Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KEBUTUHAN SEKSUALITAS

DISUSUN OLEH: KELOMPOK IX 1. 2. 3. 4. 5. 6. Maria Magdalena Okantita Gangga Ruth Dita K Yoseph Firmana H Yuliani Yulistiya Rahmawati (201011059) (201011073) (201011086) (201011107) (201011108) (201011110)

PRODI S1 KEPERAWATAN STIKES ST ELISABETH SEMARANG 2010/2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seks merupakan topic yang telah lama dibicarakan pada kalangan umum. Namun hal itu berlangsung menjadi hal yang dianggap tabu. Banyak klien dewasa yang kurang paham dan kurang mengerti tentang pengetahuan seksualitas, bahkan mereka enggam bertanya tentang pengetahuan seksualitas. Para tenaga kesehatan hendaknya juga memberikan pengetahuan tentang seksualitas kepada kliennya. Namun, bahkan ada tenaga kesehatan yang juga kurang mengetahui, kurang merasa nyaman, dan kurang percaya diri dalam mengemukakan masalah seksual. Untuk mendiskusikan masalah seksualitas dalam praktik, pemberi perawatan harus mempunyai dasar pengetahuan yang diperlukan, keterampilan dalam pengkajian dan komunikasi, dan sikap perawat yang sensitive. Penting juga bahwa pemberi perawatan mengenali bahwa masalah seksual mempunyai nilai. Pengaruh penyuluhan keagamaan, peran gender yang diharuskan secara cultural, keyakinan tentang orientasi seksual, pengaruh social dan lingkungan masa lalu, dan saat ini mempengaruhi sistem nilai baik dari pihak pemberi perawatan maupun klien.

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui perbedaan seks dan seksualitas 2. Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi seksualitas 3. Untuk mengetahui gambaran seksualitas pada masa anak-anak, remaja, pubertas, masa dewasa dan klimakterium 4. Untuk mengetahui kondisi kesehatan yang bagaimana yang dapat mempengaruhi seksualitas seseorang 5. Untuk mengetahui siklus respon seksual pada manusia (pria dan wanita )

6.Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang dapat terjadi pada fungsi seksual pria 7. Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang dapat terjadi pada fungsi seksual wanita 8. Untuk mengetahui perbedaan homoseksual dan heteroseksual 9. Untuk mengetahui perbedaann transeksual dan transvestite 10. Untuk mengetahui kelainan-kelainan seksual pada pria dan wanita yang muncul selain di atas 11. Untuk mengetahui pengkajian fisik dan psikoseksual yang perlu dilakukan untuk mengkaji kesehatan seksual pada pasien 12.Untuk mengetahui pengertian, data yang mendukung, etiologi dan faktorfaktor dari masalah a. perubahan pola seksual b. disfungsi seksual 13. Untuk mengetahui perbedaan masing-masing maslah tersebut 14. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada kasus Ny. Dina

D. Manfaat 1. Agar mahasiswa dapat membedakan perbedaan seks dan seksualitas 2. Agar mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi seksualitas 3. Agar mahasiswa dapat menjelaskan gambaran seksualitas pada masa anakanak, remaja, pubertas, masa dewasa dan klimakterium 4. Agar mahasiswa dapat menjelaskan kondisi kesehatan yang bagaimana yang dapat mempengaruhi seksualitas seseorang 5. Agar mahasiswa dapat menjelaskan siklus respon seksual pada manusia (pria dan wanita )

6. Agar mahasiswa dapat menjelaskan kelainan-kelainan yang dapat terjadi pada fungsi seksual pria 7. Agar mahasiswa dapat menjelaskan kelainan-kelainan yang dapat terjadi pada fungsi seksual wanita 8. Agar mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan homoseksual dan heteroseksual 9. Agar mahasiswa dapat menjelaskan perbedaann transeksual dan transvestite 10. Agar mahasiswa dapat menyebutkan kelainan-kelainan seksual pada pria dan wanita yang muncul selain di atas 11. Agar mahasiswa dapat menjelaskan pengkajian fisik dan psikoseksual yang perlu dilakukan untuk mengkaji kesehatan seksual pada pasien 12.Agar mahasiswa dapat menjelaskan pegertian, data yang mendukung, etiologi dan factor-faktor dari masalah : a. perubahan pola seksual b. disfungsi seksual 13. Agar mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan masing-masing masalah tersebut 14. Agar mahasiswa dapat membuat asuhan keperawatan sesuai dengan kasus

BAB II ISI

Kasus Ny. Dina (35th) sudah menikah 7 tahun yang lalu dan belum mempunyai anak. Saat ini dirawat di ruang bedah karena didiagnosis dokter menderita kanker payudara, dan harus dioperasi pengangkatan payudara supaya kanker tidak menyebar. Saat ini Ny. Dina tampak murung dan sering menangis sendirian . Bahkan ketika suaminya datang, pasien cenderung diam dan menangis terus sambil mengatakan saya bukan wanita yang utuh lagi. 1. Perbedaan Seks dan Seksualitas a. Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin yaitu penis pada laki-laki dan vagina pada perempuan. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan seksual. b. Seksualitas, dilain pihak, adalah istilah yang lebih luas. Seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda atau sama dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya,seperti sentuhan,pelukan, ciuman, dan senggama seksual, dan melalui perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata (Denney & Quadagno,1992;Zawid,1994). Seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang mengalami, menghayati dan mengekspresikan diri sebagai makhluk seksual, dengan kata lain tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bertindak berdasarkan posisinya sebagai makhluk seksual. Hubungan seks hanyalah salah satu aspek. Seksualitas mencakup banyak hal diluar itu. Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan seks (ada kaitan dengan kelamin) tercakup didalamnya.

2. Faktor faktor yang mempengaruhi seksualitas a. Faktor Fisik Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik, karena bagamanapun aktivitas seks bisa menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan. Kondisi fisik dapat berupa penyakit ringan/berat, keletihan, medikasi maupun citra tubuh. Citra tubuh yang buruk, terutama disertai penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh menyebabkan seseorang kehilangan gairah. b. Faktor Hubungan Masalah dalam berhubungan (kemesraan, kedekatan) dapat

mempengaruhi hubungan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual. Hal ini sebenarnya tergantung dari bagimana kemampuan mereka dalam berkompromi dan bernegosiasi mengenai perilaku seksual yang dapat diterima dan menyenangkan. c. Faktor Gaya Hidup Gaya hidup disini meliputi penyalahgunaan alkohol dalam aktivitas seks, ketersediaan waktu untuk mencurahkan perasaan dalam berhubungan, dan penentuan waktu yang tepat untuk aktivitas seks. Penggunaan alkohol dapat menyebabkan rasa sejahtera atau gairah palsu dalam tahap awal seks dengan efek negatif yang jauh lebih besar dibanding perasaan eforia palsu tersebut. Sebagian klien mungkin tidak mengetahui bagaiman mengatur waktu antara bekerja dengan aktivitas seksual, sehingga pasangan yang sudah merasa lelah bekerja merasa kalau aktivitas seks merupakan beban baginya. d. Faktor Harga Diri Jika harga-diri seksual tidak dipelihara dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual-diri dan dengan mempelajari ketrampilan seksual, aktivitas seksual mungkin menyebabkan perasaan negatif atau tekanan perasaan seksual. Harga diri seksual dapat terganggu oleh beberapa hal antara lain: perkosaan, inses, penganiayaan fisik/emosi, ketidakadekuatan pendidikan seks, pengaharapan pribadi atau kultural yang tidak realistik.

3. Gambaran seksualitas pada masa anak-anak, remaja, pubertas, masa dewasa dan klimakterium - Crain (2002) menyatakan bahwa Freud dalam teori psychosexualnya membagi perkembangan seksual seseorang dalam beberapa tahap, yaitu: a. Oral stage (0-1 tahun) Rangsangan seksual pada masa ini terletak pada mulutnya. Kegiatan menghisap puting payudara ibunya atau menghisap jempolnya merupakan kesenangan bagi seorang bayi. b. Anal stage (1-3 tahun) Pusat rangsangan pada masa ini terletak pada anusnya. Dimana anak merasakan kesenangan ketika melakukan buang air besar karena telah mampu mengontrol otot sphincter-nya. Mereka kadang-kadang mencoba memasukan kembali atau menahan fesesnya dengan cara menambah tekanan pada rektum. Mereka juga sering tertarik dengan feses yang telah dikeluarkan dengan menjadikannya sebagai alat mainan. c. Phallic or Oediphal stage (3-6 tahun) Anak laki-laki Dimulai dengan adanya ketertarikan terhadap penisnya. Hal ini disebabkan penis merupakan organ yang mudah dirangsang, mudah berubah, dan kaya akan rangsangan. Mereka ingin membandingkan penisnya dengan laki-laki lain atau dengan binatang, sehingga ia senang memperlihatkan penisnya. Dia mungkin juga mencium ibunya secara agresiv, ingin tidur malam bersama ibunya atau membayangkan ia menikahinya. Akan tetapi ia belum membayangkan untuk melakukan senggama sehingga merasa bingung apa yang akan dilakukan bersama ibunya. Anak perempuan Pada fase ini ia merasa kecewa dan marah besar dengan ibunya karena tidak memmpunyuai penis. Ia menganggap ibunya melahirkan kedunia dengan keadaan kurang lengkap Ia juga memiliki kedekatan yang lebih terhadap ayahnya. Hal ini mungkin disebabkan ayahnya mulai mengagumi kecantikannya, memanggilnya little princess serta senang bermain-main dengannya.

d. Latency stage (6-11 tahun) Pada fase ini, sebagian besar fantasi seksual tersembunyi di alam bawah sadar mereka. e. Puberty (Genital Stage) Pada anak laki-laki dimulai umur 13 tahun sedangkan anak perempuan dimulai pada usia 11 tahun. Pada saat ini anak ingin melepaskan dirinya dari orang tua. Bagi anak laki-laki masa ini adalah saat melepaskan pertalian dengan ibunya untuk mendapatkan wanita lain sebagai penggantinya. Dia juga harus mengakhiri rivalitas dengan ayahnya dan membebaskan diri dari dominasi ayahnya. Bagi anak perempuan mempunyai tugas yang sama, ia harus berpisah dari orang tuanya dan menentukan jalan hidupnya sendiri. f. Adolescence Pada saat ini seseorang mulai merasakan cinta dan kasih saying satu sama lain. Adolescence mempunyai perhatian yang lebih mengenai siapa mereka, bagaimana mereka di mata orang lain, dan akan menjadi apakah mereka. Mereka mulai merasakan ketertarikan secara seksual antara satu dengan yang lain, sampai dengan jatuh cinta. Sedangkan dalam buku Fundamental of Nursing (Potter & Perry. 2005), dijelaskan perkembangan seksual meliputi: 1. Masa Bayi (0-1 Tahun) - Bayi perempuan dan laki-laki memiliki kapasitas untuk kesenangan dan respon seksual, dimana bayi laki-laki berespon terhadap stimulasi dengan ereksi sedangkan perempuan dengan lubrikasi vagina. - Bayi laki-laki mengalami ereksi nokturnal spontan tanpa stimulasi - Perilaku dan respon itu TIDAK berhubungan dengan kontak PSIKOLOGI EROTIK seperti pada masa pubertas. - Orang tua seharusnya memahami dan menerima perilaku eksplorasi bayi sebagai langkah perkembangan identitas diri yang positif dengan cara: Memberikan stimulasi taktil lainnya melalui menyusui, memeluk, dan menyentuh atau membuainya.

2. Masa Usia Bermain dan Prasekolah (1- 5/6 Tahun) - Pada masa ini anak mulai menguatkan rasa identitas jender dan membedakan perilaku sesua dengan jender yang didefinisikan secara sosial. - Proses pembelajaran terjadi melalui: o Interaksi anak dengan orang dewasa o Boneka yang diberikan o Pakaian yang dikenakan o Permainan yang dilakukan o Respon yang dihargai - Anak mulai meniru tindakan orang tua yang berjenis kelamin sama, mempertahankan dan memodifikasi perilaku yang didasarkan umpan balik orang tua. - Ekspolorasi seksual meliputi o Mengelus diri sendiri o Manipulasi genital o Memeluk boneka,hewan peliharaan, atau orang sekitarnya o Percobaan sensual lainnya. - Anak sudah bisa diajarkan perbedaan perilaku yang bersifat pribadi atau publik. - Pertanyaan darimana bayi berasal yang diamati harus dijelaskan dengan terbuka, jujur dan sederhana. 4. Masa Usia Sekolah ( 6 10 tahun) - Pada masa ini edukasi dan penekanan tentang seksualitas bisa datang dari orang tua atau gurunya disekolah, tapi yang paling signifikan berasal dari teman sebayanya. - Anak juga akan terus mengajukan pertanyaan tentang seks dan menunjukan kemandirian mereka dengan menguji perilaku yang sesuai, misalnya menggunakan kata-kata kotor atau menceritakan guyonan yang berkonotasi seksual sambil mengamati reaksi orang dewasa Anak-anak mulai mempunyai keinginan dan kebutuhan privasi.

- Pada usia 10 tahun, banyak anak gadis dan sebagian sudah mulai mengalami perubahan pubertas, terjadi perubahan pada tubuh mereka. Dengan demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat dari rumah maupun sekolah mengenai perubahan tubuh yang dialami. Karena jika tidak mungkin anak akan ketakutan dengan menstruasi atau emisi nokturnal yang dianggapnya

sebagai suau penyakit yang menakutkan. - Pada usia sekolah dini, anak harus diberikan informasi untuk berhati-hati terhadap potensi adanya penganiayaan seksual. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anaka antara lain: Ajarkan kepada anak mengenai perbedaan antara sentuhan yang baik dengan sentuhan yang buruk dari orang dewasa. Beritahu anak mengenai bagian tubuh tertentu yang tak boleh disentuh oleh orang dewasa kecuali saat mandi atau pemeriksaan fisik oleh dokter. Ajarkan kepada anak untuk mengatakan tidak jika merasa tidak nyaman dengan perlakuan orang dewasa dan menceritakan kejadian itu kepada orang dewasa yang meraka percaya. Ajarkan bahwa orang dewasa tidak selalu benar, dan semua orang mempunyai kontrol terhadap tubuh mereka, sehingga ia dapat memutuskan siapa yang boleh atau tidak boleh untuk memeluknya. 5. Pubertas dan Masa Remaja a. Perubahan fsik 1) Perempuan Ditandai dengan perkembangan payudara, bisa dimulai paling muda umur 8 tahun sampai akhir usia 10 tahun. Meningkatnya kadar estrogen mempengaruhi genitalia, antara lain: uterus membesar; vagina memanjang; mulai tumbuhnya rambut pubis dan aksila; dan lubrikasi vagina baik spontan maupun akibat rangsangan. Menarke sangat bervariasi, dapat terjadi pada usia 8 tahun dan tidak sampai usia 16 tahun. Siklus menstruasi pada awalnya tidak teratur dan avulasi mungkin tidak terjadi saat menstruasi pertama. 2) Laki-laki Meningkatnya kadar testosteron ditandai dengan peningkatan ukuran penis, testis, prostat, dan vesikula seminalis; tumbuhnya rambut pubis, wajah Walaupun mengalami orgasme, tetapi mereka tidak akan mengalami ejakulasi, sebelum organ seksnya matur yaitu sekitar usia 12 14 tahun.

Ejakulasi terjadi pertama kali mungkin saat tidur (emisi nokturnal), dan sering diinterpretasikan sebagai mimpi basah dan bagi sebagian anak hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat memalukan.

Oleh karena itu anak laki-laki harus mengetahui bahwa meski ejakulasi pertama tidak menghasilkan sperma, akan tetapi mereka akan segera menjadi subur.

b. Perubahan psikologis/emosi Periode ini ditandai oleh mulainya tanggungjawab dan asimilasi pengharapan masyarakat Remaja dihadapkan pada pengambilam sebuah keputusan seksual, dengan demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat tentang perubahan tubuh, hubungan dan aktivitas seksual, dan penyakit yang ditularkan melalui aktivitas seksual. Yang perlu diperhatikan terkadang pengetahuan yang diadapatkan tidak diintegrasikan dengan gaya hidupnya, hal ini menyebabkan mereka percaya kalau penyakit kelamin maupun kehmilan tidak akan terjadi padanya sehingga ia cenderung melakukan aktivitas seks tanpa kehati-hatian. Masa ini juga merupakan usia dalam mengidentifikasi orientasi seksual, banyak dari mereka yang mengalami setidaknya satu pengalaman homoseksual. Remaja mungkin takut jika pengalaman itu merupakan gambaran seksualitas total mereka, walaupun sebenarnya anggapan ini tidak benar karena banyak individu terus berorientasi heteroseksual secara ketat setelah pengalaman demikian. Remaja yang kemudian mengenali preferensi mereka sebagai homoseksual yang jelas akan merasa dan kebingungan sehingga

membutuhkan banyak dukungan dari berbagai sumber (Bimbingan Konselor, penasihat spiritual, keluarga, maupun profesional kesehatan mental). 6. Masa Dewasa - Pada masa ini telah mencapai maturasi akan tetapi terus mengeksplorasi untuk menemukan maturasi emosional dalam hubungan. - Teknik stimulasi hendaknya memperhatikan agama, nilai dan sikap keluarga tentang seksualitas karena kalau tidak menimbulkan efek

emosional residual seperti rasa bersalah, cemas, atau perasaan berdosa. - Pada akhir masa dewasa diperlukan pembaruan kembali keintiman diantara pasangan., namun demikian jika salah satu atau keduanya mengalami ancaman gambaran diri karena tubuh yang menua, dan mungkin mencoba menemukan kemudaannya dengan melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang jauh lebih muda. - Untuk mecegah hal tersebut, jika diinginkan pasangan dapat dibantu untuk menemukan hal atau kegairahan baru dalam hubungan mereka, baik dengan posisi, teknik seksual, maupun fantasi. 7. Masa Lanjut Usia - Seksualitas pada masa ini beralih dari penekanan prokreasi menjadi lebih kerah pertemanan , kedekatan fisik, komunikasi intim, dan hubungan fisik mencari kesenangan. Walaupun demikian mereka juga bisa tetap aktif.melakukan aktivitas seks jika memang menginginkan. - Perubahan fisik yang dialami menyebabkan perubahan perilaku seksual, sehingga perlu dijelaskan perubahan yang terjadi bersama dengan proses penuaan. - Demikian pula lansi dengan kekuatiran masalah kesehatan yang mengganggu aktivitas seksual, dianjurkan untuk menyesuaikan tindakan seksual dengan kondisinya tersebut.

4. Kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi sexualitas seseorang a. Pembatasan kelahiran b. Impotensi dan nafsu/birahi seksual c. Penyakit infeksi menular seksual d. Bodi image e. Kenikmatan seksual Diatas adalah beberapa hal yang dapat mempengaruhi kesehatan seksual.Kondisi badan yang fit dan kesehatan otak sangat berpengaruh terhadap seksualitas karena otak yang terganggu dapat menggangu sel hormon sehingga mengurangi libido dan nafsu seksual seseorang,kesehatan otak adalah yang paling utama,selain dari kesehatan jiwa dan fisk yang juga harus terjaga. 5. Siklus respon seksual pada manusia

Menurut Masters dan Johnson (1966) siklus respon seksual terdiri dari fase excitement, plateu, orgasmus, dan, resolusi. Pada dasarnya fase-fase tersebut diakibatkan oleh vasokonstriksi dan miotania, yang merupakan respons fisiologis dasar dari rangsangan seksual. Perbandingan siklus respon pada wanita dan pria dapat dilihat pada tabel berikut ini WANITA Lubrikasi vaginal: dinding vaginal Ereksi penis berkeringat Penebalan dan elevasi skrotum Ereksi sensitivitas dan Ekspansi 2/3 bagian dalam lorong Elevasi dan perbesaran moderat testis vagina. Peningkatan puting dan tumescence PRIA

I. EXICETEMENT : peningkatan bertahap dalam rangsangan seksual

(pembengkakan)

pembesaran klitoris serta labia Ereksi puting dan peningkatan ukuran payudara

II. PLATEU : penguatan respons fase Exitement Retraksi klitoris di bawah topi Peningkatan ukuran glans (ujung) klitoral penis Pembentukan platform orgasmus: Peningkatan intensitas warna glans pembengkakan 1/3 luar vagina dan Elevasi dan peningkatan 50% ukuran labisa minora tenting Perubahan Kulit Seks Pembesaran areola dan payudara Peningkatan tegangan otot dan pernafasan Peningkatan jantung, frekuensi denyut dan warna kulit testis. mukoid kelenjar cowper, Elevasi serviks dan uterus: efek Emisi

kemungkinan oleh sperma yang Peningkatan pernafasan Peningkatan frekuensi denyut tegangan otot dan

tampak hidup pada labia minora:

jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan

tekanan

darah,

frekuensi pernafasan

III. ORGASME: penyaluran kumpulan darah dan tegangan otot Kontraksi orgasmik, involunter uterus, platform Penutupan sfingter urinarius internal dan Sensasi ejakulasi yang tidak

rektal

spingter uretral, dan kelompok otot lain Hiperventilasi dan peningkatan

tertahankan Kontraksi duktus deferens vesikel seminalis ejakulatorius prostat dan duktud

frekuensi jantung

Memuncaknya frekuensi jantung, Relaksasi sfingter kandung kemih tekanan darah, dan frekuensi eksternal Memuncaknya tekanan pernafasan Ejakulasi IV. RESOLUSI: fisiologis dan psikologis kembali kedalam keadaan tidak terangsang. Relaksasi bertahap dinding vagina Kehilangan ereksi penis Perubahan warna yang cepat pada Periode refraktori ketika dilanjutkan labia minora Berkeringat stimulasi menjadi tidak enak Reaksi berkeringat frekuensi Secara bertahap frekuensi jantung, tekanan darah, dan frekuensi darah, frekuensi dan jantung, frekuensi pernafasan

Secara bertahap frekuensi jantung, Penurunan testis tekanan Wanita darah, dan

pernafasan kembali normal mampu kembali

pernafasan kembali normal

mengalami orgasme karena tidak mengalami periode refraktori

seperti yang terjadi pada pria.

6. Kelainan yang dapat terjadi pada fungsi seksual pria Kelemahan ereksi (disorders of erection) Yang termasuk dalam kelemahan ereksi adalah impoten.Impoten adalah ketidakmampuan seseorang untuk mendapatkan ereksi atau mempertahankan ereksi penis untuk terlaksananya aktivitas hubungan seksual yang normal.

Ada dua klasifikasi impoten : Impoten primer adalah pria dengan impotensi primer tidak pernah mampu melakukan senggama. Impoten sekunder adalah pria dengan impotensi sekunder mengalami disfungsi ereksi setelah sebelumnya mempuyai fungsi seksual yang normal. Penyebab gangguan fungsi ereksi :

Penyakit pembuluh darah ( artherosclerosis ) Gangguan saraf Faktor psikologis (stres, depresi, kecemasan dengan penampilan fisiknya) Cedera penis Penyakit kronis Kelainan penis ( Peyronies disease = jaringan parut pada penis )

Ejakulasi (disturbance of ejaculation) 1. Ejakulasi prematur ( ejakulasi dini ) : ejakulasi terjadi sebelum atau segera setelah terjadi penetrasi penis 2. Ejakulasi terhambat : ejakulasi tak kunjung datang atau terlambat 3. Ejakulasi retrograde : Saat orgasme, ejakulasi terjadi kedalam kandung kemih dan bukannya keluar melalui urethrae dan di ujung penis

Pada sejumlah kasus, ejakulasi terhambat dapat disebabkan oleh faktor psikologi antara lain :

Pandangan religius kolot yang memandang aktivitas seksual adalah perbuatan dosa

Perasaan tidak menarik bagi lawan jenis Pasca trauma

Ejakulasi dini merupakan bentuk disfungsi seksual pada pria yang paling sering terjadi dan disebabkan oleh perasaan gugup dan ketidak fahaman mengenai bagaimana melakukan aktivitas seksual yang benar. Sejumlah obat antidepresan dapat mengganggu proses ejakulasi sebagaimana yang terjadi pada kerusakan saraf tulang belakang.

Ejakulasi retrograde :

Sering terjadi pada penderita diabetes neuropati akibat gangguan saraf pada kandung kemih dan 'bladder neck'

Pasca pembedahan prostat atau 'bladder neck' Operasi abdominal lain Obat-obat penenang seringkali menyebabkan terjadinya gangguan ejakulasi.

Gangguan pada hasrat seksual (libido) Hilangnya hasrat seksual atau hilangnya libido adalah penurunan hasrat atau ketertarikan untuk melakukan aktivitas seksual. Penurunan libido dapat disebabkan oleh :

Faktor fisik dan atau psikologi. Rendahnya kadar hormon testosterone. Faktor psikologi antara lain depresi dan kecemasan serta keretakan rumah tangga

Penyakit tertentu (diabetes, hipertensi) Obat-obat tertentu (antidepresan)

Disfungsi seksual dapat dibagi berdasarkan siklus respon seksual yaitu : Disfungsi Libidinis ( Impotensia konkupisiensi) yaitu berkurangnya atau lemahnya gairah seksual dan perangsangan seksual. Disfungsi ereksionisyaitu ketidakmampuan untuj mendapatkan ataumempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual yang normal.

Disfungsi ejakulasionis yaitu gangguan dalam ejakulasi. Disfungsi satisfactionis yaitu ketidakmampuan pria merasakan kepuasan (orgasme)setelah hubungan seks. 7. Kelainan yang dapat terjadi pada fungsi seksual wanita Disfungsi seksual yang umum pada wanita adalah : Disfungsi orgasmik preorgasmik (primer) adalah kerusakan kemampuan wanita untuk menagalami orgasmus. Disfungsi orgasmic sekunder adalah kerusakan kemempuan wanita untuk mengalami orgasmus saat ini tetap mempunyai riwayat kemampuan untuk mengalami orgasmus. Vaginismus adalah kontruksi involunter dari sepertiga bagian luar vagina,sehingga menyebabkan penetrasi kedalam vagina menjadi tidak munkin. Dispareunia adalah hubungan senggama yang sangat nyeri. Kurang gairah adalah kehilangan minat dalam melakukan hubungan seksual. Penyebab disfungsi seksual pada wanita Penyebabnya dapat bersifat fisik dan psikologis. Kelainan fisik yang dapat menimbulkan kluhan seksual pada wanita antara lain diabetes mellitus,sakit jantung,kelainan syaraf,pasca operasi sanggul,trauma panggul,sakit ginjal kronis,alcohol,merokok,penyalahgunaan obat,nyeri sendi,dan efek samping obat. Factor psikologis yang mendasai gangguan seksual pada wanita antara lain konflik interpersonal,misalnya tabu berdasrkan agama,norma social,konflik identitas social,tipe kepribadian,pandangan tentang seksual dan hubungan seksual,pengalaman masa lalu yang menyebabkan trauma (pemerkosaan,korban pelecehan seksual),dan kondisi kejiwaan yang

membuat stress/depresi.Keadaan-keadaan seperti ini akan mempengaruhi psikis seorang wanita. Selain itu efek obat-obatan dapat pula menimbulakn gangguan fungsi seksual seperti obat psikoaktif,obat anoreksia,obat kontrasepsi,narkotik dan obat jantung. Disfungsi seksual wanita dikelompokan menjadi : Gangguan Dorongan (desire) seksual Dapat berupa dorongan seksual hipoaktif yaitu lenyapnya dorongan seksualsehingga tidak merasa bergairah melakukan aktivitas seksual atau dapat berkembang pula menjadi gangguan seksual aversi yang berarti timbulnya perasaan tidak suka melakukan aktifitas seksual sehingga cenderung menghindar atau menolak. Gangguan bangkitan (AROUSAL)SEKSUAL Kelainan arousal(rangsangan )berupa ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan rangsanganseksual,tidak ada lubrikasi sehingga vagina kering. Gangguan orgasme Dapat berarti hambatan dalam mencapai orgasme atau hanya dapat mencapai orgasme dengan cara tertentu.Orgasme merupakan puncak dari respons seksual,oto-otot vagina dan uterus berkontraksi,juga otot rectum sehingga timbul rasa yang sangat menyenangkan. Gangguan yang menimbulkan rasa nyeri Nyeri yng terjadi dari dis pareunia(nyeri senggamavaginismus(kejang ototsekitar vagina yang menghalangi penetrasi penis).

Disfungsi seksual di sebabkan oleh faktor-faktor : Vaskular Hipertensi,kadar kolesterol tinggi,kencing manis,merokok dan penyakit jantung seringkali dihubungkan dengan disfungsi seksual baik pada wanita maupun pria. Neurologi Kelainan neurologi yang menyebabkan disfungsi reksi pada pria maupun wanita Psikogenik Pada wanita selain faktor kelainan organic,faktor emosi dan hubungan dengan pasangan juga memegang peranan penting dalam terjadinya disfungsi seksual,masalah harga diri,keadaan tubuh,serta kemampuan mengkomunikasikan kebutuhan seksual pada pasangan sangat berpengaruh. 8. Perbedaan homoseksual dan heteroseksual Homoseksual adalah interaksi seksual atau hubungan seksual antara individu yang satu dengan yang lainnya yang berkelamin sama. Biasanya istilah gay adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk pada pria homoseks. Sedangkan lesbian adalah istilah tertentu yang digunakan kepada wanita homoseks. Orientasi seksual yang ditandai dengan kesukaan seseorang dengan orang lain yang mempunyai kelamin sejenis secara biologis atau identitas gender yang sama. Perilaku seksual dengan seseorang dengan gender yang sama tidak peduli orientasi seksual atau identitas gender. Identitas seksual atau identifikasi diri yang mungkin dapat mengacu kepada perilaku homoseksual. Heteroseksual adalah hubungan seksual satu individu lain dengan jenis kelamin berbeda, seperti hubungan seks antara pria dan wanita, ini adalah

seksual yang banyak terdapat di masyarakat dan dianggap normal dibandingkan dengan orientasi seksual yang lain. Secara biologi, heteroseksual menjamin terjadinya pelestarian suatu spesies dengan memunculkan generasi berikutnya. 9. perbedaan transeksual dan transvestite 1) Transeksual Adalah orang yang identitas seksual atau jendernya berlawanan dengan seks biologisnya. Seorang pria mungkin berfikir tentang dirinya sebagai seorang wanita dalam tubuh pria, atau seorang wanita mungkin menggambarkan dirinya sebagai pria yang terperangkap dalam tubuh wanita. Perasaan terperangkap ini disebut juga dengan disforia jender. Transeksual merupakan bentuk prilaku seseorang yang tidak menginginkan jenis kelaminnya sehingga merelakan untuk dioperasi kelamin untuk memperoleh kepuasan seksualnya. Kelainan ini seudah dapat terprediksi mulai usia kanak-kanak, seperti kesukaannya bermain dengan lawan jenisnya sehingga sifat lawan jenisnya ada pada dirinya.

2) Transvestive Transvestite adalah istilah yang diberikan kepada seorang laki-laki heteroseksual yang menginginkan memakai pakaian perempuan. Tujuannya untuk membangkitkan rangsangan seksual dan kemudian dapat memperoleh kepuasan seksualnya. Kelainan ini merupakan gangguan psikoseksual.

10. kelainan- kelaianan seksual pada pria dan wanita yang muncul Sodomi adalah sodomi adalah hubungan sesks yang dilakukan melalui anus.Anus hampir dapat disamakan dengan lubang vagina karena memiliki rectum,yaitu bagian usus besar yang terletak dekat anus.Sodomi beresiko tinggi terhadap kesehatan karena anus merupakan tempat berkumpulnya bakteri. Necrophili adalah penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual jka berhubungan dengan mayat.Ia takut berhubungan dengan normal karena takut terjadi penolakan yang otomatis mempengaruhi psikologis dan aktifitas

sosialnya .Mayat di anggap objek seksual yang di anggap tidak akan dapat melawan atau menolak keinginannya dalam berhubungan seksual. Voyeurisme atau Scoptopphilia adalah kelainan seksual yang ada penderitanya memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain sedang telanjang,mandi,atau bahkan berhubungan seksual. Sadisme seksual adalah penderita akan memperoleh kepuasan seksualjika melakukan hubungan seksualdengan cara menyakiti atau menyiksa terlebih dahulu pasangannya. Exhibitionisme adalah Seseorang memperoleh kepuasan seksul dengan cara memperlihatkan penis secara sengaja kepada perempuan atau anak kecil yang menurutnya sesuai dengan keinginannya. Fetihisme adalah Fatishi berarti sesuatu yang dipuja-puja. Jadi fetihisme merupakan pemujaan yang ditujukan pada benda-benda mati atau bagian tubuh seseorang yang menjadi idolanya, sampai mendapatkan kepuasan seksual. Benda yang dapat digunakan mislnya BH, parfum, tas tangan, kaos kaki, bahkan suara. Zoolognia adalah Kelainan seksual dari seseorang yang memperoleh kepuasan seksual ketika melihat binatang sedang berhubungan seksual. Pedophilia adalah Kelainan seksual dengan memperoleh kepuasan seksual bila berhubungan seksual dengan anak kecil atau dibawah umur. Hyperseks adalah Seseorang yang selalu ingin melakukan hubungan sekssual sesering mungkin Triolisme adalah Seseorang dengan kelainan seksual, mendapat kepuasan seksual saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya dilihat orang lain. Atau dapat diartikn sebagai hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita dengan tiga laki-laki. Bestialita adalah Seseorang yang memperoleh kepuasan seksual melalui binatang/berhubungan seksual dengan binatang. Misalnya: kucing, anjing, kuda, babi,dll. 11. Jelaskan pengkajian fisik dan psikoseksual yang perlu dilakukan untuk mengkaji kesehatan seksual pada pasien! Jawab : a) Pengkajian fisik

Pemeriksaan fisik penting / perlu dilakukan karena pengkajian fisik merupakan langkah awal dalam proses keperawatan untuk memperoleh atau untuk mengumpulkan data dalam mengevaluasi penyebab kekuatiran mengenai operasi pengangkatan payudara pasien atau masalah seksual yang sedang dihadapi pasien. Teknik yang digunakan dalam kasus Ny. Dina ini yaitu inspeksi dan palpasi. Perawat mengkaji payudara dan genitalia internal dan eksternal klien. Perawat mempunyai kesempatan untuk mengkaji reaksi klien, menjawab pertanyaan klien, dan memberikan informasi tentang pemeriksaan atau struktur anatomis dan fisiologis. Klien wanita dapat belajar melakukan pemeriksaan payudara sendiri selama pengkajian fisik. b) Psikoseksual Tumbuh kembang Budaya Spiritual Sikap dan nilai yang dianut Lingkungan

Pengkajian psikoseksual merupakan pengulangan dari konsep diri seksual. Konsep diri dapat dikaji secara tidak langsung dan dapat dilihat pada: Cara berpenampilan. Gaya bicaranya. Pandangan tentang diri dan hubungan dengan orang lain.

12. Jelaskan pengertian, data yang mendukung, etiologi dan factor resiko dari masalah: a. Perubahan pola seksual Pengertian : Suatu keadaan individu yang mengungkapkan keluhan berkaitan dengan seksualitasnya . Data yang mendukung : Pasien mengatakan sudah 7 tahun menikah dan belum punya anak. Etiologi Kurang orang yang berarti Konflik dengan orientasi seksual atau pilihan seksual Takut terhadap kehamilan atau penyakit melalui seksual Kerusakan hubungan dengan orang yang berarti Peran model tidak ada atau tidak efektif

Kurang pengetahuan atau ketrampilan mengenai respons alternative terhadap kesehatan yang berubah, perubahan fungsi atau struktur tubuh, penyakit atau terapi medis

Kurang privasi

Faktor risiko Konflik dengan orientasi seksual atau kecenderungan yang berbeda beda. Ketakutan akan kehamilan atau terkena penyakit menular seksual. Kerusakan hubungan dengan oreng lain yang penting. Ketidakefektifan atau ketiadaan model peran.

`- Defisit pengetahuan/keterampilan tentang respon alternatif terhadap perubahan kondisi kesehatan, perubahan struktur atau fungsi tubuh, penyakit, atau kondisi medis - Kurangnya privasi. b. Disfungsi seksual Pengertian : perubahan fungsi seksual yang diperlihatkan dengan ketidak puasan, tidak dihargai dan tidak adekuat. Data yang mendukung : Perubahan minat pada diri dan orang lain. Konflik yang melibatkan nilai. Tidak mampu mencapai kepuasan. Mengungkapkan masalah. Perubahan hubungan dengan orang yang berharga. Perubahan dalam mencapai kepuasan seksual. Aktual atau batasan yang diterima karena sakit atau dalam terapi. Mencari konfirmasi untuk disukai. Perubahan dalam mencapai peran seks yang dapat diterima.

Etiologi : Perubahan struktur atau fungsi tubuh (misalnya kehamilan, kelahiran, obat-obatan, pembedahan, anomali, proses penyakit, trauma dan radiasi). Perubahan biopsikososial dari seksualitas ketidak efektifan. Kurang privasi.

Kurangnya pengetahuan. Kurangnya orang terdekat. Salah informasi . Penanganan medis. Penganiayaan fisik . Penganiayaan psikososial ( miaslnya hubungan yang menyakitkan ). Konflik nilai. Mudah terserang penyakit.

Factor resiko : Misinformasi atau kurang pengetahuan. Mudah terkena serangan. Konflik nilai. Kekerasan psikososial ( hubungan yang berbahaya ). Kekerasan yang mendukung. Kurang privasi. Peran model tidak ada atau tidak efektif. Perubahan struktur tubuh atau fungsi ( kehamilan, persalinan, obat, anomaly, pembedahan, proses penyakit, trauma, radiasi ). Kuarang orang yang berarti. Perubahan biopsikososial seksualitas.

13. Jelaskan perbedaan masing-masing masalah tersebut! Perubahan pola seksual adalah Suatu keadaan individu yang mengungkapkan keluhan berkaitan dengan seksualitasnya, Pasien mengatakan sudah 7 tahun menikah dan belum punya anak. Sedangkan Disfungsi seksual perubahan fungsi seksual yang diperlihatkan dengan ketidakpuasan, tidak dihargai dan tidak adekuat. aktivitas seksual 14. ASUHAN KEPERAWATAN Ny. Dina (35th) sudah menikah 7 tahun yang lalu dan belum mempunyai anak. Saat ini dirawat diruang bedah karena didiagnosis dokter menderita kanker payudara, dan harus dioperasi pengangkatan payudara supaya kanker tidak menyebar. Saat ini Ny Dina tampak murung dan sering menangis sendirian.

Bahkan ketika suaminya datang, pasien cenderung diam dan menangis terus sambil mengatakan saya bukan wanita yang utuh lagi. Data tambahan : Pasien mengatakan jika berhubungan suaminya tidak puas dengannya sehingga Ny. Dina sering menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim.

a. Pengelompokan data DO : - Pasien tampak murung Pasien sering menangis sendirian Pasien cenderung diam

DS : - Pasien mengatakan sudah menikah selama 7 tahun dan belum mempunyai anak Pasien mengatakan saya bukan wanita yang utuh lagi

b. Analisa data Data DO : - pasien tampak murung. -pasien sering menangis. -pasien cenderung diam - DS : - Pasien mengatakan sudah menikah selama 7 tahun dan belum mempunyai anak - Pasien mengatakan Saya bukan wanita yang utuh lagi. Problem Disfungsi seksual Etiologi Perubahan struktur tubuh atau fungsi

c. Diagnosa keperawatan Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh atau fungsi yang ditandai dengan pasien mengatakan sudah menikah selama 7 tahun dan belum mempunyai anak, Pasien mengatakan Saya bukan wanita yang utuh lagi, Pasien tampak murung, Pasien sering menangis sendirian, Pasien cenderung diam.

d. Intervensi Nama : Ny. Dina Umur : 35 tahun Ruang : Maria kamar 2 bed 2 Tgl/ja N Tujuan m o 8 mei 2011/ 07.30 Disfungsi seksualitas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam. Kriteria hasil : 1. Pasien secara bertahap dapat menerima keadaan dirinya saat ini. 3. Lakukan 2. Pasien tidak pendekatan pada terus menerus suami / keluarga murung 3. Pasien mampu mengungkapka 4. libatkan n masalahnya 4. TTV normal (Suhu 37,5 0 C,TD 120 / 80 mmHg, nadi 80 kali/menit). 5. kolaborasi dengan psikiatri seperti memberi bimbingan psikis 6.Berikan penjelasan 5. Agar lebih menerima keadaannya dirinya sekarang. pasien keluarga/suami dalam memberi support. pasien.

Intervensi

Rasional

Tt d

1. Monitor TTV setiap 4 jam. 2. Lakukan pendekatan menggunakan komunikasi terapeutik pada pasien dengan memberikan motivasi.

1. Untuk mengetahi kondisi pasien. 2.Agar kepercayaan diri bisa pasien tumbuh

kembali. 3.Untuk memperoleh data informasi yang tentang masalah yang sebenarnya dihadapi pasien. 4.Agar mersa diperhatikan. pasien akurat /

kepada pasien mengenai penyakit yang dideritanya sekarang ini. 6. Agar pasien mengetahui tentang penyakitnya

. e. Implementasi Tgl/ jam No. DP 8 mei 2011/0 6.00 1.Monitor TTV pasien setiap 4 jam. 2. Lakukan pendekatan menggunakan komunikasi terapeutik pada pasien dengan memberikan motivasi. 3. Lakukan pendekatan pada suami / keluarga pasien. 4. libatkan keluarga/suami dalam memberi support. 5. kolaborasi dengan psikiatri seperti memberi bimbingan psikis. 6. Berikan penjelasan kepada pasien mengenai penyakit yang dideritanya sekarang ini. 1. Pasien tidak menolak tindakan tersebut. 2.Pasien mengungkapkan masalah yang dirasakannya. 3.Keluarga memberikan informasi yang lengkap mengenai diri pasien. 4.Pasien tampak senang dan tidak murung lagi. 5.Pasien bisa menerima keadaan dirinya saat ini. 6.Pasien bisa menerima keadaannya saat ini. Tindakan Respon TTd

f. Evaluasi Tgl/jam Evaluasi Ttd

8 mei 2011/06.00 S:pasien mengatakan bisa menerima keadaan dirinya saat ini. O:pasien terlihat lebih tenang dan tidak menangis lagi. A:tujuan tecapai. P:tindakan dihentikan.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Jadi, kebtuhan seksual itu penting baik anak-anak hingga tua, karena kebutuhan seksualitas mengacu pada pertumbuhan dan perkembangan seorang indivu. Tetapi tetap harus berhati-hati terhadap pergaulan seks bebas karena dapat menimbulkan penyakit. Dan perlu adanya anticipatory guidance orang tua terhadap anaknya, agar tidak terjerumus dalam pergaulan seks bebas, oleh karena itu diperlukannya pendidikan seksualitas sejak dini agar mereka tau tentang definisi serta fungsi dan cara mencegah seks bebas.

DAFTAR PUSTAKA

Santosa, Budi. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Prima Medika Potter & perry. 2005. Fundamental Keperawatan Volume 1. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran, EGC Mubarak, Wahid Iqbal. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Gresik: EGC