P. 1
AD-ART-PO

AD-ART-PO

|Views: 70|Likes:
Dipublikasikan oleh Del Viero

More info:

Published by: Del Viero on Mar 29, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2014

pdf

text

original

ANGGARAN DASAR Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pembukaan

Bahwasanya dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, generasi muda yang memiliki dinamika, militansi dan idealisme, menonjol peranan dan kepeloporannya dalam mencetuskan ide-ide pembaharuan, seperti dibuktikan pada tahun 1908 dengan Kebangkitan Nasional, tahun 1928 lahirnya Sumpah Pemuda, tahun 1945 dengan usaha merebut serta mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia, tahun 1966 munculnya Orde Baru, dan tahun 1973 terbentuknya Deklarasi Pemuda yang melahirkan KNPI, serta tahun 1999 dengan semangat kejuangannya yang kritis, dinamis dan rasional untuk menegakkan Demokrasi, Keadilan dan Supremasi Hukum yang berakumulasi secara sinergik telah melahirkan era reformasi. Bahwasanya kaum muda sebagai sumber insani dan ahli waris serta penerus cita-cita bangsa, perlu mempersiapkan dan membina diri menjadi kader-kader bangsa, agar dapat menjadi generasi penerus yang berpandangan rasional, berbudi pekerti luhur, dan memiliki keterampilan serta bertanggung jawab demi masa depan yang lebih baik. Bahwasanya generasi muda Indonesia sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, memiliki tanggung jawab nasional untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran kaum muda sebagai suatu bangsa yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, serta berpedoman pada Haluan Negara, ikut serta mengisi kemerdekaan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempercepat pembangunan nasional demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Bahwasanya untuk melanjutkan dan melaksanakan cita-cita bangsa serta mempersiapkan tunas-tunas bangsa dengan panggilan sejarah dan mewujudkan tanggung jawabnya, maka organisasi kemasyarakatan pemuda dan seluruh potensi pemuda Indonesia berhimpun dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia, dengan semangat kebersamaan untuk menumbuhkan, menggerakkan serta menyalurkan dinamika, militansi dan idealisme pemuda Indonesia demi tercapainya masa depan yang lebih baik. Sadar akan sepenuhnya akan panggilan sejarah, fungsi dan tanggung jawab kaum muda, maka dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami generasi muda dengan ini menetapkan ANGGARAN DASAR KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA sebagai berikut: Bab I Nama, Waktu dan Kedudukan Pasal 1 1. Organisasi ini bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia disingkat KNPI. 2. KNPI didirikan pada tanggal 23 Juli 1973 di Jakarta untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. 3. Pusat organisasi KNPI berkedudukan di pusat ibukota negara Republik Indonesia. Bab II Azas dan Tujuan Pasal 2 KNPI berazaskan Pancasila dan UUD 1945 Pasal 3 KNPI memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Terwujudnya persatuan dan kesatuan pemuda, dalam rangka memelihara Persatuan dan Kesatuan Nasional demi tegaknya Negara Kesatuan RI.

2. Terberdayakannya potensi pemuda dalam segala aspek kehidupan bangsa, guna terciptanya Ketahanan Nasional yang mampu menjamin kesinambungan perjuangan dan pembangunan Nasional. 3. Berperan aktifnya seluruh proses pembangunan nasional dalam rangka mempercepat proses tercapainya tujuan nasional, yakni terwujudnya masyarakat Indonesia yang aman, tentram, damai, adil dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bab III Kedaulatan Pasal 4 Kedaulatan KNPI berada di tangan anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Kongres Bab IV Status, Sifat dan Fungsi Pasal 5 Status Status KNPI adalah wadah berhimpun Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Pasal 6 Sifat KNPI bersifat terbuka dan independen Pasal 7 Fungsi 1. KNPI berfungsi sebagai wadah perjuangan pemuda dalam kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. 2. KNPI berfungsi sebagai forum komunikasi dan penyalur aspirasi Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dalam meningkatkan derajat, taraf hidup, status dan kesejahteraan sosial. 3. Sebagai perekat kemajemukan pemuda, dalam rangka meningkatkan kualitas persatuan dan kesatuan nasional guna mempercepat usaha pencapaian tujuan nasional. 4. Sebagai laboratorium kader bangsa yang independen dan berwawasan kebangsaan. BabV Usaha Pasal 8 Berdasarkan status, sifat dan fungsinya sebagaimana tersebut dalam pasal 3, 5, 6 dan 7 maka KNPI melaksanakan usaha dan strategi sebagai berikut: 1. Memantapkan konsolidasi organisasi dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan peran KNPI sebagai forum komunikasi pemuda, dengan melaksanakan usaha artikulasi dan agregasi terhadap berbagai kepentingan dan aspirasi pemuda dan atau kelembagaannya melalui pokokpokok program komunikasi, kaderisasi dan partisipasi. 2. Memantapkan pelaksanaan pendidikan kaderisasi secara bertahap, berjenjang dan terintegrasi dan tersinkronisasi, guna terwujudnya insan yang beriman, bertaqwa dan bermoral serta memiliki wawasan kebangsaan, semangat persatuan dan cinta tanah air. 3. Meningkatkan. dan mengembangkan kemantapan mental, patriotisme, moralitas yang tinggi dan kepribadian bangsa di kalangan pemuda dan masyarakat. 4. Memelihara dan mempertahankan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui usaha pengembangan kualitas sumber daya pemudanya, kualitas partisipasinya dalam pembangunan, serta menggalang komunikasi antara pemuda maupun komponen dan potensi nasional lainnya.

5. Menggalang, mengembangkan dan memantapkan kemampuan sosial ekonomi pemuda guna terciptanya pertumbuhan dan pengembangan ekonomi nasional yang cepat dan mantap demi men ingkatkan kesejahteraan masyarakat. 6. Meningkatkan dan memberdayakan kualitas sumber daya pemuda di bidang HAM, Demokrasi, Hukum, Pendidikan, Lingkungan Hidup, Kependudukan dan Kebudayaan Bangsa. 7. Meningkatkan dan mengembang kepedulian dan peran pemuda tentang sistem pertahanan keamanan rakyat semesta melalui Wamil dan Mitra Kamtibmas, serta menggalang kerjasama dengan segenap komponen bangsa dalam memperkokoh ketahanan Nasional. 8. Berpartisipasi dan proaktif dalam mengikuti segala dinamika dan perkembangan kepemudaan yang terjadi di tingkat nasional, regional dan tingkat Internasional, serta menggalang kerjasama persahabatan dalam menciptakan perdamaian yang dinamis dengan pemuda dunia lainnya. Bab VI Atribut Pasal 9 KNPI memiliki Lambang, lagu dan atribut-atribut lainnya yang diatur dalam ART KNPI Bab VII Keanggotaan Pasal 10 1. Pada hakekatnya seluruh pemuda Indonesia adalah Anggota KNPI 2. Anggota KNPI adalah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang mengakui eksistensi KNPI sebagai wadah perekat persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia 3. Hak dan kewajiban anggota diatur dalam ART KNPI. Bab VIII Organisasi dan kedudukan Pasal 11 1. Organisasi KNPI terdiri dari Majelis Pemuda Indonesia dan Dewan Pengurus 2. Majlis Pemuda Indonesia merupakan forum koordinasi dan konsultasi Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang berhimpun di KNPI guna memberikan masukan-masukan dan saran-saran yang konstruktif dan strategis untuk kemajuan KNPI 3. Majelis Pemuda Indonesia hanya memiliki sifat koordinasi dari pusat sampai ke daerah 4. Dewan Pengurus mempunyai hubungan hirarkhi dan vertikal dan pusat sampai kecamatan. Pasal 12 Kedudukan KNPI diatur sebagai berikut: 1. KNPI Pusat terdiri dari Majelis Pemuda Indonesia (MPI) dan Dewan Pengurus Pusat (DPP KNPI), berkedudukan di Ibukota Negara 2. KNPI Daerah Provinsi terdiri dan MPI di daerah Tingkat Provinsi dan Dewan Pengurus Daerah Tingkat Provinsi (DPD Tingkat Provinsi KNPI), berkedudukan di Ibukota Provinsi Daerah Tingkat Provinsi 3. KNPI Daerah Kabupaten/Kota terdiri dan MPI di daerah Tingkat Kabupaten/ Kota dan Dewan Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota (DPD Tingkat Kabupaten/Kota KNPI), berkedudukan di Ibukota Daerah Tingkat Kabupaten/Kota 4. KNPI Kecamatan disebut Pengurus Kecamatan (PK KNPI) berkedudukan di Kota Kecamatan. BAB IX PERMUSYAWARATAN

Pasal 13 Jenis-Jenis Permusyawaratan (1) Jenis-jenis Permusyawaratan: a. Kongres b. Kongres Luar Biasa c. Musyawarah Pimpinan Paripurna d. Rapat Kerja Nasional e. Musyawarah Provinsi f. Musyawarah Provinsi Luar Biasa g. Rapat Kerja Provinsi h. Musyawarah Kabupaten/Kota i. Musyawarah Kabupaten/Kota Luar Biasa j. Rapat Kerja Kabupaten/Kota k. Musyawarah Kecamatan l. Rapat Kerja Kecamatan (2) Selain jenis-jenis permusyawaratan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, Dewan Pengurus sesuai tingkatan dapat mengadakan Rapat-Rapat yaitu; a. Rapat Pleno Dewan Pengurus b. Rapat Harian Dewan Pengurus c. Rapat Koordinasi Dewan Pengurus d. Rapat Komisi Dewan Pengurus e. Rapat Majelis Pemuda Indonesia f. Rapat Konsultasi MPI dengan Dewan Pengurus g. Rapat Koordinasi Nasional DPP dan DPD Pasal 14 K ongre s (1) Kongres merupakan pemegang kekuasaan tertinggi Komite Nasional Pemuda Indonesia, diadakan 3 (tiga) tahun sekali (2) Kongres berwenang: a. Menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga; b. Menilai Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat dan Majelis Pemuda Indonesia; c. Menetapkan Garis-garis Besar Haluan Organisasi dan kebijakan-kebijakan organisasi lainnya; d. Memilih dan menetapkan Dewan Pengurus Pusat dan Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia; (3) Kongres diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat; (4) Jadwal Acara ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat; Pasal 15 Kongres Luar Biasa (1) Kongres Luar Biasa dapat diadakan apabila terjadi pelanggaran terhadap konstitusi oleh Pimpinan Dewan Pengurus Pusat. (2) Kongres Luar Biasa diadakan atas permintaan secara tertulis dan: a. Lebih setengah jumlah Organisasi Kemasyarakatan PemudaTingkat Pusat yang berhimpun, dan b. Lebih setengah jumlah Dewan Pengurus Provinsi (3) Segala ketentuan tentang Kongres berlaku bagi Kongres Luar Biasa Pasal 16 Musyawarah Pimpinan Paripurna (1) Musyawarah Pimpinan Paripurna merupakan forum yang kedudukannya setingkat dibawah Kongres. (2) Musyawarah Pimpinan Paripurna berwenang: a. Mengambil keputusan-keputusan strategis organisasi selain kebijakan organisasi yang telah ditetapkan pada Kongres atau Kongres Luar Biasa b. Menetapkan peserta kongres dan draft materi kongres (3) Musyawarah Pimpinan Paripurna diadakan sedikitnya sekali diantara 2 (dua) Kongres

Pasal 17 Musyawarah Provinsi (1) Musyawarah Provinsi adalah musyawarah yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi KNPI ditingkat Provinsi, diadakan 3 (tiga) tahun sekali (2) Musyawarah Provinsi berwenang: a. Menilai Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Provinsi dan Majelis Pemuda Indonesia Provinsi b. Menetapkan Program Kerja Provinsi dalam rangka penjabaran dan pelaksanaan program kerja nasional c. Memilih dan menetapkan Dewan Pengurus Provinsi, Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia Provinsi, jika dianggap perlu dapat membentuk Dewan Penasehat Provinsi (3) Musyawarah Provinsi diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Provinsi; Pasal 18 Musyawarah Propinsi Luar Biasa (1) Musyawarah Propinsi Luar Biasa dapat diadakan apabila terjadi pelanggaran terhadap konstitusi oleh Pimpinan Dewan Pengurus Propinsi. (2) Musyawarah Propinsi Luar Biasa diadakan atas permintaan secara tertulis dari: a. Lebih setengah jumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Propinsi yang berhimpun, dan b. Lebih setengah jumlah Dewan Pengurus Kabupaten/kota (3) Segala ketentuan tentang Musyawarah Propinsi berlaku bagi Musyawarah Propinsi Luar Biasa. Pasal 19 Musyawarah Kabupaten/Kota (1) Musyawarah Kabupaten/Kota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi KNPI ditingkat Kabupaten/Kota, diadakan 3 (tiga) tahun sekali (2) Musyawarah Kabupaten/Kota berwenang: a. Menilai Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dan Majelis Pemuda Indonesia Kabupaten/Kota b. Menetapkan Program Kerja Kabupaten/Kota dalam rangka penjabaran dan pelaksanaan Program Kerja Propinsi/Nasional c. Memilih dan menetapkan Dewan Pengurus Kabupaten/Kota, Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia Kabupaten/Kota, jika dianggap perlu dapat membentuk Dewan Penasehat Kabupaten/Kota. (3) Musyawarah Kabupaten/Kota diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota Pasal 20 Musyawarah Kabupaten/kota Luar Biasa (1) Musyawarah Kabupaten/Kota Luar Biasa dapat diadakan apabila terjadi pelanggaran terhadap konstitusi oleh Pimpinan Dewan Pengurus Kabupaten/Kota. (2) Musyawarah Kabupaten/Kota Luar Biasa diadakan atas permintaan secara tertulis dari: a. Lebih setengah jumlah Organisasi Kemasyarakatan PemudaTingkat Kabupaten/kota yang berhimpun, dan b. Lebih setengah jumlah Dewan Pengurus Kecamatan (3) Segala ketentuan tentang Musyawarah Kabupaten/Kota Luar Biasa berlaku bagi Musyawarah Kabupaten/Kota Luar Biasa. Pasal 21 Musyawarah Kecamatan (1) Musyawarah Kecamatan adalah musyawarah yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi KNPI ditingkat Kecamatan, diadakan 3 (tiga) tahun sekali (2) Musyawarah Kecamatan berwenang: a. Menilai Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Kecamatan

Pasal 23 Rapat Kerja Provinsi (1) Rapat Kerja Provinsi diadakan untuk memusyawarahkan dan mengambil keputusan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah Provinsi dan masalah lainnya yang dianggap mendesak (2) Rapat Kerja Provinsi diadakan sedikitnya 2 (dua) kali diantara 2 (dua) Musyawarah Provinsi (3) Jadwal Acara Rapat Kerja Provinsi ditetapkan oleh Dewan Pengurus Provinsi Pasal 24 Rapat Kerja Kabupaten/Kota (1) Rapat Kerja Kabupaten/Kota diadakan untuk memusya-warahkan dan mengambil keputusan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah Kabupaten/Kota dan masalah lainnya yang dianggap mendesak (2) Rapat Kerja Kabupaten/Kota diadakan sedikitnya 2 (dua) kali diantara 2 (dua) Musyawarah Kabupaten/Kota (3) Jadwal Acara Rapat Kerja Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota Pasal 25 Rapat Kerja Kecamatan (1) Rapat Kerja Kecamatan diadakan untuk memusyawarahkan dan mengambil keputusan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah Kecamatan dan masalah lainnya yang dianggap mendesak (2) Rapat Kerja Kecamatan diadakan sedikitnya sekali diantara 2 (dua) Musyawarah Kecamatan (3) Jadwal Acara Rapat Kerja Kecamatan ditetapkan oleh Pengurus Kecamatan. Menetapkan Program Kecamatan dalam rangka penjabaran dan pelaksanaan Program Kerja Nasional c. Dewan Pengurus Pusat dipilih oleh Kongres untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun 2. Pasal 27 Dewan Pengurus Pusat 1. (2) Di tingkat Provinsi oleh Dewan Pengurus Provinsi yang berkedudukan di Ibukota Provinsi (3) Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota yang berkedudukan di Ibukota Kabupaten/Kota (4) Di tingkat Kecamatan oleh Pengurus Kecamatan yang berkedudukan Kota Kecamatan. sebagai berikut: (1) Di tingkat Nasional oleh Dewan Pengurus Pusat yang berkedudukan di Ibukota Negara. Dewan Pengurus Pusat terdiri dan Pengurus Harian dan Komisi-komis . Memilih dan menetapkan Pengurus Kecamatan (3) Musyawarah Kecamatan diselenggarakan oleh Pengurus Kecamatan Pasal 22 Rapat Kerja Nasional (1) Rapat Kerja Nasional diadakan untuk memusyawarahkan dan mengambil keputusan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan keputusan-keputusan Kongres dan masalah lainnya yang dianggap mendesak (2) Rapat Kerja Nasional diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali diantara 2 (dua) KongresJ (3) adwal Acara Rapat Kerja Nasional ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat.b. BAB X KEPENGURUSAN Pasal 26 Susunan Kepengurusan Kepengurusan Organisasi KNPI disusun dari atas kebawah.

DAN BADAN KHUSUS Pasal 31 Majelis Pemuda Indonesia . 20% unsur kesinambungan. beberapa orang Wakil Sekretaris. 20% unsur potensi pemuda lainnya dan 10 % unsur kebutuhan organisasi. 6. 20% unsur kesinambungan. beberapa orang Wakil Ketua. seorang Bendahara. Pengurus Harian terdiri dan seorang Ketua Umum. seorang Bendahara. Jumlah Pengurus DPP KNPI terdiri dan 50% unsur keterwakilan 1 orang 1 OKP secara eksponensial. beberapa orang Wakil Sekretaris. beberapa orang Wakil Sekretaris Jenderal seorang Bendahara Umum. Anggota Pleno terdiri dan Pengurus Harian. komisi-komisi Pimpina Lembaga-Lembaga dan atau Badan-Badan Khusus. seorang Bendahara. Pimpinan Lembaga. Pasal 30 Pengurus Kecamatan (1) Pengurus Kecamatan dipilih oleh Musyawarah Kecamatan untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun (2) Pengurus Kecamatan terdiri dari seorang Ketua. beberapa orang Wakil Bendahara dan beberapa pengurus lainnya (3) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pengurus Kabupaten/kota dibantu oleh beberapa komisi/Badan-Badan Khusus (4) Jumlah Pengurus DPD Kabupaten/kota terdiri dan 50% unsur keterwakilan I orang 1 OKP secara eksponensial. beberapa orang Wakil Ketua. Komisi. seorang Sekretaris. dan atau Jumlah anggota Komisi disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan daerah Provinsi yang bersangkutan. 4. beberapa orang Wakil Sekretaris. dan atau Jumlah anggota Komisi disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan daerah Kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 28 Dewan Pengurus Provinsi (1) Dewan Pengurus Propinsi dipilih oleh Musyawarah Propinsi untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun (2) Dewan Pengurus Provinsi terdiri dan Pengurus Harian dan Komisi-Komisi (3) Dewan Pengurus Provinsi terdiri dan seorang Ketua. dan beberapa orang wakil bendahara dan beberapa pengurus lainnya (3) Dalam melaksanakan tugasnya Pengurus Kecamatan dibantu oleh beberapa komisi (4) Jumlah anggota pengurus disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan daerah Kecamatan yang bersangkutan. beberapa orang Wakil Ketua. 20% unsur potensi pemuda lainnya dan 10 % unsur kebutuhan organisasi. seorang Sekretaris. seorang Sekretaris. (4) Anggota Pleno terdiri dari Pengurus Harian. 5.Lembaga dan atau Badan-Badan Khusus (5) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pengurus Provinsi dibantu oleh beberapa LembagaLembaga dan atau Badan-Badan Khusus (6) Jumlah Pengurus DPD Propinsi terdiri dan 50% unsur keterwakilan orang 1 OKP secara eksponensial. 20% unsur potensi pemuda lainnya dan 10 % unsur kebutuhan organisasi. 20% unsur kesinambungan. beberapa orang Wakil Bendahara Umum.3. beberapa orang Wakil Bendahara. Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pengurus Pusat dibantu oleh beberapa LembagaLenabaga dan atau Badan-Badan Khusus. Pasal 29 Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (1) Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dipilih oleh Musyawarah Kabupaten/Kota untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun (2) Dewan Pengurus Kabupaten/Kota terdiri dan seorang Ketua. beberapa orang Ketua seorang Sekretaris Jenderal. BAB XI MAJELIS PEMUDA INDONESIA.

obyektif. seorang Sekretaris beberapa orang Wakil Ketua. BAB XII KEUANGAN Pasal 33 Sumber Dana Keuangan untuk membiayai kegiatan Organisasi diperoleh dari: (1) Iuran anggota Dewan Pengurus yang ditetapkan oleh masing-masing tingkatan Dewan Pengurus (2) Sumbangan anggota (3) Bantuan pihak-pihak lain yang tidak mengikat (4) Usaha-usaha lainnya yang sah. Badan Usaha Milik Organisasi dan Badan-badan Lainnya yaig tidak bertentangan dengan tujuan dan usaha-usaha organisasi. Majelis Pemuda Indonesia Pusat di tingkat Nasional b. Dewan Pengurus dalam semua tingkatan dapat membentuk Lembaga-Lembaga. Pusat-Pusat Studi. dan apabila ketua umum/ketua KNPI demisioner tidak bersedia menjadi ketua MPI maka formatur akan memilih salah satu dan ketualwakil-wakil ketua demisioner (9) Ketua Majelis Indonesia Daerah Provinsi/ Kabupaten/Kota adalah Ketua KNPI Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota Demisioner Pasal 32 Badan-Badan Khusus Untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam bidang khusus serta dalam rangka mencapai tujuan organisasi. di selenggarakan secara tertulis. rasional dan disampaikan langsung kepada Dewan Pengurus dibawahnya dan atau disampaikan melalui forum permusyawaratan sebagaimana pasal (13) ayat (1)Anggaran Dasar ini (4) Dalam hal Dewan Pengurus Pusat tidak dapat menyelenggarakan Kongres selama 6 (enam) bulan setelah habis masa jabatannya. maka Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia di masing-masing tingkatan dapat menyelenggarakan Musyawarah Daerah/Daerah setelah mendapat persetujuan dan Dewan Pengurus Pusat (6) Majelis Pemuda Indonesia dapat dibentuk diseluruh tingkatan organisasi kecuali ditingkat Kecamatan.(1) Majelis Pemuda Indonesia merupakan lembaga yang bekerja secara kolektif dan bertugas menyelenggarakan pengawasan dan penilaian terhadap kinerja Dewan Pengurus sesuai dengan tingkatannya masing-masing (2) Anggota Majelis Pemuda Indonesia mencakup. Majelis Pemuda Indonesia Daerah di tingkat Kabupaten/Kota (7) Majelis Pemuda Indonesia terdiri dan seorang Ketua. Majelis Pemuda Indonesia Daerah di tingkat Provinsi c. mantan anggota Dewan Pengurus ditingkatan yang sama atau lebih tinggi. Yayasan. yaitu: a. utusan OKP pada tingkatan yang sama (3) Pengawasan dan penilaian sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini. maka Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia dapat menyelenggarakan Kongres setelah mendapat persetujuan dan anggota Majelis Pemuda Indonesia (5) Dalam hal Dewan Pengurus Provinsi tidak dapat menyelenggarakan Musyawarah Daerah/Daerah selama 6 (enam) bulan setelah habis masa jabatannya dan Dewan Pengurus diatasnya pada masa itu tidak berinisiatif menyelenggarakan Musyawarah Daerah/daerah. dengan melalui badan-badan khusus yang dibentuk untuk itu mengacu pasal 31 Anggaran Dasar ini Pasal 34 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (1) Dewan Pengurus setiap tingkatan bertanggungjawab atas penggunaan dana dan pengelolaan harta kekayaan organisasi sesuai dengan sistem keuangan dan akuntansi Indonesia . dan beberapa orang anggota (8) Ketua Majelis Pemuda Indonesia pada semua tingkatan adalah ketua umum/ketua KNPI demisioner yang ditetapkan oleh formatur kongres musprop/muskab-kota.

dengan ketentuan quorum seperti yang diatur dalam ayat 3 (tiga) pasal 37 Anggaran Dasar ini (2) Kekayaan Organisasi setelah organisasi dibubarkan ditentukan lebih lanjut oleh Kongres tersebut dalam ayat 1 (satu) pasal ini BAB XV ATURAN KHUSUS Pasal 37 (1) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (2) Hal-hal yang akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1) tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar. dan apabila hal ini tidak tercapai. maka keputusan diambil dengan suara terbanyak (3) Khusus mengenai perubahan Anggaran Dasar: (4) Untuk mengadakan perubahan Anggaran Dasar. BAB XVI PENU TU P Pasal 38 (1) Anggaran Dasar ini merupakan perubahan dan penyempurnaan dari Anggaran Dasar yang ditetapkan dalam Kongres Pemuda/KNPI X pada tanggal 18 Desember 2002 Di Bekasi (2) Anggaran Dasar mi berlaku sejak tanggal ditetapkan. semua pemasukan dan pengeluaran keuangan harus dipertanggungjawabkan kepada Dewan Pengurus KNPI masa bakti berikutnya. Kongres harus dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dan jumlah utusan (5) Untuk hal ini keputusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dan jumlah utusan yang hadir BAB XIV PEMBUBARAN ORGANISASI Pasal 36 (1) Pembubaran Organisasi hanya dapat dilakukan di dalam suatu Kongres Luar Biasa yang khusus diadakan untuk maksud itu. Ditetapkan di: Caringin. melalui panitia verifikasi yang dibentuk untuk kepentingan itu. Bogor .(2) Bendahara secara rutin setiap 6 (enam) bulan sekali memberikan laporan keuangan kepada Rapat Pleno Dewan Pengurus (3) Laporan Pertanggungjawaban bidang keuangan harus disusun berdasarkan hasil audit oleh akuntan publik yang ditunjuk oleh Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia (4) Khusus dalam penyelenggaraan Kongres dan Musyawarah Provinsi/ Kabupaten/Kota/Kecamatan. sesuai tingkatan organisasi BAB XIII PERUBAHAN ANGGARAN DASAR Pasal 35 (1) Musyawarah dan rapat-rapat tersebut dalam pasal 13 Anggaran Dasar ini sah jika dihadiri oleh lebih 1/2 (setengah) jumlah peserta (2) Pengambilan Keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.

Menerima Deklarasi Pemuda Indonesia. Memiliki AD/ART organisasi c.Pada tanggal : 20 Desember 2005 PRESIDIUM SIDANG KONGRES XI PEMUDA/KNPI TAHUN 2005 ttd. EVA YULIANA (KNPI Prov. OKP yang dalam AD/ART yang benar-benar mencantumkan orientasi kemasyarakatan. OKP tingkat Nasional memiliki kepengurusan lebih dan ½ (separuh) jumlah propinsi yang masing-masing dilegitimasikan dalam bentuk Surat Keputusan oleh instansi diatasnya sesuai dengan ketentuan organisasi bersangkutan dan tidak melampaui masa jabatannya b. GUNAWAN SATARY (KNPI Prov. Riau) ttd. Memiliki komitmen terhadap wawasan kebangsaan dan integrasi bangsa d. OKP tingkat Kabupaten/Kota telah berada di daerah yang bersangkutan lebih dari 1 (satu) tahun yang telah dilegitimasikan dalam bentuk Surat Keputusan oleh instansi diatasnya sesuai dengan ketentuan organisasi yang bersangkutan. (2) Persyaratan Umum OKP untuk menjadi anggota KNPI adalah: a. Pokok-pokok Program Kerja Nasional Organisasi (PPPKNO). GALUMBANG SITINJAK (Wakil MPI) ttd. OKP tingkat Provinsi memiliki kepengurusan lebih dari ½ (separuh) jumlah Kabupaten/Kota di Daerah Provinsi bersangkutan yang masing-masing dilegitimasikan dalam bentuk Surat Keputusan oleh instansi diatasnya sesuai dengan ketentuan organisasi bersangkutan dan tidak melampaui masa jabatannya c. dan Peraturan Organisasi KNPI lainnya b. Kep. Jateng) ANGGARAN RUMAH TANGGA KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA KNPI BAB I KEANGGOTAAN Pasal 1 Syarat-Syarat Keanggotaan (1) Yang menjadi anggota KNPI adalah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang telah terdaftar secara sah sesuai dengan persyaratan. SARMAN SIMANJORANG (Wakil DPP KNPI) ttd. d. AD/ART. Permufakatan Pemuda Indonesia. OKP yang akan menjadi anggota KNPI ditetapkan di dalam Musyawarah Pimpinan Paripurna. DAVID PAJUNG (Wakil OKP/HPPI) ttd. Pasal 2 . (3) Persyaratan khusus OKP untuk menjadi anggota KNPI adalah: a.

penataran. disahkan oleh Dewan Pengurus Provinsi/Kota/Kabupaten c. Keputusan-Keputusan Kongres. Menyelenggarakan Musyawarah Luar Biasa dalam hal Dewan Pengurus Pusat menilai bahwa telah terjadi kemacetan kepemimpinan organisasi ditingkat Provinsi f. Mengeluarkan pendapat dan mengajukan usul atau saran c. Memperoleh perlakuan yang sama dengan anggota lainnya b. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI serta seluruh perangkat Peraturan Organisasi lainnya b. Menentukan kebijakan secara umum sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Pasal 3 Hak dan Kewajiban Anggota (1) Organisasi Kemasyarakatan Pemuda sebagai Anggota mempunyai hak: a. disahkan oleh Dewan Pengurus Pusat b. Tunduk dan taat terhadap Deklarasi Pemuda Indonesia. Keputusan Musyawarah Pimpinan Paripurna. . Bagi calon anggota di Tingkat Kecamatan. Mendukung dan mensukseskan seluruh pelaksanaan program organisasi KNPI Pasal 4 Pemberhentian Anggota (1) Organisasi Kemasyarakatan Pemuda berhenti sebagai anggota KNPI karena: a.Penerimaan Anggota 1) Penerimaan anggota dilakukan setelah memenuhi persyaratan keanggotaan yang diatur dalam pasal 1 Anggaran Rumah Tangga ini 2) Pengesahan anggota dilakukan dengan jalan: a. Mengusulkan anggotanya atau diusulkan atau dipilih menjadi anggota Dewan Pengurus d. Mengesahkan susunan personalia Dewan Pengurus Daerah Provinsi. Mengutus anggotanya untuk mengikuti pendidikan kader. Memperoleh perlindungan hukum dan pembelaan hukum dalam hal yang bersangkutan menjalankan tugas KNPI (2) Organisasi Kemasyarakatan Pemuda sebagai anggota mempunyai kewaj iban: a. dan Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia Provinsi sesuai dengan hasil keputusan Musyawarah Provinsi d. disahkan oleh Pengurus Kecamatan 3) OKP yang mengikuti Kongres/Musprop/Muskab untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai peninjau dan akan menjadi peserta penuh pada Kongres/Musprop/Muskab berikutnya. c. Melaksanakan kewenangan lainnya yang diberikan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan Kongres lainnya. Diberhentikan karena tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagai anggota (2) Diberhentikan karena tidak lagi memenuhi syarat-syarat keanggotaan sebagaimana dimaksud pasal 1 Anggaran Rumah Tangga BAB II KEPENGURUSAN Wewenang dan Kriteria Pasal 5 Dewan Pengurus Pusat (1) Kewenangan Dewan Pengurus Pusat adalah: a. Membentuk dan mengkoordinir Lembaga-Lembaga dan atau Badan-Badan Khusus. dan ketentuan-ketentuan lainnya b. Keputusan Rapat Kerja Nasional. Permufakatan Pemuda Indonesia. Bagi calon anggota di Tingkat Pusat. pembinaan dan bimbingan dan KNPI e. Bagi calon anggota di Tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota. Membatalkan/meluruskan/memperbaiki keputusan yang diambil oleh Dewan Pengurus Provinsi dan Keputusan Musyawarah Provinsi yang bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta ketentuan-ketentuan lainnya yang berlaku e. Menjunjung tinggi nama baik serta misi organisasi c. Atas permintaan sendiri b.

maka selain memenuhi pasal S ayat (2) tersebut. dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi. calon Ketua Umum harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. maka calon anggota harus memenuhi prosedur dan kriteria sebagai berikut: a. . Membatalkan/meluruskan/memperbaiki keputusan yang diambil oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dan Keputusan Musyawarah Kabupaten/Kota yang bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta ketentuan-ketentuan lainnya yang berlaku e. tidak pernah berbuat hal hal yang bertentangan dengan hukum negara. berakhlak mulia. Calon anggota yang diusulkan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berusia maksimal 40 (empat puluh) tahun. memiliki prestasi. Diupayakan agar seluruh OKP terwakili di kepengurusan. pernah menjadi pimpinan OKP tingkat nasional atau pimpinan Dewan Pengurus Provinsi KNPI. Menerima Deklarasi Pemuda Indonesia. c. c. b. AD/ART KNPI. Mendapatkan rekomendasi dan Dewan Pengurus Pusat atau Dewan Pengurus Provinsi atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda tingkat nasional yang berhimpun dalam KNPI. pernah menjadi pengurus OKP tingkat Provinsi atau Pimpinan Dewan Pengurus Daerah KNPI. Diusulkan secara tertulis oleh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Nasional dan atau Dewan Pengurus Pusat dengan melampirkan daftar riwayat hidup. Melaksanakan kebijakan organisasi di daerahnya dan memberikan petunjuk kepada Dewan Pengurus Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dalam melaksanakan program sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta kebijakan-kebijakan yang digariskan oleh Dewan Pengurus Pusat b.(2) Untuk dapat dipilih menjadi anggota Dewan Pengurus Pusat. Pasal 6 Dewan Pengurus Propinsi (1) Kewenangan Dewan Pengurus Provinsi adalah: a. Permufakatan Pemuda Indonesia. Menyampaikan Daftar Riwayat Hidup dan Rencana Strategi pelaksanaan Visi dan Misi KNPI kepada seluruh peserta Kongres. Membentuk dan mengkoordinir Lembaga-Lembaga dan atau Badan-Badan Khusus ditingkat Daerah c. Menyelenggarakan Musyawarah Kabupaten/Kota Luar Biasa dalan hal Dewan Pengurus Provinsi menilai bahwa telah terjadi kemacetan kepemimpinan organisasi ditingkat Kabupaten/Kota f. (3) Untuk dapat dipilih menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat. berdomisili di sekitar Jabotabek. Didukung sekurang-kurangnya 20 % suara peserta b. Melaksanakan kewenangan lainnya yang diberikan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan Musyawarah lainnya. berakhlak mulia. tidak pernah berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hukum negara d. b. Program Kerja Nasional dan peraturan organisasi KNPI lainnya serta mempunyai waktu yang cukup dan bersedia berpartisipasi aktif dalam kepengurusan KNPI e. (2) Untuk dapat dipilih menjadi anggota Dewan Pengurus Daurah Provinsi maka calon anggota harus memenuhi prosedur dan kriteria sebagai berikut: a. Daftar Riwayat Hidup yang bersangkutan dikirimkan kepada Dewan Pengurus Pusat selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum pelaksanaan Kongres c. Calon anggota yang diusulkan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berusia tidak lebih dari 40 (empat puluh) tahun. memiliki prestasi. Daftar Riwayat Hidup yang bersangkutan dan dikirimkan kepada Dewan Pengurus Provinsi selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum pelaksanaan Musyawarah Provinsi. Diusulkan secara tertulis oleh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Dewan Pengurus Provinsi dengan melampirkan Daftar Riwayat Hidup. Mengesahkan susunan personalia Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dan Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia Kabupaten/Kota sesuai dengan hasil keputusan Musyawarah Kabupaten/Kota d. dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi.

e. Melaksanakan kewenangan lainnya yang diberikan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan Musyawarah Kabupaten/Kota lainnya. b. Diupayakan agar seluruh OKP terwakili di kepengurusan. Program Kerja Daerah dan peraturan organisasi KNPI lainnya serta mempunyai waktu yang cukup dan bersedia berpartisipasi aktif dalam kepengurusan KNPI. Permufakatan Pemuda Indonesia. d. Membatalkan/meluruskan/memperbaiki keputusan yang diambil oleh Pengurus Kecamatan dan Keputusan Musyawarah Kecamatan yang bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta ketentuan-ketentuan lainnya yang berlaku. b. b. Diusulkan secara tertulis oleh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dengan melampirkan daftar riwayat hidup yang bersangkutan dan dikirimkan kepada Dewan Pengurus Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum pelaksanaan Musyawarah Kabupaten/Kota. calon Ketua harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Didukung sekurang-kurangnya 20 % suara Peserta. (2) Untuk dapat dipilih menjadi anggota Dewan Pengurus Kabupaten/Kota. Mengesahkan susunan personalia Pengurus Kecamatan. Permufakatan Pemuda Indonesia. dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi. pernah menjadi pimpinan OKP tingkat Kabupaten/Kota. maka calon anggota harus memenuhi prosedur dan kriteria sebagai berikut: a. calon Ketua harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Program Kerja Kabupaten/Kota dan peraturan organisasi KNPI lainnya serta mempunyai waktu yang cukup dan bersedia berpartisipasi aktif dalam kepengurusan KNPI. c. Diupayakan agar seluruh OKP terwakili di kepengurusan. AD/ART KNPI. f. Menyelenggarakan Musyawarah Kecamatan Luar Biasa dalam hal Dewan Pengurus Kabupaten/Kota menilai bahwa telah terjadi kemacetan kepemimpinan organisasi ditingkat Kecamatan. Pasal 8 Pengurus Kecamatan . (3) Untuk dapat dipilih menjadi Ketua Dewan Pengurus Kabupaten/Kota. d. Menerima Deklarasi Pemuda Indonesia. memiliki prestasi. c. d. Membentuk dan mengkoordinir Lembaga-Badan-Badan Khusus ditingkat Kabupaten/Kota. maka selain memenuhi pasal 6 ayat (2) tersebut. c. b. maka selain memenuhi pasal 7 ayat (2) tersebut. Pasal 7 Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (1) Kewenangan Dewan Pengurus Daerah adalah: a. berakhlak mulia. Pernah menjadi Ketua OKP Kabupaten/Kota atau Ketua Pengurus Kecamatan atau Pengurus Dewan Pengurus Daerah KNPI. (3) Untuk dapat dipilih menjadi Ketua Dewan Pengurus Daerah. tidak pernah berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hukum negara. Melaksanakan kebijakan organisasi di daerahnya dan memberikan petunjuk kepada Dewan Pengurus Kota/Kabupaten/Pengurus Kecamatan dalam melaksanakan program sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta kebijakan-kebijakan yang digariskan oleh Dewan Pengurus Provinsi. Calon anggota yang diusulkan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berusia tidak lebih dari 40 (empat puluh) tahun.d. AD/ART KNPI. e. Mendapatkan rekomendasi dan Dewan Pengurus Kabupaten/Kota atau Pengurus Kecamatan atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kota/Kabupaten yang berhimpun dalam KNPI. Menyampaikan Daftar Riwayat Hidup dan Rencana Strategi pelaksanaan Visi dan Misi KNPI kepada seluruh peserta Musyawarah Kabupaten/Kota. c. Didukung sekurang-kurangnya 20 % suara peserta. Mendapatkan rekomendasi dari Dewan Pengurus Daerah Provinsi atau Dewan Pengurus Daerah Kabupaten/Kota atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda tingkat Provinsi yang berhimpun dalam KNPI. Menerima Deklarasi Pemuda Indonesia. Menyampaikan Daftar Riwayat Hidup dan Rencana Strategi pelaksanaan Visi dan Misi KNPI kepada seluruh peserta Musyawarah Provinsi.

Peninjau Kongres hanya memiliki hak bicara. Mejelis Pemuda Indonesia dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Nasional memiliki hak bicara dan hak suara. maka Dewan Pengurus Pusat dinyatakan demisioner (7) Peninjau Kongres terdiri dari: a. Mengkoordinir pemuda-pemuda desa untuk mengembangkan minat. Dewan Pengurus Pusat b. Melaksanakan kebijakan organisasi di kecamatannya sesuai dengan anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta kebijakan-kebijakan yang digariskan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota. tidak pernah berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hukum negara. tidak memiliki hak suara. Melaksanakan kewenangan lainnya yang diberikan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan Musyawarah Kecamatan lainnya. (3) Untuk dapat dipilih menjadi Ketua Pengurus Kecamatan. Permufakatan Pemuda Indonesia. AD/ART KNPI. b. maka calon anggota harus memenuhi prosedur dan kriteria sebagai berikut: a. dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi. Calon anggota yang diusulkan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berusia maksimal 40 (Empat Puluh Tahun) tahun. Mendapatkan rekomendasi dan Pengurus Kecamatan atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda tingkat Kecamatan c. pernah menjadi pimpinan OKP Kecamatan . Majelis Pemuda Indonesia d. Dewan Pengurus Provinsi c. b. Diusulkan secara tertulis oleh Peserta Musyawarah Kecamatan dengan melampirkan daftar riwayat hidup yang bersangkutan dan dikirimkan kepada Pengurus Kecamatan. berakhlak mulia. Program Kerja Kecamatan dan peraturan organisasi KNPI lainnya serta mempunyai waktu yang cukup dan bersedia berpartisipasi aktif dalam kepengurusan KNPI. Dewan Pengurus Kabupaten/Kota b. bakat dan potensi lainnya dalam kegiatan yang berlangsung ditingkat desa dan kecamatan. Menerima Deklarasi Pemuda Indonesia. c. Undangan lainnya yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat c. c. Pasal 10 Kongres Luar Biasa Kongres Luar Biasa dihadiri oleh Peserta dan Peninjau yang sama seperti Peserta Kongres tersebut dalam Bab III Pasal 9 ART ini.(1) Kewenangan Pengurus Kecamatan adalah: a. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Nasional (3) Peserta Kongres yang terdiri dari: DPP KNPI. calon Ketua harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. maka selain memenuhi pasal 8 ayat (2) tersebut. memiliki prestasi. Pasal 11 Musyawarah Pimpinan Paripurna . Menyampaikan Daftar Riwayat Hidup kepada seluruh peserta Musyawarah Kecamatan. b. Didukung sekurang-kurangnya 20 % suara Peserta Musyawarah. (2) Untuk dapat dipilih menjadi Pengurus Kecamatan. secara kolektif peserta memiliki hak 1 (satu) suara (4) Rancangan Materi Kongres disiapkan oleh Dewan Pengurus Pusat (5) Sidang-sidang Kongres dihantarkan oleh Dewan Pengurus Pusat (6) Setelah Laporan Pertanggung Jawaban Dewan Pengurus Pusat diterima oleh Kongres. BAB III PERMUSYAWARATAN Pasal 9 K ongre s (1) Kongres dihadiri oleh Peserta dari Peninjau (2) Peserta Kongres adalah: a. DPD KNPI Provinsi.

DPD KNPI Provinsi. Dewan Pengurus Kabupaten/Kota d. DPD KNPI Kabupaten/Kota. Majelis Pemuda Indonesia Kabupaten/Kota e. DPD KNPI Kecamatan. Pasal 12 Musyawarah Provinsi (1) Musyawarah Provinsi dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Pasal 14 Musyawarah Kecamatan .(1) Peserta Musyawarah Pimpinan Paripurna terdiri dari: a. Dewan Pengurus Provinsi b. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kabupaten/Kota (3) Peserta Musyawarah Kabupaten/Kota yang terdiri dari: DPD KNPI Provinsi. DPD KNPI Kabupaten/Kota. Majelis Pemuda Indonesia Provinsi e. secara kolektif peserta memiliki hak 1 (satu) suara (4) Rancangan Materi Musyawarah Kabupaten/Kota disiapkan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (5) Sidang-sidang Musyawarah Kabupaten/Kota dihantarkan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (6) Setelah Laporan Pertanggung Jawaban Dewan Pengurus Kabupaten/kota diterima oleh Musyawarah Kabupaten/Kota. secara kolektif peserta memiliki hak 1 (satu) suara (4) Setelah Laporan Pertanggung Jawaban Dewan Pengurus Provinsi diterima oleh Musyawarah Provinsi. (2) Peserta Musyawarah Provinsi adalah: a. maka Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dinyatakan demisioner (7) Peninjau Musyawarah Kabupaten/Kota adalah: Undangan yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (8) Peninjau Musyawarah Kabupaten/Kota hanya memiliki hak bicara. Dewan Pengurus Pusat b. maka Dewan Pengurus Provinsi dinyatakan demisioner (7) Peninjau Musyarah Provinsi adalah: Undangan yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Provinsi. Majelis Pemuda Indonesia d. (8) Peninjau Musyawarah Provinsi hanya memiliki hak bicara. tidak memiliki hak suara. Majelis Pemuda Indonesia Provinsi dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Provinsi memiliki hak bicara dan hak suara. maka Dewan Pengurus Provinsi dinyatakan demisioner (5) Sidang-sidang Musyawarah Provinsi dihantarkan oleh Dewan Pengurus Provinsi (6) Setelah Laporan Pertanggung Jawaban Dewan Pengurus Provinsi diterima oleh Musyawarah Provinsi. Dewan Pengurus Kecamatan d. Dewan Pengurus Kabupaten/Kota c. Dewan Pengurus Provinsi c. Dewan Pengurus Pusat b. Pasal 13 Musyawarah Kabupaten/Kota (1) Musyawarah Kabupaten/Kota dihadiri oleh Peserta dan Peninjau (2) Peserta Musyawarah Kabupaten/Kota adalah: a. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Nasional (2) Peserta Musyawarah Pimpinan Paripurna memiliki hak bicara dan masing-masing secara kolektif mempunyai hak 1 (satu) suara (3) Peninjau ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat dan hanya memiliki hak bicara (4) Rancangan materi Musyawarah Pimpinan Paripurna disiapkan oleh Dewan Pengurus Pusat (5) Sidang-sidang Musyawarah Pimpinan Paripurna dipimpin oleh Dewan Pengurus Pusat. Dewan Pengurus Propinsi c. tidak memiliki hak suara. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Provinsi (3) Peserta Musyawarah Provinsi yang terdiri dari: DPP KNPI. Mejelis Pemuda Indonesia Kabupaten/Kota dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kabupaten/Kota memiliki hak bicara dan hak suara.

Majelis Pemuda Indonesia d. Pengurus Kecamatan c. Dewan Pengurus Kabupaten/Kota c. Majelis Pemuda Indonesia Provinsi e. Dewan Pengurus Provinsi b. Dewan Pengurus Provinsi c. Dewan Pengurus Pusat b. Pasal 17 Rapat Kerja Kabupaten/Kota (1) Peserta Rapat Kerja Kabupaten/Kota terdiri dan: a. Majelis Pemuda Indonesia Kota/Kabupaten e.(1) Musyawarah Kecamatan dihadiri oleh Peserta dan Peninjau (2) Peserta Musyawarah Kecamatan adalah: a. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Provinsi (2) Peserta Rapat Kerja Provinsi memiliki hak bicara dan masing-masing secara kolektif mempunyai hak 1 (satu) suara (3) Peninjau ditetapkan oleh Dewan Pengurus Provinsi dan hanya memiliki hak bicara (4) Rancangan materi Rapat Kerja Daerah Provinsi disiapkan oleh Dewan Pengurus Provinsi (5) Sidang-sidang Rapat Kerja Provinsi dipimpin oleh Dewan Pengurus Provinsi. . Dewan PengurusPusat b. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kabupaten/Kota d. secara kolektif peserta memiliki hak 1 (satu) suara (4) Rancangan Materi Musyawarah Kecamatan disiapkan oleh Pengurus Kecamatan (5) Sidang-sidang Musyawarah Kecamatan dihantarkan oleh Pengurus Kecamatan (6) Setelah Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Kecamatan diterima oleh Musyawarah Kecamatan. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Nasional (2) Peserta Rapat Kerja Nasional memiliki hak bicara dan masing-masing secara kolektif mempunyai hak I (satu) suara (3) Peninjau ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat dan hanya memiliki hak bicara (4) Rancangan materi Rapat Kerja Nasional disiapkan oleh Dewan Pengurus Pusat (5) Sidang-sidang Rapat Kerja Nasional dipimpin oleh Dewan Pengurus Pusat. Dewan Pengurus Kabupaten/Kota d. maka Pengurus Kecamatan dinyatakan demisioner (7) Peninjau Musyawarah Kecamatan adalah: Undangan yang ditetapkan oleh Pengurus Kecamatan Peninjau Musyawarah Kecamatan hanya memiliki hak bicara. Pengurus Kecamatan (2) Peserta Rapat Kerja Kabupaten/Kota memiliki hak bicara dan masing-masing secara kolektif mempunyai hak 1 (satu) suara (3) Peninjau ditetapkan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota dan hanya memiliki hak bicara (4) Rancangan materi Rapat Kerja Kabupaten/Kota disiapkan oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota (5) Sidang-sidang Rapat Kerja Provinsi dipimpin oleh Dewan Pengurus Kabupaten/Kota. Pasal 16 Rapat Kerja Provinsi (1) Peserta Rapat Kerja Provinsi terdiri dari: a. Dewan Pengurus Kabupaten/kota b. Pasal 15 Rapat Kerja Nasional (1) Peserta Rapat Kerja Nasional terdiri dari: a. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kecamatan (3) Peserta Musyawarah Kecamatan yang terdiri dari : DPD KNPI Kabupaten/ Kota dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kecamatan memiliki hak bicara dan hak suara. Dewan Pengurus Provinsi c. tidak memiliki hak suara.

. mengevaluasi. BAB IV RAPAT – RAPAT Pasal 19 Rapat Pleno Dewan Pengurus (1) Rapat Pleno Dewan Pengurus adalah institusi pengambilan keputusan tertinggi dalam Dewan Pengurus pada masing-masing tingkatannya (2) Rapat Pleno Dewan Pengurus diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) bulan yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus ditambah Pimpinan/Anggota Komisi dan Pimpinan Badan Khusus menurut tingkatannya (3) Fungsi dan wewenang Rapat Pleno adalah: a. Mengambil keputusan tentang perkembangan organisasi sehari-hari baik intern maupun ekstern. dan mengambil kebijakan teknis pelaksanaan program Komisi dan atau Badan Khusus. Pasal 21 Rapat Koordinasi (1) Rapat Koordinasi adalah rapat yang diadakan sewaktu-waktu jika dianggap perlu yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian anggota Pengurus Harian dengan Pimpinan/Anggota Komisi dan atau Badan-Badan Khusus menurut tingkatannya (2) Rapat Koordinasi diselenggarakan untuk membahas. Mengambil keputusan-keputusan mendesak organisasi yang berkaitan dengan kebijakan organisasi b. Pasal 22 Rapat Komisi (1) Rapat Departemen/Komisi dan Badan Khusus adalah rapat yang diadakan sekurangkurangnya 1 (satu) bulan sekali yang dihadiri oleh seluruh Pimpinan/Anggota masing-masing Departemen/Komisi dan Badan-Badan Khusus menurut tingkatannya (2) Rapat Departemen/Komisi atau Badan Khusus diselenggarakan untuk merencanakan. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Kecamatan (2) Peserta Rapat Kerja Kecamatan memiliki hak bicara dan masing-masing secara kolektif mempunyai hak 1 (satu) suara (3) Peninjau ditetapkan oleh Pengurus Kecamatan dan hanya memiliki hak bicara (4) Rancangan materi Rapat Kerja Pengurus Kecamatan disiapkan oleh Pengurus Kecamatan (5) Sidang-sidang Rapat Kerja Kecamatan dipimpin oleh Pengurus Kecamatan. Mengambil kebijakan dan keputusan yang mendasar bagi organisasi dalam bentuk Peraturan Organisasi maupun kebijakan-kebijakan tertulis lainnya b.Pasal 18 Rapat Kerja Kecamatan (1) Peserta Rapat Kerja Kecamatan dan: a. mengkoordinir. Pengurus Kecamatan c. Pasal 20 Rapat Harian Dewan Pengurus (1) Rapat Harian Dewan Pengurus adalah rapat yang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Harian menurut tingkatannya (2) Fungsi dan wewenang Rapat Harian: a. dan mengkoordinir pelaksanaan program Departemen/Komisi dan atau Badan Khusus. dan mengkoordinir pelaksanaan-pelaksanaan hasil Kongres/Musyawarah Mengevaluasi perkembangan daerah dan dampaknya bagi perkembangan organisasi. Dewan Pengurus Kabupaten/Kota b. Membahas. membahas.

maka Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia dapat menyelenggarakan Kongres setelah mendapat persetujuan dan anggota Majelis Pemuda Indonesia. Pasal 25 Kuorum dan Persyaratan 1. (2) Pengawasan dan penilaian sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini. Pasal 26 Pengambilan Keputusan 1. (2) dan (3) pasal ini tidak dapat terpenuhi. rasional dan disampaikan langsung kepada Dewan Pengurus dibawahnya dan atau disampaikan melalui forum permusyawaratan sebagaimana pasal (13) ayat (1) Anggaran Dasar ini. maka keputusan diambil dengan suara terbanyak. Musyawarah Daerah Kabupaten Kota. mengevaluasi. Kongres dan Kongres Luar Biasa dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dan 2/3 (dua pertiga ) jumlah utusan peserta 2. Tiap keputusan-keputusan diambil secara musyawarah untuk mencapai mufakat 2. Kongres/ Musyawarah/Rapat tersebut dinyatakan sah. di selenggarakan secara tertulis. Apabila musyawarah untuk mufakat tidak dapat dicapai. Musyawarah Provinsi. Musyawarah Daerah Provinsi. (3) Dalam hal Dewan Pengurus Pusat tidak dapat menyelenggarakan Kongres selama 6 (enam) bulan setelah habis masa jabatannya. Ketua Umum OKP (ex-officio) pada tingkatan yang sama. maka atas persetujuan seluruh peserta yang hadir. Pasal 27 Majelis Pemuda Indonesia (1) Anggota Majelis Pemuda Indonesia mencakup mantan pengurus KNPI. Apabila ketentuan dalam ayat (1). dan merumuskan penilaian terhadap kinerja Dewan Pengurus KNPI sesuai tingkatan serta mengambil kebijakan sesuai dengan fungsi dan tugasnya. dan jika dalam tenggang waktu tersebut kuorum tidak terpenuhi. Musyawarah Kabupaten/ Kota. Musyawarah Provinsi/Musyawarah Kabupaten/Kota/Musyawarah Kecamatan dan Rapat-rapat tersebut dalam pasal ART ini sah jika dihadiri oleh lebih dan ½ (setengah) jumlah utusan 3. Dalam hal Dewan Pengurus Propinsi/Kabupaten/Kota tidak dapat menyelenggarakan Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota selama 6 (enam) bulan setelah habis masa jabatannya dan Dewan Pengurus diatasnya pada masa itu tidak berinisiatif menyelenggarakan Musyawarah (4) . Kongres Luar Biasa. BAB V PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 24 Hak Suara dan Hak Bicara (1) Peserta utusan pada Kongres.Pasal 23 Rapat Majelis Pemuda Indonesia (1) Rapat Majelis Pemuda Indonesia adalah rapat yang diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan yang dihadiri oleh seluruh Anggota Majelis Pemuda Indonesia menurut tingkatannya (2) Rapat Majelis Pemuda Indonesia diselenggarakan untuk membahas. obyektif. Musyawarah Kecamatan dan Rapat-rapat tersebut di atas ditangguhkan selama 2 jam. Musyawarah Kecamatan mempunyai hak suara dan hak bicara (2) Peserta Peninjau dan Undangan lainnya tidak mempunyai hak suara. maka penyelenggaraan Kongres. Kongres Luar Biasa.

Pasal 30 Pergantian Antar Waktu 1. baik yang lebih rendah maupun lebih tinggi tingkatannya (2) Ketentuan lebih lanjut ayat 1 (satu) pasal ini akan diatur dalam Penjelasan Anggaran Rumah Tangga dan atau PO KNPI selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah selesainya kongres. maka Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia di masing-masing tingkatan dapat menyelenggarakan Musyawarah Provinsi/Kabupaten/ Kota setelah mendapat persetujuan dari Dewan Pengurus Pusat. maka pergantian untuk mengisi lowongan tersebut dilakukan dan ditetapkan dalam Rapat Harian Dewan Pengurus dengan mempertimbangkan secara sungguh-sungguh unsur keterwakilannya dalam kepengurusan. maka jabatan Ketua Umum digantikan oleh. Majelis Pemuda Indonesia Daerah ditingkat Provinsi c. Apabila Ketua Umum berhalangan tetap dan atau karena sesuatu sebab tidak dapat menjalankan dan atau menyelesaikan kewajibannya sampai masa jabatan kepengurusan berakbir. Majelis Pemuda Indonesia Daerah ditingkat Kabupaten/Kota (6) Majelis Pemuda Indonesia terdiri dari seorang Ketua. 2. beberapa orang Wakil Ketua. dan atau mendapat sanksi hukum pidana. seorang Sekretaris. Pergantian antar waktu untuk Pimpinan dan Anggota Dewan Penasehat dan Majelis Pemuda Indonesia diselenggarakan menurut kebutuhan yang mendesak dengan mengacu pada ayat (1) dan (2) pasal ini. 3. BAB VII BADAN-BADAN KHUSUS Pasal 31 Status . Apabila karena sesuatu sebab terjadi lowongan dalam keanggotaan Dewan Pengurus dan atau dianggap tidak aktif dan atau dianggap melanggar konstitusi.Propinsi/ Kabupaten/Kota. kecuali untuk Dewan Pengurus Pusat maka pensahan dan pengukuhan di lakukan oleh Dewan Pengurus Pusat setelah mengadakan konsultasi dengan Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia. salah seorang Ketua/Wakil Ketua yang ditetapkan oleh dan dalam Rapat Harian Dewan Pengurus yang diagendakan untuk keperluan itu. Majelis Pemuda Indonesia Pusat ditingkat Nasional b. Tindakan yang dilakukan Dewan Pengurus sebagaimana dimaksud ayat (1) dan (2) pasal ini harus diberitahukan kepada Dewan Pengurus yang tingkat organisasinya setingkat lebih tinggi untuk disahkan dan dikukuhkan. yaitu: a. dan beberapa orang anggota. PENDELEGASIAN WEWENANG DAN PERGANTIAN ANTAR WAKTU Pasal 28 Rangkap Dan Masa Jabatan (1) Anggota Dewan Pengurus dan Majelis Pemuda Indonesia tidak boleh merangkap jabatan pada jenjang Dewan Pengurus dan Majelis Pemuda Indonesia yang berbeda. (5) Majelis Pemuda Indonesia dapat dibentuk diseluruh tingkatan organisasi. BAB VI RANGKAP DAN MASA JABATAN. kecuali ditingkat Kecamatan.

Lambang KNPI adalah seperti yang terdapat dalam Lampiran Anggaran Dasar ini. sesuai tingkatan organisasi. dan identitas KNPI 3.Badan Khusus KNPI adalah Badan pembantu Dewan Pengurus yang dibentuk menurut kebutuhan oleh Dewan Pengurus menurut tingkatannya dan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. penjelasan tata cara penggunaan dan pengaturan lebih lanjut jenis atribut seperti tersebut pada ayat (2) pasal ini. warna. jaket. Lambang seperti tersebut pada ayat (1) dipergunakan untuk pembuatan bendera. melalui Panitia Verifikasi yang dibentuk untuk kepentingan itu. BAB VIII KEUANGAN Pasal 33 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (1) Dewan Pengurus setiap tingkatan bertanggung jawab atas penggunaan dana dan pengelolaan harta kekayaan organisasi sesuai dengan sistem keuangan dan akuntansi Indonesia. penelitian dan pelatihan kerja praktis (3) Pelaksana Badan-Badan Khusus bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus masing-masing tingkatan dan setiap 6 (enam) bulan sekali memberikan laporan tertulis yang menyangkut pelaksanaan kegiatan dan laporan keuangan (4) Badan khusus baru dapat dibentuk setelah memiliki pedoman dasar yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat (5) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur tersendiri dalam Pedoman Dasar Badan Khusus masing-masing. (4) Khusus dalam penyelenggaraan Kongres dan Musyawarah Propinsi Kabupaten/Kota/Kecamatan . vandel. (3) Laporan Pertanggung jawaban bidang keuangan harus disusun berdasarkan hasil audit oleh akuntan publik yang ditunjuk oleh Pimpinan Majelis Pemuda Indonesia. semua pemasukan dan pengeluaran keuangan harus dipertanggungjawabkan kepada Dewan Pengurus KNPI masa bakti berikutnya. Bentuk. (2) Bendahara secara rutin setiap 6 (enam) bulan sekali memberikan laporan keuangan kepada Rapat Pleno Dewan Pengurus. Tugas dan Kewajiban Pasal 32 (1) Badan-Badan Khusus KNPI bertugas melaksanakan program dan kewajiban-kewajiban KNPI sesuai dengan fungsi dan peran bidang masing-masing (2) Pelaksana Badan Khusus KNPI mempunyai tugas untuk meningkatkan keahlian khusus bagi pengurus KNPI dan anggota OrganisaSi Kemasyarakatan Pemuda melalui pendidikan. Bab IX Atribut Pasal 34 1. yang selanjutnya diatur dalam Peraturan Organisasi 2. diatur dalam lampiran Anggaran Dasar ini .

DAVID PAJUNG (Wakil OKP/HPPI) ttd. Kep. GUNAWAN SATARY (KNPI Prov. BABXII PERATURAN PERALIHAN Pasal 36 Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur kemudian dalam Pedoman Organisasi (PO). Bogor Pada tanggal : 20 Desember 2005 PRESIDIUM SIDANG KONGRES XI PEMUDA/KNPI TAHUN 2005 ttd. 2.4. GALUMBANG SITINJAK (Wakil MPI) ttd. BAB XIII PENU TU P Pasal 37 1. Jenis Lagu Meliputi Mars Pemuda Indonesia dan Hymne Pemuda Indonesia seperti terdapat dalam lampiran Anggaran Dasar ini BAB X TATA CARA PEMILIHAN Pasal 35 Tata cara Pemilihan Ketua Umum/Ketua dan Dewan Pengurus KNPI diatur dalam keputusan tata cara pemilihan. Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Jateng) ttd. EVA YULIANA (KNPI Prov. Anggaran Rumah Tangga ini merupakan perubahan dan penyempurnaan dan Anggaran Rumah Tangga yang ditetapkan dalam Kongres Pemuda KNPI X pada tanggal 18 Desember 2002 di Bekasi. ARMAN SIMANJORANG (Wakil DPP KNPI) ttd. Ditetapkan di: Caringin. Riau) .

DEPERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 01/PO/KNPI/IV/2006 Tentang DISIPLIN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Menimbang : 1. Bahwa sesungguhnya dalam suatu organisasi yang sehat para pengurus dan anggta samasama berusaha untuk mempertahankan serta meningkatkan kinerja organisasi sehingga bermanfaat bagi kiprah dan kemajuan organisasi di tengah-tengah masyarakat pada umumnya dan di kalangan anggota pada khususnya. 2. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. Bahwa untuk tercapainya maksud tersebut diatas sangat ditentukan kepada suasana kondusif di dalam organisasi agar organisasi beserta perangkat. : 1. 2.07/DPP-KNPI/IV/ 2006 tentang Tata Kerja DPP KNPI Periode 2005-2008.perangkat yang dimiliki dapat . Bahwa dalam suatu organisasi yang sehat para pengurus dan anggota diharapkan dapat bersama-sama berusaha mempertahankan serta meningkatkan kinerja organisasi sehingga bermanfaat bagi kemajuan organisasi dalam perannya di tengah-tengah masyarakat. Keputusan DPP KNPI Nomor : KEP. Bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk ditetapkan Peraturan Organisasi yang mengatur tentang Disiplin Organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia. MEM U TU SKA N: Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA TENTANG DISIPLIN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA. 2. Keputusan Rapat Pleno DPP KNPI ke-II tanggal 11 April 2006. Bahwa untuk tercapainya maksud tersebut di atas sangat ditentukan oleh suasana kondusif di dalam organisasi agar dapat melaksanakan program kerjanya. 3. BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 1. Pokok-pokok Program Kerja Nasional Organisasi (PPKNO) KNPI. Mengingat Memperhatikan : 1. 2.

BAB III PELANGGARAN DAN SANKSI Pasal 4 (1) Pelanggaran adalah setiap perbuatan yang dilakukan baik secara perorangan maupun bersama-sama dengan sengaja melanggar AD/ART. Frekuensi (seringnya/pengulangan) pelanggaran. c.melaksanakan program kerja sebagaimana yang diamanahkan oleh Kongres/Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/ Kecamatan. ketentuan organisasi lainnya. Ketentuan-ketentuan Organisasi lainnya. Jenis pelanggaran. Pasal 3 Tindakan Disiplin Tindakan disiplin adalah setiap upaya yang dilakukan organisasi terhadap anggotanya dalam rangka menjaga dan mempertahankan semangat kinerja dan nama baik organisasi. Peraturan Organisasi ini bertujuan memberikan panduan kepada pengurus dan anggota di setiap tingkatan untuk mengetahui secara jelas hal-hal yang menyangkut pelanggaran dan menyebabkan jatuhnya sanksi organisasi. Besar kecilnya pelanggaran. Disiplin berarti juga kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat walaupun dalam situasi yang sangat menekan sekalipun. perundang-undangan dan peraturan pemerintah yang berlaku serta etika. AD/ART KNPI. c. b. norma-norma susila umum lainnya yang berakibat menghambat kinerja organisasi KNPI dan atau mencemarkan nama baik organisasi KNPI. d. (2) Pelanggaran terhadap perundang-undangan serta peraturan pemerintah yang berlaku. kepatuhan serta tunduk kepada Peraturan. (3) Pelanggaran terhadap Etika Organisasi. Peraturan Organisasi. melakukan tindakan-tindakan hukum di bidang kriminal yang berakibat jatuhnya vonis pidana oleh pengadilan dan sudah mendapatkan kekuatan hukum tetap. norma dan prinsip-prinsip tertentu. (2) Sanksi adalah setiap tindakan positif yang diambil oleh organisasi dalam rangka meningkatkan kinerja anggota dan organisasi dan hal-hal yang berhubungan dengan kemajuan dan nama baik organisasi KNPI. 3. Meliputi antara lain : a. Pada dasarnya setiap tindakan disiplin dengan memperhatikan sifat dan kadar pelanggaran yang dilakukan. (2) Dalam kaitan dengan Disiplin Organisasi KNPI peraturan yang dimaksud adalah konstitusi organisasi yang meliputi AD/ART. (3) Sanksi didasarkan kepada : a. Peraturan Organisasi. Pasal 5 Jenis Pelanggaran (1) Pelanggaran terhadap Konstitusi Organisasi. Oleh karena itu perlu diatur sebuah peraturan organisasi yang mengatur Disiplin Organisasi KNPI. BAB II PENGERTIAN DISIPLIN ORGANISASI Pasal 2 (1) Disiplin adalah setiap perilaku positif yang berdasarkan kepada ketaatan. Peraturan Organisasi dan seterusnya. b. . Unsur kesengajaan. perundang-undangan dan Peraturan Pemerintah yang berlaku serta etika dan norma-norma kesusilaan yang umum.

Menetapkan penonaktifan untuk jangka waktu tertentu. Memecat. Melanggar azas keatutan. Teguran atau peringatan tersebut di atas dilakukan secara lisan maupun tertulis. Membatalkan penonaktifan. Mengatasnamakan organisasi untuk kepentingan pribadi tanpa persetujuan terlebih dahulu. Pasal 9 Jangka Waktu Penetapan Sanksi Jangka waktu penetapan sanksi : (1) Lisan : 1 (satu) minggu (2) Tertulis 1 : 1 (satu) bulan (3) Tertulis 2 : 2 (dua) minggu (4) Tertulis 3 : 2 (dua) minggu Pasal 10 Wewenang Penetapan Sanksi .a. (2) Penonaktifan (skorsing) (3) Pemecatan (4) Teguran atau peringatan dilakukan : K a. Pasal 6 Jenis-jenis Sanksi Jenis-jenis sanksi : (1) Teguran atau peringatan. Kepada anggota dilakukan oleh Dewan Pengurus sesuai dengan tingkatan kepengurusan organisasi b. c. (4) Pelanggaran Moral. Melakukan perbuatan tercela b. Merusak citra serta nama baik organisasi. (5) Sanksi pada ayat (2) dan ayat (3) diatas dilakukan oleh Dewan Pengurus Pusat dengan memperhatikan usul Dewan pengurus Propinsi setelah diberikan kesempatan untuk membela diri selanjutnya segera diambil keputusan dalam bentuk : a. Pasal 7 Rehabilitasi Rehabilitasi dalam rangka pemulihan nama baik organisasi/institusi dan perorangan dapat dilakukan oleh Dewan Pengurus Pusat berdasarkan usul dan pertimbangan Dewan Pengurus Propinsi/Kabupaten/Kota. b. BAB IV TATA CARA PEMBERIAN SANKSI Pasal 8 Tata cara pemberian sanksi diatur dengan memberikan klasifikasi tingkat pelanggaran sebagai berikut : (1) Pelanggaran Ringan (2) Pelanggaran Sedang (3) Pelanggaran Berat. b. a. Melakukan perbuatan yang melanggar nilai-nilai kesusilaan yang berakibat merugikan nama baik organisasi yang terbukti secara hukum. c.

BAB V PENUTUP Pasal 12 (1) Peraturan Disiplin Organisasi ini dibuat dengan mengacu kepada : Perundang-undangan serta peraturan pemerintah yang berlaku. ttd. (3) Peraturan Organisasi tentang Disiplin Organisasi ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. MUNAWAR FUAD . b. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Ketua Umum. AD/ART KNPI dan peraturan Organisasi serta ketentuan organisasi lainnya. HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal. Sistem Nilai serta norma etika yang berlaku secara umum.Tertulis Rapat Pleno : Pelanggaran Berat -. a.Lisan Rapat Harian : Pelanggaran Sedang -. ttd.Wewenang penetapan sanksi : Rapat Bidang Organisasi : Pelanggaran Ringan -.Pemecatan Pasal 11 Hak Jawab Hak jawab untuk pembelaan diberikan kepada organisasi/institusi maupun perorangan sesuai dengan penetapan sanksi. (2) Peraturan Organisasi ini akan ditinjau kembali apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya. c.

3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. Yang dimaksud dengan sebab-sebab Pengurus yang dinyatakan tidak dapat aktif/berhalangan tetap adalah: a. Tidak menghadiri Rapat Pleno Dewan Pengurus KNPI pada tingkatannya sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Pokok-pokok Program Kerja Nasional Organisasi (PPKNO) KNPI. atau b. Keputusan DPP KNPI Nomor : KEP. . 4. Bahwa untuk itu perlu dihindari ketida lancaran mekanisme kerja organisasi yang disebabkan oleh jabatan lowong atau ketidak aktifan pengurus dalam kepengurusan Komite Nasional Pemuda Indonesia di semua tingkatan. Bahwa dalam rangka menjamin kelancaran mekanisme Kerja Organisasi Komite Nasional pemuda Indonesia dipandang perlu untuk senantiasa memelihara keutuhan organisasi serta berfungsinya masing-masing pengurus pada semua tingkatan organisasi. Pengurus yang bersangkutan mengundurkan diri dari kepengurusan Komite Nasional Pemuda Indonesia dengan menyatakan secara lisan dan atau tertulis. Keputusan Rapat Pleno DPP KNPI ke-II tanggal 11 April 2006. MEM U TU SKA N: Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA TENTANG PENGGANTIAN ANTAR WAKTU DAN PENETAPAN JABATAN LOWONG BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 1. meninggal dunia. atau d.07/DPP-KNPI/IV/ 2006 tentang Pedoman Tata Kerja DPP KNPI Periode 2005-2008. 2. Peraturan Organisasi KNPI Nomor : 02/PO/KNPI/III/ 2003 tentang Penggantian Antar Waktu dan Pengisian Jabatan Lowong Dewan Pengurus KNPI. 2. 2. Bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk ditetapkan Peraturan Organisasi yang mengatur tentang penggantian antar waktu atau penetapan jabatan lowong Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia. 2. Pengurus yang oleh karena satu dan lain hal dipandang mencemarkan nama baik organisasi sehingga diberhentikan dari jabatan kepengurusan.PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 02/PO/KNPI/IV/2006 Tentang PENGGANTIAN ANTAR WAKTU DAN PENETAPAN JABATAN LOWONG DEWAN PENGURUS KNPI DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Menimbang : 1. Peraturan Organisasi KNPI Nomor : 01/PO/KNPI/IV/ 2006 tentang Disiplin organisasi KNPI. atau ditarik oleh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda yang merekomendasikan. c. Suatu jabatan dinyatakan lowong apabila salah satu atau beberapa Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia yang oleh sebab-sebab tertentu dinyatakan tidak efektif/berhalangan tetap. : 1. 3. Mengingat Memperhatikan : 1.

Pasal 6 .e. Hasil Pengisian jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu tersebut harus segera dilaporkan kepada Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia untuk selanjutnya mendapatkan pengesahan. 3. Yang dimaksud penggantian antar waktu adalah penggantian seseorang atau beberapa orang Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia dalam suatu periode kepengurusan yang sedang berjalan. pengisian jabatan lowong dan penggantian antar waktu perlu ditetapkan melalui keputusan organisasi menurut tingkatannya. 4. Jabatan lowong. Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat sesuai dengan mekanisme kerja yang berlaku dengan mempertimbangkan saran majelis Pemuda Indonesia KNPI. Pasal 5 1. Khusus jabatan lowong yang disebabkan oleh sanksi pemberhentian dari jabatan kepengurusan harus dibicarakan dan diputuskan melalui Rapat Pleno Dewan Pengurus KNPI sesuai tingkatan. Untuk Daerah Tingkat Propinsi melalui Keputusan Dewan Pengurus Daerah Tingkat Propinsi 3. Pasal 3 Penetapan jabatan Lowong dan penggantian Antar Waktu ditetapkan : 1. Pasal 4 1. 2. 2. dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda diwilayahnya dan Majelis Pemuda Daerah Tingkat Kabupaten/Kota oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota dan Pengurus KNPI Kecamatan. 5. 2. Jabatan dinyatakan lowong setelah Dewan pengurus KNPI di semua tingkatan. jika fungsionaris terkena ketentuan pada pasal 1. 3. BAB II PROSEDUR DAN MEKANISME PENGGANTIAN ANTAR WAKTU DAN PENETAPAN JABATAN LOWONG Pasal 2 1. 4. Untuk Pengurus Kecamatan melalui Keputusan Pengurus kecamatan. Hasil Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu harus segera diumumkan kepada Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia seluruh Indonesia dan Majelis Pemuda Indonesia oleh Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia. Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu untuk Dewan Pengurus Tingkat Propinsi setelah berkonsultasi dengan majelis Pemuda Daerah Tingkat Propinsi yang bersangkutan. Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Propinsi. 2. Yang dimaksud Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia pada semua tingkatan adalah Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia. Untuk Tingkat Pusat melalui Dewan Pengurus Pusat. 3. Setiap pengisian jabatan lowong atau penggantian antar waktu yang sudah disahkan agar diberitahukan kepada Dewan Pengurus Daerah Tingkat Kabupaten/Kota. Untuk Daerah Tingkat Kabupaten/Kota melalui Keputusan Dewan Pengurus Tingkat Kabupaten/Kota. ayat 2 Peraturan Organisasi ini. Yang dimaksud dengan penetapan jabatan lowong yaitu penetapan seseorang atau beberapa orang dalam jabatan tertentu pada kepengurusan Komite Nasional Pemuda Indonesia yang dinyatakan lowong. Melakukan tindakan pidana kriminal dan sudah mendapat ketetapan tetap sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

Pasal 9 Peraturan Organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Setiap Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu yang sudah disahkan agar diberitahukan kepada seluruh organisasi pemuda di wilayahnya. Pasal 7 1. Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu untuk Pengurus KNPI Kecamatan ditetapkan melalui Keputusan Pengurus Kecamatan Komite Nasional Pemuda Indonesia setelah berkonsultasi dengan tokoh. 3. Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Dewan pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota setelah berkonsultasi dengan Majelis Pemuda Tingkat Kabupaten/Kota. 2. Hasil Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu Pengurus Kecamatan tersebut harus segera dilaporkan kepada Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota untuk selanjutnya mendapatkan pengesahan. Pengesahan jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/ Kota oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Propinsi dan tembusannya disampaikan kepada Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia.tokoh Pemuda di Tingkat setempat. 4. 4. Majelis Pemuda Indonesia Daerah Tingkat Kabupaten/Kota dan seluruh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda di wilayahnya oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota. Pengesahan jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu Pengurus Kecamatan Komite Nasional Pemuda Indonesia oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Kabupaten/Kota dan tembusannya disampaikan kepada Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Propinsi. 2. BAB III KETENTUAN PENUTUP Pasal 8 Peraturan Organisasi ini akan ditinjau kembali apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya.1. 3. ttd. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Ketua Umum. HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal. ttd. Hasil Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu tersebut harus segera dilaporkan kepada Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Tingkat Propinsi untuk selanjutnya mendapatkan pengesahan. Setiap Pengisian Jabatan Lowong atau Penggantian Antar Waktu yang sudah disahkan agar diberitahukan kepada Pengurus Kecamatan. MUNAWAR FUAD PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 03/PO/KNPI/IV/2006 TENTANG .

14. Bahwa Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan merupakan perangkat institusi tertinggi organisasi yang menentukan kadar perkembangan organisasi pada tingkatan tersebut. oleh karena itu pelaksanaan Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan perlu penyesuaian dalam rangka menunjang dan mewujudkan hasil-hasil Kongres XI Pemuda/KNPI tahun 2005. 13. Menilai dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban DPD Tingkat Propinsi atau Tingkat Kabupaten/Kota/Kecamatan. 18. Menyusun Program Daerah/Kecamatan dalam rangka Pelaksanaan Program Umum KNPI. 4. 19. Pasal 4 . Memperhatikan : Keputusan Rapat Pleno ke-II DPP KNPI tanggal 11 April 2006. (2) Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah Musyawarah Kecamatan diselenggarakan oleh Pengurus Kecamatan. Memilih dan mengangkat anggota Dewan Pengurus Daerah/Pengurus Kecamatan. 3. 2. sangat ditentukan oleh penataan segenap perangkat organisasi di setiap tingkatan. 3. 20. Mengingat : Anggaran Dasar KNPI Bab IX Pasal 17.MUSYAWARAH PROPINSI/KABUPATEN/KOTA/KECAMATAN KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Menimbang : 1. 21 dan Anggaran Rumah Tangga KNPI Bab III Pasal 12. BAB III PENYELENGGARAAN MUSYAWARAH PROPINSI/KABUPATEN/KOTA/KECAMATAN Pasal 3 (1) KNPI. Bahwa kesinambungan dan pengembangan peran organisasi secara efektif dan efisien. sebagai keputusan organisasi yang memberi arah dan pedoman penyelenggaraan Musyawarah Propinsi/ Kabupaten/Kota/Kecamatan KNPI di seluruh Indonesia. 2. Menetapkan Anggota Majelis Pemuda Indonesia. 4. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 2 Tugas dan wewenang Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan adalah : 1. Bahwa untuk itu diperlukan Peraturan Organisasi KNPI tentang pelaksanaan Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/ Kecamatan. Menetapkan Anggota Penasehat apabila dipandang perlu. 5. MEM U TU SKA N: Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN MUSYAWARAH PROPINSI/KABUPATEN/KOTA/ KECAMATAN KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA. Bahwa penataan musyawarah Propinsi/Kabupaten/ Kota/ Kecamatan sebagai bagian dari penataan organisasi harus dilakukan secara nasional dengan memperhatikan kepentingan perwujudan sifat dan fungsi KNPI.

Penyelenggara Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan bertanggung jawab : (1) Atas ketertiban dan kelancaran penyelenggaraan Musyawarah Propinsi/ Kabupaten/Kota/Kecamatan (2) Atas berlangsungnya Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan dalam suasana kebersamaan. Musyawarah Kecamatan dihadiri oleh : a. (3) Setiap utusan mempunyai hak kesempatan dan kebebasan yang sama untuk mengeluarkan pendapat/kritik dan saran yang bersifat membangun. baik lisan maupun tertulis atas seizin pimpinan sidang. Musyawarah Kabupaten/Kota dihadiri oleh : 1) DPD Tingkat Propinsi 2) MPI Tingkat Kabupaten/Kota 3) DPD Tingkat Kabupaten/Kota 4) Pengurus Kecamatan KNPI 5) Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Institusi Kepemudaan lainnya di Tingkat Kabupaten/Kota c. demi permusyawaratan dan pemufakatan. (1) Peserta Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan terdiri dari : a. BAB V WAKTU DAN TEMPAT Pasal 8 . atas seizin Pimpinan Sidang. dengan hikmah kebijaksanaan. usul dan/atau pendapat baik lisan maupun tertulis. Pengurus Kecamatan c. (2) Mengajukan pertanyaan. Pasal 7 Peninjau berhak : (1) Mengajukan pertanyaan. kesempatan dan kebebasan yang sama untuk mengeluarkan pendapat/kritik dan saran yang bersifat membangun. Musyawarah Propinsi dihadiri oleh : 1) DPP KNPI 2) MPI Tingkap Propinsi 3) DPD Tingkat Propinsi 4) DPD Tingkat Kabupaten/Kota 5) Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Institusi Kepemudaan lainnya di Tingkat Propinsi b. usul dan/atau pendapat. DPD Tingkat Kabupaten/Kota b. (2) Setiap peninjau mempunyai hak. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Institusi Kepemudaan lainnya di Tingkat Kecamatan (2) Jumlah Peserta Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota ditentukan oleh DPD KNPI dan Pengurus Kecamatan serta dikoordinasikan dengan tingkat organisasinya. BAB IV PESERTA DAN PENINJAU Pasal 5 Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan dihadiri oleh peserta dan peninjau. (3) Peninjauan Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan ditetapkan oleh DPD KNPI/Pengurus Kecamatan. HAK SUARA DAN BICARA Pasal 6 Peserta berhak : (1) Atas satu hak suara yang dapat dipergunakan dalam pengambilan keputusan.

b. BAB VI MUSYAWARAH Pasal 10 Sidang-sidang (1) (2) (3) Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan terdiri : Sidang Pleno Sidang Komisi Sidang Komisi Khusus dan/atau Sub Komisi bila dianggap perlu. (3) Jumlah anggota masing-masing Komisi disusun secara proporsional. sedangkan pada tingkat Musyawarah Kecamatan diserahkan kepada DPD tingkat Kabupaten/Kota. Mendengarkan Laporan Komisi untuk mendapatkan penilaian dan pengesahan Sidang Pleno. Mengesahkan Laporan Pertanggung Jawaban DPD KNPI/Pengurus Kecamatan. Kabupaten/Kota dan Musyawarah Kecamatan sesuai periodesasi kepengurusan. tingkat Kabupaten/Kota dan Dewan Pengurus Daerah KNPI untuk masa bhakti berikutnya. j. Pasal 11 (1) Tugas dan Wewenang sidang Pleno : a. h. untuk DPD Tingkat Kota/Kabupaten mendapat persetujuan DPP KNPI. f. Memberikan penilaian atas Laporan Pertanggung Jawaban DPD KNPI/ Pengurus Kecamatan yang disampaikan melalui Pandangan Umum. (2) Untuk DPD Tingkat Propinsi yang selama periode kepengurusannya masih terdapat DPD Tingkat Kabupaten/Kota yang telah habis masa kepengurusannya. Menetapkan Program Umum KNPI Daerah/Kecamatan yang berpedoman kepada Pokok-pokok Program Kerja Nasional Organisasi KNPI hasil Kongres Pemuda/KNPI dan Program Kerja Hasil RAKERNAS. Pasal 9 Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan dilaksanakan di Ibukota Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan dan atau disesuaikan dengan kemampuan daerah/kecamatan yang bersangkutan. maka DPD Tingkat Propinsi harus sesegera mungkin menuntaskan Musyawarah Kabupaten/Kota tersebut terlebih dahulu. sedangkan pada tingkat musyawarah Kecamatan dijadwalkan oleh DPD Tingkat Kabupaten/Kota. (2) Setiap Peninjau berhak menjadi salah satu anggota Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan. Mendengarkan pengarahan dan ceramah sesuai dengan ketentuan Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan. Melaporkan hasil-hasil Sidang Komisi kepada Sidang Pleno Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan setelah ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris Sidang Komisi yang bersangkutan. namun sampai saat ini belum melaksanakan Musyawarah Kabupaten/Kota. Pasal 12 (1) Setiap Peserta harus menjadi anggota salah satu Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan. e. Memilih Ketua DPD/Ketua Pengurus Kecamatan. c. g. (4) Untuk DPD Tingkat Propinsi pelaksanaan Musyawarah Propinsi dijadwalkan oleh DPP. Komisi Komisi Musyawarah Musyawarah . Mengesahkan majelis Pemuda Indonesia tingkat Propinsi. i. (3) Apabila pada ayat (1) dan (2) tidak juga terlaksana.(1) Pelaksanaan Musyawarah Propinsi. Membentuk Komisi-komisi menurut kebutuhan. Memilih formatur. d. maka Majelis Pemuda Indonesia dapat mengambil alih setelah mendapat persetujuan DPD KNPI. Mendengar Laporan Pertanggung Jawaban DPD KNPI/Pengurus Kecamatan. (2) Tugas dan wewenang Sidang Komisi : a. b. Memusyawarahkan dan mengambil Keputusan mengenai hal-hal yang menjadi lingkup tugasnya.

sesuai pengaturan dalam Pasal 5 ayat 3 Peraturan Organisasi ini dan ART KNPI Pasal 25. Pasal 15 (1) Setiap Sidang Pleno memerlukan quoprum seperti tersebut dalam Pasal 14 ayat 1 Peraturan Organisasi ini. Pasal 17 Keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Sidang Pleno Musyawarah Propinsi/Kabupaten/ Kota/Kecamatan sekurang-kurangnya dihadiri oleh lebih dari ½ jumlah utusan. (2) Penyampaian suara dilakukan oleh utusan untuk menyatakan sikap setuju. BAB VII QUORUM DAN TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 14 (1) Sidang Pleno Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan dinyatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah Peserta. Apabila hal ini tidak mungkin maka Keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak dalam suasana dan semangat kebersamaan untuk menunjang kebersamaan Pemuda Indonesia. masing-masing 1 (satu) orang dari unsur Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP)/Institusi Kepemudaan lainnya. bila adanya pendirian-pendirian argumentasi bertentangan. mendudukkan persoalan. (2) Dalam hal memilih formatur. (5) Pimpinan Sidang merangkum seluruh pembicaraan. BAB VIII DEWAN PENGURUS DAERAH KNPI Pasal 19 . (3) Pimpinan Sidang Pleno terdiri dari Seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua. maka pemungutan suara diulang. maka Sidang dianggap memenuhi quorum dan dapat mengambil keputusan. (2) Setiap Sidang dipimpin oleh Pimpinan Sidang berjumlah 5 orang. yang tidak dapat didekatkan lagi. (3) Pengambilan Keputusan berdasarkan suara terbanyak dilakukan dengan mengadakan perhitungan secara langsung. (2) Apabila hal dimaksud dalam ayat 1 pasal ini tidak tercapai maka Sidang ditunda paling lama 2 kali dalam 30 menit. atau karena desakan waktu dalam pengambilan keputusan. (3) Apabila setelah 2 kali penundaan masih juga (ayat 1 dan ayat 2 pasal ini) belum tercapai. tertulis atau mengacungkan tangan. sesuai dengan ART KNPI Pasal 26. meluruskan pembicaraan serta berusaha mempertemukan pendapat sesuai acara persidangan. (4) Pimpinan Sidang Komisi dipilih dari dan oleh anggota Komisi. PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 16 Pengambilan Keputusan pada azasnya diusahakan sejauh mungkin secara musyawarah untuk mencapai mufakat. menolak atau abstain secara lisan.Pasal 13 Pimpinan Sidang: (1) Pimpinan Sidang Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan dipilih dari dan oleh Peserta Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan. Pasal 18 (1) Apabila diambil Keputusan berdasarkan suara terbanyak hasilnya sama. seorang Sekretaris dan 2 orang anggota.

Bendahara f. Wakil-wakil Ketua Komisi i. Sekretaris d. Bidang/Komisi Kelautan dan Perikanan 17. c. 6. d. Bidang/Komisi Transportasi 27. Wakil-wakil Bendahara g. Bidang/Komisi Pendidikan 21. Ketua-ketua Komisi h. Bidang/Komisi Tenaga Kerja dan Transmigrasi 15. Bidang/Komisi Ekonomi dan KUMKM 8. Bidang/Komisi Perindustrian 10. Wakil-wakil ketua c. Bidang/Komisi pertanian dan Perkebunan 11. Bidang/Komisi Infrastruktur Perumahan pemukiman 16. Bidang/Komisi Lingkungan Hidup 20. Bidang/Komisi Luar Negeri 7. Bidang/Komisi Pemberdayaan perempuan 22.Dewan Pengurus Daerah Tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan terdiri dari : a. Bidang/Komisi Keorganisasian 2. Bakal Calon Ketua dipilih dan ditetapkan oleh Peserta di dalam sidang pleno. Bidang/Komisi Kesejahteraan Sosial 24. Bidang/Komisi Kerjasama Antar Lembaga 26. 7 dan 8. . b. Bidang/Komisi Keagamaan 3. Bidang/Komisi Olahraga 29. Bidang/Komisi Perdagangan 30. Bidang/Komisi Riset dan Pengembangan Teknologi 19. Anggota Komisi Jumlah anggota pengurus disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan. Ketua dipilih dari calon-calon ketua yang telah memenuhi persyaratan dan disahkan oleh peserta didalam sidang pleno. Bidang/Komisi Politik 4. Syarat-syarat calon Ketua sesuai dengan ART bab II Pasal 5. Wakil-wakil Sekretaris e. Bidang/Komisi Investasi dan Perbankan 23. Mekanisme pemilihan calon-calon Ketua ditetapkan dalam sidang pleno. Bidang/Komisi Energi dan Sumber Daya Mineral 28. Bidang/Komisi Pelatihan dan Pengembangan SDM 25. Pasal 20 daerah Komisi dipilih dan ditetapkan melalui Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/ Kecamatan sebagai berikut : 1. Bidang/Komisi Pembangunan Pedesaan BAB IX TATA CARA PEMILIHAN KETUA DAN FORMATUR Pasal 21 Pemilihan Ketua dan Formatur dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Bidang/Komisi Otonomi Daerah 12. Bidang/Komisi Kesehatan 6. Ketua b. Bidang/Komisi Pariwisata 13. Bidang/Komisi Hukum dan HAM 5. Bidang/Komisi Budaya dan Multikultural 18. Bidang/Komisi Pertahanan dan Keamanan 9. Bidang/Komisi Komunikasi dan Informatika 14.

. (6) Ketua Tim Formatur untuk Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan adalah Ketua Terpilih (7) Formatur mempunyai mandat penuh untuk menyusun kepengurusan dengan memperhatikan usulan nama-nama resmi yang direkomendasikan oleh OKP/Institusi kepemudaan yang telah ditetapkan sebagai peserta maupun peninjau Musda. Unsur DPP Tingkat Propinsi 1 (satu) orang b. maka para calon Ketua diberikan kesempatan untuk menyampaikan konsep kepemimpinannya dengan mengacu kepada Program Kerja KNPI hasil Musyawarah Propinsi/ Kabupaten/Kota/Kecamatan Pasal 22 (1) Formatur dipilih dari dan oleh Peserta di dalam Sidang Pleno (2) Formatur Musyawarah Propinsi sebanyak 7 (tujuh) orang yang dipilih dari peserta dalam Musyawarah Propinsi yang terdiri dari : a) Unsur DPP KNPI 1 (satu) orang b) Ketua MPI Tingkat Propinsi 1 (satu) orang c) Ketua DPD Tingkat Propinsi terpilih 1 (satu) orang d) Ketua DPD Tingkat Propinsi demisioner 1 (satu) orang e) Unsur DPD Tingkat Kabupaten/Kota 1 (satu) orang f) Unsur Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Propinsi/Institusi Kepemudaan lainnya 2 (dua) orang (3) Formatur Musyawarah Kabupaten/Kota sebanyak 7 (tujuh) orang yang dipilih dari peserta dalam Musyawarah Kabupaten/Kota yang terdiri dari : a. 4. loyal terhadap organisasi/negara. Berprestasi. 2. berdedikasi. Sedang/pernah aktif menjadi Pengurus KNPI. 3. (5) Komposisi formatur terdiri dari seorang Ketua merangkap Anggota. Ketua DPD Tingkat Kabupaten/Kota demisioner 1 (satu) orang d. Unsur KNPI Kecamatan 1 (satu) orang (4) Formatur Musyawarah Kecamatan sebanyak 5 (lima) orang yang dipilih dari peserta dalam Musyawarah Kecamatan terdiri dari : a) Ketua Terpilih b) Ketua Demisioner pengurus Kecamatan c) Unsur DPD Tingkat Kabupaten/kota d) Unsur OKP/Institusi kepemudaan lainnya 2 (dua) orang.e. Berusia tidak lebih dari 40 tahun. Sebelum pemilihan Ketua dilaksanakan. tak tercela dan bebas narkoba serta bersedia bertanggungjawab untuk melaksanakan amanat organisasi hingga akhir masa jabatan. seorang Sekretaris merangkap Anggota dan Anggota-anggota. Pasal 23 Yang dapat menjadi Calon Ketua adalah : 1. Ketua terpilih DPD Tingkat Kabupaten/Kota 1 (satu) orang e. (8) Nama-nama calon pengurus yang direkomendasikan wajib melampirkan daftar riwayat hidup (ART Bab II Pasal 6. 7 dan 8). Sedang/pernah menjadi Pengurus organisasi Kemasyarakatan Pemuda tingkat Propinsi atau Tingkat Kabupaten/Kota/Kecamatan. Unsur Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Tingkat Kabupaten/Kota/ Institusi Kepemudaan lainnya 2 (dua) orang f. Ketua MPI Tingkat Kabupaten/Kota 1 (satu) orang c. bermoral. (9) Rekomendasi calon pengurus selambat-lambatnya disampaikan pada saat pendaftaran peserta Musyawarah Propinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan.

tak tercela dan bebas Narkoba serta bersedia bertanggungjawab untuk melaksanakan amanat organisasi hingga akhir masa jabatan. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA . Pasal 27 Hal-hal yang menyangkut pelaksanaan orientasi Penyamaan visi dan persepsi fungsionaris/pengurus baru KNPI tingkat Propinsi atau tingkat Kabupaten/Kota akan diatur tersendiri dalam Petunjuk pelaksanaan.Pasal 24 Yang dapat menjadi Dewan Pengurus KNPI : 1. BAB X PELANTIKAN PENGURUS Pasal 25 Hal-hal yang berkaitan dengan pelantikan Pengurus Tingkat Propinsi atau tingkat Kabupaten/Kota akan diatur tersendiri dalam Petunjuk Pelaksanaan. BAB XII PERATURAN PERALIHAN KETENTUAN PENUTUP Pasal 28 Segala sesuatu yang belum diatur dalam Peraturan Organisasi ini akan ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat KNPI. Peraturan Organisasi lainnya serta mempunyai waktu dan bersedia untuk berpartisipasi aktif dalam kepengurusan KNPI. Pokok-pokok Organisasi dan Program Kerja Nasional (POPKN). Pemufakatan Pemuda Indonesia. AD/SRT. 3. loyal terhadap Organisasi/Negara. Berprestasi. Diusulkan secara resmi oleh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan/atau Dewan Pengurus KNPI. 2. berdedikasi. BAB IX ORIENTASI PENGURUS Pasal 26 Setelah pengurus tingkat Propinsi atau tingkat Kabupaten/Kota terpilih langsung dilanjutkan dengan orientasi penyamaan visi dan persepsi fungsionaris/pengurus baru KNPI Tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota. bermoral. Pasal 29 Peraturan Organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Menerima Deklarasi Pemuda Indonesia.

HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal. ttd. ttd. MUNAWAR FUAD .Ketua Umum.

petunjuk maupun ketentuan yang berkenaan dan berkaitan dengan segala perilaku keadministrasian kesekretariatan. bertanggungjawab. Bahwa administrasi kesekretariatan merupakan kegiatan penting dalam penyelenggaraan kegiatan operasional suatu organisasi untuk kelancaran pelaksanaan program kerja organisasi yang bersangkutan. Bahwa oleh karena itu. MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI KESEKRETARIATAN KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA. Organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia memandang perlu untukmembuat suatu Pedoman Administrasi Kesekretariatan untuk memudahkan gerak langkah organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. 2. Untuk mencapai tujuan tersebut. Bahwa untuk itu dipandang perlu disusun aturan-aturan. petunjuk maupun ketentuan yang berkenaan dan berkaitan dengan segala perilaku keadministrasian dan kesekretariatan. Pokok Organisasi dan Program Kerja Nasional (PPKNO) KNPI. efisien dan efektif maka diselenggarakan aturan-aturan. 3. Administrasi Kesekretariatan KNPI merupakan segenap proses penyelenggaraan aktivitas yang berfungsi sebagai tempat dan pusat aktivitas organisasi serta mekanisme kerja-kerja kepengurusan organisasi. Oleh karena itu.Keputusan Rapat Pleno II DPP KNPI. Pedoman Administrasi dan Kesekretariatan KNPI disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB BAB BAB BAB BAB BAB I II III IV V VI PENDAHULAN LETAK BANGUNAN SEKRETARIAT PENGELOLA KANTOR / ADMINISTRASI KESEKRETARIATAN KETATAUSAHAAN KETATA ARSIPAN INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI . agar supaya diselenggarakan secara tertib. 2.PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 04/PO/KNPI/IV/2006 TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI KESEKRETARIATAN KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Menimbang : 1. : 1. BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 Administrasi kesekretariatan merupakan segenap proses penyelenggaraan setiap usaha kerjasama antar manusia yang dilakukan secara tertulis untuk mencapai tujuan tertentu. perlu dikeluarkan Peraturan Organisasi KNPI yang mengatur pedoman administrasi kesekretariatan. tanggal 11 April 2006. Mengingat Memperhatikan : . Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. teratur.

Sedangkan fasilitas penunjang administrasi kesekretariatan yaitu : kertas dan alat-alat tulis. Warna putih bersih b. Ruang Tata Usaha 2. Ruang dapur 6. BAB IV KETATAUSAHAAN Pasal 5 JENIS-JENIS SURAT 1. Ruang Persidangan 4. Di pinggir jalan. BAB III PENGELOLA KANTOR/ADMINISTRASI KESEKRETARIATAN Pasal 4 Pengelola Kantor dan Administrasi Kesekretariatan KNPI sepenuhnya menjadi kewajiban dan kewenangan pada team kesekretariatan. dapur beserta isinya. Surat Ketetapan/Surat Keputusan Pasal 6 BENTUK DAN ISI SURAT 1. Ruang Perpustakaan 3. atau segala fasilitas yang sifatnya consumable menjadi tugas dan tanggungjawab team kebendaharaan. Ruang kamar mandi/wcdalam mengatur ruangan hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor kenyamanan. Yaitu Sekretaris Jenderal/Sekretaris Umum/Sekretaris sebagai koordinator dan penanggung jawab dibantu dengan wakil-wakil Sekretaris Jenderal/Wakilwakil Sekretaris Umum/Wakil-wakil Sekretaris. Kertas Surat a. Pasal 3 Sedangkan Fasilitas Bangunan/Gedung Sekretarian KNPI hendaknya dilengkapi fasilitas sebagai berikut : 1. 3. Di lingkungan yang bersih. keindahan dan keserasian sehingga bagi pemakai dan pengunjung kantor tersebut merasa nyaman.BAB VII BAB VIII BAB IX PERPUSTAKAAN ORGANISASI KEPROTOKOLAN PENUTUP BAB II LETAK / BANGUNAN SEKRETARIAT Pasal 2 Letak atau sekretariat atau Kantor KNPI sebagai tempat untuk menyelenggarakan segala aktivitas dan pengelolaan administrasi organisasi hendaknya dipilih dengan pertimbangan ideal dan strategis sebagai berikut : 1. meningkatkan semangat dan kemauan bagi yang berada di dalamnya. kesehatan. Surat Resmi/Biasa/Rutin 2. Terletak di Pusat Kota Mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Surat Mandat/Surat Tugas/Surat Kuasa/Surat Keterangan 3. 4. Ukuran folio (F4) . betah. Musholla 5. aman dan nyaman. 2.

Kata Permulaan Surat Kata permulaan ini berfungsi sebagai pembuka surat. 2007 … dst. hendaknya dilengkapi dengan “up” yang berarti “untuk perhatian”. dengan alinea baru dan berjarak 2 spasi. Nomor surat untuk surat-surat resmi/biasa/mandat/tugas/kuasa/ keterangan. Contoh : Hal : PERMOHONAN PENCERAMAH 5. Kode Jenis Surat Terdiri dari 4 (empat) bagian.1 maupun untuk a. KPTS = Untuk Jenis Surat Keputusan.2 atas dimulai dengan nomor 001 sampai dengan tak terbatas dan diperbaharui kembali dengan nomor 001 setiap periode pergantian kepengurusan. Nomor Urut 1. B = Untuk Jenis Surat Resmi/Biasa/Rutin/Mandat/ Ekasternal Organisasi 3. Nomor surat baik untuk a. Isi Surat Sistematika isi surat adalah sebagai berikut : 1. b. TAP = Untuk Jenis Surat Ketetapan 4. 4.2. Jika surat tersebut ditujukan pada salah satu unit/bagian yang ada pada lembaga/instansi tersebut maka setelah penyebutan Pimpinan/Pengurus Lembaga/instansi yang bersangkutan. Lampiran Surat. Pokok Surat (Perihal/Hal) Ringkas tapi jelas. 6. yaitu : 1. Alamat Surat Alamat Surat terletak dibawah perihal. 2006. c. 3. I II III IV V VI e. Nomor Surat Terdiri dari 5 (lima) bagian yaitu : Nomor Urut/Kode Jenis Surat/Pembuat/Bulan/Tahun. A = Untuk Jenis Surat Resmi/Biasa/Rutin/Mandat/ Internal Organisasi 2. Jika alamat surat ditujukan kepada Lembaga atau instansi maka penyebutannya bukan pada lembaga/instansi bersangkutan tetapi kepada Pengurus atau impinan lembaga/Instansi tersebut. 2. 7. Bulan VII VIII IX X XI XII = = = = = = Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Tugas/Kuasa/Keterangan Tugas/Kuasa/Keterangan Tahun Masehi : 2005. segaris lurus dibawah isi nomor surat. pendek tapi padat dan diterka maksud atau isi surat. Uraian persoalan/isi/pokok surat . d. = = = = = = Sek KGR Mus Rak Januari Februari Maret April Mei Juno Pembuat / Pengirim = Untuk Sekretaris Jenderal/Sekretaris = Untuk forum Kongres = Untuk Forum Musyawarah Daerah = Untuk Forum Rapat-rapat kerja. Keterangan a. Nomor surat untuk surat-surat keputusan dan surat-surat ketetapan. 2. 1. Pendahuluan 2. 3. lampiran dan perihal dengan jarak satu setengah spasi. 4.

Penutup Surat Dalam pembuatan surat-surat resmi/rutin/biasa yang dibuka dengan “Dengan Hormat” maka dalam menutup surat digunakan kalimat “Hormat kami”. Tujuan surat 3. surat masuk maupun keluar. Sedangkan untuk Internal Organisasi dapat ditandatangani oleh Ketua dan Wakil Sekretaris Jenderal Bidang yang bersangkutan. (2) Buku verbal untuk surat keluar memuat antara lain : a. Surat Masuk Unsur-unsur yang terpenting 1.3. Asal Surat 8. 8. Tanggal Surat b. dengan sepengetahuan Ketua Umum atau antara Ketua Umum dengan Wakil sekretaris jenderal. isi dan redaksi surat tersebut. b. Nomor Kode Arsip e. Tanggal surat diawali dengan lokasi dikeluarkannya surat. Surat Keputusan/Ketetapan Buku Agenda Surat keputusan/Ketetapan memuat antara lain : a. padat. Tanggal Surat Tanggal surat terletak di kanan bawah surat sebelah kalimat penutup dengan jarak 2 spasi. yaitu pengelolaan surat menyurat. kemudian disambung tanggal/bulan/tahun. Nomor Surat 4. Buku Ekspedisi Buku Ekspedisi memuat antara lain : . Nomor kode arsip e. Tanggal Surat 6. Isi Surat 7. Penanda Tanganan Surat Untuk surat-surat resmi yang ditujukan pada eksternal organisasi harus ditandatangani Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal. isi dan Penutup diberi jarak 2 spasi. Tanggal surat b. maka Ketua dan atau Wakil Sekjen yang dimandatkan dapat menandatangani surat dimaksud. BAB V KETATA ARSIPAN Pasal 7 BUKU AGENDA Untuk memudahkan pengelolaan sistem administrasi dan kesekretariatan. Nomor Urut d. maka sistem pengagendaan surat menyurat perlu diatur tersendiri. Nomor surat f. Nomor Surat f. pengarsipan dan dokumentasi agar teratur dan sistematis. 1. 10. dalam keadaan tertentu (Ketua Umum dan Seretaris Jenderal tidak berada di tempat). Konsep surat yang telah mendapat konfirmasi dan persetujuan baru kemudian diberi nomor verbal. jelas. 9. sopan. Nomor Surat 2. Keterangan 2. Nomor urut surat d. wajar dan tidak bertele-tele. Penutup Pendahuluan dan penutup sebaiknya tidak lebih dari dua alinea. Sedangkan isi/uraian persoalan dibuat ringkas. Nomor kode arsip 3. atau antara Ketua dengan Sekretaris Jenderal. Keterangan 4. Tanggal diterima untuk dicatat dalam surat masuk adalah sebagai berikut : 5. Konsep surat harus terlebih dahulu dikonfirmasikan kepada pimpinan yang bersangkutan agar tidak tejadi kekeliruan atau perbedaan-perbedaan antara muatan. Surat Keluar (1) Surat keluar harus melalui sirkulasi sebagai berikut : a. Isi surat c. Antara Pendahuluan. Isi Surat c.

2. Kode Arsip Surat Masuk a. Lampiran e. perubahan. Kode Map Dokumentasi a. Penyimpanan inventaris organisasi harus dilakukan dengan baik oleh orang-orang yang berkompeten dan bertanggung jawab sesuai dengan job description kesekretariatan. Jadi intinya arsip berarti pengumpulan dan penyimpanan warkat/surat-surat. Surat keluar Eksternal = KB 3. komputer. Pasal 9 KODE MAP / ARSIP KNPI 1. walaupun surat-surat tersebut telah tersimpan lama. Pengarsipan yang baik dan sangat berguna. Tata kearsipan yang sempurna apabila semua surat dan dokumen-dokumen lain tersimpan pada suatu tempat tertentu dan teratur rapi sehingga apabila diperlukan kembali mudah ditemui. Sebagai alat kontrol dan inventaris (mengetahui kerusakan. Kode Arsip Surat Keluar a. Keterangan Pasal 8 ADMINISTRASI KEARSIPAN 1. Tujuan Surat c. Menghindarkan adanya prmborosan 3. Surat Masuk Eksternal = MB 2. tidak diperkenankan dibawa atau disimpan di rumah fungsionaris. Kebijakan Org/Statemen b. . Arsip adalah kumpulan warkat/surat-surat yang disimpan secara sistimatis karena mempunyai suatu kemanfaatan apabila dibutuhkan dapat secara tepat ditemukan kembali. Tanggal/Nomor Surat d. alat-alat kantor. Menunjukkan kekayaan organisasi 2. Surat Masuk Internal = MA b. yaitu : Inventarisasi yang permanen (tahan lama) Contohnya Gedung/Sekretariat kantor. Surat-surat organisasi harus disimpan di sekretariat kantor dan dilarang keras disimpan di luar kantor. Makalah/Tulisan = DMT = DKO BAB VI INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI Pasal 10 INVENTARISASI ORGANISASI Tujuan dibuatnya daftar inventarisasi organisasi adalah : 1. Penyimpanan harus dilaksanakan serta ditempatkan di sekretariat.a. Kode Arsip Surat Ketetapan/Keputusan a. penggantian dan menambah jika terjadi kekurangan) Pasal 11 Inventarisasi Organisasi adalah segala sesuatu yang menjadi milik organisasi berupa kekayaan organisasi yang pada pokoknya dapat kita bagimenjadi dua bagian. alat dapur dan sebagainya. Tanggal Pengiriman b. meja. Surat Keputusan = KPTS 4. Surat Ketetapan = TAP b. terutama membantu kelancaran dan ketertiban organisasi serta dapat digunakan sebagai pengembangan pengetahuan umumnya. Surat Keluar Internal = KA b.

Pasal 12 DOKUMENTASI ORGANISASI 1. penyimpanan dan pengawetan dokumen-dokumen organisasi Dokumentasi organisasi tersebut merupakan suatu tanda bukti yang sah menurut hukum dan peristiwaperistiwa atau suatu kejadian dan kemudian disimpan. Pada hakekatnya semua arsip organisasi adalah dokumen. Dan sebagainya. Dalam jangka panjang perpustakaan ini merupakan cikal bakal pembentukan Pusat Data & Informasi Pemuda Indonesia dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemuda. d. Wawasan Pembangunan Nasional c. Bisnis dan Kewira Usahaan f. Oleh karena itu minimal yang harus dimiliki mencakup buku-buku yang diperlukan dalam kelengkapan kurikulum pelatihan KNPI. maka perlu diatur dalam administrasi perpustakaan dan diserahkan pengelolaannya kepada pengurus yang bertanggung jawab dan memahami selukbeluk perpustakaan. Dalam upaya menertibkan dan mengembangkan perpustakaan organisasi. administrasi dan kearsipan dan penyelenggaraan dokumentasi serta perpustakaan organisasi. Dokumentasi yang dipakai untuk menyusun laporan tahunan/akhir organisasi dan sebagai bukti yang sah serta sangat penting untuk menyusun sejarah perjuangan organisasi. e. Wawasan Kepemimpinan dan manajemen e. yang disebut sebagai protokoler. Wawasan Sosial Budaya g. BAB VII PERPUSTAKAAN ORGANISASI Pasal 13 1. . a. 2. tetapi juga meliputi penataan suatu acara dan pelaksanaannya. oleh karena itu pemeliharaan dan penyimpanan dokumen seperti hal lainnya barang-barang inventaris dan arsip hendaknya disusun dengan rapih dan teratur dalam map-map/rak-rak dan tempattempat tertentu dengan pengelompokkan sesuai dengan kebutuhan. BAB VII KEPROTOKOLERAN Pasal 14 1. Perpustakaan yang ideal bagi KNPI adalah meliputi buku-buku yang diperlukan bagi anggotanya. pengembangan generasi muda dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan. maka perpustakaan organisasi menjadi sangat penting dan strategis. Wawasan Ekonomi. Tugas suatu kesekretariatan tidak saja terbatas pada pengelolaan atau pengaturan suratmenyurat organisasi. 3. yang meliputi antara lain : a. Dokumentasi Organisasi adalah segala sesuatu yang menyangkut kegiatan pencarian pengumpulan. Wawasan Nusantara & Ketahanan Nasional d. KNPI sebagai Organisasi yang merupakan wadah berhimpun organisasi kepemudaan yang bergabung di dalamnya senantiasa berkecimpung dlam pembangunan nasional dan berpartisipasi aktif melalui pendidikan. Bentuk-bentuk dokumen organisasi antara lain : Gambar-gambar dan foto-foto Tulisan-tulisan dan surat-surat penting Benda-benda berharga dan bernilai Foto copy atau salinan surat Surat Kabar. Majalah dan lain sebagainya. b. 2. Wawasan Ideologi b. c. 4. 3.

2. 2. Apabila penyelenggaraan suatu aktifitas tanpa adanya Panitia Penyelenggara. • • • Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan suatu acara/upacara Tempat/Gedung (lay out. terutama mengenai urutan pemberi sambutan. yaitu team Sekretaris Jenderal/Sekretaris dengan dukungan dan pengertian semua fungsionaris. Keprotokoleran KNPI merupakan segala aktivitas yang berhubungan dengan penyelenggaraan suatu prosedur kelancaran (acara/upacara) dan memegang peranan penting bagi sukses dan sempurnanya suatu acara/upacara. Pasal 16 1. Susunan acara. maka akan dilakukan perbaikan seperlunya. Dengan adanya Pedoman Administrasi Kesekretariatan ini menjadi sangat penting dan strategis dalam menunjang dan menjadikan organisasi KNPI menjadi organisasi yang modern. Agar sasaran suatu kegiatan upacara dapat tercapai secara optimal. ttd. dekorasi dan pengaturan kursi) Posisi tamu/undangan dan pengurus. Untuk melaksanakan administrasi yang baik dan profesional sangat bergantung pada profefsionalitas para pelaksananya. diperlukan penanggungjawab dan pembagian tugas dalam penyelenggaraannya. Jenis dan pengantar acara.2. 3. Peraturan Organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. sedangkan dalam sapaan sambutan berlaku sebaliknya. HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal. Apabila di dalam peraturan organisasi ini terdapat kekeliruan. secara struktura pejabat/pengurus terbawah mendahului pejabat/pengurus diatasnya. maka pengelolaan penataan dan penyelenggaraannya langsung berada di bawah team Serikat jenderal/Sekretariat. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Ketua Umum. BAB IX PENUTUP Pasal 15 1. ttd. MUNAWAR FUAD PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 05/PO/KNPI/IV/2006 TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI & MANAJEMEN KEUANGAN KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA . karena dengan adanya pedoman tersebut segala hal yang berkaitan dengan kesekretariatan menjadi seragam dan teratur secara rapi sehingga segala sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan organisasi akan efisien dan efektif serta bermutu. 4.

2. Pokok Organisasi dan Program Kerja Nasional Organisasi (PPKNO) KNPI. Bagi KNPI. Perusahaan Swasta / Pengusaha e. pelaporan maupun pencatatan menjadi sangat penting agar dana-dana yang masuk dapat dikelola dengan efektif dan efisien. Pengurus/Anggota b. pemakaian. seperti Lembaga Perekonomian diarahkan agar dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dan juga dapat menunjang biaya organisasi. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. Mengingat Memperhatikan : Keputusan Rapat Pleno DPP KNPI ke II tanggal 11 April 2006 MEM U TU SKA N: Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN KEUANGAN. 2. merupakan keharusan untuk merumuskan pedoman administrasi dan manajemen. tidak tergentung pada sumbangan yang bersifat konvensional. 3.Menimbang : 1. Alumni c. 4. Mendapatkan dana dengan cara yang efektif. Oleh karena itu. . 2. Simpatisan Pasal 3 Usaha-usaha Organisasi 1. 3. BAB II SUMBER DANA Pasal 2 Sumbangan Merupakan sumbangan dari dalam dan luar Organisasi yang halal dan tidak mengikat antara lain : a. BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 Masalah utama dalam pengelolaan organisas-organisasi non profit adalah sumber-sumber pemasukan dana. karena persoalan keuangan sungguh sangat sensitive dan tidak mudah. Bahwa oleh karena itu dipandang perlu dikeluarkan Peraturan Organisasi KNPI yang mengatur pedoman administrasi dan manajemen kebendaharaan. Bahwa pengorganisasian dana baik pencarian. Bahan untuk memudahkan membuat laporan dan pertanggung jawaban. pengorganisasian dana baik pencarian pemakaian. Kebendaharaan. : 1. bahwa untuk itu diperlukan pembentukan yayasan yang mempunyai bidang-bidang dan unit-unit usaha tertentu yang berorientasi kepada profit. Pedoman tersebut disusun dengan sasaran sebagai berikut : 1. 2. Pemerintah d. KNPI berpendapat bahwa dalam rangka menunjang program kerja organisasi diperlukan pembiayaan. Agar lebih mandiri. Melalui pembentukan Yayasan tersebut KNPI bertekad menjadikan bidang Ekonomi khususnya Wirausaha sebagai salah satu sasaran program dari pengembangan organisasi. sebagai sarana menjadi organisasi yang modern. Tertib administrasi. oleh karena itu pembentukan dan pengelolaan unit-unit usaha dan atau pembentukan dan pengelolaan Lembaga. Bahwa masalah utama dalam pengelolaan organisasi KNPI adalah memberdayakan sumber-sumber pemasukan dana sehingga diharapkan dapat menjaga kelangsungan hidup organisasi. pelaporan maupun pencatatan menjadi sangat penting agar dana-dana yang masuk dapat dikelola dengan efektif dan efisien.

Ketentuan tentang Usaha-usaha organisasi baik melalui unit-unit usaha maupun lembaga diatur tersendiri berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan masing-masing pengelola dengan Pimpinan Organisasi pembentukan unit-unit usaha atau lembaga. Perhitungan perkiraan biaya setiap kegiatan e. c. b. e. c. Pasal 8 Tahap-tahap Penyusunan Anggaran a. Pasal 9 Mekanisme Persetujuan a. Penganggaran KNPI tidak terlepas dari prinsip-prinsip fungsi manajemen secara umum. Mekanisme kerja dan pengambilan keputusan. Pengajuan Anggaran Bidang : Masing-masing Bidang mengajukan Anggaran berdasarkan program kerja yang telah disetujui melalui RAKERNAS atau setarafnya di masing-masing bidang melalui Wakil-wakil Bendahara di . c. f. Hendaknya ketentuan tersebut paling tidak. d. Penjadwalan d. yaitu : Perencanaan Pengorganisasian Pelaksanaan Pencatatan Pelaporan Pengawasan/pengontrolan Pasal 7 Syarat-syarat a. mengatur antara lain : a. Pasal 6 Fungsi Fungsi a. Ketentuan Umum yang menyangkut perjanjian kerja atau memorandum ol understanding (MOU) atau Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Pengajuan kegiatan masing-masing bidang melalui Wakil-wakil Bendahara di bidangnya masing-masing b. b. yang menggambarkan sumber dan penggunaan dana (cash flow). Dan sebagainya.3. kontrol dan sinkronisasi antar pelaksana setiap aktivitas organisasi. b. Pasal 5 Maksud dan Tujuan Dengan adanya sistem Penganggaran diharapkan dapat menentukan skala prioritas dengan tujuan tercapainya efektifitas. Identifikasi kegiatan/aktifitas masing-masing bidang. d. BAB II SISTEM PENGANGGARAN Pasal 4 Pengertian Sistem penganggaran merupakan perencanaan keuangan untuk pelaksanaan program organisasi dalam bentuk angka-angka uang yang terdiri dari anggaran penerimaan dan pengeluaran dana dalam satu periode kepengurusan. e. Kronologis pengeluaran dan pemasukan Sistematis Mudah dimengerti Jelas angka-angka dalam pos-pos Jumlah total seluruh pengeluaran dan pemasukan. efisien. c. Penjumlahan biaya kegiatan.

Pasal 12 Pengelolaan Prinsip-prinsip yang berlaku dalam hal pengelolaan keuangan meliputi : a) Perencanaan Perencanaan keuangan yang aktualisasikan berupa Anggaran pendapatan dan anggaran pengeluaran untuk satu jangka waktu tertentu yang menggambarkan sumber penggunaan.bidangnya masing-masing untuk rekomendasi tim kebendaharaan dan dibahas serta disetujui pada Rapat Pimpinan. Apabila terjadi penyimpangan dari anggaran yang telah ditetapkan. Menyerahkan hasil pengumpulan dana kepada Wakil Bendahara (yang khusus membidangi penyimpangan) setelah disetujui Ketua Umum dan bendahara Umum. Penyusunan Laporan Akhir sebagai pertanggung jawaban pelaksanaan program. d. f. b. e. Menarik dan mengumpulkan dana dari donatur c. Dana yang sudah diperoleh dilaporkan kepada Bendahara Umum dan Ketua Umum. maka pengorganisasiannya sebagai berikut (1) Tugas yang mencari dan mengumpulkan dana dan sumber-sumber yang telah ditentukan diserahkan kepada Wakil-wakil Bendahara dibawah tanggung jawab Tim Kebendaharaan. (3) Wewenang untuk mengusahakan dana dipegang oleh Tim Kebendaharaan. (2) Penyimpangan dan pengeluaran dana yang dikumpulkan harus terlebih dahulu disetujui oleh Ketua Umum dan Bendahara Umum. (4) Tugas untuk mencatat keluar masuk dana dan penyusunan laporan diserahkan kepada Wakil Bendahara bidang pembukuan dan penyusunan laporan keuangan. b. b) Pengorganisasian (Pengelolaan) Agar lebih memudahkan kontrol pengelolaan keuangan. . Pengajuan Anggaran setiap aktivitas harus mendapat persetujuan Bendahara Umum sebagai policy maker dan Ketua Umum sebagai decision maker baik yang dilaksanakan oleh bidang maupun kepanitiaan. Apabila melibatkan pihak ke tiga. Menarik sumbangan sesuai dengan ketentuan organisasi b. maka laporan kegiatan selambat-lambatnya diterima 1 (satu) bulan setelah pelaksanaan kegiatan. c. maka harus dibawa ke forum Rapat Pimpinan. BAB IV SISTEM ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN KEUANGAN Pasal 11 Tujuan Agar pendayagunaan dana dapat dilakukan secara efisien dan efektif. c) Pelaksanaan Yang dimaksud dengan pelaksanaan disini adalah pelaksanaan pengaturan keuangan meliputi : (1) Pengumpulan dana Yang berkewajiban dan bertanggung jawab mengumpulkan dana adalah Tim Kebendaharaan dengan tugas meliputi : a. Setiap pengeluaran harus sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan dan disertai bukti pembayaran. Pengajuan Anggaran Aktivitas : Disusun oleh Team Khusus kepanitiaan bersama-sama dengan ketua bidang yang bersangkutan melalui wakil-wakil bendahara untuk di check oleh Bendahara Umum dan dibahas/disetujui pada Rapat Pimpinan. Pasal 10 Tahap Pelaksanaan a. Laporan akhir pertanggung jawaban kegiatan selambat-lambatnya 1 minggu setelah pelaksanaan kegiatan.

Permohonan untuk pengeluaran b. c. Jumlah yang telah dianggarkan Pengontrolan yang bersifat refresif adalah pengontrolan berupa pemeriksaan kewajaran laporan keuangan setelah dicocokkan dalam buku mutasi dan bukti pendukung lainnya. BAB VI PENUTUP Pasal 6 . adalah pengontrolan yang berjalan atau dilakukan bersamaan dengan tahap-tahap proses penerimaan dan pengeluaran yang dimulai dari : a. Bendahara Umum mencetak dalam bukti-bukti pengeluaran uang. Prosedur Pengeluaran Dana a. Pada saat penyerahan dana kepada Wakil Bendahara bagian pembukuan harus disertai bukti kwitansi yang ditanda tangani oleh penyumbang. kemudian tanda bukti pengeluaran tersebut diserahkan kepada Wakil bendahara. Permintaan untuk pengeluaran dana diajukan kepada Ketua Umum dan Bendahara Umum oleh bagian atau bidang yang memerlukan dana melalui Wakil-wakil Bendahara di bidang masing-masing b. BAB V PENYUSUNAN LAPORAN Pasal 5 Laporan keuangan pada umumnya adalah neraca dan daftar perhitungan ahsil usaha (R/L). Wakil Bendahara Umum mengeluarkan dan menyerahkan kepada pemohon d. Dana harus disampaikan di BANK yang telah ditentukan c. Bendahara Umum bersama Tim Kebendaharaan menilai permohonan tersebut untuk disetujui/ditolak atau minta dirobah c. Yang bertanggung jawab atas penyimpanan dana adalah Wakil Bendahara Bidang Pembukuan b. Pengeluaran dana harus disetujui oleh Ketua Umum dan bendahara Umum d. Sedangkan daftar perhitungan hasil usaha menggambarkan hasil kegiatan dan pengeluaran-pengeluaran dana organisasi untuk jangka waktu tertentu yang berakhir pada tanggal neraca. Penandatanganan cek oleh Bendahara Umum bersama Ketua Umum dan/atau Sekretaris jenderal. Untuk keperluan rutin dapat diadakan kas kecil yang dipegang oleh Wakil bendahara (bidang penyimpanan dan pengeluaran). penerima dan Bendahara Umum e. Pengeluaran dana untuk bidang harus sesuai dengan Anggaran Belanja yang telah ditetapkan sebelumnya b. Wakil Bendahara bagian pembukuan memberikan bukti penerimaan dana kepada si penerima dana (2) Pengeluara Dana a. (3) (4) (5) Pengontrolan/Pengawasan Pengontrolan/pengawasan keuangan organisasimeliputi : Pengontrolan yang bersifat preventif.d. Pengeluaran harus diajukan berdasarkan bukti-bukti yang telah disetujui sebelumnya. Atas dasar surat permohonan yang telah disetujui. Penyimpanan a. Neraca menggambarkan posisi harga kewajiban dan kekayaan pada saat tertentu.

ttd. 3. secara efisien dan efektif serta dapat dipertanggung jawabkan. apabila di dalam peraturan organisasi ini terdapat kekeliruan. MUNAWAR FUAD . ttd. HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal. maka akan dilakukan perbaikan seperlunya.1. 2. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Ketua Umum. Pedoman Kebendaharaan ini disusun agar dapat berguna sebagai pegangan atau petunjuk pelaksanaan bagi organisasi dalam upaya pendayagunaan sumber dana yang ada. Peraturan Organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

maka perlu dipersiapkan pembentukan kepengurusan Dewan Pengurus Daerah KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota yang mengalami pemekaran tersebut. 3. 3. : 1. Bahwa untuk mempersiapkan pembentukan kepengurusan Dewan Pengurus Daerah KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota pemekaran daerah/wilayah dipandang perlu diatur dalam Peraturan Organisasi KNPI.DEPERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 06/PO/KNPI/IV/2006 TENTANG PEMBENTUKAN DEWAN PENGURUS DAERAH KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA PROVINSI/ KABUPATEN/KOTA PEMEKARAN DAERAH/WILAYAH DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Menimbang : 1. Bahwa dalam rangka menyesuaikan dengan penetapan suatu wilayah/daerah yang dimekarkan. . Bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk ditetapkan Peraturan Organisasi yang mengatur tentang Pembentukan Dewan pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi/Kabupaten/Kota Pemekaran Daerah/Wilayah. Keputusan Rapat Pleno II DPP KNPI tanggal 11 April 2006. Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI PEMBENTUKAN DEWAN PENGURUS DAERAH KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA PROVINSI/KABUPATEN/KOTA/PENGURUS KECAMATAN PEMEKARAN DAERAH/WILAYAH Pasal 1 DASAR PERTIMBANGAN PEMBENTUKAN DPP KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota/Pengurus KNPI Kecamatan pemekaran daerah/wilayah dibentuk dengan pertimbangan antara lain sebagai berikut: 1) Bahwa dalam rangka menyesuaikan dengan penetapan suatu wilayah/daerah yang dimekarkan. Mengingat Memperhatikan : 1. 2. 2. Sasaran dan pendapat dalam Rapat-rapat Bidang Koordinasi Organisasi DPP KNPI. Pokok Organisasi dan Program Kerja Nasional Organisasi (PPKNO) KNPI. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. 2. 3) Kegiatan pembinaan dan pengembangan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Potensi Generasi Muda pada Provinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan yang bersangkutan. Peraturan Organisasi KNPI Nomor : /PO/KNPI/III/2006 tentang Musyawarah Provinsi/Kabupaten/Kota KNPI. Pasal 2 MEKANISME PEMBENTUKAN DPP KNPI PROVINSI/KABUPATEN/KOTA/PENGURUS KNPI KECAMATAN PEMEKARAN WILAYAH/DAERAH 1) Mekanisme Pembentukan DPP KNPI Provinsi hasil pemekaran: a. Membentuk kepengurusan caretaker DPD KNPI Provinsi hasil pemekaran wilayah daerah yang diprakarsai oleh DPD KNPI Provinsi induk bersama DPD KNPI Kabupaten/Kota yang wilayah/daerahnya dimekarkan dengan melibatkan potensi kepemudaan yang ada di wilayah/daerah yang bersangkutan serta DPP KNPI. 2) Potensi aktivitas generasi muda secara kuantitatif maupun kualitatif di suatu wilayah/daerah yang dimekarkan.

Membentuk kepengurusan caretaker DPD KNPI Kecamatan hasil pemekaran wilayah daerah yang diprakarsai oleh DPD KNPI Kabupaten/Kota induk atau Pengurus Kecamatan yang wilayah/daerahnya dimekarkan dengan melibatkan potensi kepemudaan yang ada di wilayah/daerah yang bersangkutan serta DPP KNPI Kabupaten/Kota. d. serta wewenang dan kewajibannya adalah sesuai dengan yang diatur dalam AD/ART tentang Kepengurusan DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota maupun yang telah diatur dalam Peraturan Organisasi KNPI. Kepengurusan caretaker DPD KNPI Provinsi hasil pemekaran wilayah/daerah mempersiapkan pelaksanaan Musyawarah Daerah I Provinsi hasil pemekaran selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah penetapan Surat Keputusan kepengurusan caretaker. 2) Pelantikan Pengurus DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota/Pengurus Kecamatan hasil pemekaran wilayah/daerah dilaksanakan dalam acara penutupan Musyawarah Kabupaten/Kota/Musyawarah KNPI Kecamatan hasil pemekaran oleh DPD KNPI Provinsi. Membentuk kepengurusan caretaker DPD KNPI Kabupaten/Kota hasil pemekaran wilayah daerah yang diprakarsai oleh DPD KNPI Kabupaten/Kota atau pengurus Kecamatan yang wilayah/daerahnya dimekarkan dengan melibatkan potensi kepemudaan yang ada di wilayah/daerah yang bersangkutan serta DPP KNPI Provinsi. Pasal 5 MUSYAWARAH DAN RAPAT-RAPAT . Kepengurusan caretaker DPD KNPI Kabupaten/Kota hasil pemekaran wilayah/daerah mempersiapkan pelaksanaan Musyawarah Daerah I Provinsi hasil pemekaran selambatlambatnya 6 (enam) bulan setelah penetapan Surat Keputusan kepengurusan caretaker. Ketentuan mengenai penyelenggaraan Musyawarah Daerah DPD KNPI Kabupaten/Kota hasil pemekaran sebagaimana telah diatur dalam AD/ART KNPI dan Peraturan Organisasi KNPI 3) Mekanisme Pembentukan Pengurus Kecamatan hasil pemekaran : a.b. 2) Poses penetapan Majelis Pemuda Indonesia (MPI) dan Pengurus DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota pemekaran wilayah/daerah. Ketentuan mengenai penyelenggaraan Musyawarah Daerah DPD KNPI Provinsi hasil pemekaran sebagaimana telah diatur dalam AD/ART KNPI dan Peraturan Organisasi KNPI 2) Mekanisme Pembentukan DPD KNPI Kabupaten/Kota hasil pemekaran : a. d. Ketentuan mengenai penyelenggaraan Musyawarah KNPI Kecamatan hasil pemekaran sebagaimana telah diatur dalam AD/ART KNPI dan Peraturan Organisasi KNPI Pasal 3 PELANTIKAN PENGURUS DPD KNPI PROVINSI/ KABUPATEN/KOTA/PENGURUS KECAMATAN PEMEKARAN WILAYAH/DAERAH 1) Pelantikan Pengurus DPD KNPI Provinsi hasil pemekaran wilayah/daerah dilaksanakan dalam acar apenutupan Musprov I KNPI Provinsi hasil pemekaran oleh DPP KNPI. b. b. d. Kepengurusan caretaker DPD KNPI Provinsi hasil pemekaran wilayah/daerah dilampiri dengan berita acara pembentukan kepengurusan caretaker dilaporkan dan dikirimkan kepada DPP KNPI untuk mendapatkan pengesahan c. Kepengurusan caretaker DPD KNPI Kecamatan hasil pemekaran wilayah/daerah dilampiri dengan berita acara pembentukan kepengurusan caretaker dilaporkan dan dikirimkan kepada DPP KNPI Kabupaten/Kota untuk mendapatkan pengesahan c. Kepengurusan caretaker DPD KNPI Kecamatan hasil pemekaran wilayah/daerah mempersiapkan pelaksanaan Musyawarah Kecamatan hasil pemekaran selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah penetapan Surat Keputusan kepengurusan caretaker. Pasal 4 SUSUNAN DAN WEWENANG PENGURUS 1) Majelis Pemuda Indonesia (MPI) dan Pengurus DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota pemekaran wilayah/daerah adalah sama dengan Majelis Pemuda Indonesia (MPI) dan Pengurus DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota sebagaimana diatur dalam AD/ART KNPI dan peraturan Organisasi KNPI. Kepengurusan caretaker DPD KNPI Kabupaten/Kota hasil pemekaran wilayah/daerah dilampiri dengan berita acara pembentukan kepengurusan caretaker dilaporkan dan dikirimkan kepada DPP KNPI Provinsi untuk mendapatkan pengesahan c.

ttd. Pasal 6 ATRIBUT Atribut DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota/Pengurus Kecamatan pemekaran wilayah/daerah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. Pasal 8 Peraturan Organisasi ini akan ditinjau kembali apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya. ttd.Jenis dan fungsi Musyawarah dan Rapat-rapat DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/ Kota Pengurus KNPI Kecamatan pemekaran wilayah/daearh adalah sama dengan jenis dan fungsi Musyawarah dan Rapatrapat DPD KNPI Provinsi/Kabupaten/Kota/Pengurus KNPI Kecamatan sebagaimana telah diatur dalam AD/ART KNPI. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Ketua Umum. HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal. Pasal 9 Peraturan Organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Pasal 7 Hal-hal lain yang belum diatur dalam peraturan Organisasi ini akan ditetapkan kemudian oleh DPP KNPI. MUNAWAR FUAD DEPERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Nomor : 07/PO/KNPI/IV/2006 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN KHUSUS KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA .

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 1. Bahwa Kongres XI Pemuda/KNPI Tahun 2005 sebagai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi telah menetapkan kebijaksanaan organisasi yang terarah pada peningkatan peran dan fungsi organisasi KNPI dalam pembinaan dan pengembangan pemuda. Bahwa dalam rangka pelaksananaan hasil-hasil keputusan Kongres XI Pemuda/KNPI maka perlu ditetapkan Peraturan organisasi tentang pembentukan Badan Khusus Komite Nasional Pemuda indonesia. Pasal 2 1) Badan Khusus KNPI dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan organisasi. 4. Badan Khusus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) merupakan suatu Badan dari Organisasi KNPI sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Dasar Bab XI Pasal 31 dan Anggaran Rumah tangga Bab VII Pasal 31 dan Pasal 32. Bahwa keberadaan Badan Khusus merupakan alat kelengkapan organisasi yang menjalankan kegiatan dalam bidang tertentu sesuai dengan kebijaksanaan dasar yang ditetapkan. 2) Badan Khusus berada di Pusat dan apabila diperlukan dapat dibentuk di tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota. BAB II STATUS DAN FUNGSI Pasal 4 Status Badan Khusus adalah semi otonom yangs ecara Organisatoris merupakan bagian dari KNPI. (Bab XI Pasal 32).DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Menimbang : 1. Bahwa diperlukan peningkatan kesatuan dan keterpaduan gerak langkah seluruh jajaran organisasi KNPI dalam rangka pelaksanaan program KNPI menuju perwujudan cita-citanya. Yayasan. Badan Usaha Milik Organisasi dan Badan-badan lainnya yang tidak bertentangan dengan tujuan dan usaha-usaha organisasi. Pasal 3 Masa kerja Badan Khusus mengikuti Periodesasi Kepengurusan KNPI di semua tingkatan. 3. Untuk melaksanakan tugas dan kwajibannya dalam bidang khusus dalam rangka mencapai tujuan organisasi. 2. Pokok Organisasi dan Program Kerja Nasional Organisasi (PPKNO) KNPI. 2. Dewan Pengurus dalam semua tingkatan dapat memebntuk Lembaga-lembaga. Pusat-pusat Studi. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI. : 1. Mengingat Memperhatikan : Keputusan Rapat Pleno DPP KNPI ke-II tanggal 11 April 2006 MEM U TU SKA N: Menetapkan : PERATURAN ORGANISASI KOMITE NASIONAL INDONESIA TENTANG PEMBENTUKAN BADAN KHUSUS KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA. . yang bertanggung jawab kepada Pengurus KNPI sesuai tingkatannya. Pasal 5 Fungsi Badan Khusus adalah menyelenggarakan kegiatan dalam bidang-bidang Profesi minat dan kebutuhan dalam rangka memperluas jangkauan partisipasi dan komunikasi Pemuda. 2.

sekurang-kurangnya terdiri dari 1 (satu) orang ketua. Propinsi dan Kabupaten/Kota mempunyai hubungan konsultatif dan koordinatif. 1 (satu) orang Wakil Ketua. b. Di Tingkat Pusat.BAB III TUJUAN BADAN KHUSUS Pasal 6 Badan Khusus KNPI bertujuan : 1. 4. Pasal 10 (1) Pengurus KNPI sesuai dengan tingkatannya sewaktu-waktu dapat membubarkan badan khusus. 1 (satu) orang sekretaris serta apabila diperlukan penambahan pengurus dapat diakomodir sebanyak-banyaknya 28 orang. Pasal 8 1) Hubungan Badan Khusus dengan kepengurusan KNPI merupakan hubungan lini yang secara berkala menyampaikan laporannya berkenaan dengan kegiatan yang dilakukan oleh badan khusus tersebut. mengembangkan dan meningkatkan potensi dan kwalitas pemuda dalam kegiatan badan khusus secara profesional sebagai bagian dan upaya pelaksanaan pembangunan. . negara dan maysarakat pada umumnya. Di Tingkat Provinsi. Mengkoordinasikan bidang kegiatan Organisasi dengan melibatkan seluruh potensi yang dimiliki KNPI untuk dapatdidharma baktikan dan bermanfaat bagi seluruh Pemuda khususnya. BAB IV ORGANISASI DAN PENGELOLAAN Pasal 7 Pembentukan Badan Khusus disahkan dengan Surat keputusan Pengurus KNPI sesuai tingkatannya. Pasal 9 1) Personalia Pengurus Badan Khusus adalah Pengurus KNPI atau Pengurus OKP yang berhimpun dalam KNPI atau perorangan yang mengakui eksistensi dan keberadaan KNPI. 4) Badan khusus bertanggung jawab kepada Pengurus KNPI sesuai dengan tingkatannya. (2) Pengurus KNPI sesuai dengan tingkatannya sewaktu-waktu dapat mengangkat dan memebrhentikan personalia pengelola badan khusus. sekurang-kurangnya terdiri dari 1 (satu) orang ketua. 1 (satu) orang sekretaris serta apabila diperlukan penambahan pengurus dapat diakomodir sebanyak-banyaknya 10 orang. c. 1 (satu) orang Wakil Ketua. 2) Badan Khusus ditingkat Pusat. Di Tingkat kabupaten/Kota. 3) Kelengkapan Organisasi badan khusus dibentuk sesuai kebutuhan dan harus sepengetahuan pengurus KNPI sesuai tingkatannya. maupun untuk kepentingan bangsa. 1 (satu) orang sekretaris serta apabila diperlukan penambahan pengurus dapat diakomodir sebanyak-banyaknya 17 orang. Mengembangkan pola berpikir dan orientasi perjuangan pemuda ke arah tanggung jawab dan pengabdian terhadap pelaksanaan pembangunan bangsa dan negara. manakala berdasarkan pertimbangan organisasi sudah tidak diperlukan lagi meskipun masa kerjanya belum berakhir. 1 (satu) orang Wakil Ketua. 2. 3) Segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas Badan Khusus senantiasa harus berpedoman pada AD/ART KNPI serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dengan ketentuan sebagai berikut : a. 2) Kelengkapan struktur dan personalia pengurus Badan Khusus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi Pusat Daerah sesuatu dengan tingkatannya. 3. sekurang-kurangnya terdiri dari 1 (satu) orang ketua. Memotivasi pemuda Indonesia pada khususnya dan generasi muda Indonesia pada umumnya dalam rangka mengembangkan inisiatif dan kreativitasnya sesuai minat bakat dan keahlian yang dimilikinya.

ttd. HASANUDDIN YUSUF Sekretaris Jenderal.BAB V PENUTUP Pasal 11 (1) Segala sesuatu yang belum diatur dalam peraturan Organisasi ini akan diatur kemudian dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan (2) Apabila di dalam peraturan organisasi ini terdapat kekeliruan. Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 11 April 2006 DEWAN PENGURUS PUSAT KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA Ketua Umum. maka akan dilakukan perbaikan seperlunya. MUNAWAR FUAD . (3) Peraturan organisasi ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. ttd.

AD/ART PERATURAN ORGANISASI DPP KNPI LEM/YAS/BK PUSAT JUKLAK DPD PROPINSI LEM/YAS/BK PUSAT DPD KAB/KOTA PO PEMBENTUKAN LEM/YAS/BK LEM/YAS/BK PUSAT LP LP LP EKONOMI LITBANG DIKLAT LEMBAGA DAERAH .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->