Anda di halaman 1dari 8

REBUTAN PANGAN ; TNC dan Penghancuran Kaum Tani

Oleh: Mansour Fakih

Tragedi Petani di Ladang Sendiri Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, bahwa dewasa ini merupakan era bencana kemanusiaan bagi kaum Tani. Tragedi bencana kemanusiaan yang dihadapi kaum Tani ini terjadi dalam bentuk proses penyingkiran secara sistematik petani kecil sebagai produsen pangan. Proses peminggiran ini merupakan akibat kekalahan petani kecil dan konsumen dalam perebutan kebijakan pangan yang memihak pada Perusahaan Transnasional (TNC) bidang Agribisnis. Kekalahan para petani di arena kebijakan melawan TNCs bidang agribisnis raksasa tersebut segera membawa akibat tergusurnya para petani kecil dari sawah, tempat dimana mereka mencari nafkah dan menggantungkan kehidupan mereka. Kekalahan petani kecil tersebut terjadi dipelbagai arena dan tingkatan. Sesungguhnya bencana tersebut telah terjadi sejak peradaban manusia menerima keyakinan dan mitos bahwa Efficiency sebagai satu satunya prinsip dasar yang harus dipergunakan dalam pengelolaan lingkungan alam, ekonomi, dan berbangsa. Mitos efisisensi ini berlanjut pada mitos lain, bahwa hanya TNC lah yang paling efisien, dan oleh karenanya, TNC yang dipercaya paling berhak sebagai penyedia pangan. Mitos ini kemudian diturunkan dalam bentuk kebijakan negara seputar siapa yang secara legal berhak sebagai penyedia atau produsen pangan. Kekalahan ideologi dan politik ekonomi ini terjadi dalam berbagai arena kebijakan sekitar hak paten dan pemilikan kehidupan melalui perjanjian internasional mengenai Hak Kekayaan Intelektual (TRIPs) yang ditetapkan di World Trade Organization (WTO). Akibatnya kekalahan di level WTO ini membawa dampak pada kekalahan petani di aras kebijakan negara tempat dimana para petani seharusnya berteduh dan berlindung. Kekalahan petani di kandang sendiri yang bermuara pada dilucutinya kekuasaan negara untuk melindungi petani, sebaliknya justru membuat kebijakan memangkas semua subsidi terhadap para petani; negara dipaksa untuk menyingkirkan berbagai bentuk hambatan tarif impor bagi produk pangan dan menyingkirkan segenap rintangan bagi investasi bidang agribisnis dan pangan yang masuk ke negeri ini. Kebijakan negara tersebut betul-betul membuat petani terpaksa kehilangan kepercayaan mereka terhadap negara. Tiba tiba para petani merasa telah dikhianati oleh negara, oleh akademisi bidang pertanian di universitas, serta LSM. Negara bagi para petani bukan lagi menjadi tempat berlindung. Nasib buruk yang dialami petani tersebut ternyata tidak saja terjadi di Indonesia. Saya terkejut membaca kasus perebutan bibit tanaman antara seorang petani Kanada melawan Perusahaan Agribisinis raksasa Monsanto. Percy Schmeiser, seorang petani kecil yang tinggal di Saskatchewan, Kanada, baru-baru ini harus berurusan dengan pengadilan atas tuduhan telah mencuri secara illegal bibit canola hasil rekayasa genetik perusahaaan

transnasional asal Amerika tersebut. Di bulan April yang sejuk tahun 2001, pengadilan telah memenangkan Monsanto dan menjatuhkan putusan, Percy Scheimeser wajib membayar denda ribuan dolar kepada Monsanto, sebagai pemilik paten canola yang tanpa disengaja tumbuh di ladang petani malang tersebut. Kasus itu menyadarkan banyak orang bahwa teknologi, telah menjadi bagian dari alat pertarungan rebutan pangan antara petani dan TNC. Paten atas kehidupan sudah menjadi bagian dari upaya perebutan pangan. Du Pont, TNC agribisnis lainnya baru-baru ini juga menerima hak paten atas jagung. Paten No. EP 744 888 itu disahkan oleh European Patent Agency di Munich di bulan Agustus 2000. Hak Paten yang dimiliki oleh Du Pont tidak hanya berkat hasil inovasi teknologi rekayasa genetik jagung, tetapi termasuk kandungan minyak jagung di dalamnya. Du Pont serta banyak lagi TNC raksasa agribisnis yang menerima hak paten atas benih, sesungguhnya bukanlah pencipta benih jagung, padi, kapas. Semua germplasma ciptaan Tuhan dan berkah bagi umat manusia. Tuhan telah menciptakan jagung maupun padi jauh sebelum Monsanto maupun Du Pont didirikan. Du Pont yang mengklaim sebagai pemilik varietas jagung berdasarkan asumsi bahwa rekayasa genetika germplasma jagung sesungguhnya tidak lagi ciptaan Tuhan, dalam arti mereka percaya bahwa jagung itu murni ciptaan manusia. Selain jagung dan kapas, masih banyak lagi contoh paten, dimana suatu bibit pangan yang sudah dikembangkan ribuan tahun secara tradisional, tiba-tiba dipatenkan oleh TNC. Seperti nasib pohon neem (azadirachta indica) yang telah dikembangkan petani India berabad-abad untuk melindungi tanaman mereka dari hama, tiba-tiba diklaim dua TNC; W.R. Grace dan Agrodyne Laboratories. Begitu juga pada tahun 1994, banyak orang terkejut karena Agracetus menerima hak paten dari European Patent Office untuk rekayasa genetika kedelai. Hak paten ini ditentang oleh Rural Advancement Fund International, dengan dukungan LSM seluruh dunia, karena paten kedelai dianggap membahayakan pangan dunia. Tapi siapapun tahu, bahwa monopoli kedelai melalui paten akan mendatangkan keuntungan luar biasa. Paten atas kehidupan sesungguhnya merupakan cara licik untuk mengeruk keuntungan sambil menyingkirkan petani dan masyarakat adat. Hal ini mengingat 75% dari sumber kekayaan hayati genetika terdapat hanya di 7% area tropis dan sub tropis, di tempat tinggal para petani dan masayarakat adat. Alasan bahwa paten adalah atas nama keanekaragaman kehidupan, adalah pengkhianatan terhadap petani. Para petani sadar bahwa perkembangan keanekaragaman kehidupan berkembang seperti saat ini, bukan semata hanya karena bantuan alam tropis yang cocok untuk berkembangnya keanekaragaman hayati. Tetapi justru yang membuat keanekaragaman hayati berkembang, adalah keringat dan bantuan tangan petani melalui tradisi pertanian yang ramah lingkungan dan kepiawaian dalam mengkoleksi, menseleksi, dan mengembangkan tanaman selama ribuan tahun. Bagi para petani, paten atas kehidupan merupakan bencana ganda. Segera setelah keanekaragaman hayati mereka diambil secara paksa melalui aturan paten yang tidak masuk akal tersebut, para petani harus membayar kepada perusahaan raksasa pemilik paten. Jika para petani, yang tidak memahami seluk beluk pemilikan privat atas bibit, tibatiba menanam bibit yang dipatenkan, maka perbuatannya dikategorikan sebagai melawan

hukum dan akan mungkin menyeret perjalanan hidupnya ke dalam penjara. Sungguh sangat menyakitkan rasa etika dan menghina rasa keadilan ekonomi kita, menyaksikan prestasi tradisi menjaga keanekaragaman hayati jutaan petani itu, dalam waktu singkat direbut melalui rezim paten WTO, lantas secara mudah diklaim menjadi milik TNC. Padahal semua orang tahu pokok persoalannya adalah keuntungan dan keserakahan. Kita tahu, 60% dari ekonomi dunia bersumber dari proses atas kehidupan dan kekayaan hayati tersebut. Teknologi, riset, aturan paten (Patent Treaties of WTO) telah menjadi cara mudah untuk merebut pangan dari tangan petani, selain menjadi senjata bagi kompetisi ekonomi. Mekanisme dan Anatomi Marginalisasi Petani Bagaimana sesungguhnya mekanisme, prosedur maupun sistem pangan global yang meminggirkan petani tersebut. Kita sangat beruntung mendapatkan pencerahan dengan membaca buku ini. Buku ini mengupas tuntas dan mengisahkan bagaimana mekanisme bentuk perebutan itu tercermin dari kasus Monsanto suatu TNC atau perusahaan multinasional bidang agribisnis berasal dari Amerika. Bagi saya, persoalan dasarnya bukanlah semata terletak pada Monsanto. Kita harus mampu melihat Monsanto dalam kasus sistem dan struktur lebih besar yang membawa dampak marginalisasi petani. Meskipun pertikaian dan perebutan itu kelihatannya hampir dimenangkan oleh TNC yang dalam buku ini diperankan oleh Monsanto, namun kemenangan mereka atas kaum tani sesungguhnya berkat keberhasilan mereka untuk mendesak terbentuknya sistem kebijakan pangan negara yang mengantarkan mereka sebagai penyedia pangan. Kebijakan dan sistem pangan neoliberal yang diadopsi oleh negara tersebut membawa dampak tersingkirnya para petani kecil dari sawah mereka sebagai produsen pangan. Fenomena itu merupakan pertanda tergusurnya kebudayaan dan peradaban manusia yang telah berusia lebih dari 5000 tahun. Ironisnya, para cendikia dan sarjana pertanian kita, bahkan para aktivis LSM gagal mendesakkan ataupun mengingatkan para legislator yang duduk di kursi legislasi atas pilihan para petani, anehnya justru mereka sanggup membuat kebijakan pertanian yang melindungi pihak TNC. Kita terheran-heran tak berdaya menyaksikan suatu proses dehumanisasi kaum Tani tengah berlangsung. Siapapun akan tidak sanggup menelan kenyataan, di mana suatu proses penggusuran kebudayaan dan pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial budaya para petani justru didukung oleh negara, diabaikan oleh para politisi, bahkan dibantu oleh universitas dan para pekerja LSM. Sungguh menakutkan rasanya menghayati apa yang diuraikan oleh Isabelle Delforge dalam buku yang ditulis dalam bahasa Perancis dengan judul Nourrir le monde ou lagrobusiness: Enqueete sur Monsanto ini. Penulisnya adalah aktivis anti Globalisasi berasal dan berkebangsaan Belgia, yang telah terlibat dalam berbagai aksi untuk menghentikan Globalisasi. Posisi mereka sebagai program officer pada OXFAM Solidarity Belgium, mampu menjembatani rasa semangat banyak aktivis dan para petani di belahan bumi Selatan atas protes, kekecewaan, dan kemarahan mereka terhadap mekanisme dari struktur dominasi TNCs yang berada di belakang setiap proses kebijakan ekonomi dan perdagangan Neoliberal di WTO. Kebijakan Agreement on Agriculture (AOA) yang ditolak petani dan gerakan sosial global saat ini, secara sistematis telah dilaksanakan

meskipun belum ditetapkan. Jangan sesalkan jika semua proses marginalisasi dan frustrasi kaum Tani tersebut telah membangkitkan semangat tumbuhnya resistensi dan perlawanan bangsa dan petani Selatan terhadap rekolonisasi TNC saat ini. Dominasi TNC dan Nasib Petani di Kampung Kita Brazil, merupakan sedikit tempat, di mana banyak aktivis, intelektual, dan politisi negara masih memihak dan tidak mengkhianati para petani mereka. Bahkan Jose Sarney Filho, menteri lingkungan dalam kabinet Cordoso, bertekad mengundurkan diri dari jabatannya karena tekadnya untuk melarang penanaman dan penjualan hasil GMO sebelum analisis dampak lingkungan dan kesehatan dilakukan. Tentu saja sikap pemimpin dan aktivis maupun akademisi Brazil yang anti GMO tersebut membuat para lobbiest Monsanto di Brazil harus bekerja keras untuk menghadapi suatu gerakan sosial besar yang menuntut agar Brazil menjadi tempat yang bebas dari GMO. Adalah di Brazil, gerakan anti Privatisasi Air merupakan gerakan sosial terkuat di muka bumi. Lain di Brazil, lain pula sikap dan komitmen terhadap kaum Tani di Indonesia. Simak saja, bagaimana mungkin Indonesia, salah satu negeri yang memiliki jumlah petani terbesar di dunia saat ini, justru menghadapi kebijakan-kebijakan negerinya yang mengorbankan nasib petani. Desakan kebijakan global Free Trade Liberalization dalam bidang pertanian saat ini, telah melucuti negara hingga tak mampu memainkan peran sebagai pelindung bagi kaum Tani. Sejak jaman Pembangunan dulu (state-led development) negara sesungguhnya telah menunjukkan kegagalan untuk melindungi petani. Ketika jaman berubah ke perdagangan bebas, dimana negara digeser oleh Globalisasi, peranan negara untuk memproteksi petani sudah tiada. Globalisasi yang harus dipahami sebagai Globalisasi Korporasi (TNC), sesungguhnya mewakili impian TNC tentang persaingan dan pasar bebas. Melalui mekanisme WTO, TNC menghendaki secara paksa pasar bebas diberlakukan secara murni. Selain TNC seperti Monsanto yang dikisahkan dalam buku ini, WTO dan lembaga keuangan atau Bank Bilateral Internasional yang menguasai ekonomi dunia, sesungguhnya merupakan para aktor yang berada di belakang globalisasi korporasi yang membawa nasib buruk bagi petani. Institusi global seperti WTO, juga pada tingkat regional seperti AFTA maupun segitiga pertumbuhan lainnya memainkan peran masing-masing untuk melancarkan sistem liberalisasi, termasuk liberalisasi perdagangan pangan tersebut. TNCs dalam bidang Agribisnis rupanya adalah aktor penting di balik proses marginalisasi petani tersebut. Merekalah yang sesungguhnya paling diuntungkan jika globalisasi dan liberalisasi perdagangan pangan berjalan berdasar kebijakan neoliberalisme. Dewasa ini, di era krisis ekonomi, dalam waktu dua dekade sebelum akhir abad milenium, justru jumlah TNC meningkat secara dramatis. Sebelumnya, di tahun 70-an hanya ada sekitar 7,000 TNCs. Duapuluh tahun kemudian, tahun 90-an, jumlah mereka menjadi sekitar 37,000 perusahaan. Merekalah yang saat ini mendominasi ekonomi dunia. Mereka mengontrol 67% dari 75% total invetasi global. Saat ini ada sekitar 100 TNC yang berkonsentrasi dalam bidang usaha; jual benih, pestisida, pupuk kimia maupun produk pertanian dan pangan yang bersaing dengan para petani. Monsanto yang ditelanjangi oleh

buku ini hanyalah satu dari seratus TNC tersebut. Berbeda dengan reaksi pemerintah Brazil terhadap TNC, di Indonesia, Monsanto dan TNC lain justru mendapat keleluasan luar biasa dari negara, sehingga membuat para petani merasa dianaktirikan. Di negeri yang dihuni oleh jutaan petani miskin ini, pejabat negara sanggup mengeluarkan kebijakan yang justru melindungi dan memperlancar penetrasi TNC di arena pertanian. Lihat saja misalnya, Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian (Mentan) No.107/Kpts/KB/430/2/2001 tentang pelepasan secara terbatas kapas transgenik Bt DP 56908 sebagai varietas unggul dengan nama NuCOTN 35 B (Bollgard), telah membuat para petani sulit membedakan mana program pemerintah dan mana kepentingan bisnis TNC. Di negeri yang mayoritas penduduknya petani ini, kita belum memiliki undang undang perlindungan Petani. Tetapi, anehnya, kita justru memiliki undang-undang perlindungan tanaman. Sudah barang tentu undang-undang semacam ini mudah dibaca maksudnya, yaitu sebagai upaya hukum yang justru untuk melindungi tanaman hasil rekasaya genetika. Sampai saat ini kita belum memiliki peraturan yang memadai mengenai produk rekayasa genetika yang melindungi konsumen. Kecuali Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 yang menyatakan: tanaman, hewan, dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika harus didahului dengan analisis dampak lingkungan yang memadai. Itulah makanya sangat mengherankan, bagaimana nalarnya, tanpa analisis dampak lingkungan sama sekali, Menteri Pertanian berhasil memberi ijin Monsanto untuk menanam kapas transgenik secara terbatas di tujuh kabupaten di Sulawesi Selatan. Siapa saja yang peduli akan nasib petani dan lingkungan akan menuntut pembatalan SK Menteri Pertanian No.107/Kpts/KB/430/ 2/2001 tersebut. Tetapi jangankan mencabutnya, bahkan posisi Monsanto justru diperkuat dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 03/Kpts/KB 403/2002 tertanggal 11 Januari 2002 untuk melindungi Monsanto dan memberikan ijin penanaman secara terbatas kapas transgenik yang belum tentu aman tersebut. Berbeda dengan komitmen intelektual dan aktivis gerakan sosial Brazil terhadap kaum Tani, di Indonesia, banyak orang mulai meragukan integritas kalangan akademisi dari universitas dan pakar di bidang pertanian yang justru sering ikut terlibat dalam uji coba, pembenaran, maupun ikut mengkampanyekan benih-benih hasil rekayasa genetika milik Monsanto. Bahkan banyak orang mengeluhkan, para pekerja LSM malah terlibat dalam suatu proyek, menjadi konsultan dan pelaksana proyek untuk memotivasi dan mendidik petani dalam uji coba benih jagung Monsanto tanpa sesal apapun. Pangan, Komoditi atau Hak Dasar Manusia? Saat ini belum lagi sembuh luka petani akibat dominasi, diskriminasi, dan penghancuran kebudayan melalui program revolusi hijau, sudah datang malapetaka baru yang menimpa petani dan konsumen pangan bangsa. Dulu kita pernah percaya bahwa pangan adalah Hak asasi masnusia. Gizi pangan yang memadai merupakan hak dasar dan esensial bagi kehidupan, seperti dapat dilihat dalam Deklarasi HAM PBB; the UN Declaration of Human Rights serta the UN Covenant on Economic, Social and Cultural Rights. Pernah terjadi bahwa hak atas pangan dan penghapusan kelaparan serta keamanan pangan ditegaskan kembali oleh the World Food Summit di Roma tahun 1996.

Tapi nyatanya, pangan telah direbut oleh TNC dan diperlakukan sebagai komoditi, untuk mencari keuntungan. Setelah para petani disingkirkan dari sawah sebagai produsen pangan, pangan kemudian dikuasai TNC sebagai strategi akumulasi kapital. Tentu situasi ini akan membahayakan keamanan umat manusia, karena keamanan umat manusia erat kaitannya dengan pangan. Dikuasainya pangan oleh TNC membuat umat manusia dihantui oleh kelaparan. Kelaparan dan kemiskinan berpelukan erat. Sekitar 1,22 milyar orang diperkirakan berpenghasilan kurang dari satu dolar setiap harinya. Penyebab terbesar kemiskinan mereka, justru diperkirakan akibat tergusur dari alat produsi pangan, seperti tanah, air, kredit, dan akses produksi. Alat produksi pangan telah berpindah ke tangan TNC. Menurut FAO mayoritas mereka yang paling miskin adalah perempuan dan anak-anak bangsa Selatan. Meskipun produksi pangan dunia meningkat dalam beberapa dekade terakhir, melebihi pertumbuhan penduduk, toh kelaparan masih saja terjadi. Ini terjadi bukan karena kelangkaan pangan, melainkan yang terpenting justru akibat dari kebijakan neoliberal bidang pangan di tingkat internasional yang mengingkari kedaulatan dan hak-hak petani. Menuju Sistem Pangan Lokal Kedaulatan Petani dan Reformasi Sistem WTO Apa pelajaran yang harus dipetik dari membaca buku ini. Kelihatannya, tidak ada jalan lain lagi bagi para petani untuk memperjuangkan nasib mereka sendiri. Tinggal sedikit politisi, akademisi, bahkan aktivis dan mahasiswa yang memihak pada kaum Tani. Para petani dan mereka yang peduli atas penggusuran kaum Tani, harus mengusahakan agar pangan diproduksi sedekat mungkin dengan konsumennya. Karena usaha ini menuntut keberanian politik untuk melindungi petani dari invasi TNC bidang pangan. Mari kita bangun gerakan pangan lokal. Karena gerakan untuk memproduksi pangan dan konsumsi pangan lokal inilah yang akan membawa kesejahtreraan bagi petani serta menguntungkan secara ekonomi karena penyerapan tenaga kerja pedesan. Dengan demikian, tuntutan untuk mengeluarkan pangan dari kebijakan WTO menjadi strategis. Amatlah penting bagi kehidupan dan nasib petani untuk tidak dikontrol oleh TNC. Di kampung kita, produksi pangan dan pertanian merupakan fondasi dari ekonomi nasional dan juga merupakan persoalan stabilitas bangsa. Pertanian adalah budaya bangsa. Memisahkan tanah dari petani, menceraikan petani dari sistem pertanian mereka, adalah usaha penghancuran suatu kebudayaan. Oleh karena itu penting artinya untuk mengeluarkan pangan dari perjanjian dagang di WTO yang melihat pangan dan tanah semata sebagai komoditi. Mari kita dukung suara yang pernah disampaikan World Food Summit di Roma, dimana para petani mengusulkan untuk mengganti pertanian dalam kebijakan perdagangan dengan prinsip-prinsip kedaulatan pangan (food sovereignty). Food sovereignty artinya hak suatu bangsa untuk menentukan kebijakan pangan mereka sendiri. Jika kebijakan pangan ditetapkan secara lokal, pertanian menjadi ramah dengan keadaan lokal dan menjadi tempat berteduh petani. Demokratisasi dan transformasi sosial, relasi-relasi kelas ekonomi, dan gender dengan demikian juga penting untuk dibebaskan.

Sekali lagi pertanian atau pangan semestinya dikeluarkan saja dari kebijakan dan mandat WTO. Itu artinya perlu membatalkan Agreement on Agriculture (AoA) dari WTO. PBB harus diberi mandat untuk memantau kebijakan pangan yang mengangkat prinsip kedaulatan pangan dan hak-hak petani. Dan gerakan petani perlu dibangkitkan untuk menuntut kedaulatan dan hak-hak petani menjadi konvensi PBB. Saat ini, atas nama pasar bebas, negara harus memangkas semua subsidi terhadap petani. Padahal subsidi terhadap petani miskin, sudah seharusnya merupakan tanggung jawab negara, sebagaimana ditetapkan dalam konstitusi. Tetapi TNC menganggap subsidi akan menghalangi pasar produk mereka. Itulah sebabnya mereka berkepentingan terhadap amandemen konstitusi kita agar mengikuti logika pasar bebas. Tanpa subsidi pertanian, sesungguhnya kita tengah mengundang malapetaka bagi petani kecil. Tanpa dukungan negara harga pertanian akan melambung, pada gilirannya hak-hak warga negara atas pangan akan terabaikan. Sebaliknya mekanisme untuk mendukung produksi pangan seperti paten dan pengembangan teknologi rekasaya genetika akan mengakibatkan kelebihan produksi dan pada gilirannya akan membahayakan pasar pangan. Subsidi pangan lokal harus dilihat sebagai usaha pemenuhan hak asasi manusia, dan oleh karenanya harus diiizinkan. Negara dan Masyarakat Berhak Melindungi Keanekaragaman Hayati Mereka WTO melalui desakan TNC memasukkan konvensi hak kekayaan intelektual dalam sistem mereka, melalui perjanjian Hak Kekayaan Intelektual dalam perjanjian TRIPS. Perjanjian itu mewajibkan untuk melindungi hak paten bagi negara-negara anggota WTO. Dari perspektif kedaulatan pangan dan hak-hak petani, paten terhadap kehidupan merupakan legitimasi atas pencurian terhadap kekayan keanekaragaman hayati, varietas tanaman, benih, binatang, dan organisme mikro. Pasal 27.3 (b) dalam perjanjian TRIPS memasukkan paten atas kehidupan dalam waktu tertentu. Jika pasal ini diterapkan secara ketat, kita akan menyaksikan semakin banyak petani tergusur dari sawah dan kehidupan. Oleh karena itu, kita perlu terus mendesakkan agar Konvensi tentang Bio-Diversity, (CBD) diperkuat, karena konvensi ini mengakui hak-hak suatu bangsa atas sumber alam dan keanekaragaman hayati, genetic resources, dan berwatak melindungi hak-hak masyarakat lokal atas sumber alam lokal serta kearifan lokal. Akhirnya siapa yang akan bertanggung jawab atas bahaya tersembunyi bagi teknologi modifikasi genetika (GMO)? Mereka mengembangkan mitos, hanya teknologi GMO yang akan menolong umat manusia dari kelaparan. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Jika demikian salahkah kita jika menngunakan prinsip kehati-hatian untuk melarang pemasaran produk GMO sebelum diuji dampaknya terhadap lingkungan maupun kesehatan, dan terbukti tidak membahayakan siapa-siapa? Kita semua mengalami trauma, karena dampak negatif itu biasanya baru diketahui lama setelah diterapkan, dan ketika yang seharusnya bertanggung jawab sudah tidak ada. Mari Bangkitkan Gerakan Mewaspadai TNC; Kesimpulan Apa yang dapat kita pelajari dari membaca buku ini? Sudah waktunya kita melakukan

pemantauan terhadap kegiatan TNC dan bagaimana mereka berhasil mendesakkan kepentingan mereka ke dalam kebijakan negara. Saat ini sebagian besar energi LSM dan aktivis sosial justru dihabiskan untuk hanya mewaspadai negara tanpa menyentuh relasi negara dengan TNC. Kalau begitu, banyak LSM tanpa sadar justru dimanfaatkan oleh penganut neoliberalisme untuk memperkerdil peran negara di bidang ekonomi. Kita gagal mencegah negara dimanfaatkan oleh TNC untuk memperlicin usaha mereka melakukan investasi dan memberikan perlindungan penuhnya terhadap investasi mereka meskipun berakibat menggusur petani. Jika intervensi dan dominasi TNC bagitu perkasa, maka seperti diuraikan dalam buku ini para petani kita akan menghadapi malapetaka sistemik terusir dari sawah mereka. Akhirnya, karena kolonialisme pangan dalam bentuk Globalisai pangan telah datang di kampung kita, sekali lagi, sudah saatnya kita perjuangkan sistem pangan lokal. Satu kalimat perlu terus kita teriakkan: Keluarkan pangan dari mandat WTO.

Yogyakarta, Awal 2003