Anda di halaman 1dari 8

Rasa sakit atau nyeri sebenarnya merupakan suatu tanda atau peringatan yang menyatakan bahwa di bagian tubuh

ada suatu masalah. Rasa sakit itu timbul karena adanya suatu rangsangan yang sampai ke reseptor rasa sakit, yang kemudian diteruskan ke pusat nyeri. Timbulnya masalah atau ketidaknormalan itu dapat karena adanya rangsangan kimiawi, rangsangan termis atau panas, toksin bakteri akibat infeksi, rangsangan mekanik seperti trauma maupun desakan jaringan tumor. http://www.suaramerdeka.com/harian/0312/22/ragam1.htm Suatu proses radang, entah akibat infeksi atau trauma dianggap sebagai kondisi yang dapat menimbulkan nyeri. Sejumlah zat-zat kimia dalam proses radang tersebut berperan kuat dalam proses terjadinya nyeri. Prostaglandin, merupakan salah satu mediator nyeri yang paling populer. Zat ini akan merangsang dan menstimulasi reseptor nyeri pada ujung-ujung saraf untuk kemudian melalui sejumlah proses dihantarkan sampai ke otak hingga kemudian terjadi persepsi nyeri. Semua analgesik yang tergolong dalam ANTI INFLAMASI NON STEROID (analgesik jenis ini yang paling banyak beredar di masyarakat) bekerja dengan menghambat produksi Prostaglandin dalam suatu rangkaian proses inflamasi (radang), sehingga dengan tidak terbentuknya prostaglandin maka tidak akan terjadi rangsangan pada reseptor nyeri pada ujung-ujung saraf yang akan berujung pada hilangnya rasa nyeri. Namun kondisi ini tidak sepenuhnya menguntungkan bagi tubuh kita, sebab Prostaglandin juga dibutuhkan untuk proses-proses normal didalam tubuh seperti proses pembekuan darah dan proses pemeliharaan sistem saluran pencernaan kita. http://kesehatan.kompasiana.com/2009/12/14/analgetikpereda-nyeri-pisaubermata-dua/

AnalgetikPereda Nyeri, Pisau Bermata Dua Aryamehr, 14 Desember 2009 | 18:03


Pengaruh dari toksisitas merkuri terhadap tubuh antara lain : kerusakan syaraf, termasuk menjadi pemarah, paralisys, kebutaan atau ganguan jiwa, kerusakan kromosom dan cacat bayi dalam kandungan. gejala-gejala ringan akibat keracuna merkuri adalah depresi dan suka marah-marah yang merupakan sifat dari penyakit kejiwaan, sakit kepala, sukar menelan, penglihatan menjadi kabur, daya dengan menurun, merasa tebal di bagian kaki dan tangannya, mulut terasa tersumbat oleh logam, gusi membengkak dan disertai diare, lemah badan, dan cacat pada janin manusia.

http://smk3ae.wordpress.com/2008/06/24/merkuri-hg-logam-cair-toksik-mematikan/

MERKURI (Hg); LOGAM CAIR TOKSIK MEMATIKAN.

Juni 24, 2008 admin Tinggalkan komentar Go to comments Oleh : Arifin


Bahan kimia umum yang sering menimbulkan keracunan adalah yang berikut. > (1,2) > > * Golongan pestida, yaitu organo klorin, organo fosfat, karbamat, > arsenik. > * Golongan gas, yaitu Nitrogen (N2), Metana (CH4), Karbon Monoksida > (CO), Hidrogen Sianida (HCN), Hidrogen Sulfida (H2S), Nikel Karbonil > (Ni(CO)4), Sulfur Dioksida (SO2), Klor (Cl2), Nitrogen Oksida (N2O; NO; > NO2), Fosgen (COCl2), Arsin (AsH3), Stibin (SbH3). > * Golongan metalloid/logam, yaitu timbal (Pb), Posfor (P), air raksa > (Hg), Arsen (As), Krom (Cr), Kadmium (Cd), nikel (Ni), Platina (Pt), Seng > (Zn).

PROSES FISIOLOGI > Bahan kimia yang masuk ke badan dapat mempengaruhi/mengganggu/merusak > tubuh dan faal manusia sehingga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan > kesehatan atau keracunan, bahkan dapat menimbulkan kematian. > > 1. Penyebaran racun ke dalam tubuhRacun masuk ke dalam tubuh melalui > kulit atau selaput lendir/selaput epitel, misal pada jalan pencernaan, > pernapasan atau mata. Kemudian melalui peredaran darah akhirnya dapat > masuk ke organ-organ tubuh secara sistematik. Organ-organ tubuh yang > biasanya terkena racun adalah paru-paru, hati (hepar), susunan saraf pusat > (otak dan sumsum tulang belakang), sumsum tulang, ginjal, kulit, susunan > saraf tepi, dan darah. > Bahan-bahan racun dalam industri biasanya bersifat mudah larut dalam > lemak. Sehingga organ-organ tubuh yang berkadar lemak tinggi seperti otak, > sumsum tulang, dan sumsum tulang belakang banyak dimasuki racun dan > terjadi timbunan racun secara kronis (pelan-pelan). > Efek racun pada tubuh juga akan memberikan efek local seperti iritasi, > reaksi alergi, dermatitis, ulcus, acne, dan gejala lain. Gejala-gejala > keracunan sistematik juga tergantung pada organ tubuh yang terkena. > > > 2. Cara kerja racunRacun yang masuk ke tubuh akan meracuni dengan > mekanisme kerja sebagai berikut : > > * Mempengaruhi kerja enzim/hormon. Enzim dan hormon terdiri > dari protein komplek yang dalam kerjanya perlu adanya activator atau > cofactor yang biasanya berupa vitamin. Bahan racun yang masuk ke dalam > tubuh dapat menonaktifkan activator sehingga enzim atau hormon tidak dapat > bekerja atau langsung non aktif. > * Racun masuk dan bereaksi dengan sel sehingga akan menghambat > atau mempengaruhi kerja sel, contohnya gas CO menghambat haemoglobin dalam > mengikat atau membawa oksigen. > * Merusak jaringan sehingga timbul histamine dan serotonine. > Ini akan menimbulkan reaksi alergi; juga kadang-kadang akan terjadi > senyawa baru yang lebih beracun.

http://www.mail-archive.com/pb@dml.or.id/msg00261.html

Untuk Pak Tokol/H. Sutopo BAHAN KIMIA BERACUN {02}


Imamsjah Roesli Wed, 17 Oct 2001 01:07:15 -0700 Saya mau sedikit urun rembug mengenai racun Arsen keracunan Arsen dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu : 1. Menghisap atau kontak dengan debu persenyawaan Arsen organik. 2. Menghisap persenyawaan-persenyawaan arsen dan zat air. 3. kontak dengan persenyawaan arsen organik. Gejala dan tanda keracunan juga berlainan tergantung bentuk keracunannya. a. Persenyawaan arsen anorganis bersifat perangsang setempat pada kulit dan selaput lendir, mungkin bersifat carsinogenic. b. Persenyawaan arsen dan zat air berefek hemolytik terhadap darah, bias berakibat hemoglobinuri,anemia,ikterus. c. Persenyawaan arsen organis bersifat perangsang lokal maupun sistemik. http://www.migas-indonesia.com/index.php?module=article&sub=article&act=view&id=2330

PENDAHULUAN Arsen (As) merupakan bahan kimia beracun, yang secara alami ada di alam. Selain dapat ditemukan di udara, air maupun makanan, arsen juga dapat ditemukan di industri seperti industri pestisida, proses pengecoran logam maupun pusat tenaga geotermal. Elemen yang mengandung arsen dalam jumlah sedikit atau komponen arsen organik (biasanya ditemukan pada produk laut seperti ikan laut) biasanya tidak beracun (tidak toksik). Arsen dapat dalam bentuk in organik bervalensi tiga dan bervalensi lima. Bentuk in organik arsen bervalensi tiga adalah arsenik trioksid, sodium arsenik, dan arsenik triklorida., sedangkan bentuk in organik arsen bervalensi lima adalah arsenik pentosida, asam arsenik, dan arsenat (Pb arsenat, Ca arsenat). Arsen bervalensi tiga (trioksid) merupakan bahan kimia yang cukup potensial untuk menimbulkan terjadinya keracunan akut. Pada penelitian yang dilakukan di USA tahun 1964 ditemukan kadar tahunan arsen di udara sekitar industri pengecoran logam berkisar antara 0,01 - 0,75 ug / m3, namun di dekat cerobong asap kadarnya melebihi 1 ug / m3. Kadar arsen dalam air minum di berbagai negara sangat bervariasi. Kadar arsen dalam air minum di USA kurang dari 0,01 0,05 mg / L, di Jepang

sekitar 1,7 mg / L, di Taiwan (sumur artesis) sekitar 1,8 mg / L, sedangkan di Cordoba (Argentina) sekitar 3,4 mg / L. Di USA, makanan dan buah-buahan yang dikonsumsi setiap hari mengandung sekitar 0,04 mg As. Makanan produk laut yang dikonsumsi harian mengandung 0,02 mg As. Normal, manusia setiap harinya mengkonsumsi 0,03 mg arsen. FUNGSI ARSEN Logam arsenik biasanya digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan logam lain misalnya mengeraskan Pb di pabrik aki atau melapisi kabel. Arsenik trioksid dan arsenik pentoksid biasanya dipakai di pabrik kalsium, tembaga dan pestisida Pb arsenat. Komponen arsenik seringkali pula dipakai pula untuk memberi warna (pigmen) dan agen pemurni dalam pabrik gelas, sebagai bahan pengawet dalam penyamakan atau pengawet kapas, ataupun sebagai herbisida. Bahan kimia copper acetoarsenit terkenal sebagai bahan pengawet kayu. Bahan arsenilik digunakan dalam obat-obatan hewan maupun bahan tambahan makanan hewan. Gas arsen dan komponen arsenik lainnya seringkali digunakan dalam industri mikroelektronik dan industri bahan gallium arsenide. PAPARAN TERHADAP TEMPAT KERJA DAN LINGKUNGAN Paparan arsen di tempat kerja terutama dalam bentuk arsenik trioksid dapat terjadi pada industri pengecoran Pb (timbal), coper (tembaga), emas maupun logam non besi yang lain.. Beberapa industri yang juga mempunyai potensi untuk memberi paparan bahan kimia arsen adalah industri pestisida / herbisida, industri bahan pengawet, industri mikro elketronik dan industri farmasi / obat-obatan. Pada industri tersebut, arsenik trioksid dapat bercampuran dengan debu, sehingga udara dan air di industri pestisida dan kegiatan peleburan mempunyai risiko untuk terpapar kontaminan arsen. Paparan yang berasal dari bukan tempat kerja (non occupational exposure) adalah air sumur, susu bubuk, saus dan minuman keras yang terkontaminasi arsen serta asap rokok. ABSORBSI, METABOLISME DAN EKSKRESI ARSEN Bahan kimia arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan makanan, saluran pernafasan serta melalui kulit walaupun jumlahnya sangat terbatas. Arsen yang masuk ke dalam peredaran darah dapat ditimbun dalam organ seperti hati, ginjal, otot, tulang, kulit dan rambut. Arsenik trioksid yang dapat disimpan di kuku dan rambut dapat mempengaruhi enzim yang berperan dalam rantai respirasi, metabolisme glutation ataupun enzim yang berperan dalam proses perbaikan DNA yang rusak. Didalam tubuh arsenik bervalensi lima dapat berubah menjadi arsenik bervalensi tiga. Hasil metabolisme dari arsenik bervalensi 3 adalah asam dimetil arsenik dan asam mono metil arsenik yang keduanya dapat diekskresi melalui urine. Gas arsin terbentuk dari reaksi antara hidrogen dan arsen yang merupakan hasil samping dari proses refining (pemurnian logam) non besi (non ferrous metal). Keracunan gas arsin biasanya bersifat akut dengan gejala mual, muntah, nafas pendek dan sakit kepala. Jika paparan terus berlanjut dapat menimbulkan gejala hemoglobinuria dan anemia, gagal ginjal dan ikterus (gangguan hati). GEJALA KLINIK KERACUNAN ARSEN Menurut Casarett dan Doulls (1986), menentukan indikator biologi dari keracunan arsen merupakan hal yang sangat penting. Arsen mempunyai waktu paruh yang singkat (hanya

beberapa hari), sehingga dapat ditemukan dalam darah hanya pada saat terjadinya paparan akut. Untuk paparan kronis dari arsen tidak lazim dilakukan penilaian. Paparan akut Paparan akut dapat terjadi jika tertelan (ingestion) sejumlah 100 mg As. Gejala yang dapat timbul akibat paparan akut adalah mual, muntah, nyeri perut, diarrhae, kedinginan, kram otot serta oedeme dibagian muka (facial). Paparan dengan dosis besar dapat menyebabkan koma dan kolapsnya peredaran darah. Dosis fatal adalah jika sebanyak 120 mg arsenik trioksid masuk ke dalam tubuh. Paparan kronis Gejala klinis yang nampak pada paparan kronis dari arsen adalah peripheral neuropathy (rasa kesemutan atau mati rasa), lelah, hilangnya refleks, anemia, gangguan jantung, gangguan hati, gangguan ginjal, keratosis telapak tangan maupun kaki, hiperpigmentasi kulit dan dermatitis. Gejala khusus yang dapat terjadi akibat terpapar debu yang mengandung arsen adalah nyeri tenggorokan serta batuk yang dapat mengeluarkan darah akibat terjadinya iritasi. Seperti halnya akibat terpapar asap rokok, terpapar arsen secara menahun dapat menyebabkan terjadinya kanker paru. PEMERIKSAN LABORATORIUM YANG PERLU DILAKUKAN 1, Pemeriksaan darah Pada keracunan akut maupun kronis dapat terjadinya anemia, leukopenia, hiperbilirubinemia. 2.Pemeriksaan urine Pada keracunan akut dan kronis dapat terjadi proteinuria, hemoglobinuria maupun hematuria. 3.Pemeriksaan fungsi hati Pada keracunan akut dan kronis dapat terjadi peningkatan enzim transaminase serta bilirubin. 4.Pemeriksaan jantung Pada keracunan akut dan kronis dapat terjadi gangguan ritme maupun konduksi jantung. 5. Pemeriksaan kadar arsen dalam tubuh Arsenik dalam urine merupakan indikator keracunan arsen yang terbaik bagi pekerja yang terpapar arsen. Normal kadar arsen dalam urine kurang dari 50ug/L Kadar As dalam rambut juga merupakan indikator yang cukup baik untuk menilai terjadinya karacunan arsen. Normal kadar As dalam rambut kurang dari 1mug/kg Walaupun tidak ada pemeriksaan biokimia yang spesifik untuk melihat terjadinya keracunan arsen, namun gejala klinik akibat keracunan As yang dihubungkan dengan mempertimbangkan sejarah paparan merupakan hal yang cukup penting. Perlu diingat bahwa seseorang dengan kelainan laboratorium seperti di atas tidak selalu disebabkan oleh terpapar atau keracunan arsen. Banyak faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan seperti di atas. PENCEGAHAN TERJADINYA PAPARAN ARSEN Usaha pencegahan terjadinya paparan arsen secara umum adalah pemakaian alat proteksi diri bagi semua individu yang mempunyai potensi terpapar oleh arsen. Alat proteksi diri tersebut misalnya : - Masker yang memadai - Sarung tangan yang memadai - Tutup kepala

- Kacamata khusus Usaha pencegahan lain adalah melakukan surveilance medis, yaitu pemeriksaan kesehatan dan laboratorium yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Jika keadaan dianggap luar biasa, dapat dilakukan biomonitoring arsen di dalam urine. Usaha pencegahan agar lingkungan kerja terbebas dari kadar arsen yang berlebihan adalah perlu dilakukan pemeriksaan kualitas udara (indoor), terutama kadar arsen dalam patikel debu. Pemeriksaan kualitas udara tersebut setidaknya dilakukan setiap tiga bulan. Ventilasi tempat kerja harus baik, agar sirkulasi udara dapat lancar. PENGOBATAN KERACUNAN ARSEN Pada keracuna arsen akibat tertelan arsen, tindakan yang terpenting adalah merangsang refleks muntah. Jika penderita tidak sadar (shock) perlu diberikan infus. Antdote untuk keracunan arsen adalah injeksi dimerkaprol atau BAL (British Anti Lewisite). PROGNOSIS Pada keracunan akut, jika dilakukan penanganan dengan baik dan penderita dapat bertahan, maka akan kembali normal setelah sekitar 1 minggu atau lebih. Pada keracunan kronis akan kembali normal dalam waktu 6 12 bulan. http://mukono.blog.unair.ac.id/

Kadmium sebagai Logam Berat Kadmium sekarang ini diakui sebagai sebuah polutan lingkungan. Kadmium merupakan logam berat yang berwarna putih keperak-perakan yang lembut dan digunakan dalam pengisian baterai nikel-kadmium, dalam pencampuran, penyepuhan, dan sebagai bahan kekenyalan untuk plastik polivinil, dan banyak kegunaan lain. Secara biologi, Kadmium sama sekali tidak esensial ataupun menguntungkan. Ada banyak sumber Kadmium di lingkungan, di mana dapat diperoleh di udara dari proses peleburan (seng, tembaga, dan timah); dari plastik yang terbakar, zat warna, batterai Ni-Cd, oli motor, barang-barang karet, dan ban, serta banyak hal lain yang mengandung Kadmium di dalamnya; termasuk rokok sigaret. Kadmium dapat pula diperoleh di saluran-saluran air dari limbah industri (khususnya pencampuran besi dan industri penyepuhan) dan proses pembongkaran barang-barang dari bahan campuran berbagai besi (di mana lapisan seng berisi Kadmium). Selain dua hal tersebut di atas, Kadmium dapat pula ditemukan di dalam makanan yang terbungkus dalam kaleng dan peralatan yang dilapisi Kadmium. Kadmium digunakan untuk melapisi nampan es, dan itu dapat menyebabkan suatu penyakit yang bersifat akut, tetapi hal itu dapat diatasi dengan makanan atau minuman yang mengandung asam. Seng yang mengandung Kadmium banyak digunakan dalam tong-tong cuci pembuatan sirup atau minuman asam (Hodges,1977, hal:79).

Di dalam lingkungan perairan, Kadmium jumlahnya sedikit (trace element). Proporsi kecil Kadmium ditemukan berada dalam bentuk ion Cd2+, dan sebagian besar berada dalam bentuk senyawa kompleks bersama ion Cl. Kadmium banyak diartikan sebagai logam berat yang amat beracun dan tidak mempunyai fungsi fisiologis (Soegianto,1999, hal:57-70). Menurut Kirk-Orthmer (1978, hal:394), Kadmium (Cd) merupakan elemen kimia yang relatif jarang ditemukan secara bebas di alam, tetapi lebih sering selalu di dalam bentuk senyawa. Hampir semua Kadmium yang diproduksi diperoleh dari hasil peleburan dan pemurnian logam seng yang biasanya memiliki kandungan Kadmium sebesar 0,2 0,3 %. c. Sifat Fisik Kadmium Kadmium merupakan logam lunak yang berwarna putih keperak-perakan serta bersemu biru. Kelunakannya mudah dibentuk dan lebih lunak daripada seng, namun lebih keras daripada timah. Mempunyai berat atom 11,40. Gravitasi spesifik pada suhu 20 oC adalah 8,65. Jari-jari atom 0,154 mm dengan titik lebur 765 C dan titik beku 321 C. Kadmium mempunyai 8 isotop stabil di alam serta 11 radio isotop yang tidak stabil. Viskositas Kadmium pada suhu 340 C adalah 2,57 Mpa dan pada 400 C adalah 261 Mpa. Penghantaran panas pada suhu 273 K adalah 98 W/mK. Kepadatan pada suhu 339 C adalah 8020 kg/m3 (Kirk-Orthmer, 1978, hal:388). d. Sifat Kimia Kadmium Urutan Kadmium di dalam tabel periodik, terletak pada grup II B antara letak seng dan merkuri. Di udara lembab Kadmium akan kehilangan kilauannya dan sangat mudah berkarat oleh amoniak dan sulfur dioksida. Sebagian besar grup B pada tabel periodik akan melarutkan Kadmium tetapi tidak secepat seperti pada seng (Purnomo dalam Arisanti, 2000, hal:13) e. Kegunaan Kadmium Pabrik-pabrik baja terbiasa menggunakan Kadmium untuk pelapis logam sebagai bahan pencegah korosi. Secara komersial, sejak tahun 1919 penggunaan Kadmium telah dimulai sebagai elektroda positif pada pelapisan besi dan baja. Perkembangan yang pesat terjadi sejak tahun 1914 setelah terjadi pemanfaatan Kadmium untuk produk-produk selain pelapis logam (KirkOrthmer, 1978, hal:397). Kirk-Orthmer (1978, hal:397) menambahkan fungsi lain dari Kadmium yang paling baik sebagai pelapis logam untuk perlindungan terhadap alkali dan air asin. Selain itu disebabkan juga karena proses pelapisan dengan Kadmium juga mudah sekali pembentukannya berdasar keinginan ataupun bentuk obyek yang dilapisi. Biaya dan produksi, masih menjadi kendala, karena berkaitan dengan toksisitasnya. Menurut Kirk-Orthmer (1978, hal:397) penggunaan Kadmium sebagai nikel kadmium batterai (NiCd) telah menempati urutan kedua. Sementara itu sebagai pewarna dan bahan-bahan kimia lain, pemakaian Kadmium menempati urutan yang ketiga. Hasil pengolahan Kadmium secara teknis dan komersial senyawa Kadmium sendiri meliputi oksida, sulfida, klorida, sulfat, nitrat, hidroksida, dan garam-garam Kadmium organik seperti stearat dan bezoat. Beberapa diantaranya dipergunakan untuk hal-hal berikut:

1) 2) 3)

4) 5) 6)

http://www.angelfire.com/tv2/fajar/Bin/html/Halaman_Tinjauan_Pustaka.htm

Lapisan logam Senyawa Kadmium yang digunakan adalah Kadmium Sianida dan penerapannya sebagai bahan perlindungan logam terhadap korosi. Pewarna Bahan senyawa yang digunakan adalah Kadmium Sulfida dan Sulfoselenida serta pigmen lithopone warna kuning, oranye, dan merah Batterai, aki Penggunaan Kadmium sebagai bahan anoda aktif dalam Ag-Cd dan Ni-Cd batterai dengan menggunakan Kadmium Hidroksida. Sementara itu Kadmium Sulfida digunakan sebagai bagian utama dari sel-sel energi surya Stabilisator Kadmium organik dalam hal ini digunakan untuk menstabilkan panas dan kilau plastik PVC Perangkat elektronik Dalam penerangan listrik, fotokonduktif, dan bahan semikonduktor digunakan Kadmium Kalegonida, yang termasuk Kadmium Oksida Katalis Pada proses reaksi polimerasi organik dalam penggunaannya secara luas menggunakan Kadmium Dialkil dan garam Kadmium organik sebagai katalis

Beberapa aseton ditemukan dalam atmosfer sebagai hasil dari reaksi fotokimia dari hidrokarbon alam, emisi langsung dari sumber-sumber biologik mungkin juga merupakan sumber penting aseton. Oksidasi atmosferik dari berbagai hidrokarbon biogenik seperti 2-methyl-3-buten-2-ol dan berbagai monoterpen juga memberikan kontribusi terhadap produksi sekunder aseton. Ada beberapa sumber biologik aseton yang telah dikenal. Di antaranya sudah dikarakterisasi dengan baik, yang meliputi dekarboksilasi enzimatik dari asetoasetat pada bakteri tertentu dan dekarboksilasi non-enzimatik dari asetoasetat pada hewan. Bakteri yang telah dikenal memproduksi aseton adalah berbagai bakteri anaerobik, di antaranya clostridium acetobutylicum yang digunakan untuk memproduksi aseton secara komersial. Bakteri lain adalah bakteri aerobik yang memproduksi sejumlah kecil aseton sebagai metabolic by-product, contohnya adalah beberapa strain Streptococcus cremoris dan Streptococcus lactis bila dibiakkan dalam skim milk.
http://www.chem-istry.org/artikel_kimia/kimia_material/marine_vibrio_pembentuk_senyawa_organik_vol atil_aseton/