Anda di halaman 1dari 10

Distribusi Acak

Distribusi penyakit secara acak merupakan pola yang sangat umum terjadi pada beberapa kasus serangan pathogen pada suatu lahan pembudidayaan tanaman. Sesuai dengan namanya, pathogen menyerang penyakit dengan pola acak dan jika frekuensi tanaman yang terjangkit penyakit dihitung secara statistik per luasan area maka akan mengikuti pola distribusi Poisson. Pola ini umumnya disebabkan oleh pathogen tular benih(seed-borne) maupun tular udara(air-borne) yang bisa berasal dari lokasi yang relative jauh.(John Brown. 1997)

Busuk pelepah daun pada padi yang disebabkan Rhizoctonia solani merupakan salah satu contoh penyakit dengan distribusi acak. Fungi penyebab penyakit ini menyerang benih padi bahkan sebelum berkecambah sehingga menyebabkan pertumbuhan bibit yang abnormal, pembusukan pelepah daun dan kematian. (M. A. Cubeta dan R Vigalys. 2011)

Deteksi penyebaran penyakit berpola ini sangat mudah karena dapat diperkirakan secara visual dan dengan perhitungan matematis dapat dituliskan dalam persamaan :

Laju penyebaran penyakit disimbolkan dengan dY/dt, laju pertumbuhan tanaman disimbolkan dengan r dan Y merupakan simbol untuk rerata intensitas penyakit. (X. B. Yang dan D. O. TeBeest. 1991) Pengendalian penyebaran penyakit berpola acak yang khususnya menular melalui benih dapat dilakukan dengan dua metode. Penggunaan varietas bersertifikat menjadi cara yang paling direkomendasikan mengingat varietas yang bersertifikat tentunya diperbanyak secara steril dan bebas dari partikel asing termasuk pathogen. Pengendalian secara fisik juga dapat dilakukan pada alat dan bahan yang hendak digunakan seperti pemanasan dan secara kimiawi dengan penggunaan pestisida.

Distribusi Agregasi

Pola penyebaran penyakit berpola agregasi umumnya merupakan lanjutan dari pola penyebaran secara acak. Pada pola penyebaran ini awalnya penyakit menjangkit beberapa tanaman secara acak pada suatu lahan yang kemudian penyakit menyebar ke sekitarnya sehingga areal terjangkit menjadi semakin jelas dan tegas. Penyebaran penyakit ini tidak hanya terjadi pada titik awal melainkan bisa terjadi di mana saja bahkan pada area yang tidak terjangkit sebelumnya tentunya hal ini dapat terjadi akibat laju penyebaran penyakit yang cukup signifikan. Penyakit dengan penyebaran berpola agregasi umumnya memiliki sifat tular tanah(soil-borne).

Penyakit Powdery Mildew(berbedak jamur) yang terjadi pada tanaman gandum disebabkan oleh Blumeria graminis f. sp. tritici yang menular dari tanah. Fungi ini pada dasarnya ada dalam tanah dalam bentuk ascospora yang mampu bertahan melewati musim dingin yang kemudian mulai menyerang dari awal musim semi(suhu hangat). Fungi yang bersifat obligat ini berreproduksi secara seksual hingga akhir musim panas menghasilkan ascospora. Setelah pane nada beberapa bulir gandum yang membawa ascospora fungi tersebut dan tersebar di areal budidaya sehingga menjadi ancaman untuk musim tanam berikutnya. (Dr. J. E. Patridge. 2008) Pola penyebaran berpola agregasi secara statistic mengikuti distribusi negative binominal dan secara matematis, deteksi penyebaran ini dapat dituliskan dalam persamaan:

Rasio antara laju penyebaran berpola agregasi dan acak disimbolkan dengan P, rerata intensitas penyakit disimbolkan dengan Y dan k merupakan simbol untuk parameter distribusi binominal. (X. B. Yang dan D. O. TeBeest. 1991) Secara menyeluruh, pengendalian penyakit tular tanah dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi lahan karena beberapa penyakit tersebut akan sangat mudah menjangkit pada lahan yang kurang bersih. Penggunaan varietas toleran juga menjadi rekomendasi untuk mencegah serangan pathogen penyebab penyakit dan secara kimiawi penggunaan pestisida bisa menjadi cara pengendalian yang efektif ketika kerusakan hampir mencapai ambang ekonomi.

Distribusi Regular(Pola Teratur) Penyebaran penyakit berpola regular sangat jarang terjadi di lahan budidaya. Hal yang mungkin menyebabkan pola distribusi ini yakni ketika suatu lahan yang telah ditanami suatu tanaman dengan pola dan jarak tanaman tertentu dan semuanya terjangkit tanaman kemudian lahan tersebut ditanami kembali dengan tanaman, pola dan jarak tanam yang identik dengan sebelumnya sehingga semua

tanaman baru tersebut terjangkit juga dengan pola yang teratur. Pengendalian penyakit dengan pola penyebaran ini dapat dilakukan dengan pengolahan lahan intensif dan menanam tanaman dari famili lain.

Distribusi Tambal(Patch)

Penyebaran penyakit berpola tambal diakibatkan oleh organisme yang hidup di dalam tanah seperti fungi, nematoda maupun jasad mikroskopik lain yang bervektor organisme tersebut. Berbeda dengan distribusi agregasi, pola pada penyebaran ini tidak berawal secara acak di suatu lahan yang kemudian menyebar membentuk pola agregat dan meninggalkan beberapa zona terinfeksi secara ringan. Pola tambal berawal disuatu zona lahan yang kemudian infeksinya menyebar ke arah tertentu dan tidak menginfeksi zona lainnya. (John Brown. 1991)

Penyakit layu yang disebabkan fungi yang disebabkan Phytopthora capsici memiliki tiga gejala yakni blight pada daun, pembusukan buah dan akar. Tanaman yang terserang layu oleh fungi ini maka warna daun dan batang akan berubah kecokelatan, menurunnya kualitas buah dan jika fungi ini menyerang pada akar maka tanaman akan layu dan mati. Phytophthora capsici umumnya akan menyerang tanaman yang tergenang air. Penyakit ini menyebar proporsional dengan luasan lahan yang tergenang sehingga dalam skala besar, tanaman-tanaman yang terinfeksi akan nampak seperti tambalan pada lahan. (Amanda J. Gevens, dkk. 2008) Deteksi awal lahan dengan tanaman yang terjangkit penyakit berpola penyebaran tambal yakni dengan mengambil sampel tanah pada zona terjangkit dan zona sehat kemudian ditaruh kedalam pot. Tanaman yang sehat ditanam di kedua pot tersebut. Jika tanaman di kedua pot tersebut terjangkit penyakit yang sama maka diasumsikan pola penyebaran penyakit bukanlah pola tambal dan jika hanya tanaman pada pot yang berisi tanah dari zona terinfeksi saja yang terjangkit maka pola penyebaran adalah tambal. Tanah dari pot tersebut kemudian dikeringkan dan ditanami kembali denagn tanaman sehat, jika tanaman terjangkit maka dapat dipastikan penyebab penyakit dengan pola penyebaran tambal tersebut adalah virus maupun organisme lain yang menjangkit secara terselubung melalui vektor atau agen pembawa. Secara matematis, deteksi penyebaran dapat dituliskan dalam persamaan:

Probabilitas vektor penyebaran disimbolkan dengan , konstanta vektor penyebaran disimbolkan dengan , probabilitas inoculum yang ditemukan pada posisi awal disimbolkan dengan Np, karakteristik dimensi zona disimbolkan dengan dan k merupakan simbol parameter distribusi binominal. (J. E. Truscott dan C. A. Gilligan. 2001) Secara kultur teknis pengendalian penyakit yang menyebar dengan pola tambal dapat dilakukan dengan rotasi tanaman minimal setiap tiga tahun dan menjaga sanitasi serta drainase lahan. Penggunaan varietas toleran merupakan tindakan paling efektif untuk pengendalian penyakit ini.

Distribusi Gradien

Penyebaran penyakit berpola gradien merupakan pola penyebaran yang mengindikasikan sumber penyakit di suatu lahan dalam skala luas. Umumnya semakin dekat sumber penyakit tersebut maka akan semakin curam gradien yang nampak. Begitu pula sebaliknya, ketika sumber penyakit semakin jauh maka akan semakin landau gradien yang nampak. Ada beberapa faktor yang menentukan kecuraman gradien selain jarak penyakitnya seperti halnya mobilitas pathogen, mobilitas vektor, kecepatan serta arah laju agen pembawa/penyebar, kecepatan infeksi penyakit, dan lain-lain. (John Brown. 1991)

Penyakit busuk daun pada kentang yang disebabkan oleh Phytopthora infestans merupakan salah satu contoh penyakit yang menyebar dengan pola gradien yang lebih landai dibandingkan dengan penyakit busuk buah pada cokelat yang disebabkan oleh Phytopthora megakarya. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kedua fungi tersebut tersebar atau terbawa oleh dua agen yang memiliki kecepatan yang berbeda. Pathogen penyakit busuk daun pada kentang disebarkan oleh angina sedangkan pathogen penyakit busuk buah pada cokelat disebar oleh percikan air. Secara matematis deteksi pola penyebaran penyakit berpola gradient dapat dituliskan dalam persamaan:

Jumlah tanaman yang terserang disimbolkan , intensitas penyakit disimbolkan Y dan C menyimbolkan gradien disposisi spora. (B. M. Cooke, dkk. 2006)

Pengendalian penyakit dengan pola penyebaran seperti ini pada dasarnya dilakukan berdasarkan penyakitnya bukan berdasarkan agen penyebarannya. Hal yang paling bisa dilakukan untuk mencegahnya yakni dengan melakukan semua kegiatan budidaya dengan prinsip ramah lingkungunan guna menjaga keseimbangan ekosistem.

Cubeta, M. A., and R. Vilgalys. 1997. Population Biology of the Rhizoctonia Solani Complex. Population Genetics of Soilborne Fungal Plant Pathogens 87.4 : 480-84. The American Phytopathological Society. Web. , The American Phytopathological Society. Brown, John. 1997. Survival and Dispersal of Plant Parasites : General Concept. ISBN- 1 86389 439 X Rockvale Publications. Yang, X. B. dan D. O. TeBeest. 1991. Dynamic Pathogen Distribution and Logistic Increase of Plant Disease. University of Arkansas Press. Fayettville, Amerika Serikat Partridge, Dr. J. E. 2008. Powdery Mildew of Wheat. University of Nebraska- Lincoln Department of Plant Pathology. http://nu-distance.unl.edu/homer/disease/agron/wheat/WhPowMil.html diakses pada tanggal 22 Maret 2013. Gevens, Amanda J., Roberts, Pamela D., McGovern, R.J.. Kucharek, T.A. 2008. Vegetable Diseases Caused by Phytophthora Capsici in Florida. Florida Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida. http://plantpath.ifas.ufl.edu/takextpub/FactSheets/sp159.pdf diakses pada tanggal 22 Maret 2013. Truscott, J. E. dan C. A. Gilligan. 2001. The Effect of Cultivation on The Size , Shape, and Presistence of Disease Patches in Fields. Cambridge University Press. Cambridge, Inggris Cooke, B. M., D. Gareth Jones dan B. Kaye. 2006. The Epidemiology of Plant Disease. Halaman 174-180. Springer Copyright inc. Dordrecht, Belanda