Anda di halaman 1dari 18

KONDISI PESISIR DAN LAUT PROVINSI LAMPUNG

Oleh: Indra Gumay Yudha


Email: indra_gumay@yahoo.com

1. STATUS

Provinsi Lampung memiliki wilayah pesisir yang luas dengan garis pantai lebih kurang 1.105 km
dan 69 pulau-pulau kecil dengan beragam jenis habitat yang berbeda, termasuk lingkungan
yang dibuat manusia, seperti tambak udang dan perkotaan. Luas wilayah pesisir sekitar
440.010 ha dan luas perairan laut dalam batas 12 mil adalah 24.820,0 km2 yang merupakan
bagian wilayah Samudera Hindia (pantai barat Lampung), Selat Sunda (Teluk Lampung dan
Teluk Semangka), dan Laut Jawa (pantai timur Lampung).

Pantai Barat hampir seluruhnya didominasi oleh pantai berpasir, hutan pantai tipe barringtonia,
dengan sisipan tanaman perkebunan rakyat, dan dataran rendah yang berhutan meranti
(Dipterocarpaceae) sebagai kelanjutan dari Taman Nasional Bukit Barisan. Pantai berpasir,
pantai berbatu, dan hutan pantai mempunyai susunan tumbuhan yang didominasi oleh formasi
Barringtonia, seperti ketapang ( Terminalia catappa) , waru laut (Hibiscus tiliaceus), nyamplung
(Calophyllum inophyllum), cemara (Casuarina equisetifolia), dan rasau putih (Pandanus
tectorius) . Penebangan pohon, pembakaran hutan, dan pembukaan lahan secara regular yang
terjadi di masa lampau, mengakibatkan terjadinya dominasi lokal oleh pandanus sepanjang
Pantai Barat atau casuarina sepanjang pantai Taman Nasional Way Kambas.

Pantai sekitar teluk (Teluk Lampung dan Teluk Semangka) pada dasarnya mempunyai tipe yang
sama, namun mengalami degradasi dan kohesi lebih besar lagi karena dampak urbanisasi.
Kawasan yang semula merupakan hutan mangrove telah berubah menjadi tambak udang,
terutama pada beberapa teluk dan muara sungai.

Pantai Timur yang merupakan bagian dari Laut Jawa memiliki perairan relatif landai dengan
tingkat sedimentasi yan tinggi. Wilayah pesisir di daerah ini didominasi tambak udang yang luas
dan sedikit sisa hutan mangrove. Industri tampak udang terbesar juga terdapat di wilayah ini,
yaitu PT Central Pertiwi Bahari dan PT Aruna Wijaya Sakti (dahulu PT DCD). Kedua industri
tambak udang ini terletak di wilayah pesisir Kabupaten Tulang Bawang. Ekosistem mangrove
yang masih tampak terpelihara di pantai timur Lampung hanyalah di sekitar TN Way Kambas
dan di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Di Desa Margasari,
kawasan mangrove yang dipelihara oleh masyarakat mencapai luasan lebih dari 700 ha.

Terumbu karang, padang lamun, dan rumput laut dapat dijumpai di sepanjang daratan sempit
sekitar pulau-pulau di bagian selatan dan barat. Sebagian habitat ini tumbuh dengan baik di

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 1
Teluk Lampung dan di Pantai Barat. Hutan rawa di Pantai Timur sudah banyak dikeringkan,
dikonversi menjadi sawah dan tambak, dan pohonnya ditebangi sehingga fungsi rawanya telah
berubah. Hutan rawa air tawar merupakan lingkungan yang khas di Pantai Timur, namun tinggal
sedikit dan dalam kondisi kritis. Sisa paya-paya, rumput, dan gelagah (Saccarum spontanium)
yang masih ada di sepanjang Way Mesuji, Way Tulang Bawang, dan Way Seputih merupakan
kolam raksasa pengendali banjir.

1.1 Mangrove

Keanekaragaman mangrove di Lampung rendah. Sebagian besar didominasi oleh Api-api


(Avicennia alba dan Avicennia marina) pada lahan yang baru terbentuk, ditunjang oleh buta-buta
(Bruguiera parviflora dan Excoecaria agallocha) yang lazim dijumpai di daerah muara. Agak ke
hulu dijumpai nipah (Nypa fruticans) , pedada (Sonneratia caseolaris), dan Xylocarpus granatum
yang menunjukkan adanya pengaruh air tawar. Bakau (Rhizophora stylosa) terbukti
mendominasi mangrove yang berasosiasi dengan terumbu karang. Hal ini terdapat di sepanjang
pantai dan pulau-pulau di Teluk Lampung.

Ekosistem mangrve di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung terdapat di sekitar Pantai Puri
Gading, Pantai Duta Wisata, serta di lahan reklamasi PT BBS di Kecamatan Teluk Betung
Barat. Jika dilihat dari ukuran vegetasinya, sebagian besar ekosistem mangrove tersebut
bukan merupakan habitat primer, bahkan di lahan reklamasi PT BBS didominasi oleh vegetasi
tingkat semai yang sedang mengalami proses suksesi. Jenis vegetasi yang dominan di Pantai
Puri Gading adalah Sonneratia alba untuk tingkat pohon dan pancang; sedangkan untuk tingkat
semaian selain didominasi oleh Sonneratia alba juga jenis Avicennia officinalis. Beberapa jenis
mangrove lainnya yang ditemukan adalah sebagai berikut: Rhizophora apiculata, Avicennia
marina, Bruguiera silindrica, Excoearia agallocha, Hibiscus tiliaceus, jeruju (Achanthus
ilicifolius), basang siap (Finlaysonia maritima), dan nipah (Nypa fruticans). Dari analisis
vegetasi diketahui bahwa Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi mangrove tingkat pohon adalah
299,94; INP tingkat pancang adalah 299,96; serta INP tingkat semai adalah 199,96. Saat ini
keberadaan ekosistem mangrove tersebut terancam akibat keterbatasan lahan di wilayah
pesisir Kota Bandar Lampung yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan habitat mangrove jika
lahan tersebut dibangun.

Komunitas mangrove di Desa Durian Kecamatan Padang Cermin (Kabupaten Pesawaran)


berupa asosiasi (multi-species), dengan jenis dominan Rhizophora mucronata. INP berkisar
antara 236 hingga 249 dan dengan kerapatan berkisar antara 188 ind/ha hingga 530 ind/ha.
Tingkat pertumbuhan pohon di kawasan ini adalah sapihan, tihang, dan pohon. Ketebalan
mangrove antara 1 dan 1,5 km. Berbeda halnya dengan komunitas mangrove di Desa Durian,
tipe vegetasi di Desa Sidodadi (Padang Cermin) bertipe konsosiasi, dengan jenis Rhizophora
mucronata sebagai jenis yang dominan dan memiliki INP sebesar 300.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 2
Di wilayah pesisir Kabupaten Tulang Bawang terdapat 2 jenis mengarove yang dominan, yaitu
jenis Avicennia marina dan Rhizophora mucronata. Selain kedua jenis dominan tersebut, di
kawasan ini terutama di sepanjang sungai dijumpai vegetasi jenis Nypa fruticans. Ketebalan
mangrove di sepanjang pantai pesisir Tulang Bawang relatif tipis dan sebagian besar telah
dikonversi menjadi tambak udang. Wilayah pesisir di sekitar PT CPB yang dialokasikasikan
sebagai green belt saat ini pun kondisinya semakin rusak karena dikonversi menjadi tambak
tradisional milik masyarakat. Kondisi green belt milik PT AWS masih lebih baik bila
dibandingkan dengan PT CPB.

Di wilayah pesisir Labuhan Maringgai (Kabupaten Lampung Timur) ketebalan mangrove relatif
tipis, yaitu bervariasi antara 50 hingga 150 meter, kecuali di sekitar Kuala Penet, Desa
Margasari. Hamparan mangrove di kawasan ini memiliki luas lebih dari 700 ha yang didominasi
jenis api-api (Avicennia spp) yang tumbuh secara alami dan sebagian kecil Rhizopora spp yang
ditanam oleh masyarakat dan pemerintah. Kondisi mangrove di Desa Margasari ini dalam
kondisi baik dengan ketebalan sekitar 1.000 m dari pinggir tambak terluar. Hal ini menunjukkan
fungsi ekosistem mangrove sebagai ‘sabuk hijau’ masih tetap terjaga. Kawasan mangrove ini
dapat terjaga dengan baik karena ada komitmen yang kuat dari masyarakat setempat untuk
tetap melestarikannya. Hal ini diperkuat dengan adanya peraturan desa yang melarang
penduduk setempat maupun dari luar desa mengkorversi dan merusak kawasan mangrove
tersebut. Pada mulanya kawasan mangrove tersebut merupakan tambak-tambak udang milik
masyarakat. Namun akibat abrasi pantai yang semakin hebat hingga menggerus daratan
sejauh 1 km ke arah pemukiman warga dan melenyapkan beberapa tambak, maka masyarakat
menjadi sadar dan memulai upaya rehabilitasi. Pada saat daratan mulai terbentuk kembali
dalam bentuk tanah timbul dan mulai ditumbuhi mangrove jenis api-api, mereka tidak
mengubahnya menjadi tambak kembali, tetapi lahan baru tersebut tetap dibiarkan ditumbuhi
mangrove dan dijaga hingga saat ini.

Gambar 1. Mangrove di Desa Margasari yang masih terjaga dengan baik

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 3
Gambar 2. Kawasan mangrove di Desa Margasari yang menghadap ke laut didominasi
jenis api-api (Avicennia spp)

Konsosiasi (mono-species) Avicennia marina yang terdapat di daerah Sriminosari, Labuhan


Maringgai terdiri dari konsosiasi tingkat sapihan dengan kerapatan 2.500 batang/ha yang
tumbuh di habitat yang lebih mantap. Konsosiasi Avicennia marina tingkat semai terdapat
terutama pada habitat yang kurang mantap dan di daerah tanah timbul. Kerapatan dan
konsosiasi ini adalah 4.000 batang/ha. Jenis Nypa fruticans banyak tumbuh di sepanjang sisi
sungai, seperti Way Penet. Mengingat jenis vegetasi ini hidup di daerah dengan salinitas yang
lebih rendah, maka banyak tumbuh di daerah lebih hulu dari suatu sungai.

Kondisi vegetasi mangrove di kawasan Taman Nasional Way Kambas tidak banyak berbeda
dengan daerah Labuhan Maringgai, khususnya dalam hal ketebalan. Bahkan di daerah ini,
ketebalan mangrove sangat tipis, dengan rata-rata ketebalan sekitar 5 meter. Vegetasi
mangrove di kawasan ini terkonsentrasi di sepanjang Way Tulang Bawang dan Way Penet.
Jenis vegetasi yang mendominasi kawasan mangrove di daerah ini adalah jenis mangrove sejati
Rhizophora mucronata dengan kerapatan sekitar 400 batang/ha. Tipe vegetasinya merupakan
konsosiasi dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 300. Selain kedua jenis dominan
tersebut, khususnya di sepanjang sungai dijumpai vegetasi jenis Nypa fruticans.

1.2 Lamun
Kajian tentang lamun masih jarang dilakukan, sehingga tidak diketahui secara jelas statusnya
saat ini. Kajian tentang lamun pernah dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kota
Bandar Lampung pada tahun 2006. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa di perairan Kota

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 4
Bandar Lampung masih banyak dijumpai habitat padang lamun (sea grass) yang secara
ekologis memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan ekosistem terumbu karang dan
hutan mangrove sebagai penjaga stabilitas pantai, sumber produktivitas primer perairan
sekitarnya, sebagai daerah pemijahan, tempat asuhan dan mencari makan berbagai jenis larva
dan juvenil ikan, sehingga keberadaannya sangat penting sebagai daerah buffer dan penunjang
tingkat produktivitas perikanan di perairan sekitarnya.

Hasil survey tentang kondisi padang lamun di lapangan, dari empat stasiun pengamatan
terdapat tiga lokasi yang masih memiliki kepadatan lamun yang cukup baik, yaitu lokasi sekitar
perairan Pantai Karang Maritim, perairan sebelah timur Pulau Pasaran dan perairan sekitar
Pulau Kubur, sementara itu di perairan sekitar Gosong Pamunggutan hanya sedikit ditemui
komunitas lamun. Di daerah ini lamun merupakan tumbuhan minoritas yang berasosiasi dengan
terumbu karang, alga tuff dan komunitas lainnya. Kondisi ini dimungkinkan karena perairan
tersebut relatif cukup dalam jika dibandingkan dengan perairan Karang Maritim, perairan
sekitar Pulau Pasaran dan perairan sekitar Pulau Kubur.

A B

C D

Gambar 3. Kondisi lamun di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung


Keterangan gambar:
(A) Kegiatan pendataan lamun;
(B) Padang Lamun di Pantai Karang Maritim;
(C) Lamun berasosiasi dengan karang mati di perairan Pulau Pasaran;
(D) Lamun berasosiasi dengan tuff alga di perairan Gosong Pamunggutan.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 5
Selanjutnya dari hasil pengamatan di lapangan, perairan sekitar Pulau Kubur adalah daerah
yang paling padat komunitas lamunnya. Pada lokasi ini ditemukan tiga jenis tumbuhan lamun,
yaitu dari jenis Enhalus sp, Thallasia sp, dan Cymodocea sp., dengan indeks Mean Varian
Ratio (VMR) sebesar 0,6778 yang menunjukkan bahwa komunitas lamun di daerah ini tersebar
secara random dan mendekati uniform/tersebar merata. Di antara ketiga jenis lamun yang
ditemukan di perairan sekitar Pulau Kubur ini, lamun jenis Enhalus sp, adalah yang paling
dominan keberadaannya.

Selain perairan sekitar Pulau Kubur, di perairan Pantai Karang Maritim juga masih dapat
dijumpai komunitas padang lamun yang didominasi oleh Enhalus sp. dan diselingi oleh Thallasia
sp. sebagai tumbuhan minoritas. Tinggi kanopi berkisar antara 75 cm sampai 93 cm untuk jenis
Enhalus sp dan antara 9 cm sampai 15 cm untuk jenis Thallasia sp. Dari hasil survei diperoleh
nilai Varian Mean Ratio sebesar 1,122. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas lamun di
perairan Pantai Karang Maritim tersebar teragregasi, artinya kondisi lamun di daerah ini tersebar
tidak merata dan hanya berkelompok di beberapa tempat saja di dalam transek, sementara di
beberapa tempat lainnya berupa substrat pasir yang tidak ditumbuhi lamun. Kondisi ini terjadi
akibat berbagai tekanan dari aktivitas manusia di perairan tersebut, mengingat daerah ini sangat
dekat dengan lokasi industri dan permukiman penduduk yang dapat menimbulkan dampak
pencemaran di lokasi tersebut. Kerusakan ekosistem di daerah tersebut tidak hanya terjadi pada
ekosistem lamun, tetapi juga terjadi terhadap komunitas terumbu karang yang terdapat di
perairan Karang Maritim. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tim survei menemui beberapa
penduduk yang membuang limbah rumah tangganya di perairan yang menyebabkan kualitas air
laut menurun.
Seperti halnya dengan kondisi padang lamun di perairan Pantai Karang Maritim, kondisi lamun
di perairan sekitar Pulau Pasaran juga mengalami tekanan akibat aktivitas manusia, seperti
limbah buangan rumah tangga dari Pulau Pasaran dan Teluk Betung, limbah minyak dan solar
dari aktivitas lalu lintas kapal ikan, serta buangan limbah dan air tawar yang berasal dari Sungai
Kuripan. Kondisi ini memberikan tekanan ekologis bagi ekosistem lamun di lokasi tersebut. Hal
ini dapat dilihat dari hasil pendataan komunitas lamun di pulau pasaran yang memiliki nilai
indek VMR (varian mean ratio) sebesar 1.789. Nilai VMR sebesar 1.789 mengindikasikan
bahwa komunitas lamun di perairan sekitar Pulau Pasaran tersebar secara tidak merata dan
hanya terkumpul pada beberapa tempat saja, sementara tempat lainnya tidak terdapat lamun
dan hanya berupa hamparan pasir atau bongkahan karang mati. Kondisi demikian juga dijumpai
di perairan Pantai Karang Maritim (Gambar 4).

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 6
Gambar 4. Kondisi lamun di perairan Pulau Pasaran.
Keterangan gambar:
ƒ Hidup diantara karang yang telah rusak (kiri)
ƒ Tertutup oleh sedimen yang dapat menghambat pertumbuhannya (kanan).

Komunitas padang lamun memang tidak seindah terumbu karang, tetapi komunitas lamun ini
memiliki peranan yang sama pentingnya dengan ekosistem terumbu karang baik secara ekologis
maupun secara ekonomis. Secara ekologis ekosistem padang lamun memiliki fungsi penting bagi
wilayah pesisir dan laut seperti: (a) sebagai produsen detritus dan zat hara yang sangat penting
sebagai sumber produktivitas perairan daerah tersebut. Detritus dan zat hara ini dapat juga
dimanfaatkan secara langsung oleh berbagai hewan seperti siput (gastropoda) dan kerang-
kerangan (bivalva) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh manusia.; (b) Mengikat
sedimen dan menstabilkan subtrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling
menyilang; (c) Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar dan memijah bagi
beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini; dan (d)
Sebagai tempat berlindung bagi penghuni komunitas padang lamun dari sengatan cahaya
matahari. Fungsi padang lamun ini dapat dilihat secara langsung saat tim survey mengamati
komunitas padang lamun yang rapat di perairan Pulau Kubur, di sekitar tumbuhan lamun banyak
sekali dijumpai larva dan juvenil ikan yang memanfaatkan padang lamun sebagai daerah asuhan,
tempat berlindung dan mencari makan.

Selain fungsi ekologis tersebut, padang lamun juga memiliki fungsi ekonomis yang sama pentingnya
dengan terumbu karang. Fungsi ekonomis padang lamun bagi manusia antara lain adalah: (a)
sebagai tempat kegiatan budidaya laut seperti ikan, tiram, kerang-kerangan dan teripang; (b)
sebagai bagian dari tempat rekreasi dan pariwisata; dan (c) sebagai sumber pupuk hijau bagi
kesuburan perairan yang pada akhirnya juga akan meningkatkan hasil perikanan di wilayah tersebut.
Mengingat pentingnya ekosistem padang lamun ini, baik secara ekologis maupun secara ekonomis,
maka ekosistem ini perlu mendapat perhatian yang serius dan porsi yang setara sebagai bagian dari
pengelolaan wilayah pesisir di Kota Bandar Lampung.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 7
1.3 Terumbu Karang

Kebanyakan terumbu karang di Lampung adalah dan jenis “fringing reef”, dengan luasan relatif
20 - 60 meter. Pertumbuhan karang berhenti pada kedalaman 10 - 17 meter. Di bawah
kedalaman itu terdapat lumpur atau hamparan pasir. Sejumlah terumbu karang tipe “patch reefs”
tumbuh dengan baik, dan dapat dijumpai di sepanjang sisi barat Teluk Lampung. Pendataan
awal menunjukkan terdapat sekitar 213 jenis karang keras yang berbeda di Selat Sunda
(Kepulauan Krakatau, Teluk Lampung, Kalianda, pulau-pulau di pesisir barat Pulau Jawa). Hal
ini cukup sesuai bila dibandingkan dengan sekitar 139 jenis yang ditemukan di Kepulauan
Seribu. Terumbu Karang di Kepulauan Krakatau menunjukkan total 113 jenis karang besar,
sekalipun keanekaragaman jenis rata-rata per lokasi agak rendah (yakni 48,6 ± 9.2).

Pada tahun 2007 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung melakukan kajian terhadap
kondisi terumbu karang di Teluk Lampung. Persentase penutupan karang dari 44 lokasi
penyelaman di Teluk Lampung memiliki variasi yang baik hingga buruk (Tabel 1). Kriteria
persentase karang hidup menurut Yap dan Gomes (1988) dan Keputusan Menteri Negera
Lingkungan Hidup No. 4 tahun 2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang bahwa
kategori kondisi penutupan karang hidup : 75 - 100% (sangat baik); 50 – 74.9% (baik); 25 –
49.9% (sedang); dan 0-24.9% (rusak/buruk). Berdasarkan criteria tersebut, persentasi tutupan
karang hidup sebagai indikator kerusakan terumbu karang di Teluk Lampung termasuk dalam
kriteria buruk (rusak) sampai baik. Dari 44 lokasi penyelaman di Teluk Lampung, kondisi
terumbu karang dalam kondisi baik 4 lokasi, kondisi buruk (rusak) ditemukan sebanyak 20 lokasi
dan kondisi sedang sebanyak 20 lokasi. Terumbu karang dalam kondisi baik terdapat di perairan
Pulau Kelagian, Pulau Balak, Tanjung Putus, dan Pantai Ketapang.

Gambar 5. Terumbu karang dan kimah raksasa di Selat Siuncal

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 8
Tabel 1. Persen penutupan dan kondisi karang dari beberapa lokasi penyelaman di Teluk Lampung

K ode  L intang   Hard C oral  Hard C oral (Non  D ead  O ther  AB IO T IK %  K arang   %  K arang  
L okas i P enyelaman S ite Des c ription B ujur T imur Alg ae K ateg ori
L okas i S elatan (Ac ropora) Ac ropora) S c lerac tinia F auna S and R ubble S ilt Hidup Mati
1 P ulau T angkil Upper F ore R eef 05 30 35 105 16 10.7 30 3 30 0 2 24 11 33 30 S edang
2 T eluk P ulau T egal Upper F ore R eef 05 33 53.40 105 16 43.60 8 38 24 6 8 3 13 46 24 S edang
3 P ulau Maitem Upper F ore R eef 05 35 33.50 105 16 44.60 20 22,5 12 8 22,5 5 10 42,5 12 S edang
4 P ulau K elagian L ower F ore R eef 05 37 08.97 105 13 08.28 16,28 45,63 14,97 0 5,03 17,09 1,01 61,91 14,97 B aik
5 P ulau P uhawang L ower F ore R eef 05 39 44.10 105 12 27.8 9,18 29,18 11,12 10 5,1 19,39 16,02 38,36 11,12 S edang
6 P ulau S iuncal Upper F ore R eef 05 48 06 105 18 50.90 5,74 42,01 5,36 1,44 31,87 3,82 9,76 47,75 5,36 S edang
7 P ulau L eg undi L ower F ore R eef 05 47 69.84 105 17 56 0 10,97 10 3,42 28,77 46,84 10,97 10 B uruk
8 T eluk S eles ung  (L egundi) Upper F ore R eef 05 47 23.74 105 17 36.4 1,89 27,82 13 5,25 11,13 40,91 29,71 13 S edang
9 P ulau Unang ‐unang Upper F ore R eef 05 47 25.95 105 16 44.03 10,53 25,47 10,53 7,37 4,2 1,58 40,32 36 10,53 S edang
10 P ulau S es erot Upper F ore R eef 05 47 35.77 105 14 52.12 8,89 26,67 4,44 0 3,33 7,78 48,89 35,56 4,44 S edang
11 T eluk K ucang reang R eef F lat 05 46 24.06 105 13 2.65 0,52 2,06 44,33 2,37 25,46 25,26 2,58 44,33 B uruk
12 P ulau B alak R eef F lat 05 45 10.10 105 10 39.70 35 16 9 0 7 23 10 51 9 B aik
13 P ulau L ok F ore R eef 05 44 42.90 105 10 35.20 11 30 5,5 4,5 14,8 14 20,2 41 5,5 S edang
14 G os ong P ulau L ok R eef F lat 05 44 31.96 105 10 46.32 6,82 12,16 10 3,41 3,41 45,45 18,75 18,98 10 B uruk
15 P ulau L unik R eef F lat 05 44 22.25 105 10 26.57 0 0 0 0 0 100 0 0 B uruk
16 G os ong L unikan R eef F lat 05 44 26.70 105 10 16.30 9,95 39,3 10,95 1,11 11,46 17,69 9,55 49,25 10,95 S edang
17 T ajung P utus  (1) R eef F lat 05 43 46.94 105 12 40.23 7,14 32,14 35,71 3,57 0 7,14 14,29 39,28 35,71 S edang
18 T anjung P utus  (2) R eef F lat 05 43 46.65 105 12 32.83 12 50 8 0 8 12 10 62 8 B aik
19 P ulau L elangg a B alak R eef F lat 05 43 45.75 105 13 46.31 24,6 10 27 0 14,4 14 10 34,6 27 S edang
20 P ulau L elangg a L unik Upper F ore R eef 05 43 10.40 105 14 32.10 10 14 20 0 16 24 16 24 20 B uruk
21 P ulau P uhawang L unik R eef F lat 05 40 35.30 105 14 24.60 2 22 30 5 0 18 23 24 30 B uruk
22 P antai K etapang R eef F lat 05 35 33.50 105 13 59.40 9 50 13 18 5 5 59 13 B aik
23 P antai C anti R eef F lat 05 48 01.30 105 34 58.2 0 15,8 16 11 19 22 16,2 15,8 16 B uruk
24 P ulau T iga L ana F ore R eef 05 48 52.38 105 32 37.15 0 16 4 12 15 18 35 16 4 B uruk
25 P ulau T iga L ok F ore R eef 05 48 59.65 105 32 46.30 0 26 2 4 16 21 31 26 2 S edang
26 P ulau T iga D amar F ore R eef 05 49 9.05 105 33 0.96 0 19 0 12 12 29 28 19 0 B uruk
27 P ulau S ebuku Upper F ore R eef 05 50 48.40 105 31 45 13,8 10,13 16,46 1,27 2,66 54,43 1,27 23,93 16,46 B uruk
28 P ulau E lang (S ebuku K ecil) R eef F lat 05 52 40.11 105 32 29.67 0 12 72 0 0 16 12 72 B uruk
29 P ulau S ebes i L ower F ore R eef 05 55 11.26 105 30 3.18 5,6 15,4 4 7 19 23 26 21 4 B uruk
30 P ulau Umang ‐umang R eef F lat 05 55 33.99 105 31 57.11 21,6 25,4 12 10 15 8 8 47 12 S edang
31 P elabuhan K aliandak R eef F lat 05 44 39.61 105 35 10.60 2 10 0 42 0 46 12 0 B uruk
32 P antai P as ir P utih R eef F lat 05 33 32.24 105 22 0.94 23 2 0 17 0 27 31 25 0 B uruk
33 L okas i B atu B ara R eef F lat 05 31 48.90 105 21 14.37 20 8 20 2 1 8 41 28 20 S edang
34 P ulau S ulah (1) Upper F ore R eef 05 32 45.22 105 20 44.12 13,5 10,5 7 0 0 39 30 24 7 B uruk
35 P ulau S ulah (2) L ower F ore R eef 05 32 48.36 105 20 35.98 29,63 14,81 38,89 0 7,41 9,26 44,44 38,89 S edang
36 P ulau C ondong L aut L ower F ore R eef 05 33 25.65 105 20 28.87 28,8 12 15,8 12 0 18 13,4 40,8 15,8 S edang
37 P ulau C ondong D arat R eef F lat 05 33 25 105 20 54.63 27,27 17,27 12,73 4,55 0 18,18 20 44,54 12,73 S edang
38 T anjung S elaki R eef F lat 05 37 23.44 105 24 18.21 36,14 0 0 49,57 0 14,29 36,14 0 S edang
39 Merak B elantung (1) R eef F lat 05 40 29.86 105 32 32.95 0 11 0 55 0 26 8 11 0 B uruk
40 Merak B elantung (2) R eef F lat 05 41 31.45 105 31 59.03 0 8 15 51 0 25 1 8 15 B uruk
41 P antai P uri G ading B ack R eef 05 28 9.21 105 15 27.69 0 0 0 0 0 87 13 0 0 B uruk
42 G udang  L elang B ack R eef 05 27 18.45 105 16 14.20 0 0 0 0 24 68 8 0 0 B uruk
43 P ulau K ubur B ack R eef 05 29 14.30 105 15 29.80 0 0 0 0 33,33 66,67 0 0 B uruk
44 P ulau T eg al L ower F ore R eef 05 34 5.53 105 16 7.98 8 39 26 0 2 9 16 47 26 S edang

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung (2007)

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 9
1.4 Perikanan

Dengan wilayah pesisir dan laut yang cukup luas, sektor perikanan merupakan salah satu
unggulan di Provinsi Lampung. Dalam tiga tahun terakhir, sektor perikanan memiliki
pertumbuhan yang cukup signifikan (Gambar 6).

Gambar 6. Pertumbuhan sektor perikanan 2002-2007

Keragaan perikanan laut pada tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 2. Produksi perikanan laut
yang berasal dari penangkapan mencapai 133.545,9 ton. Kabupaten Lampung Timur dan
Lampung Selatan merupakan kabupaten yang memiliki produksi perikanan laut dari usaha
penangkapan yang cukup dominan bila dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Kabupaten
Lampung Utara, Way Kanan, dan Metro tidak memiliki wilayah laut, sehingga produksinya nihil.
Kabupaten Tulang Bawang mendominasi produk perikanan yang dihasilkan dari tambak udang,
yaitu sekitar 76,7%. Di wilayah pesisir Kabupaten Tulang Bawang inilah terdapat industri
tambak udang modern, PT CPB dan PT AWS.

Tabel 2. Produksi perikanan di wilayah pesisir dan laut Provinsi Lampung tahun 2006

Sumber: BPS Provinsi Lampung , 2007 (Tidak tersedia data 2008)

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 10
Budidaya laut sebagian besar dihasilkan di wilayah pesisir Kabupaten Lampung Selatan
(92,7%). Di wilayah pesisir dan laut Kabupaten Lampung Selatan memang banyak
dikembangkan usaha budidaya ikan kerapu, mutiara, dan rumput laut. Sejak November 2007
sentra-sentra budidaya laut yang sebagian besar terletak di wilayah pesisir dan laut Kabupaten
Lampung Selatan masuk wilayah Kabupaten Pesawaran sebagai hasil dari pemekaran
kabupaten tersebut.

2. TEKANAN

2.1 Mangrove

Kerusakan mangrove di sepanjang pesisir timur Lampung yang meliputi wilayah Tulang
Bawang, Lampung Timur, dan Lampung Selatan sebagian besar akibat dikonversi menjadi
tambak udang yang meluas hingga tepi pantai dan tidak menyisakan sebagian kawasan
mangrove sebagai green belt. Seluruh hutan mangrove di Lampung akan punah dalam
beberapa tahun seandainya pengubahan ke tambak udang tidak dikontrol/diawasi. Mungkin
yang tersisa hanya mangrove yang terdapat di pulau-pulau wilayah teluk.

Kerusakan wilayah pantai timur Lampung yang membentang sepanjang pesisir Kabupaten
Tulang Bawang, Lampung Timur dan Lampung Selatan telah dimulai sejak berkembangnya
pertambakan udang secara besar-besaran di wilayah tersebut pada tahun 1990-an yang
mengkonversi areal mangrove. Sejarah pertambakan udang yang berkembang di pantai timur
Lampung telah dimulai sejak sebelum tahun 1960-an. Pada saat itu telah berkembang budidaya
tambak ekstensif skala sangat kecil untuk ikan bandeng, udang, dan kepiting liar di Kabupaten
Tulang Bawang, Lampung Tengah dan Lampung Timur. Pada era tahun 1976 pembukaan
lahan tambak yang pertama terjadi di Muara Gading Mas (Kecamatan Labuhan Maringgai,
Kabupaten Lampung Timur) seluas 14 ha dan hingga tahun 1980 terjadi perluasan tambak
udang yang sangat cepat di sepanjang pantai timur. Selanjutnya mulai tahun 1990-an
perkembangan usaha tambak udang semakin pesat yang ditandai dengan konversi secara
besar-besaran kawasan mangrove untuk lahan tambak hingga luasnya diperkirakan mencapai
lebih dari 60.000 ha.

Selain tambak udang yang dimiliki oleh masyarakat, kawasan tambak udang intensif telah
dikembangkan di pesisir timur dengan pola tambak inti rakyat oleh PT CPB dan PT DCD yang
terletak di pesisir Kabupaten Tulang Bawang. Areal pertambakan PT DCD menempati lahan
seluas 16.250 ha yang terletak di antara Muara Way Mesuji dan Muara Way Tulang Bawang di
Kecamatan Rawajitu Timur; sedangkan areal pertambakan milik PT CPB terletak di lahan pesisir
antara Muara Way Tulang Bawang dan Way Seputih dengan alokasi lahan sekitar 23.900 ha
yang terletak di Kecamatan Dente Teladas. Namun dalam perkembangannya, tidak semua
lahan yang dialokasikan digunakan oleh PT CPB; lahan-lahan tersebut banyak yang

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 11
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lahan pertanian, pemukiman, maupun tambak rakyat.
Dalam pembangunan areal pertambakannya, PT DCD dan PT CPB telah mengalokasikan lahan
yang berbatasan langsung dengan laut selebar 200 m sebagai kawasan green belt yang
ditumbuhi oleh vegetasi mangrove.

Selain kedua perusahaan tersebut, di pesisir Tulang Bawang juga berkembang tambak rakyat
dengan sistem tradisional yang menempati lahan lebih dari 2.000 ha. Tambak-tambak rakyat ini
umumnya dibangun di lahan yang terdapat di sekitar muara-muara sungai hingga pesisir pantai
dengan tidak menyisakan areal mangrove sebagai green belt. Bahkan di beberapa tempat yang
dialokasikan sebagai green belt milik PT DCD dan PT CPB telah dijadikan tambak oleh
masyarakat sejak tahun 1997 hingga sekarang. Kedua perusahaan tidak dapat bertindak
mencegah perambahan tersebut karena khawatir terjadi bentrokan, sehingga perambahan
semakin meluas.

2.2 Lamun dan Terumbu Karang

Ekosistem lamun dan terumbu karang mengalami tekanan akibat berbagai aktivitas manusia di
wilayah pesisir. Seperti halnya wilayah pesisir lainnya di Indonesia, tekanan terhadap ekosistem
terumbu karang di wilayah pesisir Provinsi Lampung diakibatkan oleh berbagai hal, seperti:
reklamasi pantai, pengeboman ikan, penangkapan ikan dengan racun sianida, penambangan
karang sebagai bahan bangunan dan urugan (reklamasi), pencemaran perairan, dan lain-lain.
Padang lamun juga mengalami kematian akibat adanya reklamasi pantai, pencemaran,
sedimentasi yang tinggi, dan lain-lain.

Terumbu karang dan padang lamun sangat mendukung usaha-usaha perikanan yang produktif.
Terdapat ribuan bagan yang menggantungkan hasil tangkapannya di sekitar terumbu karang.
Namun sangat disayangkan, ada indikasi beberapa nelayan bagan menggunakan bahan
peledak. Terumbu karang juga penting dalam melindungi pantai dari erosi dan menyediakan
pasir guna membentuk pantai berpasir. Tanpa adanya terumbu karang, maka banyak tempat
wisata pantai akan musnah. Ironisnya, banyak obyek wisata menggunakan terumbu karang
sebagai lahan reklamasi.

Penangkapan ikan dengan bom merupakan masalah khusus di Teluk Lampung. Penggunaan
bom dalam penangkapan ikan telah dimulai pada tahun 1975 setelah diperkenalkan oleh satu
keluarga Bugis. Penggunaan bom banyak dilakukan di sekitar perairan Pulau Legundi, P.
Siuncal, P. Sijebi, P. Sertung, P. Sebuku, P. Tabuan, dan Teluk Kiluan. Penggunaan bom ini
juga telah merambah wilayah pantai barat terutama di sekitar Pulau Pisang. Di samping
kegiatan pengeboman, kegiatan penambangan karang batu untuk bahan bangunan dan hiasan
juga menjadi salah satu penyebab kerusakan terumbu karang.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 12
E

Gambar 7. Aktivitas yang merusak terumbu karang.

Keterangan: A. Rumah yang terbuat dari terumbu karang di Lampung Barat


B. Kematian terumbu karang akibat bom ikan
C. Reklamasi pantai di Bandar Lampung
D. Pengambilan terumbu karang untuk bahan reklamasi
E. Reklamasi dari terumbu karang (hasil kegiatan D).

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 13
3. RESPON

3.1 Mangrove

Kerusakan mangrove di Pantai Timur Lampung menuntut tindakan cepat. Dalam rangka
penanggulangan kerusakaan pantai timur Lampung beberapa upaya dan program kegiatan
telah dilakukan, baik yang bersifat lokal maupun nasional. Upaya-upaya ini dilakukan oleh
berbagai pihak, seperti pemerintah provinsi/kabupaten, PT CPB, masyarakat setempat, LSM,
Perguruan Tingi, dan lain-lain.

Pemerintah daerah melalui Dinas Kehutanan Provinsi Lampung bekerjasama dengan LPM
Univesitas Lampung pada tahun 2006 telah menyusun dokumen Masterplan Rehabilitasi Hutan
Mangrove Pesisir Timur Lampung. Dalam masterplan tersebut dipaparkan beberapa
permasalahan, baik fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain, yang dihadapi dalam rangka
merehabilitasi pesisir timur Lampung. Perbaikan ekosistem mangrove tidak hanya mencakup
kegiatan merehabilitasi lahan-lahan yang kritis saja, tetapi permasalahan lebih kompleks karena
menyangkut faktor ekonomi, sosial, dan budaya.

Pada tahun 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung bekerjasama dengan
Universitas Lampung melakukan kajian dan demonstrasi plot tentang tambak udang ramah
lingkungan dengan model wanamina (silvofisheries) di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan
Maringgai, Lampung Timur, yang bertujuan untuk mengaplikasikan konsep budidaya perikanan
sistem wanamina (silvofishery) di kawasan mangrove dalam bentuk demonstrasi pond
(dempond), yang mana hasilnya diupayakan dapat diterapkan kepada masyarakat.

Pada Oktober 2007 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung melaksanakan kegiatan
rehabilitasi mangrove di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan seluas
10 ha, yaitu sepanjang 1.000 m dengan ketebalan mangrove sekitar 100 m. Kegiatan ini
dilakukan alam rangka upaya mitigasi bencana di wilayah pesisir yang melibatkan masyarakat
setempat. Jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizopora mucronata. Selanjutnya pada tahun
2008 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung melaksanakan rehabilitasi mangrove di
Desa Pematang Pasir (Lampung Selatan) dalam bentuk minawana atau silvofishery seluas 50
ha.

Pemkab Lampung Timur telah mengeluarkan Perda No.3 tahun 2002 yang mengatur hutan
bakau di pesisir pantai setidaknya harus memiliki ketebalan 100 meter dari garis pantai pasang
tertinggi. Upaya ini ditempuh untuk memberi payung hukum pengelolaan dan perlindungan
kawasan mangrove yang akan dilakukan di wilayah pesisir Kabupaten Lampung Timur.
Setidaknya dengan adanya perda ini maka Pemda Kabupaten Lampung Timur memiliki
kekuatan hukum untuk mencegah perusakan kawasan mangrove lebih lanjut.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 14
Melalui kegiatan rehabilitasi lahan pemerintah Kabupaten Lampung Timur telah melakukan
penanaman mangrove di sekitar pantai timur. Pada tahun 2005 program rehabilitasi hutan
mangrove dilakukan pada areal seluas 53 hektare di Labuhanmaringgai. Selanjutnya pada
tahun 2006, rehabilitasi dilakukan pada areal seluas 150 hektare, masing-masing 75 hektare di
Pasirsakti dan Labuhanmaringgai. Tahun 2007 dilaksanakan program lanjutan di dua
kecamatan tersebut (Pasirsakti dan Labuhanmaringgai) dengan areal seluas 200 hektare.

Selain kegiatan rehabilitasi lahan, penegakan hukum juga dilakukan oleh Pemkab Lampung
Timur terhadap masyarakat yang merambah. Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut)
Lampung Timur bersama aparat kepolisian setempat akan menutup ratusan hektare tambak liar
di kawasan pantai timur Kuala Penet, Margasari, Labuhanmaringgai dan Pasir Sakti. Pasalnya,
ratusan hektare tambak itu berada di kawasan Register 15 Muara Sekampung. Berdasar Surat
Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor 256/Kpts-2/II/2000 tanggal 23 Agustus 2000 tentang
Kehutanan, kawasan pantai timur Lampung Timur masuk kawasan Register 15 Muara
Sekampung. Penutupan itu merupakan kelanjutan dari operasi pengamanan hutan Register 15
Muara Sekampung yang merupakan perairan pantai timur. Operasi pengamanan yang
dilakukan selain melibatkan jajaran Disbunhut juga melibatkan sejumlah anggota Sat Intelkam
dan Satreskrim Kepolisian Resor (Polres) Lampung Timur. Sasaran utama operasi itu adalah
pengamanan Register 15 Muara Sekampung yang merupakan kawasan pesisir pantai timur
Lampung Timur sepanjang 30 kilometer yang memanjang dari Kuala Penet Margasari
Labuhanmaringgai hingga Pasir Sakti saat ini sangat memprihatinkan. Pada jalur itu, sedikitnya
500 hektare hutan bakau (mangrove) telah dikonversi warga menjadi areal tambak.

Melihat betapa penting dan bermanfaatnya penanaman mangrove bagi industri budidaya udang,
manajemen PT CPB Bahari berkomitmen untuk selalu melestarikan mangrove yang diwujudkan
dengan adanya program konservasi mangrove atau mangrove conservation program (MCP).
Program ini merupakan program rehabilitasi mangrove yang habis dirambah pada 1999-2000.
Sebelumnya, yakni pada kurun waktu 1995-1998, PT CPB telah melakukan rehabilitasi
(penghijauan) mangrove di pesisir timur Lampung dengan luas area mencapai 2.819 ha,
sepanjang 50 km dengan ketebalan 500-1.500 meter. Program konservasi mangrove (MCP) ini
telah dimulai sejak tahun 2004. Hingga 2006 telah dilakukan penanaman kembali sebanyak
140.000 bibit bakau, dan jumlah tersebut akan terus bertambah. Bibit bakau disemai di bedeng
persemaian yang berada di dalam kawasan pond site PT CPB, sehingga setiap saat dapat
dipantau pertumbuhannya.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 15
3.2 Terumbu Karang

Perusakan terumbu karang akibat penangkapan ikan dengan cara-cara yang merusak haruslah
dihentikan. Hal ini dapat dilakukan melalui dua program yang dipusatkan pada:

(a) Pengawasan ketat dan tindakan tegas terhadap beberapa kelompok nelayan yang diketahui
menggunakan bahan peledak dan racun.

(b) Pengembangan program oleh masyarakat setempat di pulau-pulau guna menerapkan


kepemilikan terhadap sumberdaya terumbu karang, digabungkan dengan pemberdayaan
masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Pengawasan terhadap terumbu karang yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dapat
menjadi “kontrol sosial”. Para petugas pengawas ini dapat juga sekaligus dilatih sebagai
pemandu wisata bahari. Saat ini di beberapa desa pesisir telah terbentuk beberapa kelompok
masyarakat pengawas (pokmaswas) yang bertugas menjaga dan mencegah kerusakan
sumberdaya di wilayah pesisir masing-masing.

Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat merupakan pendekatan yang umum


diterapkan pada sebagian besar program-program pengelolaan sumberdaya pesisir di
dunia, khususnya di negara-negara berkembang dimana terumbu karang merupakan bagian
yang signifikan dari ekosistem pesisir. Daerah perlindungan laut berfungsi sebagai zona inti
yang secara permanen tertutup bagi penangkapan ikan dan kegiatan ektraktif lainnya
sementara zona penyangga yang mengelilingi diatur dengan peraturan lebih longgar.

Pengalokasian suatu wilayah laut menjadi kawasan yang dilindungi dari kegiatan
pemanfaatan tertentu merupakan upaya pengelolaan yang bertujuan untuk konservasi.
Secara umum, adanya DPL dapat dianggap sebagai manifestasi dari keinginan masyarakat
untuk memenuhi kebutuhannya, seperti terhadap sumberdaya alam yang dimanfaatkannya
dapat lestari, kebutuhan untuk menikmati keindahan alam dan kebutuhan untuk melindungi
"hak sebagai pemilik" sumberdaya dari gangguan pengguna luar.

Daerah perlindungan laut berbasis masyarakat (DPL-BM) yang berhasil apabila DPL
tersebut dapat memberikan manfaat kepada masyarakat seperti memberikan tambahan
sumber pendapatan dari peningkatan produksi perikanan dan sektor pariwisata. DPL juga
dapat berfungsi sebagai upaya konservasi dengan adanya perbaikan kualitas sumberdaya
alam seperti komunitas terumbu karang. Manfaat tambahan lainnya adalah peningkatan
kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di
lingkungannya. Selain itu DPL-BM dapat menjadi alat untuk membantu mengatasi isu
pengelolaan sumberdaya pesisir pesisir yang lebih luas. Dalam jangka panjang, DPL-BM
lebih efektif dari segi biaya dan kesinambungannya.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 16
Dengan diinisiasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung sejak tahun 2005 telah
dilakukan kajian dan sosialisasi tentang Daerah Perlindungan Laut berbasis Masyarakat
(DPLBM) di Pulau Legundi. Hal yang sama juga dilakukan di Pulau Puhawang pada tahun
2006. Tahun 2007 telah dilakukan inisiasi pembentukan peraturan desa yang mengakomodasi
pelaksanaan DPLBM tersebut di kedua desa itu. Diharapkan dengan adanya DPLBM yang
diperkuat dengan peraturan setempat, maka kerusakan terumbu karang dapat diminimalisir.

Pada tahun 2007 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung telah melakukan sosialisasi
dan pelatihan transplantasi terumbu karang bertempat di Desa Puhawang (Kabupaten
Pesawaran) dan Desa Kiluan (Tanggamus). Selain mengadakan sosialisi dan pelatihan, juga
dilakukan penanaman terumbu karang sebagai demplot pelestarian terumbu karang. Materi
pelatihan juga mencakup keterampilan monitoring kondisi terumbu karang, sehingga
masyarakat lokal pun dapat menilai kondisi terumbu karang di wilayah mereka.

Gambar 8. Pelatihan dan sosialisasi monitoring dan transplantasi terumbu karang (Juni 2007)

Pada Agustus 2008 Dinas Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Konsorsium Mitra
Bahari Lampung (Universitas Lampung) melakukan pelatihan pengelolaan pesisir bagi guru-
guru dan siswa SLTA di Bandar Lampung. Sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini
adalah meningkatnya pengetahuan 60 orang guru dan 60 orang siswa SLTA tentang

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 17
pengelolaan wilayah pesisir. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan guru dan siswa
SLTA tersebut maka akan meningkat pula kesadaran mereka terhadap kelestanan wilayah
pesisir, dan pada akhimya akan membawa perubahan bagi kondisi wilayah pesisir di masa yang
akan datang. Hasil dari kegiatan ini diharapkan bermanfaat untuk peningkatan peran serta
seluruh masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir sehingga pengelolaan pesisir dapat
ditaksanakan secara tenpadu dan holistik dan membawa perubahan yang cukup nyata bagi
kelestanian wilayah pesisir. Pelatihan juga diikuti dengan praktek langsung penanaman
mangrove di Pantai Ringgung.

Gambar 8. Pelatihan pengelolaan pesisir terpadu bagi guru-guru dan siswa SLTA (Agt 2008)

Upaya untuk melindungi terumbu karang dari kerusakan akibat penggunaan bom ikan dilakukan
oleh Pemda Provinsi Lampung dengan penegakkan hukum terhadap pelaku. Nelayan pelaku
pemboman ikan juga telah dijatuhi hukuman. Keterbatasan sarana dan prasarana merupakan
faktor penghambat dalam upaya ini. Selain penegakkan hukum, upaya lainnya adalah dengan
melakukan pendekatan dan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kelestarian terumbu
karang. Hal ini terutama ditujukan kepada masyarakat pesisir yang banyak memanfaatkan
karang sebagai bahan reklamasi ataupun bangunan rumah.

Indra Gumay Yudha: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Lampung 18