Anda di halaman 1dari 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pembersih kewanitaan

2.2. Ca Caervic 2.2.1. Anatomi genetalia interna wanita . 2.2.2. Biomolekular pada Kanker .. 2.2.3. ca cervic Etiologi Hingga kini sebab langsung dari ca cervix belum diketahui. Terdapat bukti kuat kejadiannya memunyai hubungan erat dengan beberapa faktor ekstrinsik, di antaranya yang penting: jarang ditemukan pada perawan (virgo) insidensi lebih tinggi pada wanita yang menikah, terutama pada gadis yang koitus pertama dialami saat usia sangat muda (<16 tahun) insidensi juga meningkat dengan tingginya paritas, lebih-lebih bila jarak persalinan terlalu dekat mereka yang dari golobgan ekonomi rendah ( hygiene seksual yang jelek) suka berganti-ganti pasangan seksual, jarang dijumpai pada pasangan yang suaminya disunat (sirkumsisi) sering pada wanita yang mengalami infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18 kebiasaan merokok. (ilmu kandungan (1) ).

Karena berhubungan erat dengan infeksi HPV, maka wanita yang mendapat atau menggunakan penekanan kekebalan (immunosuppressive) dan penderita HIV memiliki risiko menderita ca cervix. Bahan karsinogenik spesifik dari tembakau dijumpai dalam lender serviks wanita perokok. Bahkan ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama dengan infeksi HPV mencetuskan transformasi maligna.

Sel kanker serviks pada awalnya berasal dari sel epitel cervic yang mengalami mutasi genetik sehingga mengubah perilakunya. Sel yang bermutasi ini melakukan pembelahan sel yang tidak terkendali, immortal,dan menginvasi jaringan stroma di bagian bawahnya. Keadaan yang menyebabkan mutasi genetik yang tak dapat diperbaiki akan menyebabkan pertumbuhan kanker ini. (onkologi ginekologi (2) ) Gejala dan Tanda Perlu dimasyarakatkan upaya pengenalan kasus sedini mungkin melalui program skrining. Pemeriksaan Papsmear memiliki tujuan untuk mengenali adanya perubahan awal sel epitel serviks sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan terjadinya kanker invasif. Lesi kanker serviks yang sangat dini ini dikenal sebagai servikal intraepitelial neoplasia (Cervical Intraepithelial Neoplasia= CIN) dengan tanda adanya perubahan displastik epitel serviks. Walaupun invasi sel tumor telah terjadi ke dalam stroma, kanker serviks masih mungkin tidak menimbulkan suatu gejala. Tanda dini kanker serviks tidak spesifik, seperti adanya sekret vagina yang agak banyak dan kadang disertai dengan bercak perdarahan. Tanda yang lebih klasik adalah perdarahan bercak yang berulang atau perdarahan bercak setelah bersetubuh atau setelah membersihkan vagina.

Dengan makin tumbuhnya penyakit, tanda menjadi semakin jelas. Perdarahannya menjadi semakin banyak, lebih sering, dan berlangsung lebih lama. Namun, keadaan ini sering diartikan sebagai perdarahan haid yang sering dan banyak. Serta dapat dijumpai secret vagina yang berbau terutama dengan massa nekosis yang lanjut. Nekrosis dapat terjadi karena pertumbuhan tumor yang cepat dan tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembuluh darah (angiogenesis) agar mendapat aliran darah yang memadai. Nekrosis ini menimbulkan bau yang tak sedap dan reaksi peradangan nonspesifik. Pada stadium lanjut, ketika tumor telah menyebar ke luar dari serviks dan melibatkan jaringan di rongga pelvis dapat dijumpai tanda yang lain seperti nyeri yang menjalar ke panggul atau kaki. Hal ini menunjukkan keterlibatan ureter, dinding panggul, atau nervus skiatik. Beberapa penderita mulai mengalami antara lain : Nyeri berkemih Hematuria Perdarahan rectum Sulit berkemih dan buang air besar.

Penyebaran ke kelenjar getah bening tungkai bawah dapat menimbulkan oedema , atau dapat terjadi uremia bila terdapat penyumbatan kedua ureter.

(onkologi ginekologi (2) ) Patologi ..

Stadium Stadium kanker serviks ditentukan melalui pemeriksaan klinik. Penentuan stadium kanker serviks berdasarkan FIGO masih mengacu pada pemeriksaan klinis praoperatif ditambah dengan foto toraks serta sitoskopi dan rektoskopi. Jika ada kecurigaan anak sebar ke kelenjar getah bening pelvis atau para aorta (adenopati) jangan dilanjutkan dengan biopsy kelenjar karena terlalu berbahaya. Stadium kanker serviks menurut FIGO 2000 Stadium 0 Stadum I : karsinoma insitu, karsinoma epithelial : karsinoma masih terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri diabaikan) : invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik, lesi yang dapat dilihat secara langsung walau dengan invasi yang sangat superficial dikelompokkan sebagai stadium Ib. kedalaman invasi ke stroma tidak lebih dari 5 mm dan lebarnya lesi tidak lebih dari 7 mm. : invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm. : invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm. : lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis lebih dari Ia : besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4cm : besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm : telah melibatkan vagina, tapi belum sampai 1/3 bawah atau Infiltrasi ke perimetrium belum mencapai dinding panggul : telah melibatkan vagina tapi belum melibatkan parametrium

Stadium Ia

Stadium Ia1

Stadium Ia2

Stadium Ib Stadium Ib1 Stadium Ib2 Stadium II

Stadium IIa

Stadium III

: telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai dinding panggul. Kasusu dengan hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal dimasukkan dalam stadium ini, kecuali kelainan ginjal dapat dibuktikan.

Stadium IIIa : keterlibatan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai dinding panggul Stadium IIIb : perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal Stadium IV : perluasan ke luar organ reproduktif

Stadium IVa : keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rectum Stadium IVb : metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul.

Diagnosis Diagnosis kanker serviks dapat diperoleh melalui pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi. Pada dasarnya, bila terdapat lesi seperti kanker secara kasat mata harus dilakukan biopsy walau hasil pemeriksaan pap smir masih dalam batas normal. Sementara itu, biopsi lesi yang tidak kasat mata dapat dilakukan dengan bantuan kolposkopi. Kecurigaan adanya lesi yang tak kasat mata ini didasarkan dari hasil pemeriksaan sitologi serviks (pap smir). Diagnosis kanker serviks hanya berdasarkan pada hasil pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi. Hasil pemeriksaan sitologi tidak boleh dijadikan sebagai dasar penetapan diagnosis. Lokasi biopsi sebaiknya dapat diambil dari jaringan yang masih sehat dan hindari biopsi jaringan nekrosis pada lesi besar. Bila pada hasil biopsi dicurigai adanya mikroinvasi, maka dilanjutkan dengan konisasi. Konisasi dapat dilakukan dengan pisau (cold knife) atau elektrokauter. (onkologi ginekologi (2) )

Faktor prognosis Beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi prognosis kanker serviks adalah : 1. Aktivitas seksual pada usia muda 2. Berganti- ganti pasangan yang kesemuanya merupakan perilaku seksual yang mempermudah infeksi patogen

3. Wanita dengan imunokompresi karena adanya transplantasi organ 4. Penggunaan pil kontrasepsi dan perokok Yang terpenting kelangsungan hidup dan pelvic disease control sangat tergantung pada stadium terutama penyebaran ke kelenjar getah bening, ukuran KGB, jumlah KGB, dan anak sebar.

Terapi Setelah diagnosis kanker serviks ditegakkan, harus ditentukan terapi apa yang tepat untuk setiap kasus. Jenis terapi diberikan tergantung pada usia dan keadaan umum penderita. Luasnya penyebaran, dan komplikasi lain yang menyertai. Pada umumnya kasus stadium lanjut (stadium IIb, III, dan IV) dipilih pegobatan radiasi yang diberikan secara intrakaviter (brakhiterapi) dan eksternal, sedangkan stadium awal dapat diobati melalui pembedahan atau radiasi. Teknologi radiasi eksterna dimulai sejak tahun 1954 dengan ditemukannya alat radiasi Cobalt 60 yang sudah memberikan energy 1 cm di bawah kulit. Akhir akhir ini lebih disenangi linear accelerator yang menghasilkan energi foton dan mulai memberi energy 3-4 cm di bawah kulit. Banyak penelitian tentang pemberian kemoterapi baik secara tunggal maupun kombinasi untuk mengobati penderita kanker serviks stadium lanjut atau kasus berulang yang tidak memungkinkan dilakukan terapi operatif atau radiasi. Klinik Mayo melaporkan pemberian kombinasi kemoterapi metotreksat vinblastin doksorubisin dan sisplatin memberi hasil yang lebih baik dengan efek samping yang lebih ringan. Akhir akhir ini ada kecenderungan pembedahan ginekologik menjadi kurang agresif dengan tujuan mengurangi kecacatan dan mempertahankan fungsi organ genital. Pada tahun 1994, DArgent memperkenalkan teknik operasi radikal kanker serviks stadium dini dengan mempertahankan uterus. Operasi radikal ini dikenal sebagai trakhelektomi radikal, dilakukan melalui vagina dan limpadenoktomi denga bantuan laparoskop. Teknik radiasi ini juga dapat dilakukan melalui abdominal dengan cara dan peralatan yang sama seperti operasi histerektomi radikal biasa, bahkan jaringan perimetrium yang diambil dapat lebih banyak. Serviks dipotong setinggi orifisium uteri internum. Radikal trakhelektomi ini diindikasikan untuk stadium Ia2 dan Ib1/IIa dengan lesi kurang dari 2 cm dan tidak ada anak sebar pada kelenjar getah bening pelvis.

2.2.3.