Anda di halaman 1dari 12

BAB 3 LANDASAN TEORITIS

3.1 Pembelajaran Matematika Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk membentuk pola pikir logis, sistematis, analitis dan kreatif. Untuk mencapai tujuan ini, inovasi pembelajaran matematika berperan untuk mengatasi masalah pembelajaran matematika di sekolah menengah dengan mempertimbangkan kebutuhan realistik siswa di lingkungan hidup sehari-hari. Teori-teori pembelajaran matematika yang trend saat ini adalah pembelajaran konstektual dan telah berkembang di negara-negara maju dengan berbagai nama. Di Belanda berkembang Realistic Mathematics of Education (RME), menjelaskan bahwa pembelajaran matematika harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika berkembang Constekstual of Teaching and Learning (CTL), yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Di Michigan berkembang Bonnected Mathematics Project (MP) yang bertujuan mengintregasikan ide matematika ke dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa yang dapat dipelajarinya dengan baik dan mudah. Para peneliti menganjurkan pembelajaran di kelas-kelas di Indonesia adalah pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Terdapat tujuh prinsip pembelajaran kontekstual (Depdiknas, 2006) yaitu; membangun pemahaman (kontrukvism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), reeksi (reection), dan penilaian autentik (authentic assessment). Meskipun demikian pendekatan pembelajaran matematika dengan metode kontekstual bukan salah satu jalan ke luar untuk diterapkan setiap sekolah. Metode pembelajaran bersifat independent. Guru diberikan kebebasan memilihnya, tetapi perlu pertimbangan tingkat efektitas dan esiensi penggunaannya. Khususnya pembelajaran pemodelan matematika. Kaiser, et.al, (2006) menyatakan bahwa; teori belajar mengajar model matematika sangat jauh dari lengkap. Kita akan mengklaim dan harus mengembangkan teori global untuk belajar mengajar model matematika, dalam pengertian sistem dari sudut pandang yang berhubungan dengan tingkat didaktik; tujuan belajar, alasan fundamental untuk pengembangan
Universitas Sumatera Utara

20

21 tujuan pada level yang berbeda dari sistem pendidikan, ide yang diujikan tentang bagaimana mendukung implementasi tujuan belajar guru dan juga tantangan didaktik dan dilema yang berhubungan dengan cara pengorganisasian pengajaran, analitis berbau teoritis ide tentang mengakses alat/sarana belajar dalam aktitas pemodelan.

3.2 Problem Solving Problem solving adalah suatu model pembelajaran yang berfokus pada siswa melalui penciptaan suasana belajar yang aktif dalam proses inkuiri, investigasi dan mencari pemecahan masalah terhadap masalah yang autentik, bermakna, dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

3.2.1 Strategi Problem solving Bagaimana siswa dapat bekerja dengan masalah-masalah yang kurang jelas berkaitan dengan matematika sekolah dan mengharuskan siswa untuk berurusan dengan situasi asing dengan berpikir eksibel dan kreatif (Lesh & Doerr, 2003). Bagaimana cara kita dalam problem solving ? 1. Yang pertama dan langkah paling penting dalam memecahkan masalah adalah memahami tujuan dari masalah. Kemudian menyelesaikan masalah, yaitu menemukan persamaan yang menggambarkan hubungan antara variabel, untuk menemukan atau menyelesaikan (pastikan anda membaca seluruh masalah) dan juga suatu persamaan yang menjelaskan tujuan dari masalah. 2. Selanjutnya Anda harus menyusun sebuah rencana, yaitu, mengidentikasi keterampilan. Selesaikan soal matematika, menggunakan keterampilan apapun dan pertanyaan yang didasarkan pada bahan dan contoh-contoh di kelas dan juga pada strategi yang telah anda pelajari dapat diterapkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, strategi yang anda butuhkan (merujuk pada proses empat langkah Polyas). 3. Melaksanakan rencana. Sebagai langkah terakhir, anda harus mengubah jawaban soal matematika anda kembali 4. Melihat ke belakang: Apakah jawaban anda temukan tampak masuk akal? Juga meninjau kata-kata, sehingga sekarang anda telah dapat memecahkan masalah,
Universitas Sumatera Utara

22 beberapa masalah sebelum waktu habis di kelas. Mengantisipasi apa masalah dan metode solusi sehingga anda akan dapat lebih mudah menyelesaikannya. Langkah berikutnya. mengenali dan memecahkan masalah yang sama, untuk bacaan lebih lanjut. Beberapa strategi problem solving: menggunakan satu atau lebih variabel lengkap George Polya (1973).

3.2.2 Proses Problem Solving Problem solving merupakan suatu proses aktif yang mencakup pemahaman semua aspek dari persoalan yang ada. Salah satu cara untuk memperoleh pemahaman adalah mengajukan pertanyaan (seperti apa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa) kemudian diuji serta dianalisa kemudian dibandingkan sehingga tercapai sasaran.

Gambar 3.1 Diagram alur proses problem solving oleh Lora K.Kaiser 2003 Berikut ini dalam menganalisa diagram, mulailah dengan tetapkan. Sebuah proses pemecahan masalah sebenarnya tidak hanya akan bergerak dari panah biru, melalui panah merah, dengan panah hitam; hal itu mungkin membuat banyak revolusi melalui siklus sebelum menemukan apa yang dicari, problem solving yang pasti melibatkan pertanyaan dan jawaban. Mulai dengan tetapkan tujuan dari problem solving dengan cara bertanya (apa, kapan, di mana) lalu uji (yang telah ditetapkan diuji dengan bertanya bagaimana) kemudian dianalisa dengan mengapa dan dibandingkan dengan apalagi berikutnya jika sudah tidak ada lagi maka tercapailah tujuan dari masalah. Hiebert, et al, (1996) menunjukkan bahwa memecahkan masalah seperti tidak dapat menyiapkan siswa untuk kehidupan sehari-hari, karena siswa tidak dapat menUniversitas Sumatera Utara

23 transfer spesik pengetahuan yang berhubungan dengan domain (matematika) dan juga masalah yang lebih umum dan solusi-keterampilan yang terkait. Rekomendasi mereka adalah dasar desain instruksional pada problem solving dalam situasi luar sekolah, bukan penerapan model pada problem solving.

Universitas Sumatera Utara

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Model dan Pemodelan pada Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah suatu upaya membelajarkan siswa. Upaya yang dimaksud adalah aktitas guru memberi bantuan, memfasilitasi, menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa dapat memiliki kecakapan, ketrampilan, dan sikap. Pembelajaran matematika adalah suatu upaya merancang dan menyediakan sumber belajar, membantu atau membimbing, memotifasi, mengarahkan dalam membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika yaitu; belajar bernalar secara matematis, penguasaan konsep dan terampil memecahkan masalah, belajar memiliki dan menghargai matematika sebagai bagian dari budaya, menjadi percaya diri dengan kemampuan sendiri, dan belajar berkomunikasi secara matematis. Kaiser, et.al, (2006) menyatakan bahwa teori belajar mengajar model matematika sangat jauh dari lengkap, perlu mengklaim dan mengembangkan teori global untuk belajar mengajar model matematika, dalam pengertian sistem dari sudut pandang yang berhubungan dengan tingkat didaktik; tujuan belajar, alasan fundamental untuk pengembangan tujuan pada level yang berbeda dari sistem pendidikan, ide yang diujikan tentang bagaimana mendukung implementasi tujuan belajar guru dan juga tantangan didaktik dan dilema yang berhubungan dengan cara pengorganisasian pengajaran, analisis berbasis teoritis dan empiris dari kesulitan yang diarahkan pada pemodelan dan ide tentang mengakses belajar dalam aktitas pemodelan. Menurut Kaiser, et.al, (2006) bahwa teori belajar mengajar model matematika sampai saat ini sangat jauh dari lengkap. Perlu diklaim dan harus mengembangkan teori-teori belajar secara umum untuk belajar dan mengajarkan pemodelan matematika. Memang sangat sulit merumuskan teori belajar mengajar pemodelan yang baku, apalagi ditinjau dari semua aspek pendidikan. Model matematika adalah interpretasi (penafsiran) suatu permasalahan dari dunia nyata atau kondisi real yang dinyatakan dalam simbol atau rumus matematika.

Universitas Sumatera Utara

24

25 Maka untuk memudahkan menjelaskan proses pemodelan tersebut penulis menetapkan kajian yang dibuat oleh Galbraith & Stillman (2006)

Gambar 4.1 Proses pemodelan oleh Galbraith & Stillman, 2006 Dari skema proses pemodelan yang dibuat oleh Galbrait & Stilllman ini penulis dapat mendeskripsikan pembelajaran pemodelan matematika seperti dalam tabel berikut: Tabel 4.1 Aktivitas pembelajaran pemodelan matematika No 1 2 3 4 5 6 Tahap Pemodelan AB Aktitas siswa dalam pemodelan

Pengidentikasian Memahami informasi, mengidentikasi masalah, mengasumsikan masalah, menyederhanakan masalah B C Matematisasi Memberi notasi dan variabel, mengasumsikan hubungan variabel, memberi kuantitas, membuat gambar, grak, tabel, merumuskan secara matematika C D Solusi mate- Menyelesaikan model matematika dengan pengematika tahuan matematika dan ilmu lain yang berhubungan D E Interpretasi Hasil solusi matematika diartikan ke dalam dunia hasil nyata E F Evaluasi / Memeriksa, mereesikan, menerima solusi dengan validasi mengkaji ulang masalah atau sebagian model matematika F G Pelaporan membuat laporan model secara umum dengan mengkomunikasikan, mempublikasikan, mendokumenkan

Universitas Sumatera Utara

26 4.2 Strategi Pemodelan pada Pembelajaran Matematika dan Problem solving Problem solving adalah pemikiran yang berujung kepada solusi masalah, dimana masalah tidak lain pemisah kinerja yang diinginkan dengan kenyataan. Target utama problem solving adalah menyelesaikan persoalan. Problem solving merupakan suatu proses aktif yang mencakup pemahaman semua aspek dari persoalan yang ada. Salah satu cara untuk memperoleh pemahaman adalah mengajukan pertanyaan (seperti apa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa) kemudian diuji serta dianalisa kemudian dibandingkan sehingga tercapai sasaran. Problem solving yang pasti melibatkan pertanyaan dan jawaban. Problem solving merupakan aktitas tangan dan pikiran, memerlukan pengembangan model nyata yang dapat dimanisfestasi dan membutuhkan pemikiran aktif tentang suatu persoalan dan kemungkinan penyelesaiannya. Problem solving membutuhkan strategi dalam menyelesaikannya yang melibatkan model dan pemodelan matematika. Kemampuan problem solving melibatkan beberapa karakteristik dan strategi. Karakteristik manusia dalam problem solving mencakup kesabaran, pengamatan, dan pengalaman serta penalaran. Menurut penulis dari pengalaman mengajar, kegagalan siswa dalam pemodelan dapat diakibatkan antara lain; karena siswa tidak memahami karakteristik dari suatu masalah, tidak mampu menghubungkan data dari persoalan dengan kaidah-kaidah matematika sehingga diperoleh model matematika, dan tidak mampu menyelesaikan model matematika yang ditemukan. Berdasarkan hal itu penulis mengajukan suatu strategi pemodelan pada pembelajaran matematika dan problem solving. Jadi untuk menyelesaikan masalah dari kondisi real (nyata) dapat dilakukan strategi pemodelan pada pembelajaran matematika dan problem solving dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Memahami karakteristik dari suatu masalah, dengan cara membaca soal dengan baik, sehingga diketahui tujuan dari permasalahan. 2. Menentukan besaran yang dirancang sebagai variabel. Langkah 1 dan langkah 2 dilakukan dengan memperhatikan secara cermat masalah yang akan diselesaikan. Karena dari masalah yang akan diselesaikan ini yang dirancang sebagai variable dan menentukan hubungan antara variabel. 3. Membuat tabel untuk memudahkan atau membantu dalam membuat model
Universitas Sumatera Utara

27 matematika. 4. Merumuskan model matematika. Langkah ini dilakukan dengan mengubah data atau informasi yang ada ke dalam bahasa matematika. 5. Menentukan penyelesaian dari model matematika. Langkah ini dilakukan melalui pemilihan dan penerapan metode matematika dan ilmu yang terkait dengan model matematika tersebut. 6. Lihat apakah penyelesaian dari model matematika apakah sudah masuk akal. 7. Memberikan tafsiran terhadap penyelesaian dari model matematika. Langkah ini dilakukan dengan memahami arti dan akibat dari penyelesaian matematika dari masalah semula. Dari langkah-langkah di atas dapat dikatakan bahwa langkah 1 sampai langkah 3 adalah usaha untuk merancang model, tetapi dalam langkah 3 ada yang ingin praktis kadangkala tidak dilakukan, padahal langkah 3 ini untuk membantu dalam membuat model matematika, langkah 4 membuat model matematika, langkah 5 usaha untuk menyelesaikan model, langkah 6 melihat apakah penyelesaian sudah tampak masuk akal, misalkan penyelesaian dalam bentuk pecahan bukan bilangan bulat padahal problem membuat meja, tidak mungkin meja dibuat 1/2, jadi kita ambil bilangan bulat yang dekat dengan penyelesaian yang berada pada daerah penyelesaian, sedangkan langkah 7 adalah usaha untuk menafsirkan kembali ke dalam dunia nyata sesuai dengan permasalahannya.

Contoh : Toni ingin membuat 2 jenis baju. Baju olahraga memerlukan 2 meter bahan kaos dan 50 centimeter bahan katun. Baju santai memerlukan 1 meter bahan kaos dan 150 centimeter bahan katun. Toni ingin menjual baju tersebut dengan harga baju olahraga Rp 150.000 dan baju santai Rp 200.000. Jika bahan kaos yang tersedia 50 meter dan bahan katun 30 meter. Berapakah banyak baju olah raga dan baju santai yang harus dibuat agar Toni mendapat harga penjualan yang maksimum?

Penyelesaian: Langkah 1: memahami karakteristik dari suatu masalah Dari penggalan kalimat baju olahraga memerlukan 2 meter bahan kaos dan 50 centimeter (cm) bahan katun, baju santai memerlukan 1meter bahan kaos dan 150 cm
Universitas Sumatera Utara

28 bahan katun, bahan kaos yang tersedia 50 meter dan bahan katun 30 meter dan dapat diketahui Toni bertujuan menjual dengan harga baju olahraga Rp 150.000 dan baju santai Rp 200.000. Dapat diketahui bahwa karakteristik dari soal adalah pertidaksamaan linier atau program linier. Ini diketahui dari kata bahan yang tersedia berarti tidak dapat melebihi atau kurang dari atau sama dengan dari yang tersedia. Langkah 2: menentukan besaran yang dirancang sebagai variabel. Besaran yang dirancang sebagai variabel adalah banyaknya baju olahraga sebagai x dan banyaknya baju santai sebagai y. Jadi pertidaksamaan linier dua variabel. Langkah 3: membuat tabel Masalah tersebut dapat disajikan dalam sebuah tabel sebagai berikut: Baju Olahraga (x) Santai (y ) Tersedia Bahan kaos (cm) Bahan katun (cm) Harga (Rp) 200 50 150.000 100 150 200.000 5000 3000

Langkah 4: merumuskan model matematika Berdasarkan tabel di atas maka diperoleh model matematikanya adalah Baju olahraga sebagai x dan baju santai sebagai y boleh ada atau tidak ada x 0, y 0; karena bahan tersedia berarti harus kurang dari atau sama dengan () Fungsi tujuannya : 150.000x + 200.000y Dengan syarat ; 200x + 100y 5000 50x + 150y 3000 x0 y0 Langkah 5: menentukan penyelesaian dari model matematika Dari informasi fungsi tujuan z = 150.000x + 200.000y dengan syarat ; 200x + 100y 5000 50x + 150y 3000 x0 y0 dapat disederhanakan fungsi tujuan; z = (3x + 4y )50.000 dengan syarat ; 2x + y 50 x + 3y 60
Universitas Sumatera Utara

29 x0 y0 Kemudian digambar garis 2x + y 50; x + 3y 60; x 0; y 0

Titik B adalah titik potong garis 2x + y = 50 dan garis x + 3y = 60 titik potong kedua garis tersebut dapat diperoleh sebagai berikut: 2x + y = 50 | kalikan 3 | 6x + 3y = 150 x + 3y = 60 | kalikan 1 | x + 3y = 60 5x = 90 x = 18 x = 18 maka 2.18 + y = 50 36 + y = 50 y = 50 36 y = 14 B (18, 14) Titik-titik kritis atau ekstrimnya adalah A (0, 20); B (18, 14) ; C (25, 0) Nilai z pada titik-titik kritis A (0, 20) z = (3.0 + 4.20)50000 = 4000000 B (18, 14) z = (3.18 + 4.14)50000 = 5500000 C (25, 0) z = (3.25 + 4.0)50000 = 3750000 Nilai z maksimum terletak pada titik B (18, 14) yaitu 5500000 Dengan garis selidik Tampak titik yang paling atas mengenai titik B (18 , 24) jadi nilai maksimumnya pada titik B (18 , 24) ? z = ( 3. 18 + 4. 14 ) 50000 = 5500000
Universitas Sumatera Utara

30 Langkah 6: melihat penyelesaian apakah sudah tampak masuk akal Penyelesaian sudah tampak masuk akal. Langkah 7: memberikan tafsiran terhadap penyelesaian model matematika Karena nilai maksimum didapat dari titik B (18, 14) berarti Toni harus membuat baju olahraga sebanyak 18 buah dan baju santai sebanyak 14 buah agar dia mendapat harga penjualan maksimum sebanyak Rp 5.500.000 Dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa dalam langkah 1: memahami karakteristik masalah dengan cara kita baca soal tersebut dengan baik dan berulang. langkah 2: menentukan besaran yang dirancang sebagai variabel, kita harus teliti sebab penentuan variabel ini nanti yang akan mempengaruhi pembuatan model matematika. Siswa sering salah dalam langkah ini, sebagai petunjuk dalam menentukan besaran yang dirancang sebagai variabel perhatikan tujuan yang ingin dicapai dalam soal, misal dalam contoh Toni ingin menjual baju olahraga dan baju santai, jadi baju olahraga dan baju santai yang dijadikan variabel. Langkah 3: membuat tabel, tujuan pembuatan tabel untuk mempermudah dalam membuat model matematika. Langkah 4: membuat model matematika. Langkah 5: kemudian menyelesaikan model matematikanya menggunakan ilmu matematika ataupun ilmu yang berkaitan. Langkah 6: lihat apakah penyelesaian dari model matematika sudah tampak masuk akal, jika belum maka tentukan penyelesaian yang masuk akal yang berada dalam daerah penye1 sedangkan lesaian, misalkan pada contoh kita memperoleh penyelesaiannya x = 18 3 1 . x adalah baju olah raga, tidak mungkin Toni membuat baju olahraga sebanyak 18 3

Jadi yang masuk akal Toni membuat baju olahraga sebanyak 18 buah dan 18 berada dalam daerah penyelesaian. Langkah 7: memberikan tafsiran terhadap penyelesaian dari model matematika, kita kembalikan penyelesaian itu kedalam soal awal. Maksudnya nilai variabel kita kembalikan ke yang diubahnya, misalnya pada soal variabel x adalah peubah dari baju olahraga, jika x = 18 berarti baju olah raga sebanyak 18 buah. Demikianlah hasil pembahasan penulis mengenai strategi pemodelan pada pembelajaran matematika daan problem solving di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Universitas Sumatera Utara

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Diperlukan strategi pemodelan dalam pembelajaran matematika dan problem solving, salah satu fokus pembelajaran matematika adalah pemecahan masalah, dengan kebiasaan berpikir dan bertindak memecahkan masalah bagi siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) agar siswa dapat memecahkan masalah (problem solving) dan dapat mengembangkan pola pikir matematis yang kritis dan analitis. Strategi pembelajaran matematika dan problem solving di SMA dengan menggunakan perspektif model dan pemodelan. Jadi secara rinci strategi pemodelan pada pembelajaran matematika dan problem solving adalah dengan selalu atau sering mengerjakan soal-soal dengan langkah-langkah: 1. Memahami karakteristik dari suatu masalah. 2. Menentukan besaran yang dirancang sebagai variabel. 3. Membuat tabel 4. Merumuskan model matematika. 5. Menentukan penyelesaian dari model matematika. 6. Melihat penyelesaian apakah sudah tampak masuk akal. 7. Memberikan tafsiran dari penyelesaian model matematika.

5.2 Saran Dalam menghadapi era globalisasi, disarankan bagi guru SMA, pembelajaran matematika sekarang ini dengan pendekatan kontrukvis yang dikenal dengan pembelajaran kontekstual atau Contekstual Teaching Learning (CTL) ataupun matematika realistik (Realistic Mathematics of Education atau RME). Terutama dalam model dan pemodelan pada pembelajaran matematika dan problem solving pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Universitas Sumatera Utara

31