PEDOMAN

08/BM/05

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Buku 1

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah, yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Adapun tujuannya adalah untuk melengkapi pedoman-pedoman yang telah ada, sehingga terwujud seperangkat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang utuh dan menyeluruh, yang terdiri dari:. Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Penyusunan pedoman umum ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dan pemantapan dari dokumendokumen yang telah ada, antara lain: a) Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 69/PRT/1995) b) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan, produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management); c) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan, produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and

Social Impact Management);
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan konsep pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini diucapkan banyak terima kasih. Jakarta, Oktober 2006 Direktorat Jenderal Bina Marga

i

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini merupakan bagian dari seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari empat buku, yaitu: a) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; b) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; c) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan; dan d) Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Pedoman Umum memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa

berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sedangkan ketiga pedoman lainnya terutama memberikan petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan (lihat Gambar). Secara garis besar, Pedoman Umum Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini memberikan penjelasan dan petunjuk umum tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, yang meliputi: a) Peraturan dan persyaratan lingkungan hidup terkait dengan bidang jalan; b) Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup; c) Perencanaan jaringan jalan yang berwawasan lingkungan; d) Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan; e) Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup f) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan; g) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan

ii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa, mengapa, kapan dan oleh siapa berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan harus dilaksanakan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Petunjuk tentang apa dan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tiap tahapan siklus pengembangan proyek jalan

Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tahap perencanaan,

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

iii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

meliputi tahap perencanaan umum, pra studi kelayakan,.studi kelayakan dan perencanaan teknis. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap pra konstruksi (pengadaan tanah), konstruksi, dan pasca konstruksi (pengoperasian jalan). Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan petunjuk rinci tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada tahap-tahap perencanaan, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi, serta evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Substansi Pedoman
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pedoman-pedoman tersebut di atas merupakan penjabaran dari peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang bersifat nasional, yang harus dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota) terdapat ketentuan – ketentuan yang lebih ketat yang telah dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah, yang juga wajib ditaati di daerah yang bersangkutan.

Maksud dan Tujuan
Pedoman-pedoman tersebut di atas disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam tiap tahapan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Cara Penggunaan Pedoman
Bagi mereka yang hanya ingin mengetahui ketentuan-ketentuan umum tentang pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang wajib dilaksanakan pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan, cukup membaca pedoman umum ini. Namun untuk memahami bagaimana cara pengelolaan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan pada tiap tahapan siklus proyek jalan secara rinci, perlu membaca pedoman lainnya, sesuai dengan tahapan proyek yang diperlukan.

iv

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Isi
Halaman P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … D aftar G am b ar … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. D aftar T ab el … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 1 2 3 4 R u an g Li n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. A cu an N orm ati f ……………………………………………………………………. Isti l ah d an D efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K eb i jakan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … … … … … … …………………. 4.1 P eratu ran d an P ersyaratan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 4.1.1 4.1.2 4.1.3 K eb i jakan N asi on al P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p .… … … … … . Kebijakan Sektor yan g T erkai t ……………………………………… i ii vi viii viii 1 2 2 4 4 4 7 10 18 23 24 24 24 25 25 26 26 33 35 36 38 38 38 39 39 40 40 40 41 46

Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Lu ar N eg eri … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4.2 S i kl u s P em b an g u n an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … … … … .. 4.3 K on su l tasi M asyarakat … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 5. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.1 D am p ak K eg i atan P em b an g u n an Jal an terh ad ap Li n g ku n g an H i d u p … .. 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.2 D am p ak p ad a T ah ap P eren can aan … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap P ra K on stru ksi … … … … … … … … … … … … . D am p ak p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … … … … … … … … … … … … D am p ak p ad a T ah ap P asca K on stru ksi … … … … … … … … … … .…

P eren can aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … 5.2.1 P eren can aan Jari n g an Jal an yan g B erw aw asan Li n g ku n g an … … 5.2.1 Perencanaan Pembangunan Ruas Jalan yang Layak Lingkungan 5.2.3 5.2.4 D esai n d an S p esi fi kasi T ekn i s P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman K em b al i… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

5.3

P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … … … … … … .. 5.3.1 Lingkup Pekerjaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5.3.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-kon stru ksi … … 5.3.3 P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 5.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi .. Pemantauan dan Eval u asi P el aksan aan P n g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … 5.4.1 T u ju an P em an tau an P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … .. 5.4.2 Li n g ku p K eg i atan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p … … … … … … .. 5.4.3 E val u asi K u al i tas Li n g ku n g an p ad a T ah ap P asca P ro yek … … … .. 5.4.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-E kon om i … … … … … … … … … … …

5.4

v

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6

In stan si P el aksan a P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup B i d an g Jal an … … … … … .. 6.1 6.2 P em rakarsa K eg i atan P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … In stan si T erkai t … … … … … … … … ..… … … … … … … … … … … … … … … . 5.2.1 Badan P eren can aan P em b an g u n an D aerah (B ap p ed a) … … … … 5.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda).. 5.2.3 In stan si T erkai t Lai n n ya … … … … … … … … … … … … … … … … … …

47 47 48 48 49 49 50 50 51 51 51 51 52

7

P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 7.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada T ah ap P eren can aan … … … 7.2 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap P ra K on stru ksi ..… .. 7.3 B i aya P en g el ol aan Li n g ku n g an H i d u p p ad a T ah ap K o n stru ksi … … … .. 7.4 7.5 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi... Biaya Pemantau an P el aksan aan P en g el ol aan Li n g ku n g an H i dup … … .

8

P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

Lampiran 1 : Daftar Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan Hidup Terkait Dengan Bidang Jalan. Lampiran 2 : Bagan Koordinasi / Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

vi

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Gambar Gambar 1 Struktur Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup B i d an g Jal an … . Gambar 4.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus P en g em b an g an P royek Jal an … … … … … … … … … … … … … … … … . Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang B erkesi n am b u n g an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. 54 20 iii

Daftar Tabel Tabel 5.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup dan Alternatif Pengelolaannya ................................................... Tabel 5.2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL ................................................................. Tabel 5.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ................................................................................................... 42 32 27

vii

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1.

Ruang lingkup

Pedoman umum ini memberikan petunjuk dan penjelasan umum berupa ketentuanketentuan tentang pengelolalaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan dalam seluruh tahapan siklus pengembangan proyek, mulai dari tahap perencanaan umum, pra studi dan studi kelayakan, perencanaan teknis, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi,sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman umum ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat, propinsi, maupun kabupaten / kota, untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti, sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:       Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Terkait dengan Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Konsultasi Masyarakat Perencanaan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Jalan yang Ramah Lingkungan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2.

Acuan normatif

Pedoman umum ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain: 1. Undang – Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; 2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 3. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 5. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. 6. Keputusan Kepala Bapedal No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL 7. Keputusan Kepala Bapedal No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran 1.

3.

Istilah dan definisi

3.1 Jalan Suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi lalu lintas; 3.2 Jembatan Prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan karena terbelah oleh sungai atau lalu lintas lainnya; 3.3 Rambu-rambu lalu lintas Tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran dan larangan bagi pemakai jalan;

2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.4 Marka jalan Batas pemisah lajur lalu lintas; 3.5 Jaringan jalan Satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki; 3.6 Lalu lintas Pengguna lajur jalan; 3.7 Moda angkutan Semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari berbagai jenis dan tipe; 3.8 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan; 3.9 Dampak besar dan penting Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan; 3.10 Kerangka acuan ANDAL Ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan; 3.11 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.12 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan; 3.13 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan;

3

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.14

Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan; 3.15 Komisi penilai

Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat, dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah; 3.16 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup; 3.17 Masyarakat terkena dampak

Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.18 Masyarakat pemerhati

Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut, maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.

4.

Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan dan Persyaratan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Penataan Ruang Salah satu kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup diatur dalam UndangUndang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang mencakup proses

4

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, yang bertujuan untuk: 1) Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang

berlandaskan pada wawasan nusantara dan ketahanan nasional; 2) Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; 3) Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas, antara lain untuk:  Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dengan memperhatikan sumber daya manusia;  Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup b. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup telah ditetapkan dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan sasaran sebagai berikut: 1) Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup 2) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; 3) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi mendatang; 4) Tercapainya fungsi kelestarian lingkungan hidup; 5) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; 6) Terlindunginya negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau kegiatan dari luar wilayah negara, yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah pusat mempunyai wewenang untuk:  Melimpahkan wewenang terutama kepada perangkat pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan hidup;

5

dan / atau berlokasi di daerah yang memiliki komponen lingkungan sensitif. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Dalam rangka mengupayakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan seperti disebutkan pada butir b di atas.17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Aturan pelaksanaan AMDAL ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. Dalam hal pelestarian lingkungan hidup. meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang No. Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. berupa proses pengkajian terpadu yang mempertimbangkan aspek-aspek ekologi. yang pada umumnya berupa kegiatan proyek berskala besar.jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. menetapkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Jenis . AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. serta mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien. sosio-ekonomi dan sosial-budaya sebagai pelengkap kelayakan teknis dan ekonomi suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. kompleks. c.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. serta memiliki kewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi ligkungan hidup.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Mengikutsertakan pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. 6 . setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Melalui studi AMDAL.

namun boleh dilaksanakan dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi dengan persyaratan khusus.41/KPTS/II/1996 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Mo. minimal seluas lahan yang terpakai untuk kegiatan tersebut. tapi wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Kehutanan Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. hutan pelestarian alam dan hutan buru). diperlukan izin dari Menteri Kehutanan. Pembangunan jalan tidak diperbolehkan di dalam kawasan hutan konservasi. serta ada persyaratan menyusun AMDAL. hutan lindung serta hutan produksi. yang memerlukan / menggunakan lahan di kawasan hutan. kawasan hutan dikelompokkan atas hutan konservasi (yang terdiri dari hutan suaka alam. tetapi menyangkut 7 . Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa semua kegiatan lain (selain kegiatan bidang kehutanan) termasuk kegiatan proyek jalan.55/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Upaya Pngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup adalah berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri kehutanan No.17/KPTS/M/2003. Kebijakan Sektor yang Terkait a. disebutkan bahwa usaha dan / atau kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting tidak wajib dilengkapi AMDAL. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Pada Pasal 3 Ayat (4) PP No. Untuk hal ini. menyatakan bahwa untuk kegiatan lain selain kegiatan kehutanan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. Kriteria proyek jalan dan jembatan yang wajib melaksanakan UKL dan UPL tercantum dalam Keputusan Menteri Kimpraswil No. Keputusan Menteri Kehutanan No. 164/KPTS/II/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan. 419/KPTS/II/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. harus mengganti kawasan hutan yang dipakai tersebut dengan kawasan di tempat lain dan kemudian dihutankan kembali.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN kepentingan masyarakat umum. Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Undang-Undang No. tanpa kompensasi. diatur dalam Keputusan Presiden No. b. tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No. Namun bila luas kawasan hutan yang masih ada < 30 % dari luas propinsi. Kebudayaan Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kawasan purbakala. maka cara pinjam pakai tersebut harus dengan kompensasi (sesuai Kepmen Kehutanan No. Pertanahan Kebijakan pemerintah tentang pertanahan yang terkait dengan kegiatan pembangunan jalan. 5 tahun 1992. 5 Tahun 1993. c.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keppres No. disebutkan bahwa setiap rencana kegiatan (termasuk kegiatan proyek jalan) yang dapat mengakibatkan dampak terhadap benda cagar budaya. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. seperrti pembangunan jalan. secara tertulis dan dilengkapi dengan hasil studi AMDAL. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Keppres tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaan tanah antara lain: 1) Pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut sesuai dengan:  Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. penggantian lahan yang berada di kawasan hutan dapat dilakukan dengan cara pinjam pakai selama lima tahun. yaitu kawasan yang merupakan lokasi hasil budaya manusia berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs 8 . Kebijakan nasional tentang benda cagar budaya juga diatur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.  Perencanaan ruang wilayah kota. kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan. 2) Pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk cagar budaya. wajib dilaporkan terlebih dahulu. Pada Pasal 44 Peratuan Pemerintah tersebut di atas. kawasan cagar budaya itu termasuk kategori kawasan lindung. dan dapat diperpanjang kembali.419/KPTS/II/1994 tersebut di atas). khususnya kegiatan pengadaan tanah.

pemukiman kembali. 1 tahun 1994. 2) Tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api. tanaman dan benda-benda lain yang terikat dengan tanah tersebut. dan nama pemilik tanah. serta bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. Pasal 15 Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. diatur dalam Undang-Undang No. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian dan Peraturan Pemerintah No. tanah pengganti. 55 tahun 1993. jenis hak atas tanah. bila perlu. bangunan. 4) Bentuk ganti kerugian dapat berupa uang. Pada Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut di atas. 9 .20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang Ada di Atasnya. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. d. Petunjuk pelaksanaan Keppres tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. diberikan untuk hak atas tanah. Pengecualian tehadap prinsip tersebut hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. dijelaskan bahwa pengecualian perlintasan tidak sebidang hanya dapat dilakukan dalam hal: 1) Letak geografis yang tidak memungkinkan membangun perlintasan tidak sebidang. Pedoman tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.  Keterangan tentang letak. Perhubungan Ketentuan tentang perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api. Dalam situasi dan kondisi tertentu. Pada Pasal 2 Ayat (2) UU tersebut disebutkan bahwa pencabutan hak atas tanah harus disertai dengan:  Rencana dan alasan peruntukannya. pemerintah dapat mencabut hak atas tanah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Pemberian ganti rugi dalam rangka pengadaan tanah.  Rencana penampungan orang-orang yang haknya dicabut.

saluran air. Sosial Salah satu aspek sosial yang bersifat khas dan perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan adalah keberadaan komunitas adat terpencil yang memerlukan pembinaan khusus. dilakukan berdasarkan izin Menteri yang bertanggungjawab di bidang perkeretaapian. e. 3) Keselamatan dan kelancaran operasi kereta api.1. jika rute jalan tersebut melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat. 2) Peran masyarakat dalam pemberdayaan komunitas adat terpencil. dan perlengkapan 10 . 4) Persyaratan teknis bangunan dan keselamatan. 2) Keamanan konstruksi jalan rel. jalur kereta api khusus terusan. yang dicirikan antara lain oleh lokasinya yang terpencil dan sulit dijangkau. 4. 111 tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil antara lain dikemukakan bahwa: 1) Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal. Dalam Keputusan Presiden No. antara lain penyediaan sarana dan prasarana. Bank Dunia Bank Dunia mempunyai kebijakan Perlindungan Lingkungan (Safeguard Policies) yang mencakup petunjuk (directives).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Selanjutnya pada Pasal 17 peraturan pemerintah tersebut di atas ditegaskan pula bahwa pembangunan jalan. dengan memperhatikan: 1) Rencana umum jaringan jalur kereta api. serta keamanan perlintasan. Pertimbangan terhadap komunitas masyarakat adat ini juga merupakan persyaratan bagi proyek pembamgunan jalan yang dibiayai bantuan luar negeri. dan prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan dengan perpotongan atau persinggungan dengan jalur kereta api. termasuk prasarana jalan. prosedur (procedures). serta kurang / belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan.3 Persyaratan Lingkungan untuk Proyek Jalan Berbantuan Luar Negeri a. terpencar.

tercantum dalam OP/BP 4.50. 8) Safety Dam (Keamanan Bendungan). 6) Indigenous People (Masyarakat Adat). bagi rencana kegiatan proyek yang diusulkan untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank Dunia. 2) Natural Habitats (Habitat Alam).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (tools). adalah:  Analisis Dampak Lingkungan (EIA : Environmental Impact Assessment). Berbagai kebijakan operasional (OP). 7) Forestry (Kehutanan). 3) Pest Management (Pengelolaan Hama).  Resiko Lingkungan.37. tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam OP/BP 4.36. yaitu: 1) Environmental Assessment Instrumen analisis lingkungan yang dapat dipakai dan memenuhi persyaratan ini.  Audit Lingkungan.04. 11 . hanya lima yang relevan dengan proyek pembangunan jalan. prosedur Bank (BP).09. dan skala kegiatan. 9) Project in International Waterways (Proyek pada Perairan Internasional). tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam BP 4. 4) Cultural Property (Kekayaan Budaya).  Rencana Pengelolaan Lingkungan.11. Plus Disclosure of Operational Information (Keterbukaan Informasi). tercantum dalam OP/BP 4. Untuk tiap rencana proyek pembangunan jalan perlu dilakukan penyaringan (screening) lingkungan. 10) Project in Disputed Areas (Proyek pada Daerah Perselisihan). lokasi.60. tercantum dalam OD 20. 5) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali). tercantum dalam BP 17. 1) Environmental Assessment (Analisis Lingkungan). yang didasarkan atas tipe.12. tercantum dalam OP 4.01.50. Dari kesepuluh kebijakan / persyaratan tersebut di atas. tercantum dalam OP/BP 4. tercantum dalam OP/BP 7. dan petunjuk operasional (OD) yang dipakai sebagai acuan Bank Dunia dalam perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN serta sensitivitas lingkungan. Hasil penyaringan dikelompokkan dalam kategori A. sehingga bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. sehingga wajib dilengkapi dengan AMDAL. dan sebagainya.  Kategori C. palaentologi. menimbulkan dampak kecil (minimal) dan tidak merugikan lingkungan. yang hampir identik dengan pengkategorian menurut PP No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. memerlukan kajian yang seksama mengenai lokasi habitat alam tersebut. Dalam melakukan penyaringan maupun pelingkupan lingkungan. 3) Cultural Property (Kekayaan Budaya) Cultural Property atau kekayaan budaya dalam konteks persyaratan lingkungan ini mencakup situs purbakala. sehingga tidak wajib dilengkai AMDAL. benda yang mempunyai nilai arkeologi. tapi harus menerapkan SOP (prosedur operasi standar) atau standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan. tapi tidak besar dan tidak penting. B dan C. dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. isu tentang habitat alam ini harus menjadi isu pokok dan isu penting. seperti pada hutan lindung atau kawasan perlindungan flora dan fauna. benda yang dikeramatkan. harus dilakukan konsultasi masyarakat minimal dua kali. mempunyai nilai agama yang kuat. tapi harus dilengkapi dokumen UKL dan UPL. guna mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. bersejarah. terutama dengan masyarakat yang terkena dampak dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM / NGO). atau mempunyai nila / keunikan alam. 12 . dan selanjutnya harus masuk dalam kajian / studi analisis dampak lingkungan. 2) Natural Habitats (Habitat Alam) Rencana kegiatan pembangunan jalan yang diperkirakan dapat merubah habitat alam. benda cagar budaya. yaitu:  Kategori A. Pada waktu pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL. untuk menghindari dampak negatif lanjutan yang mungkin timbul.  Kategori B.

pada umumnya tidak terdapat kegiatan pemukiman kembali penduduk. 4) Involuntary Resettlement (Pengadaan tanah dan Pemukiman Kembali) Yang tercakup dalam persyaratan ini adalah kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang tepindahkan (bila ada). bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan kurang dari 200 jiwa.  Pemerintah kabupaten / kota yang bersangkutan harus melaporkan kemajuan pelaksanaan studi setiap 2 – 3 bulan pada Bank Dunia. dan menjadi salah satu isu atau kriteria utama dan penting dalam melakukan penyaringan lingkungan dan dalam pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan hidup yang mendalam.  Simplified LARAP. Ketentuan lain yang harus dipenuhi dalam penyusunan dokumen LARAP atau Tracer Study. harus dilaksanakan Tracer Study.  Dokumen LARAP dan Tracer Study harus mendapat persetujuan Bank Dunia. Dalam kaitannya dengan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk. bila jumlah penduduk yang harus dipindahkan lebih dari 200 jiwa. meskipun diperlukan pembebasan tanah yang relatif luas. untuk mengetahui kondisi penduduk yang terkena pembebasan tanah dan / atau telah dipindahkan ke lokasi baru. baik yang bersifat sederhana (simplified tracer study) maupun lengkap (full tracer study). yaitu:  Full LARAP. 13 . antara lain:  Pembiayaan studi tersebut ditanggung oleh pemerintah kabupaten / kota. Dalam hal ini dibedakan dua jenis LARAP. Karena rencana rute jalan bersifat memanjang. persyaratan yang harus dipenuhi adalah penyusunan dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). dalam bentuk NOL (no objection letter).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kekayaan budaya tersebut harus memdapat perhatian besar dalam perencanaan pembangunan jalan. sebelum kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk dilaksanakan.  Bank Dunia akan melakukan supevisi teknis. Apabila kegiatan pembebasan tanah dan pemukiman kembali penduduk telah dilaksanakan lebih dari 2 (dua) tahun. guna persetujuan atas pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

 Sistem ekonomi yang berorientasi pada produksi untuk mencari nafkah.  AD B’ s E n vi ron m en tal G u i d el i n es for S el l ected In frastru ctu re Project. b.  Adanya lembaga sosial. dengan karakteristik:  Penduduk yang kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya. Bank Pembangunan Asia (ADB) Kebijakan lingkungan hidup Bank Pembangunan Asia secara umum telah dtuangkan dalam tiga dokumen. 1993. yaitu:  AD B’ s E n vi ron m en tal Im p act A ssessm en ts. dan budaya secara adat. misalnya: di lokasi kegiatan. dan rekomendasinya dalam bentuk rencana tindak (action plan). antara lain memasukkan masalah masyarakat adat dalam bagian desain rencana pembangunan jalan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Indigenous People (Masyarakat Adat) Indigenous people atau masyarakat adat dalam konteks persyaratan lingkungan ini adalah penduduk asli. ekonomi. perlu dilakukan proses konsultasi dengan kelompok masyarakat tersebut. perlu disusun Analisis Dampak Sosial (ANDAS). Mengingat bahwa masyarakat adat tersebut sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan (dan sosial).worldbank. maka apabila lokasi rencana kegiatan pembangunan jalan terletak pada radius kurang dari 10 km dari lokasi permukiman masyarakat adat. Beberapa ketentuan dan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi meliputi hal-hal sebagai berikut: 14 .  A D B ”s G u i d el i n es for In corp orati on of S oci al D i m en si on s i n B an k O p erati on.  Mempunyai identitas sebagai kelompok dari budaya yang khas. 1998. 1993 . Disclosure of Information (Keterbukaan Informasi) merupakan persyaratan dari Bank untuk mempublikasikan dokumen lingkungan (EIA) dan sosial (LARAP dan / atau Tracer Study) p ad a “In fo S h op ” w eb si te B an k D u n i a: www. etnik minoritas asli atau kelompok suku.org. dan bila diperlukan dapat memakai penterjemah. Di samping itu juga harus dipublikasikan di lokasi-lokasi yang dapat diakses oleh masyarakat.  Berbahasa pribumi. Dalam penyusunan dokumen tersebut.

termasuk ringkasannya (SEIA atau SIEE). sensitivitas lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Klasifikasi Proyek yang Memerlukan Dokumen Lingkungan Hidup Bank Pembangunan Asia mengelompokkan proyek-proyek ke dalam tiga kelompok.  Penyusunan dokumen format kajian laporan lingkungan yang tersebut di oleh atas.  Dokumen SIEE atau SEIA (dan sebaiknya dokumen IEE atau EIA) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.  Penyusunan EIA. dalam kaitannya dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang mungkin timbul. yaitu: a) Kategori A: Proyek-proyek yang diperkirakan mempunyai dampak yang signifikan terhadap lingkungan hidup (dampak besar dan penting). ditentukan penyusunnya harus memperhatikan masukan dari masyarakat setempat. sehingga perlu disusun Initial Environmental Examination (IEE). lokasi. skala dan besaran kegiatan. berdasarkan atas jenis kegiatan. 15 . tetapi tingkatannya lebih kecil dari kategori A (dampak tidak besar dan tidak penting). b) Kategori B: Proyek-proyek yang diperkirakan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. 120 hari sebelum waktu persiapan proyek. hendaknya dapat disusun secara simultan dengan penyusunan studi kelayakan. sebelum diserahkan kepada Bank. IEE. Bank. c) Kategori C: Proyek-proyek yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.  Dokumen SIEE atau SEIA agar diserahkan kepada Board of Director. SEIA atau SIEE merupakan kewajiban negara peminjam. 2) Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup  Dokumen kajian lingkungan (EIA atau IEE). sehingga harus dilengkapi dengan EIA (Environmental Impact Assessment). yang merupakan salah satu komponen dari usulan project selection untuk mendapatkan persetujuan Bank. serta ketersediaan teknologi penanganan dampak yang cost-efective. atau cukup dengan IEE sebagai dokumen kajian lingkungan yang final. sehingga tidak perlu dilengkapi dengan IEE atau EIA. untuk menentukan apakah dampak yang timbul tersebut perlu dianalisis lebih lanjut dan mendalam melalui proses EIA. agar dan mempergunakan termasuk LSM.

supervisi / pengawasan. dalam mengelola dan memantau dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. 4) Monitoring dan Evaluasi Sosial Ekonomi (SEMEP) Untuk mengetahui manfaat proyek. 3) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (EMMP) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan (EMMP: Environmental Management and Monitoring Plan) perlu disusun untuk memberikan kajian yang rinci dari rekomendasi IEE dan / atau UKL dan UPL. Indikator yang dapat dipergunakan dalam melakukan monitoring ini antara lain kondisi jalan. dokumen EIA atau IEE harus tersedia baik untuk negara-negara anggota ADB.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Atas permintaan Bank. antara lain:  Pemrakarsa proyek harus melakukan penanganan yang tepat terhadap permasalahan lingkungan yang timbul. c. seperti mencegah atau meminimalkan dampak yang timbul. dan indikator sosial ekonomi lain yang relevan. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) 1) Kebijakan Lingkungan Hidup Kebijakan JBIC mengenai lingkungan hidup dan sosial. perlu disusun program monitoring dan evaluasi sosial ekonomi (SEMEP: Socio Economic Monitoring and Evaluation Program). dan LSM.  Apabila proyek yang diusulkan tersebut mencakup kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. sehingga dana bantuan JBIC tidak mengakibatkan efekefek yang tidak dapat diterima. dan evaluasi kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. maka perlu dilengkapi dengan dokumen LARAP. dengan kriteria dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan dari Bank Dunia. kekasaran permukaan jalan. biaya perjalanan. volume lalu lintas. 16 . maupun untuk masyarakat yang terkena dampak. EMMP ini mencakup pengaturan-pengaturan mengenai pelaksanaan.

serta memanfaatkan informasi tersebut dalam screening dan environmental revised.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  JBIC menganggap penting adanya dialog dengan penerima dana / peminjam dan para pihak yang terkait dalam menangani masalah – masalah lingkungan hidup.  Dalam membuat keputusan pendanaan. b) Prosedur konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup (1) Screening 17 . dan bila dianggap kurang meyakinkan. co-finansial. dimana JBIC harus mengetahui dengan pasti apakah suatu proyek telah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di tempat tersebut.  JBIC memperhatikan hasil environmental revised untuk memberikan keputusan dalam pendanaan.  Standar untuk konfirmasi kesesuaian penanganan dampak terhadap lingkungan. agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku.  Informasi diperlukan untuk konfirmasi penanganan dampak terhadap lingkungan. 2) Persyaratan Lingkungan Hidup a) Prinsip dasar konfirmasi pertimbangan lingkungan hidup  Pemrakarsa proyek merupakan pihak yang bertanggungjawab tehadap penanganan dampak yang timbul terhadap lingkungan untuk proyek yang dibiayai JBIC. seperti: melakukan klasifikasi proyek (screening). JBIC perlu melakukan screening dan kaji ulang rencana penanganan terhadap dampak pada lingkungan hidup. pemerintah dan organisasi finansial. JBIC akan mendorong pemrakarsa melalui borrower untuk melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan yang tepat dan sesuai. atau telah sesuai dengan kebijakan terhadap lingkungan hidup. dengan tetap menghormati kedaulatan tuan rumah.  JBIC akan melakukan tindakan-tindakan untuk menegaskan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup. melakukan kaji ulang atas penanganan dampak terhadap lingkungan. melakukan monitoring dan tindak lanjut. baik dari stake holder.

dan sulit dianalisi. JBIC dapat melakukan environmental review.  Kategori C: Usulan proyek diklasifikasikan kategori C. atau mungkin mempunyai dampak yang minimal. dan hasil monitoring tersebut sangat diperlukan untuk menyempurnakan penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang telah dilakukan. serta untuk administrasi perbankan. (4) Monitoring Pada dasarnya JBIC menekankan pentingnya dilakukan monitoring pada periode-periode tertentu.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori A. sesuai dengan prosedur berikut.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori B. agar screening dapat dilakukan lebih awal. serta upaya penanganannya. tetapi lebih sempit dari pada untuk proyek-proyek kategori A. tidak dilakukan karena di luar kegiatan screening. terutama untuk proyek-proyek dengan kategori A dan B.  Environmenal review untuk proyek-proyek kategori C.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN JBIC meminta borrower dan pihak terkait untuk menympaikan informasi yang diperlukan. bila dampak yang timbul bersifat tipical dan merupakan site-spesific. bila tidak mempunyai dampak yang merugikan lingkungan. bila mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup. (2) Klasifikasi  Kategori A: Usulan proyek diklasifikasikan kategori A. atau dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. dengan lingkup kegiatan yang bisa bervariasi.  Kategori B: Usulan proyek diklasifikasikan kategori B. dalam beberapa hal langkah untuk menanganinya lebih mudah. baik yang sifatnya negatif maupun positif. dampak yang timbul complicated. dan sifatnya lebih kecil dan sederhana dari pada kategori A. (3) Revisi penanganan dampak terhadap lingkungan hidup Setelah proses screening selesai dilakukan. dengan mengkaji dampak tehadap lingkungan hidup yang timbul. 18 .

tanpa melakukan pra-studi kelayakan. mungkin saja karena alasan tertentu. misalnya setelah perencanaan umum langsung studi kelayakan. JBIC dapat melakukan kegiatan monitoring sendiri. (3) studi kelayakan. perkiraan biaya.1.69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. dan (8) evaluasi pasca proyek. a. secara idealnya dapat dilukiskan seperti tercantum pada Gambar 4.2 Siklus Pembangunan Jalan yang Berwawasan Lingkungan Kebijakan tentang pembangunan jalan yang berwawasan lingkungan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. pemrakarsa kegiatan dan para pihak terkait. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tiap tahap kegiatan proyek tersebut di atas. ada proyek jalan yang tidak melalui semua tahapan tersebut secara lengkap. Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah integrasi (penerapan) pertimbangan lingkungan dalam seluruh siklus pengembangan proyek bidang pekerjaan umum (termasuk proyek jalan). 4. yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. yaitu: (1) perencanaan umum. (2) pra-studi kelayakan. (4) perencanaan teknis. Siklus pengembangan proyek jalan terdiri dari rangkaian delapan tahap kegiatan yang sudah baku. (5) pra-konstruksi. Bila diperlukan. (7) pasca konstruksi. ada proyek jalan yang tidak melakukan studi kelayakan. (6) konstruksi. 19 . serta jadwal pelaksanaan dan pendanaannya. Bahkan mungkin juga karena pertimbangan khusus. dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tahap Perencanaan Umum Siklus proyek jalan diawali dengan perencanaan umum berupa perumusan gagasan usulan proyek baik berupa program pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang telah ada. dengan penjelasan singkat sebagai berikut. penentuan skala prioritas.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Informasi yang diperlukan oleh JBIC perlu disiapkan oleh borrower. Namun. Kegiatannya mencakup pemilihan rute / koridor jalan.49/PRT/1990.

Untuk ruas-ruas jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi dengan AMDAL. perlu dilakukan pelingkupan Kerangka Acuan ANDAL yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian-awal lingkungan tersebut di atas. juga harus dipertimbangkan kelayakan lingkungan melalui proses kajian-awal lingkungan. Tahap Pra-Studi Kelayakan Kegiatan proyek pada tahap ini adalah perumusan garis besar rencana kegiatan serta perumusan alternatif koridor alinyemen jalan. 20 . Dalam menganalisis kelayakan tiap alternatif koridor ruas jalan tersebut. termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor tersebut. pemrakarsa kegiatan proyek sedini mungkin harus mengidentifikasi potensi dampak besar dan penting terutama dampak negatif yang mungkin timbul. selain didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomi. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut. dapat dirumuskan persyaratan penanganan masalah lingkungan untuk tiap ruas jalan. yang wajib dilaksanakan pada tahap kegiatan proyek berikutnya. atau cukup dengan penerapan SOP. b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Walaupun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan. Persyaratan tersebut mungkin berupa studi AMDAL. melalui proses penyaringan lingkungan untuk tiap ruas jalan yang akan dibangun. studi UKL dan UPL.

monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O&P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref. pematangan lahan untuk konstruksi 21 .PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Kep.1 Bagan Integrasi Pertimbangan Lingkungan dalam Siklus Pengembangan Proyek Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan untuk peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Implementasi mitigasi dampak. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi pengadaan tanah. pemberian kompensasi.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta rencana pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan.

prakonstruksi. Demikian juga perkiraan biaya pemeliharaan jalan agar mencakup biaya pengelolaan lingkungan tahap pasca konstruksi. Karena itu. seyogianya mencakup juga biaya pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap konstruksi. finansial dan lingkungan yang lebih mendalam dari alternatif alinyemen jalan. ekonomi. Penyusunan dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. yang merupakan arahan untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap-tahap perencanaan teknis (detail design). d. jembatan dan bangunan pelengkapnya serta penetapan syarat-syarat dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksinya. Integrasi pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah penjabaran RKL atau UKL dalam bentuk gambar-gambar desain dan syarat-syarat serta spesifikasi teknis kegiatan pengelolaan lingkungan. konstruksi dan pasca konstruksi. yang sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelaksanaan studi kelayakan teknis. 22 . konsultan perencanaan teknis harus memahami isi dokumen RKL atau UKL yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Tahap Perencanaan Teknis Lingkup pekerjaan pada tahap ini mencakup komponen-komponen kegiatan antara lain:   Penetapan trase jalan secara definitif berdasarkan hasil pengukuran lapangan yang akurat. tim konsultan perencanaan teknis sebaiknya dilengkapi dengan tenaga Ahli Lingkungan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Pembuatan gambar rencana teknis detail jalan. Dalam penghitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi jalan. ekonomi dan finansial. Kesimpulan dan rekomendasi hasil studi kelayakan lingkungan disajikan dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL. Tahap Studi Kelayakan Kegiatan utama studi kelayakan mencakup analisis kelayakan teknis. dalam satu paket pekerjaan. Untuk keperluan tersebut. Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL.   Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi. yang didukung oleh data hasil survai lapangan.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jika diperlukan pengadaan tanah. Tahap Konstruksi Kegiatan pada tahap konstruksi terutama berupa pekerjaan teknik sipil meliputi pekerjaan tanah. struktur bangunan jalan dan bangunan-bangunan pelengkapnya. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL tahap konstruksi. Tahap Pasca Konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian (pemanfaatan) jalan dan sekaligus pemeliharaannya agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. untuk menangani semua dampak yang timbul akibat kegiatan-kegiatan konstruksi seperti erosi / longsor. Untuk menangani dampak akibat pengoperasian dan pemeliharaan jalan tersebut. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu. diperlukanan pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan 23 . Pengelolaan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah pelaksanaan dan pemantapan RKL dan RPL atau UKL dan UPL untuk penanganan dampak sosial yang mungkin terjadi. gangguan pada prasarana umum dan utilitas di areal tapak proyek. kebisingan. pada tahap ini perlu dilakukan studi pengadaan tanah untuk penyusunan Rencana Kerja Pengadan Tanah dan Pemukiman Kembali termasuk upaya penanganan dampaknya sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan antara lain sehubungan dengan adanya perubahan atau modifikasi desain atau sistem operasi pelaksanaan pekerjaan. atau karena ada perubahan alinyemen jalan pada lokasi tertentu. g. dan sebagainya. e. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan proyek pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek (bila perlu) yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek dan instansi terkait. pencemaran udara. f.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN UPL tahap pasca konstruksi. Hal ini sangat penting untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. yaitu: a. 24 . terutama kelompok masyarakat yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan di wilayahnya. pengendalian pencemaran udara dan kebisingan. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan desain setiap ruas jalan. Ada beberapa jenis konsultasi masyarakat yang harus dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan tahapan proses perencanaan. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. dan sehubungan dengan adanya perkembangan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat yang terangsang akibat adanya jalan tersebut. dan pengendalian penggunaan lahan di kiri-kanan jalan. Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan sesuai dengan perkembangan volume lalu lintas. 4. h. serta munculnya para pedagang kaki lima yang sering terjadi terutama di daerah perkotaan. Tahap Evaluasi Pasca Proyek Evaluasi pasca proyek bertujuan untuk menilai dan mengupayakan peningkatan daya guna dan hasil guna ruas jalan yang telah dibanguan / ditingkatkan dan dioperasikan sampai umur desainnya terlampaui. agar dapat dijadikan masukan / input dalam perencanaan pembangunan jalan. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan suatu jaringan atau ruas jalan yang akan dibangun / ditingkatkan. seperti pusat perbelanjaan / pertokoan. Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilaksanakan pada tahap-tahap sebelumnya.3 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat diperlukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. antara lain meliputi pengaturan lalu lintas.

d. c. Konsultasi untuk persiapan AMDAL. bangunan. Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan perubahan kondisi lapangan.b). Jenis dampak lainnya yang kadang-kadang terjadi adalah munculnya spekulan tanah. 25 . Konsultasi untuk pemukiman kembali (bila perlu).1 Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup 5. namun kegiatan survey dan pengukuran untuk penentuan koridor / rute jalan mungkin menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. 5.1.1 Dampak pada Tahap Perencanaan Pada dasarnya. baik dampak negatif maupun positif. sehingga harga tanah meningkat. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan :. 5. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait).2. semua jenis kegiatan pembangunan fisik termasuk pembangunan jalan. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). unsur Universitas / perguruan Tinggi. kelompok profesi. Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup sangat tergantung dari jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak. para pemuka masyarakat baik formal maupun informal. berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. bagi proyek yang termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL (Lihat butir 5. tanaman dan aset tidak bergerak lainnya. Konsultasi untuk pembebasan lahan dan kompensasi untuk tanah.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. bila mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang bersangkutan.2.

Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan mobilisasi tenaga kerja dari luar lokasi proyek. 5. Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara akibat sebaran debu dan gas buang sisa pembakaran bahan bakar. 5. dan diperlukan pemindahan penduduk. Kegiatan pembersihan lahan dapat menimbulkan dampak negatif tehadap flora dan fauna.2 Dampak pada Tahap Pra-konstruksi (pengadaan tanah) Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah. terutama kalau tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha produktif. road roller.4 Dampak pada Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian (pemanfaatan) dan pemeliharaan jalan merupakan sumber dampak pada tahap pasca konstruksi.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. sehingga terjadi erosi atau longsor. excavator. Dampak terhadap aspek fisik seperti polusi udara dan kebisingan serta pencemaran air dapat mengakibatkan dampak lanjutan berupa gangguan terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat. Jenis dampak dapat berupa kehilangan tempat tinggal atau lahan usaha.1. stone crusher. khususnya untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan di luar DAMIJA. gangguan pada aliran air permukaan dan pencemaran air.3 Dampak pada Tahap Konstruksi Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian alatalat berat seperti buldozer. dsb. Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sering kali sangat sensitif. Dampak yang mungkin terjadi antara lain berupa pencemaran 26 . Pengangkutan bahan bangunan dapat mengakibatkan kerusakan jalan yang dilalui kendaraan proyek.1. Kegiatan konstruksi khususnya galian / timbunan tanah juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alam. AMP.1. truk.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN udara. kebisingan. 27 . Di samping itu.1. dan kecelakaan lalu lintas. 5. atau kabupaten / kota. maupun tata ruang kawasan. disajikan pada Tabel 5. yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan seperti kemacetan lalu lintas.2 Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. penentuan rute jalan sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif seperti kawasan lindung atau areal sensitif lainnya.2. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. Kesesuaian dengan rencana tata ruang Perencanaan sistem jaringan jalan dimulai dengan tahap perencanaan umum. propinsi. Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. Penentuan koridor / rute jaringan jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pencegahan dampak lingkungan sedini mungkin Untuk menghindari dampak tehadap lingkungan hidup sedini mungkin.1 Perencanaan Jaringan Jalan yang Berwawasan Lingkungan a. mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti longsor dan banjir yang mengakibatkan kerusakan jalan sehingga lalu lintas kendaraan terganggu. dan alternatif pengelolaan lingkungannya. Keberadaan jalan juga dapat merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan yang tidak terkendali. b. namun dampak tersebut hanya bersifat sementara. Berbagai jenis dampak terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan pembangunan jalan yang mungkin terjadi pada tiap tahap kegiatan proyek. untuk menentukan alternatif-alternatif rencana awal koridor jaringan jalan yang perlu dibangun / ditingkatkan.

1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a.  areal dengan kemiringan lereng terjal.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis-jenis kawasan lindung tercantum pada Kotak 5. Konsultasi masyarakat 2. Sosialisasi b. Keresahan masyarakat 2. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B. Tabel 5. Tahap Perencanaan 1.  areal komersial.. Kecemburuan sosial a.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. Pengadaan Tanah a. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. Mobilisasi tenaga kerja a. Tahap Prakonstruksi 1.2 Sosialisasi pada penduduk lokal b. Tahap Konstruksi Persiapan Pekerjaan Konstruksi 1.  pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). sedangkan areal sensitif lainnya meliputi:  areal permukiman padat penduduk.1.2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar b. Penetapan rute jalan Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan 1. Pembinaan sosial-ekonomi penduduk yang terkena proyek C.  lahan pertanian produktif. Keresahan masyarakat Ketidakpuasan atas nilai kompensasi Gangguan terhadap pendapatan a. c.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a.  areal berpanorama indah. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1.1 Perbaikan jalan yang rusak a.1 Potensi Dampak Kegiatan Pembangunan Jalan terhadap Lingkungan Hidup Dan Alternatif Pengelolaannya Kegiatan yang menimbulkan dampak A. b. Survey / pengukuran 2. Mobilisasi peralatan berat a. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) 2. Kerusakan prasarana jalan 28 .1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b.

Penyiraman jalan secara berkala Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a. Getaran (kerusakan bangunan sekitar) c. Gangguan lalu lintas a. Gangguan pada utilitas umum 2. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan d. b. Perubahan bentang alam /lansekap.1 Perkuatan tebing d. Gangguan lalu lintas 6. Gangguan lalu lintas d. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Penyiraman secara berkala c. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a.1 Pengaturan lalu lintas a. Gangguan stabilitas lereng e.1 Pengaturan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian c.1 Pengaturan lalu lintas c. Pencemaran air d. Penghijauan b. Pembangunan bangunan pelengkap jalan a. Di lokasi proyek 1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. Pencemaran udara a.2 Pengendalian aliran air tanah e. Pembuatan sistem drainase 5. dan pengaturan jadwal kerja b. Pencemaran udara c. a. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Pencemaran udara (debu) b. Pembuatan jalan masuk a.1 Pengaturan lalu lintas b. Gangguan lalu lintas a. Pemindahan atau perbaikan utilitas a. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan 4. Penyiraman secara berkala b. 3. Penataan lansekap a. Pembersihan dan penyiapan lahan a. Pencemaran air permukaan. Pembuatan sistem drainase c.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Penggunaan bor c. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias 29 . Kebisingan b. Pemancangan tiang pancang a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan pada flora dan fauna b. Pencemaran udara (debu). Penyiraman secara berkala b.

Gangguan pada flora a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). b.3 Penertiban pedagang kaki lima 30 . d. Pemilihan lokasi quarry yang tepat b. Perubahan fungsi lahan e.1 Pengaturan lalu lintas. Pencemaran udara (debu. c. d. 1.1 Perkuatan tebing d. Penyiraman secara berkala b.2 pemasangan rambu lalu lintas c.3 Tebing dibuat berteras d. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. Sda. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. kantor. Gangguan terhadap biota air. Pencemaran udara b. d. Kebisingan. gas polutan) b. Pengaturan lalu lintas D. Penyiraman berkala. Pencemaran udara (debu). Kecemburuan sosial Pencemaran udara. c. Pencemaran udara (debu). Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas a. Bak truk ditutup terpal b. Tahap Pasca Konstruksi 1. a. c. Pencemaran air sungai. Penghijauan dan pertamanan a. d. stone crusher dan AMP) Di lokasi Base camp dan AMP a. Perawatan kendaraan c. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan e. Pemasangan rambu lalu lintas a. Gangguan lalu lintas. pembuatan noise barrier c. Pengoperasian jalan a. d. e. c. Pengoperasian base camp (barak pekerja.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. c. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 1. Pengendalian bahan buangan c. Gangguan pada aliran air permukaan c. Pengendalian bahan buangan d. Pengaturan lalu lintas. b. d. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Perawatan peralatan Pengendalian limbah cair e. b.2 Penggalian secara bertahap a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. Pembuatan sistem drainase c. c. Longsor tebing sungai a. Kebisingan Kerusakan badan jalan Gangguan lalu lintas a. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan c. c.2 Pengendalian air larian c. d. Pengambilan material di quarry sungai 3. b. Kebisingan. Penghijauan b. Kerusakan badan jalan. Pencemaran air permukaan. Kecelakaan lalu lintas a. Kebisingan c. Penyiraman secara berkala Perawatan kendaraan Pemel/perbaikan jalan Pengaturan lalu lintas 2. Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. b.

2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara Kotak 5. Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Pemeliharaan jalan a. Kawasan rawan gempa bumi. Kawasan perlindungan setempat: 1.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Kawasan Resapan Air. Sumber: Keppres No. muara sungai. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Perubahan penggunaan lahan yang tak terkendali 2. Hutan Wisata. Kawasan rawan longsor. B. 3. 4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). 4. perairan darat. gugusan karang atau terumbu karang. Sempadan Sungai. 2.5 Pembuatan rest area. Suaka Marga Satwa. Taman Wisata Alam 7. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. 1. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). 5. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. 6. Taman Nasional. 3.1 Daftar Kawasan Lindung A. wilayah pesisir. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. khususnya pada jalan tol d. 2. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. Pengemdalian penggunan lahan a. 2. Kawasan Rawan Bencana Alam. 3. 31 . Kawasan Hutan Lindung. Kawasan Sekitar Mata Air C. Gangguan terhadap satwa dilindungi f.1 Pengaturan lalu lintas a. Taman Hutan Raya. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi f. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. 2. dan Daerah Pengungsian Satwa). Daerah Perlindungan Plasma Nutfah.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Sempadan Pantai. Gangguan lalu lintas d. Kawasan rawan letusan gunung berapi. Pembuatan jembatan penyeberangan e. D. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 3.

N am u n . luas lahan yang perlu dibebaskan. 32 .27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Kriteria Proyek jalan yang wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dapat dilihat pada Tabel 5. Penyaringan lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. dan lokasi jalan (di kota besar / metropolitan. Pasal 3 Ayat (4) PP tersebut menjelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. tapi bersifat regional. wajib dilengkapi dokumen AMDAL. walaupun besaran kegiatannya tidak memenuhi kriteria tercantum pada tabel tersebut. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan . mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).2. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. c. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). ap ab i l a su atu ren can a keg i atan “p em b an g u n an ” jal an d i p erki rakan akan menimbulkan dampak negatif besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. dan antar kota / p ed esaan ). Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. No. serta foto udara atau citra satelit. kota sedang. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. yang didasarkan atas panjang ruas jalan. Ketentuan lebih rinci mengenai AMDAL tercantum dalam PP No. penggunaan lahan. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

Analisis kelayakan harus mencakup aspek teknis.2. • kondisi lalu lintas • sosial-ekonomi dan sosial-budaya. ekonomis dan juga lingkungan melalui kajian awal lingkungan yang mencakup berbagai jenis dampak potensial terhadap komponen-komponen lingkungan hidup. meliputi aspek-aspek: • geofisik-kimia. 33 . • biologi (flora dan fauna). termasuk kawasan adat.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.2 Perencanaan pembangunan ruas jalan yang layak lingkungan a. • estetika lingkungan. Kajian awal lingkungan pada tahap pra-studi kelayakan Kegiatan utama perencanaan pembangunan / peningkatan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. • prasarana dan utilitas.

Jenis Proyek Jalan Tol dan Jalan Layang a.000 – 20.000 jiwa : jumlah penduduk 500. Pembangunan jalan tol b.Panjang.000 jiwa : jumlah penduduk 200.Luas pembebasan tanah  Di kota sedang : . Jembatan a.000 jiwa : jumlah penduduk 3. Panjang > 5 km 2.17/KPTS/2003 Catatan:      Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan : jumlah penduduk > 1.000 jiwa : jumlah penduduk 20. Pembangunan jalan layang atau subway c. Semua besaran d. Pembangunan jembatan di kota sedang atau lebih kecil Panjang > 5 km Luas > 5 ha Panjang > 10 km Luas > 10 ha Panjang > 30 km 1 km < Panjang < 5 km 2 ha < Luas < 5 ha 3 km < Panjang < 10 km 5 ha < Luas < 10 ha 5 km < Panjang < 30 km Wajib Dilengkapi AMDAL (Skala / Besaran) *) a.000.000 – 500. Panjang > 2 km Wajib Dilengkapi UKL dan UPL (Skala/Besaran) **) b. Pembangunan jembatan di kota Besar / Metropolitan b. atau .2 Kriteria Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib dilengkapai dengan AMDAL atau UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No 1.17 Tahun 2001 **): Berdasarkan Kepmen Kimpraswil No.Panjang b.000 – 200. Panjang < 2 km c. Peningkatan jalan tol dg pembebasan lahan untuk Damija d.000 – 1.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 5. Semua besaran b.Panjang. atau .000 jiwa 34 . - Panjang > 10 km - Panjang > 20 m Panjang > 60 m *) : Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.000.Luas pembebasan tanah  Pedesaan / Antar Kota: . Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan lahan untuk Damija Jalan Raya a. Pembangunan / peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Damija  Di kota besar / metropolitan : . Peningkatan jalan dengan pelebaran pada Damija yang ada  Di Kota Besar / Metropolitan (Jalan arteri atau kolektor) 3.

AMDAL sebagai bagian dari studi kelayakan Studi kelayakan diperlukan untuk menentukan alternatif alinyemen jalan terpilih yang dianggap paling layak baik dari segi teknis. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. RKL dan RPL. Pada waktu penyusunan KA-ANDAL.masyarakat ini diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana 35 . dan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. ekonomis mapun lingkungan.c.2. Cara pelaksanaan konsultasi. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. Untuk pelaksanaan studi AMDAL. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih. pemrakarsa wajib melaksanakan pengumuman tentang rencana kegiatan proyek. terlebih dahulu harus disusun Kerangka Acuan ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen ANDAL. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. untuk memperoleh saran. Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. Kajian kelayakan lingkungan yang mendalam terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui studi AMDAL atau UKL dan UPL. sesuai dengan hasil penyaringan lingkungan yang telah diuraikan pada Butir 5. Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.1.

Dokumen AMDAL proyek jalan yang berlokasi dalam wilayah satu kabupaten / kota. e. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan dan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Proyek Jalan. Berdasarkan dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Penilai AMDAL. c. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten / kota. Dokumen AMDAL proyek jalan yang melintasi lebih dari satu propinsi. Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di Kementerian Lingkungan Hidup). d. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Propinsi (di Bapedalda Propinsi).PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN usaha/kegiatan ditimbulkannya. ANDAL. Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Proyek Jalan tercantum pada Lampiran I dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Surat ketetapan kelayakan Lingkungan. Penilaian dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. masing-masing tercantum pada Lampiran E dan Lampiran F dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten / Kota (di Bapedalda Kabupaten / Kota). Pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL sebaiknya dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan studi kelayakan (oleh konsultan yang sama). tersebut. RKL. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL. Keterbukaan Informasi tentang AMDAL 36 . RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No. saran. klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan . keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2).27/1999. Kadaluwarsa dan batalnya dokumen ANDAL.27/1999). pendapat. semua dokumen AMDAL. kesimpulan komisi penilai. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. Pembuatan desain dan spesifikasi teknis yang memasukkan pertimbangan lingkungan Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syaratsyarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya.2. Dalam hal ini. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi Untuk menjamin bahwa rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. 5. b. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. PP N0. 37 .27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No.3 Desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan a. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan. lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor seharusnya dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun kontrak pekerjaan konstruksi. f.

c. dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. Baseline study Baseline study dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum tentang penduduk yang terdapat di sepanjang koridor rencana pembangunan jalan.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk untuk keperluan proyek pembangunan / peningkatan jalan.2.  Survey sosial-ekonomi. diperlukan penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.  Konsultasi masyarakat. yang mungkin terkena dampak akibat kegiatan pengadaan tanah. Untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. b. Dampak Sosial akibat Pengadaan Tanah Seperti talah dikemukakan pada Sub-bab 5. 5. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak.1. Langkah .Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Baseline study.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali a.2. yang pada akhirnya menimbulkan hambatan terhadap kelancaran pelaksanaan proyek tersebut.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. 38 . dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul. sering menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial yang sangat sensitif / serius.

Inventarisasi tanah dan aset di atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. jarak ke sekolah anak-anak. harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan. Konsultasi masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi kegiatan. Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. mata pencaharian. status pemilikan tanah. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas. Survey sosial-ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungkin terjadi. jarak ke tempat kerja. f. dan status pemilikannya. kelas tanah. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. 39 . h. dan sebagainya.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d. tingkat pendapatan. Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. instansi pelaksananya. Konsultasi masyarakat tersebut di atas. g. Rencana pemukiman kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. jenis penggunaan saat ini. jenis dan umurnya).

konstruksi dan pasca konstruksi secara umum telah dikemukakan pada Sub-bab 5.1 Lingkup Pekerjaan Betapapun bagusnya rencana pengelolaan lingkungan hidup.1 (lihat Tabel 5. realisasi pelaksanaan pengelolaan ini sangat menentukan dalam pencapaian sasaran rencana pengelolaan lingkungan hidup yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. Untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L dari Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidp Bidang Jalan.1). yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan. dan terus berlanjut pada tahap konstruksi sampai dengan tahap pasca konstruksi. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara fisik di lapangan diperlukan mulai tahap pra-konstruksi. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL.3 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup 5.3. Karena itu. pelaksanaan pengelolan lingkungannya harus mengacu pada dokumen UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup). Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk proyek jalan yang termasuk kategori bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. harus dilakukan dengan cara penerapan SOP yang telah tersedia (dibakukan) bagi setiap jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. 40 . tidak ada artinya kalau tidak dilaksankan dengan baik. Jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap tahap pra-konstruksi. 5. harus mengacu pada dokumen RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang telah dirumuskan dan disyahkan pada tahap perencanaan.

Rencana pemukiman kembali ini hanya diperlukan kalau ada penduduk yang perlu dimukimkan kembali di lokasi tertentu. dan ketentuan tersebut juga tercantum dalam dokumen kontak. Kegagalan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi akan menghambat kelancaran pekerjaan konstruksi selanjutnya. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap konstruksi telah dijabarkan pada desain dan spesifikasi pekerjaan konstruksi. Karena dampak sosial akibat pengadaan tanah ini seringkali terjadi sangat sensitif. sesuai dengan arahan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL. Dalam hal ini.2 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra-konstruksi Sasaran pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi adalah mencegah atau mengurangi / menanggulangi dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah.3. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Hal ini banyak dialami oleh beberapa proyek pembangunan jalan. Walaupun jenis-jenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi telah dirumuskan dalam dokumen RKL atau UKL dan UPL. wajib UKL dan UPL.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. serta koordinasi yang harmonis dengan berbagai instansi terkait. Sehubungaan dengan hal itu.3 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi Idealnya. Apabila proyek tersebut termasuk kategori wajib AMDAL atau UKL dan UPL. namun mungkin saja pada saat implementasinya diperlukan modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan setempat. Jenisjenis kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan pada tahap ini. untuk digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. secara rinci telah dirumuskan pada dokumen rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali.3. peran kontraktor dan konsultan supervisi sangat diperlukan. dan telah dijabarkan dalam bentuk desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. 41 . 5. penanggungjawab pekerjaan konstruksi harus mencek apakah proyek jalan yang dilaksanakannya termasuk kategori wajib AMDAL. Pemimpin proyek pekerjaan konstruksi memperoleh dokumen AMDAL atau UKL dan UPL dari Unit Pelaksana Perencaan Teknis. penanganan dampaknya memerlukan berbagai pertimbangan yang arif serta pendekatan sosial yang persuasif.

dan kecelakaan lalu lintas. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang diperlukan sehubungan dengan hal itu meliputi pencegahan / penanggulangan pencemaran udara.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi Seperti telah diuraikan pada Sub-bab 4. Dampak kegiatan pengoperasian / pemanfaatan jalan terutma ditimbulkan akibat penggunaan jalan oleh masyarakat khususnya pengguna kendaraan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tidak bermotor serta para pejalan kaki. kebisingan.4 Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. dampak lingkungan yang perlu ditangani berkaitan dengan kegiatan masyarakat berupa penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri dan kanan jalur jalan.4. baik di tingkat pusat maupun darearah. b) Menilai tingkat efektifitas hasil pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait. oleh pemrakarsa kegiatan proyek atau instansi terkait.2. Di samping itu. sangat memerlukan koodinasi dengan berbagai instansi terkait. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sehubungan dengan masalah ini. 5. kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi dimaksudkan untuk penanganan dampak akibat kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan. kemacetan lalu lintas. termasuk pedagang kaki lima yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu linstas.1 Tujuan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mencek apakah rencana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam dokumen RKL atau UKL telah dilaksanakan atau belum.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. 42 .

Lokasi tapak kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pasca konstruksi. akibat kegiatan konstruksi. dan Jalur transportasi bahan bangunan. Lokasi quarry. dan kinerja jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui. Pemantauan pengelolaan lingungan hidup pada tahap konstruksi dimaksudkan untuk mencek kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan.4.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.4. Pada tabel tersebut tercantum jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak. Pada tahap pasca konsruksi. kegiatan pemantauan ini perlu dilakukan di:     Lokasi basecamp. Pada tahap pra-konstruksi. dan komponen (parameter / indikator) lingkungan yang perlu dipantau. khususnya dari lokasi quarry dan borrow area ke lokasi proyek.2 Lingkup Kegiatan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada tahap perencanaan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkngan hidup akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah selesai dibangun / ditingkatkan. 5. Pada Tabel 5. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek apakah proses perencanaan telah menerapkan pertimbangan lingkungan atau belum. dampak yang mungkin terjadi.3 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Tahap Pasca Proyek Evaluasi kualitas lingkungan diperlukan untuk menilai kualitas lingkungan sepanjang koridor jalan. alternatif pengelolaan lingkungan. Evaluasi mencakup: 43 .3 disajikan arahan untuk pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dlakukan. pemantauan pengelolaan lingkungan hidup diperlukan untuk mencek kinerja penanganan dampak akibat kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk. Secara garis besar. terutama akibat penggunaan alat-alat berat.

Tahap Pra-konstruksi 1. dan  Dampak lingkungan alam terhadap kondisi / kinerja jalan. Tenaga kerja lokal terserap 44 . Tahap Konstruksi 1. Survey / pengukuran 2. Mobilisasi tenaga kerja Persiapan Pekerjaan Konstruksi a. Kondisi sosialekonomi penduduk terkena proyek C. 2. serta masukan untuk perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya. Kelayakan lingkungan rencana kegiatan proyek A. Pengadaan Tanah a. Ketidakpuasan atas nilai kompensasi c. Tahap Perencanaan 1. Persepsi masyarakat 2. Tabel 5.  Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor lain) yang terangsang oleh adanya jalan. Kecemburuan sosial a. Sosialisasi b. Pembinaan sosialekonomi penduduk yang terkena proyek a. Keresahan masyarakat b. Keresahan masyarakat 2. Gangguan terhadap pendapatan a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Dampak pengoperasian jalan. Keluhan masyarakat c. Hasil evaluasi kualitas lingkungan merupakan landasan untuk perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa peningkatan jalan yang bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru. Konsultasi masyarakat Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan B.3 Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegiatan yang menimbulkan dampak Prakiraan dampak yang timbul Alternatif pengelolaan lingkungan Komponen (parameter/indikator) lingkungan yang perlu dipantau 1.2 Sosialisasi pada penduduk lokal a. Persepsi masyarakat b.1 Tenaga kerja lokal diprioritaskan a. Penilaian kualitas lingkungan dilakukan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Potensi dampak pada aspek-aspek biogeofisik dan sosial 1. Penetapan harga berdasarkan hasil musyawarah c. baik terhadap lingkungan maupun terhadap kinerja jalan. Penetapan rute jalan 1.

Pemindahan atau perbaikan utilitas Penyiraman secara berkala Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian a. Erosi / longsor e. Penyiraman jalan secara berkala b. Penataan lansekap c. Pembuatan tanggul atau saluran drainase sementara utk pengendalian air larian d. Peningkatan kesempatan kerja (dampak positif) b. Liputan vegetasi b. Kondisi jalan 3. Gangguan pd flora dan fauna.1 Pemberian informasi ttg tenaga kerja yang diperlukan b. Penghijauan b. Pencemaran air d. b. Kualitas udara Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. Pekerjaan tanah (galian / timbunan) a.2 Pelatihan tenaga kerja lokal a.2 Pengendalian aliran air tanah e. Pencemaran udara a. c. Kondisi aliran air permukaan dan air tanah d. a. 2. c. Pencemaran udara Pencemaran air permukaan. Kondisi lansekap 45 .2 Membatasi tonase peralatan atau membatasi tekanan gandar a. Kerusakan prasarana jalan a.1 Perbaikan jalan yang rusak a. Kondisi utilitas a. Gangguan pd aliran air tanah dan air permukaan Gangguan stabilitas lereng Perubahan bentang alam /lansekap. Kualitas air d. Kualitas air a. b. d. Di lokasi proyek 1. Pembuatan sistem drainase d. b.1 Perkuatan tebing d. Jumlah seluruh tenaga kerja terserap. Kualitas udara (kandungan debu) c. Pembuatan jalan masuk a. Pembersihan dan penyiapan lahan a. 2. Penyiraman secara berkala c. Kualitas udara b. Mobilisasi peralatan berat a. e. c. Gangguan pada utilitas umum Pencemaran udara (debu).

Gangguan lalu lintas b.1 Pengaturan lalu lintas a. Kondisi lalu lintas a. Pekerjaan bangunan bawah dan atas jembatan atau jalan layang 7. Pemberitahuan kpd masyarakat sekitar. Penanaman tanaman pelindung dan tanaman hias a. Erosi / longsor d.1 Pengaturan lalu lintas a. Pengambilan tanah dan material bangunan di quarry dan borrow area di darat a. Pencemaran udara (debu) Gangguan lalu lintas a.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penyiraman secara berkala b. Kondisi lalu lintas b. Di lokasi Quarry dan jalur transportasi material 9. Gangguan lalu lintas a. Aliran air permukaan c. Penyiraman secara berkala a. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan a.2 Pengendalian air larian c. Pembangunan bangunan pelengkap jalan 8.2 Pemasangan rambu lalu lintas a.3 Tebing dibuat berteras d. dan pengaturan jadwal kerja Penggunaan bor 4. Penghijauan dan pertamanan a. b. Kebisingan a. Pembuatan sistem drainase c.1 Pengaturan kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanah c. Kualitas udara b.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Penggunaan lahan 46 .1 Pengaturan lalu lintas b. Perubahan fungsi lahan d. Kondisi lalu lintas a. Peningkatan estetika lingkungan (dampak positif) a. Gangguan stabilitas lereng (erosi / longsor). Getaran/kerusakan bangunan sekitar 6. Gangguan lalu lintas a.1 Pengaturan lalu lintas a. Pencemaran udara b. Pembuatan sistem drainase a.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.2 Pemasangan rambu lalu lintas a. Pemancangan tiang pancang a. a. Liputan vegetasi b. Gangguan pd aliran air permukaan c. Kondisi lalu lintas 5. Getaran a. Kebisingan b. b. Pekerjaan badan jalan / lapis perkerasan a. Kualitas udara b.

Tingkat kebisingan c. Kualitas air c. Penghijauan di median dan pinggir jalan b. d. Pemeliharaan /Perbaikan jalan d) Gangguan lalu lintas. Stabilitas tebing sungai 11. Tingkat kebisingan d. c. b. c. Penghijauan a. Pencemaran udara (debu. Perawatan kendaraan c. Bak truk ditutup terpal d. Pengaturan lalu lintas. stone crusher dan AMP) a.1 Perkuatan tebing d. c. a. e. c) Kebisingan. e. Kebisingan. kantor. pembuatan a. Pencemaran udara (debu). Kecemburuan sosial Pencemaran udara. d. Kondisi lalu lintas c. Tingkat kebisingan noise barrier 47 . Degradasi dasar sungai sehingga mengganggu stabilitas bangunan sungai b. b. Tahap Pasca Konstruksi 1. d. b. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan a. Liputan vegetasi a. Keluhan masyarakat b.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e. Stabilitas bangunan sungai quarry yang tepat b. Pemasangan rambu lalu lintas d. Sda d. d. Kerusakan badan jalan. Kecelakaan lalu lintas a. Di lokasi Base camp dan AMP 1. Kondisi lalu lintas D. Kualitas udara c. Penyiraman berkala. Pengoperasian jalan a. Kualitas air e. Kualitas udara (sebaran debu) b. Kebisingan a. Pengambilan material di quarry sungai a. Pengoperasian base camp (barak pekerja. Gangguan terhadap biota air. Pencemaran air sungai. Kondisi jalan b. Longsor tebing sungai e. gas polutan) b. Penyuluhan masyarakat Perawatan peralatan Sda Pengendalian limbah cair Pengaturan lalu lintas a.2 Penggalian secara bertahap a. Kualitas udara b. Pemilihan lokasi e. Gangguan pada flora 10. Sda. Pengendalian bahan buangan Sda b. c. Pencemaran air permukaan.

Lintasan satwa dilindungi 48 . Gangguan lalu lintas d. khususnya pada jalan tol d. f.1 Pengaturan lalu lintas a. Penghijauan di median dan pinggir jalan c. khususnya pada jalan tol e. Pembuatan jembatan penyeberangan f. Gangguan mobilitas masyarakat setempat e. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d. Pembuatan jembatan penyeberangan e. Pencemaran udara (debu. Gangguan terhadap satwa dilindungi 2. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas c.1 Pengaturan lalu lintas. Kondisi lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas d.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c.5 Pembuatan rest area. Pemeliharaan jalan a. c. Kondisi lalu lintas b. Lintasan satwa dilindungi a. d. gas polutan) Kebisingan Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas b. pembuatan c.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan c. Gangguan mobilitas masyarakat setempat Gangguan terhadap satwa dilindungi e. Tingkat kebisingan d.2 pemasangan rambu lalu lintas c.2 pemasangan rambu lalu lintas d. c. Kualitas udara c.3 Penertiban pedagang kaki lima c. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi e.5 Pembuatan rest area.4 Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan d. Pembuatan under pass untuk jalan satwa dilindungi a. noise barrier Sda.2 Pemasangan rambu lalu lintas sementara b. d. Keluhan masyarakat f. Keluhan masyarakat e.3 Penertiban pedagang kaki lima d.1 Pengaturan lalu lintas.

khususnya masyarakat pedesaan. termasuk masyarakat miskin. yang mensyaratkan implementasi program monitoring dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation Program). terutama karena perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supplier).  Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti pendidikan.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat untuk:  Membuka keterisolasian wilayah.4. seperti program Road Rehabilitation (Sector) Project (RR(S)P) bantuan ADB. dan lain lain. 49 . e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang. f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan. Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan pada umumnya belum dilaksanakan. Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan. Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat. c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa yang lebih besar atau kota. b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang. antara lain: a) peningkatan mobilitas penduduk.  Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah. telah memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut. g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan. kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai dengan dana bantuan luar negeri. pemerintahan.PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5.  Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk. pendidikan dan penyuluhan pertanian yang ada di kota bagi penduduk pedesaan. diperlukan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat pedesaan. kesehatan. d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan.

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksi dilaksanakan, kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai. Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek dapat tercapai. Pedoman pengelolaan lingkungan bidang jalan ini tidak mencakup petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedoman lain yang lebih spesifik.

6. Instansi Pelaksana Bidang Jalan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup

6.1 Pemrakarsa Kegiatan Proyek Jalan
Proyek pembangunan jalan pada umumnya diselenggarakan oleh berbagai instansi atau unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun propinsi dan kabupaten / kota, yang bertindak selaku pemrakarsa atau pengelola kegiatan proyek Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab pemrakarsa kegiatan proyek tersebut. Sesuai dengan sistem pembagian tugas yang telah baku dalam penyelenggaraan proyek pembangunan jalan, pemrakarsa kegiatan proyek pembangunan jalan ini dapat berupa: a) Pemimpin Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan; b) Pemimpin Project Management Unit (PMU); c) Pemimpin Project Implementation Unit (PIU); d) Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah; e) Pemimpin Proyek Pembangunan Jalan; f) Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi Jalan. Tanggung jawab pemrakarsa dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:  penyusunan rencana pengelolaan lingkungan, melalui proses kajian lingkungan, studi AMDAL atau UKL dan UPL, serta LARAP (khusus untuk proyek yang dibiayai bantuan luar negeri);

50

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

 konsultasi, penyuluhan serta musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak, mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;  melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi.  Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut di atas.

6.2

Instansi Terkait

Beberapa instansi terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup proyek pembangunan jalan, adalah sebagai berikut. 6.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten / kota mempunyai tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan jalan, yang meliputi:  Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor;  Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi dam kabupaten / kota;  Melakukan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi dan kabupaten / kota;  Menjabarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah;  Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah;  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut di atas;  Melakukan evaluasi terhadap kinerja NSPM yang dihasilkan. 6.2.2 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bapedalda berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Selain itu, Bapedalda mempunyai peran penting dalam Komisi Penilai AMDAL Daerah, dan menjadi sekretariat komisi tersebut.

51

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi antara lain:  Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan;  Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa; 6.2.3 Instansi Terkait Lainnya Instansi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau swasta baik di tingkat pusat maupun daerah, yang kadang-kadang terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, seperti:  Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas / Kantor Pertanahan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;  Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan;  Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Dinas Perhubungan Propinsi atau Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;  Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan pariwisata Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati lokasi cagar budaya;  Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten / Kota, dalam kaitannya dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat adat, serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan penduduk.

7.
7.1

Pembiayaan
Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Perencanaan

a. Tahap Perencanaan Umum Anggaran biaya kajian awal lingkungan seharusnya termasuk dalam biaya perencanaan umum. Biaya kajian lingkungan ini mencakup biaya personil tenaga ahli lingkungan, dan biaya perjalanan ke lapangan, sebagai anggota tim studi perenanaan umum.

52

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

b. Tahap Pra Studi Kelayakan Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya untuk penyaringan lingkungan sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi kelayakan. Komponen biaya penyaringan lingkungan mencakup biaya personil dan survey lapangan tenaga Ahli Lingkungan, sebagai anggota Tim Studi pra studi atau studi kelayakan. c. Tahap Studi Kelayakan Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan UPL, bila proyek yang bersangkutan termasuk kategori wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL. Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan sekaligus dengan Studi kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya tentu merupakan bagian dari studi kelayakan. Namum, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga anggaran biayanya dialokasikan tersendiri. Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara garis besar mencakup komponenkomponen biaya personil, peralatan dan material, survey lapangan, analisa laboratorium, serta penyusunan lapoan termasuk presentasi dan pembahasan oleh Komisi Penilai AMDAL.

7.2

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pra Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pengadaan tanah. Biaya pengadaan tanah untuk proyek jalan biasanya ditanggung oleh pemerintah daerah (APBD).

7.3

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.

53

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4

Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Tahap Pasca Konstruksi

Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan jalan dan manajemen lalu lintas.

7.5

Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

a. Biaya pemantauan pada tahap perencanaan Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan perencanaan. b. Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan tanah. c. Biaya pemantauan pada tahap konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi. d. Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan. e. Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

54

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

f. Prioritas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan seyogianya difokuskan pada dampak kegiatan-kegiatan tertentu dengan dasar pertimbangan: 1) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting; 2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung; 3) Berpotensi menjadi sumber isu sosial atau kasus lingkungan yang sensitif; 4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

8.

Penutup

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan, dan peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting. Yang dimaksud dengan pemimpin proyek / bagian proyek di sini adalah semua pemimpin proyek / bagian proyek bidang-bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan, seperti telah diuraikan pada Butir 5.1, yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan UPL, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 7.1). Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan

Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder di Daerah (Lihat Lampiran 2).

55

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga

tergantung dari ketersediaan

sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

56

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 7.1 Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Pemimpin Proyek Perencanaan Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah Pemimpin Proyek Konstruksi Pemimpin Proyek Pemeliharaan dan Rehabilitasi

Penyusunan dokumen AMDAL, UKL dan UPL, Desain, Spesifikasi Teknis, LARAP

Pengadaan Tanah termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Tanah, termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Laporan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pemanfaatan, Pemeliharaan, Rehabilitasi termasuk Pengelolaan Lingkungan Hidup

Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Pasca Proyek

Laporan Pelaksanaan Pemeliharaan dan Rehabilitasi termasuk Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup

57

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

58

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagan Koordinasi/Konsultasi Antar Stakeholder di Daerah Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Daftar Peraturan Perundang-Undangan Bidang Lingkungan Hidup yang Terkait Bidang Jalan
1. Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang – Undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/10/1996 tentang k. l. m. n. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Getaran. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. o. p. Keputusan Kepala Bapedal No. 056 tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Kepala Bapedal No. 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. tentang Syarat-

Halaman 1 - 1

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

q.

Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

r. s. t.

Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Bapedal No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Keputuan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasaana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL.

2.

Kebijakan Sektor yang Terkait a. b. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keputusan Menteri Kehutanan No. 419/KPTS-11/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No.164/KPTS-11/1994 tentang Pedoman Tukar Menukar Kawasan Hutan.

2.1 Kehutanan

2.2 Kebudayaan
a. b. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan UndangUndang No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

2.3 Pertanahan

a. b. c.

Undang-Undang RI No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputrusan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No.55 Tahun 1993.

2.4 Perhubungan
a. b. Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang RI No.13 tahun1992 tentang Perkeretaapian.

Halaman 1 - 2

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c.

Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api.

2.5 Sosial
a. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. 3. Kebijakan Pembangunan Jalan a. b. Undang-Undang RI No. 13 tahun 1980 tentang Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1985 tentang Jalan.

Halaman 1 - 3

PEMRAKARSA. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. b). MASYARAKAT. BAPPEDA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. Penduduk terkena dampak. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . e). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. c). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. 2. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). d). STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. g). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. c). Badan Pertanahan Nasional (BPN). e). f). b). d). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. para kepala Dinas di propinsi. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a).

peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. Selanjutnya. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. PEMRAKARSA. 4. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan.. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. . dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. 3. 5. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. misalnya sentra sentra produksi. 6.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. BAPPEDA. kapasitas produksi. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. 2. 3. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. MASYARAKAT. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani.

BAPPEDA. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. UKL. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. UPL. PEMRAKARSA. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. PEMRAKARSA. menetapkan koridor jalan terpilih 6. mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 3 . MASYARAKAT. memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. Selanjutnya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 5. memberi masyarakat terasing. 8. Masukan tersebut. Dinas Sosial dll. 4. PEMRAKARSA. budaya masyarakat terasing. memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan.. 4. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. 3.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. masukan tentang koordinasi penanganan 2. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. ekonomi. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. 7. IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih.

Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. 3. PEMRAKARSA. 5. PEMRAKARSA. 2. 7. MASYARAKAT. memberi masyarakat terasing. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. menetapkan rute jalan terpilih. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 5. mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. PEMRAKARSA. memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. Selanjutnya. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). PEMRAKARSA. Atas dasar permintaan pemrakarsa. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. masukan tentang koordinasi penanganan 4. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. BAPPEDA. BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing.. pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 6. Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. 8. PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. 11. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. 10. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. 6. PEMRAKARSA. 6. sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing. melakukan MASYARAKARAT. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. 5. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 9. BAPPEDA. MASYARAKAT. membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati. 4. Selama proses wawancana. sistem kepemimpinan. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi 3. Menetapkan desain jalan. memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). 7. 8.. memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social.. PEMRAKARSA. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 5 . PEMRAKARSA. BAPPEDA.

7. pemrakarsa masyarakat terasing. 5. 3. BAPPEDA. memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program. melaksanakan program konservasi budaya. melaksanakan program penanganan dilapangan. BAPEDALDA. Selanjutnya. PEMRAKARSA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 2. pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPPEDA. Selanjutnya. 6. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . 2. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT. melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. BAPEDALDA.. membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. MASYARAKAT. 7. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL. 3. 4. 6. PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING. PEMRAKARSA. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya. PEMRAKARSA. mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. 4. 7. 5. memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek.

8. PEMRAKARSA. BAPPEDA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 8. menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing. 3. PEMRAKARSA. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 5. 7. Selanjutnya. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. 11. 7 6. BAPEDALDA. memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. 10.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 8. melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing dan evaluasi pelaksanaan BAPPEDA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. BAPEDALDA. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 4. MASYARAKAT. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. PEMRAKARSA. 9. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. MASYARAKAT. 2. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. PEMRAKARSA. khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. penataan ruang.

Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. 9. b. EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . Untuk itu.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 9.

. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5).. serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .. peran dan fungsi kota dll.… … .… .. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. 3).Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar Jaringan Jalan tersebut … .. Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2)...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4).(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . kapasitas produksi. (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan .. kapasitas jalan yang dibutuhkan. (6) . terasing… . .

. terasing.. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor jalan … … . 5). terasing pada Rencana Jaringan Jalan … . ekonomik.... (8) ....... 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7).. . sosial budaya dan lingkungan Mempelajari penyebaran permukiman masy.......(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. … … ... ekonomi. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing ... 4). Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... budaya . Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing.. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis....... (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial... (6) 3)....(2) Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ....

.... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy..4).5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis... terasing.(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute.....Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).. .. terasing … .. terasing.... Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.... (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ...

sistem dan nilai hak adat ..(7) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. pembagian tugas.. T indak … ... terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing . kepemimpinan. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masyarakat terasing … .. (11) .… … … .. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. Termasuk rencana kerja.. Termasuk data permukiman yang terkena Proyek 2).terasing tsb. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . 3). (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan.... Renc.

5).(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ..... perbaikan permukiman tradisional. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2).........(7) .… ....(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 4)..Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing........ Termasuk LSM....... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)..... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ... Mencakup kompensasi lahan dan bangunan... lembaga adat .... dll..... (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing . 3). rehabilitasi konservasi situs dll.(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … .....

4). (6) 3). 6). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) . 5). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … ..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy.. terasing … … . Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg..(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … .

7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8)... Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (Project Benefit Monitoring and Evaluatian – PBME). terasing (2) Konsultasi hasil sementara terhadap monitoring penanganan masy.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy.... Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy. sosialekonomi. Menyusun laporan monitoring pasca penanganan masy terasing . 6).. terasing termasuk rehabilitasi … … ... 4). budaya dan kelembagaan. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. 2). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis...(8) .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan pelaksanaan penanganan masy terasing . terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 5)...

(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. tata ruang nilai kearifan lokal. terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .. terasing … .. penanganan masy. adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . terasing … … . (8) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing yang lebih baik .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.… ...(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy.

.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . PEMRAKARSA. Penduduk terkena dampak. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. e). para kepala Dinas di propinsi. b). dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. f). proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. c). Badan Pertanahan Nasional (BPN).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. g). PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. 2. e). termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). b). BAPPEDA. d). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. c). MASYARAKAT. d). tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing.

2. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. BAPPEDA. . Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. 6. misalnya sentra sentra produksi. 3. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . PEMRAKARSA. STAKEHOLDER LAINNYA. Pemrakarsa. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. Selanjutnya. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. 3. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. 4. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA.. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH. kapasitas produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan. 5. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani.

3. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. 4. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. Selanjutnya. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. UKL.. Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. 2. 6. 4. BAPPEDA.. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. STAKEHOLDER LAINNYA. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. menetapkan koridor jalan terpilih 2. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. 8. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. 5. Masukan tersebut. PEMRAKARSA. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. PEMRAKARSA. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. UPL. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. PEMRAKARSA. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. peta quarry dll. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. peta banjir. Selanjutnya. 7. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah .

BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). 5. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. Atas dasar permintaan pemrakarsa. BAPPEDA. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. 6. 9. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. 11. 7. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA). 5. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL. RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Bersamaan dengan kegiatan tersebut.. mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. PEMRAKARSA. 10. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA. BAPPEDA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. MASYARAKAT. 8. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota.

Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. 8.. 13. 6. 10. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. BAPPEDA. PEMRAKARSA. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. PEMRAKARSA. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. mensosialisasikan konsep larap. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. 11. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. 7. Selama proses wawancana. 4. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. 6. sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. MASYARAKAT. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . Panitia pengadaan tanah. 12. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. 9. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. PEMRAKARSA. 5. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. BAPPEDA.

BAPEDALDA. 7. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. PEMRAKARSA. kartu penduduk dll. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. Selanjutnya. 2. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 7. 12. 3. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. BAPPEDA. 10. 6. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. 13. 5. 8. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 .maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. 9. 11. 14. STAKEHOLDER LAINNYA. BAPPEDA. MASYARAKAT. BAPPEDA. BAPEDALDA. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. 4. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah.

11. melakukan monitoring & evaluasi. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. 10. 6. Selanjutnya. MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. 4. PEMRAKARSA. BAPPEDA. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. PEMRAKARSA. 5. evaluasi pelaksanaan 2. 3. BAPPEDA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. 8. 12. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. 9. BAPEDALDA. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA). PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. PEMRAKARSA. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya . karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 7. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. BAPEDALDA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. 8. mislanya karena kehilangan pelanggan. DINAS SOSIAL.. melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. MASYARAKAT. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP.

PEMRAKARSA. 4.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. PEMRAKARSA. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai.. Untuk itu. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. MASYARAKAT. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. BAPEDALDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. BAPPEDA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. 5. khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. 6. 7. BPN. 8. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c. 2. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah. 9. Selanjutnya. 3. penataan ruang.

(2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … ..… ..: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . peran dan fungsi kota dll. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. kapasitas produksi. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. 4). kapasitas jalan yang dibutuhkan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. jenis penggunaan dan kepemilikan). mis.

..(7) Menetapkan koridor jalan terpilih. ekonomik....... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)....... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing....... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan ) PEMRAKARSA Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … . (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).(6) .. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan . sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ... status kepemilikan dan kesediaan melepas.. 4).... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ...(8) .......... 5). (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan....

... Hasil Pra Kelayakan 2). 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ..4).(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. (7) Memperkirakan dampak sosial … . ekonomis dan lingkungan. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. (12) .(11) Menetapkan Rute Terpilih ...(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.Rute. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . dll. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).5). Terhadap pengadaan tanah … .

. masa tinggal dll. luasan. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk.. dll.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)... Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. rehabilitasi pem uk. 3)..… … … .kem bali.kem bali … … . 6). Termasuk rencana kerja. Lokasi di Peta. pelepasan hak. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . … . prakiraan nilai kekayaan.

.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . (2) Berpartisipasi dalam musy.P … … .. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).T . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk..... khususnya panitia pengadaan tanah … … ..(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .… .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . & menyepakati dlm mufakat khususnya P . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … .. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … ... perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). 13).. (4) KETERANGAN 1).Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).

(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP.Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . 4).(12) .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). 6). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … ..

tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .. 5). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.. Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . … 7) 3). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… .( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. 2). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (8) . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.. 4). 7).. 6).

adat istiadat. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . tata ruang. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .. LA R A P … … . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … ..… . pelatihan untuk alih profesi … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . nilai kearifan lokal. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … ..Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan.

.

areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3). tempat keramat... 4).. Termasuk pola pelestarianaya 7).... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder. 6)... (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN 5 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … .  Kehutanan tentang status hutan... Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah.. Memberi masukan persyaratan Lingkungan .. khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan.. Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan...(8) .... Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2).. (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … ..... 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL....... Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5)........(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...

.2)....5). (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .. 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait. Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … ...6).Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN 6 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... (8) 8)..10). Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … . (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … ...(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat... (7) 3).(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix...4).. tapi cukup macadam . (10) 9).... Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … .

(6) 3). Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan. 5)... 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih .… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … . 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L.4).... 8).(11) 7). R P L .… … … (12) . nilai lahan dll...(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … .. Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .. 10.. (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. 9).. R K L..Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN 7 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..

.. (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak.(12) Menetapkan Desain Jalan ..(6) BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk...4). dan wakil masyarakat terkena dampak 12)... (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … ...(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring ..(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . mis : RKL.. (apabila ada) mis : ANDAL.9).Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN 8 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan. dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8). RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan . 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… .… … … .....5). Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan.. … … ..lingk.. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) .. Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2).. Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3). Dengan instansi terkait 14)..... apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan .10). 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. … … ....(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan T eknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll. dok. Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13).

aparat desa atau kelurahan. PDAM.Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN 9 (Tahap persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan... Listrik. (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . (10) . (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi. bantuan pindahan.... (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … . telpon.(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … . (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … ...(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .... Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.. mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … .4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll. LSM dan penduduk terkena dampak 3). Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6)... Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2).. 5). (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP .. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … .(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain..

.(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … .. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja. Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .... ..… ..... 8).(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)..... peralatan dan bahan bangunan 2).(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi .......... 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).. (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6)... Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … .....(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … ..........(11) ........ Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … . Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.....Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI 10 (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..

........ PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis...... (8) 4)....................... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … .. (9) ...(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ........ 5)... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2). dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan ... data sekunder (laporan harian kontraktor). 8).. metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai.Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK 11 (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … .... (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME .… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah ........

.Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 12 PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … .(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) ... berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.. penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb.(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan .(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan.(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … . (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ..... … .

terhadap renc. penerapan tata ruang. kawasan lindung.(1) Menyusun konsep renc. dll. Memberi masukan ttg. situs sejarah..terasing) beserta peraturannya.Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … . Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. fungsi lahan dan peraturannya. Termasuk tata ruang. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy. dll.terasing.17/KPTS/ /M/2003 4). (8) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .(2) Melakukan penyaringan awal lingk. kehutanan. lokasi areal sensitive… . jaringan … .. mis: sektor2 perhubungan.. (9) . pertanian. termasuk kondisi sosekbud masy.… . dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy..: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. hak adat/ulayat. Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.(4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). kawasan budaya. koordinasi program pemb. . dll. (termasuk masy.. (5) Memberi masukan ttg. lokasi masy..(3) Konsultasi konsep renc. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. terasing.terasing). sesuai Keppres 32/1990. diknas. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait. 3). persyaratan lingkungan daya dukung lingk. serta lokasi masy. industri. tata guna lahan.l. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung.. dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. program mis: kebutuhan lahan. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan. program lainnya yang terkait. (6) Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive. keberadaan masy. Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). dll. terasing… .

koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada). . jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.(9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing).terasing (bila ada)... (4) Memberi masukan tentang keterpaduan program. dll....... lokasi masy.. (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (7) Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … . (12) . 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix. dll. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai . penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada) Memberi masukan daerah sensitive. (11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL … .. (10) Memperbaiki dok.(3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan. (5) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas...... (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL). hutan. macadam.Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . keterpaduan pengadaan lahan...08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. … . daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . . dll. (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk.

sistem nilai budaya masy. … . (11) .. (terasing) dan pendekatan penanganan. situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. (9) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. dll. penyusunan dok. terasing... pelepasan hak. taksiran harga.. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai..… (10) Menetapkan Rute T erpilih … … . terasing (bila ada)... (7) Memperbaiki konsep dok...(6) Menyusun konsep dok.… (8) Menetapkan dokumen. … .. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. . mobilitas masy..terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan. A M D A L. A M D A L..Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy.(4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan.. kesesuaian tata guna lahan. kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.… (3) Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada) Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial . kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy.

koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat.Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya. (14) Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP . dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy. ekonomik. penanganan masyarakat terasing.. sistem kekerabatan masy. data aset. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3) Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. rehabilitasi ekonomi. kepemilikan lahan.. mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah. mis: lansekap.. koordinasi penanganan masyarakat terasing . untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … . cara pelepasan hak bila lahan milik instansi. terasing dan cara pelepasan hak. dll. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. dan aset lainnya.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis.. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9) Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10) Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya.(13) .(7) Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8) Memberi masukan tentang kepentingan daerah.. misal : tentang harga lahan. (11) Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. terasing . serta keterpaduan program implementasi LARAP. termasuk konpensasi dan pemukiman kembali . lingk.... (6) Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ...(4) Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud. dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan. median.

...(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. (6) Melakukan monitoring ... (10) Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . (9) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi.. melepaskan hak. rehabilitasi ekonomi. … . (8) Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi.. dan terhadap utilitas yang terkena dampak . terasing.. . terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat.(2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan.. besaran konpensasi. penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi... rehabiltasi ekonomi masyarakat. alih kepemilikan... dll. (7) Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. penanganan masy. (3) Memberi masukan dan menyepakati jadwal. cara pengosongan lahan..... ( 11) .. kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait. dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan... terasing … . terasing dan pemukiman kembali . kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (5) Melaksanakan LARAP .Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll.. seperti tercantum dalam kesepakatan .(4) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat.... penanganan masy..

. termasuk keberadaan para pekerja .Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy.(6) Menyusun laporan pelaks. (20) ..(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . dengan PLN. dll.(6) Melakukan monitoring .. kegiatan konstruksi . (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring ..(17) M elakukan m onito ring… .. (15) Melaksanakan program rehabilitasi … .(11) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … . PDAM..(1 6) Melakukan monitoring . terkena dampak . ekonomi m asy. kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan.(terasing) … … . Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. Melakukan konsultasi renc..(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training.(2 1) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining... desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan...(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… .(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .. (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya . pemberian fasilitas. konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. tentang tujuan dan cara pemberdayaan ..

.(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. adanya penyerobotan lahan damija.. dll..Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi. penanganan masy... badan jalan untuk berdagang. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan. LARAP dan rehabilitasi … ... bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . (12) Melakukan tindak lanjut. (8) Memberi masukan.. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a. (9) Menyusun laporan monitoring.. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … ...(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring. pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (terasing) khususnya yang terkena dampak.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima).. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.......(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks.. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. ( 14) . Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan.(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan. termasuk aspek warisan budaya .l....

apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … .. LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. biologi (flora dan fauna)..... (3) Memberi masukan aspek lingkungan . ( 9) . (7) Menyusun laporan PBME . (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang. lingkungan dan sosekbud. dll … ...(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . nilai lahan.. geologi /geographic....(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan.. ekonomik/finansial. pelatihan alih profesi.. kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan ..Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing. yaitu mencakup faktor teknis. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya . penggunaan lahan.

Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).… .Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN 1 (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.. (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . BPN dan dari sumber lainnya 2).. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan.(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … . 4).. . Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi..... khususnya areal sensitive … . .. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. (6) .

(6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . 8).(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan ..(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL . 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . (12) . Sosial) . (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy.. (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… ... terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … ..Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL 2 (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL ... (4) 1) Sesuai PP AMDAL 2). .. (10) 7)..… ...08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.. Dikbud. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.Ka Bapedal No... 9)..(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .

. (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya.. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL..(7) 1).. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … .. 2).... (9) . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … . RKL dan RPL 3). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … .Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL 3 (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … ..(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … ..

.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .... RKL DAN RPL 4 (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.. RKL dan RPL pada perenc... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis..... (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .teknis..: median.. RKL dan RPL … ... (8) . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.: penanganan utilitas yang terkena. lansekap … … … ....... (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan...

PEDOMAN 011/PW/2004 Perencanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada (ISEM. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. Pedoman ini hanya mencakup petunjuk perencanaan penanganan dampak lingkungan yang harus diterapkan dalam proses perencanaan jalan dan jembatan. SESIM. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. c) desain dan spesifikasi teknis pengelolaan lingkungan hidup. dan lain-lain) sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. namun seyogianya upaya pencegahan dan rencana penanganannya telah dipertimbangkan sedini mungkin. Walaupun pada tahap perencanaan belum ada kegiatan fisik yang mengakibatkan terjadinya dampak terhadap lingkungan di lapangan. Secara garis besar. yang meliputi ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan tentang: a) sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. khususnya bila sudah diperdakan. b) studi kelayakan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. i . isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang penerapan pertimbangan lingkungan pada proses perencanaan jaringan jalan.

dan Buku 4 : Pedoman Monitoring Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku pedoman ini dilengkapi dengan beberapa lampiran baik yang bersifat normatif maupun informatif. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci baik yang bersifat normatif maupun informatif tentang cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang berkaitan dengan ketiga hal tersebut di atas. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan Pedoman Pengelolan Lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. yang memberikan tambahan penjelasan secara rinci tentang prosedur atau cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. November 2002 Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah ii . dapat dilihat pada lampiran. Jakarta. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yang terdiri dari empat buku.

3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender dan Dokumen Kontrak 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI Prakata Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran 1 2 3 4 Ruang Lingkup Acuan Normatif Istilah dan Definisi Aspek-aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.2.2 Pembuatan Desain dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan 4.1 Maksud dan Tujuan 4.7 Penilaian dokumen AMDAL 4.6 Rencana Pemukiman Kembali 4.2 Langkah-langkah Kegiatan 4.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang 4.4.3 Desain dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4.4.3.1.1.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 4.2.1.4.7 Jadwal Pelaksanaan 4.4.3.2.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan 4.2.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL 4.4.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL 4.4 Inventarisasi Tanah dan Aset di Atasnya 4.4.8 Pembiayaan 4.2.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin 4.4 Penyaringan Lingkungan 4.2 Pengadaan Tanah 4.1.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4.1 Pra Studi Kelayakan 4.2.4.3.4.2.3 Survey Sosial-Ekonomi 4.6 Pelaksanaan Studi ANDAL 4.5 Konsultasi Masyarakat 4.1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL 4.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 4.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat 4.2.9 Koordinasi i iii v v vi 1 1 2 4 4 4 4 8 8 16 16 17 17 18 23 23 27 27 28 28 31 33 33 33 33 33 34 34 34 35 35 35 iii .4.

2 Dokumen ANDAL.4 Dokumen AMDAL 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 Dokumentasi 5.7 Pemrakarsa Bapedalda Bappeda Masyarakat Instansi (Stakeholder) Lainnya Komisi Penilai AMDAL Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait 8 Penutup iv .1 Kerangka Acuan ANDAL 5.3 7.2 7.5 Biaya Penyusunan LARAP 6. RKL dan RPL 5.5 7.3 Kadaluwarsa dan Batalnya Dokumen ANDAL.6 Dokumen LARAP 35 35 35 36 37 37 37 38 39 39 39 40 40 40 42 43 44 44 45 45 46 47 47 48 48 49 50 6 Pembiayaan 6.2 Hasil Penyaringan AMDAL 5.1 Jenis Dokumen 5.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL dan UPL 6.4.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat 5. RKL dan RPL 5.6 7.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 6.4.1 7.4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL 5.4 7.6 Pengajuan Usulan Biaya 7 Koordinasi Antar Instansi Terkait 7.4.5 Dokumen UKL dan UPL 5.4 Biaya Penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL pada tahap Perencanaan Teknis 6.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL / UPL 6.4.

1 Peta atau foto udara sebagai media untuk identifikasi dan an al i si s ron a l i n g ku n g an h i d up … … … … … … … … … … … ...5 P rosed u r P en i l ai an d an P ersetu ju an D oku m en A M D A L … … … ... 11 12 v ..… … … .2 P rosed u r P en yari n g an P royek Jal an Y an g W aji b AM D AL … … … ............ Gambar 4. 7 14 15 22 29 30 32 Daftar Tabel Tabel 4......4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat Dalam Proses AMDAL G am b ar 4. G am b ar 4...7 N oi se B arri er d an T em p at P en yeb eran g an S atw a Li ar ..6 Prosedur Penetapan dokumen UKL dan U P L … … … … … … … . G am b ar 4....1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi d en g an A M D A L … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .... Gambar 4... Tabel 4........ G am b ar 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Gambar Gambar 4..3 C on toh P enerap an S O P … … … … … … … … … … … … … … … … ...… … … … … ..2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL ..

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Daftar Lampiran Lampiran A: Lampiran B: Lampiran C: Lampiran D: Lampiran E: Lampiran F: Lampiran G: Lampiran H: Lampiran I: Lampiran J: Lampiran K: Lampiran L: Lampiran M: Lampiran N: Lampiran O: Lampiran P: Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. RKL dan RPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL Bidang Jalan Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Pelaksanaan Kajian Lingkungan Bidang Jalan Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan Bagan Koordinasi antar Instansi Terkait dalam Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing untuk Bidang Jalan Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan vi .

Adapun tujuannya adalah agar proses pembangunan jalan dan jembatan dapat dilaksanakan secara optimal tanpa mengakibatkan dampak negatif yang berarti. propinsi. Studi kelayakan kegiatan pembangunan jalan yang memasukkan pertimbangan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. Ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: • • • Penyusunan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. khususnya tentang AMDAL dan peraturan-peraturan lain yang terkait. maupun kabupaten / kota. 2. Ruang Lingkup Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang perencanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. Pengelolaan lingkungan tersebut mencakup penerapan pertimbangan lingkungan mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. Pembuatan desain dan/atau spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi yang memasukkan pertimbangan lingkungan. Pedoman ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai rujukan dan pegangan bagi para petugas yang bertanggungjawab atau terlibat dalam perencanaan pembangunan jalan dan jembatan baik di tingkat pusat. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya dalam penanganan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. sehingga terwujud jaringan jalan yang ramah lingkungan. Acuan Normatif ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang Pedoman antara lain:  lingkungan hidup. Undang – Undang No. 1 . sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN        Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Menteri Kimpraswil No.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Daftar acuan peraturan perundang-undangan selengkapnya tercantum pada Lampiran P.2 Dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan. 2 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3. 3. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No. 3.3 Kerangka Acuan ANDAL ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan.4 Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. Keputusan Kepala Bapedal No.1 Istilah dan Definisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. 3. Keputusan Presiden No. 2 . 3.

dan di tingkat daerah adalah komisi penilai daerah.9 Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.10 Masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.6 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan.8 Komisi penilai komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL dengan pengertian di tingkat pusat adalah komisi penilai pusat. 3.7 Pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan.5 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan / atau kegiatan. 3 . 3. 3. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. maupun dampakdampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 3. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3.11 Masyarakat pemerhati masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 3.

c) Kawasan suaka alam dan cagar budaya. Di samping kawasan lindung yang telah ditetapkan dengan peraturan dan perundangundangan. 4 . yang dilaksanakan pada tahap perencanaan umum.1 Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang Perencanaan sistem jaringan jalan. baik rencana tata ruang wilayah (RTRW) nasional. serta hasil survai lapangan secara global. bila diperlukan. b) Kawasan perlindungan setempat.1. antara lain:  areal permukiman padat penduduk. Aspek . Hal ini diperlukan untuk mewujudkan tujuan penataan ruang yang berwawasan lingkungan. 4. d) Kawasan rawan bencana alam.1): a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. alternatif-alternatif rencana awal koridor pembangunan jalan dipilih berdasarkan data sekunder seperti berbagai data statistik dan peta-peta tematik.1. propinsi. merupakan titik awal siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan.1 Perencanaan Sistem Jaringan Jalan Yang Berwawasan Lingkungan 4. Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan koridor jalan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pada tahap awal perencanaan perlu diidentifikasi berbagai faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kendala untuk pembangunan jalur jalan yang direncanakan. khususnya komponen-komponen lingkungan di sekitar lokasi rencana koridor jalan. penerapan pertimbangan lingkungan dalam pemilihaan rute jalan harus dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang mungkin terjadi sedini mungkin. maupun tata ruang kawasan. Pada tahap ini.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. atau kabupaten / kota. yang sangat sensitif terhadap perubahan terutama kawasan lindung yang terdiri dari (lihat Kotak 4. perlu diidentifikasi juga areal sensitif lainnya.2 Pencegahan Dampak Lingkungan Sedini Mungkin Walaupun pada tahap perencanaan umum ini belum ada kegiatan fisik yang dapat menimbulkan perubahan lingkungan hidup.Aspek Perencanaan Pengelolaan Lingkungan 4.

penggunaan lahan. c) jenis-jenis data yang diperlukan untuk pemilihan rute jalan. d) metode pengumpulan data. Petunjuk rinci tentang pemilihan rute jalan tercantum pada Lampiran A. serta foto udara atau citra satelit.  areal yang kondisi tanahnya tidak stabil. yang mencakup: a) pengertian tentang nilai lingkungan hidup. e) langkah-langkah proses pemilihan rute.1).  areal berpanorama indah.  lahan pertanian produktif. Areal sensitif dapat diidentifikasi dari peta topografi dan berbagai peta tematik seperti peta geologi. b) pengaruh pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  areal dengan kemiringan lereng terjal. 5 . Hasil identifikasi disajikan dalam bentuk peta “ken d al a l i n g ku n g an ” untuk bahan pertimbangan dalam pemilihan rencana rute jalan. f) konsultasi masyarakat dalam proses pemilihan rute jalan.  permukiman masyarakat terasing (masyarakat adat). (lihat Gambar 4. yang sedapat mungkin tidak melalui areal sensitif.

Kawasan Rawan Bencana Alam. muara sungai. Sempadan Pantai. Sasaran utama KLS antara lain evaluasi dampak kumulatif dan dampak tidak langsung akibat penetapan sistem jaringan jalan tersebut. Kawasan Sekitar Danau / Waduk. Taman Nasional. Penerapan pertimbangan lingkungan pada tahap perencanaan umum seharusnya di l aku kan ju g a secara m akro m el al u i p roses “kaji an l i n g ku n g an strateg i s” (K LS ). 1. 5. 3. wilayah pesisir. Kawasan rawan letusan gunung berapi. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: 1. Kawasan Resapan Air. Sempadan Sungai.1 Daftar Kawasan Lindung A. 3. D. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). 2. yang diperlukan untuk bahan pertimbangan dalam penentuan koridor tiap ruas jalan terpilih. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. Kawasan perlindungan setempat: 1. tapi bersifat regional. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 3. 4. Sumber: Keppres No. Kawasan rawan gempa bumi. Hutan Wisata. Dengan melalui KLS ini diharapkan akan terwujud suatu sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan. Kawasan Hutan Lindung. mencakup suatu sistem jaringan jalan yang saling berinteraksi dengan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah / kawasan pembangunan. Taman Wisata Alam 7. 4. 2. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). B.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. gugusan karang atau terumbu karang.32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan Sekitar Mata Air C. 2. 6. dan Daerah Pengungsian Satwa). 2. Taman Hutan Raya. 3. 6 . perairan darat. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Catatan : Definisi dan kriteria mengenai jenis kawasan lindung dapat dilihat dalam Keppres tersebut di atas. Kawasan suaka alam dan cagar budaya 1. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih. KLS suatu kawasan merupakan proses untuk mengidentifikasi konsekuensi dari kebijakan dan perencanaan pembangunan termasuk jaringan jalan terhadap lingkungan. Suaka Marga Satwa. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Kawasan rawan longsor. Li n g ku p KLS tidak difokuskan pada suatu ruas jalan tertentu.

1 Peta atau Foto Udara sebagai media untuk identifikasi dan analisis rona lingkungan hidup Gambar 4. dsb. Serta foto udara atau citra satelit memberikan berbagai informasi rona lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan yang berwawasan lingkungan Gambar 4.1a Peta Topografi Keterangan: Peta topografi dan peta-peta tematik lainnya seperti peta penggunaan lahan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.1b Foto Udara 7 .

4 Penyaringan Lingkungan Berdasarkan ketentuan tercantum dalam Pasal 15 UU No. Pentingnya dampak didasarkan atas: a) Jumlah manusia yang akan terkena dampak. harus dilakukan konsultasi masyarakat untuk menampung aspirasi mereka berupa pendapat. semua rencana kegiatan (termasuk kegiatan pembangunan jalan) yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. dan kerjasama di kalangan pihak-pihak yang terkait. dan diharapkan juga sebagai upaya pencegahan dampak sosial sedini mungkin. 8 . masalah pengadaan tanah perlu dipertimbangkan sedini mungkin.1.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). para pemuka masyarakat baik formal maupun informal.3 Dampak Sosial dan Konsultasi Masyarakat Pada waktu pemilihan alternatif rute rencana pembangunan jalan. komunikasi. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan prinsip dasar sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. transparansi dalam pengambilan keputusan. Konsultasi masyarakat ini merupakan forum keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan.1. Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan wakil-wakil semua golongan (kelompok) masyarakat yang berkepentingan seperti pemerintah daerah setempat (termasuk instansi yang menangani sektor terkait). b) Luas wilayah persebaran dampak. usulan serta saran-saran untuk bahan pertimbangan. Kendala sosial juga sangat potensial terjadi pada pembangunan jalan yang melalui areal masyarakat terasing (masyarakat adat) yang sangat peka terhadap perubahan. 4. dan koordinasi. kelompok profesi. Karena itu. penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. Petunjuk rinci tentang konsultasi dan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan tercantum pada Lampiran B. Dampak sosial yang sangat sensitif sering terjadi antara lain dalam kaitannya dengan pengadaan tanah terutama kalau terjadi pemindahan penduduk.

Ketetapan tersebut dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Apabila koridor (alinyemen sementara) rencana jaringan jalan telah ditetapkan. Dalam Pasal 3 Ayat (2) PP tersebut disebutkan bahwa jenis-jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan / atau Pimpinan Lembaga Pemerintah non Departemen yang terkait. a) Rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Dalam kaitannya dengan ketentuan rencana kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. Selanjutnya pada Pasal 3 Ayat (4) dijelaskan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk kategori wajib AMDAL. jenis-jenis proyek pembangunan jalan diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pembangunan jalan tol. Ketentuan mengenai pelaksanaan AMDAL tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan tersebut. (3) Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:    di kota besar / metropolitan. f) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.27 Tahun 1999 tentang AMDAL. rencana kegiatan pembangunan jalan wajib dilengkapi AMDAL kalau: 9 . (2) Pembangunan jalan layang dan subway. di pedesaan. harus dilakukan penyaringan lingkungan untuk mengetahui ruas-ruas jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL pada tahap perencanaan selanjutnya.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. (5) Pembangunan jembatan. 17 tahun 2001 tentang Rencana Usaha / Kegiatan yang Wajib Dilengkapi AMDAL. e) Sifat kumulatif dampak. di kota sedang. Kriteria tentang rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL serta petunjuk tata cara penyaringannya secara gais besar dijelaskan sebagai berikut. (4) Peningkatan jalan dalam DAMIJA. b) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

1.1. atau (2) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tabel 4.1. tapi berdasarkan pertimbangan ilmiah mengenai daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. tapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung (lihat Kotak 4. 10 . atau (3) skala / besaran rencana kegiatan lebih kecil dari kriteria tersebut pada Tebel 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) skala / besaran rencana kegiatannya memenuhi kriteria tercantum pada Tabel 4.1). Karena kriteria tersebut di atas dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam jangka waktu lima tahun. maka pemrakarsa harus senantiasa memperhatikan ketentuan yang terbaru.

getaran. getaran. Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. Pedesaan : . emisi yang tinggi. getaran. dampak kebisingan.000. Jenis Proyek Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus 1. gangguan visual dan dampak sosial. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.000 – 500. gangguan visual dan dampak sosial.Panjang .Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. emisi yang tinggi. dampak kebisingan. tanggal 22 Mei 2001 Catatan:  Kota Metropolitan: jumlah penduduk > 1. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2. Di kota besar / metropolitan : .17 Tahun 2001.000 – 1. dampak kebisingan.Panjang .atau luas pengadaan tanah b. > 30 km Bangkitan lalu lintas.atau luas pengadaan tanah c.000 jiwa  Kota Besar  Kora Sedang  Kota Kecil : jumlah penduduk 500. emisi yang tinggi. a.000 jiwa 11 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Tabel 4.000 – 200.1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan) No.000 jiwa : jumlah penduduk 20. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a. gangguan visual dan dampak sosial. b. dampak kebisingan. Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan jalan tol Semua Besaran Bangkitan lalu lintas. getaran.000 jiwa : jumlah penduduk 200. Di kota sedang : . getaran.000. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. emisi yang tinggi.

Jenis Kegiatan Proyek Skala / Besaran Kegiatan 1 Jalan Tol/Layang (Fly Over) a. > 20 m > 60 m 12 . Peningkatan Jalan Tol tanpa pembebasan lahan Jalan Raya a. Pembangunan jalan layang dan sub way b. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan lahan c.2.2 Kriteria Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kriteria kegiatan pembangunan jalan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang tidak termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor:17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. Peningkatan dengan pelebaran didalam DAMIJA a) Kota Besar/Metropolitan-Arteri Kolektor Pembangunan jembatan a) Di kota besar / metropolitan b) Di kota sedang < 2Km Semua Besaran > 5 km 2. Tabel 4. 1 km < P < 5 km 2 ha < L < 5 ha 3 km < P < 10 km 5 ha < L < 10 ha 5 km < P < 30 km >= 10 Km 3.Pembangunan/peningkatan jalan di luar DAMIJA a) Di kota besar / metropolitan:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) b) Di kota sedang:  Panjang (P)  Luas pengadaan tanah (L) c) Di pedesaan-inter urban  Panjang (P) b. kriteria rencana kegiatan proyek jalan dan jembatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 4. wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).

Secara garis besar.: 1) rencana kegiatan wajib dilengkapi AMDAL. Petunjuk lebih rinci mengenai tata cara penyaringan tersebut termasuk contoh formulir laporannya. proses penyaringan ini dapat dlukiskan dalam bentuk bagan alir seperti tercantum pada Gambar 4.2. ada tiga kemungkinan sbb. 2) rencana kegiatan wajib dilengkapi UKL dan UPL. Kesimpulan hasil penyaringan tersebut di atas. Lihat Gambar 4.3. tercantum pada Lampiran C 13 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN d) Prosedur penyaringan rencana pembangunan jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL Proses penyaringan dilakukan terhadap semua alternatif rute jalan. 3) rencana kegiatan tidak perlu dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL. tapi cukup dengan penerapan SOP (standard operating procedure) atau standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang telah baku dan terintegrasi dalam proses pelaksanaan kegiatan.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.2 Bagan Prosedur Penyaringan Lingkungan Rencana Kegiatan Proyek Jalan Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? *) tidak Daerah Sensitif ya tidak (Termasuk Kawasan Lindung dan Komunitas adat terpencil) ya Berdampak penting ? (7 kriteria) **) tidak ya tidak Memenuhi Kriteria Wajib UKL dan UPL? ***) ya SOP Wajib UKL dan UPL WAJIB AMDAL Keterangan: *) : Kepmen LH No. 17/2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wjib dilengkapi AMDAL **) : Dikonsultasikan dengan instansi terkait ***): Kepmen Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Ukl dan UPL 14 .

3 Contoh Penerapan SOP Keterangan : Ceceran minyak/pelumas dari alat-alat berat harus dicegah dengan penerapan SOP V = Total volume minyak/pelumas yang disimpan Contoh SOP Penyimpanan Minyak/Pelumas 15 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

Namun mungkin juga tidak dilaksanakan pra studi kelayakan. Akan tetapi. Hasil proses perencanaan umum biasanya ditindaklanjuti dengan pra studi kelayakan. • Gangguan terhadap kawasan lindung.1 Pra Studi Kelayakan Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan jalan di sini adalah kegiatan yang dapat berupa pembangunan jalan baru. 16 . peningkatan atau pemeliharaan jalan yang telah ada. data tersebut harus dilengkapi dengan hasil survey lapangan (rapid reconnaissance survey) untuk keperluan:  Mencek keandalan (reliability) data sekunder yang tersedia. • Dampak terhadap aspek sosial-ekonomi. • Gangguan terhadap stabilitas tanah (erosi. Kegiatan utama perencanaan jalan pada tahap pra studi kelayakan adalah perumusan alternatif alinyemen jalan termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif tersebut. sedimentasi). • Gangguan pada aliran air permukaan dan air tanah. Analisis kelayakan tidak hanya mencakup aspek teknis dan ekonomis saja.2 Perencanaan Pembangunan Jalan Yang Layak Lingkungan 4. longsor. Kajian awal lingkungan pada tahap pra studi kelayakan sebagian besar didasarkan atas data sekunder yang tersedia. yang mencakup seluruh wilayah studi. Beberapa aspek lingkungan yang perlu dikaji untuk tiap alternatif alinyemen meliputi antara lain: • Kemungkinan konflik kepentingan penggunaan lahan pada areal yang perlu dibebaskan.2. • Dampak pada kualitas air.  Memperoleh gambaran umum tentang rona lingkungan secara keseluruhan. kualitas udara dan kebisingan. tapi juga harus mempertimbangkan kelayakan lingkungan melalui kajian awal lingkungan di dalam proses pra studi kelayakan.  Tambahan informasi tentang kondisi lingkungan tertentu yang tidak tercakup dalam data sekunder yang tersedia. • Gangguan pada prasarana dan fasilitas umum. tapi langsung ke studi kelayakan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. pembangunan baru / penggantian jembatan atau pemeliharaan jembatan lama.

Hasil kajian tersebut memberikan informasi awal tentang dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat tiap alternatif alinyemen jalan. Seleksi ini didasarkan atas pertimbangan aspek teknis. Laporan hasil kajian awal lingkungan ini merupakan bagian dari laporan pra studi kelayakan yang akan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan kerangka acuan studi kelayakan dan juga bahan untuk penyusunan KA-ANDAL atau UKL dan UPL (bila diperlukan). 4. alternatif-alternatif alinyemen jalan diseleksi lebih lanjut sehingga dapat ditentukan alternatif terpilih yang dianggap paling layak. Di samping itu. termasuk kawasan adat. Pada tahap pra-studi kelayakan perlu dilakukan kajian awal pengadaan tanah. yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan alternatif rute jalan yang diinginkan.3 AMDAL Sebagai Bagian Dari Studi Kelayakan Pada tahap studi kelayakan.2.2.2 Pengadaan Tanah Pengadaan tanah merupakan salah satu komponen kegiatan proyek pembangunan jalan yang sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi sosial-ekonomi penduduk yang tanahnya terkena proyek. perencanaan pengadaan tanah harus didasarkan atas hasil kajian sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang akurat. Penanganan dampak sosial sehubungan dengan pengadaaan tanah sering mengalami kesulitan sehingga pekerjaan konstruksi terhambat atau tidak dapat dilaksanakan. Pedoman teknis pengadaan tanah tercantum dalam Lampiran D 4. dan selanjutnya pada tahap studi kelayakan dilakukan identifikasi kebutuhan tanah yang lebih akurat. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. Apabila tidak dilakukan pra studi kelayakan. terutama kalau diperlukan pemindahan penduduk. • Gangguan terhadap estetika lingkungan. ekonomi dan juga lingkungan. kajian awal lingkungan dilaksanakan pada tahap studi kelayakan sebelum penentuan alinyemen rencana jalan terpilih.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • Dampak terhadap aspek sosial-budaya. Dampak yang terjadi sering kali sangat sensitif. 17 . hasil kajian ini merupakan masukan untuk kajian lingkungan selanjutnya yang lebih mendalam (bila diperlukan) pada tahap studi kelayakan.

kondisi penggunaan lahan yang akan dibebaskan. jenis tanah.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kajian kelayakan lingkungan terhadap alternatif alinyemen jalan terpilih harus dilaksanakan melalui proses AMDAL atau UKL dan UPL. RKL.4.4 Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL a) Pelingkupan Hal yang sangat penting dalam penyusunan kerangka acuan ANDAL adalah pelingkupan untuk menentukan: (1) isu pokok lingkungan (dampak besar dan penting) yang harus dikaji.2. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. 18 . jumlah sampel yang harus dianalisis. untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen AMDAL (ANDAL.4 sub d) dan Butir 4. penggunaan lahan sepanjang rencana alinyemen jalan. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL dan UPL. Dokumen AMDAL harus dinilai oleh komisi penilai AMDAL (lihat Butir 4. penggunaan lahan. • batas sosial. 4. (3) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode. Hal ini meliputi: • • • • kondisi topografi. • batas ekologi. diperlukan data dasar tentang kondisi lingkungan saat ini (data sekunder) seperti peta-peta topografi.2. dan jumlah serta kualifikasi tenaga ahli yang diperlukan. kondisi jalan yang akan dilalui kendaraan proyek.1. dan RPL. geologi. Tambahan informasi lapangan juga diperlukan untuk melengkapi dan pemutakhiran data sekunder. (2) lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan: • batas proyek. sesuai dengan hasil penyaringan proyek yang telah diuraikan pada Butir 4. Untuk memperoleh hasil pelingkupan yang akurat. diperlukan penyusunan Kerangka Acuan UKL / UPL untuk digunakan sebagai arahan untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL. dan peruntukan lahan dengan skala yang memadai.2. ANDAL. Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib AMDAL. RKL dan RPL). dan • batas administratif.6). Dokumen AMDAL ini terdiri dari Kerangka Acuan ANDAL. Foto udara atau citra satelit (bila tersedia) juga akan sangat bermanfaat.

kawasan lindung dan daerah sensitif lainnya. dan mereka memberikan saran. (2) mengumumkan rencana kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. borrow area. lokasi quarry. 19 . (c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. (b) Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • • kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat secara umum di sekitar lokasi proyek. base camp dan spoil bank. tempat-tempat sensitif seperti rumah sakit. (2) Media pengumuman berupa: (a) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek (b) Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. Beberapa ketentuan tentang pengumuman tersebut adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. b) Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Sebelum menyusun KA . pemrakarsa wajib: (1) memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab (Bapedalda tingkat Kabupatan/Kota untuk proyek jalan yang lokasinya dalam wilayah satu kabupaten/kota. Pengumuman tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek. sesuai jadwal yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. media cetak. (a) Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. atau Bapedalda tingkat propinsi bagi proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu kabupaten/kota. dan/atau media elektronik. pendapat atau tanggapan mengenai proyek tersebut. sekolah. atau Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat untuk proyek jalan yang lokasinya meliputi wilayah lebih dari satu propinsi dan yang bersifat strategis nasional). terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. dan permukiman padat.ANDAL. surat. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.

2. Proses keterlibatan masyarakat tersebut secara garis besar dan skematis dapat dilihat pada Gambar 4. Petunjuk lebih rinci mengenai cara penyusunan KA .ANDAL tercantum pada Lampiran E. sistematika dokumen tersebut tercantum dalam Kotak 4. tercantum dalam Keputusan Kepala BAPEDAL No. (f) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. (b) Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan jalan). 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. c) Sistematika dokumen Kerangka Acuan ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab. (d) Hasil pekerjaan. skala yang Pada saat penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. (e) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi dan cara penanganannya. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). dilengkapi peta dengan memadai.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Isi pengumuman meliputi: (a) Nama dan alamat pemrakarsa.4. untuk dinilai oleh komisi tersebut. Secara garis besar. d) Penilaian dokumen Kerangka Acuan ANDAL Konsep KA . Komisi Penilai AMDAL melakukan penilaian untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Hasil dari konsultasi tersebut wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. Penjelasan lebih rinci mengenai kedua hal-hal tersebut atas. (c) Lokasi dan luas areal kegiatan proyek.ANDAL harus dipresentasikan oleh pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) dalam rapat Komisi Penilai AMDAL. (g) Nama dan alamat instansi yang bertanggungjawab dalam menerima saran. 20 .

Kotak 4.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.2 Peraturan Perundang-undangan 1.3 Isu-isu Pokok 2.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3.1 Pemrakarsa 4.1 Latar Belakang 1.2 Tim Pelaksana Studi 4.1 Metode Pengumpulan Data 3.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN 21 .2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.4 Batas Wilayah Studi 2.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Keputusan atas penilaian KA-ANDAL wajib diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab dalam jangka waktu paling lambat 75 (tujuhpuluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut.4 Biaya Studi 4.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.

08 Tahun 2000. diproses dan atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. RKL.4 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi Yang Bertanggungjawab (Bapedalda/KLH) Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RKL. 22 . Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL KONSULTASI Saran. RPL oleh Komisis (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Gubernur/Bupati/Wali kota atas rekomendasi Ka Bapedalda = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.ANDAL oleh Komisis (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Penilaian KA. RPL Penilaian ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

Hasil studi AMDAL terdiri dari: • • • • Laporan studi ANDAL. maka Kerangka Acuan UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh komisi penilai AMDAL. maka instansi yang bertanggungjawab dianggap menerima (menyepakati) KA-ANDAL dimaksud. apabila rencana lokasi kegiatannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah atau tata ruang kawasan.3. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). karena itu pelaksanaannya akan dapat dipercepat dan lebih efisien kalau keduanya dilaksanakan oleh konsultan yang sama. Karena UKL dan UPL bukan bagian dari dokumrn AMDAL. isi serta sistematika KA – UKL dan UPL tercantum pada Kotak 4.2. tapi dalam pelaksanaan studi UKL dan UPL tidak diperlukan kajian mendalam. Petunjuk rinci mengenai penyusunan AMDAL proyek jalan tercantum pada Lampiran F. agar dapat dilaksanakan secara efisien. yang mencakup penjelasan tentang isi (materi) serta cara penyusunan dokumendokumen tersebut di atas. 23 .6 Pelaksanaan Studi ANDAL Analisis kelayakan lingkungan melalui studi ANDAL atau UKL / UPL seharusnya dilaksanakan secara terpadu dengan studi kelayakan dalam satu paket pekerjaan. 4. 4. Pada dasarnya substansi Kerangka Acuan UKL dan UPL serupa dengan KA – ANDAL.2.5 Penyusunan Kerangka Acuan UKL dan UPL Kerangka acuan UKL dan UPL dimaksudkan untuk memberikan arahan kepada tim penyusun dokumen tersebut. Secara garis besar.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Apabila instansi yang bertanggungjawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. Kedua macam studi tersebut menggunakan sejumlah data yang sama. Ringkasan Eksekutif. Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan yang diajukan oleh pemrakarsa. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder.

PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Studi ANDAL diselenggarakan oleh pemrakarsa (Pemimpin Proyek) dengan bantuan konsultan. analisis dampak lingkungan yang detail dan mendalam perlu difokuskan pada dampak sosial yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah. berdasarkan Kerangka Acuan ANDAL yang telah ditetapkan (disetujui) oleh instansi yang bertanggung jawab. 24 . terutama kalau terdapat banyak penduduk yang harus dipindahkan. Petunjuk mengenai analisis dampak sosial tercantum pada Lampiran G.3 Sistematika Kerangka Acuan UKL dan UPL BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan latar belakang dan tujuan serta kegunaan studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI Penjelasan singkat mengenai:      Komponen rencana kegiatan yang akan ditelaah Komponen Lingkungan yang akan ditelaah Isu-isu pokok lingkungan yang harus ditelaah Batas wilayah studi Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain BAB 3 : METODE STUDI Memberikan arahan tentang metode studi. Kotak 4. meliputi:   Metode pengumpulan data Metode prakiraan dan evakuasi dampak lingkungan BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI Berisi penjelasan tentang:      Pemrakarsa PersyaratanTim Pelaksana Studi Jadual pelaksanaan studi Biaya studi (komponen-komponen biaya dan sumber dana) Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN Apabila alinyemen jalan melalui daerah permukiman terutama yang berpenduduk padat.

Pendahuluan Ruang Lingkup Studi Metoda Studi Rencana Kegiatan Proyek Rona Awal Lingkungan Hidup Prakiraan Dampak Besar dan Penting Evaluasi Dampak Besar dan Penting Daftar Pustaka Lampiran Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) adalah dokumen yang menyatakan upaya-upaya yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa proyek untuk mencegah. Bab VI. Bab VII. Kesimpulan hasil studi ANDAL berupa arahan untuk penanganan dampak lingkungan selanjutnya dijabarkan dalam dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). RKL mencakup empat kelompok kegiatan untuk: a) menghilangkan atau mencegah dampak-dampak negatif melalui pemilihan alternatif lokasi tapak proyek dan desain. Bab V. Bab VIII.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sistematika dokumen ANDAL secara garis besar tercantum pada Kotak 4. c) meningkatkan dampak positif. b) mitigasi. mengendalikan atau mengurangi dampak negatif. Sistematika dokumen RKL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Bab IV. Bab II Bab III. d) memberikan kompensasi baik menyangkut aspek sosial-ekonomi maupun ekologi sebagai pengganti dari sumberdaya yang rusak atau hilang. 25 .5. Bab IX.4. sehingga proyek jalan yang dibangun akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. meminimalkan atau mengendalikan dampak-dampak negatif. dan meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan.4 Sistematika Dokumen ANDAL Bab I. Dalam pengertian tersebut. Kotak 4.

b) Komponen / parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar (terkena dampak besar dan penting). Pemantauan lingkungan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan.6 Sistematika Dokumen RPL Bab I Pendahuluan Bab II Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Bab III Daftar Pustaka Bab IV Lampiran 26 . Sistematika dokumen RPL secara garis besar seperti tercantum pada Kotak 4. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPL antara lain: a) Aspek-aspek yang dipantau sesuai dengan aspek-aspek yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL dan RKL. yang ditandatangani di atas materai.. c) Pemantauan lingkungan hidup harus layak ekonomi. Kotak 4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kotak 4. Contoh format surat pernyataan pelaksanaan tercantum pada Lampiran F. berupa surat pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.5 Sistematika Dokumen RKL Bab I Pendahuluan Bab II Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Bab III Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab IV Daftar Pustaka Bab V Lampiran Dokumen RKL harus dilengkapi dengan Pernyataan Pelaksanaan.6.

Keputusan kelayakan lingkungan hidup tersebut diterbitkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen ANDAL yang bersangkutan. Laporan ANDAL. Apabila instansi yang bertanggungjawab. Dokumen ini merupakan rencana kerja yang dibuat oleh pemrakarsa yang berisi program 27 . tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas. maka instansi yang bertanggungjawab memberikan keputusan bahwa rencana kegiatan proyek yang bersangkutan tidak layak lingkungan. Dokumen UKL dan UPL disusun oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan (bila perlu) sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan Penyusunan UKL dan UPL.2. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan konsep dokumen tersebut dalam rapat Komisi Penilai AMDAL.7 Penilaian Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL (KA-ANDAL. seharusnya konsep dokumen (yang disusun oleh konsultan) tersebut dinilai oleh pemrakarsa. tapi cukup dengan UKL dan UPL. Instansi yang bertanggungjawab.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.8 Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Rencana kegiatan proyek jalan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak besar dan penting tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a) b) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia.2.5 4. Bagan prosedur penilaian dan persetujuan dokumen AMDAL dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk keperluan penilaian tersebut. maka rencana kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. atau biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh kegiatan proyek yang bersangkutan. RPL dan Ringkasan Eksekutif) harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. Sebelum dokumen AMDAL tersebut diajukan ke komisi penilai. menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sesuai dengan hasil penilaian dokumen yang dilaksanakan oleh komisi penilai. Petunjuk untuk penilaian dokumen AMDAL tercantum pada Lampiran H. RKL.

1 Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL Dokumen AMDAL (ANDAL. RKL dan RPL) atau UKL dan UPL merupakan bagian dari studi kelayakan. spesifikasi teknis detail pekerjaan konstruksi dan metode pelaksanaannya masih belum lengkap. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk pencegahan / pengendalian / penanggulangan dampak. Rekomendasi RKL dan RPL atau UKL dan UPL tersebut harus dijabarkan dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. Karena itu. pokok-pokok arahan. prinsip-prinsip dasar serta petunjuk atau persyaratan untuk pengelolaan lingkungan yang tercantu dalam RKL atau RPL merupakan rekomendasi untuk selanjutnya dijabarkan dalam rencana teknis detail.6. UKL dan UPL bukan bagian dari proses AMDAL. Pelaksanaan UKL dan UPL proyek jalan berada langsung di bawah pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan. mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif. Prosedur penetapan dokumen UKL dan UPL secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4. Alasannya adalah: a) b) c) pada tahap studi kelayakan.3. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. Untuk penyusunan dokumen UKL dan UPL tidak diperlukan kajian (analisis) mendalam. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di tingkat pusat atau Dinas yang bersangkutan di tingkat daerah. 4. Data yang digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer hasil survey lapangan sesuai dengan kebutuhan. tapi dimintakan rekomendasi dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL hanya bersifat memberikan rekomendasi berupa pokok-pokok arahan.3 Desain Dan Spesifikasi Teknis Pengelolaan Lingkungan 4. Pada dasarnya. Petunjuk rinci tentang penyusunan (sistematika) dokumen UKL dan UPL tercantum pada Lampiran I. alinyemen jalan belum ditetapkan secara pasti di lapangan. yang merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. karena itu dokumen UKL dan UPL tidak perlu dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil identifikasi dampak sebagai syarat penerbitan izin melaksanakan kegiatan proyek. 28 . AMDAL dan UKL / UPL mempunyai tujuan yang sama yaitu mencegah. yaitu Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah atau Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Perdesaan.

5 Bagan Prosedur Penilaian dan Penetapan Dokumen AMDAL Instansi Yang Bertanggungjawab Komisi Penilai AMDAL Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Masyarakat Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL 30 hari kerja Saran. RKL dan RPL Penilaian ANDAL. RKL & RPL Kelayakan atas hasil Keputusan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan Penyusunan KA-ANDAL Konsultasi Masyarakat Penilaian KA-ANDAL 75 hari kerja Kesepakatan Keputusan KA-ANDAL Dasar bagi Studi AMDAL Saran.RPL Keputusan tidak layak lingkungan atau Keputusan kelayakan lingkungan Dasar Pemberian Izin Pelaksanaan Kegiatan Proyek 75 hari kerja REVISI Saran.RKL. 27 tahun 1999 (pasal 14-23) 29 . diproses dan/atau ditembuskan Sumber : Peraturan Pemerintah No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4. Pendapat dan Tanggapan REVISI Penyusunan ANDAL. Pendapat dan Tanggapan = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi.

6 Bagan Prosedur Penilaian Dokumen UKL dan UPL Instansi Yang Bertanggungjawab *) Instansi Yang Membidangi Usaha atau Kegiatan **) Pemrakarsa ***) Pengisian Formulir Isian UKL dan UPL 7 hari kerja Pemeriksaan Formulir Isian UKL dan UPL KOORDINASI Perlu Perbaikan? ya 7 hari kerja REVISI tidak Rekomendasi UKL dan UPL 14 hari kerja DASAR PENERBITAN IZIN PELAKSANAAN KEGIATAN Keterangan *) = Men LH/Bapedal Provinsi/Bapedal Kabupaten/Kota **) = Ditjen Praswil/Dinas Bina Marga Provinsi/Dinas Bina Maega Kabupaten/Kota ***) = Proyek/Bagian Proyek 30 .PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

2 Pembuatan Desain Dan Spesifikasi Teknis Yang Memasukkan Pertimbangan Lingkungan Perencanaan teknis dilaksanakan untuk membuat gambar-gambar desain dan spesifikasi serta syarat-syarat teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Lampiran ini memberikan penjelasan rinci tentang cara penjabaran RKL atau UKL untuk diterapkan dalam desain dan spesifikasi teknis. Beberapa isu lingkungan dan sosial yang harus dipertimbangkan. jembatan dan bangunanbangunan pelengkapnya. Pencegahan kebisingan pada lokasi tertentu. 31 . yang dilengkapi dengan contoh-contoh gambar dan rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan. Pencegahan gangguan terhadap fauna langka / dilindungi. antara lain: • • • • • • • Penentuan alinyemen jalan sedapat mungkin tidak mengakibatkan pemindahan penduduk. Pencegahan gangguan terhadap stabilitas lahan (erosi dan longsor).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4.3. Perencanaan pengelolaan lingkungan pada tahap ini dilakukan melalui penjabaran rekomendasi yang tercantum dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL yang diwujudkan dalam bentuk gambar-gambar rencana teknis detail serta syarat-syarat dan spesifikasi teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Perhitungan perkiraan biaya pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan Penyiapan dokumen tender dan dokumen kontrak untuk pekerjaan konstruksi. Petunjuk tentang penjabaran RKL atau UKL tercantum pada Lampiran J. b) peninjauan lapangan yang mungkin diperlukan untuk melengkapi data yang telah ada. Perumusan spesifikasi dan syarat-syarat teknis untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi. c) penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain dan spesifikasi teknis. Estetika lingkungan (lansekap). d) pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan kontrak pekerjaan konstruksi. Keselamatan jalan bagi pengemudi / penumpang kendaraan dan pejalan kaki. Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali (bila perlu). dilengkapi dengan contoh. atau setidak-tidaknya diusahakan seminimal mungkin. Pembuatan gambar-gambar desain konstruksi jalan. Kegiatan pada tahap ini meliputi : • • • • • Penentuan alinyemen horizontal dan vertikal jalan definitif berdasarkan data hasil investigasi lapangan yang lebih rinci dan akurat. antara lain meliputi tentang: a) pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL atau UKL.

Pedoman Teknis tentang perencanaan lansekap tercantum pada Lampiran K. Gambar 4. dan tempat penyeberangan satwa liar untuk menanggulangi gangguan terhadap migrasi satwa liar yang langka atau dilindungi undang-undang.7 Noise Barrier dan Tempat Penyeberangan Satwa Liar Noise Barrier Tempat Penyeberangan Satwa Liar Dilindungi 32 .7 menunjukkan contoh konsep desain noise barrier untuk menanggulangi dampak kebisingan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 4.

baik dalam dokumen tender maupun kontrak.4 Penyusunan Rencana Pengadaan Tanah Dan Pemukiman Kembali 4.4. dan jenis serta besaran kerugian yang mungkin timbul. 4.  Inventarisasi tanah dan aset di atasnya. khususnya dalam upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan sosial-ekonomi penduduk terkena dampak. 4.3 Survey Sosial-Ekonomi Survey sosial-ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh informasi detail tentang penduduk yang terkena pembebasan tanah dan dampaknya yang mungin terjadi. 4.1 Maksud Dan Tujuan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci tentang penduduk terkena dampak kegiatan pengadaan tanah. mata 33 . dengan tujuan untuk menyusun rumusan rencana tindak dalam penanganan dampaknya. seharusnya dicantumkan klosul-klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.4.4.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Informasi yang dikumpulkan antara lain meliputi jumlah anggota keluarga.  Konsultasi masyarakat. Contoh klosul-klosul persyaratan pengelolaan lingkungan tercantum pada Lampiran J tentang penjabaran RKL atau UKL.3. Setiap klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.2 Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah utama berikut:  Survey sosial-ekonomi.3 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Dalam Dokumen Tender Dan Dokumen Kontrak Untuk menjamin agar rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada tahap konstruksi dilaksanakan oleh kontraktor. dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.

Inventarisasi aset meliputi tanaman (jenis. seperti penduduk sangat miskin. konsultasi secara langsung dapat dilakukan dalam beberapa tahap. 4.5 Konsultasi Masyarakat Proses pengadaan tanah harus dilakukan melalui konsultasi langsung antara instansi pemerintah (pemrakarsa) dengan para pemilik tanah dan tokoh masyarakat / adat setempat untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi serta lokasi pemukiman kembali. instansi pelaksananya. status pemilikan tanah.4. orang lanjut usia. penggarap tanah. dan perempuan kepala keluarga 34 . jarak ke sekolah anak-anak dan sebagainya. 4. Survey sosial-ekonomi dilakukan secara sensus terhadap seluruh penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. mekanisme dan prosedur pelaksanaannya.4 Inventarisasi Tanah Dan Aset Di Atasnya Inventarisasi tanah meliputi luas lahan. program rehabilitasi sosial-ekonomi serta bantuan-bantuan lain yang diperlukan. penduduk yang terpindahkan dan juga penduduk setempat di sekitar rencana lokasi pemukiman kembali harus dilibatkan. penyewa bangunan. maupun penghuni tanpa izin (squatters). jenis penggunaan saat ini.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pencaharian. jarak ke tempat kerja. kelas tanah. baik pemilik/penyewa tanah. tingkat pendapatan. Dalam proses perencanaan pemukiman kembali tersebut. harus disusun suatu rencana pemukiman kembali. Apabila jumlah penduduk yang terkena pengadaan tanah terlalu banyak. atau dengan perwakilan yang ditunjuk oleh penduduk yang terkena proyek.6 Rencana Pemukiman Kembali Apabila diperlukan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak. 4. dilaksanakan melalui penyuluhan dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan tentang bentuk dan jumlah nilai kompensasi atas tanah dan aset yang ada di atasnya yang terkena proyek. dan status pemilikannya. jumlah dan umurnya) serta bangunan (luas.4. yang antara lain mencakup rencana lokasi pemukiman baru. jenis dan umurnya). Konsultasi masyarakat tersebut di atas. Perhatian khusus diperlukan terhadap kelompok rentan (bila ada).4.

menyimpan (memelihara) dan mendistribusikan dokumen tersebut kepada isntansi / unit kerja yang berkepentingan atau terkait.4. 4. dan jadwal penyediaannya. Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan dengan baik dan sistemastis supaya tidak rusak atau hilang dan mudah dicari (retrievable).4.9 Koordinasi Seluruh kegiatan tersebut di atas harus dikoordinasikan dengan instansi-instansi pemerintah daerah baik tingkat propinsi maupun kabupaten / kota. Petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang lebih rinci tercantum pada Lampiran L. Beberapa jenis dokumen penting dijelaskan di bawah ini. termasuk panitia pengadaan tanah setempat. 4. berita acara atau laporan pelaksanaan pekerjaan. sumber dananya. 4. Pelaksanaan pengadaan tanah harus selesai sebelum pekerjaan konstruksi dimulai. 5.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Salah satu prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pemukiman kembali adalah agar kondisi pemukiman baru dan tingkat kesejahtaraan penduduk yang dipindahkan harus lebih baik atau minimal setara dengan kondisi pemukiman lama dan tingkat penghidupan sebelumnya.7 Jadwal Pelaksanaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus mencakup jadwal pelaksanaannya secara rinci. Pemrakarsa harus membuat.1 Dokumentasi Jenis Dokumen Tiap jenis kegiatan dalam proses AMDAL harus ditunjang (dilengkapi) dengan dokumen berupa surat.8 Pembiayaan Rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali juga harus mencakup aspek pembiayaan meliputi perkiraaan besarnya dana yang diperlukan.4. 5 5.2 Hasil Penyaringan AMDAL 35 .

diskusi terfokus. Contoh format pengumuman dapat dilihat pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada warga masyarakat yang berkepentingan. pemrakarsa wajib membuat pemberitahuan tentang hal tersebut kepada warga masyarakat yang berkepentngan. Dokumen pemberitahuan ini berisi tentang waktu. d.4 Sub b).2. yang menjelaskan tentang rencana penyusunan dokumen AMDAL kegiatan proyek serta alasan mengapa kegiatan tersebut wajib dilengkapi AMDAL. Contoh format surat pemberitahuan tentang pelaksanaan konsultasi masyarakat tercantum pada Lampiran E tentang Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Pengumuman Tentang Rencana Kegiatan Proyek Pada saat persiapan penyusunan KA – ANDAL. tempat dan cara konsultasi yang akan dilaksanakan misalnya pertemuan publik. c.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen hasil penyaringan AMDAL menyatakan ketetapan bahwa rencana kegiatan proyek wajib dilengkapi dengan AMDAL atau UKL / UPL. b. Isi dokumen pengumuman seperti telah dijelaskan pada Butir 4. Contoh format laporan tercantum pada Lampiran C. 5. yang dilengkapi dengan alasan ketetapan tersebut dan jenis-jenis dampak potensial yang harus dipertimbangkan dalam proses pekerjaan selanjutnya. Pemberitahuan Tentang Konsultasi Masyarakat Untuk kelancaran pelaksanaan konsultasi masyarakat.3 Dokumen Konsultasi Masyarakat a. lokakarya. Dokumen ini juga berisi tentang perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL/UPL. seminar. Rangkuman Hasil Konsultasi Masyarakat 36 . Surat tersebut harus dikirimkan kepada instansi yang bertanggungjawab sebelum pembuatan KA-ANDAL. Surat Pemberitahuan Kepada Instansi Yang Bertanggungjawab Dokumen ini berupa surat pemberitahuan dari pemrakarsa kepada instansi yang bertanggungjawab.

pemrakarsa harus membuat surat pengajuan KA – ANDAL kepada instansi yang bertanggungjawab melalui komisi penilai AMDAL.4 Dokumen AMDAL 5. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan (persetujuan) atas KA – ANDAL tersebut.4. Untuk keperluan itu. RKL dan RPL Dokumen-dokumen ANDAL. 5. Apabila KA – ANDAL sesuai tersebut dengan perlu diperbaiki.2 Dokumen ANDAL. c) Surat Ketetapan (persetujuan) KA – ANDAL Jika KA – ANDAL telah disetujui komisi penilai. KA – ANDAL ini merupakan bagian dari dokumen AMDAL. Penyusunan kerangka acuan ANDAL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini. RKL. 5. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat yang berkepentingan. 37 . dari komisi penilai. Ketiga dokumen tersebut disusun berdasarkan KA ANDAL. dari maka komisi pemrakarsa penilai. dan RPL dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. b) Berita Acara Hasil Evaluasi KA – ANDAL KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini merupakan laporan hasil pelaksanaan konsultasi masyarakat yang harus diserahkan oleh pemrakarsa kepada komisi penilai AMDAL. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa KA – ANDAL disetujui atau perlu perbaikan. sebagai lampiran KA – ANDAL.1 Kerangka Acuan ANDAL Kerangka acuan ANDAL disusun oleh pemrakarsa dengan memperhatikan saran. harus memperbaikinya tanggapan kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan persetujuan. a) Surat Pengajuan KA – ANDAL kepada Instansi yang bertanggungjawab KA – ANDAL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL.4.

keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan PP tersebut. b) Berita Acara Hasil Evaluasi Dokumen ANDAL. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas dokumen ANDAL. RKL. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa. apabila rencana kegiatan proyek tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. RKL dan RPL telah disetujui komisi penilai. instansi yang bertanggungjawab memutuskan: 38 sesuai dengan tanggapan dari komisi penilai. 5. Apabila dokumen-dokumen tersebut perlu diperbaiki. maka pemrakarsa harus memperbaikinya lingkungan hidup. Terhadap permohonan tersebut. RKL dan RPL Berdasarkan ketentuan dalam PP No. maka pemrakarsa akan menerima Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup. kemudian mengajukannya lagi ke komisi penilai untuk mendapatkan surat ketetapan kelayakan tersebut kepada instansi yang bertanggungjawab .27 / 1999 tentang AMDAL (Pasal 24 Ayat 1). Untuk keperluan itu.3 Kadaluwarsa Dan Batalnya Dokumen ANDAL. c) Surat Ketetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Apabila dokumen-dokumen ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penyusunan dokumen ANDAL. RKL dan RPL dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. dari instansi yang bertanggungjawab. maka untuk melaksanakan rencana kegiatan proyek. RKL da RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa harus dievaluasi oleh komisi penilai AMDAL. RKL dan RPL Dokumen ANDAL. a) Surat Pengajuan Dokumen ANDAL.4. RKL dan RPL yang telah disusun oleh pemrakarsa dievaluasi oleh komisi penilai bersama pemrakarsa. Hasil evaluasi didokumentasikan dalam bentuk berita acara yang menyimpulkan bahwa ketiga dokumen tersebut disetujui atau perlu perbaikan. pemrakarsa harus membuat surat pengajuan dokumen-dokumen melalui komisi penilai AMDAL. dan RPL kepada Komisi Penilai Dokumen ANDAL. RKL dan RPL kepada instansi yang bertanggungjawab. dan harus didukung dengan beberapa dokumen tersebut di bawah ini.

4 Keterbukaan Informasi Tentang AMDAL Berdasarkan ketentuan pada Pasal 35 Ayat (1) PP No.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) (2) Dokumen ANDAL. 5. pemrakarsa wajib membuat AMDAL baru sesuai peraturan (Pasal 25 Ayat (1) dan (2). semua dokumen AMDAL.6 Dokumen LARAP Pada umumnya dokumen LARAP dibuat oleh pemrakarsa dengan bantuan konsultan. b) Naskah (formulir isian) UKL dan UPL yang merupakan acuan untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.5 Dokumen UKL DAN UPL Dokumen UKL dan UPL disusun secara sepihak oleh pemrakarsa.4. atau Pemrakarsa wajib membuat dokumen AMDAL baru sesuai dengan peraturan. Penyusunan dokumen ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ketentuan lain yang disepakati oleh pemrakarsa. PP N0. 5. 39 . dan keputusan kelayakan lingkungan hidup setiap rencana kegiatan proyek bersifat terbuka untuk umum. Naskah UKL dan UPL harus dilampiri surat pernyataan pelaksanaan yang ditandatangani oleh pemrakarsa. pendapat. dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan.27/1999. Dalam hal ini.27/1999). c) Rekomendasi tentang UKL dan UPL dari instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Dokumen UKL dan UPL serta laporan hasil pelaksanaannya bersifat terbuka untuk umum. saran. kesimpulan komisi penilai. RKL dan RPL yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. 5. sebagai jaminan untuk pelaksanaan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tercantum dalam dokumen tersebut. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana kegiatan proyek menjadi batal apabila pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatannya. dan terdiri dari: a) Kerangka Acuan UKL dan UPL yang berfungsi sebagai arahan untuk penyusunan UKL dan UPL tersebut.

40 . 6 Pembiayaan Untuk menjamin terlaksananya proses AMDAL atau UKL dan UPL dalam seluruh siklus proyek. perjalanan dinas. a) Biaya personil Karena proses penyaringan AMDAL ini sangat mudah. b) Pengumpulan data Kegiatan yang mungkin memerlukan biaya adalah pengumpulan data rona lingkungan khususnya data tentang keberadaan kawasan lindung yang mungkin dilalui atau berbatasan langsung / berdekatan dengan trase jalan yang akan dibangun. Untuk keperluan itu diperlukan biaya reproduksi peta serta biaya transport baik untuk konsultasi dengan instansi terkait atau peninjauan lapangan. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola. Sekalipun demikian.2 Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Biaya pelingkupan dan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari komponenkomponen biaya personil (gaji upah). pengadaan (reproduksi) data sekunder. Besarnya biaya diperkirakan relatif kecil sehingga tidak perlu dialokasikan secara khusus tapi cukup dicakup dalam anggaran rutin atau bagian dari biaya pekerjaan perencanaan umum. 6. pengadaan (reproduksi) data sekunder. biaya personil praktis sudah tercakup dalam biaya rutin. Demikian juga bila kegiatan ini dilaksanakan oleh konsultan perencanaan umum.komponen biaya personil (gaji upah). dan reproduksi serta presentasi dokumen KA-ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dokumen ini dapat digunakan sebagai dasar/acuan bagi panitia pengadaan tanah dalam melaksanakan tugasnya dan institusi lainnya yang terkait. sehingga tidak diperlukan alokasi dana secara khusus. tentu akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas yang memahami pengetahuan dasar tentang AMDAL. dan perjalanan dinas. maka untuk pelaksanaannya tidak diperlukan tenaga ahli lingkungan. kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh petugas perencanaan umum tersebut. perlu ditunjang dengan ketersediaan dana yang memadai dan tepat waktu sesuai dengan jadwal tahapan kegiatan proyek.1 Biaya Penyaringan Proyek Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL Biaya kegiatan penyaringan AMDAL pada dasarnya terdiri dari komponen . 6.

c) Biaya perjalanan dinas Biaya perjalanan mencakup perjalanan untuk berkonsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. mobil). Pengadaan data sekunder b) Biaya pengadaan data sekunder berupa biaya pembelian atau reproduksi data dari berbagai sumber. foto udara. dsb). dan laporan hasil survai / penelitian. dan Harga satuan upah (sesuai dengan standar Bappenas / Ditjen Anggaran). Lamanya perjalanan ke tiap lokasi. dan perjalanan ke lokasi proyek dan sekitarnya. dan biaya pelaksanaan pertemuan konsultasi masyarakat di lokasi proyek. Harga satuan tiap jenis transportasi. Perkiraan jumlah biaya perjalanan dihitung berdasarkan : • • • • d) Tujuan dan frekuensi perjalanan. Jenis data dapat berupa : • • • • • peta. Biaya pengumuman dan konsultasi masyarakat Komponen biaya ini terdiri dari biaya pemasangan iklan pengumuman tentang rencana pelaksanaan studi AMDAL yang harus dipasang pada surat kabar. sesuai dengan ketentuan tercantum dalam Keputusan Kepala Bapedal No. kareta api. operator computer. 41 . data statistik. citra satelit. dan Harga satuan tiap jenis data. Perkiraan biaya pengadaan data sekunder dihitung berdasarkan : • • Jenis dan jumlah data yang dibutuhkan. Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan :   Jenis dan jumlah tenaga kerja dibutuhkan. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Biaya personil Komponen biaya personil (gaji-upah) mencakup tenaga ahli dan tenaga penunjang (juru gambar. Jenis transportasi (pesawat terbang.

staf administrasi. Jumlah person-month (pm) untuk studi ANDAL satu ruas jalan diperkirakan berkisar antara 15 . bisa saja beberapa ruas jalan digabung dalam satu paket pekerjaan. terutama untuk pekerjaan UKL / UPL. operator computer. dsb). Perkiraan biaya gaji upah dihitung berdasarkan : • • b) Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta lamanya penugasan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan. Jumlah tenaga ahli maupun penunjang tergantung dari besarnya proyek dan jenis-jenis isu pokok yang harus dikaji.25 pm. dan presentasi.8 pm.3 Biaya Studi ANDAL atau UKL / UPL Perhitungan biaya pelaksanaan studi ANDAL atau UKL / UPL harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan tercantum dalam Kerangka Acuan pekerjaan studi tersebut. dan Biaya penugasan luar kota (out-of. a) Biaya personel Komponen biaya personil (gaji upah) mencakup tenaga ahli. 42 . pembuatan laporan. Harga satuan upah (billing rate) sesuai dengan standar BAPPENAS / Ditjen Anggaran. juru gambar. analisis laboratorium. Dalam prakteknya. dan tenaga penunjang (surveyor. perjalanan dinas. Perjalanan dinas Biaya perjalanan dinas mencakup : • • c) Biaya transport. Analisis laboratorium Biaya analisis laboratorium yang mungkin diperlukan adalah : • analisis kualitas air. dan dokumen akhir untuk didistribusikan kepada instansi-instansi terkait • biaya presentasi di Komisi Penilai AMDAL 6.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN e) Biaya reproduksi dan presentasi dokumen KA-ANDAL Komponen biaya ini terdiri dari : • biaya reproduksi dan penjilidan konsep dokumen untuk dipresentasikan pada komisi penilai AMDAL. sedangkan untuk penyusunan UKL / UPL berkisar antara 4 . bahan (material) dan peralatan. fasilitas kantor.duty station). Biaya studi ANDAL atau UKL / UPL secara garis besar terdiri dari komponen-komponen biaya personil (gaji upah).

Berdasarkan penjelasan pasal 37 PP no. Presentasi / pembahasan laporan dilaksanakan dua tahap. mungkin juga diperlukan biaya survai lapangan untuk memperoleh tambahan data tertentu yang lebih detail. Peralatan survai. fax). yang di perkirakan berkisar antara 2 . di samping itu. dan Komisi Penilai AMDAL.4 Biaya Penjabaran RKL / RPL atau UKL/UPL padaTahap Perencanaan Teknis Biaya pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan teknis menyangkut biaya personil tenaga ahli lingkungan yang bertugas untuk menjabarkan RKL dan RPL atau UKL dan UPL dalam rencana teknis. alat gambar dan sebagainya). f) Biaya Lainnya Biaya lainnya meliputi : • • • Fasilitas kantor. Office supply (kertas. 27/1999. Bahan dan peralatan Biaya bahan dan peralatan meliputi : • • • e) Peralatan kantor (computer. Sewa kendaraan kerja.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • d) analisis biologi (plankton dan benthos). mesin tik. disket. tinta printer dan sebagainya) Pembuatan dan presentasi laporan Biaya pembuatan laporan meliputi :  pencetakan (reproduksi). 6. Biaya Komunikasi (telepon. biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian dokumen AMDAL menjadi tanggung jawab pemrakarsa. dan  penjilidan. dan analisis kualitas udara. 43 . Namun.4 person-month. yaitu di tingkat: • • Pemrakarsa. Besarnya biaya tergantung dari jumlah person-month yang diperlukan. Biaya tersebut seharusnya telah tercakup dalam biaya pekerjaan perencanaan teknis.

Petunjuk Operasional (PO). dan Lembaran Kerja (LK). dan f) Biaya lainnya (untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti perlengkapan kantor. Dalam pengajuan usulan biaya tersebut perlu diperhatikan juga apakah pelaksanaan kegiatannya dilakukan dengan cara swakelola atau oleh pihak ketiga (konsultan). Daftar Isian Proyek (DIP). 6. d) Biaya konsultasi masyarakat. b) Biaya perjalanan dinas (survey lapangan) meliputi:   Survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena kegiatan pengadaan tanah. Inventarisasi tanah dan aset di atasnya.6 Pengajuan Usulan Biaya Pengajuan usulan biaya manajemen lingkungan harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang yaitu melalui proses penyusunan dokumen-dokumen : • • • • Daftar Usulan Proyek (DUP).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. telpon. e) Biaya penyusunan laporan.5 Biaya Penyusunan LARAP Pekerjaan penyusunan LARAP merupakan pekerjaan jasa konsultan. 44 . Besarnya biaya penyusunan LARAP tergantung dari luas areal pengadaan tanah dan jumlah pemilik tanah tersebut. a) Usulan Biaya Penyaringan AMDAL Usulan biaya penyaringan AMDAL sebaiknya diintegrasikan dalam biaya rutin pemrakarsa pekerjaan atau disisipkan sebagai bagian dari biaya pelaksanaan pekerjaan perencanaan umum. c) Biaya bahan dan peralatan survey. Komponenkomponen biaya yang diperlukan untuk pekerjaan ini meliputi: a) Biaya personil. dsb).

untuk proyek-proyek yang telah di laksanakan studi kelayakannya tanpa AMDAL. untuk kelancaran proses pengelolaan lingkungan melalui proses AMDAL atau UKL/UPL pada tahap perencanaan. dan operasi) pada beberapa tingkat instansi pemerintah (pusat. Pada tahap ini diperlukan penugasan tenaga ahli lingkungan untuk membantu tim penyusun rencana teknis. perencanaan teknis. c) Usulan Biaya Sudi ANDAL atau UKL / UPL Karena AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Karena itu. 7. secara fungsional dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok yaitu (i) PEMRAKARSA. diperlukan koordinasi dan arus informasi antar instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal. dan (v) INSTANSI LAINNYA. maka usulan biaya AMDAL tersebut dapat diajukan tersendiri. (ii) BAPEDALDA.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Usulan Biaya Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Usulan biaya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL agar diintegrasikan dalam biaya pelaksanaan pekerjaan studi kelayakan. Namun. “P E M R A K A R S A ” ad al ah pemrakarsa bertanggungjawab pula sebagai pelaksana penanganan dampak yang 45 . Koordinasi Antar Instansi Terkait Proyek-proyek pembangunan jalan diselenggarakan oleh berbagai unit kerja (unit-unit perencanaan umum. maka seharusnya usulan biaya AMDAL terintegrasi dengan usulan biaya studi kelayakan. propinsi dan kabupaten / kota). d) Usulan Biaya Pada Tahap Perencanaan Teknis Pada tahap ini tidak diperlukan usulan biaya khusus untuk kegiatan aspek lingkungan. (iii) BAPPEDA. Karena itu biaya untuk penugasan tenaga ahli tersebut otomatis merupakan bagian dari biaya perencanaan teknis. e) Usulan Biaya Penyusunan LARAP Usulan biaya penyusunan LARAP diajukan bersama-sama dengan usulan biaya untuk perencanaan teknis. 7. O l eh karen a i tu . (iv) MASYARAKAT.1 Pemrakarsa i n stan si p el aksan a p em b an g u n an jal an . Pelaku atau pemeran utama kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. konstruksi.

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kota.ANDAL). 7.PMU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. pada tahap perencanaan antara lain adalah: a) b) c) d) e) Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL & UPL. dan pemerintah kabupaten / kota.2 Bapedalda “B A P E D A LD A ” ad al ah In stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an p en g aw asan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. dan pemerintah kabupaten / kota. Pemrakarsa pembangunan jalan dan jembatan terdiri dari: a) b) Para pemimpin proyek perencanaan sistem jaringan jalan di lingkungan pemerintah pusat. dan pemerintah kabupaten / kota. Pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan lingkungan hidup (PLH) oleh pemrakarsa kegiatan. c) Para pemimpin Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit – PIU) jalan dan jembatan di lingkungan pemerintah pusat. d) e) Dinas/Sub Dinas Prasarana Wilayah/Jalan Dinas-dinas di lingkungan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota. pemerintah provinsi. pemerintah provinsi. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah kabupaten. Tugas-tugas pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Melakukan studi ANDAL dan menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Para pemimpin Unit Manajemen Proyek (Project Management Unit . Menyusun Kerangka Acuan Kajian Lingkungan dan atau Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA . Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Lahan dan Pemindahan Penduduk (RPLPP/LARAP). Melakukan Kajian Lingkungan dan menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Termasuk ke dalam kelompok BAPEDALDA adalah: a) b) c) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) pemerintah propinsi. pemerintah provinsi. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 46 .

7. pedoman dan manual (NSPM) Nasional yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan kedalam peraturan-peraturan daerah. Bappeda pemerintah kota. Tokoh-tokoh masyarakat. Melakukan koordinasi penataan ruang wilayah propinsi. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menjabarkan norma.3 Bappeda “B A P P E D A ” ad al ah i n stan si yan g b erp eran m el aku kan p em b i n aan d an koord i n asi terh ad ap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemrakarsa. 7. b) c) d) e) f) Menjabarkan NSPM yang lebih spesifik dengan kebutuhan lokal. dan RPL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a) Memberi masukan terhadap hasil penyaringan AMDAL dan atau UKL dan UPL. Tugas-tugas pembinaan dan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kabupaten dan kota. Termasuk ke dalam kelompok BAPPEDA ini adalah: a) b) c) Bappeda pemerintah propinsi. Lembaga swadaya masyarakat (LSM). Termasuk kedalam kelompok MASYARAKAT ini adalah: a) b) c) d) Penduduk terkena proyek (PTP). Melakukan pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah propinsi. Masyarakat terasing. 47 . Bappeda pemerintah kabupaten. RKL. b) Menilai Kerangka Acuan ANDAL. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kemampuan terapan NSPM yang dihasilkan.4 Masyarakat “M A S Y A R A K A T ” ad al ah p eroran g an m au p u n kel om p ok yan g b erkep en ti n g an terh ad ap semua upaya yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. standar. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang penerapan NSPM tersebut. c) Menilai hasil studi ANDAL. d) Memberi masukan terhadap hasil kajian lingkungan (UKL dan UPL). kabupaten dan kota melalui peta padu serasi.

dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. Peran instansi lainnya dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. b) Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspek-aspek pengelolaan lingkungan.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. yaitu: 48 .6 Komisi Penilai AMDAL Dokumen AMDAL (Kerangka Acuan ANDAL. dalam kaitannya dengan masalah pengadaan tanah. ANDAL. Departemen atau Dinas Kehutanan. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati areal cagar budaya. Ada tiga tingkat komisi penilai AMDAL. Kementerian Negara atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. RKL dan RPL) yang disusun oleh pemrakarsa harus dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL. antara lain dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) Memberi tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek. 7. khususnya yang berhubungan dengan pengadaan tanah. yang mempunyai peran penting (menentukan) mengenai hal (bidang) tertentu dalam kaitannya dengan proses perencanaan jalan. Kelompok ini terdiri dari antara lain:     Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas Pertanahan Propinsi / Kabupaten / Kota. Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan. c) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan masukan tentang aspek pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.5 Instansi (Stakeholder) Lainnya “IN S T A N S I LA IN N Y A ”. 7. pemukiman kembali penduduk dan penanganan masyarakat terasing. d al am h al i n i ad al ah i n stan si a tau kelompok pelaku pembangunan selain keempat kelompok tersebut di atas. dalam kaitannya dengan perencanaan jalan yang melewati kawasan pesisir. Departemen Kelautan dan Perikanan. kompensasi untuk tanah dan bangunan.

Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang diluar kriteria tersebut diatas. dan lokasi kegiatannya terletak di satu wilayah kabupaten / kota yang bersangkutan. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang kelautan usaha dan/atau kegiatan berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. berkedudukan di BAPEDALDA Propinsi. 49 . berkedudukan di BAPEDALDA Kabupaten / Kota. Komisi Penilai Daerah tingkat propinsi. yang meliputi koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: Lampiran M : Koordinasi antar instansi terkait dalam pelaksanaan Kajian Lingkungan. dan lokasi kegiatannya meliputi lebih dari satu wilayah kabupaten / kota. RKL dan RPL. Untuk kelancaran proses penilaian dokumen AMDAL tersebut diperlukan koordinasi yang baik antara pihak pemrakarsa dan komisi penilai. Penyusunan KA – ANDAL. Komisi Penilai Pusat berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha/kegiatan yang memenuhi kriteria: • • • • • usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten / kota berwenang menilai dokumen AMDAL untuk jenis usaha / kegiatan yang di luar kriteria tersebut di atas. meliputi:     Penyaringan Lingkungan. usaha dan/atau kegaiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Penjabaran Hasil Studi ANDAL.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN • • • Komisi Penilai Pusat. berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi. 7. Pelaksanaan Studi AMDAL.7 Bagan Koordinasi Antar Instansi Terkait Rumusan peran tiap instansi terkait dalam rangka koordinasi perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan secara singkat digambarkan dalam bentuk bagan-bagan seperti tercantum pada Lampiran M s/d O. Komisi Penilai Daerah tingkat kabupaten/kota.

Untuk keperluan itu. Untuk menjamin keberhasilan pengelolaan lingkungan ini. Perencanaan Pengadaan Tanah. koordinasi 50 . dan AMDAL atau UKL dan UPL. meliputi:     Pertimbangan Penanganan Masyarakat Terasing. Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing. prakiraan dan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan jalan. 8. Kegiatan Awal Pengadaan Tanah. Hal lain yang sangat penting dalam pedoman ini adalah perlunya penjabaran RKL atau UKL dalam desain dan spesifikasi teknis.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran N : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Pengadaan Tanah. pedoman ini harus digunakan bersama-sama dengan pedoman-pedoman lainnya. Lampiran O : Koordinasi antar instansi terkait dalam perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing. serta pencantuman klosul persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Pertimbangan lingkungan tersebut mencakup identifikasi. Penutup Seperti telah dikemukakan dalam Prakata. yang memberikan petunjuk pelaksanaan secara garis besar untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan jaringan jalan. Karena itu. Identifikasi Kebutuhan Tanah. untuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pembangunan jalan secara keseluruhan. pedoman perencanaan pengelolaan lingkungan hidup ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. meliputi:     Pertimbangan Pengadaan Tanah. serta lampiran-lampirannya yang memberikan petunjuk lebih rinci. dan merumuskan upaya penanganannya sedini mungkin sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Identifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing. proses pelaksanaannya harus terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek. melalui mekanisme kajian lingkungan.

51 . dan peranan pemimpin proyek selaku pemrakarsa pekerjaan sangat penting. perlu diperhatikan juga bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari ketersediaan sumberdaya manusia yang qualified serta dana dan sarana penunjang yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek.PEDOMAN PERENCANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN antar instansi atau unit kerja terkait mutlak diperlukan. Di samping itu.

… . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .. ... Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … .. BPN dan dari sumber lainnya 2).. . (6) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. 4). khususnya areal sensitive … . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada. (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … .. Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).

(2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .Ka Bapedal No. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … . (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan .... (10) 7). Dikbud.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . ... (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . (4) BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).... 8). (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep.(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL .. 9)...08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. Sosial) .. 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai... 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi Masy...… . (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .

Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen......RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … .(7) 1). RKL dan RPL 3). (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen .. Gunakan pedoman penyusunan ANDAL. 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ....(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … . (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . 2). 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ..

(7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain...... lansekap … … … .... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis.… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. RKL dan RPL pada perenc. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ... RKL dan RPL … .: penanganan utilitas yang terkena.....: median.....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL.. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .teknis. (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 ..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL..

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-1) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 .

. Yang dimaksud antara lain adalah program program pengembangan kawasan yang memerlukan peningkatan dan atau pembangunan jalan baru 5)... khusunya penyaringan Lingkungan Melakukan Pemutakhiran Rencana Sisitem Jaringan Jalan (7) Melakukan Penyaringan Lingkungan... Memberi masukan persyaratan Lingkungan ...... tempat keramat.  Kehutanan tentang status hutan... Melalui pertemuan dan diskusi langsung dengan stakeholder..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Menyusun konsep rencana sistem jaringan jalan … . 4).... areal koservasi  Perhub tentang jaringan transportasi (6) 3).. Konsep rencana sistem jaringan bersifat lokal dan regional 2)....(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 . 6)..... (3) Memberi masukan tentang koordinasi program program pembangunan daerah dan penataan Ruang sesuai Renstra P em da … … … … .. (4) Memberi masukan tentang area sensitif … … … … … (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal :  Dedikbud tentang situs sejarah.... Termasuk pola pelestarianaya 7).. Termasuk mekanisme penanganannya yang spesifik daerah..(1) Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan … … … … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).... 8) Menggunakan Pedoman Pelaksanaan AMDAL.... Termasuk mekanisme yang sesuai di lokasi rencana system jaringan jalan...

(8) 8).5). (10) 9)..2).6). (6) Memberi masukan sesuai keterkaitan misal : BPN & Kehutanan memberi masukan status dan fungsi lahan/hutan.. Menetapkan koridor jalan terpilih… … … ...(5) Memberi masukan antara lain status kepemilikan lahan masyarakat misal : hak ulayat / adat.... (9) Melaksanakan Penilaian KA-A N D A L … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..4). tapi cukup macadam ....(3) Memberi masukan daerah sensitive dan daya dukung llingkungan … (4) Memberi masukan antara lain kondisi tingkat pelayanan Prasarana & Sarana berdasarkan kebutuhan Misal : tidak perlu jalan hotmix. (7) 3).... (1) Membuat Alternatip koridor jalan … … … … (2) Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatip koridor jalan … .10).. Mengikuti bagan Pelaksanaan Penyusunan KA-ANDAL Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 . 7) Melalui Rapat Teknis yang diselenggarakan pemrakarsa dengan mengundang instansi/institusi terkait. Pada koridor Jalan yang akan dibangun Mempelajari Rencana Sisten Jaringan Jalan … .. Yang memenuhi syarat teknis Menyusun Konsep KA studi lingkungan misal : KA-ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … .....

.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Koridor Jalan terpilih … … … (1) BAPEDALDA (Pada Tahap Sudi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (4) Memberi masukan tentang areal sensitif. (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN/DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan.(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … … .. 5). 10..... 11) Mengikuti Bagan Pelaksanaan Penyusunan ANDAL Menetapkan Rute terpilih . Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsultasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan (3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah … .… … … (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . R P L .. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai … … … … (7) Menilai hasil studi A N D A L.(11) 7). Hasil Pra Kelayakan Membuat Studi Kelayakan terhadap alternatif rute Jalan (2) 2).. 9). R K L...4). (6) 3)... 8). nilai lahan dll..… (8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … (9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL … … .

. … … ... dok...RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN PEMRAKARSA Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.. dan wakil masyarakat terkena dampak 7) Sesuai pedoman penyusunan LARAP 8).4).. mis : RKL. Legalisasi dokumen LARAP Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan. Dengan instansi terkait 14).9). dan wakil masyarakat terkena dampak 12).. RKL & RPL dari rute terpilih (1) Melaksanakan penjabaran rekomendasi studi lingk.(12) Menetapkan Desain Jalan ..… … … .(7) Memberi masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring . (8) Memberi masukan tentang keterpaduan program implementasi LA R A P … … .10).. (4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif m isal : m akam dll… . (apabila ada) mis : ANDAL.5).... Mengacu pada perencanaan jalan yang ramah lingkungan 3)... … … . apabila lahan yg diperlukan milik suatu instansi (11) Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan . 6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait. (15) Koordinasi Rencana Pelaksanaaan (13) Bupati/ Walikota mengesahkan Dokumen LARAP (14) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 .. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan ... Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Bupati atau walikota 13).(2) Melakukan konsultasi KOnsep Perencanaan Teknis Jalan … (3) Memberikan masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll.(5) Memberi masukan sesuai keterkaiannya misal : pengadaan tanah daerah pariw isata… . (9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi social ekonomi … … (10 ) Memberi masukan tentang cara pelepasan hak. 11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.(6) BAPPEDALDA (Pada Tahap Perencanaan Teknis) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2)........lingk...

.. Listrik.... (4) P elaksanaan L A R A P … … … … … … … … … … . (9 ) Melakukan Evaluasi Pelaksanaan LARAP . Pelajari detailnya pada pedoman pelaksanaan LARAP 6)... aparat desa atau kelurahan. bantuan pindahan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN PEMRAKARSA BAPEDALDA (Tahap persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksana an pengosongan lahan mis : tanah instansi lain.. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Panitia Pembebasan Tanah 2)....(1) Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum m usyaw arah… .. 5). mengosongkan lahan dan hak/kewajiban lainnya sesuai LARAP … … . PDAM. bantuan pelestarian rumah rumah tradisional 9) Sesuai ketentuan LARAP 10) Pelajari pedoman Evaluasi Pelaksanaan LARAP Mempelajari Dokumen LA R A P … … … … … . telpon. (2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum m usyaw arah … ..(5) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … .... (6) Melakukan Monitoring & Evaluasi Pelaksanaan LA R A P … … … … … … (7) Menerima Kompensasi. LSM dan penduduk terkena dampak 3).4) Menyetujui dan mengesahkan rencana implementasi LARAP dll. (10) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 . Dilakukan forum musyawarah yang dikoordinasikan oleh Panitia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.7) Lihat Pedoman Pelaksanaan Monitoring 8) Mencakup kompensasi untuk lahan dan bangunan. (8 ) Panitia pengadaan tanah melakukan proses implementasi … … .

........... .. Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masy.. 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyimpangan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11).(8) Memberi masukan apabila ada gangguan … … … … … … … … … (9) Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek (10) 7)... (2) Konsultasi Rencana Kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi (3) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja / buruh… … (4) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan (5) 4) 5) 6)..… . Termasuk penyuluhan thd pera pekerja Melaksanakan Kegiatan Konstruks idan tindakan penanganan dampak … … … .(7) Melakukan monitoring … … … … … … … … … ... peralatan dan bahan bangunan 2)......(11) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 .............RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)......(6) Melakukan monitoring … … … … … … … … .. Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3) Mempelajari Rencana dan jadwal Konstruksi … ... Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi .(1) Menyiapkan Rencana Detail Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ........ 8).. Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja.

. 8).. dan 3) Mencakup lokasi dan lama pemantauan serta pelibatan masyarakat pada proses pemantauan Melakukan Analisa Manfaat Proyek Jalan .… … (4) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek pembangunan daerah . (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek manfaat proyek bagi m asyarakat … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … ( 7) Menyusun Laporan PBME ....(2) Konsultasi Konsep Analisa Manfaat Proyek Jalan & Jem batan… (3) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek Lingkungan ...... data sekunder (laporan harian kontraktor).... (8) 4)....... dan 6) Mencakup lokasi pengambilan data primer melalui wawancara.. metoda analisa dan evaluasi yang akan dipakai..(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).. PBME (Project Benefit Monitoring & Evaluation) 9) Masukan mencakup faktor lingkungan sosial ekonomi budaya dan teknis.........RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK PEMRAKARSA Mempelajari segala laporan monitoring … … … ...... Termasuk komentar dan masukan dari BAPEDALDA dan BAPEDA yang ditulis dalam laopran pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL 2)...... 5)................ (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 . Masukan untuk perencanaan sistem jaringan jalan … … ......

.(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinnya … .(8) Tertib Pemanfaatan Jalan … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 16 .(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan .(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis: adanya penyerobotan lahan damija.(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemanfaatan jalan... … .. (1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya ... penggunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb....(3) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Melakukan monitoring lingkungan sesuai R P L/U P L … (4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-2) Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan … . berkembanya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang .

… . peran dan fungsi kota dll. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. 4). (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang...: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait 8 . (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . kapasitas jalan yang dibutuhkan. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). kapasitas produksi. mis. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. jenis penggunaan dan kepemilikan).

..... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3).(7) Menetapkan koridor jalan terpilih.. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .(6) .. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ..... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.....(8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 9 .. 4).. ekonomik... 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)......RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPEDALDA (Pada Tahap Pra Kelayakan ) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ..... sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan ....... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing......... 5). status kepemilikan dan kesediaan melepas.

termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. dll....(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.. (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga . (6) 1)..(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ..(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif Rute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Memberi masukan tentang daya dukung sosial .. (12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 10 ..5).4). Hasil Pra Kelayakan 2).… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).(11) Menetapkan Rute Terpilih .Rute. (7) Memperkirakan dampak sosial … . ekonomis dan lingkungan. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis. Terhadap pengadaan tanah … .

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . dll. luasan.kem bali … … . (6 ) Membuat Konsep LA R A P … ... (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya. pelepasan hak.kem bali.. masa tinggal dll. … . Lokasi di Peta. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .. 3). Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. rehabilitasi pem uk. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). prakiraan nilai kekayaan.… … … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) 1). Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 11 . 6). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . Termasuk rencana kerja. … .

8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10). khususnya panitia pengadaan tanah … … ... Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . 13)..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . (4) KETERANGAN Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … ..(5) Melakukan monitoring … … (6 ) Melakukan monitoring … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 12 . perumahan dll… (14 ) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) 1)... (2) Berpartisipasi dalam musy.P … … .T .. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.. (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … .(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) .. & menyepakati dlm mufakat khususnya P .… .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi....

4).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 6)..RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … ... 5). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3). 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg.(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(12) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 13 . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya.

… 7) 3). Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. 4). (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sekto … .. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . 7). Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … .. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan.(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 5).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. 6).(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . (8) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 14 . 2).

(1) BAPEDALDA (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . adat istiadat. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . LA R A P … … . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 15 .RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.... nilai kearifan lokal. pelatihan untuk alih profesi … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … .… . tata ruang.

proses pengadaan tanah melibatkan 5 (lIMA) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). para kepala Dinas di propinsi. sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulai diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang berkepentingan dengan proyek jalan. b). Penduduk terkena dampak. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. d). e). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. c). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. f). dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. d). Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. Pertimbangan Pengadaan Tanah Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Indentifikasi Kebutuhan Lahan Perencanaan Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pengadaan Tanah Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Terkena Proyek Evaluasi Pasca Pengadaan Tanah Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasi Masyarakat. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek. BAPPEDA. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. e). b). c). kabuipaten dan kota BAPEDALDA. Badan Pertanahan Nasional (BPN). PEMRAKARSA. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan pengadaan tanah. PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH Pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek sistim Jaringan jalan . tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. g). termasuk pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. MASYARAKAT. 2.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota.

4. PEMRAKARSA. memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Umum Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. STAKEHOLDER LAINNYA. Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan. 3.. Selanjutnya. 5. BAPPEDA. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan. Langkah pelaksanaan pertimbangan pengadaan tanah untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. Catatan-2: Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan. Pemrakarsa. mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridorkoridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa dating. 3. melakukan pemutakhiran terhadap rencana umum sistim jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa. 2. kapasitas jalan yang dibutuhkan. misalnya sentra sentra produksi. 6. kapasitas produksi. juga teridentifikasinya lahan lahan masyarakat yang akan terkena proyek jalan. memberi masukan tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya. Pemrakarsa membuat perencanaan umum system jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. .

Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan. 3. peta banjir. 4. 3 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah .. menetapkan koridor jalan terpilih 2. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. 8. PEMRAKARSA. Langkah pelaksanaan identifikasi kebutuhan lahan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. peta quarry dll. UPL. 7. 5. lokasi alternatip pemukiman kembali penduduk (BILA ADA) dan prakiraan kebutuhan biaya pengadaan tanah berdasarkan variasi kharakteristiknya dilapangan. merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 1. memberi masukan tentang adanya masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. MASYARAKAT. UKL. maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL. 4. 2. juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. BAPPEDA.. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. 6. mempelajari jenis peruntukan lahan pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan oleh instansi terkait misalnya peta budaya. PEMRAKARSA. Selanjutnya. dan alternatip lokasi pemukiman kembali penduduk apabila diperlukan. pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. mempelajari kebutuhan lahan dan jenis peruntukan lahan ada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. STAKEHOLDER LAINNYA. memberi masukan tentang prasarana dan sarana strategis yang terdapat pada dan disekitar koridor jalan. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang kebijaksanaan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan. PEMRAKARSA. Sasarannya adalah teridentifikasikannya dampak pengadaan tanah. PEMRAKARSA. pemrakarsa melakukan konsultasi dan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Selanjutnya.

mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan. membuat prakiraan kebutuhan lahan disetiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih untuk masukan pada analisa kelayakan proyek. Langkah pelaksanaan perencanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. mengadakan koordinasi rencana pelaksanaan di lapangan dengan instansi terkait. 7. 11. BAPPEDA. PEMRAKARSA. BAPPEDA. propinsi maupun kota termasuk dukungan proyek jalan terhadap program program tersebut. Bersamaan dengan kegiatan tersebut. Atas dasar permintaan pemrakarsa. memberi masukan tentang status kepemilikan lahan termasuk lama waktu tinggal dll. BPN memberikan masukan tentang tata ruang dan kehutanan memberi masukan tentang fungsi hutan PEMRAKARSA.. 5. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 3. MASYARAKAT. bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. (iii) tersusunnya rencana pemindahan kembali penduduk termasuk pilihan lokasinya (BILA ADA). RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data penduduk terkena dampak beserta kekayaannya (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan pengadaan tanah termasuk rencana jadwal pembayaran kompensasi. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 4 . Gubernur/Bupati/Walikota permohonan lahan menyetujui permohonan proyek tentang 4. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. 9. 10. 5. memberi masukan tentang pengendalian pemanfaatan ruang wilayah. BAPEDALDA memberi masukan tentang daerah-daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis. PEMRAKARSA menyiapkan konsep permohonan kebutuhan lahan untuk proyek kepada Gubernur atau Bupati atau walikota. dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. PEMRAKARSA mentepkan rute terpilih. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. 8. 6. (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).

. mengadakan persiapan pelaksanaan 3. BAPPEDA. PEMRAKARSA. Panitia pengadaan tanah. MASYARAKAT. 5. dan mengajukan kepada Gubernur/Bupati/Walikota. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP. 9.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) 2. 11. BAPPEDA. PEMRAKARSA membuat LA RAP dan melakukan konsultasi masyarakat sebagainmana dijelaskan pada bagan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan teknis. (iii) termukimkannya penduduk terkena proyek pada lokasi lokai yang layak huni. Sasarannya adalah (i) tersedianya lahan yang dibutuhkan proyek beserta surat surat kepemilikannya (ii) terselesaikannya pembayaran kompensasi lahan dan bangunan serta tanaman milik penduduk terkena proyek. mensosialisasikan konsep larap. 10. 6. 8. Langkah pelaksanaan pengadaan tanah dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. 6. memberi masukan detail mengenai hal hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan administrasi pengadaan tanah. PEMRAKARSA. melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. memberikan kesepakatan terhadap konsep LARAP Gubernur/Bupati/Walikota menyetujui konsep LARAP. mempelajari dokumen LARAP dan membuat rencana detail pelaksanaannya yang disesuaikan dengan perkembangan terakhir 5 Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah . 13. 7. PEMRAKARSA. BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. Bilamana diminta oleh pemrakarsa. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). sesuaiperaturan per Undang-undangan yang berlaku. (iv) tertanganinya masyarakat terasing. MASYARAKAT. 12. Selama proses wawancana. memberi masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi. PEMRAKARSA. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. 4.

BAPPEDA. sesuai dengan jadwal terakhir yang disepakati. 7. 11. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah lahan untuk proyek telah tersedia dan atau diserahkan kepemilikannya kepada proyek dan setelah kontraktor pelaksana Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 6 . membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaan pemukiman kembali penduduk tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. BAPPEDA. Selanjutnya. 14. Melaksanakan musyawarah dan mufakat khususnya panitia pengadaan tanah. Panitia pengadaan tanah membantu dalam penyelesaian proses administrasi APABILA ADA kebutuhan pemukiman kembali penduduk. 13. MASYARAKAT. melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan. kartu penduduk dll. menerima sertifikat dan atau surat surat yang diperlukan sehubungan dengan pemukiman kembali tersebut misalnya sertifikat kepemilikan kapling. menyerahkan surat surat bukti kepemilikan tanah kepada pemrakarsa melalui panitia pengadaan tanah.maupun kesiapan perencanaan serta pendanaannya. melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemukiman kembali penduduk tersebut. 8. 6. 9. BAPPEDA. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal. membuat laporan mengenai pelaksanaan pengadaan tanah kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait. ikut berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat MASYARAKAT. PEMRAKARSA. STAKEHOLDER LAINNYA. 4. 5. BAPEDALDA.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) dari proses pengadaan tanah. melakukan monitoring dan evaluasi MASYARAKAT. pemrakarsa melakukan pembayaran kompensasi untuk tanah beserta asset asset diatasnya. 2. 3. PEMRAKARSA melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama. REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK REHABILITAS EKONOMI mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memberbaiki kondisi social ekonomi masyarakat terkena dampak yang kondisinya menurun bila dibandingkan dengan sebelum terkena proyek. 12. 7. BAPEDALDA. ikut berpartisipasi dalam musyawarah dan menyepakati dalam mufakat khususnya PTP. 10.

melakukan monitoring dan rehabilitasi ekonomi masyarakat tersebut. 5. pemrakarsa melakukan konsultasi dan persiapan rencana rehabilitasi dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. 3. PEMRAKARSA. BAPEDALDA. melakukan identifikasi masyarakat terkena dampak yang menurun kondisi social ekonominya setelah menerima pembayaran kompensasi atau setelah dimukimkan kembali (BILA ADA).RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) ditunjuk. PEMRAKARSA. MASYARAKAT. BAPPEDA. membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. memberi masukan mengenai penyebab timbulnya kesulitan ekonomi. memberi masukan mengenai pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat yang dinilai paling efektip sesuai dengan kondisi lapangan. 4. membuat laporan pelaksanaan rehabilitasi ekonomii masyarakat dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek. MASYARAKAT. mislanya karena kehilangan pelanggan. 9. 10. 6. PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja pengadaan tanah sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan akuntabilitas kinerja proyek jalan dapat tersusun. DINAS SOSIAL memberi alternatip pola rehabilitasi. menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sesuaii kesepakatan. melakukan monitoring & evaluasi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terkena dampak dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. BAPEDALDA. PEMRAKARSA.. BAPPEDA. DINAS SOSIAL. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. mempelajari rencana rehabilitasi ekonomi. Catatan-7: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 7 . melaksanakan program rehabilitasi ekonomi masyarakat berdasarkan rencana yang telah mendapat berbagai masukan serta telah disepakati. 8. 12. 7. Identifikasi dilakukan terhadap masyarakat terkena dampak yang tercatat dalam dokumen LARAP. karena maslahan lapangan kerja alternatip yang tidak diperoleh dilokasi baru dsb. 11. Selanjutnya. 8. evaluasi pelaksanaan 2. memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya .

PEMRAKARSA. 8. 9. BPN. Menetapkan criteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 5. 4. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. EVALUASI PASCA PENGADAAN TANAH Evaluasi pasca pengadaan tanah pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun criteria Pengadaan Tanah yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. 3. MASYARAKAT. pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. menyusun laporan evaluasi pengadaan tanah. Langkah evaluasi pasca pengadaan tanah dan pembagian peran masingmasing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 6. memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi sebelum dan sesudah proyek. penataan ruang. BAPPEDA. pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan pengadaan tanah.. PEMRAKARSA. meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA. memberi tanggapan dari aspek kesesuaian tata ruang.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-3) Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . khususnya penilaian kondisi masyarakat terkena dampak. Selanjutnya. PEMRAKARSA. memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan. khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan. 2. Mempelajari laporan evaluasi pasca pelaksanaan pengadaan tanah b. 7. Untuk itu. Mengidetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu disesuaikan c.

Badan Pertanahan Nasional (BPN). b). d). e). PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING Pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek sistim Jaringan jalan. d). Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) atau Kantor Lingkungan Hidup di Kabupaten maupun kota. Mekanisme kerja menjelaskan pembagian peran dari ke lima kelompok pelaku pembangunan tersebut. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan lain sebagainya. e). c). Pedoman pelaksanaan ini menjelaskan mekanisme kerja pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek yang terintegrasi dengan siklus pengembangan proyek. proses penanganan Masyarakat Terasing melibatkan 5 (lima) kelompok atau pelaku utama berikut ini: a). f). PEMRAKARSA. dilakukan pada tahap perencanaan dan bertujuan untuk menjelaskan tujuan dan sasaran proyek serta menampung masukan dari masyarakat yang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 1 . c). sedemikian sehingga masalah masalah lingkungan sudah mulaii diidentifikasi dan ditangani dari proses pembangunan yang paling awal. kabuipaten dan kota BAPEDALDA. dalam hal ini termasuk Bapedalda Propinsi. tokoh tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Bappeda Kabupaten dan Bapeda Kota. para kepala Dinas di propinsi. g). BAPPEDA. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. b). dalam hal ini terdiri dari Bappeda propinsi. Penduduk terkena dampak. STAKEHOLDER LAINNYA yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus misalnya Departemen/Dinas Kehutanan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) 1. Pertimbangan Penanganan masyarakat Terasing Kegiatan Awal Penanganan Masyarakat Terasing Indentifikasi Penanganan Sistem Sosial Budaya Masyarakat Terasing Perencanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing Pelaksanaan Konservasi Budaya Masyarakat Terasing Pelaksanaan Evaluasi Pasca Penanganan Masyarakat Terasing Seperti halnya pada pelaksanaan AMDAL dan pelaksanaan Konsultasii Masyarakat serta pelaksanaan pengadaan tanah. PENJELASAN UMUM Pedoman ini mengatur pelaksanaan penanganan masyarakat terasing pada seluruh tahapan siklus pengembangan proyek jalan dan jembatan yaitu: a). 2. MASYARAKAT. dalam hal ini meliputi para pimpinan proyek.

. PEMRAKARSA. Catatan-2: Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 2 . memberi tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi dan atau peta penataan ruang wilayah termasuk program program pembangunan daerah yang telah direncanakan. Sasarannya adalah terkumpulnya masukan untuk landasan pemutakhiran koridor rencana system jaringan jalan. kapasitas jalan yang dibutuhkan. KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING. 5. Catatan-1: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep awal perencanaan umum system jaringan jalan. menetapkan rencana jaringan jalan beserta koridor koridornya dengan mempertimbangkan seluruh masukan yang diperoleh dari BAPPEDA. termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah. misalnya sentra sentra produksi. Langkah pelaksanaan pertimbangan penanganan masyarakat terasing untuk proyek Sistim Jaringan Jalan dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-1) 1. DINAS PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN memberi masukan tentang lokasi masyarakat terasing termasuk populasinya. memberikan gambarantentang kehidupan sosial budaya masyarakat terasing. . peran dan fungsi kota yang akan didukung sistim jaringan jalan dan mempelajari pula peta tata guna lahan pada dan disekitar koridor-koridor yang telah dipertimbangkan yang mencakup kondisi eksisting maupun rencana peruntukannya dimasa datang. 2. dilakukan pada tahap pra kelayakan koridor rencana system jaringan Jalan dan bertujuan untuk menganalisa kebutuhan lahan untuk proyek sedemikian sehingga selain luasan tanah yang perlu dibebaskan.RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4) berkepentingan dengan proyek jalan. BAPPEDA. 6. Selanjutnya. 3. MASYARAKAT. Pemrakarsa mempelajari kembali konsep Rencana Sistim Jaringan Jalan termasuk sasaran kawasan yang akan dilayani. Pemrakarsa membuat perencanaan umum jaringan jalan yang telah meninjau beberapa kemungkinan koridor jalan. kapasitas produksi. 4. juga teridentifikasinya kawasan Perumahan dan Permukiman masyarakat terasing yang akan terkena proyek jalan. 3. Perencanaan umum tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip menghindari lahan budi daya dan kawasan yang dilindungi sesuai criteria yang tertera pada pasal-6 undang-undang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Tanggapan dan masukan ini diberikan sesuai permintaan pemrakarsa.

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Kegiatan ini dilaksanakan setelah pemrakarsa menyelesaikan konsep rencana umum system jaringan jalan termasuk koridor-koridor yang memungkinkan untuk dikembangkan. Langkah pelaksanaan Kegiatan awal penanganan masyaraka terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-2) 1. PEMRAKARSA, mempelajari penyebaran permukiman masyarakat terasing pada koridor-koridor rencana system jaringan jalan dari peta padu serasi yang diperoleh dari BAPPEDA dan atau peta lain yang dikembangkan dan atau dipublikasikan oleh instansi terkait misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial dll. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan konsultasi mengenai koridor-koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan tersebut untuk menggali masukan tambahan dari para stakeholdernya. BAPEDALDA diharapkan dapat memberi masukan tentang perkiraan dampak social terhadap masyarakat terasing yang harus dilestarikan termasuk kebijaksanaan kebijaksanaan yang berhubungandengan pelestarian lingkungan hidup termasuk lokasi lokasi kawasan yang dilindungi.. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

2.

3.

4. 5.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem pemilikan tanah masyarakat terasing pada koridor atau disekitar koridor system jaringan jalan yang direncanakan. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, merangkum semua masukan yang diperoleh untuk acuan mempertimbangkan kembali koridor koridor system jaringan jalan yang telah dikembangkan. Masukan tersebut, juga diperlukan untuk pertimbangan penyusunan KA-ANDAL. PEMRAKARSA, menetapkan koridor jalan terpilih

6. 7.

8.

4.

IDENTIFIKASI SISTEM SOS BUD MASYARAKAT TERASING

IDENTIFIKASI SISTEM SOSIAL BUDAYA masyarakat terasing dilakukan dilakukan pada tahap Studi Kelayakan proyek dan bertujuan untuk masukan analisa kelayakan rute jalan pada koridor yang dipilih. Sasarannya adalah teridentifikasikannya sistem sosial budaya yang akan terkena dampak proyek jalan. Catatan-3: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan pemilihan koridor jalan yang paling baik ditinjau dari aspek teknis dan lingkungan yang diperoleh dari analisa pra kelayakan. Dalam hal pra kelayakan tidak dilakukan, maka pilihan koridor rencana jalan didasarkan pada analisis isu isu lingkungan yang dilakukan pada tahap penyaringan AMDAL, UKL, UPL.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

Langkah pelaksanaan identifikasi sistem sosial budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-3) 1. 2. 3. PEMRAKARSA, mempelajari pola penyebaran masyarakat terasing pada setiap alternatip rute jalan yang terletak pada koridor terpilih. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan survey dasar social berdasarkan pedoman survey yang ada. Atas dasar permintaan pemrakarsa, BAPEDALDA memberi masukan tentang situs penanganan dampak social masyarakat terasing dan benda cagar budaya yang harus dilindungi serta daerah daerah yang dinilai sensitip atau kawasan kawasan yang dinilai startegis, bersejarah dan mempunyai nilai tradisional. BAPPEDA, memberi masyarakat terasing. masukan tentang koordinasi penanganan

4. 5. 6. 7. 8.

MASYARAKAT, memberi masukan tentang sistem nilai dan budaya masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang mobilitas masyarakat terasing. PEMRAKARSA, Membuat konsep rencana penanganan masyarakat terasing di rute yang akan dipilih. PEMRAKARSA, menetapkan rute jalan terpilih.

5.

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING, dilakukan pada tahap Perencanaan Teknis (detailed design) dan bertujuan untuk menjabarkan RKL dan RPL kedalam perencanaan teknis jalan. Sasarannya adalah (i) terkumpulnya data yang berhubungan dengan masyarakat terasing (ii) terkumpulnya bahan bahan untuk perencanaan penanganan masyarakat terasing termasuk rencana jadwal penanganan masyarakat terasing (iv) tersusunnya rencana penanganan masyarakat terasing (BILA ADA).. Catatan-4: Kegiatan ini dilakukan setelah pemrakarsa menyelesaikan studi kelayakan dan menerima ketetapan mengenai Studi ANDAL, RKL dan RPL dari komisi penilai AMDAL. Kegiatan perencanaan pengadaan tanah dilakukan setelah pengukuran detail untuk perencanaan detail teknis diselesaikan yang pelaksanaannya didasarkan atas rekomendasi RKL dan RPL tersebut. Langkah pelaksanaan perencanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-4) 1. PEMRAKARSA, mempelajari hasil pengukuran detail pada rute jalan terpilih termasuk semua informasi yang diperoleh selama pengukuran dilaksanakan.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2.

PEMRAKARSA, melakukan survey social ekonomi masyarakat sekitar rute jalan pada koridor terpilih seraya melakukan konsultasi masyarakat melalui pola wawancara. Bilamana diminta oleh pemrakarsa, BAPEDALDA melakukan monitoring pelaksanaan survey social ekonomi yang dilaksanakan oleh konsultan pelaksana. BAPPEDA, membantu dalam menggkoordinasikan pelaksanaan survey social ekonomi tersebut yang biasanya memerlukan pula keterlibatan instansi lain selain instansi social. Selama proses wawancana, MASYARAKAT, memberi masukan detail dilapangan tentang sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, sistem nilai dan hak adat masyarakat terasing.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang pola penanganan masyarakat terasing.. PEMRAKARSA membuat konsep dan sosialisasi penanganan masyarakat terasing. BAPPEDA, memberikan persiapan pelaksanaan kesepakatan dan rencana tindakan koordinasi

3.

4.

5.

6. 7. 8. 9. 10. 11.

melakukan

MASYARAKARAT, memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan STAKEHOLDER LAINNYA, memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan. PEMRAKARSA, Menetapkan desain jalan.

6.

PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

PAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap persiapan konstruksi bertujuan menyelesaikan masalah masalah yang berhubungan dengan sistem sosial budaya. Sasarannya adalah terlaksanakannya program penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga proyek jalan dapat dilaksanaan dengan tanpa mendapat gangguan dari masyarakat terasing. Catatan-5: Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis detail diselesaikan. Demikian pula dokumen Land Acquizition and Ressettlement Action Plan (LARAP) harus sudah disetujui sebagai dokumen pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali penduduk serta penanganan masyarakat tersaing (BILA ADA). Langkah pelaksanaan penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-5) 1. PEMRAKARSA, membuat jadwal terinci tentang penanganan masyarakat terasing yang dijhabarkan dari dokumen penanganan masyarakat terasing yang telah disepakati.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

2. 3. 4. 5.

Selanjutnya, pemrakarsa masyarakat terasing.

melaksanakan

program

penanganan dilapangan,

BAPEDALDA, melakukan monitoring pelaksanannya terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal.

BAPPEDA, melakukan monitoring tentang pelaksanannya dilapangan, terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal MASYARAKAT, menerima pemberitahuan tentang rincian program memberi tanggapan dan persetujuannya, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan program.. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN dan DINAS SOSIAL, membantui dalam pelaksanaa program penanganan masyarakat terasing dilapangan sesuai dengan yang disepakati bersama. PEMRAKARSA, membuat laporan mengenai pelaksanaan penanganan masyarakat terasing kepada atasan pemrakarsa dengan tembusan kepada instansi terkait.

6.

7.

7.

PELAKSANAAN KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING

KONSERVASI BUDAYA MASYARAKAT TERASING, mulai dilakukan pada tahap konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan memelihara budaya masyarakat terasing agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. Catatan-6: Kegiatan ini dilakukan setelah setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk bersama sama pemrakarsa telah pula menyiapkan rencana detail pelaksanaan konstruksi. Langkah Konsultasi Pelaksanaan konservasi budaya masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-6) 1. 2. PEMRAKARSA, melakukan identifikasi budaya dan hal hal tabu masyarakat terasing yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek. Selanjutnya, pemrakarsa membuat konsep konservasi budaya masyarakat terasing dan mengkonsultasikannya kepada pihak pihak yang berkepentingan agar pelaksabnaannya efektip. BAPEDALDA, memberi masukan mengenai pola konservasi yang efektip. BAPPEDA, memberi masukan program program sejenis dari instansi lainnya yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya. MASYARAKAT, memberi masukan mengenai kesulitan kesulitan pada pasca penanganan masyarakat terasing. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi masukan tentang h a l h a l “T A B U ” d a n j a d w a l u p a ca ra ri tu a l m a sya ra ka t te ra si ng. PEMRAKARSA, melaksanakan program konservasi budaya.

3. 4. 5. 6. 7.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

8. 9. 10. 11.

BAPEDALDA, melakukan monitoring konservasi budaya masyarakat terasing

dan

evaluasi

pelaksanaan

BAPPEDA, membantu dalam hal koordinasinya dengan instansi terkait apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. MASYARAKAT, menerima dan melaksanakan program konservasi budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, membuat laporan pelaksanaan konservasi Budaya Masyarakat terasing dan menggunakannya sebagai acuan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi manfaat proyek.

8.

PELAKSANAAN EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING yang dilakukan pada tahap pasca konstruksi Jalan dan jembatan bertujuan untuk menilai kinerja penanganan masyarakat terasing sedemikian sehingga dapat melengkapi bahan penyusunan laporan monitoring dan evaluasi manfaat proyek. Catatan-7: Kegiatan ini dilakukan setelah kegiatan konstruksi selesai dan pemrakarsa menyelesaikan laporan evaluasi pelaksanaan konstruksi termasuk evaluasi terhadap pelaksanaan LARAP. Langkah evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing dan pembagian peran masing-masing pelaku pembangunan adalah sebagai berikut: (Bagan pada Gambar-7) 1. 2. 3. 4. 5. PEMRAKARSA, mempelajari semua catatan lapangan yang diperoleh selama pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Selanjutnya, pemrakarsa melakukan analisa kesesuaian rencana dengan pelaksanaannya. PEMRAKARSA, meminta pendapat BAPEDALDA dan BAPPEDA tentang pola evaluasi yang paling sesuai. BAPEDALDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian kondisi masyarakat terasing. BAPPEDA, memberi masukan dan tanggapan yang diperlukan, khususnya penilaian terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman disekitar proyek jalan, penataan ruang, pembangunan ekonomi wilayah dan aspek asepk pembangunan daerah lainnya. MASYARAKAT, memberi umpan balik tentang perubahan kondisi social ekonomi serta lingkungan budaya masyarakat terasing sebelum dan sesudah proyek. DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, memberi tangapan dari aspek kelestarian budaya masyarakat terasing. PEMRAKARSA, menyusun laporan evaluasi penanganan masyarakat terasing.
7

6.

7. 8.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-4)

9.

EVALUASI PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING

Evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing pada tahap pasca proyek bertujuan untuk menyusun kriteria Evaluasi Penanganan Masyarakat Terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang. Untuk itu, pemrakarsa melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. b. 9. Mempelajari laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing& konsep kriteria evaluasi pasca penanganan masyarakat terasing Melaksanakan disesuaikan idetifikasi kriteria-kriteria perencanaan yang perlu

Menetapkan kriteria penanganan masyarakat terasing yang akan digunakan sebagai ketentuan perencanaan dimasa datang.

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

8

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-1 BAGAN KONSULTASI RENCANA UMUM SISTEM JARINGAN JALAN
(Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan )

PEMRAKARSA
Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan … ..… .(1) Menyusun konsep renc. jaringan jalan yang dilengkapi dengan perkiraan kasar kebutuhan lahan, lokasi areal sensitive… ..(2) Melakukan penyaringan awal lingk. terhadap renc. jaringan … ..(3) Konsultasi konsep renc. jaringan yang telah dilengkapi seperti pada butir (2) serta konsep hasil penyaringan awal lingkungan… ..(4)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1). Termasuk tata ruang, tata guna lahan, dan areal sensitive lainnya pada jaringan jalan tsb. serta lokasi masy. terasing 2). Areal sensitive mencakup daerah lindung, sesuai Keppres 32/1990, lokasi masy. terasing, dll. 3). Mengacu pada ketentuan2 yang ada a.l.: Kepmen LH 17/2001 dan KepMen Kimpraswil No.17/KPTS/ /M/2003 4). Dapat dilakukan pada forum rapat atau media lainnya 5). Termasuk masukan mekanisme AMDAL 6) Termasuk kesesuaian terhadap Renstra Pemda. 7) Termasuk cara-cara pelepasan hak pada pembebasan lahan 8) Mencakup sektor terkait, mis: sektor2 perhubungan, pertanian, industri, kehutanan, diknas, dll. 9) Catatan2 berupa indikasi masalah yang mungkin dihadapi pada saat pelaks. program mis: kebutuhan lahan, keberadaan masy.terasing, kawasan lindung, situs sejarah, dll.

Memberi masukan ttg. persyaratan lingkungan daya dukung lingk. dan sosial serta tanggapan hasil penyaringan.. (5)

Memberi masukan ttg. penerapan tata ruang, koordinasi program pemb. dan kebijakan daerah tentang pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing… .. (6)

Memberi masukan tentang kawasan lindung dan sensitive, termasuk kondisi sosekbud masy. (termasuk masy.terasing), hak adat/ulayat, kawasan budaya, dll. .. (7)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : adanya program yang terkait (masy.terasing) beserta peraturannya, fungsi lahan dan peraturannya, program lainnya yang terkait. (8)

Menetapkan Rencana Jaringan Jalan yang dilengkapi catatan2 serta hasil penyaringan awal lingkungan .. (9)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

1

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-2 BAGAN KONSULTASI PEMILIHAN KORIDOR RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari Rencana Jaringan Jalan … . (1) Membuat alternatif koridor jalan … . (2) Konsultasi pemilihan alternatif koridor rute jalan … ..(3)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Pra Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Berikut catatan2-nya sesuai hasil tahap sebelumnya 2) Yang dilengkapi data awal kebutuhan lahan, lokasi masy.terasing (bila ada), dll. 3) Dapat dilakukan melalui forum rapat atau media lainnya 4) Termasuk kriteria dampak penting 5) Termasuk masukan akan kebutuhan kualitas jalan : hotmix, macadam, jalan tanah 6) Termasuk hal/lokasi yang dianggap keramat/tabu 7) Termasuk program yang sedang dan akan berjalan 8) Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang diperoleh dari seluruh stakeholder 9) Didahului dengan pengumuman rencana kegiatan dan partisipasi masyarakat sesuai KepKa Bapedal No.08/2000 10) Untuk mendapatkan masukan dari stakeholder termasuk masyarakat yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Digunakan untuk acuan oleh konsultan penyusun AMDAL CATATAN : Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan KA oleh pemrakarsa (langkah 9 s/d 12 tidak ada)

Memberi masukan daerah sensitive, daya dukung lingkungan dan sosial pada alternatif koridor … … . (4)

Memberi masukan tentang keterpaduan program, koordinasi awal penanganan masyarakat terasing (bila ada), keterpaduan pengadaan lahan, dll. … ... (5)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan dan kesediaan melepas, serta hal-hal yang dianggap sensitive oleh masyarakat setem pat … . .. (6)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : status lahan, hutan, pola kehidupan sosekbud masyarakat (terasing), dll. ..... (7)

Menetapkan koridor rute jalan terpilih … . (8) Menyusun konsep KAStudi Lingk. (ANDAL atau UKL/UPL) dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai (apabila ANDAL)......(9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … . (10)

Memperbaiki dok. KAANDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai ..... (11)

Menetapkan dokumen KA-ANDAL … . (12)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

2

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-3 BAGAN KONSULTASI KELAYAKAN RUTE JALAN
PEMRAKARSA
Mempelajari koridor terpilih dan membuat studi kelayakan thd alternatif rute jalan (1) Melakukan konsultasi kelayakan alternatif rute jalan (setelah didahului dengan survai dasar sosial … … (2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Studi Kelayakan) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada hasil prakelayakan 2) Survai dasar sosial unuk mengetahui secara kasar kondisi dan dampak terhadap sosekbud 3) Spesifik pada alternatif rute jalan 4) Kepentingan spesifik daerah perlu dituangkan dalam suatu keputusan atau Perda 5) Dapat dilakukan pada saat survai dasar sosial dan/atau pada forum rapat 6) Termasuk segala peraturan dan pengaturannya 7) Berdasarkan KA-ANDAL yang telah disetujui serta hasil survai dasar sosial 8) Untuk mendapatkan masukan dari seluruh stakeholder termasuk masy. yang akan terkena dampak (lihat prosedur AMDAL) 9) Dilakukan sampai dokumen disetujui 10) RKL/RPL digunakan sebagai acuan desain teknis 11) Dilengkapai catatan2 cara penanganan masy.terasing (bila ada) pengadaan tanah serta rekomendasi AMDAL CATATAN: Apabila hanya UKL/UPL yang diperlukan, penyusunan dok. oleh pemrakarsa dan persetujuan oleh KaDinas setelah mendapat masukan dari Bapedalda (langkah 7 s/d 10 tidak ada)

Memberi masukan tentang dampak dan daya dukung lingkungan dan sosial ..… (3)

Memberi masukan tentang kesesuaian program pemb., kepentingan spesifik daerah serta koordinasi awal rencana pengadaan tanah dan penanganan masy. terasing (bila ada).....(4)

Memberi masukan tentang sistem kepemilikan lahan, taksiran harga, sistem nilai budaya masy. (terasing) dan pendekatan penanganan, kesediaan dan keberatan pengadaan tanah dll. … .. .(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : pengadaan tanah, pelepasan hak, kesesuaian tata guna lahan, mobilitas masy. terasing, situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi, dll. … ..(6)

Menyusun konsep dok. AMDAL (bila perlu) dan mengajukan ke Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai...... (7) Memperbaiki konsep dok. AMDAL sesuai hasil rapat komisi dan mengajukan kembali ke Komisi Penilai .. (9)

Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk memeriksa konsep dok. A M D A L.… (8)

Menetapkan dokumen. A M D A L.… (10)

Menetapkan Rute T erpilih … … . (11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

3

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-4 BAGAN KONSULTASI PERENCANAAN TEKNIS JALAN (Pada Tahap Perencanaan Teknis)
PEMRAKARSA
Mempelajari hasil studi kelayakan beserta catatannya, dan membuat konsep desain teknis jalan … (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan menyusun konsep LA R A P … … (2)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk hasil studi lingkungan penyusunan konsep desain didahului dengan survai lapangan/rincikan dan memperhatikan rekomendasi RKL/UKL 2) Besarnya tim tergantung dari besar kecilnya pembebasan lahan, dan dilakukan secara sensus 3) Mengacu dokumen lingkungan yang telah disetujui 4) Termasuk kepentingan spesifik daerah 5) Dilakukan untuk seluruh penduduk yang terkena dampak kegiatan jalan dan penduduk di lokasi pemukiman kembali 6) Sesuai peraturan yang berlaku 7) Setelah memperhatikan masukan2 dari instansi terkait 8) Termasuk cara2 monitoring 9) Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan menjaga penggunaan lahan sesuai tata ruang 10) 11) Konsep LARAP perlu disepakati oleh masy.(khususnya yang terkena dampak) dan instansi terkait sebelum disahkan 12) Menampung masukan dari seluruh stakeholder 13) Sesuai kewenangannya 14) Desain yang telah mempertimbangkan aspek teknis, ekonomik, lingk. dan sosekbud CATATAN : LARAP mencakup rencana tindak penanganan masyarakat terasing

Memberi masukan tentang indikator sosekbud … (3)

Membantu dalam koordinasi pelaksanaan survai dan memberi masukan program daerah tentang pengadaan tanah dan masy. terasing ..(4)

Memberi masukan detail ttg kondisi sosekbud, data aset, kepemilikan lahan, rehabilitasi ekonomi, sistem kekerabatan masy. terasing dan cara pelepasan hak, termasuk konpensasi dan pemukiman kembali ...... (5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya, misal : tentang harga lahan, dan aset lainnya, cara pelepasan hak bila lahan milik instansi, koordinasi dalam rehabilitasi ekonomi masyarakat, koordinasi penanganan masyarakat terasing .. (6)

Konsultasi konsep desain teknis dan konsep LA R A P … ..(7)

Memberikan masukan halhal yang terkait dengan rekomendasi RKL/UKL pelaksanaan … (8)

Memberi masukan tentang kepentingan daerah, mis: lansekap, median, dll. serta keterpaduan program implementasi LARAP, dan pengendalian pemanfaatan ruang … … (9 )

Memberikan tanggapan terhadap konsep-konsep tersebut dan memberikan kesepakatan … (10)

Memberikan tanggapan sesuai keterkaitannya, mis: penanganan utilitas yang terkena pengadaan tanah, penanganan masyarakat terasing, untuk kemudian memberikan kesepakatan (khusus LA R A P ) … .. (11 )

Finalisasi dokumen Desain Teknis dan dokumen LARAP. (11) Menetapkan Desain Teknis Jalan. (14)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Instansi terkait (Bupati/ Walikota/Gubernur) menetapkan LARAP ..(13)

4

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-5 BAGAN KONSULTASI PENGADAAN LAHAN
PEMRAKARSA
Mempelajari dokumen LARAP termasuk penanganan masy. terasing … ..(1) Melakukan Konsultasi Pelaksanaan LARAP (termasuk penanganan masy. terasing) dan/atau musyawarah serta mufakat....(2)

BAPEDALDA

(Pada Tahap Persiapan Konstruksi) BAPPEDA MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada dokumen2 yang telah disetujui 2) Dapat dilaksanakan berkalikali 3) Termasuk didalamnya pembebasan lahan, penanganan masy. terasing, rehabiltasi ekonomi masyarakat, dan pemukiman kembali 4) Termasuk dilakukan terhadap penduduk di lokasi pemukiman kembali (bila ada) 5) Termasuk keterlibatan sektor transmigrasi bila ada pemukiman kembali 6) Termasuk pembebasan lahan, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali 7) Sesuai yang tercantum dalam dokumen lingkungan 8) Baik instansi pusat maupun daerah (propinsi, kab dan kota) 9) Termasuk bantuan bagi penduduk di lokasi pemukiman kembali 10)Termasuk proses pensertifikatan tanah 11)Sebagai acuan untuk evaluasi

Melakukan koordinasi pelaksanaan LARAP. (3)

Memberi masukan dan menyepakati jadwal, besaran konpensasi, cara pengosongan lahan, alih kepemilikan, rehabilitasi ekonomi, penanganan masy. terasing dan pemukiman kembali ..(4)

Membantu sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah yg memimpin musyawarah & mufakat, kesepakatan pelepasan hak dari instansi terkait, dan terhadap utilitas yang terkena dampak ..... (5)

Melaksanakan LARAP ..... (6)

Melakukan monitoring ..... (7)

Membantu pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait. … .. (8)

Berpartisipasi dalam pelaksanaan LARAP menerima konpensasi, melepaskan hak, dll. seperti tercantum dalam kesepakatan .... (9)

Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya misal : Panitia pengadaan tanah menyaksikan pembayaran konpensasi, instansi terkait membantu memindahkan utilitas dll. ..... (10)

Membuat laporan pelaksanaan LARAP … … . ( 11)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

5

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-6 BAGAN KONSULTASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI
(Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan)

PEMRAKARSA
Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi serta rencana rehabiltasi ekonomi masy. terkena dampak . (1)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan, dengan PLN, PDAM, Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi, kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .. (2)

Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk keberadaan para pekerja .. (3)

Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya .. (4)

Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5)

Melakukan monitoring ..(6)

Melakukan monitoring ...(7)

Memberi masukan apabila ada gan gguan … ..(8)

Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … ..(6)

Menyusun laporan pelaks. konstruksi (10)

Melakukan konsultasi dan persiapan rehab. ekonomi m asy.(terasing) … … .(11)

Memberi masukan tentang indikator m onito ring … ..(12 )

Melakukan koordinasi keterpaduan program (13)

Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14 )

Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training, tentang tujuan dan cara pemberdayaan .. (15)

Melaksanakan program rehabilitasi … ..(1 6)

Melakukan monitoring ..(17)

Melakukan m onito ring… .(18 )

Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi… ..(2 1)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19)

Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining, pemberian fasilitas, dll. (20)

6

RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5)

Gambar-7 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(Pada Tahap Pasca Konstruksi) PEMRAKARSA
Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi, LARAP dan rehabilitasi … ..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi....(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan....(7)

BAPEDALDA

BAPPEDA

MASYARAKAT

STAKEHOLDER LAINNYA

KETERANGAN
1) Termasuk laporan pelaks. penanganan masy. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.l.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima), badan jalan untuk berdagang, dll. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan, hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud.

Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .. (3)

Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4)

Memberi masukan aspek sosekbud masy. (terasing) khususnya yang terkena dampak, termasuk aspek warisan budaya ..(5)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6)

Konsultasi hasil monitoring..... (8)

Memberi masukan..... (9)

Menyusun laporan monitoring..... (13)

Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan, mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan, pengembangan lahan sesuai tata ruang.. (10)

Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11)

Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan, adanya penyerobotan lahan damija, apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. (12)

Melakukan tindak lanjut, bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 .. ( 14)

Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah

7

.. yaitu mencakup faktor teknis. ekonomik/finansial. geologi /geographic. nilai lahan. (3) Memberi masukan aspek lingkungan .. dll … .... penggunaan lahan. (8) Menyusun dan menetapkan kriteria perencanaan . lingkungan dan sosekbud. pelatihan alih profesi.....RANCANGAN KONSEP NSPM (LAMPIRAN-5) Gambar-8 BAGAN KONSULTASI KEGIATAN EVALUASI PROYEK (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari semua laporan2 monitroing.. (6) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : tata ruang.(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mencakup kegiatan pekerjaan jalan. biologi (flora dan fauna).. apakah tujuan proyek tercapai 3) Dapat dilakukan bersamaan dengan proyek (jalan) lainnya dalam suatu daerah/kawasan 4) Aspek lingkungan mencakup phisik. Menganalisa manfaat proyek beserta dampaknya .(2) Konsultasi konsep Evaluasi Manfaat Proyek . (7) Menyusun laporan PBME ... ( 9) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bagi Stakeholder Di Daerah 8 . LARAP dan rehabilitasi 2) Berdasarkan hasil monitoring. (4) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan dalam hal pembangunan daerah (5) Memberi masukan kondisi sosekbud masyarakat (terasing) setelah selesai proyek … … . kimiawi serta sosial ekonomi dan sosial budaya 5) Pembangunan daerah secara konprehensif yang menyangkut semua sektor 6) Wakil masyarakat/LSM dapat meyampaikan hasil pantauannya tentang kondisi sosekbud 7) Sektor lain dapat memanfaatkan forum ini untuk mengevaluasi programnya 8) PBME (Project Benefit Monitoring and Evaluation) 9) Untuk digunakan dimasa yang akan datang.

2 Proses pemilihan rute Proses pemilihan rute didasarkan atas hasil evaluasi aspek-aspek teknis.3 Dampak lingkungan akibat pemilihan rute Pengembangan jalan sepanjang koridor rute yang terpilih akan menimbulkan dampak lingkungan baik pada lingkungan biogeofisik maupun sosial. Konsultasi masyarakat ini telah diatur dengan peraturan perundangan yang bertujuan untuk mendapatkan masukan dan saran dari masyarakat ke dalam proses pemilihan rute dan untuk melancarkan proses pemilihan rute. Biasanya. Pemilihan rute merupakan proses penentuan lokasi rute jalan baru secara tepat. b) alinyemen yang sama sekali baru. untuk menetapkan lokasi terbaik jalan baru (Lihat Gambar 1). prastudi kelayakan dan studi kelayakan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (Informatif) Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 1. meliputi perencana kota. perencana lingkungan. Pada umumnya proses ini melibatkan sejumlah ahli. kebutuhan memperpendek waktu perjalanan atau oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu wilayah tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya volume lalu-lintas. ahli ekonomi. dengan tujuan agar jalan tersebut dapat memenuhi semua fungsi yang dibebankan padanya. sosial-ekonomi dan lingkungan. lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat yang secara potensial terkena dampak. sehingga rute terpilih akan mendapat dukungan masyarakat setempat.1 Lampiran A Pendahuluan Penjelasan umum Proses pemilihan rute merupakan bagian kegiatan perencanaan pada tahap-tahap perencanaan umum. Proses ini memerlukan banyak masukan termasuk aspek lingkungan dan sosial. Mempertimbangkan dampak potensial PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 1 . Proses ini harus dilaksanakan dengan berkonsultasi erat dengan masyarakat setempat (lokal) melalui instansi-instansi pemerintah terkait. dalam proses ini dipertimbangkan alternatif-alternatif opsi rute. 1. Proses Pemilihan Rute tergantung pada masukan dari berbagai bidang teknik. Evaluasi opsi rute ini mungkin meliputi a) peningkatan jalan yang ada sepanjang alinyemennya. Pemilihan rute bagi pengembangan jalan diperlukan ketika jalan yang ada tidak lagi dapat memenuhi fungsi pelayanan lalu-lintas dengan baik. dsb. ahli geoteknik. 1. atau c) kombinasi dari keduanya. Dukungan masyarakat terhadap hasil proses pemilihan rute ini juga diharapkan agar masyarakat setempat akan mempunyai komitmen berkelanjutan untuk melindungi fungsi-fungsi jalan baru melalui pengelolaan lahan secara tepat sepanjang lintasan jalan yang dikembangkan. perencana lalulintas. yang membantu perencana jalan.

ketika pemilihan rute telah selesai dilakukan. Nilai lingkungan Sebelum memulai proses pemilihan rute. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 2 . Pemahaman ini akan merupakan dasar proses perencanaan yang tajam yang akan mengoptimasi integrasi jalan ke dalam berbagai kondisi lingkungan yang dilaluinya.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pengembangan jalan hendaknya dilakukan sedini mungkin dalam proses perencanaan mulai tahap perencanaan umum. PERTIMBANGAN TEKNIS DAN EKONOMI  Stabilitas  Manfaat Lalu lintas  Biaya  Dll. 2. untuk memberikan masukan-masukan ke dalam proses pemilihan rute. Gambar 1 Bagan Proses Pemilihan Rute LINGKUNGAN      SOSIAL Penggunaan Lahan Perbaikan Properti Ekonomi Budaya Visual      BIOGEOFISIK Geologi/Tanah Air Vegetasi Lansekap Dll. PEMILIHAN RUTE Koridor Perencanaan Koridor Rute Opsi Rute Rute Terpilih Penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses perencanaan bukan hanya merupakan bagian dari AMDAL. di mana jalan yang dikembangkan akan melintas. Juga diperlukan pemahaman tentang bagaimana kegiatan pengembangan jalan akan merubah atau mempengaruhi komponen-komponen lingkungan dan bagaimana perubahan atau pengaruh tersebut menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup (Ligat Gmbar 2). karena proses AMDAL baru dimulai pada tahap akhir studi kelayakan. perlu dipahami karakteristik lingkungan di mana jalan akan dikembangkan. Untuk memahami dampak lingkungan potensial akibat pengembangan jalan perlu pemahaman tentang kondisi lingkungan. khususnya areal sensitif.

Lokasi-lokasi ini dihubungkan satu dengan lainnya oleh unsur-unsur prasarana seperti transportasi. Daerah perkotaan memiliki nilai sosial yang kompleks. vegetasi dan perairan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pemahaman mengenai nilai lingkungan memungkinkan penetapan koridor-koridor jalan berdasarkan dampak terkecil yang mungkin terjadi. karena dirasakan akan makin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota.1 Nilai lingkungan daerah perkotaan Daerah perkotaan merupakan pemadatan permukiman manusia. Juga dimungkinkan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan komparatif mengenai rute-rute koridor dipandang dari sudut nilai lingkungan. terdapat pula berbagai unsur alami yang menjadi ciri suatu kota. meliputi nilai-nilai: • • • • • • • • • interaksi m asyarakat. pada umumnya dapat dikatakan bahwa di sisi skala kecil adalah pemadatan permukiman manusia berupa desa. akan muncul nilai-nilai sosial lainnya yang sangat kompleks yang perlu dicapai. sistem drainase dan pembuangan limbah serta sampah. visual. Namun. dan kota kecil. lokasi kegiatan komersial. Dari sudut pandang skala pemadatan permukiman ini. sedangkan di ujung skala besar adalah pemadatan permukiman manusia berupa kota besar. setelah masyarakat kota berhasil mendapatkan kesejahteraan ekonomi. dan lokasi kegiatan kelembagaan. 2. prasarana. Bagi keperluan perencanaan jalan. lokasi kegiatan industri. ditetapkan empat tipe kota. Dengan demikian tampak penggunaan lahan bagi lokasi tempat tinggal. Selain prasarana ciptaan manusia ini. Kota ditandai oleh adanya campuran dari beberapa tipe penggunaan lahan yang merupakan perwujudan dari kebutuhan masyarakat kota yang beragam. industri. Yang terpenting ialah kesejahteraan ekonomi. Kebutuhan masyarakat kota dan adanya kemungkinan untuk berhubungan secara fisik dengan berbagai lokasi dalam kota tersebut di atas merupakan nilai sosial yang sangat penting bagi PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 3 . tem pat tinggal. listrik. Juga penting bagi suatu kota ialah nilai-nilai sosial masyarakatnya. budaya. telekomunikasi. w arisan budaya. Unsur unsur ciptaan manusia bersama dengan unsurunsur alami menghasilkan ciri suatu kota. kom ersial. yakni (1) (2) (3) (4) kota metropolitan. air. kota besar. institusi. Kota merupakan permukiman perkotaan yang paling kompleks. yaitu topografi. kota sedang.

ada pula hal-hal yang penting artinya bagi masyarakat kota. walaupun biasanya dalam skala yang jauh lebih kecil ketimbang penggunaan lahan untuk pertanian padi. Bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tersebut di atas ini merupakan bagian penting dari bentang alam daerah pedesaan. Namun demikian. Kebutuhan akan kualitas visual dan kualitas akustik berbeda dari suatu lokasi ke lokasi lain. tanpa mengabaikan keselamatan para pengguna jalan. Kegiatan pertanian lainnya di daerah pedesaan meliputi kegiatan budidaya sayuran dan biji-bijian. Lain dari pada itu. Kota perlu dipandang sebagai kumpulan desa yang kompleks. Mungkin juga terdapat teras-teras di daerah perbukitan yang ditanami padi. Kota-kota kecil dan desa-desa ini peka terhadap pengembangan jalan disebabkan oleh: a) pelebaran jalan akan menimbulkan dampak-dampak sosio-ekonomi pada properti (harta benda tak bergerak) sepanjang jalan. Juga merupakan bagian dari bentang alam daerah pedesaan ialah kota-kota kecil dan desa-desa yang terletak sepanjang jalan-jalan antar perkotaan. namun pada umumnya merupakan kendala yang sedang besarnya bagi pengembangan jalan. dan 4 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . Pada umumnya daerah pedesaan didominasi oleh kawasan budidaya dan mungkin juga terdapat bagian-bagian dalam keadaan bera atau dalam keadaan penggunaan budidaya yang tidak intensif. Juga terdapat kawasan-kawasan yang digunakan untuk usaha peternakan. Isu keselamatan manusia selalu perlu diperhatikan. Dengan demikian. penting artinya untuk mengenal karakteristik lingkungan pedesaan. yang banyak menggunakan jalan sebagai tempat sosialisasi. yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya oleh daerah pedesaan. Orang Indonesia adalah mahluk yang sangat sosial. selalau terdapat tempat-tempat tinggal terpencar atau kumpulan tempat tinggal sebagai kampung atau desa kecil. seperti keselamatan. serta perkebunan pohon buah-buahan. membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Kegiatan pertanian padi ini merupakan kegiatan pengembangan pertanian yang paling intensif di daerah pedesaan. termasuk kualitas visual dan kualitas akustik. nilai-nilai sosial jalan ini perlu dihormati.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan masyarakat kota. Bentang alam daerah perdesaan juga terdiri dari daerah-daerah produksi beras di dataran-dataran rendah yang berbatasan dengan daerah pesisir maupun di beberapa lembah sungai. yang bergantung pada jalan-jalan ini untuk mendapatkan akses ke kendaraan. Namun demikian. Dapat dikatakan bahwa bagian-bagian daerah pedesaan yang digunakan untuk usaha peternakan pada umumnya kecil luasannya dan merupakan kendala terkecil bagi pengembangan jalan. Nilai sosial lainnya yang penting ialah kualitas lingkungan hidup kota.2 Nilai lingkungan daerah perdesaan Pada umumnya daerah pedesaan berbatasan dengan daerah perkotaan dan sering memberi kesempatan tersedianya lahan bagi pengembangan jalan bypass perkotaan. namun penggunaan tersebut mungkin bertentangan dengan kebutuhan kelancaran arus lalu-lintas. Kiranya dapat dimengerti bahwa kualitas visual dan kualitas akustik yang diperlukan bagi lokasi tempat pemukiman masyarakat akan sangat berbeda dari yang diperlukan di lokasi kegiatan industri. 2. kelapa dan kelapa sawit. Penggunaan jalan seperti ini menciptakan suasana dinamis. karet.

akan menimbulkan dampak-dampak pada kegiatan ekonomi dan bisnis di sepanjang jalan yang dilebarkan.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) jika jalan melalui sebuah desa atau sebuah kota kecil. . • nilai visual. meningkatkan aspek-aspek keselamatan. • Lingkungan alam : . . Jalan baru yang dikembangkan mungkin juga melintasi sungai. vegetasi alam dan atau koridor satwa liar. 3. . Pengembangan jalan dapat pula membelah tata-guna lahan dan berbagai koridor prasarana seperti jalan. Koridor pergerakan masyarakat seperti jalan atau jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan lokal atau rakyat setempat dapat dipengaruhi oleh pengembangan jalan baru.lahan basah / rawa. • desa. dan berbagai prasarana pelayanan seperti pasokan listrik dan air bersih.sawah tadah hujan. Namun. meningkatkan kualitas bising dan kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya hiruk-pikuk oleh lalu-lintas dengan kualitas udara yang buruk akibat tingginya kandungan asap dari kendaraan bermotor.perkebunan. Pengembangan jalan dapat membelah properti. Pertimbangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan pertimbangan teknis dan ekonomi untuk menetapkan opsi-opsi rute dan memilih opsi rute yang terbaik. Sasaran umum pemilihan rute yang baik ialah memaksimalkan pengaruh sosial yang baik. meliputi: • Lahan pertanian: . • kam pung. Daerah perdesaan memiliki nilai-nilai khas. • rum ah -rumah terpencil.1 Pengembangan jalan dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup Dampak lingkungan Alinyemen horisontal jalan yang berupa sabuk tak terputus-putus. 3. Semua faktor lingkungan ini perlu dipertimbangkan pada pemilihan rute. bahkan dapat membelah perbaikan-perbaikan pada suatu properti. Sabuk tak terputus-putus ini akan membagi rona lingkungan yang tadinya utuh menjadi bagian-bagian yang terpisah-pisah. dapat dipastikan bahwa dampak sosial paling sensitif akibat pengembangan jalan ditimbulkan oleh kegiatan pengadaan tanah dan pemindahan PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 5 . Seperti telah dikemukakan di atas. .sawah beririgasi. merupakan unsur utama yang akan memotong rona lingkungan yang utuh yang terdiri dari unsur-unsur biogeofisik dan sosial yang saling kait-mengait. segi negatif dari pengembangan jalan ialah terciptanya pembelahan. dan secara umum meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara meningkatkan dan menciptakan potensi peningkatan kemudahan-kemudahan (amenities) perkotaan di kemudian hari.sungai. misalnya meminimalkan kemacetan lalu-lintas. bakau.tanaman lain. Inilah yang akan menimbulkan dampak lingkungan pada aspek biogeofisik dan sosial di sepanjang rute jalan yang akan dikembangkan dan sekitarnya. jalan kereta api.

3.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tempat tinggal (resettlement). dan kampung atau desa. Tingkat kepekaan lahan terhadap pengembangan jalan bergantung pada sejauh mana penggunaan lahan telah ditingkatkan. serta lahan perkebunan karet. Labih baik memilih daerah-daerah yang kurang berkembang. Termasuk dalam daerah seperti ini antara lain daerah yang digunakan bagi permukiman dan bagi kegiatan komersial.2 Kesesuaian lahan Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan semua jenis penggunaan lahan peka terhadap pengembangan jalan. Lahan yang dianggap tinggi tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan ialah lahan kosong yang sama sekali tidak ditingkatkan penggunaannya dan padang rumput. Makin kurang intensif penggunaan lahan makin besar pula tingkat kecocokannya untuk pengembangan jalan Namun. dan karenanya daerah seperti ini sangat tidak cocok bagi pengembangan jalan. Pengadaan lahan dan pemindahan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pertimbangan biaya pada berbagai opsi rute. dan dengan demikian tidak cocok bagi pengembangan jalan. Daerah yang sangat kurang cocok bagi pengembangan jalan adalah daerah permukiman dan bisnis. kelapa dan kelapa sawit. Makin tinggi peningkatan penggunaan lahan pedesaan makin kurang cocok daerah itu bagi pengembangan jalan. pengembangan jalan sebaiknya menghindari daerah yang telah berkembang pesat. Daerah kurang berkembang ini termasuk juga daerah real estat yang baru pada tingkat awal pengembangan. Lahan yang tingkat kecocokannya bagi pengembangan jalan termasuk kategori sedang adalah sawah tadah hujan. Di daerah pedesaan lahan-lahan pertanian padi beririgasi teknis paling peka terhadap pengembangan jalan. Daerah-daerah yang telah berkembang secara intensif akan terkena dampak terbesar akibat pengembangan jalan. Namun perlu diperhatikan bahwa daerah-daerah kurang berkembang yang berdekatan dengan daerah permukiman pada akhirnya akan berkembang juga menjadi daerah permukiman. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 6 . Secara umum. lahan-lahan yang sama sekali belum dibuka dan masih sepenuhnya dalam keadaan alamiah mungkin merupakan lahanlahan bernilai konservasi tinggi.

4.1 Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan Sumber data Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data ( database) informasi yang komprehensif.) 7 PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN . Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin. enjiniring. Basis data ini mencakup: • • • • • • • • Peta Foto Udara Citra Satelit Hasil Survai Lapangan Laporan-laporan Tersedia Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional Pengetahuan Lokal Lain-lain (lihat Tabel 41. opsi rute dan opsi rute terpilih   Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian Sawah tadah hujan Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai 4.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 3 Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Jalan KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai            Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute. sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi. meliputi kondisi topografi.

pada umumnya yang berskala 1 : 10.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia. Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris.1 Peta Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional). Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendalakendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan.000. Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m. rel kereta api.000 mahal harganya. informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumbersumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. Namun. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25.000 ( Foto udara berskala 1 : 5. elevasi. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS. data lingkungan dan data sosial/budaya. jaringan listrik. Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. dsb. meliputi:  Peta Topografi.  Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah.1. sungai. Peta-peta skala 1:25.000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan. 4. yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan. tutupan lahan. termasuk vegetasi dan hidrologu. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah.1. Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami. yang diproses dari foto udara. Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan secara lebih rinci. dsb. bukit. liputan vegetasi dan pola hidrologi. atau lebih detail dengan skala 1 : 5. selain menyajikan pula detail topografi. Peta-peta topografi skala 1 : 25.000. Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50. seperti kondisi geologi.Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. roman-roman alami seperti gunung.2 Foto udara Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah. Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI. Izin tersebut meliputi: PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 8 . Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan. serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan. namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual).000 untuk seluruh Indonesia.  Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan. tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan ( field check).

1 Daftar Uji Data Lingkungan Skala Lingkungan Regional (Jalan penghubung) Data Relevan Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian Usulan pengembangan Pengembangan potensial Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal Sumber Data Survai lapangan Rencana regional Studi perencanaan regional Peta topografi Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Survai lapangan Rencana kota Studi perencanaan kota Peta topografi Foto udara format besar Konsultasi masyarakat Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksipersilangan jalan) Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 9 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 4.

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan) Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas) Roman alami Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan • Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak. Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan. Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satusatunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan. Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat. 4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 10

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

4.1.4

Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal. 4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi: • • • • • • H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya; K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu; K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat. Intansi pemerintah propinsi dan lokal

4.1.6

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalulintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya. Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan. 4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari LSM-

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

11

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5.
5.1.

Data yang dikumpulkan
Data jalan dan jembatan

Sistem Manajemen Jalan Terpadu (Integrated Road Management System – IRMS) yang ada di Departemen Kimpraswil menyediakan data terbaru tentang jalan dan jembatan. Meskipun demikian data ini perlu dikaji ulang dan diperiksa tingkat ketepatannya. Bila diperlukan, data tambahan hendaknya dikumpulkan. Pengumpulan data tambahan ini meliputi: • • • • • • • Lokasi dan k ondisi jembatan; Lokasi dan kondisi gorong -gorong; Lokasi dan kondisi bangunan lainnya; T ipe trotoar; K ondisi dan kekasaran perm ukaan; B ahu dan tepi jalan; F aktor lain.

Data di atas, terutama akan berguna untuk menetapkan opsi-opsi “tidak berbuat apapun” (do nothing) dan “pelebaran jalan pada alinyem en jalan yang telah ada”. 5.2 Data lalu lintas kendaraan

Volume lalu-lintas kendaraan dalam koridor rute hendaknya ditaksir melalui analisis semua data yang tersedia. Ini akan mengikuti kaji ulang (review) terhadap database IRMS dan studi-studi lalulintas kendaraan lainnya, yang pernah dilakukan. Sesuai dengan keperluan, hendaknya dilakukan survai-survai tambahan mengenai lalu-lintas kendaraan serta asal dan tujuan. Analisis data ini akan mempertimbangkan variasi tingkat arus lalu-lintas kendaraan dalam satu jam, satu hari, dan satu musim. Pengumpulan data meliputi: a) Perhitungan Berklasifikasi Lalu-lintas Kendaraan Perhitungan ini hendaknya menganut prosedur baku Kimpraswil dan perlu didiskusikan dengan Kimpraswil sebelum dilakukan perhitungan lalulintas kendaraan. b) Survai Waktu Perjalanan Hendaknya dilakukan survai tentang waktu/kecepatan perjalanan, di mana survai seperti ini patut dilakukan. Survai tersebut perlu dilakukan pada saat-saat yang berbeda, pada waktu periode puncak dan periode bukan-puncak, selama beberapa hari yang berbeda, untuk menentukan atarata waktu/kecepatan perjalanan. c) Survai Asal dan Tujuan Untuk membantu pengembangan prakiraan arus lalu-lintas kendaraan, termasuk lalu-lintas kendaraan yang dialihkan dan yang dihasilkan (generated), mungkin diperlukan survai asal dan tujuan lalu-lintas kendaraan atau modus transportasi lain. Survai seperti ini perlu dilakukan selama
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 12

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

paling tidak 12 jam (jam 06.00 – jam 18.00) dan hendaknya disertai dengan survai perhitungan yang berkaitan. Penghasil lalu-lintas kendaraan utama (major trafffic generators) yang potensial maupun yang ada perlu dikaji, diidentifikasi, dideskripsikan, dan dikuatifikasi. Dengan cara sama, daerah-daerah yang secara potensial terkena pengaruh perbaikan sistem jalan, hendaknya dikaji. Kajian-kajian ini perlu mempertimbangkan pengembangan ekonomi dan kebutuhan dibangunnya jalan raya di wilayah yang bersangkutan di masa depan. Kajian-kajian ini hendaknya meliputi pertimbangan tentang: • • • • • 5.3 Pertumbuhan dan karakteristik populasi penduduk, misalnya, penyebaran populasi daerah pedesaan dan perkotaan; Pertumbuhan ekonomi nasional dan regional; Pengembangan kegiatan industri/komersial, termasuk pertanian dan kepariwisataan, di dalam daerah proyek; Pengembangan layanan-layanan sosial di daerah yang bersangkutan, misalnya pembangunan rumah sakit dan sekolah; dan Proyeksi pertumbuhan jumlah kendaraan. Data topografi

Untuk pelaksanaan pemilihan rute secara efektif, perlu tersedia data topografi pada beberapa skala. Dalam tahap penentuan koridor, cukup digunakan data dari peta-peta berskala kecil, misalnya berskala 1 : 250.000 atau 1 : 50.000, dengan interval kontur 25 – 100 m. Namun, bagi pengembangan opsi-opsi rute, hendaknya digunakan peta-peta berskala 1 : 25.000 hingga 1 : 10.000, dan bahkan yang berskala 1 : 5.000, dengan interval kontur 1 – 5 m. 5.4 Data perencanaan

Dalam rangka pemilihan rute yang efektif, perlu mengidentifikasi strategi perencanaan tingkat nasional, regional, propinsi, dan lokal, yang meliputi baik strategi maupun rencana tata-ruang, seperti: • • • • R encana R encana R encana R encana P em P em P em P em bangunan S osial dan E konom i N asional; bangunan R egional; b angunan Propinsi; bangunan K abipaten/K ota.

Semua rencana ini hendaknya didiskusikan dengan unstansi-instansi terkait, sehingga maksud rencana-rencana itu dan implikasinya yang berkaitan dengan pembangunan jalan dimengerti. Implikasi rencana-rencana itu dapat meliputi penghasil lalu-lintas kendaraan (traffic generator) di masa depan, dan juga berimplikasi pada rencana-rencana jaringan jalan lokal. 5.5 Data hidrologi dan drainase

Data curah hujan yang meliputi penyebaran dan intensitas bulanan serta data suhu dan variasi suhu juga diperlukan. Data-data ini memberikan latar belakang kontekstual bagi pembangunan jalan, dan memberikan masukan tentang kemungkinan terjadinya genangan berkala atau banjir.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 13

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Peta-peta hidrologi atau peta-peta topografi yang bermutu, perlu dipelajari dalam hubungannya dengan lokasi sungai, dataran banjir atau hal-hal lain yang berhubungan dengan air terhadap ruterute potensial, karena ini semuanya dapat mempengaruhi biaya enjiniring atau kinerja lingkungan dari suatu opsi rute dibandingkan dengan opsi rute lainnya. Rincian mengenai kondisi hidrologi wilayah perlu ditetapkan untuk memungkinkan penyusunan rancangan dan pembiayaan studi kelayakan, terutama yang berkenaan dengan keperluan pembangunan jembatan dan goronggorong. 5.6 Data geologi

Dari peta-peta geologi dan peta-peta patahan dan/atau citra satelit, ada kemungkinan untuk mengidentifkasi jenis-jenis tanah dan patahan-patahan di dalam koridor perencanaan. Informasi seperti ini sangat penting dalam proses pemilihan rute, karena pembangunan jalan di atas tanah yang kondisi geologinya peka atau di atas tanah yang kurang baik mutunya bagi konstruksi jalan akan sangat menaikkan biaya konstruksi. 5.7 Data lingkungan dan sosial

Data rona lingkungan awal baik aspek biogeofisik maupun aspel sosial perlu dikumpulkan bersamaan dengan pengumpulan data dasar lainnya. Data biogeofisik meliputi: • • • • • Iklim , kualitas udara dan kebisingan; T opografi, G eologi dan T anah; H idrologi; N ilai B entang A lam ; F lora dan Fauna;

Data sosial meliputi antara lain: • • • • • • 5.8 T ataguna tanah; P ola pem ukim an dan populasi; P eluang/lokasi m ata pencaharian; P rasarana yang ada; F asilitas m asyarakat, m isalnya rum ah sakit, sekolah dan rum ah ibadah; K aw asan atau bangunan peninggalan bersejarah. Data perkiraan biaya

Perkiraan biaya pembangunan tiap opsi rute perlu dihitung. Untuk perhitungan biaya tersebut diperlukan harga satuan berbagai jenis kegiatan konstruksi, karena biaya ini tergantung dari jenisjenis kegiatan konstruksi tiap opsi rute. Untuk keperluan itu dapat digunakan standar harga satuan yang tersedia di Departemen Kimpraswil atau Dinas Bina Marga setempat.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

14

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

6.
6.1

Proses pemilihan rute
Penjelasan umum

Pemilihan suatu rute yang disenangi (prefered route) tergantung pada berbagai faktor, meliputi pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam suatu urutan tahap perencanaan yang telah baku, mulai dari evaluasi secara makro pada tahap perencanaan koridor, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan rute di tahap-tahap selanjutnya dalam keseluruhan proses perencanaan. Tahap-tahap perencanaan meliputi: • • • • • • penem patan koridor p erencanaan; penentuan K oridor rute; penentuan dan analisis alternatif-alternatif rute; pem ilihan opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (Shortlisted); pem ilihan opsi yang disenangi; penentuan alinyem en -alinyemen vertikal dan horisontal yang disenangi.

Menetapkan suatu usulan jalan berlangsung dalam tahap perencanaan / prastudi kelayakan dan tahap sudi kelayakan. Proses ini mungkin sangat kompleks tetapi seringkali relatif sederhana, karena ketiadaan kendala. Metodologi yang dipilih bergantung baik pada tingkat kerumitan isu-isu yang mempengaruhi pemilihan rute, maupun pada sumberdaya dan waktu yang tersedia bagi penyelesaian proses pemilihan rute. 6.1.1 Koridor Perencanaan

Pada umumnya, Departemen Kimpraswil akan mengidentifkasi kebutuhan akan suatu proyek. Lokasi Koridor Perencanaan ini diidentifikasi sebelum Tahap Perencanaan Umum Proyek. Sering kali Koridor Perencanaan ini tidak secara formal dipetakan, terutama untuk jalan-jalan perkotaan, karena pengembangan kota itu sendiri yang menjadi faktor penentu. 6.1.2 Koridor Rute

Koridor rute ditentukan setelah diadakan perkiraan awal lokasi koridor dalam koridor perencanaan atau kawasan perencanaan. Untuk keperluan tersebut, dilakukan identifikasi kawasan di mana semua opsi rute berada. Kegiatan ini dilakukan pada tahap perencanaan umum. Kadang-kadang koridor rute tidak ditentukan secara formal. Namun, dalam kasus-kasus di mana banyak terdapat kepentingan masyarakat, koridor rute ini harus ditetapkan secara formal, guna menetapkan wilayah-wilayah yang perlu dievaluasi dan yang tidak perlu dievaluasi. 6.1.3 Opsi / alternatif rute

Setelah ditetapkannya koridor rute, tahap berikutnya dari proses pemilihan rute adalah mempertimbangkan pengembangan sejumlah opsi alternatif guna mencapai kapasitas jalan yang lebih baik dalam koridor rute. Diperlukan analisis lengkap mengenai semua alternatif dengan

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

15

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

menggunakan data hasil survai dan pemetaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam tahap perencanaan umum, dengan menggunakan data hasil pemetaan dan informasi lainnya. 6.1.4 Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed)

Analisis teknis dan lingkungan terhadap alternatif-alternatif opsi menghasilkan terpilihnya 2 – 4 opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed). Selanjutnya, dilakukan penilaian lingkungan, sosio-ekonomi, dan teknis yang mendalam, termasuk perkiraan dampak terhadap lingkungan hidup. Opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan dapat meliputi pelebaran jalan serta perbaikan alinyemen dan / atau opsi-opsi konstruksi jalan baru. 6.1.5 Opsi rute yang dikehendaki

Setelah dilakukan perbandingan antara semua opsi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis, lalu-lintas kendaraan, lingkungan, dan ekonomi, dipilih suatu rute yang dikehendaki. Kemudian rute yang dikehendaki ini akan dievaluasi secara lebih rinci, untuk menentukan rute final. Rute yang dikehendaki diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. 6.1.6 Alinyemen rute final

Penentuan rute final dilakukan pada tahap studi kelayakan di mana rute yang dikehendaki dipelajari secara sangat rinci dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan sepanjang alinyemen yang dikehendaki yang diidentifikasi pada tahap prastudi kelayakan. Kegiatan ini akan menetapkan alinyemen vertikal dan horisontal final dari rute yang dikehendaki, sebagai respons terhadap informasi topografi dan tataguna tanah yang rinci. 6.1.7 Hubungan dengan siklus proyek

Pemilihan rute dilakukan dalam tiga tahap awal siklus proyek, yakni tahap perencanaan umum, tahap prastudi kelayakan, dan tahap studi kelayakan. Pada tahap perencanaan umum, hasil studistudi perencanaan dan peta-peta yang tersedia dikaji ulang dan diidentifikasi opsi-opsi rute. Pada tahap prastudi kelayakan dipertimbangkan opsi-opsi rute secara rinci dan ditentukan serta dinilai lebih cermat berdasarkan data yang tersedia maupun hasil survai lapangan. Setelah kaji ulang ini diidentifikasi suatu rute yang dikehendaki. Dalam tahap berikutnya, yakni tahap studi kelayakan, kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan dari opsi yang dikehendaki dievaluasi dan dibuatlah penyesuaian-penyesuaian akhir terhadap lokasi alinyemen jalan. Dalam tahap ini, proses pemilihan rute hampir mendekati penyelesaiannya. Namun, alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang dikehendaki masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut dalam tahap perencanaan teknis (design). 6.2 Penetapan awal koridor perencanaan

Kebutuhan akan adanya jalan biasanya didasarkan atas alasan-alasan ekonomis, pembangunan dan politik. Sering kali dibutuhkan jalan di sekitar kota di mana terjadi kemacetan akibat bercampurnya lalu-lintas kendaraan setempat dengan kendaraan yang hendak melintas, termasuk truk dan bis besar.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

16

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Langkah pertama dalam proses menyeluruh ialah identifikasi proyek dan pencantumannya pada Rencana Lima Tahun berikutnya. Langkah berikutnya ialah penetapan KORIDOR PERENCANAAN dengan menggunakan peta-peta berskala antara 1 : 50.000 - 1 : 25.000 serta pengetahuan umum mengenai kawasan. Pada skala ini, penetapan koridor perencanaan hanya didasarkan atas lokasi saja. Tidak ada pertimbangan faktor-faktor teknis atau faktor-faktor sosial / lingkungan. Namun, pada skala ini, ada peluang untuk mengidentifikasi kondisi topografi utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan jalan. Misalnya, baik bentuk lahan secara umum maupun kondisi hidrologi dapat terlihat dan akan mempengaruhi lokasi Koridor Perencanaan. Lagi pula, dalam tahap ini seharusnya dapat diidentifikasi dan dihindari daerah berlereng curam, daerah berawa dan daerah konservasi. Pada tahap proses pemilihan rute ini, hanya lokasi dari koridor perencanaan yang akan diidentifikasi tetapi ini cukup untuk memungkinkan studi yang lebih rinci dalam tahap-tahap berikutnya. Penetapan Koridor Perencanaan tidak selalu dilakukan, namun penetapan Koridor Perencanaan ini merupakan konsep yang baik. 6.3 Penetapan koridor rute

Penetapan Koridor Rute merupakan kegiatan perencanaan fisik rinci pertama dan kegiatan kedua dalam proses menyeluruh pemilihan rute. Hal ini dilakukan pada Tahap Perencanaan Umum. Berdasarkan lokasi Koridor Perencanaan, dilakukan penyelidikan perencanaan jalan raya di sekitar lokasi proyek, untuk mengidentifikasi Koridor Rute. Koridor Rute memberikan arahan mengenai daerah-daerah yang akan diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi rute jalan. Tepi Koridor Rute perlu diidentifikasi berdasarkan daerah-daerah yang secara logis tidak perlu dipertimbangkan atas dasar alasan-alasan teknis, biaya, tataguna tanah, sosial / budaya, dan lingkungan. Pada tahap ini, pada umumnya tidak diperlukan masukan seorang spesialis khusus, kecuali jika penyelidikan-penyelidikan sebelumnya mengungkapkan diperlukannya masukan seperti ini, disebabkan oleh sangat sensitifnya lahan di mana kemungkinan besar Koridor Rute akan ditempatkan. Namun, seorang Ahli Transportasi hendaknya memberikan masukan analisis lalu-lintas kendaraan, termasuk evaluasi jalan-jalan sekunder yang terdapat di dalam dan di sekitar kota. Faktor dominan pada penetapan tepi luar koridor rute, acap kali adalah biaya ekonomi / teknis. Biaya ini akan menetapkan suatu tepi luar hingga mana jalan dapat ditempatkan tanpa terlalu menyimpang dari alinyemen ekonomis / teknis yang paling disenangi di dalam koridor rute. Dengan demikian, suatu koridor rute mungkin berupa lahan yang mencakup daerah perkotaan suatu kota sebagai suatu rute jalan bypass yang mungkin melintas salah satu sisi kota. Di samping pertimbangan teknis dan ekonomi, perlu diidentifikasi juga faktor sosial / budaya atau lingkungan apa pun yang akan mengakibatkan suatu daerah menjadi daerah yang harus dihindari. B eberapa daerah yang m erupakan “pulau -pulau” m ungkin terdapat dalam koridor rute yang telah ditetapkan, dimana rute apa pun harus melintas di sekelilingnya, misalnya, suatu desa atau kota, tempat bersejarah, kuil atau makam. Mungkin ada juga kawasan lingkungan eksklusif yang tak boleh dijamah manusia di tepi Koridor Rute yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kawasan lingkungan eksklusif tersebut dikeluarkan dari Koridor Rute, dengan cara penetapan ulang tepi Koridor Rute. Daerah yang ditetapkan ulang untuk menjadi Koridor Rute akan merupakan daerah di mana opsiopsi rute akan ditetapkan. Dari opsiopsi rute inilah rute yang paling disenangi akan dipilih. Kadang-kadang Koridor Rute tidak secara formal ditetapkan. Pendekatan informal ini sering cukup memadai. Hal ini mungkin terjadi jika pemilihan rute dilakukan oleh suatu tim multi-disiplin,
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 17

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

terpisah dari masukan-masukan lain. Namun, jika ada pihak-pihak lain yang memberikan masukan dan pertimbangan mengenai koridor dan opsi-opsi rute, pendekatan informal tersebut di atas tidak memadai. Dewasa ini kebutuhan yang meningkat untuk mempartisipasikan masyarakat dan berkonsultasi dengan masyarakat yang diatur oleh undang-undang, dianggap sangat bermanfaat untuk menetapkan Koridor Rute secara formal. Jika perlu memberikan gambaran mengenai lokasi konstruksi jalan kepada pihak-pihak lain, seperti pemerintah regional atau pemerintah setempat, akan sangat bermanfaat jika Koridor Rutenya telah ditentukan. 6.4 Penetapan alternatif - alternatif rute

Ada beberapa cara untuk menetapkan Opsi-opsi Alinyemen dalam Koridor Rute. Pada umumnya, penetapan ini akan melibatkan beberapa pertimbangan terhadap sejumlah faktor yang secara umum dapat dikategorisasikan sebagai faktor-faktor teknis, ekonmi, sosial / budaya, dan lingkungan. Faktor-faktor ini dapat dipertimbangkan secara bersama atau secara terpisah. Namun, tujuannya ialah mengidentifikasi daerah-daerah yang sesuai bagi Koridor Rute atau daerahdaerah yang banyak menghadapi kendala. Opsi-opsi rute akan terdiri dari lahan-lahan yang kendalanya sedikit. 6.4.1 Analisis kendala umum

Pada umumnya, perencana jalan raya akan mempertimbangkan sejumlah faktor teknis, ekonomi dan lingkungan sebagai suatu langkah pertama. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara menciptakan matriks-matriks kesesuaian opsi rute bagi sejumlah faktor dan mengevaluasi ruterute dalam hubungannya dengan matriks kesesuaian. Sering kali hal ini dilakukan secara numerik dan dengan mempertimbangkan rute-rute dalam hubungannya dengan matriks-matriks, yakni setiap rute didefinisi dipandang dari segi matriks-matriks. Misalnya, berapa banyak properti yang perlu dibeli, jumlah jalan kereta api yang perlu dilintasi, banyaknya interaksi dengan sistem jalan sekunder, berapa banyak jembatan yang harus dibangun, dsb. Sebagai alternatif mempertimbangkan rute-rute alternatif dipandang dari sudut numerik atau verbal, rute-rute alternatif dapat dipetakan berdasarkan kondisi sosial dan lingkungan yang dihadapi dan memberikan nilai kepada kondisi-kondisi tersebut dalam bentuk peta dan memplot rute-rute melintasi daerah-daerah yang paling sesuai. Alternatif lain dan mungkin metode yang paling banyak digunakan adalah kombinasi dari dua metode yang diuraikan di atas. Pada pendekatan ini, berdasarkan pengembangan suatu matriks kesesuaian, rute-rute diplot di peta-peta menghindari daerah-daerah berkendala tinggi dan menggunakan lahan-lahan yang lebih sesuai, sambil tetap memenuhi pertimbangan-pertimbangan perencanaan jalan dan perencanaan ekonomi. Kemudian disusunlah tabel-tabel untuk menggambarkan interaksi berbagai opsi rute terhadap sejumlah parameter didalam matriks kesesuaian. Kegiatan ini akan dibantu oleh berbagai spesialis, sesuai dengan kebutuhan. Kemudian ditentukan daerah-daerah dengan tingkat kendala atau kesesuaian yang berbeda-beda berkenaan dengan tiap faktor teknus, lingkungan dan sosial berdasarkan informasi umum yang ada. Sumber informasi dapat berupa: • P eta -peta berskala besar, misalnya 1 : 25.000 dan / atau foto-foto udara dengan skala sama; • B erm acam laporan dari daerah yang sedang dipelajari; • D iskusi dengan berbagai instansi pem erintah regional dan lokal, LS M dan m asyarakat um um .
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 18

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Evaluasi ini akan mengidentifikasi daerah-daerah dengan kendala besar, moderat dan kecil bagi pembangunan jalan. Daerah-daerah ini akan diidentifikasi pada selembar atau beberapa lembar peta, yang dapat berupa: Peta Topografi  Daerah-daerah berlereng curam;  Garis pantai;  Jalan besar-kecil yang ada;  Jalan kereta api dan unsur-unsur prasarana lainnya; Peta Sosial / Budaya  Kota dan daerah-daerah pemukiman;  Kawasan obyek-obyek warisan budaya;  Bermacam unsur prasarana;  Fasilitas kelembagaan;  Kawasan budidaya intensif, seperti sawah beririgasi teknis dan kawasan  perkebunan; Peta Hidrologi  Garis pantai;  Sungai;  Lahan basah, danau dan kolam ikan; Peta Lingkungan  Flora dan fauna;  Kawasan konservasi dan hutan lindung;  Roman lanskap atau kawasan khusus; Peta Geologi  Garis patahan;  Tanah yang geologis sensitif;  Stabilitas lahan;  Kawasan yang mudah mengalami erosi dan longsor. Semua faktor tersebut di atas ini merupakan kendala dengan tingkat yang berbeda-beda. Tingkat (besar-kecilnya) kendala bagi setiap parameter akan ditentukan bagi tiap proyek pemilihan rute. Kemudian para perencana jalan raya dapat menyusun suatu seri peta kendala lingkungan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan opsi-opsi rute. Dengan menggunakan informasi tentang pertimbangan-pertimbangan ini, perencana jalan raya dapat mengidentifikasi sejumlah titik yang mungkin dilewati jalan. Dengan menghubungkan titiktitik ini melewati lahan berkendala kecil dan / atau, jika diperlukan, melewati lahan berkendala moderat dan berkendala besar, dihasilkan rute-rute terbaik. Kinerja umum dari berbagai opsi rute seyogianya diringkas dalam sebuah tabel. Ini memungkinkan peringkasan dampak-dampak dari berbagai rute terhadap bermacam kriteria / parameter. Pada umumnya, pada tahap ini, para perencana akan memberikan masukan-masukan tentang karakteristik desain jalan yang memenuhi syarat-syarat desain kecepatan dari jalan. Dengan demikian, terciptalah pengembangan berbagai opsi rute yang realistis, dipandang dari sudut kriteria perencanaan teknis yang tepat.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 19

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Semua masukan ini sering dikembangkan sebagai overlays dalam suatu sistem perencanaan jalan yang computerized, seperti MOSS, sebagai langkah final dari penggambaran opsi-opsi rute. 6.4.2 Analisis penyaring terpadu koridor jalan

Metode ini merupakan pengembangan dari metode analisis kendala. Jika digunakan analisis penyaring ini, semua lahan didalam koridor rute akan dievaluasi terhadap sejumlah faktor teknis, sosial / budaya, dan lingkungan didalam koridor rute. Lahan-lahan didalam koridor rute dievaluasi dan daerah-daerah yang mempunyai kesesuaian tinggi, moderat, dan sedang bagi pembangunan jalan berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, biasanya disajikan sebagai suatu matriks pemilihan rute atau matriks kesesuaian rute. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut dipetakan, dan dengan demikian membuat metode ini lebih transparan dalam menghadapi keadaan-keadaan di mana pemilihan rute perlu dijelaskan kepada pihak-pihak lain. Daerah-daerah berkendala besar bagi berbagai faktor tersebut di atas, akan mempunyai tingkat kesesuaian rendah bagi pembangunan jalan, sedangkan daerah-daearah berkendala kecil akan mempunyai tingkat kesesuaian tinggi. Pembangunan jalan di daerah-daerah tersebut terakhir ini akan menghadapi lebih sedikit masalah yang berkenaan dengan faktor-faktor teknis, sosial dan lingkungan yang telah dievaluasi. Kecuali di daerah-daerah dengan sedikit kompleksitas, berbagai faktor tersebut di atas ini hendaknya dipertimbangkan secara terpisah dan disusun peta-peta yang menggambarkan kendala-kendala teknis, lingkungan dan sosio-ekonomi-budaya. Selanjutnya, hendaknya disusun peta-peta komposit, sehingga para teknisi / perencana dapat memperhatikan kendala-kendala ini. Kemudian ditetapkan alternatif-alternatif rute. Biasanya diharapkan hanya daerah-daerah berkesesuaian tinggi dan berkendala kecil akan digunakan, namun keadaan seperti ini besar kemungkinannya tidak akan dijumpai. Dengan demikian, lokasi alternatif-alternatif rute ditempatkan di lahan-lahan berkendala moderat tetapi menghindari lahan-lahan berkendala besar. Dalam beberapa hal, mungkin diperlukan membuat keputusan untuk memberi bobot ( weighing) suatu faktor terhadap faktor lain. Misalnya, dalam suatu bagian koridor hanyalah lahan-lahan berkendala besar berupa lereng-lereng curam dan / atau hutan dan lahan-lahan yang berbatasan juga berkendala besar karena merupakan lahan pengembangan budidaya pertanian intensif, seperti sawah beririgasi teknis. Menghadapi kasus seperti ini, dalam opsi-opsi rute akan termasuk satu rute dengan kesesuaian lingkungan tinggi tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya rendah dan rute lain dengan kesesuaian lingkungan rendah tetapi kesesuaian sosio-ekonomi-budaya ttinggi. Jika dihadapi keadaan seperti ini, maka faktor-faktor lain, seperti kendala dan prioritas regional dan lokal perlu dipertimbangkan dalam proses pemliihan rute yang paling disenangi. Dengan menggunakan peta-peta kesesuaian dan peta-peta kendala bagi faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi, dan lingkungan, para teknisi / perencana dapat menetapkan rute-rute yang menggunakan daerah-daerah dengan tingkat kesesuaian tertinggi. Rute-rute inilah yang kemudian dipertimbagkan sebagai opsi-opsi yang masuk dalam pertimbangan (short-listed) bagi pemilihan rute yang disenangi. 6.4.3 Penetapan rute yang disenangi

Penetapan rute yang disenangi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Jika digunakan Analisis Kendala Umum, maka dilakukan kaji-ulang (review) oleh para ahli terhadap rute-rute ini dipandang dari sudut faktor-faktor teknis, sosio-ekonomi-budaya, dan lingkungan.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 20

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Teknisi / perencana jalan raya dan / atau perencana lingkungan hendaknya menyusun tabel untuk memudahkan membuat perbandingan antara opsi-opsi rute Untuk membuat perbandingan ini, berbagai ahli akan menentukan kesesuaian suatu rute atau berbagai bagian rute terhadap rute atau bagian rute lain, dan dengan demikian menentukan prioritas opsi rute. Juga ada kemungkinan berkonsultasi dengan berbagai instansi di tingkat proinsi atau tingkat lokal, maupun LSM-LSM untuk memperoleh pandangan mereka mengenai opsi-opsi rute. Yang diharapkan ialah suatu rute yang disenangi semua pihak dan yang hanya sedikit memliki kendala-kendala teknis, sosio-ekonomi-budaya dan/atau kendala-kendala lingkungan. Kemungkinannya kecil bahwa satu rute sesuai bagi semua kendala. Pada akhirnya, terserah pada para pengangambil keputusan yang tepat untuk memilih rute atas dasar pertimbanganpertimbangan teknis, sosial-ekonomi-budaya dan lingkungan. 6.4.4 Penetapan alinyemen rute final yang dikehendaki

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemilihan alinyemen vertikal dan horisontal dari rute yang disenangi merupakan bagian dari seluruh proses pemilihan rute. Pemilihan alinyemen tersebut selalu dilakukan melalui pertimbangan syarat-syarat alinyemen horisontal dan vertikal jalan dalam pemilihan opsi-opsi rute. Namun, penetapan alinyemen horisontal final hanya dilakukan ketika opsi yang disenangi diputuskan. Kemudian dalam bagian pertama DED (Detailed Engineering Design) atau dalam Tahap Pradesain, alinyemen horisontal dan vertikal diselesaikan dalam bentuk final. Kegiatan-kegiatan seperti diuraikan di atas dilakukan berdasarkan pemetaan rinci dan bila mungkin dilengkapi foto udara skala 1 : 10.000. Pada skala ini dapat diperoleh informasi rinci tentang tataguna tanah dan sifat-sifat lahan, yang memungkinkan penentuan lokasi terbaik bagi alinyemen final. Perencanaan teknis jalan hanya dapat dimulai bila rute final telah ditetapkan.

7.
7.1

Konsultasi masyarakat untuk pemilihan rute
Penetapan koridor perencanaan

Penetapan Koridor Perencanaan dilakukan pada awal tahap perencanaan umum. Pada tahap ini, mungkin dilangsungkan diskusi-diskusi terbatas dengan pemerintah propinsi dan kabupaten / kota mengenai keperluan proyek dan mengenai gagasan-gagasan awal pemerintah tersebut tentang pengembangan jalan dan lokasi proyek secara umum. Karena koridor perencanaan ini bar merupakan peta lokasi proyek secara makro, masukan dari masyarakat pada tahap ini tidak penting artinya. Berdasarkan diskusi-diskusi tersebut di atas, dapat ditetapkan suatu koridor yang luas. Koridor ini kelak akan mengandung koridor rute. 7.2 Penetapan koridor rute

Pada tahap ini perlu dilibatkan pemerintah propinsi dan kanupaten / kota. Dalam beberapa keadaan tertentu, perlu juga dilibatkan instansi-instansi terkait lainnya serta LSM, jika diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus yang tidak seluruhnya tercakup oleh instansi-instansi pemerintah.

PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN

21

Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Pada tahap ini, mungkin melalui loka karya, berbagai instansi pemerintah dapat dilibatkan dalam suatu proses untuk mengidentifikasi berbagai kendala dalam koridor perencanaan dan membantu menetapkan tepi koridor rute. Dalam hal ini, semua pihak yang mempunyai kepentingan harus menjamin bahwa mereka tidak merubah batas-batas koridor secara sepihak. Di samping itu, diperlukan konsultasi masyarakat melalui instansi-instansi pemerintah lokal dan / atau LSM, untuk memperoleh masukan berupa tanggapan dan saran mereka tentang aspek sosial dan lingkungan di dalam koridor. Masukan ini akan membantu menentukan kendala-kendala terhadap pengembangan opsi rute, dan juga akan memberikan fokus dan arti lokal aspek teknis dan kendala-kendala lingkungan. 7.3 Penetapan opsi-opsi rute

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari instansi-instansi terkait dan masyarakat tentang kendala-kendala sosial dan lingkungan di dalam koridor, dapat dilakukan pengembangan opsiopsi rute. Hasil pengembangan opsi-opsi rute tersebut diinformasikan kembali kepada masyarakat. Pada tahap ini, mungkin ada justifikasi untuk bertanya kepada masyarakat yang lebih luas lagi untuk mempertimbangkan opsi-opsi rute yang telah dikembangkan dan memberikan komentar lebih lanjut tentang kendala-kendala dan peluang-peluang yang mereka sampaikan. P ada tahap ini, seyogianya dilibatkan “kom unitas -kom unitas yang secara potensial terpengaruh” di sepanjang opsi-opsi rute yang telah ditetapkan, baik secara langsung maupun melalui wakil komunitas-komunitas tersebut. Masukan-masukan yang diperoleh dari komunitas-komunitas atau wakil-wakilnya digunakan untuk menyesuaikan opsi-opsi rute dan / atau memilih opsi rute yang dikehendaki. Sebelum kegiatan ini, mungkin bermanfaat untuk mengkaji-ulang tanggapan yang disampaikan masyarakat kepada pemerintah propinsi dan pemerintah lokal, yang bersangkutan dengan opsi-opsi rute tersebut. 7.4 Penetapan rute yang dikehendaki

Sebagai tambahan pada pertimbangan sejumlah faktor pemilihan rute, perlu diperhatikan tanggapan-tanggapan masyarakat. Tanggapan-tanggapan ini hendaknya dipertimbangkan terutama bila terjadi keresahan masyarakat sehubungan dengan dampak lingkungan potensial, termasuk dampak sosial. Bila rute yang dikehendaki telah ditetapkan, suatu konsultasi masyarakat final dapat diselenggarakan untuk menjelaskan rute yang telah dipilih sebagai rute yang dikehendaki, dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang proyek serta penetapan jadwal waktu pelaksanaannya. 7.5 Konsultasi masyarakat lebih lanjut

Konsultasi ini dilakukan dengan “penduduk yang terkena dam pak proyek” dan dapat dilakukan konsultasi individual. Selain dengan penduduk yang terkena dampak langsung proyek, perlu juga untuk berkonsultasi dengan mereka yang tinggal berbatasan dengan rute yang telah dipilih, tetapi tidak terkena dampak langsung pengadaan tanah.
PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 22

tentang pemindahan penduduk (resettlement) yang efektif. Pada tahap ini keterlibatan masyarakat berubah dari partisipasi menjadi konsultasi karena hanya sedikit kesempatan tersedia bagi masukan masyarakat untuk merubah lokasi dan / atau hasil perencanaan pembangunan jalan. Konsultasi ini mungkin lebih banyak menyangkut masalah bentuk kompensasi yang efektif dan. dalam beberapa hal. Partisipasi masyarakat dapat juga berlangsung mengenai keterpaduan jalan baru dengan jalanjalan sekunder dan bagaimana merancang tepi dan batas jalan. PEDOMAN TEKNIS PEMILIHAN RUTE JALAN 23 .Lampiran A – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Konsultasi ini berlangsung pada tahap studi kelayakan. Namun. hal ini tidak termasuk dalam tugas pemilihan rute dan dibahas dalam pedoman-pedoman lain. Konsultasi secara terus-menerus dengan pemerintah lokal mengenai pengendalian penggunaan tanah yang berbatasan dengan damija jalan baru sangat penting bagi hasil desain proyek.

misalnya Departemen/Dinas Kehutanan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran B Pedoman Teknis Konsultasi Masyarakat B. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi. kabupaten/kota. kabupaten/kota. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). B. B. panjang jalan dan tahun anggaran. dan 4) Konsultasi perencanaan teknis jalan. penduduk terkena dampak. Konsultasi konsep rencana sistem jaringan jalan. dll. 2) Konsultasi pemilihan koridor rute jalan. 3) Konsultasi kelayakan ruas jalan. yaitu: 1) Konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan. 2) Bapedalda. kabupaten/kota. 4) Masyarakat. Melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan.2 Konsultasi Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi rencana umum sistem jaringan jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan. Melakukan penyaringan lingkungan.1 Menyusun Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan a) Menyusun konsep rencana umum sistem jaringan jalan berdasarkan data dokumen perencanaan sistem jaringan jalan yang telah ada. b) Dalam menyusun konsep rencana umum tersebut akan memperhatikan antara lain hal-hal seperti yang tertera pada KOTAK 1 berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 1 . dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. 5) Stakeholder lainnya yang mempunyai peran pada penanganan kasus-kasus khusus.1 Penjelasan Umum Tata cara ini menguraikan pelaksanaan konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. Pelaksanaan konsultasi masyarakat pada dasarnya melibatkan 5 (lima) kelompok pelaku utama berikut ini : 1) Pemrakarsa. mencakup rencana lokasi proyek. 3) Bappeda. dalam hal ini Dinas PU provinsi. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing.2.

000). masyarakat (misal tokoh masyarakat). yang menghasilkan hal-hal berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang menentukan prioritas pelaksanaan proyek PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 2 .2.  Kemungkinan adanya pengadaan tanah  Menuangkan informasi tersebut di atas ke dalam peta dengan ukuran skala yang memadai (misal skala 1 : 250. kawasan dan makam yang dikeramatkan. Bapedalda. lokasi dan penyebaran masyarakat terasing dan lain sebagainya. Bappeda.  Masukan dari masyarakat tentang status dan tata guna lahan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK I  Rencana koridor sistem jaringan jalan. B.  Masukan dari Bappeda tentang program-program pembangunan daerah dan penataan ruang sesuai rencana strategi pemerintah daerah (termasuk skala prioritas jaringan jalan yang direncanakan daerah). termasuk alasan perlunya proyek dan tahun anggaran pelaksanaan pembangunannya. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan lingkungan dan dampak terhadap lingkungan geofisik. biologi dan sosial yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi sebagai bahan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. misalnya masukan dari BPN tentang status fungsi lahan. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing (bila ada). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.  Uraian status lahan dan tata guna lahan (land use and land status) dari rute koridor jalan. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup pemrakarsa. area sensitif misalnya kawasan permukiman tradisional yang perlu dilindungi.  Masukan dari stakeholder lainnya.2 Konsultasi Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung di kantor stakeholder (misal di Kantor Bappeda). situs-situs purbakala. dan stakeholder lainnya (misal BPN. terutama (kalau ada) terhadap keberadaan kawasan lindung dan / atau daerah sensitif lainnya (berdasarkan kriteria tentang kawasan lindung dan daerah sensitif).

maka selanjutnya melakukan pemutakhiran rencana sistem jaringan jalan. Membuat studi kelayakan terhadap altenatif rute jalan.3.  Identifikasi kendala-kendala yang diperkirakan timbul dari rencana keberadaan rute koridor jalan. B.  Rumusan tentang lokasi proyek yang didukung oleh masyarakat (peserta konsultasi). kab/kota) serta penerapan peta padu serasi. Selanjutnya secara bersama-sama masukan dari Bappeda dan Bapedalda dipergunakan dalam rangka menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan. B.2. Oleh karena itu bahan dan/atau informasi yang akan dikonsultasikan dalam kegiatan pemilihan koridor rute dan kebutuhan pengadaan tanah PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 3 . khususnya areal sensitif.2. Masukan dari Bapedalda dapat berupa tanggapan dan saran dalam rangka menampung umpan balik. UKL/UPL atau SOP). Sedangkan konsultasi dengan Bapedalda ditempuh dalam rangka mendiskusikan hasil penyaringan (AMDAL.  Rumusan kendala-kendala yang diperkirakan timbul dalam kegiatan pemilihan rute koridor dan kebutuhan pengadaan tanah (kalau ada).3 Konsultasi Pilihan Koridor Rute Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi pilihan koridor rute jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari rencana sistem jaringan jalan. B.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Identifikasi status lahan dan tata guna lahan yang akan terkena rencana keberadaan rute koridor jalan.4 Melakukan Penyaringan Lingkungan Kegiatan konsultasi penyaringan lingkungan dilakukan dengan Bappeda dan Bapedalda. Konsultasi dengan Bappeda dilaksanakan dalam rangka meminta masukan terhadap identifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rute koridor jaringan jalan. Masukan dari Bappeda tersebut berupa rencana penataan ruang wilayah (prov. Melakukan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan.1 Mempelajari Rencana Sistem Jaringan Jalan Hasil konsultasi masyarakat pada tahap perencanaan umum telah menetapkan adanya proyek-proyek prioritas. Menetapkan koridor jalan terpilih Menyusun konsep KA-ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai B. dalam bentuk sebagai berikut:  Rumusan master plan jaringan jalan (RUTRK/RUTRP). khususnya penyaringan lingkungan yang terdapat pada Lampiran lain. Tata cara konsultasi penyaringan lingkungan secara lebih rinci dengan menerapkan pedoman pelaksanaan AMDAL.3 Melakukan Pemutakhiran Rencana Sistem Jaringan Jalan Berdasarkan data identifikasi tersebut di atas.

yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi rencana rute alternatif jalan dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat. 4. Desain wilayah (kota/perdesaan). 3.3 Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif Rute Jalan Kegiatan konsultasi pemilihan alternatif rute jalan akan berkaitan dengan hal-hal berikut ini : 1. Rekayasa lingkungan (teknis pemilihan rute). a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian awal tingkat kendala lingkungan. lebar jalan. yakni masyarakat pemerhati dan masyarakat terkena dampak (wakil masyarakat) PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 4 .1 Konsultasi berkaitan dengan AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL) Pelaksanaan Konsultasi Masyarakat a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan publikasi di suatu Harian Umum setempat.  Luas lahan yang dibutuhkan bagi tiap rute alternatif jalan  Ketetapan hasil penyaringan AMDAL. antara lain akan mencakup hal-hal seperti pada KOTAK 2 berikut : KOTAK 2  Informasi tentang rencana rute alternatif jalan.  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).3. Format publikasi mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman.3. status lahan dan tata guna lahan). UKL/UPL B. Hal-hal yang dipublikasikan seperti tampak pada KOTAK 3 : b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup masyarakat yang berkepentingan.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Potensi dampak yang diperkirakan dapat terjadi pada tiap rute alternatif B.2 Membuat Studi Kelayakan Terhadap Alternatif Rute Jalan. terutama :  Lokasi keberadaan rute alternatif jalan yang direncanakan. 2.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan bagi proyek-proyek prioritas pada tahap pra studi kelayakan ini. AMDAL (khususnya pelingkupan dalam KA-ANDAL).  Panjang ruas jalan. lebar damija yang ada.3. B.3. Analisa Dampak Sosial (khususnya berkaitan dengan pengadaan lahan).

3. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup stakeholder yang berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN). b) Mempergunakan daftar identifikasi dampak tersebut sebagai materi pelingkupan Konsep Awal Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan KOTAK 3        Nama dan alamat pemrakarsa proyek Lokasi dan luas kegiatan proyek Jenis proyek Produk yang dihasilkan Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan serta penanganannya Dampak lingkungan hidup yang akan timbul Tanggal pemasangan pengumuman dan batas waktu pemberian saran. antara lain tentang kepentingan sosial dan lingkungan mereka di dalam koridor. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat c) Sasaran konsultasi  Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari masyarakat. pendapat. dan tanggapan dari warga masyarakat  Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi.. B. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Perumusan Rencana Tindak a) Melakukan analisa saran pendapat dan tanggapan yang diterima dari hasil publikasi yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk :  Rumusan dampak terutama dampak sosial dan rekayasa lingkungan yang akan ditimbulkan oleh setiap alternatif rute jalan. Camat. termasuk tokoh LKMD.2 Konsultasi berkaitan dengan analisa dampak sosial (pengadaan lahan) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. misal di Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.  Rumusan keberatan ataupun dukungan dari masyarakat terhadap rencana proyek. antara lain sebagai berikut : 5 PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT . Lurah/Kepala Desa.3.

Bappeda. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.2 Konsultasi berkaitan dengan rekayasa lingkungan (pemilihan rute) a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung.  Masukan dari Bappeda mengenai kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. LSM dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Camat.3.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin masyarakat setempat mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 6 . stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. termasuk tokoh LKMD. Lurah. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. Lurah/Kepala Desa. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.3. B.. termasuk klas jalan. misalnya dari BPN tentang status fungsi lahan.  Pertemuan ini dilakukan untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut mengenai lokasi alternatif rute jalan dan menanyakan kepada mereka kemungkinan reaksi dari masyarakat yang terkena dampak proyek  Membahas tentang kemungkinan permasalahan yang akan muncul pada pembebasan lahan dalam pemilihan rute. Lurah. LSM dan tokoh masyarakat lainnya) tentang status kepemilikan lahan masyarakat (misal hak ulayat dsb) dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak.  Mendiskusikan informasi/masukan dari masyarakat (misal Camat.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bapedalda tentang daerah sensitif dan daya dukung lingkungan.

Lurah/Kepala Desa. terutama dalam rencana pengadaan tanah. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan.2 Konsultasi berkaitan dengan desain kota/perdesaan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. Menyusun Konsep KA-ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan KA-ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain.  Membahas bersama tentang issu-issu penting dalam suatu proyek pembangunan termasuk desain kota/perdesaan. B. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan.4 Konsultasi Kelayakan Ruas Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi kelayakan ruas jalan adalah sebagai berikut: PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 7 . antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda tentang pemanfaatan ruang wilayah. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk melaksanakan penilaian KA-ANDAL B. misal di Kantor Bappeda atau Kantor Camat wilayah kecamatan yang sebagian wilayahnya akan terkena dampak. misalnya dari BPN dan Kehutanan tentang status dan fungsi lahan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. kondisi prasarana dan sarana. Camat.3. Apabila dokumen KA-ANDAL ini sudah dipersiapkan. dan/atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memberikan masukan tentang keberadaan masyarakat terasing. .. LSM dan tokohtokoh masyarakat yang berpengaruh.5. termasuk tokoh LKMD.  Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih (tinggi/sedang/rendah). .Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. dan (status lahan konservasi). masukan tentang apa yang masyarakat setempat butuhkan dalam suatu proyek pengembangan kota/perdesaan.3.4 Menetapkan Koridor Jalan Terpilih Melakukan analisa terhadap masukan peserta konsultasi tersebut sebagai bahan penetapan rute koridor jalan terpilih yang menghasilkan berikut :  Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute terpilih. ketua RT dan RW pada wilayah yang akan terkena dampak proyek jalan. B.3.3. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda. B.

b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda dan stakeholder yang berkaitan dengan status lahan (misal BPN dan Kehutanan). antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Bappeda mengenai kesesuaian program daerah berkaitan dengan keberadaan koridor jalan. misal di Kantor Bappeda. status lahan dan tata guna lahan). Melakukan studi ANDAL dan mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai.  Kondisi geofisik (bila perlu)  Sarana dan prasarana  Dampak hipotetik penting yang dapat terjadi pada koridor jalan terpilih B. Melakukan konsultasi kelayakan koridor jalan terpilih.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari koridor jalan terpilih. status lahan konservasi serta tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah).3 Melakukan Konsultasi Kelayakan Koridor Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. Membuat studi kelayakan koridor jalan terpilih.4. antara lain mencakup perkiraan luasan tanah yang dibutuhkan. Menetapkan rute terpilih B. a) Mempelajari dokumen tingkat kelayakan teknis dari masing-masing alternatif rute jalan b) Membuat penilaian tingkat kendala lingkungan.  Mendiskusikan informasi/masukan dari stakeholder lainnya. B. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi. Hasil konsultasi tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam analisis dampak lingkungan (ANDAL). PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 8 .  Kondisi biologi (misal daerah konservasi dan hutan lindung).4. terutama dalam rencana pengadaan tanah. misalnya dari BPN dan Kehutanan akan memeriksa kesesuaian dengan tata ruang berkaitan dengan keberadaan koridor jalan.1 Mempelajari Koridor Jalan Terpilih Hasil konsultasi masyarakat pada tahap pra kelayakan telah menetapkan koridor jalan terpilih. kondisi prasarana dan sarana. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. yakni :  Kondisi lingkungan di lokasi koridor jalan terpilih dan sekitarnya :  Kondisi sosial budaya (gambaran umum tipologi kondisi sosial masyarakat.2 Membuat Studi Kelayakan Koridor Jalan Terpilih.4.

B. antara lain sebagai berikut :  Dari masyarakat yang akan terkena dampak (wakil) misal tentang tanggapan dan masukan dari proses penilaian AMDAL. Hasil konsultasi rapat komisi AMDAL tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sesuai saran dan penilaian Komisi. RKL/RPL dari rute terpilih. penetapan rute terpilih juga akan ditentukan oleh pertimbangan aspek teknis dan ekonomis. a) Metode konsultasi Penyelenggaraan konsultasi melalui kegiatan rapat Komisi AMDAL yang waktu dan tempatnya diatur oleh Bapedalda.4.4. dokumen ANDAL.4. B. B. Apabila Komisi telah menyetujui hasil studi ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lingkungan dalam penetapan rute terpilih. misal di Kantor Bapedalda.5.5. Melakukan konsultasi konsep perencanaan teknis jalan. Disamping pertimbangan aspek lingkungan. Melakukan Studi ANDAL dan Mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai Tata cara penyusunan studi ANDAL akan mengikuti pedoman tersebut pada Lampiran lain. akan dicermati tentang hal-hal berikut ini : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 9 . Membuat konsep LARAP. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh penilaian hasil studi ANDAL. RKL/RPL dan tanggapan dari peserta konsultasi. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup anggota komisi teknis dan stakeholder yang berkaitan dengan kasus yang dibahas termasuk masyarakat yang akan terkena dampak. Konsultasi Perencanaan Teknis Jalan Langkah-langkah kegiatan konsultasi perencanaan teknis jalan adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Mempelajari hasil studi kelayakan. Finalisasi dokumen LARAP proyek jalan. Dokumen ANDAL. RKL/RPL Dari dokumen yang telah disyahkan oleh Komisi AMDAL. Menetapkan Rute Terpilih Hasil konsultasi dengan para stakeholder dan komisi AMDAL akan merupakan bahan pertimbangan lingkungan dalam menetapkan rute terpilih. Menetapkan desain teknis jalan. RKL/RPL. Apabila dokumen ANDAL ini sudah dipersiapkan.1 Mempelajari Hasil Studi Kelayakan.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan B. selanjutnya mengajukan ke Bapedalda untuk dinilai.5. RPL dalam perencanaan teknis jalan.  Bapedalda akan menilai hasil studi ANDAL. Diskusi penjabaran RKL.

Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) 2) 3) 4) 5) Hasil evaluasi terhadap rencana kegiatan proyek jalan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup.  Mengkaji masukan dari Tim penyusun AMDAL tentang upaya penanganan dampak tersebut. c) Pelaksanaan konsultasi Diskusi ini dimaksudkan untuk menjabarkan RKL.5. antara lain sebagai berikut :  Masukan dari Tim penyusun AMDAL mengenai rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) yang diuraikan dalam kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari upaya penanganan dampak. baik berupa upaya pencegahan. memperbaiki dan kompensasi terhadap dampak yang terjadi. Lokasi dan sebaran terjadinya dampak penting. B. LKMD. RPL Dalam Perencanaan Teknis Jalan. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari peserta konsultasi untuk penyempurnaan konsep perencanaan teknis dan pembuatan konsep LARAP. B.2 Diskusi Penjabaran RKL. Dampak penting yang terjadi akibat kegiatan proyek jalan Tolok ukur setiap dampak penting lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan proyek jalan. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 10 . wakil masyarakat yang terkena dampak). misal di Kantor Bappeda. dan mencoba menuangkan ke dalam rencana teknis jalan. dan stakeholder lainnya berkaitan dengan pengadaan tanah (misal BPN dan Camat). RPL dalam perencanaan teknis jalan. meminimalisasi. Jenis-jenis penanganan dampak penting yang memuat kriteria dan spesifikasi yang diinginkan dari penanganan dampak. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup tim perencana dan tim penyusun AMDAL. Masyarakat (Kepala desa/lurah.3 Melakukan Konsultasi Konsep Perencanaan Teknis Jalan a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. a) Metode konsultasi Menyelenggarakan diskusi langsung antara para perencana dan tim penyusun AMDAL mengenai program RKL dan RPL yang tepat yang akan dimasukkan dalam desain teknis . misal di Kantor pemrakarsa proyek. b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bappeda.5.

Bappeda.4 Konsultasi Konsep LARAP a) Metode konsultasi Menyelenggarakan konsultasi melalui kegiatan pertemuan dan diskusi langsung. terutama :  Lokasi keberadaan alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Panjang ruas jalan. wakil masyarakat yang terkena dampak). dan dirinci berdasarkan status kepemilikan dan penguasaan. antara lain :  Luas lahan dan aset di atasnya yang harus dibebaskan.  Perkiraan dampak/kerugian potensial yang mungkin timbul (khususnya yang menyangkut sumber matapencaharian /pendapatan dan fasilitas umum yang dianggap strategis)  Kelompok masyarakat dan strategi partisipasi mereka dalam setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (jika ada)  Lembaga yang akan menangani kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali dari Pemda setempat. c) Pelaksanaan konsultasi Konsultasi konsep LARAP dimaksudkan untuk memperoleh masukan dalam membuat Dokumen Final LARAP proyek jalan. misal di Kantor Bappeda. antara lain seperti pada KOTAK 4 KOTAK 4  Informasi tentang kegiatan proyek (ruas jalan). b) Peserta konsultasi Peserta konsultasi mencakup Bapedalda. antara lain sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 11 . B. status penggunaan/ jenis lahan dan kelas tanah.  Informasi detail dari masyarakat tentang area sensitif  Masukan dari BPN dan Camat tentang angggota panitia pengadaan tanah. lebar damija yang ada. dan Masyarakat (Kepala desa/lurah. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan dianalisa yang hasilnya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat konsep LARAP.  Jumlah penduduk/rumah tangga (KK) yang terkena dampak dan yang terpaksa harus dipindahkan. lebar jalan. dan  Luas lahan terkena alinyemen rute akhir terpilih yang direncanakan  Informasi rinci tentang kondisi lingkungan sosial ekonomi budaya di lokasi rencana alinyemen rute akhir terpilih dan sekitarnya. LKMD.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bappeda mengenai pengendalian pemanfaatan ruang.5.

jumlah pemilik. yang hasilnya berupa Dokumen Final LARAP antara lain memuat berikut ini:  Indentifikasi luas lahan. PEDOMAN TEKNIS KONSULTASI MASYARAKAT 12 . aset di atasnya.  Masukan dari masyarakat tentang data asset dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak. B. persepsi.5. Melakukan koordinasi rencana pelaksanaan dengan Bappeda dalam rangka pengesahan dokumen LARAP dari Bupati/Walikota. b) Dalam gambar desain jalan yang ditetapkan tersebut tertuang antara lain rumusan penanganan dampak penting dari komponen lingkungan (geofisik-kimia.  Identifikasi cara-cara penanganan dampak rencana pembebasan lahan.  Identifikasi tingkat harga tanah dan asetnya. dan dampak-dampak sosial lainnya tersebut.6 Menetapkan Desain Jalan a) Melakukan penetapan desain jalan setelah dokumen LARAP disyahkan.5. dan selanjutnya memasukkan kedalam lingkup materi tender pekerjaan implementasi.Lampiran B – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Masukan dari Bapedalda tentang tata cara dan evaluasi monitoring. B. biologi dan sosial) yang terjadi.  Masukan dari Bappeda mengenai keterpaduan program implementasi LARAP.5 Finalisasi Dokumen LARAP Proyek Jalan Melakukan analisis terhadap masukan para peserta konsultasi tentang konsep LARAP.

jenis-jenis proyek jalan dibedakan dalam beberapa kategori sbb. lokasi alinyemen jalan terhadap kawasan lindung (berbatasan langsung).2 Penentuan Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Jenis-jenis proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL ditentukan berdasarkan: a) b) c) skala / besaran rencana kegiatan (panjang jalan dan/atau luas lahan yang diperlukan). pemrakarsa proyek harus memperhatikan peraturan yang paling baru.: a) b) c) Pembangunan jalan tol Pembangunan jalan layang dan subway Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA:  di kota besar / metropolitan  di kota sedang  di kota kecil.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran C (Normatif) Pedoman Teknis Penyaringan Rencana Kegiatan Pembangunan Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL C.1 Jenis-Jenis Proyek Jalan Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penyaringan proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. Peningkatan jalan dalam DAMIJA Pembangunan jembatan.4 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi UKL dan UPL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi UKL dan UPL tercantum pada Tabel 2. C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 1 . C. Catatan: Kriteria kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL tersebut. pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat. Karena itu. dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya 5 tahun sekali.3 Kriteria Skala / Besaran Proyek Jalan yang Wajib Dilengkapi AMDAL Kriteria skala / besaran kegiatan proyek yang wajib dilengkapi AMDAL tercantum pada Tabel 1. d) e) C.

tanggal 22 Mei 2001 Keterangan:     Kota Metropolitan Kota Besar Kora Sedang Kota Kecil : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk : jumlah penduduk > 1. dampak kebisingan.000. getaran. gangguan visual dan dampak sosial. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas. Pembangunan jalan layang dan subway > 2 km 2.000 – 1. emisi yang tinggi.atau luas pengadaan tanah b.17 Tahun 2001. 1. Bangkitan lalu lintas.000 jiwa 500. getaran.000 jiwa PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 2 . dampak kebisingan. Pedesaan : .Panjang . b.000 – 100.000.000 jiwa 20. getaran. getaran. Jenis Proyek Pembangunan jalan tol Skala/Besaran Semua Besaran Alasan Ilmiah Khusus Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi.Panjang > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. dampak kebisingan. dampak kebisingan. Pembangunan jalan dan / atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar DAMIJA: a.000 jiwa 100.Panjang . gangguan visual dan dampak sosial.000 – 500. dampak kebisingan. getaran.atau luas pengadaan tanah c. emisi yang tinggi. emisi yang tinggi. Di kota besar / metropolitan : . Bangkitan lalu lintas. a. Di kota sedang : .Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapai dengan AMDAL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. gangguan visual dan dampak sosial. > 10 km > 10 ha > 30 km Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.

3 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . Jenis Proyek Besaran 1. yaitu:  panjang ruas jalan (km). dan skala / besaran kegiatannya. Penentuan wajib AMDAL atau UKL dan UPL. Panjang pengadaan tanah Panjang pengadaan tanah > 5 km 1 km . Penyusunan laporan hasil penyaringan.  luas areal pengadaan tanah (ha).1 Langkah-Langkah Kegiatan Penyaringan Proses penyaringan dilakukan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) C. b.5.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Jenis Kegiatan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL (Berdasarkan skala / besaran rencana kegiatan ) No. 2. Penghitungan perkiraan biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL. Di kota besar / metropolitan: b. Identifikasi Jenis dan Besaran Rencana Kegiatan Proyek Identifikasilah jenis rencana kegiatan proyek menurut klasifikasi tersebut pada Butir E.5 km 2 ha .5.2 a) Identifikasi jenis dan besaran rencana kegiatan proyek.10 ha > 20 m > 60 m Di kota sedang: - 3. Pembangunan Jembatan a. Peningkatan jalan Tol dalam DAMIJA Pembangunan / peningkatan jalan di luar DAMIJA a.5 Prosedur Pelaksanaan Penyaringan C.1. Di kota besar / metropolitan Di kota sedang C. Identifikasi komponen lingkungan hidup yang sensitif.5 ha 3 km .10 km 2 ha . Identifikasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi.

Data tersebut di atas dapat diperoleh dari laporan pra-studi kelayakan dan / atau studi lainnya. berbatasan langsung dengan. dan konsultasi dengan penduduk setempat (bila perlu).  Perkiraan volume pekerjaan tanah (galian / timbunan).5.3 Identifikasi Komponen Lingkungan Hidup yang Sensitif C.  Lebar pengadaan tanah yang diperlukan.3.  Lebar perkerasan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.  Alat-alat berat yang diperlukan. • Lebar badan jalan.  Konsultasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun propinsi atau kabupaten / kota. antara lain: • Fungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). atau dari Dinas terkait di tingkat propinsi atau kabupaten / kota.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.  Jumlah bahan bangunan yang diperlukan (batu. e) Informasai tentang lokasi cagar budaya termasuk situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dapat diperoleh dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.5. tercantum pada Kotak 1. berbatasan langsung. berdekatan atau cukup jauh dari kawasan lindung. d) Data tentang lokasi kawasan hutan lindung dapat dilihat dari peta Tata Guna Hutan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan. pasir.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. b) Jenis-jenis kawasan lindung seperti tersebut dalam penjelasan Pasal 7 Ayat (1) UndangUndang No.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Catatlah deskripsi rencana kegiatan proyek yang lebih detail (bila ada).1 Keberadaan Kawasan Lindung a) Periksalah apakah lokasi proyek berada dalam. atau berdekatan dengan kawasan lindung. dan Pasal 37 Keputusan Presiden No. Namun bila data sekunder telah cukup lengkap.  Jenis lapis perkerasan.1. Data tentang keberadaan kawasan lindung di lokasi rencana kegiatan proyek dan sekitarnya dapat diperoleh dengan cara:  Kajian data sekunder. Lakukan peninjauan lapangan (bila perlu) terutama untuk memastikan apakah alinyemen jalan melalui. peninjauan lapangan tidak diperlukan. c) Hasil identifikasi rencana kegiatan proyek agar dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C.  Peninjauan lapangan. dll). 4 e) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL . C. c) Informasi tentang keberadaan kawasan lindung secara makro dapat diketahui antara lain dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi atau kabupaten / kota.

3. dan foto udara (bila tersedia). 8. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Kawasan Bergambut. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove). Kawasan Sekitar Danau / Waduk. 15.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Daftar Kawasan Lindung 1. seperti: • jaringan jalan. • kabel listrik. 12. dan Daerah Pengungsian Satwa). peta tanah. • telepon. Sempadan Pantai. c) Komponen lingkungan lainnya yang perlu diidentifikasi adalah sarana dan prasarana yang mungkin terkena dampak kegiatan konstruksi. 6. Kawasan Resapan Air. muara sungai. peta geologi. peninjauan lapangan akan sangat berguna. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah yang bernilai tinggi). Suaka Marga Satwa. Lahan pertanian produktif Areal berlereng curam. wilayah pesisir.2 Areal Sensitif Lainnya a) Telitilah apakah di lokasi proyek dan sekitarnya terdapat areal sensitif lainnya yang termasuk kategori fragile area antara lain: • • • • b) Areal permukiman padat. 9. Bila perlu. 7. Taman Nasional. dan • pipa gas. Kawasan Hutan Lindung. 3. perairan darat. Daerah komersial. 11. Kawasan Rawan Bencana Alam. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 5 .5. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut. 10. peta penggunaan lahan. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem). 14. Kotak 1 C. Hutan Wisata. • jalan kereta api. daerah deengan budaya masyarakat istimewa. gugusan karang atau terumbu karang. • saluran air. 13. 5. Taman Hutan Raya. Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Data tentang areal sensitif ersebut dapat dianalisis dari peta topografi. Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. • pipa air. Sempadan Sungai. 4. 2.

merubah komposisi vegetasi. (3) Perkirakan kemungkinan perubahan ekosistem (kondisi lingkungan) serta akibat lanjutannya yang mungkin terjadi baik yang menyangkut aspek fisik.5. konstruksi. (2) Identifikasilah karakteristik ekosistem di lokasi tiap komponen kegiatan dan sekitarnya yang mungkin terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan tersebut (lihat hasil identifikasi komponen lingkungan sensitif yang telah diuraikan pada Butir C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 6 . perlu diperhatikan juga kemungkinan adanya tempat-tempat yang sensitif terhadap kebisingan seperti: • sekolah. b) Cara identifikasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan besaran kegiatan proyek tersebut pada Butir C. di tiap lokasi kegiatan proyek yang telah terdaftar. menimbulkan gangguan sosial seperti pengadaan tanah dan pemindahan penduduk .4 Identifikasi Dampak Lingkungan yang Mungkin Terjadi a) Identifikasilah dampak lingkungan yang mungkin terjadi secara sistematis. kebisingan. • rumah sakit.5. Jenis kegiatan yang potensial menjadi sumber dampak antara lain yang bersifat: • • • • merubah bentang alam/lansekap seperti galian / timbunan tanah. pengoperasian base camp dan stone crusher. Perubahan kondisi (kualitas) lingkungan serta akibat lanjutannya merupakan dampak lingkungan yang mungkin terjadi. dan pasca konstruksi.3) .5. konstruksi dan pasca konstruksi.5. C. dan sensitifitas komponen lingkungan tersebut pada Butir C.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Di samping itu.2 yang merupakan sumber dampak. yang secara skematis tercantum pada Gambar 1. diurut mulai dari tahap pra-konstruksi. dan • tempat ibadat.5. c) Identifikasi dampak lingkungan dilakukan melalui urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Buat daftar komponen rencana kegiatan proyek yang potensial merupakan sumber dampak. biologi maupun sosial-ekonomi dan budaya. C. pencemaran air). misalnya kegiatan land clearing. mulai dari tahap pra-konstruksi.5 Penentuan Wajib AMDAL atau UKL/UPL a) Proses penentuan wajub AMDAL atau UKL dan UPL dilakukan dalam empat tahap. menimbulkan pencemaran lingkungan (polusi udara. d) Hasil identifikasi komponen lingkungan hidup sensitif dicatat dalam formulir Laporan Hasil Penyaringan AMDAL seperti tercantum pada Lampiran C. yang mungkin terkena dampak.3.1. seperti kegiatan pengangkutan material.

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan GAMBAR 1 Prosedur Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL Rencana Proyek Jalan Tahap 1 Memenuhi Kriteria Wajib AMDAL ? Ya Tidak Tahap 2 Berbatasan dengan Kawasan Lindung Tidak Ya Tidak Berdampak Tidak Penting ? Tahap 3 Tidak Ya Tidak Memenuhi Kriteria UKL/UPL Wajib UKL/UPL Tidak Tahap 4 SOP Ya Wajib UKL / Ya UPL Wajib AMDAL PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 7 .

maka proses penyaringan dilanjutkan dengan tahap kedua. makin mahal biayanya. biaya studi lingkungan terdiri dari komponen-komponen biaya: • personil (tenaga ahli dan penunjang). Bila tidak. Sebaliknya. Pada umumnya. Kalau tidak. Makin banyak jenis isu lingkungan yang perlu ditelaah.4 termasuk kategori dampak besar dan penting atau tidak. Jika memenuhi kriteria tersebut. makin banyak tenaga ahli yang diperlukan. maka rencana kegiatan proyek wajib diliengkapi UKL dan UPL. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 8 . maka proyek itu wajib dilengkapi AMDAL. Catatan: Untuk mengevaluasi pentingnya dampak gunakanlah kriteria tercantum pada Tabel 3. • peralatan dan material.6 Penghitungan Perkiraan Biaya Studi AMDAL atau UKL/UPL a) Apabila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL. komponen biaya terbesar adalah biaya personil.5. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap keempat.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Pertama: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria wajib AMDAL tercantum dalam Tabel 1. hitunglah perkiraan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi lingkungan (AMDAL atau UKL dan UPL) tersebut. maka proyek yang bersangkutan wajib dilengkapi AMDAL. d) Komponen biaya survei lapangan tergantung dari lokasi proyek. C. proyek tersebut bebas AMDAL maupun UKL dan UPL. Bila tidak. jika tidak memenuhi kriteria tersebut. c) Tahap Kedua: Periksalah apakah lokasi alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung.5. • analisis laboratorium (bila perlu). Makin jauh jaraknya. proses penyaringan dilanjutkan ke tahap ketiga. d) Tahap Ketiga: Evaluasilah apakah dampak lingkungan yang telah teridentifikasi pada Butir C. b) Secara garis besar. c) Komponen biaya personil tergantung dari banyaknya tenaga ahli yang diperlukan dan lamanya penugasan tiap tenaga ahli. Apabila jenis dan besaran rencana kegiatan proyek memenuhi kriteria tersebut. Jika tedapat dampak yang temasuk kategori besar dan penting. e) Penyaringan Tahap Keempat: Bandingkanlah jenis dan besaran rencana kegiatan proyek dengan kriteria proyek yang wajib dilengkapi UKL / UPL tercantum pada Tabel 2. maka proyek wajib dilengkapi AMDAL. Apabila sebagian atau seluruh alinyemen jalan berbatasan langsung dengan kawasan lindung seperti tersebut pada Kotak 1. tapi wajib menggunakan SOP. • survai lapangan.

pelaksanaan studi AMDAL proyek jalan memerlukan waktu antara 6 -18 bulan. Alasan (dasar pertimbangan) kesimpulan tersebut. sedangkan untuk studi UKL/UPL berkisar antara 4 . b) Laporan hasil penyaringan ini diperlukan sebagai arahan untuk kegiatan studi lingkungan yang lebih mendalam (bila diperlukan). dengan biaya berkisar antara 5 .35 % dari total biaya proyek. dan Perkiraan biaya untuk studi lingkungan selanjutnya. atau antara 0. Kesimpulan hasil penyaringan (wajib AMDAL.10 % dari biaya persiapan proyek.06 0. atau bebas AMDAL maupun UKL dan UPL).30 person-month (pm). termasuk untuk keperluan penentuan anggaran biaya studi tersebut.8 pm. Isu-isu pokok lingkungan yang perlu ditelaah lebih lanjut (bila diperlukan AMDAL atau UKL dan UPL.5. Secara umum. c) Contoh format laporan hasil penyaringan tercantum pada Lampiran C. PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 9 . yang berisi tentang: • • • • • Deskripsi rencana kegiatan dan rona lingkungan secara singkat.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jumlah tenaga ahli yang diperlukan untuk pelaksanaan studi AMDAL suatu ruas jalan diperkirakan antara 15 .7 a) Susunlah laporan singkat tentang hasil penyaringan AMDAL ini. Penyusunan Laporan f) C.1. wajib UKL dan UPL.

W2 = Wilayah persebaran dampak tidak mengalami perubahan mendasar. Faktor Evaluasi Kriteria Penting Tidak penting M1>M2 M1<M2 Keterangan 1. atau kumulatif dampak. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak B2>B1 B2<B1 PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 10 . tidak berbaliknya dampak. Intensitas dampak I1 I2 5. Lamanya dampak berlangsung L1 L2 4. atau tidak menimbulkan konflik sosial B1 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak primer B2 = Jumlah komponen lingkungan terkena dampak sekunder dan dampak lanjutannya 2. Luas wilayah persebaran dampak W1 W2 3. atau menimbulkan konflik sosial I2 = Dampak tidak melampaui baku mutu lingkungan. Jumlah manusia terkena dampak M1 = Jumlah manusia dalam wilayah studi yang terkena dampak tapi tidak dapat manfaat M2 = Jumlah manusia yang dapat manfaat W1 = Wilayah persebaran dampak mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 3 Kriteria Evaluasi Dampak Penting No. L1 = Dampak berlangsung lama (lebih dari satu tahap proyek) L2 = Dampak berlangsung tidak lama (hanya pada tahap pra-konstruksi atau konstruksi) I1 = Dampak melampaui baku mutu lingkungan.

7.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 6. Sifat kumulatif dampak Berbalik atau tidak berbaliknya dampak K1 R1 K2 R2 K1 = Dampak kumulatif K2 = Dampak tidak kumulatif R1 = Dampak tidak berbalik R2 = Dampak berbalik PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 11 .

Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan CONTOH FORMULIR Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL A. % . Tanah tidak stabil 2.m . … … … … … … km a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Damija rencana c... Pemukiman padat b. Metropolitan / Besar / Sedang / Kecil 2) Arteri / Kolektor / Lokal 2) Pembangunan / Pemeliharaan 2) … … … … … . Areal pertanian produktif d. Propinsi 5. d. km .m . Daerah komersial c.. b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Nama kota b.. Lokasi a. Pekerasan rencana 4.. km b. RENCANA KEGIATAN PROYEK 1. Lebar Jalan a. Eksisting 1) b.. … … … … … … … … .. H a a.. … … … … … … … … .. Fungsi Jalan 7. Perkerasan Ekisting 1) d. Berlereng curam (> 40 %) b.. … … … … … … … … … … … … … … … … . c.. Fisiografi a. Kabupaten c. kendaraan /hari b. % . Luas areal pengadaan 9... d.. b. DAMIJA Ekisting 1) b. Penggunaan lahan a.m . % ) ) ) ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 12 . Status Proyek … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Status Kota 6. … … … … … … … . % .. Nama Rencana Kegiatan Proyek 2. kendaraan /hari Pra Studi Kelayakan / Studi Kelayakan 2) B. … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … . km a. … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … . Jenis Program 8. c. km . RONA LINGKUNGAN ( Sepanjang trase jalan dan sekitarnya) 1. LHR a.. Panjang Ruas Jalan 3... km (… (… (… (… … … … … … … … … . b. Lain-lain (… … … … … … … … … … ) a..m a. Rencana 10. c. km ..

. . . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … c. ISU POKOK LINGKUNGAN YANG PERLU DIKAJI LEBIH LANJUT 1. 2. . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . PERKIRAAN BIAYA STUDI AMDAL ATAU UKL & UPL Keterangan : 1) Khusus proyek peningkatan / pemeliharaan 2) Coret yang tidak sesuai R p. b. Wajib UKL dan UPL 3. Dampak lingkungan pada taha pra-konstruksi a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Melalui / berbatasan / berdekatan / jauh 2) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … C. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Komponen lingkungan lain yang sensitif terhadap perubahan a. … … … … … … … … … … … . … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … b. … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada tahap konstruksi a. … … … … … .. c. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 3. . b.Lampiran C – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Contoh Formulir Laporan Penyaringan Proyek Jalan Yang Wajib Dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL (lanjutan) 3. KESIMPULAN (Pilih salah satu) 1. Bebas AMDAL maupun UKL dan UPL A lasan : … … A lasan : … … A lasan : … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. … … … … … … … … … … Pelaksana Penyaringan (… … … … … … … … … … ) PEDOMAN TEKNIS PENYARINGAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN YANG WAJIB DILENGKAPI AMDAL ATAU UKL DAN UPL 13 . . b. Letak trase jalan terhadap kawasan lindung 4. Wajib AMDAL 2. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Dampak lingkungan pada tahap pasca konstruksi a. D. Jenis/nama kawasan lindung b.. Kawasan lindung a. … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … E..

kabupaten/kota. penduduk terkena dampak.2. 3) Bappeda. 3) Identifikasi kebutuhan lahan pada tahap studi kelayakan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran D Pedoman Teknis Pengadaan Tanah untuk Bidang Jalan D. Departemen/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. dalam hal ini termasuk Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah atau Kantor Lingkungan Hidup provinsi.1. 2) Membuat konsep awal sistem jaringan jalan dan kebutuhan lahan. Badan Pertanahan Nasional (BPN). dalam hal ini unit kerja Dinas provinsi. dan 4) Perencanaan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. 1) lahan di D. misalnya Departemen/Dinas Kehutanan. diarahkan dalam kaitannya dengan sasaran kawasan yang akan dilayani sistem jaringan jalan. kabupaten/kota. 2) Kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra studi kelayakan. yakni sebagai berikut : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 1 . tokoh-tokoh masyarakat yang mewakili penduduk terkena dampak dan masyarakat terasing. Untuk dapat memahami hal tersebut diperlukan kajian penyelarasan konsep rencana umum jaringan jalan tersebut dengan rencana tata ruang wilayah (provinsi atau kab/kota). meliputi: 1) Pertimbangan pengadaan tanah pada tahap perencanaan umum. 3) Melakukan konsultasi dengan Bappeda dan/atau instansi lainnya. 4) Masyarakat.1 Konsep rencana umum sistem jaringan jalan Dalam mengkaji konsep ini. 4) Menetapkan koridor rencana sistem jaringan jalan. dalam hal ini terdiri dari Bappeda provinsi. dalam hal ini terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat. dll. D.1 Penjelasan Umum Rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan dari tahapan siklus pengembangan proyek jalan. peran dan fungsi kota. antara lain : sentra-sentra produksi. 2) Bapedalda.2 Pertimbangan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan Langkah-langkah kegiatan pelaksanaan pertimbangan pengadaan pada tahap ini adalah sebagai berikut: Mempelajari konsep rencana umum sistem jaringan dan peta tata guna sekitarnya. 5) Stakeholder lainnya yang perlu dipertimbangkan perannya pada kasus-kasus khusus. kapasitas produksi.1 Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan dan Peta Tata Guna Lahan D. kabupaten/kota. kapasitas jalan yang dibutuhkan. dan lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (bila ada).2. Pelaksanaan rencana pengadaan tanah pada dasarnya dilaksanakan oleh 5 (lima) kelompok pelaku utama yaitu: 1) Pemrakarsa.

2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. serta tatanan nilai dan perilaku berkaitan dengan sistem transportasi masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. orde penataan ruang.1.2.  Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat (bila ada) dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan.2. potensi kapasitas produksi. Mengaitkan dengan usulan rencana pembangunan jalan di daerah masyarakat terasing (khusus wilayah yang ada) Sumber data (peta) antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor Bappeda setempat (prov.2 Tata guna lahan di sekitar Kajian tata guna lahan sekitar berkaitan dengan pertimbangan pengadaan tanah ini bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) Status lahan dan tataguna lahan. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 2 .000). misal: skala 1 : 250.1. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Juga dari peta mosaik foto udara yang dapat diperoleh dari Kantor Pusat Data TNI-AU atau Bakosurtanal  Memeriksa dan dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC.2. hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati garis rute koridor jalan yang direncanakan. kab/kota) serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dinas Sosial / Dinas Kehutanan 2) 3) Memeriksa dan mencatat usulan kapasitas jalan yang dibutuhkan. kab/kota). D. dan jika ada lokasi tempat-tempat tinggal masyarakat terasing (pada skala yang memadai.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1) Menuangkan peta rute koridor jalan yang direncanakan pada masing-masing peta kawasan sentra-sentra produksi.1 Status lahan dan tataguna lahan  Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250.2.2. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting.  Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. D.000). Kehutanan.1. D.

misalnya Dinas Sosial perihal sistem budaya masyarakat terasing. 2. 2) 2) Meminta informasi dan klarifikasi dari instansi lainnya. kab/kota). 3) Aspek orientasi budaya.3 Konsultasi dengan Bappeda dan/atau Instansi lainnya. yakni sebagai berikut : 1) Meminta informasi dan klarifikasi dari Bappeda tentang : Peta koordinasi pengendalian ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan budidaya (binaan). Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut perlu dirubah sehingga menghindari kawasan budidaya. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. D.2. atau berdekatan dengan kawasan lindung.000). dikaitkan dengan rute koridor jalan yang direncanakan. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta TGHK dari DeC. D. Menuangkan rute koridor jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 100. ii.2.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D. 2) Aspek pola kepemimpinan. rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 3 . khususnya kegiatan pengadaan tanah kepada Bappeda dan/atau instansi lainnya. Melakukan analisa terhadap pengalihan pemanfaatan transportasi dan perubahan perilaku masyarakat terasing (bila ada) akibat perencanaan jalan. Mengusulkan bahwa rute koridor tersebut tidak direkomendasikan bila rute koridor jalan berada dalam. Melakukan analisa tentang status lahan dan tata guna tanah (termasuk pola kepemilikan tanah adat) yang dilewati rute koridor jalan yang direncanakan. 3) Tanggapan dan masukan tentang penerapan peta padu serasi. bila terpaksa melewati kawasan budidaya dan/atau kawasan lindung. Dengan dilakukannya komunikasi dua arah ini diharapkan dapat diperoleh masukan tentang rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. bila rute koridor jalan melewati kawasan budidaya. antara lain: 1) Aspek pertanahan masyarakat terasing. 3. Melakukan identifikasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan. 4.4 Penetapan Koridor Rencana Sistem Jarigan Jalan 1) Melakukan perumusan terhadap sistem jaringan jalan berkaitan dengan sasaran kawasan yang akan dilayani. i. Konsultasi pada tahap perencanaan umum ini dimaksudkan sebagai sebagai langkah awal dalam mengkomunikasikan (mendialogkan) rencana kegiatan.2. berbatasan langsung dengan. antara lain sebagai berikut : 1.2 Membuat Konsep Awal Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Kebutuhan Lahan Dalam kajian ini didasarkan pada prinsip-prinsip menghindari lahan budidiaya dan kawasan yang dilindungi sesuai kriteria pada pasal 6 UU No. Kehutanan.

1 Status lahan dan tataguna lahan. D. Merangkum data dan informasi untuk acuan penetapan koridor jalan. misal skala 1 : 100. Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. Masyarakat dan Stakeholder lainnya. Melakukan juga survai lapangan (bila perlu) untuk memastikan tentang pola penggunaan lahan dan pola kepemilikan tanah adat dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan.2 Rencana alokasi penggunaan lahan dan pola penggunaan lahan eksisting. adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 4 . Konsultasi pada tahap ini diharapkan dapat memperoleh masukan tentang data yang dapat dipergunakan untuk menetapkan pemilihan alternatif koridor jalan. D.3.3.1.000).Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan lahan eksisting.000 D. Bappeda dan masyarakat). serta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing (jika ada).3. 2) D. 1) Memeriksa dan mencatat adanya rencana alokasi penggunaan lahan dan keberadaan areal strategis dan areal lain yang sensitif terhadap perubahan. status daerah dilindungi dan daerah sensitif serta pengendalian ruang wilayah. Bappeda. Melakukan konsultasi (dengan Bapedalda. dan peta lokasi tempat tinggal masyarakat terasing dari Dep/Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.1.3. Menetapkan koridor jalan terpilih Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan Pada Koridor Rute Jalan Kajian jenis peruntukan lahan pada koridor rute jalan bertujuan untuk mengetahui : 1) 2) D.1 Status lahan dan tataguna lahan 1) Menuangkan koridor rute jalan yang direncanakan pada peta status lahan dan tataguna lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 250. Sumber data (peta) antara lain dari : Peta Paduserasi dari Dep/Dinas Kehutanan. 2) Menuangkan rumusan butir 1) dalam peta dengan skala yang memadai . 2) Memeriksa dan mencatat status lahan dan tataguna tanah serta pola pemilikan lahan hukum adat dan aspek budaya masyarakat terasing (jika ada) yang dilewati koridor rute jalan yang direncanakan.3 Kegiatan Awal Pengadaan Tanah Pada Tahap Pra Kelayakan Rute Jalan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan awal pengadaan tanah pada tahap pra kelayakan rute jalan. dikaitkan dengan koridor rute jalan yang direncanakan.2 Konsultasi dengan Bapedalda.

3. Aspek pertanahan masyarakat terasing. 1) D. 2) 3) 4) 5) Meminta masukan dari masyarakat tentang status kepemilikan lahan dan pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan terkena dampak. tetapi berada di pinggir kawasan lindung. antara lain mencakup : Perkiraan kebutuhan lahan yang harus dibebaskan yang dirinci menurut status kepemilikan dan penguasaan tanah. seperti misalnya : Informasi identifikasi dampak pelaksanaan perbaikan struktur jalan yang telah ada (eksisting). 6) Data yang menunjukkan keberadaan lokasi selanjutnya dituangkan dalam peta Padu Serasi D. d. Fungsi strategis dari prasarana dan sarana umum tersebut c.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D.1 Pelaksanaan Konsultasi Melaksanakan konsultasi dengan instansi-instansi tersebut dengan cara melakukan pertemuan rapat di suatu kontor salah satu instansi.2 Analisa Hasil Konsultasi Melakukan analisa terhadap informasi dan tanggapan peserta konsultasi.3. c. Meminta masukan dai Bappeda tentang : a. Informasi dampak pelaksanaan pembangunan jalan baru dan melewati daerah sensitif. Aspek sarana dan prasarana masyarakat terasing.3.2.3 Merangkum Data dan Informasi Untuk Acuan Penetapan Koridor Jalan 1) Membuat rangkuman berupa hasil analisa tanggapan yang diterima dari peserta konsultasi. Aspek kepemimpinan. 2) Perkiraan jumlah rumah tangga yang akan terkena dampak dan/atau yang terpaksa harus dipindahkan (bila ada). sebagai berikut : 1) Meminta masukan dari Bapedalda tentang lokasi-lokasi kawasan yang dilindungi dan lokasi sensitif. b. terutama kebutuhan pengadaan tanah. 3) Perkiraan adanya dampak potensial yang mungkin timbul (khususnya terhadap matapencaharian dan fasilitas umum) 4) Perkiraan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kendala dari kegiatan pemilihan rute koridor. tentang (khusus pada masyarakat terasing): a. serta pola penggunaan lahan. Meminta masukan dari Stakeholder lainnya (misal Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.2. yakni : PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 5 . e. Aspek kependudukan. Lokasi-lokasi untuk pemukiman kembali penduduk. Jenis dan lokasi prasarana dan sarana umum yang terdapat pada rute alternatif jalan b. Aspek budaya.

Melakukan survai dasar sosial ekonomi Membuat prakiraan kebutuhan lahan untuk masing-masing alternatif rute. antara lain sebagai berikut : 6 PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis masing-masing rute yang direncanakan 5. antara lain meliputi dua hal tersebut di atas. 3. terutama dalam rencana pengadaan tanah. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih. 2. 2) D. b. Menyusun persiapan konsultasi masyarakat dalam kegiatan penentuan rute terpilih dan rencana pengadaan tanah pada tahap studi kelayakan. Identifikasi rumusan tingkat kendala yang akan timbul dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap rute koridor terpilih (tinggi/sedang/rendah). jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan tiap rute). 1) Menyampaikan rangkuman data dan informasi untuk acuan pemilihan rute koridor tersebut kepada Bappeda untuk memperoleh surat pengesahan.4 Kegiatan Identifikasi Kebutuhan Lahan Pada Tahap Kelayakan Proyek Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan identifikasi kebutuhan lahan dan pemukiman kembali adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mengidentifikasi jenis peruntukan lahan pada alternatif rute terpilih. b. Menetapkan rute terpilih Mengajukan permohonan kebutuhan lahan untuk rute terpilih D.4.1 Identifikasi Jenis Peruntukan Lahan pada Alternatif Rute Terpilih 1) Tata guna lahan 1. 4. Hasil rangkuman tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk pemilihan rute koridor dan penyusunan KA-ANDAL. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati tiap rute yang direncanakan. terutama perkiraan luasan lahan yang akan dibutuhkan. kab/kota).000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov. Menuangkan tiap rute yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 50.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a. c. status kepemilikan dan pola penggunaan lahan. dll). yakni : a. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap pra-studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri. dan (status lahan konservasi). Mencatat informasi mengenai tiap rute.

4. Data primer dikumpulkan dari penduduk terkena proyek (PTP) dengan kuesioner terstruktur. Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi (sampling) untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 7 . g. 1) Survai Dasar Sosial Ekonomi Survei dasar sosial ekonomi pada tahap ini untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder. Menuangkan dalam bentuk matriks. Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. PTP yang diwawancarai dipilih secara acak (sampling) dengan jumlah antara 5 – 10% dari seluruh PTC. maka perlu dilakukan survai langsung dengan masyarakat dan rapat teknis dengan stakeholder lainnya. 2.2 Survai Dasar Sosial Ekonomi Lingkup survai dasar sosial ekonomi pada tahap studi kelayakan. c. Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. Melakukan analisis nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. D. untuk masing-masing pola penggunaan lahan tersebut di atas. paling tidak mencakup 4 hal. b. Luas areal permukiman Luas areal ladang Luas areal persawahan Luas areal perkebunan Luas areal hutan Luas areal semak belukar Jenis utilitas umum Dll 6. NJOP dan harga nyata tanah 1. e. f. Melakukan analisis tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari tiap rute. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah 1. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai sampel yang terpilih (responden) sekurang-kurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : a. d. 7. untuk masing-masing pola penggunaan lahan sebagaimana tersebut di atas 2. h.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a.

kolam /tambak ikan dan sebagainya. 10) Bentuk ganti kerugian yang diinginkan PTP : (i) uang tunai. tahunan. (ii) tanah pengganti. Luas bangunan yang akan dibebaskan. l. Stakeholder lainnya. dan huruf (iv). Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. an bentuk lain yang disetujui oleh pihak – pihak yang bersangkutan. (iii)pemukiman kembali. semi permanen. 7) Jumlah KK berikut warganya yang terpaksa dipindahkan / dimukimkan kembali. bersejarah dan tradisional. dan Dinas Kehutanan tentang fungsi hutan D. sedang dan besar). tanaman (umur setahun. g. sebagai berikut: 1. Luas tanah yang akan dibebaskan. 9) Besarnya biaya yang diperlukan untuk ganti kerugian aset yang terpaksa dibebaskan. i. Harga nyata tanah dan NJOP-nya. NJOP tanah dan harga nyata tanah. Aset yang berada diatas tanah baik berupa bangunan beserta tipenya (permanen. dan sebagainya ). d. huruf (ii).4. Bappeda. baik sementara maupun seterusnya (permanen) 12) Besarnya biaya untuk membangun pemukiman kembali dan rehabilitas bagi PTP yang terpaksa dimukimkan kembali. Persepsi masyarakat terhadap proyek. c. (iv)gabungan dari dua atau lebih ganti kerugian sebagaimana dimaiksud dalam huruf (i). e. Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. kab/kota). misalnya BPN diharapkan dapat memberikan masukan tentang tata ruang. dan Stakeholder lainnya untuk mendapatkan masukan-masukan. 11) Besarnya biaya santunan kepada PTP yang terpaksa dipindahkan/dimukimkan kembali. 6) Besarnya dampak terhadap KK (kepala keluarga) yang terkena proyek (kecil. meliputi : Tata guna tanah . Bappeda diharapkan dapat memberikan masukan tentang arah dan program pemanfaatan ruang wilayah (provinsi. Aset lainnya yang akan dibebaskan. 2) Melakukan rapat teknis dengan Bapedalda. kantor. f. Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. Fluktuasi pendapatan akibat musim. Usulan tentang ganti kerugian. Status kepemilikan tanah. bengkel dan lain sebagainya). darurat). 3. h. j. 1) 2) 3) 4) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 8 . penunggu) yang asetnya akan terkena pembebasan. penyewa. tempat usaha. k. 8) Persepsi masyarakat terhadap proyek pembangunan jalan. Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b. status kepemilikan tanah. Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. tempat ibadah.3 Perkiraan Kebutuhan Lahan Pada Rute Alternatif Melakukan analisis prakiraan kebutuhan lahan dari hasil survai dasar sosial ekonomi dan hasil rapat teknis dengan stakeholder terhadap masing-masing rute. macamnya (rumah tempat tingggal. 5) Penduduk (pemilik. Bapedalda diharapkan dapat memberikan masukan tentang kawasan-kawasan strategis. gudang. status bangunan dan tipe bangunan. tanah ulayat dan sebagainya). 2.

Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan D.5 Permohonan Kebutuhan Lahan untuk Proyek kepada Gubernur atau Bupati/Walikota Setelah ditentukan trase yang layak. Sosialisasi konsep LARAP D. ekonomis dan lingkungan. Jenis dan dimensi jaringan jalan (jalan tol atau jalan arteri.000) Sumber data antara lain dari : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dapat diperoleh di Kantor BPN/Kantor Pertanahan dan Kantor Bappeda setempat (prov.5 Kegiatan Perencanaan Pengadaan Tanah Pada Tahap Perencanaan Teknis Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan perencanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada tahap perencanaan teknis. dll). Menuangkan rute ruas jalan yang direncanakan pada peta tataguna lahan dan pola penggunaan lahan dengan skala yang memadai (misal skala 1 : 5. disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan jalan. disertai keterangan tentang : 1) 2) 3) 4) Lokasi tanah yang diperlukan. D. atau Bupati/Walikota (untuk status jalan kabupaten/kota) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat dan Bappeda. Luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan.4.4 Penetapan Rute Terpilih Hasil taksiran kasar tersebut di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perencana dalam menentukan kelayakan trase mana yang layak untuk dipilih. Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan. b. Uraian rencana pembangunan jalan. yakni : a. kab/kota). 3.4. Pemimpin bagian proyek (Pimbagpro) dari pemrakarsa mengajukan permohonan penetapan lokasi pembangunan jalan kepada Gubernur (untuk status jalan provinsi). Mencatat tentang informasi mengenai rute ruas jalan. setelah mempertimbangkan juga aspek-aspek teknis. Membuat konsep LARAP dan melakukan konsultasi masyarakat. D. 2. Memeriksa dan mencatat tataguna tanah yang dilewati garis rute ruas jalan yang direncanakan PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 9 . Melakukan survai sosial ekonomi. jenis program pembangunan jalan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan eksisting) dan peta penentuan rute ruas jalan. Melakukan konsultasi masyarakat. Mempergunakan hasil analisis yang telah dilakukan pada tahap studi kelayakan tentang tataguna tanah untuk bahan kajian. 4. melalui urutan kegiatan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Mempelajari detail data pengukuran ruas jalan (alinyemen terpilih).5.1 Kajian Detail Data Pengukuran Ruas Jalan (Alinyemen Terpilih) 1) Identifikasi jenis peruntukan lahan yang terkena proyek 1.

Luas areal ladang c. Melakukan analisa tentang perkiraan luasan tata guna tanah yang dilewati rute ruas jalan yang direncanakan. Luas areal hutan f. untuk masingmasing pola penggunaan lahan) 1) 3) NJOP dan harga nyata tanah Melakukan koordinasi dengan BPN) di kab/kota untuk mengetahui nilai jual obyek pajak (NJOP) atas tanah yang akan terkena proyek. maka perlu ditetapkan adanya kebutuhan survai sosial ekonomi (sensus PTP) dan rencana pembiayaannya.2 Survai Sosial Ekonomi 1). Taksiran biaya tersebut merupakan salah satu aspek yang akan dipakai untuk menguji kelayakan proyek pembangunan atau peningkatan jalan disamping biaya aspekaspek lainnya.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5. paling tidak mencakup 4 hal. Luas areal semak belukar g. Disamping itu sekaligus dilakukan penaksiran biaya untuk pembebasan tanah. Luas areal perkebunan e. Luas areal permukiman b. antara lain sebagai berikut : a. 2) Untuk dapat melakukan identifikasi empat hal diatas. untuk masing-masing pola penggunaan lahan ) 2) Melengkapi data tersebut dengan melakukan survai sosial ekonomi untuk memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah. yakni : 1) 2) 3) 4) Luas tanah yang akan dibebaskan Penduduk yang harus dipindahkan atau dimukimkan kembali Luas bangunan dan aset lainnya diatas tanah yang akan terkena pembebasan Taksiran biaya yang diperlukan untuk pengadaan tanah berikut pemukiman kembali. dan harga nyata tanah menurut klasifikasi klas tanah. 1) Kebutuhan Survai Sosial Ekonomi Pada tahap perencanaan teknis diperlukan survei sosial ekonomi untuk dapat memberikan gambaran sejauh mana dampak sosial dapat ditanggulangi. 1) D. untuk masing-masing pola penggunaan lahan 2) Menuangkan dalam bentuk matriks. Dll 2) Status Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Memastikan tentang status kepemilikan dan penguasaan tanah yang akan terkena pembebasan tanah dari rute ruas jalan. Lingkup kegiatan pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis. Jenis utilitas umum h.5. Luas areal persawahan d. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 10 . bila diperlukan juga untuk pemukiman kembali beserta biaya untuk rehabilitasi penduduk terkena proyek (PTP) yang terpaksa dimukimkan kembali.

Survai ini harus harus mendapat gambaran positip tentang lokasi calon pemukiman baru dan sekurang-kurangnya dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peta lokasi Jumlah dan kepadatan penduduk. PTP yang diwawancarai dengan cara sensus untuk setiap PTC. 7) Jumlah pendapatan dan pengeluaran per-KK serta sumber pendapatan mereka. 2) Luas tanah yang akan dibebaskan. Apabila suatu proyek pembangunan atau peningkatan jalan diperlukan pengadaan tanah yang mengakibatkan PTP terpaksa dimukimkan kembali. Kegiatan rapat teknis yang diselenggarakan di Kantor Bappeda. status kepemilikan tanah. 9) Penggunaan dan ketergantungan kepada sumber alam (tanah) milik mereka.5. Masyarakat dan Stakeholder lainnya 1) Kegiatan konsultasi masyarakat rencana pengadaan tanah pada tahap perencanaan teknis dapat dipelajari pada Buku Tata Cara Konsultasi Masyarakat Pada Tahap Perencanaan Teknis. maka diperlukan suatu survai lokasi pemukiman. D. 8) Sistem produksi dan kaitannya dengan sosial ekonomi PTC. 11 2) PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN . 4) Aset lainnya yang akan dibebaskan. 12) Adat istiadat dan pengaturan tanah milik nenek moyang mereka (tanah adat. 3) Luas bangunan yang akan dibebaskan. Data primer langsung dikumpulkan dari PTP dengan kuesioner terstruktur. Materi kuisioner sekurangkurangnya akan mencakup hal-hal sebagai berikut : Jumlah KK (kepala keluarga) penduduk yang terkena proyek (PTP) dan jumlah PTP yang terpaksa dipindahkan atau dimukimkan kembali. Kesediaan masyarakat penerima pemukiman baru terhadap pendatang. 6) Persepsi masyarakat terhadap proyek. NJOP tanah dan harga nyata tanah. 5) Usulan tentang ganti kerugian. yang membedakan bila pada tahap ini pendekatan survai adalah dengan cara sensus. Bappeda. tanah ulayat dan sebagainya). sosial budaya dan komposisi ekonomi di wilayah pemukiman baru Tataguna tanah dan status kepemilikannya Potensi pengembangan ekonomi wilayah pemukiman baru. 11) Pola organisasi sosial dan kepempinan setempat. 1) 1) Kebutuhan Survai Pemukiman Baru. status bangunan dan tipe bangunan. Kuesioner terstruktur yang akan dipakai untuk mewawancarai PTP pada dasarnya sama dengan kuisioner survai dasar sosial.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Survei sosial ekonomi pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data primer. 10) Fluktuasi pendapatan akibat musim. sedangkan konsultasi masyarakat dapat dilakukan di lapangan. Infrastruktur sosial yang telah ada di lokasi tersebut.3 Konsultasi dengan Bapedalda.

jumlah bangunan. Penyusunan LARAP secara rinci dapat dilihat pada Tata Cara Penyusunan LARAP pada lampiran lain.  Biaya santunan kepada PTP yang memiliki hak atas tanah tetapi telah tinggal pada wilayah yang akan dibangun jalan. Masyarakat yang terkena dampak dapat memberikan masukan tentang detail di lapangan tentang hal kepemilikan lahan.  Biaya untuk pembangunan permukiman kembali (bila diperlukan) termasuk tanah perumahan.  Biaya panitia pengadaan tanah sbesar 4% dari jumlah tersebut di atas sesuai dengan Permeneg Agraria/Ka BPN No. Bapedalda dapat melakukan monitoring pelaksanaan survai baik aktif (terjun ke lapangan) maupun pasif (menerima laporan saja). masa tinggal dll. jumlah tiang listrik dsb). termasuk status sertifikat. prakiran nilai kekayaan.Lampiran D – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 1. 2) Biaya-biaya yang dibutuhkan mencakup :  Biaya pengadaan tanah beserta aset yang ada di atas tanah tersebut. 3.5.  Perkiraan biaya. 1/1994.  Selanjutnya biaya tersebut dimasukkan dalam DUP dan DIP oleh perencana/pemrakarsa sesuai dengan jadwal kegiatan penyusunan program pembangunan Kimpraswil 3).  Sumber pendanaan.4 Pembuatan Konsep LARAP 1) Melakukan analisis hasil survai sosial ekonomi sebagai bahan penyusunan Land Acquisition an Resettlement Action Plan (LARAP) yang didalamnya tercantum sebagai berikut :  Identifikasi permasalahan secara kuantitatif (misal: jumlah KK.  Biaya pelatihan alih profesi. luas. PEDOMAN TEKNIS PENGADAAN TANAH UNTUK BIDANG JALAN 12 .  Alokasi anggaran.  Rencana penyelesaian. pasal 45. Stakeholder lainnya misalnya BPN sebagai panitia pengadaan tanah memberikan masukan tentang masukan tentang tata cara dan kriteria kompensasi.  Status penyelesaian. D.  Jadwal penyelesaian. Bappeda dapat membantu koordinasi pelaksanaan survai dengan instansi terkait. 2. lokasi di peta.  Instansi penanggung jawab. evaluasi dan rehabilitasi. 4. sarana dan prasarana. luasan. (terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial).  Tindak lanjut.  Biaya untu pemindahan PTP dari tempat yang dibebaskan ke lokasi baru atau permukiman baru.

penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2).… .. serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . (6) .… … .. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . terasing… ... peran dan fungsi kota dll. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … . .. Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4). Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5).. 3). kapasitas jalan yang dibutuhkan. kapasitas produksi.

.. budaya .... (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy... 5). ekonomik..... (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing . 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … .. Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis... Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2).... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3).. (8) .. terasing pada Rencana Jaringan Jalan … . sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial. ekonomi. … … .. (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan. ............. 4)......(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih . terasing...

(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute..... terasing...Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi. . Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2)...... (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) ....4).. terasing … ..… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3)..5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis... ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy. terasing.. ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy...

. Renc. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. pembagian tugas 3)... Termasuk rencana kerja. T indak … ..(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .....… … … . kepemimpinan.. Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6)......terasing tsb. (11) . sistem dan nilai hak adat . Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).. 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy.. (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing ...........

.. Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)..… . Termasuk LSM. 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ........ 5). 4). Mencakup kompensasi lahan dan bangunan..(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ......... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).... … … ........Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing...(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... lembaga adat ..... perbaikan permukiman tradisional... 3).......(7) ..(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … . dll. rehabilitasi konservasi situs dll..

misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … . (11) 8)...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … ... Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 6). Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . 4). terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. 5).(12) . (6) 3)... 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy.

.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … ... Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing .(8) . 2).(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor...terasing termasuk rehabilitasi … … .. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. penanganan masy . 6).. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. sosialekonomi. 5)... 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).... 4). budaya dan kelembagaan. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME). Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . terasing yang lebih baik . penanganan masy.. tata ruang nilai kearifan lokal. 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy. terasing … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks.(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . terasing … … .. (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy.. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan..… . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .

.

Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). jenis penggunaan dan kepemilikan).(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. peran dan fungsi kota dll. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya..Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). mis. kapasitas produksi.: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. kapasitas jalan yang dibutuhkan.… . (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. 4). (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang..

(4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing.. Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.... ekonomik..Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3)..... 5).. 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7).. (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan .(6) ...........(7) Menetapkan koridor jalan terpilih. status kepemilikan dan kesediaan melepas............ Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … ....(8) ... 4). Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .

(7) Memperkirakan dampak sosial … . ekonomis dan lingkungan..(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy.4).(11) Menetapkan Rute Terpilih . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis..… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt. kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan ....Rute.5). Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3). termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat. (12) . 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . Terhadap pengadaan tanah … .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak.. Hasil Pra Kelayakan 2). dll...

dll. prakiraan nilai kekayaan.. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … .kem bali … … .… … … .. Lokasi di Peta. luasan. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. masa tinggal dll. Termasuk rencana kerja. Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4). (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. … . (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya... … . Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) .kem bali. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . 3). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat. (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan.. 6).(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … . tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. pelepasan hak.Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). rehabilitasi pem uk.

Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . & menyepakati dlm mufakat khususnya P ....(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . (4) KETERANGAN 1)..(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . (2) Berpartisipasi dalam musy. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ..(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat.T . khususnya panitia pengadaan tanah … … .....Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . 13). (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … . ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP ..… .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … ..7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan). Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).P … … .

(12) .. 6).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . 5). (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … ..Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … . Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. 4).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … . (5) Membantu sesuai keterkaitannya. misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).

(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. 7). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … ... Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi. 2). (8) .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . 4). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy.. Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … . 5). … 7) 3).. 6).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan. Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi. Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).

.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . LA R A P … … . (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) . (3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … .… . (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . pelatihan untuk alih profesi … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .. tata ruang. adat istiadat. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . nilai kearifan lokal..

.

.. .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi.. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … . BPN dan dari sumber lainnya 2). (4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ..… . (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan . Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. . Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan. (6) .. 4). 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … . khususnya areal sensitive … ....

. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … .(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai. (12) .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ... 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .. (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan. 9)..… .. terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep... Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No. Sosial) .. (10) 7).. . 8).. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2).. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan. Dikbud.....Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … ..Ka Bapedal No..

. Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya. (9) . Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen.. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . RKL dan RPL 3)...(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … . 2).Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)... (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … . 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … ... (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Gunakan pedoman penyusunan ANDAL...

: penanganan utilitas yang terkena... (8) ..Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL..(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. RKL dan RPL pada perenc. RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL.. (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL . (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran ...... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.. RKL dan RPL … .. lansekap … … … ...… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain.. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan.....: median..teknis.... merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis.

.

69/PRT/1995).2 Langkah . Keputusan Kepala BAPEDAL No. Petunjuk Teknis Penyusunan ANDAL Proyek Jalan (Kepmen PU No. proses penyusunan KA – ANDAL dilaksanakan melalui urutan langkah langkah kegiatan sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Pengumuman rencana proyek Konsultasi masyarakat Perlingkupan Penyusunan konsep KA . pemrakarasa wajib memberitahukan kepada instansi yang bertanggung jawab tentang rencana untuk pelaksanaan AMDAL. 9 Tahun 2000.3 Pemberitahuan tentang rencana AMDAL Sebelum menyusun KA-ANDAL. 147/KPTS/1995). maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui komisi penilai AMDAL pusat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 1 . antara lain : • • • • • Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (Lampiran 1 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai pusat.1 Persyaratan-persyaratan Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Jalan harus memenuhi persyaratan administratif maupun teknis sesuai dengan berbagai pedoman atau petunjuk yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran E (Normatif) Pedoman Teknis Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Bidang Jalan E. 40/KPTS/1997). Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Pekerjaan Umum N0.langkah pelaksanaan Secara garis besar.ANDAL Presentasi dan perbaikan KA – ANDAL Penetapan KA-ANDAL E. E.

dan/atau media elektronik. pendapat atau tanggapan mangenai proyek tersebut. surat.4. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . dilengkapi peta dengan skala yang memadai. E. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. Pengumuman ini dimaksud agar masyarakat yang berkepentingan mengetahui rencana kegiatan proyek.4 E. c) Media lain yang sesuai dengan situasi setempat seperti brosur. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Gubernur melalui komisi penilai AMDAL propinsi. Jenis kegiatan (pembangunan/peningkatan).4. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut. Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai kabupaten / kota. Hasil pekerjaan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Apabila jenis kegiatan proyek termasuk kategori yang harus dinilai oleh komisi penilai propinsi. • Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan.4 Isi pengumuman Isi pengumuman meliputi: a) b) c) d) Nama dan alamat pemrakarsa. Media pengumuman • E.2 Masyarakat berkepentingan Masyarakat berkepentingan terdiri dari masyarakat terkena dampak dan masyarakat pemerhati. dan mereka memberikan saran. maka surat pemberitahuan tersebut di atas dikirimkan ke Bupati / Walikota melalui komisi penilai AMDAL kabupaten / kota.1 Pengumuman rencana kegiatan proyek Kewajiban pengumuman Pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatan proyek kepada masyarakat yang berkepentingan.4.3 Media pengumuman berupa: a) b) Papan pengumuman di lokasi rencana kegiatan proyek Papan pengumuman di lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. media cetak. E. Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.4. E. Jadwal waktu pengumuman ditetapkan bersama dengan instansi yang bertanggung jawab. Lokasi dan luas areal kegiatan proyek.

Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : a) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan.6.4. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. Dalam proses ini.1 Pelingkupan Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan ruang lingkup studi ANDAL. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat.5 Konsultasi masyarakat Pada saat penyusunan KA-ANDAL. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-pertemuan publik. b) Konsultasi masyarakat ini merupakan bagian dari keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL (lihat Gambar 1). E. f) Dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi. E. E. yang mencakup: PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 3 . jelas dan mudah dimengerti. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat (30 hari kerja sejak tanggal pengumuman). masyarakat menyampaikan aspirasi. h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. lokakarya. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. dan Mengumumkan waktu. c) Pengumuman pada papan pengumuman minimal berukuran 60 x 100 cm2. dengan lama tayangan minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio. kebutuhan. dan cara penanganannya. kapasitas dan lokasi kegiatan).6 E. d) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita atau iklan.5 Spesifikasi tampilan pengumuman: a) Pengumuman tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. b) Pengumuman di media cetak harus berukuran minimal 5 x 3 cm2. seminar.

c) Kedalaman studi ANDAL meliputi metode yang digunakan. batas ekologis.2 Pelingkupan isu pokok lingkungan Proses pelingkupan isu pokok lingkungan dilakukan dengan urutan langkah-langkah: a) identifikasi dampak potensial.6. b) Lingkup wilayah studi berdasarkan pertimbangan batas proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 4 . tanpa memperhatikan apakah dampak tersebut merupakan dampak besar dan penting atau tidak. c) pemusatan dampak besar dan penting. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode. Hasil seluruh proses pelingkupan tersebut merupakan bagian penting dari ruang lingkup studi ANDAL yang dituangkan dalam dokumen KAANDAL E. identifikasi dampak potential dimaksudkan untuk mengidentifikasi semua jenis dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat kegiatan proyek. b) evaluasi dampak besar dan penting. Langkah pertama. antara lain metode matrik dan bagan alir. batas sosial dan batas adminsitratif.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) Isu pokok lingkungan (jenis dampak besar dan penting) yang harus ditelaah secara mendalam. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumberdaya (dana dan waktu) yang tersedia. jumlah sampel yang perlu diukur.

Bapedal / Gubernur/Bupati/ Wali Kota = Tujuan akhir surat/pengumuman untuk kemudian ditanggapi. RKL. RKL. RPL oleh Komisi (Maks 75 hari) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup Oleh Kep. diproses dan/atau ditembuskan Sumber: Keputusan Kepala Bapedal No. Pendapat dan Tanggapan Konsultasi Penyusunan KA-ANDAL Saran. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 5 .08 Tahun 2000.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 1 Bagan Prosedur Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggungjawab Pemrakarsa Pengumuman Rencana Kegiatan Pengumuman Persiapan Penyusunan ANDAL Saran. RPL Penilaian ANDAL. pendapat dan tanggapan Penilaian KA-ANDAL Oleh Komisi (Maks 75 hari) Penyusunan ANDAL.

lokasi quarry. Kotak 1 menunjukkan contoh daerah / areal yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat kegiatan tertentu. jenis limbah dsb. Besar serta pentingnya dampak tergantung dari besarnya kegiatan proyek dan sensitifitas komponen lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Seluruh dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. jumlah tenaga kerja. evaluasi dampak potential bertujuan untuk menghilangkan dampak potential yang tidak relevan atau tidak besar dan tidak penting. b) diskusi tentang karakteristik kegiatan. Bagan alir merupakan model yang melukiskan jalinan hubungan sebab-akibat antara komponen kegiatan proyek (sumber dampak) dan komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak. baik dampak primer. sehingga diperoleh seperangkat dampak besar dan penting secara hipotetik. kondisi biologi. Metode bagan alir ini cukup komunikatif untuk bahan diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi terkait atau masyarakat yang berkepentingan. bahan bangunan yang akan digunakan. Peninjauan lapangan perlu dilakukan untuk pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. c) peninjauan lapangan. Diskusi tentang karakteristik kegiatan proyek dilakukan dengan para pakar. Dampak-dampak besar dan penting yang telah terkelompok inilah yang merupakan isu pokok yang harus ditelaah secara mendalam dalam proses ANDAL. sekunder maupun tersier (lihat Gambar 2). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 6 . dan disusun berdasarkan tahapan kegiatan proyek (pra-konstruksi. (lihat Tabel 1 dan 2). Evaluasi (penentuan) dampak besar dan penting dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: a) penelaahan pustaka.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Metode matrik menggambarkan kemungkinan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. agar diperoleh gambaran yang utuh dan lengkap. cenderung makin besar pula dampaknya. konstruksi dan pasca kontruksi). Matrik interaksi ini menunjukkan komponen kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan tersebut. perairan umum. dan sosial-ekonomi di lokasi proyek (sepanjang alinyemen rencana pembangunan jalan) dan sekitarnya Langkah ketiga. Penelaahan pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi dari hasil studi-studi sejenis seperti: • • dokumen AMDAL proyek jalan di lokasi lain. Langkah kedua. Makin besar volume kegiatan proyek. laporan hasil penelitian tentang masalah lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampak-dampak besar dan penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. misalnya mengenai cara pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

C. B. 6. 1.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. 4. Fisik Kimia Iklim Kualitas Udara Kebisingan Fisiografi Hidrologi Kualitas Air Penggunaan Lahan Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 4 Konstruksi 5 6 7 8 9 10 Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. Pengelolaan Quarry 8. 4. 1. 1. Sosialisasi 4. 8. PemancanganTiang Jembatan 9.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jalan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 7 . 3. 2. 4. 7. 7. Pengangkutan tanah dan bahan bangunan 6. Pengoperasian jalan 2. 5. Pembayaran ganti rugi 1. 3. 2. Pembuatan dan pengoperasian Base Camp 7. Kegiatan Konstruksi: Mobilisasi Tenaga Kerja Pembersihan lahan Pekerjaan Tanah Konstruksi badan jalan dan perkerasan 5. 5. 2. 3. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 6. 2. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. Survai & Pengukuran 2.

3. 5. 1. 6. Pengoperasian jembatan 2. 1. Fisik Kimia Kualitas Udara Kebisingan Morfologi & Hidrolis sungai Ruang dan Lahan Kualitas Air Biologi Flora Darat Biota Akuatik Sosial Kependudukan Kegiatan Ekonomi Sosial Budaya Persepsi Masyarakat Keresahan Sosial Kesehatan Masyarakat Prasarana dan Sarana Lalu Lintas 2 3 4 1 2 3 X X 4 X X X X Konstruksi 5 X X 6 X X X X X X X X X 7 8 9 X X 10 X Pasca Konstruksi 1 2 X X X X X X X X X X X X X X X X Keterangan Komponen Kegiatan : Kegiatan Pra Konstruksi : 1. B. 5. Pembayaran ganti rugi Kegiatan Konstruksi: 1. Pemeliharaan jembatan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 8 . 8. 6. Survai & Pengukuran 2. Sosialisasi 4.Penghijauan/Pertamanan Kegiatan Pasca Konstruksi : 1. Inventarisasi Kebutuhan Lahan 3. 7. 4. 7.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 2 Contoh Matriks Identifikasi Dampak Proyek Jembatan Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan Pra-konstruksi 1 A. Mobilisasi Alat Berat Mobilisasi Tenaga Kerja Pengangkutan Material Pekerjaan Bangunan Bawah Pekerjaan Bangunan Atas Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan fasisiltas jembatan dan jalan 8. Proteksi dasar sungai dan tanggul 9. 3. 2. 2. Pembuangan sisa bahan bangunan 10. 1. 4. 3. 2. 2. C. 4. 5.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 Contoh Bagan Alir Dampak Pembangunan Jalan Pada Tahap Konstruksi Perubahan Penggunaan Lahan Peningkatan Kegiatan Ekonomi Pencemaran Udara Pengoperasian Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Kesehatan Masyarakat Kecelakaan Lalu Lintas Pencemaran Udara Pemeliharaan Jalan Peningkatan Kebisingan Gangguan Lalu Lintas PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 9 .

waktu dan tenaga serta pendapat dan tanggapan masyarakat yang berkepentingan (hasil konsultasi masyarakat). batas ekologis sehubungan dampak kebisingan dan pencemaran udara akibat lalu lintas kendaraan bermotor pada tahap operasi diperkirakan meliputi areal sepanjang ruas jalan dengan lebar kurang lebih 100m ke kiri dan ke kanan as jalan. E. c) Batas Sosial Batas sosial adalah ruang disekitar rencana kegiatan proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. kontruksi maupun operasi. tergantung dari volume lalu lintas kendaraan bermotor. industri/komersial sensitif terhadap pembebasan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 10 . Sebagai contoh. b) Batas Ekologis Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak akibat kegiatan pembangunan jalan baik yang berlangsung di dalam batas proyek maupun di luar batas proyek seperti kegiatan quarry dan pengangkutan material. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Di dalam batas ekologis ini. Batas sosial ini mungkin mencakup areal permukiman.  Rumah sakit dan sekolah sensitif terhadap kebisingan. proses alami diperkirakan akan mengalami perubahan yang mendasar.  Areal berlereng curam sensitif terrhadap kegiatan galian/ timbunan tanah (erosi/longsor). kontruksi dan operasi jalan akan berlangsung.  Bangunan peninggalan sejarah sensitif terhadap getaran. Dengan demikian batas proyek mencakup areal sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan selebar DAMIJA.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Contoh Daerah / Areal Sensitif  Daerah pemukiman.6.3 Pelingkupan Wilayah Studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai dengan hasil pelingkupan isu pokok lingkungan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. kawasan industri atau daerah komersial yang mungkin terkena dampak akibat pembangunan jalan baik pada tahap pra-konstruksi. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: a) Batas Proyek Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan pra-konstruksi.

diperlukan tenaga ahli kesehatan masyarakat. waktu dan tenaga serta metode studi yang tersedia. jumlah sampel yang diukur dan tenaga ahli yang diperlukan sesuai dengan dana dan waktu yang bersedia.7. Bab 3 : Metode Studi.6.4 Kedalaman Studi Tingkat kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan. perkiraan dampak besar dan penting dan evaluasi data dampak besar dan penting. diperlukan tenaga ahli hidrologi.2 di bawah ini. maka batas adminsitratif ini cukup meliputi wilayah kelurahan atau kecamatan yang dilewati ruas jalan yang akan dibangun Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL merupakan kesatuan dari keempat wilayah tersebut diatas. Jenis tenaga ahli yang diperlukan tergantung dari isu pokok lingkungan.7.1 Penyusunan Konsep KA – ANDAL Sistematika dokumen KA – ANDAL Dokumen Kerangka Acuan ANDAL terdiri dari 6 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. Materi pokok Kerangka Acuan ANDAL meliputi lingkup kegiatan studi serta petunjuk cara pelaksanaannya serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tim Studi. E. Karena batas proyek jalan cukup sempit. Bab 6 : Lampiran. E. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data. Bab 4 : Pelaksanaan Studi. Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 11 ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN . diperlukan tenaga ahli kehutanan. dengan memperhatikan keterbatasan dana. Bab 5 : Daftar Pustaka.7 E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Batas Adminsitratif Batas adminsitratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa menjalankan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di ruang tersebut. Sistematika seperti tercantum dalam Kotak 2 merupakan kerangka materi (Daftar Isi) secara garis besar. • Untuk menganalisis dampak terhadap kawasan hutan lindung. pada tiap Bab dapat ditambahkan Sub-bab tertentu dan rinciannya sesuai kebutuhan. Sistematika dokumen selengkapnya tercantum pada Kotak 2. Penjelasan mengenai materi tiap Bab dan Sub-bab diuraikan secara rinci pada sub pasal D. Bila perlu. Misalnya Bab 2 (Ruang Lingkupan Studi) diawali dengan Sub – bab Gambaran Umum Rencana Kegiatan. • Untuk menganalisis dampak terhadap badan air baik kuantitas atau kualitasnya. Sebagai contoh: • Untuk menganalisis dampak terhadap kesehatan masyarakat.

Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. a) Latar Belakang Pada bagian ini harus dikemukakan uraian singkat mengenai rencana kegiatan proyek jalan yang akan dilaksanakan (diusulkan). (4) Status proyek saat ini. Lokasi rencana kegiatan proyek.2 Peraturan Perundang-undangan 1.2 Tim Pelaksana Studi 4.bab yaitu Latar Belakang. (5) Alasan mengapa diperlukan studi ANDAL. tujuan dan manfaat proyek.1 Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari tiga Sub .1 Metode Pengumpulan Data 3.2 Rincian Materi dokumen E.1 Latar Belakang 1. Kotak 2 Contoh Sistematika KA-ANDAL Poyek Pembangunan Jalan BAB 1 : PENDAHULUAN 1. (3) Uraian kronologis tentang persiapan proyek yang telah dilaksanakan oleh pemrakarsa.4 Biaya Studi 4. Peraturan Perundang-undangan.2 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting 3.3 Tujuan dan Kegunaan Studi BAB 2 : RUANG LINGKUP STUDI 2.3 Jadual Pelaksanaan Studi 4.4 Batas Wilayah Studi 2.5 Pelaporan BAB 5 : DAFTAR PUSTAKA BAB 6 : LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 12 . (2) Maksud. antara lain meliputi: (1).1 Pemrakarsa 4.5 Keterkaitan Proyek Dengan Kegiatan Lain BAB 3 : METODE STUDI 3. dan Tujuan dan Kegunaan Studi.2.7.7.3 Isu-isu Pokok 2.2 Komponen Lingkungan Yang Akan Ditelaah 2.1 Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah 2.3 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting BAB 4 : PELAKSANAAN STUDI 4.

28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. Misalnya untuk proyek jalan yang melintasi kawasan hutan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan E. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan.3 Tujuan dan Kegunaan Studi Pada bagian ini dijelaskan tujuan dan kegunaan studi ANDAL. antara lain seperti tercantum pada Kotak 3 Rincian peraturan perundang-undangan tersebut harus disusun menurut hirarkhi dan tahun penerbitannya. E.7.2. perlu diperhatikan antara lain • • Peraturan Pemerintah No. Untuk proyek tertentu mungkin perlu ditambahkan peraturan lain yang berkaitan dengan proyek tersebut.7.2 Peraturan Perundang-undangan Pada Sub-bab ini harus dicantumkan secara rinci landasan hukum atau peraturan perundangundangan yang melandasi atau berkaitan dengan rencana kegiatan. Rumusan tentang Tujuan dan Kegunaan Studi ANDAL ini telah baku yaitu seperti contoh tercantum pada Kotak 4 . PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 13 .2. yang harus diperhatikan oleh pelaksana studi ANDAL. Keputusan Menteri Kehutanan No.

• B atas w ilayah studi. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. • K eterkaitan dengan kegiatan lain. 20) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 3) Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2) Undang-undang No.7. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 10) Peraturan Pemerintah No. 7) Undang-undang No. a) Rencana Kegiatan Yang Akan Ditelaah Uraikan secara singkat gambaran umum rencana kegiatan proyek antara lain mengenai : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 14 . 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.2. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 6) Undang-undang No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. 5) Undang-undang No. 17) Keputusan Mentri Pekerjaan Umum No. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.4 Ruang Lingkup Studi Bab ini terdiri dari 5 sub-bab yaitu: • R encana kegiatan yang akan ditelaah. 9) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. E. 16) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 8) Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. • Isu -isu pokok. 4) Undang-undang No. 55/1993. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 11) Keppres No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 13) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 18) Keputusan Menteri Negara KLH No. 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 12) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. Kep. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 19) Keputusan Kepala Bapedal No. 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDALProyek Bidang Pekerjaan Umum. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Landasan Hukum yang Harus Diperhatikan dalam Studi ANDAL Poyek Jalan 1) Undang-undang No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. • R ona lingkungan hidup aw al.

c) Memprediksi besaran dampak lingkungan dan mengevaluasi tingkat pentingnya dampak tersebut berdasarkan kriteria yang berlaku.1 Tujuan Studi Analisis Dampak Lingkungan Tujuan studi ANDAL ini adalah untuk : a) Mengidentifikasi komponen-komponen rencana kegiatan proyek pembangunan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup sekitarnya. b) Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. Uraian tersebut di atas bila perlu dapat diringkas dalam bentuk tabel. Luas areal yang perlu diadakan (dibebaskan). tol). c) Memberikan arahan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) pembangunan / peningkatan jalan … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 15 . b) Memberikan masukan untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam penyusunan desain rinci kegiatan pembangunan jalan. teknis dan ekonomis.3 Tujuan dan Kegunaan Studi 1. d) Merumuskan saran tindak lanjut yang dapat dilaksanakan oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait untuk mengurangi dampak negatif dan atau meningkatkan dampak positif. Lebar jalan (Damija. G am baran um um m engenai kondisi lahan sepanjang alinyem en jalan.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • N am a dan nom or ruas jalan. F ungsi jalan (arteri / kolektor / lokal). Jenis program (pembangunan / peningkatan). propinsi. P anjang ruas jalan.3. kabupaten / kotamadya. S tatus proyek saat ini. Jadual pekerjaan konstruksi. Lokasi proyek.3. V olum e lalu lintas sebelum dan setelah proyek dilaksanakan.2 Kegunaan Studi Analisis Dampak Lingkungan Hasil Studi ANDAL ini diharapkan dapat digunakan untuk : a) Membantu proses pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif rencana kegiatan yang layak dari segi lingkungan hidup. Jenis perkerasan. perkerasan). 1. Kotak 4 Contoh Rumusan Sub bab 1. Status jalan (jalan nasional.

konstruksi dan pasca konstruksi seperti contoh berikut: (1). (2) Tahap Konstruksi • M obilisasi T enaga K erja Konsultan harus memperkirakan jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya yang diperlukan. Konsultan penyusun ANDAL harus merinci berapa luas areal yang perlu diadakan dan bagaimana status pemilikan dan penggunaannya saat ini. dan • K om ponen lingkungan yang dapat m em pengaruhi proyek. yang harus ditelaah oleh konsultan. • P engangkutan B ahan B angunan Bahan bangunan yang akan digunakan seperti batu. (3) Tahap Pasca Konstruksi Agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang akan terjadi setelah jalan mulai dioperasikan (digunakan). pasir. • peralatan yang digunakan. • lokasi pem buangan tanah galian yang tidak terpakai. b) Komponen Lingkungan yang harus Ditelaah Komponen linggkungan yang harus ditelaah meliputi : • K om ponen lingkungan yang diperkirakan terkena dam pak.Konsruksi Komponen kegiatan yang harus ditelaah pada tahap ini adalah pengadaan tanah. aspal dsb perlu dirinci jumlahnya. dirinci mulai dari tahap pra-konstruksi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 16 . • kedalam an galian atau ketinggian tim bunan. koral. Tahap Pra .pembangunan /peningkatan jalan … … … … … … … (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) e) Bahan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi perencana pembangunan wilayah Komponen kegiatan yang diperkirakan merupakan sumber dampak. dan dijelaskan dari mana bahan bangunan tersebut akan didatangkan termasuk jenis alat angkutannya. Perlu dijelaskan juga apakah kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi oleh tanaga lokal atau perlu didatangkan dari luar. • lokasi pengam bilan tanah untuk tim bunan. • P ekerjaan T anah Kegiatan pekerjaan tanah perlu diuraikan secara rinci antara lain : • volum e galian / tim bunan tanah.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Memberikan informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan dampak positif dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan.

kanan jalan terdapat pemukiman padat terutama kalau ada tempat yang sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Tahap Konstruksi Pekerjaan tanah (galian / timbunan) mengakibatkan perubahan bentang alam dan stabilitas ereng sehingga terjadi erosi.budaya. longsor.ekonomi . Contoh : (1) K ebisingan akibat pengoperasian kendaraan berm otor cukup “significant” kalau volum e lalu lintas > 5000 kendaraan / hari atau > 500 kendaraan / jam. d) Batas Wilayah Studi Wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut : (1) Batas Proyek : Meliputi areal yang digunakan langsung untuk pembangunan/ peningkatan jalan yaitu sepanjang ruas jalan dan selebar Damija jalan tersebut. Dalam kasus seperti ini lingkup Studi ANDAL dibatasi dan difokuskan hanya pada pengkajian dampak sosial tersebut. dengan pengelompokan sebagai berikut : • K om ponen lingkungan geofisik . mungkin saja isu pokoknya hanya dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah. Tahap Pasca Konstruksi Pengoperasian jalan baru dapat menimbulkan dampak berupa perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali di kiri – kanan jalan tersebut. • K om ponen prasarana dan sarana um um c) Isu-isu Pokok Agar studi ANDAL terfokus pada isu-isu pokok lingkungan. • K om ponen kingkungan biologi.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Uraikan secara singkat komponen-komponen lingkungan yang harus ditelaah oleh konsultan. Untuk proyek jalan tertentu. yang bersifat “site specific”. (2) Batas Ekologis : Meliputi areal yang diperkirakan akan terkena persebaran dampak di kedua sisi kiri dan kanan Damija. (3). sesuai dengan isu lingkungan yang harus dianalisis. Komponen-komponen kegiatan lainnya tidak menimbulkan dampak besar dan penting.kimia. seperti contoh berikut : (1). (2) Dampak kebisingan cukup penting kalau di kiri . PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 17 . Isu-isu pokok tersebut disusun menurut tahapan kegiatan proyek. Tahap Pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah berpotensi menimbulkan dampak berupa konflik kepentingan dengan penduduk pemilik / pemakai tanah tersebut. penentuan isu pokok tersebut harus didasarkan atas hasil pelingkupan dampak penting sesuai dengan karakteristik kegiatan proyek yang bersangkutan dan kondisi lingkungan setempat. (2). dan sedimentasi pada badan air setempat. jalur pengangkutan material serta lokasi base camp dan quarry. • K om ponen lingkungan sosial .

b) Metode prakiraan dampak besar dan penting. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan lingkungan agar mengacu pada Lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.5 Metode Studi Pada bagian ini harus ditetapkan metode yang harus digunakan oleh konsultan penyusun ANDAL. baik berupa data primer maupun data sekunder yang sahih dan dapat dipercaya. Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai metode formal berdasarkan perhitungan matematik atau secara informal berdasarkan pendekatan analogi atau penilaian para ahli (professional judgement). e) Keterkaitan dengan Kegiatan Lain Sebutkan kegiatan lain yang ada disekitar lokasi rencana kegiatan yang dapat terpengaruh atau mempengaruhi rencana kegiatan. grafik. KEP-48/MENLH/II/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. agar ditentukan jenis data dan sumber data yang bersangkutan. Metode analisis dan penyajian data mencakup uraian mengenai tata cara analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif serta penyajiannya dalam bentuk tabel. Penetapan metode pengumpulan data tertentu dapat mengacu pada metode yang telah baku atau telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.7. Metode prakiraan dampak mencukup uraian tentang tata cara pendugaan besarnya dampak (perubahan kualitas lingkungan) baik secara kuantitatif maupun kualitatif.2. waktu dan tenaga ahli yang dapat disediakan oleh pemrakarsa. Batasan ruang lingkup wilayah studi merupakan rangkuman dari keempat batas tersebut di atas dengan memperhatikan keterbatasan sumber dana. Batas-batas tersebut di atas harus ditetapkan dengan jelas pada peta dengan skala yang memadai. Metode pengumpulan data mencakup tata cara pengumpulan data yang diperlukan untuk analisis. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan pembangunan jalan. Untuk pengumpulan data primer. Untuk pengumpulan data sekunder. antara lain meliputi : a) Metode pengumpulan data. Sebagai contoh untuk pengukuran. gambar atau deskriptif. Untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 18 . c) Metode evaluasi dampak besar dan penting. E.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (3) Batas Sosial : Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan. (4) Batas Administratif : Meliputi wilayah kecamatan dimana ruas jalan tersebut berada. agar ditentukan jenis data dan lokasi pengambilan data tersebut.

overlay) untuk digunakan sebagai: a) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif kegiatan proyek.6 Pelaksanaan Studi Bab ini menjelaskan tentang : • P em rakarsa • P enyusun studi A M D A L • W aktu studi • B iaya studi • P elaporan a) Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi pemrakarsa rencana kegiatan. Pengalaman di bidangnya minimal 8 tahun dan dalam penyusunan ANDAL minimal 2 tahun. bagan alir. • Teknik Lingkungan. E. Kep-056/1994. Tim pelaksana studi terdiri dari ketua dan anggota.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar mengacu kepada 7 (tujuh) kriteria seperti tercantum dalam Keputusan Ketua Bapedal No. sesuai dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah dan ruang lingkup studi. dalam penyusunan AMDAL minimal 2 tahun dan diutamakan mempunyai sertifikat ANDAL Dasar. berpengalaman di bidangnya minimal 4 tahun.2. b) Tim Pelaksana Studi Tentukan jumlah tenaga ahli dan bidang keahlian serta persyaratan kualifikasinya yang diperlukan untuk pelaksanaan studi ini. • Lansekap. Metode evaluasi dampak mencakup tata cara penentuan dan evaluasi dampak besar dan penting yang harus dilakukan secara holistik (antara lain metode matrik. dengan kriteria sebagai berikut : • Ketua Tim Studi harus seorang ahli Tehnik Jalan Raya dan menpunyai sertifikat AMDAL Penyusunan. b) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan.7. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 19 . • B iologi. • Anggota Tim Studi terdiri dari tenaga ahli yang harus sesuai dengan bidang studi yang ditelaah. serta nama dan alamat lengkap penganggung jawab pelaksana rencana kegiatan tersebut. • S osial-ekonomi. • G eoteknik. Bidang keahlian yang diperlukan antara lain (pilih yang sesuai dengan isu lingkungan yang perlu dianalisis): • T eknik Jalan R aya. • S osial-budaya. • K esehatan M asyarakat.

7.kegiatan antara lain : • P ersiapan dan P enijauan Lapangan. c) Jadual Pelaksanaan Studi Tentukan jadual waktu pelaksanaan studi yang diperlukan yang meliputi kegiatan .7 Daftar Pustaka Pada bagian ini dicantumkan daftar pustaka yang digunakan untuk penyusunan dokumen ANDAL. Contoh : Ahli Biologi bertugas untuk : • M e ngumpulkan data sekunder maupun primer tentang flora dan fauna terutama flora / fauna langka (dilindungi) di wilayah studi yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek. APBD atau Bantuan Luar Negeri. Peta Penggunaan lahan. d. • M enduga besarnya dam pak dan m engevaluasi karakteristik dam pak serta m erum uskan saran penanganan dampak tersebut. serta jadual waktu penyerahan laporan tersebut. E. Disamping itu. Laporan Pra-Studi Kelayakan. • A nalisa Laboratorium . d) Biaya Studi Sumber biaya untuk pelaksanaan studi harus dijelaskan misalnya dari APBN. Pada bagian ini dicantumkan juga perincian komponen-komponen biaya yang dialokasikan untuk pelaksanaan studi seperti biaya personil (gaji-upah).2. e) Pelaporan Pada bab ini agar disebutkan jenis dan jumlah laporan yang harus diserahkan oleh konsultan kepada pemrakarsa. • P enyerahan Laporan ke Instansi yang bertanggung jaw ab. • P em bahasan Laporan di T ingkat P em rakarsa. c. agar dicantumkan data dan informasi yang tersedia yang dapat digunakan oleh Tim pelaksana studi. • P engolahan D ata. peralatan dan material. dsb. seperti : a.laporan lain yang relevan. analisis lanoratorium. secara singkat dan jelas. perjalanan dinas. Laporan . Laporan Perencanaan Umum. • P engum pulan D ata. • P enyusunan Laporan. Jadual waktu kegiatan-kegiatan tersebut di atas harus digambarkan dalam bentuk barchart.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tentukan uraian tugas tiap tenaga ahli yang diperlukan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 20 . Materi serta format mengenai pelaporan ini telah dibakukan seperti tercantum pada Kotak 5. termasuk tahun anggarannya. b. Tentukan juga lamanya penugasan tiap tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing.

ruas jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut material dan sebagainya. Rangkuman hasil konsultasi masyarakat e.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Komisi Penilai ANDAL. Laporan Pendahuluan diserahkan kepada Pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan pertama. Peta lokasi proyek secara makro.7. penyusun / penerbit.Ringkasan Eksekutif. b. 5. c.1 Laporan Pendahuluan Laporan ini mencakup hasil-hasil studi literatur dan peninjauan lapangan. Peta lokasi kegiatan tertentu (bila perlu) misalnya quarry. agar dilampirkan juga izin prinsip atau dokumen lain dari instansi yang berwenang. 5. dan kerangka laporan (daftar isi laporan akhir). Laporan tersebut harus dilengkapi dengan data-data penunjang yang terkait.3 Konsep Laporan Akhir Konsep laporan akhir harus memuat seluruh hasil kajian sesuai dengan kerangka laporan yang telah disetujui oleh pemrakarsa. dan tahun pembuatan / penerbitannya. setelah diperbaiki sesuai dengan hasil pembahasan Tim Teknis. . Laporan diserahkan sebanyak 40 set terdiri dari : .5.Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 21 . . Biodata personil penyusun ANDAL Untuk kasus tertentu misalnya pembangunan jalan yang melalui kawasan hutan.5. E. jadual studi ANDAL.Dua puluh (20) eksemplar untuk pembahasan di Tim Teknis.5.5 Pelaporan 5.2 Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi uraian singkat tentang kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan rencana kerja bulan berikutnya. yang terdiri dari : . Kotak 5 Contoh Rumusan Sub bab 5. . terhitung sejak tanggal konsultan menerima Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemrakarsa.Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).2. Di samping itu agar dikemukakan juga penjelasan rinci tentang metode dan peralatan yang akan dipakai dalam analisis komponen lingkungan. d.Laporan ANDAL.8 Lampiran Data dan informasi yang perlu dilampirkan antara lain : a. Peta trase jalan yang akan dibangun / ditingkatkan dengan skala yang memadai.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Informasi tentang laporan studi agar mencakup judul laporan. .

4 Laporan Akhir Laporan akhir sebanyak 12 (dua belas) set dan harus sudah mencakup koreksi. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa KA-ANDAL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan. Untuk keperluan penilaian tersebut di atas.8 Presentasi dan Perbaikan KA-ANDAL Kerangka Acuan ANDAL yang telah disusn oleh pemrakarsa harus disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menyetujui KA-ANDAL yang dimaksud.9 Penolakan Kerangka Acuan ANDAL Instansi yang bertanggungjawab wajib menolak kerangka acuan ANDAL rencana kegiatan apabila rencana lokasi kegiatan tersebut terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan / atau tata ruang kawasan. E. Keputusan atas penilaian KA-ANDAL yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya KA-ANDAL tersebut. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan KA-ANDAL yang telah disusunnya. Kerangka Acuan ANDAL tersebut di atas akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian ANDAL yang akan dilaksanakan. E. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen KA-ANDAL dari komisi penilai. terhitung sejak tanggal konsultan m enerim a S urat K eputusan P erintah M ulai K erja dari pemrakarsa. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan / saran dari komisi penilai. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG JALAN 22 . Laporan Akhir harus diserahkan kepada pemrakarsa paling lambat pada akhir bulan ke … … … … .5. revisi dan perbaikan pada konsep laporan akhir. Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut di atas (75 hari). sesuai dengan masukan dari Komisi Pusat AMDAL.Lampiran E – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 5.

RKL/RPL F. RKL dan RPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : a) b) c) d) e) Survai dan konsultasi masyarakat Penyusunan konsep ANDAL Penyusunan konsep RKL Penyusunan konsep RPL Presentasi dan perbaikan ANDAL. RKL dan RPL Bidang Jalan F.1. Konsultasi dengan masyarakat Konsultasi masyarakat terutama dengan penduduk terkena proyek (PTP). Bab 2 : Ruang Lingkup Studi. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 1 . karena berkaitan dengan proses pengumpulan data dan identifikasi cara penanganan dampak. (a). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.2 Konsultasi Masyarakat Konsultasi masyarakat disini sebenarnya merupakan dari kegiatan survai.1 Survai Rona Lingkungan Awal Proses utama dari pengumpulan data (komponen geofisik-kimia. sosial dan kesehatan masyarakat. biologi.2.3. sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam identifikasi dan prakiraan dampak. F.1 Langkah-langkah Pelaksanaan Proses penyusunan ANDAL. Bab 3 : Metode Studi. (b). serta sarana dan prasarana yang akan terkena dampak) adalah melakukan survai rona lingkungan awal dengan cara observasi.2. Konsultasi dilakukan terhadap instansi pemerintah daerah yang terkait dan masyarakat.3 Penyusunan Konsep ANDAL F. dimaksudkan untuk menampung masukan dalam kaitannya dengan dampak pengadaan lahan serta kriteria tentang pemilihan rute. F.2 Survai dan Konsultansi Masyarakat F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran F Pedoman Teknis Penyusunan ANDAL. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. Tata cara konsultasi masyarakat pada tahap ini dapat dilihat pada tata cara konsultasi masyarakat pada tahap studi kelayakan. Dokumen ANDAL terdiri dari 9 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. pengamatan dan wawancara. Metode pengumpulan data untuk masing-masing komponen/parameter lingkungan sebagaimana yang diuraikan pada dokumen KA-ANDAL. Konsultasi dengan instansi terkait Konsultasi ini terutama dimaksudkan untuk menampung dan mengakomodir rencana tata ruang wilayah termasuk tata guna lahan.

3. Bab 9 : Lampiran. 1. Dampak Besar dan Penting Yang Ditelaah a) b) Uraian secara singkat mengenai rencana kegiatan penyebab dampak.3. 2 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Merumuskan RKL dan RPL Bahan bagi perencana pembangunan wilayah. RKL DAN RPL BIDANG JALAN .2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari dua sub-bab yaitu Latar Belakang dan Tujuan Studi. Bab 5 : Rona Lingkungan Awal. dan wilayah studi. Bab 8 : Daftar Pustaka. Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari kegiatan. Bab 7 : Evaluasi Dampak Besar dan Penting. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kaitan rencana kegiatan dengan dampak besar dan penting (seperti pada KAANDAL). Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dari kegiatan. b) Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:      F. terutama yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. 1. Bab 6 : Prakiraan Dampak Besar dan Penting. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari kegiatan.3 Ruang Lingkup Studi Materi Bab 2 (Ruang Lingkup) terdiri dari dua sub-bab yaitu dampak besar dan penting yang ditelaah. Tujuan studi a) Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah:     Mengidentifikasi rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting Memprakirakan dan mengevaluasi rencana kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Uraian secara singkat rona lingkungan hidup yang terkena dampak. 2.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 4 : Rencana Kegiatan. Latar Belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a) b) c) d) Tujuan dan kegunaan proyek. F. terutama yang langsung terkena dampak. Landasan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup.

Metoda Prakiraan Dampak Besar dan Penting Uraian secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak kegiatan dan penentuan sifat dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 3. dan metoda evaluasi dampak besar dan penting. yakni : a) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. serta metoda perumusan RKL dan RPL. metoda analisis atau alat yang digunakan. overlay) yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup. F.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Uraian secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada 3. 2. mengacu kepada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL Penjelasan-penjelasan tersebut diatas dilengkapi dengan peta yang memadai.4. c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positip sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. 3. dan hasil pengamatan lapangan. Wilayah Studi Uraian secara singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam KA-ANDAL. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 3 . bagan alir. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan RKL dan RPL. tata ruang mikro letak (adaptasi lokasi alinyemen). atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat kegiatan beroperasi. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai. b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. Metoda Evaluasi Dampak Besar dan Penting Uraian secara singkat tentang metoda evaluasi yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti matriks. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data Uraian secara jelas tentang metoda pengumpulan data.1 b) di atas.3. meminimisasi. metoda prakiraan dampak besar dan penting.1 b) di atas. Metode Studi Materi Bab 3 (Metode Studi) terdiri dari empat sub-bab yaitu metoda pengumpulan dan analisis data. 4. 2. Aspek-aspek yang diteliti dari ketiga hal di atas. dan rancang bangun teknis.3. 1. Pergunakan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. maupun hingga kegiatan berakhir. Metoda Perumusan RKL dan RPL Arahan perumusan dan penyusunan RKL dan RPL adalah mengacu kepada Lampiran III dan IV Keputusan Kepala Bapedal No.3.

Jenis rencana kegiatan Jenis-jenis kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak antara lain meliputi: a) Tahap Prakonstruksi Jenis kegiatan pada tahap prakonstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah :  kegiatan penentuan lokasi trase jalan  kegiatan pengadaan lahan  pemindahan penduduk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.3.1 Identitas Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari: a) Pemrakarsa :   Nama dan alamat lengkap instansi sebagai pemrakarsa kegiatan Nama dan alamat penanggung jawab pelaksanaan rencana kegiatan b) Penyusun ANDAL :   Nama dan alamat lengkap perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. F. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 4 .1. dan komponen kegiatan proyek. Nama dan alamat lengakp penanggung jawab penyusun ANDAL F.2 Tujuan Rencana Kegiatan Uraian pernyataan rencana maksud dan tujuan dari kegiatan secara sistematis dan terarah. F. kabupaten/kota dan provinsi. yaitu lokasi dan luas areal proyek. Komponen Proyek Komponen proyek pembangunan jalan terdiri dari jenis rencana kegiatan dan dimensi kegiatan utama.5. sebutkan perkiraan luas areal yang dibutuhkan oleh proyek.3 Komponen dan Dimensi Kegiatan Uraian secara rinci mengenai rencana kegiatan proyek jalan. ekonomi dan institusi. 2. Berdasarkan rencana panjang dan lebar daerah milik jalan. Lokasi dan Luas Areal Proyek Uraian lokasi keberadaan proyek jalan yang menyebutkan desa. Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi.3.5. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat kegiatan.5. 2.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positip tersebut. kecamatan.5 Rencana Kegiatan F. 1. d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumberdaya tidak dapat pulih.3.3.

RKL DAN RPL BIDANG JALAN 5 .Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) Tahap Konstruksi Jenis kegiatan pada tahap konstruksi yang dapat menimbulkan dampak adalah : a. dan pasca konstruksi. Pelaksanaan           Pembersihan lahan di DAMIJA/pembuatan jalan masuk Penyiapan tanah dasar Pekerjaan galian dan timbunan Pekerjaan perkerasan Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) Kegiatan pengoperasian jalan Kegiatan pemeliharaan jalan c) Tahap Pasca Konstruksi 2.2. Dimensi Kegiatan Utama Uraian secara singkat dan jelas dimensi kegiatan utama proyek jalan dan dilengkapi dengan gambar.5. dan rencana jadwal kegiatan proyek (dalam bentuk barchart)  Metode kerja Uraian metoda dan teknik atau langkah-langkah pelaksanaan proyek dari tahap pra konstruksi.3. Rencana dimensi tersebut antara lain :  Lebar Damija  Panjang jalan  Lebar lajur  Lebar bahu luar  Lebar bahu dalam  Lebar median (untuk dua jalur)  Kemiringan melintang  Kemiringan bahu  Kecepatan rencana F. konstruksi. Uraian besaran dari setiap langkah pelaksanaan kegiatan proyek yang berpotensi menimbukan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Melengkapi penjelasan uraian metode kerja kerja tersebut dengan peta (misal lokasi PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.4 Garis besar kegiatan Uraian secara ringkas tentang status dan jadwal kegiatan serta metode kerja kegiatan pada setiap tahapan kegiatan  Status dan jadwal kegiatan Uraian secara jelas status proyek pada saat penyusunan studi ANDAL berlangsung. Persiapan  Mobilisasi alat-alat berat  Mobilisasi tenaga kerja  Pembuatan base camp/pengoperasian base camp b.

kesehatan masyarakat dan komponen sarana prasarana.6. volume galian dan timbunan dll). rute angkutan material. Keberatan pemilik lahan. Keamanan dan ketertiban masyarakat Warisan budaya.6 Rona Lingkungan Awal Pada bab ini dijelaskan kondisi awal semua komponen lingkungan hidup di wilayah studi yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting atau mengalami perubahan mendasar. RKL DAN RPL BIDANG JALAN . F. Kualitas air permukaan.2 Komponen Biologi Komponen biologi yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. peta lokasi galian dan timbunan dll) dan matriks prakiraan besaran komponen kegiatan (misal jumlah tenaga kerja proyek. F. jenis peralatan yang digunakan. Pendapatan penduduk. Pola penggunaan lahan. Aliran air tanah. Settlement. yaitu komponen geofisik-kimia. sosial. 6 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Perekonomian lokal.6.3. Aksesibilitas masyarakat Kekerabatan penduduk. antara lain meliputi :  Flora darat  Fauna darat.  Biota air. Keresahan masyarakat. Prevalensi penyakit.3.1 Komponen Geofisik.3. biologi.3. F.Kimia Komponen geofisik-kimia yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. antara lain meliputi :              Kepadatan penduduk.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan basecamp. antara lain meliputi :            Kualitas udara dan kebisingan Topografi Stabilitas lereng. Aliran air permukaan. Erosi tanah.6.3 Komponen Sosial dan Kesehatan Masyarakat Komponen sosial yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Mata pencaharian penduduk Kesempatan kerja. Sedimentasi. Tata guna lahan. Estetika lingkungan F.

3. b. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Kegiatan menimbulkan dampak-dampak penting tersebut di atas yang selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan.3.7 Prakiraan Dampak Besar dan Penting Pada bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak kegiatan pada saat prakonstruksi. b) Perimbangan dampak positip dan negatip komponen kegiatan terhadap komponen lingkungan secara holistik.8 Evaluasi Dampak Besar dan Penting Pada bab ini menguraikan mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari kegiatan.  Kondisi utilitas. Telaah ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi tanpa proyek dan kondisi dengan proyek dengan menggunakan metoda prakiraan dampak. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bila dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 7 .6. Gunakan metoda evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. 3) Mekanisme aliran dampak. d. F. konstruksi. antara lain meliputi :  Kondisi jalan. c.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F. 4) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting.4 Komponen Sarana Prasarana Komponen sarana prasarana yang terkena dampak dari kegiatan pembangunan jalan. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut biologi dan sosial.8. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. Kegiatan menimbukan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial.  Kondisi lalu lintas. F. yaitu proses terjadinya dampak langsung maupun tidak langsung berdasarkan kategori sebagai berikut: a.1 Telaahan terhadap dampak besar dan penting a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar.3. F. dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan hidup. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. 2) Penentuan arti penting perubahan lingkungan hidup yang diperkirakan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah studi berdasarkan pedoman penentuan dampak besar dan penting.3. agar digunakan metoda-metoda formal secara sistematis (lihat pada KA-ANDAL). e.

d) Diagram. e) Bahan-bahan tersebut di atas tidak perlu lagi dilampirkan bila sudah dicantumkan dalam KA-ANDAL.4.1.9 Daftar Pustaka Uraian rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. Dokumen RKL terdiri dari 5 bab sebagai berikut : Pernyataan pelaksanaan. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. F. F. kualifikasi. F. keputusan. d) Penyebaran atau luasan daerah yang terkena dampak penting yaitu apakah akan dirasakan secara:  Lokal  Regional  Nasional  Internasional e) Alternatif usulan penanganan dampak penting berdasarkan kemampuan mengatasi dampak negatip dan mengembangkan dampak positip serta pengaruhnya terhadap hasil evaluasi dampak penting. b) Ciri-ciri dampak penting yaitu:  Berlangsung terus. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 8 .3. grafik.2 Telaahan sebagai dasar pengelolaan a) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dan rona lingkungan dengan dampak positip dan negatip yang timbul. rujukan bagi pelaksana serta penyusun ANDAL. c) Kelompok masyarakat yang terkena dampak dampak negatip maupun dampak positip dan kesenjangan antara yang diinginan terhadap yang mungkin timbul.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi sebagai dampakdampak besar dan penting yang harus dikelola. b) Surat-surat tanda pengenal. F.  Terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau sinergis  Ambang batas akan mulai terlampui sejak kegiatan dimulai dan akan berlangsung terus atau tidak. suatu pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditanda tangani di atas kertas bermeterai.3. peta.10 Lampiran Bahan-bahan yang dilampirkan: a) Surat ijin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun.8.3. c) Foto-foto yang menggambarkan kondisi rona awal lingkungan hidup. f) Hasil analisis bencana atau resiko bila rencana kegiatan berada di daerah bencana dan atau daerah bencan alam.4 Penyusunan Konsep RKL F.

Bab 2 : Pendekatan Pengelolaan Lingkungan.4. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya RKL F. serta menghindari pembiayaan yang berkesinambungan.  Mereklamasi lahan bekas buangan dengan pengaturan tanah buangan dan penutupan tanah. akan ditempuh cara. akan ditempuh cara misal:  Untuk mengantisipasi adanya banjir.  Biaya yang dibutuhkan sedapat mungkin bisa terjangkau. Pendekatan Teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Bab 1 : Pendahuluan.  Teknologi yang akan dipilih adalah teknologi yang telah dikuasai dan materialnya tersedia. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. singkat dan jelas. Bab 3 : Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. roda empat /lebih) b) Dalam rangka mencegah. Bab 4 : Daftar Pustaka.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis.  Dalam rangka meningkatkan dampak positip berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positip yang telah ada. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. dibuat konstruksi jalan penyeberangan dengan kriteria sesuai dengan kebutuhan dan perencanaan/perkembangan wilayah yang akan menyeberang jalan tol ini (peruntukan jalan kaki.3 Materi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Materi Bab 2 (Pendekatan Pengelolaan Lingkungan) memuat uraian tentang: Pendekatan lingkungan hidup yang digunakan adalah secara pendekatan teknologi. F.4. (a). misal:  Membangun terasiring atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi.  Untuk mengantisipasi adanya hambatan aksesibilitas penyeberangan pada trase jalan tol. b) Pernyataan kebijakan lingkungan. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positip tersebut. seperti : a) Dalam rangka penanggulangan dampak banjir dan gangguan aksesibilitas. ekonomi dan institusi. kelonggaran atas kriteria desain saluran air untuk daya tampung debit yang didasarkan pada curah hujan 50 hingga 100 tahunan di suatu lokasi tertentu. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 9 . Bab 5 : Lampiran. mengurangi. Uraian tenatang komitmen pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

c) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan. yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa. jelaskan rencana lokasi pengelolaan lingkungan dan lengkapi dengan peta. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.  Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan secara periodik kepada pihak-pihak yang berkepentingan. uraian spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting.  Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan dari instansi yang berwenang.4 Materi Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Materi Bab 3 (RKL) memuat uraian tentang: a) Sumber dampak. cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. misal :  Kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang berkepentingan (Dinas Perhubungan.  Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. (c). Pendekatan Sosial Ekonomi Pada pendekatan sosial ekonomi ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. berkepentingan. Dinas Tata Kota dll) dalam pengelolaan lingkungan. PLN (Persero). uraikan kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan dilaksanakan. e) Lokasi pengelolaan lingkungan. Dinas Kehutanan. Pendekatan Institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yanag akan ditempuh dalam rangak menanggulangi dampak besat dan pennting lingkungan hidup.  Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar kegiatan sesuai dengan kemampuan proyek. d) Pengelolaan lingkungan. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 10 . dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (b). Dinas Pengairan. uraikan jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. sosial ekonomi ataupun institusi. g) Pembiayaan. h) Institusi pengelolaan lingkungan hidup. f) Periode pengelolaan lingkungan. jelaskan tolok ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. b) Tolok ukur.  Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milikmpenduduk untuk keperluan kegitan dengan prinsip saling menguntngkan kedua belah pihak. misal :  Melibatkan masyarakat di sekitar rencana kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.  Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlan dan ketrampilan yang dimiliki. F. jelaskan upaya pengellaan yang dapat dilakukan melalaui pendekatan tenologi.4.

singkat. Bab 2 : Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup.1.4. tujuan pengelolaan lingkungan. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan.2 Materi Pendahuluan Materi Bab 1 (Pendahuluan) terdiri dari: a) Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan RPL. adalah penurunan sumur penduduk.3 Materi Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Materi Bab 2 (RPL) memuat uraian tentang: a) Dampak besar dan penting yang dipantau. Uraian secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting:  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat langsung dariu kegiatan. F. maka uraikan secara singkat jenis kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak. Bab 3 : Daftar Pustaka. Dokumen RPL terdiri dari 4 bab sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan.6 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : jenis dampak.4. suatu alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk tentang suatu kondisi.5. rencana pengelolaan. Contoh indikator muka air tanah. c) Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa.5.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.  Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. dan jelas tentang tujuan RPL yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana kegiatan. pihak-pihak yang berkepentingan.5 Penyusunan Konsep RPL F.5. b) Uraian secara sistematis. baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 11 . F. sumber dampak. F.5 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. Bab 4 : Lampiran. periode dan institusi pengelolaan lingkungan b) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta rancangan teknis dll F. tolok ukur. b) Sumber dampak. dll. maupun bagi masyarakat. lokasi. Cantumkan secara singkat :  Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau.

5. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Apabila dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup lai. rencana pemantauan (meliputi metoda pengumpulan data. metoda analisis). (lihat konsistensi dengan metode yang digunakan di saat penyusunan ANDAL).6. pengawas. f) Lokasi pemantauan lingkungan Mencantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan yang dimaksud. F. Institusi pemantauan tersebut meliputi pelaksana. Pemrakarsa akan menerima tanda bukti penerimaan dokumen ANDAL dan RKL/RPL dari komisi penilai. lokasi. berkepentingan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL. atau formulir isisan yang digunakan.1 Dokumen ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusun harus disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai AMDAL. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak. sumber dampak. dan institusi yang dilapori hasil kegiatan pemantauan. dan institusi pemantauan lingkungan. Selain itu uraiak pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran berikut peralatan dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. h) Institusi pemantauan lingkungan hidup Cantuman institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. tujuan pemantauan lingkungan. F. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. kimia. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 12 . F.6 Presentasi dan Perbaikan ANDAL dan RKL/RPL F.5 Lampiran Lampiran tentang : a) Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : dampak besar dan penting yang dipantau. c) Parameter lingkungan yang dipantau Uraian secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. g) Jangka waktu dan frekuensi pemantauan Uraian tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. d) Tujuan rencana pematauan lingkungan Uraian secara spesifik tujuan dipantaunya dampak besar dan penting. e) Metode pemantauan lingkungan Uraian secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut jenis peralatan.4 Pustaka Uraian sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL.5. b) Data dan informasi penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL.

Lampiran F – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan F.6. pemrakarsa (dengan bantuan konsultan) harus mempresentasikan ANDAL dan RKL/RPL yang telah disusunnya. RKL DAN RPL BIDANG JALAN 13 . F.5 Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu tersebut pada butir F.6.6.1 akan dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati kajian ANDAL dan RKL/RPL yang akan dilaksanakan. F.2 ANDAL dan RKL/RPL tersebut pada butir F. F. maka pemrakarsa harus memperbaikinya sesuai dengan tanggapan/saran dari Komisi Penilai.4.6.6. F.6 Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa ANDAL dan RKL/RPL yang disusun oleh pemrakarsa masih perlu perbaikan.6.6.3 Untuk keperluan penilaian tersebut di atas. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima ANDAL yang dimaksud. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN ANDAL.4 Keputusan atas penilaian yang telah dipresentasikan oleh pemrakarsa wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa dalam jangka waktu selambatlambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya ANDAL dan RKL/RPL tersebut.

1 Kajian Data Awal Penentuan sub komponen yang dianalisis harus didasarkan pada prakiraan perubahan yang terjadi terhadap komponen lingkungan sosial yang disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan jalan. yaitu mempertimbangkan hubungan ekologis langsung (interaksi) antara daerah koridor proyek dengan daerah di sekitarnya. G. G. 3. penetapan batas wilayah studi. Langkah-langkah kegiatan analisis dampak sosial adalah sebagai berikut : 1. Ahli Sosial Ekonomi. 5.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran G Pedoman Teknis Analisis Dampak Sosial Bidang Jalan G. 299/11/1996. Survai dan pengumpulan data Analisa kondisi rona lingkungan sosial. dan penilaian tingkat kepentingan parameter. Identifikasi dan Penetapan Parameter Sosial Identifikasi dan penetapan parameter sosial meliputi kajian data awal.2. Evaluasi hasil dan perumusan mitigasi dampak. 4. identifikasi sub komponen sosial yang berpotensi terkena dampak. (b).1 Penjelasan Umum Pelaksanaan kegiatan analisis dampak sosial ini merupakan bagian dari Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan analisis dampak lingkungan (ANDAL) pada tahap kelayakan dari siklus pengembangan proyek Penanggung jawab utama kegiatan analisis dampak sosial adalah Unit Pelaksana Kegiatan (Proyek) Studi Kelayakan/AMDAL. Ahli Transportasi. Perhitungan dan prakiraan besarnya perubahan setiap parameter sosial.2 Penetapan Batas Wilayah Studi (a). identifikasi komponen rencana kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. Ahli Kesehatan Masyarakat dan Ahli Lingkungan. 2. Pembagian Segmen Wilayah Studi Pembagian segmen dalam proses identifikasi ini mengikuti prosedur berikut: PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 1 . Penetapan Wilayah Studi Wilayah studi ditentukan sesuai keputusan Kepala Bapedal No. Prakiraan awal ini dapat dilakukan secara analogi ataupun penetapan tenaga ahli. dan dapat dibantu oleh Tim Penyusun dari luar (Konsultan atau Lembaga Perguruan Tinggi) dengan melibatkan Ahli Sosiologi. termasuk akses koridor.2. G.2. Identifikasi dan penetapan parameter sosial. quarry ataupun fasilitas pendukung lainnya.

Dalam proyek jalan.2.  Jika ditemukan adanya homogenitas pada segmen yang berdekatan.  Melakukan pengamatan terhadap lokasi. Pengertian Batas Wilayah Studi :  Batas proyek adalah ruang dimana rencana kegiatan (proyek jalan) akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. lokasi quarry. Misalnya batas administrasi pemerintahan daerah. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. dan borrow area (yang dikelola proyek).  Jika dianggap wilayah kelurahan/desa ini masih terlalu besar. batas administratif. dilakukan penggabungan segmen/sub segmen.3 Identifikasi Komponen Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak. batas kawasan industri. berdasarkan kendala teknis yang dihadapi (dana. batas proyek dimaksud antara lain mencakup: DAMIJA/DAWASJA. Batas sosial dapat menyebar dibeberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau ekologis. Di dalam ruang tersebut masyarakat secara leluasa dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. setiap segmen dan sub segmen. dapat berupa perbedaan warna maupun notasi garis.  Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya atau. Jika ditemukan adanya parameter yang berbeda dan mendasar pada satu segmen. G.  Batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial) yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. dimana proses-proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Wilayah studi diplotkan pada peta koridor dan diberikan batasan yang jelas. wilayah studi dibagi berdasarkan garis batas administrasi wilayah kelurahan/desa sebagai segmen. (c). waktu dan tenaga yang tersedia). lokasi basecamp. batas ekologis.  Pada tahap awal. dilakukan pembagian segmen. rute pengangkutan material. maka wilayah ini dapat dibagi menjadi sub segmen-sub segmen yang lebih kecil (wilayah RW atau koloni permukiman). konstruksi dan operasi.  Melakukan uji petik kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.  Melakukan wawancara tak terstruktur terhadap para pamong warga setempat (RT/RW) untuk mendapatkan gambaran parameter sosial yang perlu dianalisis.  Batas wilayah studi adalah merupakan resultante dari batas proyek. batas sosial. kawasan pelabuhan/bandar udara. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 2 .  Batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada.

1. Tahap konstruksi b. Persiapan konstruksi  Mobilisasi tenaga kerja  Pembersihan lahan  Pembuatan pengalihan jalan sementara  Pengoperasian base camp b. Hasil dari langkah-langkah tersebut antara lain sebagai berikut: (a). Metode kerja. meliputi :  Pengoperasian jalan  Pemeliharaan jalan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 3 . meliputi:  Penentuan lokasi trase jalan  Pengadaan tanah  Pemindahan penduduk (b).  Pemancangan tiang panjang  Pekerjaan bangunan jembatan (c). Tahap pasca konstruksi. Tahap pra konstruksi. mencakup:  Tahap pra konstruksi  Tahap konstruksi  Tahap pasca konstruksi (c). antara lain sebagai berikut: (a). mencakup:  Jenis rencana kegiatan (pembangunan jalan baru atau peningkatan jalan yang ada)  Lokasi dan luas areal proyek (panjang jalan dan lebar DAMIJA)  Komponen dan dimensi pekerjaan utama (b). Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan pada setiap tahap pekerjaan (e). Kegiatan proyek. Kajian ini dapat dilengkapi dengan peta identifikasi sebaran ruangnya. Pelaksanaan Konstruksi  Penyiapan tanah dasar  Pekerjaan tanah (galian dan timbunan)  Pekerjaan lapis perkerasan  Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek)  Pembuatan bangunan pelengkap jalan  Pengangkutan meterial proyek.2.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Proses identifikasi dilaksanakan dengan cara kajian deskriptif terhadap seluruh komponen rencana kegiatan pembangunan jalan berdasarkan tahapan kegiatan dan kerangka waktunya. peralatan dan meterial yang digunakan (d).Tahapan Pelaksanaan Proyek. Lamanya kegiatan (jadwal) Kegiatan proyek jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial.

Pembobotan oleh Ahli (b). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 4 . selanjutnya menjadi dasar dalam pembuatan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban.2.5 Penilaian Tingkat Kepentingan Parameter Penilaian tingkat kepentingan parameter. Perubahan tingkat pertama diuraikan lagi untuk melihat perubahan lanjutan yang ditimbulkannya. Identifikasi dengan matriks interaksi terbatas pada dampak langsung.4 Identifikasi Sub Komponen Sosial yang Berpotensi Terkena Dampak Sub komponen sosial yang akan dianalisis sebagaimana telah diuraikan pada G. yakni: (a). tanpa pengumpulan data terlebih dahulu. G.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. (c).1 Metode/alat yang digunakan untuk membantu identifikasi dapat berupa: (a).2. Daftar Uji Daftar uji (checklist) adalah pengidentifikasian dampak yang mungkin terjadi dari proyek yang dikerjakan terhadap komponen yang dimuat dalam suatu daftar dampak. dapat dilakukan dengan cara pembobotan. Bagan alir pada pembangunan jalan dimulai dengan membagi tahapan kegiatan menjadi tiga. Pembobotan dengan Studi Kepentingan Bobot kepentingan parameter sosial (BPPS) didapat dari perhitungan nilai jawaban pertanyaan pada kuesioner. Penilaian untuk setiap jawaban dilakukan menggunakan skala bobot kepentingan. Pelaksanaan penilaian/pembobotan. yaitu:  Tahapan pra konstruksi  Tahapan konstruksi  Tahapan pasca konstruksi Dampak langsung yang muncul pada masing-masing tahapan kegiatan disebut perubahan tingkat pertama. Skala bobot kepentingan dimaksud. (b). Bagan Alir Dampak Bagan alir adalah metoda identifikasi dampak yang menggunakan suatu pola aliran untuk melihat dampak turunan dari tahapan kegiatan pembangunan.2. Matriks Interaksi Metode ini mengidentifikasikan interaksi antara penyebab dampak (komponen kegiatan) dengan komponen lingkungan. dilakukan penghitungan bobot kepentingan parameter sosial untuk lokasi observasi. perubahan ini disebut juga sebagai perubahan tingkat kedua. Daftar uji dibuat berdasarkan penetapan ahli. bukan pada dampak turunan. Melalui prinsip penghitungan yang sama. Dasar dari pembobotan terhadap kepentingan parameter sosial adalah tingkat kepentingan dan besarnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi. dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara. Demikian seterusnya hingga ditemukan perubahan tingkat ketiga.

analisis dan mitigasi akan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mewakili kondisi/kebutuhan populasi yang ditinjau. Sampel yang diwawancarai sekurang-kurangnya berusia cukup untuk dapat memahami pertanyaan.1 Kerangka Proses G. Apabila dipilih cara ini.3. sebagai kepala keluarga atau sebagai ibu rumah tangga. dan teknik penyusunan kuesioner perlu mendapatkan perhatian. G. karena umumnya dilakukan suatu wawancara terstruktur yang melibatkan banyak sampel dan wilayah kerja yang luas. Pekerjaan Pendahuluan Responden wajib mengetahui gambaran rencana proyek yang akan dilaksanakan di lokasi tersebut. Proses ini perlu dipersiapkan secara khusus. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 5 . tim studi perlu mempersiapkan rencana survai yang disetujui pemrakarsa. Pembagian sub lokasi ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat homogenitas wilayah yang paling baik. jumlah sampel ditentukan. Cara pembagian wilayah studi menjadi lokasi survai didasarkan pada klasifikasi perkotaan-perdesaan. Karenanya.3. maka koridor ruas jalan yang panjang perlu dibagi dalam beberapa zona lokasi survai. Pengelompokan lokasi survai dapat dilakukan apabila diyakini bahwa lokasi tersebut tipikal dengan lokasi-lokasi yang diwakilinya. Untuk itu. batas wilayah administratif. G. Dengan cara tersebut. salah satu di antara 2 daerah sampel tersebut dapat dijadikan kontrol. G.2 Pembagian Wilayah Studi Untuk dapat melakukan sampling dengan baik. Prosedur Administrasi Tim akan dibekali surat pengantar oleh pemrakarsa untuk mengurus perijinan ke instansi-instansi yang berkepentingan.3. dan keragaman tata guna lahan. maka kelompok populasi yang dianggap homogen sekurangkurangnya diwakili oleh 2 lokasi sampel.3 Kriteria Pemilihan Sampel Setelah sub lokasi sampling dapat diidentifikasi. teknik penelusuran sampel. Untuk dapat meyakini representatif tidaknya ukuran sampel. perlu dilakukan penelusuran tapak.3 Survai dan Pengumpulan Data Proses utama dari pengumpulan data ini adalah melakukan observasi dan wawancara.3. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang koridor proyek dan kemungkinan wilayah yang secara langsung terkena proyek. apabila pemrakarsa proyek belum pernah memberikan penyuluhan dan temu muka dengan masyarakat di lokasi tersebut. karakteristik populasi harus diakui dan diyakini bahwa setiap kelompok sampel memang cukup homogen dengan populasinya. (b). dengan maksud apabila diperlukan uji perlakuan. Dalam penelitian sosial ukuran sampel representatif umumnya tidak ditentukan.4 Prosedur Pelaksanaan Survai (a).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. tim berkewajiban untuk memberikan gambaran proyek kepada responden. Pemilihan sampel representatif.

semi-permanen. seperti kondisi permukiman permanen. Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder menyangkut lokasi survai dapat diambil dari beberapa sumber. (f).Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (c).d. atau pun jenis pekerjaan. sehingga tidak terjadi kesalahan jawaban. analisis dan kesimpulan yang mengandung parameter dan asumsinya. Muatannya berupa data hasil wawancara. (g). Kemudian setiap sel disisir secara merata dengan patokan koridor proyek. Wawancara semacam ini dimaksudkan untuk memudahkan responden menangkap maksud pertanyaan kuesioner. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 6 . Berkaitan dengan pelaksanaan metode prediksi/evaluasi dampak lingkungan sosial ini. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur dilakukan dengan bantuan kuesioner. Kriteria strata lain yang biasa digunakan adalah usia responden. Hasil uji ini dipergunakan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya kesalahan pada data atau pun proses perhitungan DDLS. Inventarisasi Tapak Unit observasi dalam inventarisasi tapak pada kajian aspek sosial proyek jalan adalah suatu wilayah memanjang. Wawancara Tidak Terstruktur Unit observasi biasanya dipilih berdasarkan strata. Pencatatan dan risalah adalah laporan yang diharapkan dari hasil wawancara tak terstruktur ini. Pelaksanaan Uji Tingkat Kepuasan Evaluasi terhadap nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) eksisting dilakukan dengan melakukan survai terhadap tingkat kepuasan masyarakat pada kondisi eksisting. Penelusuran untuk listing yang disarankan adalah dengan membagi wilayah secara memanjang dengan kisaran interval 25 s. antara lain:  Monografi Desa  Data Desa di Kecamatan  Badan Pusat Statistik Kab/Kota  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab/kota  Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Kab/kota  Dinas Kesehatan Kab/kota  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/kota  Dinas-dinas lain yang berkaitan dengan permasalahan yang teridentifikasi (d). Uji tingkat kepuasan dilakukan dengan mengajukan daftar isian kepada responden. 50 meter. (e). dan responden dihadapkan pada pilihan opini. metode ini dilakukan untuk mendapatkan bobot kepentingan parameter sosial (BPPS). dan non permanen. Daftar isian memuat parameter yang dinilai dari setiap sub komponen. Sel/blok yang terbentuk akan terbagi pada kiri dan kanan (rencana) jalan.

Studi kepentingan menjadi mutlak diperlukan. tidak rancu dan menyediakan jawaban yang dapat dipilih dengan mudah (mewakili aspirasi responden). berupa identitas responden. G. kedua nilai tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan nilai Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS).5 Kritreria Data Sekunder dan Perangkat Survai (a). Kriteria Daftar Isian Uji Tingkat Kepuasan Daftar isian untuk uji tingkat kepuasan responden terhadap kondisi eksisting dapat diisikan secara langsung oleh pewawancara. Pada prinsipnya. persepsi tingkat kepentingan parameter.4 Analisis Rona Lingkungan dan Prediksi Dampak Metode prediksi dan evaluasi dampak sosial ini secara konsep dikembangkan berdasarkan Metode Battele yang diintegrasikan dengan konsep Rekayasa Nilai untuk menghitung kinerja lingkungan yang ditampilkan sebagai Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) Lingkungan. untuk mengidentifikasi BPPS suatu wilayah survei untuk mendapatkan nilai daya dukung lingkungan. Kriteria Kuesioner BPPS Syarat umum kuesioner sosial adalah bahwa pertanyaan jelas.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan G. Sasaran akhir dari metoda ini adalah mendapatkan Prioritas Penanganan Dampak yang dituangkan dalam Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) atau Rencana Pengelolaan G. Sedangkan dampak yang diindikasikan oleh nilai Besaran Dampak (BD) adalah faktor pereduksi Daya Dukung Lingkungan. Kunci pokok penyusunan kuesioner dampak sosial ini adalah jenis pertanyaan yang diajukan untuk menilai persepsi masyarakat terhadap proyek.1 Proses Analisis PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 7 .3. (b). serta tidak menggiring responden untuk memilih jawaban tertentu. dan persepsi terhadap kondisi eksisting.4. Kuesioner tersebut memuat data pokok. Penetapan DDLS sebagai indikator prediksi merupakan bagian inti dari konsep pengembangan metoda prediksi dan evaluasi sosial. serta harus secara mudah dapat dicerna oleh masyarakat awam. karena itu daftar isian ini harus secara jelas memberikan tolok ukur penilaian. responden diminta untuk menilai kondisi eksisting. (c). atau diserahkan kepada responden untuk mengisi sendiri. akan diperlukan Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) dan Nilai Rona Awal (NRA) lingkungan. Daya Dukung dalam hal ini adalah nilai akhir dalam perhitungan kinerja lingkungan setelah memperhitungkan berbagai faktor. Selanjutnya. seperti identifikasi kebutuhan (BPPS) dan Standar (NRA). Kriteria Data Sekunder Data sekunder yang dipergunakan dalam Kajian Aspek Sosial disyaratkan untuk memenuhi beberapa ketentuan berikut :  Dikeluarkan oleh instansi pemerintah atau lembaga swasta secara resmi (sah)  Memuat keterangan waktu up date terakhir  Metoda pengumpulan datanya dapat ditelusuri.

Untuk kepentingan analisis ini. Nilai Rona Awal merupakan rasio kondisi nyata sub komponen lingkungan dengan kondisi yang diperhitungkan/dipersyaratkan sebagai standar pada sub komponen yang sama. antara lain : 1. mobilisasi dan pembebasan lahan. Perbedaan angka BPPS menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan secara relatif. Angka yang memberikan indikasi besarnya kepentingan populasi terhadap sub komponen lingkungan yang akan dipengaruhi oleh proyek. Bobot Kepentingan Parameter Sosial (BPPS) Nilai BPPS dihasilkan dari proses pembobotan parameter. (c). BPPS dalam metoda prediksi ini merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi besaran daya dukung lingkungan karena merupakan pembagi komponen rona lingkungan.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lingkungan (RKL). PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 8 . Daya Dukung Lingkungan dibagi atas beberapa bagian. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pra Konstruksi (DDLSpk) Daya Dukung Lingkungan pada saat pekerjaan pra konstruksi dilakukan di daerah tersebut seperti pengukuran. Nilai ini akan menunjukkan besarnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan sosial masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap parameterparameter yang diukur. 3. Prioritas penanganan sendiri ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan.2 Komponen Analisis (a). Nilai Rona Lingkungan (NR) Rona ditampilkan dalam bentuk NILAI RONA yang terdiri atas Nilai Rona Awal (NRA) dan Nilai Rona Prediksi (NRP). peraturan daerah ataupun standar-standar internasional. Kondisi ini adalah kondisi acuan yang dipergunakan dengan anggapan tidak dilakukan sesuatu terhadap wilayah tersebut (tidak dibangun proyek). 2. dihitung berdasarkan kemungkinan terjadinya pada saat konstruksi. (b). Daya Dukung Lingkungan Sosial (DDLS) Nilai Daya Dukung Lingkungan adalah koreksi NR (Nilai Rona) oleh BPPS (Bobot Kepentingan Parameter Sosial). Nilai rona sendiri ditentukan berdasarkan hasil perbandingan kondisi lapangan dengan standar-standar yang berlaku. Kondisi standar yang dimaksudkan dalam hal ini mengacu kepada ketetapan pemerintah. dan dapat dipertimbangkan dalam rangking tingkat kepentingan masyarakat di lokasi tersebut. baik berupa baku mutu. Daya Dukung Lingkungan Sosial Konstruksi (DDLSk) Perhitungan Daya Dukung ketika masa konstruksi sedang berlangsung. Daya Dukung Lingkungan Sosial Awal (DDLSaw) Didasarkan atas kondisi/rona pada saat proyek belum dilaksanakan sama sekali.4. antara lain :  Termasuk kategori dampak penting  Memiliki simpul (interseksi) terbanyak dengan sub komponen lain  Berdasarkan perhitungan daya dukung termasuk dalam prioritas (mengalami penurunan daya dukung terbesar) G. baik berupa target ataupun standar (misalnya standar penyediaan sarana dasar pekerjaan umum).

nilai relatif ini disebut sebagai intensitas dampak. Selisih Daya Dukung Lingkungan (SDDL) Konsep prediksi pada metoda ini adalah melakukan perbandingan antara daya dukung lingkungan sosial (DDLS) pada saat awal dengan keadaan pada saat pra konstruksi. RDDL adalah merupakan produk dari proses perhitungan sederhana. G. konstruksi.1 Pengujian Daya Dukung Lingkungan Eksisting G. (d). Jadi : SDD = DDLSprediksi – DDLSaw (e).5. Perumusan merupakan konsep rekayasa nilai yang didasarkan atas pertimbangan bahwa kinerja lingkungan harus memenuhi kebutuhan manusia yang akan menggunakannya. yakni besaran dampak dan derajat kepentingan dampak. intensitas dampak sulit diukur secara langsung. terdapat 2 (dua) terminologi kunci.Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4. Karena itu. Daya Dukung Lingkungan Sosial Pasca Konstruksi (DDLSpk) Perhitungan dan perkiraan Daya Dukung Lingkungan setelah berakhirnya masa konstruksi atau proyek dioperasikan. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 9 . Interpretasi terhadap data primer dilakukan dengan memberikan nilai (skor) pada jawaban setiap responden.5 Evaluasi dan Mitigasi Dampak Evaluasi ini dimaksudkan untuk pengujian terhadap hasil perhitungan daya dukung lingkungan eksisting (DDLSaw). dalam konsep ini lingkungan diasosiasikan sebagai produk yang sebaiknya dapat mendukung kebutuhan hidup manusia. Jadi. Interpretasi terhadap hasil rata-rata tingkat kepuasan diukur berdasarkan nilai rata-rata maksimum dan minimum. yang menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi dikaitkan dengan satuan ukuran yang dipergunakan. hasil prakiraan besaran dampak terhadap subkomponen terformulasikan dalam wujud rasio penurunan daya dukung (RDDL). RDDL ini layak dipergunakan sebagai acuan bagi pelaksanaan evaluasi besaran dampak sebagai pengganti intensitas dampak. Pada proses analisis. interprertasi terhadap hasil perata-rataan akan dilakukan berdasarkan skala ukur. Pengujian dilakukan melalui uji tingkat kepuasan dengan dengan mengajukan daftar isian/wawancara kepada responden. Nilai negatif akan muncul pada Selisih Daya Dukung (SDD) apabila terjadi perubahan pada lingkungan yang bersifat sebagai dampak. dan setelah proyek dioperasikan (pasca konstruksi). Pada komponen sosial. Nilai ini adalah nilai relatif penurunan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) yang bersangkutan dengan parameter yang ditinjau. DDL dihitung dengan membagi nilai rona dengan bobot kepentingan parameter sosial (DDLS = NR/BPPS). Pada komponen lain.2 Evaluasi Dampak Dalam proses evaluasi ini. Rasio Perubahan Daya Dukung Lingkungan (RDDL) Besaran dampak yang muncul pada tiap parameter ditafsirkan dari nilai hasil bagi SDD/DDLSaw. RDDL = SDD/DDLSaw G.5. dan akan muncul nilai positif apabila muncul sebagai manfaat.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Besaran dampak adalah pernyataan kualitatif dari intensitas dampak untuk memudahkan identifikasi dampak penting. G.  Dampak dikatakan besar. Kep-056/1994. Mitigasi untuk perbaikan dampak Perbaikan pada umumnya dapat dilakukan oleh lingkungan sebagai bagian dari daya tahan lingkungan terhadap gangguan. apabila perubahan (RDDL) yang terjadi dapat ditolerir oleh lingkungan dan dengan segera dapat diantisipasi oleh lingkungan itu sendiri. sehingga kadangkala diperlukan upaya pemaksaan PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 10 . Selanjutnya. yakni :  Dampak dikatakan kecil. digunakan Keputusan Ketua Bappedal No.3 Penanganan Dampak (Mitigasi) Mitigasi dampak dalam AMDAL dimaksudkan untuk minimasi dampak yang terjadi pada komponen lingkungan yang terkena dampak kegiatan. Selanjutnya untuk menilai (evaluasi) tingkat pentingnya dampak. Mitigasi untuk meminimasi dampak Dampak kadangkala tak dapat dihindarkan. Besaran ini hanya memberikan penegasan bagi besar tidaknya dampak terhadap suatu populasi pada sub-komponen yang ditinjau. Namun seringkali terjadi pergeseran kesetimbangan. maka hal tersebut menunjukkan tingkat (skala) prioritas penanganan dampak. apabila perubahan yang terjadi tidak berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan (daya dukung lingkungan prediksi =)  Dampak tergolong sedang. Demikian pula dengan populasi. Secara konsep.5. Mitigasi untuk mencegah dampak Prioritas ini adalah utama. (c). maka besaran dampak dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori. baik pada saat pra-konstruksi. yakni :  Jumlah manusia yang terkena dampak  Luas sebaran dampak  Lamanya dampak berlangsung  Intensitas / besaran dampak  Banyaknya komponen lingkungan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak  Berbalik atau tidak berbaliknya dampak Kriteria evaluasi dampak penting sebagai penjabaran lebih lanjut dari kriteria dasar tersebut di atas dengan ketentuan bahwa apabila salah satu kriteria dimaksud terpenuhi. masa konstruksi. maka suatu dampak tergolong kategori penting. Namun dengan penanganan terhadap kasus yang terjadi dan penyelesaian secara sistematis dampak yang lebih besar dapat dihindarkan. Berdasarkan evaluasi terhadap rasio penurunan daya dukung ini. mitigasi dilakukan dengan prioritas sebagai berikut : (a). artinya sedapat mungkin semua dampak yang diperkirakan dapat dicegah generasinya sehingga tidak dibutuhkan biaya perbaikan (recovery) (b). maupun pasca konstruksi. apabila terdapat lebih dari suatu kriteria yang terpenuhi. apabila lingkungan tidak dapat memberi toleransi terhadap perubahan (RDDL) dan diperlukan suatu upaya (usaha) perbaikan terhadapnya.

Lampiran G – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kembali seperti semula. sangat perlu untuk meneliti secara akurat derajat kepentingan dampak intensitas dampak. Dengan demikian. Mitigasi dilaksanakan secara teknologi. PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK SOSIAL BIDANG JALAN 11 . (d). dan menguraikan kembali dampak penting yang timbul pada suatu bagan alir dampak untuk mendapatkan simpul-simpul dampak sekunder atau pun tersier. Kompensasi umumnya dikaitkan dengan penggantian kerugian yang timbul baik dengan uang ataupun dengan fasilitas yang tujuannya memaksa agar daya dukung lingkungan dapat diperbaiki. mitigasi akan diprioritaskan pada dampak yang menuju pada dampak sekunder atau tersier yang sama. Kompensasi Kompensasi dilakukan apabila tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan terhadap komponen lingkungan pada lokasi kegiatan untuk mengembalikan daya dukung lingkungan kembali seperti semula. Untuk memilih prioritas mitigasi. sistem atau pun penggabungan dari keduanya.

Pembinaan/rehabilitasi sosial ekonomi PTP yang terpindahkan bagi tenaga kerja lokal sosekbud  Tingkat pendapatan PTP  Sikap / persepsi masyarakat (PTP) akan yang terpindahkan  Kesulitan dan hambatan di lokasi baru  Mata pencaharian dan  Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendapatan PTP di lokasi baru prasarana sosial budaya KONSTRUKSI Mobilisasi tenaga kerja Sosekbud  Keresahan/kecemburuan sosial  Pemberian kesempatan kerja di proyek  Sikap/ persepsi masyarakat  Keterlibatan tenaga lokal pada A. terutama terhadap PTP yang akan terpindahkan Pemilihan lokasi pemindahan yang sesuai Memberikan fasilitas sosekbud dan kemudahan di lokasi baru.Persiapan Konstruksi Pengoperasian basecamp Lingkungan pemukiman penduduk Sumber daya air dan kesehatan lingkungan Sosial budaya Lingkungan fisikkimia  Penurunan kualitas udara dan proyek peningkatan kebisingan kualitas air dan kualitas sanitasi lingkungan  Kecemburuan sosial  Penurunan  Penurunan kualitas udara dan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Pembatasan jam kerja  Menampung limbah oli/minyak dan  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd Kualitas MCK bergerak  Pemilihan lokasi yang agak jauh dari     air dan limbah padat  Sikap penduduk setempat Pembersihan lahan serta pembuatan jalan masuk peningkatan kebisingan  Rusak/terganggunya umum utilitas pemukiman Penyuluhan terhadap pendatang Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Pemindahan utilitas umum atau perbaikan utilitas umum  Keluhan masyarakat thd kualitas  Sikap/persepsi udara dan kebisingan masyarakat thd fungsi utilitas umum .CONTOH MATRIKS UPAYA PENANGANAN DAMPAK SOSIAL DARI KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN TAHAP PRAKONSTRUKSI KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN Penentuan lokasi trase jalan Pengadaan tanah Sosial ekonomi sosekbud  Keresahan masyarakat      Konsultasi masyarakat. terutama PTP Pemberian ganti rugi yang memadai Rehabilitasi fasilitas sosekbud Memberikan kesempatan kerja pada tahap konstruksi proyek Konsultasi masyarakat. terutama PTP          Sikap/persepsi masyarakat (PTP)  Mata pencaharian PTP  Sikap PTP terhadap nilai ganti rugi  Realisasi dan fungsi fasilitas Hilangnya mata pencaharian Keresahan masyarakat (PTP) Terganggunya fasilitas sosekbud Gangguan Kantibmas yang akan dipindahkan Keresahan masyarakat terhadap lokasi pemindahan Perubahan/kehilangan mata pencaharian Terganggunya pranata sosial Gangguan Kamtibmas Pemindahan penduduk Sosekbud  Keresahan masyarakat (PTP)     Konsultasi masyarakat.

 Keluhan thd. kebisingan  pengaturan pelaksanaan pekerjaan  penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kondisi .  Sikap masyarakat thd fungsi fasilitas umum  Sikap masyarakat thd kondisi lalu lintas  ketersediaan air tanah bagi penduduk di outlet  Keluhan masyarakat thd debu dan kebisingan  Keluhan masyarakat thd kondisi .Pengangkutan tanah dan material bangunan Pengelolaan quarry dan borrow area (yang dikelola proyek) Lingkungan fisik kimia dan sarana/ prasarana Lingkungan pemukiman/peru mahan/bangunan umum (debu) kebisingan  Kerusakan jalan umum      lalu lintas  Keluhan masyarakat thd kondisi  Sikap kualitas udara dan kebisingan masyarakat thd kondisi prasarana jalan umum kualitas udara dan kebisingan  meningkatnya pencemaran udara (debu).Pelaksanaan Konstruksi Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Lingkungan fisikkimia  Meningkatnya pencemaran debu dan kebisingan permukaan  Pengaturan pelaksanaan pekerjaan  Penyiraman secara berkala  Keluhan masyarakat thd kualitas udara dan kebisingan  Terganggunya aliran air  Pengaturan pelaksanaan dan  Keluhan  terganggunya stabilitas lereng           galian  rusak/terganggunya utilitas sosial ekonomi sumber daya air umum  kemacetan lalu lintas  terganggunya/terpotongnya Pekerjaan lapis perkerasan Lingkungan fisik kimia Sosial ekonomi air tanah  penurunan muka air tanah (sumur penduduk)  Meningkatnya pencemaran udara (debu) dan kebisingan  Timbulnya kemacetan lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara pembangunan sistem drainase/goronggorong yang memadai pemotongan tebing sesuai kemiringan rencana perkuatan lereng galian penyiraman secara berkala pemindahan utilitas umum pengaturan lalu lintas dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas rekayasa menghindari terpotongnya aliran air tanah pembuatan bak-bak penampung yang dapat dimanfaatkan penduduk di outlet Penyimaran permukaan jalan secara berkala Pengaturan kecepatan kendaraan Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas Pengaturan pelaksanaan pekerjaan Penyiraman secara berkala Memperbaiki prasarana jalan yang rusak masyarakat genangan air yang timbul masyarakat longsoran yang timbul thd.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN B.

tempat ibadah pemasangan rambu-rambu lalu lintas pemasangan pagar pengaman pembuatan jembatan penyeberangan menata tata ruang (lansekap) damija tempat dan fungsi yang sesuai dengan peruntukkannya (termasuk di masa mendatang)  masyarakat dari pengaruh kestabilan tanah/tingkat erosi Kerugian masyarakat dari perubahan pemanfaatan lahan Keamanan masyarakat dari pengaruh tingkat erosi dan stabilitas bangunan di sungai Keluhan masyarakat thd kebisingan dan kerusakan bangunan milik Kelancaran lalu lintas  Meningkatnya pencemaran udara  Pembuatan  Keluhan masyarakat thd kondisi (debu) dan kebisingan sosial-ekonomi lingkungan dan sosekbud kondisi sosekbud  meningkatnya kecelakaan lalu     kualitas udara dan kebisinganT  intensitas kecelakaan lintas  timbulnya permukiman kumuh  fungsi lansekap damija  keluhan masyarakat thd kondisi baru (di bawah jalan layang)  terganggunya mobilitas / kekerabatan penduduk pada lokasi yang berseberangan (khususnya jalan tol)  meningkatnya kemacetan dan  kecelakaan lalu lintas  pembuatan jembatan/terowongan pada aksesibilitas pemeliharaan jalan sosial ekonomi  pengaturan lalu lintas  pengaturan pelaksana pekerjaan  Keluhan masyarakat thd kondisi arus lalu lintas dan intensitas kecelakaan . sekolah. rumah sakit.TAHAP KEGIATAN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN DAMPAK sumber daya lahan KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK PRAKIRAAN DAMPAK ALTERNATIF PENANGANAN DAMPAK PENGELOLAAN PEMANTAUAN  erosi lahan/longsoran serta  perubahan fungsi lahan  pelaksanan secara bertahap dengan memperhatikan kemiringan tebing  reklamasi lahan bekas galian  pengaturan  Keamanan  lingkungan dan bangunan umum Pemancangan tiang pancang Pekerjaan bangunan bawah/atas (jalan layang) PASCA KONSTRUKSI Pengoperasian jalan Lingkungan fisikkimia Lingkungan sarana/prasarana Fisik – kimia  kerusakan jalan umum lokasi dan pengambilan yang tepat volume   Timbulnya kebisingan dan getaran  Timbulnya kemacaetan lalu lintas  Pengaturan waktu pelaksanaan  Penggunaan jenis tiang pancang yang  sesuai  Pengaturan lalu lintas dan pemasangan ramburambu lalu lintas noise barrier atau penanaman pohon. tertama yang berdekatan dengan lokasi pemukiman.

.

1 Dokumen AMDAL Dokumen AMDAL terdiri dari: a) Kerangka Acuan (KA) ANDAL.2. Peraturan perundangan tentang pengelolaan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan jalan. peta geologi. peta batas wilayah studi. peta tata guna lahan. H. peta-peta terkait antara lain: peta tata ruang. dokumen pengumuman rencana kegiatan proyek. peta topografi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 1 .Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran H (Informatif) Pedoman Teknis Penilaian Dokumen AMDAL Bidang Jalan H. beserta alasan penggunaannya sebagai acuan dalam penyusunan ANDAL. dan d) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). c) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL).1 Penilaian kelengkapan administrasi Kelengkapan administasi yang harus dipenuhi.2. b) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). peta lokasi proyek.1 Pendahuluan Aspek-aspek yang harus dinilai pada bab pendahuluan adalah kelengkapan dan kejelasan tentang: a) b) Uraian tentang tujuan dan kegunaan rencana pembangunan jalan yang memberikan gambaran manfaat terhadap pembangunan lokal. H.2 Penilaian Kerangka Acuan (KA) ANDAL H.2 Penilaian Isi Dokumen H. Surat keputusan atau dokumen lain yang dipersyaratkan untuk izin lokasi sesuai dengan peruntukannya.2. rangkuman hasil konsultasi mayarakat. antara lain: a) b) c) d) e) f) dokumen perizinan yang diperlukan sesuai dengan rencana kegiatan. dsb. daftar keahlian / riwayat hidup (curriculum vitae) para penyusun AMDAL beserta foto copy sertifikat kursus AMDAL yang pernah diikuti. regional maupun nasional.2.

4 Pelaksanaan studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam pelaksanaan studi ini adalah: a) Identitas yang jelas mengenai pemrakarsa baik nama dan alamat instansi (proyek atau bagian proyek) maupun penanggungjawab pelaksanaan rencana pembangunan jalan yang bersangkutan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur. Batas wilayah studi (spatial) baik batas proyek. matrik.  Tahap pasca konstruksi. Pemenuhan persyaratan ketua tim studi:  Memiliki sertifikat AMDAL B atau sederajat.2.2. meliputi:  Tahap pra konstruksi.2. setelah mempertimbangkan berbagai kendala teknis dan kejelasan waktu sesuai dengan tahapan kegiatannya b) c) d) e) H. batas ekologis.2. analog.  Tahap konstruksi.2. profesional judgement untuk prakiraan dampak penting. batas sosial maupun batas administrasi.  Data sekunder: jenis dan sumber data.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam ruang lingkup studi ini adalah kejelasan mengenai: a) Komponen rencana kegiatan pembangunan jalan yang harus dikaji. misalnya penggunaan jalan (volume lalu lintas kendaraan bermotor). biologi dan sosial-ekonomi dan budaya. jumlah sampel dan jenis alat beserta alasan-alasannya. misalnya galian dan timbunan tanah. Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting. yaitu berbagai jenis kegiatan yang diperkirakan potensial sebagai sumber dampak. b) c) d) H.3 Metode studi Aspek-aspek yang harus dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan tentang: a) Metode pengumpulan dan analisis data:  Data primer: lokasi. Kerangka konseptual analisis dan isu-isu pokok yang harus dikaji sesuai dengan hasil pelingkupan yang digambarkan antara lain dalam bentuk diagram alir. Kegiatan lain di sekitarnya dan interaksinya dengan rencana pembangunan jalan yang diusulkan.2. Penggunaan model matematis. misalnya pengadaan tanah. 2 b) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . Komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak meliputi komponen geofisik-kimia. dll.

5 Daftar pustaka Aspek yang perlu diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) rencana pembangunan jalan. Dokumen ANDAL dilengkapi dengan RKL.3. keputusan / perizinan tentang rencana kegiatan proyek dari pemerintah pusat atau daerah. RKL dan RPL. Biaya studi  Rincian komponen biaya studi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan studi.2. atau bantuan luar negeri). RPL.  Kejelasan dan ketepatan alokasi waktu sesuai dengan ruang lingkup studi. Ringkasan Eksekutif dan Lampiran dalam jumlah yang telah ditetapkan oleh Komisi Penilai AMDAL. H. daftar biodata tim penyusun AMDAL (bilamana sudah ditentukan personilnya). c) Pemenuhan persyaratan tim studi:  Sekurang-kurangnya satu anggota tim memiliki keahlian di bidang rencana pembangunan jalan. b) metode-metode yang digunakan.1 Penilaian kelengkapan administrasi Periksalah kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi. swasta. d) e) H.  Memiliki keahlian yang sesuai dengan isu pokok.6 Lampiran Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) peta lokasi rencana alinyemen jalan dan peta-peta pendukung lainnya seperti peta lokasi quarry dan jaringan jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan. hal-hal lain yang dianggap perlu guna mendukung dokumen KA-ANDAL (misalnya kuesioner untuk survey sosial. Persyaratan administrasi kainnya yang ditetapkan oleh Komisi Penilai ANDAL. hasil konsultasi dengan instansi terkait. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 3 .2.2.3 Penilaian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) H.2.  Sumber dana (APBN.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Memiliki keahlian sesuai dengan isu pokok yang harus ditelaah.  Berpengalaman menyusun AMDAL sekurang-kurangnya 5 (lima) studi. seperti bukti telah diterimanya dokumen ANDAL. yaitu: a) b) c) Dokumen KA-ANDAL yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab. APBD. H.  Berpengalaman memimpin tim studi. dsb). Jadwal waktu pelaksanaan studi:  Kejelasan tentang rencana pelaksanaan studi.

harus jelas metode apa yang digunakan misalnya metode matematis. b) c) PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 4 .1 Pendahuluan Periksalah kejelasan dan kesesuaian tentang aspek-aspek: a) Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan studi ANDAL khususnya yang berkaitan dengan prediksi dan evaluasi dampak penting serta pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. dampak penting yang ditelaah harus sesuai dan konsisten dengan isu-isu pokok yang telah ditetapkan dalam KA-ANDAL dan isu lain yang ditemukan selama pelaksanaan studi. hasil pelingkupan waktu terjadinya dampak (pra-konstruksi. konstruksi.3 Metode studi Aspek-aspek yang dinilai dalam metode studi adalah kejelasan dan ketepatan serta konsistensi tentang: a) Metode tentang pengumpulan dan analisis data:  data primer: lokasi.2. Kejelasan pernyataan tujuan dan kegunaan studi ANDAL yang telah dirumuskan dalam KAANDAL. b) H. analog. atau profesioanal judgement.2 Ruang lingkup studi Aspek-aspek yang dinilai dalam ruang lingkup studi adalah: a) b) c) d) e) jenis-jenis kegiatan yang potensial menimbulkan dampak penting. komponen atau parameter lingkungan yang diduga akan mengalami perubahan mendasar akibat pembangunan jalan. dan pasca konstruksi).  pertanahan.2.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. H. jumlah sampel dan jenis alat yang digunakan beserta alasanalasannya. antara lain menyangkut aspek-aspek:  pembangunan jalan. Pengambilan sampel dan parameter yang akan diukur Prediksi dampak penting Dalam memprediksi setiap komponen lingkungan yang terkena dampak penting akibat kegiatan proyek. wilayah studi yang mengacu pada KA-ANDAL dan hasil pengamatan di lapangan yang digambarkan secara jelas dalam peta dengan skala memadai.3.3.3.  dll.  data sekunder: jenis dan sumber data.3.2 Penilaian Isi Dokumen H.  baku mutu lingkungan.2.

2. atau adanya kawasan yang dilindungi.  Jenis dan jumlah material (bahan bangunan) yang digunakan. lokasi quarry. e) Kegiatan lain yang terkait serta interaksinya dengan kegiatan proyek. serta lokasi pengambilan.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan d) Penggunaan metode-metode evaluasi dampak penting Metode evaluasi dampak penting yang digunakan adalah metode – metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL dan harus dapat menggambarkan evaluasi dampak secara holistik. c) Lokasi rencana kegiatan yang dilengkapi peta-peta. spesifikasi dan jumlah alat-alat berat yang digunakan. Peta-peta tersebut harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi. H. g) Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan serta tenaga kerja.  Sarana pengendalian dampak baik yang direncanakan terintegrasi dengan kegiatan maupun yang terpisah. e) H. dan sistem pengangkutan serta penyimpanannya. wilayah studi. kualifikasi dan asal tenaga kerja yang diperlukan pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi. alinyemen jalan. Komponen-komponen lingkungan yang mungkin mempengaruhi kegiatan proyek. f) Jangka waktu pelaksanaan rencana kegiatan (pra-konstruksi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 5 . rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut bahan bangunan.5 Rona lingkungan awal Penilaian aspek – aspek rona lingkungan awal meliputi: a) b) c) Komponen-komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek.2.3. peralatan dan material yang digunakan seperti:  Jenis.4 Rencana kegiatan pembangunan jalan Aspek-aspek yang dinilai dalam rencana kegiatan adalah kejelasan dan kelengkapan tentang: a) Identitas pemrakarsa dan penyusun dokumen. b) Tujuan serta manfaat dari rencana kegiatan pembangunan jalan. Komponen-komponen lingkungan tersebut di atas harus konsisten dengan isu pokok lingkungan yang harus ditelaah. d) Data teknis jalan yang akan dibangun. konstruksi dan pasca konstruksi).3. seperti peta tata ruang. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk evaluasi beserta alasan penetapannya. Indikator dan / atau parameter lingkungan yang merupakan tolok ukur perubahan kualitas lingkungan yang mencakup aspek fisik-kimia. biologi dan sosial-ekonomi-budaya serta kesehatan masyarakat. terutama di areal-areal yang sensitif terhadap perubahan (fragile area).  Jumlah.

 Data dasar yang sahih bila digunakan metode analog. c) d) H. agar dikaji secara deskriptif analitis. yang menjelaskan jenis-jenis dampak yang harus dikelolala. Telaahan hubungan kausatif (sebab-akibat) dari berbagai jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sebagai dasar perumusan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.2. Catatan: Untuk komponen atau parameter lingkungan yang perubahannya tidak dapat diukur secara kuantitatif. Penentuan arti pentingnya dampak berdasarkan kriteria penentuan dampak penting yang berlaku.3.7 Evaluasi Dampak penting Aspek-aspek yang dinilai pada evaluasi dampak penting adalah kejelasan tentang: a) b) c) Telaahan secara holistik terhadap bebagai komponen lingkungan yang diperkirakan akan mengalami perubahan sesuai dengan hasil prakiraan dampak besar dan penting. (5) Dampak penting pada butir (1). dan bila mungkin dibuat beberapa skenario masa mendatang yang mungkin terjadi.8 Daftar Pustaka Aspek yang harus diperhatikan dalam daftar pustaka adalah sumber informasi yang berhubungan dengan: a) Rencana kegiatan proyek jalan. (4) Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu sendiri.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. 6 PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN . Kesimpulan hasil telaahan holistik tersebut di atas. Kejelasan tentang proses terjadinya dampak pada berbagai komponen lingkungan yang dilengkapi dengan bagan alir.2.2. selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana kegiatan proyek. Besarnya perubahan kualitas lingkungan pada tiap komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak penting.  Alasan dan pertimbangan yang kuat bila digunakan metode profesional judgement. seperti pergeseran tata nilai. (3) dan (4) yang telah diuraikan.6 Prakiraan dampak penting Aspek-aspek yang dinilai dalam prakiraan dampak penting mencakup: a) b) Komponen-komponen lingkungan yang dianalisis dalam prakiraan dampak penting harus konsisten dengan komponen dan parameter lingkungan yang dinyatakan dalam ruang lingkup studi. (2). yang ditunjang dengan:  Rincian perhitungan bila digunakan metode matematis dan/atau empiris.3. (2) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia kemudian rangkaian dampak lanjutan berturut-turut pada komponen biologi dan sosial. (3) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. yaitu: (1) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial.3. H.

 Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak pulih. Dasar pertimbangan penetapan kriteria besaran dampak. Metode-metode yang dugunakan. Jenis dampak besar dan penting yang harus dikelola sesuai hasil ANDAL.1 Lingkup RKL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RKL adalah kejelasan dan konsistensi tentang: a) b) c) d) e) Pernyataan melaksanakan RKL dan RPL. pendapat dan tanggapan masyarakat. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 7 .2. Kebijakan pemrakarsa rencana kegiatan pembangunan jalan dalam pengelolaan lingkungan.  Betujuan untuk menanggulangi. Saran. Cara-cara dan hasil perhitungan. Hak-hal lain yang dipandang perlu untuk menndukung dokumen ANDAL. Pendekatan institusi.  Bertujuan untuk meningkatkan dampak positif. meminimalisasi atau pengendalian dampak negatif. Daftar biodata tim penyusun AMDAL.4. Pendekatan sosial-ekonomi. hilang atau rusak (baik dalam arti ekonomi maupun ekologi) akibat kegiatan proyek. H. H. H.9 Lampiran Aspek yang harus diperhatikan dalam lampiran adalah keberadaan dan kelengkapan: a) b) c) d) e) f) Peta lokasi rencana kegiatan proyek. seperti kuesioner dan hasil evaluasinya yang merupakan bagian metode pelaksanaan studi.4. Maksud dan tujuan pengelolaan lingkungan. yaitu: a) b) c) d) Pendekatan teknologi.3.2 Pendekatan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RKL adalah kejelasan dan relevansi tentang pendekatan yang digunakan dalam menangani dampak penting. Pendekatan estetika. Kategori pengelolaan lingkungan yaitu:  Bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan b) c) Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya.4 Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) H.

4.4.1 Lingkup RPL Aspek-aspek yang dinilai pada lingkup RPL adalah kejelasan tentang: PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 8 . tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. H.4.4 Rencana pelaksanaan RKL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RKL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) f) g) h) i) komponen atau parameter lingkungan yang terkena dampak penting. sumber dampak.5 Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) H. metode dan teknik pengelolaan lingkungan. H.3 Kedalaman RKL Aspek-aspek yang dinilai pada kedalaman RKL adalah kejelasan tentang bagian-bagian RKL yang harus dijabarkan: a) b) c) d) e) desain dasar (basic design).5 Daftar pustaka Aspek yang dinilai adalah kejelasan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H. kriteria desain. rencana pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP). misalnya konsultasi masyarakat. lokasi pengelolaan lingkungan. pembiayaan dan sumber biaya. H. persyaratan lainnya yang diperlukan untuk mencapai sasaran pengelolaan dampak.6 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan data. syarat-syarat teknis pelaksanaan konstruksi. tolok ukur / parameter dampak.4. serta informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL. H. keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  pelaksanaan RKL  pengawasan pelaksanaan RKL. periode dan jadwal pelaksanaan pengelolaan lingkungan. dan  pelaporan.5. syarat-syarat teknis pelaksanaan operasi dan pemeliharaan.

PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 9 . Tolok ukur / parameter dampak.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) tujuan dan kegunaan.2 Pendekatan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada pendekatan RPL adalah kejelasaan tentang kerangka dan landasan pemilihan pendekatan pemantauan misalnya: a) b) Kemitraan dengan instansi lain atau pihak swasta dan masyarakat setempat. Pembagian pendanaan dengan instansi terkait dan pihak lain. dan  Pelaporan.5 Lampiran Aspek yang dinilai adalah tabel ringkasan rencana pemantauan lingkungan hidup dan data serta informasi penting yang merujuk dari dokumen RKL. Keberadaan dan komitmen institusi yang terlibat dalam:  Pelaksanaan RPL.4 Daftar Pustaka Aspek yang dievaluasi adalah sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL.5.  inspeksi mendadak. H. Sumber dampak. Periode/jadwal pelaksanaan (jangka waktu dan frekuensi) pemantauan.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di tempat (in situ). dsb). misalnya:  pemantauan visual dengan pencatatan.5.3 Rencana pelaksanaan RPL Aspek-aspek yang dinilai pada rencana pelaksanaan RPL adalah kejelasan informasi tentang: a) b) c) d) e) Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau.5.5. f) g) h) H. H. H.  pemantauan dengan cara pengambilan sampel dan analisis di laboratorium. Metode dan teknik pemantauan lingkungan. Tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan. kamera video. Lokasi pemantauan lingkungan.  pemantauan visual dengan menggunakan alat bantu (kamera.  kombinasi teknik-teknik tersebut di atas.  Pengawasan pelaksanaan RPL. komponen lingkungan yang dipantau sesuai dengan RKL.  wawancara.

Catatan: Kriteria penilaian dapat dimodifikasi sesuai dengan materi dokumen yang dievaluasi. PEDOMAN TEKNIS PENILAIAN DOKUMEN AMDAL BIDANG JALAN 10 .6 Laporan hasil penilaian dan evaluasi Laporan hasil penilaian dan evaluasi disajikan dengan cara mengisi daftar uji (checklist) seperti contoh terlampir.Lampiran H – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan H.

2.1 Pendahuluan Latar belakang Pada bagian ini dicantumkan nama proyek.2 Tujuan dan kegunaan UKL dan UPL I.2.1 Tujuan UKL dan UPL Tujuan UKL adalah sebagai acuan untuk mencegah. I. atau diperlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.1.1 I. tujuan pembangunan / peningkatan jalan. I.1.  Merupakan masukan bagi perencanaan teknis untuk djabarkan lebih lanjut dalam desain dan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi. serta rencana peningkatannya maupun kondisi yang ada saat ini.2 Kegunaan UKL dan UPL Kegunaan UKL adalah untuk:  Memberikan petunjuk tentang cara penanganan dampak yang mungkin timbul.1.  Memberikan petunjuk kepada pemrakarsa / pengelola proyek dan instansi terkait mengenai lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam upaya pengelolaan lingkungan. dan jelaskan pula isu pokok lingkungan yang perlu ditangani. panjang ruas jalan. Untuk proyek pembangunan jalan baru. sehingga dampak negatif dapat dicegah atau dikurangi sedini mungkin. agar dijelaskan apakah rencana kegiatan masih dalam damija yang ada. lebar rencana damija.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran I (Informatif) Pedoman Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Bidang Jalan I. Tujuan UPL adalah untuk memantau hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan proyek jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) dengan cara mencek / mengobservasi perubahan rona lingkungan yang telah terjadi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 1 .1. mengendalikan dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat pembangunan / peningkatan jalan (disebutkan nama ruas jalan yang bersangkutan) serta mengembangkan dampak positif terhadap lingkungan. Untuk proyek peningkatan jalan. Hasil pemantauan tersebut merupakan masukan bagi instansi yang bertanggungjawab atau terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. sesuai dengan laporan hasil penyaringan. Berikan penjelasan mengapa dilakukan studi UKL dan UPL berdasarkan peraturan yang ada. agar dijelaskan apakah tanahnya sudah dibebaskan atau memerlukan pengadaan lahan dan jelaskan berapa luasnya.

2 Fasilitas penunjang jalan Pada bagian ini dijelaskan fasilitas penunjang jalan yang direncanakan.1. Konstruksi jembatan. gambar profil melintang dan memanjang. meliputi:        perlengkapan jalan raya seperti tanda-tanda lalu lintas dan pagar pengaman.2 I.1. fasilitas penerangan jalan. Lokasi kegiatan-kegiatan tersebut diplot pada peta dengan skala yang memadai agar implementasinya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien pada lokasi yang tepat sesuai dengan sasaran.2. pot / bak tanaman. lebar jalan (damija) lebar perkerasan lebar bahu dan median jenis lapis perkerasan. I.1 Deskripsi proyek Bagian ini berisi uraian singkat mengenai data teknis jalan dan jembatan yang akan dibangun / ditingkatkan. LHR rata-rata (rencana). Kecepatan rata-rata (rencana). I.1 Rencana Kegiatan Proyek Deskripsi rencana kegiatan I.3 Wilayah UKL dan UPL Wilayah UKL dan UPL harus ditentukan dengan maksud untuk membatasi dan menunjukkan lokasi kegiatan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan oleh pemrakarsa dan atau instansi terkait. halte bus. Panjang dan lebar jembatan. meliputi:           panjang jalan.2.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kegunaan UPL adalah sebagai arahan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan UKL yang telah dilaksanakan I. dsb.1. jembatan penyeberangan trotoar. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 2 .2.

2. truk.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I.4. pekerjaan jembatan. Apabila diperlukan pengadaan tanah.2 Tahap konstruksi Pada bagian ini dijelaskan secara rinci jenis-jenis kegiatan yang akan dilaksanakan pada rahap konstruksi. I.2. I.2 Tujuan dan kegunaan rencana kegiatan Pada bagian ini dijelaskan kembali tujuan dan kegunaan rencana kegiatan pembangunan jalan dan atau jembatan secara lebih spesifik. antara lain: a) Pengadaan tanah Agar dijelaskan apakah rencana proyek jalan ini memerlukan pengadaan tanah atau tidak. I.2.3 Volume pekerjaan Pada bagian ini dijelaskan volume pekerjaan secara garis besar seperti pengadaan tanah. b) Relokasi fasilitas umum dan penunjang jalan Agar dujelaskan jenis-jenis prasarana / fasilitas umum seperti jaringan kabel listrik atau telepon. I. jumlah dan asal tenaga kerja yang diperlukan). Mobilisasi tenaga kerja (sebutkan kualifikasi.3 Status rencana kegiatan Pada bagian ini disebutkan status rencana kegiatan dalam kaitannya dengan tahapan siklus proyek. misalnya tahap studi kelayakan.1.4. mobilisasi peralatan dan tenaga kerja. perkerasan dll. serta jenis penggunaannya saat ini. barang dan jasa serta pengembangan wilayah sekitarnya.2.2. excavator. gorong-gorong. dll yang dibutuhkan. b) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 3 . Contoh: Tujuan proyek jalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas jalan antara kota propinsi satu dengan yang lain. Adapun kegunaannya adalah untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan. seperti: a) Mobilisasi alat berat Agar dijelaskan jenis dan jumlah alat berat seperti buldozer. pekerjaan tanah (galian / timbunan). yang perlu direlokasi (bila ada).4 I.1 Uraian kegiatan Tahap pra-konstruksi Pada bagian ini dikemukakan secara jelas tentang komponen kegiatan pada tahap pra-konstriksi yang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. 2. Jelaskan juga status / kondisinya saat ini dan rencana relokasinya. status pemilikannya. saluran irigasi. agar disebutkan luas tanah yang akan dibebaskan.

agar dijhelaskan lokasi borrow area-nya dan rute pengangkutannya. Pembersihan lahan Kegiatan ini mencakup pembersihan vegetasi dan juga bangunan dan benda-benda lain yang terdapat pada tapak kegiatan proyek. dan cara pengelolaan limbah. Pekerjaan lapis dasar Pekerjaan ini dapat mencakup dua bagian yaitu lapis pondasi bawah (sub base course) dan lapis pondasi atas (base course). Pekerjaan lapis permukaan Pekerjaan ini terdiri dari lapis permukaan bawah dan lapis permukaan atas. dsb. Apabila untuk pekerjaan timbunan diperlukan tanah dari tempat lain. Pekerjaan bangunan pelengkap jalan Pekerjaan ini meliputi antara lain pembuatan gorong-gorong. d) Pembuatan dan pengoperasian basecamp Agar dijelaskan lokasi basecamp dan jaraknya ke pemukiman dan badan air terdekat. Agar disebutkan berapa volume pekerjaan tersebut dan bagaimana cara pelaksanaan pekerjaannya. batu. penyiapan bibit tanaman dan penanaman pada areal tertentu seperti tepi dan median jalan atau bak / pot tanaman. Agar disebutkan volume pekerjaan dan cara pelaksanaannya. e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pembongkaran jembatan lama (bila perlu. Agar disebutkan volumenya serta tempat pembuangan tanah yang tidak terpakai. dsb. lantau jembatan serta bangunan pelengkap jembatan. serta galian dan timbunan tanah.2. drainase. Demikian juga lokasi quarry perlu dijelaskan dan bagaimana cara pengelolaannya. piers.3 Tahap pasca konstruksi a) Pengoperasian jalan 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN . khusus untuk penggantian jembatan) I. serta rute jalan yang akan dilalui kendaraan proyek. abutement.4.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Pengangkutan material Agar dijelaskan jenis dan jumlah material yang akan diangkut seperti pasir. Dijelaskan juga bagaimana cara pennyimpanan naterial seperti bahan bangunan dan bahan bakar serta pelumas. Pekerjaan tanah Kegiatan ini meliputi pengupasan lapisan atas (striping). Penyiapan tanah dasar Kegiatan ini berupa pemadatan tanah. Pada areal yang kondisi tanahnya lunak mungkin diperlukan penghamparan geotextile. aspal. Pekerjaan bangunan bawah dan bangunan atas jembatan Pekerjaan ini mencakup pembuatan pondasi. Pekerjaan lansekap jalan Pekerjaan ini mencakup penyiapan lahan.

2.6 Keterkaitan dengan kegiatan lain Pada bagian ini dijelaskan apakah ada kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek jalan ini. agar dijelaskan apakah kegiatan lain tersebut terpengaruh atau mempengaruhi proyek jalan ini. perbukitan. serta partikulat debu. pemeliharaan tanaman pelindung (bila ada). Jadual pelaksanaan konstruksi I.3 I. terutama bersumber dari emisi kendaraan serta debu yang bersumber dari kegiatan konstruksi (pekerjaan tanah). pemeliharaan rambu lalu lintas. apakah daerahnya merupakan dataran rendah. Catatan: Kondisi iklim di wilayah studi (terutama tipe iklim dan curah hujan / jumlah hari hujan) juga perlu diperhatikan. dataran tinggi. hidrocarbon (CH). atau daerah pantai.3. Dijelaskan juga perkiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 dan 10 tahun yang akan datang. sebelum penyerahan pekerjaan. b) Pemeliharaan jalan Kegiatan ini mencakup perbaikan dan pelapisan ulang jalan. Sebagai contoh.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini agar dijelaskan perkiraan volume lalu lintas kendaraan bermotor setelah jalan selesai dibangun. Kebisingan akan meningkat akibat pengoperasian alat-alat berat.1 Komponen Lingkungan yang terkena dampak Komponen geofisik kimia Komponen fisik-kimia yang potensial terkena dampak kegiatan proyek jalan terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi adalah: a) Kualitas udara dan kebisingan Parameter kualitas udara yang harus dikaji adalah carbon monoksida (CO). pegunungan. karena hal itu dapat mempengaruhi aktivitas proyek. Nitrogen oksida (NO). Kualitas udara ini akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 5 .5 Pada bagian ini dicantumkan rencana jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan sampai penyelesaian akhir termasuk masa pemeliharaan oleh kontraktor. Dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan perlu ditangani terutama di daerah pemukiman padat. b) Morfologi Kondisi morfologi di lokasi proyek dan sekitarnya agar diuraikan secara singkat. Jika ada. I. I. bergelombang.2. Jelaskan pula bagiamana rencana kerja / koordinasi dengan kegiatan terkait tersebut.

dsb. Agar dijelaskan juga apakah terdapat jenis penggunaan lahan yang sangat sensitif terhadap kebisingan dan pencemaran udara seperti rumah sakit. Komponen biologi I. danau. Areal binaan seperti pemukiman. Agar dijelaskan juga jenis-jenis satwa liar (bila ada) yang mungkin terganggu kehidupannya. f) Hidrologi Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat kondisi badan-badan air setempat seperti sungai. saluran drainase yang mungkin terkena dampak kegiatan proyek jalan. sekolah. I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) Topografi Kondisi topografi daerah studi perlu diuraikan secara singkat meliputi ketinggian (elevasi) daerah setempat serta kemiringan lerengnya. e) Tata guna lahan Pada bagian ini diuraikan tata guna lahan dan jenis-jenis penggunaan lahan saat ini sepanjang alinyemen ruas jalan yang akan dibangun dan sekitarnya. Hal ini mencakup:     Lokasi pemandangan alam yang bernilai tinggi untuk kegiatan pariwisata. tempat ibadat serta pemukiman padat. taman. g) Lansekap Agar diuraikan kondisi lansekap alami maupun binaan di sekitar alinyemen jalan yang mungkin terganggu oleh kegiatan proyek maupun keberadaan jalan. Agar dijelaskan juga apakah terdapat tanaman yang harus dipertahankan atau dipindahkan (ditanam kembali) untuk keperluan konservasi maupun penataan lansekap. saluran irigasi. d) Tanah Pada bagian ini agar diuraikan secara singkat mengenai kondisi tanah meliputi jenis tanah. Lokasi bangunan bersejarah dan / atau situs purbakala.3.3 a) Komponen sosial Kependudukan Pada bagian ini diuraikan tentang data penduduk yang bermukim di sepanjang ruas jalan. perkantoran.3. Agar dijelaskan juga apakah ada daerah rawan banjir. terutama penduduk yang akan terkena lahannya sebagian atau seluruhnya serta status hak PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 6 . Bentang alam yang bersifat khas.2 Pada bagian ini diuraikan secara singkat jenis-jenis vegetasi yang terdapat di areal tapak proyek (sepanjang alinyemen jalan) dan sekitarnya yang mungkin terkena dampak kegiatan pembangunan jalan. serta stabilitas (tingkat erosi / longsor).

dan sebutkan faktor penyebabnya. Selain itu juga diuraikan secara singkat jumlah dan kepadatan penduduk di daerah yang akan dilewati rus jalan. sarana ibadah.  Jaringan listrik.4 Sarana dan prasarana umum Pada bagian ini diuraikan tentang keberadaan dan kondisi sarana dan prasarana umum di lokasi proyek yang mungkin terganggu.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanahnya. dsb. c) Ketenagakerjaan Pada bagian ini diuraikan tentang ketersediaan tenaga kerja lokal serta kualifikasinya serta tingkat pengangguran yang ada di lokasi proyek. volume lalu lintas kendaraan bermotor. I. baik pada saat pembangunan maupun pengoperasian jalan. Selain itu juga perlu dijelaskan kondisi lalu lintas pada rute jalan yang akan dilalui kendaraan pengangkut alat berat dan bahan bangunan. I. d) Kesehatan Pada bagian ini diuraikan tingkat insidensi dan prevalensi penyakit di lokasi proyek terutama yang berkaitan dengan masalah pencemaran udara seperti ISPA.3. b) Mata pencaharian dan pendapatan Pada bagian ini diuraikan tentang mata pencaharian dan tingkat pendapatan penduduk di sekitar lokasi proyek. terutama penduduk yang akan terkena dampak. gorong-gorong. e) Sikap dan persepsi masyarakat Pada bagian ini diuraikan tentang sikap. pipa gas.  Sekolah. persepsi dan saran / harapan masyarakat setempat (yang berkepentingan) terhadap rencana kegiatan proyek jalan. agar dijelaskan kondisi jalan saat studi. dsb.3. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 7 .. rambu-rambu lalu lintas. pertokoan. telepon.5 Kondisi lalu lintas Untuk proyek peningkatan jalan. Agar dijelaskan juga apakah ada tempat-tempat rawan kecelakaan atau kemacetatn lalu lintas. serta waktu tempuh pengguna jalan. pasar. antara lain:  Prasarana jalan yang sudah ada seperti saluran drainase.

Sedapat mungkin gunakanlah SOP (standard operation procedure) yang telah baku disesuaikan dengan kondisi setempat. Penurunan estetika lingkungan.  Mengembangkan dampak positif untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna proyek.4.1 Dampak yang diperkirakan akan timbul Tahap pra-konstruksi Kegiatan pengadaan tanah diperkirakan dapat menimbulkan dampak sosial berupa keresahan masyarakat. kehilangan tempat usaha. atau mungkin juga terpaksa harus pindah tempat tinggal karena lahan tempat tinggalnya terkena proyek. Kerusakan jalan akibat transportasi material.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I. Penurunan populasi vegetasi. Gangguan stabilitas tanah (erosi / longsor). I.5. Gangguan kesehatan masyarakat.4 I.3 Jenis-jenis dampak yang potensial terjadi pada tahap pasca konstruksi antara lain:     Peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. I. Tahap pasca konstruksi I.1 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) Penjelasan umum Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilaksanakan untuk menangani dampak yang mungkin terjadi pada setiap kegiatan dengan pendekatan:  Mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif yang diperkirakan akan timbul.2 Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi jenis dampak yang potensial terjadi antara lain:           Gangguan lalu lintas. Gangguan kesehatan masyarakat. Kecelakaan lalu lintas. Gangguan aliran permukaan.5 I. Keresahan masyarakat dan konflik sosial.4. Penurunan kualitas udara (debu) dan kebisingan. Kecelakaan lalu lintas. Perubahan tata guna lahan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 8 .4.

keresahan masyarakat atau pencemaran udara. lokasi pemantauan.000 m3. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 9 .6. dan / atau meningkatkan dampak positif yang akan terjadi. tolok ukur dampak.6 I. I.5. I. Cantumkan pula jadwal waktu / periode pelaksanaannnya. serta petunjuk lainnya. I.5.5. d) Pelaksanaan pengelolaan Sebutkan instansi pelaksana pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab. Misalnya sebagai indikator pencemaran udara antara lain sebaran debu yang menempel pada tanaman atau atap rumah di pinggir jalan. c) Waktu pengelolaan Cantumkan kapan tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup harus dilaksanakan. faktor lingkungan yang akan dipantau.5 Upaya pengelolaan lingkungan Dalam bagian ini diuraikan upaya pengelolaan yang akan dilaksanakan. misalnya kerusakan badan jalan. b) Lokasi pengelolaan Tunjukkan (dalam peta) dimana lokasi tiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. misalnya pada km berapa. I.1 Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Penjelasan umum Upaya pemantauan lingkungan meliputi uraian tentang jenis dampak. Bila perlu. Demikian juga sumber dananya harus dijelaskan. nama desa dan kecamatan. misalnya galian tanah 300. dan siapa (instansi mana) yang mengawasinya. Indikator keresahan masyarakat antara lain timbulnya pengaduan atau protes dalam bentuk unjuk rasa.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan I.3 Jenis dampak Berikan penjelasan tentang jenis dampak yang akan terjadi. meliputi: a) Cara pengelolaan Uraikan bagaimana cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan untuk mencegah / mengurangi atau menanggulangi dampak negatif.2 Sumber dampak Berikan penjelasan mengenai jenis dan volume kegiatan yang merupakan sumber dampaknya.4 Indikator dampak Jelaskan indikator dampak yang dapat (mudah) diamati. dan periode pemantauan.5. misalnya selama satu bulan. berikan penjelasan secara jelas dan tepat.

2 Pada bagian ini dijelaskan secara singkat jenis kegiatan yang menjadi sumber dampak. Dan ditetapkan juga waktu (kapan dan berapa lama) pemantauan harus dilakukan. misalnya penurunan kualitas (pencemaran) udara. konstruksi sampai ke tahap pasca konstruksi. Indikator dampak.6. Pada bagian ini diuraikan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memantau jenis dan tingkat dampak yang akan timbul pada tiap tahap kegiatan proyek dengan sistematika sbb. demikin pula tolok ukur dampak dengan standar baku mutu lingkungan yang dipantau.4 Indikator dampak Pada bagian ini dijelaskan indikator atau parameter dampak lingkungan yang perlu dipantau. besaran kegiatan serta jadwal waltu pelaksanaan pekerjaan. kecamatan. nama desa. I.3 Jenis dampak yang dipantau Pada bagian ini dijelaskan secara singkat tentang jenis dampak yang perlu dipantau.: a) Cara pemantauan Pada bagian ini dijelaskan bagaimana metode atau cara yang digunakan untuk pemantauan lingkungan .6. Dalam hal ini dapat disebutkan jenis peralatan dan rumus yang digunakan dalam analisis data.5 Upaya pemantauan Uraian tentang upaya pemantauan mencakup aspek-aspek sbb. I.. Jenis dampak.6. b) Lokasi pemantauan Lokasi pemantauan agar dijelaskan secara jelas dan tepat.6. mulai tahap pra-konstruksi. d) Pelaksanaan pemantauan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 10 .: a) b) c) d) Sunber dampak. I. misalnya pada km berapa. dan diplot pada peta dengan skala yang memadai c) Periode dan waktu pemantauan Pada bagian ini agar ditetapkan periode pemantauan misalnya tiap bulan atau tiap minggu.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Rencana pemantauan dibuat berdasarkan tahapan proyek. Upaya pemantauan Sumber dampak I.

9 Lampiran Lampiran terdiri dari: a) b) c) Matriks ringkasan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (lihat contoh pada Tabel 9.8 Pernyataan Pelaksanaan Dokumen UKL dan UPL harus dilampiri dengan surat pernyataan kesediaan pemarakarsa untuk melaksanakan upaya pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang ditandatangani oleh pemrakarsa (di atas meterai). I.Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada bagian ini dijelaskan instansi atau lembaga yang akan melaksanakan pemantauan lingkungan hidup. disebutkan juga instansi yang mengawasi pelaksanaan pemantauan dan instansi yang menerima laporan hasil pemantauan. I. Di samping itu. I.7 Pelaporan Pada bagian ini diuraikan secara rinci mengenai mekanisme pelaporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat rencana kegiatan dilaksanakan.2). Peta lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan Data / informasi lain yang dipandang perlu.1 dan Tabel 9. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 11 . misalnya oleh pemrakarsa atau instansi lain yang terkait.

Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.1 Contoh Matriks Upaya Pengelolaan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 12 .

2 Contoh Matriks Upaya Pemantauan Lingkungan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN UKL DAN UPL BIDANG JALAN 13 .Lampiran I – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 9.

apakah cukup lengkap atau terdapat kesenjangan data. RKL dan RPL. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1 . Isi dokumen RKL dan UKL yang telah baku masing-masing tercantum pada Kotak 1 dan 2.2 Pemeriksaan kelengkapan dokumen Periksalah apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL atau UKL/UPL. Apabila termasuk kategori wajib dilengkapi AMDAL. b) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain. Periksalah kelengkapan Isi / materi dokumen RKL atau UKL yang tersedia. ANDAL. J.1 Langkah-langkah kegiatan Proses penjabaran RKL dan RPL atau UKL dan UPL dilaksanakan melalui urutan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan dokumen RKL dan RPL atau UKL dan UPL yang tersedia. Bila rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengkapi UKL/UPL. yang terdiri dari Laporan KA-ANDAL. periksalah kelengkapan dokumen UKL / UPL-nya. b) Peninjauan lapangan. dan d) Pencantuman persyaratan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran J (Informatif) Pedoman Teknis Penjabaran Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup J. c) Penerapan pertimbangan lingkungan dalam spesifilasi atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi. periksalah kelengkapan dokumen AMDAL-nya yang telah ditetapkan / disyahkan oleh instansi yang berwenang.

• Bab III. lengkapilah data rona lingkungan yang diperlukan untuk penyempurnaan / pemutakhiran dokumen RKL / UKL. Komponen Lingkungan yang Mungkin Terkena Dampak. Bab III. terutama pada lokasi-lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan yang telah ditetapkan dalam dokumen RKL / UKL. b) Terjadi perubahan kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya. Daftar Pustaka. atau jumlah penduduk yang harus direlokasi atau dipindahkan. dan periksalah apakah materi dokumen RKL / UKL tersebut cukup lengkap dan sesuai dengan kondisi lapangan saat ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pendahuluan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 1 Daftar Isi Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan • • • • • • Pernyataan Pelaksanaan.3 Peninjauan lapangan Lakukanlah peninjauan lapangan. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan. Bab II. Kotak 2 Daftar Isi Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan • Pernyataan Pelaksanaan • Bab I. Dampak-dampak yang Akan Terjadi • Bab IV Upaya Pengelolaan Lingkungan • Bab V Upaya Pemantauan Lingkungan • Bab VI Pelaporan • Pernyataan Pelaksanaan J. Ketidaksesuaian dengan kondisi lapangan mungkin terjadi karena: a) Terjadi perubahan rencana alinyemen jalan. Bab I. sesuai dengan alinyemen jalan definitif yang telah ditetapkan di lapangan. Lampiran. c) Kesenjangan data pada saat penyusunan dokumen AMDAL atau UKL/UPL. Bila perlu. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2 . Rencana Kegiatan • Bab II. misalnya jenis dan jumlah bangunan yang terkena proyek.

Apabila materi dokumen RKL atau UKL ternyata kurang lengkap atau kurang sesuai dengan kondisi lapangan. meliputi pelaksana. Buatlah penjabaran / pemantapan tiap jenis rencana pengelolaan lingkungan sedemikian rupa sehingga rencana tersebut bersifat operasional dalam arti: (Lihat Tabel 1) • • • • Jenis dan besaran (volume) rencana pekerjaannya jelas. Metode pelaksanaannya jelas dan menggunakan teknologi / peralatan yang tersedia. dan bersifat memberikan kompensasi baik dalam arti sosial ekonomi maupun ekologi. misalnya kerjasama dengan instansi yang berkepentingan atau terkait. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup. a) Pendekatan teknologi. b) Pendekatan sosial ekonomi. d) Pendekatan estetika. Tolok ukur dampak. misalnya pemberian prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja setempat. bersifat meningkatkan dampak positif. meminimisasi. misalnya penataan lansekap pada median atau trotoar jalan. yaitu: a) b) c) d) bertujuan untuk mencegah atau menghindari dampak negatif. yang meliputi uraian tentang hal-hal tersebut dibawah ini sesuai dengan kondisi lapangan saat ini: a) b) c) d) e) f) g) h) i) Jenis dampak. perbaikilah dokumen tersebut sesuai dengan hasil investigasi lapangan yang lebih lengkap dan akurat. Untuk perbaikan dokumen RKL / UKL tersebut di atas. Tujuan rencana / upaya pengelolaan lingkungan hidup. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3 .Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Periksalah apakah uraian Rencana / Upaya Pengelolaan Lingkungan tercantum pada Bab III RKL atau Ban IV UKL. dan Layak ekonomi. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup. pengawas. Lokasi pekerjaan ditentukan dengan jelas (diplot pada peta dengan skala memadai). contohnya pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan akibat lalu lintas kendaraan bermotor. bertujuan untuk menanggulangi. pilihlah salah satu atau gabungan dari beberapa jenis pendekatan pengelolaan lingkungan tersebut di bawah ini. c) Pendekatan institusi. Pengelolaan lingkungan hidup. dan penerima laporan. Tetapkan tujuan rencana pengelolaan lingkungan yang dapat dibedakan dalam empat kelompok. atau mengendalikan dampak negatif. Institusi pengelolaan lingkungan hidup. Sumber dampak yang perlu ditangani. Periode pengelolaan lingkungan hidup.

Pembuatan bak penampung sedimen pada ujung saluran drainase sebelum masuk ke badan air. DLLAJ J. yang perlu dilengkapi dengan gambar-gambar desain antara lain: • • • • Perkuatan lereng galian / timbunan tanah untuk mencegah erosi / longsor (lihat Gambar 1). • Pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas kendaraan bermotor. Bapedalda. Institusi pengelolaan lingkungan  Pelaksana: Pemrakarsa Proyek Jalan (dibantu hidup: kontraktor dan konsultan supervisi)  Pengawas: Dinas Bina Marga Kabupaten  Penerima laporan: Dinas Bina Marga.4.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tabel 1 Contoh Rumusan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Mencegah Dampak Lalu Lintas Pada Tahap Pasca Konstruksi Jenis dampak Sumber dampak Tolok ukur dampak Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Upaya pengelolaan lingkungan hidup Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Periode pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan pengelolaan lkingkungan hidup Kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki Lalu lintas kendaraan bermotor Banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas Mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Beberapa jenis rencana / upaya pengelolaan lingkungan terutama untuk mencegah terjadinya dampak negatif pada tahap pasca konstruksi. Pembuatan saluran drainase untuk pengendalian air larian (menghindari genangan air hujan). agar diwujudkan dalam bentuk gambar desain (rencana teknis detail). Pada tahap konstruksi Meliputi biaya konstruksi (bahan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4 . Membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki. (panjang 15 m). Di depan sekolah pada Km 3 + 210. untuk mencegah kecelakaan lalu lintas.4 K. dan upah). untuk pencegahan dampak pada badan air (pencemaran air dan sedimentasi). • Pembuatan jembatan pennyeberangan bagi pejalan kaki. peralatan. Pembuatan noise barrier untuk mengurangi kebisingan lalu lintas kendaraan bermotor.1 Penerapan pertimbangan lingkungan dalam desain Rencana teknis detail Untuk memberikan petunjuk pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang lebih jelas. rencana pengelolaan lingkungan khususnya yang berupa konstruksi bangunan tertentu.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • Pembuatan pagar / tonggak pengaman (guard rail / post) untuk mencegah kecelakaan lalu lintas. untuk mengatasi gangguan visual (estetika). dsb. tikungan tajam. Gambar 1 : Contoh Teknik Gabungan untuk Perlindungan Lereng PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5 . • Penataan lansekap di lokasi tertentu. di lokasi yang berbahaya seperti tepi lereng curam. lokasi jembatan atau gorong-gorong. tepi timbunan badan jalan yang tinggi. atau untuk mengurangi pencemaran udara (lihat Gambar 2).  Pembuatan terowongan untuk penyeberangan satwa liar (lihat Gambar 3).

sehingga tidak menimbulkan dampak kebisingan.000). Pembuatan jalan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas. antara lain tentang: • • Pemilihan lokasi base camp termasuk AMP dan stone crusher harus cukup jauh dari areal permukiman dan badan air.4. J. biologi dan sosial. 6 PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN . polusi udara (debu) dan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah. Rumusan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan harus dibuat dalam bentuk deskripsi yang singkat tapi jelas. K.2 Peta lokasi pengelolaan lingkungan Lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan secara keseluruhan agar digambarkan pada peta dengan skala yang memadai (antara 1 : 5000 – 1 : 15. Persyaratan teknis pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan agar dirumuskan secara detail dan sistematis meliputi aspek-aspek geofisik-kimia.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Gambar 2 : Penanaman pohon sebagai unsur lansekap sekaligus untuk mengurangi pencemaran udara Gambar 3: Penyeberangan satwa liar digabung dengan bangunan air (gorong-gorong). Tiap lokasi rencana / upaya pengelolaan lingkungan dilengkapi dengan peta detai dengan skala antara 1 : 100 – 1 : 500.5 Penerapan pertimbangan Lingkungan dalam spesifikasi teknis atau persyaratan pelaksanaan pekerjaan konstruksi Pertimbangan lingkungan yang tidak dapat dijabarkan dalam bentuk gambar desain agar dirumuskan dengan jelas dalam bentuk spesifikasi dan / atau persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kontraktor.

hal itu harus dicantumkan baik dalam dokumen tender maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. . Penanaman kembali jenis-jenis vegetasi tertentu di areal terbuka seperti median atau tepi jalan. borrow area dan disposal area. sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. Pemberian prioritas kesempatan kerja kepada penduduk setempat (sekitar lokasi proyek). dan agar dinyatakan bahwa dokumen RKL atau UKL tersebut sebagai lampiran dokumen tender / kontrak yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Untuk menjamin agar persyaratan pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam RKL atau UKL benar-benar dilaksanakan pada tahap konstruksi.6.6 J. J. kemacetan lalu lintas. sesuai dengan fungsinya.6. Setiap klosul harus mengandung paling tidak empat bagian keterangan yang menjelaskan :. debu. Pembongkaran bangunan sementara dan jalan darurat yang tidak diperlukan lagi. Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL harus dilampirkan dalam dokumen tender / kontrak.2 Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara rinci Untuk mempertegas dan memperjelas persyaratan pengelolaan lingkungan yang harus dilaksankan oleh kontraktor. setelah pekerjaan konstruksi selesai. cantumkanlah klosul-klosul tertentu secara spesifik. Penanganan dampak terhadap situs purbakala yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. Penanganan dampak terhadap utilitas yang mungkin timbul akibat pekerjaan galian tanah. Penanganan dampak akibat pengangkutan bahan bangunan (dampak kebisingan. kerusakan badan jalan. Pembersihan sisa bahan bangunan dan alat-alat rusak.  Apa yang harus dilaksanakan. Perawatan alat-alat berat (pencegahan pencemaran tanah dan air akibat tumpahan bahan pelumas). Pengamanan / reklamasi bekas quarry. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7 . Pembongkaran basecamp atau merehabilitasinya untuk keperluan penduduk. Setiap klosul persyaratan pengelolaan lingkungan harus menyatakan perintah atau penjelasan apa yang harus dilaksanakan oleh kontraktor. Pengoperasian base camp (penanganan limbah). J.1 Pencantuman Persyaratan Pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen tender dan dokumen kontrak Rumusan persyaratan pengelolaan lingkungan secara global RKL dan UKL merupakan dokumen hukum yang mengikat bagi semua pihak tersebut dalam dokumen itu. kecelakaan lalu lintas).Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan • • • • • • • • • • • • • • Pembuatan jembatan sementara untuk pengalihan lalu lintas di lokasi pekerjaan konstruksi jembatan agar tidak terjadi penutupan lalu lintas. baik dalam dokumen tender maupun kontrak (lihat Kotak 3). Penyimpanan bahan bakar dan pelumas (pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas). dan rumusannya harus jelas agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. Penanganan dampak akibat pembersihan lahan (dampak pada flora).

kualitas udara dan kebisingan di lokasi permukiman yang dilalui lendaraan pengangkut material. erosi atau longsor di lokasi galian atau timbunan tanah.. kerusakan prasarana atau fasilitas umum seperti saluran drainase. effluen limbah cair dari base camp.6. kemacetan lalu lintas dan / atau kecelakaan lalu lintas sekitar lokasi proyek.  Siapa yang bertanggungjawab. Persyaratan teknis pelaksanaan pemantauan lingkungan yang mungkin diperlukan antara lain meliputi: • • • • kehilangan jenis-jenis flora dan keberhasilan penghijaian kembali di lokasi pembersihan lahan. kerusakan badan jalan sepanjang ruas jalan yang dilalui kendaraan berat pengangkut peralatan dan material. kontraktor juga harus melaksanakan pemantauan lingkungan sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). J.  Kapan dan bagaimana cara pelaksanaannya. akibat pekerjaan galian tanah.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Di mana hal itu dilaksanakan. • • • • PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8 . dll. keluhan atau pengaduan masyarakat akibat dampak yang tidak tertangani dengan baik.3 Pelaksanaan pemantauan lingkungan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Pencantuman klosul tentang persyaratan pelaksanaan pemantauan lingkungan tersebut di atas dapat dibuat secara global atau secara rinci terutama untuk hal-hal yang dipandang sangat penting. jaringan telepon/ listrik.

kontraktor harus berupaya agar tidak terjadi konflik sosial yang mungkin terjadi antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang. bising atau lainnya yang disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan kontraktor. sehingga dapat diterima oleh Direksi pekerjaan. PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9 . 6) Kontraktor harus selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lapangan dan pekerjaan selama pelaksanaan dan pemeliharaan. sisa bahan. Pada saat penyelesaian pekerjaan. Kontraktor harus mengusahakan dengan segala upaya untuk mencegah agar lalu lintas peralatan tidak merusak jalan atau jembatan yang menghubungkan dengan atau yang terletak pada jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan. 5) Kontraktor harus memberikan prioritas kesempatan kerja kepada penduduk lokal di sekitar lokasi proyek sesuai dengan persyaratan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. atau membatasi jalan masuk menuju ke dalam batas daerah pekerjaan dan tanah yang bedampingan.Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kotak 3 Contoh Klosul Persyaratan Pengelolaan Lingkungan 1) Kontraktor harus berupaya dengan segala cara untuk melindungi lingkungan di dalam dan di sekitar lokasi tapak kegiatan proyek sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan Libgkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). bangunan dan peninggalan-peninggalan lain atau benda-benda yang menyangkut kepentingan geologi dan kepurbakalaan yang ditemukan di lapangan harus dianggap oleh pemilik dan kontraktor sebagai milik mutlak dari pemerintah. serta mengatur jadwal waktu penggunaan kendaraan untuk menghindari kemacetan atau kecelakaan lalu lintas yang mungkin terjadi akibat pengangkutan peralatan dan bahan bangunan dari atau ke lokasi pekerjaan. 4) Semua benda peninggalan purbakala. Apabila kontraktor mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah kerja. sampah dan segala macam pekerjaan sementara. dan segera setelah penemuan tewrsebut dan sebelum memindahkannya. benda berharga atau kuno. kontraktor diwajibkan memperkuat semua jembatan baik di sepanjang maupun di luar jalur proyek yang akan dilewati kendaraan dan peralatan berat kontraktor. kontraktor harus membersihkan dan menyingkirkan dari lapangan semua peralatan konstruksi. Kontraktor harus berusaha memilih rute. 3) Semua kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor harus menghindarkan atau menanggulangi semua kerusakan atau gangguan terhadap orang maupun benda milik umum yang timbul karena polusi. mata uang. memberitahukan penemuan tersebut kepada Direksi Lapangan (Konsultan Supervisi) untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Proyek yang akan menentukan tindakan selanjutbnya sesuai dengan peraturan yang beralaku. termasuk pekerjaan sementara harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi kenyamanan umum. dan kontraktor harus meninggalkan seluruh lapangan dan pekerjaan dalam keadaan bersih dan sehat seperti kondisi semula atas biaya kontraktor. Kintraktor harus mengambil tindakan untuk mencegah orang-orangnya atau orang lain memindahkan atau merusak barang atau benda tersebut. 2) Selama pekerjaan mobilisasi.

Lampiran J – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan PEDOMAN TEKNIS PENJABARAN RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LH ATAU UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10 .

Berbagai jenis lansekap di luar bangunan / gedung dapat kita temuai antara lain:      Lansekap pegunungan. Istilah lansekap berkaitan dengan aspek-aspek lingkungan fisik. perdu dan rumput yang berada di sekitar jalan. trotoar. Lansekap jalan merupakan suatu jaringan koridor visual yang memberikan pemandangan kepada pemakai jalan dan warga penghuni di sekitarnya. ekologis dan visual. jembatan. overpass. dan secara ekologis akan meningkatkan kualitas lingkungan jalan. subway dan simpang susun. Di Indonesia rona lansekap terbentuk dari berbagai jenis bentang alam dan binaan manusia. Lansekap jalan mencakup elemen keras berupa perkerasan jalan. secara psikologis dan kesehatan dapat memberikan kenyamanan. Lansekap pantai. Lansekap perkotaaan. Gambar 1. baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Lansekap pedesaan.1). semak. Lansekap jalan adalah pemandangan sejauh mata memandang dari dan ke jalan. Lansekap jalan yang baik. serta sepanjang koridor jalan. lansekap didominasi oleh elemen buatan manusia sedangkan elemen alami pada umumnya merupakan elemen sekunder. yang sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat sehari-hari.1 Pengertian lansekap Lansekap adalah pemandangan sejauih mata memandang dalam ruang di luar bangunan artau gedung.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran K (Informatif) Pedoman Teknis Perencanaan Lansekap Jalan K. Di daerah perkotaan. Lansekap jalan. underpass.1 Contoh Lansekap Perkotaan PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 1 . stimulasi dan penyegaran. bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada atau kurang berarti (lihat Gambar 1. dan elemen lunak seperti pelengkap tepi jalan berupa tanaman meliputi jenis pohon.

Faktor visual Karakter visual elemen-elemen alami dan sosial-bidaya secara terpisah dan / atau bersamasama membentuk ekspresi pemandangan lansekap. Pemandangan ini dapat berupa pemandangan alami. c. berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (vegetasi alam) dan / atau elemen alami lainnya mendominasi Gambar 1. kondisi tanah. demikian juga interaksinya dengan faktor sosial / budaya dapat membentuk ekologi setempat.1 Lansekap jalan antar kota  Jalan antar kota melalui berbagai lansekap alami dan pedesaan yang luas. fauna. lansekap terbentuk dari campuran tiga faktor sebagai berikut: a. serta bangunan sarana dan prasarana lainnya. dan topografi. gedung. termasuk modifikasi lingkungan alami. Di daerah alami. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 2 . Elemen-elemen sosial-budaya ini membentuk berbagai lingkungan yang merupakan bagian lingkungan alam.2 Gambaran umum lansekap jalan K.  Pada prinsipnya lansekap Indonesia dapat dilihat / dinikmati dari jalan antar kota. seperti hutan. Faktor-faktor ekologis Hal ini meliputi flora. K.2.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lansekap pedesaan juga didominasi oleh elemen buatan manusia. perkotaan dan perdesaan di Indonesia.2 Contoh Lansekap Pedesaan Pada dasarnya. Faktor-faktor sosial / budaya Faktor-faktor ini merupakan elemen-elemen lansekap binaan manusia meliputi elemen penggunaan lahan. serta kampung dan kota-kota kecil di Indonesia. pedesaan atau perkotaan dengan berbagai mutu visual. b. Interaksi ekologis antara elemen-elemen tersebut. berupa lansekap lunak yang terbentuk dari berbagai tanaman termasuk sawah dan berbagai jenis kebun. hidrologi.

Dalam proses perencanaan jalan kota. telepon.  Dalam beberapa keadaan.        PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 3 . nilai ekologis lansekap akan berdampak terhadap jalan. penumpang kendaraan umum. Jalan kota menyediakan jalur utilitas. serta meningkatkan peluang untuk pemandangan. Jalan kota merupakan bagian penting dari pengalaman keseharian kita.  Nilai-nilai tersebut penting bagi pariwisata yang merupakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia karena jalan antar kota memberikan jalan menuju sumber alam. air (PAM). warung atau kaki lima. dimana lansekap jalan menentukan bagaimana kita merasakannya dalam mobil. Lansekap jalan kota penting dilihat dari segi iklim. saat kita berkeliling kota. khususnya jika lalu lintas bergerak lambat. macet atau berhenti. serta kesatuan dan keanekaragaman visual yang tinggi. seluruh fungsi jalan tersebut harus dipertimbangkan.  Lansekap yang berbatasan dengan jalan antar kota harus memiliki nilai pemandangan dan wisata yang tinggi. saat kita bepergian sebagai pengendara / penumpang kendaraan pribadi. Untuk mencapai hasil terbaik.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pada umumnya lansekap ini memiliki daya tarik visual yang besar. K. Jalan kota penting untuk menunjang perekonomian yang memberikan pencapaian ke pertokoan dan tempat perniagaan. Lanseap jalan kota penting dari segi visual. perencana jalan kota harus bekerjasana dengan perencana kota / arsitek lansekap.  Perencanaan lansekap jalan antar kota yang baik akan memastikan penyatuan jalan dengan lansekap setempat dan mempertahankan nilai-nilai lansekap. termasuk listrik (PLN). umumnya untuk bertemu seseorang atau makan di restoran.2.  Jalan antar kota juga dapat berdampak atau merugikan bagi lansekap lainnya jika jalan dipandang dari lokasi lain. dimana kondisi lansekap tersebut memiliki kemampuan menciptakan kenyamanan atau ketidaknyamanan pengalaman visual.2 Lansekap jalan kota    Jalan kota merupakan komponen utama lansekap kota. pengendara motor dan / atau pejalan kaki. Jalan kota penting bagi kita.  Jalan antar kota yang baru dapat menambah nilai lansekap dengan membawa aset pemandangan lansekap ke jalan. dan gas. Jaln kota penting sebagai tempat bersosialisasi.

lingkungan.  Saat ini lebar jalur jalan pejalan kaki tergantung pada status / klasifikasi jalan-jalan nasional. lalu-lintas dan rekayasa pada penyelesaian jalan. warung.2.  Elemen struktur utama sistem jalan layang memiliki pengaruh penting terhadap lansekap lingkungan iklim vusual jalan yang berabatasan dengan daerah tersebut. dan arteri.  Peruntukan lahan yang berbatasan dalam potongan melintang jalan dapat diciptakan tema lansekap yang umum untuk menciptakan lingkungan jalan yang lebih baik. d) Fungsi: Daerah pejalan kaki pada sisi jalan merupakan tempat untuk beriteraksi sosial. Perencanaan harus menghasilkan beberapa tujuan: a) Keamanan pejalan kaki harus aman dan terlindung dari kendaraan. Namun pada saat yang sama mereka membuat masalah memaksa pejalan kaki ke jalan.4 Lansekap jalan pejalan kaki  Jalan harus melayani kebutuhan pejalan kaki sama dengan kebutuhan kendaraan.  Material lansekap memberikan visual yang kontras dan manfaat lingkungan pada pembangunan jalan.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. kios dan pedagang kaki lima juga terjadi di jalur pejalan kaki. provinsi. keindahan.3 Lansekap jalan layang  Jalan layang yang merupakan kombinasi jalan tol dan jalan penghubung memiliki potensi dampak terbesar terhadap lansekap pada lingkungan yang dilalui jalan tersebut. sosial. Pergerakan pejalan kaki. Elemenelemen tersebut menciptakan daerah pejalan kaki yang menyediakan kawasan pelayanan dan sosial .  Pertimbangan rencana jalan layang harus diberikan untuk nilai fungsi.2.  Daerah pada potongan memanjang memerlukan pengolahan visual untuk memberikan pengaruh kualitas lansekap yang lebih tinggi. PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 4 . kolektor dan lokal. c) Keindahan rencana lansekap jalan harus menggunakan konsep budaya setempat yang akan menciptakan suasana lansekap yang unik.  K epedulian pada kegiatan pejalan kaki m eningkatkan penam pilan “kualitas lingkungan hidup” suatu ruas jalan. K. b) Iklim mikro faktor iklim tropis harus dipertimbangkan dan jalur pejalan kaki harus teduh untuk menikmati perjalanan. kabupaten / kota.

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Tempat penyeberangan jalan atau jembatan penyeberangan atau underpass harus tersedia di persimpangan jalan dan jalur pergerakan pejalan kaki;  Jalur pejalan kaki harus peduli kepada para penderita cacat. Permukaan jalan harus rata dengan kemiringan rendah;  Pengelolaan fasilitas umum (PAM, Telkom, PLN dan gas) harus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini, banyak jalur pejalan kaki yang rusak berat oleh kegiatan konstruksi atau pemeliharaan oleh instansi terkait.

K.3

Proses perencanaan lansekap jalan

K.3.1 Tahap-tahap perencanaan lansekap jalan Fungsi perencanaan lansekap jalan adalah untuk menyediakan desain rinci untuk menerapkan “prinsip -prinsip rencana lansekap” dan / atau penjabaran rencana penataan lansekap sesuai dengan ketentuan tercantum dalam dokumen RKL atau UKL proyek jalan yang bersangkutan. Proses perencanaan lansekap jalan secara umum dilaksanakan melalui beberapa tahap atau langkah sebagai berikut (lihat Gambar 3.1).     Langkah 1 : penyusunan rencana induk lansekap; Langkah 2 : Identifikasi isu pokok keselamatan (lalu lintas); Langkah 3 : penyusunan desain awal; Langkah 4 : penyusunan desain rinci.
Langkah 1 Penyusunan Rencana Induk

Langkah 2 Identifikasi Isu Pokok Keselamatan

Langkah 3 Penyusunan Desain Awal

Langkah 4 Penyusunan Desain Rinci

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

5

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Perencanaan Lansekap Jalan Untuk proyek-proyek jalan tertentu, yang dampaknya terhadap aspek lansekap tidak penting, proses perencanaan lansekap dapat dilaksanakan lebih sederhana hanya melalui dua tahap, yaitu penyusunan desain awal dan penyusunan desain rinci. Dalam hal ini, disarankan pengenalan “tingkat kegiatan” seperti tercantum pada T abel 3.1. Tabel 3.1 Daftar Uji Kegiatan Perencanaan Lansekap Jalan Tingkat Kegiatan Rencana Induk Desain Awal  Konsep Rencana Tata Letak satu warna, skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  Penampang Melintang dan/atau fotomontase rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak dg 2 atau 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan perlakuan, dengan skala minimum 1 : 500  Ringkasan isu desain  2 atau 3 penampang Melintang menggambarkan rencana perlakuan  Konsep Rencana Tata Letak minimum 3 warna melukiskan gabungan penggunaan dan elemen lansekap, dengan skala minimum 1 : 500, dan sekurangkurangnya 2 area rinci skala minimum 1 : 250. Desain Rinci  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan untuk spesifikasi lansekap  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Masukan utk spesifikasi lansekap

1. Fokus Minimum Tidak diperlukan  Persimpanga secara n menyeluruh  Bundaran  Median

2. Terfokus  Simpang susun

Tidak diperlukan secara menyeluruh

3. Komprehensif  Bypas pedesaan dan semi pedesaan  Jalan utana pekotaan

 Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi

 Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Jadwal penanaman  Estimasi biaya  Spesifikasi lansekap

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

6

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

 Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang Melintang melukiskan perlakuan  Fotomontase proyek jalan 4. Komprehensif maksimum  Jalan protokol  Jalan utama perkotaan  Jakan di daerah sangat sensitif  Laporan rencana induk  Pernyataan visi menyeluruh  Panel berwarna  Sketsa, ilustrasi, simulasi  Rangkaian Konsep Rencana Tata Letak berwarna dari sifat menyeluruh  Laporan desain lansekap  Minimum 3 penampang melintang melukiskan perlakuan  Minimum 2 fotomontase  Minimum skala 1 : 100  Desain rinci lansekap skala minimum 1 : 500  Desain rinci penanaman  Desain rinci drainase  Kontrak pengadaan tanaman  Dokumtn kontrak  Estimasi biaya terinci  Spesifikasi lansekap

K.3.2

Penyusunan rencana induk

Proyek-proyek jalan yang cukup besar seperti pembangunan jalan baru antar kota, jalan tol perkotaan atau antar kota, termasuk pembangunan simpang susun, memerlukan penyiapan “R encana Induk Lansekap”, untuk pedom an pem bangunan yang m enyeluruh, khususnya penataan dan pengelolaan lansekap. Rencana induk walaupun pada akhirnya merupakan satu rencana, dapat terdiri dari sejumlah rencana yang menggambarkan berbagai pengaruh terhadap rencana induk atau mengulangi, dan bila perlu, m eluas m enjadi “R encana D asar”. R encana induk m em perlihatkan perbedaan zona (mintakat) lansekap yang berada di sepanjang rute jalan yang tercakup oleh batas wilayah perencanaan (lihat Gambar 3.2). Rencana induk ini, dalam mendukung potongan dan sketsa rencana rinci, akan menggambarkan karakteristik penanganan lansekap. “R encana Induk Lansekap” harus tercantum dalam laporan “R encana Induk”. H al ini akan diuraikan dengan seksama pada strategi penanganan dan pengelolaan lansekap sepanjang ruas jalan. Hal ini dapat mencakup strategi konservasi daerah alami atau daerah cagar budaya, strategi pengelolaan dan restorasi sumber daya visual, serta strategi penanaman untuk berbagai daerah.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

7

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Sebelum finalisasi, rencana induk harus didiskusikan oleh pemrakarsa proyek jalan untuk memastikan bahwa ada saling pengertian tentang apa yang disarankan dalam kaitannya dengan strategi desain dan pengelolaan lansekap. K.3.3 Identifikasi isu-isu pokok keselamatan

Kaji ulang semua isu pokok keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan jalan. Hal ini meliputi standar dan persyaratan teknis jalan yang diperlukan sehubungan dengan perencanaan lansekap dan untuk menjamin bahwa keselamatan jalan (lalu lintas) tidak dapat ditawar-tawar. Pertimbangan keselamatan ini dipertimbangkan dalam tiga kelas, daerah terbuka, kejelasan pandang, dan fungsi penggunaan penanaman. Daftar uji (checklist) berbagai hal dalam ketiga kelas tersebut diajikan pada Tabel 3.2 K.3.4 Penyusunan desain awal

Berbagai rencana rinci dibuat berdasarkan rencana induk yang telah ditetapkan. Hal ini sebagian besar mencakup rencana penanaman, tapi dapat juga mencakup elemen-elemen lain seperti penempatan rambu lalu lintas dan pelengkap jalan lainnya. Rencana ini dinam ai “D enah A w al” yang diperlukan untuk kaji ulang desain selanjutnya. Denah awal semacam itu harus dibuat untuk semua areal yang memerlukan desain tersendiri dan harus mencakup areal median dengan berbagai lebar dan perlakuan, tepi jalan, galian dan timbunan, dinding penguat tebing, persilangan dan simpang susun. Desain awal menggambarkan karakteristik areal-areal khusus dalam bentuk denah dan penampang dan / atau ilustrasi sketsa tiga dimensi (lihat Gambar 3.3).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

8

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.2 Contoh Rencana Induk Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

9

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 3.2 Daftar Uji Pertimbangan Keselamatan Dalam Desain Lansekap

Isu Daerah Terbuka

Faktor Spesifik

Persayaratan

Sempadan penanaman Sempadan penanaman diidentifikasi melalui empat langkah Penyerapan benturan Bila diizinkan, digunakan tanaman yang tidak keras di zone sempadan yang tersedia  Segitiga pandangan diidentifikasi dan diplot  Penanaman dalam segitiga pandangan sesuai dengan kebutuhan  Penanaman tidak mengganggu penerangan  Penanaman tidak termasuk di daerah yang cocok untuk pemasangan rambu  Tata letak sesuai keperluan  Median kurang dari 2 m diperkeras  Tempat berlindung penyeberang jalan disediakan sesuai kebutuhan  Garis pandang tidak terhalang sesuai keperluan

Kejelasan Penglihatan

Garis pandang

Penerangan, rambu dan pelayanan Tempat istirahat Median

Penyeberangan pejalan kaki Persimpangan Bundaran

 Jarak pandang sesuai keperluan  Segitiga pandangan diplot sesuai keperluan  Segitiga pandangan bebas dari penghalang sesuai keperluan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Penggunaan spesies yang efektif dipertimbangkan  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek  Factor dipertimbangkan dalam proyek

Fungsi Penggunaan Tanaman

Penghalang sorot lampu Pembatas tikungan

Penyaringan Penahan angin Silau cahaya matahari

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

10

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.3 Contoh Desain Awal Lansekap Jalan K.3.5 Penyusunan desain rinci

Langkah berikutnya setelah persetujuan atau modifikasi denah awal adalah perumusan desain rinci (lihat Gambar 3.4). Desain rinci tersebut meliputi dokumentasi semua pekerjaan lansekap berupa denah, gambar kerja, spesifikasi dan dokumentasi, serta rencana anggaran biaya untuk pelaksanaan konstruksi. Perencanaan lansekap jalan harus mencakup penerapan pertimbangan berbagai aspak berikut:  tema arsitektur lansekap;  keselamatan dan efisiensi;  dampak visual pada lansekap sekarang;  keindahan dan konteks budaya;  konservasi warisan budaya dan kedanekaragaman hayati;  koridor dan struktur utilitas / jasa;  tambu lalu lintas dan papan reklame;  kontrol akustik;

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

11

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

   

erosi dan drainase; pemandangan sepanjang koridor; pemandangan dan penggunan lahan pribadi di sekitar jalan; lalu lintas stnar.

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

12

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Gambar 3.4 Contoh Desain Rinci Lansekap Jalan
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

13

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

K.4 K.4.1

Spesifikasi Tanaman Bentuk tanaman

Salah satu elemen lansekap yang utama adalah tanaman. Tanaman yang dapat digunakan dalam penataan lansekap jalan mempunyai kriteria (persyaratan) berdasarkan bentuk tanaman sebagai berikut. a. Tanaman Pohon:      b. tinggi pohon 2,00 – 5,00 m bermassa daun padat batang pohon / percabangan tidak mudah patah perawatannya mudah dan daun tidak mudah rontok (gugur) perakaran tidak merusak konstruksi jalan.

Tanaman Perdu:  tinggi tanaman 0,50 – 2,00 m  berbatang lunak tapi tidak mudah patah  perawatannya mudah  warna bunga atau daunnya indah  perakaran tidak merusak konstruksi jalan Tanaman Penutup Tanah  tinggi tanaman 5 – 20 cm  perakaran serabut atau menjalar dengan tunas  dapat merupakan jenis rumput atau penutup tanah  perawatannya mudah Bentuk Tajuk

c.

K.4.2

Tanaman pohon dan perdu mempunyai berbagai bentuk tajuk yang dapat dibedakan secara visual (Lihat Tabel 4.1).

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

14

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 Bentuk Tajuk Pohon dan Contoh Jenis Tanamannya Bentuk Tajuk 1. Tajuk Bulat (Rounded) Contoh Jenis Tanaman  Kiara Payung (Filicim decipiens)  Biola Cantik (Ficus pandurata)

2. Tajuk Memayung (Canopy)

 Bungur (Lagerstroemia loudonii)  Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval

 Tanjung (Mimusops elengi)  Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)

   

Cemara ( Cassuarina equisetifolia) Glodokan (Polyalthea longifolia) Kayu Manis (Glycyrrhiza gkabra) Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar / Bebas (Abroad)

 Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

15

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.1 (Lanjutan)

Bentuk Tajuk 6. Tajuk Persegi Empat (Square)

Contoh Jenis Tanaman  Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)

 Baambu (Bambusa sp)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)

8. Tajuk Vertikal

 Jenis Palem, antara lain:  Palem Raja (Oreodoxa regia)

K.4.3

Fungsi tanaman

Bentuk tanaman mempunyai kaitan erat dengan fungsinya. Karena itu, bentuk ranaman tertentu diharapkan dapat menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan. Contoh bentuk dan jenis tanaman serta fungsi dan persyaratannya dapat dilihat pada Tabel 4.2

PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

16

Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Tabel 4.2 Fungsi Tanaman

Fungsi 1. Peneduh

Persyaratan  Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m)  Percabangan 2 m di atas tanah  Bentuk percabangan batang tidak merunduk  Bermassa daun padat  Ditanam secara berbaris

Contoh Bentuk dan Jenis

 Kiara Payung (Filicium decipiens)  Tanjung (Mimosops elengi)  Angsana (Ptherocarphus indicus)

2. Pengarah Pandang

 Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m  Ditanam secara masal atau berbaris  Jarak tanam rapat  Untuk tanaman perdu / semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Mahoni (Switenia mahagoni)  Hujan Mas (Cassia glauca)  Kembang Merak (Caesalphania pulcherima)  Kol Banda (Pisonia alba)
PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN

17

perdu / semak Membentuk masa Bermassa daun padat Jatak tanam rapat Berbagai bentuk tajuk  Tanjung (Mimusops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 18 . Penyerap Polisi  Terdiri dari pohon atau semak  Memiliki ketahanan tinggi terhadap pengaruh udara  Jarak tanam rapat  Bermassa daun padat  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Akasia daun besar (Accasia mangium)  Oleander (Nerium oleander)  Bogenvil (Boigenvilea sp)  Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) 5. Penyerap Kebisingan      Terdiri dari pohon.Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3. Pembentuk Pandangan     Tanaman pohon tinggi > 3 m Membentuk massa Pada bagian tertentu dibuat terbuka Diutamakan tajuk Coniccal & Columnar  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Glodokan Tiang (Polyalthea sp)  Bambu (Bambusa sp)  Glodokan (Polyalthea longifolia) 4.

 Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Angsana (Ptherocarphus indicus)  Tanjung Mimosops elengi)  Kiara Payung (Filicium decipiens)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) 7. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat < 3 m. perdu / semak  Bermassa daun padat  Ditanam berbaris atau membentuk massa  Jarak tanam rapat  Bambu (Bambusa sp)  Cemara (Cassuarina equisetifolia)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Neriun oleander) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 19 .Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  The-tehan pangkas (Acalypha sp)  Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)  Bogenvil (Bogenvilea sp)  Oleander (Nerium oleander) 6. Pembatas Pandang  Tanaman pohon. Pemecah Angin  Tanaman pohon.

5 m  Bermassa daun padat  Bogenvil (Bougenvilea sp)  Kembang Sepatu Hibiscus rosa sinensis)  Oleander (Nerium oleander)  Nusa Indah (Mussaenda sp) PEDOMAN TEKNIS PERENCANAAN LANSEKAP JALAN 20 .Lampiran K – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 8. Penahan silau  Tanaman perdu / semak lampu  Ditanam rapat kendaraan  Tinggi 1.

2. Penyusunan jadwal waktu pelaksanaan. Penyiapan kerangka program rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. Data (dokumen) tentang kebijakan Pemda setempat dalam menangani kegiatan pengadaan 1 d) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN .1 Persiapan Pengumpulan dan pengkajian data dasar Pengkajian data dasar dimaksudkan untuk mempersiapkan perkiraan awal dampak kegiatan pengadaan tanah dan mengidentifikasi isu-isu utama yang dianggap krusial.000 dan data status kepemilikannya. Peta persil tanah skala 1 : 1. Data ini dapat diperoleh pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat.000. LK. L.1 Jenis-jenis data yang dikumpulkan. dan gambar detailed intersection skala 1 : 200 atau 1 : 500. Disamping itu. Pemukiman Kembali dan Pembinaan (Land Acquisition and Rsettlement Action Plan /LARAP) Penyusunan LARAP dilaksanakan pada tahap perencanaan teknis. Penyusunan dokumen RK-PTPKP.1.1 Tahapan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah. meliputi : a) b) c) Dokumen akhir perencanaan teknis (FED). Penyusunan mekanisme monitoring dan evaluasi Penyusunan kerangka kelembagaan. Peta dasar dan/atau peta situasi/konfigurasi bangunan (biasanya tersedia dalam skala 1 : 1.2 L.000 atau 1 : 5. terdiri dari 12 tahapan kegiatan utama. yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Persiapan Survai pengumpulan data Pengolahan dan analisis data Identifikasi dampak/kerugian yang mungkin timbul Penilaian kelayakan ganti kerugian Perencanaan lokasi pemukiman kembali. Data ini dapat diperoleh pada Dinas Tata Kota dan/atau pada Dinas Perumahan Kabupaten/Kota setempat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran L Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali untuk Bidang Jalan L. data dasar ini dapat mendukung dalam melakukan analisis sosial ekonomi dan identifikasi kebutuhan pengumpulan data primer. gambar/peta situasi rencana alinyemen jalan (plan & profile) skala 1 : 1.000). khususnya dokumen hasil survai dan peta lokasi (peta situasi dan foto udara).2.000 atau 1 : 5.000 atau 1 : 2. Penyusunan anggaran dan sumber pembiayaan.

kategori. Jumlah dan dimensi/ukuran persil/bidang tanah yang terkena proyek. Pembuatan identitas dan deskripsi atas persil tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena proyek didasarkan pada data/peta persil tanah dan peta situasi/konfigurasi bangunan atau peta dasar yang ada. a) P eta K erja/P eta D asar dibuat dengan cara “m en -superim posedkan” peta -peta tersebut diatas. Membuat identitas jenis dan deskripsi atas data persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tanah dan pemukiman kembali serta perangkat pelaksanaannya. e) L. b) Perkiraan jenis dampak a) b) Perkirakan jenis dampak yang ditimbulkan (khususnya yang akan dialami oleh penduduk terkena proyek) berdasarkan data hasil identifikasi dan peta kerja.1. meliputi : a) b) c) d) e) Letak/posisi persil/bidang tanah. pemilik. bangunan dan aset lainnya terhadap rencana trase/alinyemen jalan. Jumlah dan dimensi/ukuran. dengan terlebih dahulu menyeragamkan sistem koordinat dan skalanya. Data ini dapat diperoleh di Kantor Setwilda atau Panitia Pengadaan Tanah. Koordinasi/Konsultasi L. Berdasarkan cakupan data hasil identifikasi dan jenis dampak yang dapat terjadi. Penilaian awal tentang kemungkinan diperlukannya pemukiman kembali. atau Proyek Pembebasan Tanah.2 Melakukan koordinasi/konsultasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan instansi terkait untuk mengetahui hal-hal berikut : PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 2 .2. dan status penggunaan bangunan serta aset lainnya yang terkena proyek. pemilik.2. Dokumen rencana pengembangan kota/kab (RUTR/RTRK) di Kantor Bappeda. P eta ini berupa “P eta Lokasi P engadaan T anah” yang bersifat sem entara. dan fungsi layanan fasilitas umum yang terkena proyek. serta menggunakan peta situasi rencana alinyemen jalan sebagai acuan. Jenis data dan deskripsinya Identitas jenis dan deskripsi data atas persil/bidang tanah dan bangunan yang diperkirakan terkena pengadaan tanah. maka selanjutnya dapat dibuat perencanaan untuk persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. nama pemilik. Jumlah dan dimensi/ukuran. kategori. status hak dan jenis penggunaannya.2 Pengkajian data dasar Langkah aw al dari pengkajian data dasar adalah m em buat “P eta D asar” yang akan digunakan sebagai “P eta K erja” dalam m elakukan survai pengum pulan data prim er dan analisis.

prosedur pengadaan tanah.2. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 3 . Kantor Bappeda Berkaitan dengan penyiapan program kegiatan pengadaan tanah. kerangka penanganan pemukiman kembali dan rehabilitasi sosial ekonomi/pembinaan. pengumpulan data (sekunder) yang diperlukan. Instansi terkait lainnya. perangkat pelaksanaan dan kerangka kelembagaannya. meliputi :       Peta lokasi pengadaan tanah dan daerah sekitarnya. perangkat pelaksanaan dan kelembagaannya. Dinas Perumahan. Kantor Kecamatan. status penguasaan dan pola penggunaan tanah.  Struktur penduduk.3 Perumusan Kebutuhan Data dan Penyiapan Perangkat Survai Berdasarkan hasil pengkajian data awal dan koordinasi/konsultasi dengan instansi terkait. dan Instansi pem ilik aset yang terkena proyek„. antara lain : a) Kantor Bupati/Walikota Berkaitan dengan kebijakan pemda dalam menangani kegiatan pengadaan tanah. Kepemilikan. Pemda dan instansi terkait tersebut. Kebijakan pengadaan tanah. dll. Jumlah dan jenis aset lainnya yang terkena proyek.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan a) b) c) d) e) kebijakan pemda (Kabupaten/Kota) dalam penanganan kegiatan pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). Instansi terkait lainnya antara lain : Dinas PU. b) Data tentang penduduk terkena proyek (PTP). Sekretariat Panitia Pengadaan Tanah Berkaitan dengan kajian tentang kendala yang mungkin timbul dan bagaimana sebaiknya pengadaan tanah tersebut dilaksanakan. persiapan pelaksanaan survai sosial ekonomi. Jumlah persil dan luas tanah yang dibutuhkan untuk proyek. pemukiman kembali dan pembinaan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. meliputi :  Jumlah PTP. pendidikan. maka dapat dirumuskan jenis dan lingkup data dan perangkat pengumpulan data. Kantor K elurahan. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. tingkat kesiapan/rencana pelaksanaan pengadaan tanah. pendapatan dan pekerjaan. termasuk ganti rugi.  Sistem ekonomi dan sumber daya non-lahan. Sarana dan prasarana umum yang tersedia. b) c) d) Dengan pejabat dari instansi tersebut didiskusikan mengenai berbagai aspek dan pandangan terhadap rencana pengadaan tanah. kesiapan program. L. Jenis dan lingkup data a) Data lahan dan lokasi proyek.

3. pola penguasaan dan penggunaan lahan. survai sosial ekonomi. Organisasi dan kebutuhan masyarakat. Data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi PTP akan memerlukan perangkat survey berupa daftar kuisioner. Sistem kegiatan sosial ekonomi dan penggunaan sumber daya. meliputi :           Karakteristik lokasi. Jaringan sosial dan organisasi sosial. jumlah bangunan dan aset lainnya yang terkena proyek.3. Persepsi PTP terhadap proyek. keluarga. luas tanah. Kebutuhan prasarana baru dan pengembangannya. L.2 Pelaksanaan pengumpulan data terdiri dari 3 jenis survai utama. perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini : Menentukan definisi pengertian-pengertian dasar (seperti: PTP. Sistem dan perilaku sosial budaya. Kepemilikan.2.3. Jaringan sosial dan organisasi sosial. c) Data penduduk di lokasi pemukiman kembali. kerugian yang layak diganti rugi. dan segera melakukan sensus untuk menetapkan jumlah PTP.3 L. Menetapkan tanggal pendataan PTP. pejabat 4 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Mempetakan tapak proyek (lokasi dampak) dan identifikasi rumah tangga dengan sistem nomor (bila perlu copy KTP) Melakukan sosialisasi daftar PTP dan prosedur pengaduan. Pelaksanaan Pengumpulan Data L. Komposisi demografi dan sosial budaya. Reaksi terhadap pemukim baru. Fasilitas umum dan sumber daya umum yang tersedia.1 Survai inventarisasi lahan dan aset a) Melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan/Desa untuk sosialisasi kepada masyarakat khususnya PTP. dan survai lokasi pemukiman kembali. Sistem dan perilaku sosial Perangkat survey pengumpulan data Mempersiapkan perangkat survey pengumpulan data sesuai dengan jenis dan cakupan data yang akan dibutuhkan serta cara pengumpulan datanya. Kepadatan penduduk dan kapasitas daya tampung yang tersedia. L. orang yang berhak).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan       Inventarisasi seluruh aset yang terkena proyek. yaitu survai inventarisasi lahan dan aset. tentang maksud dan tujuan survai dengan melibatkan pemrakarsa.1 a) b) c) d) Pelaksanaan Survai Pengumpulan Data Peningkatan Efektifitas Pengumpulan Data Sebelum pelaksanaan pengumpulan data. Inventarisasi fasilitas sosial ekonomi dan budaya.

LSM) yang dilatih terlebih dahulu. petugas sensus dari kantor BPS. Survai hidrologi dan sumber air bersih Survai hidrologi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pola aliran permukaan yang ada (dikaitkan banjir/genangan). L.2. Survai lahan Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data bentuk dan luas lahan. ditentukan batas-batas lahan yang dibutuhkan untuk lokasi pem ukim an kem bali (dengan cara pengukuran “staking out”) berdasarkan peta kerja yang dibuat di atas peta persil tanah (dari Kantor BPN Kabupaten/Kota).2 Survai sosial ekonomi a) b) c) d) Penanggung jawab survai PTP : Ahli Sosiologi. Sedangkan survai sumber air bersih dimaksudkan untuk mengetahui potensi ketersediaan air bersih untuk pemukim (bila tidak tersedia jaringan air bersih PAM). serta dari wakilwakil PTP. survai hidrologi dan sumber air bersih (jika diperlukan). penguasaan dan penggunaan tanah. serta tokoh masyarakat. Melakukan survai (sampling) dengan cara wawancara langsung. pengamatan (penaksiran).2. a) Survai tapak Penanggung jawab survai : Site Planner.2. yakni : survai lahan. Pelaksanaan survai tapak ini terdiri dari 3 kegiatan utama. dibantu oleh survaiyor topografi (dapat dibantu dari personil Kantor Badan Pertanahan Kabupaten/Kota). dilakukan pendataan persil tanah.000).  Untuk mengetahui status kepemilikan dan penguasaan lahan/tanah. Kelurahan. tokoh partai politik. serta kepemilikan dan status penguasaan lahan. penyelidikan riwayat.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kecamatan. kondisi topografi. a. RW/RT.3.  Melakukan pemetaan/pengukuran situasi lahan dengan alat ukur standar (misal : theodolit Wild T-0).3 Survai lokasi pemukiman kembali pelaksanaan survai lokasi pemukiman kembali ini terdiri dari: (i) survai tapak. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 5 . a. Menyajikan hasil pengukuran tersebut dalam bentuk peta situasi lahan pada skala 1 : 500 atau 1: 1. Melengkapi dengan pendapat dari nara sumber kunci (misal : tokoh/pemuka agama. Melakukan survai dengan cara sensus PTP melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. dan (ii) survai sosial ekonomi. pengukuran.  Sebelum pengukuran situasi. Melakukan verifikasi hasil inventarisasi kepada para pemilik dan/atau yang menguasai obyek (aset) yang didata. dan survai inventarisasi.1. RW/RT setempat. penyuluh KB. dan pencatatan langsung di lapangan dengan menggunakan perangkat survai yang telah dipersiapkan.3. tokoh pemuda) melalui wawancara tidak terstruktur Pelaksanaan survai dapat melibatkan personil kelurahan. b) c) L.

 prosentasi dan jumlah warga yang terpaksa harus pindah. Melakukan pengamatan sumur sekitar dan wawancara dengan penduduk setempat.4 a) b) Pengolahan dan Analisa Data Membuat tabulasi seluruh data terkumpul berdasarkan variable-variabel yang telah ditentukan.  jumlah dan jenis kegiatan yang terganggu. kesehatan. fasilitas pendidikan.3. dilengkapi wawancara langsung secara bebas seperlunya. prasarana jalan dan kemudahan transportasi angkutan umum. b) Survai sosial ekonomi Penanggung jawab survai : Ahli Sosiologi. staf Dinas Sosial kab/kota. pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan. serta pendidikan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Melakukan identifikasi lapangan terhadap pola aliran air permukaan di sekitar lokasi dan bentuk/pola kemiringan lahan. dengan enumerator yang dapat direkrut dari penduduk lokal (misal: mahasiswa. peribadatan.  jumlah anak sekolah yang harus pindah. L. LSM) yang dilatih terlebih dahulu.  matapencaharian/pendapatan dan pengeluaran keluarga.  anggota keluarga dan tanggungan lain kepala keluarga.  H asil survai “diplotkan ” di atas peta dasar yang telah dipersiapkan sebelum nya (peta dasar dapat berupa peta desa atau peta kecamatan atau peta rupa bumi dari Bakosurtanal). PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 6 . jaringan air bersih. c) Hasil analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui :  jenis dan besaran kerugian. pusat perekonomian)  Melakukan penelusuran. a. Melakukan tes laboratorium terhadap kualitas air yang dihasilkan.  prosentasi dan jumlah warga masih tetap tinggal karena masih layak huni di lokasi semula. Menganalisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif (target unit analisis adalah rumah tangga). d) Analisis deskriptif kualitatif adalah untuk mengetahui persepsi dan keinginan/kebutuhan responden tentang rencana proyek. (a) Melakukan pengkajian dokumen kepustakaan yang dianggap relevan (sumber data dari instansi terkait) (b) Melakukan survai secara sampling melalui wawancara langsung dengan kuisioner secara terstruktur maupun wawancara bebas tidak terstruktur dengan sejumlah responden kunci. penyuluh KB. Melengkapi dengan wawancara langsung secara bebas dengan penduduk setempat. Survai inventarisasi Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran aksesibilitas lokasi dan ketersediaan sarana dan prasarana umum di sekitar lokasi pemukiman kembali (misal : jaringan listrik.  Membuat sumur uji air tanah dangkal sampai kedalaman 18 meter (dengan pertimbangan akan diperuntukkan bagi sumur pompa tangan).

6 Analisis Kelayakan Ganti Kerugian/Konpensasi Analisis ini dimaksudkan untuk merumuskan dan menilai kelayakan parameter-parameter ganti kerugian. dan jumlah PTP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. dll) f) Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya g) Pemindahan dari lahan komersial yang disewa atau ditempati h) Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. perencanaan pemukiman kembali. air bersih PDAM. Hasil identifikasi ini dapat digunakan sebagai dasar analisis kelayakan ganti kerugian. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 7 . bangsal. Tingkat dan besaran ganti kerugian. Jenis aset/kerugian yang layak diganti rugi. 55/1993 Pasal 17 dan Permeneg Agraria/Kepala BPN No 1/1994 Pasal 20 dan Pasal 21. dll) i) Kehilangan pendapatan dari usaha/bisnis yang terkena dampak j) Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil k) Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon l) Kehilangan pendapatan dari upah/gaji m) Kehilangan akses ke kesempatan kerja. L. termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik. telepon. dll). olah raga. pasar. yang menggambarkan tentang hubungan antara jenis aset/komponen yang terkena dampak. kesenian o) Terganggunya fasilitas pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat lainnya p) Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. jenis dampak/kerugian. kuburan atau kawasan/tempat pemakaman umum.1 Kriteria PTP yang layak mendapatkan ganti kerugian adalah sesuai dengan isi dari Keppres No. lokasi cagar budaya r) Terganggunya interaksi sosial s) Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal t) Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang telah terinternalisasi pada lokasi asal u) Kerugian akibat dampak lingkungan yang mungkin timbul dari pengadaan tanah dan pemukiman kembali atau dari proyek. telepon. dan penyusunan program rehabilitasi sosial ekonomi / pembinaan. q) Terganggunya/hilangnya tempat suci. gas. Jenis dampak/kerugian yang mungkin timbul. fasilitas peribadatan.5 Identifikasi Dampak/Kerugian Yang MungkinTimbul Dengan cara membuat tabel identifikasi sederhana. meliputi: a) b) c) d) e) Kehilangan lahan pertanian Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis Kehilangan lahan pekarangan perumahan Kehilangan lahan untuk aksesibilitas lokal Kehilangan rumah atau tempat tinggal. Kriteria PTP yang Layak/Berhak Mendapatkan Ganti Kerugian/Kompensasi L. pelayanan kesehatan. terdiri dari : a) b) c) d) PTP yang layak/berhak untuk mendapatkan ganti kerugian. air bersih.6. simbol atau tempat keramat lainnya. n) Terganggunya kegiatan pendidikan. bangunan MCK. Pilihan bentuk ganti kerugian.

saling membantu pada saat kesulitan. dan keanggotaan dalam suatu organisasi sosial kemasyarakatan. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 dan pengembangannya. Tanaman. sebagai berikut :  Tanah perumahan. gotong royong.6. baik yang bersertifikat dan yang belum bersertifikat. yang dengan atau tanpa izin pemilik tanah. antara lain: anak (murid) sekolah. sebagai berikut: a) Kerugian atas dasar faktor fisik (materiil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor fisik yang layak diganti rugi. antara lain:  Kehilangan matapencaharian dan pendapatan. Kriteria tanah.  Lahan usaha pertanian. Kerugian atas dasar faktor non-fisik (immateriil) Jenis-jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik yang dianggap layak untuk diganti rugi (bila terjadi pemukiman kembali). o Sisa tanah tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).6.  Aset sosial-budaya lainnya. o Sisa tanah tidak layak usaha yang berbasiskan tanah (sisa luas tanah < 0.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. Tanah Negara. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Tanah yang dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha: o Sisa tanah tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).3 Penilaian Tingkat dan Besaran Ganti Kerugian L.6. Tanah ulayat. L. Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah.3. maka kriteria atas dampak dan kerugian yang layak diberikan ganti kerugian/kompensasi. nilai-nilai kepatutan/kewajaran sosial). (misalnya. Tanah wakaf. antara lain meliputi :         b) Tanah hak.25 Ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/ RTRK). dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 8 . Bangunan. Tanah yang dikuasai tanpa alas hak. pengontrak/sewa (tanah dan bangunan).2 Kriteria Dampak/Kerugian Yang Layak Diganti Rugi Berdasarkan Keppres RI No.1 Kerugian atas dasar faktor fisik a) Tanah.  Keterikatan sosial dengan lokasi asal. dianggap seluruh bidang tanah terkena proyek dan harus diganti seluruhnya.

dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk tanah.  Aspirasi warga.  Sudah berakhir dinilai 60 %. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik.  Masukan dari tokoh masyarakat dan para ahli. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 9 .  Ganti rugi tanaman ditaksir oleh Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab di budang perkebunan dengan memperhatikan faktor investasi. dengan ketentuan ganti kerugian diberikan dalam bentuk pembanguan fasilitas umum. bangunan dan perlengkapan yang diperlukan. Hak Guna Usaha :  Masih berlaku dinilai 80 %. Mengingat pada suatu bidang tanah melekat suatu jenis hak dan status penguasaannya.  Sudah berakhir dinilai 60 %. adalah harga transaksi tanah dan bangunan yang telah terjadi di sekitar lokasi. (b) Tanah Wakaf  Dinilai 100 %.  Belum bersetifikat dinilai 90 %.  Harga sejenis. Hak Pakai :  Jangka waktu tidak dibatasi dan berlaku selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu dinilai 100 %. dengan ketentuan sebagai berikut : (a). (c) Tanah Ulayat  Dinlai 100 %. atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.  Masih berlaku dan sudah berakhir tidak diberi ganti kerugian jika perkebunan tidak diusahakan dengan baik.  Harga pasar. Hak Guna Bangunan :  Masih berlaku dinilai 80 %. dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:  NJOP (nilai jual obyek pajak).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Perkiraan besaran ganti kerugian/kompensasi atas tanah didasarkan pada nilai nyata (nilai jual) tanah.  SK Bupati/Walikota. jika (perkebunan) masih diusahakan dengan baik. kondisi kebun dan produktivitas tanaman. Tanah Hak Hak Milik :  Sudah bersertifikat dinilai 100 %. adalah harga transaksi umum atas tanah dan bangunan.  Jangka waktu paling lama 10 tahun dinilai 60 %. maka dalam penentuan nilai ganti kerugian atas tanah harus juga didasarkan pada jenis hak dan status penguasaan yang melekat atas (bidang) tanah yang bersangkutan.  Sudah berakhir dinilai 50 % jika tanah masih dipakai sendiri/orang lain atas persetujuan.

Selanjutnya. Bangunan yang belum memiliki IMB dinilai 75 %. Beberapa standar harga dari instansi terkait dimaksud antara lain:  Standar harga bangunan dari instansi yang terkait (misalnya. b. b) Bangunan Penilaian tingkat kerugian atas bangunan didasarkan pada kriteria/ketentuan sebagai berikut :  Bangunan rumah tinggal Sisa luas bangunan tidak layak huni (sisa luas bangunan < 21 m2. (e) Tanah Negara  Untuk Tanah Negara.  Bangunan tempat usaha Sisa luas bangunan tidak layak usaha (sisa luas bangunan < 18 m2. 48 tahun 1994. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya  Bangunan lainnya Sisa luas bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk penggunaan seperti sebelumnya. dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. maka perkiraan besarnya ganti kerugian dihitung sebagai berikut : a. tanpa memperhitungkan depresiasi. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK. 10 .  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 40 %. Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK). atau tidak sesuai dengan ketentuan RUTR/RTRK).  Dikuasai < 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 30 %. namun tetap memperhatikan izin pendirian bangunan (IMB) tersebut. berdasarkan izin pendirian bangunan (IMB). dianggap seluruh bangunan terkena proyek dan harus diganti seluruhnya. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Perkiraan besarnya ganti kerugian untuk bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga (biaya) bangunan dari instansi yang terkait dan aspirasi warga.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (d) Tanah Yang Dikuasai Tanpa Atas Hak  Dikuasai > 20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 60 %.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat (biasanya berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan). c) Tanaman PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai 100 %.  Dikuasai >20 tahun dan penguasaan/penggunaan tanah tidak sesuai dengan RTRW/RUTR dinilai 50 %.

Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Ganti kerugian untuk tanaman dinilai berdasarkan nilai jual dari tanaman bersangkutan. berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Pedoman Harga Dalam Rangka Pemberian Ganti Rugi terhadap Bangunan dan Fasilitas Perlengkapannya pada wilayah yang bersangkutan.6.  Pedoman harga berdasarkan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota setempat. kenikmatan yang sebelumnya diperoleh warga masyarakat yang terkena proyek sebagai akibat kegiatan proyek tersebut. manfaat/kepentingan. ditaksir dan dinilai oleh instansi yang terkait (biasanya dalam hal ini adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan atau Dinas Pertamanan) d) Benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah. dinilai berdasarkan :  Ketentuan dan standar harga dari instansi yang terkait  Surat Edaran Bersama Bappenas dan Departemen Keuangan RI. Penggantian atas kerugian berupa kehilangan mata pencaharian dan pendapatan. Ganti kerugian atas aset/benda lainnya yang terkait dengan tanah dinilai berdasarkan nilai jual dan/atau tingkat pentingnya aset dimaksud.  Difasilitasi (pembinaan) secara layak untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal setara seperti kondisi sebelum terkena proyek/kegiatan pengadaan tanah (misalnya. dalam menentukan besarnya ganti kerugian untuk bendabenda lain yang terkait dengan tanah tersebut.  Penyewa/Pengontrak Bangunan Tempat Usaha/Lahan Usaha PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 11 .  Aspirasi warga L. dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :  Jenis tanaman dan nilai komersialnya  Umur dan tingkat produktivitas Selanjutnya untuk menentukan besarnya ganti kerugian.  Bantuan biaya pindah yang layak. perihal Pedoman Standarisasi Pembangunan Gedung Negara Yang Dibiayai APBN). pengembangan usaha kecil termasuk paket pelatihan keterampilan). Selanjutnya. penyediaan tempat usaha baru dengan fasilitas kredit lunak. dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  PTP Usaha Bagi Hasil dan Pekerja Permanen Pemberian ganti kerugian atas kehilangan matapencaharian/pendapatan untuk kategori ini didasarkan pada :  Kompensasi senilai biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum menurut tahun berlaku selama 6 (enam) bulan selama periode masa transisi.3.2 Kerugian Atas Dasar Faktor Non-Fisik (Immateriil) Penilaian ganti kerugian untuk jenis kerugian atas dasar faktor non-fisik ditentukan berdasarkan atas kehilangan keuntungan. a) Kehilangan matapencaharian dan pendapatan.

 Bagi penyewa/pengontrak yang telah bermukim >5 tahun diberi prioritas paket kegiatan pemukiman kembali. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. dengan nilai kompensasi yang setara dengan biaya transportasi umum untuk 2 (dua) kali imbal selama 6 bulan.  Biaya ekstra (karena terpaksa harus membeli makanan/ jajanan) dengan nilai kompensasi yang setara dengan lingkungannya. b) Hilangnya Keterikatan Sosial dengan Lokasi AsaK.  Kompensasi sebagaimana PTP Usaha Bagi HasiK. dengan nilai kompensasi yang setara dengan menggaji seorang pengasuh selama 3 (tiga) bulan. dapat diberikan dalam bentuk bantuan program fasilitasi (pembinaan). diperhitungkan sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  Kehilangan Aset Sosial-Budaya Lainnya Penggantian atas jenis kerugian non-fisik berupa kehilangan aset sosial budaya lainnya ini. diperhitungkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :  Anak sekolah SD yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 0.  Penggantian dana Badan Pembinaan Pendidikan dan Pengajaran (BP3) yang sudah dibayarkan selama 1 (satu) tahun. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 12 . diperhitungkan berdasarkan faktorfaktor sebagai berikut :  Penggantian penuh atas nilai sisa kontrak/sewa.  PTP Pengontrak/Penyewa Rumah Tinggal Pemberian ganti kerugian bagi PTP kategori ini. Dampak ini akan timbul.  Bantuan pindah.5 Km.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Nilai penggantian atas kehilangan matapencaharian dan pendapatan bagi PTP penyewa/pengontrak bangunan tempat usaha dan/atau lahan usaha. yakni :  Anak Sekolah yang Terpindahkan Pemberian ganti kerugian bagi anak sekolah yang terpindahkan (terpaksa harus pindah karena mengikuti orang tuanya). khususnya apabila terjadi pemukiman kembali yang tergolong kategori penting. diberi kompensasi sebagai berikut :  Biaya untuk kepentingan adaptasi lingkungan. Jenis kerugian ini akan sangat beragam tergantung pada kondisi obyektif di lapangan. Dalam pedoman ini disajikan cara penilaian ganti kerugian untuk 3 (tiga) jenis kerugian yang umum terjadi dan cukup signifikan.  Anak sekolah SMP yang terpaksa harus pindah dari lokasi semula > 5 Km. selama hari sekolah (26 hari) selama 6 bulan.

dan sebagainya.6. c) Tanaman. dan apabila diperlukan. d) Benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah.7 Perencanaan Lokasi Pemukiman Kembali Proses perencanaan pemukiman kembali dan pembinaan terdiri dari 5 tahapan kegiatan utama. Ketentuan berdasarkan Keppres tersebut di atas perlu pengembangan lebih lanjut.7. Real estate dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Analisis altermatif (pilihan) bentuk ganti kerugian didasarkan atas hasil survai sosial ekonomi (dalam pelaksanaan dapat ditentukan berdasarkan atas hasil musyawarah dalam rangka menentukan bentuk dan besarnya ganti kerugian). 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14 menyebutkan bahwa ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah diberikan untuk : a) Hak atas tanah.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dalam program pembinaan tersebut. kehilangan keterkaitan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal.1 Berdasarkan Keppres RI No. mengingat belum mencakup seluruh kategori kerugian yang mungkin timbul akibat kegiatan pengadaan tanah. Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok PTP yang tergolong rentan lainnya.4 Alternatif Bentuk Ganti Kerugian. Pemilihan/penentuan lokasi. yakni : a) b) c) d) e) Memperkirakan jumlah PTP yang terpindahkan. harus disiapkan paket program persiapan sosiaK. Bentuk lainnya yang disetujui oleh PTP dan dapat diusahakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemrakarsa L. terganggunya jaringan dan pola kehidupan sosial budaya. Hal ini juga PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 13 . Kavling siap bangun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Misalnya kerugian akibat kehilangan akses pada sumber penghidupan (kehilangan matapencaharian dan pendapatan). L. Perumahan murah dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Bangunan pengganti. Menentukan kategori pemukiman kembali. perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok PTP dengan kepala rumah tangga perempuan. antara lain sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Uang tunai. Menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali. Beberapa pilihan bentuk ganti kerugian yang dapat digunakan sebagai penggantian/kompensasi. b) Bangunan. Rumah susun dengan fasilitas kredit kepemilikan rumah. Perancangan permukiman Memperkirakan Jumlah PTP Yang Terpindahkan L. e) Tanah yang dikuasai dengan hak ulayat. Tanah pengganti.

Berdasarkan Panduan Operasional Bank Dunia KO 4. sebagaimana ketentuan pada point 3 diatas.2 Kategorisasi pemukiman kembali dimaksudkan untuk menilai dampak kegiatan pengadaan tanah yang mengharuskan dilakukan perencanaan pemukiman kembali. Warga yang menguasai tanah secara fisik tanpa alas hak (dengan atau tanpa izin pemilik tanah). Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) tempat usaha dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas tanah < 24 m2. serta tanah/bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada butir a diatas. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK). dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB). hasilnya dituangkan dalam “tabel P T P yang terpindahkan”.25 Ha.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan merupakan salah satu ketentuan/kebijakan dari Bank Dunia dan ADB yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (lihat Panduan Operasional/Kebijakan Operasional Bank Dunia KO 4.12. Menentukan Kategori Pemukiman Kembali e) f) g) h) L.7. Warga penyewa/bagi hasil tanah/lahan usaha pertanian yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. dan Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali ADB yang merupakan usulan penjabaran lebih lanjut dari Keppres RI No. atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRK) Warga penyewa/pengontrak rumah tinggal yang telah menempatiselama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian dan merupakan penduduk (KK) setempat (dari Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi proyek). kem udian dengan m enggunakan kriteria P T P yang terpindahkan seperti tersebut di atas.12. Warga pemilik tanah/lahan yang tanahnya dipergunakan bagi lahan usaha pertanian (berbasis tanah) dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak usaha (sisa luas lahan usahanya < 0. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point a) dan/ atau point b) diatas. serta tanah dan bangunannya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya sebagaimana ketentuan pada point b) diatas. Warga penyewa/pengontrak tanah/bangunan tempat usaha yang telah menjalani usahanya selama lebih dari 5 tahun. 55/1993 dalam Pasal 12 dan 14. dapat diperkirakan jumlah PTP yang terpaksa harus pindah adalah sebagai berikut : a) b) c) d) Warga pemilik tanah yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan terkena proyek seluruhnya atau terpotong sebagian namun sisa tanahnya tidak layak huni (sisa luas tanah < 60 m2. yang tanahnya dipergunakan bagi (bangunan) rumah tinggal dan/atau tempat usaha dan telah menempati selama lebih dari 5 tahun untuk bermukim/hunian atau berusaha. Penilaian ini penting terutama dalam menyiapkan alternatif pilihan pemukiman kembali dan program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 14 . maka dari hasil survai sosial ekonomi dan analisis/identifikasi dampak/ kerugian. Identifikasi P T P yang terpindahkan dilakukan dengan cara m encerm ati “tabel identifikasi dam pak/kerugian”. serta tanahnya terpaksa harus dibebaskan seluruhnya.

langkah pemulihan taraf hiduK. PTP adalah penduduk asli atau rentan. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan perumahan. tempat. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. Ganti rugi dengan nilai penggantian. Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Kurang Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan lain-lain (termasuk lahan. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan yang tidak mempunyai hak yang sah atas lahan. Penggantian kalau bisa. struktur masyarakat. pendapatan dan matapencaharian) Kehilangan rumah tinggal. misalnya yang paling miskin. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh. PTP adalah penduduk asli atau rentan/rawan. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. sistem dan fasilitas sosial Kehilangan sumber daya. langkah pemulihan pendapatan. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. struktur masyarakat. PTP adalah kelompok rawan atau rentan Jumlah PTP < 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. Ganti rugi dengan nilai penggantian. Kasus-kasus pemukiman kembali kurang penting yang berdampak pada kelompok khusus/rawan Jumlah PTP > 200(± 40 KK) Persyaratan Ganti rugi dengan nilai penggantian. pemulihan pendapatan. misalnya yang paling miskin. masyarakat terpencil. Penggantian kalau bisa. masyarakat terpencil. langkah pemulihan taraf hiduK. bantuan pemindahan dan tunjangan pendapatan selama pelaksanaan relokasi. bantuan pemindahan dan perencanaan relokasi. tempat. penggembala. > 200(± 40 KK) > 200 (± 40 KK) > 100 (± 20 KK) > 50(± 10 KK) Misalnya. 50 PTP golongan rentan perlu rencana pemukiman kembali lengkaK.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Kriteria Pemukiman Kembali Kategori Penting Tingkat Dampak Kehilangan kekayaan produktif dan yang lain (termasuk lahan. lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat. dan penggembala. pemulihan dan ganti rugi Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh < 200(± 40 KK) < 200 (± 40 KK) < 100 (± 20 KK) < 50 (± 10 KK) Tahap persiapan sosial/langkahlangkah khusus mungkin diperlukan untuk menjamin rehabilitasi penuh PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 15 . lingkungan dari rumah tangga atau masyarakat.

3. Namun demikian. Relokasi Mandiri. meskipun jumlah PTP relatif banyak. khususnya jika lokasi dimaksud berbeda kondisi lingkungannya. antara lain : (a) Memberikan konstribusi (manfaat) yang nyata terhadap masyarakat/lingkungan di sekitar tapak proyek. (b) Bagi PTP sendiri akan lebih menguntungkan karena karakteristik lokasi masih sama dengan lokasi asal. Pemindahan ke lokasi baru yang jauh atau kawasan yang berbeda karakterisrik lingkungan. Relokasi setempat (di sekitar tapak proyek) dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan sedikit.3 Penyiapan Alternatif Pilihan Pemukiman Kembali Dalam perumusan alternatif relokasi ini. Alternatif ini dapat diterapkan apabila PTP yang terpindahkan memilih ganti kerugian berupa uang tunai dan berinisiatif (baik perorangan atau kelompok) melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri. sehingga diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi. L. budaya dan ekonomi. PTP dapat ditempatkan (dimukimkan) di kawasan sekitar Damija. a). B eberapa m anfaat pendekatan “renew able developm ent”. jauh dari lokasi asal (apalagi jika merupakan “perkam pungan asli” P T P ) dapat m enyebabkan tekanan sosial. b).7. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial atau pekerjaan dari proyek untuk memulihkan kembali tingkat kehidupanya seperti sebelumnya. kepadatan penduduk rendah. melibatkan seluruh PTP yang terpindahkan. (c) Bangunan pemukiman dapat dibangun secara vertikal (rumah susun). relokasi setem pat dengan pendekatan “renew able developm ent” ka wasan sekitarnya (peremajaan atau revitalisasi kawasan). penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemrakarsa) masih tetap bertanggungjawab atas perkembangan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka pasca relokasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. didasarkan pada skala kebutuhan pemukiman kembali. dan penduduk setempat dalam merumuskan pilihan relokasi yang terbaik. dan lokasinya tersebar (setempat-setempat) di sepanjang rute jalan . harus PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 16 . Khusus untuk daerah perkotaan. mungkin dapat dipertimbangkan untuk diterapkan. Relokasi Setempat. Relokasi ke Lokasi/Kawasan Baru Relokasi ke lokasi/kawasan baru yang ditentukan oleh Pemda/ Pemrakarsa. (ii) Relokasi setempat. c).1 Alternatif relokasi Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian cara pemindahan (relokasi).7. sosial. lahan yang dibutuhkan untuk proyek relatif luas dan kondisi lingkungan di sekitar tapak proyek merupakan perkampungan kumuh dan padat penduduk. Dalam hal ini beberapa PTP dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti kerugian yang menjadi haknya. dan (iii) Relokasi ke lokasi/kawasan baru. antara lain meliputi : (i) Relokasi mandiri. pola kehidupan ekonomi dan matapencaharianm atau parameter sosial dan budayanya.

(iii) Kaveling siap bangun (KSB). kepadatan penduduk rendah.4 Pemilihan/Penentuan Lokasi. a). (ii) Rumah susun. Perumahan Pilihan pemukiman dalam bentuk perumahan dapat diterapkan. Apabila PTP yang terpindahkan relatif banyak ( > 40 KK).3. dan lokasinya tersebar setempat-setempat di sepanjang rute jalan. b). Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemilihan/penentuan lokasi pemukiman kembali. atau dengan pembelian (hak milik) serta harganya terjangkau (misalnya. Pilihan ini akan memberi kebebasan kepada PTP untuk mendesain permukimannya sesuai kebutuhan. fasilitas kredit kepemilikan rumah). Lokasi KSB dapat terletak di sekitar lokasi asal atau ditempat lain. Penyediaan pemukiman ini dapat berupa rumah susun yang telah ada maupun pembangunan baru. Jika PTP yang terpindahkan sedikit. 17 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . Cara kepemilikan rumah susun dapat dilakukan dengan cara sistem sewa (runah susun sewa) dalam jangka waktu yang lama (misalnya. sambungan listrik. L. Pilihan alternatif lokasi diplot diatas peta dasar atau peta rencana kota/RUTR/RTRK. Pilihan ini juga dapat dipertim bangkan untuk relokasi setem pat dengan m em akai pendekatan “renew able”. sambungan listrik. fasilitas umum). air bersih. 20 tahun). dan jika PTP banyak harus dipertimbangkan pembangunan runah susun yang baru. meliputi : a) b) Membuat pilihan alternatif lokasi.7. saluran drainase. c). perumahan dapat dibangun di sekitar Damija (relokasi setempat). serta harganya terjangkau (misalnya.7. baik PTP yang terpindahkan sedikit atau banyak. fasilitas KPR) L. Kavling Siap Bangun (KSB) Alternatif KSB mungkin akan menjadi pilihan bagi sebagian kecil PTP yang ingin membangun rumah tinggalnya sesuai kehendak mereka. Lokasi KSB harus dipersiapkan dengan baik (layak) yang dilengkapi dengan sarana dan prasaran sosial ekonomi (antara lain. jalan. jalan. Rumah Susun Jika PTP sedikit dapat ditempatkan pada rumah susun yang sudah ada.2 Alternatif Bentuk Permukiman Alternatif pilihan pemukiman kembali dalam pengertian bentuk permukimannya. Lokasi perumahan ini harus dilengkapi sarana dan prasaran sosial ekonomi yang layak (air bersih. fasilitas KPR-BTN). Penyediaan pemukiman ini dapat berupa perumahan yang telah ada maupun pembangunan baru.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sedapat mungkin dihindarkan. fasilitas umum) dan harganya terjangkau (misalnya. dan dikonsultasikan dengan PTP yang terpindahkan. perumahan dibangun di lokasi baru. antara lain : (i) Perumahan.

luas dan bentuk lahan. L. serta sesuai dengan rencana tata ruang (RUTR/RTRK). (e) Ketersediaan peluang usaha/kesempatan kerja. Lokasi dimaksud harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang memadai. komposisi penduduk). prasarana sosial. dan pusat perekonomian). harus berdasarkan dan diputuskan melalui musyawarah dengan PTP. pasar. Konsultasi masyarakat dalam merancang struktur permukiman dengan mempertimbangkan faktor-faktor :  Jumlah PTP yang akan dimukimkan.  Sambungan listrik (dan komunikasi). tempat usaha. dapat dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini : (a) Diusahakan masih terletak dalam wilayah Kecamatan yang sama. peribadatan. sosial.5 Perancangan Permukiman. seperti fasilitas pendidikan. fasilitas pendidikan. (f) Ketersediaan sumber daya air bersih dan sambungan listrik. Survai ini mencakup survai investigasi karakteristik fisik lokasi dan survai sosial ekonomi. dan masyarakat setempat Sebagai acuan dalam penilaian kelayakan lokasi pemukiman kembali. atau minimal dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan lokasi sebelumnya.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan c) d) Survai kelayakan lokasi Survai kelayakan lokasi juga harus melibatkan PTP dan masyarakat setempat Penentuan pilihan lokasi Penentuan pilihan lokasi.  Kisaran luas kepemilikan tanah dan bangunan dari PTP dan masyarakat setempat.  Keberadaan fasilitas sosial-budaya masyarakat. (g) Mempertimbangkan faktor lingkungan dan dampak terhadap masyarakat setempat (kualitas lahan. penggunaan sumber daya milik umum. dan sebagainya sesuai dengan tingkat kebutuhan besaran komunitas yang terbentuk. daya tampung lokasi/ kawasan. (b) Ketersediaan lahan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 18 .7.  Struktur dan pola permukiman yang ada (eksisting). sebagai berikut a) b) c) Survai lokasi. budaya dan ekonomi). olah raga. (c) Mempunyai karekteristik lokasi yang setara dengan lokasi asal (karakteristik lingkungan.  Karakteristik sosial dan kebiasaan budaya PTP dan warga setempat. dikaitkan dengan jumlah PTP yang akan dimukimkan dan daya tampung kawasan. fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan..  Fasilitas umum.  Jangkauan dan aksesibilitas lokasi terhadap fasilitas sosial ekonomi yang ada (pusat pelayanan kesehatan. tempat ibadah. Perancangan struktur permukiman. seperti :  Penyediaan air bersih. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam rangka perancangan permukiman ini. (d) Kemudahan aksesibilitas ke pusat-pusat perekonomian.

bantuan pindahan. Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi PTP. kelompok usia lanjut. kaum perempuan. pendapatan. dapat berupa :  Ganti kerugian atas tanah. dan semua aset lain yang terkena proyek dibayar penuh sebelum relokasi. Mengidentifikasi berbagai alternatif program pembinaan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Saluran drainase/air kotor/limbah.  Dibebaskan dari berbagai biaya pajak. Kemudahan transportasi angkutan umum. besarnya keluarga. Prasarana transportasi/jalan (jalan akses/utama dan jalan lingkungan). kelompok paling miskin).  Kesempatan kerja atau berusaha sementara jangka pendek dalam kegiatan pembangunan proyek atau pembangunan konstruksi di lokasi pemukiman kembali. yakni untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi PTP. keterampilan. Materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP. besarnya keluarga. bantuan untuk memulai usaha baru) diberikan secara penuh selama masa transisi. yakni PTP yang terpindahkan. mata pencaharian.  Bantuan pembangunan rumah. pilihan). L. tempat usaha dan bantuan/ tunjangan relokasi (misalnya. orang-orang cacat. b) Strategi Program Pembinaan Menjelaskan secara spesifik mengenai paket bantuan program pembinaan yang perlu diberikan. khususnya kegiatan ekonomi (menurut jenis kelamin. umur. pilihan). pendidikan. Langkah-langkah dalam menyusun program pembinaan ini antara lain : a) b) c) Mengidentifikasi kelompok PTP yang layak untuk mendapatkan program pembinaan secara intensif. dan PTP yang tergolong kelompok rentan. pendapatan. sebagai berikut : a) Kategori dan jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan Menjelaskan secara rinci mengenai jumlah PTP yang menjadi kelompok sasaran pembinaan (menurut jenis kelamin. khususnya untuk pemulihan pendapatan melalui konsultasi dengan instansi terkait. mata pencaharian. bangunan. pendidikan.  Subsidi sarana produksi atau kredit murah untuk usaha. pengusaha. Strategi program pembinaan mencakup strategi pemulihan kondisi sosial ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. pembongkaran (bangunan) dan pemulihan untuk relokasi.8 Penyusunan Program Rehabilitasi Sosial Ekonomi Program rehabilitasi sosial ekonomi (pembinaan) merupakan salah satu upaya penting penanggulangan dampak kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali.  Paket bantuan/pembinaan khusus (jika diperlukan) bagi PTP kelompok rentan (seperti. bantuan pendidikan anak sekolah. keterampilan. PTP yang kehilangan mata pencaharian/pendapatan. Strategi program rehabilitasi sosial jangka pendek. 19 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . serta analisis kelayakan dan finansiaK. preferensi. preferensi. tunjangan biaya hidup. umur.

pemukiman kembali dan pembinaan sebagai bahan masukan bagi para pelaksana dalam pengambilan keputusan dalam rangka implementasi rencana kegiatan. Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan Jenis kegiatan yang dipantau dan indikator pemantauan harus diturunkan berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan. masukan/norma input lainnya untuk pemulihan pendapatan) dan menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan sosial ekonomi lokal. bantuan kredit usaha kecil dan usaha mandiri. Metode pemantauan Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai tingkat kemajuan/pencapaian PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 20 .  Paket rehabilitasi lingkungan. mencakup:  Strategi pembinaan sosial dapat berupa pembangunan fasilitas sosial dan penguatan kelembagaan sosial kemasyarakatan. termasuk mekanisme koordinasi yang diperlukan dan mekanisme pelaksanaan pembinaan dan penyaluran bantuan.1 Perumusan Kerangka Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan Internal Tujuan pemantauan ini adalah untuk menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah.  Strategi pengembangan kegiatan ekonomi dapat berupa kegiatan usaha berbasis lahan dan/atau non-lahan yang mendapat bantuan proyek (misalnya. penyiapan lahan pengganti. frekuensi. d) Kelembagaan Menentukan instansi penanggung jawab. instansi pelaksana.9 L.9. Strategi pembinaan jangka panjang . serta untuk membantu manajemen dalam mengkaji tingkat kemajuan implementasi rencana kegiatan selama proses pelaksanaan sampai dengan selesai. dan lamanya pelaksanaan untuk setiap kelompok sasaran pembinaan dan jenis bantuan pembinaan yang diberikan. Dalam menyusun kerangka waktu pelaksanaan pembinaan ini perlu mempertimbangkan jadwal kegiatan konstruksi proyek dan keterkaitan dengan skema program pembangunan sosial ekonomi lainnya. pekerjaan. c) Kerangka Waktu Pelaksanaan Membuat perkiraan waktu pelaksanaan.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan  Pembinaan untuk integrasi sosial dengan penduduk setempat (tuan rumah) di lokasi pemukiman kembali. kerangka waktu dan anggaran yang telah direncanakan. serta instansi pendukung dalam rangka implementasi program pembinaan dimaksud. regional atau nasionaK. L. peningkatan keterampilan melalui pelatihan dan dampingan teknis.

khususnya pada lokasi bersangkutan. c) Membuat Dokumentasi PTP Sistem dokumentasi data PTP (data file record) dibuat untuk setiap rumah tangga (KK) yang mencatat tentang identitas (rumah tangga) PTP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan sasaran fisik dari proses im plem entasi rencana kegiatan (action plan) adalah m etode “single program beforeafter” yakni suatu m etode pengkajian/penilaian terhadap perubah an dari suatu jenis obyek/kegiatan yang menjadi target sasaran (bisa juga kelompok sasaran) tanpa harus menggunakan kelompok kontrol. Wawancara ini dapat dilakukan setiap 6 (enam) bulan selama pelaksanaan. Sedangkan sebagai alat (perangkat) analisisnya. atau apakah lokasi pemukiman kembali telah disiapkan/dibangun secara layak dan memadai. jenis aset terkena proyek. d) Informal Sample Survai Pemantauan dapat dilakukan dengan cara pengamatan inventarisasi (visual) dan pencatatan langsung. Dokumen laporan ini biasanya disampaikan secara berkala. dapat mengkonfirmasikan kepada para peserta rapat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. f) Rapat/Pertemuan dengan Masyarakat. Rapat pertemuan dengan masyarakat. maupun melalui wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan PTP ( 20 % sample secara purposive). File dokumentasi ini dicetak dalam bentuk formulir dan dibagikan kepada setiap PTP yang bersangkutan. dapat digunakan m odel diagram “kurva -S ” (s -curve). sampai seberapa jauh pembongkaran bangunan telah dilakukan. khususnya dengan PTP dimaksudkan untuk meninjau PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 21 . serta bentuk dan nilai ganti kerugian. dengan cara membandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan suatu “treatm ent” (kegiatan). b) Pengkajian Dokumen Laporan Mengkaji seluruh dokumen laporan pelaksanaan kegiatan yang dibuat/disampaikan oleh para pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Selanjutnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi. Misalnya untuk mengetahui apakah ganti kerugian telah diberikan (sesuai dengan kerangka kelayakan ganti kerugian hasil kesepakatan dalam musyawarah). e) Wawancara dengan Responden/Informan Kunci Pemantauan (pengumpulan data) dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara langsung secara tidak terstruktur dengan sejumlah warga masyarakat yang dianggap strategis dan mempunyai pengetahuan luas atau pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Sistem dokumentasi ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga m em ungkinkan untuk “one -stop m onitoring” m isalnya untuk status pem berian kompensasi/ ganti kerugian. beberapa metode yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan. antara lain mencakup: a) Rapat Koordinasi dan Diskusi Dalam rapat koordinasi dan/atau diskusi ini.

Waktu dan frekuensi pemantauan Pemantauan dilaksanakan selama berlangsungnya proses pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. Dalam merumuskan materi pelaksana pemantauan internal ini harus mencakup rincian pengaturan mengenai : a) Distribusi tanggung jawab pemantauan dalam unit/instansi pelaksana pengadaan tanah. usulan penyelesaian dan bantuan yang PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 22 .Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan (mengetahui) respon dan masukan dari masyarakat (PTP) secara langsung tentang pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. koordinasi dengan instansi terkait. yang berisi tentang jenis dan besaran (volume) kegiatan yang telah dilaksanakan serta catatan penting atas permasalahan/kendala yang dihadapi. b) Laporan Mingguan/Dwi Mingguan Laporan ini merupakan hasil verifikasi dan rangkuman dari Laporan Harian dengan isi pokok laporan berupa informasi kemajuan pekerjaan selama minggu/ dwi minggu berjalan serta catatan permasalahan/kendala khusus yang dihadapi. b) c) Sistem Pelaporan Jenis laporan terdiri dari laporan harian. Untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali berskala besar lebih baik jika ada Tim khusus untuk pemantauan. pemukiman kembali dan pembinaan. bulanan. Kemudian. termasuk pengumpulan dan analisis data. triwulan. untuk konfirmasi lapangan dapat dilakukan setiap satu bulan sekali atau sesuai kebutuhan untuk merespon kondisi obyektif yang berkembang. Namun demikian. verifikasi. Kemudian untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang melibatkan instansi-instansi lain atau beberapa jenjang pemerintahan. serta untuk memperoleh gambaran informasi mengenai tampilan dari berbagai aktifitas kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Persyaratan personil pelaksana. pemrakarsa harus dilibatkan secara penuh. Pelaksana pemantauan Pemantauan internal dilaksanakan sendiri oleh instansi penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. Laporan ini diserahkan setiap hari kepada Koordinator Lapangan. tahunan dan laporan akhir kegiatan. dengan variasi waktu untuk rapat koordinasi mingguan (tingkat pelaksana lapangan) dua mingguan (koordinator pelaksanan) dan bulanan (tingkat manajemen). khususnya dalam rangka sinkronisasi program. Rapat umum/ pertemuan dengan PTP ini dapat dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali atau lebih selama pelaksanaan kegiatan. diperlukan suatu rencana mekanisme koordinasi. penyerahan laporan kepada pembuat keputusan. mingguan/dwi mingguan. pengendalian. a) Laporan Harian Laporan harian dibuat oleh Pelaksana Lapangan. Tanggung jawab atas tugas-tugas tertentu. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan pemantauan. penyusunan laporan.

rapat/pertemuan dengan PTP).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dibutuhkan. Pemrakarsa dan perwakilan (kelompok) PTP. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 23 . yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. yang kemudian disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah. dan (ii) laporan seluruh kerangka kegiatan. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dan disampaikan kepada Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah dan Pemrakarsa. Pemrakarsa dan kelompok perwakilan PTP.2 Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Indikator Pemantauan dan Evaluasi Indikator utama pemantauan dan evaluasi. Termasuk dalam laporan ini adalah informasi tentang tingkat perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. e) Laporan Tahunan Laporan ini berisikan informasi tentang pencapaian target/sasaran fisik kegiatan. Dampak lain yang timbul (khususnya induced impact). serta rencana untuk triwulan berikutnya. Efektivitas perencanaan. realisasi penyerapan (dan alokasi) anggaran. dan disampaikan kepada Ketua/Koordinator Tim Pelaksana. Laporan ini dibuat oleh Koordinator Lapangan. dengan isi pokok laporan antara lain menyangkut tingkat kemajuan pelaksanaan kegiatan. Tingkat kepuasan PTP. analisis kesesuaian (kinerja) pelaksanaan. c) Laporan Bulanan Laporan bulanan ini terdiri dari 2 (dua) jenis yakni : (i) laporan bulanan untuk tiap-tiap bidang/bagian kegiatan/pekerjaan. wawancara bebas dengan renponden kunci. perkembangan kondisi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan). permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya tindak penyelesaian. Pemulihan taraf hidup. L. permasalahan/kendala yang dihadapi dan upaya/rencana tindak penyelesaian. d) Laporan Triwulan Laporan Triwulan disusun berdasarkan Laporan Bulanan dan hasil verifikasi lapangan (informal sample survai. antara lain : a) b) c) d) e) f) Informasi dasar mengenai rumah tangga PTP.9. Laporan ini dibuat oleh Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen dengan bantuan para Koordinator/Ketua Tim Pelaksana Kegiatan. realisasi penyerapan dan alokasi anggaran. Pemulihan matapencaharian dan pendapatan. Laporan (bulanan) bidang kegiatan dibuat oleh para Ketua/Koordinator Tim Pelaksana dan disampaikan kepada Penanggungjawab Utama Pengadaan Tanah melalui Pimpinan Unit Pelaksana Manajemen. serta rencana pelaksanaan kegiatan tahun berikutnya..

pemukiman kembali dan pembinaan telah tercapai. Kerangka waktu. khususnya PTP dalam pemantauan dan evaluasi. pemukiman kembali. pemukiman kembali dan pembinaan (RK-PTPKP) dan tujuan kebijaksanaan pemerintah. pemukiman kembali dan pembinaan. pemukiman kembali dan pembinaan. maka dalam hal ini harus disusun suatu persyaratan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi. dan apakah tujuan tersebut sesuai dengan kondisi PTP (saat ini). Memastikan apakah kelayakan ganti kerugian dan bantuan yang diberikan telah memenuhi tujuan. Metodologi secara rinci. efektivitas. dan pengembangan sistem pencataan (dokumentasi) dan pelaporan. updating. d) Waktu dan Frekuensi Pemantuan dan Evaluasi Pemantauan eksternal dan evaluasi cukup dilaksanakan setiap satu tahun selama periode pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. pengendalian mutu. dengan mengacu pada RKPTPKP.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pelaksanaan Pemantauan Eksternal dan Evaluasi Pelaksana pemantauan eksternal dan evaluasi ini adalah pemrakarsa dan/atau Penaggungjawab Utama Pengadaan Tanah. dan selama masa operasi dan pemeliharaan jalan. termasuk tenaga akhli dalam bidang sosiologi. konsultan. khususnya apakah mata pencaharian dan taraf hidup PTP telah terpulihkan atau ditingkatkan. Metode dan pendekatan pengumpulan data/informasi. dampak (manfaat) dan kesinambungan kegiatan pengadaan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 24 . kerangka pengambilan sampel. pertanahan. komparasi dan analisis. KA ini harus dirancang untuk m engem bangkan data dasar “sebelum ” dan “setelah” kegiata n pengadaan tanah. sosial ekonomi/koperasi. Dalam kegiatan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi ini pemrakarsa dapat bekerjasama dengan lembaga penelitian. Menilai apakah tujuan kegiatan pengadaan tanah. Data/informasi yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut. penggunaan data yang ada/tersedia (hasil sensus dan survai). Sumber daya yang dibutuhkan. atau LSM. Menilai efisiensi. Partisipasi stakeholder primer. (pemukiman kembali dan pembinaan) di masa mendatang. Persyaratan Pelaksanaan Mengingat pemantauan dan evaluasi eksternal akan dilaksanakan oleh suatu Tim (institusi) dari luar (yang independen). universitas. Berikut ini disajikan materi pokok dari KA dimaksud : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Maksud dan tujuan pemantauan dan evaluasi dalam kaitannya dengan tujuan rencana kegiatan pengadaan tanah. Persyaratan pelaporan. biasanya dalam bentuk suatu Kerangka Acuan (KA). dengan tugas utama sebagai berikut : a) b) c) Memeriksa/mengkaji hasil pemantauan internaK. yang hasilnya akan menjadi acuan untuk pembuatan dan perencanaan kebijaksanaan dalam penyelenggaraan kegiatan pengadaan tanah. pemukiman kembali dan pembinaan.

L.10 Merumuskan Lingkup Kegiatan dan Kerangka Waktu Pelaksanaan Jenis atau komponen pekerjaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali meliputi: persiapan. organisasi kelompok masyarakat (OKM) setempat dan/atau LSM lokal sebaiknya dilibatkan.9. L. L.2 Pengadaan Tanah a) b) c) d) Musyawarah Penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi/kompensasi.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan K. dan monitoring dan evaluasi. Penyiapan program dan anggaran. pengadaan tanah.1 Persiapan a) b) c) d) e) f) Penetapan lokasi pengadaan tanah.3 Partisipasi Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Kelompok PTP.4 Pembinaan a) b) c) Menyusun program pembinaan Menyusun materi pokok program rehabilitasi sosial ekonomi PTP Melaksanakan program pembinaan (jangka pendek dan jangka panjang) L. pemukiman kembali. Evaluasi yang partisipatif akan membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan melibatkan stakeholder primer dalam desain dan pelaksanaan evaluasi. Sebaiknya pemberian ganti rugi/kompensasi.10. pembinaan.10.10. Pembuatan kebijakan kerangka proses/rencana kerja (RKPTPKP). Pemberian ganti rugi/kompensasi dan pelepasan hak/penyerahan tanah Sertifikasi hak atas tanah.5 Monitoring dan Evaluasi Dalam merumuskan jadwal waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus mempertimbangkan jadwal pelaksanaan konstruksi (pembangunan jalan). Metode penilaian cepat partisipatif dapat mewujudkan keterlibatan PTP dan stakeholder primer lainnya dalam pemantauan dan evaluasi. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 25 . L. Set-up kelembagaan.3 Pemukiman Kembali a) b) c) d) Perencanaan lokasi dan sosialisasi Persiapan relokasi dan konsultasi Pembangunan lokasi Relokasi PTP L.10.10. Penyuluhan/sosialisasi awal Inventarisasi dan sensus sosial ekonomi.

Paket peningkatan kualitas lingkungan. pemukiman kembali. serta sarana dan prasarana). monitoring dan evaluasi. 11. dan biaya administrasi. d) Tunjangan biaya hidup selama masa transisi. pembinaan. serta biaya administrasi. beserta aset lain yang ada di atasnya). termasuk biaya untuk ganti rugi.5 Biaya administrasi a) b) c) d) e) f) Biaya kantor dan kesekretariatan. tetapi telah lama bermukim pada lokasi pengadaan tanah. usaha kecil/rumah tangga). jenis atau komponen biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain mencakup : persiapan. Inventarisasi dan sensus PTP. Kompensasi/santunan kepada PTP yang tidak sesuatu hak atas tanah.3 Biaya pemukiman kembali a) Perencanaan dan sosialisasi b) Pembangunan lokasi (termasuk pembebasan tanah. L. c) Bantuan biaya pindah.11.11. L.1 Biaya persiapan a) b) Sosialisasi dan penyuluhan. baik yang diserahkan/dialihkan kepada Pemrakarsa. maupun yang masih menjadi milik PTP (splitzing sertifikat). pelatihan. biaya pengadaan tanah. biaya pemukiman kembali. Secara garis besar. koperasi. fasilitas kredit murah.11. Sertifikasi tanah. biaya pembinaan dan rehabilitasi.11 Menyusun Anggaran dan Pembiayaan Anggaran biaya pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus dirumuskan secara rinci untuk seluruh komponen pekerjaan. e) Tunjangan biaya pengganti atas hilangnya keterikatan sosial ekonomi dengan lokasi asal (pendidikan anak sekolah. L.2 Biaya pengadaan tanah a) b) c) Ganti rugi atas aset fisik yang hilang (tanah. kesehatan.4 Biaya pembinaan dan rehabilitasi a) b) c) Perkiraan biaya untuk paket pemulihan mata pencaharian/pendapatan (seperti. L.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pembangunan lokasi pemukiman kembali dan pekerjaan relokasi harus sudah diselesaikan sebelum pembongkaran bangunan dan pembangunan konstruksi jalan dimulai. Panitia pengadaan tanah Biaya personil/staf operasional Pelatihan dan pemantauan Bantuan teknis Evaluasi oleh lembaga independen 26 PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN . L. pembangunan perumahan. pendidikan). Bantuan pengembangan (seperti.11.memulai usaha baru). L.

Uraian tugas/tanggung jawab dan kewenangan. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 27 . f) Jalan Khusus : Pembina Jalan Khusus adalah Pejabat atau Orang yang ditunjuk oleh/dari Instansi untuk dan atas nama Pimpinan Instansi atau Badan Hukum atau Perseorangan untuk melaksanakan pembinaan Jalan Khusus (Ayat 9). Dalam merumuskan kerangka kelembagaan ini perlu dijelaskan tentang : a) b) c) d) e) Komponen lembaga/instansi yang dibutuhkan (terlibat/terkait).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan L. e) Jalan Desa : Pembina Jalan Desa adalah Pemerintah Desa/Kelurahan (Ayat 8). Mekanisme koordinasi. mengatur tentang pembinaan jalan di Indonesia sebagai berikut : a) Jalan Nasional : Pembina Jalan Nasional adalah Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya untuk menyelenggarakan pembinaan jalan di tingkat nasional dan melaksanakan Pembinaan Jalan Nasional (Ayat 4). Berdasarkan PP No.12 Menyusun Kerangka Kelembagaan Salah satu masalah penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah kurangnya kerangka kelembagaan yang sesuai dan memadai baik pada tingkat instansional maupun lapangan. c) Jalan Kabupaten : Pembina Jalan Kabupaten adalah Pemerintah Daerah Tk-II Kabupaten (Pemerintah Kabupaten) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kabupaten (Ayat 6). d) Jalan Kotamadya : Pembina Jalan Kotamadya adalah PemerintahDaerah Tk-II Kotamadya (Pemerintah Kota) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Kotamadya (Ayat 7). 26/1985 Bab I Pasal 1.12. Kerangka kebijakan.1 Komponen Lembaga Komponen kelembagaan yang terlibat/terkait (dan dibutuhkan) dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali antara lain : Pemrakarsa Pemrakarsa adalah instansi penaggungjawab utama atas penyelenggaraan kegiatan proyek pembangunan jalan. b) Jalan Propinsi : Pembina Jalan Propinsi adalah Pemerintah Daerah Tk-I (Pemerintah Propinsi) atau Instansi yang ditunjuknya untuk melaksanakan pembinaan Jalan Propinsi (Ayat 5). Kebutuhan pelatihan dan peningkatan kemampuan L.

Pimpinan instansi ini harus dijabat oleh seorang staf senior yang berpengalaman dalam pengelolaan proyek pembangunan sosial ekonomi. Tim ini sekaligus berfungsi sebagai pusat koordinasi (sekretariat) untuk konsultasi dan partisipasi PTP. Pelaksana Pengadaan Tanah Keppres RI No. Unit Pelaksana Manajemen Instansi ini merupakan perangkat pelaksana manajemen sehari-hari dari penanggung jawab utama. dengan dipimpin (Ketua Tim/Koordinator) oleh seorang staf senior (misalnya Ketua Bappeda) dan dibantu oleh sejumlah Sub Tim (misalnya. Untuk pengadaan tanah yang terletak pada 2 (dua) wilayah Kabupaten/Kota atau lebih dilakukan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah Propinsi yang dibentuk oleh Gubernur. Pasal 6 dan 7) menyebutkan bawa pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan dengan bantuan Panitia Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur. Namun demikian untuk memudahkan/ mempercepat penyelesaian maka sebaiknya dibentuk suatu Tim (semacam Panitia) Penyelesaian Pengaduan yang dipimpin langsung oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (sebagai Ketua Tim).Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan g) Jalan Tol : Jalan Tol adalah Jalan Umum yang kepada para pemakainya dikenakan kewajiban membayar ToK. Pasal 22 sampai dengan Pasal 27). Tim Kerja Pemukiman Kembali Institusi ini diperlukan untuk membantu Panitia Pengadaan tanah dan Unit Pelaksana Manajemen. khususnya dalam rangka pengamanan dan penyelesaian pengaduan keberatan dari PTP atau sengketa lainnya (biasanya berkaitan dengan kelayakan ganti kerugian/kompensasi serta manfaat PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 28 . 1/1994 (Bagian Keempat. sub tim perencanaan/penyiapan program. Penanggung Jawab Pengadaan Tanah Penanggungjawab utama kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali adalah Pemerintah Propinsi. Jasa Marga Persero). dengan struktur jaringan kerja sampai tingkat Desa/Kelurahan. sub tim implementasi dan pengendalian). 55/1993 (Bab III. Penyelenggara Jalan Tol adalah suatu Badan Hukum yang ditunjuk oleh Menteri (PT. Tim Pengendalian dan Penyelesaian Pengaduan Secara formal. 55/1993 (mulai Pasal 18 sampai dengan Pasal 22) dan dijabarkan lebih lanjut dalam Permeneg Agraria/Kepala BPN No. dan pada setiap Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengadaan Tanah. sedangkan jika lokasi proyek pembangunan jalan dimaksud hanya terletak pada satu wilayah Kabupaten/Kota. cara penyelesaian atas sengketa atau pengajuan keberatan dalam pelaksanaan pengadaan. sub tim sosialisasi dan pembinaan. Instansi ini dibentuk oleh penanggung jawab utama pengadaan tanah. Tim ini berfungsi untuk mengendalikan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. telah diatur dalam Keppres RI No. maka penanggungjawab utamanya adalah Pemerintah Kabupaten/Kota. Tim ini dibentuk oleh Penanggung jawab Utama Pengadaan Tanah (Bupati/Walikota).

Para pimpinan unit lembaga pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus merupakan staf yang mempunyai kemampuan merancang program dan pengaturan alokasi anggaran serta pengendalian proyek social engineering. b) c) L. c) L. yakni bagaimana sistem koordinasi antar komponen lembaga/unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali yang berada dibawah kendali penanggung jawab utama pengadaan tanah. jumlah lokasi (tempat) dan kompleksitas permasalahan. Fasilitator Masyarakat Pemanfaatan tenaga fasilitator masyarakat (TFM) akan sangat membantu dalam pelaksanaan pengadaan tanah. Persyaratan personil pelaksana. antara lain mencakup : a) Kerangka koordinasi internal. Uraian Tugas/Tanggung jawab dan Kewenangan Rumusan uraian tanggung jawab/tugas dan kewenangan ini mencakup: a) b) Distribusi tanggung jawab/tugas serta kejelasan kewenangan dari tiap-tiap komponen lembaga atau unit/instansi pelaksana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. seperti untuk PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 29 .4 Kebutuhan Staf/Personil Perbandingan yang memadai antara jumlah staf/personil pelaksana dengan PTP akan tergantung pada banyak faktor. misalnya. pembinaan kelompok rentan. antara lain jumlah PTP.3 Mekanisme Koordinasi Materi pokok dari mekanisme koordinasi ini. Jenis kegiatan tertentu yang memerlukan koordinasi khusus. pemukiman kembali. serta pelaksanaan pembinaan dalam rangka rehabilitasi sosial ekonomi PTP. Panitia Pengadaan Tanah. Susunan Tim sebaiknya terdiri atas unsurunsur Muspida/Muspika. khususnya dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi dan peningkatan partisipasi PTP. atau LSM pembangunan dengan melibatkan kelompok PTP sebagai TFM lapangan. yakni sistem koordinasi dengan instansi terkait di luar lembaga penyelenggara kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Fasilitator Masyarakat dapat ditunjuk dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dari Universitas. BPD (Badan Perwakilan Desa). perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali yang partisipatif. Tokoh Masyarakat. tanggung jawab mengkaji dan menindak lanjuti laporan. termasuk persyaratan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan. termasuk dalam hal ini harus dijelaskan mengenai kerangka waktu dan penanggung jawab pelaksanaan koordinasi. serta instansi terkait yang perlu dilibatkan dalam koordinasi. Tanggung jawab atas tugas-tugas khusus tertentu.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali). jumlah dan lingkup pekerjaan. Kerangka koordinasi eksternal. Sementara untuk staf pelaksana dan lapangan merupakan kelompok dari berbagai jenis keterampilan dan keahlian. membangun komponen prasarana lokasi pemukiman kembali. pengendalian dan koordinasi dengan instansi terkait.pemantauan internal. dan kelompok perwakilan PTP. baik secara vertikal maupun horisontaK. penyusunan laporan dan penyerahan laporan kepada pembuat keputusan.12.12.

m) Pembiayaan: Uraian mengenai pengaturan pendanaan kegiatan pengadaan tanah dan PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 30 .12.6 Rancangan Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah Tim Penyusun LARAP perlu menyiapkan rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bahan acuan dalam menyusun kerangka kebijakan formal (dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur). l) Prosedur penyampaian keluhan/keberatan: Uraian tentang mekanisme untuk mengajukan keberatan/keluhan dan cara penyelesaiannya. serta proses implementasi proyek yang menghubungkan langkah pengadaan tanah dan pemukiman kembali dengan pekerjaan-pekerjaan teknis. teknik lingkungan. sosiologi. b) Tujuan: Menguraikan tentang tujuan program pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). dan kesejahteraan sosiaK. d) Prinsip-prinsip perencanaan: Menjelaskan tentang prinsip dasar dan tujuan yang menuntun dan menjadi acuan persiapan dan implementasi program pengadaan tanah dan pemukiman kembali.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan perencanaan lokasi dan prasarana. e) Persiapan: Uraian singkat tentang proses persiapan dan persetujuan rencana pengadaan tanah dan pemukiman kembali. pelatihan dan lokakarya.12. i) Metode penilaian aset dan ganti kerugian: Uraian cara penilaian untuk menentukan tingkat dan besaran ganti kerugian atas seluruh aset masyarakat yang terkena proyek. Materi pokok dari rancangan kerangka kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali mencakup: a) Pengertian dasar: Definisi tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. c) Deskripsi proyek: Gambaran ringkas proyek jalan dengan komponennya dimana diperlukan pengadaan tanah/penguasaan tanah dan pemukiman kembali. ekonomi. bantuan teknis. f) Lingkup dampak: Perkiraan penduduk yang terkena proyek dan dampak lain g) Kriteria kelayakan: Uraian kriteria penentuan kategori PTP yang berhak mendapat ganti kerugian dan jenis aset yang dapat (layak) diganti rugi. j) Pembinaan dan penanggulangan dampak: Uraian mengenai ketentuan dan mekanisme pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP (khususnya yang terpindahkan) serta penanggulangan dampak lain. h) Kerangka hukum: Uraian tentang peraturan perundangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. L.5 Kebutuhan Pelatihan dan Peningkatan Kemampuan Beberapa alternatif dalam rangka peningkatan kemampuan institusi dan keterampilan staf. hukum. L. k) Kelembagaan: Uraian prosedur organisasi untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali. serta alternatif pilihan bentuk ganti rugi dan/atau pemukiman kembali. antara lain: a) b) c) studi banding.

serta rencana pendanaannya. apakah termasuk kategori “penting” atau “kurang penting”. termasuk pembiayaan. termasuk definisi proyek. Informasi sosial ekonomi: Gambaran ringkas kondisi sosial ekonomi PTP serta dampak potensial yang dicakup.7 Rancangan Kerangka Implementasi Rancangan kerangka implementasi ini merupakan bahan acuan bagi penanggung jawab utama pengadaan tanah dalam menyusun kerangka proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali.12. yang diformalkan (berupa Surat Keputusan Bupati/Walikota) menjadi Rencana Kerja Pengadaan Tanah. pemukiman kembali dan pembinaan untuk rehabilitasi sosial ekonomi PTP. khususnya yang terpindahkan. Tujuan: Uraian spesifik tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya pengadaan tanah (dan pemukiman kembali). L. serta dikaitkan dengan tujuan penyusunan dokumen LARAP. pemukiman kembali dan pembinaan. pemukiman kembali dan pembinaan. S istem atika D okum en LA R A P untuk kedua kategori tersebut dapat mengacu contoh dari Bank Dunia atau ADB.Lampiran L – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pemukiman kembali. Rencana kerja: Uraian rinci tentang program kerja dan kerangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah. Konsultasi dan partisipasi masyarakat: Uraian mengenai mekanisme konsultasi dan partisipasi masyarakat. serta pemantauan eksternal dan evaluasi. n) o) L. serta disesuaikan dengan jenis/kategori kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. lokasi dan populasi penduduk yang terkena proyek. Materi pokok dari rancangan kerangka proses ini antara lain: a) b) c) d) e) Pengertian umum: Uraian singkat pengertian elemen-elemen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengadaan tanah. Pemantauan dan evaluasi: Uraian mengenai pengaturan kegiatan pemantauan internal. Kebijaksanaan pengadaan tanah: Uraian kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pengadaan tanah. PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI UNTUK BIDANG JALAN 31 .13 Penyusunan Laporan Kandungan materi Dokumen LARAP harus disusun secara terinci dan spesifik.

(4) Memberi tanggapan dan saran dalam rangka menampung unpan balik … ..Gambar-1 BAGAN PELAKSANAAN PENYARINGAN LINGKUNGAN (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan ) PEMRAKARSA Mempelajari Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan dan mengidentifikasi penggunaan lahan pada dan sekitar rencana koridor jaringan jalan.… .. . Termasuk koordinasi dengan instansi terkait 3).. Perhatikan bagan alir proses penyaringan (diagram A-1) dan pelajari Pedoman Penyaringan yang ada.. . 4). (5) Menetapkan hasil penyaringan berupa Daftar Proyek Wajib Pengelolaan Lingkungan .. (6) . khususnya areal sensitive … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA Memberi masukan tentang Rencana Penataan Ruang Wilayah Propinsi. Mencakup Tata guna lahan diperoleh dari Departemen Kehutanan. Kabupaten dan Kota serta Penerapan P eta P adu S erasi … (2) MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). BPN dan dari sumber lainnya 2).(3) Melakukan diskusi / konsultasi hasil penyaringan dengan BAPEDALDA … .. 5) Catat hasilnya dalam risalah rapat 6) Daftar proyek yang wajib pengelolaan lingkungan menggunakan formulir A-1 Melakukan penyaringan AMDAL dan UKL/UPL serta S O P … ...

... (10) 7). (8) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan . (12) .(11) Menetapkan dokumen KA-ANDAL ..Ka Bapedal No. ..(5) Menyusun konsep KAANDAL dan mengajukan ke Komisi Penilai untuk dinilai.... Dikbud.Gambar-2 BAGAN PELAKSANAAN PENYUSUNAN KA-ANDAL (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA Memberitahukan rencana penyusunan dokumen AMDAL . 9). 10) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 11) Dilakukan sampai dokumen disetujui 12) Sebagai acuan penilaian ANDAL Memperbaiki dokumen KA-ANDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan lagi ke Komisi Penilai … . 08/2000 6) Gunakan pedoman penyusunan KA-ANDAL Melaksanakan konsultasi M asy. (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberikan masukan.08/2000 3) Sesuai saran apakah melalui media cetak maupun media elektronik 4) Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu satu bulan.… .. (1) Menyepakati jadwal waktu dan isi pengumuman rencana kegiatan proyek … . Sosial) . terhitung sejak tanggal pengumuman 5) Mengacu pada Pedoman Konsultasi Masyarakat dan Kep.. 8). Mengacu pada Kep Ka Bapedalda No... (2) Mengumumkan rencana kegiatan proyek… .... (7) Menghadiri rapat Komisi Penilai AMDAL dan memberi masukan (dari institusi terkait mis: kehutanan.. (6) Mengadakan rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai konsep KA-ANDAL … … … .(3) Memberikan tanggapan terhadap rencana kegiatan proyek … .. (4) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Sesuai PP AMDAL 2)..

. 7) Masukan peserta rapat menggunakan formulir A-3 8) Dilakukan sampai dokumen disetujui 9) Sebagai acuan untuk desain dan pelaksanaan Melaksanakan Studi A N D A L … … (2) Mengirimkan hasil studi ANDAL ke Komisi Penilai untuk dinilai … … . (4) Menghadiri rapat dan memberikan masukan untuk perbaikan dokumen . Lampiran SK Penetapan KA-ANDAL termasuk lampiran dokumennya... 4) Risalah rapat menggunakan formulir A-2 5) 6).Gambar-3 BAGAN PELAKSANAAN STUDI AMDAL (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari KA ANDAL yang telah ditetapkan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Gunakan pedoman penyusunan ANDAL.. Lengkapi dengan surat pengantar dan tanda terima dokumen... 2). RKL dan RPL 3). (3) Mengadakan rapat komisi penilai AMDAL untuk menilai & menetapkan kelayakan lingkungan … … ... (9) .(7) Memperbaiki konsep dokumen AMDAL sesuai dengan tanggapan komisi dan mengajukan kembali ke K om isi P enilai … (8) Menetapkan dokumen A M D A L … … ...(4) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dam pak lingkungan … .(6) Menghadiri rapat komisi dan memberikan masukan tentang penanganan dampak lingkungan sesuai keterkaitannya … .

RKL dan RPL pada perenc.... (5) 6) 7) Memberi penjelasan kepada tim perencana teknis tentang sasaran penanganan dampak pada RKL & RPL .… (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) 2) KETERANGAN Termasuk mengkaji ulang (mereview) Dibantu ahli lingkungan apabila diperlukan 4) 5) Dapat dilakukan dalam forum rapat atau lainnya Sebaiknya ada ahli lingkungan dalam tim perencana Sebanyak mungkin dituangkan dalam desain. (8) ..........(6) 8) Melaksnakan penjabaran hasil studi ANDAL. (3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran .. lansekap … … … . merupakan lampiran desain untuk diperhatikan pada saat tender Output yang diharapkan Menginventarisasi rekomendasi penanganan dampak pada dokumen RKL & R P L … … (2) 3) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai kebijakan pembangunan daerah mis. (7) Desain jalan yang telah mempertimbangkan faktor lingkungan... (4) Memberi masukan tentang cara penanganan dampak dan saran-saran sesuai keterkaitannya mis... RKL dan RPL … . RKL DAN RPL (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari hasil studi ANDAL..: penanganan utilitas yang terkena.: median...teknis.. sedangkan dampak sosial yang tidak dapat dituangkan dalam desain.Gambar-4 BAGAN PENJABARAN HASIL STUDI ANDAL...

.

dll ( 6 ) Memberi masukan sesuai keterkaitannya. Dapat dituangkan dalam peta Mempelajari Konsep Rencana Umum Sistem Jaringan Jalan. Peta Tata Guna Lahan Disekitar Rencana Jaringan Jalan … . peran dan fungsi kota dll.… .(1) Membuat Konsep Awal Kebutuhan lahan untuk Rencana Jaringan Jalan (termasuk perkiraan kasar luas. kapasitas produksi.. Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. kapasitas jalan yang dibutuhkan. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 3). (5) Memberi masukan tentang lokasi lokasi hak adat / ulayat .. jenis penggunaan dan kepemilikan). mis. 2) Mencakup kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang.Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENGADAAN TANAH (Pada Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). (2) Konsultasi konsep kebutuhan lahan rencana jaringan jalan (3) Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan termasuk sosial (4) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi. 4).: tentang fungsi lahan dan ketentuan / peraturannya (7) 5) Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 6) 7) Termasuk cara-cara pelepasannya Menetapkan Rencana Jaringan Jalan beserta perkiraan kasar kebutuhan lahan … (8) 8) Rencana ini disebarluaskan kepada institusi terkait .

(7) Menetapkan koridor jalan terpilih..... Masukan untuk pemilihan alternatip rute jalan dan penyusunan KA-ANDAL (Lihat bagan Pelaksanaan konsultasi masyarakat dan Penyusunan KAANDAL) 8) Mempertimbangkan aspek-aspek teknis.......(8) . 6) Masing-masing masukan (input) Diplot pada peta Padu Serasi 7)...... (3) Memberi masukan tentang lokasi Prasarana & Sarana dan untuk pemukiman kembali penduduk serta ketersediaan dan keterpaduan pengadaan lahan ......Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari Kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada Rencana Jaringan Jalan … ...... (1) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan..(6) ..... ekonomik. 4). Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2)... (4) Memberi masukan Lokasi Masyarakat Terasing..... (5) Memberi masukan tentang pengendalian fungsi lahan dan ketentuan memperoleh lahan … … (6) 3). status kepemilikan dan kesediaan melepas. sosial budaya dan lingkungan Melakukan Konsultasi Pemilihan Alternatif koridor Jalan berdasarkan kebutuhan lahan … (2) Merangkum data dan informasi untuk acuan peenetapan penetapan koridor koridorjalan jalan .. Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya Memberi masukan tentang daya dukung lingkungan… … .... 5)...

... ekonomis dan lingkungan.(10) Menyetujui permohonan proyek tentang kebutuhan lahan … . dll. 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama sama aspek teknis.Rute..Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN LAHAN (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari kebutuhan lahan dan Jenis Peruntukan Lahan pada setiap alternatif R ute Jalan … … … (1) Melakukan Konsultasi dan Survey Dasar sosial … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk 8) Dalam forum penilaian apabila dokumen AMDAL 9) Koordinasi rencana awal pelaksanaan di lapangan dengan instansi lain 10) 11) Dapat dilakukan dalam forum rapat.. (6) Membuat Prakiraan Kebutuhan Lahan untuk Alt.(8) Koordinasi Rencana Awal P engadaan T anah … (9) Memberi masukan kesediaan dan keberatan masy. (12) . kabupaten/kota dan koordinasi rencana pengadaan lahan . 12) Setelah dokumen AMDAL (bila ada) ditetapkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Memberi masukan tentang daya dukung sosial . Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).5). Hasil Pra Kelayakan 2). (7) Memperkirakan dampak sosial … . (4) Memberi masukan tentang Status Kepemilikan lahan termasuk asset lainnya serta taksiran harga .… (3) Memberi masukan tentang pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi.4).(11) Menetapkan Rute Terpilih .. Terhadap pengadaan tanah … .(5) Memberi masukan sesuai keterkatiannya antara lain tentang hal-hal berkaitan dengan pelepasan hak...

. (10) Gubernur / Bupati/Wali kota menyetujui konsep LARAP-nya..kem bali … … . dll. Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk status sertifikat.kem bali. luasan. Sesuai peraturan per UU-an yang berlaku 7) Sesuai petunjuk yang dikeluarkan 8) 9) 10) 11) Dpat dilakukan dalam forum rapat 12) Setelah disahkan oleh Gubernur/Walikota/ Bupati Mempelajari Pengukuran Detail R ute Jalan … … … … (1) Melakukan Survey Sosial Ekonomi dan konsultasi Masyarakat … … (2) Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … . (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya antara lain proses & ketentuan pelepasan hak. tatacara & criteria kompensasi serta tata cara pem uk. (6 ) Membuat Konsep LA R A P … . pelepasan hak. 6). … . masa tinggal dll.(7) Sosialisasi Konsep LARAP dan mengajukan kepada Gub/Bupati/Walikota (8) Memberikan kesepakatan thd konsep tersebut … .Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). prakiraan nilai kekayaan. (9) Memberikan kesepakatan thd konsep … … ... Sesuai Tupoksi Institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4).… … … . … . (4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang hal kepemilikan lahan. rehabilitasi pem uk. Lokasi di Peta.. 3). pembagian tugas antara tim lapangan dengan panitia pengadaan tanah. Termasuk Data Jenis Peruntukan Lahan yang terkena Proyek 2). (11) Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaksanaan LA R A P … … (12) . Termasuk rencana kerja.

(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: transmigrasi.T .. Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk. Sesuai dg kesepakatan nilai kompensasi dan daftar penerimanya 6).. (4) KETERANGAN 1).Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … ..(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (BILA ADA) . (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … .(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .. (2) Berpartisipasi dalam musy. Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). ( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10).. Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam musyawarah & mufakat … … … . 13)...(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat. perumahan dll… (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) ... (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … . & menyepakati dlm mufakat khususnya P . khususnya panitia pengadaan tanah … … .… .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … ....P … … .

(5) Membantu sesuai keterkaitannya.. Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultansi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … .. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Diambil dari laporan LARAP. 4). 6). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … (6) 3).(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca LA R A P … .(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. 2) Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi Masyarakat Terkena Proyek … … … … (2) Memberi masukan ttg. 5).(12) ..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi m asyarakat … … .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERKENA DAMPAK (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … .

(8) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).( 6) Memberi tanggapan dan masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg. 6). (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan termasuk dari aspek pelaksanaan … .Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari Catatan Pelaksanaan LARAP (Pengadaan Tanah dan Rehabilitasi E konom i) … … . 2).. tingkat kesenjangan antar kelom pok m asy. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses pengadaan tanah dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi.(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud m asy… . Menyusun Laporan Monitoring Pasca LA R A P … … . (4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor … . 7). sosial dan kelembagaan) Melakukan Analisa Kesesuaian Rencana … … … . 5). Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. … 7) 3). (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring pelaksanaan LARAP … … . Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 4). Hasilnya menjadi bagian laporan Akuntabilitas Proyek Jalan... Keberhasilan/kegagalan program rehabilitasi.

(3) 4) 5) 6) 7) 8) Konsultasi konsep perencanaan LARAP … . Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . pelatihan untuk alih profesi … .… . (2) 2) 3) Menyusun konsep kriteria perencanaan LARAP yang lebih baik .. (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (8) Menetapkan kriteriakriteria pengadaan tanah yang akan digunakan sebagai kebutuhan perencanaan dimasa datang … (9) .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya 9) Hasilnya diserahkan kepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. nilai kearifan lokal. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelembagaan … . LA R A P … … . adat istiadat. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan m asalah lingkungan … . (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … . tata ruang...

.

kapasitas jalan yang dibutuhkan. terasing… . Termasuk populasi dan adat istiadatnya serta program yang telah dan sedang dijalankan 6) Disebarluaskan kepada instansi terkait Membuat Konsep dan Sosialisasi Jaringan Jalan beserta koridornya serta lokasi m asy. (3) Memberi masukan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat setempat . peran dan fungsi kota dll. Mencakup Sasaran Kawasan yang akan dilayani misalnya sentra sentra produksi.. Termasuk upacara ritual yang berhubungan dengan tanah 5). . kapasitas produksi. (4) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Pendidikan & Kebudayaan memberi masukan tentang kondisi sosial ekonomi serta peraturan perundangan masy terasing… .… . (5) Menetapkan Rencana Jaringan Jalan . serta kondisi eksisting dan rencana peruntukannya dimasa datang. penetapan status dan fungsi kawasan lindung 2)... Peta Koordinasi pemanfaatan Ruang wilayah yang memadukan kawasan lindung dan kawasan binaan 4)...Gambar-1 BAGAN PERTIMBANGAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Umum Sistem Jaringan Jalan) PEMRAKARSA Mempelajari Konsep Rencana Sistem Jaringan Jalan dan Peta Tata Guna Lahan termasuk peta keberadaan masyarakat terasing disekitar jaringan jalan tersebut … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).… … . 3)....(2) Memberi tanggapan dan masukan tentang Penerapan Peta Padu Serasi (Penataan Ruang W ilayah) … … … … . Didasarkan pada prinsipprinsip menghindari lahan budidaya dan yang dilindungi sesuai criteria pada pasal-6 undangundang nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. (6) .

.. 5).. (8) . Masukan untuk pemilihan alternatip koridor rute jalan dan penyusunan KAANDAL (Lihat bagan pelaksanaan konsultasi masyarakat dan penyusunan KA-ANDAL) 8) Telah mempertimbangkan aspek-aspek teknis... terasing pada Rencana Jaringan Jalan … .Gambar-2 BAGAN KEGIATAN AWAL PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pra Kelayakan) PEMRAKARSA BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari penyebaran permukiman masy. (4) Memberi masukan tentang sistem kepemilikan tanah Masyarakat Terasing .. ekonomi. .. sosial budaya dan lingkungan Merangkum data dan informasi penyebaran masy terasing untuk acuan penetapan koridor ...... Bersifat Orientasi lapangan untuk melihat contoh (sample) kondisi sebenarnya 3)........ (5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik Bud memberi masukan tentang pola kehidupan sosial..... budaya .. 4)...... (6) 1) Dari peta Padu Serasi dan peta lainnya yang dipublikasikan oleh Departemen/Dinas Kehutanan.. (1) Melakukan konsultasi pemilihan alternatip koridor Jalan … … . 6) Masing-masing masukan (input) diplot pada peta Padu Serasi beserta keterangan spesifik yang harus diperhatikan 7). … … ...(7) Menetapkan Koridor Jalan Terpilih ..(2) Memberi masukan tentang perkiraan dampak sosial terhadap m asy terasing... terasing. Departemen/Dinas Pendidikan dan kebudayaan 2). ekonomik. (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy......

... terasing … . terasing.......(4) Memberi masukan tentang sistem nilai budaya dan pendekatan penanganan m asy. ekonomis dan lingkungan termasuk kebutuhan Permukiman Kembali Penduduk Melakukan survey dasar sosial dan konsultasi … … (2) Memberi masukan tentang penanganan dampak sosial masy.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud memberi masukan tentang mobilitas masy terasing dan situs dan benda cagar budaya yang harus dilindungi.. (7) MENETAPKAN RUTE TERPILIH (8) . Pada koridor hasil Pra Kelayakan 2).... . terasing...… (3) Memberi masukan tentang koordinasi penanganan masy.. Sesuai dengan pedoman yang berlaku 3).Gambar-3 BAGAN IDENTIFIKASI PENANGANAN SISTEM SOS-BUD MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Studi Kelayakan) PEMRAKARSA Mempelajari pola penyebaran dan kehidupan sosial budaya masy terasing pada setiap alternatip rute Jalan … … … (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).5) 6) Konsultasi dapat dilakukan melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa 7) Dikaji bersama-sama aspek teknis.(6) Membuat prakiraan dampak sosial budaya dan rencana kasar penanganan masy terasing untuk alternatif rute..4)....... ekonomik dan lingkungan 8) Outputnya adalah Rute terpilih setelah dikaji bersama sama aspek teknis.

(4) Memberi Masukan Detail dilapangan tentang sistem kekerabatan... sistem dan nilai hak adat ..... Termasuk rencana kerja. terasing misal : DikBud memberi masukan tentang pola penanganan masy terasing ...... 7) 8) 9) 10) Dapat dilakukan melalui media rapat Melakukan Monitoring Pelaksanaan Survey … … … … … … … … (3) Membantu Koordinasi Pelaksanaan Survey dengan instansi Terkait … … … … .. Termasuk program yang telah dan akan dijalankan untuk masy. (11) .(7) Memberikan kesepakat an dan melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan … … (8) Memberikan kesepakatan dan melakukan persiapan … … … (9) Memberikan kesepakatan dan membantu persiapan pelaksanaan … … (10) 11) Desain jalan telah mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosialekonomi-budaya Menetapkan desain jalan serta melakukan persiapan pelaks. pembagian tugas 3)..... T indak … . kepemimpinan.… … … .... terasing… (1) Melakukan survey sosial ekonomi dan konsultasi masyarakat … … (2) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Terutama koordinasi dengan aparat pemerintah daerah dan dinas sosial 5) Termasuk jenis upacara adat yang masih dilakukan 6). Termasuk Data permukiman yang terkena Proyek 2)..Gambar-4 BAGAN PERENCANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Perencanaan Teknis) PEMRAKARSA Mempelajari Pengukuran Detail Rute Jalan & rencana kasar penanganan m asy. (6) Membuat konsep dan sosialisasi rencana tindak penanganan masy terasing … .... Renc.... (5) Memberi masukan serta membantu survai sesuai keterkaitannya antara lain tentang pola penanganan masy. Sesuai tupoksi institusi dan dapat bersifat aktip (terjun kelapangan) maupun pasip (menerima laporan saja) 4)..terasing tsb..

Gambar-5 BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Persiapan Konstruksi) PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing. dll... 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing . rehabilitasi konservasi situs dll. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan...... … … .......(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)..... 3)......(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … ... 5)...… . perbaikan permukiman tradisional... Termasuk LSM.... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)...(7) .... 4)... lembaga adat ....... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan)....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan ..(6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing .

Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 9) Sesuai tupoksi 10) Program yang telah disepakati Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoringi .Gambar-6 BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Konstruksi Jalan & Jembatan) PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonom i … … ....(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masy. 5).. 4). (6) 3).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … (2) 2) Memberi masukan ttg.(12) . 6). (11) 8). 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring MEMBUAT Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi M asyarakat … … ..(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … . misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .. terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .

. Melakukan analisa kesesuaian rencana penanganan masy terasing (2) Konsultasi Hasil Sementara terhadap monitoring.. Termasuk penyesuaian penyesuaian yang dilakukan dan masukan masukan lainnya yang diperoleh selama proses penanganan masyarakat terasing dari tahap perencanaan umum sampai dengan tahap konstruksi..(8) .(3) Memberi tanggapan dan masukan kualitas kondisi sosekbud masyarakat terasing … … … . sosialekonomi....terasing termasuk rehabilitasi … … ..(4) Memberi tanggapan dan masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor. Hasilnya menjadi bagian laporan evaluasi manfaat proyek (ProjectBenefit Monitoring and Evaluatian – PBME). Melibatkan berbagai disiplin ilmu (teknis. 5).. (5) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek perubahan sosek dan lingkungan budaya masy terasing … … … … ( 6) Memberi tanggapan dan masukan dari aspek sektor terkait … … … … ( 7) 3). 2). penanganan masy . 6).. budaya dan kelembagaan.. 7) Melalui rapat teknis yang diselenggarakan oleh Pemrakarsa 8).. 4).Gambar-7 BAGAN PELAKSANAAN MONITORING PASCA PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Pasca Konstruksi /Operasi dan Pemeliharaan) PEMRAKARSA Mempelajari catatan Pelaksanaan penanganan masy terasing .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1). Menyusun laporan monitoring Pasca penanganan masy terasing ...

(1) Menganalisa dan mengidentifikasi kriteria perencanaan … . terasing … … . penanganan masy. tata ruang nilai kearifan lokal. terasing yang lebih baik . adat istiadat pelatihan untuk alih profesi … . (2) Menyusun konsep kriteria penanganan masy. (5) Memberi masukan tentang koordinasi dan kelem bagaan … .Gambar-8 BAGAN EVALUASI PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING (Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek) PEMRAKARSA Mempelajari laporan monitoring pelaks. (6) Memberi masukan tentang kendala dan tata cara perencanaan dan pelaksanaan … .. (4) Memberi masukan tentang sosekbud dan masalah lingkungan … … . (8) Menetapkan kriteriakriteria penanganan masy... 2) 3) 4) Konsultasi konsep perencanaan penanganan masy. (3) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Laporan monitoring yang memasukkan masukan dari berbagai institusi terkait Melibatkan berbagai disiplin ilmu Termasuk pertimbangan persyaratan dari lembaga donor 5) 6) 7) 8) Dilakukan melalui forum rapat/ seminar/lainnya Hasilnya diserahkankepada para perencana umum pengembangan jaringan jalan. terasing … . (7) Memberi masukan sesuai keterkaitannya mis: ttg.… . terasing yang akan digunakan dalam perencanaan dimasa datang … (9) ..

.

Undang-undang No. baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Peraturan Pemerintah No. Adapun peraturan perundangan lingkunan hidup terkait dengan bidang jalan antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 11) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Kebijakan eksternal yaitu kebijakan yang mengikat masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat (publik) Singkatnya kebijakan publik adalah arahan untuk suatu tindakan atau untuk tidak bertindak yang dipilih oleh suatu badan yang berwenang untuk menangani suatu masalah publik tertentu. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. 08 Tahun 1990 tentang Jalan Tol Peraturan Pemerintah No. Menurut UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingungan Hidup. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. tertulis dan tidak tertulis. Khusus yang menyangkut kebijakan publik. untuk menjamin kepastian bagi pelaksanaannya. kebijakan sebaiknya tertulis dan dilandasi oleh landasan hukum. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 1 . 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. Undang-undang No. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan daya. Karena kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan pada dasarnya akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan maka pelaksanaannya yang berwawasan ingkungan harus didukung dengan peraturan yang jelas serta prosedur dan organisasi untuk menunjang pelaksanaannya. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Undang-undang No. Undang-undang No. Pembangunan dan peningkatan jalan dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup bangsa. 55/1993. termasuk manusia dan perilakunya. keadaan dan makhluk hidup. Kebijakan internal (kebijakan manajerial). 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. yaitu kebijakan yang hanya mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. 13) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. Undang-undang No.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Lampiran P (Informatif) Daftar Acuan Peraturan dan Perundang-undangan P. 147/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 12) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.1 Pendahuluan Kebijakan dapat dibedakan sebagai kebijakan internal dan eksternal. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup laiM. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 5) Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 3) Undang-undang No. 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL 21) Keputusan Menteri LH No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 22 Tahun 1999 tentang Pemeritahan Daerah 2) Undang-undang No. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 6) Peraturan Pemerintah No. Peraturan perundangan lainnya yang terkait misalnya antara lain sebagai berikut : 1) Undang-undang No. 24) Keputusan Kepala Bapedal No. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 2 . 55/KPTS-II/1994 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 10) Keputusan-keputusan Kepala Daerah tentang lingkungan hidup. 01 Tahun 1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keppres No. 40/KPTS/1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan AMDAL Proyek Jalan. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting 23) Keputusan Kepala Bapedal No. 188/KPTS/M/2001 tantang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah 17) Keputusan Menteri Negara KLH No. 18) Keputusan Menteri LH No. 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan AMDAL 25) Keputusan Kepala Bapedal No. Kep.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 14) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. 12 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum UKL dan UPL 20) Keputusan Menteri LH No. 55/1993. 8) Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN No. 9) Keputusan Menteri Kehutanan No. 26) Keputusan Kepala Bapedal No. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup beserta Lampirannya. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 7) Keppres No. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL. 15) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL 19) Keputusan Menteri LH No. 16) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. 4) Undang-undang No. 02/MENKLH/1/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 22) Keputusan Kepala Bapedal No. 41 Tahun 2001 tentang Kehutanan.

yaitu :  Perangkat yang bersifat preemtif. Dalam UU ini diatur tentang hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup.2. daerah pengawasan jalan Jalan tol 3   DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . jalan kolektor.2 Undang-undang No. wajib memiliki AMDAL. perlu dilaksanakan pembanguan berkealanjutan yag berwawasan lingkungan hdup. evaluasi berbagai instrumen ekonomi dan penataan baku mutu limbah. Bagian-bagian jalan yang meliputi: daerah manfaat jalan. memuat tentang norma lingkungan hidup juga menjadi landasan untuk menilai da menyesuaikan semua peraturan perundangan-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkunan hidup yang berlaku mengenai pengairan. daerah milik jalan. berupa tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan seperti penataan ruang dan analisis dampak lingkungan. P.3 Undang-undang No. Perangkat yang bersifat preventif. dan energi. 13 Tahun 1980 Tentang Jalan Secara garis besar UU ini menjelaskan tentang hal-hal sebagai berikut :  Pengelompokan jalan menurut peranan meliputi jalan arteri. dan jalan lokal. baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.2. Hal ini merupakan pertimbangan diterbitkannya UU LH No 4 Tahun 1982 yang kemudian disempurnakan dan diganti dengan UU 23 Tahun 1997. yaitu kewajiban mengembangkan dan menerapkan beberap instrumen/perangkat pengelolaan yang dimaksudkan untuk mencegah penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati. yang tata cara penyusunan dan penilaiannya ditetapkan dengan PP. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti tersebut di atas dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila. setiap rencana dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbukan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. permukiman penataan ruang dan sebagainya. yaitu tindakan pada tingkat pelaksanaan. kehutanan.Undang Undang-undang Dasar 1945 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar susmber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. dan hak untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pengelolaan ligkungan hidup secara mendasar diatur dalam pasal 10. 23 Tahun 1997 menyebutkan bahwa.1 Undang .2. mencakup berbagai tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standardisasi lingkungan ISO 14000   Pasal 15 UU No. P. P. pertambangan.2. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan HIdup Undang-undang ini adalah pengganti dan penyempurna pokok materi dari UU No 4 Tahun 1982. Perangkat yang bersifat proaktif.

propinsi dan kab/kota. yaitu pembahasan tentang tata ruang yang dibedakan menjadi rencana tata ruang wilayah nasional. kawasan. Wewenang pelaksanaan tata ruang sepenuhnya berada pada pemerintah untuk mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang dan mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. 3 P. penataan ruang. mengetahui rencana tata ruang. terselenggaranya pengaturan pemanfaat ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. kawasan lindung.     P. kawasan perdesaan. wilayah. kawasan budidaya. Keterbukaan informasi dan peran masyarakat DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 4 . memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialami sebagai akibat pembangunan. rencana tata ruang. apabila kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun sejak ditetapkaM. Ketentuan ini juga memuat tentang hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. dan kawasan tertentu. Dan tingkat daerah (Komda) yaitu instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah (Bapedalda). 2. tata ruang. kawasan perkotaan.3.4 Undang-undang No. Komisi pusat melakukan penilaian terhadap :     Kegiatan yang bersifat strategis (bagian dari kegiatan terpadu/multi sektor).2. Komisi penilai AMDAL tingkat pusat (Kompus) yang instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan pusat (Bapedal). Masa Studi Keputusan layak lingkungan dinyatakan kedaluarsa. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1.1 Peraturan Pemerintah PP No. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. 4. Penataan ruang bertujuan untuk terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkunga. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang ini memaparkan antara lain sebagai berikut :  Didalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa pengertian ruang. Rencana tata ruang.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan P. Keputusan Keputusan atas KA-ANDAL = 75 hari kerja seja diterimanya KA Keputusan ANDAL dan RKL/RPL = 75 hari sejak tanggal diterimanya dokumen 3. Berlokasi di lintas negara kesatuan RI dengan negara lain Sedangkan Komisi Daerah melakukan penilaian terhadap AMDAL bagi jenis-jenis usaha/kegiatan yang di luar kriteria tersebut yang dinilai oleh Kompus. Lokasi yang meliputi lebih dari sati wiayah propinsi Berlokasi di wilayah sengketa denga negara lain.

P. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL Secara garis besar isi ketentuan keputusan ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1.4. Hak-hak masyarakat dalam proses AMDAL. wewenang penyusunan rencana. Bagian-bagian jalan. P. duduk sebagai anggota komisi penilai AMDAL. perencanaan.2 PP No. dasar pertimbangan penyusunan KA dan sebagainya. memberikan saran dan pendapat. Jaringan jalan. tujuan dan fungsi KA ANDAL. yaitu membahas tentang peranan jalan. damija dan dawasja. Untuk melakukan penyaringan maka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan : UU No. merupakan acuan bagaimana menyusun ANDAL dan acuan bagaimana menyusun RKL dan RPL. yaitu membahas tentang pengelompokan jalan menurut wewenang pembinaannya. 26 Tahun 1985 tentang Jalan Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Keppres No. Pelimpahan dan penyerahan wewenang pembinaan jalan. diluar tersebut tetapi dapat merubah fungsi. mendokumentasikan saran. Juga tentang kewajiban instansi yang bertanggung jawab seperti mengumumkan rencana usaha. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. Pembinaan jalan. pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar damija.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Setiap usaha/rencana kegiatan yang telah ditetapkan oleh menteri. P. seperti hak memperoleh informasi.3. DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN 5 .2 Keputusan Kepala Bapedal No. Kriteria proyek jalan yang wajib AMDAL. yaitu membahas tentang wewenang pembinaan. 2. yaitu membahas tentang leger yang digunakan untuk menyusun rencana dan program pembinaan jalan dan memberikan catatan tentang data jalan. meliputi jalan tol dan jalan layang. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL Secara garis besar PP ini memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Ketentuan ini juga memuat fungsi pedoman penyusunan KA ANDAL. yaitu membahas tentang damaja.3 Keputusan Kepala Bapedal No. 3.1 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Kepmen LH No. persyaratan jalan menurut peranan. 2.4. 4. 5. wajib diumumkan dahulu kepada masyarakat oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa sebelum menyusun AMDAL. penentuan sasaran. dan pengadaan jalan. pemeliharaan. menyampaikan hasil rangkuman saran. P.4. 4 P. 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL Ketentuan ini merupakan acuan bagaimana menyusun KA ANDAL. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Dokumen jalan.

Membantu penyelesaian masalah/penanganan kasus lingkungan bidang kimpraswil. Didalamnya diatur tentang tugas-tugas Komisi Penilai yaitu memberikan pertimbangan teknis atas KA. Tahapan keterlibatan masayrakat dalam proses AMDAL:     Tahap persiapan penyusunan AMDAL Tahap penyusunan KA Tahap penilaian KA Tahap penilaian ANDAL. Membantu tugas lain yang ditentukan oleh Menteri Kimpraswil dalam hal lingkungan hidup. Siklus pengembangan proyek dalam pedoman ini adalah sebagai proses atau tahapan kegiatan proyek yang dimulai dari tahapan perencanaan umum sampai dengan tahapan pasca proyek dan integrasi AMDAL dalam siklus ini akan memantapkan upaya penyelenggaraannya sehingga dapat menunjang upaya pembangunan yang berkelanjutan. ANDAL.Lampiran P – Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan menyediakan informasi tentang proses dan hasil KA ANDAL. Disebutkan juga dalam ketentuan ini bahwa AMDAL menjadi bagian kegiatan studi kelayakan. Adapun tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut:      Membantu tim teknis Bapedal dalam penilaian dokumen ANDAL bidang kimpraswil dan bidang lainnya di Bapedal Mengusulkan kriteria-kriteria dan batasan tenis untu setiap ketetapan yang terkait dengan kimpraswil dari Menteri LH Membantu penyusunan dokumen pembinaan pengelolaan lingkungan hidup bidang kimpaswil. 69 Tahun 19956 tentang Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum. Ketentuan ini dibuat untuk mengatur pembentukan tim kerja pengelolaan lingkungan bidang kimpraswil. RKL dan RPL P. 2. RKL dan RPL yang memerlukan dukungan dukungan teknis bidang Kimpraswil. baik proyek pusat atau daerah sesuai dengan siklus kegiatan proyeknya. sesuai ketentuan pasal 12 ayat (1) PP No 27 Tahun 1999. jalan. 188/KPTSM/2001 tentang Pembentukan Tim Kerja Pengelolaan Lingkungan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah. mengatur tentang keanggotaan Tim Teknis dari Instansi teknis yang membidangi usaha dan /atau kegiatan bidang terkait.5. P.2 Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.5. Ketentuan ini adalah pengganti Permen No 46 Tahun 1990 sebagai pedoman teknis untuk melaksanakan kegaiatn AMDAL proyek bidang pekerjaan umum yang mencakup proyek bidang pengairan. Pembahasan dampak lingkungan diutamakan terhadap dampak negatif yang timbul dan terbawa serta karena kegiatan proyek. 6 DAFTAR ACUAN PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN . keciptakaryaan. memfasilitasi terlaksananya hak masyarakat atas informasi dalam proses AMDAL. 5 P.1 Keputusan/Peraturan Menteri PU Peraturan Menteri PU No.

PEDOMAN 012/PW/2004 Pelaksanaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 3 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

pelaksanaan konstruksi fisik. yang dapat dipakai sebagai acuan dalam mempersiapkan dokumen tender. yang penerapannya harus memperhatikan berbagai peraturan perundangan mengenai lingkungan hidup dan ketentuan-ketentuan yang terkait lainnya. Pedoman ini merupakan salah satu rangkaian pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun untuk memberikan petunjuk dan tata cara pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam menangani dampak-dampak yang timbul karena penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan dan jembatan. serta kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. dalam upaya mewujudkan pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. kegiatan pengadaan tanah. Semoga Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini bermanfaat untuk menangani dampak-dampak yang timbul dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Jakarta. Desember 2003 i . sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam era otonomi daerah.

......2 Kegiatan Pengadaan Tanah ................... 4...... P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ......................3 P el aksan aan K on stru ksi Fi si k … … … … … … … … … … … … … … … … … … ......... D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . Lampiran ii .. 4.. D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. … … … i ii iii 1 3 4 5 8 8 11 18 33 36 40 47 49 Penutup ................. 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................. Acuan Normatif … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .............1 Penyiapan Dokumen Tender .......PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . K oord i n asi P el aksan aan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .....… … … … … … … … … … … … … … … … .. 5 6 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ...... Istilah dan definisi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan .4 Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan ................... 4.. Dokumentasi dan pelaporan ....… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ................... 4..… … … .......

Lampiran 1.4 11. 4. 6.2. Lampiran 6.2.2 9.6 Halaman Penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup 1 ada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan Ketentuan tentang kewajiban penyusunan pedoman 2 3 4 5 8 9 10 11 12 13 pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan Pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender Kriteria kompensasi penggantian tanah dan bangunan Pedoman pelaksanaan partisipasi dan konsultasi masyarakat dalam kegiatan pengadaan tanah Jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah Bagan koordinasi kegiatan pengadaan tanah Bagan Koordinasi pelaksanaan kegiatan konstruksi fisik Bagan Koordinasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan Bagan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing Bagan pelaksanaan rehabilitasi ekonomi masyarakat terasing Prosedur Standar Penanganan Dampak Lingungan Hidup Bidang Jalan dan Jembatan iii . Lampiran 6.1. Lampiran 4. Lampiran 6. Lampiran 4. Lampiran 6.1. 7.1.3.1. 3.2.3 10. 8.2. 5. Lampiran 6.1.5 Lampiran 6. Lampiran 2. Lampiran 4.1. Lampiran 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 12.

kriteria. telah menimbulkan berbagai perubahan kewenangan dalam hal penyelenggaraan pembangunan. standar. tetapi berubah menjadi penyusun kebijakan dan menetapkan berbagai norma. tidak lagi bertindak sebagai pelaksana. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan melalui peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. diharapkan para pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut di atas. pemerataan ekon om i d an b erkead i l an sosi al ”. mencakup hal-hal 1 . efisien. akan tetapi semakin membesar di tingkat pemerintah kota/kabupaten. dan prosedur. sesuai d en g an vi si n ya “Terwujudnya prasarana wilayah yang efektif. yang semakin mengecil dan terbatas di tingkat pemerintah pusat. merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. telah dan sedang melakukan penyiapan berbagai perangkat sistem manajemen lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. Kewenangan pemerintah pusat dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. telah diterbitkan berbagai peraturan perundangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. seperti: 1) Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 2) Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 3) Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan 4) Pedoman Monitoring Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Dengan keempat pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. pertumbuhan. kota atau kabupaten. Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Era otonomi daerah yang dimulai sejak tahun 1999. baik Undang-undang. maka Ditjen Prasarana Wilayah. Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. dapat melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara efektif dan efisien dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.

kesiapan pembiayaan yang memadai. serta dokumentasi dan pelaporan yang baik. disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan yang sesuai dan berlaku dalam era otonomi daerah. serta harus dilakukan secara sinergis dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan tersebut di atas. yang dalam pencapaian sasarannya sangat ditentukan oleh baiknya mekanisme dan koordinasi pelaksanaan.Pekerjaan Umum atau Dep. Dalam penerapan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan bidang jalan ini. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. perlu diperhatikan keberadaan masyarakat terasing/adat (indigenous people).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada saat penyiapan dokumen tender. 2 . benda cagar budaya (cultural heritage) dan kondisi lingkungan yang sensitive. kegiatan pengadaan tanah. seperti: 1) Pedoman Teknis AMDAL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 2) Petunjuk Teknis AMDAL Proyek Jalan 3) Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum 4) Dokumen ISEM (Institusional Strengthening of Environmental Management) 5) Dokumen SESIM (Strengthening of Environmental and Social Impact Management) 6) Dokumen EMSTUM (Environmental Management System Training. Kimpraswil. and Updating of the Moduls). serta mempertimbangkan berbagai pedoman pelaksanaan AMDAL yang pernah disusun oleh Dep. tertib dan teratur. serta kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap pelestarian lingkungan hidup.

baik di tingkat pusat. serta dampakdampak yang ditimbulkan. Pedoman ini dapat digunakan sebagai rujukan. pegangan dan acuan bagi para petugas yang berwenang dan bertanggung jawab serta terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. Sedangkan sasaran dari penyusunan pedoman ini meliputi: 1) Teridentifikasinya komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. selain itu kegiatan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya dampak kegiatan. Ruang Lingkup Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini memberikan petunjuk dan penjelasan kepada para pihak yang terkait tentang ketentuanketentuan yang harus diacu pada pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. guna mempermudah dan memperlancar tugasnya dalam mengantisipasi dan menangani dampak kegiatan pembangunan prasarana jalan yang timbul.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1. maupun di tingkat kota/kabupaten. dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. 3 . 3) Pelaksanaan konstruksi fisik. propinsi. 4) Kegiatan operasi dan pemeliharaan. Pedoman ini mencakup penerapan berbagai aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam: 1) Penyiapan dokumen tender. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah agar kinerja dari para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dapat ditingkatkan dan disinergikan secara optimal. 2) Kegiatan pengadaan tanah.

13 Tahun 1980 tentang Jalan. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. termasuk aspek-aspek pembiayaannya. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. kegiatan pengadaan tanah. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi. mulai dari penyiapan dokumen tender. Keputusan Presiden No. dapat dilihat pada Lampiran 1. 3) Teridentifikasinya peran dan kontribusi para pihak terkait dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Peraturan Pemerintah No. Undang-undang No. Acuan Normatif Pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini mengacu pada berbagai peraturan perundangan yang relevan. Pedoman ini hanya mencakup beberapa tahap dari siklus pembangunan proyek prasarana jalan tersebut. 4 . pelaksanaan konstruksi fisik.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Teridentifikasinya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Undang-undang No. Undang-undang No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan. antara lain tahap pra konstruksi (pengadaan tanah). 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.1. Gambaran umum dari penerapan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada setiap tahapan proyek pembangunan prasarana jalan. 4) Terwujudnya hubungan yang sinergis di antara para pihak yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. Peraturan Pemerintah No. 2. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pelaksanaan Pembangunan Bagi Kepentingan Umum. sampai dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan. 5) Terwujudnya sistem dokumentasi dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang handal. Keputusan Presiden No.

Secara khusus ketentuan tentang kewajiban instansi yang membidangi prasarana jalan untuk melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis Usaha dan atau Kegiatan Bidang Kimpraswil yang Wajib Dilengkapi dengan UKL dan UPL. 15) Keputusan Kepala BAPEDAL No. 3.1. 5 . 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat Dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. Istilah dan Definisi 3. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 105/BAPEDAL/1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 10) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 11) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 30/MENLH/5/1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. dapat dilihat pada Lampiran 2. 14) Keputusan Kepala Bapedal No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Kegiatan dan atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 12) Keputusan Menteri Kimpraswil No.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 9 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 86 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan UKL dan UPL. 3.2.1. 13) Keputusan Kepala Bapedal No. Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

11. yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. maupun politik nasional.5.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. ekonomi. Masyarakat Terkena Dampak Masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya.9. Penduduk Terkena Pembebasan (PTP) Penduduk yang sebagian atau seluruh tanah.6.3. ilmu pengetahuan dan kebudayaan.4. 3.7. 3. 3. Masyarakat Terasing/Adat Kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar. 3. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. 3.8.10. Masyarakat Pemerhati Lingkungan Masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak tidak besar dan atau tidak penting akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya penanganan dampak tidak besar dan/atau tidak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. atau tanah dan bangunan yang dipergunakannya akan dipakai untuk keperluan proyek pembangunan jalan. 3. 3. serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 6 . bangunan dan tanaman miliknya. Benda Cagar Budaya (cultural heritage) Benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. 3. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha/kegiatan tersebut.

3. Standar Operasi Prosedur (SOP) Tata cara pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan dengan memakai ketentuan-ketentuan standar yang baku.12.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. menyelesaikan dan melakukan pemeliharaan pekerjaan konstruksi. yang ditentukan dalam data kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian pekerjaan konstruksi. termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan. 3.16. yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan 7 .11. 3. Situs Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya.13. dibangun. 3. Berita Acara Penyerahan Akhir Berita acara yang dikeluarkan oleh direksi pekerjaan setelah cacat mutu yang ada telah diperbaiki oleh kontraktor. Peralatan Mesin mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara kelapangan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi.15. dan dapat dilaksanakan secara rutin oleh Pengelola Kegiatan.14. 3. Pemilik Pihak yang menunjuk kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan. Kontraktor Orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah diterima oleh pemilik 3.12.17. dipasang dan dibongkar oleh kontraktor. 3. 3. Periode Pemeliharaan Periode untuk melakukan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun. Kontrak Kontrak secara tertulis antara pemilik dan kontraktor untuk melaksanakan. yang dirancang.13. Pekerjaan Sementara Pekerjaan konstruksi.

Pada umumnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik mengalami kendala di lapangan.1. mengingat kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya mengacu pada butir-butir yang terdapat pada dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. harus dicantumkan dalam dokumen tender. 8 . yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. Surat Penunjukan. maka dokumen tender atau dokumen lelang standar LCB (Local Competitive Bidding) untuk pekerjaan konstruksi prasarana jalan.1. dan Perjanjian Kemitraan untuk Joint Operation. a. terdiri atas 8 (delapan) bab sebagai berikut: 1) Bab I 2) Bab II : Instruksi Kepada Peserta Lelang. Sistematika Dokumen Tender. : Spesifikasi.2. Dokumen Tender Pekerjaan Konstruksi.1.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. : Bentuk Jaminan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas. : Data Kontrak. Informasi Kualifikasi. Perjanjian Kontrak. 3) Bab III 4) Bab IV 5) Bab V 6) Bab VI 7) Bab VII 8) Bab VIII : Syarat-Syarat Kontrak. 4. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku. karena tidak terdapatnya deskripsi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas dalam dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. : Bentuk Penawaran. termasuk rincian pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Maksud dan Tujuan. : Daftar Kuantitas. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Penyiapan Dokumen Tender 4. maka gambar dan spesifikasi teknis kegiatan sebagai hasil penjabaran RKL/RPL atau UKL/UPL yang dilakukan dalam tahap perencanaan teknis. : Gambar-Gambar.

Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan. harus dicantumkan dalam dokumen tender yang merupakan bagian dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi. sehingga uraian kegiatan dan biaya pengelolaan lingkungan hidup sudah seharusnya dimasukkan dalam perhitungan biaya pelaksanaan konstruksi. 2) Pembuatan gambar teknis konstruksi jalan dan jembatan serta bangunan pelengkapnya. seperti yang dikemukakan dalam dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. Untuk proyek prasarana jalan yang belum atau tidak dilengkapi dengan RKL/RPL atau UKL/UPL. 3) Penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan dan syarat-syarat teknis pekerjaan konstruksi. Penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan serta persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik. 9 . termasuk besarnya biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan. merupakan tahap awal dari penyiapan dokumen tender atau dokumen lelang. Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. 4.1. Rekomendasi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. maka SOP pengelolaan lingkungan hidup yang ada harus diacu dan merupakan bagian dari dokumen tender pekerjaan konstruksi. Kegiatan yang dilakukan antara lain: 1) Penentuan alinyemen jalan. Pada dasarnya pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik dapat menambah biaya pelaksanaan konstruksi. baik vertikal maupun horizontal. Pencantuman Persyaratan Pengelolaan Lingkungan Hidup. harus dapat dijabarkan dalam gambar-gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pembangunan jalan. dan telah dijabarkan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan pada tahap perencanaan teknis. 4) Perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang dikemukakan dalam RKL/RPL atau UKL/UPL.

4. serta ketentuan bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan benda cagar budaya di lokasi kegiatan. dan harus dikemukakan dengan jelas agar tidak terjadi adanya salah pengertian. perlu dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. termasuk biaya yang diperlukan. ketentuan bahwa kontraktor pelaksana harus bertanggung jawab menangani dampak dampak yang timbul akibat pekerjaan konstruksi. perlu dicantumkan adanya definisi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 3) Dokumen tender standar. perlu dicantumkan gambar kerja untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul. dan dapat dipakai sebagai acuan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen 10 . untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan pada bab ini.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Perumusan ketentuan atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyiapan dokumen tender merupakan tanggung jawab perencana. 3) Pada Bab VI: Daftar Kuantitas. 4) Pada Bab VII: Gambar-Gambar. 2) Dokumen rencana teknis kegiatan. perlu dicantumkan butir kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut (bila ada). yang merupakan penjabaran dari dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL dalam perencanaan teknis. Dokumen Terkait Dokumen lain yang terkait tender. antara lain: 1) Dokumen RKL/RPL atau UKL/UPL. untuk setiap komponen pekerjaan yang dikemukakan dalam bab ini. Selain itu perlu dicantumkan dengan jelas. 4. antara lain: 1) Pada Bab III: Syarat-syarat Kontrak.1. baik untuk LCB maupun ICB. 2) Pada Bab V: Spesifikasi.

Ketentuan Pengadaan Tanah Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pengadaan tanah termasuk kompensasi untuk lahan.5 Workplan Kontraktor. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum.2 Kegiatan Pengadaan Tanah 4. dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini.1.1. yang 11 . maka kontraktor pelaksana dalam menyusun ”w orkp l an ”nya d ap at m en g acu p ad a h al-hal yang dikemukakan pada butir 4.2. jenis hak atas tanah. bangunan dan tanaman. b) Keterangan tentang letak. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. Bila dalam dokumen tender belum atau tidak tercantum aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup.1. 2) Pasal 4 Keppres No. dan nama pemilik tanah. 4.1. Secara rinci pencantuman aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada dokumen tender pekerjaan konstruksi. dapat dilihat pada Lampiran 4. serta pemukiman kembali penduduk yang terkena proyek prasarana jalan.3.1. harus disertai dengan: a) Rencana dan alasan peruntukannya. c) Rencana penampungan orang-orang yang haknya akan dicabut. sebagaimana tercantum dalam dokumen tender. Untuk dapat memberi jaminan bahwa aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikemukakan dalam dokumen tender tersebut diatas akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. maka kon traktor p el aksan a d al am m en yu su n “w orkp l an ”n ya h arus mencantumkan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak lingkungan hidup yang timbul akibat kegiatan proyek. antara lain sebagai berikut: 1) Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No.

yang mengatur tentang pengajuan keberatan atas bentuk dan jumlah ganti kerugian. 5) Pasal 13 Keppres No. yang mengatur pengadaan tanah untuk proyek prasarana jalan yang melalui kawasan hutan. 55 tahun 1993. e) Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. 7) Pasal 29 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. b) Tanah pengganti. 12 . 3) Pasal 9 dan 10 Keppres No. d) Kombinasi dari dua atau tiga bentuk ganti kerugian tersebut diatas. yang mengatur tentang pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat dengan menyediakan prasarana dan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. 1 tahun 1994. 55 tahun 1993. c) Pemukiman kembali. 55 tahun 1993.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN menyatakan bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan bila rencana pembangunan tersebut telah sesuai dengan : a) Rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. diberikan untuk: a) Hak atas tanah. yang menyatakan bahwa pengadaan tanah harus dilakukan secara musyawarah secara langsung dengan pemegang hak atas tanah atau wakil yang ditunjuk. 1 tahun 1994. d) Benda-benda lain yang terkait dengan tanah. yang menyatakan bahwa pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah. 4) Pasal 12 Keppres No. 8) Keputusan Menteri Kehutanan No. b) Bangunan. b) Perencanaan ruang wilayah kota. 6) Pasal 22 Permeneg Agraria/Kepala BPN No. 419/KPTS – II/94 tentang Pedoman tukar menukar kawasan hutan. menyatakan bentuk ganti kerugian dapat berupa: a) Uang. c) Tanaman.

harus mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Keppres tersebut. 1 tahun 1994 tentang Pelaksanaan Keppres No. dilampiri dengan peta lokasi. maka Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan membuat surat permohonan ke Bupati/Walikota tentang rencana kegiatan pengadaan tanah. 2. 1) Pemakai tanah sebelum tanggal 16 Desember 1960. 2) Pemakai tanah bekas Hak Barat. luas dan taksiran biaya. 4. dengan kriteria sebagai berikut. antara lain dengan pertimbangan rencana penggunaan tanah tersebut sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. 32 tahun 1979. 4) Bekas pemegang Hak Pakai yang sudah berakhir dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. maka proses pengadaan tanah untuk kegiatan pembangunan prasarana jalan dengan luas lebih dari 1 (satu) Ha. kriteria kompensasi pengantian tanah dan bangunan adalah sebagaimana tercantum dalam . Setelah hal tersebut disetujui. dengan proses sebagai berikut: 1) Segera setelah dana untuk kegiatan pengadaan tanah tersedia. 13 55 tahun 1993. Sesuai dengan Keppres No. sebagaimana dimaksud dalam Keppres No. 3) Bekas pemegang Hak Guna Bangunan yang sudah berakhir. 51 tahun 1960. maka Gubernur membentuk Panitia Pengadaan Tanah (Panitia) yang beranggotakan 9 (sembilan) orang. santunan dapat diberikan kepada pemakai tanah tanpa sesuatu hak. dan tidak dimintakan perpanjangan waktunya. yang diketuai oleh Bupati/Walikota. Dengan peraturan yang sama. sebagaimana dimaksud dalam UU No. dengan Sekretaris yang berkedudukan di Kantor Pertanahan Daerah Kabupaten/Kota. 1.2.2 Proses Pengadaan Tanah a. 55 tahun 1993 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Lampiran 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan Permeneg Agraria/Kepala BPN No. rencana penggunaan tanah.

tipe bangunan. maka Bupati/Walikota membuat surat keputusan tentan g “h arg a satu an ” tan ah . 4) Bila masalah keberatan PTP telah dapat diselesaikan. dan PTP diberi kesempatan untuk mengajukan keberatannya (bila ada) dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. 5) Bila masalah ganti kerugian telah disepakati. Bagi PTP yang akan beralih profesi akan disiapkan pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. sehingga perlu dibangun permukiman baru. Tim 14 . 7) Bila jumlah PTP yang ingin pindah cukup banyak. Setelah PTP memahami dan menyetujui rencana pembangunan prasarana jalan tersebut. bangunan dan tanaman secara rinci dan cermat. Musyawarah ini dipandu oleh Panitia Pengadaan Tanah. kepada Berdasarkan PTP dengan keputusan tersebut Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dapat melakukan pembayaran disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah 6) Secara bertahap. PTP yang telah mendapatkan ganti kerugian diminta untuk membongkar dan memindahkan bangunan dan tanaman sendiri. bangunan dan tanaman. b eserta kl asi fi kasi h ak atas tanah. inventarisasi dan pengukuran tersebut.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Kemudian Panitia bersama Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah dengan melibatkan tokoh dan pemuka masyarakat melakukan penyuluhan serta sosialisasi kegiatan pembangunan prasarana jalan kepada masyarakat dan Penduduk Terkena Pembebasan (PTP). b an g u n an d an tan am an . dilakukan pendaftaran. maka Panitia mengundang PTP dan Pimpro/Pimbagro Pengadaan Tanah untuk mengadakan musyawarah dan negosiasi tentang jenis dan besarnya nilai ganti kerugian tanah. ganti dan rugi tanaman. 3) Hasil pendaftaran. inventarisasi dan pengukuran tanah. kemudian disampaikan ke PTP. maka Kepala Daerah segera membentuk Tim Permukiman Kembali dan Pembinaan PTP.

merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Dana pengadaan tanah pengganti tersebut disediakan oleh Proyek Pengadaan Tanah (berasal dari dana yang seharusnya diberikan sebagai uang) c. membangunnya dan siap pakai secara bertahap. Besarnya nilai ganti kerugian didasarkan atas hasil musyawarah yang disepakati bersama.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN ini akan menentukan lokasi permukiman baru. Pemukiman Kembali Bila jumlah penduduk yang dipindahkan cukup banyak (versi Bank Dunia > 40 KK). dapat dilihat pada Lampiran 4. di lokasi yang ditentukan Panitia. tukar menukar atau cara lain yang disepakati bersama. dapat dikelompokkan atas: a. dengan cara jual beli. c. lokasi dan luasnya ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan disepakati oleh PTP. 8) Pelaksanaan konstruksi fisik prasarana jalan dapat dilaksanakan setelah selesainya proses pengadaan tanah.2. disaksikan oleh minimal 3 (tiga) orang anggota panitia dan dibuktikan dengan tanda penerimaan. Untuk pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) Ha.2. Pengadaan tanah pengganti.2 4. Dalam proses pengadaan tanah. segera setelah ganti rugi kepada PTP dibayarkan. Tanah Pengganti. Pemberian ganti kerugian berupa uang tunai dibayarkan langsung kepada yang berhak. maka perlu diselenggarakan pemukiman kembali di 15 . maka kegiatan konsultasi dengan masyarakat terutama PTP. Untuk itu secara rinci petunjuk mengenai kegiatan partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat. b. dapat dilakukan secara langsung dengan pemegang hak atas tanah.3 Bentuk Ganti Kerugian Berbagai bentuk ganti kerugian dalam kegiatan pengadaan tanah. dan kemudian ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Uang Tunai. b.

16 . Bentuk lain yang disepakati. Bentuk lain yang disepakati oleh para pihak yang bersangkutan. Pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak yang timbul akibat kegiatan pengadaan tanah tersebut antara lain: 1) Timbulnya rasa kecewa dan tidak puas PTP terhadap besarnya nilai ganti kerugian. bangunan atau tanaman. Secara rinci jenis dampak/kerugian akibat kegiatan pengadaan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4. merupakan tanggung jawab Pimpro/Pimbagpro Pengadaan Tanah yang bersangkutan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN lokasi lain. diberikan dalam bentuk prasarana dan sarana umum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama. yang penentuannya didasarkan atas kesepakatan kedua pihak. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak lingkungan yang timbul. sedangkan untuk tanah wakaf dan tanah ulayat dapat berupa: 1) Pemberian ganti kerugian untuk tanah wakaf. e. sehingga kehidupan mereka minimal sama sebelum mereka dipindahkan d. baik untuk tanah. dilakukan melalui Nadir yang bersangkutan 2) Pemberian ganti kerugian untuk tanah ulayat.3.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengadaan Tanah Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah. Bentuk Kombinasi. seperti Sistem Konsolidasi Tanah. 2) Pemindahan penduduk ke lokasi permukiman baru 3) Pemantauan dan rehabilitasi penduduk yang dipindahkan untuk jangka waktu tertentu.2. 4.2. Bentuk ganti kerugian ini berupa kombinasi dari 2 (dua) atau 3 (tiga) bentuk ganti kerugian tersebut diatas. Untuk mengembangkan pemukiman kembali tersebut diperlukan kegiatan: 1) Pembangunan permukiman baru termasuk prasarana dan sarana lingkungan di lokasi baru.

b) Pemberian ganti kerugian yang layak dan memadai. yang bentuk dan besarannya disesuaikan dengan hasil musyawarah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN sehingga mereka menolak proses pembayaran ganti kerugian. c) Melakukan pendekatan sosiologis dan konsultatif kepada PTP. c) Penyuluhan. yang difasilitasi oleh tokoh dan pemuka masyarakat. dapat dikelola melalui: a) Penggantian sarana sosial ekonomi masyarakat disekitar lokasi kegiatan. 4) Terganggunya kegiatan sosial ekonomi masyarakat serta sarana utilitas umum. konsultasi dan sosialisasi kepada PTP. dapat dikelola melalui: a) Pemilihan lokasi pemukiman baru yang disepakati oleh PTP dan penduduk di lokasi baru. karena perubahan peruntukan lahan serta hilangnya bangunan tempat usaha atau hilangnya akses kekesempatan kerja. dapat dikelola melalui: a) Penyuluhan dan sosialisasi kegiatan mengenai pentingnya arti proyek prasarana jalan dan proses kegiatan pengadaan tanah yang akan dilakukan. b) Memberi prioritas untuk dapat bekerja di proyek yang akan dilaksanakan. 3) Keresahan sosial karena terganggunya interaksi sosial bagi penduduk yang akan dipindahkan. 2) Hilangnya mata pencaharian dan pendapatan PTP. dapat dikelola melalui: a) Memberikan pelatihan ketrampilan untuk usaha alih profesi/pekerjaan. b) Penyediaan prasarana dan utilitas umum yang memadai di lokasi pemukiman baru. b) Pemindahan sarana dan utilitas umum yang ada di lokasi kegiatan. 17 .

Faktor penentu jenis dan besarnya dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul karena pelaksanaan konstruksi fisik pembangunan prasarana jalan antara lain: a. dan penanganannya tidak dapat dilakukan secara standar. Untuk dampak-dampak yang sifatnya umum. 2) Lokasi dan kondisi areal proyek. dan Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. seperti pembangunan.3. antara lain: 1) Dokumen LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) yang telah disusun pada tahap perencanaan teknis.3 Pelaksanaan Konstruksi Fisik 4. 08 Tahun 2000. peningkatan atau pemeliharaan prasarana jalan. Dokumen Terkait. diperlukan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih spesifik. seperti di dataran rendah. yang merupakan satu kesatuan dengan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. berbukit.2. pegunungan. daerah rawa. sangat ditentukan oleh jenis dan besaran dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul.1.4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. maka pengelolaan lingkungan hidup tersebut dapat mempergunakan SOP. 3) Keputusan kerugian. Aspek Teknis 1) Jenis rencana kegiatan. Dokumen lain yang terkait dan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pengadaan tanah. Bupati/Walikota mengenai penetapan nilai ganti 4. 18 . perkotaan atau pedesaan. Faktor Penentu Besaran Dampak Pengelolaan lingkungan hidup pada pelaksanaan konstruksi fisik. besarannya kecil dan pengelolaannya dapat dilakukan secara standar dan mudah. 2) Tata cara kegiatan konsultasi pada masyarakat seperti yang diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. Sedangkan untuk dampak-dampak besar dan penting yang sifatnya spesifik.

termasuk lahan untuk lokasi jalan akses. seperti tanah. seperti iklim. Komponen Kegiatan yang Berpotensi Menimbulkan Dampak Komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. kegiatan ekonomi masyarakat. pada umumnya dapat dikelompokkan atas: a. tukang. Persiapan Pekerjaan Konstruksi : 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. terutama jenisjenis yang langka dan dilindungi. 3) Kondisi flora dan fauna sekitar lokasi proyek. situs dan benda cagar budaya serta hutan lindung.3. batu. 4) Lamanya pelaksanaan konstruksi fisik. terutama untuk tenaga kerja menengah kebawah. 4) Keberadaan masyarakat terasing/adat. 19 . 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi proyek. seperti kependudukan. namun bila tidak dapat dihindari. hidrologi dan penggunaan tanah. terpaksa memakai tenaga kerja dari luar daerah. topografi. termasuk sumbernya. 6) Metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. 7) Jenis dan jumlah peralatan berat yang diperlukan. 4.2. Aspek Non Teknis 1) Kondisi fisik lokasi kegiatan. Mobilisasi tenaga kerja yang diperlukan proyek. termasuk periode pemeliharaan. base camp dan lokasi quarry. baik tenaga ahli. struktur tanah dan geologi. lebih diutamakan memakai tenaga kerja setempat (bila tersedia sesuai kebutuhan).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3) Luas lahan untuk keperluan proyek. b. kondisi sosial budaya. 8) Jenis dan jumlah bahan material bangunan yang dipakai. 5) Dimensi. pasir dan material/komponen jembatan. kesehatan masyarakat dan persepsi masyarakat. dan pekerja kasar yang diperlukan. 9) Jumlah dan kualifikasi tenaga kerja. volume dan besaran komponen pekerjaan utama.

Pelaksanaan Konstruksi Fisik. yang akan dilalui oleh peralatan berat tersebut. Bila lokasi proyek letaknya terpencil atau terisolir.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Dalam mobilisasi tenaga kerja tersebut. Kegiatan ini dapat berupa pembuatan jalan baru atau peningkatan kondisi prasarana jalan yang ada. maka prasarana dan utilitas umum yang ada di lokasi proyek. sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. tanaman dan benda lain yang tidak diperlukan. dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan proyek.1. Dalam penentuan jenis dan kapasitas peralatan berat yang akan dipergunakan. dari lokasi proyek menuju ke jaringan prasarana jalan umum yang terdekat. shovel. traktor. Termasuk dalam mobilisasi peralatan berat tersebut adalah kegiatan demobilisasi peralatan berat setelah pelaksanaan proyek selesai. 20 . 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membersihkan lokasi proyek dari bangunan. dozer. sehingga dapat dilalui oleh kendaraan proyek. 2) Mobilisasi Peralatan Berat. b. perlu dipertimbangkan keberadaan dan kondisi prasarana jalan dan jembatan. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan. Mobilisasi peralatan berat yang diperlukan proyek. Lokasi Proyek. perlu diperhatikan adanya perjanjian kerja yang jelas tentang hak dan kewajiban tenaga kerja yang bersangkutan. b. baik dengan cara membeli atau menyewa. terutama adanya ketentuan yang mengatur setelah pekerjaan konstruksi selesai (demobilisasi). sehingga pelaksanaan konstruksi fisik dapat dimulai. 3) Pembuatan Jalan Masuk/Jalan Akses. seperti AMP. maka diperlukan adanya pekerjaan pembuatan jalan masuk atau jalan akses.

c) Agregat penutup Burtu dan Burda.WC). lapis pengikat (AC – BC) dan lapis pondasi (AC – base). Termasuk dalam pekerjaan tanah adalah penggalian dan penimbunan tanah untuk penyiapan tanah dasar atau badan jalan. b) Lapis pondasi semen tanah. Selain itu kemungkinan adanya benda cagar budaya yang ditemukan lebih lanjut. g) Latasbusir kelas A dan kelas B. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. galian batu. timbunan tanah biasa atau timbunan tanah pilihan dan timbunan batu. 2) Pekerjaan Tanah. serta stabilitas dari lereng yang terbentuk agar tidak terjadi erosi atau longsoran tanah. perlu diamankan dan dilaporkan ke instansi yang berwenang. lapis pondasi (HRS base). coffer dam. sistem drainase. kelas B dan kelas C. Dalam pekerjaan ini perlu diperhatikan keberadaan prasarana dan utilitas umum yang ada di dalam tanah agar dapat diamankan terlebih dulu. struktur pondasi. Pekerjaan konstruksi badan jalan dan lapis perkerasan dengan jenis dan ketebalan yang disesuaikan dengan rencana dapat berupa: a) Lapis pondasi agregat kelas A. baik berupa galian tanah biasa. e) Laston lapis aus (HRS . untuk ditangani 21 . di lokasi proyek. f) Lataston lapis aus (AC – WC).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN terutama yang berada di bawah tanah perlu dipindahkan ke tempat yang aman atau diberi pengamanan khusus. d) Latasir (SS) kelas A dan kelas B.

Untuk itu lokasi buangan (dumping area) dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan estetika di lokasi buangan tersebut. 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bawah Jembatan atau Jalan Layang. trotoir. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode pelaksanaan adalah kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan bangunan atas dan bawah jembatan. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah kegiatan pemancangan. rambu-rambu lalu lintas. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lokasi proyek dari sisa-sisa material bangunan yang sudah tidak terpakai. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. guard rail. dan pembuatan kepala tiang pondasi. 7) Pemasangan Bangunan Pelengkap Jalan Termasuk dalam pekerjaan ini adalan pemasangan pagar. penerangan jalan dan marka jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. serta relokasi arus lalu lintas. sehingga lokasi proyek menjadi bersih. relokasi arus lalu lintas. Ada baiknya bila bahan sisa/material 22 . hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sistem dan pelaksanaannya adalah keberadaan struktur bangunan dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek yang dapat terganggu. penumpukan tiang pancang di sekitar lokasi pekerjaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini adalah arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan yang dapat terganggu atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan. 5) Pemancangan Tiang Pancang. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembuatan saluran drainase tepi jalan dengan pasangan batu mortar atau konstruksi beton. serta pembuatan gorong-gorong.

harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta tanaman hias untuk meningkatkan estetika lingkungan dan kenyamanan para pemakai jalan. selain gembalan rumput di media jalan. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry/Borrow Area. bermanfaat pula untuk mencegah timbulnya erosi dan longsoran tanah. hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi proyek.2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN buangan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik oleh proyek maupun oleh masyarakat setempat. Perlu dipertimbangkan pula bahwa lokasi quarry dan borrow area. serta melakukan reklamasi setelah kegiatan ini selesai. Termasuk jalan yang dalam pekerjaan karena ini adalah pemasangan tanah. seperti tidak membahayakan kestabilan lereng yang terbentuk. 9) Penghijauan dan Pertamanan. Pengambilan tanah dan material bangunan dari lokasi quarry dan borrow area yang ditangani proyek. keselamatan pemakai jalan. b. bahu jalan dan di lereng timbul pekerjaan bermanfaat untuk meningkatkan estetika lingkungan. tidak di dekat lokasi bangunan air dan terletak pada areal yang tidak subur/tidak produktif. harus tetap mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas. tidak mencemari badan air yang berada di hilirnya. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan Pengangkutan tanah dan material bangunan yang diperlukan proyek melalui prasarana jalan umum. Selain itu penanaman pohon lindung yang dapat mengurangi timbulnya kebisingan. 23 . dan tidak merusak atau mengotori prasarana jalan tersebut.

maka lokasi base camp (kantor proyek. pelaksanaan pekerjaan perlu dilakukan dengan ekstra hati-hati. perlu dipahami karakteristik masyarakat tersebut melalui kegiatan konsultasi masyarakat yang rinci. seperti yang tercantum dalam kontrak pekerjaan konstruksi. 1) Pengoperasian Base Camp dan AMP. Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pelaksanaan Konstruksi.3. bengkel. Khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan atau melalui lokasi permukiman masyarakat terasing/adat. stock pile dan barak pekerja) dan lokasi AMP atau stone crusher. a. 4. dapat terletak pada satu lokasi. Sosialisasi Dan Konsultasi Pada Masyarakat. atau pada dua lokasi yang terpisah. Sebelum pelaksanaan konstruksi fisik dimulai. agar tidak mengganggu atau merusak lokasi situs. Dalam pemilihan lokasi base camp dan AMP atau stone crusher. Selain itu khusus untuk lokasi proyek yang berdekatan dengan lokasi situs dan benda cagar budaya. tidak di lokasi pariwisata atau lokasi sensitive lainnya. dekat lokasi proyek dan ada kemudahan akses. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. gudang.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b. untuk diambil langkah tindak lanjut.3. Termasuk dalam pelaksanaan konstruksi fisik ini adalah kegiatan pemeliharaan struktur dan prasarana jalan yang telah selesai dibangun selama periode pemeliharaan. seperti lokasinya jauh dari pemukiman dan badan air. hendaknya beberapa faktor perlu dipertimbangkan. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. maka temuan tersebut harus segera disampaikan pada instansi yang berwenang. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemui adanya benda cagar budaya. maka Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyusun Work Plan secara rinci untuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan melakukan 24 .

Persiapan Pekerjaan Konstruksi. sehingga masyarakat akan mendukung keberhasilan proyek tersebut. Khusus untuk masyarakat terasing/adat. 3) Menghindari kemungkinan timbulnya konflik diantara masyarakat dengan pekerja proyek. dapat dikelola melalui: (1) Memprioritaskan penggunaan tenaga kerja setempat. dengan tujuan untuk : 1) Pemahaman arti pentingnya proyek prasarana jalan yang akan dibangun. mengingat bahwa keberadaan prasarana jalan yang akan dibangun tersebut akan dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terasing/adat. (2) Pelatihan ketrampilan pada masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek. 2) Masyarakat dapat berperanserta dalam pelaksanaan konstruksi. baik langsung maupun tidak langsung. maka kegiatan sosialisasi dan konsultasi tersebut perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan intent. b) Meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat karena mobilisasi tenaga kerja dan pelaksanaan konstruksi fisik secara keseluruhan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN konsultasi dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. sebaiknya diikutsertakan tokoh dan pemuka masyarakat.2. b. 1) Mobilisasi Tenaga Kerja. Dalam konsultasi dan sosialisasi kegiatan tersebut. a) Kecemburuan sosial masyarakat karena mempekerjakan tenaga kerja dari luar daerah. dan semua aspirasi masyarakat yang terkait dengan pembangunan prasarana jalan hendaknya dapat diakomodasikan secara optimal. dapat dikelola lebih baik melalui cara: (1) Mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja dan bahan material setempat. Secara rinci sosialisasi dan konsultasi pada masyarakat terasing/adat dapat dilihat pada butir 6. (2) Meningkatkan interaksi sosial tenaga kerja pendatang dengan masyarakat setempat. 25 .

2) Mobilisasi Peralatan. seperti menyediakan akomodasi dan keperluan pekerja sehari-hari. dapat dikelola melalui: (1) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. bila trase jalan akses tersebut melalui atau dekat lokasi pemukiman. Penyiraman secara berkala. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik 26 . a) Kerusakan prasarana jalan karena mobilisasi peralatan berat melalui prasarana jalan umum.1. (2) Penyiraman secara berkala di lokasi pekerjaan saat kondisi berdebu. (2) Membatasi tonase peralatan berat atau membatasi beban gandar sesuai dengan kapasitas jalan. b) Pencemaran kualitas air. Lokasi Proyek. 3) Pembuatan Jalan Masuk atau Jalan Akses. dapat dikelola dengan cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. c. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena terurainya lapisan tanah permukaan. saat lokasi pekerjaan dalam kondisi berdebu. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan karena pembuatan jalan masuk/jalan akses. Pelaksanaan Konstruksi Fisik c. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (3) Penyuluhan pada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan keberadaan proyek untuk meningkatkan kesejahteraannya. 1) Pembersihan dan Penyiapan Lahan.

dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami. c) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. dapat dikelola melalui cara: (1) Pembuatan tanggul tanah atau drainase sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan dari lokasi pekerjaan langsung ke badan air. 27 . sehingga tidak merusak kondisi vegetasi di sekitarnya. (3) Menyisihkan top soil untuk digunakan menanam tanaman kembali. b) Pencemaran kualitas air. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. yang ada di lokasi pekerjaan dapat dikelola melalui: (1) Memindahkan utilitas umum tersebut. (2) Tata cara pelaksanaan pekerjaan yang baik. yang karena d) Terganggunya (1) (2) kondisi penebangan tanaman. Pelaksanaan kegiatan yang baik dan cermat. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi pekerjaan. sebelum pekerjaan dimulai (2) Pelaksanaan pekerjaan secara cermat dan teliti (3) Memperbaiki terjadi kerusakan flora utilitas dan umum fauna.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Kerusakan atau terganggunya fungsi utilitas umum. dapat dikelola melalui: Menanam kembali jenis-jenis vegetasi terutama yang dilindungi di sekitar lokasi pekerjaan. 2) Pekerjaan Tanah.

karena penggalian tanah. (3) Mengalirkan air tanah dengan soil drain sehingga tidak menyebabkan keruntuhan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. a) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. sistem drainase yang baik. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan di lokasi kegiatan. dapat dikelola melalui: (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas. 28 . Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. saat kondisi berdebu. 3) Pekerjaan Konstruksi Badan Jalan Dan Lapis Perkerasan. Perkuatan lereng dengan pembuatan tembok penahan. 4) Pembuatan Sistem Drainase Jalan. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. memasang gembalan rumput dan sebagainya. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. Pengaturan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan pemakai jalan. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. d) Terganggunya stabilitas lereng yang terbentuk. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk.

7) Pembangunan Bangunan Pelengkap Jalan. 8) Pembuangan Bahan Sisa/Material Buangan. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jaringan jalan eksisting. dapat dikelola melalui: (1) Pengaturan arus lalu lintas. b) Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. Pengaturan kegiatan termasuk penumpukan tiang pancang yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Penggunaan jenis tiang pancang/jenis pondasi yang tepat dan sesuai kondisi setempat. Dampak yang timbul di lokasi pembuangan (dumping area) berupa menurunnya estetika lingkungan. (2) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. (2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas. a) Terjadinya getaran dan kebisingan di lokasi pekerjaan. Terjadinya gangguan lalu lintas karena pekerjaan berada atau di sekitar jalan eksisting. dapat dikelola melalui : 29 . 6) Pekerjaan Bangunan Atas Dan Bangunan bawah Jembatan atau Jalan Layang. (3) Pengaturan kegiatan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemakai jalan. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5) Pemancangan Tiang Pancang.

dan mempunyai ciri khas daerah. pada areal yang tidak subur. 30 . serta dapat memperindah estetika lingkungan. 9) Penghijauan dan Pertamanan.2. b) Terganggunya aliran air permukaan dan air tanah. c. dapat dikelola melalui: (1) Pembuatan sistem saluran drainase yang baik. dan tidak mengganggu pemakai jalan. Lokasi Quarry dan Jalur Transportasi Material. sehingga mempunyai dampak yang positif dalam mengurangi pencemaran udara dan kebisingan. produktifitasnya rendah dan daerah cekungan. (2) Jenis tanaman yang ditanam sebaiknya jenis tanaman lokal. termasuk tanaman rumput pada media jalan dan bahu jalan. (2) Pemilihan lokasi dumping area yang tepat. dan memadai untuk mengalirkan aliran air alami.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (1) Pemanfaatan bahan sisa/material buangan oleh masyarakat seoptimal mungkin. serta menghindari erosi lahan. Untuk dapat meningkatkan dampak positif tersebut. dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Penyiraman secara berkala lokasi pekerjaan pada saat kondisi berdebu. dengan jenis yang disesuaikan dengan kondisi geografi jalan. maka upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan antara lain: (1) Penanaman pohon lindung dan tanaman hias. 1) Pengambilan Tanah dan Material Bangunan dari Quarry dan Borrow Area. a) Pencemaran udara (debu) dan kebisingan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan para pemakai jalan.

Pemasangan drainase lereng yang baik. Pencemaran udara (debu) dan kebisingan dapat dikelola dengan cara: (1) (2) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. c) Terganggunya stabilitas lereng galian. dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pemilihan lokasi quarry di sungai yang tepat. tidak terlalu dekat dengan lokasi bangunan air. Reklamasi dan pemanfaatan kembali lahan bekas quarry dan borrow area. Perkuatan stabilitasnya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (2) Memberikan suplay air bersih kepada penduduk. dapat dikelola melalui: (1) (2) a) Menanam kembali jenis-jenis vegetasi yang rusak di sekitar lokasi pekerjaan. bila dampak tersebut di atas sampai mengganggu air sumur penduduk. Volume pengambilan quarry disesuaikan dengan potensi yang ada. f) Terganggunya kondisi flora. 2) Pengangkutan Tanah dan Material Bangunan. 31 bangunan air yang terganggu d) Perubahan fungsi lahan. (3) Membatasi kecepatan kendaraan proyek di jalan umum. Pelaksanaan pekerjaan yang teliti dan cermat. dapat dikelola melalui: (1) (2) (1) (2) Kemiringan lereng yang terbentuk disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanah. Penyiraman jalur transportasi secara berkala pada saat berdebu serta pembersihan terhadap ceceran tanah agar tidak menjadi licin saat hujan. dapat dikelola melalui: . Pemilihan lokasi quarry yang tepat (tidak di lahan subur). e) Timbulnya erosi dasar sungai yang dapat mengganggu stabilitas bangunan air.

a) Kecemburuan/keresahan sosial masyarakat di sekitar lokasi. (3) Pemanfaatan sarana dan utilitas proyek agar dapat digunakan oleh masyarakat setempat. Lokasi Base Camp dan AMP/Stone Crusher. c. Membatasi tonase truk pengangkut material sesuai dengan kapasitas jalan. Pelaksanaan pekerjaan yang mengutamakan kelancaran lalu lintas. dapat dikelola dengan cara: (1) Pemilihan lokasi base camp yang relatif jauh dari permukiman. gudang. bengkel. Pengoperasian base camp (kantor proyek. (4) Sosialisasi kegiatan pada masyarakat. dapat dikelola melalui: (1) (2) Memperbaiki kondisi prasarana jalan yang rusak. b) Terjadinya gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas karena kendaraan proyek melalui jalan umum dapat dikelola melalui: (1) (2) (3) Pengaturan arus lalu lintas.3.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN (4) Penggunaan truk pengangkut material yang ditutup terpal dan pencucian ban sebelum keluar dari quarry. dan barak pekerja) dan AMP/stone crusher. (2) Penyuluhan terhadap tenaga kerja pendatang mengenai pola hidup masyarakat setempat. b) Kerusakan prasarana jalan umum karena kendaraan proyek melalui jalan umum. (2) Pemagaran lokasi AMP/stone crusher yang rapat. udara (debu) dan kebisingan karena pengoperasian AMP/stone crusher dapat dikelola dengan 32 . b) Pencemaran cara: (1) Pengaturan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas.

4. 4. 2) Terjadinya perubahan peruntukan lahan di luar perkiraan sehingga meningkatkan bangkitan lalu lintas yang tidak terkendali. namun sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara rencana dan kenyataan di lapangan.4. dan untuk menanggulanginya. Kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan yang telah selesai dibangun dan diserahkan oleh Kontraktor kepada Pemberi Tugas memang bertujuan positif sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan. (2) Pembuatan tanggul tanah sementara untuk mencegah masuknya aliran air permukaan langsung ke badan air. seperti: 1) Pertumbuhan volume lalu lintas lebih besar dari yang diperkirakan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Pencemaran kualitas air karena pengoperasian base camp dan AMP dapat dikelola melalui cara: (1) Mengumpulkan limbah oli/minyak yang dihasilkan dari pengoperasian base camp dan AMP/stone crusher. sehingga saluran drainase jalan tidak mampu menampungnya. 4. Dokumen Terkait. d) Kecelakaan lalu lintas akibat basecamp. 4.1. kendaraan keluar masuk . (3) Tata cara pelaksanaan pengoperasian base camp yang baik. sehingga terjadi berbagai masalah seperti kemacetan lalu lintas dan kerusakan prasarana jalan sebelum waktunya. Hal tersebut di atas akan mempercepat timbulnya kerusakan prasarana jalan. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam antara lain: 1) Gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan. 2) SOP pengelolaan lingkungan hidup.4. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan.3. maka dalam perencanaan 33 pelaksanaan konstruksi fisik. Pengoperasian dan Pemeliharaan Prasarana Jalan. dan meningkatnya air larian.

4.2. Pemberi Tugas. khususnya pada jalan tol. dapat dikelola melalui: a) Pembuatan noise barrier dari tembok atau tanaman yang rapat pada lokasi-lokasi tertentu di dekat permukiman penduduk. termasuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. 2) Meningkatnya gangguan atau kemacetan lalu lintas. f) Pembuatan rest area.4. seperti Dinas PU/Dinas Prasarana Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota. Jasa Marga (khusus jalan tol).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN prasarana jalan seharusnya dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan bangkitan lalu lintas. Pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengoperasian prasarana jalan menjadi tanggung jawab Pengelola Kegiatan. disesuaikan dengan jenis dan besaran dampak yang timbul antara lain: 1) Meningkatnya pencemaran udara dan kebisingan. 34 . c) Pengaturan arus lalu lintas. d) Penerapan sistem manajemen lalu lintas yang baik. yang selanjutnya akan bertindak selaku Pengelola Kegiatan. Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pengoperasian Jalan. e) Pembuatan jembatan penyeberangan atau overpass/underpas pada lokasi yang lalu lintasnya padat. dapat dikelola melalui: a) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan pada lokasi yang tepat. karena meningkatnya arus lalu lintas. Disesuaikan dengan jenis prasarana jalan yang telah selesai dibangun. b) Pemeliharaan lapisan perkerasan jalan agar tetap dalam kondisi baik. dalam hal ini Pemimpin Proyek/Pemimpin Bagian Proyek harus menyerahkan wewenang pengoperasian prasarana jalan selanjutnya kepada institusi yang berwenang. PT. b) Pemasangan papan-papan peringatan dan lampu penerangan jalan pada lokasi yang tepat. serta mengatur penggunaan lahan agar tetap sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan yang telah disepakati. atau operator jalan tol lainnya.

Dokumen Terkait.4. dapat dikelola melalui: a) Menyusun ketentuan mengenai peruntukan lahan sesuai dengan tata ruang dan tata guna lahan. 3) Pemasangan rambu-rambu peringatan. 35 en forcem en t” b ag i p el an g g aran keten tu an . Pengelolaan Lingkungan Hidup Kegiatan Pemeliharaan Jalan. dapat dikelola melalui cara: 1) Pengaturan waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan prasarana jalan yang tepat. dampak yang timbul dari kegiatan ini pada umumnya adalah gangguan atau kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. 4) Terganggunya habitat fauna pada lokasi tertentu dapat dikelola melalui cara: a) Membuat rambu-rambu lalu lintas. antara lain: 1) SOP kegiatan pemeliharaan jalan. Dalam pengoperasian prasarana jalan yang telah selesai dibangun. 3) Dokumen RDTR Wilayah Kabupaten/Kota. 2) Pengaturan arus lalu lintas. dapat dikelola melalui pembuatan jembatan penyeberangan pada lokasi yang tepat.3. 4. 2) Dokumen RTRW Kabupaten/Kota. h) Penyuluhan tertib pemanfaatan jalan. 3) Perubahan peruntukan lahan karena aksesibilitas jalan yang lebih baik. b) Membatasi kecepatan kendaraan pada lokasi-lokasi tertentu. b) M el aku kan “l aw tersebut. Dokumen lain yang terkait dan dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan operasi dan pemeliharaan bidang jalan.4. 4.4. 5) Terganggunya mobilitas penduduk yang permukimannya terpotong oleh prasarana jalan (tol).PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN g) Penertiban PKL yang berdagang di badan jalan. secara berkala atau secara rutin perlu dilakukan pekerjaan pemeliharaan jalan.

2) 2) Frekwensi kegiatan penyuluhan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. musyawarah dengan masyarakat. Perkiraan besarnya biaya perjalanan didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah petugas penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. biaya rapat untuk melakukan musyawarah. b. 2) Lamanya perjalanan yang dilakukan. pengadaan data maupun biaya perjalanan. karena hal tersebut harus sudah tertampung dalam biaya penyiapan dokumen tender proyek secara keseluruhan. Biaya Perjalanan. Penyiapan Dokumen Tender. 3) Jenis transportasi yang dipakai. biaya penyuluhan a. sosialisasi dan kegiatan musyawarah. baik untuk biaya personel.2. Pembiayaan 5. Biaya Personel. dan sosialisasi kegiatan. serta petugas lain yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah. Biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan pengadaan tanah meliputi komponen biaya personel. biaya kompensasi dan biaya pemukiman kembali. tidak memerlukan biaya khusus. Pada prinsipnya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada saat penyiapan dokumen tender. Komponen biaya perjalanan bagi petugas yang terlibat dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup biaya perjalanan untuk berkonsultasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait. Komponen biaya personel mencakup honorarium petugas pelaksana penyuluhan dan sosialisasi kegiatan. Kegiatan Pengadaan Tanah. 3) Harga satuan yang berlaku. untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan serta musyawarah dengan masyarakat di lokasi kegiatan. 36 . 5. biaya perjalanan.1.

Pelaksanaan Konstruksi Fisik Biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik meliputi biaya personel. Perkiraan besarnya biaya penyuluhan dan sosialisasi didasarkan atas : 1) Jumlah dan frekwensi kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. c. 2) Jumlah peserta kegiatan. e. Perkiraan besarnya biaya musyawarah dengan masyarakat didasarkan atas: 1) Jumlah dan frekwensi rapat/musyawarah. Biaya Penyuluhan dan Sosialisasi.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4) Harga satuan untuk jenis transportasi dan per diem allowance. biaya koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait serta biaya untuk pembuatan laporan. 5. d. khususnya untuk mendapatkan kesepakatan tentang jenis dan besaran nilai ganti rugi tanah. serta honorarium untuk panitia pengadaan tanah. biaya perjalanan. pembuatan dan pengadaan materi penyuluhan/sosialisasi. biaya pengukuran dan analisis laboratorium. 2) Jumlah peserta rapat. bangunan dan tanaman. Biaya Musyawarah Komponen biaya musyawarah dengan masyarakat mencakup biaya rapat. serta biaya administrasi lainnya. biaya menangani dampak yang timbul. mencakup biaya pelaksanaan kegiatan. 37 . lokasi dan sistem pemukiman kembali penduduk sesuai dengan hasil musyawarah. Komponen biaya penyuluhan dan sosialisasi yang terkait dengan kegiatan pengadaan tanah. Biaya Kompensasi dan Pemukiman Kembali Komponen biaya kompensasi dan pemukiman kembali penduduk dalam kegiatan pengadaan tanah mencakup jenis dan jumlah kompensasi yang diberikan kepada masyarakat terkena dampak.3.

jenis dan kualifikasi tenaga ahli yang dipakai. 2) Lamanya perjalanan untuk setiap kegiatan. serta pengadaan bahan dan peralatan untuk mengendalikan dampak termasuk pengoperasiannya. Komponen biaya pengukuran dan analisis laboratorium untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup yang terkena dampak. Biaya Pengukuran dan Analisis Laboratorium. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi sosial masyarakat. Komponen biaya penanganan dampak ditentukan oleh jenis dampak yang ditangani dan metode penanganannya. c. serta metode pengelolaan lingkungan hidup yang dipergunakan. 3) Harga satuan upah (billing rate). baik jenis transportasi maupun perdiem allowance. Komponen biaya perjalanan bagi tenaga ahli dan petugas mencakup biaya untuk melakukan survai dan pengamatan kondisi lingkungan hidup yang dikelola. Komponen biaya personel mencakup gaji upah dan honorarium tenaga ahli dan petugas yang melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. b. Biaya Perjalanan. didasarkan atas: 1) Tujuan dan frekwensi perjalanan. meliputi pemasangan bangunan/struktur pengendali dampak. dan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait di lokasi kegiatan. antara lain: 38 . 4) Harga satuan. Jumlah tenaga ahli dan petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ditentukan oleh jenis dan besaran dampak yang dikelola. Biaya Penanganan Dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN a. d. perbaikan prasarana umum atau kondisi lingkungan hidup yang rusak. Perkiraan besarnya biaya perjalanan. Perkiraan besarnya biaya personel didasarkan atas: 1) Jumlah. 2) Waktu pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Biaya Personel. 3) Jenis transportasi yang dipakai.

honorarium pakar yang diundang. dan sebagainya. biaya untuk menangani dampak. 2) Pengukuran dan analisis kualitas udara dan kebisingan. Biaya Penyusunan Laporan Komponen biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan meliputi biaya penggandaan. penjilidan. 3) Pengukuran dan analisis biota air. Pada prinsipnya komponen biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan.4. biaya perjalanan. Perkiraan besarnya biaya pengukuran dan analisis laboratorium ditentukan oleh: 1) Jumlah dan jenis sample yang diukur dan dianalisis. serta biaya penyusunan laporan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 2) Lokasi kegiatan. sama dengan komponen biaya untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan pada pelaksanaan konstruksi fisik. sehingga pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup juga harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Hal yang membedakan adalah sifat dampak yang timbul pada umumnya menerus dan berkesinambungan. 39 . dan penyampaian laporan kepada para pihak yang terkait. e. 3) Harga satuan analisis sampel. biaya pengukuran dan analisis laboratorium.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pengukuran dan analisis kualitas air. f. yang meliputi biaya personel. biaya konsultasi dan koordinasi. Biaya Konsultasi dan Koordinasi. 5. dan mempergunakan anggaran rutin. mencakup biaya rapat konsultasi. Komponen biaya konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.

5. seperti melalui proses penyusunan DUP. Pemeran utama pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. 40 . Sedangkan biaya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan diintegrasikan dalam biaya rutin pengoperasian dan pemeliharaan prasarana jalan. maka dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan diperlukan adanya koordinasi yang baik antar instansi yang terkait di bidang pembangunan prasarana jalan. DIP dan sebagainya. Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. Penyelenggaraan proyek pembangunan prasarana jalan pada umumnya dilaksanakan oleh beberapa unit kerja pada berbagai tingkat organisasi pemerintahan. perlu diperhatikan apakah pelaksanaannya dilakukan oleh pihak ketiga atau secara swakelola. Pengajuan Usulan Biaya.1. Untuk mencapai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang efektif dan efisien. 6. harus mengikuti tata cara pengajuan usulan biaya pembangunan prasarana jalan yang baku. sehingga ia mempunyai tanggung jawab pula dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. baik tingkat pusat. masing-masing harus diintegrasikan atau disisipkan dalam biaya pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi fisik. Koordinasi Pelaksanaan 6. Dalam mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. propinsi maupun tingkat kabupaten/kota. maka pengajuan usulan biaya pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana Jalan. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan adalah instansi pelaksana atau penyelenggara pembangunan prasarana jalan. baik vertikal maupun horizontal. Mengingat kegiatan pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelaksanaan pembangunan prasarana jalan. antara lain: a. Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. karena sistem ini dapat mempengaruhi sistem administrasi keuangannya.

3) Dinas PU atau Dinas Prasarana Wilayah di tingkat pemerintah provinsi atau kota/kabupaten. antara lain BP2D. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. maka Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan pembangunan prasarana jalan pada umumnya dapat berupa : 1) Para Pemimpin proyek atau Pemimpin Bagian Proyek pembangunan prasarana jalan. Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) merupakan instansi yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan di daerah yang dilakukan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. baik Bappeda tingkat propinsi maupun Bappeda kabupaten/kota. 2) P ara P em i m pi n “P roject M an ag em en t U n i t” – P M U atau “P roject Im p l em en tati on U n i t” – PIU bidang jalan di tingkat pemerintah pusat. antara lain meliputi: 1) Memasukan pertimbangan pengelolaan lingkungan hidup dalam mempersiapkan dokumen tender. baik pada gambar kerja maupun pada spesifikasi teknis pekerjaan. maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. Tugas pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan oleh Bappeda. b.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Sesuai dengan jenis dan sifat proyek prasarana jalan. sosialisasi kegiatan dan musyawarah dengan masyarakat terkena dampak. propinsi atau kota/kabupaten. 2) Melakukan penyuluhan. meliputi: 1) Melakukan koordinasi perencanaan pembangunan antar sektor. baik di tingkat pemerintah pusat. provinsi atau kota/kabupaten. baik pada kegiatan pengadaan tanah. pelaksanaan konstruksi fisik. 3) Melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani dampak-dampak yang timbul. Bappeda. Termasuk dalam kelompok Bappeda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. 41 .

7) Melakukan dihasilkan. 4) Menjabarkan norma. 2) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapelda/BPLHD). 2) Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. c. pemanfaatan kabupaten/kota. Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) merupakan instansi yang berperan dalam melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Masyarakat Masyarakat. antara lain: 1) Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan serta referensi yang diperlukan. 6) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk penerapan NSPM tersebut diatas. pedoman dan manual (NSPM) yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ke dalam peraturan perundangan daerah. d. 3) Dinas/Kantor Lingkungan Hidup Daerah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Melakukan 3) Melakukan koordinasi pengendalian penataan ruang ruang wilayah wilayah propinsi. propinsi. 5) Menjabarkan NSPM secara lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah. evaluasi terhadap kinerja penerapan NSPM yang 42 . baik perorangan maupun kelompok/organisasi masyarakat yang berkepentingan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Termasuk dalam kelompok Bapedalda adalah instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi seperti tersebut diatas. serta organisasi yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup. Tugas pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. antara lain : 1) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) propinsi. kabupaten/kota. Bapedalda. kabupaten/kota. standar.

3) Mengawasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan yang timbul. 2) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dalam kaitannya dengan pembangunan prasarana jalan yang melewati atau berbatasan dengan kawasan hutan. dalam kaitannya dengan permasalahan transportasi dalam pembangunan prasarana jalan. 5) Dinas Kehutanan Daerah tingkat propinsi. antara lain: 1) Memberi masukan. yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. kabupaten/kota. kabupaten/kota. 6) Dinas Perhubungan Daerah tingkat propinsi. 4) Berpartisipasi dalam pengendalian lingkungan termasuk sosial ekonomi budaya. dalam hal ini merupakan instansi atau para pihak selain dari keempat kelompok tersebut di atas. e. lembaga swadaya masyarakat. Peran masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini. 43 Pertanahan Daerah tingkat propinsi. kabupaten/kota. tanggapan dan koreksi terhadap rencana kegiatan pembangunan prasarana jalan. Termasuk dalam kelompok masyarakat ini adalah masyarakat yang terkena dampak kegiatan. serta masyarakat pemerhati lingkungan. seperti: 1) Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor kegiatan pengadaan tanah. Instansi terkait lainnya. tokoh dan pemuka masyarakat. Instansi Terkait. Peran instansi terkait tersebut dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara lain: 1) Memberikan masukan dan tanggapan terhadap rencana kegiatan dan rencana pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dalam kaitannya dengan .PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN pengendalian kerusakan lingkungan hidup atau pencemaran lingkungan hidup.

Pelaksanaan Koordinasi. hidup bidang jalan. : Koordinasi pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial budaya masyarakat. Kegiatan ini dilakukan setelah perencanaan teknis selesai dan dokumen LARAP telah disetujui sebagai dokumen kegiatan pengadaan lahan dan pemukiman kembali penduduk (bila ada). 6. seperti tercantum dalam Lampiran 6.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2) Berperanserta lingkungan secara aktif dalam melaksanakan dengan pengelolaan tugas pokok. a) Membuat jadwal yang rencana tindak dari penanganan dokumen masyarakat perencanaan terasing/adat dijabarkan penanganan masyarakat terasing. b) Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing. Penanganan Masyarakat Terasing/Adat. Rumusan tugas instansi terkait tersebut di atas dalam rangka koordinasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan. dan 6.1. 44 .2 3) Lampiran 6. sesuai wewenang dan fungsinya. perbaikan permukiman tradisional dan sebagainya. : Koordinasi pelaksanaan konstruksi fisik.1 2) Lampiran6.3 : Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengadaan tanah. bangunan dan tanaman. Bagan Alur Koordinasi Pelaksanaan.3. f.2. 6. program sehingga penanganan sedemikian pembangunan prasarana jalan di daerah tersebut mendapat dukungan serta dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. dapat digambarkan dalam bentuk bagan alir. a. dimana: 1) Lampiran 6.2. Langkah penanganan masyarakat terasing/adat dan peran masingmasing para pelaku adalah sebagai berikut: 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. masyarakat dengan terasing sasaran tercapainya rupa. yang mencakup kompensasi tanah.

Melakukan monitoring dan koordinasi pelaksanaan penanganan masyarakat terasing/adat. Kegiatan ini dilakukan setelah kontraktor pelaksana ditunjuk. b. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif ataupun bersifat pasif. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 5) Instansi Terkait. 2) Bapedalda. 4) Masyarakat. dan bersama Pengelola Kegiatan telah menyiapkan sosial rencana detail pelaksanaan konstruksi. Melakukan monitoring pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. atau bersifat pasif dengan menerima laporan dari pemrakarsa. 3) Bappeda. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal kegiatan. agar tidak terpengaruh dan atau terganggu oleh masyarakat pendatang. sebagai acuan untuk kegiatan monitoring. Pelaksanaan monitoring tersebut dapat bersifat aktif dengan melakukan pengamatan lapangan. seperti misalnya Dinas Sosial membantu dalam hal kegiatan pendampingan mengenai aspek-aspek sosial budaya.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN c) Membuat laporan pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. terutama kesesuaiannya dengan kesepakatan dan jadwal pelaksanaan. dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan penanganan masyarakat terasing. Rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Ekonomi. Langkah-langkah terasing/adat berikut: kegiatan rehabilitasi ekonomi masyarakat dan peran masing-masing para pelaku adalah sebagai 45 . Bersama-sama dengan LSM dan/atau lembaga adat.

Bapedalda. Masyarakat dan Instansi terkait lainnya. dan memberi masukan tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pada pasca penanganan masyarakat terasing. d) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat Bapedalda. c) Melaksanakan program rehabilitasi sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. dan upacara adat yang harus dihormati. 46 terasing. b) Melakukan konsultasi dan persiapan kegiatan rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat. dan dengan mempertimbangkan masukan dari Bappeda.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 1) Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan. 2) Bapedalda. Ruang lingkup konsultasi tersebut mencakup hal-hal yang berhubungan dengan penyuluhan kepada pekerja proyek tentang hal-hal yang tabu di lokasi tersebut. a) Memberi masukan tentang program sejenis dari instansi lain yang dapat dikoordinasikan pelaksanaannya b) Membantu dalam hal koordinasi dengan instansi terkait. 4) Masyarakat. yang terdapat dalam dokumen penanganan masyarakat terasing/adat. a) Memberi masukan tentang hasil monitoring dan indikator keberhasilan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing yang efektif b) Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. a) Mempelajari rencana rehabilitasi sosial ekonomi. a) Melaksanakan rehabilitasi sosial ekonomi. 3) Bappeda. Koordinasi pelaksanaan tersebut dilakukan sesuai dengan pedoman dan petunjuk teknis yang ada. apabila ada program sejenis sehingga dapat disinergikan. dengan mempertimbangkan hasil-hasil monitoring dan koordinasi yang dilakukan oleh Bappeda dan .

Penyiapan Dokumen Tender.2. Pada prinsipnya dokumen tender yang disiapkan oleh Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan harus sudah mencantumkan ketentuan yang jelas dan rinci tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana. dilengkapi dengan hasil kesepakatan dan daftar peserta rapat.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN b) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat terasing/adat.1. 2) Berita acara kegiatan musyawarah dengan masyarakat dalam menentukan besarnya nilai ganti rugi/kompensasi kepada masyarakat terkena dampak. Ketentuan tersebut harus menyatakan perintah atau instruksi apa yang harus dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan rumusan yang jelas agar tidak terjadi salah pengertian dan terdokumentasi dengan baik. seperti Dinas Sosial memberi masukan tentang alternatif pola rehabilitasi masyarakat terasing serta membantu menjadi pengawas lapangan. 7. Kegiatan Pengadaan Tanah. Dokumen 1) pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup untuk kegiatan pengadaan tanah ini antara lain meliputi: Berita acara kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan kepada masyarakat. dilengkapi dengan materi penyuluhan dan sosialisasi. sesuai dengan hasil musyawarah. sehingga mudah ditelusuri. sesuai dengan hasil RKL/RPL atau UKL/UPL. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pengadaan tanah harus terdokumentasi dengan tertib dan teratur. apabila ada permasalahan di kemudian hari. Membantu sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. 5) Instansi Terkait. 47 . 7. Dokumentasi dan Pelaporan 7. daftar hadir dan kesimpulan hasil kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kegiatan.

dan foto dokumentasi/visual mengenai kondisi lingkungan hidup tersebut. 4) Laporan pelaksanaan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait dan masyarakat. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan konstruksi fisik dan kegiatan operasi dan pemeliharaan harus terdokumentasi dengan baik. tata cara penanganan dan hasil yang dicapai. tertib dan teratur. 2) Laporan pengendalian kerusakan lingkungan hidup. dilengkapi dengan tata cara pengendalian dan datadata kualitas air dan atau kualitas udara. 48 . dilengkapi dengan upaya pendekatan. dilengkapi dengan tata 3) cara pengendalian kerusakan lingkungan hidup. dan atau pengendalian pencemaran udara. bila terjadi permasalahan di kemudian hari. Laporan penanganan masalah atau aspek-aspek sosial ekonomi budaya masyarakat. sehingga mudah ditelusuri kembali.3. Pelaksanaan Konstruksi Fisik serta Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. dilengkapi dengan masalah lingkungan hidup yang dibahas.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. Dokumen pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini antara lain meliputi: 1) Laporan pengendalian pencemaran air. kesepakatan yang dicapai dan tindak turun tangan.

kegiatan pengadaan tanah. 2. Pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup tersebut mencakup identifikasi komponen kegiatan pembangunan prasarana jalan yang berpotensi menimbulkan dampak. serta upaya penanganannya dengan mempergunakan pendekatan preventif. berupa tindakan pencegahan atau menghindari timbulnya dampak. arahan dan penjelasan kepada para pihak terkait mengenai pertimbangan aspek-aspek pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan. maka implementasinya harus terintegrasi sepenuhnya dalam manajemen pelaksanaan proyek. Agar sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini sesuai dengan yang diharapkan. yang memberikan petunjuk. Seperti telah dikemukakan pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini merupakan satu dari berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENUTUP 1. Untuk itu koordinasi antar instansi atau para pihak yang terkait. 3. Dalam upaya mewujudkan pembangunan prasarana jalan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. mengurangi atau memperkecil besaran dampak yang timbul. pelaksanaan konstruksi fisik serta kegiatan operasi dan pemeliharaan. identifikasi dampak lingkungan yang timbul. maka pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini harus dipergunakan secara konsekwen bersama-sama dengan berbagai pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan lainnya. kuratif dan kompensatif. mutlak diperlukan dan peran Pemrakarsa atau Pengelola Kegiatan dalam menginisiasi pelaksanaan koordinasi sangat menentukan keberhasilan koordinasi. 49 . khususnya dalam penyiapan dokumen tender. 4. serta menanggulangi atau mengendalikan dampak-dampak yang masih terjadi.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. sistem dokumentasi dan pelaporan yang baik. tertib dan teratur. 50 . Pencapaian sasaran dari pedoman pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup ini sangat ditunjang oleh kesiapan pembiayaan yang diperlukan. serta yang lebih utama adalah tersedianya sumber daya manusia dengan kapasitas dan kapabilitas yang memadai dan mempunyai kesadaran terhadap terwujudnya penyelenggaraan pembangunan prasarana jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Penerapan Aspek-aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Setiap Tahapan Proyek Prasarana Jalan Evaluasi kinerja pengelolaan lingkungan dan masukan kebijakan peningkatan kinerja masa datang PERENCANAAN UMUM Pelingkupan isu isu lingkungan yang perlu dikaji lebih detail dalam ANDAL atau kajian lingkungan Tata cara implementasi mitigasi dampak. alat konstruksi dan tata cara pelaksanaan konstruksi serta pengawasan termasuk mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi PENGADAAN TANAH DAN PEMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK Implementasi tata cara pengadaan tanah. pematangan lahan untuk konstruksi 1 . Kep. pemberian kompensasi.Bapedal056/1994) EVALUASI PASCA PROYEK PRA STUDI KELAYAKAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN (O&P) Analisis besaran dan pentingnya isu isu lingkungan serta biaya lingkungan dalam studi kelayakan STUDI KELAYAKAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI Rumusan kriteria dan spesifikasi serta tata cara pengadaan lahan maupun pelaksanaan konstruksi DETAIL DISAIN Aplikasi spesifikasi bahan. monitoring dan evaluasi dampak lingkungan selama masa O & P Penyaringan AMDAL berdasarkan faktor dampak penting dan lokasi/ koridor jalan (ref.

dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan 2 . ayat (3) Biaya pembinaan pelaksanaan hidup dan rencana rencana pengelolaan lingkungan pemantauan lingkungan hidup. 2.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Ketentuan Tentang Kewajiban Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan No. masyarakat serta pelaku pembangunan lain. 23 tahun 1997. tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. ayat (1) Dalam rangka pelaksanaan sebagian pengelolaan dapat kepada rumah lingkungan menyerahkan Pemerintah tangganya. yang menjadi bagian dari ijin. Uraian 1. ayat (2) Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pasal 13. Pasal 9. 1. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemerintah urusan urusan menjadi Instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan pelaksanaan melakukan pengelolaan pembinaan dan teknis pemantauan lingkungan hidup. Daerah. Pasal 28. 2. 27 tahun 1999. B Peraturan Pemerintah No. Pasal 38. A Peraturan Perundangan Undang-undang No. ayat (2) hidup.

1 Dokumen Tender Standar (LCB) Bab III: Syarat – syarat Kontrak A. Pemantauan lingkungan hidup adalah upaya memantau komponen lingkungan hidup yang terkena dampak. kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada instansi yang berwenang untuk proses tindak lanjut. 19. akibat pelaksanaan pekerjaan. Gambar kerja untuk menangani dampak yang timbul. Masing-masing komponen pekerjaan yang dikemukakan pada Bab Spesifikasi. Bab VII Gambar – Gambar 3 . Keselamatan 2 Bab V: Spesifikasi 3 Bab VI: Daftar Kuantitas 4.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pencantuman Aspek – Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Pada Dokumen Tender No. 19. Umum 1. dicantumkan tata cara pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. akibat pelaksanaan pekerjaan. Bila dalam pelaksanaan pekerjaan secara tidak sengaja ditemukan benda cagar budaya. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kegiatan penanganan dampak lingkungan hidup yang timbul. Untuk masing-masing komponen pekerjaan.1 Keselamatan dan penanganan dampak. Definisi Usulan Penambahan Ketentuan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang timbul. dicantumkan klausul kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dan biaya yang diperlukan (bila ada). akibat pelaksanaan pekerjaan.

dan prasarana umum. tetapi tanah masih digunakan oleh pemegang hak. 3 Hak Guna Bangunan 80% 60% 4 Hak Pakai 100% 70% 50% 5 Wakaf 100% Sumber: Permenneg Agraria / Ka BPN No. bangunan. tetapi masih digunakan oleh pemegangnya. Jika hak pakai sampai 10 tahun. Jika masa berlakunya tidak terbatas dan tanah masih digunakan. Jika haknya telah kadaluarsa. Dengan ketentuan bahwa kompensasi diberikan dalam bentuk tanah.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Kriteria Kompensasi Penggantian Tanah dan Bangunan No. 1 tahun 1994 4 . 1 2 Kategori Kepemilikan Hak Milik Hak Guna Usaha Besarnya Penggantian 100% 90% 80% 60% Keterangan Apabila disertai bukti sertifikat Apabila tanpa disertai sertifikat Jika haknya masih berlaku dan terkelola dengan baik Jika telah kadaluarsa tetapi masih terkelola dengan baik Jika haknya masih berlaku Jika haknya kadaluarsa.

Camat. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Warga desa dapat bertanya dan memberi opini mengenai proyek dan hasilnya 2 Sensus Garis Batas Penduduk yang potensial terkena dampak (langsung dan tidak langsung) Peneliti Survey. 1 Langkah – langkah Proses Konsultasi Publik Penyuluhan Rencana Proyek Jalan Target Populasi Warga desa yang akan terkena dampak Institusi Yang Terlibat Pimpro/ Pimbagpro. Pimpro dan Pimbagpro. Tujuan untuk memilih wakil sample peduduk yang akan terkena dampak untuk diwawancarai mengenai kondisi sosial ekonomi mereka. Tujuan untuk mendiskusikan rencana proyek jalan dengan warga desa/ elurahan. Warga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan Tujuan untuk menentukkan siapa yang akan terkena dampak dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi / ganti rugi. Lurah. Keterangan Tujuan untuk menginformasikan kepada warga desa mengenai rencana proyek jalan. Camat / Lurah. penduduk kelurahan/desa yang terkena dampak. 5 . LKMD.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Pedoman Pelaksanaan Partisipasi Dan Konsultasi Masyarakat Dalam Kegiatan Pengadaan Tanah No. PMD. LKMD. Lurah. LKMD Peneliti mengadakan suatu survey lengkap yang mencakup seluruh penduduk yang langsung atau tidak langsung akan terkena dampak. BPN Kota/Kab Implementasi Pihak Proyek menjelaskan mengenai proyek tsb dan dampaknya dalam suatu pertemuan dengan seluruh warga desa. Warga desa berkumpul di balai desa bersama aparat desa untuk membahas rencana proyek jalan. PMD. LKMD Peneliti melakukan suatu survey dengan sample secara bertingkat. 4 Konsultasi Publik (Musyawarah) mengenai rencana proyek jalan Warga desa yang terkena rencana proyek jalan. 3 Survei Sosial Ekonomi Sampel masyarakat yang potensial terkena dampak Peneliti Survey.

Camat / Lurah. Penduduk yang tergusur dan anggota masyarakat lainnya. 5 Inventarisasi Modal / Asset penduduk yang terkena dampak. 8 Musyawarah dan mufakat mengenai ganti rugi Warga desa yang terkena dampak.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN secara tertulis ditanda tangani oleh aparat desa. Warga desa yang terkena rencana proyek jalan Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Ganti rugi harus disetujui oleh pihak yang terkena dampak. Tujuannya untuk bernegosiasi dengan pihak yang merasa bahwa penghitungan asset/modal mereka tidak akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan kembali. Pimpro/ Pimbagpro. Panitia Pembebasan Tanah akan menghitung asset/modal setiap penduduk yang terkena dampak. NGO. Pimpro/ Pimbagpro. Camat. BPN Propinsi. Musyawarah ini dapat terjadi beberapa kali sebelum mencapai kesepakatan dan dilakukan dibalai desa. LKMD. Panitia Pembebasan Tanah: Lurah. Tujuannya untuk mengungkapkan pendapat penduduk yang tergusur mengenai rencana permukiman kembali. Musyawarah ini merupakan tahap yang paling penting dan akan menentukan sukses atau gagalnya proyek. 9 Musyawarah dan mufakat mengenai rencana permukiman kembali. Semua modal/asset yang tekena dampak. LKMD. Dalam 6 Pengumuman inventarisasi hasil - Panitia Pembebasan Tanah. Semua modal/asset yang terkena dampak. 6 . Masyarakat diberi waktu selama satu bulan untuk menyatakan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. Hasilnya diposkan/dipasang di kantor desa 7 Musyawarah dan mufakat mengenai Inventarisasi Warga desa yang terkena dampak. Camat / Lurah. Musyawarah ini mungkin muncul selama diskusi dan kesepakatan ganti rugi atau dapat pula berjalan paralel. Camat. Panitia Pembebasan Tanah.

12 Pertemuan masyarakat mengenai pembayaran ganti rugi. Penduduk yang tergusur dan yang telah menseleksi lokasi permukiman. rumah di lokasi permukiman kembali. Tujuannya untuk menunjukkan kepada penduduk yang tergusur bahwa lokasi yang dimaksud layak untuk ditempati. Gubernur membuat keputusan menyetujui / menolak proyek. 10 Musyawarah dan mufakat mengenai kualitas permukiman kembali berserta fasilitasnya. - 11. telah memiliki fasilitas yang dijanjikan dan merupakan pilihan yang terbaik. misalnya kavling. Lurah/ Kepala Desa. Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai ganti rugi. Warga yang terkena dampak dipanggil untuk diberi ganti rugi oleh petugas Bank berupa uang kontan atau tabungan di Bank.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN musyawarah ini akan dibicarakan beberapa pilihan lokasi permukiman kembali. Camat atau Pimbagpro memimpin pertemuan. Pimbagpro bersama wakil dari penduduk yang tergusur mengunjungi lokasi permukiman kembali. Jika paket ganti rugi termasuk untuk permukiman kembali. 7 . Untuk Proyek Jalan ganti rugi biasanya dalam bentuk uang kontan. Pimbagpro. maka warga yang tergusur akan mendapat ganti rugi dalam bentuk lain. Masyarakat penerima ganti kerugian. - Panitia memberitahukan masalahnya kepada Gubernur.

Terganggunya jaringan utilitas umum (listrik. Terganggunya/hilangnya tempat suci. air bersih. Terganggunya keterikatan (basis) sosial ekonomi dengan lokasi asal. 2001 Terganggunya interaksi sosial. simbol atau tempat keramat lainnya. Terganggunya fasilitas pemerintah dan pusat kegiatan masyarakat lainnya. lahan lokasi komersial yang disewa atau 2 Bangunan  3 Matapencaharian pendapatan dan      Kehilangan pendapatan dari usaha / bisnis yang terkena dampak. Kehilangan akses ke tempat kerja. Kehilangan pendapatan dari upah/gaji. Kehilangan pendapatan dari sewa atau bagi hasil. 8 . pelayanan kesehatan.PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Jenis Dampak / Kerugian Akibat Kegiatan Pengadaan Tanah No. gas). kesenian. telepon. Kehilangan lahan aksesibilitas lokal. fasilitas peribadatan. pasar. Kehilangan bangunan fisik lainnya (gudang. telepon. Pemindahan ditempati. Terganggunya kegiatan pendidikan. lokasi cagar budaya. dll)    Kehilangan bangunan tempat usaha/bisnis dan fasilitas pendukungnya. olahraga. bangsal. dll). kuburan atau 4 Fasilitas Umum dan Cagar Budaya.     kawasan/tempat pemakaman umum. Terganggunya pola kehidupan dan perilaku budaya yang terinternalisasi pada lokasi asal. Kehilangan lahan pekarangan perumahan. air PDAM. 5 Aset sosial . Kehilangan pendapatan dari tanaman/pohon. Kehilangan rumah atau tempat tinggal termasuk fasilitas pendukungnya (sambungan listrik.budaya    Sumber : SESIM. Kehilangan lahan pekarangan tempat usaha/bisnis. 1 Jenis Komponen / Aset Lahan / Tanah     Jenis Dampak/Kerugian Kehilangan lahan pertanian. bangunan MCK.

........ (6) Membuat Laporan Pelaksanaan Penanganan Masyarakat Terasing . perbaikan permukiman tradisional.. lembaga adat . Termasuk LSM......... 4).. Mencakup kompensasi lahan dan bangunan.....(5) Membantu sesuai keterkaitannya misal : Dinas Dik-Bud dan Dinas Sosial membantu dalam pelaksanaannya dilapangan .. rehabilitasi konservasi situs dll.....(2) Melakukan monitoring … … (3) Melakukan monitoring dan koordinasi … … (4) Berpartisipasi dalam pelaksanaan program … … . 6) Termasuk kegiatan pendampingan dalam aspek sosial – ekonomi 7) Untuk digunakan sebagai acuan monotoring Melaksanakan program penanganan masyarakat terasing ....... 5).(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1)...(7) .....BAGAN PELAKSANAAN PENANGANAN MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail Rencana Tindak penanganan masy terasing.. 3)..… ..... Dijabarkan dari Dokumen yang telah disetujui 2)... dll... Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara pasip (menerima laporan) atau aktip (kelapangan).

6). Melalui forum rapat atau metode lainnya 7) Yang telah disesuaikan terhadap masukan konsultasi 8) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada Sesuai tupoksi 9) Melaksanakan Program R ehabilitasi … … … (7) Melakukan monitoring … … … . (11) 10) Program yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman dan atau petunjuk teknis yang telah ada 12) Sebagai bahan monitoring Membuat Laporan Pelaksanaan Program Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat … … . 4).BAGAN PELAKSANAAN REHABILITASI EKONOMI MASYARAKAT TERASING PEMRAKARSA Mempelajari rencana rehab ekonomi bagi m asy. 5). Dapat dilakukan pada tahap sebelumnya 2) Melakukan konsultasi dan persiapan Rehabilitasi Ekonomi bagi masyarakat terasing … … … … (2) Memberi masukan ttg. terasing … … .. (6) 3). misal Dinas Sosial memberi masukan tentang alt pola rehabilitasi … … .(3) Memberi masukan program dari sektor lain yg dapat dikoordinasikan … … (4) Melaksanakan persiapan rehab & memberi masukan tentang kesulitan pasca penanganan masyarakat terasing … … (5) Membantu sesuai keterkaitannya. (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA 1) KETERANGAN Diambil dari laporan LARAP untuk masyarakat terasing..(12) .(8) Melakukan Koordinasi dengan Instansi Terkait … … … … … … … … … ..(9) Menerima dan melaksanakan program R ehabilitasi… … … (10) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya mis: Dinas Sosial sebagai Pengawas Lapangan.. Monitoring dan indikator keberhasilan program Rehabilitasi yg efektif … .

.

Melakukan konsultasi renc. kegiatan konstruksi .(6) Melakukan monitoring . kecemburuan penduduk di lokasi pemukiman kembali 15) Termasuk bantuan pendampingan secara mental-spiritual 16) Yang telah disesuaikan terhadap konsultasi 17) 18) Sesuai tugas pokoknya 19) Sesuai kesepakatan 20) Termasuk bantuan pendampingan secara teknis 21) Sebagai acuan evaluasi.(bila ada) … … . konstruksi (10) Melakukan konsultasi dan persiapan rehab.BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN KONSTRUKSI FISIK PEMRAKARSA Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi . (1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Mengacu pada kontrak pekerjaan jalan dan pada dokumen LARAP 2) Setelah menyiapkan rencana detail kegiatan konstruksi serta jadwal terutama kegiatan yang dapat mengganggu publik 3) Termasuk briefing kepada para pekerja luar tentang adat istiadat setempat 4) Misalnya: dengan DLLAJ & POLRI untuk mengurangi kemacetan.. dengan PLN. desain & rekomendasi pengelolaan lingkungan 6) 7) Sesuai tugas pokoknya 8) Perlu ada mekanisme penyampaian komplain 9) Termasuk masukan akan adanya penyimpangan dari yang telah disepakati 10) Sebagai acuan evaluasi 11) Didahului dengan penjelasan ttg kesepakatan dalam LARAP 12) Dijabarkan dari dokumen pengelolaan lingkungan dan LARAP 13) Termasuk pendanaan 14) Masukan juga meliputi kesulitan2 alih profesi.(12 ) Melakukan koordinasi keterpaduan program (13) Memahami dan mempersiapkan diri serta memberi masukan demi kelancaran p rog ram … (14) Membantu/melaksanakan sesuai keterkaitannya mis: briefing untuk persiapan training. (4) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan pencegahan dampak (5) Melakukan monitoring .(1 1) Memberi masukan tentang indikator m onito ring … .. tentang tujuan dan cara pemberdayaan ..(17) M elakukan m onito ring… ... pemberian fasilitas.(18 ) Membuat laporan pelaksanaan program rehabilitasi (bila ada). Telkom untuk mencegah kerusakan utilitas 5) Sesuai dok...(16) Melakukan monitoring .(8) Memberi masukan dan bekerja sama dalam kegiatan konstruksi sesuai keterkaitannya … . (20) .. PDAM. ekonomi masy. dll. termasuk keberadaan para pekerja .. (3) Memberi masukan lalu kesepakatan cara pelaksanaan pekerjaan sesuai keterkaitannya ..(21) Menerima dan melaksanakan program rehabilitasi … … (19) Membantu/melaksanaan sesuai keterkaitannya mis: pelaksanaantraining.(7) Memberi masukan apabila ada gan gguan … .. (2) Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan..(6) Menyusun laporan pelaks. (15) Melaksanakan program rehabilitasi (bila ada)..

.BAGAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA Mempelajari laporan2 pelaksanaan kegiatan konstruksi. (3) Memberi masukan terhadap kualitas koordinasi antar sektor & keterpaduan program (4) Memberi masukan aspek sosekbud masy. termasuk aspek warisan budaya . bekerja sama dg instansi terkait untuk memperbaiki penyimpangan2 . badan jalan untuk berdagang. ( 14) .l. (10) Memberi masukan kondisi sosekbud pasca kegiatan LARAP dan rehabilitasi.. (9) Menyusun laporan monitoring.. Melakukan monitoring sesuai RPL/UPL .(7) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1) Termasuk laporan pelaks. dll.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: indikator keberhasilan program rehabilitasi melakukan monitoring sesuai keterkaitannya (6) Konsultasi hasil monitoring. Berpartisipasi dalam menjaga tertib pemanfaatan jalan (11) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: apakah program pendampingan masih diperlukan. 11) Masukan dapat digunakan untuk merevisi program 12) Termasuk di lokasi pemukiman kembali 13) Mencakup tertib pemanfaatan jalan. (13) Memberi masukan dan mengambil tindakan yang diperlukan... adanya penyerobotan lahan damija. mis: koordinasi tertib pemanfaatan jalan. apakah ada konflik/ kesenjangan antar kelompok m asyarakat … .. terasing (bila ada) 2) Penyusunan konsep monitoring melibatkan berbagai disiplin ilmu 3) Monitoring termasuk aspek lingkungan selain sosekbud 4) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 5) Masukan dapat berupa informasi mengenai kesesuaian antara program dan pelaksanaan 6) Disamping memberi masukan juga dapat melakukan monitoring langsung 7) Yang dimaksud adalah apakah bagian2 jalan sudah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan apakah ada perubahan penggunaan lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang 8) Dapat dilakukan berkali-kali 9) Sesuai tugas pokoknya 10) Penyimpangan a.: trotoir untuk PKL (Pedagang Kaki Lima)... (8) Memberi masukan.... (12) Melakukan tindak lanjut...... LARAP dan rehabilitasi … .(2) Melakukan monitoring tertib pemanfaatan jalan dan bangunan pelengkapnya serta lahan sekitar jalan.... (terasing) khususnya yang terkena dampak..(1) Konsultasi rencana monitoring sosekbud pelaksanaan LARAP dan rehabilitasi.... penanganan masy. pengembangan lahan sesuai tata ruang. hasil LARAP dan rehabilitasi 14) Baik aspek teknis (jalan) maupun lingkungan dan sosekbud..

.

( 10) Melakukan Monitoring Pelaksanaan LARAP . Sesuai dengan yang tertera pada LARAP 11) Sesuai yang tertera pada dokumen LARAP dan daftar yang akan dimukimkan kembali 12) Baik instansi pusat dan daerah termasuk di lokasi pemukiman kembali penduduk.(9) Melaksanakan Kegiatan Pemukiman Kembali Penduduk (bila ada) .7) Sesuai Tupoksi dan dapat dilakukan secara aktif atau pasip 8) 9) Termasuk proses pensertifikatan 10)... (7) Menyerahkan Surat-surat kepemilikan lahan kepada pem rakarsa … … .(1) BAPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA Melaksanakan musyawarah dan mufakat......(8) Panitia Pengadaan Tanah membantu dalam penyelesaian proses adm inistrasi … … . Sesuai dg kesepakatan nilai ganti rugi 6).(5) Melakukan monitoring … … (6) Melakukan monitoring … . khususnya Panitia Pengadaan Tanah … … . Dijabarkan dari Dokumen LARAP yang telah ditetapkan 2) 3) 4) Dapat dilakukan berkali kali 5). (2) Berpartisipasi dalam proses musy. & kesepakatan dalam mufakat khususnya .. (11) Membantu pelaksanaan Koordinasi dengan instansi terkait … (12) Menerima Sertifikat Kepemilikan Kapling dan K artu P enduduk … ... (3) Melaksanakan Pembayaran Kompensasi untuk tanah dan asset diatasnya … … .(13 ) Membantu pelaksanaan sesuai keterkaitannya … (14) Membuat Laporan Pelaksanaan LARAP … … (15) .. (4) KETERANGAN 1).… ..BAGAN KOORDINASI PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA Membuat Jadwal Detail & konsultasi Pelaksanaan LA R A P … . 13) Sertifikat kepemilikan lahan dan bangunan 14) Dapat dikaitkan dengan program instansi terkait 15) Untuk digunakan sebagai acuan monitoring Berpartisipasi dalam proses musyawarah & m ufakat … … … .

.

Desa / Kelurahan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL I. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL  Panduan Konsultasi Masyarakat Dalam AMDAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 1 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Lampiran 6. II. REFERENSI  Keputusan Kepala Bapedal No. Dusun. IV. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup kegiatan sosialisasi kepada masyarakat di awal pembangunan proyek dan saat dimulainya mobilisasi tenaga kerja pendatang dari luar lokasi proyek. RW/RK. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi keresahan masyarakat di sekitar lokasi proyek yang mungkin terjadi baik konflik dengan pekerja proyek yang berasal dari sekitar lokasi proyek maupun dari luar lokasi proyek. III. baik selama pembangunan proyek (seperti kesempatan kerja dan kesempatan berniaga / memasok kebutuhan pekerja dan kebutuhan proyek) maupun setelah proyek selesai. seperti RT. atau agama yang secara informal diakui kepemimpinannya oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek. maupun karena perbedaan budaya (adat dan kebiasaan) antara pekerja pendatang dan masyarakat. adat. Konflik ini dapat terjadi karena kecemburuan masyarakat terhadap pekerja pendatang yang memperoleh kesempatan kerja lebih besar dibanding masyarakat setempat.  Tokoh Informal yang dimaksud adalah pemuka masyarakat. DEFINISI  Tokoh Formal yang dimaksud adalah kepala pemerintahan atau ketua masyarakat setempat.6 1.  Manfaat Proyek yang dimaksud adalah manfaat bagi yang dapat dinikmati masyarakat sekitar lokasi proyek.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Jadwal konstruksi / pembangunan proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL untuk pekerjaan tersebut.  Data kebutuhan tenaga kerja proyek  Data ketersediaan tenaga kerja di lokasi sekitar proyek. PIHAK TERKAIT  Tokoh Formal Masyarakat  Tokoh Informal Masyarakat  Direksi Proyek  Kontraktor VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 2 .

besaran. LSM) Materi:  Lokasi Proyek  Manfaat Proyek  Jadwal Konstruksi  Kebutuhan Tenaga Kerja  Dampak yang mungkin terjadi (jenis. kapan. durasi) Materi:  Disiplin/Perilaku  Ketrampilan SOSIALISASI RENCANA PROYEK MASIH TERJADI KERESAHAN/PENOLAKAN? Ya MUSYAWARAH Tidak MOBILISASI TENAGA KERJA PELATIHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT YANG DAPAT DILIBATKAN Materi:  Kultur & norma masyarakat sekitar lokasi PENGARAHAN KEPADA TENAGA KERJA SETEMPAT MASIH TERJADI KONFLIK ANTARA PEKERJA & MASYARAKAT? Tidak LANJUTKAN PEKERJAAN Ya MUSYAWARAH Melibatkan  Tenaga Kerja  Tokoh Masyarakat/Agama GAMBAR 1.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN PERSIAPAN MOBILISASI TENAGA KERJA KOORDINASI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DISEKITAR LOKASI PROYEK Melibatkan pihak-pihak terkait:  Tokoh Formal (Muspika)  Tokoh Informal (Tokoh Masyarakat. PROSEDUR PENANGANAN KERESAHAN DAN KECEMBURUAN SOSIAL PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 3 .

TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak kemacetan lalu lintas baik di sekitar lokasi proyek maupun lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 2. III. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. DEFINISI  Lokasi Proyek yang dimaksud adalah lokasi di sekitar konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 4 .26 Tahun 1985 tentang Jalan  Undang Undang No.  Direksi Proyek. yang dimaksud adalah lokasi di jalan umum yang sudah ada dan dimanfaatkan pengguna jalan yang mengalami kemacetan akibat kegiatan kendaraan kerja dari proyek jalan/jembatan.  Lokasi kemacetan pada jalan yang dilalui kendaraan kerja. REFERENSI  Undang Undang No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No. IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS I. II. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup seluruh tahapan konstruksi yang berpotensi menimbulkan dampak berupa kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh kegiatan pengangkutan dan pekerjaan konstruksi.

 Data / gambar geometrik jalan eksisting dan rencana proyek.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 5 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data volume lalu lintas sebelum pelaksanaan proyek di sekitar lokasi proyek dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan timbul kemacetan akibat kegiatan proyek.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara.  Rencana pengalihan rute selama proyek.  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.

2 PENUMPUKAN MATERIAL DILUAR BADAN JALAN PEMAGARAN/PENUTUPAN LOKASI/KERJA. PEMASANGAN RAMBU & LAMPU TANDA LOKASI PEKERJAAN 1 Rambu-rambu:  Sedang ada pekerjaan konstruksi (Gambar & Terikat) APAKAH KEMACETAN SUDAH TERATASI? belum Ya LANJUTKAN PEKERJAAN GAMBAR 2.1 dan 2.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KEGIATAN KETERANGAN INVENTARISASI KONDISI LALU LINTAS DISEKITAR LOKASI PROYEK DAN RUTE KENDARAAN PROYEK IDENTIFIKASI SELURUH KEGIATAN TAHAP KONSTRUKSI YANG BERDAMPAK KEMACETAN LALUI LINTAS Data yang diperlukan:  Alternatif pengalihan lalu lintas  Volume lalu lintas  Geometrik jalan Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI RUTE TRANSPORTASI KENDARAAN PROYEK? Tidak KEMACETAN TERJADI DILOKASI PROYEK Ya Ya Ya APA ADA KEMUNGKINAN PENGALIHAN RUTE Tidak APAKAH TERSEDIA LAHAN UNTUK PENAMBAHAN LAJUR LALU LINTAS Koordinasi dengan:  LLAJ  Polantas pada saat pengalihan & pengaturan lalu lintas Tidak PENGALIHAN RUTE MEMAKAI SEBAGIAN BADAN JALAN Ya MEMBUAT JALAN SEMENTARA UNTUK PENAMBAHAN LAJUR PEMASA NGAN RAMBU PENGALIH AN RUTE PENGATU RAN WAKTU KERJA PEMBUATAN JALAN KERJA UNTUK KENDARAAN PROYEK PENEMPAT AN PETUGAS PENGATUR Keterangan 1:  Gambar 2. PROSEDUR PENANGANAN KEMACETAN LALU LINTAS PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 6 .

5. Akhir Daerah Pekerjaan 10. 21. 26. 7. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 9. 15. 28. 3. 25. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 1. 23. Dialihkan kekiri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 24. 6. 27. 20. 17. 8. 4. 2. 100m di depan ada pengalihan jalan 11. 22. 18. 14. 19. 16. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 7 . 13. Dialihkan kek anan 12.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 2.2 Penempatan Rambu Lalu Lintas Selama Pekerjaan Konstruksi Jalan/Jembatan PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 8 .

 Ceceran oli / minyak yang dimaksud adalah pelumas atau bahan bakar yang digunakan di tempat produksi (Asphalt Mixing Plant) dan peralatan konstruksi.  Penumpukan barang/material yang dimaksud adalah tempat penyimpanan sementara material di sekitar lokasi proyek. lokasi penyimpanan atau penumpukan material. Pengangkutan Material d. yang diperlukan dalam PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 9 . RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menanggulangi dampak bila terjadi kecelakaan lalu lintas pada pengguna jalan di sekitar lokasi proyek. Pengoperasian Peralatan c.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 3. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS I. Pekerjaan Galian b. Penumpukan Barang/Material II. lampu) pengoperasian peralatan konstruksi.  Ceceran material yang dimaksud adalah tumpahan material proyek dari kendaraan pengangkut menuju atau dari lokasi proyek. III. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan dampak kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi pada pengguna jalan selama masa konstruksi. DEFINISI  Peralatan yang dimaksud adalah semua alat berat / peralatan konstruksi dan kendaraan kerja yang digunakan selama masa konstruksi. dan di jalan umum yang dilalui kendaraan kerja / pengangkut material dan peralatan proyek yang dapat disebabkan oleh kegiatan: a.  Alat bantu komunikasi dan visual yang dimaksud mencakup peralatan telekomunikasi dan visual (cermin. sebelum digunakan untuk konstruksi.

 Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. VI.3. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 10 .LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan V.  Rencana penempatan rambu / lampu pengatur lalu lintas sementara. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Unit lalu lintas dari Kepolisian setempat. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Daftar (gambar dan jenis) rambu lalu lintas yang digunakan selama pembangunan.  Kontraktor. IV. REFERENSI  Undang Undang No.  Direksi Proyek. seperti terlihat pada Gambar 3. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 11 .

36. 38. Penutup Jalan Penutup Jalur untuk Pengalihan Jalan Bendera untuk tanda hati-hati Tanda lalu lintas bentuk kerucut ditempatkan dengan jarak 75 cm Lampu (semua ukuran dalam mm) Untuk Tanda Tanda Lalu Lintas Menggunakan Plat Alumunium Semua Lapisan Refleksi Tebal 2 mm. 42. 51. 43. 300 M Didepan ada pekerjaan jalan Jalan Menyempit Jalan Menyempit Kekiri Jalan Menyempit Kekanan Kendaraan Bergantian Jalan Kekiri Jalan Kekanan Maximum Kecepatan 40Km/Jam (penempatannya disesuaikan dilapangan) 55. 32. 54. 31. 40. 53. 49. 46. Cat warna merah Cat warna kuning Cat warna merah/jingga Cat warna hijau Cat warna biru PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 12 . Dialihkan kek anan 35. 44. 100m di depan ada pengalihan jalan 57. 50. 52. 33. 37. 41. Dialihkan kek iri Membelok kekanan Membelok ke kiri Jaln satu arah Jalan dua arah Hati-hati Semua Jenis Kendaraan dilarang masuk Larangan masuk bagi kendaraan dengan berat maksimum 5 ton Dilarang mendahului Peringatan Pengurangan Kecepatan Tanda stop/jalan untuk mengatur lalu lintas Peringatan Adanya Pekerjaan/Perbaikan Jalan 30. 39.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN KETERANGAN: 47. Akhir Daerah Pekerjaan 56. 45. 34. 48.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 13 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN Gambar 3.3 : Hamparan batu pecah pembersih ban 3m 30-50 cm 50 m PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 14 .

II. III. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V.  Area sensitif yang dimaksud terdiri atas pemukiman. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak dari kebisingan atau getaran sebagai akibat aktivitas konstruksi. IV. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 15 . sekolah dan tempat ibadah di sekitar lokasi proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 4. dan secara teknis berpotensi untuk mengalami kerusakan akibat getaran dari aktivitas konstruksi.  Tumbuhan penahan kebisingan yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk meredam getaran dan kebisingan akibat aktivitas konstruksi.  Kontraktor.  Direksi Proyek. rumah sakit. PIHAK TERKAIT  Pemilik / penghuni / pengelola bangunan di sekitar lokasi proyek. DEFINISI  Bangunan di sekitar lokasi proyek yang dimaksud adalah bangunan eksisting yang sudah ada sebelum konstruksi dilaksanakan. dan pemancangan pondasi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap kebisingan dan getaran yang terjadi sebagai akibat pengoperasian alat berat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KEBISINGAN / GETARAN I. pengoperasian AMP.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. dan kondisi struktur bangunan di sekitar lokasi konstruksi. sebelum dan sesudah konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 16 .  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi jenis.  Inventarisasi lokasi area sensitif di sekitar lokasi konstruksi. jumlah.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 17 .

TUJUAN Prosedur ini bertujuan meminimalkan dampak penurunan kualitas udara sebagai konsekuensi kegiatan konstruksi yaitu pengoperasian AMP. II. pengangkutan material. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. disarankan yang mudah tumbuh dan berdaun lebat / banyak. III. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 18 .  Dust collector yang dimaksud adalah perangkat / alat penangkap / penyaring debu yang dipasang di tempat sumber penyebaran debu. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS UDARA (DEBU) I.  Penyiraman yang disetujui Direksi yang dimaksud adalah tindakan meminimalkan debu lepas pada material dengan penyiraman dengan air. DEFINISI  Tumbuhan pelindung yang dimaksud adalah tumbuhan yang ditanam untuk menahan penyebaran debu akibat aktivitas konstruksi. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas udara di lokasi konstruksi. pengelolaan quarry dan pekerjaan struktur perkerasan. pekerjaan tanah. selama tidak melampaui batas kadar air aggregat atau material yang diizinkan dalam desain.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 5. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. AMP dan sepanjang rute pengangkutan material. IV.  Kontraktor.

 Rencana pengangkutan material. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 19 . DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data teknis kadar air aggregat dan material yang diizinkan.  Dokumen AMDAL atau UKL/UPL pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 20 .

1.  Inventarisasi Lokasi Pekerjaan Tanah PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 21 . IV. II. serta longsoran akibat pekerjaan tanah (galian dan timbunan).  Turap dan jaring pengaman yang dimaksud adalah perkuatan dan pengaman sementara penahan longsoran di lereng timbunan di sekitar lokasi pekerjaaan tanah (galian dan timbunan).  Kontraktor. REFERENSI Peraturan Pemerintah No. I. VI. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 6. seperti terlihat pada Gambar 6. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air V. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak penurunan kualitas air (pencemaran air) dan pencemaran tanah akibat aktivitas konstruksi. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN PENURUNAN KUALITAS AIR & TANAH. untuk menjebak endapan kotoran supaya mudah dibersihkan secara berkala dan tidak terbawa ke saluran eksisting. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. limbah domestik. III. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi penurunan kualitas air dan pencemaran tanah akibat material konstruksi yang terbawa ke saluran drainase. DEFINISI  Bak penampung endapan dan saringan pada drainase yang dimaksud adalah bagian dari saluran drainase di lokasi proyek yang dibuat lebih rendah.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 22 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 23 . IV. DEFINISI  Drainase permukaan yang dimaksud adalah mekanisme drainase permukaan tanah yang ada pada kontur awal sebelum dilakukannya konstruksi. untuk menambah daya dukung konstruksi. STANDAR PENANGANAN GANGGUAN ALIRAN AIR RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi terhadap gangguan aliran air permukaan akibat kegiatan konstruksi jalan/jembatan yaitu tertahannya drainase permukaan akibat perubahan kontur permukaan selama masa konstruksi. selama diperlukan untuk dilalui kendaraan / peralatan konstruksi.  Kontraktor. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. II. PROSEDUR PERMUKAAN I. serta tertutupnya aliran air oleh bangunan sementara sehingga menimbulkan genangan air atau banjir. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan gangguan terhadap aliran air permukaan. ceceran sisa bongkaran pada badan air.  Sisa bongkaran yang dimaksud adalah hasil pembongkaran konstruksi lama di badan air yang dilakukan setelah konstruksi baru selesai. III.  Bangunan sementara yang dimaksud adalah tambahan bangunan/perkuatan pada jembatan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7. lereng. atau dinding penahan tanah.

jenis. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 24 .  Rencana (waktu.  Data kontur permukaan sebelum dan sesudah konstruksi. dan volume) pekerjaan pembongkaran sisa bangunan lama.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Potongan melintang saluran drainase.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 25 .

14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. REFERENSI  Undang Undang No. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN JALAN DAN JEMBATAN I. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 26 .1 IV. III. seperti terlihat pada Gambar 8.  Dinas Pekerjaan Umum setempat. DEFINISI  Beban berlebih yang dimaksud adalah beban akibat kendaraan pengangkut material dan peralatan yang lebih besar dari kekuatan konstruksi jalan dan jembatan pada rute yang akan dilalui. agar tidak terbawa dan mengotori ke jalan umum.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 8. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting di sekitar lokasi proyek maupun di rute yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan peralatan.  Direksi Proyek. II.  Kontraktor.26 1985 tentang Jalan  Undang Undang No. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup antisipasi kerusakan jalan dan jembatan eksisting akibat beban berlebih maupun ceceran material dari kendaraan pengangkut material. yang diberi tumpukan hamparan batu pecah untuk membersihkan roda kendaraan pengangkut material terhadap lumpur. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat.  Hamparan batu pecah yang dimaksud adalah lintasan kendaraan yang dibuat di lokasi penyimpanan / pengambilan material dan AMP. 13 Tahun 1980 tentang Jalan  Peraturan Pemerintah No.

 Rencana pengangkutan (rute kendaraan pengangkut. waktu. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi kekuatan jalan dan jembatan yang akan dilalui kendaraan proyek. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 27 . volume.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI. beban) material dan peralatan konstruksi.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 28 .

PROSEDUR STANDAR PENANGANAN KERUSAKAN/GANGGUAN TERHADAP UTILITAS I.  Perwakilan PLN setempat. Telkom setempat. listrik. telekomunikasi. dsb) yang berada di bawah tanah maupun di atas tanah.  Perwakilan pengelola utilitas eksisting lain di lokasi proyek. dsb).  Perwakilan PGN setempat. Pangkalan Udara. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. mobilisasi peralatan dan kegiatan konstruksi lainnya. DEFINISI  Utilitas yang dimaksud adalah semua prasarana umum (air. dan memiliki jaringan utilitas tersendiri yang dikelola oleh instansi tersebut (seperti Pelabuhan. pada lokasi kerja proyek. PIHAK TERKAIT  Dinas LLAJ / Perhubungan setempat. III.  Perwakilan PT.  Kawasan spesifik yang dimaksud adalah daerah tertentu yang dikelola secara khusus oleh suatu instansi / pihak. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 29 . Industri.  Pengelola kawasan spesifik setempat.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 9. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan atau gangguan terhadap fungsi utilitas yang telah ada di lokasi proyek. II. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup gangguan terhadap segala utilitas eksisting yang telah ada di lokasi kerja sebelum aktivitas galian. akibat pekerjaan galian. Stasiun Kereta Api. gas.  Perwakilan PDAM setempat. IV. Depo Bahan Bakar.

 Gambar potongan melintang konstruksi utilitas eksisting.  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. VI.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN  Perwakilan masyarakat sekitar lokasi.  Rencana kendaraan pengangkut dan jadwal pengangkutan. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Peta jaringan utilitas eksisting. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 30 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 31 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 32 .

 Pipa buangan air rembesan yang dimaksud adalah pipa yang ditempatkan pada tanah timbunan untuk mengalirkan air tanah agar tidak mengurangi daya dukung tanah di atas nya. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan dampak yang timbul karena ketidakstabilan lereng sebagai akibat kegiatan konstruksi. serta pekerjaan timbunan. DEFINISI  Peledakan yang dimaksud adalah metode penggalian tanah dengan memakai bahan amunisi / peledak yang ditanam di bawah permukaan tanah.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 10. REFERENSI  Strengthening of Environmental and Social Impact Management (SESIM).  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. dan berhubungan dengan sudut kemiringan maksimal yang dapat dilakukan di lapangan. III. jika metoda penggalian secara mekanis dengan alat berat dinilai secara teknis tidak efektif dan ekonomis. IV. untuk meningkatkan stabilitas lereng galian atau timbunan tersebut. 2001.  Galian/timbunan bertangga yang dimaksud adalah metoda penggalian dan timbunan dengan pembuatan teras horisontal setiap ketinggian timbunan atau galian tertentu. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup upaya antisipasi gangguan terhadap stabilitas lereng akibat pekerjaan galian baik secara mekanis maupun ledakan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN GANGGUAN STABILITAS LERENG I. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 33 . II.  Sudut geser dalam yang dimaksud adalah hasil penyelidikan tanah dan tes di laboratorium yang menunjukkan sudut geser yang terbentuk saat tes tekanan triaksial.

VI. PIHAK TERKAIT  Dinas Kimpraswil/Praswil/Bina Marga/ Prasarana Jalan setempat. jenis. jumlah) peledakan.  Kontraktor. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 34 .  Direksi Proyek. metode. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data geologi lokasi setempat (khusus untuk metode peledakan).  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut.  Dinas Geologi setempat.  Rencana (lokasi.  Gambar potongan melintang rencana galian dan timbunan.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN V.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 35 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN C L PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 36 .

 Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan top soil atau lapisan humus yang diperoleh dari pekerjaan pembersihan lahan di lokasi proyek dan lokasi quarry. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TOP SOIL I. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk memanfaatkan lapisan humus dari hasil pekerjaan pembersihan lahan atau pekerjaan tanah. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 37 . IV. VI. REFERENSI  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. II.  Kontraktor. PIHAK TERKAIT  Direksi Proyek. III.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 11. DEFINISI Top soil atau humus yang dimaksud adalah lapisan tanah paling atas yang mengandung zat hara bagi tanaman. agar dapat digunakan untuk mempercepat tumbuhnya vegetasi dalam rangka memberikan perlindungan lereng dan permukaan jalur hijau. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Inventarisasi luas dan kondisi lapisan top soil atau humus yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan di proyek. V.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 38 .

TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk melindungi keberadaan benda cagar budaya dari potensi kerusakan atau kehilangan sebagai dampak pelaksanaan konstruksi.  Situs yang dimaksud adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan V. II.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 12. termasuk lingkungannya yang bagi pengamanan. ilmu pengetahuan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN CAGAR BUDAYA / SITUS I. III.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup perlindungan terhadap benda cagar budaya.  Pemuka adat atau agama masyarakat setempat. dan situs. dan kebudayaan. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 39 . PIHAK TERKAIT  Dinas Pariwisata.  Pemerintah daerah setempat.  Direksi Proyek. benda yang diduga benda cagar budaya.  Kontraktor. yang terletak di lokasi sekitar proyek. yang dianggap mempunyai nilai penting sejarah. Perlindungan cagar budaya dan situs ini diharapkan dapat memajukan kebudayaan nasional Indonesia. dan Budaya setempat. Seni. DEFINISI  Benda cagar budaya yang dimaksud adalah benda alam atau benda buatan manusia yang sekurang-kurangnya berumur 50 tahun. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. IV. REFERENSI  Undang-undang No.

dan Budaya setempat. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 40 .  Dokumen AMDAL atau UKL– UPL untuk pekerjaan tersebut. Seni. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Data inventarisasi cagar budaya atau situs dari Dinas Pariwisata.LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN VI.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 41 .

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 13. VI. II. DEFINISI Flora dan fauna yang dilindungi yang dimaksud adalah flora dan fauna yang jumlah / populasinya dinilai langka atau terancam punah dan tidak ditemukan keberadaannya di tempat lain. PROSEDUR STANDAR PENANGANAN TERGANGGUNYA FLORA / FAUNA I. REFERENSI  Keputusan Presiden No.  Daftar flora dan fauna yang dilindungi PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 42 . IV. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup penanganan flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di area proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terganggu oleh adanya kegiatan proyek. TUJUAN Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan pengurangan jenis dan populasi flora dan fauna di lokasi proyek dan sekitarnya.  Direksi Proyek. V. III. 27 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.  Kontraktor.  Dokumen Kontrak Pekerjaan Jalan/Jembatan Yang Bersangkutan. DAFTAR PERIKSA / DOKUMEN TERKAIT  Dokumen AMDAL atau UKL – UPL untuk pekerjaan tersebut. PIHAK TERKAIT  Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian setempat.

LAMPIRAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PROSEDUR STANDAR PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAN JEMBATAN 43 .

PEDOMAN 013/PW/2004 Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan Buku 4 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA WILAYAH .

yang dilaksanakan dengan bantuan konsultan. Buku 3 : Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. yaitu: Buku 1 : Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Buku pedoman ini merupakan salah satu bagian dari kumpulan pedoman pengelolaan lingkungan Hidup Bidang Jalan yang sedang disusun. produk Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan melalui Proyek SESIM (Strengthening of Environmental and Sosial Impact Management). b) Manual Manajemen Lingkungan Jalan Perkotaan. Jakarta. yang terdiri dari empat buku. Penyusunan pedoman ini mengacu pada peraturan dan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain yang terkait. Buku 4 : Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. November 2003 i . Ditjen Prasarana Wilayah. produk Ditjen Bina Marga melalui Proyek ISEM (Institutional Strengthening of Environmental Management). Departemen Kimpraswil. Buku 2 : Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Substansi pedoman mengacu dan merupakan pemutakhiran dari dokumen-dokumen yang telah ada antara lain: a) Sistem Manajemen Lingkungan Proyek Jalan. c) Pedoman Pemantauan Lingkungan Bagi Tim Supervisi yang disusun oleh Subdit Bina Lingkungan Prasarana.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PRAKATA Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disusun oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui Proyek Pembinaan Manajemen Lingkungan Prasarana Wilayah.

c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya. Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk: a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek telah dilaksanakan atau belum. Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran. b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat kegiatan pembangunan tersebut. Secara garis besar. sehingga terwujud proses pembangunan jalan dan jembatan yang berwawasan lingkungan. khususnya bila sudah diperdakan. ii . dan e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek. namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat. c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional. isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan: a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan.PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN PENDAHULUAN Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta peraturan-peraturan lain terkait yang berlaku. dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan.

..1 D oku m en tasi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . D aftar Isi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .2 In stan si p en g aw as p el aksan aan p em an tau an … … … … … … … … … 6.9 B aku m utu l i n g ku n gan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 5 D oku m en tasi d an p el aporan .3 In stan si p en eri mal ap oran h asi l p em an tau an … … … … … … … … … 7 P em b i ayaan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … i ii iii v 1 1 2 5 5 12 12 15 16 18 19 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 iii .7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca p royek . 4.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 4.2 P el aporan … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . A cu an N orm ati f … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . 1 2 3 4 R u an g l i n g ku p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .. Isti l ah d an d efi ni si … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … Aspek-asp ek p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an h i dup … … … … … 4.1 In stan si p el aksan a p em an tau an … … … … … … … … … … … … … … … 6. 6 Pelaksanaan pem an tau an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . D aftar Lam p i ran … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … 4. 4.. 5. 4. P en d ah u l u an … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ..8 M etod e p em an tau an ku al i tas l i ng ku n g an … … … … … … … … … … … ..1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyek jalan dan alternatip p en an g an an n ya … … … … … … … … … … … … … … … … . 4. 6.… … … … … … … … … … … … … … … … ...… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … … 5. 4.3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan .2 P rosed u r p el aksan aan p em an tau an p en g el ol aan l i n g ku n g an … … .… … … … … … … … … … 4.6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca kon stru ksi … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR ISI P rakata … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN 7..3 B i aya p em an tau an p ad a tah ap kon stru ksi .4 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p asca kon stru ksi … .5 Biaya evaluasi lingkun g an p ad a tah ap eval u asi p asca royek… … 7. 8 P en u tu p … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … .… … … … 7. 7.1 B i aya p em an tau an p ad a tah ap p eren can aan .. . 25 25 25 25 25 25 26 iv .6 Komponen-kom p on en b i aya p em an tau an … … … … … … … … … … . 7.2 Biaya pemantauan pada tahap pra-kon stri ksi … … … … … … … … … 7.… … … … … … … … … … .… … … .… … … … … ...… … … … ..

PEDOMAN PEMANTAUAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi : Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi : Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang Jalan : Baku Mutu Udara Ambien Nasional : Baku Tingkat Kebisingan : Baku Tingkat Getaran : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas : Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di Dataran : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor : Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL : Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL v .

Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi masyarakat di sekitarnya. Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan. dan peraturan-peraturan lain yang terkait. baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak langsung. 1 . Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi. khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan hidup. sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi. Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi. Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi: a) b) c) d) e) f) g) Dampak