Anda di halaman 1dari 106

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Trauma dada 1. Pengertian Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma dada adalah trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan tamponade jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothoraks,

hematompneumothoraks (FKUI, 1995). Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994).

Gambar 1 : Trauma dada 2. Etiologi Trauma dada dapat disebabkan oleh : a. Tension pneumothorak-trauma dada pada selang dada, penggunaan therapy ventilasi mekanik yang berlebihan, penggunaan balutan tekan pada luka dada tanpa pelonggaran balutan. b. Pneumothorak tertutup-tusukan pada paru oleh patahan tulang iga, ruptur oleh vesikel flaksid yang seterjadi sebagai sequele dari PPOM. Tusukan paru dengan prosedur invasif.

c. Kontusio paru-cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat. d. Pneumothorak terbuka akibat kekerasan (tikaman atau luka tembak) e. Fraktur tulang iga f. Tindakan medis (operasi) g. Pukulan daerah torak. 3. Klasifikasi Klasifikasi trauma toraks a. Trauma tembus (tajam)Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat penyebab trauma. Terutamaakibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau peluru. Sekitar 10-30% memerlukanoperasi torakotomi b.Trauma tumpulTidak terjadi diskontinuitas dinding toraks. Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas,terjatuh, olahraga, crush atau blast injuries. Kelainan tersering akibat trauma tumpul toraksadalah kontusio paru. Sekitar <10% yang memerlukan operasi torakotomi

4. Mekanisme trauma torak a. Trauma TumpulTiga jenis trauma tumpul yang menyebabkan trauma toraks adalah kompresi,robekan, dan ledakan. Trauma kompresi toraks seperti fraktur iga terjadi

tekanan yangmenumpu dada melebihi kekuatan rongga toraks. Area dinding dada yang paling lemahditemukan didaerah 60 dari sternum, dimana iga didaerah tersebut lebih datar dan kurang ditopang. Seringkali kompresi tulang iga akan mengalami fraktur di dua tempat;satu di daerah 60 dari sternum dan bagian posterior. Kompresi antero-posterior dapatpula menyebabkan gangguan

costochondral, yang menghasilkan suatu keadaan sterna flail.Robekan akan menyebabkan cedera jaringan dan vascular. Sebagai respon terhadappercepatan dan perlambatan, jaringan dan pergerakan vascular organ dibatasi olehgabungan anatomi dan perkembangannya. Oleh sebab itu, jika kekuatan regang darikeseluruhan jaringan terlampaui, maka dapat terjadi robekan atau ruptur. Kemampuanuntuk menahan regangan inilah yang bertanggung jawab atas satusatunya cedera toraksyang mematikan: transeksi aorta. Karena aorta difiksasi oleh ligamentum arteriosum danoleh tulang vertebra di bawahnya, maka penghubung yang membuat aorta dapat lebihmobile dan statisnya aorta desenden menjadi lokasi tersering yang mengalami gangguan.Robekan yang terjadi di dalam parenkim paru dapat berupa laserasi, hematoma, kontusio,atau pneumatocele.4 Cedera ledakan paru primer terjadi ketika tekanan gelombang yangmeghantam dinding dada dan menciptakan suatu perbedaan tekanan antara udarajaringansekitarnya. Semakin besarnya perbedaan tekanan, maka akan semakin besarnya kekuatantekanan yang akan ditransmisikan ke paru paru. Berat ringannya cedera\ paru adalahbergantung jarak jauh dekatnya korban dari sumber ledakan.5 Ledakan dalam ruangtertutup lebih parah, karena tekanan gelombang dipantulkan kembali ke pasien, yang malahmemperhebat stimulus aslinya. Karakteristik patologi dari cedera ledakan pada paru adalahsuatu kontosio dengan adema dan perdarahan alveoli.Cedera ledakan sekunderdihasilkan dari beberapa objek yang berhamburan akibat ledakan hebat, yang kemudianmengenai pasien. cedera tersier disebabkan oleh individu yang sedang dipindahkan. Cederayang berhubungan dengan luka bakar, agen yang terinhalasi, dan yang

berhubungandengan tergencet bangunan yang kolaps secara sekunder b.Trauma Tembus Mekanisme cedera dapat dikategorikan sebagai berikut yang kecepatan rendah,sedang, dan tinggi. Kecepatan rendah termasuk penusukan
3

(misalnya, luka tusuk karenapisau), yang hanya mengenai struktur jaringan sekitar yang ditusuk. Kecepatan sedang,seperti luka tembus karena peluru dari sebagian besar jenis pistol dan senapan angin yangmana ditandai dengan gambaran dekstruksi jaringan yang lebih ringan jika dibandingkancedera karena kecepatan tinggi. Cedera akibat kecepatan tinggi yaitu seperti cedera yangdiakibatkan oleh rifle dan dari senjata api militer.

5. Prognosis penyakit a. Open Pneumothorak Timbul karena trauma tajam, ada hubungan dengan rongga pleura sehingga paru menjadi kuncup. Seringkali terlihat sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi ( sucking chest wound ). Apabila luban ini lebih besar dari pada 2/3 diameter trachea, maka pada inspirasi udara lebih mudah melewati lubang dada dibandingkan melewati mulut sehingga terjadi sesak nafas yang hebat b. Tension Pneumothorak Adanya udara didalam cavum pleura mengakibatkan tension pneumothorak. Apabila ada mekanisme ventil karena lubang pada paru maka udara akan semakin banyak pada sisi rongga pleura, sehingga mengakibatkan : Paru sebelahnya akan terekan dengan akibat sesak yang berat Mediastinum akan terdorong dengan akibat timbul syok Pada perkusi terdengar hipersonor pada daerah yang cedera, sedangkan pada auskultasi bunyi vesikuler menurun. c. Hematothorak masif Pada keadaan ini terjadi perdarahan hebat dalam rongga dada. Ada perkusi terdengar redup, sedang vesikuler menurun pada auskultasi. d. Flail Chest Tulang iga patah pada 2 tempat pada lebih dari 2 iga sehingga ada satu segmen dinding dada yang tidak ikut pada pernafasan. Pada ekspirasi segmen akan menonjol keluar, pada inspirasi justru masuk kedalam yang dikenal dengan pernafasan paradoksal.
4

6. Patofisiologi Rongga dada terdiri dari sternum, 12 verebra torakal, 10 pasang iga yang berakhir di anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang iga yang melayang. Di dalam rongga dada terdapat paru-paru yang berfungsi dalam sistem pernafasan. Apabila rongga dada mengalami kelainan, maka akan terjadi masalah paru-paru dan akan berpengaruh juga bagi sistem pernafasan. Akibat trauma dada disebabkan karena: Tension pneumothorak cedera pada paru memungkinkan masuknya udara (tetapi tidak keluar) ke dalam rongga pleura, tekanan meningkat, menyebabkan pergeseran mediastinum dan kompresi paru kontralateral demikian juga penurunan aliran baik venosa mengakibatkan kolapnya paru. Pneumothorak tertutup dikarenakan adanya tusukan pada paru seperti patahan tulang iga dan tusukan paru akibat prosedur infasif penyebabkan terjadinya perdarahan pada rongga pleural meningkat mengakibatkan paru-paru akan menjadi kolaps. Kontusio pasru mengakibatkan tekanan pada rongga dada akibatnya paru-paru tidak dapat mengembang dengan sempurna dan ventilasi menjadi terhambat akibat terjadinya sesak nafas. Sianosis dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi syok. 7. Manifestasi klinis Tanda dan gejala yang sering muncul pada penderita trauma dada; a. Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi. b.Pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi. c. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek. d.Dyspnea, takipnea e. Takikardi f. Tekanan darah menurun. g.Gelisah dan agitasi h.Kemungkinan cyanosis. i. Batuk mengeluarkan sputum bercak darah. j. Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.

8. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan diagnostik a. Radiologi : foto thorax (AP). b. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun. c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa. d.Hemoglobin : mungkin menurun. e. Pa Co2 kadang-kadang menurun. Rentang nilai normal : 35 45 mmHg Asidosis respiratorik : >45 mmHg (pH turun)

Alkalosis respiratorik : <35 mmHg (pH naik) PaCO2 adalah tekanan partial yang ditimbulkan oleh CO2 yang terlarut. PaCO2 ini merupakan parameter untuk mengetahui fungsi respirasi dan menentukan cukup tidaknya ventilasi alveolar. Bila PaCO2 rendah menunjukkan adanya hyperventilasi karena rangsangan pernafasan dan bila PaCO2 tinggi (hypoventilasi) menunjukkan adanya kegagalan ventilasi alveolis. Pada PaCO2 rendah konsentrasi ion H+ akan rendah dan PH meningkat, sedangkan bila terjadi peningkatan PaCO2 konsentrasi ion H+ akan mengingat dan PH menjadi rendah f. Pa O2 normal / menurun. (Nilai normal 80-100 mmHg, nilai tidak normal Rentang nilai normal : 80 100 mmHg Hipoksemia ringan Hipoksemia sedang Hipoksemia berat : 70 80 mmHg : 60 70 mmHg : <60 mmHg

PaO2 adalah tekanan yang ditimbulkan oleh oksigen yang terlarut dalam darah. PaO2 akan memberikan petunjuk cukup tidaknya oksigenisasi darah arteri g.Saturasi O2 menurun (biasanya). Rentang nilai normal : 93% 98% Bila nilai SaO2 >80% sudah dapat dipastikan bahwa darah diambil dari arteri, kecuali pada gagal napas

Derajat kejenuhan Hb dengan oksigen. Sat O2 sangat membantu untuk menghitung kandungan oksigen dalam darah. h.Oraksentesis : menyatakan darah/cairan, 9. Penatalaksanaan a. Konservatif

Monitoring terhadap tanda-tanda distress napas berupa peningkatan frekuensi napas >25 kali permenit dengan tidal volume kurang dari 4 ml/kg.

Dalam 24 jam pertama dilakukan pemeriksaan foto toraks serial per enam jam untuk mengetahui secara dini terjadinya pneumotoraks, hematotoraks, kontusio paru atau fraktur costa.

Pada kasus dengan pneumotoraks dan atau hematotoraks dilakukan pemasangan chest tube yang disambungkan ke WSD.

Dianjurkan dengan sistem continuous suction unit. Pada pneumotoraks terbuka (open pneumothorax) dipasang plester 3 sisi agar udara tidak bisa inspirasi masuk rongga pleura tapi udara tekanan tinggi bisa keluar sehingga tension pneumothorax tidak terjadi.

Pada tension pneumotoraks dilakukan penusukan langsung menggunakan trokar atau jarum suntik terbesar yang ada diatas iga pada ICS 2 midclavicular line sisi yang terkena. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan chest tube setinggi puting susu pada anterior midaxillaris sisi yang terkena.

Pada kasus dengan kontusio paru, perawatan dengan mempertahankan oksigenisasi yang baik, menjaga kebersihan paru yang adekuat, pemberian cairan kristaloid yang sesuai kebutuhan. Pada pasien yang tidak berespon dilakukan intubasi dan pemasangan ventilasi mekanik.

b. Operatif/invasif Pamasangan Water Seal Drainage (WSD). Pemasangan alat bantu nafas. Pemasangan drain. Aspirasi (thoracosintesis). Operasi (bedah thoraxis)

Tindakan untuk menstabilkan dada : o Miring pasien pada daerah yang terkena. o Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif, didasarkan pada kriteria sebagai berikut: o Gejala contusio paru o Syok atau cedera kepala berat. o Fraktur delapan atau lebih tulang iga. o Umur diatas 65 tahun. o Riwayat penyakit paru-paru kronis. Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension Pneumothorak mengancam. Oksigen tambahan. 10. Konsep WSD a. Pengertian WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah, pus) dari rongga pleura dengan menggunakan pipa penghubung. b. Tujuan - Mengalirkan/drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk

mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut. - Mengembangkan kembali paru yang kolaps - Memasukkan obat ke dalam rongga pleura.

c. Perubahan Tekanan Rongga Pleura Tekanan Atmosfir Intrapulmoner Intrapleural Istirahat 760 760 756 Inspirasi 760 757 750 Ekspirasi 760 763 756

d. Indikasi Pemasangan WSD - Hematotoraks - Efusi pleura dengan keganasan

- Pneumotoraks lebih dari 20 % - Hidropneumothoraks - Empiema

e. Kontra Indikasi Pemasangan WSD - Hematothoraks masif yang belum mendapat penggantian cairan/darah - Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol - Perlekatan pleura yang luas.

f. Tempat Pemasangan WSD

Bagian Apex paru Yaitu pada anterolateral intercosta 1-2 yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura.

Bagian Basal Yaitu pada posterolateral intercosta ke 8-9 yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura.

a. Jenis-jenis WSD a) WSD dengan sistem satu botol Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam dua cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi. Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan. b) WSD dengan sistem dua botol Digunakan dua botol, satu botol mengumpulkan cairan drainage dan botol kedua sebagai water seal. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan
9

dengan selang di botol 2 yang berisi water seal. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2. Prinsip kerjasama dengan sistem satu botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD. Bisasanya digunakan untuk mengatasi hemotothoraks, hemopneumothoraks dan efusi peura. c) WSD dengan sistem tiga botol Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan. Botol ke3 mempunyai 3 selang yaitu tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua, tube pendek lain dihubungkan dengan suction dan tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer.

b. Komplikasi Pemasangan WSD - Laserasi, mencederai organ (hepar, lien) - Perdarahan - Empisema Subkutis - Tube terlepas - Infeksi - Tube tersumbat

c. Persiapan Pemasangan WSD a) Pengkajian - Memeriksa kembali instruksi dokte - Mencek inform consent - Mengkaji tanda-tanda vital dan status pernapasan pasien. b) Persiapan Pasien - Siapkan pasien
10

- Memberi penjelasan kepada pasien meliputi : Tujuan tindakan Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD, posisi klien dapat duduk atau berbaring Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam dan distraksi Foto thoraks posterior-anterior dan lateral paru.

c) Persiapan alat dan bahan meliputi : - Trokar/toraks drain dengan nomor yang disesuaikan dengan bahan yang akan dialirkan, untuk udara nomor 18-20 dan untuk pus nomor 22-24. - Kasa steril - Plester - Alkohol 70% dan bethadin 10% - Spuit 5 cc sebanyak 2 buah - Lidocain solusio injeksi untuk anestesi local sebanyak 5 ampul - Botol WSD - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Duk steril

d) Prosedur Tindakan - Posisi pasien dengan sisi yang sakit menghadap ke arah dokter dengan

disandarkan pada kemiringan 30o-60o, tangan sisi paru yang sakit diangkat ke atas kepala - Lakukan tindakan antiseptic menggunakan bethadin 10% dilanjutkan dengan menggunakan alkohol 70% dengan gerakan berputar ke arah luar, pasang duk steril dengan lubang tempat di mana akan dilakukan insersi kateter - Lakukan anestesi lokal lapis demi lapis dari kulit hingga pleura parietalais menggunakan lidocain solusio injeksi, jangan lupa melakukan aspirasi sebelum mengeluarkan obat pada setiap lapisan. Anestesi dilakukan pada

11

daerah yang akan di pasang WSD atau pada intercostalis 4-5 anterior dari mid axillary line - Langsung lakukan punksi percobaan menggunakan spuit anestesi tersebut - Lakukan sayatan pada kulit memanjang sejajar intercostalis lebih kurang 1 cm lalu buka secara tumpul sampai ke pleura - Disiapkan jahitan matras mengelilingi kateter - Satu tangan mendorong trokar dan tangan lainnya memfiksir trokar untuk membatasi masuknya alat ke dalam rongga pleura. Setelah trokar masuk ke dalam rongga pleura, stilet dicabut dan lubang trokar di tutup dengan ibu jari. Kateter yang sudah diklem pada ujung distalnya di insersi secara cepat melelui trokar ke dalam rongga pleura. Kateter diarahkan ke anteroapikal pada pneumothoraks dan posterobasal pada cairan pleura/empiema. Trokar dilepas pada dinding dada. Kateter bagian distal dilepas dan trokar dikeluarkan - Setelah trokar ditarik, hubungkan kateter dengan selang dan masukkan ujung selang ke dalam botol WSD yang telah diberi larutan bethadin yang telah diencerkan dengan NaCl 0,9% dan pastikan ujung selang terendam sepanjang dua cm - Perhatikan adanya undulasi pada selang penghubung dan terdapat cairan, darah dan pus yang dialirkan atau gelembung udara pada botol WSD. - Fiksasi kateter dengan jahitan tabbac sac, lalu tutup dengan kasa steril yang telah di beri bethadin dan fiksasi ke dinding dada dengan plester. (Standar Diagnosis & Terapi Gawat Darurat, 2007: 70-72)

d. Pedoman pencabutan a) Kriteria pencabutan : - Sekrit serous, tidak hemoraged - Dewasa : jumlah kurang dari 100cc/24jam - Anak anak : jumlah kurang 25-50cc/24jam - Paru mengembang dengan tanda : Auskultasi suara napas vesikuler kiri dan kanan
12

Perkusi bunyi sonor kiri dan kanan Fibrasi simetris kiri dan kanan Foto toraks paru yang sakit sudah mengembang b) Kondisi : - Pada trauma Hemato/pneumothorak yang sudah memenuhi kedua kriteria, dicabut dengan cara air-tight (kedap udara). - Pada thoracotomi Infeksi : klem dahulu 24 jam untuk mencegah resufflasi, bila baik cabut - Post operatif : bila memenuhi kedua kriteria, langsug di cabut (air-tight) - Post pneumonektomi : hari ketiga bila mediastinum stabil (tak perlu airtight). c) Alternatif - Paru tetap kolaps, hisap sampai 25 cmH20 - Bila kedua krieria dipenuhi, klem dahulu 24 jam, tetap baik lakukan pencabutan. - Bila tidak berhasil, tunggu sampai dua minggu, lakukan dekortikasi - Sekret lebih dari 200cc/24jam : curiga adanya Chylo toraks (pastikan dengan pemeriksaan laboratorium), pertahankan sampai dengan empat minggu, bila tidak berhasil dilakukan toracotomi - Bila sekret kurang dari 100cc/24jam, klem, kemudian dicabut. e. Konsep Perawatan WSD a) Persiapan Alat : - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Botol WSD berisi larutan bethadin yang telah diencerkan 0,9% dan ujung selang terendam sepanjang dua cm. - Kasa steril dalam tromol - Korentang - Plester dan gunting - Nierbekken/kantong balutan kotor - Alkohol 70%
13

langsung

dengan NaCl

- Bethadin 10% - Handscoon steril b) Persiapan Pasien dan Lingkungan - Pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan - Memasang sampiran disekeliling tempat tidur - Membebaskan pakaian pasien bagian atas - Mengatur posisi setengah duduk atau sesuai kemampuan pasien - Alat-alat didekatkan ke tempat tidur pasien. c) Pelaksanaan Perawatan WSD - Perawat mencuci tangan, kemudian memasang handscoon - Membuka set bedah minor steril - Membuka balutan dengan menggunakan pinset secara hati-hati, kotor dimasukkan ke dalam nierbekken - Mendisinfeksi luka dan selang dengan kasa alkohol 70% kemudian dengan bethadin 10% - Menutup luka dengan kasa steril yang sudah dipotong tengahnya kemudian diplester - Selang WSD diklem - Melepaskan sambungan antara selang WSD dengan selang botol - Ujung selang WSD dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian selang WSD dihubungkan dengan selang penyambung botol WSD yang baru - Klem selang WSD dibuka - Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan bimbing pasien cara batuk efektif - Latih dan anjurkan pasien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD - Merapikan pakaian pasien dan lingkungannya, kemudian membantu pasien dalam posisi yang paling nyaman - Membersihkan alat-alat dan botol WSD yang kotor, kemudian di sterilisasi kembali
14

balutan

- Membuka handscoon dan mencuci tangan - Menulis prosedur yang telah dilakukan pada catatan perawatan. d) Evaluasi Pelaksanaan Perawatan WSD Evaluasi pelaksanaan perawatan WSD meliputi : - Evaluasi keadaan umum : Observasi keluhan pasien Observasi gejala sianosis Observasi tanda perdarahan dan rasa tertekan pada dada Observasi apakah ada krepitasi pada kulit sekitar selang WSD Observasi tanda-tanda vital. - Evaluasi ekspansi paru meliputi : Melakukan pemeriksaan Inspeksi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Palpasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Perkusi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Auskultasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Foto thoraks setelah dilakukan pemasangan selang WSD dan sebelum selang WSD di lepas. - Evaluasi WSD meliputi : Observasi undulasi pada selang WSD Observasi fungsi suction countinous Observasi apakah selang WSD tersumbat atau terlipat Catat jumlah cairan yang keluar dari botol WSD Pertahankan ujung selang dalam botol WSD agar selalu berada 2 cm di bawah air Pertahankan agar botol WSD selalu lebih rendah dari tubuh

15

Ganti botol WSD setiap hari atau bila sudah penuh. (Pedoman Keterampilan Praktik Klinik Keperawatan. 2005: 49-50).

11. Komplikasi f. Surgical Emfisema Subcutis Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada, paru. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi. g.Cedera Vaskuler Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada jantung. h.Pneumothorak Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan paru sisi lain. i. Pleura Effusion Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok. Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda tanda : a) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa terjadi dypsnea. b) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas. c) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang. d) Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal).

16

j. Plail Chest Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut. Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan) k.Hemopneumothorak Yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura.

17

12. ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA DADA 1) Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).

Pemeriksaan Sistem a) B1 (Breathing) : DS : Kliens mengatakan sesak napas, terutama saat inspirasi DO : - Terdapat retraksi klavikula/dada. - Pengambangan paru tidak simetris. - Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. - Adanya suara sonor/hipersonor/timpani. - Bising napas yang berkurang/menghilang. - Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas. - Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. - Gerakan dada tidak sama waktu bernapas. b) B2 (Blood) : DS : Klien mengatakan lelah, lesuh DO : - Takhikardia, lemah - Pucat, Hb turun /normal. - Hipotensi. c) B3 (Brain) : DS : Klien mengatakan kepalanya sering sakit, nyeri pada bagian trauma. DO : - Klien terlihat, binggung, ansietas dan gelisah - Klien tampak meringgis - Skala nyeri 4. - Klien sering pingsan.

18

d) B3 (Bradder) Tidak ada kelainan. e) B4 ( Bowel) DS : Klien mengatakan sering haus dan nafsu makan menurun. DO : - Peningkatan metabolisme - penurunan nafsu makan - kembung dan haus.

f) B6 (Bone) DS : DO : - Kemampuan sendi terbatas. - Ada luka bekas tusukan benda tajam. - Terdapat kelemahan. - Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

2) Diagnosa yang mungkin muncul pada trauma dada a. Gangguan Perfusi Jaringan berhubungan dengan Hipoksia, tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke jaringan b. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidakmaksimal karena trauma, hipoventilasi c. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. d. Perubahan kenyamanan : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. e. Resiko terjadinya syok Hipovolemia berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.

19

g. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. h. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma i. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi tentang penyakit, Tindakan invasive ditandai dengan anxietas. Dongoes, Marylin E. 2000.

3) Intervensi
Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional

Gangguan

Perfusi

Setelah

diberikan

asuhan

- Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaa n individu/peny ebab

- Deteksi dini untuk memprioritaska n intervensi, mengkaji status neurologi/tandatanda kegagalan untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan - Menganalisa tingkat kesadaran - Memberikan informasi tentang derajat/keadeku atan perfusi jaringan dan membantu

Jaringan berhubungan dengan Hipoksia, tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke jaringan

keperawatan selama (x..) jam diharapkan

dapatmempertahankan perfusi jaringan dengan KH :

a. Tanda-tanda

vital

penurunan perfusi jaringan - Monitor GCS dan mencatatnya - Monitor keadaan umum pasien - Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi - Kolaborasi pengawasan hasil

dalam batas normal b. Kesadaran Meningkat c. menunjukkan perfusi adekuat

20

pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/pack ed produk darah sesuai indikasi

menentukan keb. intervensi. - Memaksimalka n transport oksigen ke jaringan - Mengidentifika si defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi

Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan ekpansi paru dengan yang

Setelah

diberikan

asuhan

- Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. - Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. - Jelaskan pada klien bahwa

- Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. - Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. - Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi

keperawatan jam

selama(x) diharapkan

dapatmempertahanjalannafasp asiendengan KH : a. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. b. Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive. c. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

tidakmaksimal karena trauma, hipoventilasi

21

tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. - Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. - Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 2 jam

ansietas dan mengembangka n kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. - Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasika n sebagai ketakutan/ansiet as. - Mempertahanka n tekanannegatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/draina se cairan

Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan peningkatan dengan sekresi

Setelah

diberikan

asuhan - Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret sekret di saluran

- Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangka n kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik - Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan

keperawatan selama (x) jam diharapkanjalannafaspasien normal dengan KH : a. Menunjukkan batuk yang efektif. b. Tidak ada lagi penumpukan di sal. Pernapasan c. Klien tampak

sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Pernapasa - Ajarkan klien

22

nyaman.

tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. - Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. - Dorong atau berikanperaw atan mulut yang baik setelah batuk - Kolaborasi dengan tim kesehatan lain Pemberian antibiotika atau expectorant

tidak efektif, menyebabkan frustasi - Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien - Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. - Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya

23

B. Flail Chest 1. Pengertian Flail chest adalah keadaan dimana beberapa atau hampir semua kostae patah, biasanya di sisi kanan kiri dada yang menyebabkan pelepasan bagian depan dada sehingga tidak bisa lagi menahan tekanan negative waktu inspirasi dan malahan bergerak kedalam waktu inspirasi.(Northrup,Robert S.1989). Flail chest adalah suatu keadaan apabila dua iga berdekatan atau lebuh mengalami fraktur pada dua tempat atau lebih. Bila fraktur terjadi pada dua sisi maka stabilitas dinding dada lebih besar dan kurang mengancam ventilasi daripada bila terjadi pada satu sisi.(Baswick,John A.1988)

Gambar 2 : Flail chest (gambaran toraks yang mengalami flail chest Adalah area toraks yang melayang (flail ) oleh sebab adanya fraktur iga multipel berturutan 3 iga, dan memiliki garis fraktur 2 (segmented ) pada tiap iganya. Akibatnya adalah: terbentuk area flail yang akan bergerak paradoksal (kebalikan) dari gerakan mekanik pernapasan dinding dada. Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada ekspirasi.

2. Etiologi Flail chest merupakan salah satu dari bentuk trauma toraks. Penyebab dari trauma thoraks adalah kecelakan tabrakan mobil atau terjatuh dari sepeda motor. Pasien

24

mungkin tidak segera mencari bantuan medis, yang selanjutnya dapat mempersulit masalah (Brunner & Suddarth, 2002).

3. Patofisiologi Flail chest, adanya pertahanan pada dua segmen koste atau lebih akan mengganggu keseimbangan dalam pernafasan. Bila segmen thorak mengembang bebas, maka akan terdorong bebas ke dalam oleh tekanan atmosfer biasa yang mengurangi kemampuan paru untuk berekspansi pada saat inspirasi. Akibatnya oksigen yang masuk dalam paru akan mengalami penurunan, jika hal ini terjadi, selanjutnya peredaran oksigen dalam darah akan menurun, pada saat ekspirasi, tekanan paru yang meningkat akan mendorong udara keluar paru, tapi segmen hasil yang telah kehilangan integrasinya akan menonjol keluar sehingga kesanggupan sangkar toraks mendorong udara keluar dari paru akan berkurang. Hal ini juga disebabkan karena sebagian karbondioksida pada paru yang tidak mengalami trauma, masuk kedalam paru yang menonjol pada daerah flail chest.Karbondioksidapun terakumulasi pada bagian yang fraktur dan volume udara ekspirasi berkurang.Terakumulasinya karbondioksida pada paru mengakibatkan suatu keadaan asidosis respiratori. Pada pasien flail chest,pada saat inspirasi, paru-paru akan menggencet jantung, membatasi pompa hjantung sehingga CO menurun dan aliran darah ke seluruh tubuh menjad berkurang.

4. Manifestasi klinis e) Awalnya mungkin tidak terlihat, karena splinting (terbelat) dengan dinding dada. f) Gerakan paradoksal segmen yang mengambang saat inspirasi ke dalam, ekspirasike luar. Gerakan ini tidak terlihat pada pasien dengan ventilator.

25

Gambar 2 : Tanda dan gejala flail chest

g) Sesak nafas h) Krepitasi iga, fraktur tulang rawan i) Takikardi j) Sianosis k) Os menunjukkan trauma hebat l) Biasanya selalu disertai trauma pada organ lain (kepala, abdomen, ekstremitas).

Biasanya karena ada pembengkakan jaringan lunak di sekitar dan terbatasnya gerak pengembangan dinding dada, deformitas, dan gerakan paradoksal flail chest yang ada akan tertutupi. Pada mulanya, penderita mampu mengadakan kompensasi terhadap pengurangan cadangan respirasinya. Namun bila terjadi penimbunan secretsekret dan penurunan daya pengembangan paru-paru akan terjadi anoksia berat, hiperkapnea, dan akhirnya kolaps. 5. Pemeriksaan penunjang a. Radiologi : X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral) b.Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun. c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa. d.Hemoglobin : mungkin menurun.
26

e. Pa Co2 kadang-kadang menurun. Dalam keadaan hipoventilasi, udara pernafasan yang segar tidak dapat dengan bebas keluar masuk ke dalam alveoli, akibatnya PaO2 dan PaCO2 menurun f. Pa O2 normal / menurun. g.Saturasi O2 menurun (biasanya). h.Toraksentesis : menyatakan darah/cairan. i. Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi. j. Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit. k.Pada keadaan pneumothoraks dipertimbangkan thorakotomi. l. Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi yang residif lebih dari dua kali harus

6. Penatalaksanaan Sebaiknya pasien dirawat intensif bila ada indikasi atau tanda-tanda kegagalan pernapasan atau karena ancaman gagal napas yang biasanya dibuktikan melalui pemeriksaan AGD berkala dan takipneu pain control. Stabilisasi area flail chest (memasukkan ke ventilator, fiksasi internal melalui operasi) bronchial toilet fisioterapi agresif tindakan bronkoskopi untuk bronchial toilet. Tindakan stabilisasi yang bersifat sementara terhadap dinding dada akan sangat menolong penderita, yaitu dengan menggunakan towl-clip traction atau dengan menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah dengan pembedahan. Takipnea, hipoksia, dan hiperkarbia merupakan indikasi untuk intubasi endotrakeal dan ventilasi dgn tekanan positif.

27

7. Konsep WSD a. Pengertian WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah, pus) dari rongga pleura dengan menggunakan pipa penghubung. b. Tujuan - Mengalirkan/drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk

mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut. - Mengembangkan kembali paru yang kolaps - Memasukkan obat ke dalam rongga pleura.

c. Perubahan Tekanan Rongga Pleura Tekanan Atmosfir Intrapulmoner Intrapleural Istirahat 760 760 756 Inspirasi 760 757 750 Ekspirasi 760 763 756

d. Indikasi Pemasangan WSD - Hematotoraks - Efusi pleura dengan keganasan - Pneumotoraks lebih dari 20 % - Hidropneumothoraks - Empiema e. Kontra Indikasi Pemasangan WSD - Hematothoraks masif yang belum mendapat penggantian cairan/darah - Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol - Perlekatan pleura yang luas. f. Tempat Pemasangan WSD

Bagian Apex paru Yaitu pada anterolateral intercosta 1-2 yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura.

28

Bagian Basal Yaitu pada posterolateral intercosta ke 8-9 yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura.

l. Jenis-jenis WSD d) WSD dengan sistem satu botol Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam dua cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi. Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan.

e) WSD dengan sistem dua botol Digunakan dua botol, satu botol mengumpulkan cairan drainage dan botol kedua sebagai water seal. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2. Prinsip kerjasama dengan sistem satu botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD. Bisasanya digunakan untuk mengatasi hemotothoraks, hemopneumothoraks dan efusi peura. f) WSD dengan sistem tiga botol Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan. Botol ke29

3 mempunyai 3 selang yaitu tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua, tube pendek lain dihubungkan dengan suction dan tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer.

m. Komplikasi Pemasangan WSD - Laserasi, mencederai organ (hepar, lien) - Perdarahan - Empisema Subkutis - Tube terlepas - Infeksi - Tube tersumbat

n. Persiapan Pemasangan WSD a) Pengkajian - Memeriksa kembali instruksi dokte - Mencek inform consent - Mengkaji tanda-tanda vital dan status pernapasan pasien. b) Persiapan Pasien - Siapkan pasien - Memberi penjelasan kepada pasien meliputi : Tujuan tindakan Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD, posisi klien dapat duduk atau berbaring Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam dan distraksi Foto thoraks posterior-anterior dan lateral paru.

c) Persiapan alat dan bahan meliputi : - Trokar/toraks drain dengan nomor yang disesuaikan dengan bahan yang akan dialirkan, untuk udara nomor 18-20 dan untuk pus nomor 22-24. - Kasa steril
30

- Plester - Alkohol 70% dan bethadin 10% - Spuit 5 cc sebanyak 2 buah - Lidocain solusio injeksi untuk anestesi local sebanyak 5 ampul - Botol WSD - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Duk steril

d) Prosedur Tindakan - Posisi pasien dengan sisi yang sakit menghadap ke arah dokter dengan

disandarkan pada kemiringan 30o-60o, tangan sisi paru yang sakit diangkat ke atas kepala - Lakukan tindakan antiseptic menggunakan bethadin 10% dilanjutkan dengan menggunakan alkohol 70% dengan gerakan berputar ke arah luar, pasang duk steril dengan lubang tempat di mana akan dilakukan insersi kateter - Lakukan anestesi lokal lapis demi lapis dari kulit hingga pleura parietalais menggunakan lidocain solusio injeksi, jangan lupa melakukan aspirasi sebelum mengeluarkan obat pada setiap lapisan. Anestesi dilakukan pada daerah yang akan di pasang WSD atau pada intercostalis 4-5 anterior dari mid axillary line - Langsung lakukan punksi percobaan menggunakan spuit anestesi tersebut - Lakukan sayatan pada kulit memanjang sejajar intercostalis lebih kurang 1 cm lalu buka secara tumpul sampai ke pleura - Disiapkan jahitan matras mengelilingi kateter - Satu tangan mendorong trokar dan tangan lainnya memfiksir trokar untuk membatasi masuknya alat ke dalam rongga pleura. Setelah trokar masuk ke dalam rongga pleura, stilet dicabut dan lubang trokar di tutup dengan ibu jari. Kateter yang sudah diklem pada ujung distalnya di insersi secara cepat melelui trokar ke dalam rongga pleura. Kateter diarahkan ke anteroapikal pada pneumothoraks dan posterobasal pada cairan pleura/empiema. Trokar

31

dilepas pada dinding dada. Kateter bagian distal dilepas dan trokar dikeluarkan - Setelah trokar ditarik, hubungkan kateter dengan selang dan masukkan ujung selang ke dalam botol WSD yang telah diberi larutan bethadin yang telah diencerkan dengan NaCl 0,9% dan pastikan ujung selang terendam sepanjang dua cm - Perhatikan adanya undulasi pada selang penghubung dan terdapat cairan, darah dan pus yang dialirkan atau gelembung udara pada botol WSD. - Fiksasi kateter dengan jahitan tabbac sac, lalu tutup dengan kasa steril yang telah di beri bethadin dan fiksasi ke dinding dada dengan plester. (Standar Diagnosis & Terapi Gawat Darurat, 2007: 70-72)

o. Pedoman pencabutan a) Kriteria pencabutan : - Sekrit serous, tidak hemoraged - Dewasa : jumlah kurang dari 100cc/24jam - Anak anak : jumlah kurang 25-50cc/24jam - Paru mengembang dengan tanda : Auskultasi suara napas vesikuler kiri dan kanan Perkusi bunyi sonor kiri dan kanan Fibrasi simetris kiri dan kanan Foto toraks paru yang sakit sudah mengembang b) Kondisi : - Pada trauma Hemato/pneumothorak yang sudah memenuhi kedua kriteria, dicabut dengan cara air-tight (kedap udara). - Pada thoracotomi Infeksi : klem dahulu 24 jam untuk mencegah resufflasi, bila baik cabut - Post operatif : bila memenuhi kedua kriteria, langsug di cabut (air-tight) - Post pneumonektomi : hari ketiga bila mediastinum stabil (tak perlu airtight).
32

langsung

c) Alternatif - Paru tetap kolaps, hisap sampai 25 cmH20 - Bila kedua krieria dipenuhi, klem dahulu 24 jam, tetap baik lakukan pencabutan. - Bila tidak berhasil, tunggu sampai dua minggu, lakukan dekortikasi - Sekret lebih dari 200cc/24jam : curiga adanya Chylo toraks (pastikan dengan pemeriksaan laboratorium), pertahankan sampai dengan empat minggu, bila tidak berhasil dilakukan toracotomi - Bila sekret kurang dari 100cc/24jam, klem, kemudian dicabut. p. Konsep Perawatan WSD a) Persiapan Alat : - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Botol WSD berisi larutan bethadin yang telah diencerkan 0,9% dan ujung selang terendam sepanjang dua cm. - Kasa steril dalam tromol - Korentang - Plester dan gunting - Nierbekken/kantong balutan kotor - Alkohol 70% - Bethadin 10% - Handscoon steril b) Persiapan Pasien dan Lingkungan - Pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan - Memasang sampiran disekeliling tempat tidur - Membebaskan pakaian pasien bagian atas - Mengatur posisi setengah duduk atau sesuai kemampuan pasien - Alat-alat didekatkan ke tempat tidur pasien. c) Pelaksanaan Perawatan WSD - Perawat mencuci tangan, kemudian memasang handscoon - Membuka set bedah minor steril
33

dengan NaCl

- Membuka balutan dengan menggunakan pinset secara hati-hati, kotor dimasukkan ke dalam nierbekken

balutan

- Mendisinfeksi luka dan selang dengan kasa alkohol 70% kemudian dengan bethadin 10% - Menutup luka dengan kasa steril yang sudah dipotong tengahnya kemudian diplester - Selang WSD diklem - Melepaskan sambungan antara selang WSD dengan selang botol - Ujung selang WSD dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian selang WSD dihubungkan dengan selang penyambung botol WSD yang baru - Klem selang WSD dibuka - Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan bimbing pasien cara batuk efektif - Latih dan anjurkan pasien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD - Merapikan pakaian pasien dan lingkungannya, kemudian membantu pasien dalam posisi yang paling nyaman - Membersihkan alat-alat dan botol WSD yang kotor, kemudian di sterilisasi kembali - Membuka handscoon dan mencuci tangan - Menulis prosedur yang telah dilakukan pada catatan perawatan. d) Evaluasi Pelaksanaan Perawatan WSD Evaluasi pelaksanaan perawatan WSD meliputi : - Evaluasi keadaan umum : Observasi keluhan pasien Observasi gejala sianosis Observasi tanda perdarahan dan rasa tertekan pada dada Observasi apakah ada krepitasi pada kulit sekitar selang WSD Observasi tanda-tanda vital.

34

- Evaluasi ekspansi paru meliputi : Melakukan pemeriksaan Inspeksi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Palpasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Perkusi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Auskultasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Foto thoraks setelah dilakukan pemasangan selang WSD dan sebelum selang WSD di lepas. - Evaluasi WSD meliputi : Observasi undulasi pada selang WSD Observasi fungsi suction countinous Observasi apakah selang WSD tersumbat atau terlipat Catat jumlah cairan yang keluar dari botol WSD Pertahankan ujung selang dalam botol WSD agar selalu berada 2 cm di bawah air Pertahankan agar botol WSD selalu lebih rendah dari tubuh Ganti botol WSD setiap hari atau bila sudah penuh. (Pedoman Keterampilan Praktik Klinik Keperawatan. 2005: 49-50).

8. Komplikasi Komplikasi utama adalah gagal napas, sebagai akibat adanya ineffective air movement, yang seringkali diperberat oleh edema/kontusio paru, dan nyeri. Pada pasien dengan flail chest tidak dibenarkan melakukan tindakan fiksasi pada daerah flail secara eksterna, seperti melakukan splint/bandage yang melingkari dada, oleh karena akan mengurangi gerakan mekanik pernapasan secara keseluruhan.

35

9. ASUHAN KEPERAWATAN PADA FLAIL CHEST 1) Pengkajian Flail chest adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. a. Riwayat kesehatan Keluhan Utama Klien mengatakan nyeri hebat, Skal nyeri 9. Keluhan Penyakit Sekarang Rekan kerja klien mengatakan klien mengalami kecelakaan kerja. Dada klien terhantam besi dan menyebabkan tulang iga kanan klien patah. Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan tidak pernah mengalami kecelakaan kerja sebelumnya. b. Pemeriksaan Sistem a) B1 (Breathing) DS : Klien mengatakan sesak napas DO : - Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek - Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan - Pergerakan dinding dada asimetris - Vesikular paru, suara jantung, suara tambahan Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek b) B2 (Blood) DS : Klien mengatakan mudah lelah, penglihatan sering kabur. DO : - Terjadi Penurunan tekanan darah - Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan oleh distensi vena leher - Pulsus paradoksus ( tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi dengan pernapasan ) dapat terjadi dini pada tamponade jantung. c) B3 (Brain) DS : Klien mengatakan nyeri pada area trauma
36

DO : P : nyeri pada bagian dada Q : luka dirasakan seperti ditusuk-tusuk R : area pada toraks S : nyeri pada angka 9 dengan skala (0-10). T : nyeri dirasakan saat aktivitas.

d) B4 (Bladder) DS : Klien mengatakan sakit saat berkemih DO : terjadi infeksi saluran kencing akibat terpasangnya WSD. e) B5 (Bowel) Tidak ada kelainan f) B6 (Bone) DS : DO : - Ada jejas pada thorak - Fraktur tulang wajah, fraktur laring,fraktur trakea

2) Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada flail chest a. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. b. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage. d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. e. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma. Dongoes, Marylin E. 2000.

37

3) Intervensi
Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma. Setela tindakan keperawatan selama 1x24jam diharapkan pola efektif mengtakan tidak nafas Px Px sudah dilakukan - Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. - Observasi fungsi a. Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive. b. Mengalami perbaikan pertukaran gasgas pada paru. c. Adaptive mengatasi faktorfaktor penyebab. pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tandatanda vital. - Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. - Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. - Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. Intervensi Rasional

mengalami

kesulitan bernafas. Dengan hasil : kriteria

38

dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. - Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 2 jam:Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar. - Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan. - Observasi gelembung udara botol penempung. - Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.

optimum/drainase cairan. R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural. R/ Gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu. R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi. R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

39

- Catat karakter/jumlah drainage selang dada. - Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. o Pemberian antibiotika. o Pemberian analgetika. o Fisioterapi dada. o Konsul photo toraks.

Perubahan kenyamanan Nyeri berhubungan dengan jaringan reflek trauma dan spasme : akut

Setelah tindakan

dilakukan

- Jelaskan bantu

dan klien

R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. R/ Akan melancarkan

keperawatan selama 1X24 diharapkan pasien Dengan hasil : a. Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi. b. Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan nyeri. jam nyeri

dengan tindakan pereda nyeri

nonfarmakologi dan non invasif. - Ajarkan Relaksasi Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan rangka, dapat menurunkan intensitas nyeri otot yang :

berkurang. kriteria

otot sekunder.

peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya. R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. R/ Istirahat akan merelaksasi

40

c. Pasien tidak gelisah.

dan tingkatkan

juga

semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

relaksasi masase. - Ajarkan distraksi nyeri akut. - Berikan kesempatan waktu istirahat metode selama

bila terasa nyeri dan posisi berikan yang

nyaman ; misal waktu belakangnya dipasang kecil. - Tingkatkan pengetahuan tentang : sebabsebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. - Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik. - Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit pemberian analgetik mengkaji efektivitasnya. setelah obat untuk bantal tidur,

41

Serta setiap 1 2 jam tindakan perawatan selama 1 2 hari. Kerusakan integritas berhubungan dengan mekanik terpasang bullow drainage. a. tidak ada tandatanda infeksi seperti pus. b. luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. c. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Kriteria Hasil : trauma kulit Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. - Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. - Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka. - Pantau peningkatan suhu tubuh. - Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas. - Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement. - Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan. R/ antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. setelah

42

- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. Gangguan mobilitas berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan Kriteria hasil : a. penampilan yang seimbang. b. melakukan pergerakkan dan perpindahan. c. mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik : 0 = mandiri penuh 1=memerlukan alat Bantu. 2=memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran. 3=membutuhkan fisik Tujuan : pasien akan - Kaji menunjukkan tingkat mobilitas optimal. akan kebutuhan pelayanan dan R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. R/ menilai batasan kemampuan dan pasien hal aktivitas optimal. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. ahli R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.

kesehatan

kebutuhan akan peralatan. - Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. - Ajarkan pantau dalam

ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.

penggunaan alat bantu. - Ajarkan dukung dalam dan pasien latihan

ROM aktif dan pasif. - Kolaborasi dengan

terapi fisik atau okupasi.

43

bantuan dari orang lain dan alat Bantu. 4=ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.

Risiko infeksi

terhadap

Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Kriteria hasil : a. tidak ada tandatanda infeksi seperti pus. b. luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. c. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.

Pantau tanda-tanda vital.Lakukan perawatan dengan luka teknik

R/ mengidentifikasi tandatanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

berhubungan dengan masuknya organisme sekunder terhadap trauma. tempat

aseptik.Lakukan perawatan terhadap prosedur seperti kateter, luka, ditemukan infeksi inpasif infus, drainase dll.Jika tanda

kolaborasi

untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.Kolaborasi untuk pemberian

antibiotik.

44

C. Temponade Jantung 1. Pengertian Temponade jantung merupakan sindroma klinis yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam ruang perikardium yang menyebabkan berkurangnya pengisian ventrikel (diastolik) yang menyebabkan terganggunya hemodinamik (Nursing Memahami Berbagai Macam Penyakit hal. 96) Tamponade jantung merupakan suatu sindroma klinis akibat penumpukan cairan berlebihan di rongga perikard yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik (Dharma, 2009 : 67) Tamponade jantung merupakan kompresi akut pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium dari rupture jantung, trauma tembus atau efusi yang progresif (Dorland, 2002 : 2174). Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan tamponade jantung adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena pericardium mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan diri dengan volume cairan yang bertambah tersebut (Muttaqin, 2009 : 137). Jadi tamponade jantung adalah kompresi pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium (250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat) yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik, dimana ini merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan tindakan darurat.

45

2. Etiologi Menurut buku (Nursing memahami berbagai macam penyakit hal. 97) : a. Infraksi miokardial akut b.Efusi (akibat kanker, infeksi bakteri tuberkulosis bisa juga demam reumatik tetapi jarang) c. Hemoragi akibat penyebab nontraumatik (ruptur jantung atau pembuluh darah besar, atau terapi antikoagulan pada pasien perikarditis) sedangkan akibat traumatik (luka tembakan atau tusukan di dada, preforasi pada saat kateterisasi kardiak atau venosa pusat) d.Idiopatik e. Uremia Menurut (Panggabean, 2006 : 1604) : Perdarahan intraperikard yang disebabkan oleh katerisasi jantung intervensi koroner, pemasangan pacu jantung, tuberculosis, dan penggunaan antikoagulan. Menurut (Mansjoer, dkk. 2001 : 458) : Tamponade jantung bisa disebabkan karena neoplasma, perikarditis, uremia dan perdarahan ke dalam ruang pericardial akibat trauma, operasi, atau infeksi. Untuk semua pasien, penyakit ganas merupakan penyebab paling umum tamponade perikardial. Di antara etiologi tamponade, Merce dkk melaporkan penyakit ganas pada 30-60% kasus, uremia dalam 10-15% kasus, perikarditis idiopatik di 5-15%, penyakit menular dalam% 5-10, antikoagulasi dalam% 5-10 , penyakit jaringan ikat di 2-6%, dan Dressler atau sindrom postpericardiotomy di 1-2%. Tamponade dapat terjadi sebagai akibat dari jenis perikarditis.

3. Patofisiologi Perikardium, yang merupakan membran sekitar jantung, terdiri dari 2

lapisan. Perikardium parietalis tebal adalah lapisan fibrosa luar, sedangkan perikardium viseral tipis adalah lapisan serosa dalam.Ruang perikardial biasanya berisi 20-50 mL cairan. efusi perikardial bisa serous, serosanguineous, perdarahan, atau chylous. Reddy et al menjelaskan 3 fase perubahan hemodinamik pada tamponade.

46

Tahap I: akumulasi cairan perikardial menyebabkan peningkatan kekakuan ventrikel, memerlukan tekanan pengisian yang lebih tinggi. Selama fase ini, tekanan kiri dan kanan mengisi ventrikel lebih tinggi dari tekanan intrapericardial.

Tahap II: Dengan akumulasi cairan lebih lanjut, peningkatan tekanan perikardial di atas tekanan pengisian ventrikel, sehingga curah jantung berkurang.

Tahap III: Penurunan lebih lanjut dalam cardiac output terjadi, yang disebabkan equilibrium dari perikardial dan ventrikel kiri (LV) tekanan pengisian.

Proses pathophysiologic mendasari untuk pengembangan tamponade adalah pengisian diastolik berkurang drastis karena tekanan distending transmural tidak cukup untuk mengatasi tekanan intrapericardial meningkat. Takikardia merupakan respon jantung awal untuk perubahan ini untuk mempertahankan cardiac output. Kembali sistemik vena juga diubah selama tamponade. Karena jantung adalah dikompresi sepanjang siklus jantung karena tekanan intrapericardial meningkat, kembali vena sistemik terganggu dan hak atrium dan ventrikel kanan keruntuhan terjadi. Karena tempat tidur vaskuler paru merupakan rangkaian luas dan compliant, darah preferentially terakumulasi dalam sirkulasi vena, dengan mengorbankan LV pengisian. Hal ini menyebabkan cardiac output berkurang dan kembali vena. Jumlah cairan perikardial diperlukan untuk merusak pengisian diastolik jantung tergantung pada tingkat akumulasi cairan dan kepatuhan pericardium. akumulasi Cepat sesedikit 150 mL cairan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan perikardial ditandai dan sangat dapat menghambat cardiac output , sedangkan 1000 mL cairan dapat terakumulasi selama periode yang lebih lama tanpa efek signifikan terhadap pengisian diastolic jantung. Hal ini disebabkan adaptif peregangan pericardium dari waktu ke waktu. Sebuah perikardium lebih memenuhi persyaratan dapat

memungkinkan akumulasi cairan yang cukup selama jangka waktu lebih lama tanpa menghina hemodinamik. Tamponade jantung terjadi bila jumlah efusi pericardium menyebabkan hambatan serius aliran darah ke jantung ( gangguan diastolik ventrikel ). Penyebab tersering adalah neoplasma, dan uremi. (Penggabean, 2006 : 364 ). Neoplasma menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel secara abnormal pada otot jantung. Sehingga terjadi

47

hiperplasia sel yang tidak terkontrol, yang menyebabakan pembentukan massa (tumor). Hal ini yang dapat mengakibatnya ruang pada kantong jantung (perikardium) terdesak sehingga terjadi pergesekan antara kantong jantung (perikardium) dengan lapisan paling luar jantung (epikardium).Pergesekan ini dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada perikarditis sehingga terjadi penumpukan cairan pada pericardium yang dapat menyebakan tamponade jantung. Uremia juga dapat menyebabkan tamponade jantung (Price, 2005 : 954). Dimana orang yang mengalami uremia, di dalam darahnya terdapat toksik metabolik yang dapat menyebabkan inflamasi (dalam hal ini inflamasi terjadi pada perikardium). Selain itu , tamponade jantung juga dapat disebabkan akibat trauma tumpul/ tembus. Jika trauma ini mengenai ruang perikardium akan terjadi perdarahan sehingga darah banyak terkumpul di ruang perikardium. Hal ini mengakibatkan jantung terdesak oleh akumulasi cairan tersebut.

4. Manifestasi klinis Menurut (Mansjoer, dkk. 2000: 298) : Gejala yang muncul bergantung kecepatan akumulasi cairan perikardium.Bila terjadi secara lambat dapat memberi kesempatan mekanisme kompensasi seperti takikardi, peningkatan resistensi vascular perifer dan peningkatan volume intravaskular.Bila cepat, maka dalam beberapa menit bisa fatal. Tamponade jantung akut biasanya disertai gejala peningkatan tekanan vena jugularis, pulsus paradoksus >10mmHg, tekanan nadi <30mmHg, tekanan sistolik <100mmHg, dan bunyi jantung yang melemah.Sedangkan pada yang kronis ditemukan peningkatan tekanan vena jugularis, takikardi, dan pulsus paradoksus. Keluhan dan gejala yang mungkin ada yaitu adanya jejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada atau yang diperkirakan menembus jantung, gelisah, pucat, keringat dingin, peninggian vena jugularis, pekak jantung melebar, suara jantung redup dan pulsus paradoksus.Trias classic beck berupa distensis vena leher, bunyi jantung melemah dan hipotensi didapat pada sepertiga penderita dengan tamponade. Menurut (Oman, 2008 : 269) : Gambaran klinis tamponade jantung meliputi takikardia, hipotensi, suara jantung yang redup atau pelan, dan distensi vena leher (yang menunjukkan peningkatan tekanan vena
48

jugularis). Palsus paroduksus merupakan gambaran lain yang menandai perubahan yang tidak terduga tekanan vena. Penurunan tekanan sistolik yang semakin mencolok akan terjadi pada saat inspirasi. Suara jantung akan terdengar redup karena adanya cairan yang membungkus jantung sehingga menurunkan hantaran tonus jantung. Menurut ENA (2000 : 129) : Tanda dan gejala yang muncul dapat berupa takipnea, tanda kusmaul (peningkatan tekanan vena saat inspirasi ketika bernafas spontan), Becks triad, distensi vena jugularis dari elevasi tekanan vena, pulsus paradoksus : sistolik menurun saat inspirasi 10 mm Hg atau lebih), tekanan nadi terbatas, takikardi, kulit dingin, kulit lembab, bibir, jari tangan dan kaki sianosis, dan penurunan tingkat kesadaran. Menurut buku (Nursing memahami berbagai macam penyakit hal. 97) a. Resah dan Gelisah b.Diaforesis c. Berkurangnya volume akhir sistolik ventrikuler akibat ketidakcukupan perload d.Dispnea e. Hepatomegali f. Kenaikan tekanan perkardial yang terhantar secara seimbang di rongga jantung dan menyebabkan kenaikan yang sesuai dalam intrakardiak, terutama tekanan atrial dan ventrikuler akhir-diastolik g.Kenaikan tekanan darah venosa disertai distensi vena jugular h.Tekanan denyut nadi kecil i. Pucat atau sianosis j. Tekanan darah arterial menurun k.Takikardia l. Denyut paradoksial (penurunan insoporatik abnormal dalam tekanan darah sistemik lebih dari 15 mmHg) m. Saat auskultasi, bunyi jantung terdengar samar seperti terhalang

49

5. Pemeriksaan penunjang Menurut buku (Nursing memahami berbagai macam penyakit hal. 97) a. Sinar X : menunjukkan mediastinum yang sedikit melebara dan kardiomegali b.EKG : memperlihatkan perubahan yang disebabkan oleh perikarditis akut c. Kateterisasi erteri pulmonal : mengindikasikan tekanan atrial kanan, tekanan diastolik ventrikuler kanan, dan tekanan venousa pusat d.Ekokardiografi : mencatat efusi perikardial dengan tanda kompresi ventrikuler dan atrial kanan e. Pemeriksaan Doppler terhadap tanda morfologi jantung dapat membantu dalam menegakkan keakuratan diagnosa klinis dan mendukung pemeriksaan laboratorium dari pola hemodinamik pada tamponade. (Nichols, 2006 : 257) Menurut Braunwald (2001 : 167) hasil pemeriksaan Echocardiografi pada tamponade jantung menunjukkan : a) Kolaps diastole pada atrium kanan b) Kolaps diastole pada ventrikel kanan c) Kolaps pada atrium kiri d) Peningkatan pemasukan abnormal pada aliran katup trikuspidalis dan terjadi penurunan pemasukan dari aliran katup mitral > 15 % e) Peningkatan pemasukan abnormal pada ventrikel kanan dengan penurunan pemasukan dari ventrikel kiri f) Penurunan pemasukan dari katup mitral. g) Pseudo hipertropi dari ventrikel kiri Karakteristik tamponade jantung pada pemeriksaan EKG : Amplitudo rendah pada semua sadapan (terjadi karena cairan akan meredam curah listrik jantung). Fenomena elektrikal alternans (aksis listrik jantung berubah-ubah pada setiap denyutan). Tampak di EKG perubahan amplitudo tiap kompleks QRS, terjadi karena jantung berotasi secara bebas dalam kantung perikard yang berisi cairan. (Dharma, 2009 : 67).

50

6. Penatalaksanaan Perikardiosntris atau pembedahan untuk membuat lubang a. Pembuatan jendela perikardial, dilakukan jikan pasien mengalami temponade, efusi atau adesi akibat perikarditis kronis. b. Pengambilan perikardium pelindung yang menguat (untuk kasus yang lebih parah). c. Pemuatan volume percobaan dengan larutan garam normal I.V temporer dengan albumin (pasien yang mengalami hipotensi) d. Dapat diberikan obat inotropik misalnya : Dopamin untuk menjaga output kardiak e. Transfusi darah atau torakotomi untuk mengalirkan cairan yang terakumulasi kembali atau memperbaiki tempat pendarahan (untuk cedera traumatik) f. Diberi obat antagonis heparin protamin sulfat (pasien yang mengalami temponadee terpicu-heparin) g. Pemberian vitamin K (pasien yang mengalami terpicu-warfarin) Penatalaksanaan pra rumah sakit bagi temponade cardio pada tingkat EMP-A memerlukan transportasi cepat ke rumah sakit. Ini merupakan satu dari beberapa kedaruratan yang harus ditransport dengan sirine dan lampu merah.

Perhatian ketat harus dicurahkan untuk menghindari pemberian cairan berlebihan ke pasien. Sering sukar membedakan antara temponade pericardium dan tension pneumotoraks tanpa bantuan radiograph. EMT harus cermat mengamati penderita dan mengingatkan dokter di rumah sakit terhadap kemungkinan tamponade pericardium. Pada tingkat paramedic EMT, setelah diagnositik dan konsultasi ke dokter rumah sakit, tamponade pericardium dapat diaspirasi. Aspirasi dapat dilakukan dengan menggunakan jarum interkardiak untuk suntikan ephineprin, dengan hanya menarik penuh semprit yang kosong. Pendekatannya dari subxifoid, menuju scapula kiri tepat seperti suntikan intrakardia. Perbedaannya dalam memasukkan jarum selanjutnya. Pemasukan jarum harus dihentika tepat setelah memasuki kantong pericardium, sebelum masuk ke ventrikel (lihat gambar). Identifikasi lokasi ujung jarum dengan tepat dapat dibantu dengan menempatkan sadapan V elektrograf ke batang baja. Jarum ini dengan klem alligator. Sewaktu jarum dimasukkan, segera dapat
51

diketahui arus luka sewaktu ujung jarum menyentuh miokardium. Dengan menarik mundur sedikit ke kantong pericardium, EMT kemudian dapat mengaspirasi darah tanpa mencederai myocardium. Seratus lima puluh sampai 250 ml darah di kantong pericardium sudah cukup untuk menimbulkan tamponade berat. Pengambilan beberapa milliliter bisa mengurangi tekanan yang memungkinkan peningkatan curah jantung pasien, peningkatan tekanan darah distal dan penurunan tekanan di sisi kanannya. Prasat ini (mengeluarkan 50-75 ml darah) merupakan tindakan yang menyelamatkan nyawa pada tamponade berat. Harus diingat bahwa terapi ini bukan definitif melaikan hanya suatu tindakan sementara sampai penderita bisa dibawa ke kamar operasi, tempat dapat dilakukan perikardiotomi formal sebelum penatalaksanaan difinitive masalah jantung dengan anastesi lokal. Perlukaan pada pembuluh darah jantung dan struktur vaskuler intertoraks ditangani dalam masa pra rumah sakit seperti syok hemoragik lainnya dengan pakaian anti syok dan infus IV. (Boswick, 1997 : 80). Pemberian oksigen sesuai indikasi juga diperlukan untuk pasien tamponade, agar mencegah terjadinya hipoksia jaringan akibat oksigen yang tidak adekuat karena penurunan curah jantung.

Gambar 3 : Penatalaksanaan pada temponade jantung

52

7. Konsep WSD a. Pengertian WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah, pus) dari rongga pleura dengan menggunakan pipa penghubung. b. Tujuan - Mengalirkan/drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk

mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut. - Mengembangkan kembali paru yang kolaps - Memasukkan obat ke dalam rongga pleura.

c. Perubahan Tekanan Rongga Pleura Tekanan Atmosfir Intrapulmoner Intrapleural Istirahat 760 760 756 Inspirasi 760 757 750 Ekspirasi 760 763 756

d. Indikasi Pemasangan WSD - Hematotoraks - Efusi pleura dengan keganasan - Pneumotoraks lebih dari 20 % - Hidropneumothoraks - Empiema

e. Kontra Indikasi Pemasangan WSD - Hematothoraks masif yang belum mendapat penggantian cairan/darah - Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol - Perlekatan pleura yang luas.

f. Tempat Pemasangan WSD

Bagian Apex paru Yaitu pada anterolateral intercosta 1-2 yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura.

53

Bagian Basal Yaitu pada posterolateral intercosta ke 8-9 yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura.

g.Jenis-jenis WSD a) WSD dengan sistem satu botol Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam dua cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi. Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan. b) WSD dengan sistem dua botol Digunakan dua botol, satu botol mengumpulkan cairan drainage dan botol kedua sebagai water seal. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2. Prinsip kerjasama dengan sistem satu botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD. Bisasanya digunakan untuk mengatasi hemotothoraks, hemopneumothoraks dan efusi peura. c) WSD dengan sistem tiga botol Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan. Botol ke3 mempunyai 3 selang yaitu tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan

54

tube pada botol ke dua, tube pendek lain dihubungkan dengan suction dan tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer.

h.Komplikasi Pemasangan WSD - Laserasi, mencederai organ (hepar, lien) - Perdarahan - Empisema Subkutis - Tube terlepas - Infeksi - Tube tersumbat

i. Persiapan Pemasangan WSD a) Pengkajian - Memeriksa kembali instruksi dokte - Mencek inform consent - Mengkaji tanda-tanda vital dan status pernapasan pasien. b) Persiapan Pasien - Siapkan pasien - Memberi penjelasan kepada pasien meliputi : Tujuan tindakan Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD, posisi klien dapat duduk atau berbaring Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam dan distraksi Foto thoraks posterior-anterior dan lateral paru.

c) Persiapan alat dan bahan meliputi : - Trokar/toraks drain dengan nomor yang disesuaikan dengan bahan yang akan dialirkan, untuk udara nomor 18-20 dan untuk pus nomor 22-24. - Kasa steril - Plester
55

- Alkohol 70% dan bethadin 10% - Spuit 5 cc sebanyak 2 buah - Lidocain solusio injeksi untuk anestesi local sebanyak 5 ampul - Botol WSD - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Duk steril

d) Prosedur Tindakan - Posisi pasien dengan sisi yang sakit menghadap ke arah dokter dengan

disandarkan pada kemiringan 30o-60o, tangan sisi paru yang sakit diangkat ke atas kepala - Lakukan tindakan antiseptic menggunakan bethadin 10% dilanjutkan dengan menggunakan alkohol 70% dengan gerakan berputar ke arah luar, pasang duk steril dengan lubang tempat di mana akan dilakukan insersi kateter - Lakukan anestesi lokal lapis demi lapis dari kulit hingga pleura parietalais menggunakan lidocain solusio injeksi, jangan lupa melakukan aspirasi sebelum mengeluarkan obat pada setiap lapisan. Anestesi dilakukan pada daerah yang akan di pasang WSD atau pada intercostalis 4-5 anterior dari mid axillary line - Langsung lakukan punksi percobaan menggunakan spuit anestesi tersebut - Lakukan sayatan pada kulit memanjang sejajar intercostalis lebih kurang 1 cm lalu buka secara tumpul sampai ke pleura - Disiapkan jahitan matras mengelilingi kateter - Satu tangan mendorong trokar dan tangan lainnya memfiksir trokar untuk membatasi masuknya alat ke dalam rongga pleura. Setelah trokar masuk ke dalam rongga pleura, stilet dicabut dan lubang trokar di tutup dengan ibu jari. Kateter yang sudah diklem pada ujung distalnya di insersi secara cepat melelui trokar ke dalam rongga pleura. Kateter diarahkan ke anteroapikal pada pneumothoraks dan posterobasal pada cairan pleura/empiema. Trokar dilepas pada dinding dada. Kateter bagian distal dilepas dan trokar dikeluarkan
56

- Setelah trokar ditarik, hubungkan kateter dengan selang dan masukkan ujung selang ke dalam botol WSD yang telah diberi larutan bethadin yang telah diencerkan dengan NaCl 0,9% dan pastikan ujung selang terendam sepanjang dua cm - Perhatikan adanya undulasi pada selang penghubung dan terdapat cairan, darah dan pus yang dialirkan atau gelembung udara pada botol WSD. - Fiksasi kateter dengan jahitan tabbac sac, lalu tutup dengan kasa steril yang telah di beri bethadin dan fiksasi ke dinding dada dengan plester. (Standar Diagnosis & Terapi Gawat Darurat, 2007: 70-72)

e) Pedoman pencabutan Kriteria pencabutan : - Sekrit serous, tidak hemoraged - Dewasa : jumlah kurang dari 100cc/24jam - Anak anak : jumlah kurang 25-50cc/24jam - Paru mengembang dengan tanda : Auskultasi suara napas vesikuler kiri dan kanan Perkusi bunyi sonor kiri dan kanan Fibrasi simetris kiri dan kanan Foto toraks paru yang sakit sudah mengembang Kondisi : - Pada trauma Hemato/pneumothorak yang sudah memenuhi kedua kriteria, dicabut dengan cara air-tight (kedap udara). - Pada thoracotomi Infeksi : klem dahulu 24 jam untuk mencegah resufflasi, bila baik cabut - Post operatif : bila memenuhi kedua kriteria, langsug di cabut (air-tight) - Post pneumonektomi : hari ketiga bila mediastinum stabil (tak perlu airtight). Alternatif - Paru tetap kolaps, hisap sampai 25 cmH20
57

langsung

- Bila kedua krieria dipenuhi, klem dahulu 24 jam, tetap baik lakukan pencabutan. - Bila tidak berhasil, tunggu sampai dua minggu, lakukan dekortikasi - Sekret lebih dari 200cc/24jam : curiga adanya Chylo toraks (pastikan dengan pemeriksaan laboratorium), pertahankan sampai dengan empat minggu, bila tidak berhasil dilakukan toracotomi - Bila sekret kurang dari 100cc/24jam, klem, kemudian dicabut. j. Konsep Perawatan WSD a) Persiapan Alat : - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Botol WSD berisi larutan bethadin yang telah diencerkan 0,9% dan ujung selang terendam sepanjang dua cm. - Kasa steril dalam tromol - Korentang - Plester dan gunting - Nierbekken/kantong balutan kotor - Alkohol 70% - Bethadin 10% - Handscoon steril b) Persiapan Pasien dan Lingkungan - Pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan - Memasang sampiran disekeliling tempat tidur - Membebaskan pakaian pasien bagian atas - Mengatur posisi setengah duduk atau sesuai kemampuan pasien - Alat-alat didekatkan ke tempat tidur pasien. c) Pelaksanaan Perawatan WSD - Perawat mencuci tangan, kemudian memasang handscoon - Membuka set bedah minor steril - Membuka balutan dengan menggunakan pinset secara hati-hati, kotor dimasukkan ke dalam nierbekken
58

dengan NaCl

balutan

- Mendisinfeksi luka dan selang dengan kasa alkohol 70% kemudian dengan bethadin 10% - Menutup luka dengan kasa steril yang sudah dipotong tengahnya kemudian diplester - Selang WSD diklem - Melepaskan sambungan antara selang WSD dengan selang botol - Ujung selang WSD dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian selang WSD dihubungkan dengan selang penyambung botol WSD yang baru - Klem selang WSD dibuka - Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan bimbing pasien cara batuk efektif - Latih dan anjurkan pasien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD - Merapikan pakaian pasien dan lingkungannya, kemudian membantu pasien dalam posisi yang paling nyaman - Membersihkan alat-alat dan botol WSD yang kotor, kemudian di sterilisasi kembali - Membuka handscoon dan mencuci tangan - Menulis prosedur yang telah dilakukan pada catatan perawatan. d) Evaluasi Pelaksanaan Perawatan WSD Evaluasi pelaksanaan perawatan WSD meliputi : - Evaluasi keadaan umum : Observasi keluhan pasien Observasi gejala sianosis Observasi tanda perdarahan dan rasa tertekan pada dada Observasi apakah ada krepitasi pada kulit sekitar selang WSD Observasi tanda-tanda vital. - Evaluasi ekspansi paru meliputi : Melakukan pemeriksaan Inspeksi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD
59

Melakukan pemeriksaan Palpasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Perkusi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Auskultasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Foto thoraks setelah dilakukan pemasangan selang WSD dan sebelum selang WSD di lepas. - Evaluasi WSD meliputi : Observasi undulasi pada selang WSD Observasi fungsi suction countinous Observasi apakah selang WSD tersumbat atau terlipat Catat jumlah cairan yang keluar dari botol WSD Pertahankan ujung selang dalam botol WSD agar selalu berada 2 cm di bawah air Pertahankan agar botol WSD selalu lebih rendah dari tubuh Ganti botol WSD setiap hari atau bila sudah penuh. (Pedoman Keterampilan Praktik Klinik Keperawatan. 2005: 49-50).

8. Komplikasi a. Gagal jantung b. Syok kardiogenik c. Henti jantung

60

9. ASUHAN KEPERAWATAN PADA TEMPONADE JANTUNG 1) Pengkajian a) Riwayat kesehatan sekarang : - Trauma tumpul atau penetrasi dada, leher, punggung atau abdomen - Repair lesi kardiak - Dispnea - Kecemasan - Nyeri dada - Fatigue/malaise Riwayat medis : - penyakit jantung - penyakit neoplasma atau infeksi - gagal ginjal (tergantung hemodialisis)

b) Pemeriksaan Sistem B1 (Breathing) DS : Klien mengatakan sesak napas DO : - Tanda kusmaul : peningkatan tekanan vena saat inspirasi nafas spontan - Takikardi : kulit dingin dan pucat, bibir dan jari sianosis, - Pucat atau sianosis

B2 (Blood) DS : Klien mengatakan sering pusing dan penglihatan kabur DO : - peningkatan volume vena intravaskular. - pulsus paradoksus >10mmHg, tekanan nadi <30mmHg, tekanan sistolik <100mmHg, - pericardial friction rub, - pekak jantung melebar, - Trias classic beck berupa :
61

o distensis vena leher, o bunyi jantung melemah / redup dan o hipotensi didapat pada sepertiga penderita dengan tamponade. - tekanan nadi terbatas, - kulit lembab, bibir, jari tangan dan kaki sianosis, - Penurunan tekanan arteri (hipotensi) B3 (Brain) DS : Klien mengatkan sering gelisah DO : - Klien sering mengalami Penurunan tingkat kesadaran, - Klien sering cemas, gelisah, penglihatan kabur. B4 (Bladder) DS : Klien mengatkan jarang kencing DO : - Penurunan urin output, Gagal ginjal. B5 (Bowel) DS : Klien mengatakan sering mual muntah DO : - Klien terlihat penurunan berat badan - anoreksia. B6 (Bone) DS : DO : - Adanya jejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada. - Terdapat fraktur, - terjadi kelemahan, - terdapat bekas tusuk

62

2) Diagnosa yang mungkin muncul


a) Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi ditandai dengan takipnea, tanda

kusmaul.
b) Penurunan curah jantung b.d perubahan sekuncup jantung ditandai dengan

distensi vena jugularis, perubahan EKG, TD menurun, kulit dingin, pucat, jari tangan dan kaki sianosis,
c) Perfusi jaringan (cerebral, perifer, cardiopulmonal, renal, gastrointestinal) tidak

efektif b.d suplai O2 menurun ditandai dengan nadi lemah, TTV abnormal, penurunan kesadaran, kulit pucat, sianosis, akral dingin.
d) Penurunan kardiak output b.d gangguan pengisian jantung dan kontraktilitas,

penurunan venous return sekunder terhadap tekanan intrathoraks

3) Intervensi
Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Pola efektif nafas tidak b.d setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 15 menit diharapkan pola nafas efektif dengan kriteria hasil : - Takipnea tidak ada - Tanda kusmaul tidak ada - TTV dalam rentang batas normal (RR : 16 20 X/ mnt). 1. Pantau ketat tandatanda vital terutama frekuensi pernafasan 2. Monitor isi pernafasan, pengembangan dada, keteraturan pernafasan, nafas bibir dan penggunaan otot bantu pernafasan 3. Berikan posisi semifowler jika tidak kontrainndikasi 4. Ajarkan klien nafas dalam Kolaborasi : 5. Berikan oksigen Mandiri: - Perubahan nafas mempengaruhi tanda-tanda vital. - Pengembangan dada dan otot pernapasan mengindikasikan gangguan pola nafas - Mempermudah ekspansi paru - Dengan latihan penggunaan Bantu pola dapat Intervensi Rasional

hiperventilasi ditandai dengan takipnea,

tanda kusmaul.

nafas dalam dapat meningkatkan pemasukan oksigen - Oksigen adekuat yang dapat

menghindari resiko

63

sesuai indikasi 6. Berikan obat sesuai indikasi

kerusakan jaringan - Medikasi yang tepat dapat mempengaruhi ventilasi pernapasan - TTV merupakan indicator keadaan umum tubuh (jantung). - Perubahan suara, frekuensi dan irama jantung dapat mengindikasikan adanya penurunan curah jantung. - Curah jantung yang kurang mempengaruhi kuat dan lemahnya nadi perifer. - Penurunan curah jantung menyebabkan aliran ke perifer menurun. - Oksigen yang adekuat mencegah hipoksia. - Mencegah terjadinya kekurangan cairan. - Pada tamponade jantung, terjadi abnormalitas irama jantung dan terdapat siluet

Penurunan

curah

setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 10 menit diharapkan curah jantung ke seluruh tubuh adekuat dengan kriteria hasil : - TTV dalam batas normal (Nadi : 60100 x/mnt, TD : 110-140 mmHg). - Nadi perifer teraba kuat - Suara jantung normal. - Sianosis dan pucat tidak ada. - Kulit teraba hangat - EKG normal - Distensi vena jugularis tidak ada.

1. Monitor TTV berkelanjutan 2. Auskultasi suara jantung, kaji frekuensi dan irama jantung. 3. Palpasi nadi perifer dan periksa pengisian perifer. 4. Kaji akral dan adanya sianosis atau pucat. Kaji adanya distensi vena jugularis Tamponade jantung menghambat aliran balik vena sehingga terjadi distensi pada vena jugularis. Kolaborasi : 5. Berikan oksigen sesuai indikasi 6. Berikan cairan intravena sesuai indikasi atau untuk akses emergency. 7. Periksa EKG, foto thorax, echocardiografi dan doppler sesuai indikasi. 8. Lakukan tindakan

jantung b.d perubahan sekuncup jantung

64

perikardiosintesis.

pembesaran jantung. - Dengan perikardiosintesis cairan dalam ruang pericardium dapat keluar. - Perubahan tandatanda vital seperti

Perfusi jaringan (cerebral, perifer, cardiopulmonal, renal, gastrointestinal) tidak efektif b.d suplai O2 menurun

setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 15 menit diharapkan perfusi jaringan adekuat dengan kriteria hasil : - Nadi teraba kuat - TTV dalam batas normal (Nadi : 60100 x/mnt, TD : 110-140 mmHg) - Tingkat kesadaran composmentis - Sianosis atau pucat tidak ada - Nadi teraba lemah, terdapat sianosis, - Akral teraba hangat

Mandiri :

1. Awasi tanda-tanda vital secara intensif 2. Pantau adanya ketidakadekuatan perfusi (kulit : dingin dan pucat, sianosis) 3. Pantau GCS 4. Anjurkan untuk bed rest/ istirahat total

takikardi akibat dari kompensasi jantung untuk memenuhi suplai O2. - Menunjukkan adanya ketidakadekuatan perfusi jaringan - Penurunan perfusi terutama di otak dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesadaran - Menurunkan kebutuhan oksigen

65

D. Hemo Pneumotoraks 1. Pengertian Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam rongga pleural antara pleura parietal dan viseral. Pneumotorax adalah keluarnya udara dari paru yang cidera, kedalam ruang pleura sering diakibatkan karena robeknya pleura (Suzanne C.Smeltzer,2001) Pneumotorax adalah pengumpulan udara didalam ruang potensial antara pleura visceral dan parietal (Arif Mansjoer) Hemotoraks (atau hemotoraks) adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh akumulasi darah dalam rongga pleura. Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa pada dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan ini akan mengaikibatkan darah mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru. Kehilangan darah dapat terjadi secara masif, setiap sisi toraks bisa terisi oleh 30% 40% dari volume darah seseorang. Jika tidak ditanggulangi, kondisi ini bisa berkembang menjadi keadaan dimana akumulasi darah akan menekan mediastinum dan trakea, mengurangi jumlah ventricles diastolic filling dan deviasi trakea ke arah sisi yang sehat.

2. Etiologi Di RSU Dr. Sutomo, lebih kurang 55% kasus Pneumothoraks disebabkan oleh penyakit dasar seperti tuberkulosis paru aktif, tuberkulosis paru disertai fibrosis atau emfisema lokal, bronchitis kronis dan emfisema. Selain penyakit tersebut diatas, pneumotorak dapat terjadi pada wanita dapat terjadi saat menstruasi dan sering berulang, keadaan ini disebut pneumothoraks katamenial yang disebabkan oleh endometriosis di pleura. Pneumotorak dapat terjadi secara artificial, dengan operasi atau tanpa operasi, atau timbul spontan.

66

Pneumotoraks artifisial disebabkan tindakan tertentu atau memang disengaja untuk tujuan tertentu, yaitu tindakan terapi dan diagnosis. Pneumotorak traumatik terjadi karena penetrasi, luka tajam pada dada, dan karena tindakan operasi. Pneumotoraks spontan terjadi tanpa adanya trauma. Pneumotoraks jenis ini dapat dibagi dalam: - pneumotoraks spontan primer. Disini etiologi tidak diketahui sama sekali - Pneumothorak spontan sekunder. Terdapat penyakit paru atau penyakit dada sebagai faktor predisposisinya. Tabel 4.1. PENYEBAB PNEUMOTORAKS SPONTAN SEKUNDER3 Penyakit saluran pernafasan Penyakit paru obstruksi kronik Fibrosis kistik Asma akut Infeksi parenkim paru Pneumonia pneumocystis carinii Infeksi necrotizing (anaerob, bakteri gram negatif, Staphylococcus Aureus, species nacardia, Mycobacterium Tuberculosis, jamur) Malignancy Kanker paru Sarcoma Metastase

67

Penyakit paru intertisial Langerhans cell granulomatosis Sarcoidosis Connective tissue disease Tuberous Sclerosis Idhiopathic pulmonary fibrosis Lainnya Thoracic endometriosis (catamenial) Lymphangiolelomyomatosis Marfan syndrom Ehler-danlos syndrom

3. Klasifikasi pneumotoraks a. Berdasarkan terjadinya yaitu artificial, traumatic dan spontan. b.Berdasarkan lokasinya, yaitu Pneumotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis c. Berdasarkan derajat kolaps, yaitu Pneumotoraks totalis dan partialis. d.Berdasarkan jenis fistel. Pneumotoraks terbuka. Pneumotoraks dimana ada hubungan terbuka antara rongga pleura dan bronchus yang merupakan dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan intra pleura sama dengan tekanan barometer (luar). Tekanan intra pleura disekitar nol (0) sesuai dengan gerakan pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi positif (+ 2 ekspirasi dan - 2 inspirasi). Pneumotoraks tertutup. Rongga pleura tertutup tidak ada hubungan dengan dunia luar. Udara yang dulunya ada di rongga pleura kemungkinan positif oleh karena
68

diresorbsi dan tidak adanya hubungan lagi dengan dunia luar, maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negatif. Tetapi paru belum mau berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah negatif (- 4 ekspirasi dan - 12 inspirasi). Pneumotoraks ventil. Merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus ke percabangannya dan menuju ke arah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi udara masuk ke rongga pleura dimana pada permulaan masih negatif. Pada waktu ekspirasi udara didalam rongga pleura yang masuk itu tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka tadi bahkan udara ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura, apabila ada obstruksi di bronchus bagian proksimal dari fistel tersebut. Sehingga tekanan pleura makin lama makin meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk rongga pleura pada waktu ekspirasi oleh karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, lebih-lebih kalau penderita batuk-batuk, tekanan udara di bronchus lebih kuat lagi dari ekspirasi biasa.

4. Patofisiologi Alveoli disangga oleh kapiler yang mempunyai dinding lemah dan mudah robek, apabila alveol tersebut melebar dan tekanan di dalam alveol meningkat maka udara dengan mudah menuju ke jaringan peribronkovaskular. Gerakan nafas yang kuat, infeksi dan obstruksi endobronkial merupakan beberapa faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveol dapat mengoyak jaringan fibrotik peribronkovaskular. Robekan pleura ke arah yang berlawanan dengan hilus akan menimbulkan pneumotorak sedangkan robekan yang mengarah ke hilus dapat menimbulkan pneumomediastinum. Dari mediastinum udara mencari jalan menuju ke atas, ke jaringan ikat yang longgar sehingga mudah ditembus oleh udara. Dari leher udara menyebar merata ke bawah kulit leher dan dada yang akhirnya menimbulkan emfisema subkutis. Emfisema subkutis dapat meluas ke arah perut hingga mencapai skrotum.2
69

Tekanan intrabronkial akan meningkat apabila ada tahanan pada saluran pernafasan dan akan meningkat lebih besar lagi pada permulaan batuk, bersin dan mengejan. Peningkatan tekanan intrabronkial akan mencapai puncak sesaat sebelum batuk, bersin, mengejan, pada keadaan ini, glotis tertutup. Apabila di bagian perifer bronki atau alveol ada bagian yang lemah, maka kemungkinan terjadi robekan bronki atau alveol akan sangat mudah. 5. Manifestasi klinis Tanda dan gejalapada pneumotoraks Pada pneumotoraks spontan, sebagai pencetus atau auslosend moment adalah batuk keras, bersin, mengangkat barang-barang berat, kencing atau mengejan. Penderita mengeluh sesak nafas yang makin lama makin berat setelah mengalami hal-hal tersebut diatas.Tetapi pada beberapa kasus gejala gejala masih gampang ditemukan pada aktifitas biasa atau waktu istirahat. Keluhan utama pneumotoraks spontan adalah sesak nafas, bernafas terasa berat, nyeri dada dan batuk. Sesak sering mendadak dan makin lama makin berat. Nyeri dada dirasakan pada sisi yang sakit, rasa berat, tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerakan pernafasan. Rasa sakit tidak selalu timbul. Rasa sakit bisa menghebat atau menetap bila terjadi perlengketan antara pleura viseralis dan pleura parietalis. Pasien dengan pneumotoraks spontan primer biasanya ditandai dengan nyeri dada pleura ipsilateral dan variasi derajat dipsneu. Karena fungsi paru normal, dipsnae biasanya ringan sampai sedang, bahkan pasien dengan pneumotoraks yang luas. Gejala biasanya hilang dalam 24 jam, bahkan jika pneumotorak masih ada. Takikardi dan takipnea adalah gejala yang sangat sering ditemukan. Serangan pada pneumotoraks spontan sekunder bermanifestasi sebagai nyeri dada. Bahkan pada kasus pneumotoraks yang sedikit, akut dipsnea dapat berkembang menjadi keadaan paru yang dicurigai. Tanda-tanda lain dari kardiopulmonal dapat munculseperti hipoksemia akut (rata-rata PO2, 60 mmHg), hipotensi, sianosis, nafas berat, status mental berubah dan hiperkapnia.

70

Tanda dan gejala pada hemotoraks Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah didinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul. Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea berat, tahikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung.

6. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang pada pneumotoraks Foto Toraks a. Bagian pneumotoraks akan tampak hitam, rata dan paru yang kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru akan kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler yang sesuai dengan lobus paru. b. Adakalanya rongga ini sangat sempit sehingga hampir tidak tampak seperti massa yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak berkaitan dengan berat ringan sesak nafas yang dikeluhkan. c. Perlu diamati ada tidaknya pendorongan. Apabila ada pandorongan jantung atau trakea ke arah paru yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intrapleura yang tinggi. d. Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan ini: - Pneumomediastinum, Terdapat ruang atau celah hitam pada tepi jantung, mulai dari basis sampai ke apeks. - Emfisema subkutan dapat diketahui bila ada rongga hitam dibawah kulit. - Bila ada cairan di rongga pleura, akan tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma. Foto lateral dekubitus pada sisi yang sehat dapat membantu dalam membedakan pneumotorakss dengan kista atau bulla. Pada pneumotoraks udara bebas dalam rongga pleura lebih cenderung berkumpul pada bagian atas sisi lateral.
71

Pemeriksaan penunjang pada hemotoraks a. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung) b. GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun. c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorak). d. Hb : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.

7. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada pneumotoraks : a.Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks, WSD dapat berarti : a) Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shoks. b) Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga

pleura.Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya. c) Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.

b. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a) Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
72

b) Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. c) Dalam perawatan yang harus diperhatikan : - Penetapan slang. Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. - Pergantian posisi badan. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. d) Mendorong berkembangnya paru-paru. - Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. - Latihan napas dalam. - Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem. - Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

e) Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. f) Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi. - Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah. - Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau
73

1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. g) Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage. - Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. - Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. - Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan kocher. - Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. - Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan. - Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll. h) Dinyatakan berhasil, bila : - Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi. - Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage. - Tidak ada pus dari selang WSD.

Penatalaksanaan pada hemotoraks Penatalaksanaan. Hemotoraks ditangani dengan mengatasi sumber perdarahan dan mengalirkan darah keluar dari rongga toraks. Kontrol nyeri dan pulmonary toilet. Hemotoraks dievakuasi dengan memasang drainase menggunakan selang dada (chest tube), prosedur ini dikenal dengan pemasangan selang torakostomi (tube thoracostomy). Selang dada di pantau secara ketat karena indikasi pembedahan didasarkan pada drainase selang dada dari permulaan dan akumulasi setiap jamnya. Selang dada disambungkan ke system penampung (mis. Pleur-evac) yang dirangkaikan dengan suction pada tekanan kira-kira -20 cm H2O. Setelah selang dada dilepaskan dari suction kemudian di sambungkan dengan segel air (Water Seal
74

Drainage (WSD)). Jika paru telah mengembang selang dada dapat di cabut. Biasanya pasien dengan cepat akan pulih setelah pemasangan drainase ini. Namun jika penyebabnya adalah ruptur aorta akibat trauma berkekuatan tinggi, maka diperlukan intervensi bedah oleh ahli bedah toraks.

Hemotoraks yang luas dengan bekuan darah memerlukan tindakan operasi untuk evakuasi agar paru dapat mengembang secara penuh dan mencegah komplikasi seperti fibrotoraks dan empiema. Pendekatan dengan Torakoskopi juga cukup berhasil dalam penaganan masalah ini.

8. Komplikasi Komplikasi pada pneumotoraks a. Tension Penumototrax b.Penumotoraks Bilateral c. Emfiema Komplikasi pada hemotoraks Adhesi pecah, bula paru pecah.

75

9. ASUHAN KEPERAWATAN HEMO PNEUMOTORAKS 1) Pengkajian a. Umur : Sering terjadi usia 18 - 30 tahun. b. Klien terdapat penyakit paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang meningkat maka mungkin terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering ditemukan adalah pneumotoraks, hemotoraks, pleural effusion atau empiema. Klien bisa juga ditemukan adanya riwayat trauma dada yang mendadak yang memerlukan tindakan pembedahan.

Pemeriksaan sistem : a. B1 (Breathing) DS : Klien mengatakan sering sesak napas DO : - Terdapat retraksi klavikula/dada. - Pengambangan paru tidak simetris. - Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. - Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani , hematotraks (redup) - Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang

berkurang/menghilang. - Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas. - Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. - Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

b. B2( Blood) DS : Klien mengatakan sering pusing, seperti mau jatuh terutama saat bangun dari tempat duduk DO : - Klien nampak Pucat, - Hb turun - Klien mengalami Hipotensi.
76

c. B3 (Brain) Tidak ada kelainan. d. B4 (Bladder) Tidak ada kelainan. e. B5 (Bowel) Tidak ada kelainan. f. B6 (Bone) DS : Klien mengatakan kemampuan untuk berjalan susah DO : - Kemampuan sendi terbatas. - Ada luka bekas tusukan benda tajam pada dada. - Terdapat kelemahan. - Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

2) Diagnosa yang mungkin muncul a. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. b. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. c. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. e. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum. f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage. g. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma. Dongoes, Marylin E. 2000.

77

3) Intervensi

Diagnosa Ketidakefektifan pernapasan berhubungan ekspansi paru dengan yang pola

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

Tujuan Pola pernapasan a. Berikan posisi yang efektive. Kriteria hasil : - Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive. - Mengalami perbaikan pertukaran pada paru. - Adaptive mengatasi gas-gas nyaman, dnegan biasanya peninggian

- Meningkatkan
inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk

tidak maksimal karena trauma.

sebanyak mungkin. b. Obsservasi pernapasan, frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan fungsi catat

- Distress pernapasan
dan perubahan pada tanda vital dapat

faktor-faktor penyebab.

terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat

tanda-tanda vital.

menunjukkan c. Jelaskan pada klien bahwa tersebut untuk keamanan. tindakan dilakukan menjamin terjadinya syock

sehubungan dengan hipoksia.

- Pengetahuan
yang dapat

apa

diharapkan mengurangi dan

d. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus sesak atau adanya kolaps

ansietas

mengembangkan kepatuhan terhadap teraupetik. klien rencana

paru-paru. e. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih

- Pengetahuan
yang dapat

apa

diharapkan

mengembangkan kepatuhan terhadap teraupetik. klien rencana

lambat dan dalam.

78

f. Perhatikan bullow

alat drainase

- Membantu
mengalami fisiologi yang

klien efek hipoksia, dapat

berfungsi baik, cek setiap 1 - 2 jam : 1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan

dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

yang benar.

-.
2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas ditentukan. 3) Observasi gelembung udara botol penempung. yang 1) Mempertahankan tekanan negatif

intrapleural sesuai yang yang meningkatkan ekspansi paru diberikan,

optimum/drainase cairan. 2) Air

4) Posisikan sistem drainage untuk optimal, yakinkan tidak atau menggantung di bawah masuknya saluran ke slang terlipat, slang fungsi

penampung/botol bertindak sebagai pelindung mencegah yang udara

atmosfir masuk ke area pleural. 3) gelembung udara selama ekspirasi

menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerj a yang diharapka. Gelembung

tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase perlu. bela

biasanya menurun seiring dnegan

79

5) Catat karakter/jumlah drainage dada. g. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan radiologi fisioterapi. Pemberian antibiotika. Pemberian analgetika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks. dokter, dan selang

ekspansi dimana pleural Tak gelembung menunjukkan ekpsnsi

paru area menurun. adanya dapat

paru

lengkap/normal atau slang buntu. 4) Posisi tak tepat, terlipat pengumpulan bekuan/cairan pada selang atau

mengubah tekanan negative diinginkan. yang

5) Berguna

untuk

mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang

memerlukan upaya intervensi. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain unutk engevaluasi perbaikan kondisi klien pengembangan parunya. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan Tujuan : Jalan napas a. Jelaskan lancar/normal tentang klien kegunaan a. Pengetahuan yang diharapkan atas

80

dengan sekresi penurunan

peningkatan sekret dan batuk

Kriteria hasil : Menunjukkan yang efektif. Tidak ada lagi batuk

batuk yang efektif dan terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan. b. Ajarkan klien mengapa

akan

membantu

mengembangkan kepatuhan klien

sekunder akibat nyeri dan keletihan.

terhadap rencana teraupetik.

penumpukan sekret di sal. pernapasan. Klien nyaman.

tentang metode yang tepat batuk. pengontrolan

b. Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan tidak dan

efektif,

c. Napas

dalam

dan

menyebabkan frustasi. c. Memungkinkan ekspansi lebih luas. d. Pernapasan diafragma paru

perlahan saat duduk setegak mungkin. d. Lakukan pernapasan diafragma.

e. Tahan napas selama 3 5 detik secara

menurunkan frek. napas meningkatkan ventilasi alveolar. e. Meningkatkan volume dalam udara paru dan

kemudian

perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin mulut. f. Lakukan napas ke dua, tahan dan melalui

mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. g. Auskultasi paru

f. Pengkajian membantu mengevaluasi

ini

sebelum dan sesudah klien batuk. h. Ajarkan tindakan menurunkan viskositas sekresi : klien untuk

keefektifan upaya batuk klien. g. Sekresi sulit diencerkan dapat kental untuk dan

81

mempertahankan hidrasi adekuat; meningkatkan masukan cairan yang

menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah

pada atelektasis. h. Untuk menghindari pengentalan dari sekret atau mosa pada saluran

1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak

kontraindikasi. i. Dorong atau berikan perawatan yang batuk. baik mulut setelah

nafas bagian atas. i. Hiegene yang mulut baik

meningkatkan j. Kolaborasi dengan rasa kesejahteraan dan mencegah mulut Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir menevaluasi perbaikan kondisi photo klien atas dan bau

tim kesehatan lain : Dengan radiologi fisioterapi. Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada. Konsul toraks. dokter, dan

pengembangan parunya.

Perubahan kenyamanan : Nyeri akut dengan dan otot

Nyeri berkurang/hilang. Kriteria hasil : Nyeri berkurang/

a. Jelaskan dan bantu klien tindakan nyeri nonfarmakologi dan non invasif. dengan pereda

a. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan

berhubungan trauma reflek

jaringan spasme

dapat diadaptasi. Dapat mengindentifikasi aktivitas yang

nonfarmakologi lainnya telah

sekunder.

menunjukkan b. Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan keefektifan dalam mengurangi

meningkatkan/menur unkan nyeri. Pasien tidak gelisah.

82

ketegangan

otot

nyeri. b. Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan oleh akan O2

rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan

relaksasi masase. c. Ajarkan distraksi nyeri akut. d. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan metode selama

jaringan terpenuhi, akan

sehingga mengurangi nyerinya.

c. Mengalihkan perhatian nyerinya ke halhal yang

berikan posisi yang nyaman; waktu belakangnya dipasang kecil. e. Tingkatkan pengetahuan tentang: sebab-sebab nyeri, menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. dan bantal misal tidur,

menyenangkan. d. Istirahat merelaksasi semua sehingga jaringan akan akan

meningkatkan kenyamanan.

e. Pengetahuan yang akan dirasakan

f. Kolaborasi denmgan dokter, analgetik. Observasi nyeri, motorik menit pemberian analgetik mengkaji efektivitasnya. Serta dan tingkat respon 30 pemberian

membantu mengurangi nyerinya. Dan

dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien

klien,

setelah obat untuk

terhadap rencana teraupetik. f. Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga

83

setiap 1 - 2 jam setelah tindakan

nyeri berkurang. Pengkajian optimal

akan

perawatan selama 1 2 hari.

yang akan

memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah

kemungkinan komplikasi dan

melakukan intervensi yang tepat.

E. Tension Pneumotoraks 1. Pengertian Tension Pneumotoraks merupakan medical emergency dimana akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas. Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan. Tension pneumothoraks adalah pengumpulan/ penimbunan udara di ikuti peningkatan tekanan di dalam rongga pleura. Kondisi ini terjadi bila salah satu rongga paru terluka, Sehingga udara masuk ke rongga pleura dan udara tidak bisa keluar secara alami. Kondisi ini bisa dengan cepat menyebabkan terjadinya insufisiensi pernapasan, kolaps kardiovaskuler, dan, akhirnya, kematian jika tidak dikenali dan ditangani. Hasil yang baik memerlukan diagnosa mendesak dan penanganan dengan segera. Tension pneumothoraks adalah diagnosa klinis yang sekarang lebih siap dikenali karena perbaikan di pelayanan-pelayanan darurat medis dan tersebarnya penggunaan sinar-x dada.

84

2. Etiologi Etiologi Tension Pneumotoraks yang paling sering terjadi adalah karena iatrogenik atau berhubungan dengan trauma. Yaitu, sebagai berikut: a. Trauma benda tumpul atau tajam meliputi gangguan salah satu pleura visceral atau parietal dan sering dengan patah tulang rusuk (patah tulang rusuk tidak menjadi hal yang penting bagi terjadinya Tension Pneumotoraks) b.Pemasangan kateter vena sentral (ke dalam pembuluh darah pusat), biasanya vena subclavia atau vena jugular interna (salah arah kateter subklavia). c. Komplikasi ventilator, pneumothoraks spontan, Pneumotoraks sederhana ke Tension Pneumotoraks d.Ketidakberhasilan mengatasi pneumothoraks terbuka ke pneumothoraks sederhana di mana fungsi pembalut luka sebagai 1-way katup e. Akupunktur, baru-baru ini telah dilaporkan mengakibatkan pneumothoraks

3. Patofisiologi Mekanisme terjadinya tension pneumothorax sama dengan kejadian pneumotoraks umumnya. Namun pada tension pneumothorax, udara secara terus-menerus mengalir dari parenkim paru yang cedera meningkatkan tekanan di dalam rongga hemitoraks yang terkena. Pasien mengalami distress pernapasan. Suara napas menghilang, dan hemitorak yang terkena hipersonor pada perkusi. Trakea mengalami deviasi ke sisi yang berlawanan dengan injury. Organ mediastinum bergeser kea rah berlawanan dengan sisi yang sakit. Ini mengakibatkan penurunan Venous Return ke jantung. Pasien menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik, seperti: hipotensi, yang dengan cepat dapat berkembang kepada kolaps kardiovaskuler secara keseluruhan.

Penanganan segera terhadap kondisi yang mengancam kehidupan meliputi dekompresi pada hemitoraks yang sakit dengan menggunakan needle thoracostomy (ukuran 14 16 G) ditusukkan pada ruang interkostal kedua sejajar dengan midclavicular line. Selanjutnya dapat dipasang tube thoracostomy diiringi dengan control nyeri dan pulmonary toilet.

85

Tension Pneumothoraks atau Pneumothoraks Ventiel, terjadi karena mekanisme check valve yaitu pada saat inspirasi udara masuk ke dalam rongga pleura, tetapi pada saat ekspirasi udara dari rongga pleura tidak dapat keluar. Semakin lama tekanan udara di dalam rongga pleura akan meningkatkan dan melibihi tekanan atmosfir. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal nafas. Tekanan dalam rongga pleura meningkat sehingga paru mengempis lebih hebat, mediastinum tergeser kesisi lain dan mempengaruhi aliran darah vena ke atrium kanan. Pada foto sinar tembus dada terlihat mediastinum terdorong kearah kontralateral dan diafragma tertekan kebawah sehingga menimbulkan rasa sakit. Keadaan ini dapat mengakibatkan fungsi pernafasan sangat terganggu yang harus segera ditangani kalau tidak akan berakibat fatal.

4. Manifestasi klinik Manifestasi klinis dari tanda dan gejala yang muncul pada tension pneumothoraks penting sekali untuk mendiagnosa dan mengetahui kondisi pasien. Manifestasi awal : nyeri dada, dispnea, ansietas, takipnea, takikardi, hipersonor dinding dada dan tidak ada suara napas pada sisi yang sakit. Manifestasi lanjut : tingkat kesadaran menurun, trachea bergeser menuju ke sisi kontralateral, hipotensi, pembesaran pembuluh darah leher/ vena jugularis (tidak ada jika pasien sangat hipotensi) dan sianosis. Berikut adalah keadaan atau kelainan akibat trauma toraks yang berbahaya dan mematikan bila tidak dikenali dan ditatalaksana dengan segera : dispnea, hilangnya bunyi napas, sianosis, asimetri toraks, mediastinal shift.

5. Pemeriksaan fisik Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion, sering ditemui sianosis perifer atau sentral, takikardia, hipotensi,dan nyeri dada pleural.

86

6. Pemeriksaan penunjang a) Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleural; dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal. b) GDA : variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengaruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. c) Torasentesis : menyatakan darah / cairan sero sanguinosa. d) Hb : mungkin menurun, menunjukkan kehilangan darah

7. Penatalaksanaan Prinsip : a. Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma secara umum (primary survey secondary survey). b.Tidak dibenarkan melakukan langkah-langkah: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, penegakan diagnosis dan terapi secara konsekutif (berturutan) c. Standar pemeriksaan diagnostik (yang hanya bisa dilakukan bila pasien stabil), adalah : portable x-ray, portable blood examination, portable bronchoscope. Tidak dibenarkan melakukan pemeriksaan dengan memindahkan pasien dari ruang emergency. d.Penanganan pasien tidak untuk menegakkan diagnosis akan tetapi terutama untuk menemukan masalah yang mengancam nyawa dan melakukan tindakan penyelamatan nyawa. e. Pengambilan anamnesis (riwayat) dan pemeriksaan fisik dilakukan bersamaan atau setelah melakukan prosedur penanganan trauma. f. Penanganan pasien trauma toraks sebaiknya dilakukan oleh Tim yang telah memiliki sertifikasi pelatihan ATLS (Advance Trauma Life Support). g.Oleh karena langkah-langkah awal dalam primary survey (airway, breathing, circulation) merupakan bidang keahlian spesialistik Ilmu Bedah Toraks Kardiovaskular, sebaiknya setiap RS yang memiliki trauma unit/center memiliki konsultan bedah toraks kardiovaskular.

87

Penatalaksanaan 1) Pada ICS 5 atau 6 dilakukan pemasangan WSD dengan memakai trokar. 2) WSD dilepas bila paru sudah mengembang dengan baik, tidak ada komplikasi dan setelah selang plastic atau diklem 24 jam untuk membuktikan bahwa pneumothoraks sudah sembuh. 3) Bila penderita sesak dapat diberikan oksigen konsentrasi tinggi. 4) Untuk megnobati nyeri dapat diberikan analgetika seperti Antalgin 3 X 1 tablet atau analgetik kuat. 5) Fisioterapi dapat diberikan karena dapat mencegah retensi sputum. 6) Apabila pengembangan paru agak lambat, bias dilakukan penghisapan dengan tekanan 25-50 cm air. 7) Pada pneumothoraks berulang dapat dilakukan perlekatan kedua pleura dengan memakai bahan yang dapat menimbulkan iritasi atau bahan sclerosing agent. Pada pneumothoraks ventil/ tension pneumothoraks, penderita sering sesak napas berat dan keadaan ini dapat mengancam jiwa apabila tidak cepat dilakukan tindakan perbaikan. Tekanan intrapleura tinggi, bisa terjadi kolaps paru dan ada penekanan pada mediastinum dan jantung. Himpitan pada jantung menyebabkan kontraksi terganggu dan venous return juga terganggu. Jadi selain menimbulkan gangguan pada pernapasan, juga menimbulkan gangguan pada sirkulasi darah (hemodinamik). Penanganan segera terhadap kondisi yang mengancam kehidupan meliputi dekompresi pada hemitoraks yang sakit dengan menggunakan needle thoracostomy (ukuran 14 16 G) ditusukkan pada ruang interkostal kedua sejajar dengan midclavicular line. Selanjutnya dapat dipasang tube thoracostomy diiringi dengan control nyeri dan pulmonary toilet (pemasangan selang dada) diantara anterior dan mid-axillaris. Penanganan Diit dengan tinggi kalori tinggi protein 2300 kkal + ekstra putih telur 3 x 2 butir / hari.

88

8. Konsep WSD a. Pengertian WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah, pus) dari rongga pleura dengan menggunakan pipa penghubung. b. Tujuan - Mengalirkan/drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk

mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut. - Mengembangkan kembali paru yang kolaps - Memasukkan obat ke dalam rongga pleura.

c. Perubahan Tekanan Rongga Pleura Tekanan Atmosfir Intrapulmoner Intrapleural Istirahat 760 760 756 Inspirasi 760 757 750 Ekspirasi 760 763 756

d. Indikasi Pemasangan WSD - Hematotoraks - Efusi pleura dengan keganasan - Pneumotoraks lebih dari 20 % - Hidropneumothoraks - Empiema

e. Kontra Indikasi Pemasangan WSD - Hematothoraks masif yang belum mendapat penggantian cairan/darah - Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol - Perlekatan pleura yang luas.

f. Tempat Pemasangan WSD Bagian Apex paru Yaitu pada anterolateral intercosta 1-2 yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura.

89

Bagian Basal Yaitu pada posterolateral intercosta ke 8-9 yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura.

g. Jenis-jenis WSD WSD dengan sistem satu botol Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam dua cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi. Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan. WSD dengan sistem dua botol Digunakan dua botol, satu botol mengumpulkan cairan drainage dan botol kedua sebagai water seal. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2. Prinsip kerjasama dengan sistem satu botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD. Bisasanya digunakan untuk mengatasi hemotothoraks, hemopneumothoraks dan efusi peura. WSD dengan sistem tiga botol Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan. Botol ke3 mempunyai 3 selang yaitu tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan
90

tube pada botol ke dua, tube pendek lain dihubungkan dengan suction dan tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer.

h.Komplikasi Pemasangan WSD - Laserasi, mencederai organ (hepar, lien) - Perdarahan - Empisema Subkutis - Tube terlepas - Infeksi - Tube tersumbat

i. Persiapan Pemasangan WSD a) Pengkajian - Memeriksa kembali instruksi dokte - Mencek inform consent - Mengkaji tanda-tanda vital dan status pernapasan pasien. b) Persiapan Pasien - Siapkan pasien - Memberi penjelasan kepada pasien meliputi : Tujuan tindakan Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD, posisi klien dapat duduk atau berbaring Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam dan distraksi Foto thoraks posterior-anterior dan lateral paru.

c) Persiapan alat dan bahan meliputi : - Trokar/toraks drain dengan nomor yang disesuaikan dengan bahan yang akan dialirkan, untuk udara nomor 18-20 dan untuk pus nomor 22-24. - Kasa steril - Plester
91

- Alkohol 70% dan bethadin 10% - Spuit 5 cc sebanyak 2 buah - Lidocain solusio injeksi untuk anestesi local sebanyak 5 ampul - Botol WSD - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Duk steril

d) Prosedur Tindakan - Posisi pasien dengan sisi yang sakit menghadap ke arah dokter dengan

disandarkan pada kemiringan 30o-60o, tangan sisi paru yang sakit diangkat ke atas kepala - Lakukan tindakan antiseptic menggunakan bethadin 10% dilanjutkan dengan menggunakan alkohol 70% dengan gerakan berputar ke arah luar, pasang duk steril dengan lubang tempat di mana akan dilakukan insersi kateter - Lakukan anestesi lokal lapis demi lapis dari kulit hingga pleura parietalais menggunakan lidocain solusio injeksi, jangan lupa melakukan aspirasi sebelum mengeluarkan obat pada setiap lapisan. Anestesi dilakukan pada daerah yang akan di pasang WSD atau pada intercostalis 4-5 anterior dari mid axillary line - Langsung lakukan punksi percobaan menggunakan spuit anestesi tersebut - Lakukan sayatan pada kulit memanjang sejajar intercostalis lebih kurang 1 cm lalu buka secara tumpul sampai ke pleura - Disiapkan jahitan matras mengelilingi kateter - Satu tangan mendorong trokar dan tangan lainnya memfiksir trokar untuk membatasi masuknya alat ke dalam rongga pleura. Setelah trokar masuk ke dalam rongga pleura, stilet dicabut dan lubang trokar di tutup dengan ibu jari. Kateter yang sudah diklem pada ujung distalnya di insersi secara cepat melelui trokar ke dalam rongga pleura. Kateter diarahkan ke anteroapikal pada pneumothoraks dan posterobasal pada cairan pleura/empiema. Trokar dilepas pada dinding dada. Kateter bagian distal dilepas dan trokar dikeluarkan
92

- Setelah trokar ditarik, hubungkan kateter dengan selang dan masukkan ujung selang ke dalam botol WSD yang telah diberi larutan bethadin yang telah diencerkan dengan NaCl 0,9% dan pastikan ujung selang terendam sepanjang dua cm - Perhatikan adanya undulasi pada selang penghubung dan terdapat cairan, darah dan pus yang dialirkan atau gelembung udara pada botol WSD. - Fiksasi kateter dengan jahitan tabbac sac, lalu tutup dengan kasa steril yang telah di beri bethadin dan fiksasi ke dinding dada dengan plester. (Standar Diagnosis & Terapi Gawat Darurat, 2007: 70-72)

j. Pedoman pencabutan 1. Kriteria pencabutan : - Sekrit serous, tidak hemoraged - Dewasa : jumlah kurang dari 100cc/24jam - Anak anak : jumlah kurang 25-50cc/24jam - Paru mengembang dengan tanda : Auskultasi suara napas vesikuler kiri dan kanan Perkusi bunyi sonor kiri dan kanan Fibrasi simetris kiri dan kanan Foto toraks paru yang sakit sudah mengembang 2. Kondisi : - Pada trauma Hemato/pneumothorak yang sudah memenuhi kedua kriteria, dicabut dengan cara air-tight (kedap udara). - Pada thoracotomi Infeksi : klem dahulu 24 jam untuk mencegah resufflasi, bila baik cabut - Post operatif : bila memenuhi kedua kriteria, langsug di cabut (air-tight) - Post pneumonektomi : hari ketiga bila mediastinum stabil (tak perlu airtight). 3. Alternatif - Paru tetap kolaps, hisap sampai 25 cmH20
93

langsung

- Bila kedua krieria dipenuhi, klem dahulu 24 jam, tetap baik lakukan pencabutan. - Bila tidak berhasil, tunggu sampai dua minggu, lakukan dekortikasi - Sekret lebih dari 200cc/24jam : curiga adanya Chylo toraks (pastikan dengan pemeriksaan laboratorium), pertahankan sampai dengan empat minggu, bila tidak berhasil dilakukan toracotomi - Bila sekret kurang dari 100cc/24jam, klem, kemudian dicabut. k.Konsep Perawatan WSD a. Persiapan Alat : - Satu buah meja dengan satu set bedah minor - Botol WSD berisi larutan bethadin yang telah diencerkan 0,9% dan ujung selang terendam sepanjang dua cm. - Kasa steril dalam tromol - Korentang - Plester dan gunting - Nierbekken/kantong balutan kotor - Alkohol 70% - Bethadin 10% - Handscoon steril b. Persiapan Pasien dan Lingkungan - Pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan - Memasang sampiran disekeliling tempat tidur - Membebaskan pakaian pasien bagian atas - Mengatur posisi setengah duduk atau sesuai kemampuan pasien - Alat-alat didekatkan ke tempat tidur pasien. c. Pelaksanaan Perawatan WSD - Perawat mencuci tangan, kemudian memasang handscoon - Membuka set bedah minor steril - Membuka balutan dengan menggunakan pinset secara hati-hati, kotor dimasukkan ke dalam nierbekken
94

dengan NaCl

balutan

- Mendisinfeksi luka dan selang dengan kasa alkohol 70% kemudian dengan bethadin 10% - Menutup luka dengan kasa steril yang sudah dipotong tengahnya kemudian diplester - Selang WSD diklem - Melepaskan sambungan antara selang WSD dengan selang botol - Ujung selang WSD dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian selang WSD dihubungkan dengan selang penyambung botol WSD yang baru - Klem selang WSD dibuka - Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan bimbing pasien cara batuk efektif - Latih dan anjurkan pasien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD - Merapikan pakaian pasien dan lingkungannya, kemudian membantu pasien dalam posisi yang paling nyaman - Membersihkan alat-alat dan botol WSD yang kotor, kemudian di sterilisasi kembali - Membuka handscoon dan mencuci tangan - Menulis prosedur yang telah dilakukan pada catatan perawatan. d. Evaluasi Pelaksanaan Perawatan WSD Evaluasi pelaksanaan perawatan WSD meliputi : - Evaluasi keadaan umum : Observasi keluhan pasien Observasi gejala sianosis Observasi tanda perdarahan dan rasa tertekan pada dada Observasi apakah ada krepitasi pada kulit sekitar selang WSD Observasi tanda-tanda vital. - Evaluasi ekspansi paru meliputi : Melakukan pemeriksaan Inspeksi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD
95

Melakukan pemeriksaan Palpasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Perkusi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Melakukan pemeriksaan Auskultasi paru setelah selesai melakukan perawatan WSD Foto thoraks setelah dilakukan pemasangan selang WSD dan sebelum selang WSD di lepas. - Evaluasi WSD meliputi : Observasi undulasi pada selang WSD Observasi fungsi suction countinous Observasi apakah selang WSD tersumbat atau terlipat Catat jumlah cairan yang keluar dari botol WSD Pertahankan ujung selang dalam botol WSD agar selalu berada 2 cm di bawah air Pertahankan agar botol WSD selalu lebih rendah dari tubuh Ganti botol WSD setiap hari atau bila sudah penuh. (Pedoman Keterampilan Praktik Klinik Keperawatan. 2005: 49-50).

4. Komplikasi Gagal napas akut (3-5%) a. Komplikasi tube torakostomi lesi pada nervus interkostales b. Henti jantung-paru c. Infeksi sekunder dari penggunaan WSD d. Kematian e. timbul cairan intra pleura, misalnya. - Pneumothoraks disertai efusi pleura : eksudat, pus. - Pneumothoraks disertai darah : hemathotoraks. f. syok

96

5. ASUHAN KEPERAWATAN PADA TENSION PNEUMOTORAKS 1) Pengkajian Riwayat kesehatan Klien terdapat penyakit paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang meningkat maka mungkin terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering ditemukan adalah pneumotoraks, hemotoraks, pleural effusion atau empiema. Klien bisa juga ditemukan adanya riwayat trauma dada yang mendadak yang memerlukan tindakan pembedahan.

Pemeriksaan sistem a. B1 (Breathing) DS : Klien mengatakan nyeri dada DO : - Klien tampak memegang dadanya - Pernapasan meningkat / takipnea, - peningkatan kerja napas, - penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada, - ekspirasi abdominal kuat, - bunyi napas menurun/ hilang (auskultasi mengindikasikan bahwa paru tidak mengembang dalam rongga pleura), - fremitus menurun, - perkusi dada : hipersonor diatas terisi udara, - observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama bila trauma, - kulit : pucat, sianosis, berkeringat, mental: ansietas, gelisah, bingung, pingsan. b. B2(Blood) DS : Klien mengatakan penglihatanya berkunang-kunang DO : - Takikardi - frekuensi tak teratur (disritmia), - S3 atau S4 / irama jantung gallop
97

- nadi apikal (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal - tanda homman (bunyi rendah sehubungan dengan denyutan jantung, menunjukkan udara dalam mediastinum). hipotensi,dan nyeri dada pleural. c. B3 (Brain) DS : Klien mengatakan perasaannya tidak tenang, sering gelisah DO : - Klien terlihat ketakutan - Klien terlihat gelisah - Klien terlihat susah tidur d. B4 (Bladder) Tidak ada kelainan e. B5 ( Bowel) DS : Klien mengatakan susah makan, karena mual DO : Adanya gangguan pada metabolisme karena terpasangnya IV sentral/ infuse tekanan f. B6 (Bone) DS : DO : Adanya trauma pada dada.

2) Diagnosa Diagnosa yang mungkin muncul g. Pola pernafasan tak efektif b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan), nyeri, ansietas h. Resiko tinggi trauma penghentian napas b/d kurang pendidikan

keamanan/pencegahan. i. Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan pengobatan b/d kurang menerima informasi. Dongoes, Marylin E. 2000.

98

3) Intervensi

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

Pola pernafasan tak efektif b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan, nyeri, ansietas

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1 X 24 jam pola pernafasan pasien efektif. Kriteria Hasil : Menunjukkan pola pernapasan normal atau efektif dengan Gas Darah dalam rentang normal. Bebas sianosis dan tanda/ gejala hipoksia

1. Identifikasi etiologi /factor

a. Pemahaman penyebab kolaps paru perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terapiutik yang tepat. b. Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologis dan nyeri

pencetus, contoh kolaps trauma, spontan, infeksi,

komplikasi ventilasi mekanik.

2. Evaluasi

fungsi

menunjukan terjadinya syok b/d hipoksia/perdarahan. c. Kesulitan bernapas dengan ventilator atau peningkatan tekanan jalan napas diduga memburuknya kondisi/terjadi komplikasi (ruptur spontan dari bleb, terjadi pneumotorak). d.Bunyi napas dapat menurun atau tidak ada pada lobus, segmen

pernapasan, catat kecepatan/pernap asan dispnea, terjadinya sianosis, perubahan tanda vital. serak,

3. Awasi kesesuaian pola bila menggunakan ventilasi mekanik dan perubahan tekanan udara. catat pernapasan

paru/seluruh area paru (unilateral). Area Atelektasis tidak ada bunyi napas dan sebagian area kolaps menurun bunyinya. e. Pengembangan dada sanma dengan ekspansi paru. Deviasi trahea dari area sisi yang sakit pada tegangan pneumothoraks.

4. Auskultasi bunyi napas.

f. Suara dan taktil fremitus (vibrasi) menurun pada jaringan yang terisi cairan / konsolidasi.

5. Catat pengembangan

g. Sokongan terhadap dada dan otot abdominal buat batuk lebih

99

dada dan posisi trahea. 6. Kaji fremitus. 7. Kaji adanya area nyeri tekan bila batuk, napas dalam. 8. Pertahankan posisi nyaman (peninggian kepala tempat tidur). 9. Pertahankan perilaku tenang, Bantu klien untuk kontrol diri dengan gunakan pernapasan lambat/dalam. 10. Bila selang dada dipasang : - Periksa pengontrol pengisap untuk jumlah hisapan yang benar (batas air, pengatur dinding/meja disusun tepat). - Periksa batas cairan pada botol pengisap - pertahankan pada batas yang ditentukan.

efektif/mengurangi trauma. h. Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yanmg tidak sakit. i. Membantu pasien alami efek fisiologis hipoksia yang dapat dimanifestaikan sebagai ansietas/takut j. Mempertahankan tekanan negatif intra pleural sesuai yang diberikan, meningkatkan ekspansi paru optimum atau drainase cairan. - Air botol penampung bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk kearea pleural. - Gelembung udara selama ekspirasi menunjukan lubang angin dari pneumothorak (kerja yang diharapkan) - Bekerjanya pengisapan, menunjukan kebocoran udara menetap mungkin berasal dari pneumotoraks besar pada sisi pemasangan selang dada (berpusat pada pasien), unit drainase dada berpusat pada system. - Bila gelembung berhenti saat kateter diklem pada sisi pemasangan, kebocoran terjadi pada pasien (sisi pemasukan / dalam tubuh pasien). - Mengisolasi lokasi kebocoran udara pusat system.

100

- Observasi gelembung udara botol penampung. - Evaluasi ketidak normalan/kontu initas gelembung botol penampung. - Tentukan lokasi kebocoran udara (berpusat pada pasien atau system) dengan mengklem kateter torak pada bagian distal sampai keluar dari dada. - Klem selang pada bagian bawa unit drainase bila kebocoran udara berlanjut. - Awasi pasang surut air penampung menetap atau sementara. - Pertahankan posisi normal

- Botol penampung bertindak sebagai manometer intra pleural (ukuran tekanan intrapleural), sehingga fluktuasi (pasang surut) tunjukan perbedaan tekanan antara inspirasi dan ekspirasi. Pasang surut 2-6 selama inspirasi normal dan sedikit meningkat saat batuk. Fluktuasi berlebihan menunjukan abstruksi jalan napas atau adanya pneumothorak besar. - Berguna untuk mengevaluasi kondisi/terjadinya komplikasi atau perdarahan yang memerlukan upaya intervensi. - Pemijatan mungkin perlu untuk meyakinkan/mempertahankan drainase pada adanya perdarahan segar/bekuan darah besar atau eksudat purulen (Empiema). - Pemijatan biasanya tidak nyaman bagi pasien karena perubahan tekanan intratorakal, dimana dapat menimbulkan batuk/ketidaknyamanan dada. - Pemijatan yang keras dapat timbulkan tekanan hisapan intratorakal yang tinggi dapat mencederai. - Pneumothorak dapat terulang dan memerlukan intervensi

101

dari system drainase selang pada fungsi optimal. - Catat karakteristik/ju mlah drainase selang dada. - Evaluasi kebutuhan untuk memijat selang (milking). - Pijat selang hati-hati sesuai protocol, yang meminimalkan tekanan negatif berlebihan. - Bila kateter torak putus/ lepas.Observasi tanda distress pernapasan - Setelah kateter torak dilepas. Tutup sisi lubang masuk dengan kasa steril.

cepat untuk cegah pulmonal fatal dan gangguan sirkulasi. - Deteksi dini terjadinya komplikasi penting, contoh berulang pneumothorak, adanya infeksi. - Mengawasi kemajuan perbaikan hemothorak/pneumothorak dan ekspansi paru. Mengidentifikasi posisi selang endotraheal mempengaruhi inflasi paru. - Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi. - Alat dalam menurunkan kerja napas, meningkatkan penghilangan distress respirasi dan sianosis b/d hipoksemia.

INTERVENSI KOLABORASI - Kaji seri foto thorak. - Awasi GDA dan nadi

102

oksimetri, kaji kapasitas vital/pengukura n volume tidal. - Berikan oksigen tambahan melalui kanula/masker sesuai indikasi. Resiko tinggi trauma penghentian napas b/d kurang pendidikan keamanan/pencegahan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1 X 24 jam resiko trauma dapat dicegah. Kriteria Hasil : - Mencari bantuan untuk mencegah komplikasi. - Memberi perawatan untuk menghindari lingkungan dan bahaya fisik. Tujuan : dengan - Informasi tentang bagaimana system bekerja berikan keyakinan dan menurunkan kecemasan pasien. - Mencegah terlepasnya kateter

1. Kaji
fungsi dada.

pasien tujuan / drainase

2. Pasangkan
kateter kedinding dan panjang ekstra torak dada

dada atau selang terlipat, menurunkan nyeri/ketidaknyamanan b/d penarikan/penggerakan selang.

berikan

selang - Mencegah terlepasnya selang. sebelum - Melindungi kulit dari iritasi / tekanan. posisi - Mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko kecelakaan jatuh/unit pecah. - Meningkatkan kontuinitas evakuasi optimal cairan / udara selama pemindahan. - Memberikan pengenalan dini dan mengobati adanya erosi /infeksi kulit - Menurunkan resiko obstruksi drainase/terlepasnya selang. - Intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius.

memindahkan/m engubah pasien : - Amankan sisi sambungan selang. - Beri bantalan pada sisi dengan kasa/plester. 3. Amankan unit drainase pada tempat tidur pasien

4. Berikan alat transportasi aman

103

bila pasien dikirim keluar unit untuk tujuan diagnostik.

5. Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat kondisi kulit.

6. Anjurkan pasien untuk menghindari berbaring/menarik selang.

7. Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan pada perawat.Contoh perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba-tiba, nyeri dada segera lepaskan alat.

8. Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak terlepas/tercabut. Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan pengobatan b/d kurang menerima informasi. Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1X24 jam klien dan keluarga dapat mengerti tentang kondisi kesehatan klien. a. Kaji tingkat pengetahuan pasien. b. Identifikasi kemungkinan kambuh/komplika si jangka panjang. c. Kaji ulang - Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan. - Penyakit paru yang ada seperti PPOM berta dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh. Pasien sehat yang menderita pneumothorak spontan insiden kekambuhan 10 50 %.

104

tanda/gejala yang Kriteria Hasil : Pasien dapat mengidentifikas i tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu dicegah agar tidak menimbulkan masalah baru memerlukan evaluasi medik cepat, seperti : nyeri dada tibatiba, dispnea, distress pernapasan lanjut. d. Kaji ulang praktek kesehatan yang baik contoh : nutrisi baik, istrahat, latihan.

- Berulangnya pneumothorak/hemothorak memerlukan intervensi medik untuk mencegah/menurunkan potensial komplikasi. - Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan.

105

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elisabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta. FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu bedah. Binarupa Aksara : Jakarta Kristanty, Paula, dkk.2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta:TIM Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. EGC. Jakarta Price, A. Silvia. 2005. Patofisiologi. Edisi VI. EGC. Jakarta Priharjo Robert. Pengkajian Fisik Keperawatan. EGC. Jakarta Smelizer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Vol. 1. EGC. Jakarta. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta. http://hendritamara.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-pada-klien-trauma.html http://iwansain.wordpress.com http///G.Keperawatan Gadar Trauma Dada.akses tanggal 28 maret 2010.

106