Anda di halaman 1dari 6

Nama: Adimas Lukminto J. K.

NPM: 1006667825 ESAI Urgensi Inisiasi Program Promosi K3 di Tempat Kerja Dilihat Dari Aspek Bisnis, HAM, dan Legalitas. Sejak lama sudah diketahui bahwa pekerjaan dapat mengganggu kesehatan, dan sebaliknya kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Obyektif pengembangan ilmu dan pelaksanaan upaya K3 adalah menciptakan aktivitas kerja yang aman dan sehat (healthy and safe work). Pencapaian obyektif ini pada awalnya ditempuh dengan melakukan perlindungan terhadap pekerja melalui hirarki pengendalian dan manajemen risiko yang timbul akibat interaksi antara pekerja dan pekerjaan (material dan peralatan). Pemerintah melalui seperangkat peraturan perundang-undangan dan standar kerja mewajibkan pemberi kerja untuk bertanggung jawab dalam pemeliharaan lingkungan kerja dan prosedur kerja yang aman, serta memberikan pengobatan, rehabilitasi dan kompensasi bagi pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja (KAK) dan atau penyakit akibat kerja (PAK). Beberapa dekade belakangan ini, banyak manajemen telah menyadari bahwa pekerja cacat, tidak mampu bekerja dan kemangkiran dapat menimbulkan biaya dan kerugian yang sangat signifikan, sehingga mereka memulai menginisiasi program proteksi dan promosi kesehatan di tempat kerja. Program proteksi dan promosi kesehatan yang dilakukan semakin hari semakin komprehensif, tidak hanya bagi pekerja tetapi juga bagi keluarganya. Secara bahasa, kata promosi berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu promote yang artinya meningkatkan pangkat (derajat). Promosi kesehatan adalah suatu proses untuk meningkatkan kemampuan orang dalam mengendalikan dan meningkatkan kesehatannya. Untuk mencapai keadaan sehat, seseorang atau kelompok arus mampu mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah atau mengendalikan lingkungan (Piagam Ottawwa, 1986). Green (1980) dalam Modjo (2007) mendefinisikan promosi kesehatan di tempat kerja

sebagai ilmu dan seni untuk menolong pekerja mengubah gaya hidup mereka agar bergerak menuju status kesehatan dan kapasitas kerja yang optimal, sehingga berkontribusi bagi kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, dan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas perusahaan. Kesehatan optimal adalah derajat tertinggi dari kesejahteraan fisik, emosional, mental, sosial, spiritual dan ekonomi. Kapasitas kerja optimal adalah kemampuan untuk bekerja dengan kuat dan senang tanpa kelelahan yang berarti, dengan masih tersedia energi untuk menyenangi hobi, aktivitas rekreasi dan menghadapi gawat darurat yang tak terduga. Perubahan gaya hidup dapat dimudahkan dengan kombinasi upaya aktifitas organisasi, pendidikan dan lingkungan yang mendukung praktek hidup sehat. Pengertian di atas mengungkapkan bahwa promosi kesehatan penting diadakan di tempat kerja karena dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas perusahaan. Produktivitas perusahaan merupakan goal penting perusahaan dalam mencapai final goal yaitu memperoleh keuntungan finansial perusahaan secara maksimal yang merupakan keuntungan pada aspek bisnis (ekonomi) dalam menerapkan program promosi kesehatan di tempat kerja. Tentunya ini disertai dengan komitmen tinggi dari top menejemen perusahaan. Program promosi kesehatan di tempat kerja, semula akan menjauhkan pekerja dari risiko kesakitan dan menurunkan tingkat absentisme. Dengan begitu, biaya yang terbuang akibat dari jam kerja yang hilang dapat dikendalikan. Biaya pengobatan pekerja yang sakit dan biaya turn over pekerja juga dapat ditekan. Semua biaya laten perusahaan tersebut di atas dapat ditekan dengan pengadaan program promosi kesehatan di tempat kerja. Di tambah lagi dengan moral pekerja yang berupa motivasi dan semangat bekerja meningkat akibat penerapan program. Kesemuanya akan mengiring perusahaan pada peningkatan produktivitas perusahaan yang berujung pada keuntungan finansial perusahaan. Aspek kedua yang menjadi dasar perlunya inisiasi program promosi kesehatan di tempat kerja adalah pemenuhan HAM pekerja. Pekerja bekerja bukan untuk sakit. Mereka berhak untuk tetap sehat ketika berada di tempat kerja walaupun bahaya yang berada di sekitarnya tak terhindarkan. Dengan program promosi kesehatan di tempat

kerja diharapkan pekerja dapat terlindungi dari penyakit-penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. Penyakit-penyakit tersebut meliputi penyakit infeksi maupun penyakit degenaratif. Dikaitkan dengan pemenuhan gizi di tempat kerja, penyakit infeksi terjadi pada pekerja lapangan yang biasanya kekurangan asupan gizi sedangkan penyakit degeneratif banyak terjadi pada pekerja yang tidak banyak bergerak dan dengan asupan gizi berlebih (Modjo, 2007). Maka dari itu perlu digalakan programprogram gizi kerja yang merupakan contoh program promosi kesehatan di tempat kerja agar kejadian seperti di atas dapat dikendalikan. Program promosi kesehatan di tempat kerja menjadi promotor pembentukan perilaku sehat pekerja. Dalam jangka panjang, ini dimaksudkan agar tercipta paradigma sehat pada pekerja, bukan lagi memakai paradigma sakit. Paradigma sehat berarti bahwa kesehatan pekerja harus diperjuangkan sendiri oleh pekerja. Dalam paradigma sehat, diharapakan pekerja menjadi subjek atas status kesehatannya, bukan lagi sebagai objek. Pekerja jangan lagi menunggu untuk sakit kemudian meminta pengobatan di klinik tempat kerja. Paradigma sehat ini didasarkan pada teori Blum (1980) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang. Menurut Blum, status kesehatan ditentukan oleh empat faktor yaitu hereditas (10%), lingkungan (51%), perilaku (20%), dan pelayanan kesehatan (19%). Pelayanan kesehatan yang telah diupayakan oleh pemerintah maupun swasta pada masyarakat atau klinik di tempat kerja sedemikian rupa hanya mempunyai proporsi 19% dalam mempengaruhi status kesehatan seseorang. Faktor yang lebih berpengaruh adalah faktor lingkungan dan perilaku. Maka dari itu intervensi kesehatan lebih diarahkan pada perbaikan kondisi lingkungan dan perubahan perilaku sehingga tercetuslah paradigma sehat. Paradigma sehat yang diterapkan melalui promosi kesehatan di tempat kerja ini diharapkan dapat menjadi landasan ideologi pekerja dalam mencegah penyakitpenyakit degeneratif yang mempunyai faktor resiko berupa perilaku dan gaya hidup. Penyakit degeneratif yang sering terjadi di tempat kerja meliputi penyakit jantung koroner, stroke, MSDs (Musculo Skeletal Disordes), kanker, penyakit paru obstruksi kronik, hipertensi, obesitas, dan diabetes mellitus. Perilaku-perilaku tidak sehat pada

pekerja seperti jarang sarapan, kurang aktivitas fisik, sering begadang, ditambah dengan gaya hidup konsumsi alkohol, rokok secara berlebih, dan makanan tinggi kolesterol dapat menyebabkan gangguan metabolisme yang akhirnya menyebabkan penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif ini seharusnya dicegah karena paling tinggi prevalensi di masyarakat umum dan pekerja (penyakit jantung koroner, hipertensi, dan stroke) dan berperan bagi kematian, kesakitan, dan tak mampu bekerja. Maka dari itu sangatlah penting promosi kesehatan diterapkan di tempat kerja. Selain paradigma sehat, di tempat kerja juga perlu digalakan isu paradigma selamat yang lebih sering disebut sebagai safety culture. Bicara keselamatan, maka berkaitan dengan kecelakaan. Kecelakaan merupakan kondisi yang terjadi secara seketika, tidak seperti penyakit (kesehatan) yang terjadi membutuhkan waktu sehingga isu ini tidak kalah pentingnya dengan isu kesehatan kerja. Isu mengenai safety culture dilatarbelakangi oleh kurangnya kesadaran pekerja mengenai bahaya di tempat kerja yang dapat menyebabkan kecelakaan yang ditandai dengan besarnya angka kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja di Indonesia pada tahun 2011 berjumlah 96.400 kecelakaan. Dari 96.400 kecelakaan kerja yang terjadi, sebanyak 2.144 diantaranya tercatat meninggal dunia dan 42 lainnya cacat. Sampai dengan September 2012 angka kecelakaan kerja masih tinggi yaitu pada kisaran 80.000 kasus kecelakaan kerja (finance.detik.com). Keselamatan tidak hanya berhenti pada tidak adanya kecelakaan akan tetapi diharapkan dapat menjadi sebuah nilai atau ideologi yang ada pada pekerja saat menjalankan pekerjaannya. Keselamatan dapat menjadi sebuah budaya di tempat kerja sehingga selamat selalu menjadi prioritas utama. Hal ini dapat tercipta melalui program promosi K3 di tempat kerja safety promotion and communication. Kegiatan memperjuangkan paradigma sehat dan selamat di tempat kerja melalui program promosi K3 di tempat kerja akan berbuah manis pada citra perusahaan yang berangsur baik. Citra baik perusahaan dapat dilihat dari minimnya kejadian kecelakaan kerja ataupun penyakit akibat kerja. Citra baik perusahaan akan

membawa keuntungan tersendiri bagi perusahaan seperti semakin banyak perusahaan lain yang mengajak kerjasama dan meningkatkan keuntungan finansial perusahaan. Aspek ketiga yang menjadikan promosi K3 di tempat kerja penting adalah pemenuhan peraturan perundang-undangan (aspek legalitas). Pada pertemuan WHO Expert Committee on Health Promotion in Worksetting tahun 1988, menekankan bahwa promosi kesehatan pekerja merupakan komponen penting dari pelayanan kesehatan kerja. Tahun 1995, WHO kembali menegaskan bahwa prinsip K3 tidak terbatas pada upaya pencegahan dan pengendalian efek buruk terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja, tetapi telah bergerak maju pada upaya promosi kesehatan, peningkatan lingkungan kerja, dan organisasi kerja. Hal ini sejalan dengan ruang lingkup kesehatan kerja. Berikut merupakan landasan hukum kesehatan kerja yang termasuk di dalamnya promosi kesehatan di tempat kerja: 1. Undang-undang No. 14 Tahun 1969 Mengenai Ketentuan Pokok Tenaga Kerja. Pasal 10 ayat 2 Norma kesehatan kerja Hygiene perusahaan meliputi: pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, 2. Undang-undang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Dalam ruang lingkup jaminan pemeliharaan kesehatan, dijelaskan bahwa pengusaha berkewajiban mengadakan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja yang meliputi upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif). Dengan demikian diharapkan tercapainya derajat kesehatan tenaga kerja yang optimal. Selain itu, jaminan pemeliharaan kesehatan tidak hanya diperuntukkan kepada tenaga kerja saja melainkan juga untuk keluarga yang bersangkutan. 3. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pasal 165 ayat 2, Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan, dan pemulihan bagi tenaga kerja. Beberapa penjelasan di atas mengindikasikan bahwa inisiasi program promosi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di tempat kerja sangatlah penting, baik dilihat

dari aspek bisnis (ekonomi), aspek pemenuhan HAM, maupun aspek pemenuhan peraturan perundang-undangan (legalitas).

DAFTAR PUSTAKA Modjo, Robiana. 2007. Modul Promosi K3. Jakarta: UI Press. USU Repository. 2007. Manajemen Kesehatan Kerja. [online], Dari: http://library.usu.ac.id/download/ft/07002748.pdf (30 desember 2012) Nurhayat, Wiji. 16 oktober 2012. Angka Kecelakaan Kerja di RI Masih Tinggi. [online], Dari: http://finance.detik.com (30 desember 2012) Anonim. 2012. Program Promosi Kesehatan Pekerja. [online], Dari: http://jurnalk3.com/program-promosi-kesehatan-pekerja-2.html (30 desember 2012) Anonim. 2012. Bagaimana Sejarah Promosi Kesehatan Di Dunia. [online], Dari: http://jurnalk3.com/bagaimana-sejarah-promosi-kesehatan-di-dunia.html (30 desember 2012) Anonim. 2011. Resume Laporan diskusi PBL Blok Manajemen Kesehatan, modul 1.[online], Dari: http://dc301.4shared.com/doc/dKxi6lQ3/preview.html (30 desember 2012).