Anda di halaman 1dari 15

HYPOSPHADIA

KASUS Anak S (6 th) dirwat di rumah sakit karena buang air kecilnya dibawah penis, klien mengeluh malu oleh teman sebayanya dan kalau BAK harus jongkok dan membuka celananya. Dokter merencanakan untuk melakukan operasi. Menurut keterangan ibunya kelainan tersebut sudah ada sejak lahir. Menurut dokter yang menolong ketika persalinan, An S tidak diperbolehkan dulu sunat sebelum dilakukan repai. Setelah 2 hari dirawat, pada hari klien dioperasi Codectomy dan urethroplasty, POD 1 klien mengekuh nyeri pada penisnya, BAK melalui kateter. Terapi yang diberikan IVFD NaCL 1500/cc 24 jam, KAEN 3B; Cefotaxime 2 x 1 gr; dan Antrain 3 x 250 mg.

STEP 1 1. KAEN 3B ? (danita) 2. Cordectomy? (hanifah) Pembedahan pada cordec (lia) Untuk membuat saluran di penis (ratna) 3. Urethroplasty ? (devita) Operasi untuk meluruskan urethra (danita) 4. Antrain ? ( ratna) Obat analgesik (sherly) 5. POD ? (gita) Post Operation Day (lilis) 6. Cefotaxime? Obat antibiotik (sherly)

7. IVFD NaCl ? (hanifah) Intravena FD = pemberian infus NaCl (gita)

STEP II 1. Kenapa tidak diperbolehkan sunat dulu? (devita) 2. Bagaimana peran perawat untuk bisa menangani rasa malu atau tidak percaya diri klien? (dhea) 3. Etiologi? Apakah ada kemungkinan karena bakteri? (lia) 4. Setelah operasi apa bisa normal kembli? (icha) 5. Herediter? Atau ada kelainan pada pembentukan embriologi? (hanifah) 6. Kapan sebaiknya disunat? (icha) 7. Klasifikasi hyposphadia? (lilis) 8. Perawatan setelah operasi? (devita) 9. Dx keperawatan ? (danita) 10. Indikasi operasi dan kenapa pada saat 6 tahun baru di operasi? (gita? 11. Terapi lain selain farmako? (ratna) 12. Kenapa POD 1 klien mengeluh nyeri dan kenapa BAKnya melalui kateter? (hanifah) 13. Kateter dipasang dimana? (annisa) 14. Prosedur urethroplasty & cordectomy? (dhea) 15. Bisa menyebabkan gangguan ginjal? Komplikasi? (sherly) 16. Anastesi yang diberikan? Penyembuhannya berapa lama? Apa lebih cepat dari orang dewasa?

17. Pencegahan selama kehamilan? (ratna)

STEP III & IV 1. Pemakaian kulit bagian penis yang disunatkan untuk proses urethroplasty, jadi jangan di sunat dulu (gita) 2. Inform consent ke ibu, ibu ke anak (gita) 3. Adanya kemungkinan infeksi (post op) Etiologinya congenital (danita) Pembentukan penis yang tidak sempurna pada usia kehamilan 10 14 minggu (annisa) Faktor lingkungan (devita) 4. Bisa normal kembali dengan urethroplasty dan cordectomy (danita) 5. Congenital = bawaan lahir, kelainan kromosom (10-14 minggu kehamilan) (danita) 6. Kalau sudah siap, sebelum baligh 7. Pembedahan (hanifah) 8. LO 9. Gg. Rasa nyaman nyeri (post op), gg. Body image (lia) Kurang pengetahuan (pra op) (lilis) Kecemasan (pre op) (sherly) Resiko infeksi (post op) (ratna) 10. 6 tahun baru di operasi karena kalau masih kecil simptomnya belum ada (ratna) Kurang pengetahuan orang tua (lilis) 11. LO pemberian antibiotik cefotaxime (gita)

12. Kateter dipasang dilubang yang baru untuk memperbesar lubang juga. 13. Kateter dipasang dilubang yang baru untuk memperbesar lubang juga. 14. LO 15. Hanya anatomi penisnya yang terganggu (annisa) 16. LO 17. Nutrisi yang adekuat (annisa) Psikologi yang baik, aktifitas, (obat, lingkungan buruk, rokok di hindari). (gita)

STEP V (MAIN MAP) Kongenital

Kelainan anatomi saluran (uretra)

Malu

Hyposphadia

gg. body image

Tindakan operasi

resti infeksi

inform consent DEFINISI

nyeri

ETIOLOGI

KLASIFIKASI Barcat (1973) berdasarkan letak ostium uretra eksterna maka hipospadia dibagi 8 type yaitu:

Gambar 1.2 Klasifikasi hipospadia Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus : 1. Tipe sederhana/ Tipe anterior

Hipospadia Glandular

Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi. 2. Tipe penil/ Tipe Middle

Hipospadia Pene-escrotal

Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya. 3. Tipe Posterior

Hipospadia Perineal

Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.

MANIFESTASI Gejala dan tanda yang biasanya di timbulkan antara lain : a. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis b. Penis melengkung ke bawah c. Penis tampak seperti kerudung karena kelaianan pada kulit di depan penis.

d. Ketidakmampuan berkemuh secara adekuat dengan posisi berdiri e. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus. f. Preputium tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis g. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar h. Kulit penis bagian bawah sangat tipis i. Tunika dartos, fasia buch dan korpus spongiosum tidak ada j. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis k. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok l. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum) m. Kadang disertai kelainan congenital pada ginjal n. Ketidaknyamanan anak saat BAK karena adanya tahanan pada ujung uretra eksterna

KOMPLIKASI

PROGNOSIS Dengan perbaikan pada prosedur anastesi, alat jahitan, balutan, dan antibiotik yang ada sekarang, operasi hipospadia telah menjadi operasi yang cukup sukses dilakukan. Hasil yang fungsional dari koreksi hipospadia secara keseluruhan sukses diperoleh, insidens fistula atau stenosis berkurang, dan lama perawatan rumah sakit serta prognosis juga lebih baik untuk perbaikan hipospadia.

INSIDEN Hipospadia terjadi pada sekitar 1 dari setiap 250 kelahiran laki-laki. Pada beberapa negara insidensi hipospadia semakin meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir prematur, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih, dan pada keturunan Yahudi dan Italia. Di beberapa negara, kejadian hipospadia dapat naik. Di Amerika Serikat, tingkat hipospadia dua kali lipat 1970-1993. Meskipun beberapa telah menyarankan bahwa kejadian meningkat, dalam kenyataannya, peningkatan pelaporan nilai kecil dari hipospadia, peningkatan hipospadia berat juga telah dicatat. Meningkatkan sensitivitas sistem surveilans saja tidak dapat menjelaskan hal ini peningkatan dua kali lipat. Namun, laporan terbaru mengaitkan tingkat peningkatan hipospadia pada anak laki lahir prematur dan kecil untuk usia kehamilan dan anak laki-laki dengan berat lahir rendah. Di beberapa negara, kejadian hipospadia dapat naik tetapi tampaknya agak konstan yaitu sekitar 0,26 per 1000 kelahiran hidup di Meksiko dan Skandinavia dan 2,11 per 1000 kelahiran hidup di Hongaria.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. urethtroscopy dan cystoscopy urethtroscopy dan cystoscopy untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. 2. Excretory urography Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter. 3. Inspeksi Inspeksi terhadap genitalia menunjukkan letak abnormal uretra. Bayi atau anak lakilaki tidak dapat berkemih dengan penis berada pada posisi naik yang normal. 4. Pemeriksaan radiologi

hipospadia terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya.

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur pembedahan pada hipospadia adalah: Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis(Uretroplasti). Untuk mengembalikan aspek dilakukan normal berdasarkan dari genitalia eksterna

(kosmetik).Pembedahan

keadaan

malformasinya.

Padahipospadia glanular uretra distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk seperti ini dapat direkonstruksi dengan flap lokal (misalnya, prosedur Santanelli, Flip flap, MAGPI [meatal advance and glanulo plasty], termasuk preputium plasty).

Operasi sebaiknya dilaksanakan pada saat usia anak yaitu enam bulansampai usia prasekolah. Hal ini dimaksudkan bahwa pada usia ini anak diharapkan belum sadar bahwa ia begitu spesial, dan berbeda dengan teman-temannya yang lain yaitu dimana anak yang lain biasanya miksi (buang air seni) dengan berdiri sedangkan ia sendiri harus melakukannya dengan jongkok agar urin tidak merembes ke mana-mana. Anak yang menderita hipospadia hendaknya jangan dulu dikhitan, hal ini berkaitan dengan tindakan operasi rekonstruksi yang akan mengambil kulit preputium penis untuk menutup lubang dari sulcus uretra yang tidak menyatu pada penderita hipospadia. Tahapan operasi rekonstruksi antara lain: Meluruskan penis yaitu orifisium dan canalis uretra senormal mungkin.Hal ini dikarenakan pada penderita hipospadia biasanya terdapat suatuchorda yang merupakan jaringan fibrosa yang mengakibatkan penis penderita bengkok. Langkah selanjutnya adalah mobilisasi (memotong dan memindahkan) kulit preputium penis untuk menutup sulcus uretra.

(Uretroplasty). Tahap kedua ini dilaksanakan apabila tidak terbentuk fossa naficularis pada glans penis. Uretroplasty yaitu membuat fassanaficularis baru pada glans penis yang nantinya akan dihubungkan dengan canalis uretra yang telah terbentuk sebelumnya melalui tahap pertama.

Tidak kalah pentingnya pada penanganan penderita hipospadia adalah penanganan pascabedah dimana canalis uretra belum maksimal dapat digunakan untuk lewat urin karena biasanya dokter akan memasang sonde untuk memfiksasi canalis uretra yang dibentuknya. Urin untuk sementara dikeluaskan melalui sonde yang dimasukkan pada vesica urinaria (kandungkemih) melalui lubang lain yang dibuat olleh dokter bedah sekitar daerah di bawah umbilicus (pusar) untuk mencapai kandung kemih. Perawatan pasca operasi Diberikan kompres dingin pada area operasi 2 hari pertama untuk mengurangi edema dan nyeri pada bekas luka operasi Lubang kencing baru dipasang kateter sampai luka sembuh dan dapat dialiri air kencing Penilaian pasca operasi Evaluasi menilai keberhasilan operasi diantaranya : Letak meatus Ada atau tidaknya fistula Pancaran urin Bentuk penis

Dikatakan berhasil jika : Penderita berkemih diujung gland Tidak terdapat fistula Pancaran urin lurus, tidak kecil, tidak bercabang Bentuk penis baik.

ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian 1. Identitas Klien Nama Klien Usia Jenis Kelamin : Anak S : 6 tahun : laki-laki

2. Anamnesa Keluhan Utama Riwayat Kesehan Sekarang P : nyeri Q:R : pada penisnya S:T:3. Pemeriksaan Fisik Head to Toe Mata Hidung Mulut Leher Dada Abdomen ::::::: klien mengeluh nyeri pada penisnya POD 1 :

Genital Ekstrimitas Kulit

: ada bekas operasi pada penisnya ::-

4. Pemeriksaan Psikososial Klien mengeluh malu dengan teman sebayanya karena ketika BAK harus jongkok dan membuka celananya 5. Terapi 1. pembedahan (cordectomy dan uretroplasty) 2. IVFD NaCl 1500cc/24 jam 3. KAEN 3B 4. Cefotaxime 2x1gr 5. antrain 3x250mg\

Diagnosa & Intervensi Pre OP 1. Gg. Body Image berhubungan dengan abnormalitas meatus uretra pada penis ditandai dengan meatus uretra klien ada dibagian bawah penis, klien mengeluh malu ketika BAK, klien harus jongkok dan membuka celananya setiap kali ingin BAK. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan medis, meatus uretra klien dapat kembali normal dan rasa malu atau gg. Body image klien perlahan-lahan dapat berkurang sampai akhirnya hilang. Kriteria Hasil: Secara subjektif klien mengungkapkan bahwa rasa malunya telah berkurang atau hilang.

Rasa percaya diri klien kembali normal. Klien dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan keluarga atau teman-teman sebayanya dengan baik tanpa disertai rasa tidak nyaman atas kelainan yang dulu pernah dideritanya. Intervensi Rasional 1. Memberi fasilitas kepada

1. Beri kesempatan pada klien untuk perasaannya. mengungkapkan

klien untuk mengungkapkan perasaannya dapat menjadi sarana untuk mengetahui perasaan klien lebih dalam serta membangun trust antara perawat dan klien.

2. Berikan dorongan psikologis untuk klien

2. Dorongan supporting dalam klien.

psikologis system

atau dapat

menjadi kekuatan yang besar mengatasi yang masalah dialami psikologis

3. Kolaborasi dan tim cordectomy urethroplasty

dengan bedah

dokter untuk dan

3. Tindakan

cordectomy

dan

urethroplasty bermanfaat untuk: a. Memperbaiki anatomis penis klien.

sangat

kondisi

b. Memperbaiki fungsi kemih klien. c. Memperbaiki fungsi social klien.

POST-OPERASI 1. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan rangsangan pada saraf nyeri yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri POD 1 Tujuan: Tujuan jangka pendek : Nyeri berkurang Tujuan jangka panjang : Nyeri menghilang

Kriteria hasil: Rasa nyeri telah terkontrol Tampak santai Dapat beristirahat dan tidur dengan tepat Intervensi 1. Kaji 0-10) nyeri, catat Rasional lokasi, 1. Membantu mengevaluasi: derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesik atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi

karekteristik, dan intensitas (skala

2. Atur posisi semi fowler atau miring

2. Posisi semi fowler mengurangi ketegangan posisi tekanan dorsal otot abdominal, mengurangi miring

3. Melepaskan 3. Dorong relaksasi penggunaan teknik emosional dan otot

ketegangan

4. Mencegah ketidaknyamanan dan 4. Berikan waktu istirahat yang cukup meningkatkan relaksasi

5. Analgesik 5. Kolaborasi pemberian analgetik (Antrain 3 x 250 mg)

berfungsi

untuk

mengurangi rasa nyeri

Anda mungkin juga menyukai