Anda di halaman 1dari 24

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan metabolik yang paling umum, dengan perkiraan prevalensi seluruh dunia antara 1- 5% (Susztak et al., 2006). Secara global, jumlah penderita DM terus meningkat. Dari tahun ke tahun WHO (2003) memperkirakan 135 juta orang seluruh dunia terkena DM pada tahun 1995 dan diperkirakan pada tahun 2025 sebanyak 300 juta orang akan terkena DM. Pada dekade terakhir telah diketahui bawa prevalensi DM tipe 2 meningkat secara cepat. Telah diprediksi bahwa sedikitnya 350 juta orang (dua kali lipat) di seluruh dunia akan menderita DM tipe 2 pada tahun 2030. Gaya hidup dan makan yang berlebih yang berakibat timbulnya obesitas merupakan faktor pemicu utama DM tipe 2. Elemen patogenik penting lainnya yang harus digaris bawahi adalah faktor genetik. (Buraczynska et al., 2007). Diabetes biasanya disebut silent killer karena hampir sepertiga orang dengan DM tipe 2 tidak mengetahui mereka menderita DM, sampai penyakit tersebut berkembang menjadi serius yang berhubungan dengan komplikasi. Salah satu bentuk komplikasi akibat DM adalah nefropati diabetika (ND). Nefropati diabetika adalah penyebab utama endstage renal disease (ESRD) di Amerika (Susztak et al., 2006), dan Mikroalbuminuria pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Hipertensif (Evy Yulianti) di negara barat yang lain. Saat ini, ND terjadi pada 15 - 25% pasien DM tipe 1 dan 30 - 40% pasien DM tipe 2 (Schrijvers et al., 2004). Nefropati diabetika ditandai dengan adanya kerusakan pada glomerulus, tubulus, jaringan interstitial dan vaskuler karena DM. Terjadinya ND melibatkan beberapa jalur, yaitu, jalur hemodinamik, metabolik dan beberapa pasien DM yang berkembang menjadi ND memiliki kerentanan genetik yang berkembang menjadi perlukaan ginjal sebagai respon terhadap keadaan hiperglikemia, yang berhubungan dengan DM tersebut. Jalur reninangiotensin-aldosterone system (RAAS), nitrit oksid (NO), dan transforming growth factor (TGF) berhubungan dengan ND. Terdapat bukti yang kuat tentang

adanya keterlibatan faktor genetik pada komplikasi mikrovaskuler diabetes (Buraczynska et al., 2007). Pasien dengan DM tipe 2 biasanya mempunyai kemungkinan hipertensi dua kali lipat dibanding yang bukan pasien DM. Prevalensi hipertensi biasanya lebih besar pada pasien dengan DM tipe 2 dan yang meningkat eksresi albumin urinnya. Tingginya tingkat tekanan darah sistolik berhubungan dengan risiko penyakit kardiovaskuler yang semakin besar. Hal ini menunjukkan adanya potensi yang lebih besar dalam pencegahan kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada penderita DM, dengan mengontrol peningkatan tekanan darah (Yeung et al, 2006) Berbagai data Jurnal Penelitian Saintek, Vol. 14, No. 1, April 2009: 77-96 memperkirakan bahwa mikroalbuminuria merupakan nilai sebagai indeks kerusakan vaskuler, terutama pada hipertensi dan DM (Lydakis, 1998). Sehingga perlu dilakukan promosi kesehatan lebih lanjut mengenai diabetes melitus.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mengidentifikasi resiko Diabetes Melitus yang terejadi di masyarakat 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi pengertian, penyebab, gejala klinis, klasifikasi, penatalaksanaan, petunjuk hidup sehat dari Diabetes Melitus , komplikasi Petunjuk Hidup Sehat Diabetes Melitus. 2. Mengidentifikasi metode Buzz Group terhadap resiko Diabetes Melitus. 1.3 Manfaat 1.3.1 Manfaat Teoritis

Diharapkan makalah ini dapat menjadi tambahan pengetahuan untuk promosi kesehatan pada keperawatan komunitas. 1.3.2 Manfaat Praktis

Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam praktek keperawatan komunitas khususnya pada kelompok resiko Diabetes Melitus.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diabetes Mellitus 2.1.1 Pengertian Diabetes Mellitus Menurut teori yang dikemukakan oleh Tjokroprawiro (2007) diabetes mellitus adalah penyakit metabolik (kebanyakan herediter) sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif baik oleh adanya disfungsi sel beta pankreas atau ambilan glukosa darah di jaringan perifer atau keduannya (pada DM-Tipe 2) atau kurangnya insulin absolut (pada DM-Tipe 1) dengan tanda-tanda hiperglikemia disertai dengan gejala klinis akut (poliuri, polidipsia, penurunan berat badan) dan gejala kronik atau kadang tanpa gejala. Gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat dan sekunder pada metabolisme lemak dan protein. Mansjoer (2001) diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. Diabetes mellitus merupakan sindrom yang disebabkan oleh ketidak efektifan antara tuntutan dan suplai insulin yang ditandai oleh hiperglikemia dan berkaitan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein (Rumahorbo Hotma, 1999). Menurut Brunner & Suddart (2001) Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.

Dapat disimpulkan bahwa diabetes mellitus merupakan ganguan resistensi hormon insulin yang menyebabkan glukosa dalam darah meningkat dan dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi penyakit hipoglikemia, penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskuler, penyakit vaskuler perifer (gangren), retinopati diabetik, nefropati dan neuropati. 2.1.2 Etiologi a. Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) disebabkan oleh destruksi sel pulau Langerhans akibat proses autoimun (Mansjoer, 2001). b. Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) disebabkan kegagalan sel dan resistensi insulin (Mansjoer, 2001). c. Etiologi lain : infeksi virus,tumor pancreas, pajanan obat dan toksin, obesitas, genetika, kehamilan (Corwin, 2001). 2.1.3 Gejala Klinis Menurut Tjokroprawiro (2006) gejala klinis penderita diabetes mellitus : a. Poli Uri Merupakan gejala umum pada penderita Diabetes Mellitus, ini disebabkan kadar gula dalam darah bertambah sehingga merangsang tubuh untuk berusaha mengeluarkan melalui ginjal bersama air kencing. Gejala banyak kencing ini pada malam hari. b. Poli Dipsi Sebenarnya merupakan akibat atau reaksi tubuh dari banyak kencing tersebut untuk menghindari tubuh kekurangan cairan maka seseorang

secara otomatis akan timbul rasa haus atau kering yang menyebabkan timbulnya keinginan terus minum selama kadar gula belum terkontrol baik. c. Poli Phagia Terjadi banyak makan disebabkan oleh kurangnya kadar gula dalam tubuh tetapi dalam darah tinggi, sedangkan pada penderita yang berat akan timbul beberapa gejala antara lain : 1). 2). 3). Terjadinya penurunan berat badan. Timbul rasa kesemutan atau sakit tangan dan kaki. Timbul borok atau luka pada kaki tak kunjung sembuh.

2.1.4 Klasifikasi Klasifikasi yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM American Diabetes Association (2006) : a. Diabetes Tipe 1 atau IDDM, yaitu diabetes yang tergantung insulin

(destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut). Diabetes tipe 1 ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya usia muda antara 10 - 12 tahun (Juvenille Diabetes) dan pada usia < 30 tahun (Brunner & Suddarth, 2001). Pada diabetes melitus tipe 1 biasanya reseptor insulin dijaringan perifer kuantitas dan kualitasnya cukup atau normal (30.000-35.000), jumlah reseptor insulin pada orang normal 35.000 (Askandar Tjokroprawiro, 2007). b. Diabetes Tipe 2 atau NIDDM, yaitu diabetes yang tidak tergantung insulin (bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin

disertai resistensi insulin). Diabetes tipe 2 paling sering ditemukan pada individu yang berusia > 30 tahun (Adult Diabetes) dan obesitas (Brunner & Suddarth, 2001). Jumlah reseptor di jaringan perifer kurang antara 20.000-30.000, pada obesitas jumlah reseptor hanya sekitar 20.000. kadang-kadang jumlah reseptor cukup tetapi kualitas reseptor jelek, sehingga kerja insulin tidak efektif (Askandar Tjokroprawiro, 2007). c. Diabetes Mellitus Gestasional (DMG), awitan selama kehamilan, biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga. d. Diabetes Tipe Lain 1). Defek Relatif fungsi sel beta a). Maturity - onset Diabetes of the young (MODY). b). DNA mitokondria 2). Defek Negatif Kerja Insulin 3). Penyakit eksokrin pankreas. a). Pankreatitis b). Tumor/ Pankreatektomi c). Pankreatopati fibrokalkulus 4). Endokrinopaty a). Akromegali

b). Sindrom Cushing c). Feokrositoma

d). Hiperthiroidisme 5). Karena Obat zat kimia a). Vacor, pentamidin,asam nikotinat

b). Glukkokortikoid, hormon thiroid c). Tiazid, Dilantin, interferon alfa, dll. 6). Infeksi a). Rubella b). Kongenital c). Cyto-Megalo- Virus ( CMV) 7). Sebab Imonologi yang jarang (Antibodi anti insulin) 8). Sindrom Genetik lain yang berkalitan dengan DM a). Sindrom Down b). Sindrom Klinefelter, dll.

2.1.5 Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Dinyatakan diabetes melitus menurut Askandar Tjokroprawiro (2007) adalah: 1. Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) 200mg/dl disertai tanda klasik yaitu poluri, polidipsia dan penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya. 2. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) 126 mg/dl, atau 3. Kadar glukosa plasma 200mg/dl pada 2 jam sesudah makan atau beban glukosa 75 gram pada TTGO

2.1.6 Komplikasi a. Komplikasi akut menurut Brunner & Suddart (2001): 1). Hipoglikemia

Hipoglikemia (kadar gula darah yang abnormal rendah) terjadi jika kadar gula darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl (2.7 hingga 3.3 mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. 2). Diabetes Ketoasidosis Diabetes ketoasidosis bisa terjadi karena tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Gambaran klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis adalah dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis. 3). Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Nonketotik (HHNK) Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran (sense of awareness). Pada saat yang sama tidak ada atau terjadi ketosis ringan. Kelainan dasar biokimia pada sindrom ini berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hiperglikemia persisten menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit. Untuk mempertahankan keseimbangan osmotic, cairan akan berpindah dari ruang intrasel kedalam ruang ekstrasel. Dengan adanya glukosuria dan dehidrasi, akan dijumpai keadaan hipernatremia dan peningkatan osmolaritas. b. Komplikasi jangka panjang menurut Brunner & Suddart (2001):

1). Komplikasi Makrovaskuler Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering terjadi pada penderita diabetes mellitus, berbagi tipe penyakit makrovaskuler dapat terjadi seperti: a). Penyaki arteri koroner b). Penyakit serebrovaskuler c). Hipertensi 2). Komplikasi Mikrovaskuler Perubahan mikrovaskuler merupakan komplikasi yang unik yang hanya terjadi pada penderita diabetes. Penyakit mikrovaskuler diabetik ditandai oleh penebalan membran basalis mengelilingi sel endotel. Penyakit-penyakit mikrovaskuler itu seperti : a). Retino diabetik b). Katarak c). Perubahan lensa d). Kelumpuhan otot ekstraokuler e). Glaukoma f). Nefropati diabetik g). Saraf (neuropati diabetik) Gangguan pada saraf menyebabkan rasa baal, kesemutan, bahkan sampai tidak dapat merasakan nyeri. Padahal rasa nyeri penting untuk menghindari terjadinya luka.

2.1.7 Penatalaksanaan Menurut Askandar Tjokroprawiro (2007: 38), Penatalaksanaan pada penderita Diabetes Mellitus meliputi : 1) Penyuluhan tentang Diabetes Mellitus 2) Diet Diabetes Mellitus 3) Latihan fisik 4) Obat Hipoglekemia (OHO dan insulin) 5) Cangkok Pankreas 2.1.8 Petunjuk Hidup Sehat Diabetes Mellitus Menurut Askandar Tjokroprawiro (2006: 48) dalam buku Menuju Hidup Sehat Bersama Diabetes Mellitus, terdapat beberapa petunjuk hidup sehat bagi penderita Diabetes Mellitus antara lain : 1) Glukosa Artinya membatasi penggunaan gula dan makanan atau minuman yang terlalu manis. 2) Uricacid Artinya batasi makanan yang mengandung banyak purin, jeroan, alkohol, sarden, burung dara, unggas, kaldu dan tape. 3) Lipids Artinya hindarkan makanan berlemak secara berlebihan. 4) Obesitas Artinya mencegah kegemukan serta mengusahakan indeks massa tubuh : IMT < 25 atau BBR < 110%. 5) Cigaret

10

Artinya berhentilah merokok 6) Hipertensi Artinya mencegah pemakaian atau mengkonsumsi garam yang berlebih 7) Inaktiviti Artinya olah raga teratur setiap hari. 8) Stres Artinya usahakan tidur nyenyak minimal 6 jam sehari untuk meredam stress. 9) Alkohol Artinya berhentilah minum alkohol 10) Regular check up Artinya melaksanakan check up secara teratur untuk usia diatas 40 tahun.

11

2.2 METODE BUZZ GRUOP 2.2.1 PENGERTIAN Buzz group berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari kata buzz dan group. Buzz yang berarti dengung dan Group yang berarti kelompok . Jadi bisa dikatakan bahwa Buzz Group adalah kelompok dengung. Diskusi kelompok kecil adalah salah satu cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan melihat berbagai macam aspek permasalahan dan dilakukan dengan bertukar pikiran secara teratur dan terarah.diskusi ini dapat diperoleh suatu kesimpulan mengenai masalah tersebut. Buzz group adalah suatu bentuk diskusi yang terdiri dari sejumlah orang dan berkumpul dalam sebuah kelompok yang beranggotakan 3 7orang untuk membahas suatu permasalahan dengan melihat berbagai macam aspek permasalahan dan bertukar pikiran untuk memecahkan suatu permasalahan (Rothwel, 2003). 2.2.2 TUJUAN BUZZ GROUP Adapun tujuan dari Buzz Group (diskusi kelompok kecil ) antara lain: a. Mendapat berbagai informasi dalam menjelajahi gagasan baru atau memecahkan suatu masalah b. Mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomunikasi c. Meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pembagian keputusan d. Memupuk kerjasama dalam memecahkan atau memantapkan suatu masalah dan pencapaian suatu keputusan e. f. Melatih mengungkapkan pendapat Dapat meningkatkan kepercayaan diri

2.2.3 SYARAT-SYARAT BUZZ GROUP Syarat- syarat yang harus diperhatikan dalam Buzz Group antara lain: a. b. c. Mendengarkan pembicara dengan sepenuh hati Harus menciptakan kemungkinan untuk menyatakan pendapat Diharapkan menimbulkan perubahan atau kesediaan untuk meninjau kembali pendirian kita dan menerima pendapat orang lain.

12

2.2.4 KARAKTERISTIK BUZZ GROUP Diskusi kelompok kecil atau Buzz Group ini memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Terdapat dua ketua yaitu sebagai fasilitator dan satunya sebagai

moderator sekaligus berperan sebagai pemimpin diskusi dalam kelompok kecil. b. Melibatkan sejumlah orang yang terbagi dalam beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 3-7 orang. c. Waktu terbatas, setiap kelompok kecil harus melakukan diskusi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sehingga saat waktu habis setiap kelompok telah siap dengan hasil diskusinya masing-masing. d. Memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai bersama, yakni ingin memecahkan suatu masalah yang sama dengan kerjasama antar kelompok. e. Berlangsung dalam situasi tidak terlalu formal. Artinya semua anggota kelompok atau peserta bisa saling mendengar dan beradu pandang serta berkomunikasi dengan yang lain. f. Pembicaraan tidak berurutan tapi dilakukan dengan spontanitas. Sehingga akan terdengar seperti dengungan-dengungan namun tetap berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis. g. Adanya istilah diskusi kecil dan diskusi besar atau evaluasi. Diskusi kecil merupakan diskusi antar anggota kelompok, sedangkan diskusi besar adalah suatu diskusi yang dipimpin oleh fasilitator dimana tiap juru bicara melaporkan hasil diskusinya dan terjadi sharing antar kelompok.

2.2.5

TUGAS DAN KOMPONEN BUZZ GROUP Dalam diskusi kelompok kecil terdapat empat komponen yaitu,

fasilitator( ketua diskusi kelompok besar), moderator atau juru bicara (ketua diskusi kelompok kecil),penulis atau sekertaris, dan anggota. Tugas setiap komponen akan diuraikan sebagai berikut: a. Fasilitator ( ketua diskusi kelompok besar )

13

Fasilitator ini bisa dosen, guru, atau seseorang yang ditunjuk langsung oleh dosen untuk menjadi pemimpin diskusi. Fasilitator bertugas antara lain: 1. 2. 3. 4. Membagi kelompok-kelompok kecil Menentukan permasalahan yang akan didiskusikan Memandu diskusi besar Mengatur ketertiban dan efisiensi waktu

b. Moderator atau juru bicara ( ketua diskusi kelompok kecil ) Moderator atau juru bicara ini sekaligus berperan sebagai ketua dalam diskusi tiap kelompok. Ia harus bisa mengatur ketertiban dan efisiensi waktu agar diskusi berjalan lancar. Selain itu juga melaporkan hasil diskusi dalam diskusi besar. c. Penulis atau sekertaris Penulis atau sekertaris tidak diperlukan dam kelompok kecil. Tugas penulis adalah : 1. Mencatat waktu dan acara diskusi 2. Mencatat nama-nama yang berbicara, bertanya, mengajukan usul atau pendapat dalam diskusi 3. Mencatat semua pertanyaan, usul dan pendapat dari peserta diskusi kelompok 4. 5. d. Mencatat masalah yang belum terpecahkan dalam diskusi Membuat kesimpulan dan membacakannya

Anggota diskusi Tugas dan peranan setiap anggota cukup berfariasi. Setiap anggota memainkan satu peranan dalam satu saat dan peranan ini tidak selalu tetap sama. Peranan anggota diskusi antara lain sebagai berikut: 1. Sebagai penanya: menanyakan keterangan-keterangan untuk mencari penjelasan suatu pernyataan atau untuk memancing pendapat. 2. Pemberi informasi: memberikan fakta-fakta dari hasil

pengalaman(skemata) atau pengetahuan dari bacaan.

14

3.

Penyumbang pendapat: menegaskan pendapatnya mengenai suatu persoalan dan mengusahakan agar kelompok searah dengan pendapatnya.

4.

Penilai:meneliti

kekurangan-kekurangan

dari

jawaban

atau

pendapat yang dikemukakan. 5. Penjelas : berusah menegaskan lebih lanjut pendapat rekan yang dipandang kurang jelas. 6. Pemikir kreatif: berusaha mendapatkan pemecahan yang dapat mencakup kebenaran dari semua yang dikemukakan dengan mempertimbangkan pendapat yang ada. 7. Penggerak: berusaha mengemukakan ide-ide baru dan kegiatankegiatan baru yang menyegarkan sekaligus berusaha memajukan kelompok. Dalam memainkan peranan tersebut hendaknya peserta memiliki karakteristik separti : a) Menunjukan keakraban antar anggota kelompok maupun dengan kelompok lain. b) Bersedia mengakui kekurangan atau kesalahan sendiri.

c) Menyajikan ide-ide yang baik d) Menghargai pendapat orang lain

e) Menunjukkan keinginanya untuk membantu teman f) Menghindari sikap monopoli waktu

g) Mengikuti kepemimpinan fasilitator h) Mengungkapkan pendapat tanpa menyinggung perasaan orang lain i) j) Menggunakan skemata atau pengetahuan awal yang dimiliki Mendorong kelompoknya untuk menggali masalah dan memperoleh pemecahan yang tepat

2.2.6

TEKNIK PELAKSANAAN a. Tempat duduk diatur demikian rupa sehingga peserta diskusi saling bertatap muka.

15

b. Fasilitator memperkenalkan pokok permasalahan secara umum. Msalah yang akan didiskusikan harus dipahami oleh seluruh anggota, pada tahapan ini ada satu masalah pokok. c. Fasilitator membagi anggota diskusi menjadi kelompok-kelompk kecil. Setiap keliompok diharuskan memiliki jumlah anggota kelompok yang sama. Artinya setiap anggota dikelompokkan dengan anggota yang ahli dalam bidang yang sama d. Setiap kelompok dipilih juru bicara yang sekaligus sebagai ketua kelompok dan sisanya sebagai anggota e. Fasilitator membagi sub-sub pokok permasalahan yang berbeda pada tiap kelompok dan menentukan permasalan mana yang akan dibahas f. Setiap kelompok diberi waktu yang sama untuk mendiskusikan masalah yang akan menjadi bagianya dan membuat kesimpulan g. Setelah masing-masing kelompok melakukan diskusi, selanjutnya adalah sesi evaluasi atau diskusi besar. Saat diskusi besar tiap-tiap juru bicara akan melaporkan hasil diskusinya lantas diharapkan terjadi sharing antar kelompok yang dipimpin oleh fasilitator h. Setelah juru bicara melaporkan hasil diskusinya dan telah tercapai kesepakatan bersama, penulis akan membacakan kesimpulan umum dari hasil diskusi. i. Fasiltator menutup diskusi.

2.2.7 a)

TAHAPAN-TAHAPAN BUZZ GROUP Menentukan pokok masalah umum yang harus dipahami oleh seluruh anggota dan hanya ada satu masalah pokok. b) menentukan sub pokok masalah umum agar topic yang dibahas dalam kelompok kecil bisa focus dan tidak terjadi tumpang tindih antar kelompok. c) Membagi anggota menjadi kelompok- kelompok kecil. Setiap kelompok, anggotanya disesuaikan dengan keahliannya dan bidang masing-masing.

16

d)

Menentukan waktu yang disediakan secara sama pada setiap kelompok untuk mendiskusikan masalah yang harus dibahas untuk didiskusikan bersama dalam diskusi besar.

e)

Masing-masing kelompok mendiskusikan masalahnya dan membuat kesimpulan.

f)

Hasil diskusi kelompok kecil disampaikan pada diskusi kelompok besar yang melibatkan semua kelompok kecil. Fasilitator memimpin setiap ketua kelompok kecil untuk membacakan hasil diskusi dan meminta persetujuan seluruh anggota diskusi besar

2.2.8

PRINSIP DASAR

Ada beberapa prinsip dasar Buzz Group yang harus dipenuhi. Di antaranya: a) Terdapat dua ketua, yaitu: ketua Buzz group yang bertugas memimpin diskusi besar dan ketua kelompok kecil yang memimpin diskusi pada kelompok kecil. b) Anggota diskusi dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas masalah secara spesifik. c) Tiap kelompok melakukan diskusi sesuai waktu yang telah ditentukan. d) Penyatuan ide diperlukan untuk mendapat hasil yang maksimal.

2.2.9 KUALIFIKASI ANGGOTA Setiap anggota Buzz Group setidaknya mempunyai kualifikasi sebagai berikut: a) Menunjukkan keinginan yang kuat untuk membantu teman yang lain. b) c) d) e) Bersedia dan mampu menjawab pertanyaan secara langsung. Menghargai pendapat orang lain. Mampu menyampaikan ide secara ringkas dan jelas. Dapat menunjukkan keakraban.

17

f) g)

Menghindarkan diri dari sikap memonopoli. Mengikuti kepemimpinan fasilitator.

2.2.10

JUMLAH PESERTA

Jika terlalu banyak peserta maka dikhawatirkan akan terjadi banyak pendapat yang berbeda yang akan sulit disatukan. Selain itu juga rasa tanggung jawab anggota kelompok akan berkurang. Sehingga pemecahannya tidak akan ditemukan. Maka dari itu jumlah peserta dalam Buzz group adalah tiga atau tujuh dan paling banyak sepuluh orang.

2.2.11

LAMA WAKTU DISKUSI

Waktu dalam buzz group biasanya 45 menit sampai satu jam. Sebenarnya, waktu maksimal yang dapat digunakan dalam Buzz Group adalah dua jam. Hal itu juga tergantung pada kerumitan masalah yang dibahas. Sebenarnya dengan adanya batas waktu maksimal mempunyai dampak negatif, yaitu akan membuat diskusi padam saat diskusi memanas ketika waktu telah habis. Namun ada juga dampak positifnya, yaitu menghindarkan kebosanan peserta diskusi. Dan apabila dalam diskusi belum ditemukan pemecahannya, maka akan dapat dilanjutkan pada diskusi selanjutnya.

2.2.12

BAGIAN-BAGIAN BUZZ GROUP

Dalam diskusi, umumnya terdapat bagian-bagian seperti di bawah ini: a) b) Persoalan yang biasanya dikemukakan oleh ketua diskusi. Persoalan diperjelas, dipertegas, dan akhirnya disetujui oleh seluruh kelompok. c) Pemecahan diungkapkan, perdebatan dimulai, dan semakin banyak pendapat yang disampaikan. d) e) Pemecahan masalah muncul setelah diolah oleh kelompok. Kesepakatan tercapai, ringkasan dibuat dan disetujui oleh kelompok.

18

2.2.13 CARA MEMPERMUDAH PELAKSANAAN Di bawah ini merupakan cara untuk mempermudah pelaksanaan Buzz Group a. Partisipasi setiap anggota harus ditingkatkan agar pemecahan masalah segera didapat. b. Setiap anggota harus mampu mengendalikan diri agar tidak menyampaikan informasi secara berlebihan. c. Membuat catatan tentang apa yang telah disampaikan agar tidak mudah lupa. d. e. f. Catat ide-ide dengan istilah yang jelas. Kendalikan emosi agar diskusi tidak menjadi ricuh. Apabila peserta diskusi mengungkapkan idenya terlalu panjang, minta agar mereka menyimpulkannya

19

BAB 3 PROMOSI KESEHATAN 3.1 Diagnosis Masalah 1. Hipertensi 2. Diabetes Melitus 3. Rematoid Arthritis 4. Hiperkolesterol 5. Kebiasaan Merokok 6. Judi 7. Pembuangan sampah yang belum terorganisir 8. Tuberkulosis Paru 9. Limbah Rumah Tangga

3.2 Prioritas Masalah Menurut data dari Puskesmas didapatkan penderita Diabetes Melitus di RW III Mulyorejo sebanyak %. Diabetes Melitus merupakan masalah yang belum dapat teratasi dan semakin tahun angka kejadiannya semakin meningkat.

3.3

Tujuan 1. Tujuan Program Mewujudkan pengetahuan warga mengenai Diabetes Melitus secara benar dan menurunkan angka kejadian penderita Diabetes Melitus. 2. Tujuan Pendidikan Menjadikan warga yang sehat dengan cek kesehatan dan rutin kontrol ke fasilitas kesehatan. 3. Tujuan Perilaku Warga mampu melaksanakan program dari tenaga kesehatan seperti mengatur pola diit, rutin berolahraga, dan bagi penderita minum obat teratur,

20

3.4

Sasaran Sasaran dari kegiatan ini adalah semua warga dewasa RW III Mulyorejo Surabaya.

3.5

Isi Kegiatan ini terdiri dari: Fasilitator Sekretaris : Endri Ekayamti : Dewi Sulistyorini

Ketua kelompok 1 : Atik Purwanti Dengan sub pokok bahasan mengenai faktor-faktor penyebab DM Ketua kelompok 2 : Dewi Arie Santi Yunita Dengan sub pokok bahasan mengenai gejala DM Ketua kelompok 3 : Ulum Mabruroh Dengan sub pokok bahasan mengenai komplikasi dari DM Ketua kelompok 4 : Ertina Anggraini Dengan sub pokok bahasan mengenai aktivitas untuk penderita DM Ketua kelompok 5 : Yuniar Dewi Dengan sub pokok bahasan mengenai diit dan pengobatan DM

3.6

Metode Metode yang digunakan adalah Buzz Group

3.7

Media Media yang digunakan adalah elektronik

3.8

Rencana Evaluasi Evaluasi direncanakan setelah satu bulan pemberian promosi kesehatan

21

3.9 No.

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Minggu I 1. identifikasi masalah pada warga dewasa RW III Mulyorejo 2. Bertemu dan untuk dengan kader Bulan November Minggu II Minggu III Minggu IV Desember Minggu IV

tokoh

masyarakat dan

mengambil

menentukan 1 prioritas masalah 3. Mengatur jadwal untuk melakukan dengan warga Mengadakan 4
4. dengan

diskusi

pertemuan warga,

membentuk Buzz Group Membentuk 5 untuk warga konseling RW III

Mulyorejo Evaluasi 6 Promkes kegiatan

22

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan 1. Mengetahui tentang pengertian, penyebab, gejala klinis, klasifikasi, penatalaksanaan, petunjuk hidup sehat dari Diabetes Melitus , komplikasi Petunjuk Hidup Sehat Diabetes Melitus. 2. Memahami metode Buzz Group terhadap resiko Diabetes Melitus.

4.2 Saran Diharapkan makalah ini lebih disempurnakan lagi oleh semua pihak agar dapat menjadi tambahan pengetahuan untuk asuhan keperawatan pada keperawatan komunitas dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan dalam praktek keperawatan komunitas khususnya pada resiko Diabetes Melitus.

23

DAFTAR PUSTAKA

24