Anda di halaman 1dari 12

A. Penerapan K3 1.

Health (Kesehatan) Penyediaan Air Air yang dikonsumsi ataupun yang dibuang ke hutan parameternya selalu dikontrol secara kontinyu agar tidak mencemari lingkungan dan aman untuk dikonsumsi. Diantara parameter-parameter tersebut antara lain : pH, Total dissolved solid, kesadahan, biocide, temperatur. Pengolahan Sampah Sampah yang berasal dari pekerjaan bangunan akan dibakar. Sampah dari laboratorium akan diproses diluting sehingga tidak membahayakt. Limbah yang berasal dari kotoran manusia akan dimasukkan ke-septic tank yang terdapat di perumahan. Pengawasan Terhadap Makanan dan Minuman Makanan yang terdapat di Mess Hall, Commisary, dan sanggar karyawan diperiksa secara berkala. Pengawasan juga meliputi masakan kadaluarsa suatu produk. Pest Control Pest control adalah pengendalian terhadap hewan penyebar penyakit dan hewan pengganggu. HES menyediakan pekerja untuk membasmi hewan-hewan tesebut bila diminta oleh penghuni camp. HES juga akan melakukan pembasmian berkala terhadap penyakit malaria dan demam berdarah yang cukup tinggi di Riau.

2.

Safety (Keselamatan) Bidang ini menangani masalah keselamatan kerja. Hasil inspeksi dan audit yang dilakukan oleh perusahaan, IBU manajemen dan tim Health, Environment, dan Safety (HES) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dalam beberapa hal di bidang keselamatan perusahaan bisa lebih baik. Kegiatan yang menjadi tanggung jawab bagian Safety (Keselamatan) adalah: a. Melakukan pembelian barang-barang penunjang keselamatan kerja dan kesehatan, serta lingkungan. b. c. d. Melakukan perawatan terhadap alat-alat keselamatan. Melakukan pencegahan kecelakaan melalui perencanaan yang baik. Melacak sebab-sebab terjadinya kecelakaan dan melaporkannya.

e. f.

Melakukan inspeksi. Melakukan pelatihan terhadap HES secara berkesinambungan.

Access Control Tujuan dari access control untuk memastikan hanya orang yang berhak saja yang dapat masuk/bekerja dari fasilitas dan menjaga keselamatan dan keamanan orang-orang serta fasilitas yang ada didalamnya. Yang dikatakan berhak disini antara lain adalah: 1. 2. 3. 4. Berwenang Punya alasan absah. Terkait dengan operasi dan punya kepentingan bisnis. Memahami dan memenuhi persyaratan memasuki dan bekerja di dalam fasilitas

Izin Kerja Umum Tujuan dari General Work Permit adalah membentuk komunikasi dan mengingatkan akan bahaya yang timbul diantara kelompok kerja lintas fungsi disuatu tempat kerja dalam melakukan pekerjaan tidak rutin. Diantaranya yang terbentuk kedalam izin kerja umum ini adalah : hot work, confined space, hot line dan sebagainya. Hubungan fungsional pelaku proses General Work Permit dapat dilihat urutan berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Penanggung jawab fasilitas (facility owner) Petugas fasilitas yang ditunjuk (facility owner designate) Penanggung jawab pelaksana (person in change) Penanggung jawab kerja lapangan (work responsible person) Petugas yang berwenang (authorized worker)

Sebagaimana yang terlihat pada prosedur GWP di atas, pertamakali periksa apakah pekerjaan dilaksanakan oleh pegawai yang tidak biasa mengoperasikan fasilita tersebut. Jika ya maka diperlukan GWP, namun jika tidak periksa kembali apakah pekerjaan jarang dilakukan dan mempunyai resiko tinggi. Jika ya maka diperlukan GWP, namun jika tidak periksa kembali apakah pekerjaan tersebut termasuk kerja panas, masuk ruang tertutup, kerja di ketinggian atau kerja beresiko. Jika ya maka perlu GWP, namun jika tidak periksa kembali. Apabila pekerjaan tersebut tercantum dalam hal 46 GWP guidelines, atau termasuk pekerjaan baru (bulir 3.3 dn 4.7 pada GWP guidelines). Jika ya maka perlu GWP, jika tidak diperiksa sekali lagi apakah pekerjaan melibatkan resiko yang tidak

rutin/tidak biasa?Jika ya maka perlu GWP, namun jika tidak lakukan sebagaimana kerja rutin. Standart Operating Procedures / Job Safety Analysis (SOP/JSA) Tujuan SOP/JSA ini adalah untuk memastikan bahwa setiap pekerja mempunyai dan melakukan perkejaan dengan mengacu kepada SOP dan JSA yang diperlukan. SOP adalah langkah langkah kerja tertulis yang terfokus pada pelaksanaan pekerjaan untuk mengurangi resiko kerugian dan mempertahankan kehandalan. Dalam SOP biasanya terdapat batasan operasi peralatan dan keselamatan, prosedur menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan peralatan. JSA adalah suatu pendekatan struktural untuk mengidentifikasi potensi bahaya dalam suatu pekerjaan dan memberikan langkah langkah pekerjaan. Selanjutnya menganalisa bahaya yang ada pada tiap langkah kerja tersebut, memberikan langkah langkah perbaikan hingga akhirnya didapati suatu urutan pekerjaan yang selamat. Lock Out Tag Out Bertujuan untuk mencegah timbulnya energi yang tiba-tiba dan tidak diharapkan (karena salah mengoperasikan atau menghidupkan sebelum waktunya) dari mesin, peralatan listrik dan fasilitas proses produksi yang sedang diperbaiki, dioperasikan atau dilakukan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan peralatan atau proses tersebut, yang dapat mencederai seseorang atau merusak peralatan. Material Safety Data Sheet Tujuan MSDS adalah untuk menjamin bahaya kimia yang ada ditempat kerja dan penangannya dikomunikasikan secara baik sehingga pegawai dan mitra kerja dapat bekerja dengan selamat dalam menggunakan bahan tersebut. MSDS ini diterapkan untuk pegawai dan mitra kerja dapat bekerja dengan selamat dalam menggunakan bahan tersebut. MSDS ini terapkan untuk pegawai di CPI dan mitra kerja yang melakukan kerja berhubungan dengan bahan kimia berbahaya yang memberikan informasi mengenai bahaya potensial dan cara penanganan yang selamat atas bahan yang digunakan, informasi yang terdapat didalamnya antara lain : 1. 2. Identifikasi. Unsur bahaya.

3. 4. 5. 6.

Data bahan api dan ledakan. Data fisik. Data bahaya untuk kesehatan.informasi pelindung khusus. Prosedur penanganan tumpahan atau kebocoran dan tindakan pencegahan khusus. Facillity owner perlu memberi label pada setiap wadah bahan kimia / material. Semua

drum dan wadah bahan berbahaya harus mempunyai label yang diperlihatkan secara mencolok, label ini biasanya ditempel pada tangki besar, drum/kaleng, botol sample, wadah sementara, botol laboratorium, dan lain-lain. House Keeping House keeping bertujuan untuk memastikan fasilitas operasi berada dalam keadaan bersih dan teratur. Dimana keadaan tersebut memberikan manfaat sebagi berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menghilangkan kemungkinan cidera dan kebakaran. Mencegah pemborosan energi. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang. Membantu pengendalian limbah dan kerusakan aset. Menjamin kerapian tempat kerja. Mendorong kebiasaan kerja yang lebih baik. Mencermin tempat kerja yang dikelola baik.

3. Lingkungan

Bagian environment mengatasi masalah yang menyangkut pencemaran terhadap lingkungan seperti pencemaran tanah oleh tumpahan minyak atau buangan minyak ke hutan, pencemaran air produksi yang diijinkan untuk diinjeksikkan ke dalam tanah. Saat ini PT. CPI mempunyai komitmen selalu berusaha untuk membuat produksinya zero waste. Bentuk komitmen yang dicanangkan oleh bagian Environment ini yaitu memberikan data dan analisis yang akurat, peralatan dan proses yang efektif, sumber yang kompeten, kepemimpinan dan performa aktif untuk mencapai kualitas lingkungan terbaik. Program kerja yang dijalnkan oleh bagian environment antara lain yaitu Manajemen Limbah, Penanganan kualitas udara, Penanganan Air Limbah, dan kegiatan

pendukung lainnya seperti studi AMDAL dan studi lingkungan, presentasi tentang lingkungan, pelatihan tentang pengelolaan lingkungan dan lainnya. Beberapa program lain yaitu pemilahan sampah, penyelamatan spesies harimau, pig and monkey mitigation, pengenalan tentang lingkungan, uji kelayakan lingkungan dan pendaur ulangan kertas.

B. OE-HES Bagian Compliance Assurance merupakan divisi dari OE-HES yang menangani tentang ketaatan pekerja terhadap peraturan dan undang-undang yang berlaku, agar dapt mengkontrol, mengkoordinir dan mencegah serta mengurangi resiko kesalahan atau kecelakaan kerja. Tujuan dari divisi Complaince Assurance yaitu : Meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi kecelakaan kerja. Memelihara dan menjaga reputasi serta izin dari perusahaan. Memantau konsistensi dan implementasi ketaatan pekerja.

Program kerja yang dilakukan Compliace Assurance antara lain : Requirment and Register Pendataan semua Peraturan Negara , Undang-Undang Negara dan persyaratan yang harus ditaati dan diikuti oleh perusahaan Program Of Control Merancang program-program yang memenuhi dan mendukung aturan yang berlaku dalam proses produksi dan manajemen perusahaan Audit Program Pemeriksaan dan pengontrolan dari program-program yang telah ditetapkan dalam perusahaan Management of Non Compliance Pengaturan manajemen sanksi ketidaktaatan terhadap peraturan di dalam perusahaan.

C. Penanganan Terhadap Insiden

Apabila terjadi suatu insiden, mengacu pada prosedur investigasi yaitu dengan melihat apa kategori dari insiden yang terjadi, apa level insiden yang terjadi, apa saja persyaratan untuk investigasi (persyaratan tim, keanggotaan tim, sponsor, piagam, metodologi yang digunakan, dan keterlibatan kontraktor). Kemudian untuk tahap identifikasi ini data yang dikumpulkan dilihat dari data people, position, paper, parts. Data dikumpulkan sesegera mungkin dan dalam urutan waktu terjadinya insiden. Awal pengumpulan data dilakukan dengan mengamankan daerah tempat terjadi insiden dan tidak memulai melakukan investigasi insiden sampai perawatan medis telah diberikan kepada siapa saja yang terluka dan/atau situasi atau keadaan yang abnormal sudah terkendali. Hal ini karena keselamatan jiwa, kesehatan dan lingkungan lebih penting daripada penyelidikan insiden. Dalam kebanyakan kasus, pengawas pada baris pertama yang ada di tempat kejadian bertugas untuk mengumpulkan data pada tahap awal. Jika sebuah tim diperlukan untuk penyelidikan, pemimpin tim atau fasilitator akan mengambil alih tangggungjawab untuk pengumpulan data lanjutan. Setelah memastikan korban sudah diberi pertolongan medis dan situasi sudah terkendali, kemudian menentukan apakah peristiwa tersebut dapat terjadi di tempat lain, jika demikian, kemudian segera lakukan respon untuk mengatasi bahaya. Setelah semua terkendali dan semua masalah keamanan teratasi sesegera mungkin lakukan langkah langkah sebagai berikut : a. Sebagai alternatif lakukan wawancara kepada saksi sesegara mungkin. Saat awal ditemukan saksi dan orang yang terlibat dalam insiden tersebut, kemudian menyiapkan laporan tertulis dari pengamatan dan tindakan mereka sebelum dan termasuk saat insiden tersebut. b. Melindungi data fisik di daerah kejadian. Letakkan tali atau pita pada daerah tersebut untuk membuat orang-orang keluar darai daerah itu. Terkadang data fisik hancur hanya karena orang melacak dan melewati daerah tersebut atau mencoba untuk membersihkan daerah itu. c. Merekam tempat kejadian setelah terjadi insiden dengan cara mengambil data tempat kejadian dan menggambar sketsa tempat kejadian d. mengumpulkan dan menyimpan data fisik data fisik seperti bagian, potongan dan benda benda kecil lainnya, merekam lokasi dimana data ditemukan, terutama mengumpulkan hal-hal yang mungkin dipindahkan, debrsihkan atau rusak jika

ditinggalkan di tempat kejadian. Jika data fisik terlalu besar untuk dipindahkan atau membutuhkan pembongkaran, maka dibuat catatan untuk penyelidikan lanjutan setelah tim dibentuk. e. Mengambil sampel yang diperlukan dan mengambil data yang mungkin akan hilang.

1. Pelaporan Untuk prosedur pelaporan insiden dilakukan pada 2 bagian, yaitu pelaporan internal dan pelaporan eksternal. Tujuan prosedur ini adalah untuk menentukan tindakan yang diperlukan untuk pemberitahuan internal dalam insiden dan entitas juga tindakan yang diperlukan untuk pemberitahuan eksternal insiden kepada lembaga migas pemerintah Indonesia. Prosedur ini berlaku untuk semua karyawan dan kontraktor dalam pengendalian operasional .

a.

Internal Reporting Ketika terjadi insiden, pengamat kejadian segera memberitahukan kepada pemimpin group leader (GL) atau pemimpin tim mereka. Pemimpin / ketua tim kemudian akan memberitahu manajer tim mereka (TM). Setelah mengevaluasi insiden itu, TM akan melaporkan kepada manajer langsung mereka. Untuk memiliki standar pelaporan ke tingkat berikutnya, GL / TL atau TM dapat menggunakan formulir pemberitahuan insiden seperti yang ditunjukkan pada lampiran A. Setelah memberitahukan insiden kepada manajer langsung mereka, TM melengkapi formulir pelaporan insiden dan meneruskan formulir yang telah diisi kepada manajer mereka. Manajer memeriksa kualitas formulir pelaporan insiden dan menyetujui penyerahan melalui email kepada bagian pengolahan data OE / HES . Setelah menerima pemberitahuan dari TM, manajer kemudian akan memberitahu kepada general managernya langsung atau wakil presiden Pengelola juga akan memberitahu manajer OE / HES jika tingkat insiden dikategorikan sebagai tingkat 2 atau tingkat 3 ( Serious or major). Setelah menerima pemberitahuan dari manajer, GM / VP akan memberitahukan insiden tersebut kepada, direktur eksekutif harus mengevaluasi kejadian untuk pemberitahuan lebih lanjut. jika insiden itu termasuk dalam kategori insiden yang membutuhkan pemberitahuan luar IBU, direktur eksekutif akan memberitahukan presiden direktur tersebut. dan IBU managing director tentang insiden

b.

External Notification Direktur juga mensyaratkan bahwa kejadian menyebabkan kerusakan properti (instalasi atau peralatan) dengan biaya langsung lebih besar harus dilaporkan dalam waktu 2 x 24 jam. Penyelesaian pelaporan yang dibutuhkan adalah tanggung jawab GM / VP dari organisasi yang bekerja sama dengan para pengelola SMO OE /. Pelaporan awal dapat dilakukan melalui telepon, faks, atau email dan minimum harus mencakup informasi sebagai berikut:

a. b. c.

waktu kejadian (jam, hari, tanggal, bulan dan tahun) lokasi kejadian orang yang menjadi korban (nama, jenis kelamin, usia, status, posisi, nama perusahaan)

d. e. f.

kerusakan properti atau instalasi, termasuk biaya yang dikeluarkan klasifikasi insiden penjelasan singkat kejadian, serta penyebab langsung dan penyebab awal hydrocarbon spill reporting Insiden tumpahan hidrokarbon lebih besar dari 15 barel harus dilaporkan dalam waktu 2 x 24 jam ke divisi perlindungan lingkungan. Laporan tersebut harus disampaikan menggunakan formulir laporan tumpahan hidrokarbon sebagaimana dalam Lampiran C. Penyelesaian laporan tertulis yang diperlukan merupakan tanggungjawab organisasinya berkoordinasi dengan manajer / VP dari organisasi yang terkena dampak harus menyetujui isi dari pemberitahuan tumpahan yang telah dipersiapkan oleh pengelola. Manajer akan menyampaikan pemberitahuan tumpahan kepada untuk disetujui. akan mengajukan pemberitahuan untuk. Insiden tumpahan hidrokarbon lebih besar dari 15 barel juga harus dilaporkan kepada kepala bidang perlindungan lingkungan. Untuk memenuhi kewajiban ini effluent water concentration in abnormal and emergency conditions notification Penyelesaian laporan yang diperlukan untuk debit tidak normal / darurat adalah tanggung jawab dari GM / VP dari organisasi yang terkena dampak berkoordinasi dengan manajer. Pelaporan awal dapat dilakukan dengan telepon, fax atau email dan minimum harus mencakup informasi sebagai berikut:

1.

waktu dan durasi sebenarnya atau dugaan lokasi abnormal dan atau keadaan debit darurat

2. 3. 4.

penjelasan singkat tentang kondisi abnormal dan atau keadaan darurat konsentrasi air limbah pada saat debit tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk mengurangi kondisi debit abnormal dan atau keadaan darurat Abnormal dalam peraturan ini didefinisikan sebagai kondisi operasi di luar

parameter operasi normal, tetapi masih dapat dikendalikan. Contohnya start-up, shut-down dan up-set yang dapat menyebabkan melebihi batas ambang air yang diproduksi. Namun tidak terbatas pada hal itu, dapat juga berupa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. kondisi operasi melebihi kapasitas desain fasilitas pengolahan air terproduksi kegagalan fasilitas pengolahan air terproduksi kegagalan unit udara terlarut pengapungan kegagalan fasilitas pemisah API kegagalan suntikan dosis kimia kegagalan pompa bah caisson Kondisi darurat dalam Keputusan ini didefinisikan sebagai kondisi operasi di luar parameter operasi normal dan tidak dapat lagi dikendalikan (tidak terkontrol). misalnya: darurat karena bencana alam, force majeure, dan lain-lain.

2. Membuat prioritas (Prioritization) Dalam membuat prioritas, CPI melakukan kategorisasi pada dua tingkat, yaitu di tingkat akar penyebab dan di tingkat insiden. Di tingkat akar penyebab, masing-masing akar penyebab yang dikategorisasikan untuk tren dan analisis. Sedangkan di tingkat insiden, prinsip yang dilanggar dicatat untuk tren 3. Distribution Untuk menyebarka informasi terkait insiden, menggunakan web resmi yang hanya dapat diakses oleh karyawan dan yang bekerja di. Informasi terkait insiden tersebut disebarkan dalam bentuk preliminary report yag berisi deskripsi kejadian, hal apa yang salah dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah insiden tersebut terjadi kembali.

4. Identifikasi Penyebab Dalam metodologi untuk analisis dan verifikasi penyebab, CPI menggunakan dua metode, yaitu five why dan why tree. Kedua-duanya adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi factor-faktor penyebab (kausal) yang mengakibatkan insiden. The five

why methode digunakan untuk menginvestigasi kecelakaan yang sederhana. Tool ini sangat cepat dan efisien untuk menemukan akar penyebab utama. Namun tidak dapat menemukan penyebab keseluruhannya karena tool ini menyelidiki kegagalan hanya dengan bertanya dan menjawab pertanyaan mengapa. Sedangkan Why Tree Methode dapat menemukan semua penyebabnya karena dengan tool ini dapat melihat urutan penyebab dari yang langsung, tidak langsung sampai yang paling mendasar. 5. Identifikasi solusi Memberikan prioritas tinggi untuk memperbaiki bahaya secara langsung dimanapun bahaya tersebut berada. Rekomendasi itu harus mampu menghilangkan insiden agar tidak terjadi lagi atau mengurangi konsekuensi jika terulang lagi dan/atau mengurangi frekuensi terulang kembali. Prioritas harus diberikan untuk sebuah rekomendasi. Mengembangkan rekomendasi yaitu daftar akar penyebab, jika mungkin

mengelompokkan akar penyebab yang mirip bersama-sama, mengembangkan rekomendasi yang membahas akar penyebab masalah dan mencegah insiden terulang kembali, menilai rekomendasi tersebut serta memprioritaskan rekomendasi untuk pelaksanaannya.

Untuk mengatasi akar ganda, maka penting untuk melihat akar permasalahan secara total. Untuk menyatakan rekomendasi secara jelas maka harus, yaitu a. Spesifik : apa yang perlu dilakukan

b. Measurable (terukur) : bagaimana mengetahui hal yang ingin dilakukan c. Accountable : diberikan kepada seseorang

d. Relevant : dapat mencegah terulang kembali, biaya yang efektif, tidak akan menambah masalah lain e. Time limits (batas waktu) : memiliki batasan waktu

Untuk tindak lanjut dan penanganan rekomendasi, proses harus termasuk mekanisme pelacakan untuk mengelola dan mendokumentasikan pelaksanaan, mengkomunikasikan rekomendasi kepada orang lain yang dipengaruhi oleh rencana serta dilakukan sampai selesai.

6.

Penyebaran Laporan merupakan alat utama untuk mengkomunikasikan hasil penyelidikan.

Laporan merupakan alat utama untuk mengkomunikasikan hasil penyelidikan. Laporan harus dalam bentuk yang sederhana tetapi berisi fakta, hanya berisi rincian temuan yang sudah diverifikasi. Laporan ditulis menggunakan teknik keterampilan menulis. Laporan termasuk dokumen pendukung dan data yang dilampirkan untuk laporan. Dalam investigasi dokumen konten yang harus dilaporkan yaitu deskripsi dari proses investigasi yang dilakukan, anggota tim, hasil dari investigasi (ringkasan kejadian, urutan kejadian, akar penyebab termasuk bagaimana kejadian itu terjadi dan kategorisasinya), rekomendasi dan lampiran lampiran.

7.

Resolution Setelah dokumen diinvestigasi, kemudian dilakukan peninjauan dan pelaporan isu.

Dalam meninjau dan melaporkan isu melakukan beberapa proses, yaitu a. b. c. d. e. Tinjauan tim Tinjauan hukum jika berlaku Rancangan tinjauan dengan manajemen Mengeluarkan laporan akhir Mengkomunikasikan pelajaran

8. Mengembangkan urutan kejadian Urutan waktu digunakan untuk mengatur fakta. Hal ini dilakukan dengan cara meletakkan semua fakta yang diketahui pada urutan waktu kejadiannya, mulai dengan urutan kejadian yang diperlukan untuk mengidentifikasi semua penyebab potensial termasuk menanggapi kasus jika dampak yang diakibatkan oleh insiden tersebut besar. Urutan waktu juga dapat membantu untuk mencegah langsung mengambil kesimpulan atas kejadian tersebut. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan urutan waktu ini tidak dengan mengintimidasi tetapi fokus pada fakta-fakta.

9. Mengidentifikasi sistem pelindung Sistem pelindung adalah setiap sistem manajemen atau sistem perangkat keras yang mengurangi potensi terjadinya insiden atau konsekuaensi dari suatu insiden. memungkinkan tim memikirkan penyebab lain karena tinjauan dari daftar item ini akan dilakukan selama analisis akar penyebab. Tujuan disini adalah untuk mengakui beberapa item penting bahwa tim tidak akan lupa daftar ini akan di tinjau ulang pada akhir langkah analisis untuk memastikan ide-ide potensial telah ditangani dan tidak lagi dianggap kritis.

10. Verifikasi penyebab Dalam melakukan verifikasi penyebab, beberapa tehnik yang dilakukan oleh CPI adalah pengamatan, testing/ lab analysis, data (tulisan/electronic), teori ahli, kebijaksanaan konvensional dan wawancara

11. Pencegahan Insiden di Lapangan (Gathering Station dan Well Work) Secara umum untuk pencegahan maupun penangan insiden dilapangan sama dengan penanganan insiden di bagian yang lain, hanya saja ada beberapa pencegahan dan respon terhadap insiden di lapangan yang disesuaikan dengan kondisi lapangannya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, pencegahan terhadap insiden di lapangan sudah sangat baik, misalnya di setiap tempat yang memiliki sumber bahaya sudah ada peringatan sumber bahaya apa saja yang ada dan PPE apa yang harus digunakan saat berada dilokasi tersebut dan maintenance untuk setiap peralatan juga sudah dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan setiap peralatannya.