Anda di halaman 1dari 21

Laporan Praktikum Mekanisme Sensorik 1.

Pendahuluan Setelah melakukan berbagai praktikum Fisiologi dalam modul neurosains, kali ini akan dilakukan kegiatan praktikum mengenai mekanisme sensorik, yang meliputi: perasaan subjektif panas dan dingin, titik-titik panas, dingin, tekanan dan nyeri pada kulit, lokalisasi taktil, diskriminasi taktil, perasaan iringan, kemampuan membedakan berbagai sifat benda, dan tafsiran sikap. Untuk dapat memahaminya, diperlukan pemahaman tentang neuron dan kontribusinya bagi tubuh. Seperti yang telah kita ketahui bersama, neuron merupakan suatu sel yang berfungsi mengirimkan sinyal-sinyal pada sel lain atau pun pada sesama sel neuron. Neuron membentuk sistem saraf.1 Sistem saraf adalah jaringan komunikasi utama di dalam tubuh manusia.2 Sistem saraf melakukan kontrolnya terhadap hampir sebagian besar aktivitas otot dan kelenjar tubuh, yang sebagian besar ditujukan untuk mempertahankan homeostasis.1 Dalam sistem sensorik, integrasi itu berarti terjadinya korelasi antara impuls-impuls saraf yang timbul sebagai akibat rangsangan pada permukaan atau bagian dalam tubuh jasad tersebut, sedangkan dalam sistem motorik, integrasi itu meliputi koordinasi impuls-impuls motorik, sehingga kegiatan-kegiatan otot dan kelenjar dapat diatur secara harmonis dan efisien.3 Dari sistem-sistem inilah berasal segala fenomena kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa, sensasi, dan gerakan. Jadi kemampuan untuk dapat memahami, belajar, dan memberi respon terhadap suatu rangsangan merupakan hasil kerja integrasi dari sistem saraf yang puncaknya dalam bentuk kepribadian dan tingkah laku individu.4 Dalam praktikum mekanisme sensorik ini, akan ditunjukkan bagaimana saraf-saraf yang tersebar merata dalam tubuh manusia saling berkoordinasi dengan jaringan-jaringan tubuh lainnya dalam menerima rangsangan dan proses penanggapannya.
2. Dasar Teori

Kulit terdiri atas Eperdermis yaitu terletak dibagian terluar, Dermis terdapat kelenjar dan saluran keringat, bulbus rambut, folikel rambut dan akar rambut yang terletak dikelenjar sebaseus, dan Subcutaneous ada pembuluh 1

darah, saraf cutaneous dan jaringan otot.5 Kulit memiliki fungsi sebagai Mekanoreseptor, Thermoreseptor, reseptor nyeri dan Khemoreseptor. Mekanoreseptor berkaitan dengan indra peraba, tekanan, getaran dan kinestesi, Thermoreseptor berkaitan dengan pengindraan yang mendeteksi panas dan dingin, Reseptor nyeri, berkaitan dengan mekanisme protektif bagi kulit. Khemoreseptor, mendeteksi rasa asam, basa, dan garam. Pada Epidermis terdapat Merkels disc, yaitu sentuhan oleh orang yang tidak dikenal dan Meisners corpuscle, yaitu sentuhan orang yang dikenal. Sedangkan pada Dermis, terdapat tiga reseptor, yaitu : Reseptor ruffinis yaitu reseptor panas, Reseptor end Krause, yaitu reseptor untuk mendeteksi dingin dan Reseptor paccinis corpuscle, untuk mendeteksi tekanan, bisa berupa pijat.6 Reseptor kulit dan hantaran impuls terdapat di saraf perifer. Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.6 Sensasi taktil yang terdiri dari raba, tekanan dan getaran sering di golongkan sebagai sensasi terpisah, mereka semua dideteksi oleh jenis reseptor yang sama. Satu satunya perbedaan diantara ketiganya adalah : 1. Sensasi raba, umumnya disebabkan oleh reseptor taktil di dalam kulit atau di dalam jaringan tepat dibawah kulit. 2. Sensasi tekanan biasanya disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan yang lebih dalam. 3. Sensasi getaran, disebabkan oleh sinyal sensori yang berulang dengan cepat, tetapi menggunakan beberapa jenis reseptor yang sama seperti yang digunakan untuk raba dan tekanan.

Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar, sehingga diduga bahwa akhiran syaraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil. Kita dapat membedakan benda benda tanpa melihat bentuknya. Disini yang berperan adalah reseptor kinaesthesi. Bentuk dan berat benda dapat dibedakan dengan reseptor tekanan yang digeserkan. Pada tempat di mana tidak ada rambut, tetapi dengan kepekaan yang besar terdapat stimulus taktil, ternyata banyak corpuscullum tactus. Perasaan taktil dapat dibedakan menjadi perasaan taktil kasar dan perasaan taktil halus. Impuls taktil kasar dihantarkan oleh tractus spinothalamicus anterior, sedangkan impuls taktil halus dihantarkan melalui faciculus gracilis dan faciculus cunneatus.1 Fungsi sistem saraf adalah: 1. Pusat koordinasi segala aktivitas tubuh 2. Pusat kesabaran, memory, dan intelegensi. 3. Pusat highermental process (Reasoning, thinking, dan judgement). Gerak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan melibatkan banyak bagian tubuh. Terdapat banyak komponen komponen tubuh yang terlibat dalam gerak ini baik itu disadari maupun tidak disadari. Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan sistem saraf. Sistem saraf ini tersusun atas jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron. Meskipun sistem saraf tersusun dengan sangat kompleks, tetapi sebenarnya hanya tersusun atas 2 jenis sel, yaitu sel saraf dan sel neuroglia.

Adapun berdasarkan fungsinya sistem saraf itu sendiri dapat dibedakan atas tiga jenis : 1. Sel saraf sensorik Sel saraf sensorik adalah sel yang membawa impuls berupa rangsangan dari reseptor (penerima rangsangan), ke sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indera,karena berhubungan dengan alat indra

2. Sel saraf motorik Sel saraf motorik berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang) menuju ke kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak, karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak. 3. Sel saraf penguhubung Sel saraf penguhubung disebut juga dengan sel saraf konektor, hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik. Namun pada hakikatnya sebenarnya sistem saraf terbagi menjadi dua kelompok besar : 1. Sistem saraf sadar

Adalah sistem saraf yang mengatur atau mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat diatur menurut kemauan kita. Contohnya, melempar bola, berjalan, berfikir, menulis, berbicara dan lain-lain. Saraf sadar pun terbagi menjadi dua : 1) Saraf pusat, terdiri dari : a. Otak: Merupakan pusat kesadaran,yang letaknya di rongga tengkorak. b. Sumsum tulang belakang: Sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan impuls (rangsangan) dari dan ke otak, serta mengkoordinasikan gerak refleks. Letaknya pada ruas-ruas tulang belakang, yakni dari ruas-ruas tulang leher hingga ke ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Dan dalam sumsum ini terdapat simpul-simpul gerak refleks.

2) Saraf Tepi Sistem saraf tepi terdiri dari saraf-saraf yang berada di luar sistem saraf pusat (otak dan sumsum ulang belakang). Artinya sistem saraf tepi merupakan saraf yang menyebar pada seluruh bagian tubuh yang melayani organ-organ tubuh tertentu, sepeti kulit, persendian, otot, kelenjar, saluran darah dan lain-lain. 2. Susunan saraf tak sadar a. Susunan saraf simpatis b. Susunan saraf parasimpatis

Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.

Sensasi adalah perasaan yang timbul sebagai akibat adanya stimulus suatu reseptor. Sensasi yang berlangsung secara terus-menerus disebut sensasi beriringan ( after image ). Ciri-ciri sensasi antara lain: a. Modalitas ( Modal ) Contoh: Alat indera, melihat cahaya modalnya mata. b. Kualitas ( Mutu ) Contoh: Mata mampu membedakan warna merah dan biru. c. Adaptasitas Contoh: Wanita yang menggunakan anting beratnya menjadi konstan karna adapatasi. d. Intensitas ( Kekuatan ) Contoh: Membedakan antara merah muda dengan merah tua. e. Durasitas ( Lama ) Contoh: 1 bulan atau 1 tahun. Proses pendeteksian hadirnya stimulus sederhana, perasaan, kesan yang timbul sebagai akibat prasangka suatu reseptor. Syarat-syarat sensasi: 1. Adanya stimulus yang mampu menimbulkan respon. 2. Adanya alat indera atau respon yang dapat mengadakan respon terhadap stimulus. 3. Ada saraf sensoris yang menghantarkan implus dari alat indera ke otak (sistem saraf pusat).

4.

Ada bagian dari otak yang mampu mengolah atau menterjemahkan implus menjadi sensasi. Sensasi merupakan hasil dari suatu proses didalam otak sebagai akibat

adanya impuls yang datang ke otak. Seseorang dapat memilih beberapa implus yang datang serta mengabaikannya merupakan dasar dari konsentrasi dan atensi. Sensasi dapat bertahan lama didalam otak dan dapat didasari kembali dasar memori.1 Reseptor taktil adalah mekanoreseptor. Mekanoreseptor berespons terhadap perubahan bentuk dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi. Apabila depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan melepaskan potensial aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor taktil yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula. Dikriminasi titik adalah kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik. Berbagai daerah tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi. Normalnya dua titik terpisah 2 4 mm dpt dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40mm dpt dibedakan pada dorsum pedis. Tes dapat menggunakan kompas, jepitan rambut.1 Sensasi taktil dibawa ke korda spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik: serat tipe A beta yang besar, serat tipe A delta yang kecil, dan serat tipe C yang paling kecil. Kedua jenis serat tipe A mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi dengna sangat cepat; semakin besar serat semakin cepat transmisinya dibanding serat yang lebih kecil. Informasi taktil yang dibawa dalam serat A biasanya terlokalisasi baik. Serat C yang tidak mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi ke korda spinalis jauh lebih lambat daripada serat A.1 Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai. Setelah bersinaps di spinal, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A yang 7

melepaskan potensial aksi dengan cepat (beta dan delta) di kirim ke otak melalui sistem lemniskus kolumna dorsalis. Serat-serat saraf dalam sisitem ini menyeberang dari kiri ke kanan di batang otak sebellum bersinaps di talamus. Informasi mengenai suhu dan sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke korda spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensial aksi secara lambat. Info tersebut dikirim ke daerah retikularis di batang otak dan kemudian ke pusat-pusat yang lebih tinggi melalui serat di sistem anterolateral.1 3. Tujuan Pada akhir latihan ini mahasiswa dapat: a. Membedakan perasaan subjektif panas dan dingin b. Menetapkan adanya titik-titik panas, dingin, tekan dan nyeri di kulit c. Memeriksa daya (kemampuan) menetukan tempat rangsangan taktil (lokalisasi taktil) d. Memeriksa daya membedakan dua titik tekan (diskriminasi taktil) pada perangsangan serentak (simultan) dan perangsangan berurutan (suksesif) e. Menentukan adanya perasaan iringan (after image) dan menerangkan mekanisme terjadinya after image. f. Memeriksa daya membedakan berbagai sifat benda: Kekasaran permukaan Bentuk Bahan pakaian

g. Memeriksa daya menentukan sikap anggota tubuh.

4. Alat dan bahan a. 3 baskom 30 , 40 b. termometer kimia c. kerucut kuningan d. pensil j. es k. alkohol atau eter i. air bersuhu 20 ,

e. jangka f. berbagai jenis ampelas g. benda-benda kecil h. bahan-bahan pakaian 5. Cara kerja I. Perasaan subjektif panas dan dingin a. Menyediakan 3 baskom yang masing-masing di isi air dengan suhu kirakira 20 , 30 dan 40 .

b. Meminta orang percobaan (OP) memasukkan tangan kanannya ke dalam air bersuhu 20 dan tangan kirinya ke dalam air bersuhu 40

selama kurang lebih 2 menit. Mencatat kesan yang dialami oleh OP. c. Kemudian meminta OP untuk segera memasukkan kedua tangan itu serentak ke dalam air bersuhu 30 . Mencatat kesan yang dialami OP. d. Meniup perlahan-lahan kulit punggung tangan OP yang kering dari jarak 10 cm. e. Kemudian membasahi kulit punggung tangan OP dengan air dan meniup sekali lagi dengan kecepatan yang sama seperti pada cara kerja #d. f. Mengolesi sebagian kulit punggung tangan OP dengan alkohol atau eter dan meniup sekali lagi dengan kecepatan yang sama seperti pada cara kerja #d dan #e. g. Membandingkan kesan yang dialami OP pada hasil tiupan pada langkah #d, #e dan #f. II. Titik-titik panas, dingin, tekan dan nyeri di kulit a. Meminta OP untuk meletakkan punggung tangan kanannya di atas sehelai kertas dan menarik garis pada pinggir tangan dan jari-jari sehingga diperoleh gambar tangan. b. Memilih dan menggambarkan di telapak tangan OP suatu daerah seluas 3x3 cm, dan menggambarkan pula daerah itu di gambar tangan pada kertas. c. Menutup mata OP dan meletakkan punggung tangannya santai di meja.

d. Menyelidiki secara teratur menurut garis-garis sejajar titik-titik yang memberikan kesan panas yang jelas pada telapak tangan tersebut dengan menggunakan kerucut kuningan yang telah dipanasi. Cara memanasi kerucut yaitu dengan menempatkannya dalam bejana berisi kikiran kuningan yang direndam dalam air bersuhu 50 . e. Menandai titik-titik panas yang diperoleh dengan tinta. f. Mengulangi langkah #d dengan kerucut kuningan yang ditempatkan dalam bejana berisi kikiran kuningan yang direndam dalam air es. g. Menandai titik-titik dingin yang diperoleh dengan tinta. III. Lokalisasi taktil a. Menutup mata OP dan menekankan ujung pensil pada suatu titik di kulit ujung jari b. Memerintahkan OP untuk melokalisasikan tempat yang baru di rangsang dengan ujung pensil c. Menetapkan jarak antara titik rangsang dan titik yang telah ditunjuk d. Mengulangi percobaan di atas sampai 5 kali dan menentukan jarak rata-rata untuk kulit ujung jari, telapak tangan, lengan bawah, lengan atas dan tengkuk

IV. Diskriminasi taktil (ambang membedakan 2 titik rangsang taktil) a. Mengambil sebuah jangka yang sudah disediakan dan meregangkan jangka sehingga kedua ujung jangka berjarak 1 cm (sesuai dengan ukuran jari telunjuk OP) b. Menginstruksikan OP untuk menutup mata dan meletakkan secara simultan (bersamaan waktunya) kedua ujung jangka pada ujung jari telunjuk OP dan meminta OP untuk mengidentifikasi jumlah rangsang (1 atau 2 titik rangsang) yang menekan/ merangsang ujung jarinya. c. Mendekatkan kedua ujung jangka (secara bertahap dan mengulangi langkah #b sampai OP tidak dapat lagi membedakan kedua ujung

10

jangka sebagai 2 titik rangsang. Arah gerakan harus tegak lurus terhadap garis yang menghubungkan kedua ujung jangka. d. Mencatat ambang rangsang OP dalam membedakan 2 titik rangsang taktil. e. Mengulangi langkah a s/d c namun kedua ujung jangka diletakkan tidak secara simultan tetapi secara suksesif (berurutan) yaitu satu ujung diletakkan lebih dahulu daripada ujung lainnya. f. Mencatat hasil pemeriksaan ambang membedakan 2 titik rangsang baik dengan cara perangsangan simultan maupun suksesif. g. Menentukan dengan cara yang sama (simultan dan suksesif) ambang dua titik di tengkuk, bibir, pipi dan lidah. h. Mencatat apa yang dialami OP.

V. Perasaan iringan a. Meletakkan sebuah pensil antara kepala dan daun telinga OP dan membiarkan di tempat itu selama melakukan percobaan VI. b. Setelah selesai dengan percobaan VI, mengangkat pensil dari telinga OP dan mencatat apa yang dirasakan OP setelah pensil itu dilepaskan.

VI. Kemampuan membedakan berbagai sifat benda

Kekasaran permukaan benda a. Dengan mata tertutup, memerintahkan OP untuk meraba-raba permukaan ampelas yang mempunyai derajat kekasaran yang berbedabeda. b. Memperhatikan kemampuan OP untuk membedakan derajat kekasaran ampelas. Bentuk benda a. Dengan mata tertutup, memerintahkan OP untuk memegang-megang benda kecil yang diberikan. b. Memerintahkan OP untuk menyebutkan nama/ bentuk benda-benda itu. Bahan pakaian 11

a. Dengan mata tertutup, memerintahkan OP untuk meraba-raba berbagai jenis bahan pakaian yang diberikan. b. Memerintahkan OP untuk setiap kali menyebutkan jenis/ sifat bahan pakaian yang dirabanya. VII. Tafsiran sikap a. Memerintahkan OP untuk duduk dan menutup mata. b. Pegang dan menggerakkan secara pasif lengan bawah OP ke dekat kepalanya, dekat dadanya, dekat lututnya, dan akhirnya

menggantungkan di sisi badannya. c. Menanyakan setiap kali sikap dan lokasi lengan OP. d. Memerintahkan OP utnuk menyentuh telinga, hidung dan dahinya menggunakan menggunakan telunjuknya dengan perlahan-lahan setelah setiap kali mengangkat lurus lengannya. e. Memperhatikan apakah ada kesalahan.

6. Hasil

I. Perasaan subjektif panas dan dingin Pada percobaan yang telah dilakukan oleh OP pada langkah kerja #a, #b dan #c. Kesan yang dialami oleh OP adalah: a. Pada suhu 20 b. Pada suhu 40 c. Pada suhu 30 OP merasakan tangan kanannya dingin OP merasakan tangan kirinya hangat OP merasakan tangan kanan yang awalnya dingin

berubah menjadi hangat dan tangan kiri yang awalnya hangat menjadi dingin.

Pada percobaan yang telah dilakukan oleh OP pada langkah kerja #d, #e dan #f. Kesan yang dialami oleh OP adalah:

a. Kulit punggung tangan OP yang kering pada saat di tiup terasa dingin yang merata

12

b. Kulit punggung tangan OP yang sudah dibasahi dengan air pada saat di tiup, bagian kulit punggung yang terkena air tidak terasa dingin, yang terasa dingin hanyalah pada bagian samping yang tidak terkena air. Tetapi ketika sudah tidak di tiup, kulit punggung yang terkena air kemudian terasa dingin. c. Kulit punggung tangan OP yang telah diolesi dengan alkohol terasa dingin dan semakin terasa dingin ketika kulit punggung tangan di tiup.

II. Titik-titik panas, dingin, tekan dan nyeri di kulit

13

III. Lokalisasi taktil No. Lokasi percobaan 1. 2. 3. 4. 5. Kulit ujung jari Telapak tangan Lengan bawah Lengan atas Tengkuk Jarak antara titik rangsang dan titik yang di tunjuk 0,5 cm 1,7 cm 1,2 cm 2,1 cm 1,9 cm 0,1 cm 1 cm 1,2 cm 0,7 cm 1,6 cm 0 0,6 cm 1,4 cm 0,5 cm 1,4 cm 0 0,6 cm 1 cm 0,5 cm 1,5 cm 0 1,3 cm 1,5 cm 1,3 cm 1,3 cm Ratarata 0,12 cm 1,04 cm 1,26 cm 1,02 cm 1,54 cm

IV. Diskriminasi taktil (ambang membedakan dua titik rangsang taktil) Dari percobaan yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil: 1. Pada saat ujung jari diberikan rangsangan, OP dapat mengidentifikasi jumlah rangsangan (1 atau 2 titik rangsang) dengan tepat. 2. Pada saat tengkuk diberikan rangsangan, OP sulit untuk

mengidentifikasi jumlah rangsang, karena dari 5 kali percobaan yang dilakukan di tengkuk, OP hanya mampu mengidentifikasi 1 kali percobaan dengan tepat. 3. Pada saat pipi diberikan rangsangan, OP bisa mengidentifikasi jumlah rangsangan, walaupun masih terdapat 1 kali kesalahan dari 5 kali percobaan. 4. Pada saat lidah diberikan rangsangan, OP dapat mengidentifikasi jumlah rangsangan dengan tepat. 5. Pada saat bibir diberikan rangsangan, OP juga dapat mengidentifikasi jumlah rangsangan dengan tepat. V. Perasaan iringan (after image) Dari percobaan yang telah dilakukan dengan melalui percobaan ke VI terlebih dahulu, telingan kanan OP terasa lebih ringan daripada telinga kiri setelah pensil diangkat. VI. Kemampuan membedakan berbagai sifat benda Kekasaran Permukaan benda Dari percobaan yang telah dilakukan, OP mampu membedakan permukaan ampelas yang memiliki derajat kekasaran yang berbeda-beda. Bentuk benda

14

Dari percobaan yang telah dilakukan, OP mampu menyebutkan bentuk benda-benda yang diberikan. Sepeti bentuk bulat pada manikmanik. Bahan pakaian Dari percobaan yang telah dilakukan, OP mampu menyebutkan jenis/ sifat dari bahan pakaian yang dirabanya seperti kasar dan halus.
VII. Tafsiran sikap

Pada percobaan yang telah dilakukan, ketika lengan bawah OP digerakkan secara pasif ke dekat kepala, dada dan lutut, OP mampu menentukan lokasi lengannya. Kemudian, pada percobaan selanjutnya, saat OP diperintahkan secara perlahan untuk menyentuh bagian telinga, hidung dan dahinya, OP mampu menunjukkan lokasi dengan tepat menggunakan telunjuk jarinya. Namun, pada saat OP diperintahkan dengan cepat terjadi kesalahan dalam menunjukkan lokasi. 7. Pembahasan Dalam praktikum pertama, menunjukkan perbedaan suhu secara bersamaan pada tangan yang berbeda dan disertai dengan peningkatan serta penurunan kalor. Hal tersebut ditunjukkan pada saat kedua tangan dicelupkan pada baskom bersuhu 30C. Thermoreseptor menanggapi dengan cepat saat menerima suhu berbeda, sehingga akan dirasakan pada tangan disuhu 20C berubah menjadi lebih panas dan tangan disuhu 40C menjadi lebih dingin. Dapat disimpulkan bahwa terjadi adaptasi pada Thermoreseptor dan tubuh berusaha menyeimbangkan suhu berbeda tersebut secara bertahap. Dalam praktikum kedua, rangsangan yang diberikan berubah-ubah secara cepat. Berbeda dengan praktikum pertama yang memerlukan waktu dua menit untuk membandingkan perubahan kalor, serta adaptasi reseptor. Terlihat, ketika tangan kering yang ditiup dengan pelan terasa sejuk, kemudian dioleskan dengan dengan air terasa lebih dingin dibandingkan kulit kering yang ditiup. Namun, pada saat diolesi dengan alkohol 70% ternyata lebih dingin dari kedua uji coba sebelumnya, bahkan sempat terjadi kejutan singkat pada kulit punggung tangan yang diolesi dengan alkohol. Hal itu, disebabkan karena alkohol lebih mudah menguap dan disertai kalor yang didapatkan pada

15

permukaan kulit. Kemudian, rasa kejut sesaat yang dialami oleh OP disebabkan reaksi Nociceptor yang menanggapi suhu terlalu tinggi ataupun suhu terlalu rendah sebagai sensasi nyeri, akibat perubahan suhu secara cepat, nociceptor merasakan alkohol memberi sensasi lebih dingin dibanding bahan uji coba yang lain. Dalam praktikum ketiga dilakukan lokalisasi taktil, dimana OP harus menunjukkan daerah yang ditekan dengan pensil. Mekanoreseptor, mengambil peran untuk merespon tekanan, getaran, kinestesi, dan berkaitan dengan indra peraba. Dari tabel pada bagian hasil, terlihat perbedaan yang cukup mencolok pada jari tangan. Sebab, ditemukan ketepatan sebanyak tiga kali berturut-turut dan hasilnya tidak ada yang mencapai 5 cm. Hal ini, menunjukkan pengaruh waktu rangsangan dan proses penyebarannya ke reseptor sekitar akibat luasan lokasi rangsangan. Dalam praktikum keempat, diskriminasi taktil agak sedikit berbeda dari praktikum ketiga karena memakai dua titik yang terkadang akan menyebabkan kesulitan dalam pembedaanya. Hal tersebut disebabkan karena berbagai daerah tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi. Normalnya dua titik terpisah 2 4 mm dapat dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40 mm dapat dibedakan pada dorsum pedis. Dari hasil percobaan, terlihat pada tengkuk dan pipi hanya satu kali OP dapat membedakan kedua titik secara tepat. Berdasarkan literatur, disimpulkan bahwa lokalisasi dua titik lebih peka pada bagian yang menonjol, seperti bibir, hidung, mata, ujung jari dan telinga. Selain itu, Waktu juga mempengaruhi sehingga ada penyebaran sensasi. Dalam praktikum kelima, praktikan melakukan uji coba dengan perasaan iringan (after image). Dari hasil praktikum menunjukkan bahwa telinga telah mengalami adaptasi terhadap beban yang diberikan selama beberapa saat. Namun, setelah beban di angkat akan terasa lebih ringan diakibatkan beban yang menjadi stimulus pada reseptor telah hilang. Hal ini, berkaitan dengan sensasi yang diberikan dalam durasi waktu tertentu, sehingga menjadi memori yang disimpan dalam otak.

16

Dalam praktikum keenam, praktikan melakukan uji coba untuk membedakan sifat benda, mulai dari bentuk, tekstur dan juga jenis atau sifat benda. Dari praktikum ini, OP dapat menyebutkan secara tepat semua benda yang di berikan saat OP menutup matanya. Hal ini, disebabkan karena adanya reseptor taktil. Impuls taktil kasar dihantarkan oleh tractus spinothalamicus anterior, sedangkan impuls taktil halus dihantarkan melalui faciculus gracilis dan faciculus cunneatus. Untuk dapat membedakan benda benda tanpa melihat bentuknya, adalah reseptor kinaesthesi. Dalam praktikum ketujuh, praktikan melakukan tafsiran sikap. Dimana OP akan menutup mata dan menggerakkan tangan serta jari untuk menunjuk ke arah yang diperintahkan rekan OP. berdasarkan hasil uji coba, OP dapat menunjukkan dan menggerakkan lengan ke arah yang tepat sesuai dengan prosedur dari rekan OP. Hal ini, menunjukkan bahwa koordinasi sistem saraf berjalan dengan baik. Sebab, gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan sistem saraf.

8. Daftar Pustaka 1. Sherwood, L. 1996. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Ed 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 2. Robins.2007. Buku Ajar Patologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 3. Sukardi, E. 1984. Neuroanatomi Medica. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia 4. Puspita, I.1999. Psikologi faal.Depok: Universitas Gunadarma 5. Junqueira,L.C. 2003. Histologi Dasar. Ed 10. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC 6. Shidarta, Priguna dan Mahar Mardjono. 2010. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat

17

PERTANYAAN DAN JAWABAN PERASAAN SUBJEKTIF PANAS DAN DINGIN P-MS.1 Apakah ada perbedaan perasaan subyektif antara kedua tangan tersebut? Apa sebabnya? Jawab: Ada. Indra suhu dengan nyata sekali berespons terhadap perubahan suhu disamping dapat berespons terhadap tingkat temperatur yang tetap. Adanya rangsang yang datang berubah-ubah membuat tangan OP terasa berbeda-beda. Sedangkan olesan sebagian kulit punggung tangan OP dengan alkohol memberi kesan lebih dingin ketika ditiup, karena alkohol akan menyerap kalor dipermukaannya. P-MS.2 Apakah ada perbedaan antara ketiga hasil tindakan pada langkah 4,5,6? Apa sebabnya? Jawab: Ada. Adanya rangsang yang datang berubah-ubah membuat tangan terasa berbeda-beda pada praktikum perasaan subjektif panas dan dingin ini. Sedangkan adanya perbedaan antara hasil tindakan pada prosedur ke-4[sejuk], 5[dingin], dan 6[lebih dingin] karena eter atau air akan menyerap kalor dipermukaannya,

18

sehingga punggung tangan akan terasa lebih sejuk atau dingin ketika ditiup. Jadi, apabila rangsang yang datang berubah maka responnya juga berubah. TITIK-TITIK PANAS, DINGIN, TEKAN DAN NYERI DI KULIT P-MS.3 Menurut teori, kesan apakah yang diperoleh bila titik dingin dirangsang oleh benda panas? Bagaimana keterangannya? Jawab: Seharusnya apabila titik dingin dirangsang oleh panas akan terasa dingin pula begitu pun sebaliknya apabila titik panas dirangsang titik dingin akan terasa panas. Karena titik-titik rangsang nyeri, panas, dingin, ataupun tekan itu terdapat pada titik-titik tertentu. Pada saat percobaan ketika telapak tangan diberi rangsang panas dan dingin di titik yang sama maka akan terasa kedua-duanya ataupun adanya sensasi bingung itu bisa dikarenakan kita sulit membedakan mana yang panas dan yang dingin sehingga timbullah sensasi bingung. Reseptor nyeri, panas, tekan, dan dingin apabila dirangsang oleh rangsangan apapun akan terasa sama seperti tempat reseptor itu berada. Tidak akan pernah reseptor dingin dirangsang panas akan menjadi dingin, reseptor dingin akan tetap dingin bila diberi rangsang apapun. Jadi, pada intinya apabila reseptor diberi rangsangan, maka reseptornyalah yang akan bekerja/memberi respon (tergantung reseptor). LOKALISASI TAKTIL P-MS.4 Apakah kemampuan lokasi taktil seseorang sama besarnya untuk seluruh bagian tubuh? Jawab: Berbeda. Karena Reseptor taktil adalah mekanoreseptor.

Mekanoreseptor berespons terhadap perubahan bentuk dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi. Apabila depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan melepaskan potensial aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor taktil yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula. Semakin distal bagian tubuh maka akan semakin sensitif dalam melokalisasi taktil. Contoh: ujung jari dan bibir lebih sensitif karena reseptornya lebih rapat. P-MS.5 Apakah istilah kemampuan seseorang untuk menentukan tempat rangsang taktil?

19

Jawab: Istilah untuk kemampuan seseorang dalam menentukan tempat rangsang taktil disebut dengan topognasia. DISKRIMINASI TAKTIL (AMBANG MEMBEDAKAN DUA TITIK RANGSANG TAKTIL) P-MS.6 Apa artinya bila perangsangan oleh kedua ujung jangka memberi kesan sebagai satu titik rangsang? Jawab: Kemampuan panca indra untuk membedakan keberadaan 2 titik yang mendapat rangsangan sangat dipengaruhi oleh mekanisme inhibisi lateral yang meningkatkan derajat kontras pada pola spasial yang disadari. Setiap jaras sensorik bila dirangsang, secara simultan akan menghasilkan sinyal inhibitorik lateral; sinyal ini menyebar ke sisi sinyal eksitatorik dan menghambat neuron yang berdekatan. Sebagai contoh, ingat lah neuron yang dirangsang di nucleus kolumna dorsalis. Selain dari pusat sinyal eksitatorik, jaras lateral pendek juga menjalarkan sinyal inhibitorik ke neuron di sekitarnya. Jadi, sinyal ini lewat melelui interneuron tambahan yang menyekresi transmitter inhibitorik. Pentingnya inhibisi lateral adalah bahwa inhibisi ini menghambat penyebaran sinyal eksitatorik ke lateral sehingga meningkatkan derajat kontras dalam pola sensorik yang dirasakan di korteks serebralis. Jadi pada bibir dan lidah lebih sensitif dibandingkan dengan organ-organ lain seperti pipi, tengkuk, dll. PERASAAN IRINGAN (AFTER IMAGE) P-MS.7 Bagaimana mekanisme terjadinya perasan iringan? Jawab: Salah satu sirkuit pada sistem saraf adalah sikuit reverberasi atau sirkuit bolak balik (oscilatory). Sirkuit ini dapat disebabkan oleh adanya umpan balik positif di dalam sirkuit neuron. Umpan balik ini ditujukan untuk merangsang kembali masukan sirkuit yang sama sehingga sirkuit itu dapat mengeluarkan letupan berulang-ulang untuk waktu yang lama. Umpan balik positif ini dapat terjadi apabila suatu neuron memiliki percabangan ke neuron lain yang memiliki percabangan yang menuju kembali ke neuron sebelumnya. Jadi, pada intinya adanya sirkuit reverberasi atau sirkuit bolak balik sehingga rangsangan yang telah

20

diteruskan oleh satu neuron kembali lagi kepada neuron tersebut sehingga menimbulkan perasaan iringan (after image). KEMAMPUAN MEMBEDAKAN BERBAGAI SIFAT BENDA P-MS.8 Apa nama kelainan neurologis yang diderita orang membuat kesalahan dalam membedakan sifat benda? Jawab: Bentuk: Astereogsia (agnosia taktil), Berat: baragnosia Kekasaran permukaan: thigmanesthesia TAFSIRAN SIKAP P-MS.9 Apa nama kelainan neurologis yang diderita orang yang membuat kesalahan dalam melokalisasi tempat-tempat yang diminta? Jawab: Disdiadokokinesia Koordinasi gerak terutama diatur oleh serebelum (otak kecil). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa gangguan utama dari lesi di serebelum ialah adanya dissinergia, yaitu kurangnya koordinasi. Artinya bila dilakukan gerakan yang membutuhkan kerja sama antar otot, maka otot-otot ini tidak bekerja sama secara baik, walaupun tidak di dapatkan kelumpuhan. Hal ini terlhat jika pasien berdiri , jalan, membungkuk atau menggerakan anggota badan. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan bahwa dissinergia ini, yaitu : gangguan gerakan dan dismetria. Selain itu, cerebellum ikut berpartisipasi dalam mengatur sikap, tonus, mengintegrasikan dan mengkoordinasikan gerakan somatik. Lesi pada serebellum dapat menyebabkan gangguan sikap dan tonus, dissinergia atau gangguan koordinasi gerakan (ataksia). Gerakan menjadi terpecah-pecah, dengan lain perkataan kombinasi gerakan yang seharusnya dilakukkan secara simultan (sinkron) dan harmonis, menjadi terpecah-pecah dan dilakukan satu persatu serta kadang simpang siur. Gejala klinis yang kita dapatkan pada gangguan serebelar ialah adanya: gangguan koordinasi gerakan(ataksia), disdiadokhokinesia,

dismetria, tremor intense, disgrafia (makrografia) gangguan sikap, nistagmus, fenomena rebound, asthenia, atonia, dan disartria.

21