Anda di halaman 1dari 13

Kebisingan Pada International Space Station

Melissa Audry Rampen 1206236615

Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Februari 2013

DAFTAR ISI
Daftar Isi Pendahuluan Latar Belakang Masalah Tujuan Tinjauan Pustaka Mekanisme Pendengaran Definisi Bising Patofisiologi Bising Pengaruh Bising Terhadap Pendengaran International Space Station Bising Pada International Space Station Upaya Teknis Penanggulangan Bising Pembahasan Aeromedical Examination Aeromedical Concern Aeromedical Recommendation Daftar Pustaka 10 10 10 12 3 4 5 6 7 8 8 2 2 2 1

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sejalan dengan adanya kehidupan manusia di lingkungan buatan, khususnya di luar angkasa dalam satelit buatan manusia International Space Station (ISS), terdapat banyak bising yang diakibatkan oleh mesin-mesin yang beroperasi sepanjang hari. Peralatan yang menyokong kehidupan manusia dalam kabin tertutup mengatur sirkulasi udara untuk membuang zat metabolik dan limbah serta mengembalikan kadar oksigen. Pendingin pada sistem kendali termal memerlukan kipas dan pompa bermesin. Berbeda dengan awak udara di bumi, para astronot terpajan oleh bising tanpa henti selama masa tugas mereka di ISS. Lingkungan dengan mikrogravitasi juga diduga akan memengaruhi indera pendengaran manusia. 1.2. Masalah Perhatian banyak ditujukan pada efek akut akibat bising dalam pesawat angkasa luar yang dapat memengaruhi performa kerja astronot. Berbagai strategi telah dilakukan untuk mengurangi efek akut, kronis dan pasca kembalinya para astronot ke bumi. Bising tingkat tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, mudah marah, kelelahan, gangguan tidur dan tinitus serta kesulitan mendengarkan alarm yang dapat mengganggu kinerja. Selain itu, para astronot yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris akan semakin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. 1.3. Tujuan Menelaah mekanisme pendengaran. Memahami pengertian bising. Menelaah pengaruh bising terhadap pendengaran. Mengetahui upaya penanggulangan teknis terhadap bising.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Mekanisme Pendengaran a. Telinga luar Bertugas untuk mengumpulkan suara yang diterima dari lingkungan luar. Meskipun sering dianggap tidak penting dalam proses transduksi suara, namun kanal auditori memiliki peran dalam menyetarakan impedansi suara dalam membrana timpani kepada udara luar yang bergantung pada frekuensi.2,3 b. Telinga tengah Fungsi utama dari telinga tengah adalah menyetarakan impedansi. Telinga dalam terdiri dari cairan sementara gendang telinga adalah membran yang digerakkan oleh gas, sehingga terjadi perbedaan impedansi yang besar. Ada dua proses yang terjadi dalam telinga tengah, yaitu efek pengungkit dan efek hidrolik sebagai akibat oleh keberadaan tulang-tulang dalam telinga yang terdiri atas malleus, incus dan stapes. Tulang-tulang ini tidak mengamplifikasi suara, namun hanya berperan dalam memodifikasi getaran agar tercipta efisiensi energi dari telinga luar ke telinga dalam.2 Selain menyetarakan impedansi, telinga tengah juga berperan dalam melindungi telinga dalam terhadap suara keras yang dapat merusak indera pendengaran dengan dua cara, yaitu2: Refleks akustik Mengubah impedansi telinga tengah untuk menahan getaran dengan amplitudo besar dan frekuensi yang rendah dengan cara kontraksi pada stapedius dan otot tensor timpani. Subluksasi tulang-tulang telinga Subluksasi dari tulang-tulang ini akan mengurangi efisiensi transmisi suara sehingga melindungi telinga tengah. c. Telinga dalam Berfungsi untuk mengubah sinyal suara menjadi impuls saraf agar dapat diproses oleh otak. Di dalam koklea, terdapat sel rambut yang berada pada membrana basiler di tingkap lonjong. Membran ini akan bergerak menyentuh membrana tektorial yang berada di seberang membrana basiler. Perubahan bentuk sel rambut akibat pergerakan membrana basiler inilah yang akan menimbulkan impuls saraf.2,4 3

2.1. Definisi Bising Bising adalah suara yang tidak diinginkan.3,4,5 Oleh karena itu, bising merupakan hal yang sangat subjektif terhadap setiap orang, seperti halnya musik kesukaan seseorang ternyata merupakan bising bagi orang lain. Kerasnya suara dihitung sebagai sound pressure level (SPL) yang ditentukan oleh perubahan amplitudo tekanan pada udara dan memiliki satuan desibel (dB).4 Untuk mengetahui pengaruh SPL terhadap fisiologi tubuh manusia, digunakan skala Aweighted yang mengukur respon pendengaran manusia terhadap suara tinggi. Kombinasi Aweighted SPL band dengan rentang frekuensi pendengaran manusia (63 20.000 Hz) disebut sebagai noise level.4 Noise level merupakan output standar dari sound level meter dan dapat digunakan untuk menghitung atau mengukur pajanan bising.2,4,5 Selain noise level, terdapat pula noise criterion (NC) yang berupa kurve terhadap fungsi SPL dan frekuensi dalam octave band dari 63 8000 Hz.4,5

Terdapat lima nilai ambang terhadap bising yang memengaruhi manusia1: a. Mengganggu nilai ambang pendengaran Terjadi pada intensitas yang amat rendah. b. Mengganggu waktu istirahat dan tidur. Sering pada bandara udara atau lingkungan sekitarnya. Toleransi subyektif juga 4

berpengaruh, sehingga orang yang lebih sering terpajan oleh bising akan lebih tahan dibandingkan orang yang jarang terpajan bising. c. Mengganggu komunikasi lewat pendengaran. Bergantung pada intensitas dan frekuensi bising. d. Merusak pendengaran Bising yang dapat menimbulkan ketulian jika terpajan dalam waktu yang lama dan bila orang tersebut tidak mengenakan alat pelindung telinga secara efektif. e. Nyeri aural Walaupun hanya mengalami pajanan singkat, telinga terasa amat sakit karena sudah terjadi gangguan. Selain itu, orang tersebut dapat mengalami pengaruh non-auditori seperti disorientasi, mual dan muntah meski telinganya sudah dilindungi.

2.2. Patofisiologi Bising4 Energi akustik mencederai jaringan auditori melalui beberapa cara. Pada tingkat energi yang tinggi, struktur koklea akan rusak. Mekanisme tersering adalah metabolic exhaustion yang dipicu oleh iskemi pada koklea dan mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas metabolik dari energi akustik sehingga glikogen akhirnya habis. Stimulasi berlebihan merangsang oksigen reaktif dan radikal bebas pada sistem auditori yang akan mengoksidasi protein dan mengganggu keutuhan membran fosfolipid dan filamen dari sel rambut. Oksidasi membran sel akan menghasilkan toksin yaitu 4-hidroksi 2,3-nonenal (HNE) yang mengganggu proses seluler seperti pada pompa natrium-kalium, transpor neurotransmiter glutamat, homeostasis ion dan akhirnya berujung pada kematian sel atau apoptosis. Kerusakan ringan dapat sembuh kembali dan kondisi ini dinamakan temporary threshold shift (TTS), sementara kerusakan yang lebih parah akan berujung pada tuli permanen yang disebut permanent threshold shift (PTS).

2.3. Pengaruh Bising Terhadap Pendengaran Pasca pajanan terhadap bising, dapat terjadi beberapa manifestasi berupa gangguan yang bersifat sementara atau permanen yang disebut sebagai noise-induced hearing loss (NIHL). Tinitus dapat timbul sebagai akibat dari tuli sementara akibat bising yang disebut sebagai noise-induced TTS. Jika TTS terus berlanjut, lama kelamaan akan berkembang menjadi PTS. 5

a.

Tinitus Ketulian temporer yang disebabkan bising kadang-kadang disertai rasa penuh di telinga dan tinitus. Tinitus dapat terjadi beberapa menit hingga beberapa jam bahkan dapat menetap.1,2

b. Temporary Threshold Shift (TTS) TTS sering ditimbulkan oleh bising dengan frekuensi rendah atau menengah dan bergantung pada intensitas bising, spektrum suara dan durasi pajanan, sementara pajanan intermiten dapat mengurangi risiko TTS dan jarang terjadi di bawah 78 dB.3 Onset TTS dapat asimtomatik dan dapat sembuh sempurna selama diberikan waktu pemulihan yang cukup.1 Namun, jika TTS tidak ditangani dengan baik, akan mengarah ke PTS.1,4,5 Pengukuran terhadap TTS harus segera dilakukan pasca pajanan karena pemulihan setelah pajanan bising terjadi cukup cepat.2 c. Permanent Threshold Shift (PTS) TTS sudah berubah menjadi PTS apabila setelah 30 hari masih ditemukan adanya tuli. Pada praktik, Leq (noise level rata-rata per 8 jam) 85 90 dB(A) selama 8 jam sehari tidak boleh dilewati.2,5 Selain itu, obat-obat ototoksik seperti salisilat, diuretik, antibiotik (streptomisin dan neomisin) beserta pajanan bising dapat mengarah pada PTS. PTS diukur dengan satuan standard threshold shift (STS). STS adalah perubahan ambang dengar pada salah satu telinga sebesar 10 dB atau perubahan dari baseline 2000, 3000 dan 4000 Hz. Selain terhadap pendengaran, bising memiliki pengaruh lain terhadap tubuh manusia, seperti lelah, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, disorientasi, mabuk gerak, sakit kepala, vertigo dan mual. Terjadi gangguan pula pada berbagai sistem organ seperti kardiovaskuler, gastrointestinal, renal, muskuloskeletal dan juga gangguan psikologis.1,4,5

2.3. International Space Station (ISS)

ISS adalah satelit luar angkasa yang berlokasi di low-Earth orbit dengan struktur moduler yang dapat dihuni oleh manusia untuk keperluan riset. Durasi misi para astronot di ISS berkisar antara 3 sampai 7 bulan atau lebih.5 Sejak peluncurannya di tahun 1998 hingga saat ini, ISS sudah ditinggali oleh manusia selama 10 tahun berturut-turut dan telah dikunjungi oleh 204 orang serta telah dilakukan spacewalk sebanyak 162 kali.6 ISS merupakan hasil kerjasama dari 6 negara, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Eropa dan Kanada dan terdiri dari 12 modul yang terbagi menjadi tempat tinggal para astronot, ruang riset dan ruang mesin.7

2.4. Bising pada International Space Station Spesifikasi dari Russian Space Agency (RSA) untuk bising kontinu dalam pesawat luar angkasa adalah 60 dBA ketika astronot sedang terjaga dan 50 dBA saat para astronot sedang tidur. Sementara itu, bising pada astronot rata-rata mencapai 70 dBA dan dapat mencapai 90 dBA saat tidur.7 Alarm peringatan dan bahaya harus lebih keras 20 dB dari noise level lingkungan. Semua noise level harus selalu rutin dimonitor.4 Service Module, tempat tinggal utama para astronot, memiliki pajanan bising terbesar dibandingkan dari modul lainnya di ISS. Terdapat bising sebesar 69 dBA saat ground testing dan 67 72 dBA di orbit. Sementara pada modul U.S. Lab terdapat bising sebesar 60 64 dBA.4,5 Pajanan bising pada astronot ISS yang dipantau selama 24 jam adalah sebesar 65 71 dBA dan bergantung pada lokasi tempat astronot tersebut berada. 4,5 Gema yang terjadi dalam struktur ISS juga ikut berpengaruh terhadap bising yang muncul.7 Sumber suara terbesar adalah berasal dari kipas ventilasi life support system, sistem pembuangan karbon dioksida Vozdukh (70 dBA), lemari es (70 Dba), air conditioning dan kipas ventilasi (69 dan 52 Dba) serta pompa Thermal Control System (57 Dba).4,5,7 Alat Treadmill and Vibration Isolation System (TVIS), peralatan pribadi seperti alat cukur dan pengering rambut adalah kontributor dari bising intermiten sebesar 77 dBA. Selain itu, kurangnya privasi antara para astronot akan menambah bising intermiten.4,7 8

Pemeriksan respon auditori batang otak menyatakan bahwa fungsi auditori tidak terganggu dalam keadaan mikrogravitasi.7

2.4. Upaya Teknis Penanggulangan Bising Prioritas utama adalah perlunya peredam suara pada sitem pembuangan karbon dioksida, pemasangan material penyerap suara pada kipas sirkulasi, modifikasi komponen lemari as serta penambahan materi peredam suara pada interior Service Module.4 Prioritas kedua adalah mendesain ulang kipas dan komponen pompa kendali panas, serta modifikasi jadwal kerja kru terhadap peralatan yang menimbulkan bising. Selain itu, perlu dibuat peraturan operasional terhadap mesin yang menyebabkan bising dan mengenai penggunaan alat pelindung telinga.4 Cara utama dalam melindungi astronot terhadap pajanan bising ialah dengan menggunakan alat pelindung telinga berupa headset dengan Active Noise Reduction (ANR) yang menghilangkan bising dengan cara memberikan emisi gelombang suara dengan frekuensi yang sama persis dengan bising namun dalam fase yang berbeda. Teknik ini terbatas pada frekuensi rendah (hingga 1200 Hz), sehingga sangat berguna sebagai tambahan proteksi.1,3,5 Penggunaan alat pelindung telinga tidak memengaruhi pemahaman dalam berkomunikasi selama suara tersebut lebih tinggi dari tingkat kebisingan dan berbicara secara tatap muka, dengan speaker atau headset.3 Material alat pelindung telinga dapat menyebabkan alergi atau reaksi toksik. Selain itu, ear plug dapat menyebabkan tertimbunnya serumen di kanal telinga. Sementara itu, alat pelindung telinga yang jarang dibersihkan akan menimbulkan berbagai penyakit dan jika ada penyakit infeksi kulit atau otitis eksterna, alat pelindung telinga tidak boleh dipakai.1,3 Pengukuran bising dalam ISS dilakukan setiap 1 2 kali dalam sebulan dan jika ada permintaan dari astronot ISS. Alat yang digunakan ISS Sound Level Meter (SLM) dan ISS Acoustic Dosimeter yang dipakai oleh para astronot. 4,5

BAB III PEMBAHASAN


3.1. Aeromedical Examination4 Pemeriksaan telinga dilakukan dengan audiometri nada murni, namun dianggap kurang praktis karena berat dan membutuhkan headset tersendiri. Alternatif lainnya adalah dengan otoacustic emission (OAE) untuk melihat sinyal psikologis yang muncul dari getaran sel rambut di koklea dan diukur dengan mikrofon yang diletakkan di kanal telinga. Ada dua tipe OAE, yaitu transient evoked otoacoustic emissions (TEOAE) dan distortionproduct otoacoustic emissions (DPOAE) yang lebih peka terhadap frekuensi. OAE dapat digunakan untuk melihat potensi kerusakan yang tidak dapat dideteksi oleh audiometri nada murni dan mengetahui individu yang rentan terhadap bising. Selain itu, untuk kepentingan klinis OAE juga berguna untuk screening, monitoring, menghitung hilangnya pendengaran dan membantu diagnosis diferensial. Kelebihan dari OAE adalah dapat digunakan dengan cepat oleh mereka yang belum berpengalaman, individu yang diperiksa tidak perlu dalam keadaan sadar, pemeriksaan lebih objektif, dan dapat dilakukan dalam lingkungan yang bising. Kekurangan OAE adalah sulit untuk merekam jika terdapat kelainan pada telinga tengah dan tidak dapat melihat fungsi retrokoklea. 10

3.2. Aeromedical Concern NASA memberikan batasan 85 dBA selama 8 jam adalah berbahaya walaupun durasinya singkat. 5 U.S. Space Station Program (SSP) memiliki spesifikasi NC-50 untuk waktu terjaga dan NC40 untuk waktu tidur.4 Untuk bising impulsif diberikan batas 140 dB dengan waktu 1 detik dan batas hazard 85 dBA untuk bising dengan durasi lebih dari 1 detik.4,5 Penggunaan alat pelindung telinga pada bising yang melebihi 66 dBA selama 24 jam.5

3.3. Aeromedical Recommendation Lingkungan ekstrim dan kabin tertutup dalam ISS menyebabkan para astronot terpajan oleh bising sepanjang hari. Selain penanggulanan pada indera pendengaran, perlu diperhatikan dari mana lokasi bising berasal dan lakukan intervensi terhadap sumber bising: Perhatikan desain pada kontrol mesin. Pergunakan material peredam suara. Pemakaian alat pelindung telinga seperti ear plug, ear muff atau headset dengan ANR. Edukasi mengenai bising dan alat pelindung telinga, seperti penjelasan tentang mendengarkan musik melalui headset untuk menutupi bising justru akan meningkatkan kemungkinan terjadinya tuli akibat bising.

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Direktorat Kesehatan TNI AU. Buku Dasar-dasar Ilmu Kesehatan Penerbangan Jilid 1. Jakarta: Direktorat Kesehatan TNI AU; 1995. pp 125 139. 2. Rainford DJ, Gradwell DP, eds. Ernstings Aviation Medicine. Great Britain: Hodder Education; 2006. pp 395 415. 3. International Civil Aviation Organization (ICAO). Manual of Civil Aviation Medicine. [cited 2013 Feb 22]. Available from: http://www.icao.int/publications/Documents/8984_cons_en.pdf 4. Barrat MR, Pool SL, eds. Principles of Clinical Medicine for Space Flight. New York: Springer Science+Business Media, LLC; 2008. pp 521 532. 5. Davis JR et al, eds. Fundamental of Aerospace Medicine. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008. pp 123 140. 6. NASA. Facts and Figures ISS. [cited 2013 Feb 22]. Available from: http://www.nasa.gov/mission_pages/station/main/onthestation/facts_and_figures.html 7. Clement G. Fundamentals of Space Medicine. 2nd ed. New York: Springer Science+Business Media, LLC; 2011. pp 108 110.

12