Anda di halaman 1dari 5

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang orang yang sebelum

kalian, mudahmudahan kalian bertakwa (kepada Allah). (Al Baqarah: 183) Apabila bertakwa kepada Allah menjadi tujuan yang utama dalam melaksanakan puasa ramadhan berarti pemenangnya adalah orang yang berhasil meningkatkan mutu ketakwaannya selepas bulan yang suci ini. Tentu sangat ironis, jika seorang yang berpuasa di bulan ramadhan justru lebih jauh dari Allah pada bulan-bulan yang berikutnya. Bahkan merupakan kesalahan yang besar bila seorang yang berpuasa mau menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat hanya dalam bulan suci ramadhan dan tak lebih dari itu. Semestinya, fenomena rasa antusias yang sedemikain tinggi untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi kemaksiatan dalam bulan suci ramadhan bisa ditularkan pada perputaran waktu yang selanjutnya. Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita menghilangkan dari benak kita asumsi bahwa ramadhan hanya sekadar seremonial ritual agama yang di gelar karena adat istiadat umat islam. Selepasnya, kita kembali kepada kemerosatan keyakinan dan moral yang sudah berlangsung sebelumnya dengan sangat parah dan rendah. Marilah kita menjadikan ramadhan sebagai pendidikan spiritual yang mampu membentuk kita sebagai manusia-manusia berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Taala. Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya bulan suci ramadhan ini mengandung berbagai pelajaran dan hikmah yang cukup banyak. Ibarat buah yang sudah ranum diatas pohonnya dan hanya tinggal menanti siapa yang datang untuk memetiknya. Dalam tulisan yang ala kadarnya ini, kami mencoba untuk menyuguhkan sebagian pelajaran dan hikmah bulan suci ramadhan bagi para pembaca yang budiman, dengan harapan semoga Allah memberkati kehidupan kita dari waktu ke waktu yang kita lalui, sehingga kita menjadi semakin baik dan lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Taala. Berpuasa Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi kita Muhammad shallahu alihi wasalam. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan. Selain puasa ramadhan disana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Yang wajib, misalnya seperti puasa qadha`, puasa kaffarah, dan puasa nadzar. Adapun yang sunnah, misalnya seperti puasa nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, Puasa hari senin dan kamis, puasa hari-hari putih yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan limas belas dari setiap pertengahan bulan hijriyah dan lain sebagainya. Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu ketakwaan kita. Disamping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan diri dari amukan api neraka. Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya): Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan api neraka. (HR. At Tirmidzi, Ibn u Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dengan sanad yang hasan) Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak? Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita. Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya): Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah radhiyallahu anha) Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita. Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Taala berfirman, (yang artinya): Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk -Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu) Wahai segenap kaum muslimin, ketahuilah, bahwa lambung yang penuh merupakan sarang syaithan yang paling kotor. Dari lambung yang penuh itu, dia akan menggoda seorang manusia untuk durhaka kepada Allah. Seorang hamba yang lambungnya penuh memiliki tenaga, kekuatan, daya, dan potensi yang cukup besar untuk berbuat apa saja. Maka syaithan menggunakan peluang emas ini untuk menggodanya agar memuaskan segenap hawa nafsu dan syahwat dunia yang diinginkannya tanpa harus memperdulikan syariat Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin mampu mengendalikan berbagai dorongan hawa nafsu dan syahwat kesenangan dunia yang sedang bergejolak hebat dalam dirinya, maka hendaklah dia berpuasa. Maka dengan berpuasa, dia akan terbebas dari segala ajakan hawa nafsu dan syahwat yang bisa menjerongkokkannya ke dalam berbagai lembah hitam yang rendah lagi nista. Termasuk syahwat dunia yang bisa dia redam dengan berpuasa adalah syahwat terhadap wanita-wanita yang diharamkan atasnya. Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya): Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah dia segera menikah, k arena yang demikian itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena yang demikian itu buat dirinya adalah tameng. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu) Betapa banyak para pria yang terjungkal ke dalam lembah neraka jahannam disebabkan oleh fitnah wanita. Intinya, bahwa berpuasa adalah senjata ampuh guna meredam dan mengendalikan hawa nafsu dan syahwat yang durjana. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka berpuasa bukan hanya amalan rutinitas pada bulan suci ramadhan. Akan tetapi lebih daripada itu, berpuasa adalah kebutuhan rohani yang semestinya ditunaikan sesuai prosedur syariat islam yang benar demi menggapai kebaikan dunia dan akherat, sehingga kita menjadi manusia-manusia yang lebih bertakwa dan berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Taala. Wallahu alam bish shawab. Hikmah dan Keutamaan dalam Berpuasa 1. Hikmah dan Fadhilah (Keutamaan) Ash-Shaum Ash-Shaum merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki keutamaan yang sangat tinggi, serta memiliki berbagai faidah dan hikmah sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sadi dalam tafsirnya tatkala menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Taala : Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian ash-shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. [Al-Baqarah : 183] Diantaranya : 1. Ash-shaum adalah salah satu sebab terbesar yang mengantarkan seseorang menuju taqwa. [1]) Sedangkan taqwa itu akan mendorong orang yang menjalankan ibadah shaum untuk meninggalkan berbagai larangan Allah Taala, baik berupa minuman, makanan, dan jima (hubungan suami-istri) dan beberapa larangan sejenisnya yang disukai oleh hawa nafsu, dan shaum dilakukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Taala dengan mengharapkan balasan di sisi-Nya. 2. Orang yang menjalankan ibadah shaum melatih jiwanya agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah (muroqobatullah) sehingga dia meninggalkan kemauan hawa nafsunya meskipun mampu menurutinya, sebab dia mengetahui adanya pengawasan Allah Taala terhadap dirinya. 3. Ash-shaum dapat mempersempit ruang gerak syaithan karena ia masuk ke dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah. ([2]) 4. Ash-shaum akan melemahkan kekuatan syaithan, sehingga orang tersebut semakin terjauhkan dari kemaksiatan. 5. Orang yang menunaikan ash-shaum, mayoritasnya akan melakukan banyak ketaatan dan itu merupakan bagian dari ketaqwaan kepada Allah Taala 6. Terkhusus bagi orang kaya bila merasakan pedihnya lapar karena ash-shaum maka akan muncul dalam dirinya kepedulian kepada fuqara`, dan hal ini juga merupakan bagian dari ketaqwaan kepada Allah Taala. ([3]) Asy-Syaikh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang hikmah ash-shaum, beliau shalallahu alaihi wasallam menjawab antara lain : bahwa ash-shaum mememiliki beberapa hikmah dalam hal sosial kemasyarakatan, antara lain munculnya perasaan di tengah-tengah kaum muslimin bahwa mereka adalah umat yang satu, makan dan bershaum di waktu yang sama. [4]) Asy-Syaikh Alu Bassam dalam Taudhihul Ahkam ([5]) menyebutkan hikmah lain dari ibadah ash-shaum, di antaranya : 1. Mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah dan mengingat berbagai nikmat-Nya. 2. Memiliki manfaat kesehatan, yaitu memberikan kesempatan pada alat pencernaan untuk istirahat. 2. Fadhilah Ash-Shaum secara umum Sementara Fadhilah (keutamaan) Ash-Shaum telah banyak disebutkan dalam berbagai hadits, baik fadhilah ash-shaum secara umum, maupun fadhilah shaum Ramadhan secara khusus. Dalam kesempatan ini kami akan menyebutkan beberapa di antaranya : 1. Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata :

] Ash-Shiyam adalah perisai. Maka hendaklah seseorang tidak berkata (berbuat) keji dan tidak berbuat jahil. ([1]) Dan bila ada yang mengajak bertengkar atau mencelanya maka katakan : Sesungguhnya saya sedang shaum dua kali Dan demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Sungguh bau mulut orang yang shaum lebih harum daripada bau misk di sisi Allah, Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syah watnya karena Aku. Dan Aku sendiri yang akan membalas amalan baiknya (ash-shaum) dan ketahuilah bahwa satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh kali lipat. [Muttafaq alaih].([2]) Dalam hadits di atas, ada beberapa fadhilah yang dapat kita petik : a. Bahwa Ash-Shaum berfungsi sebagai perisai. Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nasa`i dari shahabat Aisyah dan Utsman bin Abil Ash, bahwa Ash -Shaum adalah perisai dari An-Nar (api neraka). Lafazh hadits tersebut adalah : )) Dari Mutharrif berkata : Aku datang menemui Utsman bin Abil Ash, kemudian beliau hendak menghidangkan susu untukku. Maka ak u berkata : Sesungguhnya aku sedang bershaum. Maka beliau (Utsman bin Abil Ash) berkata : Sungguh aku telah mendengar Rasulullah [D] be rsabda : Ash-Shaum adalah perisai dari An-Nar (api neraka), seperti perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan. [3]) Dalam hadits lain, dari shahabat Jabir radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : ] Sesungguhnya shaum itu adalah perisai yang dengannya seorang hamba melindungi diri dari (adzab) An-Nar. [Ahmad] [4]) b. Aroma mulut seseorang yang sedang bershaum lebih baik di sisi Allah dibandingkan aroma wangi misk. [5]) c. Ibadah shaum yang dilakukan karena Allah, maka pahalanya akan dibalas secara langsung oleh Allah sendiri. [lihat ulang Fathul Bari syarh hadits no. 1894] 2. Pintu khusus bagi orang-orang yang bershaum, yaitu pintu Ar-Rayyan. Hadits dari shahabat Sahl bin Sad radhiallahu anhu, Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : [ Sesungguhnya di Jannah ada sebuah pintu yang dinamakan Ar-Rayyan yang masuk melaluinya pada Hari Kiamat hanyalah orang-orang yang bershaum (berpuasa). Tidak akan masuk seorang pun melaluinya selain mereka, kemudian diserukan, Manakah orang-orang yang bershaum (berpuasa)? maka merekapun berdiri. Tidak ada seorang pun yang akan masuk melalui pintu Ar -Rayyan kecuali mereka. Setelah mereka masuk semua, maka pintu itupun ditutup, sehingga tidak ada lagi yang bisa masuk melaluinya . [Muttafaqun Alaih]. ([6]) Dalam riwayat riwayat lain dengan tambahan : ] Barangsiapa yang masuk melaluinya, pasti dia akan minum, dan barangsiapa yang minum maka pasti dia tidak akan pernah haus selamanya . [An-Nasa`i dan Ahmad] ([7]) 3. Dijauhkan wajahnya dari An-Nar sejauh tujuh puluh (70) tahun. Hadits dari shahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata : [ Tidaklah seseorang bershaum sehari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dengan shaumnya tersebut dari an-nar di hari kiamat, sejauh 70 tahun. [Muttafaq alaih] ([8]) Sebagian ulama mengkhususkan makna Fi sabilillah dengan jihad, antara lain Al -Imam Ibnul Jauzi. Al-Imam Al-Bukhari pun menyebutkan hadits ini dalam Kitabul Jihad was Sair dengan judul bab (Keutamaan Ash-Shaum di jalan Allah). Begitu pula Al-Imam AnNawawi dalam Syarh Muslim meletakkan bab pada hadits ini dengan judul : (Keutamaan AshShiyam Fi Sabilillah bagi yang mampu tanpa adanya kemudharatan dan pengabaian tugas). Sehingga atas dasar itu keutamaan yang terkandung dalam hadits di atas hanya khusus bagi yang bershaum ketika berjihad fi sabilillah. Namun Al-Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa makna Fi Sabilillah di sini adalah : ketaatan kepada Allah secara umum. Sehingga makna hadits adalah : Barangsiapa yang bershaum dengan mengharapkan wajah Allah. Atas dasar itu keutamaan tersebut tidak hanya terbatas pada shaum ketika berjihad fi sabilillah. Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa dua kemungkinan makna di atas memungkinkan sebagaimana makna hadits di atas, sekaligus sebagai makna hadits berikut ini. [9]) 4. Parit penghalang dari adzab An-Nar. Hadits dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu, dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : [ Barangsiapa yang bershaum (berpuasa) sehari di jalan Allah, niscaya Allah jadikan antara dia dengan An-Nar sebuah parit penghalang (yang lebarnya) sejauh langit dan bumi. [At-Tirmidzi] ([10]) 5. Allah jauhkan darinya api Jahannam sejauh perjalanan seratus tahun Hadits dari shahabat Uqbah bin Amir radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : [ Barangsiapa yang bershaum (berpuasa) sehari di jalan Allah, niscaya Allah jauhkan api Jahannam darinya sejauh perjalanan seratus tahun. [An-Nasa`i, Ibnu Abi Ashim, Ath-Thabarani] [11]) Masalah : Dalam hadits shahabat Uqbah bin Amir radhiallahu anhu ini disebutkan sejauh perjalanan seratus tahun. Sementara dalam hadits shahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu disebutkan sejauh 70 tahun. Secara zhahir perbedaan ini memunculkan suatu pertanyaan. Untuk menjawabnya, ada dua jawaban : a. Penyebutan bilangan tujuh puluh (70) bukan sebagai batasan mutlak, tetapi dalam rangka menggambar betapa sangat jauhnya jarak tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi dan dipertegas oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. - Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata : Penyebutan bilangan tujuh puluh (70) pada hadits di atas dalam rangka menggambarkan betapa sangat jauhnya . Kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menegaskan : Memperkuat pernyataan Al-Qurthubi di atas, An-Nasa`i meriwayatkan hadits tersebut dari shahabat Uqbah bin Amir, demikian juga Ath Thabarani meriwayatkannya dari shahabat Amr bin Abasah, dan Abu Yala meriwayatkan dari shahabat Muadz bin Anas, semuanya menyebutkan dalam periwayatan mereka : (bilangan) Seratus tahun . [12]) Jawaban senada juga diucapkan oleh Al-Imam As-Sindi dalam Syarh Sunan An-Nasa`i, bahwa penyebutan bilangan tujuh puluh atau seratus tahun bukan sebagai batasan mutlak, tetapi dalam rangka menggambar betapa sangat jauhnya jarak tersebut. [13])

b. Ada kemungkinan, Allah subhanahu wataala hendak menambah fadhilah dan pahala bagi orang yang bershaum sehingga menyempurn akan jauhnya jarak tersebut menjadi seratus tahun perjalanan setelah sebelumnya sejauh tujuh puluh tahun. Jawaban kedua ini disampaikan oleh AlImam As-Sindi rahimahullah dalam Syarh Sunan An-Nasa`i. [14]) Terkait dengan fadhilah di atas, ada beberapa hadits yang sering diriwayatkan namun secara sanad lemah. Di antara hadits-hadits tersebut : - Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : ] Barangsiapa yang bershaum (berpuasa) dalam rangka mengharap wajah Allah, niscaya Allah jauhkan dia dari neraka jahannam sejauh perjalanan terbang burung Gagak, semenjak burung Gagak tersebut baru menetas hingga mati di usia yang tua . [Ahmad, Abu Yala, AlBaihaqi, dan Ath-Thabarani] [15]) - Hadits dari shahabat Abu Umamah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata : [ Barangsiapa yang bershaum (berpuasa) sehari di jalan Allah, niscaya Allah jauhkan api Jahannam darinya sejauh perjalanan seratus tahun, dengan kecepatan kuda tunggangan gesit dan kuat. [16] [Abdurrazzaq dan Ath-Thabarani] [17]) 3. Fadhilah Ash-Shaum secara umum 6. Hadits Hudzaifah radhiallahu anhu yang disebutkan oleh Al -Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya, Bab : Ash-Shaum Kaffarah, bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: ) Dosa yang dilakukan seseorang karena terfitnah oleh keluarga, harta, atau tetangganya dihapuskan oleh shalat, shaum, dan shadaqahnya . [Muttafaqun alaihi] ([1]) 7. Hadits Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : ] Bagi orang yang bershaum (berpuasa) dua kegembiraan : Jika berbuka dia bergembira dengan berbukanya tersebut, jika bertemu Rabbnya (Allah) dia bergembira dengan (pahala) shaumnya. [Muttafaqun alaihi, dengan lafazh Muslim] ([2]) 8. Hadits Abdullah bin Masud radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : ] Barangsiapa yang telah mampu menikah hendaknya segera menikah, karena sesungguhnya pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya shaum tersebut berfungsi sebagai perisai baginya. [Muttafaqun alaihi] ([3]) Dari hadits di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa di antara hikma ash-shaum berfungsi sebagai perisai seorang hamba dari kejahatan syahwatnya. Sekaligus sebagai salah satu jalan keluar bagi para pemuda yang belum mampu melakukan pernikahan. 9. Hadits Abdullah bin Amr radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : )) Ash-Shiyam dan Al-Qur`an keduanya memberikan syafaat untuk hamba tersebut pada Hari Kiamat. Berkata Ash -Shiyam : Wahai Rabb, sesungguhnya aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka terimalah syafaatku untuknya. Al-Qur`an berkata : Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari tidur pada malam hari, maka terimalah syafaatku untuknya. Maka keduanya memberik an syafaat [Ahmad dan Ath-Thabarani] ([4]) Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata : Maksudnya adalah : Al-Qur`an dan Ash-Shiyam keduanya diizinkan oleh Allah untuk memberi syafaat kepada orang tersebut sekaligus memasukkannya ke dalam Al-Jannah. Al-Munawi berkata : Ada kemungkinan bahwa maksud perkataan di atas adalah secara hakekat sebenarnya, yaitu dengan Allah rupakan dalam bentuk fisik ganjaran kedua amalan tersebut, kemudian Allah ciptakan untuk keduanya kemampuan untuk berbicara. ( dan Allah Maha mampu atas segala sesuatu. Ada juga kemungkinan bahwa hal itu hanya sebatas permisalan dan majaz. Menanggapi pernyataan Al-Munawi di atas, Asy-Syaikh Al-Albani berkata : Kemungkinan pertama itulah yang benar dan harus dipastikan dalam permasalahan dan yang semisalnya dari berbagai bentuk hadits yang di dalamnya disebutkan tentang dirupakannya amalan dalam bentuk jasad (fisik) dan yang semisalnya. . sementara pentawilan (pemalingan maksud hadits dari makna sebenarnya kepada makna majaz) ter hadap nashnash seperti ini bukanlah metode generasi salaf radhiallahu anhum, bahkan itu adalah metode kelompok Al -Mutazilah dan pihak-pihak yang mengikuti jejak mereka dari kalangan kaum khalaf. Cara penakwilan seperti itu sangat bertentangan dengan syarat pertama keimanan, yaitu : orang-orang yang berimana kepada hal-hal ghaib [Al-Baqarah : 3] Maka waspadalah engkau dari sikap mengikuti jejak mereka (kaum mutazilah) yang menyebabkan engkau menjadi sesat dan celaka. Waliyyadzubillah. selesai 10. Hadits dari shahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : Tiga pihak tidak akan ditolak doa mereka : Seorang pemimpin yang adil, seorang yang bershaum hingga dia berbuka, dan do`a se orang yang terzhalimi, [At-Tirmidzi dan Ibnu Majah] [5]) Dari hadits di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa doa seoran g yang bershaum ketika dia sedang menunaikan shaumnya hingga datangnya waktu ifthar adalah do`a yang mustajab. Sementara hadits dari shahabat Ibnu Umar radhiallahu anhuma, bahwa Rasulu llah shalallahu alaihi wasallam bersabda : )) Setiap orang yang bershaum memiliki do`a yang mustajab ketika dia berifthar (berbuka). [Ibnu Adi] [6]) Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ibnu Majah dan Al-Hakim dari shahabat Abdillah bin Amr bin Al-Ash dengan lafazh : )) Sesungguh orang yang bershaum memiliki do`a yang tidak ditolak ketika dia berifthar Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Zadul Maad mengisyarahkan tentang lemahnya hadits ini. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini lemah. [7])

4. Fadhilah Shaum Ramadhan ( 1 ) 1. Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu , sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata : ] Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa -dosa selama masih meninggalkan dosa-dosa besar. [HR. Muslim] ([1]) Namun keutamaan dan fungsi Ramadhan sebagai penghapus dosa sangat bergantung kepada sikap dan kemauan hamba untuk menjauhi Al-Kaba`ir , yaitu dosa-dosa besar. Hal ini sebagaimana ditegaskan pula oleh Allah subhanahu wataala d alam firman-Nya : Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (Al-Jannah). [An-Nisa` : 31]

Berkata Asy-Syaikh As-Sadi radhiallahu anhu tentang ayat di atas : Tentu ini merupakan bentuk keutamaan dan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang mu`min. Allah menjanjikan kepada mereka bahwa jika mereka menjauhi dosa-dosa besar yang terlarang, maka pasti Dia akan mengampuni seluruh dosa dan kesalahannya, serta akan memasukkan mereka ke tempat yang mulia dan penuh kebaikan, yaitu Al-Jannah yang meliputi segala keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah di dengar oleh telinga, bahkan belum pernah terbetik dalam sanubari manusia. Termasuk pula dalam upaya menjauhkan diri dari Al-Kaba`ir adalah menunaikan berbagai kewajiban, yang apabila ditinggalkan maka pelakunya tergolong telah melakukan dosa besar, seperti shalat lima waktu, dan shalat Jumat, serta shaum Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: Antara shalat lima waktu, dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya, serta antara Ramadhan ke Ramadhan berikutnya berfungsi seb agai penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama masih dijauhi dosa-dosa besar Definisi Al-Kaba`ir yang terbaik adalah sebuah dosa yang diancam dengan hukuman pidana di dunia, atau ancaman adzab di akhirat, atau penafian iman (dari pelakunya), terkenainya laknat dan marah Allah atasnya. [2]) Dari keterangan di atas, setidaknya ada dua kesimpulan yang bisa kita ambil : 1. Bahwa shaum Ramadhan tidak akan berfungsi sebagai penebus dosa atau penghapus kesalahan kecuali apabila pelakunya berupaya meninggalkan Al-Kaba`ir (dosa-dosa besar). 2. bahwa kita harus mengetahui definisi dan batasan Al-Kaba`ir, sehingga dengan itu kita dapat menghindarkan diri kita darinya, dan tentunya hal itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan thalabul ilmi (menuntut ilmu syari). 2. Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : )) Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap (pahala) maka pasti Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu . [Muttafaqun alaihi] ([3]) Hadits ini memiliki kemiripan dengan hadits yang sebelumnya, yaitu dari sisi bahwa barangsiapa yang bershaum pada bulan Ramadhan akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun keutamaan tersebut memang hanya bisa diraih dengan dua syarat : a. Shaum yang dia lakukan berdasarkan kepada keimanan, yaitu keimanan bahwa shaum Ramadhan merupakan syariat yang haq yang d atangnya dari Allah dan telah diwajibkan kepada kaum mu`minin. b. Shaum yang dia lakukan berdasarkan sikap ihtisab (mengharapkan) pahala dan ridha Allah subhanahu wataala. Sehingga mendor ong dia untuk melakukannya dengan penuh keikhlasan, tanpa ada unsur kepentingan duniawi. Sehingga barangsiapa yang melakukan shaum Ramadhan tanpa dilandasi dua sikap di atas, dia tidak akan mendapatkan keutamaan yang dijanjikan. Terkait dengan permasalahan di atas, ada beberapa hadits dhaif yang perlu diketahui, antara lain : a. Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu secara marfu dengan lafadz : Barangsiapa yang beribadah pada malam lailatul qadr karena dorongan iman dan mengharap (pahala) maka pasti Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. [An-Nasa`i] [4]) Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata : Hadits ini dengan tambahan lafazh (( )) adalah hadits yang Syadz (ganjil). b. Hadits dari shahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang bershaum di bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batas (syari) nya, serta dia berupaya menjaga diri dari segala sesuatu yang semestinya ia menjaga dirinya dari hal itu, maka pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. [Ahmad dan Al-Baihaqi] Hadits ini adalah hadits yang lemah, sebagaimana ditegaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul Minnah. [5]) Karena pada sanadnya ada seorang perawi yang majhul, yaitu Abdullah bin Quraith. Al -Imam Al-Haitsami berkata, bahwa perawi ini telah disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim namun beliau tidak menyebutkan tentangnya, baik jarh (cercaan) atau pun tadil (rekomendasi). Disebutkan dalam kitab Tajilul Manfaah bahw a Al-Husaini berkata tentang perawi ini dalam kitab Rijalul Musnad : bahwa dia adalah seorang perawi yang majhul. 3. Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : )) Jika telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu Al-Jannah [Muttafaqun alaihi] 5. Fadhilah Shaum Ramadhan ( 2 ) 1. Hadits dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : )) Jika telah datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan ditutuplah pintu-pintu Jahannam, serta dibelenggulah para syaithan. [Muttafaqun alaihi] ([1]) Dalam riwayat Muslim disebutkan pula dengan lafazh : maka dibukalah pintu-pintu rahmat Dari tiga riwayat hadits di atas, kita mengetahui adanya tiga lafazh yang berbeda, yaitu : - dibukakannya pintu Al-Jannah - dibukakannya pintu rahmat - dibukakannya pintu langit sepintas nampak kontradiktif, namun pada hakekatnya tidak demikian. Maksud dibukakannya pintu langit adalah dalam rangka naiknya berbagai perkataan baik kepada Allah, baik dalam bentuk dzikir maupun kalimat tauhid Lailaha Illallah, serta diangkatnya berbagai amalan shalih menuju kepada Allah. Sebagaimana firman Allah : kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya [Fathir : 10] Sehingga dengan itu langit lebih banyak dibuka pada bulan Ramadhan, karena banyaknya perkataan baik dan amalan shalih padanya. Sementara dibukanya pintu rahmah ada dua kemungkinan makna : 1. Dalam rangka rahmat Allah turun kepada hamba-hamba-Nya yang mu`min, yang rahmat itu sendiri merupakan sebab masuk Al-Jannah, sehingga hamba-hamba Allah tidaklah masuk Al-Jannah kecuali dengan sebab rahmat Allah, bukan karena amalan mereka. 2. Makna rahmat dalam hadits ini adalah Al-Jannah. Karena dalam beberapa keterangan Al-Jannah terkadang diistilahkan dengan rahmat, sebagaimana dalam hadits : )) Allah Tabaraka wa Taala berkata kepada Al -Jannah : Engkau adalah rahmat-Ku yang denganmu Aku merahmati siapa yang Aku kehendaki dari kalangan hamba-hamba-Ku. [Muttafaqun alaih] [2]) Penjelasan tentang maksud : Di antara yang sering ditanyakan adalah maksud kalimat (dan dibelenggulah para syaithan). Ketahuilah bahwa maksud kalimat di atas bukanlah seluruh jenis syaithan. Namun hanya terbatas pada jenis syaithan yang diistilahkan dengan AlMaradah ( ), yaitu para syaithan yang tingkat kejahatan dan kedurhakaanny paling besar. Hal ini se bagaimana dijelaskan oleh para ulama, antara lain : 1. Ibnu Khuzaimah rahimahullah. dalam kitab Shahihnya, beliau menyebutkan : Bab : Penjelasan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam hanyalah memaksudkan dengan perkataannya : (dan dibelenggulah para syaithan) adalah jenis jin yang maradah (paling durhaka), bukan seluruh jenis syaithan. Kemudian beliau menyebutkan hadits dari shahabat Ab u Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata : 1776

Jika pada malam hari pertama bulan Ramadhan dibelenggulah para syaithan dari jenis maradatul jin (jin yang paling durhaka), selesai dari Ibnu Khuzaimah Disebutkan pula dalam Sunan An-Nasa`i, juga dari hadits Abu Hurairah, dengan lafazh : dan padanya dibelenggu para syaithan yang paling durhaka. [An-Nasa`i] [3]) 2. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhish Shalihin berkata : Maksud (dibelenggulah para syaithan) adalah jenis maradah (yang paling durhaka) di antara mereka. sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat lain. Sementara yang dimaksud dengan Al-Maradah adalah : yaitu para syaithan yang paling besar permusuhan dan kebencianya terhadap anak Adam. ([4]) Namun ada sebagian ulama yang memberikan lain dari yang kami sebutkan di atas, antara lain Al -Imam Al-Hulaimi, beliau berkata : yang dimaksud adalah para syaithan pencuri berita (dari langit). Tidakkah engkau perhatikan Rasulullah menyebut (( )) ( para syaithan yang sangat durhaka) karena bulan Ramadhan adalah waktu turunnya Al-Qur`an ke langit bumi, yang upaya penjagaan (terhadap) Al-Quran dilakukan dengan cara bintang-bintang (yang dilemparkan), sebagaimana firman Allah Taala : dan juga sebagai penjagaan (dengan sebenar-benarnya) dari setiap syaithan yang sangat durhaka. [Ash-Shaffat : 7] [5]) Sehingga dengan itu pembelengguan semakin diperketat pada bulan Ramadhan, dalam rangka penjagaan yang lebih serius (terhadap Kalamullah). [6]) 2. Hadits dari shahabat Amr bin Murrah Al-Juhani radhiallahu anhu , beliau berkata : [ Seseorang datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau jika saya bersaksi La ilaha Illallah dan bahwa engkau adalah Rasulullah, saya melaksanakan shalat lima waktu, saya menunaikan zakat, dan saya bershaum di bulan Ramadhan dan saya laksanakan shalat (pada malam harinya), maka dari golongan manakah aku? Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab : Dari kalangan Ash-Shiddiqin dan Asy-Syuhada [Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban] [7]) Dari keterangan di atas, kita tahu bahwa seorang hamba yang menunaikan shaum Ramadhan dan rajin melakukan Qiyamullail (shalat malam) padanya, maka dia akan digolongkan dalam golongan para syuhada` dan shiddiqin. 3. Hadits dari shahabat Abu Said Al-Khudri : ( Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan (dari adzab An-Nar) pada setiap siang dan malam yakni di bulan Ramadhan dan sesungguhnya setiap muslim memiliki doa yang mustajab pada setiap siang dan malam [Al-Bazzar] [8]) 4. Hadits dari shahabat Kab bin Ujrah radhiallahu anhu , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata : Hadirlah kalian di sekitar mimbar maka kami pun segera hadir. Ketika menaiki tangga pertama beliau mengucapkan Amin ; dan ketika menaiki tangga kedua beliau mengucapkan Amin; begitu pula ketika menaiki tangga ketiga, beliau mengucapkan Amin. Ketika b eliau telah turun dari mimbar, kami bertanya : Wahai Rasulullah sungguh kami telah mendengar darimu sesuatu pada hari ini yang belum pernah kami mendengar sebelumnya? maka beliau menjawab : Sungguh telah datang kepadaku Jibril, kemudian dia berkata : Celakalah seoran g yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni. Maka aku berkata : Amin. Kemudian ketika aku menaiki tangga kedua, Jibril berkata : Celakalah seseorang yang disebutkan namamu di hadapannya namun dia tidak bershalawat untukmu. Maka aku pun mengucapkan Amin . Dan ketika aku menaiki tangga ketiga, Jibril berkata : Celakalah seorang yang menemui kedua orang tuanya pada masa tua, atau salah satu di antara keduanya, namun (keberadaan) keduanya tidak mampu memasukkan dia ke dalam Al-Jannah. Maka aku pun mengucapkan Amin. [HR. AlHakim] [9] Dalam hadits di atas, ada sebuah penekanan dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang pen uh ampunan. Sehingga hendaknya setiap mu`min berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Karena apabila dia gagal mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan maka dia akan mendapatkan do`a celaka dari malaikat Jibril alaihis salam dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Semoga Allah melindungi kita semua. Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia dengan hiasan bintang-bintang, dan juga sebagai penjagaan (dengan sebenar-benarnya) dari setiap syaithan yang sangat durhaka. Agar syaithan-syaithan itu tidak dapat mencuri-curi dengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari (dengan bintang-bintang tersebut) dari segala penjuru. [Ash-Shaffat : 6-8]