Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Terapi akupunktur yang dikenal sekitar 5000 tahun yang lalu, Terapi akupunktur adalah terapi fisik menggunakan media jarum yang ditusukkan pada titik-titik tertentu pada tubuh, pada masa itu jarum emas dan perak adalah jarum yang paling populer dalam terapi akupunktur. Para tabib di masa itu menggunakan jarum tersebut bergantian, dan sterilisasi dilakukan dengan cara membakarnya atau merebus jarum tersebut. Pada masa sekarang jarum emas dan perak sudah tidak lagi digunakan, sebagai penggantinya adalah jarum baja anti karat. Harga jarum akupunktur yang terbuat dari baja anti karat memiliki harga sangat murah dibanding dengan jarum emas atau perak. Seharusnya harga jarum yang murah tersebut bertujuan agar jarum yang sudah digunakan dapat langsung dibuang dan tidak boleh digunakan kembali, namun ada oknum terapis Akupunktur yang kurang terlatih, mengunakan jarum tersebut

berulang kali dengan metode sterilisasi dibakar atau direbus, bahkan ada yang mengunakan untuk beberapa pasien yang berbeda secara bergantian, Hal ini menyebabkan jarum akupunktur dicurigai sebagai media penularan berbagai penyakit. Selain karena pemakaian jarum akupunktur yang tidak seteril, penularan juga dapat ditularkan melalui tangan terapis yang tidak steril yang menyentuh tubuh pasien, perlengkapan pendukung atau jarum steril yg digunakan. Untuk menjaga keselamatan terapis akupunktur dan pasien seorang Terapis Akupunktur perlu untuk mengetahui penyakit nosokomial apa saja yang dapat ditularkan melalui media peralatan medis dan khususnya jarum akupunktur, macam-macam disinfekstan dan macam sterilisasi yang dapat digunakan untuk memenuhi standar kerjanya, dan bagaimana cara mencuci tangan yang benar.

B. Rumusan Masalah a) Apa macam desinfeksi dan macam sterilisasi? b) Apa saja jenis bahan yang digunakan dalam disinfektan dan cara penggunaannya? c) Apa saja penyakit nosokomial yang dapat ditularkan melalui media jarum akupunktur dan peralatannya? d) Bagaimana desinfeksi dan sterilisasi dalam praktek akupunktur?

C. Tinjauan Pustaka Mikroorganisme adalah organisme hidup yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme ada yang tersusun atas satu sel (uniseluler) dan ada yang tersusun atas beberapa sel (multiseluler). Walapun mikroorganisme uniseluler tersusun atas satu sel namun mikroorganisme tersebut menunjukan semua karakteristik makluk hidup, yaitu bermetabolisme, berdiferensiasi, melakukan komunikasi, melakukan pergerakan dan berevolusi. Keberadaan mikroorganisme tidak dapat dipisahkan dengan penyakit yang dibawanya. Banyak mikroorganisme yang berperan membawa penyakit, baik yang bersifat ringan maupun yang bersifat berat atau sulit untuk disembuhkan. Untuk mencegah penularan penyakit yang ditimbulkan oleh mikroorganisme yang dapat berupa virus ataupun bakteri dapat digunakan cara-cara pensterilan. Dalam hal ini khususnya yang berkaitan dengan hubungan antara pasien dengan terapis. Hubungan antara pasien dengan terapis sangatlah perlu diperhatikan untuk menjaga sterilitas alat ataupun alat bantu yang digunakan untuk melakukan terapi. Menurut Garzon Schaffer, bahwa mencuci tangan harus dilakukan sebelum memegang jarum, setelah mengunakan kamar mandi, memegang benda-benda yang

terkontaminasi.1 Merupakan suatu cara untuk mencegah penularan penyakit yang dibawa virus atau bakteri mikroorganisme. Mencuci tangan dengan prosedur yang baik dapat mencegah penularan penyakit antar pasien, atau pasien dengan terapis akupunktur. Selain itu juga harus digunakan disinfektan yg dapat mencegah penularan atau menghambat

perkembangbiakan virus atau bakteri yang dapat menularkan penyakit. Dapat juga digunakan disinfektan yg dapat membunuh atau mensterilkan penyakit yang berada di alat bantu atau alat yg digunakan terapis dalam menangani pasien. Perawatan luka dan penyakit-penyakit yang sering ditularkan karena kontak fisik adalah herpes simple, herpes genital, herpes zoster, virus kulit, candida, pityriasis versicolor/phanu2 tidak hanya penyakit tersebut yang dapat ditularkan. Masih banyak lagi penyakit yang dapt ditularkan jika tidak digunakan prosedur yang benar dalam pensterilan alat atau alat bantu yang digunakan. Karena media kembang untuk bakteri dan/atau virus dapat melalui berbagai hal yang sepele, termasuk alat atau permukaan kulit manusia.

Garzon schaffer, heroux, korniewicz, pencegahan infeksi dan praktik yang aman, EGC jakarta 2000, hal. 273
2

Dr. Irene leign, dr. Fenella wojnarowska,mengatasi masalah kulit dan rambut, arcan jakarta 1989, Suradi, cv sagung seto 2004, perawatan luka edisi 1, cv sagung seto 2004, hal 114

PEMBAHASAN
a. Desinfeksi Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi mikroorganisme patogen. Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi. Disinfektan berkerja dengan membunuh dan mengurangi jumlah mikroorganisme yang hidup pada alat-alat medis, sedangkan antiseptic digunakan untuk membunuh dan mengurangi mikroorganisme pada tangan atau bagian tubuh yang lain. Disinfektan dan antiseptic pada dasarnya hampir sama, yang membedakan adalah toxsisitasnya, tetapi tidak semua disinfektan dapat dijadikan antiseptic, karena antiseptic haruslah terbuat dari bahan yang tidak merusak jaringan hidup. Sebelum dilakukan desinfektan, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan "tingkat tinggi" dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis. Tujuan desinfeksi Mencegah terjadinya infeksi Mencegah makanan menjadi rusak Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri Mencegah kontaminasi terhadap bahan-bahan yang dipakai dalam melakukan biakan murni

Macam-macam Antiseptic yang digunakan dalam desinfeksi Alkohol Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi untuk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa. Aldehid Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alatalat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam. Biguanid Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus. Senyawa halogen

Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine). Fenol Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium. Klorsilenol Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan

penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).

b. Desinfektan Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan tingkat tinggi dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis. Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derivate fenol atau sodium hipokrit : a. Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik. Zat ini harus dilarutkan baru setiap hari dengan akuades. Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun kurang efektif bagi kain atau bahan plastik. b. Derivat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60

hari. Keuntungannya adalah efek tinggal dan kurang menyebabkan perubahan warna pada instrumen atau permukaan keras. c. Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk aluminium. Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan pada pakaian dan menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang. Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas tingkat menengah bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.

Macam-Macam Desinfektan Dan Antiseptik dari sumber lain a. Garam Logam Berat Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yangkecil saja dapat membunuh bakteri, yang disebut oligodinamik. Hal ini mudahsekali ditunjukkan dengan suatu eksperimen. Namun garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alat-alat yang terbuat dari logam dan lagipula mahalharganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan

merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. b. Zat Perwarna Zat perwarna tertentu untuk pewarnaan bakteri mempunyai daya

bakteriostatis.Daya kerja ini biasanya selektif terhadap bakteri gram positif, walaupun beberapa khamir dan jamur telah dihambat atau dimatikan, bergantung pada konsentrasi zat pewarna tersebut. Diperkirakan zat pewarna itu berkombinasi dengan protein atau mengganggu mekanisme reproduksi sel. Selain violet Kristal (bentuk kasar, violet gentian), zat pewarna lain yang digunakan sebagai bakteriostatis adalah hijau malakhit dan hijau cemerlang. c. Klor dan senyawa Klor

Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau dengan natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. d. Fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis Larutan fenol 2 4% berguna sebagai desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baikkhasiatnya daripada fenol. Lisol adalah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah nama lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. e. Kresol Destilasi destruktif batu bara berakibat produksi bukan saja fenol tetapi jugabeberapa senyawa yang dikenal sebagai kresol. Kresol efektif sebagai bakterisida, dan kerjanya tidak banyak dirusak oleh adanya bahan organic. Namun, agen ini menimbulkan iritasi (gangguan) pada jaringan hidup dan oleh karena itu digunakan terutama sebagai disinfektan untuk benda mati. Satu persen lisol (kresol dicampur dengan sabun) telah digunakan pada kulit, tetapi konsentrasi yang lebih tinggi tidak dapat ditolerir. f. Alkohol Sementara etil alcohol mungkin yang paling biasa digunakan, isoprofil dan benzyl alcohol juga antiseptic. Benzyl alcohol biasa digunakan terutama karena efek preservatifnya (sebagai pengawet). g. Formal dehida Formal dehida adalah disinfektan yang baik apabila digunakan sebagai gas. Agen ini sangat efektif di daerah tertutup sebagai bakterisida dan fungisida. Dalam larutan cair sekitar 37%, formaldehida dikenal sebagai formalin. h. Etilen Oksida Jika digunakan sebagi gas atau cairan, etilen oksida merupakan agen pembunuh bakteri, spora, jamur dan virus yang sangat efektif. Sifat penting yang membuat senyawa ini menjadi germisida yang berharga adalah kemampuannya untuk

menembus ke dalam dan melalui pada dasarnya substansi yang manapun yang tidak tertutup rapat-rapat. Misalnya agen ini telah digunakan secara komersial untuk mensterilkan tong-tong rempah- rempah tanpa membuka tong tersebut. Agen ini hanya ditempatkan dalam aparatup seperti drum dan setelah sebagian besar udaranya dikeluarkan dengan pompa vakum, dimasukkanlah etilen oksida. i. Hidogen Peroksida Agen ini mempunyai sifat antseptiknya yang sedang, karena kemampuannya mengoksidasi. Agen ini sangat tidak stabil tetapi sering digunakan dalam pembersihan luka, terutama luka yang dalam yang di dalamnya kemungkinan dimasuki organisme aerob. j. Betapropiolakton Substansi ini mempunyai banyak sifat yang sama dengan etilen oksida. Agen ini mematikan spora dalam konsentrasi yang tidak jauh lebih besar daripada yang diperlukan untuk mematikan bakteri vegetatif. Efeknya cepat ini diperlukan karena betapropiolakton dalam larutan cair mengalami hidrolisis cukup cepat untuk menghasilkan asam akrilat, sehingga setelah beberapa jam tidak terdapat betapropiolakton yang tersisa. k. Senyawa Amonium Kuaterner Kelompok ini terdiri atas sejumlah besar senyawa yang empat subtituennya mengandung karbon, terikat secara kovalen pada atom nitrogen.

Kriteria desinfektan yang ideal bagi klinik akupunktur: Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban Tidak toksik pada hewan dan manusia Tidak bersifat korosif Tidak berwarna dan meninggalkan noda

Tidak berbau/ baunya disenangi Bersifat biodegradable/ mudah diurai Larutan stabil Mudah digunakan dan ekonomis Aktivitas berspektrum luas

c. Sterilisasi Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi: a. Sterilisasi secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotic. b. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran 1.) Pemanasan Ada tiga metode sterilisasi dengan pemanasan, pemanasan kering dan pemanasan basah . Pemanasan kering Pemanasan kering dapat dilakukan secara langsung(dengan api langsung), contohnya: membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll. 100 % efektif namun terbatas penggunaanya hanya untuk bahan-bahan tahan api, dan pemanasan secara langsung seperti ini apa bila digunakan terus menerus dapat merusak alat. Pemanasan kering dilakukan dengan alat sterilisator listrik. Suhunya kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Waktu

relatif lama sekitar 1-2 jam. Kesterilaln tergnatung dengan waktu dan suhu yang digunakan, apabila waktu dan suhu tidak sesuai dengan ketentuan maka sterilisasipun tidak akan bisa dicapai secara sempurna. Pemanasan basah Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi Teknik disinfeksi termurah Waktu 15 menit setelah air mendidih Beberapa bakteri tidak terbunuh dengan teknik ini:Clostridium perfingens dan Cl. Botulinum. Uap air panas bertekanan : Menggunakan autoklaf.

Menggunakan suhu 121 C dan tekanan 15 lbs, apabila sedang bekerja maka akan terjadi koagulasi. Untuk mengetahui autoklaf berfungsi dengan baik digunakan Bacillus stearothermophilus. Bila media yang telah distrerilkan. diinkubasi selama 7 hari berturut-turut apabila selama 7 hari: Media keruh maka autoklaf rusak, media jernih maka otoklaf baik, kesterilalnnya, Keterkaitan antara suhu dan tekanan dalam autoklaf Pasteurisasi: Pertama dilakukan oleh Pasteur, Digunakan pada sterilisasi susu Membunuh kuman: tbc, brucella, Streptokokus, Staphilokokus, Salmonella, Shigella dan difteri (kuman yang berasal dari sapi/pemerah) dengan Suhu 65 C/ 30 menit d. Penyinaran dengan sinar UV Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu

UVSterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol. Beberapa kelebihan sterilisasi dengan cara ini:

a) Memiliki daya antimikrobial sangat kuat b) Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm Ion bersifat hiperaktif Sering digunakan pada sterilisasi bahan makanan, terutama bila panas menyebabkan perubahan rasa, rupa atau penampilan Bahan disposable: alat suntikan cawan petri dpt distrelkan dengan teknik ini. Sterilisasi dengan sinar gamma disebut juga Sterilisasi Dingin. 1. Sterilisasi dengan Cara Kimia Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi kimia 1.) Rongga (space) 2.) Sebaiknya bersifat membunuh (germisid) 3.) Waktu (lamanya) disinfeksi harus tepat 4.) Pengenceran harus sesuai dengan anjuran 5.) Solusi yang biasa dipakai untuk membunuh spora kuman biasanya bersifat sangat mudah menguap 6.) Sebaiknya menyediakan hand lation merawat tangan setelah berkontak dengan disinfekstan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dengan cara kimia: 1.) Jenis bahan yang digunakan 2.) Konsentrasi bahan kimia 3.) Sifat Kuman 4.) pH 5.) Suhu

Beberapa Zat Kimia yang sering digunakan untuk sterilisasi 1. Alkohol Paling efektif untuk sterilisasi dan desinfeksi 2. Halogen

Mengoksidasi protein kuman 3. Yodium Konsentrasi yg tepat tdk mengganggu kulit Efektif terhadap berbagai protozoa 4. Klorin Memiliki warna khas dan bau tajam Desinfeksi ruangan, permukaan serta alat non bedah 5. Fenol (as. Karbol) Mempresipitasikan protein secara aktif, merusak membran sel

menurunkan tegangan permukaan. Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu desinfektan 6. Peroksida (H2O2) Efektif dan nontoksid Molekulnya tidak stabil Menginaktif enzim mikroba 7. Gas Etilen Oksida Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastic

e. Penyakit Nosokomial Pada layanan kesehatan masyarakat seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, dan balai pengobatan, banyak dijumpai pasien dengan berbagai penyakit ringan maupun berat, ada jenis penyakit yang menular maupun tidak menular ditemukan. Sebagai akupunkturis kita perlu mengenal beberapa macam penyakit yang menular, di antaranya: a. Hepatitis Hepatitis adalah proses peradangan pada hati yang disebabkan pada oleh berbagai macam infeksi seperti virus, bahan kimia, obat-obatan dan alkohol. Hepatitis tidak dapat dianggap remeh sebab Hepatitis B dan C bisa berkembang menjadi sirosis (pengerasan hati), kanker hati dan komplikasi

lainnya yang dapat menyebabkan kematian.Jenis yang paling umum diderita adalah hepatitis A dan B. Ada beberapa jenis hepatitis mulai dari Hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Penularannya bisa melalui bermacam-macam media atau cara seperti: Jarum suntik yang tidak sekali pakai Pisau cukur Jarum tato Jarum tusuk kuping Sikat gigi Jarum bor gigi Barang yang tercemar virus hepatitis B (VHB) sesudah digunakan pada para carrier positif atau penderita hepatitis B Akibat berhubungan seksual atau berciuman dengan penderita dan akibat transfusi darah yang terkontaminasi VHB. b. HIV HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, sebuah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. AIDS muncul setelah virus (HIV) menyerang sistem kekebalan tubuh kita selama lima hingga sepuluh tahun atau lebih. Sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan satu atau lebih penyakit dapat timbul. Karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa menjadi lebih parah daripada biasanya. HIV menular melalui: Bersenggama yang membiarkan darah, air mani, atau cairan vagina dari orang HIV-positif masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi (yaitu senggama yang dilakukan tanpa kondom melalui vagina atau dubur; juga melalui mulut, walau dengan kemungkinan kecil).Memakai jarum suntik yang bekas pakai orang lain, dan yang mengandung darah yang terinfeksi

HIV.Menerima transfusi darah yang terinfeksi HIV. Dari ibu HIV-positif ke bayi dalam kandungan, waktu melahirkan, dan jika menyusui sendiri. c. TBC Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang sangat mudah sekali dalam penularannya. Seperti halnya penyakit flu biasa, dalam penyebaranya TBC juga melalui udara. Penyakit tuberkolosis sangat mematikan apabila tidak segera dilakukan penanganan. Pada umumnya penularan TBC terjadi secara
langsung ketika sedang berhadap-hadapan dengan si penderita, yaitu melalui ludah dan dahak yang keluar dari batuk dan hembusan nafas penderita. Secara tidak langsung dapat juga melalui debu, alat makanan dan minuman yang mengandung kuman TBC. Melalui medium air, TBC juga bisa bertahan dan menyebar. Lamanya

dari terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dari yang berbulan-bulan sampi tahunan membuat penyakit ini digolongkan penyakit kronis. d. Demam Tifoid Demam Tifoid (typhoid fever) atau yang lebih dikenal dengan penyakit tifus ini merupakan suatu penyakit pada saluran pencernaan yang sering menyerang anak-anak bahkan juga orang dewasa. Penyebab penyakit tersebut adalah bakteri Salmonella Typhi.Penularan penyakit tifus ini, pada umumnya itu disebabkan oleh karena melalui makanan ataupun minuman yang sudah tercemar oleh agen penyakit tersebut. Bisa juga, karena penanganan yang kurang begitu higenis ataupun juga disebabkan dari sumber air yang sering digunakan untuk mencuci dan yang dipakai untuk sehari-hari. e. Infeksi Saluran Pernafasan Atas Infeksi Saluran Pernafasan Atas adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan bagian atas dan bawah (mulai dari hidung, tenggorokan, sampai paru-paru) yang diawali oleh batuk, pilek yang disertai dengan nafas sesak/nafas cepat.

Cara penularan Infeksi Saluran Pernafasan Atas melalui udara, yaitu tertular saat penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas batuk dan bersin. f. Sifilis Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum.Penularan biasanya melalui kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). g. Gonorea Gonorea adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva). Bakteri ini masuk kedalam tubuh melalui selaput lender (vagina atau mulut) atau melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar keseluruh tubuh melalui darah. Sifilis juga dapat menginfeksi janin dalam kandungan dan janin bisa berakibat cacat bawaan.

f. Aplikasi Sterilisasi Dan Desinfeksi Dalam Keseharian Praktek Akupunktur Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Membersihkan tangan dari segala kotoran, dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas). Cara mencuci tangan yang benar Basahi tangan dengan air dibawah kran atau air mengalir.

Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan. Akan lebih baik bila sabun yang mengandung antiseptik. Gosoklah kedua telapak tangan. Gosokkan sampai ke ujung jari. Telapak tangan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan kiri. Gosok sela-sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan gerakan berputar. Lakukan hal yang sama denga ibu jari tangan kiri. Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya gerakan kedepan, kebelakang dan berputar. Lakukan sebaliknya. Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri. Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir. Keringkan tangan dengan menggunakan tissue dan bila menggunakan kran, tutup kran dengan tissue.

PENUTUP Kesimpulan 1. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari
semua bentuk kehidupan. Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.

2. Beberapa tujuan sterilisasi dan desinfeksi: Mencegah terjadinya infeksi Mencegah


makanan menjadi rusak Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.

3. Sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
Adapun desinfeksi dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derifat fenol atau sodium hipokrit.

4. Penyakit menular disebabkan oleh mikroorganisme (Virus, Jamur, Bakteri,dan


Amoba). Penularan tersebut bisa melalui udara, sentuhan langsung, cairan, dan media alat medis yang digunakan dalam pengobatan. Infeksi oleh mikroorganisme yang terdapat dalam sarana kesehatan disebut infeksi nosokomial atau infeksi yang didapat ketika penderita dirawat dirumah sakit. Contoh penyakit menular yang sering ditemui antar pasien dengan pasien, atau pasien dengan petugas kesehatan, seperti: Hepatitis, HIV, TBC, Infeksi saluran nafas, Gonoroe, Sipilis dan Demam tipoit.

5. Akupunkturis dapat mencegah penularan penyakit dengan mencuci tangan sesuai


dengan prosedur.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Irene leign, dr. Fenella wojnarowska,mengatasi masalah kulit dan rambut, arcan Jakarta 1989 Suradi, cv sagung seto 2004, perawatan luka edisi 1, cv sagung seto 2004 http://dinkes.magetankab.go.id/berita-9-cuci-tangan-yang-baik-dan-benar.html http://id.shvoong.com/medicine-and-health/imuunology/2196239-infeksi-saluranpernafasan-atas/#ixzz27hLQvdcl

LAMPIRAN

Fenol

Senyawa Halogen

Alkohol

Aldehid