Anda di halaman 1dari 58

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FEBRIS

Diposkan oleh Rizki Kurniadi


A. Pengertian Demam adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di hipotalamus (Corwin, Elizabeth J, 2000).Dikatakan demam jika suhu orang menjadi lebih dari 37,5 C (Oswari, E, 2006). Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi (Noer, Sjaifoellah,2004). Pengaruh pengaturan autonom akan mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi perifer sehingga pengeluaran (dissipation) panas menurun dan pasien merasa demam. Suhu badan dapat bertambah tinggi lagi karena meningkatnya aktivitas metabolisme yang juga mengakibatkan penambahan produksi panas dan karena kurang adekuat penyalurannya ke permukaan maka rasa demam bertambah pada pasien.

B. Patofisiologi Dengan adanya peningkatan titik patokan tersebut, maka hipotalamus mengirim sinyal untuk menaikkan suhu tubuh. Tubuh berespon dengan menggigil dan peningkatan metabolisme basal. Demam timbul sebagai respon terhadap pembentukkan interleukin-1, yang disebut pirogen endogen. Interleukin-1 dibebaskan oleh neurofil aktif, makrofag, dan sel- sel yang mengalami cedera. Interleukin-1 tampakanya menyebabkan panas dengan menghasilkan prostaglandin, yang merangsang hipotalamus. C. Tipe-tipe Demam 1. Demam Septik Pada demam septik, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada mlam hari dan turun kembali ketingkat yang diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 2. Demam Remiten Pada tipe demam remiten, suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhuyang dicatat pad demam septic. 3. Demam Intermiten

Pada tipe demam intermiten, suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali, disebut tersiana dan bila terjadi duahari bebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 4. Demam Kontinyu Pada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menrus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 5. Demam Siklik Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari ayng diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

D. Etiologi Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga gangguan pada pusat regulasi suhu sentral (misalnya : perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit, dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lain secara tepat dan holistic. Beberapa hal khusus prlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam, sifat harian demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lain yang menyertai demam. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dengan suhu badan diatas 38,3 C dan tetap belum ditemukan penyebabnya walaupun telah diteliti ssatu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang lainnya.

E. Pemeriksaan Penunjang Sebelum meningkat ke pemeriksaan- pemeriksaan yang mutakhir, yang siap tersedia untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atu scanning, masih pdapat diperiksa bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/ lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan lebih pasti melalui biopsy pada tempat- tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi.

F. Penatalaksanaan therapeutik

r es.

G. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian

a.

Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan

b. Riwayat kesehatan
a) b) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala lain yang menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah. c) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien). d) Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak). 2. a. Pemeriksaan fisik Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi

b. Pemeriksaan persistem Sistem persepsi sensori Sistem persyarafan : kesadaran Sistem pernafasan Sistem kardiovaskuler Sistem gastrointestinal Sistem integumen Sistem perkemihan

3. Pada fungsi kesehatan


a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan b) Pola nutrisi dan metabolisme c) Pola eliminasi d) Pola aktivitas dan latihan e) Pola tidur dan istirahat f) Pola kognitif dan perseptual g) Pola toleransi dan koping stress h) Pola nilai dan keyakinan i) Pola hubungan dan peran

4. Pemeriksaan penunjang

a) laboratorium b) foto rontgent c) USG H. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul 1. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit 2. Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme 3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporesisi

I.

Discharge Planning

1. ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan dokter atau perawat 2. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu 3. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi 4. Intruksikan untuk kontrol ulang 5. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.

J. Rencana Keperawatan Rencana Keperawatan

No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit. Batasan karakeristik : kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal serangan atau konvulsi (kejang) kulit kemerahan pertambahan RR takikardi saat disentuh tangan terasa hangat

Tujuan dan Hasil (NOC)

Kriteria Intervensi (NIC)


Mengontrol panas Monitor suhu minimal tiap 2 jam Monitor suhu basal secara kontinyu sesui dengan kebutuhan. Monitor TD, Nadi, dan RR Monitor warna dan suhu kulit Monitor penurunan tingkat kesadaran Monitor WBC,Hb, Hct Monitor intake dan output Berikan anti piretik Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam Selimuti pasien Lakukan Tapid sponge Berikan cairan intra vena Kompres pasien pada lipat paha, aksila dan leher Tingkatkan sirkulasi udara Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil Temperature Regulation

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama .X 24 jam, pasien mengalami keseimbangan termoregulasi dengan kriteria hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal 35,9 C 37,5 C Nadi dan RR dalam rentang normal Tidak ada perubahan warna kulit Tidak ada pusing

2.

Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme

Monitor tanda- tanda hipertermi Tingkatkan intake cairan dan nutrisi Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas Diskusikan tetang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negative dari kedinginan Berikan obat antipiretik sesuai dengan kebutuhan Gunakan matras dingin dan mandi air hangat untuk mengatasi gangguan suhu tubuh sesuai dengan kebutuhan Lepasakan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan hanya selembar pakaian. Vital Sign Monitoring Monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR Catat adanya fluktuasi tekanan darah Monitor vital sign saat pasien berdiri, duduk dan berbaring Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan Monitor TD, Nadi, dan RR sebelum, selama, dan sesudah aktivitas Monitor kualitas dari nadi Monitor frekuensi dan irama pernapasan Monitor suara paru Monitor pola pernapasan abnormal Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit Monitor sianosis perifer Monitor adanya tekanan nadi yang melebar , bradikardi, peningkatan sistolik (Chusing Triad) Identifikasi penyebab dari perubahan vital Sign Setelah dilakukan tindakan Sediakan lingkungan yang aman keperawatan selama x 24 jam, untuk pasien pasien tidak mengalami injury. Identifikasi kebutuhan keamanan Risk Injury pasien sesuai dengan kondisi fisik Kriteria Hasil : dan fungsi kognitif pasien dan Klien terbebas dari cidera riwayat penyakit terdahulu pasien Klien mampu menjelaskan Menghindari lingkungan yang cara/metode untuk mencegah berbahaya misalnya memindahkan injury atau cedera perabotan Klien mampu menjelaskan factor Memasang side rail tempat tidur resiko dari lingkunga atau Menyediakan tempat tidur yang perilaku personal nyaman dan bersih Mampu memodifikasi gaya hidup Meletakan saklar lampu ditempat untuk mencegah injury yang mudah dijangkau pasien Menggunakan fasilitas kesehatan Membatasi pengunjung yang ada Memberikan penerangan yang Mampu mengenali perubahan cukup status kesehatan Menganjurkan keluarga untuk

Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan (hipermetabolik)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam, fluid balance dengan kriteria hasil : Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal Tidak ada tanda- tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membrane mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.

menemani pasien Mengontrol lingkungan dari kebisingan Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit. Fluid management: Pertahankan catatan intake dan output yang akurat Monitor status dehidrasi( kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik) Monitor vital sign Monitor asupan makanan/ cairan dan hitung intake kalori harian Lakukan terapi IV Monitor status nutrisi Berikan cairan Berikan cairan IV pada suhu ruangan Dorong masukan oral Berikan penggantian nasogastrik sesuai output Dorong keluarga untuk membantu pasien makan Anjurkan minum kurang lebih 7-8 gelas belimbing perhari Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk Atur kemungkinan transfusi

FEBRIS DEMAM

A. PENGERTIAN Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal. Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain : 1. Demam septik Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 2. Demam remiten Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik. 3. Demam intermiten Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 4. Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 5. Demam siklik Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang selflimiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.

B. ETIOLOGI Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi. D. PENATALAKSANAAN THERAPEUTIK 1. Antipiretik 2. Anti biotik sesuai program 3. Hindari kompres alkohol atau es E. PENGKAJIAN 1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah, nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan. 2. Melakukan pemeriksaan fisik. 3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign. 4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium, foto rontgent ataupun USG. F. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi. 2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme. 3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporsis.

G. PERNCANAAN No. Diagnosa Keperawatan


1

Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi

Hypertensi b/d Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau suhu klien (derajat dan pola) proses infeksi keperawatan selama.x 24 perhatikan menggigil/diaforsis jam menujukan temperatur 2. Pantau suhu lingkungan, dalan batas normal dengan batasi/tambahkan linen tempat tidur kriteria: sesuai indikasi - Bebas dari kedinginan 3. Berikan kompres hangat hindri - Suhu tubuh stabil 36-37 C penggunaan akohol 4. Berikan miman sesuai kebutuhan 5. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik Resiko injuri Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tanda-tanda komplikasi lanjut b/d infeksi keperawatan selama ...... 24 2. Kaji status kardiopulmonar mikroorganis jam anak bebas dari cidera 3. Kolaborasi untuk pemantauan me dengan kriteria: laboratorium: monitor darah rutin - menunjukan homeostatis 4. Kolaborasi untuk pembereian antibiotik - tidak ada perdarahan mukosa dan bebas dari komplikasi lain Resiko kurang volume cairan b/d intake Setelah dilakukan tindakan perawatan selama .x 24 jam volume cairn adekuat dengan 1. Ukur/catat haluaran urine dan berat jenis. Catat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif

yang kurang dan deperosis

kriteria: - tanda vital dalam batas normal - nadi perifer teraba kuat - haluran urine adekuat - tidak ada tanda-tanda dehidrasi

Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2 x 24 jam cemas hilang dengan kriteria: - klien dapat mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh - klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan - klien mengungkapkan penurunan cemas yang berhubungan dengan hipertermi, proses penyakit

2. Pantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP 3. Palpasi denyut perifer 4. Kaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa halus 5. Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi 6. Pantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS 1. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai hipertermi 2. Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi 3. Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal 4. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit

askep febris konvulsi

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

1. KONSEP DASAR MEDIS 1.1 Definisi 1.1.1 Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( lebih dari 38 derajat celsius ) yang disebabkan oleh proses ekstra kranial. ( Ngastiyah, 1997: 229 ).

1.1.2 Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat lebih dari 38,50C disebabkan oleh proses ekstra kranial ( Arif Mansjoer, 1999 : 434) 1.1.3 Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan sampai 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intra kranial atau penyebab tertentu. (Consesnsus Statement On Febrile Siezures, 1980 )

1.2 Klasifikasi Menurut Ngastiyah (Perawatan Anak Sakit, 1997 ; 231) 1.2.1 Kejang demam sederhana. 1.2.1.1 Umur 6 bulan sampai empat tahun. 1.2.1.2 Lama kejang tidak lebih dari 15 menit. 1.2.1.3 Kejang bersifat umum. 1.2.1.4 Kejang terjadi 16 jam pertama setelah timbulnya demam. 1.2.1.5 EEG normal satu minggu setelah kejang. 1.2.1.6 Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal. 1.2.1.7 Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak lebih dari empat kali.

1.2.2 Kejang demam Kompleks. 1.2.2.1 Lama kejang lebih dari 15 menit 1.2.2.2 Frekuensi kejang lebih dari satu kali dalam 24 jam. 1.2.2.3 Anak mempunyai kelainan neurologis atau riwayat kejang demam sebelumnya. 1.2.2.4 Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tuhun lebih dari Empat kali. 1.2.2 Epilepsi yang diprovokasi oleh demam Adalah semua kejang demam yang bukan kriteria diatas.

1.3 Faktor Pencetus atau Resiko 1.3.1 Menurut Arif Mansjoer (Kapita Selekta kedokteran, 1999; 434) 1.3.1.1 Demam tinggi yang disebabkan infeksi saluran nafas atas, Pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. 1.3.1.2 Riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung. 1.3.1.3 Perkembangan terlambat.

1.3.1.4 Problem pada masa neonatus. 1.3.1.5 Anak dalam perawatan khusus. 1.3.1.6 Anak dengan kadar Na rendah. 1.3.1.7 Riwayat keluarga dengan epilepsi. 1.3.2 Menurut Ngastiyah (Perawatan Anak Sakit, 1997 ; 230) 1.3.2.1 Riwayat kejang tanpa demam dalam keluarga. 1.3.2.2 Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam. 1.3.2.3 Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal. 1.3.2.4 Anak dengan ambang kejang rendah.

1.4 Pathofisiologi Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10 15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20% sehingga terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan ini begitu besar hingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut "neurotransmiter"dan terjadilah kejang. (Ngastiyah,1997 ; 230 ).

1.5 Diagnosa Banding Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan, khususnya meningitis dan ensepalitis. Anak dengan panas tinggi dapat timbul delirium, menggigil dan sianosis sehinggga menyerupai kejang demam.

1.6 Prognosa Tergantung Faktor : 1.6.1 Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga. 1.6.2 Keluarga dengan kelainan saraf.

1.6.3 Kejang yang berlangsung lama atau kejang lokal. Bila terdapat dua dari tiga faktor tersebut maka kemudian hari akan mengalami serangan kejang demam sekitar 13 %. 1.7 Penatalaksanaan 1.7.1 Menurut Arif Mansjoer (Kapita selekta kedokteran, 1999; 436) 1.7.1.1 Pengobatan fase akut 1). Sering kali kejang berhenti dengan sendirinya, pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah dan muntahan. 2). Jalan nafas dibebaskan agar oksigenasi terjamin. 3). Observasi tanda-tanda vital dan fungsi jantung. 4). Suhu tubuh yang tinggi dapat diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian antipiretik. 5) Pemberian obat untuk menghentikan kejang secara cepat adalah dengan Diazepam yang diberikan secara intravena atau intrarektal. Dosis untuk pemberian intravena yaitu 0,3-0,5 mg/KgBB dengan kecepatan 1-2 mg/ menit dengan dosis maksimal 20 Mg. Dosis untuk pemberian intrarektal yaitu 5 mg (BB < 10 Kg) atau 10 mg (BB > 10 Kg), bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang lima menit kemudian. 1.7.1.2 Mencari dan mengobati penyebab Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis. 1.7.1.3 Pengobatan profilaksis Ada dua cara pengobatan profilaksis yaitu : pengobatan propilaksis intermiten dan pengobatan profilaksis terus menerus dengan anti konvulsi setiap hari. : 1). Pengobatan profilaksis intermiten : Dapat digunakan Diazepam dengan dosis 0,3-0,5 mg/KgBB/hari dibagi dalam tiga dosis saat pasien demam dengan cara intravena. Dosis untuk intrarektal yaitu 5 mg (BB<10Kg) dan 10 mg (BB>10Kg) setiap pasien menunjukkan peningkatan suhu diatas 38,50C.

2). Pengobatan propilaksis terus menerus. Dapat digunakan Fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/KgBB/hari dibagi dalam dua dosis.

1.7.2 Menurut Ngastiyah (Perawatan Anak Sakit,1997 ; 232) 1.7.2.1 Memberantas kejang secepat mungkin. Obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis sesuai dengan berat badan yaitu : BB kurang dari 10 Kg 0,5-0,75 mg/KgBB/hari, dan diatas 20 Kg 0,5 mg/KgBB/hari. 1.7.2.2 Pengobatan penunjang. 1). Semua pakaian ketat dibuka. 2). Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi. 3). Bebaskan jalan nafas. 4). Berikan Oksigen dan lakukan section secara teratur. 1.7.2.3 Memberikan pengobatan Rumat. Setelah kejang dapat diatasi harus segera disusul dengan pengobatan rumat dengan pemberian anti epileptik dengan jangka kerja yang lebih lama, misalnya fenobarbital atau definil hidantoin. 1.7.2.4 Mencari dan mengobati penyebab. Secara akademis pasien yang datang dengan kejang demam pertama kali sebaiknya dilakukan fungsi lumbal,darah lengkap, gula darah, kalium, magnesium, kalsium, Natrium dan faal hati.

2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 2.1 Pengumpulan data 2.1.1 Identitas Klien Umur biasanya enam bulan sampai empat tahun, jenis kelamin laki-laki perempuan dengan perbandingan 2:1, Insiden tertinggi pada anak umur dua tahun. (Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, 1997 ; 231) 2.1.2 Riwayat Kesehatan 2.1.2.1 Keluhan utama Kejang karena panas. 2.1.2.2 Riwayat penyakit sekarang 1). Lama kejang kurang dari lima menit. 2). Kejang bersifat general. 3). Kejang terjadi dalam waktu 16 jam setelah timbulnya demam. 4). Tidak ada kelainan neurologis baik klinis maupun laboratorium. 2.1.2.3 Riwayat penyakit dahulu Adanya faktor predisposisi terjadinya kejang demam antara lain trauma kepala, Infeksi, dan reaksi terhadap imunisasi.(Saharso D, 1996: 43) 2.1.2.4 Riwayat penyakit keluarga 25-50 % kejang demam mempunyai faktor keturunan adanya faktor keluarga yang menderita kejang demam, penyakit saraf atau penyakit lainnya. (Saharso D, 1996 : 42) 2.1.2.5 Riwayat sebelumnya 1). Riwayat kehamilan : penyakit yang diderita ibu, perdarahan digunakan. 2). Riwayat Persalinan : kelahiran spontan atau dengan tindakan, perdarahan antepartum, KPD, Aspixia. (Saharso D, 1996 43) pervagina dan obat-obatan yang

2.1.2.6 Activity Daily Live 1). Makanan atau cairan Pasien akan mengeluh sensitif terhadap makanan yang merangsang aktivitas kejang, kerusakan gigi, adanya hiperplasi ginggiva sebagai akibat efek samping dilantin. 2). Aktivitas dan Istirahat

Pasien mengeluh capek, lelah, kelemahan umum, pembatasan aktivitas dan perubahan tonus otot. 3). Eleminasi Incontinensia Face Ictal : peningkatan tekanan blader dan tonus springter. Post ictal : relaksasi otot. 4). Riwayat Psiko sosial (1).Psiko Anamnese tentang temperan anak, kemampuan kognitif dan respon tentang kondisi sakit serta hospitalisasi. (2).Sosial Anamnesa terhadap status dan sumber ekonomi keluarga, respon keluarga dan pola perawatan anak sehari-hari. 2.1.2.7 Pemeriksaan 1). Tanda-tanda vital Kesadaran terjadi penurunan Fase Ictal : Peningkatan nadi, respirasi, tekanan darah dan Suhu. Post ictal : V5 normal kadang depresi. 2). Pemeriksaan Fisik (1). Kepala : Disporposi bentuk kepala, kejang umum, tonik klonik dan sakit kepala. (2). Mata : Dilatasi Pupil, gerakan bola mata dan kelopak mata cepat, reflek cahaya turun dan konjungtiva merah. (3). Mulut : Produksi saliva berlebihan, vomiting dan Cyanosis mukosa mulut. (4). (5). Leher (4). Hidung : Adanya pernafasan cuping hidung, Cyanosis. : pada tetanus terjadi kaku kuduk. Dada :

Fase ictal : Cyanosis, penurunan gerakan pernafasan dan adanya tarikan intercostae. Post ictal : Apnoe atau nafas dalam dan lambat. (5). Abdomen Fase Ictal : Peningkatan blader dan tonus otot spingter. Post ictal : relaksasi otot dan hiperperistaltik. (6). Ekstermitas

Fase Ictal : kejang pada ekstremitas atas dan bawah dan cyanosis pada jari tangan dan kaki. Post ictal : relaksasi otot dan nyeri serta kelemahan pada otot. 3). Pemeriksaan Umum (1). Elektrolit : Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang. (2). Glukosa (3). BUN (4). CBC pemberian obat-obatan. (5). LP infeksi. (6). Skull X-ray : adanya desak ruang dan lesi. (7). EEG : Fokus aktivitas kejang. : untuk mendeteksi adanya tekanan abnormal dan tanda : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang. : Peningkatan BUN merupakan potensi kejang. : Anemia Aplastik dapat terjadi sebagai efek samping

(8). CT scan : mendeteksi lesi lokal serebral abses tumor dengan atau tanpa kontras. 2.1.2.8 Diagnosa Keperawatan 1).Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan adanya pirogen yang mengacaukan termostat, bertambahnya rata-rata metabolisme dan penyakit dehidrasi. 2).Resiko terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler dan obstruksi trakeobroncial. 3).Kurang pengetahuan keluarga sehubungan dengan mis interpretasi dan keterbatasan informasi. 4).Resiko terjadi injuri atau trauma sehubungan dengan kelemahan, perubahan kesadaran. 5).Gangguan konsep diri (harga diri rendah ) sehubungan dengan epilepsi dan persepsi yang salah dan tidak terkendali. 2.1.2.9 Perencanaan 1).Diagnosa I (1). Tujuan : Suhu tubuh normal. (2). Kriteria hasil : Suhu 36,5 oC 37,5 o C dan klien bebas dari demam. (3). Rencana tindakan dan Rasional a. Observasi TTV Tiap empat jam R/ TTV yang meningkat merupakan manifestasi akan terjadinya kejang dan adanya komplikasi. b. Berikan penjelasan pada keluarga tentang pemberian kompres. R/ Kompres dingin dapat menurunkan suhu tubuh.

c. Berikan pakaian tipis yang dapat menyerap keringat. R/ Memudahkan terjadinya pelepasan panas ke udara. d. Anjurkan klien untuk banyak minum. R/ Mencegah timbulnya dehidrasi. e. Laksanakan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antipiretik dan antibiotik. R/Antipiretik untuk menurunkan suhu tubuh dan antibiotik untuk pengobatan infeksi. 2). Diagnosa II (1). Tujuan : mempertahankan efektivitas pola nafas dengan jalan nafas yang bersih dan tercegah dari aspirasi. (2). Kriteria hasil RR normal 15-30 x permenit dan tidak ada retraksi otot. (3). Rencana tindakan dan Rasional a.Letakkan pasien dalam posisi nyaman (semi fowler). R/ Membebaskan jalan nafas mencegah aspixia. b.Longgarkan pakaian terutama pada leher, dada dan perut. R/ Memudahkan pernafasan.dan rasa nyaman. c.Berikan Tong spatel pada mulut R/ Mencegah trauma pada lidah. d.Section jika perlu. R/ Menghilangkan sekret dan mencegah terjadinya aspirasi serta

membersihkan jalan nafas dari sekret. e.Berikan 02 Sesuai dengan kebutuhan. R/ Mengatasi hipoksia. 3). Diagnosa III (1).Tujuan : Secara verbal klien dapat mengungkapkan stimulasi yang dapat meningkatkan kejang (2). Kriteria hasil : Klien dapat minum obat secara teratur. (3). Rencana tindakan dan Rasional a.Kaji pathologi dan prognosis terhadap kondisi klien. R/ Dapat menunjukkan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan. b.Kaji pengobatan yang sudah dijalankan R/ Mencegah terjadinya pertentangan efek obat.

c.Berikan makanan yang bergizi. R/ penurunan Berat badan. d.Diskusikan Efek obat. R/ perkembangan kondisi klien. e. Jelaskan cara mencegah Infeksi. R/ komplikasi. d.Segera turunkan panas jika terjadi kejang. R/ Panas dapat menimbulkan kejang ulang. f.Ajarkan pada keluarga agar memberikan obat anti kejang dan anti piretik sesuai dengan aturan dari tim medis. R/ Mencegah salah penggunaan obat. 4). Diagnosa IV (1). Tujuan : Secara verbal klien dapat mengetahui faktor yang memungkinkan terjadinya trauma. (2). Kriteria hasil : Klien terbebas dari trauma saat kejang terjadi. (3). Rencana tindakan dan Rasional a.Jelaskan faktor predisposisi kejang R/ klien. b.Jaga klien dari trauma dengan memberikan pengaman pada sisi tempat tidur. R/ Pengaman saat berguna mencegah trauma (jatuh) saat terjadi kejang. c.Jaga klien jika terjadi aura R/ Mengetahui secara dini akan datangnya kejang dan mencegah adanya trauma. d.Tetap bersama klien saat fase kejang. R/ dapat mencegah komplikasi sedini mungkin. 5). Diagnosa V (1).Tujuan : Secara verbal klien tidak mengalami mis intrepretasi dan tidak terjadi harga diri rendah (2). Kriteria Hasil : Klien dan keluarga dapat mengetahui secara benar tentang prognosis, cara pengobatan dan penanganan kejang. Mencegah salah persepsi dan meningkatkan sikap kooperatif Meningkatkan pengetahuan klien dan mencegah adanya Mengetahui adanya tanda-tanda reaksi alergi dan mengetahui Memulihkan kondisi dan keadan umum serta mencegah

(3). Rencana tindakan dan Rasional a.Berikan penjelasan tentang penyakitnya, cara penanganan dan pencegahannya. R/ Meningkatkan sikap kooperatif dan mencegah mis intrepretasi. b.Jelaskan cara menghindari faktor resiko. R/ penyebab kejang. c.Jawab dan tampung semua pertanyaan klien dan keluarga. R/ Memenuhi keterbatasan informasi tentang kejang demam. Dengan mengetahui faktor resiko klien dapat menghindari

DAFTAR PUSTAKA

Arif mansjoer (1999), KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN, Edisi II, Jilid I, Media Aeuculapius FKUI, Jakarta. Linda jual Carpenito (1998), DIAGNOSA KEPERAWATAN .EGC , Jakarta.

Marilyn E. Doengoes (1999), RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN, Edisi III, EGC, Jakarta. Ngastiyah (1997), PERAWATAN ANAK SAKIT, EGC, Jakarta. Pelatihan PPGD, RSUD. Dr. Soetomo (1996), Surabaya. Saharso D (1996), ILMU KESEHATAN ANAK, Edisi VI, Jilid II, EGC, Jakarta.

A. Konsep Dasar 1. Pengertian

Istilah kejang demam digunakan untuk bangkitan kejang yg timbul akibat kenaikan suhu tubuh. Kejang demam ialah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Hasan, 1995). Banyak pernyataan yang dikemukakan mengenai kejang demam, salah satu diantaranya adalah : Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur

kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dapat dibedakan dengan epilepsi, yaitu ditandai dengan kejang berulang tanpa demam (Mansjoer, 2000). 2. Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan

Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997), bahwa system saraf terdiri dari system saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum, medulla oblongata dan pons (batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang), system saraf tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala) dan semua cabang dari medulla spinalis, system saraf gaib (autonomic nervous system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem saraf parasimpatis). Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama terhadap resiko benturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater, arachnoid dan piamater. Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari :
1. Cerebrum (otak besar)

Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis media. Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran. Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis. Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah : 1) Thalamus

Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri. Fungsi thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri. 2) Hypothalamus

Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda. Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi

gangguan pada tubuh, maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium. 3) Formation Reticularis

Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke cortex cerebri.
1. Serebellum

Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka. System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasang : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) N. I N. II N. III N. IV N. V N. VI N. VII N. VIII N. IX : Nervus Olfaktorius : Nervus Optikus : Nervus Okulamotorius : Nervus Troklearis : Nervus Trigeminus : Nervus Abducen : Nervus Fasialis : Nervus Akustikus : Nervus Glossofaringeus : Nervus Vagus : Nervus Accesorius : Nervus Hipoglosus.

10) N. X 11) N. XI 12) N. XII

System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Menurut fungsinya system saraf otonom

ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis. Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah : 1) 2) 3) Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan seterusnya Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral.

System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu : Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla spinalis:
1. Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak 2. Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis

3. Etiologi Penyebab Febrile Convulsion hingga kini belum diketahui dengan Pasti, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu tinbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang (Mansjoer, 2000). Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia (penurunan oksigen dalam darah) berat, hipoglikemia, asodemia, alkalemia, dehidrasi, intoksikasi air, atau demam tinggi. Kejang yang disebabkan oleh gangguan metabolik bersifat reversibel apabila stimulus pencetusnya dihilangkan (Corwin, 2001). 4. Patofisiologi

Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan ion lain, kecuali ion clorida. Akibatnya konsentrasi natrium menurun sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya. Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dan ini dapat dirubah dengan adanya :
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler 2. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya 3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya sehingga terjadi kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang tersebut. Pada anak dengan ambang kejang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38 C, sedang pada ambang kejang tinggi baru terjadi pada suhu 40 C atau lebih 5. Tanda dan Gejala

Secara teoritis pada klien dengan Kejang Demam didapatkan data-data antara lain klien kurang selera makan (anoreksia), klien tampak gelisah, badan klien panas dan berkeringat, mukosa bibir kering (Ngastiyah, 1997). 6. Komplikasi

Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas. Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy. Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan kejang demam :
1. Pneumonia aspirasi 2. Asfiksia 3. Retardasi menta 7. Penatalaksanaan / Pengobatan

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu : Memberantas kejang secepat mungkin Bila penderita datang dalam keadaan status convulsion, obat pilihan utama adalah diazepam secara intravena. Apabila diazepam tidak tersedia dapat diberikan fenobarbital secara intramuskulus.
1. Pengobatan Penunjang

Semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan jalan nafas bebas agar oksigen terjamin, penghisapan lendir secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian oksigen. Tanda tanda vital diobservasi secara ketat, cairan intravena diberikan dengan monitoring.

2. Pengobatan di rumah Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumah. Pengobatan ini dibagi atas 2 golongan yaitu : 1) Profilaksis intermitten

Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari diberikan obat campuran anti konvulsan dan anti piretik yang harus diberikan pada anak bila menderita demam lagi 2) Profilaksis jangka panjang

Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari. 3. Mencari dan mengobati penyebab Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun epilepsy yang diprovokasi oleh demam, biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. B. 1. Asuhan Keperawatan Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan untuk mengumpulkan data serta menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan klien (Gaffar, 1997). Dalam upaya pengumpulan data sebagai langkah awal dari proses keperawatan penulis melakukan pengkajian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian adalah pengumpulan data dan merumuskan prioritas masalah. Sedangkan tujuan dari pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan datadata, mengelompokkan dan menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan (Gaffar, 1997). Tahapan pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu pengkajian yang akurat dan lengkap sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan sesuai dengan respon individu sebagaimana yang ditentukan dalam standar praktek keperawatan dari American Nursing Association. Pengkajian keperawatan data dasar yang komprehensif adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri dan hasil konsultasi dari medis (terapis) atau profesi kesehatan lainnya (Taylor, Lilis Le Mone, 1997). Berdasarkan sumber data, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari klien, yaitu data tersebut diperoleh dari klien yang sadar maupun klien tidak sadar sehingga tidak dapat berkomunikasi misalnya data tentang kebersihan diri atau data tentang kesadaran. Data sekunder adalah data yang diperoleh

selain dari klien, seperti dari perawat, dokter, catatan perawat, serta dari pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lainnya, dari keluarga atau dari kerabat dekat. Secara umum ada beberapa cara pengumpulan data dengan observasi, konsultasi, validasi data, anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi adalah pengumpulan data melalui hasil pengamatan (melihat, meraba atau mendengarkan) tentang kondisi klien dalam kerangka asuhan keperawatan. Konsultasi adalah seorang spesialis diminta untuk mengidentifikasikan caracara untuk pengobatan dan penanganan penyakit klien. Anamnesa atau wawancara adalah cara pengumpulan data melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Inspeksi adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan klien, seperti inspeksi kesimetrisan pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan, inspeksi adanya lesi pada kulit dan sebagainya. Perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan cara mengetukkan jari tengah kejari tengah yang lainnya untuk normal atau tidaknya suatu organ tubuh. Palpasi adalah jenis pemeriksaan fisik dengan cara meraba klien seperti lokasi pada rongga abdomen untuk mengetahui lokasi nyeri atau untuk mengetahui adanya massa. Auskultasi adalah cara pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, misalnya auskultasi dinding abdomen untuk mengetahui bising usus, mendengarkan suara paru paru, bunyi jantung. Adapun pengkajian untuk mengumpulkan datadata yang akurat terhadap Kejang Demam yaitu dimulai dengan anamnesa kepada klien dan keluarga kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Hal hal yang perlu dikaji antara lain :
1. Identitas pasien dan keluarga

1) 2) 3)

Nama Pasien (initial), umur, jenis kelamin,agama, suku bangsa dan alamat Nama Ayah (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan bangsa Nama Ibu (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan bangsa.
1. Kesehatan fisik

1)

Pola nutrisi

Tidak ada nafsu makan (anoreksia), mual dan bahkan dapat disertai muntah. Perlu dikaji pola nutrisi sebelum sakit, porsi makan sehari hari, jam makan, pemberian makan oleh siapa, frekuensi makan, nafsu makan, serta alergi terhadap makanan. 2) 3) Pola eliminasi Pola tidur

Yang perlu dikaji meliputi jam tidur, waktu tidur dan lamanya tidur serta kebiasaan sebelum tidur 4) Pola hygiene tubuh

Mengkaji mengenai kebiasaan mandi, cuci rambut, potong kuku dan rambut 5) Pola aktifitas

Anak tampak lemah, gelisah atau cengeng.


1. Riwayat kesehatan yang lalu

1)

Riwayat prenatal

Dikaji mengenai kehamilan ke berapa, tempat pemeriksaan kehamilan, keluhan ibu saat hamil, kelainan kehamilan dan obat obatan yang diminum saat hamil. 2) Riwayat kelahiran

Kelahiran spontan atau dengan bantuan bantuan, aterm atau premature. Perlu juga ditanyakan berat badan lahir, panjang badan, ditolong oleh siapa dan melahirkan di mana. 3) Riwayat yang berhubungan dengan hospitalisasi

Pernahkah dirawat di rumah sakit, berapa kali, sakit apa, pernahkah menderita penyakit yang gawat. Riwayat kesehatan dalam keluarga perlu dikaji kemungkinan ada keluarga yang pernah menderita kejang. 4) Tumbuh kembang

Mengkaji mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan tingkat usia, baik perkembangan emosi dan sosial. 5) Imunisasi

Yang perlu dikaji adalah jenis imunisasi dan umur pemberiannya. Apakah imunisasi lengkap, jika belum apa alasannya.
1. Riwayat penyakit sekarang

1) Awal serangan : Sejak timbul demam, apakah kejang timbul setelah 24 jam pertama setelah demam 2) Keluhan utama : Timbul kejang (tonik, klonik, tonik klonik), suhu badan meningkat

3) Pengobatan : Pada saat kejang segera diberi obat anti konvulsan dan apabila pasien berada di rumah, tiindakan apa yang dilakukan untuk mengatasi kejang. 4) Riwayat sosial ekonomi keluarga

Pendapatan keluarga setiap bulan, hubungan sosial antara anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. 5) Riwayat psikologis

Reaksi pasien terhadap penyakit, kecemasan pasien dan orang tua sehubungan dengan penyakit dan hospitalisasi.
1. Pemeriksaan fisik

1)

Pengukuran pertumbuhan : Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala

2) Pengukuran fisiologis : Suhu biasanya di atas 38 C, nadi cepat, pernafasan (mungkin dyspnea nafas pendek, nafas cepat, sianosis) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Keadaan umum : Pasien tampak lemah, malaise Kulit : Turgor kulit dan kebersihan kulit Kepala : Bagaimana kebersihan kulit kepala dan warna rambut serta kebersihannya Mata : Konjungtiva, sklera pucat / tidak, pupil dan palpebra Telinga : Kotor / tidak, mungkin ditemukan adanya Otitis Media Akut / Kronis Hidung umumnya tidak ada kelainan Mulut dan tenggorokan : Bisa dijumpai adanya tonsillitis

10) Dada : Simetris / tidak, pergerakan dada

11) Paru paru : Bronchitis kemungkinan ditemukan 12) Jantung : Umumnya normal 13) Abdomen : Mual mual dan muntah 14) Genetalia dan anus : Ada kelainan / tidak 15) Ekstremitas : Ada kelainan / tidak. Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya data tersebut dikelompokkan. Pengelompokan data dapat dibagi atas data dasar dan data khusus (Carpenito, 1997). Data dasar terdiri dari data fisiologis, data psikologis, data sosial dan spiritual. Sedangkan data khusus adalah data yang bersifat khusus, misalnya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen dan sebagainya. 2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau rester / resti (Gaffar, 1997). Pada tahap diagnosa keperawatan penulis akan menganalisa data yang diperoleh dari hasil pengkajian dan mengidentifikasi masalah keperawatan, baik yang dapat dicegah, dapat dikurangi maupun yang dapat ditanggulangi dengan tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu :
1. Aktual, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah yang nyata saat ini dengan data klinis yang ditemukan. 2. Rester, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang nyata yang akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi keperawatan, saat ini masalah belum ada tetapi etiologi sudah ada. 3. Possible, yaitu diagnosa keperawatan yang timbul akibat adanya tambahan masalah

Komponen komponen berikut ini menandai tiga bagian pernyataan perubahan keperawatan
1. Diagnosa keperawatan, merupakan pernyataan yang menggambarkan perubahan status kesehatan klien. Perubahanperubahan menyebabkan masalah dan perubahan yang tidak menguntungkan pada kemampuan klien untuk berfungsi. Diagnosa keperawatan adalah frase atau pernyataan yang ringkas, diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk membuat kriteria hasil asuhan keperawatan dan menentukan intervensi intervensi yang diperlukan untuk mencapai kriteria hasil. 2. Etiologi, pernyataan etiologi mencerminkan penyebab masalah klien yang menimbulkan perubahanperubahan pada status kesehatan klien. Penyebab tersebut dapat berhubungan dengan tingkah laku klien, patofisiologi, psikososial, perubahanperubahan situasional pada gaya hidup, usia perkembangan, faktor budaya dan lingkungan. Diagnosa keperawatan dapat diterapkan untuk semua area keperawatan, seperti medikal bedah, kesehatan ibu dan anak, pediatrik, kesehatan komunitas.

Batasan karakteristik, merupakan kelompok petunjuk klinis yang menggambarkan tingkah laku, tanda dan gejala yang menggambarkan diagnosa keperawatan. Batasan karakteristik diperoleh selama tahap pengkajian, memberikan bukti bahwa ada masalah kesehatan gejala (data subjektif) adalah perubahan yang dirasakan oleh klien dan diekspresikan secara verbal kepada perawat. Tanda (data objektif) adalah perubahan yang diamati pada status kesehatan klien. Identifikasi minimal tiga tanda dan gejala sebagai bukti yang cukup untuk mendukung pemilihan diagnosa keperawatan . Adapun masalah keperawatan pada klien dengan kasus Febrile Convulsion menurut Ngastiyah (19997) adalah :
1. 2. 3. 4. 5. Resiko tinggi terhadap kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme rata-rata, proses infeksi Resiko terjadi bahaya / komplikasi berhubungan dengan aktifitas kejang Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan tindakan invasif, prosedur tindakan Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi.

Menurut Doenges (2000), diagnosa keperawatan pada Febrile Convulsion adalah :


1. Resiko terhadap henti nafas berhubungan dengan perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil 2. Ketidakefektifan pola pernafasan / bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, hypersekresi trakeobronkial 3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme basal rata-rata, proses infeksi 4. Kurang pengetahuan keluarga mengenai kondisi, dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.

Sedangkan menurut Carpenito (1990), diagnosa keperawatan yang terdapat pada kasus Febrile Convulsion adalah :
1. Resiko tinggi tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan relaksasi lidah, sekunder terhadap gangguan inversi otot 2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme rata-rata, proses infeksi 3. Perencanaan

Perencanaan merupakan tahap yang paling penting yang dibuat setelah merumuskan diagnosa keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien, sehingga tercapai kondisi kesehatan klien yang optimal (Gaffar, 1997). Pada tahap perencanaan setelah memprioritaskan masalah keperawatn, penulis menetapkan tujuan dan kriteria tindakan yang dapat mencegah, mengurangi dan menanggulangi masalah kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien saat ini serta menuliskan tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai batasan waktu pencapaian. Adapun komponen tahap perencanaan adalah :

Membuat prioritas urutan diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan diurutkan dengan prioritas tinggi, sedang, ringan masalah dengan prioritas tinggi mencerminkan situasi yang mengancam hidup (misalnya bersihan jalan nafas). Masalah dengan prioritas rendah tidak berhubungan secara langsung dengan keadaan sakit atau prognosis yang spesifik (misalnya masalah keuangan). Masalah dengan prioritas tingi membutuhkan perhatian yang cepat dibandingkan dengan prioritas rendah. Hirarki kebutuhan Maslow (1968) membantu perawat untuk memprioritaskan urutan diagnosa keperawatan, kerangka hirarki ini termasuk kebutuhan fisiologis dan psikologis. Lima tingkatan hirarki ini adalah fisikologis, keselamatan dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri. Adapun rencana tindakan pada kasus Febrile Convulsion menurut Doenges (2002), yaitu :
1. Diagnosa keperawatan I

Resiko tinggi terhadap henti nafas berhubungan dengan perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil Tujuan dan kriteria hasil : Henti nafas dan trauma tidak terjadi dengan kriteria : q Menunjukkan efektifitas pernafasan selama kejang dan sesudahnya q Tidak terdapat tanda injuri, perlukaan di seluruh organ tubuh Rencana Tindakan : 1.1 Gali bersama-sama keluarga berbagai stimulasi yang dapat menjadi pencetus kejang Rasional : Mengetahui dan dapat menanggulangi sedini mungkin komplikasi yang dapat terjadi 1.2 Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah Rasional : mengurangi trauma saat kejang selama berada di tempat tidur 1.3 Gunakan termometer dengan bahan metal atau dapatkan suhu melalui lubang telinga jika perlu Rasional : mengurangi resiko klien menggigit dan cedera mulut 1.4 Tinggallah bersama klien dan keluarga dalam waktu beberapa lama / setelah kejang

Rasional : Meningkatkan rasa aman keluarga, mengobservasi gejala lanjut 1.5 Masukkan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik. Miringkan kepala ke salah satu sisi dan lakukan suction pada jalan nafas sesuia indikasi Rasional : Memfasilitasi ekspansi dada maksimal, drainage sekret, dan memfasilitasi saat melakukan suction 1.6 Atur kepala, tempatkan di atas daerah yang empuk (lunak) atau bantu meletakkan pada lantai jika keluar dari tempat tidur Rasional : Menurunkan resiko cedera
1. Diagnosa keperawatan II

Ketidakefektifan pola pernafasan / bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, hypersekresi trakeobronkial Tujuan dan kriteria hasil : Pola nafas efektif yang ditunjukkan dengan frekuensi nafas dalam batas normal, jalan nafas bersih Rencana Tindakan : 2.1 Kosongkan mulut klien dari benda / zat makanan Rasional : menurunkan resiko aspirasi 2.2 Letakkan klien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala, selama serangan kejang Rasional : Meningkatkan aliran (drainage), sekret, mencegah lidah jatuh, dan menyumbat jalan nafas 2.3 Tanggalkan pakaian pada daerah leher, dada, dan abdomen Rasional : Memfasilitasi usaha bernafas dan ekspansi dada 2.4 Masukkan spatel lidah/jalan nafas buatan atau golongan benda lunak sesuai dengan indikasi Rasional : Mencegah tergigitnya lidah dan memfasilitasi saat melakukan suction 2.5 Melakukan pengisapan (suction) sesuai indikasi Rasional : Menurunkan resiko aspirasi dan asfiksia

1. Diagnosa keperawatan III

Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme basal rata-rata, proses infeksi Tujuan dan kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal, yang ditunjukkan dengan mendemontrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan, tidak mengalami komplikasi yang berhubungan Rencana Tindakan : 3.1 Pantau suhu tubuh Rasional : Suhu 38,9-41,1 menunjukkan adanya proses infeksius akut. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis 3.2 Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan penggunaan seprai di tempat tidur sesuai indikasi Rasional : Suhu ruangan / jumlah selimut harus dirubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal 3.3 Berikan kompres hangat Rasional : Membantu menurunkan demam dengan efek vasodilatasi air hangat melalui proses evaporase 3.4 Kolaborasi : Berikan antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentranya pada hipotalamus meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autodekstruksi sel-sel yang terinfeksi. 4 Diagnosa keperawatan IV

Kurang pengetahuan (kurang belajar) mengenai kondisi, dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan persepsi Tujuan dan kriteria hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan berbagai rangsang yang dapat menyebabkan aktifitas kejang, dengan kriteria : Keluarga dapat mengemukakan kondisi dan pengobatan secara sederhana. Rencana Tindakan :

4.1 Jelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit Rasional : Memberikan kesempatan mengklarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang ada sesuai dengan yang ditangani 4.2 Tinjau kembali obat-obat yang didapat Rasional : Tidak ada pemahaman terhadap obat-obatan yang dapat merupakan penyebab kecemasan keluarga 4. Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penugasan ketrampilan interpersonal, intelektual dan teknikal (Gaffar, 1997, 49). Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien vulnus scissum untuk memenuhi antara lain : mencegah infeksi, meningkatkan penyembuhan luka, meningkatkan kondisi kesehatan dan koping individu dan keluarga serta mencegah komplikasi cedera selanjutnya. Tahap pelaksanaan merupakan bentuk tindakan untuk direncanakan sebelumnya dan disesuaikan dengan situasi secara cermat dan efisien. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis menyesuaikan dengan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan klien saat itu, tidak semata mata berdasarkan prioritas masalah yang direncanakan sebelumnya serta disesuaikan dengan waktu pelaksanaan tindakan. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis juga melaksanakan tindakan observasi dan pengumpulan data untuk melihat perkembangan klien selanjutnya. Komponen tahapan dalam menyusun implementasi :
1. Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa perintah dokter, tindakan keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan standar praktik American Nursing Association (1973), undangundang praktik perawat negara bagian dan kebijakan institusi perawat kesehatan. 2. Tindakan keperawatan kolaboratif, diimplementasikan bila perawat bekerja dengan anggota tim perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi masalah masalah klien. 3. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap tindakan keperawatan, dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian atau aktifitas yang otentik dengan mempertahankan catatan catatan yang tertulis. Dokumentasi merupakan wahana untuk komunikasi dari salah satu profesional ke profesional lainnya tentang status klien. Dokumentasi klien memberikan bukti tindakan keperawatan mandiri dan kolaboratif yang diimplementasikan oleh perawat 5. Evaluasi

Merupakan fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan (Gaffar, 1997). Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang dilakukan.

Hasil akhir yang diinginkan dari perawatan pasien Kejang Demam meliputi pola pernafasan kembali efektif, suhu tubuh kembali normal, anak menunjukkan rasa nymannya secara verbal maupun non verbal, kebutuhan cairan terpenuhi seimbang, tidak terjadi injury selama dan sesudah kejang dan pengatahuan orang tua bertambah. Evaluasi ini bersifat formatif, yaitu evaluasi yang dilakukan secara terus menerus untuk menilai hasil tindakan yang dilakukan disebut juga evaluasi tujuan jangka pendek. Dapat pula bersifat sumatif yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan yang pencapaian tujuan jangka panjang. Komponen tahapan evaluasi :
1. Pencapaian kriteria hasil

Pencapaian dengan target tunggal merupakan meteran untuk pengukuran. Bila kriteria hasil telah dicapai, kata Sudah Teratasi dan datanya ditulis di rencana asuhan keperawatan. Jika kriteria hasil belum tercapai, perawat mengkaji kembali klien dan merevisi rencana asuhan keperawatan.
1. Keefektifan tahap tahap proses keperawatan

Faktor faktor yang mempengaruhi pencapaian kriteria hasil dapat terjadi di seluruh proses keperawatan. 1) 2) 3) 4) 5) Kesenjangan informasi yang terjadi dalam pengkajian tahap satu. Diagnosa keperawatan yang salah diidentifikasi pada tahap dua Instruksi perawatan tidak selaras dengan kriteria hasil pada tahap tiga Kegagalan mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan tahap empat. Kegagalan mengevaluasi kemajuan klien pada tahap ke lima.

ASUHAN KEPERAWATAN FEBRIS

A. PENGERTIAN Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal. Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain : 1. Demam septic Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 2. Demam remiten Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik. 3. Demam intermiten Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 4. Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 5. Demam siklik

Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.

B. ETIOLOGI Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya.

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada

tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi.

D. TANDA DAN GEJALA 1. Suhu badan lebih 37,2 C 2. Banyak berkeringat 3. Pernafasan meninggil 4. Menggigil E.PATOFISIOLOGI Tubuh telah mengembangkan suatu sistem pertahanan yang cukup ampuh terhadap infeksi dan peningkatan suhu tubuh memberikan suatu peluang kerja yang optimal untuk sistem pertahanan tubuh. Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi. Pirogen adalah suatu protein yang identik dengan interkulin-1. di dalhipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan sintesis prostaglandin E2 yang langsung dapat menyebabkan suatu pireksia. Pengaruh pengaturan autonom akan mengakibatkan terjadinya vasokontriksi perifer sehingga pengeluaran panas menurun dan pasien merasa demam. Suhu badan dapat bertambah tinggi karena meningkatnya aktivitas metabolisme yang juga mengakibatkan penambahan produksi panas dan karena kurang adekuat penyalurannya ke permukaan maka rasa demam bertambah. F.PEMERIKSAAN PENUNJANG Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi. G. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK 1. Antipiretik 2. Anti biotik sesuai program 3. Hindari kompres alkohol atau es

H.KOMPLIKASI 1. Takikardi 2. Insufisiensi jantung 3. Insufisiensi pulmonal 4. Kejang demam

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. S DENGAN PENYAKIT FEBRIS DI RUANG ANGGREK DI RUMAH SAKIT BINA SEHAT JEMBER
1. Data Demografi a) Biodata Nama : An. S Usia / tanggal lahir : ( 4 th ) Jember. 15 Maret 2007 Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Sukorambi. Rt. 3. Rw. 4 Suku / bangsa : Jawa Status pernikahan : Belum menikah Agama / keyakinan : Islam Pekerjaan / sumber penghasilan : Diagnosa medik : Febris No. Medical record : 20 08 - 1989 Tanggal masuk : 28 November 2011 (Jam. 15.00 WIB)

Tanggal pengkajian : 29 November 2011 (Jam. 20.00) Terapi medik : - Antipiretik - Cairan infus NS - Antibiotik

b) Penanggung Jawab Nama : Tn. W Usia : 30 tahun Jenis kelamin : Laki - laki Pekerjaan / sumber penghasilan : Tenaga Pengajar Hubungan dengan klien : Ayah Klien Orang tua klien mengatakan, klien mengalami panas tinggi, dan tidak turun turun.

2. Keluhan Utama

3. Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang Orang tua klien mengatakan klien sudah 3 hari yang lalu mengalami panas. Panas muncul secara tiba tiba dan semakin hari panasnya semakin naik. Setelah dilakukan tindakan baik keperawatan maupun tindakan medis selama 3 kali 24 jam panas klien turun secara berangsur angsur. Memberikan kompres air hangat kepada klien Memberikan obat antipiretik kepada klien Memberikan obat antibiotik kepada klien Kondisi klien saat dikaji orang tua klien mengatakan panasnya sudah agak menurun dari pada yang sebelumnya, temperatur klien saat dikaji 38,5 derajat. b. Riwayat kesehatan lalu Orang tua klien mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami atau menderita penyakit berat sebelumnya. Orang tua klien mengatakan klien pernah mendapatkan program imunisasi BCG, DPT, MMR. Orang tua klien mengatakan klien tidak pernah mengalami kecelakaan sebelumnya.

Orang tua klien mengatakan klien tidak pernah mendapatkan tindakan medis maupun keperawatan sebelumnya.

Orang tua klien mengatakan klien tidak pernah mempunyai riwayat alergi sebelumnya, baik alergi makanan, obat obatan, zat/ substansi dll.

Orang tua klien mengatakan sebelum dibawah kerumah sakit klien mendapatkan pengobatan bebas ( parasetamol) dirumah.

c. -

Riwayat Kesehatan Keluarga. Orang tua klien mengatakan tidak mempunyai penyakit berat sebelumnya akan tetapi nenek klien pernah menderita penyakit asma.

Nenek klien pernah menderita penyakit asma. Genogram keluarga klien. :

Keterangan : Pernah Menderita Asma : Anak atau Ayah klien

: Penderita/Klien --------- : Tinggal Serumah

4. Riwayat Psikososial Orang tua klien mengatakan apabila dirumah klien aktif dalam melakukan tindakan. Orang tua klien mengatakan jika dirumah klien bermain dengan teman sejawatnya. Orang tua klien mengatakan apabilah dirumah klien tidak rewel, akan tetapi saat dirumah sakit klien cenderung rewel. Orang tua klien mengatakan tidak terlalu memfikirkan beban biaya rumah sakit karena orang tua klien memiliki asuransi kesehatan keluarga. Klien cenderung pendiam dan tidak aktif dalam bermain.

5. Riwayat Spiritual. Ritual yang biasa dijalankan : -

6. Pemeriksaan Fisik A. Keadaaan umum klien Tanda tanda dari distress : klien sering rewel Penampilan dihubungkan dengan usia : Ekspresi wajah,bicara, mood : wajah klien nampak pucat, bicaranya lemah, kliean tidak terlalu mood dalam melakukan aktivitas. Berpakaian dan kebersihan umum : kliean mandi 2 hari sekali dan selalu mengati pakaiannya. Tinggi badan, BB, gaya berjalan : 100 cm, 20 Kg, Gaya berjalan normal seperti anak - anak pada umumnya. B. Tanda - tandaVital : Suhu : 38,5 derajat Nadi : 77 kali/menit Pernafasan : 29 kali/ menit Takanan darah : -

C. Sistem Pernafasan Hidung : Inspeksi :kesimetrisan (+), pernafasan cuping hidung (-) adanya secret atau polip (-), passase udara (-). Leher : Inspeksi dan palpasi : pembesaran kelenjar (-), tumor (-).

Dada : Inspeksi ;bentuk dada ( normal), ukuran ( sama ), gerakan dada ( kiri dan kanan seimbang, retraksi (-), keadaan PX ( normal) Auskultasi :suara nafas ( normal), suara nafas tambahan (-). Palpasi : Clubbing finger (-).

D. Sistem Kardiovaskuler. Inspeksi : Conjungtiva (anemia), bibir (pucat), pembesaran jantung (-) Palpasi :Arteri carotis (normal), Tekanan vena jugularis (normal), Ictus cordis/apex (teraba diantara costa 4) Auskultasi : suara jantung tambahan (-), bising aorta (-), murmur (-), gallop (-), tricuspidalis dan mitral (-). E. Sistem Pencernaan. Inspeksi : seklera (-), bibir (kering), Mulut (stomatitis (-), jumlah gigi (22 buah), kemampuan menelan (-), gerakan lidah (-). Gaster : kembung (-), gerakan peristaltik (-) Abdomen Inspeksi ; tidak ditemukan luka, bentuk simetris. Palpasi : Tidak ditemukan pembesaran di kuadran I - IV Tidak ditemukan nyeri tekan Perkusi : suara timpani Auskultasi : bising usus (+) Anus : kondisi (normal).

F. Sistem Indra 1) Mata Kelopak mata (+), bulu mata (+), alis (+), lipatan epikantus dengan ujung atas telinga (+). Visus (+) Lapang pandang (+)

2) Hidung Penciuman (+), perih dihidung (-), trauma (-), mimisan (-). Secret yang menghalangi penciuman (-).

3) Telinga

Keadaan daun telinga (+), operasi telinga (-) Kanal auditoris (+) Membran tympani (+) Fungsi pendengaran (+).

G. Sistem Saraf. 1. Fungsi celebral Status mental : daya ingat (+), perhatian dan perhitungan (+), bahasa (+). Kesadaran : GCS 7 Bicara : expresive dan reseptive (-).

2. Fungsi cranial Saraf cranial I s/d XII (+)

3. Fungsi motorik Massa (-) Tonus dan kekuatan otot (+4)

4. Fungsi sensorik Suhu : 38,5 derajat Nyeri : (+) Getaran posisi dan diskriminasi : (-)

5. Fungsi cerebellum Koordinasi dan keseimbangan (+)

6. Refleks Ekstermitas atas : (+4) Ekstermitas bawah : (+4) Superficial : (+4)

H. Sistem Muskuloskeletal Kepala : bentuk kepala bundar Vertebrae : Normal Pelvis : Normal Lutut : Normal Kaki : Normal

I. J.

Bahu : Simetrsis, normal Tangan : Normal Sistem Integumen Rambut : tebal, warna hitam dan halus. Kulit : warna pucat, temperatur ( 38,5 derajat), kelembaban (-), bulu kulit (halus), tahi lalat ( di bawah bibir sebelah kiri ), ruam (-). Kuku : warna (putih bening), mudah patah (-), kebersihan (+). Sistem Endokrin Kelenjar tiroid : pembesaran (-) Percepatan pertumbuhan : Normal Gejala keratinisme atau gigantisme : (-) Ekskresi urin berlebihan (-), polidipsi (-), poliphagi (-) Suhu tubuh yang tidak seimbang (+), keringat berlebihan (+), leher kaku (-). Riwayat bekas air seni dikelilingi semut : (-).

K. Sistem Perkemihan Edema Palpebra (-) Moon face (-) Edema Anasarka (-) Keadaan kandung kemih (+) Nocturia (-), dysuria (-), kencing batu (-). Penyakit hubungan seksual (-).

L. Sistem Reproduksi Keadaan glendpenis : tidak dikaji Testis : tidak dikaji Pertumbuhan rambut : tidak dikaji Pertumbuhan jakun : tidak dikaji Perubahan suara : tidak dikaji

M. Sistem Imun Alergi (-) Imunisasi : BCG, DPT, MMR

Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca : Flu (+) Riwayat transfusi dan reaksinya : (-)

7. Aktivitas Sehari hari Nutrisi Selera makan : menurun Menu makan dalam 24 jam : BSTIK Frekuensi makanan dalam 24 jam : 2 kali sehari Makanan yang disukai : telur mata sapi Makanan pantangan : sayur wortel Pembatasan pola makan : (-) Cara makan : menggunakan sendok dan piring Ritual sebelum makan : membaca doa sebelum makan Cairan Jenis minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam : air putih dan susu Frekuensi minum : tidak menentu Kebutuhan cairan dalam 24 jam : tidak diketahui Eliminasi ( BAB & BAK ) Tempat pembuangan : toilet Frekuensi : tidak diketahui Kapan : Teratur : Konsistensi : padat Kesulitan dan cara menanganinya : tidak Obat obat untuk memperlancar BAK/BAB : Istirahat Tidur Apakah cepat tertidur : (+) Jam tidur : siang 3 jam dan malam hari 9 jam (dirumah), siang 2 jam dan malam 5 jam ( di RS ) Bila tidak dapat tidur apa yang di lakukan : orang tua klien mengendong dan mengajak jalan jalan Apakah tidur secara rutin : iya. Personal Hygiene

Mandi : frekuensi ( 2 kali sehari ), alat mandi : gayun, kesulitan (-), mandiri/dibantu : dibantu, cara : seperti biasanya.

Cuci rambut : 3 kali dalam seminggu Gunting kuku : 1 kali dalam 2 minggu. Gosok gigi : 2 kali sehari. Aktivitas / mobilitas fisik Kegiatan sehari hari : bermain dan belajar Pengaturan jadwal harian : Penggunaan alat bantu untuk aktivitas : (-) Kesulitan pergerakan tubuh : (-) Rekreasi Bagaimana perasaan anda saat bekerja : tidak dikaji Berapa banyak waktu luang : tidak dikaji Apakah puas setelah rekreasi : tidak dikaji Apakah anda dan keluarga menghabiskan waktu senggang : tidak dikaji Bagaimana perbedaan hari libur dan hari kerja : tidak dikaji

8. Test Diagnostik Laboratorium Hemoglobin : 14, 8 Normal L: 13,5 18,09 /dl P: 11,5 16,09 /dl Leukosit : 2.800 Normal : 3.300 / 10.300 / cmm LED : 15 22 Normal L: 6 15 mm P: 0 20 mm Hitung jenis : 0/0/1/73/26/0 Normal : 1-2/0-1/3-5/54-62 25 33/3-7 Hematokrit : 47,0 Normal L : 40 54 %

P : 35 47 % Trombosit : 262.000 Normal : 130.000 450.000 Eritrosit : 4.980.000 Normal L : 4,5 6,5 juta / cmm P : 3,0 6,0 juta / cmm Widal : O : Post 1/400 ( N. Negative ) H : Post 1/200 ( N. Negative ) PA : Negt / ( N. Negative )

PB : Post 1/400 ( N. Negative) Ro foto : CT Scan : MRI, USG, EEG, ECG, dll : -

9. Terapi Saat Ini. Antipiretik : Parasetamol Antibiotik NS

DATA FOKUS NAMA PASIEN : AN. S NO REKAM MEDIK : 20 08 1989 RUANG RAWAT : Ruang Anak Di Kamar Anggrek DATA OBJEKTIF Bibir kering Suhu badan 38,5 derajat Banyak berkeringat Pernafasan meninggi Mengigil DATA SUBJEKTIF Orang tua klien mengatakan klien selama 3 hari mengalami panas tinggi. Orang tua klien mengatakan klien sering rewel.

Kulit kering Sering menangis Sulit tidur ANALISA DATA NAMA PASIEN : AN. S NO. REKAM MEDIK : 20 08 1989 RUANG RAWAT : Ruang Anak Di Kamar Anggrek NO 1 DATA DS : Orang tua klien mengatakan klien selama 3 hari mengalami panas tinggi DO : 2 Bibir kering Suhu badan 38,5 derajat Mengigil Kulit kering DS : Orang tua klien mengatakan klien selama 3 hari mengalami panas tinggi DO : 3 Suhu badan : 38,5 derajat Mengigil Banyak berkeringat DS : Orang tua klien mengatakan klien sering rewel. DO : Klien sering menangis Sulit tidur Cemas Hipertermi Resiko kekurangan volume cairan Intake yang kurang dan deperosis MASALAH Hypertermi ETIOLOGI Proses infeksi

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NAMA PASIEN : AN. S NO. REKAM MEDIK : 20 08 1989 RUANG RAWAT : Ruang Anak Di Kamar Anggrek NO 1. MASALAH / DIAGNOSA Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 2. Resiko kekurangan volume cairan berhungan dengan intake yang kurang dan deperosis 3. Cemas berhubungan dengan hipertermi 28 November 2011 1 Desember 2011 28 November 2011 1 Desember 2011 TGL DITEMUKAN 28 November 2011 TGL TERATASI 1 Desember 2011

RENCANA KEPERAWATAN NAMA PASIEN : AN. S NO. REKAM MEDIK : 20 08 1989 RUANG RAWAT : Ruang Anak Di Kamar Anggrek TGL NDX. DAN DATA PENUNJANG 28/11/2011 1 DS : Orang tua klien mengatakan klien selama 3 hari mengalami panas tinggi DO : Bibir kering Suhu badan 38,5 derajat Mengigil Kulit kering TUJUAN DAN KRITERIA HASIL Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien menujukan temperatur dalan batas normal dengan kriteria: Bebas dari kedinginan Suhu tubuh stabil 36-37 C RENCANA TINDAKAN Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diafo r Pantau suhu lingkungan Berikan kompres hangat hindri penggunaan akohol Berikan miman sesuai kebutuhan Kolaborasi untuk RASIONAL

pemberian antipiretik antibiotik

dan

28/11/2011 2 DS : Orang tua klien mengatakan klien selama 3 hari mengalami panas tinggi DO : Suhu badan : 38,5 derajat Mengigil Banyak berkeringat -

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam volume cairn adekuat dengan kriteria: tanda vital dalam batas normal nadi perifer terabakuat haluran urine adekuat tidak ada tandatanda dehidrasi -

Ukur/catat haluaran urine dan berat jenis. Catat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif Pantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP Palpasi denyut perifer

Kaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa haus Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi Pantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS

28/11/2011 3 DS : Orang tua klien mengatakan klien

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2 x 24 jam cemas hilang

Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang

sering rewel. DO : -

Klien sering menangis Sulit tidur -

dengan kriteria: klien dapat mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan klien mengungkapkan penurunan cemas yang berhubungan dengan hipertermi,proses penyakit

dimiliki klien mengenai hipertermi Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit

TINDAKAN KEPERAWATAN NAMA PASIEN : AN. S NO. REKAM MEDIK : 20 08 1989 RUANG RAWAT : Ruang Anak Di Kamar Anggrek TGL KODE NDX 29/11 1 JAM (WIB) 15.00 Memantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis Memantau suhu lingkungan TINDAKAN KEPERAWATAN DAN HASIL

Memberikan kompres hangat hindri Memberikan minum sesuai kebutuhan Kolaborasi dengan tenaga medis dalam pemberian antipiretik dan antibiotic

15.00 -

Mengukur/mencatat haluaran urine dan berat jenis. Mencatat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif Memantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP Meraba denyut perifer Mengkaaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa haus Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi Memantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS Mengkaji dan mengidentifikasi serta meluruskan informasi yang dimiliki orang tua klien mengenai hipertermi Memberikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi Memvalidasi perasaan klien dan meyakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal Mendiskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit Memantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis Memantau suhu lingkungan Memberikan kompres hangat hindri Memberikan minum sesuai kebutuhan Kolaborasi dengan tenaga medis dalam pemberian antipiretik dan antibiotic

3 15.00 -

30/11

20.00 -

20.00 -

Mengukur/mencatat haluaran urine dan berat jenis. Mencatat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif Memantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP Meraba denyut perifer Mengkaaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa haus Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi Memantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS Mengkaji dan mengidentifikasi serta meluruskan informasi yang dimiliki orang tua klien mengenai hipertermi

20.00 -

Memberikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi Memvalidasi perasaan klien dan meyakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal Mendiskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit Memantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis Memantau suhu lingkungan Memberikan kompres hangat hindri Memberikan minum sesuai kebutuhan Kolaborasi dengan tenaga medis dalam pemberian antipiretik dan antibiotic

1/12

07.00 -

07.00 -

Mengukur/mencatat haluaran urine dan berat jenis. Mencatat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif Memantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP Meraba denyut perifer Mengkaaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa haus Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi Memantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS Mengkaji dan mengidentifikasi serta meluruskan informasi yang dimiliki orang tua klien mengenai hipertermi Memberikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi Memvalidasi perasaan klien dan meyakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal Mendiskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit

3 07.00 -

CATATAN PERKEMBANGAN NAMA PASIEN : AN. S NO. REKAM MEDIK : 20 08 1989 RUANG RAWAT : Ruang Anak Di Kamar Anggrek TGL KODE JAM EVALUASI SOAP

NDX 30/11 1

(WIB) 20.00 S : orang tua klien mengatakan bahwa klien panasnya sudah berkurang O : - bibir agak kering - T : 38 - Sedikit menggil

- Kulit tidak kering A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan Intervensi

S : orang tua klien mengatakan bahwa klien panasnya sudah 3 berkurang O : - Suhu badan 38 - Masih berkeringat - Menggil berkurang A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan Intervensi

S : orang tua klien mengatakan bahwa rewel klien sudah berkurang O : - klien menangis tetapi sudah jarang - Klien masih sering terbangun pada waktu tidur A : Masalah Teratasi Sebagian P : Lanjutkan Intervensi 01/12 1 07.00 S : orang tua klien mengatakan bahwa kien sudah tidak panas lagi O : - bibir kering () - Suhu 37 - Tidak mengigil - Kulit normal A : Masalah teratasi P : Hentikan Intervensi

S : orang tua klien mengatakan bahwa kien sudah tidak panas lagi O : - Suhu 37 3 - Tidak mengigil - Tidak berkeringat

A : Masalah teratasi P : Hentikan Intervensi

S : orang tua klien mengataka bahwa klien sudah tidak rewel O : - klien tidak pernah menangis - Tidurnya nyenyak A : Masalah teratasi P : Hentikan Intervensi