Anda di halaman 1dari 39

BAB III METODE PENGUKURAN 3.1. Alat alat yang di gunakan a.

Pesawat penyipat datar (PPD)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Alat ukur waterpass secara umum memiliki bagian-bagian sebagai berikut : Lingkaran horizontal berskala, Skala pada lingkaran horizontal, Okuler teropong, Alat bidik dengan celah penjara, Cermin nivo, Sekrup penyetel fokus, Sekrup penggerak horizontal, Sekrup pengungkit, Sekrup pendatar, Obyektif teropong, Nivo tabung, Nivo kotak.

b.

Statif (Kaki Tiga) Statif (kaki tiga) berfungsi sebagai penyangga waterpass dengan ketiga kakinya dapat menyangga penempatan alat yang pada masing-masing ujungnya runcing, agar masuk ke dalam tanah. Ketiga kaki statif ini dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan keadaan tanah tempat alat itu berdiri. Seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Gambar 3.2 Unting-unting

c.

Unting Unting Unting-unting ini melekat dibawah penyetel kaki statif, unting-unting ini berfungsi sebagai tolak ukur apakah waterpass tersebut sudah berada tepat di atas patok.

Gambar 3.3 Unting-unting

d. Rambu Ukur

Rambu ukur mempunyai bentuk penampang segi empat panjang yang berukuran 34 cm, lebar 10 cm, panjang 300 cm, bahkan ada yang panjangnya mencapai 500 cm. Ujung atas dan bawahnya diberi sepatu besi. Bidang lebar dari bak ukur dilengkapi dengan ukuran milimeter dan diberi tanda pada bagian-bagiannya dengan cat yang mencolok. Bak ukur diberi cat hitam dan merah dengan dasar putih, maksudnya bila dilihat dari jauh tidak menjadi silau. Bak ukur ini berfungsi untuk pembacaan pengukuran tinggi tiap patok utama secara detail.

Gambar 3.4 Rambu ukur/Bak ukur e. Payung Payung digunakan untuk melindungi pesawat dari sinar matahari langsung maupun hujan karena lensa teropong pada pesawat sangat peka terhadap sinar matahari.

Gambar 3.5 Payung

f.

Kompas Kompas digunakan untuk menentukan arah utara dalam pengukuran sehingga dijadikan patokan utama dalam pengukuran yang biasa di sebut sudut azimut.

Gambar 3.6 Kompas

g.

Nivo Di dalam nivo terdapat sumbu tabung berupa garis khayal memanjang menyinggung permukaan atas tepat ditengah. Selain itu, dalam tabung nivo terdapat gelembung yang berfungsi sebagai medium penunjuk bila nivo sudah tepat berada ditengah.

Gambar 3.7 Nivo kotak

h.

Rol Meter Rol meter terbuat dari fiberglass dengan panjang 30-50 m dan dilengkapi tangkai untuk mengukur jarak antara patok yang satu dengan patok yang lain.

Gambar 3.8

Rol Meter

i.

Patok Patok ini terbuat dari kayu dan mempunyai penampang berbentuk lingkaran atau segi empat dengan panjang kurang lebih 30-50 cm dan ujung bawahnya dibuat runcing, berfungsi sebagai suatu tanda di lapangan untuk titik utama dalam pengukuran.

Gambar 3.9 Patok

j.

Alat penunjang lain Alat penunjang lainnya seperti blangko data, kalkulator, alat tulis lainnya, yang dipakai untuk memperlancar jalannya praktikum.

Gambar 3.10 Blangko data, Alat tulis dan Kalkulator

3.2. Lokasi dan waktu Lokasi pengukuran di lingkup Fakultas Teknik tepatnya gedung perkuliahan. Di mulai dari area parkir mengitari gedung perkuliahan sampai kembali ke titik awal pengukuran. Waktu praktikum tanggal 15 mei 2012 di mulai dari 11.30 s/d 17.00 WITA. 3.3. Tim pengukur 3.3.1. Personil 1. Zulaidi E3B1 11 007 2. Lugisman E3B1 11 005 3. Muh. Acil Rusalim E3B1 11 008 4. Wiwin Indra Lesmana E3B1 11 004 5. Rendi Aprianto E3B1 11 002 6. Muh. Saiful E3B1 10 051 7. Asas Swastari E3B1 08 015 3.3.2. Pembagian tugas 1. Pembaca rambu 1 orang 2. Penulis hasil bidik 1 orang 3. Pemegang rambu 2 orang 4. Pemasangan patok 1 orang 5. Pemegang meter 1 orang 6. Pemegang payung 1 orang

3.4. Prosedur Pelaksanaan Praktikum 3.4.1. Penentuan profil a. Profil Memanjang Pemasangan patok dilakukan pada jarak tertentu. Dalam hal ini sesuai dengan keinginan anda. Namun demikian, terlebih dahulu tentukan arah utara dengan menggunakan kompas. Kemudian menolkan nilai dari waterpass, dimana arah utara merupakan patokan utama.Waterpass diletakkan di tengah-tengah antara kedua patok. Waterpass diseimbangkan dengan melihat kedudukan nivo sambil memutar sekrup penyetel hingga gelembung yang berada di dalamnya dalam kedudukan yang seimbang (di tengahtengah). Pada pengukuran profil memanjang ini digunakan metode Double Standing, yaitu suatu metode dimana pengukuran pergi dan pengukuran pulang dilakukan serempak hanya dengan menggunakan kedudukan pesawat, misalnya pada pengukuran pergi, P0 sebagai pembacaan belakang dan P1 sebagai pembacaan muka, begitu pula sebaliknya. Bak ukur diletakkan di atas patok dengan kedudukan vertikal dari segala arah. Waterpass diarahkan ke patok pertama (P0) selanjutnya disebut pembacaan belakang. Pada teropong terlihat pembacaan benang atas, benang tengah dan bawah. Setelah itu waterpass diarahkan ke patok kedua (P1). Selanjutnya dengan mengubah letak pesawat (waterpass) kita mengadakan pengukuran pulang dengan mengarahkan ke P1(pembacaan belakang). Pada teropong terlihat pembacaan benang atas, tengah dan bawah. Pengamatan selanjutnya dilakukan secara teratur dengan cara seperti di atas sampai pada patok terakhir. Pembacaan hasil pengukuran dicatat pada tabel yang tersedia. b. Profil Melintang Waterpass diletakkan pada patok utama dan diseimbangkan kembali kedudukan nivo nya seperti pada pengukuran profil memanjang. Pada jarak yang memungkinkan diletakkan bak ukur. Titik yang diukur disebelah kanan waterpass diberi simbol a, b dan disebelah kiri diberi simbol c dan d. Pengukuran dilakukan secara teliti mulai dari patok pertama sampai pada patok terakhir. Semua data yang diperoleh dicatat pada tabel yang tersedia

3.4.2.

Cara Mengoperasikan Alat Ukur Waterpass Ada 4 jenis kegiatan yang harus dikuasai dalam mengoperasikan alat ini, yaitu : a. Memasang alat di atas kaki tiga Alat ukur waterpass tergolong kedalam Tripod Levels, yaitu dalam penggunaannya harus terpasang diatas kaki tiga. Oleh karena itu kegiatan pertama yang harus dikuasai adalah memasang alt ini pada kaki tiga atau statif. Pekerjaan ini jangan dianggap sepele, jangan hanya dianggap sekedar menyambungkan skrup yang ada di kaki tiga ke lubang yang ada di alat ukur, tetapi dalam pemasangan ini harus diperhatikan juga antara lain : Kedudukan dasar alat waterpass dengan dasar kepala kaki tiga harus pas, sehingga waterpass terpasang di tengah kepala kaki tiga. Kepala kaki tiga umumnya berbentuk menyerupai segi tiga, oleh karena itu sebaikny tiga skrup pendatar yang ada di alat ukur tepat di bentuk segi tiga tersebut. Pemasangan skrup di kepala kaki tiga pada lubang harus cukup kuat agar tidak mudah bergeser apalagi sampai lepas Skrup penghubung kaki tiga dan alat terlepas.

b.

Mendirikan Alat ( Set up ) Mendirikan alat adalah memasang alat ukur yang sudah terpasang pada kaki tiga tepat di atas titik pengukuran dan siap untuk dibidikan, yaitu sudah memenuhi persyaratan berikut: Sumbu satu sudah dalam keadaan tegak, yang diperlihatkan oleh kedudukan gelembung nivo kotak ada di tengah. Garis bidik sejajar garis nivo, yang ditunjukkan oleh kedudukan gelembung nivo tabung ada di tengah atau nivo U membentuk huruf U. c. Membidikan Alat Membidikan alat adalah kegiatan yang dimulai dengan mengarahkan teropong ke sasaran yang akan dibidik, memfokuskan diafragma agar terlihat dengan jelas, memfokuskan bidikan agar objek yang dibidik terlihat jelas dan terakhir menepatkan benang diafragma tegak dan diafragma mendatar tepat pada sasaran yang diinginkan. 3.4.3. a. Membaca Hasil Pembidikan Ada 2 hasil pembidikan yang dapat dibaca, yaitu : Pembacaan Benang atau pembacaan rambu. Pembacaan benang atau pembacaan rambu adalah bacaan angka pada rambu ukur yang dibidik yang tepat dengan benang diafragma mendatar dan benang stadia atas dan bawah. Bacaan yang tepat dengan benang diafragma mendatar biasa disebut dengan Bacaan Tengah (BT), sedangkan yang tepat dengan benang stadia atas disebut Bacaan Atas (BA) dan yang tepat dengan benang stadia bawah disebut Bacaan Bawah (BB). Karena jarak antara benang diafragma mendatar ke benang stadia atas dan bawah sama, maka : BA BT = BT BB atau BT = ( BA BB) Persamaan ini biasa digunakan untuk mengecek benar atau salahnya pembacaan. Kegunaan pembacaan benang ini adalah : Bacaan benang tengah digunakan dalam penentuan beda tinggi antara tempat berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang dibidik atau diantara rambu-rambu ukur yang dibidik. Bacaan benang atas dan bawah digunakan dalam penentuan jarak antara tempat berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang dibidik. Pembacaan rambu ukur oleh alat ini ada yang terlihat dalam keadaan tegak dan ada yang terbalik, sementara pembacaannya dapat dinyatakan dalam satuan meter (m) atau centimeter (cm). Sebagai contoh terlihat pada Gambar. b. Pembacaan Sudut Waterpass seringkali juga dilengkapi dengan lingkaran mendatar berskala, sehingga dapat digunakan untuk mengukur sudut mendatar atau sudut horizontal. Ada 2 satuan ukuran sudut yang biasa digunakan, yaitu : Satuan derajat Pada satuan ini satu lingkaran dibagi kedalam 360 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 derajat (1), setiap derajat dibagi lagi menjadi 60 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 menit (1) dan setiap menit dibagi lagi kedalam 60 bagian dan setiap bagian dinyatakan dengan 1 detik (1). Satuan grid. Pada satuan ini satu lingkaran dibagi kedalam 400 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 grid (1g), setiap grid dibagi lagi menjadi 100 bagian, setiap bagian dinyatakan dengan 1 centigrid (1cg) dan setiap centigrid dibagi lagi kedalam 100 bagian dan setiap bagian dinyatakan dengan 1 centi-centigrid (1ccg). Salah satu contoh pembacaan sudut horizontal dari alat ukur waterpass NK2 dari Wild.

3.4.4.

Cara Penentuan Beda Tinggi Dalam praktikum ini, alat yang digunakan adalah alat untuk penyipat datar (waterpass). Penentuan beda tinggi dengan menggunakan alat ukurwaterpass dapat dilakukan dengan tiga cara tergantung keadaan di lapangan : a. Menempatkan alat ukur penyipat datar pada salah satu titik. Misalnya pesawat di letakkan di titik B. Tinggi A (garis bidik) atau titik tengah teropong di atas titik B di ukur dengan mistar. Dengan gelembung di tengahtengah lingkaran, garis bidik diarahkan ke mistar (bak) ukur yang diletakkan di titik A. Besarnya pembacaan benang tengah pada bak ukur dinamakan J, maka beda tinggi antara titik A dan B adalah :

b. Alat ukur penyipat datar ditempatkan diantara titik A dan B. Jarak alat ukur penyipat datar antara kedua bak ukur diambil kira-kira sama. Diusahakan agar pesawat tetap berada ditengah tengah. Pada kedua titik tersebut diletakkan bak ukur. Arahkan pesawat ke bak ukur A (pembacaan belakang) dan hasil pembacaannya dinamakan R. Lalu pesawat diputar searah jarum jam untuk melakukan pembacaan benang tengah pada bak ukur B (pembacaan muka) dan hasil pembacaannya dinamakan V. Maka beda tinggi antara titik A dan B:

c. Menempatkan alat ukur di luar titik A dan titik B, hal ini dilakukan dilakukan bila keadaan terpaksa, mungkin karena adanya penghalang seperti sungai, selokan atau saluran-saluran air lainnya antara kedua titik tersebut. Pada gambar dibawah ini, pesawat ditempatkan di sebelah kanan titik B selanjutnya dilakukan pembacaan benang tengah dan hasil pembacaan bak ukur B disebut V, maka beda tinggi antara titik A dan B adalah :

Dari ketiga cara tersebut, yang paling teliti adalah dengan cara menempatkan alat ukur tersebut di antara dua titik yang akan diukur beda tingginya karena dengan mengubah arahnya sesuai dengan arah jarum jam maka kesalahannya negatif, juga kesalahan atmopsferiknya saling berbagi. 3.5. Kesalahan Yang Terjadi Dalam Pengukuran Dalam melakukan pengukuran kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Kesalahan itu dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu :

a.

Kesalahan Besar ( Mistakes Blunder ) Kesalahan ini dapat terjadi karena kurang hati-hati dalam melakukan pengukuran atau kurang pengalaman dan pengetahuan dari praktikan. Apabila terjadi kesalahan ini, maka pengukuran harus di ulang atau hasil yang mengalami kesalahan tersebut dicoret saja. b. Kesalahan Sistimatis ( Sistematic Error ) Umumnya kesalahan ini terjadi karena alat ukur itu sendiri. Misalnya panjang meter yang tidak tepat atau mungkin peralatan ukurnya sudah tidak sempurna. Kesalahan ini dapat dihilangkan dengan perhitungan koreksi atau mengkaligrasi alat/memperbaiki alat. c. Kesalahan Yang Tidak Terduga/Acak ( Accidental Error ) Kesalahan ini dapat terjadi karena halhal yang tidak diketahui dengan pasti dan tidak diperiksa. Misalnya ada getaran pada alat ukur ataupun pada tanah. Kesalahan dapat diperkecil dengan melakukan observasi dan mengambil nilai rata rata sebagai hasil. 3.6. Hambatan Hambatan yang terjadi di lapangan ada beberapa faktor yang mempengaruhi jalannya / proses pengukuran yaitu : Faktor Kurangnya pemahaman tentang teori pengukuran, Faktor bahan dan alat, Terlebih lagi faktor cuaca juga memperlambat proses pengukuran karena apabila cuaca hujan otomatis tim pengukur berhenti sejenak untuk berteduh dari hujan. 3.7. Rumus rumus yang di gunakan 3.7.1. Rumus Perhitungan Profil Memanjang a. Perhitungan Jarak Optis patok utama Rumus : D = ( Ba Bb ) x 100 Dimana : D = Jarak Optis (m) Ba = Benang atas (mm) Bb = Benang bawah (mm) Perhitungan Beda Tinggi Patok Utama Rumus : H = Bt blkn Bt muka Dimana : H = Beda Tinggi (m) Bt blkn = Benang Tengah (mm) Bt muka = Benang Tengah (mm)

b.

c.

Perhitungan Koreksi Kesalahan Perhitungan Kesalahan Keseluruhan Rumus : Z = H H

Dimana : Z = Kesalahan H Pengukuran H = Jumlah Beda Tinggi Pengukuran per patok Perhitungan Kesalahan Perpatok Rumus : K = - (Z / ( n 1 )) Dimana : K = Nilai Koreksi Z = Kesalahan N = Banyaknya Patok

= Jumlah Total Beda Tinggi

d. Perhitungan Tinggi Titik Patok Utama Rumus : Pn = Pn-1 H n-1 K Dimana : Pn = Tinggi Titik Utama Pn-1 = Tinggi Titik Utama sebelum Pn H = Beda tinggi K = Koreksi e. Perhitungan Kemiringan Patok Utama Rumus : / Tn = (H/ D ) / 100 % Dimana : / Tn = Kemiringan Titik Yang ditinjau H = Jarak Optis Rata-Rata Tiap Patok Utama

3.7.2. a.

Rumus Perhitungan Profil Melintang Perhitungan Jarak Optis Detail Rumus : D = ( Ba Bb ) x 100 Dimana D = Ba = Bb = : Jarak Optis Benang Atas Benang Bawah

b.

Perhitungan Beda Tinggi Detail Rumus :

H = Tinggi Pesawat Bt Detail Dimana : H = Beda Tinggi Bt = Benang Tengah c. Perhitungan Tinggi Titik Detail Rumus : T = Pn H Dimana : T = Tinggi Titik Detai Yang ditinjau Pn = Tinggi Titik Patok Utama

d. Perhitungan Kemiringan Detail Rumus : / T det = ( H Detail / D det ) * 100 % Dimana : / T det = Kemiringan detail H Detail = Beda tinggi detail D det = Jarak Optis detail BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu Geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran dipermukaan bumi dan di bawah tanah untuk keperluan seperti, pemetaan dan penetuan posisi relatif sempit sehingga unsur kelengkungan bumi dapat diabaikan. (Slamet Basuki, hal 1, 2006) Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud : a. Maksud ilmiah : menentukan bentuk permukaan bumi. b. Maksud praktis : membuat bayangan yang dinamakan peta dari sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi. Seperti yang kita ketahui bahwa bumi ini tidaklah rata, melainkan cenderung bergelombang dikarenakan bumi terdiri dari pegunungan, perbukitan dan lembah. Maka untuk dapat menggambarkan bagian permukaan bumi ini diperlukan suatu bidang perantara yang sedemikian rupa dibuat hingga pemindahan keadaan itu dapat dilakukan dengan lebih mudah. Proyeksi bidang perantara menghasilkan peta dengan bidang perantaranya adalah sebagai berikut : a. Bidang elipsoide bila luas daerah lebih besar dari 5500 Km2. Elipsoide ini didapat dengan memutar suatu elips dengan sumbu kecilnya sebagai sumbu putar. Elips dan bessel mempunyai sumbu besar a : 6377,397 m, dan sumbu kecil b : 6356,078 m; b. Bidang bulatan untuk luas yang mempunyai ukuran terbesar kurang dari 100 km. Jari-jari bulatan ini dipilih sedemikian sehingga bulatan menyinggung permukaan bumi di titik tengah daerah; c. Bidang datar, bila daerah mempunyai ukuran terbesar tidak melebihi 55 Km. .

Penentuan beda tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan tiga cara penempatan alat ukur penyipat datar (waterpass), tergantung keadaan lapangan. 1. Dengan menempatkan alat ukur penyipat datar diatas salah satu titik.

Gambar 1.1 Penempatan waterpass diatas salah satu titik Dimana : b = Tinggi rambu ukur dititik A = Beda tinggi m =Tinggi Alat 2. Alat ukur penyipat datar ditempatkan antara titik A dan titik B, sedangkan dititik-titik A dan B ditempatkan dua mistar.

Gambar 1.2 Penempatan waterpass diantara dua titik Dimana : b = Tinggi rambu ukur dititik A = Beda tinggi m = Tinggi rambu ukur dititik B 3. Alat ukur penyipat datar tidak ditempatkan diatas salah satu titk A atau titik B, tetapi disebelah titik A atau disebelah kanan titik B jadi diluar garis AB.

Gambar 1.3 Penempatan waterpass di luar titik A dan B Dimana : b = Tinggi rambu ukur dititik A = Beda tinggi m = Tinggi rambu ukur dititik B 1.2. Maksud Dan Tujuan Praktikum dapun maksud dari ilmu ukur tanah yaitu untuk mendapatkan bayangan dari keadaan lapangan

dengan menentukan tempat (unsur, jarak dan sudut) diatas permukaan bumi terhadap satu sama lain. Adapun tujuan praktikumnya adalah sebagai berikut: 1) Menentukan jarak optis antara dua titik 2) Menentukan beda tinggi antara titik yang satu dengan titik yang lainnya dipermukaan bumi. 3) Menentukan kemiringan lahan 4) Menentukan tinggi titik pada suatu titik yang telah ditentukan. 5) Menggambarkan peta situasi pada pekerjaan pengukuran. 6) Menggambarkan profil memanjang dari hasil pengukuran. 7) Menggambarkan lahan 8) Menggambarkan profil melintang dari hasil pengukuran.

1.3. Tempat Dan Waktu Praktikum 1.Tempat praktikum adalah lingkungan Kampus Baru Fakultas Teknik sampai dengan Gedung Rektorat Unhalu.patok P0 berada didepan Fakultas Teknik dan patok P9 berada didepan Gedung Rektorat pada: Hari : Senin Tanggal : 19 Oktober 2009 Waktu : 08.00 WITA dan berakhir pada pukul 17.00 WITA 2.Kelompok III : INTAN SELVIA AWALUDIN HERIANTO ABDUL.SYAWAL MUJAHIDIN DIAR RESPATI MOITA ANDRI KUSUMA WARDANA 1.4. Alat Yang Digunakan Dalam melaksanakan praktikum ilmu ukur tanah ini alat yang digunakan dilapangan adalah sebagai berikut : 1.4.1. Alat Waterpass Lengkap Terdiri Dari: Gambar 1.1 Pesawat Waterpass *) Waterpass Waterpass adalah alat untuk mengukur beda tinggi antara titik. Alat ukur waterpass secara umum memiliki bagian-bagian dan fungsi sebagai berikut : 1. Lingkaran horizontal berfungsi untuk mengatur garis skala pembacaan (nonius) 2. Skala pada lingkaran horizontal, berfungsi untuk pembacaan sudut horizontal. 3. Okuler teropong, berfungsi untuk memperjelas nampaknya benang sebagai standar pembacaan. 4. Alat bidik celah pejara (vizier), berfungsi untuk membidik objek secara kasar. 5. Cermin nivo, berfungsi untuk melihat kedudukan nivo kotak. 6. Sekrup penyetel fokus, berfungsi untuk titik fokus dari lensa yang berguna untuk memperjelas objek yang dibidik. 7. Sekrup penggerak horizontal, berfungsi untuk putaran horizontal secara halus.

8. Sekrup pengukit, berfungsi untuk mengunci dan membuka putaran alat kearah horizontal. 9. Sekrup pendatar, berfungsi untuk mengatur kedudukan nivo 10. Obyektif teropong 11. Nivo kotak, brfungsi untuk kedataran alat 12. Kepala kaki tiga yang dapat dibuka Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini : 64 10 35 11 2 17 9 Gambar1.2 Waterpass *) Statif (kaki tiga) 12

Gambar 1.3 Statif (kaki tiga) Kaki tiga berfungsi sebagai penyangga waterpass dengan ketiga kakinya dapat menyangga penempatan alat yang ada pada masing-masing ujung yang runcing, agar masuk kedalam tanah. Ketiga kaki statif ini dapat diatur tingginya sesuai dengan tanah tempat alat itu berdiri seperti tampak pada gambar 1.4 Selain itu juga statif dilengkapi dengan sekrup pengunci waterpass, agar waterpass tidak bergeser dan jatuh. *) Unting-unting Gambar 1.4 Unting-unting Unting-unting yang digantung dengan benang dan melekat dibawah penyetel kaki statif, untingunting ini berfungsi sebagai tolak ukur apakah waterpass sudah berada tepat diatas patok. 1.4.2. Rambu ukur Gambar 1.5 Rambu ukur Rambu ukur mempunyai penampang segi empat panjang yang berukuran kurang lebih 3-4 cm, lebar 10 cm, panjang 300 cm, dan bahkan ada yang panjangnya mencapai 500 cm, ujung atas dan

bawahnya diberi sepatu besi. Bidang lebar dilengkapi dengan ukuran milimeter dan diberi tanda pada bagian-bagiannya dengan cat yang mencolok. Bak ukur diberi cat hitam dan merah dengan dasar putih, maksudnya bila dilihat dari jauh tidak menjadi silau. Bak ukur ini berfungsi unuk pembacaan pengukuran tinggi tiap patok utama dan jarak optis antara titik. 1.4.3. Kompas

Gambar 1.6 Kompas Kompas digunakan untuk menentukan arah utara dalam pengukuran sehingga dijadikan patok. 1.4.4. Payung

Gambar 1.7 Payung Payung disini digunakan untuk melindungi pesawat dari sinar matahari langsung dan dari hujan, karena lensa teropong pada pesawat sangat peka terhadap sinar matahari dan juga apabila lensa teropong basah maka akan mengganggu dalam pembacaan rambu ukur.

1.4.5. Patok

Gambar 1.8 Patok Terbuat dari kayu dan mempunyai penampang berbentuk lingkaran atau segi empat dengan panjang kurang lebih 30-50 cm dan ujung bawahnya dibuat runcing, berfungsi sebagai suatu tanda dilapangan untuk titik utama dalam pengukuran. 1.4.6. Alat Penunjang Lainnya

Gambar 1.9 Data board Alat penunjang lainnya seperti blangko data pengukuran, data board, busur dan alat tulis lainnya, yang dipakai untuk memperlancar jalannya praktikum.

BAB II TEORI DASAR DAN PELAKSANAAN PRAKTIKUM 2.1. Syarat-Syarat Pengukuran Sifat Datar (waterpass) a. Garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo. b. Garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu. c. Garais mendatar diafragma harus tegak lurus pada sumbu kesatu. 2.2. Teknik Pengukuran Sifat Datar (Waterpass) 2.2.1. Pengukuran Menyipat Datar Yang Memanjang (berantai) Bila jarak antara dua titik A dan B dari titik mana harus ditentukan beda tinggi nya, menjadi besar hingga mistar tidak dapat dilihat dengan terang dan pembacaan menjadi kurang teliti atau bila keadaan lapangan sedemikian rupa, hingga garis bidik tidak memotong mistar-mistar karena jatuh diatas atau dibawah mistar, maka terpaksalah jarak antara dua titik A dan B itu harus dibagi dalam jarak-jarak yang lebih kecil.

Gambar 2.1 Teknik pengukuran waterpass secara berantai

t = (b1 + b2 + + bn) (m1 + m2 + .. + mn) t = b m (Sumber : Soetomo Wangsotjitro, hal 163, 1980) Dimana : b = Jumlah bacaan belakang m = Jumlah bacaan muka bA = Tinggi rambu ukur dititik A

m1 = Tinggi rambu ukur dititik 1 d1 = Jarak optis pengukuran dititik 1 b1 = Tinggi rambu ukur dititik 1 m2 = Tinggi rambu ukur dititik 2 d2 = Jarak optis pengukuran dititik 2 b2 = Tinggi rambu ukur dititik 2 m3 = Tinggi rambu ukur dititik 3 d3 = Jarak optis pengukuran dititik 3 b3 = Tinggi rambu ukur dititik 3 mb = Tinggi rambu ukur dititik B d4 = Jarak optis pengukuran dititik 4 2.2.2. Pengukuran Jarak Optis Pada pengukuran menyipat datar, jarak-jarak yang diperlukan yang ditulis dalam buku ukur tidak diukur dengan pita ukur, tetapi dengan alat pengukur jarak optis yang ada didalam teropong dan ditempatkan pada diafragma. Pada diafragma telah ada paling sedikit untuk mendapatkan garis bidik atau garis mendatar dan satu garis tegak yang kedua-duanya melalui titik pusat teropong.

Gambar 2.2 Teknik pengukuran jarak optis Dimana : Ba = Benang atas Bt = Benang tengah Bb = Benang bawah D = Jarak D=c+f+d = c + f + y.cot B : karena cot = f/2p Maka D = (c + f) + f/p .y : jika c + f = B dan f/p = A Maka D = B + Ay Dari pabrik jarak benang atas dan benang bawah dibuat sedemikian rupa sehingga harga dari : A = f/p = 100 Jadi D = B + 100 (Ba + Bb) 2.2.3. Pengukuran Menyipat Datar Memanjang Dengan Metode Double Stand Untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi didalam pengukuran dan hasil

pengukuran lebih teliti misalnya kesalahan pembantu ukur dalam menempatkan rambu, atau masuknya rambu kedalam tanah, maka pengukuran menyipat datar memanjang perlu diadakan pemeriksaan dengan melakukan pengukuran yang kedua. Pengukuran menyipat datar memanjang dengan metode double standing dapat dilakukan dengan dua cara : a. Menempatkan pesawat waterpass diantara dua titik lalu melakukan pengukuran pergi sampai titik akhir lalu kembali melakukan pengukuran ulang sampai kembali ketitik awal. b. Menempatkan pesawat waterpass diantara dua titik lalu pengukuran pergi dan pengukuran pulang serempak dilakukan dengan hanya menggunakan kedudukan waterpass.

Gambar 2.3 Pengukuran menyipat datar memanjang dengan metode double standing Dimana : bI = Tinggi rambu ukur pada titik 1 (stand II) Ba = Benang atas Bt = Benang tengah Bb = Benang bawah bII = Tinggi rambu ukur pada titik 2 (stand I) mI = Tinggi rambu ukur dititik 1 (stand I) mII= Tinggi rambu ukur dititik 2 (stand II) 2.2.4. Pengukuran Tinggi Dengan Tinggi Garis Bidik Dalam pengukuran menyipat datar untuk menentukan tinggi titik diatas permukaan tanah kita memakai pertolongan tinggi garis bidik (tgb) tinggi garis bidik dihitung dari permukaan air laut rata-rata dengan nilai ketinggian kurang lebih 0,000. Tinggi garis bidik dapat ditentukan dengan dua cara yaitu : a. Alat ukur waterpass ditempatkan dengan sumbu kesatunya tegak lurus diatas suatu titik (tugu) yang telah diketahui tingginya dan garis bidik diatas tugu itu diukur dengan mistar.

Gambar 2.4 Tinggi garis bidik dengan cara pesawat berdiri diatas titik Tgb = TA + ta Dimana : Tgb = Tinggi garis bidik T = Tinggi titik ta = Tinggi alat

b. Yang diletakan diatas tugu bukan alat ukur waterpass tetapi mistar, sedang alat ukur waterpass diletakkan diluar tugu itu.

Gambar 2.5 Tinggi garis bidik dengan pesawat berdiri dari diluar titik Tgb = TA + a Dimana : Tgb = Tinggi garis bidik Ta = Tinggi titik a = Bacaan benang tengah 2.3. Kesalahan Yang Terjadi Dalam Pengukuran Dalam melakukan pengukuran kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Kesalahan ini bersumber dari perorangan, (pengukur, penulis dan pemegang rambu) alat ukur dan pengaruh dari luar. Kesalahan dalam pengamatan dan pengukuran dapat dibagi dalam tiga jenis : 2.3.1. Kesalahan Kasar (Mistake Blunders) Kesalahan ini terjadi karena kurang hati-hati dalam melakukan pengukuran atau kurang pengalaman dan pengetahuan dalam pengukuran. Kesalahan ini bersumber pada pengukur dan pembantu ukur (penulis atau pemegang rambu). Contoh kesalahan : - Salah baca : 39,61 dibaca 36,91 - Salah mencatat data ukuran misalnya, dalam pengukuran jarak ada tiang dan satu rentang tidak ditulis. - Salah dengar antara pencatat dan pengukur. Kesalahan ini dalam proses pengukuran tidak dibolehkan karena akan mempengauhi keakuratan hasil pengukuran oleh karena itu dianjurkan menggunakan self chacking dari pengamatan yang dibuat. 2.3.2. Kesalahan Sistematis (cummulative errors) Kesalahan ini terjadi pada setiap kali pengukuran. Umumnya kesalahan terjadi karena alat ukur itu sendiri (pesawat waterpass, pita ukur dan rambu ukur) Contoh kesalahan : - Garis bidik tidak sejajar garis arah Nivo. - Pita ukur yang tidak mendatar. Kesalahan ini dapat dihilangkan dengan perhitungan koreksi atau mengkaligrasi alat/memperbaiki alat.

2.3.3Kesalahan Yang Tidak Terduga/Acak (accidental) Kesalahan ini terjadi karena hal-hal yang secara kebetulan tidak diketahui dengan pasti dan tidak diperiksa. Contoh kesalahan : - lengkung nya permukaan bumi. - getaran tanah (resonansi). - Melengkung nya sinar (refraksi). - Panasnya sinar matahari dan getaran udara (odulasi). Kesalahan ini akan baru terlihat apabila suatu besaran diukur berulang-ulang dan hasinya tidak selalu sama antara satu dengan yang lain. Kesalahan ini dapat dihilangkan dengan melakukan obserfasi dan mengambil nilai rata-rata sebagai hasil pengukuran. 2.4. Prosedur Pelaksanaan Praktikum Dalam pelaksanaan praktikum ilmu ukur tanah dengan alat penyipat datar (waterpass) prosedur pelaksanaannya dapat diuraikan sebagai berikut : 2.4.1. Profil Memanjang 1) Peninjauan lokasi pengukuran dan menentukan arah pengukuran. 2) Pemasangan patok dengan tinggi patok dari tanah 30 cm dan dibagian atasnya di beri label atau tanda. 3) Sketsa situasi (lokasi) kedudukan patok pada blangko pengukuran. 4) Waterpass didirikan ditengah-tengah antara dua patok/titik (Po dan P1) setelah waterpass dipasang pada statif dan sekrup pengunci pesawat dikencangkan. 5) Seimbangkan kedudukan nivo kotak dengan menggunakan sekrup penyetel sehingga gelembung yang ada didalamnya berada tepat ditengah-tengah. 6) Bak ukur didirikan dititik Po dan P1 dengan kedudukan vertikal dari segala arah. 7) Pada pengukuran profil memanjang ini menggunakan metode double standing dengan mengarahkan pesawat kepatok pertama (Po) dan pada teropong akan terlihat pembacaan benang atas, tengah dan bawah (Ba, Bb dan Bt) sebagai pembacaan Po belakang, selanjutnya waterpass diarahkan ke P1 dengan pembacaan (Ba, Bb dan Bt) sebagai Po muka.

Gambar 2.6 Pembacaan benang atas, tengah dan bawah 8) Selanjutnya melakukan pengukuran pulang dengan mengubah kedudukan pesawat sehingga terjadi perbedaan tinggi alat lalu seimbangkan kedudukan nivo. 9) Waterpass diarahkan ke P1 dengan bacaan benang (Ba, Bb dan Bt) pada teropong sebagai P1 belakang, selanjutnya waterpass diarahkan ke Po dengan pembacaan benang (Ba, Bb dan Bt) sebagai Po muka. 10) Pengamatan di station selanjutnya dilakukan secara teratur dengan cara seperti diatas sampai pada titik patok akhir. 11) Pembacaan hasil pengukuran dicatat pada blangko hasil pengukuran yang tersedia.

2.4.2. Profil Melintang 1) Waterpass didirikan dipatok utama Po dan unting-unting tepat ditengah kepala patok serta kedudukan nivo kotak yang sudah seimbang. 2) Kompas diletakan diatas teropong untuk menetukan arah utara dan mengatur kingkaran berskala horizontal pada ninous 0o (nol derajat) dengan teropong membidik kearah utara.. 3) Waterpass diputar searah jarum jam dan teropong membidik ke P1 dan membentuk sudut. 4) Dirikan bak ukur pada jarak tertentu dengan pembacaan benang (Ba, Bb dan Bt) sebagai pembacaan detail-detail. 5) Tinggi pesawat diukur dari permukaan tanah ke tengah teropong dengan menggunakan pita ukur. 6) Pengamatan dititik (patok) selanjutnya dilakukan secara teratur 7) seperti cara diatas tetapi 0o ditentukan dari patok sebelumnya (patok belakang). 8) Pembacaan hasil pengukuran dicatat pada belangko pengukuan yang tersedia. 2.5. Rumus-Rumus Yang Digunakan 2.5.1. Rumus Profil Memanjang 2.5.1.1. Perhitungan Jarak Optis Pengukuran Pergi (stand I) Rumus : D = (Ba-Bb)x100 belakang + (Ba-Bb)x100 Dimana : D = Jarak optis Pergi (stand I ) (m) Ba = Benang atas (m) Bb = Benang bawah (m) 2.5.1.2. Perhitungan Jarak Optis Pengukuran Pulang (stand II) Rumus : D = (Ba-Bb)x100 belakang + (Ba-Bb)x100 Dimana : D = Jarak optis Pulang (standII) (m) Ba = Benang atas (m) Bb = Benang bawah (m) 2.5.1.3. Jarak Optis Rata-rata Rumus : Drtr = (Dpergi + Dpulang) Dimana : Drtr = Jarak optis rata-rata (m) Dpergi = Jarak optis pengukuran pergi (stand I) (m) Dpulang = Jarak optis pengukuran pulang (stand II) (m)

2.5.1.4. Perhitungan Beda Tinggi Pengukuran Pergi (stand I) Rumus : t = Bt belakang Bt Dimana : t = Beda tinggi pengukuran pergi (m) Bt = Benang tengah (m)

2.5.1.5. Perhitungan beda Tinggi Pengukuran Pulang (stand II) Rumus : t = Bt belakang Bt Dimana : t = Beda tinggi pengukuran pulang (m) Bt = Benang tengah (m) 2.5.1.6. Perhitungan Beda Tinggi Rata-rata Rumus : trt = ( t pergi t pulang) Dimana : trt = Beda tinggi rata-rata (m) t = Beda tinggi (m) 2.5.1.7. Perhitungan Kesalahan Rumus : Z= pergi + Dimana : Z = Kesalahan (m) = Jumlah beda Tinggi (m)

2.5.1.8 Koreksi Perpatok Rumus : k= Dimana : k = Koreksi (m) Z = Kesalahan (m) n = Jumlah Patok 2.5.1.9. Perhitungan Tinggi Patok Utama Rumus : Tn = Tn-1 + trt K Dimana : Tn = Tinggi patok utama (m) trt = Beda tinggi rata-rata 2.5.1.10. Kemiringan Patok Utama Rumus : /Tn = % Dimana : /Tn = Kemiringan patok utama (m) Tn = Tinggi patok utama (m) D = Jarak optis (m)

2.5.2. Profil Melintang 2.5.2.1. Perhitungan Jarak Optis Titik Detail Rumus : ddet = (Ba Bb) x 100 Dimana : ddet = Jarak optis titik detile (m) Ba = Benang atas (m) Bb = Benang bawah (m) 2.5.2.2. Perhitungan Beda Tinggi Titik Detail Rumus : tdet = tpswt Bt Dimana : tdet = Beda tinggi titik detile (m) Tpswt = Tinggi alat (m) Bt = Benag tengah (m) 2.5.2.3. Perhitungan Kemiringan Titik Detail Rumus : Tdet = Dimana : Tdet = Kemiringan Detile (m) = Beda tinggi (m) D = Jarak optis (m) 2.5.2.4.Perhitungan Tinggi Titik Detail Rumus : Tdet = Tn Dimana : Tdet = Tinggi titik detail (m) Tn = Tinggi titik utama (m) Hdet = Beda tinggi titik detile (m)

BAB III ANALISA DATA 3.1. Profil Memanjang 3.1.1.Perhitungan Jarak Optis Pengukuran Pergi (Stand I) Rumus : D = (Ba-Bb) x 100blk + (Ba-Bb) x100 Mk P0 P1 = (1575-1456) x 100 + (1382-1252) x100 = 11900 + 13000 = 24900 mm = 24,9 m P1 P2 = (1915-1665) x100 + (990-640)x100

= 25000 + 35000 = 60000 mm = 60,00 m P2 P3 = (1979-1620)x100 + (1077-735)x100 = 35900 + 34200 = 70100 mm = 70,1 m P3 P4 = (1470-1270)x100 + (1460-1270)x100 = 20000 + 19000 = 39000 mm = 39,00 m P4 P5 = (1252-937)x100 + (1910-1560)x100 = 31500 + 35000 = 66500 mm = 66,5 m P5 P6 = (1317-1135)x100 + (1740-1573)x100 = 18200 + 16700 = 34900 mm = 34,9 m P6 P7 = (1299-1043)x100 + (1791-1588)x100 = 25600 + 20300 = 45900 mm = 45,9 m P7 P8 = (1210-990)x100 + (1721-1000)x100 = 22000 + 22100 = 44100 mm = 44,1 m P8 P9 = (1182-891)x100 + (1774-1542)x100 = 29100 + 23200 = 52300 mm = 52,3 m P9 P10 = (1213-892)x100 + (1750-1400)x100 = 32100 + 35000 = 67100 mm = 67,1 m P10 P11 = (1638-1419)x100 + (1045-765)x100 = 21900 + 28000 = 49900 mm = 49,9 m P11 P12 = (1541-1410)x100 + (1335-1249)x100 = 13100 + 8600 = 21700 mm = 21,7 m P12 P13 = (1610-1350)x100 + (1000-1300)x100 = 26000 + 20000 = 46000 mm = 46,00 m P13 P0 = (1500-1410)x100 + (1290-1170)x100 = 15000 + 12000 = 27000 mm = 27,00 m 3.1.2. Perhitungan Jarak Optis Pengukuran Pulang (Stand II) Rumus : D = (Ba-Bb)blk + (Ba-Bb) Mk x100 DP0 P1 = (1346-1212)x100 + (1540-1414)x100 = 13400 + 12600 = 26000 mm = 26 m DP1 P2 = (1870-1620)x100 + (952-610)x100 = 25000 + 34200 = 59200 mm = 59,2 m DP2 P3 = (1910-1550)x100 + (1010-670)x100 = 36000 + 34000 = 70000 mm = 70 m DP3 P4 = (1380-1180)x100 + (1372-1175)x100 = 20000 + 19700 = 39700 mm = 39,7 m DP4 P5 = (1175-865)x100 + (1830-1478)x100 = 31000 + 35200 = 66200 mm = 66,2 m DP5 P6 = (1218-1032)x100 + (1639-1472)x100 = 18600 + 16700 = 35300 mm = 35,3 m DP6 P7 = (1231-973)x100 + (1820-1515)x100 = 25800 + 30500 = 56300 mm = 56,3 m DP7 P8 = (1180-962)x100 + (1694-1466)x100 = 21800 + 22800 = 44600 mm = 44,6 m

DP8 P9 = (1113-821)x100 + (1704-1473)x100 = 29200 + 23100 = 52300 mm = 52,3 m DP9 P10 = (1161-842)x100 + (1701-1342)x100 = 31900 + 35900 = 67800 mm = 67,8 m DP10 P11= (1561-1340)x100 + (970-690)x100 = 22100 + 28000 = 50100 mm = 50,1 m DP11 P12= (1475-1355)x100 + (1378-12000)x100 = 12000 + 17800 = 29800 mm = 29,8 m DP12 P13= (1548-1280)x100 + (1391-1235)x100 = 26800 + 15600 = 42400 mm = 42,4 m DP13 P0 = (1521-1368)x100 + (1262-1130)x100 = 15300 + 13200 = 28500 mm = 28,5 m 3.1.3. Jarak Optis Rata-rata Rumus : Drtr = (Dpergi + Dpulang) Dp0-p1 = (24900 + 26000) = 25450 mm = 25,45 m Dp1-p2 = (60000 + 59200) = 59600 mm = 59,6 m Dp2-p3 = (70100 + 70000) = 70050mm = 70,05 m Dp3-p4 = (39000 + 39700) = 39350 mm = 39,35 m Dp4-p5 = (66500 + 66200) = 66350 mm = 66,35 m Dp5-p6 = (34900 + 35300) = 35100 mm = 35,1 m Dp6-p7 = (45900 + 56300) = 51100mm = 51,1 m Dp7-p8 = (44100 + 44600) = 44350 mm = 44,35 m Dp8-p9 = (52300 + 52300) = 52300 mm = 52,3 m Dp9-p10 = (67100 +67800) = 67450 mm = 67,45 m Dp10-p11 = (49900 + 50100) = 50000 mm = 50 m Dp11-p12 = (21700 + 29800) = 25750 mm = 25,75 m Dp12-p13 = (46000 + 42400) = 44200 mm = 44,2 m Dp13-p0 = (27000 + 28500) = 27750 mm = 27,75 m D = 658800 mm = 658,8 m

3.1.4. Perhitungan Beda Tinggi Pengukuran Pergi (Stand I) Rumus : t = Bt belakang Bt Muka t P0 P1 = (1521 - 1318)= 203 mm = 0,203 m t P1 P2 = (1790 - 815) = 975 mm = 0,975 m t P2 P3 = (1800 - 910) = 890 mm = 0,89 m t P3 P4 = (1370 -1365) = 5 mm = 0,005 m t P4 P5 = (1095 -1735) = -640 mm = -0,64 m t P5 P6 = (1235 -1657) = -422 mm = -0,422 m t P6 P7 = (1170 -1730) = -560 mm = -0,56 m t P7 P8 = (1100 -1610) = -510 mm = -0,51 m

t P8 P9 = (1033 -1660) = -672 mm = -0,627 m t P9 P10 = (1030 -1580) = -530 mm = -0,53 m t P10 P11 = (1525 - 910) = 615 mm = -0,615 m t P11 P12 = (1475 -1292) = 183 mm = 0,183 m t P12 P13 = (1480 -1380) = 100 mm = 0,1 m t P13 P0 = (1384 1230) = 252 mm = 0,252 m = -66 mm = -0,066 m 3.1.5. Perhitungan Beda Tinggi Pengukuran Pulang (Stand II) Rumus : t = Bt belakang Bt Muka t P0 P1 = (1280 - 1478)= -198 mm = -0,198 m t P1 P2 = (1750 - 775) = 975 mm = 0,975 m t P2 P3 = (1730 - 838) = 892 mm = 0,892 m t P3 P4 = (1281 -1278) = 3 mm = 0,003 m t P4 P5 = (1019 -1652) = -633 mm = -0,633 m t P5 P6 = (1135 -1552) = -417 mm = -0,417 m t P6 P7 = (1102 -1670) = -568 mm = -0,568 m t P7 P8 = (1070 -1580) = -510 mm = -0,51 m t P8 P9 = (969 -1590) = -621 mm = -0,621 m t P9 P10 = (2000 - 1520) = 480 mm = 0,48 m t P10 P11 = (1452 - 830) = 622 mm = 0,622 m t P11 P12 = (1420 -1242) = 178 mm = 0,178 m t P12 P13 = (1415 -1312) = 103 mm = 0,103 m t P13 P0 = (1336 1190) = 248 mm = 0,248 m = 554 mm = 0,544 m

3.1.6. Beda Tinggi Rata-rata Rumus : trt = ( t pergi t pulang) t P0-P1 = (0,203 0,196) = 0,0025 m t P1-P2 = (0,975 +0,975) = 0,975 m t P2-P3 = (0,89 +0,892) = 0,891 m t P3-P4 = (0,005 + 0,003) = 0,004 m t P4-P5 = (-0,64 0,633) = -0,6365 m t P5-P6 = (-0,422 -0,417) = -0,4195 m t P6-P7 = (-0,56 0,568) = -0,564 m

t P7-P8 = (-0,51 0,51) = -0,51 m t P8-P9 = (-0,627 0,621) = -0,624 m

3.1.7. Perhitungan Kesalahan Rumus : Z= pergi + pulang Z = 0.790 + 0.549 = 1.34 m Syarat : Z < 10 1.34 < 10 1.34 < 4142.1

Koreksi perpatok Rumus = K = - 2 n-1 K = -1.34 n-1 = - 0.134 m

Perhitungan Tinggi Patok Utama Rumus : HTn = Tn-1 + Hrtr K P0 = 17.17 P1 = 17.17 + 0.075 - 0.134 = 17.111 m P2 = 15.125 0.0025 0.134 = 16.9745 m P3 = 16.9745 - 0.01- 0.134 = 16.8305 m P4 = 16.8305 0.022 0.134 = 16.6745 m P5 = 16.6745 0.005 0.134 = 16.5265 m P6 = 16.5265 0.0125 0.134 =16.38 m P7 = 16.38 + 0.0745 0.134 = 16.3205 m P8 = 16.3205 0.0145 0.134 = 16.172 m P9 = 16.172 0.0035 0.134 = 16.0345 m Kemiringan Tinggi Patok Utama Rumus :

/Tn = % p0-p1 = % = 0.15 % p1-p2 = % = 8.4745 % p2-p3 = % = -1,2184 % p3-p4 = % = 0.0331 % p4-p5 = % = 0.01333 % p5-p6 = % = 0.0347 % p6-p7 = % = 0.149 % p7-p8 = % = -0.0328 % p8-p9 = % = -0.0918% Profil Melintang Perhitungan Jarak Optis Titik Detail Rumus : ddet = (Ba Bb) x 100 dp0 a0 = (1230 - 1220) x 100 = 1000 mm = 1 m b0 = (1150 - 1110) x 100 = 4000 mm = 4 m c0 = (1540 -1450) x 100 = 9000 mm = 9 m d0 = (1710 1510 ) x 100 = 20000 mm = 20 m e0 = (1800 1630 ) x 100 = 17000 mm =17 m dp1 a1 = (1176 1070 ) x 100 = 10600 mm = 10.6 m b1 = (1210 1090 ) x 100 = 12000 mm = 12 m c1 = (1420 1380 ) x 100 = 4000 mm = 4 m d1 = (1570 1510 ) x 100 = 6000 mm = 6 m e1 = (1870 1716 ) x 100 = 15400 mm = 15.4 m dp2 a2 = (1436 1380 ) x 100 = 5600 mm = 5.6 m b2 = (1555 1430 ) x 100 = 8200 mm = 8.2 m c2 = (1650 - 1580 ) x 100 = 7000 mm = 7m d2 = (1975 - 1885 ) x 100 = 9000 mm = 9 m e2 = (2500 - 2316) x 100 = 18400 mm = 18.4 m dp3 a3 = (3000 2960 ) x 100 = 4000 mm = 4 m b3 = (2985 2945 ) x 100 = 4000 mm = 4 m c3 = (1310 1250 ) x 100 = 6000 mm = 6 m d3 = (1290 1216 ) x 100 = 7400 mm = 7.4 m e3 = (1400 1310 ) x 100 = 9000 mm = 9 m dp4 a4 = (1816 1720 ) x 100 = 9600 mm = 9.6 m b4 = (1740 -1680 ) x 100 = 6000 mm = 6 m c4 = (1060 0900) x 100 = 16000 mm = 16 m d4 = (1080 - 0970) x 100 = 11000 mm = 11 m e4 = (1080 - 0980) x 100 = 10 mm = 10 m dp5 a5 = (1750 1700 ) x 100 = 5000 mm = 5 m b5 = (1940 1870 ) x 100 = 7000 mm = 7 m c5 = (1190 1150 ) x 100 = 4000 mm = 4 m d5 = (1280 1190 ) x 100= 9000 mm = 9 m

e5 = (1410 1310 ) x 100 = 10000 mm = 10 m dp6 a6 = (1420 1360 ) x 100 = 6000 mm = 6 m b6 = (1480 - 1380) x 100 = 10000 mm = 10 m c6 = (1342 1290 ) x 100 = 5200 mm = 5.2 m d6 = (1456 1378 ) x 100 = 7800 mm = 7.8 m e6 = (1614 1510 ) x 100 = 10400 mm = 10.4 m dp7 a7 = (1140 1107 ) x 100 = 3300 mm = 3.3 m b7 = (1112 1030 ) x 100 = 8200 mm = 8.2 m c7 = (1674 1642 ) x 100 = 3200 mm = 3.2 m d7 = (1700 - 1630) x 100 = 7000 mm = 7 m e7 = (1690 - 1530)x 100 = 16000 mm = 16 m dp8 a8 = (1120 1020 ) x 100 = 10000 mm = 10 m b8 = (1212 1120 ) x 100 = 9200 mm = 9.2 m c8 = (1173 1120 ) x 100 = 5300 mm = 5.3 m d8 = (0987 0892 ) x 100 = 8600 mm = 8.6 m e8 = (1051 0931) x 100 = 12000 mm = 12 m dp9 a9 = (1402 1382 ) x 100 = 2000 mm = 2 m b9 = (1486 1416 ) x 100 = 7000 mm = 7 m c9 = (1206 - 1172) x 100 = 3400 mm = 3.4 m d9 = (1242 1184 ) x 100 = 5800 mm = 5.8 m e9 = (1088 1008 ) x 100 = 8000 mm = 8 m Perhitungan Beda Tinggi Titik Detail Rumus : tdet = tpswt Bt t p0 - a0 = 1350 - 1225 = 125 mm = 0.125 m b0 = 1350 1130 = 220 mm = 0.22 m c0 = 1350 1495 = -145 mm = -0.145 m d0 = 1350 - 1610 = -260 mm =1610 m e0 = 1350 - 1715 = -365 mm = 0.365 m t p1 - a1 = 1260 - 1125 =135 mm = 0.135 m b1 = 1260 - 1150 = 110 mm = 0.11 m c1 = 1260 - 1400 = -140 mm = -0.14 m d1 = 1260 - 1540 = -280 mm = -280 m e1 = 1260 - 1793 = -533 mm = -0.533 m t p2 - a2 = 1330 - 1408 = -78 m = -0.078 m b2 = 1330 - 1515 = -185 m = -0.185 m c2 = 1330 - 1615 = -285 m = -0.285 m d2 = 1330 - 1930 = -600 mm = -0.6 m e2 = 1330 - 2408 = -1078 mm = -1.078 m t p3 - a3 = 1450 - 2980 = -1530 mm = -1.53 b3 = 1450 - 2925 = -1475 mm = 1.475 m c3 = 1450 - 1280 = 170 mm = 0.17 m d3 = 1450 - 1253 = 197 mm = 0.197 m e3 = 1450 - 1355 = 95 mm = 0.095 m t p4 - a4 = 1350 - 1768 = -4.8 mm = -0.418 m

b4 = 1350 1710 = -0.36mm = -0.36 m c4 = 1350 - 1025 = 325 mm = 0.325 m d4 = 1350 - 1010 = 340 mm = 0.34 m e4 = 1350 1030 = 320 mm = 0.32 m t p5 - a5 = 1369 - 1725 = 356 mm = -0.356 m b5 = 1369 - 1905 = -536 mm = -0.536 m c5 = 1369 - 1170 = 199 mm = 0.199 m d5 = 1369 1235 = 134 mm = 0.134 m e5 = 1369 - 1360 = 9 mm = 0.009 m t p6 - a6 = 1356 - 1390 = -34 m = -0.034 m b6 = 1356 - 1430 = -74 mm = - 0.074 m c6 = 1356 1417 = 40 mm = 0.04 m d6 = 1356 1563 = -64 mm = -0.061 m e6 = 1356 1563 = -180 mm = -0.18 m t p7 - a7 = 1440 - 1128 = 312 mm = 0.312 m b7 = 1400 1,700 = 369 mm = 0.369 m c7 = 1400 1658 = -218 mm = 0.218 m d7 = 1400 1665 = -225 mm = 0.225 m e7 = 1400 1640 = -200 mm = 0.200 m t p8 - a8 = 1430 1070 = 360 mm = 0.360 m b8 = 1430 - 1166 = 264 mm = 0.264 m c8 = 1430 - 1151 = 279 mm = 0.279 m d8 = 1430 0935 = 495 mm = 0.495 m e8 = 1430 0991 = 493 mm = 0.439 m

t p9 - a9 = 1390 1392 = - 2 mm = -0.002 m b9 = 1390 - 1451 = -21 mm = 0.021 m c9 = 1390 1189 = 201 mm = 0.201 m d9 = 1390 1213 = 177 mm = 0.177 m e9 = 1390 1048 = 342 mm = 0.342 m Perhitungan kemiringan Detail Rumus : Tndet = TnP0 : a0 = 100 % = 12.5 % b0 = 100 % = 5.5 % c0 = 100 % = -1.611 % d0 = 100 % = -1.3 % e0 = 100 % = -2.1470 % TnP1 : a1 = 100 % = 1.273 % b1 = 100 % = 0.916 % c1 = 100 % = -3.5 %

d1 = 100 % = -4.66 % e1 = 100 % = TnP2 : a2 = 100 % = -1.392 % b2 = 100 % = -2.256 % c2 = 100 % = -4.071 % d2 = 100 % = -6.66 % e2 = 100 % = -5.858 % TnP3 : a3 = 100 % = -38.25 % b3 = 100 % = -36.87 % c3 = 100 % = 2.833 % d3 = 100 % = 2.662 % e3 = = 100 % = 1.055 % TnP4 : a4 = 100 % = -4.354 % b4 = 100 % = -6 % c4 = 100 % = 2.031 % d4 = 100 % = 3.090 % e4 = 100 % = 3.2 % TnP5 : a5 = 100 % = -7.12 % b5 = 100 % = -7.657 % c5 = 100 % = 4.975 % d5 = 100 % = 1.488 % e5 = 100 % = 0.9 % TnP6 : a6 = 100 % = -0.566 % b6 = 100 % = -0.74 % c6 = 100 % = 0.769 % d6 = 100 % = -0.782 % e6 = 100 % = -1.730 % TnP7 : a7 = 100 % = 0.0945 % b7 = 100 % = 0.045 % c7 = 100 % = -0.068 % d7 = 100 % = -0.321% e7 = 100 % = -0.0125% TnP8 : a8 = 100 % = 0.036 % b8 = 100 % = 0.0028 % c8 = 100 % = 0.0526 % d8 = 100 % = 0.0575 % e8 = 100 % = 0.0365 % TnP9 : a9 = 100 % = -0.001 % b9 = 100 % = -0.003 % c9 = 100 % = 0.0591 % d9 = 100 % = 0.0305 % e9 = 100 % = 0.0427 %

Perhitungan Tinggi Titik Detail Rumus : Tdet = Tn DP0 : a = 17.17 + 0.125 = 17.295 m b = 17.17 + 0.22 = 17.39 m c = 17.17 0.145 = 17.025 m d = 17.17 0.26 = 16.91 m e = 17.17 0.365 = 16.805 m DP1 : a = 17.111 + 0.135 = 17.246 m b = 17.111 + 0.11 = 17.221 m c =17.111 0.14 = 16.971m d = 17.111 0.28 = 16.831m e = 17.111 0.533 = 16.578 m DP2 : a = 16.9745 0.078 = 16.8965 m b = 16.9745 0.185 = 16.7895m c = 16.9745 0.285 =16.6895 m d = 16.9745 0.6 = 16.3745 m e = 16.9745 1.078 = 15.8965 m DP3 : a = 16.8305 - 1.53 = 15.3005 m b = 16.8305 - 1.475 = 15.3555 m c = 16.8305 + 0.17 = 17.0005 m d = 16.8305 + 0.197 = 17.0275 m e = 16.8305 + 0.095 = 16.9255 m DP4 : a = 16,6745 0.418 = 16.2565 m b = 16,6745 - 0.36 = 16.3145 m c = 16,6745 + 0.325 = 16.9995 m d = 16,6745 + 0.34 = 17.0145 m e = 16,6745 + 0.32 = 16.9945 m DP5 : a = 16,5265 0.356 = 16.1705 m b = 16,5265 0.536 = 15.9905 m c = 16,5265 + 0.199 = 16.7255 m d = 16,5265 + 0.134 = 16.6605 m e = 16,5265 + 0.009 = 16.5274 m DP6 : a = 16.38 0.34 = 16.04 m b = 16.38 0.074 = 16.306 m c = 16.38 + 0.04 = 16.34 m d = 16.38 0.061 = 16.441 m e = 16.38 0.18 = 16.2 m DP7 : a = 16.3205 + 0.312 = 16.6325 m b = 16.3205 + 0.369 = 16.6895 m c = 16.3205+ 0.218 = 16.5385 m d = 16.3205+ 0.225 = 16.5455 m e = 16.3205 + 0.200 = 16.5205 m

DP8 : a = 16.172 + 0.360 = 16.532 m b = 16.172 + 0.264 = 16.436 m c = 16.172 + 0.279 = 16.451 m d = 16.172 + 0.495 = 16.601 m e = 16.172 + 0.439 = 16.611 m DP9 : a = 16.0345 16.17 = -0.1355 m b = 16.0345 + 0.021 = 16.0555 m c = 16.0345 + 0.201 = 16.2355m d = 16.0345 + 0.177 = 16.2115 m e = 16.0345 + 0.342 = 16.3765m

H P8 a8 = 1.430 1070 = -1068.57 mm = -1.22357 m b8 = 1.430 1166 = -1.12857 mm = -1.2857 m c8 = 1.430 1551 = -1549.57 mm = -1.49357 m d8 = 1.430 0935 = -933.57mm = -0.93357 m e8 = 1.430 0991 = -989.57 mm = -0.98957 m H P9 a9 = 1.390 1392 = -1223.65 mm = -1.22361 m b9 = 1.390 1451 = -1128.65 mm = -1.128.65m c9 = 1.390 1189 = -1493.65 mm = -1.41761 m d9 = 1.390 1213 = -1211.61 mm = -1.21161 m e9 = 1.390 1048 = - 1713.65 mm = -1.71361 m

Tabel 3.1. Hasil Perhitungan Detail dengan Waterpass No. Patok Jarak Optis (m) Beda Tinggi (m) Tinggi Titik (m) Kemiringan (%) Koreksi (m) Kesalahan (m) Po 25,45 0,0025 13,2100 0,1375

0,0375

-0,488 a 7,8 0,002 13,232 0,282 b 13,7 -0,018 13,192 -0,131

c 18,3 0,002 13,212 0,010 d 8,8 -0,036 13,174 -0,409 e 13,3 0,002 13,212 0,015 f 9,7 -0,01 13,2 -0,103 P1 59,6 0,975 13,175 -1,572 a 7,7 0,069 13,244 0,896 b 11,9 0,091 13,266 0,764 c 16,5 0,023 13,198 0,139 d 7,2 -0,013 13,162 1,805 e 10 0,015 13,19 0,3125 f 14 0,08 13,255 0,571 P2 70,05 0,891 14,1125 -1,218 a 5,3 0,047 14,1595 0,886 b 6,7 0,036 14,1485 0,537 c 10,1 0,022 14,1345 0,217 d 6,1 0,05 14,1625 0,819 e 10,9 0,072 14,1845 0,660 f 15,2 -0,048 14,0645 -0,315 P3 39,35 0,004 14,966 0,085 a 3,5 0,186 15,152 5,314 b 7,2 0,215 15,181 2,986 c 7 -0,31 14,656 -4,428 d 8,6 -0,313 14,643 -3,3755 P4 66,35 -0,636 14,9325 1,015 a 8,5 0,22 15,1525 2,588 b 10 0,16 15,0925 1,60 c 12,2 0,17 15,1025 1,393 d 5,8 -0,105 14,83 -1,810 e 9,7 -0,038 14,8945 -0,391 f 13,5 -0,025 14,9075 -1,851 P5 35,1 -0,419 14,2585 1,301 a 6 0 14,2585 0 b 9 0,16 14,4185 1,777 c 11 0,18 14,4385 1,636 d 9,5 -0,105 14,1535 -0,157 e 12 -0,145 14,1135 -1,208 f 14 0,19 14,0685 -1,375 P6 51,1 -0,564 13,8015 1,177

0,0375 -0,488 a 3,4 0,103 13,9045 3,029 b 5 0,235 14,0365 4,7 c 4,9 0,027 14,8285 0,55

d 7,9 -0,012 13,7895 -0,151 P7 44,35 -0,51 13,20 1,234 a 3,5 -0,065 13,135 -1,857 b 6 -0,3 12,9 -5 c 3,6 -0,015 13,185 -0,416 d 5,5 -0,15 13,05 -2,727 P8 52,3 0,624 12,6525 0,404 a 33,3 -0,112 12,5405 -0,336 b 4,5 -0,155 12,4975 -3,444 c 3,4 -0,043 12,6095 1,264 d 5,2 0,097 12,7495 1,865 P9 67,45 0,05 12,441 -0,472 a 3,4 -0,04 12,401 -1,176 b 4,8 -0,068 12,373 1,416 c 4 0,032 12,761 -0,8 d 6,1 -0,05 12,391 0,819 P10 50 0,618 12,7595 -0,262 a 2,2 -0,015 12,7445 -0,681 b 4,7 -0,128 12,6315 -2,723 c 5,2 0,268 13,0275 5,153 d 6,9 0,29 13,0495 4,202 P11 25,75 0,180 12,8905 -1,555 a 5 -0,183 12,7075 -3,66 b 7,4 -0,215 12,6455 -1,689 c 9,9 -0,22 12,6705 -2,222 d 5,5 -0,013 12,8775 -0,236 e 8,4 0,067 12, 975 0,797 f 18,1 0,188 13,0785 1,038 P12 44,2 0,101 13,0335 -0,144 a 4,2 -0,014 13,0195 -0,333 b 5,1 -0,02 13,0135 -0,392 c 5,4 -1,34 11,6935 -0,562 d 8 0,03 13,0635 0,375 P13 27,75 0,15 13,0975 -0,405 a 6,5 -0,063 13,0345 -0,969 b 7,5 -0,082 13,0155 -1,093 c 13 -0,22 12,8775 1,692 d 7,5 0,04 13,1375 0,533 e 13 0,055 13,1525 0,423 f 0,1 13,1975 0,5 Sumber : Hasil Perhitungan Data Waterpass

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Berdasarkan atas beberapa penjelasan dari pokok-pokok materi diatas dapat ditarik kesimpulan. Adapun kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Ilmu Ukur Tanah adalah bagian dari ilmu Geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran dipermukaan bumi dan di bawah tanah untuk keperluan seperti, pemetaan dan penentuan posisi relatif sempit sehingga unsur kelengkungan bumidapat diabaikan. 2. Ilmu Geodesi memepunyai dua maksud antara lain maksud ilmiah : yaitu maksud untuk menentukan bentuk permukaan bumi, dan Maksud praktis : yaitu membuat bayangan yang dianamkan peta dari serbagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi. 3. Syarat-syarat penggunaan Waterpass adalah : a. Garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo. b. Garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu. c. Gris mendatar diafragma harus tegak lurus pada sumbu kesatu. 4. Kondisi atau keadaan permukaaan tanah di lokasi penelitian adalah cenderung rata. Hal ini dapat dilihat dari : a. Garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo. b. Garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu. c. Garis mendatar diafragma harus tergak lurus pada sumbu kesatu.

4.2. Saran Agar laporan ini dapat selesai dengan baik, kami mengharapkan saran-saran dari pihak : 1.Kepala Laboratorium ; Sebelum dilaksanakan Praktikum dilapangan, sebaiknya mahasiswa diberikan bibimbingan terlebih dahulu agar dalam melaksanakan praktek dilapangan, kami tidak mendapatkan kesulitan. 2. Jurusan ; Kami berharap agar dalam pelaksanaan praktikum tidak mengganggu jadwal mata kuliah yang lain, karena akan sangat merugikan bagi mahasiswa itu sendiri. Syarat-syarat penggunaan Waterpass adalah garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo, garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu, garis mendatar diafragma harus tegak lurus pada sumbu kesatu.