Anda di halaman 1dari 6

Judul HIV/AIDS dengan Infeksi Oportunistik pada Wanita Usia 28 Tahun ABSTRAK Dewasa ini dunia sedang menghadapi

suatu pandemi virus penyebab Acquired Immune Defficiency Syndrome (AIDS), yang dikenal sebagai Human Immunodeficiency Virus (HIV). AIDS singkatan dari Acquired Immune Defficiency Syndrome. Acquired artinya didapat bukan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, defficiency artinya kekurangan sedangkan syndrome kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit penyakit lain yang berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Timbulnya pandemi HIV/AIDS dimulai dengan adanya inpelasi HIV yang terjadi secara tersembunyi selama beberapa tahun, yang kemudian diikuti dengan munculnya ledakan kasus kasus AIDS. Ledakan ini pada awalnya ditemukan di Amerika Serikat dan Afrika, yang disusul dengan timbulnya reaksi masyarakat menghadapi kenyataan tersebut. Penyakit infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia dewasa ini, terdapat hampir seluruh negara didunia tanpa kecuali Indonesia. Masalah yang berkembang sehubungan dengan penyakit infeksi HIV/AIDS adalah angka kejadiannya yang cenderung terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini sudah merupakan pandemi yang menyerang seluruh dunia. Data epidemiologi menunjukan peningkatan yang cepat pada tahun terakhir ini khususnya dikawasan Asia Tenggara. Pada saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 80.000 120.000 OHIDA (orang hidup dengan HIV/AIDS) dengan faktor faktor yang mempermudah terjadinya epidemi, maka Indonesia sangat terancam bencana nasional HIV/AIDS ditahun 2010. Perkiraan jumlah penderita AIDS di Indonesia di tahun 2010 adalah 100.000 dengan pengidap HIV sebanyak 1.000.000 orang pada tahun 2010 kecuali apabila dilakukan tindakan pencegahan secara serius. Dunia kedokteran hingga saat ini belum dapat menemukan obat anti HIV/AIDS yang ampuh. Satu satunya upaya yang dilakukan saat ini adalah penyuluhan seluas luasnya kepada semua pihak untuk memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang cara cara menghindari penularan, dengan menghindari atau mengurangi resiko penularan. ISI Pasien datang ke IGD RSPS dengan keluhan badan lemas yang sudah dirasakan sejak 4 hari sebelum masuk RSMS. Badan lemas dirasakan di seluruh badan secara tiba-tiba oleh pasien sampai mengganggu aktivitas dan diikuti dengan sakit kepala, mual, dan tidak ada nafsu makan, sehingga pasien hanya terbaring lemas di atas kasur. Pasien juga mengeluhkan sariawan yang dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Sariawan semakin banyak dan tidak sembuh-sembuh. Keluhan tersebut

disertai dengan nyeri telan dan mual. Selain itu, pasien mengeluhkan BAB cair yang sudah dirasakan 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. BAB cair berwarna kuning, berbusa, tidak ada lendir, tidak ada darah, tidak berbau busuk, dan saat akan BAB perut tidak melilit. BAB cair bersifat hilang timbul dalam 1 bulan, dengan frekuensi 3-4 kali per hari. Satu minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh demam naik turun dan batuk berdahak. Demam dengan suhu yang tidak begitu tinggi dan tidak menggigil. Batuk berdahak berwarna putih dan tidak disertai darah berwarna merah gelap. Pasien mengaku BAK lancar. Pasien mengaku sering keluar keputihan dari jalan lahir sejak 4 bulan. Keputihan berwarna putih seperti lendir, berbau amis, dan disertai gatal pada kemaluan. Pasien mengaku belum menstruasi sejak bulan Januari 2011. Berat badan pasien menurun 21 kg selama satu setengah tahun terakhir. Pasien mengaku tidak nafsu makan, karena perut mual tanpa disertai muntah. Pasien mengeluhkan benjolan di leher sejak tahun 2010. Benjolan bertambah besar dan disertai nyeri, serta berwarna kemerahan. Setelah pasien berobat ke dokter di Jakarta, pasien mengaku benjolan mulai mengecil. Sebelumnya, pasien mengaku pernah mendapatkan OAT pada bulan Juni 2010 dan putus obat pada bulan September 2010 karena pasien alergi terhadap salah satu jenis OAT yaitu Rifampicin. DIAGNOSIS HIV/AIDS positif dengan Pnemonia, Limfadenopati region colli, Multiple Stomatitis dan Underweight TERAPI Medikamentosa : IVFD RL 20 tetes/menit Inj. Cefotaxim 2 x 1 gram (i.v) Inj. Rantin 2 x 1 ampul (i.v) Nystatin drip 3 x1 cc Paracetamol tab 3 x 500 mg (p.o) Ambroxol syr 3 x 1 c Dexametason 3 x 2 ampul (i.v) Dexanta 3 x 1 Duviral 2 x 1 (1-0-1) Neural 1 x 1 (0-0-1) Kandistatin 1 ampul (i.v) Cotrimoxazol 2 x 1 gram (i.v) Non Medikamentosa : 1. Perawatan Perawatan dilakukan dengan mengingat prinsip-prinsip isolasi protektif dan isolasi preventif. 2. Rehabilitasi / Edukasi Rehabilitasi ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk :

Memberikan dukungan mental -psikologis. Membantu mereka untuk bisa mengubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang tidak beresiko atau kurang beresiko. Mengingat kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik. Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat.

DISKUSI Pada kasus ini pasien datang ke IGD RSPS dengan keluhan badan lemas yang sejak 4 hari sebelum masuk RSPS. Lemas dirasakan di seluruh badan secara tiba-tiba oleh pasien sampai mengganggu aktivitas dan diikuti dengan sakit kepala, mual, dan tidak ada nafsu makan, sehingga pasien hanya terbaring. Berat badan pasien menurun 21 kg selama satu setengah tahun terakhir. Pasien mengaku tidak nafsu makan, karena perut mual tanpa disertai muntah. Satu minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh demam naik turun dan batuk berdahak. Demam dengan suhu yang tidak begitu tinggi dan tidak menggigil. Batuk berdahak berwarna putih dan tidak disertai darah berwarna merah gelap. Selain itu, pasien mengeluhkan BAB cair yang sudah dirasakan 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. BAB cair berwarna kuning, berbusa, tidak ada lendir, tidak ada darah, tidak berbau busuk, dan saat akan BAB perut tidak melilit. BAB cair bersifat hilang timbul dalam 1 bulan, dengan frekuensi 3-4 kali per hari. Menurunnya berat badan pada pasien mencapai lebih dari 10% merupakan gejala mayor dalam mencurigai pasien dengan AIDS. Namun, keluhan demam yang dirasakan pasien hanya sekitar 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sehingga tidak memenuhi kriteria gejala mayor. Diare yang dialami pasien selama sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan hilang timbul memenuhi kriteria gejala mayor. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi 2 gejala mayor untuk mencurigai pasien dengan AIDS. Pasien juga mengeluhkan sariawan yang dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Sariawan semakin banyak dan tidak sembuh-sembuh. Keluhan tersebut disertai dengan nyeri saat menelan dan mual. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan pada rongga mulut pasien tampak plak putih yang meluas meliputi mukosa bukal , permukaan ventral, dan dorsal lidah Pasien mengaku sering keluar keputihan dari jalan lahir sejak 4 bulan. Keputihan berwarna putih seperti lendir, berbau amis, dan disertai gatal pada kemaluan. Pasien mengaku belum menstruasi sejak bulan Januari 2011. Pasien mengeluhkan adanya benjolan di leher sejak tahun 2010. Benjolan bertambah besar dan disertai nyeri, serta berwarna kemerahan. Setelah pasien berobat ke dokter di Jakarta, pasien mengaku benjolan mulai mengecil. Sebelumnya, pasien mengaku pernah mendapatkan OAT pada bulan Juni 2010 dan putus obat pada bulan September 2010 karena pasien alergi terhadap salah

satu jenis OAT yaitu Rifampicin. Gejala sariawan pada pasien yang didukung dengan ditemukanya plak putih luas pada mukosa bukal, permukaan ventral, dan dorsal lidah, merupakan tanda dari candidiasis oral. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi kriteria gejala minor untuk mencurigai pasien dengan AIDS. Sedangkan keluhan batuk pada pasien tidak memenuhi kriteria gejala minor karena batuk dirasakan pasien baru 1 minggu yang lalu. Pasien mengaku hubungan antara pasien dan suami tidak harmonis. Suami pasien tidak mau bekerja dan tidak mau mengurus kedua anaknya, sehingga pasien yang harus membanting tulang mancari uang untuk membiayai kedua anaknya. Pasien mengatakan bahwa suaminya sering melakukan hubungan seksual dengan wanita lain dan berganti-ganti pasangan. Oleh karena keadaan ekonomi dan kondisi keluarga pasien yang memprihatinkan, pasien mengaku sering melampiaskan kekesalanya dengan pergi ke diskotik dan minum-minuman beralkohol. Pasien mengaku pernah memakai obat-obatan terlarang seperti pil extacy. Pasien membantah pemakaian obatobatan terlarang dengan menggunakan jarum suntik. Pasien juga mengaku pernah melakukan hubungan sexual dengan pria selama pergi ke diskotik tersebut. Pasien menyangkal tidak pernah memakai tato di tubuhnya. Keadaan keluarga pasien yang tidak harmonis merupakan stressor psikologis yang dapat mengarahkan pasien mencari komunitas dan suasana lain untuk melampiaskan kekecewaanya terhadap keluarganya. Sehingga pasien terjerumus dalam kehidupan yang tidak baik dan perilaku yang beresiko, diantaranya pergi ke diskotik, minum-minuman beralkohol, memakai obat-obatan terlarang, juga perilaku seksual yang tidak sehat, seperti berganti-ganti pasangan, yang dapat menjadi media penularan HIV. Hal ini juga diperberat dengan perilaku suami pasien yang suka berhubungan seksual dengan perempuan lain dan berganti-ganti pasangan, sehingga berpotensi menularkan HIV kepada pasien. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis pada mata pasien, ini merupakan gejala anemia. Hal ini diperkuat pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan Hb 6 gr/dl. Selain itu juga pada anamnesis pasien mengeluh lemas dan mudah lelah. Pada pemeriksaan rongga mulut didapatkan plak putih meluas pada mukosa bukal dan lidah pasien yang merupakan tanda candidiasis oral serta terdapat sariawan yang tidak kunjung sembuh. Ini merupakan gejala penurunan daya tahan tubuh. Didapatkan pula pembesaran kelenjar limfe disertai nyeri pada region colli, yang merupakan tanda adanya infeksi atau curiga ke arah keganasan. Hal ini diperkuat dengan adanya leukositosis pada pemeriksaan darah lengkap. Hasil USG juga menunjukan kecurigaan adanya limfadenopati paraaorta dan paraumbilikal serta hidronefrosis kiri. Dari hasil pemeriksaan fisik paru didapatkan adanya ronkhi basah kasar pada parasternal kanan dan kiri yang menunjukan adanya pneumonia. Hal ini juga dikuatkan dengan anamnesis yang menunjukkan pasien pernah menjalani pengobatan OAT namun putus obat pada bulan September 2010. Pasien juga mengakui alergi terhadap rifampisin oleh karena itu pada terapi pasien rifampisin digantikan dengan levofloxacin.

Beberapa infeksi oppurtunistik yang merupakan ciri khas dari munculnya AIDS. Pada pasien ini didapatkan beberapa infeksi opportunistik yang mendukung munculnya AIDS : 1. Thrush Merupakan pertumbuhan berlebihan jamur candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan. Biasanya merupakan infeksi yang pertama kali muncul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien menderita sariawan dan terdapat plak putih pada mukosa bukal dan lidah. 2. Pneumonia pneumokistik Pneumonia karena jamur pneumosistis carinii merupakan infeksi oppurtunisktik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini sering kali merupakan infeksi opportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV. Pada pasien didapatkan pneumonia yang didukung dari hasil pemeriksaan fisik pada thorak pasien yaitu adanya ronkhi basah kasar pada parasternal kanan dan kiri. 3. TBC TBC pada penderita infeksi HIV lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. TBC dapat diobati dan dicegah dengan OAT yang biasa digunakan. Pada pasien didapatkan riwayat konsumsi OAT pada tahun 2010 namun pasien mengakui putus OAT pada September 2010. 4. Infeksi saluran pencernaan. Infeksi yang disebabkan oleh parasit Cryptosporydium sering ditemukan pada penderita AIDS. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut, dan penurunan berat badan. Pada pasien didapatkan diare selama 1 bulan yang hilang timbul KESIMPULAN Menurunnya berat badan pada pasien mencapai lebih dari 10% merupakan gejala mayor dalam mencurigai pasien dengan AIDS. Diare yang dialami pasien selama sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan hilang timbul memenuhi kriteria gejala mayor. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi 2 gejala mayor untuk mencurigai pasien dengan AIDS. Gejala sariawan pada pasien yang didukung dengan ditemukanya plak putih luas pada mukosa bukal, permukaan ventral, dan dorsal lidah, merupakan tanda dari candidiasis oral. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi kriteria gejala minor untuk mencurigai pasien dengan AIDS. Perilaku seksual pasien yang beresiko, seperti berganti-ganti pasangan, dapat menjadi media penularan HIV. Hal ini juga diperberat dengan perilaku suami pasien yang suka berhubungan seksual dengan perempuan lain dan berganti-ganti pasangan, sehingga berpotensi menularkan HIV kepada pasien. Pada pemeriksaan rongga mulut didapatkan plak putih meluas pada mukosa bukal dan lidah pasien yang merupakan tanda candidiasis oral serta terdapat sariawan yang tidak kunjung sembuh. Ini merupakan gejala infeksi opportunistik yang mendukung adanya penurunan daya tahan tubuh. Didapatkan pembesaran kelenjar limfe disertai nyeri pada regio colli, yang

merupakan tanda adanya infeksi atau curiga ke arah keganasan. Hal ini diperkuat dengan adanya leukositosis pada pemeriksaan darah lengkap. Hasil USG juga menunjukan kecurigaan adanya limfadenopati paraaorta dan paraumbilikal serta hidronefrosis kiri. Dari hasil pemeriksaan fisik paru didapatkan adanya ronkhi basah kasar pada parasternal kanan dan kiri yang menunjukan adanya pneumonia. REFERENSI David Baltimore. Penghambatan infeksi HIV terhadap sel T (human T cell) dengan menggunakan siRNA terhadap protein CCR5 yang merupakan coreseptor HIV. Universty of California, Los Angeles (UCLA). Pertemuan Konferensi Internasional AIDS ke XI di Vancouver, Juli 1996. Penggunaan tipe obat kombinasi (triple drugs) yang mampu menurunkan VIRAL LOAD hingga jumlah minimal dan memberikan harapan penyembuhan. Poznansky, dkk. Pemanfaatan virus HIV sebagai vektor dalam proses gen transfer. Dana -Farber Cancer Institute, Amerika. 1991. Sidang kabinet sesi khusus HIV/AIDS Maret 2002. Wenzhe Ho, The Children Hospital of Philadelphia, Julianna Lisziewicz, National Cancer institute. Penghambatan replikasi HIV di dalam sel dengan menggunakan antisense tat protein. PENULIS Wulan Suci Sakti Rony, Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS Panembahan Senopati Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta