Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENGERTIAN ISTILAH PASAL 1 ARTI ISTILAH-ISTILAH 1. PERUSAHAAN Adalah PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk.

Divisi Mi Cabang Jawa Timur yang beralamat di Jl. Raya Cangkringmalang Beji Pasuruan Jawa Timur, termasuk kantorkantor penjualan distrik di seluruh wilayah operasi dan dengan kantor pusatnya di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Jl. Jendral Sudirman Kav 76 78 Jakarta 12910. PENGUSAHA Adalah Pengurus Perusahaan atau Kepala Cabang atau seseorang yang diserahi kepercayaan dan wewenang untuk mengatur dan memimpin perusahaan. PIMPINAN Adalah orang / sekelompok pekerja pada golongan tertentu yang diserahi kepercayaan dan wewenang untuk mengatur perusahaan. SERIKAT PEKERJA Adalah Organisasi di lingkungan Perusahaan yang dibentuk dari, oleh dan untuk Pekerja sesuai perundang-undangan dan peraturan yang berlaku serta diketahui oleh Pengusaha. Dalam hal ini SP RTMM SPSI PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk. Divisi Mi Cabang Jawa Timur yang telah tercatat pada kantor Disnakertrans Kabupaten Pasuruan. LOKASI KERJA Adalah tempat / wilayah dimana pekerja ditempatkan dan ditugaskan oleh pimpinan untuk melakukan aktifitas kerja untuk kepentingan Perusahaan. LINGKUNGAN PERUSAHAAN / LINGKUNGAN KERJA Area/wilayah sebagai tempat dilaksanakannya aktivitas Perusahaan yang menuntut tanggung jawab dalam menjaga nama baik Perusahaan sehingga ketentuan & peraturan Perusahaan tetap berlaku. PEKERJA Adalah setiap orang yang mengadakan hubungan kerja untuk waktu tidak tertentu dengan mendapat gaji/upah dari Perusahaan serta telah melampaui masa percobaan. ANGGOTA SERIKAT PEKERJA Adalah Pekerja yang mengadakan hubungan kerja dengan Perusahaan dan masih terdaftar sebagai Pekerja di Perusahaan dan terdaftar sebagai anggota Serikat Pekerja yang sah. HARI KERJA Adalah jadwal hari kerja sehari-hari dengan jangka waktu berjalan dari jam 07.00 s/d 07.00 hari berikutnya yang diberlakukan dengan berpedoman undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku. WAKTU KERJA Adalah ketetapan waktu kerja bagi pekerja sesuai dengan Peraturan Perundangan Ketenagakerjaan yang berlaku untuk melakukan pekerjaan tugas dan tanggung jawabnya di lokasi kerja dan atau Perusahaan dalam menghasilkan standard hasil kerja yang ditetapkan oleh Perusahaan. Waktu Kerja Normal menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku adalah : a. 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 hari kerja. b. 8 (delapan) jam sehari dari 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 hari kerja. KERJA LEMBUR Adalah pekerjaan yang dilakukan selebihnya dari 7 (tujuh) jam atau 8 (delapan) jam kerja sehari, selebihnya 40 (empat puluh) jam seminggu atau bekerja pada hari libur / istirahat mingguan atas perintah Pimpinan atau hari raya resmi. JAM LEMBUR Adalah waktu pekerja benar-benar melakukan kerja lembur. Waktu kerja lembur 15 menit dibulatkan menjadi 1/2 jam dan kurang dari 15 menit tidak diperhitungkan. ISTIRAHAT MINGGUAN Adalah hari Minggu atau hari yang telah dijadwalkan untuk istirahat mingguan. ISTIRAHAT JAM KERJA Adalah istirahat jam kerja dilaksanakan paling sedikit 1/2 jam setelah melakukan selama 4 jam kerja / secara bergilir dan waktu istirahat tidak termasuk jam kerja.

2. 3. 4.

5. 6.

7. 8. 9.

10.

11.

12. 13. 14.

-1-

15. 16. 17.

HARI RAYA / LIBUR Hari-hari libur yang ditetapkan oleh Pemerintah RI Cq Departemen Agama dan/ atau Departemen terkait lainnya. ISTRI / SUAMI Adalah seorang Istri / Suami yang sah dan terdaftar pada Perusahaan. ANAK Adalah anak-anak yang sah dan masih menjadi tanggung jawab Pekerja yang bersangkutan serta terdaftar pada Perusahaan dengan ketentuan : a. Anak kandung, anak tiri Pekerja yang dibuktikan dengan surat kelahiran dan surat nikah b. Anak angkat yang dikuatkan oleh Putusan Pengadilan. c. Anak-anak yang sah dari seorang Pekerja wanita janda yang ditinggal mati oleh suaminya dapat dianggap sebagai anak tanggungan Pekerja wanita tersebut selama pekerja tersebut tidak kawin lagi. d. Anak yang mendapat tunjangan adalah 3 (tiga) orang anak yang sah, belum kawin, sampai dengan umur 21 tahun dan tidak berpenghasilan sendiri atau masih sekolah. e. Anak cacat yang tidak mampu menghidupi dirinya sendiri. Usulan Penambahan Umur Anak pada point d. d. Anak yang mendapat tunjangan adalah 3 (tiga) orang anak yang sah, belum kawin , sampai dengan umur 23 tahun dan tidak berpenghasilan sendiri atau masih sekolah.

18.

PEKERJA WANITA a. Wanita yang telah kawin dianggap berstatus lajang. b. Pekerja Wanita dapat menanggung anak apabila: b.1 Suami tidak mampu lagi bekerja oleh karena mengalami cacat fisik/mental dan/atau berusia lebih dari 60 (enam puluh) tahun yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Dokter Ahli dan Kecamatan setempat. b.2 Di tempat suaminya bekerja tidak mendapatkan fasilitas pemeliharaan kesehatan yang dikuatkan dengan surat keterangan dari Perusahaannya bekerja dan surat keterangan setingkat Kecamatan.

c.

Pekerja Wanita dapat menanggung suami apabila suami tidak mampu lagi bekerja karena mengalami cacat fisik/mental dan/atau berusia lebih dari 60 (enam puluh) tahun, sehingga tidak mampu menghidupi dirinya/tidak memiliki penghasilan yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter Ahli dan Kecamatan setempat.

Untuk istilah Pekerja Wanita pada pasal 1 Poin 18 ini dihapus, karena bertentangan dengan UUD 1945, Hak Asasi Manusia dan UU ketenagakerjaan karena Merupakan bentuk Diskriminasi terhadap Pekerja Wanita. Karena dalam istilah Pekerja Wanita ini Hak-hak nya yang seharusnya diterima penuh dan seharusnya sama dengan Pekerja Laki-laki dibatasi bahkan dikurangi dengan syarat-syarat yang ada. Landasan Hukumnya : 1. UUD 1945 pasal 27, ayat 1 dan 2 1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di Dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. 2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaann dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. UUD 1945 Pasal 28 H ayat 3 Setiap warga negara berhak mendapatkan jaminan sosial 2. Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB (1948), Pasal 23(2) Setiap orang, tanpa diskriminasi, memiliki hak atas upah yang setara untuk pekerjaan yang -2-

setara. Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13/2003: Perlindungan terhadap marjinalisasi perempuan terdapat pada pasal 5 dan 6; terhadap diskriminasi upah terdapat pada pasal 88-89; terhadap fungsi reproduksi biologis perempuan terdapat pada pasal 81-82; terhadap kekerasan seksual terdapat pada pasal 86 ayat 1; terhadap diskriminasi dalam organisasi buruh terdapat dalam pasal 119-121. 4. Undang-Undang No.7/1984 Tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, khususnya pada pasal 11 tentang menghapusan diskriminasi terhadap perempuan di lapangan pekerjaan. 5. Surat Edaran menteri tenaga kerja republik indonesia nomor: se-04/men/88 tentang pelaksanaan larangan diskriminasi Pekerja wanita. 6. Se.04/M/Bw/1996 Tentang Larangan Diskriminasi Bagi Pekerja Wanita Dalam PP/KKB 7. Konvensi ILO No.100 Tentang Kesetaraan Upah (Undang-Undang No.80/1957). Kesetaraan upah dalam UU ini adalah kesetaraan upah bagi laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang setara nilainya mengacu pada tingkat upah yang ditetapkan tanpa diskriminasi jenis kelamin. Konvensi Upah yang Setara, 1951 (No.100) Rekomendasi Upah yang Setara, 1951 (No.90) 8. Undang-Undang No.21/1999. Pengesahan Konvensi ILO No. 111 tentang Anti-Diskriminasi Jabatan dan Pekerjaan Konvensi Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan), 1958 (No.111) Rekomendasi Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan), 1958 (No.111) 9. Konvensi ILO No. 156 Mengenai Kesetaraan Kesempatan Dan Perlakuan Yang Sama Bagi Pekerja Laki-Laki Dan Perempuan: Pekerja Dengan Tanggung Jawab Keluarga 10. Konvensi ILO 102/1952 Tentang 9 Perlindungan dasar : kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin , hari tua, meinggal , pensiun, tunjangan keluarga & pengangguran. 11. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Pasal 3, 4, 6, 7, 16 12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pasal 33 13. UU No 40 tahun 2004 Tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional ( SJSN ) Pasal 2, 3, 19, dan 20 14. UU No 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Pasal 3 15. Peraturan Daerah Kab. Pasuruan No 22 Tahun 2012 Tentang sistim Penyelenggaraan Ketenagakerjaan Di Kabupaten Pasuruan 3.

19. 20.

AHLI WARIS Adalah istri / suami atau anak yang sah atau pihak yang ditunjuk menurut hukum untuk menerima warisan. PERATURAN & PERUNDANG-UNDANGAN

-3-

21.

22.

23.

Adalah sumber hukum ketenagakerjaan yang terdiri dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri dan Peraturan / Keputusan Pemerintah. PERATURAN PERUSAHAAN Adalah ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian Kerja Bersama, Tata Tertib Perusahaan, Standard Practice / SK Direksi, Standard Prosedur Kerja, Tata Tertib Pabrik, Good Manufacturing Practice dan pelbagai Internal Memorandum dari Pimpinan Perusahaan. SURAT PERINGATAN Adalah suatu surat resmi yang dikeluarkan oleh Pimpinan Perusahaan, karena adanya tindakan indisipliner atau perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan-ketentuan Peraturan Perundangan ataupun Peraturan Perusahaan. STATUS PEKERJA : a. Pekerja Waktu Tidak Tertentu Adalah pekerja yang dinyatakan lulus masa percobaan oleh Perusahaan yang dipekerjakan secara tetap dalam jangka waktu yang tidak tertentu atau sampai memasuki usia pensiun yang diatur sesuai peraturan perundangan yang berlaku. b. Pekerja dengan Masa Percobaan Adalah pekerja yang dipekerjakan dalam waktu 3 (tiga) bulan pertama dan dinyatakan sebagai masa percobaan oleh Perusahaan pada saat penandatanganan perjanjian kerja. Hak dan kewajiban Pekerja selama Masa Percobaan diatur sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Poin 23 ini dihapus Karena sudah terakomodir dalam pasal 1 ayat 7 tentang istilah pekerja (Adalah setiap orang yang mengadakan hubungan kerja untuk waktu tidak tertentu dengan mendapat gaji/upah dari Perusahaan serta telah melampaui masa percobaan.) Usulan Tambahan Istilah Baru 24. GAJI / UPAH : Adalah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundangundangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Landasan Hukumnya : 1. UU 13 2003 , Pada PKB kita tidak terdapat Pengertian tentang Upah/Gaji sebagai Kewajiban Pengusaha dan sebagai Hak bagi Pekerja.

B A B II UMUM PASAL 2 PARA PIHAK YANG MENGADAKAN PERJANJIAN Perjanjian Kerja Bersama ini diadakan antara : PT. INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR Tbk. Divisi Mi, Cabang Jawa Timur yang berdomisili di Jl. Raya Cangkringmalang Beji Pasuruan Jawa Timur selanjutnya disebut PENGUSAHA. Dengan Serikat Pekerja RTMM Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Unit Kerja PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk Divisi Mi Cabang Jawa Timur. Yang terdaftar pada Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Pasuruan, yang mewakili anggota-anggotanya di pabrik, kantor penjualan distrik,

-4-

dan di seluruh wilayah kerja Perusahaan Cabang Jawa Timur yang selanjutnya disebut SERIKAT PEKERJA. PASAL 3 LUAS / LINGKUP PERJANJIAN KERJA BERSAMA Telah menjadi kesepakatan antara Pengusaha dan Serikat Pekerja bahwa isi Perjanjian Kerja Bersama ini terbatas lingkupnya dan hanya mengatur hal-hal yang umum saja. Peraturan tambahan / pelaksanaan yang bersifat lokal, sepanjang tidak bertentangan dengan isi dan jiwa Perjanjian Kerja Bersama, dapat dirumuskan antara wakil Pengusaha dan Serikat Pekerja setempat melalui Forum Bipartite. Seluruh isi Perjanjian Kerja Bersama yang mengatur tentang tata tertib kerja, laranganlarangan serta sanksi-sanksi terhadap tindakan indisipliner yang bertujuan untuk menegakkan disiplin, moral, etika, keamanan / keselamatan kerja serta produktifitas kerja berlaku kepada seluruh pekerja tanpa kecuali. Jaminan sosial dan fasilitas bagi Pekerja pada golongan jabatan tertentu dan tidak diatur dalam perjanjian kerja ini akan diatur tersendiri oleh Pengusaha. Bagi Pekerja dengan hubungan kerja waktu tertentu, diatur dalam ketentuan tersendiri oleh Pengusaha dengan memperhatikan Peraturan Perundang-undangan tentang ketenagakerjaan yang berlaku. Selama masa berlakunya Perjanjian Kerja Bersama ini, a. Pengusaha, Serikat Pekerja beserta anggotanya secara sadar, beritikad baik dan bertanggung jawab akan melaksanakan isi Perjanjian Kerja Bersama ini baik yang tersurat maupun tersirat. b. Pengusaha dan Serikat Pekerja dapat membuat Persetujuan-persetujuan bersama, yang disetujui secara musyawarah dan mufakat, sepanjang tidak bertentangan dengan isi Perjanjian Kerja Bersama ini. c. Pengusaha dan Serikat Pekerja berkewajiban secara bersama untuk mensosialisasikan isi Perjanjian Kerja Bersama ini kepada semua anggotanya. PASAL 4 PENGAKUAN-PENGAKUAN PENGUSAHA DAN SERIKAT PEKERJA Dengan memperhatikan hal-hal yang secara jelas diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama ini beserta peraturan-peraturan Pemerintah yang berlaku, maka disepakati dan diakui bahwa pengawasan, pengelolaan, penanganan jalannya operasional Perusahaan dan para Pekerja sepenuhnya adalah hak Pengusaha. Terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan Perusahaan maupun Pekerja, maka Serikat Pekerja akan ikut membantu guna tercapainya tujuan tersebut di atas. Serikat Pekerja mempunyai hak dan berfungsi : a. Sebagai penyalur aspirasi kolektif anggotanya dalam upaya perlindungan dan keselamatan kerja serta peningkatan kesejahteraan Pekerja. b. Sebagai penasehat di bidang ketenagakerjaan bagi anggota yang memerlukannya. c. Sebagai motivator usaha peningkatan produktifitas kerja dan partisipasi kerja. d. Sebagai unsur pemantap ketenangan usaha dan ketenangan kerja di Perusahaan. e. Sebagai sarana komunikasi kepada seluruh anggotanya untuk dapat membaca, memahami dan melaksanakan isi Perjanjian Kerja Bersama. Pengusaha mengakui antara lain : a. Bahwa seorang Pekerja berhak menjadi anggota Serikat Pekerja. b. Bahwa pengupahan yang layak, jaminan sosial yang baik serta adanya kesempatan untuk maju bagi para Pekerja tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan, akan mendorong tercapainya produktifitas kerja yang tinggi dan masa kerja yang relatif lama. c. Bahwa keamanan, keselamatan dan ketentraman kerja sangat dibutuhkan para Pekerja. d. Bahwa keluhan Pekerja akan mendapat perhatian yang semestinya dan penyelesaian yang adil dan memadai. Serikat Pekerja mengakui antara lain : a. Bahwa pengelolaan kegiatan unit-unit usaha adalah hak dan wewenang sepenuhnya Pengusaha.

1.

2.

3. 4. 5.

1.

2.

3.

4.

-5-

b.

5.

Bahwa pengusaha dan Pimpinan berhak mengembangkan dan menerapkan sistem dan prosedur manajemen untuk mengatur pengelolaan perusahaan secara menyeluruh demi tercapainya tujuan perusahaan. c. Bahwa Pimpinan mempunyai hak memberi perintah kerja dan meminta daya kerja yang layak dari seorang Pekerja. d. Bahwa usaha-usaha peningkatan dan mengamankan Perusahaan dalam berbagai aspeknya, akan mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak demi kesejahteraan bersama. Pekerja mengakui bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dan dihasilkan oleh Pekerja selama dalam rangka Pekerja mempunyai hubungan kerja dengan Perusahaan, adalah menjadi milik Pengusaha dan tidak dapat disebarluaskan dengan kepentingan apapun tanpa seijin Pengusaha. B A B III KOMITMEN, BUDAYA, SIKAP DAN ETOS KERJA

PASAL 5 KOMITMEN Sebagai unsur Tripartit dalam falsafah Hubungan Industrial Pancasila (HIP) maka setiap Pekerja mempunyai dan memiliki komitmen yang selalu ditumbuhkembangkan, sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pekerja senantiasa melaksanakan pekerjaan secara bertanggung jawab, penuh dedikasi dan selalu berikhtiar untuk bekerja hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Pekerja senantiasa menyadari bahwa kerja merupakan tugas dan pengabdian di dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Sesama Pekerja saling menghargai dan saling menghormati untuk menciptakan persatuan dan kesatuan serta kesetiakawanan dalam menjalankan tugas-tugas kekaryaannya. Dalam menghadapi masalah bersama, Pekerja akan lebih mengutamakan jalan musyawarah dan mufakat dengan hasil yang seadil-adilnya. Pekerja akan senantiasa mencintai dan menghargai pekerjaan untuk mencapai hasil yang maksimal. Mampu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajibannya, berwatak jujur dan adil, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup Pekerja. Pekerja akan senantiasa berupaya mengutamakan budi luhur, mengembangkan sikap yang bertanggung jawab atas dasar ikut memiliki, rasa ikut bertanggung jawab dan mawas diri. Pekerja menyadari pentingnya kerjasama dengan Pengusaha dan Pemerintah guna menciptakan Hubungan Industrial Pancasila demi perkembangan dan kelangsungan Perusahaan maupun untuk meningkatkan kesejahteraan Pekerja.

PASAL 6 BUDAYA KERJA Dalam rangka mengembangkan falsafah dan budaya perusahaan maka Pekerja mempunyai komitmen mengamalkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya kerja sebagai berikut : 1. Pekerja bertekad untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan CORE VALUES INDOFOOD GROUP dalam pekerjaan sehari-hari. 2. Mendukung setiap usaha dan kegiatan Perusahaan dalam rangka menyebarluaskan pemahaman dan pengamalan CORE VALUES INDOFOOD GROUP dalam pekerjaan seharihari. PASAL 7 SIKAP KERJA Sebagai Pekerja perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan, maka setiap Pekerja mempunyai komitmen sebagai berikut: 1. Pekerja senantiasa menjaga kesehatan fisik dan mental serta berperilaku sehat untuk memenuhi syarat dalam proses produksi dan distribusi produk pangan. 2. Pekerja senantiasa menjaga seluruh alat-alat dan bahan-bahan yang berhubungan dengan proses produksi dan distribusi agar senantiasa memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan.

-6-

3. 4. 5.

Pekerja senantiasa menjaga dan memelihara lingkungan kerja agar terjamin kebersihan dan kesehatan serta keamanannya sesuai dengan persyaratan. Pekerja senantiasa mematuhi petunjuk dan proses kerja agar menghasilkan produk sesuai persyaratan. Pekerja senantiasa berupaya mencegah adanya produk yang tidak sesuai persyaratan.

PASAL 8 ETOS KERJA Sebagai Pekerja yang berkarya di perusahaan makanan, setiap Pekerja mempunyai komitmen sebagai berikut : 1. Pekerja senantiasa memacu diri untuk mengembangkan nilai-nilai kemampuan secara terus menerus selama dan dalam proses kerja. 2. Pekerja senantiasa memacu dirinya untuk mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan selama dan dalam proses kerja. 3. Pekerja senantiasa memacu diri untuk secara terus menerus menghasilkan hasil kerja yang sudah diperjanjikan. B A B IV FASILITAS DAN JAMINAN BAGI SERIKAT PEKERJA PASAL 9 PENGAKUAN WAKIL-WAKIL SERIKAT PEKERJA Pengusaha mengakui Serikat Pekerja sebagai organisasi yang mewakili anggota-anggotanya yang mempunyai hubungan kerja secara tetap dengan Perusahaan. Pekerja yang duduk dalam Kepengurusan (Fungsionaris) Serikat Pekerja diberikan jaminan : 1.
2.

Tidak mendapat tekanan dari Pengusaha, baik langsung maupun tidak langsung. Tidak mendapat perlakuan diskriminatif serta tindakan-tindakan pembalasan yang disebabkan karena menjalankan tugasnya sebagai Fungsionaris Serikat Pekerja.

PASAL 10 FASILITAS UNTUK SERIKAT PEKERJA Pada dasarnya Pengusaha memberikan fasilitas untuk Serikat Pekerja sesuai dengan kemampuan Perusahaan dengan mempertimbangkan peruntukannya dengan tetap menghargai independensi Serikat Pekerja dalam mengatur urusan intern organisasi Pekerja. Fasilitas dan kesempatan yang diberikan Perusahaan adalah untuk hal-hal yang berhubungan dengan organisasi yaitu Serikat Pekerja sebagaimana dimaksud di dalam Perjanjian Kerja Bersama ini. Serikat Pekerja secara bertahap selalu meningkatkan kemandiriannya untuk menyediakan sarana dan prasarana organisasi sesuai dengan kemampuannya. 1. Pengusaha memberikan kesempatan, fasilitas dan upah penuh kepada Pimpinan Serikat Pekerja ataupun anggotanya yang ditunjuk untuk mengikuti seminar, kongres, pendidikan / pertemuan berkala yang diselenggarakan Serikat Pekerja ataupun Pemerintah. Kesempatan diberikan setelah dilakukan koordinasi antara Serikat Pekerja dengan Pengusaha. Pengusaha memberikan waktu kepada Pimpinan dan Pengurus Serikat Pekerja untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan organisasi serta masalah ketenagakerjaan di lingkungan Perusahaan. Pengusaha menyediakan ruangan beserta perlengkapan seperlunya bagi kepentingan Sekretariat Serikat Pekerja. Pengusaha memberikan fasilitas dan kesempatan kepada Pimpinan Serikat Pekerja apabila dipanggil oleh Instansi Pemerintah, Lembaga Pemerintah ataupun perangkat Dewan Pimpinannya, karena urusan ketenagakerjaan. Pengusaha memberikan fasilitas kepada Serikat Pekerja untuk memasang papan pengumuman sebagai sarana media komunikasi dengan anggota-anggotanya. Pengusaha melakukan pemotongan iuran terhadap anggota Serikat Pekerja berdasarkan surat kuasa dari masing-masing pekerja.

2. 3. 4. 5. 6.

-7-

7.

Pengusaha memberikan dukungan dan bantuan untuk pendidikan, kaderisasi dan profesionalisme kepengurusan.

PASAL 11 HUBUNGAN SERIKAT PEKERJA DAN PENGUSAHA Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. BAB V PENERIMAAN, PENGANGKATAN, PENEMPATAN, PEMINDAHAN DAN PROMOSI PEKERJA PASAL 12 Demi tercapainya tujuan dan sasaran Perusahaan, setiap Pekerja mengakui sepenuhnya hak Pengusaha untuk mengatur, menetapkan, meninjau serta mengembangkan organisasi Perusahaan. Demi lancarnya kegiatan Perusahaan, Serikat Pekerja mengakui hak Pengusaha dalam penerimaan Pekerja baru, penentuan serta pembagian pekerjaan, pengangkatan dan pemindahan Pekerja sesuai dengan asas dan prosedur tata kelola sumber daya manusia yang benar dan baik. Dalam hal pengisian lowongan jabatan, pada dasarnya Pengusaha akan mempertimbangkan pengangkatan / pemindahan Pekerja dari dalam Perusahaan dengan memperhatikan prestasi, potensi dan kemampuan untuk mengemban tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan. Dalam hal terjadi penentuan tugas dan pekerjaan serta pemindahan Pekerja, Pengusaha akan memperhatikan kemampuan, kecakapan dan kondite Pekerja, serta persyaratan jabatan sesuai kebutuhan organisasi dan kepada Pekerja tersebut diberikan pelatihan sebelum menduduki jabatan baru. Pekerja yang tidak melaksanakan keputusan perusahaan tentang penentuan tugas dan pemindahan jabatan tanpa alasan yang bisa diterima Pengusaha maka sikap Pekerja tersebut dianggap dan dinyatakan sebagai tindakan pelanggaran yang disertai dengan sanksi dengan mempertimbangkan pasal 19. Saling menghargai hak dan kewenangan masing-masing pihak untuk mengatur dan mengelola organisasi masing-masing dan tidak mencampuri urusan intern masing-masing. Membentuk dan mengembangkan Lembaga Kerjasama Bipartit sebagai suatu wadah kerjasama yang bersifat konsultatif dan komunikatif secara berkala dan kontinyu paling sedikit dua bulan sekali untuk kepentingan bersama. Dalam hal terdapat masalah ketenagakerjaan, maka akan dibahas terlebih dahulu secara musyawarah dalam pertemuan khusus bipartit agar dapat diselesaikan secepatnya, dengan sebaik-baiknya sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melakukan kegiatan LKS Bipartit antara Pengusaha dan Serikat Pekerja mempunyai kedudukan yang sama. Di dalam melakukan kegiatan LKS Bipartit dilaksanakan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. Dalam hal perbedaan pendapat dan tidak dapat diselesaikan, maka masalah yang menjadi perselisihan itu dapat diteruskan kepada Dinas Tenaga Kerja setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

1. 2.

3.

4.

5.

BAB V PENERIMAAN, PENGANGKATAN, PENEMPATAN, MUTASI DAN PROMOSI PEKERJA

Perubahan Judul Bab dan Pasal

PASAL 12 Demi tercapainya tujuan dan sasaran Perusahaan, setiap Pekerja mengakui sepenuhnya hak Pengusaha untuk mengatur, menetapkan, meninjau serta mengembangkan organisasi Perusahaan. Demi lancarnya kegiatan Perusahaan, Serikat Pekerja mengakui hak Pengusaha dalam penerimaan Pekerja baru, penentuan serta pembagian pekerjaan, pengangkatan dan pemindahan Pekerja sesuai dengan asas dan prosedur tata personalia yang benar dan baik.

-8-

1. Promosi Pekerja adalah, tindakan perusahaan untuk menempatkan pekerja pada golongan jabatan yang lebih tinggi dari pada golongan sebelumnya dengan memperhatikan kesempatan (lowongan) a. Dalam hal pengisian lowongan jabatan disemua departemen, pada dasarnya Pengusaha akan mempertimbangkan pengangkatan / pemindahan Pekerja dari dalam Perusahaan dengan memperhatikan prestasi, potensi, kemampuan dan tidak dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi, kebangsaan, kesukuan, agama dan jenis kelamin (Gender) untuk mengemban tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan. b. Apabila seorang pekerja dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi, maka sejak surat keputusan promosi berlaku Pekerja tersebut berhak menerima kenaikan upah dan Grade karena promosi dan segala fasilitas pada jabatan baru tersebut. c. Besarnya kenaikan upah karena promosi ditentukan berdasarkan Skala Upah pada golongan jabatan yang baru dan ditetapkan oleh Pejabat yang secara hukum berwenang dalam hal itu dengan mempertimbangkan prinsip keadilan dan tidak dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi, kebangsaan, kesukuan, agama dan jenis kelamin (gender). Pemindahan (Mutasi) Pekerja adalah, tindakan perusahaan untuk memindahkan pekerja dari suatu bagian/lokasi ke bagian/lokasi lain. Dalam hal terjadi penentuan tugas dan pekerjaan serta pemindahan Pekerja, Pengusaha akan memperhatikan kemampuan, kecakapan dan kondite Pekerja, serta persyaratan jabatan sesuai kebutuhan organisasi dan kepada Pekerja tersebut diberikan pelatihan dan orientasi maksimal 3 (tiga) bulan serta dievaluasi kinerjanya sebelum menduduki jabatan baru. Setelah di evaluasi dan memenuhi persyaratan maka kepada pekerja yang bersangkutan diberikan SK jabatan yang baru. Pekerja yang tidak melaksanakan keputusan perusahaan tentang penentuan tugas dan pemindahan jabatan tanpa alasan yang bisa diterima Pengusaha maka sikap Pekerja tersebut dianggap dan dinyatakan sebagai tindakan pelanggaran yang disertai dengan sanksi dengan mempertimbangkan pasal 19.

2. 3.

4. 5.

B A B VI PENGGOLONGAN PEKERJA PASAL 13 Untuk kepentingan kelancaran operasional perusahaan dan prinsip organisasi yang sehat maka penggolongan Pekerja dibagi dalam dua kelompok yaitu : 1. 2. Pekerja Operatif (Pelaksana)........... : Pekerja Staff (Penunjang) .............. : Golongan Jabatan 3 s/d 10. Golongan Jabatan 11 s/d 13.

B A B VII ATURAN DAN TATA TERTIB PASAL 14 WAKTU KERJA Pengusaha dan Serikat Pekerja menyepakati bahwa : 1. 2. Pada prinsipnya waktu kerja adalah waktu untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan tata cara dan standar hasil yang ditetapkan oleh Pengusaha dan diketahui oleh Pekerja. Waktu kerja pada umumnya adalah 6 (enam) hari seminggu dengan jumlah jam kerja 7 jam sehari dan 40 (empat puluh) jam seminggu, yang dilakukan dalam dinas normal ataupun bergilir (shift). Bagi kantor / pabrik / bagian yang bekerja atas dasar 5 (lima) hari kerja seminggu, maka tiap harinya bekerja 8 (delapan) jam kerja. Untuk jenis-jenis pekerjaan dan lokasi kerja tertentu, seperti pekerjaan bagian pemasaran / penjualan maka Pekerja bertanggung jawab untuk mengatur pemanfaatan waktu kerja

3.

-9-

4.

agar dapat mencapai standar hasil kerja yang ditetapkan dengan sekurang-kurangnya memenuhi standar waktu kerja tersebut pada ayat 2 (dua). Apabila karena faktor kemampuan, ketrampilan serta kemauan kerjanya sehingga untuk mencapai standar hasil kerja memerlukan waktu yang melebihi waktu kerja yang sudah ditetapkan maka hal itu menjadi tanggungjawab Pekerja sendiri PASAL 15 TUGAS KERJA BERGILIR (SHIFT) Sehubungan dengan kebutuhan pekerjaan tertentu atau pada bidang pekerjaan tertentu, maka Pekerja dapat diatur dan diminta untuk melaksanakan tugas kerja secara bergiliran (shift). Jam kerja bergilir dan jam kerja istirahat akan diatur dalam aturan kerja tersendiri yang diumumkan oleh Pengusaha sesuai dengan kondisi dan situasi setempat dengan tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagi Pekerja yang melayani mesin, Pekerja pada satuan pengamanan dan jenis pekerjaan tertentu lainnya, maka waktu istirahatnya dilakukan secara bergilir dan ditetapkan secara tersendiri. Bagi pekerja wanita yang dinyatakan hamil dengan resiko, dibuktikan dengan surat keterangan Dokter dan atas pertimbangan atasan dan Dokter Perusahaan, maka Perusahaan dapat mempekerjakan pekerja tersebut pada kelompok shift 1 dan shift 2. Bagi Pekerja wanita yang bekerja dengan mesin dan dinyatakan hamil serta tidak mengandung resiko apapun menurut keterangan dokter atau bidan, baik terhadap jiwanya yang mengandung maupun yang dikandung, maka diberlakukan jam kerja sebagai berikut : a. Usia kehamilan 4 6 bulan bekerja pada shift 1 dan shift 2. b. Usia kehamilan lebih dari 6 bulan bekerja pada shift 1.

1. 2. 3. 4. 5.

PASAL 16 TATA TERTIB KERJA Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa demi tertibnya lingkungan kerja, disiplin dan perlindungan serta peningkatan produktifitas kerja, maka setiap Pekerja baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama berkewajiban mentaati dan menjalankan tata tertib kerja sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pekerja wajib untuk hadir di tempat kerja sesuai waktu yang telah ditetapkan. Pekerja wajib untuk mencatatkan kehadiran pada saat masuk dan mencatatkan kepulangan pada saat pulang kerja termasuk ijin meninggalkan pekerjaan atau tugas luar sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Pekerja wajib untuk memakai identitas diri selama berada di dalam lingkungan Perusahaan. Pekerja wajib untuk memakai pakaian kerja selama melakukan pekerjaan sesuai ketentuan pakaian kerja di bagian masing-masing. Pekerja wajib untuk menjalankan tugas pekerjaan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sesuai dengan yang ditentukan oleh Perusahaan. Pekerja wajib untuk memberikan hasil kerjanya kepada atasan / pimpinan dengan sebaikbaiknya sesuai dengan yang dijanjikan dan tepat waktu. Pekerja wajib mematuhi dan melakukan prosedur kerja yang ditetapkan oleh Perusahaan / Pimpinan dengan baik, benar dan jujur serta selalu beritikad baik untuk meningkatkan mutu. Pekerja wajib untuk mentaati ketentuan dalam PKB, Tata Tertib Pabrik, Standard Practice, Standart Prosedur Kerja dan semua bentuk Internal Memorandum yang diterbitkan untuk pelaksanaan tugas dan pekerjaan maupun dalam berperilaku sehari-hari di lingkungan kerjanya. Pekerja wajib bersikap sopan, wajar, beretika dan jujur terhadap atasan, bawahan, sesama Pekerja dan tamu / pelanggan Perusahaan. Pekerja wajib untuk mematuhi dan melaksanakan norma kerja yang telah ditetapkan dalam Good Manufacturing Practice (GMP), ISO, Sistem Jaminan Halal, Sistem Manajemen Keamanan Pangan (SMKP) serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Pekerja wajib untuk memakai dan merawat alat-alat kerja sesuai dengan pekerjaannya dan menyimpan kembali pada tempat yang sudah ditentukan.

9. 10. 11.

- 10 -

12. 13. 14. 15. 16.

Pekerja wajib untuk menjaga dan memelihara keamanan, ketertiban, dan kerahasiaan data / informasi / dokumen-dokumen di lingkungan kerjanya masing-masing. Setiap Pekerja wajib melakukan tindakantindakan pencegahan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kebakaran atau ledakan, pencurian, kehilangan dan perusakan serta perkelahian antar sesama karyawan dan tamu / pelanggan Perusahaan. Pekerja wajib untuk menjaga / memelihara citra perusahaan dengan bertindak dan berperilaku positif terhadap semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Pekerja wajib melaporkan kepada pimpinan perusahaan, bila ada perubahan atas statusnya (susunan keluarga, alamat, dsb) atau segala sesuatu yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan perusahaan dan pekerja. Petugas Satuan Pengamanan wajib melakukan pemeriksaan kepada setiap pekerja, tamu, relasi atau pihak luar lainnya pada saat memasuki atau meninggalkan area pabrik.

PASAL 17 LARANGAN-LARANGAN Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa Pekerja baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok dilarang keras melakukan hal-hal yang dapat merugikan perusahaan, sesama Pekerja dan orang lain, sebagai berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Mangkir, meninggalkan pekerjaan, terlambat hadir atau pulang lebih awal dari pekerjaan tanpa seijin atasan atau Pimpinan. Tidur pada jam kerja di lokasi kerja dan di lingkungan kerja/di lingkungan perusahaan. Selama menjalankan tugas atau dalam waktu kerja membuat kegaduhan, mengobrol, berteriak di lingkungan perusahaan, sehingga mengganggu ketenangan kerja. Mengganggu ketenangan atasan, bawahan, teman sekerja di lingkungan pekerjaannya. Bertindak lalai atau ceroboh dalam menggunakan alat / sarana kerja baik tanpa sengaja maupun disengaja sehingga menimbulkan kerusakan, kecelakaan kerja dan kerugian baik bagi teman sekerja, perusahaan atau pelanggan perusahaan. Membawa senjata tajam yang bukan alat kerja atau senjata api di lingkungan Perusahaan. Melakukan perjudian dan atau permainan sejenis judi. Melakukan tindakan asusila dan atau pelecehan seksual di dalam lingkungan perusahaan. Merokok di tempat terlarang. Berkelahi dengan atasan, bawahan, teman sekerja maupun tamu dan atau pelanggan baik di lingkungan perusahaan atau di luar lingkungan perusahaan yang mempunyai dampak terhadap perusahaan. Melakukan kegiatan bisnis di lingkungan kerja atau di luar lingkungan kerja yang mempunyai dampak langsung kepada perusahaan (termasuk menjual, menyebarkan atau mempromosikan barang dagangan milik kompetitor). Menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi tanpa seijin dari atasan, Pimpinan atau Perusahaan. Melakukan pencurian / penggelapan atau penipuan di lingkungan perusahaan. Menyalahgunakan wewenang atau jabatan untuk tujuan dan kepentingan pribadi. Melakukan perbuatan atau tindakan dengan mengatasnamakan Perusahaan untuk manfaat dan tujuan pribadi. Melakukan perbuatan korupsi yang merugikan Perusahaan. Menghasut rekan sekerja maupun orang lain untuk tindakan atau perbuatan yang bisa merugikan Perusahaan. Menghina Pimpinan, atasan, bawahan, dan atau sesama rekan kerja. Memberi keterangan palsu atau menyebarluaskan berita yang tidak benar yang merugikan Perusahaan dan mitra kerja perusahaan. Melakukan tindakan yang bisa diartikan sebagai pemaksaan kehendak kepada Perusahaan atau sesama Pekerja, yang sesungguhnya tanpa hak kepada Perusahaan maupun rekan sekerja. Melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mencemarkan nama baik Perusahaan. Pekerja yang berhubungan dengan proses produksi, baik langsung maupun tidak langsung dilarang memakai pakaian kerja di luar lingkungan perusahaan. Pekerja dilarang menggunakan / memakai atribut Parpol atau organisasi lain yang tidak diijinkan Pengusaha, dan melakukan tindakan untuk kepentingan Parpol atau organisasi lain yang tidak diijinkan Pengusaha di lingkungan perusahaan.

- 11 -

24. 25. 26. 27. 28. 29. 30.

Mabuk dan atau minum-minuman keras, membawa, mengedarkan dan atau menggunakan obat terlarang / narkoba di lingkungan perusahaan. Dengan sadar melakukan penyimpangan terhadap sistem, prosedur dan program kerja perusahaan. Melakukan tindakan intimidasi, ancaman atau yang sejenisnya secara langsung maupun tidak langsung, baik terhadap sesama teman sekerja, atasan / pimpinan maupun terhadap pelanggan perusahaan. Melakukan tindak perbuatan apapun yang mengakibatkan kerugian terhadap teman sekerja, atasan / pimpinan maupun para pelanggan perusahaan (antara lain praktek rentenir). Menyebarkan berita tidak benar dan tidak bertanggung jawab di lingkungan perusahaan sehingga menimbulkan keresahan di antara sesama pekerja. Melakukan tindakan apapun yang dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja sebagaimana diatur sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Menyebarkan dan memprovokasi suatu ajaran yang dianggap sesat oleh Pemerintah. B A B VIII SANKSI-SANKSI TERHADAP PELANGGARAN PASAL 18 SANKSI ATAS TINDAKAN INDISIPLINER Pengusaha dan Serikat Pekerja menyadari sepenuhnya perlu adanya penegakan disiplin kerja secara terus menerus, dan oleh karenanya setiap pelanggaran atas peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama ini, akan diberi sanksi. Sanksi yang diberikan kepada Pekerja merupakan usaha untuk mendidik, membina dan mengarahkan Pekerja untuk melakukan perbaikan sikap, perilaku, kemampuan dan tindakan Pekerja. Jenis sanksi terhadap tindakan pelanggaran (indisipliner) diperinci sebagai berikut : a. Peringatan Lisan Dilakukan oleh atasan Pekerja untuk pelanggaran pekerjaan yang bersifat umum dan dicatatkan pada arsip pribadi Pekerja. b. Surat Peringatan Tertulis Dilakukan oleh atasan Pekerja untuk pelanggaran yang bersifat khusus, melalui Departemen Personalia dengan bentuk dan urutan sebagai berikut: b.1. Surat Peringatan I b.2. Surat Peringatan II b.3. Surat Peringatan III (terakhir) c. Pembebasan Tugas (skorsing) d. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Bagi pekerja yang akan mendapatkan sanksi dari pengusaha berhak mendapatkan pendamping dari Serikat Pekerja. Sanksi terhadap tindakan pelanggaran (indisipliner) tidak harus diberikan menurut urutannya tetapi berdasarkan bobot serta kategori pelanggaran yang dilakukan. Jangka waktu berlakunya surat peringatan maksimum selama 6 (enam) bulan dan dicantumkan pada setiap surat peringatan. Apabila selama masa berlaku peringatan tersebut, ternyata Pekerja terbukti melakukan pelanggaran lagi, maka dapat dikenakan tindakan / sanksi yang lebih berat. Setiap penerbitan Surat Peringatan ditembuskan kepada PUK SPSI. Pengusaha atau pimpinan dapat memperpendek masa berlakunya Surat Peringatan tertentu kepada Pekerja, jika Pekerja tersebut terbukti menunjukkan perbaikan sikap, perilaku dan tindakan maupun prestasi yang dinilai positif sebelum berakhir masa berlakunya Surat Peringatan. Pengusaha atau pimpinan dapat melakukan sanksi penurunan jabatan dan golongan jabatan (demosi) apabila kualifikasi, kemampuan dan perbuatan pekerja dinilai tidak dapat memenuhi persyaratan jabatan yang telah ditetapkan untuk jabatan tertentu. Dalam hal tindakan demosi, tidak dilakukan penurunan gaji, namun tunjangan dan jaminan sosialnya disesuaikan dengan golongan jabatannya yang baru.

1. 2. 3.

4. 5. 6.

7. 8.

9.

- 12 -

10. 11.

Selain bentuk sanksi di atas, dapat dipertimbangkan untuk dikenakan sanksi berupa ganti rugi atau denda sesuai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Tatacara pelaksanaannya diatur secara khusus dan dibicarakan dalam forum bipartite. Ketentuan-ketentuan tentang sanksi sebagaimana diuraikan di atas merupakan sanksi dalam kerangka pembinaan hubungan kerja dan tidak mengurangi hak Pengusaha untuk melakukan tindakan hukum lainnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.

PASAL 19 PERTIMBANGAN PEMBERIAN SANKSI / PERINGATAN Dalam hal memberikan peringatan tertulis atau sanksi kepada Pekerja maka Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bobot kesalahan atau perbuatan pelanggaran yang dilakukan. Kerugian / akibat yang ditimbulkan dari pelanggaran tersebut. Pernah atau tidak pernah melakukan pelanggaran tersebut. Cara atau metode yang mempengaruhi terjadinya kesalahan pelanggaran (modus operandi). Adanya unsur direncanakan atau tidak direncanakan tentang pelanggaran tersebut. Kronologi pelanggaran. Untuk keperluan tertib pelaksanaannya, maka aturan pelaksanaannya akan diatur secara tersendiri dalam forum Bipartite.

PASAL 20 KESALAHAN / PELANGGARAN DENGAN SANKSI SURAT PERINGATAN I Pengusaha akan memberikan Surat Peringatan I kepada Pekerja yang terbukti melakukan perbuatan sebagaimana tersebut di bawah ini atau perbuatan lain yang setingkat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Mangkir (tidak masuk kerja tanpa alasan) sebanyak 1 (satu) hari kerja. Selama jam kerja meninggalkan tempat kerja tanpa ijin atasan sebanyak-banyaknya 3 kali dalam satu bulan takwim, meskipun sudah diberi peringatan lisan oleh atasan langsung. Tidak menunjukkan kesungguhan bekerja walaupun sudah diberikan peringatan lisan oleh atasan langsung. Tidak menggunakan pakaian kerja atau alat bantu penglihatan, pendengaran dan alat bantu indra lainnya untuk menunjang pelaksanaan kerja yang sudah diberikan oleh perusahaan pada waktu melakukan pekerjaan tanpa alasan yang bisa diterima. Terlambat datang masuk kerja dari waktu yang ditentukan tanpa ijin atasan sebanyakbanyaknya 5 (lima) kali dalam sebulan meskipun sudah diberikan peringatan lisan oleh atasan langsung. Pulang lebih awal dari waktu yang ditentukan tanpa ijin atasan meskipun sudah diberikan Peringatan lisan oleh atasan langsung. Tidak memakai alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang telah ditentukan pada waktu melakukan pekerjaan meskipun sudah diperingatkan secara lisan oleh atasan langsungnya. Tidak terampil atau ceroboh dalam melakukan pekerjaan meskipun sudah mendapat pelatihan kerja dari perusahaan dalam kurun waktu yang memadai. Tidak mematuhi Tata Tertib Kerja seperti pada pasal 16 dan melanggar larangan-larangan seperti pada pasal 17, walaupun sudah diingatkan melalui penyuluhan, bimbingan dan penataran dengan mempertimbangkan pasal 19. Melalaikan tanggung jawab sebagaimana ditetapkan pada Pasal 5, 6, 7 dan 8. Pelanggaran-pelanggaran selain ayat 1 sampai dengan ayat 10 dalam pasal ini akan ditetapkan dalam forum bipartite untuk diberikan surat peringatan I.

PASAL 21 KESALAHAN / PELANGGARAN DENGAN SANKSI SURAT PERINGATAN II Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat akan memberikan Surat Peringatan II kepada Pekerja yang terbukti melakukan perbuatan sebagaimana tersebut di bawah ini atau perbuatan lain yang setingkat :

- 13 -

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Mangkir selama 3 (tiga) hari kerja berturut-turut atau 4 (empat) hari kerja tidak berturutturut dalam sebulan / 30 hari kerja. Selama menjalankan tugas atau dalam waktu kerja membuat kegaduhan, mengobrol, berteriak di lingkungan perusahaan, sehingga mengganggu ketenangan kerja atasan, bawahan dan teman sekerja di lingkungan pekerjaannya. Menghalangi Pimpinan yang berwenang dalam menjalankan tugas memelihara keamanan dan ketertiban di lingkungan perusahaan. Mencoret-coret, merobek-robek atau mengambil surat pengumuman / pemberitahuan yang ditempel pada papan pengumuman yang diterbitkan Pengusaha. Tidak terampil atau ceroboh dalam melakukan pekerjaan yang dibuktikan dengan hasilhasil kerjanya, meskipun sudah diberi peringatan pertama. Tidak mematuhi Tata Tertib Kerja seperti pada pasal 16 dan melanggar larangan-larangan lainnya seperti pada pasal 17, walaupun sudah diingatkan melalui penyuluhan, bimbingan dan penataran dan dengan mempertimbangkan pasal 19. Tidak memperbaiki diri setelah mendapat Surat Peringatan I dengan melakukan lagi kesalahan / pelanggaran yang sama dapat diberikan Surat Peringatan II.

PASAL 22 KESALAHAN / PELANGGARAN DENGAN SANKSI SURAT PERINGATAN III (Terakhir) Pengusaha dan Serikat Pekerja akan memberikan Surat Peringatan III (terakhir) kepada Pekerja yang terbukti melakukan perbuatan sebagaimana tersebut di bawah ini : 1. 2. 3. Mangkir selama 4 (empat) hari berturut-turut atau 5 (lima) hari kerja tidak berturut-turut dalam sebulan / 30 hari kerja. Melakukan kegiatan bisnis pribadi di lingkungan kerja atau di luar lingkungan kerja, yang mempunyai dampak langsung kepada perusahaan (antara lain menjual, menyebarkan atau mempromosikan barang dagangan milik kompetitor atau praktek rentenir). Melalaikan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya dan atau melakukan pekerjaan di luar batas kewenangan yang telah ditetapkan tanpa sepengetahuan / seijin atasan sehingga mengakibatkan kerugian bagi orang lain dan perusahaan atau mengakibatkan kecelakaan pada orang lain. Dengan sengaja memindahkan atau menyimpan barang milik Perusahaan atau milik sesama Pekerja sebagai usaha untuk pencurian atau penggelapan. Merokok pada tempat yang dinyatakan sebagai area dilarang merokok. Tidur pada jam kerja Tidak terampil atau ceroboh dalam melakukan pekerjaan, meskipun sudah diberi surat peringatan II dan dicoba dengan pekerjaan lain dalam kurun waktu yang memadai. Melakukan tindakan yang bisa diartikan sebagai pemaksaan kehendak kepada perusahaan atau sesama pekerja yang sesungguhnya tanpa hak kepada perusahaan maupun rekan sekerja. Menantang berkelahi atasan, teman sekerja, bawahan dan tamu perusahaan atau mengintimidasi langsung maupun tidak langsung. Menghina atasan / pimpinan, bawahan dan atau sesama rekan sekerja dan dibuktikan dengan adanya keberatan di satu pihak dan didukung oleh saksi. Tidak mematuhi Tata Tertib Kerja seperti pada pasal 16 dan melanggar larangan-larangan lainnya seperti pada pasal 17, walaupun sudah diingatkan melalui penyuluhan, bimbingan dan penataran dan dengan mempertimbangkan pasal 19. Tidak berusaha memperbaiki diri setelah diberi peringatan ke II dengan melakukan lagi kesalahan pelanggaran yang dapat diberikan surat peringatan III.

4. 5. 6. 7. 8.

9. 10. 11. 12.

PASAL 23 KESALAHAN / PELANGGARAN DENGAN SANKSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat dalam rangka menegakkan disiplin, tidak akan mentolerir tindakan-tindakan di bawah ini sehingga diberikan sanksi berupa Pemutusan

- 14 -

Hubungan Kerja tanpa syarat atau diproses sesuai dengan perundangan yang berlaku, yaitu kepada pekerja yang melakukan pelanggaran / kesalahan di bawah ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Mangkir selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut atau 6 (enam) hari kerja tidak berturutturut dalam sebulan / 30 hari kerja. Melakukan penipuan, pencurian atau penggelapan barang dan atau uang di lingkungan perusahaan. Menyerang, mengancam, atau mengintimidasi atau menganiaya pengusaha, pimpinan, atasan, bawahan, teman sekerja termasuk para keluarganya secara langsung maupun tidak langsung. Menggunakan nama atau fasilitas atau sarana milik perusahaan untuk melakukan kegiatan yang bertentangan dengan hukum / peraturan yang berlaku untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Mabuk, membawa atau meminum minuman keras yang memabukkan, membawa atau memakai atau mengedarkan narkotika, psikotropika dan zat aditif lainnya di lingkungan kerja / perusahaan. Melakukan perjudian atau yang sejenisnya di lingkungan perusahaan. Memberikan keterangan, data atau informasi, metode, teknik, formula, proses kerja, data pelanggan kepada pihak di luar perusahaan tanpa sepengetahuan / seijin perusahaan dan menimbulkan kerugian perusahaan baik secara material maupun moral. Dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan bahaya barang inventaris, harta atau sarana milik perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan hilang atau rusaknya asset perusahaan. Dengan ceroboh atau sengaja membiarkan diri atau teman sekerja atau pengusaha dalam keadaan bahaya di tempat / lingkungan kerja. Melakukan perbuatan asusila dan atau pelecehan seksual di dalam lingkungan perusahaan. Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan. Berkelahi dengan sesama pekerja, tamu, dan atau pelanggan di lingkungan perusahaan. Membawa senjata api atau senjata tajam dan bahan berbahaya atau barang terlarang lainnya ke dalam lingkungan perusahaan tanpa seijin yang berwenang. Tidak terampil atau ceroboh dalam melakukan pekerjaan meskipun sudah dicoba beberapa jenis pekerjaan dalam kurun waktu yang memadai, demosi, serta telah diberikan surat peringatan I, II, III, dalam kasus yang sama. Menolak perintah kerja dari perusahaan tanpa alasan yang bisa diterima oleh Pimpinan. Tidak mematuhi Tata Tertib Kerja seperti pada pasal 16 dan melanggar larangan-larangan lainnya seperti pada pasal 17, walaupun sudah diingatkan melalui penyuluhan, bimbingan, penataran dan mempertimbangkan pasal 19. Pekerja yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri. Menghasut sesama pekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dirahasiakan kecuali untuk kepentingan Negara. Melakukan perbuatan lainnya di lingkungan kerja / perusahaan yang dapat diancam pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, sesuai perundangan yang berlaku. Melakukan tindakan atau perbuatan yang dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku. Tidak berusaha memperbaiki diri setelah mendapatkan surat peringatan ke III (terakhir).

19. 20. 21. 22. 23.

PASAL 24 PEMBEBASAN TUGAS DALAM RANGKA PEMBINAAN Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa tindakan pembebasan tugas dapat dilakukan kepada Pekerja karena pelanggaran / kesalahannya tetapi Pengusaha masih berkeyakinan bahwa Pekerja dapat memperbaiki kesalahan dan perilakunya sehingga Pengusaha memutuskan untuk tidak menempuh prosedur penyelesaian pemutusan hubungan kerja.

- 15 -

Untuk pembebasan tugas semacam ini : 1. Lamanya pembebasan tugas adalah maksimum satu bulan 2. Pekerja memperoleh Gaji/Upah Pokok dan mengikuti program jaminan pemeliharaan kesehatan. PASAL 25 PEMBEBASAN TUGAS ( SKORSING) DALAM RANGKA PHK 1. Dalam penyelesaian kasus pelanggaran berat, yang mengarah pada pemutusan hubungan kerja, Pekerja dapat dilakukan tindakan pembebasan tugas (skorsing). 2. Lamanya pembebasan tugas (skorsing) adalah maksimum satu bulan kecuali tindakan pembebasan tugas (skorsing) tersebut adalah dalam rangka menunggu keputusan Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI). 3. Pekerja yang dikenakan pembebasan tugas tetap memperoleh Gaji Pokok dan mengikuti program Bantuan Pemeliharaan dan Perawatan Kesehatan sampai dengan tingkat penyelesaian Konsiliasi saja. 4. Dalam hal Pekerja dinyatakan dalam status pembebasan tugas (skorsing) maka semua inventaris perusahaan atau sarana kerja atau peralatan kerja wajib dikembalikan kepada Perusahaan. PASAL 26 PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (PHK) Menyadari bahwa Pemutusan Hubungan Kerja pada dasarnya hal yang tidak dikehendaki, maka Pengusaha dan Serikat Pekerja menyepakati untuk berusaha semaksimal mungkin menghindari terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja. Meskipun demikian, apabila keadaan terpaksa oleh karena sebab atau alasan yang berasal dari Pekerja ataupun Pengusaha, maka Pemutusan Hubungan Kerja akan dilaksanakan menurut ketentuan sebagai berikut : 1. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku dengan berdasarkan pada hasil kesepakatan antara Pengusaha, Serikat Pekerja dan Pekerja yang bersangkutan. 2. Pekerja telah terbukti melakukan pelanggaran berat sesuai pasal 23 Perjanjian Kerja Bersama maupun sesuai peraturan perundangan yang berlaku. 3. Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja yang mempersyaratkan Pengusaha wajib membayarkan pesangon, panghargaan masa kerja dan pengganti hak maka perhitungannya terdiri dari : a. Komponen dasar perhitungan untuk pesangon dan penghargaan masa kerja : A.1. Gaji/upah pokok terakhir. A.2. THR proporsional. A.3. Insentif rata-rata 6 bulan terakhir bagi pekerja golongan insentif. b. Uang pengganti hak sesuai dengan ketetapan/perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku. PASAL 27 BERHENTI BEKERJA ATAS KEMAUAN SENDIRI Dalam hal Pekerja mengundurkan diri dari perusahaan, maka : 1. 2. 3. Pekerja yang bermaksud mengundurkan diri wajib mengajukan surat permohonan pengunduran diri yang diketahui oleh atasannya dan ditujukan kepada Pimpinan Perusahaan selambat-lambatnya satu bulan sebelum tanggal pengunduran diri. Sebelum Pekerja melaksanakan pengunduran diri, Perusahaan berhak mewajibkan Pekerja melakukan serah terima tugas dan menyelesaikan kewajiban keuangan atau pemakaian asset-asset milik perusahaan. Pekerja yang mengundurkan diri sesuai dengan prosedur yang ditetapkan berhak memperoleh pembayaran sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku : a. Gaji sisa waktu masa kerja b. Uang penggantian hak (sisa cuti yang belum digunakan dan ongkos pulang ke tempat dimana pekerja diterima pertama kali bekerja) c. Uang pisah yang besarnya ditetapkan tersendiri Hal-hal yang belum diatur dalam pasal ini akan dimusyawarahkan dalam forum bipartit.

4.

- 16 -

Perubahan pada bunyi ayat 3 c. c. Uang Pisah, diberikan bagi Pekerja yang mengundurkan diri sesuai dengan UU tenaga kerja no 13 tahun 2003 pasal 156 ayat 3 tentang penghargaan masa kerja yang besarannya adalah : MASA KERJA UANG PISAH 2 - < 6 tahun 2 kali gaji 6 - < 9 tahun 3 kali gaji 9 - < 12 tahun 4 kali gaji 12 - <15 tahun 5 kali gaji 15 <18 tahun 6 kali gaji 18 - < 21 tahun 7 kali gaji 21 - < 24 tahun 8 kali gaji 24 tahun atau lebih 10 kali gaji

B A B IX PEN GGAJ IAN PASAL 28 SISTEM PENGGAJIAN Pengusaha menetapkan sistem penggajian dengan mempertimbangkan : a. Jenis pekerjaan b. Tanggung jawab pekerjaan c. Keahlian dan kondite karyawan d. Pengalaman kerja e. Masa Kerja Karyawan Penambahan Kalimat pada Point e, sebagai bahan pertimbangan Pengusaha dalam menetapkan sistim penggajian. Dasar Hukum 1. UU 13 TAHUN 2003 Pasal 92 (1) Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi. (2) Pengusaha melakukan peninjauan upah secara berkala dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas. (3) Ketentuan mengenai struktur dan skala upah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Perlindungan Upah 3. Kep.49/Men/2004 Ttg Ketentuan Struktur Dan Skala Upah 2. Perusahaan menetapkan struktur dan skala gaji dengan memperhatikan golongan, jabatan dan kompetensi serta kemampuan perusahaan dan memperhatikan tingkat harga pasar tenaga kerja. Perusahaan berwenang untuk mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen dan administrasi penggajian sebagai bentuk pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan yang tersebut di atas.

1.

3.

- 17 -

1.

2.

3. 4.

PASAL 29 INSENTIF Insentif adalah pembayaran berupa uang sebagai imbalan atas jasa prestasi kerja (produktifitas) yang diberikan untuk jabatan tertentu didasarkan atas tingkat prestasi kerja (produktifitas) yang dicapai oleh masing-masing pekerja. Sesuai dengan tujuan pemberian insentif, yaitu untuk memotivasi pekerja dalam meningkatkan prestasinya maka uang insentif diberikan sekali sebulan untuk periode bulan berjalan dalam bentuk uang yang sifatnya berubah-ubah, tergantung dari prestasi pekerja. Perusahaan berwenang dalam hal pengembangan sistem insentif atau uang jasa prestasi / produksi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Selama Pekerja dalam status masa percobaan, uang insentif hanya diberikan sebesar 50% dari jumlah perhitungan. Terdapat usulan perubahan mengenai sistem penilaian terhadap pemberian insentif yang saat ini mengacu kepada penilaian secara team/kelompok supaya dikembalikan kepada penilaian secara individu PASAL 30 KENAIKAN GAJI / UPAH POKOK TAHUNAN

1.

2. 3.

Kenaikan gaji / upah pokok dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan Pekerja, memberikan penghargaan atas prestasi dan kontribusi Pekerja dan menjamin kelangsungan usaha perusahaan, dan dilaksanakan secara menyeluruh setahun sekali pada tiap tanggal 1 Januari. Dalam menetapkan anggaran kenaikan gaji, pengusaha mempertimbangkan faktor-faktor kondisi dan kemampuan perusahaan, serta keadaan ekonomi moneter nasional yang antara lain tercermin dari angka inflasi yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Dalam menetapkan kenaikan gaji pekerja secara perorangan, maka didasarkan atas tingkat kinerja perorangan yang diukur melalui penilaian prestasi tahunan dan kondite pekerja. Penambahan kalimat pada ayat 3, dan penambahan ayat baru (ayat 4)

3. 4.

Dalam menetapkan kenaikan gaji pekerja secara perorangan, maka didasarkan atas tingkat kinerja perorangan yang diukur melalui penilaian prestasi tahunan dan kondite pekerja dengan mempertimbangkan pasal 28 ayat 1. Dalam hal menetapkan kenaikan gaji pekerja yang masa kerjanya lebih dari 12 bulan atau sudah berkeluarga maka besarannya ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dengan serikat pekerja ( UU no 13 tahun 2003 pasal 91 )

1.

2. 3.

4.

PASAL 31 KERJA LEMBUR Pada dasarnya Pengusaha dan Serikat Pekerja sepakat untuk mengatur pekerjaan dan menyelesaikannya sesuai dengan waktu kerja yang ditetapkan. Pengusaha berwenang mengambil tindakan-tindakan tertentu bila pekerja untuk menyelesaikan tugasnya melebihi jam kerja yang telah ditentukan. Kerja lembur adalah kerja yang dilakukan selebihnya dari jam kerja yang telah ditentukan dan atau pada hari-hari libur resmi, hari-hari istirahat mingguan sesuai pengaturan dan atau perintah kerja pimpinan. Pada umumnya kerja lembur dilaksanakan atas dasar sukarela, kecuali karena sifat dan kebutuhan pekerjaan yang mendesak, maka kepada Pekerja dapat diharuskan kerja lembur dan sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003 kerja lembur dilakukan dengan adanya persetujuan kedua belah pihak dan tidak ada unsur paksaan. Setiap kerja lembur harus berdasarkan perintah lembur yang diberikan oleh atasan (pejabat yang berwenang) dengan Surat Perintah Kerja Lembur.

- 18 -

Pada Hari Biasa a. b. c. Untuk satu jam kerja lembur pertama dibayar 1,5 x gaji pokok per jam. Untuk satu jam kerja lembur selebihnya dibayar 2 x gaji pokok per jam. Pekerja yang bekerja lembur tiga jam berturut-turut atau bekerja lembur kurang dari empat jam tetapi melampaui pukul 12.00 atau pukul 19.00 diberikan fasilitas makan atau uang pengganti makan.

Pada Hari-Hari Istirahat Mingguan / Hari Libur Resmi Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan atau hari libur resmi untuk waktu kerja 6 (enam) hari kerja 40 (empat puluh) jam seminggu maka: Kerja lembur untuk 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua) kali gaji/upah pokok per jam, dan jam ke 8 (delapan) dibayar 3 (tiga) kali gaji/upah pokok per jam dan jam ke 9 (sembilan) dan seterusnya dibayar 4 (empat) kali gaji/upah pokok per jam. Apabila kerja lembur jatuh pada hari kerja terpendek, maka kerja lembur 5 (lima) jam pertama dibayar 2 (dua) kali gaji/upah pokok per jam, jam ke 6 (enam) dibayar 3 (tiga) kali gaji/upah pokok per jam dan jam lembur ke 7 (tujuh) dan seterusnya dibayar 4 (empat) kali gaji/upah pokok perjam. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan atau hari libur resmi untuk waktu kerja 5 (lima) hari kerja 40 (empat puluh) jam seminggu, maka untuk 8 (delapan) jam pertama dibayar 2 (dua) kali gaji/upah pokok perjam, jam ke 9 (sembilan) dibayar 3 (tiga) kali gaji/upah pokok per jam dan jam ke 10 (sepuluh) dan seterusnya dibayar 4 (empat) kali gaji/upah pokok per jam.

5. 6.

Perhitungan gaji pokok per jam adalah = 1/173 x Gaji pokok sebulan.

Pekerja yang pada hari libur melakukan kerja lembur sekurang-kurangnya empat jam berturut-turut pada waktu siang hari atau melampaui pukul 12.00 atau melampaui pukul 19.00 diberikan fasilitas makan atau uang pengganti makan. PASAL 32 TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN 1. Setiap tahun menjelang Hari Raya, kepada Pekerja yang telah melampaui masa percobaan diberikan Tunjangan Hari Raya Keagamaan yang besarnya sebagai berikut : a. Untuk masa kerja 24 bulan atau lebih 2 kali gaji. b. Untuk masa kerja dari 18 bulan sampai kurang 24 bulan 1 kali gaji. c. Untuk masa kerja 3 bulan sampai kurang 18 bulan 1 kali gaji. Yang dimaksud dengan gaji adalah gaji pokok ditambah nilai rata-rata insentif 3 (tiga) bulan terakhir sebelum pembayaran. 2. Perhitungan masa kerja adalah berlaku perhitungan pembulatan masa kerja yang ditetapkan sebagai berikut : a. Masa kerja 15 hari atau lebih, dihitung 1 bulan. b. Masa kerja kurang dari 15 hari, tidak dihitung. Pekerja yang berhak atas THR adalah yang pada saat jatuhnya Hari Raya telah bekerja sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan. Kepada pekerja yang berhenti bekerja dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari sebelum jatuh tempo hari rayanya berhak atas THR, dan kepada pekerja yang berhenti bekerja lebih dari batas waktu 30 hari sebelum hari rayanya tidak berhak untuk mendapatkan THR. Pembayaran THR dilakukan 2 (dua) minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya keagamaan masing-masing pekerja. PASAL 33 PAJAK PENGHASILAN Sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, maka Pajak Penghasilan atas setiap pendapatan bulanan maupun tahunan yang diterima oleh pekerja dan ditetapkan merupakan obyek pajak menjadi tanggung jawab setiap pekerja. Perusahaan dapat melakukan pemungutan dan penyetoran pajak atas nama pekerja sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

3. 4. 5.

1.

2.

- 19 -

BAB X JAMINAN SOSIAL PASAL 34 PROGRAM KELUARGA BERENCANA Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa sudah menjadi tanggung jawab masing-masing Pekerja menjalankan / berpartisipasi pada program Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh Pemerintah. Dalam hal ini Perusahaan ikut berpartisipasi menunjang keberhasilannya. 1. Program Keluarga Berencana di Perusahaan merupakan salah satu kegiatan dalam menunjang Program Pemerintah dan peningkatan kesejahteraan Pekerja. Untuk itu perlu adanya peran serta secara aktif dari pihak Serikat Pekerja, masing-masing Pekerja dan Pengusaha guna suksesnya Program Keluarga Berencana di Perusahaan. Program Keluarga Berencana dikembangkan melalui kegiatan komunikasi, edukasi dan fasilitas Poliklinik sesuai dengan misi Keluarga Berencana dan penetapan syarat dan kondisi kerja Pekerja. Untuk mewujudkan program Keluarga Berencana di Perusahaan, maka Pengusaha melakukan pendataan akseptor KB dan menyediakan alat kontrasepsi yang baik bagi para akseptor KB sesuai dengan kemampuan Perusahaan.

2.

3.

PASAL 35 JAMSOSTEK (JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA) 1. Pengusaha mengikutsertakan seluruh Pekerja tanpa terkecuali dalam Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) untuk program : a. Jaminan Kematian b. Jaminan Kecelakaan Kerja c. Jaminan Hari Tua 2. Sesuai dengan UU No.3 / 1992 dan PP No.14/1993 iuran program Jaminan Hari Tua dilaksanakan sbb : a. 2 % ditanggung oleh Pekerja b. 3,7 % ditanggung oleh Perusahaan 3. Sesuai dengan sifat kepesertaan Jamsostek, maka setiap Pekerja mempunyai kewajiban memberikan data pribadi yang benar, terbaru dan bertanggung jawab menyimpan kartu peserta Jamsostek sebaik-baiknya. PASAL 36 PROGRAM PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN KESEHATAN Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa pemeliharaan dan perawatan kesehatan Pekerja beserta keluarga adalah menjadi tanggung jawab pekerja sendiri. Namun demikian, guna membantu dan meringankan beban biaya pemeliharaan dan perawatan serta tanggung jawab pemantauan perkembangan kesehatan Pekerja maka Pengusaha mengembangkan dan menjalankan program sebagai berikut : 1. Program Pemeliharaan dan Perawatan Kesehatan yang terdiri dari : a. Program Bantuan Rawat Jalan bagi Pekerja, isteri, 3 (tiga) orang anak sah, tanggungan pekerja wanita sebagaimana dimaksud dalam istilah Pekerja Wanita pada Pasal 1 dan didaftarkan di Perusahaan guna keperluan pemeriksaan dokter, pemeriksaan medis lainnya dan pembelian obat-obatan dapat diklaim kepada Perusahaan dengan biaya sesuai ketentuan sebagai berikut : a.1 Pekerja Lajang a.1.1 Pekerja Golongan 11 13 : Rp. 1.625.000,- netto / tahun a.1.2 Pekerja Golongan 3 10 : Rp. 1.325.000,- netto / tahun a.2 Pekerja Berkeluarga a.2.1 Pekerja Golongan 11 13 : Rp. 1.750.000,- netto / tahun a.2.2 Pekerja Golongan 3 10 : Rp. 1.450.000,- netto / tahun

- 20 -

Tatacara dan prosedur pelaksanaannya diatur tersendiri dan dibicarakan dalam forum LKS Bipartit. b. Program Bantuan Biaya Rawat Inap di Rumah Sakit bagi Pekerja, isteri, 3 (tiga) orang anak sah, tanggungan pekerja wanita sebagaimana dimaksud dalam istilah Pekerja Wanita pada Pasal 1 dan didaftarkan di Perusahaan yang dapat diklaim kepada Perusahaan dengan plafond, kecuali : Untuk mempercantik diri Kegemaran beresiko tinggi Akibat penyakit kelamin Akibat penggunaan narkoba dan minuman keras b.1 Pengertian Rawat-inap Rumah sakit ini adalah perawatan yang membutuhkan waktu lebih dari 12 jam di rumah sakit serta meliputi pemeriksaan sebelum rawat inap dan sesudah rawat inap. b.2 Pembiayaan program bantuan rawat inap adalah sebagai berikut : b.2.1 Pekerja Lajang : Pekerja JG 11-13 : Rp. 32.500.000,- netto per tahun Pekerja JG 3-10 : Rp. 22.500.000,- netto per tahun b.2.2 Pekerja Berkeluarga : Pekerja JG 11-13 : Rp. 48.000.000,- netto per tahun Pekerja JG 3-10 : Rp. 38.000.000,- netto per tahun b.3 Standard perawatan rumah sakit adalah : b.3.1 Pekerja JG 11-13 : Tarif perawatan Kelas II b.3.2 Pekerja JG 3-10 : Tarif perawatan Kelas III Dengan standart Rumah Sakit Budi Mulia (Siloam Hospital) Surabaya. b.4 Standard rumah sakit sebagaimana yang dimaksud pada b.3.1, b.3.2, adalah rumah sakit yang menjalin kerja sama dengan Perusahaan atau rumah sakit yang bersedia menerima surat jaminan dari Perusahaan. b.5 Bagi Pekerja yang dirawat di rumah sakit yang tidak mempunyai kerja sama dengan Perusahaan maka standar biaya maksimum yang digunakan adalah tarif perawatan kelas yang ditentukan dalam 1.2.3. point a dan b. b.6 Biaya yang diganti oleh Perusahaan adalah biaya-biaya yang didukung oleh bukti pembayaran yang sah dalam rangka perawatan di rumah sakit dimana Pekerja dirawat. b.7 Program Bantuan rawat inap di rumah sakit diberikan kepada Pekerja Wanita apabila yang sakit adalah : b.7.1 Pekerja Wanita sendiri. b.7.2 Anak yang menjadi tanggungan sebagaimana dimaksud dalam istilah anak. b.7.3 Anak Pekerja Wanita, bilamana suami pekerja wanita tersebut tidak memperoleh fasilitas sejenis di tempat / perusahaan suaminya bekerja, cacat fisik/mental dan berusia lanjut diatas 60 (enam puluh) tahun. b.7.4 Suami Pekerja wanita yang dapat ditanggung sebagaimana dimaksud dalam istilah Pekerja Wanita Pasal 1 yaitu yang cacat mental/fisik atau berusia lanjut diatas 60 (enam puluh) tahun. B.7.5 Aturan pelaksanaannya diatur tersendiri. c. Program Bantuan Pembelian Kacamata bagi Pekerja yang sudah bekerja selama 3 (tiga) bulan dan diharuskan oleh dokter mata menggunakan kacamata karena terjadi pengurangan ketajaman penglihatan. c.1 Pembiayaan program bantuan kacamata adalah sebagai berikut : c.1.1 Biaya lensa / Contact Lens : Rp. 400.000,- netto, sesuai resep dokter c.1.2 Biaya bingkai : Rp.400.000,- netto, setiap 3 (tiga) tahun c.3 Tatacara dan prosedur pelaksanaannya diatur tersendiri. d. Program Pemeriksaan Kesehatan Berkala bagi Pekerja : d.1 Dilaksanakan setahun sekali yaitu pada bulan Februari.

a.3

- 21 -

d.2 Pembiayaannya dan tata cara pelaksanaan diatur tersendiri. e. Penyediaan Poliklinik Pabrik : e.1 Disediakan untuk keperluan darurat / pertolongan pertama bagi Pekerja dan keluarga yang berdomisili di seputar Pabrik. e.2 Tata cara dan prosedur penggunaannya diatur tersendiri. 2. Biaya perawatan dan pengobatan yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja ditanggung sepenuhnya oleh Pengusaha dan akan diklaim ke PT. JAMSOSTEK.

Usulan Perubahan Tentang BRJ dan BRI : 1. Yang berhak menerima BRI dan BRJ adalah : a. Pekerja sendiri (Pria dan Wanita) b. Suami/istri Pekerja c. 3 orang anak yang terdaftar 2. Dana BRJ dan BRI dinaikkan karena : a. Biaya Konsultasi Dokter Naik b. Biaya obat-obatan semakin mahal c. Dana yang dibutuhkan harus bertambah karena yang dicover adalah suami/istri dan 3 orang anak Dana BRJ Pekerja Lajang : a. Pekerja golongan 11-13 : 1.750.000 Netto/Tahun b. Pekerja golongan 3-10 : 1.450.000 Netto/tahun Pekerja Berkeluarga : a. Pekerja golongan 11-13 : 1.800.000 Netto/Tahun b. Pekerja golongan 3-10 : 1.600.000 Netto/Tahun Dana BRI Pekerja Lajang : a. Pekerja JG 11-13 : Rp. 50.000.000,- netto per tahun b. Pekerja JG 3-10 : Rp. 40.000.000,- netto per tahun Pekerja Berkeluarga : a. Pekerja JG 11-13 : Rp. 65.000.000,- netto per tahun b. Pekerja JG 3-10 : Rp. 55.000.000,- netto per tahun Tata cara dan prosedur pelaksanaan Bantuan Rawat Inap (BRI) dan Rawat Jalan (BRJ), Prosedur Klaim, serta Standard Pelayanan dan Perawatan Rumah Sakit yang diperoleh kurang jelas oleh karena itu kami mengusulkan Juklak dan Juknis yang Jelas pada saat PKB yang baru terbentuk bukan dirundingkan pada waktu yang lain, demikian juga pada pasal pasal yang lain yang perlu aturan pelaksanaan yang bahasanya diatur tersendiri yang tidak terpisahkan dengan PKB agar sudah ada pedoman aturannya. PASAL 37 BIAYA KELAHIRAN Pengusaha dan serikat pekerja bersepakat bahwa melahirkan adalah sesuatu yang diinginkan dan direncanakan Pekerja sesuai dengan prinsip keluarga berencana. Kepada pekerja wanita dan istri pekerja yang melahirkan, maka biaya kelahiran dapat di claim sebagai bagian dari Program Bantuan Rawat Inap (BRI) dengan ketentuan sebagai berikut: a. Masa kerja pekerja minimal adalah 1 tahun b. Bantuan biaya diberikan sampai dengan kelahiran anak ke 3 (tiga) c. Biaya melahirkan yang dapat di claim adalah biaya melahirkan sesuai dengan kelas perawatan yang ditetapkan. c.1 Untuk perawatan Rumah Sakit karena keguguran atau persalinan abnormal diatur tersendiri. c.2 Apabila Pekerja dan Istri Pekerja di Perusahaan / Indofood Group maka biaya kelahiran hanya diberikan kepada salah satu Pekerja saja dengan nilai terbaik.

- 22 -

1. 2.

3. 4.

PASAL 38 KOMPENSASI KECELAKAAN KERJA Apabila terjadi kecelakaan kerja sesuai yang dimaksud dalam Undang-undang Kecelakaan Kerja, maka Perusahaan akan mengganti biaya-biaya sebagaimana diatur dalam UndangUndang No.1 tahun 1970 dan Undang-Undang No. 3 tahun 1992. Bentuk-bentuk ganti kerugian adalah : Biaya pengangkutan pekerja dari tempat kecelakaan ke rumahnya atau ke rumah sakit. Biaya Perawatan. Ganti rugi cacat. Biaya Pemakaman. Tunjangan Kematian.` Besarnya nilai ganti rugi didasarkan atas Peraturan Pemerintah dan PT.Jamsostek. Dengan keikutsertaan Perusahaan dalam Jaminan Kecelakaan Kerja PT. Jamsostek maka penggantian biaya-biaya dari PT. Jamsostek sesuai hasil penetapan PT. Jamsostek terhadap kasus kecelakaan tersebut menjadi hak perusahaan. PASAL 39 KECELAKAAN DI LUAR JAM KERJA Yang dimaksud dengan kecelakaan di luar jam kerja adalah kecelakaan yang dialami Pekerja tetapi pada saat terjadinya di luar jam kerja dan tidak dalam melaksanakan tugas. Apabila pekerja mengalami kecelakaan pada saat tidak dalam tugas dan di luar jam kerja dan perlu perawatan rumah sakit, maka Perusahaan akan memberikan bantuan berupa penggantian biaya perawatan rumah sakit sesuai dengan ketentuan Pasal 36 1.2 tentang penggantian biaya rumah sakit. Dalam hal pekerja mengalami kecelakaan di atas dan menderita berkepanjangan, maka perusahaan akan membayar gaji / upah sesuai dengan ketentuan pasal 59 tentang tidak mampu bekerja karena alasan kesehatan. Dalam hal Pekerja mengalami kecelakaan di atas dan atas keputusan dokter menyatakan cacat jasmani / rohani melebihi 12 (dua belas) bulan berturut-turut, maka perusahaan dapat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja dan memberikan hak-hak pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku. Apabila dalam kecelakaan tersebut menyebabkan pekerja meninggal dunia, maka perusahaan akan memberikan bantuan sesuai ketentuan pasal 41 tentang Bantuan Duka Cita.

1. 2.

3. 4.

5.

PASAL 40 JAMINAN MAKAN Dalam rangka mempertahankan stamina dan produktifitas kerja Pekerja, maka disediakan fasilitas makan di Kantin Pabrik secara cuma-cuma dengan ketentuan antara lain : 1. 2. Pekerja wajib makan di tempat / ruang yang telah ditentukan. Pekerja yang tidak memanfaatkan fasilitas makan tidak berhak atas uang pengganti makan. 3. Pekerja yang karena sifat dan tugas dan pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, diperbolehkan akan di tempat yang ditentukan yang memungkinkan Pekerja dapat melaksanakan tugasnya serta tidak melanggar peraturan Perusahaan yang ada. 4. Pekerja yang karena sifat dan tugas dan pekerjaannya harus dilaksanakan di luar lokasi kerja diberikan uang pengganti makan yang besarnya ditentukan tersendiri. 5. Pekerja yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan dan telah mendaftarkan diri untuk tidak menggunakan fasilitas kantin selama bulan Ramadhan akan diberikan uang pengganti makan yang besarnya sesuai dengan standar kantin. PASAL 41 BANTUAN DUKA CITA Apabila Pekerja meninggal dunia, maka Perusahaan akan memberikan kepada ahli warisnya sebagai berikut :

1.

- 23 -

2.

a. Gaji pada bulan berjalan. b. Bantuan pemakaman : b.1. Pekerja JG 11-13 sebesar : Rp. 4.500.000,- netto b.2. Pekerja JG 3-10 sebesar : Rp. 4.000.000,- netto c. Sesuai ketentuan perundang-undangan, dengan meninggalnya Pekerja maka Pengusaha akan menyelesaikan hubungan kerja bersamanya dan memberikan uang pesangon sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal keluarga Pekerja (Istri, Suami, Anak sah) meninggal dunia, Pengusaha akan memberikan bantuan pemakaman sebesar : a. Pekerja JG 11-13 sebesar .......... : Rp. 3.000.000,- netto b. Pekerja JG 3-10 sebesar ............ : Rp. 2.750.000,- netto PASAL 42 BANTUAN SUKA CITA Pengusaha memberikan Bantuan Suka Cita kepada Pekerja yang untuk pertama kali menikah : a. Pekerja JG 11-13 sebesar : Rp. 750.000,- netto b. Pekerja JG 3-10 sebesar : Rp. 650.000,- netto Bantuan Suka Cita diberikan bila Pekerja menikah minimal pada usia 25 tahun untuk Pekerja pria dan 21 tahun untuk Pekerja Wanita. Bantuan Suka Cita diberikan bila Pekerja telah mempunyai masa kerja pada Perusahaan sekurang-kurangnya 1 tahun. Apabila terjadi pernikahan antar sesama Pekerja di Indofood Group maka bantuan suka cita hanya diberikan kepada salah satu Pekerja saja dengan nilai terbaik.

1.

2. 3. 4.

PASAL 43 SANTUNAN PURNABAKTI 1. Telah merupakan kesepakatan bahwa usia 55 tahun sebagai batas usia untuk menjalani masa purnabakti dan Pekerja yang mencapai usia purnabakti diberikan Santunan Purnabakti berupa uang pesangon yang dibayarkan kepada Pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja karena mencapai usia purnabakti. Besarnya Santunan Purnabakti diperhitungkan dengan mengikuti ketentuan UU No.13 tahun 2003 dan merupakan nilai gross sebelum dikurangi pajak penghasilan dengan komponen sebagai berikut : a. Gaji pokok terakhir b. Tunjangan Hari Raya yang dihitung secara proporsional c. Insentif rata-rata 6 (enam) bulan terakhir bagi Pekerja golongan insentif 2. Disamping santunan purnabakti yang diperoleh maka Pengusaha memberikan penghargaan atas masabakti Pekerja yang diatur secara tersendiri. 3. Sepanjang Santunan Purnabakti belum diatur oleh Peraturan Pemerintah dan mempertimbangkan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku maka Perusahaan akan memberikan tambahan / uang kebijaksanaan, yang jumlahnya ditetapkan tersendiri oleh Pengusaha sesuai kemampuan. 4. Bila dikeluarkan Peraturan Dana Pensiun yang selaras dengan Undang-Undang Dana Pensiun No.11 tahun 1992, maka ketentuan pasal 43 ayat 1 dan 2 akan mengikuti ketentuan baru dalam Peraturan Dana Pensiun dan selanjutnya ayat 1 dan 2 tersebut tidak berlaku lagi. PASAL 44 BEASISWA ANAK PEKERJA Pengusaha memberikan Beasiswa kepada anak pekerja dan peraturan beasiswa ini diatur dengan syarat-syarat tertentu dan diumumkan setiap tahun. PASAL 45 TEMPAT IBADAH Pengusaha menyediakan ruang / tempat guna keperluan ibadah menurut agama yang dipeluknya. Di dalam penyediaan sarana tersebut, Pengusaha akan menggunakan berbagai pertimbangan sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang kontraproduktif.

- 24 -

PASAL 46 SARANA OLAH RAGA DAN KESENIAN 1. Pengusaha menyediakan fasilitas dan sarana olah raga dan kesenian untuk kegiatan Pekerja sebagai salah satu usaha peningkatan kesehatan dan rekreasi pekerja. 2. Pengusaha dan Pekerja akan menjaga, merawat, dan memelihara fasilitas dan sarana olahraga dan kesenian untuk kepentingan bersama. PASAL 47 PENGHARGAAN MASA BAKTI DAN PURNABAKTI PEKERJA 1. Pengusaha memberikan Piagam Penghargaan atas masa bakti Pekerja di Perusahaan untuk masa bakti 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 tahun. 2. Pekerja yang mengakhiri masa baktinya di Perusahaan karena mencapai usia purnabakti 55 (limapuluhlima) tahun akan mendapat penghargaan atas masa baktinya yang tata cara pelaksanaan pemberian penghargaan ini akan diatur tersendiri. B A B XI CUTI HARI LIBUR DAN IJIN MENINGGALKAN PEKERJAAN PASAL 48 CUTI TAHUNAN 1. Sesuai dengan UU No.13/2003, Pekerja yang telah bekerja 12 (dua belas) bulan berturutturut berhak atas cuti 12 (dua belas) hari kerja dan untuk menggunakannya, Pekerja diwajibkan mengajukan permohonan melalui atasan langsung paling lambat 1 minggu sebelum cuti. Dengan tidak mengurangi hak cuti pekerja, maka penggunaan cuti dapat diatur sebagai berikut : a. Sebanyak-banyaknya 6 (enam) hari digunakan untuk cuti masal pada Hari Raya Idul Fitri / Lebaran. b. Sisanya dapat diambil pada waktu lain setelah disetujui oleh atasannya dengan mempertimbangkan kesibukan pekerja. Untuk pekerjaan tertentu ataupun karena kebutuhan pekerjaannya pelaksanaan cuti dapat diatur pada waktu-waktu lain dengan persetujuan Perusahaan. Bila ada kepentingan Perusahaan yang mendesak maka sesudah tahun cuti berakhir, pelaksanaan cuti tahunan dapat ditangguhkan paling lama 6 (enam) bulan. Bila Pekerja tidak mempunyai cuti tahunan yang dapat diambil, untuk alasan yang tidak termuat dalam Pasal 50 tentang Ijin Meninggalkan Pekerjaan, maka dapat mengambil cuti tanpa bayar yang tata caranya akan diatur tersendiri. PASAL 49 CUTI HAMIL, GUGUR KANDUNGAN DAN HAID Kepada Pekerja yang hamil diberikan cuti hamil selama satu setengah bulan sebelum dan satu setengah bulan sesudah melahirkan. Pemberian cuti hamil didasarkan pada permohonan tertulis dengan dilampirkan Surat Keterangan Dokter atau Bidan yang merawatnya mengenai waktu persalinan. Pekerja yang mengalami gugur kandungan, diberikan cuti selama satu setengah bulan setelah terjadinya gugur kandungan. Selama menjalankan cuti hamil, Pekerja hanya berhak atas gaji / upah pokok dan mengikuti Program Bantuan Pemeliharaan dan Perawatan Kesehatan. Pekerja tidak diwajibkan untuk bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid, dengan ketentuan wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada atasan atau pimpinannya.

2.

3. 4. 5.

1. 2. 3. 4. 5.

PASAL 50 IJIN MENINGGALKAN PEKERJAAN Pekerja diijinkan meninggalkan pekerjaan dengan menerima upah penuh dengan alasan sebagai berikut :

- 25 -

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Perkawinan Pekerja : 3 (tiga) hari kerja. Perkawinan anak : 2 (dua) hari kerja. Suami / isteri, orang tua / mertua atau anak atau menantu, Saudara kandung / ipar meninggal dunia : 2 (dua) hari kerja. Perkawinan saudara kandung : 1 (satu) hari kerja. Mengkhitankan / Pembaptisan anak Pekerja : 2 (dua) hari kerja. Istri karyawan melahirkan atau keguguran kandungan : 2 (dua) hari kerja. Orang yang tinggal dalam satu rumah meninggal dunia : 1 (satu) hari kerja. Dalam hal Pekerja yang mendapatkan musibah (force majeur) diberikan sesuai situasi dan kondisi. Hal-hal lain yang diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku.

PASAL 51 MANGKIR Bilamana Pekerja meninggalkan pekerjaan tanpa ijin atau tanpa alasan seperti tersirat pada Pasal 50 atau tanpa alasan yang dapat diterima Perusahaan (atasan langsung, Kepala Bagian dan Departemen Personalia), maka dapat dikategorikan sebagai mangkir dan memperoleh sanksi. PASAL 52 MENINGGALKAN PEKERJAAN Bilamana Pekerja meninggalkan pekerjaan tanpa selama 5 (lima) hari berturut-turut dan telah Departemen Personalia sebanyak 2 (dua) kali dan telah mengundurkan diri dari Perusahaan dan perundang-undangan yang berlaku. pemberitahuan atau tanpa ijin atasannya diberikan Surat Panggilan Tertulis oleh tetap tidak hadir, maka dianggap Pekerja selanjutnya diproses menurut peraturan

B A B XII KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PASAL 53 UMUM Untuk menjamin keselamatan dan kesehatan kerja, maka perusahaan akan mentaati peraturan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan undang-undang dan Peraturan Pemerintah dengan menyediakan alat-alat pelindung diri. Untuk maksud tersebut, maka Pengusaha menyediakan pakaian kerja, alat-alat keselamatan kerja kepada Pekerja menurut sifat pekerjaannya. Setiap Pekerja diwajibkan untuk mentaati peraturan keselamatan kerja serta memakai alat pelindung keselamatan kerja yang telah ditetapkan sesuai dengan tugas masingmasing. Untuk membantu program perusahaan dalam menyelenggarakan bidang keselamatan dan kesehatan kerja, akan dibentuk P2K3 (Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dengan fungsi dan tugasnya sesuai dengan Peraturan Perundangan. PASAL 54 PERLENGKAPAN DAN PAKAIAN KERJA Pekerja diwajibkan memakai pakaian kerja selama melakukan pekerjaan. Pekerja yang bekerja di tempat yang membutuhkan perlengkapan kerja akan diberikan perlengkapan kerja sesuai dengan kebutuhannya. Pekerja yang sudah melampaui masa percobaan diberi pakaian kerja sebanyak 3 (tiga)stel per tahun dengan kualitas standard yang diberikan setiap bulan Januari. Perlengkapan dan pakaian kerja adalah milik perusahaan yang harus senantiasa dipelihara.

1. 2. 3. 4.

1. 2. 3. 4.

- 26 -

PASAL 55 PERALATAN KERJA 1. Perusahaan menyediakan alat-alat kerja bagi pekerja dengan jenis yang telah ditentukan bagi masing-masing pekerjaan / bagian yang bersangkutan. 2. Pekerja diwajibkan merawat alat-alat kerja tersebut, dan menyimpannya pada tempat yang telah ditentukan oleh atasan langsung. 3. Dalam hal kerusakan pada alat-alat kerja hingga perlu dilakukan penggantian, Pekerja wajib menunjukkan alat kerja yang lama / rusak kepada atasan langsung untuk diganti. B A B XIII PRODUKTIFITAS KERJA PASAL 56 PENDUKUNG PRODUKTIFITAS Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat untuk melaksanakan usaha-usaha peningkatan produktifitas kerja dalam rangka meningkatkan pertumbuhan Perusahaan yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan Pekerja. Oleh karena itu setiap Pekerja berkewajiban dan berpartisipasi aktif dalam semua usaha dan upaya peningkatan produktifitas di perusahaan. 1. Usaha termaksud antara lain dengan jalan : a. Mendorong para Pekerja dalam proses operasi agar senantiasa meningkatkan disiplin kerja secara terus-menerus. b. Mendorong para Pekerja dalam proses operasi untuk menghindarkan diri dari tindakan pemborosan didalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari, serta meningkatkan mutu pekerjaan. c. Mendorong para Pekerja untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan programprogram peningkatan produktifitas melalui Total Quality Management (TQM) dan program-program lain yang ditetapkan Perusahaan. d. Memacu para Pekerja agar melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik, dengan belajar dari pelbagai bidang pekerjaan. e. Memacu para pekerja untuk menciptakan gagasan-gagasan baru, merasionalisasikannya dan menerapkannya agar senantiasa menjadi perusahaan terdepan di bidang industri makanan. Pekerja yang secara sengaja melalaikan kewajiban tersebut dapat dinyatakan sebagai : a. Menolak perintah kerja yang layak. b. Tidak mau memberikan daya kerjanya untuk perusahaan. c. Tidak terampil dalam melakukan pekerjaan. Untuk mengetahui tingkat kesungguhan Pekerja dalam melakukan kewajiban tersebut, maka Pengusaha berhak mengembangkan sistem dan prosedur : a. Sistem Insentif. b. Sistem Penilaian Prestasi Kerja Tahunan c. Sistem Kenaikan Gaji Berkala B A B XIV KOPERASI KARYAWAN PASAL 57 PEMBINAAN KOPERASI KARYAWAN Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa Koperasi Karyawan adalah organisasi yang didirikan oleh dan untuk Pekerja yang pengelolaannya diatur berdasarkan Undang-Undang Per Koperasian. Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat guna menumbuhkan dan mengembangkan Koperasi Karyawan guna meningkatkan kesejahteraan bersama. Pengusaha dan Serikat Pekerja berkepentingan terhadap keadaan Koperasi Karyawan dengan mengingat bahwa anggota koperasi karyawan adalah Pekerja Perusahaan dan anggota Serikat Pekerja dan oleh karenanya :

2.

3.

1. 2. 3.

- 27 -

a. Perusahaan akan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan dan perkembangan Perusahaan. b. Serikat Pekerja akan mengamankan pertumbuhan Koperasi Karyawan. c. Pekerja mendukung dan mengikuti program tabungan Pekerja secara teratur guna mempersiapkan kebutuhan di masa mendatang yang lebih baik. 4. Dalam menjalankan usahanya, Koperasi Karyawan menghindari kegiatan usaha yang bersifat menjadi supplier perusahaan : a. Sebagai perantara dengan mendapatkan fee untuk jasa antar jemput karyawan, penyediaan makan karyawan, transportasi barang perusahaan, dan penyalur kredit dari lembaga keuangan. b. Memiliki bidang usaha yang sama atau hampir sama dengan bidang usaha Perusahaan. 5. Pekerja yang mengurus Koperasi tidak boleh mengurangi hak dan kewajibannya sebagai Pekerja Perusahaan. Bila pertumbuhan usaha koperasi dinilai telah cukup baik, Pengusaha dan Serikat Pekerja sepakat untuk mendorong Pengurus Koperasi mengangkat dan menetapkan Manajer Koperasi yang bukan dari Pekerja Perusahaan untuk menjalankan kegiatan usaha Koperasi Karyawan. B A B XV KEDUDUKAN DAN UPAH PEKERJA SELAMA DALAM TAHANAN PIHAK BERWAJIB 1. PASAL 58 Dalam hal seorang Pekerja diduga terlibat tindak pidana dan ditahan oleh yang berwajib, maka selama dalam masa penahanan, Perusahaan tidak diwajibkan membayar gaji / upah. Dalam hal ini Perusahaan akan memberikan bantuan kepada keluarga Pekerja sesuai dengan yang diatur oleh Undang-undang dan Peraturan Ketenagakerjaan yang berlaku.

2.

Jika seorang Pekerja ditahan, tetapi penahanan itu tidak diteruskan dengan hukuman,maka Pengusaha tidak diwajibkan untuk memberikan ganti kerugian, kecuali jika penahanan itu dilakukan berdasarkan tuduhan dari Pengusaha dan ada faktor lain sehingga Pengusaha dapat diwajibkan memberi ganti kerugian. 3. Pengambilan bantuan dapat dikuasakan kepada orang lain dengan kuasa tertulis dan ermeterai. 4. Bila Pekerja ditahan oleh pihak berwajib lebih dari 6 (enam) bulan maka Perusahaan dapat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sesuai dengan UU No.13 Tahun 2003. B A B XVI TIDAK MAMPU BEKERJA KARENA ALASAN KESEHATAN 1. PASAL 59 Bila Pekerja menderita sakit lama dan dibuktikan dengan keterangan medis maka Perusahaan akan membayar gaji / upah sebagai berikut : a. Empat bulan pertama ............... : 100% x gaji / upah pokok b. Empat bulan kedua ................. : 75% x gaji / upah pokok c. Empat bulan ketiga ................. : 50% x gaji / upah pokok d. Untuk bulan selanjutnya ........... : 25% x gaji / upah pokok
UU no 13 2003 Pasal 93 Ayat 2a dan 3

2.

Apabila dalam waktu 12 (dua belas) bulan berturut-turut Pekerja yang dimaksud dalam pasal di atas belum sembuh, maka Perusahaan dapat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja dan memberikan hak-hak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja dan memberikan hakhak Pekerja sesuai ketentuan Pasal 172 UU No.13 Tahun 2003. 3. Bila pekerja menderita sakit lama yang disebabkan karena, a. Kecelakaan kerja b. Pengaruh kondisi pekerjaan.

Maka pekerja tersebut tidak diperbolehkan untuk di PHK dan tetap mendapatkan 100% gaji / upah sampai masa pensiun sesuai dengan Pasal 153 UU No. 13 Tahun 2003. - 28 -

B A B XVII PENYELESAIAN KELUHAN PEKERJA PASAL 60 PENYELESAIAN KELUHAN PEKERJA Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa penanganan keluhan Pekerja dilakukan sebagai berikut : 1. Apabila terjadi keluhan atau rasa kurang puas dari Pekerja atas keadaan tertentu,maka Pekerja berkewajiban menyampaikan dan membicarakannya baik secara tertulis maupun lisan kepada atasan langsung secara sopan dan tertib. Sedapat mungkin, keluhan atau ketidakpuasan tersebut harus diselesaikan secara musyawarah. 2. Apabila belum dapat diselesaikan bersama atasan langsungnya, maka atasan langsung harus mengajukan persoalannya kepada Kepala Bagian yang lebih tinggi secara berjenjang untuk diselesaikan. 3. Apabila penyelesaian belum tercapai, penyelesaian dapat dilakukan melalui musyawarah antar Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia setempat bersama Pimpinan tertinggi setempat ( bipartite ). 4. Apabila musyawarah setempat belum mencapai mufakat maka dapat meminta bantuan penyelesaian pada Dinas Tenaga Kerja setempat sesuai ketentuan perundangan yang berlaku (tripartite). 5. Penyelesaian keluh kesah di luar tata cara / prosedur tersebut di atas, pada dasarnya harus dihindari dan merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan. 6. Untuk menjamin kelangsungan kerja para Pekerja dan operasional perusahaan maka Pengusaha dan Serikat Pekerja sepakat untuk sejauh mungkin menghindari tindakan pemogokan ataupun lock-out / penghentian operasional perusahaan. 7. Pengusaha dan Serikat Pekerja sepakat bahwa sementara sedang dalam proses penyelesaian keluhan Pekerja maka Pengusaha dan Pekerja tetap melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing. PASAL 61 MOGOK DAN PENUTUPAN PERUSAHAAN 1. Pengusaha dan Serikat Pekerja bersepakat bahwa dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan senantiasa mengedepankan semangat musyawarah dan kebersamaan dengan menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai hubungan industrial yang harmonis sehingga sedapat mungkin menghindari tindakan pemogokan maupun penutupan Perusahaan. 2. Apabila dalam berbagai jalan damai sudah ditempuh namun kedua belah pihak masih belum ketemu kata sepakat, maka pekerja dapat menggunakan hak mogok kerja sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. BA B XVIII PENUTUP PASAL 62 Perjanjian Kerja Bersama ini dibuat untuk memperbaharui Perjanjian Kerja Bersama yang terdahulu. 2. Bilamana dalam masa berlakunya Perjanjian Kerja Bersama ini terdapat Kesepakatan yang lain, maka dapat dikukuhkan ke dalam suatu Persetujuan Bersama, yang nilainya secara keseluruhan tidak berkurang dari nilai yang terkandung dalam Perjanjian Kerja Bersama ini. 3. Pekerja dapat memperoleh Buku Perjanjian Kerja Bersama ini dari Bagian Personalia setempat. 1. PASAL 63 JANGKA BERLAKUNYA PERJANJIAN KERJA BERSAMA 1. Jangka waktu Perjanjian Kerja Bersama ini adalah 2 (dua) tahun yaitu mulai tanggal 01 September 2011 dan mengikat kedua belah pihak sampai dengan tanggal 31 Agustus 2013. 2. Atas kesepakatan kedua Pihak, Perjanjian Kerja Bersama ini dapat diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.

- 29 -

3.

Untuk pembaruan Perjanjian Kerja Bersama ini, salah satu pihak harus memberitahukan keinginannya secara tertulis selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sebelum Perjanjian Kerja Bersama ini berakhir. 4. Selama belum menghasilkan Perjanjian Kerja Bersama yang baru, setelah berakhirnya masa berlaku Perjanjian Kerja Bersama ini, maka ketentuan dalam Perjanjian Kerja Bersama ini tetap berlaku hingga tercapainya perjanjian yang baru PASURUAN, 11 MARET 2013 PUK FSP RTMM SPSI PT. INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR, Tbk DIVISI MI CABANG JAWA TIMUR

APAH EKO K. KETUA

MISBAKHUL HUDA SEKRETARIS

- 30 -