Anda di halaman 1dari 7

Berpikir Kreatif dan Inovatif dalam Berwirausaha Amelia Eka Putri, 1006672106

Dunia usaha atau dunia bisnis merupakan sebuah dunia persaingan. Ketika seorang wirausahawan menentukan bidang usaha yang dijalankannya, maka ia harus bersaing dengan wirausahawan lain yang memiliki bidang usaha sama. Dalam menjalankan usaha diperlukan adanya suatu ciri yang khas, baik produk maupun pelayanan, untuk dapat bertahan bahkan lebih unggul dalam persaingan dan menempatkan usaha tersebut berada di pilihan teratas masyarakat. Namun, tidak mudah untuk dapat bertahan bahkan unggul dalam suatu persaingan. Oleh karena itu, berpikir kreatif dan inovatif harus dilakukan seorang wirausahawan dalam mengembangkan produk maupun pelayanan usahanya. Kreatif identik dengan sesuatu yang baru, bermanfaat, dan dapat diaplikasikan. Berpikir kreatif merupakan aktivitas yang memadukan keahlian, motivasi, dan kemampuan bepikir. Inovasi adalah perwujudan dari ide yang dimunculkan dalam kreativitas. Perwujudannya dapat dilakukan dengan membuat sesuatu yang murni baru ataupun membuat baru melalui perbaikan sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Inovasi terdiri dari beberapa macam, diantaranya: 1. 2. 3. 4. inovasi model bisnis; inovasi proses; inovasi produk; inovasi pelayanan.

Berdasarkan survey kepada para eksekutif dari 500 perusahaan di seluruh Amerika Serikat, dibuktikan bahwa kreativitas jauh lebih penting dari kecerdasan untuk meraih sukses dalam berbisnis (Selwyn, P., 1997). Berpikir kreatif dan inovatif tidak terbatas pada usia, sehingga setiap orang memiliki potensi untuk melakukannya. Kreativitas tersebut sangat dibutuhkan untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kreatif dan inovatif dipadukan untuk dapat menjawab permasalahan serta tantangan secara nyata dalam berwirausaha. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang wirausahawan dalam mewujudkan kreativitas menurut Selwyn; pembicara, pelatih, dan konsultan internasional tentang kreativitas dan inovasi dalam bisnis; antara lain: 1. Membuka pikiran dan wawasan. Sebuah pengalaman adalah sesuatu yang sangat berharga. Membuka pikiran dan wawasan dilakukan untuk mencoba sesuatu yang baru, karena pengalaman-pengalaman baru akan membantu memunculkan ide-ide. 2. Membuat variasi. Memperbanyak diskusi dengan orang lain adalah suatu hal yang positif dilakukan. Kreativitas akan muncul dengan melihat berbagai pendapat orang lain dari sudut pandang yang berbeda-beda. 3. Tahan mental. Stres, kelelahan, kebosanan, bahkan rasa sakit dapat menghambat daya kreativitas. 4. Berhenti mencari jawaban yang paling benar. Jangan terpaku bahwa hanya ada satu solusi yang benar untuk menjawab permasalahan, namun berpikirlah berbagai macam kemungkinan.

5. Temukan kinerja kreatif diri sendiri. Kebanyakan orang tidak menyadari bagaimana cara dan kapan saja kreativitas dapat muncul secara maksimal. Setiap orang pun memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing dalam memperolehnya. 6. Kesehatan membuat kekayaan. Tubuh yang sehat akan membuat daya kreativitasnya semakin kaya. Berpikir kreatif dapat dilakukan secara maksimal ketika tubuh, terutama otak, dalam kondisi sehat pula.

Wujud nyata dari berpikir kreatif dan inovatif adalah tumbuhnya ide-ide untuk melakukan suatu perubahan positif. John R. Graham, presiden direktur Graham Communication (jasa pemasaran dan penjualan perusahaan konsultan di Quincy, Mass), menjelaskan bahwa ada tujuh kunci yang dapat menumbuhkan ide-ide baru dalam berbisnis, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. terbuka untuk suatu tantangan; berpikir tentang sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya; memunculkan sesuatu yang beda; bersikap kritis; berani; tidak mudah terpengaruh; aktif bersuara.

Seorang wirausahawan yang baik dan siap bersaing memiliki daya kreativitas yang baik pula. Inovasi-inovasi yang dilakukan selalu terdepan. Kondisi pasar dan masyarakat dapat memunculkan ide-ide baru untuk kemajuan usaha. Pada kenyataannya, terdapat banyak pemikiran-pemikiran yang menghambatan untuk dapat berpikir kreatif dan inovatif. David Gurteen mengemukakan bahwa pemikiran-pemikiran yang menghambat adalah sebagai berikut: 1. kreativitas adalah bisnis yang serius; 2. kreativitas tidak dibutuhkan; 3. kreativitas hanya untuk orang-orang atau bagian khusus; 4. membatasi paradigma; 5. model yang tidak tepat; 6. pembatasan pengajaran tradisional; 7. kepercayaan yang tidak tepat; 8. kekhawatiran, imbalan, dan hukuman; 9. ketakutan dan kurangnya kebenaran; 10. pembunuhan atau pembatasan kepada anak; 11. informasi berlebih; 12. penghakiman.

Untuk menghadapi hambatan-hambatan dalam berpikir kreatif dan inovatif diperlukan keyakinan pada masing-masing individu, khususnya seorang wirausahawan. Keyakinan tersebut berupa

pemahaman bahwa berpikir kreatif dan inovatif sangat penting, tidak menghasilkan kerugian, serta membawa dampak positif. Ketika seorang wirausahawan berpikir kreatif, maka ide-ide baru akan muncul untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih baik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu usaha salah satunya bergantung pada daya berpikir kreatif dan inovatif seorang wirausahawan. Referensi: Graham, John.R. (1994). Seven Keys To Innovative http://findarticles.com/p/articles/mi_m3495/is_n6_v39/ai_16097384/, 21 pk.00.45. Thinking. September Juni. 2010,

Gurteen, D. (1998). Knowledge, Creativity, and Innovation. September. http://www.gurteen.com/gurteen/gurteen.nsf/id/kci-article, 21 Septermber 2010, pk.01.01. Selwyn, P. (1997). Innovative Thinking: Six Simple Secrets. Maret. http://www.winstonbrill.com/bril001/html/article_index/articles/251-300/article267_body.html, 21 September 2010, pk.23.04. Study Marketing. (2006). Creative and Innovative Thinking Skills. http://www.slideshare.net/kkjjkevin03/creative-and-innovative-thinking-skills, 22 September 2010, pk.00.11. Diposkan oleh amelia eka putri di 3:33 AM 0 komentar Link ke posting ini Label: entrepreneurship

Saturday, September 18, 2010


professional nurse
The assignment (essay) of MABIM about "Profesionalisme dalam Keperawatan Menurut Perspektif Saya". Perawat Profesional, Pembawa Perubahan Paradigma Amelia Eka Putri, 1006672106

Jika kita mendengar kata profesional, yang terlintas dalam benak hampir setiap orang adalah sudah ahli, mempunyai kemampuan hebat, dan dapat diandalkan. Intinya, profesional adalah sesuatu yang dinilai baik dan positif oleh masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesional berarti bersangkutan dengan profesi atau memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Bagaimana dengan perawat? Apa yang terlintas jika kita mendengar kata perawat? Saya yakin bahwa banyak sekali pandangan-pandangan tentang perawat, yang positif ataupun yang negatif, dan setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Dari sisi positif, masyarakat menilai

bahwa perawat adalah pekerjaan yang sangat mulia, perawat adalah orang-orang sabar, perawat adalah orang-orang tekun, dan lain-lain. Namun, tidak dipungkiri juga banyaknya pandangan-pandangan negatif masyarakat tentang perawat. Perawat dipandang rendah oleh profesi lain, perawat adalah pembantu dokter, bahan tidak jarang yang memiliki pengalaman dengan perawat yang bersikap judes. Lalu, apa sesungguhnya perawat profesional itu? Saya memiliki pendapat bahwa perawat profesional adalah perawat yang dapat membawa perubahan paradigma-paradigma yang negatif dalam masyarakat. Sesungguhnya, perawat adalah pekerjaan yang sangat mulia. Menjadi seorang perawat membutuhkan ketulusan hati dan dedikasi yang sangat tinggi. Bahkan jika kita membandingkannya dengan seorang dokter, pengabdian seorang perawatlah yang lebih besar kepada kliennya. Dokter pun tidak dapat membuat keputusan tentang klien apabila tidak memperoleh data-data atau catatan medik dari perawat. Untuk itu, sangat sedih apabila pandangan-pandangan buruk masyarakat dijatuhkan kepada perawat. Menurut saya, paradigma negatif tentang perawat yang sekarang berkembang di masyarakat muncul karena ketidaktahuan mereka tentang perawat secara menyeluruh. Masyarakat tidak merasakan bagaimana perjuangan mempelajari ilmu keperawatan. Ilmu-ilmu dipelajari secara holistik. Selain mempelajari konsep-konsep memberikan asuhan keperawatan, perawat juga mempelajari ilmu kedokteran, ilmu obat-obatan, psikologi, komunikasi, budaya, agama, bahkan ekonomi. Oleh sebab itu, perawatperawat lulusan sarjana ilmu keperawatan seharusnya adalah orang-orang cerdas dan terampil. Sekarang ini, pendidikan dokter dan keperawatan memiliki jenjang yang sama dalam perguruan tinggi. Sudah ada program magister, spesialis, bahkan doktoral. Namun, masyarakat tidak mengerti akan hal itu. Maka sangat memprihatinkan apabila ada suatu kasus di mana orang tua merasa takut dan melarang anaknya yang ingin berkuliah di bidang ilmu keperawatan.

Ketakutan dan ketidaktahuan masyarakan tersebut juga didukung oleh kondisi buruk yang terjadi di lapangan terhadap perawat-perawat yang ada. Memang, perawatperawat lulusan D3 masih jauh lebih banyak di Indonesia. Maka citra yang sesungguhnya timbul di masyarakat adalah citra perawat D3 yang memang terampil dalam keahlian, namun untuk pengetahuan dan ilmu dasar masih sangat kurang. Tidak semua orang mengerti bahwa ada perawat-perawat lulusan sarjana yang memiliki kompetensi ilmu dan keahlian dalam bekerja, karena memang jumlahnya belum sebanding dengan perawat-perawat lulusan D3. Bahkan sangat menyedihkan apabila perawat-perawat lulusan sarjana tidak lagi mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan ketika bekerja justru karena menjadi kaum minoritas di rumah sakit.

Satu hal yang juga membuat masyarakat Indonesia berpandangan sempit tentang perawat adalah gaji yang kecil bila dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Hal itu pula yang membuat perawat dianggap pekerjaan yang rendah oleh profesi lain. Itu semua terjadi karena Indonesia belum mengesahkan Undang-Undang Keperawatan.

Padahal di negara-negara lain, perawat mendapat penghormatan yang tinggi. Pekerjaan menjadi perawat bahkan hampir menjadi idaman dan sekolah-sekolah ilmu keperawatan sangat diminati. Negara-negara tersebut memiliki Undang-Undang Keperawatan sehingga keperawatannya sangat maju. Gaji seorang perawat dapat lebih besar dari seorang dokter di rumah sakit karena menerapkan sistem kerja dibayar per jam. Oleh karena itu, banyak juga lulusan sarjana ilmu keperawatan yang memilih bekerja di luar negeri karena merasa lebih dihargai. Hal yang miris bagi saya adalah sebagian besar perawat-perawat berprestasi di luar negeri sana justru adalah perawatperawat dari Indonesia. Mungkin mereka tidak akan mendapatkan penghargaan seperti itu jika bekerja di Indonesia. Namun, jika semua berpikiran setelah lulus ingin bekerja di luar negeri, siapa yang akan membangun keperawatan di Indonesia? Hal tersebut memang agak membuat dilema.

Citra buruk seorang perawat juga dimunculkan dari media masa, seperti televisi. Banyak film-film yang menggambarkan seorang pekerjaan perawat hanya sebatas menuruti perintah dokter, sehingga paradigma yang muncul adalah perawat pembantu dokter. Pada kondisi nyata, pekerjaan seorang perawat bukanlah demikian adanya. Perawat perlu berdiskusi dengan dokter karena sesungguhnya perawat adalah rekan kerja dokter. Perawat bahkan adalah orang pertama yang melakukan tindakan-tindakan medis kepada klien. Namun, televisi tidak menggambarkan hal itu. Ketika ada seseorang yang harus dibawa ke ruang gawat darurat, ruang ICU, bahkan ruang operasi, orang pertama yang menolong dan memberikan tindakan medis adalah perawat. Namun, masyarakat tidak mengetahui semua yang dilakukan perawat tersebut karena biasanya keluarga atau orang lain tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan, televisi pun juga tidak menggambarkannya. Sungguh tidak adil menurut saya, perawat-perawat yang memiliki ilmu dan keterampilan untuk memberikan pertolongan pertama justru seolah tidak dianggap. Belum lagi media masa yang berulah dengan menanyangkan film-film yang memakai perawat sebagai simbol hantu, bahkan wanitawantia penggoda yang berpakaian minim. Hal tersebut yang turut menimbulkan citra buruk seorang perawat.

Setelah menyadari berbagai ketidakadilan yang terjadi, diharapkan adanya perawatperawat profesional yang dapat mengubah paradigma negatif yang berkembang di masyarakat. Pengemban tugas ini terutama adalah perawat-perawat lulusan sarjana yang memang selain memiliki keterampilan juga paham dengan ilmu-ilmunya. Membangun paradigma yang baik dilakukan dengan bekerja yang baik pula. Pandangan perofesional yang muncul dari masyarakat akan tercipta apabila perawat benar-benar bekerja secara profesional. Dalam symposium Keperawatan RS. Husada, Murni berpendapat bahwa setiap perawat harus mempunyai body of knowledge yang spesifik, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik keprofesian yang didasari motivasi altruistik, mempunyai standar kompetensi dan kode etik profesi. - Dikutip dari Gsianturi, Upaya Meningkatkan Profesionalisme Perawat, 2004, http://www.gizi.net/cgi bin/berita/fullnews.cgi?newsid1074579879,41763, (18 September 2010).

Seorang perawat profesional dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Tugas dan fungsi tersebut harus memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. Berpenampilan profesional. Seorang perawat harus berpakaian yang rapi di hadapan klien. Selain itu penampilan fisik juga harus diperhatikan. Hal-hal tersebut turut mempengaruhi psikologi klien. 2. Memperhatikan kebersihan dan kenyamanan. Dalam bekerja, seorang perawat harus membuat klien merasa nyaman ketika diberikan asuhan keperawatan. Kenyamanan tersebut juga harus memperhatikan privasi klien. Salah satu cara memberikan kenyamanan adalah dengan memperhatikan kebersihan, misalnya kesterilan alat-alat medis, kebersihan diri perawat dan klien, serta kebersihan tempat bagi klien. 3. Bersikap profesional. Bersikap adil pada semua pasien adalah tugas dari seorang perawat. Selain itu, tugas-tugas seperti pembuatan diagnose dan pencatatan data-data pasien harus dibuat secara akurat. Pemikiran-pemikiran kreatif untuk menangani pasien juga diperlukan, misalnya dengan berdiskusi dengan dokter. Jadi, perawat tidak sekadar mengikuti perintah-perintah dokter, karena perawat juga memiliki ilmu. Seorang perawat juga harus bersikap hangat kepada kliennya, ramah, dan dapat membantu klien meringangkan beban fisik maupun psikologisnya. 4. Kemampuan komunikasi yang baik. Senyum, sapa, dan salam sangat penting bagi seorang perawat. Perawat harus dapat berkomunikasi dengan baik kepada klien, keluarga klien, rekan perawat lain, dokter, maupun tenaga medis lainnya. Dalam bertutur kata, perawat harus menjaga kesopanan dan kelembutan. 5. Tingkatkan kemampuan bahasa Inggris. Saat ini, perawat profesional juga diakui dengan mendapat gelar Registered Nurse (RN). Gelar tersebut diakui oleh seluruh dunia, sehingga dapat bekerja lintas negara. Dalam pencapaian gelar tersebut, tentu saja tes yang diadakan berupa bahasa Inggris. 6. Cinta tanah air. Perawat-perawat Indonesia harus memiliki keinginan untuk dapat menjadi profesional, berprestasi, dan membangun negeri sendiri. Perawatperawat juga harus bersatu dalam upaya pengesahan Undang-Undang Keperawatan di Indonesia.

Referensi: Gsianturi. 2004. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Perawat. 21 Januari. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1074579879,41763, 18 September 2010, pk. 05.32. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Naional Republik Indonesia. KBBI Daring. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php,