Anda di halaman 1dari 11

RESUME DASAR-DASAR ILMU KEPENDUDUKAN PENGARUH PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT

DISUSUN OLEH: NAMA NIM : RAHMAH MARTIYASIH : G1B012061

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN KESEHATAN MASYARAKAT 2013

PERTUMBAHAN PENDUDUK
Penduduk suatu negara atau daerah bisa didefinisikan sebagai kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Penduduk merupakan salah faktor penting perkembangan sebuah negara karena tanpa penduduk negara tidak akan terbentuk, sebab penduduk merupakan faktor penting lainnya selain dari wilayah. (Haryati, Sri dan Yani Ahmad, 2007) Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan per waktu unit untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia. (id.wikipedia.org) Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk pada khususnya. Karena di samping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau negara maupun dunia. Pertambahan penduduk alami atau natural increase artinya pertambahan penduduk yang dihitung dari selisih antara kelahiran dan kematian. Pertambahan Migrasi (Net Migration) artinya pertambahan penduduk yang dihitung dari selisih antara jumlah penduduk yang masuk dengan penduduk yang keluar. Pertambahan penduduk pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor faktor demografi, yaitu kematian (mortalitas), kelahiran (Natalitas) dan Migrasi (Mobilitas) 1. Kematian Kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas). a. Faktor pendukung kematian (pro mortalitas) Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah: Sarana kesehatan yang kurang memadai. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan

Terjadinya berbagai bencana alam Terjadinya peperangan Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industry Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.

b. Faktor penghambat kematian (anti mortalitas) Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah: Lingkungan hidup sehat. Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap. Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain. Tingkat kesehatan masyarakat tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

Ada beberapa jenis perhitungan angka kelahiran yaitu: a) Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate/CDR ) Angka kematian kasar adalah yaitu angka yang menunjukkan jumlah kematian tiap 1000 penduduk tiap tahun tanpa membedakan usia dan jenis kelamin tertentu. b) Angka Kematian Khusus Menurut Umur Tertentu (Age Specific Death Rate = ASDR) Angka kematian khusus menurut umur tertentu dapat digunakan untuk mengetahui kelompok-kelompok usia manakah yang paling banyak terdapat kematian. Umumnya pada kelompok usia tua atau usia lanjut angka ini tinggi, sedangkan pada kelompok usia muda jauh lebih rendah. c)Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate = IMR) Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian bayi tiap seribu bayi yang lahir. Bayi adalah kelompok orang yang berusia 0-1 tahun. Besarnya angka kematian bayi dapat dijadikan petunjuk atau indikator tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk. Pada umumnya bila masyarakat memiliki tingkat kesehatan yang rendah maka tingkat kematian bayi tinggi. Selain perhitungan di atas sering dihitung pula angka kematian ibu waktu melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir. Untuk angka kematian bayi ukurannya sebagai berikut: Rendah, jika IMR antara 15-35. Sedang, jika IMR antara 36-75.

Tinggi, jika IMR antara 76-125. 2. Kelahiran ( Natalitas ) Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan yang mendukung kelahiran (pro natalitas) Faktor-faktor penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lain:

Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.

Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua. Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki. Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua. Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi. Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar. Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:

Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak. Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi laki-laki minimal berusia 19 tahun.

Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adanya pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan hanya sampai anak ke 2.

Penundaaan kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan. Faktor faktor penunjang tingginya angka natalitas dalam suatu negara antara lain :

1. Kepercayaan dan agama Faktor kepercayaan mempengaruhi orang dalam penerimaan KB. Ada agama atau kepercayaan tertentu yang tidak membolehkan penganutnya mengikuti KB. Dengan sedikitnya peserta KB berarti kelahiran lebih banyak dibanding bila peserta KB banyak 2. Tingkat pendidikan (Desnia, Poppy, 2012) Berdasarkan keterangan diatas, pertumbuhan atau pertambahan jumlah penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor alami antara lain tingkat kelahiran dan kematian serta faktor non alaim yaitu urbanisasi. Kedua faktor ini yang kemudian menjadi salah satu penyebab tidak seimbangnya laju pertumbuhan ekonomi dan sosial, ketidakseimbangan tersebut dapat terjadi apabila angka laju pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah tidak

seimbang dengan angka laju pertumbuhan ekonomi dan sosial pada wilayah tersebut. Selain itu, masih adanya disparitas pembangunan antara daerah perkotaan dan perdesaan yang juga merupakan salah satu penyebab terjadinya arus migrasi dari satu wilayah yang lain. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia selama periode 2000-2010 lebih tinggi dibanding periode 1990-2000. Laju pertumbuhan penduduk 2000-2010 mencapai 1,49 % atau lebih tinggi dibanding periode 1990-2000 yang hanya mencapai 1,45 %, sesuai dengan hasil sensus tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,56 juta orang (www.bps.go.id).

DAMPAK PERTUMBUHAN PENDUDUK

Berdasarkan bagan diatas, peningkatan jumlah penduduk menimbulkan masalah pokok yaitu kemiskinan dan kekurangan pangan. Kemiskinan dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk yang tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai, mengakibatkan jumlah pengangguran semakin banyak. Bukan hanya itu tapi terkadang juga spesifikasi pendidikan terakhir dari penduduk di Indonesia yang tidak memenuhi syarat lapangan kerja yang tersedia. Berikut tabel jumlah pengangguran berdasar tamatan pendidikan.

Sumber: www.bps.go.id Tahun 2008, Indonesia mendapat ranking 1 di Asia dalam jumlah pengangguran tertinggi. Hal ini dianggap mengancam stabilitas kawasan Asia mengingat secara keseluruhan jumlah penduduk Indonesia lebih besar daripada Negara-negara tetangga. Meskipun ditengarai turun sekitar 9% dari tahun 2007, tapi secara umum angka ini tetap saja dianggap yang tertinggi di Asia. (Desnia, Poppy, 2012) Dari perspektif ekonomi, para pengangguran ini akan menjadi beban ekonomi keluarga, masyarakat bahkan bangsa ini. Mereka bahkan dapat menjadi pemicu lahirnya kemiskinan model baru; mereka miskin bukan karena tidak tahu apa-apa, melainkan akibat sulitnya mengakses lapangan kerja rendah. Dan semakin tinggi jumlah pengangguran semakin tinggi pula jumlah penduduk miskin di Indonesia yang artinya jumlah pengangguran berbanding lurus dengan jumlah kemiskinan. Kemiskinan merupakan keadaan dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Potret kemiskinan di Indonesia banyak diwarnai dengan adanya urbanisasi sebagai akibat jumlah penduduk. (Desnia, Poppy, 2012)

Sumber: www.bps.go.id Kebanyakan penduduk urbanisasi tinggal di daerah padat penduduk yang berpenghasilan rendah. Bersama dengan penduduk pribumi yang tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan tidak mengikuti pola tata kota yang dikaitkan dengan daerah asal-usul warga kota. Daerah-darah seperti ini biasanya di kenal dengan pemukiman kumuh. Selain kemiskinan, dampak lain yang akan dialami apabila terjadinya ledakan penduduk adalah makin berkurangnya lahan produksi pertanian atau dengan kata lain terkonversinya lahan pertanian yang ada menjadi permukiman penduduk sehingga menurunnya produksi pangan. Thomas R. Malthus dalam teorinya mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur sedangkan pertumbuhan ketersediaan pangan mengikuti deret hitung. Untuk keadaan Indonesia dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% dan ketersediaan lahan untuk tanaman padi seluas 7,7 ha, hal ini sangat tidak menguntungkan jika kembali pada teori Malthus. Teori tersebut menghendaki produksi pangan melebihi dari pertumbuhan penduduk, sehingga berdasarkan pada teori ini dapat diprediksikan bahwa suatu saat lahan pertanian di Indonesia akan hilang. Disebabkan karena adanya perkembangan yang pesat pada pembukaan dan penggunaan lahan untuk pemukiman penduduk. Namun tidak selamanya teori Malthus benar, karena ada beberapa hal yang menjadi kelemahan dari teori ini, Malthus menekankan terbatasnya persediaan tanah. Akan tetapi pada abad 21 ini teknologi sudah canggih, sehingga keterbatasan persediaan tanah ini dapat disiasati. Kondisi ketahanan pangan di Indonesia dilaporkan bahwa pada 2 tahun terakhir swasembada beras dapat dicapai kembali, namun untuk jangka panjang masih menjadi pertanyaan besar.. Salah satu solusi dalam peningkatan produksi pangan adalah peningkatan areal dan produktifitas. Meskipun hal tersebut telah dilakukan dengan berbagai strategi namun data menunjukkan masih jauh dari cukup. Selama 5 tahun terakhir (20042008), areal panen padi hanya meningkat 0,47 juta ha dengan komposisi 11,92 juta ha tahun 2004 menjadi 12,39 juta ha tahun 2008. Dari segi produktifitas mengalami peningkatan 0,32

ton/ha dengan komposisi 4,54 ton/ha tahun 2004 dan 4,86 ton/ha tahun 2008 (Subejo, 2009) Data-data statistik yang telah dijelaskan di atas sebenarnya menggambarkan betapa rentannya sistem ketahanan pangan nasional di negara kita yang pada saat ini sedang mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup besar. Terlebih pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak merata. Jika tidak ditemukan solusi dengan segera, maka bukan tidak mungkin akan terjadi kekurangan pangan di Indonesia. Dua pokok masalah ini kemudian menimbulkan masalah lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu masalah kesehatan masyarakat. Jumlah penduduk yang bertambah, lahan yang berkurang, dan kemiskinan merupakan lingkaran setan yang menyebabkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat.

PENGARUH PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT


Pertambahan penduduk menimbulkan masalah baik pada masyarakat rendah maupun tingkat menengah keatas. Masyarakat kecil berpenghasilan rendah tidak mampu memenuhi persyaratan mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bahkan untuk rumah tipe Rumah Sangat Sederhana (RSS). Sebaliknya pemerintah dan swasta pengembang perumahan tidak dapat memenuhi kebutuhan perumahan untuk masyarakat. Masalah yang dihadapi dalam pembangunan perumahan di daerah perkotaan adalah luas lahan yang semakin menyempit; harga tanah dan material bangunan yang dari waktu kewaktu semakin bertambah mahal; serta kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Kondisi semacam ini akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas perumahan, bahkan sering menumbuhkan pemukiman kumuh.

Menurut Edwin Eames. dan David Goode (1973), mengatakan bahwa : lingkungan kumuh yaitu daerah pemukiman yang sangat padat penduduknya dan rumah-rumah didalamnya dibangun dengan tehnik konstruksi yang buruk dan menggunakan bahan-bahan yang bermutu rendah. Pola pemukiman tidak berstruktur dan tidak dilengkapi dengan sarana-sarana umum seperti fasilitas air bersih, pembuangan sampah, saluran pembuangan air dan kotoran serta jalan-jalan yang bersih, dan sering kali kondisi ini dihubungkan dengan ongkos sewa yang relatif mahal dan bahaya penggusuran. Khususnya di daerah perkotaan, keluarga miskin sebagian besar tinggal di perkampungan yang tidak layak dan sering satu rumah ditinggali oleh lebih dari satu keluarga. Data yang penulis ambil dari BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2010 rata-rata 30% rumah tangga di perkotaan tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Data BPS lain

menunjukkan pada tahun 2003 ada 17 Kabupaten/Kota termasuk daerah dengan jumlah keluarga lebih dari 19.000 yang bertempat tinggal di bantaran sungai dan permukiman kumuh (www.bps.go.id). Kondisi permukiman mereka juga sering tidak dilengkapi dengan lingkungan permukiman yang memadai. Untuk mendapatkan tempat bermukim yang sehat dan layak, mereka tidak mampu membayar uang muka untuk mendapatkan kredit pemilikan perumahan sangat sederhana dengan harga murah mereka juga tidak mampu. Lingkungan pemukiman kumuh (slum area) berhubungan erat dengan kemiskinan, kepadatan penghuninya tinggi, sanitasi dasar perumahan yang rendah sehingga tampak jorok dan kotor yaitu tidak ada penyediaan air besih, sampah yang menumpuk, kondisi rumah yang sangat menyedihkan, dan banyaknya vektor penyakit, terutama lalat, nyamuk dan tikus. Lingkungan kumuh sangat tidak layak huni karena tidak memenuhi indikator kelayakan lingkungan tinggal. Penilaian layak atau tidaknya suatu pemukiman atau rumah hunian dipilih empat indikator yang diprogramkan dalam sektor kesehatan, yaitu persentase keluarga yang memiliki persediaan air minum sehat, persentase keluarga yang memiliki akses terhadap jamban sehat, persentase keluarga yang mengelola sampah dengan baik, dan persentase keluarga yang mengelola air limbahnya dengan aman. Sedangkan lingkungan yang dikembangkan sektor-sektor terkait mencakup kependudukan, kondisi lingkungan sosial, dan kondisi ekonomi. (Depkes RI, 2002) Masalah timbul sekali lagi karena das solen tidak sama dengan das sien. Lingkungan dan hunian pemukiman kumuh sangat tidak layak, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan. Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan sehat apabila : (1) Memenuhi kebutuhan fisik dasar seperti temperatur lebih rendah dari udara di luar rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang nyaman, dan kebisingan 45-55 dB.A.; (2) Memenuhi kebutuhan kejiwaan; (3) Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular yaitu memiliki penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah yang saniter dan memenuhi syarat kesehatan; serta (4) Melindungi penghuninya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan bahaya kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh, tangga ya ng tidak curam, bahaya kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan, bahkan dari ancaman kecelakaan lalu lintas (Sanropie, 1992; Azwar, 1996). Masyarakat miskin sering menghadapi kesulitan untuk mendapatkan air bersih. pada tahun 2010 BPS mencatat hampir 60% daerah perkotaan tidak mempunyai sumber air bersih yang layak (www.bgs.go.id). Hal ini disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air, belum terjangkau oleh jaringan distribusi, menurunnya mutu sumber air, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya air bersih dan sanitasi untuk kesehatan.

Masyarakat miskin perkotaan yang tinggal di permukiman kumuh dan pinggiran sungai menghadapi kesulitan untuk dapat menjangkau layanan PDAM sehingga masih banyak masyarakat yang memanfaatkan air sungai dan sumur galian yang sudah tercemar untuk keperluan rumah tangga. Masyarakat miskin juga menghadapi masalah buruknya sanitasi dan lingkungan permukiman terutama yang tinggal di kawasan kumuh. Kondisi sanitasi dan lingkungan yang buruk berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan mereka terutama anak-anak dan ibu. Selain itu, masyarakat miskin juga kurang memahami pengelolaan sanitasi dan lingkungan hidup sebagai bagian dari perilaku hidup sehat. Hal inilah yang menyebabkan derajat kesehatan masyarakat di lingkungan kumuh sangat rendah.

KESIMPULAN
Ledakan penduduk menyebabkan berbagai masalah. Dua masalah utamanya adalah kemiskinan dan kekurangan pangan yang juga mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Kemiskinan dipicu oleh peningkatan jumlah penduduk yang tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai, mengakibatkan jumlah pengangguran semakin banyak. Kekurangan pangan terjadi akibat makin berkurangnya lahan produksi pertanian atau dengan kata lain terkonversinya lahan pertanian yang ada menjadi permukiman penduduk sehingga menurunnya produksi pangan. Masalah kesehatan masyarakat akibat kedua hal tersebut terlihat jelas dalam kehidupan di pemukiman kumuh. Secara umum permasalahan yang sering terjadi di daerah pemukiman kumuh adalah: 1. ukuran bangunan yang sangat sempit dan tidak memenuhi standard untuk bangunan layak huni 2. rumah yang berhimpitan satu sama lain membuat wilayah pemukiman rawan akan bahaya kebakaran 3. sarana jalan yang sempit dan tidak memadai 4. tidak tersedianya jaringan drainase 5. kurangnya suplai air bersih 6. jaringan listrik yang semrawut 7. fasilitas MCK yang tidak memadai Selain kondisi kesehatan yang buruk pada pemukiman kumuh, beberapa masalah kesehatan yang lain adalah tingkat polusi udara dan sampah. Polusi ditimbulkan oleh asap kendaraan yang jumlahnya semakin bertambah. Dampak lainnya yang akan timbul adalah masalah sampah yang tidak dapat terselesaikan juga merupakan sumber polusi bagi kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2002. Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jakarta: Departemen Kesehatan R.I Desnia, Poppy. 2012. Dampak Pertumbuhan Penduduk. http://pdesnia.wordpress.com/2012/12/24/dampak-pertumbuhan-penduduk/ diakses 24 Maret 2012 pukul 16.00 WIB Edwin Eames and David goode .1973. Urban Proverty in Cross Cultural Contact. New York: The Full Press Haryati, Sri dan Yani Ahmad. 2007. Geografi Politik, Bandung: PT. Refika Aditama id.wikipedia.org Sanropie D. (1992). Pedoman Bidang Studi Perencanaan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I. Subejo. 2009. Perangkap Malthus : Pertarungan Ledakan Penduduk dan Pangan. The University of Tokyo Departement of Agricultural and Resource Economic www.bps.go.id