Anda di halaman 1dari 3

Status Gizi Anak Balita Di Polewali Mandar Tahun 2006-2008

MEI 6, 2009 TINGGALKAN KOMENTAR

Polewali Mandar Sulawesi Barat, Departemen Kesehatan Indonesia selalu berupaya untuk melakukan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, karena pemerintah cq kesehatan sudah merupakan kewajibannya untuk selalu mensejahterahkan rakyat melalui peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan derajat kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat, gizi yang seimbang dapat meningkatkan ketahanan tubuh, dapat meningkatkan kecerdasan dan menjadikan pertumbuhan yang norma. Namun sebaliknya gizi yang tidak seimbang menimbulkan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh Indonesia, masalah gizi yang tidak seimbang itu adalah Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) dan Anemia Gizi Besi Khusus untuk masalah Kurang Energi Protein (KEP) atau biasa dikenal dengan gizi kurang atau yang sering ditemukan secara mendadak adalah gizi buruk terutama pada anak balita, masih merupakan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh pemerintah, walaupun penyebab gizi buruk itu sendiri pada dasarnya sangat sederhana yaitu kurangnya intake (konsumsi) makanan terhadap kebutuhan makan seseorang, namun tidak demikian oleh pemerintah dan masyarakat karena masalah gizi buruk adalah masalah ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga, tetapi anehnya didaearah-daearah yang telah swasembada pangan bahkan telah terdistribusi merata sampai ketingkat rumah tangga (misalnya program raskin), masih sering ditemukan kasus gizi buruk, padahal sebelum gizi buruk ini terjadi, telah melewati beberapa tahapan yang dimulai dari penurunan berat badan dari berat badan ideal seorang anak sampai akhirnya terlihat anak tersebut sangat buruk (gizi buruk). Jadi masalah sebenarnya adalah masyarakat atau keluarga balita belum mengatahui cara menilai status berat badan anak atau juga belum mengetahui pola pertumbuhan berat badan anak.

Status Gizi Anak pada dasarnya adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antroppometri (Suharjo, 1996), dan dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB Status Gizi Balita di Kabupaten Polewali Mandar Hasil Riset Kesehatan dasar (RIKESDAS) tahun 2007 dengan menggunakan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U menunjukkan bahwa dari dari 100 anak balita ada 6-7 balita yang mempunyai status gizi buruk. Sementara itu hasil dari Pemantaun Status Gizi (PSG) tahun 2007 yang merupakan kegiatan pemantauan status gizi tahunan menunjukkan bahwa dari 100 anak balita ada 2-3 anak balita yang menunjukkan status gizi buruk bahkan ditahun 2008 hanya ada 1-2 anak balita yang menunjukkan status gizi buruk. Fakta lain tentang status gizi balita di Polewali Mandar yang menderita gizi buruk (marasmus) tiap tahunnya ditemukan antara 6-8 balita yang menderita marasmus. Sementara yang menderita kwashiorkor ditemukan 4-6 balita, jumlah keseluruhan berkisar antara 10-12 balita tiap tahunnya. Atau Kalau di digabung gizi buruk, gizi kurang dan gizi lebih seperti terlihat pada gambar paling atas kurang lebih 25 (25%) anak balita dari 100 anak balita mengalami gangguan gizi. Atau kalau di umpamakan gambar paling atas adalah sepotong roti yang layak untuk dimakan dengan gizi baik hanya 75 % sisanya 25 % tidak layak untuk dimakan karena sangat kurang gizi, bila dikonsumsi anak balita tersebut bisa dipastikan akan mengalami kurang gizi atau pun kelebihan gizi. Data-data dan fakta tersebut diatas memberikan gambaran status perkembangan dan kelangsungan hidup yang dilihat dari keadaan gizi anak-anak di Polewali Mandar masih menunjukkan kegagalan pemerintah mempersiapkan generasi penerus bangsa, lebih konkritnya anak-anak balita di Polewali Mandar dalam tumbuh-kembangnya masih mengalami kegagalan pertumbuhan sekitar 7-15 % dari distribusi normal anak yang sehat. Menurut berbagai pakar gizi ada ada empat alasan mengapa terjadi gagal pertumbuhan: 1. Bayi tidak cukup mendapat makanan, khususnya makanan pendamping 2. Bayi bertambah aktif ketika mulai belajar berjalan. Kebutuhan makanan perlu ditambah, namun banyak ibu tidak memberikan tambahan. Output tidak sesuai dengan input 3. Penyakit dan infeksi mempengaruhi penggunaan zat gizi dalam makanan. Selain itu juga menyebabkan nafsu makan berkurang sehingga zat makanan yang masuk dalam tubuh sedikit. 4. Anak-anak memerlukan kata-kata lembut dan sentuhan-sentuhan penuh kasih sayang yang dapat merangsang peningkatan hormon pertumbuhan dan daya tahan tubuh. Kegagalan pertumbuhan ini adalah masalah atau tepatnya masalah gizi, dalam epidemiologi gizi ini adalah masalah gizi masyarakat dengan kategori tingkat berat karena prevalensinya masih diatas 1 % (satu persen), dapat memberikan gambaran adanya masalah gizi masyarakat yaitu adanya gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kelompok orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidak seimbangan antara asupan (intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi penyakit (infeksi). Kegagalan tumbuh-kembang balita atau adanya masalah gizi ini pada dasarnya dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini melalui kegiatan-kegiatan : 1. Penimbangan bulanan di Posyandu 2. Surveilens gizi atau kejadin luar biasa (KLB) Gizi Buruk

3. Manajemen Terpadu Balita Sakit 4. Poliklinik Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) atau klinik Tumbuh Kembang anak Kegagalan atau gangguan tumbuh kembang masaalah gizi yang tidak diintervensi maka akan berdampak pada : 1. Menurunnya pertahanan tubuh terhadap penyakit (imunitas) yang berdampak pada tingginya angka penyakit infeksi dan kematian bayi dan balita 2. Gangguan pertumbuhan fisik pada siklus kehidupan manusia sejak janin, bayi baru lahir,balita yang dapat berdampak sampai dewasa 3. Gangguan perkembangan otak pada janin, bayi dan balita yang berdampak pada kecerdasan pada usia sekolah 4. Rendahnya produktifitas kerja Dan yang pasti pemerintah dalam hal ini dinas Kesehatan kabupaten Polewali Mandar telah menjadikan program perbaikan gizi sebagai program prioritas dalam mempersiapkan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan status gizi yang baik sebagai suatu kebijakan dalam mengatasi masalah gizi yang setiap tahunnya masih dikatakan sebagai masalah. Kapan masalah ini dapat diatasi ?, semuanya kembali kepada petugas kesehatan (gizi) untuk tidak jenuh-jenuhnya berkerja melayani balita sebagai penerus cita-cita bangsa.

Anda mungkin juga menyukai