Anda di halaman 1dari 15

1.

Kebudayaan dan Adat Istiadat Bangka

Selain pantai, Bangka juga dikenal dengan keragaman budayanya. Dari budaya lokal hingga budaya Import yang dibawa para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting untuk mengembangkan pariwisata. Pulau Bangka yang dikelilingi lautan, laksana surga-surga bagi para nelayan. Itulah secuil cermin tentang kebudayaan nelayan di pulau yang dulu dikenal sebagai penghasil timah. Dalam perkembangannya, latar belakang masyarakat Bangka yang sebagian besar nelayan itu, ternyata turut mempengaruhi pertumbuhan kebudayaan lokal. Meski saat ini pola hidup masyarakat Bangka telah mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Paling tidak saat ini ada dua event budaya besar yang berhubungan dengan nelayan, yakni, upacara rebo kasan dan buang jong. Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi, sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa) Tapi diantara banyak ritual budaya di Bangka, upacara sepintu sedulang boleh jadi memiliki makna yang khusus. Inilah ritual yang menggambarkan persatuan masyarakat Bangka.

Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang. Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan Nganggung, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar. Selain itu juga ada berbagai macam kebudayaan dan adat istiadat bangka antara lain :

Rebo kasan Buang Joang

Ceriak Nerang Perang Ketupat Mandi Belimau serta, Kawin Masal

2.Rumah adat Bangka Belitung

Rumah panggung, rumah limas dan rumah rakit merupakan rumah tradisional Bangka Belitung. Hampir sama dengan propinsi lain yang ada di Pulau Sumatera model arsitektur rumah adat Bangka Belitung berciri arsitektur Melayu.Terdapat tiga macam ciri arsitektur rumah adat yaitu arsitektur Melayu awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Arsitektur rumah Melayu Awal berujud rumah panggung kayu dimana hampir semua bahan material yang di pakai untuk rumah ini berupa kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang banyak tumbuh dan sangat mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Arsitektur rumah Melayu Awal ini biasanya beratap tinggi dan sebagian atapnya miring. Saat pembangunan rumah yang berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang, dimana bangunan rumah yang didirikan memiliki 9 buah tiang. Tiang utama tempatnya di tengah dan didirikan pertama kali. Kemuduan atap rumah ditutup dengan daun rumbia. Sementara bagian dindingnya biasanya dibuat dari bahan pelepah/kulit kayu atau menggunakan buluh (bambu).

3. Pakaian adat

Untuk Pakaian adat pengantin wanita Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung berupa baju kurung merah, dimana baju adat ini biasanya terbuat dari bahan kain sutra ataupun dari bahan beludru yang mana pada jaman dulu sering disebut dengan baju Seting dan untuk kain yang dikenakan berupa kain bersusur ataupun kain lasem atau biasa disebut dengan nama kain cual. Kain cual ini merupakan kain tenun asli yang berasal dari Mentok. Pada bagian kepalanya menggunakan mahkota yangbiasanya dinamakan dengan "Paksian". Sedangkan untuk mempelai pria nya akan mengenakan "Sorban" atau kalau dalam masyarakat setempat disebut di sebuat dengan Sungkon.

busana pengantin kaum perempuan yang ada di sini, menurut keterangan dari orang tuatua yang berasal dari Cina, konon ada ceritanya tersendiri. Menurut cerita waktunitu ada saudagar yang berasal dari Arab yang datang ke negeri Cina, Tujuannya adalah untuk berdagang dan juga untuk menyiarkan agama Islam. saudagar ini kemudian jatuh cinta dengan seorang gadis Cina. Selanjutnya mereka melangsungkan upacara perkawinan dengan gadis Cina tersebut, Dan pada acara perkawinan inilah kedua mempelai ini memakai pakaian adat masing-masing.

Karena waktu itu banyak sekali orang-orang yang berasal dari Cina dan Arab yang datang untuk merantau ke wilayah pulau Bangka terutama ke Kota Mentok. Waktu itu Kota Mentok ini sebagai pusat pemerintahan. Dan pada saat itu diantaranya ada yang telah melakukan upacara perkawinan maka banyak sekali masyarakat pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Pakaian untuk pasangan pengantin ini pada akhirnya di sebut dengan nama pakaian "Paksian"

4. Makanan Khas

Khas Bangka Belitung adalah makanan khas yang dibuat berdasarkan cara memasak masyarakat Bangka dan Belitung. Masakan Bangka Belitung dapat dikhususkan menjadi masakan Bangka dari Pulau Bangka dan masakan Belitung dari Pulau Belitung. Makanan Bangka Belitung cukup beraneka ragam dikarenakan bahan-bahan masakan yang digunakan berbeda antar pulau dan juga pengaruh cara memasak masyarakat propinsi lain terutama dari Sumatera Selatan, dimana dahulu Bangka Belitung masih bergabung. Kategori masakan Bangka Belitung dibedakan atas masakan khas Melayu dan masakan Tionghoa terutama masakan Hakka. Masakan Melayu Bangka Belitung jarang ditemukan di luar Bangka Belitung, sementara masakan Tionghoa banyak dijumpai di pulau Jawa terutama di Jabodetabek

Jenis-jenis Makanan Khas Bangka Belitung

Lempah adalah masakan berkuah yang biasanya berbahan dasar makanan laut atau daging sapi yang dibumbui rempah-rempah yang beraroma kuat. Dalam bahasa Belitung lempah disebut gangan

Jenisnya:

Lempah kuning adalah masakan lempah yang isinya terdiri dari ikan kakap merah atau tenggiri dengan kuah yang berbumbu kunyit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas dan belacan. Lempah ini memiliki kuah berwarna kuning dan biasanya dimasukkan potongan-potongan nanas sehingga disebut juga lempah nanas. Orang Belitung menyebutnya gangan ketarap. Ikan kakap dapat pula digantikan dengan daging sapi.

Lempah Darat atau Lempah daret adalah masakan lempah yang berisikan bahan bahan seperti batang keladi atau talas, sayur-sayuran dan kuah yang berbumbu rempah-rempah.

Lempah Kulat adalah masakan yang terbuat dari kulat/jamur khas Bangka yang biasanya dimasak dengan santan.

Rusip adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar ikan teri yang difermentasikan dalam pot atau guci dengan garam, kemudian ditambahkan gula jawa sebagai perasa. Rusip agak serupa dengan jeot dalam kuliner Korea.

Kecalo atau calo adalah udang rebon yang difermentasikan. Dapat dikonsumsi langsung dengan sayur-sayuran sebagai lalapan. Kecalo memiliki rasa yang cukup asin, juga ditambahkan saat menggoreng telur kocok.

Belacan adalah jenis pasta ikan atau udang fermentasi yang dipadatkan dan memiliki bau khas yang agak menusuk. Belacan dijadikan bumbu untuk banyak masakan lain.

Bakmi Bangka disebut juga ja-mien/ya-mien/ja-mian/sui-mian bakmi yang berbahan kuah kaldu tulang dengan isi sayuran, daging ayam, daging sapi dan makanan laut.

Hamchoi atau sayur asin adalah sayur yang diasinkan, biasanya sayur bokchoi. Sembelingkung adalah abon ikan atau udang. Songsui ; sejenis masakan berkuah yg terdiri dari choi sim (caisim), daging ba, engjan (baso ikan), seafood lainnya seperti udang dan cumi.

Tahu Kok atau tewfu kok, tahu goreng yang berisi adonan ikan dan biasanya dimasak kuah bersama daging lain.

Chap choi (cap cai); cap cai bangka sedikit berbeda dengan cap cai lainnya karena kuahnya berwarna merah karena dimasak dengan saos tomat.

Bakwan ; bakwan di sini bukan bakwan jagung seperti daerah lain, tetapi lebih berbentuk kepada empek-empek rebus yang dimasak dengah kuah dan bumbu- bumbu khusus.

Thew Fu Sui ; thew fu sui adalah air tahu, tetapi tidak seperti di daerah lain, thew fu sui di bangka lebih banyak dinikmati selagi hangat.

Fu Yung Hai ; tidak seperti di daerah lain, fu yung hai bangka dibuat dengan telur bukan tepung, isinya bukan hanya sayuran, tetapi biasanya ada daging atau seafood dicampur dengan kacang polong dan disiram dengan kuah yang terbuat dari saos tomat.

Saucu adalah sejenis babi panggang khas Bangka, dipanggang dengan teknik khusus dan bumbu-bumbu khusus pula.

Thewfu cau sejenis tahu pong atau tahu kering, yang didalamnya tidak berisi dan biasanya terdapat dicocol dengan kuah thew ciong.

Teritip sejenis binatang laut yang hidup menempel di karang, biasanya dibuat menjadi sambal teritip dan dimakan dengan lalapan

Lokan sejenis kerang laut yang biasanya dimasak dengan kuah dicampur serai. Hoisem sejenis cacing laut yang besar dan biasanya dimasak untuk campuran sup.

Eng Phiau sejenis perut ikan laut yang dikeringkan dan biasanya dijadikan bahan campuran untuk sup.

Bujan penganan ringan yang terbuat dari keladi/talas yang digoreng dan dimakan dengan cocolan sambel thew ciong atau campuran sambel belacan. Beberapa jenis masakan lain mendapat pengaruh dari wilayah Sumatera seperti empek-

empek, tekwan atau bakwan. Namun berbeda dari khas Sumatera Selatan yang menggunakan bahan ikan sungai, empek-empek di Bangka Belitung umumnya terbuat dari bahan ikan laut. Makanan ringan Khas Bangka Belitung

Kempelang

Dodol Bangka

Bangka Belitung memiliki jenis makanan ringan yang sebagian besar dihasilkan dari produk makanan laut. Beberapa diantaranya:

Kempelang atau kerupuk yang terbuat dari udang, cumi atau ikan yang diberi bumbu, dibuat menjadi empek2, kemudian dikeringkan dengan dijemur dan digoreng. Ada juga kempelang yang dipanggang. Selain itu ada kempelang pasir seperti yang tertera di gambar yang sedikit berbeda dari kempelang pada umumnya dan memiliki sambel belacan.

Getas/ kretek adalah kerupuk ikan atau udang yang dibuat berbentuk bulat atau silinder. Martabak Manis disebut juga Hoklo-pan (harfiah kue dari Hok-lo). Lempuk sejenis dodol yang terbuat dari durian atau cempedak. Siput Gung Gung / Siput Gong Gong sejenis cemilan yang terbuat dari siput yang digoreng keris.

Dodol/Jelinak Dodol khas Bangka berbeda dengan dodol daerah lain, warnanya lebih hitam dan lebih lengket dari daerah lain. Sedangkan jelinak adalah sejenis dodol tetapi sedikit terasa pedas dan hangat bila dimakan.

Kue Citak Satu Kue khas Bangka yang sangat susah dibuat, berwarna putih, rasanya manis, dan biasanya mempunyai cetakan yang rumit. Kue ini terbuat dari kacang kedelai.

Kue Jungkong kue dengan serat yang halus dan lembut seperti puding terdiri dari lapisan atas berwarna putih, lapisan tengah berwarna hijau (pandan), lapisan berikutnya gula kabung (gula aren) dan biasanya dicetak di dalam gelas atau mangkuk kecil.

5.Senjata Adat

Siwar, senjata khas dari daerah Sumatera Selatan dan sekitar nya. Dapat digunakan sebagai senjata tikam dan iris, siwar ini dihasilkan melalui proses garap yang matang sehingga menghasilkan bilah yang sangat tajam (bisa untuk mencukur) dan indah. teknik tempa balik mipih menjadikan bilah nya berpamor. Handle terbuat dari tanduk kerbau yang diukir indah, serta sarung dari kayu besi yang juga berukir. panjang total +/- 30 cm bilah terlebar +/- 4 cm 6. Sistem Kekerabatan 1.Sistem kekerabatan a. adat pernikahan Pulau Bangka Tradisi ini di bagi masyarakat Melayu Bangka adalah sesuatu yang penting dan sakral, oleh sebab itu tata cara pengaturan perkawinan mulai dari persiapan acara, pelaksanaan upacara bahkan setelah selesai upacara harus direncanakan dan dipersiapkan dengan sesempurna mungkin. Perkawinan atau pernikahan secara tradisional bertujuan untuk menjalankan

sunatullah, memenuhi kebutuhan biologis, mencapai status sosial tertentu dan pengekalan tali darah serta meneruskan keturunan. Kehidupan masyarakat dan adat istiadat Bangka sangat dipengaruhi oleh unsur budaya Melayu dan agama Islam, termasuk pelaksanaan upacara yang berhubungan dengan siklus kehidupan (life cycle) yang berhubungan dengan tahapan-tahapan krisis kehidupan seseorang (crisis rate) yang telah digariskan menurut adat Melayu karena Kepulauan Bangka Belitung termasuk di dalamnya bangka merupakan daerah yang masuk dalam Rentang Tanah Melayu. Kemudian tata cara perkawinan umumnya dilaksanakan sesuai agama Islam.Pada tradisi perkawinan biasanya dimeriahkan dengan berbagai macam tarian, musik tradisional seperti Tari Campak, Tari Zapin dan musik dambus. b. adat Pernikahan Pulau Belitung Belitung adalah kabupaten kepulauan yang dikelilingi hampir 200 pulau besar dan kecil. Sejak akhir tahun 2000, kabupaten berpenduduk lebih dari 2 ratus ribu jiwa ini menjadi bagian dari propinsi Bangka Belitung. Beragam etnis hidup berdampingan di kawasan yang memiliki panorama indah ini. Kesenian rakyat Belitung umumnya berbau Melayu, dengan menggabungkan tradisi sebelum dan sesudah masuknya Islam ke daerah ini. Kentalnya budaya Melayu amat terasa pada upacara pernikahan adat setempat. Dalam adat Belitung, tak harus seorang wanita yang dilamar, saat menjelang perkawinannya. Bisa saja, prialah yang dilamar oleh calon pendamping hidupnya. Hal ini menandakan masyarakat Belitung selalu luwes dalam memandang anggota masyarakatnya. Tidak mesti pria yang dominan dibanding perempuan, ataupun sebaliknya. Semuanya diselesaikan melalui kesepakatan kedua belah pihak. Pelaksanaan upacara pernikahan adat Belitung biasanya membutuhkan waktu 3 hari 3 malam. Bahkan bisa mencapai 7 hari 7 malam. Hari pertama, adalah saatnya mengetuk pintu. Pada hari pertama ini calon pengantin pria tidak menyertakan kedua orang tuanya. Sang mempelai didampingi oleh saudara ayah atau ibu. Rombongan mempelai pria tidak lantas begitu saja masuk ke dalam rumah. Ada 3 pintu yang harus mereka lewati. Berebut lawang, demikian istilah yang dikenal di Belitung. ` Di pintu pertama ini, sebaris pantun diucap rombongan tamu. Sebaris pantun pula dibalas

tuan rumah, diwakili tukang tanak, orang yang memasak nasi. Tak habis sebaris, pantunpun berlanjut. Intinya adalah menyampaikan maksud kedatangan rombongan tamu yang didengarkan

oleh tukang tanak. Namun bukan berarti rintangan sudah usai. Masih ada 2 pintu lagi yang harus dilalui rombongan mempelai pria. Di pintu kedua, kali ini mereka harus berhadapan dengan Pengulu Gawai, yang merupakan pemimpin hajatan. Berbalas pantun kembali dijalin. Pengulu gawaipun menanyakan maksud kedatangan rombongan tamu. Dua pintu telah dilalui, namun belumlah cukup. Masih tersisa satu lagi. Yang terakhir, pintu ketiga dikawal Mak Inang, seorang juru rias pengantin. Mak Inang menanyakan barang bawaan atau sire rombongan tamu yang hendak meminang. Dengan sire berarti keluarga besar rombongan tamu mempunyai niat mengikat tali persaudaraan. Lewat pintu ini, barulah lega rombongan tamu. Hantaran dan tipak yang dibawa rombongan tamupun beralih tangan. Seperangkat tempat sirih lengkap, yang menyimpan 17 macam barang, menggambarkan jumlah rakaat shalat dalam 1 hari, kini di tangan tuan rumah. Demikian pula dengan sejumlah uang, yang berkelipatan lima. Angka lima melambangkan jumlah shalat wajib bagi kaum muslim. Sang pengantin pria, akhirnya dipertemukan dengan pujaan hati, yang segera akan dinikahinya. Akad nikahpun digelar. Hari kedua, saat bejamu, lebih menyiratkan rasa persaudaraan dua keluarga yang telah dipersatukan ini. Di hari kedua, orang tua pengantin pria yang selama ini diwakilkan barulah muncul, dipertemukan dengan pihak keluarga dan orang tua pengantin wanita. Peran Mak Inang, begitu sangat terasa di hari kedua ini. Bahkan bisa dibilang sangat mendominasi. Ia harus memandu serangkaian adat Belitung. Seperti saling tukar kue. Memiliki makna, mertua harus ingat akan menantunya, demikian pula sebaliknya. Namun demikian, pesta belumlah usai. Masih ada hari ketiga. Pasangan pengantin, dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Mandik besimbor istilahnya. Merekapun menginjak telur. Cukup mengagetkan, saat pengantin ini berlari ke arah pelaminan. Gurauan umum beredar siapa yang mencapai pelaminan terlebih dahulu dialah yang mengatur roda kehidupan keluarganya kelak. http://www.indosiar.com/ragam/39164/mengarungi-bahtera-baru-ala-adat-belitung 3. Pakaian adat pengantin Bangka Belitung Pakaian adat pengantin bangka beliung untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan

kain tenun asli dari Mentok. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan Paksian. Bagi mempelai laki-laki memakai Sorban atau disebut Sungkon. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina, konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut, pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama Paksian. Pakaian tersebut terdiri dari Pakaian Pengantin Perempuan Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok, dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : Kembang cempaka Kembang goyang Daun bambu Kuntum cempaka Sepit udang Pagar tenggalung Sari bulan Tutup sanggul atau kembang hong Kalung Anting panjang Gelang Pending untuk pinggang Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).

Pakaian Pengantin Laki-laki Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).

Tata Rias dan Hiasan 1.Hiasan Dahi Hiasan Dahi memakai penutup dahi yang disebut paksian dan didahi dipasang sari bulan, pagar tanggalung dan sepit udang pada samping kiri kanan telinga (godeg) 2.Bentuk Sanggul Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri mawar, melati, kenanga, dan irisan daun pandan.pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. http://www.tamanmini.com/budaya/busana/339723754319/busana-tradisional-pangkalpinang F. Tradisi dan adat istiadat a.Kepunan dalam adat istiadat Bangka Pernah mendengar istilah pamali ? pastinya hampir seluruh masyarakat indonesia mengenal istilah tersebut.namun uniknya. Adat dan kebiasaan berlangsung turun temurun sejak jaman nenek moyang iyu terus berlangsung hingga sekarang. Seperti halnya pamali, tabu atau pantangan dan semacammnya dibangka lebih dikenal dengan kata arus, kepunan atau kepon, malet dan lainnya ( bahasa bangka). Untuk kepon (kepunan) dan malet merupakan satu rangkaian adat dan kebiasaan bangka.

Pada dasarnya kedua kata tersebut dapat diuraikan sebagai berikut ini, tidaklah baik kamu menolak makan/ minum ataupun sekedar mencicipi suatau makanan / minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi kebiasaan yang telah lama melekat dalam data istiadat masyarakat Bangka Belitung. Terlebih lagi bila kita pergi kesungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita jika tidak mencicipi makanan / minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mngikuti kita, misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas atau bahaya- bahaya lainnya. Menurut masyarakat Bangka, kejadian yang berlatar akibat kepon itu sudah banyak sekali terjadi, contoh kongkritnya banyak berupa kecelakaan dan berbagai musibah lain. Didesa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, dulu prnah terjadi musibah seorang warga yang disambar buaya setelah istrinya menawari untuk makan nasi bubur yang sudah disiapkannya ketika makan siang. Untuk menangkal dan sebagai tindakan penawar kepon, dikenal dengsn istilah malet. Malet adalah sikap kita dengan mencicipi makanan/minuman itu dengan menggunakan ujung jari dan dicicipi dilidah, kadangkala ujung jari yang sudah disentuh dengan makanan/ minuman itu cukup disentuhkan pada tangan kita. Untuk makanan dan minumana yang sangat vital akan adat istiadat kepon atau malet ini ada.lah : 1.Kopi, terutama kopi hitam (kopi kampung), kalau nescafe atau lainnya tetap berlaku juga 2. Nasi, bisa meliputi bubur nasi, nasi goreng atau sebagainya. 3. Makanan yang terbuat dari beras ketan dan berbagai hasil pertanian yang dihasilkan sendiri. Terlepas dari adanya korelasi kebetulan dan ketetapan Ilahi atas budaya kepon atau malet ini, adat istiadat ini masih berkembang di masyarakat bangka belitunghingga saat ini dan tidak ada salahnya bila kita ditawari makanan atau minuman dibangka, janganlah untuk mencicipinya paling tidak malt saja.

b.Sepintu Sedulang/ nganggung Kata sepintu sedulang adalah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu atau siapa saja di balai adat.

Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang. Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat acara-acara peringatan hari-hari besar keagamaan sepert mauludan, nisfu syaban, isra miraj . Acara ini lebih dikenal dengan sebutan Nganggung, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar yang ditutup dengan tudung saji, Tiap pintu rumah (keluarga) membawa satu dulang yang terbuat dari Kuningan, berisi makanan sesuai dengan status dan kemampuan keluarga tersebut 7. Agama Jumlah penduduk Belitung berdasarkan hasil sensus 1993 sebanyak 195.306 jiwa, terdiri dari berbagai etnis seperti suku Bugis, Jawa, Batak termasuk keturunan Cina. Penduduk asli berasal dari etnis Melayu. Semua etnis ini hidup berdampingan dan saling membaur dengan suku-suku pendatang termasuk orang asing. Bahkan banyak terjadi perkawinan antar etnis. Karena penduduk Belitung mayoritas beragama Islam, maka tradisi dan adat istiadat yang berlaku banyak dipengaruhi oleh nafas kehidupan Islam. Hal ini tampak dalam berbagai kegiatan di masyarakat, seperti upacara adat pernikahan, selamatan anak, kematian dan lain-lain. 8.Bahasa Bahasa sehari-hari yang dipakai adalah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Penduduk Kabupaten Belitung sebagian besar memeluk Agama Islam dan selebihnya memeluk Agama Khatolik, Protestan dan Budha. Pemeluk agama pada umumnya taat menjalankan ibadah.

KEBUDAYAAN PROPINSI BANGKA BALITUNG

Disusun Oleh : Nama :LINA TRIYULIANI No Kls : 19 : XI ADM4

SMKN 1 PAMEKASAN TAHUN AJARAN 2013/2014