Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Secara alamiah susu diartikan sebagai hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai bahan makanan yang aman dan sehat serta tidak kurangi komponen-komponennya atau ditambah bahan-bahan lain. Yang dimaksud dengan hasil olahan susu adalah produk yang dibuat dari susu atau produk-produk suatu perlakuan terhadap susu atau produk-produk yang dibuat dari hasil sisa keduanya. Susu yang baik adalah susu memenuhi persyaratan HAUS (Halal, Aman, Utuh dan Sehat) sebagaimana disyaratkan oleh SNI. Susu merupakan hasil utama dari ternak selain daging yang sangat diminati oleh masyarakat dan susu sangat bermamfaat bagi kebutuhan manusia tetapi juga sangat dibutuhkan oleh anak dari ternak itu sendiri, karena air susu yang pertama kali keluar dari induk mengandung banyak sekali antibody atau pelindung tubuh anak agar tidak mudah terserang oleh berbagai penyakit yang bisa menyebabkan ternak itu cacat atau mati. Untuk mendapatkan susu sapi yang baik yang bermutu tinggi maka perlu dilakukan beberapa langkah pertama pada waktu pemerahan harus mengetahui kapan ternakut siap untuk diperah serta berapa lama pemerahan berlansung kemudian yang kedua pada waktu pemerahan kita harus mengetahui kebersihan dari tempat pemerahan serta kebersihan dari ternak yang diperah karena apabila ternak yang diperah tersebut tidak bersih akan mengganggu kualitas dari air susu tersebut. Pemeriksaan komposisi susu. Susu mengandung komposisi zat makanan yang vital dan penting bagi pertumbuhan tubuh. Komponen penyusun utama air susu adalah air, protein, lemak, karbohidrat, mineral-mineral, dan vitaminvitamin. Dalam 1 liter susu dapat menyediakan kebutuhan manusia perharinya berupa: Ca 100%, P 67%, Vitamin B2 66%, Protein 49%, Vitamin Alan 30%, Vitamin B1 27%, Vitamin C 19%, dan Fe 3%, sedangkan energinya kira-kira 20% untuk perharinya. Susu dengan kualitas 100 % memenuhi unsur gizi yang

seimbang dan tanpa ada sifat penambahan bahan- bahan lain didalamnya (Addeding Maximum Matherials). Pada komposisi susu ini yang terpenting adalah kualitas susu tetapi juga struktur susu dimana kualitas susu yang memenuhi syarat yaitu, berat jenis susu, kadar lemak, kadar protein dan kadar bahan kering pada susu. Hasil-hasil yang ada dapat dilihat pada penjelasan diatas. Ternak perah adalah ternak yang secara genetik mampu menghasilkan susu melebihi kebutuhan anaknya, misalnya sapi, kerbau, kambing dan lain-lain. Susu berupa cairan yang diproduksi oleh kelenjar ambing hewan mamalia betina yang berwarna putih kekuning-kuningan yang tidak tembus cahaya, mempunyai rasa sedikit manis ( berasal dari laktosa ) dan bau yang khas ( berasal dari lemak susu ), bersih, dan kosistensinya homogen tanpa ada bentuk gumpalan. Komposisi utama susu terdiri dari protein, lemak, laktosa, dan mineral. Sebagai bahan pangan, susu dapat digunakan baik dalam bentuk aslinya sebagai satu kesatuan maupun dari bagian-bagiannya. Uji susu sangat penting karena dikerjakan untuk menghindari pemalsuan/sebab-sebab lain yang mengakibatkan susu tidak lagi murni diketahui/diperoleh susu yang bermutu seperti yang dikehendaki oleh Kodex susu. Pengujian mutu susu dikerjakan dengan menentukan sifat-sifat fisisnya, sifat-sifat kimiawinya dan pengujian biologik susu. Susu merupakan sumber protein, sumber energi, sehingga dapat memberikan kepada kita kesehatan, maka dari itu minat beli masyarakat sangat tinggi walaupun harga susu kadang-kadang naik tetapi tidak menyurutkan daya beli masyarakat terhadap produksi susu.

1.2 Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dari pratikum Produksi Ternak Perah ini adalah agar pratikan dapat mengerti serta memahami apa saja yang terkandung dalam air susu ternak perah tersebut baik dari susu sapi, kambing dan lain sebagainya dengan mengetahui berat jenis, kadar bahan kering dengan menggunakan dua metode,, mengetahui kadar lemak, kadar bahan kering tanpa lemak serta komposisi protein yang terdapat dari susu tersebut.

Adapun manfaatnya bagi pratikan adalah pratikan dapat mempelajari bagaimana cara dari pemerikaan komposisi susu tersebut dan pratikan juga dapat mempraktekkannya lansung sehingga dapat memahami dengan benar serta bisa menerapkannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Amiransyah (2008) berpendapat bahwa air susu yang baik atau normal memiliki Bs 1,027 1,031 pada temperatur 27,5o perbedaan BJ yang mencolok harus dikurangi. Amanalis,(2002).yang menyatakan bahwa Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme baik pembusuk maupun pathogen dan pemanasan yang singkat bertujuan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu tersebut, Bambang, (2005) menyatakan bahwa Susu yang normal mempunyai berat jenis minimal 1,0280. Bagus, (2008).yang menyatakan bahwa Susu mengandung kolostrum yang terdiri dari protein dan lemak yang mengandung bahan-bahan antibody yang berperan dalam melindungi ketahanan tubuh terhadap ketahanan oleh serangan penyakit, Bearkley (2000), berpendapat bahwa apabila susu makin encer maka Laktodesimeter akan lebih dalam masuknya ke dalam susu dengan demikian berat jenis susu menjadi turun atau lebih rendah dari pada standar Girisanto R. F, (2003). yang menyatakan bahwa Kadar berat jenis susu yang tidak seimbang ataupun normal dipengaruhi oleh faktor-faktor yang

tertentu, seperti: tingkat viskositas yang tinggi, penuangan susu antar media yang berbeda, intensitas penuangan susu, genetik ternak terhadap susu, buih yang timbul pada permukaan air susu saat pengukuran, serta faktor luar berupa suhu, Hadiwiyoto ( 2005 ) berpendapat bahwa susu mengandung protein ratarata 3,5%. Protein merupakan gabungan dua atau lebih asam-asam amino yang penyusun utamanya adalah atom karbon, atom hydrogen, dan atom nitrogen dan susu yang normal derajat keasamannya sekitar 4 7,5 pH, susu yang rusak derajat keasamannya akan meningkat. Judkins dan Keener (2009) berpendapat bahwa pada prinsipnya penentuan kadar lemak susu menurut Gerber sama saja dengan metoda Babcock. Botol yang

digunakan disebut Butyrometer. Jadi penentuan kadar lemak susu dengan metoda ini juga menggunakan dasar penambahan asam sulfat yang akan memisahkan lemak susu. Mozes, (2008). yang menyatakan bahwa Pengeringan susu pada suhu yang tertentu mengarah langsung pada suhu pengeringan yang tidak stabil, sehingga akan menyebabkan kadar bahan kering susu tersebut nilainya tidak konstan, Poole, (2009). yang menyatakan bahwa Air susu yang dihasilkan melalui suatu proses sekretarit sejati pada bagian awal air susu sapi pada suatu pemerahan mengandung kadar lemak yang sangat renda, sekitar 1 %. Randy, (2007) menyatakan bahwa Dalam ketiadaan pendinginan yang cukup dapat mencegah pertumbuhan bakteri atau ketiadaan sterilisasi panas susu yang memusnahkan setiap bakteri yang ada, kualitas mungkin rusak dengan amat cepat. Raguarti (2010) berpendapat bahwa komposisi susu terdiri dari air, bahan kering, lemak dan protein. Dimana komposisi susu ini mencakup jenis kandungan gizi yang mana bermanfaat bagi kesehatan bagi tubuh hewan maupun manusia. Ressang dan Nasution (2009) berpendapat bahwa berat jenis berubah-ubah menurut lamanya susu dibiarkan. Berat jenis dekat pada saat pemerahan lebih kecil dari pada berat jenis jauh dari saat pemerahan. Hal ini disebabkan oleh memadatnya lemak. Subronto, (2006) menyatakan bahwa nilai yang rendah pada sampel susu dikarenakan ternak tersebut kekurangan gizi, sehingga tidak mencukupi kebutuhan untuk tubuh ternak yang berasal dari bahan kering yang dimakan dan juga korelasi antara kandungan lemak dan nitrogen. SNI 01-3141-1998 menyatakan sesuai standar untuk susu sapi segar kadar lemaknya sekitar 3 % dan ini sudah dilakukan pengujian Laboratorium. Siregar, (2005) menyatakan bahwa susu kambing mengandung lemak sekitar 4,2% lemak tersebut terdapat didalam keadaan emulsi yang tersebar merata dalam susu, dan kalau susu tersebut kita diamkan beberapa lama maka emulsi lemak akan naik ke permukaan susu dan akan membentuk kepala susu.

Siregar, (2008) menyatakan bahwa Larutan yang terbentuk gugus demitinol berarti gugus amino sudah terkait dan tidak akan mempengaruhi reaksi gugusan karboksil (asam) dengan NaOH, sehingga akhir titrasi dapat ditentukan dengan tepat. Syarif, (2006) menyatakan bahwa Berbagai jenis dan bangsa ternak perah berbeda kemampuannya untuk melepaskan karoten dari makanan dan menyimpan ke dalam tubuh dan lemak susu serta protein. Winarto. J. S. (2009) yang menyatakan bahwa.Susu merupakan substrat yang baik untuk pertumbuhan mikroba, karena kadar airnya tinggi, pH-nya netral dan kaya akan zat makanan yang diperlukan oleh mikroba. Susu juga merupakan emulsi lemak dalam air yang mengandung garam-garam mineral, gula, dan protein. Komposisi terbesar terjadi pada kandungan lemak, karena kadar lemak susu sangat dipengaruhi baik oleh faktor internal maupun eksternal.

III. MATERI DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Produksi Ternak Perah dilaksanakan pada hari jumat, 30 November 2012, Pukul 14.00 WIB s/d Selesai bertempat di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

3.2 Materi Adapun materi yang digunakan pada praktikum ini adalah susu sapi segar, laktodensimeter, termometer, gelas ukur 100 ml dan 250 ml, labu erlemeyer 250 ml dan 500 ml, timbangan amalitik skala 0,1 mg, oven temperatur 102 0C, eksikator, cawan gelas dengan penutup diameter 5 cm, H2SO4 pekat (91 92%), Amil alcohol, butyrometer, pipet otomat 1 ml 0,05 ml dan 10 ml, pipet khusus susu 10,75 ml, sentrifus, penagas air.

3.3 Metoda Pada Pengukuran Berat Jenis yaitu: Sampel susu dihomogenkan dengan cara memindahkan dari satu erlemeyer ke erlemeyer yang lain berulang ulang secara hati-hati, sample susu di tuangkan ke dalam gelas ukur melalui dindingnya agar tidak terbentuk buih kemudian lektodensimeter di celupkan ke dalam sample susu secara perlahan-lahan, biarkan timbul dan tunggu sampai lektodensimeter berhenti bergerak (+1 menit). Baca skala yang tertera, catat suhu tera lektodensimeter dan ukur suhu sample susu dengan thermometer. Kemudian di ulangi prosedur di atas sebanyak 2-3 kali. Angka di peroleh dirata-ratakan. Skala yang dibaca pada lektodensimeter menunjukkan decimal 2 dan 3. Decimal ke-4 Dikira-kirakan. Suhu sampel susu harus di antara 20-300C, kemudian di sesuaikan dengan suhu 27,50C. Setiap kenaikan atau penurunan suhu susu 10C, di lakukan penyesuaian koefisien muai susu sebesar 0,0002 kemudian berat jenis susu di peroleh.

Pada Pengukuran Kadar Bahan Kering yaitu: Keringkan cawan dan tutupnya pada oven (1020C) selama 10 menit, masukkan cawan ke dalam eksikator sampai suhunya sama dengan suhu kamar, timbang cawan beserta tutupnya (G1), masukkan 3 ml sampel susu ke dalam cawan beserta tutupnya (G2), masukkan cawan ke dalam oven (102 20C) dan letakkan tutup cawan diamping cawan, biarkan selama 1 jam kemudian keluarkan dari oven dan masukkan cawan yang telah ditutup kembali ke dalam eksikator, setelah cawan dingin (mencapai suhu kamar), timbanglah cawan beserta tutupnya (G3). Pada Pengukuran Kadar Lemak dengan Metode Gerber yaitu: 100 ml H2SO4 pekat dimasukkan ke dalam butyrometer, melalui dinding butyrometer, masukkan 10,75 ml sampel susu secara hati-hati dan 1 ml alkohol, Butyrometer dasumbat samapi rapat, kemudian dikocok dengan arah angka delapan selama 3-5 menit agar bagian-bagian di dalamnya tercampur rata, setelah terbentuk warna ungu tua sampai kecoklatan masukkan butyrometer ke dalam sentrifus dan

pasang sentrifus pada 1200 rpm selama 5 menit, masukkan butyrometer ke dalam penagas air dengan suhu 65oC selama 5 menit, baca skala yang tertera pada butyrometer, skala menunjukkan persentase kadar lemak. Pada pengukuran Kadar Protein Metode Titrasi Formol yaitu terlebih dahulu masukkan 10 ml susu kedalam erlemeyer 125 ml dan tambahkan 20 ml aquades serta 0,4 ml larutan kalium oksalat jenuh dan 1 ml phenolphtalin 2% lalu diamkan selama 2 menit. Kemudian titrasi campuran tersebut dengan NaOH 0,1 N sampai mencapai warna standar atau warna merah muda. Warna standar: 10 ml susu + 10 ml aquades + 0,4 ml kalium oksalat jenuh + 1 tetes indicator rosanilin klorida. Setelah warna tercapai tambahkan 2 ml larutan formalin dan titrasi kembali dengan NaOH sampai warna standar tercapai lagi. Buatlah titrasi blanko yang terdiri dari 20 ml aquades + 0,4 ml larutan kalium oksalat jenuh + 1 ml indicator phenolpthalin + 2 ml larutan formalin dan titrasi dengan larutan NaOH.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Susu merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisma dan mudah mengalami kerusakan. Oleh karenanya penganganan yang baik perlu dilakukan dengan tepat. Susu yang baik harus mengandung jumlah bakteri yang sedikit, tidak mengandung spora mikrobia patogen, bersih, yaitu tidak mengandung debu atau kotoran, mempunyai flavor yang baik dan tidak dipalsukan. Susu mengandung komposisi zat makanan yang vital dan penting bagi pertumbuhan tubuh. Komponen penyusun utama air susu adalah air, protein, lemak, karbohidrat, mineral-mineral, dan vitamin-vitamin. Dalam 1 liter susu dapat menyediakan kebutuhan manusia perharinya berupa: Ca 100%, P 67%, Vitamin B2 66%, Protein 49%, Vitamin Alan 30%, Vitamin B1 27%, Vitamin C 19%, dan Fe 3%, sedangkan energinya kira-kira 20% untuk perharinya. Ternak perah mempunyai ciri-ciri khusus yang berhubungan langsung dengan produksi susu.dan susu tersebut merupakan bahan makanan yang bernilai gizi yang tinggi karena mengandung hamper semua zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Susu ini merupakan bahan pangan yang tersusun oleh zat-zat makanan dengan proporsi yang seimbang. Sebagian bertanggapan bahwa dengan mengkonsumsi susu, maka akan timbul gejala penyakit mencret, sebenarnya hal itu diakibatkan oleh lactose intolerance yang tidak terbentuk saat mengkonsumsi susu tersebut.

Gambar 1.1 Susu

Berikut ini terdapat Tabel.1.1.Perbandingan komposisi zat makanan beberapa bagian susu yang dihasilkan oleh Sapi, Domba, dan juga ASI:

Adapun pendapat dari Hadiwiyoto( 2005) bahwa Air susu merupakan air susu sapi yang tidak dikurangi ataupun tidak ditambahkan sesuatu apapun yang diperoleh dari hasil pemerahan. Komposisi air susu adalah air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, air susu dapat digunakan baik dalam bentuk aslinya. Komposisi utama susu terdiri dari protein, lemak, laktosa, dan mineral. Sebagai bahan pangan, susu dapat digunakan baik dalam bentuk aslinya sebagai satu kesatuan maupun dari bagian-bagiannya. Uji susu sangat penting karena dikerjakan untuk menghindari pemalsuan/sebab-sebab lain yang mengakibatkan susu tidak lagi murni diketahui/diperoleh susu yang bermutu seperti yang dikehendaki oleh kodex susu. Pengujian mutu susu dikerjakan dengan menentukan sifat-sifat fisisnya, sifat-sifat kimiawinya dan pengujian biologik susu. a.Pengukuran berat jenis susu sapi. Sample susu dihomogenkan dengan cara memindahkan susu dari satu erlenmayer ke erlenmayer lain secara berulangulang. Kemudian sample susu dituangkan kadalam beker gelas, setelah itu laktodensimeter dicelupkan ke

10

dalam sample susu dan biarkan selama 1 menit. Kemudian dibaca skalanya, pada berat jenis pertama didapatkan pada suhu 26 C kemudian, berat jenis kedua pada suhu 27C dan berat jenis yang ke tiga pada suhu26,5C dan berat jenis pada susu adalah dan hasil dari rataan nilai BJ adalah pada suhu 26,5C Dapat dilihat dari penjelasan dibawah ini :

= 26,6

= 1,0280 + 0,0013 = 1,0293 Dengan suhu 26,5oC. Setelah dihitung berat jenis susu didapatkan hasilnya 1,0293 ini berarti berat jenis susu tidak mencapai berat jenis minimal. Ini berarti susu tidak normal. Hal ini bertentangan dengan Pendapat Bambang, (2005) yang menyatakan bahwa Susu yang normal mempunyai berat jenis minimal 1,0280. Dari pengamatan diatas bahwa pada berat jenis susu menurut Agus (2008), jenis susu akan dipengaruhi oleh susunan air itu sendiri, air susu yang baik atau normal memiliki berat jenis 1,028-1,033 pada temperatur 27,5 0C. Hadiwiyoto (2005), menyatakan bobot jenis susu berubah tergantung lamanya susu dibiarkan, semakin dekat dengan saat pemerahan maka bobot makin kecil, maka hasil didapatkan berat jenis susu masih normal dan layak dipasarkan. Kita menggunakan alat yang canggih seperti yang mana alat ini sering digunakan untuk mengukur berta jenis pada komposisi susu.

11

Gambar 1.2 pengukuran Berat Jenis b. Pengukuran kadar Bahan Kering Dengan menggunakan metode pengeringan: Dari parktikum yang telah dilaksanakan didapat hasil sebagai berikut : G1 = 23,23 G2 = 26,12 G3 = 23,380 ( ( ) ) ( ( ) )

( )

Pengukuran kadar bahan kering yang didapat 25,854 gr. Didukung oleh pendapat Randy, (2007) menyatakan bahwa Dalam ketiadaan pendinginan yang cukup dapat mencegah pertumbuhan bakteri atau ketiadaan sterilisasi panas susu yang memusnahkan setiap bakteri yang ada, kualitas mungkin rusak dengan amat cepat. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Winarto. J. S. (2009) yang menyatakan bahwa.Susu merupakan substrat yang baik untuk pertumbuhan mikroba, karena kadar airnya tinggi, pH-nya netral dan kaya akan zat makanan yang diperlukan oleh mikroba. Susu juga merupakan emulsi lemak dalam air yang

12

mengandung garam-garam mineral, gula, dan protein. Komposisi terbesar terjadi pada kandungan lemak, karena kadar lemak susu sangat dipengaruhi baik oleh faktor internal maupun eksternal. Dengan mengunakan metode Fleischmann: Kadar bahan kering (%) = (1,311 x F) + ( = (1,311 x 48) + ( = 6,2928 + 7,7935 = 14, 0863 Keterangan : f : kadar lemak (%) BJ: berat jenis susu pada suhu 20C
( ( )

)
)

Gambar 1.3 pengovenan sampel dan cawan

Gambar 1.4 penimbangan berat cawan

13

Gambar 1.5 memasukkan sampel susu kedalam cawan C. Pengukuran Kadar Lemak dengan Metode Gerber Setelah butyrometer yangb telah diisi dengan 10 ml HSO,susu 11 ml, dan amil alcohol 1ml. dimasukkan kedalam sentrifuse pada 1200 rpm dan dimasukkan kedalam penangas air yang bersuhu 65C selama 5 menit didapatkan skala yang terbaca yaitu 4,8. Hal telah dilakukan pada Praktikum Pengukuran Kadar Lemak menggunakan metode Gerber, hasilnya adalah gagal karena warnanya belum menjadi bening.Menurut Standar Indonesia SNI 01-3141-1998 menyatakan sesuai standar untuk susu sapi segar kadar lemaknya sekitar 3 % dan ini sudah dilakukan pengujian Laboratorium. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menentukan kadar lemak susu, diantaranya: dengan metode Babcock, metode Te Sa, metoda Ekstraksi, metoda Milko-Tester, dan metode Gerber. Pada pengukuran yang ketiga adalah pengukuran kadar lemak susu dapat digunakan dengan berbagai macam cara antara lain dengan metode gerber. Kadar lemak pada susu tidak masuk ke standar komposisi susu. Pada prinsipnya penentuan kadar lemak susu menurut Gerber sama saja dengan metoda Babcock. Penentuan kadar lemak dengan metoda ini menggunakan dasar penambahan asam sulfat yang akan memisahkan lemak susu. Biasanya pada musim hujan kandungan lemak susu akan meningkat sedangkan pada musim kemarau kandungan lemak susu lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Judkins dan Keener (2009) berpendapat bahwa pada prinsipnya penentuan kadar lemak susu menurut Gerber sama saja

14

dengan metoda Babcock. Botol yang digunakan disebut Butyrometer. Jadi penentuan kadar lemak susu dengan metoda ini juga menggunakan dasar penambahan asam sulfat yang akan memisahkan lemak susu.

Gambar 1.6 pencampuran susu, H2SO4, dan amil alkohol.

Gambar 1.7 saat di sentrifuse

Gambar 1.8 warna yang dihasilkan pada pengukuran lemak

15

Gambar 1.9 saat dimasukkan kedalam penangas air D. Pengukuran Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak( BKTL). Pengukuran kadar bahan kering tanpa lemak dengan berat jenis maka bahan kering tanpa lemak dapat dihitung. Rumus persentse BKTL: BKTL(%) = BKTL(%) = BKTL (%) = 5 + 0,96 + 0,48 BKTL (%) = 6,44 Keterangan : BKTL = bahan kering tanpa lemak KL = kadar lemak Ld = skala laktodensimeter pada suhu 20C 0,48 = constant jika BJ diukur pada suhu 20C. jika BJ diukur pada sampel yang dipanaskan 40C, maka constant yang digunakan 0,63 + 0,48

E. Pengukuran kadar protein dengan metode titrasi formol Setelah dilakukan pratikum pengukuran dengan metode titrasi formol maka di dapat hasil : t1 = 11.6 12,4 = O,8 t2 = 14.5 16,1 = 1,6 t = blangko

16

t terkoreksi ( formol ) = t2 t blangko = 1,6 0,1 = 1,5 Kadar protein (%) = t formol x faktor 1,83 = 1,5 x 1,83 = 2,745 (%) Jadi kadar protein dari susu yang diamati yaitu 2,745 sedangkan susu yang baik mengandung protein 3,5 %. Jadi susu yang kita amati masih di bawah kadar protein normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Hadiwiyoto ( 2005 ) berpendapat bahwa susu mengandung protein rata-rata 3,5%. Protein merupakan gabungan dua atau lebih asam-asam amino yang penyusun utamanya adalah atom karbon, atom hydrogen, dan atom nitrogen dan susu yang normal derajat keasamannya sekitar 4 7,5 pH, susu yang rusak derajat keasamannya akan meningkat.

17

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari Praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa susu sapi yang di Praktikumkan mempuyai ukuran berat jenis yang tidak sesuai dengan Berat Jenis susu Minimal. Ini menandakan bahwa susu yang di Praktikumkan rusak/tidak bagus hal ini mungkin disebabkan oleh penyimpanan yang terlalu lama.

5.2 Saran Adapun saran untuk praktikum ini adalah semua alat yang dibutuhkan pada praktikum harus dipersiapkan terlebih dahulu agar kegiatan praktikum berjalan dengan baik dan lancar. Dan juga diharapkan kepada seluruh praktikan harus tertib, tenang, dan disiplin dalam melaksanakan kegiatan praktikum agar prosesnya lancar.

18