Anda di halaman 1dari 20

MINYAK IKAN

62

1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Minyak ikan yang berasal dari ikan laut merupakan salah satu sumber yang

kaya akan asam lemak omega-3. Secara komersial minyak ikan yang diproduksi tersedia dalam bentuk kapsul. Ekstraksi minyak ikan adalah satu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak. Cara ekstraksi yang biasa dilakukan ada 5 macam yaitu rendering basah, rendering kering, hidrolisis, silase asam dan ekstrakse pelarut (Ketaren, 1983 dalam Astawan, 1998). Minyak ikan di Indonesia pada saat ini belum sepenuhnya merupakan industry yang mandiri. Karena minyak ikan pada umumnya diperoleh dari hasil samping pengolahan ikan kaleng dan tepung ikan. Selain itu, bahan mentah sangat beragam jenis, mutu, dan ukurannya. Minyak ikan yang diperoleh dari industry pengalengan pada umunya diperoleh dari bahan mentah yang bermutu tinggi (Permata et al., 2003). Minyak ikan samping dari proses penepungan mempunyai kualitas lebih rendah dibandingkan dengan minyak hasil samping oroses pengalengan terutama warna lebih gelap dan bilangan peroksida lebih tinggi dan jumlah asam lemak kasar juga lebih tinggi karena itu perlu dilakukan pemurnian (Ahmad, 2001). Minyak ikan telah lama digunakan dan dikenal diseluruh dunia, Skotlandia. Ekstraksi minyak ikan digunakan untuk membantu pertumbuhan tulang belakang dan perkembangan syaraf pusat. Di Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda minyak hati ikan kod digunakan untuk membantu pertumbuhan tulang belakan berbagai penyakit tersebut pada disembuhkan karena minyak ikan mengandung AUFA khususnya lemak omega-3 (Deflille dan Barlon, 1997 dalam Astawan, 1998). Minyak ikan lemuru merupakan minyak limbah pengolahan ikan lemuru yang diperoleh dari daerah Muncar (Jawa Timur) yang mempunyai kandungan minyak sebanyak 4,5-11,8 % (Hanafiah dan Murdina, 1982). Ikan lemuru sebanyak 100 kg akan diperoleh minyak ikan lemuru sebanyak 20 kg (Kompiang et al., 1981). Limbah dari minyak ikan lemuru masih mengandung minyak ikan tidak jenuh ganda omega tiga yang sangat tinggi sehingga perlu dimanfaatkan sebagai euplementasi ransum ayam broiler. Minyak ikan lemuru dapat dimanfaatkan dalam ransum ayam broiler untuk memenuhi kebutuhan energy

MINYAK IKAN

63

yang tinggi yang tidak mengarah pada pembentukan kadar lemak dan kolesterol (Rusmana et al., 2011). 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum Teknik Limbah Ikan Materi Minyak Ikan adalah agar praktikan mengetahui proses pembuatan minyak ikan dalam bahan pangan khususnya produk perikanan. Tujuan dari praktikum Teknik Limbah Ikan materi Minyak Ikan adalah agar praltikan dapat melakukan pembuatan minyak ikan dan menerapkan pada produk perikanan serta dapat melakukan uji proksimat pada minyak ikan.

1.3

Waktu dan Tempat Praktikum Teknil Limbah Ikan materi Minyak Ikan dilaksanakan pada hari

Kamis tanggal 29 Maret 2012 pukul 08.00 WIB dan preparasi dilakukan pada hari Kamis tanggal 29 Maret 2012 pukul 08.00 WIB. Praktikum ini bertempat di Laboratorium Biokimia, Nutrisi dan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang.

MINYAK IKAN

64

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Karakteristik Sampel Menurut Girsang (2008), taksonomi ikan tongkol dapat digolongkan

sebagai berikut : Phylum Kelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Chordata : Pisces : Perchomorphii : Scombrina : Scombiridae : Euthynnus : Auxis thazard

Menurut Puspitasari (2009), ikan tongkol (Auxis thazard) merupakan salah satu jenis ikan yang sering diolah menjadi ikan pindang. Ikan pindang mempunyai kadar protein yang sangat tinggi yaitu sekitar 20 %. Disamping itu, protein yang terkandung dalam ikan mempunyai mutu yang baik, sebab sedikit mengandung kolesterol (suatu zat yang bisa menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi) dan sedik lemak. Selain itu, terdapat berbagai unsure mineral dan vitamin A. Unsur lainnya adalah asam lemak omega-3, yang sangat bermanfaat untuk menangkal berbagai penyakit degenerative. Ciri-ciri morfologi ikan tongkol (Auxis thazard) yaitu badan memanjang seperti komet atau torpedo dan termasuk ikan tuna kecil (kate) tapi memiliki insang berjumlah 29 sampai 34, tidak bersisik kecuali pada korselet dan garis lurus. Pada bagian ekor diapit dua sirip kecil dan memiliki sirip punggung berjumlah dua (Ikasari, 2008). 2.2 Pengertian Minyak Ikan Menurut Handayani (2010), minyak ikan adalah minyak yang berasal dari jaringan ikan yang berminyak. Minyak ikan diajurkan diet kesehatan karena mengandung asam lemak omega-3, EPA (Eikosa Pentaenoat, DHA (Dokosa Heksaenoat) yang dapat mengurangi peradangan tubuh. Tidak semua ikan menghasilkan asam lemak omega-3 akan tetapi hanya ikan yang mengkonsumsi mikroalga saja yang dapat menghasilkan asal lemak tersebut misalnya saja ikan herring dan ikan sarden atau ikan-ikan predator yang memangsa ikan yang mengandung asam lemak omega-3 seperti ikan air tawar, ikan air danau, ikan

MINYAK IKAN

65

laut yang gepeng, ikan tuna dan ikan salmon dimungkinkan mengandung asam lemak omega-3 yang lebih tinggi. Menurut Ahmadi (2012), minyak ikan samping dari hasil penepungan mempunyai kualitas lebih rendah dibandingkan dengan minyak hasil samping proses pengalengan, terutama warna dan bilangan peroksida. Minyak hasil penepungan mempunyai warna lebih gelap dan bilangan peroksida lebih tinggi, dan jumlah asam lemak bebas juga tinggi karena itu dilakukan pemurnian. Menurut Rosita dan Widasari (2009), minyak merupakan trigliserida yang tersusun atas 3 unit asam lemak, berwujud cair pada suhu kamar (25oC) dan lebih banyak mengandung asam lemak tidak jenuh sehingga mudah mengalami oksidasi. Minyak dapat bersumbe dari tanaman, misalnya minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa dan minyak bunga matahari. Minyak dapt juga bersumber dari hewan, misalnya minyak kan sarden, minyak ika paus dan lain-lain. 2.3 Kualitas Minyak Ikan Lemak atau minyak ikan memiliki keistimewaan khusus ditinjau dari komposisi asam lemaknya. Lemak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh jamak Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA) yang meliputi asam linoleat, linolenat, EPA dan DHA yang merupakan asam lemak esensial yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan kesehatan yang optimal (Salamah et al., 2004). Selama beberapa decade terakhir, minat pola makan pada n-3 PUFA meningkat karena kemampuannya untuk menurunkan serum triasilglisrol dan kolesterol dan konversinya ke eicosanoid yang dikenal dapat menurunkan trombiosis. Selain itu, asam lemak memegang peranan penting dalam pencegahan dan mungkin pengobatan jantung koroner, hipertensi, arthritis dan gangguan inflamansi ataupun lainnya dan DHA penting untuk perkembangan otak (Daputi Managenstek, 2012). Minyak ikan hasil samping dari proses penepungan, mempunyai kualitas lebih rendah dibandingkan dengan minyak hasil samping proses pengalengan, terutama warna dan bilangan peroksida. Minyak hasil penepungan mempunyai warna lebih gelap dan bilangan peroksida lebih tinggi dan jumlah asam lemak bebas juga tinggi karena itu perlu dilakukan pemurnian (Ahmadi, 2012). Minyak ikan telah lama digunakan sebagai suplemen makanan maupun obat dan dikenal luas diseluruh dunia karena merupakan sumber asam lemak tidak jenuh omega-3 terutama Eicosapentaenolic acid (EPA) dan

MINYAK IKAN

66

Docosahexaepoic acid (DHA). Minyak ikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk mencegah dan menyembuhkan beberapa penyakit pada manusia seperti penyakit jantung koroner, ateros lerosis, tekanan darah tinggi, arthritis dan diabetes (Weaver dan Nolah, 1998 dalam Solang, 2011). Minyak ikan yang berasal dari ikan laut merupakan salah satu sumber yang kaya akan asam lemak omega-3. Secara komersial minyak ikan yang diproduksi tersedia dalam bentuk kapsul. Cara ekstraksi yang biasa dilakukan asa cara yaitu rendering basah, rendering kering, hidrolisis, silase asam, dan ekstraksi dengan pelarut (Ketaren, 1986 dalam Astawan, 1998).

2.4

Proses Pembuatan Minyak Ikan Pada pengolahan tepung ikan, minyak ikan diperoleh dengan cara

memisahkan bagian minyak dari cairan hasil pengepresan, sedangkan pada proses pengalengan minyak ikan didapat dengan memisahkan dari cairan yang dikeluarkan selama tahap pengukusan pendahuluan (Permana dan Padwono, 2003). Metode rendering basah dengan pengukusan menurut Astawan (1998), adalah sebagai berikut : Ikan

Pencucian Pengukusan (suhu 105oC, 30 menit)

Pengepresan

Caian (minyak dari air)

Padatan

Corong pemisah

Lapisan Bawah (sisa hasil presan dan air)

Lapisan atas (minyak)

Sentrifuse (10.000rpm, 10 menit

Pemurnian minyak

Minyak ikan kasar

MINYAK IKAN

67

Menurut Moeljanto (1992), bahan mentah untuk membuat mnyak ikan adalah hati ikan cucut/hiu, pari atau kadang-kadang hati ikan tuna (tongkol yang berukuran besar). Cara pengolahannya sendiri ialah : Hati dikeluaran dari perut ikan cucut, dibuang empedunya, dicuci kemudian dipotong kecil-kecil. Sementara itu air didalam langseng dipanaskan, lalu potongan hati diletakan didalam sarangan dan dikukus dalam waktu tertentu sampai minyaknya keluar. Setelah agak dingin dimampatkan sehingga semua cairan yang

mengandung minyak terpisah. Kemudian minyak dipisahkan dari air, dengan alat sentrifugal atau corong pisah minyak yang diperoleh harus dimurnikan lebih dahulu. 2.5 Penyebab Kerusakan Minyak Ikan Kerusakan minyak ikan selama proses penggorengan akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi dari bahan pangan yang digoreng. Pada lemak dan minyak dikenal ada dua tipe kerusakan yang utama, yaitu ketengikan dan hidrolisis. Ketengikan terjadi bila komponen cita rasa dan bau masih mengucap terbentuk sebagai akibat kerusakan oksidan dari lemak dan minyak yang tak jenuh (Hermanto et al., 2010). Kerusakan pada lemak atau minyak dapat terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen dari udara terhadap asam lemak tidak jenuh, dalam lemak atau minyak yang terjadi selama proses pengolahan atau penyimpanan asam lemak tidak jenuh semakin relative erhadap oksigen dengan bertambah jumlah ikatan rangkap pada rantai molekul. Oksidasi spontan asam lemak tidak jenuh didasarkan pada serangan oksigen terhadap ikatan rangkap sehingga terbentuk peroksida (Panagan, 2011). Proses kerusakan minyak ikan terbagi dalam dua cara utama, seperti minyak hewani dan nabati, yaitu terdekomposisi secara oksidatif dan terhidrolisis. Tingkat asam lemak tak jenuh gandanya yang tinggi, termasuk EPA dan DHA, menyebabkan minyak sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif dan tingkat oksidasi minyak ikan secara signifikan berbeda dengan minyak ikan lain. Minyak ikan juga memiliki konsentrasi fosfolipid yang tinggi dan asam lemak tak jenuh sehingga lebih sensitive dan pada minyak lainnya (Waty el al., 2011).

MINYAK IKAN

68

2.6

Uji Proksimat Minyak Ikan Uji kualitas kimia pangan, pengujian dilakukan dengan analisa proksimat,

parameter yang diuji meliputi kandungan protein serat, lemak dan abu. Kandungan protein dianalisa dengan metode Kjedal, analisa air dilakukan dengan cara pengeringan dan menggunakan oven pada suhu 105oC, analisa abu dengan metode gravimetric dengan menggunakan famonol dengan menggunakan suhu 60oC (Sunarti, 2003). Berdasarkan uji proksimat baby fifh nilem, perlakuan penambahan coating berpengaruh signifikan (P < 0,05) terhadap nilai kadar abu, kadar protein, pH yang dihasilkan. Sedangkan perlakuan variasi bentuk poduk tidak berpengaruh secara signifikfikan terhadap kadar air, kadar abu, protein, dan lemak yang dihasilkan. Tidak ada interaksi antara penambahan coating bentuk produk baby fish (Ikasari, 2008). Uji proksimat bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan tiap perlakuan. Hasil uji proksimat tersebut kemudian dikonversi berdasarkan bahan kering (BK) terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menyetarakan BK % (Arief et al., 2008). Faktor penentu minyak atau lemak adalah angka asam, angka asam lemak bebas, angka peroksida, angka TBA dan kadar air. Angka asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram minyak atau lemak. Angka peroksida digunakan untuk mengetahui tingkat kerusakan minyak. Penentu kadar air minyak dapat delakukan dengan cara thermogravimetri atau cara

thermovolumetri (Sudarmadji et al., 2000).

2.7

Manfaat Minyak Ikan Minyak ikan digunakan untuk membantu pertumbuhan tulang belakang dan

perkembangan

syaraf

pusat.

Minyak

hati

ikan

juga

digunakan

untuk

menyembuhkan penyakit paru-paru, reumatik dan penyakit tulang lainnya. Berbagai penyakit tersebut dapat disembuhkan karena minyak ikan mengandung PUFA khususnya lemak omega-3 (Astawan, 1998). Minyak ikan telah lama digunakan sebagai suplemen makanan maupun obat dan dikenal luas diseluruh dunia karena merupakan sumber asam lemak tidak jenuh omega-3 terutama Eicosapentaenolic acid (EPA) dan

Docosahexaepoic acid (DHA). Minyak ikan mempunyai peranan yang sangat

MINYAK IKAN

69

penting untuk mencegah dan menyembuhkan beberapa penyakit pada manusia seperti penyakit jantung koroner, ateros lerosis, tekanan darah tinggi, arthritis dan diabetes (Weaver dan Nolah, 1998 dalam Solang, 2011). Minyak ikan lemuru (MIL) mengandung asam lemak omega-3 EPA (Eicosa Pentanoic Acid) dan DHA (Docosa Hexanoic Acid) yang bermanfaat bagi kesehatan terutama dalam pencegahan penyakit degeratif. Minyak ikan ini terlalu tinggi titik lelehnya untuk digunakan sebagai lemak untuk margarine (Hastuti dan Tyas, 2003). Minyak ikan (body oil), dalam hal ini yang dimanfaatkan adalah lemak ikan yang terdapat didalam daging ikan atau yang disimpan didalam rongga perut ikan. Ekstraksi dilakukan dengan pengkusan ikan utuh melalui pemanasan atau proses silase (silage). Setelah minyak ikan dipisahkan dari air dan dimurnikan, satu kelompok omega-3 dipisahkan dari kelompok asam lemak lain. Kelompok asam lemak omega-3 ini diketahui mempunyai khasiat, menurunkan kadar kolesterol didalam darah dan menycegah proses penyempitan pembuluh darah manusia. Dengan demikian, omega-3 mempunyai kemampuan mencegah timbulnya serangan penyakit jantung (Moeljanto, 1992).

MINYAK IKAN

70

3. METODELOGI

3.1

Alat dan Fungsi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Teknik Limbah Ikan materi

Minyak Ikan sebagai berikut : Chooper Pisau Panci Nampan Lemari es suhu rendah Kompor Timbangan digital Oven Beaker glass 250 ml Baskom Stopwatch Sentrifuse Talenan Loyang Saringan Kamera Cuvet Botol vial Pipet tetes Sendok : sebagai sumber pemanas : untuk menin=mbang sampel dengan metelitian 0,01 gram : untuk mengeringkan sampel sampai kadar air 8 % : untuk wadah minyak ikan sementara : untuk tempat sampel : untuk menghitung waktu : untuk memisahkan molekul besar dan molekul kecil (cairan dan padatan) : sebagai alas saat penyiangan : sebagai alas saat pengeringan : untuk menyaring sampel : sebagai alat dokumentasi pada tiap tahap perlakuan : sebagai wadah saat proses sentrifuse : tempat meletakan hasil dari minyak ikan : untuk mengambil minyak setelah disentrifuse : untuk mengambil sampel yang telah dihaluskan : untuk menggiling sampel (ikan tongkol) : untuk menyiangi dan memotong sampel : untuk mengukus bubur mentah ikan : sebagai wadah alat dan bahan : tempat penyimpanan bubur ikan mentah pada

MINYAK IKAN

71

3.2 Bahan dan Fungsi Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Teknik Limbah Ikan materi Minyak Ikan sebagai berikut : Ikan tongkol segar Plastik Tali Kertas lebel Tissue Air Kain blancu : sebagai sampel dalam pembuatan minyak ikan : tempat ikan tongkol setelah dihaluskan : untuk mengikat plastic : menandai agar sempel tidak tertukar : membersihkan dan mengeringkan alat setelah dicuci : untuk mencuci alat yang telah digunakan : untuk menyaring sampel

MINYAK IKAN

72

3.3 Skema Kerja

Ikan basah 500 gram

Dibuang isi perut (jeroan) dicuci

Digiling dengan penggiling ulir

Bubur mentah ikan

Dikukus dengan uap panas selama 1 jam

Bubur matang ikan

Dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air sekitar 8%

Cake kering ikan

Di peras dengan alat pres Minyak

Disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 5000 rpm

Analisa proksimat

MINYAK IKAN

73

4. PEMBAHASAN

4.1

Data Hasil Pengamatan Berdasarkan pengamatan pada praktikum Teknik Limbah Ikan materi

Minyak Ikan didapatkan hasil analisa minyak ikan sebagai berikut :

Parameter Bilangan Penyabunan Angka Iod Bilangan Peroksida

Total 57,012 mg KOH/g Lemak 84,328 g I2/g Lemak 1,069 mg/kg

4.2

Analisa Prosedur Pada praktikum Teknik Limbah Ikan materi Minyak Ikan, langkah pertama

yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan antara lain chooper, pisau, panic, nampan, lemari es, kompor, timbangan digital, oven, beaker glass 250 ml, baskom, stopwatch, sentrifuse, talenan, Loyang, saringan, kamera, cuvet, botol vial, pipet tetes dan sendok. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain ikan tongkol segar, plastic, tali , kertas label, tissue, air dan kain blancu. Langkah selanjutnya, ikan tongkol segar disiangi dengan membuang seluruh isi perut lalu dicuci dengan air bersih. Kemudian dihaluskan menggunakan chooper sampai halus hingga didapatkan bubur mentah

kemudian ditimbang menggunakan timbangan digital sebanyak 500 gram. Selanjutnya bubur ikan dimasukan ke dalam plastic dan diikan dengan tali agar plastic tidak terbuka lalu dimasukan kedalam kulkas agar tetap segar. Kemudian bubur ikan dikukus di dalam panci dengan uap panas selama 1 jam. Tujuan dikukus adalah agar bubur ikan mentah menjadi matang. Setelah dikuku, bubur ikan diletakan pada Loyang kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 45 menit hingga kadar air mencapai sekitar 8 %. Ini bertujuan agar kadar air berkurang sehingga nantinya akan mempermudah dan mempercepat dalam memisahkan minyak dengan air. Hasil dari proses pengovenan tadi disebut dengan cake kering ikan. Kemudian cake kering ikan dipres denga alat pres agar air beserta minyak dapat dipisahkan dengan cake.

MINYAK IKAN

74

Menurut Hasbullah (2009), bubur ikan atau ikan kecil dikukus dengan uap panas selama 1 jam sehingga bubur atau ikan kecil menjadi matang sempurna. Hasil pengukusan disebut dengan bubur matang ikan. Bubur matang ikan dikeringkan dengan alat pengering (oven) sampai kadar air sekitar 8 %. Hasil pengeringan disebut cake kering ikan. Cake kering ikan mempunyai kadar lemak tinggi (diatas 30 %). Hasil minyak dari pengepresan kemudian dimasuka ke dalam cuvet kurang lebih 1 ml. Kemudian disentrifuse selama 30 menit dengan kecepatan 5000 rpm agar minyak ikan dapat terpisah dengan air dan endapan. Minyak yang telah terpisah dimasukan ke dalam botol vial dan selanjutnya dilakukan uji proksimat dari minyak ikan yang didapat. Menurut Estiasih (2009), adanya minyak hasil pengepresan dingin (cold pressing) didefinisikan oleh Index Allimentarius Commision sebagai

lemak/minyak hewani yang diperoleh tanpa mengubah lemak/minyak melalui pengolahan mekanis sata atau panas saja. Minyak ini dapat dimurnikan melalui pencucian dengan air, pengendapan, penyaringan dan sentrifuse saja dan tidak boleh dimurnikan secara kimiawi. 4.3 Analisa Hasil Berdasarkan uji proksimat didapatkan kualitas dari minyak ikan dengan menggunakan parameter pengamatan bilangan penyabunan 57,012 mg KOH/g lemak, angka iod 84,328 g I2/g lemak dan bilangan peroksida 1,069 mg/kg. 4.3.1 Angka Iodium Angka iodum yang didapat dari hasil uji proksimat terhadap minyak ikan yang didapatkan pada praktikum ini sebesar 84,328 g I2/g lemak. Menurut Setha (1997), rendahnya bilangan iodium konsentrat pada rasio minyak atau urea 1 : 1 dan 2 : 1 disebabkan karena hanya sedikit asam lemak jenuh atau tidak jenuh yang memiliki ikatan rangkap relative sdikit dapat diikat urea untuk membentuk kompleks urea asam lemak. Dengan demikian jumlah asam lemak tersebut tetap banyak di dalam filtrate. 4.3.2 Angka Penyabunan Angka penyabunan yang didapat dari hasil uji proksimat terhadap minyak ikan yang didapatkan pada praktikum ini sebesar 57,012 mg KOH/g lemak. Anga

MINYAK IKAN

75

penyabunan dapat dipergunakan untuk menentukan berat molekul minyak dan lemak secara kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai C pendek berarti mempunyai berat molekul reltif kecil akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya minyak dengan berat molekul besar mempunyai angka penyabunan relative kecil (Sudarmadji et al., 2000). 4.3.3 Angka Peroksida Angka peroksida yang didapat dari hasil uji proksimat terhadap minyak ikan yang didapatkan pada praktikum ini sebesar 1,069 mg/kg. Menurut Sudarmadji (2009), kerusakan lemak atau minyak yang utama adalah karena peristiwa oksida dan hidrolitik, baik enzimatik maupun non enzimatik. Kemudian menurut Wijana (2005), dalam Tarigan (2007), standar mutu minyak goreng di Indonesia yang diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 347-1995 seoerti berikut : bilangan peroksida maksimal 2 mg/kg dan asam lemak bebas maksimal 43 %.

MINYAK IKAN

76

5. KESIMPULAN

5.1

Kesimpulan Dari praktikum Teknik Limbah Ikan materi Minyak Ikan dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut : Minyak ikan adalah minyak yang berasal dari jaringan ikan yang berminyak. Minyak ikan banyak mengandung asam lemak dari kom[leks n-3 PUFA dan LO-3 yang merupakan asam lemak paling penting untuk kesehatan. Minyak ikan di Indonesia saat ini belum sepenuhnya industry yang mandiri karena minyak ikan pada umumnya diperoleh dari hasil samping pengolahan ikan kaleng atau tepung ikan. Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan tongkol (Auxis thazard). Minyak ikan hasil penepungan kualitasnya lebih rendah daripada hasil pengalengan. Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang mengandung minyak atau lemak. Minyak ikan juga bermanfaat untuk perkembangan tulang belakan atau perkembangan syaraf pusat. Berdasarkan uji proksimat didapatkan kualitas dari minyak ikan dengan menggunakan parameter pengamatan bilangan penyabunan 57,012 mg KOH/g lemak, angka iod 84,328 g I2/g lemak dan bilangan peroksida 1,069 mg/kg. 5.2 Saran Pada praktikum ini diharapkan para praktikan lebih hati-hati, teliti dan bekerja secara procedural agar hasil yang didapatkan maksimal. Selain itu kerjasama kelompok juga harus ditingkatkan agar semua praktikan dapat memahami maksud dan tujuan dari praktikum ini.

MINYAK IKAN

77

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, 2001. Pemurnian Minya Ikan hasil Samping Penepungan Ikan Lemuru (Sardinella longsceps) Menggunakan Zeolit Alami Terdeteksi Pada Industri Perikanan. Prodi Industri Pertanian. Universitas Tungga Dewi. Malang.

Ahmadi, 2012. Pemurnian Minya Ikan hasil Samping Penepungan Ikan Lemuru (Sardinella longsceps) Menggunakan Zeolit Alami Keaktivasi Perikanan. Prodi Industri Pertanian. Universitas Tungga Dewi. Malang.

Arief, Joyo M; Rahadi. 2008. Poses Emulsifikasi Minyak Pada Ikan Kod. Jurnal Teknologi Hasil Perikanan. Undip : Semarang.

Astawan, Made. 1998. Teknik Ekstrak dan Pemanfaatan Minyak Ikan Untuk Kesehatan. Buletin Teknologi dan Industri Pangan vol IX no 1.

Deputi Managistek. 2012. Warta Pasar Ikan Wader. Direktorat Pemasaran Dalam Negeri. Direktorat Jendral Pengolahan vol 83.

Estiasih, Teti. 2009. Minyak Ikan Teknologi dan Penerapannya Untuk Pangan dan Kesehatan. Graha Ilmu : Jakarta.

Girsang. 2008. Seleksi dan Potensi Budidaya Jenis-Jenis Ikan Tongkol dari Genus Euthynnus. Vol 3 no 1.

Google Images. 2012. Klasifikasi Ikan Tongkol (Auxis thazard). http://googleimages.com. Diakses pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 10.00 WIB.

Handayani. 2010. Analisis Proksimat Tepung Hasil Proses Ekstraksi Minyak dari Puree Ikan. Jurnal Ikhtioligi Indonesia volume 3 nomor 2.

Hasbullah Hastuti, Sri; Lachmuddin Syarani; Tri Winarni Agustini. 2000. Kajian Subtitusi Tepung Ikan Kembung, Rebon, Rajungan dalam Berbagai Konsentrasi Terhadap Mutu Fisika dan Kimiawi dan Organoleptik pada Mie Instan.

MINYAK IKAN

78

Hemanto, S; Ahira M; Prita W. 2010. Analisis Tingkat Kerusakan Lemak Nabati dan Lemak Hewani Akibat Proses Pemanasan. Ikasari, Diah dan Th. Dwi Suryaningrum. 2008. Pengaruh Penambahan Coating dan Bentuk Produk Terhadap Mutu Baby Fish Nilem (Osthecalus hasselti). Seminar Nasional Tahunan V. Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. 26 Juli 2008.

Moeljanto. 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya : Jakarta.

Panagan, A T Hanity; Jujur V G. 2011. Analisis Kuantisasi dan Kuantitatif Asam Lemak Tak Jenuh Omega-3 dari Minyak Ikan Patin (Pangasius pangasius) dengan Metode Kruna.

Permana; Setyo; Bambang Pramono; Suhermiyati. 2003. Efek Konsentrasi Kromium (Cr3+) dan Salinitas Berbeda Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan Untuk Pertumbuhan Ikan Nila. Universitas Diponegoro : Semarang.

Puapitasari. 2009. Diversivikasi Pembuatan Tauco dengan Penggantian Fungsi Kedelai menggunakan Campuran Jagung dan Tepung Ikan. Universitas Diponegoro : Semarang Rosita dan Widasari. 2009. Optimasi Pengeringan Biji Karet (Havea brasillensis) pada Ekstraksi Minyak Biji Karet untuk Menyamakan Kulit. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. Vol 19 (2) 5 : 107-114.

Rusmana, Deny; Dulatif Mata Wiharjo dan Lalah Latifah S. 2011. Pengaruh Ransum Mengandung Minyak Ikan Lemuru. IPB : Bogor.

Salamah; Joko Santoso; Ella. 2004. Pemanfaatan Tepung Tulang Ikan Patin Pangasius sp Sebagai Sumber Kalsium dan Fosfor dalam Pembuatan Biskuit. Ichtyos Januari 2008. Vol 8 no 1 : 9-14.

Setha, B. 2007. Isolasi Asam Lemak Omega-3 dari Limbah Minyak Hasil Penepungan Ikan Lemuru (Sardinella longsceps) Terhadap Pengaruh Rasio Urea Minyak dan Lemak. Jurnal llmu Pengetahuan dan Teknologi vol 2. Universitas Pattimura.

Sudarmadji, Slamet; Bambang Haryono; Suhardi. 2000. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty : Yogyakarta.

MINYAK IKAN

79

Suharti, J; A Banowati; W Hermana; K E Wiryawan. 2003. Komposisi dan Kandungan Kolesterol Kulkus Ayam Broiler Diare yang Diberi Tepung Daun Salam (Syzgii polyantrim) dalam Ransum. FAPET IPB : Bogor.

Tarigan, Novriani; Ida Nurhayati; Riris Oppusungu. 2007. Pengaruh Pemberian Penyuluhan Terhadap Angka Peroksida, Angka Lemak Bebas dan Suhu Penggorengan Minyak Goreng pada Pedagang Makanan Jajanan di Lubuk Pukam. Jurnal Ilmiah PANNMED vl 2 no 1.

Watty, H R Nurahman dan Saraswati. 2011 Inovasi Muda Teknologi Penyimpanan Minyak Ikan Skala Industri.

MINYAK IKAN

80

LAMPIRAN

Sampel ikan tongkol

membersihkan kotoran ikan

Di masukkan baskom

Pencucian sampel

Ikan dipotong kecil-kecil Ditimbang sebanyak 500 gram

Dihalusakan ikan

Dikukus bubur ikan mentah

MINYAK IKAN

81

Disentrifuse minyak ikan

Dikeringkan dengan oven