Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM GIZI MASYARAKAT

PRAKTIKUM I ANTROPOMETRI

NAMA NIM KELOMPOK

: WINA KURNIA S. : 70200110109 : BUMIL

TANGGAL PERCOBAAN : 28 MARET 2013

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Berlakang Antropometri berasal dari kata antrophos dan metros. Antrophos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi, antropometri artinya ukuran tubuh. Ditinjau dari sudut gizi, maka antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Suparasia, dkk., 2001). Antopometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain berat badan (BB), tinggi badan (TB), lingkar lengan atas (LILA) dan lemak di bawah kulit. Antropometi secara umum digunakan untuk meihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh (Suparasia, dkk., 2001). Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak balita menggunakan metode antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping itu pula dalam kegiatan penapisan status gizi masyarakat selalu menggunakan metode tersebut. Ukuran tubuh manusia bervariasi berdasarkan umur, jenis kelamin, suku bangsa, bahkan kelompok pekerjaan. Interaksi antara ruang dengan manusia secara dimensional dapat menimbulkan dampak antropometris, yaitu kesesuaian dimensi-dimensi ruang terhadap dimensi tubuh manusia. Pengukuran antropometri, khususnya bermanfaat bila ada

ketidakseimbangan antara protein dan energi. Dalam beberapa kasus, pengukuran antropometri dapat mendeteksi malnutrisi tingkat sedang maupun parah, namun metode ini tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi status kekurangan (defisiensi) gizi tertentu (Gibson, 2005).

Pengukuran antropometri memiliki beberapa keuntungan dan kelebihan, yaitu mampu menyediakan informasi mengenai riwayat gizi masa lalu, yang tidak dapat diperoleh dengan bukti yang sama melalui metode pengukuran lainnya. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan relatif cepat, mudah, dan reliable menggunakan peralatan-peralatan yang portable, tersedianya metodemetode yang terstandardisasi, dan digunakannya peralatan yang terkaliberasi. Untuk membantu dalam menginterpretasi data antropometrik, pengukuran umumnya dinyatakan sebagai suatu indeks, seperti tinggi badan menurut umur (Gibson, 2005). I.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah pada percobaan ini yaitu : Bagaimanakan cara menentukan status gizi perseorangan berdasarkan IMT, Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan Tebal Lipatan Kulit (TLK). I.3 Tujuan Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk menentukan status gizi perseorangan dengan menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT), Lingkar Lengan Atas (LiLA), dan Tebal Lipatan Kulit (TLK).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Antropometri Pertumbuhan dan perkembangan mencakup dua peristiwa yang statusnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan susah dipisahkan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (Suparasia, dkk., 2001). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Pertumbuhan terbagi atas dua yaitu pertumbuhan linier dan massa jaringan dimana kedua jenis pertumbuhan tersebut merupakan ukuran antropometri gizi. Pertumbuhan linier misalnya tinggi badan (TB), lingkar dada, dan lingkar kepala sedangkan pertumbuhan massa jaringan yaitu berat badan, lingkar lengan atas (LILA) dan tebal lemak di bawah kulit (TLK). Antropometri sangat umum digunakan utuk mengukur status gizi dari berbagai ketidak seimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh. Adapun beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri ini adalah (Suparasia, dkk., 2001) : a) Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah. b) Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif. Contohnya apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas pada anak balita maka dapat dilakukan pengukuran kembali tanpa harus persiapan alat yang rumit.

c) Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus professional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu. d) Biaya relatife murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya. e) Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas ( cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti. f) Secara ilmiah diakui kebenaraya. Hampir semua negara mengguakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan (screening) status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebearanya secara ilmiah. Memperhatikan faktor di atas, maka di bawah ini akan diuraikan keunggulan antropometri yaitu : a) Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar. b) Relative tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan dengan tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat melakukan pengukuran antropometri. c) Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan, dibuat di daerah setempat. d) Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan. e) Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi masa lampau. f) Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi. g) Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu. h) Digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi. Di samping keunggulan metode antropometri tersebut, terdapat pula beberapa kelemahan seperti : a) Tidak sensitif Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat dan tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti zinc dan fe. b) Faktor diluar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurukan spesifitas dan sensifitas pengukuran antropometri.

c) Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempungaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. d) Kesalahan terjadi karena: 1. Pengukuran 2. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan 3. Analisis dan asumsi yang keliru e) Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan: 1) Latihan petugas yang tidak cukup 2) Kesalahan alat atau alat tidak ditera 3) Kesulitan pengukuran II.2 Parameter Antropometri Antropometri sebagai indicator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit (Suparasia, dkk., 2001). II.2.1 Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuna umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004). II.2.2 Berat Badan Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi yang baru lahir. Berat badan

digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat bayi di bawah 2500 gram atau 2,5 kg. Pada masa bayi-balita, berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdpat kelainan klinis seperti dehidrasi, asites, edema, dan adanya tumor. Berat badan merupakan pilihan utama karena parameternya paling baik, mudah terlihat perubahannya pada waktu singkat sehingga dapat menggambarkan status gizi yang sekarang. Berat badan mencerminkan tatu protein, lemak, air dan massa mineral tulang. II.2.3 Tinggi Badan Tinggi badan merupakan indicator kedua yang penting, karena dapat menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan. Pengukuran tinggi badan seseorang pada prinsipnya adalah mengukur jaringan tulang skeletal yang terdiri kaki, panggul, tulang belakang, dan tulang tengkorak. Penilaian status gizi pada umumnya hanya mengukur total tinggi atau panjang yang diukur secara rutin. Tinggi badan yang dihubungkan dengan umur dapat digunakan sebagai indicator status gizi masa lalu. II.2.4 Lingkar Lengan Atas (LILA) Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan status KEP pada balita dan KEK pada ibu WUS dan ibu hamil risiko bayi BBLR. Alat yang dipergunakan untuk mengukur lingkar lengan atas adalah suatu pita pengukur dari fiber glass atau sejenis kertas tertentu berlapis plastik. Lingkar lengan atas diperiksa pada bagian pertengahan jarak antara olekranon dan tonjolan akromion. Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Cut of point untuk balita yang menderita KEP adalah <12,5 cm sedangkan risiko KEK untuk

WUS dan bumil adalah <23,5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat 2007). II.2.5 Tebal Lipatan Kulit (TLK) Ketebalan lapisan kulit sedikit banyaknya menunjukkan besarnya kadar lemak bawah kulit yang disebut juga subcutaneous adipose tissue. Dengan rumus tertentu, penghitungan ketebalannya dapat menentukan persentase lemak tubuh yang sesuai atau kurang/berlebih terhadap usia dan jenis kelamin. Kelebihan lemak merupakan latar belakang dari banyak gangguan kesehatan yang bisa terjadi, dan tak hanya kelebihan kadar kolesterol dalam darah, penimbunan lemak yang dapat terjadi dari konsumsi makanan berkalori tinggi atau mengandung kadar lemak tinggi secara berlebih juga bisa terjadi di bawah kulit sehingga menyebabkan tubuh kelihatan lebih gemuk dari semestinya. Oleh faktor-faktor lain seperti adanya gangguan

pencernaan serta metabolisme abnormal pada tubuh, jaringan-jaringan di bawah kulit akan dipenuhi timbunan lemak yang bisa terlihat seperti lipatan-lipatan pada kulit. Lipatan kulit ini juga memperjelek penampilan dengan tampilan tarikan-tarikan pada kulit serta ketebalan yang cenderung berlebih, dan pada batas tertentu harus dihubungkan pada bantuan medis bila sudah terlalu over. Pada beberapa metode penurunan berat badan termasuk cara tradisional seperti tusuk jarum (akupunktur), pemberian medikasi pada beberapa kasus yang diperlukan atau teknik-teknik yang lebih mutakhir seperti liposuction, mesotherapy atau masih banyak lagi, eliminasi lipatan kulit ini menjadi salah satu titik tujuan penatalaksanaannya di samping penurunan berat badan atau ukuran-ukuran lingkar tubuh. TLK dapat dihitung dengan rumus :

Laki-Laki 18-27 tahun Db %BF = 1,0913 0,00116 (tricep + scapula) = [(4,97/Db) 4,52] x 100 = 1,0897 0,00133 (tricep + scapula) = [(4,76/Db) 4,28] x 100

Wanita 18-23 tahun Db %BF

Klasifikasi Lean Optimal Slighly Overfat Fat Obesitas < 8%

Laki-Laki < 13% 8 15 % 16 20 % 21 24 % 25 %

Wanita 14 23 % 24 27 % 28 32 % 33 %

II.2.6 Lingkar Kepala Lingkar kepal dihubugkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Dalam antropometri gizi rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dalam menentukan KEP pada anak. Pengukuran lingkar kepala biasa digunakan pada kedokteran anak untuk mendeteksi kelaian seperti hydrosefalus (ukuran kepala besar) atau microcephaly (ukuran kepala kecil). II.2.7 Lingkar Dada Biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2 sampai 3 tahun, karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara lambat dan pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5 tahun, rasio lingkar kepala dan dada adalah kurang dari satu, hal ini dikarenakan akibat kegagalan perkembangan dan pertumbuhan, atau kelemahan otot dan lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan KEP pada anak balita. Pada anak yang KEP terjadi

pertumbuhan dada yang lambat sehingga rasio lingkar dada dan kepala < 1. II.2.8 Tinggi Lutut Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga data tinggi badan didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau lansia. Pada lansia digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadi penurunan masa tulang, bertambah bungkuk, sehingga bertambah sukar untuk mendapatkan data tinggi badan akurat. Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi orang yang berusia >59 tahun. Untuk mendapatkan data tinggi badan dari berat badan dapat menggunakan pengukuran dengan menggunakan formula Gibson: : (2.02 x tinggi lutut (cm)) (0.04 x umur (tahun)) + 64.19 : (1.83 x tinggi lutut (cm)) (0.24 x umur (tahun)) + 84.88

Pria Wanita

II.3 Indeks Massa Tubuh (IMT) Laporan FAO/UNU/WHO tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI). Di Indoesia diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk menentukan status gizi seseorang, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Penggunaan IMT berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan serta tidak bisa diterapkan pada keaadaan khusus penykit seperti edema, asitesis dan hepatomegali. Berikut adalah formula untuk menghitung (Suparasia, dkk., 2001) : Berat Badan (kg) Tinggi Badan2 (m)

IMT =

Adapun ambang batas IMT untuk Indonesia adalah Kategori Kurus Kekurangan BB tingkat berat Kekurangan BB tingkat ringan < 17,0 17,0 18,5 >18,5 25,0 Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat >25,5 27,0 >27,0 IMT

Normal

Gemuk

Kelebihan ataupun kekurangan berat badan dapat menimbulkan risiko kejadian penyakit pada seseorang. Apabila berat badan normal maka risiko kejadian penyakit lebih rendah. Selain itu, penampilan lebih baik dan lincah. Sebaliknya, kejadian penyakit lebih berisiko pada kelompok dengan IMT yang tidak normal serta penampilan yang kurang baik.

BAB III METODE PERCOBAAN

III.1 Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah timbangan digital seca untuk mengetahui berat badan, microtoice digunakan untuk mengukur tinggi badan, pita LiLA digunakan untuk mengukur lingkar lengan atas dan skinfold caliper digunakan untuk mengukur tebal lipatan kulit.

III.2 Cara Kerja III.2.1 Berat Badan a. Subjek mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal). Subjek tidak menggunakan alas kaki. b. Pastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0. c. Subjek berdiri di atas timbangan dengan berat yang tersebar merata pada kedua kaki dan posisi kepala dengan pandangan lurus ke depan. Usahakan tetap tenang. d. Bacalah berat badan pada tampilan dengan skala 0,1 kg terdekat. III.2.2 Tinggi Badan a. Subjek tidak mengenakan alas kaki. Posisikan subjek tepat berada dibawah mikrotoice. b. Kaki rapat, lutut lurus. Tumit, pantat dan bahu menyentuh dinding vertikal. c. Subjek dengan pandangan yang lurus ke depan, kepala tidak perlu menyentuh dinding vertikal. Tangan lepas ke samping badan dengan telapak tangan menyentuh paha. d. Mintalah subjek untuk menarik nafas panjang dan berdiri tegak tanpa mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang belakang. Usahakan bahu tetap santai.

e. Tarik microtoice hingga menyentuh ujung kepala, pegang secara horizontal. Pengukuran tinggi badan diambil pada saat menarik nafas maksimum. Dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk angka untuk menghindari kesalahan penglihatan. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat. III.2.3 Lingkar Lengan Atas (LILA) III.2.3.1 Menentukan titik mid point pada lengan a. Subjek diminta untuk berdiri tegak b. Mintalah subjek untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan). c. Tekukkan subjek membentuk 900, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri dibelakang subjek dan menentukan titik tengan di antara tulang atas pada bahu kiri dan siku. d. Tandailah titik tengah tersebut dengan pena. III.2.3.2 Mengukur LILA a. Dengan tangan tergantung lepas dan siku lurus disamping badan, telapak tangan menghadap ke bawah. b. Ukurlah lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit. Jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita. c. Lingkar lengan atas dicatat pada skala 0,1 cm terdekat. III.2.4 Tebal Lipatan Kulit (TLK) III.2.4.1 Petunjuk Umum a. Ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kiri digunakan untuk mengangkat kedua sisi dari kulit dan lemak subkutan kurang lebih 1 cm proximal dari daerah yang diukur. b. Lipatan kulit diangkat pada jarak kurang lebih 1 cm yang tegak lurus arah garis kulit.

c. Lipatan kulit tetap diangkat sampai pengukuran selesai. d. Caliper dipegang oleh tangan kanan. e. Pengukuran dilakukan dalam 4 detik setelah penekanan kulit oleh kapiler dilepas. III.2.4.2 Mengukur TLK pada Tricep a. Subjek berdiri dengan kedua lengan tergatung bebas pada kedua sisi tubuh. b. Pengukuran dilakukan pada mid point (sama seperti LILA). c. Pengukur berdiri dibelakang subjek dan meletakkan telapak tangan kirinya pada bagian lengan yang paling atas ke arah tanda yang telah dibuat dimana ibu jari dan jari telunjuk menghadap ke bawah. Tricept skinfold diambil dengan menarik pada 1 cm dari proximal pada titik tengah tadi. d. Tricept dkinfold diukur dengan mendekati 0,1 mm. III.2.4.3 Mengukur TLK pada Subscapular a. Subjek berdiri dengan kedua lengan tergatung bebas pada kedua sisi tubuh. b. Letakkan tangan kiri ke belakang. c. Untuk mendapatkan tempat pengukuran, pemeriksa meraba scapula dan mencarinya ke arah bawah lateral sepanjang batas vertebrata sampai menentukan sudut bawah scapula. d. Subscapular skinfold ditarik dalam arah diagonal (inferolateral) kurang lebih 450 ke arah horizontal garis kulit. Titik scapula terletak pada bagian bawah sudut scapula. e. Caliper diletakkan 1 cm infero-lateral dan ibu jari dan jari telunjuk yang megangkat kulit dan subkutan dan ketebalan kulit diukur mendekati 0,1 mm.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil IV.1.1 Tabel Pengukuran


No. Nama BB (kg) TB (cm) LILA TLK Tricep Scapula %BF IMT

1 2 3 4 5

Fadillah Fitriani Ida Mudzkirah Maulani Ratih Faramita Wina Kurnia S.

43,75 39,40 48,50 57,20 51,60

156 149,5 147,5 155,3 150

22,5 23 25,5 29 28

12 9 22 26,5 23,5

12 12 24 32 21

21,9 20,3 34,8 42,4 33,9

18,0 17,5 22,5 23,8 22,9

49,70

161

27

19,5

21

31,5

19,2

IV.1.2 Perhitungan Manual IV.1.2.1 Indeks Massa Tubuh (IMT) = No. 1 2 3 4 BB (kg) TB m 2 Perhitungan IMT
43,75

Nama Fadilla Fitriani Ida Mudzkirah Maulani

= 1,562 = 18,0 = 1,492 = 17,74 = 1,472 = 22,45 = 1,552 = 23,83


57,20 48,50 39,40

5 6

Ratih Faramita Wina Kurnia S.

= 1,502 = 22,93 =
49,70 = 19,18 1,612

51,60

IV.1.2.2 Persentase Body Fat (%BF)

Laki-Laki 18-27 tahun Db = 1,0913 0,00116 (tricep + scapula) %BF = [(4,97/Db) 4,52] x 100 Wanita 18-23 tahun Db = 1,0897 0,00133 (tricep + scapula) %BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100

1. Fadillah Db = 1,0897 0,00133 (12 + 12) = 1,0897 0,00133 (24) = 1,0897 0,03192 = 1,05778 %BF = [(4,76/1,05778) 4,28] x 100 = [(4,499) 4,28] x 100 = [0,219] x 100 = 21,9 % 2. Fitriani Db = 1,0897 0,00133 (9 + 12) = 1,0897 0,00133 (21) = 1,0897 0,02793 = 1,06177 %BF = [(4,76/1,06177) 4,28] x 100 = [(4,483) 4,28] x 100 = [0,203] x 100

= 20,3 % 3. Ida Mudzkirah Db = 1,0897 0,00133 (22 + 24) = 1,0897 0,00133 (46) = 1,0897 0,06118 = 1,02852 %BF = [(4,76/1,02852) 4,28] x 100 = [(4,628) 4,28] x 100 = [0,348] x 100 = 34,8 % 4. Maulani Db = 1,0897 0,00133 (26,5 + 32) = 1,0897 0,00133 (58,5) = 1,0897 0,077805 = 1,011895 %BF = [(4,76/1,011895) 4,28] x 100 = [(4,704) 4,28] x 100 = [0,424] x 100 = 42,4 % 5. Ratih Faramita Db = 1,0897 0,00133 (23,5 + 21) = 1,0897 0,00133 (44,5) = 1,0897 0,059185 = 1,030515 %BF = [(4,76/1,030515) 4,28] x 100 = [(4,619) 4,28] x 100 = [0,339] x 100 = 33,9 % 6. Wina Kurnia S. Db = 1,0897 0,00133 (19,5 + 21) = 1,0897 0,00133 (40,5)

= 1,0897 0,053865 = 1,035835 %BF = [(4,76/1,035835) 4,28] x 100 = [(4,595) 4,28] x 100 = [0,315] x 100 = 31,5 %

IV.2 Pembahasan IV.2.1 Status Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh IV.2.1.1 Subjek Pertama Subjek pertama atas nama Fadillah memiliki BB = 43,75 kg dan TB = 156 cm. Apabila dihitung dengan menggunakan rumus IMT, maka diperoleh IMT = 18,0 dengan pengukuran secara manual dan dengan menggunakan timbangan digital seca. Menurut Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia, IMT = 17,0 18,5 termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan. Hal ini menunjukkan bahwa subjek pertama

tergolong dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan (kurus ringan) karena berada pada ambang batas tersebut. IV.2.1.2 Subjek Kedua Subjek kedua atas nama Fitriani memiliki BB = 39,40 kg dan TB = 149,5 cm. Apabila dihitung dengan menggunakan rumus IMT, maka dengan pengukuran secara manual diperoleh IMT = 17,74 sedangkan dengan menggunakan timbangan digital seca diperoleh IMT = 17,5. Perbedaan hasil pengukuran tersebut dipengaruhi oleh penggunaan tanda koma (,) pada proses perhitungan. Menurut Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia IMT 17,0 18,5 termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek kedua

tergolong dalam kategori kekurangan berat badan ringan (kurus ringan) karena berada pada ambang batas tersebut. IV.2.1.3 Subjek Ketiga Subjek ketiga atas nama Ida Mudzkirah memiliki BB = 48,50 kg dan TB = 147,5 cm. Apabila dihitung dengan menggunakan rumus IMT, maka dengan pengukuran secara manual diperoleh IMT = 22,45 sedangkan dengan menggunakan timbangan digital seca diperoleh IMT = 22,5. Perbedaan hasil pengukuran tersebut dipengaruhi oleh penggunaan tanda koma (,) pada proses perhitungan. Menurut Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia IMT 18,5 25,0 termasuk dalam kategori normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek ketiga tergolong dalam kategori normal karena berada pada ambang batas tersebut. IV.2.1.4 Subjek Keempat Subjek keempat atas nama Maulani memiliki BB = 57,2 kg dan TB = 155,3 cm. Apabila dihitung dengan menggunakan rumus IMT, maka dengan pengukuran secara manual diperoleh IMT = 23,83 sedangkan dengan menggunakan timbangan digital seca diperoleh IMT = 23,8. Perbedaan hasil pengukuran tersebut dipengaruhi oleh penggunaan tanda koma (,) pada proses perhitungan. Menurut Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia IMT 18,5 25,0 termasuk dalam kategori normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek keempat tergolong dalam kategori normal karena berada pada ambang batas tersebut. IV.2.1.5 Subjek Kelima Subjek kelima atas nama Ratih Faramita memiliki BB = 51,60 kg dan TB = 150 cm. Apabila dihitung dengan menggunakan rumus IMT, maka dengan pengukuran secara manual diperoleh IMT = 22,93 sedangkan dengan menggunakan

timbangan digital seca diperoleh IMT = 22,9. Perbedaan hasil pengukuran tersebut dipengaruhi oleh penggunaan tanda koma (,) pada proses perhitungan. Menurut Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia IMT 18,5 25,0 termasuk dalam kategori normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek kelima tergolong dalam kategori normal karena berada pada ambang batas tersebut. IV.2.1.6 Subjek Keenam Subjek keenam atas nama Wina Kurnia S., memiliki BB = 49,7 kg dan TB = 161 cm. Apabila dihitung dengan menggunakan rumus IMT, maka dengan pengukuran secara manual diperoleh IMT = 19,18 sedangkan dengan menggunakan timbangan digital seca diperoleh IMT = 19,2. Perbedaan hasil pengukuran tersebut dipengaruhi oleh penggunaan tanda koma (,) pada proses perhitungan. Menurut Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia IMT 18,5 25,0 termasuk dalam kategori normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek keenam tergolong dalam kategori normal karena berada pada ambang batas tersebut. Berdasarkan pemaparan di atas, subjek pertama dan kedua berada pada kategori kurus ringan sedangkan subjek ketiga sampai subjek keenam berada pada kategori normal. Kekurangan atau kelebihan berat badan akan menimbulkan risiko terhadap berbagai macam penyakit serta

mempengaruhi penampilan dan frekuensi gerak tubuh. Dengan demikian, dianjurkan untuk menjaga pola makan yang menerapkan PUGS dan

berperilaku hidup sehat dan bersih.

IV.2.2 Status Gizi Berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LILA) IV.2.2.1 Subjek Pertama Subjek Pertama atas nama Fadillah memperoleh hasil pengukuran LILA = 22,5 cm. Menurut Kategori Ambang Batas

LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia, hasil pengukuran LILA < 23,5 cm menunjukkan adanya risiko KEK. Artinya, subjek pertama mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA < 23,5 cm. IV.2.2.2 Subjek Kedua Subjek kedua atas nama Fitriani memperoleh hasil pengukuran LILA = 23 cm. Menurut Kategori Ambang Batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia, hasil pengukuran LILA < 23,5 cm menunjukkan adanya risiko KEK. Artinya, subjek kedua mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA < 23,5 cm. IV.2.2.3 Subjek Ketiga Subjek ketiga atas nama Ida Mudzkirah memperoleh hasil pengukuran LILA = 25,5 cm. Menurut Kategori Ambang Batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia, hasil pengukuran LILA < 23,5 cm menunjukkan adanya risiko KEK. Artinya, subjek ketiga tidak mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA > 23,5 cm. IV.2.2.4 Subjek Keempat Subjek keempat atas nama Maulani memperoleh hasil pengukuran LILA = 29 cm. Menurut Kategori Ambang Batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia, hasil pengukuran LILA < 23,5 cm menunjukkan adanya risiko KEK. Artinya, subjek keempat tidak mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA > 23,5 cm. IV.2.2.5 Subjek Kelima Subjek kelima atas nama Ratih Faramita memperoleh hasil pengukuran LILA = 28 cm. Menurut Kategori Ambang Batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia, hasil pengukuran LILA < 23,5 cm menunjukkan adanya risiko KEK. Artinya,

subjek kelima tidak mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA > 23,5 cm. IV.2.2.6 Subjek Keenam Subjek keenam atas nama Wina Kurnia S., memperoleh hasil pengukuran LILA = 27 cm. Menurut Kategori Ambang Batas LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia, hasil pengukuran LILA < 23,5 cm menunjukkan adanya risiko KEK. Artinya, subjek keenam tidak mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA > 23,5 cm. Jadi, berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa terdapat dua subjek yakni subjek pertama dan kedua berisiko KEK. KEK disebabkan kurangnya asupan energi makro sehingga dianjurkan kepada wanita dengan risiko KEK agar mencukupi konsumsinya dengan menerapkan pedoman umum gizi seimbang (PUGS) menunda kehamilan, dan tetap berperilaku hidup sehat. Selanjutnya, subjek ketiga sampai subjek keenam berada pada kategori tidak berisiko KEK. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk mempertahankan kondisi kesehatan, hidup sehat dan apabila hamil, harus memeriksakan kehamilan secara rutin. IV.2.3 Status Gizi Berdasarkan Tebal Lipatan Kulit (TLK) Berdasarkan pengukuran yang dilakukan dengan memasukkan nila tricep dan subcular ke dalam rumus dan menghitung nilai %BF, maka diperoleh hasil : IV.2.3.1 Subjek Pertama Subjek pertama atas nama Fadillah dengan nilai %BF = 21,9 % menunjukkan bahwa subjek pertama berada dalam kategori optimal. IV.2.3.2 Subjek Kedua Subjek kedua atas nama Fitriani dengan nilai %BF = 20,3 % menunjukkan bahwa subjek kedua berada dalam kategori optimal.

IV.2.3.3 Subjek Ketiga Subjek ketiga atas nama Ida Mudzkirah dengan nilai %BF = 34,8 % menunjukkan bahwa subjek ketiga berada dalam kategori obesitas. IV.2.3.4 Subjek Keempat Subjek keempat atas nama Maulani dengan nilai %BF = 42,4 % menunjukkan bahwa subjek keempat berada dalam kategori obesitas. IV.2.3.5 Subjek Kelima Subjek kelima atas nama Ratih Faramita dengan nilai %BF = 33,9 % menunjukkan bahwa subjek kelima berada dalam kategori obesitas. IV.2.3.6 Subjek Keenam Subjek keenam atas nama Wina Kurnia S., dengan nilai %BF = 31,5 % menunjukkan bahwa subjek keenam berada dalam kategori fat.

Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa ada dua subjek yaitu subjek pertama dan kedua dengan nilai %BF masing-masing 21,9% dan 20,3% , termasuk dalam kategori optimal sehingga dianjurkan untuk mempertahankan kondisi tersebut dan mengoptimalkan pola hidup sehat. Berbeda dengan subjek ketiga sampai subjek keenam dengan nilai %BF berturut-turut 34.8%, 42,4 %, 33,9 %, dan 31,5% menunjukkanbahwa subjek tersebut berada pada kategori fat dan obesitas di mana kategori fat = 28 32% sedangkan obesitas = 33%. Hasil perhitungan yang melewati batas normal dipastikan bahwa persentasi lemak tubuhnya berada pada keadaan berlebih dan perlu diwaspadai dalam penjagaan kesehatan secara keseluruhan. Keadaan obesitas sering dihubungkan dengan kejadian penyakit jantung koroner (PJK). Orang dengan obesitas lebih cenderung disertai dengan hipertensi, diabetes melitus, hiperlipidema, gangguan pernapasan, dan

komplikasi ortopedik. Oleh karena itu, seseorang dengan obesitas harus memperbaiki pola hidup agar dapat memperoleh nilai normal pada pengukuran.

BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, adapun kesimpulan laporan ini yaitu : 1. Pada pengukuran status gizi berdasarkan IMT diperoleh hasil yaitu terdapat 4 subjek tergolong dalam kategori normal dengan nilai IMT berada pada ambang batas 18,5 25,0 yaitu subjek tiga sampai enam dengan IMT masing-masing 22,5; 23,8; 22,9; 19,2; dan dua subjek diantaranya tergolong dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan (kurus ringan) dengan nilai IMT berada pada ambang batas 17,0 18,5 yaitu subjek pertama dan kedua dengan IMT masing-masing 18,0 dan 17,5. 2. Pada pengukuran status gizi berdasarkan LILA diperoleh hasil yaitu subjek empat sampai enam termasuk subjek yang tidak mempunyai risiko KEK dengan hasil pengukuran LILA >23,5 dan subjek pertama dan kedua mempunyai risiko KEK karena hasil pengukuran LILA < 23,5. 3. Pada pengukuran status gizi berdasarkan TLK maka diperoleh hasil yaitu subjek pertama termasuk dalam kategori optimal dengan nilai %BF yaitu 21,9 %, subjek kedua termasuk dalam kategori optimal dengan nilai %BF = 20,3 %, subjek ketiga termasuk dalam kategori obesitas dengan nilai %BF = 34,8 %, subjek keempat termasuk dalam kategori obesitas dengan nilai %BF = 42,4 %, subjek kelima termasuk dalam kategori obesitas dengan nilai %BF = 33,9 % dan subjek keenam termasuk dalam kategori fat dengan nilai %BF = 31,5 %.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2010. Menghitung Tebal Lipatan Kulit. http://www.waspadamedan.com. Diakses pada tanggal 28 Maret 2013 Andriyani, Metti. 2010. Indeks Massa Tubuh. http://mettyandriyani.blogspot.com. Di akses pada tanggal 28 Maret 2013 Auliya. 2012. Pengukuran Antropometri. http://auliya-0210.blogspot.com. Diakses pada tanggal 28 Maret 2013 Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2011. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Fatmasari, Irma. 2012. Mengukur Status Gizi dengan LILA. http://www.irmafatmasari.com. Diakses pada tanggal 28 Maret 2013 Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

**masih dalam proses belajar, jika ada yang kurang sesuai mohon dimaklumi