Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KASUS SGD 2 PENYAKIT JANTUNG REUMATIK (Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Cardiovascular System)

Disusun Oleh : Kelompok 5


Asri Aqidah Danita Suci Lestari Elga Kristi Ginting Erwinda R. Silaban Evi Noviyani Devi Puspasari Fuji Lestari Kamila Aziza Rabiula Ria Octaviany Rosi Akbar Budiman Syifa Khoerunnisa Yuli Annisa (220110100013) (220110100123) (220110100050) (220110100086) (220110100051) (220110100087) (220110100124) (220110100088) (220110100052) (220110100014) (220110100015) (220110100122)

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini membahas tentang kelainan jantung kongenital pada bayi dan anak. Dalam penulisan makalah ini, penulis menemui beberapa kendala, tetapi dapat teratasi berkat bantuan berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Cecep Eli Kosasih selaku dosen koordinator mata kuliah Cardiovascular System. 2. Ibu Aat Sriati selaku dosen tutorial kelompok 5. 3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan belum mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini di waktu yang akan datang. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Amin.

Jatinangor, Mei 2011

KASUS SGD PENYAKIT JANTUNG REUMATIK Adhiesti, 10 tahun dibawa ke poliklinik anak dengan keluhan demam dan nyeri sendi dan nyerinya bertambah saat anak sendi digerakkan. Sendi yang terkena adalah sendi pergelangan tangan, pergelangan kaki, lutut, sikut yang muncul bergantian. Nyeri yang dirasakan sangat hebat sehingga anak menolak untuk disentuh. Sendi yang terkena memperlihatkan tanda-tanda inflamasi. Anak juga mengeluh nyeri pada daerah umbilikal sampai ke area diafragma. Tampak lesu, tidak bergairah, pucat dan menurut ibunya anak juga anoreksia, mudah tersinggung dan jadi kurus. Berdasarkan riwayat kesehatan dari ibunya, anak mengalami nyeri tenggorokan sekitar sebulan yang lalu dan sembuh sendiri sehingga pemeriksaan diarahkan pada kemungkinan demam reumatik. Pada pemeriksaan fisik yang didapatkan: berat badan 23 kg dan tinggi badan 127 cm, bunyi jantung melemah, terdengar murmur mid diastolic pada daerah apeks, friction rub (+), pada EKG terdapat P-R interval 0,24 mm, pada pemeriksaan diarahkan pada kemungkinan demam reumatik, pada pemeriksaan darah didapatkan LED 20/35, CRP (+), asto: 350 todd unit, leukosit 27.000. berdasarkan data kecurigaan bahwa Adhiesti mengalami demam reumatik yang menimbulkan inflamasi pada jantung makin jelas. Anak mendapatkan terapi anti biotika, penicillin 600.000 IU. Predmison 2 mg/kg BB, istirahat, dan diet rendah natrium.

I.

DEFINISI JANTUNG REUMATIK

Penyakit jantung reumatik merupakan gejala sisa dari Remam reumatik (DR) akut yang juga merupakan penyakit radang akut yang dapat menyertai faringitis yang disebabkan oleh streptococcus beta-hemolyticus grup A.

Penyakit jantung rematik adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada katup jantung yang bias berupa penyempitan dan kebocoran, terutama katup mitral (stenosis katup mitral) sebagai akibat adanya gejala sisa Demam Reumatik (DR).

Penyakit jantung reumatik (PJR) adalah salah satu komplikasi yang membahayakan dari demam reumatik. Penyakit jantung reumatik adalah sebuah kondisi dimana terjadi kerusakan permanen dari katup-katup jantung yang disebabkan oleh demam reumatik. Katup-katup jantung tersebut rusak karena proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus hemoliticus tipe A (contoh: Streptococcus pyogenes), bakteri yang bisa menyebabkan demam reumatik.

Sebanyak kurang lebih 39 % pasien dengan demam reumatik akut bisa terjadi kelainan pada jantung mulai dari gangguan katup, gagal jantung, perikarditis (radang selaput jantung), bahkan kematian. Dengan penyakit jantung reumatik yang kronik, pada pasien bisa terjadi stenosis katup (gangguan katup), pembesaran atrium (ruang jantung), aritmia (gangguan irama jantung) dan gangguan fungsi ventrikel (ruang jantung). Penyakit jantug reumatik masih menjadi penyebab stenosis katup mitral dan penggantian katup pada orang dewasa di Amerika Serikat.

Demam reumatik adalah suatu penyakit peradangan autoimun yang mengenai jarinmgan konektif jantung, tulang, jaringan sub kutan dan pembuluh darah pada system persyarafan sebagai akibat dari infeksi Sreptococus-beta hemoliticus grup A.

Penyakit jantung reumatik merupakan gejala sisa dari demam reumatik akut yang juga merupakan penyakit peradangan akut yang dapat menyertai faringitis yang disebabkan oleh Sreptococus-beta hemoliticus grup A. penyakit ini cenderung berulang dan dipandang sebagai penyakit jantung didapat pada anak dan dewasa muda di seluruh dunia.

Penyakit jantung reumatik adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan permanen dari katup-katup jantung yang disebabkan oleh demam reumatik. Penyakit jantung reumatik merupakan komplikasi yang membahayakan dari demam reumatik katup-katup jantung tersebut rusak karena proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Sreptococus-beta hemoliticus grup A yang bisa menyebabkan demam reumatik.

II.

KLASIFIKASI Stadium akut Pada stadium akut, katup membengkak dan kemerahan akibat adanya reaksi peradangan. Dapat terbentuk lesi-lesi dari daun katup. Setelah peradangan akut mereda, terbentuk jaringan parot. Hal ini dapat menyebabkan deformitas katup dan pada sebagian kasus, menyebabkan daun-daun katup berfungsi sehingga orofisium menyempit. Stadium kronik

Pada

stadium

kronik,

yang

ditandai

peradangan

berulang

dan

pembentukan jaringan parut yang terus berlanjut.

III.

ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung reumatik diperkirakan adalah reaksi autoimun (kekebalan tubuh) yang disebabkan oleh demam reumatik. Infeksi streptococcus hemolitikus grup A pada tenggorok selalu mendahului terjadinya demam reumatik baik demam reumatik serangan pertama maupun demam reumatik serangan ulang. http://jantung.klikdokter.com/subpage.php?id=2&sub=71 Demam reumatik seperti halnya dengan penyakit lain, merupakan akibat dari interaksi individu, dan factor lingkungan. Penyakit ini berhubungan sangat erat dengan infeksi saluran napas bagian atas oleh Sreptococus-beta hemoliticus grup A. berbeda dengan glomerulonefritis yang berhubungan dengan infeksi streptokok di kulit maupun di saluran napas, demam reumatik agaknya tidak berhubungan dengan infeksi streptokok di kulit. Hubungan etiologic antara kuman streptococ dengan demam reumatik ternyata dengan data berikut ini: 1. Pada sebagian besar kasus demam reumatik terdapat peningkatkan anti bodi terhadap streptococ dan atau dapat diisolasi kuman Sreptococusbeta hemoliticus grup A; 2. Insiden demam reumatik yang tinggi berhubungan dengan insiden infeksi saluran napas bagian atas oleh Sreptococus-beta hemoliticus grup A yang tinggi pula. Dalam masyarakat tertutup seperti asrama tentara insiden demam reumatik adalah 3 % dari seluruh infeksi

Sreptococus-beta hemoliticus grup A, namun dalam masyarakat yang hanya 0,3 %. Sebaliknya, insiden dalam reumatik rendah dalam masyarakat dengan pelayanan kesehatan masyarakat yang baik; 3. Serangan ulang demam reumatik sangat menurun dengan pemberian profilaksis sekunder yang adekuat. Faktor Predisposisis yang berpengaruh pada timbulnya demam reumatik dan penyakit jantung reumatik, dapat dibagi menjadi factor pada pejamu dan pada lingkungan. Factor pada pejamu mencakup: 1. Factor genetik, banyak demam reumatik terdapat pada satu keluarga atau pada saudara kembar. Jenis HLA tertentu juga rentan terhadap demam reumatik. 2. Jenis kelamin. Dahulu disangka anak perempuan lebih sering terkena demam reumatik dari pada anak lelaki, namun ternyata hal itu tidak benar. Jenis kelamin memang berpengaruh pada kelainan katup, stenosis mitral lebih sering pada kasus pasien perempuan, sedangkan insufisiensi aorta lebih sering pada lelaki. 3. Golongan etnik dan ras. Data di Amerika Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun serangan ulang demam reumatik lebih sering didapatkan pada orang yang berkulit hitam dari pada orang yang berkulit putih. Tetapi data ini harus dinilai dengan hati-hati, sebab mungkin berbagai factor lingkungan yang berbeda pada dua golongan tersebut ikut berperan atau bahkan merupakan sebab yang sebenarnya yang telah dicatat dengan jelas adalah terjadinya stenosis mitral. Di Negara batat umumnya stenosis mitral terjadi bertahuntahun setelah serangan penyakit jantung reumatik. Tetapi data dari India menunjukkan waktu yang relative singkat hanya 6 bulan. Dua tahun setelah serangan pertama keadaan serupa juga terlihat di

Indonesia. Di bagian I Kesehatan Anak RSCM, tidak jarang didapatkan anak usia 10 tahun atau kurang yang datang untuk pertama kali dengan stenosis mitral berat, dengan atau tanpa riwayat demam reumatik akut sebelumnya. 4. Umur. Umur merupakan factor terpenting dari timbulnya demam reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai anak berumur 5-15 tahun, dengan puncak sekitar umur 8 tahun, tidak biasa ditemukan pada anak berumur 3-5 tahun, dan sangat jarang ditemukan sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan angka kejadian infeksi streptococ pada anak usia sekolah. tetapi Markowitz menemukan bahwa 40 % pasien infeksi streptococ adalah mereka yang berumur antara 2-6 tahun. Mereka ini justru jarang menderita infeksi demam reumatik, mungkin dapat akibat timbul diperlukannya berulang-ulang sebelum

komplikasi demam reumatik. 5. Status gizi. Keadaan gizi anak serta adanya penyakit lain sebelum dapat ditentukan apakah merupakan factor predisposisi untuk timbulnya demam reumatik. Hanya sudah diketahui bahwa pasien anemia sel sabit jarang yang menderita demam reumatik. Faktor lingkungan termasuk: 1. Keadaan sosial ekonomi yang buruk. Mungkin ini merupakan factor lingkungan yang terpenting sebagai predisposisi untuk terjadinya demam reumatik. Insiden demam reumatik di Negara yang sudah maju sudah jelas menurun sebelum era anti biotic. Termasuk dalam keadaan sosial ekonomi yang buruk adalah sanitasi lingkungan yang buruk, rumah dengan penghuni yang padat, rendahnya pendidikan sehingga pengertian untuk segera mengobati anak yang menderita sakit sangat kurang, pendapatan yang rendah sehingga biaya untuk perawatan

kesehatan kurang dll. Semua merupakan factor yang memudahkan timbulnya demam reumatik. 2. Iklim dan geografi. Demam reumatik adalah penyakit kosmopolit. Penyakit ini dahulu dianggap terbanyak didapatkan di daerah beriklim sedang, tetapi ternyata daerah tropis pun mempunyai angka kejadian yang tinggi. Di dataran tinggi angka kejadian demam reumatik lebih rendah dari pada di dataran rendah. 3. Cuaca. Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan angka kejadian infeksi saluran napas bagian atas meningkat, sehingga angka kejadian demam reumatik juga meningkat.

IV.

MANIFESTASI KLINIS Dihubungkan dengan diagnosis, manifestasi klinik pada DR akut dibedakan atas manifestasi mayor dan minor.

a. Manifestasi Mayor Karditis. Karditis reumatik merupakan proses peradangan aktif yang mengenai endokardium, miokardium, dan pericardium. Gejala awal adalah rasa lelah, pucat, dan anoreksia. Tanda klinis karditis meliputi takikardi, disritmia, bising patologis, adanya kardiomegali secara radiology yang makin lama makin membesar, adanya gagal jantung, dan tanda perikarditis. Artritis. Arthritis terjadi pada sekitar 70% pasien dengan demam reumatik, berupa gerakan tidak disengaja dan tidak bertujuan atau inkoordinasi muskuler, biasanya pada otot wajah dan ektremitas.

Eritema marginatum. Eritema marginatum ditemukan pada lebih kurang 5% pasien. Tidak gatal, macular, dengan tepi eritema yang menjalar mengelilingi kulit yang tampak normal.tersering pada batang tubuh dan tungkai proksimal, serta tidak melibatkan wajah.

Nodulus subkutan. Ditemukan pada sekitar 5-10% pasien. Nodul berukuran antara 0,5 2 cm, tidak nyeri, dan dapat bebas digerakkan. Umumnya terdapat di permukaan ekstendor sendi, terutama siku, ruas jari, lutut, dan persendian kaki.

b. Manifestasi Minor Manifestasi minor pada demam reumatik akut dapat berupa demam bersifat remiten, antralgia, nyeri abdomen, anoreksia, nausea, dan muntah. V. KOMPLIKASI Komplikasi yang sering terjadi pada Penyakit Jantung Reumatik (PJR) diantaranya adalah : a. gagal jantung b. pankarditis (infeksi dan peradangan di seluruh bagian jantung) c. pneumonitis reumatik (infeksi paru) d. emboli atau sumbatan pada paru e. kelainan katup jantung f. infark (kematian sel jantung) g. dekompensasi cordis (kelainan ini timbul karena kerja otot jantung yang berlebihan h. pericarditis

VI.

PENCEGAHAN Dalam tindakan pencegahan terhadap demam reumatik dikenal 2 hal adalah profilaksi primer dan profilaksi sekunder. Yang dimaksud dengan profilaksi primer pada demam reumatik adalah pengobatan yang adekuat terhadap semua pasien infeksi saluran nafas bagian atas akibat streptococcus beta hemolyticus grup A. untuk ini diperlukan kemampuan pengenalan terhadap infeksi streptokok oleh para dokter. Jenis obat, pemberian dan dosisnya sama dengan untuk eridasi kuman pada pengobatan demam reumatik otot. Dengan profilaksis sekunder dimaksudkan upaya untuk mencegah terjadinya infeksi streptokok pada pasien demam reumatik stadium IV (tenang, inaktif), termasuk mereka yang hanya pernah menunjukan gejala korea minor saja. Tindakan profilaksis ini lama, karena perlu kesadaran para dokter dan petugas kesehatan lainnya di satu pihak dan pasien/orang tua di lain pihak agar program profilaksis dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Dokter harus member penerangan sejelas-jelasnya menyangkut semua hal tentang penyakit serta kegunaan profilaksis, tentu saja caranya sesuai dengan pendidikan pasien atau orang tuanya. Obat yang biasa digunakan untuk profilaksis sekunder adalah : 1. Penisilin benzatin-G. ini merupakan obat terpilih untuk profilaksis sekunder karena sangat efektif, absorbsinya lebih baik dengan cara oral, serta kontrolnya mudah (dengan buku catatan pemberian suntikan). Pasien hanya perlu datang sebulan sekali. Harganya pun relatif murah. Dosis yang biasa digunakan di bagian I. kesehatan anak FKUI/RSCM adalah 1,2 juta satuan sekali sebulan, diberikan intramuskulus. Pada pasien dengan lesi katup yang berat, lebih-lebih dengan gagal jantung kronik, dianjurkan pemberian suntikan setiap 3 minggu.

2. Penisilin oral. Obat ini lebih baik dari pada sulfa. Dosis oral adalah 2 kali sehari 1 tablet a 200.000 satuan. Seperti semua obat oral lainnya, perlu perhatikan ketaatan pasien untuk minum obat dengan teratur selama bertahun-tahun. 3. Sulfadiazin. Sulfadiazine 2x250 mg dapat diberikan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin. Penisilin sekunder harus segera dimulai setelah diagnosis ditegakkan. Di bagian I . kesehatan anak FKUI/RSCM. Profilaksis mulai diberikan pada hari kedua perawatan, yaitu setelah program eradikasi terhadap kuman sreptokokus selama 10 hari selesai. Pada umumnya para dokter berpendapat bahwa profilaksis mulai diberikan sekurang-kurangnya 5 tahun setelah serangan pertama, karena pada periode inilah kemungkinan terjadinya reaktivitas paling besar. Setelah itu, berapa lama profilaksis diberikan, masih belum ada keseragaman pendapat. Sebagian ahli berpendapat, meskipun kemungkinannya makin lama makin kecil, infeksi streptokok dapat terjadi pada semua umur, karenanya profilaksis sekunder harus diberikan seumur hidup. Ahli lain secara arbitrer menganjurkan pemberian profilaksis untuk demam reumatik tanpa kelainan jantung sampai umur 18 tahun, dan bila terdapat kelainan jantung sampai umur 18 tahun, dan bila terdapat kelainan jantung sampai umur 25 tahun. Namun kepada mereka yang termasuk kelompok yang mudah kontak dengan pasien infeksi streptokok, seperti perawat, dokter, guru sekolah, ibu yang mempunyai anak kecil, profilaksis dianjurkan diberikan lebih lama, bahkan seumur hidup.

VII.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Penatalaksanaan demam reumatik aktif atau reaktivasi kembali diantaranya adalah : 1. Tirah baring dan mobilisasi (kembali ke aktivitas normal) secara bertahap 2. Pemberantasan terhadap kuman streptokokkus dengan pemberian antibiotic penisilin atau eritromisin. Untuk profilaksis atau pencegahan dapat diberikan antibiotic penisilin benzatin atau sulfadiazine 3. Antiinflamasi (antiperadangan). Antiperadangan seperti salisilat dapat dipakai pada demam reumatik tanpa karditis (peradangan pada jantung)

a. Pemeriksaan darah LED tinggi sekali Lekositosis Nilai hemoglobin dapat rendah b. Pemeriksaan bakteriologi Biakan hapus tenggorokan untuk membuktikan adanya streptococcus. Pemeriksaan serologi. Diukur titer ASTO, astistreptokinase, anti hyaluronidase. c. Pemeriksaan radiologi : menilai kelainan jantung Elektrokardoigrafi dan ekokardiografi untuk menilai adanya kelainan jantung. d. Tes CRP e. Kateterisasi jantung f. Enzim jantung

Pemerikasaan diagnostic lainnya Riwayat adanya infeksi saluran nafas atas dan gejala-gejalanya Positif antitreptolysin titer O

Positif streptozyme; positif anti uji DNA ase B Meningkatnya antihyaluronidase, meningkatnya sedimen sel darah

merah Foto rontgen menunjukan pembesaran jantung Elektrokardiogram menunjukan arrhtythmia E Echocardiogram menunjukan lesi dan pembesaran jantung

Diagnosis banding Telah disebutkan bahwa tidak ada satupun gejala klinis maupun kelainan laboratorium yang khas untuk demam reumatik atau PJR. Banyak penyakit lain yang mungkin member gejala yang sama atau hampir sama dengan demam reumatik atau PJR. Yang perlu diperhatikan adalah infeksi piogen pada sendi yang sering disertai demam serta reaksi fase akut. Bila terdapat kenaikan yang bermakna pada titer ASTO sebagai akibat dari infeksi streptokokus sebelumnya (yang sebenarnya tidak menyebabkan demam reumatik), maka seolah olah criteria Jones sudah terpenuhi. Evaluasi terhadap riwayat infeksi streptokokus serta pemeriksaan yang teliti terhadap kelainan sendinya haru dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi diagnosa yang berlebihan. VIII. PENATALAKSANAAN Seperti diketahui, demam reumatik berhubungan dengan infeksi streptokok, sehingga pemberantasan dengan pencegahannya berhubungan dengan masalah infeksi streptokok. a). Eradikasi kuman streptococcus beta hemolyticus grup A.

Pengobatan adekuat harus dimulai secepatnya pada demam rematik dan dilanjutkan dengan pencegahan. Erythromycin diberikan pada mereka yang alergi terhadap penisilin. Dianjurkan menggunakan penisilin dosis biasa selama 10 hari; pada pasien yang peka dapat diganti dengan eritromisin. Pengobatan terhadap streptokok ini harus tetap diberikan meskipun biakan usap tenggorok negative, karena kuman masih dapat ada dalam jumlah sedikit didalam jaringan faring dan tonsil. Penisilin tidak berpengarub terhadap demam, gejala sendi, dan laju endap darah, tetapi angka kejadian penyakit jantung reumatik menjadi lebih rendah dalam 1 tahun follow up. b). Obat anti reumatik baik costicosteroid maupun salisilat diketahui sebagai obat berguna untuk mengurangi atau menghilangkan gejala-gejala radang akut pada DR. c). Obat-obatan lain diberikan sesuai kebutuhan. Pada kasus dengan kompensasi kodis diberikan digitalis, deuritika dan sedative bila ada chorea diberikan largachil dll. d). Diet bentuk dan jenis makanan disesuaikan dengan pasien. makanan yang cukup kalori, protein dan vitamin. Suplemen vitamin dapat diberikan. Bila terdapat gagal jantung diet disesuaikan dengan diet untuk gagal jantung. e). Istirahat istirahat dianjurkan sampai tanda-tanda inflamasi hilang dan bentuk jantung mengecil pada kasus mediamegali, biasanya 7-14 hari pada

kasus DR minus carditis.pada kasus plus carditis lama istirahat ratarata 3minggu-3bulan tergantung pada berat ringannya kelainan yang ada kemajuan perjalanan penyakit. JENIS OBAT CARA PEMBERIAN Penisilin Benzatin IM 600.000 1,2 satuan Penisilin prokain Penisilin V Oral IM 600.000 satuan 250.000 satuan Eritromisin Oral 125-250 mg 1-2 kali sehari . selama 10 hari 3 kali sehari . selama 10 hari 4 kali sehari. Selama 10 hari DOSIS FREKUENSI/LAMA PEMBERIAN Satu kali juta

IX.

PATOFISIOLOGI

X.

ASUHAN KEPERAWATAN

DAFTAR PUSTAKA http:/www.keparawatankita.wordpress.com/2009/12/06/askep-jantung-rematik-pjrpada-anak/ markum dkk.1999.buku ajar kesehatan anak jilid 1.jakarta: FKUI http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/24/askep-penyakit-jantung-rematik-padaanak/ http://erfansyah.blogspot.com/2011/01/kep-anak-askep-pada-anak-dengandemam.html Abraham, m Rudolph.2006.Buku Ajar Pedriatri Rudolph vol 3.EGC A.H.Markum.1991.buku ajar kesehatan anak.FKUI:Jakarta http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/24/askep-penyakit-jantung-reumatik/