Anda di halaman 1dari 23

Pemahaman Etika

1. Pendahuluan
Berbagai kejahatan kerah putih saat ini terus muncul dan semakin meningkat. Dari berbagai bentuk kejahatan kerah putih, kejahatan yang paling tinggi tingkat kecurangannya yang menyebabkan kerugian pada masyarakat adalah kecurangan pembuatan laporan keuangan. Bentuk kejahatan ini langsung atau tidak langsung melibatkan akuntan. Hal ini mengakibatkan etika pada pembelajaran akuntansi menjadi salah satu topik yang dianggap penting untuk diajarkan. Di Indonesia berbagai kasus kejahatan kerah putih telah terjadi. Korupsi, manipulasi laporan pajak, serta berbagai bentuk penyalahgunaan kekayaan negara membuat Indonesia termasuk negara yang peringkat korupsinya buruk. Oleh karenanya pemahaman tentang etika, khususnya etika profesi, yang dalam hal ini adalah etika profesi akuntan perlu diajarkan kepada para mahasiswa dan akuntan profesional.

2. Pengertian dan Definisi Etika


Etika sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).

Etiket adalah tata cara (adat sopan santun) di masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. Velasquez, 2006 : etika adalah mata ajar atau ilmu yang mempelajari standar moral seseorang atau masyarakat. Velasquez, 2006 menjelaskan bahwa tidak hanya etika yang mempelajari moralitas. Ilmu ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, dan psikologi juga mempelajari moralitas.

3. Tujuan Mempelajari Etika


Duska & Duska, 2006:
Beberapa keyakinan yang dimiliki seseorang tidak cukup kuat, dikarenakan keyakinan yang dimiliki yang bersangkutan sangat sederhana dalam menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks. Dalam beberapa situasi, konflik antar prinsip prinsip etika sangatlah sulit untuk menentukan apa yang harus dilakukan berkaitan dengan tindakan yang beretika atau tidak beretika. Banyak kaum professional yang tidak memiliki keyakinan yang cukup atau hanya berpegang pada nilai nilai yang terbatas. Memahami apakah dan mengapa pendapat dari kaum professional itu dijadikan pegangan. Belajar menentukan prinsip prinsip etika dasar yang dapat diterapkan untuk suatu kegiatan.

4. Mempelajari Tindakan Benar atau Salah


Standar moral merupakan prinsip prinsip yang didasarkan pada agama, budaya, atau keyakinan filosofis yang menjadi pertimbangan perilaku baik atau buruk. Keyakinan ini dapat berasal dari berbagai sumber yang berbeda, seperti dari rekan rekan, keluarga, latar belakang etnis, agama, sekolah, media, serta peranan yang memiliki pengaruh. Bila sekelompok orang mempunyai pandangan yang sama tentang benar atau salah, artinya kelompok tersebut memiliki pengertian atau sistem nilai nilai yang sama. Suatu kelompok profesi adalah kumpulan dari orang orang yang memiliki keahlian dan nilai nilai yang sama. Pengertian benar atau salah pada kelompok ini juga dapat diperoleh dari aturan tentang nilai nilai yang dimiliki oleh suatu kelompok profesi tersebut. Aturan ini lazim disebut sebagai kode etik profesi.

5. Pengertian Etika Bisnis


Velasquez, 2006: Etika bisnis merupakan salah satu kajian khusus tentang moral yang benar atau yang salah yang dititik beratkan pada standar moral yang diterapkan pada lembaga, organisasi serta perilaku dunia usaha. Ghillyer, A., 2008: Etika bisnis sebagai penerapan standar perilaku moral pada dunia usaha. Perlu dipahami dan ditentukan siapa saja para pemain yang akan memberikan dampak pada perilaku yang etis atau tidak etis pada dunia usaha. Para pemain tersebut lazim disebut dengan pemangku kepentingan atau stakeholders. Pemangku kepentingan adalah seseorang, sekelompok orang atau organisasi yang memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dengan dunia usaha

5. Pengertian Etika Bisnis


Tabel 1.1 Keinginan dan Kebutuhan Pemangku Kepentingan
Jenis Pemangku Kepentingan 1. Pemegang saham 2. Karyawan 3. Pelanggan Keinginan dan Kebutuhan atas Organisasi Bisnis
Pertumbuhan nilai saham perusahaan Penghasilan deviden Pekerjaan yang stabil dengan tingkat gaji yang sesuai Lingkungan kerja yang aman serta menyenangkan Pertukaran yang jujur antara harga yang dibayar dengan jumlah dan kualitas yang didapat Barang dan jasa yang aman dan dapat dipercaya Pembayaran yang sesuai atas barang dan jasa yang diberikan Pemesanan yang berkelanjutan dengan tingkat laba yang sesuai Pengiriman yang tepat waktu atas barang dan jasa Produk dan jasa yang aman dan dapat dipercaya Perhitungan dan pembayaran pajak yang benar Ketaatan pada peraturan dan Undang Undang Pembayaran pokok dan bunga pinjaman secara tepat waktu Mempekerjakan karyawan dari masyarakat sekitar Pertumbuhan perekonomian Perlindungan lingkungan di sekitarnya

4. Pemasok 5. Distributor 6. Pemerintah 7. Kreditor/Pemberi Pinjaman 8. Komunitas/Masyarakat sekitar

6. Dilema Etika
Dilema etika adalah situasi dimana tidak jelas apakah suatu keputusan itu benar atau salah. Saran Ghillyer, A., 2008 bila menghadapi dilema etika:
Lakukan analisa konsekuensi atas tindakan tersebut. Lakukan analisa pilihan atas tindakan tindakan itu sendiri Buatlah keputusan

7. Model Perkembangan Moral Kognitif/Pengetahuan


Tabel Enam Tahapan Pembelajaran Moral Kholberg
Tahapan Motif untuk Mengerjakan yang Benar

Pre Konvensional
1.Hukuman 2.Egoisme Konvensional 3.Kesesuaian Interpersonal 4.Hukum dan Tugas Harapan atas peran atau persetujuan dari pihak lain Ketaatan pada aturan moral atau hukum dan aturan
Takut pada Hukuman dan Otoritas

Kesenangan Diri, perhatian hanya untuk diri sendiri

Post-Konvensional
5.Hak-hak individu sec umum 6.Prinsip yg dipilih sendiri Perhatian pada pihak lain dan kemakmuran masyarakat yang lebih luas Perhatian pada prinsip moral dan etika

3. Tanggapan dan Perkembangan Dunia Usaha


Kerangka Kerja Tata Kelola Perusahaan
Pemangku Kepentingan
Pemegang Saham

Memilih

Dewan Komisaris & Komite: - Audit, - Tata Kelola - Kompensasi

Auditor

Fungsi Fungsi Pengawasan yang Penting: Arah & Batasan: Kebijakan, Aturan, Budaya Petunjuk: Strategi, Tujuan, Remunerasi, Insentif Penunjukkan DirUt, yang akan menunjuk Direksi yang lain. Menetapkan sumber daya Memonitor umpan balik Operasi, komplain atas kebijakan, laporan keuangan Laporan pada pemegang saham, pemerintah Penetapan Auditor Eksternal

3. Tanggapan dan Perkembangan Dunia Usaha


Faktor Faktor yang mempengaruhi Reputasi Perusahaan
Reliabilitas Kredibilitas

Reputasi Perusahaan

Responsibilitas Dapat Dipercaya

3. Tanggapan dan Perkembangan Dunia Usaha


Daftar Risiko Etika
Harapan Pemangku Kepentingan yang Tidak Terpenuhi
1. Pemangku Kepentingan: a. Pencurian, penggunaan yang tidak sesuai atas dana atau aktiva perusahaan. b. Konflik kepentingan di antara pengelola perusahaan c. Tingkat kinerja d. Transparansi, keakuratan pelaporan 2. Karyawan a. Keamanan b. Pembedaa c. Penggunaan tenaga kerja anak anak 3. Pelanggan a. Keamanan b. Kinerja 4. Aktivis lingkungan a. Polusi

Risiko Etika

Kejujuran, Integritas Prediktibilitas, Responsibilitas Responsibilitas, Kejujuran Kejujuran, Integritas Keadilan Keadilan Rasa iba, Keadilan Keadilan Keadilan,Integritas Integritas, Responsibilitas

3. Tanggapan dan Perkembangan Dunia Usaha


3.3. Akuntabilitas Meningkatnya kepentingan dan akuntabilitas pemangku kepentingan, serta kegagalan keuangan dari Enron, Arthur Anderson, dan WorldCom, telah memunculkan keinginan untuk membuat laporan yang lebih sesuai bagi berbagai kepentingan dari para pemangku kepentingan, lebih transparan, serta lebih akurat dibanding waktu yang lalu. Secara umum, diakui bahwa laporan perusahaan itu kurang menunjukkan adanya integritas dikarenakan tidak mencakup semua isue isue, atau tidaklah selalu menunjukkan penyajian yang seimbang dan jelas perihal bagaimana kepentingan para pemangku kepentingan itu dipengaruhi. Terkadang isue sue tersebut diperhatikan, tetapi dalam arti yang tidak sesuai yang terbatas transparansinya sehingga membuat bingung pembaca. Oleh karenanya penyajian yang akurat merupakan hal yang mendasar bagi pemahaman atas fakta fakta yang terjadi.

4. Perkembangan pada Etika Dunia Usaha


4.1. Konsep dan Istilah Konsep pemangku kepentingan Meski beberapa pemangku kepentingan tidak memiliki tuntutan secara langsung terhadap perusahaan, namun mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perusahaan secara menguntungkan atau tidak menguntungkan. Lebih lanjut, tuntutan dari beberapa pemangku kepentingan ini kemudian dapat menjadi ketentuan yang diatur dalam suatu undang undang atau pearturan negara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat tersebut disebut sebagai pemangku kepentingan dan kepentingan mereka merupakan hak hak pemangku kepentingan. Contoh kelompok pemangku kepentingan ini antara lain para pekerja, pelanggan, pemasok, pemberi pinjaman, pemerintah, pemerhati lingkungan, dan yang pasti pemegang saham.

4. Perkembangan pada Etika Dunia Usaha


Konsep kontrak sosial perusahaan Seperti telah dijelaskan sebelumnya, akuntabilitas perusahaan diperluas tidak hanya ditujukan kepada pemegang saham, tetapi juga pada pemangku kepentingan. Dengan demikian argumentasinya adalah bahwa perusahaan itu beroperasi untuk menghasilkan keuntungan tanpa membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya akibat operasi tersebut dan lebih baik dilakukan dengan cara yanag menguntungkan masyarakat. Hal ini tentunya melibatkan hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Konsep ini lazim disebut dengan kontrak sosial perusahaan.

4. Perkembangan pada Etika Dunia Usaha


4.2. Pendekatan terhadap Pembuatan Keputusan yang Beretika Beberapa pendekatan dan analisis: Pertama, dikenal sebagai Pendekatan Lima Pertanyaan (Five Question Approach) yaitu pendekatan yang melibatkan berbagai kebijakan atau tindakan yang dirancang dengan memperingkat usulan berskala sebagai berikut: kemampuan untuk memperoleh keuntungan (profitability); legalitas (legality); kejujuran (fairness); dampak pada hak hak setiap pemangku kepentingan (rights); dan khususnya dampak pada lingkungan (environment). Pertanyaan pertanyaan tersebut dipertanyakan serta diperingkat atau bahkan dikesampingkan tergantung pada derajat apakah nilai nilai etika perusahaan dilanggar. Sering kali, pilihan pilihan tersebut dimodifikasi agar menjadi lebih etis. Kedua adalah Pendekatan Standard Moral(Moral Standard Approach) yang dikembangkan oleh Prof Manuel Velasquez Ketiga, pendekatan terakhir dari analisis dampak pemangku kepentingan adalah Pendekatan Pastin (Pastin Approach) yang diciptakan oleh Prof Mark Pastin, yang mengembangkan Pendekatan Moral Standard dengan cara memasukkan budaya tertentu dalam perusahaan yang sering disebut dengan permasalahan umum (common problems).

5. Lingkungan Etika bagi Akuntan Profesional


5.1. Peran dan Peraturan Tanpa memperdulikan apakah bekerja dalam bidang audit atau fungsi layanan asuransi, sebagai manajemen, atau di dunia konsultasi, para akuntan profesional secara historis dipandang seorang yang memiliki kemampuan dalam memutuskan sesuatu di sisi akuntabilitas organisasi serta seorang yang ahli dalam pengetahuan tentang pengambilan keputusan. Terdapat kemungkinan yang penting yaitu bahwa kesenjangan ekspektasi (expectation gap) antara apa yang dipikirkan pengguna audit dan laporan keuangan (pemangku kepentingan) dengan apa yang sebenarnya mereka terima akan menjadi lebih buruk bila para akuntan terlihat tidak menampakkan standar perilaku yang beretika.

5. Lingkungan Etika bagi Akuntan Profesional


Perubahan yang utama dalam lingkungan etika bagi dunia usaha adalah pemahaman tentang bagaimana para akuntan harus menginterpretasikan dan memahami aturan profesionalnya, sebagaimana layaknya para karyawan di perusahaan memahami aturan etika perusahaannya. Pada saat yang bersamaan, meski masyarakat mengharapkan para akuntan tanggap terhadap aturan profesional seperti objektivitas, integritas, dan konfidensialitas, yang dirancang untuk melindungi hak hak fundamental dari masyarakat, namun karyawan atau akuntan harus bersikap tanggap terhadap perintah manajemen serta kebutuhan dari para pemegang saham. Trade-off ini sangat lah sulit. Para akuntan harus menjamin bahwa nilai nilai etika nya tetap berlaku serta mereka selalu siap untuk bertindak dengan sebaik baiknya dalam peran profesionalnya.

5. Lingkungan Etika bagi Akuntan Profesional


5.2. Tata Kelola Globalisasi dan internasionalisasi telah meliputi dunia perusahaan, pasar modal, serta akuntabilitas perusahaan. Pemangku kepentingan itu telah mengglobal, dan kejadian kejadian yang menjadi suatu rahasia, saat ini dengan adanya media, khususnya TV, menjadi terbuka di setiap tayangan pada malam hari. Perusahaan perusahaan yang melakukan kegiatannya di seluruh dunia menjadi yakin bahwa mereka harus akuntabel dalam setiap aktivitasnya serta berusaha mencari cara cara yang efektif untuk mengelola, serta mencatat dan mengungkapkan berbagai kegiatannya yang mendunia.

5. Lingkungan Etika bagi Akuntan Profesional


Pada profesi akuntan, terdapat keinginan kuat untuk mengembangkan seperangkat prinsip prinsip akuntansi yang harmonis mendunia untuk memberikan efisiensi analitis bagi pemilik modal, serta bagi pasar modal dan efisiensi dalam perhitungan dan audit di seluruh dunia. Sebagai konsekuensinya, terdapat suatu rencana untuk secara bertahap menyelaraskan GAAP yang dikembangkan oleh International Accounting Standards Board (IASB) di London, England. Saat ini, International Federation of Accountants (IFAC) sedang mengembangkan aturan etika yang berlaku secara internasional bagi para akuntan.

5. Lingkungan Etika bagi Akuntan Profesional


5.3 Tugas/Layanan yang diberikan dan ditawarkan Dalam lingkungan global yang saat ini telah berubah, penawaran layanan non audit kepada klien audit, yang menjadi issue dalam kasus Arthur Andersen dan Enron, akan dibatasi sedemikian sehingga konflik kepentingan yang lebih dalam dapat dihindarkan. Munculnya dan bertumbuhnya kantor kantor jasa multidisipliner pad akhir 1990 an, seperti para ahli hukum dan ahli teknik yang memberikan rentang jaminan dan layanan yang lebih luas, mungkin akan melanjutkan untuk mengundurkan diri di saat kantor kantor akuntan besar menjual unit unit konsultasinya.

6. Mengelola Risiko dan Peluang Etika


Dampak yang meningkatkan harapan bagi dunia usaha secara umum, dan bagi para direktur, dan eksekutif, serta khususnya bagi para akuntan, telah memunculkan permintaan untuk reformasi tatakelola, pembuatan keputusan dan pengelolaan usaha yang beretika yang akan memberikan manfaat dari pemikiran tentang bagaimana mengelola risiko dan peluang secara beretika. Tidak dapat dihindarkan bahwa dunia usaha dan akuntan profesional tergantung pada masyarakat, dan yang lebih penting lagi tergantung pada pemangku kepentingan seperti para karyawan. Memahami harapan bagi etika di tempat kerja sangatlah penting bagi keberhasilan seluruh organisasi dan para eksekutifnya. Hak hak para pekerja sedang berubah, seperti harapan akan ketenangan, kemuliaan, perlakuan yang adil, kesehatan dan keamanan.

6. Mengelola Risiko dan Peluang Etika


Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan menceritakan sejarah perusahaan melalui pelaporan CSR merupakan bagian yang penting dari perencanaan strategis dan pencapaian tujuan strategis. Mengembangkan sejenis kewarganegaraan perusahaan yang diinginkan oleh pemimpin dan pemangku kepentingan perusahaan adalah mengembangkan nilai nilai etika yang mendasar bagi budaya etika organisasi. Laporan atas program program dan jaminan CSR tumbuh dengan cepat. Akhirnya dunia usaha tahu bahwa krisis itu tidak terhindarkan, dan bahwa pendekatan manajemen krisis dikembangkan untuk menjamin bahwa perusahaan dan para eksekutif tidak lebih menderita terhadap prospek dan reputasi mereka. Dalam kenyataannya, bila aspek aspek krisis etika dikelola secara tepat, maka reputasi dapat ditingkatkan. Memasukkan etika ke dalam pengelolaan krisis akan dapat menurunkan risiko menjadi suatu peluang.