Anda di halaman 1dari 8

TUJUH TRADISI KOMUNIKASI MENURUT ROBERT T.

CRAIG
TUGAS TEORI KOMUNIKASI

Dosen: Anter Venus, Drs., M.A. Comm.

Disusun Oleh: Trini Monica Pursita 210110110096 Rika Nisa Aulia 210110110098 Annisa Agustin 210110110115 Achwan Noorlistyo Adi 210110110134

DEPARTEMEN MANAJEMEN KOMUNIKASI FIKOM UNPAD 2013

Craig terlebih dahulu menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksudkan dengan tradisi. Menurutnya, tradisi adalah sesuatu yang sudah kita miliki sejak dulu (waktu sebelumnya), yang tidak statis tetapi terus berkembang sesuai dengan zaman. Ini lebih menjelaskan bahwa dalam memelihara suatu tradisi peran nilai-nilai yang sudah ada menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Dalam memandang penempatan masing-masing tradisi keilmuan komunikasi, Craig mendasarkan pada konsep praktek komunikasi sehari-hari dan sesuai dengan perkembangan tradisi itu sendiri. Titik tolak lain yang harus diperhatikan dalam kajian Craig ini, ia selalu menempatkan manakala tradisi-tradisi ini saling bertentangan atau juga tidak memenuhi criteria yang ada, maka langkah penting ynag harus dilakukan adalah dengan cara dialog dan dialektika. Kajian tentang perspektif tujuh tradisi dalam teori komunikasi ini telah membuka sebuah ruang baru bagi kita untuk mendiskusikan perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang ada dalam teori komunikasi tanpa memunculkan sekatsekat keilmuan yang bersifat multidisiplin. Cara pandang Robert T. Craig dalam menjelaskan berbagai teori komunikasi yang jumlahnya banyak itu. Robert Craig membagi dunia teori ke dalam tujuh kelompok pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran, yaitu: 1. Sosiopsikologi Tradisi Sosiopsikologi memandang individu sebagai mahluk sosial. Teori-teori yang berada dibawah tradisi sosiopsikologi memberikan

perhatiannya antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan

masyarakat. Tradisi ini mewakili perspektif objektif atau scientific. Tradisi ini mencari hubungan sebab akibat yang dapat memprediksi kapan sebuah

perilaku komunikasi berhasil atau tidak. Penilaiannya berdasarkan ada tidaknya perubahan yang terjadi pada pelaku komunikasi. Sebagai contohnya, Andri adalah seorang psikolog, dia memiliki pasien bernama Messi. Setiap kali Messi mengalami stress karena beban pekerjaannya, dia selalu datang kepada Andri. Dengan profesionalnya, Andri memberikan sugesti-sugesti positif yang berkenaan dengan lingkungan kerja serta kondisi Messi sendiri. Setelah berulang-ulang diberi sugesti, akhirnya Messi pun bisa mengendalikan kondisi pikirannya sehingga tidak stress lagi. Itu menunjukan bahwa adanya perubahan sikap atau mental yang dialami oleh seseorang karena tradisi sosiopsikologi.

2. Sibernetika Sibernetika memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat didalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai bagian. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat. Tradisi ini juga nampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran, rasionalitas, dan sistem-sistem kompleks. Teori informasi berada dalam konteks ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya. Contohnya adalah, ketika pemerintah membuat kebijakan mengenai sesuatu hal, setelah selesai kebijakan tersebut tidak langsung diputuskan, tetapi diinformasikan melalui media massa kepada masyarakat luas agar mengetahui bagaimana tanggapan atau feedback yang akan didapatkan dari pembuatan kebijakan tersebut.

Maka pada tradisi ini, komunikasi pada media massa menjadi unggulan dalam penyampaian suatu pesan atau informasi kepada orang banyak.

3. Retorika Retorika didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara. Dalam perkembangannya, retorika juga mencakup proses untuk menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui berbagai macam pesan. Ada enam keistimewaan yang mencirikan tradisi ini: a. Keyakinan bahwa berbicara membedakan manusia dari binatang. b. Adanya kepercayaan bahwa pidato public yang disampaikan dalam forum demokrasi adalah cara yang lebih efektif untuk memecahkan masalah politik. c. Retorika merupakan sebuah strategi dimana seorang pembicara mencoba mempengaruhi seorang audience dari sekian banyak audience melalui pidato yang jelas-jelas bersifat persuasive. d. Pelatihan kecakapan pidato adalah dasar pendidikan kepemimpinan. e. Menekankan pada kekuatan, keindahan bahasa untuk menggerakkan orang banyak secara emosional dan menggerakkan mereka untuk beraksi atau bertindak. f. Retorika merupakan sebuah keistimewaan bagi pergerakan wanita di Amerika yang memperjuangkan haknya untuk bisa bicara di depan publik.

4. Semiotika Semiotika memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada diluar diri individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media, budaya dan masyarakat. Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan cara tanda itu bekerja. Sebuah tanda adalah sesuatu yang menunjukan sesuatu yang lain.

Sebagai contohnya adalah ketika kita datang ke suatu daerah yang memiliki budaya yang berbeda dengan budaya yang kita gunakan, katakanlah itu adalah bahasa, disini peran dari tradisi semiotika sangat diperlukan. Karena bahasa yang berbeda, cenderung kedua pelaku komunikasi ini akan melakukan penyampaian pesan melalui tanda-tanda yang memiliki makna yang disampaikan satu sama lain sehingga pesan antara keduanya bisa dipahami.

5. Sosiokultural Cara pandang sosiokultural menekankan gagasan bahwa realitas dibangun melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam kelompok masyarakat dan budaya. Sosiokultural lebih tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya mereka. Menurut ahli bahasa Universitas Cicago, Edwart Sapir dan Bejamin Lee Whorf adalah pelopor sosiokultural. Hipotesis yang diusungnya adalah struktur bahasa suatu budaya menentukan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Hipotesis ini menujukan bahwa proses berpikir kita dan cara kita memandang dunia dibentuk oleh struktur dramatika dari bahasa yang kita gunakan. Contohnya sangat mudah, seorang yang berasal dari suku Sunda pergi ke terminal untuk pergi ke luar kota. Di terminal banyak sekali suku Batak yang menjadi calo angkutan umum. Suku Batak memiliki ciri khas yaitu jika berbicara atau berbahasa pasti keras dan mungkin kasar, tapi bagi mereka itu adalah budaya mereka dan sudah biasa saja. Seorang suku Sunda ini yang belum memahami budaya suku Batak dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa suku Batak orang-orangnya kasar, orang yang kasar biasanya orang jahat ditambah lagi melihat pekerjaannya sebagai calo angkutan umum di terminal. Perspektif itu muncul karena seorang suku Sunda ini melihat dari realitas sosial suku Batak yang berada di sekitarnya.

6. Kritis Pernyataan mengenai kekuasaan (power) dan keistimewaan (privilege) yang diterima kelompok tertentu di masyarakat menjadi topic yang sangat penting dalam teori kritis. Kritis memandang komunikasi sebagai bentuk pemikiran yang menentang ketidakadilan. Tiga asumsi dasar tradisi kritis: a. Menggunakan prinsip dasar ilmu sosial interpretif. b. Mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya mengungkap strukturstruktur yang sering kali tersembunyi. c. Istilah teori kritis berasal dari kelompok ilmuwan Jerman yang dikenal dengan sebutan Frankfurt School. Kelompok ini telah mengembangkan suatu kritik sosial umum dimana komunikasi menjadi titik central dalam prinsip-prinsipnya.

7. Fenomenologi Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri orang lain melalui dialog. Tradisi ini memandang manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman-pengalaman subjektif

manusia. Pendukung teori ini memandang bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar daripada hipotesa penelitian sekalipun. Dalam tradisi ini, komunikasi dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui dialog. Hubungan baik antar individu mendapatkan keduudkan yang tinggi dalam tradisi ini. Dan hal ini pula yang kemudian diadobsi secara teoritis untuk menanggapi permasalahanpermasalahan yang timbul dan menghasilkan terkikisnya hubungan yang sudah kuat.

Sebagai contoh, ketika dua orang sahabat yang biasanya saling bercengkrama satu sama lain, bermain bersama, saling mencurahkan isi hatinya mengenai sesuatu hal. Namun pada suatu hari, si A ini menyinggung perasaan si B meski awalnya hanya bercanda. Dan pada rentang waktu yang cukup lama mereka bermusuhan. Namun ketika si A menyadari dan mencari solusi yang tepat terhadap masalahnya, mereka bisa kembali berbaikan.

DAFTAR PUSTAKA

http://adiprakosa.blogspot.com/2008/09/tradisi-ilmu-komunikasi-dan.html http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2012/09/perspektif-tujuh-tradisidalam-teori.html http://teorikomunikasi-morissan.blogspot.com/ http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-mediastudies/2244759-perspektif-tujuh-tradisi-dalam-teori/