Anda di halaman 1dari 18

BAB I KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi Uretritis adalah peradangan uretra sebagai manifestasi dari infeksi pada uretra. Meskipun berbagai kondisi klinis dapat menyebabkan iritasi uretra tersebut, istilah uretritis biasanya di peruntukan untuk menggambarkan peradangan uretra yang di sebabkan oleh penyakit menular seksual (PMS). Uretritis biasanya di kategorikan menjadi salah satu dari dua bentuk, berdasarkan etiologi: uretritis genokokal (GU) dan uretritis nongonococcal (NGU). Uretritis didefinisikan sebagai peradangan akibat infeksi dari uretra. Istilah uretritis untuk Penyakit Menular Seksual (PMS). Uretritis merupakan kondisi peradangan yang dapat menular. Penyebabnya adalah infeksi uretritis yaitu, karena infeksi dengan Neisseria gonorrhoeae atau Ngu (yaitu, karena infeksi dengan Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Mycoplasma genitalium, atau Trichomonas vaginalis) (www.health .detik.com). Uretritis adalah infeksi dari uretra, yaitu saluran yang membawa air kemih dari kandung kemih keluar tubuh (www.medicastore.com).

2. Etiologi Secara Umum Penyebab klasik dari uretritis adalah infeksi yang dikarenakan oleh Neisseria Gonorhoed. Akan tetapi saat ini uretritis disebabkan oleh infeksi dari spesies Chlamydia, E.Coli atau Mycoplasma. (Emanuel Rubin, 1982)

3. Klasifikasi a. Urethritis Akut 1) Penyebab Asending infeksi atau sebaliknya oleh karena prostate mengalami infeksi. Keadaan ini lebih sering diderita kaum pria.

2) Tanda dan Gejala a) Mukosa merah udematus b) Terdapat cairan eksudat yang purulent c) Ada ulserasi pada uretra d) Mikroskopis : terlihat infiltrasi leukosit sel sel plasma dan sel sel limfosit e) Ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu morning sickness f) Pada oria : pembuluh darah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh kelompok pus g) Pada wanita : jarang diketemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita.

3) Pemeriksaan Diagnosis Dilakukan pemeriksaan terhadap secret uretra untuk mengetahui kuman penyebab.

4) Tindakan Pengobatan a) Pemberian antibiotika b) Bila terjadi striktuka, lakukan dilatasi uretra dengan menggunakan bougil 5) Komplikasi a) Prostatitis b) Periuretral abses yang dapat sembuh, kemudian meninbulkan striktura atau urine fistula b. Urethritis Kronik 1) Penyebab a) Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut b) Prostatitis kronis

c) Striktura uretra 2) Tanda dan Gejala a) Mukosa terlihat granuler dan merah b) Mikroskopis : infiltrasi dari leukosit, sel plasma, sedikit sel leukosit, fibroblast bertambah c) Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum bak pertama d) Uretra iritasi, vesikal iritasi, prostatitis, cystitis.

3) Prognosis Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih, ureter, ginjal.

4) Tindakan Pengobatan a) Chemoterapi dan antibiotika b) Cari penyebabnya c) Berikanlah banyak minum 5) Komplikasi Radang dapat menjalar ke prostate.

c. Urethritis Gonokokus 1) Penyebab Neisseria Gonorhoeoe (gonokokus)

2) Tanda dan Gejala a) Mukosa merah udematus b) Terdapat cairan eksudat yang purulent

c) Ada ulserasi pada uretra d) Mikroskopis : terlihat infiltrasi leukosit sel sel plasma dan sel sel limfosit e) Ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu morning sickness f) Pada oria : pembuluh darah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh kelompok pus g) Pada wanita : jarang diketemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita.

3) Komplikasi a) Infeksi yang menyebar ke proksimal uretra menyebabkan peningkatan frekuensi kencing b) Gonokokus dapat menebus mukosa uretra yang utuh, mengakibatkan terjadi infeksi submukosa yang meluas ke korpus spongiosum c) Infeksi yang menyebabkan kerusakan kelenjar peri uretra akan menyebabkan terjadinya fibrosis yang dalam beberapa tahun kemudian mengakibatkan striktura uretra. (underwood,1999) d. Uretritis Non Gonokokus (Non Spesifik) Uretritis non gonokokus (sinonim dengan uretritis non spesifik) merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang paling sering diketemukan. Pada pria, lendir uretra yang mukopurulen dan disuria terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa minggu setelah melakukan hubungan kelamin dengan wanita yang terinfeksi. Lendir mengandung sel nanah tetapi gonokokus tidak dapat di deteksi secara mikroskopis atau kultur. (Underwood,1999) e. Uretritis Abakterial Penyakit Reiter 4. Patofisiologi Uretritis adalah dondisi infeksi yang dapat menular, biasanya menular secara seksual dan di kategorikan sebagai uretritis genokokal (yaitu: akibat infeksi dengan neisseria gonorrahoeae) atau NGU (yaitu: akibat infeksi dengan chlamydiatrachomatis ureaplasma urealiticum,mycoplasma hominis, genitalium mycoplasma, atau trichomonas vaginalis ).

Organisme neisseria gonnnorrhoeae terutama menginfeksi uretra pada pria sehingga menyebabkan uretris. Pada wanita,servics merupakan tempat infeksi utama. Infeksi juga terjadi pada tempat lain di traktus genitalia. Prostan, grandula vesikulosa, dan epididmis lazim terserang pada pria, menyebabkan peradangan akut supuratif yang di ikuti dengan fibrosis dan terkadamng sterilitas. Sementara itu, uretra, kelenjar bartholini, skene dan tuba utarina merupakan bagian yang lazim terserang pada wanita. Salpingitis menyebabkan fibrosis tubauterina yang dapat mengakibatkan infertilitas dan meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Denmgan berpariasinya praktik seksual dapat menyebabkan faringitis gonokokus dan gonorhoe anal;proktitis gonkokus sering kali terjadi pada pria homoseksual. Pada pria, manifestasi yang lazim adalah di surya dan sekret uretra purulen, sedangkan pada wanita, servisitis dapat menimbulkan sekret vaginal. Gejala-gejala sistemik biasanya tidak ada.alasan utama yang membuat penyakit ini sukar di kendalikan adalah kemungkinan asimtomatik gonorhoe pada kedua jenis kelamin, yang menimbulkan sumber karier yang tampak sehat.Penyakit asimtmatik jauh lebih sering di kalangan wanita. Identifikasi karrier asimtomatik dengan melacak kontak kontak seksual pasien simtomatik yang baru terinfeksi adalah penting.resiko infeksi setelah satu kali hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi di perkirakan 20-30%( CDC,2006). Diagnosis gonnorhoe di tegakan melalui apusan langsung pada sekret uretra dan vagina pewarnaan gram menunjukan diplokokus gram negatif baik ekstraselulae maupun di dalam netrofil. Diagnosis tersebut harus di pastikan dengan biakan yang memerlukan media khusus dan lingkungan tinggi CO2. Biakan ini penting di lakukan karena spesies neisseria selain gonokokkus mungkin terdapat komensal dalam vagina. Sekitar 40% kasus NGU di sebabkan oleh clamydia trachomatis. Clamydia trachomatis juga merupakan penyebab penting sevisitis purulen pada wanita dan infeksi anorektum pada homoseksual pria.sindrom Reiter ( uretritis, servisitis pada wanita, konjungtivitis, artitis, dan lesimukokutan tifikal) terkait dengan infeksi klamydia lebih dari 70% kasus. Uji diagnostik klamidia dengan mengisolasi agen di dalam biakan jaringan atau dengan metode imunologik saat ini telah tersedia secara rutin. Pada beberapa kasus lainnya, NGU merupakan manifestasi atifikal herpes simplek dan infeksi trikomoniasis vaginalis. Pada lebih dari separuh kasus, tidak di tyemukan penyebabnya.

Pada kasus NGU dengan clamidia-negatif ini, ureaplasma erealiticum dan mycoplasma genitalium merupakan penyebab yang paling mungkin. Uretritis pascatrauma dapat terjadi pada 2-20% dari pasien yang berlatih kateterisi intermiten. Kejadian uritritis memiliki rasio 10 kali lebih mungkin terjadi dengan kateter lateks di banding dengan kateter silikon.

Invasi kuman bakteri ke uretra

Ketidakmampuan pertahanan lokal terhadap infeksi

Latihan kandung kemih

Penempelan bakteri di urotelium uretra

Penggunaan kateter intermitan berulang

Uretritis

Respon traumatik pada uretra

Ketidakmampuan dalam proses transmisi penyakit

Reaksi infeksi-inflamasi lokal nyeri lokal iritasi saluran kemih

tinggi penularan WOC Risiko Uretritis penyakit Nyeri Piuria, Disuria

Kurang pengetahuan

Gangguan eliminasi urine

5. Manifestasi Klinis a. c. e. f. g. h. i. Mukosa memerah dan edema Ada ulserasi pada uretra Good morning sign Adanya pus awal miksi Nyeri pada saat miksi Kesulitan untuk memulai miksi Nyeri pada abdomen bagian bawah Pada pria, uretritis biasanya dimulai dengan keluarnya cairan dari uretra. Jika penyebabnya adalah gonokokus maka cairan ini akan mengandung nanah. Jika penyebabnya adalah jasad renik yang lainnya, maka cairan ini mengandung lendir.
b. Terdapat cairan exudat yang purulent

d. Adanya rasa gatal yang menggelitik

Gejala lainnya adalah nyeri pada saat berkemih dan penderita sering mengalami desakan untuk berkemih. Jika uretritis karena gonokokus tidak diobati secara adekuat, maka pada akhirnya akan terbentuk penyempitan uretra (striktur). Striktur ini akan meningkatkan resiko terjadinya uretritis pada uretra yang lebih tinggi dan kadang menyebabkan terbentuknya abses di sekitar uretra. Abses bisa membentuk kantong pada dinding uretra (divertikulum uretra), yang juga bisa mengalami infeksi. Jika abses menyebabkan terjadinya perforasi kulit, maka air kemih bisa mengalir melalui saluran baru (fistula uretra). 6. Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisis 1) 2) b. 1) 2) 3) Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih Hematuria 5 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih. Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 103 organisme koliform/mL urin plus piuria. Biakan bakteri Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik.

Bakteriologis

7. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada pria berupa prostatitis, vesikulitis, epididimitis, dan striktur urethra. Sedangkan pada wanita komplikasi dapat berupa Borthlinitis, praktitis, salpingitis, dan sistitits. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah dilaporkan. 8. Pelaksanaan Medis Pengobatan tergantung kepada mikroorganisme penyebabnya. Jika penyebabnya adalah bakteri, maka diberikan antibiotik. Jika penyebabnya adalah virus herpes simpleks, maka diberikan obat anti-virus (misalnya asiklovir). Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.

Pemberian anti

biotik untuk mencegah

morbiditas dan untuk mengurangi

penularan penyakit kepada orang lain. Terapi antibiotik harus mencakup baik gonokokus uretritis nongonococcal (NGU)

BAB II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN URETRITIS

1. Pengkajian a. Biodata Klien Pada biodata perlu adanya pencatatan secara akurat. Pada kasus uretritis 90% dialami oleh pria. Sebaliknya Pada wanita hanya sedikit yang mengalami dan kebanyakan asimptomatik. b. Pemeriksaan Fisik 1) Pola sehat sakit a) Riwayat penyakit sekarang : kaji dengan PQRST b) Riwayat penyakit terdahulu : Apakah klien pernah atau sedang mengalami penyakit kelamin. Apakah klien pernah mengalami lesi local yang berlokasi dekat uretra.

c. Pola Aktivitas Sehari-hari 1) Nutrisi Kaji pola nutrisi klien apakah klien mengalami mual, muntah atau anoreksia berhubungan dengan adanya rasa nyeri dan adanya inflamasi uretra. 2) Eliminasi Perubahan pola eliminasi berkemih biasanya ; terjadi penurunan frekuensi / oliguri . 3) Istirahat / Tidur Apakah klien mengalami gangguan tidur, keletihan, kelemasan, malaise dikarenakan adanya inflamasi uretra dan adanya rasa nyeri. Apakah klien mengalami gangguan tidur karena ansietas / ketakutan terhadap penyakitnya 4) Riwayat Psikologi Kaji bagaimana status emosi, gaya komunikasi, konsep diri, dan gambaran diri klien berhubungan dengan penyakityang dideritanya. 5) Riwayat Sosial Ekonomi

Pengkajian riwayat social ekonomi dapat memberikan sedikit gambaran penyakit klien. Misalnya yang suka berganti ganti pasangan dapat mudah terkena uretritis karena ia mudah terkena penyakit kelamin. 6) Pemeriksaan Wajah Amati apakah klein mengalami konjunktivitis karena dengan adanya konjunktivitis dapat menunjukkan terjadinya uretritisabakterial penyakit reiter 7) Pemeriksaan abdomen a) Inpeksi : Bagaimanakah bentuk abdomen b) Palpasi : Adakah nyeri tekan c) Auskultasi : Adakah peningkatan bising usus / gangguan kontraksi otot polos ureter yang menyebabkan gangguan miksi 8) Pemeriksaan Genetalia a) Inpeksi : Pada penderita uretritis adanya mukosa merah udematus. Terdapat cairan eksudat purulen. Ada ulserasi diuretra Adanya pus. Peradangan akut uretra

b) Palpasi Ada nyeri tekan pada genetalia karena adanya inflamasi c) Auskultasi Adanya gangguan kontraksi otot polos uretra sehingga terjadi kesulitan miksi. 2. Diagnosa Keperawatan a. Nyeri b.d respons iritasi pada uretra. b. Gangguan eliminasi urine b.d disuria,sekunder dari respons pada uretra. c. Kurang pengetahuan menular seksual. 3. Intervensi b.d misinterpretasi, risiko penyebaran dan tranmisi penyakit

Tujuan dari rencana keperawatan adalah di harapkan pada evaluasi di dapatkan penurunan stimulus nyeri, membaiknya pola eliminasi urine,penurunan risiko penyebaran, dan transmisi penyakit menular seksual. Untuk intervensi pada masalah keperawatan nyeri intervensi dapat di sesuaikan dengan masalah yang sama pada pasien batu ginjal. DX 1 : Nyeri b.d respons iritasi pada uretra. Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam skala nyeri dapat berkurang / terkontrol. Kriteria evaluasi : - Skala nyeri berukrang / hilang. Skala 0 1 (0-10) - Ekspresi klien relaks Intervensi Rasional Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya Memberikan kesempatan untuk pemberian melaporkan ke staf terhadap perubahan analgesi sesuai waktu dan mewaspadakan kejadian/karakteristik nyeri staf akan kemungkinan lewatnya batu/terjadi komplikasi.Penghentian tiba tiba nyeri Berikan tindakan nyaman Bantu atau dorong penggunaan biasanya menunjukkan lewatnya batu. Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot, dan meningkatkan koping napas Mengarahkan kembali perhatian dan

berfokus, bimbingan imajinasi, dan aktivitas membantu dalam relaksasi otot.. terapeutik Perhatikan keluhan peningkatan/menetapnya Obstruksi nyeri abdomen Berikan kompres hangat pada punggung lengkap ureter dapat

menyebabkan perforasi dan ekstravasasi urine kedalam area perirenal Menghilangkan tegangan otot dan dapat menurunkan refleks spasme

DX 2 : Gangguan eliminasi urine b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam pola eliminasi urine membaik. Kriteria evaluasi : - Secara subjektif melaporkan pola miksi membaik. - Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan perubahan pola miksi. - Ekspresi klien relaks Intervensi Rasional Awasi intake dan output, serta karetiristik Memberikan informasi tentang fungsi ginjal urine dan adanya komplikasi. Tentukan pola berkemih normal klien dan Batu saluran kemih dapat menyebabkan perhatikan variasi yg terjadi peningkatan eksitabilitas saraf sehingga menimbulkan sensasi kebutuhan brkrmih Dorong peningkatan asupan cairan Gunakan kateter dengan bahan silikn segera. Peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah dan debris. Kateter dengan bahan silikon memiliki kemungkinan 10 kaki lebih rendah untuk terjadi uretritis dari pada penggunaan kateter lateks karena daya traumatiknya lebih ringan pada uretra . Kolabrasi untuk pemberian : -Antibiotik Antibiotik yg rasional sesuai dengan jenis uji sensitivitas dapat menurunkan morbididtas dan untuk mengurangi penularan penyakit kepada orang lain .

DX 3 : kurang pengtahuan b.d misinterpretasi, resiko penyebaran dan transmisi penyakit

menular seksual Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam informasi yg dibutuhkan pasien terpenuhi . Kriteria evaluasi : - Pasien teradaptasi dengan kondisi yg di alami , pasien bersedia untuk upaya penurunan penyebaran transmisi infeksi menular seksual . Intervensi Rasional Instruksikan pasien untuk menahan diri dari Menurunkan penularan hubungan seksual sampai sembuh. Anjurkan penggunaan kondom. Mendidik pasien untuk selalu menggunakan perangkat penghalang saat terlibat dalam Beritahu pasien bahwa infeksi hubungan dengan beberapa mitra. dapat Upaya untuk menurunkan penularan pada

menyebar melalui hubungan orogenital atau homoseksual genitoanal, bahakan tanpa adanya hubungan penovaginal.

4. Implementasi DX 1 : Nyeri b.d respons iritasi pada uretra. Implementasi Menjelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staf terhadap perubahan kejadian/karakteristik nyeri kepada pasien Memberikan tindakan nyaman / distraksi kepada klien agar nyeri berkurang Membantu klien penggunaan napas berfokus, bimbingan imajinasi, dan aktivitas terapeutik Memperhatikan keluhan peningkatan / menetapnya nyeri pada abdomen Memberikan kompres hangat pada punggung

NO 1

2 3 4 5

DX 2 : Gangguan eliminasi urine b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan NO 1 2 3 ureter, obstruksi mekanik dan peradangan Implementasi Mengawasi intake dan output, serta karetiristik urine klien Menentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yg terjadi Membantu / dorong peningkatan asupan cairan klien

4 5

Menggunakan kateter dengan bahan silikon Berkolabrasi dengan tim medis lain untuk pemberian obat : Antibiotik

DX 3 : kurang pengtahuan b.d misinterpretasi, resiko penyebaran dan transmisi penyakit NO 1 2 3 menular seksual Implementasi Menginstruksikan / menganjurkan pasien untuk menahan diri dari hubungan seksual sampai sembuh. Menganjurkan penggunaan kondom kepada pasien jika hendak melakukan intim Memberitahukan pasien bahwa infeksi dapat menyebar melalui hubungan orogenital atau genitoanal, bahakan tanpa adanya hubungan penovaginal.

5. Evaluasi DX 1 : Nyeri b.d respons iritasi pada uretra. Evaluasi Klien mengatakan nyeri berkurang Klien mengatakan dapat melakukan miksi tanpa terasa nyeri yang berarti Skala nyeri 1

S O A P

- Klien tampak tenang / nyaman Masalah teratasi Lanjutkan intervensi

DX 2 : Gangguan eliminasi urine b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan Evaluasi Klien mengatakan dapat BAK dengan lancar

S O A P

- Klien mengatakan saatt BAK tidak terasa nyeri yang berarti - Pola intake cairan / minum klien normal Masalah teratasi Lanjutkan intervensi

DX 3 : kurang pengtahuan b.d misinterpretasi, resiko penyebaran dan transmisi penyakit menular seksual Evaluasi Klien mengatakan sudah memahami tentang penyakit urethritis

O A P

- Klien mengatakan puas atas informasi yang diberikan - Klien menggunkan alat pengaman ( kondom ) saat berhubungan dengan mitranya Masalah teratasi Lanjutkan intervensi

BAB III KASUS 1. Pengkajian a. Biodata Nama Umur Jenis Kelamin Tempat, TTL Agama Alamat TB / BB Pekerjaan Status Perkawinan : Tn. Tono : 25 tahun : Pria : Bengkulu, 1 Januari 1987 : Islam : Hibrida 8c, Bengkulu : 175 Cm / 67 Kg : Petani : Duda

b. Pemeriksaan Fisik 1) Pola Sehat-Sakit a) Riwayat Kesehatan Sekarang P : Nyeri dirasakan setelah berhubungan seksual dengan mitranya Q : Nyeri dirasakan menyebar sampai ke abdomen bagian bawah R : Nyeri terasa pada ujung penis pada saat miksi S : Bila nyeri kambuh, klien mengatakan sangat susah untuk tidur. Skla nyeri 5 T : Nyeri terasa Padas saat awal melakukan miksi b) Riwayat Kesehatan Dahulu Klien pernah mengalami penyakit batu ginjal pada usia 18 tahun. 2) Pola Aktifitas Sehari-hari a) Nutrisi klien mengalami anoreksia berhubungan dengan adanya rasa nyeri dan adanya inflamasi uretra. b) Eliminasi Terjadi penurunan frekuensi BAK / oliguria c) Istirahat / Tidur Klien mengalami susah tidur dikarenakan cemas dengan penyakit yang dideritanya dan rasa nyeri pada malam hari

d) Riwayat Psikologi Klien merasa mudah marah / susah mengontrol emosi karena adanya rasa nyeri akibat penyakit yang dideritanya e) Riwayat Sosial Ekonomi Perekonomian klien lebih dari cukup, tetapi semenjak ditinggal sang istri klien suka behubungan seksual dengan wanita lain yang berbeda-beda f) Pemeriksaan Wajah Pada pemeriksaan wajah, semuanya tampak normal, tidak ada kelainan pada konjungtivitis g) Pemeriksaan Abdomen Inpeksi : bentuk abdomen simetris, warna normal

Palpasi

: Ada nyeri tekan gangguan kontraksi otot polos ureter yang menyebabkan gangguan miksi

Auskultasi : Ada

h) Pemeriksaan Genetalia i. Inpeksi : ii. iii. adanya mukosa merah udematus. Terdapat cairan eksudat purulen. Adanya pus.

Palpasi : Ada nyeri tekan pada genetalia karena adanya inflamasi Auskultasi : Adanya gangguan kontraksi otot polos uretra sehingga terjadi kesulitan miksi.