Anda di halaman 1dari 11

Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 1

LIBERALISASI DAN GLOBALISASI


PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Tugas Matakuliah Ekonomi Indonesia


(Dosen : Dr.Ramlan Ilyas)

Disusun oleh :

Indra Maipita
NIM:015040012
Kelas Reguler

PROGRAM PASCA SARJANA


ILMU EKONOMI & STUDI
PEMBANGUNAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2002
Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 2

LIBERALISASI DAN GLOBALISASI

PERDAGANGAN INTERNASIONAL

PENDAHULUAN

Dunia akan memasuki era perdagangan bebas (era globalisasi dan liberalisasi perdagangan)

dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi (tahun 2020). Hal ini ditandai dengan kesepakatan

pada putaran Uruguay (Uruguay Round) dengan terbentuknya WTO (World Trade

Organization) . Pada saat itu pola perdagangan global akan memasuki tahapan baru, yaitu

semakin berkurangnya hambatan perdagangan antar negara bahkan tanpa ada hambatan

proteksi.

Konsep free trade dan free competition yang didasarkan pada teori klasik yang menyatakan

bahwa “bentuk perdagangan yang terbaik adalah apabila semua produsen dibiarkan

menghasilkan apa yang terbaik dan kemudian menjualnya dalam iklim persaingan yang

bebas dan terbuka. Karena itu tingkat keberhasilan persaingan di dalam pasar bebas bukan

lagi tergantung pada comparative tetapi lebih tergantung pada competitiveness suatu barang

atau jasa.

Yang menjadi pertanyaan tentang hal di atas apakah negara-negara sedang berkembang

sudah siap untuk menghadapi itu ? Misalnya Indonesia yang masih dilanda krisis

ekonomi?
Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 3

PENTINGNYA PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Sejak usai perang dunia ke dua, saling ketergantungan antar negara semakin meningkat,

terutama beberapa dekade belakangan ini. Bahkan negara-negara bekas Uni Soviet dan

Republik Rakyat Cina yang karena alasan polotis maupun militer dapat bersifat sangat self-

sufficient dimasa lampau, kini mereka menyadari perlunya mengimport produk-produk

berteknologi tinggi, modal luar negeri bahkan hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Banyak

negara-negara di dunia yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri secara efisien. Hal

ini disebababkan antara lain kurangnya teknologi, modal luar negeri dan sumberdaya alam

yang terbatas, misal beberapa negara industri kecil seperti Austria dan Swiss yang hanya

memiliki sedikit sumber daya dan memproduksi lebih sedikit jenis produk, yang kemudian

mereka ekspor ke negara lain untuk diganti dengan berbagai produk yang harus mereka

impor. Juga Indonesia yang kaya dengan sumber daya tetapi minim akan modal dan

teknologi juga harus membutuhkan negara lain. Bahkan beberapa negara industri besar

seperti Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, Italia dan Kanada sangat mengandalkan

perdagangan internasional. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, ekspor

memberikan peluang kesempatan kerja dan menghasilkan devisa yang dapat digunakan

untuk membayar berbagai produk luar negeri dimana pada saat ini tidak dapat diproduksi

karena keterbatasan modal, sumber daya atau teknologi yang tidak tersedia di dalam negeri.

Hal yang secara kuantitatif lebih penting adalah bahwa banyak produk yang dapat

diproduksi dalam negeri suatu negara namun itu hanya dapat dilakukan dengan biaya lebih

tinggi dibanding jika produk tersebut diproduksi di negara lain.


Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 4

Ukuran kasar terhadap hubungan ekonomi di antara berbagai negara atau dikatakan sebagai

tingkat saling ketergantungan (interdependence) diberikan oleh rasio antar impor dan ekspor

mereka akan barang dan jasa terhadap produk domestik bruto (PDB)

Juga terdapat faktor lain yang menimbulkan saling ketergantungan antar negara sehingga

peristiwa-peristiwa dan kebijakan ekonomi suatu negara akan sangat mempengaruhi negara

lain dan sebaliknya. Sebagai contoh, jika Amerika Serikat menstimulir perekonomiannya,

maka sebagian penigkatan permintaan terhadap barang dan jasa masyarakatnya akan

mendorong timbulnya impor, sehingga juga akan mendorong perekonomian negara

pengekspor komuditas tersebut. Di lain pihak, peningkatan defisit anggaran kemungkinan

dapat menaikkan tingkat suku bunga dan menarik dana (modal) dari negara lain yang

selanjutnya akan mendorong impor dan mengurangi eksport serta meningkatkan nilai dollar

secara internasional sehingga akan mendorong aktivitas perekonomian di negara lain.

Demikian juga pada abad ke-19, ketika Inggris mengalami revolusi industri, GNP rill-nya

meningkat sepuluh kali lipat dan volume impornya meroket duapuluh kali lipat.

Pertumbuhan ini mengimbas dan melebar ke negara-negara lain juga degan pesat akibat

mereka terlibat dalam perdagangan internasional. Dengan demikian perdagangan

internasional tersebut dapat berfungsi sebagai mesin pertumbuhan (engine of growth) bagi

negara-negara berkembang.

Dari uraian di atas dapat kita lihat betapa lekatnya saling keterkaitan antarnegara saat ini

sahingga perdagangan internasional memang sangat dibutuhkan.


Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 5

LIBERALISASI DAN GLOBALISASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Depresi tahun 1930-an telah menyebabkan banyak negara melakukan proteksi, setiap negara

berusaha untuk mengurangi pengaruh yang tidak baik dari perkembangan ekonomi dunia

dengan menguragi ketergantungan dari luar negeri melalui tindakan –tindakan yang bersifat

protektif.

Amerika serikat merupakan salah satu negar yang paling berpengaruh saat itu juga

melakukan proteksi dengan menggunakan tarif terhadap importnya melalui Smoot-Howley.

Tindakan ini diikuti oleh negara-negara lain sehingga perdagangan bebas internasional tidak

terjadi.

Sejak dasawarsa 80-an, banyak negara berkembang yang semula menerapkan strategi

industrialisasi substitusi impor, mulai mengubah haluan dan melakukan liberalisasi

perdagangan. Gelombang reformasi ini nampaknya bertolak dari terjadinya krisis utang

internasional, disamping itu mereka juga bercermin pada keberhasilan sejumlah negara

berkembang yang sejak awal telah berorientasi ke luar dan berorientasi ekspor kini telah

beranjak menjadi negara perekonomian baru. Secara umum reformasi itu meliputi

penurunan dan penyederhanaan struktur tarif serta berbagai hambatan impor kuantitatif

secara besar-besaran. Langkah ini secara drastis mulai membuka perekonomian mereka

terhadap hubungan perdagangan antar negara yang lebih intensif. Hal tersebut dapat dilihat

pada besarnya angka ekspor plus impor sebagai rasio terhadap GDP dan tingginya tingkat

pertumbuhan perekonomian negara tersebut yang secara sungguh-sungguh melaksanakan

liberalisasi.
Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 6

DAMPAK GLOBALISASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Dampak Positif

`Ada beberapa keuntungan liberalisasi perdagangan internasional bagi negara-negara

berkembang berdasarkan teori pertumbuhan endogen, antara lain :

1. Liberalisasi perdagangan akan memungkinkan negara berkembang menyerap teknologi

negara maju dalam kecepatan yang lebih tinggi , dengan kata lain dalam kondisi seperti

itu alih teknologi akan berlangsung lenih lancar.

2. Melalui hubungan dagang yang lebih terbuka, manfaat riset dan pengembangan yang

biasanya hanya dilakukan di negara maju (karena biayanya mahal) akan mengalir lancar

ke negara berkembang.

3. Volume perdagangan yang lebih tinggi akan memacu skala ekonomis dalam produksi

sehingga meningkatkan margin laba bagi para pengusaha di negara berkembang serta

menciptakan insentif tambahan dalam melakukan investasi.

4. Penghapusan hambatan perdagangan akan mengurangi distorsi harga yang menjurus

pada pendayagunaan segenap faktor produksi secara lebih efisien di semua sektor

ekonomi di negara yang bersangkutan.

5. Hal itu juga akan merangsang spesialisasi lebih lanjut dan akan memacu

tereselenggaranya kegiatan-kegiatan produksi yang lebih efisien khususnya dalam sektor

produksi antara yang menjadi input bagi sektor lain.

Dampak Negatif dan Masalah-Masalah Perdagangan Negara Berkembang

Selama dasawarsa 1980-an, tingkat proteksi dagang di negara maju mengalami penigkatan,

karena perekonomian mereka sendiri mengalami kelesuan. Memasuki tahun 1993, sekitar
Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 7

sepertiga ekspor negara berkembang ke negara industri maju masih dihambat oleh quota dan

berbagai hambatan tarif lainnya. Jika kecenderungan proteksionisme ini terus meningkat,

maka kemungkinan besar sentimen negatif terhadap perdagangan atau pesimisme ekspor

akan bangkit kembali sehingga negara-negara berkembang akan terdorong kembali untuk

menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang berorientasi ke dalam. Untuk mengatasi hal

itu, diadakanlah perundingan perdagangan multilateral dalam kerangka GA yang seri

terakhirnya dikenal dengan Uruguay Round dimana di dalamnya telah disepakati beberapa

aturan liberalisasi perdagangan internasional.

Setiap kemajuan dan perubahan, pasti selalu memiliki dampak negatif, tetapi sepanjang

dampak positifnya masih jauh lebih besar maka perubahan tersebut perlu dilaksanakan.

Dampak negatif yang mungkin dihadapi oleh negara berkembang adalah ketidak siapan

industrinya untuk bersaing atau kurangnya keunggulan komparatif yang dimiliki negara

tersebut. Jika hal ini terjadi maka penduduk negara tersebut akan menjadi pangsa pasar yang

empuk bagi negara lain dan perdagangan tidak akan berimbang. Tetapi hal ini tidak akan

berjalan lama karena dalam jangka panjang negara tersebut juga akan mendapatkan

keuntungan setelah melalui proses seperti teori endogen di atas.

Kesiapan Iindonesia Menghadapi Liberalisasi Perdagangan Internasional

Bagaimana kesiapan industri dalam negeri menghadapi implementasi liberalisasi dan

globalisasi perdagangan internasional? Selama ini berbagai kalangan dari pemerintah dan

swasta belum punya satu suara mengenai hal ini. Khususnya AFTA, ada yang menyatakan

industri dalam negeri belum siap mengahadapi hal ini dan ada juga yang menyatakan siap.
Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 8

Menperindag Rini MS.Soewandi pernah menegaskan bahwa para pengusaha nasional

belum siap pasar bebas itu karena ada beberapa industri yang tingkat produktifitasnya belum

optimal. Meskipun demikian katanya pemerintah Indonesia tetap mengikuti komitmen

AFTA. Selain itu Indonesia juga belum secara khusus menyiapkan diri untuk menghadapi

pasar bebas meskipun komitmen tentang hal itu sudah dilakukan sejak 1993 (untuk AFTA).

Rini menyatakan , komitmen Indonesia yang mendukung percepatan liberalisasi

perdagangan dilandasi oleh keyakinan bahwa hal tersebut akan meningkatkan perdagangan

dan investasi dari luar negeri sehingga dapat mendorong percepatan pemulihan ekonomi.

Akan tetapi di sisi lain perdagangan bebas juga menimbulkan tantangan bagi perekonomian

Indonesia terutama berkaitan dengan daya saing beberapa produk Indonesia yang belum

mampu bersaing dengan produk negara lain.

Lemahnya daya saing produk Indonesia disebabkan beberapa hal, antara lain. Kurang

tepatnya stategi pengembangan industri nasional yang bertumpu pada pengolahan

sumberdaya alam, dan adanya keterbatasan sumberdaya manusia serta lemahnya

penerapan good governance. Pada hal Indonesia dengan penduduk 203.456.003 jiwa

(sensus penduduk 2000) merupakan pasar yang menggiurkan bagi sektor ril dimana angka

itu juga akan diperebutkan oleh produsen negara lain.

Menurut data Depperindag, pangsa pasar ekpor nonmigas Indonesia ke negara ASEAN

masih relatif kesil yaitu 17,67% pada tahun 1996 dan naik menjadi 20,4% pada tahun 2000.

Ekspor tersebut 53,31% ditujukan ke Singapura, 18,64% ke malaysia, 9,22% ke Thailan dan

7,84% ke Filiphina. Sedangkan impor dari negara tersebut mencapai 9,24% tahun 1996 dan

menigkat menjadi 14,79% tahun 2000.


Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 9

Dari sektor industri kimia, agro dan hasil hutan setidaknya Indonesia memiliki 10 produk

unggulan dalam menghadapi AFTA.

Menurut data Ditjen IKAHH Depperindag, sekitar 37% atau 1.125 jenis produk berdaya

saing cukup tinggi seperti minyak goreng sawit, the olahan, cokelat olahan, monosodium

glutamat (MSG), ikan kaleng margarine, rokok, buah kaleng, kembang gula, biskuit dan

kopi bubuk instan. Tingginya daya saing produk tersebut ditunjukkan oleh angka ISP

yangberkisar antara 0,6 sampai 1,0, misalnya rokok kretek (1), minyak goreng sawit (0,98),

dan teh olahan (0,95).

Sementara itu sekitar 282 jenis (9%) dari total jumlah komoditas IKAHH mempunyai daya

saing cukup rendah dengan ISP antara -0,5 sampai –0,99 seperti pakan ternak dan

komponennya (-0,74), tepung tapioka (-0,9), tepung terigu (-0,99), minuman beralkohol

(-0,74) serta susu dan produk dari susu (-0,5).

Untuk industri logam, mesin, elektronika dan aneka barang tambang (mencakup 5.291

komoditi), sebanyak 2.627 jenis (49%) berdaya saing kuat, 573 jenis (11%) berdaya saing

sedang dan 2.091 jenis (40%) lainnya berdaya saing lemah.

Sedangkan menurut ketua Kadin ,Aburizal Bakrie, 65% produk dalam negeri yang

termasuk dalam Common Effective Preferential Tariff (CEPT) dinyatakan siap bersaing

dalam AFTA, seperti perikanan, produk tambang, agro industri, farmasi, mobil, motor,

elektronika, sebagian besar produk manufaktur dan sebagian besar produk pertanian kecuali

kopi, beras dan gula. Masih menurut Kadin, sekitar 8% dari total sektor industri yang ada di

dalam negeri termasuk dalam kategori agak siap dalam menghadapi AFTA dan sekitar 27%

dinyatakan telah siap.


Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 10

Kadin telah mengupayakan baik kepada pemerintah maupun kadin Asean agar beberapa

sektor ditunda penerapannya dalam AFTA.

KESIMPULAN DAN SARAN

Walaupun Liberalisasi dan globalisasi perdagangan mempunyai dampak negatif terhadap

negara-negara berkembang, tetapi hal itu tetap perlu dilakukan karena dalam jangka panjang

dampak positifnya jauh lebih besar. Hal ini sesuai dengan teori endogen dan pengalaman

negara-negera yang telah melakukan liberalisasi perdagangan tersebut, seperti Taiwan,

Korea Selatan Singapura dan lain sebagainya.

Untuk kasus Indonesia. Berdasarkan data dari Depperindag dapat disimpulkan bahwa

sebagian besar industri Indonesia belum siap menghadapi liberalisasi perdagangan. Tetapi

menurut ketua kadin bahwa Indonesia siap menghadapi perdagangan bebas tersebut.

Meskipun ada beberapa sektor industri yang mendapat “status berbeda” dari pemerintah dan

swasta, akan tetapi satu hal yang pasti bahwa baik pemerintah maupun swasta sama-sama

menyatakan ada beberapa sektor industri yang belum siap menghadapi liberalisasi tersebut.

Akan tetapi, bagaimanapun juga Indonesia seharusnya tetap ikut dan berusaha untuk siap

dalam liberalisasi perdagangan tersebut dengan cara memperbaiki strategi pengembangan

industri nasional dan mengembangkan industri yang mempunyai keunggulan komparatif

untuk bersaing. Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengan kebijakan fiskal (politik) dan

moneter serta keamanan yang dapat menunjang semua itu.


Liberalisasi dan Globalisasi Perdagangan Internasional 11

DAFTAR PUSTAKA

Faisal H.Basri(1995), “Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI”, Erlangga,Jakarta.

Hal Hill(2001), “Ekonomi Indonesia”, Edisi kedua,RajaGrafindo Persada,Jakarta.

Kwik Kian Gie(1995), “Analisis Ekonomi Politik Indonesia”, Gramedia Pustaka Utama dan
STIE IBII,Jakarta.

Nopirin,Ph.D(1999), “Ekonomi Internasional”,Edisi 3, BPFE,Yogyakarta.

Rommy Rustami(2002),”AFTA Ujian Bagi RI ke Perdagangan Bebas Global”, Harian Bisnis


Indonesia,Rabu 2 Januari,Hal.4

Salvatore(1997), “Ekonomi Internasional”, Erlangga,Jakarta.

Thulus TH.Tambunan(2001), “Transformasi Ekonomi Di Indonesia Teori dan Penemuan


Empiris", Salemba Emapt,Jakarta.

Thulus TH Tambunan(2001), ”Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran, Teori


dan Temuan Empiris,LP3ES,Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai