Anda di halaman 1dari 1

Dibutuhkan banyak pendekatan medis untuk mengontrol atau memodifikasi penanganan sinusitis kronik.

Infeksi saluran pernapasan atas memegang kunci timbulnya sinusitis, dari yang akut hingga menjadi kronis. Karenanya, pasien terutama anak-anak, mesti dididik untuk menjaga kesehatan, rajin berolah raga, dan biasakan makan sayur atau buah. Akan lebih baik lagi jika mampu menghindarkan diri dari debu-debu, asap rokok, serta iritan kimia lingkungan lainnya. Pemberian antihistamin, kromolin, steroid topikal, atau imunoterapi mungkin perlu untuk mencegah timbulnya rhinitis alergi, lagi-lagi terutama pada anak-anak. Pencegahan GERD dapat bermanfaat untuk mencegah eksaserbasi penyakit saluran napas dan saluran cerna, semisal asma dan sinusitis kronik. Siapa tahu ada pasien juga dengan status imunodefisiensi, maka perlu diberikan terapi peningkatan status imun agar kondisi sinusitis kroniknya dapat membaik. Gejala-gejala superfisial sinusitis, biasanya berupa pilek yang tak sembuh-sembuh, pada prinsipnya dapat dikurangi dengan dekongestan, steroid topikal, antibiotik, irigasi salin normal ke hidung, kromolin tropikal, atau mukolitik. Semua obat ini tidak menyembuhkan, tapi dapat membantu memotivasi pasien untuk bisa sembuh. Agar cepat reda, kelembaban sekresi mukus dari sinus harus tetap dijaga, edema mukosa mesti dikurangi, serta viskoditas mukus sebaiknya dikurangi. Untuk terapi pembedahan, prosedurnya dinamakan Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS). FESS mampu menghilangkan penyakit dengan cara mengembalikan aerasi dan drainase yang adekuat pada pasien, menguatkan komplek osteomeatal, namun tidak meninggalkan jejas dan rasa tidak nyaman dalam bernapas. FESS mampu mengembalikan kesehatan sinus dengan gejala kekambuhan kurang dari 10% pasien. Setelah itu, pasien mesti dilanjutkan dengan terapi medis berkelanjutan dan pemantauan yang baik. (Farid)