Anda di halaman 1dari 37

Laporan Sementara Praktikum Kimia Fisika

ADSORBSI PADA LARUTAN


Disusun Oleh: Kelompok A-2

Ahmad Marzuki Sarah Nadia Syawalia

(0904103010047 47) (0904103010015 15) (0904103010036)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM, BANDA ACEH 2010

BAB I DATA PENGAMATAN

Tabel 1.1 Banyaknya NaOH 0,5 N yang dibutuhkan untuk menitrasi 10 ml larutanCH3COOH sebelum mengalami adsorbsi Konsentrasi awal Volume titrasi Konsentrasi sebenarnya (N) (ml) (N) 0,25 4,8 0,24 0,5 8,7 0,435 0,75 15,3 0,765 1,00 18,9 0,945 Tabel 1.2 Banyaknya NaOH 0,5 N yang dibutuhkan untuk menitrasi 10 ml larutan CH3COOH setelah mengalami adsorpsi menggunakan 1 gram dan 2 gram arang aktif dengan waktu pendiaman selama 15 menit dan 45 menit Volume titrasi Konsentrasi Berat adsorben (ml) CH3COOH (gram) (N) 15 menit 45 menit 0,24 4,1 4,7 0,435 8,25 8,0 1 0,765 13,5 14,6 0,945 14,2 15,6 0,24 3,5 3,85 0,435 6,7 7,4 2 0,765 9,5 13,5 0,945 18,0 17,1

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1

Hasil pengolahan data

Tabel 2.1 Hasil pengolahan data adsorbsi larutan CH3COOH dengan menggunakan arang aktif 1 gram pada pendiaman selama 15 menit Konsentrasi Jumlah Jumlah Konsentrasi Jumlah CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH yang sebelum setelah sebelum setelah teradsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi (gram) (N) (N) (gram) (gram) 0,24 0,205 0,144 0,123 0,021 0,435 0,4125 0,261 0,2475 0,0135 0,765 0,675 0,459 0,405 0,054 0,945 0,71 0,567 0,426 0,141 Tabel 2.2 Hasil pengolahan data adsorbsi larutan CH3COOH dengan menggunakan arang aktif 1 gram pada pendiaman selama 45 menit Konsentrasi Jumlah Jumlah Konsentrasi Jumlah CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH yang sebelum setelah sebelum setelah teradsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi (gram) (N) (N) (gram) (gram) 0,24 0,235 0,144 0,141 0,003 0,435 0,4 0,261 0,24 0,021 0,765 0,73 0,459 0,438 0,021 0,945 0,78 0,567 0,468 0,099 Tabel 2.3 Hasil pengolahan data adsorbsi larutan CH3COOH dengan menggunakan arang aktif 2 gram pada pendiaman selama 15 menit Konsentrasi Jumlah Jumlah Konsentrasi Jumlah CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH yang sebelum setelah sebelum setelah teradsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi (gram) (N) (N) (gram) (gram) 0,24 0,175 0,144 0,105 0,039 0,435 0,335 0,261 0,201 0,06 0,765 0,475 0,459 0,285 0,174 0,945 0,9 0,567 0,54 0,027

Tabel 2.4

Hasil pengolahan data adsorbsi larutan CH3COOH dengan menggunakan arang aktif 2 gram pada pendiaman selama 45 menit Konsentrasi Jumlah Jumlah Konsentrasi Jumlah CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH CH3COOH yang sebelum setelah sebelum setelah teradsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi adsorbsi (gram) (N) (N) (gram) (gram) 0,24 0,1925 0,144 0,1155 0,029 0,435 0,37 0,261 0,222 0,039 0,765 0,675 0,459 0,405 0,054 0,945 0,855 0,567 0,513 0,054 Pembahasan Adsorbsi adalah pengumpulan zat terlarut dipermukaan media dan

2.2

merupakan jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau cair yang kontak dengan zat-zat lainnya. Salah satu adsorban yang yang biasa diterapkan dalam pengolahan air minum adalah karbon aktif. Arang ini digunakan untuk menghilangkan bau, warna dan rasa air termasuk logam-logam ion berat (Cahyana, 2009). Percobaan ini menggunakan karbon aktif sebagai adsorban, asam asetat dengan berbagai konsentrasi sebagai adsorbat serta larutan NaOH 0,5 N sebagai larutan standar. Larutan asam asetat yang telah dibuat dalam berbagai konsentrasi dimasukkan arang aktif dan didiamkan selama 15 menit dan 45 menit. Peristiwa adsorpsi yang terjadi bersifat selektif dan spesifik dimana CH3COOH lebih mudah teradsorpsi daripada pelarut (aquades), karena arang aktif (karbon) hanya mampu mengadsorpsi senyawa-senyawa organik (Sukardjo, 1985). Perubahan konsentrasi asam asetat sebelum dan sesudah adsorpsi dapat diketahui dengan cara menitrasi filtrat yang mengandung CH3COOH dengan larutan standar NaOH 0,5 N yang sebelumnya ditetesi dengan indikator PP, yaitu suatu zat organik yang warnanya akan berubah dalam jangka pH tertentu. Konsentrasi awal CH3COOH mempengaruhi volume titrasi yang digunakan. Semakin besar konsentrasinya, maka semakin banyak larutan standar NaOH yang digunakan. Disebabkan semakin besar konsentrasi, letak antar molekulnya semakin berdekatan sehingga susah untuk mencapai titik ekivalen (Sukardjo, 1985).

Adsorpsi yang terjadi dalam percobaan termasuk adsorpsi fisika. Adsorpsi terjadi karena molekul-molekul pada permukaan karbon aktif yang memiliki gaya tarik dalam keadaan tidak setimbang yang cenderung tertarik ke arah dalam (gaya kohesi adsorben lebih besar daripada gaya adhesinya). Ketidakseimbangan gaya tarik tersebut mengakibatkan karbon aktif yang digunakan sebagai adsorben cenderung menarik zat-zat lain yang bersentuhan dengan permukaannya (Sudirjo, 2005). Proses adsorpsi terjadi pada permukaan pori-pori dalam adsorben sehingga untuk bisa teradsorpsi, zat teradsorbsi dalam cairan mengalami proses-proses antara lain perpindahan massa zat dari cairan ke permukaan adsorben, difusi dari permukaan adsorben ke dalam adsorben melalui pori, perpindahan massa adsorbat dari cairan dalam pori ke dinding pori adsorben dan adsorpsi adsorbat pada dinding pori adsorben (Danarto, 2007). Berdasarkan percobaan, terbukti bahwa konsentrasi adsorbat, jumlah adsorban, dan lamanya waktu adsorbsi adalah faktor yang ikut mempengaruhi proses adsorbsi. 2.2.1 Pengaruh Konsentrasi Konsentrasi adsorbat mempengaruhi proses adsorbsi, hal ini disebabkan zat terlarut yang tersebar didalam pelarut lebih banyak, sehingga kemungkinan terjadinya kontak antara adsorbat dan adsorban semakin besar (Afrianita,Dkk., 2010). Sebagai contoh (Tabel 2.1) pada konsentrasi 0,24 N jumlah CH3COOH yang teradsorbsi sebanyak 0,021 gram, sedangkan pada konsentrasi 0,945 N jumlah CH3COOH yang terserap sebanyak 0,141 gram. Hal ini membuktikan bahwa semakin besar konsentrasi dari CH3COOH maka jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh arang aktif semakin banyak. Berdasarkan teori, larutan yang memiliki konsentrasi yang lebih besar akan lebih banyak teradsorbsi sesuai daya adsorpsi optimum karbon aktif pada konsentrasi tersebut. Namun dari hasil perhitungan yang diperoleh, terdapat beberapa hasil yang tidak sesuai dengan teori, seperti pada sampel dengan konsentrasi 0,765 N dengan pendiaman menggunakan 2 gram karbon aktif selama 15 menit, memiliki jumlah CH3COOH yang teradsorbsi sebanyak 0,174 gram yang lebih besar daripada jumlah

CH3COOH yang teradsorbsi pada konsentrasi 0,945 N dengan perlakuan yang sama yaitu 0,027 gram. Hal ini mungkin dikarenakan terdapatnya kesalahan pada saat melakukan pengenceran, membaca skala buret atau bisa juga

dikarenakan karbon aktif yang digunakan sudah banyak menyerap air dari udara sehingga mengurangi kemampuan adsorpsinya.

2.2.2 Pengaruh Waktu Pendiaman Lamanya waktu kontak juga memberikan pengaruh terhadap adsorbsi, yaitu semakin lama pendiaman, maka jumlah yang teradsorbsi semakin banyak. Hal ini disebabkan semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zatzat organic akan turun apabila kontaknya cukup atau mencapai waktu kesetimbangan (Budi, 2008). Pembuktiannya dapat dilihat pada data pengamatan yang menggunakan 1 gram karbon aktif sebagai adsorban dengan waktu

pendiaman 15 menit dan 45 menit (Tabel 2.1 dan Tabel 2.2), pada konsentrasi 0,435 N dan pendiaman selama 15 menit, jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh setiap 1 gram karbon aktif adalah sebanyak 0,0135 gram. Sedangkan jumlah CH3COOH yang teradsorbsi selama 45 menit pada konsentrasi yang sama adalah sebesar 0,021 gram. Waktu kontak adalah salah satu variabel yang mempengaruhi proses penyerapan, waktu kontak merupakan lamanya kontak antara adsorben (karbon aktif) dengan adsorbat (asam asetat). Dalam suatu proses adsorpsi, proses akan terus berlangsung selama belum terjadi suatu kesetimbangan. Karena itu untuk mencari distribusi kesetimbangan antara adsorben dengan adsorbat dilakukan percobaan dengan menvariasikan waktu kontak. Penentuan waktu kesetimbangan dilakukan untuk mengetahui kapan suatu bahan penyerap (karbon aktif) mengalami kejenuhan sehingga proses adsorpsi terhenti (Husni Dkk, 2004). Terdapat beberapa data yang menyimpang dari teori, seperti pada adsorbsi menggunakan 1 gram arang aktif dengan pendiaman selama 15 menit, jumlah zat yang teradsorbsi pada saat konsentrasi CH3COOH sebesar 0,24 N adalah

sebanyak 0,021 gram sedangkan pada pendiaman selama 45 menit jumlah zat yang teradsorpsi lebih sedikit yaitu 0,003 gram. Hal ini mungkin dikarenakan

arang aktif yang digunakan telah mengalami kejenuhan sehingga daya serapnya berkurang.

2.2.3 Pengaruh Jumlah Adsorban Berdasarkan hasil percobaan, banyaknya adsorban dapat mempengaruhi adsorpsi. Hal ini disebabkan karena semakin banyak adsorban maka semakin banyak media penyerapnya, sehingga semakin banyak adsorbat yang diserap, dan proses adsorpsi dapat semakin efektif (Meilita, 2007). Pada hasil pengolahan data yang menggunakan 1 gram karbon aktif sebagai adsorban dengan waktu

pendiaman 15 menit pada konsentrasi CH3COOH 0,24 N dan yang menggunakan 2 gram karbon aktif dengan pendiaman selama 15 menit (Tabel 2.1 dan 2.3) jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh setiap 1 gram karbon aktif adalah sebanyak 0,021 gram. Sedangkan jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh 2 gram karbon aktif pada konsentrasi dan waktu yang sama adalah sebesar 0,039 gram. Terdapat beberapa data yang menyimpang dari teori, contohnya jumlah zat teradsorpsi pada konsentrasi CH3COOH sebesar 0,945 N dengan menggunakan 1 gram arang aktif pada pendiaman 45 menit adalah sebanyak 0,099 gram sedangkan pada penggunaan arang aktif 2 gram pada pendiaman dan konsentrasi yang sama jumlah zat yang teradsorpsi lebih sedikit yaitu 0,054 gram.

2.2.4 Adsorbsi Isothermal Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada temperatur tertentu (Muslich, 2007). Kesetimbangan adsorpsi yaitu suatu penjabaran secara matematika suatu kondisi isothermal yang khusus untuk setiap adsorbat/adsorben dan merupakan suatu informasi fundamental yang diperlukan untuk mendesain industri-industri adsorber. Jadi untuk masing-masing bahan penyerap (adsorben) dan bahan yang diserap (adsorbat) memiliki kesetimbangan adsorpsi tersendiri dimana jumlah zat yang diserap merupakan fungsi konsentrasi pada temperatur tetap. Model kesetimbangan adsorpsi yang

sering digunakan untuk menentukan kesetimbangan adsorpsi adalah isothermal Langmuir dan Freundlich (Husni, dkk., 2004). Freundlich menyusun isotherm adsorpsi dengan mengasumsikan bahwa permukaan adsorban adalah heterogen, dan model ini sesuai digunakan untuk larutan encer dan campuran (Kouyumdjiev dalam Bastian, 2002).
0 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 -0.2 0 -0.4 -0.6

log x/m

-0.8 -1 -1.2 R = 0,033 -1.4 -1.6 R = 0,980 -1.8 -2 15 menit pendiaman 45 menit pendiaman

log C
Gambar 2.1 Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat yang teradsorpsi menurut isoterm Freundlich pada adsorpsi menggunakan 2 gram arang aktif

Berdasarkan Gambar 2.1 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi CH3COOH maka semakin banyak jumlah adsorbat yang terserap setiap 1 gram arang aktif. Pada saat log konsentrasi sebesar -0,62 N maka jumlah log adsorbat yang terserap oleh 2 gram karbon aktif selama pendiaman 15 menit adalah sebanyak -1,709 gram, pada saat log konsentrasi sebesar -0,36 N maka jumlah log adsorbat yang terserap pada waktu pendiaman yang sama adalah sebanyak -1,523 gram. Harga n yang didapat untuk pendiaman selama 15 menit adalah sebesar 4,08 serta harga k sebesar 0,033, untuk pendiaman selama 45 menit harga n yang didapat yaitu 1,9 dan harga k sebesar 0,029. Harga R2 yang didapat yaitu 0,033 untuk adsorbsi dengan 2 gram karbon aktif selama 15 menit pendiaman dan sebesar 0,980 untuk pendiaman selama 45 menit.

Model Langmuir adalah model yang sangat sering digunakan untuk model polusi polutan dari cairan. Model ini diperoleh di bawah asumsi ideal bahwa adsorpsi keseluruhan terjadi pada permukaan dan homogen. Asumsi lainnya bahwa hanya satu dari molekul adsorbat tertempati pada bagian aktif, tidak ada adsorpsi lanjutan dari adsorbat tertempati pada bagian tersebut (Husni, Dkk. 2004).
80 70 60 50 R = 0,475 R = 0,982 15 menit pendiaman 45 menit pendiaman

1/ 40 x/m
30 20 10 0 0 0.2

0.4

0.6

0.8

1/ Gambar 2.2

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat yang teradsorpsi menurut isoterm Langmuir pada adsorpsi menggunakan 2 gram arang aktif

Berdasarkan Gambar 2.2 dapat dilihat hubungan antara konsentrasi CH3COOH dengan jumlah CH3COOH yang teradsorbsi. Pada saat konsentrasi-1 asam asetat sebesar 0,24 N maka harga 1 x/m pada pendiaman selama 15 menit

menggunakan 2 gram karbon aktif adalah sebesar 12,3 N/g, sedangkan pada saat konsentrasi-1 asam asetat sebesar 0,435 N maka harga 1 x/m dengan perlakuan

yang sama adalah sebesar 14,5 N/g. Harga a yang didapat untuk pendiaman selama 15 menit adalah sebesar 0,08 serta harga b sebesar 5,3, untuk pendiaman selama 45 menit harga a yang didapat yaitu 0,094 dan harga b sebesar 2,366. Nilai R2 yang diperoleh pada kurva isotherm Langmuir adalah sebesar 0,475 untuk

adsorbsi dengan 2 gram karbon aktif selama 15 menit pendiaman dan sebesar 0,982 untuk pendiaman selama 45 menit. Berdasarkan data dari hasil percobaan, grafik yang sesuai adalah grafik dari persamaan Langmuir. Karena regresi atau nilai yang menunjukkan kebenaran data dari kedua kurva hampir mendekati satu. Langmuir menggambarkan bahwa pada permukaan penyerap terdapat sejumlah tertentu pusat aktif (active sites) yang sebanding dengan luas permukaan penyerap. Pada setiap pusat aktif hanya satu molekul yang dapat diserap. Ikatan antara zat yang terserap dengan penyerap dapat terjadi secara fisika (physisorption) atau secara kimia (chemisorption). Ikatan tersebut harus harus cukup kuat untuk mencegah perpindahan molekul yang telah terserap sepanjang permukaan penyerap. Interaksi antar molekul- molekul yang terserap dalam lapisan hasil serapan diabaikan (Junaidi, 2009). Berdasarkan percobaan, proses adsorpsi paling optimum berlangsung pada saat konsentrasi CH3COOH sebesar 0,765 menggunakan 2 gram arang aktif dengan waktu pendiaman selama 15 menit dengan jumlah asam asetat yang teradsorpsi sebanyak 0,174 gram. Adsorpsi optimum berarti kondisi dimana jumlah adsorbat yang terserap oleh setiap gram adsorben mencapai jumlah paling maksimum (Jolanda, 2010). Sedangkan adsorpsi paling minimum berlangsung pada konsentrasi CH3COOH 0,24 N dengan pendiaman selama 45 menit, dimana jumlah zat yang teradsorpsi hanya sebanyak 0,003 gram oleh setiap 1 gram arang aktif.

0.2 Jumlah zat yang teradsorpsi 0.18 0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 0.24 0.435 0.765 0.945 Konsentrasi CH3COOH (N) 1 gram 15 menit 1 gram 45 menit 2 gram 15 menit 2 gram 45 menit

Gambar 2.5

Jumlah zat yang teradsorpsi dalam setiap konsentrasi CH3COOH menggunakan 1 gram dan 2 gram arang aktif dengan pendiaman selama 15 menit dan 45 menit

Jumlah zat yang teradsorpsi pada permukaan adsorben merupakan proses berkesetimbangan, sebab laju peristiwa adsorpsi disertai dengan terjadinya desorpsi. Pada awal reaksi, peristiwa adsorpsi lebih dominan dibandingkan dengan peristiwa desorpsi, sehingga adsorpsi berlangsung cepat. Pada waktu tertentu peristiwa adsorpsi cendung berlangsung lambat, dan sebaliknya laju desorpsi cenderung meningkat (Jolanda, 2010). Hal ini menyebabkan terdapatnya data jumlah CH3COOH yang diperoleh dari percobaan tidak signifikan dan berbanding lurus dengan konsentrasi serta lamanya pendiaman.

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Semakin tinggi konsentrasi adsorbat, maka jumlah adsorbat yang teradsorbsi juga semakin banyak, pada konsentrasi 0,24 N jumlah CH3COOH yang teradsorbsi sebanyak 0,021 gram, sedangkan pada konsentrasi 0,765 N jumlah CH3COOH yang terserap sebanyak 0,054 gram. 2. Semakin lama waktu pendiaman, jumlah yang teradsorbsi juga semakin banyak, Pada konsentrasi 0,435 N dan pendiaman selama 15 menit, jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh setiap 1 gram karbon aktif adalah sebanyak 0,0135 gram. Sedangkan jumlah CH3COOH yang teradsorbsi selama 45 menit pada konsentrasi yang sama adalah sebesar 0,021 gram. 3. Semakin banyak jumlah adsorben yang digunakan maka semakin banyak jumlah adsorbat yang teradsorpsi. Pada CH3COOH 0,945 N dengan pendiaman 15 menit, jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh setiap 1 gram karbon aktif adalah sebanyak 0,021 gram. Sedangkan jumlah CH3COOH yang teradsorbsi oleh 2 gram karbon aktif pada konsentrasi dan waktu yang sama adalah sebesar 0,039 gram. 4. Adsorpsi paling optimum berlangsung pada saat konsentrasi CH3COOH sebesar 0,765 menggunakan 2 gram arang aktif dengan waktu pendiaman selama 15 menit dengan jumlah asam asetat yang teradsorpsi sebanyak 0,174 gram. Sedangkan adsorpsi paling minimum berlangsung pada konsentrasi CH3COOH 0,24 N dengan pendiaman selama 45 menit, dimana jumlah zat yang teradsorpsi hanya sebanyak 0,003 gram oleh setiap 1 gram arang aktif. 5. Harga n yang didapat pada adsorbsi menggunakan 2 gram karbon aktif dengan pendiaman selama 45 menit yaitu 1,9 dan harga k sebesar 0,029. 6. Harga a yang didapat untuk adsorpsi menggunakan 2 gram karbon aktif dengan pendiaman selama 45 menit yaitu 0,094 dan harga b sebesar 2,366.

7. Berdasarkan data dari hasil percobaan, grafik yang sesuai adalah grafik dari persamaan Langmuir. Karena regresi atau nilai yang menunjukkan kebenaran data dari kurva hampir mendekati satu yaitu 0,982.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianita, R., Fitria, D., dan Rahma PS., 2010, Pemanfaatan Fly Ash Batubara Sebagai Adsorben Dalam Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) Dari Limbah Cair Domestik, Electronic Journal Of Biotechnology No. 33 Vol.1 tahun XVII April 2010, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Lingkungan, Universitas andalas, Padang. Agus, S., 2010, Meningkatkan Nilai Arang Tempurung Jadi Karbon Aktif, Diakses dari http://agusyantono.wordpress.com Tanggal 16 oktober 2010, pukul (21.26 WIB) Anonim, 2010, Penuntun Praktikum Kimia Fisika Laboratorium Lingkungan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Unsyiah. Banda Aceh. Bastian, A., 2002, Adsorpsi Merkuri Menggunakan Serbuk Gergaji, Disertasir Doctoral Degree, ITB, Bandung, Diakses dari http://www.scribd.com, Tanggal 06 November 2010, Pukul (15.22 WIB) Budi, S., 2008. Perbedaan Adsorpsi Phenol Arang Tempurung Kelapa dengan Arang Sono, Diakses dari http://keperawatan08.blogspot.com, Tanggal 6 oktober 2010, Pukul (00.57 WIB) Cahyana, G. H., 2009, Adsorpsi Karbon Aktif (online), Diakses dari http://gedehace.blogspot.com, Tanggal 2 Oktober 2010, Pukul (22.15WIB) Danarto, YC., 2007, Kinetika Adsorbsi Logam Berat Cr(VI) Menggunakan Adsorben pasir yang Dilapisi Besi Oksida, Jurnal Penelitian (online), Teknik Kimia UNS, Semarang Husni, H., Supriandy, S., Yusri B. S., Dan Joewanda, 2004, Preparation of Activated Carbon from Banana Stem by Pirolysis and Activation using Nitrogen gas, Proceedings National Conference On Chemical Engineering Sciences and Applications (CHESA), Banda Aceh, Indonesia, Diakses dari http://www.scribd.com, Tanggal 27 Oktober 2010, Pukul (23.14 WIB) Jolanda, M., 2010, Adsorbsi Zat warna Oleh Karbon Aktif, Diakses dari http://www.Scribd.com, Tanggal 28 Oktober 2010, Pukul (13.23 WIB) Junaidi, W., 2009, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adsorpsi, Diakses dari http://wawan-junaidi.blogspot.com, Tanggal 28 Oktober 2010, Pukul (13.15 WIB)

Keenan, Charles W., Kleinfelter, Donald C., Wood, Jessse H., 1999, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta Koran Jakarta (online), 2009, Karbon Aktif Kulit Singkong sebagai Filter Air, Diakses dari http://www.koran-jakarta.com, Tanggal 17 Oktober 2010, Pukul (23.30 WIB) Meilita, 2007, Adsorpsi Karbon, Diakses Dari http://repository.usu.ac.id, Tanggal 07 November 2010, Pukul (01.45 WIB) Muslich, Prayoga Suryadarma dan R. Indri R. Hayuningtyas, 2007, Kinetika Adsorbsi isotermal -karoten dari Olein Sawit Kasar dengan Menggunakan Bentonit, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 6 oktober 2010, Pukul (01.03 WIB) Sudirjo, E., 2005, Penentuan Distribusi Benzena-Toluena Pada Kolom Adsorbsi Fixed-Bed Karbon Aktif. Skripsi (online), Diakses dari http://keperawatan08.blogspot.com, Tanggal 6 oktober 2010, Pukul (23.18 WIB) Sukardjo, 1985, Kimia Fisika, Bina Aksara, Jakarta Suparni, S. R., 2009, Proses Adsorbsi Dalam Industri, Diakses dari http://www.chem-is-try.org, Tanggal 18 Oktober 2010, Pukul (15.15 WIB)

LAMPIRAN A CONTOH PERHITUNGAN

A.1 Massa NaOH yang ditimbang untuk membuat NaOH 0,5 M sebanyak 500 ml. N m Dimana: N Mr V Maka: m =
0.5 N 40 g mol 500 ml 1000

= =

m 1000 Mr V N Mr V 1000

= 0,5 N = 40 g/mol = 500 ml

= 10 g

A.2 Menghitung konsentrasi asam asetat N = 16 N Membuat larutan asam asetat 1 N dalam 250 ml larutan N1 V1 = N2 V2 Dimana: N1 N2 V2 Maka: 16 N V1 = 1 N 250 ml V1 = = 16 N =1N = 250 ml

1N 250ml 16 N

= 15,625 ml

Pengenceran asam asetat untuk berbagai konsentrasi a. Asam asetat 0,25 N N1 V1 1 N V1 V1 = N2 V2 = 0,25 N 100 ml =

0,25 N 100ml = 25 ml 1N

b. Asam asetat 0,5 N N1 V1 1 N V1 V1 = N2 V2 = 0,5 N 100 ml =

0,5 N 100ml 1N

= 50 ml

c. Asam asetat 0,75 N N1 V1 1 N V1 V1 = N2 V2 = 0,75 N 100 ml =

0,75 N 100ml 1N

= 75 ml

A.3 Menghitung konsentrasi asam asetat sesudah adsorbsi Untuk Asam Asetat 0,24 N dengan berat adsorben 1 gram, pada pendiaman selama 15 menit. V CH3COOH N CH3COOH = V NaOH N NaOH Dimana: V CH3COOH V NaOH N NaOH Maka: = 10 ml = 4,1 ml = 0,5 N

N CH3COOH

4,1ml 0,5 N 10ml

= 0,205 N

A.4 Menghitung jumlah (gram) asam asetat sebelum teradsorbsi Untuk Asam Asetat 0,24 N dengan berat adsorben 1 gram, pada pendiaman selama 15 menit. m Dimana: N V BM Maka: m m = 0,24 N = 0,01 L = 60 gr/mol

= N V BM

= 0,24 N 0,01L 60 gr mol


= 0,144 g

A.5 Menghitung jumlah (gram) asam asetat sesudah teradsorbsi Untuk Asam Asetat 0,24 N dengan berat adsorben 1 gram, pada pendiaman selama 15 menit. m Dimana: N V BM Maka: m m = 0,205 N = 0,01 L = 60 gr/mol

= N V BM

= 0,205N 0,01L 60 gr mol


= 0,123 gram

A.6 Menghitung jumlah (gram) asam asetat yang teradsorbsi

Untuk Asam Asetat 0,24 N dengan berat adsorben 1 gram, pada pendiaman selama 15 menit mteradsorbsi = mawal - makhir Dimana: mawal makhir Maka: mteradsorbsi = mawal - makhir = 0,144 g 0,123 g = 0,021 gram A.7 Hubungan jumlah asam asetat teradsorbsi dengan konsentrasi menurut Freundlich = 0,144 gram = 0,123 gram

log Tabel A.1 C 0,24 0,435 0,765 0,945

x 1 = log K + log C m n

(Pers. A.1)

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 1 gram dan pendiaman selama 15 menit (x)(y) Log C (x) x/m Log x/m (y) (x2) - 0,62 - 0,36 - 0,116 -0,025 0,021 0,0135 0,054 0,141 - 1,677 - 1,87 - 1,27 -0,85 (y) = - 5,667 0,38 0,13 0,013 0,000625 (x2) = 0,52 1,04 0,673 0,147 0,0213 (xy) = 1,88

(x) = - 1,121

1 = n

slope ( b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2
4 (1,88) (1,121)(5,667) 4 (0,52) ( 1,121) 2

7,52 6,35 2,08 1,257

1,17 0,823

1 = 1,42 n
n = 0,7 log k = intersep (a)

y (x)b n (5,667) (1,121)1,42 = 4 5,667 + 1,593 = 4


= =

4,074 4

log k k

= -1,0185 = 0,096

Tabel A.2 C 0,24 0,435 0,765 0,945

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 1 gram dan pendiaman selama 45 menit Log C (x) x/m Log x/m (y) (x2) (x)(y) - 0,62 - 0,36 - 0,116 -0,025 0,003 0,021 0,021 0,099 -2,52 - 1,677 - 1,677 -1 (y) = -6,874 0,38 0,13 0,013 0,000625 (x2) = 0,52 1,56 0,6 0,19 0,025 (xy) = 2,375

(x) = -1,121

1 = n

slope

(b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 ( 2,375) ( 1,121)(6,874) 4 (0,52) (1,121) 2

9,5 7,71 2,08 1,257

1,79 0,823

1 = 2,17 n
n = 0,46

log k = intersep (a)

y (x)b n (6,874) (1,121)2,17 = 4 6,874 + 2,43 4 4,444 4

= = log k k Tabel A.3 C 0,24 0,435 0,765 0,945

= - 1,111 = 0,077

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 2 gram dan pendiaman selama 15 menit (x)(y) Log C (x) x/m Log x/m (y) (x2) - 0,62 - 0,36 - 0,116 -0,025 (x) = -1,121 0,0195 0,03 0,087 0,0135 - 1,709 - 1,523 -1,060 - 1,869 0,38 0,13 0,013 0,000625 1,06 0,548 0,123 0,0467 (xy) = 1,78

(y) = -6,161 (x2) = 0,52


n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 (1,78) (1,12)(6,16) 4 (0,52) ( 1,12) 2

1 n

= slope

(b ) =

7,102 6,906 2,08 1,256

0,202 0,824

1 = 0,245 n
n = 4,08

log k = intersep (a)

y (x)b n (6,16) (1,12)0,245 = 4


= = =

6,16 + 0,321 4 5,84 4

log k k

= - 1,46 = 0,033

Tabel A.4 C 0,24 0,435 0,765 0,945

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 2 gram dan pendiaman selama 45 menit (x)(y) Log C (x) x/m Log x/m (y) (x2) - 0,62 - 0,36 - 0,116 -0,025 0,0145 0,0195 0,027 0,027 - 1,84 - 1,71 - 1,57 - 1,57 (y) = -6,7 0,38 0,13 0,013 0,000625 (x2) = 0,52 1,141 0,616 0,182 0,039 (xy) = 1,98

(x) = -1,12

1 = n

slope

(b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 (1,98) (1,12)(6,7) 4 (0,52) (1,12) 2

7,92 7,5 2,08 1,256 0,42 = 0,525 0,8

1 = 0,525 n
n = 1,9

log k = intersep (a)

y (x)b n (6,7) (1,12)0,525 = 4


= = =

6,7 + 0,588 4 6,112 4

log k k

= - 1,53 = 0,029

A.8 Hubungan jumlah asam asetat teradsorbsi dengan konsentrasi menurut Langmuir

1 1 1 = + x / m b abC
Tabel A.5

Pers. (A.2)

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 1 gram dan pendiaman selama 15 menit 1 (x) y= 1 x/m (x)(y) (x2) C x/m 4,16 0,021 47,6 198,02 17,3 2,3 0,0135 74,7 171,2 5,29 1,3 0,054 18,5 24,05 1,69 1,05 0,141 7,1 7,455 1,1 2 (x) = 2,385 (y) = 64,54 (xy) = 33,9 (x ) = 1,72

1 = ab

slope

(b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 (33,9) (2,385)(64,54) 4 (1,72) ( 2,385) 2

135,6 154 6,88 5,688 18,4 = 15,4 1,192

=
1 = intersep (a) b

y (x)b n 64,54 (2,358) 15,4 = 4


= = =

64,54 + 36,4 4 101 4

1 b
b

= 25,25 = 0,039 = -15,4 = -0,61

1 ab
a Tabel A.6

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 1 gram dan pndiaman selama 45 menit 1 (x) y= 1 x/m (x)(y) (x2) C x/m 4,16 0,003 80 19,2 17,3 2,3 0,021 20,7 9 5,29 1,3 0,021 36,42 27,4 1,69 1,05 0,099 9,5 8,97 1,1 2 (x) = 2,385 (y) = 146,6 (xy) = 64,57 (x ) = 1,72

1 = ab

slope

(b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 (64,57) ( 2,385)(146,6) 4 (1,72) (2,385) 2

258,3 349,6 6,88 5,688 91,3 = 76,5 1,192

=
1 = intersep (a) b

y (x)b n 146,6 (2,385) 76,5 = 4


= = =

146,6 + 182,5 4 329 4

1 b
b

= 82,3 = 0,012 = -76,5 = -0,918

1 ab
a Tabel A.7

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 2 gram dan pendiaman selama 15 menit 1 (x) y= 1 x/m (x)(y) (x2) C x/m 4,16 0,0195 12,3 2,95 17,3 2,3 0,03 14,5 6,3 5,29 1,3 0,087 8,8 6,73 1,69 1,05 0,0135 70 66,2 1,1 (x) = 2,385 (y) = 105,6 (xy) = 82,13 (x2) = 1,72

1 ab

= slope

(b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 (82,13) ( 2,385)(105,6) 4 (1,72) ( 2,385) 2

328,5 251,8 6,88 5,688 76,7 = 64,3 1,192

=
1 = intersep (a) b

y (x)b n 105,6 ( 2,385)64,3 = 4


= = =

105,6 153,5 4 48,5 4

1 b
b

= -12,13 = 0,08 = 64,3 = 0,08 64,3 = 5,3

1 ab
a

Tabel A.8

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorbsi pada berat adsorben 2 gram dan pndiaman selama 45 menit 1 (x) y= 1 x/m (x)(y) (x2) C x/m 4,16 0,0145 16,5 3,96 17,3 2,3 0,0195 22,3 9.7 5,29 1,3 0,027 28,3 21,6 1,69 1,05 0,027 35 33,1 1,1 2 (x) = 2,385 (y) = 102,1 (xy) = 68,36 (x ) = 1,72

1 = ab

slope

(b ) =

n . ( xy ) ( x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 4 (68,36) ( 2,385)(102,1) 4 (1,72) (2,385) 2

273,4 243,5 6,88 5,688 29,9 = 25,08 1,192

=
1 = intersep (a) b

y (x)b n 102,1 ( 2,385)25,08 = 4


= = =

102,1 59,8 4 42,3 4

1 b
b

= 10,6 = 0,094 = 25,08 = 0,094 25,08 = 2,366

1 ab
a

LAMPIRAN B GRAFIK

0 -0.7 -0.6 -0.5 -0.4 -0.3 -0.2 -0.1 -0.2 0 -0.4 -0.6

log x/m

y = 1.3712x - 1.0325 R = 0.6531

-0.8 -1 -1.2 -1.4 -1.6 -1.8 -2

log C
Gambar B.1 Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorpsi menurut isoterm Freundlich (berat adsorben 1 gram, 15 menit pendiaman)
0 -0.7 -0.6 -0.5 -0.4 -0.3 -0.2 -0.1 -0.5 -1 -1.5 -2 -2.5 -3 0

log x/m

y = 2.1467x - 1.1169 R = 0.8483

log C
Gambar B.2 Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorpsi menurut isoterm Freundlich (berat adsorben 1 gram, 45 menit pendiaman)

0 -0.7 -0.6 -0.5 -0.4 -0.3 -0.2 -0.1 -0.2 0 -0.4 -0.6 -0.8 y = 0.2381x - 1.4735 R = 0.033 -1 -1.2 -1.4 -1.6 -1.8 -2

Gambar B.3

Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorpsi menurut isoterm Freundlich (berat adsorben 2 gram, 15 menit pendiaman)
-1.5

-0.7

-0.6

-0.5

-0.4

-0.3

-0.2

-0.1

-1.55 -1.6 -1.65 -1.7 -1.75 -1.8 -1.85 -1.9

log x/m

y = 0.481x - 1.5377 R = 0.9806

log C
Gambar B.4 Hubungan konsentrasi dengan jumlah asam asetat teradsorpsi menurut isoterm Freundlich (berat adsorben 2 gram, 45 menit pendiaman)

35 30 25 20 y = -14.953x + 25.051 R = 0.1813

1/ x/m

15 10 5 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

1/ C
Gambar B.5 Hubungan C terhadap C/x/m menurut isoterm Langmuir (berat adsorben 1 gram, 15 menit pendiaman)
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

y = -73.853x + 80.69 R = 0.5757

/x/m

1/ Gambar B.6

Hubungan C terhadap C/x/m menurut isoterm Langmuir (berat adsorben 1 gram, 45 menit pendiaman)

80 70 60 50 y = 63.288x - 11.336 R = 0.4758

1/

x/m

40 30 20 10 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

1 Gambar B.7

/C

Hubungan C terhadap C/x/m menurut isoterm Langmuir (berat adsorben 2 gram, 15 menit pendiaman)

40 35 30 25 y = 24.777x + 10.752 R = 0.9825

/x/m

20 15 10 5 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

1/
Gambar B.8

Hubungan C terhadap C/x/m menurut isoterm Langmuir (berat adsorben 2 gram, 45 menit pendiaman)

0.2 Jumlah zat yang teradsorpsi 0.18 0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 0.24 0.435 0.765 0.945 Konsentrasi CH3COOH (N) 1 gram 15 menit 1 gram 45 menit 2 gram 15 menit 2 gram 45 menit

Gambar B.9

Jumlah zat yang teradsorpsi dalam setiap konsentrasi CH3COOH menggunakan 1 gram dan 2 gram arang aktif dengan pendiaman selama 15 menit dan 45 menit

LAMPIRAN C JAWABAN SOAL

1. Faktor yang mempengaruhi laju adsorbsi: a) Luas permukaan atau ukuran partikel Besarnya adsorbsi sebanding dengan keadaan luas permukaan adsorben. Jumlah zat yang mampu diserap per satuan berat adsorben menjadi lebih banyak bila partikel adsorben lebih halus dan pori-porinya semakin banyak karena banyaknya reaksi akan sangat bergantung pada luasnya permukaan. b) Sifat adsorben dan adsorbat Sifat fisik dan kimia adsorben mempunyai pengaruh terhadap laju adsorbsi dan kapasitas adsorpsi. c) Konsentrasi adsorben Semakin tinggi konsentrasi adsorben, maka semakin banyak adsorbat yang terserap. Jika konsentrasi adsorben lebih besar dari adsorbat maka partikelpartikel adsorbat akan berpindah ke adsorben sehingga semakin banyak jumlah adsorben yang terserap. d) Temperatur Suhu larutan mempengaruhi kapasitas adsorpsi, dengan naiknya suhu, semakin banyak partikel yang memiliki energi kinetik diatas energi pengaktifan, sehingga akan mudah mengadsorpsi e) Waktu kontak Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organik akan turun apabila kontaknya cukup dan waktu kontak optimal biasanya sekitar 10-15 menit. f) Kecepatan pengadukan Semakin lama pengadukan, tumbukan antar partikel semakin cepat sehingga laju reaksinya juga semakin cepat.

2. Proses adsorpsi bersifat reversibel, artinya setelah terjadi proses penyerapan maksimal terhadap molekul-molekul adsorbat dan adsorben, molekul tersebut akan dapat terlepas kembali jika ditambahkan dengan pereaksi lain. 3. Perbedaan antara adsorpsi dan absorpsi Adsorpsi adalah penyerapan adsorbat diatas permukaan eksternal atau internal suatu zat padat, contohnya pada proses pemurnian gas. Sedangkan absorpsi adalah penyerapan dari adsorbat sampai kedalam adsorben. Contohnya, proses penyerapan vitamin didalam tubuh. 4. Pengertian dari : a) Negatif adsorpsi adalah peristiwa adsorpsi dimana zat terlarut pada permukaan adsorben lebih sedikit. b) Positif adsorpsi merupakan peristiwa adsorpsi dimana pada permukaan lebih banyak zat terlarut. c) Phisycal adsorpsi adalah proses adsorpsi yang terjadi karena adanya gaya Van Der Walls dan biasanya adsorpsi ini berlangsung secara bolak-balik. Ketika gaya tarik-menarik molekul antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari gaya tarik-menarik zat terlarut dengan pelarut, maka zat terlarut akan cenderung teradsorpsi pada permukaan adsorben. d) Chemical adsorpsi adalah adsorpsi yang terjadi karena adanya rekasi kimia antara zat padat dengan adsorbat larut dan reaksi ini tidak berlangsung bolak-balik. Interaksi suatu senyawa organik dan permukaan adsorben dapt terjadi melalui tarikan elektrostatik atau pembentukan ikatan kimia yang spesifik misalnya ikatan kovalen. Sifat-sifat molekul organik seperti struktur, gugus fungsional dan sifat hidrofobik berpengaruh pada sifat-sifat adsorpsi e) Isothermal adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematis yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorpsi, yaitu Isoterm Langmuir, Isoterm Brunauer, Emmet, and Teller (BET), dan Isoterm Freundlich.

5. Aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi. Metoda aktivasi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah: 1. Aktivasi Kimia. Aktivasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakaian bahan-bahan kimia. Aktivator yang digunakan adalah bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali garamgaram karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl2, asam-asam anorganik seperti H2SO4, H3PO4, NH4Cl, AlCl3, HNO3, KOH, NaOH, H3BO3, KMnO4, SO2, H2SO4, K2S, CaCl2, dan MgCl2. 2. Aktivasi Fisika. Aktivasi ini merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas, uap dan CO2. Umumnya arang dipanaskan didalam tanur pada temperatur 800-900C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan. Beberapa bahan baku lebih mudah untuk diaktivasi jika diklorinasi terlebih dahulu. Selanjutnya dikarbonisasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhimya diaktivasi dengan uap. Juga memungkinkan untuk memperlakukan arang kayu dengan uap belerang pada temperatur 500C dan kemudian desulfurisasi dengan H2 untuk mendapatkan arang dengan aktivitas tinggi. Dalam beberapa bahan barang yang diaktivasi dengan percampuran bahan kimia, diberikan aktivasi kedua dengan uap untuk memberikan sifat fisika tertentu (Agus, 2010). Contohnya, pada pembuatan kulit singkong sebagai arang aktif, Setelah kulit singkong dibersihkan dan dikeringkan, tahapan selanjutnya adalah membakar bahan baku di dalam oven agar menghilangkan senyawa

hidrokarbon pada suhu 800C. Selanjutnya, arang yang berasal dari kulit singkong tersebut dihaluskan. Setelah itu, direndam dengan menggunakan larutan sodium hydroxide (NaOH) atau soda kimia (Koran Jakarta, 2009). 6. Fungsi Adsorbsi dalam industri Meningkatkan nilai guna dari suatu zat dengan cara merubah fasenya Contoh : Pembuatan asam nitrat (adsorpsi NO dan NO2). Proses pembuatan asam nitrat Tahap akhir dari proses pembuatan asam nitrat berlangsung dalam kolom adsorpsi. Pada setiap tingkat kolom terjadi reaksi oksidasi NO menjadi NO2 dan reaksi absorpsi NO2 oleh air menjadi asam nitrat. Kolom adsorpsi mempunyai empat fluks masuk dan dua fluks keluar. Empat fluks masuk yaitu air umpan adsorber, udara pemutih, gas proses, dan asam lemah. Dua fluks keluar yaitu asam nitrat produk dan gas buang. Kolom adsorpsi dirancang untuk menghasilkan asam nitrat dengan konsentrasi 60 % berat dan kandungan NOx gas buang tidak lebih dari 200 ppm (Suparni, 2009). 7. Penampang karbon aktif

Gambar C.1 Penampang Karbon aktif

8. Proses adsorpsi mempunyai tahapan-tahapan antara lain, terjadinya transfer molekul-molekul adsorbat menuju lapisan film yang mengelilingi

adsorben. Selanjutnya adsorbat terdifusi melalui lapisan film (film diffusion process), lalu adsorbat terdifusi kembali melalui kapiler atau pori-pori dalam adsorben (proses adsorpsi sebenarnya). Adsorpsi adsorbat pada dinding kapiler atau permukaan adsorben (proses adsorpsi sebenarnya). Adsorpsi dibatasi terutama oleh proses film diffusion dan pore diffusion, hal ini tergantung oleh besarnya pergolakan dalam system. Jika pergolakan antar partikel karbon dan fluida relative kecil, maka lapisan film disekeliling partikel akan tebal sehingga adsorpsi berlangsung lambat. Apabila dilakukan pengadukan yang cukup, maka kecepatan difusi film akan meningkat (Jolanda, 2010).