Anda di halaman 1dari 10

SATUAN GEOLOGI LINGKUNGAN DAN REKOMENDASI

Geologi lingkungan merupakan gambaran kondisi suatu daerah yang didalamnya memuat informasi sumberdaya geologi (sumberdaya air dan bahan galian), bahaya lingkungan beraspek geologi (gerakan tanah, erosi, sedimentasi, bahaya gunungapi dan kegempaan). Keadaan geologi lingkungan memiliki hubungan erat dengan kondisi dan karakteristik lahan dan sangat penting sebagai pertimbangan wilayah. Pembangunan suatu wilayah tentunya harus disesuaikan dengan daya dukung atau kemampuan serta keterbatasan lahan yang dimilikinya. Dan daya dukung lahan yang dimiliki umumnya cukup beragam serta mempunyai fungsi penggunaan yang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu dilakukan analisis terhadap kondisi geologi lingkungan wilayah agar alokasi pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara optimal sesuai dengan kemampuannya. Analisis Geologi Lingkungan Regional. Geologi lingkungan regional adalah geologi lingkungan antara perkotaan (intra urban), meliputi wilayah pedesaan dan daerah buritannya. Analisis geologi lingkungan regional berarti analisis geologi lingkungan untuk pengembangan wilayah intra urban ditunjuk pada wilayah yang mempunyai kegiatan utamanya sebagai kawasan yang bercirikan pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, kegiatan ekonomi dan kawasan lindung. Analisis geologi lingkungan regional untuk mengembangkan wilayah pedesaan dilakukan melalui tahapan berikut : dalam pembangunan dan pengembangan

a. Menentukan komponen geologi lingkungan yang akan mempengaruhi tingkat keleluasaan pengembangan wilayah. Komponen tersebut terdapat pada peta tematik, yaitu kemiringan lereng, sumberdaya air (produktivitas akuifer), daya dukung tanah/batuan, kesuburan tanah, potensi bahan galian golongan C. kerentanan terhadap gerakan tanah, kegempaan (intensitas gempa) dan potensi bahaya gunungapi, dan kemiringan lereng. b. Mengklasifikasikan komponen geologi lingkungan menjadi sub komponen geologi lingkungan, yaitu : Geomorfologi Morfologi/Topografi Pedataran Perbukitan bergelombang Perbukitan bergelombang bergunung Pegunungan Sudut kemiringan lereng <8% 8 30 % 30 40 % > 40 % Geologi Litologi / Batuan Induk Volkanik muda Aluvial, Gambut, Volkanik Tua Bt. Lempung, Napal, Serpih, Bt. Beku Bt.Gamping, Metamorf, Bt. Pasir kwarsa Gambut (>2m) Daya Dukung Fondasi Tinggi Sedang Kesuburan Tanah Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Rendah Sangat rendah Sumber Daya Air / Hidrogeologi (Produktifitas Akuifer) Produktivitas tinggi Produktivitas sedang Produktivitas kecil Tidak produktif/langka air. Bahan Galian Golongan C Melimpah Sedang / cukup Sedikit Tidak ada Gerakan Tanah (Kerentanan terhadap gerakan tanah) Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Kegempaan Intensitas gempa Zona I Zona II Zona III Zona IV (> 0,30 g ) (0,15 0.30 g) (0,05 0,15g) ( < 0,05g ) Skala MMI & Richter IX - XII MMI (> 6,5 Richter) VIII MMI I V MMI (6 6,5 Richter) (< 5 Richter) VI - VII MMI (5 6 Richter)

Landaan tsunami (Ketinggian) 02m 25m 5 15 m

c. Komponen geologi lingkungan diberi intensitas yang besarnya dari 1 hingga 4, sedangkan sub komponennya diberi bobot dengan rentang nilai antara 1 hingga 8. Perkalian intensitas dan bobot disebut nilai atau skor. Intensitas setiap komponen, 4.1. d. Menentukan faktor penyisih yang mempengaruhi pengembangan kawasan, antara lain, kawasan lindung daerah banjir periode ulang 5 th dan daerah bahaya letusan gunungapi, seperti yang terdapat pada peta tematik. e. Dari tabel 4.1. dengan metoda tumpang susun dapat diketahui bawa nilai atau skor maksimum adalah apabila lahan mempunyai produktivitas akuifer tinggi, daya dukung tanah/batuan tinggi, kesuburan tanah tinggi, bahan galian gol C melimpah kerentanan terhadap gerakan tanah sangat rendah, intensitas gempa lebih kecil dari 0,15g (zona V), dan lereng datar =4(8)+4(7)+4(6)+4(5)+4(4)+4(4)+4(3)+4(3)+4(2)=168 dan skor minimum adalah apabila lahan mempunyai akuifer tidak produktif, daya dukung sangat rendah kesuburan tanah sangat rendah, bahan galian tidak ada, intensitas gempa < 0,15 g, kerentanan tanah terhadap gerakan tanah sangat tinggi dan lereng lebih besar dari 40% = 2(8)+1(7)+1(6)+1(5)+1(4)+1(3)+1(3)+1(2) = 42. Rentang nilai yang mungkin diperoleh adalah mulai 42 sampai 168, apabila sekor tersebut dijadikan 5 (lima) kelompok dan diberi penilaian kualitatif maka akan diperoleh kelompok sebagai berikut : Skor 42 - 58 tidak leluasa untuk dikembangkan, 59 83 kurang leluasa untuk dikembangkan, 84 - 108 agak leluasa untuk dikembangkan, 109 133 cukup leluasa untuk dikembangkan, dan 134 168 leluasa untuk dikembangkan. Sebagaimana telah diketahui bahwa daerah Kabupaten Belitung tidak memiliki potensi bahaya gunungapi sehingga faktor ini tidak termasuk penilaian. bobot setiap sub komponen dan nilai atau skor setiap komponen dan sub komponen dapat dilihat pada tabel

Hasil analisis di gambarkan pada peta Geologi Lingkungan termasuk didalamnya variasi factor topografi, litologi,hidrogeologi, bahaya geologi, tata guna lahan dan factor terkait lainya. Tabel 4.1. Intensitas, bobot dan skor setiap komponen geologi lingkungan regional
No. 1. Kompone G.L. Geomorfologi Pedataran Perb. Bergelombang Pegunungan Geologi (Kesub. tanah bat. induk) Volkanik muda Aluvial, gambut, volk. tua Bt.lempung, napal, Bt.beku Metamorf, bt.pasir kws, bt. gamping, gambut Hidrogeologi <8% 8 30 % 30 40 % 4 3 2 8 32 24 16 Kriteria Nilai Harkat Skor

2.

tinggi sedang rendah Sangat rendah Produktif akuifer tinggi Produktif akuifer sedang Produktif akuifer rendah Prod. Akuif. sangat rendah

4 3 2 1 4 3 2 1

28 21 14 7 24 18 12 6

3.

3.

4.

Sifat fisik & Keteknikan Andesit, granit, diorit, metamorf, bx. Volk, aglomrt. Bt.ps, tufa, lanau, arkose grewak, bt. gamping Pasir, lanau, bt.lumpur, npl tuf hls, serpih Lp., lumpur, lp.org, gambut Bahan galian:

tinggi sedang rendah Sangat rendah melimpah Sedang Sedikit Tidak ada Richter < 0,05 g 0,05 0,15 g 0,15 0,30 g 6,5 > 0,30 g 6,5 Skala <5 56 6 >

4 3 2 1 4 3 2 1

20 15 10 5 20 15 10 5

5.

Potensi bahaya gempa I-V MMI VI - VII MMI VIII MMI IX XII MMI

4 3 2 1

16 12 8 4

6.

Tsunami Ket. Tempat Ket. Landaan Tdk potensia Tdk potensial 5-5m 02m

Baik Sedang

4 3

16 12

7.

25m 25m 02m 5 15 m Bahaya Gunungapi

8.

Potensi bahaya gerakan tanah

Buruk Sangat buruk Tidak ada bahaya Bahaya III Bahaya II Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi

2 1 4 3 2 4 3 2 1

8 4 8 6 4 8 6 4 2

Satuan geologi lingkungan Berdasarkan atas uraian tersebut di atas, daerah penyelidikan dapat dibagi atas 6 (enam) satuan geologi lingkungan (Peta lampiran 1 dalam kantong) dengan masing-masing sekor seperti berikut di bawah :

Satuan geologi lingkungan pedataran aluvium Satuan ini merupakan pedataran aluvium, mempunyai sudut kemiringan lereng 0 8 %. Daerah yang ditempati pedataran ini hampir meliputi sekitar Padalarang dan Cililin. Litologi penyusun terdiri dari pasir, lanau, lempung, lempung tufaan, pasir tufaan, kerikil dan konglomerat, setempat aluvial sungai. Ketebalan endapan ini berkisar 1 3 m dan di bagian paling tebal mencapai > 12 m. Sifat fisik litologi yang dimiliki lunak, bersifat lepas, daya dukung terhadap fondasi umumnya rendah. Keterkaitan dengan kesuburannya, jenis yang umumnya tersusun material volkanik dapat ditafsirkan memiliki kesuburan baik. Kondisi keairan terutama air tanah dangkal berupa akuifer tak tertekan, konduktivitas sedang tinggi, debit sumur mencapai 5 lt/detik, kedalaman muka air tanah < 7 m. Masalah lingkungan adalah bakat banjir cileuncang. Aspek kegempaan termasuk pada zona rendah dan memiliki intensitas percepatan 0,05 g dan pada skala MMI < IV. Penggunaan lahan terdiri dari permukiman, industri, kebun campuran. Berdasarkan hasil analisis komponen geologi lingkungan di atas dan nilai pembobotannya, lahan yang menyusun satuan geologi lingkungan

pedataran aluvium nilainya adalah 92, atau berada pada rentang 92 - 112 yang berarti leluasa untuk pengembangan budi daya.

Satuan geologi lingkungan pedataran landai - bergelombang volkanik. Satuan geologi lingkungan pedataran landai bergelombang volkanik terdapat secara setempat-setempat di Sindangkerta, Bojong, Citatah, Cipeundeuy dan Lembang. Daerah tersebut memiliki sudut kemiringan lereng 8 15 % secara setempat mencapai 30 %, tersusun tuf pasir, breksi lava, endapan volkanik tua. Hasil pelapukan membentuk tanah bertekstur lanau lempungan lanau pasiran mengandung komponen kerikil dan bongkah, berwarna coklat muda sampai kekuningan, tebal bagian lapuk berkisar antara 0,80 - > 3 m, daya dukung sedang, tingkat kesuburan rendah sampai sedang. Sumber daya air permukaan berupa air sungai dan air sungai dan situ beberapa tempat memiliki ketersediaan cukup melimpah dan dapat diandalkan sebagai salah satu sumber air baku. Kondisi air tanah (terutama air tanah dangkal) termasuk sebagai akuifer produktif kecil dan setempat sedang. Sumber daya bahan galian berupa secara setempat tanah urug dan pasir. Bahaya lingkungan beraspek geologi berupa erosi pada tingkat sedang, dan gerakan tanah umumnya rendah, kegempaan termasuk rendah dan memiliki intensitas percepatan 0,05 g dan pada skala MMI < IV. Penggunaan lahan dalam satuan ini terdiri atas kebun campuran, perkebunan, belukar, permukiman, pekarangan. Hasil penilaian bobot dari komponen tersebut daerah ini mempunyai nilai skor 72 atau terdapat pada rentang nilai 72 92, yang berarti daerah ini termasuk cukup leluasa untuk pengembangan kawasan budi daya.

Satuan geologi lingkungan perbukitan bergelombang volkanik

Satuan ini menempati daerah cukup luas meliputi perbukitan Cikalong Wetan, seputar Saguling, arah barat Gunung Halu, dan kaki perbukitan G. Burangrang G. Tangkuban Parahu yang merupakan kawasan perbukitan Bandung Utara. Sudut kemiringan yang dimiliki berkisar antara 8 30 %, tersusun oleh tuf pasir dan tuf berbatuapung; Breksi, lahar, lava; Setempat lempung tufaan, batupasir tufaan, dan kerikil tufaan; Batuan beku andesit, dasit. Sifat fisik tuf pasir, tuf berbatuapung, lapili dan lahar, porositas sedang tinggi, agak padat, pegas dan keras, di bagian lapuk lunak agak padat; Lapili, breksi lahan padat agak keras, dan sangat keras pejal pada lava, andesit dan dasit; Lempung tufaan lunak - teguh, batupasir, kerikil dan konglomerat, porositas rendah tinggi, teguh cukup keras. dengan tanah lapuk an berupa pasir lanauan, padat sampai mudah lepas, daya dukung pondasi sedang tinggi, kesuburan tanahnya sedang tinggi. Sumber daya air permukaan berupa sungai dan waduk, air tanah termasuk zona akuifer setempat produktif, akuifer produktif sedang, dan akuifer produktif kecil rendah, setempat langka. Bahan galian pasir, tanah urug, batu belah/batu gunung. Bahaya lingkungan berspek geologi berupa erosi, di beberapa tempat dengan kerentanan gerakan tanah menengah, aliran lahar. Potensi kegempaan rendah nilai < 0,05 g dan < IV MMI. Pengunaan lahan berupa permukiman/perdesaan, sawah tadah hujan, kebun campuran, pertanian holtikultura, perkebunan, tegalan, semak belukar. Berdasarkan penilaian beberapa komponen tersebut, satuan geologi

lingkungan ini memiliki skor 52 atau berada pada rentang nilai kelas 52 72 yang berarti agak leluasa untuk dikembangkan sebagai kawasan budi daya. Khusus dalam pemanfaatan ruang lahan untuk Kawasan Bandung Utara memerlukan persyaratan teknis terkait sebagai daerah imbuhan (recharge area) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Satuan geologi lingkungan perbukitan sediment terlipat dan

volkanik Satuan geologi lingkungan ini menempati bagian tengah dan baratdaya merupakan kawasan perbukitan sedimen tersebar di Citatah Rajamandala, sedangkan di selatan merupakan komplek Pegunungan G.Malang-Masigit. Kemiringan lereng yang dimiliki umumnya 30 40 %, tersusun oleh perselingan batupasir, batulanau, batulempung, breksi, batugamping, batuan beku andesit; Breksi gunungapi, tuf pasir-berbatuapung, lapili dan lahar, porositas sedang tinggi, agak padat, pegas dan keras. Di bagian lapuk membentuk tanah Pada batuan sedimen umumnya bersifat keras kecuali batulempung mudah luruh dan lunak bila tersingkap di permukaan. Tuf pasir, tuf berbatuapung, lapili dan lahar, porositas sedang tinggi, agak padat, pegas dan keras, di bagian lapuk lunak agak padat; keras pejal pada lava, dan andesit. Bahan galian berupa batugamping, pasir, batu belah/batu gunung lava dan andesit. Kondisi air tanah setempat akuifer produkti, akuifer dengan produktivitas kecil rendah dan daerah airtanah langka menempati perbukitan sedimen. Penggunaan lahanberupa permukiman perdesaan secara setempat-setempat, sawah semi irigasi dan tadah hujan, kebun campuran, perkebunan, tegalan, semak belukar, hutan produksi umumnya berupa hutan, setempat berupa ladang, hutan lindung dan hutan produksi. Potensi kegempaan rendah dengan percepatan < 0,05 g dan < IV MMI Berdasarkan analisa tersebut, satuan ini memiliki skor 32 atau termasuk pada rentang nilai kelas 32 52 yang berarti kurang leluasa untuk dikembangkan sebagai kawasan budi daya. Pengembangan satuan ini sebaiknya disuaikan dengan karakteristik lahan yang berupa pegunungan antara lain hutan produksi. Satuan geologi lingkungan perbukitan terjal volkanik Satuan geologi lingkungan ini menempati komplek Gunung Tangkuban Perahu Burangrang di bagian utara, komplek Pegunungan G.Malang-Masigit di bagian selatan. Umumnya merupakan morfologi miring terjal, kemiringan lereng > 40% dan beberapa bagian lebih dari 45%. Tersusun oleh breksi

gunungapi, lahar, lava, breksi andesit; Batuan gunungapi tak teruraikan; Batupasir, batu- lanau, batulempung, breksi. Breksi gunungapi, lahar dan breksi andesit, belum padu, setempat padat keras, Batuan gunungapi takteruraikan, padat keras, di bagian lapuk agak teguh padat; Batuan sedimen umumnya bersifat keras kecuali batulempung mudah luruh dan lunak dibagian yang tersingkap. Sumber daya air permukaan berupa air sungai, sedangkan air tanah Akuifer dengan produktivitas rendah termasuk pada akuifer produktifitas kecil, dan daerah langka airtanah. Bahan galian terbatas pada andesit dan lava sebagai batu gunung. Masalah lingkungan beraspek geologi memiliki zona kerentanan gerakantanah tinggi dan zona bahaya gunungapi. Potensi kegempaan setempat pada IV-VI MMI. Penggunaan lahan berupa hutan belukar dan hutan lindung. Hasil analisa geologi lingkungan satuan ini mempunyai nilai skor < 32 yang berarti tidak layak dengan faktor penyisih bahaya geologi (kerentanan gerakan tanah tinggi, bahaya letusan gunungapi) dan kawasan hutan lindung sesuai peturan perundang-undangan.