Anda di halaman 1dari 19

Laporan Prakti kum

Material Teknik
Modul C Uji Puntir

oleh:

Nama : Dini Adilah Prabowo
NIM : 13111075
Kelompok : 7
Anggota (NIM) : 1. Rafiandy (13111023)
2. Caesar Esarogo (13111027)
3. Novianto Arif Setiawan (13111029)
4. M. Suyudhi Suryakusuma (13111037)
5. Dini Adilah Prabowo (13111075)
6. Arya Wijaya (13111094)
7. Muhammad Ihsan (13111113)
8. Steven (13111121)
Tanggal Praktikum : 26 Maret 2013
Tanggal Penyerahan Laporan : 1 April 2013
Nama Asisten (NIM) : Agung (13709004)



Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material
Progam Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ada dua jenis tegangan yang dapat bekerja pada suatu material, yaitu
tegangan normal dan tegangan geser. Keberadaan hanya salah satu di antara
keduanya atau keduanya akan menghasilkan respon yang berbeda-beda. Pada
tegangan normal ada tegangan akibat gaya uniaksial juga akibat momen lentur,
sedangkan pada tegangan geser ada tegangan akibat gaya geser juga akibat
momen puntir. Contoh nyata perbedaan respon yang dapat terlihat adalah pada
deformasi yang terjadi. Pada percobaan uji puntir ini akan terbukti perbedaan
tersebut. Pada akhirnya akan menimbulkan perbedaan kekuatan suatu material,
tingkat modulus elastisitas material, durasi terjadinya kegagalan, dan sifat lainnya.

2. Tujuan Praktikum

1) Mengetahui standar dan prosedur uji puntir.
2) Mengetahui pengaruh tegangan geser terhadap sifat mekanik material.
3) Mampu menghitung besaran-besaran sifat mekanik material dari uji puntir.
4) Memahami mekanisme terbentuknya patahan material oleh tegangan geser.

BAB II
TEORI DASAR

Sifat-sifat mekanik yang dapat diukur dari uji puntir adalah modulus geser (G),
ultimate torsional shearing strength (Ssut), dan yield torsional shearing strength (Ssy).
Berikut adalah penjelasan mengenai sifat-sifat tersebut:
a. Modulus geser
Tingkat keelastisan suatu material dalam menerima momen puntir, di mana dengan
mereferensikan kurva tegangan geser (akibat momen puntir) terhadap deformasi
sudut dapat dihitung harganya, menggunakan persamaan:
=G (1)
dengan: adalah tegangan geser akibat momen puntir
G adalah modulus geser
adalah besarnya deformasi sudut
b. Ultimate torsional shearing stength (modulus of rupture)
Tegangan geser (akibat momen puntir) terbesar yang dapat dicapai selama uji puntir
sebelum spesimen mengalami kegagalan. Nilainya bisa dihitung dari nilai Sut yang
diperoleh dari uji tarik pada material yang sama.
c. Yield torsional shearing strength
Kekuatan luluh yang dimiliki material dari uji puntir. Ketika tegangan yang diterima
melebihi nilai Ssy ini material akan mulai terdeformasi plastis. Nilainya juga bisa
dihitung dari nilai Sy yang diperoleh dari uji tarik pada material yang sama. Selain itu
bisa juga digunakan offset 0,4 rad/m pada kurva -.

Spesimen pada uji puntir ini serupa dengan pada uji tarik, namun di mesin yang
digunakan dalam uji tarik spesimen diletakkan vertikal, berbeda dengan pada uji puntir
yang diletakkan horizontal. Momen puntir hanya diberikan pada salah satu ujung
spesimen saja, karena pembebanan pada kedua ujung akan memberikan hasil sudut
puntir yang tidak konstan. Bantuan sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur
sudut puntir dan jumlah putaran yang terjadi sebelum kegagalan adalah dengan
membuat garis lurus dengan tinta pada spesimen sebelum pengujian. Berikut ini adalah
gambar spesimen pada uji puntir.

Gambar 3.1 Spesimen uji puntir

Dalam perhitungan sifat-sifat mekaniknya dibutuhkan beberapa persamaan, di
antaranya:
1. Momen puntir: cJA
c
0
=
:
c
c
2
JA
c
0

dengan c
2
JA
c
0
adalah momen inersia polar (J ), maka:
M =
:]
c
, maka didapat tegangan geser akibat momen puntir adalah:
=
M1C
]
(2)
dengan c adalah jarak titik yang ditinjau terhadap pusat penampang
J adalah momen inersia polar penampang
Persamaan ini hanya berlaku selama fase elastis
Untuk momen puntir pada fase plastis didapat dari:
Diketahui bahwa regangan geser didapat dari =r dan =/ L, maka
M = rJA

0
=2n r
2
Jr

0

Kini didapat bahwa tegangan geser adalah fungsi dari regangan geser, =f().
Kemudian didapat persamaan:
3 H(0
i
)
2
+(0
i
)
3
JH
J0
=2nr
3
(0
i
)
2


Didapat pula:

=
1
2n
3
[0
i
dM:
d0
|
+3H
Dengan bantuan kuva berikut, persamaan tersebut menjadi:

=
1
2n
3
(BC +3C)

Gambar 3.2 Kurva momen puntir terhadap sudut putar
2. Momen inersia polar: c
2
JA

0
= c
2
J(nc
2
)

0

J = 2 c
3
Jc
c
0

J =
nc
4
2
(3)
dengan r merupakan jarak terjauh dari pusat penampang (spesimen memiliki
penampang lingkaran dengan r adalah jari-jari) maka akan didapat nilai J terbesar
adalah pada permukaan spesimen.
J max =
n
4
2

=
M1r
nr
4
2
dengan M terbesar, maka akan diperoleh:
=
2M1

3

3. Regangan geser: =
dq C
dL
(4)
dengan adalah regangan geser
d adalah perubahan sudut
C adalah jarak titik yang ditinjau terhadap pusat penampang
dL adalah perubahan panjang
4. Sudut putar: =
dq C
dL
=
y L
C
, dengan =G dan =
1C
]

=
1L
]u
(5)

Pengujian untir dengan tarik memilik perbedaan yang sangat mendasar. Berikut ini
adalah perbedaannya.

Uji Tarik Uji Puntir


Perbedaan dari uji tarik dan uji puntir juga dapat dibuktikan dari diagram Mohr yang
berbeda.
1. Uji puntir







max

max

3

45
o








2. Uji tarik








Perbedaan kegagalan pada material ulet dan getas juga dapat dijelaskan mengenai
diagram Mohr tersebut.
1. Material ulet
Material ulet mengalami kegagalan akibat tegangan geser. Pada pembebanan
puntir,
max
bergerak menuju -
max
dengan sudut 2 = 180
o
sama dengan 90
o
. Pada
pembebanan tarik memilik
max
sudut 2 = 90
o
sama dengan 45
o
terhadap sumbu .

(a) (b)
Gambar 3.3 Bentuk patahan pada material ulet akibat (a) uji puntir dan (b) uji tarik
2. Material getas
Material getas mengalami kegagalan akibat tegangan normal. Pada pembebanan
puntir,
max
bergerak menuju
max
dengan sudut 2 = 90
o
sama dengan 45
o
. Pada
pembebanan tarik
max
memilik sudut 2 = 180
o
sama dengan 90
o
terhadap sumbu

.


(a) (b)
Gambar 3.4 Bentuk patahan pada material getas akibat (a) uji puntir dan (b) uji tarik
(+)
(+)
1
3
1
3
Pada keadaan awal hanya ada tegangan
geser maksimum, yang ketika dibuat
menjadi principal normal stress terbentuk
arah tekan dan tarik dan nilai tegangan
geser menjadi 0.
(-)
(+)
1
3

max

Hanya ada satu tegangan normal bekerja
yaitu dalam bentuk tarikan (
1
).
Karena uji puntir sebenarnya merupakan berasal dari uji tarik, maka bisa dibuat
perbandingan di antara keduanya. Maka itu dapat dianalisis apa keuntungan dan
kekurangan tiap uji.
Keuntungan uji tarik:
Pengolahan data lebih mudah
Lebih mudah mengukur kekuatan luluh
Keuntungan uji puntir:
Hasil pengukuran mengenail plastisitas lebih mendasar
Tidak terjadi necking mempermudah perhitungan deformasi regangan
Laju regangan yang diperoleh tinggi dan konstan
Dapat dilihat pula perbedaan di antara uji tarik dan uji puntir, dilihat dari kurva berikut ini,
bahwa kurva pada uji puntir akan memiliki gradien yang lebih besar (lebih curam)
dibandingkan uji tarik, pada material yang sama. Hal ini menunjukkan pada uji puntir
lebih cepat mencapai nilai
max
, sedangkan pada uji tarik lebih cepat mencapai
max
.

Gambar 3.5 Perbedaan kurva uji puntir dan uji tarik

Dalam memperhitungkan kegagalan ada beberapa kriteria yang digunakan. Untuk
material ulet, digunakan dua kriteria, yaitu:
1. Teori Tegangan Geser Maksimum (biasa disebut kriteria Tresca)
Disebutkan bahwa: kegagalan akan terjadi ketika tegangan geser terbesar yang
diterima suatu spesimen adalah sama atau lebih besar dari tegangan geser yang
diterima spesimen lain dengan material yang sama pada saat terjadi kegagalan
statik. Dalam hal ini kekuatan luluh lah yang dilihat. Kekuatan luluh material akibat
tegangan geser bernilai setengah dari kekuatan luluh material akibat tegangan
normal (Ssy =0,5 Sy), dan pada uji puntir max =max, maka:
N =
Ss
:
mcx

=
0,5 S
|c
1
- c
3
|
=
S
2 |c
1
- c
3
|
(6)
dengan N adalah faktor keamanan
1 dan 3 adalah tegangan yang bekerja pada bidang 1 dan bidang 3
Sedangkan pada uji tarik:
N =
Ss
:
mcx

=
0,5 S
0,5 |c
1
- c
3
|
=
S
|c
1
- c
3
|
(7)
2. Teori Energi Distorsi (biasa disebut kriteria Von Mises-Hencky)
Disebutkan bahwa: kegagalan akan terjadi ketika energi distorsi per unit volume
pada suatu spesimen adalah sama atau lebih besar dari energi distorsi per unit
volume pada spesimen lain dengan material yang sama pada saat terjadi kegagalan
statik.
U =Ud +Uh, dengan U adalah energi regangan total, Ud adalah energi regangan
akibat adanya distorsi, dan Uh adalah energi regangan akibat beban hidrostatik.
U = = (11 +22 +33) (dengan tegangan bekerja di 3 sumbu)
dengan: 1 =
1
L
(1 - v2 - v3); 2 =
1
L
(2 v1 - v3); 3 =
1
L
(3 v1 v2)
U =
1
2L

[1
2
+ 3
2
+ 3
2
- 2v(12 +23 +13)]
Dengan Uh selalu sama nilainya sedangkan Ud tidak sama. Maka didapat:
Ud =
1+
3L
[1
2
+ 3
2
+ 3
2
- 12 - 23 - 13] =
1+
3L
Sy
2
Sy =o1
2
+ o2
2
+ o3
2
12 2313
Pada kriteria Von Mises ini ada yang disebut Tegangan Efektif Von Mises, yaitu
tegangan tarik unikasial yang dapat menghasilkan energi distorsi yang sama dengan
yang dihasilkan oleh kombinasi tegangan yang bekerja.
=o1
2
+ o2
2
+ o3
2
12 2313 (8)
=
_
(o
x
- o
y
)
2
+ (o
y
- o
z
)
2
+ (o
z
- o
x
)
2
+ 6(:
xj

2
+ :
jz
2
+ :
zx
2
)
2

Untuk kasus 2 dimensi 2 =0, maka:
=o1
2
+ o3
2
13
=ox
2
+ oy
2
oxoy +3xy
2
(9)
Maka faktor keamanannya adalah: N =
S
ci
(10)
Pada uji puntir max =1 =- 3, 2 =0
Sy =3o1
2
=3 max max =Ssy =
S
3
=0,577 Sy
BAB III
DATA DAN PENGOLAHAN DATA

A. Data

Spesimen : St37
Gage length : 80,0 mm
Diameter : 7,25 mm
Kecepatan : 0,28 putaran/s
Diameter patahan : 7,00 mm
Mesin uji : Tarno Grocki
Kekerasan rataan : 46,6 HRA
J umlah puntir : 4,5 putaran
Kekerasan akhir : 55 HRA

Tabel 3.1 Data hasil praktikum
Time
(s) Voltage (V) Putaran (radian) ' (radian) (radian) M (Nm) (MPa)
0 0,03222656 0 0 0 0 0,34998047 4,67735039
0,55 1,40238281 0,154 0,96761054 12,0951317 0,04384485 15,2298773 203,541278
1,04 2,05839844 0,2912 1,82966356 22,8707945 0,08290663 22,354207 298,755122
1,54 2,52601563 0,4312 2,7093095 33,8663688 0,12276559 27,4325297 366,624892
2,03 2,8865625 0,5684 3,57136253 44,6420316 0,16182736 31,3480688 418,95452
2,52 3,15398438 0,7056 4,43341555 55,4176944 0,20088914 34,2522703 457,768024
3,02 3,40675781 0,8456 5,3130615 66,4132687 0,2407481 36,9973898 494,455459
3,51 3,60792969 0,9828 6,17511452 77,1889315 0,27980988 39,1821164 523,653464
4,01 3,79484375 1,1228 7,05476046 88,1845058 0,31966883 41,2120031 550,782096
4,5 3,97667969 1,26 7,91681349 98,9601686 0,35873061 43,1867414 577,173691
5 4,13609375 1,4 8,79645943 109,955743 0,39858957 44,9179781 600,310984
5,54 4,28804688 1,5512 9,74647705 121,830963 0,44163724 46,5681891 622,365399
6,04 4,44242188 1,6912 10,626123 132,826537 0,4814962 48,2447016 644,771324
6,53 4,57570313 1,8284 11,488176 143,6022 0,52055798 49,6921359 664,115711
7,03 4,69175781 1,9684 12,367822 154,597775 0,56041693 50,9524898 680,959842
7,52 4,82167969 2,1056 13,229875 165,373437 0,59947871 52,3634414 699,816651
8,02 4,86425781 2,2456 14,1095209 176,369012 0,63933767 52,8258398 705,996423
8,51 4,13085938 2,3828 14,971574 187,144674 0,67839944 44,8611328 599,551269
9 4,40722656 2,52 15,833627 197,920337 0,71746122 47,8624805 639,663091
9,5 4,94921875 2,66 16,7132729 208,915911 0,75732018 53,7485156 718,327619
10,05 4,45410156 2,814 17,6808835 221,011043 0,80116503 48,371543 646,46651
10,54 4,99902344 2,9512 18,5429365 231,786706 0,84022681 54,2893945 725,556251
11,04 5,1015625 3,0912 19,4225824 242,78228 0,88008577 55,4029688 740,43873
11,53 5,09863281 3,2284 20,2846354 253,557943 0,91914754 55,3711523 740,013516
12,03 5,20410156 3,3684 21,1642814 264,553517 0,9590065 56,516543 755,321208
12,52 4,74511719 3,5056 22,0263344 275,32918 0,99806828 51,5319727 688,7044
13,01 5,21679688 3,6428 22,8883874 286,104843 1,03713006 56,6544141 757,163801
13,51 5,18261719 3,7828 23,7680334 297,100417 1,07698901 56,2832227 752,202975
14 5,37011719 3,92 24,6300864 307,87608 1,11605079 58,3194727 779,416649
14,5 5,40722656 4,06 25,5097324 318,871654 1,15590975 58,7224805 784,802689
15,05 4,73925781 4,214 26,4773429 330,966786 1,1997546 51,4683398 687,853973
15,54 4,94335938 4,3512 27,3393959 341,742449 1,23881638 53,6848828 717,477192
16,04 4,69726563 4,4912 28,2190419 352,738023 1,27867533 51,0123047 681,759244
16,53 5,453125 4,6284 29,0810949 363,513686 1,31773711 59,2209375 791,46437
17,02 5,38183594 4,7656 29,9431479 374,289349 1,35679889 58,4467383 781,117504
17,52 4,7421875 4,9056 30,8227938 385,284923 1,39665785 51,5001563 688,279187
18,01 4,86914063 5,0428 31,6848469 396,060586 1,43571962 52,8788672 706,705112
18,51 3,57324219 5,1828 32,5644928 407,05616 1,47557858 38,8054102 518,618934
19 0,015625 5,32 33,4265458 417,831823 1,51464036 0,1696875 2,26780622

Tabel 3.2 Data Tresca dan Von Mises
Tresca Von-Mises Tresca Von-Mises
(MPa) (MPa) log log log log
9,3547008 0 8,1014085 0 0,9710299 - 0,9085605 -
407,08256 0,0219224 352,54383 0,0253138 2,6096825 -1,659111 2,5472131 -1,596642
597,51024 0,0414533 517,45905 0,0478662 2,7763454 -1,382441 2,713876 -1,319971
733,24978 0,0613828 635,01294 0,0708787 2,8652519 -1,211953 2,8027826 -1,149484
837,90904 0,0809137 725,65052 0,0934311 2,9231969 -1,091978 2,8607275 -1,029509
915,53605 0,1004446 792,87748 0,1159834 2,9616754 -0,998074 2,8992061 -0,935604
988,91092 0,120374 856,42198 0,138996 2,9951572 -0,919467 2,9326878 -0,856998
1047,3069 0,1399049 906,99441 0,1615483 3,020074 -0,854167 2,9576046 -0,791698
1101,5642 0,1598344 953,98257 0,1845609 3,0420098 -0,79633 2,9795404 -0,73386
1154,3474 0,1793653 999,69416 0,2071132 3,0623365 -0,746262 2,9998672 -0,683792
1200,622 0,1992948 1039,7691 0,2301258 3,0794063 -0,700504 3,0169369 -0,638035
1244,7308 0,2208186 1077,9685 0,2549794 3,0950754 -0,655964 3,0326061 -0,593495
1289,5426 0,2407481 1116,7767 0,277992 3,1104357 -0,618437 3,0479663 -0,555968
1328,2314 0,260279 1150,2822 0,3005443 3,1232738 -0,584561 3,0608044 -0,522092
1361,9197 0,2802085 1179,457 0,3235569 3,1341515 -0,552519 3,0716821 -0,490049
1399,6333 0,2997394 1212,118 0,3461092 3,1460143 -0,523256 3,0835449 -0,460787
1411,9928 0,3196688 1222,8217 0,3691218 3,1498325 -0,4953 3,0873631 -0,43283
1199,1025 0,3391997 1038,4533 0,3916741 3,0788563 -0,469545 3,016387 -0,407075
1279,3262 0,3587306 1107,929 0,4142264 3,1069813 -0,445232 3,0445119 -0,382762
1436,6552 0,3786601 1244,1799 0,437239 3,1573526 -0,42175 3,0948832 -0,359281
1292,933 0,4005825 1119,7128 0,4625528 3,111576 -0,397308 3,0491067 -0,334839
1451,1125 0,4201134 1256,7003 0,4851052 3,1617011 -0,376633 3,0992317 -0,314164
1480,8775 0,4400429 1282,4775 0,5081178 3,1705191 -0,356505 3,1080498 -0,294036
1480,027 0,4595738 1281,741 0,5306701 3,1702696 -0,337645 3,1078003 -0,275175
1510,6424 0,4795033 1308,2547 0,5536827 3,1791617 -0,319208 3,1166923 -0,256739
1377,4088 0,4990341 1192,871 0,576235 3,1390629 -0,30187 3,0765935 -0,2394
1514,3276 0,518565 1311,4462 0,5987873 3,1802198 -0,285197 3,1177505 -0,222727
1504,4059 0,5384945 1302,8538 0,6217999 3,177365 -0,268819 3,1148957 -0,206349
1558,8333 0,5580254 1349,9892 0,6443522 3,1927997 -0,253346 3,1303303 -0,190877
1569,6054 0,5779549 1359,3181 0,6673648 3,1957905 -0,238106 3,1333211 -0,175637
1375,7079 0,5998773 1191,398 0,6926786 3,1385262 -0,221938 3,0760569 -0,159468
1434,9544 0,6194082 1242,7069 0,715231 3,1568381 -0,208023 3,0943687 -0,145554
1363,5185 0,6393377 1180,8416 0,7382435 3,134661 -0,19427 3,0721917 -0,1318
1582,9287 0,6588686 1370,8565 0,7607959 3,1994614 -0,181201 3,136992 -0,118732
1562,235 0,6783994 1352,9352 0,7833482 3,1937464 -0,168515 3,131277 -0,106045
1376,5584 0,6983289 1192,1345 0,8063608 3,1387946 -0,15594 3,0763253 -0,093471
1413,4102 0,7178598 1224,0492 0,8289131 3,1502682 -0,14396 3,0877989 -0,081491
1037,2379 0,7377893 898,27434 0,8519257 3,0158784 -0,132068 2,953409 -0,069598
4,5356124 0,7573202 3,9279556 0,874478 0,6566359 -0,12072 0,5941666 -0,058251

B. Pengolahan Data
1. Gambar 3.6 Kurva momen puntir terhadap sudut putar

2. Gambar 3.7 Kurva momen puntir terhadap




0
10
20
30
40
50
60
70
0 5 10 15 20 25 30 35
M
o
m
e
n

p
u
n
t
i
r

(
N
m
)
Sudut putar (rad)
0
10
20
30
40
50
60
70
0 100 200 300 400 500
M
o
m
e
n

p
u
n
t
i
r

(
N
m
)
' (rad/m)
3. Gambar 3.8 Kurva tegangan geser terhadap regangan geser

4. Gambar 3.9 Kurva Tresca dan Von Mises



0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
0 0,5 1 1,5 2
T
e
g
a
n
g
a
n

g
e
s
e
r

(
M
P
a
)
Regangan geser (rad)
y =1288,3x +774,35
y =966,21x +670,61
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
0 0,5 1
S
h
e
a
r

s
t
r
e
s
s
Shear strain
Tresca
Von Mises
Linear (Tresca)
Linear (Von Mises)
y =0,3227x +3,2648
y =0,3227x +3,1822
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
-2 -1,5 -1 -0,5 0
S
h
e
a
r

s
t
r
e
s
s

(
l
o
g
)
Shear strain (log)
Tresca
Von Mises
Linear (Tresca)
Linear (Von Mises)
Titik proporsional
BAB IV
ANALISIS

A. Pengolahan Data
Pada Tabel 3.1 data awal yang didapat hanyalah durasi (waktu) dan tegangan
listrik (voltase). Dari data yang diketahui dibuatlah berbagai konversi menjadi
besaran lain.
Waktu [s] x kecepatan angular [putaran/s] =jumlah putaran
Putaran x 2 =sudut putar () [rad]
[rad] / panjang spesimen [m] = [rad/m]
[rad/m] x jari-jari spesimen [m] = [rad]
Voltase [volt] x 10,86 (pengali konversi) =momen puntir (M) [Nm]
M [Nm] x jari-jari spesimen [m] x momen inersia polar (J ) [m
4
] =tegangan
geser () [MPa]
Pada Tabel 3.2 data awal yang didapat sama seperti data awal pada Tabel 3.1.
Dari data yang diketahui dan dengan persamaan (yang akan disebut berikut)
didapatkanlah besaran untuk membuat kurva Tresca dan Von Mises.
Pada Tresca, = 2 , didapat dari Ssy =0,5 Sy Sy =2 Ssy.
Pada Von Mises, = 1,733 , didapat dari Ssy =0,577 Sy Sy =1,733 Ssy.
Pada Tresca, = 0,5 , didapat dari Ssy =0,5 Sy.
Pada Von Mises, = 0,577 , didapat dari Ssy =0,577 Sy.

B. Kurva
Pertama dibuat kurva momen puntir terhadap sudut putar () [Gambar 3.6],
untuk melihat hubungan perubahan momen puntir terhadap perubahan sudut putar
yang terjadi. Dibuat pula kurva momen puntir terhadap [Gambar 3.7], untuk
melihat hubungan perubahan momen puntir terhadap perubahan sudut per panjang
spesimen. Ternyata kedua kurva tersebut berbentuk sama, karena antara dengan
memang hanya berbeda dikarenakan pembagian dengan besar panjang awal
spesimen.
Kemudian dibuat kurva tegangan geser terhadap regangan geser [Gambar 3.8],
sebagai proyeksi kurva stress-strain pada uji tarik. Lalu dibuat kurva tegangan geser
sebenarnya terhadap regangan geser sebenarnya, dengan menerapkan teori Tresca
dan Von Mises [Gambar 3.9]. Dibuat juga kurva serupa namun dengan nilai
logaritma, untuk kemudian bisa menentukan kurva linear, yang berguna dalam
mencari konstanta K (strengt coefficient) dan n (strain-hardening exponent).

C. Peningkatan Harga Kekerasan
Terjadi peningkatan harga kekerasan dari 46,6 HRA (sebelum pengujian)
menjadi 55 HRA (setelah pengujian). Serupa pada uji tarik, hal ini terjadi karena
strain hardening. Fenomena ini terjadi akibat adanya deformasi plastis yang
menciptakan penumpukan pergerakan dislokasi pada skala atomik, kemudian energi
yang dibutuhkan untuk menggerakkan atom pun menjadi lebih besar (karena sulit
terjadi slip), berdampak pada meningkatnya harga kekerasan.

D. Bentuk Patahan yang Terjadi
Pada percobaan ini digunakan spesimen dari material ulet. Sesuai dengan
literatur, bentuk patahannya adalah 90
o
terhadap normal axis. Hal ini, jika dilihat dari
digram Mohr terjadi karena adanya perubahan tegangan geser akibat gaya tarik
menjadi tegangan geser akibat gaya tekan, yang besarnya 2 = 180
o
= 90
o
.

E. Letak Patahan
Letak patahan adalah di antara gage length, sesuai dengan literatur. Karena
pada gage length inilah terdapat konsentrasi tegangan akibat luas permukaan
penampangnya yang lebih kecil dari penampang si ujung (tempat yang sipasangkan
pada mesin uji).

F. Spesimen Terasa Panas Setelah Pengujian
Timbulnya rasa panas ini adalah akibat aktivitas dalam skala atomik. Ada
energi berupa panas yang sihasilkan akibat terjadinya gesekan antar-atom ketika
terjadi pergerakan dislokasi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada uji puntir akan didapat beberapa sifat mekanik, yaitu:
Modulus elatisitas: G =
:
y
=
203,541
0,0438
=4647,05 MPa/rad
Modulus of rupture: =
2Mmax

3
=791,464 MPa
Yield torsional shearing strength: dapat dicari dengan rumus yang sama pada
saat mencari modulus of rupture, namun dengan harga momen puntir pada nilai
regangan dengan offset 0,4 rad/m.

Patahan terbentuk seperti pada gambar, dengan spesimen terbuat dari material ulet.

Gambar 3.10 Hasil patahan


LAMPIRAN

Tugas setelah praktikum

1. Buat kurva momen torsi dengan , kemudian buat juga kurva antar momen
torsi dengan . Hitunglah tegangan geser dan regangan geser sebenarnya
dengan menggunakan persamaan a =
1
2aa
3
(BC+3CD). Ambil 8 titik di setiap
kurva untuk mendapatkan tegangan dan regangan gesernya. Setelah itu
dengan kriteria Tresca dan Von Mises buat kurva tegangan dan regangan
sebenarnya.
Kurva momen torsi dengan ditunjukkan pada Gambar 3.6.
Kurva mmomen torsi dengan ditunjukkan pada gambar 3.7.
Kurva tegangan geser dengan regangan geser sebenarnya ditunjukkan pada
Gambar 3.9.

2. Hitung modulus elastisitas geser, kekuatan geser maksimum, serta cari nilai K
dan n dari maerial yang diuji.
a. Modulus elastisitas geser
Ditentukan dari tegangan di titik proporsional, dari Gambar 3.8 dilihat titik
tersebut berada pada =203,541 MPa dan =0,0438 rad.
G =
:
y
=
203,541
0,0438
=4647,05 MPa/rad
b. Kekuatan geser maksimum
=
2Mmax

3
=
2(59,2209375)
(3,62510
-3
)
3
=791,464 MPa
c. Nilai K dan n
Nilai n adalah gradien dari kurva linear log shear stress terhadap log shear
strain. Pada Tresca dan Von Mises nilainya sama, yaitu: n = 0,3227.
Nilai K adalah true shear stress dari kurva yang sama pada = 1. Pada Tresca
K = log
-1
3,5 = 3162,278 MPa; pada Von Mises K = log
-1
3,6 = 3981,072 MPa.

3. Apa kelebihan dan kekurangan uji puntir dibandingkan dengan uji tarik dalam
mendapatkan besaran sifat mekaniknya?
Keuntungan uji tarik:
Pengolahan data lebih mudah
Lebih mudah mengukur kekuatan luluh
Keuntungan uji puntir:
Hasil pengukuran mengenail plastisitas lebih mendasar
Tidak terjadi necking mempermudah perhitungan deformasi regangan
Laju regangan yang diperoleh tinggi dan konstan

4. Analisis bentuk patahan dari hasil uji puntir ini. Apa bedanya dengan patahan
uji puntir untuk material ulet dan getas.
Material ulet mengalami kegagalan akibat tegangan geser. Pada pembebanan
puntir,
max
bergerak menuju -
max
dengan sudut 2 = 180
o
sama dengan 90
o
.
Material getas mengalami kegagalan akibat tegangan normal. Pada pembebanan
puntir,
max
bergerak menuju
max
dengan sudut 2 = 90
o
sama dengan 45
o
.

Tugas tambahan dari asisten

1. Mengapa setalah uji puntir spesimen terasa panas?
Timbulnya rasa panas ini adalah akibat aktivitas dalam skala atomik. Ada energi
berupa panas yang sihasilkan akibat terjadinya gesekan antar-atom ketika terjadi
pergerakan dislokasi.


RANGKUMAN PRAKTIKUM
Setalah uji puntir spesimen akan mengalami kegagalan pada daerah gage length, yang
pada percobaan ini digunakan spesimen dari material ulet, hasil patahan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 3.10. Setelah patah, sesaat terasa panas pada spesimen.
Harga kekerasan spesimen setalah pengujian mengalami kenaikan. Mengenai adanya
perubahan sudut dari uji puntir ini terbukti dari berubahnya garis lurus (terbuat dari tip-ex)
yang dibuat di spesimen sebelum pengujian, menjadi tidak lurus lagi, seperti terpelintir.


DAFTAR PUSTAKA

Dieter, George E. 1988. Mechanical Metallurgy SI Metric Edition. London: Mc-Graw Hill
Book Company.

Norton, Robert L. 2006. Machine Design An Integrated Approach Third Edition. New
J ersey: Pearson Prentice Hall.