : Baku Tingkat Getaran : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor : Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL : Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL v .

Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan hidup.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. antara lain: a) Undang – Undang No. Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi masyarakat di sekitarnya. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN LIDUP BIDANG JALAN 1 Ruang lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. b) Peraturan Pemerintah No. Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: a) b) c) d) e) f) g) Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatif penanganannya. 1 . 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Lingkup pemantauan tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek. 2 Acuan normatif Pedoman ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup.

antara lain: 2 . 3 Istilah dan definisi Dalam pedoman ini. digunakan definisi istil