Anda di halaman 1dari 38

SOAL JAWAB WAWANCARA

ILMU MANAJEMEN

KONSENTRASI MANAJEMEN KEUANGAN

BAGIAN SATU LANDASAN KEAHLIAN BIDANG ILMU MANAJEMEN

BAGIAN DUA LANDASAN KEAHLIAN BIDANG KAJIAN MANAJEMEN KEUANGAN

BAGIAN TIGA LANDASAN KEAHLIAN PASCASARJANA

KEUANGAN BAGIAN TIGA LANDASAN KEAHLIAN PASCASARJANA BAHAN BELAJAR DARMAWAN SOEGANDAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN

BAHAN BELAJAR

DARMAWAN SOEGANDAR

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2013

BAGIAN SATU LANDASAN KEAHLIAN BIDANG ILMU MANAJEMEN

I. Jelaskan tentang keputusan investasi dan keputusan pendanaan pada perusahaan multi nasional dan jelaskan pula apa yang dikendalikan dalam keputusan investasi dan keputusan

II. Bagai mana dampak inflasi, tingginya bunga dinegara lain terhadap mata uang dan investasi di Indonesia

III. Dalam memahami persoalan ekonomi keuangan secara garis besar ada tiga tema pokok dalam teori keuangan yaitu arbitrase, penilaian asset dan effesiensi pasar. Jelaskan

IV. Lembaga pembiayaan memiliki peran pokok dalam perekonomian suatu negara. Jelaskan fungsi apa saja yang dapat dihasilkan dari lembaga pembiayaan

V. Dalam kaitan kepercayaan dalam pembiayaan dan syarat yang disepakati, kemukakan unsur-unsur pembiayaan

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

1

I. Jelaskan tentang keputusan investasi dan keputusan pendanaan pada perusahaan multi nasional dan jelaskan pula apa yang dikendalikan dalam keputusan investasi dan keputusan pendanaan.

A. Keputusan investasi dan pendanaan pada perusahaan multinasional.

Secara tradisional, manajemen keuangan dibagi menjadi dua fungsi dasar, yaitu pencarian dana dan investasi dari dana tersebut. Fungsi pertama dikenal sebagai keputusan pembiayaan, melibatkan kegiatan mengumpulkan dana dari sumber-sumber internal maupun sumber-sumber eksternal untuk perusahaan dengan biaya jangka panjang yang serendah mungkin. Sedangkan keputusan investasi berkaitan dengan alokasi dana demi memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham.

Aliran dana perusahaan internal seperti pembayaran ulang pinjaman sering ditangani untuk mengakses dana yang telah dimiliki, atau secara teori oleh perusahaan multinasional itu sendiri. Aliran yang lain, seperti pembayaran dividen dilakukan untuk mengurangi pajak atau risiko mata uang. Struktur modal dan keputusan pembiayaan yang lain sering dimotivasi keinginan untuk mengurangi risiko investasi dan biaya pembiayaan. Pengelolaan risiko nilai tukar melibatkan keputusan pembiayaan dan keputusan investasi.

Faktor-faktor tambahan lain yang dihadapi oleh para eksekutif dari perusahaan multinasional adalah risiko politik dan risiko ekonomi. Misalnya kondisi politik di timur tengah belakangan ini yang tengah hangat. Berbagai pemberontakan oleh rakyat untuk menggulingkan penguasa atau pemerintahannya ini akan berdampak pada perusahaan-perusahaan multinasional di negara tersebut.

Ketika perusahaan mempertimbangkan karakteristik unik dari manajemen keuangan multinasional. Maka mereka akan menekankan pada risiko politik dan ekonomi tambahan yang harus dihadapi pada negara tersebut. Perspektif yang lebih luas dibutuhkan pada perusahaan untuk mengubah suatu perusahaan menjadi multinasional.

Kemampuan untuk menggerakkan manusia, uang dan material secara global, akan membuat suatu perusahaan multinasional lebih dari skedar gabungan dari bagian-bagiannya. Dengan memiliki operasinya di negara-negara yang berbeda, maka suatu perusahaan multinasional dapat mengakses pasar modal yang tersegmentasi demi menurunkan modal pembiayaannya secara keseluruhan. Hal itu dapat menggeser laba untuk menurunkan pajak dan mendapat keuntungan dari diversifikasi internasional dari pasar dan produksi, sehingga berguna untuk mengurangi risiko dari pendapatannya.

B. Pengendalian dalam keputusan investasi dan pendanaan.

Manajemen Keuangan bagi perusahaan multinasional (Multinational Firm) atau bagi Multinational Enterprise (MNE) merupakan adaptasi dari manajemen keuangan local yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi luar negeri (internasional). Masalah keuangan yang

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

2

diharapkan dikendalikan oleh perusahaan antara lain; Pengawasan keuangan (Financial control); Manajemen kas (Cash Management); Transfer dikalangan sendiri (Intrafirm transfers); dan Capital budgeting.

Pengawasan Keuangan (Financial Control)

Ada dua cara pengawasan keuangan yaitu:

1. Sistem desentralisasi (Decentralized management structure).

2. Sistem sentralisasi (Centralized management structure).

Dalam system desentralisasi dilakukan dengan cara memberi wewenang penuh bagi anak perusahaan (subsidiary) untuk mengelola keuangan perusahaan bagi masing-masing anak perusahaan serta keputusan-keputusan berproduksi. Kedua keputusan tersebut ditujukan untuk mendukung tujuan kantor pusat (Parent Company). Para manajer anak perusahaan di evaluasi dan diukur kinerja oleh Kantor Pusat berdasar prestasinya dalam menaikkan nilai tambah perusahaan.

Sistem sentralisasi dijalankan melalui keputusan keuangan dan produksi ditentukan oleh Kantor pusat. Anak perusahaan tinggal menjalankan tugasnya sesuai dengan garis-garis keputusan yang diberikan Kantor pusat. Kinerja para manajer anak perusahaan dinilai berdasarkan pada seberapa efisien mereka dalam mengalokasikan dana untuk membiaya operasional perusahaan, biaya penjualan; biaya tenaga kerja dan lain-lain.

Pada system sentralisasi Para manajer keuangan dikantor pusat harus melaksanakan tugas mengawasi keuangan perusahaan baik di negara asal (home country) maupun di negara domisili anak perusahaan (host country). Kendala yang dihadapi adalah Perubahan undang-undang perpajakan, pengawasan nilai tukar dan tingkat inflasi. Faktor tersebut memungkinkan dapat menurunkan tingkat keuntungan secara keseluruhan.

Manajemen Kas (Cash management)

Kegiatan manajemen kas meliputi bagaimana perusahaan menggunakan kas perusahaan secara efisien. Pengawasan kas tidak hanya bagaimana mengatur aliran kas secara lancar, tetapi juga mengatur kekayaan likuid yang berupa valuta asing agar tidak mengalami kerugian manakala terjadi fluktuasi nilai tukar.

Misalnya Anak perusahaan Amerika di Meksiko, menerima 500 juta peso, apakah uang peso ditukar dollar lalu di investasikan di Amerika atau peso tadi diinvestasikan di Meksiko atau peso ditukar dengan mata uang lain misalnya yen, DM, pound di pasar global? Hal ini tergantung peraturan yang berlaku di Meksiko. Jika pemerintah Meksiko memberlakukan kebijakan pengawasan nilai tukar, maka peso terpaksa harus diinvestasikan di Meksiko sampai peso digunakan oleh anak perusahaan untuk membayar penyelesaian transaksi (import). Jika tidak ada control dari pemerintah, Perusahaan bisa menggunakan peso nya dalam pasar berjangka atau melakukan arbritase di pasar valuta asing yang bertujuan untuk memperoleh capital gain.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

3

Netting adalah system manajemen kas terpusat (centralization of cash management) dimana kantor pusat melakukan offset dengan anak perusahaan antara pembayaran dengan piutang dan termasuk didalamnya juga utang dagang (payables) dan piutang (receivables) untuk satu transaksi jual dan beli valuta asing. Sebagai contoh Perusahaan sekuritas Oklahoma di Amerika menjual C$2 juta atas pembelian telpon mobil di anak perusahaan Canada, dan beli C$3 juta atas pengiriman komputer dari anak perusahaan Canada tersebut. Jika kegiatan kedua pembayaran tadi (payment and receivable) memiliki jatuh tempo yang sama, maka kantor pusat hanya perlu membeli C$1 juta untuk merealisasi jual beli tadi. Kegiatan ini biaya transaksi lebih murah ketimbang beli C$3 juta untuk realisasi utang dagang dan C$ 2 juta untuk piutang yang membutuhkan dua kali biaya transaksi.

Transfer Dikalangan Sendiri (Intrafirm Transfers).

Transfer Price adalah harga transfer yang berlaku diantara kalangan sendiri misalnya Nestle Belanda (Parent Company) menjual Bubuk Susu ke anak perusahaan Singapore Nestle (subsidiary) dengan harga transfer bukan harga pasar. Harga transfer biasanya ditentukan dengan cara harga jual dikurangi biaya promosi, biaya komisi, biaya pemasaran.

Perusahaan pusat bisa memanfaatkan transfer pricing ini untuk mendapatkan tambahan profit melalui minimalisasi pajak dengan cara, memberi profit rendah bagi anak perusahaan yang berada di negara yang berpajak tinggi dan memberi profit yang tinggi bagi anak perusahaan yang berada di negara yang berpajak rendah. Di Amerika kegiatan tersebut sering istilahkan Arm’s Length Pricing between subsidiaries. Kegiatan ini bermanfaat bagi Kantor pusat karena bisa menaikkan profit perusahaan (Global Profit).

Contoh:

Kegiatan transfer pricing yang dilakukan oleh Perusahaan Kemeja Waikiki (Waikiki Shirt Co.) sebuah pabrik kemeja di negara L dengan pajak 20% (Low tax country), dan kemudian mengirim kemeja ke pusat distributornya di negara H dengan pajak 40% (High tax country). Berdasar perbedaan pajak di dua negara tersebut perusahaan Waikiki Shirt Co berkeinginan untuk menaikkan Global profit nya dengan cara melakukan transfer pricing di dua negara tersebut.

Contoh Transfer Pricing:

Waikiki Shirt Co. 'produsen Kemeja di negara L dengan pajak 20% Mengirim produknya ke Pusat Distribusinya di negara H, pajak 40%

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

4

Dari perhitungan diatas, jika perusahaan Waikiki menggunakan Arm"s Length Pric ing, memperoleh global profit sebesar

Dari perhitungan diatas, jika perusahaan Waikiki menggunakan Arm"s Length Pric ing, memperoleh global profit sebesar $12,20, sedangkan menggunakan Distorted Prices, perusahaan bisa menaikkan global profitnya menjadi $13.20 (ada kenaikan sebesar $1 atau 8,19%)

Capital Budgeting.

Bagi MNE pendekatan capital budgeting dengan menggunakan adjusted present value (APV) yang diaplikasikan dengan contoh ini.

Midas Gold Extractor melakukan ekspansi dan eksplorasi lahan yang membutuhkan dana sebesar $10 juta, kebutuhan kas selama dua tahun @$7.5 juta, biaya perizinan @ $1 juta pertahun. Jika PT Midas menggunakan tingkat bunga bagi Cash Flow sebesar 6% dan untuk dana operasi sebesar 10 %, maka

APV = 10 + 7,5/1.0.6 + 7,5/1.062 + 1/1.01 + 1/1.012

= -10 +15.49 = 5.49

Jadi APV dari proyek eksplorasi emas tersebut sebesar $5.49 juta. APV diartikan sebagai metode evaluasi proyek yang mengukur seberapa besar efek keuangan akibat aktifitas aliran kas dalam proyek.

Tujuan utama dari manajemen keuangan multinasional adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang saham, sebagaimana dapat diukur dari harga saham. Hal ini berarti membuat keputusan keuangan dan investasi, yang dapat menambah nilai sebanyak mungkin pada perusahaan. Perusahaan juga harus mengelola aset secara efektif di bawah kendali mereka.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

5

Pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang resmi dan manajemen memiliki kewajiban untuk bertindak demi kepentingan yang terbaik. Walaupun pemegang peran yang lain dalam perusahaan juga memiliki hak, namun tidak sama dengan hak pemegang saham. Pemegang saham menyediakan modal berisiko yang menopang klaim-klaim dari pemegang peran yang lain.

Tujuan lain dari sistem keuangan multinasional mencerminkan kemampuan untuk menghubungkan melalui mekanisme transfer ke organisasi yang lebih besar. Jenis transfer ini mencerminkan kebebasan untuk memilih beragam channel keuangan. Beberapa perusahaan multinasional memiliki fleksibilitas waktu dalam aliran dana.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

6

II.

Bagai mana dampak inflasi, tingginya bunga dinegara lain terhadap mata uang dan investasi di Indonesia.

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.[ Barro, Robert J. Macroeconomics ] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh- memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.

Inflasi akan menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi suatu negara menjadi terhambat. Sebagai contoh, di sektor pedagangan luar negeri, komoditi ekspor negara tersebut menjadi kurang dapat bersaing dengan komoditi sejenis di pasar dunia. Dengan kata lain, kemerosotan produksi akan terjadi, baik untuk produk yang berorientasi ekspor maupun produk untuk pasar domestik. Dari sisi ini maka posisi Indonesia adalah bisa di untungkan atau di rugikan.

Diuntungkan terjadi jika industri di Indonesia menganggap bahwa tingginya harga barang – barang produksi negara partner ini menjadi peluang bagi industri domestik untuk berproduksi atau meningkatkan produksinya. Karena tentu jika dianggap di Indonesia tingkat inflasi bersifat tetap maka, harga dari barang produksi kita akan lebih kompetitif dibanding produksi negara partner baik di pasar global maupun di pasar domestik.

Tingkat inflasi yang tinggi di suatu negara biasanya diantisipasi oleh pemerintah yang bersangkutan dengan meningkatkan suku bunga bank sentral. Kenaikan suku bunga bank sentral dimaksudkan agar diikuti dengan kenaikan suku bunga bank – bank. Hal ini ditujukan agar masyarakat meningkatkan saving dari pada konsumsi/ investasi. Sehingga jumlah uang beredar diharapkan menurun.

Hal ini mengakibatkan kita sebagai negara partner memiliki nilai investasi lebih tinggi karena dengan suku bunga yang lebih murah di Indonesia maka akan memicu meningkatnya investasi. Dengan demikian industri akan memiliki selisih laba dikurangi biaya pendanaan yang lebih rendah. Dengan syarat kita tidak terlalu banyak menggunakan kandungan luar dibanding kandungan lokal, sehingga kenaikan harga pada komponen import tidak terlalu berpengaruh.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

7

III. Dalam memahami persoalan ekonomi keuangan secara garis besar ada tiga tema pokok dalam teori keuangan yaitu arbitrase, penilaian asset dan effesiensi pasar. Jelaskan

Tiga konsep yang bangkit dari ekonomi keuangan telah terbukti menjadi hal yang penting dalam mengembangkan dasar-dasar teori untuk keuangan perusahaan internasional, yaitu arbitrase, efisiensi pasar, dan menilai aset modal.

Arbitrase

Definisi arbitrase secara tradisional adalah pembelian suatu aset atau komoditi pada suatu pasar, untuk penjualan kembali secara cepat pada pasar yang lain demi memperoleh laba dari selisih harga. Arbitrase ini telah digunakan untuk menjelaskan beberapa kegiatan lain yang lebih luas. Misalnya Arbitrase pajak yang melibatkan pergeseran dari keuntungan atau kerugian yuridiksi pajak terhadap yang lain, demi memperoleh laba dari selisih pajak. Dalam konteks yang lebih luas, arbitrase risiko spekulasi menjelaskan proses suatu persamaan imbal hasil dari penyesuaian risiko pada instrument sekuritas yang berbeda, kecuali jika terjadi pasar tak sempurna.

Konsep arbitrase adalah dari kepentingan khusus dalam keuangan internasional karena berbagai hubungan antara pasar keuangan domestik dan internasional. Nilai tukar mata uang, tingkat suku bunga, dan inflasi bergantung pada arbitrase untuk keberadaannya. Bahkan hal tersebut merupakan proses arbitrase yang menjamin efisiensi pasar.

Efisiensi Pasar

Suatu pasar yang efisien adalah keadaan dimana harga dari sekuritas yang diperdagangkan telah mencakup informasi baru. Sekuritas yang diperdagangkan dihargai secara benar dalam suatu aturan perdagangan pada harga terdahulu atau informasi yang tersedia secara publik, namun tidak secara konsisten mengarah ke laba (setelah menyesuaikan biaya transaksi) dalam kelebihannya demi semata-mata pengambilan risiko.

Daya dari pasar yang dapat diperkirakan, bertumpu pada kemampuannya mengumpulkan suatu kumpulan penilaian secara individual dari seluruh dunia pada satu tempat. Penilaian ini berdasarkan informasi sekarang. Jika tren kebijakan masa depan berubah, maka masyarakat akan merevisi harapannya, sehingga harga akan berubah mengikuti informasi baru.

Dengan mengatakan bahwa pasar efisien, bukan berarti pasar tak pernah blunder. Pada tahun 2008 contohnya, terjadi krisis ekonomi disebabkan oleh "Subprime Mortage", dimana pinjaman diberikan dengan jaminan berupa pinjaman juga. Antara krisis dan resolusi selalu ada daerah yang tak dapat dipetakan. Kepanikan mengumpani dirinya sendiri, kemudian menyebar dari satu negara ke negara lain, sehingga menyebabkan ketidakstabilan global dan resesi. Kondisi tersebut kemudian berangsur-angsur pulih pada tahun 2010. Dapat dikatakan bahwa pasar itu dapat mengkoreksi dirinya sendiri. Tidak seperti pemerintah, ketika investor menyadari ada masalah, mereka cenderung menarik dana, tidak menambahnya lagi. Pada saat yang sama, ketika

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

8

fundamental dasar dari suatu negara terdengar, investor akan mengenalinya dan modal mereka pun akan kembali.

Penghitungan Harga Aset Modal

Perhitungan harga aset model mengacu pada cara menilai suatu sekuritas berkenaan dengan risiko dan imbal hasil yang dapat diantisipasi. Sebab risiko merupakan bagian terpadu dari keputusan keuangan internasional. Terdapat hubungan antara risiko (diukur oleh keragaman imbal hasil) dan imbal hasil dari aset yang dibutuhkan. Hal tersebut dapat dirumuskan dalam model penghitungan aset modal atau CAPM (Capital Asset Pricing Model) dan teori harga arbitrase atau APT (Arbitrage Price Theory) yang paling umum.

Baik CAPM maupun APT mengasumsikan bahwa jumlah keragaman dari suatu imbal hasil aset dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu: pengaruh pasar luas yang berdampak pada keseluruhan aset hingga pada batas tertentu, seperti keadaan perekonomian; dan risiko lain yang khusus pada suatu perusahaan tertentu, misalnya mogok kerja.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

9

IV. Lembaga pembiayaan memiliki peran pokok dalam perekonomian suatu negara. Jelaskan fungsi apa saja yang dapat dihasilkan dari lembaga pembiayaan.

Istilah lembaga pembiayaan (finance) merupakan istilah yang relatif lebijh baru dibandingkan dengan lembaga perbankan. Lembaga pembiayaan berkembang setelah adanya Paket Deregulasi 27 Oktober 1988 (Pakto 88) dan Paket Deregulasi 20 Desember 1988 (Pakdes 88). Kegiatan usaha lembaga pembiayaan menekankan pada fungsi pembiayaan, yaitu dalam bentuk penyediaan dana dan barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat.

Lembaga pembiayaan diatur dalam Keputusan Presiden No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan dan Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. Pengertian lembaga pembiayaan menurut Pasal 1 angka (2) Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat.

Dalam sistem lembaga keuangan dibedakan menjadi dua yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank. Lembaga keuangan bank adalah badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang keuangan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lain guna meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Lembaga keuangan bukan bank adalah badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang keuangan yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana dengan jalan mengeluarkan surat berharga dan menyalurkannya ke dalam masyarakat guna membiayai investasi perusahaan. Bidang usaha yang termasuk dalam lembaga keuangan bukan bank antara lain adalah asuransi, pegadaian, dana pensiun, reksa dana, lembaga pembiayaan. lembaga pembiayaan termasuk dalam Lembaga keuangan Bukan Bank (LKBB).

Perbedaan lembaga keuangan bank dan lembaga pembiayaan adalah lembaga keuangan bank dapat menghimpun dana secara langsung dari masyarakat berupa tabungan, deposito. Sedangkan pada lembaga pembiayaan tidak dapat menghimpun dana secara langsung dari masyarakat.

Menurut Pasal 2 ayat (1) Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, kegiatan lembaga pembiayaan meliputi antara lain bidang usaha:

1. sewa guna usaha;

2. modal ventura;

3. perdagangan surat berharga

4. anjak piutang;

5. usaha kartu kredit;

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

10

6. pembiayaan konsumen.

Perusahaan Sewa guna usaha (leasing company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara finance lease maupun operating lease untuk digunakan oleh penyewa guna usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.

Perusahaan Modal ventura adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu.

Perusahaan perdagangan surat berharga adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk perdagangan surat berharga.

Perusahaan anjak piutang adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transasksi perdagangan dalam dan luar negeri.

Perusahaan kartu kredit adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan untuk membeli barang dan jasa dengan menggunakan kartu kredit.

Perusahaan pembiayaan konsumen adalah badan usaha yang melakukan pembiayaan pengadaan barang untuk kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala.

Keenam kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh bank, lembaga keuangan bukan bank dan perusahaan pembiayaan. Bentuk hukum dari perusahaan pembiayaan adalah Perseroan Terbatas (PT) berdasarkan Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan Koperasi yang diatur dalam Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Sebagai bagian dari lembaga keuangan bukan bank, lembaga pembiayaan sebelum mengadakan perjanjian dengan nasabah wajib melaksanakan Prinsip Mengenal Nasabah. Prinsip mengenal nasabah ini diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 74/PMK.012/2006 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Pada Lembaga Keuangan Non Bank.Menutut Pasal 1 angka (5) PMK No. 74?PMK.012/2006, Prinsip mengenal nasabah adalah prinsip yang diterapkan lembaga keuangan non bank untuk mengetahui identitas dan latar belakang nasabah serta memantau kegiatan transaksi nasabah.

Peran lembaga pembiayaan:

1. sebagai sumber alternatif pembiayaan,

2. menampung dan menyalurkan aspirasi dan minat masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan khususnya di bidang ekonomi.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

11

V. Dalam kaitan kepercayaan dalam pembiayaan dan syarat yang disepakati, kemukakan unsur-unsur pembiayaan.

Dalam pembiayaan terkandung unsur – unsur :

1. Kepercayaan.

Kepercayaan merupakan suatu keyakinan bahwa pembiayaan yang diberikan benar – benar diterima kembali dimasa yang akan datang sesuai jangka waktu yang sudah diberikan. Kepercayaan yang diberikan oleh bank sebagai dasar utama yang melandasi mengapa suatu pembiayaan berani dikucurkan. Oleh karena itu sebelum sebelum pembiayaan dikucurkan harus dilakukan penyelidikan dan penelitian terlebih dahulu secara mendalam tentang kondisi nasabah, baik secara intern maupun ekstern. Penelitian dan penyelidikan tentang kondisi pemohon pembiayaan sekarang dan masa lalu, untuk menilai kesungguhan dan etika baik nasabah terhadap bank.

2. Kesepakatan.

Kesepakatan antara si pemohon dengan pihak lembaga pembiayaan. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing – masing pihak menandatangani hak dan kewajiban masing – masing. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam akad pembiayaan dan ditandatangani kedua belah pihak.

3. Jangka Waktu.

Setiap pembiayaan yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian pembiayaan yang telah disepakati. Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran yang sudah disepakati kedua belah pihak. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini bisa diperpanjang sesuai dengan kebutuhan.

4. Risiko.

Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian pembiayaan akan memungkinkan suatu risiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu pembiayaan. Semakin panjang jangka waktu pembiayaan maka semakin besar risikonya, demikian pula sebaliknya.

Risiko ini menjadi tanggungan lembaga pembiayaan, baik risiko disengaja, maupun risiko yang tidak disengaja, misalnya karena bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya, sehingga tidak mampu melunasi pembiayaan yang diperoleh.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

12

5.

Balas Jasa.

Dalam Bank konvensional balas jasa dikenal dengan nama bunga. Disamping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi yang juga merupakan keuntungan bank. Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balas jasanya dikenal dengan bagi hasil.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

13

LANDASAN KEAHLIAN BIDANG KAJIAN

1. TEORI AGENCY

a. Jelaskan konflik keuangan seperti apa yang terjadi? Kenapa konflik ini menjadi perhatian manajemen keuangan?

b. Bagaimana agency cost bisa muncul? Dan bagaimana cara mengukur agency cost tersebut?

2. TUJUAN PERUSAHAAN “… is to maximize the value of firm to its stockholders not to maximize profit

a. Jelaskan maksudnya maksud konsep tersebut!

b. Apa kepentingan manajemen keuangan perusahaan dengan nilai perusahaan?

c. Bagaimana kepentingan pihak prinsipal terhadap maximize profit?

d. Jelaskan hubungan konsep tersebut dengan kebijakan dividen, yang di satu sisi sebagai payment out bagi manajemen keuangan dan juga return bagi pemegang saham?

e. Menurut teori MM kebijakan dividen tidak selalu memiliki relevansi dengan nilai perusahaan, kenapa itu bisa terjadi?

3. INSIDER TRADING

a. Apa yang dimaksud insider trading?

b. Kenapa insider trading dianggap sebuah pelanggaran di pasar modal?

c. Bagaimana kaitan asimetri informasi dalam transaksi insider trading?

d. Apa itu abnormal return?

e. Kenapa abnormal return yang besar dapat menjadi salah satu indikasi transaksi insider?

4. CAPM

a. Kenapa resiko yang relevan dalam CAPM hanya resiko sistematik? Bagaimana dengan resiko unsistematik? Bagaimana menghilangkan resiko ini?

b. Jelaskan konsep market line dan capital market line!

c. Jelaskan hubungan konsep CAPM dengan konsep APT!

5. OPTION

a. Harga saham PT. A saat ini Rp. 10.000,- dua call option dipertimbangkan yaitu April/Rp. 11.000/Rp. 100 dan Juni/Rp. 9.000/Rp. 2.000

i. Mengapa harga premium Juni lebih tinggi dari harga premium april?

ii. Jika anda memiliki saham A dengan cost Rp. 9.500 pada harga berapa anda akan mulai rugi jika write call A/Juni/Rp. 9.000? iii. Seandainya anda tidak punya saham A, pada harga berapa anda akan mulai memperoleh keuntungan jika anda membeli call A/April/Rp. 11.000/Rp. 100?

b. Harga saham PT. A pada saat ini Rp. 1.200, anda mempertimbangkan untuk secara bersamaan menjual call option April/1.500/100 dan put option/1.150/75

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

14

i.

Jika harga kenyataannya nanti Rp. 1.500 hitung berapa laba/rugi dari menjual?

ii.

Berapa profit maksimum dan kerugian maksimum yang mungkin terjadi pada saat ini?

iii.

Pada harga berapa BEP terjadi?

iv.

Buatkan grafiknya!

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

15

I.

TEORI AGENCY

a. Jelaskan konflik keuangan seperti apa yang terjadi? Kenapa konflik ini menjadi perhatian manajemen keuangan?

Hubungan keagenan merupakan hubungan antara dua pihak dimana salah satu pihak menjadi agent dan pihak yang lain bertindak sebagai principal (Hendriksen dan Van Breda, 2000). Hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) memperkerjakan orang lain (Agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut.

Eisenhard (1989) dikutip dalam Isnanta (2008) menggunakan tiga asumsi sifat dasar manusia guna menjelaskan tentang teori agensi yaitu:

1. Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interst)

2. Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality)

3. Manusia selalu menghindari resiko (risk averse).

Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut, manajer sebagai manusia kemungkinan besar akan bertindak berdasarkan sifat opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya.

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan adanya konflik kepentingan dalam hubungan keagenan. Terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu biaya keagenan (agency cost). Teori agensi mampu menjeleskan potensi konflik kepentingan diantara berbagai pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut. Konflik kepentingan ini terjadi dikarenakan perbedaan tujuan dari masing-masing-masing pihak berdasarkan posisi dan kepentingannya terhadap perusahaan (Ibrahim, 2007). Sebagai agen, manajer bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal), namun demikian manajer juga menginginkan untuk selalu memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemamkmuran yang dikehendaki (Ali, 2002 dalam Isnanta, 2008)

Selain itu teori Agensi juga menjelaskan mengenai masalah asimetri informasi (information asymmetric). Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prosfek perusahaan dimasa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

16

perusahaan kepada pemilik. Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai informasi yang tidak simetris informasi (Hendriksen dan Van Breda, 2000).

Asimetri informasi antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan tindikan opotunis seperti manajemen laba (earnings management) mengenai kinerja ekonomi perusahaan sehingga dapat merugikan pemilik (pemegang saham). Manajer akan berusahaa melakukan hal tersebut untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya tanpa persetujuan pemilik atau pemegang saham.

b. Bagaimana agency cost bisa muncul? Dan bagaimana cara mengukur agency cost tersebut?

Dengan adanya masalah agensi yang disebabkan karena konflik kepentingan dan asimetri informasi ini, maka perusahaan harus menanggung biaya keagenan (agency cost).

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan biaya keagenan dalam tiga jenis yaitu:

1. Biaya Monitoring (monitoring cost), merupakan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh agen.

2. Biaya Bonding (bonding cost), merupakan biaya untuk menjamin bahwa agen tidak akan bertindak merugikan principal, atau dengan kata lain untuk meyakinkan agen, bahwa principal akan memberikan kompensasi jika agen benar-benar melakukan tindakan tersebut.

3. Biaya kerugian residul (residul loss), merupakan nilai uang yang ekuivalen dengan pengurangan kemakmuran yang dialami oleh principal akibat dari perbedaan kepentingan.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

17

II. TUJUAN PERUSAHAAN “… is to maximize the value of firm to its stockholders not to maximize profit

a. Jelaskan maksudnya maksud konsep tersebut!

Meskipun upaya memaksimalkan laba merupakan tujuan yang logis bagi setiap perusahaan, semua pakar keuangan korporasi sepakat bahwa tujuan perusahaan dalam perspektif manajemen keuangan bukan memaksimalkan laba, melainkan memaksimalkan kekayaan pemegang saham (stock holder’s wealth) atau memaksimalkan nilai perusahaan (value of the firm). Dalam mendirikan perusahaan, seorang investor atau pemilik perusahaan pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Menurut John D. Martin (1993) perusahaan didirikan dengan tujuan tertentu, yaitu:

memaksimalkan keuntungan atau kekayaan bagi karyawan, masyarakat sekeliling perusahaan dan terutama pemegang saham. Maksimali perusahaan sering disebut sebagai tujuan perusahaan dalam arti mikro ekonomi, tetapi itu belum cukup disebut sebagai tujuan perusahaan apabila ditinjau dari sudut keuangan, hal ini sesuai dengan pernyataan Clive (1990) bahwa maksimalisasi laba mempunyai kelemahan sebagai berikut :

a. Ukuran laba ditentukan oleh metode akuntansi yang digunakan. Hal ini menyebabkan laba sebagai tujuan yang dapat diukur mempunyai keterbatasan.

b. Laba tidak mempertimbangkan ukuran atau skala investasi yang ditanamkan.

c. Laba tidak mempertimbangkan pola waktu dari pengembalian.

d. Penggunaan laba tidak mempertimbangkan tingkat resiko yang dihadapi dalam investasi yang dilakukan.

Atas dasar kelemahan-kelemahan maksimalisasi laba, maka seharusnya tujuan yang dicapai oleh manajer keuangan adalah bukan maksimalisasi laba, melainkan maksimalisasi kekayaan pemegang saham melalui maksimalisasi nilai perusahaan. Tujuan ini dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang atau persent value semua keuntungan pemegang saham akan meningkat bila harga saham yang dimiliki meningkat. Kekayaan pemegang saham adalah perkalian antara harga saham per lembar dan jumlah saham yang beredar. Ini berarti bahwa kekayaan pemegang saham akan tercermin dari nilai perusahaan, yang ditunjukkan oleh harga saham perusahaan bersangkutan di bursa saham. Dengan demikian, maksimisasi kekayaaan pemegang saham atau nilai perusahaan (harga saham) memiliki arti yang benar-benar sama.

Perumusan maksimisasi kekayaaan pemegang saham atau nilai perusahaan sebagai tujuan pada akhirnya akan memudahkan pengukuran kinerja suatu perusahaan. Bila mana harga saham suatu perusahaan memiliki trend yang meningkat dalam jangka panjang, hal itu suatu indikator bahwa kinerja perusahaan dalam keadaan baik. Meningkatnya harga saham mencerminkan kepercayaan pasar akan baiknya prospek perusahaan bersangkutan pada masa mendatang.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

18

Maksimisasi Laba Bukan Tujuan yang Tepat. Ada dua alasan yang mudah dipahami mengapa tujuan perusahaan dalam perspektif manajemen keuangan adalah maksimisasi kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan, bukan maksimisasi laba:

1. Laba tidak menunjukkan arus kas. Laba yang disajikan pada laporan laba-rugi bukanlah besaran yang menunjukkan arus kas, sehingga jika laba suatu perusahaan Rp 10 miliar, hal itu sama sekali tidak menyatakan bahwa terdapat arus kas sebesar jumlah yang sama. Dalam manajemen keuangan, pengambilan keputusannya justru didasarkan atas arus kas (cashflow). Artinya, keputusan keuangan dinilai benar manakala keputusan itu meningkatkan arus kas bersih yang diterima perusahaan pada masa mendatang.

2. Laba tidak mempertimbangkan waktu dan risiko. Andaikata proyek A dan B akan menghasilkan laba pada dua tahun mendatang: Laba A Rp5 miliar pada tahun pertama dan Rp5 miliar pada tahun kedua, sedangkan laba B Rp 0 pada tahun pertama dan Rp 10 miliar pada tahun kedua, rata-rata laba per tahun kedua proyek jelas sama, yakni Rp 5 miliar. Proyek mana yang layak dipilih? Berdasarkan pendekatan maksimisasi laba, kita akan bersikap indeferen terhadap kedua proyek. Akan tetapi, apabila kita menggunakan pendekatan maksimisasi nilai perusahaan, kita akan memilih proyek A daripada proyek B karena pendekatan nilai perusahaan mempertimbangkan faktor waktu dan risiko; bukan besaran semata. Waktu penerimaan Rp 10 miliar pada proyek B terjadi pada tahun kedua (padahal, kita lebih menyukai menerimanya pada tahun pertama daripada tahun kedua). Selain itu, proyek B mempunyai laba yang berlainan pada setiap tahunnya, yang menunjukkan bahwa proyek B mengandung ketidakpastian atau risiko yang lebih tinggi daripada proyek A.

Yang merupakan tujuan normatif perusahaan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Yang dimaksud dengan nilai perusahaan adalah harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan.

b. Apa kepentingan manajemen keuangan perusahaan dengan nilai perusahaan?

Nilai perusahaan tinggi = tingkat kepercayaan pasar kemudahan pendanaan ekspansi aktiva menjadi lancar meningkatnya kemakmuran manajemen perusahaan

c. Bagaimana kepentingan pihak prinsipal terhadap maximize profit?

Selama profit yang dimaksimasi memperhitungkan nilai waktu (present value) maka prinsipal akan merasa kepentingannya dipenuhi

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

19

d. Jelaskan hubungan konsep tersebut dengan kebijakan dividen, yang di satu sisi sebagai payment out bagi manajemen keuangan dan juga return bagi pemegang saham?

Dari sisi manajemen keuangan kebijakan dividen berarti pengurangan sedangkan pada sisi pemegang saham berarti penambahan.

e. Menurut teori MM kebijakan dividen tidak selalu memiliki relevansi dengan nilai perusahaan, kenapa itu bisa terjadi?

Pengeluran pada dividen akan dibarengi oleh keputusan pendanaan untuk tetap meutup keputusan investasi, hal ini akan mengurangi nilai perusahaan sebesar dividen yang diberikan.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

20

III.

INSIDER TRADING

a. Apa yang dimaksud insider trading?

Yang dimaksud dengan Insider trading adalah perdagangan efek yang dilakukan mereka yang tergolong “orang dalam” perusahaan (dalam artian luas), perdagangan mana yang didasarkan karena adanya suatu “informasi Orang dalam” (inside Information) yang penting dan belum terbuka untuk umum, dengan perdagangan mana, pihak perdagangan insider tersebut mengharapkan akan mendapatkan keuntungan ekonomi secara pribadi, langsug atau tidak atau yang merupakan keuntungan jalan pintas (short swing profit) . Dalam bahasa hukum, ini merupakan tindakan memperkaya diri sendiri secara tidak sah, atau memiliki apa yang sebenarnya bukan merupakan haknya .

Dari pengertian insider trading tersebut di atas, maka secara yuridis, ditemukan beberapa elemen dari suatu pranata hukum Insider trading, yaitu sebagai berikut:

1. Adanya perdangan efek

2. Dilakukan orang dalam perusahaan

3. Adanya inside information

4. Inside Information tersebut belum terbuka untuk umum

5. Perdagangan dimotivisir oleh adanya inside information tersebut

6. Tujuannya untuk mendapat keuntungan yang tidak layak

Ada dua istilah penting dalam rumusan ini, yakni “orang dalam” dan “informasi orang dalam”. Yang termasuk kategori orang dalam misalnya adalah: komisaris, direktur, pegawai perusahaan, dan pemegang saham utama perusahaan. Selain itu, orang di luar perusahaan — bisa profesional atau pegawai perusahan lain yang jadi konsultan, kontraktor, pemasok — juga merupakan orang dalam.

Adapun informasi orang dalam adalah informasi material tentang perusahaan yang belum diumumkan kepada publik. Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa transaksi orang dalam atau insider trading adalah transaksi saham yang didasari informasi penting tentang perusahaan yang masih rahasia. Transaksi itu bisa dilakukan oleh orang dalam perusahaan maupun pihak luar.

Insider Trading dalam UU No.8 tahun 1995

Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995 pasal 95 memberi arti kepada orang dalam sebagi pihak-pihak yang tergolong dalam:

1. Komisaris, Direktur, atau pengawas perusahaan terbuka

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

21

2.

Pemegang saham utama perusahan terbuka

3. Orang yang karena kedudukannya, profesinya atau karena hubungan usahanya dengan perusahaan terbuka memungkinkan memperoleh informasi orang dalam. Dengan kedudukan disini dimaksudkan sebagai lembaga, institusi atau badan pemerintahan. Sementara yang merupakan “hubungan usaha” adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usahanya, seperti, nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan, kreditur, dan lain-lain

4. Pihak yang tidak lagi menjadi pihak sebagaimana tersebut dalam point 1,2,3 tersebut sebelum lewat jangka waktu 6 bulan.

Ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang Dalam” adalah para pemegang saham dari suatu perusahaan terbuka yang juga menjabat suatu posisi eksekutif. Juga terhadap para pedagang menurut jabatannya, seperti yang dibedakan dari seorang anggota dari masyarakat yang menanam modalnya, yang dikenal sebagai seorang “insider” atau “lamb.”

Sebenarnya masih terdapat pihak lain selain yang disebut dalam Undang-undang Pasar Modal No.8 tahun 1995, yang mestinya masih mungkin dan pantas dijerat dengan perbuatan insider trading, yakni:

1. Pihak lain yang mnerima informasi dari insider(secara tidak melawan hukum) yang masih belum kategori persyaratan “dengan pembatasan”

2. Pihak yang menerima informasi dari insider secara pasif, tetapi kemudian menggunakan dalam artian trading.

3. Tippee (Outsider) baik yang pasif maupun akif dalam mencari informasi tanpa mencarinya

4. Secondary tippee (pihak lain yang menerima informasi bukan langsung dari orang dalam tetapi melalui tippee lain)

Selain itu terdapat juga Pihak-pihak yang seharusnya dikecualikan sebagai insider trading adalah sebagai berikut:

1. Analyst yang independen, seperti orang luar yang ahli dalam bidang tertentu, di mana dengan keahliannya dapat memperkirakan dengan tepat tentang apa yang terjadi dalam perusahaan, atau

2. Penerima informasi secara kebetulan, seperti seseorang yang kebetulan “nguping” percakapan di antara dua orang di sebuah warung pojok.

b. Kenapa insider trading dianggap sebuah pelanggaran di pasar modal?

Beberapa pertimbangan adanya insider trading antara lain sebagai berikut:

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

22

1.

Insider Trading berbahaya bagi mekanisme Pasar yang Fair dan Efisien

2. Insider Trading Juga berdampak Negatif bagi emiten

3. Kerugian Materiil bagi Investor

4. Kerahasiaan itu milik negara (Teori Business Property)

Tujuan penegakan prinsip ini untuk menjaga kepercayaan investor sangat relevan ketika munculnya ketidakpercayaan publik terhadap pasar modal, yang pada gilirannya mengakibatkan pelarian modal (“capital flight”) secara besar-besaran dan dapat mengakibatkan kehancuran pasar modal (bursa saham) . Keterbukaan juga merupakan salah satu bagian dari prinsip GCG (Good Corporate Governance). Secara asumtif, jika GCG dan keterbukaan itu terwujud dalam perusahaan yang sahamnya listing di bursa, tentu akan menambah kepercayaan perusahaan dan investor. Dan bagi negara, prinsip keterbukaan ini berguna mengefektifkan dan mengintensifkan pajak yang akan meningkatkan pendapatan negara .

Dalam UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal juga dijelaskan tentang prinsip keterbukaan ini. Dalam pasal 1 angka 25 disebutkan bahwa Prinsip Keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan emiten, perusahaan publik, dan pihak lain yang tunduk pada undang-undang ini untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap efek dimaksud dan atau harga dari efek tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan informasi atau fakta material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada bursa efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut .

Pada dasarnya pelaksanaan keterbukaan di pasar modal terbagi menjadi tiga tahap, yaitu :

1. keterbukaan pada saat melakukan penawaran perdana (primary market level) yang didahului dengan pengajuan Pernyataan Pendaftaran Emisi ke Bapepam dengan menyertakan semua dokumen penting yang disyaratkan dalam Peraturan Nomor IX.C.1. tentang Pedoman Bentuk dan Isi Penyataan Pendaftaran.

2. Keterbukaan setelah emiten mencatat dan memperdagangkan efeknya di bursa (secondary market level). Emiten wajib menyampaikan laporan keuangan berkala (continously disclosure) kepad Bapepam dan Bursa sesuai Peraturan Nomor X.K.2.

3. Keterbukaan karena terjadi peristiwa penting dan laporannya harus disampaikan secara tepat waktu (timely disclosure), yakni peristiwa yang dirinci dalam Peraturan Nomor

X.K.1.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

23

c. Bagaimana kaitan asimetri informasi dalam transaksi insider trading?

Sudah dijelaskan

d. Apa itu abnormal return?

Abnormal return = return pada peristiwa – estimasi return

e. Kenapa abnormal return yang besar dapat menjadi salah satu indikasi transaksi insider?

Teori pasar sempurna!

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

24

IV.

CAPM

a. Kenapa resiko yang relevan dalam CAPM hanya resiko sistematik? Bagaimana dengan resiko unsistematik? Bagaimana menghilangkan resiko ini?

Terdapat dua macam resiko pada setiap sekuritas, yaitu resiko yang dapat dihilangkan atau diperkecil dan resiko yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Resiko sekuritas yang dapat dihilangkan melalui diversifikasi disebut juga dengan resiko yang tidak sistematis atau unsystematic risk, ada yang menyebutnya unique risk atau diversifiable risk. Sedangkan resiko yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi disebut dengan resiko yang sistematis atau systematic risk ada yang menyebutnya market risk.

Resiko yang sistematis adalah resiko yang terjadi karena faktor perubahan pasar secara keseluruhan, seperti misalnya karena perubahan tingkat suku bunga yang mengakibatkan tingkat keuntungan yang disyaratkan atas sekuritas secara keseluruhan, inflasi, resesi ekonomi, perubahan kebijakan ekonomi secara menyeluruh, perubahan pengharapan investor terhadap perkembangan ekonomi. Sedangkan resiko yang tidak sistematis atau resiko yang tidak sistematis atau resiko yang unik adalah resiko yang terjadi karena karakteristik perusahaan atau institusi keuangan yang mengeluarkan sekuritas, berbeda satu dengan lain seperti misalnya dalam hal kemampuan manajemen, kebijakan investasi, kondisi dan lingkungan kerja. Karena perbedaan atau keunikan itu maka masing – masing sekuritas memiliki kepekaaan yang berbeda terhadap setiap perubahan pasar. Semakin besar jumlah dalam rtian berbagai jenis, sekuritas dalam portofolio maka makin kecil resiko yang tidak sistematis. Apabila investor dapat melakukan diversifikasi portofolio secara sempurna maka resiko portofolio sama dengan resiko pasar atau market risk. Karena resiko yang tidak sistematis dapat dihilangkan dengan cara diversifikasi, maka resiko ini menjadi tidak relevan lagi dalam portofolio. Dengan demikian yang relevan bagi manajer keuangan atau investor hanya resiko pasar atau resiko yang sistematis. Investor akan memperoleh tingkat keuntungan sebagi imbalan atas kesediaanya menghadapi resiko yang sistematis.

b. Jelaskan konsep market line dan capital market line!

Capital market line adalah garis kedudukan portofolio yang hendak dipertahankan oleh semua investor. Kedudukan titik-titik ini merupakan kombinasi antara investasi bebas resiko dan portofolio yang beresiko. Persamaan garis dari titik-titik ini dinyatakan sebagai berikut:

diharapkan untuk

semua potofolio yang efesien sama dengan tingkat keuntungan bebas resiko ditambah dengan

premium resiko tingkat keuntungan sebagai kompensasi atas resiko portofolio yaitu sebesar

dikalikan dengan standar deviasi potofolio.

= = + . Dengan kata lain, tingkat keuntungan yang

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

25

c. Jelaskan hubungan konsep CAPM dengan konsep APT!

Konsep CAPM adalah = + sedangkan Konsep APT adalah = +

+ …+ + dari kedua fungsi ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa CAPM adalah sama dengan APT dengan satu faktor.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

26

V.

OPTION

a. Harga saham PT. A saat ini Rp. 10.000,- dua call option dipertimbangkan yaitu April/Rp. 11.000/Rp. 100 dan Juni/Rp. 9.000/Rp. 2.000

i. Mengapa harga premium Juni lebih tinggi dari harga premium april?

Karena harga saham jika dieksekusi pada bulan call option juni (9.000) lebih rendah dari harga saat ini. Sedangkan call option april memiliki harga eksekusi (11.000) lebih tinggi dari pada saat ini.

ii. Jika anda memiliki saham A dengan cost Rp. 9.500 pada harga berapa anda akan mulai rugi jika write call A/Juni/Rp. 9.000?

Saya akan mulai rugi jika harga berada mulai dari harga di bawah BEP = 9000+2000 = 11.000

iii. Seandainya anda tidak punya saham A, pada harga berapa anda akan mulai memperoleh keuntungan jika anda membeli call A/April/Rp. 11.000/Rp. 100?

Saya akan mulai untung setelah harga melewati BEP = 11.000+100 = 11.100

b. Harga saham PT. A pada saat ini Rp. 1.200, anda mempertimbangkan untuk

secara bersamaan menjual call option April/1.500/100 dan put option/1.150/75

i. Jika harga kenyataannya nanti Rp. 1.500 hitung berapa laba/rugi dari menjual?

Jika kenyataanya harga 1.500 maka

Dari call option saya akan memperoleh laba 100

Dari put option saya akan rugi sebesar = (1500 – 1150) - 75 = 275

ii. Berapa profit maksimum dan kerugian maksimum yang mungkin terjadi pada saat ini?

Keuntungan maksimum menjual call option = premiumnya = 100 sedangkan kerugiannya bersifat unlimited

Keuntungan maksimum menjual put option = premiumnya = 75 sedangkan kerugiannya bersifat unlimited

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

27

iii. Pada harga berapa BEP terjadi?

BEP Call option = 1500 + 100 = 1600

BEP Put option = 1150 – 75 = 1075

iv. Buatkan grafiknya!

100

75

Penjual put option

1075

1500 1600
1500
1600
Buatkan grafiknya! 100 75 Penjual put option 1075 1500 1600 1150 Penjual call option Catatan Bahan

1150

Penjual call option

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

28

LANDASAN KEAHLIAN PASCASARJANA

I. METODA PENELITIAN, jelaskan apa yang dimaksud:

a. Metoda ilmiah

b. Empat tahap metoda ilmiah

c. Karakteristik penelitian ilmiah

II. PARADIGMA PENELITIAN, jelaskan:

a. Model deduktif dalam penelitian kuantitatif

b. Model induktif dalam penelitian kualitatif

III. BAGAIMANA MEMBANGUN KERANGKA PEMIKIRAN DAN KAITANNYA DENGAN HIPOTESIS PENELITIAN

IV. KOMPONEN YANG HARUS ADA DALAM LATAR BELAKANG PENELITIAN

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

29

I.

METODA PENELITIAN, jelaskan apa yang dimaksud:

a. Metoda ilmiah

Metoda penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan keguanaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat 4 kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian dilakukan dengan cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Rasional juga bermakna, pemikiran berdasarkan teori sehingga pijakan konsepnya jelas. Empiris berarti cara – cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara – cara yang digunakan. Sistematis artinya, proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah – langkah tertentu yang bersifat logis.

Metode ilmiah atau proses ilmiah (bahasa Inggris: scientific method) merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

b. Empat tahap metoda ilmiah

Penelitian ilmiah berfokus pada metode yang kokoh untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan yang valid.

Identifikasi masalah adalah pengenalan masalah atau inventarisir masalah. Beberapa hal yang dijadikan sebagai sumber masalah adalah : Bacaan; Pertemuan Ilmiah; Pernyataan Pemegang Kekuasaan (Otoritas); Observasi (Pengamatan); Wawancara dan Angket; Pengalaman; Intuisi. Ketujuh faktor diatas dapat saling mempengaruhi dalam melahirkan suatu masalah penelitian, dapat juga berdiri sendiri dalam mencetuskan suatu masalah. Jadi untuk mengindentifikasi masalah dapat melalui sumber-sumber masalah di atas. Sumber-sumber masalah tersebut dapat saling berinteraksi dalam menentukan masalah penelitian, dapat juga melalui salah satu sumber saja.

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan lain – lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

30

data tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan inetrview, kuesioner, observasi dan gabungan ketiganya.

Analisis data merupakan kegiatan: mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, menyajikan data tiap variabel data yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik untuk analisa data penelitian yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Sedangkan dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan triangulasi terus menerus sampai datanya jenuh.

Menarik kesimpulan, adalah tahap terakhir dari metoda ilmiah. Tahapan ini bertujuan menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan pada rumusan masalah penelitian yang merupakan hasil identifikasi peneliti terhadap masalah penelitian.

c. Karakteristik penelitian ilmiah

Terdapat empat karakteristik penelitian ilmiah :

1. Sistematik

Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.

2. Logis

Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bias dengan prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.

3. Empirik

Artinya suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan empirik ada tiga yaitu :

a)

Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain).

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

31

b)

Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.

c)

Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan,melainkan ada penyebabnya.

4.

Replikatif

Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

32

II.

PARADIGMA PENELITIAN, jelaskan:

a. Model deduktif dalam penelitian kuantitatif

Sebagai suatu istilah penalaran, deduksi adalah suatu proses penalaran (berpikir) yang bertolak dari proposisi yang telah ada yang menuju sebuah proposisi baru yang menjadi sebuah kesimpulan. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Pendekatan deduktif adalah pendekatan secara teoritik untuk mendapatkan konfirmasi berdasarkan hipotesis dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Suatu hipotesis lahir dari sebuah teori, lalu hipotesis ini diuji dengan dengan melakukan beberapa observasi. Hasil dari observasi ini akan dapat memberikan konfirmasi tentang sebuah teori yang semula dipakai untuk menghasilkan hipotesis. Langkah penelitian seperti ini biasa juga disebut pendekatan “dari atas ke bawah (top down)”.

b. Model induktif dalam penelitian kualitatif

Induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena yang ada, maka disebut sebagai sebuah corak berpikir yang ilmiah karena perlu proses penalaran yang ilmiah dalam penalaran induktif.

Pengertian fenomena sebagai landasan induktif harus diartikan sebagai data maupun sebagai pernyataan-pernyataan yang tentunya bersifat factual. Sehingga induksi dapat berasal dari fenomena yang berbentuk fakta atau berbentuk pernyataan–pernyataan (proposisi-proposisi).

Pendekatan induktif adalah pendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali-kali akan membentuk sebuah pola tertentu. Dari pola tersebut akan lahir hipotesis sementara atau hipotesis tentatif. Hipotesis yang terbentuk berasal dari pola pengamatan yang dilakukan. Setelah dilakukan berulang-ulang, barulah diperoleh sebuah teori. Langkah penelitian seperti ini disebut sebagai pendekatan “dari bawah ke atas (bottom up)”.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

33

III. BAGAIMANA MEMBANGUN KERANGKA PEMIKIRAN DAN KAITANNYA DENGAN HIPOTESIS PENELITIAN

Kerangka kerja teoritis merupakan dasar dari keseluruhan proyek penelitian. Di dalamnya dikembangkan, diuraikan dan dielaborasi hubungan-hubungan di antara variabel-variabel yang telah diidentifikasi melalui proses pengumpulan data awal, baik wawancara atau observasi, dan juga studi literatur dalam kajian pustaka. Kerangka kerja teoritis adalah model konseptual yang menggambarkan hubungan di antara berbagai macam faktor yang telah diidentifikasikan sebagai sesuatu hal yang penting bagi suatu masalah. Dengan kata lain, kerangka kerja teoritis membahas keterhubungan antar variabel yang dianggap terintegrasikan dalam dinamika situasi yang akan diteliti. Melalui pengembangan kerangka kerja konseptual, memungkinkan kita untuk menguji beberapa hubungan antar variabel, sehingga kita dapat mempunyai pemahaman yang komprehensif atas masalah yang sedang kita teliti.

Kerangka kerja teoritis yang baik, mengidentifikasikan dan menyebutkan variabel-variabel penting yang terkait dengan masalah penelitian. Secara logis menguraikan keterhubungan di antara variabel tersebut. Hubungan antara variabel independen dengan dependen, dan kalau ada, variabel moderator dan juga intervening akan dimunculkan. Hubungan tersebut tidak hanya digambarkan, melainkan juga diterangkan secara rinci. Seringkali, kerangka kerja teoritis dikenal dengan model, karena model juga merupakan representasi dari hubungan antara konsep-konsep.

Ada komponen dasar yang seharusnya ditampakkan dalam kerangka kerja teoritis.

1. Variabel-variabel yang dianggap relevan untuk diteliti harus diidentifikasi secara jelas dan diberi label.

2. Penjelasan tentang bagaimana hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.

3. Penjelasan sifat hubungan antar variable tersebut, positif atau negatif.

4. Penyertaan diagram sebagai visualisasi, agar pembaca lebih mempunyai gambaran.

Setelah masalah penelitian berhasil dirumuskan dengan baik maka langkah berikutnya adalah mengajukan hipotesis yang didasarkan dari kajian mendalam teori-teori yang relevan dengan variabel-variabel penelitian. Agar sebuah kerangka teoretis meyakinkan maka argumentasi yang disusun dalam teori-teori yang dipergunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan terbaru.

Disamping itu, kerangka teori juga dapat dilakukan melalui pengkajian hasil-hasil penelitian yang relevan yang telah dilakukan peneliti lainnya. Hasil penelitian orang lain yang relevan dijadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan pengulangan, revisi, modifikasi, dan sebagainya. Berdasarkan kajian teoretis dan hasil-hasil penelitian yang relevan, maka tahap berikutnya peneliti menyusun kerangka berpikir yang mengarahkan perumusan hipotesis.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

34

Dengan demikian produk akhir dari proses pengkajian kerangka teoretis adalah perumusan hipotesis. Secara ringkas, langkah penyusunan kerangka teoretis dan pengajuan hipotesis dapat dibagi ke dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis.

2. Pembasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan.

3. Penyusunan kerangka berpikir dengan mempergunakan premis-premis sebagaimana yang terkandung dalam teori dan hasil penelitian tersebut dengan menyatakan secara tersurat pernyataan, postulat, asumsi, dan prinsip yang dipergunakan.

4. Perumusan hipotesis.

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

35

IV.

KOMPONEN YANG HARUS ADA DALAM LATAR BELAKANG PENELITIAN

Penulisan Latar Belakang harus memuat beberapa poin penting dengan alur sebagai berikut :

1. Fenomena / Issue terbaru

Mengemukakan berbagai keadaan di masyarakat atau di kalangan tertentu yang berhubungan dengan masalah yang akan di teliti. misalnya berbagai kebijakan pemerintah, issue pendidikan, kenakalan remaja, prestasi siswa dll

2. Kondisi Ideal didukung Teori-teori terbaru

Mengemukakan kondisi yang diharapkan oleh siswa, masyarakat atau pemerintah didukung oleh pemaparan berbagai kajian teori yang merujuk kondisi yang diinginkan atau kondisi yang seharusnya.

3. Kondisi Empiris

Mengemukakan kondisi yang terjadi terhadap obyek yang akan di teliti disertai berbagai bukti yang mendukung terhadap pengungkapan kondisi tersebut.

4. Penemuan Masalah

Berdasarkan pengungkapan kondisi ideal dan kondisi empiris (No. 2 dan No. 3) di atas maka akan muncul ketimpangan antara keduanya yang kemudian akan di analisis dan di teliti.

5. Alasan Penelitian

Pada bagian akhir penulisan Latar Belakang kemukakan pentingnya penulisan dan pentingnya pemilihan permasalahan yang di teliti serta

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

36

Penutup

Mohon maaf, cacatan bahan belajar ini ditulis dengan terburu-buru karena pesanan kawan semata-mata ^_^.

Sekali lagi mohon maaf, kekurangan ini sama sekali bukan untuk menisbikan pentingnya catatan untuk kegiatan pembelajaran.

Salam

Darmawan Soegandar

Catatan Bahan Belajar Darmawan Soegandar – Manajemen Keuangan

37