Anda di halaman 1dari 4

Praktikan Farmasi Berbagi Cerita Sabtu, 23 Februari lalu, kami, sebanyak 79 mahasiswa S-1 Farmasi FMIPA Unlam angkatan

2011 mengadakan praktikum lapangan ke hutan di Desa Bramban, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dengan memakai seragam PL (Praktikum Lapangan) yang sama, praktikan dan 3 dosen pengasuh sudah berkumpul di kampus dari pukul 6 pagi. Praktikum lapangan termasuk dalam mata kuliah Farmakognosi II. Tujuan praktikumnya adalah mengenal kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan tumbuhnya habitat tumbuhan. Selain itu untuk mengambil bahan/sampel untuk penelitian di laboratorium yang dimaksudkan untuk inventarisasi dan identifikasi terhadap kandungan zat berkhasiat yang berperan dalam pengobatan. Masyarakat umum mungkin melihat para farmasis (sebutan untuk orang yang bergerak dibidang kefarmasian) cuma berurusan dengan obat dan apotek. Tapi perlu diketahui, mahasiswa Farmasi dari Universitas Lambung Mangkurat lebih di fokuskan akan pengembangan bahan alam yang dapat dijadikan obat herbal. Bentuk obat herbal yang biasa ditemukan di masyarakat misalnya jamu, atau bentuk-bentuk rebusan daun yang masih sering digunakan masyarakat. Sehingga diharapkan lulusan Farmasi selanjutnya akan banyak berperan dalam pengawasan obat herbal dan memperkenalkan tanaman khas Kalimantan Selatan sebagai obat herbal. Hutan di desa Bramban masih asri dan cukup luas. Sayangnya, beberapa kilometer dari hutan yang subur dan belum terjamah itu malah ada sebuah tambang batu bara besar. Kami membayangkan, untuk membuka sebuah tambang batu bara sebesar itu mungkin harus membuka lahan hutan sebesar ratusan hektar. Padahal kalau dipikirkan baik-baik, untung yang didapat dari tambang batu bara akan habis suatu waktu, tapi untung yang diberikan hutan kepada manusia bisa tetap terus dimanfaatkan sampai anak cucu kita nanti. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke hutan tujuan. Setelah mendapat pemandu, setiap kelompok mulai memasuki hutan. Medan yang di tempuh cukup sulit di lalui. Tetapi dari hutan itu kami mendapat banyak tumbuhan obat, misalnya temulawak hutan, daun salam hutan, bahkan tumbuhan obat yang jarang kami dengar sebelumnya misalnya daun mindih, daun ekaliptus, dan lainnya. Pemandu kami, Pak Nyoto, berusia sekitar 80 tahun berjalan sangat lincah. Kami hamper kewalahan mengiri langkah beliau. Belum juga kami mengambil tanaman yang beliau rekomendasikan, Pak Nyoto sudah berjalan sampai beberapa puluh meter di depan kami. Padahal untuk melangkah, kami harus memiringkan badan sekitar 70 derajat dengan kaki kanan harus menjejak ke atas, dan kaki kiri menjejak ke bawah serta tangan yang megang kayu penyangga. Ini pertama kalinya saya mendaki gunung dan hutan. Lumayan ekstrim, tapi membuat ketagihan! itu celotehan saya saat di tanya teman apa kesan yang didapat setelah pendakian. Setelah mendapatkan beberapa jenis tumbuhan, kami kembali ke pos jaga. Disitu kami membuat herbarium yaitu tumbuhan yang diawetkan. Tujuannya adalah untuk mempermudah identifikasi kandungan karena dengan pengawetan tersebut tumbuhan yang didapat akan tetap baik kondisinya. Tumbuhan disortir dan dibersihkan tumbuhan. Herbarium kering dibuat dengan mengambil bagian perwakilan setiap tumbuhan untuk ditempelkan ke koran kemudian di beri formalin. Setelah semua tumbuhan siap, kemudian diselipkan ke dalam kardus dan di simpan dalam sasak. Herbarium basah dilakukan dengan cara yang sama seperti herbarium kering, bedanya bagian tumbuhan langsung dimasukkan kedalam botol berisi formalin. Setelah semuanya selesai, rombongan praktikan bersiap kembali ke Banjarbaru. Pengalaman praktikum lapangan yang capek tapi menyenangkan. Secara pribadi, pesan yang

saya dapat adalah kalau hutan bisa ngomong, mungkin mereka akan bicara: kami (baca:hutan) sudah memberi segalanya untuk manusia. Kami memberi oksigen, kenaungan, jutaan tumbuhan obat, dan segala macam yang manusia perlukan. Pantaskah manusia menggunduli kami untuk mengeruk sumber kekayaan di bawah kulit kami? Tolong jaga dan lestarikan kami

Pengambilan tumbuhan

pengambilan tumbuhan

bersama pemandu

sekarung tumbuhan obat

mendaki gunung

pembuatan herbarium