Anda di halaman 1dari 20

BAB I LAPORAN KASUS

1.1. Identitas Pasien Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Agama Status Masuk RS : Tn. Y : Laki-laki : 30 tahun : Dusun II Kelurahan Tanjung Ali : Petani : Islam : Menikah : 09 Oktober 2012

1.2. Anamnesis 1. Keluhan Utama Benjolan di buah zakar kanan sejak 3 jam SMRS.

2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan ada benjolan di buah zakar kanan sejak 3 jam SMRS. Menurut pasien, benjolan tersebut sudah tidak dapat dimasukkan kembali dan terasa nyeri. Pasien menyangkal adanya benjolan di tempat lain. Pasien juga mengaku ada mual, masih bisa BAB dan kentut sejak 2 jam SMRS. Keluhan lain seperti, demam dan muntah disangkal.

3. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku benjolan sudah ada sejak 1 tahun yang lalu dan masih bisa dimasukkan. Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma, batuk dalam jangka waktu lama dan penyakit jantung disangkal. Pasien menyangkal adanya alergi obat-obatan maupun alergi makanan dan tidak ada riwayat penyakit prostat sebelumnya. Pasien belum pernah menjalani operasi sebelumnya.

4. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama. Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma, batuk-batuk lama, kelainan jantung dan keganasan dalam keluarga disangkal oleh pasien.

5. Riwayat Kebiasaan Pasien mengaku merokok satu bungkus satu hari. Pasien jarang berolahraga. Pasien tidak pernah mengkonsumsi minuman keras. Sebelum keluhan timbul, pasien sering melakukan pekerjaan berat seperti menyangkul, mengangkat tanah, dll karena berprofesi sebagai petani.

6. Riwayat Medikasi Pasien pernah berobat dengan keluhan yang sama sejak 1 tahun yang lalu dengan diagnosis dokter hernia reponibel tetapi dokter yang memeriksa tidak menyarankan operasi karena benjolan tersebut masih bisa dimasukkan kembali.

1.3. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : Tampak sakit sedang Kesadaran Status gizi Tanda vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan : 110/70 mmHg : 78 x/menit : 36,6oC : 22 x/menit : Compos mentis : Kesan gizi cukup

Status generalis - Kulit : ikterik (-), sianosis (-)

- Kepala

: Normocephali, rambut hitam dan tidak mudah rontok,

sudut nasolabialis simetris. a. Mata : edema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, refleks cahaya (+/+), b. Hidung : sekret (-/-), napas cuping hidung (-/-)

c. Mulut dan Tenggorokkan : mukosa bibir anemis (-), sianosis (-), lidah kotor (-), papil atrophi (-), tonsil T1/T1, faring hipermis (-) d. Telinga : nyeri tekan tragus (-/-), gangguan pendengaran (-/-)

- Leher : Inspeksi : simetris, massa (-) Palpasi JVP : pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran KGB (-) : 5-2 cmH2O

- Thorax : Simetris, gerak napas tertinggal (-/-), pektus ekskavatum (-) Pulmo : a. Inspeksi b. Palpasi c. Perkusi : sela iga melebar (-/-), otot bantuan napas (-/-) : vokal fremitus hemitoraks dextra = sinistra : sonor, batas paru-hepar ICS VI

d. Auskutasi : vesikuler (+/+) normal, ronki (-/-), wheezing (-/-) Cor : a. Inspeksi b. Palpasi c. Perkusi : iktus kordis tidak tampak : iktus kordis teraba di ICS VI linea mid clavicula sinistra : batas atas : ICS II

batas kanan : linea parasternalis dextra batas kiri : ICS VI linea mid aksilaris anterior sinistra

d. Auskultasi : S1/S2 (+) reguler, murmur (-), gallop (-)

- Abdomen Inspeksi : datar, lemas, massa (-)

Palpasi Perkusi

: nyeri tekan (-), teraba massa (-), hepar-lien tidak teraba : timpani, nyeri ketok (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal

- Ekstremitas a. Superior : akral hangat, edema (-/-) sianosis (-/-), CRT < 2 detik b. Inferior : akral hangat, edema (-/-), pitting edema (-/-), sianosis (-/-), CRT < 2 detik - Urogenitalia Lihat status lokalis.

Status lokalis genitalia Inspeksi : terdapat massa dengan bentuk lonjong dengan diameter 5 cm di daerah skrotum dextra, berwarna seperti warna kulit disekitarnya dan tidak terdapat tanda-tanda radang. Palpasi : teraba massa di daerah skrotum dextra dengan diameter 5 cm, massa ireponibel (+), permukaan rata, nyeri, massa teraba lunak, fluktuasi (-), testis tidak teraba, transluminasi (-).

1.4. Pemeriksaan Tambahan Laboratorium 1. Hematologi - Hb : 13,2 gr/dl - Leukosit : 13.700 / ul - Trombosit : 238.000 / ul - Hematokrit : 39 % - Hitung Jenis : Basofil 0 Eosinofil 0 Netrofil Batang 2 Netrofil Segmen 85 Limfosit 11 Monosit 2

- Golongan darah : B, Rh (+) - BT : 2 menit - CT : 10 menit 2. Kimia Darah - BSS : 95 mg/dl - SGOT : 31 u/L - SGPT : 20u/L - Ureum : 25 mg/dl - Creatinin : 0,52 mg/dl

1.5. Diagnosa Kerja Hernia Scrotalis Dextra Inkarserata

1.6. Penatalaksanaan 1. 2. 3. 4. Pada pasien ini dilakukan operasi cito herniorepair. Balance cairan dengan pemberian infus RL gtt 20x/menit. Pemasangan kateter. Medikamentosa: a. b. c. d. e. inj. Cefotaxime 2x1 amp, inj. Ketorolac 30mg 3x1, inj. Metronidazole 3x500 mg, inj. Ranitidin 2x1 amp, inj. Diazepam 1x1 amp.

1.7. Prognosis Quo ad vitam : dubia ad bonam. Quo ad functionam : dubia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kata hernia pada hakekatnya berarti, penonjolan suatu kantong peritoneum, suatu organ atau lemak pra peritoneum melalui cacat kongenital atau akuisita dalam parietes muskuloaponeurotik dinding abdomen, yang normalnya tak dapat dilewati.1 Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.2 Hernia skrotalis adalah lanjutan dari hernia inguinalis indirek dimana tonjolan akan sampai ke skrotum.2 Hernia disebut hernia inkarserata bila isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga perut, akibatnya terjadi gangguan pasase usus.2

2.2. Anatomi Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan aponeurosis m. transverses abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, yaitu bagian terbuka dari aponeurosis m. oblikus eksternus. Atapnya adalah aponeurosis m. oblikus eksternus, dan dasarnya adalah ligamentum inguinale. Kanal ini berisi funiculus spermaticus pada laki-laki dan ligamentum rotundum pada perempuan.2

Gambar 1. Kanalis inguinalis Hernia inguinalis indirek, disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus. Jika berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum dan disebut hernia skrotalis. Kantong hernia terletak di dalam m. kremaster, anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain dalam funikulus spermatikus.2

Gambar 2. Skrotum normal

Gambar 3. Hernia skrotalis Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia. Pada beberapa kasus, kantong peritoneal menonjol melalui defek dan membentuk kantong
8

hernia yang mempunyai leher, badan, dan fundus. Kantong hernia dapat muncul secara permanen atau hanya timbul bila terjadi peningkatan tekanan intraabdomen.3 Isi hernia dapat terdiri atas omentum, usus, bagian lengkung usus, divertikulum Meckel, dua lengkung usus, kandung kemih. Isi hernia yang paling sering adalah omentum, dan bila terjadi hipertrofi dapat mengakibatkan irreponibel yang sub-akut, dan apabila penonjolannya semakin membesar dapat menyebabkan irreponibel.4 Bagian tepi yang mengelilingi defek disebut cincin hernia.3 Diameter dari leher kantong hernia sangat penting, karena terjadinya komplikasi seperti strangulasi pada usus dapat disebabkan oleh leher kantong yang sempit.

Gambar 4. Bagian-bagian hernia

2.3. Etiologi Hernia inguinalis dapat terjadi akibat anomali kongenital atau sebab lain yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak pada lelaki dibanding perempuan. Hal ini mungkin karena annulus inguinalis eksternus pada pria lebih besar dibanding wanita. Selain itu juga karena perjalanan embriologisnya dimana testis pada pria turun dari rongga abdomen melalui kanalis inguinalis. Seringkali kanalis tidak menutup sempurna setelahnya. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga bisa dimasuki oleh kantong dan isi hernia. Selain itu diperlukan juga faktor yang bisa mendorong isi hernia melalui pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.2,5,6,7
9

Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan intra abdomen lebih lanjut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Akibatnya isi intraabdomen keluar melalui celah tersebut.2,5 Tekanan intraabdomen yang tinggi secara kronik seperti batuk kronik, mengedan saat miksi atau defekasi (misal karena hipertrofi prostat atau konstipasi), ascites, obesitas atau mengangkat beban berat sering mendahului hernia inguinalis. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum, hernia disebut hernia skrotalis.2,8 Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan berkurangnya kekuatan jaringan penunjang.2 Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendektomi juga merupakan etiologi terjadinya hernia inguinalis.2 Hernia inkarserata merupakan salah satu hernia yang tak dapat direposisike dalam kavitas abdominalis. Istilah lain untuk hernia inkaserata adalah hernia ireponibel. Sepuluh persen dari semua hernia inguinalis tampil sebagai hernia inkarserata, sedangkan 20 sampai 25 persen hernia femoralis tampil sebagai hernia inkaserata.1

2.4. Patofisiologi Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya, bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.2 Hernia indirek bersifat kongenital dan disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus vaginalis (kantong hernia) sewaktu turun ke dalam skrotum. Kantong yang dihasilkan bisa meluas sepanjang kanalis inguinalis; jika meluas ke dalam skrotum, maka disebut hernia skrotalis. Karena

10

prosesus vaginalis terletak di dalam funikulus spermatikus,maka prosesus ini dikelilingi oleh muskulus kremaster dan dibentuk dari pleksus venosus pampiniformis, duktus spermatikus dan arteria spermatika. Tetapi dalam keadaan prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut karena usia dapat membentuk pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar. Sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Di samping itu terdapat pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.1,2,9 Sekali terjadi hernia inkarserata, maka mungkin terjadi strangulasi karena pembengkakan progresif isi inkarseta bisa timbul sebagai hasil obstruksi vena dan pembuluh limfe di leher kantong. Hal ini akan menimbulkan edema lebih lanjut; kemudian tekanan meningkat sedemikian rupa sehingga aliran masuk arteri terancam dan bisa berlanjut menjadi iskemia parah dan gangrene usus inkarserata. Sehingga jika hernia tidak direposisi pada waktu yang tepat, maka strangulasi diikuti oleh gangren, yang bisa membahayakan dan mungkin mengharuskan operasi segera.1

2.5. Gejala Klinis Pada umumnya keluhanpada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan, dan menghilang waktu berbaring. Tetapi pada kasus hernia reponibel, benjolan tidak dapat direposisi kembali. Keluhan nyeri jarang dijumpai, bila ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilical berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah, afflatus dan tidak BAB baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren. 2

2.6. Diagnosis Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan

11

di lipat paha yang muncul waktu berdiri, batuk, bersin, mengangkat benda berat atau mengedan, dan menghilang saat berbaring. Sedangkan pada hernia ireponibel, benjolan tidakdapat direposisi kembali. Pasien sering mengatakan sebagai turun berok, burut atau kelingsir. Keluhan nyeri biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong. Nyeri yang disertai mual dan muntah baru muncul kalau terjadi inkarserata karena ileus atau strangulasi karena nekrosis.2 Pada inspeksi, saat pasien diminta mengedan dalam posisi berdiri dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Perlu diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi lipat paha, skrotum atau labia dalam posisi berdiri dan berbaring. Pasien lalu diminta mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan yang asimetri dapat dilihat. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum, hernia disebut hernia skrotalis.2 Pada palpasi, dilakukan saat ada benjolan hernia, diraba konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah dapat direposisi atau tidak. Jika hernia sudah tidak dapat direposisi, biasa disebut dengan hernia ireponibel.2 Diagnosis pasti hernia umumnya sudah bisa dilakukan dengan pemeriksaan klinis yang teliti. Hernia ini harus dibedakan dari hidrokel atau elephantiasis skrotum. Testis yang teraba dapat dipakai sebagai pegangan untuk membedakannya.2

2.7. Tatalaksana Jika pasien muncul dengan hernia inkaserata, dalam banyak kasus dapat direposisi secara manual, sehingga memungkinkan operasi dilakukan secara terencana. Tekanan lembut pada massa hernia ke arah anulus inguinalis, biasanya dengan pasien dalam posisi kepala lebih rendah (Trendelenburg) umumnya efektif. Jika massa ini nyeri tekan dan tekanan

12

menyebabkan nyeri, maka obat analgesik yang tepat dapat diberikan untuk menghilangkan ketidaknyamanan dan tindakan ini dapat diulangi.1 Pendekatan bedah pada hernia inkaserata dalam keadaan gawat darurat, serupa dengan keadaan terencana. Setelah kantong hernia dikenali dan dibebaskan, maka kantong dibuka dan isinya diperiksa. Jika ada usus yang non-viabel, maka reseksi dilakukan. Usus halus dan omentum merupakan jaringan yang paling sering mengalami inkaserata. Jika ada keraguan tentang adanya gangren, maka bantalan hangat dan lembut diletakkan di atas usus dan dibiarkan selama sekitar 20 menit. Perhatikan warna usus maupun adanya pulsasi arteri dalam arteria mesenterika yang kecil. Jika isi inkarserata viable, maka bisa direposisi dengan menginsisi leher kantong hernia, yang memungkinkan isi masuk kembali ke dalam kavitas peritonealis. Perbaikan hernia selanjutnya dilakukan operasi dengan tehnik yang akan dibahas selanjutnya.1 Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi. Karena potensinya menimbulkan komplikasi inkarserasi atau strangulasi lebih berat dibandingkan resiko yang minimal dari operasi hernia (khususnya bila menggunakan anastesi lokal). Khusus pada hernia femoralis, tepi kanalis femoralis yang kaku meningkatkan resiko terjadinya inkarserasi.10

13

Gambar 5. Herniotomi dan hernioplastik Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniorraphy dapat dikelompokkan dalam 4 kategori utama adalah sebagai berikut. Kelompok 1: Open Anterior Repair10,11,12 Kelompok 1 operasi hernia (teknik Bassini, McVay dan Shouldice) melibatkan pembukaan aponeurosis otot obliquus abdominis eksternus dan membebaskan funikulus spermatikus. Fascia transversalis kemudian dibuka, dilakukan inspeksi kanalis inguinalis, celah direct dan indirect. Kantung hernia biasanya diligasi dan dasar kanalis spinalis direkonstruksi.

a.

14

Teknik Bassini10,12 Komponen utama dari teknik bassini adalah sebagai berikut. o o Membelah aponeurosis otot obliquus abdominis eksternus dikanalis ingunalis hingga ke cincin ekternal. Memisahkan otot kremaster dengan cara reseksi untuk mencari hernia indirect sekaligus menginspeksi dasar dari kanalis inguinal untuk mencari hernia direct. o o o Memisahkan bagian dasar atau dinding posterior kanalis inguinalis (fascia transversalis). Melakukan ligasi kantung hernia seproksimal mungkin. Rekonstuksi di dinding posterior dengan menjahit fascia

transversalis, otot transversalis abdominis, dan otot abdominis internus ke ligamentum inguinalis lateral. Teknik kelompok ini berbeda dalam pendekatan mereka dalam rekontruksi, tetapi semuanya menggunakan jahitan permanen untuk mengikat fascia disekitarnya dan memperbaiki dasar dari kanalis inguinalis, kelemahannya, yaitu tegangan yang tejadi akibat jahitan tersebut, selain dapat menimbulkan nyeri juga dapat terjadi nekrosis otot yang akan menyebakan jahitan terlepas dan mengakibatkan

kekambuhan. b. Kelompok 2: Open Posterior Repair13 Open posterior repair (iliopubic tract repair dan teknik Nyhus) dilakukan dengan membelah lapisan dinding abdomen superior hingga ke cincin luar dan masuk ke properitoneal space. Diseksi kemudian diperdalam ke semua bagian kanalis inguinalis. Perbedaan utama antara teknik ini dan teknik open anterior adakah rekonrtuksi dilakukan dari bagian dalam. Posterior repair sering digunakan pada hernia dengan kekambuhan karena menghindari jaringan parut dari operasi

sebelumnya. Operasi ini biasanya dilakukan dengan anestesi regional atau anestesi umum.

15

c.

Kelompok 3: Tension-Free Repair With Mesh12,13 Kelompok 3 operasi hernia (teknik Lichtenstein dan Rutkow) menggunakan pendekatan awal yang sama degan teknik open anterior. Akan tetapi tidak menjahit lapisan fascia untuk memperbaiki defek, tetapi menempatkan sebuah prosthesis, mesh yang tidak diserap. Mesh ini dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan tegangan dan ditempatkan disekitar fascia. Hasil yang baik diperoleh dengan teknik ini dan angka kekambuhan dilaporkan kurang dari 1 persen.

Gambar 6. Open mesh repair Beberapa ahli bedah meragukan keamanan jangka panjang penggunaan implant prosthesis, khususnya kemungkinan infeksi atau penolakan. Akan tetapi pengalaman yang luas dengan mesh hernia telah mulai menghilangkan anggapan ini, dan teknik ini terus populer. Teknik ini dapat dilakukan dengan anestesi lokal, regional atau general. d. Kelompok 4: Laparoscopic10,13,14 Operasi hernia laparoscopik makin populer dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga menimbulkan kontroversi. Pada awal pengembangan teknik ini, hernia diperbaiki dengan menempatkan potongan mesh yang besar di region inguinal di atas peritoneum. Teknik ini ditinggalkan karena potensi obstruksi usus halus dan pembentukan fistel karena paparan usus terhadap mesh. Saat ini kebanyakan teknik laparoscopic herniorrhaphies dilakukan menggunakan salah satu pendekatan transabdominal
16

preperitoneal (TAPP) atau total extraperitoneal (TEP). Pendekatan TAPP dilakukan dengan meletakkan trokar laparoscopik dalam cavum abdomen dan memperbaiki region inguinal dari dalam. Ini

memungkinkan mesh diletakkan dan kemudian ditutupi dengan peritoneum. Sedangkan pendekatan TAPP adalah prosedur

laparoskopik langsung yang mengharuskan masuk ke cavum peritoneal untuk diseksi. Konsekuensinya, usus atau pembuluh darah bisa cidera selama operasi.

Gambar 7. Laparoscopic mesh repair

2.8. Prognosis Hasil koreksi bedah pada hernia inkaserata dan strangulate menunjukkan perlunya perbaikan semua hernia secara elektif. Jika reseksi usus diperlukan, maka mortalitas meningkat lebih lanjut. Sering terjadi sekunder akibat syok septik yang ditimbulkan oleh jaringan gangren. Data tersebut juga menekankan sifat gawat darurat hernia inkaserata. Mortalitas sekitar 8 persen dalam pasien hernia femoralis inkaserata yang dioperasi dalam 24 jam, tetapi mortalitas meningkat sampai hampir 50 persen jika lebih dari 24 jam telah berlalu antara inkarserasi dan perbaikan bedah. Morbiditas juga meningkat, dan infeksi luka merupakan komplikasi paling lazim pasca bedah, yang timbul dalam 5 sampai 10 persen pasien hernia inkarserata atau strangulata.1
17

BAB III ANALISIS KASUS


Seorang laki-laki 30 tahun datang ke RSUD Palembang Bari dengan keluhan ada benjolan di buah zakar kanan sejak 3 jam SMRS. Menurut pasien, benjolan tersebut sudah tidak dapat dimasukkan kembali dan terasa nyeri. Pasien menyangkal adanya benjolan di tempat lain. Pasien juga mengaku ada mual, masih bisa BAB dan kentut sejak 2 jam SMRS. Keluhan lain seperti, demam dan muntah disangkal. Dari keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit ini dapat dipikirkan beberapa diagnosis untuk keluhan seperti yang dirasakan oleh pasien ini dengan usia 30 tahun, yaitu hernia, hidrokel atau elephantiasis skrotum. Pasien mengaku benjolan sudah ada sejak 1 tahun yang lalu dan masih bisa dimasukkan. Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma, batuk dalam jangka waktu lama dan penyakit jantung disangkal. Pasien menyangkal adanya alergi obat-obatan maupun alergi makanan dan tidak ada riwayat penyakit prostat sebelumnya. Pasien belum pernah menjalani operasi sebelumnya. Pasien pernah berobat dengan keluhan yang sama sejak 1 tahun yang lalu dengan diagnosis dokter hernia reponibel tetapi dokter yang memeriksa tidak menyarankan operasi karena benjolan tersebut masih bisa dimasukkan kembali. Pekerjaan pasien sebagai petani. Dari informasi riwayat penyakit terdahulu, pasien pernah berobat dengan keluhan yang sama sejak 1 tahun yang lalu dengan diagnosis dokter hernia reponibel tetapi dokter yang memeriksa tidak menyarankan operasi karena benjolan tersebut masih bisa dimasukkan kembali. Pekerjaan pasien sebagai petani. Berdasarkan hasil tersebut, kemungkinan diagnosis pasien ini adalah hernia ireponibel. Dari hasil pemeriksaan fisik status generalis ditemukan dalam batas normal dan dari hasil pemeriksaan status lokalis urologikus, pada inspeksi: terdapat massa dengan bentuk lonjong dengan diameter 5 cm di daerah skrotum dextra, berwarna seperti warna kulit disekitarnya dan tidak terdapat tanda-tanda radang. Pada palpasi: teraba massa di daerah skrotum dextra dengan diameter 5

18

cm, massa ireponibel (+), permukaan rata, nyeri, massa teraba lunak, fluktuasi (-), testis tidak teraba, transluminasi (-). Dari hasil pemeriksaan laboratorium darah, ditemukan leukosit 13.700, ini menandakan ada infeksi pada pasien ini sedangkan hasilnya lain dalam batas normal. Berdasarkan hasil temuan baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun hasil pemeriksaan penunjang, maka dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami Hernia Scrotalis Dextra Inkarserata. Penderita ini direncanakan akan dilakukan operasi cito herniorepair. Balance cairan dengan pemberian infus RL gtt 20x/menit dan pemasangan kateter. Medikamentosa dapat kita berikan, inj. Cefotaxime 2x1 amp, inj. Ketorolac 30mg 3x1, inj. Metronidazole 3x500 mg, inj. Ranitidin 2x1 amp, inj. Diazepam 1x1 amp. Prognosis pada pasien ini untuk quo ad vitam, yaitu dubia ad bonam, dan quo ad functionam, yaitu dubia.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. Sabiston dan David, C. 1994. Buku Ajar Bedah. EGC, Jakarta. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. EGC, Jakarta. 3. She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Alih Bahasa Laniyati Celal, editor Linda Chandranata - Jakarta, EGC, 2000, hal 509 515. 4. 5. Marijata. 2006. Pengantar Dasar Bedah Klinis.UPK,FK UGM, Yogyakarta. Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. At A Glance : Ilmu Bedah. Ed.3. 2006. Jakarta : Erlangga Medical Series. 6. Inguinal Hernia. Wikipedia the free encyclopedia. Last Updated : April 24th 2011. (Available from http://en.wikipedia.org/wiki/Inguinal_hernia) 7. Inguinal Hernia. National Digestive Disease Information Clearinghouse. Last Updated December 2008. (Available from

http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/inguinalhernia) 8. Balentine, Jerry R. dan Stoppler, Melissa Conrad. Hernia. eMedicine Health. (Available from

http://www.emedicinehealth.com/hernia/article_em.htm) 9. She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Alih Bahasa Laniyati Celal, editor Linda Chandranata Jakarta, EGC, 2000, hal 509-515 10. Gary G. Wind. Applied Laparoscopic Anatomy (Abdomen and Pelvis). Edisi I. Penerbit Williams & Wilkins, a Waverly Company. 1997. 11. Brian W. Ellis & Simon P-Brown. Emergecy surgery. Edisi XXIII. Penerbit Hodder Arnold. 2006. 12. Michael M. Henry & Jeremy N. T. Thompson. Clinical Surgery. Edisi II. 2005. 13. R. Bendavid, J. Abrahamson, Mauruce E. A, dkk. Abominal Wall Hernias (Principles and Management). Edisi I. Penerbit Sringer-Varlag. New York. 2001. (Ebook) 14. Michael S. Kavic. Laparoscopic Hernia Repair. Edisi I. Penerbit Harwood Academic Publishers. Amsterdam. 1997. (Ebook)

20