Anda di halaman 1dari 23

KETRAMPILAN DASAR DALAM KEPERAWATAN KONSEP DIRI

DISUSUN OLEH: KELOMPOK I


1. Katarina Wiwinarti 2. Kesya Bani 3. Khristina Damayanti 4. Lely Rebdy Septyani 5. Lindiya Dwi Angraini 6. Winarno (201111063) (201111064) (201111065) (201111066) (201111067) (201111115)

PRODI S1 KEPERAWATAN STIKES ST. ELISABETH SEMARANG 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Konsep diri definisinya ialah pandangan dan perasaan kita untuk menilai tentang semua yang ada pada diri kita, baik dari dalam maupun dari luar. Dengan adanya konsep diri maka kita akan membangun rasa percya diri pada diri kita.Setiap orang pasti memiliki pandangan tentang konsep dirinya yang berbeda-beda. Ada yang memiliki konsep diri negatif, tetapi ada juga yang memiliki konsep diri positif. Kita akan berperilaku sesuai dengan konsep diri yang kita miliki.Misalnya, kalau kita selalu menganggap diri kita bodoh, maka nantinya kita bisa benar-benar bodoh. Karena itu, memiliki konsep diri negatif bukanlah hal yang baik. Bahkan, dengan kita memiliki konsep diri yang negatif malahan akan membuat kita merasa tidak percaya diri. Berbeda dengan jika kita, memiliki konsep diri yang positif. Misalnya, kita merasa remaja yang sehat, maka kita akan berusaha untuk hidup sehat juga. Dengan memiliki konsep diri yang positif kita akan selalu berpikiran positif. Hal ini dapat memacu rasa percaya diri kita untuk selalu melakukan hal hal yang kita anggap baik untuk diri kita dan orang lain. Penerimaan perawat terhadap klien dengan perubahan konsep diri membantu menstimulasi rehabilitasi yang positif. Klien yang penampilan fisiknya telah mengalami perubahan dan yang harus beradaptasi terhadap citra tubuh yang baru, hamper pasti baik klien maupun keluarganya akan melihat pada perawat dan mengamati respond an reaksi mereka terhadap situasi yang baru. Perawat mempunyai dampak yang signifikan dalam hal ini. Rencana kepeerawatan yang dirumuskan untuk membantu klien dengan perubahan konsep diri dapat ditingkatkan atau digagalkan oleh nilai dan perasan bawah sadar perawat. .

B. TUJUAN

C. MANFAAT
Dari makalah ini diharapkan bagi pembaca dapat memahami, mengerti, dan juga dapat mengembangkan pengetahuan tentang konsep diri serta dalam menentukan diagnosa yang tepat dan membuat intervensi yang sesuai.

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Konsep Diri
Konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang dipikirkan orang orang lain berpendapat, mengenai diri sendiri, dan seperti apa diri sendiri. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai diri. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya. Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri sendiri. Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Dari beberapa pendapat dari para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

B. 5 Komponen Dalam Konsep Diri


1) Citra Tubuh adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dari perasaan tentang

ukuran,bentuk dan fungsi penampilan tubuh saat ini dan masa lalu 2) Ideal Diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar perilaku.Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi.

3) Harga

Diri

adalah

penilaian

terhadap

hasil

yang

dicapai

dengan

analisa,sejauh mana perilaku memenuhi ideal diri.Jika individu selalu sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami gagal cenderung harga diri menjadi rendah.Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. 4) Peran Diri adalah pola sikap,perilaku nilai yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. 5) Identitas Diri adalah kesadaran akan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan utuh.

C. Faktor faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri


1) Tingkat perkembangan dan kematangan Perkembangan anak seperti dukungan mental,perlakuan dan pertumbuhan anak akan memengaruhi konsep diri nya. 2) Budaya Pada usia anak-anak nilai-nilai akan diadopsi dari orang tuanya,kelompoknya dan lingkungan nya.Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak lebih dekat pada lingkungannya. 3) Sumber eksternal dan Internal Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap konsep diri. Pada sumber Internal misalnya orang yang humoris koping indivudi nya lebih efektif.sumber ekternal misalnya adanya dukungan dari masyakat dan ekonomi yang kuat. 4) Pengalaman sukses dan Gagal Ada kecenderungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri demikian pula sebaliknya. 5) Sensor Sensor dalam kehidupan misalnya perkawinan,pekerjaan baru,ujian dan ketakutan. Jika koping individu tidak adekuat maka akan menimbulkan depresi,menarik diri dan kecemasan. 6) Usia,keadaan sakit dan trauma Usia tua,keadaan sakit akan memengaruhi persepsi dirinya.

D. Faktor Yang Mempengaruhi Respon Terhadap stresor


Stressor adalah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. 1) Sifat stressor Sifat stressor dapat berubah secara tiba tiba atau berangsur angsur dan dapat mempengaruhi respon seseorang dalam menghadapi stress, tergantung mekanisme yang dimiliki. 2) Durasi Stressor

Lamanya stressor yang dialami seseorang dapat mempengaruhi respon tubuh. Apabila stressor yang dialami lebih lama, maka respon juga akan lebih lama, tentunya dapat mempengaruhi fungsi tubuh. 3) Jumlah Stressor Semakin banyak stressor yang dialami seseorang, semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh. 4) Pengalaman masa lalu Pengalaman masa lalu seseorang dalam menghadapi stress dapat menjadi bekal dalam menghadapi stress berikutnya karena individu memiliki kemampuan / mekanisme koping yang lebih baik. 5) Tipe kepribadian Tipe kepribadian seseorang diyakini juga dapat mempengaruhi respons terhadap stressor. Menurut Friedman dan Rosenman, 1974, terdapat 2 tipe kepribadian yaitu Tipe A Memiliki ciri: ambisius, agresif, kompetitif, kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung, mudah marah, memiliki kewaspadaan yang berlebihan, berbicara dengan cepat, bekerja tidak kenal waktu, pandai berorganisasi dan memimpin atau memerintah, lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan, kaku terhadap waktu, tidak mudah dipengaruhi, dan sulit untuk santai. Tipe B Memiliki sifat kebalikan dari tipe A, antara lain lebih santai, penyabar, tenang, tidak mudah marah / tersinggung, jarang kekurangan waktu untuk melakukan hal hal yang disukai, fleksibel, mudah bergaul, dll Orang dengan tipe kepribadian A lebih rentan terkena stress apabila dibandingkan dengan orang yang memiliki tipe kepribadian B 6) Tahap perkembangan Tahap perkembangan individu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap stressor. Stressor yang dialami individu berbeda pada setiap tahap perkembangan usia.

E. Faktor F aktor Yang Dapat Menimbulkan Konflik Peran, Ambiguitas Peran, Ketegangan Peran
1) KONFLIK PERAN adalah tidak adanya kesesuaian harapan peran(Broadweel,1983). Jika seseorang di haruskan untuk secara bersamaan menerima dua peran atau lebih yang tidak konsisten, berlawanan, atau sangat eksklusif, maka dapat terjadi konflik peran. Misalnya wanita setengah baya yang mempunyai anakanak remaja dan harus merawat orang tuanya di rumah.konflik dapat terjadi ketika ia berinteraksi dengan mereka secara bersamaan sebagai pemberi perawatan juga sebagai anak.negosiasi keseimbangan waktu dan energy

antara anak-anak dan orang tuanya juga dapat menciptakan konflik peran. Makna dari setiap peran yang mengalami konflik mempengaruhi tingkat konflik yang di alami. 2) AMBIGUITAS PERAN adalah mencakup harapan peran yang tidak jelas. Ketika terdapat ketidakjelasan harapan, maka orang menjadi tidak pasti apa yang harus dilakukan, bagaimana harus melakukannnya, atau keduanya. Situasi seperti ini sering menegangkan dan membingungkan. Ambiguitas peran umum terjadi pada masa remaja. Remaja mendapat tekanan dari orang tua, teman sebaya, dan media untuk menerima peran seperti orang dewasa, namun tetap dalam peran sebagai anak yang tergantung. Ambiguitas peran juga umum dalam situasi pekerjaan. Dalam suatu perubahan yang kompleks dan cepat, atau organisasi yang sangat khusus, pekerja sering menjadi tidak pasti tentang apa yang diharapkan dari mereka. 3) KETEGANGAN PERAN Ketegangan peran berpaduan antara konflik peran dan ambiguitas peran. Ketegangan peran dapat diekspresikan sebagai perasaan frustrasi ketika seseorang merasakan tidak adekuat atau merasa tidak sesuai dengan peran. Konflik peran dapat terjadi ketika harapan umum masyarakat (jaga dirimu sendiri dan anda akan tetap sehat) dan harapan dari rekan kerja (harus menyelesaikan pekerjaan) bebenturan. Konflik menjaga diri sendiri dan juga harus menyelesaikan segalanya dapat menjadi suatu tantangan yang besar.

F. Pengertian Stres Dan Stressor


1) STRES Stres merupakan bagian dari kehidupan yang mempunyai efek positif dan negative yang disebabkan karena perubahan lingkungan. Secara sederhana sters adalah kondisi dimana adanya respon tubuh terhadap perubahan untuk mencapai keaadaan normal. Segala situasi dimana tuntutan non spesific mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye, 1976). Lazarus dan Folkman (1994) mendefinisikan stres psikologis sebagai hubungan khusus antara seseorang dengan lingkungannya yang dihargai oleh orang lain tersebut sebagai pajak terhadap sumber dayanya dan membahayakan kemapanannya. Stres dianggap sebagai faktor predisposisi atau pencetus yang meningkatkan kepekaan individu terhadap penyakit (Rahe, 1975) 2) STRESSOR Stressor adalah sesuatu yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres, stressor dapat berasal dari internal, misalnya perubahan hormon, sakit, maupun eksternal seperti temperatur dan pencemaran.

G. Faktor yang mempengaruhi respon terhadap stresor


Respons terhadap stressor yang diberikan pada individu akan berbeda, hal tersebut tergantung dari faktor stressor dan kemampuan koping yang dimiilki individu. Berikut akan merupakan karakteristik stressor yang dapat

mempengaruhi respons tubuh. 1. Sifat stressor

Sifat stressor dapat berubah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur dan dapat mempengaruhi respons seseorang dalam menghadapi stress, tergantung mekanisme yang dimiliknya. 2. Durasi stressor

Lamanya stressor yang dialami seseorang dapat mempengaruhi respons tubuh. Apabila stressor yang dialami lebih lama, maka respons juga akan lebih lama, tentunya dapat mempengaruhi fungsi tubuh. 3. Jumlah stressor

Semakin banyak stressor yang dialami seseorang, semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh. 4. Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu seseorang dalam menghadapi stress dapat menjadi bekal dalam menghadapi stress berikutnya karena individu memilki kemampuan

beradaptasi/mekanisme koping yang lebih baik. 5. Tipe kepribadian

Tipe kepribadian seseorang diyakini juga dapat mempengaruhi respons terhadap stressor. Menurut Friedman dan Rosenman, 1974, terdapat dua tipe kepribadian, yaitu Tipe A dan Tipe B. Orang dengan tipe kepribadian A lebih rentan terkena stress apabila dibandingkan dengan orang yang memiliki tipe kepribadian B. tipe A memiliki ciri-ciri: ambisius, agresif, kompetitif, kurang sabar,mudah tegang, mudah tersinggung, mudah marah, memiliki kewaspadaan yang berlebihan,

berbicara dengan cepat, bekerja tidak kenal waktu, pandai berorganisasi dan memimpin atau memerintah, lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan, kaku terhadap waktu, tidak mudah dipengaruhi, dan sulit untuk santai. Sedangkan tipe B memiliki sifat kebalikan dari tipe A, antara lain lebih santai, penyabar, tenang, tidak mudah marah/tesinggung, jarang kekurangan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai, fleksibel, mudah bergaul, dll. 6. Tahap perkembangan

Tahap perkembangan individu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap stressor. Stressor yang dialami individu berbeda pada setiap tahap perkembangan usia sebagaimana terlihat dalam tabel dibawah ini. Tahap PerkembanganJenis Stressor Anak : - Konflik kemandirian dan tergantung pada orang tua

- Mulai besekolah

- Hubungan dengan teman sebaya - Kempetisi dengan teman Remaja : - Perubahan tubuh - Hubungan dengan teman - Seksualitas - Kemandirian Dewasa muda - Menikah - Meninggalkan rumah - Mulai bekerja - Melanjutkan pendidikan - Membesarkan anak Dewasa tengah : - Menerima proses peuaan - Status social Dewasa tua : - Usia lanjut - Perubahan tempat tinggal - Penyesuaian diri pada masa pension - Proses kematian

H. Mekanisme adaptasi tubuh terhadap setres


Menurut Selye, stres merujuk pada suatu reaksi yang kompleks di pihak organisme terhadap pengaruh atau dampak non-spesifik dari lingkungan (pengaruh atau dampak itu dinamakan stresor atau stimulus). Sesuai dengan berat ringannya stres dan lama-singkatnya stres berlangsung, tubuh

menanggapinya dalam tiga tahap. 1. Tahap reaksi peringatan atau alarm (tanggapan terhadap bahaya). Tanggapan ini berfungsi untuk mengerahkan sumber daya tubuh melawan stres. Pada awal tanggapan terhadap bahaya itu, untuk sesaat reaksi tubuh turun di bawah normal. Misalnya, tekanan darah, detak jantung, pernapasan berkurang. Tetapi reaksi tubuh itu segera berbalik naik. Darah mengalir lebih cepat, jantung berdetak lebih cepat, pernafasan lebih cepat, keringat banyak keluar. Hal ini terjadi misalnya waktu kita menghadapi keadaan darurat misalnya hampir terlanggar kendaraan waktu mau menyeberang jalan. Pada tahap ini, biasanya orang berjuang mengatasi stres dengan melawan (fight) atau lari (flight) dari sumber stres. Reaksi tubuh terhadap stres yang tinggi ini tak mungkin bertahan lama. Maka bila stres terlalu keras dan tak terhindarkan, serta reaksi tubuh yang intens tetap tak berkurang, organisme

tubuh dapat hancur dalam beberapa saat, jam atau hari. Jika tahap ini dapat diatasi, maka menyusul : 2. Tahap adaptasi atau resistensi Gejala-gejala semula menghilang. Terjadi penyesuaian dengan perubahan lingkungan, dan bersangkutan dengan ini terciptalah suatu peninggian daya tahan. Dampak stresor atas organisme berkurang atau dinetralisasi. Tubuh tidak banyak menunjukkan gejala-gejala stres, seolah-olah biasa saja. Tetapi tubuh yang sudah menahan stres itu menjadi lemah jika menghadapi stres baru, sehingga mudah terkena penyakit. 3. Tahap kelelahan (exhaustion) Cadangan adaptasi yang tersedia dalam organisme telah terpakai habis. Sekarang timbul penyakit misalnya hipertensi, tukak lambung, encok, asthma, reaksi allergi, penyakit jantung dan disebut sebagai penyakit adaptasi.

I. Perbedaan cemas dan takut


Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan manusia dan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Ayub Sani Ibrahim, 2003 : 30). Kecemasan adalah respons emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan merupakan kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (EGC, 2005 : 108). Kecemasan adalah emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian dan super ego. Bila terjadi kecemasan maka posisi ego sebagai pengembang id dan super ego berada pada kondisi bahaya. Kecemasan terjadi yang sangat akibat dari ancaman terhadap harga diri atau identitas diri yang sangat mendasar bagi keberadaan individu. Kecemasan dikomunikasikan secara

interpersonal dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, menghasilkan peringatan yang berharga dan paling penting untuk upaya memelihara keseimbangan diri dan melindungi diri (Suliswati, 2005). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia takut adalah : a. merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan

mendatangkan bencana: anjing ini jinak, engkau tidak perlu --; b. takwa; segan dan hormat: hendaklah kita -- kpd Allah; c. tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb): hari sudah malam, aku -- pulang sendiri; d. gelisah; khawatir (kalau ...): Rasa takut merupakan reaksi manusiawi yang secara biologis merupakan mekanisme perlindungan bagi seseorang pada saat menghadapi bahaya. Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu

ancaman yang membahayakan hidup atau salah satu bidang kehidupan tertentu. Ketakutan biasa disebut dengan tanda peringatan terhadap hidup, peringatan agar berhenti, melihat atau mendengarkan. Setiap manusia dihadapkan pada peringatan serta ancaman yang sangat menuntut perhatian. Rasa takut betul-betul memperlambat dan mengendalikan sejumlah besar emosi psikosomatis. Salah satu tujuan dari pengendalian adalah untuk membantu seseorang untuk menghindarkan diri dari bahaya dan mengatasinya. Bila seseorang diliputi rasa takut, kebahagiaan maupun sukses kita terancam, orang itu sering mengalami rasa nyeri pada perut, telapak tangan berkeringat, jantung berdenyut kencang, malas bergerak, gagap bicara dan lain sebagainya. Berhadapan dengan situasi yang menakutkan, reaksi orang berbeda-beda, ada orang yang tidak takut pada si anjing itu sendiri, tetapi ada mereka yang takut hanya mendengar gonggongannya. Tapi ada orang lain yang tidak terganggu gonggongan anjing. Ada orang lain yang sungguh-sungguh takut terhadap halilintar, sedang orang lain tidak. Adalah normal pada saat menghadapi bahaya tertentu orang merasa takut dan tingkat ketakutan itu biasanya sebanding dengan besar-kecilnya bahaya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa penyebab obyektif dari rasa takut itu justru dilupakan seseorang, sehingga reaksinya terasa lebih berat, lebih cepat dan lalu menimbulkan kepanikan. Rasa takut yang sedemikian hebat ini sangat tidak sebanding dengan penyebabnya. Inilah reaksi neurotik murni. Ketakutan inilah yang kita sebut dengan Phobia. Hanya dengan melihat kucing hitam, seseorang lalu khawatir akan mati. Padahal dengan melihat kucing hitam tentu seseorang tidak akan mati kecuali melihat kucing hitam sambil berdiri di tengah rel kereta api. Perasaan Takut dan Cemas Takut, merupakan suatu perasaan yang bisa dialami oleh setiap orang dalam kehidupannya setiap hari. Setiap orang akan mengalaminya pada waktu yang berbeda-beda. Takut dan cemas sering berhubungan erat. Saat orang merasa takut akan sesuatu, orang tersebut sering merasa cemas juga. Walaupun perasaan cemas dan takut keduanya berhubungan erat, keduanya berbeda. Rasa cemas merupakan sesuatu perasaan gelisah terhadap suatu yang diharapkan. Perasaan cemas

berhubungan dengan harapan seseorang dalam menghadapi sesuatu yang mengerikan atau menakutkan. Rasa cemas lalu berhubungan erat dengan masa depan, dan ia sering dapat diantisipasi. Sebaliknya rasa takut merupakan respon terhadap sesuatu bahaya yang timbul pada saat ini. Maka di sini rasa takut berkaitan erat dengan di sini dan sekarang (masa kini). Orang yang merasa takut ketika ia melihat seekor anjing galak merasa terdesak. Seseorang merasa cemas ketika perusahaannya hampir mengalami kebangkrutan. Merasa

takut dan cemas. Ini mengarah kepada perspirasi. Perasaan takut sering digambarkan sebagai suatu instink kehidupan yang evolusioner.

J. Mekanisme terjadinya setres


Sesungguhnya anxietas merupakan reaksi yang tidak spesifik dari individu terhadap suatu ancaman atau tuntutan dari luar maupun dalam (ingatan traumatis) inddividu sendiri. Anxietas merupakan suatu reaksi siaga individu terhadap suatu bahaya. Baik ketakutan maupun anxietas merupakan persiapan untuk menyerang atau melarikan diri, suatu respons mobilisasi organismik total berhadapan dengan bahaya. Anxietas meliputi firasat tentang sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi dan persiapan segala sarana untuk bertindak, tetapi tindakan tak berlangsung karena tak ada sesuatu untuk ditindak atau dihindari. Rangsangan yang menimbulkan anxietas sekarang kemungkinan mirip atau ada kesamaannya dengan rangsang yang menimbulkan ketakutan atau kesakitan karena hal-hal traumatik di awal-awal kehidupan (masa anak) yang sudah terbenam dalam alam taksadar. Rangsangan yang mirip itu menimbulkan reaksi siaga untuk menghadapi hal-hal traumatik yang akan terjadi mirip masa lalu yang sudah tak dikenali oleh individu sendiri. Inilah sebabnya hampir semua penderita gangguan anxietas tak pernah bisa mengenali penyebab kecemasannya sendiri. Di awal-awal kehidupan itu ego belum terbentuk sempurna, karena itu hal yang traumatik, menyakitkan, menyedihkan, tak bisa dilawan ego dan individu bersama waktu akan merepresi rasa traumatik menyakitkan itu dalam alam taksadar. Di waktu dewasa ego sudah bermain sempurna dan pasti berusaha melawan atau mengendalikan reaksi anxietas yang timbul. Sesungguhnya, anxietas adalah ketakutan untuk mengalami keadaan traumatik, seperti kecelakaan, perceraian, keluarga meninggal, kebangkrutan, ditolak lamarannya, dll. Takut menghadapi kemungkinan eg o dibanjiri oleh eksitasi (pergolakan batin). Kadang kesanggupan ego untuk menjinakkan anxietas tidak berhasil. Peringatan untuk menghindarkan keadaan traumatik justru mencetuskan keadaan itu. Jadi anxietas minimal yang mestinya merupakan peringatan dan menggalakkan langkah-langkah teratur untuk menghadapi bahaya, justru berlaku seperti sumbu dalam gentong berisi bahan peledak. Ini terjadi bila isyarat itu timbul pada orang yang berada dalam keadaan terbendung, artinya terkekang, tidak bebas bertindak atau melawan, atau mengekspresikan diri. Selain hal diatas, anxietas sebagai reaksi terhadap rangsang juga bisa terbangkit karena kelekatan (attachment) terhadap obyek obyek yang dicintai dalam hidupnya. Ini bisa anak, pasangan hidup, kehendak atau cita-cita, kedudukan, kekayaan, kekuasaan, posisi/kedudukan atau apa saja. Ada rangsang yang mengancam kelekatan ini tanpa disadari. Ini juga kemungkinan berkaitan atau mirip dengan rangsang separation anxiety, cemas perpisahan dengan obyek berpengaruh pada masa anak dulu (obyect relation). Maka manusia sebagai makhluk hidup harus mengenali sendiri proses yang

terjadi dalam dirinya yang menimbulkan kecemasan hampir tiap hari tanpa sebab nyata itu. Dengan mengenali sumber kecemasannya, ibarat prajurit di medan laga sudah mengenali bentuk,w ujud, tabiat, kekuatan dan kelemahan musuh-musuhnya. Tanpa itu maka prajurit itu akan ketakutan karena musuhnya tak dikenali dan tak berbentuk. Dengan mengenali tepat musuhnya, maka setiap serangan akan bisa dihindari dan dipatahkan dengan mudah, dan akhirnya musuh itu malah dijadikan kawan dalam pergulatan hidupnya yang tak bisa mengganggunya lagi. Tapi untuk ini ternyata membutuhkan waktu. Padahal individu itu harus tetap menjalankan kegiatan rutinnya sehari-hari, belajar atau bekerja. Maka dibutuhkan obat-obat anxiolitik (penekan cemas) untuk mengurangi kekuatan serangan cemas itu atau melumpuhkannya sementara. Individu itu pada akhirnya harus melatih ketrampilan egonya sendiri untuk mengendalikan, menjinakkan, kecemasannya sendiri dan mampu hidup bersama kecemasannya itu selamanya dengan nyaman.

K. Pengkajian pada klien dengan gangguan konsep diri dan setres adaptasi
Hal-hal yang perlu dikaji berdasarkan komponen konsep diri :

Citra diri (body image) Adanya perubahan tubuh ukuran tubuh contohnya berat badan yang turun akibat penyakit yang diderita Perubahan bentuk tubuh : tindakan invasive seperti operasi, suntikan, daerah pemasangan infuse. Perubahan struktur : sama dengan perubahan bentuk tubuh disertai dengan pemasangan alat dalam tubuh Perubahan fungsi : berbagai penyakit yang dapat merubah system tubuh Keterbatasan gerak : makan dan kegiatan Makna dan objek yang sering kontak : penampilan dan dandan berubah, pemasangan, alat pada tubuh klien (infuse, fraksi, respirator, suntik, pemeriksaan tanda vital, dll)

Harga Diri :perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya malu dan sedih karena rambut menjadi botak karena terapi kanker.

Rasa bersalah terhadap diri sendiri Merendahkan martabat contohnya saya tidak bisa berhubungan social, seperti menarik diri, klien tidak mau bertemu orang lain. Percaya diri yang kurang, klien sukar mengambil keputusan Menciderai diri akibat harga diri rendah Peran diri Mengingkari ketidak mampuan menjalankan peran Ketidak puasan peran Kegagalan menjalankan peran yang baru Ketegangan menjalankan peran yang baru

Kurang tanggung jawab Apatis/bosan/jenuh dan putus asaI identitas Tidak ada percaya diri Sukar mengambil keputusan Ketergantungan masalah dalam hubungan interpersonal Ragu/tidak yakin terhadap keinginan Projeksi (menyalahkan orang lain) Ideal diri Mengungkapkan keputusasaan akibat penyakitnya, misalnya : dengan ungkapan kaki saya tidak bias main bola karena dioperasi, saya tidak bias mengikuti ujian karena saya sakit

Mengungkapkan keinginan yang terlalu tunggi, contohnya dengan ungkapan saya pasti akan sembuh padahal pragnosa beliau sangat buruk.

L. Harga diri rendah, kerusakan komunikasi verbal, cemas, antisipasi berduka , koping in efektif
A. HARGA DIRI RENDAH Pengertian Adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi diri yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Harga diri rendah yang berkepanjangan termasuk kondisi yang tidak sehat mental karena dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lainya terutama kesehatan jiwa. Data yang mendukung Bergantung pada pendapat orang lain Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi peristiwa Pasif Ekspresi rasa bersalah dan malu Sering kali kurang berhasil dalam peristiwa hidup Enggan mencoba situasi baru dan hal baru

Etiologi Perilaku tidak selaras dengan nilai Perubahan perkembangan Gangguan citra tubuh Kegagalan dan kehilangan Gangguan fungsional Kurang penghargaan

Penolakan dan perubahan peran sosial

Faktor resiko Harapan diri tidak realistis Penurunan kendali terhadap lingkungan Riwayat pembelajaran ketidakberdayaan, pengabaian, penganiayaan, dan ditinggalkan B. KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL Pengertian Penurunan, kelambatan, atau ketiadaan kemampuan untuk

menerima, memproses, mengirim, dan / atau menggunakan sistem simbol. Data yang mendukung Tidak ada kontak mata dan tidak dapat bicara Kesulitan mengekspresikan komunikasi secara verbal Kesulitan dalam menggunakan ekspresi tubuh dan wajah Gagap, sulit bicara dan menolak bicara Ketidakmampuan bicara dalam bahasa pemberi asuhan

Etiologi Ketiadaan orang terdekat Perubahan persepsi, konsep diri, harga diri, dan sistem saraf pusat Perbedaan yang berhubungan dengan usia perkembangan Stres, kondisi emosi, dan kurang informasi

C. CEMAS Pengertian Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang sama disertai respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau todak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman. Data yang mendukung Penurunan produktivitas Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa hidup Gerakan yang irelevan Gelisah Melihat sepintas Insomnia Ketakutan Perasaan tidak adekuat Berfokus pada diri sendiri Peningkatan kewaspadaan Anoreksia Melamun

Gangguan tidur Menyadari gejala fisiologis Kesulitan berkonsentrasi Etiologi Perubahan dalam: status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, pola interaksi, Fungsi peran, status peran. Herediter Stres Ancaman kematian Ancaman pada: status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, pola interaksi, Fungsi peran, status peran, dan konsep diri. Konflik yang tidak disadari mengenai tujuan penting hidup Kebutuhan yang tidak di penuhi D. ANTISIPASI BERDUKA Pengertian Proses kompleks yang normal yang meliputi respons dan perilaku emosional, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual yakni individu, keluarga, dan komunitas memasukan kehilangan yang aktual, adaptif, atau

dipersepsikan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Data yang mendukung Gangguan dalam tingkat aktivitas Gangguan dalam pola mimpi Gangguan dalam fungsi imun Gangguan fungsi neuroendokrin Gangguan pola tidur Marah Menyalahkan Berpisah/menarik diri Putus asa Disorganisasi/kacau Mengalami kelegaan Nyeri Perilaku panik Pertumbuhan personal Menderita Etiologi Kehilangan adaptif objek yang penting bagi klien (mis : kepemilikan, pekerjaan, status, rumah, bagian dan proses tubuh) Kematian orang yang penting, bagi klien E. KOPING IN EFEKTIF Pengertian

Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian valid tentang stresor, ketidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia. Data yang mendukung Perubahan dalam pola komunikasi yang biasa Penurunan penggunaan dukungan sosial Perilaku destruktif terhadap orang lain Letih Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar Ketidakmampuan memerhatikan informasi Pemecahan masalah yang tidak adekuat Kurangnya perilaku yang berfokus pada pencapaian tujuan Kurangnya resolusi masalah Konsentrasi buruk Gangguan tidur Menggunakan bentuk koping yang mengganggu perilaku adaptif Mengungkapkan ketidakmampuan meminta bantuan Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah Etiologi Gangguan dalam pola penilaian ancaman Gangguan dalam pola melepaskan tekanan/ketegangan Perbedaan gender dalam strategi koping Derajat ancaman yang tinggi Ketidakmampuan untuk mengubah energi yang adaptif Tingkat persepsi kontrol yang tidak adekuat Kesempatan yang tidak adekuat untuk menyiagakan diri terhadap stresor Sumber yang tersedia tidak adekuat Dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan Krisis maturasional Krisis situasional Ragu/tidak percaya

M. Jelaskan Perbedaan Masing-Masing Masalah Tersebut


Dari penjelasan diatas bahwa jelas sekali perbedaan yang mencolok dari lima masalah keperawatan tersebut serta berhubungan dengan kasus diatas. Harga diri rendah merupakan perkembangan persepsi negatif tentang harga diri sebagai respon terhadap situasi saat ini (sebutkan). Kerusakan komunikasi verbal yaitu penurunan, keterlambatan atau ketidakmampuan untuk menerima, memproses, mentransmisikan dan menggunakan sistem symbol. Cemas sendiri merupakan perasaan tidak nyaman atau

kekhawatiran yang sama disertai respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau todak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman. Antisipasi berduka yaitu Proses kompleks yang normal yang meliputi respons dan perilaku emosional, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual yakni individu, keluarga, dan komunitas memasukan kehilangan yang aktual, adaptif, atau dipersepsikan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan sementara Koping in efektif merupakan ketidakmampuan untuk membentuk penilaian valid tentang stresor,

ketidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia. Serta adanya perbedaan yang mencolok diantara semua masalah tersebut.

BAB III PEMBAHASAN KASUS


Gerardo (18 th) adalah mahasiswa tingkat 1 sebuah perguruan tinggi. Sejak kecil Gerardo adalah orang yang pendiam, jarang bicara sehingga tidak terlalu menonjol di keluarganya. Saat kuliah Gerardo juga tidak aktif di kelas, sering duduk di pojok, sehingga tidak mempunyai teman. Gerardo sering dijuluki si bisu sehingga kalau sekali saja berbicara maka akan ditertawakan seluruh kelas. Gerardo lebih banyak menunduk saat diajak berbicara dan tidak mau menatap mata lawan bicara. ANALISA DATA No 1 Ds : - Pasien adalah orang yang pendiam - Pasien adalah orang yang jarang berbicara - Pasien semasa kuliah tidak aktif di kelas, sering duduk di pojok sehingga tidak mempunyai teman, dijuluki si bisu. Do : - Pasien lebih banyak menunduk saat diajak bicaras. - Pasien tidak mau menatap mata lawan bicara. Data Problem Harga diri rendah kronik Etiologi Persepsi kurang dihargai oleh orang lain

DIAGNOSA KEPERAWATAN Harga diri berhubungan dengan persepsi kurang dihargai oleh orang lain yang ditandai dengan pasien adalah orang yang pendiam, pasien adalah orang yang jarang berbicara, pasien semasa kuliah tidak aktif di kelas, sering duduk di pojok sehingga tidak mempunyai teman, dijuluki si bisu, pasien lebih banyak menunduk saat diajak bicara, dan pasien tidak mau menatap mata lawan bicara. PERENCANAAN Tgl/Jam 12 Mei 2012 / 08.00 WIB No 1 Tujuan Harga diri rendah kronik dapat teratasi Intervensi 1. Pantau sikap dan perilaku pasien 1. rasional Sikap dan perilaku pasien

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam. Dengan kriteria hasil : 1. pasien mulai ada kontak mata saat diajak berkomunikasi dan mau menatap mata lawan bicaranya. 2. pasien lebih bisa terbuka dalam berkomunikasi 3. pasien bisa berperan aktif di kelas 4. pasien berperan aktif dalam keluarganya 5. pasien dapat meningkatkan rasa percaya dirinya 4. ajarkan pasien untuk bergaul dengan orang lain 4. 2. Ajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan dan dukungannya terhadap perkembangan konsep diri yang positif pada anak 3. Ajarkan pasien untuk berdiskusi 3. 2.

menunjukkan bahwa pasien memiliki penghargaan diri Peran orang tua sangat penting dalam perkembangan konsep diri anak

Diskusi adalah salah satu cara yang baik dalam berkomunikasi dengan orang lain Dengan bergaul dengan orang lain dapat meningktkan harga diri pasien

5. Bantu pasien untuk mengidentifikasi respon positive terhadap orang lain 6. Kolaborasikan dengan psikolog tentang perilaku pasien

5.

Kurangnya respon positif pasien terhadap orang lain

6.

Psikolog membantu mengatasi masalah pasien

7. Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien

7.

Pasien dengan harga diri rendah perlu di beri motivasi tinggi sehingga pasien tidak mengalami

8. Berikan penghargaan atau pujian terhadap perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan 9. Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang

harga diri rendah 8. Penghargaan atau pujian kepada pasien meningkatkan rasa percaya diri pasien 9. Lingkungan dan

dapat meningkatkan harga diri.

aktifitas yang sesuai meningkatkan dan mengembalikan harga diri pasien.

IMPLEMENTASI Tanggal / waktu 13 Mei 2012 08.00 WIB 14 Mei 2012 09.45 WIB No DP 1 Implementasi 1. Memantau sikap dan perilaku pasien R : pasien mulai menatap mata lawan bicara 2. Mengajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan dan dukungannya terhadap perkembangan konsep diri yang positif pada anak R : orang tua merespon yang diajarkan perawat

15 Mei 2012 10.15 WIB

3. Mengajarkan pasien untuk berdiskusi R : pasien mampu berdiskusi

16 Mei 2012 10.30 WIB

4. Membantu pasien untuk bergaul dengan orang lain R : pasien mulai memiliki teman

17 Mei 2012 09.45 WIB

5. Membantu pasien untuk mengidentifikasi respon positive terhadap orang lain R : pasien mulai berfikir positif tentang orang lain

18 Mei 2012 09.30 WIB 6. Berkolaborasi dengan psikolog tentang perilaku pasien R : psikolog mengetahui masalah pasien dan memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh 10.30 WIB perawat

7. Menghindari tindakan yang dapat melemahkan 19 Mei 2012 07.0 IB pasien R : pasien merasa lebih dihargai

20 Mei 2012 08.00 WIB

8. Memberikan penghargaan atau pujian terhadap perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan R: pasien merasa senang dan merasa dihargai

9. Memfasilitasi lingkungan dan aktifitas yang dapat meningkatkan harga diri.

R: pasien merasa harga diri tinggi dan dapat beraktivitas dengan lebih leluasa.

EVALUASI Tanggal/jam 19 Mei 2012 10.00 WIB No. DP 1. Evaluasi S = pasien merasa lebih dihargai orang lain O=pasien mulai menunjukkan kemajuan dalam

berinteraksi dengan orang lain A= tujuan tercapai P=intervensi dilanjutkan

BAB IV PENUTUP
KESIMPULAN Konsep diri dapat dibangun sejak dini, semenjak jati diri tersebut mulai terbentuk. Setelah tiap individu mempunyai konsep dirinya masing masing, maka dia dapat menempatkan dimana sosialitas dan individualismenya dapat ditempatkan. Sikap yang dibangun dari konsep diri orang itu berbeda beda, ada yang ambisius, tempramental, dan lain - lain. Semua itu akan berdampak pada koping diri seseorang saat mendapat stimulus berupa masalah.

DAFTAR PUSTAKA
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC. Alimul, A. Aziz. dkk. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan, Edisi 2. Salemba Medika:Jakarta. Tarwoto,Wartonah.2006.Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika