Anda di halaman 1dari 7

UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS ILMU BUDAYA JURUSAN ARKEOLOGI

UJIAN TENGAH SEMESTER REVIEW ARTIKEL ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA DI JAWA MATA KULIAH : ARKEOLOGI ARSITEKTUR SEMESTER IV : 2012

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Inajati Adrisijanti Jujun Kurniawan, S.S.

Dikerjakan Oleh : Danar Arief Sumartono ( 10/305110/SA/15674 )

Tanggal Pengumpulan Tugas : __________24 April 2012_____________

Setelah membaca artikel Perumahan Kota Gaya Belanda dan Kemunculan Gaya Hindia Baru. Di dalam Artikel tersebut sedikit mengulas tentang style-style perkembangan Arsitektur Belanda di Jawa dari awal kedatangannya di Jawa sekitar abad ke-17 sampai awal abad ke 20. Ulasan/review tentang kedua artikel tersebut akan disajikan kedalam sebuah artikel yang membahas perkembangan Arsitektur Belanda di Jawa, untuk mempertegas analisis ini juga akan mengambil review dari beberapa literatur lain yang membahas tentang perkembangan style arsitektur Belanda di Indonesia khususnya di Pulau Jawa . Dari beberapa artikel yang dibaca untuk melengkapi review ini kebanyakan banyak yang mengulas tentang stlye arsitektur Gaya Hindia Belanda / Neo Klasik sampai Gaya Hindia Belanda baru pada awal abad ke-20. Tentang Arsitektur awal Hindia Belanda sedikit tentang ulasan tersebut Kedatangan Belanda ke Nusantara sekitar akhir abad ke-16 bertujuan untuk melakukan hubungan dagang dengan wilayah-wilayah di Nusantara. Cornellis de Houtman yang pertama kali menjejakkan kakinya di Banten pada tahun 1596 telah membuka pintu bagi Belanda untuk datang ke Nusantara dalam ekspedisi perdagangannya. Dengan di buatnya VOC sebagai organisasi dagang di Nusantara maka orde monopoli VOC telah dimulai. Secara tidak langsung VOC memberikan dampak bagi perkembangan di aspek ekonomi, pendidikan serta budaya di Nusantara khususnya di Jawa. Peninggalan kebudayaan Belanda, Akulturasi dan Adaptasi budaya Belanda. Salah satunya yang bisa kita lihat sekarang adalah peninggalan dari bentuk-bentuk perkembangan Arsitektur Belanda di Jawa. Pada awal abad ke-17, Waktu itu Indonesia disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) dibawah organisasi dagang VOC. Belanda menjadikan Sunda Kelapa menjadi pusat pemerintahannya dan mengubah namanya menjadi Batavia. Perkembangan selanjutnya pada abad ke-17 dan ke-18 setelah Belanda mendirikan bangunan-bangunan untuk perkantoran dibangun pula Pemukiman di Batavia. Pemukiman awal Belanda di Batavia tidak jauh berbeda dengan pemukiman di negeri aslinya. Secara kasar pembabakan perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia dibagi menjadi beberapa stlye dimana di setiap periode memiliki style masing-masing. (Helen Jessup : 2 dan Kutipan dari Ir Handinoto dalam bukunya Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya) (Isnen : 2006) : Pada sekitar tahun 1600 awal 1800-an Belanda mendirikan perumahan yang bentuk arsitektur rumah dari segi interior, eksteriornya dan tata kotanya sama dengan perumahan asli

di Belanda hanya saja di Batavia ukuran rumahnya lebih luas. Dengan bentuk rumah yang Panjang dan sempit, dinding depan bertingkat bergaya Belanda di Ujung teras, atap yang meninggi dan curam, mempunyai ruangan bertingkat setidaknya minimal ada dua tingkat. Perumahan gaya belanda yang ideal untuk tempat tinggal di Eropa ternyata jika diterapkan di Jawa tidak cocok untuk tempat tinggal karena iklim di Indonesia yang tropis sehingga rumah akan terasa panas dan lembab jika masuk ke dalam. Dan pada umumnya posisi pemukiman pada abad ke-17 dan 18 tidak jauh dari kanal-kanal air. Lokasi ini membantu Perumahan Gaya Belanda ini kiranya bisa ditemukan di daerah yang dulunya berperan sebagai kota yang penting untuk perdagangan. Salah satu contoh adalah rumah Reine de Klerk yang sebelumnya menjadi pejabat Gubernur Batavia. Pada gaya Belanda ini nuansa hiasan Belanda masih sangat terasa, belum ada indikasi percampuran budaya dari Jawa. Antara Arsitektur Belanda dan arsitektur Jawa masih ada sekat pemisah sehingga belum ada indikasi percampuran budaya. Pada tahun 1800-an awal 1900, Sebelumnya pada sekitar abad ke-18 pemerintahan VOC di Batavia telah memasuki wilayah-wilayah kerajaan di Pedalaman dan berhasil memecah belah kekuasaan Kerajaan-kerajaan di wilayah pedalaman Jawa. Abad ke-19, ketika VOC lebih masuk lagi kedalaman Jawa dan melakukan intervensi yang lebih dalam lagi kepada pemerintahan kerajaan di Pedalaman. Hal itu secara tidak langsung berdampak pada perkawinan budaya Jawa dan Budaya Belanda. Di dalam seni Arsitektur sangat terasa perkembangannya. Awalnya Pemukiman Belanda yang memilih tinggal di dekat kota pelabuhan, beranjak membangun sebuah kota di daerah pedalaman. Faktor ini juga mempengaruhi dalam perkembangan arsitektur Belanda di Indonesia yaitu karena factor komunikasi yang sulit dengan Negara asalnya, sehingga perkembangan tentang bentukbentuk arsitektur juga kurang masuk ke Hindia-Belanda. Jadi para arsitek pada jaman tersebut membuat sebuah terobosan baru dengan membuat gaya The Empire Style atau The Dutch Colonial Villa atau yang dikenal dengan arsitektur Neo-Klasik juga dikenal dengan gaya Hindia Belanda. Arsitektur Gaya ini bisa dilihat di Gereja Protestan di pusat kota tua Semarang, gereja Williams di Batavia (sekarang gereja), Balai Kota Medan dan beberapa bangunan di beberapa pusat kota di Hindia Belanda. Style ini di Pelopori oleh Gubernur Jenderal HW yang menginginkan sebuah bentuk yang mengutamakan aspek kemegahan, kemaharajaan untuk menunjukkan sebuah kekuasaan. Bangunan ini sangat menunjukkan citra Hindia Belanda yang bercorak kolonialisasi. Umumnya bangunan Gaya Hindia Belanda mengadopsi corak Arsitektur lokal sering

menggunakan atap limasan. Tetapi untuk aspek dalam ruangan dan kusein-kuseinnya gaya ini tetap mengadopsi gaya Eropa seperti Atap rumah, Jendela dan bentuk pintu yang membuat kesan tertutup. Perumahan pada waktu ini sering disebut dengan Indische Architecture atau biasa disebut pula rumah Landhuis, walaupun dengan kesan tertutup dan megah akan tetapi stlye ini sudah mengadopsi prinsip-prinsip arsitektur lokal yang membuat ruangan di rumah ini terkesan sejuk. Tidak luput pula perumahan gaya indis ini mempunyai sebuah space yang terbuka untuk sebuah taman. Berikut ini karakteristik style rumah tinggal pada jaman ini : Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang mejuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lainnya, Pilar menjulang ke atas ( gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang, Menggunakan atap perisai. Perkembangan selanjutnya pada periode awal abad ke-20 ( tahun 1902 1920 ), pada tahun ini karena dampak dari kaum Liberal yang terus mendesak pemerintahan kolonial di Belanda, sehingga mendesak politik etis diterapkan di Hindia Belanda. Pada waktu ini dampak dari peristiwa tersebut adalah datangnya penduduk Belanda yang datang dan semakin berkembangnya penduduk Belanda di Hindia Belanda sehingga pemukiman terus bertambah. Keadaan ini membuat style indische architecture menjadi terdesak dengan stlye pemukiman yang standard arsitektur modern yang lebih berorientasi ke Belanda. Pada awal Abad ke-20 (tahun 1920-an 1940-an), pada tahun ini banyak para arsitek dari Belanda maupun Hindia Belanda yang melakukan revolusioner dalam gerakan arsitektur. Gerakan Modernisasi dan Neo-Vernakuler serta aliran-aliran seperti Art Deco, Art Noueveau dan Ekspresionis banyak menghiasi beberapa kota dalam bentuk Arsitektur di Hindia Belanda, semua ini disebut Gaya Hindia-Belanda baru. Tidak hanya bangunan saja tetapi pada watu ini sudah ada gerakan untuk penataan kota lebih lanjut. Secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an4: Menggunakan Gevel ( gable) pada tampak depan bangunan. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable, pediment (dengan entablure).

Penggunaan Tower pada bangunan. Tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oelh bangunan umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20. Bentuknya bermacammacam, ada yang bulat, segiempat ramping, dan ada yang dikombinasikan dengan gevel depan.

Penggunaaan Dormer pada bangunan Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah Ventilasi yang lebar dan tinggi. Membuat Galeri atau serambi sepanjang bangunan sebagai antisipasi dari hujan dan sinar matahari.

Di jaman ini juga banyak pembangunan secara besar-besaran di kota-kota yang penting di Hindia Belanda. Banyak para Arsitek muda yang datang dari negeri Belanda yang datang ke Hindia Belanda dan menciptakan beberapa karyanya antara lain (Yulianto :1993) : 1. Henri Maclaine Pont, seorang darah campuran. Mulai berkarya pada tahun 1920-an karyanya yang bisa dilihat antara lain Kantor NIS di Tegal, Technisce Hoogeschool Bandung (sekarang ITB), Museum di Trowulan, Gereja Pohsarang Kediri, 2. Herman Thomas Karsten, pembangun kota semarang dengan prinsip garden city, Kantor SMN Semarang, Kantor Zusmastermaatscappijen Semarang, Pasar Johar Semarang, Museum Sonobudoyo Yogya, Pasar Gede Solo, 3. C.P Wolff Scoemaker, bangunan karyanya yang terkenal adalah Villa Isola di Bandung, Societiet Concordia (sekarang Gedung Asia-Afrika) Bandung, Gereja Protestan Bandung, Gereja Katholik Bandung, Kompleks Jaarbeurs Bandung, Gedung International Credit en Handelvereeniging Surabaya, Gedung Koloniale Bank Surabaya, Kawasan Beneden stad - kota lama Surabaya, Java Store Surabaya , 4. W.Lemei, karyanya antara lain Kantor Gubernur Surabaya dan yang lainnya adalah bangunan di luar Jawa. 5. C.Citroen, karyanya antara lain Raadhuis Ketabang (Balaikota Surabaya), Christ Church Reinierszboulevard Soerabaia, Gereja Katholik Maranata, Soerabaiasche Ziekenverpleging, Rumah sakit Darmo Surabaya, Gedung Borsumij Surabaya, Sebenarnya masih banyak lagi arsitek yang berkarya seperti F.J.L Ghijsels, J.Gerber, P.A.J. Munjen (Gedung Lingkaran Seni Hindia Belanda/The art society building, Jakarta, 1914), HP Berlage (Gedung Jawa Maluku tahun 1900, de Algemenee/ Perusahaan Umum

Asuransi Jiwa dan Cagak Hidup, 1900), Klinkhamer dan Oundag (Kantor Pusat Perusahaan Jawatan Kereta Api Hindia Belanda di Semarang, 1902-1907), J. Gerber (Gedung Sate, 1920), AF Aalbers (bangunan Bank DENIS, kini Bank Jabar tahun 1935, Homann Hotel tahun 1939). Serta ada juga biro Insinyur arsitek ED.Cuyper dan Hulswit Batavia dan AIA (Algemeen Ingineurs en Architecten). Pada periode ini bisa dilihat banyak sekali arsitek yang berkarya. Sebenarnya mereka mencoba membuat sebuah perpaduan antara Arsitektur gaya Lokal dan Gaya Eropa seperti karya HM Pont yang berusaha memadukan unsur kedaerahan dengan arsitektur Modern, maksudnya adalah tetap menggunakan prinsip-prinsip hias arsitektur Jawa tetapi untuk strukturalnya para arsitek mencoba menggunakan struktur Eropa yang kuat. Karena prinsip prinsip Rumah Tradisional yang sudah menerapkan prinsip adapatasi dengan Lingkungan Tropis sehingga pada abad ke-20 ini banyak sekali arsitek yang membuat karya bangunan dengan menerapkan kedua unsure tersebut. Secara garis besar arsitektur Kolonial Belanda di Hindia Belanda mengalami perkembangan karena adaptasi Lingkungan Alam dan Geografis. Memang pada awalnya bangunan arsitektur kolonial tidak menerapkan prinsip-prinsip rumah tradisional yang sudah beradaptasi dengan iklim tropis tetapi bangunan tersebut berdampak pada para penghuninya. Sehingga sedikit demi sedikit para arsitek mencoba memahmi konsep dan prinsip bangunan tradisional. Mulai abad ke-18 mulai ada perubahan yang terus-menerus dan perkembangan mulai akhirnya pada abad ke-20 terjadi pembangunan arsitektur secara besar-besaran yang menggabungkan dua unsur Eropa dan rumah tradisional, tidak hanya aspek rumah tradisional Jawa tapi juga aspek rumah rumah tradisional di beberapa tempat di Nusantara. Tetapi yang dilihat dari review ini adalah sebatas peninggalan arsitektur Kolonial Belanda di Jawa.

DAFTAR PUSTAKA__

Dana, Djefri W. Ciri Perancangan Kota Bandung, Gramedia Pustaka Utama-Jakarta.1996 Fitri, Isnen ST, M.Eng. Kopendium Sejarah Arsitektur Indonesia dan Asia : India,Cina dan Jepang,softcopy e-book.pdf. Medan.2006 Gill, Ronald. Perumahan Kota Gaya Belanda. Indonesian Heritage: Arsitektur. Jakarta: Grolier Internasional. 2002. Hlm 112-113 Sukada, Budi A. Kemunculan Gaya Hindia Baru. Indonesian Heritage: Arsitektur. Jakarta: Grolier Internasional. 2002. Hlm 120-121 Sumalyo, Yulianto. Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, Gadjah Mada University Press-Yogyakarta.1993 Susanti, BM. Loji Londo : Studi Tata Ruang Bangunan Indis, Tarawang PressYogyakarta.2000