Anda di halaman 1dari 20

Pencarian Terbaru (100) Pengertian wabah. Uu wabah. Definisi wabah. Perbedaan isolasi dan karantina. Pencegahan wabah.

Pengertian wabah menurut para ahli. Definisi wabah menurut para ahli. Perbedaan karantina dan isolasi. Undang undang wabah terbaru. Dasar hukum wabah. Hukum dan undang undang wabah. Uu wabah terbaru. Uu tentang wabah. Undang undang penyakit menular. Wabah adalah. Undang undang wabah. Pengertian wabah menurut undang undang. Hukum dan uu wabah. Makalah wabah. Pengertian tentang undang undang wabah. Definisi tentang undang undang wabah. Apa itu wabah. Defenisi wabah. Perbedaan karantina dengan isolasi. Pedoman penetapan wabah. Peraturan perundang undangan tentang wabah menurut who. Pengertian wabah penyakit. Undang undang yang mengatur tentang kesehatan di indonesia. Cara pencegahan wabah penyakit. Pengertian wabah menurut who. Penanganan wabah oleh dokter umum. Pengertian basili. Undang undang tentang hepatitis. Hukum wabah. Penyakit wajib lapor ke who 1965. Undang undang hepatitis. Wabah disentri. Penyakit wajib lapor. Pelaksanaan pencegahan program pemerintah untuk tifus abdominalis. Cara penularan wabah. Perbedaan isolasi dan karantina dalam pemberantasan penyakit. Undang undang kesehatan penyakit menular. Pengertian karantina laut. Arti wabah. Beda karantina dan isolasi. Defenisi wabah menurut ahli. Undang undang wabah menurut who. Pengertian/definisi tentang uu wabah. Uu terbaru tentang wabah. Uu penyakit menular. Definisi uu wabah. Langkah pencegahan hepatitis oleh pemerintah. Mengatur wabah. Pengertian wabah menurut. Penjelasan wabah. Wabah menurut who. Uu wabah yang terbaru. Cara pemberantasan hepatitis b. Definisi wabah menurut who. Definisi wabah hepatitis. Pengertian tentang uu wabah. Uu yang mengatur pemberantasan penyakit menular. Makalah peraturan kesehatan tentang penyakit karantina. Uu baru tentang penyakit menular. Definisi tentang uu wabah. Uud wajib lapor kelalaian masa percobaan 2 tahun. Cara pencegahan wabah. Apa yang dimaksud wabah. Cara pemberantasan para cholera eltor. Pencegah radang hati menular. Undang undang tentang wabah diindonesia. Langkah mengatasi wabah survailans epidemiologi. Cara pemberantasan penyakit hepatitis b. Undang undang kebijakan pemerintah tentang hepatitis di indonesia. Pengertian isolasi menurut para ahli. Hukum dan wabah. Undang undang berkaitan hepatitis.

Perbedaan isolasi dengan karantina. Hak dan kewajiban uu wabah. Indikator surveilans epidemiologi malaria. Perundangan tentang wabah penyakit. Program pemerintah untuk tifus abdominalis. Makalah kejang tengkuk ( meningitis cerebrospinalis epidemica ). Pencegahan wabah penyakit menular. Langkah langkah penanganan wabah. Pengertian isolasi bidang kesehatan. Kebijakan pemerintah tentang hepatitis. Atasi hepatitis.pdf. Undang undang tentang wabah terbaru. Defenisi wabah menurut para ahli. Wabah dasar. Uu karantina penyakit. Upaya menanggulangi wabah. Peraturan pemerintah tentang kesehatan disentri. Menurut uud tentang penyakit tives. Upaya mencegah wabah. Pengertian wabah menurut ahli. Perbedaan isolasi dan karantina pdf. Upaya pemerintah penyakit thypes. Penanganan wabah.

Definsi wabah Menurut kamus besar Bahasa Indonesia 1989 : Wabah berarti penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan pemukiman 1981 : Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit. Undang-undang RI No 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular : Wabah adalah kejaian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerahh tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Benenson (1985) : Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu daerah, yang nyata-nyata melebihi jumlah biasa. Last (1981) :Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan, yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa. Kesimpulannya wabah adalah meningkatnya kasus atau kejadian kesakitan atau kematian yang melebihi dari biasanya dan bermakna secara epidemiologi serta menimbulkan kepanikan dan malapetaka pada masyarakat. Selain kata wabah di kenal juga letusan (outbreak,yaitu serangan penyakit) dan kejadian luar biasa (KLB).lingkup yang lebih luas (epidemis) atau bahkan lingkup global (pandemi). Apabila peningkatan penderita penyakit memenuhi kriteria definisi wabah di atas, akan dinyatakan sebagai letusan penyakit bila kejadian tersebut terbatas dan dapat ditanggulangi sendiri oleh pemerintah daerah dan

dinyatakan sebagai KLB bila penanggulangannya membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat. Pernyataan adanya wabah hanya boleh ditetapkan oleh menteri kesehatan. II. 1. Bentuk wabah menurut sifatnya Common Source Epidemic Keadaan wabah dengan bentuk common source epidemic (CSE) adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadinya dalam waktu yang relatif singkat ( sangat mendadak ). Jika keterpaparan kelompok serta penularan penyakit berlangsung sangat cepat waktu yang sangat singkat (point of epidemic atau poit source of epidemic), maka resultan dari semua kasus atau kejadian berkembang hanya dalam satu masa tunas saja. Pada dasarnya dijumpai bahwa pada CSE kurva epidemic mengikuti suatu distribusi normal, sehingga dengan demikian bila proporsi kumulatif kasus digambarkan menurut lamanya kejadian sakit (onset) akan berbentuk suatu garis lurus. Median dari masa tunas dapat ditentukan secara mudah dengan membaca waktu dari setengah (50%) yang terjadi pada grafik. Dalam hal ini, pengetahuan tentang median dari masa tunas dapat menolong kita dalam mengidentifikasi agent penyebab, mengingat tiap jenis agent mempunyai masa tunas tertentu. Point source epidemic dapat pula terjadi pada penyakit oleh faktor penyebab bukan infeksi yang menimbulkan keterpaparan umum seperti adanya zat beracun polusi zat kimia yang beracun di udara terbuka. 2. Propataged atau Progressive Epidemic Bentuk epidemic ini terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik secara langsung maupun tidak langsung melalui udara, makanan maupun vektor. Kejadian epidemi semacam ini relatif lebih lama waktunya sesuai dengan sifat penyakit serta lamanya masa tunas. Juga sangat di pengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masyarakat yang rentan terhadap penyakit tersebut. Masa tunas penyakit tersebut di atas adalah sekitar satu bulan sehingga tampak masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada saat di mana jumlah anggota masyarakat yang rentan mencapai batas yang minimal. Pada saat sebagian besar anggota masyarakat sudah terserang penyakit maka jumlah yang rentan mencapai batas kritis, sehingga kurva epidemi mulai menurun sampai batas minimal.

http://www.hukor.depkes.go.id

Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu (Kep. Dirjen PPM&PLP No.451-I/PD.03.04/1991 Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB). Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan salah satu istilah yang sering digunakan dalam epidemiologi. Istilah ini juga tidak jauh dari istilah wabah yang sring kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Kedua istilah ini sering digunakan akan tetapi sering kali kita tidak

mengetahui apa arti kedua kata tersebut. Saya berikan beberapa istilah yang mungkin bisa membantu. Menurut UU : 4 Tahun 1984, kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. 2. Kriteria KLB KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB telah menetapkan criteria kerja KLB yaitu : 1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal. 2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun)

3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun). 4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya. 5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya. 6. Case Fatality Rate dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya. 7. Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya. 8. Beberapa penyakit khusus : Kholera, DHF/DSS, (a)Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis). (b)Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan. 9. Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita: Keracunan makanan, Keracunan pestisida.

3.

Klasifikasi KLB

a. 1) 2) 3) 4) b. 1) 2) 3) 4) c. 1) 2) 3) 4) d. 1) 2) 3) 4)

3.1. Menurut Penyebab: Toksin Entero toxin, misal yang dihasilkan oleh Staphylococus aureus, Vibrio, Kholera, Eschorichia, Shigella. Exotoxin (bakteri), misal yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum, Clostridium perfringens. Endotoxin. Infeksi Virus. Bacteri. Protozoa. Cacing. .Toksin Biologis Racun jamur. Alfatoxin. Plankton Racun ikan Racun tumbuh-tumbuhan Toksin Kimia Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam-logam lain cyanida. Zat kimia organik: nitrit, pestisida. Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan sebagainya

3.2.MenurutSumber KLB a. Manusia misal: jalan napas, tenggorokan, tangan, tinja, air seni, muntahan, seperti : Salmonella, Shigella, Staphylococus, Streptoccocus, b. Protozoa, Virus Hepatitis. c. Kegiatan manusia, misal : Toxin biologis dan kimia (pembuangan tempe bongkrek, penyemprotan, pencemaran lingkungan, penangkapan ikan dengan racun). d. Binatang seperti : binatang piaraan, ikan, binatang mengerat, contoh : Leptospira, Salmonella, Vibrio, Cacing dan parasit lainnya, keracunan ikan/plankton e. Serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya) misal : Salmonella, Staphylokok, Streptokok. f. Udara, misal : Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran udara. g. Permukaan benda-benda/alat-alat misal : Salmonella. h. Air, misalnya : Vibrio Cholerae, Salmonella. i. Makanan/minuman, misal : keracunan singkong, jamur, makanan dalam kaleng.

3.3.Menurut Penyakit wabah Beberapa penyakit dari sumber di atas yang sering menjadi wabah: a. Kholera b. Pes c. Demam kuning d. Demam bolak-balik e. Tifus bercak wabah f. Demam Berdarah Dengue g. Campak h. Polio i. Difteri

j. k. l. m. n. o. p. q. r. s. 4.

Pertusis Rabies Malaria Influensa Hepatitis Tipus perut Meningitis Encephalitis SARS Anthrax Penanggulangan KLB Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota Surabaya, 2002). Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini, dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian wabah. Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A., 2003). Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan Litbangkes, Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)

Read more: http://berkaskep.blogspot.com/2012/11/pengertian-kejadian-luar-biasaklb.html#ixzz2N15Un4nk


http://www.scribd.com/doc/74092839/SURVEILANS-EPIDEMIOLOGI

A. Pengertian Secara umum Wabah dapat diartikan sebagai kejadian penyakit melebihi dari normal (kejadian yang biasa terjadi). Banyak definisi yang diberikan mengenai wabah baik kelompok maupun para ahli diantaranya : Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang didaerah luas ( KBBI : 1989 ). Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit ( depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981). Wabah adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka ( UU RI No. 4 tahun 1984 ). Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah biasa ( Benenson : 1985 ) Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan dengan kesehatan yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa ( Last : 1981 ) Wabah penyakit menular adalah kejadian terjangkitn ya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No.4, 1984) Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu (Peraturan Menteri Kesehatan RI, Nomor 560/Menkes/Per/VIII/1989) Tiga k bomponen wabah : 1. Kenaikan jumlah penduduk 2. Kelompok penduduk disuatu daerah 3. Waktu tertentu Alasan melakukan penyelidikan adanya kemungkinan wabah : Mengadakan penanggulangan dan pencegahan a) Ganas tidaknya penyakit b) Sumber dan cara penularan c) Ada atau tidaknya cara penanggulangan dan pencegahan Kesempatan mengadakan penelitian dan pelatihan Pertimbangan program Kepentingan umum, politik, dan hukum

B. Pembagian Wabah Menurut Sifatnya 1. Common Source Epidemic Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun Common Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua. 2. Propagated/Progresive Epidemic Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan masa tunas yang lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal anggota masyarakat yang rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus. C. Kriteria Kerja Wabah / KLB Kepala wilayah / daerah setempat yang mengetahui adanya tersangka wabah (KJB penyakit menular) diwilayahnya atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah, wajib seera melakukan tindakan tindakan penanggulangan seperlunya, dengan bantuan unit kesehatan setempat, agar tidak berkembang menjadi wabah (UU No. 4 dan PerMenKes 560/ MenKes/ Per/ VIII/ 1989). Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/ tidak dikenal. 2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus menerus selama tiga kurun waktu berturut turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu). 3. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun). 4. Jumlah penderita baru dalam suatu bulan menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata rata perbulan dalam tahun sebelumnya. 5. Angka rata rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata rata perbulan dari tahun sebelumnya. 6. Case fatality rate ( CFR ) suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya. 7. Proportional rate ( PR ) penderita dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali

atau lebih dibandingkan periode, 8. kurun waktu atau tahun sebelumnya. 9. Beberapa penyakit khusus menetapkan kriteria khusus : cholera dean demam berdarah dengue. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya ( pada daerah endemis ). Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat minggu sebelumnya, daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan. 10. Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB. Keracunan makanan Keracunan pestisida 11. Satu kenaikan yang kecil dapat saja merupakan KLB yang perlu ditangani seperti penyakit poliomylitis dan tetanus neonatorum kasus dianggap KLB dan perlu penanganan khusus. Peningkatan jumlah kasus atau penderita yang dilaporkan belum tentu suatu wabah (pseudo epidemik) karena peningkatan penderita tersebut bisa karena : Perubahan cara pencatatan Ada cara cara dignosis baru Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat Ada penyakit lain dengan gejala sama Jumlah penduduk bertambah D. Tujuan Penyelidikan Wabah 1. Tujuan umum penyelidikan KLB / wabah a) Upaya penanggulangan dan pencegahan b) Surveilans ( lokal, nasional, dan internasional ) c) Penelitian d) Pelatihan e) Menjawab keingintahuan masyarakat f) Pertimbangan program g) Kepentingan politik dan hokum h) Kesadaran masyarakat 2. Tujuan khusus penyelidikan KLB / wabah a) Memastikan diagnose b) Memastikan bahwa terjadi KLB/ wabah c) Mengidentifikasi penyebab KLB d) Mengidentifikasi sumber penyebab e) Rekomendasi : cepat dan tepat

f) Mengetahui jumlah korban dan populasi rentan, waktu dan periode KLB, serta tempat terjadinya KLB ( variabel orang, waktu dan tempat ) E. Langkah-langah Investigasi Wabah Langkah melakukan investigsi wabah dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang sistemik yang terdiri dari : 1. Persiapan Investigasi di Lapangan Persiapan dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu: a. Investigasi : pengetahuan ilmiah perlengkapan dan alat b. Administrasi :prosedur administrasi termasuk izin dan pengaturan perjalanan c. Konsultasi :peran masing masing petugas yang turun kelapangan 2. Pemastian Adanya Wabah Dalam menentukan apakah wabah, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlah beberapa minggu atau bulan sebelumnya. b. Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui jumlah yang diharapkan. c. Sumber informasi bervariasi bergantung pada situasinya Catatan hasil surveilans Catatan keluar dari rumah sakit, statistic kematian, register, dan lain-lain. Bila data local tidak ada, dapat digunakan rate dari wilayah di dekatnya atau data nasional. Boleh juga dilaksanakan survey di masyarakat menentukan kondisi penyakit yang biasanya ada. d. Pseudo endemik (jumlah kasus yang dilaporkan belum tentu suatu wabah): Perubahan cara pencatatan dan pelaporan penderita Adanya cara diagnosis baru Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat Adanya penyakit lain dengan gejala yang serupa Bertambahnya jumlah penduduk yang rentan 3. Pemastian Diagnosis Semua temuan secara klinis harus dapat memastikan diagnosis wabah, hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : a. Untuk memastikan bahwa masalah tersebut telah didiagnosis dengan patut b. Untuk menyingkirkan kesalahan laboraturium yang menyebabkan peningkatan kasus yang dilaporkan c. Semua temuan klinis harus disimpulakan dalam distribusi frekuensi d. Kunjungan terhadap satu atau dua penderita

4. Pembuatan Definisi Kasus Pembuatan definisi kasus adalah seperangkat criteria untuk menentukan apakah seseorang harus dapat diklasifikasikan sakit atau tidak. Kriteria klinis dibatasi oleh waktu, tempat, dan orang. Penyelidikan sering membagi kasus menjadi pasti ( compirmed), mungkin ( probable), meragukan ( possible ), sensivitasdan spefsifitas. 5. Penemuan dan Penghitungan Kasus Metoda untuk menemukan kasus yang harus sesuai dengan penyakit dan kejadian yang diteliti di fasilitas kesehatan yang mampu memberikan diagnosis. Informasi berikut ini dikumpulakan dari setiap kasus : a) Data identifikasi ( nama, alamat, nomor telepon ) b) Data demografi ( umur, jenis kelamin, ras, dan pekerjaan ) c) Data klinis d) Faktor risiko, yang harus dibuat khusus untuk tiap penyakit e) Informasi pelapor untuk mendapatkan informasi tambahan atau memberi umpan balik 6. Epidemiologi Deskriptif a. Gambaran waktu berdasarkan waktu Perjalanan wabah berdasarkan waktu digamabarkan dengan grafik histogram yang berbentuk kurva epidemic, gambaran ini membantu : 1) Memberi informasi samapai dimana proses wabah itu dan bagaimana kemungkinan kelanjutannya 2) Memperkirakan kapan pemaparan terjadi dan memusatkan penyelidikan pada periode tersebut, bila telah diketahui penyakit dan masa inkubasinya. 3) Menarik kesimpulan tentang pola kejadian, dengan demikian mengetahui apakah bersumber tunggal, ditularkan dari orang ke orang, atau campuran keduanya. Kemungkinan periode pemaparan dapat dilakukan dengan : 1) Mencari masa inkubasi terpanjang, terpendek, dan rata-rata 2) Menentukan puncak wabah atau kasus mediannya, dan menghitung mundur satu masa inkubasi rata-rata 3) Dari kasus paling awal kejadian wabah, dihitung mundur masa inkubasi terpendek Masa inkubasi penyakit adalah waktu antara masuknya agens penyakit sampai timbulnya gejala pertama. Informasi tentang masa inkubasi bermanfaat billa penyakit belum diketahui sehingga mempersempit diagnosis diferensial dam memperikan periode pemaparan. Cara menghitung median masa inkubasi : a) Susunan teratur ( array) berdasarkan waktu kejadiannya b) Buat frekuensi kumulatifnya c) Tentukan posisi kasus paling tengah

d) Tentukan kelas median e) Median masa inkubasiditentukan dengan menghitung jarak antara waktu pemaparan dan kasus median b. Gambaran wabah berdasarkan tempat Gambaran wabah berdasarkan tempat menggunakan gambaran grafik berbentuk Spot map. Grafik ini menunjukkan kejadian dengan titik/symbol tempat tertentu yang menggambarkan distribusi geografi suatu kejadian menurut golongan atau jenis kejadian namun mengabaikan populasi. c. Gambaran wabah berdasarkan ciri orang Variable orang dalam epidemiologi adalah karakteristik individu yang ada hubungannya dengan keterpajanan atau kerentanan terhadapa suatu penyakit.Misalnya karakteristik inang ( umur, jenis kelamin, ras/suku, status kesehatan) atau berdasarkan pemaparan ( pekerjaan, penggunaan obat-obatan) d. Pembuatan Hipotesis Dalam pembuatan suatu hipotesis suatu wabah, hendaknya petugas memformulasikan hipotesis meliputi sumber agens penyakit, cara penularan, dan pemaparan yang mengakibatkan sakit. 1) Mempertimbangkan apa yang diketahui tentang penyakit itu: Apa reservoir utama agen penyakitnya? Bagaimana cara penularannya? Bahan apa yang biasanya menjadi alat penularan? Apa saja faktor yang meningkatkan risiko tertular? 2) Wawancara dengan beberapa penderita mencari kesamaan pemaparan. 3) Mengumpulkan beberapa penderita 4) Kunjungan rumah penderita 5) Wawancara dengan petugas kesehatan setempat 6) Epidemiologi diskriptif e. Penilaian Hipotesis Dalam penyelidikan lapangan, hipotesis dapat dinilai dengan salah satu dari dua cara, yaitu: 1) Dengan membandingkan hipotesis dengan fakta yang ada, atau 2) Dengan analisis epidemiologi untuk mengkuantifikasikan hubungan dan menyelidiki peran kebetulan. 3) Uji kemaknaan statistik, Kai kuadrat. f. Perbaikan hipotesis dan penelitian tambahan Dalam hal ini penelitian tambahan akan mengikuti hal dibawah ini 1) Penelitian Epidemiologi ( epidemiologi analitik )

2) Penelitian Laboratorium ( pemeriksaan serum ) dan Lingkungan (pemeriksaan tempat pembuangan tinja ) g. Pengendalian dan Pencegahan Pengendalian seharusnya dilaksanakan secepat mungkin upaya penanggulangan biasanya hanya dapat diterapkan setelah sumber wabah diketahui Pada umumnya, upaya pengendalian diarahkan pada mata rantai yang terlemah dalam penularan penyakit. Upaya pengendalian mungkin diarahkan pada agen penyakit, sumbernya, atau reservoirnya. h. Penyampaian Hasil Penyelidikan Penyampaian hasil dapat dilakukan dengan dua cara pertama Laporan lisan pada pejabat setempat dilakukan di hadapan pejabat setempat dan mereka yang bertugas mengadakan pengendalian dan pencegahan dan yang kedua laporan tertulis.Penyampaian penyelidikan diantaranya: 1) Laporan harus jelas, meyakinkan, disertai rekomendasi yang tepat dan beralasan 2) Sampaikan hal-hal yang sudah dikerjakan secara ilmiah; kesimpulan dan saran harus dapat dipertahankan secara ilmiah 3) Laporan lisan harus dilengkapi dengan laporan tertulis, bentuknya sesuai dengan tulisan ilmiah (pendahuluan, latar belakang, metodologi, hasil, diskusi, kesimpulan, dan saran) 4) Merupakan cetak biru untuk mengambil tindakan 5) Merupakan catatan dari pekerjaan, dokumen dari isu legal, dan merupakan bahan rujukan apabila terjadi hal yang sama di masa datang . Susunan laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut. Pendahuluan Latar Belakang Uraian tentang penelitian yang dilakukan Hasil penelitian Analisis data dan kesimpulan Tindakan penanggulangan Dampak-dampak penting Saran rekomendasi F. Kejadian Luar Biasa Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satu kategori status wabah dalam peraturan yang berlaku di Indonesia. tatus Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang KLB mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/9. Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur: 1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal 2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturutturut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu) 3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun). 4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya. G. Pelacakan KLB 1. Garis Besar Pelacakan KLB a. Pengumpulan data dan informasi secara seksama langsung di lapangan tempat kejadian b. Analisa data yang diteliti dengan ketajaman pemikiran. c. Adanya suatu garis besar tentang sistematika langkah-langkah yang pada dasarnya harus ditempuh dan dikembangkan dalam setiap usaha pelacakan. 2. Analisis Situasi Awal a. Penentuan atau penegakan diagnosis b. Penentuan adanya wabah c. Uraian keadaan wabah (waktu, tempat dan orang) 3. Analisis Lanjutan a. Usaha Penemua kasus tambahan 1) Adakan pelacakan ke rumah sakit dan dokter praktek ntuk menemukan kemungkinan adanya kasus diteliti yang belum ada dalam laporan. 2) Pelacakan intensif terhadap mereka yang tanpa gejala, gejala ringan tetapi mempunyai potensi menderita atau kontak dengan penderita. b. Analisa Data secara berkesinambungan. c. Menegakkan Hipotesis d. Tindakan Pemadaman wabah dan tindak lanjut. 1) Tindakan diambil sesuai dengan hasil analisis 2) Diadakan follow up sampai keadaan normal kembali. 3) Yang menimbulkan potensi timbulnya wabah kembali disusunkan suatu format pengamatan yang berkesinambungan dalam bentuk survailans epidemiologi terutama high risk. H. Penanggulangan KLB : 1. SKD KLB 2. Penyelidikan dan penanggulangan KLB

3. Pengembangan sistem surveilans termasukpengembangan jaringan informasid) Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral a. OUTBREAK Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain. b. EPIDEMI Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat. c. PANDEMI Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup wilayah yang luas d. ENDEMI Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu. I. Undang-Undang terkait dengan Wabah dan KLB PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIANOMOR 1501/MENKES/PER/X/2010 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut Wabah, adalah kejadianberjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlahpenderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. 2. Kejadian Luar Biasa yang selanjutnya disingkat KLB, adalah timbulnya ataumeningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secaraepidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakankeadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. 3. Penderita adalah seseorang yang menderita sakit karena penyakit yang dapatmenimbulkan wabah. 4. Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untukmengenal sifat-sifat penyebab, sumber dan cara penularan serta faktor yangdapat mempengaruhi timbulnya wabah. 5. Pemerintah pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah PresidenRepublik Indonesia

yang memegang kekuasaan Pemerintah Negara RepublikIndonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945 6. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota dan perangkatdaerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 7. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang kesehatan. 8. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan LingkunganKementerian Kesehatan. 9. Tim Gerak Cepat adalah Tim yang tugasnya membantu upayapenanggulangan KLB/wabah Pasal 2 Ruang lingkup pengaturan meliputi penetapan jenis penyakit menular tertentuyang dapat menimbulkan wabah, tata cara penetapan dan pencabutan penetapandaerah KLB/Wabah, tata cara penanggulangan, dan tata cara pelaporan. BAB II JENIS PENYAKIT MENULAR TERTENTU YANG DAPATMENIMBULKAN WABAH Bagian Kedua Umum Pasal 3 Penetapan jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabahdidasarkan pada pertimbangan epidemiologis, sosial budaya, keamanan,ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menyebabkan dampak malapetakadi masyarakat. Pasal 4 (1) Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah adalah sebagai berikut: a. Kolera b. Pes c. Demam Berdarah Dengue d. Campake. Polio f. Difterig. Pertusis h. Rabies i. Malaria j. Avian Influenza H5N1 k. Antraks l. Leptospirosis

m. Hepatitis n. Influenza A baru (H1N1)/Pandemi 2009 o. Meningitis p. Yellow Fever q. Chikungunya (2) Penyakit menular tertentu lainnya yang dapat menimbulkan wabah ditetapkanoleh Menteri Bagian Kedua Tata Cara Penemuan Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah Pasal 5 (1) Penemuan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah dapat dilakukansecara pasif dan aktif. (2) Penemuan secara pasif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui penerimaan laporan/informasi kasus dari fasilitas pelayanan kesehatanmeliputi diagnosis secara klinis dan konfirmasi laboratorium. (3) Penemuan secara aktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui kunjungan lapangan untuk melakukan penegakan diagnosis secaraepidemiologi berdasarkan gambaran umum penyakit menular tertentu yangdapat menimbulkan wabah yang selanjutnya diikuti dengan pemeriksaan klinisdan pemeriksaan laboratorium (4) Selain pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium sebagaimanadimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai gambaran umum penyakit menular tertentuyang dapat menimbulkan wabah, tata cara pemeriksaan klinis, pemeriksaanlaboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya tercantum dalam LampiranPeraturan ini. BAB III UPAYA PENANGGULANGAN KLB/WABAH Bagian Kesatu Penetapan Daerah KLB Pasal 6 Suatu daerah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB, apabila memenuhi salah satukriteria sebagai berikut a. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud dalamPasal 4 yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah. b. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktudalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.

c. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan denganperiode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari atau minggu menurut jenispenyakitnya. d. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkankenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulandalam tahun sebelumnya. e. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahunmenunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya. f. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama. g. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama. Pasal 7 (1) Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi,atau Menteri dapat menetapkan daerah dalam keadaan KLB, apabila suatudaerah memenuhi salah satu kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. (2) Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau kepala dinas kesehatan provinsimenetapkan suatu daerah dalam keadaan KLB sebagaimana dimaksud padaayat (1) di wilayah kerjanya masing-masing dengan menerbitkan laporan KLBsesuai contoh formulir W1 terlampir. Pasal 8 (1) Dalam hal kepala dinas kesehatan kabupaten/kota tidak menetapkan suatudaerah di wilayahnya dalam keadaan KLB, kepala dinas kesehatan provinsidapat menetapkan daerah tersebut dalam keadaan KLB. (2) Dalam hal kepala dinas kesehatan provinsi atau kepala dinas kesehatankabupaten/kota tidak menetapkan suatu daerah di wilayahnya dalam keadaanKLB, Menteri menetapkan daerah tersebut dalam keadaan KLB. Pasal 9 Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi, atauMenteri harus mencabut penetapan daerah dalam keadaan KLB berdasarkanpertimbangan keadaan daerah tersebut tidak sesuai dengan keadaansebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. Bagian Kedua Penetapan Daerah Wabah Pasal 10

(1) Penetapan suatu daerah dalam keadaan wabah dilakukan apabila situasi KLBberkembang atau meningkat dan berpotensi menimbulkan malapetaka,dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Secara epidemiologis data penyakit menunjukkan peningkatan angkakesakitan dan/atau angka kematian. b. Terganggunya keadaan masyarakat berdasarkan aspek sosial budaya,ekonomi, dan pertimbangan keamanan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pertimbangan penetapan suatu daerah dalam keadaan wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan ini. Pasal 11 Menteri menetapkan daerah dalam keadaan wabah berdasarkan pertimbangansebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. Pasal 12 Menteri harus mencabut penetapan daerah wabah berdasarkan pertimbangankeadaan daerah tersebut tidak sesuai dengan keadaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. Bagian Ketiga Penanggulangan KLB/Wabah Pasal 13 (1) Penanggulangan KLB/Wabah dilakukan secara terpadu oleh Pemerintah,pemerintah daerah dan masyarakat. (2) Penanggulangan KLB/Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penyelidikan epidemiologis; b. penatalaksanaan penderita yang mencakup kegiatan pemeriksaan,pengobatan, perawatan dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina; c. pencegahan dan pengebalan; d. pemusnahan penyebab penyakit; e. penanganan jenazah akibat wabah; f. penyuluhan kepada masyarakat; dan g. upaya penanggulangan lainnya. (3) Upaya penanggulangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g antara lain berupa meliburkan sekolah untuk sementara waktu, menutup fasilitas umum untuk sementara waktu, melakukan pengamatan secaraintensif/surveilans selama terjadi KLB serta melakukan evaluasi terhadap upaya penanggulangan secara keseluruhan. (4) Upaya penanggulangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai

dengan jenis penyakit yang menyebabkan KLB/Wabah. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan penanggulangan KLB/Wabah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran Peraturan ini

disusun oleh: Anita Fatmawati dan Kelompok Prodi DIV Bidan Pendidik Poltekkes Kemenkes Semarang 2012

sumber: Rajab,Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC. Rianti,Emy,DKK. 2009. Buku Ajar Epidemiologi dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media. http://epid-infokes.blogspot.com/2007/08/investigasi-wabah.html