Anda di halaman 1dari 22

1. Tooth Impaction Impaksi gigi adalah suatu kelainan di mana gigi gagal untuk keluar melalui gusi.

Gigi pertama kali mulai untuk keluar dari gusi pada saat kehamilan, dan lagi ketika gigi decidui mulai digantikan oleh gigi permanent. Jika gigi mengalami kesulitan untuk keluar, atau hanya sebagian saja yang keluar dari gusi, maka keadaan tersebut dikenal dengan impaksi gigi. Keadaan ini biasanya terjadi pada gigi molar 3. Gigi ini adalah kelompok gigi terakhir yang keluar dari gusi yaitu antara umur 17-21 tahun. Banyak sebab yang membuat gigi tidak bisa muncul melalui gusi. Ruangan di sekitar gusi mungkin terlalu sempit atau sesak yang bisa disebabkan tulang rahang yang terlalu kecil. Para ahli percaya bahwa impaksi gigi dapat menyebabkan kelainan pada saat menggigit, menekan gigi di sebelahnya, dan dapat menyebabkan terjebaknya sisa makanan, plak, dan debris-debris lainnya di jaringan lunak di sekitar gigi yang mengalami impaksi, menyebabkan peradangan dan bau mulut, yang disebut pericorontitis. Gejala yang biasanya timbul adalah bau mulut, trismus, nyeri di gusi dan tulang rahang, sakit kepala yang berkepanjangan, peradangan pada gusi, pembesaran limfonodi, merasa tidak nyaman ketika menggigit, ada celah pada gigi disekitar lokasi impaksi. Tanda yang didapat adalah pembengkakan gusi pada lokasi impaksi dan desakan pada gigi normal di sekitarnya, dan diagnosis pasti harus menggunakan foto rontgen. Impaksi gigi tidak menimbulkan masalah pada sebagian orang dan tidak membutuhkan penatalaksanaan. Penghilang rasa sakit bisa diberikan pada kasus impaksi yang menimbulkan masalah misalnya rasa tidak nyaman, air garam hangat yang digunakan untuk berkumur dapat memberikan rasa nyaman pada gusi. Ekstraksi gigi biasanya dilakukan sebagai pengobatan utama dari impaksi gigi, tetapi jika gigi sebelum operasi terinfeksi maka bisa diberikan antibiotic terlebih dahulu. Ekstraksi lebih baik dilakukan sebelum usia 30 tahun mengingat factor, fleksibilitas tulang, yang dapat membantu mempercepat pertumbuhan dan penyembuhan. Komplikasi yang bisa muncul dari impaksi gigi adalah abses pada gigi dan gusi, rasa tidak

nyaman yang kronis pada mulut, infeksi, maloklusi, dan plak yang terjebak di antara gigi dan gusi. Gambar:

2. Anodontia Anodontia adalah suatu kelainan genetic dengan karakteristik ketiadaan gigi permanent / gigi primer secara congenital. Keadaan ini sering dikaitkan dengan sindrom displasia ektodermal. Struktur yang dibentuk oleh ectoderm meliputi rambut, kuku, kelenjar keringat dan gigi. Anodontia terjadi pada periode gigi permanent walaupun gigi decidual terbentuk dengan lengkap tanpa kelainan. Anodontia dibagi menjadi Anodontia Komplet dan Hipodontia (Anodontia Partial). Diagnosis anodontia ditegakkan berdasarkan foto Rontgen/radiografik panoramik untuk memastikan memang semua benih gigi benar-benar tidak terbentuk. Anodontia Komplet ditandai dengan tidak terbentuknya semua gigi, dan lebih sering mengenai gigi permanent daripada gigi decidui, akan tetapi pada Hipodontia yang tidak terbentuk adalah gigi premolar dua rahang bawah, insisif dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas, kelainan ini dapat terjadi hanya pada satu sisi rahang atau keduanya. Pada umumnya, penderita anodontia memiliki ciri-ciri mempunyai rambut yang tipis, bahkan hampir tidak mempunyai rambut dan rahang tidak berkembang selayaknya orang normal, kulit kering karena defisiensi kelenjar keringat. Anodontia sangat sering dikaitkan dengan sindrom displasia ektodermal, sebenarnya ada lebih dari 100 bentuk dari sindrom ini, akan tetapi yang tersering adalah bentuk hipohidrotik displasia ektodermal yang ditandai dengan trias hipodontia, hipotrikosis, dan hipohidrosis. Kelainan gigi yang terjadi pada sindrom ini bervariasi mulai dari anodontia sampai hipodontia. Sindrom ini terjadi dalam 1-7 per 100.000 kelahiran hidup. Sindrom ini diturunkan melalui gen autosom resesif. Ectodisplasyn A, yang merupakan anggota dari ligan TNF telah diketahui sebagai protein yang dikodekan oleh kromosom X region q12-q13.1. Ectodisplasyn A diekspresikan pada fetus yang normal dan kulit, rambut, dan gigi orang dewasa. Gen autosom resesif pada kromosom X region q12-q13.1 diasosiasikan dengan defek pada reseptor Ectodysplasin A yaitu EDSR yang merupakan protein transmembran. Perawatan gigi yang dilakukan untuk penderita anodontia meliputi pembuatan dan

pemakaian gigi palsu/gigi tiruan, yang bisa membantu penderita dalam berbicara, mengunyah, estetik, dan memberikan dukungan psikologis. Gambar:

3. Malocclusion Maloklusi adalah setiap keadan yang menyimpang dari oklusi normal, maloklusi juga diartikan sebagai suatu kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsi. Maloklusi dapat timbul karena faktor keturunan dimana ada ketidaksesuaian besar rahang dengan besar gigigigi di dalam mulut. Misalnya, ukuran rahang mengikuti garis keturunan Ibu, dimana rahang berukuran kecil, sedangkan ukuran gigi mengikuti garis keturunan bapak yang giginya lebar-lebar. Gigi-gigi tersebut tidak cukup letaknya di dalam lengkung gigi. Kekurangan gizi juga dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tulang rahang terganggu. Maloklusi dibagi 3: 1. Maloklusi tipe dental, terjadi jika perkembangan rahang atas dan rahang bawah terhadap tulang kepala normal, tapi gigi-giginya mengalami penyimpangan 2. Maloklusi tipe skeletal, terjadi karena hubungan rahang atas dan rahang bawah terhadap tulang kepala tidak harmonis, karena ada gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahang 3. Maloklusi fungsional, terjadi karena adanya kelainan otot-otot, sehingga timbul gangguan saat dipakai untuk mengunyah Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi efek dari maloklusi terhadap kinerja mastikasi. Pasien dewasa dengan maloklusi dental dan skeletal yang parah memiliki kemampuan mastikasi terbatas dibandingkan dengan individu yang oklusinya normal. Sebenarnya maloklusi tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menggigit dan memroses makanan. individu dengan oklusi normal dapat menghasilkan distribusi partikel yang lebih luas sehingga mengindikasikan adanya kemampuan mastikasi yang lebih baik. Setiap penyimpangan dari oklusi statis serta

fungsional yang ideal akan bisa menimbulkan kelainan pada komponen-komponen sistem pengungunyahan yang lain, khususnya sendi temporomandibula dan otot-otot pengunyahan. Anggapan ini tidak benar sejauh menyangkut oklusi alami. Banyak penelitian yang sudah dilakukan pada pasien dengan disfungsi sendi temporomandibular dan otot. Kebanyakan peneliti sependapat bahwa masalah ini mempunyai etiologi multifaktor, dengan maloklusi sebagai salah satu faktor di antaranya, tetapi tidak ada faktor tunggal yang bisa menimbulkan masalah ini. Sebaliknya, penelitian-penelitian mengenai maloklusi sebagian besar gagal untuk menemukan hubungan yang pasti antara tipe atau keparahan suatu maloklusi dengan disfungsi temporomandibular. Meskipun demikian, disfungsi oklusal bisa timbul akibat perawatan ortodonsi, bahkan dewasa ini makin tumbuh kesadaran bahwa di samping upaya untuk mendapatkan oklusi statis yang ideal, perawatan ortodonsi juga harus dilakukan dengan tujuan mendapatkan oklusi fungsional yang baik. Gambar:

4. Micrognatia Micrognatia adalah suatu keadaan dimana ukuran rahang yang lebih kecil dari normal dan bentuknya abnormal, dapat terjadi pada maksila atau mandibula. Mikrognatia umumnya dipakai untuk mandibula, hal ini disebut juga mandibular hypoplasia. Mikrognatia merupakan kelainan genetik yang jarang terjadi ditandai dengan rahang dan mulut yang kecil.. Kadang-kadang dapat dijumpai pasien micrognatia pada praktik dokter gigi yang sering diduga sebagai maloklusi II atau sebaliknya. Penyebab micrognathia dapat terjadi secara kongenital dan acquired (didapat). Micrognathia kongenital diduga berasal dari genetik disebabkan kelainan kromosom dan kerusakan genetik, dijumpai pada penderita sindroma Pierre Robin, Treacher Collins , cat cry , Down, Turner , dan progeria. Micrognathia acquired disebabkan trauma atau infeksi yang menimbulkan gangguan pada sendi rahang, dijumpai pada penderitaan ankilosis yang terjadi pada masa anak-anak. Penderita micrognatia biasanya mengalami masalah estetik, oklusi, pernapasan, dan pemberian makan pada bayi. Gambar:

5. Macrognatia Macrognatia adalah suatu keadaan dimana mandibula dan regio protuberansia lebih besar daripada ukuran normal. Macronagtia mengalami gambaran klinis yaitu dagu berkembang lebih besar. Sebagian besar macrognatia tidak menyebabkan terjadinya maloklusi. Etiologi macronagtia berhubungan dengan perkembangan protuberantia yang berlebih yang dapat bersifat kongenital dan dapat pula bersifat dapatan melalui penyakit. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan macrongnatia adalah Gigantisme pituitary, pagets disease, dan akromegali. Gambar:

6. Labioschizis Labioschizis adalah bibir yang becelah. Celah ini dapat inkomplit dan dapat komplit, bisa unilateral kiri atau kanan ataupun juga bilateral. Jumlah penderita bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 setiap tahun atau 1 bayi setiap 1.000 kelahiran. Namun, jumlah total penderita bibir sumbing di Indonesia belum diketahui secara pasti. Sumbing pada bibir umumnya terjadi pada minggu ke 6-7 intrauterin, sesuai dengan waktu perkembangan bibir normal dengan terjadinya kegagalan

penetrasi dari sel mesodermal pada groove epitel di antara processus nasalis medialis dan processus nasalis lateralis. Etiologi dari penyakit ini adalah factor keturunan, radiasi, trauma, obat, malnutrisi dan defisiensi vitamin. Gambar:

a) Foto

7. Palatoschizis Adalah sebuah kelainan yang ditandai dengan adanya celah pada palatum yang dapat mengenai palatum durum, palatum mole, atau keduanya. Palatoschisis ini merupakan anomali kongenital biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan

yang disebabkan fusi yang tidak sempurna dari rangka palatum pada sisi frontal dan lateral wajah. Di Indonesia, insidensinya cukup tinggi, yaitu 1 per 100 kelahiran untuk celah bibir dan kebanyakan pada pria, sedangkan untuk celah bibir dan palatum dijumpai 1 per 2500 kelahiran yang kebanyakan pada wanita. Prevalensi celah bibir dan palatum bervariasi antara kelompok rasial satu dengan yang lain. Celah palatum terjadi akibat gagal bersatunya prossesus palatinus kanan dan kiri. Etiologi terjadinya celah palatum ada 2 faktor: yaitu faktor herditer dan faktor lingkungan. Penyebab dari factor lingkungan adalah sebagai berikut : radiasi, trauma, obat, malnutrisi dan defisiensi vitamin A dan B. Terdapat banyak klasifikasi untuk celah palatum, klasifikasi yang paling sederhana dilakukan oleh Veau yang membagi dalam empat grup, yaitu celah palatum lunak sampai ke uvula, celah palatum lunak dan keras di belakang foramen insisivum, celah palatum lunak dan keras yang mengenai alveolus dan bibir pada satu sisi, dan celah palatum lunak dan kerasyang mengenai alveolus dan bibir pada kedua sisi. Gambar:

8. Debris Debris adalah kumpulan fragmen dan serpihan dentin yang berasal dari

dinding saluran akar. Debris berasal dari sisa makanan dalam rongga mulut yang

10

tidak dibersihkan. Skor penilaian debris adalah sebagai berikut , nilai 0, mempunyai arti tidak terdapat debris lunak pada gigi dan pewarnaan ekstrinsik, nilai1, mempunyai arti terdapat debris lunak pada 1/3 bagian gigi dan tidak ada perwarnaan ekstrinsik, nilai 2 mempunyai arti terdapat debris lunak pada 1/3-2/3 gigi, nilai 3, mempunyai arti terdapat debris lunak pada lebih dari 2/3 luas permukaan gigi. Gambar:

9. Plaque Plaque adalah Adalah suatu lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak diatas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Ada tiga komposisi plak dental yaitu mikroorganisme, matriks interseluler yang terdiri dari komponen organik dan anorganik, serta protein. Plak terutama terdiri atas bakteri bercampur musin dan bahkan sisa-sisa makanandan bahan-bahan lain yang melekat erat pada permukaan gigi di daerah yang tak mudah dibersihkan.

Gambar:

11

10. Calculus Calculus adalah suatu endapan amorfik kristal lunak yang terbentuk pada gigi, atau protesa dan membentuk lapisan konsentris. Calculus juga disebut dengan tartar, yang merupakan endapan keras hasil mineralisasi plak gigi dan akhirnya mengeras. Calculus adalah plak yang mengalami pengerasan, mineralisasi, atau remineralisasi. Skor penentuan calculus adalah sebagai berikut, nilai 0, apabila tidak terdapat karang gigi, nilai 1, apabila terdapat karang gigi supraginggival kurang dari 1/3 luas permukaan gigi., nilai 2, apabila terdapat karang gigi supraginggival antara 1/3-2/3 luas permukaan gigi, nilai 3, apabila terdapat karang gigi supraginggival lebih dari 2/3 luas permukaan gigi. Gambar:

11. Dental Decay Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, bersifat kronik progresif, yang mengalami kalsifikasi yang ditandai oleh demineralisasi dari bagian inorganik dan destruksi dari substansi organik gigi. Karies gigi (cavitasi) adalah

12

daerah yang membusuk di dalam gigi, yang terjadi akibat suatu proses yang secara bertahap melarutkan email dan terus berkembang ke bagian dalam gigi. Prevalensi tertinggi terdapat di Asia dan Amerika Latin, sementara prevalensi terendah terdapat di Afrika. Penyebab karies gigi meliputi host (gigi dan saliva), agent (bakteri kariogenik), substrat (sukrosa), dan waktu. Jenis-jenis karies adalah sebagai berikut: Karies Insipiens (karies pada permukaan enamel dan belum terasa nyeri hanya ada pewarnaan hitam atau coklat), Karies superficialis (karies yang sudah mencapai bagian dalam enamel dan kadang-kadang merasa sakit), Karies Media (karies yang mencapai bagian dentin, biasanya merasa sakit/ngilu apabila terkena makanan), dan Karies profunda (karies yang mengenai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa, biasanya terasa sakit secara tiba-tiba atau tanpa perangsangan, jika tidak dirawat gigi akan mati/nekrosis). Gambar:

12. Pulpitis Pulpitis adalah peradangan pada pulpa gigi yang menimbulkan rasa nyeri. Pulpitis adalah istilah umum untuk peradangan pulpa gigi , yang terdiri dari pembuluh darah dan jaringan saraf. Hal ini ditandai oleh kepekaan gigi yang muncul

13

dari aliran darah berlebihan ke gigi. Pulpitis terjadi akibat karies yang meluas ke dentin. Penyebab pulpitis adalah kerusakan gigi yang telah menembus melalui lapisan enamel dan dentin gigi, trauma yang disebabkan oleh kekuatan menggiling/mengepal, iritasi termal, pengembalian struktur gigi, infeksi bakteri yang masuk ke dalam ruang pulpa, dan abses gigi. Penyebab pulpitis yang paling sering adalah pembusukan gigi dan cedera. Pulpa terdapat dalam ruang yang sempit, sehingga tidak mempunyai ruang yang cukup ketika membengkak, sehingga tekanan dalam gigi meningkat. Peradangan permanent bisa merusak gigi, walaupun peradangan yang ringan bisa sembuh dan tidak menimbulkan kelainan permanent. Peningkatan tekanan dalam gigi melalui akar bisa menyebabkan luka pada tulang rahang dan jaringan sekitarnya. Pulpitis diklasifikasikan menjadi pulpitis reversible dan pulpitis irreversible. Pulpitis reversible adalah radang pulpa ringan sampai sedang akibat rangsang. Pulpitis reversible dapat terjadi karena karies dalam, tumpatan, gambaran mikroskopis didapatkan lapisan odontoblas rusak, vasodilatasi, udema, sel radang kronis dan sel radang akut. Pulpitis bisa sembuh apabila penyebab dihilangkan dan gigi diperbaiki. Obat- obatan tertentu dapat dapat digunakan selama periode restorative dan upaya mempertahankan gigi tetap vital. Pulpitis ireversibel dicirikan kepekaan yang berkepanjangan terhadap dingin dan panas. Radang pulpa yang ringan yang berlangsung ringan atau yang berlangsung lama ditandai nyeri spontan terutama terutama kena rangsang dingin. Rasa sakit terus-menerus dan diperburuk oleh rangsangan. Kerusakan pada saraf memerlukan perawatan saluran akar yang akan mengembalikan fungsi akar normal dan mengurangi rasa sakit dari saraf.

Gambar:

14

13. Periodontitis Periodontitis adalah suatu peradangan peradangan atau infeksi yang terjadi pada jaringan penyangga gigi atau periodontium. Jaringan ini berfungsi untuk menyangga gigi. Jaringan ini terdiri dari cementum, dentoginggival junction, periodontal ligament, dan tulang alveolar. Periodontitis bisa disebabkan oleh mikroorganisme dan produknya seperti plak supraginggiva dan subginggiva. Faktor sistemik juga berpengaruh terhadap terjadinya periodontitis walaupun tidak ada proses inflamasi. Tekanan oklusal yang berlebihan juga memperparah periodontitis (misalnya pemakaian alat ortodonsi yang berlebihan). Periodontitis dapat diklasifikasikan menjadi periodontitis kronis, periodontitis agresif, periodontitis akibat penyakit, penyakit nekrosis periodontal akut. Periodontitis kronis dimulai saat remaja, dan berlanjut selama hidup. Periodontitis agresif biasanya terjadi pada anak muda disebabkan oleh defisiensi imun dan factor genetic. Periodontitis karena penyakit disebabkan oleh penyakit sistemik seperti DM tipe 1, sindrom down, AIDS, dan kelainan leukosit yang berat. Penyakit nekrosis periodontal akut ditandai dengan jaringan mati, perdarahan spontan, nyeri dengan onset yang cepat, bau mulut tak sedap, gusi tumpul. Hal ini disebabkan stress, diet buruk, merokok, dan infeksi virus. Gambar:

15

14. Ginggivitis Ginggivitis adalah peradangan pada ginggiva. Proses peradangan terbatas pada jaringan epitel mukosa yang mengelilingi bagian cervical dentin dan processus alveolaris dentis. Penyebab dari gingivitis adalah akumulasi plak yang berkaitan dengan bakteri, apabila sisa makanan tidak tersikat dalam 24 jam, maka akan terbentuk plak. Ada tiga tahapan radang gusi, yaitu tahap inisial (2-4 hari), tahap lesi dini (4-7 hari), dan tahap lesi mantab (2-3 minggu). Pada tahap lesi mantab sudah terjadi kerusakan jaringan penyangga gigi. Ginggivitis dapat disebabkan oleh induksi obat, keadaan hormonal, kekurangan nutrisi, dan penyakit infeksi lain. Gambar:

15. Xerostomia

16

Xerostomia adalah keadaan berkurangnya produksi saliva, dan menyebabkan mulut kering. Penyakit ini menyebabkan sulit menelan, mengecap makanan, meningkatkan frekuensi infeksi mukosa, mempercepat produksi karies, dan kesulitan dalam memakai protesa. Pasien biasanya mengeluh mulut terbakar, kering, dan gangguan sensasi rasa. Prevalensi xerostomia meningkat sesuai dengan peningkatan umur walaupun xerostomia bukan merupakan penyakit akibat penuaan. Penyebab xerostomia adalah factor usia, hormone, puasa, penyait sistemik, defisiensi gizi, gangguan emosional dan psikologis, gangguan system saraf, obat-obatan, gangguan kelenjar ludah, penyinaran daerah kepala dan leher, gangguan air dan elektrolit. Komplikasi meliputi karies dentis dan kandidiasis. Gambar:

16. Non Cancerous Growth/ Kista Periapikal

17

Kista periapikal adalah kista odontogenik berbagai struktur epitel berlapis yang berasal dari epitel odontogenik, kebanyakan kista odonto genik didefinisikan lebih oleh lokasi daripada struktur histologisnya. Kista periapikal adalah suatu kantung epithelial yang pertumbuhannya lambat pada apeks gigi, yang melapisi suatu kavitas patologik pada tulang alveolar. Kista ini secara umum merupakan sekuens dari periodontitis aplikalis kronis, tetapi tidak semua radang kronis bisa berubah menjadi kista. Insidensi terjadinya kista periapikal dari periodontitis apikalis bervariasi antara 6-55 %. Penyebab dari kista ini adalah gigi yang terinfeksi, nekrosis pulpa, fraktur gigi, dan caries dentis. Gejala diawali dengan pulpitis yang menyebabkan kematian pulpa, lesi caries dentis yang mencapai pulpa akibat gigi patah atau berlubang, dan kerusakan yang menyebabkan lamina dura terputus dari gigi yang terlibat. Gambar:

18

19

17. Squamous Sel Karsinoma Oral Karsinoma ini tumbuh di setiap epitel berlapis skuamosa atau mukosa yang mengalami metaplasia skuamosa. Jadi kanker ini bisa terjadi di lidah, bibir, esophagus, serviks, vulva, vagina, bronkus, atau kandung kemih. Pada permukaan mukosa mulut atau vulva, leukoplakia merupakan predisposisi yang penting. Kanker rongga mulut merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi di dunia. Faktor etiologi terpenting adalah pemakaian tembakau, konsumsi alcohol, dan virus. Virus yang diduga berperan dalam kanker ini adalah Herpes simpleks virus. Hifa jamur candida juga ditemukan dalam leukoplakia. Candida juga diduga menghasilkan zat karsinogenik yang bisa mempengaruhi terjadinya kanker mulut. Gambar:

18. Abses Abses adalah kumpulan nanah setempat, jaringan-jaringan mati, sel darah putih, dan bakteri yang terkumpul dalam jaringan, organ, atau rongga yang tertutup. Abses bisa mengenai ginggiva, gigi, dan periodontal. Abses bisa terjadi karena factor

20

iritasi

(plak,

kalkulus,

dan

karies),

infeksi

odontogenik

(Streptokokus,

peptostreptokokus, peptococcus, eubacterium, bacteroides, dan fusobakterium). Abses ginggiva adalah abses yang terjadi pada ginggiva marginalis atau papilla interdentalis. Abses periapikal adalah abses yang mengelilingi apeks gigi, yang disertai kumpulan nanah akibat infeksi yang terjadi setelah infeksi pulpa, melalui lesi karies, atau cedera yang menyebabkan nekrosis pulpa. Abses periodontal adalah pengumpulan bahan purulen dalam jaringan periodontal. Abses periodontal menyebar melalui jalur hematogen, limfogen, dan perkontinuitatum. Komplikasi yang terjadi adalah granuloma dan kistoma dentalis. Gambar:

21

22